"Kami pulang!"

Koharu dan Shin sudah kembali dari Deimon dan sampai di clubhouse Ojou White Knight.

Koharu duduk disofa menemani Takami, sedangkan Shin langsung masuk kedalam ruangan gym.

Takami yang sedang duduk membaca Manga menoleh dan tersenyum menyambut kedatangan mereka. "Selamat datang kembali!" Balas Takami setelah itu mengambil teh manisnya yang ada diatas meja. "Bagaimana pertandingannya?" Tanyanya sebelum menyesap teh.

Koharu mengangguk membenarkan. "Deimon berhasil memenangkan pertandingan dengan skor yang sangat mencolok, 98-00."

"Bruuusssh!" Takami tersedak oleh tehnya, dia menatap kembali Koharu dengan pandangan 'apa kau seurius?'.

Koharu mengangguk kembali. "Uzumaki Naruto, Eyeshield 21, Raimon Taro menjadi bintang lapangan untuk kemenangan mereka."

Takami terdiam, setidaknya dia bisa memperkirakan kemenangan Deimon, namun kenyataan yang dibawa oleh Koharu tentang kemenangan Deimon yang sangat telak itu tidak mampu dia perkirakan dengan logika.

Takami sedang membicarakan Deimon, sebuah sekolah yang nyatanya tidak memiliki klub Amefuto, mengabaikan kenyataan tentang Hiruma dan Kurita.

Ojou bahkan pernah mengalahkan mereka 99-00, jadi kejutan tentang Deimon yang berhasil memenangkan pertandingan dengan skor hampir identik tidak bisa Takami pikirkan secara logika.

Bagaimana mungkin perkembangan mereka secepat ini? Menyimpan rasa penasarannya Takami langsung meminta Koharu untuk mengumpulkan seluruh anggota Ojou bersama pelatihnya.

Koharu membutuhkan waktu hampir 10 menit untuk mengumpulkan mereka, dan setelah mengumpulkan seluruh anggota Ojou (Minus Shin), mereka saat ini sudah memadati ruang teater untuk melihat rekaman ulang yang Koharu dapatkan dari pertandingan itu.

"Hey, ini tentang Deimon kan? Bagaimana mungkin mereka berhasil menang 98-00!?"

"Ini masih terdengar sangat konyol, lawan mereka Zokugaku Chameleons yang dikatakan tidak pernah menelan satu kalipun kekalahan, dan bagaimana mungkin mereka bisa menang dengan skor mencolok seperti itu!"

"Zokugaku selalu menang karena mereka bertanding dengan lawan yang lemah!"

"Tetap saja, meskipun mereka tidak pernah masuk turnamen, Zokugaku memiliki pengalaman yang jauh berkembang dari Deimon."

Selagi menunggu Koharu menyeting ulang hasil rekamannya para anggota Ojou berbisik-bisik mengenai rumor yang didengar mereka sebelumnya.

"Ini bukan lagi masalah tentang ketidakmungkinan! Ketika pertandingan kami melawan mereka, kita bisa mengatakan bahwa mereka telah jauh berkembang dari terakhir kami melawan mereka."

"Ya, aku ingat, kalau tidak salah mereka itu juga sudah memiliki seorang pemain bertahan yang cakap dan beberapa kali mampu merepotkan kita."

"Maksudmu nomor #93 itu?"

"Ya."

Beberapa menit kemudian Koharu telah selesai menyeting semua hasil rekamannya. "Nah, ini sudah selesai!" Dia menekan tombol ON dan membiarkan semua anggota Ojou yang telah menunggu menyaksikan satu persatu momen yang dia sendiri anggap penting.

Rekaman berputar dan hal pertama yang seluruh anggota Ojou saksikan adalah Receiver terbaru dari Deimon beraksi dengan gemilang. Receiver itu berhasil menangkap bola Kick-of, kemudian menerima operan Hiruma yang dikatakan sangat sulit untuk diatasi sehingga sampai saatnya tiba dia berhasil mencetak Touchdown dengan tangkapannya itu.

Koharu menghentikan rekamannya. "Raimon Taro, siswa tahun pertama di SMU Deimon, dia memegang nomor punggung #80 dan juga berposisi sebagai Wide Receiver terbaru Deimon Devil Bats!"

Takami membenarkan letak kacamatanya. "Ini tentu mengejutkan jika Hiruma sudah berhasil menemukan seseorang yang mampu menangkap operan gilanya. Raimon Taro ini masih seorang pemain amatir, namun siapa yang tahu jika suatu saat nanti dia akan menjadi sosok yang siap merepotkan permainan kita."

Rekaman dilanjutkan, kali ini menayangkan Naruto yang berhasil mengeksekusi extra point untuk Deimon.

Koharu menghentikan rekamannya. "Uzumaki Naruto, siswa tahun pertama SMU Deimon. Seperti yang kita semua sudah tahu, dia berposisi sebagai Line Backer, namun yang lebih mengejutkan... ternyata dia juga memiliki keterampilan sebagai seorang Kicker!"

Rekaman kembali dilanjutkan, kali ini menayangkan Running Back #26 Zokugaku menendang dan memukul satu persatu pemain Deimon sebelum dia dihentikan oleh Naruto.

