08 – The Forbidden Feelings

"For the two of us, home isn't a place. It is a person. And we are finally home."
Stephanie Perkins, Anna and the French Kiss


Sehun mengerjap beberapa kali begitu melihat reaksi Baekhyun yang tidak biasa. Raut wajahnya terlihat kebingungan,"Apa ada sesuatu yang salah?"

Baekhyun kehilangan kata-kata selama beberapa detik, "Maksudmu, Park Chanyeol adalah—" Baekhyun menarik nafas dan menghembuskannya kasar, "Atasanmu?"

"Uh…ya." Sehun mengangguk, meraih punggung tangan Baekhyun di atas meja dan menggenggamnyalembut, matanya menunjukkan kekhawatiran,"Kenapa kau terkejut?"

Baekhyun membuka bibirnya, hampir berencanauntuk mengatakan semuanya pada Sehun ; bahwa pria kejam yang ternyata adalah atasan adiknya itu adalah suami—di mata hukum, yang baru saja meminta cerai padanya kurang dari satu jam yang lalu, yang sudah melibatkannya ke dalam penculikan dan pelarian dramatis, yang sudah—

Baekhyun mengatupkan bibirnya.

—menghancurkan hatinya.

"Hyung?" Sehun memanggilnya, dengan alis menukik dan dahinya mengerut, "Katakan, apakah ada yang salah?"

Baekhyun tidak menjawab sehingga Sehun mencapai ke suatu kesimpulan yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Bibirnya menimbang-nimbang tentang kemungkinan besar yang berada di otaknya yang cerdas.

"… Kau mengenalnya?"

Itu seharusnya menjadi pertanyaan, tapi ketika Baekhyun tidak menjawab dan hanya menatapnya seperti pencuri permen yang tertangkap basah oleh pemilik toko, Sehun tahu bahwa kalimat yang ia lontarkan kini hanya berupa pernyataan nyata.

"Siapa dia—" Sehun meneguk ludah karena perasaannya sungguh tidak karuan saat melihat wajah itu, "Siapa dia bagimu, Hyung?"

Siapa dia bagiku? Baekhyun mengulang pertanyaan itu di dalam hati.

Siapa Chanyeol baginya? Sebatas orang asingkah? Seseorang yang mengenalkan teh jahe untuk menghilangkan hangover padanya? Seseorang yang menyelamatkannya dari titik terendah di kehidupannya? Seseorang yang berkata bahwa mereka terikat dalam hubungan dan kini memutuskannyasemudah memotong tali yang terikat?

Seseorang yang ia cintai?

Siapa dia bagiku? Baekhyun berpikir keras untuk menjawab pertanyaan sederhana itu.

"Dia.." Baekhyun bergumam—nyaris tercekat, menatap piring pasta miliknya yang sudah tidak mengepulkan uap, begitupun dengan frappucinonya yang sudah terlihat tidak memikat mata dan tergeletak malas tak tersentuh.

"Dia… adalah rumah," Baekhyun mengangkat pandangannya agar ia bisa melihat ke dalam kedua mata Sehun, "Dia adalah rumah, bagiku."

Sehun tertegun. Ia melihat bagaimana sorot mata yang ditunjukkan oleh kedua mata cerah Baekhyun. Untuk kalimat sesederhana itu, bagaimana sesuatu yang tersirat ikut meluncur dari dalam matanya.

Tidak mungkin.

Tidak boleh seperti ini.

Jangan Chanyeol, Baekhyun, jangan dia. Batin Sehun membentak.

Suasana berubah canggung dan keruh karena Sehun yang membalas dengan diam, mereka menghabiskan pesanan mereka tanpa percakapan yang berarti lagi, hampir terlihat seperti sepasang kekasih yang akan putus cinta tetapi sulit mengakhiri—tidak ada yang berusaha membuka mulut. Dan itu sangat canggung, tetapi sepertinya tidak ada yang keberatan dengan itu.

Tiga puluh lima menit kemudian, mereka terduduk di mobil tanpa satupun yang memulai pembicaraan.

Sehun melirik pada Baekhyun yang memejamkan matanya, berpikir bagaimana mungkin musisi seperti Baekhyun mengenal Chanyeol? Seluruh dunia mungkin tahu kalau pria itu paling membenci apapun yang mengeluarkan suara.

Yang artinya tidak mungkin Chanyeol mengenal Baekhyun tanpa alasan yang kuat didalamnya.

Apalagi setelah melihat bagaimana mata Baekhyun berpendar saat membicarakan Tuan tidak—Chanyeol.

Lalu seperti apa… hubungan mereka?

Sehun menghela nafas dan memarkirkan mobilnya di basement apartemen, lalu melempar lirikan lagi pada Baekhyun yang masih bergeming dengan bibir yang terkatup rapat.

"Kita sampai," Sehun mendekat ke tubuh Baekhyun dan melepaskanseatbeltnya, "Kau harus istirahat, Hyung."

Baekhyun mengangguk dan tersenyum, "Tidak perlu mengantarku, aku akan ke dalam sendiri."

"Setidaknya biarkan aku mengantarmu sampai ke depan pintu." Sehun membuka pintu mobil dan menoleh lagi pada Baekhyun, "Ayo."

Baekhyun mengangguk singkat dan mengikuti Sehun yang terlebih dahulu mencapai lift. Keadaan semakin canggung, dan Baekhyun sudah tidak tahan untuk tidak berbicara kepada adik yang baru saja ditemuinya itu.

"Hun," Baekhyun menahan lengan lelaki itu ketika ia akan memasuki lift, "Lupakan saja."

"Apa?" Sehun mengernyit, melangkah maju dan membiarkan kakinya berada di pintu lift—menahannya agar tidak tertutup.

"Soal yang kukatakan tadi, lupakan saja." Baekhyun menatapnya, "Aku tidak tahu kalau perkataanku akan mempengaruhi suasana hatimu," Baekhyun terdiam, menimbang-nimbang apakah ia harus berkata jujur kepada laki-laki dengan kulit pucat di sebelahnya, "Tapi aku juga tidak mengerti, mengapa kau bertingkah seperti aku mengatakan sesuatu yang salah?"

Sehun menurunkan pandangannya, menatap lekat kedalam kedua mata kakaknya yang ia kagumi sejak kecil. Menatap lamat-lamat bagaimana manik itu menutup untuk berkedip, atau ketika manik itu terbuka dan menatapnya penuh tanya. Sehun mendekatkan wajahnya pada Baekhyun—tersenyum tipis, bibirnya kelu untuk sekedar mengatakan alasan tidak masuk akal yang ia punya, "Aku juga tidak tahu, Hyung," Ia berujar lembut, "Mungkin karena kata rumah yang keluar dari bibirmu mengandung lebih banyak arti daripada yang seharusnya."

Sehun mengalihkan pandangan sebelum dirinya kehilangan akal sehat dan melakukan sesuatu yang tidak boleh ia lakukan—mencium kakaknya.

Ia masuk ke dalam lift tanpa sekalipun melirik Baekhyun lagi, walaupun ia tahu lelaki yang lebih tua darinya itu masih menatapnya bingung.

Tahan, Sehun. Jangan mengacaukan hari pertama dimana kau bertemu lagi dengannya.

"Sehun, apakah kau marah?"

"Ya, aku marah." Sehun menoleh sekilas, namun dengan cepat menarik pandangannya lagi. Kepalanya berdenyut, menahan desakan-desakan irasional yang berkelebat di otaknya.

"Kenapa? Maafkan ak—"

"Aku marah pada diriku sendiri. Jangan khawatir," Sehun menenangkan, menekan sebuah tombol angka pada papan tujuan di lift dan mendengus pelan,"Akulah yang bodoh."

"Apa maksudmu?" Baekhyun meraih lengan Sehun dan memaksa lelaki itu agar menatap ke arahnya, "Jangan alihkan pandanganmu, tatap aku!"

