Suasana bandara yang sangat ramai dipadati oleh para wisatawan yang ingin berlibur atau berpergian kesuatu tempat baik luar atau dalam negeri.
Tak sedikit orang yang berbondong-bondong keluar dari gerbang kedatangan termasuk seorang wanita manis dengan menyeret koper pinknya dan tas yang berada di punggungnya.
Pakaian yang kasualnya dan tak lupa kaca mata hitam bertengger manis di hidung mancungnya menambah nilai plus untuk penampilannya yang simple. Senyuman yang merekah selalu menghiasi langkahnya keluar dari bandara.
Sesampainya di luar bandara ia menghirup udara segar pertama kali sejak ia meninggalkan beberapa tahun di negara kelahirannya.
"hahh selamat datang di Korea Lee Sungmin," gumam Sungmin sambil memejamkan matanya dan tak lupa senyum manis menghiasi wajah cantiknya.
Tiba-tiba mobil audi A8 berwarna silver berhenti di depannya. Dan seseorang di dalam mobil tersebut menurunkan kaca mobil dan tersenyum pada sang wanita yang menatapnya dengan bingung
"well, selamat datang di Korea manis," ucap wanita yang berada di dalam manis kepada sang wanita yang berdiri sambil tertawa kecil.
"hoho aish.. kau mengejutkanku hyukie," gerutu Sungmin dengan sengaja.
"apakah ada seseorang terkejut dengan kedatangan sahabatnya, padahal dirinya yang meminta di jemput?" ujar kesal wanita cantik bernama Hyukie sambil berjalan keluar dari mobilnya dan menghampiri sang sahabat yang masih betah berdiri disamping mobil silver tersebut.
"sudahlah aku ingin cepat pulang, aku ingin bertemu dengan kedua orang tua ku dan kakakku, oh ya tolong kau masukkan koperku ya, Hyukie sayang," sahut Sungmin tanpa dosa sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil Hyukie, meninggalkan pemilik mobil yang kesal dengan kelakuan sahabatnya itu.
"aish kau menyebalkan," gumam Hyukie kesal sambil menghentakkan kakinya ia menyeret koper pink dan memasukkan kedalam bagasi mobil dan menutup dengan keras perlakuan yang sama ketika ia menutup pintu dengan keras juga.
Sungmin yang sudah duduk dengan nyamannya di bangku penumpang hanya terkekeh melihat tingkah sang sahabat yang menurutnya menggemaskan.
"uhh uri Hyukie sangat menggemaskan," saut Sungmin disela tertawanya.
"diam kau!" geram Hyukie dengan kesal.
Percakapan tersebut berakhir dengan melajunya mobil silver menuju suatu tempat meninggalkan bandara Incheon yang sangat ramai.
Ditengah perjalanan kedua sahabat itu masih saja bungkam.
Tak ada satupun dari mereka sekedar memulai pecakapan dengan basa-basi mungkin.
Sampai mobil yang dikendarai oleh Hyukie berhenti karena lampu merah.
Hyukie melirik kearah Sungmin yang sedang asyiknya bermain Handphone milik sahabatnya itu.
Sungmin menoleh ke samping ketika ia merasa diperhatikan oleh sahabatnya itu.
"wae? Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Sungmin heran.
"tidak, aku hanya bingung saja. Sejak kapan kau jadi maniak gadget seperti ini. Dan kemana sifat cerewet mu yang selalu menanyakan hal yang kadang tak penting?" menengok kearah Sungmin dengan wajah bingung.
"hoho uri Hyukie ternyata memperhatikan sahabatmu ini yaaa" bukannya menjawab pertanyaan Hyukie, Sungmin malah menggoda sahabatnya tersebut.
"aish, percuma aku bertanya padamu" gumam kesal Hyukie yang masih dapat didengar oleh Sungmin.
"hahaha oh ayolah berhenti kesal padaku sayang. Aku tadi sedang mengecek handphone ku"
"memangnya handphonemu kenapa?"Hyukie kembali mengendarai mobil silver itu saat lama lalu lintas sudah berubah warna menjadi hijau.
"tidak kenapa-kenapa sih. Tetapi sedari tadi aku mengirim pesan kepada eonnie ku tak ada satapun yang terkirim. Aku jadi khawatir padanya,"
"mungkin saja ia sibuk mengurus suami dan anaknya. Kau kan pernah bercerita kalau eonniemu itu sudah menikah dan mempunyai anak" ucap Hyukie tanpa mengalihkan padangannya ke depan.
"iya juga ya. Kenapa aku melupakannya" sesal Sungmin
"mungkin kau sudah bertabah tua Sungminnie" ucap Hyukie diikuti dengan tawanya.
"sialan kau Hyukie" serga Sugmin kesal.
"ya! Kau mau aku langsung antarkan ke rumah orang tuamu. Atau kita mampir ke suatu tempat dahulu?" tanya Hyukie sesaat mereka telah dekat dengan jalan menuju rumah orang tua Sungmin.
"kan sudahku katakan tadi. Aku ingin langsung pulang saja. Badanku lelah sekali," keluh Sungmin kemudian menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi mobil tersebut.
"baiklah tuan putri" ucap Hyukie singkat.
Dan setelah itu tak ada lagi percakapan antara dua sahabat dekat tersebut.
I LOVE YOU BY ITSELF
Author : Oh Yoo Ra
Genre : drama, romance, hurt/comfort
Rate : M
Cast : Cho Kyuhyun a.k.a Cho Kyuhyun ( N. 26 y.o )
Lee Sungmin a.k.a Lee Sungmin ( Y. 23 y.o )
Kim Kibum a.k.a Cho Kibum ( Y. 48 y.o )
Park Jungsu a.k.a Lee Teuk (Y. 46 y.o )
Lee Hyukjae a.k.a Hyukie ( Y. 23 y.o )
Kim Ryeowook a.k.a Wookie (Y. 23 y.o)
##CHAPTER 2##
Hari ini sudah menunjukkan pukul enam sore. Laki-laki yang berprofesi hakim tengah bersiap-siap membereskan berkas yang berada di atas mejanya.
Kyuhyun bersiap untuk pulang ke rumah. Badannya sudah sangat letih karena harus mengurus suatu kasus yang sangat rumit.
Setelah dirasa telah beres Kyuhyun langsung menenteng tas kerjanya dan melangkah keluar dari ruang kerjanya. Berpamitan pada sekretarisnya untuk pulang lebih dulu.
Sesampainya ia di mansion. Ia segera masuk ke dalam dan berjalan keruang tengah. Disana ada dua wanita paruh baya dengan seorang bayi dipangkuan yang ia kenal sebagai mertuanya.
"eomma, eommonim" sapa Kyuhyun setiba di ruang tengah.
Dua wanita paruh baya itu langsung menengok ke sumber suara
"oh kau Kyu. Tumben sekali jam segini kau sudah pulang" ucap Nyonya Cho heran.
"aku merindukkan putraku eomma. Jadi aku langsung pulang begitu pekerjaan ku telah selesai" jelas Kyuhyun sambil berjalan kearah sofa yang diduduki oleh sang mertua. Dan mendaratkan bokongnya tepat disamping mertuanya itu.
Tanpa meminta putranya dengan pengertian sang mertua langsung memberikan Hyunjin kepada Kyuhyun.
"gomawo eommonim. Uhh uri Hyunjin kau tak rewelkan tadi?" tanya Kyuhyun kepada sang putra tampannya itu.
