Seluruh stadion masih terkesima dengan manuver yang sebelumnya dilakukan oleh Line Backer Deimon Devil Bats, bahkan murmur ketidak percayaan terus berkumandang dari beberapa individu yang memang mengerti dengan permainan Amefuto.

"Apa-apaan itu..." Agon, seorang pemuda tinggi bertubuh kekar dan berambut ala reage berdiri dari tempat duduknya. "...Tidak mungkin Manusia bisa melakukan itu!" Kecamnya dengan mata sedikit bergetar penuh keterkejutan.

"Apa maksudmu, Agon?" Saudaranya, Unsui yang duduk disebelahnya mempertanyakan itu.

"Line Backer itu..." Agon mencengkram kedua tangannya membentuk tinju. "...Dia memiliki kekuatan kaki yang jauh diatas normal. Selain itu aku sekilas tidak bisa merasakan sebuah aura Manusia ketika dia melompat seperti tadi, aku merasakan sebuah kehadiran binatang liar yang tidak peduli apapun selain merebut bola yang ada ditangan Ichirou!"

"Bukankah berarti dia sepertimu?"

"Jangan samakan aku dengannya!" Agon memaki. "Dia hanya menginginkan bola, sedangkan aku menginginkan kehancuran bagi siapapun yang membawanya. Untuk kapasitas Line Backer dia terlalu lembut!"

Kembali ke lapangan, terlihat Naruto saat ini sedang diinjak-injak oleh Hiruma.

"Kau menghancurkan skema permainanku, seharusnya kau tidak menunjukan teknik itu terlalu dini! Goblok! Rubah-sialan! " Naruto memang bertindak dengan nalurinya, tidak ada intruksi untuknya melakukan itu sehingga wajar saja Hiruma menjadi murka.

"Aku hanya melakukan pekerjaanku!" Naruto mencoba berkilah.

"Toucdown adalah langkah bagus, namun setelah ini kita harus menyiapkan rencana tambahan untuk mencegah Everest Past milik Ojou! Predator Tackle sudah tidak bisa lagi digunakan!" Kata Hiruma menyadari jika setelah ini Takami akan melakukan antisipasi untuk menghindari terkena Sack oleh teknik Naruto itu. "Tapi melihat respon yang mereka lakukan mungkin ide itu sama sekali tidak buruk! Nfufufufu~" Hiruma melihat ke bench Ojou dan melihat Shin Seijurou sudah dipersiapkan dipinggir lapangan.

"Kalau begitu kenapa kau masih menyiksaku?!" Hiruma mengindahkannya dan terus menghukum Naruto atas kecerobohannya tadi.

Disisilain tim Ojou.

"Sebuah kejutan memang..." Sakuraba berdiri canggung disebelah Takami, dia meletakan kedua tangannya diatas kepalanya.

"Ya, aku sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia tiba-tiba datang dan menerkamku seperti binatang liar yang lapar, ini sulit dijelaskan!" Takami sendiri tidak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, meskipun begitu ketakutan yang dia rasakan tadi masih bergaung didalam ingatannya.

"Apakah kita masih dalam strategy yang sama?" Tanya Sakuraba.

"Aku ingin sedikit melakukan perubahan." Kepercayaan diri terhadap prajurit Lineman yang kuat membuat Takami selalu tenang membidik umpan, namun setelah semua kejutan ini Takami akhirnya menerima satu pelajaran bahwa dia harus sedikit waspada dengan sekitarnya.

"Aku melihat pelatih mulai sedikit panik, dia sudah mempersiapkan Shin untuk bergabung dalam permainan ini!" Sakuraba bersiul memandang Shin yang sedang pemanasan dipinggir lapangan.

Permainan dilanjutkan dan para pemain secepatnya mengambil posisi.

Kick-of telah dimulai, kali ini Ojou berusaha bermain cantik untuk membingungkan kesebelasan Deimon. Takami kali ini tidak melakukan Everest Pass seperti biasanya dia lakukan dengan Sakuraba, dia melakukan operan pendek secara bergantian dengan kedua Receiver lain yang di miliki Ojou.

Hasilnya tidak terlalu buruk, perlahan namun pasti Ojou sedikit demi sedikit maju mendorong Deimon kedaerah garis pertahanan mereka dan mencetak Goal.

