applemacaroon x WinterJun09

.

Getting Darker

.

06.5 Pains Demain to be Felt, they said.

"Now you've gone too fast. Now, you've made me leave me behind."
pleasefindthis, I Wrote This For You


This is how Baekhyun think.

…and what his heart think about.

(Baekhyun Byun, 27 November, 20XX)

Jujur saja, semuanya terasa begitu buram. Seakan akan aku ditarik bangkit dari lautan terdalam setelah seratus tahun, segala sesuatu terasa jauh dan tidak dapat terlihat dengan jelas.

Maksudku, aku bahkan tidak tahu apa yang telah kualami. Semuanya berjalan dengan begitu cepat, bagaimana aku menemukan seorang laki-laki di sebelahku, atau bagaimana aku diculik, atau mungkin bagaimana aku mendapatkan sayatan di bagian lengan.

Semuanya terasa begitu tiba-tiba, kau tahu?

Rasanya seperti… terlempar kedalam bab pada pertengahan cerita tanpa mengetahui bagian orientasi, semuanya terlalu merangsek kedalam suatu topik yang bahkan tidak kuketahui apa maksudnya.

Aku bahkan hanya menemukan diriku pada sore hari menyebalkan dimana schedule untuk konser begitu padat menumpuk, lalu aku merasakan kepalaku pusing setelah berbicara dengan si rambut abu-abu menyebalkan (yang sesungguhnya terlihat begitu seksi, seingatku)

Dan entah mengapa, paginya aku berada didalam posisi dimana bokongku terasa begitu menusuk, beserta senyuman menyebalkan si rambut abu-abu seksi. Ya Tuhan, aku tidak pernah merasa begitu bingung didalam hidupku, bahkan bagian hidup dimana aku memutuskan untuk meninggalkan kelua–

Oh oke, potong bagian itu.

Maksudku, aku hanya begitu tidak tahu tentang semua yang menimpaku, Yunho si presdir sialan itu dengan seenak jidatnya mengatakan bahwa aku harus tunduk kepada si rambut abu-abu seksi yang bahkan baru aku ketahui namanya saat melihat – namaku beserta namanya didalam kolom surat pernikahan legal!

Oh Tuhan, sebenarnya takdir apa yang sedang kurangkai?

Laki-laki itu bersikap begitu dingin dan begitu hangat secara bersamaan, aku bahkan sempat mengira bahwa ia seorang psycho yang memiliki kepribadian ganda, sebuah spesies unik yang baru saja kutemukan dalam setengah hari yang mengaku sebagai suami-ku!

Aku tidak tahu apakah maksudnya aku dipaksa untuk masuk kedalam golongan gay atau mungkin secara sukarela masuk kedalamnya (ada waktu dimana laki-laki seksi itu benar-benar menjadi lelaki-menyebalkan-yang-sangat-oh–god-lupakan).

Lalu selanjutnya? Tentu saja aku mencoba melarikan diri darinya.

Siapa di dunia ini yang akan bertahan di rumah sepi dengan pria setengah dingin itu? Untuk orang yang memiliki akal sehat, tentu saja jawabannya adalah tidak. Dan itulah tepatnya yang ingin aku katakan, aku hanya ingin pergi dari pria itu.

Dan yang kudapatkan? God, aku diculik.

Jika ini adalah sebuah film layar lebar, atau sebuah hidden cam untuk sebuah reality show, maka ini agak terlalu berlebihan. Aku bersumpah akan membawa lelucon yang gagal lucu ini ke pengadilan segera setelah mereka mengakhiri reality show-nya.

Tapi ini benar benar kenyataan. Bukan reality show, tidak ada hidden cam, yang ada hanyalah kekosongan.

Ya, benar-benar kosong.

Sedikit banyak aku merasa menyesal telah meninggalkan rumah pria itu, karena seratus kali lebih baik jika aku dapat tidur di kasur hangat yang nyaman, daripada tidur di lantai yang keras dengan memar yang menjalar di setengah bagian dari tubuhku.

Untuk pertama kalinya juga, aku merasakan aku berada di sebuah kekosongan, dimana rasa pasrah benar-benar memenuhi kerongkongan, dan itu adalah rasa terpahit yang pernah kurasakan seumur hidup.

Sungguh, aku benar-benar tidak berbohong, aku bahkan sudah membayangkan organku yang akan dijual, atau mungkin jadi objek pemuas atau apalah itu.

Tanpa sadar, aku mengharapkan Chanyeol (ya, aku menyebut namanya untuk yang pertama kalinya) untuk menyelamatkanku. Itu bukan berarti apa-apa, tetapi aku hanya… tidak memiliki siapapun yang pernah terasa begitu dekat denganku. Lelaki itu, tidak juga dekat denganku. Demi Tuhan, aku hanya mengenal wajahnya dan segala sesuatu masih terasa buram bagiku.

