applemacaroon x WinterJun09
.
Getting Darker
.
02 Guns Without Bullets
"And it felt like two people meeting each other,
after an entire lifetime of not meeting each other."
― pleasefindthis, I Wrote This For You
Baekhyun benar-benar terkejut dengan ketepatan waktu yang dikatakan oleh pria itu.
Beberapa kali ia pernah mendengar tentang beberapa jenis kepribadian manusia yang bisa menghitung waktu dengan tepat, dan mereka disebut… entahlah ; seseorang yang perfeksionis dan… Cleanfreak?
Mungkin Chanyeol juga salah satu dari mereka. Tetapi siapa yang perduli.
Jam menunjukkan waktu tepat empat puluh menit, dan Baekhyun menemukan dirinya sudah duduk dengan manis di ruang makan, lengkap dengan pria seksi itu dihadapannya.
Baekhyun tenggelam dalam hangatnya pakaian yang diberikan oleh pelayan Chanyeol, sehingga tanpa sadar ia menyandarkan diri dengan senyum yang lebar hingga ke sudut.
Ya Tuhan, lelah di pinggangnya sebenarnya nyaris membunuhnya.
"Apa kau berencana untuk terduduk disitu sampai siang?" Chanyeol mengangkat satu alisnya, "Ambil makananmu dan mulailah makan."
Tampaknya pelayan di belakangnya lebih ketakutan daripada Baekhyun sendiri ; mereka segera berjalan dan mengambilkan makanan untuk yang lebih mungil. Tanpa sedikitpun terdengar dentingan pada piringnya.
"Ah, terima kasih." Baekhyun berujar kepada seorang diantara mereka yang meletakkan piring berisi penuh dengan makanan di hadapannya, "Tapi kurasa aku tidak akan makan sekarang."
Mata Chanyeol memicing dengan cepat, "Apa?"
"Aku kenyang." Baekhyun mengulang, "Bisakah setidaknya kau memberikanku sedikit teh, atau apapun yang bisa meredakan sakit kepalaku?"
Tawa kecil lolos dari ujung bibir Chanyeol, "Hangover, huh? Kukira badan kecilmu yang sok kuat itu tidak akan terkena hangover sedikitpun."
Baekhyun tidak menjawab, hanya melirik lelaki itu dengan sebal dari ujung matanya.
Melihat respon lelaki mungil itu, ia segera berdiri dan menuju bar kecil dibelakangnya. Lalu mengambil sebuah cangkir dan kembali menoleh,
"Apa yang lebih kau sukai? Teh jahe atau segelas air putih?"
"Apakah kau tidak memiliki apapun yang mengandung asetaminofen?"
"Tidak." Chanyeol mengerutkan kening, "Apa kau terbiasa meminum obat semacam itu untuk meredakan hangover mu?"
Baekhyun mengangguk kecil, "Itu ampuh."
"Ya, tapi kupikir itu tidak baik untuk tubuh kecilmu."
Chanyeol berbalik dan meraih sebuah jahe dari atas rak, mengupasnya dengan telaten, dan memotongnya menjadi bagian-bagian kecil. Ia lalu meletakkannya di dalam cangkir yang ia pegang tadi dan melengkapinya dengan air teh.
Baekhyun mengernyit ketika lelaki itu meletakkan cangkir itu di hadapannya.
"Kau tidak memasukkan sesuatu seperti sianida atau viagra, bukan?"
"Tidak." Chanyeol terkekeh, "Aku cukup waras untuk tidak membunuh istriku sendiri. Apalagi ketika istriku adalah makhluk manis sepertimu."
"Kuharap kau sedang tidak merayuku," Baekhyun berdesis sinis, "Itu terdengar sangat menjijikkan."
"Aku tidak melakukannya." Chanyeol tersenyum, "Aku hanya memberitahumu sepotong fakta."
Baekhyun meraih cangkir itu dan menyesapnya pelan, mendesah lega saat hangat teh itu melewati tenggorokannya. Menyesapnya tenang sedangkan salah satu tangannya ia letakkan di meja,
"Kau tahu," Chanyeol tiba tiba berkata, meraih tanganya dan melingkupinya dengan jemarinya yang besar dan hangat. Baekhyun yang terkejut refleks menarik menjauh tangannya, tapi pria itu malah menahan tangannya agar tetap di tempatnya.
