applemacaroon x WinterJun09

.

Getting Darker

.

07 Beyond the Door

"I'm not scared of never meeting you. I'm scared of having met you, and let you go."
pleasefindthis, I Wrote This For You


Baekhyun pikir halusinasinya akan membuatnya berjalan memutar selama berbulan-bulan lamanya, tetapi ternyata tidak.

Di bulan kedua, Baekhyun mulai terbiasa. Kembali ke kehidupannya yang terisi penuh dengan jadwal super padat membuatnya perlahan melupakan rasa rindunya pada lelaki itu—walaupun sesekali, dia masih merasakan hatinya tenggelam begitu saja kedalam kekosongan yang berlarut.

Mungkin salah satu alasan mengapa dia lebih cepat terbiasa adalah karena dirinya tidak pernah diajarkan untuk bergantung pada orang lain, ia terbiasa hidup sendiri, individualis, hidup dengan cap manusia egois yang hanya memikirkan keuntungan diri sendiri.

Wangi pengharum laundry pada selimutnya adalah hal pertama yang menyadarkannnya bahwa ia masih hidup dalam arti yang sebenarnya, bernafas, walaupun terkadang sebagian dari dirinya kosong tanpa sesuatu yang menjanjikan untuk mengisi.

Baekhyun memegang kepalanya dan mengernyit, dia minum beberapa gelas semalam dan tampaknya minuman-minuman itu meninggalkan hangover yang berdenyut keras. Baekhyun bangkit dari kasurnya yang lembut dan berjalan dengan gontai ke dapur.

Tangannya meraih satu toples kecil dengan tulisan 'asetaminofen' tertanda pada wadah kecil yang isinya hanya tinggal setengah, menjadi saksi mati bahwa Baekhyun telah menghabiskan setengah dari isinya yang lain. Matanya kembali terlihat menerawang.

"Kupikir itu tidak baik untuk tubuh kecilmu,"

Baekhyun tersenyum tipis dan bibirnya melepaskan sebuah kekehan halus, meletakkan asetaminofen pada tempatnya kembali dan menggantinya dengan sebuah cangkir dan jahe. Tangannya mengupas jahe itu sementara batinnya meringis—dia ternyata memang tidak pernah melupakan pria itu.

Mungkin karena manusia diajarkan untuk mengingat, bukan untuk melupakan.

Secangkir teh jahe hangat dengan uap yang hangat membuat indra penciuman Baekhyun merilekskan diri, bibir tipisnya menyesap isi dari cangkir itu dan desahan pendek keluar dari bibirnya yang menghangat. Baekhyun menarik kakinya untuk kembali ke sofa. Dia mungkin akan tidur lagi, atau—entahlah, dia juga tidak tahu.

Tepat saat dia akan mendudukan dirinya di sofa, intercom pada rumahnya berbunyi dengan nyaring.

Baekhyun melirik jam di dinding, sekarang jam sembilan pagi. Siapa yang datang? Managernya?

"Tunggu sebentar!" Baekhyun melangkahkan kakinya dengan malas ke arah pintu, hangatnya cangkir teh telah hilang dari tangannya, berganti dengan dinginnya engsel pintu yang memisahkan dirinya dengan dunia luar.

"Paket untukmu, Tuan Baekhyun," sahut seseorang dari intercom, menampilkan seorang laki-laki empat puluh tahunan yang membawa sebuah kotak besar tepat di balik pintu apartemennya.

"Terima kasih," Baekhyun meraihnya setelah membuka pintu dengan hati-hati, ia meneliti kotak itu dan mengernyit ketika ia merasa tidak memesan barang apapun dari website online belakangan ini.

"Tolong tanda tangan disini," Pengantar paket itu menyodorkan sebuah kertas dan pulpen padanya, "Kami butuh tanda terima anda." Ujarnya sembari tersenyum lembut.

"Tentu." Baekhyun tersenyum lagi dan menandatanganinya dengan cepat, "Terima kasih sudah bekerja keras."

"Ini memang sudah tugas kami." Dia tertawa, "Seharusnya anda yang lebih menjaga kesehatan. Pasti tidak mudah tampil di beberapa tempat dalam waktu yang dekat. Jujur saja, saya sangat menyukai permainan anda."

"Saya senang bila anda menyukainya. Saya akan berusaha lebih keras lagi untuk menampilkan yang terbaik." Baekhyun tersenyum, hatinya selalu terenyuh saat ada seseorang yang mengatakan bahwa permainannya menyentuh mereka.

Paman pengantar paket itu tertawa dan mengangguk, "Kau sangat rendah hati, julukan Nation's Little Angel tidak disematkan padamu tanpa alasan yang tidak jelas," Paman itu kembali tersenyum dan Baekhyun tahu bahwa hatinya menghangat.

"Anda terlalu memuji," Baekhyun tertawa kecil, "Terima kasih."

"Baiklah kalau begitu saya akan pergi. Ada banyak paket yang harus diantarkan."

"Baik, hati hati di jalan, paman."

Baekhyun menutup pintu apartemennya dan melirik bungkusan di tangannya. Dari bentuknya, benda itu terlihat seperti kotak sepanjang setengah tinggi badannya dengan bungkus kertas metalik berwarna silver.

