applemacaroon x WinterJun09
.
Getting Darker
.
06 Decide not to Decide
"You make me nostalgic for a love that hasn't even happened yet."
― pleasefindthis
Aroma lilin yang lembut membuai Baekhyun untuk membuka kelopak mata.
Secercah sinar matahari menyapa matanya, memaksa laki-laki itu untuk menyesuaikan diri dengan menyipitkan keduanya.
Dimana aku?
Ini seperti sebuah kilas balik, bangun dengan mengetahui bahwa ia tidak mengetahui apa-apa.
Sekelebat memori hinggap di kepala Baekhyun, membuat bola mata pria itu terpaksa membuka lebih lebar lagi. Sekuat apapun otaknya mengingat, memori yang ada hanyalah suara tembakan –dan entah, ia tidak tahu lagi.
Chanyeol… dimana dia?
Baekhyun sudah akan menutup wajahnya dengan lengan kanannya, bertujuan untuk menghentikan pemikiran apapun yang dapat merusak kesadarannya, tetapi itu tidak semudah yang ia bayangkan.
"The fuck?" Baekhyun meringis, menyingkirkan ide untuk sekedar memindah posisi lengan kanannya. Kassa gulung melilit nyaris seluruh bagian lengan atas, membuat sedikit pergerakan hanya membuat apapun di dalamnya berdenyut sakit.
Dan apa ini? Infus?
Baekhyun tenggelam dalam kerutan pada dahinya.
"Sudah merasa baikan?"
Baekhyun menoleh kearah sumber suara, laki-laki yang entah sudah berapa lama hinggap di kepalanya itu menunjukkan eksistensinya di ambang pintu. Tubuhnya yang atletis terbalut oleh training hitam dan sweatshirt berwarna kelabu. Raut wajahnya datar, tetapi nada kekhawatiran nyaris kentara saat laki-laki itu mengucapkan kalimatnya.
"Kau butuh sesuatu?" Chanyeol berjalan mendekati Baekhyun, rambut sewarna abu-abu platina-nya teracak dengan malas, "Jangan terlalu banyak bergerak."
Baekhyun bungkam.
Dirinya yakin bahwa kejadian baku tembak terjadi tidak lebih dari dua puluh empat jam dan laki-laki ini bertanya seakan-akan ia hanya terserang sakit flu.
"Apa yang terjadi?"
Pertanyaan itu keluar dari mulut Baekhyun seolah-olah semua kejadian yang lalu tidak pernah terjadi. Kepingan memori seakan mencoba merangsek sedemikian rupa, tetapi Baekhyun hanya mencoba untuk mengelak dari semuanya.
Telinganya mendengar suara desahan napas pendek.
"Apa tidurmu nyenyak?" Laki-laki di hadapan Baekhyun mengalihkan pembicaraan, langkah kaki semakin terasa di telinga Baekhyun, tanda bahwa Chanyeol berjalan lebih dekat kearahnya.
Baekhyun memejamkan mata, berharap sedemikian rupa agar semuanya menjadi sebuah mimpi, dan saat membuka mata, hanya ada managernya yang meneriakinya untuk bangun sebelum rehearsal dimulai.
Deritan kasur disebelahnya menandakan bahwa laki-laki berambut keabuan itu duduk di kasur yang sama dengan yang ia tiduri,
Kedua belah bibir Baekhyun terkatup rapat, Chanyeol pun tidak jauh berbeda.
Keheningan selama nyaris empat puluh lima menit adalah satu-satunya hal yang mengisi ruangan tersebut. Baekhyun tenggelam dalam pikirannya sementara laki-laki itu hanyut dalam buku di pegangannya. Tidak ada yang berusaha membuka percakapan terlebih dahulu, tidak ada yang berusaha merendah terlebih dahulu.
Mata Chanyeol terfokus pada helaian dan untaian kata pada buku, sementara Baekhyun sendiri terfokus pada untaian kata apakah yang bisa ia ucapkan.
"Kau boleh bertanya apapun yang kau mau."
Baekhyun menoleh dengan sedikit menaikkan kepalanya agar sejajar dengan mata Chanyeol. Wow, bagus sekali park, apa kau sekarang bisa membaca pikiran juga?
Chanyeol menghela napas, menutup bukunya dan mengistirahatkan lehernya pada bagian head pada kasur dengan mata terpejam, "Tiga pertanyaan, Park Baekhyun."
