.

Bab 4: Beginner

.


.

Part 1

Itu adalah jam makan siang.

Trio siswi kelas dua itu duduk di bawah pohon yang rindang untuk menikmati bekal makan siang mereka. Sembari ramah tamah, kedua temannya yang sudah menghabiskan makan siang itu mulai membahas konsep idol grup sekolah mana yang sesuai dengan citra mereka. Pada dasarnya mereka hendak meniru A-RISE yang juga berjumlah 3 orang namun tidak terlalu glamor seperti tingkah mereka.

Itu adalah pembicaraan yang menuju jalan buntu karena tidak ada perkembangan signifikan yang bisa dicapai, belum lagi masalah jumlah anggota mereka yang sangat kurang untuk bisa membentuk sebuah klub sekolah benar-benar membuat pusing Honoka setelah negosiasi dengan wakil ketua OSIS kemarin berlangsung alot. Pada dasarnya Nozomi berjanji untuk mempertimbangkan pembentukkan klub itu apabila mereka telah berhasil mengumpulkan 6 orang. Itu berarti mereka tinggal butuh 3 orang baru lagi dan yang sulit disini adalah siapa orang yang tepat untuk diajak? Bagaimanapun juga pembicaraan itu buyar ketika...

"... Jadilah Temanku!"

Sebuah teriakan lumayan keras cukup menggaung di telinga Honoka ketika mendengar gadis yang rambut pendeknya berwarna sama dengan dia sedang berdiri di samping kirinya. Dengan penuh percaya diri gadis tomboy itu mendatangi kakak kelas yang tidak dikenalinya di bawah pohon besar yang rimbun itu sambil merentangkan jabat salam tangannya.

"Humm... Tentu, Kenapa nggak?!" jawab sang gadis rambut coklat ginger tersebut dengan senyuman lebar sambil terus melahap rotinya. Sementara itu Kotori dan Umi saling berpandangan karena tidak mengenalinya hanya saja tatapan tersebut tidak terpengaruh olehnya, bahkan...

"Sungguh?! Yay!" sang gadis kucing penuh semangat itu berteriak layaknya orang yang baru saja mengalahkan bandar judi dan mengeruk semua harta mereka tapi yang dilakukan hanyalah merangkul kakak kelasnya secara spontan dan segera pergi meninggalkannya begitu saja.

"Kayo-chin... Kayo-chin, hari ini aku berhasil mendapatkan 1 teman lagi di sekolah ini...! Aku hebat kan?!". Gadis tomboy itu dengan manja memegang tangan sahabatnya yang berdiri tidak jauh dari sana sedang memperhatikan dia dengan pandangan cemas. Tanpa banyak berbicara gadis berkacamata itu segera menarik lengan sang gadis kucing tersebut dan menyeretnya pergi meninggalkan pohon rindang tersebut setelah membungkukkan badan di hadapan kakak kelas mereka.

"Humm, Honoka, memangnya kamu kenal dia?" tanya Umi yang spontan berdiri disebelahnya dengan penuh pandangan heran dan ajaib saat melihat tingkah adik kelasnya barusan. Dia tidak menjawabnya pandangannya seolah sedang melayang jauh ke suatu tempat. Dan dia hanya bergumam,

"...Ke-te-mu."

.


.

Part 2

Gadis kucing itu menggerutu kesal kepada gadis berkacamata yang sedang tertawa cengengesan disampingnya itu.

"Moo, Kayo-chin kamu seharusnya berkenalan dengan mereka juga! Kenapa kamu malah menarik tanganku menjauhi mereka? Bukankah kamu sendiri yang berkata bahwa kamu ingin lebih dekat dengan para senpai?"

Kayo-chin alias Hanayo Koizumi nampaknya tidak mau mendengar ocehan sahabatnya namun dia sama sekali tidak berusaha menyesali perbuatannya bahkan dia merasa apa yang dia lakukan tadi sudah benar. Rin telah bertindak keterlaluan dengan pergi menemui mereka tanpa permisi dan sopan santun kepada para senpainya.

