applemacaroon x WinterJun09
.
Getting Darker
.
03 Everyone Think That I'm Insane
"Things just break sometimes. Maybe we should blame that third person we became, that personality we shared together. Maybe it's fault because you're a good person and I think I'm a good person too. We just weren't made for this."
― pleasefindthis, I Wrote This For You
Baekhyun bersiul, sedangkan kedua tangannya fokus pada setir di hadapannya. Ia seakan melihat sesuatu yang bercahaya ; kebebasan. Baekhyun tertawa lebar, bertanya tanya mengapa ia bisa merasa begitu terkurung dalam rumah megah itu, biarpun bahkan belum genap dua hari ia berada disitu.
Bisa jadi karena ia berada di bawah atap yang sama dengan orang yang belum begitu ia kenal. Terlebih, orang itu begitu gelap dan penuh dengan misteri.
Ia menggeleng, memutuskan untuk membuang segala pikirannya tadi. Kembali memusatkan perhatiannya pada mobil di hadapannya. Omong omong, tentu saja ia tidak pergi sendiri. Chanyeol menyertainya dengan dua mobil yang mengapitnya ; membuatnya seperti dalam pengalawalan setara dengan presiden. Ia pun tidak benar benar sendirian di mobil ini. Bangku penumpang depan diisi oleh seseorang yang berkata bahwa namanya adalah Kai.
Maksudku, sepanjang eksistensi umur 20 tahunnya, pengawalan sebanyak ini tentu pernah ia dapatkan sebelumnya, mengingat bahwa nyaris setengah dari penduduk korea mengenali garis wajahnya.
Baekhyun kembali bersiul. Memberi klakson pada mobil yang mengawalnya di depan, sebagaitanda untuk mempercepat lajunya- karena ia sudah tidak sabar untuk menginjak gas lebih dalam.
Ah, ia melihatnya. Baekhyun mendesah senang. Gedung Universitas Hongik itu sudah terlihat, artinya ia—Ralat, mereka, sudah sampai di Hongdae Street.
Baekhyun tidak berpikir dua kali untuk segera melepas sabuk dan keluar dari pintu. Ia menghirup nafas dalam dalam ; aroma kebebasan.
"Tuan." Kai memanggil pelan, "Starbucks ada beberapa meter dari sini. Apakah anda keberatan jika kita berjalan dari sini?"
Baekhyun menimbang, menoleh ke sekeliling dan menemukan palang kedai kopi yang ia cari cari sudah terpampang di hadapannya. Tidak terlalu jauh.
"Tidak apa." Baekhyun tersenyum lebar. "Kita jalan saja."
Kai terlihat sedikit ragu, "Apakah anda yakin?"
"Tentu." Baekhyun tersenyum hangat. "Lagipula jaraknya tidak jauh."
Melihat cara lelaki itu tersenyum, Kai menggangguk dan mengikutinya.
Getting Darker
Bukan hal yang baru jika Hongdae di penuhi dengan keramaian. Deret toko memenuhi pandangan, begitupun dengan orang orang yang berdesakan di sana sini. Baekhyun melangkah masuk ke kedai kopi berlambang Siren itu. Mendesah puas saat aroma kopi segera menyeruak dan memanjakan penciumannya.
Ia berjalan menuju meja barista yang menyapanya dengan satu kedipan pada matanya.
"Ada yang bisa ku bantu, pretty?"
Baekhyun menghiraukan panggilan menjijikkan dari barista itu. Memutuskan dalam dua detik bahwa ia harus memesan dengan cepat dan pergi dari sini.
"Latte ukuran Venti. Half-decaf, please. Berikan aku segelas yang dingin. Atas nama Baekhyun. Take away."
Barista itu menyeringai kecil, "Tidak ingin meminumnya disini, cantik? Aku bisa menemanimu."
Kai akan maju untuk memberi sedikit perhitungan pada perkataan dan tatapan nakal barista itu tapi Baekhyun sudah terlebih dahulu berkata dengan raut wajah dan nada yang tidak kalah datar.
