Claiming

.

.

.

[ Chapter 03 ]

.

.

.

Hari ini adalah hari pertama dalam awal memulai kegiatan. Luhan merasa dilanda gugup luar biasa. Pada barisan tengah dibagian Omega berada. Semua memang telah dikumpulkan dalam setiap kelompok sesuai level.

Ia sempat menghitung sekitar 5 namja berstatus Omega dalam kelompok Mous III, termaksud dirinya. Dan sisanya dari 12 orang adalah yeoja. Jumlah sedikit memang entah apakah dari kelompok lain juga memiliki namja berstatus Omega dalam jumlah seperti itu?

Dan namja berstatus Omega memanglah tergolong langkah di negara mereka.

Saat ini semua dikumpulan tentu dalam tujuan berlatih mungkin diberi arahan sedikit mengenai sistem pelatihan, atau hanya sekadar sensi pengenalan antara sesama peserta didik baru.

Di depan barisan ada satu guru memimpin mereka. Berkata panjang lebih untuk menjelaskan. Ada tiga sistem pembelajaran di sini yang hampir sama seperti sistem sekolah umumnya yaitu; Teori, praktek dan uji coba. Beda pada waktu pelatihan karena mereka akan banyak menghabiskan waktu untuk praktek.

Praktek jauh lebih diutamakan daripada sistem pembelajaran melalui teori. Seperti sekarang awal latihan mereka mulai dituntun untuk mengetahui makna dan tujuan dari perubahan wujud.

Biasa dibilang sebagai Shifting. Dan setiap melakukan Shifting memiliki teknik khusus. Tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Shifting juga merupakan pembelajaran utama dalam academy ini. Karena jika Werewolf tidak bisa melakukan Shifting, maka tidak akan bisa bertarung.

"Sebelum melakukan teknik dasar Shifting, apa kalian sudah mengenai warna wujud kalian semua?" Guru itu bertanya.

Dan hampir keseluruhan peserta mengatakan tidak sebagai jawaban mereka. Karena hanya orang tertentu saja dapat mengetahui wujud mereka sebelum melakukan Shifting.

"Baiklah kita mulai sekarang, dan seseorang akan memberi contoh terlebih dahulu pada kalian."

Setelah suara guru itu terdengar memberitahukan, sesosok lain mendatangi mereka. Seorang Alpha tinggi berjalan angkuh mendekat. Pada saat itu mulai para peserta lain berseru heboh.

"Astagaa...diaa..."

"Yaampun, baru kali ini aku bisa melihatnya langsung..."

"Dia Alpha terkenal itu, kan?"

Sang guru mengulum senyum mendengar beraneka seruan dari peserta didiknya. Lalu beralih pada sosok yang baru saja datang.

"Mungkin sebagian dari kalian sudah mengetahui siapa dia bukan?"

"Ne ssaem..."

"Dia Oh Sehun Alpha dari level Crous I, dan dia yang akan memberi sedikit contoh pada kalian bagaimana cara melakukan Shifting yang baik dan benar."

Selanjutnya suasana awal latihan hari ini semakin ramai. Semua justru bersemangat untuk melakukannya.

Hanya Luhan seorang yang cukup banyak diam sambil memahami segala teori dalam pelatihan hari ini. Dia hanya terlalu fokus pada pembelajaran tanpa tahu sosok lain merasa tak nyaman akan keberadaannya.

Tepatnya pada aroma berbeda yang dimiliki namja Omega tersebut.

.

.

.

.

.

.

.

"Aku tidak tahu, jika melakukan Shifting sesulit itu. Lihat, keringatku banyak sekali huft!"

Satu senyuman tipis tercipta di wajah sebagai tanggapan untuk keluhan temannya. Tak berkata apa pun untuk menyetujui, tapi Luhan membenarkan perkataan Baekhyun dari keluhan si Omega itu.

Butuh waktu satu setengah jam lamanya melakukan pelatihan, baru usai sekarang. Semua tampak begitu kelelahan dan segera beristirahat mengatur tenaga. Tak mudah memang melakukan perubahan wujud, apalagi bagi mereka yang baru akan berlatih.

Konsentrasi yang begitu penuh diutamakan dalam proses melakukan Shifting. Fokus dan percaya diri, walau tenaga juga bisa menjadi hal penting lainnya. Dari itu semua memang bukanlah hal mudah dilakukan apalagi bagi mereka pemula.