Ruang kelas 1-A masih cukup asing bagi para murid kelasnya. Maklum tidak hanya karena mereka adalah murid baru melainkan juga karena mereka didapuk sebagai murid angkatan terakhir sekolah ini. Suasana sepi segera menyebar di lantai dasar tersebut manakala beberapa gadis lainnya mencoba mengintip ke ruang kelas sebelahnya yang telah kosong.

Sebuah mitos baru segera beredar di anak kelas satu.

Katanya sekolah ini mau ditutup setelah ada kasus bunuh diri pada murid korban bully yang terjadi pada salah satu ruang kelas sebelah kiri dan menghantui seluruh murid di ruangan tersebut.

Katanya kelas yang ada di sebelah kanan dikonfirmasi pernah diajar oleh guru yang bersosok tinggi layaknya pemain basket namun tidak mempunyai kaki.

Katanya sekolah ini akan berubah menjadi rumah hantu tepat setelah jam 6 sore. Sehingga seluruh murid diwajibkan pulang sebelum jam 5 sore.

Katanya ruang musik itu berhantu dan pada waktu tertentu akan terdengar bunyi orang sedang memainkan piano

Katanya

Katanya...

Katanya dan katanya...

Seluruh cerita palsu ini selalu menjadi bulan-bulanan para guru yang mengajar disana. Hampir seluruh murid mempercayai itu namun ada juga yang tidak mempercayai itu. contohnya: Gadis berambut merah yang berada di pojok ruangan. Dia dengan sepakat akan menutup rapat telinganya terhadap cerita-cerita hantu misteri semacam itu, bahkan dengan tegas dia akan mengatakan bahwa "itu hoax!" kepada teman-temannya.

Memang itulah kenyataannya namun tidak berarti seluruh informasi itu adalah salah, sih.

.

Honoka baru saja selesai mengelilingi sekitar sekolah untuk membagikan selebaran ajakan membentuk klub. Kakinya serasa mau mati rasa karena sedemikian keras dia membagikan undangan tapi tetap saja tidak ada satupun siswi yang tertarik menerima selebaran tersebut.

Dia sejenak bersandar ke batang pohon rimbun yang berdiri di belakang halaman sekolah. Waktu itu tidak ada siapapun disana. Langit senja berpadu dengan angin sepoi-sepoi di bawah pohon yang teduh telah melanda kulitnya. Setidaknya ini bisa menjadi salah satu pelipur lara kepada maksud hatinya yang gagal tercapai.

Beberapa kali dia memikirkan cara yang baik untuk mengajak mereka. Yah, kali ini targetnya adalah anak kelas 1. Dia sudah menyerah mengajak anak kelas 2 yang sudah sering ditemuinya atau kepada para senpai kelas 3 yang lebih menyibukkan diri mereka dengan les tambahan.

Langit senja ini terasa begitu mendung, angin akhir musim semi ini mungkin mulai terasa panas sehingga menyebabkan kulit menjadi kering. Honoka semakin tertunduk lesu karena kehilangan inspirasinya. Dia berpikir bahwa cara ini juga tidak mudah, ini semua sia-sia. Dia tidak mungkin bisa berhasil. "sebaiknya aku menyer..."

Perkataan selanjutnya kemudian telah terhenti.

Itu adalah sebuah suara.

Alunan musik yang berasal dari ruangan yang telah dilupakan oleh penghuni sekolah.

Suara itu adalah...

.

Entah sejak kapan dia bisa masuk ke dalam ruangan ini.

Sejenak dia ragu bahwa kunci ini adalah milik seseorang namun tulisan yang tergurat di besi kunci tersebut menunjukkan bahwa kunci ini milik salah satu ruangan sekolah Otonokizaka. Pada awalnya dia ingin segera mengembalikannya ke ruang guru namun karena keisengannya untuk menyelidiki maka dia mencoba satu per satu kunci disana dan dia menemukan rahasia ini.

Pintu ruang musik itu terbuka dengan instrumen musik yang telah tertutup kain putih dan mulai berdebu. Ruangan ini sudah ditinggalkan dan sebentar lagi akan dihancurkan. Gadis itu lalu tersenyum memikirkan itu. Sembari menutup gorden dan pintu rapat-rapat dia lalu membuka salah satu instrumen favoritnya.

