Suara raungan jam weker menggema memenuhi sebuah ruangan kecil, Naruto terbangun dari tidurnya dan langsung meraih jam itu untuk mematikannya, tidak melupakan desahan lembut yang dia keluarkan saat memeriksa jam weker itu masih menunjukan pukul 06,30 pagi.

Naruto bangun dari ranjangnya, dia masih punya waktu untuk mempersiapkan diri pergi ke sekolah.

Membuat dua Bunshin untuk menyiapkan sarapan dan menyiapkan perlengkapan sekolah, setelah itu Naruto berjalan meraih handuk masuk kedalam kamar mandi.

Menghabiskan waktu 10 menit sebelum dia kembali keluar dari kamar mandi dan segera mengenakan seragam sekolahnya.

Meraih tas dimeja dan blazer hijau yang tergantung dikursi belajar diapun lekas keluar kamar untuk menuju ke dapur dimana Bunshinnya sudah menyiapkan sarapan.

Duduk sendirian di meja makan Naruto menuangkan susu di gelas dan meraih roti bakar dengan telur ceplok dan mengunyahnya dengan santai.

Setelah sarapan Naruto memakai sepatu dan segera keluar apartemen untuk menuju sekolahnya.

Dengan berjalan kaki Naruto hanya membutuhkan waktu 20 menit sampai dia tiba didepan sekolahnya. Namun sebelum dia memasuki gerbang, dia terlebih dulu terpaku menatap pemandangan asing yang tidak biasa ada dihalaman sekolah.

Beberapa -tidak, hampir seluruh siswi Deimon High berkumpul menyambutnya dengan pekikan membahana seperti yang dia ingat ketika di Akademi seluruh siswi menyambut kedatangan Sasuke. Tapi yang lebih mengejutkan dari itu semua adalah beberapa mobil yang terparkir rapi dihalaman sekolahnya, dan juga beberapa media masa yang berkumpul siap meliput sesuatu yang sebenarnya Naruto sendiri tidak tahu.

"Uzumaki Naruto sudah datang! Dia ada disana!"

Naruto melangkah mundur, wajahnya mulai memucat ketika mendengar suara teriakan dari salah-satu kru media.

Naruto semakin mundur ketika melihat satu-persatu perhatian mereka beralih kepadanya, dan pada saat mereka melangkah datang menghampirinya Naruto langsung berbalik dan pergi.

Naruto berlari dengan awak media mengejarnya di belakang. Naruto panik dan terus berlari, sampai di tikungan dia berbelok dan...

...Dia terjatuh, lebih tepatnya dipaksa jatuh.

"Adududuh~" Naruto mengeluh dan berusaha untuk cepat berdiri.

"Eeung~" Suara erangan terdengar membuat Naruto berhenti, dan ketika dia kembali menggerakan tubuhnya untuk bangun dia kembali harus mendengar suara erangan yang sama.

Naruto menunduk untuk melihat apa yang sebenarnya ada dibawahnya, dan dia menemukan seorang gadis berambut blondie dan berpakaian laki-laki menatapnya bingung.

"Ma- Maaf!" Dengan canggung Naruto lekas mencoba untuk kembali berdiri, namun karena suara erangan yang sama lagi-lagi terdengar dia jadi termanggu.

"Be- Berhenti menekan da- dada-ku, dasar mesum!" Gadis itu berusaha menampakan wajah marah, meskipun begitu dengan wajahnya yang sangat memerah menjadikan tampang marahnya itu tidak berguna, dia malah terlihat sangat manis.

Mendengar kata 'tekan dan dada' membuat Naruto segera menunduk, dia menemukan tangan kirinya bertumpu diatas dada kanan gadis tersebut. "Ini kecelakaan! Ini kecelakaan! Sungguh, aku tidak sengaja melakukan itu!" Dengan panik Naruto berdiri, dia membungkuk berkali-kali kearah si gadis yang masih berwajah merah memandangnya.

Si gadis blondie itu berdiri. "L- Lain kali kau harus hati-hati!"

Naruto membungkuk sekali lagi. "Terimakas-"

"Itu dia Uzumaki Naruto!"

Naruto menegang, mendengar awak media yang semakin dekat diapun kembali berlari untuk menjauhkan diri dari kejaran mereka.

Si gadis blondie terpaku ditempatnya. 'Apakah mereka baru saja menyebutkan Uzumaki Naruto? Kalau begitu...' Gadis itu berbalik dan melihat punggung Naruto yang sudah sangat jauh hampir tak terlihat lagi. '...Seperti yang dikatakan video itu, dia cukup layak disebut sebagai Line Backer tercepat!'

Awak media melewati gadis itu, namun salah-satu diantara mereka menoleh kearah sigadis dan berseru. "Hey, Hey, Teikoku Alexanders ada disini!" Awak media yang sudah melewati tempat sigadis menoleh dan kembali mundur menghampiri tempat si gadis, mendapatkan santapan yang lebih lezat untuk bahan artikelnya dengan cepat mereka melupakan Naruto.

-Line Break!

"Hiruma, kita harus membantu Naruto!" Kurita yang berdiri disamping Hiruma merengek memintanya untuk membantu Naruto yang sedang dikejar oleh awak media.