"Toucdown!"

06-18

"Ini tidak baik!" Naruto mulai panik ketika dia sendiri tidak mampu membaca cara permainan Ojou.

"Inilah yang aku maksud!" Huruma menanggapi, wajahnya terlihat datar memandang kedua pemain pinjaman dari klub Basket yang tidak bisa mengimbangi kedua Receiver Ojou.

"Rupanya kita membutuhkan seorang Receiver!" Kurita berseru.

"Tapi kenyataannya kita saat ini hanya membutuhkan keajaiban dari kedua pemain ini!" Hiruma menimpali acuh.

Setelah kebobolan dalam waktu yang begitu singkat Hiruma langsung memulihkan seluruh pemainnya.

Saatnya serangan balasan.

"Set.. Hut.. Hut.. HUT!" Hiruma menerima bola, dia memberikannya kepada Sena untuk merangsek maju menyerang pertahanan lawan.

Lineman Deimon sebelah kanan roboh dan membuat Lineman Ojou menerobos masuk untuk menghentikan Sena.

Naruto memiliki tugas untuk melindungi Sena, untuk itu dia segera menabrak Lineman itu sehingga membuatnya jatuh terjerembab ketanah.

Mereka berdua lolos dan mulai berlari, namun ketika 20 yard dari garis akhir pertahanan Ojou Sena merasa bingung, Naruto yang ada didepannya terlihat goyah dan perlahan namun pasti menurunkan kecepatannya.

Ada yang salah dengannya, pikir Sena.

Naruto berjalan tertatih seperti orang yang mabuk dan pada saat langkah ke 9 tubuhnya langsung terpelanting jauh kebelakang karena mendapatkan Tackle Otawara.

Sena yang merasa percaya akan dilindungi Naruto langsung terkejut, dia tidak mengantisipasi itu sehingga membuatnya menjadi sasaran Otawara yang selanjutnya.

"Deimon 20 yard!"

Deimon merayakan keberhasilannya melaju dengan angka sebesar itu, namun seketika mereka panik melihat Naruto yang masih terbaring tertelungkup ditempat dimana dia di Tackle, dia tidak kunjung bangun berarti ada masalah dengannya.

Sena yang sedari pertama memang menyadari keganjilan itu langsung berlari menghampiri Naruto. Dia memperbaiki posisinya dan sekaligus langsung membuka helmnya.

"Naruto! Naruto!" Sena mencoba menyebutkan namanya, namun ketika tak kunjung ada jawaban diapun langsung berteriak. "MEDIS!"

Benh Ojou lebih dekat dengan posisi dimana Naruto berada, untuk itu Koharu Wakana langsung merespon, dia berlari dengan kotak P3K ditangannya.

Sampai ditempat kejadian Koharu langsung mengambil alih Naruto dan memeriksanya.

"S- Seluruh tubuhnya bergetar!" Meskipun getaran itu sangat kecil Koharu masih bisa merasakannya.

Koharu langsung mengintruksikan Sena sedikit untuk mundur, mendongkakan kepala Naruto dan langsung melakukan CPR untuknya.

Wajah Koharu menjadi sangat merah, dia tidak pernah menyangka jika tindakannya yang pertama ini harus disaksikan seluruh stadion.

Satu kali, dua kali, dan ketiga kalinya akhirnya dia mendapatkan respon dari pasien.

Jilat, jilat, jilat... Dia merasakan jilatan lidah menyapu bibirnya, tersentak dan dia langsung mundur memandang wajah pasiennya.

Koharu melihat kelopak matanya itu bergetar sebelum menampakan bola berwarna samudra yang seketika mampu mempesona kedua matanya sendiri.

Menggelengkan kepala Koharu langsung bertanya. "A- Apakah kau sudah merasa baik?"

"Aku tidak merasa baik, seluruh tubuhku kesemutan." Meskipun jawabannya mengisyaratkan sebuah berita buruk, wajah Naruto menampakan ekspresi sangat bahagia.

Ini adalah berita buruk untuk kesebelasan Deimon, Naruto tidak bisa meneruskan pertandingan dan dia harus dibawa dengan tandu menuju ruang perawatan.

-Line Break!

Dua hari kemudian.

