Waktu itu, sekitar kamis pagi pukul setengah tujuh. Ten baru saja selesai membersihkan badannya di shower ketika Doyoung pamit untuk berangkat kerja. Sepagi itu. Dia bahkan sudah mandi sekitar jam enam kurang dan menyelesaikan sarapan lima belas menit berikutnya.

"Aku akan pulang malam lagi. Kau makan duluan saja atau ajak Yuta." Begitu kata Doyoung setelah memasang sepatu dan hilang dibalik pintu.

Teman serumahnya bahkan belum sempat bilang hati-hati dijalan.

Ten berusaha memaklumi.

Lalu siang berganti malam dan perkataan Doyoung benar-benar terwujud. Saat Ten pulang, lampu-lampu belum dinyalakan. Rumah tetap sepi dan Ten berusaha mengabaikan rasa kesepiannya.

Pemuda dua puluhan itu membuka kulkas setelah mandi dan berganti pakaian. Mengambil beberapa sayur dan sepotong daging ayam untuk dimasak. Mungkin Doyoung tidak akan pulang larut lagi. Setidaknya, tidak selarut malam-malam kemarin. Ten meyakini itu. Dia juga belum makan. Yuta sering sibuk akhir-akhir ini dan Ten tidak begitu nyaman untuk makan-makan bersama teman sekantor.

Masakannya selesai ketika jam sembilan sudah kurang seperempat. Tidak ingin menunda laparnya lagi, Ten makan lebih dahulu dan selesai beberapa belas menit kemudian. Dia memilih bersantai di sofa depan tv setelah mencuci piring dan alat masak.

Berniat menunggu Doyoung pulang. Sambil berharap semoga sahabatnya itu tidak mendekam di kantor sampai larut lagi. Berharap dia baik-baik saja selama perjalanan menuju rumah. Berharap semoga Doyoung datang sebelum Ten tertidur di sofa lagi. Ten benci rasa sepi dan sahabatnya tau soal itu.

"I miss the Doyoung he was"

Lebih dari dua puluh tahun Ten hidup, dia mengerti kalau manusia akan tetap berubah sekalipun mereka tidak menginginkan itu. Baik atau buruk tergantung masing-masing. Bos di kantornya tampak lebih tua dari pada beberapa tahun sebelumnya, ada teman satu direksi yang menjadi lebih rajin dari pada bulan kemarin, Yuta yang lebih sering sibuk karna kerjaan katanya, dan sekarang Doyoung yang sejak sebulan lalu menjadi individu yang gila kerja dan Ten benci alasannya.

Sekitar sebulan yang lalu, Ten harus bergegas dengan berbagai macam pikiran buruk saat ada yang menelponnya dan bilang "Tolong, teman mu mabuk berat." dan rasanya Ten tidak bisa lebih gila lagi saat melihat Doyoung dengan mata sendiri saat itu. Laki-laki itu sangat berantakan. Dia marah-marah sambil menangis dan hampir melempar gelasnya pada pengunjung lain di sebuah klub malam.

Seorang Doyoung yang punya sifat malas gerak luar biasa itu pergi ke sebuah klub malam. Yang penuh asap rokok, dentuman musik, orang-orang gila duniawi dan minuman keras atau mungkin ganja serta teman-temannya.

"Oh my god, Kim!"

Ten berusaha membantu Doyoung untuk pergi dari sana. Tubuh pemuda ini begitu besar untuk seorang omega. Dia punya bahu yg tidak sempit dan tinggi badannya lumayan. Rasanya Ten menyesal tidak mengiyakan ajakan Kun untuk nge-gym beberapa hari lalu.

Namun, dibanding beratnya tubuh Doyoung, rasanya Ten lebih berat ketika harus melihat orang-orang disana memandang mereka dengan tatapan yang menyakitkan hati. Ada juga yang rasanya membahayakan dan Ten sedih ketika situasi seperti ini, Yuta tidak ada disini untuk melindunginya seperti hari-hari lalu.

Sepanjang perjalanan, Doyoung tidak meracau lagi. Dia lebih tenang dan menolak untuk berbicara pada Ten. Pemuda itu hanya diam dan memandang sendu ke jendela bus menuju rumah. Sesekali menangis tanpa mengeluarkan suara.

Hingga akhirnya ketika mereka sampai. Ten tidak jadi masuk ke kamarnya sehabis mandi karna Doyoung meminta untuk tidur bareng di ruang tengah saja. Mereka sudah menjadi sahabat untuk waktu yang lama dan Ten tidak perlu penjelasan apapun saat melihat mata Doyoung saat itu.

"Pleasse, temani aku."

Sahabatnya butuh teman bicara dan Ten menawarkan diri. Doyoung memang begitu. Sebenarnya, dia bukan laki-laki yang lemah terhadap alkohol. Membuat dirinya kembali ke mode waras tidak membutuhkan waktu lama. Walaupun tidak sadar sepenuhnya juga.

Malam itu, mereka baring bersisian di kasur yang biasa Yuta atau Jaehyun pakai di ruang tengah. Pencahayaannya redup karna hanya beberapa lampu kecil yang dinyalakan dan keduanya memandang langit-langit yang tampak kosong.

"Maafkan atas sikap ku ya."

Doyoung memulai. Dia meminta maaf karna sudah merepotkan Ten dan membahayakan diri mereka berdua di klub yang penuh akan alpa asing. Dilanjutkan dengan Doyoung yang mulai menangis lagi saat bercerita tentang Jaehyun—pacar tiga tahunnya—ingin hubungan mereka berakhir disaat Doyoung pikir laki-laki itu akan melamarnya tahun depan. Dilanjutkan dengan kenapa dia membenci dirinya sendiri.

Waktu itu, sambil mendengar Doyoung bercerita, Ten jadi teringat akan dirinya dan Yuta. Si lelaki jepangnya yang mahir bermain bola. Kadang Ten akan menonton Yuta yang bermain futsal bersama teman sekantor di akhir minggu. Atau dia yang jadi pemain bola amatir ketika pacarnya itu minta ditemani bermain bola kaki berdua di lapangan tepi sungai Han. Ten rindu rutinitas itu.

Ngomong-ngomong, Ten kira Doyoung hanya akan sampai di "aku berusaha melampiaskan ini dengan minum". Tapi ternyata tidak. Seminggu setelah Jaehyun memutuskannya, Doyoung mulai berusaha menjadi seseorang yang berbeda. Dia tidak pernah mendekam di rumah lagi untuk memenuhi hobi malas geraknya. Dia mulai jarang menyanyi di kamar atau mencoba resep-resep baru di dapur. Tidak pernah mengajak Ten pergi jalan-jalan lagi atau sekedar nonton bareng di ruang tengah. Dia akan pergi bekerja begitu pagi dan pulang terlalu larut. Membuat rumah mereka terasa lebih sepi. Membuat teman serumahnya heran dengan rutinitas barunya. Membuat Ten merasa bahwa orang-orang seperti mulai meninggalkannya.