applemacaroon

06 I Wrote Them For You

"i felt her absence. it was like waking up one day with no teeth in your mouth. you wouldn't need to run to the mirror to know they were gone"
James Dashner, The Scorch Trials


Baekhyun bergelung didalam selimut, berusaha sebaik mungkin agar tidak tersentuh oleh dunia luar.

Tiga hari telah berlalu begitu saja dengan Baekhyun yang memutuskan untuk mengunjungi kembali apartemen lamanya, yang entah sejak berapa lama telah ditinggalkan.

Ia sendiri tidak tahu apakah itu pilihan yang benar atau tidak.

Awalnya, niat Baekhyun mengunjungi apartemen lamanya adalah karena kata-kata Chanyeol yang terus terngiang-ngiang diotaknya dengan begitu mengganggu.

"Kau tidak membacanya,"

Baekhyun masih ingat betul cara bibir Chanyeol mengucapkan kalimat itu. Dirinya bahkan sangat yakin Chanyeol mengucapkannya dengan nada marah, sarat akan kekecewaan, dan entah darimana, satu-satunya tempat yang terlintas di benaknya adalah apartemen lamanya.

Benar saja.

Kotak karton dengan tinggi sebatas pinggangnya menunggu dibalik pintu, dengan debu yang membuat Baekhyun tidak dapat berhenti bersin selama nyarissatu jam. Butuh waktu sekitar setengah jam (dengan bersin yang tidak dapat dihindari) untuk mengeluarkan seluruh benda didalam kotak itu.

Baekhyun tidak pernah diberi kabar bahwa ia mendapatkan surat sebanyak ini, dan ia sangat yakin bahwa ia telah menyewa seorang bibi yang biasa membersihkan apartemennya saat ia tidak ada disini (Tepatnya lima belas tahun saat ia tidak ada disini).

Beberapa surat yang mencuat dari dalam kotak masih memiliki amplop putih bersih, pertanda bahwa surat itu setidaknya dikirim tidak lama sebelum ia datang kesini, dan mungkin saja baru dijejalkan kedalam kotak oleh si bibi yang pulang sebelum ia tiba.

Surat tagihan (sudah dibayar, tentu saja!), beberapa surat iklan, dan kira-kira delapan tumpuk surat lainnya.

Delapan tumpuk surat, dari Park Chanyeol, beserta beberapa paket dengan nama pengirim yang sama.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk Baekhyun menyeduh teh dan duduk di kasur dengan meja kecil penuh dengan surat.

Baekhyun membuka amplop pertama, amplop yang sudah berkerut dan sedikit lusuh.

Teruntuk, Byun Baekhyun.

Hei, pumpkin.

Aku baru saja tiba di New York, dan satu-satunya yang terlintas di benakku adalah menguhubungimu secepat yang aku bisa, dan yang kudengar darimu hanyalah sambungan ke kotak pesan.

Kau sangat marah padaku ya?

Maafkan aku, kau boleh memukulku, menendang bokongku, atau apapun yang kau inginkan agar kau dapat memaafkanku, oke? Oh, dan aku telah mengajari Sehun dengan penuh siksaan. Aku tahu kau bisa melaluinya tanpaku.

Aku berharap yang terbaik untukmu, pumpkin. Aku akan kembali secepat yang kubisa.

Everyours, Park Chanyeol.

Baekhyun tersedak tehnya, terbatuk-batuk hingga melepas surat yang berada digenggaman tangannya. Memang, sesaat setelah Chanyeol pergi, tiba-tiba saja telepon genggamnya hilang, dan alasan mengapa ia tidak pernah menerima surat Chanyeol adalah karena ia pindah dari apartemen itu.

Pindah karena merasa dikecewakan oleh si bodoh Chanyeol.

Ia ingat benar bahwa ayahnya melarangnya untuk kembali ke apartemen lama, dengan alasan bahwa apartemen barunya lebih dekat dengan kantor.

Tidak terlintas dibenaknya sama sekali bahwa ayahnya-lah yang berniat memisahkannya dengan Chanyeol.

Baekhyun membuka surat selanjutnya dengan sangat tergesa-gesa.