Naruto saat ini sedang berjalan menuju sekolahnya. Dalam perjalananannya dia terus mengingat-ingat sisa pertandingan yang dia tinggalkan. Timnya kalah telak, dan itu adalah kesalahannya.

Ditengah pertandingan titik Tanketsunya tiba-tiba terbuka dan membuat seluruh tubuhnya terkejut. Dia bisa merasakan semua Chakranya tumpah seperti sebuah bendungan waduk yang memuntahkan semua isi Air dan membuatnya menjadi sebuah bencana alam menyerupai mini Tsunami.

Berita bagusnya saat ini dia sudah memiliki Chakranya, namun dengan berita buruk yang menyertainya itu dia sama sekali tidak menyangka jika keajaiban ini mengakibatkan timnya harus terluka seperti itu.

Setelah ini dia bertekad untuk membalas kehilangan ini dengan semua kemenangan. Ya, dia harus mengganti kerugian itu.

Naruto berhenti disalah-satu vending machine. Memasukan uang kedalam untuk mendapatkan kemasan bentou untuk dia bawa ke sekolahnya.

Sambil menunggu Naruto mengelus bagian perutnya dengan wajah sendu. Dia sebelumnya berpikir jika dengan kedatangan Chakranya bisa kembali mendapatkan tanda Kurama di perutnya, perutnya masih polos, dia sudah tidak memiliki tanda Kurama sehingga membuatnya bisa langsung menyimpulkan bahwa dia sepenuhnya sudah tidak memiliki Kurama didalam tubuhnya.

Bagaimana ini bisa terjadi? Dia masih belum mendapatkan jawaban tentang alasannya bisa terdampar di dunia ini, jadi jawaban pertanyaan tentang ketiadaan Kurama tidak bisa dia pikirkan.

Bentou keluar dari slot, cepat mengambilnya dan setelah itu Narutopun kembali meneruskan perjalanannya menuju ke sekolah.

Apa yang akan dia lakukan dengan Chakra ini? Naruto menggelengkan kepalanya tidak tahu, kehidupan keras seorang Ninja sudah tidak diperlukan lagi disini, dan jika dia secara terus terang memperlihatkan segala keterampilannya sebagai seorang Ninja dia hanya akan berakhir di cap seorang Monster oleh orang-orang awam di dunia ini.

Naruto menghela nafas... Dia merasa seperti seorang Tentara yang terciduk dan senjatanya sedang dilucuti.

Naruto sampai di sekola dan langsung menuju clubhouse untuk bertemu semua rekan setimnya.

"Selamat pagi?" Setelah membuka pintu Naruto menyapa keempat rekannya yang sudah tiba terlebih dahulu.

"Yatta, kau sudah kembali!" Kurita datang dan langsung menyambutnya dengan pelukan kematian.

Sena dan Mamori datang dan langsung menyapanya, meninggalkan Hiruma sendiri jauh didalam clubhouse, dia hanya menyeringai melihat kedatangan Naruto.

"Bagaimana keadaanmu? Apakah sudah merasa baik?" Setelah Kurita melepaskan pelukannya Sena langsung bertanya.

"Setelah libur satu hari aku sudah merasa sangat sehat!" Naruto menjawab sambil menganggukan kepalanya.

"Bagus, kalau begitu kita bisa memulai menu latihan yang sudah aku siapakan untukmu Rubah-sialan!" Kata Hiruma menyeringai menatap Naruto.

"E- Eh, bukankah Naruto-san baru saja sembuh? Kau tidak bisa membuatnya langsung berlatih seperti itu, Hiruma-kun!" Mamori berseru tidak setuju, dia tahu pasti jika apa yang sedang Hiruma pikirkan sebagian besarnya adalah sebuah ide yang sangat buruk.

"Tidak apa-apa, aku akan bekerja dengan sangat keras untuk menerima semua itu!" Kata Naruto merasa yakin membuat Hiruma semakin menyeringai mendengarnya.

Setelah sambutan itu Naruto ikut masuk kedalam clubhouse. Dia segera duduk disudut ruangan, mengambil satu set kartu dan dia langsung bersenang-senang membangun gedung pencakar langit dari kartu remi ditangannya.

"Tunggu Sena, aku ingin melihat hasil foto yang telah kau ambil dari bangku penonton!" Sena yang mendengar pertanyaan itu dari Mamori langsung membeku.

