applemacaroon
04 Adorable Black Rose
"I could've sworn I was telling the truth when I told you I didn't miss you."
― pleasefindthis, I Wrote This For You
Pintu lift terbuka saat Baekhyun mendengar suara geraman Kris.
Memutar bola matanya malas, Baekhyun menoleh kearah Jongin, memberi sinyal untuk membereskan kekacauan yang terjadi sebelum masalah ini menjadi semakin merepotkan. Matanya melihat bagaimana Chanyeol mencengkeram bahu Kris hingga laki-laki itu sedikit demi sedikit nyaris berlutut dihadapannya.
"Ah, Baekhyun, akhirnya kau datang." Kris tersenyum, meringis karena menahan sakit yang terpusat pada bahunya. Sementara Chanyeol ikut menoleh kearah Baekhyun. Beberapa orang yang berkumpul disana membuka jalan untuk sang direktur.
"God, kekacauan apalagi ini dickheads?" Mengingat Baekhyun menggunakan 's' pada kata terakhirnya, Chanyeol mendecih. "Kau memanggil tunanganmu sendiri dickhead? How Funny, Baek." Lanjutnya, melepaskan genggamannya pada bahu Kris.
Jongin menepuk bahu Baekhyun, membisikkan kata-kata sehubungan etika pada saat kerja yang sudah dilupakan oleh Baekhyun dalam lima menit.
Baekhyun berjalan mendekati Kris, menundukkan badannya agar dapat menyetarakan tingginya dengan telinga Kris, "Kau hanya akan berlutut disana? Fiance?" mendengarkan penekanan pada kata fiance membuat Kris tersenyum, "Kau ingin aku menghajarnya?" Kris menatap mata Chanyeol, ia kembali berdiri dengan tegas kembali berdiri di sebelah Baekhyun, menepuk-nepuk suit mahalnya.
"Jika kau bisa, tentu saja." Ujar Baekhyun tersenyum miring, yang langsung saja mendapat pelototan dari Jongin yang sibuk membubarkan orang-orang disekitar mereka.
Baekhyun sudah tidak perduli lagi.
Baekhyun membalikkan badannya, menjauh dari kedua laki-laki kelewat tinggi tersebut. Dibelakangnya Jongin mengikutinya dengan tergesa-gesa, "Apa kita tidak punya security guards di bangunan sebesar ini?" Sindir Baekhyun kepada Jongin.
Yang disindir hanya dapat tersenyum kecut, "Shit, Baek. Aku bahkan tidak tahu mengapa aku masih bekerja denganmu hingga detik ini."
Suara Kris yang mengamuk dibelakang benar-benar tidak dihiraukan oleh si Direktur. Beberapa guard dengan baju hitam masuk dengan bersamaan kedalam gedung, berusaha memisahkan kedua laki-laki yang sama kuat itu.
Baekhyun tetap berjalan, ia menghela napas kasar.
"Fuck dude, not my hand!" Baekhyun mendengar suara Chanyeol yang mengerang, otak Baekhyun memerintahkannya untuk tidak perduli, tetapi langkahnya terhenti.
Jongin telah menekan tombol lift agar mereka bisa meninggalkan tempat itu, tetapi Baekhyun memilih untuk kembali menoleh.
Chanyeol membanting Kris di lantai, tetapi bukan itu yang ia khawatirkan.
Baekhyun berjalan kembali ke arah Kris, beberapa guards menunduk hormat kepadanya, Baekhyun lalu berbisik di telinga fiance-nya (yang tentu saja gadungan, for the sake of god!), "The Fuck are you doing? Ruanganku. Right. Fucking. Now."
Baekhyun melihat bagaimana Chanyeol menahan sakit pada tangannya,
apa dia tidak apa apa?
Baekhyun melirik kesal kearah wajah Kris yang terlihat babak belur, darah terlihat sedikit memancar pada ujung bibirnya, tetapi laki-laki rambut pirang itu sudah tidak perduli, karena bagi laki-laki, kekuatan adalah sebuah harga diri.
