applemacaroon x WinterJun09

.

Getting Darker

.

04 The Star of the Darkest Night

And you let me leave.
And then wish I'd stayed.
And you almost killed me.
But I didn't die."
pleasefindthis


Baekhyun tidak tahu berapa lama waktu yang ia habiskan di dalam ruangan ini.

Gelap dan dingin.

Tak ada secercah cahaya pun di dalamnya ; kecuali dari sebuah jendela kecil yang berada di dinding bagian atas. Baekhyun menemukan dirinya sendiri mengigil dalam ketakutan, dan untuk pertama kalinya, ia disekap, disembunyikan di dalam ruangan gelap tanpa siapapun menemaninya.

Semua ini membuat udara seakan menghilang dari paru-parunya ; ia merasa sesak.

Baekhyun ingin melawan, tetapi ia tidak menemukan orang picik yang meminta partiturnya—yang ia yakini sebagai dalang di balik semua peristiwa ini, dan lelaki itu tidak memunculkan batang hidungnya barang se inchi pun sejak-

entahlah ia juga kehilangan jejak waktu.

Everything looks dark, and he is scared to death everytime he breathe.

Saat malam tiba—adalah ketika ruangan itu sepenuhnya gelap, Baekhyun tidak dapat menahan dirinya dari selusin penyesalan. Mengapa ia harus kabur dari pengamanan yang ketat? Mengapa ia harus merelakan dirinya sendiri untuk disekap? Mengapa ia tidak bisa melawan mereka?

Mengapa Chanyeol tidak datang untuk menolongnya? Apa pria itu terlalu lemah hanya untuk sekedar memanggil polisi?

Apa pria itu sudah tidak peduli karena ia kabur?

Baekhyun tidak dapat menahan dirinya untuk tidak terkekeh di sela-sela tangisnya.

Ayolah, Byun. Makinya dalam hati. Kau yang melepaskan diri darinya, dan sekarang kau mengharapkan bantuannya? Mimpi saja kau.

Di malam yang dingin, tanpa selimut, atau tanpa pelukan hangat dan temaram lampu kamar, Baekhyun meringkuk diam. Meratapi nasibnya ; yang mungkin akan diberikan tanda fullstop disini.

Di malam tanpa sebuah cahaya, Baekhyun belajar bahwa mungkin sedari awal ia yang bodoh, menganggap Chanyeol berbahaya, tapi ia tidak pernah memikirkan kemungkinan kalau lelaki itu sedang mencoba melindunginya.

Ia merasa konyol, jika saja ia menerima dan duduk diam di rumah, atau keluar dan pulang kembali seperti peliharaan yang selesai berjalan-jalan ; ia tidak akan pernah tertidur di atas keramik yang dingin.

Jika saja ia lebih cepat menyadarinya, ia tidak akan ketakutan seperti ini.


Getting Darker


Baekhyun akhirnya melihat setitik cahaya.

Cahaya itu muncul bersamaan dengan suara deritan besi tua yang tergeser. Ia segera mendekat pada pintu—nyaris dengan langkah secepat yang ia bisa, seperti cahaya itu akan hilang bila ia tidak menghampirinya dengan kecepatan kilat.

Baekhyun memasang kuda-kuda yang ia pelajari, barangkali ia punya kesempatan untuk kabur. Tetapi ternyata yang datang hanyalah senampan makanan—dengan celah di bawah pintu yang terbuka, Baekhyun bahkan bertanya-tanya apakah begini rasanya masuk kedalam penjara.

Seseorang berteriak di luar sana dengan berang—tidak sabaran, "Cepat ambil, dasar bajingan lemah."

Baekhyun tidak gentar walau mendengar makian orang itu.

"Bagaimana aku tahu kalian tidak memasukan apapun ke dalamnya?"

Si orang di depan pintu terdengar tersinggung, "Heh, kotoran sialan. Apa kau bosan hidup dengan menanyakan hal seperti itu?"

"Kau bisa saja memasukan sesuatu seperti racun," Baekhyun mengabaikan kalimat si pria itu. "Atau mungkin flaka?" Kekehan muak keluar secara tidak sadar dari celah bibirnya.