"tentu saja tidak. Dia sama sekali tidak rewel, cucuku ini sangat pintar" jawab Nyonya Lee sambil membanggakan sang cucu
"oh ya besan Cho, Kyuhyun aku harus segera pulang. Ini sudah hampir malam aku takut suamiku sudah pulang dan tak menemukan siapa-siapa di rumah" ucap Nyonya Lee pamit.
"ahh nde, terimakasih banyak besan Lee sudah mau repot-repot datang kesini" jawab Nyonya Cho tak enak.
"aish aku kan kesini karena merindukan cucu ku saja"
"eommonim bagaimana kalau saya antar saja anda sampai ke rumah" tawar Kyuhyun kepada sang mertuanya.
"tidak usah Kyu. Aku tahu kau lelah, biar aku naik taksi saja" tolak halus Nyonya Lee. Ia tahu menantunya itu ah tidak mungkin ia bukan menantunya lagi. Karena anaknya sudah pergi meninggalkan suaminya tersebut. Lelah dan membutuhkan istirahat.
"nde yang dikatakan Kyuhyun benar besan Lee. Sebaiknya Kyuhyun mengantarkanmu sampai ke rumah" ucap Nyonya Cho menyetui ajakan Kyuhyun.
"emm baiklah. Sebelumnya terimakasih Kyu"
"eommonim tak perlu sungkan padaku, bagaimanapun juga anda masih mertuaku" ucap Kyuhyun sepontan, yang berakibat menyakitkan bagi dua wanita paruh baya itu. Sebegitu berharga dan cintanya Kyuhyun pada istrinya yang tak tau diri itu? sungguh malang nasibmu nak.
Nyonya Lee langsung berpamitan pada Nyonya Cho dan baby Jihyun setelah melihat Kyuhyun berjalan keluar.
Selama perjalanan tak ada obrolan yang penting. Hanya sekedar basa-basi menanyakan kabar dan kesibukan yang mereka jalani.
Keduanya kompak tak saling membahas putri sulung keluarga Lee itu.
Sesampainya didepan rumah keluarga Lee yang ukurannya tidak sebesar mansion keluarga Cho.
Rumah keluarga Lee terdiri dua lantai dengan gaya arsitektur eropa, sebenarnya kekayaan yang di miliki keluarga Lee beranding jauh dari keluarga Cho yang memiliki kekayaan yang sangat besar.
Tuan Lee hanya seorang pengusahan properti dan pemilik departement store. Sedangkan nyonya Lee hanya seorang ibu rumah tangga yang mengabdikan hidupnya untuk keluarga sepenuhnya.
"terimakasih Kyu atas ataranya, eommonim keluar dahulu" ucap nyonya Lee sambil membuka pintu mobil dan melangkah keluar dari mobil tak lupa menutup kembali mobil audi A8 berwarna hitam.
Kyuhyun segera menurunkan kaca mobilnya bagian penumpang.
"eommonim aku pamit yaa, selamat beristirahat, sampaikan salamku pada abeonim" ucap Kyuhyun kepada nyonya Lee.
"ya nanti akan aku sampaikan, eommonim masuk dulu, sekali lagi terimakasih Kyu" pamit nyanya Lee terakhir sebelum Kyuhyun menutup kepada kaca mobilnya yang sebelumnya membalas ucapan terimakasih untuknya dan ia kembali melajukan mobilnya kembali ke rumahnya.
Setelah mobil Kyuhyun tak terlihat dari pandangannya. Nyonya Lee segera membalikkan badannya. Masuk kedalam halaman rumahnya tak lupa menutup pagar rumah tersebut. Masuk kedalam rumahnya yang masih sepi.
Tak berapa lama sebuah mobil silver berhenti di depan rumah bergaya eropa. Keluarlah gadis manis bernama Sungmin dari dalam mobil tersebut. Menutup pintu mobil dan berjalan ke arah belakang mobil, membuka pintu bagasi mobil itu.
Mengeluarkan barangnya yang dibantu oleh Hyukie.
"Hyukie kau harus mampir, kau harus menyapa ibuku. Pasti ia sangat senang melihatmu lagi" pinta Sungmin setelah menurunkan kopernya.
"hahh kau selalu saja menggunakan ibumu untuk membujukku berkunjung ke rumahmu" keluh Hyukie kesal dengan sifat sahabatnya itu. Sungmin terkekeh mendengar keluhan sahabatnya itu.
Ia selalu menggunakan sang ibu jika Hyukie tak ingin berkunjung ke rumahnya. Padahal ibu sahabatnya itu tak seantusias yang dikatakan sahabatnya itu.
Memang ibu sahabatnya itu sudah menganggap dirinya sebagai anaknya sendiri tak heran kalau ia berkunjung kesana ibu sahabatnya itu akan senang.
Tetapi hanya sebatas senang karena ia berkunjung kesana. Dan tak bersikap berlebihan seperti yang dikatakan Sungmin.
Sungguh ia tak mengerti dengan Sungmin. Ia suka sekali melebih-lebihkan sesuatu yang sebenarnya biasa saja.
"yaa Hyukie! Kenapa kau melamun, jadi bagaimana kau mau kan?" tanya Sungmin kesal. Pasalnya sedari tadi ia terus menunggu jawaban sahabatnya itu.
"aish tanpa menunggu jawaban dariku, kau akan tetap memaksa" jawab Hyukie sambil menutup pintu bagasi mobilnya. Dan berlalu mendahului Sungmin masuk kedalam rumah tersebut.
"ya Hyukie-ya tunggu aku, aishh" teriak Sungmin segera menyusul Hyukie yang telah berjalan didepannya sambil menyeret koper pinknya.
,
,
,
"aku pulang" teriak seorang wanita cantik nan mungil begitu tibanya ia di dalam manson keluarga Cho.
Wanita cantik itu terus berjalan ke dalam manson tersebut sampai dirinya telah tiba di ruang tengah dan menemukan sesosok wanita paruh baya disana.
"eomma aku pulang" ucap wanita tadi memberitahukan keberadaanya. Tanpa meminta izin ia langsung duduk di sofa single samping sofa yang sedang diduduki oleh wanita yang dipanggil eomma olehnya tadi.
Wanita yang diketahui sebagai nyonya Cho segera mengalihkan pandangannya dari sang cucu kearah keberadaan yang mengajaknya bicara itu.
"oh Wookie-a kau sudah pulang? Kenapa lama sekali?" Nyonya Cho kembali memperhatikan sang cucu.
"ya namanya juga seminar eomma. Pasti lama. lagipula ini bukan seminar biasa eomma. Banyak chef mancanegara datang ke seminar ini," jelas sumringah wanita yang tadi di panggil Wookie itu.
"oh pantas saja" tanggap nyonya Cho singkat.
"aku tak melihat oppa. Kemana dia?" Wookie meneongok ke kanan-ke kiri melihat penjuru ruangan.
"oppa mu baru saja pergi mengantarkan besan pulang ke rumahnya" jelas nyonya Cho
"besan? Maksud eomma mertua oppa. Ibu dari isri tak tau diri itu?" tanya Wookie penasaran serta sedikit emosi. Entah mengapa ketika sedang membahas kakak iparnya itu emosi Wookie langsung menyulut.