Teruntuk, Byun Baekhyun.

Kau masih sangat marah ya?

Maafkan aku, memang itu yang pantas kudapatkan karena meninggalkanmu tanpa jejak.

Aku mendengar pengumuman kontes piano itu.

Baekhyun, tolong berjanji padaku bahwa kau tidak akan jatuh begitu saja, aku berjuang disini sama sepertimu, jangan biarkan mimpimu tertinggal begitu saja.

Mulai minggu depan aku tidak bisa menghubungimu lagi, dan kau masih saja mendiamkanku, tidak membalas telepon, pesan, bahkan emailku. Aku akan berada di karantina yang ketat untuk sebuah pengembangan bakat.

Aku sangat merindukanmu.

Berkali-kali aku menemukan diriku sendiri melamun didepan kertas partitur yang kosong, aku bahkan merindukan jitakan tanganmu dikepalaku, lucu kan?

Setidaknya, bukalah kotak emailmu.

Everyours, Park Chanyeol.

Baekhyun tidak pernah tahu kapan terakhir kali ia mengetikkan password dengan sangat frustasi, mencoba membuka email lamanya.

Loading yang begitu lama seakan-akan menyesakkan dada Baekhyun, Ia merasakan degupan yang luar biasa cepat, jantungnya seperti akan lepas.

6790 new email.

Ya Tuhan. Baekhyun merasa bahwa ia manusia terburuk yang pernah hidup di dunia.

Fr: pcypark

To : baekhyunbyun

Subject : [untitled]

Aku sangat marah terhadap diriku sendiri.

Aku sangat menyesal tentang apa yang terjadi padamu, soal lomba itu, soal semuanya, aku bahkan tidak tahu apakah aku masih pantas untuk mengucapkan kata maaf. Aku merasa seperti orang yang sangat egois.

Dan aku, dengan tidak tahu malunya, masih ingin kau tahu bahwa aku masih sangat mencintaimu. Kau boleh membenciku- tidak, kau harus membenciku, bukankah seharusnya begitu?

Maaf. Maafkan aku.

Baekhyun merasa bahwa sendi-sendinya membeku.

Ia merasa tertekan.

Selama ini, Chanyeol memberitahunya tentang semuanya, ia mengucapkan selamat tinggal kepadanya, dan Baekhyun dengan bodohnya mengabaikan itu semua, membuat seorang Park Chanyeol merasa bersalah akan dirinya sendiri.

Ia mengeluarkan I-pod yang entah seri tahun keberapa, dan membuka folder musik, pemberian Park Chanyeol yang dikirim entah kapan.

Rekaman suara Chanyeol, rekaman piano, dan beratus-ratus kata maaf yang ia rekam setiap harinya.

"Hari ini adalah hari ulang tahunmu, selamat ulang tahun, penggerutu, Aku mencintaimu." Adalah kalimat pada file dengan nama Record 001 [Happy Birthday, pumpkin].

Sobekan demi sobekan ujung amplop, dan beratus-ratus unread message benar-benar membuat Baekhyun sesenggukan. Apalagi dengan earphone yang terhubung pada I-pod pemberian Chanyeol.

Sesenggukan Baekhyun berubah menjadi tangisan yang keras saat ia membaca surat Chanyeol, dengan tanggal sekitar empat hari setelah kematian ibunya.

Baekhyunku,

Aku tidak akan mencegahmu untuk menangis, menangislah hingga kau merasa lega.

Yang perlu kau tahu adalah aku akan selalu ada disini untuk menghiburmu, dan aku mencintaimu, seperti ibumu.

Aku tahu itu tidak bisa dibandingkan, tetapi aku hanya ingin kau tahu bahwa kau sangat dicintai, tidak hanya olehku, tetapi oleh orang-orang disekitarmu juga.

Aku sangat mencintaimu, tolong ingatlah itu.

Saat kau membaca surat ini, percayalah bahwa aku telah pergi mengunjungi ibumu di pemakaman, tetapi aku belum siap untuk menemuimu, masih banyak hal yang harus kulakukan sebelum aku dapat berdiri dengan bangga dihadapanmu.