"Dasar bocah tengik. Kalau aku ingin membunuhmu, sudah kulakukan sedari tadi. Tuan butuh partitur sialan mu. Karena itu tetaplah hidup setidaknya sampai kami melihat partitur itu."

"Demi Tuhan," Baekhyun berdecak, pura pura kagum. "Aku baru tahu ternyata permainan biolaku juga menyentuh hati preman pasar seperti kalian hingga kalian ingin mencuri partiturku."

Suara gemeretuk gigi terdengar, "Preman pasar katamu?!"

"Lalu apa sebutan yang lebih baik untuk seseorang yang menyekap orang tak tahu apa-apa di dalam suatu ruangan gelap, tanpa sebuah ranjang atau kamar mandi. Well, kalau kalian sebegitu inginnya menemuiku, hubungi perusahaanku untuk meminta jadwal fansign atau fanmeeting—"

Pintu dibanting dengan keras hingga terbuka, nyali Baekhyun langsung ciut saat itu juga.

Yang berdiri di hadapannya adalah seorang pria kekar—tidak, setidaknya ia tiga kali lipat besarnya dibandingkan dengan dirinya. Nafasnya berhembus kasar, panas dan menerpa langsung di wajahnya.

Wajah laki-laki itu nyaris penuh dengan bekas goresan luka, jangan lupakan bekas jahitan besar yang melintang dari pelipis ke pipinya.

Lelaki ini mengerikan.

"Dasar bajingan tengik. Beraninya kau memanggil Tuan dengan sebutan preman pasar hah?!"

Satu tendangan di perutnya membuat Baekhyun tersungkur ke belakang secara tiba-tiba, terbatuk dan segera melilitkan tangannya di depan perutnya—melindungi kalau-kalau ia kembali diserang di tempat yang sama.

"Aku benci sekali harus mengeluarkan tenagaku untuk bocah sepertimu, sialan. Jadi jangan pancing emosiku atau aku tidak akan segan-segan mengunyahmu hidup-hidup."

Baekhyun terengah, tidak menjawab. Sibuk menenangkan rasa nyeri yang ada di perutnya.

"Harusnya kau bersyukur setengah mati Tuan masih memberimu makanan. Bahkan jika ia ingin menaruh racun di dalamnya, kau juga harus menerimanya dengan bersimpuh!"

Lelaki itu mendekat, menarik rambutnya keras sehingga ia mendongak dengan mulut terbuka menahan sakit di kulit kepalanya.

"Mengerti, Brengsek?!"

Baekhyun mengangguk susah payah dengan kening yang mengerut sakit.

"Kalau kau mengerti, jangan melawanku! Jika kau melakukannya lagi—"

Perkataannya melayang berhenti di udara yang mencekik, ia merogoh sesuatu dari sakunya. Pemantik api.

Baekhyun sadar pupil matanya membesar, refleks berjengit dan berusaha beringsut mundur dengan terseret.

"—Nah, tebaklah apa yang akan kuperbuat dengan jari-jarimu yang manis..." Yang lebih kekar tersenyum culas, ".. Dengan pematik api yang dinyalakan."

Baekhyun terkejut, menarik dirinya untuk mundur biarpun ia tahu ia tidak akan bisa menghindar. Ia menggeleng lemah, air mata mulai menggenangi matanya ketika lelaki itu mendekatkan pematik api yang menyala ke jemarinya yang terkepal kuat.

"Fred?"

Gerakan tangan Fred—lelaki itu, mungkin- terhenti, dan ia menoleh. Disana, berdiri seorang lelaki dengan pakaian santai yang terlihat kasual, lelaki itu mengangkat sebelah alisnya.

"Jangan rusak tangannya, ingat kata bos?"

Fred berdesis, ia mematikan nyala api itu dan menaruh pemantiknya kembali ke saku.

"Kau hanya sedang beruntung bocah."

Nampan makanan itu kemudian ditendang, tepat di hadapan Baekhyun. Fred melepaskan surainya dengan kasar dan berdecih sekali sebelum keluar dengan geram dari ruangan. Menutup pintu besi di belakangnya—kembali membuat ruangan itu gelap seperti sedia kala.