"Hadiah penggemar?" Baekhyun bergumam, "Tapi biasanya hadiah penggemar dikirimkan ke apartemen manager."

Tentu saja Baekhyun berhak curiga, mengingat alamatnya tidak diketahui oleh khalayak ramai karena masalah keamanan, dan juga kotak ini mungkin saja berisi sebuah threat box – ancaman.

Baekhyun membuka kotak itu dengan hati-hati, dan ketika kotak tersebut terbuka dengan total, Baekhyun merasakan napasnya terhenti selama sepersekian detik –dan dia tahu siapa pengirim kotak itu. Fuck that, tubuhnya seakan menegang melihat isi di dalam kotak itu.

Biolanya.

Biola yang mengingatkannya pada Chanyeol, biola yang menyelamatkannya, biola yang ia beli dengan black card tanpa limit milik laki-laki dengan rahang tegas yang mempesona. Dan biola itu kembali kepadanya, Baekhyun kira ia tidak memiliki hak atas biola itu, mengingat bahwa seluruhnya adalah berkat uang Chanyeol.

Kenapa harus sekarang? Saat ia ingin melupakan semuanya dan kembali ke titik awal?

Mata Baekhyun menyipit saat melihat sebuah note kecil terikat pada benang wol merah di dalam kotak itu;

Meninggalkan sesuatu, Baekhyun? Apa kau berusaha membuatku selalu teringat padamu?

Lalu dibaliknya, terdapat tulisan tangan yang rapi dengan tinta berwarna biru;

Kau siap untuk bagian terbaiknya?

Untuk yang kesekian kalinya, Baekhyun tidak dapat menebak pemikiran laki-laki itu, yang ia ketahui adalah bagaimana salju yang dingin pada tanggal dua puluh tujuh november, mengantarkannya kembali masuk kedalam lubang hitam dengan tanda Park Chanyeol, tertulis dengan tinta berwarna merah di dalam otaknya.


Getting Darker


"Aku akan berangkat sebentar lagi," Baekhyun mendesah malas pada seseorang di seberang sambungan telepon, "Kenapa aku harus menunggu?"

Baekhyun meraih mantel dari gantungan di pintu kamarnya dan memakainya dengan sedikit terburu buru, kunci La Ferrarinya sudah berada di genggaman jika saja managernya tidak menulikan telinganya karena berteriak di telepon.

"Direktur mengirimkan beberapa bodyguard untuk menemanimu."

"Apa maksudmu dengan bodyguard?" Baekhyun mengeluh , Oh ayolah, setidaknya ia ingin bebas dari siapapun di dunia ini! Demi Tuhan, dia bukan anak umur lima tahun yang akan mencelakakan dirinya sendiri.

"Tidak ada penolakan, ia akan datang dalam dua puluh lima menit, dan kau tahu apa yang akan kau dapatkan jika menolak."

Baekhyun berusaha menahan segala umpatan yang sudah merangsek di ujung bibirnya, "Kau akan memotong jatah liburanku? Lagi?" Rahangnya mengeras karena kekesalan yang memuncak. Apa boleh buat, ia tidak akan bisa menolak.

"Ya, dan itu berarti tidak akan ada libur natal untukmu, jadi setidaknya tunggulah bodyguard itu, dan dengar-dengar, ia memiliki tubuh yang seksi."

PIP. Sambungan di matikan. Sialan!

Baekhyun menghela nafas, menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu sementara maniknya tidak lepas dari jam dinding. Demi Big Ben dan segala ketepatan waktunya,ini sudah lewat beberapa menit dari jadwal keberangkatannya ke venue konsernya dan dia sangat tidak suka membuat penggemarnya menunggu.

"Bodyguard, huh?" Baekhyun berdecih, "Aku bukan bocah bangsawan yang baru bisa berlari."

Ini memang bukan pertama kalinya. Ada banyak waktu dimana dia harus di temani oleh pria-pria berpakaian hitam dan tegap itu—seperti di bandara atau tempat-tempat umum dimana banyak penggemar berkumpul.

Tapi beraktivitas dengan pria-pria itu mengelilinginya? Yaampun, berikan Baekhyun waktu untuk bernafas!

Apa perusahaannya melakukan itu karena email yang masuk kedalam inboxnya beberapa bulan yang lalu?

Baekhyun tidak pernah menceritakan perihal itu pada siapapun, karena tidak ada email lainnya yang datang setelah itu, dan Baekhyun memutuskan dia hanya akan menganggap email itu sebagai spam. Karenanya dia tidak membesarkannya—apalagi memberitahu Chanyeol, itu artinya tidak mungkin agensi mengetahui email itu secara ajaib.

"Maafkan aku karena masuk secara tidak sopan, aku sudah—Hyung?"

Baekhyun terkejut, dia menoleh dan maniknya segera menemukan lelaki tinggi yang dengan jas berwarna hitam, ditambah juga dengan coat berwarna khaki yang menjaganya untuk tetap hangat. Dia terkesiap, mengenali figur itu dalam sekali pandang.

"S—Sehun?"—Kenapa kau bisa berada disini?

"Kenapa kau—aku ditugaskan untuk mengawal.."