Baekhyun menarik lengan Kris, menariknya kearah lift yang terbuka (dengan Jongin yang mati-matian menahan tombol unclose!) meninggalkan si jangkung yang satunya, yang menatap Kris dengan tatapan remeh.
Saat pintu lift ditutup, Chanyeol mendengar suara Kris samar-samar.
"Adios! Looser."
Fuck that Kris-thingy. Chanyeol juga sudah muak dengan semua omong kosong ini.
applemacaroon
"Kau tahu bahwa aku tidak akan bisa mengalahkannya." Kris duduk di sofa ruangan Baekhyun, wajahnya mengkerut sedikit menahan perih. Sementara Baekhyun berjalan dari salah satu rak gantung dengan obat pertolongan pertama berada di tangannya.
"Yeah, Chanyeol menguasai Muay Thai dan taekwondo." Baekhyun membalas tanpa nada tertarik, dilemparnya kotak P3K itu dengan santai ke arah Kris yang tentu saja dapat menangkapnya dengan mudah. Kris hanya dapat meringis.
Kris membuka kotak itu, mengambil sebotol Desinfektan dan kapas, lalu menepuk-nepuk luka di bibirnya, "Kau –oh my fucking lord it hurt!" Kris kembali meringis menahan perih, mendapat decihan tawa yang lolos dari mulut Baekhyun. "Kau tidak ingin tahu apa yang kukatakan kepada si Chan-ass-yeol itu?" Lanjutnya.
"Nope, aku tidak tertarik."
"Aku bilang pada si Chan-ass-yeol bahwa kita bertunangan."
Baekhyun melotot, sementara Kris hanya memberi tanda peace dengan pokerface di wajahnya, fuck Kris, Baekhyun benar-benar kesal hari ini, "Yeah I know, lalu bullshit apa yang kau katakan padanya selain itu?"
"Kukira kau tidak tertarik."
"For the sake of your fucking brain, sebelum aku menarik otakmu yang kecil itu, Kris-"
Kris tertawa melihat raut wajah Baekhyun yang kesal, ia berdiri dihadapan Baekhyun, menyisipkan kedua tangannya di saku celana, lalu menipiskan jarak diantara mereka, "I said, im the one who already saw your fucking beautiful body,and I can touch it in every place, that he just saw on his dreams every. single. night, Bee, that's all." Bisik Kris tepat di telinga Baekhyun.
Tubuh Baekhyun mau tidak mau merinding karena suara napas Kris yang dibuat terengah-engah berada tepat di telinganya, napas itu menggelitik telinga Baekhyun, mengirim impuls yang sialnya mengalir ke sesuatu diantara pahanya. Tepat saat Baekhyun akan mundur, Kris menahan tubuhnya dengan satu tangan,
dan mengundangnya kedalam satu ciuman yang basah.
Seks di kantor pastinya merupakan salah satu fantasi yang pernah Baekhyun pikirkan, dan God, itu adalah salah satu hal terpanas yang ingin ia lakukan, maka dari itu saat Kris semakin melesakkan lidahnya dan menggelitik langit-langit mulutnya, Baekhyun hanya dapat melenguh. Lidah Kris bekerja dengan sangat memabukkan, dan sesuatu bangkit dari dalam tubuhnya saat tangan Kris menelusup kedalam celana bagian belakangnya.
Fuck, tangan Kris yang besar benar-benar dapat menangkup pantatnya.
"Your body are just a fucking sin, you know that?" Kris berbisik di telinga Baekhyun, memutar jilatannya di telinga itu, lalu turun melewati leher laki-laki yang hanya sibuk menahan desahannya dengan menggigit bibir.
Baekhyun memejamkan matanya, menikmati apa yang Kris perbuat dengan mulut penuh dengan ekstasi, membuat Baekhyun menginginkan lebih.
"Ngg-h Yi-yifan!" Baekhyun sudah tidak sanggup menahan desahannya saat Kris mengeluarkan kejantanannya dari dalam celana, dengan tangannya yang besar, ia menggerakkannya keatas dan kebawah, matanya yang tajam melihat wajah Baekhyun, membuat gairah sang submissive melonjak dan menggebu-gebu.
