Naruto © Masashi Kishimoto
Joker © Harayuki
SASUSAKU
Rate • M
.
.
.
^Chapter 3^
°Keras Seperti Batu °
.
.
.
Sudah satu jam sejak bel istirahat selesai tidak terlihat guru yang seharusnya sudah berada di kelas untuk mengajar, entah dimana sang guru bahasa jepang a.k.a Jiraiya yang sama mesumnya seperti Kakashi. Sejak satu jam pula Sasuke terus menatap kursi tempat seharusnya gadis merah muda itu berada. Tapi, sejak bel berbunyi gadis itu masih belum kembali juga, kejadian si Kepala merah muda dan Kepala merah sialan hampir berciuman masih terus terngiang di kepala Ayam-nya.
"Sial! " desis Sasuke dengan suara cukup keras yang membuat seisi kelas menatapnya heran termasuk Naruto yang berada di sebelah Sasuke.
"Teme, kau baik-baik saja?" Naruto menatap Sasuke khawatir karena sejak tadi ia melihat teman sejak kecilnya itu terus menatap kursi kosong yang entah kemana pemiliknya dengan pandangan kesal bercampur marah seolah ia bisa menghanguskan kursi itu dengan tatapannya.
"Hn." balas Sasuke yang kini telah mengalihkan perhatiannya pada semut kecil yang melintas di mejanya.
"Kau mulai anehTeme," bisik Naruto.
Tidak jauh dari sana Hinata, Ino dan Karin saling bertatapan penuh makna tersembunyi. Jadi, dimanakah Sakura sekarang?..
(0)(0)(0)
Atap Sekolah.
"Gaara, minggu nanti kau ada waktu?" gadis itu bertanya pada pemuda disampingnya seraya memejamkan matanya menikmati hembusan angin yang membelai lembut wajahnya.
"Apa kau ingin mengajakku kesuatu tempat Sakura? kencan misalnya," pemuda itu —Gaara menatap wajah gadis disamping dengan lembut dan sedikit menyunggingkan senyum, Cantik pikir Gaara.
Ya, saat ini Sakura sedang berada di atap sekolah bersama Gaara.
"Jawab saja kau ada waktu atau tidak? dan kenapa dengan wajahmu itu?" tanya Sakura saat ia menyadari jika Gaara terus menatapnya sambil terus tersenyum.
"Hah? Apa?"
"Gaara!" gadis itu menatap pemuda disampingnya kesal.
"Haha.. tentu saja aku selalu ada waktu untukmu, Saki." ucap Gaara sambil tetap tersenyum.
"Ck.. Dimana wajah datarmu sekarang? haha.." Sakura menatap Gaara diiringi dengan suara kekehannya.
Semua ego-ku runtuh saat bersamamu, Saku. ucap batin Gaara saat ia melihat senyum dan tawa di wajah Sakura.
BRAKK!
Sakura dan Gaara tersentak kaget.
"Apa itu tadi?" Sakura menatap Gaara bingung.
"Sepertinya ada kucing yang mengamuk tadi," ucap Gaara dengan seringai tipis yang menghiasi wajahnya tanpa di sadari Sakura.
"Kucing ya," Sakura menatap pintu atap dengan padangan menelisik, Tidak mungkinkan itu dia? batin Sakura berteriak. Mungkin saja dia yang tadi menendang pintukan. batin Sakura kembali berteriak. Diam kau Inner bodoh! ucap batin Sakura lagi.
"Ah, kurasa aku harus kembali ke kelas pergantian jam pelajaran sebentar lagi," ucap Sakura.
"Kurasa aku juga harus kembali ke kelas," balas Gaara.
"Aku duluan ya, bye.." Sakura melambaikan tangannya sambil tersenyum kepada Gaara yang meninggalkan sejuta sengatan bagi Gaara.
"Kupikir aku akan meledak." bisik Gaara sambil menatap Sakura hingga gadis itu menghilang di balik pintu.
(0)(0)(0)
Sakura berjalan lambat menuju kelasnya masih ada waktu 15 menit pikirnya, menuruni tangga atap dengan santai kelas Sakura ada di lantai tiga (gedung sekolah memiliki 3 lantai) kelasnya berada. Saat ia sedang melewati gudang penyimpanan alat kebersihan Sakura mendengar suara sedikit gaduh atau mungkin bisa dikatakan terlalu berisik entah apa yang terjadi dibalik pintu.
PRANG!
BRAK!
"Apa ada orang ya?" bisik Sakura,
Tok.. Tok.. Tok..
".."
Tok.. Tok.. Tok..
".."
"Hiih.. perasaanku saja atau memang hawa di sekitar sini tidak enak ya.." setelah mengatakan hal itu dengan suara pelan Sakura berlari meninggalkan ruangan itu dengan cepat menuju kelasnya.
Tap.. Tap.. Tap..
Saat sudah berada di sekitar kelasnya Sakura melambat langkah kakinya dengan sedikit berjinjit dan menunduk hingga ia berada di depan pintu kelas Sakura sedikit mengintip dan ia melihat—
—Tidak ada guru didalam kelas.
Sakura menormalkan langkahnya dan memasuki kelas.