Ia mendekatkan wajahnya, sehingga jarak diantara mereka hanyalah tersisa sebuah hembusan nafas.
"Jika saja kau tahu betapa cantiknya wajahmu," Chanyeol berujar dengan suara baritonnya yang berat, "Kau pasti akan jatuh cinta pada dirimu sendiri."
Baekhyun merasa ia kehilangan dirinya selama beberapa menit,
Apalagi ketika pria itu dengan lancang mencuri sebuah kecupan singkat di bibirnya.
"Aku pergi dulu, sayang."
.
Getting Darker
.
Baekhyun berjalan melewati koridor, menapakkan kakinya pada lantai rumah besar itu dengan rasa kekaguman yang membuncah di dalam dadanya. Melihat interior dari rumah ini yang jelas sekali bukanlah sebuah hasil dari harga yang main-main ; ia jadi bertanya-tanya betapa kayanya orang yang tiba-tiba datang ke dalam hidupnya yang tenang ini.
Pria itu benar benar tertutup dengan misteri.
Baekhyun bahkan berpikir tentang bagaimana cara pria itu mendapatkan kertas sialan dengan bubuhan stampelnya, yang (dengan super menyebalkannya) menuliskan jika ia resmi menjadi istri dari lelaki itu.
Apakah ia melewati tidurnya hanya untuk mengurus berkas itu? Atau ia punya kaki tangan yang banyak sehingga bukan masalah baginya untuk menngurus surat itu tidak lebih dari 24 jam setelah mereka bertemu?
Yah, setidaknya, pria itu bukan seorang pembunuh dengan antek-antek menyeramkan bukan?
Baekhyun menggeleng dalam diam, memutuskan bahwa ia harus berhenti memikirkannya.
Ia kembali berjalan menyusuri lorong. Diam-diam kembali mengagumi betapa mewahnya lukisan yang terpajang, atau besarnya rumah yang seperti tidak berujung ini.
Langkahnya terhenti di sebuah jendela yang besar, yang secara otomatis menunjukkan pemandangan di luar lantai yang ia jejaki.
Ah, ternyata itu adalah sebuah halaman yang luas, dengan sebuah pagar tinggi yang menyeramkan. Melihat betapa lapangnya halaman itu, Baekhyun menebak bahwa rumah ini berada di sebuah titik yang sedikit jauh dari kota.
Baekhyun berdecak, baru menyadari kalau rumah ini sangat kosong. Seakan akan kebisingan musnah begitu saja disini. Tidak ada seekor burung pun yang berkicau, ataupun suara mesin yang memangkas rumput-rumput liar di halaman.
Hanya hening. Kosong. Tidak terdengar apapun, bahkan hentakan kaki Baekhyun pada lantai mungkin dapat terdengar sampai ke luar rumah, karena hanya itu saja sumber suara yang terdengar saat ini.
Alih-alih berada di rumah seorang "keluarga", ia hanya merasa berada di sebuah lokasi terisolir dari kota metropolitan yang sibuk.
Baekhyun mengambil kesimpulan dengan cepat ; lelaki itu membenci suara bising.
Ia mengedikkan bahu lalu berbalik, kembali menyusuri koridor sambil sedikit bersiul. Mengikis keheningan dan kesendiriannya, setidaknya.
Beberapa pelayan berjalan dengan takut-takut saat melihatnya, nyaris seperti melihat sebuah bom yang akan meledak, atau sebuah peluru yang akan menembus jantung mereka.
Tetapi, untuk yang kesekian kalinya, ia tidak peduli.
Kemudian, ia merasakan jantungnya berdegub kencang. Sehingga ia memutuskan untuk berhenti, melihat sekeliling dan menemukan sebuah ruangan. Ditutup oleh sebuah pintu kayu dengan ukiran halus dan kaca yang jernih.
Baekhyun bukan tipe orang yang penasaran akan hal apapun, sungguh. Sejak kecil, ia bahkan tidak tertarik dengan cerita-cerita dongeng atau cerita pendek yang biasa gurunya ceritakan.
Dunianya yang keras mengajarkannya untuk berhenti bertanya akan sesuatu.
Dunianya mengajarkannya untuk tidak peduli dengan apapun.
Tapi mungkin yang satu ini adalah sebuah pengecualian.
