applemacaroon
02 Our First Glass of Wine
"But grief makes a monster out of us sometimes,
And sometimes you say and do things to the people you love that you can't forgive yourself for."
-Melina Marchetta, Jellicoe Road.
"Ngh-hh.. stop teasing me!"
Laki-laki itu menyeringai tepat pada leher laki-laki pendek yang sedari tadi mendesah karena lidahnya, dan ia tidak berniat sedikitpun untuk menuruti keinginan si lawan main. Bibir dan lidahnya tetap menjelajahi leher dengan kulit halus tersebut dengan begitu lihai.
Oh ayolah, bahkan mereka melakukan itu tepat didepan pintu kamar hotel yang baru saja ditutup.
"Yifan-hh! Just suck me! Aku tidak meluangkan waktu hanya agar kau bermain pada leherku, Aa-ahh! Mmh .. Unghh sial!" Lelaki yang dipanggil tersebut hanya terkekeh kecil dan membuka dengan kasar kancing kemeja milik Baekhyun, lidahnya sudah mencari tonjolan pada dada tersebut sebelum yang lebih kecil menyelesaikan kalimatnya. Menjilatinya dengan tidak sabaran, sementara tangannya mencubit tonjolan yang lain.
Tangan Baekhyun meraih kepala Yifan agar semakin dekat dengan dadanya, punggungnya melengkung seperti busur mengingat kenikmatan yang saat ini dia rasakan begitu intens menggoda kulitnya.
"So, Baekhyunee, apa yang kau ingin untuk aku lakukan dengan tubuhmu?" Laki-laki itu menjauhkan badannya, terdapat benang tipis antara putingnya dengan lidah si tinggi, dan itu cukup untuk membuat Baekhyun bernafas pendek-pendek, tidak sabar untuk segera dipuaskan.
"Sentuh aku." Baekhyun memalingkan mukanya yang memerah, sementara Yifan hanya menghela nafas. "Oh ayolah, kau bisa meminta dengan cara yang lebih baik daripada itu."
Baekhyun melepaskan seluruh kain kecuali kemeja putihnya, memamerkan tubuhnya yang dipuja seperti Aphrodite, "Daddy, Please make me cum, baby is begging you." Jari lentiknya bermain pada kejantanannya sendiri yang sudah basah karena precum. Kakinya bergetar, berusaha untuk tetap berdiri. Dan Yifan hanya berdiri disana, dengan sesuatu yang menegang di balik celananya.
Baekhyun membuka mulutnya karena mendesah, membuat liurnya menetes tepat diantara dadanya yang terekspos, mengundang siapapun untuk memberi kissmark pada dadanya yang mulus.
Ia merasa, sangat nakal.
"P-please, daddy. Play with me." Muka Baekhyun semakin memerah antara malu dan gairah, kedua matanya seolah memohon, jari lentiknya bermain pada ujung kejantanannya sendiri, merasakan tatapan intens orang lain yang seakan menusuk kulitnya membuatnya semakin tertantang. Laki-laki dihadapannya juga tengah menahan nafas, bersiap untuk menerkam.
"Hanya itu, Byun Baekhyun?"
Baekhyun menungging pada tembok, mengekspos holenya, lalu mengoleskan precumnya disana, seolah mengatakan bahwa ia siap.
"Daddy, tolong aku." Dua jari Baekhyun masuk kedalam holenya, berusaha menemukan spot yang dapat membuatnya menggelinjang, dirasa tidak cukup, tangan lainnya bermain dengan kejantanannya. Precum mengalir membasahi kedua pahanya.
"God, baby boy¸kau selalu membuatku berada pada puncak gairah." Yifan mendekati Baekhyun yang tengah bermain dengan kejantanannya, tangan besarnya membantu Baekhyun menaik-turunkan penisnya. "Ini yang kau mau bukan? membantuku untuk mengeluarkan gairahmu?" pertanyaan itu disambut dengan anggukan Baekhyun.
"D-daddy, h-help!"
"Sudah sangat basah untuk Daddy? Anak nakal." Yifan memutar badan Baekhyun agar dapat memunggungi tembok, lalu kembali menjilati puting Baekhyun dengan lidah panasnya, tersenyum pada sela-sela kegiatan itu, ia mengeluarkan miliknya yang sudah menegang karena melihat Baekhyun yang bermain tepat dihadapannya.