Seluruh pemain Ojou tidak terlalu terkejut dengan cara bermain Zokugaku, mereka lebih tertarik mengamati cara Naruto mengelak dan langsung menghentikan pemain #26 Zokugaku itu.

Rekaman terus menayangkan kejadian yang sama, namun pada kesempatan ketiga Zokugaku mencetak Touchdown, Zokugaku kali ini memasang 3 pemain untuk menjadi suksesor serangan ini.

Satu-persatu pemain Deimon mulai berjatuhan akibat sisi anarkis ketiga pemain itu, namun ketika mereka sampai dihadapan Naruto, mereka bertiga tidak mampu berbuat apa-apa sehingga bola yang mereka kuasai berhasil direbut oleh Line Backer yang dengan seketika melakukan serangan balik.

Bola yang dilempar Naruto melesat menuju daerah pertahanan Zokugaku dan berhasil ditangkap dengan sempurna oleh Receiver terbaru Deimon.

"Bagaimana dia melakukannya?" Tanya Takami sedikit terkesima. "Cara dia memblokir dan merebut bola sangat sempurna, juga dengan lemparannya itu..." Takami meringis dengan apa yang akan dia katakan selanjutnya. "...Dia bukan hanya sebagai pemain bertahan!"

Rekaman terus berlanjut, masing-masing melihat cara kepemimpinan Hiruma yang nyeleneh namun berdampak positif untuk lawannya, sampai suatu ketika jalannya bertandingan itu melambat dan mendesak Deimon untuk terus menggunakan strategy monoton yang membuat Receiver mereka terus menjadi korban Zokugaku.

"Apa yang dilakukan Hiruma? Bukankah dia sudah tahu jika strategy itu tidak berguna?" Takami menyatakan sambil terus memandang Hiruma yang hanya diam berkacak pinggang.

Shougun menganggukan kepala seolah mengerti dengan jalannya pertandingan itu. "Memaksa seorang pejuang untuk menekan ketakutannya sendiri adalah dengan cara membuatnya merasakan adrenalin perang, anak itu (Eyeshield) sedang diajari bagaimana suasana peperangan yang sesungguhnya!"

Takami menoleh dan mengangguk, meskipun penjelasannya sangat berbelit-belit, Takami sudah sangat maklum dengan ciri khas Shogun yang memiliki obsesi tersendiri untuk menghubungkan sesuatu dengan cara tentara Templar.

Takami menghadapkan kembali perhatiannya menuju layar untuk melihat sisa rekaman pertandingan.

Zokugaku masih menguasai pertandingan, mereka sudah melakukan set pertandingan.

Quarterback menerima bola, namun sedetik kemudian dia bergeser untuk menghindari Blitz dari Naruto yang terbang melewati Lineman.

Takami tersenyum menganggukan kepalanya, memang hanya itulah yang bisa Quarterback lakukan untuk menghindari Blitz mengerikan tersebut.

Tidak berselang lama mengutarakan teorinya, kedua mata Takami dibuat melebar ketika dalam sepersekian detik saja Blitz itu berhasil dan menghasilkan Sack sempurna yang membuat Quarterback Zokugaku panik dan melepaskan bola.

Deimon kembali berhasil mencuri bola.

"A- Apa yang terjadi?" Takami masih tercengang, dia menoleh ragu menatap Koharu yang membuatnya mengerti untuk mengulang rekaman tersebut.

Rekaman berputar dalam gerak lambat sehingga semua orang bisa melihat dengan jelas Naruto mendarat dengan satu kaki dan menumpu seluruh kekuatannya untuk mendorong kedepan sehingga menghasilkan sebuah lompatan jauh mencapai tempat Quarterback Zokugaku.

"Tidak mungkin! Kakinya akan patah jika dia mendarat seperti itu! Dan apa itu? Meskipun dengan satu kaki, lompatannya tidak masuk akal!?"

"Dia Monster!"

"Kalian tahu atlit Parkour? Kemungkinan dia seperti mereka!"

Murmur terdengar dari kelompok Ojou White Knight, mereka sama sekali tidak bisa menyembunyikan keterkejutan itu.

Otawara tertawa. "Sepertinya tidak akan ada yang bisa lolos dari serangan itu! Kau salah, Takami!" Otawara berkata mengulangi pernyataan Takami sewaktu dipertandingan mereka menyebutkan tentang kelemahan Predator Tackle.

Takami membenarkan letak kacamatanya. "Kejutan yang sangat menarik!" Keringat dingin yang keluar dari keningnya berbanding terbalik dengan pernyataannya yang cukup tenang.

Sudah cukup dengan rekaman itu Koharu kembali melanjutkan, kali ini dia menunjukan sebuah rekaman yang memang mampu membuat seluruh pasang mata anggota Ojou tidak bisa berkedip.

Naruto berlari melompati Lineman, setelah itu dia terus berlari dengan kecepatan tinggi menghancurkan lawan-lawannya yang berniat untuk menghentikannya. Ditengah perjalanan kecepatannya semakin dan semakin bertambah, dan entah apa yang terjadi, dalam waktu seketika dia sudah membawa bola melewati garis Endzone Zokugaku.