Dadanya bergemuruh. Pintu itu seperti memanggilnya, seperti menariknya kedalam sebuah lubang hitam kasat mata. Sehingga ia memutuskan meninggalkan akal sehatnya di belakang, memilih melangkah dan mengikuti instingnya, meraih knop pintu dan mendorongnya pelan.
Selangkah di dalam ruangan, ia telah disambut oleh sinar matahari yang terik dan seakan menyerang matanya.
Ketika fokus matanya sudah kembali, ia terkejut dengan betapa terawatnya ruang itu. Berbanding terbalik dengan koridor yang penuh kekosongan dan kehampaan, ruangan ini seperti ruang kecil dari sebuah kebahagiaan. Baekhyun tertarik dan melangkah masuk, menutup pintu, tidak dapat berhenti untuk tersenyum.
Apalagi ketika ia menemukan sebuah bow yang terpajang dengan indah di tengah ruangan.
Hati Baekhyun bergemuruh, segera meraih bow itu dan mengenggamnya erat seakan ia baru menemukan sepotong dirinya yang hilang.
"Kalau begitu harusnya itu ada di sekitar sini..," Baekhyun bergumam, "Dimana biolanya diletakkan?"
Atensi Baekhyun tertarik ke tingkat teratas, dan benda yang ia cari tergeletak manis di atas meja berwarna putih yang terlihat penuh dengan sentuhan estetika.
Baekhyun meraihnya, lalu menatap kedua benda yang berada di tangannya.
Ia mungkin harus menarik perkataanya tadi soal Chanyeol yang membenci kebisingan, melihat betapa rapih dan terawatnya ruangan ini, setidaknya sudah membuktikan kalau si jangkung itu bukanlah pembenci musik bukan?
Baekhyun tersenyum karena pikirannya sendiri, ia senang karena berpikir bahwa kelak ia mempunyai sebuah ruang untuk memainkan sesuatu yang menjadi kesukaannya.
Ia memposisikan biola itu di bahunya, disusul dengan melodi yang mengalun dengan pelan dan hati-hati.
Baekhyun tidak tahu mana yang lebih membuatnya tersenyum, ruangan yang indah, atau gesekan biola putih ini?
Untuk pertama kalinya setelah 24 jam, kebahagiaan Baekhyun meningkat dengan drastis.
Tanpa tahu, apa yang akan menantinya kemudian.
.
Getting Darker
.
Baekhyun menggerakkan kakinya tidak sabar, menunggu Chanyeol untuk muncul dari hadapan pintu besar yang menghubungkan bangunan rumah dengan halaman yang luas.
Kapan laki-laki itu akan datang?
Sudah beberapa kali ia melihat jam besar yang tergantung di depan sofa yang ia duduki, tetapi sebanyak ia menoleh, sebanyak itu pula waktu yang ia habiskan untuk menunggu Chanyeol yang tidak kunjung memunculkan batang hidungnya.
Ia mulai bosan menunggu.
Tepat saat Baekhyun akan memutuskan untuk melangkahkan kakinya kearah kamarnya karena bosan, ia mendengar ketukan kaki yang sangat sangat halus hingga ia nyaris saja tidak mendengarnya.
Itu dia! Chanyeol datang!
"Chanyeol-ssi ! Chanyeol-ssi! Kau akhirnya pulang!" Baekhyun melangkahkan kakinya untuk agak sedikit berlari, senyum lebar menghiasi wajahnya, walaupun pegal di pinggangnya bahkan masih belum terlalu sembuh.
Chanyeol berada di depan pintu, dengan laki-laki yang memiliki tatapan tajam berdiri di belakangnya, melihat tepat kearah matanya dengan tatapan marah.
Chanyeol sedikit menolehkan kepalanya kearah laki-laki itu yang menatapnya, lalu memberinya sinyal untuk tidak mengikutinya lagi. Laki-laki yang terlihat membenci Baekhyun itu membalasnya dengan anggukan dan bungkukan badan tepat sembilan puluh derajat.
Baekhyun mengerutkan dahinya, lalu berjalan lebih dekat kearah pria yang telah ditunggunya sedari tadi.
"Chanyeol-ssi, apa kau gila hormat?"
Kini, giliran Chanyeol yang mengerutkan dahinya heran, "Apa maksudmu?"
Baekhyun mengedikkan bahunya, lalu senyum kembali menghiasi wajahnya.