Mungkin mengenal dirinya membutuhkan waktu lebih dari satu abad.

Di dalam sel penjara itu, aku benar-benar hanya memikirkan namanya saja, atau terkadang bagaimana aku begitu menyesal dan meminta belas kasihan Tuhan untuk memberitahunya dimana keberadaanku.

Fakta selanjutnya yang kudapatkan? Mengerikan.

Laki-laki itu seorang mafia.

Hidupku benar-benar seperti dipermainkan.

Saat itu aku tidak tahu mana yang lebih membahagiakan, mengetahui bahwa aku bisa menghirup udara bebas, atau mengetahui bahwa aku menemukan orang yang dapat menyelamatkanku. Mungkin saja hal ini dapat menjadi mengerikan, mengingat ternyata orang yang kuberi tatapan kesal selama hampir dua kali dua puluh empat jam adalah seorang mafia yang sepertinya bukan main-main adanya .

Aku merasa menggali kuburanku sendiri, dan aku merasa menjadi seorang tokoh utama dengan plot twist super dramatis.

Mau tahu apa yang lebih mengejutkan?

Setelah semua kejadian (yang tidak pernah kubayangkan didalam berpuluh tahun eksistensiku di dunia ini) terjadi… aku merasa Chanyeol mungkin adalah orang yang benar-benar baik.

Ini sebenarnya begitu menggelikan, mengingat bagaimana hatiku berdebar dengan cara yang sangat murahan saat lelaki itu tersenyum dengan lembut dan menatapku dengan mata cokelatnya yang sewarna hazelnut.

Aku sudah gila.


.

Getting Darker

.


Aku kecewa pada jawaban mafia itu.

Aku terbangun setelah menjalani mimpi yang sebenarnya adalah kenyataan. Mimpi (coret, kenyataan) dimana aku berlari dari ruangan gelap itu, hanya untuk kembali ke sana dan menemukan lelaki dengan surai abu itu berdiri kokoh diantara tumpukan mayat. Lalu apa? Aku tidak ingat.

Aku hanya ingat suara tembakan yang bertubi-tubi.

Kalian tahu? Yang membuat ini semua lucu adalah bagaimana Chanyeol datang dan bertanya soal keadaanku, seperti semuanya baik baik saja dan tidak ada luka atau pistol atau apapun yang mengerikan yang terjadi kemarin. Dia dengan santainya menatap wajahku dan malah menanyakan apakah tidurku nyenyak saat aku bertanya kejadian kemarin, tidak berusaha menjelaskan apapun.

"Kau boleh bertanya apapun yang kau mau." Katanya.

Aku menggigit bibir. Kebingungan dan akhirnya mengeluarkan pertanyaan paling bodoh sedunia. Aku malah bertanya soal keberadaan orang asing, bukan tentang bagaimana kau membawaku kemari atau apakah kau terluka.

Aku berpikir lebih keras untuk pertanyaan kedua, sungguh.

Dan aku menanyakannya, mengapa dia datang dan menyelamatkanku sedangkan aku sudah kabur dari sisinya.

Dia bilang, aku menyelamatkan diriku sendiri.

Aku tertawa dalam hati, tidak, itu tidak pernah terjadi. Bagaimana mungkin aku akan menyelamatkan diriku sendiri bila apa yang kulakukan hanyalah menangis dan ketakutan? Dia menyelamatkanku. Itu mutlak. Itu sungguhan.

Entah mengapa, aku berharap dia menjawab sesuatu yang lain, berkaitan dengan perasaannya mungkin?

Aku terkejut dengan jantungku yang tiba-tiba memompa lebih cepat.

"Chanyeol.."

Akhirnya aku memanggil namanya. Dengan debaran yang sungguh menyebalkan hinggap begitu saja di hatiku.

Setelah ini, apa yang akan kukatakan? Berpikirlah, wahai otak yang jenius.

Chanyeol menoleh, surai abunya ikut bergoyang melawan angin saat dia tersenyum. "Ya?" Jawabnya lembut.

Aku bersumpah hatiku meleleh.

"Apakah," Aku ragu sebentar. Dia menatapku penuh perhatian dan sinar matanya itu, aku bisa mati karena dia tampak begitu sempurna.

Tapi dunianya, bukanlah duniaku. Dia memang yang teraman dari segala tempat yang ada di dunia. Dia melindungiku, itu benar. Hanya saja, aku tetap ketakutan. Segala peluru itu, dan orang orang yang memukul, berteriak, lalu menyekapku di ruangan yang gelap, hanya untuk meminta selembar partitur berharga dariku—Aku takut.