"E-eung! Y-yifan.." Baekhyun berusaha menahan desahannya saat kejantanan yang lebih besar mengacung tegak dengan precum yang mengalir berada tepat didepan miliknya, sementara pemiliknya menahan tubuhnya diantara dinding dan badan yang terlewat kekar. Menggesekkan milik keduanya dengan kasar.
Yifan menyukai bagaimana Baekhyun menyebutkan nama aslinya saat kegiatan bercinta mereka.
Benar-benar membuatnya turn on. Goddammit.
Yifan tanpa aba-aba menggendong Baekhyun dan menjepitnya diantara dinding tanpa melepaskan bibirnya dari puting Baekhyun. Tidak perduli dengan desahan si kecil, ia menggesekkan kedua kejantanan itu, membuat Baekhyun hanya dapat menggigit bibir dengan muka yang sudah sangat memerah.
"Dad! More! Ah! Uh! H-hng!" Rasionalitas milik Baekhyun sudah berada diambang batas, sementara kejantanan miliknya sudah siap untuk menyemburkan cumnya. Yifan yang mendengar itu hanya dapat mengerluarkan smirk, mempercepat gesekan pada kedua benda mereka dengan tangannya.
"Tidak boleh keluar sebelum daddy." Tangan kanan Yifan menutup lubang pada penis Baekhyun, menggaruk ujungnya yang membuat Baekhyun melepaskan desahan kecil. Sementara tangan lainnya menahan berat Baekhyun agar tidak jatuh.
Laki-laki blasteran itu menggendong Baekhyun menuju kearah kasur, melemparkannya tanpa melepas kontak mata, dan yang selanjutnya, hanya terdapat desahan Baekhyun yang menggema karena lidah hangat Yifan yang menggoda miliknya.
Lidah hangat itu membuat jejak basah pada holenya, menuju ujung penisnya berkali-kali, membuat Baekhyun bahkan tidak memiliki kekuatan hanya untuk membuka matanya. Desahannya tidak dapat berhenti sama sekali. Ia ingin menggerakkan pinggulnya, tetapi Yifan menahannya agar tidak bergerak.
Ia tenggelam dalam kenikmatan duniawi.
"Slut! Siapa yang mengira bahwa kau, Byun Baekhyun yang Agung, sedang berada dibawahku dan memohon agar dapat mengeluarkan cum-nya?" Yifan terkekeh geli, bibirnya kembali menciumi daerah sensitif pada bagian bawah pria kecilnya. Meninggalkan beberapa kissmark pada paha bagian dalam Baekhyun.
"U-uh Daddy, Baekhyun ingin cum." Pria kecil itu menarik diri dari bibir Yifan, lalu menungging pada detik setelahnya, memamerkan holenya yang merekah.
Tolong sebutkan nama pria gay yang penisnya tidak berkedut saat melihat pemandangan seperti ini.
Yifan menjilat bibirnya sendiri, lalu menyodorkan jarinya ke mulut Baekhyun. "Suck." Dan Baekhyun (yang sudah kehilangan keagungannya) menjilati jari Yifan, menyedotnya kuat-kuat.
"Fuck."
"Yes daddy, fuck me."
Yifan menarik jari-jarinya, lalu saat Baekhyun merasa bahwa Yifan akan memberi fingering padanya, ia hanya memutar jarinya yang basah disekitar hole Baekhyun. Membuatnya merengek frustasi.
Jari-jari basah Yifan bergerak memutar pada holenya, lalu bergerak keatas tepat pada tulang belakang Baekhyun sementara tangan yang lain masih menahan pinggang kurusnya.
Jari itu bergerak menuju lehernya, membuat Baekhyun menolehkan kepala dengan mata sayu dan poni yang sudah menempel pada dahi. Napasnya terengah-engah dan wajahnya memerah. Jejak jari itu meninggalkan rasa dingin yang membuat kulitnya merinding.
Yifan membungkukkan badannya sembari melebarkan kedua kaki Baekhyun, menjaganya agar dapat menungging lebih lebar lagi.