Begitu juga yang Luhan rasakan, namun bukan berarti ia akan berkeluh seperti Baekhyun saat ini. Nyatanya ia hanya tersenyum tipis untuk memakluminya.

"Hahh! Hausnyaa..." sekarang Baekhyun mendesah kecil akibat tenggorokannya terasa kering.

"Aku akan ambilkan minuman lebih dulu yah."

Langsung beranjak dari tempat Luhan berlari kecil menuju kantin yang tak begitu jauh. Meninggalkan Baekhyun begitu saja tanpa bertanya Omega itu ingin meminum apa terlebih dahulu.

Ia berlari kecil pada sepanjang lorong. Tak memerlukan petunjuk untuk menuju kantin, karena Luhan sudah cukup hapal jalan menuju tempat tertentu di academy ini. Apalagi dengan selembaran peta yang telah diberikan oleh pengurus academy. Jadi, dengan perasaan tanpa takut tersesat ia terus melangkah.

Sesampainya di kantin Luhan segera menuju counter minuman. Memilih sesaat sebelum membeli. Ketika pilihannya jatuh pada dua cup bubble tea choco lekas ia memesan. Selagi menunggu matanya melihat keadaan sekitar.

Disebelah seseorang pria tinggi datang. Terlihat ingin memesan sesuatu pula.

"Tuan Wu ingin memesan apa?" Seorang ibu penjaga counter minuman bertanya pada si pria tinggi.

"Cukup secup Americano saja!"

"Baik, tunggu sebentar ne!"

Pria itu ikut menunggu sesaat. Menunggu dengan tenang namun, sebelum itu ia merasakan aroma wangi tercium disekitarnya. Ketika mengendus aroma tersebut sampai harus menolehkan wajah, tepat pada arah sebelahnya ia menemukan aroma wangi itu.

Kedua mata berkilat tajam memandang sesosok namja bertubuh lebih kecil disebelah. Sosok yang menjadi sumber aroma tersebut. Ia pandangi sosok itu lebih fokus, sampai tak sadar satu tangan mendarat pada pundak sempit milik namja kecil itu. Mengakibatkan sang pemilik terjengkit kejut dan menoleh wajah.

Sepasang manik rusa bening, Kris bertahan pada dirinya sendiri.

"Maaf..."

"Kau...siapa namamu nak?" Ia bertanya langsung.

"Ne? Ah, s-saya Luhan, Xi Luhan tuan!"

"Lu-han..."

Ada kerutan kecil di wajah manis itu. Bisa ditebak jika namja bernama Luhan dalam rasa bingung tak mengerti kepada sosok asing di depannya.

"Maaf, sebelumnya ada apa tuan?" Luhan bertanya benar tak mengerti.

"Ah, tidak apa, tapi cukup panggil dengan ssaem saja karena aku salah satu guru di sini!"

"Oh, b-baik ssaem..."

Kris sesaat tersenyum sebelum melunturkannya dan memasang raut wajah lebih serius. Ada sesuatu hal yang ingin ia katakan pada sosok Luhan saat ini. Sesuatu hal yang mungkin bisa menjadi pengingat untuk sosok salah satu peserta didiknya.

Belum lagi kedua matanya tak sengaja melihat pada punggung tangan Luhan. Sesuatu tampak di sana yang membuatnya semakin ingin memberi peringatan pada si Omega.

Walau pun kali ini menjadi pertama kali ia bertemu dengan Luhan, tapi Kris sangat hapal dengan tanda-tanda sesuatu hal terjadi pada para Omega. Apalagi para peserta didiknya. Yang mana bahkan selalu ia dapati. Maka dari itu ia akan bertindak untuk mencegah sebelum terjadi hal yang tidak inginkan.

Sret!

Ia cepat meraih tangan lebih kecil milik Luhan. Menggenggamnya erat seperti ini benar hal yang harus ia lakukan. Tak perduli Luhan sendiri akan terkejut atas tindakan tiba-tibanya itu.

Mata semakin berdelik pada sebuah gambar tak jelas terdapat pada punggung tangan yang kecil. Masih terlalu berantakan tapi, siapa pun akan bisa memahami apa sebenarnya yang ada dipunggung tangan Omega ini.

"Kau..."

"W-waeyo ssaem?"

