09 - Behind the Unlocked Door

"We met less than a week ago and in that time I've done nothing but lie and cheat and betray you. I know. But if you give me a chance...all I want is to protect you. To be near you. For as long as I'm able."
Marissa Meyer, Scarlet


"Ya Tuhan—Chanyeol, tidak—buka matamu!" Baekhyun berteriak, nyaris menjerit hingga telinganya sendiri terasa berdenging dan kepalanya berdenyut. Chanyeol menggeram kasar, sedikit terdengar kesakitan saat tangannya menahan darah yang keluar dari perutnya.

Sementara Sehun tengah mengacungkan pistolnya ke arah seorang laki-laki berbaju hitam, dalang dibalik luka menganga di perut Chanyeol. Peluru meluncur dari tangan Sehun dalam waktu kurang dari dua detik.

Sehun mengerang, marah.

Chanyeol dengan sigap menegakkan tubuhnya untuk duduk, sementara Baekhyun membantunya menahan darah yang masih mengucur. Tangan laki-laki itu mengulurkan smartphonenya yang berlumuran darah kepada Baekhyun.

"Passwordnya 2711. Panggil Jongin," Bibir Chanyeol memutih, suaranya yang tegas kini terdengar merintih.

Lalu Baekhyun melakukannya, dengan tangan yang bergetar dan mata yang tidak fokus. Berusaha mencari kontak Jongin pada benda kotak kecil itu. Tersirat nada lega pada suaranya saat mendengar suara Jongin terdengar di seberang sana.

"Jongin… C-chanyeol…"

Baekhyun kelu, tidak bisa menemukan rangkaian kata yang benar untuk menjelaskan keadaan yang mereka alami saat ini.

Sehun lalu mendekat kearah mereka dengan cepat, sepertinya dengan tidak sabaran—lalu menarik smartphone itu dengan paksa, "607-1 Sinsa-dong, Gangnam-gu. Kami membutuhkanmu dalam 2 menit, dengan kassa steril dan bantalan sebanyak yang bisa kau dapatkan."

Sehun lalu memberikan smartphone itu kepada Baekhyun, lalu berjalan mendekat ke arah Chanyeol dan melepaskan bajunya sendiri, menahan darah yang keluar dari perut sebelah kiri Chanyeol dengan kain bajunya.

"Bantu aku dan berhenti bergetar, Baekhyun," Sehun berkata dengan nada yang kelewat tegas sebelum berhenti selama beberapa saat,"—genggam tangannya, biarkan dia tahu bahwa kau tidak terluka."

Kalimat terakhir Sehun terdengar tidak rela, tetapi nada yang tersirat mengatakan bahwa itulah satu-satunya hal yang harus ia lakukan.

Baekhyun mengangguk, meraih tangan Chanyeol dan menggenggamnya dengan erat, Chanyeol terbatuk-batuk lemah dan tersenyum kecil kepada Baekhyun, "Jangan menangis, laki-laki tidak boleh cengeng…"

Jongin lalu datang kurang dari dua menit, mereka melakukan sesuatu dengan tubuh Chanyeol dengan cepat, membalut lukanya, berusaha keras menghentikan pendarahannya. Baekhyun membeku. Tidak terbiasa.

"Aku akan memapah Chanyeol bersama Jongin, Baek, tetaplah di belakang kami. Jangan sentuh apapun."

Dan Baekhyun, dengan sekujur tubuh yang merinding, hanya menganggukkan kepalanya linglung.


Getting Darker


"Ini bukan arah menuju rumah sakit! Chanyeol butuh operasi—apa kalian gila?!" Baekhyun menarik lengan Sehun dari belakang dengan kasar, ia tengah duduk di seat row nomor dua bersama Chanyeol sementara Jongin mengemudi dan Sehun berada di sebelahnya.

Jongin dan Sehun tidak menjawab, laju mobil begitu cepat tetapi ia tahu bahwa mereka tidak akan pergi ke rumah sakit.

"Sehun…"

"Tutup mulutmu, Baekhyun. Kau mau identitas Chanyeol diketahui oleh seluruh dunia?"

Perkataan Jongin yang sarat akan nada mengancam (dan sangat marah) membuat Baekhyun bungkam. Ia melihat ke sampingnya, menemukan Chanyeol dengan wajah pucat dan alat infus juga kantong darah yang digantungkan pada pegangan di atas pintu mobil.

Lukanya sudah tidak lagi mengeluarkan darah, tapi Baekhyun tahu Chanyeol sedang berusaha keras tidak kehilangan kesadarannya.

