applemacaroon
05 Band-Aids and You
"I will wait for you till the day I can forget you,
or till the day you realize you cannot forget me."
-Herrycim
"Hyun… Baekhyun! Wake Up!"
Tubuh kecil itu sedikit bergerak, tetapi tidak ada tanda bahwa kedua mata tersebut akan terbuka. Jongin menghela napas, 30 menit bukanlah waktu yang sedikit untuk dihabiskan agar Baekhyun dapat bangun dari tidurnya.
Beberapa kali ia menepuk-nepuk punggung Baekhyun, posisi tidur pria kecil ini terlihat sangat tidak nyaman, terbukti dengan bagaimana salah satu sisi dari pipinya yang menempel pada tuts piano.
Ya, Baekhyun tertidur dengan posisi pipi yang menempel piano, dengan badan terduduk, dan mata yang bengkak.
"Baekhyun, please wake up." Nada suara Jongin nyaris terdengar menyerah. Ia tidak ingin telinganya kembali disembur dengan sekretaris Elbert Inc. dan Baekhyun yang berada dihadapannya ini tidak terlihat ingin bekerjasama dengannya.
"Eungg.." Baekhyun membalikkan kepala yang berada diatas tangannya yang terlipat, beberapa nada random keluar dari tuts piano dibawahnya.
"Baekhyun, jika kau tidak bangun dalam lima belas menit, aku akan menggendongmu kedalam kamar mandi."
Tubuh kecil Baekhyun tiba-tiba terduduk tegap, mendapatkan cengiran serta kekehan halus keluar dari mulut Jongin.
"Ya Tuhan, pipimu terlihat seperti cetakan kue!" Jongin tertawa keras melihat wajah setengah sadar Baekhyun, ditambah dengan cekungan pipi yang disebabkan oleh posisi tidurnya yang salah tempat.
Baekhyun cemberut, matanya masih sayu dan terlihat sembab karena terlalu banyak menangis. "Jam berapa sekarang?" Baekhyun bertanya kepada Jongin seraya menggosok matanya.
"Nyaris terlambat untuk pertemuan selanjutnya."
Mata Baekhyun membelalak, ia segera berdiri dari tempat duduknya, tergopoh-gopoh hingga pinggulnya menyerempet badan besar piano.
Jongin menggeleng-gelengkan kepalanya, padahal niatnya kan hanya ingin bercanda saja.
applemacaroon
"Ah, ini Baekhyun, anakku."
Baekhyun membungkuk, memberi salam kepada pria paruh baya dihadapannya. Ayahnya berdiri disampingnya dengan senyum lebar, tangannya menepuk-nepuk punggung Baekhyun dengan bangga.
Dasar Jongin sialan, jika tahu ayahnya akan ikut berada di pertemuan ini, ia tidak akan pulang ke apartemennya terlebih dahulu, mengingat betapa dirinya ingin ayahnya mengakui bahwa Baekhyun bukan laki-laki lemah yang –nyaris terlihat- baru saja menangis.
Ingatkan Baekhyun untuk menendang bokong Jongin.
"Mr. Byun Baekhyun, nice to meet you, we can finally meet." Laki-laki yang tidak ia ketahui identitasnya itu mengangkat tangannya, memberi isyarat untuk berjabat tangan yang tentu saja disambut oleh Baekhyun dengan senyuman.
Ketiga laki-laki itu (minus Jongin, ia harus menunggu diluar) duduk di salah satu ruang makan private di salah satu hotel yang dimiliki oleh Slvur n Co. Beberapa makanan terlihat berjejer tepat ditengah-tengah tempat duduk mereka.
Ruangan tersebut berada di salah satu lantai atas, dengan jendela setinggi tembok berada di dua sisi dinding, memperlihatkan suasana malam dan berjuta-juta lampu di kota Seoul, juga sekelompok pemain musik yang berada di panggung kecil di sebelah meja makan mereka.
"Presiden Direktur kami akan datang sebentar lagi, tolong maafkan keterlambatan ini." Laki-laki itu sedikit berdiri dari tempat duduknya, lalu membungkuk kearah Mr. Byun dan Baekhyun, yang disambut dengan gelengan ringan dan senyuman setengah hati dari Baekhyun.