"Mereka semua ada disini!" Kata Hiruma, dia menyeringai sekaligus membanting tumpukan foto diatas meja.

Mamori berjalan kearah Hiruma, dia langsung memeriksa foto dan tercengang.

"Kenapa ada banyak foto Sakuraba?" Tanya Mamori merasa aneh dengan koleksi foto yang didominasi gambar Sakuraba.

"Ini adalah salah-satu strategy tim Deimon, dan dengan foto itu kita bisa bertukar informasi dengan Fangirls Sakuraba. Bukankah begitu Sena?" Kata Hiruma menjelaskan sambil berdiri dan menghampiri Sena untuk menyenggolnya.

"Y- Ya..." Sena bergumam pasrah saat Hiruma menyelipkan satu amplop berisi foto Sakuraba kedalam saku seragamnya.

"Sekarang ingatlah untuk menyelesaikan masalah ini, kau harus menjaga foto-foto itu sampai kami mendapatkan foto Sakuraba edisi terbaru untuk tahun depan!" Meskipun tidak mengerti dengannya Sena langsung menganguk-anggukan kepalanya.

Naruto sedikit terpengaruh dengan alasan nyeleneh yang disampaikan oleh Hiruma sehingga gedung pencakar langit yang sedang dibangun itu seketika roboh.

Kenyataan yang sebenarnya adalah: Alasan foto itu di dominasi oleh gambar Sakuraba karena Hiruma sendiri memeras golongan Fangirls Sakuraba untuk meliput jalannya pertandingan.

Beberapa menit kemudian bel sekolah berbunyi menandakan waktu pembelajaran akan segera di mulai.

Hiruma berpaling kepada Naruto. "Temui aku sepulang sekolah!"

Naruto hanya mengangguk sebelum menghela nafas dan berjalan menuju kelasnya. Dalam perjalanan ke kelas dia tak henti-hentinya menggerutu tentang membosankannya pelajar sekolah, dia sudah mengalami itu satu hari, dan dengan suasana kelas seperti Iruka yang sedang menjelaskan sejarah Konoha tentu saja tidak membuat minatnya tertarik dengan hal-hal yang disebut pelajaran sekolah.

Kebetulan dia sudah mendapatkan Chakranya kembali...

"Hey, Sena, kau duluan saja pergi ke kelas!" Sebelum Sena mengutarakan pertanyaannya Naruto sudah jauh berlari.

Sampai dikamar mandi Naruto langsung membentuk satu Handseal dan memanggil satu Kage Bunshin. Namun Kage Bunshin yang dia buat saat ini berbeda dari sebelumnya, dia menambah lebih banyak Chakra agar bisa membuat Kage Bunshin ini bertahan lama.

Naruto menghela nafas lega... Dia sepertinya harus bersukur karena ternyata Chakranya masih melimpah, hanya saat ini jauh lebih lemah dari sebelumnya karena kenyataannya tubuhnya sendiri masih beradaptasi dengan keadaan seperti ini. (Baca: Ketiadaan Kurama)

"Aku akan berlatih dan tugasmu sekarang adalah pergi ke kelas untuk menggantikanku!"

"Ah, kenapa tidak sebaliknya?"

Naruto melotot mendengar keluhan Bunshinnya. "Karena aku adalah Uzumaki Naruto!"

-Line Break!

Naruto saat ini terlihat sedang duduk diatas batu menenangkan energy tubuhnya yang terkuras karena berbagai pelatihan yang sebelumnya dia jalani.

Kondisi Fisiknya masih luarbiasa mengagumkan, berbanding terbalik dengan kondisi energy Chakranya yang masih tak beraturan setelah kehilangan sesuatu yang penting didalam tubuhnya.

Cadangan Chakranya terasa menukik tajam, dia tidak lagi memiliki cadangan Chakra tak terbatas selayaknya dulu ketika masih ada Kurama didalam tubuhnya. Tapi meskipun begitu, cadangan Chakra aslinya tidak semenyedihkan itu, dia masih mampu menciptakan seribu Bunshin dan masih baik-baik saja ketika dia melakukan sparing memerangi mereka semua.

