applemacaroon x WinterJun09
.
Getting Darker
.
05 If the Light was Off
"Every time they cut you, I bleed."
― pleasefindthis, I Wrote This For You
Saat eksistensi suara Chanyeol yang menenangkan hilang dari telinganya, Baekhyun sadar jika ia benar-benar sendirian.
Tapi kali ini, kesendiriannya terasa lebih berarti. Memikirkan bahwa ia akan bertemu dengan Chanyeol yang akan menyelamatkannya dari tempat ini, setidaknya membuat hatinya sedikit banyak merasa hangat—Baekhyun menyebutnya dengan rasa terima kasih.
Sebisik ketukan detik imajiner seakan terngiang-ngiang di kepala Baekhyun, membiarkan dirinya terhanyut, percaya bahwa detik yang menghilang akan membawanya lebih dekat kepada rasa bebas dari apapun yang ia alami saat ini.
Baekhyun mengerjap beberapa kali, menyadari bahwa dia harus memecahkan pesan tersirat yang Chanyeol sampaikan padanya. Otaknya berpikir keras, berusaha mengingat semua diksi kata yang Chanyeol gunakan beberapa waktu lalu.
"Kau ingat dimana kita pertama kali bertemu?"
Baekhyun menerawang. Dia tidak mungkin akan melupakannya—tidak akan pernah.
Pertama kali Baekhyun melihat pria itu adalah pada saat dia sedang berusaha menghilangkan penatnya di bar. Setidaknya, seminggu yang lalu? Atau mungkin lebih?
Baekhyun memang biasa menghabiskan waktunya di bar setelah menghabiskan jadwal bertumpuknya yang tidak usah ditanya lagi seberapa padatnya. Entah itu hanya untuk menikmati musik setengah melodrama yang mengalun, ataupun meminum beberapa gelas alkohol sebagai hiburan di penghujung hari.
Mereka bertemu di bar. Pada malam hari.
"Kau ingat lagu yang mengalun di dalamnya? Durasinya membuatku mengantuk, itu sudah seperti lagu yang mengalun selama berjam-jam."
Baekhyun hanyut dalam keheningan. Berusaha mengais memorinya tentang pertemuan mereka pada kali pertama. Sayup-sayup melodi yang menjadi iringan di bar malam itu seakan mengalun saat ini juga. Di kepalanya, tergiang nada-nada teratur yang berdentang—dan terselip wajah Chanyeol yang (god) sedang tersenyum menggoda kepadanya.
Baekhyun mengumpat, merutuk pikirannya yang masih sempat sempatnya memunculkan wajah orang itu di saat-saat seperti ini. Setelah ia mengumpulkan beberapa potongan memori tentang itu, dan berhasil meyakinkan dirinya sendiri (oh ayolah, dia yakin bahwa saat itu dirinya sedang setengah mabuk). Ia memantapkan hatinya untuk yakin.
Lagu yang mengalun malam itu, tidak lain adalah River Flows In You, milik Yiruma.
RiverFlows In You dan Bar.
Bagus sekali. Lalu apa?
Pola rumit yang sedang lelaki itu coba sampaikan, membuat Baekhyun mendengus putus asa.
".. Seperti lagu yang mengalun selama berjam- jam."
Mata Baekhyun membulat, secepat mungkin mengalunkan lagu itu di otaknya, menghitung dengan susah payah panjang durasi lagu itu. Demi semua partitur karangannya, ia bahkan sering memutar lagu itu. Kenapa tiba-tiba menghitung durasi lagu menjadi sebegini pentingnya?
Kapan lagu itu berhenti? Pertanyaan ini membuat dahi Baekhyun berkerut.
Lagu itu bukan lagu yang asing, dia sering memutar lagu itu di ponselnya. Tapi itu tidak penting. Yang terpenting baginya sekarang adalah kapan. Kapan lagu itu mencapai akhirnya—berhenti mengalun?
Durasi lagu itu, tidak kurang dari tiga menit.
Tapi tidak tepat pada 3.00, Baekhyun memilin jemarinya, menciptakan pola-pola bundar abstrak pada lantai. Memaksa otak nya untuk berpikir lebih keras.
