Bab 5: Eien Pressure

.


.

Part 1

Sore hari kembali menjelang gedung SMA Otonokizaka dan Kousaka Honoka juga kembali mengunjungi ruangan musik seperti halnya hari kemarin. Kira-kira sudah berlalu 3 hari semenjak pertemuan mereka untuk pertama kalinya. Dengan langkah riang dan santai Honoka membuka pintu itu namun sesuatu yang berbeda mulai nampak ketika dia menatap isi ruangan tersebut sekarang.

Tempat itu terlihat lebih terang dan terbuka daripada biasanya. Sinar matahari yang sebelumnya takut untuk memasuki ruangan tak berpenghuni itu sudah tidak berlaku lagi. Kertas-kertas koran yang menutupi seluruh kaca jendela telah sirna dan sudah tidak ada lagi debu yang memenuhi ruangan ini. Ruangan ini nampak jauh lebih bersih daripada kemarin. Ruangan musik itu tampak jauh lebih bermakna ketika selesai dibersihkan ketimbang menjadi tempat gudang.

Di ruangan ini Honoka tidaklah sendirian, anak berambut merah itu juga ada disana namun dia juga tidak sedang sendirian. Di sisi kiri dan kanan gadis tersebut terdapat rekanan gadis lainnya, salah satunya memiliki potongan rambut pendek yang berbagi warna sama dengan Honoka. Gadis itu sepertinya cukup sibuk untuk menyapu ruangan tersebut bersama dengan salah seorang lainnya berambut coklat muda yang juga adalah teman satu kelasnya turut membantu disana. Total ada 3 orang di ruangan ini selain Honoka.

"Maki-chan, d-dia siapa?"

Sebuah suara terucap namun itu bukan berasal dari Honoka melainkan dari salah satu temannya, sang gadis tomboi yang berada di sebelahnya.

Maki, meskipun pertanyaan itu ditujukan untuknya namun tampaknya dia tidak berminat untuk menjawab itu dan bahkan dia tampak mengacuhkan keberadaan Honoka. Tentu saja hal itu membuat Honoka jengkel namun detik ketika dia hendak memuntahkan protesnya, tiba-tiba salah satu gadis dari antara mereka mulai maju menghadapinya dengan sopan sambil membungkukkan kepala lalu mengajaknya untuk keluar dari ruangan.

Gadis itu berkata:

"Maaf senpai, kami masih membersihkan ruang musik sekarang. Rin Hoshizora, gadis yang di sebelah sana itu, baru saja mendapatkan ijin dari guru untuk bisa menggunakan ruang ini kembali. Karena itulah, kami sedang sibuk untuk membersihkan isi ruangan ini sekarang. Jadi, apabila senpai memang memiliki keperluan dengan Maki-chan mohon bersabar dan tunggu di luar ruangan sampai kami selesai membersihkan ruangan atau apakah mau titip pesan yang hendak disampaikan kepadanya?"

Sedikit kikuk namun sang kohai berhasil menyampaikan maksud hatinya kepada sang Senpai.

Dan Honoka juga memahami itu.

Singkatnya, oleh gadis berambut coklat teh itu Honoka diperkenankan untuk pergi meninggalkan tempat tersebut. Seharusnya dia mengerti kalau dia sedang diusir secara halus oleh kohai-nya. Namun bukannya pergi malahan dia dengan mata berbinar-binar menggenggam kedua telapak tangan sang kohai tersebut.

"Ketemu...! Kawaii...! Benar-Benar Kawaii...! Aku akhirnya bertemu denganmu! Siapa namamu?!"

"H-Hanayo Koizumi."

"Nama yang cantik...! Nah, Hanayo-chan! Apakah kamu berminat bergabung ke grup school idol?"

"Ehh?!"