Mobil itu terus melaju, melewati banyak pohon-pohon besar dan jalan-jalan yang gelap.

Baekhyun terkesiap saat melihat kemana mereka akan pergi.

"Kita akan ke rumahnya? Gila! Apa Chanyeol punya ruang operasi sendiri? Kita bahkan tidak punya dokter!"

Gerbang rumah Chanyeol terbuka dengan otomatis saat mobil yang mereka tumpangi berjalan masuk. Alih-alih masuk ke bangunan utama, Jongin malah mengarahkan mobilnya ke dalam gudang yang terlihat lapuk. Tidak ada satupun dari kedua laki-laki di bagian depan tertarik untuk menjawab pertanyaan Baekhyun.

Jongin lalu menganggukkan kepalanya ke arah Sehun, memberi clue tentang apa yang akan terjadi. Sehun juga membalasnya dengan anggukan diam yang sama.

Mobil diparkirkan dan Sehun membopong Chanyeol untuk masuk kedalam pintu besi di dalam gudang tua itu, meninggalkan Baekhyun yang melihat mereka dengan tatapan tidak paham—dan sangat marah. Jongin pergi sesaat setelah ia keluar dari mobil dan sialannya entah kemana.

"Kita punya dokter disini, Jongin akan mengoperasinya," Sehun menoleh ke arah Baekhyun saat dilihatnya kakaknya itu menggeleng tidak percaya. "Jadi kau akan terus berdiam diri disini atau membantuku membopong suamimu ini?"

Baekhyun bergegas membantu Sehun, mengabaikan fakta bahwa adiknya mengatakan bahwa Chanyeol adalah suaminya.

Mereka masuk kedalam pintu besi berat itu dan disuguhi ruang steril dengan lampu berwarna putih dengan aksen dinding berwarna biru lembut.

Dan berbau antiseptik. Baekhyun benci ini.

Sehun membawa Chanyeol masuk kedalam ruangan dengan pintu kaca geser otomatis, persis seperti yang pernah Baekhyun lihat di drama-drama yang biasa ia tonton pada hari minggu pagi. Tangan Sehun mencegah Baekhyun untuk membantunya masuk lebih jauh.

"Kau bisa melihatnya dari sini, Baekhyun. Aku akan menjadi asisten Jongin."

Baekhyun menolehkan kepalanya ke arah Chanyeol, dan kulit laki-laki itu membiru, tetapi tatapan matanya yang lemah mengatakan sesuatu, ikuti apa maunya, Baekhyun. Aku akan baik-baik saja. Jangan menangis.

Baekhyun mengangguk kepada Chanyeol sebelum menarik lembut lengan telanjang Sehun, "Tolong."

Sehun tertegun selama sepersekian detik dan mengangguk kecil.

Mungkin itu adalah permintaan tulus Baekhyun yang pertama kalinya keluar dari kedua belah bibirnya, ia tidak pernah meminta seputus asa ini. Bahkan tidak pada saat natal atau thanksgiving.

Tolong, biarkan aku berbahagia dengannya sekali lagi.


Getting Darker


Dia terbangun—tidak, dia dipaksa untuk terbangun. Rasa sakit yang sedari tadi serasa berdentum dan mengalir dengan pekat di dalam tubuhnya kini menghilang, membuatnya bertanya-tanya apakah Jongin sudah melakukan sesuatu yang menakjubkan untuk lukanya sehingga mereka tidak sesakit sebelumnya.

ralat—sangat sangat sakit.

Chanyeol mengernyit saat ia memaksakan tubuhnya untuk duduk, karena yang ia lihat bukannya ruangan yang sering ia kunjungi untuk menunda kematiannya—melainkan sebuah ruangan putih bersih dimana seorang wanita bersama biola kesayangannya sedang berdiri di dekatnya, wanita yang menjadi kesayangannya sebelum ia pergi dan meninggalkan dirinya sendiri.

"Ibu?"

Wanita dengan gaun putih, wajah yang bersih, pipi merona dan bibir secerah apel merah, juga biola di tangan itu tersenyum cerah. Chanyeol mengernyit karena wajah ibunya memiliki sinar lembut, membuatnya sulit untuk memfokuskan pandangan dan menelaah wajah yang dirindukannya itu.

Chanyeol turun dari kasurnya dan berjalan perlahan. Membawa tubuhnya berdiri di hadapan sang ibu—yang selama ini selalu ia terka keadaannya.