Baekhyun tidak bisa menahan dirinya untuk tidak lebih terkejut daripada sebelumnya, dia ingin menanyakan lebih banyak tapi lelaki tinggi itu terlebih dahulu menariknya dan memberikannya sebuah pelukan. Aroma dari cologne yang di pakai oleh Sehun menghujani penciumannya dan meninggalkan rasa nyaman yang tersebar ke seluruh permukaan kulitnya.

"Aku sangat merindukanmu, Hyung.."

Baekhyun tersenyum, "Aku juga, Sehunnie. Astaga, kau benar benar tinggi sekarang. Oh, dan bagaimana kau bisa mendapatkan password apartemenku?"

Sehun tersenyum, "Managermu bilang aku harus dapat menerobos apartemenmu untuk berjaga-jaga jika kau mabuk dan tidak dapat membukanya sendiri." Lalu setelahnya, tawa yang halus menyapa telinga Baekhyun.

Baekhyun ikut terkikik tepat setelah mulutnya merapalkan sumpah serapah kepada managernya yang sangat menyebalkan. Setelah menghabiskan energinya untuk tertawa, ia merasakan usapan halus pada pucuk kepalanya.

"Kenapa kau menghilang?" Sehun meletakkan tangan Baekhyun di pinggangnya, menarik tubuhnya agar semakin mendekat dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Baekhyun.

"Aku benar benar kesepian dan merindukanmu ..."

Baekhyun merasakan hatinya sakit, dia tersenyum dalam rasa bersalah lalu mengarahkan jemarinya ke punggung lebar Sehun. Ujung jarinya membuat sebuah pola abstrak yang menyalurkan rasa nyaman pada yang lebih muda.

"Maafkan aku, Sehunnie. Aku juga sangat amat merindukanmu."

Mereka terdiam selama beberapa saat, sebelum Baekhyun akhirnya membuka suaranya.

"Ehm, Sehun?"

Sehun bergumam sebagai jawaban.

"Aku juga sangat merindukanmu, sungguh. Tapi sekarang sudah lewat beberapa menit dari jadwal dan aku tidak suka membuat penggemarku menunggu."

"Ah," Sehun melepaskan pelukannya, "Maafkan aku, Hyung. Kalau begitu ayo, aku akan mengawalmu."

"Aku lebih suka jika kau menyebutnya menemani."

Sehun terkekeh, "Baiklah, aku akan menemanimu."

Mereka keluar dari apartemen dan berjalan menuju basement dimana mobil Sehun sudah terparkir dengan rapih. Sehun membukakan pintu untuknya dan Baekhyun tersenyum sebagai ucapan terima kasih. Lelaki tinggi itu masuk ke bangku kemudi, menatap Baekhyun dan tersenyum.

"Apa aku tidak boleh menyetirnya sendiri Sehun? Aku tidak ingin kau menempatkan diri sebagai pengawalku, itu menyebalkan," Baekhyun berujar saat Sehun sudah mengenakan sabuk pengamannya.

Sebuah jitakan halus yang menyebalkan terasa panas di dahi Baekhyun, "Tidak, aku tidak percaya dengan tubuh kecilmu itu, Hyung."

"Aku lebih tua tiga tahun darimu!"

"Ya, tapi kau sangat kecil sampai-sampai aku tidak dapat melihat kepalamu saat kau berdiri," Sehun memberikan senyum miring kepada yang lebih tua.

"Sial!"

Tawa Sehun semakin menggelegar, "Hey, seorang kakak tidak seharusnya berkata seperti itu di depan adiknya."

"Aku lebih kecil darimu. Kau sendiri yang mengatakannya."

"Ck, baiklah tukang menggerutu, jadi kemana kita akan pergi?"


Getting Darker


Paduan suara biola dan piano yang lembut membuat hati seakan-akan menghangat seperti kue jahe yang baru saja dikeluarkan dari dalam oven.

Violin Sonata in G Major, Op. 2. No. , K. 379:

Mozart memang tidak pernah mengecewakan untuk membuat pendengarnya merasakan musim semi pada dinginnya salju yang merembes diatas kulit. Seakan-akan sebuah bunga musim semi ditakdirkan untuk tumbuh di setiap musim, hanya untuk menemani yang sedang kedinginan.

Intinya, sebuah permainan sederhana dapat mengubah hati yang mendengarnya.

Baekhyun memejamkan matanya, merasakan bagaimana ujung jarinya memetik senar pada biola sementara yang lainnya tengah menggesekkan bow dengan teramat hati-hati.

Baekhyun hidup untuk ini, untuk bagaimana hatinya berdetak seirama dengan nada yang mengalun dari alat musik yang ia mainkan. Untuk bagaimana ketenangan seakan menjalar dari ujung rambutnya hingga keseluruh tubuhnya, seperti titik-titik embun pada daun yang setengah mengering.

Tujuan hidupnya hanyalah ini, begitu sederhana, ia hanya ingin melakukan apa yang ia inginkan, bergelut dengan tangga nada dan falsetto daripada harus pusing memikirkan grafik saham yang naik turun.

Tepuk tangan yang menggema di dalam venue benar-benar membuat adrenalin pada aliran darahnya bergerak dengan begitu cepat, memacu jantungnya untuk melompat dengan arus listrik yang tidak sederhana.