Sebuah grand piano itu lalu dibersihkannya dengan hati-hati. Setelah membuat beberapa pengaturan tentang perbaikan kunci instrumen dan pengaturan cahaya maka dia memulai melentikkan jemarinya kepada tuts piano tersebut.

Itu adalah awal sebuah misteri sekolah Otonokizaka yang baru mulai lahir

Sebuah piano yang berbunyi dengan sendirinya di ruangan yang telah ditinggalkan.

.

Umi dan Kotori bertemu kembali dengan beberapa selebaran di tangan mereka. Berbeda dengan Umi, beban yang di bawa Kotori nampak lebih ringan karena sudah banyak selebaran yang telah dia bagikan. Kotori lalu menoleh ke kiri dan kanan namun dia tidak bisa menemukan Honoka. Begitu juga Umi yang bingung dengan menghilangnya otak rencana ini.

Hari sudah menjelang sore, salah satu mitos baru akan segera terjadi setelah ini. Umi dan Kotori lalu memutuskan untuk bergegas pulang bukan karena mereka takut dengan mitos itu namun mereka lebih takut ketinggalan jadwal bis.

Tapi, dimana Honoka?

Belum lama mereka mempertanyakan itu tiba-tiba sosok yang dibicarakan telah muncul. Berbeda dengan mimik muka cerah yang biasanya. Kali ini dia nampak lebih muram dengan awan mendung yang seakan-akan tampak di belakangnya. Dan sesuatu yang aneh terjadi, dia tidak nampak sedang sendirian. Ada seseorang yang mengikutinya dari belakang. Dan yang lebih aneh adalah Honoka sedang menggandeng tangan anak tersebut.

.


.

Part 3

"Oh, jadi ini anggota school idol yang kamu banggakan itu?" perkataan dari anak asing itu segera membuyarkan lamunan Honoka ketika dia menyadari bahwa kehadiran Umi dan Kotori sudah ada di depan matanya.

"Asemm, aku melamun lagi... tehehehe! Haik. Inilah orang yang aku bicarakan tadi, Maki-chan. Ini adalah Umi dan Kotori. Kami akan menjadi school idol untuk Otonokizaka. kami bertiga akan menyelamatkan sekolah ini! YES WE CAN!"

Honoka tiba-tiba mengubah mood pembicaraannya dengan seketika. Layaknya sebuah lampu pijar yang baru saja ditekan tombol switch-nya bahkan kedua gadis itu sudah lupa bahwa muka Honoka tadi sempat muram. Alasan mengapa dia mengesampingkan itu adalah kehadiran anak kelas satu yang nampak angkuh di sebelahnya.

"H-Honoka, dia siapa? Mengapa kamu menggandeng tangannya? Dia kenalanmu, kah? Atau jangan-jangan dia mau bergabung dengan kita yah?!" kata Umi dengan antusias mencoba menyalami gadis berambut merah itu.

"T-Tunggu! Mou, senpai! Tolong hentikan itu! aku tidak berminat bergabung dengan kalian tahu! Alasan mengapa aku ada disini yah karena dia! Kenapa tidak kalian suruh senpai ini saja untuk menjelaskannya?!"

Dengan tanggapan tersebut Honoka menyambut perkataan itu dengan senyum cengengesan lebar di wajahnya. Kousaka Honoka tidak memiliki pilihan lain kecuali menjelaskan apa yang terjadi saat ini kepada ketiga orang tersebut.

Mengapa dia mengajak Maki menemui Umi dan Kotori atau mengapa Maki harus bersama dengan mereka sekarang!

.

Itu dimulai 10 menit yang lalu saat Honoka sedang bersandar teduh di bawah pohon untuk beristirahat setelah kelelahan mengelilingi sekolah.

"?"