Baekhyun meringis mendengar kata awal pada namanya berganti. Ia ingin memukul laki-laki disebelahnya itu dengan kuat, setidaknya setelah apapun yang telah ia lalui, ia membutuhkan sebuah pelampiasan.
Chanyeol mencubit ujung hidung Baekhyun dengan jarinya yang panjang, membuahkan rengutan (manis) dari laki-laki yang lebih kecil.
"Aku akan mengganti perban pada lukamu, jadi pikirkan dengan baik pertanyaan yang akan kau ajukan, karena aku hanya akan disini dalam tiga puluh menit," Chanyeol berbisik dengan lembut, tangannya meraih nampan kecil yang berisi sama dengan kotak P3K terlengkap yang pernah Baekhyun lihat.
Baekhyun masih terdiam.
Chanyeol perlahan-lahan membuka balutan kasa pada lengan Baekhyun, menghasilkan desis menyakitkan yang terdengar di telinga lebar milik si yoda. Sementara Baekhyun sendiri tidak sanggup melirik luka pada lengannya. Yang ia lakukan hanya mengaduh dengan pelan, mencegah laki-laki di sebelahnya untuk mengatainya lemah.
"Tahan sedikit, sayang. Kau akan baik-baik saja."
Serangkaian kata-kata ambigu itu terdengar aneh di telinga Baekhyun yang 'tiba-tiba saja' memerah, sialan Chanyeol.
Bulu mata lembut milik Chanyeol membuai Baekhyun untuk terus menegaskan pandangannya kearah mata yang menatap lukanya dengan teliti. Baekhyun tidak pernah tahu bahwa Chanyeol memiliki sisi yang ini.
Jujur saja, sisi Chanyeol yang ini membuat debaran yang kekanakkan lolos dari jantung Baekhyun dengan tidak tahu malu.
"Dimana Archer?" Pertanyaan tersebut lolos begitu saja dari kerongkongan Baekhyun, berbasa-basi setidaknya adalah hal pertama yang sekiranya bisa Baekhyun pikirkan untuk masuk kedalam lingkup pertanyaan yang lebih serius. Ayolah otak, berpikir lebih keras!
Chanyeol mendecih pendek, tetapi matanya tetap terfokus untuk membersihkan luka Baekhyun. "Ya Tuhan, kau baru siuman setelah beberapa jam dan itu hal pertama yang ada di otakmu?" Chanyeol menggelengkan kepalanya ringan sembari tersenyum dengan oh-sangat-menyebalkan.
"….Uhm…. Sepertinya… ya?"
Chanyeol menghentikan garis lengkung pada wajahnya, " Entahlah, seingatku kepalanya sudah meledak."
Baekhyun merengut jijik, mulutnya akan terbuka untuk bertanya lebih lanjut, Tetapi ia lebih memilih untuk bungkam dan membuang jauh-jauh arti kepala yang meledak. Lengannya lama kelamaan juga semakin terasa perih, Baekhyun bahkan nyaris berteriak saat Chanyeol memberinya antiseptik.
Oh oke, lupakan. Pertanyaan kedua.
"Kenapa kau menyelamatkanku?" Baekhyun terdiam selama beberapa saat. "Kau bisa saja membiarkanku mati, lagipula, tidak ada efeknya sama sekali untukmu bukan?" Baekhyun melontarkan pertanyaan yang berdengung didalam otaknya.
Untuk beberapa detik yang terisi dengan keheningan, Baekhyun sangat ingin memukul mulutnya sendiri karena telah berbicara dengan lancang.
"Itu adalah dua pertanyaan Baekhyun."
"Oh ayolah, jawab saja," Baekhyun mengerucutkan bibirnya, "Izinkan aku untuk menjadi tamak."
"Kenapa aku menyelamatkanmu?" Chanyeol terdiam sejenak. "Aku tidak pernah menyelamatkanmu. Kau yang menyelamatkan dirimu sendiri." Chanyeol menjawab pertanyaannya, "Yah, setidaknya kau berhasil sampai titik dimana keras kepalamu itu nyaris membunuh kita semua."
Baekhyun menonjok perut Chanyeol dengan sedikit keras oleh siku lengannya yang terinfus, menghasilkan geraman tawa dari laki-laki tinggi disebelahnya.