Dari gambar dipunggung tangan, Kris beralih menatap dalam pada Luhan yang kebingungan.

"Aku hanya ingin memberitahukan jika, mulai sekarang kau harus lebih menjaga dirimu hm!"

"Uh? Ma-maksud ssaem?"

"Ini masa heat pertamamu bukan?"

Sebuah anggukan kecil Luhan lakukan, walau masih tak mengerti maksud perkataan salah satu gurunya ini.

"Karena itu kau harus bisa menjaga diri baik-baik. Tidak lama lagi dan tanda pada punggung tanganmu akan membawamu pada takdir yang sebenarnya."

Takdir?

"Maksud ssaem, m-mate?"

Kali ini Kris lah yang mengangguk kepala dengan senyuman tipis. Cukup merasa senang karena Luhan pada akhirnya mengerti atas maksud ucapannya.

Takdir dan mate, benar saja karena dari awal Kris bermaksud untuk memberitahukan. Jika masa heat pertama salah satu peserta didiknya ini sebentar lagi akan terjadi. Dan ketika itu terjadi gambar pada punggung tangan Luhan akan muncul dengan sempurna, maka pada saat itu sesosok Alpha telah memiliki dirinya.

Takdir baru terjadi yang tidak akan bisa dielakan oleh siapa pun.

"Tanda pada punggung tanganmu ini adalah milik Alphamu, dan semoga kau memiliki takdir yang baik nak!"

"Maaf tuan wu, ini pesanan anda!"

Kris melepaskan genggaman pada tangan Luhan, ia beralih pada ibu penjaga counter yang telah memberinya pesanan miliknya. Ia raih secup americano miliknya sebelum kembali pada Luhan yang terbengong.

"Aku harap kau mau mendengarkan perkataanku ini Luhan!"

Setelah berkata dan tersenyum sekali lagi, Kris kini sudah berbalik badan untuk pergi. Menjauh meninggalkan area kantin dan hilang entah kemana.

Menyisakan kesunyian yang Luhan rasakan, dengan segala perkataan pria dewasa itu membekas pada pikirannya.

.

.

.

.

.

.

.

.

'Aku tidak membutuhkan anak sepertinya, jika perlu buang saja anak itu jauh-jauh!'

'Bagaimana bisa kau mau membuangnya? Dia adalah anakmu, anak yang kau lahirkan sendiri?!'

'Benar, tapi aku tidak menginginkannya. Terlebih lagi pria itu sudah meninggalkanku setelah menandaiku! Jadi untuk apa merawat anak yang seharusnya tidak aku lahirkan!'

Ugh!

'Dasar anak bodoh! Seharusnya kau juga mati bersama pria brengsek itu!'

'Ibuuu...'

'Aku bukan ibumu sialan, pergi sana! Menjauh dariku!'

'Tidakk, ibuu hiks...jangan tinggalkan akuu hiks...'

'Pergi sana anak sialan, aku tidak menginginkan anak sepertimu pergi dariku!'

'Tidak ibu jangan, ibuu...tidak jangan tinggalkan Sehuunn ibuuu...'

'Tidaaakkk...'

Deg

"Hah! Hahh...hh..hahh..."

Mata tajam birunya bergerak keliaran, memandangi segala arah. Nafas yang terdengar berantakan hingga dada naik-turun, saat menyadari sesuatu ia merundukan kepala lemas dalam posisi duduknya.

"Mimpi? Brengsek!" Ia mengumpati kasar atas mimpi yang baru ia alami.

Ini terlalu dini untuk bermimpi di siang hari? Dengan mimpi buruk yang baginya begitu memuakan untuk di alami.

Mimpi yang sangat tidak ingin untuk sekadar diingat. Sehun mendesah lelah setelah itu sambil mengacak suraian basahnya oleh keringat. Bahkan dirinya masih berada di luar, tepat di taman belakang gedung academy.

Sekarang ia merasa buruk untuk melanjutkan tidur siangnya. Sehingga memutuskan untuk beranjak pergi dari sana dengan langkah gontai. Kedua kakinya memilih untuk pergi ke toilet terdekat, di sana ia hanya ingin mencuci wajahnya agar lebih baik.

Di toilet ia membasuh wajah pada wastafel, lalu memandangi bayangan dirinya pada cermin di depan. Mata yang berdelik tajam meninggalkan pancaran amarah didalamnya. Salahkan mimpi sialan yang ia alami tadinya, karena itu ia merasa begitu buruk.