Baekhyun meringkuk, badannyabergetar. Ia bahkan dapat mendengar detak jantungnya yang berpacu cepat.

Hening.

Baekhyun diam-diam menangis—menatap jemarinya. Ia hampir kehilangan nafasnya jika saja lelaki itu benar benar membakar kedua tangannya. Memikirkannya, Baekhyun semakin ketakutan—kematian terasa begitu dekat. Kematian terasa begitu mencekiknya.

Dan tidak ada siapapun berada disisinya, setidaknya untuk menenangkan pompa jantungnya.

Apa Chanyeol… benar-benar sudah tidak peduli padanya?


Getting Darker


Hari-hari berjalan dengan menyeramkan setelah itu.

Baekhyun menemukan dirinya berjengit setiap ia mendengar derek jendela kecil yang terbuka, atau suara bentakan di luaran sana, ia menghitung seberapa banyak makian yang mereka keluarkan dari mulut ular mereka, dan itu hampir sebanyak ketakutan Baekhyun akan apa yang bisa saja terjadi beberapa hari kedepan.

Ia tidak dapat memejamkan matanya untuk sekedar menjemput tidurnya.

Kotak biola yang diletakkan pada sudut kamar menarik atensinya, ia ingin memainkannya.

Tapi apakah dengan itu, lelaki-lelaki lain seperti Fred akan memukul perutnya dan mengancam untuk membakar kedua tangannya? Apakah ia akan dipukul jika ia memainkannya?

Baekhyun ketakutan.

Baekhyun ketakutan, tetapi ia tidak bisa keluar.

Suara decitan alas sepatu dengan lantai menyapa telinganya. Baekhyun menatap pintu itu cemas, bertanya-tanya dalam ketakutan akan siapa yang datang.

Apakah makanan lagi? Ia mendengar hatinya bertanya. Tapi tadi pagi mereka sudah mengantarnya.

Pertanyaannya terjawab sudah ketika pintu di dorong dan terbuka.

Baekhyun memejamkan mata, sedikit tidak terbiasa dengan banyaknya cahaya yang masuk yang dengan segera menyerbu matanya. Silau, Baekhyun akhirnya berusaha membuka mata. Mengintip lewat kelopak matanya, siapakah yang masuk ke dalam ruangan gelap ini?

Satu dua bagian dalam hatinya berharap kalau itu adalah Chanyeol.

Tapi yang masuk bukanlah figure seorang tinggi.

"Halo, sayang."

Lelaki itu menyapa dengan nada mengejek, "Aku bertanya tanya, apakah kau sudah berubah pikiran?"

Suara itu, Baekhyun menatap nanar lelaki di depannya.

Jadi dia, yang membawanya ke sini. Yang membuatnya terkurung di ruangan ini. Itu dia.

"Siapa yang menyuruhmu?"

"Apakah itu penting bagimu?"

Baekhyun menatapnya nanar, "Kenapa kau mengurungku disini?"

"Agar kau menyerah?" Lelaki di depannya terkekeh sekali, "Bukankah berada disini menyenangkan?"

Tidak ada jawaban yang keluar, sehingga ia melanjutkan kalimatnya yang tergantung di udara.

"Kalau kau ingin keluar, berikan partiturnya padaku."

"Tidak sampai aku mati sekalipun, brengsek." Baekhyun meludah dengan kasar.

Lelaki di hadapannya—Ten. Tertawa miring, menoleh ke belakang ; dimana anak buahnya berdiri garang di sana.

"Tunggu apa lagi! Pukul dia." Ujarnya datar.

Baekhyun mengerjap, dan dalam satu hitungan pukulan bertubi tubi datang menghampirinya—bagai hujan. Baekhyun tidak ingin menyerah, tidak sekalipun. Setidaknya ia tidak ingin menyerah sampai seseorang dapat membantunya keluar dari neraka ini.

Di tengah tengah kesadarannya, Baekhyun melirik sudut ruangan.

Kotak biolanya, masih ada di sana.

Bersandar di dinding, tak tersentuh. Hatinya kemudian tenang, ia memejamkan mata. Mengulang di pikirannya bahwa ia baik baik saja. Memar di tubuhnya, ataupun perih yang ia rasakan di pipinya berdenyut sakit, tetapi ia sudah lelah bahkan untuk merasakan sakit.