Hening...

...Semua orang terdiam, bahkan Shogun pun ikut terpaku menatap layar dengan kedua matanya yang melebar.

"Ini adalah pertunjukan yang mampu membuat semua orang yang menyaksikannya akan terkejut." Seolah mengerti Koharu mulai memberi penjelasan. "Kecepatan ini sangat gila, dia tidak berlari..." Koharu memutar kembali rekaman dan menayangkannya dalam gerak lambat. "...Tapi dia melompat [*1]."

Rekaman menunjukan Naruto bergerak tidak normal, jarak antara kedua kakinya cukup lebar sehingga bisa dikatakan dia sedang melesat maju melompat dari satu langkah menuju langkah lainnya untuk mengikis jarak dan waktu.

"Dalam gerakan itu, Uzumaki Naruto mampu mengikis jarak sampai..." Koharu berhenti untuk membaca catatannya. "...Ah, ini dia... 28 yard dalam waktu 1,6 detik. Aku meneliti catatan waktu ini dari ketika Uzumaki-san mulai untuk melakukan gerakan itu!"

"Ini konyol..." Takami melemparkan punggungnya kesandaran kursi. "...Bagaimana bisa dia melakukan hal seperti itu?"

"Dari gerakan tubuhnya aku bisa melihat jika itu bisa dibilang gerakan spontanitas dari situasi emosional yang tengah dialami oleh Uzumaki itu." Kata Shogun sekaligus menutup kedua matanya.

"Situasi emosional?" Tanya Takami.

Shogun mengangguk. "Dalam pikirannya seolah dia mengatakan 'Aku harus melakukan ini, tidak ada jalan lain!' entah apa yang ingin dia capai dengan melakukan hal seperti ini, namun melihat dari tayangan itu membuatku sedikit berpikir jika Uzumaki-san ini ingin mengalihkan perasaan takut Eyeshield terhadap dirinya."

Takami menganggykan kepalanya mengerti, dan dia kembali meluruskan pandangannya kearah layar. "Aku yakin dia akan menjadi batu sandungan kami untuk menuju Crismast Bowl."

"Kecepatan itu memang sangat luarbiasa, namun dengan kecepatannya itu tentu membuatnya tidak bisa mengontrol pergerakannya, itulah kelemahan yang bisa aku manfaatkan untuk menghentikannya!" Seluruh anggota Ojou menoleh ke belakang hanya untuk menemukan Shin Seijuro berdiri diambang pintu dengan Tas kemah tergantung dibahunya.

"Ah, Shin?" Takami berdiri dari kursinya. "Apa yang ingin kau lakukan dengan tas besar itu?"

"Aku tidak bisa membiarkan tubuhku lemah jika tidak ingin hancur oleh kecepatan itu!" Jawabnya dan setelah itu dia kembali melanjutkan perjalanannya.

"Hey, tungg- hah..." Takami yang melihat Shin sudah menjauh langsung menghela nafasnya. "...Kawaki-san, bisakah kau menemani Shin ketempat latihannya?"

"E- Eh, bukankah ini sudah sangat sore?" Salah-satu anggota Ojou yang ditunjuk Takami mengatakan sambil menggaruk kepalanya.

"Kau hanya perlu mengantarnya sampai parkiran!"

"Ah, baiklah." Kawaki berdiri dari kursinya dan berbalik pergi menyusul Shin.

Setelah suasana kembali kondusif, rekaman kembali dilanjutkan.

Setelah kejutan itu Deimon memimpin pertandingan, Eyeshield kembali ikut dalam permainan. Eyeshield berlari dengan leluasa, dia tidak terhentikan karena semua pemain Zokugaku yang berniat menghentikannya terlebih dulu hancur oleh terjangan Naruto yang terus mengikuti dan melindunginya dari belakang.

Terlalu direpotkan oleh kedua orang itu membuat konsentrasi permainan Zokugaku terpecah, dan dengan kondisi itu membuat Raimon Taro berdiri bebas menyambut operan Hiruma.

-Line Break!

Hari ini adalah hari Minggu, Naruto sedang duduk di Halte untuk menunggu bus yang akan pergi menuju tempat yang Sena sebut sebagai Mall.

Naruto masih sangat asing dengan ini karena di masa lalu untuk membeli pakaian dia hanya perlu pergi mengunjungi toko khusus yang ada dipasar desa, dan Naruto akhirnya menyimpulkan jika sebutan pasar ditempat ini adalah Mall.

Naruto Uzumaki perlu menambah isi lemarinya yang hanya ada 3 pasang pakaian.

Bus datang berhenti didepannya, Naruto segera berdiri dan melangkah maju untuk masuk kedalamnya.

Naruto memperhatikan sekeliling, melihat beberapa orang yang duduk diatas kursi memenuhi lambung bus diapun mengikutinya.

Dia tak tahu harus bagaimana lagi, disamping tidak tahu dimana nantinya dia akan turun, diapun merasa canggung untuk bertanya kepada seseorang yang duduk tidak jauh dari tempatnya.

Bus terus berjalan, dan ketika melewati Halte selanjutnya bus kembali berhenti untuk menurunkan dan mengangkut penumpang yang terlihat duduk dikursi Halte.