Lift yang mereka naiki bergerak begitu lambat bagi Sehun. Dan mungkin, karena mereka sedang melawan gravitasi, Sehun dapat merasakan jantungnya berdegup kencang ketika menatap wajah seseorang yang seharusnya tidak boleh menyebabkan degupan-degupan ini. Dan bisa jadi juga, karena jantungnya yang sudah tidak kuat menahan debaran,tubuhnya bergeraktanpa ia sadari —untuk mendekati Baekhyun dan menempelkan bibirnya di sana—keningnya.

"Aku—" Sehun berbisik, sementara Baekhyun terkejut. Di antara ruang berlapis besi yang sedang bergerak ke atas, hanya terdengar hembusan nafas berat beserta tarikannya yang terdengar tercekik. Baekhyun menatapnya tidak mengerti, mengapa ada begitu banyak emosi yang ditahan mati-matian di dalam manik lelaki yang lebih tinggi itu? Apa yang coba dia sampaikan?

"—Sangat sayang padamu," Sehun menjeda, sebelum menambahkannya dengan lebih berat—nyaris terdengar setengah hati, "…Hyung."

Baekhyun tersenyum lebar, mengelus pucuk kepala Sehun dengan berjinjit susah payah dan terkekeh.

"Aku juga sangat sayang padamu, Sehunnie."

Tapi Sehun tahu mereka memiliki arti yang sama sekali berbeda.

Pintu lift terbuka, memperlihatkan koridor menuju apartemen Baekhyun. Sehun melangkah keluar terlebih dahulu, berjalan beberapa langkah di depan Baekhyun, menghindari situasi yang mungkin akan menyebabkan mereka berada di tengah kecanggungan lagi.

Merasa tidak nyaman karena hanya dapat melihat punggung lebar milik Sehun, Baekhyun mempercepat langkahnya dan meraih jemari Sehun—menggenggamnya erat dan mendongak untuk tersenyum dengan bibir dan matanya. Sehun tersentak karena perlakuan itu, tetapi ia memutuskan untuk menoleh pada senyumannya, lantas balas menggenggam tangannya hangat.

"Kalau berjalan sambil bergandengan begini, jadi teringat saat kecil dulu. Ya kan, Sehunnie?"

"Ya, Hyung." Sehun mengangguk, "Tapi sekarang, semuanya jelas berbeda," Sehun memelankan suara yang keluar dari tenggorokannya.

"Ng? Apa maksudmu dengan berbeda?"

Sehun mengatupkan bibirnya seketika seperti seseorang baru saja menyiramkan air dingin pada wajahnya. Tenggorokannya mendadak kering, dan ia tahu ia tidak pernah sama sekali merasa seperti ini, hanya saat bersama Baekhyun, rasionalitasnya seakan terbuang jauh-jauh begitu saja.

"Tidak," Ia akhirnya menggeleng setelah beberapa saat membeku, "Aku hanya salah bicara."

"Kau banyak mengatakan hal-hal aneh hari ini." Baekhyun menggerutu, berjalan lebih cepat.

"Semua ini karenamu."

Baekhyun menunggu kata-kata lainnya yang akan keluar dari mulut lelaki itu, namun ia hanya menemukan genggaman pada tangannya mengerat dan senyuman khas yang Sehun lemparkan padanya.

"Karenaku?"

"Karenamu." Sehun mengangguk, "Kau tidak tahu seberapa banyak yang sudah kau lakukan untuk menghancurkan pikiranku."

"Ck, terserah, kau terlalu banyak menghabiskan waktumu di luar negeri sampai-sampai perkataanmu terdengar seratus persen aneh," Baekhyun menggerutu walaupun jauh di dalam hatinya, ia ingin bertanya apa maksud lelaki itu, namun punggung tegap dan lebar itu terlebih dahulu menghalangi pandangannya. Sehun berjalan di depannya, dengan tanganyang masih menggenggam tangannya.

Satu yang tidak ia tahu, Sehun sedang tersenyum dengan jantungnya yang seakan kehilangan kontrol.

Tapi sayangnya, Baekhyun juga tidak sebodoh itu untuk menerka-nerka.


Getting Darker


Pagi hari datang secepat malam berakhir.

Baekhyun mengangkat lengannya keatas, menggeliatpelan-pelan. Kemudian beranjak ke dapur, mengambil segelas air putih dan meneguknya tanpa sisa sebelum meletakkannya di atas bak cuci dengan mata yang masih setengah tertutup. Pandangannya—yang masih tidak terbiasa dengan cahaya—tertuju kepada gorden yang masih tertutup di ruang tengah, tubuhnyamemutuskan untuk menikmati waktu prima di pagi haridengan mengagumi pemandangan kota yang sibuk dari jendela.

Beberapa pemikiran berkelebat dengan cepat di kepala Baekhyun.

Sekarang sudah tepat pukul tujuh, jika ia masih berada di sana—di istana penuh hening milik Chanyeol, seperti apakah harinya akan di mulai? Disana juga terdapat jendela besar yang menampilkan taman serta pohon yang luas, apakah saat ini Chanyeol juga sedang berdiri di sana dan mengagumi pemandangannya?

Atau mungkin, jika Baekhyun tidak terlalu keras kepala —mereka berdua akan berdiri bersama disana, tersenyum kepada satu sama lain dan mengucapkan selamat pagi dengan kecupan manis yang terasa di pipi?

Lalu mungkin setelahnya, Baekhyun akan duduk di dapur dan membuatkan segelas kopi hitam yang panas untuk Chanyeol. Apa mungkinlaki-laki akan tersenyum saat menerimanya? Atau malah marah dan menyuruh Baekhyun untuk tidak mencampuri urusannya?

Mungkin mereka akan duduk berseberanganpada satu meja, dan mungkin Chanyeol akan memuji betapa manis wajahnya yang baru saja bangun tidur.

Seluruh kata mungkin merenggut Baekhyun dari dunia yang benar-benar ia jalani.

"Dasar bodoh," Ia bergumam, "Apa yang kau harapkan darinya?" Tawa sarkatis keluar dari mulut laki-laki manis itu.

Mencegah pikiran bodohnya menguasainya lagi, Baekhyun beranjak ke pintu depan setelah menggunakan jaket tebal dan topi hitam yang menutupi wajahnya, berniat untuk membeli kopi di kafe kecil di seberang apartemen. Tangannya meraih kenop pintu dan membukanya pelan-pelan. Wajahnya mengernyit ketika menemukan sebuah boks kecil yang diletakkan di depan pintu.

Baekhyun menunduk, meraih boks itu lalu melakukan scanning dengan kedua matanya. Tanpa nama pengirim, tetapinamanya jelas terdapat disana. Mengapa tidak ada pengirim paket yang datang dan memberitahunya? Aneh. Apa dia bangun terlalu siang?

Baekhyun sempat mengira bahwa paket itu dikirimkan oleh Park Chanyeol, tapi Chanyeol mengirim barang yang sebelumnya menggunakan layanan pos.

Ia baru akan masuk ke dalam apartemennya saat pergelangan tangannya terasa terikat selama sepersekian detik oleh sesuatu, Baekhyun menoleh dengan panik, "Siapa?!"

Sial, hapkidonya tidak bisa dilancarkan karena paket yang berada di tangannya.

Ia menoleh dan menemukan sekumpulan lelaki berseragam di belakangnya, salah seorang dari mereka menyodorkan surat dengan lambang pemerintah di kopnya. Lalu pria yang sepertinya berumur tiga puluhan itu berujar dengan tegas,"Kami mendapat laporan bahwa anda menerima sebuah paket narkoba. Kau berhak untuk diam dan didampingi oleh pengacara."

"A—Apa maksudmu? Aku bahkan tidak tahu apa isi atau pengirim paket ini!" Baekhyun memberontak, "Lepaskan aku!"

"Kau harus menaati hukum yang berlaku. Tolong ikut kami."