Setelah membungkuk pada audience yang mengelu-elukan namanya dengan senyuman, Baekhyun melangkah masuk kedalam ruangan ganti, senyuman tidak dapat lepas dari wajahnya, siulan-siulan kecil disenandungkan sebagai rasa bahagia yang membuncah.

Di sepanjang jalan, orang-orang menundukkan kepalanya tanda hormat, dan Baekhyun membalasnya dengan anggukan lembut.

Sesampainya di dalam ruangan, Baekhyun duduk pada kursi selama beberapa menit, merilekskan dirinya sendiri. Menikmati bagaimana lengkungan di bibirnya terbentuk tanpa sebuah paksaan.

Baekhyun membalikkan badannya dan berdiri, berusaha menemukan stylistnya yang akan melepaskan seluruh aksesoris yang menghiasi tubuhnya, termasuk melemaskan rambutnya yang kaku karena hairspray.

Pintu berderit pelan, Baekhyun menoleh sembari tersenyum, "Noona? Bisa bantu aku untuk mengembalikan ram- oh shit…"

Baekhyun kembali membalikkan tubuhnya, lalu tertawa dengan nada sumbang, "Wow, Byun Baekhyun, kau bahkan berhalusinasi dia berada disini sekarang," Baekhyun menepuk dahinya kesal.

"Park Baekhyun."

Baekhyun diam.

"Hey, Park Baekhyun."

Suara itu, dengan dalamnya suara bariton yang mampu membuatnya terhipnotis.

Dia benar-benar ada disini, Baekhyun tidak sedang berhalusinasi.

Park Chanyeol. Dihadapannya. Dengan sebuket mawar juga setelan hitam yang licin.

Wow.

Pupil mata Baekhyun membesar karena terkejut, "Apa yang kau lakukan disini?" Baekhyun tersenyum dengan kikuk, berusaha tampak normal.

Pria jangkung itu masuk kedalam ruangan yang mendadak terasa kekurangan oksigen untuk Baekhyun, bagaimana pria itu bisa ada disini? Terlebih setelah menghilang selama dua bulan lamanya tanpa pesan yang dibalas?

Pria itu lalu meletakkan sebuket bunga mawar di atas meja kaca rias, sementara Baekhyun hanya dapat berdiri dengan kikuk.

"Duduk."

Baekhyun mengikuti arahan itu tanpa penolakan lebih jauh, Chanyeol terasa begitu mengintimidasi, begitu berkuasa, dengan rambut abu-abunya yang mempesona dan bibir tebalnya yang begitu menggoda.

Chanyeol terkadang terasa begitu lembut, dan di sisi lain, dia tampak begitu memiliki segalanya, bahkan nyawa semua orang seperti berada di ujung jarinya.

"Aku tidak akan berlama-lama," Chanyeol menyerahkan sebuah stopmap coklat, "Kita akan mengakhiri semua ini." Itu perintah mutlak, bukan sebuah pernyataan belaka.

Baekhyun membuka isi stopmap itu dan mengernyit, itu adalah surat pernikahan mereka.

Dadanya berdenyut sakit. Dahinya berkerut heran.

Baekhyun berdiri dengan tegas, dia masih laki-laki dan harga dirinya tidak membiarkan laki-laki itu untuk menginjaknya lebih jauh. Apa-apaan ini, datang ke konsernya hanya untuk meminta sebuah perceraian – yang bahkan tidak pernah ia setujui?

Yang benar saja.

Baekhyun berdiri tepat di hadapan Chanyeol, menatap mata coklat yang dulunya terasa begitu hangat, "Kenapa kau melakukannya? Kau tidak bisa seenaknya melakukan semuanya hanya seperti kehendakmu. Aku bukan mainan yang bisa kau buang begitu saja saat kau sudah bosan!" Baekhyun berteriak, mengabaikan fakta bahwa laki-laki di hadapannya membenci suara berisik hingga ke ubun-ubun.

"Lalu apa?" Chanyeol menjawab dengan jawaban yang sangat pendek, membiarkan Baekhyun terdiam karena marah, entah kepada Chanyeol, atau kepada dirinya sendiri.

"Lihat, kau bisa saja menarikku kedalam kehidupanmu, menghancurkannya pada suatu hari dengan surat pernikahan yang legal yang bahkan tidak pernah kusetujui–" Baekhyun membiarkan hidungnya mengambil napas, "Tetapi itu bukan berarti kau dapat membuangku begitu saja!"

"Kau yang berjalan keluar dari kehidupanku, Baekhyun." Laki-laki itu meletakkan kedua tangannya di saku dengan gerakan yang begitu angkuh, "Kau yang membiarkan dirimu dibuang."

Baekhyun terperanjat, tetapi sebuah senyuman terlihat pada wajahnya, sebuah ulasan tentang kesakitan, "Kau melakukan semuanya, Chanyeol. Kau membiarkanku menyukaimu dan membiarkanku terbuai di dalam pelukanmu, lalu kau menghempaskanku seperti kita tidak pernah melewatkan waktu bersama, sama sekali."

Chanyeol terkekeh, tangan dengan urat yang menonjol terlihat mengambil sebatang rokok dari dalam sakunya.

"Lalu apa gunanya mengirimkanku biola itu kembali?"