Hiruma sendiri yang bersandar dipagar pembatas atap dan mengunyah permen karetnya malah acuh, kedua matanya terus melihat mobil dengan logo yang menarik perhatiannya terparkir rapi dihalaman sekolah. "Ada yang lebih penting dari itu, aku tidak bisa membiarkan Teikoku mengambil permata kita!" Selesai mengatakan itu Hiruma berlalu pergi meninggalkan Kurita.

Kurita mencoba mengejarnya. "Ada Teikoku datang ke sekolah kami?"

-Line Break!

Setelah menghindar selama satu jam Naruto kembali ke sekolahnya, dia menyelinap masuk dan perlahan namun pasti sampai di loker room.

Naruto sedang menyiapkan buku pelajarannya. Pelajaran pertama terpaksa harus dia lewati, dan pelajaran selanjutnya adalah seni rupa yang bisa dibilang bagian kelas favoritnya.

Selesai menyiapkan buku pelajarannya Naruto kembali menyelinap untuk sampai ke kelasnya. Tanpa hambatan dia sudah tiba didepan kelasnya, bejinjit melihat keadaan kelas diapun langsung menghela nafas lega ketika tidak mendapati Guru seni-nya ada dikelas.

Naruto membuka pintu, masuk kedalam kelas dan tanpa menghiraukan beberapa pasang mata yang memperhatikannya diapun langsung duduk ditempatnya.

"Ano, Uzumaki-san, bukankah Uzumaki-san diminta menghadap kepala sekolah?" Salah-satu gadis yang duduk tak jauh dari tempatnya berseru dengan nada gugup.

"Apa iya?" Menggaruk belakang kepalanya Naruto balik bertanya.

Gadis itu mengangguk. "Selain Uzumaki-san diminta untuk datang ke ruang kepala sekolah, Uzumaki-san juga diminta untuk datang ke lobi tempat para awak media sedang menunggu."

Naruto memucat. "A- Apakah mereka yang tadi mengejarku?"

Gadis itu mengangguk. "Katanya mereka ingin mewawancarai Uzumaki-san, dan kenapa Uzumaki-san malah berlari tadi?"

"Mereka terlihat sangat menyeramkan, aku bisa merasakan hawa kelaparan dari mereka semua!" Memang para awak media itu sedang kelaparan dengan berita yang seharusnya mereka cepat dapatkan.

Gadis itu terkikik. "Sebagai seorang idola seharusnya Uzumaki-san berlaku baik terhadap mereka, aku tidak ingin mereka nanti menjelek-jelekan idolaku!"

"I- Idola?"

Gadis itu mengeluarkan kertas formulir dan menunjukannya kepada Naruto. "Setelah aku menyerahkan formulir ini, aku akan resmi menjadi penggemar setiamu!"

-Line Break!

Terjadi sebuah kekacauan yang amat sangat di ruangan kepala sekolah, dua kubu saling dipisahkan oleh satu meja dengan kepala sekolah terlihat sangat frustasi terkena serangan telak dari ketiga kubu tersebut.

"Aku sama sekali tidak menyangka jika sekolah paling elit di Jepang datang mengunjungi sekolahku." Hiruma duduk pongah ditempatnya, dia melirik kedua utusan dari masing-masing sekolah yang dia sebutkan.

"Tolong, nak, jangan membuat ini sulit! Kami tidak memiliki kepentingan denganmu!" Kubu sebelah kanan menyalak tidak membiarkan Hiruma yang hanya sebatas murid mengganggu negosiasinya dengan kepala sekolah.

Hiruma menyeringai licik dan mengeluarkan sebuah buku hitam dari saku blazernya. "Tokio Moritsugu, usia 32 tahun dengan pekerjaan sebagai Scout untuk Teikoku Aleksanders. Sejarah, usia 8 tahun dia pernah menjadi korban asusi-"

"STOP! APA YANG KAU KATAKAN!?" Pria setengah baya dengan rambut coklat yang diketahui bernama Tokio Moritsugu meledak dan memotong monolog Hiruma.

Hiruma mengeluarkan senapan dan menodongkannya kearah Tokio. "Oh, diamlah Bajingan-sialan! Kau pikir aku siapa? Aku memiliki hak untuk ikut campur dalam masalah ini karena apa yang sedang kalian bicarakan ini adalah anggota timku, Uzumaki Naruto!"

"H- Harap tenang, k- kita bisa membicarakannya ba-"

Kepala sekolah mencoba meredam perseteruan itu, namun dia berhenti ketika senapan Hiruma beralih membidiknya. "Kita bisa membicarakannya baik-baik sehingga kau bisa menyetujui tentang proposal yang akan Bajingan-sialan ini sampaikan, bukan begitu kepala sekolah sialan?!"

"E- Eh, k- kami bahkan belum tahu proposal apa yang akan Moritsugu-san sampaikan untuk kita."

"Tidak perlu, aku sudah tahu akal busuk kedatangan Teikoku ke sekolah ini!" Hiruma mengecam dan menatap datar kearah Tokio. "Jadi silahkan pergi, dan aku harap setelah ini kau tidak akan mengusik anggota timku!"

"Kenapa aku harus mendengarkan kata-katamu yang tidak masuk akal itu?" Tokio masih bersikukuh sehingga membuat Hiruma menyeringai menunjukan deretan giginya yang tajam.

"Aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan, aku bahkan bisa..."

-Line Break!