Batin Baekhyun menjerit.

Chanyeol!


Getting Darker


"Apakah itu adalah paket milikmu, Baekhyun?"

"Jadi selama ini kau mengonsumsi narkoba?"

"Apakah itu? Ganja atau ekstasi?"

"Katakan sesuatu, Baekhyun!"

Baekhyun menunduk dan mempercepat langkah, beruntung tadinya ia menggunakan topi untuk menyembunyikan pers berkumpul dan menyerangnya, menyodorkan microphone kecil tepat di depan wajahnya, tubuhnya ikut terdorong-dorong dan flash kamera menyakiti retinanya. Mengapa beritanya sangat cepat menyebar? Ia merutuk saat polisi-polisi itu membawanya ke ruang pemeriksaan. Seorang polisi yang berseragam lebih rapi duduk di sana, seakan sudah menunggu kedatangannya.

"Duduk."

Baekhyun didudukkan dengan paksa pada kursi di hadapannya.

"Siapa namamu?"

"Byun Baekhyun."

"Tanggal lahir?"

Baekhyun menjawab dengan malas, apa-apaan ini?

"Keluarga yang bisa kami hubungi?"

Baekhyun mendengus sebentar, "Oh Sehun, dia juga seorang polisi."

Polisi itu sedikit terkejut, lalu raut wajahnya yang kaku kembali dalam dua detik, "Oh Sehun memiliki marga 'Oh', Tuan Byun Baekhyun, berhenti membual."

"Aku menggunakan marga ibuku."

Polisi— Baekhyun membaca nametagnya, disitu tertulis Kim Seungwoo, "Apa kau tahu kenapa kau ada disini?"

"Aku dituduh memesan paket narkoba hanya karena paket itu tergeletak di depan apartemenku."

"Lalu apa paket itu milikmu?"

"Bukan." Baekhyun menatap tajam Seungwoo, "Seribu kali bukan."

"Tapi di atas paket itu tertulis namamu."

"Semua orang tahu namaku." Baekhyun berujar setengah kesal, "Aku bahkan belum sempat mencuci mukaku dan kalian sudah membawaku pergi dari apartemenku."

"Baiklah, kalau begitu bisa kau jelaskan pada kami bagaimana kau menemukan paket itu?"

"Aku baru saja akan pergi ke kafe untuk membeli morning coffee-ku. Sebuah boks kecil berada tepat di depan pintu apartemenkudan sebelum aku melihat isinya, bawahanmu itu sudah memasangiku borgol dan aku dibawa ke sini seakan-akan aku adalah orang yang selalu melarikan diri dari hukum. Dan sekali lagi, paket itu bukan milikku. Apa kau bahkan memiliki surat penangkapan resmi?"

Penyidik itu mengangguk, mengabaikan pertanyaan Baekhyun, jari-jarinya mengetikkan sesuatu di laptopnya lalu kembali menatap Baekhyun dengan tajam dan mengintimidasi.

"Kami mendapat laporan bahwa sebuah sindikat narkoba mengarahkan kiriman paketnya padamu. Apakah kau pernah terlibat atau mungkin mengenal salah satu dari mereka?"

Penyidik itu mengambil sesuatu dari mejanya dan menyodorkan wajah orang-orang yang terlihat sangat asing di mata Baekhyun.

"Aku akan mengenal mereka bila mereka adalah penggemar atau penjual biola langgananku." Baekhyun berujar dengan nada kesal, "Dan jelas sekali mereka bukan."

"Baiklah, kita kembali ke dalam permasalahan. Jadi kau benar benar tidak mengetahui apa isi dari paket itu atau mengapa paket itu dikirimkan padamu?"

"Kim Seungwoo-ssi," Baekhyun memanggil nama penyidik itu dengan nada kesal, "Aku punya banyak penggemar, tapi bukan berarti aku tidak memiliki anti fans. Mengapa kau tidak mempertimbangkan kalau paket itu adalah salah satuteror terbaru? Dan juga,bisakah kau tidak mendesakku untuk mengakui kesalahan yang bahkan tidak aku lakukan?"

"Aku tidak sedang berusaha—"

"Kau iya." Baekhyun menggertakkan giginya, "Aku melihatnya dari matamu."

Penyidik itu terdiam.

"Paket itu bukan milikku. Dan aku sama sekali tidak mengetahui sindikat yang kau bicarakan. Aku adalah pemusik yang baru saja bangun dari tidur. Tiga minggu yang lalu sampai kemarin jadwalku penuh dengan konser dan latihan—silahkan minta buktinya pada manajer atau perusahaanku, jadi bagaimana menurutmu aku akan memesan sepaket narkoba itu? Dan lagi pula, dari mana si pelapor tahu paket itu di kirimkan padaku? Bukankah seharusnya kalian memeriksa pelapor itu juga?"

Baekhyun mendesah dan menyenderkan punggungnya pada kursi, memejamkan mata.

"Hyung!"

Baekhyun menoleh, menemukan Sehun berdiri beberapa meter darinya, managernya berjalan cepat dengan tergopoh-gopoh di belakang adiknya. Sepertinya mereka baru saja menerima berita tidak msuk akal ini.

Sehun menajamkan tatapannya kepada penyidik di seberang meja, tangannya terulur seperti akan meminta sesuatu, badannya yang tegap terasa begitu mengintimidasi, "Berikan padaku."

Si penyidik menatap Sehun dengan setitik rasa memelas yang terlihat di matanya, dan Baekhyun mau tidak mau berdecak sebal saat melihat mata itu.

"Ta-tapi…"

"Berikan."

Saat Seungwoo akan memberikan kunci borgol Baekhyun, teleponnya berdering dan dengan secepat kilat, ia mengangkatnya tanpa ragu-ragu, terlihat seperti ingin mengulur waktu agar harga dirinya terselamatkan di depan polisi-polisi lainnya, dengan kata lain, ia tidak ingin terlihat terintimidasi oleh Oh Sehun.

Sehun menghembuskan napasnya dengan kasar cenderung mengejek, bibirnya tertarik ke satu sisi saat melihat ID call si penelepon.

Sayup-sayup terdengar suara Seungwoo mengatakan, "Ya, akan kulakukan sir." Dan "Ya, tentu saja, sir," lalu disusul dengan "Aku akan melepaskannya, ya…ya…" Kim Seungwoo tampak sibuk, tangannya mengumpulkan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan masalah Baekhyun, lalu memasukkannya kedalam amplop besar berwarna coklat.

Saat panggilan ditutup, Kim Seungwoo memberikan kunci borgol Baekhyun kepada Sehun, lalu membungkukkan punggungnya sembilan puluh derajat, "Maafkan kami atas kesalahpahaman ini."

Sehun mendecih saat menerima kunci itu, lalu melepaskan borgol di pergelangan tangan Baekhyun. Mata lelaki itu melihat dengan tidak suka ke arah pergelangan tangan kakaknya yang memerah.

Manager Baekhyun mengambil alih dengan berbicara kepada Seungwoo, sementara Baekhyun sendiri berjalan tergesa-gesa karena Sehun menggenggam lengannya dengan sangat erat meskipun tidak terasa sakit, "Sehun… apa yang terjadi?"

Sehun melepaskan napasnya dengan kekesalan yang berada di puncak kepala, lalu mengantarkan Baekhyun sampai ke pintu belakang kantor polisi, menghindari reporter buta keadaan yang sedang berlomba-lomba mencari informasi.

Baekhyun menghadang badan Sehun sehingga yang lebih muda tidak bisa bergerak maju lagi ke arah pintu keluar, "Kemana? Aku seratus persen yakin apartemenku sudah dikerubungi terlalu banyak reporter, aku tidak bisa pulang."

Sehun mendesah pelan, lalu tiba-tiba saja badannya berdiri dengan tegap, Baekhyun merasakan ketegangan dalam gerakannya yang tiba-tiba, "Jawab pertanyaanku, Oh Sehuuun," Baekhyun merengek karena merasa tidak dihiraukan.