Everyours, Richard Park.

Surat ini adalah alasan Baekhyun hanya bergelung di kasur selama tiga hari, dan tidak berniat bangun bahkan untuk ke kantor. Jongin bahkan berusaha menghubunginya, dan semua missed call itu berhenti saat Baekhyun menerima telepon Jongin dengan sesenggukan.

Baekhyun masih ingat bagaimana Jongin menghela napas, lalu berkata kepadanya, kalimat yang benar-benar menusuk kedalam hatinya.

"Aku sudah mengatakannya,tinggalkan masa lalumu, dan lihat apa yang kau lakukan? Kau membuang masa depanmu demi masa lalu yang belum tentu benar."

Saat itu, Jongin langsung menutup telepon saat Baekhyun mengeluarkan seluruh umpatan dengan sesenggukannya yang tidak berhenti. Benar-benar menyebalkan.

Baekhyun menatap langit-langit kamarnya, hatinya seakan tersadar saat matanya melihat dengan jelas adanya stiker-stiker berbentuk bintang yang bersinar di kamarnya yang gelap karena gorden yang tertutup.

Mereka –Chanyeol dan Baekhyun- dulunya menempelkan bintang itu bersama-sama.

Kesadaran laki-laki kecil itu kembali saat ia mendengar suara reminder dari smartphone -nya, menampilkan layar dengan kalimat yang digaris bawahi.

Richard Park Recital, 15:00-18:00

Tertegun, Baekhyun melirik kearah jam dinding.

Sial.

25 menit sebelum Chanyeol mengakhiri resitalnya hari ini.


applemacaroon


Tuts yang bergerak turun terangkai menjadi melodi yang menyesakkan dada. Perasaan sedih yang menyesakkan tidak dapat disembunyikan seiring dengan berlanjutnya dentingan piano pada jari yang menghasilkan nada penuh rasa kecewa.

Beberapa kali ekor mata Chanyeol melirik kearah bangku VVIP dengan nomor 27, menantikan pria manis yang menjadi pujaan hatinya, dan untuk kesekian kalinya, mata Chanyeol hanya menemukan kekosongan yang mencubit hati kecilnya.

Baekhyun tidak ada disana.

Chanyeol kira pria kecil itu menampakkan diri setidaknya satu detik, dan ia tidak pernah menginginkan pria itu melebihi saat-saat seperti ini.

Chanyeol memainkan lagu yang seharusnya mereka mainkan pada kompetisi piano, ia ingin Baekhyun tahu bahwa lagu ini juga merupakan sebuah akhir dari fase hidupnya yang pertama, mengantarkannya pada rasa bersalah yang mengukungnya lebih dari 15 tahun.

Dan ia juga ingin Baekhyun tahu bahwa ia masih mencintainya, sangat.

'Nocturnal Waltz' milik Johannes Bornlof, tidak pernah terdengar sesedih ini sebelumnya.


applemacaroon


Nada sambung pada hands-free di telinga Baekhyun terdengar sangat menyebalkan.

Bibir Baekhyun tidak berhenti mengeluarkan umpatan kepada orang yang berada di seberang panggilannya, sementara kakinya sibuk mengatur kecepatan mobil, menyalip beberapa mobil didepannya.

Tidak jarang Baekhyun melihat orang-orang yang menyumpahinya kembali, atau memberikan Baekhyun jari tengah dari samping kaca mobil karena kecepatan mobil Baekhyun yang berada diatas rata-rata. Tetapi ia sama sekali tidak perduli.

"Jongin dumb-ass! Apa mengangkat panggilan sama beratnya dengan mengangkat otaknya ke kantor?" Baekhyun menggerutu, setiap detik yang dibuangnya terasa seperti menggunakan kondom yang berlubang, sangat tidak berguna.

Dua detik berharga miliknya terbuang sia-sia.

"Yeah, Baekhyun. Ada apa?" Suara serak basah Jongin menyapa telinga Baekhyun. Membuat Baekhyun mendecih karena sebal.

