applemacaroon

03 Destroyed Petals

"And Max,

the king of all wild things,

was lonely and wanted to be where someone loved him best of all."

-Maurice Sendak, Where the Wild Things Are.


Baekhyun terbangun dengan sakit kepala yang menusuk.

Darn, dia tidak ingat apa-apa soal tadi malam.

Selimut membungkus erat badannya yang entah kenapa terasa dingin. Beberapa ingatan melesat dengan cepat di otaknya. Dan sialnya yang terakhir ia ingat adalah bahwa ia memesan wine setelah tidur dengan Kris. Lalu semuanya menjadi gelap.

Sebenarnya berapa banyak ia minum tadi malam?

Mata Baekhyun berusaha menyesuaikan cahaya dari jendela yang berada di sebelah kanannya. Dengan tata ruang seperti ini, ia yakin bahwa ia masih berada di hotel yang ia tempati semalam.

Tidak ambil pusing tentang yang terjadi, Baekhyun hanya membuka selimut yang melapisi tubuhnya.

Ok, ia nyaris telanjang.

Dan hanya memakai boxer yang ia yakin 100% bukan miliknya.

Ini tidak baik.

One night stand memang sudah biasa baginya, tetapi itu sangat tidak bagus jika ia tidak mengingat dengan siapa ia melakukannya.

Baekhyun duduk pada kasur dengan selimut yang kembali ia balutkan pada sekitar tubuhnya, lalu menyelimuti dirinya sendiri hingga seluruh badannya tertutupi kecuali kepalanya. Tubuhnya kedinginan. Jari-jarinya sedingin es krim yang dimakan saat musim dingin.

Dengan siapa ia melakukan one night stand? Yang jelas laki-laki (atau perempuan, ia tidak tahu jelas) ini sangat tidak peka. Ingatkan Baekhyun agar tidak minum wine kecuali jika ia bersama dengan Jongin atau siapapun yang bisa mengurusnya.

Baekhyun menghela napas malas, ia menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan, dan menemukan suitnya yang sudah terlipat dengan rapi di atas meja. Hal kedua yang dilihatnya adalah sebuah note kecil dan… entahlah, apa itu minuman pereda mabuk?

Kaki Baekhyun menapak malas pada karpet lembut suite hotel tersebut. Kepalanya berdenyut keras, dan suhu rendah pendingin di ruangan ini sangat tidak membantu. Ia melangkahkan kakinya kearah meja yang tadi dilihatnya, sementara selimut yang melingkupinya ikut terseret.

Baekhyun duduk pada sofa kecil yang berada tepat didepan meja, lalu tangannya meraih note kecil yang berada di bawah minuman pereda mabuk.

Minum ini, tidak baik untuk berangkat ke kantor dengan sakit kepala karena mabuk. Aku sudah menyiapkan Haejangguk*, kau bisa menemukannya di dapur. Berhentilah keras kepala dan cobalah menerima kebaikan orang lain.

p.s : kau tidur dengan sangat nyenyak, aku tidak ingin membangunkanmu. Dan jangan minum-minum sendirian lagi, itu berbahaya.

((Haejangguk* : sup pereda mabuk))

Baekhyun bernapas dengan kasar, siapa orang ini yang (berani-beraninya) memberinya ceramah dengan sangat sok seperti sudah mengenal dirinya sejak lama?

Tutup botol dibuka dengan perasaan Baekhyun yang terlewat kesal. Ia baru saja bangun setidaknya kurang dari lima belas menit, tanpa secuil ingataan tentang apa yang ia alami tadi malam, dan tiba-tiba saja diceramahi dengan orang yang bisa jadi adalah partner one night standnya.

Menyebalkan.

Ia bergegas membersihkan diri di kamar mandi didalam kamar (ia menyadari bahwa suite ini disewa tidak hanya karena one night stand, tapi benar-benar ada orang yang tinggal disini, itu sedikit janggal, dan beruntungnya, ia tidak menemukan bekas cairan di tubuhnya!), lalu memakai suitnya yang baunya seperti baru saja dilaundry.

