Bab 6: Boku wa Ganbaru
.
.
Part 1
"Tunggu!"
"Berhenti mengejar aku!"
"Tunggu, aku belum selesai ngomong sama kamu!"
"Nggak, aku nggak mau ketemu kamu lagi! Pembicaraan kita sudah selesai, senpai! SE-LE-SAI!"
"Onegai... Maki-chan!"
.
.
Part 2
Suasana kelas 2-1 saat ini telah menjadi sepi dan hanya menyisakan dua siswi yang masih mengerjakan tugas piket kelas sekarang. Awalnya ada tiga orang yang berada di tempat ini namun dalam sekejap mata hanya tinggal mereka berdua yang ada disana.
Adalah Umi Sonoda orang yang paling menggerutu keras karena kehilangan salah satu anggota itu. Seorang gadis lainnya, Kotori Minami dengan sibuk mengelus punggung gadis yang berada di sampingnya itu sambil bersenandung pelan untuk menurunkan tensi amarahnya.
"Udah-udah, Umi-chan.. Biarin aja Honoka pergi. Mungkin dia benar-benar ada keperluan mendadak sekarang?! Tehehehe..."
"Gezz, kalau satu dua kali sih aku masih bisa terima, Kotori. Tapi Honoka ini! Dia sudah lima kali bolos piket! Lima dari lima jadwal piketnya semenjak awal masuk sekolah! Ini sih namanya keterlaluan!"
"Ahahaha..."
"Lagipula, kamu itu Kotori-chan! Kenapa terlalu lembut pada dia, sih? Sekali-kali bantuin aku marahin dia, kek?! Gezz, capek tahu ngasih tahu anak itu terus-terusan!"
"Ahahaha, lain kali yah... Mungkin aja dia lagi benar-benar sibuk sekarang jadi tidak bisa ikut piket kelas."
Mendengar itu Umi Sonoda lalu menarik alisnya ke atas sambil memicingkan mata kepada gadis bersurai coklat abu-abu tersebut.
"Huh? Kotori-san. Diantara dia dan aku, menurutmu lebih sibuk mana antara dia yang saat ini entah dimana dan "seseorang" yang sedari pagi datang ke sekolah untuk latihan ekskul tambahan untuk persiapan turnamen berikutnya, menghadiri kelas secara reguler tanpa pernah bolos, dan mengerjakan tugas piket, lalu sorenya segera datang ke dojo untuk mengikuti latihan ekskul kembali!"
"i-iya.. iya, aku ngerti, Umi-chan. Kamu yang bener, dia yang salah... Ya udahlah, pokoknya kita beres-beres kelas dulu aja, yah?!"
"Gezz... kamu itu!"
"O-Onegaaii~~!"
"Kyaaa~~~"
Setelah itu, kalian sendiri bisa membayangkan bagaimana akhir cerita mereka berdua di dalam kelas ini.
.
Ruangan OSIS yang biasanya ramai dengan para anggotanya kini terlihat longgar daripada biasanya. Sudah separuh semester berlalu semenjak tahun ajaran baru dimulai di Sekolah Akademi Otonokizaka sehingga rancangan kerja OSIS untuk satu tahun kedepan juga telah dirampungkan. Meskipun demikian, bukan berarti pentolan OSIS di sekolah ini sudah bisa bersantai bahkan dia semakin giat mengerjakan lembaran demi lembaran proposal baru demi ambisi pribadinya.
Dibantu teman sejatinya, gadis yang berperawakan tinggi semampai yang setara dengan dia beserta perabotan yang tumpah-tumpah selalu ada untuk memberikan dukungan penuh kepada gadis keturunan seperempat Rusia itu. Senyuman gadis logat Kansai itu tidak pudar dari bibirnya sembari tangannya terus menari dengan kecepatan penuh terhadap lembaran kertas kosong yang kini sudah separuh terisi.
Mereka berdua tidak sedang mengerjakan tugas sekolah namun tindakan mereka tetap berkaitan dengan masa depan sekolah ini. Gadis pirang itu mengerjakan tugasnya dengan terus mengingat kembali wejangan sang Nenek ketika masih di Rusia yaitu menjaga sekolah Otonokizaka yang dia banggakan dengan sepenuh hati. Tampaknya, Nenek Eli di masa muda pernah bersekolah di Otonokizaka sebelum menetap di Moscow.
