applemacaroon x WinterJun09
.
Getting Darker
.
01 Silent Stranger
"Forget the air, I'll breathe you instead."
― pleasefindthis, I Wrote This For You
Cahaya yang datang dari berbagai sudut kota membuat kota Seoul terlihat temaram di tengah kegelapan malam. Beberapa sudut kota terlihat ramai, tetapi tidak dengan jalan ini. Hanya beberapa kendaraan yang melintasi jalanan itu ; membuat keadaan terasa mencekam dan sangat sunyi.
Malam yang seperti inilah yang disukai mafia itu.
Ia duduk dengan tenang di dalam mobil mewahnya, dengan sebelah tangan yang menopang dagunya malas. Wajah angkuhnya terangkat, bersamaan dengan kedua kakinya yang duduk menyilang. Tidak ada musik yang dinyalakan, tidak ada sebisik pun bunyi yang terdengar.
Ia adalah Park Chanyeol, si tangan dingin. Si penyuka keheningan.
Ini adalah hari pertamanya kembali ke Seoul, setelah sebelumnya ia harus menghabiskan waktu di Amerika, yang mana keberadaannya dimaksudkan untuk membereskan para penentang yang mencari masalah dengannya.
Bila boleh jujur, ia hanya ingin pulang dan menikmati waktu istirahat yang prima.
Tapi lagi-lagi, ia tampaknya keinginan tersebut hampa adanya.
Mobil itu berhenti di belakang sebuah gedung pencakar langit yang dihiasi dengan tulisan cetak logam bertuliskan Solvent Entertaiment.
Chanyeol menatap gedung itu lamat-lamat, berdecih meremehkan, sebelum akhirnya keluar dari mobilnya dan berjalan memasuki gedung dengan dagu yang terangkat sombong.
Gedung itu sama heningnya dengan malam. Tidak terdengar suara apapun, yang mana sangat tidak biasa. Hanya terdengar hembusan nafas dan angin yang lirih ; siapaun tidak berani mengusik ketenangannya.
Chanyeol berjalan di depan, memimpin anak buahnya yang berada patuh di belakangnya. Jas yang melekat di tubuhnya membuatnya terlihat mengintimidasi, entah karena wajahnya yang mempesona, tubuhnya yang tegap dan proporsional, ataupun karena matanya yang setajam elang.
Langkah dengan ketukan pelan tersebut berhenti tepat di depan pintu kayu mahoni yang kokoh.
Beberapa anak buahnya segera maju selangkah di depan Chanyeol, membuka pintu dengan hormat, menundukkan kepala dengan penuh kepatuhan.
"Tuan Park Chanyeol akan masuk kedalam."
Dari dalam ruangan, sang presdir yang sudah menunggu, berdiri dengan penuh hormat, mempersilahkan Chanyeol untuk duduk diatas kursi yang sudah dipersiapkan khusus untuknya, mendapatkan lirikan dan senyum sombong dari sang mafia.
"So," Suara bass itu terdengar congkak, "Beri aku alasan yang masuk akal, apa yang membuatmu berani memanggilku kesini?"
Nada mengintimidasi itu membuat seseorang di hadapannya tercekat, kehilangan kata-kata yang seharusnya sudah berada di ujung lidah.
"Please sit down first, Sir. Aku minta maaf sudah memanggilmu selarut ini. Hanya saja, aku benar-"
"Tidak usah berbasa basi," Chanyeol menatap tajam presdir dari perusahaan Entertaiment ternama itu, "Intinya."
"Aku butuh bantuanmu untuk melindungi salah satu asetku."
Chanyeol tidak memberikan respon, terlihat tidak tertarik. Alih-alih mendengarkan dengan penuh perhatian, ia memilih untuk menuju salah satu sofa yang sebenarnya bukan untuknya, lalu menyamankan dirinya di kursi empuk itu.
"Dia adalah aset perusahaanku yang paling berharga, Tuan. Dan aku tidak bisa membiarkannya hancur begitu saja di tangan bajingan kotor seperti mereka!"
Yunho menunggu reaksi Chanyeol berikutnya, tetapi yang dilakukan lelaki itu hanyalah meneguk cairan merah pekat di atas mejanya. Seakan tidak ada satupun dari mereka yang berbicara sedari tadi.
Laki-laki dengan rambut abu-abu gelap itu meletakkan gelasnya.
"Mengapa?"