Lidah laknat itu kini bermain pada hole Baekhyun. Memutar, menusuk, dan sialnya menghilang pada saat Baekhyun ingin mengeluarkan cairannya.
"Fuck fuck fuck." Si kecil tidak dapat menahan rasa frustasinya, digenggamnya tangan Yifan, lalu diarahkannya pada penisnya, menggerakkan tangan itu sebagai ganti tangan kecilnya. Terkadang cepat, lalu lambat pada detik berikutnya, tangan kasar itu membuatnya merasakan sensitivitas luar biasa. Ia ingin menangis, ini terlalu nikmat!
"Mmh-hh! Ah..!" Baekhyun mendesah kembali, liurnya keluar dari mulutnya seperti tanda bahwa ia merasakan kenikmatan saat ini, Yifan yang tidak ingin tinggal diam, menusukkan dua jarinya kedalam Baekhyun tanpa aba-aba.
Baekhyun menggerakkan pinggulnya yang tidak lagi tertahan tangan Yifan, mencoba mencari kenikmatannya sendiri.
Baekhyun berusaha menahan cumnya, tetapi diluar kehendaknya, cairan itu keluar begitu saja, yang disusul dengan Yifan yang terengah-engah tepat di lehernya.
applemacaroon
Baekhyun berusaha menetralkan napasnya, menjatuhkan diri pada kasur putih yang lembut, lalu meluruskan kakinya yang pegal.
God, yang tadi itu sangat… panas.
"Kali ini, ada masalah apa?" Suara bariton milik Yifan menyapa telinganya, ia menoleh agar dapat menatap Yifan yang tengah memejamkan matanya, keringat mengucur pada wajahnya, membuat beberapa helai rambut menempel pada dahinya.
"Dia kembali." Baekhyun menjawab dengan napas yang masih putus-putus. Ia mengancingkan kembali kemejanya yang sudah tidak rapi.
"Pardon?" Yifan tidak percaya pada pendengarannya.
"Laki-laki itu, dia kembali." Saat dirasa ia dapat bernapas kembali dengan normal, Baekhyun beranjak dari kasur hotel tersebut, meninggalkan Yifan yang enggan untuk membersihkan diri.
"Uangnya akan kutransfer setelah ini, Kris." Baekhyun masuk kedalam kamar mandi, mengabaikan helaan kasar dari Yifan. Ini dia. Sesuatu yang tidak ia sukai dari Baekhyun.
Saat Baekhyun sudah memanggil nama lainnya, itu berarti ia sudah kembali menjadi Baekhyun yang terhormat.
Dan dia tidak butuh uang!
Beberapa menit kemudian, setelah Baekhyun selesai membersihkan badannya, ia kembali menggunakan suitnya, memunggungi Kris yang bersandar pada kasur dengan bantal dibelakang punggungnya.
"Aku mencintaimu." Laki-laki china itu membuka mulutnya, mengharapkan reaksi dari laki-laki yang sudah ia kenali lebih dari sepuluh tahun lamanya.
"Kita sudah pernah berdiskusi tentang hal ini." Balas Baekhyun, nadanya terdengar dingin, berbeda jauh dengan Baekhyun yang tadi memohon dengan mata yang sarat akan gairah.
"Baek."
"Aku pergi."
Lalu pintu ditutup, tanpa Baekhyun yang menoleh kebelakang.
applemacaroon
Kris dan dia sudah mengenal selama kira-kira delapan hingga sepuluh tahun, awalnya hanya dari sekolah bisnis yang ia pelajari agar dapat membawa perusahaanya dengan baik.
Tidak pernah terlintas dipikirannya bahwa laki-laki itu akan berada disebelahnya saat depresi itu kembali. Setidaknya Kris adalah satu-satunya selain Jongin, yang tidak bergidik ngeri saat melihatnya menampilkan wajah dengan pandangan kosong (dan jari-jari yang sedikit teriris).
Singkatnya, laki-laki itu sudah menjadi teman baru yang selalu menjaganya.
Sampai saat alkohol mulai berbicara, Kris berkata padanya bahwa ia mencintainya lalu mereka berhenti pada motel yang berada disebelah bar.
Tidak, Baekhyun tidak mencintai laki-laki itu.