Bahkan hingga kini sang Nenek tetap tidak mengetahui berita perkembangan yang terjadi di sekolah cucunya ini. Itu juga karena Eli tidak berniat menceritakan ini kepada keluarganya namun sang cucu tetap menyimpan amanat neneknya itu di dalam hati. Karena itulah, beserta cucu buyut perancang sekolah ini mereka berusaha menyelamatkan sekolah ini dengan cara mereka sendiri.
Kini proposal keempat sudah dibuat, hingga...
"Ahh... Ini menyusahkan!" Gadis berambut pirang itu menghentikan pekerjaannya dan mulai mengacak-acak rambutnya sendiri.
"Hmm, ada apa Eli-chan?"
"Setelah aku menerima surat balasan dari Kemendikbud aku sama sekali tidak mengerti dengan cara pikir Pemerintah kita ini. Apakah negara kita begitu pesimistis dengan jumlah penduduknya sehingga tidak memperdulikan edukasi bagi para warganya? Padahal kita sudah melaporkan ini secara resmi lengkap dengan lampiran bukti-bukti yang diperlukan tentang kejanggalan penutupan sekolah ini namun mereka menolak menanggapi itu bahkan meminta kita agar tidak terlalu ikut campur dengan urusan internal sekolah.
Tapi...
Masalahnya, kita kan OSIS! Jadi, kita berhak dong menyuarakan ketidak setujuan kita demi mempertahankan sekolah ini. Apakah sampai di titik ini aku salah, Nozomi?"
"Yah, yah... aku ngerti kok. Kamu gak salah dengan cara pikir itu. Nah, makanya sekarang aku juga turut membantumu untuk membuat surat proposal untuk menambah dana acara 'Open Campus' bulan juli mendatang, bukan?"
"Gaahh, semoga kita masih memiliki waktu yang cukup untuk merampungkan ini semua!"
Nozomi tersenyum melihat kegelisahan rekannya itu.
"Tenanglah Eli-chan. Selama waktu jam dinding di ruangan ini masih berdetik hingga jarum ke angka 12 itu berarti kita masih kesempatan yang sama untuk membuat peluang di dunia yang relative ini. Pokoknya, kita masih punya waktu untuk beristirahat sejenak."
"Huftt... Kamu itu optimis sekali yah?"
"Yah... meskipun aku tidak akan pernah bisa menyamai dia sih. Nah, mengapa kamu tidak mengajak dia lagi saja?" Nozomi yang teringat sesuatu lalu membelalakkan matanya ketika menatap Eli. namun gadis itu...
"NOZOMI!" tiba-tiba gadis itu membentak dengan pipi dan telinga memerah.
"Ahh, maaf.. maaf... Kamu benar-benar tidak mau mengingat anak itu yah? Padahal, aku yakin dia saat ini pasti juga sedang melakukan sesuatu yang sama seperti kita sekarang. Secara langsung ataupun tidak langsung."
Pada saat itu Muka Eli semakin memerah ketika mendengarkan perkataan Nozomi. Bahkan, tangannya tanpa sadar menggebrak meja untuk kesekian kalinya.
"Sudah cukup...!"
"Ups, yah pokoknya aku mau bilang kita masih kesempatan. Itu saja!"
"Huuuh, iya..." Eli menghelakan nafas dan menundukkan kepala. "Peluang untuk bisa berhasil ataupun gagal."
.
.
Part 3
Sore hari telah tiba membayangi daerah Kanda. Di tengah taman sekolah yang rindang dengan pepohonan besar yang mulai berubah oranye ada seorang gadis sedang sibuk memicingkan matanya ke daerah sekeliling taman itu untuk mencari sesuatu yang hilang. Sebenarnya tempat itu sudah semakin sulit untuk dilihat karena tertutup bayang-bayang tipis oleh matahari yang hendak terbenam.
Akan tetapi senyumannya kembali muncul ketika anak itu menemukan sesuatu yang di maksud itu. Diam-diam dari belakang dia mengangkat langkah sepatunya supaya tidak menimbulkan suara berisik. Kepada target yang dia maksud, gadis berambut merah yang sedang menundukkan badannya di sudut kegelapan bermaksud menghilangkan keberadaannya. Gadis berambut coklat gingger itu segera mendekatinya dan segera menyergap punggung gadis itu dari belakang sehingga sosok itu tidak dapat berkutik dalam posisi jongkok menahan berat badan sang pemburu.
"Ketemu!"
"Kyaaa, tolong... Tcihh, lepaskan aku, senpai! Lepaskan! Kamu itu berat, tahu?!
"Iiih, kok gitu sih.. Jahat!"