"Perusahaan brengsek itu mencoba untuk menjatuhkan saham perusahaanku."
Chanyeol tertawa kecil, memijat dahinya dengan tangan yang tertahan di bahu sofa, matanya menatap Yunho dengan remeh.
"Kau cukup berani untuk memanggilku kemari hanya untuk hal ini."
Yunho terlihat meneguk ludah, "A-aku tidak tahu lagi harus mencari bantuan ke siapa."
Chanyeol tidak menjawab, yang lebih tinggi hanya tersenyum miring dan berdiri tanpa kata. Menepuk jasnya dengan tak kalah angkuh dan berjalan menuju pintu.
"A-aku akan mengantarmu keluar." Yunho segera menyamakan langkahnya di belakang sang pemimpin kegelapan itu dengan takut-takut.
Chanyeol sekali lagi hanya membungkam mulutnya, tetapi juga tidak melambatkan langkahnya untuk menunggu sang presdir. Ia tetap berjalan dengan dagu yang terangkat, decihan halus keluar diantara bibirnya.
Suara alas sepatu yang bergesekan dengan lantai mendominasi keadaan yang sunyi senyap.
Tidak ada yang berani berbicara, bernapas pun dilakukan dengan hembusan sepelan mungkin.
Sebuah alunan dari biola sayup-sayup terdengar, membuat Chanyeol menghentikan langkah untuk yang pertama kalinya.
Yunho mengumpat dalam hati, ia sudah mendengar gosip dimana Chanyeol dan suara bising adalah definisi sempurna dari hukuman setingkat neraka.
Dan sialnya, tampaknya ia akan merasakannya hari ini.
"M-maafkan aku! A-a—"
Chanyeol mengangkat sebelah tangannya, memberi gesture agar Yunho menutup mulutnya.
Sementara tubuh jakungnya bergerak ke sumber suara, Chanyeol melangkahkan kakinya mendekat.
Alunan tersebut berasal dari ruang rekaman, disana terdapat sebuah audio yang terputar, entah siapa yang tidak sengaja memutarnya ; mengingatkannya pada seseorang.
Perpaduan dari gesekan bow dan biola yang mengalun halus seperti membelah hatinya, menyayat sesuatu di dalam sana untuk terbuka kembali.
Begitu lirih dan terdapat luka yang mendalam,tetapi indah dan memikat dalam waktu yang bersamaan.
"Siapa… yang memainkan itu?"
Yunho terkejut.
Apakah setelah ini Chanyeol akan membunuh orang yang memainkannya seperti yang pernah didengarnya? Karena jika begitu matilah dia, karena yang mengalunkannya adalah aset perusahaannya yang berharga, yang mampu membuatnya berlutut untuk perlindungan dari Sang Mafia.
"Apa aku harus mengulang pertanyaanku?" Kalimat tersebut keluar dari bibir Chanyeol dengan penuh penekanan.
"I-i-itu… Byun Baekhyun."
Chanyeol terlihat menggumamkan nama yang Baru saja terlotar, "Apakah dia adalah salah satu asetmu?"
"D-d-dia—" Yunho berujar ragu-ragu, "D-dia adalah orang yang kubicarakan di dalam. Baekhyun adalah aset terbesar dari perusahaan kami."
Yunho tidak yakin apakah matanya benar melihat Chanyeol yang tersenyum, tetapi pria itu terlihat benar-benar melakukannya.
Chanyeol tersenyum, walaupun senyum itu adalah sebuah senyuman miring.
"Dimana ia sekarang?"
"Ia seharusnya sedang berada di Bar. Untuk-"
"Bar?" Senyuman miring tersebut berubah wujud, menjadi seringai kejam yang Yunho sekalipun tak tahu pasti apa arti yang berada didalamnya.
"Tunjukkan jalannya, sekarang."
Kaki sang Presdir tidak pernah bergetar sebegini hebatnya.
.
Getting Darker
.
"This one?" Chanyeol mendecih melihat beberapa orang dengan baju hitam membungkukkan badan mereka, tepat saat ia memasuki sebuah ruangan luas dengan musik yang mengalun lembut memenuhi ruangan.
Kai, (yang merupakan tangan kanan Chanyeol) hanya mengangguk kecil, Chanyeol melemparkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, beberapa orang terlihat sedang berbincang-bincang, sementara di timur, terlihat seorang laki-laki yang duduk tepat di depan meja baryang memanjang.