"huss, kau tak boleh seperti itu. kalau Oppa mu dengar ia pasti langsung marah padamu"
"ya memang kenyataannya seperti itu kan eomma. Perempuan itu memang tak tahu diri. Dulu ia bilang sangat mencintai oppa dan ingin mempunyai anak bersamanya. Eh, tetapi saat Hyunjin sudah lahir. Ia malah pergi begitu saja. Istri macam apa itu. hanya demi cinta pertamanya. Suami dan anaknya ditelantarkan begitu saja," ucap Wookie kesal.
"eomma juga tak tahu harus bagaimana lagi membujuk oppa mu untuk melupakan wanita itu dan membuka hati untuk wanita lain yang lebih baik lagi" keluh nyonya Cho
"hahh. Aku juga bingung eomma. Kenapa oppa itu bisa sebegitu cinta dengan wanita itu. aku selalu penasaran cara apa yang wanita itu lakukan untuk mendapatkan cintanya Kyuhyun opaa"
"sudahlah. Yang kita bisa lakukan hanya berdoa saja semoga wanita itu di temukan,"
"benar eomma. Aku kasihan pada oppa. Hai uri Hyunjin. Baby merindukkan ku yaa. Nanti malam baby harus menemani imo tidur lagi yaa" ucap Wookie kepada bayi berusia dua belas bulan. Ia meminta Hyunjin untuk ia pangku dan bermain dengan bayi lucu tersebut.
,
,
,
*TOK *TOK *TOK
"ya tunggu sebentar" ucap wanita paruh baya dari dalam. Tak lama pintu besar berwarna putih terbuka. Menampilkan dua wanita muda dengan senyuman yang menghiasi wajah keduanya.
"anyeong imo/anyeong eomma" ucap kompak dua sahabat itu.
"omana kalian membuatku kaget saja. Dan kau Lee Sungmin. Kau senang sekali membuat orang kaget" ucap wanita paruh baya yang kita kenal dengan nyonya Lee kesal.
"aish eomma. Ayolah kami baru sampai di sini. Mengapa kau malah menyambut kami dengan omelan eomma itu" keluh Sungmin dengan wajah cemberutnya.
"bagaimana aku tak marah kepada kalian. kalian selalu saja seperti ini. Selalu membuat orang mengelus dada dengan kelakuan kalian" omel nyonya Lee lagi.
"baiklah imo kami minta maaf. Jadi bisa kah imo izinkan kami masuk. Di luar sangat dingin" keluh Hyukie. Yang langsung disetujui oleh Sungmin dengan menganggukkan kepalanya.
"aish baiklah. Ayo cepat masuk" suruh nyonya Lee kepada dua wanita muda itu.
Mereka langsung masuk kedalam rumah keluarga Lee
"appa kemana?" tanya Sungmin sesaat setelah ia menjatuhkan bokongnya pada sofa yang telah di duduki oleh Hyukie terlebih dulu di ruang keluarga.
"appa mu belum pulang. Katanya tadi ia pulang agak malam" jawab nyonya Lee sambil menduduki sofa single di samping sofa yang diduduki oleh Sungmin dan Hyukie.
"imo kata Sungmin. Jinra eonnie sudah mempunyai anak" ucap Hyukie tiba-tiba.
Mendengar perkatakan Hyukie membuat nyonya Lee terdiam.
"iya eomma. Tahun kemarin eomma bilang kalau eonnie sudah memiliki anak. Apa boleh kami melihatnya. Aku ingin sekali bertemu dengan keponakan ku" timpal Sungmin lagi.
Nyonya Lee masih terdiam. Ia bingung untuk mengatakan dari mana. Apa ia jawab saja kalau Sungmin dan Hyukie boleh melihatnya.
Tetapi ia takut kalau salah satu dari mereka menanyakan putri sulungnya itu. atau lebih nekatnya mereka langsung menghubungi Jinra yang bahkan sampai saat ini nomernya tak aktif.
"eomma kenapa kau diam saja. Apa kami tak boleh menengoknya ya?"
"ah Sungmin. Bukan seperti itu. kalian boleh menegoknya kok. Tapi tunggu eomma yang ambil keponakan kalian yahh"
"loh kenapa harus imo yang ambil. Kita bisa kok kesana sendirian. Ya kan Sungminnie?"
"iya betul eomma. Kau hanya perlu tunjukkan alamat di mana eonnie dan suaminya tinggal. Biar kita kesana sendirian"
"bukan begitu. Maksud eomma. Eomma hanya takut kakak iparmu dan kakakmu itu sibuk. Jadi saat kalian kesana kalau tak ada orang kan sia-sia juga" alasan nyonya Lee. Jujur ia bingung harus beralasan apa lagi.
Ia sebenarnya ingin memberi tahu Sungmin dan Hyukie yang sebenarnya. Tetapi rasa keberanian itu tak ada. Ia takut Sungmin dan Hyukie akan marah dan tak percaya padanya.
Walaupun Hyukie bukan anak kandungnya. Tetapi ia sudah menganggap sahabat anaknya sedari kecil sebagai anaknya sendiri.
Jadi ia juga harus memikirkan keduanya. Mereka dan Jinra selalu bermain bersama. Kedua anaknya juga sering menginap di rumah keluarga Hyukie. Begitu juga sebaliknya.
"emm. Terserah eomma saja deh. Yang penting aku ingin cepat-cepat bertemu dengan eonnie dan adik bayi"
"ah sebaiknya kalian istirahat dulu. Eomma ingin menyiapkan makan malam untuk kita. sebentar lagi pasti uri appa pulang" perintah nyonya Lee.
Keduanya hanya mengangguk dan beranjak dari duduk. Mereka melangkahkan kakinya naik ke lantai dua tempat kamar Sungmin.
Nyonya Lee langsung menghembuskan napasnya lega. Jujur ia tak bisa bernapas lega jika masih ada putrinya dan sahabat putrinya.
Ia sangat khawatir ucapannya yang ia jaga keluar. Ia sangat takut melihat repon mereka nanti. Walaupun sebenarnya ia sangat ingin memberitahukan. Tapi tidak sekarang.
.
.
.
- KYUMIN -
.
.
.
Keesokkan paginya di manson Cho. Semua berkumpul di ruang makan. Terkecuali sang kepala keluarga yang tak hadir. Beliau masih berada di luar negeri untuk perjalan bisnisnya. Untuk memulai aktivitas pagi mereka. Sarapan tentu saja.
"eomma nanti aku ingin bertemu dengan temanku. Ia baru datang dari London kemaren" ucap Wookie memecahkan kesunyian suasan sarapan pagi ini.
"jam berapa? Soalnya nanti eomma juga ada pertemuan" tanya nyonya Lee sambil memasukkan potongan daging kemulutnya.
"em.. kemaren sih kita janjian jam sepuluh. Memangnya kenapa eomma?"
"gini Wookie-a. Eomma ada pertemuan nanti jam sembilan. Dan eomma tadinya ingin memintamu untuk menjaga Hyunjin,"
"yaudah aku siap kok. Nanti baby Hyunjin aku ajak ikut bersama ku saja"
"apa kau yakin tak merepotkanmu. Kau kan ingin bertemu dengan temanmu. Bukan mengasuhnya" sahut Kyuhyun kali ini.
"tentu saja aku yakin. Lagi pula sahabatku juga pasti tak merasa keberatan dengan adanya baby Hyunjin" ucap Wookie mantap. "bagaimana eomma. Boleh kan?" tanya Wookie lagi
"ya eomma terserah oppamu saja. Diakan ayahnya" jawab nyonya Lee sambil melirik kearah Kyuhyun.
Wookie langsung melihat kearah Kyuhyun. Meminta jawaban setuju dari ayah keponakannya itu.