"Memang kamu itu berat tahu! Tolong, badanku sudah gak kuat buat menahan badanmu."
"Umm, baiklah. Tapi kamu jangan lari, yah?"
"Iya.. Iya..."
Segera setelah itu Honoka mengangkat tubuhnya dari gadis yang meringkuk di tanah itu dan... Gadis itu segera kabur dengan kecepatan penuh berlari melompati sang senpai setelah sebelumnya menjitak kepalanya. Kejar-kejaran di sore menjelang senja itu berlanjut ke dalam gedung sekolah menuju tangga lantai 2.
"Maki-chan curangggggg... kenapa kamu kabur?!"
"Kau itu yang aneh! Kenapa selalu mengejarku sih?! Aku kan sudah menolakmu.."
"Tapi, bukan itu yang sedang aku bahas. Aku hanya ingin menanyakan sesuatu kepadamu.."
"Nggak, aku nggak akan terpedaya lagi dengan bujuk rayuanmu itu."
"Pokoknya, kamu berhenti dulu lah?! Capek tahu!" sembari mengatakan itu Honoka semakin menambah kecepatan larinya. Tentu saja, itu membuat Maki ketakutan dan secara otomatis berlari semakin kencang hingga...
BUUMM!
Maki segera terpelanting ke depan sebelum akhirnya dia berhenti di pelukan seseorang yang sudah siap menangkap badannya.
"Aduuhhh! Ulah siapa sih itu?! Sakit, tahu?!" ujar Maki yang mengusap kepalanya setelah tertumbuk benda kenyal yang sudah melindunginya.
"Hei, seharusnya aku yang ngomong itu."
"Heh?!" Gadis itu berbalik dan melihat seorang gadis cilik sedang berbaring di tanah dengan kepala berputar 90° menatap dirinya dengan pandangan yang tajam.
"S-Siapa?!"
"Heh, S-Siapa katamu?!" gadis cilik itu segera terbangun dan merapikan rambut pigtail yang mulai kusut itu. "Aku ini kakak kelasmu, tahu?! Lagipula, hei kamu Kohai! Kamu memilih merawat dia ketimbang aku, huh?!"
"Ahh, maafkan aku... S-Senpai! Kamu tidak apa-apa, kan?"
Saat itu Maki baru tersadar tentang sosok yang sudah memegang badannya ada di depannya selama ini tanpa dia sadari. Sang gadis kohai itu lalu segera berdiri dan menyusul Senpai-nya sembari merapikan kemeja sekolahnya yang sedikit lusuh.
"Tcih, telat tahu... Udah, udah, aku nggak apa-apa kok!"
Namun, ternyata itu kemudian membuat Maki terkejut.
"Heh, Hanayo?! kamu kenal anak ini?!"
"A-Anak? Ehh, Maki-chan. Pstt.. jangan ngomong gitu. Dia itu kakak kelas kita... Lihat warna dasinya itu." ujarnya separuh berbisik di tengah angin.
"Ahh, iya-iya... Jadi?"
"Jadi..."
Belum sempat Hanayo meneruskan perkataannya tiba-tiba datanglah Honoka yang tadi sedang mengejarnya.
"Maki-. Ahh, tadi aku penasaran ada suara ribut-ribut apa disini. Ternyata penyebabnya adalah kamu toh?"
"Tchh..."
"Ah, gadis Bishoujo yang kemarin! Wah, kebetulan banget aku bisa bertemu denganmu disini!"
"Yabai... Hanayo-chan, ayo pergi dari sini sekarang..." pekik Maki berusaha menggapai tangan Hanayo.
"E-Ehh? Uwaaaa..."
"Tunggu..."
Ketiga gadis itu bersiap untuk aksi kejar-kejaran kembali. Namun pada saat itu gadis cilik yang paling tua di tempat itu segera mendehem keras namun tidak ada yang memperhatikan dia, untuk kedua kalinya dia melakukan itu namun anak dari kedua kelas itu terus berdebat sehingga dia tidak tahan untuk berteriak supaya mereka tak acuh kepadanya.
"SEMUANYA BERHENTI!"
"Ehh?! Ada apa, yah? Eh, aku tidak tahu bila Otonokizaka memiliki sekolah SMP. Eh, apa memang ada yah?"
"Gezz... YAH, KARENA ITU MEMANG TIDAK PERNAH ADA, BEGO!"
"S-senpai... B-beliau adalah kakak kelas kita, anak kelas tiga, Nico Yazawa" terang Hanayo sembari menenangkan senpainya yang mukanya sudah merah menyala. "S-Senpai, juga tolong tenangkan dirimu, yah?"