Sekedar informasi saja, Chanyeol adalah pemilik bar ini.
Chanyeol bertanya kepada Kai apakah laki-laki itu orang yang sedang ia cari dengan mengedikkan kepalanya, dan sekali lagi, Kai hanya menjawab dengan sebuah anggukan.
Chanyeol melepaskan jas hitam, memberikannya kepada Kai, lalu melipat lengan bajunya hingga siku dan melonggarkan dasinya. Ia lalu berjalan dengan kepercayaan diri setara Zeus, dengan gesture mengacak rambut ash grey-nya, menebarkan pesona yang bahkan dapat menaklukkan Aphrodite.
Memberi sinyal agar Kai bergerak menjauh, Chanyeol lalu berjalan semakin dekat ke arah Baekhyun.
"Hey, mind if I join you?" Chanyeol menatap Baekhyun lekat-lekat.
"Aku tidak membutuhkan one night stand,jika itu apa yang kau maksud." Baekhyun balik menatap Chanyeol dengan pandangan merendahkan. Senyuman miring muncul di wajah si tampan.
Ini akan menjadi sangat menarik.
Chanyeol duduk di sebelah Baekhyun tanpa memperdulikan tatapan menusuk dari yang lebih kecil. Mata Chanyeol melirik kearah bartender yang berdiri tidak jauh dari mereka, lalu mengangkat sebelah tangannya untuk menyuruhnya mendekat.
Tentu saja si bartender mendekati mereka dengan langkah cepat dan takut-takut, mengingat pemilik bar ini adalah orang yang memanggilnya. Parahnya, seorang Mafia.
"One Meyers Rum for me, and Redbull Vodka, please."
"Oh god, kau bahkan sudah merencanakannya," Baekhyun menyela Chanyeol, dan laki-laki yang disela tersebut menoleh kearah Baekhyun dengan pandangan remeh, tepat seperti apa yang Baekhyun tampilkan padanya.
"Kupikir kau tidak ingin berbicara denganku, Sir." Chanyeol tersenyum sementara si bartender meninggalkan mereka untuk membuat pesanan.
Baekhyun mendesah pendek, lalu memutar kursinya agar dapat menghadap ke arah Chanyeol.
Gotcha, babe.
"I know what you mean just by hearing your order, Sir." Mendengar penekanan kata pada akhir kalimat Baekhyun, Chanyeol melepaskan napasnya dengan cara yang menggoda.
"And what it is?" Chanyeol menarik kursi Baekhyun dengan satu tangannya, membuat jarak semakin menipis diantara mereka.
Baekhyun sejenak menahan napasnya, lalu berusaha membangun pertahanan (yang sebenarnya sangat lemah) untuk tidak tergoda akan rayuan laki-laki yang lebih tinggi darinya tersebut, "Engg… I want to get butt-fucked by a stranger tonight?"
Chanyeol tersenyum, sinar matanya menggelap.
"As you wish, sweetheart. Tetapi habiskan minumanmu, karena aku tidak akan membuang begitu banyak uang jika bukan karena peach ass milikmu, Babe." Chanyeol mendekatkan tubuhnya, berbisik tepat di telinga Baekhyun, membuat kulit disekitar lehernya terasa tergelitik.
"Didalam mimpimu saja, Tuan mesum."
Baekhyun lalu membuang muka, menyembunyikan pipinya yang memerah hingga ke telinga. Sementara Chanyeol hanya terkekeh kecil.
Detik itu, Baekhyun tahu bahwa dirinya akan jatuh kedalam perangkap si lelaki dengan rambut abu-abu yang seksi.
.
Getting Darker
.
Beberapa gelas dengan isi yang hampir kosong telah ditinggalkan oleh kedua laki-laki dengan perbedaan tinggi badan yang signifikan tersebut. Keduanya tengah sibuk mengobrol dengan salah satu diantara mereka yang matanya bahkan sudah tidak dapat membuka dengan normal.
"Jadi, apa yang kau sukai, Baekhyun?"
Yang lebih kecil melirik Chanyeol dengan pipi yang memerah karena mabuk, "You." Jari telunjuknya menusuk dada Chanyeol, sementara tangannya yang lain menahan kepalanya agar tidak terantuk.