God, Presiden Direktur apa yang terlambat di pertemuan seperti ini?
Baekhyun adalah seorang Direktur, dengan ayahnya yang merupakan Presiden Direktur dari perusahaan yang mereka kelola, maka jika ayahnya berada di sampingnya saat ini, maka pertemuan kali ini akan sangat penting sekali, mengingat bagaimana ayahnya yang jarang datang ke kantor maupun pertemuan besar sekalipun.
Seorang waiter menuang sebotol Screaming Eagle Cabernet Sauvignon yang membuat Baekhyun semakin yakin bahwa ada sesuatu yang aneh dari pertemuan kali ini, apalagi dengan botol wine super mahal hanya pada pertemuan pertama?
Alunan alat musik di ruangan tersebut membuat Baekhyun membuang pikirannya jauh-jauh, setidaknya setelah menghabiskan seperempat sore harinya dengan menangis, tubuhnya butuh suatu pelampiasan bukan?
Diangkatnya gelas tersebut, memberi isyarat cheers yang disambut dengan senyuman ayahnya dan pria dihadapannya. Lagu yang memenuhi ruangan tersebut menawarkan suasana classy yang tidak mungkin Baekhyun tolak untuk merilekskan dirinya sendiri.
Masa bodoh dengan mabuk, setidaknya Jongin berada di luar untuk mencegahnya melakukan hal-hal bodoh.
"Maafkan keterlambatanku," Baekhyun mendengar suara berat laki-laki yang muncul disampingnya tepat saat ia siap untuk menuangkan anggur tersebut kedalam kerongkongannya.
Laki-laki itu, Richard Park, berdiri di sebelahnya dengan tangan yang menahan gelasnya.
"Ah, Mr. Byun, sudah lama sekali tidak bertemu." Chanyeol tersenyum kearah ayah Baekhyun lalu membungkuk, yang anehnya juga disambut dengan hangat oleh ayahnya, sementara pria dihadapan Baekhyun berdiri dan membungkuk 90 derajat.
"Kau- sedang apa kau disini?" Baekhyun menatap mata Chanyeol, tidak berdiri barang satu sentimeter dari tempat duduknya.
Satu jitakan lembut singgah dikepala Baekhyun, tidak lain karena ayahnya yang duduk disampingnya, "Manner, Baekhyun." Pelototan lembut didapatkan oleh Baekhyun. "Maafkan anakku, Chanyeol, dia tumbuh menjadi pria yang kurang sopan." Ayah Baekhyun mempersilahkan Chanyeol untuk duduk dihadapan Baekhyun, menggantikan si pria-paruh-baya yang sedaritadi masih membungkukkan tubuhnya.
Chanyeol tersenyum maklum dan mengangguk, sementara Baekhyun melemparkan raut wajah kesal, matanya menatap tajam terhadap apapun yang Chanyeol lakukan, termasuk melepaskan gelas wine yang sudah akan diminumnya, lalu meneguknya sendiri.
"Kau tidak bisa minum wine." Sergah Chanyeol.
Baekhyun memilih untuk melemparkan pandangannya, sementara Chanyeol menepuk punggung si pria yang masih membungkukkan tubuhnya.
"Sudah berapa kali aku memintamu untuk tidak membungkuk kepadaku, hyung?"
Cih, kata-kata 'sok baik' dan 'Richard' memang klop sekali.
applemacaroon
Makan malam (Baekhyun menolak untuk memberi nama 'pertemuan' karena apapun yang terjadi, Baekhyun tahu kejadian ini pasti karena adanya sesuatu) kali ini diisi dengan bagaimana Ayah Baekhyun dan Chanyeol berbincang-bincang, entah tentang karir Chanyeol di Amerika ataupun bagaimana Baekhyun yang sebentar lagi akan mengisi kursi Presiden Direktur.
Butuh beberapa waktu sampai Baekhyun menyadari bahwa Chanyeol adalah Presiden Direktur dari Elbert Inc, atau dengan kata lain orang yang memiliki jabatan tertinggi, maupun pemegang saham terbesar, dan laki-laki yang ia-tidak-ketahui-namanya itu ternyata adalah tangan kanan Chanyeol, seingat Baekhyun, namanya adalah… David?