"Kau datang, sir." Sehun berucap dengan tegas, tatapannya melewati kepala Baekhyun menuju orang lain di belakang kakaknya.

"Sir? Apa dia orang yang tadi membantu—" Baekhyun membalikkan badannya sehingga memunggungi Sehun, air muka Baekhyun memucat.

"—yeol?" Baekhyun tertegun.

Oh tentu saja, memangnya siapa lagi yang bisa menolongnya?

Sehun menatap Chanyeol dengan tatapan yang tegas, tidak bergerak sedikitpun dari bagaimana ia berdiri sedari tadi. Chanyeol melepaskan long coat beludru berwarna merah miliknya dan menyampirkannya pada tubuh Baekhyun, tetapi ditepis dengan lembut oleh tangan Baekhyun sendiri.

"Apa yang kau lakukan disini?" Lagi-lagi egonya berbicara dengan lancang.

Chanyeol tetap membalut tubuh Baekhyun dengan coatnya, seolah-olah mengatakan bahwa Baekhyun tidak bisa mengalahkannya, itu mutlak. Bibirnya tidak mengeluarkan sepatah katapun, lalu ia menoleh kepada Sehun.

"Selesaikan."

"Yes sir," Sehun membalas, kepalanya menunduk sedikit untuk memberi hormat kepada bosnya, lalu menatap Baekhyun dengan gerakan cepat, melemparkan tatapan kau akan baik-baik saja, aku akan mengurusnya. Lalu kembali ke tempat Seungwoo untuk menyelesaikan semuanya.

Setelah suara sepatu Sehun tidak lagi terdengar, Baekhyun hanya bisa diam, tidak mengerti apa yang harus ia lakukan saat benar-benar berhadapan dengan laki-laki yang mendominasi dirinya melebihi apapun.

Chanyeol menarik sisi coatnya yang terpasang pada tubuh Baekhyun, membuat tubuh Baekhyun mendekat ke tubuh tingginya yang luar biasa tegap, ia lalu mengeluarkan sesuatu dari kantongnya—sebuah masker hitam.

Baekhyun kira laki-laki itu akan memberikan masker itu kepadanya agar ia dapat memakainya sendiri, tetapi Chanyeol malah menyetarakan tinggi mereka, lalu memasangkan masker itu dengan hidung yang nyaris menyentuh hidung Baekhyun.

"Kau benar-benar tidak bisa jauh-jauh dariku ya?" Baekhyun mendengar suara berat milik Chanyeol menyapa telinganya, tubuhnya membeku dan Baekhyun tidak menyadari bahwa ia sangat merindukan suara lembut Chanyeol. Laki-laki tinggi itu menaikkan topi Baekhyun, membuat mata mereka bertatapan dalam keheningan.

Setelah masker itu terpasang, Baekhyun merasakan jari-jari panjang milik Chanyeol mengelus kepala bagian belakangnya dengan lembut, matanya menatap Baekhyun dengan tatapan yang membuatnya lupa bahwa mereka tidak seharusnya melakukan hal ini.

"—yeol…" Suaranya tertahan, sebagian dari hatinya berteriak bahwa harga dirinya harus dijaga, bagaimanapun juga laki-laki ini adalah orang yang sama yang menginginkan putusnya hubungan mereka, tetapi sisi lain dari hatinya juga menjerit, mengharap bahwa mungkin saja kemarin Chanyeol hanya berusaha melindunginya—seperti yang ia bilang tempo hari.

"Tetapi jika kau tersakiti karena aku maka… Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri."

Ingatan itu masih basah, dan ia tahu betul Chanyeol mengatakannya dengan tulus.

"Maaf," Laki-laki itu berkata dengan sangat lembut, "Seharusnya aku berada di sampingmu pada saat seperti ini, tetapi aku malah melepaskanmu seperti pengecut."

Baekhyun menundukkan kepalanya, mengamati sepatunya karena sepertinya hanya kegiatan itulah yang saat ini bisa ia lakukan untuk menjaga jarak dari Chanyeol, melihat bagaimana wajah laki-laki itu berada begitu dekat dengannya, Baekhyun tahu bahwa hatinya tidak bisa berbohong.

Baekhyun merasakan tubuhnya tertarik sekali lagi, kali ini ia jatuh di dalam pelukan hangat mafia itu, suaminya, sayup-sayup mendengar bisikan-bisikan permintaan maaf yang keluar pelan dari bibir yang lebih tinggi sebelum akhirnya rasa dingin kembali menghantam tubuh Baekhyun saat Chanyeol melepaskan pelukannya.

Di balik maskernya, Baekhyun tersenyum kecil.

"Ayo," Laki-laki itu membelit jari-jari miliknya dengan jari-jarinya yang lebih besar, lalu menurunkan topi Baekhyun agar wajahnya tertutup, dan Baekhyun merasakan kehangatan yang benar-benar ia rindukan, "Kemana?"

Kenyataan seperti menamparnya lagi, ini bukan saatnya tercebur pada romansa, sayang.

"Apartemen adikmu, kita butuh tempat sembunyi yang bagus dari para reporter tanpa otak itu."

Baekhyun kembali tersenyum saat sadar bahwa Chanyeol tidak melepas genggamannya bahkan sampai mereka duduk di dalam mobil.

Dan Chanyeol tidak perlu tahu itu.

Kau melindungiku lagi, terima kasih.


Getting Darker


Baekhyun menahan napasnya saat ia memasuki apartemen Sehun.

Semuanya memang terlihat rapi, tetapi debu yang agak menumpuk sedikit banyak mengatakan bahwa adiknya itu jarang berada di rumah.

Baekhyun tidak tahu bagaimana Chanyeol dapat membuka kombinasi pintu apartemen Sehun—walaupun dia tahu mudah bagi Chanyeol untuk melakukan itu, mungkin hanya seperti membuka lolipop dari bungkusnya yang memutar—tetapi ia menemukan dirinya sendiri dapat bernafas lega sesaat setelah masuk ke dalam gedung tanpa satupun reporter yang mengikuti mereka.

Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun, kali ini lebih erat dari biasanya, dan ia menggiring si kecil untuk berjalan ke arah kabin dapur, menarik kursi meja makan, lalu mempersilahkan Baekhyun untuk duduk.

"Apa yang kau lakukan?" Baekhyun mengernyit.

Chanyeol melepaskan kancing lengan bajunya dengan gerakan lambat, meloloskan dasi dari lehernya yang terlihat seperti sebuah mahakarya, lalu menggulung lengan bajunya hingga siku. Meninggalkan Baekhyun yang melihatnya dengan raut kebingungan.

Jujur saja, Chanyeol terlihat begitu panas.

"Aku akan memasak sesuatu, kau pasti belum sempat sarapan," Chanyeol berkata sembari membuka kulkas berisi makanan beku di dalamnya, membuyarkan pikiran Baekhyun, "Ingatkan adikmu untuk membeli bahan-bahan yang bisa membuatnya sehat."

Baekhyun terdiam. Sejenak imajinasinya berputar, memaksa pemikiran bahwa saat ini, mereka adalah orang-orang biasa, hanya sepasang kekasih yang menikmati akhir pekan dengan memasak di pagi hari yang hangat.

Tapi mereka bukan orang-orang biasa. Apalagi sepasang kekasih.

Baekhyun melihat bagaimana punggung Chanyeol yang lebar menghalangi pandangannya, ia sadar bahwa sekarang ia sedang menatap Chanyeol lekat-lekat, mengumpulkan segenap kotak memori kosong yang bisa ia isi dengan pemandangan ini, dimana Chanyeol sedang memasakkannya sesuatu. Dimana mereka berdua terlihat begitu…normal.