"Apa yang baby ingin untuk daddy lakukan pada si kecil ini huh?" Yifan tersenyum congkak melihat air mata yang terkumpul di pojok mata bulan sabit Baekhyun, tangannya melepas milik si kecil itu, lalu ujung jarinya meraba dengan halus permukaan kulit kejantanan Baekhyun yang sudah basah.
Rasa menggelitik hinggap di perut Baekhyun, beberapa kesadaran hinggap di kepalanya namun tiba-tiba terhiraukan begitu saja.
"Tell me, kenapa kau tidak memperbolehkanku untuk melakukan sesuatu dengan yang ini?" Kris menggoda Baekhyun dengan memutar-mutar ujung jarinya di pintu masuk hole Baekhyun, membiarkannya berkedut-kedut tanpa dimasuki.
"Ungh-hh.. Ti-tidak disitu Yifan.." Baekhyun menggigit bibirnya, berusaha mengumpulkan kesadarannya kembali.
"Why Baek? Tell me."
"Just.. No." Baekhyun merengek karena tangan Kris melepaskan semua sentuhan yang ada di tubuhnya, membiarkan gairahnya tidak tercapai dengan sangat tidak memuaskan.
Tangan Kris memakaikan baju dan celana Baekhyun kembali, meninggalkan jejak ereksi yang sangat kentara diantara paha si kecil.
"Aku memiliki segalanya, Baekhyun, apapun yang kau inginkan, goddammit aku akan memberikanmu seluruhnya yang kumiliki hanya agar aku bisa memilikimu juga!" Amarah Kris meledak saat melihat mata Baekhyun yang masih berkabut dengan gairah.
Baekhyun terhenyak saat melihat Kris yang seperti ini,ia tidak pernah melihat Kris menuangkan amarahnya dengan sangat kentara.
Dan yang paling parah, Kris menghentikan gairahnya yang sedang ada di puncak
Dengan mata yang penuh tanya, Baekhyun membetulkan setelannya agar kembali rapi, (dan dia sadar bahwa ereksinya tiba-tiba hilang), senyum meremehkan kembali hinggap di wajahnya.
"Jadi, kau kesini hanya karena sesuatu seperti itu?" Nada bicara Baekhyun terdengar tidak enak didengar, menyisakan Kris yang hanya dapat terperangah.
"Hanya karena 'sesuatu seperti itu' kau bilang?"
Baekhyun menghela napas, "Pulanglah, bersihkan lukamu." Katanya. Ia sedang malas berdebat mengingat yang ia butuhkan saat ini adalah sebuah pelepasan gairah, dan semua yang ia alami hari ini benar-benar membuat kepala (dan penisnya) sangat sakit.
"Tidak, Baekhyun, berhenti membuat alasan!"
Ini dia.
For the sake of Baekhyun's dick. ia muak dengan semua orang yang memuja-muja cinta diatas segalanya.
"Dengarkan aku, Kri- tidak, dengarkan aku, Yifan. Aku tidak akan mencintai siapapun. Jatuh cinta membuatmu lemah, dan aku tidak memiliki waktu untuk menjadi lemah," Baekhyun berbalik memunggungi Kris.
Ini pertama kalinya Kris mendengar Baekhyun memanggilnya dengan nama aslinya saat ia sadar.
"Jadi tolong pergi, dan jangan menumpahkan emosi yang kau sebut 'cinta' itu kepadaku. Karena aku tidak membutuhkannya, Yifan, yang aku butuhkan selama ini hanyalah tubuhmu untuk memuaskanku, dan yang kau butuhkan adalah aku yang mendesahkan namamu, bukan begitu?"
Kris hanya terdiam, sibuk mencerna kalimat Baekhyun yang secara tidak langsung hanya menganggapnya tidak lain dari seorang sex buddy.