Keterampilan mematikan yang dia miliki sangat terbatas. Naruto hanya memiliki variasi Rasengan, dia tidak memiliki pengetahuan tentang Ninjutsu element yang baru sekarang dia sesali tidak mempelajarinya.

Sangat menyedihkan.

Jika dia membandingkan dengan Ninja sekelas Kakashi, A, Bee, Sasuke bahkan Gaara, Naruto yang tanpa Kurama bisa memastikan diri sebagai Ninja terlemah diantara mereka semua.

Bagaimana Naruto bisa mengimbangi keterampilan mereka dengan hanya Kage Bunshin dan variasi Rasengan? Jangan bertanya padaku, tanyakan pada pengarang -Naruto- yang membuat protagonis ini sebagai Ninja monoton.

Sudah cukup menyesali masa lalu Naruto lekas berdiri, dia menyingkirkan debu imajiner sebelum melangkah pergi keluar melalui jalan yang sebelumnya dia masuki.

Hutan yang menjadi tempat latihannya ini memang menyeramkan, meskipun begitu Naruto bisa mengatakan jika hutan ini tidak semenyeramkan yang dikatakan orang-orang kepadanya.

Sebelum dia datang dan masuk kedalam hutan ini, sepanjang perjalanan dia sering mendapatkan beberapa himbauan dari penduduk sekitar agar kembali mengingat Tuhan dan terus menghargai kehidupan yang telah dianugrahkan kepadanya.

Naruto bingung, tentu saja dia merasakan kebingungan ketika hampir semua orang bahkan penjaja makanan di sisi luar hutan itu menyangka bahwa dia sedang putus asa dan akan melakukan bunuh diri.

Mengabaikan itu semua Naruto cepat masuk kedalam hutan, berjalan terus kedalam dia sering menjumpai beberapa papan tulisan yang lagi-lagi menghimbau perlakuan bunuh diri.

Menggelengkan kepala atas kelucuan itu Naruto terus berjalan, namun sepuluh menit kemudian dia berhenti sambil mengerutkan kening.

Naruto berkeliling panik karena tidak bisa menemukan batang pohon yang sebelumnya dia tandai.

"Aku akan mati! Hutan ini sangat menyeramkan, Dattebayou~" Naruto terlalu masuk kedalam hutan yang akhirnya dia tersesat tanpa tahu jalan pulang.

Mencoba memeriksa pohon lainnya Naruto hanya mendapatkan hasil yang sama, untuk itu dia memutuskan untuk terus mendaki pohon dengan Chakranya agar dia bisa menentukan jalan keluar dari hutan ini.

Naruto tersenyum, dia akhirnya menemukan jalan pulang.

Naruto turun dari pohon, setelah itu dia langsung berlari menuju ke selatan tempat yang sebelumnya dia lihat sebagai keramaian kota.

Dua jam kemudian Naruto berhenti ketika pendengarannya menangkap sebuah suara nyaring dari kiri tempatnya berdiri. Dia bermaksud memeriksa, dan ketika dia tiba di tempat asal suara dia menemukan seorang pemuda berambut hitam sedang berlari menaiki jalan dengan dua bobot Ban mobil besar yang diseret melalui pinggangnya.

"Eh, itu bukannya..." Naruto melihat kembali dengan seksama dan akhirnya dia bisa menyimpulkan jika pemuda itu adalah Shin Seijuro.

Naruto keluar dan menyapa sambil melambaikan tangannya. "Shin, kau sedang berlatih ya?"

Shin berhenti dan menoleh kearahnya, dia menyipitkan padangannya untuk Naruto. "Sedang apa kau ada disini?"

"Um, yah, aku baru saja pulang berlatih dihutan itu, aku tersesat dan tidak sengaja ada disini!" Jawab Naruto seadanya.

"Oh." Setelah menanggapi itu Shin kembali berlari meninggalkan Naruto yang langsung merespon mengejarnya.

"Hey, hey, setidaknya jangan mengabaikan aku! Aku hanya mau bertanya jalan untuk kembali kerumahku!"

Shin berhenti seketika. "Jalan keluar?" Gumamnya bingung, seketika dia membelakak seakan terkejut dengan kata-katanya sendiri. "Jalan keluarnya adalah..." Shin terdiam dan Naruto menunggu dengan sabar apa yang akan dia ucapkan selanjutnya.