Baekhyun tidak pernah berharap begitu besar terhadap sebuah cinta, tetapi jika memang cinta adalah sesuatu seperti ini—bahagia saat melihat orang yang kau pikirkan dengan sepenuh hatimu berada begitu dekat denganmu walaupun dia sebenarnya begitu jauh—maka Baekhyun tidak akan berpikir panjang untuk menyerah dan mengakui bahwa dirinya jatuh cinta.

Tetapi hubungan diantara mereka berdua tidak sesederhana itu.

"Matamu bisa kering jika menatapku tanpa berkedip, sayang."

Baekhyun tersentak, mengatupkan mulutnya yang akan memberi sanggahan, tetapi matanya melirik ke arah piring yang Chanyeol sajikan di hadapannya, dengan aroma yang begitu menggoda, dan terlihat enak.

Baekhyun memuji dalam hati tentang kesempurnaan laki-laki di hadapannya.

Chanyeol lalu duduk di hadapan Baekhyun, memberinya sendok dan garpu sebelum membantu laki-laki yang terlihat kusut di depannya itu membuka masker dan topinya. Senyum yang menawan terpasang pada wajahnya yang sempurna.

"Aku tidak memasukkan apapun ke dalamnya," Chanyeol menahan tawanya yang sudah akan terlihat dari sudut bibirnya, "Kau harus berhenti curiga kepada orang-orang yang mengkhawatirkanmu, Baekhyun."

Katakan kalimat itu kepada dirimu sendiri, Chanyeol.

Baekhyun tidak begitu peduli kepada hal-hal yang lain saat lidahnya mengecap tekstur kental sup jagung yang menyeruak di dalam mulutnya. Rasanya benar-benar menakjubkan.

Baekhyun lupa kapan terakhir kali ia memakan sesuatu yang dimasakkan oleh orang lain.

Baekhyun memakan supnya dengan cepat, air mata menggenang di sudut matanya dan siap untuk jatuh kapan saja, terharu—bisa jadi. Ia tidak tahu kenapa, tetapi hangat sup jagung seperti memberinya sebuah kekuatan untuk menghadapi masalah di depannya.

Berlebihan, tetapi itu yang benar-benar dirasakannya.

"Pelan-pelan, sayang," Chanyeol menyodorkannya segelas air mineral, "Hey—jangan menangis," Ibu jari Chanyeol mengusap wajah Baekhyun, berusaha menghentikan Baekhyun yang makan terlalu cepat. Sudut mata Baekhyun yang terlihat rapuh membuat Chanyeol tidak tahan untuk menghapus air mata itu dengan jari-jarinya juga.

"Kau akan baik-baik saja, kita akan baik-baik saja. Percayalah padaku."

Chanyeol tahu bahwa Baekhyun tidak baik-baik saja, ia berdiri dari kursi dan berjalan dengan cepat untuk berdiri di samping tubuh Baekhyun yang bergetar.

Lalu Chanyeol merengkuhnya untuk masuk kedalam pelukannya.

"Sshh.." Chanyeol mengusap kepala Baekhyun dengan sangat pelan, "Tidak apa-apa… tidak apa-apa."

Untuk pertama kalinya, Baekhyun menangis di dalam pelukan laki-laki itu.

Mungkin karena Baekhyun lelah dengan semua masalah yang datang ke hidupnya dengan begitu beruntun, atau mungkin Baekhyun hanya ingin seseorang menenangkannya seperti semua akan baik-baik saja.

Persis seperti apa yang Chanyeol lakukan.


Getting Darker


Sehun datang beberapa jam kemudian saat langit terlihat agak menggelap—tentu karena ini adalah apartemennya dan ia bebas datang kapan saja, matanya mencari-cari keberadaan Baekhyun di ruang tengah, namun ia tidak menemukan apapun selain lelaki itu.

Chanyeol.

Ia berdiri dengan tegap seperti biasa, dan Sehun memberinya hormat saat laki-laki itu malah memberi gestur untuk mendekat.

"Aku rasa Baekhyun harus berada di tempat yang lebih aman," Chanyeol membuka pembicaraan, dan Sehun bersumpah kalimat ini adalah salah satu kalimat terpanjang yang pernah ia dengar dari mulut Chanyeol.

"Dimana Baekhyun?" Sehun bertanya dengan tergesa, "Apa dia baik baik saja?"

"Dia sudah tertidur, jauh lebih baik." Chanyeol mengernyit, "Sejak kapan kau belajar untuk mengalihkan pertanyaanku?"

"Maafkan aku, ini hanya karena—" Sehun menelan ludah, "—Aku benar-benar khawatir."

Chanyeol belum melepaskan tatapan selidiknya sampai Sehun membuka mulutnya lagi, "Apa rencanamu setelah ini? Apa dia akan tinggal bersamaku hingga semua lebih aman dan terkendali?"

Chanyeol bersumpah melihat binar bahagia di mata lelaki itu. Dan itu membuatnya sangat tidak nyaman.

Sial.

"Tidak." Suara Chanyeol sarat akan keposesifan, "Aku akan membawanya ke Amerika."

"Apa?" Sehun tersentak, "Tidak, kau tidak boleh melakukannya," Laki-laki itu menggeleng.

"Apa maksudmu dengan tidak boleh?" Chanyeol mengernyitkan dahi, "Aku berhak atas dirinya dari ujung rambut hingga ujung kaki."

Sehun mengepalkan tangannya hingga buku jarinya nyaris memutih, "Maafkan aku untuk berbicara seperti ini, tetapi tentu tidak berhak, kau sedang berbicara dengan keluarganya. Aku tahu kau berkuasa, aku tahu kau bisa melakukan segalanya. Tapi Baekhyun adalah keluargaku, aku akan menjaganya. Kau tidak berhak atas dirinya selama aku masih ada disini."

Mereka terdiam—tampak seperti Chanyeol baru saja mengetahui sesuatu.

Lantas gelak tawa lelaki itu menyebar ke seluruh ruangan dan Sehun hanya bisa mengernyit.

"Jika bukan aku, lalu siapa lagi yang bisa lebih berhak?" Chanyeol tersenyum miring, "Aku adalah suaminya."

Sehun membatu.

Suami?

"Diaadalah rumah," Baekhyun menatap ke dalam kedua matanya, "Dia adalah rumah, bagiku."

Ternyata dugaannya benar.

Sekarang, ia pasti terlihat sangat bodoh.

"Jadi kau tidak mengetahuinya?" Chanyeol merendahkan satu alisnya, "Kupikir dia sudah memberitahunya padamu."

"Kau—Bagaimana bisa?"

"Bagaimana bisa aku menjadi suaminya?" Chanyeol memasukkan tangannya kedalam saku celana kainnya, sedikit berpikir, "Ah, awalnya ini semua hanyalah sebuah bisnis. Tapi siapa yang tahu? Dia begitu menarik dengan matanya yang bersinar dan wajahnya yang manis."

Chanyeol melirik pada ekspresi Sehun yang menahan amarah sekaligus terluka—dan senyuman miring kembali muncul pada wajahnya yang tampan.

"Kami melakukan'nya' dan kurasa sejak itu kami terlibat dalam suatu hubungan yang rumit. Kau tahu, kakakmu sangat keras kepala dan sangat bersemangat untuk kabur dariku sehingga ia ditangkap bajingan rendahan yang meminta partiturnya—"

"Apa?!" Sehun memotong, "Bagaimana bisa kau membiarkannya—"

"Dia baik-baik saja, kau lihat."

Sehun terdiam kemudian. Kehabisan kata-kata, ia ingin menyalahkan tetapi tidak memiliki argumen yang dapat menjatuhkan.

"Jadi, tanpa mengurangi rasa hormatku padamu sebagai keluarganya, aku berniat mengirim Baekhyun ke luar negeri selama beberapa waktu hingga semua berita itu menghilang dan namanya bisa kembali bersih. Baekhyun membutuhkan tempat untuk bernafas."

Sehun merapalkan sumpah serapah di dalam hati, nyaris membiarkannya meledak-ledak.