"Fuck you Jongin, apa kau baru saja melakukan seks di kantor? Your voice dammit!" Baekhyun merengut sebal, meninggalkan Jongin yang tertawa terbahak-bahak diujung panggilannya. Baekhyun masih saja menyumpah.

"Of course no, Baekhyun. Kecuali jika sexy-ass milikmu menggodaku untuk melakukannya." Suara tawa Jongin masih terdengar menyebalkan ditelinga Baekhyun.

"Jangan bermimpi, aku akan memotong gajimu tepat saat kau melepas celanamu."

"Yeah, kau bisa memotong gajiku kapan saja asalkan aku mendapatkan jiggly-ass mu dasar bodoh." Jongin si otak kotor kembali menggodanya, dan Baekhyun menghentikannya dengan ancaman akan memotong si kecilnya dengan gunting tanaman.

Ia dapat merasakan Jongin meringis membayangkan miliknya dipotong dengan gunting, dan saat Baekhyun merasa ia sudah dapat 'mengendalikan' si otak kotor, ia bertanya,

"Jadi, kau mau membantuku atau tidak?"

Jongin mengiyakan keinginan Baekhyun setelah mendengar bahwa si pria bulan sabit ini memintanya untuk menahan Chanyeol di tempat resital selama yang ia bisa (To be honest, Baekhyun mengancamnya untuk menurutinya).

Panggilan terputus saat Jongin memberitahu Baekhyun bahwa Kris juga ada disana.


applemacaroon


"Jadi, kau ingin bersaing secara sehat untuk mendapatkan Baekhyun?" Chanyeol melihat laki-laki setengah foreigner yang berdiri dihadapannya. Matanya meneliti penampilan si kurang ajar yang dengan seenaknya meminta persaingan secara sehat setelah beradu tinju dengannya beberapa hari yang lalu.

"Yeah, karena dengan tidak adanya Baekhyun di resitalmu ini, sepertinya eksistensimu dihatinya juga sudah tidak ada lagi bukan?" Kris menatap Chanyeol tepat dimatanya, mengadu kedua mata elang tersebut bersama.

Chanyeol menghela napas, memasukkan tangannya di saku tanda tidak suka.

Dilihat dari sisi manapun, laki-laki kurang ajar ini masih tidak bisa mendapatkan kepercayaannya.

"Apa saja yang sudah kau lakukan dengan… Baekhyun? Setidaknya aku harus mengetahui levelmu sebelum bertanding. Benar kan? Wu Yi Fan?" Chanyeol menatap Kris tidak suka, antara sebal dan ingin tahu.

"To be honest, aku tidak pernah benar-benar melakukan seks dengannya. Ia selalu menolak tepat saat aku akan memasukkannya. For your information only." Kris mengatakan kalimat tersebut dengan nada setengah tidak yakin.

Chanyeol menatap laki-laki itu dengan wajah mengerut jijik. Membayangkan laki-laki dengan darah campuran itu telanjang tentu tidak termasuk dalam wishlist Chanyeol.

"Ew fuck no dude, aku tidak tertarik dengan kehidupan seksmu. Yang ingin kuketahui adalah seberapa banyak kau mengenali Baekhyun dan hidupnya?" Chanyeol membuat postur setengah muntah dengan alis mengerut menahan mual.

Kris terdiam agak lama, otaknya berputar, bahkan dirinya sendiri tidak tahu apa yang akan ia katakan.

"Bahwa Baekhyun menyukai piano? Atau bahwa ia tidak bisa meminum wine ataupun Champagne?" Nada yang keluar dengan logat inggris tersebut terdengar tidak yakin.

Senyum si-orang-yang-bertanya tiba-tiba melebar.

Baekhyun menutup diri dari Kris, ia juga tidak mempercayai laki-laki itu.

"Baiklah, kuterima tantanganmu, mari kita bersaing secara se-" Tangan Chanyeol terangkat untuk menjabat tangan Kris, dan nyaris saja dibalas oleh Kris jika saja-

"Tidak tidak tidak! Chanyeol, berhenti membuat perjanjian dengan semua orang!"