Waktu istirahat sudah tiba, meskipun begitu Naruto tidak bisa beranjak dari kelas karena hampir seluruh siswi Deimon High memadati ruangan kelasnya.

Satu persatu dari mereka mengantri untuk meminta tandatangan, berpoto bahkan memintanya untuk memberikan ciumannya.

"Naruto-sama, disini!"

"Woa, a- apa yang kau lakukan?"

"Aku ingin mengabadikannya dengan membuat Tatto dengan pola tanda tangan Naruto-sama."

Salah-satu siswi membuka kancing kemejanya dan menunjukan payudara dengan brenda mewahnya, dia meminta untuk Naruto memberi tandatangan tepat diatas payudaranya.

Naruto tersentak mundur. 'Ini mengerikan! Bagaimana bisa dia memintaku melakukan hal seperti ini? Juga... Kenapa mereka berbondong-bondong mengerubungiku? Apa yang sebenarnya telah aku lakukan?'

Dengan tangan yang gemetar Naruto meraih spidol permanent yang dibawa siswi tersebut, setelah membubuhkan tangatangannya siswi itu memekik senang dan ketika dia hendak memeluknya siswi tersebut terlebih dahulu dilempar dari barisan oleh siswi yang berdiri dibelakangnya. T-T

Siswi di barisan menerobos masuk, dan ketika dia hendak menyampaikan permintaannya terdengar suara pekikan nyaring yang berasal dari luar kelas.

"KYAAA~ APA ITU?"

"I- ITU BINATANG TERKUTUK MILIK MR. H!"

Setelah teriakan menyebutkan tentang Mr. H, dalam waktu seketika seluruh siswi Deimon High berhamburan keluar meninggalkan Naruto sendiri yang hanya terpaku ditempatnya.

Naruto mulai bertanya-tanya, hanya sepersekian detik saja sebelum dia akhirnya mendapati Anjing oranye datang memasuki kelasnya.

'Jadi itu...' Naruto hanya pasrah ketika Anjing itu menggigit celananya dan menyeretnya sampai ke belakang sekolah tempat clubhouse Amefuto berada.

Cerberus mendobrak pintu dan melemparkan tubuh Naruto ke tengah ruangan.

Semua anggota menatapnya terkejut sebelum digantikan oleh pandangan kasian ketika Hiruma sendiri berteriak mengumumkan keterlambatan Naruto.

"Aku tidak bisa keluar kelas, disamping itu aku tidak tahu mengapa mereka melakukan hal aneh seperti itu!" Naruto berkilah, alasannya terlambat karena sekawanan siswi yang tiba-tiba datang memenuhi kelasnya.

Hiruma mengeluarkan Lapton dan menunjukan sebuah situs You-Kiub kepada Naruto.

Di video itu diperlihatkan beberapa momen dimana Naruto mendominasi pertandingan dengan Zokugaku. "Aku tidak tahu siapa yang mengupload video sialanmu ini! Video sialan ini berhasil memecahkan rekor pengunjung dan sudah dibagikan lebih dari satu juta kali!"

"Eh, apa artinya?" Naruto sama sekali tidak mengerti.

"Beruntung di video ini tidak menunjukan wajahmu secara jelas, jika mereka sampai tahu identitasmu, kau akan dikejar oleh seluruh orang didunia ini!" Mendengar itu Naruto langsung meneguk ludahnya. Dikelilingi oleh seluruh siswi Deimon saja membuatnya kelabakan, bagaimana jika seluruh perempuan didunia mengelilinginya? Entahlah.

Mamori melangkah maju. "Kalau begitu apa masalahnya?"

"Kita terpaksa harus bekerja ekstra keras untuk mengusir beberapa orang mencurigakan yang mengunjungi sekolah kita, dan yang pertama harus kita lakukan adalah..." Hiruma berhenti hanya untuk menyeringai seram menatap satu-persatu anggota Amefuto. "...Kita akan bertanding melawan Teikoku Aleksanders Grade C!"

Semua orang terdiam mendengar berita tersebut, sebelum...

"Hiruma! Apa yang kau pikirkan?!" Kurita berteriak panik, berbeda dengan yang lainnya yang hanya berbisik-bisik menanyakan tentang calon lawan yang sama sekali tidak mereka ketahui.

"Apa kau mengenal mereka?" Monta bertanya kepada Sena.

Sena menggeleng. "Tidak, nama sekolahnya terdengar sangat asing untuk sekolah di Jepang."

-Line Break!

Sepulang sekolah.

Hari Senin depan Deimon Devil Bats memiliki jadwal untuk bertanding melawan Teikoku Aleksanders Grade C. Karena alasan itulah dimulai hari ini Hiruma akan menggedor seluruh anggotanya dengan latihan intensif. Kurita dan Ha-Ha Sankyodai berlatih dengan boneka Lineman. Monta, Satake, dan Yamaoka berlomba menangkap bola yang diluncurkan oleh mesin pelontar. Sedangkan Sena (Eyeshield) dan Naruto, seperti apa yang dikatakan Hiruma, mereka sedang berlatih untuk saling mengalahkan.

"Cebol-sialan! Kau harus berlari lebih cepat jika kau ingin melewati tackle Naruto!" Hiruma yang berdiri disamping murka sambil menembakan senapannya mengincar Sena.

Sena melompat-lompat menghindari peluru. "Aku sudah melakukan yang terbaik!"