"Apakah aku boleh pulang ke rumah?"

Ini bukan tentang aku yang tidak tahu terima kasih atau balas budi, sungguh. Aku hanya ingin.. Kupikir aku hanya ingin melarikan diri. Ke tempat yang aman. Ke suatu tempat dimana aku bisa menyembunyikan diriku dari orang orang menyeramkan seperti kemarin. Ke suatu tempat yang ramai, suatu tempat yang bebas.

Bukannya aku tidak mempercayai Chanyeol, aku percaya dengan segala sarafku padanya.

Aku juga lebih dari tahu kalau dia adalah rumahku yang paling aman.

Tapi seperti yang tadi kukatakan, aku hanya ingin pulang dan melarikan diri dari semua ini.

Aku bodoh sekali, kan?

Chanyeol tertegun sejenak, tapi dia berkata aku boleh.

Aku boleh pergi darinya.

Aku berada dalam jurang kebimbangan.

Aku senang, aku bisa keluar dari lingkaran setan ini, pergi bebas dan hidup semauku—aku bebas. Tapi dengan kenyataan bahwa itu akan membuatku tidak bertemu dengan Chanyeol, tidak akan menemukan dirinya di sudut manapun dari rumahku, kenyataan bahwa dia melepasku begitu saja dan itu artinya dia tidak mencintaiku, membuat rasa senang itu meluap pergi entah kemana.

Dia tidak punya alasan untuk mempertahankanku di sisinya, bukankah begitu?

Byun Baekhyun, kau makhluk teraneh yang hidup di tahun ini. Mengapa juga kau harus peduli apakah dia menyukaimu atau tidak?

Setelah beberapa kalimat dengan raut wajah menerawang, lelaki itu tiba tiba berkata ;

"Aku harap aku juga bisa menjadi rumahmu."

Tuhan, suaranya yang begitu lembut.

Kau sudah menjadi rumahku, Chanyeol.

Kau adalah rumah, dan tujuan dari segala jalanku.

Lalu bagaimana denganku? Apakah aku juga menjadi salah satu penghuni disana—di hatimu?

"Do you… Really.. Fell in love with me?"

Apa aku juga rumahmu, Chanyeol?

Itu meluncur keluar begitu saja.

Aku mengharapkan jawaban, aku mengharapkan dia mengatakan apapun bahkan jika itu hanyalah "Tidak". Tapi yang Chanyeol lakukan adalah menciumku tepat di bibir dengan lembut. Apa yang dia inginkan? Sebuah perpisahan? Sebuah ultimatum bahwa aku hanya istrinya di mata hukum—yeah, dan aku tidak pantas mendapatkan cintanya?

"Hanya tiga pertanyaan, Park Baekhyun. Kau tidak boleh tamak."

Tapi aku sudah tamak dengan mengharapkan dirimu yang mencintaiku.

Aku kecewa pada jawaban mafia itu.

Sangat.


.

Getting Darker

.


Kalian tahu kelanjutannya, aku tidak akan mengulangnya karena itu semua membuatku nyaris muntah karena putus asa. Aku kembali ke apartemenku dan dia kembali ke rumah heningnya. Kami menjalani hidup masing masing, yang terpisah dan berbeda.

Aku akhirnya sadar sepenuhnya bahwa sekarang aku sendirian.

Dia tidak ada dimanapun—tentu saja. Tapi aku seringkali terbangun di tengah malam dan berkeliling apartemen untuk mencarinya, bodoh. Dia tidak akan diam-diam mengunjungiku. Dia mungkin sudah memiliki wanita baru yang berdada besar dan pandai menggoda—tidak seperti aku.

Baguslah, tapi kenapa hatiku terasa sakit?

Saat aku memasak, aku berharap diam diam Chanyeol akan muncul dari pintu depan. Berkata, "Aku mencium bau enak.", kemudian duduk di hadapanku dan kami akan memakan pancake yang kami buat bersama-sama. Dia mungkin akan berkata, "Baekhyun, ini enak sekali.", lalu aku akan tersenyum manis sambil menjawabnya, "Karena ini untukmu, yeol."

Tapi semua hanya terjadi di pikiranku.

Saat aku menonton televisi—yang menampilkan gosip murahan tiap harinya, aku tidak dapat menahan diriku untuk tidak membayangkan Chanyeol duduk di sampingku. Menggenggam tanganku dan bersandar pada bahu sempitku. Dia akan bercerita tentang harinya di kantor—ah, aku lupa dia tidak bekerja di kantor,sedangkan aku akan mengelus surai abunya yang seksi dan mengatakan semua akan baik-baik saja.