Naruto sedikit terkejut dengan banyaknya orang yang memutuskan turun di Halte ini, dan dia mulai bertanya-tanya tentang 'apakah dia juga perlu mengikuti mereka?'.

Memutuskan untuk ikut turun bersama mereka Narutopun terlebih dulu dihentikan oleh sebuah tepukan ringan dipunggung kanannya.

Naruto menoleh dan menemukan seorang gadis berambut kastanye sebahu yang menatapnya penuh tanda tanya. "A- Apakah... Apakah kau Uzumaki Naruto-san dari kelas 1-3? Anggota Amefuto?"

Naruto pertama bingung, namun untuk mendapatkan kejelasan diapun segera menjawab pertanyaan itu. "Ini aku, Uzumaki Naruto."

Mendengar jawabanku gadis itu tersenyum cerah, dia membungkuk hormat dan langsung memperkenalkan dirinya. "Namaku Kumiko Yuuka..." Berhenti sejenak untuk menarik satu lagi gadis berambut coklat sebahu untuk bergabung bersama dirinya. "...Ini temanku, namanya Ogasawara Makoto!" Sigadis yang diperkenalkan sekilas membungkuk. "Setelah pertandingan kemarin kami telah memutuskan untuk segera mendirikan Fansclub Uzumaki-san, mohon bantuannya." Makoto mengakhiri dengan kembali membungkukan punggungnya.

"Eh, Fansclub?"

"Ya, kami akan selalu datang dan secara pribadi akan selalu mendukungmu disetiap pertandingan. Bukan hanya itu saja..." Yuuka berhenti sejenak, semakin mengobarkan semangatnya untuk memulai penjelasan selanjutnya. "...Kami juga akan menaikan strata sosialmu ketempat paling tertinggi untuk mencapai ketenaran yang tidak ada duanya!"

Naruto mengerti dengan semua itu...

...Artinya jika dia menerima ini maka secara otomatis dia akan menjadi publik figur untuk gadis-gadis muda penggemarnya.

"Aku mengerti, untuk itu aku juga akan memohon kerjasama dari kalian berdua!" Naruto membungkuk, mengatakan sepatah kata untuk menerima usulan Yuuka membentuk Fansclub itu.

Naruto tidak perlu bertingkah munafik untuk menolak perhatian dari gadis-gadis seusianya, dia sendiri merasa penasaran berada diposisi sebagai pusat perhatian bagi seluruh gadis-gadis seusianya, dan yang lebih penting...

...Pengalaman masa kanak-kanak Naruto yang haus akan perhatian itu mendorongnya untuk menerima usulan Yuuka.

"Terimakasih banyak!" Yuuka secara tanggap menanggapinya dengan tersenyum cerah.

Bus hampir terisi penuh oleh penumpang baru, dan kembali melanjutkan perjalanannya sekaligus mengatakan pada Naruto bahwa dia harus kembali duduk diatas kursinya.

Kedua gadis itu duduk disebelahnya, dan Yuuka yang duduk diantara Naruto dan Makoto terus berbicara untuk menanyakan beberapa hal penting yang harus dia ketahui tentang Naruto.

"Oh, jadi Uzumaki-san masih sendiri?"

"Aku tidak pernah punya pacar."

Yuuka terlihat terkejut dengan kenyataan itu. "Apakah Uzumaki-san bercanda? Ah, maksudku bagaimana mungkin Uzumaki-san tidak pernah punya pacar?"

"Apakah itu sangat aneh?"

"Dengan penampilan seperti itu?" Yuuka menatap perhatian penampilan Naruto. "Tentu saja membuatmu menjadi sangat aneh!"

"Eh?"

"Kau sangat tampan, tubuhmu luarbiasa tinggi dan dengan warna kulit yang sangat seksi ini Uzumaki-san pasti bisa dengan mudah menjerat gadis-gadis disekelilingnya kan?"

Naruto mulai gugup dengan pertanyaan itu, ditambah Yuuka yang saat ini sedang menggerayangi tubuh bagian atasnya dan sesekali memekik mengagumi seluruh otot kerasnya membuatnya sangat canggung.

Naruto mulai merasa tak nyaman. "Er, aku tidak tahu masalah itu, dan aku sendiri rasanya tidak pernah berpikir untuk mencari seorang pacar."

"Sangat disayangkan!" Yuuka cemberut mengatakan itu. "Setidaknya kau perlu memiliki satu pacar untuk menemani hari-harimu, seperti saat ini!" Mungkin maksud Yuuka adalah Naruto tidak perlu menghabiskan weekend sendirian.

Seolah diingatkan sesuatu Narutopun lekas bertanya pada Yuuka. "Berbicara tentang hari ini... Apakah Kumiko-san tahu dimana tempat bernama Mall itu berada?"

"Kami berdua ingin pergi kesana!" Yuuka berseru semangat. "Apakah Uzumaki-san juga ingin kesana? Kalau begitu kenapa tidak kita bertiga pergi bersama-sama?"

"Ya, itu bagus!" Naruto tersenyum senang menyadari bahwa sekarang dia memiliki petunjuk jalan menuju tempat tujuannya.