Tiba-tiba sesuatu mengalihkan pandangannya. Tidak, dia tidak sedang memandang sesuatu lebih tepatnya dia sedang menyimak sesuatu yang tertangkap oleh indra pendengarannya. Sebuah suara alunan melodi lembut yang samar-samar mencoba menghilang di tengah hembusan angin namun masih dapat beresonasi di sekitar lingkungan itu.

Jadi...

Honoka Kousaka yang menjadi penasaran akan hal tersebut lalu semakin mempertajam telinganya dan langkah itu membawa dia kepada suatu ruangan asing. Letak ruangan itu berada di belakang gedung sekolah, tidak ada seorangpun yang melintasi daerah ini bahkan orang dengan mudah mengkategorikan daerah ini sebagai gudang usang atau tempat sampah atau semacam itu.

[Huh? Aku tidak ingat Otonokizaka memiliki ruangan ini? ruangan musik yah? pasti ini adalah ruang yang sudah terbengkalai dan tidak pernah digunakan. Tapi suara itu berasal dari sini? Heh, pintunya terbuka? Apakah ada seseorang di ruangan ini? h-hantu?!]

Ruangan itu lumayan gelap dibandingkan suasana di luar gedung yang nampak cerah. Ventilasi jendela di ruangan ini sengaja ditutupi oleh kertas koran sehingga menyisakan beberapa celah untuk sinar matahari bisa menghiasi ruangan ini dengan cahaya remang-remangnya. Ini juga menjelaskan mengapa ruangan in tidak terlalu nampak dari luar.

Dan, seorang gadis ada di dalam ruangan remang-remang itu sendirian. Alasan dia ada disana dan mengapa suara misteris berada di ruangan inipun menjadi jelas. Karena...

"Saa! Aishiteru banzai! Koko de yokatta.. watashitachi no ima ga koko ni aru..."

"Aishiteru banzai! Hajimatta bakari ashita mo yoroshiku ne mada gooru janai.."

Permainannya dilakukan secara mahir. Keahliannya untuk menyentuh tuts piano tersebut dengan mata tertutup membuktikan bahwa dia benar-benar menguasai permainan tersebut.

Sebuah rahasia telah terungkap dan karena itulah alasan mengapa Honoka ada disana. Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah apakah sosok yang dia lihat di depan matanya ini adalah manusia sungguhan? Sesungguhnya hanya ada satu cara untuk membuktikan itu yaitu dia sendiri harus menyentuhnya. Tapi, kalau dia ternyata setan sungguhan? Apa yang harus dilakukannya? Detak jantungnya berdegup kencang. Dia harus bisa membuktikan itu! jika tidak dia pasti akan mati penasaran dan untuk melakukannya tanpa menimbulkan resiko adalah dengan bisa memastikan apakah sosok tersebut memiliki kaki dan untuk itu dia memerlukan cahaya. Jadi apa yang bisa dia lakukan berikutnya adalah...

"kreeeekkkkk! BAMM!"

Pintu itu didorong dengan sangat keras hingga engsel pintunya hampir lepas. Oleh karena dia menendang pintu tersebut sehingga mau tidak mau intensitas cahaya yang berasal dari luar segera menyerbu membunuh kegelapan ruangan tersebut dan...

"KYAAA! SILAU!" gadis itu berteriak. Honoka Kousaka yang telah memastikan bahwa sosok yang berada di dalam ruangan tersebut adalah manusia normal segera memasuki ruangan itu dengan langkah tegar seolah tidak ingin kehilangan wibawa, dia sadar apabila dia melakukannya dengan setengah-setengah atau cengengesan maka itu membuat citra dirinya semakin buruk di mata orang asing itu.

"NU~HUN!" ucapnya penuh percaya diri. Sekarang dia melihat seutuhnya siapa orang yang berada di dalam ruangan ini, seorang gadis berambut merah dengan kelopak mata berwarna ungu sedang meringkuk ketakutan di balik grad piano seperti orang yang habis digrebek razia oleh petugas berwajib. Honoka melihat sosok gadis itu dari bawah kaki hingga atas kepalanya.

