Seminggu kemudian
"Lu, kau jangan gugup" Appa Luhan memberikan semangat pada anaknya yang sangat gugup hari ini karena hari bahagianya dengan calon suaminya Oh Sehun
"Hm" Luhan hanya mengangguk namun hatinya masih sangat gugup
"Ayo, acaranya sudah mau dimulai" Appa Luhan membawa putrinya kedepan altar untuk segera melaksanakan acara pemberkatan
Luhan maju dengan anggun diikuti Appanya yang dengan santai berjalan meuju dimana menantunya menunggu dengan setia.
"Sehun, Appa serahkan anak Appa padamu" Appa Luhan menyerahkan anaknya kepada calon menantunya
"Iya Appa" Sehun menerima penyerahan yang diberikan Appa mertuanya
"Baiklah, Apakah saudara Oh Sehun menerima Xi Luhan sebagai istri anda baik dalam suka maupun duka dan hanya dipishkan oleh maut" sang pastor bertanya pada Sehun untuk memulai acara pemberkatannya
"Saya terima Xi Luhan sebagai istri saya baik dalam suka maupun duka dan hanya dipisahkan oleh maut" Sehun bersumpah bahwa dirinya tidak akan membuang Luhan jika bukan mau yang memisahkan mereka
"Apakah saudari Xi Luhan menerima Oh Sehun sebagai suami anda baik dalam suka maupun duka dan hanya dipisahkan oleh maut"
"Saya terima Oh Sehun sebagai suami saya baik dalam suka maupun duka dan hanya dipisahkan oleh maut" Luhan mengulangi perkataan pastor
"Baiklah, silahkan cium pasangannya dan kalian akan sah menjadi suami istri dihadapan Tuhan dan semuanya"
CHUP
Sehun mencium Luhan dengan lembut dan tepuk tangan bahagia menghiasi hari bahagia ini termasuk semua teman – teman mereka yang datang keacara ini.
"SELAMAT UNTUK HUNHAN" semuanya kompak memberikan ucapan selamat pada pasangan yang sering diberikan nama couple HunHan
..
..
..
..
..
Five Years Later
"Hiks..."
"Sehan, jangan gangu Hyung" Luhan memarahi anak bungsunya yang sering membuat Hyungnya menangis
"Bukan Sehan yang buat Hyung menangis Eomma" Sehan mengadu pada Eomma kalau bukan dirinya yang membuat sang Hyung menangis
"Hah? Lalu siapa?" Luhan heran karena anaknya tidak mengaju jika dirinya yang membuat sang Hyung yang menangis sehingga dirinya mendekati sang anak yang berada diruang bermain
"Appa yang buat Hyung menangis" Sehan mengadu pada Eommanya jika Appanya yang buat Hyungnya menangis
"Eh? Kenapa jadi Appa?" Luhan heran karena jam segini biasanya Sehun suaminya masih sibuk kerja
"Kalena tadi Appa beljanji akan pulang cepat dan belmain dengan Hanse Hyung" Sehan meceritakan kronologi kenapa Appanya bisa disalahkan sekaligus kenapa Hyungnya menangis
"Hanse, nanti Appa pulang jadi Hanse jangan menangis ya" Luhan membujuk anaknya untuk tidak menangis karena dirinya tidak tahan mendengar tangisan dari anak – anak
CLECK
"Sehan, Hanse. Appa pulang" Sehun memasuki rumah tanpa dosa dan memanggil anak – anaknya untuk menghampiri dirinya
"Appa~ Hiks..." Hanse berlari sambil menangis kearah Appanya karena kesal Appanya sudah berbohong padanya
"Eh Hanse? Kenapa menangis?" Sehun yang sudah menggendong putra sulungnya merasa terkejut dengan keadaan anaknya yang menangis
"Appa~ Appa jahat" Sehan dan Luhan muncul setelah Hanse berlari duluan kearah Appa
"Sehan, kenapa Appa jahat?" Sehun heran karena anak bungsunya mengatakan dirinya jahat, jika dipikir dirinya tidak membuat kesalahan apapun tadi pagi
"Hanse Hyung menangis kalena Appa belbohong pada Hyung, Appa tadi mengatakan bahwa Appa akan cepat pulang" Sehan yang menceritakan semuanya karena Hyungnya sangat manja dan susah berbicara ketika sudah menangis
"Ah! Appa minta maaf ya Hanse" Sehun menciumi wajah anak pertamanya karena merasa bersalah sudah beringkar janji dengan anaknya
