applemacaroon

01 Screamed the Unsaid

"You don't forget the face of the person who was your last hope."

- Suzanne Collins, The Hunger Games


Sinar matahari pada sore hari membuat bayangan di belakang tumpukan kertas diatas meja, menghalangi sinar untuk mengarah langsung pada wajah laki-laki yang sedang serius dengan kacamata menggantung di pucuk hidungnya.

"Jadi, sampai kapan kau akan berkutat dengan setumpuk dokumen itu?"

Laki-laki yang tadinya serius itu menoleh kearah pintu sembari memutar matanya malas, "Sudah berapa kali kukatakan padamu untuk tidak menggangguku, kkamjong? Dan ya Tuhan, aku ini atasanmu." Laki-laki itu membetulkan letak kacamatanya yang melorot.

"Yah, kau memang atasanku, tetapi kau tidak akan berada di atas jika sedang bersamaku, Direktur Byun Baekhyun yang terhormat." Laki-laki yang dipanggil kkamjong itu terkekeh kecil, mendapat lirikan tajam dari lawan bicaranya.

"Demi mulutmu dan segala ocehan tentang otak gilamu, Jongin, berhenti berpikir kotor." Baekhyun berdecak kesal, matanya tidak lagi berkutat pada dokumen. Ia meluruskan punggungnya pada kursi yang didudukinya.

"Yaampun, sudah berapa tahun aku tidak duduk dengan nyaman?"

"Itu yang ingin kukatakan daritadi, tetapi kau tidak mendengarkanku." Jongin melipat tangannya dan mendekat pada meja berisi setumpuk dokumen didepan Baekhyun.

Sinar matahari sore yang membias dari kaca jendela besar di ruangan pada lantai 35 itu memberikan suasana santai ditengah hiruk pikuk Seoul. Ruangan bernuansa biru tua dengan karpet lembut berwarna putih itu mungkin satu-satunya tempat bekerja yang paling nyaman (dan paling membosankan) yang pernah Baekhyun punya.

"Jadi, kenapa kau kesini, Jongin?" ucap Baekhyun, ia menutup matanya,memberi istirahat pada mata yang sudah bosan melihat huruf pada dokumen-dokumen dihadapannya, tentunya mendapat lirikan kesal dari yang lebih tinggi. "Selalu langsung pada intinya, huh? Benar-benar tipe yang sangat Baekhyun." Balas Jongin.

Baekhyun membuka sebelah matanya, melirik Jongin dengan mata setengah tertutup. "Apa ada klien penting yang harus kutemui? Karena seingatku tidak ada klien hingga nanti malam."

"Yah, tidak ada klien, tetapi kau punya acara yang harus kau hadiri, sekitar 30 menit dari sekarang, Sweetheart." Jongin mendekat lalu menjepit hidung Baekhyun dengan jarinya, membuat yang terjepit membuka matanya kesal.

"Berhenti memanggil semua orang dengan sebutan manis," Baekhyun membuat postur yang terlihat seperti akan muntah. Punggungnya ditegakkan kembali, lalu ia menggulung lengan bajunya. "Jadi, coba bacakan rincian acara yang harus kuhadiri, sekertarisku yang sangat-ingin-membuatku-muntah."

Jongin memberi ekspresi marah yang dibuat-buat, "Kau ingat perusahaan yang kau selamatkan dua bulan lalu karena kekurangan dana? Ia mengundangmu ke resital piano, dan acaranya akan dimulai sekitar 25 menit lagi. Apa kau ingin menghadiri acara itu? Tuan Byun Baekhyun yang Agung?"

Piano, huh? Sudah lama sekali sejak aku terakhir kali mendengarnya

"Siapkan mobilnya, dan tolong bawakan setelan yang baru."

"Sekarang?"

"Tidak, dumbass, mungkin setelah aku memecatmu."


applemacaroon


Dentingan piano yang mendayu-dayu membuat Baekhyun terhanyut dalam suasana yang membuatnya mengantuk, untung saja Jongin yang berada disebelahnya mencubitnya setiap dua detik sekali (Ia berdoa agar pinggangnya tidak memar setelah resital ini selesai), membuatnya tetap terjaga.

"Jaga matamu tetap terbuka, Byun. Kau kesini sebagai seorang direktur, bukan untuk berpindah tidur." Ucapnya setiap Baekhyun ingin menutup matanya.