Seberapa banyak yang tidak Baekhyun ketahui dari Chanyeol semenjak 15 tahun berlalu dibelakang mereka?
Sebanyak apapun itu, Baekhyun tidak mau tahu.
"Chanyeol, apa kau tidak akan memainkan piano untukku? Sudah lama aku tidak mendengarkanmu memainkannya." Ayah Baekhyun bertanya kepada Chanyeol, yang tentu saja diangguki oleh pria bertelinga lebar itu. Baekhyun memutar matanya, decihan halus keluar dari kedua belah bibir yang hanya terdiam sedari tadi.
untung saja tidak ada yang sadar kecuali Chanyeol, tentu saja.
Laki-laki tinggi itu berdiri dari tempat duduknya, memberi isyarat kepada pemain musik dipojok ruangan untuk berhenti bermain dan keluar dari ruangan tersebut.
Chanyeol, dengan jas yang sudah ditanggalkan, melepas kancing kemeja putih pada pergelangan tangan, lalu menggulungnya hingga sebelum siku. Mau tidak mau dengan duduknya Chanyeol di kursi tempat bermain musik tersebut, semua mata di ruangan harus tertuju padanya.
Sebenarnya Baekhyun tidak mau mendengar Chanyeol bermain apapun, tetapi dengan ayah disiplin yang berada di sebelahnya, ia tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti arah makan malam ini.
"Kali ini aku tidak akan bermain piano, Mr. Byun, semua orang dapat mendengarkanku bermain piano, tetapi anda sudah menjadi keluargaku, maka bermain piano sungguh bukan sesuatu yang harus kutunjukkan padamu."
Baekhyun mendecih dalam hati.
Chanyeol meraih sebuah gitar akustik, hati Baekhyun sedikit meringis melihat lebam biru yang samar berada di tangan laki-laki itu.
Suara senar gitar terdengar di seluruh penjuru ruangan, beberapa nada sedih keluar dari gitar yang berada di tangan Chanyeol, Baekhyun merasakan cubitan dihatinya. Lagi.
(BGM : If We Love Again – Chanyeol, Chen)
If we're born again, if we love again,
(Jika kita dilahirkan kembali, jika kita saling mencintai lagi)
Let's not do this again.
(Mari jangan melakukan hal seperti ini lagi)
Let's meet a little less.
(Mari kita tidak banyak bertemu)
Let's hope a little less.
(Mari berharap lebih sedikit terhadap satu sama lain)
Baekhyun bersumpah Chanyeol sedang bernyanyi dengan mata yang tertuju ke arahnya.
Let's not make any promises.
(Mari jangan membuat banyak janji)
So even if we said goodbye, we can turn away without so much pain.
(Sehingga jika kita mengucapkan selamat tinggal, kita dapat melaluinya tanpa terlalu banyak rasa sakit)
Let's only make light memories that we can throw away.
(Mari membuat sedikit kenangan yang dapat kita buang)
"Nak, dia benar-benar mencintaimu," ayah Baekhyun berbisik ditelinganya, memberi rasa merinding menjalar di tengkuk Baekhyun. Baekhyun menoleh kearah ayahnya dengan raut wajah bingung, "Apa maksud ayah?"
"Maafkan ayah, Baekhyun."
"Apa?"
Now I know that love too deep,
(Sekarang aku tahu, bahwa mencintai terlalu dalam,)
Brings a sad ending.
(Akan membawa akhir yang menyedihkan)
"Pegang dia sebelum terlambat, Baekhyun. Jangan biarkan orang yang melakukan seluruhnya untukmu pergi dari hidupmu. Jangan menyesal jika ia pergi darimu. Jangan menyesal seperti yang ayah rasakan terhadap ibumu." Ayah Baekhyun menepuk pundak Baekhyun, lalu beranjak dari tempat duduknya bersama dengan David setelah tersenyum kepada Chanyeol.
Suara Chanyeol adalah satu-satunya suara yang terdengar didalam ruangan tersebut.
Please, be happier than me.