Baekhyun berjalan keluar dari kamar suite mewah tersebut kearah pintu keluar, tidak repot-repot menengok sarapan yang telah disiapkan oleh you-don't-know-who yang mungkin saja berisi racun seperti apel di film snow white (mungkin ia harus berhenti meminta Jongin mengumpulkan kaset disney)

"Aku sudah tahu kau akan langsung pergi begitu saja."

Baekhyun menoleh saat mendengar suara yang tidak asing ditelinganya. Pupil matanya terlihat membesar pada sepersekian detik.

"Makanlah sebelum kau pergi. Aku tidak akan mengganggumu," Laki-laki itu tetap terfokus dengan buku di hadapannya dengan kaki yang menyilang, tidak menoleh kearah Baekhyun barang satu detik . Ia duduk di sofa ruang tengah yang berada disebelah kanan Baekhyun, dan Baekhyun sama sekali tidak sadar akan kehadiran pria itu, setidaknya hingga detik ini.

Amarahnya kembali terbangun. Hangovernya seperti hilang dalam sekejap.

Bajingan ini. Berada di satu ruangan yang sama dengannya. All. Night. Long.

Jika Baekhyun diizinkan menyumpah, maka ia akan menyumpah dengan sangat keras saat ini. Tetapi ia dibesarkan dengan manner seperti pangeran muda, jadi menyumpah ke orang yang sudah memberinya tempat untuk tidur tentu saja tidak diperbolehkan.

Baekhyun tidak ingin menghabiskan sisa harinya dengan amarah memuncak, sehingga ia memutuskan untuk tidak perduli dengan Chanyeol yang duduk manis ditemani buku bodoh dan kacamata menggantung di pucuk hidungnya, menunggunya untuk makan.

Kakinya melangkah kearah pintu keluar.

"Silahkan saja jika ingin keluar, tetapi bagaimana dengan dompet dan smartphonemu, smart-ass?" Chanyeol mengangkat kedua benda yang disebutkannya tinggi-tinggi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya membawa buku yang masih ditatap lekat oleh sepasang mata sewarna hazelnut milik Tuan you-don't-know-who. Satu ujung dari bibirnya tertarik ke atas.

"No need. Aku bisa membelinya lagi," Baekhyun menjawab acuh tak acuh.

"Tiga puluh delapan missed call dari Jongin, sebelas missed call dari Slvur N Co. dan siapa ini? Empat message dari Kris? Apa kau yakin tidak mau menjawabnya? Filthy ass?" Chanyeol membaca tulisan pada layar smartphone Baekhyun dengan alis yang naik sebelah. Nadanya sedikit mengejek.

"Fuck." Baekhyun mengutuk dengan suara pelan.

Terakhir kali ia mengabaikan pesan Jongin, lelaki yang dipanggilnya kkamjong itu nyaris membakar kantornya karena meledakkan sebuah mesin fotocopy.

"Jadi bagaimana? Yang harus kau lakukan hanya makan dengan manis dan kau akan mendapatkan dua benda ini kembali." Chanyeol melepas buku dari genggamannya dan meletakkannya di sofa yang ia duduki. Mata hazelnya menatap lurus ke arah Baekhyun yang tengah menahan kekesalannya. Sementara dagunya diarahkan tepat ke meja makan yang berada di seberangnya.

Jika ia seorang gadis atau lelaki gay yang lemah, mungkin ia akan menuruti Chanyeol hanya karena laki-laki tinggi itu terlihat super tampan (Baekhyun ingin muntah saat memikirkan ini) dengan sweatshorts berwarna navy yang dipadukan dengan kemeja putih yang dibalut oleh sweater berwarna babyblue. Dan jangan lupakan kacamata bundar dengan frame silver itu.

Dan lighting ruangan yang –Oh sialan- sangat membantu.

Untungnya, Baekhyun bukanlah seorang gadis ataupun pria-gay-yang-lemah.

Ok, buang semua omong kosong ini. Chanyeol adalah seorang fucktard. Jika boleh kuingatkan.

"So… Baek?"

Baekhyun tidak menjawab dan hanya berjalan ke dapur dengan langkah kaki yang sengaja dihentak-hentakkan. Mulutnya sibuk menyumpahi si yoda menyebalkan yang ia yakini sedang tersenyum penuh kemenangan.

Sebenarnya apa sih yang telinga lebar ini inginkan?!