Kapan. Lagu. Itu. Berhenti?
Tiga lewat empat? Lima? Enam?
Baekhyun mengambil biolanya, mengalunkan biola itu dengan suara sekecil mungkin.
Otaknya menghitung, sementara jarinya mengatur bow dan senar pada biola.
Tiga lewat lima.
Semoga saja benar. Kali ini, Baekhyun mau tidak mau harus percaya pada sebuah keberuntungan.
Kenapa… perbedaan menit menjadi begitu penting?
Setelahnya, bar. Tempat mereka bertemu.
Apakah mungkin.. Maksud Chanyeol mengatakan hal itu adalah agar mereka kembali bertemu di tempat yang sama?
Tapi mengapa tadi dia berkata akan datang dengan Kai kesini?
Durasi lagunya, Tiga menit lebih lima detik. Baekhyun memutar otanya lebih keras lagi.
Kali ini, apakah Chanyeol mencoba memberitahunya pukul berapa mereka harus bertemu?
Tapi bukankah, tadi dia sudah berkata akan bertemu dengannya pada pukul 6?
Baekhyun mempererat pilinan jarinya.
"Kita tidak punya banyak waktu sebelum Ten sialan itu menyadap alat ini, jadi tolong, Baekhyunee, berpikirlah dengan bijak dan secepat yang kau bisa, Pikirkan tentang percakapan kita,"
Baekhyun nyaris putus asa, sungguh, jika ia dapat memilih antara melakukan konser 23 jam sehari selama seminggu, ia akan lebih memilih itu daripada memecahkan teka-teki busuk ini.
"Kita tidak punya banyak waktu sebelum Ten sialan itu menyadap alat ini, …"
Seakan menemukan sebuah kunci, Baekhyun memetikkan kedua jarinya.
Ini dia.
Seketika, benang kusut yang ada di pikirannya menjadi lurus. Bagaikan kepingan puzzle yang lengkap, Baekhyun akhirnya menyadari itu. Dia memang bukan sahabat Chanyeol yang mengenalnya selama bertahun tahun, bukan juga kaki tangan kepercayaannya yang bisa mengerti luar dalam tentang dirinya.
Tetapi menjalani lebih dari 48 jam bersamanya sudah cukup membuatnya mengerti kalau Chanyeol adalah orang yang penuh perhitungan—tidak akan membiarkan dirinya salah langkah. Pertemuan pertama mereka menguatkan spekulasinya, dimana dia bisa menjadikan Baekhyun sebagai pasangannya di dalam surat resmi hanya dengan satu malam, secepat kedipan mata.
Lelaki itu, Baekhyun akhirnya mengerti.
Chanyeol sudah punya perhitungan tersendiri. Dia memang sudah mengira sedari awal akan kemungkinan Ten yang bisa menyadap mereka kapan saja—dan dia tidak ingin mengambil risiko.
Sehingga dia mengatakan hal hal itu, menyampaikan pesan pesan tersirat yang tersusun rapi. Baekhyun tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bergidik. Betapa telitinya otak lelaki itu membuat darahnya berdesir dalam takjub.
Sebenarnya, Chanyeol itu manusia seperti apa?
Baekhyun hampir berpikir dirinya selesai dengan teka teki yang Chanyeol berikan, namun nyatanya belum.
Jika saja mereka—dia dan Chanyeol, akan bertemu pada jam 03.05 di malam hari (Chanyeol bilang ia mengantuk saat mendengarkan 'alunan lagu selama berjam-jam, tolong, jadikan spekulasi ini sesuatu yang benar) yang berarti bukan di tempat ini, yang berarti lagi bahwa Baekhyun harus keluar dari tempat ini.
Bagaimana? Baekhyun mendesah frustasi. Dia menatap pintu besi dihadapannya selagi pikirannya mengulang-ngulang perkataan Chanyeol.
"Baekhyun, sebuah pintu tidak akan terbuka tanpa sebuah kunci kecil bukan?"
Kunci.
Kunci kecil.
YA TUHAN, CHANYEOL BISAKAH KAU BERHENTI BERBELIT-BELIT?