"Ayo bergabung bersamaku menjadi school idol! Kamu tahu kan tentang school idol, kan?! Itu lho, Grup semacam A-RISE! Ayo kita juga bersama-sama membuat grup idola untuk sekolah Otonokizaka ini! Kalau ada anak seimut kamu di dalam grup kami tentu kita berempat bisa membuat grup school idol yang terkenal di wilayah Akihabara ini. Bukan! Tidak hanya Akihabara saja tapi juga seluruh jepang! Nah, bagaimana, ide bagus, kan?!"

Sang senpai terus berceloteh tanpa henti sementara Hanayo yang mendengarkan itu hanya bisa menceracau panik saat dicerca pertanyaan aneh yang begitu banyak. Wajahnya memerah dan bisa terlihat ada asap yang keluar dari atas kepalanya, pandangan matanya berubah menjadi ulir karena tidak bisa fokus dan terus berputar-putar karena bingung, hingga...

"BAAM!" suara pintu secara kasar terbuka.

"Honoka Senpai! Tolong, jangan ganggu dia juga, yah! Kamu itu kenapa selalu menganggu saja, sih?! Sudah, jangan pernah coba-coba kembali kesini lagi, yah!"

Dengan perkataan tersebut sang gadis berambut merah itu menendang pantat senpainya hingga melesat jauh ke menuju lorong seberang luar meninggalkan ruang musik.

.


.

Part 2

"Hanayo-san, maaf, yah. Aku lupa memberitahumu tentang kakak kelas aneh yang selalu membututiku sejak kemarin itu." kata Maki sembari duduk disamping Hanayo.

"Ehh, Kakak aneh? Tapi Maki-chan kamu enggak apa-apa, kan? Kamu enggak diapa-apain sama senpai itu kan?! Apa perlu aku laporkan ke guru saja?!"

"N-ndak perlu, Rin?! Sudah, jangan terlalu dibesar-besarkan. Yang paling penting, Hanayo kamu enggak apa-apa, kan?!"

"Eee...enggak apa-apa kok. T—tapi, tadi dia bilang mau bikin grup school idol?. Itu beneran?!"

"Yah... entahlah, memang beberapa hari ini dia terus mengajakku untuk bergabung ke grupnya dan membuatkan musik bagi mereka padahal aku sudah jelas-jelas menolaknya. Lagipula, musik idol? Itu adalah genre musik yang sangat aneh untuk didengarkan. Aku tidak percaya bahwa jaman ini semua orang jepang cenderung menyukai musik Idol. Maksudku, ayolah... Itu sama sekali bukan pertunjukkan musik. Hanya orang bodoh saja yang menyukai musik idol! Itu cuma alat propaganda untuk mengeruk uang orang tolol yang merelakan dirinya terperangkap ke dalam dunia sesat itu. Apa bagusnya anak SMA menjadi idol? Bukankah itu sama saja dengan mempekerjakan anak di bawah umur?! Makanya, Itu sama sekali bukan pertunjukkan musik yang elegan. Sungguh memalukan! Benar, kan? Kalian berdua juga setuju dengan pendapatku kan, Hanayo?"

Sementara Maki dengan kesal memuntahkan pemikirannya kepada kedua temannya yang mendengarkan, Rin dan Hanayo saling berpandangan. Pada awalnya mereka terus diam namun setelah tangan Maki menunjuk diri Hanayo maka mau tidak mau dia harus ikut menyetujui perkataan itu dengan suara ragu. Namun...

"Eehh?! Emm, yaaa... b-begitulah Maki-chan. Kalau begitu, Ehehehe... Sudah, yah? Permisi."

Hanayo Koizumi dengan tubuh menggigil kemudian angkat kaki dan meninggalkan ruangan musik tersebut perlahan-lahan dan mulai berlari. Dibelakangnya, Rin Hoshizora mulai bereaksi kaget dan bergegas untuk menyusulnya namun sebelum itu dia mengarahkan pandangannya kepada gadis berambut merah tersebut.

"Hmm, ada apa dengan dia?"

Dan, gadis berambut pendek itu menjawabnya dengan menunjukkan mimik muka marah kepadapnya.