"Lakukan lagi! Aku tidak peduli, kau harus bisa melewatinya meskipun itu akan menghancurkan kakimu sendiri!" Hiruma kembali melemparkan bola untuk Sena tangkap.

Sena menerima bola dan setelah itu dia meluruskan pandangannya menatap Naruto. 'Seberapa seringnya aku melihat, aku sama sekalii tidak bisa melihat adanya celah untuk aku lewati!' Dalam bayangannya dia bisa melihat kalau kehadiran Naruto sudah digantikan ribuan Serigala, mereka semua menatap nayalang kearahnya dan sedang menunggu untuk menerkamnya. 'Apa yang harus kulakukan?' Merasa ragu dia mulai menyiapkan kuda-kuda untuk berlari.

BOM!

Bersamaan suara Bazoka yang meledak diudara Sena langsung berlari, dalam pandangannya dia bisa melihat ribuan Serigala itu juga mulai berlari mempersempit jarak dengannya.

Hanya tinggal 5m Sena tiba-tiba memperlambat laju kedua kakinya dan berbelok kesamping kiri. Tidak peduli seberapa keras dia mencoba menghindari mereka, dia tidak menemukan sebuah celah untuk meloloskan diri dan untuk kesekian kalinya dia di terkam oleh ribuan Serigala tersebut.

"ULANGI!" Hiruma berteriak memerintahkan Sena dan Naruto kembali ke posisinya masing-masing.

Waktu berlalu dengan begitu cepat, setelah dua jam berlalu Sena terbaring kelelahan.

Sekalipun aku tidak bisa melewati Naruto, Sena berpikir pahit.

Naruto yang sama sekali tidak berkeringat datang menghampiri tempat Sena. "Kelemahanmu hanya satu, kau terlalu takut mengambil resiko! Kau tidak perlu memikirkan cara untuk menghindariku, karena tidak peduli sejauh mana kau menghindar, aku bisa melompat lebih jauh dari yang bisa kau bayangkan!" Setelah mengatakan itu dia berbalik dan pamit kepada Hiruma untuk pulang lebih awal, ada rutinitas lainnya yang harus dia lakukan.

Setelah kepergian Naruto, Sena meluruskan pandangannya menatap langit. 'Aku terlalu banyak berpikir... Apa maksudnya?'

-Line Break!

Hari ini adalah hari jumat, dan seperti yang telah diumumkan hari kamis kemarin, Deimon Devil Bats berencana membuka lowongan untuk mencari anggota baru.

Seperti yang diharapkan, setelah demo permainan melawan Zokugaku ketenaran klub Amefuto melejit sehingga hanya berselang satu hari jumlah calon anggota yang berniat berpartisipasi sangatlah banyak.

Bukan tanpa alasan Hiruma menetapkan hari jumat sebagai hari penerimaan calon anggota baru. Selain bisa menambah kuota pemain untuk menghadapi Teikoku Aleksanders Grade C di hari Senin mendatang, Hiruma juga perlu mempersiapkan tim sedini mungkin untuk keikut sertaan Deimon Devil Bats menjalani turnamen musim dingin yang hanya beberapa bulan lagi akan digelar.

Naruto duduk di belakang meja yang memiliki empat kursi, di sebelah kirinya Sena yang terduduk tidak nyaman menanyakan sesuatu. "Jadi pertanyaan macam 'apa' yang harus aku tanyakan nanti?"

"Kau itu sialan-manager, jadi tanyakan apapun yang kau inginkan!" Hiruma yang sedang duduk paling belakang dan memoles senapannya menimpali. "Bangun, lemak Babi-sialan!" Ketika Hiruma mendapati Kurita yang tertidur dimejanya langsung meraung.

"Hiruma, jangan terlalu keras dengan Kurita!" Mamori yang tidak jauh dari tempat Kurita menegur Hiruma yang menurutnya selalu keras dengan para anggotanya.

Hiruma memutar matanya. "Jangan memanjakannya! Lemak Babi itu pasti tidak tidur karena terlalu banyak memikirkan tentang hari ini!"

Kurita yang baru bangun menoleh mengangkat kedua tangannya keatas. "Aku hanya terlalu gugup, dan aku juga tidak bisa tidur karena merasa hawatir kalau-kalau kami kembali tidak bisa menarik minat mereka." Kurita dengan sedih berkata seperti itu. Masih segar dalam ingatannya tentang rekrutmen anggota tim, dia dan Hiruma tidak pernah mendapatkan satupun siswa yang berminat masuk kedalam klub Amefuto mereka. "Ada begitu banyak yang mendaftar, aku sangat senang karena kehawatiranku sama sekali tidak terwujud!" Lanjut Kurita dengan mengusap kedua matanya sebelum tersenyum kearah Hiruma.

Tatapan Hiruma sekilas sayu, namun itu hanya sepersekian detik saja sebelum dia tersenyum menyeringai Iblis. "Ya, saatnya kita memulai wawancara!"

Satu-persatu calon anggota dipersilahkan untuk masuk, mereka menilai potensi untuk posisi calon anggota berdasarkan postur duduknya, dan ketika tidak sesuai yang diinginkan Hiruma langsung berteriak memotong sesi wawancara untuk beralih ke calon anggota yang lain.