"Maaf jika aku membuatmu salah paham tentang apa yang terjadi diantara kita," Baekhyun berbisik,"Kau teman yang sangat baik bagiku, tetapi aku tahu kau menginginkan lebih dari itu."
Kris berjalan keluar, tidak mengatakan apapun kepada Baekhyun yang ia rasakan tatapannya dari balik punggung.
"Dan satu lagi, kau dapat menyakiti Chanyeol, Yifan, sakiti dia jika memang itu yang kau mau, tetapi tolong jangan sentuh tangannya, aku... mengatakannya bukan karena aku perduli padanya-"
"I know." Kris memotong kalimatnya.
Baekhyun mendengar suara pintu yang dibanting.
Yang tanpa disadari memberi secercah rasa lega dihatinya.
applemacaroon
"Long day huh?" Jongin masuk kedalam ruangan Baekhyun saat sinar matahari telah berada di barat, matanya terarah menuju laki-laki yang menatap kosong kearah jendelanya yang menampilkan traffic kota Seoul sore hari ini, laki-laki itu membelakangi meja kerjanya yang telah bersih dari tumpukan dokumen (Jongin sangat bersyukur, demi bokong seksi Baekhyun, ini agak-sangat-jarang terjadi.)
Baekhyun tidak repot-repot memberi cacian tentang mengetuk-pintu-karena-aku-bosmu yang biasa ia keluarkan sedetik setelah hidung Jongin memasuki ruangannya, membuat Jongin mengerutkan dahinya heran.
Untung saja pekerjaannya Jongin telah selesai dengan cepat karena tiba-tiba Baekhyun bekerja seperti orang kesetanan sesaat setelah laki-laki setengah bule masuk kedalam ruangan bos kecil pemarahnya ini.
"Kau ingin aku membuatkan teh? Kita memiliki earl grey yang kau sukai."
Baekhyun menggeleng, matanya tidak menunjukkan semangat.
Jongin berjalan mendekati kursi yang Baekhyun duduki, lalu menyamakan tingginya dengan satu kaki yang menekuk tepat dihadapan Baekhyun, "Kau ok? Kupikir kau butuh istirahat." Kalimat itu keluar dengan nada halus dari kedua belah bibir Jongin.
"Hey, kkamjong…"
Empat buah siku imajiner muncul diujung dahi Jongin, bibirnya tersenyum kecut, "Jangan membuatku menyesal telah mengasihanimu, Baek. Sudah kubilang aku tidak sehitam itu."
Baekhyun terkekeh kecil, lalu menghela napas.
"Apa kau benar-benar tidak apa?" Raut wajah khawatir kembali menghiasi muka orang yang sedang setengah berlutut itu.
"Yeah, kuharap aku tidak apa-apa. Sepertinya aku hanya sedikit lelah."
"Berhenti berpikir terlalu banyak karena hal-hal tidak penting yang tiba-tiba menghujanimu, Baekhyun, kau butuh istirahat."
"Dan cheesecake." Sambung Baekhyun dengan senyum kecil, membuat lawan bicaranya mau tidak mau ikut tersenyum. Jongin lalu berdiri dengan lambat dihadapan Baekhyun, lalu mengambil coat berwarna cokelat muda milik laki-laki pendek itu.
"Ya, dan cheesecake. Jika kau sudah tahu apa yang kau perlukan, maka pulanglah dan berhenti memforsir dirimu sendiri, istirahat yang cukup karena aku akan menjemputmu nanti malam." Jongin memberikan coat itu kepada Baekhyun yang menatapnya dengan pandangan heran.
"Kau tahu, Elbert Inc. sepertinya tidak main-main saat ingin bekerjasama dengan perusahaan ini, pemegang sahamnya ingin bertemu denganmu." Lanjut Jongin, membuat Baekhyun membuang jauh-jauh rasa herannya.
"Baiklah, aku akan pulang ke rumah."
Jongin mengangguk mengiyakan, "Aku akan menjemputmu jam setengah delapan, jadi pastikan kau sudah rapi karena telingaku sudah cukup mendengarkan omelan sekertaris milik Elbert itu."