Tawa Chanyeol lepas dengan cara yang menyenangkan, lalu ia mendekatkan tubuhnya pada tubuh Baekhyun, sedikit mengangkat badan yang lebih kecil agar dapat menggendongnya untuk duduk di pangkuannya.
"Benarkah? Lalu bagaimana dengan ini?" Chanyeol mendekatkan bibirnya kearah bibir Baekhyun, berbisik tepat didepan bibirnya, membuat si kecil menutup matanya yang sayu.
Baekhyun menggerakkan pantatnya untuk menyamankan duduk, membuat pantatnya menggesek sesuatu yang sudah nyaris mengeras karenanya. Lenguhan pelan keluar dari belahan bibirnya.
"Bagaimana aku dapat memanggilmu, Sir?" Baekhyun meletakkan kedua tangannya pada bahu Chanyeol, memaksa kedua tubuh mereka agar semakin dekat.
Tepukan pelan didapatkan oleh Baekhyun tepat di pantatnya, dan kesadaran Chanyeol nyaris menguap karena lenguhan yang Baekhyun alunkan di telinganya.
Chanyeol menjilat bibir Baekhyun, tanpa menempatkan bibirnya diatasnya, dan Baekhyun –yang menjadi tidak sabaran, sedikit membuka mulutnya, menggoda Chanyeol untuk menciumnya lebih dalam.
"Goddamnit, Babe. Kau benar-benar seksi," Chanyeol mengangkat tubuh Baekhyun, menggendongnya di dalam dekapannya dengan Baekhyun yang terus menggeliat. Chanyeol mengeluarkan black card dari dalam sakunya, menahan Baekhyun dengan satu tangan, dan memberikannya pada si bartender, meninggalkan kartu tanpa limit itu begitu saja.
Kaki Baekhyun yang tersampir di pinggangnya semakin mengerat saat dirasakannya Chanyeol membawanya pergi dari tempat itu. Dan entah karena Chanyeol yang tidak berhenti mencium lehernya, atau karena gesekan diantara selangkangan mereka, pertahanan Baekhyun seakan hilang begitu saja, tergantikan dengan napas yang terputus-putus, dan juga gairah yang menggebu.
Chanyeol membawa Baekhyun keluar dari bar, sementara dirinya masih saja disibukkan dengan kegiatan menjilati leher Baekhyun yang jenjang.
Baekhyun terus mendesah-desah, dan Chanyeol tidak dapat menahan hasratnya lebih lama lagi.
Badan kecil Baekhyun ditidurkan diatas kap mobil, dengan Baekhyun yang mengeluh karena jilatan di lehernya yang terhenti. Tetapi lenguhan pendek itu kembali saat Chanyeol melebarkan kakinya tanpa melepaskan kain apapun dari tubuhnya.
"Who's the one who said that he doesn't need any one night stand?" Chanyeol mengukung tubuh Baekhyun, sementara tangan Baekhyun ditahan diatas kepalanya. Bibirnya menjelajahi tulang bahu Baekhyun yang terbuka.
"Nnh-hhh! Come on!" Baekhyun berbisik, berusaha menahan suaranya untuk tidak mengeluarkan desahannya lebih keras lagi.
Senyuman menggoda terlihat di wajah Chanyeol saat matanya melihat Baekhyun yang melengkungkan punggungnya karena Chanyeol yang menggesekkan milik mereka.
"S-sir, A-ah!"
Chanyeol masih tetap menggoda Baekhyun, menggerakkan tubuhnya semakin cepat yang disahut oleh Baekhyun dengan napas yang tersengal-sengal.
"Master, I need more, p-please!"
Dorongan gairah didalam diri Chanyeol telah sampai pada batas maksimum.
Suara zipper yang diturunkan menjadi salah satu suara yang terdengar di malam yang hening. Tangan Chanyeol sudah berada di kejantanan Baekhyun bahkan sebelum pria itu menyadarinya.
Precum yang sudah berada di ujung menjadi pertanda bahwa Baekhyun menikmati semua perlakuan Chanyeol.
Chanyeol merendahkan tubuhnya, berhenti tepat dihadapan kejantanan Baekhyun yang sudah menegang sempurna. Lalu menghembuskan napasnya tepat kearahnya.
"Beg for it," Satu jilatan lambat mengantarkan impuls menggoda yang membuat Baekhyun nyaris memekik. Begitu basah, begitu hangat hingga Baekhyun tidak ingin semua ini berakhir.