"Maki-chan, kamu kejam! Loe gak tahu yah?! Hanayo itu sangat suka musik idol sejak kecil bahkan dia pernah bercerita bahwa cita-citanya di masa depan adalah untuk bisa menjadi seorang idol. Lalu loe mengucapkan kata-kata itu tanpa pikir panjang! Itu benar-benar bikin dia sakit hati tahu?! Loe itu gak punya perasaan yah? Gue bertaruh dia pasti sakit hati banget sekarang karena ucapan loe itu. Maki-chan baka! Loe gak seharusnya tidak boleh ngomong kayak gitu!"

"Eh?! Beneran?! T-tapi aku sama sekali gak tau! Aku pikir dia..."

Maki menghentikan perkataannya. Kepalanya tertunduk dengan terus memikirkan perkataan yang keluar dari mulutnya sebelum ini. Yah, dia menyesali kelakuannya.

"Aku... minta maaf."

Perkataan itu terasa hambar tanpa bisa didengar oleh siapapun. Gadis berambut merah itu tinggal seorang diri di ruangan musik itu karena gadis berparas tomboi dengan pantat runcing yang sebelumnya ada disana telah meninggalkan tempat tersebut dan beralih mengejar Hanayo yang pergi entah kemana.

.


.

Part 3

Gadis berambut warna coklat teh itu baru saja meninggalkan ruang musik.

Perasaannya sedikit terguncang ketika mendengar ucapan Maki yang jujur dengan hatinya.

Tersinggung? Ya, pasti.

Dia menghargai kejujuran Maki yang sudah mau berbagi pemikirannya kepada mereka berdua namun mendengar hobinya dihina seperti itu sungguh bukanlah hal yang menyenangkan bahkan seandainya dia bisa memilih memutar waktu maka dia akan memilih menyumbat telinganya dengan kapas tebal sebelum Maki dapat berkata-kata.

Namun, nasi sudah menjadi bubur.

Itu semua tidak bisa terulang kembali.

Dia melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan yang terletak berseberangan dari tempat ruang musik berada. Sebuah anak kunci khusus dikeluarkan dari dalam sakunya untuk membuka pintu tersebut dan kemudian sosok anak itu memasuki ruangan terkunci itu.

Ini adalah sebuah kunci spesial, tidak sembarang orang bisa memilikinya bahkan tidak banyak guru sekolah ini yang tahu tentang keberadaan kunci dan ruangan khusus ini meskipun letak tempat itu tercatat di buku panduan sekolah. Namun, Hanayo berhasil memilikinya dan secara hati-hati dia memastikan tidak ada orang yang melihat keberadaannya saat memasuki tempat tersebut.

Sebenarnya, Ini adalah ruangan dimana beberapa hari ini dia secara resmi menjadi penghuni baru untuk tempat itu. Dan di dalam ruangan itu sedang duduk seorang gadis cilik dengan dua pita merah muda yang mengikat rambut twin tail miliknya di depan sebuah layar yang mengeluarkan sinar biru untuk melawan kepekatan gelap ruangan ini.

Gadis itu selalu asyik duduk di depan komputernya, seolah tidak ingin repot-repot memperhatikan kehadiran Hanayo malahan dia terus melanjutkan perbincangan siber di sebuah forum sosial dunia maya yang saat ini trending topic-nya adalah membahas tentang kompetisi baru yang digunakan untuk wadah school idol yang semakin merebak di jepang.

"Ahh, senpai.. Aku boleh pinjam kursinya sebentar, kan?"

"Silahkan, lakukan saja sesukamu." katanya ketus enggan memindahkan fokus pandangannya.