"Berapa lama lagi acara ini selesai, kkamjong?" Mata Baekhyun melihat kearah pemain piano yang berada sekitar 20 langkah didepannya, ia sudah berada ditempat ini dalam dua jam terakhir, dan matanya sama sekali tidak dapat diajak kompromi untuk memberi perhatian pada pianis itu.

Baekhyun sedikit menutup matanya saat Jongin disibukkan dengan tabletnya, lagu yang dimainkan sudah berada ditengah-tengah saat Baekhyun mendengarkan nada yang sedikit janggal. Sangat sedikit hingga mungkin banyak orang yang tidak sadar.

Matanya memaksa untuk membuka.

Saat mata sipit itu melihat sang pianis, badannya menegang.

"Sekitar satu jam lagi, lalu kau harus ke belakang panggung untuk menemui pemain piano itu untuk menjaga citra perusahaan, kau mengerti Baek? Baek?….. Baekhyun? Apa kau mendengarku?"

"Jongin, beli buket bunga paling besar yang bisa kau temukan dalam waktu kurang dari satu jam." Ucap Baekhyun. Matanya tidak lepas dari pianis dengan jari lincah yang berada tidak jauh darinya.

Baekhyun tersenyum lebar hingga mungkin wajahnya terbagi menjadi dua, melupakan Jongin yang hanya dapat menganga lebar mendapatkan perintah (yang seenaknya) dari boss-yang-sangat-otoriter itu.

"Dan tolong tambahkan mawar berwarna kuning, pianisku sangat suka itu." Tambah Baekhyun dengan senyum yang bertambah lebar. Saat pianis itu menyelesaikan lagu (yang entah keberapa, yang jelas itu tidak lagi membosankan untuknya), Baekhyun berdiri dan bertepuk tangan dengan sangat keras seperti anjing laut, sampai-sampai Jongin berpikir bahwa tangan lelaki kecil itu akan patah.

Pada alunan lagu setelahnya, Baekhyun tidak lagi menemukan dirinya dengan mata terpejam setengah mengantuk, sementara Jongin juga sudah pergi untuk membeli pesanannya, jadi satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah melihat si pianis.

Pianis itu, sudah lama sekali semenjak ia melihatnya.

Entahlah, mungkin sekitar lebih dari 10 tahun yang lalu?


applemacaroon


Baekhyun membawa badannya yang setengah berlari sembari merapikan tampilannya, setelan mahal berwarna hitam dan dasi berwarna biru itu melekat pada badannya seakan-akan hanya diciptakan untuknya, rambut sewarna coklat madu itu tersisir kebelakang.

Penampilannya saat ini? Perfecto.

Lelaki dengan surai madu itu kembali tergopoh-gopoh kebelakang panggung, dan jangan lupakan Jongin yang membawa karangan bunga (mungkin seberat bayi baru lahir!) yang didorong dengan kereta kecil yang entah ia dapat darimana.

"Ayo cepat Jongin, jangan sia-siakan waktuku!"

"Ya Tuhan Baekhyun, berhenti berlari-lari, ingat siapa dirimu!" Jongin yang kesal tetap mengikuti Baekhyun dari belakang dengan langkah yang ikut tergesa-gesa.

"Sepenting apa pianis ini hingga kau seperti anak yang melihat eskrim gratis?" Lanjut Jongin, beberapa staff acara terlihat melihat mereka dengan pandangan bertanya-tanya.

Siapa yang tidak penasaran melihat Direktur Byun Baekhyun, pemilik tunggal perusahaan Slvur n Co. yang diyakini sebagai perusahaan dengan net worth yang cukup membuat direkturnya masuk kedalam majalah Forbes pada urutan 20 besar.

Yang sekarang sedang berlari-lari seperti anak kecil.

Setelah sampai didepan ruangan, Baekhyun tidak menyia-nyiakan waktu barang sedetikpun untuk bersusah payah mengetuk pintu. Beberapa bodyguard yang berjaga didepan pintu pastinya sudah tidak asing dengan kehadiran laki-laki dengan sendok perak terjepit diantara mulutnya ini.

Pintu dibuka dengan keras, yang didalamnya sontak menoleh kearah sumber suara.

"Sunbae!" Laki-laki yang berada didalam ruangan itu terkejut melihat badan kecil Baekhyun yang tiba-tiba menghambur kearahnya. Tangannya memeluk erat Baekhyun seperti ibu dan anak yang sudah lama tidak bertemu.

"Apa yang kau lakukan disini?" Pianis berambut pirang itu menundukkan kepalanya agar dapat menatap yang lebih kecil. Jari lentiknya mengusap rambut surai madu milik lawan bicaranya.