"P-please?" Baekhyun menatap mata Chanyeol dengan tatapan sayu, berharap agar Chanyeol melingkupinya dengan lidahnya yang hangat.
"Try again, Baekhyunnie."
Batas normal otak Baekhyun bahkan sudah terlewati jauh hingga ia tidak dapat berpikir barang satu kalimat pun saat hidung Chanyeol menempel pada penisnya, bergerak naik dan turun, menggoda kulitnya yang sensitif.
"Fuck this, Jerk me off! Play with me, Master! Fuck my tight ass!" Baekhyun nyaris memekik, tangannya yang tidak lagi berada di atas kepalanya telah berpindah memegang kepala Chanyeol, berusaha mendekatkan wajah si tampan itu kearah penisnya.
Chanyeol tertawa, lalu alih-alih menyentuh Baekhyun lebih jauh, ia malah berdiri tegak, membiarkan penis Baekhyun terasa dingin karena angin malam.
"Anak yang nakal perlu diberi hukuman bukan?" Chanyeol melepas dasi dari lehernya, lalu mengikat mata Baekhyun sehingga yang dapat si submissive lakukan adalah terjebak didalam gairahnya sendiri dengan mata yang tertutup rapat.
"This one," Chanyeol menyentuh penis Baekhyun, menggenggamnya dengan lembut, menaik-turunkannya hingga Baekhyun menggigit bibir bawahnya untuk menahan desahannya.
"O-oh! Aaa-nggh! Shit, oh my god yes! Faster, sir!" Senyuman terpasang dengan lebar di bibir Chanyeol dengan tangannya yang menggerakkan penis Baekhyun yang berkedut di genggamannya.
Blindfolded. Ketika salah satu inderamu ditutup, maka yang lain akan bekerja lebih keras.
Tangan Chanyeol terasa licin karena precum Baekhyun yang semakin banyak keluar, sementara si kecil mendesah-desah dibawahnya, ia sibuk membungkamnya dengan ciuman-ciuman basah. Sementara tangannya yang lain menyusup didalam kemeja Baekhyun, mencubiti nipple Baekhyun yang sudah menegang.
"Shit, Im close!" Baekhyun berteriak, tangannya membantu Chanyeol untuk menggerakkan penisnya lebih cepat, punggungnya melengkung, berusaha membuat miliknya berada semakin dekat dengan tubuh Chanyeol.
Chanyeol mendekatkan tubuhnya pada Baekhyun, menjilat telinganya dengan gerakan lambat, lalu berbisik, "Say my name, babe. It's Chanyeol."
Baekhyun, dengan tenaga terakhir yang ia luapkan, meneriakkan nama Chanyeol bersamaan dengan cairan yang keluar, dan ia mendapatkan gelombang orgasme yang sangat keras.
Melupakan napas Baekhyun yang masih belum teratur, Chanyeol menggendong laki-laki itu masuk kedalam mobilnya.
"Apa kau pikir kita sudah selesai?"
.
Getting Darker
.
Suara debuman keras terdengar saat pintu rumah Chanyeol tertutup.
Lenguhan Chanyeol terdengar saat pria kecil yang ia bawa kerumahnya tengah berjongkok untuk menggenggam penisnya yang menegang sempurna. Beberapa jilatan kecil yang cepat diberikan oleh laki-laki itu dari dalam mulutnya yang basah.
"Oh god. Yes babe, you're doing great. Hisap itu, Baekhyunee." Chanyeol mendongakkan kepalanya, menikmati bagaimana miliknya yang dihisap dengan keras dengan bibir pink Baekhyun hingga pipi laki-laki dibawahnya itu mencekung.
Tidak ada yang lebih panas selain mata Chanyeol yang melihat Baekhyun sedang mengoral penisnya dengan half naked, hanya mengenakan kemeja putih tanpa apapun yang menutupi bagian bawahnya, sementara tangannya yang lain sedang menggerakkan penisnya sendiri.
Chanyeol memaju-mundurkan pinggulnya, mendesak mulut Baekhyun hingga titik terdalam yang bisa ia capai dengan penisnya yang panjang.
Tangan Baekhyun yang tengah menyentuh penis Chanyeol berubah menjadi gerakan mengurut yang tidak beraturan saat dirinya merasa bahwa mereka berdua akan sampai pada sebuah orgasme yang menyenangkan.