"Ya ampun, aku nggak percaya anak angkatan baru ini benar-benar tidak ada sopan-santunnya"
"Gomen Se-senpai... aku juga anak angkatan baru, lho.. ehehehe..."
"Kecuali kamu!"
Nico, kakak kelas berperawakan pendek itu mendekati Honoka dengan berkacak pinggang. Sementara itu Honoka hanya bisa tertawa cengengesan saat memandangi sosok yang cemberut kepadanya.
"Hei kamu... Kamu anak kelas dua kan? Kenapa kamu mengejar-ngejar anak kelas satu?!"
"Senpai, sebenarnya aku..."
"Ahh, aku baru ingat sekarang. Hanayo, bukankah orang ini yang kamu bilang kemarin? Orang yang ingin mendirikan grup school idol itu, bukan?"
"I-iya..."
Sementara itu Maki berbisik kepada Hanayo mempertanyakan apakah dia memang mengenal anak pendek itu. Hanayo kembali tersenyum remeh menjawab temannya itu.
"HAH, ANAK SEPERTI KAMU MAU MENJADI SCHOOL IDOL?! NGACA DULU DONG!"
Saat itu Honoka yang sempat tersentak mundur ke belakang mengumpulkan keberaniannya untuk membalas senpai mungil itu.
"...MEMANGNYA KENAPA KALAU KAMI MAU MENJADI SCHOOL IDOL?! BUKANKAH KALAU SCHOOL IDOL ITU ADA ITU BERARTI SEKOLAH INI AKAN MENJADI TERKENAL?! LAGIPULA APA HAKMU UNTUK MELARANG KAMI?! KAMI PASTI MAMPU KOK MENJADI SCHOOL IDOL?!"
"Terkenal... karena bualanmu, huh?! Di dunia ini nggak ada yang namanya terkenal dalam waktu singkat. Lagipula, seandainya kamu bisa itu pasti tidak akan bertahan lama"
"Kami pasti mampu kok!"
"Oh yah, apa dasarnya? Bisa nyanyi?"
"Yah, suaraku gak jelek-jelek amat kok"
"Bisa nari?"
"Umm... Aku pasti akan latihan keras"
"Yang paling penting, apakah kamu punya grup?"
"Err, yah itu yang sedang aku usahakan sekarang... ehehehe... tapi, kita sudah ada tiga orang kok?"
"Tch, lihat sendiri kan kalian itu cuma grup amatir yang tidak tahu apa-apa tentang dunia idol."
"Tapi..."
"Memangnya apa yang akan kamu perbuat setelah membentuk grup school idol?"
"Aku... ingin menyelamatkan sekolah ini." jawab Honoka dengan suara mengecil. Nico yang mendengarkan itu hanya bisa tercengang.
"Tcih, kamu pasti sudah gila yah?! Aku tidak melihat ada hubungannya diantara itu. Aku kira kamu ingin menggelar tur konser atau apalah. Ternyata alasanmu ini lebih gak masuk akal lagi."
"T-Tapi, aku yakin ini pasti akan berhasil kok. Senpai, bukankah orang sepertimu menyukai dunia idol? Begitu juga denganku! Lagu mereka yang lucu, serta penampilan mereka yang memanjakan mata selalu menarik perhatian khayalak ramai. Jadi, apabila kita menjadi school idol maka kita akan menjadi pusat perhatian bagi sekolah lainnya dan dengan begitu kita jug bisa menarik anak-anak SMP di bawah kita untuk bersekolah kemari."
Nico mendengarkan perkataan kohainya dengan tenang namun pada akhirnya dia hanya bisa menghela nafas dan berbalik memunggunginya.
"Tidak masuk akal... terlalu cepat 1000 tahun untuk kamu memiliki rasa percaya diri semacam itu!"
Setelah itu Nico pergi meninggalkan adik kelasnya dan segala kegilaan mereka. Hanayo juga turut pergi menyertai senpainya dan meninggalkan Honoka dan Maki berdua saja namun tidak seperti tadi kali ini keadaannya menjadi sangat tenang. Terlalu diam, karena Honoka tidak berkomentar apapun sehingga kali ini Maki yang mulai angkat suara.
"Sebenarnya... aku tidak menyukaimu dan cara pikirmu itu. Aku sepakat dengan senpai mungil itu bahwa kamu itu tidak masuk akal. Mempromosikan sekolah melalui idol? Itu justru lebih tidak masuk akal lagi"
"Aku tahu..."