"hah baiklah. Asal kau berjanji tidak melakukan hal yang dapat mencelakakannya. Jangan pernah mengacuhkannya. Jangan—"
"yayaya oppa ini cerewet sekali. Aku tahu oppa. Aku kan bukan anak kecil lagi" potong Wookie cepat.
Mendengar ucapan dari adik bungsungnya itu tak lantas membuat Kyuhyun tertawa geli. Nyonya Lee hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putra-putrinya itu.
"ara.. ara... uri Wookie sudah dewasa" ucap Kyuhyun disela kekehannya.
"yasudah eomma aku berangkat sekarang yaa. Sampai jumpa" ucap Kyuhyun lagi. Sambil beranjak dari duduknya. Dan melangkahkan kakinya keluar ruang makan. Tak lupa ia juga mencium kening eommanya sebelum pergi.
,
,
,
"Sungminnie. Apa kau masih menyukai senior mu yang di London itu?" tanya Hyukie di sela-sela kegiatan mengoleh krim pada wajahnya.
Saat ini mereka berdua berada di dalam kamar mereka. Keduanya sudah menyelesaikan kegiatan membersihkan diri.
Hyukie yang saat ini sedang duduk di depan meja rias milik Sungmin. Sambil mengoleskan krim pelembab untuk wajahnya.
Sedangkan Sungmin. Ia duduk di pinggir kasurnya yang bersepraikan pola poladot berwarna peach itu. Sedang mengeringkan rambutnya menggunakan handuk.
"aku tak tahu Hyukie. Terakhir aku melihatnya saat ia wisuda. Dan itu sudah dua tahun yang lalu" ucap Sungmin lemah.
"ya kau tak boleh menyerah. Kau bilang ia orang Korea. Siapa tahu kau akan bertemu lagi dengannya di sini," ucap Hyukie mantap.
"ya semoga saja"
"oh ya apa kau tau nama namja tercintamu itu?"
"tentu saja aku tahu. Aku tahu namanya. Ia lahir tanggal berapa. Warna favoritnya. Makanan kesukaannya. Aku tahu semuanya" ujar Sungmin dengan matanya yang berbinar-binar. Membayangkan wajah namja yang Sungmin sukai tidak lebih tepatnya ia cintai.
Hyukie yang melihat pantulan wajah Sungmin dengan binaran. Hanya memandang jijik melihat tingkah sang sahabat.
,
,
,
Di dalam cafe bernuansa santai dan sederhana itu. terdapat seorang wanita muda sambil memangku bayi laki-laki yang sedang menikmati sayur brokoli di tangannya.
Tak lama datang dua sejoli yang tak bisa dipisahkan itu. mereka kompak berpakaian casual.
Wanita pertama yang kita ketahui sebagai Sungmin. Dengan pakaian atasan berupa blouse denim lengan panjang dengan model off shoulder pada kerahnya. Dan dipadukan dengan midi skirt berwarna hitam. Serta alas kakinya ia menggunakan sneakers berwarna putih. Tak lupa sling bag bertengger di salah satu bahunya. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai.
Satunya pasti dan tidak bukan adalah Hyukie. Ia lebih memilih menggunakan dress model basic bodycon tanpa lengan. Berwarna merah maroon. Yang panjangnya sampai bawah lulutnya. tak lupa angle strap shoes berwarna putih membungkus kaki jenjangnya. Serta rambut yang dibuat gelombang sebahunya dia biarkan tergerai.
Mereka berdua melangkah masuk. Mencari seseorang.
"oh itu dia. Hei kalian!" panggil sang wanita dengan memangku bayi tampan.
Merasa terpanggil Sungmin dan Hyukie. Langsung menengok secara kompak ke sumber suara.
Setelah melihat dan menemukannya. Keduanya tersenyum. Dan mulai berjalan kearah wanita yang memanggil tadi.
"hai Wookie. Maaf kami terlambat" ucap sungmin sesaat tiba di samping meja yang telah Wookie isi. Mejanya berada di deretan tengah cafe tersebut.
Keduanya langsung duduk sebelum dipersilahkan terlebih dahulu oleh Wookie. Mereka duduk di bangku panjang yang terbuat dari rotan yang berada tepat diseberang Wookie.
"ya! Kau sudah menikah dan punya anak? Kenapa kau tau pernah memberitahu kami?" tanya Hyukie tiba-tiba saat matanya tak sengaja melihat bayi yang sedang memakan brokoli di pangkuan Wookie.
"ya jangan asal bicara kau. Aku belum menikah. Dan dia juga bukan anakku" jawab Wookie kesal.
"lalu itu bayi siapa Wookie?" tanya Sungmin penasaran.
"ini bayi oppa ku" jawab Wookie mantap.
Sungmin yang mendengar perkatakaan Wookie langsung terdiam. Wajahnya langsung memucat. Ada perasaan yang menyayat hatinya. Bagai ada beribu jarum dan pisau menusuk- nusuk jantung dan hatinya. Sekarang hatinya sangat perih.
Ia tahu sangat tahu siapa oppa dari Wookie.
Sebenarnya dahulu waktu mereka kecil. Dan mereka sering bermain bersama. Oppa Wookie sering menjemput Wookie untuk pulang.
Sejak saat itu sebenarnya Sungmin menyukai laki-laki itu. dan puncaknya saat Sungmin tahu kakaknya Wookie juga merupakan mahasiswa Oxford.
Ia mencari tahu keberadaan laki-laki itu. dimana ia tinggal. Jurusan apa. Sungmin berusaha mencarinya. Dan setelah mengetahuinya. Sungmin makin mendekatinya.
Ya walapun dari jarak jauh. Sungmin dulu hanya berani memandangnya dari jauh. Jujur selama ini ia tak pernah bertegur sapa dengan laki-laki yang sangat ia cintai itu.
Ia pulang kesini salah satunya untuk bertemu dengan pujaan hatinya. Tetapi saat mendengar perkataan Wookie. Ia sudah tak punya harapan lagi saat ini.
Sungmin terus memandangi bayi laki-laki yang gembil itu. ia sangat tampan. Pasti ibunya juga cantik. Batin Sungmin.
"oppamu? Yang seorang hakim itu?" tanya Hyukie lagi.
"iyalah. Memangnya oppa ku yang mana lagi" jawab Wookie kesal. Sungmin menundukkan kepalanya. air matanya sudah siap keluar kepan saja ia mau. tapi dengan sekuat tenaga ia tahan. agar tak membuat kedua sahabatnya curiga.
"dia sudah menikah?" tanya Hyukie dengan wajah penasarannya.
"tentu saja sudah. Tetapi istrinya meninggalkan oppaku" cerita Wookie singkat.
"kenapa?" tanya Sungmin cepat. yang langsung dihadiahi tatapan bingung dari kedua sabahatnya.
"karena wanita kurang ajar itu meninggalkan oppa ku demi laki-laki lain" jelas Wookie dengan sedikit emosi.
Sungmin kembali diam. Ia berusaha keras untuk mencerna perkataan Wookie tadi. Jadi Kyuhyun oppanya sudah menikah dan memiliki anak.
Tetapi istrinya meninggalkan mereka begitu saja. Kenapa? Kenapa? Wanita itu jahat sekali. Lalu kenapa mereka menikah dulu. Apa sekaranng Kyuhyun masih mencintai istrinya. Masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang berputar di dalam kepalanya.