(Tolong, lebih berbahagialah dariku)
Even if a lot of time passes and we forget about each other,
(Bahkan jika banyak waktu yang akan berlalu, dan kita lupa akan satu sama lain)
Let's reminisce our past days
(Mari kita mengingat hari terakhir yang kita lalui)
If we can say that this was love,
(Jika kita dapat mengatakan bahwa ini semua adalah cinta)
Then that's all we need
(Maka itulah yang kita butuhkan)
Chanyeol melepaskan gitar itu dari genggamannya, menepuk tangannya satu kali, dan Baekhyun merasakan kegelapan berada disekitarnya, satu-satunya sumber cahaya adalah jendela besar di ruangan temaram itu.
Baekhyun merasakan Chanyeol berjalan kearahnya. Laki-laki yang lebih tinggi darinya tersebut berdiri di sampingnya yang masih membeku dalam posisi terduduk.
Chanyeol merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah benda kecil, lalu menarik lembut tangan Baekhyun, berlutut disampingnya.
"Aku benar-benar minta maaf , Baekhyun."
Baekhyun masih terdiam, mencerna hal-hal yang masih berkeliaran di otaknya.
Chanyeol melilitkan sebuah benda di jari-jarinya, sebuah plester luka.
"Aku tidak ada disana saat kau bersedih, ya aku tahu, Baekhyun. Tetapi setidaknya dengarkan aku, berhenti memenjarakan hatimu di masa lalu."
"Berhenti menyakiti dirimu sendiri," lanjut Chanyeol mengelus jari Baekhyun, memandanginya dengan sendu. Ia mendekatkan jari-jari lentik itu kearah pipinya, menangkupkannya, merasakan kasar plester yang bergesekan dengan wajahnya.
"Aku berangkat ke Amerika untukmu, Baekhyun."
Baekhyun tersadar dari pikirannya, lalu berdiri dari tempat duduknya, tatapannya menajam kearah Chanyeol. Sementara yang ditatap juga ikut menegakkan tubuhnya, membuat Baekhyun merasa kecil setelah berdiri didepannya.
"Aku mencintaimu." Chanyeol menangkupkan tangannya ke pipi Baekhyun, berusaha membuat Baekhyun mengerti dengan tatapannya, bayangan didalam matanya melembut, menatap Baekhyun dengan tatapan dimana ia merasa bahwa segala isi alam semesta seolah tidak bisa dibandingkan dengan laki-laki dihadapannya ini.
"Aku mencintaimu." Chanyeol mengulangi perkataannya.
Demi Tuhan, Baekhyun ingin pergi dari tempat ini, mengubur dirinya hidup-hidup saat jantungnya tidak berbohong bahwa hatinya tercubit saat melihat Chanyeol mengakui perasaannya.
"Sorry doesn't fix anything, yeol. Sorry doesn't mean we can turn back time. Sorry doesn't mean that you'll be there for me, Sorry doesn't mean that you can bring my old self back." Baekhyun membuka mulutnya, tidak sadar bahwa ia memanggil Chanyeol dengan nama aslinya. Suaranya menjadi sedikit sengau.
"Aku tidak memiliki perasaan yang kau miliki untukku." Baekhyun mengalihkan pandangannya dari Chanyeol, membuat kedua tangan yang menangkup pipinya terlepas begitu saja.
"Katakan sekali lagi, Baekhyun. Katakan jika kau tidak memiliki perasaan untukku." Chanyeol masih menatap Baekhyun dengan lembut.
Chanyeol tahu bahwa Baekhyun bisa saja berbohong, dan detik-detik yang terbuang sebelum Baekhyun membuka mulutnya adalah bukti bahwa Baekhyun membohongi dirinya sendiri.
"Ya, aku tidak memilikinya." Baekhyun menjawab pertanyaan Chanyeol.
Chanyeol melangkah kebelakang, membiarkan Baekhyun memiliki tempat yang cukup untuk bernapas.
"Kalau begitu kau boleh pergi dari sini." Chanyeol tersenyum, menunggu Baekhyun untuk melangkah keluar dari ruangan ini, dan entah mengapa Baekhyun merasakan sesak didalam dadanya.
Baekhyun melangkah keluar, kakinya berjalan dengan lambat dan tidak yakin.
Banyak pikiran berkelebat di kepala Baekhyun, apa benar ini yang kau mau? Baekhyun bahkan tidak bisa menjawab pertanyaan yang ia ajukan kepada dirinya sendiri.