Sial, Baekhyun sudah kalap. Laki-laki ini menggunakannya sebagai selingan di waktu bermain. Baekhyun merobek stopmap itu, lalu membuangnya kedalam keranjang sampah setelah sudah tidak terlihat berbentuk lagi.

"Kau menyukaiku?" Suara berat itu menyapa telinganya sekali lagi, dan Baekhyun hanya dapat diam dan membiarkan matanya menatap tajam pada hazelnut di hadapannya. Pertanyaannya yang sebelumnya tidak terjawab. Kau tahu jawabannya, yeol.

"Berhenti membuatku berpikir bahwa kau adalah orang yang baik, Chanyeol." Baekhyun mengalah, ia melepaskan padangannya dari kedua mata itu.

"Lepaskan partitur itu, Baekhyun."

"Apa?" Baekhyun tidak dapat mempercayai pendengarannya. Laki-laki di hadapannya, yang membantunya untuk melepaskan diri dari orang-orang yang akan menangkapnya karena partiturnya, memintanya untuk menyerah pada partiturnya.

Apa itu masuk akal?

"Apa kau sudah gila? Kau pikir seberapa berharganya partitur itu untukku?" Baekhyun mengepalkan kedua tangannya, berusaha menahan amarah yang sudah mendidih di ujung kepalanya, sebuah tanda warning seakan sudah menyala dengan hebat pada dirinya.

"Jika kau mencintaiku, maka menyerahlah pada partitur itu, bakar, atau apapun yang dapat kau lakukan untuk melenyapkannya dari muka bumi ini."

"Fuck Off!" Baekhyun menarik kerah baju Chanyeol, tangannya yang lain sudah akan menampar pipi laki-laki itu, tetapi terhenti karena sesuatu yang tidak ia ketahui apa jelasnya.

Chanyeol bahkan tidak berkedip, ia tetap menatap Baekhyun, seolah-olah mengulitinya adalah suatu hal mutlak yang harus ia lakukan saat itu juga.

Tangan Baekhyun yang akan menampar pipi Chanyeol hanya dapat berhenti pada bahu pria itu, mencengkramnya – Baekhyun tahu bahwa itu bahkan tidak akan terasa pada tubuh Chanyeol, tetapi ia hanya begitu kesal, dengan semuanya.

Detik berikutnya, Chanyeol mendorong tubuh Baekhyun kepada dinding, menghimpit tubuh mungil itu diantara kungkungan tangannya, mencegah pria itu untuk melarikan diri.

Kepala Chanyeol berada persis disebelah telinganya, bahu mereka berhimpitan karena Chanyeol meminimalisir jarak diantara mereka.

"Dengar Baekhyun, aku tahu partitur itu begitu berharga karena bernilai investasi miliaran dollar dan juga seluruh jiwamu, tetapi kau harus tahu bahwa hanya kau yang dapat menyelamatkan dirimu dari orang-orang jahat itu," Chanyeol berbisik.

Pada saat-saat seperti ini, dimana nada memerintah pada suara Chanyeol begitu menggelap, Baekhyun tidak dapat berkata tidak.

"Kau bertanya kenapa aku bahkan membiarkanmu pergi? Karena dengan cara itulah kau dapat meraih hidupmu kembali, Park –tidak, Byun Baekhyun. Jika kau terus berada di sisiku maka hidupmu akan terus terancam. Kau tahu itu dengan sangat jelas."

Ruangan tersebut begitu hening, dan Baekhyun mendengar napasnya yang tercekat.

"Kita tidak akan pernah bisa bersatu, Baekhyun. Salah satu dari kita akan menyakiti satu sama lain dan itu tidak akan masalah jika kau melakukannya padaku, tetapi jika kau tersakiti karena aku maka–" Chanyeol menghentikan perkataannya, kungkungan tangannya pada Baekhyun terlepas begitu saja. Helaan napas kasar keluar begitu saja dari bibir yang akan mengapit sebatang rokok.

Baekhyun harus bersandar pada dinding agar ia tidak jatuh ke tanah, ia tidak dapat merasakan kakinya sendiri. Terdiam adalah jawaban terakhir yang dapat ia lakukan.

Dan Chanyeol, dengan rokok yang baru saja ia hidupkan dengan asap yang mengepul pada bibirnya, meninggalkannya begitu saja, dan Baekhyun sayup-sayup mendengar kelanjutan dari apa yang pria itu katakan padanya.

"Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri."


Getting Darker


"Demi Tuhan, permainanmu sangat bagus, Baekhyun-Hyung."

Baekhyun tertawa kecut begitu dia masuk ke mobil, mendengar pujian itu membuatnya sedikit menghangat di tengah tengah udara yang mulai dingin."Terima kasih, Sehun-ah."

"Kau berubah sangat banyak," Sehun mendesah, membantu Baekhyun melepaskan mantelnya. Yang lebih pendek tengah menggumamkan terima kasih yang dibalas dengan anggukan.

"Benarkah?" Baekhyun melirik Sehun, "Memang apa yang berubah dariku?"

"Permainanmu terdengar lebih berani dibanding saat kita masih kecil dulu," Sehun bergumam, menyalakan mesin dan menatap Baekhyun dengan teduh.

"Selain itu, kau tampak lebih cantik dari terakhir kali, Hyung."