"Eh, itu kan... DVD full set "Desentsu no Idol Dai Densetsu", kan?! Senpai kamu mempunyai itu juga?! Uwaaa, Boleh nggak aku meminjamnya seharian?! I—Ini adalah koleksi langka yang memuat sejarah grup-grup school idol terkenal di seluruh jepang dan hanya tersedia 500 keping saja. Senpai, kamu pasti sangat beruntung bisa mendapatkan ini, yah?!" Hanayo dengan antusias menatap kemasan hard cover dari set box tersebut tanpa memperhatikan sekelilingnya meskipun pada saat itu sang senpai sudah mulai memalingkan pandangannya dan angkat suara untuk siap menyalak.

"Gak boleh! Gak boleh! Gak boleh! Enak aja kamu mau membawa itu pulang ke rumahmu?!. Kalau kamu sendiri tahu betapa langkanya barang ini, kamu seharusnya ngerti kan bagaimana memperlakukan item rare semacam ini, bukan?!. Tcih, Aku bahkan harus melakukan pre-order 1 tahun lebih awal secara lottery untuk mendapatkan item spesial ini. Harga barang itu sama dengan anggaran klub selama satu tahun penuh, tahu?! Jadi, sekarang jauhkan tangan kotormu itu dari barang suci klub ini!"

"G—Gomenasai, senpai!"

"Huft... Lagipula, barang itu adalah properti milik klub penelitian idol tidak bilang kamu tidak bisa menyentuh atau melihat itu tapi jika kamu benar-benar ingin melakukannya lakukan itu disini saja! Mengerti?!"

"H-Haik."

Hanayo mengecilkan suara antusiasnya dan membatalkan niatannya untuk membuka hard cover album tersebut saat mendengar penuturan sang senpai yang menyalak dengan begitu tegas untuk menjaga properti miliknya. Sang kohai menatap belakang layar LCD yang menyala terang itu sehingga membuatnya tidak dapat melihat wajah sang senpai. Bagaimanapun juga dia masih merasa takut membuat senpainya marah sehingga dia tidak berani mengangkat topik ini kembali.

Kemudian pembicaraan teralihkan kepada topik berikutnya. Kali ini sang Kohai yakin pembicaraannya pasti bakalan terdengar menarik atau setidaknya dapat membuat senpainya mau membuka matanya untuk melihatnya dan mulai angkat bicara.

"Umm, senpai. Apakah kamu tahu kalau di sekolah ini ada anak kelas dua yang mau membentuk grup school Idol di Otonokizaka, lho?!"

Dan melalui kata-kata manis yang terucap dari mulut mungil sang kohai, gadis kecil yang sedari tadi terpaku di depan layar monitor mulai mengalihkan pandangannya dengan serius untuk menatapnya. Pandangannya sedikit miring selaras dengan upayanya menyingkirkan tampilan layar di depan matanya.

"Heh, siapa?!"

.


.

Part 4

Setelah meninggalkan ruang musik dan ditolak Maki untuk kesekian kalinya maka Honoka pergi mencari Kotori dan Umi.

Begini masalah utamanya, meskipun ketiga orang ini adalah tokoh utama dalam cerita ini namun mereka masih kesulitan untuk bisa meminjam tempat latihan. Sebagai klub yang belum mendapatkan ijin resmi dari sekolahnya dan masih kesulitan untukmendapatkan anggota klub yang baru telah membuat mereka terpaksa harus rela berlatih secara otodidak dimana saja.

Hari pertama mereka berkumpul di depan lapangan depan sekolah namun mereka membatalkan niat untuk latihan karena Umi mendadak melarikan diri setelah mukanya merah padam karena dilihat oleh banyak orang.

Hari kedua berkumpul di gedung olah raga namun diusir oleh murid lainnya karena ruangannya masih dipakai oleh klub olah raga yang sudah meminjam gedung itu sebelumnya.

Hari ketiga mereka kembali ke halaman belakang gedung sekolah namun terlalu sempit untuk bisa melakukan latihan dance, dan pada akhirnya...

Tinggal satu tempat yang masih tersisa di SMA Otonokizaka.