-pria manis dengan sweater biru muda yang kebesaran, celana pendek, dan sneakers converse merah tiba-tiba berteriak disebelah mereka. Sontak saja kedua pria tinggi tersebut menoleh kearah sumber suara yang sangat mereka kenal dengan baik.

Kedua pasang mata itu melihat si kecil, dengan napas yang terengah-engah, keringat di dahi, dan bibir yang mengerucut sebal.

Dan –oh shit- terlihat sangat seksi.

"Kris, aku… aku… mencintai laki-laki ini, jadi jangan bawa ia pergi dariku…kumohon," Baekhyun menunduk, jarinya menunjuk kearah dada Chanyeol. Yang ditunjuk masih terdiam, berusaha mencerna kejadian yang tiba-tiba saja terjadi.

Beberapa detik kemudian chanyeol merasa bahwa ia terbang bersama dengan unicorn dan gula kapas saat ia sadar bahwa Baekhyun berkata bahwa pujaan hatinya itu mencintai dirinya (ditambah lagi, ia mengatakannya didepan 'pesaing sehat'-nya).

God, Baekhyun yang dihadapannya saat ini, bukanlah Baekhyun dengan predikat Direktur-Yang-Terhormat.

"Wait - Baek, maksudku, kau tahu-" Kris berbicara terputus-putus, antara terhenyak dan bingung dengan apa yang dikatakan oleh Baekhyun.

Baekhyun memiringkan kepalanya, menunggu Kris menyelesaikan kalimatnya, dan Chanyeol bersumpah Baekhyun yang dihadapannya benar-benar sangat cute. Ia tidak pernah melihat seseorang yang sudah menjadi –kau tahu, direktur, apalagi di usia yang sudah bukan remaja, terlihat sangat menggemaskan.

Chanyeol yang tersadar dari lamunannya tentang Baekhyun segera menggandeng tangan pumpkinnya, menarik tangan itu dengan lembut kedalam rengkuhannya. Ia mendapatkan dirinya berdebar dengan keras dan ia sangat yakin Baekhyun dapat mendengarkan degupannya.

"Kau sudah mendengarnya, dude. Ia milikku. Jadi jangan sekali-sekali memimpikannya didalam wet dreammu yang payah. Karena saat ini, dialah yang akan menemaniku di ranjangku yang hangat," Chanyeol tersenyum kepada Kris, meninggalkannya dalam keadaan speechless.

Chanyeol merasakan Baekhyun yang menggeliat didalam pelukannya, dan ia tahu bahwa kedua hati mereka berdegup sama cepatnya.

"Ayo, pumpkin," Jari-jari dikedua tangan tersebut terjalin dengan rapi, Chanyeol menarik tangan Baekhyun untuk masuk kedalam venue resitalnya kembali, meninggalkan Kris yang hanya dapat melihat mereka tanpa melakukan apapun. .

Rasa puas menjalari diri Chanyeol saat bibirnya mengatakan, "Adios, looser!"


applemacaroon


"Apa kau akan meninggalkanku lagi?"

Baekhyun menatap Chanyeol takut-takut. Kini mereka berada diatas panggung, dengan Baekhyun yang duduk di bangku piano dan Chanyeol yang masih sibuk mengamatinya. Diruangan sebesar ini, dengan hanya mereka berdua yang ada didalamnya, Baekhyun merasa dirinya sangat kecil.

Kemana perginya Baekhyun yang Agung?

Chanyeol membungkukkan badannya, menyamakan level matanya dengan Baekhyun dengan jarak wajah yang sangat dekat, "Apa maksudmu?"

Dengan jarak seperti ini, Baekhyun seratus persen yakin bahwa dirinya memerah.

"Eum- kau tahu- uh… yeah…" Baekhyun terbata-bata, matanya tidak fokus untuk menatap Chanyeol, ia sibuk melemparkan arah pandangannya karena jarak mereka yang terlalu dekat.

"Ya?"

"Uh- kau akan membuat perjanjian bodoh dengan Kris, seperti aku akan pergi jauh darinya, tolong jaga Baekhyun baik-baik, aku sudah menyerah?" Baekhyun meringis, sementara Chanyeol mengeluarkan smirknya.