Tapi semua hanya terjadi di pikiranku.

Yang paling parah adalah saat aku akan tertidur, aku berbaring di ranjang dan sepersekian detik setelahnya aku merasakan sedang di peluk oleh Chanyeol. Chanyeol, rambutnya yang acak-acakan serta senyum paling tampan di dunia yang dia pasang saat menatapku—aku pasti sudah gila. Dia mungkin akan mengusak rambutku dan menenggelamkan kepalaku di dadanya yang bidang agar aku bisa mendengar detak jantungnya, lantas berkata hal-hal manis yang akan membuatku meleleh dalam sepersekian detik.

Aku akan tersenyum dan menangkup wajahnya, mengelus pipinya sedangkan dia menatapku dengan manik hazelnutnya yang sayu. Kami akan berciuman, dan berpelukan sepanjang malam di dalam satu selimut sampai matahari datang dan membangunkan kami dengan sinarnya yang mengetuk di jendela.

Aku gila karena aku benar benar berharap semua itu nyata, semua itu terjadi.

Aku pikir aku terkena halusinasi akut—aku hampir membuat janji dengan psikiater, tapi aku tahu ini semua bukanlah halusinasi. Aku hanya mengalami itu, sesuatu yang seharusnya sudah kualami saat aku remaja. Mungkin ini sedikit berlebihan, mengingat seharusnya cinta tidak semengerikan ini.

Tapi untuk saat ini, aku lebih suka menyebutnya rasa bersalah, bukan rindu.

Karena, kita tidak boleh merindukan seseorang yang bukan milik kita, bukan?

Hanya kau yang mencintainya, Baekhyun. Aku berkata pada diriku sendiri di pagi hari.

Dia tidak menginginkanmu sebesar kau menginginkannya.

Itu benar. Aku ingin berhenti berharap saat itu juga tapi aku tahu aku tidak akan bisa.

Karena lelaki itu, sudah terlalu akrab dengan memoriku. Melekat di otakku, melekat pula di dalam sana—hatiku.

Sekarang, siapa yang tamak, Park? Kau sudah merenggut hidup bebasku, dan sekarang kau juga merenggut hatiku tanpa berniat memilikiku sepenuh mungkin, kau mengacaukan hatiku, dan kau malah membiarkan aku melangkah pergi dari hidupmu.

Kau tamak, Chanyeol.

Kita tamak.

TBC


SUPER THANKS TO :

YonsyFs, 365 be With You, beehani, selepy, kimi2266, ,

Eun810, chanbaekowns, yiamff, chalienBee04, LyWoo, Kanjeng Sunaa,

LUDLUD, Incandescense0, veraparkhyun, Ihyejin6, restikadena90, baby baek,

Park Byun NurHabibah, meliarisky7, totheyeolandbaek,chanbaekis, rara, byankai

and thanks to Joudhy who sent me a message via line!

.

.

[applemacaroon's note]

hellaaaa everyone! It's been a long time since we update this fanfiction, I really hope you guys like this one, sebenernya ini cuma special chapter dimana aku pengen kasih tau kalian, kenapa cerita ini tuh kayak 'tiba-tiba ada ini-itu', nahh what i want to tell you guys, itu adalah gimana disini aku mau kalian reader tuh ngerasain posisi Baekhyun, dimana dia sendiri juga gatau, apasih yang terjadi sama hidupnya, kayak kenapa tiba-tiba hidup dia berubah 180 derajat.

Andddd i really miss you guys so much! Holiday's coming and that means fast update yayayayayyyy! I hope me and Winter can update this fanfiction as fast as we can, after three long weeks of hiatus ~

i'm thinking about writing a sequel from my first fanfiction, 'Everyours, Richard Park' what do you guys think?

Is there anyone who live in Malang or Surabaya or maybe Bali? I'm thinking about meeting you guys there since maybe me and my family will go there tho. lol maybe no one want to meet me (ikr, forget it)

Happy Holiday and I love you guys so muchh!

(thanks for Joudhy yang repot-repot ngeline aku, im really thankful, really, loveya!)

((P.S : CAFE UNIVERSE WHERE CHANYEOL AND BAEKHYUN IS IN ONE TEASER GOt Me CBebmxhbmnNB, okay SM I will bow to you. It looks like theyre filming for their wedding thingy tho))

.

.

[WinterJun09's note]

Hey all~ udah beberapa hari sejak chapter kemarin di publish (alias hiatus) dan kami sangat bersyukur atas pengertian kalian~ *love sign*

Terimakasih sudah mendukung dan memberikan banyak cinta~ selamat menikmati liburan dan jangan lupa tinggalkan semangat kalian untuk kami~

Terimakasih~~!