"Aku tidak ingin menghabiskan hariku yang indah dengan ditemani oleh bajingan sepertimu."
Entah kenapa, Kai merasakan seringai muncul di wajahnya, tepat ketika melihat barista itu mengunci mulutnya rapat-rapat.
Getting Darker
Baekhyun menyesap lattenya dengan perlahan. Menikmati saat saat dimana pahit kopi itu turun melewati kerongkongannya. Meninggalkan rasa kopi yang khas dan juga manis susu yang menyegarkan. Ia tersenyum dan menarik kakinya untuk menjauhi kedai kopi ternama itu ; memindahkan atensinya pada ribuan toko yang berjejer di jalanan Hongdae. Deretan pakaian serta pernak pernik seakan berteriak "Datangi aku!" ketika siapapun melihatnya.
Baekhyun mengerutkan keningnya bingung ketika banyak distro yang berjejer dan menawarkan begitu banyak pakaian—Ia tidak yakin bisa memilih salah satu diantara ribuan toko unik yang berjejer dengan cantik.
Hongdae bisa menjadi tempat yang cocok untuk pemborosan.
Baekhyun memutuskan bahwa ia tidak peduli. Lelaki menyebalkan itu sudah memberinya izin dan sebuah material yang pasti disukai semua orang—Black card, demi Tuhan. Ia tidak perlu berpikir dua kali untuk segera melongok kedalam distro. Memilih yang ia sukai dan membelinya.
Ah, hidup itu nikmat.
Kai menyimpulkan sebuah senyum tipis saat melihat punggung kecil Baekhyun yang dengan lincah menyelip di antara kerumunan orang. Mencari distro atau toko terbaik yang menarik seleranya dan tidak ragu untuk segera menjulurkan kartu yang diberikan oleh Chanyeol. Kai bahkan tidak bisa lagi menghitung berapa banyak kantong belanja yang berada di kedua tangannya.
Ia menggeleng tapi tersenyum. Karena anak itu terlihat bahagia.
Ia terlihat persis dengan Ibunda Chanyeol ketika beliau masih—
Ah.
Senyumnya luntur. Kai berhenti melangkah dan mengutuk pikirannya. Ia menunduk sebentar, menenangkan dan mengatur ekspresi mukanya menjadi dingin kembali. Memasang wajah tanpa ekspresi dan kaku ketika berjalan di belakang Baekhyun—persis seperti yang Chanyeol ajarkan padanya.
Getting Darker
Baekhyun tiba tiba merasa lelah.
Tidak, tidak. Tentu bukan lelah dengan deretan kios atau kaki lima yang berjejeran. Demi Tuhan, ia bahkan rela menghabiskan waktunya dengan berkeliling sepanjang tahun di Hongdae asalkan ia memiliki itu—Kartu yang ada di tangannya.
Meskipun butik disini tidak semewah New Bond St. yang terisi dengan berbagai macam barang dengan price tag bernominal selangit, setidaknya Hongdae dapat memuaskan keinginannya untuk berbelanja- yang ia tahan sepanjang tahun karena kesibukannya dalam bermusik.
Ia hanya merasa lelah diikuti oleh para bawahan—atau siapalah itu, yang menjaganya seperti seorang babysitter menjaga anak tuannya atau seorang anak yang memelihara kucing peliharaan kesayangannya.
Demi apapun, Baekhyun bukan anak berumur 9 bulan yang baru belajar untuk merangkak. Ia tidak perlu dijaga hingga harus di bukakan pintu toko atau hal hal sepele seperti mengambil pakaian di toko.
Ia bisa melakukan itu sendiri. Baekhyun sudah memberitahu mereka, tapi seperti mereka memiliki sedikit gangguan pendengaran karena sama sekali tidak menghiraukan perkataannya.
Dan jadilah ia, seorang Byun Baekhyun yang dewasa dan terhormat, menjelma secara tiba tiba menjadi anak manja di mata orang orang yang berjalan di Hongdae. Baekhyun mengerti, dan ia berusaha tidak mencolok mata mereka yang mengejeknya satu persatu karena ia masih tahu adab. Lagipula ini adalah kesalahan mereka—orang orang yang ditugaskan oleh orang yang mengaku sebagai suaminya.
