Hari jum'at adalah hari yang paling ditunggu oleh orang-orang di kantor. Biasanya itu adalah hari terakhir bekerja dalam seminggu jika bukan hari sabtu. Hari yang membuat orang-orang begitu semangat untuk menyelesaikan tugas di komputer atau jenis tugas lainnya dengan bayang-bayang tentang weekend. Bisa liburan keluarga, bertemu kekasih, berbagai jenis me-time atau yang paling sederhana, bermalas-malasan.

Doyoung mungkin saja adalah salah satu dari orang-orang itu.

Laki-laki berjenis omega dengan rambut cokelat gelap yang terbelah dibagian samping barusan sampai di rumah lebih awal dari biasanya. Lampu-lampu masih belum dinyalakan saat dia masuk. Sebagai tanda kalau roomatenya belum pulang.

"Tumben, mungkin si Ten ada acara." Katanya sambil menekan beberapa saklar lampu jenis non-difuse. Doyoung langsung menuju dapur setelah meletakan tas kerja di sofa ruang tengah. Di tangan kanannya terdapat seporsi makan malam yang dia beli. Terlalu malas untuk memasak dan juga terlalu lelah untuk makan di tempat. Untuk pertama kali dalam sebulan, Doyoung begitu tidak sabar untuk cepat-cepat sampai di rumah.

Oleh karena itu, Doyoung harap tidak ada yang merusak 'mood ingin diam dirumah' yang sangat jarang dia dapatkan atau dia turuti. Pemuda ini hanya ingin ketenangan untuk beristirahat.

Doyoung sempat meninggalkan makanannya sekitar 20 menit untuk mandi. Dia kembali ke meja makan dengan piyama biru pastel. Aneh rasanya jika harus makan malam dengan pakaian kantor dan belum mandi.

"BRAKK!"

Satu sendok dakgalbi hampir saja masuk ke mulut seorang Kim Doyoung jika saja dia tidak kaget karna suara bantingan daun pintu. Perlu diulangi, Doyoung sangat jarang menuruti mood ingin cepat pulangnya, dia lelah sudah bekerja terlalu padat berminggu-minggu dan ketenangan adalah sebuah keharusan.

Sekarang, moodnya rusak dan dia sangat capek.

Akan tetapi, Doyoung memegang prinsip tidak ada lelah untuk mengomeli roomatenya ini. Dia berdiri dan membawa mangkuknya menuju pintu masuk rumah. Berjalan sambil menyuapkan satu sesendok nasi untuk mengisi energi mengoceh.

Disana dia!

"Aku harus ber—"

Dia berhenti ketika si roomate menoleh ke arah Doyoung setelah melepas sepatu serta kaus kaki dan meletakannya sembarangan. 'Berserakan' ada di dalam daftar hal yang Doyoung benci dan Ten tahu soal itu tapi untuk sekarang, protes bukanlah keputusan tepat.

"Ten..."

Yang dipanggil namanya hanya diam. Membalas tatapan khawatir Doyoung dengan nafas terengah-engah. Rambut acak-acakan dan pipi yang basah memperjelas kondisi Ten. Berantakan.

Doyoung tidak bisa bertanya apakah dia baik-baik saja.

Ten mengulum bibirnya sebentar sebelum menjawab semua yang ada di pikiran Doyoung. Menguatkan kepalan tangannya untuk menguatkan diri agar tidak menangis lagi.

"Kami putus."

Tapi usaha Ten gagal.

"Aku harusnya sudah menduga ini dari kemarin."

Setelah itu, Doyoung tinggal sendirian di ruang tengah karna Ten langsung berjalan cepat ke kamarnya. Masih menangis dan dia tidak membanting pintu kali ini.

TBC