"Come on, babe. Let me see your beautiful face." Mendongakkan kepala Baekhyun dengan tangannya, Chanyeol menaikkan ikatan dasi yang menutup mata Baekhyun tanpa melepasnya, mendapatkan mata yang berkabut gairah yang memandang tepat kearah matanya.
"Open your mouth, widely, Baekhyun." Baekhyun menurut saat suara rendah tersebut terdengar sedikit tercekat. Chanyeol melepaskan penisnya dari mulut Baekhyun, lalu menggerakkan miliknya dengan cepat.
Mengeluarkan spermanya tepat di wajah menggoda Baekhyun.
Chanyeol menggeram melihat Baekhyun yang menjilat bibirnya dengan gerakan sensual, apalagi dengan penis yang tidak lebih dari setengah miliknya itu terlihat menegang, tepat dibawahnya.
"Chanyeol… I need more…" Baekhyun menurunkan kemejanya, membuat bahu mulusnya terlihat oleh mata Chanyeol yang lapar.
"Fuck me." Lanjut Baekhyun dengan suara setengah mendesah.
Tidak perlu kalimat lain untuk mengundang Chanyeol kembali, karena yang ia dapatkan sekarang adalah Chanyeol yang menerjangnya, membuat tubuhnya menungging di lantai marmer yang dingin, dengan Chanyeol yang kembali mengeras, berada diatas tubuhnya.
Chanyeol begitu seksi dan berkuasa.
"Jangan biarkan aku mendengar desahanmu, Baekhyun. Bite your finger," Chanyeol menutup kembali mata Baekhyun dengan dasinya, lalu mendekatkan wajahnya pada pipi pantat Baekhyun.
Sebuah gigitan kecil dan jilatan halus pada pantatnya membuat Baekhyun menggigit jarinya sesuai dengan perintah Chanyeol. Ia berusaha keras menahan desahannya.
Tanpa aba-aba apapun, Chanyeol menampar pantat Baekhyun dengan keras.
"M-mmh!"
"Pelanggaran pertama, Baekhyunee."
Chanyeol kembali menampar pantatnya lebih keras, dan Baekhyun menitikkan airmata karena nikmat yang menjalar di bagian belakangnya.
"Kau menyukai itu?" Tamparan keras didapatkan oleh Baekhyun berulang-ulang pada pantatnya, dan entah kenapa, ia merasakan sperma mengalir diantara pahanya.
Semakin keras tamparan Chanyeol, semakin keras pula lenguhan yang tertahan. Ibu jarinya bahkan berdarah karena gigitannya sendiri.
"Kau keluar karena tamparan? Such a slut, babe. Persiapkan dirimu karena aku tidak akan menahan diri lebih lama lagi,"
Baekhyun menoleh menghadap Chanyeol, menggigit bibirnya takut-takut, bibirnya yang memerah terlihat membengkak.
"C-chanyeol…"
Chanyeol membelai sisi wajah Baekhyun lembut, "Katakan, sweetheart."
"I-it's my first time…"
"Bagus," Chanyeol menyeringai, menurunkan punggung Baekhyun sehingga pantatnya semakin menungging.
Dan Chanyeol memulainya dengan membasahi hole Baekhyun dengan sperma laki-laki itu. Memainkan jarinya dan melebarkannya seperti gunting.
"Y-yeol… Help," Baekhyun menggerakkan pinggulnya, berusaha agar jari Chanyeol bergerak lebih cepat didalamnya. Sensasi licin dan lengkungan jari Chanyeol benar-benar membuat Baekhyun tidak dapat berpikir jernih.
Saat Baekhyun akan mendapatkan orgasmenya yang entah keberapa kalinya, Chanyeol melepaskan jari-jarinya dari lubang Baekhyun yang basah.
"I'm going to get it in, jangan berteriak." Chanyeol membalikkan badan Baekhyun, membuat wajah mereka berhadapan dengan Baekhyun yang tidak tahu apa yang akan terjadi karena matanya yang tertutup dasi.
Chanyeol menghentak masuk, dan Baekhyun melenguh dengan keras, alih-alih seks yang lembut, Chanyeol terkesan terburu-buru.
Chanyeol melepaskan dasi yang membelit kepala Baekhyun, membiarkan matanya melihat bagaimana kedua mata bulan sabit itu tertutup karena nikmat yang ia rasakan seiring dengan cepatnya hentakan pinggulnya.