Ditengah perjalanan Yuuka dan Naruto terus melakukan percakapan, disisi lain Naruto merasa heran karena teman Yuuka yang bernama Makoto hanya diam saja, dan setelah Yuuka mengatakan bahwa Makoto itu pemalu Naruto akhirnya mengerti alasannya tidak ikut dengan percakapan itu.

Hanya butuh waktu 30 menit untuk sampai di Halte berikutnya, mereka bertiga turun untuk berjalan menyusuri beberapa blok dan setelah berjalan akhirnya mereka bertiga pun sampai ditempat tujuan.

"Apakah ini yang namanya Mall?" Naruto bergumam takjub memandang bangunan besar 4 lantai didepannya, dia sama sekali tidak menyangka jika pasar didunia ini akan jadi sebesar itu.

Yuuka yang berdiri disebelahnya menoleh dan menatap Naruto dengan pandangan sangsi. "Iya ini Mall, tapi apakah Uzumaki-san tidak tahu hal seperti ini?"

"Aku sebelumnya tinggal dipanti asuhan, dan alasanku terkejut karena aku sendiripun tidak pernah mengunjungi tempat yang seperti ini." Jawabnya dan membuat Yuuka mengangguk mengerti.

Mereka bertiga masuk kedalam bangunan itu, dan hal pertama yang dilihat Naruto adalah banyaknya tempat menakjubkan dimana puluhan orang berkumpul dan berlalu lalang.

"Karena ini adalah pertama kalinya untuk Uzumaki-san berada disini maka aku dan Makoto akan mengajakmu berkeliling!" Yuuka menarik tangan Naruto, mereka berdua mulai berjalan diikuti oleh Makoto yang mencicit dibelakangnya.

Yuuka mengajak Naruto mengelilingi lantai satu dimana dilantai ini mereka melihat beberapa toko yang menjajakan bahan makanan yang berupa sayuran, buah-buahan, seafod, dan bahan pangan lainnya. Ternyata dilantai satu bukan hanya tempat penjual bahan pangan, disini juga terdapat puluhan toko elektronik sehingga Yuuka menyebut tempat ini sebagai surga untuk para Ibu rumah tangga.

Setelah lantai satu mereka selesaikan Yukka selanjutnya mengajak Naruto menaiki lantai dua. Jika dibandingkan dengan tempat tadi disini Naruto menemukan perbedaan yang sangat mencolok, dimana toko-toko ditempat ini memiliki beberapa meja dan kursi yang berjejer ditata rapi. Yuuka menyebutkan mereka sebagai tempat hangout, dilantai dan tempat inilah pengunjung Mall dimanjakan oleh berbagai toko kuliner.

Dilantai selanjutnya Naruto mendapati sebuah keramaian yang melebihi keramaian dari kedua tempat sebelumnya. Naruto bisa melihat ratusan remaja memadati lantai ini, bermain sesuatu yang entah apa itu dan tertawa senang ketika memenangkan sebuah permainan. Yuuka menyebut ini sebagai Game Center, disinilah tempat sebagian besar remaja menghabiskan waktu liburnya.

"Ju- Jumonji-san..." Makoto menyelinap dan memegang lengan kiri Yuuka dengan erat.

"Anak nakal itu? Dimana?" Seolah mengerti mata Yuuka langsung berkeliling, mendapati punggung Naruto yang bergerak menjauh menuju tiga remaja yang sedang bermain disalah-satu permainan membuatnya seketika diserang panik.

Naruto ternyata terlebih dulu menemukan keberadaan ketiga remaja itu, karena itulah dia berjalan pergi memisahkan diri untuk menghampiri ketiga remaja yang dia anggap sebagai anggota baru Amefuto.

"Yo Ha-Ha Sankyodai?" Naruto menyapa menyebabkan ketiga remaja itu menoleh kearahnya.

"Ha?"

"Haa?"

"Haaa?"

Melihat respon mereka membuat Naruto tersenyum. "Ah, ternyata benar ini kalian!"

"Apa itu..."

"...Sudah kami katakan..."

"...Kami tidak bersaudara!"

Ha-Ha Sankyodai menyalak marah karena lagi-lagi harus mendengar lelucon seperti itu.

"Ya, ya, setidaknya itulah yang aku tahu dari kalian." Naruto berkilah dan mengangkat bahu.

"Nomor #93, untuk apa kau mendatangi kami?" Pertanyaan yang sangat tidak ramah, terlebih mereka memanggil dengan nomor punggung keanggotaannya.

"Aku Uzumaki Naruto, dan aku datang hanya untuk menyapa saja." Naruto memperkenalkan diri sekaligus memberitahu maksud kedatangannya.

"Terserah, kami sebenarnya tidak ingin tahu tentang namamu!" Kuroki berkata acuh.

"Kami juga tidak menginginkan sapaan manja itu!" Dilanjutkan dengan Togano yang mencerca alasan Naruto.

"Dan untuk itu, sebaiknya kau cepat pergi darisini!" Jumonji mengakhiri dengan kedua mata melotot dengan disisipi sebuah ancaman kepada Naruto.

"Oy, oy, apa yang salah dengan kalian?"

