Aitakatta!

.

Part 1

.

"Nico~ Nico~ Nii...! Nico~ Nico~ Nii...!"

Dentang suara alarm yang telah diatur menggunakan suara pemiliknya berulang-ulang secara irama itu terdengar nyaring mengisi ruangan kamar di pagi hari ini. Sementara alunan alarm telah menyala sejak 10 menit yang lalu namun sang majikan itu tetap saja tertidur pulas di atas kasurnya. Hingga suara lain menyela suara benda itu.

"Onee-chan! Ayo bangun!"

Di balik pintu terdengar suara menggemaskan dari anak-anak kecil yang berlari-lari menuju kamar kakaknya dengan penuh semangat. Mereka bertiga adalah adik-adik Nico Yazawa yang masih kecil, yaitu Cocoro, Cocoa dan Cotaro.

Tangan-tangan mungil mereka terus mencoba menjangkau pinggiran selimut sang kakak yang masih terbaring di tengah ranjang. Cocoro yang lebih tinggi segera berinisiatif menaiki ranjang itu dan menduduki badan kakaknya namun belum juga bangun, kedua adiknya tidak mau kalah dengan Cocoro kemudian bergegas menyusulnya dan berhasil menaiki ranjang dan tanpa banyak basa-basi mereka kemudian segera menduduki badan kakaknya sampai Nico mengerang agak kesakitan.

"gwwaaaa... bbberaat!" lirihnya dengan suara pelan.

Tapi tidak sampai disitu, dia merasakan tubuhnya begitu kesemutan dan tangan-tangannya tidak dapat digerakan. Kemudian, dia pun membuka mata dan matanya semakin terbelalak saat mengetahui adiknya malah keasyikan duduk di badan mungilnya bak naik kuda-kudaan.

"k..kalian, l-lagi ngapain, sih?!"

"Onee-chan, ayo bangun! Udah pagi! Kami disuruh bangunin kakak buat makan pagi bareng sekarang!"

"haik, k-kalau begitu... bisakah kalian pergi duluan. Nanti kakak nyusul kok, ok—gwaaa!"

Pekik suara tiba-tiba tidak dapat tertahankan sementara tubuh Nico berkelonjotan naik turun karena Cocoro semakin keras menduduki tubuh kakaknya.

"Nggak mau! Nanti kalo kita keluar dari kamar ini, kakak malah tidur lagi!"

"Enggak! Enggak! Kakak janji deh, kalo kakak tidur lagi kalian boleh makan jatah ikan sarapan punya kakak."

Ketiga anak kecil itu kemudian saling berpandangan dan sepakat menganggukkan kepala. tidak berselang lama mereka kemudian dari tempat tidur itu dan membuat Nico bisa menghela nafas dengan leluasa.

"Kakak janji yah! kalo dalam 5 menit kakak gak turun, jatah lauk sama susunya buat aku!"

"Ehh?! Kok nambah?!"

"Iya dong, aku kan lagi dalam masa pertumbuhan yang prima jadi butuh banyak susu biar gak pendek kayak kakak sekarang!"

"Ehh?! Cocoro! Awas kau yah!"

Dan begitulah suasana pagi di apartemen kecil keluarga Nico terjadi pada hari ini dimulai. Nico Yazawa, seorang gadis kelas 3 SMA Otonokizaka tinggal bersama dengan ketiga adiknya dan ibunya di sebuah apartemen kecil di sudut pemukiman Tokyo.

Sehari-hari biasanya Nico akan bangun lebih awal untuk membangunkan adik-adiknya sembari mempersiapkan sarapan. Namun tidak untuk kali ini karena...

"Ohayou, Okaa-san..." sapa gadis itu setengah mengantuk kepada seorang wanita paruh baya yang sedang memasak di ruang dapur.

"Ah, Nico-chan, akhirnya kamu bangun juga yah? kasihan tuh adikmu sampe 15 menit teriak-teriak buat bangunin kamu doang!"

"Haik-Haik…. Gomen-Gomen… Terima kasih yah kalian semua sudah repot-repot membangunkan kakakmu yang imut ini." Ujar Nico kepada adik-adiknya sembari mengelus lembut kepalaa mereka satu per satu dan tersenyum lembut.

"Sama-sama, nee-chan!" sahut mereka kompak.