Chanyeol bergerak semakin cepat, semakin dalam, semakin keras, dan Baekhyun menyukainya alih-alih mengerang kesakitan karena ini adalah seks perrtamanya.
"Oh Fuck yeah- Fuck! Chanyeol- milikmu begitu- nggh… "
"Yes babe, feel my dick in your tight ass. Kau menyukainya? Apa kau menyukai bagaimana milikku mendesak didalam tubuhmu?"
"Yeah Chanyeol! Gimme more!"
Chanyeol menjilat seluruh bagian tubuh Baekhyun yang bisa dilihat oleh matanya, sementara Baekhyun membuka mulutnya hingga liurnya mengalir keluar.
Ciuman kasar, keringat di tubuh, dan desahan yang bersahutan itu tidak berhenti hingga matahari nyaris terbit.
Membawa kedua anak adam itu terjerat akan ikatan gairah yang sukar mengabur.
.
Getting Darker
.
Sinar matahari menyapa retina Baekhyun, badannya terasa begitu kaku dan selimut lembut yang menutupi tubuhnya terasa begitu menggoda untuk membuatnya tetap bertahan di tempat tidur yang besar ini.
Wait... tempat tidur yang besar?
Mata Baekhyun membuka dalam sekejap, lalu ia berusaha mendudukkan tubuhnya.
"Damn!" Baekhyun mengerang saat ia merasakan pinggangnya yang seperti akan patah dan pantatnya yang perih. Beberapa potong ingatan muncul di kepalanya dengan tidak tahu malu.
Oh shit.
"Good morning, sexy ass. Kau sudah bangun?" Suara dengan intonasi yang berat terdengar di telinga Baekhyun, membuatnya merinding.
Baekhyun menolehkan kepalanya kearah suara itu, dan menemukan sosok tinggi yang hanya mengenakan celana panjang, serta rokok yang terselip diantara bibirnya yang bengkak. Tubuhnya terlihat begitu gagah dengan sinar matahari yang menyinari kulit laki-laki tinggi dengan rambut abu-abu itu.
Terang saja, siapa laki-laki yang ingin mewarnai rambut selain idol-idol yang tampil di acara musik setiap minggu?
God, dan jangan lupakan tattoo di tulang selangkanya. Jujur, itu terlihat sangat seksi.
"K-kau! Apa yang kau lakukan disini?" Baekhyun mencicit, pertanyaannya tidak hanya ditujukan kepada laki-laki yang tidak ia kenal tersebut, tetapi juga kepada dirinya sendiri.
Chanyeol mematikan puntungan rokok yang terselip di bibirnya, lalu berjalan ke arah kasur yang Baekhyun tempati, "Babe, kau tahu apa yang kita lakukan."
Baekhyun menggeleng, bukan karena tidak tahu, tetapi karena ia tidak percaya bahwa tubuhnya sudah dilihat oleh laki-laki lain.
"Kau menjebakku!" Baekhyun berteriak. Menatap mata Chanyeol dengan pandangan tajam. Tubuhnya yang sakit tidak dapat berkompromi untuk berdiri dan menghajar laki-laki kurang ajar yang berdiri dengan santai di sebelah kasurnya ini.
Sebuah kekehan halus keluar dari belahan bibir Chanyeol. Ditatapnya laki-laki yang memandangnya dengan tatapan ingin membunuh yang terlihat sangat lucu itu.
"Sayangku, kau bahkan mendesah dan memintaku untuk ronde selanjutnya," Chanyeol tersenyum, membawa tubuhnya untuk naik ke kasur dan menindih tubuh Baekhyun yang tidak bisa bergerak.
"Kau memintaku untuk melakukan ini," Chanyeol menghirup leher Baekhyun, lalu menghembuskan napasnya yang panas. Hatinya tertawa saat merasakan napas Baekhyun yang tercekat.
"Dan aku juga melakukan sesuatu terhadap yang ini, Baekhyunnie." Tangan Chanyeol yang kekar meraba milik Baekhyun dari atas selimut.
Baekhyun juga laki-laki, dan ereksi di pagi hari adalah sesuatu yang lazim bukan?
Baekhyun kehabisan kata-kata sementara Chanyeol mengecup hidungnya dengan cepat, dan hangat tubuh Chanyeol diatasnya tiba-tiba hilang begitu saja saat laki-laki itu berdiri kembali dari atas kasur.