Chanyeol melesat jauh didepan Baekhyun saat ia sudah berada di depan meja makan, dan Baekhyun mendapati Chanyeol yang telah menarik kursi meja makan untuknya. Helaan napas meremehkan keluar dari mulutnya secara refleks.

Secuil manner tidak akan mengubah dirimu menjadi seorang malaikat, dasar iblis sialan.

Baekhyun menarik kursi lain, tidak repot-repot menerima kebaikan Chanyeol. Dipandanginya sup yang disodorkan oleh Chanyeol yang sedang duduk diseberangnya dengan raut wajah yang tidak tertarik.

"Bagaimana aku tahu bahwa kau tidak akan meracuniku?" Baekhyun menatap Chanyeol dengan pokerfacenya. Lawan bicaraya hanya tertawa kecil, "Jika aku ingin membunuhmu, sudah akan kulakukan dari tadi malam, percayalah." Balasnya.

Sedikit masuk akal.

Sesendok Haejangguk meluncur masuk ke tenggorokannya, rasanya tidak buruk, tetapi dengan situasi dimana Chanyeol menatapnya selagi ia makan, sup ini rasanya menjadi busuk sekali.

Si yoda itu terus menatapnya.

Fuck this, Baekhyun sudah sangat tidak tahan dengan iblis ini.

Pada sendok ketujuh, Baekhyun sudah sangat sangat sangat muak.

"Apa maumu? Berhenti menatapku seperti orang mesum." Baekhyun melempar sendoknya kedalam mangkuk, lalu duduk dengan tegak dan tangan yang dilipat. Ia sudah sangat muak dengan drama bodoh milik si-bodoh-telinga-lebar-yang-mesum ini.

"Katakan apa maumu, Richard."

"Baekhyun, berhenti memanggilku Richard."

Baekhyun berdiri dari kursi lalu sedikit menyeret benda itu kebelakang agar ia mudah untuk berjalan keluar suit. Chanyeol menyusulnya, menghadang Baekhyun tepat pada saat knop pintu akan dibuka. Badan besarnya menutupi hampir seluruh pintu.

"Back off, jerk."

"Baekhyun, listen to me." Chanyeol meletakkan tangannya dikedua bahu Baekhyun, lalu sedikit menunduk agar dapat menyamakan tingginya. Dengan secepat yang ia bisa, Baekhyun menepis kedua tangan Chanyeol.

Helaan napas menyerah keluar dari kedua belah bibir Chanyeol.

"Aku tidak tahu apa yang membuatmu menjadi seperti ini. Jadi kumohon, Baekhyun. Katakan padaku." Chanyeol sedikit menunduk, tidak lagi berusaha untuk menatap Baekhyun yang menatapnya dengan pupil seperti api yang berkobar.

"Kau ingin tahu apa yang terjadi, bastard? Akan kukatakan padamu, jika itu yang kau mau," Baekhyun menatap langit-langit dengan muak. "Lima belas tahun yang lalu, Richard…" Baekhyun menghentikan perkataannya.

Chanyeol berusaha menyelami mata Baekhyun, telinganya siaga untuk mendengarkan.

"Lima belas tahun yang lalu, saat kau pergi, dan bertepatan dengan kompetisi musik yang kita ikuti. Kompetisi piano yang paling penting seumur hidupku."

"Baekhyun, kau ingat kan apa yang ayah katakan kepadamu? Menang pada tempat pertama, atau tidak sama sekali. Jika kau tidak mendapatkannya, maka kau akan keluar dari akademi musik, dan bergabung dengan perusahaan bersama ayah." Ayah Baekhyun berkata dengan nada yang mencekam.

Saat itu, Baekhyun yang berada dibutakan oleh impian hanya dapat mengangguk.

Untuk ayahnya, piano adalah hal feminim tidak berguna yang membuang-buang waktu.

Tetapi mimpi Baekhyun adalah hidup dengan hal 'tidak berguna' itu.

Baekhyun muda yang berlatih siang dan malam bersama Chanyeol, bermimpi untuk tempat pertama pada kompetisi piano duet. Dan saat itu, mereka berdua telah berjanji kepada satu sama lain untuk melakukan yang terbaik, karena Baekhyun memberitahu Chanyeol bahwa kompetisi ini adalah hal yang sangat penting baginya.