Sebenarnya tidak ada seorangpun yang merekomendasikan tempat ini untuk digunakan, bahkan pada bagian luar sebelum memasuki tempat itu terpasang tanda peringatan "DILARANG MASUK!". Bagaimanapun juga, Honoka yang ceroboh tidak menyadari itu dan langsung saja membuka pintu tersebut. Begitulah ceritanya hingga pada akhirnya mereka mendapati satu tempat tersisa di area sekolah yang memungkinkan agar mereka bertiga bisa berkumpul dan berlatih bersama-sama.

Sebuah ruangan terbuka yang tersisa di gedung sekolah ini, itu berada di...

"Kalian bertiga, berhenti di tempat! Apa yang sedang kalian lakukan di atas atap gedung sekolah ini?! Ayo lekas berbalik badan sekarang!"

Tiba-tiba sebuah suara wanita dewasa dengan tegas menghentikan langkah mereka saat ketiga siswi itu berada di area tengah.

"Sial.. duh, ketahuan yah?!"

"H-Honoka, sudah kubilang, kan?! Ini melanggar peraturan sekolah. Duh, kena marah guru lagi!"

"Tapi, kan bukannya kalian berdua juga setuju kalau tempat ini adalah pilihan spot terakhir yang paling cocok untuk dijadikan tempat latihan?! Iya kan, Kot.."

"HEH, KOTORI MINAMI?! MENGAPA KAMU ADA DISINI JUGA?!" sang guru wanita berseru kembali. Kali ini mereka bertiga terpaksa berbalik dan menatap wanita berperawakan kurus, rambut pendek dan jaket sport oranye-pink yang dikenakannya. Suara keluh mendesah dapat saling terdengar dari diantara mulut dua orang guru-murid tersebut ketika mereka berdua saling memandang.

.


.

Part 5

"Ah, aku mengerti. Jadi asal edaran selebaran ini juga dari kalian bertiga, kan? Eh, jangan terlalu tegang seperti ini, santai saja! Sensei tidak akan menghukum kalian, kok."

Ketiga siswi itu masih tetap bersama-sama namun mereka tidak lagi berada di atas atap sekolah. guru muda itu menggiring para murid tersebut menuju ruang guru yang terlihat lenggang karena masih jam makan siang. Seorang guru nampak sibuk menghabiskan bekal bento yang terlihat imut. Sementara seorang guru wanita lainnya telah terpaksa menyelesaikan makan siangnya lebih cepat untuk menjumpai mereka bertiga.

"HAH! Uzuki-sensei, kamu bercanda yah?! mereka bertiga itu sudah melanggar aturan sekolah dengan naik ke atas atap gedung sekolah. Kamu sebagai wali kelas mereka harus tegas dong?!"

"Ah, iya-iya.. aku tahu Honda-sensei. Tapi setidaknya kita juga harus mendengar alasan mereka berbuat demikian, kan?! Dan sekarang aku sudah mendengar alasan mereka dan mengerti tentang itu. Karena itulah aku bisa mengambil keputusan bahwa tindakan ini tidak perlu dibesar-besarkan."

"Ugh... kamu itu!"

"Yah.. Baiklah, kalian bertiga, kita akan bicarakan ini lebih lanjut sepulang sekolah nanti. Untuk sekarang kalian kembali ke kelas saja. Pelajaran ibu di kelas 2-A akan segera dimulai jadi jangan kemana-mana, Paham?"

"T—Terima kasih, sensei." Ketiga gadis itu meninggalkan ruangan setelah membungkukkan kepala.

"Tchh..."

"Huh, sudahlah Honda-san, kamu itu kayak baru kenal Uzuki-san satu-dua tahun ini aja. Sifat dia kan memang seperti itu?" kata guru wanita muda lainnya menanggapi itu sambil menyeruput teh di gelas. Wanita berambut panjang itu baru saja menyelesaikan bekal makan siangnya.

"Uzuki, terima kasih yah buat bento-nya. Tapi, kamu gak perlu repot-repot begini, kan?"