"Nah, Nico-neechan… jadi kapan kamu mau ngadain konser lagi?! Ajak kita dong?! Kita kan dari kemarin-kemarin mau datang ke konser kakak tapi gak diperbolehin terus!"

"Iya nih, Nico oneesan kan udah janji bakalan ngajak kita ke konser kakak kalo kakak udah jadi idol, kan?!"

"Huh, emang kak Nico itu idol yah, kak?!" ujar Cotaro yang paling kecil menyahuti kedua kakaknya.

"Iya,Cotaro! Nico-neechan adalah idola nomer satu di dunia. Kalau gak percaya liat foto ini! Dia bahkan pernah satu panggung dengan Tsubasa A-RISE. Yah kan kakak?" sahutnya sembari mengeluarkan foto dari smartphonenya.

Gadis kecil yang paling besar itu tidak menanggapi pekataan tersebut selain tersenyum-senyum dengan seribu arti. Matanya ditutup rapat-rapat, sipit, dan menatap lurus, tertuju pada satu arah menuju ruang dapur tempat dimana ibunya masih berada disana. Dia seolah-olah meminta bantuan kepada ibunya dari seberang meja makan yang mana saat ini sang ibu sedang menghela nafas panjang.

Lagi-lagi mereka mengangkat pembicaraan ini pada saat makan bersama. Memang, topik ini adalah bahan pembicaraan menarik yang selalu diceritakan oleh ketiga adik cilik itu ketika membicarakan tentang peran kakaknya sebagai idola ternama.

Semuanya dimulai sekitar dua tahun yang lalu ketika dia datang terlambat dari sekolahnya dan pada saat itu ketiga adiknya sedang ketakutan di dalam rumah sendirian yang gelap di sertai hujan besar di luar. Ruangan itu gelap karena mereka belum bisa menyalakan lampu dan menunggu kakaknya pulang dari sekolah – yang entah mengapa hari itu Nico pulang larut malam dengan badan basah kuyup.

Jadi, mulai saat itulah Nico membujuk mereka bahwa dirinya telah diterima di sebuah agensi untuk menjadi seorang idola sekolah. dia beralasan pulang malam karena sibuk latihan dance dan vocal seorang diri. Dan dosa itu tidak bisa dia tutupi ataupun terhapuskan hingga saat ini.

Sebagai seorang kakak, tentu saja Nico tidak bisa semudah itu menarik perkataan manis yang sudah meracuni pikiran mereka. Dari ruang klub penelitian idola sekolahnya dia selalu menghabiskan waktu untuk mengedit foto dirinya untuk ditempelkan di sebelah foto para idola ternama hanya untuk membuktikan bahwa seolah-olah dia pernah bertemu mereka. Tentu saja itu semua hanyalah eksistensi palsu. Suatu kebohongan yang sudah terlanjur meresap di pikiran mereka sehingga menjadi kebenaran semu yang susah untuk dibantah.

Sementara itu, sang ibu yang menyadari tatapan anaknya sedang tertuju kepadanya malahan buru-buru memalingkan muka ke segala arah sambil bersiul tanpa bunyi. Dia sengaja melakukan itu karena sudah tidak tahu harus berkata apalagi untuk bisa membela anak tertuanya itu.

Semenjak kejadian itu sebenarnya sang ibu sudah bisa memahami penyebab mengapa Nico-chan berbohong kepada adik-adiknya namun dia juga tidak bisa mencegah imajinasi anak-anaknya yang sudah terlanjur membayangkan kakaknya sebagai seorang idola ternama. Dia hanya bisa pasrah supaya ini bisa reda dengan sendirinya.

Terlalu banyak kebohongan dan janji palsu yang terucap dari gadis bertubuh mungil itu kepada adik-adiknya yang masih kecil itu. Sehingga dari hati kecilnya Ibunda itu turut mendoakan semoga impian anaknya itu bisa terlaksana, syukur-syukur dia benar-benar bisa menjadi seorang idola sungguhan di kemudian hari.

.


oooo

Part 2

.

Ketiga gadis itu hanya bisa berdiri bengong menatap gedung besar di hadapan mereka setelah saling meyakinkan bahwa alamat yang mereka tuju sesuai dengan tulisan yang tertera di kartu nama yang telah diberikan oleh Maki kepada gadis berambut kuning oranye itu.