Kau akan membawanya pergi jauh dariku? Sehun merasakan ruang di dadanya menyempit sehingga setiap tarikan nafasnya menyisakan sesak.

Kau tidak boleh melakukannya. Sial, jangan bawa dia pergi dariku. Dia kakakku. Dia orang yang kucintai.

"Kau tidak boleh." Sehun bersuara, "Jangan bawa dia pergi. Kami baru saja bertemu lagi," Penekanan pada setiap kata yang Sehun keluarkan cukup membuat Chanyeol tahu seberapa besar laki-laki di hadapannya ini menahan amarah.

"Kau bisa bertemu dengannya setelah ia kembali."

"Itu akan membutuhkan waktu yang lama."

"Mengapa kau keberatan dengan waktu yang lama itu?" Chanyeol berdiri dan mendekat padanya, "Aku juga selalu bertanya-tanya mengapa kau begitu emosional jika menyangkut kakakmu. Dalam porsi yang tidak wajar."

Sehun tersentak, melangkah mundur tanpa ia sadari, dan Chanyeol mendapat perasaan yang semakin kuat pada dugaannya.

"Oh Sehun," Chanyeol memanggilnya dengan suara setenang danau, "Kau tidak melihat Baekhyun sebagai kakakmu, bukan?"

"A—Apa maksud—"

"Kau melihatnya sebagai seorang Byun Baekhyun," Chanyeol menyimpulkan begitu saja, "Kau menaruh hatimu padanya, apakah aku salah?"

"Omong kosong apa yang—"

"Kau tahu kau tidak pernah bisa berbohong padaku," Chanyeol menatapnya lekat, "Semakin kau menyangkalnya, semuanya akan terlihat dan terbuka semakin jelas."

Sehun menggeram, mendadak merasa bahwa ia sedang berada di ujung dari sebuah papan yang terombang ambing di laut—menunggu untuk di tenggelamkan oleh lelaki di hadapannya.

Chanyeol mengambil satu langkah mendekat, "Kau mencintainya sebagai lelaki, benar?"

"Kau bicara omong—"

"Kau tidak perlu berbohong," Chanyeol mendesis, "Aku mengetahuinya dari caramu mengatakan bahwa dia adalah keluargamu, atau bagaimana kau menatapnya dengan matamu yang melembut. Dan kuakui—Sehun, Baekhyun memang mempesona, dengan segala daya tariknya dan wajahnya yang lugu."

Lagipula bagaimana lagi aku akan mengelak? Aku sudah tertangkap basah. Sehun mendesah, menunduk beberapa saat sebelum kembali menatap Chanyeol.

"Ya." Ujarnya mantap, "Aku mencintainya. Byun Baekhyun, aku mencintainya bukan sebagai adik, aku mencintainya sebagai lelaki."

Chanyeol terkekeh, "Sudah kuduga. Kau bocah cilik yang sangat lucu, apakah kalian mungkin untuk berkencan satu sama lain? Apa kata orang tuamu nanti?"

Sehun menggeram, "Apa itu merupakan masalah bagimu? Mereka—dan Baekhyun, tidak perlu tahu!"

"Tentu saja ini adalah sebuah masalah besar bagiku," Chanyeol bergumam namun entah bagaimana terdengar begitu berbahaya dengan wajahnya yang tegas, "Kita sedang membicarakan seseorang yang mengakui bahwa ia mencintai milikku. Rasanya seperti teritoriku sedang diancam oleh serigala lain."

Chanyeol melangkah lebih dekat ke arah Sehun dengan wajahnya yang begitu tenang.

"Tapi apa kau yakin akan tetap membiarkannya berada di Korea? Beritanya menyebar secepat jerami yang terbakar oleh api, tidakkah kau ingin melihat kakakmu hidup dengan aman?"

Aman? Bersamamu? Gila.

"Musik adalah impian terbesarnya," Sehun menatap Chanyeol dengan marah, "Sejak kecil, orangtuaku selalu menghalangi Baekhyun dalam bermusik. Itulah sebabnya aku tumbuh menjadi penggantinya, agar dia bisa bermusik dan bahagia. Aku besar untuk melindunginya di balik punggungku. Aku sudah berjanji pada diriku bahwa aku akan melindunginya dengan kedua tanganku! Itulah sebabnya aku menjadi anggota polisi, karena aku ingin melindunginya."

Chanyeol balas menatapnya,

"Maka izinkan aku melindunginya sampai akhir. Terlepas dari aku mencintainya atau tidak, hanya izinkan aku melindunginya."

Sehun menarik nafasnya dan melanjutkan,

"Biarkan dia tetap di Korea. Aku akan menjaganya. Sebaik yang aku bisa."

"Kau pasti melupakan batasmu," Chanyeol berdecak dengan penuh tekanan, "Kau pasti lupa bahwa kita sedang membicarakan pasanganku, kau sedang membicarakan sesuatu yang menjadi teritoriku. Aku akan melindunginya dengan tanganku sendiri, dia berada di bawah tanggung jawab dan perlindunganku. Ketika kau berbicara tentang melindunginya yang kau mencampurkannya dengan perasaanmu, kau jelas tahu bahwa itu melanggar batasanku. Kau berniat meraihnya? Meraih milikku dengan melindunginya?"

Sehun menatapnya terkejut, "Tidak, ini tidak seperti—"

"Ini 'seperti itu'. Jadi tebak apa yang akan kau dapatkan."

Chanyeol menodongkan sebuah pistol tepat kearah dahi Sehun, membuat bawahannya nyaris terlihat pucat pasi. Tetapi mata Sehun tetap was-was, alisnya menukik dan matanya menatap tajam Chanyeol.

Suara pengaktifan pistol terdengar begitu nyata di telinganya, dan otak Sehun memikirkan beribu cara masuk akal yang bisa ia lakukan untuk memutarbalikkan keadaan.

Jenius yang bertemu dengan jenius. Bagus sekali.

Sehun dengan cepat menghentak lengan Chanyeol—memukul siku laki-laki itu dan menyabet pistol itu dengan gerakan yang sangat cepat. Menodongkan mulut pistol pada Chanyeol.

"Tidak hari ini, Chanyeol. Aku butuh untuk hidup."

Sementara Chanyeol mendecih saat melihat ujung pistol yang tadinya berada di dahi rivalnya itu sekarang tengah terpampang nyata tepat diantara alisnya.

"Peraturan pertama pada latihan, Sehun."

Chanyeol maju selangkah untuk lebih dekat terhadap pistol yang diacungkan oleh Sehun, "Senjatamu bukan anjing yang tahu siapa pemiliknya."

Dengan itu, Chanyeol menggaet bagian dalam lengan Sehun yang membawa pistol, lalu mendorong telapak tangannya sehingga pistol yang tetap berada di tangan Sehun itu malah menghadap kearah dahi Sehun sendiri. Skakmat.

"Kau masih bukan tandinganku."

Sehun terdiam, terkejut melihat seberapa cepat gerakan Chanyeol dapat melumpuhkannya, dalam hati mengakui bahwa laki-laki itu memang bukan tandingannya.

Chanyeol menghela napas, melepaskan pistol dari tangan Sehun dan melemparnya kearah pria itu, "Baik, dia tetap di Korea. Dan hanya karena kita berdua memiliki tujuan yang sama untuk melindunginya, maka kita akan bekerja sama. Kau akan membersihkan nama baiknya dan aku akan menjaganya dari bajingan-bajingan rendahan itu."

Sehun mengangguk dalam diam.

"Dan ingat ini," Chanyeol berbisik dengan nada rendah di telinganya, "Seberapapun kau ingin memilikinya, kau tahu kau dan Baekhyun tidak pernah bisa bersama."

Sehun ingin mengatakan sesuatu tetapi semua kalimatnya tertahan di kerongkongannya.

"Oh Sehun?" Chanyeol memanggil Sehun dengan nada yang kembali tenang, membuat Sehun bertanya-tanya dimana bosnya ini dapat menenangkan dirinya sendiri dalam hitungan kelewat cepat.