"Ah, nggak masalah kok. Aku senang kamu bisa menikmatinya. Tadi pagi aku buat bekalnya terlalu banyak dan kebetulan sekali kamu hari ini tidak bawa bento jadi sisa makanan ini tidak mubazir. Aku pikir akan memakan bekal ganda itu lagi. Hmm, Honda-san, kamu mau juga? Besok mau aku bawakan buat kamu?"

"Aizz, Shibuya-san. Kamu itu selalu saja seperti ini! Selalu saja membela Uzuki... Tapi, b—bukan berarti aku nggak mau, yah."

"Ya, ampun Honda... sejak kapan kamu jadi tsun-tsun gini sih?"

.


.

Part 6

"...Maka dari itu, Rapat OSIS kali ini secara resmi kita akhiri sekarang."

Sang ketua OSIS berdarah rusia itu kembali mengumpulkan anggota eksekutif sekolah seusai pulang sekolah untuk mengadakan rapat OSIS. Normalnya, rapat OSIS hanya dilakukan pada saat acara sekolah saja namun kali ini berbeda. Eli Ayase, selaku ketua memaksa para anggota lainnya untuk lebih intens bertemu dan membicarakan topik yang secara paksa dia angkat.

Sebenarnya topik ini tidak cukup menarik perhatian anggota eksekutif lainnya. Bahkan sebagian besar dari mereka merasa bahwa hal ini sudah tidak perlu dibicarakan lagi, keputusan akhirnya sudah final, kok. Jadi mengapa ini harus diungkit kembali?

Seharusnya begitu. Namun dia tidak menyerah bahkan terus menawarkan solusi jangka pendek yang diperlukan untuk mendukung idenya tersebut. misalnya, memberikan penghargaan dan reward bagi anggota berprestasi. Tentu saja itu bersumber dari uang sekolah. Karena itulah meskipun ini diluar wewenang kebijakan OSIS tapi tetap saja hadiah semacam ini adalah sesuatu yang menggiuarkan.

"Eli-chi, apakah kamu yakin kita harus melakukan ini?" sang gadis dengan ukuran dada over-size yang selalu berada disampingnya itu memiringkan kepalanya ketika melihat sang gadis pirang membuang nafas untuk mengendurkan syarafnya.

"hah?" Eli memalingkan muka namun lawan bicaranya segera mengangkat tangan untuk menghentikan mulutnya yang akan berbicara.

"Iya, iya.. aku tahu kamu pasti mau bilang kalau kamu sudah mengatakan ini berulang kali tentang rencana OSIS untuk menyelamatkan sekolah ini. Aku paham itu! aku juga tidak suka dengan keputusan kepala sekolah yang menyerah untuk mempertahankan sekolah ini dihadapan ketua yayasan sekolah. Tapi, kalau Mrs. Minami saja gagal melakukan itu apa daya kita sebagai murid wanita biasa untuk menginterupsi wewenang mereka."

"Itu...

.

"Haaaaaahhh!"

Honoka membuang nafas panjang untuk kesekian kalinya hari ini. kedua temannya yang ada disampingnya sama-sama memiringkan kepala ketika melihat wajah lesu yang tidak seperti biasanya.

"Jadi, kamu sudah menyerah sekarang."

"Ehh, enggak lah! Aku masih belum mau menyerah sekarang apalagi Uzuki-sensei sudah mau mengerti keadaan kita. Aku yakin jika seandainya kita bisa meyakinkan beliau maka Uzuki-sensei pasti akan membantu kita."

Gadis berambut coklat oranye itu membantahnya dengan mimik yang tegas. Sama seperti keadaan tadi, dirinya yang nampak lesu itu kemudian berubah menjadi bersemangat ketika disinggung perkara school idol, hal yang berasal dari idenya sendiri.

Mendengar itu sang lawan bicara hanya bisa tersenyum kecil sembari berkata "Kau ini positif sekali yah?!"

"Umi-chan, jangan menyudutkan Honoka-chan lagi. Tentu saja dia tidak akan menyerah untuk sekarang. Iya, kan Honoka-chan?"