"Ee..to, tolong jangan takut. Kamu ini manusia kan? Ehm, anak kelas satu yah? jarang sekali aku bisa melihat pianis secara langsung. Ternyata kamu jago yah main musiknya? Btw, kamu disini sendirian? Siapa namamu?"

Gadis itu memandang Honoka dengan pandangan cukup heran. Namun sang senpai tidak memperdulikan itu dan semakin mendekatinya hingga kedua jemari tangan yang panjang itu dia genggam. Tatapan matanya begitu fokus untuk menatap matanya dengan senyum mengembang seolah baru saja berjumpa dengan manusia lainnya untuk pertama kalinya setelah tersesat di dalam hutan sekian lama.

"Ma.. Maki. Nishikino Maki." ucapnya agak ragu. Pandangan matanya ke arah bawah seolah pasrah. "Apa yang senpai lakukan disini? Apakah anda ingin melaporkanku kepada guru karena telah menerobos ruangan ini tanpa ijin?"

"Ehh, enggak kok. Aku cuma kagum dengan permainan pianomu yang indah. Kamu juga cantik pasti pas untuk menjadi idol. Jadi, aku cuma ada satu permintaan kepadamu. Jadilah school idol!"

"hah?!"

"Idol? Iya, Idol yang itu! Apakah kamu tidak pernah tahu itu? gadis yang tampil di atas panggung untuk menari, menyanyi dan menghibur para penonton yang menyoraki kita. Lalu, akhir-akhir ini trend school idol sudah berkembang pesat di jepang, bahkan hampir seluruh sekolah sekarang sudah memiliki grup idola mereka sendiri. Karena itulah aku yakin apabila kamu bergabung dengan grup kita maka kita bisa menjadi school idol yang hebat!"

Sementara Honoka terus mengutarakan maksudnya. Maki Nishikino yang mendengarkan itu terus membantahnya dengan jawaban 'hah?' seolah tidak mengerti atau lebih tepatnya tidak mau mengerti.

(...)

"...Hosh! Hosh! Hosh! Nah, begitulah Maki-chan! Dengan permainan musikmu dan suaramu yang merdu, kamu adalah tipe idola yang cocok! Mau yah? yah? yah?!"

"Aku.. menolak. Musik idol? Aku sama sekali belum pernah mendengar genre musik seperti itu. lagipula, apabila school idol itu sehebat itu bukankah kamu sudah bisa melakukannya sendiri tanpa aku?! Itu juga kalau kalian bisa terkenal."

"err, tentang itu.. masalahnya kita masih kekurangan orang untuk membentuk klub sendiri." Honoka bergumam tidak jelas. "Pokoknya, School Idol itu keren! Hora, coba lihat ini!" Honoka mengeluarkan smart phonenya dan memutar lagu 'Private Wars dari A-RISE'.

"Lihat nih! Mereka itu bersinar, kan? Pakaiannya juga imut, mereka dikenal luas oleh orang banyak! Pokoknya, mereka itu terkenal, deh!"

Maki mendengar itu namun sesuatu reaksi mulai muncul ketika dia menunjukkan foto A-RISE tersebut kepadanya. Ada ekspresi terkejut yang membuat alisnya sedikit terangkat ketika membicarakan itu.

"Oh, itu... Baiklah, aku sudah sedikit paham, mungkin. Kalau begitu biar aku tanyakan satu pertanyaan singkat. Apakah kalian sudah pernah membentuk grupnya? Namanya? Lagunya? Kostumnya? Lalu bagaimana caranya kamu mendapatkan dana untuk menjalankan itu semua? Apakah kamu pernah belajar tentang manajemen kelompok?! Memangnya sekolah ini sudah mengijinkan pembentukan grup ini?!"

"Err, tentang itu..." Honoka hanya bisa tersenyum serampangan sambil menggaruk belakang telinganya yang semakin memerah. "Ehehehehe..."

"Eh, masaka... jangan bilang kalau kamu sama sekali belum pernah memikirkan itu?! Senpai, kamu itu payah! Sudahlah, pembicaraan ini sudah selesai." Maki menutup pembicaraannya dan mulai berjalan meninggalkan ruangan.