Untuk pertama kalinya, Baekhyun memiliki sesuatu untuk diperjuangkan bersama.

Mimpi untuk menjadi pianis, seperti ibunya.

Jika kompetisi itu bisa jadi yang terakhir, maka ia akan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk memenangkan kompetisi ini.

Ia masih ingat betul bagaimana ia memilih lagu yang akan ia bawakan bersama Chanyeol, ataupun bagaimana ia dan partnernya itu membagi bagian yang akan dimainkan.

Dan masih terpatri di benaknya bagaimana Chanyeol menjemputnya setiap sore, menunggunya dengan susu strawberry dan senyuman lebar, dan mereka berjalan di tengah-tengah salju pada bulan Desember untuk pergi ke tempat latihan.

Semua tampak sangat sempurna, seperti impian yang berada tepat didepan mata.

Lalu tiba-tiba saja anak bernama Sehun muncul dibalik pintu studio, berkata bahwa Chanyeol akan pergi tepat di hari pentingnya, dan bahwa hoobae itu akan menggantikan si pengkhianat.

Saat itu, Baekhyun merasa bahwa impiannya hancur tepat didepan matanya.

Sehun memang tidak buruk dalam bermain piano dan hampir menyamai kemampuan Chanyeol, tetapi melodi yang ia inginkan hanya dapat keluar saat ia bersama Chanyeol.

Dan pada kompetisi itu, ia gagal.

Entah karena jari-jarinya berkhianat diatas tuts, atau karena laki-laki pengkhianat yang menghancurkan konsentrasinya saat itu.

Baekhyun terengah-engah antara amarah dan kesedihan, air mata menggenang dipelupuk matanya. Baekhyun menghadap keatas, mencegah bulir itu turun di pipinya, lalu menggigit bibir agar tidak terisak. Ia menepuk dahinya, tertawa pilu.

"Dan itu bukan bagian terburuknya, Richard."

Chanyeol tertegun. Ini pertama kalinya setelah lima belas tahun, Chanyeol melihat Baekhyun nyaris menangis, dan itu semua karena dirinya.

"Kau membunuh ibuku." Baekhyun menatap mata Chanyeol. Dan saat itu, yang Chanyeol lihat adalah rasa sakit, dendam, dan amarah yang tidak akan surut dalam waktu dekat. Hatinya menciut, merasa bersalah kepada Baekhyun.

"Kau. Karena kau fucktard! Kau harus tahu bahwa ibuku bertengkar dengan ayahku karena kesepakatan yang ayahku buat. Menjadi pianis adalah mimpiku dan ibuku, beliau sangat ingin aku mewujudkan mimpiku, yang kulakukan adalah membagi mimpiku denganmu, dan kau menghancurkan semuanya. Mimpi kami. Mimpi kita, dan kebahagiaanku terhenti pada kompetisi itu, mereka terus bertengkar, dan bercerai tepat satu tahun setelahnya," Baekhyun tersenyum pahit.

Chanyeol tidak sanggup berkata-kata. Tangannya yang mendekat kearah Baekhyun ditepis dengan kuat. Chanyeol tahu, betapa orangtua Baekhyun sangat mencintai satu sama lain, dan keluarga Baekhyun nyaris dikatakan sebagai keluarga yang sempurna.

Dan Chanyeol menghancurkannya.

"Lalu ibuku meninggal karena depresi. Ayahku tidak membiarkan aku bertemu dengannya hingga detik terakhirnya."

Suasana di ruangan itu sangat hening, hanya terdengar napas Baekhyun yang menahan amarah.

"Baekhyun, aku.." Semua kalimat yang akan Chanyeol keluarkan seakan tertahan di tenggorokannya. Jika saja ia tahu. Jika saja ia sedikit lebih peka terhadap Baekhyun. Jika saja, Chanyeol juga tidak menerima kesepakatan itu.

"Saat itu, kenapa kau tiba-tiba saja pergi? Jika saja kau ada disana dan bermain piano denganku, ibuku akan hidup sampai detik ini." Baekhyun menunduk. Tangannya menggapai knop pintu yang berada dibelakang Chanyeol.