"Yah, kau lebih pintar dari yang kukira, babe."

Baekhyun mencebikkan bibirnya, alisnya melengkung turun.

"Ah, jadi kau benar-benar akan pergi lagi…" Baekhyun menundukkan kepalanya, ibu jarinya sibuk menekan satu sama lain, tanda bahwa ia merasa gugup.

Kekehan halus keluar dari bibir Chanyeol, dan pada detik selanjutnya, Baekhyun merasa bahwa dirinya tiba-tiba terangkat, lalu direngkuh seperti anak koala oleh lengan kokoh Chanyeol.

"Ya Tuhan, apa kau bisa menjadi lebih menggemaskan daripada saat ini?" Chanyeol menggesekkan kedua hidung mereka. Bibirnya membentuk lengkungan senyum yang sangat lebar. "Aku merasa aku lebih mencintaimu hari ini daripada sebelumnya," Chanyeol mencium lembut hidung Baekhyun, Baekhyun merasa hatinya akan meledak.

"Me too," Baekhyun berbisik ditelinga Chanyeol, lalu bersembunyi diantara ceruk lehernya, terlalu malu untuk menatap mata si Giant. Ciuman kecil mendarat tepat di kepala Baekhyun karena Chanyeol yang menoleh dengan sengaja.

Baekhyunnya kembali, Baekhyun dengan mata bulan sabitnya kembali.

Baekhyun adalah miliknya.

Dan Baekhyun mencintainya.

Chanyeol menurunkan badan Baekhyun diatas kap piano, dan dirinya duduk pada bangku didepannya, tepat didepan Baekhyun.

"Katakan sekali lagi, Baekhyun. Katakan bahwa kau mencintaiku." Chanyeol tersenyum dengan lembut hingga Baekhyun merasa hatinya meleleh karena kelembutan Chanyeol terhadap dirinya.

Baekhyun menggeleng, terlalu malu untuk mengatakannya kembali.

"Tiga hari yang lalu kau menatapku dengan mata milik Baekhyun yang Independen, dan sekarang kau menatapku seperti aku adalah kumpulan dari harapanmu. Katakan padamu siapa yang harus kuberi ucapan terimakasih," Ucap Chanyeol.

Baekhyun kembali menggeleng, lalu memberikan sesuatu dari dalam saku sweaternya.

"Baekhyun, ini…" Chanyeol menatap Baekhyun dengan tidak percaya, Baekhyun mengangguk pelan.

"Bisakah kau…mendengarkannya?" Tanya Baekhyun yang diangguki oleh Chanyeol dengan tatapan bingung.

Sebuah Ipod yang Chanyeol berikan di masa lalu.

Chanyeol menempatkan earphone pada kedua telinganya, lalu menekan tombol untuk memutar file yang sepertinya baru saja dibuat, sementara Baekhyun menatapnya dengan gugup.

"Eum, yeol… Ini Byun Baekhyun."

Chanyeol memasang telinganya baik-baik, tangannya menggenggam tangan Baekhyun yang berkeringat gugup.

"Pertama-tama, maafkan aku karena tidak mendengarkan penjelasanmu… Aku menyadari bahwa yang aku inginkan saat itu adalah seseorang untuk disalahkan."

Diam selama beberapa detik.

"Aku juga menyadari bahwa seperti yang kau bilang, aku marah kepadamu karena kau meninggalkanku, dan kau meninggalkanku saat aku mulai menyukaimu. Kau bahkan mengetahui perasaanku bahkan sebelum aku mengetahuinya."

"Lima belas tahun bukan waktu yang sebentar, dan aku sangat berterimakasih untukmu yang selalu mengatakan bahwa kau mencintaiku setiap harinya. Aku tidak pernah merasa begitu dicintai hingga saat ini."

"Awalnya aku takut saat pertama kali melihatmu setelah bertahun-tahun, aku takut bahwa lukaku akan terbuka kembali. Tetapi nyatanya, kau adalah orang yang membuatku menutup luka itu."