Balutan pada lengan Baekhyun sudah terlihat baru dan Baekhyun melihat Chanyeol tersenyum puas. Baekhyun sebenarnya nyaris terpana pada senyuman dan tawa yang laki-laki itu tunjukkan kepadanya.
Demi Cupid juga segala panah cinta dan pampersnya, Baekhyun ingin sekali saja mencium bibir tebal itu, lalu ia juga ingin memeluk lengan kokoh itu, dan-
Oh shit. Apa yang kau pikirkan Byun Baek?!
"Chanyeol…"
Chanyeol menoleh kearahnya lalu tersenyum dengan lembut, "Ya?"
Baekhyun mengalihkan pandangannya kearah jendela besar pada sisi kanan ruangan, menunjukkan pemandangan lapangan luas dengan rumput yang hijau dan daun yang rimbun.
"Apa aku boleh pulang ke rumah?"
Chanyeol tertegun. Baekhyun melihat rahang laki-laki itu setengah mengeras –mungkin sedang berpikir, tetapi hal yang Chanyeol lakukan setelahnya hanya membuat Baekhyun terjatuh lebih dalam lagi pada segala komponen pada laki-laki itu.
"Pulanglah… Jika itu yang kau mau, Baekhyun."
Baekhyun merasakan sebuah decitan pada aliran darahnya yang terasa macet, "Kau yakin? Aku sudah bertindak begitu kurang ajar dengan melarikan di–"
"Ya, aku yakin."
Baekhyun sendiri tidak tahu bagaimana tiga kata approval dari laki-laki itu terasa sedikit mencubit hatinya, dan dirinya sendiri tidak tahu kenapa setengah dari hatinya bahkan menginginkan Chanyeol untuk berkata tidak.
"Aku tidak akan menghalangimu. Tetapi jika kau membutuhkanku, aku akan selalu berada disana, tepat di sampingmu," Lelaki itu menyentil dahi Baekhyun sedikit keras.
"Bersikaplah seperti anak laki-laki, matamu nyaris terlihat seperti anak anjing yang cengeng," Chanyeol berbisik di telinga Baekhyun, dan yang bisa dikeluarkan oleh laki-laki satunya hanyalah tawa kecil yang terdengar tidak rela.
"Dan jangan lupakan bahwa rumah bisa jadi bukan sebuah bangunan dengan atap kokoh, melainkan sebuah bahu yang akan melindungimu."
Laki-laki itu menghentikan ucapannya sejenak, "Aku harap aku juga bisa menjadi rumahmu."
Lalu selanjutnya, Chanyeol berdiri dari kasur, meletakkan kotak besi berisi peralatan kesehatan, dan berjalan keluar ruangan.
Baekhyun terpana.
"Chanyeol?" Baekhyun berbisik entah kepada siapa, terombang-ambing diantara keinginan untuk terlewati dan terdengar, antara berharap untuk laki-laki itu menoleh, dan setengah dari otaknya tidak ingin laki-laki itu mendengar bisikannya.
Ingatlah, Baekhyun, Chanyeol bahkan dapat mendengar suara napasmu. Laki-laki itu benci suara berisik.
Ya, tentu saja laki-laki itu menoleh.
Baekhyun menahan napasnya, "Do you… really… fell in love with me?"
Pertanyaan itu adalah suatu pertanyaan yang tertanam pada diri Baekhyun dengan tidak tahu malu, tetapi rasa ingin tahu seolah-olah meluap didalam hatinya, dan ia sedikit banyak berharap akan sesuatu yang ia tidak ketahui apa jelasnya.
Baekhyun tidak mendengar apa-apa lagi selain sayup-sayup langkah ringan pada lantai kayu.
Laki-laki itu kemudian menciumnya, meletakkan bibir lembut yang penuh itu tepat diatas bibirnya, mengulumnya lembut seolah Baekhyun diciptakan dari gula kapas.
Ia menyukainya, bagaimana Chanyeol menangkup pipinya dengan lembut, mengusap dahinya dengan usapan seringan kertas, seolah-olah mengatakan bahwa, ya, aku mencintaimu.
Tetapi siapa yang tahu?
Baekhyun merasa bahwa ia berada di awang-awang. Setengah dari dirinya terhanyut sementara yang lainnya berdenyut sakit.