Ia ingin menyakan lebih lajut lagi dengan Wookie. Tetapi ia takut ketahuan kalau itu menyukai kakaknya.
"kasihan sekali oppamu itu, Wookie-a" ucap Hyukie prihatin
"ya memang oppaku seperti itu. dan parahnya oppaku masih sangat mencintai istrinya itu" lanjut cerita Wookie lagi. Yang seakan menjawab pertanyaan Sungmin di dalam hatinya.
"lalu sekarang apa Oppamu sudah menemukan penggantinya?" tanya Sungmin tiba-tiba. Ia sebenarnya ragu ingin menanyakan pertanyaan yang baru saja ia ajukan. Terbukti dengan nada suaranya yang lemah dan ragu-ragu.
"sayangnya laki-laki tua itu tidak mau. Aku kan sudah bilang. Oppaku itu sangat mencintai istrinya. Ia juga tak mau membuka hatinya untuk oranglain" jawab Wookie sambil memberikan sayur brokoli kepada Hyunjin.
Runtuh sudah harapan Sungmin. Ia pikir ia bisa mengambil hati laki-laki pujaanya itu.
Tetapi saat mendengar jawaban Wookie yang seperti itu. ia menjadi sadar bahwa. Posisi istrinya sudah menguasai hati laki-laki yang sangat amat dicintainya itu.
"oh ya Wookie-a. Kalau boleh tahu siapa istri oppamu itu?" tanya Sungmin lagi.
"em.. siapa yaaa. Oh ya. Namanya itu Lee Jinra. Ya namanya Lee Jinra" jawab Wookie.
Dua orang sahabatnya itu sontak langsung membulatkan matanya kaget. Mengetahui seseorang yang sangat mereka kenal.
"Sung-Sungmin bukannya namanya persis seperti nama kakakmu?" tanya Hyukie disela-sela terkejutnya.
"maksudmu Jinra eonnie itu adalah kakaknya Sungmin?" tanya Wookie memastikan
"tidak mungkin kakakku melakukan itu. aku tahu siapa dia" ucap Sungmin berusaha mengusir pikiran negatifnya
"tapi kau bilang kakakmu sudah menikah dan memiliki anak" jelas Hyukie lagi.
"tunggu sebentar. Kau tau siapa nama orang tua wanita itu?" tanya Sungmin sekali lagi untuk lebih meyakinkan.
"aku hanya tahu kalau eomma sering memanggilnya dengan sebutan besan Lee" jawab Wookie seadanya.
Tak lama Sungmin beranjak dari duduknya dan berlalu begitu saja. Ia meninggalkan cafe tanpa berpamitan kepada sahabatnya itu. ia ingin mengunjungi suatu tempat. Ia ingin menanyakan suatu hal untuk memastikannya.
"Sungmin. Ya Lee Sungmin kau mau kemana?" teriak Hyukie kepada sahutan itu tak di tanggapi oleh Sungmin. Ia terus melangkahkan kakinya keluar cafe.
"Hyukie sebaiknya kita susul Sungmin. Aku takut terjadi apa-apa padanya" ajak Wookie yang langsung di setujui oleh Hyukie. Mereka kompak berjalan meninggalkan cafe guna mengejar Sungmin.
"aku yakin Sungmin pulang ke rumahnya" ucap Hyukie sambil menyalkan mesin mobilnya. Mobil Hyukie langsung melesat cepat membelah jalanan kota Seoul yang lengang.
*Sungmin POV*
Tak butuh setengah jam aku telah tiba di depan rumahku dengan menggunakan taksi yang aku berhentikan di depan cafe tadi. Setelah membayarnya dan kelaur dari taksi. Aku langsung berlari ke dalam rumahku.
Saat aku akan membuka pintu utama ternyata tak terkunci. Aneh biasnya eomma selalu menyuncinya. Ah sudahlah lebih baik aku langsung masuk ke dalam saja. Setelah aku masuk aku mendengar seseorang sedang mengobrol. Tunggu itu bukan suara ibuku atau seseorang yang aku kenal. Aku melangkahkan kakiku lebih dekat dengan tembok pembatas yang dekat dengan ruang tengah. Dan aku memilih untuk mendengarkan pembicaran yang menyita perhatianku tadi.
"bagimana besan Lee. Apa kau sudah mencoba membicarakan kepada putri bungsumu?" tanya seseorang yang memanggil eommaku dengan sebutan besan Lee.
Tunggu. Aku ingat dengan ucapan Wookie tadi. Kalau orang tua Wookie memanggil eomma dengan sebutan besan Lee.
Berarti yang sedang berbicara dengan eomma adalah ibunya Wookie dan Kyuhyun oppaku?
Tetapi kenapa tadi dia membahas aku? Ah sudahlah Sungmin. Lebih baik kau dengarkan dulu.
"aku belum berani mengatakannya besan Cho. Aku takut Sungmin akan kaget mendengar bahwa eonnienya pergi begitu saja. Belum lagi mendengar niatan kita yang ingin menjodohkan Sungmin dengan Kyuhyun. Aku takut Sungmin tak setuju" ucap eommaku.
Apa? Jadi yang dikatakan Wookie juga benar. Eonnie pergi dengan laki-laki lain dan meninggalkan anak serta suaminya.
Dan apa tadi? Mereka berniat menjodohkan aku dengan Kyuhyun oppa? Aku akan menjadi pengganti eonnie?
Entah harus senang, sedih atau kecewa. Aku senang karena mimpiku menjadi kenyataan. Sedih karena aku tak bisa sepenuhnya memiliki hati Kyuhyun oppa. Dan kecewa karena aku hanya untuk penggantinya saja. Jika nanti eonnie kembali pasti aku yakin Kyuhyun oppa akan kembali kepada eonnie. Dan melupakan aku.
"aku yakin Sungmin mau besan Lee. Setidaknya sampai putri sulungmu ditemukan"
Benar. Sampai eonnie kembali. Aku tak mau. Aku ingin memiliki Kyuhyun oppa seutuhnya.
"baiklah nan—"
"aku tak mau eomma" ucapku memotong perkataan eomma.
Aku keluar dari persembunyianku. Aku terus berjalan dan berhenti di depan meja ruang kelurgaku. Dan menatap dua perempuan paruh baya bergantian.
"kau Sungmin adiknya Jinra kan?" tanya wanita yang aku yakini dengan nyonya Cho dengan sangat ramah. Tak lupa senyumnya yang menghiasi wajahnya.
"nde anyeonghaseyo nyonya Cho. Perkenalkan aku Lee Sungmin. Adik Jinra eonnie" sapa ku memperkenalkan diriku kepada nyonya Cho.
"em Sungmin-a. Duduk lah dulu disini. Ada yang ingin eomma bicarakan kepada mu" ajak eomma kepada ku. Tanpa berkata aku langsung duduk di sebelah nyonya Cho. Ia terus menatapku dengan senyuman yang selalu menghiasi wajahnya itu.
*Normal POV*
"begini Sungmin-a. Mungkin tadi kau sudah mendengar pembicaraan kami sedikit. Kau hanya sedikit salah paham disini"
"maksud eomma dengan salah paham. Apa?" tanya Sungmin tak menegerti
"em jadi begini. Sungmin-a maaf ahjumma memanggilmu seperti itu. saran itu ide ahjumma. Ahjumma ingin kau menjadi istri Kyuhyun dan ibu tiri dari anak Kyuhyun. Ahjumma yakin kau bisa mengubah sifat Kyuhyun" jelas Nyonya Cho.