"Kami tidak ingin berhubungan dengan Hiruma!" Ketiganya menjawab secara bersamaan dan setelah itu langsung pergi meninggalkan Naruto.

Sambutan yang sangat tidak ramah, mungkin mereka bertiga korban terbaru penindasan Hiruma.

Naruto menghela nafas dan kembali bergabung dengan Yuuka dan Makoto.

"B- Bagaimana kau bisa begitu santai berhadapan dengan mereka Uzumaki-san?" Makoto bertanya mencicit.

"Ah, apa masalahnya?" Naruto balik bertanua.

"Mereka dikenal sebagai trio nakal dari Deimon, mereka tak jarang mengusili siwa-siswi pendiam di sekolah kita, dan salah-satu korban mereka adalah Makoto sendiri!" Yuuka memberitahu sekaligus membuka kebobrokan dari Ha-Ha Sankyodai.

"Oh." Naruto menatap Makoto yang menundukan kepalanya. "Kau jangan takut, mulai hari ini kau adalah temanku, dan karena itulah aku tidak akan membiarkanmu terluka!"

"U- Uzumaki-san..." Makoto yang merasakan usapan tangan Naruto terhadap kepalanya mendongkak, kedua matanya memancarkan sinar kagum seolah-olah sedang melihat seorang Malaikat yang sedang tersenyum kearahnya.

Naruto tersenyum masih menatap Makoto. "Nah, karena kita sudah berteman, Ogasawara-san tidak perlu lagi memanggilku dengan nama keluarga atau honor!"

Makoto menggelengkan kepalanya. "T- Tapi itu..."

"Panggil aku Naruto, oke?"

"K- Kau juga harus memanggil namaku, N- Naruto-kun!" Makoto mencicit dengan wajahnya kini berubah merah cerah.

"Oke, Makoto-chan." Makoto semakin memerah, pengalaman pertama dipanggil akrab oleh seorang pria selain keluarganya tentu membuatnya merasa sangat malu.

Yuuka yang melihat kedua pipi Makoto bersinar cerah memekik. "Kyaaaa, aku memang selalu tahu bahwa temanku ini memang sangat imut!" Setelah dia melompat dan menjerit terhadap Makoto kali ini dia menoleh menatap Naruto, sambil menggenggam kedua tangannya Yuuka berkata. "Ne, ne, apakah aku juga boleh memanggilmu Naruto-kun?" Yuuka ternyata memiliki karakter sangat impulsif.

"T- Tentu saja, Yuuka-chan!" Yuuka memekik dan langsung memeluk Makoto.

"Kau dengar itu? Ini adalah langkah awal untuk kesuksesan kita, Makoto-chan!" Makoto mengangguk senang, dengan ciri khasnya sendiri Makoto ikut merayakannya bersama Yuuka. "Kami baru saja merintis karir sebagai penggemar, dan apa kau tahu arti tentang seorang penggemar yang memiliki kedekatan tersendiri dengan idolanya?" Dia bertanya dan Makoto hanya menggeleng. "Itu berarti kita adalah penggemar yang sangat istimewa!"

Naruto yang melihat keantusiasan kedua gadis itu menjadi tersenyum, melihat kebahagiaan mereka membuatnya sangat senang.

Mereka telah sampai dilantai 4, Naruto menemukan berbagai toko pakaian berjejer rapi disisi jalan.

"Disini adalah tujuan kami datang ke Mall!" Yuuka memberitahu Naruto bahwa mereka berdua sebelumnya memang telah menyusun rencana untuk berburu pakaian diskon. "Oh, dan apa yang sebenarnya kau butuhkan Naruto-kun?" Naruto belum memberitahu rencananya, untuk itulah dia bertanya.

"Aku juga ingin membeli pakaian baru." Menjawab pernyataan itu Yuuka langsung bersorak dan mengatakan bahwa mereka bertiga bisa saling memeriksa dan memilih pakaian masing-masing.

Yuuka kembali menggiring Naruto memasuki setiap toko, mereka bertiga langsung berbaur dengan surga pakaian dan memilih satu persatu dan menunjukannya kepada teman-temannya.

"Makoto, kau akan sangat lucu jika memakai pakaian ini!" Yuuka menunjukan sebuah gaun onepiece terbuka berwarna oranye.

"Yuuka-chan!" Setelah melihat apa yang ditunjukan padanya Makoto langsung memerah malu. Gaun itu sangat pendek, dan jika Makoto memakainya dia bisa memastikan jika kedua paha berlemaknya akan terekspos sempurna.

Naruto yang sedari tadi berdiri tak jauh dari kedua gadis itu hanya berkerut bingung, dia sama sekali tidak tahu tentang fashion, untuk itulah dia hanya terdiam tak tahu harus memilih pakaian yang bagaimana.

"Aku tidak mau tahu, kau harus mencobanya!" Yuuka dengan paksa mendorong Makoto ke kamar ganti dan menyerahkan gaun itu kepadanya. "Hey, Naruto-kun, bisakah kau memberikan pendapatmu untuk pakaian baru Makoto-chan?" Yuuka sedikit keras memanggil Naruto.