"Bagaimana harimu? Apa menyenangkan?" Baekhyun memberinya sebuah eyesmile, sementara Chanyeol hanya mengangguk. Baekhyun membawa dirinya untuk mengekori Chanyeol yang telah melepaskan coat panjangnya, yang kemudian langsung diberikan kepada salah satu pelayan yang entah sejak kapan berada di dekat mereka.
"Kenapa kau tiba-tiba berbicara dengan formal, Baekhyunee? Katakan saja apa yang kau mau," Chanyeol menoleh dengan tiba-tiba kearah Baekhyun. Menyisakan jarak hanya agar mereka dapat bernafas tepat dihadapan wajah masing-masing.
Baekhyun meringis, laki-laki di hadapannya benar-benar tahu gerak-geriknya.
"Kalau begitu aku tidak akan segan-segan bertanya," kata Baekhyun.
"Ya, dan tolong jangan panggil aku dengan tambahan –ssi karena itu terdengar sangat mengganggu," Chanyeol membalas, dan sepertinya itu adalah kalimat terpanjang yang ia dengar dari laki-laki itu di sepanjang sore hari ini.
Baekhyun mengangguk, "Jadi… dimana kau mendapatkan benda yang indah itu?"
Chanyeol mengernyit, berjalan menjauhi Baekhyun untuk mengambil air minum di dapur, bersikap acuh tak acuh, dan laki-laki mungil dengan muka penasaran itu tetap mengekorinya di belakang tubuh jangkungnya.
Memandang Baekhyun dari sebelah gelas, Chanyeol membuka mulutnya setelah meminum air, "Benda apa?"
Baekhyun, dengan senyum yang sabar (karena Chanyeol sangat menyebalkan, sungguh) menunjuk kearah tangga yang akan mengantarkannya ke arah ruangan dengan biola cantik yang berdiam dengan manis di dalamnya.
"Biola itu."
Mata Chanyeol membulat dan alisnya menajam, tangannya meletakkan gelas dengan kasar.
"Kau… apa yang kau lakukan?" Chanyeol menatap Baekhyun dengan tatapan membunuh, mencengkram bahu laki-laki kecil itu dengan erat hingga Baekhyun merasakan dirinya sedikit meronta di genggaman laki-laki itu.
"A-apa?" Baekhyun merintih. Chanyeol menghela napas frustasi, lalu sedikit mendorong tubuh Baekhyun ke samping dan membawa kakinya yang panjang ke arah ruangan yang tadi telah ditunjuk.
Chanyeol tetap terdiam sementara Baekhyun yang mengekor di belakangnya bernapas dengan takut-takut.
Apa yang sedang terjadi pada Chanyeol?
Baekhyun melihat bagaimana tangan Chanyeol memutar knop pintu kayu tersebut dengan sangat lembut, mendorongnya kedepan hingga matanya dapat menyapu seisi ruangan.
Baekhyun merasakan napas Chanyeol terdengar memburu.
Laki-laki itu tetap terdiam, tidak menolehkan kepalanya kearah Baekhyun sama sekali, mata elangnya masih menatap ke arah biola berwarna putih yang menjadi topik pembicaraan mereka yang berakhir dengan tidak terlalu baik.
"What the fuck do you think you are doing?" Chanyeol berusaha menetralkan napasnya, tetapi kalimatnya yang tajam mau tidak mau tetap terdengar mengancam.
Baekhyun merasakan tubuhnya merinding.
"Apa… maksudmu?" Baekhyun mencicit, kepercaya dirian tingkat atas yang biasanya melekat di tubuhnya seakan hilang, terbang begitu saja.
"Apa kau memainkannya?" Chanyeol membalikkan badannya yang tinggi, lalu berdiri tepat di hadapan Baekhyun dengan tatapan marah.
"A-apa?"
"Aku bilang, apa kau memainkannya, fucker?"
Baekhyun tertegun.
"Sudah kubilang, jangan memainkan apapun," sergah Chanyeol dengan nada yang mengintimidasi dan suaranya memberat, sarat akan amarah.
Chanyeol menggenggam kerah baju Baekhyun, lalu menariknya dengan kasar, tetapi laki-laki kecil itu tidak bergeming, tidak pula berusaha melepaskan diri.
"Kau mendengarku?" Chanyeol mengeratkan kembali genggamannya pada kerah piama Baekhyun, tubuhnya seakan diambil alih oleh jiwa mafia-nya yang tidak diketahui sama sekali eksistensinya oleh Baekhyun.