Terlalu lama menunggu Naruto mulai meledak mempertanyakan kelambanan Shin untuk merespon pertanyaannya. "Gah, kenapa kau malah diam saja?"

Shin menggaruk bagian belakang kepalanya. "Aku sendiri tidak tahu."

Mendengar jawaban itu membuat Naruto memundurkan langkah kakinya. "Bagaimana mungkin..." Dia tidak percaya Shin tidak tahu masalah seperti ini.

"Kau turun saja terlebih dahulu, tanyakan kepada Sakuraba yang masih dibawah sana!" Setelah menunjukan arah kepada Naruto, Shin kembali melanjutkan pelatihannya.

Naruto kembali menahan Shin. "Kenapa berlatih sendirian disini?"

"Aku lebih memilih berlatih sendiri!"

'Pantas saja Hiruma memanggilnya seorang monster, latihannya tidak seperti orang biasa, Dattebayou~!' Pikir Naruto melihat Shin yang kembali berlari dengan beban berat dibelakangnya.

Hari sudah menjelang sore, Naruto harus cepat pulang karena sudah meninggalkan sekolah terlalu lama.

Tapi tunggu dulu, bukankah di sekolah ada Bunshinnya yang menggantikan? Tentu saja dia masih mengingatnya, dan apakah dia juga telah menggantikanku menemui Hiruma setelah pulang sekolah? Tidak tahu, rencana awal Naruto bahwa setelah berlatih dia akan kembali ke sekolah setelah, dan kejadian tak terduga ini tentu saja tidak masuk kedalam rencananya.

Hanya butuh waktu setengah jam untuk Naruto sampai di kaki gunung, sedikit berjalan lagi Naruto bisa melihat Sakuraba yang sedang duduk diatas kap mobil yang berwarna merah.

Naruto tersenyum dan menghampirinya. "Hallo?"

Sakuraba menoleh dan langsung mengerutkan kening menatap Naruto. "Maaf, siapa?"

"Naruto Uzumaki, Line Backer Deimon Devil Bats!" Jawab Naruto ceria.

Sakuraba membelakak. "Bagaimana kau bisa disini?" Naruto menjelaskan permasalahan yang saat ini dia hadapi, dan Sakuraba mengangguk mengerti mendengar penjelasan itu. "Jadi kau tersesat dan entah bagaimana bisa sampai disini? Mengejutkan memang, Daimon berada disebrang kota ini, dari sini kau tinggal menuju ke stasiun dan turun dipemberhentian pertama!"

"Apakah masih jauh?"

Sakuraba menghela nafas. "Masuklah, aku akan mengantarmu sampai ke stasiun!" Intruksinya sambil melangkah masuk kedalam mobilnya.

Dengan perasaan canggung Naruto mengikutinya, dia duduk disamping Sakuraba dan mobilpun perlahan namun pasti keluar dari parkiran tersebut.

Naruto merasa tidak enak karena merepotkan pemuda itu, dia bisa saja pulang sendiri dengan bantuan teknik Ninjanya, namun karena untuk mencegah orang-orang tidak merasa aneh dengannya Narutopun memutuskan untuk 'belajar' hidup normal.

"Omong-omong namaku Haruto Sakuraba, aku adalah Wide Receiver milik Ojou White Knight." Untuk memecah kesunyian Sakuraba memperkenalkan dirinya.

Naruto menganggukan kepalanya. "Aku sedikit tahu tentangmu, Hiruma memaksa kami untuk menghapal data calon lawan kami."

"Jadi itu caramu mampu menganalisis pergerakanku diatas lapangan yah?" Naruto adalah pemain Deimon yang tidak pernah membiarkannya bergerak leluasa diatas lapangan, dan karena kehadirannya itulah Takami tidak bisa mengirimkan Everest Pass untuknya.

Naruto membelakak terkejut, dia merutuki kecerobohannya karena telah membongkar satu strategy lanjutan yang telah diberikan oleh Hiruma. "Eh, yah, tidak. ah ha ha~" Naruto mencoba menutupi kebodohannya, namun itu sama sekali percuma karena Sakuraba sendiri sudah mendapatkan jawabannya.

Sakuraba tersenyum dan kembali memandang datar jalanan didepannya.