"kalau aku tak mau. Bagaimana?" tanya Sungmin mantap
"kami tak akan memaksakanmu. Tetapi kau bisa pikirkan kembali nanti" ucap nyonya Cho kepada Sungmin.
"jawaban ku tetap sama ahjumma. Aku tak mau dijodohkan dengan putra ahjumma" ucap Sungmin tetap pada pendiriannya. Jujur ia sedari tadi menahan gejolak di hatinya. Ini bukan jawaban yang berasal dari hatinya. Ini sungguh sangat menyiksanya.
Ia ingin menangis menumpahkan semuanya. Tetapi ia tak bisa.
"ahjumma tahu kau sahabat Wookie. Wookie juga banyak bercerita tentang mu Sungmin-a. Entah kenapa aku sangat amat begitu yakin dengan ideku ini dan—"
"ahjumma berhentilah. Kumohon.. hiks.. hentikan.." rancau Sungmin. Dia sudah tak kuat lagi meluapkan emosinya yang sedari tadi ia tahan. Ia ingin menangis. Meluapkan semuanya.
"Sungmin-a" gumam nyonya Lee sambil beranjak dari duduknya. Memeluk tubuh Sungmin yang terlihat rapuh itu. nyonya Lee terus menengelus rambut belakang Sungmin pelan.
Kepala Sungmin bersandar di dada nyonya. Tangannya terus memeluk sang ibunya erat.
"aku tak bisa eomma. Aku takut eonnie akan kembali. Aku sangat takut. Hiks..hiks.." rancau Sungmin disela-sela menangis.
"aku...hiks..a-aku sangat mencintainya eomma. Aku tak mau kehilangan dia. Aku tak mau ia kembali lagi pada eonnie.. hikss.. hikss" lanjut Sungmin lagi. Baik nyonya Lee dan nyonya Cho kaget mendengar ucapan yang baru saja dikeluarkan oleh Sungmin.
"sayang apa itu benar? Selama ini kau menyukai Kyuhyun?" tanya nyonya Lee memastikan. Ia juga mengarahkan kepala Sungmin kehadapannya. Nyonya Lee terus menatap mata sembab anaknya itu.
Sungmin hanya menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya saja.
"ya tuhan Lee Sungmin. Kenapa kau tak pernah menceritakannya pada eomma sayang"
Sungmin memilih menundukkan kepalanya. Ia lebih baik melihat roknya dan tasnya. Asal jangan melihat wajah eommanya.
"Sungmin-a. Maaf ahjumma sebelumnya. Sejak kapan kau menyukai Kyuhyun. Nak?" tanya nyonya Cho membuka percakapan lagi.
"Sungmin-a" panggil nyonya Cho lagi. Kali ini tangannya ia arahkan ke arah pundak terbuka Sungmin. Ia menyentuh pundak itu pelan.
"aku tak tahu secara pastinya. Ahjumma" gumam Sungmin pelan dengan masih menundukkan kepalanya.
"apa sudah lama?" tanya nyonya Cho lagi. Ia harus memastikan sedikit keganjalan di sini.
Sungmin kembali menjawab dengan anggukkan kepalanya.
Melihat jawaban dari Sungmin. Membuat kedua wanita paruh baya itu mengeluarkan ekspresi berbeda-beda.
Nyonya Lee menghela napasnya berat. Ia memijit pelipisnya. pusing memikirkan hal yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Sedangkan nyonya Cho hanya diam. Ia memikirkan sesuatu hal yang memenuhi kepalanya.
"Sungmin-a. Kenapa kau tak pernah menceritakan kepada kami?" tanya seseorang yang berasal dari arah pintu utama.
Ketiga orang yang sedari tadi dalam suasana tegang harus menengok ke sumber suara.
"Wookie-a?" panggil nyonya Cho bingung.
Ya orang itu adalah Wookie. Ia datang bersama Hyukie.
*flashback ON*
"Hyukie sebaiknya kita susul Sungmin. Aku takut terjadi apa-apa padanya" ajak Wookie yang langsung di setujui oleh Hyukie. Mereka kompak berjalan meninggalkan cafe guna mengejar Sungmin.
"aku yakin Sungmin pulang ke rumahnya" ucap Hyukie sambil menyalkan mesin mobilnya. Mobil Hyukie langsung melesat cepat membelah jalanan kota Seoul yang lengang.
Sesampainya mereka di rumah Sungmin. mereka langsung melesat masuk ke dalam pekarangan rumah keluarga Lee.
Namun saat di depan pintu yang setengah terbuka. Mereka mendengar sayup-sayup pembicaraan seseorang di dalam rumah tersebut.
Dengan modal penasaran mereka masuk secara diam-diam. Dan mendengarkan semua pembicaraan antara nyonya Lee, nyonya Cho serta Sungmin.
Mulai dari niatan nyonya Cho ingin menjodohkan Sungmin dengan Kyuhyun. Sampai pengakuan cinta terpendam yang Sungmin rasakan selama ini.
Mereka berdua juga sama-sama terkejut dengan bahan pembicaraan mereka bertiga.
"Wookie apa yang kita pikirkan sama?" bisik Hyukie kepada Wookie yang berada di depannya.
"nde kau benar Hyukie. Aku kecewa dengan Sungmin. tapi aku juga kasian dengannya" balas Wookie dengan berbisik.
Ya mereka memang kecewa karena selama ini Sungmin tak pernah menceritakan kepada mereka. Walau Sungmin berada di London pun. Mereka bertiga masih mengirim kabar dan bercerita satu sama lain tetang keadaan mereka masing-masing.
"Wookie apa yang mau kau lakukan?" tanya Hyukie panik. Ia melihat gerakan Wookie ingin melangkah. Keluar dari persembunyian mereka.
Dengan menghiraukan bisikan Hyukie. Ia melangkahkan kakinya. Keluar dan berjalan kearah keberadaan orang yang telah mereka curi pembicaraannya.
"Sungmin-a. Kenapa kau tak pernah menceritakan kepada kami?" ucap Wookie sambil berjalan ke arah ruang tengah.
*flashback OFF*
Mereka berlima berkumpul di ruang tengah keluarga Lee. Mereka kompak diam tak bersuara sedikitpun. Hanya suara ocehan khas bayi yang berasal dari baby Hyunjin.
Merasa di acuhkan. Tiba-tiba baby Hyunjin rewel. Ia terus menangis. Wookie sudah mencoba mendiami dan mencari cara. Tetapi tak berhasil.
Nyonya Cho juga sudah berusaha memberikan susu yang biasa baby Hyun minum. Tapi di tolaknya dan terus menangis. Bertambah kecang.
Sungmin yang melihat keadaan itu langsung beranjak dari duduknya. Dan berjalan menghapiri Wookie lalu mengurukan kedua tangannya kepada Wookie.
"em.. Wookie-a boleh aku menggendongnya?" tanpa banyak bertanya Wookiepun memberikan keponakannya pada Sungmin. dan langsung diterima Sungmin dengan hati-hati.
"aigoo. Hyunjin-a kenapa menangis baby? Anak tampan tak boleh menangis ne" Sungmin menggendong baby Hyunjin sambil mengusap air mata yang berjatuhan di kedua pipi gembil milik Hyunjin.
Ia sedikit menimang-nimang tubuh Hyunjin. Kepala sang bayi dengan sendirinya bersandar di dadanya. Seakan mendengar perkataan Sungmin. seketika baby Hyunjin menghentikan tangisnya. Dan sukses membuat semua orang yang melihatnya terkejut.