"Umi-chan" ujarnya yang masih menatap kosong bangunan di depan matanya menyenggol sahabatnya yang keadaannya tidak jauh berbeda dengan dia disamping kirinya.

"Haik, Honoka-sama"

"Tolong bantu tampol aku dong?"

"Haik, sesuai permintaan anda, Honoka-sama." Ujarnya sambil membungkukkan kepala layaknya seorang pelayan mendengarkan perintah tuannya.

Setelah itu sebuah suara 'gedubrak' keras segera menggema memecah keheningan di tempat itu.

"Wadooww! Kamu ini kenapa sih, Umi-chan?! Kamu punya dendam kesumat sama aku, hah?!"

"lho, kamu kok marah?! Kan tadi kamu sendiri yang minta di tampol, Honoka?!"

"Iya, tapi gak usah pake tinju juga kali… benjol gede nih!" serunya menggerutu sembari memegangi pipi kirinya yang memerah.

Honoka pada saat itu langsung tersungkur di bawah kaki Kotori yang berada di sisi kanannya setelah Umi menampolnya telak. Padahal bagi Umi perbuatannya itu hampir tidak mengeluarkan tenaga apapun namun efeknya begitu dahsyat bagi temannya itu.

"Y-Yah, itu kan salahmu sendiri yang tidak siap dengan permintaanmu sendiri. P-Pokoknya ini sih salahmu sendiri. Bukan salahku yah toh!"

"M-Minna-san, u-udah yah.. kalian berdua jangan bertengkar lagi. Malu tuh diliat orang-orang yang lalu lalang di jalan!" sela Kotori mencoba menenangkan mereka berdua sambil mengangkat berdiri Honoka yang masih ada disampingnya.

"H-Habisnya…."

Belum sempat Honoka meneruskan kata-katanya tiba-tiba keluar seorang gadis berambut merah dari dalam gedung itu untuk menyambut mereka. Langkah anggunnya sedikit melaju cepat menyambut mereka dengan tatapan mata yang tertekuk cemberut.

"Senpai, kalian ini lagi ngapain sih?! Gak di sekolah ataupun di jalan raya. Selalu aja bikin rebut!"

"Maafkan kami!" seru mereka satu suara secara serempak.

"Huft… gak penting juga sih! Tapi, kalian kenapa lama sekali belum masuk?!"

"ennn…. Ah, annuuu….! Eenngg… iiuu… eeee….." terlihat Umi mencoba merangkai kata namun tidak jadi dikeluarkan.

"Yah, sudahlah… ayo masuk! Ada seseorang yang ingin aku perkenalkan kepada kalian"

Ketiga anak kelas dua itu saling bertatapan mata sebelum mata mereka kembali tertuju kepada Maki. Mulut mereka sudah terbuka lebar sebelum tangan Maki segera membungkam mulut Honoka.

"Psstt! Jangan teriak lagi! Nanti bisa-bisa kalian diusir satpam!"

Sembari menganggukan kepala, ketiga gadis itu lalu mengikuti langkah Maki memasuki pintu gedung itu. Langkah mereka terasa lenggang karena Maki sudah mengurus ijin untuk kedatangan ketiga 'tamu kantor' itu.

"Selamat datang di Lantis Record!" sambut Maki separuh hati di depan ruangan resepsionis itu kepada mereka bertiga yang telah menunggu kehadirannya.

Setelah mengalungkan ID Card bertuliskan 'Visitor' di leher mereka maka Honoka dkk segera memasuki lift menuju sebuah ruangan yang hanya diketahui oleh Maki saja.

Beberapa kali Kotori tercekat setelah mengetahui ada beberapa artis ternama yang memasuki lift itu dan berdiri di sampingnya. Ingin sekali dia mengeluarkan HP dan meminta foto selfie bersama mereka namun dia benar-benar menahan diri supaya tidak melakukan itu. Kedua tangannya dia masukkan ke dalam saku jaket erat-erat hingga tampak bergetar dengan sendirinya.

"Bye, Maki…!"

Salah seorang artis ganteng berperawakan tinggi dengan rambut putih elegan yang dari tadi bersama mereka keluar dari lift sambil menyapa Maki. Maki tidak berkata banyak selain menyambutnya dengan senyum mengembang.

"Ehh, Maki-san… Kamu kenal dengan orang itu?!" Tanya Umi penasaran yang diikuti oleh tatapan mata antusias dari Kotori dan Honoka.