Baekhyun lalu mendongak, menabrakkan matanya kearah mata yang masih terbakar oleh api yang berada tepat di depan wajahnya, napas tertahan yang lolos dari hidungnya terdengar sangat kecewa.
"Kau memanggilku apa? Fucker?"
Chanyeol tidak mengeluarkan suara apapun dari mulutnya, tetapi tangannya menghempaskan kerah Baekhyun dengan gerakan yang sedikit… aneh.
"Aku tidak tahu apa yang membuatmu sebegini marahnya kepadaku, Chanyeol." Baekhyun melepaskan kalimat itu dengan bisikan halus.
"Tetapi memanggilku seperti itu, bukanlah sesuatu yang akan membuatku merasa bersalah kepadamu," Tambahnya. "Kau malah membuatku membencimu, padahal awalnya aku ingin membuang jauh-jauh perasaan itu saat melihat orang sepertimu menyimpan suatu keindahan di dalam ruangan ini. Tetapi kau menghancurkannya, karena kau menganggapku seorang pelacur hanya karena aku memainkannya."
Tangan Chanyeol mengepal dengan kuat, matanya terpejam dan Baekhyun tahu bahwa Chanyeol sedang mengontrol amarahnya.
"Kau tidak hanya memainkannya, Baekhyun. Kau tidak tahu."
Lalu Chanyeol membalikkan badannya, melangkahkan kakinya untuk menjauh dari ruangan dengan sinar bulan yang menyinari mereka dengan lembut.
.
Getting Darker
.
Malam itu, Chanyeol tidak muncul pada waktu makan malam.
Bukannya Baekhyun ambil pusing dalam hubungannya dengan Chanyeol, toh sebenarnya mereka berdua terikat karena sebuah kertas pernikahan yang menyebalkan dan perintah dari si-presdir-menyebalkan-Yunho.
Tetapi rasa bersalah sedikit melingkupi hatinya karena jauh didalam sana, Baekhyun tahu bahwa dari awal, ialah yang bersalah.
Lalu ia mengedepankan kekesalannya, hanya karena Chanyeol memanggilnya dengan panggilan sesuatu.
Jujur saja, Baekhyun membenci setiap orang yang memanggilnya dengan panggilan tidak sopan, karena menurutnya, setiap panggilan memiliki arti tertentu di baliknya.
Dan fucker tidak termasuk di dalam panggilan dengan arti yang baik.
Tentu saja, Baekhyun membencinya.
Ia bergelung di atas sofa, terlalu takut untuk pergi ke salah satu kamar yang telah disiapkan khusus untuk tempatnya tidur.
Di kepalanya, terngiang-ngiang bagaimana kalimat Chanyeol yang terakhir kali diucapkan dengan begitu menusuk.
Apa aku harus meminta maaf padanya?
Baekhyun menggelengkan kepalanya, menolak mentah-mentah ide yang diproduksi oleh otaknya tersebut, hey, Chanyeol juga bersalah…kan…?
Kakinya bergerak mondar-mandir di depan sofa, jarinya digigit-gigit kecil oleh giginya, tanda bahwa ia berpikir dengan gugup.
Meminta maaf… atau… tidak?
Sebuah bohlam imajiner terang seakan menyala di atas otaknya.
.
Getting Darker
.
"Yah… kau tahu kan bagaimana laki-laki itu?"
Baekhyun bermonolog dengan suara yang sangat keras hingga suaranya menggema di rumah besar yang sepi itu.
"Pagi ini aku berjalan-jalan di dalam rumah, setelah seseorang pergi, rasanya rumah ini sepi sekali. Akhirnya aku memutuskan untuk menjelajah."
"Lalu aku menemukan ruangan itu, ya Tuhan, ruangannya begitu indah, dan terdapat sesuatu yang bersinar dengan terang seolah mengajakku untuk memainkannya."
"Seperti yang kubilang tadi, aku kan juga laki-laki, sehingga rasa ingin tahuku akan sesuatu itu begitu besar hingga akhirnya aku pun benar-benar memainkannya."
Baekhyun mengeraskan suaranya, memastikan bahwa Chanyeol juga akan mendengarkannya dari kamar yang tidak ia tinggalkan setelah pertengkaran mereka yang telah berlalu tadi.