Naruto menoleh dan segera datang menghampiri Yuuka. "Makoto-chan sudah mendapatkan pakaian yang dia inginkan? Jadi dimana dia?"

Yuuka berjalan kedepan, dia mengetuk pintu. "Makoto-chan, apakah sudah selesai?"

"Y- Yuuka-chan, k- kenapa kau tadi memanggil Naruto-kun?" Dari dalam Makoto berujar sedikit keras.

Jadi dia mendengarku, pikir Yuuka. "Pendapat seorang pria sangat penting untuk fashion seorang gadis seperti kita!"

"T- Tapi..."

"Kalau kau tidak membuka pintunya aku akan segera membukanya sendiri!" Makoto yang ada didalam bilik memekik mendengar ancaman itu. Terdengar suara gerasak-gerusuk sebelum pintu itu terbuka dan menampilkan Ogasawara Makoto dalam balutan gaun Onepice yang menonjolkan sosok tubuhnya, dia berdiri menunduk dengan kedua tangannya berusaha menarik bawahan gaun untuk mrnutupi kedua pahanya.

Yuuka langsung mengguncang Makoto dan menyatakan dia sangat seksi dengan balutan gaun itu.

Disisi lain Naruto terhenyak, kedua matanya terus terpaku menatap tubuh Makoto dengan pakaian yang sangat menonjolkan lekuk tubuhnya.

Jika Naruto boleh mengatakan, sosok Makoto yang sekarang ini adalah sosok seorang wanita dewasa yang masih terjebak dengan wajah kekanak-kanakan, meskipun begitu...

...Kemolekan tubuhnya mampu menyalakan sebuah suar untuk memungkinkan nalurinya sebagai seorang pria bangkit dan mulai terbakar.

"Naruto-kun!"

"Ah, eh, um, ada apa?" Naruto tersadar, menggelengkan kepalanya sebelum dia menolehkan kepalanya kepada Yuuka.

Yuuka tersenyum licik. "Apakah Naruto-kun sudah mulai tenggelam kedalam lautan gairahnya sendiri?"

"Aku hanya sedikit tersandung oleh pikiranku, dan ah sebaiknya aku segera mencari pakaianku sendiri!" Naruto mencoba berkilah, tidak menemukan lagi alasan yang cocok Narutopun segera pergi meninggalkan mereka berdua sendiri.

Setelah kembali ke lokasi sebelumnya Naruto mencoba untuk mencari pakaian yang akan dia beli, namun ketika hampir seluruh pakaian yang dia lihat tidak cocok dengan kriterianya dia menjadi kecewa.

Naruto memutuskan untuk duduk disebuah bangku didalam toko, gadis-gadis masih sibuk dengan kegiatan belanjanya dan tidak mungkin dia pergi meninggalkan mereka.

Naruto duduk menunggu.

Selagi Naruto duduk seorang gadis berambut coklat dengan gaya ponitail datang menghampirinya.

"Uzumaki-san?"

Naruto menoleh dan mendapati gadis berambut coklat manager Ojou. "Oh, ternyata ada Wakana-san." Kata Naruto tersenyum.

Koharu duduk bergabung disisi Naruto. "Sedang apa kau disini? Menunggu pacarmu?"

"Eh? Kenapa seharian ini aku selalu mendengar kata pacar?" Naruto sedikit bingung dengan itu. "Tidak, aku tidak menunggu pacarku, tapi aku sedang berbelanja bersama kedua temanku dan karena disini aku tidak menemukan pakaian yang cocok untuk aku kenakan jadi aku memutuskan untuk menunggu mereka berdua sebelum kami melanjutkan ke toko yang selanjutnya." Entah kenapa Naruto menjawabnya dengan panjang lebar.

Koharu menganggukan kepalanya. "Disini kau tidak mungkin bisa mendapatkan pakaian yang cocok untukmu, ini adalah toko khusus perempuan jadi yah..."

Apakah itu alasan semua pengunjung toko ini adalah perempuan? Naruto bersemu merah mendapati kenyataan itu.

"Uh, aku merasa sangat bodoh!" Naruto merutuk malu. "Pantas saja semua pengunjung disini memandangku aneh!" Ya Naruto masih mengingatnya, ketika Naruto sedang mencari pakaian untuk dirinya sendiri semua pengunjung itu memandanginya dan sesekali berbisik terkikik dengan teman-temannya.

"Sebenarnya mereka sama sekali tidak memandangmu aneh!" Katanya dengan wajah yang sedikit meringis. "Mereka pikir kau adalah pria yang sedang menemani pacarnya berbelanja, dan itu... um, baik, pikiran itu membuat mereka merasa sangat iri!"

"Iri, huh?"

"Ya." Koharu mengangguk. "Pria yang menemani pacarnya berbelanja itu sangat manis!" Sisi feminim Koharu meledak keluar, dia sendiri jadi membayangkan memiliki pacar yang seperti itu.

Naruto menggaruk tengkuknya canggung. "Aku tidak tahu hal seperti itu ada."

Selagi mereka berdua terus berbincang, Yuuka dan Makoto datang membawa dua bingkisan dimasing-masing tangannya.

"Maaf membuatmu menunggu terlalu lama, Naruto-kun!" Yuuka berkata menunjukan raut penyesalan.