"Yah, karena inilah satu satunya yang bisa kulakukan dengan baik." Baekhyun menarik senyum, "Dan, apa-apaan itu, maksudmu aku sangat jelek saat kecil?"

"Tidak, tentu saja bukan itu maksudku." Sehun menyangkalnya dengan cepat—panik, "Hanya saja, kau benar benar tampak berbeda. Kau sangat cantik. Tapi rasanya berbeda dari yang terakhir kali—"

Sehun menatap ke arahnya. Pandangan hangat yang menuju langsung ke arahnya membuat Baekhyun ikut tersenyum.

"—Kau tampak sangat menyilaukan dan seperti malaikat."

"Aku tampan, dasar bocah nakal."

"Ckckck, jangan berharap hyung, wanita manapun akan iri jika kau memiliki rambut panjang."

Sehun lalu mengedikkan dagunya kearah seatbelt, memasang wajah 'jangan-lupakan-keselamatanmu-dasar-bodoh', membuat Baekhyun hanya dapat meringis malu.

Kemudian mereka terdiam. Mesin mobil yang sudah di nyalakan mengeluarkan suara berdengung yang halus tapi tak satupun dari mereka memutuskan kontak mata. Sehun perlahan meraih jemari Baekhyun dan mengenggamnya, lantas berbisik dengan lirih ;

"Jangan tinggalkan aku lagi," katanya. Baekhyun hanya dapat mengangguk.

Baekhyun tidak tahu, mungkin inilah yang mereka sebut rasa hangat saat bersama keluarga. Karena dadanya nyaris meledak karena kehangatan yang datang tiba-tiba—sangat bahagia. Dia akhirnya bisa mendengar dan melihat adik kecilnya yang manis setelah bertahun-tahun merindukannya. Dia akhirnya bisa bebas mendekapnya lagi dan mengatakan pada orang orang bahwa dia punya seorang keluarga. Dia akhirnya memiliki seseorang yang bisa dirinya akui sebagai keluarga.

Hari ini begitu banyak yang terjadi padanya dan Sehun setidaknya dapat menjadi tempat pelariannya.

"Bagaimana bisa aku meninggalkanmu lagi," Baekhyun balas berbisik dengan nada yang lebih lembut, "Kau adalah adik kecilku yang manis, aku tidak akan pergi lagi."

Seakan perkataannya telah merusak suasana, senyum Sehun menghilang dan menarik dirinya menjauh dari jarak mereka. Maniknya menunjukkan berbagai emosi, tetapi Baekhyun tidak bisa menemukan alasan mengapa lelaki itu memiliki rasa kecewa di hatinya.

"Apakah aku mengatakan sesuatu yang salah?" Baekhyun akhirnya bertanya.

Sehun terlihat tertegun sebentar, tapi lelaki itu dengan cepat berkata untuk menenangkan yang lebih tua, "... Tidak, hanya saja cuacanya mulai dingin. Aku berpikir untuk menghabiskan makan siang yang hangat denganmu di suatu tempat—Apakah kau keberatan?"

"Tentu saja tidak," Baekhyun tersenyum penuh, "Aku menantikan saat yang tepat untuk mengenalkan padamu restoran favoritku. Kebetulan tempat itu hanya beberapa meter jauhnya dari sini—"

"Kalau begitu tunggu apa lagi," Sehun memotong, melempar senyum padanya terakhir kali sebelum meraih kemudi, "Tunjukkan jalannya padaku."


Getting Darker


Mereka sampai lima belas menit kemudian. Sehun memakirkan mobilnya sementara Baekhyun masuk ke dalam restoran bergaya Italia yang kental itu. Beberapa pelayan menyapanya dengan ramah dan Baekhyun membalasnya dengan senyuman yang lebar.

Baekhyun duduk di sebuah meja dan disambut dengan buku menu oleh pelayan dengan seragam yang rapi.

"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"

"Aku ingin Carbonara," Baekhyun berkata, "Lasagna, dan tortellini."

Maniknya beralih pada Sehun yang baru saja masuk ke dalam restoran.

"Sehun, apakah kau menyukai pasta?"

Sehun duduk di hadapannya dan menatap Baekhyun dengan sedikit senyuman, "Anything."

"Baiklah, kalau bergitu fettucini untukmu."

Sehun mengangguk sambil tertawa kecil.

"Untuk minumannya, em.." Baekhyun bergumam, "Frappucino dan Ristretto, tolong."

Pelayan itu mencatat semua pesanan, mengulanginya.

"Sepiring Pasta Carbonara dan Fettucini, Lasagna dan Tortellini juga Frappucino dan Ristretto. Ada yang mau di tambahkan lagi, Tuan?"

"Tidak, itu saja cukup. Terima kasih."

Sehun melempar senyum sekilas pada pelayan yang membawa pergi catatan pesanan mereka sebelum beralih pada Baekhyun lagi.

"Aku tidak pernah tahu kau menyukai restoran seperti ini, dan selera makanmu tidak pernah berubah, kau selalu makan seperti monster."

"Aku menyukainya karena mereka memutarkan musik musik yang membuatku mendapatkan banyak inspirasi, dan sial, apa-apaan itu Sehun? Aku makan dengan sangat berkelas!" Baekhyun menjawab antusias, "Lagipula, tidakkah ini indah?"