Wow, jadi sekarang aku sudah mati?

"Ibu, kau—" Chanyeol tercekat, "—Kau tampak baik."

Yang ia maksudkan bukan hanya aura frustasi yang sirna dari kedua matanya, namun juga gurat wajahnya yang bahagia dan tatapan matanya yang mampu menenggelamkan Chanyeol dengan kenyamanan—sesuatu yang nyaris tidak dimilikinya dalam beberapa tahun terakhir.

Chanyeol jelas ingat bagaimana wajah Ibunya dulu, penuh dengan kekecewaan di dalam maniknya, juga wajah yang selalu basah dengan air mata saat memainkan nada nada kesedihan dari biola kesayangannya.

Bising. Mencekam. Sakit.

Wanita itu tersenyum, tangannya terjulur untuk menangkup wajah Chanyeol dan Chanyeol bersumpah demi apapun di dunia bahwa rasanya nyaman sekali. Seluruh tubuhnya terasa ringan dan hangat. Ia merasa begitu bahagia hingga rasanya ia bisa saja berteriak. Namun tidak ada alasan untuk tidak menangis, karena dirinya tahu ini semua berada pada dua opsi.

Dirinya yang mati atau otaknya yang berdelusi.

"Tentu saja aku baik." Suara lembutnya mengetuk pendengarannya, "Aku bahagia berkatmu."

Chanyeol tidak dapat menahan senyum, ia meremas tangan ibunya yang terdapat di wajahnya dengan penuh kasih sayang.

"Kau tumbuh dengan baik, Chanyeol." Kembali, wanita itu tersenyum, "Kau tampan. Sangat tampan."

"Ibu juga terlihat sangat cantik." Chanyeol melirih, "Kau tampak—Kau tampak sangat baik, Ya Tuhan, berjanjilah kau akan selalu terlihat seperti ini."

Melihat wanita di hadapannya hanya tersenyum, Chanyeol melanjutkan.

"Aku selalu memikirkanmu. Setiap waktu. Aku bertanya tanya apakah Tuhan menjagamu dengan baik, apakah Dia berbaik hati memberikanmu sayap dan membiarkanmu menjadi malaikat seperti yang selalu kau katakan padaku saat mengecup keningku di malam hari. Aku benar-benar senang, akhirnya kau bahagia."

"Kau pembohong kecil," Chanyeol mengernyit bingung saat melihat ibunya malah tertawa.

"Apa?"

"Kau tidak memikirkanku setiap waktu," Ibunya tersenyum geli, "Aku tahu. Kau memikirkan seseorang yang lain, seseorang yang cantik."

Chanyeol terdiam beberapa saat dalam kebingungan, namun saat dilihatnya manik ibunya penuh rasa penasaran dan kerlingan mengoda, ia dengan cepat menangkap keadaan.

"Ibu tahu soal—" Chanyeol tersedak, "—Baekhyun?"

"Apa aku tidak boleh mengetahui itu?"

"Tidak, tentu saja kau boleh. Hanya saja—" Chanyeol menggaruk kepalanya, tanpa tahu apa tujuannya melakukan gerakan canggung mencurigakan itu, "—Ini terlalu aneh untuk dibicarakan."

"Apa yang aneh dari seorang lelaki yang jatuh cinta?" Ibunya tersenyum geli sekali lagi, "Ayo ceritakan padaku. Bagaimana dia?"

"Apa maksudmu dengan bagaimana?" Chanyeol berujar ragu, kemudian dengan cepat menambahkan ;

"Dia cantik."

"Aku tentu tahu itu. Dia sangat cantik, ya. Tetapi yang kutanyakan adalah, bagaimana perasaanmu saat berada di dekatnya?"

"Tentu saja aku sangat—" Chanyeol menahan nafas, lalu membuangnya kembali, "—Bahagia."

"Oh sayangku," Wanita itu tertawa, "Akhirnya kau menemukan cintamu!"

"Ibu," Chanyeol terkekeh, "Jangan mengucapkan itu seakan akan kita sedang ada di dalam narasi drama, oke?"

"Tapi aku benar benar bahagia." Jemari lentik itu mengusap pipi Chanyeol kembali dengan sayang, "Kau melakukan segalanya dengan baik. "

"Kau juga harus hidup dengan baik." Chanyeol balas menatap wanita dengan gaun putih yang indah itu, "Hanya jika kau bisa hidup dengan bahagia, maka aku pun bahagia."

"Baiklah. Kau harus menjaga Baekhyun dengan baik. Berjanjilah padaku, oke?"