"Maki-chan! Tunggu! Baiklah, aku mengaku, aku mengerti! Kamu benar ketika mengatakan kepadaku bahwa aku sama sekali tidak memiliki pengalaman tentang dunia idol. Kamu juga benar ketika mengatakan bahwa aku sama sekali orang yang payah dan tidak pernah memikirkan sampai sejauh itu. Tapi, bukan berarti aku sekali tidak dapat melakukan itu. Kini, aku memiliki teman-teman yang akan menolongku untuk mewujudkan mimpiku. Aku yakin aku pasti ini akan berhasil! Karena itulah aku tidak akan menyerah! Aku tidak akan pernah menyerah!"

Begitulah Honoka menutup perkataannya. Pada akhirnya bukannya Maki yang terlebih dahulu meninggalkan ruangan musik untuk segera pulang malahan Honoka yang menyeret tangan Maki pergi untuk menemui Umi dan Kotori yang sedang menunggu dirinya.

Pada waktu itu hari masih gelap dan pembicaraan ini masih saja diteruskan oleh mereka.

.

"jadi begitulah ceritanya... tehehe..." sang gadis berpita kuning itu tertawa tanpa arah ketika menceritakan ulang kejadian tersebut. Saat itu Umi dan Kotori hanya bisa menanggapinya dengan menghela nafas untuk merespon kelakuan Honoka yang terlalu memaksa.

Umi sembari memegang kedua pundak Maki lalu mengucapkan permintaan maaf mewakili Honoka yang sudah menganggu aktivitasnya. Kemudian gadis itu dipersilahkan pulang untuk meninggalkan mereka bertiga.

Pada saat itu langit senja di Otonokizaka sudah menyerupai warna rambut anak itu. Kousaka Honoka hanya bisa bengong ketika dimarahi habis-habisan oleh Umi Sonoda karena tidak bertingkah sopan layaknya seorang kakak kelas yang normal.

Ketiga anak kelas dua itu hanya bisa menghela nafas karena merasa usaha mereka yang tidak menghasilkan apa-apa ini hanya sia-sia belaka. Pada akhirnya mereka meninggalkan gerbang sekolah. Honoka kemudian maju selangkah di depan mereka dan menghirup udara musim semi itu lebih banyak daripada biasanya. Kedua tangannya di rentangkan lebar-lebar seolah ingin terbang meninggalkan bumi. Dia tidak sedang melakukan apapun, guratan senyuman yang tersinggung di bibirnya sedang mengucapkan kata isyarat yang tak terbentuk, sebuah suara tercipta, sebuah kata keluar dari mulutnya. Itu bukanlah kata-kata penyemangat malahan itu membentuk sebuah alunan seni suara, sebuah lagu bersenandung berasal darinya.

"...datte, kanousei kanjitanda. Sou da.. susume!"

"Koukai shitakunai me no mae ni bokura no michi ga aru"

"Ho... Honoka?!"

"Ahh, benar! Itu dia! itu dia! Itu dia! kita harus tetap melakukannya! Kita harus tetap melakukannya karena kita tidak tahu masa depan di depan kita! Karena itulah kita harus terus maju dan melakukannya. Apabila tidak kita pasti akan menyesali itu! Lets... GO!"

Kousaka Honoka tanpa memperdulikan teman-temannya yang masih kebingungan dengan maksud ucapannya memilih untuk meninggalkan mereka dan berlari maju ke arah depan dengan sekuat tenaganya. Dia sudah memutuskannya, dia tidak ingin memilih jalan keraguan malahan menjalaninya dengan penuh asa!

Sementara kedua teman barunya ini mulai terbiasa dengan tingkah laku anak ini dan hanya bisa tertawa terkikih dengan keputusannya itu. mereka tidak mampu menghentikan semangatnya malahan dialah yang telah mempengaruhi mereka berdua sehingga sampai pada keadaan saat ini. Umi dan Kotori lalu memilih untuk berlari menyusul anak itu. tempat baru yang ingin ditunjukkan olehnya, mereka juga ingin mengetahuinya. Berlari mengejar mimpi mereka bersama-sama.