"Tentu." Sehun mengangguk setuju, "Aku pikir kau menyukainya karena kekasihmu mengenalkannya padamu.."—Dia bergumam saat mengatakan itu.

"Apa? Tentu saja tidak, aku tidak memiliki kekasih. Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu?" Baekhyun tertawa di akhir kalimat.

Sehun mendengus lega—Baekhyun tidak menyadarinya, "Tidak, hanya saja, seorang musisi sepertimu hampir tidak mungkinkan, jika belum memiliki seseorang untuk di kagumi."

Tawa Baekhyun terhenti saat Sehun menyelesaikan kalimatnya, dia tersenyum.

"Tentu saja, ada." Baekhyun tersenyum dengan lembut, "Hanya saja aku belum bisa menerima sudah jatuh pada seseorang seperti dia."

Sehun terdiam melihat perubahan mimik wajah Baekhyun yang berbeda di sepersekian detik. Baekhyun memang selalu seperti itu, berusaha menutupi emosinya sendiri, melanjutkan aktivitas seperti tidak ada sesuatu yang mengganjal di hidupnya. Seolah-olah hidupnya hanya datar saja.

"Apa sesuatu terjadi padamu tadi? Kau terlihat sedih sepanjang perjalanan kita. Aku melihatnya walaupun kau berusaha menutupinya."

Baekhyun menahan dirinya untuk tidak terkejut atas kepekaan adiknya, "Hng? Tidak ada apa-apa."

Sehun hanya memberikan raut wajah ceritakan saja padaku jika kau sudah siap, dan Baekhyun tidak dapat lebih berterimakasih daripada saat ini. "Jadi, Siapa—"

"Ini pesanannya, Tuan. Selamat menikmati."

Sehun mengatupkan bibirnya lagi. Dia melirik Baekhyun yang menyambut pastanya dengan mata yang berbinar. Ketika pelayan itu sudah pergi, Sehun menatap Baekhyun dengan lebih dalam dan berkata, "Siapa dia?"

Baekhyun menoleh, mengulas sebuah senyum singkat sebelum meraih sepiring Fettucini dan menyodorkannya ke hadapannya."Aku tidak akan memberitahunya," Baekhyun berujar tenang, "Ini hanya akan jadi rahasiaku."

"Aku tidak suka jika kau bermain rahasia."

"Dan aku tidak berencana memberitahumu biarpun kau memaksaku," Baekhyun tergelak ketika wajah adiknya berubah masam.

"Sekarang, ayo makan! Aku sudah sangat lapar," Baekhyun mulai melahap satu gulungan penuh pasta sedangkan Sehun menatapnya dengan pandangan gemas.

"Apakah kau akan diam saja dan melihatku makan?" Baekhyun berkata setelah dia selesai menguyah, "Ayolah, kau sudah terlalu besar untuk merajuk. Dan biar kuberi tahu, mereka memiliki pasta yang terenak di sini, jadi ambil garpumu dan mulailah memuji makanan di hadapanmu."

Sehun terkekeh, menyerah untuk mendiamkan kakaknya.

"Selamat makan,"

Baekhyun terdiam sebentar, tersenyum.

"Selamat makan, Sehun."

Baekhyun sudah lupa kapan terakhir kali dia memakan makan siang dengan keluarganya. Baekhyun tidak bisa merasa lebih bersyukur dari ini. Makan siang tidak pernah terasa sehangat ini sebelumnya, atmosfer di sekelilingnya benar-benar membuatnya begitu nyaman.

"Ah ya, Sehun. Bukankah kau bekerja di kepolisian? Bagaimana mungkin kau bisa ditugaskan untuk menemaniku seperti ini?"

Sehun bergumam tidak jelas sebelum berujar, "Sebenarnya, aku ditugaskan untuk Interpol, dan baru saja pulang setidaknya seminggu yang lalu dari Amerika, lalu, yeah– mendapatkan jatah liburan selama enam bulan penuh," Jawabnya.

Baekhyun memberikan yang lebih muda tatapan tidak percaya dengan bibir yang mengatakan wow adikku sangat fantastis.

"Karena aku jarang sekali berada di Korea, maka aku bahkan tidak tahu bahwa kau se-terkenal ini." Sehun melanjutkan dengan tersenyum jenaka, membuat Baekhyun mau tidak mau ikut tersenyum.

Baekhyun tetap mengunyah, "Lalu kenapa kau ada disini? Kau kan seharusnya berlibur, bukannya mengawal seorang pianis berusia nyaris di akhir dua puluhan. Yang seharusnya tidak butuh pengawalan," Baekhyun memutar bola matanya di akhir kalimatnya sendiri.

Sehun menggeleng, "Entahlah, Aku ditugaskan seseorang. Dia atasanku."

"Atasanmu di kepolisian? Tetapi kau bilang dia– "

"Bukan." Sehun memotong sembari terdiam sejenak, "Dia hanya atasanku."

"Seperti apa dia?" Baekhyun bertanya, penasaran.

"Dia—" Sehun berpikir, "—Kejam."

Baekhyun tertawa, "Kau pasti sangat menderita bekerja dengannya."

"Tidak juga," Sehun mengelak. "Lagipula aku tidak bekerja dengannya setiap waktu."

"Jadi siapa? Laki-laki kejam yang berbuat seenaknya kepada adikku?" Baekhyun menahan dagunya dengan telapak tangan, "Ceritakan padaku."