Senyum Baekhyun sedikit mengembang, tangannya memberi okay sign kepada Jongin. Ia mengambil tas kerja yang kemarin lupa ia bawa dari mobil setelah pergi ke hotel, lalu sadar bahwa dompet dan smartphonenya masih ada di suit si brengsek Richard Park.
"Kau mencari dompet dan smartphone ya?" suara Jongin menginterupsi.
"Ya, bagaimana kau tahu?"
Jongin mengeluarkan dompet dan smartphone dari saku didalam jasnya, lalu memberikannya kepada Baekhyun. "Chanyeol ingin mengembalikannya, dan ia juga memberimu ini-" Jongin sibuk merogoh saku jasnya, lalu mengeluarkan kertas yang cukup panjang.
"Apa itu?"
Jongin tidak berkata apa-apa dan hening sejenak memenuhi ruangan.
"Baekhyun, kupikir sudah waktunya kau melupakan semuanya dan maju tanpa terbayang-bayang masa lalumu." Dengan pergelangan yang dipegang lembut oleh Jongin, Baekhyun merasakan kertas itu berpindah ke tangannya.
"Lupakan semua dan carilah kebahagiaanmu, Baek. Tadinya aku kesini hanya untuk mengantarkan ini karena sepertinya kau sibuk sedari tadi. Aku akan pergi sekarang, ok? Istirahatlah yang cukup."
Di menit selanjutnya, hanya ada Baekhyun yang berada di ruangannya, dengan membawa tas kerja dan juga menggenggam secarik kertas tebal.
Kertas itu adalah tiket resital piano Chanyeol, tetapi bukan itu yang ia pikirkan sekarang.
Judul resital itulah yang sedang terngiang dikepalanya yang mendadak kosong.
Dengan kalimat sewarna emas, tertulis,
'for you, L'amour de ma vie.'
(For you, Love of my life)
Terlebih lagi, sebuah denyutan tiba tiba merasuki dadanya.
applemacaroon
Perjalanan dari kantor ke rumah beserta kemacetannya cukup menguras kesabaran Baekhyun, Untungnya suasana rumahnya yang tenang sedikit banyak membuat kepalanya rileks.
Ini sudah agak lama semenjak ia pulang ke apartemennya sendiri.
Baekhyun selalu menghabiskan sembilan puluh persen waktunya untuk kantor dan pekerjaan, sehingga rumah hanya seperti sekedar formalitas untuknya. Apalagi suasana rumah yang terlalu sepi dapat membuatnya mati kebosanan jika terus berdiam diri didalamnya.
Setelah membersihkan diri dan memakai oversized hoodie berwarna tosca miliknya, (ia bersyukur dapat memakai hoodie kesayangannya setelah berbulan-bulan hoodie itu 'membusuk' di lemari) Baekhyun masuk kedalam kamarnya, sebuah kamar dengan dua pintu kaca dengan kusen putih yang langsung mengarah ke balkon, dengan lampu hias berwarna hitam yang menggantung di langit-langit.
Yang lebih ia sukai dari kamar ini adalah bagaimana ia bisa melihat bintang-bintang di malam hari karena jendela besar yang berada di sisi atapnya yang miring, tepat diatas kasur dengan bed cover abu-abu lembut.
Kamar Baekhyun mungkin memang tidak sangat besar, tetapi berada didalamnya terasa amat nyaman, apalagi dengan kursi santai didekat pintu kaca, dan juga karpet halus yang sewarna dengan bedcover miliknya.
Singkatnya, kamar milik pria 'manis' ini tempat yang tepat untuk bersembunyi.
Merebahkan diri di kasurnya, mata Baekhyun tidak dapat mengikuti keinginannya untuk terpejam, beberapa menit ia habiskan hanya untuk berguling-guling di kasur tanpa dapat tertidur.
Semua yang terjadi hari ini benar-benar sebuah guncangan besar.