"Kai." Baekhyun mendesah. "Aku bisa sendiri."
Kai menggeleng, tetap membukakan pintu untuk Baekhyun. "Ini adalah kewajiban saya."
"Demi Tuhan, aku bukan seorang pejabat." Baekhyun memutar bola matanya. "Bisakah kau lihat kalau aku dipandang sebagai orang aneh oleh mereka? Bisa bisa aku dikira sebagai mata mata utusan Korea Utara."
"Apakah mereka membuat anda tidak nyaman?" Kai segera mengerutkan kening. "Saya akan mengurus—"
"Astaga, apakah kau benar benar berencana 'mengurus' mereka jika aku berkata 'Ya?!'"
"Tentu."
"Bagaimana cara kau 'mengurusnya', huh?"
"Memberi mereka sebuah pukulan, tentu saja."
"Dan kau akan membuat keributan, polisi akan datang dan aku harus datang ke kantor polisi untuk mengisi laporan kejadian. Dan aku akan berakhir dengan di permalukan oleh media dengan tajuk bahwa seorang lelaki bernama Byun Baekhyun telah menyuruh pengawalnya untuk memukul setiap orang yang menatapnya." Baekhyun menarik nafas. "Tidak semua akan selesai dengan kekerasan, oke?"
Kai hanya diam, memberi ekspresi kosong sebagai balasan. Tapi diam-diam ia menyambung dalam hatinya, kalau sebenarnya kejadiannya tidak akan berakhir seperti itu. Ia yakin bahwa jika sekarang ada Chanyeol disini, lelaki itu akan terlebih dahulu membuat orang orang yang menatap miliknya seperti itu meninggalkan raganya, bahkan saat Baekhyun belum mengatakan apapun. Lagipula, Chanyeol tidak mungkin membiarkan miliknya berada di kantor polisi.
Tapi ia memutuskan bahwa diam adalah jawaban yang terbaik.
Baekhyun mendesah pasrah, "Nah, sekarang. Biarkan aku sendiri. Jangan terlalu dekat. 10 meter sudah jarak yang dekat, bukan? Aku pria dewasa. Aku bisa menjaga diriku sendiri."
Kai sebenarnya meragukannya.
Tapi lagi lagi, ia hanya mengangguk dan menyuruh yang lainnya untuk membuat jarak dengan Baekhyun—sesuai dengan yang lelaki itu inginkan.
Getting Darker
Ada banyak alasan mengapa Baekhyun menyukai biola. Salah satunya adalah ; alat musik itu bisa membuat detak jantungnya berdetak dengan gairah hidup tertinggi sepanjang umur yang ia miliki.
Dan itulah yang sedang terjadi padanya saat ini.
Baekhyun tidak mengira ia akan menemukan toko musik, tidak sama sekali. Hongdae adalah tempat yang paling sempurna untuk belanja dan bergaya seperti seorang hipster. Sangat tidak mungkin rasanya apabila ia tiba tiba menemukan sebuah toko musik yang tersesat di deretan kios unik di Hongdae.
Tapi ia baru saja menemukannya.
Baekhyun terkejut. Meneliti nama toko itu sebentar—Little Pleasure, dan bertanya tanya mengapa ia belum pernah melihat toko itu sebelumnya.
Ia tidak ragu untuk mendekat dan masuk kedalamnya, tentu saja.
Interior yang menakjubkan. Baekhyun terpana. Cahaya cahaya menusuk ke dalam matanya bahkan saat ia baru menginjakkan langkah pertama. Partitur piano yang masih kosong, chord gitar, dan partitur biola terpajang rapih di dinding. Baekhyun mendesah kagum melihat betapa rapinya deretan biola biola yang tersusun. Manik coklatnya tertarik pada sebuah biola di salah satu sisi. Tertempel sebuah catatan kecil dengan sebuah gambar senyum yang manis ; Touch Me.