"Sehun! Kenapa kau tidak memberitahuku jika kau masih bermain piano?" Baekhyun melepaskan pelukannya, tersenyum lebar kearah yang-bernama-Sehun. Jongin yang berada dibelakang Baekhyun menepuk pundaknya, "Etika, Direktur Byun." Bisik Jongin (yang sebenarnya dapat didengar Sehun!)

"Lihatlah siapa yang mengganti email dan nomor teleponnya dan menghilang tanpa jejak," Sehun terkekeh kecil, memberikan sinyal kepada Jongin jika ia memang berteman dengan Baekhyun, dan ia tidak masalah dengan segala bisikan tentang etika yang dikatakan Jongin.

"Sejak kapan kau bertambah tinggi? Seingatku, kau masih laki-laki kecil dengan rambut hitam yang suka mengambil jatah makan siang milikku." Baekhyun memukul ringan kepala Sehun yang dibalas dengan pitingan lembut dari lengan yang lebih tinggi.

"Kau saja yang bertambah pendek, Sunbae. Dan bagaimana penampilanku tadi? Kemampuanku sudah lebih daripada kau." Sehun tertawa melihat mimik wajah Baekhyun yang seperti akan membunuhnya.

"Tidak buruk, kecuali saat tanganmu bergetar pada Transcendental Etude milik Lizst."

"Ck, objektif dan sangat tepat sasaran, tidak berubah dari 15 tahun yang lalu huh? Sangat Baekhyun sekali." Ucap Sehun yang diam-diam diangguki oleh Jongin.

Sehun melihat kearah Jongin yang membawa buket bunga dengan banyak mawar berwarna kuning (Sehun sempat mencoba menghitung total harganya!), wajah yang dikenal dingin itu sontak tersenyum lebar.

"Sunbae?"

"Panggil aku Baekhyun, airhead, kau sudah lebih mahir dariku, ingat?" Baekhyun terkikik kecil melihat mulut Sehun yang terbuka lebar karena bahagia.

"Baek…hyun?"

"Close your mouth, liurmu akan jatuh jika kau tetap membuka mulutmu." Baekhyun tersenyum menahan tawa yang akan keluar saat melihat mulut Sehun yang berbentuk huruf 'O' dengan sangat menggelikan.

"Ya Tuhan Baekhyun, kau bahkan masih ingat tentang mawar berwarna kuning."

"Yah, tentu saja, dengan IQ senilai genius, aku bahkan dapat mengingat detail terkecil." Baekhyun tersenyum miring, membuat Sehun ingin menyentil dahi si kecil sombong itu.

Sehun hanya mengangkat bahunya, malas untuk membalas ocehan Baekhyun, diangkatnya buket besar yang berat itu, lalu diberikannya kepada seseorang yang mungkin adalah managernya, dan kembali berjalan kearah si direktur mungil.

"Baek, jika kau tidak punya acara, apakah kau mau bergabung untuk pesta jam tujuh malam nanti? Setidaknya mampirlah jika kau terlalu sibuk." Sehun tersenyum, tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Baekhyun tampak berpikir, Jongin menatap kearah tablet dengan gambar apel yang berada pada tangannya, "Klien pada pukul sepuluh, Baekhyun." Bisik Jongin. Baekhyun mengangguk mengiyakan. Wajahnya menampakkan ketertarikan untuk mengikuti pesta tersebut.

"Yah, setidaknya semua akan baik-baik saja jika aku tidak minum disana bukan?" Baekhyun tersenyum, sementara Sehun menarik napas lega. "Tuan Byun Baekhyun, bagaimana dengan naik Bugatti milikku?" Sehun tersenyum miring, sebelah tangannya diangkat untuk meraih tangan Baekhyun.

"Sombong sekali," Baekhyun tertawa.

"Atau mungkin kau dapat kesana bersamaku, Byun Baekhyun."

Semua orang di ruangan itu menoleh, tidak terkecuali Sehun dan Baekhyun, serta Jongin yang sedari tadi berusaha untuk menyesuaikan jadwal Baekhyun agar dapat pergi ke pesta milik Sehun.

"Richard Sunbaenim! Sejak kapan kau pulang dari New York? Baekhyun, kau ingat dia? Chanyeol sunbaenim yang kugantikan pada-" Sehun tersenyum sumringah, tangannya menjabat tangan Chanyeol, dengan nama lain, Richard Park.

Baekhyun membatu.

Postur tubuh itu, matanya, tidak terkecuali suaranya.