Maki yang melihat perbuatan udik dari para senpainya hanya bisa mencoba memakluminya sambil menghela nafas panjang.

"Maksudmu cowok yang tadi itu, Gaku Yaotome dari TRIGGER?! Yah, cuma sebatas tahu aja sih gak sampai akrab"

"Heh?! J-jadi dia yang tadi itu beneran seorang idola! D-dari TRIGGER! Kyaaa!" jerit Kotori tidak kalah histeris memekakan telinga seisi lift itu.

Lagi-lagi, Maki hanya bisa menghela nafas sambil menyesali dirinya 'kenapa aku repot-repot mengajak mereka untuk datang kesini?!'

"Tapi, dia kok kenal kamu Maki-chan? Ah, jangan-jangan!" pandangan Honoka kemudian berbuah jadi sipit sambil tersenyum penuh goda untuknya.

"Hush! Jangan ngomong yang enggak-enggak…! Lagian, dia itu udah punya pacar!"

Sontak mereka tercekat setelah mendengar perkataan Maki barusan. Setahu mereka memang ada beberapa gossip di majalah teen yang menyebutkan tentang gossip itu namun nama perempuan itu tidak pernah disebutkan. Hal yang membuat heboh disini adalah sebenarnya seorang idola dilarang menjalin hubungan romansa dengan siapapun.

Tapi…

Ahh, samar-samar mereka saling pandang ketika terlintas satu memori yang terekam di dalam mata mereka saat Gaku, lelaki itu keluar dari lift. Ada seorang wanita muda yang berpakaian suit kantoran dengan rambut merah muda yang tergerai mengombak sedang tersenyum manis ke arah mereka.

"Apakah jangan-jangan dia itu…?!"

"Yah, bisa aja sih…!"

"Tapi, bukannya dia itu… dari kubu rival?!"

Suara bel berbunyi di dalam lift tanda bahwa lantai yang dituju telah sampai dan itu segera membuyarkan cuap-cuap mereka dan tanpa aba-aba Maki segera keluar dari dalam kotak berjalan naik itu. Ketiga gadis itu pun segera keluar dari sana.

"Ehm, Maki-san… Jadi, sebenarnya kita ini mau dibawa kemana? Mau ketemu siapa?!"

"Ahh, jangan bilang kalau kita ini mau ketemu presiden perusahaan ini lalu direkrut jadi idola beneran, rekaman lagu, bikin konser, trus… truss! Kyaaa…!"

"Honoka-chan, jangan ribut dong… Nanti, Maki marah lagi, lho!"

Maki kemudian menghentikan langkah kakinya dan berbalik menatap mereka.

"Umm, aku memang belum bilang yah mau ketemu siapa?!"

Mereka pun kompak menggelengkan kepala.

"Kita akan berjumpa dengan mentorku yang selama ini sudah mengajariku cara bermain musik dan membuat lagu, seorang penulis lagu anisong yang terkenal dan mungkin sudah pernah kalian dengar setiap minggu pagi di TV"

Pada saat ini mereka bertiga melanjutkan perjalanan menuju ke sebuah ruangan di mana Maki bersiap untuk membuka kenop ganggang pintu itu.

Sembari tersenyum, gadis berambut merah itu menatap ketiga senpainya yang masih kebingungan dan berkata,

"Beliau adalah… Aki Hata."

.


oooo

Part 3

.

Hari ini adalah hari minggu. Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi saat kedua gadis yang telah berjanji untuk bertemu bareng di taman bermain itu telah tiba. Mereka berdua adalah anak kelas dua SMA Otonokizaka yang lain yaitu Rin dan Hanayo.

Tiba-tiba saja kemarin sore sepulang sekolah pada hari Jum'at, Rin mengajak Hanayo untuk menemaninya berkunjung di taman bermain AkibaFUN Park untuk melihat acara pameran gallery mie ramen terbesar di Jepang.

Hanayo yang diminta dengan sangat memaksa supaya bisa menemaninya pada akhirnya tidak memiliki pilihan lain selain menyanggupi undangan itu. Begitulah ceritanya mengapa Hanayo terlihat cukup tidak bersemangat menemani Rin di sampingnya yang sebaliknya terlihat sangat berkobar-kobar saat menatap setiap ornamen mie ramen yang menghiasi salah satu sisi pintu masuk taman.