Untuk Baekhyun, laki-laki itu hanya teman.
Mereka hanya sama-sama membutuhkan, Baekhyun butuh tempat perlindungan, sementara Kris hanya butuh dirinya.
Ya kan?
applemacaroon
Tidak seperti biasanya, Chanyeol meninggalkan pesta bahkan sebelum pesta itu mencapai klimaksnya. Meskipun merah senja sudah tidak terlihat lagi, dan bintang-bintang telah menutupi langit kota, tetapi ia tidak merasa lelah, ataupun mabuk.
Entahlah, mungkin sedikit mabuk.
Malam ini, dia memutuskan untuk minum sendirian. Toh apa gunanya tetap bertahan didalam pesta sementara yang ia butuhkan saat ini adalah ketenangan. Dan tentunya teriakan Sehun yang sedang mabuk tidak termasuk dalam kategori ketenangan.
Sebenarnya, laki-laki pendek itu sudah menghantui pikirannya sejak tadi sore.
Ekspektasinya adalah Baekhyun dengan mata berbentuk bulan sabit, bukan Baekhyun yang berubah menjadi monster dengan otak batu.
Dan Baekhyun yang tidak mau mendengarkan penjelasannya jelas bukan Baekhyun yang selama ini tertanam di benaknya.
Oh ayolah, Baekhyun dulunya adalah anak yang manis dan menyukai kisah Romeo and Juliet.
Dan apa-apaan mulut kotornya tadi? Dimana ia mempelajari kosakata itu? (sebenarnya Chanyeol berpikir bahwa itu tadi agak sedikit kinky.)
Chanyeol berjalan gontai dengan kemeja biru lembut yang lengannya digulung hingga mencapai siku, berpadu sempurna dengan celana dengan warna khaki yang membalut kaki atletisnya. Jas dengan warna biru tua tersampir pada lengannya. Ia terlihat cukup malas untuk ukuran orang yang selalu sibuk.
Ia berjalan menuju bar yang terletak pada lantai teratas hotel tempat ia menginap. Untungnya, suasana bar didalam hotel selalu sepi, tidak seperti bar pada klub malam. Tidak ada orang yang meliukkan tubuhnya seperti cacing kepanasan, ataupun asap rokok yang membuat dadanya sesak.
Bar itu tampak berkelas dengan dinding kaca pada sisi barat yang tersambung dengan balkon dengan beberapa sofa berbentuk huruf U berwarna hitam, ditambah lagi dengan pencahayaan yang cukup remang-remang, cukup memberi perasaan relax. Beberapa orang tampak sedang berenang didalam outdoor pool yang jaraknya tidak jauh dari sofa-sofa tersebut.
Sebenarnya, Chanyeol tidak perduli dengan apa yang orang-orang itu lakukan, mengingat bahwa ia kesini juga karena ia ingin menyendiri. Tetapi tidak ada hal lain yang dapat menyita perhatiannya saat ini, sehingga memperhatikan orang lain mungkin dapat menjadi satu-satunya jalan agar ia tidak terus-terusan memikirkan Baekhyun.
"Fuck, aku sedang tidak dalam mood untuk bertemu fucktard ini."
Oh Lord, Panjang umur sekali.
Chanyeol menoleh saat lagi-lagi mendengar suara dingin dengan intonasi menusuk yang didengarnya tadi sore. Orang itu duduk sekitar dua kursi jauhnya dari meja bar yang juga ditempatinya.
"Baekhyun." Chanyeol memanggil nama orang itu tanpa tahu apa yang ia inginkan. Kakinya berjalan mendekati si pemilik-mata-bulan-sabit, sementara yang dihampiri hanya tersenyum meremehkan sembari mengangkat gelas berisi Chateu Lafite 1865 yang harga satu botolnya dapat ditukar dengan dua tas Hermes keluaran terbaru.
"Baek…hyun?" Chanyeol menatap kedua mata bening itu dengan tatapan yang sukar dijelaskan. Ia menatap Baekhyun hampir seperti Peterpan yang menemukan Wendy-nya. Namun pada satu sisi, tatapannya seperti ragu-ragu.