Baekhyun sangat membenci laki-laki itu. Semua dalam diri laki-laki itu, tepatnya.

Dadanya mengembang dan mengempis, ia marah.

"Douchebag." Baekhyun tersenyum merendahkan, kali ini tidak dengan nada bergurau.

"Excuse me?" Chanyeol mengerutkan alisnya heran, ia tidak mengira kedatangannya akan disambut oleh pria kecil dengan semburan mulut pedasnya.

"Chanyeol Sunbae, terimakasih telah datang ke resital! Apa kau akan bergabung dengan pesta nanti malam?" Sehun berusaha memecahkan suasana yang tiba-tiba sedingin es. Sehun melirik kearah managernya, memberi isyarat untuk orang-orang lain agar keluar dari ruangan itu.

Baekhyun tetap menatap Chanyeol dengan mata nyalang, sebaliknya, Chanyeol menatapnya dengan heran. Chanyeol berusaha melangkah mendekat kearah Baekhyun, sementara Baekhyun melangkah mundur, tetapi bibirnya tersenyum merendahkan.

Jongin berusaha menyentuh lengan Baekhyun, menjaganya dari apapun yang mungkin dapat merusak nama baik perusahaan.

"Sehun?" Baekhyun membuka mulutnya.

"Ya?"

"Katakan kepada bajingan ini untuk jauh-jauh dariku. Dan maaf, sepertinya aku tidak tahan pergi ke pesta dan melihat dickhead ini berada di tempat yang sama denganku." Baekhyun melangkah keluar dari ruangan tersebut, dengan sengaja menabrak bahu Chanyeol dengan keras.

"The hell, Byun Baekhyun?" Chanyeol dengan cepat menarik tangan Baekhyun, dan yang kecil dengan cepat meliriknya dengan tajam. "Kita perlu bicara." Lanjutnya.

"Berikan kartu namamu pada unknown ini, Jongin." Baekhyun berbalik untuk bicara kepada Jongin, "Apa aku memiliki janji dengan laki-laki ini?" Baekhyun kembali menabrakkan matanya kearah mata besar dihadapannya dengan senyum kecut.

"Nothing," Jongin menjawab, matanya menatap was-was pada gerak gerik Baekhyun maupun Chanyeol.

"Aku tidak berbicara kepada orang yang tidak membuat janji denganku, dan yang terburuk, aku tidak akan membuat janji dengan seorang fucktard."

"Byun Baekhyun!" Chanyeol meninggikan suaranya, ia bahkan tidak melakukan apa-apa dan laki-laki kecil ini menatapnya nyalang dengan semburan kata-kata kotor. Baekhyun hanya tersenyum sinis, lalu mengalihkan pandangannya.

"15 tahun tidak bertemu dan ini yang kau berikan padaku? Benar-benar egois." Laki-laki bersuara bariton itu menampilkan wajah tidak percaya.

"Egois? Lucu sekali, Richard." Baekhyun menekankan suaranya pada kata terakhir, tangannya memegang knop pintu erat-erat, menahan amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun. Buku jarinya memutih.

Tidak banyak bicara, Baekhyun memutar knop pintu dan menutupnya dengan keras, Jongin lalu membungkuk kepada orang-orang didalam ruangan, antara meminta maaf dan juga mengisyaratkan selamat tinggal, dengan cepat menyusul Baekhyun yang berada jauh didepannya.

"Batalkan perjanjian dengan klien itu, dan hubungi Kris."

"Tetapi ini pertemuan penting dengan Elbert Inc. apa kau yakin?" Jongin membalas.

"Masa bodoh dengan siapapun itu. Katakan kepada Kris untuk pergi ke tempat biasanya. Aku membutuhkannya dalam waktu kurang dari 45 menit."

TBC


terimakasih untuk kalian yang follow, fav, dan terlebih review untuk prolog!

tolong berikan kritik ataupun saran tentang gaya menulis, atau mungkin plot yang aneh XD

aku takut chapter ini bakal bikin bosen kalo panjang panjang, and i have to improve everything since ini FF pertama aku, so please tell me kalau ada kesalahan! dan tolong beri pendapat jika alurnya terlalu cepat ataupun lambat.

THANKS TO

kimchi61, Eka915, WinterJun09, MadeDyahD, Siti855, satangsatang, Luhanssi dan yeoliebun,

review kalian bener bener bikin aku semangat ngerjain chapter pertama ini, lot of hugs to u guyss 3

terimakasih juga untuk yang sudah follow fav, atau mungkin cuma baca because it means a lottt!