"Aku benar-benar mencintai kakakmu, sungguh."

Mereka menatap satu sama lain, berkomunikasi dengan ego masing-masing sebelum Chanyeol berbalik dan duduk di sofa seperti tidak ada apapun yang terjadi.

Mungkin mereka terlalu larut pada emosi mereka sendiri hingga tidak menyadari bahwa Baekhyun tidak tertidur.

Ia mendengar semuanya.


Getting Darker


Baekhyun kehilangan kata-kata, tubuhnya bergelung pada kasur yang bahkan tidak ia ingat kapan ia terbaring disana—mungkin Chanyeol yang mengangkatnya setelah ia menangis hingga tertidur di pelukan si surai abu-abu.

Ia sama sekali tidak berniat menguping, dirinya terbangun saat mendengar suara pintu apartemen yang ditutup. Tubuhnya sudah akan terduduk di kasur tepat saat suara Chanyeol menyapa telinganya.

"Aku rasa Baekhyun harus berada di tempat yang lebih aman," Sayup-sayup Baekhyun mendengar laki-laki itu membuka topik pembicaraan yang menyangkut dirinya.

Dengan alasan semua manusia pasti memiliki rasa ingin tahu, maka Baekhyun kembali bergelung di sisi kasur yang lebih dekat dengan pintu, mencuri-curi suara yang menggema di ruang keluarga yang sunyi.

Baekhyun mendengarnya, semuanya, termasuk bagaimana perasaan Sehun—itu menjawab pertanyaannya tentang sikap Sehun yang aneh. Ia tidak mengerti bagaimana harus menyikapinya, karena itu adalah Sehun, adiknya sendiri. Adik kandungnya.

Dan dia juga mendengarnya, suara pistol yang sudah familier di telinganya, gigi Baekhyun bergemeletuk karena ia tahu bagaimana Chanyeol tidak akan segan-segan untuk membunuh siapapun yang menghalanginya.

Tetapi Sehun mungkin sebuah pengecualian, karena setelah dua menit lamanya, Baekhyun tidak mendengar suara tembakan apapun, dan dia tidak tahu apakah ia harus bersyukur dalam diam atau malah keluar dari kamar dan berteriak-teriak seperti orang gila untuk mencegah Chanyeol berbuat lebih jauh.

Yang terakhir, Baekhyun mendengarnya, tentang bagaimana perasaan Chanyeol kepadanya.

Itu menakjubkan, mendengar pernyataan itu keluar dari mulut Chanyeol dengan nada tegas yang tidak dapat disangkal. Chanyeol terdengar begitu percaya diri saat mengatakannya, seolah-olah dia bangga untuk memberitahu dunia bahwa Baekhyun adalah miliknya.

Hati Baekhyun terus-terusan menghangat.

Baekhyun kemudian mendengar suara pintu apartemen yang dibuka, seseorang mungkin akan keluar.

Setelahnya, apartemen Sehun kembali hening.

Suara ketukan pada pintu kamar tidur terdengar berurutan, lalu setelahnya suara berat familier menyapa telinga Baekhyun setelahnya, "Kau bangun?"

Baekhyun tidak bergeming dari posisi tidurnya, jantungnya berdentum dengan keras mendengar suara Chanyeol di seberang ruangan, dan pada ketukan keempat, deritan pintu menandakan bahwa lak-laki itu masuk kedalam ruang tidur yang ia tempati.

Chanyeol mendesah lelah, lalu duduk pada sisi kasur yang kosong di sebelah Baekhyun.

Laki-laki itu duduk dengan kakinya yang menekuk mendekati dadanya, dan Baekhyun cukup pintar untuk merasakannya tanpa berbalik, ia memunggungi Chanyeol saat ini.

"Adikmu begitu perhatian padamu, baek."

Baekhyun terdiam, berusaha menetralkan napasnya yang agak terdengar terlalu cepat untuk orang yang sedang terlihat tertidur.

"Aku begitu bodoh, tidak bisa mengekspresikan apa yang ingin kusampaikan, dan aku sungguh iri kepada adikmu itu," Chanyeol bermonolog, matanya memandang pada langit-langit kamar, "Seandainya saja aku bisa melakukannya—mengatakan kepada dunia bahwa kau adalah milikku, tersenyum padamu seperti dunia hanya terbatas pada kita, lalu mengusap kepalamu hingga kau tertidur."

Chanyeol terdiam sejenak, "Aku sungguh-sungguh akan melakukannya jika aku bisa. Tetapi aku tidak bisa membiarkanmu jatuh kepadaku."

Baekhyun mendengar suara hatinya yang mencelos.

"Aku tidak percaya dengan cinta, Byun Baekhyun, tidak sebelum aku bertemu denganmu, dan kau terlalu sempurna untuk bajingan pembunuh sepertiku," Chanyeol mengusap kepala Baekhyun dengan lembut, tanpa tahu bahwa Baekhyun tidak sedang tidur, dan mendengar semua yang ia katakan.

"Mungkin aku sudah gila saat aku memutuskan untuk melindungimu," Suara Chanyeol terdengar menahan tawanya sendiri. "Ya Tuhan, aku sedang berbicara kepada siapa?"

Jangan berhenti, Chanyeol. Ceritakan kepadaku.

Baekhyun memutar tubuhnya menghadap Chanyeol, sementara senyuman tipis pada wajah Chanyeol sedikit mengembang.

"Aku akan bercerita kepadamu jika kau membuka matamu, aku tahu kau tidak tidur."

Pipi yang merona merah mengantarkan Baekhyun untuk membuka matanya perlahan, sementara Chanyeol hanya mengusak kepalanya dengan gerakan yang begitu lembut.

"Kau siap mendengarkan cerita?" Tanya Chanyeol. Baekhyun membalasnya dengan mengangguk kecil.

"Dulu sekali, ada seorang anak laki-laki yang memiliki orang tua yang begitu mencintai satu sama lain, mereka adalah gambaran keluarga bahagia dengan senyuman yang tidak pernah habis."

Senyuman Chanyeol menjadi kata pengantar dari orientasi ceritanya.

"Ayah dari anak laki-laki itu selalu menggendong anaknya tinggi-tinggi sepulang kerja, memberi senyuman lelah tetapi tetap berusaha membuat anaknya tertawa, sementara ibunya akan berada di dapur untuk membuat teh citrun hangat dengan sepiring pastry yang wanginya mengumpul di sekeliling rumah, dengan musik klasik menjadi lagu kegiatan mereka."

Baekhyun menyimak, sementara senyuman Chanyeol berubah sedikit sendu.

"Anak itu merasa dirinya tumbuh dengan cinta yang membludak di sekelilingnya, tetapi itu semua berubah saat ayahnya tidak lagi mengantarkannya pada pagi hari dimana seharusnya itu menjadi hari pertamanya masuk sekolah."

"Apa yang terjadi dengan ayah anak itu?" Baekhyun mencicit, tidak sanggup menahan pertanyaan yang ia catat di kepalanya.

"Ayah anak itu berselingkuh, dengan wanita berdada besar yang hanya mementingkan berapa banyak angka nol pada rekening ayah si anak," Chanyeol terdiam sebelum melanjutkan dengan volume suara yang mengecil, "—Ibu anak itu menemukan pakaian dalam si wanita murahan yang berada di jok belakang mobil si ayah."

Tangan Baekhyun mendekat untuk mengelus sisi luar lengan Chanyeol, "lanjutkan."

"Mereka bercerai, dan anak itu tidak lagi mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan pada usianya, tidak ada lagi gendongan ayahnya yang ia tunggu-tunggu setiap sore, ataupun senyum ibunya saat ia memakan kue dengan lahap."

"Apa yang terjadi kepada anak itu?"