Apa artinya? Ciuman perpisahan?
Laki-laki itu kemudian tersenyum, meninggalkan Baekhyun dalam raut wajah setengah tidak sadar. Setengah tidak percaya.
"Hanya tiga pertanyaan, Park Baekhyun. Kau tidak boleh tamak."
Dan pintu ditutup dengan perlahan, meninggalkan pria bermata sayu dengan bibir kemerahan.
Getting Darker
Baekhyun tidak bicara dengan siapapun dan tidak keluar dari kamarnya selama dua setengah hari.
Ia tidak tahu mengapa dia merasa marah, sungguh. Tapi setiap kali memikirkan lelaki itu yang menciumnya secara tiba tiba, lalu menggantungkan pertanyaannya soal perkataannya kemarin lusa, entah mengapa membuatnya marah dan kecewa. Baekhyun termenung lebih dari waktu harian yang ia punya, menghabiskannya dengan menatap langit-langit. Berharap ia menemukan jawaban dari pertanyaan terbesar di hatinya.
Mengapa dia harus kecewa ketika Chanyeol tidak mengatakan itu—bahwa lelaki itu serius mengatakannya, bahwa dia mencintainya.
Suara deritan pintu terdengar diantara kesunyian.
Baekhyun menoleh dengan cepat, dan ketika dia melihat figur Chanyeol yang bersandar di pintu, Baekhyun segera bersembunyi ke dalam selimut.
Dia tidak tahu kenapa dirinya harus menghindari lelaki itu.
Hanya terdengar suara debaman kecil, pintu lemari yang terbuka dan seperti sesuatu yang sengaja dijatuhkan. Baekhyun menahan mati-matian rasa penasarannya dan memilih tetap di posisinya. Diam.
Hangatnya tubuh Chanyeol terasa begitu dekat, dan Baekhyun berdoa sedemikian rupa agar laki-laki itu tidak mengetahui bahwa ia tidak tidur.
Baekhyun merasakan telapak tangan menempel pada dahinya yang berkeringat.
"Tidak demam," Baekhyun mendengar suara Chanyeol yang menggumam kepada dirinya sendiri, dan setelah itu semuanya terasa begitu senyap,
Chanyeol membelai rambutnya, begitu lembut sampai-sampai Baekhyun hanya ingin membuka matanya dan menangis di bahu laki-laki itu. Kedua anak adam itu hanya terdiam pada posisinya masing-masing, seolah-olah mereka ditakdirkan untuk adegan ini, seolah-olah mereka berdua adalah pemilik dunia ini, dan mungkin saja... kedua hati mereka hanya ingin memiliki seluruh waktu yang dilimpahkan oleh Tuhan.
Lima belas menit kemudian, deritan pada kasur terdengar, sepertinya Chanyeol sudah akan pergi. Dan Baekhyun sebenarnya tidak rela jika kehangatan itu pergi.
Suara itu menghilang bersamaan dengan suara klik pada pintu. Chanyeol pasti sudah pergi, pikirnya. Baekhyun membuka matanya dengan lambat—bermaksud mengintip, dan menghela nafas lega ketika sosok itu benar-benar sudah meninggalkan ruangan.
Itu terakhir kali mereka bertemu.
Karena setelahnya, Baekhyun tidak bisa menemukan Chanyeol di sudut manapun dari rumahnya selama tiga hari berturut-turut, dan semua orang di dalam rumah itu sepertinya sudah disihir hingga bisu.
Getting Darker
Hari ke empat setelah itu, Baekhyun akhirnya melihat Chanyeol.
Dia berdiri di hadapannya dengan sebuah kemeja hitam yang dilipat hingga atas siku. Rambutnya sengaja dibiarkan berantakan tapi itu membuatnya tampak semakin seksi dan mewah secara bersamaan. Chanyeol melempar sebuah lirikan pada dirinya sebelum bibirnya terbuka,
"Ayo." Kata pertamanya setelah insiden itu.
"Apa? Memangnya kita akan pergi kemana?" Baekhyun tidak dapat menahan dirinya untuk tidak bertanya.
"Mengantarkanmu kembali."
Baekhyun mengerutkan kening,
"Menuju apartemenmu." Chanyeol menatapnya lamat-lamat, "Bukankah itu yang kau minta beberapa hari yang lalu?"