Saat ia hanya berjarak beberapa langkah dari pintu, Baekhyun menoleh, "Tanganmu… tolong maafkan perilaku Kris yang-"
Chanyeol berjalan dengan cepat kearah Baekhyun, mendorong laki-laki itu kearah dinding dibelakangnya, mengukungnya diantara tubuhnya dan dinding, lalu berbisik.
"I love you."
Chanyeol menempelkan kedua bibir mereka, membiarkan perasaan masing-masing terhanyut tanpa sebuah kata terucap secara lisan, membiarkan Baekhyun tahu seberapa besar Chanyeol mencintai laki-laki yang membuatnya bahagia bahkan jika hanya melihatnya dari kejauhan.
Ciuman pertama mereka, tidak seperti banyak pasangan lainnya, tidak terasa manis.
Kemarahan, perasaan yang telah dikhianati, keinginan yang tidak tercapai. Semua emosi itulah yang tertuang dalam bibir mereka yang menyatu.
Baekhyun merasakan seluruh emosinya terkuras habis, membiarkan dirinya menangis saat Chanyeol menciumnya lebih dalam, memeluknya dengan hangat.
"I love how your fingertip dance on the piano, I love how all songs that we play turned into our love song, I love how your eyes look at me when we play the piano together, Baekhyun. Dan aku tidak ingin ada orang lain yang melihatnya, aku tidak ingin kau tersenyum kepada orang lain seperti kau tersenyum kepadaku."
Baekhyun menggenggam kemeja Chanyeol dengan kuat, berusaha menghentikan sesenggukannya, tetapi air matanya tidak berhenti.
"Pikirkan lagi alasan mengapa kau membenciku, Baekhyun. Apakah itu karena alasan yang kau katakan padaku, atau karena kau tidak ingin aku pergi darimu."
Baekhyun menatap mata Chanyeol lekat-lekat, membiarkan Chanyeol melihat matanya yang sembab.
"After you go, I'm trying to earn my heart, piece by piece again, idiot."
Chanyeol menempelkan kedua dahi mereka bersama, menyisakan sedikit jarak diantara mereka berdua, "Stop crying, air matamu terlalu berharga untuk kau tumpahkan begitu saja, love."
Baekhyun mendorong dada Chanyeol, memisahkan jarak diantara mereka, lalu menghapus air matanya dengan kasar, "Ini tidak benar." Lanjutnya. Mata Baekhyun menatap Chanyeol dengan tatapan diantara sedih dan tidak percaya.
"Aku meminta izin kepada ayahmu untuk menjadikanmu milikku, Baek. Aku ingin menjadikanmu milikku tepat pada kompetisi ke 27, kau ingat tentang janji itu?"
Chanyeol mengacak rambutnya, frustasi dengan laki-laki didepannya.
"Ayahmu tidak mengizinkanku memilikimu, karena kita terlalu berbeda, Baekhyun. Aku adalah anak yang tidak memiliki segalanya sementara kau berasal dari keluarga yang terhormat."
Baekhyun menggelengkan kepalanya tidak percaya, tangannya terkepal dengan erat, "Ayah tidak akan melakukan hal seperti itu."
"Ya, Baekhyun, dia melakukannya. Kau tahu apa yang aku lakukan? Demi semua yang aku miliki saat itu, Baekhyun. Aku berlutut dihadapannya, membuang semua egoku hanya untuk memilikimu."
Chanyeol menempatkan kedua tangannya di bahu Baekhyun, mendapatkan kepala yang dipalingkan, tidak ingin melihat kedalam matanya.
"Ia hanya mengizinkanku memilikimu jika aku pergi pada hari dimana kompetisi kita dilaksanakan, ia ingin kau menjadi penerus perusahaannya, bukan seorang pianis. Dan yang harus kulakukan adalah menyamakan level yang ayahmu inginkan, mendapat pengakuan ayahmu. Aku melakukannya selama lima belas tahun, Byun Baekhyun. Hanya untukmu. Berhenti menjadi egois, Baekhyun."
Napas Baekhyun tercekat.
"You have so much time to explain. Aku bukan satu-satunya yang menjadi egois saat ini. Kau juga melakukannya. Where are you when I fell on my knees? Or when I cry my lungs out? Where are you, Chanyeol? Kau bahkan tidak menghadiri pemakaman ibu, Kris yang kau benci bahkan berada disana."