"Tentu saja... aku pasti berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkan ini. Karena itulah aku membutuhkan bantuan kalian berdua. Ini adalah usaha terakhirku, aku janji apabila cara ini juga gagal untuk menyelamatkan sekolah ini maka aku akan berhenti berusaha dan menerima tulisan pengumuman itu secara ikhlas."

Honoka dan kedua temannya tiba di depan papan pengumuman dan menatap tulisan kertas cetak yang terpasang disana dengan muka muram.

Ada sesuatu yang mengganggunya. Tiba-tiba dia teringat dengan wajah ibu dan neneknya saat membicarakan itu. Album foto kenangan yang dia buka saat kemarin malam di rumahnya seolah-olah bergerak menceritakan memori secara pribadi bagi Honoka sehingga tekadnya kembali terang saat mengingat itu. Dan, Tiba-tiba ada air mata yang menggenangi kelopak matanya yang siap jatuh membasahi pipinya namun dia berusaha untuk menahannya. Dia bergumam..

"...itu karena aku mau menyelamatkan sekolah ibu dan nenekku."

.

"...itu karena aku mau menyelamatkan sekolah nenekku."

.

"Karena itulah aku akan menjadi school idol dan mengangkat popularitas sekolah Otonokizaka di seluruh jepang sehingga banyak siswi baru yang mendaftar sekolah ini sehingga pihak yayasan akan berubah pikiran untuk membatalkan niatnya menutup sekolah ini." dia tersenyum kepada kedua temannya.

.

"Karena itulah aku akan berbuat sesuatu untuk menyelamatkan sekolah ini dan menghancurkan keputusan licik kepala sekolah dan pihak yayasan yang sudah bersengkongkol untuk menutup sekolah ini demi keuntungan pribadi. Aku akan mencegah para investor yang hendak menawar sekolah ini. Aku akan menginjak-injak papan nama keluarga mereka yang telah menyia-nyiakan cita-cita leluhur keluargamu juga yang sudah susah payah untuk membangun sekolah ini!"

"Eh, Eli-chi?! Kenapa kamu bawa-bawa nama leluhur kakekku?! Yah, harus diakui aku memang turut membantumu setelah mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Namun aku marasa seandainya kakekku masih hidup, beliau sepertinya tidak terlalu keberatan agar sekolah ini dihancurkan. Maksudku, sekolah ini sudah berhasil mewujudkan cita-cita kakekku selama dua dekade."

"Apa kamu yakin tentang itu, Nozomi?" gadis pirang itu tidak mengendurkan muka seriusnya saat menatapnya.

"Itu..."

.

"Jadi, aku harus bagaimana?!" gumamnya di dalam hati. Sambil dipeluk kedua temannya

.

"Jadi, aku harus bagaimana?!" gadis itu memejamkan mata sambil menyandarkan kepala ke sisi jendela.

.

Sebuah tujuan yang sama. Dua kelompok gadis dengan sudut pandang jalan yang berbeda. Sebuah rahasia di dalam rahasia lainnya. Sementara itu sebuah kelompok lainnya juga telah bersiap untuk mengintervensi ataupun mengeintersep pergerakan kelompok lainnya.

Kini kedua kelompok itu berdiri di depan ujung tebing masing-masing yang berada bersebelahan sambil menatap awan dan cakrawala oranye di depan sana.

Kedua orang itu...

Pikiran mereka berdua telah membawa rekan-rekan lainnya untuk berani membentangkan sayap dan terbang menuju tempat itu. Namun dengan langkah tersebut...

Akankah itu dapat membawa mereka terbang lebih tinggi untuk mencapai awan?

Ataukah mereka nantinya malah jatuh lebih keras dan dalam akibat melawan hukum gravitasi?

Bahkan, kemungkinan mereka semua belum menyadari bahwa sayap itu seharusnya tidak digunakan untuk terbang.