Dan Chanyeol tidak pula mencegah Baekhyun.

"Simpan saja ponsel dan dompet bodoh itu. Aku sudah tidak perduli."

Saat pintu dibanting dengan keras, Chanyeol tenggelam di lautan penuh rasa bersalah.


Jongin tahu bahwa mood Baekhyun hari ini tidak dapat dikompromi, tetapi apa boleh buat, karena ia menggagalkan pertemuan kemarin, maka mau tidak mau Jongin harus membuat kembali janji pertemuan penting dengan Elbert Inc.

Untung saja, hati Jongin sudah setebal mukanya, sehingga ocehan dari sekertaris perusahaan partner itu tidak terlalu membuat Jongin ambil pusing.

Tetapi demi Baekhyun dan segala obsesinya terhadap gula kapas, laki-laki mungil yang menjadi bosnya ini sudah dua jam tiba di kantor dan tidak ada satupun dokumen yang ia sentuh!

Matahari sudah hampir berada diatas kepala (yah, meskipun mereka sedang berada didalam gedung) dan tidak ada tanda-tanda bahwa si kecil akan tergerak hatinya untuk mengurus bertumpuk-tumpuk dokumen yang ada dihadapan mereka.

Sangat bukan Baekhyun sekali.

"Baekhyun… apa ada sesuatu yang harus kau ceritakan padaku?" Jongin membuka mulutnya, lelah untuk menunggu Baekhyun agar sekedar berhenti melamun dan setidaknya membaca satu kalimat pada dokumen-dokumen yang menunggu.

"Eh? Huh? Tidak juga?" Nada Baekhyun malah balik bertanya, membuat yang diajak bicara menepuk dahinya sebal.

"Oh ayolah, ini sama saja seperti kau tidak masuk kerja, Tidak ada satu dokumen pun yang kau sentuh! Aku tidak ingin lembur hari ini," Jongin berdiri didepan meja kerja Baekhyun, menyilangkan kedua tangannya sebal.

Baekhyun yang sepertinya tersadar dari lamunan panjangnya hanya menatap kearah Jongin yang tengah melihatnya dengan muka memelas.

"Ya Tuhan, Jongin, aku pasti sudah gila." Baekhyun menangkupkan kedua tangannya di kepalanya, terlihat frustasi.

"Aku tahu, jadi tolong baca semua ini dan biarkan aku pulang tepat waktu," Jongin memutar bola matanya malas, yang ia inginkan hari ini adalah istirahat yang panjang setelah merelakan telinganya mendengarkan ocehan sekertaris cerewet Elbert Inc.

"No, Jongin, maksudku, aku benar-benar gila." Dengan melemparkan tatapan memelas, Baekhyun sedikit memajukan bibirnya, menyesali apa yang ia pikirkan.

Jongin memutari meja hingga berada tepat di samping Baekhyun, lalu memutar kursi kerja itu hingga menghadap kearahnya. Sedikit membungkuk, kedua tangannya diletakkan di sisi kanan dan kiri pegangan kursi Baekhyun. Badannya menghadang Baekhyun untuk bergerak.

Hey, sebenarnya siapa yang direktur disini?

"Oke, aku mendengarkan." Jongin mendekatkan wajahnya kearah wajah Baekhyun yang masih saja memberinya duckface, raut wajah Jongin berubah menjadi serius. (Oh ayolah, Baekhyun terlihat sangat imut!)

Baekhyun mengerutkan dahinya melihat tingkah Jongin.

"Jongin?"

"Ya?"

"Aku mantan atlet hapkido sabuk hitam."

"Lalu?"

Kaki Jongin sepertinya akan putus saat Baekhyun menendang tulang keringnya dari posisi mereka yang sangat dekat dalam waktu setengah detik. Ditambah lagi dengan Baekhyun yang menjitak kepalanya. Jongin berpikir kenapa ia masih ingin bekerja dengan si-tega-Direktur-Baekhyun.

Jongin sibuk mengaduh sementara Baekhyun kembali bersandar pada kursi kerjanya. Menyesali perilakunya yang sangat tidak keren saat berada di suite Chanyeol. Mulutnya mengeluarkan begitu banyak kutukan yang entah ditujukan kepada siapa.