Mata Baekhyun menerawang jauh, menatap ke jendela diatasnya, banyak pikiran terlintas di kepalanya, mulai dari bagaimana ia mabuk, tertidur di suit orang yang ia benci, hasrat yang belum tuntas karena si brengsek Kris, luka di tangan Chanyeol, dan tiket resital laki-laki itu.
Kenapa masalah harus datang secara beruntun sih?
Baekhyun mengerang kesal, menonjok gulingnya bertubi-tubi seakan benda mati itu adalah akar masalahnya, lalu menggigitinya seperti beruang mabuk.
"Aish!" Guling tersebut jatuh dari atas kasur, tidak lain karena tendangan kaki pendek si-yang-sedang-dalam-mood-buruk, "Sial Richard! Sebenarnya apa yang kau mau hah?!" Jari Baekhyun menunjuk-nunjuk si guling, wajahnya merengut sebal.
"Kau pergi saja sana! Tidak usah kembali kesini, dasar merepotkan!" Turun dari kasurnya, kaki Baekhyun menendang guling itu hingga keluar kamar, meninggalkan deru napas Baekhyun yang tersengal-sengal memenuhi ruangan.
Apa yang sedang kau lakukan, Byun?
Saat napasnya sudah kembali normal, Baekhyun berjalan keluar untuk mengambil gulingnya kembali dengan langkah kaki yang malas dan wajah yang masih merengut. Baekhyun tidak bisa tidur tanpa sesuatu yang dapat dipeluk, to be honest.
Entah karena tendangannya yang memang kuat atau mungkin hanya sebatas hoki, guling itu terpental agak jauh, si benda menyebalkan (menurut Baekhyun, tentu saja) berhenti menggelinding tepat di depan pintu ruangan yang sudah lama tidak ia masuki, tepat di seberang kamarnya.
Baekhyun tiba-tiba lupa dengan gulingnya yang malang.
Ia berdiri didepan pintu, tidak melakukan apapun selain pikiran berisi, Apa kau siap menghadapinya?
Raut wajah Baekhyun yang semula sebal meluruh menjadi agak sendu, tangannya menggapai knop pintu, sedikit ragu-ragu untuk hanya sekedar memutar.
Dibalik pintu ini terdapat masa lalunya.
Wajah itu tampak berusaha mengisi relung keberanian, dengarkan kata Jongin, ucapnya dalam hati. Waktunya untuk berjalan ke depan.
Ketika ia membuka pintu ini, mungkin saja ia akan terserap kembali kedalam emosi masa lalu, atau mungkin saja ia dapat melupakan masa lalunya, dan bisa jadi resiko terburuknya, suatu kemarahan terhadap diri sendiri akan muncul dari dalam dirinya, lagi dan lagi, lalu memakannya dari dalam, mengunyahnya hingga hanya secuil dari dirinya yang tersisa.
Sebuah rasa bersalah dari masa lalu. Sebuah… tingkatan akhir dari rasa jijik terhadap diri sendiri?
Entah dengan keberanian darimana, suara cklek halus terdengar seiring dengan terbukanya pintu, bau debu yang memenuhi ruangan tidak menyurutkan kemauan Baekhyun untuk tetap melangkah masuk lebih jauh.
Di tengah ruangan terdapat grand piano berwarna putih, hadiah pemberian ibunya.
Mual menguasai perut Baekhyun, kerongkongannya serasa berteriak untuk menahan sesuatu agar tidak keluar.
Memberanikan diri untuk duduk dihadapan piano, Baekhyun menatap harta karun itu dengan pandangan kosong, fall* piano itu tertutup, menghalau apapun untuk mengotori tuts didalamnya.
(fall* : cover keys/penutup tuts piano)
Beberapa menit dihabiskan hanya untuk memandang piano tersebut, dengan bergetar, Baekhyun mencoba untuk meraih fall agar terbuka, tetapi pada setiap detik tangannya mencoba, pada detik itu juga rasa mual diperutnya akan semakin bertambah.
Berjalan menjauhi masa lalu. Coba lagi, Byun Baekhyun.
Kau tidak boleh seperti ini.