Lalu apakah kau akan membiarkanku pergi begitu saja? Baekhyun mendengar hatinya bertanya. Mendadak ia menyesali keputusannya untuk pulang. Nyatanya dia merasa dibuang.
Tapi kenapa?
Baekhyun merasa Chanyeol tengah mengusirnya dengan cara sehalus mungkin.
Ah, tapi bukankah ini yang ia inginkan? Hidup terpisah dan kembali menjalani hidupnya sebagai musisi yang bebas dan damai. Bukan berkecimpung di dunia gelap bersama mafia yang mengerikan.
Ini bukan yang dia inginkan.
Ia hanya ingin hidupnya yang dulu, hidupnya yang bebas.
Ya kan?
Pertanyaan yang ia ajukan pada dirinya sendiri mendapatkan jawaban dari hatinya yang terasa hampa.
Sudah… tidak bisa bertemu Chanyeol lagi ya?
Getting Darker
Baekhyun tahu ada sesuatu yang terasa terhimpit di dadanya ketika Chanyeol menuntunnya untuk masuk ke mobil. Ia memperhatikan setiap gerakan Chanyeol, tanpa sadar memberikan tatapan yang intens. Chanyeol meliriknya kemudian, memberikan senyuman singkat.
"Ada yang ingin kau katakan?"
"Kapan kita bisa berangkat?" Bibirnya terbuka dengan cepat.
Bukan, sungguh. Bukan itu yang ingin ia katakan. Baekhyun sungguh ingin berteriak bahwa ia mungkin bisa mempertimbangkan untuk tinggal jika Chanyeol memohon padanya—sedikit saja. Tapi urung, dan tentu saja harga diri yang selangit menjadi alasan utamanya.
Dan akhirnya ia malah mengeluarkan pertanyaan bodoh, yang membuat wajah Chanyeol berubah, terlihat lebih dingin dari biasanya.
Baekhyun mengigit bibirnya sendiri—penuh sesal.
Lelaki itu lantas tidak lagi mengulur waktu. Ia masuk ke bangku pengemudi dan menyalakan mesin. Baekhyun meliriknya takut-takut, bertanya tanya apa yang sedang lelaki itu ingin lakukan.
"Kau sangat tidak sabar, huh?"
Baekhyun tidak tahu cara membalasnya.
Suara dengung mesin mulai terdengar halus saat Chanyeol menjalankan mobil. Tetapi kemudian, suara itu adalah satu-satunya suara selama berpuluh-puluh menit kedepan, karena seterusnya yang ia dengar hanyalah keheningan.
Memang seharusnya ia sudah terbiasa, tetapi ia hanya tidak bisa.
Baekhyun berusaha memusatkan perhatiannya pada jendela. Tetapi selalu gagal. Atensinya tetap tertuju kepada Chanyeol, yang sedang mengemudi dengan wajah setenang balok es. Pendingin pada mobil bahkan sudah terasa membekukan, kenapa Chanyeol harus bersikap lebih dingin lagi?
Itu salahmu, Byun Baekhyun, kau yang membuatnya seperti itu.
"Apa kau akan terus menatapku hingga lehermu sakit?"
Baekhyun terkejut, bahunya berjengit naik.
"A—aku—"
"Kau ingin starbucks?"
Chanyeol memotong, menunjuk café itu dengan dagunya.
Baekhyun sebenarnya tidak ingin berlama lama dengan lelaki itu karena demi apapun, itu hanya akan menimbulkan perasaan aneh di dadanya—sesuatu seperti, kesepian. Namun ia menemukan dirinya mengangguk ringan, dengan tangan hangat Chanyeol yang ingin sekali ia genggam saat menekan tombol pada palang drive thru.
"Apa yang kau sukai?"
"Apapun."
Baekhyun menjawab cepat. Chanyeol menatapnya sebentar, kemudian mengatakan sesuatu pada microphone kecil untuk memesan. Baekhyun berusaha untuk tidak mendengarnya. Ia mengalihkan pandangan ketika Chanyeol selesai dengan pesanannya.
Baekhyun mengangguk dengan canggung (hell, bibirnya bahkan kelu saat ia ingin mengucapkan terimakasih) ketika Chanyeol memberikan segelas americano padanya. Mau tidak mau, ini mengingatkannya pada insiden di Hongdae beberapa hari lalu.