"Namun, bukan berarti aku membencimu... Jika kamu memang memiliki keinginan tulus semacam itu yah mana bisa aku menghina impian itu?"
"Ehh, A-Arigato..." Honoka tersenyum setelah mendengar perkataan Maki. "Baiklah, aku akan berhenti mengejarmu. Maki-chan, terima kasih banyak, yah?"
Pada saat itu Honoka sudah membalikkan badan untuk pergi meninggalkan tempat itu, hingga...
"Tunggu..."
"Ehh?"
"Lagunya..."
"Kalau kamu membentuk grup idol, apakah kamu sudah memiliki lagu?"
"Ehh? Ahh... Mungkin kita bisa memakai lagu cover grup lain saja? Ehehehe..."
"Heh, kamu ini sebenarnya niat menjadi grup school idol atau grup cover idol sih?!"
"M-memangnya tidak boleh yah?!"
"Yah enggak lah! Meskipun kamu bisa melakukan itu tapi tetap saja tidak menarik. Cara semacam itu sangatlah sia-sia. Sama sekali nggak original!"
"Umm, jadi menurut pendapatmu?"
"Dengar yah..."
.
.
Part 4
"Nah, begitulah ceritanya, teman-teman... ehehehe!"
"H- Honokaaa!" kata Umi dengan suara gemetar.
"Yah,Umi-chan?"
"J-Jadi, kamu mau bilang bahwa alasanmu bolos piket untuk kelima kalinya dari lima kali jadwal piketmu adalah untuk mengejar Maki, HUUHHH?!"
"Umm... errr, itu..."
"HHH... HONOKAAAAAAAA!"
"Iyaaa.. maaff! Ini yang terakhir deh, janji!"
"Udah-udah, Umi-chan... sabar yah.."
"Kotori, kamu juga! Kamu kan udah janji bakalan bantu aku marahin anak ini, kan?"
"Ummm, begitu yah... kalau begitu... h~o~n~o~k~a... Kamu jangan menyusahkan Umi-chan terus yah~~? Aku tahu kamu pasti sedang mengerjakan sesuatu namun apabila pada akhirnya itu hanya menjadi beban bagi orang lain terutama bagi Umi-chan bukan berarti aku tidak akan berbuat sesuatu kepadamu, lho yah..."
Pada saat mengatakan itu Kotori terus menebar senyumannya yang khas namun kedua jemari tangannya terus merapat untuk mengertakkan setiap ruas-ruasnnya hingga bersuara. Dan tentu saja itu membuat bulu kuduk Honoka berdiri... Termasuk Umi.
"H-Haik... madam!"
"Nah, aku sudah melakukannya kan Umi-chan"
"H-Haik... madam! Arigatou gozaimasu...!" ujarnya dengan tangan terangkat memberi salut
"E-Ehh? K-Kenapa jadi tegang gini sih. Balik ke topik awal deh. Jadi, Honoka-chan kamu mau ngomong apaan tadi?"
"Ahh, jadi gini tadi kan aku udah ketemu sama Maki-chan. Trus dia nawarin aku ini..." katanya sembari meronggoh saku baju dan mengeluarkan secarik kertas.
"Ini?!"
Itu adalah sebuah kartu nama yang baru saja diberikan oleh Maki Nishikino kepada gadis kelas dua itu. Sebuah kartu nama dengan tulisan tinta emas di dalamnya. Sebuah alamat tertera di dalamnya. Pada awalnya tidak ada sesuatu yang aneh pada isi kartu nama tersebut hingga mereka memperhatikan dimana alamat kartu nama itu berasal. Itu adalah suatu tempat yang hanya pernah lihat di majalah ataupun papan layar bergerak di jalan-jalan.
"HEEEEEHHHH?"
"H-Honoka, kau yakin tempat ini gak salah?"
"M-Masak sih ini beneran?! Umi-chan aku lagi ngimpi kan sekarang?"
"Nggak Kotori.. Justru aku yang lagi mimpi sekarang..."
"Gitu yah, jadi kita berdua lagi mimpi bareng gitu kan?"
"Ahaahahaha... Itu yang paling masuk akal sekarang."
Sebenarnya itu adalah kesimpulan yang bagus dari ide pemikiran Umi kepada Kotori. Sayang sekali "mimpi" itu harus terganggu oleh interupsi Honoka.
"Guyyysss! Kalian ini ngimpi apaan sih?! Ikutan dong?!"
"Heh?! Kenapa ada Honoka juga disini?"