Baekhyun nyaris meraung, jika saja lebam di tubuhnya tidak mendecih padanya.
Oh baiklah, Kunci kecil, ia bilang.
Apakah sebuah kunci besi? Baekhyun bertanya tanya. Tetapi saat melihat ke sekelilingnya yang gelap, pemikiran itu serasa nihil. Tak ada satu pun yang bisa di jadikan kunci kecil, yang lelaki itu maksud.
Tatapannya terjatuh ke earphone yang Chanyeol berikan padanya melalui Archer.
Ragu ragu, Baekhyun meraihnya. Sembari otaknya tetap menimbang-nimbang barang apakah yang sekiranya Chanyeol sebut sebagai kunci.
Itu earphone biasa, Baekhyun terkekeh. Bagaimana bisa earphone itu bisa dijadikan kunci.
Baekhyun hampir meletakkannya kembali jika saja tangannya melewatkan sebuah rasa dingin di ujung earphone itu.
Rasa dingin ini… Besi?
Oh ya Tuhan, Baekhyun tahu apa yang laki-laki ini maksud.
Besi kecil yang ia rasakan pada earphone itu adalah magnet.
Magnet itu akan membuat komponen pintu besi itu terbuka, tentu saja, setidaknya itulah yang dapat Baekhyun pikirkan, pintu besi dihadapannya ini, dapat terbuka dengan komponen engsel kunci yang akan berjejer lurus, dengan kata lain, terbuka tanpa sebuah kunci yang sebenarnya.
Tolong beritahu Chanyeol betapa Baekhyun bersyukur atas otak laki-laki itu.
Damn, Baekhyun benar benar merasa sedang berada di dunia aksi yang sesungguhnya. Chanyeol benar benar merencanakannya dengan matang.
Hatinya lega. Ia akan menunggu aba-aba dari lelaki itu kemudian. Baekhyun tersenyum—senyum pertamanya setelah beberapa hari terkurung di dalam kamar yang gelap. Ia memainkan earphone di tangannya dan senyumnya menjadi semakin manis ketika suara Chanyeol di pikirannya membuat darahnya berdesir.
"Aku mencintaimu,"
Hanya penenangkah, kalimat itu?
Baekhyun mengurung pertanyaan itu jauh ke bagian hatinya yang terdalam.
Malam ini, Baekhyun menunggu datangnya malam, dan untuk pertama kalinya, kegelapan dapat menenangkan degupan jantung Baekhyun.
"Chanyeol, maaf, dan terima kasih telah membantuku,"
Getting Darker
Baekhyun menunggu langit malam menjadi sedikit terang ketika earphone itu mengeluarkan cahaya merah yang sedikit redup. Hatinya berdegup, memberi aba-aba pada dirinya sendiri bahwa waktu inilah yang ia tuju.
Baekhyun tidak perlu berpikir dua kali untuk menyadari bahwa ini adalah aba-aba dari laki-laki itu.
Ia segera bangkit, sedikit terseok karena kaki dan perutnya yang terasa nyeri.
Earphone kecil itu menempel pada bagian bawah engsel pintu besi, sesaat setelah Baekhyun meletakkannya dibawah lubang kunci. Magnet di ujung earphonenya menempel dengan pas, seolah-olah memang benar itulah kuncinya.
Hatinya secara tidak sadar menghitung, ayolah, ini benar-benar kuncinya bukan?
Detik yang berlalu bagaikan merenggut oksigen yang Baekhyun hirup, ia merasa sesak, menimang-nimang apakah benar keputusan yang ia ambil selaras dengan pemikiran Chanyeol.
Pada detik ke lima belas yang mencekam, setitik suara klik kecil terdengar di telinga Baekhyun.
Ia tidak tahu apakah dewi fortuna benar-benar sebuah fortune –keberuntungan- tetapi sepertinya, kali ini ia akan mempercayainya begitu saja.
Baekhyun menarik gagang pintu dan melangkah keluar dengan was-was. Lorong itu sepi.
Sedetik kemudian, ia merasa jantungnya nyaris jatuh ke perut.
Seseorang menarik tangannya.