Ditengah perjalanan mobil Sakuraba berhenti, dia meminggirkan mobilnya menghampiri seorang gadis berambut coklat yang berdiri disisi jalan.

Sakuraba membuka kaca jendela dan menyapa gadis tersebut. "Koharu, kau mau pulang?"

Gadis itu menoleh dan tersenyum menganggukan kepalanya. "Sakuraba-kun, bagaimana kau bisa ada disini? Bukankah kau bertugas untuk mengawasi Shin-kun agar dia tidak tersesat lagi?"

"Yah, tapi orang ini membutuhkan bantuanku!" Sakuraba menunjuk kesamping dengan jempolnya. "Jadi, bagaimana kalau kau juga sekalian ikut dengan kami? Bukankah tujuanmu ke Daimon?"

Gadis yang bernama Koharu itu melongok kedalam mobil, dan ketika dia mendapati Naruto yang menatapnya sambil menggaruk kepalanya sontak dia langsung memerah.

"Bagaimana?" Sakuraba bertanya kembali.

"Ah, yah, terimakasih atas tawarannya." Koharu mengangguk setuju untuk ikut dengan perjalanan mereka.

Sakuraba membuka pintu belakang mobilnya dan Koharupun masuk kedalamnya.

Setelah Koharu masuk, Sakuraba kembali melanjutkan perjalanannya.

"Nah, karena tujuan kalian sama-sama ke Daimon, bisakah Uzumaki-san menjaga Koharu?" Kata Sakuraba sambil mengedipkan matanya kearah Koharu.

"Kau tenang saja, aku akan menjaganya dengan segenap hatiku!" Naruto menanggapinya dengan tekad membara dimatanya.

Sakuraba sebenarnya bermaksud memberi kode agar Koharu bisa menggali beberapa informasi penting tentang calon lawan mereka dimasa depan, namun persektif yang Koharu dapatkan itu sangatlah berbeda, Koharu malah berpikir jika Sakuraba saat ini sedang menggodanya dengan masalah CPR yang sebelumnya dia berikan untuk Naruto.

Tidak terasa perjalanan mereka sudah selesai dan saat ini mobil Sakuraba sudah berhenti tepat didepan stasiun yang dimaksud.

Naruto dan Koharu sudah keluar dari mobil.

"Nah, aku akan kembali ke Mt. Fuji untuk mengawasi Shin. Ingatlah Koharu, lakukan yang terbaik!" Setelah pamit dan menyemangati Koharu, Sakurabapun pergi meninggalkan mereka berdua.

"Apa itu?" Naruto mengerutkan alis mendengar Sakuraba mengatakan hal-hal aneh seperti itu kepada Koharu.

Koharu sendiri lekas mengibaskan tangannya panik seraya berusaha mencari alasan yang masuk akal untuk menghindarkan Naruto dari pembicaraan tadi.

"Oh, begitu... Ya, dia memang sedikit aneh!" Naruto mengangkat bahu dan tak mau tahu.

Mereka berdua mulai masuk kedalam stasiun, berdampingan duduk dibangku untuk menunggu kereta datang keduanya menghabiskan waktu sambil mengobrol.

"Jadi, um, namaku Naruto Uzumaki, aku sangat berterimakasih karena sebelumnya kau menolongku saat aku hampir mati kemarin!" Naruto memulai memperkenalkan dirinya dan dilanjutkan dengan sedikit basa-basi tentang kejadian yang menimpanya ditengah lapang.

Koharu menoleh, dia mengangguk dengan wajahnya yang semakin memerah jika dia harus kembali diingatkan oleh kejadian memalukan itu.

Koharu Wakana sebelum menjadi manager tim White Knight adalah seorang PMR, sebenarnya dia tidak perlu malu dengan kenyataan memberi seorang pemuda yang tidak dikenalnya CPR, namun entah kenapa dia merasa sangat malu dengan apa yang dia lakukan itu, terlebih pemuda pasien CPRnya kini sedang duduk sisebelahnya.

Naruto menggaruk bagian belakang kepalanya canggung ketika tak mendapati tanggapan selain anggukan dari gadis itu. "Um, apa aku boleh meminta namamu?"

"KOHARU WAKAN -eh..." Koharu langsung menutup mulutnya karena secara tidak sengaja dia mengangkat nada suaranya.