Sedangkan Sungmin hanya tersenyum melihat bayi dalam gendongannya itu menghentikan tangisnya.
Sungmin masih menimang-nimang bayi laki-laki itu pelan. Sesekali lagu pengantar tidur yang khusus dinyanyikan saat bayi akan tidur. Keluar dari mulut Sungmin dengan sangat pelan.
Hyunjin bayi gembil itu seolah merasakan ketulusan dan kehangatan yang diberikan Sungmin terlihat nyaman dalam dekapan Sungmin. Dan dalam sekejap bayi gembil itu terlelap tidur dengan mengemut jempolnya.
"aigoo Sungmin. Hyunjin cepat sekali tidurnya. Aku tak percaya. Bahkan aku dan eomma masih sulit mendiaminya jika sedang rewel seperti tadi" ucap Wookie tak percaya.
"jangan berlebihan Wookie-a. Aku pamit dulu ya, menidurkan Hyunnie di kamarku" pamit Sungmin. setelah itu ia membawa Hyunjin menuju kamarnya di lantai dua.
"kami akan menyusul Sungmin" Hyukie bangkit dari duduknya. Dan menghampiri Wookie yang telah menunggunya di depan tangga. Mereka meninggalkan kedua wanita paruh baya itu.
"ah besan Lee sepertinya aku harus pamit. Dan semoga saja Sungmin bisa mengubah pikirinnya" ucap nyonya Cho sambil berjalan keluar.
"ya semoga saja. Tolong sampaikan salamku untuk Kyuhyun"
"baiklah sampai jumpa" kata nyonya Cho sebelum ia masuk kedalam mobil. Dan tak lama mobil itu berjalan meninggalkan rumah keluarga Lee.
,
,
,
*CKLEK*
Wookie dan Hyukie masuk ke dalam kamar Sungmin tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Mereka menghampiri Sungmin yang sedang duduk di tepi ranjangnya di sisi kiri Hyunjin yang tidur tengkurap masih mengemut jempol imutnya. Sambil menepuk-nepuk pantat Hyunjin. Mulutnya masih membisikkan nyanyian lagu mengantar tidur.
"min, apa yang kau ceritakan tadi benar?" tanya Wookie memecahkan keheningan diantara mereka.
"untuk apa aku membohongi perasaanku sendiri. Wookie-a" jawab Sungmin sambil mendudukkan dirinya. Setelah menyakini Hyunjin sudah terlelap dengan nyenyaknya.
"tetapi kenapa kau menyembunyikannya dari kami?" kali ini Hyukie ikut bertanya.
Mereka berdua telah duduk di kursi panjang di depan Sungmin.
"karena dulu aku pikir ini bukan perasaan cinta. Tetapi setelah aku bertemu dengan Kyuhyun oppa di London. Aku semakin yakin kalau aku mencintainya" Sungmin menundukkan kepalanya dan meremas kedua telapak tangannya.
"jadi orang kau selalu ceritakan tentang kau menyukai seniormu saat di London. Adalah Kyuhyun oppa?" tanya Hyukie memastikan.
Sungmin hanya mengangguk lemah.
"lalu sekarang bagaimana? Eommaku ingin kau menikah dengan oppaku. Dan sekarang juga semua orang tahu kalau kau sangat mencintai oppaku"
"aku tak tahu Wookie-a. Sejujurnya aku ingin menikah dengan Kyuhyun oppa. Tetapi aku takut sesuatu yang aku takutkan akan terjadi"
"apa kehadiran kakakmu yang membuat kau berpikir dua kali?" Sungmin mengangguk lemah.
"ya kau benar Hyukie. Aku sangat bingung" ucap Sungmin sambil mengusapkan kedua tangannya pada wajahnya.
"Sungmin-a" ucap Wookie sambil memeluk tubuh Sungmin sebelah kanan. Begitu juga dengan Hyukie. Ia ikut memeluk tubuh Sungmin bagian Kiri.
Biarkan mereka menikmati kegiatan berpelukannya satu sama lain.
,
,
,
- KYUMIN -
,
,
,
Di hari jumat pagi yang cerah ini. Di halaman belakang manson. Terdapat Kyuhyun dengan sang putra yang berada di gendongannya. Sedang berkeliling perkarangan bunga milik nyonya Cho.
Bayi gembil itu terus berceloteh saat menemukan benda yang tertangkap penglihatannya. Kyuhyun hanya bisa senyum dan tertawa kecil menanggapi ocehan sang putra yang kelewatan menggemaskan.
"ternyata kalian di sini" ucap nyonya Cho dari belakang badan Kyuhyun. Kyuhyun membalikkan badannya dan tersenyum kecil kepada eommanya.
"kami hanya ingin berjalan-jalan di sini. Sudah lama aku tak mengajak Hyunjin jalan-jalan ke kebun belakang" jawab Kyuhyun dengan berjalan kearah bangku taman yang tak jauh dari mereka berdiri. Dan mendudukkan dirinya di bangku tersebut, dengan sang putra berada di pangkuannya.
"apa hari ini kau tak ke kantor?" tanya nyonya Cho sambil berjalan menyusul ke dua laki-laki itu. serta melakukan hal yang sama. Duduk di samping Kyuhyun.
"aku sedang tidak ingin ke kantor. Aku ingin menghabiskan waktuku dengan Hyunnie saja" kedua tangan Kyuhyun menggenggam tangan mungil itu gemas.
"oh ya Kyu. Ada yang ingin eomma bicarakan dengamu"
"jika eomma ingin menjodohkan aku dengan wanita yang lain. Aku menolaknya eomma" suara Kyuhyun berubah menjadi dingin.
"tetapi kali ini wanitanya berbeda, Kyu"
"maksud eomma?"
"gini kau tahukan kalau Jinra mempunyai adik perempuan?"
"dan eomma mau aku menikahi dia? Apa eomma sudah gila, hahh?" ucap Kyuhyun datar.
"iya eomma menggila Kyu. Eomma sudah putus asa dengan kelakuanmu. Eomma hanya ingin yang terbaik untuk mu. Tolong mengertilah" Kyuhyun hanya diam sambil memainkan tangan mungil anaknya.
"Kyu eomma mohon kau mau kan dengan dia?" pinta nyonya Cho setelah cukup lama bergeming. Entah kenapa nyonya Cho harus menyakini putranya sekali lagi. Walau sebenarnya ia tahu hasilnya seperti apa.
"harus berapa kali sih aku harus mengatakan ini kepada kalian, kalau aku tak mau dengan wanita siapa pun, suka atau tidak aku akan tetap menunggunya!" ujarnya meninggi tak lupa ia menatap nyonya Cho dengan pandangan tajam. Ia sudah tak peduli di depannya ibunya atau bukan.
"baiklah kalau kau mau seperti itu, kali ini juga eomma akan bersikap egois kepada mu Kyu. Suka atau tidak kau harus menikah dengan dia" nyonya Cho memilih pergi meninggalkan Kyuhyun dengan sang cucu di taman belakang.
Kyuhyun hanya diam dan acuh dengan ucapan sang ibu.
,
,
,
Sungmin duduk di sofa dekat jendela kamarnya yang langsung menghadap jalanan kompleks rumahnya. Sambil menerawang ke jalanan yang sepi. Sedikit senyum mengingat keinginan sang eomma dan nyonya Cho yang ingin menjodohkan dirinya dengan Kyuhyun. Laki-laki yang ia cintai. Tetapi ia kembali bermuka datar saat ia ingat kenyataan saat ini.