Ia nyaris menjerit, namun urung. Sebuah tangan menutupi mulutnya, tidak ada sebisik suara yang keluar
Aroma musk dan kayu manis menyeruak kedalam hidungnya, Ini bukan Chanyeol.
Baekhyun menutup matanya, siap menerima pukulan apapun yang bisa jadi akan menyentuh kulitnya dalam beberapa detik.
Lelaki dihadapannya berambut hitam kelam dan di telinganya terdapat piercing. Ia meletakkan telunjuknya di depan bibir dan melepas masker hitamnya sebelum berbisik dengan mata abu-abu gelap yang masih memandangi sekitar dengan was-was.
"Namaku El. Aku ada disini karena perintah Tuan Chanyeol."
Kaki Baekhyun melemas saat mendengar nama pria itu di telinganya, matanya membuka dengan takut-takut.
"Kumohon tenanglah dan hanya ikuti aku. Aku akan memimpin di depan dan pastikan jangan kehilangan jejakku ketika kita menyusuri lorong ini. Jangan mencoba untuk mendahuluiku dan perhatikan keadaan di belakangmu. Kita berdua sama sama ingin keluar dari sini, bukan?"
Baekhyun mengangguk walau ia yakin kakinya sudah selemas jelly setengah keras.
"Karena itu kumohon bekerjasama lah. Aku berusaha tidak membuatnya terdengar menakutkan, tetapi jika kau tertangkap saat kita melarikan diri, Tuan akan sangat tidak suka mendengarnya."
Baekhyun mengangguk lagi, menatap lorong gelap yang lembab itu dengan takut-takut.
"Ayo. Waktu kita terbatas. Hanya tiga puluh lima menit sebelum jarum pendek berada di angka satu."
Tidak perlu di berikan aba-aba untuk kedua kalinya, Baekhyun segera mengikuti lelaki itu. Berjalan pelan dan menyusuri lorong yang mencekam. Baekhyun sesekali menengok ke belakang, barangkali ada seseorang yang mengikuti mereka.
Lelaki di hadapannya dengan lincah menariknya untuk bersembunyi di tembok ketika pria pria berbadan kekar lewat di persilangan jalan. Tubuhnya menegang dan jantungnya berdegup dramatis. Ini kelewat menyeramkan, jika mereka ketahuan, maka pria pria itu akan menghabisi nyawanya dalam satu kali tendangan.
Baekhyun terkejut bukan main saat salah satu dari mereka mencekal jalan, mendecih dengan nafas yang mengejek.
"Kau kira kami terlalu bodoh untuk mengetahui adanya kalian disitu?"
El dengan sigap mendorong Baekhyun untuk berlindung di belakang punggungnya, sedangkan tangannya menodong dengan pistol.
"Aku tidak mengulang dua kali. Biarkan kami pergi, atau aku akan membunuhmu saat ini juga. "
Baekhyun merasakan kakinya bergetar lebih parah. Menyusuri lorong saja sudah membuatnya bergetar, apalagi sesuatu seperti ini?
"Aku tidak bermaksud menghambat kalian."
Baekhyun memicing.
"Hey, kau." Pria itu menatap ke arahnya dan El dengan sigap menarik pelatuknya waspada.
"Aku hanya ingin mengingatkanmu. Kau bisa saja pergi dari sini dengan suruhannya. Tapi tidakkah kau pernah berpikir? Kenapa baru sekarang mafia itu menyelamatkanmu? Apakah kau yakin dia benar-benar melakukannya karena menyukaimu?"
Pupil mata Baekhyun melebar.
"Ma…fia?"
Baekhyun tersentak, El menodongkan pistolnya tepat kearah kepala laki-laki botak itu
Kenapa tidak sedari awal Chanyeol datang dan menyelamatkannya?
El menggeram, "Jangan banyak omong kosong, dasar bajingan."
"Yah, aku hanya ingin mengingatkanmu. Untuk apa kau mempercayai orang yang tidak bisa dipercaya?"
El melirik Baekhyun yang memandang kosong, "Jangan dengarkan dia."
Baekhyun tetap diam. Sehingga El menarik pandangannya dan mendekatkan pistolnya pada kepala pria itu sambil berjalan memutar.