Mimpi yang membawanya mengingat pada masa lalu yang begitu kelam. Sampai-sampai terlalu menyakitkan untuk diingat ulang. Walau bukan pertama kali tetap saja Sehun membencinya.

"Sial!"

Ia mengumpat lagi dan kemudian kembali membasuh wajahnya untuk mendinginkan rasa mendidih yang terjadi di kepala akibat mimpi itu.

Mimpi yang menjadi alasan mengapa ia memilih bertahan tanpa pasangan.

.

.

.

.

.

.

.

Selepas dari toilet Sehun sengaja memilih untuk berlari mengelilingi lapangan latihan yang luas. Ia berlari hingga berkali-kali putaran tanpa lelah. Bahkan seakan lupa jika di lapangan tidak dirinya saja di sana.

Ada puluhan peserta didik baru berbaris untuk kembali berlatih. Maka itu hampir semua menyaksikan bagaimana kuatnya seorang Alpha bernama Oh Sehun, berlari seorang diri dalam kecepatan normal.

Antara kagum, memuji dan begitu tak percaya jika sosok Alpha muda yang selama ini begitu terkenal benarlah terhebat. Semua peserta didik lainnya begitu antusias dibuatnya. Sementara yang diperhatikan tidak mau perduli, hanya tetap berlari tanpa sedikit pun menanggapi tatapan padanya.

"Dia benar hebat, lihat saja! Saat seperti ini masih berlatih seorang diri?"

"Benar, Sehun sangat mengagumkan..."

"Pasti sangat beruntung bisa menjadi matenya."

"Aku ingin menjadi matenya sungguh."

"Itu tidak mungkin!"

Beberapa adalah obrolan para peserta lain tengah membicarakan si Alpha. Berbisik-bisik sambil sesekali melihat ke arah di mana sosok Sehun masih berlari tak kenal lelah.

Di sana Luhan tak jauh berada dari barisan para peserta didik lainnya, tepat ia justru berada dibagian barisan depan. Ia jelas bisa mendengar semua obrolan mereka. Tak jauh berbeda ia pun akan sesekali melihat pada sosok yang dibicarakan.

Pada sosok yang berlari tak henti dengan gagahnya. Menjadi pusat segala mata yang melihat. Luhan pun tak tanggung-tanggung jika dalam hati membenarkan segala pujian peserta lain. Memuji segala kesempurnaan milik si Alpha tersebut, sebab pada dasarnya sosok itu benar patut dikagumi.

Luhan saja jadi ingin berada diposisi Sehun, jika bisa? Sayangnya Luhan merasa kecil hati karena ia hanyalah seorang Omega, bukan Alpha atau Beta yang pastilah jauh lebih tangguh dari seorang Omega.

Hahhh...

Terlalu lama ia berkelana saja pada pikirannya, tak sadar jika yang menjadi objek pembicaraan tanpa sadar melambat larinya karena sesuatu.

Sehun yang sebenarnya sejak tadi sudah merasa terganggu dengan suatu aroma tak asing di indra penciumannya. Aroma wangi yang pernah ia rasakan menusuk hidung. Itu jelas mengganggu, bahkan sejak pertama kali ia rasakan waktu lalu.

Pikiran tak sejalan dengan gerak tubuh, Sehun benar memelankan larinya. Ia yang sejak tadi mencoba tak memperdulikan, mencoba tak tertarik namun perlahan pula melemah. Saat pada bagian lapangan berdekatan dengan para peserta didik lainnya, ia justru berjalan pelan.

Wajahnya berkerut tak suka, nafas memberat dan kedua tangan ia kepal sebal. Aroma ini sungguh mengganggu sekali tidak tahu-tahu. Dan pada salah satu depan peserta didik lainnya ia menghentikan langkah. Berhenti entah karena apa, mengundang tatapan tanya dari yang lain.

Kepala masih ia tundukan dengan pandangan datar ingin marah. Sebelum ia angkat dan menolehkan ke samping tepat di mana ada sosok lain di sana. Sesosok namja bertubuh lebih kecil bersurai blonde tak asing. Melihatnya kedua mata Sehun berdelik lebih kehitaman.