"Tumben sekali kelas sedamai ini?" tanya Sakura saat ia sudah duduk di tempatnya.
"Ck.. Ck.. menurutmu kenapa lagi coba? Kau tidak lihat bagaimana suramnya si Uchiha itu." sahut Ino dengan berbisik, saat ini Hinata, Karin sedang berkumpul duduk mengelilingi meja Sakura.
"Memangnya apa yang terjadi?" Sakura menatap teman-temannya dengan sebelah alisnya yang terangkat.
"Sejak tadi dia terus melihat tempat dudukmu, Saki-Chan." jawab Hinata dengan berbisik.
"Kau kemana saja sejak tadi? Apa kau berselingkuh dariku, Darling? Bagaimana bi— hmp.." celetuk Karin dengan suara agak keras sebelum akhirnya tangan Ino menutup mulut Karin. Semua mata saat ini melihat kearah mereka dan pandangan bertanya karena ucapan Karin.
"Baka!" Hinata menatap tajam Karin yang di balas cengiran dari sang empunya.
"Oh ya, jadi si Uchiha itu ada dimana?" tanya Sakura saat ia menyadari jika Sasuke tidak ada di kelas.
"Auw.. yang masih perhatian." ledek Ino dengan suara pelan,
"Diam kau pig," ucap Sakura dengan mengembungkan pipinya pertanda jika ia sedang kesal.
"Tidak tau," balas Hinata berbisik,
"Aku sendiri baru sadar jika Uchiha tidak ada di kelas," bisik Karin, mereka terus berbicara dengan saling berbisik.
"Hst.. berhenti membahas Uchiha yang tidak penting itu, selama aku membolos tadi ada tugas atau pr?.." tanya Sakura,
"Hm.. Tidak,"
"Tidak," jawab Karin dan Hinata bersamaan,
"Hey, nanti malam kita pergi ke Mionomari Club yuk," ajak Hinata penuh semangat,
"Wow, ada apa dengan Mionomari Club ?" tanya Sakura dengan kedua alisnya yang saling bertautan.
"Kemarin aku melihat Naruto dan Shion masul klub itu jadi aku ingin memastikannya sendiri dan aku juga ingin minta bantuanmu Sakura." balas Hinata dengan senyuman palsu yang menghiasi wajahnya.
"Oke, jadi bantuan apakah itu?" tanya Sakura.
"Aku akan mengatakan rencananya nanti malam jika si bodoh itu memang ada di sana." Hinata menatap wajah sahabatnya dengan sebuah sebelah sudut bibirnya yang terangkat.
"Oke," jawab mereka serentak dengan senyum menawan yang mereka pamerkan,
(0)(0)(0)
Beberapa saat sebelumnya..
Sasuke terus menatap mejanya dengan aura mencekam di sekitarnya seketika keadaan kelas menjadi hening.
"Entah kenapa kelas menjadi sedikit menyeramkan ya?"
"Aku jadi takut,"
"Aku harus memanaskan tubuhku dari hawa dingin ini, push up 100 kali."
"Karena dingin krauk.. aku jadi lapar krauk.."
"Serangga-seranggaku kedinginan."
"Merepotkan dingin sekali."
"Kau baik-baik saja, Teme? Aku seperti melihat kabut hitam yang keluar dari tubuhmu, Datebayo." Naruto melihat Sasuke dengan sedikit takut.
BRAK!
"Apa itu tadi?"
"Siapa yang melakukannya?"
"Tidak tau,"
"Siapa?"
"Siapa?"
Naruto menatap Sasuke yang pergi meninggalkan kelas setelah membuat sedikit keributan dengan memukul keras mejanya.
Sasuke berjalan keluar kelas dengan aura mencekam di sekitarnya ia mengingat kejadian saat istirahat membuatnya tambah kesal.
"Ck! Sial ! " makinya.
"Apa-apaan si merah sialan itu?!" tambahnya.
Ia berjalan menaiki tangga yang menjadi satu-satunya penghubung menuju atap saat ia sudah berada di depan pintu ia mendengar sesuatu yang membuatnya tambah kesal.
"Apa kau ingin mengajakku kesuatu tempat Sakura? kencan misalnya,""
"Jawab saja kau ada waktu atau tidak? dan kenapa dengan wajahmu itu?"
"Hah? Apa?"
"Gaara!"
"Haha.. tentu saja aku selalu ada waktu untukmu, Saki."
"Ck.. Dimana wajah datarmu sekarang? haha.."
BRAKK!
Sasuke sedikit kaget dengan tindakan saat ia mendengar suara langkah kaki mendekati pintu Sasuke berjalan cepat kemuadia masuk ke dalam ruangan penyimpanan karena rasa kesal yang masih memenuhi dadanya ia—Sasuke beberapa kali menendang apapun yang ia lihat di ruangan itu.
Tok.. Tok.. Tok..
Karena keget Sasuke tersadar dengan apa yang dilakukan.
Tok.. Tok.. Tok..
Ia terus terdiam hingga ia mendengar suara langkah kaki yang semakin menjauh.
"Ck.." desisnya sambil mengacak rambutnya.
Bersambung..
mohon maaf karena keterlambatan jangan ngeflame ya T.T