Calon anggota keempat masuk, kali ini adalah seorang gadis berambut hitam panjang. Dari caranya berjalan sambil menunduk dan sikapnya yang ragu-ragu semua orang diruangan bisa menilai jika gadis itu adalah seorang pemalu.

Sena berkedip dua kali sebelum dia menyapa gadis tersebut. "E- Eh, bukankah itu Ogasawara-san? Tahun pertama dari kelasku?"

Mendengar ada seseorang yang memanggil namanya membuat Ogasawara Makoto meluruskan pandangannya. "K- Kobayakawa-san?"

Sena tersenyum dan mengangguk. "Ya ini ak-"

Sebelum Sena menyelesaikan kata-katanya dia terlebih dahulu ditendang oleh Hiruma yang murka. "Aku tidak peduli jika kalian saling mengenal, kau seharusnya bersikap profesional dengan memintanya duduk terlebih dahulu manager-sialan!"

Makoto yang melihat insiden kekerasan itu menjadi takut, kedua matanya langsung berkeliling seolah dia sedang mencari jalan alternatif untuk melarikan diri.

Mamori yang melihat Makoto yang mulai panik langsung menghampiri dan menenangkannya. Pandangannya kembali memicing menatap Hiruma, dia kembali menegurnya untuk tidak melakukan hal-hal tidak terpuji seperti itu, apalagi dia melakukannya di hadapan seorang gadis.

Setelah suasana kembali kondusif, Makoto dipersilahkan untuk duduk dan memperkenalkan dirinya. "A- Aku... N- Namaku Ogasawara Makoto, aku adalah siswi tahun pertama dari kelas 1-2." Setelah perkenalan formal itu Sena langsung menanyakan tentang motivasinya masuk kedalam klub Amefuto. "S- Sebenarnya aku dan temanku berencana untuk melamar menjadi manager klub ini, t- tapi karena temanku kebagian mengurusi UNSCLUB yang kami dirikan, j- jadi aku sendiri yang maju untuk melamar menjadi manager di klub ini."

"UNSCLUB?"

"Um..." Makoto merasa ragu untuk mengatakannya, tapi jika tidak diberitahupun akan percuma karena cepat atau lambat mereka juga akan tahu. "...U- Uzumaki N- Naruto Fansclub, t- temanku yang memberi nama seperti itu untuk klub kami."

"Eh?" Semua mata langsung terarah kepada Naruto.

Naruto menggaruk bagian belakang kepalanya canggung. "Mereka meminta ijin padaku, jadi aku mengijinkan mereka untuk membuat klub seperti itu."

"Apa kau bodoh?" Hiruma langsung meraung murka. "Kehadiran mereka bisa menghambat kegiatanmu dan latihan kami, Rubah-sialan!"

"I- Ini bukan kesalahan Naruto-sama!" Makoto dengan tegas mengatakan itu, aura yang berbeda dari sebelumnya menguar dari tubuhnya. "Kami tidak akan melakukan tindakan ilegal dalam operasi kami, kami tidak akan membuat Naruto-sama merasa tidak nyaman, dan inilah alasanku ada disini..." Makoto memandang lurus dan menatap Naruto penuh kekaguman. "...A- Aku disini untuk meliput keseharian dan pelatihan Naruto-sama secara langsung!"

"Kau ditolak!" Setelah mengakhiri monolognya Hiruma langsung menyatakan penolakannya.

Makoto yang mendengar penolakan itu langsung menundukan kepalanya, kedua tangannya langsung meremat keras lututnya.

Dia telah gagal, dia pasti akan mengecewakan seluruh teman-temannya yang ada di UNSCLUB, dan ketika dia memikirkan itu membuat tubuhnya mulai gemetar dan perlahan namun pasti dia juga mulai menangis.

"Oy, oy, tunggu dulu! Kau ingin membuat mereka semua menggila?" Naruto sebenarnya sudah tahu tentang kedatangan Makoto yang berencana masuk kedalam klub ini, bahkan inilah satu solusi yang dia berikan untuk meredam tindakan absurd Fangirls-nya itu.

Hiruma mengangkat bahu. "Klub-ku tidak menerima seorang penggemar."

"Ayolah, pikirkan lagi... Dia adalah gadis yang baik, dia bisa membantu Mamori-san untuk menyiapkan perlengkapan tim, dia pandai memasak dan yang lebih penting..." Naruto berhenti sejenak untuk mengirim kode kearah Mamori. "...Dia hanya sendirian."

Mamori menangkap kode itu. "Ah, apakah benar Ogasawara-san hanya sendirian? Tidak ada gadis lain yang berniat masuk ke klub ini?" Makoto mengangguk membuat Mamori tersenyum senang. "Kalu begitu selamat, kau diterima!"

Hiruma hendak memprotes, namun itu percuma saja karena Mamori terlebih dahulu mengajak anggota yang lain merayakan kedatangan manager baru.

Setelah perayaan singkat itu Mamori memberi isyarat untuk Makoto mengikutinya, mereka keluar dari clubhouse bersamaan dengan calon anggota lainnya yang segera datang untuk mengikuti sesi wawancara.

Calon anggota yang baru saja datang terlebih dahulu membungkuk sebelum dia menempati kursi yang telah disediakan. "Namaku Manabu Yukimitsu, aku adalah siswa tahun kedua dari kelas 2-4." Siswa itu memperkenalkan diri dengan nada lantang, meskipun begitu ketegasan suaranya itu tidak bisa menutupi seluruh kegugupannya.