"Kau boleh bergerak, tetapi akan kulubangi kepalamu saat itu juga."
Pria itu terdiam dengan patuh dan El segera memberi Baekhyun sinyal untuk berlari. Dari jarak yang sudah cukup jauh, El meraih sesuatu dari saku di sisi celananya, memasangkannya kepada pistol perak di genggamannya.
Baekhyun bergidik saat mendengar suara tawa El saat pria di belakang mereka tumbang dengan ceceran darah yang merembes dengan cepat.
Benda yang laki-laki itu keluarkan itu adalah sebuah peredam pistol, agar suaranya tidak terdengar gaduh saat menembak.
El sedikit berlari lebih cepat, membuat Baekhyun kewalahan mengikutinya—karena ia harus menjaga langkahnya dari suara derapan. Berkebalikan dengan langkah El, langkah Baekhyun benar-benar terdengar seperti atlet maraton amatir, sementara langkah laki-laki berambut hitam itu tidak mengeluarkan suara apapun, tetapi cepat dan halus.
Mereka masuk ke dalam ruangan yang berasap panas, Baekhyun tidak dapat mengeluh karena dia tahu ini adalah satu satunya jalan untuk selamat. Jujur saja, itu membuat kepalanya sedikit merasa pusing karena terlalu banyak fakta yang harus ia telan bulat-bulat untuk hari ini, dan rasa panas disekitarnya benar-benar tidak membantu.
Ketika mereka sampai ke sebuah lorong kecil yang bercahaya lirih, Baekhyun sadar bahwa itulah cahaya kebebasannya.
Lelaki itu keluar dari lorong terlebih dahulu setelah mendorong pintu bundar kecil yang diputar. Menengok ke sana kemari—memastikan keadaan. Sebelum ia menjulurkan tangannya, membantunya untuk naik.
"Kita berhasil." Sahutnya lega.
Berhasil… Berhasil apa?
Baekhyun kehilangan pikirannya selama beberapa detik untuk mencerna apapun yang terjadi padanya hari ini.
Baekhyun mengangguk, dia benar.
"Chanyeol… apa dia benar-benar seorang mafia?" Baekhyun menghentikan langkahnya yang terseret di belakang El. Membuat laki-laki didepannya ikut menghentikan langkahnya secara tiba-tiba.
Membalikkan badan, El tersenyum manis kepada Baekhyun.
"Naiklah kedalam mobil, aku akan mengantarkanmu kepadanya. Kita tidak punya banyak waktu."
Terdiam, Baekhyun hanya dapat mengiyakan.
Getting Darker
Mereka sudah ada di depan bar. Jam digital yang terpajang di kios kecil di sampingnya tepat menunjukkan pukul 03.05 dan udara malam masih menggigil diujung kakinya.
Baekhyun mengernyit, melongok kesana kemari, sedikit mencuri-curi pandang untuk melihat ke dalam bar.
Dia tidak ada.
"Hey.." Baekhyun memanggil. Lelaki dengan masker hitam itu menoleh, dia juga sedang mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Dimana—dimana dia?"
El terdiam, beberapa saat kemudian kembali menatap sekitar—tidak menjawab.
"Kenapa dia tidak disini?"
El mendesah pelan, "Dengar- badan kecil, aku tidak tahu karena sampai disini sajalah kapasitasku sebagai pengantarmu. Hal-hal yang lain, aku tidak akan memberimu jawabannya."
Baekhyun tidak mudah puas dengan jawaban itu, malah semakin mendesaknya. Oh ayolah, apa dia memberinya jawaban pasti menjadi suatu persoalan yang susah?
"Kau harus mengatakan padaku dimana dia."
"Untuk apa? Mungkin dia ada di dalam," El mengedikkan bahu, "Kita sudah aman. Jangan berulah."
"Liar. Antar aku ke tempat dia berada," Baekhyun menatap kearah El, menuntut jawaban yang lebih pasti. Demi siapapun pengunjung bar yang melihat mereka di depan bar dengan penampilan kumuh Baekhyun- Tidak bisakah laki-laki itu memberinya jawaban?