Belum 5 menit mereka memasuki tempat ini dan perut Rin terdengar keroncongan saat mendengarkan sejarah dan keunikan setiap mie ramen lokal dari setiap penjuru jepang yang berkumpul menjadi satu di tempat itu. Deru tawa renyah tidak pelak keluar dari mulut pengunjung pameran yang berada di dekat mereka.

Rin dan Hanayo kemudian mendapatkan voucher makan gratis yang nantinya bisa ditukarkan dengan satu mangkuk mie ramen apabila mau mengunjungi stand festival yang sedang berlangsung acara talkshow yang sedang membahas inovasi terbaru menu mie ramen yang sedang popular di Jepang. Rin yang menerima tawaran itu tentu saja tidak akan menolak kesempatan tersebut.

MC dari acara ini adalah Koizumi-san, pakar mie ramen nomer satu di Jepang pada saat ini. Inti diskusi dari talkshow ini adalah membahas cara penyajian dengan memakai ragam bawang dan lada hitam dalam takaran tertentu yang ternyata dapat menghasilkan citarasa yang berbeda tergantung dengan kebutuhan pemakaian pembuatan menu makanan.

Rincian dari topic perbincangan ini tidak terlalu dimengerti oleh Hanayo yang hanya ikut-ikutan datang bersama Rin dan tentu saja hal semacam ini tidak akan dipikirkan oleh Rin karena di dalam otaknya hanya tertuju pada satu kata, "Makan! Makan! Makan!".

Beberapa kali dia menoleh ke kiri dan kanan mencari tanda 'apakah makan mie ramen gratisnya bisa diambil sekarang?'. Tentu saja dia tidak akan menemukan itu karena acara puncak itu akan terjadi apabila talkshow ini sudah usai.

Sementara itu di atas panggung sedang berlangsung acara demo masakan mie kreasi dapur rumahan. Sang pakar mie ini kemudian dipersilahkan untuk menyantap mie tersebut dan tentu saja itu membuat Rin menjadi semakin kelaparan dan ngiler saat melihat ini.

Koizumi-san, gadis muda itu pun mempersiapkan diri untuk mengikat rambut panjang pirangnya yang tergerai dengan membentuk poni ekor kuda. Dan setelah sumpit itu berada di tangan kanannya maka yang terjadi selanjutnya adalah hal fenomenal yang segera membuat takjub dan menggugah hati Rin dan para penonton yang hadir di tempat itu.

Caranya menyeruput mie itu sambil memaparkan kandungan rasa dari mie tersebut telah membuat gadis muda yang tampak tidak bersemangat itu berubah 180® menjadi berkilauan dan membuktikan jati dirinya sebagai pakar mie ramen jepang yang sesungguhnya. Begitu juga Rin setelah melihat gadis itu menyelesaikan santapan kuah terakhir yang ada di dalam mangkuk tersebut. Tanpa ragu dia berteriak mengekspresikan dukungannya!

"Koizumi-san, menikahlah denganku, nyaa!"

Sebenarnya rayuan maut itu hanya salah satu kalimat gombalan standar dari ratusan teriakan dukungan penonton yang lain di tempat itu. Tapi satu hal yang Rin tidak sadari adalah wajah teman di sampingnya segera memerah setelah mendengar kata-kata itu. Sampai-sampai dia spontan berteriak melengking keras sehingga memecah kegembiraan di tempat itu.

"EEEEEHHHHHHHH?!"

.


oooo

Part 4

.

Masih di tempat yang sama, tidak jauh dari lokasi stand festival tempat Rin dan Hanayo berada. Ada dua orang gadis yang memakai pakaian setelan kemeja rapi sedang menjinjing sebuah berkas yang terlampir rapi di lengan mereka. Total ada 3 berkas yang mereka bawa dengan penuh hati-hati.

Kedua gadis itu berdiri dengan sikap badan sempurna menghadap di depan sebuah stand makanan dimana para pegawainya masih memasang tenda dan kursi. Dengan langkah agak ragu-ragu mereka pun memberanikan diri untuk bertanya kepada salah satu pegawai disana.

"S-selamat pagi, apakah benar ini adalah Outlet Makan Mie Ramen Naruhime milik Ookami-sensei?"