Chanyeol mengangguk, "Selalu."

"Aku harus pergi."

"Secepat ini?" Chanyeol mendesah kecewa, "Tidak bolehkah kau disini sebentar lagi?"

"Chanyeol sayang, melihatku lebih lama hanya akan membuatmu semakin merindukanku." Wanita itu memeluk dirinya dan mengecup pipinya untuk terakhir kali, "Sekarang hadapi kehidupanmu, Ibu akan selalu melindungimu."

Kata itu terngiang di telinganya selama beberapa saat sebelum kemudian dirinya seakan dikembalikan secara paksa ke dalam tubuhnya. Rasa sakit itu kembali, namun Chanyeol tahu semua akan menjadi baik-baik saja.

Baekhyun, Ibu bilang kau sangat cantik. Aku tidak pernah meragukan perkataannya. Sedikitpun tidak.


Getting Darker


"Baekhyun."

Tubuh mungil itu terlonjak sedikit, sebelum kemudian manik kecil itu terbuka walaupun terlihat tak sepenuh hati melakukannya—jelas masih mengantuk. Namun pikiran si mungil langsung tertuju pada keadaan seseorang saat pikirannya berjalan untuk kali pertama setelah istirahatnya tadi. Chanyeol.

"Apakah sudah selesai?" Baekhyun mengabaikan suaranya yang serak dan panik, "Bagaimana keadaannya?"

"Dia akan baik baik saja, percayalah." Jongin menjawab dengan tenang, "Sebaliknya, kau terlihat sangat berantakan. Jangan tidur disini."

Baekhyun mengusap matanya dan baru tersadar dia tertidur di lantai yang dingin, di depan ruangan dimana Chanyeol berada. Sejenak ia menertawakan dirinya yang tampak seperti pencundang bodoh, namun siapa peduli? Ia lebih memikirkan keadaan Chanyeol lebih dari apapun.

Baekhyun agaknya ingin menendang pantat Jongin yang menurutnya sangat jahat.

"Aku hanya ingin segera ada disana saat ia terbangun."

"Dan membuatnya semakin cemas karena melihat wajah pucatmu?"

Baekhyun terdiam.

"Sigh," Jongin menghela nafas, "Pergi dan tidurlah di manapun selain disini."

"Kemana lagi aku bisa pergi?" Baekhyun mendongak dengan manik berkaca, "Dia adalah segala dari tujuan dan rumahku."

Jongin tidak pernah tahu Chanyeol berarti sedalam itu bagi Baekhyun sehingga ia tidak menemukan kata lain untuk membalasnya. Sebenarnya senyuman geli nyaris muncul di wajahnya karena perkataan Baekhyun yang sangat cheesy.

"Terserah, tapi jangan harap Chanyeol akan senang melihat wajahmu yang seperti ini."

Pada akhirnya, Jongin tetap membiarkan lelaki mungil itu tertuduk di depan pintu hingga ia kembali tertidur.


Getting Darker


Baekhyun mengerjap beberapa kali. Merasa amat familiar dengan adegan ini namun tetap memaksa tubuhnya untuk bangkit dari kasur empuk yang entah sejak kapan ia tiduri. Interior dan bau kamar ini, terasa amat nyaman sekaligus menyenangkan hatinya. Maniknya menelisik sekeliling dan ia akhirnya sadar mengapa ia merasa tidak begitu asing.

Ini adalah kamar mereka berdua dulu, dirinya dan Chanyeol.

Senyum kecil tampil di wajahnya yang masih sekusut selimut.

Menarik pikiran ke belakang, Baekhyun merasa sangat rindu dengan segala yang ada disini. Bagaimana dirinya akan terbangun dengan bantuan cahaya matahari, dan pemandangan yang pertama yang memasuki retinanya adalah Park Chanyeol, orang itu. Semua itu membuatnya rindu. Walaupun pada saat itu, Baekhyun bersumpah ia tidak menyukai pemandangan itu sama sekali.

Sesuatu yang paling tidak kita inginkan dahulu, bisa menjadi yang paling dirindukan kemudian.

Seakan terkena sihir dan belenggu tak kasat mata, Baekhyun memejamkan mata dan menikmati aroma kamar yang sama sekali tidak berubah. Semua masih dalam posisi dan letaknya. Dan sialnya, semua iu membuat dirinya dapat melihat bayangan masa lalu di setiap sudut kamar. Ia kembali terbawa arus, masuk ke dalam ruang nostalgianya.