"Hiks..." Hanse hanya menangis didalam pelukan Appanya dan tidak mendengarkan apa yang dikatakan Appanya
"Hanseya~ Appa minta maaf" Sehun membawa Hanse kesofa sehingga dirinya bisa secara langsung bertatapan dengan putranya
"Hm" Hanse hanya mengangguk dan mengusakkan kepalanya kedada bidang appanya
"Lain kali Hun jangan membuat perjanjian jika kau tidak bisa menepatinya" Luhan kesal untuk pertama kalinya pada Sehun setelah lima tahun dalam berumah tangga
"Iya Lu, aku minta maaf" Sehun paham istrinya tidak bisa mendengar suara teriakan atau tangisan anak – anak
"Hm" Luhan mengangguk dan kembali kedapur untuk melanjutkan aktifitas memasaknya yang tertunda gara – gara tangisan sang anak
"Sehan, ayo duduk disini nak" Sehun mengajak anak bungsunya untuk duduk bersama disofa selagi menunggu istrinya memasak
"Hm" Sehan hanya mengangguk dan duduk disamping Appanya. Sehan benar – benar tiruan Sehun karena dirinya banyakan cuek sedangkan Hanse adalah tiruan Luhan yang super manja
"Appa~" Hanse memanggil Appanya setelah reda dari tangisannya
"Ada apa nak?" Sehun menaikkan poni anaknya yang menutupi mata sang anak
"Hanse ingin kita belempat jalan – jalan belsama, kapan Appa punya waktu untuk jalan – jalan?" Hanse dan Sehan sangat mengerti jika Appanya adalah orang sibuk, namun kebutuhan biologis mereka juga tidak bisa diabaikan begitu saja
"Hm, bagaimana kalau minggu?" Sehun selama ini tidak pernah bekerja dihari minggu karena itu waktu khusus untuk bersama orang yang dicintainya Luhan
"Yaksok?" Hanse memberikan kelingkingnya untuk berjanji atas kesepakatan tersebut
"Hm, Yaksik" Sehun memberikan kelingkingnya atas janji yang sudah dia buat
"Ayo makan" Luhan berteriak dari dapur karena masakannya sudah siap. Sehan, Hanse, dan Sehun terkekeh karena suara orang yang dicintainya sangat besar dan menggema dirumah tersebut
"Ne" ketiga pria berbeda usia tersebut kompak menjawab daripada kena amukan rusa cantik tersebut
Sehun membawa kedua anaknya dengan susah payah kemeja makan karena mereka berdua ingin digendong.
"Hanse duduk sini ya" Sehun mendudukkan Hanse didekat Luhan sedangkan Hanse hanya mengangguk saja
"Sehan duduk disini" Sehun mendudukkan Sehan disampingnya sementara Hanse menatap kesal kepada Appanya
"Hanse kenapa menatap Appa seperti itu?" Sehun binggung karena tatapan putra sulungnya seolah tidak menyukainya padahal beberapa menit yang lalu tidak terjadi masalah
"Kenapa tidak Hanse saja yang duduk disamping Appa" Hanse memasang wajah polosnya yang hampir menangis sedangkan Sehun berlari mendekati putra pertamanya untuk membujuknya agar tidak menangis
"Shh... Hanse ya, kau tidak boleh cemburu hanya karena posisi duduk ketika makan. Appa menyayangi kalian berdua sama besarnya. Benarkan Eomma?" Sehun menasehati anaknya dan meminta bantuan kepada istrinya
"Hm, kami berdua sebagai orang tua tidak pernah membedakan Hanse dengan Sehan. Karena kalian berdua adalah anak kami" Luhan setuju dengan perkataan bijak suaminya
"Sudah ya, Hanse duduk disini" Sehun membujuk anak sulungnya agar tetap duduk disamping Luhan
"Hm" Hanse tidak bisa merengek lagi karena bagaimanapun jika Appanya dan Eommanya sudah menasehati mereka cuma bisa pasrah saja
"Ok, ayo makan" Sehun senang karena anaknya sangat pengertian dan mereka makan bersama dengan tenang. Keluarga kecil Oh sangat bahagia apalagi dikaruniai dua anak laki – laki yang menjadi kebanggan orang tuanya
Selesai makan malam, Sehan membantu Eommanya dengan cara mengangkat piring kotor kedapur. Luhan tidak pernah melarang Sehan membantunya karena Sehan sendiri yang ingin belajar bukan dipaksa.