"Fuck, Baek. Ini sangat sakit kau tahu? Aku sedang berusaha menjadi orang baik dan lihat apa yang kau lakukan padaku, dasar mahkluk tidak punya hati!" Jongin menggertakkan giginya. Tendangan Baekhyun luar biasa menyakitkan.

Jika Baekhyun bukan orang yang dekat dengannya (dan bukan bosnya tentu saja) bisa jadi sekarang Jongin akan melangsungkan pertarungan berdarah.

"Jongin, aku tidur di suite yang ditempati Richard Park." Baekhyun menutup matanya, berusaha menghapus memori yang berputar terus menerus di otaknya.

"Ah, kau sudah berbaikan dengannya? Syukurlah," Ucap Jongin yang masih sibuk duduk di sofa dekat meja Baekhyun sembari mengelus-elus kakinya yang mungkin akan membiru.

Baekhyun memasang raut wajah kesal.

"Jongin, sepertinya aku akan memukul kepalamu yang lamban itu." Baekhyun mengepalkan tangannya dan memberi Jongin postur seperti akan memukul, sementara Jongin melindungi kepalanya, bersiap mendapatkan pukulan Baekhyun yang sebenarnya berada agak jauh di depannya.

Baekhyun menghela napas, "Aku memberitahu laki-laki itu semuanya." Ia mengacak rambutnya frustasi. Benar-benar bodoh, pikirnya.

"What? Are you out of your mind?" Jongin menoleh kearah Baekhyun, sudah tidak perduli dengan nasib kaki malangnya.

"Yes I am."

Sekarang, yang menghela napas menjadi Jongin. Saat Jongin akan mengatakan sesuatu, ponselnya berbunyi dengan nada dering Let It Go yang sangat tidak mencerminkan imagenya.

"Gotta take it. Wait." Jongin memberi Baekhyun sinyal bahwa ia akan mengangkat telepon itu, yang disambut dengan anggukan acuh tidak acuh dari Baekhyun.

Sementara Baekhyun menunggu Jongin yang sedang menelepon, ia mengecek beberapa dokumen yang menumpuk dihadapannya (Jongin akan bersyukur setelah ini). Wajahnya berubah menjadi serius, dan seperti biasa, lengan bajunya dilipat hingga nyaris menampilkan sikunya.

Beberapa pikiran terlintas di otak Baekhyun, dari: apakah memberi tahu Chanyeol semua ini akan memberi suatu dampak padanya? Atau betapa bodohnya aku yang membuatnya melihatku sangat lemah seperti itu. Pikiran-pikiran itu sama sekali tidak membantunya untuk konsentrasi.

Salah satu hal yang ia pikirkan adalah, Apakah marah kepada Chanyeol merupakan hal yang benar?

Pertanyaan itu terus terngiang-ngiang dikepalanya.

Jongin kembali muncul di balik pintu saat Baekhyun sudah kembali tenggelam didalam dokumen-dokumennya. Langkah Jongin terdengar tergesa-gesa, membuat Baekhyun mau tidak mau menoleh kearah lelaki dengan kulit nan eksotis itu.

"Baekhyun, ini buruk."

Baekhyun merasa dirinya akan cepat tua karena masalah yang terus berdatangan seperti ini, ia menunggu Jongin menyelesaikan kalimatnya.

"Dua orang sedang bertengkar di lobby. Sepertinya membawa-bawa namamu."


Pesan yang tidak dibalas benar-benar membuat Kris khawatir tentang apa yang bisa saja terjadi kepada Baekhyun.

Laki-laki yang ia cintai itu hanya mengatakan bahwa si brengsek Park Chanyeol telah kembali, dan itu membuat hatinya menjadi sangat was-was akan apa yang Baekhyun lakukan. Ia takut Baekhyun akan kembali ke mode dimana jari-jari lentiknya akan terbalut banyak hansaplast. Itu benar-benar tidak baik.

Kemeja mahalnya telah diberi wewangian parfum Caron Poivre dengan taksiran harga selangit. Rambut pirang yang ditata keatas telah membuat semua mata tertuju padanya saat ia berjalan. Tetapi seluruh mata itu tidak ia butuhkan.

Karena ia hanya butuh pengakuan Baekhyun.