Baekhyun menyesapnya Americano-nya, perlahan sambil melirik Chanyeol.
Pada tegukan pertama rasa yang tidak familiar menyeruak di lidah Baekhyun, ia mengeluarkan lidahnya dan mengerjap beberapa kali dengan wajah yang merengut, "Ew, ini pahit."
Baekhyun melihat laki-laki di sebelahnya berusaha menahan senyuman agar tidak terlepas di permukaan wajahnya yang tampan. "Kau laki-laki cengeng yang tidak bisa minum americano?"
Tawa si dingin musim semi yang berderai lembut membuat Baekhyun begitu bersyukur kepada segelas americano.
Baekhyun akan membayar berapapun, atau meneguk sepuluh liter americano sekaligus– asalkan ia dapat mendengar dan melihat lengkungan bibir yang menakjubkan terpampang pada wajah Chanyeol yang dingin.
Setelah suara tawa itu mereda, ia mendapati Chanyeol mendekat padanya. Baekhyun hampir kehilangan nafas ketika wajah pria itu tepat di depan hidungnya.
"A—Apa—"
Klik.
Chanyeol menarik wajahnya, menatap Baekhyun. "Aku hanya membantumu memakai seatbelt. Kenapa kau memasang wajah seperti itu?"
Baekhyun tersentak, wajahnya memerah dan ia segera menunduk.
"Tidak apa."
Chanyeol tersenyum, "Baiklah, aku akan langsung mengantarmu."
Baekhyun terdiam sejenak. Pandangannya diarahkan ke pria itu dan memaksakan sebuah senyuman balasan,
"Terima kasih."
"Dan Baekhyun?"
"Ya?"
"Kau bisa meminum latte-ku. Americano itu hanya sebuah candaan karena kau merengut di sepanjang jalan pulang."
Getting Darker
Mereka akhirnya sampai setelah beberapa puluh menit (yang mencekik) kemudian.
Chanyeol membantunya untuk membuka pintu dan Baekhyun lagi-lagi merasa dadanya terhimpit sebuah batu. Karena Baekhyun tidak membawa apapun ke rumah besar milik Chanyeol, maka ia tidak membawa apapun ke sini juga.
Selain rasa hampa yang ada juga sesuatu seperti... Tidak rela?
Baekhyun buru-buru menepis pikiran itu ketika Chanyeol menoleh padanya.
"Kita sudah sampai. Jaga dirimu baik baik."
Baekhyun mengangguk. Ragu-ragu menatap kebelakang yang mana menampilkan interior apartemennya yang sebenarnya sudah sangat ia rindukan. Namun entah kenapa, rasanya ia lebih menyukai berada di kasur besar Chanyeol, lengkap beserta pria itu disana.
"Ingin minum kopi?"
Baik Chanyeol maupun Baekhyun mengetahui bahwa pertanyaan itu adalah kalimat basa-basi, dan keduanya bahkan tahu bahwa kopi hanyalah sebuah alasan untuk berlama-lama agar dapat saling menatap.
Oh ayolah, kemana perginya dua gelas starbucks tiga puluh menit yang lalu?
Chanyeol terdiam, kemudian mengangguk.
Itulah mengapa sekarang mereka berada di dalam apartemen Baekhyun dalam suasana yang sangaaat canggung.
"Baekhyun?"
"Ya?"
"Air saja." Chanyeol tersenyum sekilas. Baekhyun mengangguk dan beranjak ke dapur. Meninggalkan Chanyeol di ruangan tengah yang penuh dengan koleksi biola-biolanya.
Chanyeol mengedarkan pandangannya, baru tersadar bahwa setiap sudut ruangan terdapat sebuah biola. Jangan lupakan lemari besar yang menyimpan biola di dekat ruang tengah. Chanyeol terkekeh dan hal itu menarik atensi Baekhyun yang baru kembali dari dapur.
Ia meletakkan segelas air putih diatas meja sebelum bertanya pada Chanyeol.
"Kenapa kau tertawa?"
"Aku bertanya tanya kenapa kau sangat menyukai musik, terlebih pada biola," Chanyeol menatapnya dengan pandangan menelisik.