Baekhyun tersenyum, sama manisnya dengan gambar di catatan kecil itu. Ia meraih bow yang bersandar pada badan biola dan meraih biola itu kemudian. Mencoba beberapa gesekan, dan ia terlarut dalam permainannya.
Ia berhenti setelah memutuskan untuk membeli biola cantik itu. Walau ia tidak yakin kapan ia akan memainkannya, tapi Baekhyun akan memastikan untuk mencoba membuat partitur baru dengan biola itu.
"Oh God, apakah itu kau- Byun Baekhyun?!"
Mendengar namanya diucapkan dengan pekikan sedemikian kerasnya, Baekhyun menoleh, menemukan beberapa perempuan yang setidaknya berumur sekitar 25 tahun, tengah menutup mulutnya dengan ekspresi wajah seperti telah melihat Justin Bieber tengah bercinta dengan saudara mereka.
"Um… yeah?" Baekhyun membalas dengan kerutan di dahinya, sedikit bingung dengan situasi yang baru saja terjadi.
"Oh ya Tuhan, aku adalah fansmu!"
Baekhyun lalu tersenyum paham, ia mendekati sekelompok perempuan itu dengan senyuman ramah, "Ah, terima kasih. Apa yang sedang kalian lakukan disini?"
Wanita-wanita itu mengoceh panjang lebar sampai-sampai Baekhyun tidak menangkap satupun kalimat yang mereka ucapkan. Mereka sepertinya tengah tenggelam antara ketidakpercayaan bahwa mereka bertemu dengan Nation's little Angel.
"… Yah, jadi kami kira kau sedang mengambil hiatus karena akan berkumpul bersama keluargamu sepanjang akhir tahun ini seperti yang diberitakan di televisi, kau benar-benar manis sekali, Baekhyun-ssi!"
Baekhyun mengerutkan alisnya, "Um, maaf… baru saja, apa yang kau katakan?"
Mereka terkikik geli antara gemas dan terpesona, "Kami bilang, semoga kau mendapatkan liburan yang menyenangkan bersama keluargamu."
Oh, Yunho benar-benar dapat menyuap media, dasar direktur licik. Liburan bersama keluarga? Demi bokongku, itu tidak akan pernah terjadi.
Getting Darker
Baekhyun pikir ia sudah selesai dengan 'pemborosan' nya ketika ia keluar dari pintu kios terakhir. Kakinya sudah lelah untuk berjalan dan ia menyadari sakit di pinggangnya kembali menyiksanya.
Ia memutuskan bahwa ini cukup, dan ia akan pulang. Sebenarnya, memikirkannya pun, Baekhyun sedikit banyak merasa enggan. Untuk kembali ke sana, rasanya sangat… Tidak menyenangkan.
Terlalu hening disana. Baekhyun tidak menyukai dimana ia hanya bisa mendengar deru nafasnya sendiri di sepanjang koridor. Ia tahu kalau Chanyeol dan dirinya berbeda dalam sekali pandang— mereka memiliki begitu banyak perbedaan dalam banyak persoalan pula.
Mungkin mereka seperti halnya api dan es. Mereka selama ini hidup dalam lingkup kehidupan dan permainan takdir yang berbeda, hingga takdir itu sekali lagi datang dan menghancurkan skema alam yang Baekhyun pikir akan berjalan selamanya.
Ia menghembuskan nafasnya dalam-dalam.
Ekor matanya melirik Kai dan lelaki berjas hitam yang lain. Mereka sedang memasukkan paper bag kedalam bagasi. Mungkin sebentar lagi mereka akan selesai; Baekhyun harus segera mengambil sebuah keputusan.
Apakah ia akan pulang seperti peliharaan yang selesai jalan-jalan, atau berlari seperti cheetah dan menyambut angin bebasnya yang sebenarnya.
Opsi kedua, membuat detakan pelan dalam jantungnya.
Dalam hitungan tiga yang ia suarakan dalam hati; Baekhyun mulai berlari. Membawa kotak biolanya bersamanya. Berlari kemanapun ia bisa melihat. Ia mendengar derap langkah menyusulnya, ia tahu itu pasti mereka. Karena itu, Baekhyun semakin mempercepat larinya. Merasakan angin yang menerpa wajahnya semakin kencang dan membuat rambutnya bergoyang berantakan.