Chanyeol menoleh kepada Baekhyun dan pandangannya terlihat menerawang, "Ibu dari anak itu dulunya seorang violist, salah satu yang paling terkenal di masanya, dan ia membuang masa depannya itu hanya untuk bajingan yang meninggalkannya demi wanita lain."

Baekhyun membelalak, tetapi tetap memilih untuk bungkam.

"Ibu dari anak itu berusaha membiayai hidup mereka dengan kembali menjadi violist, dan dia mengalami depresi yang sangat berat karena beban keuangan yang menghantuinya. Setiap sore, si anak laki-laki selalu menemukan ibunya memainkan nada-nada sumbang dari biolanya, dan saat ia mendekati ibunya untuk bertanya apa yang terjadi, yang ia dapatkan hanyalah tamparan di pipi dan pukulan di punggung."

"Si anak laki-laki selalu mengunci dirinya sendiri di dalam lemari, menutup telinganya rapat-rapat karena ibunya akan memainkan nada sumbang yang membuatnya kepalanya pusing, dan dia sangat takut akan hal itu."

Ini dia, alasan mengapa Chanyeol begitu membenci suara berisik.

"Apa yang terjadi setelahnya?"

Chanyeol menutup matanya sejenak, lalu mengambil napas panjang yang terdengar berat, "Ibu si anak akhirnya membunuh dirinya sendiri karena kalah dengan depresinya. Meninggalkan anaknya kepada kesendirian yang membuatnya berjanji kepada otaknya bahwa ia harus lebih kuat daripada siapapun, dan ia akhirnya jatuh kepada dunia yang kelam."

"Tidak, tidak, Chanyeol, maafkan aku—" Baekhyun duduk dengan cepat, menyandarkan dirinya pada headboard tepat di samping Chanyeol.

"—bukan salahmu, aku hanya ingin kau tahu," Chanyeol tersenyum. "Hari dimana aku bertemu denganmu adalah hari dimana aku mendengar permainan biolamu, Baekhyun."

"Aku mendengarnya, keputusasaan yang kau tuangkan di setiap melodinya," Chanyeol berbisik, meraih punggung Baekhyun untuk mendekat dan bersandar pada bahunya.

"Aku ingin menjagamu, awalnya hanya karena aku tidak ingin kau berakhir seperti ibuku, walaupun aku tidak tahu apa masalah yang terjadi padamu saat itu, tetapi perasaan ingin melindungi begitu mendesak otakku sampai-sampai aku ingin menemuimu saat itu juga."

Suara Baekhyun melembut, tangannya meraih tangan Chanyeol dan menggenggamnya dengan lembut, "Keluargaku, Chanyeol."

"Aku tahu, Sehun memberitahuku," Chanyeol memejamkan matanya, bersandar kepada kepala Baekhyun di bahunya memberinya kecupan-kecupan kecil, "Maaf telah menjadi seseorang yang brengsek."

Baekhyun menggeleng, menikmati bagaimana harum tubuh Chanyeol menyeruak kedalam hidungnya, aroma sabun dan mint selalu membuat Chanyeol tampak maskulin, dan ia menyukai itu,

"Tidak perlu meminta maaf, aku juga banyak bersalah padamu."

"Soal pernikahan itu—" Chanyeol membuka topik yang sensitif diantara mereka.

"Bisakah kita tidak membicarakan itu saat ini?" Baekhyun menyela perkataan Chanyeol, "Aku lelah."

"Tentu saja,"

Sinar bulan yang menerangi kamar itu mungkin menjadikan suasana kamar menjadi begitu tenang, hangat tubuh Chanyeol begitu pas untuk Baekhyun, sementara tangan mereka yang terkait seolah menjadi representatif dari perasaan mereka sendiri.

"Chanyeol…"

"Ya?"

"Bisakah kita melindungi satu sama lain? Aku tidak menyukai ide dimana kau yang berjuang untuk melindungiku sementara aku hanya duduk di belakang panggung melihat kau mencoba melindungiku mati-matian."

Chanyeol membuka matanya, lalu menarik dagu Baekhyun pelan-pelan agar miliknya itu bisa menatap matanya, "Aku tidak ingin kau terluka."

"Aku juga tidak ingin kau terluka karenaku."

"Kau benar-benar luar biasa," Chanyeol mendekatkan wajahnya pada wajah Baekhyun, membuat hidung mereka nyaris bersentuhan, "Dengar, Baekhyun, aku tidak pernah benar-benar percaya dengan cinta setelah apa yang kulihat oleh mata kepalaku sediri."

Chanyeol melihat perubahan ekspresi pada raut wajah Baekhyun.

"Tetapi jika aku harus mengalaminya," Chanyeol menarik napas,

"Aku tidak mau jika itu bukan kau orangnya."

Pipi Baekhyun merona hebat, ia menunduk untuk menyembunyikan semburat yang membuat jantungnya berdetak sedemikian keras.

Chanyeol kembali menaikkan dagu Baekhyun, tatapan mereka saling menahan satu sama lain agar tidak bergerak, sebelum Chanyeol mendekatkan bibirnya pada bibir lembut di hadapannya, menciumnya dengan lembut tanpa memaksa, seolah-olah mencoba menyampaikan pesan yang tidak bisa ia ucapkan dengan suaranya.

"Aku benar-benar jatuh cinta padamu—sangat."

Malam itu, Baekhyun tertidur di dalam rengkuhan Chanyeol.


Getting Darker


"Fuck!"

Mata Baekhyun terbuka dengan cepat karena terkejut, matanya tertutup dan ia tidak bisa melihat apapun di dalam gelap, tubuhnya merinding, tetapi ia yakin bahwa yang menutup matanya adalah Chanyeol, karena aroma laki-laki itu masih tercium jelas di jarak yang dekat dengannya.

Baekhyun mendengar erangan kesakitan di sampingnya, ia ketakutan dan tidak dapat melihat apa yang sedang terjadi dan ini seperti membunuhnya dalam diam.

"Sehun! Behind you!"

Baekhyun mendengar dua kali suara tembakan yang menggema, dan tangan Chanyeol yang menghalangi matanya perlahan-lahan mengendur.

Ia melihatnya, Sehun dengan wajah babak belur, beberapa orang berpakaian hitam,

Dan Chanyeol yang melindunginya dari peluru. Darah merembes melalui kaus putihnya.

"Chanyeol!"

TBC


THANKS TO :

Psch, LyWoo, hulas99, meliarisky7, chanbaekowns, i baek you, chalienBee04, saindesu, homohomoclub, ByunB04, nuuuuuut, KertasBee, bil, , mawar biru, wandapw, hyuniee86, veraparkhyun, park yeolna, restikadena90, mellindabbh, Fatihah Kim, neemoth19, 365 be With You, PiggY614, Incandescense7, nocbnolife, Byunsunny6104, LUDLUD, BabyWolf Jonginnie'Kim, nadivarahma614, SuperSupreme61, C just for B, lilypineapplee, kickykeklikler, chanxlxbaek, chanbaekowns, metroxylon

.

.

[applemacaroon's note]

Hey, terimakasih telah menunggu FF ini update!

Menurut aku sendiri, chapter ini bener-bener penting dan mungkin banyak menjawab pertanyaan kalian hehehe, jadi gimana, pada #timsehun atau #timchanyeol? wkwkwk.

I wanna say thank you so muchhhhh buat kalian yang ngereview chapter kemarinn, dan kali ini aku dan Winter bawain kalian sekitar 7K words dan sengaja nggak dibagi dua karena takut kalian hilang feel T-T semoga nggak bosen yaaa!

Oiya, apa diantara kalian masih ada yang bingung sama jalan cerita FF ini? Kalo iya, dibagian mana? Please let us know

Andddd Selamat sekolah! kkkk~

.

[WinterJun09's note]

So this is the new chapter~!

Btw, selamat kembali ke dunia sekolah dan say goodbye to liburan, haha. Semoga kalian suka chapter ini and don't forget to leave your review! ^^