Setiap waktu yang ia habiskan disini hampir seluruhnya dihabiskan hanya untuk merasakan rasa sakit bukan?

Apa jika kau sudah dipukul berkali-kali, maka rasanya sudah tidak akan sakit lagi?

Jawabannya adalah tidak.

Semuanya masih berdenyut sakit, entah tubuhnya atau otaknya, atau mungkin hatinya.

Tetapi seperti waktu-waktu sebelumnya, ia berpikir semuanya akan baik-baik saja.

Mungkin sampai besok.

Atau mungkin, sampai Chanyeol menyelamatkannya.


Getting Darker


Seseorang mengusap tubuhnya dengan gerakan halus, sesuatu yang dingin menyentuh kulitnya untuk pertama kali, dan Baekhyun membuka matanya yang berat dengan sedikit desisan sakit.

Dengan separuh terkejut, Baekhyun menarik tangannya dari sentuhan pria dihadapannya yang sedang setengah terduduk.

"Goddammit, Siapa kau?!" Baekhyun bertanya dengan sedikit merasa terancam.

"Ssssh… Stop talking," Laki-laki itu menjawabnya dengan suara bisikan sehalus angin, ia kembali menarik tangan Baekhyun yang bergetar dengan lemah, "Let me examine this for you."

Baekhyun kembali mendesis, merasakan bagaimana sebuah kompres es menekan luka memarnya, hatinya berdegup dengan kencang, sebagian bertaruh bahwa ia akan diselamatkan tidak lama lagi.

"I'm Archer," laki-laki itu kembali berbisik dengan suara sekecil mungkin, tetapi lelaki itu tetap memastikan telinga Baekhyun dapat mendengarnya, "And I'm here because Mr. Park want me to."

Jantung Baekhyun seakan melewatkan satu degupan. Mendengar marga Chanyeol disebut setelah sekian lama, Baekhyun merasakan gelombang mual yang begitu kuat seakan menerjang perutnya.

Ia seakan tenggelam didalam rasa malunya sendiri, bahagia karena diselamatkan oleh orang yang ia tinggalkan dengan rasa senang yang membuncah.

Benar-benar tidak tahu malu.

Sementara Archer (Baekhyun benar-benar berharap ia dapat melihat laki-laki itu secara langsung, tetapi tidak ada sedikit cahaya pun yang masuk kedalam retinanya) mengusap luka di sekujur tubuhnya dengan lembut, Baekhyun merasakan dirinya hanyut kedalam perasaan lega luar biasa.

"Apa kau akan menyelamatkanku?" Baekhyun bertanya dengan nada setengah berharap, tetapi pria dihadapannya tidak menjawab, ia sibuk mengusap seluruh bagian luka Baekhyun, seakan tidak ingin melewatkan apapun.

Baekhyun merasakan sebuah usapan halus di atas kepalanya, pertama kali semenjak orang-orang menjambak rambutnya dengan kasar.

"I want to, but not now," Archer menangkupkan tangannya di sisi wajah Baekhyun. "He want to say something,"

Baekhyun mengerutkan dahinya, bingung dengan perkataan Archer yang tidak jelas.

Lelaki setengah foreigner ini pastinya mengerti bahasa korea, dilihat dari bagaimana ia dapat menjawab pertanyaan Baekhyun. Setelahnya, Baekhyun merasakan suatu earphone kecil tanpa kabel telah tersangkut di telinganya.

"I will go now, Mr. Park want you to stay alive, and he said he miss you."

Baekhyun ingin berteriak saat Archer keluar dengan mengendap-endap dari ruangannya yang gelap, tetapi apa boleh buat, Baekhyun tahu itu akan menghasilkan sesuatu yang membahayakan bagi keduanya.

Dan lagi, nyeri di tubuhnya seakan berkata untuk tetap dalam posisinya.

Baekhyun kembali menyerah dalam diam, terlalu letih untuk sekedar mengejar Archer, atau siapapun orang budiman yang telah mengurus luka di tubuhnya. Ia bersyukur, tetapi ini saja tidak akan cukup.

Toh keesokan harinya ia akan mendapatkan luka baru.