"Tahun kedua?" Hiruma mengulang kembali poin penting dari perkenalan itu.

Mendengar nada sinis itu membuat Yukimitsu langsung berkecil hati. "Sudah kuduga, ternyata aku tidak panta-"

"Oh, bukan begitu!" Kurita menyela sambil memberikan isyarat untuk Sena memulai mewawancara.

"Ehem..." Sena berdehem sebelum mengungkapkan pertanyaannya. "...Apa motivasimu untuk ikut klub Amefuto ini?"

Yukimitsu berhenti sejenak untuk bermain-main dengan kedua jari tangan diatas lututnya. "Aku tidak pernah diijinkan untuk mengikuti klub apapun, dan ketika kemarin aku melihat pertandingan kalian... Aku merasa sangat bersemangat. Tahun depan aku akan fokus untuk menghadapi ujian, untuk itu aku memiliki sebuah keinginan untuk sedikit membuat sebuah kenang-kenangan..."

"Kenangan?" Hiruma langsung berdiri dan membombardir Yukimitsu dengan aura horrornya. "Kami disini bermain Amefuto untuk menang, Botak-sialan!"

Yukimitsu terpancing dengan kata-kata itu, dia berdiri secara lantang menantang Hiruma. "Tapi jika aku bermain, aku akan bermain untuk kemenangan!"

Hiruma kembali ingin menyerang Yukimitsu-san, namun Kurita bertindak sigap untuk segera menahannya. "Hiruma, apa salahnya jika kita memberinya kesempatan?"

Lagi, dan lagi...

...Dengan kesepakatan bersama membuat Hiruma tidak bisa berkutik dan terpaksa harus mengangguk meng-iyakan.

Calon anggota selanjutnya datang dengan cara tak terduga, dia menerobos pintu dan jatuh berguling dan langsung berlutut didepan semua orang. "Komusubi Daikichi, dosssu!"

Katanya yang tidak seorangpun bisa mendengar kecuali indra pendengaran super sensitif milik Naruto. "Namanya Komusubi Daikichi-san."

Komusubi mengangguk dan segera menersukan perkenalannya yang lagi-lagi tidak cukup jelas. "Murid."

"Murid?" Naruto bertanya balik, dia sama sekali tidak mengerti dengan maksud kata-kata itu. Namun ketika melihat tatapan anak pendek itu yang terus mengarah kepada Kurita akhirnya dia bisa menyimpulkan sesuatu. "Apa maksudmu kau ingin menjadi Muridnya Kurita?"

Komusubi mengangguk membuat Kurita senang mendengarnya. "Yatta, akhirnya aku menemukan teman baru diposisiku! Mari berjuang bersama, Komusubi!"

Komusubi menatap Kurita dengan pandangan kagum, tidak berselang lama Komusubi langsung pergi meninggalkan pintu clubhouse yang kembali kehilangan pintunya.

Semua orang terpaku, kecuali Kurita yang masih merayakan calon teman baru di Lineman.

Wawancara Ini berlanjut selama beberapa kedepan. Sebagian besar dari pelamar yang datang kesini hanya ingin mendapatkan ketenaran seperti yang telah dilakukan Naruto dan Eyeshield 21. Meskipun mereka memiliki potensi, namun karena tidak adanya motivasi dan keterampilan yang nyata membuat Hiruma langsung melemparkan mereka kembali keluar clubhouse.

-Line Break!

"Apakah kita harus menaiki Tokyo Tower?"

"Ini tidak masuk akal! Dengan peraturan seperti itu dia hanya ingin membunuh kami!"

Karena jumlah pelamar yang berhasil lolos klasifikasi melebihi jumlah normal, Hiruma memutuskan untuk mengadakan tes kedua. Mereka yang terpilih di kumpulkan di lapangan terlebih dahulu sebelum dibawa dengan Bus menuju Tokyo Tower.

Hiruma sudah terlebih dahulu menjelaskan peraturan dari tes ini, dimana semua orang harus mendaki Tokyo Tower sampai kepucak. Bukan hanya itu, mereka juga diminta untuk membawa sekantong es batu yang tidak boleh mencair, dan jika es batu itu mencair ditengah perjalan itu berarti mereka harus kembali dan membawa es batu yang baru.

"Apakah ini sudah cukup?" Sena memperhatikan kantong bawaannya sendiri.

"Itu tidak perlu, kau bisa berlari dengan cepat! Namun sebelum itu, ayo kita bertanding! Kakiku memang tidak bisa berlari cepat sepertimu, tapi kakiku memiliki lompatan super max yang akan mengalahkanmu!" Monta berseru menantang Sena untuk adu cepat sampai dipuncak menara.

"Kalau begitu aku juga akan ikut!" Naruto datang dan menanggapi tantangan itu, dia pikir ini akan lebih menarik berlomba dengan kemampuan normalnya sendiri.

Hiruma datang dan merebut kantong Naruto untuk dia hempaskan ketanah. "Aku tidak memintamu berpartisipasi bersama mereka, karena..." Trio bisa merasakan pirasat buruk dari maksud seringaian Hiruma itu. "...Kau akan mendaki dengan tanganmu sendiri!" Hiruma menunjuk batang besi yang menopang menara.

"HEEEE?!" Semua orang yang mendengar intruksi nyeleneh dan semena-mena Hiruma sangat terkejut dibuatnya.