Membuatnya semakin merindukan Park Chanyeol.

Otaknya yang cerdas itu, mendadak mengingat sesuatu.

Maniknya beralih cepat kepada jam kayu besar yang terdapat di dinding. Tepat jam 11 malam. Itu artinya sudah hampir dua setengah hari Chanyeol berada di ruangan itu. Apakah dia baik baik saja? Apakah luka itu sudah membaik? Apakah perintah bedrest Jongin masih berlaku padanya?

Pemikiran itu membawanya berjalan dengan ceroboh hingga tersandung oleh kakinya sendiri beberapa kali.

Baekhyun berjalan menyusuri koridor, keluar dari beberapa lorong sehingga ia baru bisa mencapai ruangan tadi. Maniknya bergulir antara lampu merah yang masih menyala dan pintu yang di tutup rapat.

Menyadari bahwa lelaki itu belum selesai dengan pemulihan operasinya, Baekhyun memutuskan untuk berjalan gontai ke sebuah sofa di depan televisi. Tempat yang mana sering dia bayangkan sebagai sebuah tempat dimana ia dan Chanyeol akan bertukar makanan sambil menonton televisi. Mungkin menonton National Geographic dan mentertawakan gorila gila—itupun bila Chanyeol menyukainya.

Baekhyun mengangkat kakinya ke depan dada, menekuk lututnya kemudian menenggelamkan kepalanya disana.

Di dalam diam, matanya kembali terpejam. Namun ia tahu, hatinya masih tetap ada disana.

Chanyeol? Kau bisa mendengarku? Cepat bangun. Aku merindukanmu.


Getting Darker


Chanyeol membuka matanya saat rasa sakit di perutnya berangsur menghilang.

Ia melirik bangku besi dingin yang kosong di sampingnya. Kemudian beralih ke pintu kaca yang mengelilingi ruangan berbau obat. Tidak ada Baekhyun disana. Itu membuat darahnya berdesir tidak menyenangkan.

Entahlah, Chanyeol juga tidak mengerti ada apa dengan dirinya. Mungkin, dia hanya ingin seseorang itu ada untuk menyakinkan dirinya agar ia tidak bermimpi.

Atau mungkin, dia butuh seseorang untuk memperhatikan lukanya. Menanyakan apakah ia baik-baik saja.

Sejak kapan ia menjadi se-melankolis ini?

Chanyeol memang bukan superhero manapun, tapi luka tembak itu—sungguh, sebenarnya bukan sesuatu yang berat bagi lelaki itu. Nyatanya hanya dengan beberapa pemulihan, ia merasa cukup baik-baik saja. Kaki panjangnya ia turun dari kasurnya—berniat mencari lelaki mungil yang seingatnya menangis hingga nyaris tersedak saat melihat dirinya terluka.

Dan ia menemukannya beberapa langkah setelah pintu terbuka.

Baekhyun yang tertidur di sofa dengan selimut yang membungkus dirinya menyambut pengelihatannya. Chanyeol menggigit mulut bagian dalamnya karena ia gemas sekali. Bagaimana bisa seorang lelaki dapat menjadi semanis ini?

Yaampun, Baekhyun, kau tidak tahu seberapa besar keinginanku untuk menggigit pipimu yang lucu itu.

Lelaki itu lantas tersenyum hingga lesung pipitnya muncul, kakinya melangkah lebih ringan lalu tangannya mengeratkan selimut di tubuh mungil itu.

"Baekhyun," Seberapa pun imutnya Baekhyun, Chanyeol tidak ingin ia terus tidur disini dan berakhir pegal keesokan harinya, "Bangun. Jangan tertidur disini."

"Eh?" Baekhyun bergumam saat membuka matanya, tangannya yang mungil menggosok matanya guna menajamkan pengelihatannya,

"Chanyeol?!"

"Ya, ini aku." Chanyeol tersenyum, "Sangat lelah?"

"Kau bajingan sialan." Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol yang berlutut dihadapannya, "Mengapa kau terluka, hah? Lukamu, apakah mereka baik-baik saja?"

"Jangan cemas, aku sangat baik." Chanyeol mengelus rambutnya, sedikit tergelak saat mendengar rentetan kalimat jahat yang sarat dengan kekhawatiran yang muncul dari bibir Baekhyun yang manis, "Aku baik karenamu."

"Aku tidak sedang dalam mood untuk kau gombali." Baekhyun mencebikkan bibirnya kesal, "Jadi sekarang, biarkan aku melihatmu."