"Ini Eomma" Sehan memberikan tumpukan piring kotor kepada Eommanya
"Terima kasih sayang" Luhan menerimanya sambil tersenyum manis sedangkan suami dan anaknya berada diruang tamu karena Hanse sangat manja jika sudah berhubungan dengan Appanya
"Appa~ Kenapa Eomma tidak mau menyewa pembantu saja seperti teman Hanse" Hanse bingung kenapa Eommanya tidak mau memakai jasa pembantu seperti teman – temannya
"Benar Appa" Sehan yang baru saja datang dari dapur setuju dengan perkataan Hyungnya
"Sehan, Hanse. Kalian harus banyak belajar dari Eomma kalian untuk hidup hemat dan tidak menyombongkan harta orang tua kalian" Sehun memberitahu anaknya untuk tidak terlalu sombong dikemudian hari
"Sehan tidak mengelti" Sehan memasang wajah herannya karena dirinya sama sekali tidak mengerti dengan maksud Appanya
"Hm, Hanse juga"
Luhan datang dari dapur karena dirinya sudah siap mencuci piring dan merasa gemas dengan wajah putranya yang sedang bingung.
"Sehan, Hanse. Dulu Eomma kalian adalah anak orang kaya, tetapi Eomma kalian tidak pernah sombong dan menggunakan uang tersebut untuk yang tidak berguna"
"Ah, Sehan mengelti sekalang"
"Hanse juga" Sehan dan Hanse itu sama karena jika salah satu mengerti maka yang satunya juga akan mengerti tetapi jika yang satu bingung maka yang satunya lagi juga akan ikutan bingung
"Kalian juga harus seperti Eomma, tidak boleh sombong dengan harta. Arraseo?" Sehun memberitahu anaknya jika kedua anaknya harus mengikuti perilaku Eommanya
"Ne Appa, Allaseo" kedua anaknya menjawab kompak
"Hanse ya, kenapa Hanse jadi manja dengan Appa" Luhan menggoda putra pertamanya yang sangat manja dengan suaminya
"Eomma~" Hanse kesal karena Eommanya menggodanya
"Hahaha... Eomma bercanda nak" Luhan sangat senang memiliki keluarga yang harmonis dengan suaminya Sehun
"HOAM..." Hanse menguap karena dirinya juga sangat kelelahan
"Sudah waktunya untuk tidur. Ayo tidur Sehan Hanse" Sehun menggendong kedua putranya untuk memasuki kamar dan bersih – bersih dulu sebelum tidur
"Appa~ Hanse ingin tidur sama Appa" Hanse mengerek karena dirinya tidak ingin berjauh dari sang Appa
"Hanse, besok Appa janji akan tidur bersama Sehan dan Hanse" Sehun malam ini ingin bersama istri tercintanya
"Baiklah" Hanse senang karena setidaknya Appanya memiliki waktu untuk bersama mereka
"Selamat malam nak" Sehun mencium kening kedua anaknya dan terakhir menaikan selimut sebatas leher pada anaknya
Sehun keluar dari kamar anaknya dengan pelan – pelan untuk tidak menggangu anak – anaknya, dan memasuki kamarnya yang tepat berada disamping kamar anaknya.
CLECK
"Loh? Kenapa tidak tidur dengan mereka?" Luhan heran karena biasanya Sehun akan lebih banyak tidur bersama anaknya karena Hanse akan merengek seharian hanya untuk menyuruh Apppanya tidur bersama mereka
"Aku sudah janji kalau besok akan tidur bersama mereka dan malam ini aku ingin bersama istriku yang tercinta" Sehun menaiki kasur dan mencium bibir istrinya yang sudah lama tidak dirasakannya lagi
"Dasar mesum" Luhan tahu maksud dari perkataan suaminya barusan
"Lu, pada istri sendiri bukan mesum. Kalau minta sama orang lain baru namanya mesum" Sehun tidak terima dikatai mesum karena mesum itu untuk segala orang yang digoda
"Awas kalau kau minta jatah pada orang lain" Luhan langsung mencium bibir suaminya dengan ganas karena takut sang suami meminta jatah pada orang lain yang memuja ketampanan dan kesexyan suaminya
"Ahh..." Sehun tidak menyangka jika Luhan sangat agresif jika sudah cemburu
Luhan membuka kancing baju suaminya satu persatu dengan gaya menggoda sedangkan Sehun tidak ambil pusing karena dirinya masih sibuk mencium panas istrinya. Luhan dengan kasar mendorong suaminya hingga terlentang diatas tempat tidur dan mengakibatkan ciuman panas mereka berakhir saat itu juga.