"Ayo, anak-anak bodoh! Menara Neraka sudah menanti kalian! YA-HA!" Hiruma meledakan kembang Api untuk memberi aba-aba memulai tes.

Sena dan Monta berlari terlebih dahulu, semua mata menatap kagum dengan kecepatan mereka berdua mendaki menara.

"Jangan sampai mati!" Hiruma menyeringai menatap Naruto yang masih berdiri ditempatnya, dia berjalan pergi meninggalkan tempat untuk menaiki lift.

Setelah kepergian Hiruma, Mamori datang menghampiri Naruto. "Kau tidak perlu melakukan itu, Naruto! Ini sangat berbahaya!"

Makoto datang menyusul. "Um, i- itu sangat tidak masuk akal!"

Naruto menggaruk pipinya. "Yeah, tapi jika aku tidak melakukannya dia akan kembali mengamuk!" Setelah mengatakan itu Naruto berjalan menuju badan menara, dia sekilas memegang tiang besi sebelum mencengkramnya dengan kuat.

"T- Tap-"

"Tenang, aku tidak akan jatuh!" Katanya tanpa menoleh, dan setelah itu dia mulai meniti besi untuk memanjat menara.

Dengan para pelamar, mereka berbondong-bondong mendaki tangga memikul kantong berisi es batu dibahu mereka.

"Yatta, akhirnya kita sampai di Grand Observatory..."

Sena dan Monta hampir sampai di atas puncak, namun kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama ketika Cerberus dengan garang datang dan mengincar es batu yang di bawa mereka.

"Tidak akan semudah itu! Tantangan pertama, Anjing-gila itu!" Hiruma yang berada di ruang monitor menyeringai melihat Cerberus mulai mengacaukan psikis para peserta.

Sena dan Monta berusaha sebaik mungkin untuk menghindari Cerberus, Sena membuang semua es batunya sehingga Cerberus yang akan menerkam mereka teralihkan menuju kumpulan es batu yang tercecer dibawah mereka.

"Yosh, ini berhasil!"

"Tapi kau sekarang sudah tidak mempunyai es, ini aku akan membaginya denganmu."

"Eh, itu tidak perlu..."

"Aku tidak ingin berhutan padamu, dan selain itu aku iingin kita bertanding sampai akhir!"

Sena mengangguk dan membuka kantongnya, namun karena lemparan Monta yang tidak sempurna membuat beberapa es batu jatuh ke bawah dan menimbulkan sebuah bunyi yang mampu menarik perhatian Cerberus.

Menyadari itu Sena dan Monta langsung berlari maju, dan tidak berselang lama mereka sampai di pintu yang terhubung dengan tempat Hiruma dan Kurita berada.

"Kita telah sampai..."

Ketika mereka membuka pintu, mereka langsung dikejutkan oleh suhu panas yang berkobar dari dalam ruangan.

"APA-APAAN INI?"

Hiruma terkekeh licik. "Tantangan selanjutnya, ruangan neraka!"

Es batu yang dibawa Sena dan Monta langsung mencair, mereka kembali turun untuk mengisi persediaan es batu mereka.

Pada kesempatan kedua mereka berhasil mencapai puncak, dan meskipun Monta yang terlebih dahulu tiba, dia dinyatakan gagal karena es batu yang belum dia serahkan pada Kurita mencair.

Dia harus kembali ke bawah untuk membawa persediaan es batu.

Bersamaan dengan datangnya Monta dengan sekantong besar es batu, Naruto muncul dari balik salah-satu jendela.

Hiruma yang melihat kedatangan Naruto langsung menyeringai. "Aku tahu kau akan berhasil!"

Naruto mengangkat bahu. "Ini tidak sesulit yang dibayangkan!" Setelah mengatakan itu Naruto melangkah masuk dan duduk tepat disamping Kurita, melihat dengan seksama cara Kurita menyajikan es serut.

"Aku harus kembali kebawah, Mamori-neechan bilang kalau dia membutuhkan bantuan untuk mengisi es batu!" Setelah Sena menyimpan Handphonenya dia lekas keluar ruangan.

Sena berjalan menuruni tangga. "Ah, aku harus terlebih dahulu mengganti pakaianku." Sena berhenti, membuka helmnya hanya untuk kembali dia pakai karena kedatangan tiba-tiba empat orang yang saling berlomba. "Fiuh, hampir saja..."

Setelah mengganti pakaiannya menjadi seragam sekolah Sena kembali melanjutkan perjalanannya. Ditengah perjalanan dia mendapati dua orang peserta yang menatapnya sinis, Sena balik menatap mereka dan setelah itu dia mengarahkan pandangannya kebawah tangga.

Sena bisa melihat salah-satu peserta terbaring kelelahan. Sena bisa menyimpulkan sesuatu, mereka berdua tampaknya baru saja mencuri es batu milik peserta itu.

"Yukimitsu-senpai?" Setelah kepergian kedua peserta itu Sena langsung membantu Yukimitsu untuk berdiri.

"A- Aku tidak akan berhenti!" Yukimitsu bertekad. "Aku akan tetap berjuang!" Setelah mengatakan itu Yukimitsu berbalik dan kembali turun ke bawah untuk mengambil persediaan es batu.