Entah sebuah kebetulan sosok namja itu juga sedang memandangnya polos. Ada sepasang mata bak rusa bening, itulah mengapa Sehun terganggu olehnya.

Sosok yang hendak ia hindari, justru ada di sana ikut memandangnya.

"Mengapa dia berhenti di sana?"

"Bahkan sedang menatap namja kecil itu?"

"Ada apa dengannya?"

Kembali banyak para peserta lain berkata atau tepatnya bertanya karena tak mengerti. Mengakibatkan suasana jauh lebih ramai dari sebelumnya.

Luhan yang merasa keadaan berubah sempat berpaling sesaat untuk melihat arah sekitarnya. Dari samping kanan-kiri, lalu arah belakangnya terasa begitu ramai. Kemudian kembali pada arah depan di mana masih adanya sosok Sehun menatapnya tajam seperti mengancam.

Benar mengancam begitu ia bisa melihat si Alpha terkenal itu mulai berjalan mendekatinya. Walau ia tidak begitu yakin jika Sehun benar akan mendatanginya, namun pada kenyataannya Alpha itu terlihat jelas sedang ingin menghampirinya.

Saat itu Luhan secara tak sengaja menyentuh punggung tangannya yang tampak menunjukan sesuatu di sana. Secara perlahan gambar samar pada punggung tangan itu mulai muncul untuk memperjelas.

Sehun akan semakin mendekat, ada geraman beberapa kali ia keluarkan dari mulutnya. Aura mengancam tampak jelas, seakan ia saat ini tengah menghadapi musuh dan siap menyerang dengan bringas.

Tapi sebelum ia benar akan mengeluarkan serangan, sesosok lebih tinggi cepat menghalangi dirinya dari depan. Dan ia terhentikan.

Pupil mata tajamnya seketika melemah. Ia tatapi tersentak pada wajah sosok yang berhasil menghentikannya itu.

"Tahan dirimu nak!" Suara itu semakin menyadarkan dirinya.

"Kris hyung?"

Kris bergeser lebih agar semakin menutupi pandangan Sehun ke belakang. Menghalangi sebisa mungkin agar Alpha muda ini tidak lagi berpusat pada sosok menggoda di belakang sana.

"Ikut aku sekarang!"

Selanjutnya Sehun hanya diam membiarkan Kris membawanya pergi jauh dari lapangan. Membawanya sejauh mungkin dan meninggalkan sosok penyebab atas ketidaksadaran yang Sehun alami beberapa saat lalu.

Menyisakan suara-suara riuh dari peserta didik lainnya. Dan Luhan dalam perasaan tak mengerti masih menggenggam punggung tangannya.

.

.

.

.

.

.

.

To be continue...

Thanks to :

hunhanminute, BB137, V, Anenchi, oh je rim, bee, adknyasehun, chokyukev, all Guest, Hyesung926, Feyaliaz307, Luhan204, Jung tae, hunexohan, Apink464, Hunhania7, 88. it's. me, dokipoki, SelynLH7, Seluhandeer, Haneul Itu langit, newBee3595, DeerLu947, Hannie222.

hallo shou back guys

maaf kalo rada lama yah saya updatenya hehee...

semoga chap kali ini bisa mengobati sedikit atas keterlambatan saya update :')

dan untuk chap sebelumnya makasih yg udah beri saya banyak saran atau kritik dalam penulisan, saya seneng karna cerita amatiran saya cukup diterima di sini, walau masih banyak kekurangannya.

yg udah review makasih sekali lagi, saya udah baca semua kok review'an dari kalian

maaf juga belum bisa balas satu-satu reviewnya :')

ini udah saya lanjut lho, trus yg minta panjangin wordnya ntar saya usahaain lagi yah, walo gk janji juga deh hehee

juga yg nanya kenapa Sehun begitu anti punya mate? nah mulai chap ini saya rasa udah sedikit dikasih jawaban yah, apa alasan dia bisa kaya gitu :)

ntar jga semua bakal jelas, jadi jangan bosen sama ff saya ini yah bagi yg penasaran sama ceritanya

oia, jangan lupa buat tengok ke ff kedua saya, yg judulnya 'Rock Prince'

tenang itu tetap ff HunHan kok dan untungnya masih yaoi hehe...

yaudah deh gk mau kebanyakan bacot, sampai jumpa di chap selanjutnya.

terima kasih :)