Chanyeol menurut saat Baekhyun menariknya dengan lembut untuk duduk disampingnya. Jemari mungil itu menyentuh wajahnya dengan cara yang menyenangkan, memeriksanya dengan teliti apakah ada luka lain disana. Chanyeol mendengus geli saat Baekhyun meringis melihat perban dengan bercak darah disana.

"Pasti sangat sakit."

"Ya, ini sangat sakit." Chanyeol berujar, tersenyum. "Jadi cium aku, dan hilangkan rasa sakitnya."

Baekhyun menatapnya, sama sekali tidak terlihat terkejut. Jemari lentiknya menangkup wajah Chanyeol dan lalu meraih bibir lelaki itu dan mengecupnya hati-hati, sebelum Chanyeol meraupnya lagi ke dalam ciuman yang lebih panas.

Chanyeol dapat merasakan tangan Baekhyun yang melingkari lehernya dan kemudian, menarik tengkuknya untuk semakin memperdalam lumatan demi lumatan dalam ciuman mereka. Chanyeol tersenyum saat bibir mungil itu takut-takut mencoba mengambil alih ciuman panas mereka.

"Aku sudah melakukannya keinginanmu," Baekhyun menarik wajahnya menjauh, " Jadi kau harus menuruti keinginanku juga, dasar menyebalkan."

"Baiklah," Chanyeol mendengus geli, "Apapun untukmu, manis."

Baekhyun menarik napas sangat panjang—Chanyeol terdiam untuk mendengarkan.

"Aku butuh starbucks, minimal dua kali sehari."

"Kau punya selera yang besar," Chanyeol terkekeh, "Tapi, bukan masalah. Check."

"—Dan kita harus jalan-jalan setiap hari minggu."

Chanyeol diam lalu mengangguk pasrah, "Check."

"Tidak boleh bertengkar dengan Sehun."

"Apa maksudmu dengan bertengkar?" Chanyeol mengernyit, "Aku hanya memperjelas teritoriku."

"Kau bukan serigala. Aku tidak sudi menyukai seorang serigala."

Menangkap maksud tersirat di dalam kalimatnya, Chanyeol akhirnya tersenyum. "Baiklah, Check."

"Kau boleh menginap di apartemenku."

Chanyeol menyeringai, "Hadiah Tuhan, Check."

"Aku ingin anak anjing."

"Bukankah kau alergi bulu binatang?"

"Hanya fakta yang dibuat-buat oleh media," Dengus Baekhyun.

"Baiklah, seekor anak anjing, Check."

"Dan juga, ajari aku cara menggunakan pistol."

"Check—apa?"

Chanyeol menatap Baekhyun dengan kerutan di dahinya beserta maniknya yang mendadak menggelap, "Apa maksudmu?"

"Ajari aku untuk menembak."

"Aku mendengarnya, hanya saja—" Chanyeol mendengus, "Maafkan aku. Aku mengerti. Setelah semua yang terjadi hari ini, kau pasti berpikir aku tidak cukup kompeten untuk melindungimu sehingga kau ingin belajar untuk melindungi dirimu agar tidak berakhir bodoh sepertiku—"

Baekhyun menangkup kedua sisi wajah Chanyeol dan menariknya agar pandangan mereka sejajar kini, "Kau mungkin terlihat dingin, tetapi sebenarnya kau sangat bodoh."

Chanyeol tidak menjawab, hanya balas menatap Baekhyun saat yang lebih mungil mulai menjelaskan.

"Kau, kau tidak tahu betapa paniknya aku." Baekhyun menunduk dengan sedih, "Aku pikir kau akan meninggalkanku. Bagaimana jika itu terjadi? Bagaimana aku akan menghadapi dunia ini bila kau pergi dariku? Kenapa kau selalu melindungiku, tapi tidak menginzinkanku melindungimu juga?"

"Itu karena—"

Baekhyun membungkam bibir Chanyeol dengan kecupan, "Diam, dengarkan aku dulu."

"Saat melihatmu ada di dalam sana, dengan selang selang dan ribuan kata medis yang bahkan tidak pernah kudengar sebelumnya, aku merasa sangat buruk. Aku tidak berguna. Kau bisa saja mati, tapi aku tidak melakukan apapun. Aku tidak bisa. Jika melindungiku akan membuatmu terluka seperti ini, lebih baik aku mati saja sekalian."

Chanyeol akan membuka mulutnya lagi, namun Baekhyun menyela dengan cepat.