"Seseorang tiba-tiba memarahiku, dan aku balas marah padanya, tetapi aku tahu bahwa sebenarnya aku sangat kekanak-kanakan, dan sekarang aku merasa sangat bersalah kepada seseorang itu."
"Yah, kuharap seseorang itu memaafkanku," Baekhyun mengecilkan volume suaranya, tetapi ia memastikan bahwa bisikan (keras)nya itu masih terdengar.
"Dan juga! Seseorang itu memanggilku dengan panggilan yang sangat jahat, kuharap ia tidak melakukannya lagi…" Baekhyun semakin berbisik.
Baekhyun menghela napas saat ia tersadar bahwa apa yang ia lakukan itu tidak akan membuahkan hasil apapun. Chanyeol juga tidak memperlihatkan tanda-tanda akan memaafkannya.
Apa ia semakin jengkel karena ulahnya ini?
"Jika seseorang mendengar suaraku, tolong beritahu seseorang itu jika aku –yang masih seorang laki-laki, juga membutuhkan starbucks di pagi hari, dan aku juga masih ingin bekerja, atau berjalan-jalan di Hongdae untuk membeli beberapa baju baru! Karena jika seseorang itu ingin aku untuk tidak berbuat apapun, setidaknya biarkan aku menyibukkan diri agar aku lupa dengan sesuatu yang indah itu!" Bibir Baekhyun mengerucut sebal.
Oh ayolah, Baekhyun telah membiarkan harga dirinya terjatuh untuk kesekian kalinya, dan laki-laki ini masih saja menyebalkan!
"Berhentilah menjadi begitu berisik," sebuah bisikan halus membuat bulu tengkuk Baekhyun meremang, ia merasakan hembusan napas yang berada tepat di belakangnya.
Ia begitu sebal kepada seseorang itu hingga ia tidak sadar bahwa seseorang itu telah berada di belakangnya!
Chanyeol –yang tidak diketahui darimana datangnya tiba-tiba sudah berada di belakang tubuhnya, lalu menarik tangannya agar sedikit membuka.
Sebuah plastik tipis berada di tangan Baekhyun secepat napas yang keluar dari hidungnya karena rasa gugup.
"Beli saja starbucks dan jalan-jalanlah ke Hongdae seperti yang kau inginkan itu."
Aroma maskulin menguar dari tubuh laki-laki yang lebih tinggi, dan posisi backhug secara tidak langsung ini benar-benar tidak berada di dalam rencana Baekhyun.
Oh ayolah, ia hanya berencana untuk 'meminta maaf secara tidak langsung' dengan mengeraskan volume suaranya di dekat kamar Chanyeol.
Dan jangan lupakan black card yang berada di tangannya.
"Aku akan tidur, tolong berhentilah berisik. Selamat malam, Baekhyunee."
Chanyeol bersikap sebegini lembut, dan ia memanggil Baekhyun dengan namanya.
"Kau memaaf-"
Pintu sudah ditutup, bahkan sebelum Baekhyun menyelesaikan pertanyaannya.
.
Getting Darker
.
"Ia akan berada di Hongdae sekitar jam sepuluh, Kai. Jaga laki-laki ini seperti kau menjaga nyawamu sendiri," Chanyeol berkata dengan suara tegas, di seberang telepon, laki-laki dengan tatapan tajam yang bernama Kai itu mengiyakan dengan hormat.
"Bocah ingusan itu sudah pasti merencanakan sesuatu terhadapnya, akan ada sesuatu yang terjadi dengan Baekhyun. Aku sangat yakin akan itu."
TBC
Special thanks to :
kimi2266, selepy, loeylan, chanbaek1597, aryanti park, mawarbiru,
hohomoonim, jeuspre, LyWoo, yan miru, and Talra !
.
.
[applemacaroon's note]
Super duper late publish karena aku yang kesehatannya agak terganggu T-T im so sorry guys.
Really thankful for all of you who review, follow, and favoriting this story.
Jika ada typo atau kesalahan penggunaan kata, apple minta maaf sekali T-T
Tolong kasih kritik & saran di kolom review, Love ya!
[WinterJun09's note]
Chapter dua is out.
I hope you all like it guys. Nggak banyak bacot deh, just thanks for semua yang udah review, favorite, follow kemarin
*emot love*
Last, next? Leave your review below, please.