Yah, tapi siapa yang peduli? Baekhyun bukan perempuan, bajingan itu tidak bisa mengikat Baekhyun di rumah hanya dengan kontrak sialan yang ditunjukkan olehnya.
Derap langkah itu berhenti saat ia berbelok ke sebuah gang kecil.
"Sialan." Baekhyun mengumpat pada nafasnya yang terputus-putus, melirik luar tembok dan menghela nafas lega saat mereka sudah tidak terlihat lagi. Aman. Baekhyun tersenyum, menghapus peluh di dahinya dan menata kembali rambutnya.
"Mereka tidak mengejarku? Wah, mereka lemah sekali." Baekhyun berdecak, kemudian menyeringai.
"Kau lelah berlari, sayangku?"
Baekhyun berjengit ketika ia merasakan sebuah tangan asing menyentuh bahunya. Refleks ia menjauh, menatap lelaki itu dengan pandangan berbahaya. Tidak bisakah ia tidak bertemu laki-laki hidung belang yang melihat bokongnya seperti singa yang melihat daging segar?
"Siapa kau?"
Lelaki itu berdecih, bersiul dengan nada sumbang yang aneh dan beberapa pria lagi keluar dari gang yang gelap. Baekhyun memasang kuda kuda—siap untuk mengeluarkan semua tinjuan atau tendangan yang ia punya.
"Kami tidak akan menyakitimu, asalkan kau ikut bersama kami."
"Dalam mimpimu, jelek." Baekhyun berdecih sinis.
"Jangan melawan kami. Kau tidak sebanding."
Baekhyun tidak peduli. Ia tahu lebih dari siapapun kalau ia kalah jumlah. Ada lebih dari enam orang disitu dengan ukuran tubuh yang dua kali lipat lebih besar darinya. Ini jelas situasi yang tidak menguntungkan.
Tapi ia tidak mungkin berlari, kan?
Salah satu dari mereka maju, dan Baekhyun menendangnya mundur. Yang lain mencoba membuat punggungnya menyentuh dinding, tapi Baekhyun berhasil mematahkan tangannya. Beberapa diantara mereka menahan Baekhyun di tangan dan kakinya, dan saat itulah Baekhyun tidak bisa bergerak. Tubuhnya ditahan dengan erat dan oleh tenaga yang besar.
Mengerikan, Baekhyun pikir ia akan berakhir seperti ini.
Baekhyun meliukkan tubuhnya dan ia berusaha mengigit tangan orang yang menahannya. Mungkin bisa sedikit membantu tapi ia kalah cepat.
Bugh.
Sebuah batu bata di pukulkan pada tengkuknya. Baekhyun tersentak dan para lelaki yang menahannya membiarkannya terjatuh. Pandangannya perlahan lahan menghitam dan yang selanjutnya ia dengar adalah gelak tawa.
Kemudian, gelap. Di dalam hening yang membuat pikirannya mengigil, ia masih dapat mendengar dirinya memikirkan sebuah nama.
Kalian tahu dengan pasti siapa yang ia pikirkan.
Getting Darker
…
Baekhyun takut.
Bukan karena ia merasakan tatapan yang mengarah padanya, atau bukan karena ia tahu bahwa ia menjadi bahan tertawaan orang-orang dengan suara asing di sekitarnya.
Baekhyun takut akan kegelapan.
Ketakutan itu seakan menelan kepalanya bulat-bulat, memberikan lecutan kecil pada setiap degupan hatinya yang berdebar semakin keras. Matanya tertutup oleh sebuah kain lusuh, dan yang ia tahu, tidak terdapat secercah cahaya pun yang menyentuh kulitnya dengan lembut.
Mungkin ia tidak melihat adanya cahaya, tetapi kulitnya merasakan itu.
Sebuah rasa dingin yang tidak asing mendadak menghantam kepalanya keras-keras.