Kyuhyunnya adalah suami kakaknya. Dan itu adalah kenyataan yang begitu menyakitkan baginya.
Ia tak pernah tahu lebih dalam kakaknya sejak ia memutuskan melanjutkan pendidikannya di London.
Dulu sebelum ia pergi. Sungmin dengan sang kakak sangat dekat. Mereka sering berbagi cerita satu sama lain. Bermain bersama. Mempunyai kesukaan yang hampir sama.
Ia juga tau tipe laki-laki seperti apa yang kakaknya sukai. Dan Kyuhyun sama sekali tak masuk dalam tipe laki-laki yang sering kakaknya sebutkan padanya.
Ia sedikit kecewa dengan sikap kakaknya. Dan ia juga penasaran laki-laki seperti apa yang membuat kakaknya tega meninggalkan anak dan suaminya dulu.
Sungmin sangat penasaran bagaimana mereka bertemu, lalu memutuskan menikah. Apa dulu mereka menikah di landasi dengan ikatan saling mencintai? Atau hanya napsu saja?
Serta, Sungmin sangat penasaran di mana sebenarnya keberadaan sang kakak saat ini. Apa ia tak merindukan anak dan suaminya, merindukan dia dan orang tuanya.
Jika Sungmin egois. Sungmin pasti akan menyetujui perjodohan itu. dalam hati yang paling dalam. Ia sangat ingin menikah dengan Kyuhyun. Karena itu memang cita-citanya.
Kyuhyun adalah cinta pertamanya. Dan cinta itu masih tertanam dengan kuat sampai sekarang.
Ia bingung harus seperti apa. Sahabatnya menyarankan untuk ikuti kata hatinya. Dan hatinya mengatakan kalau ia harus menikah dengan Kyuhyun.
Urusan jika kakaknya datang itu masalah belakangan. Tapi Sungmin tetap lah Sungmin. ia masih saja bimbang harus seperti apa.
*TOK *TOK *TOK
"Sungminnie, apa eomma boleh masuk?" Sungmin berjalan ke arah pintu dan membuka pintu kamarnya.
"masuklah eomma. Kenapa harus meminta izin dulu padaku" nyonya Lee hanya tersenyum pada putri bungsunya. Lalu mengajak Sungmin duduk di kasurnya.
Nyonya Lee mengarahkan Sungmin agar meletakkan kepalanya di paha nyonya Lee. Dan seketika dituruti oleh Sungmin.
"kau mau kan sayang menikah dengan kakak iparmu?" tanya nyonya Lee sambil mengelus rambut Sungmin.
"aku memang mencintainya eomma, tapi saat aku tahu dia adalah kakak iparku, aku merasa tak pantas mencintainya lagi eomma" jawab Sungmin lemah. Ia hanya dapat memejamkan matanya. menikmati sentuhan nyonya Lee pada rambutnya.
"tapi ini demi keponakan mu sayang, ia sangat menyukaimu kemarin" nyonya Lee berusaha meyakini Sungmin.
"tidak eomaa Hyunjin suka aku karena hangat badanku sama dengan hangat badan eommanya" tolak Sungmin yang berusaha mencari alasan.
Nyonya Lee tahu. Putrinya sedang mencari alasan yang masuk akal. Ia juga tahu sebenarnya putrinya mau menikah dengan Kyuhyun. Sangat mau. Tapi ada satu alasan yang menghalanginya.
"walaupun Kyuhyun masih mencintai Jinra. Eomma yakin suatu saat nanti ia akan mencintaimu, nak"
Diam. Baik Sungmin dan nyonya Lee kompak diam. Nyonya Lee juga tahu kalau anaknya sedang berpikir keras. Ia juga sedang memberikan waktu untuk Sungmin berpikir.
"eomma apa boleh aku bersikap egois saat ini?" ucap Sungmin lirih. Ia menahan tangisnya. Ia sudah menahannya sedari tadi. Ia ingin menangis.
"lakukan lah, asal itu yang bisa membuatmu bahagia sayang"
"walau nanti aku akan tersakiti, eomma" ucap Sungmin lagi.
Sungmin membuka matanya. dan menatap kedua mata nyonya Lee. Perlahan air mata yang ia tahan mengalir keluar.
Nyonya Lee hanya bisa mengahapus lelehan air mata putrinya. Tak lama Sungmin bangkit dan memeluk nyonya Lee
"aku mau eomma. Aku hiks aku mau menikah dengannya. aku bahagia bersamanya eomma, hiks" ucap Sungmin disela-sela menangisnya didalam pelukan sang eomma.
"terima kasih sayang. Eomma yakin kau akan bahagia"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
"pengantin wanita segera memasuki altar"
"tolong jaga dan bahagiakan putriku"
"hentikan tangisan mu min!"
"jangan berharap apapun dari pernikahan ini padaku!"
"apa kau sebenarnya Kyuhyun yang aku cintai? Kenapa kau berubah?
.
.
.
.
.
Anyeong saya kembali lagii...
Gimana gimana? Chapter 2nya seru ga?
Atau malahh ngebosenin?
Terlalu panjang yaa? Terlalu bertele-tele yaa?
Maaf yaaa.. soalnya hanya ingin menjelaskan gimana awal cerita ini ajaaa..
Kalo ngerasa ini kepanjangann besok chap selanjutnya aku sedikit pendekin kokk...
Maaf juga kalau feelnya ga dapet dan tambah jelek...
saya sangat-sangat membutuhkan kritik dan saran membangun, jadi mohonn bantuannya yaaa...
DAN SAYA MAU NGUCAPIN..
SELAMAT ULANG TAHUN KE-30 BUAT URI EVIL kYU BESOKKK... YEAAYY ^^
PLUS SAYA JUGA MAU NGUCAPIN...
TERIMAKASIHHH YA YANG SUDAH MAMPIR DI FF SAYA, YANG SUDAH BACA TAMBAH LOVE DARI SAYAA, DAN YANG SUDAH NGEREVIEW JUGA TAMBAH LOVELOVELOVE DARI SAYAAA...
nanalee44 : yang jadi istrinya Kyu aku ngambil bukan cast dari artis lain ata yang biasa di pake di ff lainnya. Aku sengaja munculin peran baru biar ga bosen aja sama cast yang itu-itu ajaa hehehe..^^ makasih ya udah review, chap selanjutnya tolong di review lagi hehehe ^^
chjiechjie : iya di chap kemaren pendek buat kenalan sama ceritanya aja,, aku juga bingung kenapa hehehe soalnya pas aku bikin mengalir begitu saja,, tapi setelah dipikir-pikir disini kenapa para besan baik-baik aja,, karena di sini nyonya Lee ga enak gitu sama sikap anaknya yang udah mengkhianati Kyuhyun hehehe^^ makasih yaaa udah ngereview chap kemaren tolong review lagi hehehe ^^
cici fu : makasihhh,, ^^ siapp tunggu yaaa..
dann yang lainnyaa..
makasih juga ya yang udah review lainnya...
nanalee44, kyuminkyukyu, minami Kz, danactebh, chjiechjie, cici fu, snmayy88, ugielf137, Guest, LoveableNiel, lee kyurah, lee hye byung, dan Hamano Hiruka.. ^^
tolong review chap 2 ini yaaa,, pleaseeeee T_T
RCL
,
,
,
,
,
,
Keep Support and Love Kyumin
And I'm JOYers...