Baekhyun tidak segera menjawab, dia membawa dirinya untuk duduk di samping Chanyeol, di atas sofa beludru berwarna biru gelap—tapi masih pada jarak yang cukup jauh, dan ia sadar bahwa ia menarik nafasnya pelan.
"Aku sangat menyukai mereka karena—"
Chanyeol menunggu jawabannya.
"Karena aku merasa itu diriku."
Tidak ada respon dari si tinggi, dan Baekhyun memutuskan untuk melanjutkan.
"Orangtuaku, mereka juga tidak menyukai musik seperti dirimu."
Dia mendengar Chanyeol terkekeh kecil.
"Mereka selalu menjauhkan musik dariku."
Baekhyun menatap salah satu biola dan melanjutkan, "Tapi suatu hari, aku bertemu dengan mereka, Biola-biolaku. Rasanya seperti… menemukan sepotong jiwa yang baru. Aku benar benar mencintai mereka pada pandangan pertama."
"Mereka membuatmu jatuh cinta." Chanyeol menyimpulkan, "Aku mengerti."
"Bagaimana bisa kau mengerti?" Baekhyun tertawa kecil. "Kau bahkan tidak menyukai musik."
"Aku bukannya tidak menyukainya, Baekhyun."
Kelopak mata Baekhyun berkedip cepat, "Lalu kenapa?"
Chanyeol tidak menjawab, hanya menarik sebuah senyum. Mereka terdiam selama beberapa saat, sampai Baekhyun tidak sengaja menjatuhkan pandangannya pada foto keluarga yang dipajang di dinding. Baekhyun menatap pigura itu sedikit lama sebelum membuka bibirnya untuk berkata entah kepada siapa.
"Kadang kukira keputusanku untuk mencintai mereka adalah pilihan yang salah," Baekhyun menghela nafas, "Aku mengorbankan keluargaku demi mereka."
Chanyeol mengangguk lembut seolah paham bahwa Baekhyun membutuhkan seseorang yang bisa mendengarkannya tanpa berkomentar banyak.
"Adikku, ia menderita karenaku. Dia tidak bisa menjadi dirinya sendiri."
Chanyeol duduk mendekati Baekhyun, lalu menepuk-nepuk kepala si kecil dengan lembut seolah mengatakan, ceritakan kepadaku.
Ah, Baekhyun tidak tahu bahwa ia begitu merindukan bagaimana seseorang dapat menjadi pendengar untuk masalah yang terjadi padanya.
"Adikku, Sehun. Dia menjadi seseorang yang diinginkan orang tua karena aku. Tepatnya karena aku hanya kakak kurang ajar yang membuang otak dan cita-cita terpuji seperti polisi atau dokter, demi menggesekkan bow pada biola."
Chanyeol melirik sedikit ketika mendengar nama itu.
"Aku sangat merindukannya."
Chanyeol tersenyum, dia berdiri dan mengacak rambut Baekhyun. Dihadiahi pandangan menusuk dari yang lebih pendek.
"Kurasa aku harus pergi sekarang."
Baekhyun terdiam, mengangguk pelan dan mengantar lelaki itu untuk sampai ke depan pintu apartemen dengan langkah yang terbilang lambat.
"Aku sudah menyimpan nomorku di dalam handphonemu. Kapanpun kau ada masalah atau sesuatu menyulitkanmu, jangan pernah ragu untuk menghubungiku."
"Termasuk ketika aku merindukanmu?"
Baekhyun bahkan terkejut saat mendengar bibirnya mengeluarkan kalimat itu.
Chanyeol terdiam sejenak, lantas mengulas senyuman simpul kemudian.
"Kapanpun, Baekhyun."
Baekhyun terhipnotis oleh tulusnya senyum itu sampai-sampai ia tidak sadar Chanyeol sudah kembali ke mobilnya. Pergi.
Baekhyun menghela nafas, berbalik dan mengunci pintu apartemennya. Tubuhnya mencari pusat gravitasi terbesar di dunianya—kasur, ketika sesuatu terasa semakin mengganjal di dadanya.
God please,
Don't let me fall for him,
Baekhyun membisikkan doa, tepat sebelum matanya tertutup oleh rasa lelah.
Getting Darker
Baekhyun jelas tidak berbohong kalau dia bilang ada sesuatu yang hilang setelah itu.