"Setidaknya dengan itu, aku bisa menambah presentase kehidupanmu!"

Mereka terdiam. Baekhyun mengangkat wajahnya sehingga ia dapat menatap Chanyeol yang masih dengan tatapan lembutnya. Ditatap seperti itu, sedalam itu, membuatnya merasa begitu di cintai.

"Aku merasa menjadi bebanmu!" Baekhyun meraih kemeja lelaki itu dan meremasnya.

Lama tidak terdengar jawaban sebelum tangan hangat milik mafia itu melingkupi tangannya.

"Bagaimana kau bisa menjadi bebanku?" Chanyeol mengecup dahinya dalam, "Bila kau memang bebanku, aku tidak akan duduk dan menghabiskan waktu untuk mendengarkan seluruh perkataanmu. Aku tidak akan melindungimu malam itu, juga tidak akan membiarkanmu memelukku dan menciumku seperti ini. Aku adalah monster sebelum bertemu denganmu, Sayang. Tapi kau merubahnya, kau merubah monster itu menjadi seorang manusia, dengan segala kecantikanmu dan sikapmu. Kau merubahnya, kau membuatnya jatuh cinta."

Lelaki ini, dia benar benar mengetahui bagaimana bisa meluluhkan hati seseorang.

"Baekhyun," Chanyeol mengusap sisi wajahnya, wajahnya melembut walau rahang tegasnya masih terlihat gagah. Dia begitu tampan, Baekhyun selalu merasa begitu kecil begitu ia berada di dekat lelaki itu.

"Kau adalah salah satu ciptaan Tuhan yang paling indah. Percayalah padaku," Chanyeol tersenyum penuh, "Aku tidak tahu kebaikan apa yang pernah kulakukan sehingga aku bisa memilikimu."

Baekhyun mendengus, "Berhenti mengatakan hal-hal yang aneh."

"Dari awal, kedatangan dirimu kedalam hidupku memang sudah sangat aneh." Chanyeol mengelus rambut Baekhyun dengan sayang, "Kau sudah memerangkapku ke dalam hatimu, aku harap kau tidak pernah melepaskanku."

Baekhyun tersenyum geli, "Ini melenceng dari topik."

"Siapa peduli?" Chanyeol mengangkat alis, "Aku bisa melenceng dari dunia asalkan bersama dirimu."

"Kau bahkan lebih cheesy daripada saat Romeo menyusup ke balkon Juliette."

"Jika memang kau sangat ingin belajar untuk mengenggam pistol, baiklah, kau mendapatkannya," Chanyeol menangkat alisnya menggoda saat Baekhyun berpura-pura membuat gestur mual karena godaannya.

Baekhyun nyaris bersorak gembira sebagai selebrasi namun lelaki itu terlebih dahulu menarik Baekhyun ke pelukannya dengan dirinya yang menghadap dada bidang lelaki itu. Harum antiseptik—Baekhyun sebelumnya benci itu. Tapi ini Chanyeol, maka Baekhyun memutuskan untuk menyukai baunya juga.

Lagipula, apa aspek dari Chanyeol yang tidak bisa dicintai?

"Baekhyun, jika berada di dekatku seperti ini, kau pasti mendengarnya, kan?"

"Maksudmu, detak jantungmu?" Baekhyun menyandarkan tubuhnya ke dada liat itu, mendengar detakan jantungnya dengan seksama, "Ya, aku mendengarnya."

"Milik siapa itu?"

"Apa maksudmu?" Baekhyun terkekeh, "Tentu saja milikmu."

"Salah." Chanyeol menenggelamkan wajahnya ke pucuk kepala Baekhyun dan bergumam disana, "Setiap detakan jantungku adalah milikmu."

"Sudah cukup menggodaku, Tuan Mafia Besar." Baekhyun memainkan jemarinya di dada lelaki itu, "Atau aku akan berakhir jatuh mencintaimu berkali-kali lebih dalam."

"Aku mengharapkan itu terjadi. Sehingga kau bahkan tidak bisa bernafas tanpaku."

"... Itu terdengar mengerikan."

"Ayo hidup bahagia selamanya." Chanyeol tiba tiba berkata, "Ayo hidup bersama dan menunggu seluruh rambut kita memutih."

"… Nah, itu terdengar lebih baik."

"Maaf menginterupsi. Dan maaf telah mendengarkan percakapan yang penuh dengan gombalan yang kau kutip dari internet—aku tahu itu. Aku mendengar Hyung-ku yang manja ini ingin belajar melindungi suaminya dengan belajar menembakkan peluru? Aku menawarkan diri untuk mengajarinya, Tuan Park."