"Lho, emangnya kenapa?! Emang ini bukan mimpi kali... bangun hoiii!" ujarnya sembari menepuk tangan keras-keras di muka mereka bak seorang ahli hipnotis membangunkan pasiennya.
"Heh, jadi ini beneran?!"
"Iya, bahkan Maki-chan sudah membuatkan janji untuk kita disana."
"Disana?"
"Iya, ke Lantis Record!"
"HHHAAAAAAAAHHHHHH?!"
.
.
Part 5
"Senpaaaaaiii!"
"A-APA?!"
Gadis mungil itu tiba-tiba berhenti dan membalikkan badan menjawab kohai-nya. Mukanya lesu cemberut karena mood yang semakin buruk setelah kejadian tadi. Namun berbeda dengan sang kohai malah menebarkan senyuman untuk menenangkan hatinya.
"Nico-senpai. Senpai mau kemana?"
"Balik ke Markas!" jawabnya ketus. Markas yang dia maksud adalah ruang penelitian klub idola tempatnya seorang diri menghabiskan waktu selama yang dia mau.
"Kalau begitu... kita ke kantin saja yuk." ujarnya sambil menarik tangan senpainya.
"Heehh, nggak... aku nggak mau pergi lagi. Capek!"
"Umm, kalau begitu mau di gendong aja?" ujar gadis rambut coklat muda itu tanpa pikir panjang. Sementara itu sang senpai yang mendengar itu juga menjadi gelagapan. Dengan sangat berat hati dia menolak penawaran yang sangat menggiurkan itu.
"K-Kau gila yah?! memangnya aku anak kecil apa? Sampai minta di gendong segala?! Ya udah, ayo kita ke kantin sekarang!"
Nico berjalan mendahului Hanayo yang berada di belakangnya dengan tingkah yang aneh. Kali ini selangkangan kakinya semakin terbuka lebar layaknya seorang Sumo berjalan memasuki ring pertandingan. Hanayo yang memperhatikan tingkah senpai-nya semakin tertawa terkikih karena itu. padahal, dia juga bercanda untuk menawarkan 'gendongan' tersebut. syukurlah, Nico menolaknya, kalau tidak mungkin badan Hanayo bakalan retak setelah menggendongnya ke kantin.
Sesampainya di Kantin mereka memesan minuman dingin untuk meredakan mood Nico yang masih kacau.
"Hihihhihi..."
"Heh, kenapa kau tertawa?"
"E-Enggak. Aku cuma merasa bahwa baru kali ini aku melihat senpai bersemangat seperti ini."
"Heh?! Aku ini lagi marah tahu! M.A.R.A.H!"
"I-Iya... iya aku tahu... tapi, marah senpai kali ini berbeda daripada biasanya! Kali ini senpai benar-benar bersemangat setelah mendengar perkataan Honoka-senpai, kan?"
"Aku membenci anak itu!"
"Iya, iya.. aku tahu kamu pasti penasaran dengan tindakannya, kan?"
"Aku sama sekali nggak peduli kepadanya!"
"Kamu mengharapkan dia berhasil kan?"
"Hei, kenapa kamu mengatakan hal yang berlawanan dengan maksudku sih?!"
"Karena... Karena aku tahu sifat Senpai yang asli. Nico-senpai itu bukan orang yang bakal membiarkan orang lain putus asa, kan?"
"Tcih, kamu tahu apa tentang aku?!"
"Tapi, bukankah itu benar? Sang Idola nomer satu di alam semesta? Nico-Nico-Nii~~!"
"Hentikan... itu memalukan tahu!"
"Tcih, aku... aku cuma gak mau mereka mengulangi nasib buruk yang pernah aku alami dulu. Itu saja" ujarnya dengan suara pelan, sangat pelan sehingga bisa dibawa terbang udara musim panas hari ini.
Bagaimanapun juga Hanayo yang memperhatikan itu cukup tersenyum saja sambil tangannya merangkul badannya yang mungil serta mengusap lembut rambutnya.
"Yosh... Yosh..."
.
Sementara itu...
"Itadakimasu! Humm... Makan Mie Ramen Super Cup Panas di sore-sore yang dingin-dingin hangat kayak gini emang paling manteb, nyaaa! Tapi aku penasaran yang lain pergi kemana yah? kok, daritadi Rin gak liat siapa-siapa?" ujar gadis kucing itu setelah mie cup instan yang dibawanya sudah matang.
"Ya udahlah, mungkin mereka sudah pulang semua hari ini yah?"
"Slurpppp~~~!"