Coba lagi, kau bisa.
Pada detik dimana ia membuka fall, ia tidak tahu apakah yang bulir pertama yang terjatuh dari matanya adalah airmata kesedihan atau amarah.
Matanya menangkap sebuah foto, didalamnya terdapat ia dan ibunya, menampilkan bagaimana ibunya memeluknya yang membawa sebuah medali kompetisi piano pertama yang ia juarai. Baekhyun bahkan lupa kapan terakhir kali ia tersenyum hingga matanya berbentuk benar-benar seperti bulan sabit.
Saat itu, semuanya terasa sangat sangat sangat sempurna.
Ia membalik foto itu, mengusap jejak tinta yang semakin mengabur, tetapi ia masih ingat dengan jelas, apa goresan yang berada dibelakang foto itu.
Baekhyun juara pertama! Dia berjanji akan mentraktirku tteokbokki yang mahal. Aku dan Mama Byun berjanji untuk berfoto kembali di kemenangan yang ke-27 (27 adalah angka ulang tahunku yang seringkali kau lupakan, Baek!)
Kau akan bermain piano hingga kompetisi ke-27 kan?
Simpan foto ini dan janjiku baik-baik, dasar tukang menggerutu.
Everyours, Chanyeol.
Foto yang diambil oleh Chanyeol, foto pada kompetisinya yang pertama.
"Dasar pembohong."
Mengelus ibunya yang berada didalam foto, Baekhyun merasa dadanya menciut, napasnya seperti hilang dari paru-parunya, "Kau tidak ada disana untuk mengambil fotoku dan ibu."
Foto itu diletakkan diatas music stand, lalu jari-jari Baekhyun menekan tuts piano dengan sangat halus.
"Ibu, hari ini aku membiarkan seseorang menyakiti tangan berharga seorang pianis."
Hening, Baekhyun tersenyum sendu.
"Aku sangat jahat, ya kan bu?"
"Seharusnya aku yang disalahkan karena kalah."
"Chanyeol, kenapa ia pergi dengan sangat tiba-tiba?"
Baekhyun sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak menangis, tetapi tidak bolehkah ia membuat pengecualian untuk hari ini saja?
"Ibu, aku lelah berpura-pura untuk terlihat kuat."
"Aku membuat ayah marah kepada Ibu,"
Hening tetap menyapa Baekhyun, beberapa nada minor dan rengekan Baekhyun adalah satu-satunya yang mengisi ruangan tersebut.
"Aku merindukan ibu, sangat sangat merindukan ibu, Baekhyun… ingin bermain piano bersama-sama seperti dulu."
TBC
Lebih dari 2900+ words untuk kalian yang masih menunggu cerita ini untuk update.
Ya, apple tau apple penuh janji kosong,
Kalau boleh jujur, apple sedih karena review, fav, follow kalian yang tiba-tiba menyusut dengan drastis,
bukan karena apple gila pujian, tetapi yang apple pikirkan adalah,
apa kalian tidak tertarik dengan cerita ini lagi?
ceritanya nggak bikin penasaran? genrenya nggak jelas? kebanyakan drama?
tolong dijawab dengan jujur, apple hanya ingin tahu pendapat kalian tentang fic ini, apple sangat berterimakasih untuk review kalian karena dengan revire-review itulah apple semangat untuk menulis dan memperbaiki kesalahan pada chapt sebelumnya.
Apple juga sangat sangat berterimakasih untuk yang masih setia menunggu lebih dari 1 minggu untuk cerita ini update /bow/
Apple nggak akan buat janji tentang update, karena takut gabisa nepatin hehehe maaf ya, tapi doakan aja semoga kesibukan apple di real life bisa sedikit berkurang, karena apple juga pengen kok update setiap hari kalau memang memungkinkan secara ide ataupun waktu.
Last, THANKS A LOT TO :
barbiebaek, RatedMLovers614, WinterJun09, veraparkhyun,
Eka915, Strawberry6104, parkobyunxo, kimchi61, Incandescence7, aeri48