"Hun, ini apa?" Luhan gemas dan mengerjai suaminya sambil meremas selangkangan Sehun yang sudah bangun namun masih tertutup celana
"Lu... Jangan menggodaku ARGH..." Sehun tidak tahan dengan tangan nakal Luhan yang bermain didaerah selangkangannya
"Aku buka ya" Luhan membukanya dengan perlahan – lahan dan itu memberikan siksaan pada suaminya karena kelamaan menjamah penisnya yang menegang
"Lu... Kumohon jangan bercanda" Sehun memohon kepada istrinya agar tidak terlalu bertele – tele dan mengerjainya
"Baiklah" Luhan niatnya masih ingin mengerjai suaminya namun karena suaminya sudah memohon dengan tatapan kesakitannya maka Luhan dengan ganas langsung memasukkan benda kesayangan Sehun kedalam mulutnya
"ARGH..." Sehun kenikmatan ketika Luhan memberikan service yang selama ini sangat disukainya dari istrinya
"Lebih dalam Lu...Ouh" Sehun tidak bisa mengatakan apa – apa karena service Luhan membuatnya hilang kendali dan tidak mampu menolak ransangan apapun yang diberikan istrinya
"Lebih cepat Lu... ARGH... AKU MAU KELUAR" sejak kejadian lima tahun yang lalu, Sehun selalu ingat mengatakan jika dirinya mau orgasme agar istrinya tidak terkejut dengan semprotan spermanya
"LU..." Sehun orgasme dan Luhan dengan tangkas menampung sperma Sehun kedalam gelas hingga semuanya masuk kedalam gelas yang dipegangnya. Sedangkan sisa – sisa sperma yang menempel di kepala penis suaminya dijilat dengan seksinya namun Sehun yang terlalu lelah setelah mendapatkan orgasme tidak bisa menolak service tambahan Luhan
"Sehun, ayo dicoba minum sperma" Luhan memberikan air pada gelas yang sudah berisi sperma dan memberikan gelas tersebut pada suaminya
"Jangan bercanda Lu" Sehun tidak menyangka jika istrinya mengerjainya dengan hal yang tidak masuk akal
"Aku tidak bercanda, ayo dicoba. Aku saja suka" Luhan menatap kesal kepada suaminya yang mengatakannya bercanda
"Tidak" Sehun menolak dengan tegas sedangkan Luhan mencari cara lain untuk membujuk suaminya mencoba sperma
"Baiklah, aku tidak akan memberikan service padamu jika kau tidak mencoba sperma ini" Luhan mencari alibi agar Sehun mengikuti keinginan mengerjai suaminya
"..." Sehun terdiam dan berpikir apakah dia harus meminum spermanya tersebut atau tidak akan mendapatkan service serta jatah dari istrinya
"Baiklah, aku anggap kau memi..." ucapan Luhan terputus karena Sehun memotongnya dengan cepat
"Aku akan meminumnya" Sehun merebut gelas yang berisi spermanya tersebut dari tangan Luhan dan dengan sekali tegukan langsung diminum
"UEK..." Sehun mual karena rasanya sangat aneh
"Jangan dimuntahkan, atau aku akan marah" Luhan memperingatkan suaminya untuk tidak membuang minuman lezat tersebut
"Hm" Sehun mengangguk pasrah karena ancaman Luhan yang sangat – sangat parah dalam kehidupan mereka
"Kau jahat Lu" Sehun memarahi istrinya setelah selesai menelan semua sperma yang sudah dicampurkan dengan air tersebut
"Hei aku bukan jahat, tapi kau bisa merasakan kalau sperma tiba – tiba masuk ke kerongkonganmu kan?" Luhan ingin balas dendam atas perbuatan suaminya lima tahun yang lalu
"Astaga, itu sudah sangat lama dan kau masih ingin balas dendam padaku" Sehun tidak menyangka jika istrinya ingin balas dendam pada hal yang sudah sangat lama
"Bukan, lagian kau harus mencoba spermamu sendiri Hun"
"Aku tidak menyukainya" Sehun mengatakannya dengan ketus
"Baiklah, tapi jangan salahkan aku jika penismu tidak akan kuberikan blowjow lagi"
"YAK! Mana bisa begitu, cuma aku yang tidak suka bukan begitu Lu" Sehun tidak terima jika penisnya tidak diblowjow, padahal itu adalah favorit Sehun selain vagina istrinya
"Kenapa tidak bisa, sang pemilik sperma saja bisa mengatakan tidak enak apalagi orang lain" Luhan mengangkat kedua bahunya tanda tidak mau disalahkan
"Baiklah, terserahmu saja" Sehun pasrah mau diapakan yang penting hasrat seksualnya puas dengan sang istri
"Memang istri selalu menang" Luhan menerjang suaminya dna memberikan service tambahan pada penis suaminya
"ARGH..." Sehun kenikmatan dengan servcie Luhan hingga mereka berdua tidur jam tiga pagi, Sehun dan Luhan sangat biasa jika hanya memberikan service tanpa memasukkan kedalam lubang hangat istrinya
~TBC~