Chanyeol berjalan maju mendekati Baekhyun, membuat Baekhyun berjalan mundur hingga terhimpit oleh tembok, lalu menempatkan tangan kanannya tepat disebelah telinga Baekhyun.
"Kau tidak membacanya," Chanyeol mengeluarkan suara dengan nada rendah, Baekhyun sadar bahwa Chanyeol telah kehabisan kesabarannya. Hatinya menciut, amarah Chanyeol adalah satu-satunya kemarahan yang dapat membungkam dirinya, membuatnya takut hingga ke sendi-sendi didalam tubuhnya.
Tetapi, membaca apa?
Baekhyun merasakan sebuah ciuman halus di kepalanya, "Tolong, Baekhyun, pergi dari sini sebelum aku kehabisan kesabaranku untukmu. Aku tidak ingin menyakitimu, jadi tolong, Baekhyun, pergi dari sini."
"Tidak, seperti yang kau inginkan, aku tidak akan pergi dari kenyataan, Chanyeol."
Cukup sudah.
Mata Baekhyun terbelalak saat melihat kepalan tangan Chanyeol yang meninju dinding disebelahnya, ia tahu bahwa itu akan meninggalkan luka, terlebih, Chanyeol menyakiti jari-jarinya.
Chanyeol berjalan menjauh darinya, "Tiga hari lagi, Baekhyun. Aku sudah berbuat apapun agar kau sadar, tetapi sepertinya itu sia-sia saja. Kau memiliki waktu tiga hari sebelum resital, jika kau tidak datang, maka itu adalah yang terakhir untuk kita."
TBC
terimakasih untuk semuanya yang telah memberi kritik dan saran ((bow)) :
Apple sangat bersemangat untuk menulis chapter kali ini, karena chapter ini isinya tentang chanbaek yayy!
Review Ans! :
MadeDyahD : Terimakasiii sudah mengikuti cerita ini dari chapter awal awal! Masih penasaran nggak nih kira-kira? hehehe luvvv ya!
Inspirit7starlight : Terimakasi sudah menunggu chapter sebelumnya untuk update, so here it is, the new chapt for ya!
KertasBee : Maafkan apple bikin kamu nunggu T-T hehehe Baekhyun mah sukanya gitu, boongin perasaan mulu padahal juga klepek klepek sama cy! hmmm Kris mah ganteng ganteng nyebelin di cerita ini kkk~ love ya!
mellindabbh : XD chapter ini banyak chanbaek momentnya kok! And kalo jadi bbh mah bingung mau pilih yang mana abisnya PHOnya ganteng semua sih kekeke
veraparkhyun : Thankyou! your review r soooooo sweet! Ikr, harusnya bbh dengerin pcy dulu baru ngambek yakan? hehehe but di chapter ini udah keungkap nih penjelasannya pcy XD thanks for your review! loveyaaa !
Eka915 : yayyy thanks!
WinterJun09 : Thankyouuu T-T your review really made my day! hmmm untuk arti everyours, bakal dikasih tau di chapter selanjutnya, so please wait for it! And tbh i stalk your profile, read your story, and it's soooooooo good! I will left my review there because i love your storyline! Loveyaaa!
Aerellia : tolong kasih tahu apple dimana yang kurang jelas, karena apple juga ingin tahu kekurangan fic ini, dan semoga yang kurang jelas itu terjawabkan(?) di chapter ini yaa! loveyaaa
Byuncheese : hmmm sepertinya emang sedikit terlalu lambat karena di setiap chapter, apple cuma nulis 2k T-T padahal seharusnya bisa digabung jadi satu chapter, maaf yaa. And, semua masalahnya belum kekuak sampe habis, jadi baca terus yaaa! Loveeyaa
Incandescense7 : Masih kurang nge-feel nih tapi T-T apple bakal terus berusaha biar kalian semua banjir air mata but it's still a looooong way to go there! Thankyou for liking this story, and i loveyaa!
THANKS FOR ALL FAV/FOLLOW/AND REVIEW! ily guys so much!
((maaf jika ada typo atau kesalahan penulisan maupun grammar))