Lelaki dewasa itu tidak langsung menjawab pertanyaan para gadis muda itu. Matanya naik turun seakan hendak memindai kedua gadis itu bulat-bulat ke dalam otak sempitnya namun dia berhasil menyembunyikan wajah mesumnya itu melalui kacamata hitamnya.

"Hmm, nona-nona cantik ini memang ada keperluan apa yah dengan Ookami-sensei?! Apakah sebelumnya sudah buat janji dengan beliau?" jawabnya sok tegas.

"i-itu…"

Eli mencoba membuka suara namun lidahnya tiba-tiba menjadi keluh dan kehilangan suara untuk melanjutkan perkataannya. Melihat itu maka lelaki itu mengangkat senyuman mesumnya lebih panjang lagi.

"wah, belum yah? Sayang sekali, Ookami-sensei tidak bisa bertemu dengan orang lain kalau sebelumnya tidak membuat janji terlebih dahulu. Tapi…"

Lelaki itu menghentikan kata-katanya saat melihat raut muka Eli yang mulai putus asa dan kemudian kepalanya diturunkan sehingga mendekati wajah Eli sembari berbisik saaangaat pelan.

'kamu temani kakak jalan-jalan dulu keliling taman ini nanti kakak ajak kamu bertemu dengan Ookami-sensei, bagaimana?!'

?

Wajah Eli memerah saat mendengar kata-kata itu. Seumur-umur dia belum pernah dia berbicara sedekat itu dengan seorang cowok selain Ayahnya sendiri, itupun di Rusia, sekitar 3 tahun yang lalu. Cowok itu tanpa rasa canggung memalingkan mukanya untuk merayu Nozomi yang berada disampingnya.

Siapa juga lelaki yang bisa tahan dengan pesona seksi yang dipancarkan oleh gadis berlogat kansai itu? Tubuhnya yang molek dan berisi penuh serta tinggi semampai tentu saja membuat dirinya selalu menjadi pusat perhatian bagi orang lain.

Belum lagi bila gadis kelas tiga itu sudah mengurai dan mengibaskan rambut hitam panjangnya, taruhan, bahkan para lelaki asing yang tidak pernah mengenal dia juga bakalan klepek-klepek dibuatnya. Tidak usah jauh-jauh, bahkan di sekolah Otonokizaka sendiri dia memang dikenal sebagai primadona sekolah yang tidak pernah gagal membuat para siswi disana menantikan rayuan mautnya. Gadis itu emang tumpah-tumpah perabotannya.

Namun lelaki itu segera menarik diri dan melepaskan Eli sesaat menatap gadis itu. Entah apa yang lelaki itu lihat di dalam bola mata hitamnya yang segera membesar saat menatap sorot tajam dari manik ungu itu dengan penuh syarat intimidasi sehingga membuat tubuhnya gemetar seketika itu juga.

Tidak berselang lama kemudian datang seorang bapak yang lebih tua segera menepuk pundak lelaki itu sehingga di dalam kekagetannya dia tidak tahu harus berkata apa lagi selain berlari terbirit-birit masuk ke dalam gerai kedai mie ramen tersebut.

Bapak itu tidak habis pikir dengan kelakuan muda itu sehingga dia tidak tahan untuk tidak membuang nafasnya. Setelah itu dia mengarahkan pandangannya kepada Nozomi dan Eli yang masih bengong dan sulit mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi sekarang. Khususnya Eli yang masih shock dari tadi.

"kalian tidak apa-apa?" tanya lelaki paruh baya itu dengan suara berwibawa.

"Ah, k-kami sudah tidak apa-apa, pak. Terima kasih atas perhatiannya" Nozomi mewakili Eli menjawab pertanyaan bapak tersebut dengan cepat. Setelah menjawab itu tiba-tiba bapak tersebut segera membungkukkan kepala serendah-rendahnya.

"Maafkan perlakuan staff kami yang kurang ajar kepada kalian tadi. Saya harap perbuatan ini bisa dimaafkan dan kalian tidak perlu melaporkan kejadian ini karena saya tidak ingin kedai makanan ini mendapatkan penilaian yang buruk.

"Ehh?!" Nozomi dan Eli tidak dapat menahan diri untuk tidak saling berpandangan mata setelah mendengar penjelasan bapak itu.

"Maksud bapak?!"

"Jangan-jangan!"

"Bapak ini adalah…. Ookami-Sensei!"

.

Bersambung