.

Bab 2: Juryoku Sympathy

.


.

Part 1

Hari ini untuk kedua kalinya aku menaiki bis yang sama.

Butuh sedikit perjuangan untuk menaiki kendaraan ini karena letak rumahku dan halte bis sekolah sebenarnya cukup jauh. Bahkan, pagi ini mamaku yang juga bekerja disana juga cukup heran mengapa aku memilih untuk menaiki bis sekolah ketimbang naik kereta cepat seperti biasanya. Aku cukup mengatakan bahwa aku ingin merasakan suasana baru dan memang itulah yang aku lakukan sekarang. Apalagi alasan aku melakukan itu karena...

"ah, dia ada disana!" gumamku pelan setelah memasuki bis bersama puluhan anak SMA lainnya. Seperti biasa dia duduk di samping jendela namun kali ini dia berada di barisan dua bangku di depan. Sementara aku berusaha mencari tempat duduk, aku memaksa agar bisa duduk di deretan baris yang sama namun itu sama sekali tidak berhasil karena begitu banyaknya siswi yang sudah memenuhi kursi bis di sana.

Pada akhirnya aku tidak berhasil menyapanya, semuanya terlihat "wajar" seperti biasanya. Wajahku juga masih terlihat cukup merah untuk menatapnya namun itupun bukanlah masalah untuk sekarang, bagaimanapun juga aku berhasil menemukan tempat dudukku. Itu terletak sekitar 2 bangku di belakangnya. Sebenarnya aku agak kecewa namun bagaimanapun juga "Beggars can't be choosers, right?". Jadi aku harus puas dengan keadaan tersebut.

Aku sama sekali tidak bisa melihat rupanya. Sosoknya seolah tertelan oleh kerumunan penumpang di belakangnya yang telah memisahkan kami berdua. Aku sebenarnya kecewa. Kuarahkan pandanganku kepada jendela kaca bis yang nampak berkristal dingin tersebut, berembun. Sepertinya perbedaan suhu di dalam bis yang semakin panas oleh para suhu tubuh para penumpang ini dan suhu cuaca luar yang masih dingin telah menyebabkan kondensasi ini berlangsung.

Namun itu tidak masalah, Waktu itu ketika aku menoleh ke samping tiba-tiba aku kemudian menyadari, ["Hei, aku masih bisa melihat dia dari sini!"].

Sempit, celah di antara sekat kursi dan jendela ternyata memiliki rongga yang cukup lebar. Disanalah aku bisa cukup jelas melihatnya sedang melamun (?). Aku tahu saat ini mungkin gestur tubuhku terlihat aneh bagi orang disebelahku namun peduli amat.

Seolah-olah hendak menguping aku mendekatkan indra pendengaranku kepada suara tersebut.

Kemarin, aku cuma sempat mendengarkan beberapa kata dari dia. Ketika dia memperkenalkan namanya secara pribadi. Ketika dia diperkenalkan secara resmi di depan kelas oleh guru kelas. Lalu, ketika...

Bis mulai memasuki tikungan tajam, membelok dengan cukup keras sehingga membuat tubuh para penumpangnya menjadi condong ke samping. Aku memiringkan tubuhku seirama dengan pergerakan bis yang sedang melaju kencang tersebut. Hampir menyentuh kaca. Aneh. Meskipun pipiku terasa sakit namun aku senang karena semakin aku tertekan aku samar-samar dapat melihat dirinya semakin jelas.

Engkau sedang melakukan sesuatu. Ah, suara itu!

Dia sedang menelepon seseorang. Siapa yang ditelepon itu? Apakah itu dari pacarnya? Ah, tentu saja dia sudah memiiliki pasangan. Aku merasa lubuk hatiku terasa sesak ketika memikirkan itu. Ini aneh, bahkan aku ini bukan siapa-siapa dirinya, tentu saja aku tidak berhak untuk menghalanginya berbuat apapun. Tapi, apakah aku tidak boleh mengharapkan sesuatu? Sedikit bermimpi untuk bisa bersamamu di masa depan? Apakah aku terlalu egois untuk mengharapkan itu?

Kecepatan bis ini melaju dengan normal sesuai dasar perhitungan matematika dan fisika. Besaran dan arah dapat dihitung sebagai suatu vektor. Namun kedalaman isi hati ini, bagaimana caranya aku menentukan besarnya isi hatiku yang sama sekali tidak terukur ini?.

Aku menghela nafas saat memikirkan pemikiran bodoh itu.

Mungkin saat ini kita berada di dalam pergerakan yang sama namun tujuan hati kita berdua sama sekali berbeda. Entah mengapa jarak yang begitu dekat ini masih terasa jauh.

Namun...

Ahh, sekali lagi bis menaikkan kecepatannya secara tiba-tiba. Sekali lagi badan kami terhempas keras menuju sudut tikungan yang terbentuk. Badanku terasa sakit karena harus menghantam sisi jendela ini lagi. Bukan hanya aku namun seluruh penumpang di bis di sisi jendela ini juga mengeluhkan hal yang sama. Aku rasanya akan mengajukan protes resmi kepada supir di armada bis ini karena telah bersikap ugal-ugalan.

Begitulah seharusnya...

Hanya saja, setelah aku memikirkan ulang entah mengapa aku ingin tertawa memikirkan ini. Dari semua kejadian ini, meskipun engkau tidak menyadari keberadaanku tapi setidaknya kita mengalami satu gaya yang sama, kita tunduk di bawah hukum gravitasi yang sama.

Karena itulah, untuk saat ini aku sudah merasa cukup dengan perasaan ini saja lagipula masih banyak waktu untuk kita bisa saling berbagi di dunia ini dan suatu saat nanti ketika hati kita berdua bisa bertemu aku yakin dalam perasaan yang sama kita berdua bisa memikirkan tentang itu.

Sesuatu yang disebut cinta.