"Bagaimana dengan pestanya, dipshit? Tentu saja menyenangkan bukan? Tch." Baekhyun memutar-mutar gelas wine, matanya terlihat menerawang jauh. Chanyeol sekarang duduk tepat disebelahnya.
Baekhyun sudah mabuk, sepertinya.
"Kau tidak bisa minum wine, dan selalu mabuk pada gelas kedua. Lalu kenapa kau berada disini dengan botol yang sudah berisi setengahnya, Baekhyun?" Chanyeol bertanya dengan hati-hati. Bertanya pada orang mabuk bukan termasuk kriminal bukan?
Baekhyun terkekeh kecil, lalu menunjuk-nunjuk dada Chanyeol dengan jari telunjuknya.
"Tanyakan itu pada dirimu sendiri, idiot. Tanyakan. Kepada. Dirimu. Sendiri." Baekhyun menekankan setiap kata pada kalimatnya, membuat Chanyeol hanya dapat mengerutkan alisnya, bingung dengan perkataan Baekhyun.
"Kau menghancurkan semuanya yang kuimpikan, dan semua omong kosong piano itu, yang benar saja, bastard, apa kau lihat ini?" Baekhyun menujukkan tangannya yang tidak lagi memegang gelas wine. Mata Baekhyun tampak sayu dan kesadarannya semakin menipis.
Mata Chanyeol terpaku pada bekas luka pada jari indah Baekhyun.
Ada apa denganmu, pumpkin?
"Ini semua karena kau. Dumbfuck."
Chanyeol berdiri saat Baekhyun tiba-tiba limbung dari tempat duduknya, dan matanya melihat sesuatu yang membuat darahnya mendidih.
Jejak cairan yang menempel pada kemeja bagian belakang Baekhyun yang tidak sengaja keluar.
Cintaku, siapa yang berani-beraninya menyentuh kulitmu?
"Wake up, Baekhyun. Keep your head up." Perintah Chanyeol. Baekhyun hanya bergumam tidak jelas pada dada Chanyeol yang menjaganya agar tidak jatuh ke lantai.
Dimana Baekhyun yang manis dari 10 tahun yang lalu?
Baekhyun… sejak kapan ia menjadi laki-laki seperti ini?
"Benar-benar jahat. Chan..yeol.. sangat jahat, Baekhyun tidak suka." Baekhyun bergumam pada dada Chanyeol, membuat yang yang-sedang-memeluk sedikit terkejut dan kembali dari pikirannya.
"Piano.. Baekhyun juga ingin main piano.." Suara pria kecil itu semakin tidak jelas, tetapi dengan Baekhyun yang berada didalam pelukannya, Chanyeol jelas dapat mendengarnya.
Jauh disana, Baekhyun masih tetap sama.
Baekhyunee… Apa benar aku yang membuatmu berubah?
TBC
SPECIAL THANKS TO :
Byunae18, Eka915, inspirit7starlight, kimchi61, MadeDyahD, parkbaexh614.
KertasBee, RatedMLovers614, satangsatang, Fitri MY, park yeonha, akaindhe, parkobyunxo
21 Fav dan 29 Follow, apalagi review kalian bener-bener diluar ekspektasi aku sih, karena aku pikir aku gabakal berhasil bikin FF yang bisa memuaskan(?) para reader kekeke~ ILY guys so much, you guys rock!
terimakasih untuk kalian yang sudah repot-repot ninggalin jejak di kolom review! Aku berharap chapter kali ini bakal bikin kalian tambah oenasaran sama chapter kedepannya dan chapter ini nggak bikin bosen kan?
kalian bisa panggil aku Apple daripada thor! XD
AND I KNOW SMUTNYA JAUH DARI EKSPEKTASI
yah, aku masih perlu banyak belajar, dan percaya atau nggak, aku buat smut kali ini masi pake bantuan abang google ehehehe.
Kalau ada yang bikin kalian bingung atau ada pertanyaan, silahkan tinggalkan di kolom review, karena aku sebisa mungkin akan menjawab pertanyaan kalian pada chapter selanjutnya! (nggak harus tentang FF ini kok. eh.)
dan maaf jika ada typo, aku buat ini semaleman karena dari kemarin sibuk (sok sibuk maksudnya)
Last but not least, selamat liburan dan terimakasih buat yang udah review/fav/follow!