Seluruh uang yang Baekhyun berikan kepadanya tidak pernah tersentuh sepeserpun. Memiliki beberapa cabang perusahaan lokomotif di Kanada memberinya uang yang mampu menandingi Baekhyun dalam segi materi.

Kris berjalan masuk kedalam gedung Slvur, beberapa pegawai menyapanya dengan membungkukkan badan sembilan puluh derajat.

Cih, coba saja jika aku masuk hanya menggunakan jeans dan kaos, mereka pasti memandangku seperti seseorang yang brutal.

Yang ia paling ia sukai dari Baekhyun adalah bagaimana laki-laki itu tidak mengenalnya karena perusahaan keluarganya, dan tampak tidak perduli akan hal itu. Setidaknya ia berpikir bahwa ada satu orang di dunia ini yang melihatnya bukan karena uang.

Saat sampai di depan resepsionis, ia melihat seseorang dengan tinggi badan hampir menyamai dirinya, sedang sedikit 'bertengkar' dengan si resepsionis.

"Aku akan menemui Byun Baekhyun." Kata laki-laki itu.

"Maaf, sir. Tetapi Direktur Byun Baekhyun tidak menerima tamu tanpa perjanjian sebelumnya." Si resepsionis membantah dengan kata-kata yang lembut, namun Kris tahu bahwa si resepsionis sedang menahan kesal.

Saat lelaki jangkung yang sedang adu mulut itu menoleh, Kris terperangah.

Laki-laki itu adalah Park Chanyeol.

Ia menemukan dirinya menepuk bahu Chanyeol, yang disambut dengan kerutan di dahi yang tertepuk. Kris tersenyum kepada si resepsionis (yang dibalas dengan senyum penuh terimakasih!) lalu mengeluarkan tangannya untuk menjabat tangan Chanyeol.

"Kau Park Chanyeol bukan? Sedang apa kau disini?"

Chanyeol terlihat terganggu namun tetap menjabat tangan Kris, "Ya, dan apa perdulimu? Stranger?"

"Ah, maaf, perkenalkan, aku adalah tunangan Baekhyun, Kris Wu."

TBC


SUPER THANKS TO :

chanxlatifaxbaek, ratedMLovers614, veraparkhyun, MadeDyahD, inspirit7starlight,

Eka915, WinterJun09, thyachan, KertasBee, byunbaekkieee

dan para Guest yang berbaik hati meninggalkan review!

Balasan Review (aku bales yang banyak ditanyain yaa!):

chanxlatifaxbaek : thankyou so muchh! aku bahkan nggak berani baca bagian NCnya lagi karena geli sendiri dan kepikiran 'masa aku yang bikin kayak gini' wkwkwk

RatedMLovers614 : aku juga gamau kalo Baekhyun dimasukin sama selain pcy! kkk~

veraparkhyun : sudaa di spoilerin nih sama Baek kenapa dia marah sama Chanyeol, eits tapi itu belum semuanya, jadi stay baca ini teru syaa *hug*

inspirit7starlight : call me apple !

Aurellia : Kris bukan gigolo:( dia tuh kayak mikir kalo mending dia sama Baekhyun punya hubungan sekedar partner in bed, daripada nggak samasekali:( biasa, orang dimabuk cinta mah semuanya dilakuin kekeke~


cuitan apple yang sangat gapenting:

Im sooooo sorry for the late update yang lebih dari satu minggu, aku harap kalian nggak lupa sama story ini, sebenernya aku susah update karena tangan kanan aku jempolnya cedera (read: keseleo) mungkin alesannya ga keren sih, tapi itu bener bener kejadian sampe sulit dibuat ngetik :(

Terimakasih untuk kalian yang sudah support ini! (31 fav dan 39 folls udah bener-bener diluar ekspektasi aku yang masih penulis abal-abal)

aku akan upload satu cerita oneshoot untuk minta maaf karena late update, sepertinya besok malam.

feel free untuk tanya-tanya soal ff ini, atau tentang apple(?)

last but not least, APA KALIAN LIAT TEASER CHANKAIBAEK? MEREKA KEREN PARAH DAN TEASER CHANYEOL BENER_BENER SNATCHED MY WIG KEKEKE

iloveyouguys!