"Demi Tuhan, kenapa kau sangat keras kepala?!"
"Antarkan aku!"
El mendengus kesal, ia meletakkan pistol yang tadinya berada di genggamannya untuk masuk saku jasnya dan mengambil langkah mendekat pada Baekhyun.
"Dengar, yang harus kau lakukan adalah—"
"Aku tidak peduli!" Baekhyun berteriak, "Antarkan aku kepadanya! Sekarang!"
Baekhyun masih seorang laki-laki. Mungkin ia lebih lemah daripada laki-laki dengan piercing itu, tetapi tetap saja, ia masih seorang laki-laki.
Harga dirinya tidak menginginkan orang-orang disekitarnya untuk melindunginya seperti marshmallow cair dibawah sinar matahari.
"Memangnya kau pikir siapa dirimu hingga bisa memerintahku seperti itu?!"
"Aku istriChanyeol!"
El membeku. Skak mat, bro.
"Sekarang, antarkan aku atau aku akan pergi sendiri. Aku memiliki SIM yang legal."
El hanya bisa memijit kepalanya dengan gusar.
Getting Darker
Baekhyun pikir El akan membawanya kepada kediaman Chanyeol, tetapi mereka lakukan adalah menyusuri kembali jalan ke tempat ia disekap.
Untuk beberapa menit, Baekhyun menyesali pilihannya, ini sebuah mimpi buruk.
Pecahan kaca dimana mana dan suara tembakan terdengar bagaikan sebuah musik latar di lapangan kecil yang gelap itu. Baekhyun mengernyit, mengapa mereka kembali ke sini?
"Tuan Chanyeol, ada disana."
Baekhyun segera menatap ke arah telunjuk El. Dia benar, lelaki itu berada di sana. Ia yakin fitur tinggi dengan wajah tegas itu adalah Chanyeol, ia berdiri sembari mengenggam pistol sedangkan penculiknya berada di hadapannya, terlihat kacau— dan beserta sebuah pistol juga.
Baekhyun mendekat, El mati-matian mencegah tetapi ia tahu ia tidak bisa. Baekhyun masih seorang laki-laki dan begitu pula tenaga yang ia keluarkan.
Baekhyun tahu jika Chanyeol menangkap kehadirannya, dan ia juga tahu bahwa air mukanya berubah nyaris hanya untuk sepersekian detik.
Baekhyun merasa matanya berkaca—ia merasa tidak berdaya, harga dirinya diinjak habis sudah, seperti orang yang hanya dapat pasrah saat menerima hukuman gantung. Ia menggeleng lemah kepada Chanyeol, dan laki-laki itu mengernyit.
Musuh di depan Chanyeol sepertinya menganggap bahwa laki-laki itu sedang lengah, tanpa tahu bahwa El dan Baekhyun berada di belakangnya.
Sebuah tembakan terlepas, dan itu nyaris mengenai perut Chanyeol. Baekhyun membekap mulutnya- nyaris menjerit, menyadari bahwa ia adalah alasan mengapa orang itu berada di pertempuran dengan senjata api yang berbahaya.
Mengapa kau melakukan ini semua? Ia ingin bertanya.
Kau terlalu baik jika merelakan tubuhmu terkena timah timah panas itu hanya demi seseorang yang kau temui dalam beberapa malam.
Walaupun tidak pernah tahu, tetapi tertembak mungkin rasanya seperti terlubangi pada satu titik.
El mendekat, menarik Baekhyun.
"Baekhyun, tolonglah. Kita harus pergi. Tuan Chanyeol akan baik-baik saja."
Baekhyun menggeleng, bagaimana bisa dia pergi begitu saja? El mendesah frustasi, ia berusaha maklum mengingat Baekhyun bukan mafia seperti mereka—yang bermain pistol setiap hari.
Sebuah ide terbersit di kepala Baekhyun untuk mengambil pistol El dan menembak si Bodoh yang sudah berani menyekapnya itu.
Bodoh, setiap suara tembakan saja, ia tidak dapat membuka mata, apalagi menembak laki-laki busuk itu? Bisa-bisa ia salah sasaran.