Chanyeol dan Baekhyun menoleh serempak pada Sehun yang berdiri bersandar di pilar, alisnya naik satu, seperti menunggu jawaban mereka. Raut wajah geli nyaris memenuhi wajahnya yang berusaha tampak datar.

"Sehun?" Baekhyun yang pertama kali menjawab, merasa tidak nyaman dengan posisinya sehingga ia akan beranjak pergi namun Chanyeol menahan dirinya agar tetap pada tempatnya.

"Mengapa kau ingin?" Chanyeol bertanya, "Kau tidak sedang merencanakan sesuatu yang aneh bukan? Karena jika ya, maka aku tidak akan memaafkanmu."

"Tentu saja tidak," Sehun mendengus, berjalan beberapa langkah mendekati mereka. "Aku hanya ingin."

Melihat Chanyeol yang masih terdiam, Sehun menambahkan.

"Lagipula, aku tidak akan berebut istrimu lagi, Tuan." Sehun mengangkat bahunya, "Jangan takut kalah tampan denganku."

"Apa?" Chanyeol menaikkan alisnya, tersinggung. "Aku jelas lebih tampan darimu."

Baekhyun terpana beberapa saat sebelum tersenyum dan menyadari keadaan saat ini.

"Tanya saja Baekhyun-Hyung. Hyung, aku lebih tampan darinya, ya kan?"

Ketika kedua pasang mata itu menatap ke arahnya serempak, Baekhyun merasakan letupan menyenangkan di dalamnya.

"Tentu saja, yang paling tampan adalah aku."

Sehun dan Chanyeol merubah ekspresi sehingga mereka nyaris terlihat seperti anak kembar sementara gelak tawa Baekhyun memenuhi ruangan.

Apa kita bisa menghentikan waktu? Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan ramuan itu.

Semoga kita bisa tetap berbahagia seperti ini. Tolong.

TBC


THANKS TO :

bbysmurf, WinaKim, kokobap, maulyaa, fadhilarah, Pyridam, silverlight15, Bubble, mawar biru, nocbnolife, hyuniee86, yousee, neemoth19, Nadivarahma614,milkybaek, byuncheeseu, hyuniee86, i baek you, chalienBeeB04, PeterChan, bil, veraparkhyun, , Lusianabaconcy0461, LyWoo, C just for B, Ovi Handayani Pakih, LUDLUD, restikadena90, yuichanzu, chie-sa, incandescense7, Fatihah Kim, YourOnlyMoon, dominic12345, PRISNA CHO, valbifleur, BabyWolf Jonginnie'Kim,meliarisky7, KertasBee, kickykekliker, PiggY614, shanaznurr, honeybabies61, groondy, Azzuree, , chanbaekowns, n3208007, 365 be With You, homohomoclub, Psch

.

.

[applemacaroon's note]

Hello! Long time no see, kira-kira sekitar sebulanan? Hehehe.

Jadiii sebenernya keterlambatan update ini murni karena kesalahan aku yang agak ribet sama real life aku sendiri, Jadi aku mau minta maaf ke kalian, Winter, dan beberapa orang yang mungkin kecewa sama aku gara-gara gabisa ngatur waktu antara nulis sama real life aku sendiri, Im so sorry

Dan, untuk Momentarily Covered mungkin masih akan dipending dulu dikarenakan aku harus fokus sama project ini dan project lain yang masih aku kerjakan.

Untuk kalian, jangan lupa jaga kesehatan dan jangan sampe sakit karena cuaca gajelas kan, berat, kalian gaakan kuat (what)

Ok jadiiiii, emang di chapter ini pendek dan ga terlalu nonjolin masalah because aku pikir cerita ini butuh pemanis wkwkwk.

Dan satu lagi, pas nulis bagian thanks to, aku bener bener mau terimakasih sama kalian yang udah review follow fav cerita ini, karena awalnya aku bener bener gapercaya kalo cerita ini bakal dapet sebegini banyaknya orang yang mendukung, dan sekarang udah lebih dari 200 orang yang support. Thanks a lot!

.

[WinterJun09's note]

Hulahula semua~!

Hari sabtu-minggu bahagia dengan momen 'saranghae'nya Chanbaek kan? *tebarbunga*

Chanbaek udah go-public tuh, kamunya kapan? *eheh

Apa yang kamu pikirkan tentang chapter ini? Let me and kak Applemacaroon know~!