"Kau ingin tahu bagian terbaiknya, sayang?"
Baekhyun mendongak, berusaha melihat mata Chanyeol yang memandangnya dengan tatapan setengah mengejek.
"Kau tidak ingin melakukan one night stand, bukan? Aku akan mengabulkan permintaanmu yang satu itu, cintaku." Chanyeol mengedikkan dagunya ke arah nakas disebelah kasur Baekhyun, "Bacalah," Lanjutnya.
Tangan Baekhyun bergetar meraih secarik kertas diatas nakas itu, lalu matanya terbelalak saat melihat apa isinya.
"Ya Tuhan, kau adalah seorang psiko!" Baekhyun menggeram.
"Bagaimana rasanya menjadi seorang istri dari seseorang sesempurna diriku?"
Di kertas itu, tertera surat pernikahan mereka berdua, dengan cap jari telunjuk Baekhyun, yang… berwarna merah?
Baekhyun ingin bangun dari kasur itu, tetapi melihat bagaimana tubuhnya hanya dilapisi selimut dan terlebih lagi sakit yang dirasakannya di sepanjang tubuh bagian bawahnya, sepertinya, itu bukan ide yang bagus.
"Aku akan melaporkanmu kepada polisi!"
Senyum kecil yang aneh muncul di wajah Chanyeol, lalu ia mengeluarkan sebuah smartphone dari saku celananya. Mengetikkan sesuatu di layarnya, lalu memberikannya kepada Baekhyun.
"Kau bisa melakukannya sendiri bukan? Apa aku harus mengetikkan nomornya untukmu? Kau terlihat tidak sehat setelah malam kita yang panjang, babe."
Baekhyun terdiam, tetapi tangannya mengetikkan beberapa nomor yang ia ingat dikepalanya.
Hanya nada tunggu dan napas Baekhyun yang sedang marahlah yang terdengar di ruangan itu.
"Ya, Tuan?"
"Yunho! Kau disana?"
"Baekhyun? Apa ini kau? Apa kau sedang bersama dengan Tuan Chanyeol? Kau tidak apa-apa?"
Dahi Baekhyun mengerut begitu mendengar presdirnya menyebut nama Chanyeol dengan embel-embel 'tuan' sementara Chanyeol hanya berdiri disebelahnya, memandangnya dengan tatapan mengejek.
"Kenapa kau membuatku terjebak dengan psikopat ini?!" Baekhyun memekik, dan Chanyeol mendesis karena suara Baekhyun yang begitu lantang.
"Turunkan volume suaramu," Sela Chanyeol.
Baekhyun tidak menggubris perkataan psikopat tinggi itu.
"Baekhyun, dengarkan aku. Jangan melawan Tuan Chanyeol, jangan membuat kebisingan disekitarnya, jangan membantah perintahnya. Hidupmu sekarang berada pada tangannya." Suara Yunho di seberang telepon terdengar ketakutan, lalu panggilannya terputus begitu saja.
Baekhyun terperangah.
"Kau mendengarnya? Jadi mulai sekarang, jangan membantahku, Baekhyun."
"Dan kenapa aku harus mematuhimu?"
"Karena kau adalah milikku."
Berjalan keluar, Chanyeol tidak menoleh kearah Baekhyun lagi.
"Bersihkan dirimu, sarapan akan siap dalam empat puluh menit."
TBC
Special thanks to :
jeuspre, Ido Nakemi, chanbaek1597, zahrazhafira335, ApplepieB,
Incandescense7, Aisyah1, Veraparkhyun, Eka915, BN, dan Lussia Archery
*big hug*
.
.
[applemacaroon's note]
First Chapter is up! Aku minta maaf untuk kalian yang sudah nunggu chapter pertama untuk keluar, dan memang salah aku publish day-nya telat sehari lol, untuk kalian yang udah review, terimakasih banyak!
3.5k untuk chapter pertama ini semoga bikin rasa penasaran kalian terbayar ya!
Love ya!
(and sorry about the republished T-T)
[WinterJun09's note]
Boom! Chapter satu is out!
Aku seneng banget liat respon kalian di chapter prolog kemarin *loncat-loncat kayak anak perawan*, terimakasih semua atas dukungan dan review kalian *bow*
Aku harap kalian suka dengan chapter ini dan silahkan tinggalkan review kalian untuk kami *flying kiss*