"Wakana-san sangat aneh!" Naruto terkekeh mendapati tingkah Koharu yang menurutnya sangat lucu itu. "Kau tahu, aku jadi mengingat temanku dulu, dia sama sepertimu, dia gadis yang aneh. Wajahnya bahkan selalu memerah, dia tampil dengan ragu-ragu karena kurangnya kepercayaan diri, tapi..." Naruto tersenyum cerah memandang Koharu. "...Aku yakin jika aku akan menyukai orang sepertimu!"

Blush!

Koharu semakin memerah mendengar ungkapan yang terus terang dan jujur itu. "A- Apa yang kau katakan itu? T- Tidak sopan jika kau menggoda gadis yang baru saja kau kenal!"

Koharu menutupi wajahnya dan membuat Naruto semakin terkekeh dibuatnya. "Aku sama sekali tidak menggodamu, aku mengatakan apa yang sebenarnya aku pikirkan."

"Uh..." Koharu tidak tahu harus berkata apa untuk menanggapi kata-kata itu, dia hanya terdiam merapatkan jaket almamaternya untuk membuatnya merasa nyaman dan terlindungi Angin malam.

"Hey lihat, kereta sudah datang!" Naruto memanggil dan segera berdiri dari kursinya.

Koharu menoleh dan kedua matanya bisa melihat kereta yang datang dan dengan seketika berhenti tepat didepannya. "Ya, keretanya sudah datang..." Bisiknya melihat Naruto dengan semangat melangkah maju menghampiri Kereta.

Dari tempatnya berdiri Koharu bisa melihat jelas punggung nya, bahunya terlihat sangat besar mengimbangi tinggi tubuhnya yang menjulang hampir mengimbangi Sakuraba. Koharu tersenyum, namun sedetik kemudian dia tersentak ketika Naruto berbalik dan melambaikan tangan padanya untuk bersorak memintanya segera datang menyusulnya.

Koharu menganggukan kepalanya, dan dengan langkah kecil kedua kakinya perlahan dia memangkas jarak dengan pemuda berambut pirang tersebut.

Naruto menyambutnya dengan tersenyum, meraih pergelangan tangannya dan diapun mengajak Koharu masuk kedalam Kereta.

xxxxxxxxxxxxxxxxxTO BE CONTINUEDxxxxxxxxxxxxxxxxx

Dari awal Esya sudah menyiapkan skenario ini. Chakra Naruto tertutup, terbuka lagi ketika laga melawan Ojou. Mungkin skema ini terasa sangat dipaksakan, ya Esya akui itu karena skema ini sejujurnya Esya buat untuk mengantisipasi kemenangan Deimon.

Kurama sudah tidak dimiliki Naruto? Ya, skema yang dibuat Esya untuk masalah ini adalah: Kurama mengorbankan eksistensinya untuk membuat satu keajaiban bagi Naruto, sejarah selesai. (Skema yang sering digunakan di Fandom Naruto cross lainnya)

Jangan berharap Naruto belajar Ninjutsu element, Fuinjutsu atau hal-hal nyeleneh lainnya. Itu semua tidak akan berguna didunia ini. Naruto hanya akan belajar untuk mengoptimalkan energy Chakranya semaksimal mungkin untuk permainan Amefuto.

Amefuto dimainkan oleh sebelas orang, jadi Esya lebih nyaman dengan menyebut tim yang bermain dengan kata kesebelasan. Dan alasan tentang nomor punggung Naruto #3, itu adalah nomor punggung pahlawan Esya (Paulo Maldini). -_-v

Esya sedikit bingung dengan latar tempat Eyeshield 21. Namun menurut wawancara, pengarang menyebutkan bahwa Daimon berada di pinggiran Tokyo, begitupula dengan Ojou. Tapi jika ada yang ingin melengkapi keterangan Ini Esya akan menyambut kalian dengan sukacita.

Terimakasih untuk segala sambutan kalian semua untuk kedatangan Fanfic ini... Esya tidak pernah menyangka pengunjung Fanfic ini bisa mencapai 1k, padahal tahu sendiri kan Fandom ini sebelumnya sangaaaaattt sepi. Esya sangat senang, dan Esya berharap dukungan seperti ini terus mengalir dari kalian semua... Sampai jumpa lagi!