Kedua mata Sena menatap punggung Yukimitsu, hanya sementara sebelum dia memutuskan mengikutinya dari belakang untuk berjaga-jaga jika Yukimitsu berakhir jatuh kelelahan.

Dibawah menara.

Mamori yang sedang berjaga dikonter mengerinyit miris, dia melihat kedatangan Yukimitsu yang sangat jelas kelelahan mengambil persediaan es batu. "Yukimitsu-san..." Yukimitsu tidak merespon, setelah mengisi persediaan sebanyak mungkin dia kembali berbalik untuk melanjutkan perjuangannya.

Sena datang. "Mamori-neechan?"

"Ah, Sena..." Mamori menoleh menyambut kedatangan Sena. "...Banyak peserta yang menyerah, itu berarti kita tidak perlu lagi es batu."

"Aku mengerti, kalau begitu aku akan kembali keatas!"

"Setelah membersihkan ini kami berdua akan menyusul!"

Sena mengangguk dan berbalik pergi menyusul Yukimitsu yang telah terlebih dahulu mendaki menara.

"Hari sudah sore, sebaiknya kita cepat membersihkan kekacauan ini Makoto-chan!"

"Um."

Mamori dan Makoto mulai membersihkan konter. Hanya membutuhkan waktu 20 menit, dan setalah mereka menyelesaikan pekerjaannya mereka berdua langsung mendatangi lift untuk sampai diatas puncak menara.

Mereka berdua telah sampai dipuncak, Mamori membuka pintu dan mendapati semua anggota yang lulus menikmati es serut buatan Kurita.

Mamori melangkah masuk. "Dibawah sudah tidak ada lagi peserta."

"Kalu begitu kita akan langsung beres-beres dan pergi meninggalkan tempat ini!" Katanya menatap langit senja.

"Are, dimana Sena? Bukankah dia terlebih dulu pergi kesini?" Mamori yang tidak mendapati keberadaan Sena bertanya.

"Aku disini!" Sena datang dari balik pintu.

"Sena, kau darimana saja?" Tanya Mamori.

Sena menggaruk kepalanya. "Aku mengawasi Yukimitsu-senpai yang masih berjuang mendaki menara, untuk itu..." Sena berhenti menatap Hiruma. "...Bisakah kita menunggunya sedikit lagi?"

"Tidak akan ada yang datang!" Tanpa menoleh Hiruma mengatakan itu.

"T- Tapi..."

Bersamaan dengan itu pintu Obeservatory terbuka, Yukimitsu terhuyung dan jatuh tepat dimulut pintu.

"YUKIMITSU-SAN!" Semua orang kecuali Hiruma dan Naruto langsung menyambut kedatangannya.

Yukimitsu langsung mengangkat plastik untuk dia berikan kepada Kurita, Kurita menyambut dan langsung menyerahkannya kepada Hiruma.

"Kau berhasil, Yukimitsu-san!"

"Kau sudah berjuang dengan sangat keras, Yukimitsu-san!"

Semua orang bersenang-senang atas kedatangan peserta terakhir itu, masing-masing dari mereka menatap kagum atas perjuangan Yukimitsu menyelesaikan tes ini.

"Semua esnya sudah mencair!" Hiruma yang memeriksa plastik yang dibawa Yukimitsu mengumumkan, hal itu membuat suasana seketika hening menyesalkan ketidak beruntungan ini.

Pluk!

Naruto mengambil satu es batu dan menenggelamkannya di bak yang berisi Air. "Ah, sepertinya dia masih memiliki satu es batu, Hiruma! Yukimitsu-san berhasil lulus!"

Mendengar pengumuman itu membuat semua orang langsung bersorak merayakannya.

xxxxxxxxxxxxxxxxxTO BE CONTINUEDxxxxxxxxxxxxxxxxx

Chapter Esya rasa sudah cukup, dan untuk chapter selanjutnya... Persiapan dan pertandingan Deimon Devil Bats vs Teikoku Aleksanders Grade C.

Grade C? Tim cadangan dari tim cadangannya Teikoku Aleksanders, atau bisa disebut juga sebagai tim ke 3 Teikoku Aleksanders.

Menurut saya cara gerak (lari) Naruto gak ada kelemahan x Thor kan di kisah aslinya Shinobi bertarung di pepohonan bisa menghindari serangan saat perjalanan dan juga tidak pernah ada Shinobi yang nabrak pohon saat perjalanan menyelesaikan misinya.

Penjelasan: Teknik itu kelemahannya berada di didalam situasi ketika momentum lompatan saling bersinggungan. Begini, kalian bisa membayangkan ketika Naruto melompat dan kedua kakinya tidak menapak tanah... Bagaimana dia bisa menghindari Tackle lawan? Inilah kelemahan yang dimaksud oleh Shin. Tentu saja jika kalian berbicara tentang Naruto yang bertindak sebagai Shinobi jelas tidak akan ada kelemahannya, dia bisa melakukan Kwarimi, Shunsin atau yang lainnya, tapi disini kita berbicara tentang orang normal... Jadi?

Melihat teknik lari yang tidak bisa berhenti sampai dia mendapatkan targetnya (Mangsanya) membuat Esya percaya diri menamakannya sebagai... The Predator Flash Step.

i yang tidak bisa berhenti sampai dia mendapatkan targetnya (Mangsanya) membuat Esya percaya diri menamakannya sebagai... The Predator Flash Step.