"Sweetheart,"

Baekhyun tersadar dari lamunannya, sedikit berjengit karena mendengar suara familiar yang ia rindukan eksistensinya.

"Sweetheart, do you hear me?"

Baekhyun mau tidak mau mengangguk secara tidak sadar, dan sebuah isakan kecil keluar dari kedua belah bibirnya, "C-chanyeol?"

Earphone kecil yang berada di telinganya menghubungkannya dengan Chanyeol, dan ia tidak pernah merasa lebih bahagia dari momen ini. Beban yang besar seakan diangkat dengan bebas dari kedua bahunya, membuatnya melepaskan sebuah napas yang tidak lagi terikat dengan rasa sesak.

"Kau mendengarku? Jika ya, ambil biolamu dan jangan keluarkan suara apapun."

Baekhyun mengernyit heran, tetapi rasa ingin bebas telah mengambil alih tubuhnya, ia menyeret langkahnya kearah biolanya yang terdiam di sudut ruangan.

"Allegro Moderato milik Clara Schumann, kau tahu? Mainkan dengan benar nadanya untuk sebuah 'Ya' dan mainkan nada yang salah untuk 'Tidak', Apa kau mengerti?"

Baekhyun memainkan nada yang pertama, Ya,aku mengerti, Chanyeol.
Baekhyun tidak yakin laki-laki itu bahkan tahu mana nada yang benar.

"Apa kau sudah sarapan pagi ini?"

Baekhyun kembali mengernyit heran, ini bukan saatnya Chanyeol!

"Jawab aku."

Baekhyun menggesekkan biolanya. Ya.

"Apa Archer membersihkan lukamu dengan baik?"

Ya.

"Apa kau tahu wajah penculikmu?"

Ya, Chanyeol, aku tahu.

"Apa kau baik-baik saja?"

Sebuah keheningan tercipta diantara mereka, Baekhyun tidak tahu apakah ia harus menjawab jujur atau malah sebaliknya.

"Aku ingin kau menjawab dengan jujur," Baekhyun mendengar suara Chanyeol yang mendesah frustasi, "Biarkan aku mengetahuinya, Baekhyunee."

Baekhyun menyerah, ia memainkan nada yang salah.

Tidak Chanyeol, aku tidak sedang baik-baik saja.

"Aku tahu itu, dan aku ingin kau menahannya sedikit lagi."

Sedikit lagi? Tidak apa-apa, asalkan ia dapat keluar dari sini.

"Apa kau percaya bahwa aku akan menyelamatkanmu?"

Baekhyun menggesek biolanya dengan posisi setengah terduduk.

Ya. Aku percaya bahwa kau akan menyelamatkanku.

"Kau ingat dimana kita pertama kali bertemu?" Ya.

"Kau ingat lagu yang mengalun didalamnya? Durasinya membuatku mengantuk, itu sudah seperti lagu yang mengalun selama berjam-jam." Baekhyun bingung, tetapi ia hanya dapat menggesekkan biolanya kearah yang diperintahkan. Ya, aku mengingatnya.

"Baekhyun, sebuah pintu tidak akan terbuka tanpa sebuah kunci kecil bukan?"

Apa? Baekhyun tidak mengerti sama sekali tentang apa yang dikatakan oleh Chanyeol, ia bahkan merasa pria ini sedang melantur, atau parahnya, sedang mabuk.

"Terkadang sesuatu yang kecil dapat membuka sesuatu yang besar dan berat."

"Dengar, Baekhyun, aku tahu kau tidak bodoh, dan kau memiliki aku disampingmu," Baekhyun mendengar suara Chanyeol yang berat menyapa telinganya bagai sebuah oasis. Ia mengangguk mengerti, seakan-akan Chanyeol melihat dirinya secara langsung.

"Aku akan berada disana bersama Kai pada jam enam pagi, Kai akan membawakanmu pistol, sebaiknya kau menjaga mentalmu hingga saat itu. Kau mengerti?"

Ya. Aku mengerti.

"Kita tidak punya banyak waktu sebelum Ten sialan itu menyadap alat ini, jadi tolong, Baekhyunee, berpikirlah dengan bijak dan secepat yang kau bisa, Pikirkan tentang percakapan kita," Baekhyun mendengar suara Chanyeol yang memohon.