"Ibu… tolong aku…" Bibir Baekhyun merintih, sebuah permohonan sarat akan kekecewaan terlepas dari mulutnya, menggelitik hatinya dengan sebuah pukulan telak.
"Ayah.. ayah… B-baekhyun tidak ingin ini."
Sebuah pukulan kasar menghantam kepala bagian atas tubuh Baekhyun yang duduk dengan tangan yang terikat dengan erat.
Rintihan kembali lolos dari kedua bibir itu.
"Where is it, Baekhyun? Beritahu kami dimana partitur yang berharga itu, sayang,"
Tubuh Baekhyun tersentak, ia merasakan kepalanya berdenyut-denyut, dan ini tidak baik. Suara laki-laki ini penuh akan kemenangan, seolah baru saja memenangkan sebuah lotere. Baekhyun tiba-tiba sadar bahwa kali ini, laki-laki asing itu mengincar sesuatu yang lain darinya. Sesuatu yang lebih berharga dari dirinya sendiri; musiknya.
Chanyeol, aku butuh chanyeol.
"Y-yeol…"
Telinga Baekhyun mendengar suara tawa kembali mendengung di dalam ruangan yang sesak, hatinya seperti menciut mendengar betapa orang di dekatnya ini terdengar begitu mengancam, siap untuk membunuhnya hidup-hidup.
"Byun Baekhyun, golongan darah O, anak pertama dari dua bersaudara, pendidikan terakhir, Jongwoon Highschool…." Laki-laki itu terdiam sejenak, decihan halus keluar dari sudut bibirnya.
"Kau terlalu biasa saja, Baekhyun, kenapa semua orang begitu menyukaimu?"
"Sialan, lepaskan aku, brengsek!"
"Berikan padaku partitur itu, sayang."
Baekhyun merasakan orang tersebut menyentuh pipinya dengan lembut, mengusapnya hingga dagu, lalu kembali pada pipinya dan menepuk dengan kasar.
"Jangan menjadi kurang ajar, Baekhyun. I can kill you in no time."
Jika saja tangannya tidak terikat dan matanya tidak tertutup, Baekhyun mendengar hatinya berjanji bahwa ia akan mencabik-cabik wajah si brengsek ini.
Sudut bibir Baekhyun tertarik ke atas, lalu ia mendongak, merasakan eksistensi laki-laki itu di hadapannya. Detik selanjutnya, Baekhyun meludah, berusaha sekeras mungkin agar setidaknya laki-laki itu tahu bahwa ia tidak lebih dari sebuah tempat pembuangan sampah.
"Di mimpimu saja, dasar brengsek."
Baekhyun merasakan tamparan di pipinya, begitu keras hingga ia tahu bahwa sudut bibirnya berdarah. Denyutan perih di pipinya terasa begitu nyata sampai-sampai ia hanya dapat terdiam selama beberapa detik.
Kepalanya ditarik agar mendongak keatas, dan Baekhyun bahkan dapat bertaruh bahwa laki-laki itu dapat mencabut seluruh rambutnya, hal itu dapat dibuktikannya dengan bagaimana kulit kepalanya seperti tertusuk oleh ribuan jarum tenun.
"Si-sial..."
"Kau bahkan terlihat begitu tidak berdaya, Byun Baekhyun. Berhentilah menjadi begitu keras kepala. Berikan partitur itu dan aku akan melepaskanmu."
Gelengan lemah adalah satu-satunya hal yang dapat Baekhyun lakukan.
Bagi Baekhyun, setiap partitur yang ia tulis adalah sebagian dari nyawanya. Setiap lembar berisikan sebuah cerita yang ia lalui dengan memikul sebuah beban baru. Setiap not balok yang terlukis nyaris sebanyak harga diri yang tertulis di dahinya dengan mantap.
Dan itu berarti bahwa Byun Baekhyun adalah seorang laki-laki yang telah melewati begitu banyak rintangan untuk dapat berdiri di sebuah panggung, berisikan setumpuk manusia yang mengelu-elukan namanya.