El menatap Chanyeol, mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya dan menunjukkannya kepada Chanyeol. Suara tembakan kembali terdengar dan Demi Tuhan, El khawatir bila salah satu timah panas itu akan menyasar pada Baekhyun.
"Baekhyun, kita harus pergi."
Baekhyun menolak saat El mencoba menariknya menjauh.
"Ya Tuhan, Tidak bisakah kau menolongnya?! Kau bahkan memiliki pistol itu dan sudah membunuh satu orang!" Baekhyun berteriak.
Kesalahan besar, Baekhyun.
Chanyeol, inikah alasan mengapa aku harus tiba di tempat perjanjian kita tepat pada pukul 03:05?
Karena, pada saat yang sama, kau berada di tempat lain, tidak ingin aku melihat bagaimana sisi dari dirimu yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Terlambat satu menit saja bisa menjadi kesalahan fatal.
Mengingat ketepatan waktu Chanyeol, tentu saja.
Chanyeol menatap semuanya dengan mata yang tajam sebelum ia kembali menatap El, lalu mengangguk dua kali. Ten sepertinya baru saja sadar atas eksistensi dua manusia lain disana, ia membalikkan badannya nyaris secepat kilat.
Dan secepat Ten membalikkan badannya, sebuah jarum terasa menusuk lengan Baekhyun, membuatnya terkejut, meronta di kungkungan El.
Baekhyun menatap Chanyeol penuh kekalutan ketika pandangannya perlahan memudar.
Tidak, Chanyeol berada dalam bahaya. Setidaknya biarkan dia berada di sana.
Suara tembakan kali ini terdengar di telinga Baekhyun yang setengah sadar, dan ia benar-benar tidak ingin tahu dari siapa dan untuk siapa timah panas itu meluncur. Lengan kirinya terasa kebas sementara lengan kanannya terasa perih dengan sangat.
Apa ia tertembak?
Tetapi ia tidak peduli, yang ia pedulikan saat ini adalah apakah Chanyeol akan baik baik saja.
Ralat, apakah mereka akan baik baik saja.
Sayup-sayup, Baekhyun mendengar suara geraman Chanyeol.
Tuhan, setidaknya berikan kami kesempatan untuk membicarakan semua ini.
Kemudian semuanya menjauh, menggelap. Baekhyun terjatuh pada lututnya, obat itu bekerja dan merenggut kesadarannya. El segera menangkapnya sebelum tubuh itu jatuh lebih parah ke rumput dengan bercak-bercak merah, menatap Chanyeol untuk terakhir kali sebelum berlari pergi dengan Baekhyun di gendongannya.
Keluar dari markas Ten yang sudah berubah menjadi lapangan baku tembak bebas.
TBC
SUPER THANKS TO :
Loeylan, , kkaiii, Incandescence7,
Babybaecon, SHINeexo, veraparkhyun, aryanti park, LyWoo,
Eun810, Vflicka6104, selepy, Rose, mawar biru, yiamff, bil, byuncheeseu,
Aisyah1, valbifleur (omg we r so happy you notice us!), LUDLUD,
And the other anonymous reviewers!
.
.
[applemacaroon's note]
Hey, thanks for all people who love this Fanfiction from the start, yayy akhirnya udah nyampe 100 foll so I think I will do some project for all of you guys!
Terimakasih untuk kalian semua yang sudah support aku untuk ga berhenti dari dunia perFFan. I appreciate all of your messages thru the review box or personal messages *hug*
Dan untuk kalian yang butuh moment chanbaek, chapter depan mungkin bakal ada (it's a secret), so please wait for it!
.
[WinterJun09's note]
Intinya, makasih buat yang udah review and semoga kalian suka sama ceritanya. Mungkin jalan ceritanya rumit, atau bahasanya sulit, aku berterimakasih yang sangat dalam kepada kalian yang mendukung kami sampai kesini dan meninggalkan semangat untuk kami (dan aku yakin Kak Apple juga ngerasa yang sama).
Nah, semoga kalian berkenan untuk meninggalkan semangat kalian lagi agar kami bisa meneruskannya dengan lebih baik lagi~