Sehun mengedikkan bahunya, "Entahlah, aku juga tidak begitu tahu tentangnya, tetapi namanya adalah Park Chanyeol, dan nama luarnya adalah Richard."

"Apa?"

TBC


THANKS TO :

kkaiii, 365 Be With You, LordLoey, chalienBee04, byankai,Incandescence7, jeuspre, chanbaekowns, SuperSupreme61, nocbnolife, Fatihah Kim, Eun810, prktower, lilypineapplee, byuncheeseu, meliarisky7, totheyeolandbaek, mawar biru, hyuniee86, BabyWolf Jonginnie'Kim, hulas99, parkyeolna, nadivarahma614, veraparkhyun, and metroxylon.

(Okay, aku cuma pengen tau, apa kalian agak bosen sama storyline ini? Karena aku liat reviewnya agak berkurang andddd aku cuma pengen tau pendapat kalian ajaa, so please, I do write this with all my heart, can you guys tell me?)

[applemacaroon's Note]

Hey, sorry for the late update, trust me i really want to update as fast as I can, but as you guys know, something happened.

I'm not his fans, to be honest, but I do think that he is talented, and he always looks so cheerful, I never think that something like this will happen, I just want you guys to know that, if you need someone to talk to, please, just message me, I will be so happy if you guys want to share your sadness to me, because that's what family do.

Secondly, because I think there are so many of you guys that ask me about the storyline, I will make a QnA , so you can type anything that you want to know about this story or maybe about us, oh okay forget it.

ITS 4.8K WORDS I HOPE INI GABIKIN KALIAN BOSEN :")

Lastly, please, if you need someone to talk, you can tell me anything (yes, you can message me via LINE or maybe DM)

I love you guys so much so please, be healthy.

.

[WinterJun09's Note ]

Halo semua. Beberapa hari ini hujan turun. Suaranya mengingatkanku pada seseorang.

Aku tidak berusaha membuat semuanya menjadi lebih buruk atau rumit—apalagi mendramatisir keadaan. Aku juga minta maaf bila tulisanku selanjutkan akan membuat kalian mengingat dia lagi. Jadi bila yang merasa tidak ingin membaca paragraf selanjutnya, tidak apa, aku mengerti.

Seseorang itu, seperti yang kalian tahu. Meninggalkan kita. Aku nggak bisa percaya pada awalnya, seseorang yang selalu tersenyum—bagaimana bisa diameninggalkan kita semudah itu? Yang selanjutnya datang adalah rasa sakit dan ketidakpercayaan. Aku menunggu lagu barunya, menunggu senyumnya, dan dia datang kemudian dengan rasa sakit. Aku terpukul begitu melihat seluruh duniaku penuh dengan berita dukanya. Mengapa? Aku bertanya pada diriku dan tidak menemukan jawabannya. Aku tidak bisa berhenti menangis dan orang tuaku menatapku curiga setiap kali aku termenung sambil melihat televisi yang menampilkan Music Video dengan lagu yang di nyanyikan oleh dia. Ibuku berusaha memperbaiki suasana, dia memuji betapa tampannya dia dan itu membuatku semakin ingin menangis. Aku bukan shawol, tapi aku sangat mencintai senyumnya dan suaranya. Setiap kali melihat fotonya, aku tenggelam dalam rasa bersalah.

Apakah semuanya akan berbeda bila aku lebih memperhatikan lagu lagunya? Aku bahkan masih berpikir sampai sekarang, bahwa mungkin ini adalah sebuah plot twist yang tidak terduga. Mungkin dia akan muncul di suatu tempat dan berkata, "Ta-Da! Kalian semua tertipu oleh candaanku!" Tapi di sisi lain aku tahu semua itu hanya harapan kosongku. Aku minta maaf sudah mengatakan ini pada kalian atau membuat kalian mengingat rasa sakit kalian kembali tapi aku sungguh nggak tahu ingin pergi kemana lagi untuk bicara tentang ini. Aku sangat mencintai dia, sebagai seorang penggemar dari senyumnya yang indah. Aku benar benar kehilangan dia. Aku berusaha menyakinkan diriku bahwa dia bahagia tapi aku tidak bisa menyakinkan diriku untuk tidak menangis. Aku benar benar—kehilangan dia. Biarpun aku mengetikkan kata kata "Tetap kuat ya, dia udah bahagia." pada orang orang, tapi itu semua tidak membantu diriku sama sekali. Aku merasa hancur akan pemikiran bahwa aku tidak bisa melihat senyumannya lagi.

Dan, bagi kalian yang memiliki perasaan sama sepertiku, aku harap aku ada disana untuk memeluk kalian sekarang juga. Kita harus melalui semuanya dengan bahagia, aku yakin itu yang dia harapkan. Sekarang, maafkan aku karena sudah menulis pesan yang terlalu panjang, aku mencintai kalian semua.

Aku mencintai dia, mencintai EXO, mencintai kalian.

Selamat tinggal, Jonghyun-Oppa. Terima kasih karena sudah bekerja dengan amat keras Kupikir, setelah menulis ini, aku akan merasa lebih baik dan bisa melepaskanmu sedikit demi sedikit.

Terima kasih.