"Aku merasakan kehampaan yang luar biasa saat ibuku meninggalkanku, tetapi aku sadar bahwa itu karena kau meninggalkanku juga. Aku…merasa sendirian, duniaku seperti gelap dan aku membutuhkan pelampiasan. Kurasa aku benar-benar menjadi gila saat itu hingga aku menyakiti diriku sendiri."

"Secara tidak sadar, aku merindukanmu dalam kehampaan."

"Aku sangat marah terhadap diriku sendiri saat melihat tanganmu yang terluka karena Kris, maafkan aku, yeol."

"Terimakasih…untuk tidak menyerah terhadapku."

Chanyeol merasakan sentuhan halus pada rahangnya, dan ia mendongakkan kepalanya, menemukan mata Baekhyun yang menatapnya lembut. Ia merasakan bibir Baekhyun menempel pada dahinya, membuat hatinya seperti terhenti dalam beberapa detik, yang ia harap dapat bertahan selamanya. Bekas luka pada buku jarinya juga tidak lupus dari ciuman manis Baekhyun.

Pria yang dicintainya mengatakan sesuatu yang tidak dapat ia dengar karena earphone ditelinganya, tetapi ia tahu persis apa yang Baekhyun sampaikan.

"Aku juga mencintaimu, Baekhyunnie."

END


[Everyours] :

everyours biasanya digunakan pada bagian penutup dalam sebuah surat, dan surat tersebut ditujukan kepada orang yang anda kenal dengan dekat. Selain itu, arti lain dari Everyours adalah bagaimana si pengirim ingin si penerima tahu bahwa mereka berada dalam relasi yang baik (everyours : milikmu selamanya, kira-kira translatenya hampir seperti itu)

Dan itu alasan kenapa aku membuat Everyours, Richard Park sebagai judul fic ini, semoga kalian mengerti!


Yay! Akhirnya cerita ini sudah selesai dengan jangka waktu cukup lama karena aku yang kebanyakan ngaret hehehe.

THANKYOU FOR ALL OF YOU GUYS

YANG UDAH SUPPORT INI DARI AWAL SAMPAI AKHIR, I LOVE YOU GUYS SO MUCH

AND I APPRECIATED ALL OF YOUR LOVE TOWARDS THIS STORY!

Reviews Ans! :

MadeDyahD : Aww thanks udah nangis T-T dan makasih banget buat kamu yang udah support story ini dari chapter awal awal dan selalu review di setiap chapter, /BIG HUG/

Eka915 : udah yaa! Makasih udah support cerita ini, ily!

jeuspre : yaampunmakasihbangetakujugagamaupakespacebiarsamaan ((lol)) THANKS and ily!

xiaobao : THANKS! jadi cy marah ke B karena B yang nggak baca surat dari cy, padahal surat itu adalah satu2nya penghubung mereka selama 15 tahun, dan Baekhyun nggaktau kalau sebenernya Chanyeol pergi ke pemakaman ibunya. But di chapter ini mereka udah baikannn!

veraparkhyun : nah udah good ending nih, gimana? memuaskan nggak endingnya? hehehe! thanks for your support!

WinterJun09 : BABEEE THANKS FOR SUPPORTING THIS FIC FROM THE START! and please keep updating your fic bcs i love it! XOXO

RatedMLovers614 : Udah nggak pada nyebelin kan? hehehe! thanks for all your review, i love you!

KertasBee : late update nih T-T mereka rukun karena BAekhyun nggak tau kalo ternyata ayahnya yang misahin mereka, dan dari awal sebelum mama B udah nggak adapun, mereka emang satu keluarga yang anget! hehehe! thanks for your support, ILY XOXO!

Incandescence7 : YAYAYAYAY! it's done already! suratnya udah kekuak belum? hehehe! love you and thanks for supporting this fic! xoxo!

Aisyah6104 : thanks! done yaa!

Evi : AWW thanks evi!

Talra : AWWW THANKS YOU R SO SWEET! YOU R THE BEST TOO! XOXO

SexYeol : done! thanks for supporting!

park yeolna : YAYY done! thanks and ily!

chanxbaek614 : YAH NANGIS DULU PLS! hehehe thanks for your support! ily!

please keep supporting me! love you guys!