"Tidak apa-apa." Naruto berdiri dari kursinya. "Yuuka-chan, Makoto-chan, perkenalkan ini Wakana Koharu-san, dia adalah kenalanku dan manager dari tim Ojou!"

Koharu menyapa sekaligus membungkukan badannya. "Hallo, aku Wakana Koharu, senang bertemu dengan kalian berdua!"

"Senang bertemu denganmu, Wakana-san. Aku Kumiko Yuuka / Ogasawara Makoto!" Kedua gadis itu menanggapi sekaligus memperkenalkan dirinya sendiri.

Setelah perkenalan singkat itu ketiga gadis itu mulai mengenal dan melakukan percakapan lanjutan, dan ketika waktunya tiba untuk kembali melanjutkan perjalanan Yuuka berucap pamit.

Naruto juga perlu mendapatkan kebutuhannya.

Koharu mengangguk dan tersenyum, setelah itu dia berlalu pergi kembali ketempat teman-temannya.

Mereka bertiga keluar dari toko, berjalan kembali sampai mereka menemukan satu toko yang sangat mencolok dan memiliki beberapa hiasan ciri khas jantan.

Ketika mereka memasuki toko itu seluruh pasang mata pejantan langsung beralih memperhatikan mereka.

Mengabaikan itu mereka langsung berjalan semakin masuk kedalam toko dan berhenti di lautan pakaian yang siap dipilih oleh Naruto.

"Jangan ragu meminta bantuan kami, Naruto-kun. Ya tahu, seorang gadis lebih mengerti dengan kejantanan seorang pria!" Yuuka berseru seolah memberitahu bahwa mereka berdua tidak akan segan membuat penampilan Naruto lebih wah dari sebelumnya.

Naruto sendiri tidak mengerti dengan fashion, untuk itu dia menyambut bantuan sukarela yang ditawarkan gadis itu.

"Kau dengar itu, Makoto-chan, ini adalah kesempatan yang sangat luarbiasa untuk seorang penggemar memilih pakaian yang akan dikenakan oleh idolanya. Untuk itu kita harus memilih pakaian yang baik dari yang terbaik!" Yuuka berseru semangat dan ditanggapi Makoto yang dengan malu-malu mengangkat semangatnya.

Dalam waktu singkat terjadi kekacauan didalam toko, kedua gadis itu berlomba memilih dan memberikan pakaian untuk secepatnya Naruto coba di ruang ganti.

Naruto bingung, dia berdiri terpaku memandang tumpukan pakaian diatas tangannya.

Apakah mereka seurius memintaku mencoba satu-persatu pakaian ini? Naruto bertanya-tanya, dan ketika satu pakaian lagi terbang bergabung dengan tumpukan pakaian itu Naruto secepatnya langsung berbalik untuk menuju keruang ganti.

Jika dia terus berdiri disana, dia akan membuat pakaian yang mereka pilih semakin menumpuk diatas tangannya.

-Line Break!

"T- Terimakasih untuk kesenangan hari ini, Naruto-kun!" Sebelum masuk kedalam rumahnya Makoto terlebih dahulu mengucapkan terimakasih.

Hari sudah menjelang malam, mereka bertiga menikmati hari libur yang menyenangkan bersama-sama. Naruto mendapatkan bantuan untuk menambah isi lemarinya, bersenang-senang di wahana bermain dan pergi makan malam bersama dengan kedua gadis teman barunya.

Dan ketika mereka memutuskan untuk pulang, Naruto bersikap gentle untuk terlebih dahulu mengantarkan kedua gadis itu sampai didepan rumahnya.

"Sama-sama, aku sendiri sangat terbantu dengan kehadiran kalian berdua!" Sambil mengibaskan tangannya Naruto menanggapi.

"Kalau begitu sampai jumpa besok disekolah!" Makoto membungkuk dan setelah itu dia berbalik pergi untuk masuk kedalam rumahnya.

Setelah melihat Makoto yang sudah sepenuhnya masuk kedalam rumah Naruto berbalik dan berjalan pergi meninggalkan tempat itu.

Tujuannya kali ini adalah rumahnya sendiri.

Ditengah perjalanan Naruto merenggut memandang kedua tangannya. "Aku bangkrut!" Hatinya menangisi lembaran uang yang telah dia habiskan untuk barang belanjaannya sendiri.

xxxxxxxxxxxxxxxxxTO BE CONTINUEDxxxxxxxxxxxxxxxxx

[*1] Teknik sederhana seorang Ninja, melompat dari satu pohon ke pohon lain. Kelemahannya, dalam kecepatan yang luarbiasa dia tidak bisa mengontrolnya, dan sebelum dia menghendakinya untuk berhenti, dia akan terus berlari lurus menabrak apapun yang ada didepannya. Nama untuk teknik ini? Esya belum memikirkannya, mungkin jika kalian punya nama teknik yang badas silahkan masukan lewat Review!

Kesan untuk chapter ini? Esya nggak tahu apa yang sebenarnya Esya tulis, so yang pasti Esya ingin memulai pembentukan Fansclub dan sekaligus bersenang-senang dengan tulisan Esya sendiri. Terimakasih!