Ah. Jadi seperti itulah maksud Chanyeol.

Pesan yang tersirat.

"Aku mencintaimu, Please stay alive, for me."

Suara yang Baekhyun dengar untuk terakhir kalinya adalah suara audio yang terputus.


Getting Darker


"Kau kira kau dapat mengalahkanku, Park?"

Ten tertawa keras-keras, di hadapannya, terdapat Archer, dengan senyum yang ia persembahkan kepada atasannya yang sebenarnya.

Ya, itu Ten, atasannya yang sebenarnya.

Dengan kata lain, Archer mengkhianati Chanyeol.

Sebuah audio percakapan antara Chanyeol dan Baekhyun telah berada didalam monitor ruang kerjanya, dan ia tertawa hingga puas saat merasa bahwa ia dapat mengalahkan Chanyeol bahkan jauh didepan mafia yang dikenal hebat itu.

"Ia bahkan tidak menyadari bahwa ia sudah disadap dari awal? God, dia benar-benar bodoh untuk dikatakan sebagai mafia yang ditakuti," Ten terkekeh, "Setelah partitur itu berada di tanganku, aku akan menyerahkannya pada lawan perusahaan Byun-bodoh itu, dan kau tahu apa selanjutnya?"

Sepertinya, mengagungkan diri sendiri adalah bagian dari diri hacker muda itu.

"Seluruh dunia ini akan menjadi milikku, tidak kusangka mendapatkan partitur akan menjadi sebegini mudahnya."

Partitur milik Byun Baekhyun, adalah jalan awal yang hebat untuk seseorang seperti dirinya.

Partitur milik Byun Baekhyun, merupakan harta yang berharga, dan dengan itu, dunia akan berada di genggamannya.

Ozvalt, merupakan perusahaan 'musuh' Solvent Ent.

Tetapi siapa sangka, bahwa Ozvalt merupakan sebuah perusahaan dengan kedok 'musik' sebagai penghalang dari bisnis gelap didalamnya, dan lagi, Ozvalt dapat ia dapatkan dalam satu genggaman begitu saja.

Jika ia dapat mendapatkan partitur Baekhyun, membawanya kepada direktur Ozvalt yang memintanya untuk membawakan benda itu dengan apapun keadaan Baekhyun.

Dan langkah terakhir, mendapatkan semua database Ozvalt.

Cih, lihat saja.

TBC


SUPER THANKS TO :

neniFanadicky, chalienBee04, veraparkhyun, Incandescence7, LyWoo,

winter park chanchan, Eun810, Pitterluck, Fitri MY, LordLoey, Byunae18

kickykekliker, KertasBee, kimi2266, metroxylon, mawar biru, aryanti park, ,

hanifairma16, Chogiwagurl, and flowusve!

.

.

[applemacaroon's note]

hey, it's been a looooong two weeks since the last update.

I'm so so so sorry for not be able to update this story once a week.

dan... yah sepertinya setelah project ff ini dan beberapa ff lainnya aku bakal hiatus bikin FF entah sampe kapan,

aku ngerasa ff aku ga terlalu bagus buat ada di FFN so, yeah aku ngerasa rendah diri dan mutusin untuk belajar nulis lagi sampe bisa lebih baik daripada yang sekarang. Beberapa review dari kalian memang ngebantu, tetapi kayaknya FF yang aku buat sendiri ga terlalu bagus (iya serius, aku juga baru sadar pas baca ulang. Gap diantara review/fav/follow sama viewnya jauh banget, aku jadi mikir kalo emang FF aku yang ga bagus, ternyata bener, ini murni kesalahan aku yang kurang ngefeel kalo nulis, IM SO SORRY *BOW*)

gimana menurut kalian?

Terimakasih untuk semua reviewnya, i always love you guys!

.

.

[WinterJun09's note]

Maaf atas keterlambatan updatenya yang sepenuhnya semua adalah kesalahan saia T.T

Semoga chapter kali ini memuaskan penantian(?) kalian dan terimakasih bagi yang sudah meninggalkan reviewnya untuk kami ^^

Last, Next? Leave your review below please~