Aku tidak akan menyerah.
Tidak saat ini.
"Apa kau sudah menyerah?"
"Tidak."
Chanyeol, tolong temukan aku, sekarang juga.
Kegelapan seolah menelannya begitu dalam, bukan hanya karena ruangan ini gelap, tetapi karena ia juga tahu, bahwa memohon dengan sepenuh hatinya tidak akan membuatnya keluar dari kegelapan itu.
Dan Chanyeol adalah satu-satunya pendar yang ia butuhkan saat ini.
Getting Darker
Kai masuk ke dalam sebuah bar dengan lampu yang menyala bersahutan, ekor matanya melihat dengan teliti ke seluruh ruangan, menyapu keheningan dengan mata elangnya yang tajam.
Ruangan ini begitu besar dan mewah, tetapi seperti hari-hari biasanya, tidak ada musik yang mengalun dengan lembut di dalamnya.
Lalu matanya menangkap badan jangkung laki-laki yang biasa ia panggil bos, dengan setelan kemejanya yang berantakan dengan sengaja, dan rambut abu-abunya yang masih terlihat sempurna.
Kai tidak yakin, apakah bosnya ini baru saja bersenang-senang, atau mungkin malah sebaliknya.
"What? Berhenti meneliti diriku seperti itu, Jongin."
Ah.
Kai melangkah mendekati laki-laki itu dengan cepat, duduk di kursi di sebelahnya dengan gerakan santai.
"Laki-laki yang kau katakan padaku itu, bro." Kai membuka percakapan dengan topik yang mengarah langsung pada inti permasalahan. "Bagaimana selanjutnya?"
"Sesuai rencana, Jongin. Aku tidak pernah meleset." Chanyeol meneguk cairan pekat yang terkait di tangannya. Bibirnya membentuk sebuah smirk yang menakutkan.
"Lalu apa?"
"Kita biarkan pria kecilku mendapat hukumannya, lalu aku akan menjadi kuda putih untuk ia kabur dari penjahat amatir itu."
"Maksudmu Ten."
"Aku tidak peduli siapapun namanya." Chanyeol mendesah malas, kembali membiarkan tenggorokannya menelan wine dengan nikmat, "Yang jelas aku tidak akan membiarkan milikku direbut oleh bocah tolol itu."
Kai mengangkat sebelah tangannya, meminta sebuah bartender untuk membawa segelas cocktail, membawa dirinya merilekskan tubuh dari kepenatan yang mengisi dirinya seharian ini. Es yang menyentuh bibirnya seakan-akan menjadi pertolongan pertama dalam kesehariannya yang sibuk.
"Kau tahu bahwa ia akan kabur dan diculik." Kai terperangah, tetapi tetap tidak kaget dengan kenyataan yang keluar dari mulutnya sendiri. Chanyeol selalu seperti ini, setiap sang lawan merasa bahwa ia berada dua langkah di depan laki-laki itu, maka tanpa mereka sadari, Chanyeol sudah begitu jauh menunggu mereka di garis finish, dengan senyum mematikan, siap untuk menghabisi nyawa mereka.
"Bingo."
Dan Chanyeol, dengan kekuatan dan kekuasaan berlapis-lapis, tertawa kecil untuk pertama kalinya hari ini,
"Kita ikuti saja permainan anak bodoh ini."
TBC
Special THANKS to :
chalienBee04, LyWoo, loeylan, kimi2266, aryanti park, Pitterluck, verparkhyun, Eun810, rimaa, Rosehyun, rismaaa45, Incandescense7, and selepy !
.
.
[applemacaroon's note]
Hey! terimakasih untuk kalian yang udah nunggu ff ini untuk update sekitar seminggu sekali T-T
and, untuk selanjutnya, aku mungkin akan buat project FF baru, bisa jadi oneshot, atau mungkin series baru, dan bisa jadi sequel 'Everyours, Richard Park' hehehe.
So please, keep supporting me! I love you all :)
((really thankful bcs all of ur reviews!))
[Winterjun09's note]
Thanks for all reviewers, Next?
Leave your review below.