Hari harinya sebenarnya kembali damai. Dia bangun dengan jadwal normal dan memasak sarapan dengan tenang di dapur. Keramaian mengisi dunianya kembali, Baekhyun bersyukur ia dapat mendengar cuitan burung setelah sebelumnya tidak dapat mendengarnya sama sekali, atau mungkin mendengarkan gosip pagi di televisi dengan volume yang tinggi.
Apartemennya seharusnya menjadi tempat yang teraman. Maka Baekhyun tidak bisa mengerti dengan pikirannya yang masih membandingkan apartemennya itu dengan kediaman Chanyeol.
Mungkin karena hidup sendirian itu membosankan. Baekhyun berusaha meyakinkan dirinya kalau dirinya hanya merasakan hal itu—dan itu adalah hal yang lumrah.
Mungkin juga dia hanya belum terbiasa akan ketidakhadiran lelaki itu.
Mungkin hanya seperti itu.
Yunho juga tidak dapat dihubungi, sial, direktur bajingan itu.
Hari mulai terik, matahari sudah berdiri di atas kepalanya dan Baekhyun masih gagal untuk bisa menghilangkan lelaki dengan rambut abu itu dari pikirannya. Berulang kali dirinya meyakinkan bahwa tinggal terpisah dengan lelaki itu adalah jawaban sekaligus pilihan terbaik, namun ia tetap jatuh pada rasa yang sama.
Rasa kesepian, tetapi Baekhyun lebih suka menyebutnya rasa bersalah.
Getaran pada ponselnya membuat Baekhyun melangkah lebar-lebar untuk membuka mailboxnya. Mungkin, hanya mungkin. Mungkin itu Chanyeol. Hanya kemungkinan, tetapi hati Baekhyun sedikit banyak mengharapkan nama laki-laki itu untuk terpampang pada lock screen-nya.
[Fr : Unknown Number]
Kau kira aku akan menyerah begitu saja? Jangan harap, Byun Baekhyun. Partitur itu akan menjadi milikku.
Kau tidak akan tahu seberapa berharganya itu, sayang.
Kita akan berjumpa tidak lama lagi. Kau pasti merindukanku kan?
Baekhyun tertegun.
Sial, apalagi ini?
TBC
SUPER THANKS TO :
Incandescence7, Yonsy Fa Swan, LittleJasmine2, selepy, CussonsBaekby, LyWoo, , Aisyah1, kimi2266, AERI BYEOL, oohgitha, sintalovedei, Kim Uno, chalienBee04, 365 be With You, Beesquishy, Muth, veraparkhyun, victorique35, LUDLUD, aeri48, , Eun810, baby baek, yiamff, honeybabies61, bil, myliveyou, brinabaek, SHINeexo, and the other anonymous review!
.
.
[applemacaroon's note]
Halo semuanya! Udah lumayan lama setelah FF ini pertama kali diupload, dan aku bener bener ga nyangka Fav/Follow/Review dari cerita ini bakal lebih dari 100.
And, aku bener bener appreciate all of your love towards this fanfiction, really.
THANKS a LOTTT to all of your reviews, itu bener bener bikin senyum-senyum sendiri, bikin aku terpacu untuk belajar lebih giat lagi biar bisa bikin FF yang bakal menarik untuk dibaca oleh kalian semua.
But, im so sorry, kelihatannya aku dan Winter bakalan hiatusin FF ini, setidaknya seminggu, karena yeah, final exams is coming and of course real life harus diutamakan right? (Iya bener aku masih anak sekolahan yang ingusnya mbeler)
SEMANGAT UNTUK KALIAN YANG MAU NGEHADEPIN UAS! APALAGI YANG MASIH ANAK SMA + PAKE METODE UKBM YANG MENYAYAT JIWA.
lol, i love you guys so much!
[ Feel free to message me! LINE : applemacaroon ]
.
[ WinterJun09's note]
Thanks for all reviewers, semoga suka sama ceritanya dan jangan lupa tinggalkan review kalian untuk kami ^^
Dan maaf nih, kayaknya aku sama Kak Apple bakal hiatus untuk sementara, maybe cuman semingguan lebih sampai kami berdua sama sama senggang *bow*
Semoga kalian ngerti dan doakan kami agar kami bisa kembali segera dari kesibukan kami dan melanjutkan dengan chapter yang lebih 'wah' dari sebelumnya~~!
