Di lain sore, saat Miyoshi menghampiri Johanna di sisi gerbang sekolah, ia menangkap kemurungan yang tidak biasa dari raut wajah Johanna. Ketika ditanya, Johanna menjawab bahwa ia memang sedang dilanda kegelisahan akan sebuah opini, yang tiba-tiba menyeruak di kepalanya.

Johanna gundah terhadap wajah hitam negerinya─Jerman─pada Perang Dunia Kedua. Ia juga mengungkapkan kecemasan bahwa, entah mengapa dirinya selalu dibayang-bayangi mimpi buruk akibat kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh para leluhurnya.

"Tahu tidak, Miyoshi-san? Salah satu kebijakan pemerintah kami yang banyak ditentang oleh negara-negara Eropa ialah: betapa murahnya kami menerima gelombang imigran dan pengungsi yang membanjiri Jerman."

"Aku tahu," jawab Miyoshi tanpa bermaksud menyombongkan diri, "kalian sebut itu sebagai upaya penebusan dosa masa lalu, benar kan?"

"Betul. Meskipun telah berganti generasi, tapi rasa bersalah itu seolah terwarisi, bukannya terkubur dalam bumi."

"Sudahlah," Miyoshi tak menemukan kalimat sebagai penghibur selain: "toh semua tinggal masa lalu."

"Andaikan semudah itu, Miyoshi-san. Kenyataannya, perasaan bersalah itu kerap datang menghantui kami." Johanna mendesahkan napas pelan. Ia berjalan seraya menatap kosong kerikil-kerikil jalanan. Benaknya dipenuhi bayangan-bayangan mengerikan yang tergambar melalui buku-buku: sebuah rezim tirani yang menyulut peperangan, menghalalkan perbudakan, melegalkan pembantaian, dan kekejaman demi kekejaman lain yang tiada habisnya. Bagaimana bisa kebrutalan seperti itu terjadi?!

"Kalian tahu apa yang harus dilakukan," suara Miyoshi menarik Johanna dari kecamuk pikirannya, "jangan biarkan kejahatan kemanusiaan itu kembali terulang."

Miyoshi menatap Johanna penuh pengertian. Rambut pirangnya yang panjang melambai-lambai ditiup angin sore. Ia baru tahu, di balik mata sebiru lautan itu tersimpan ombak kegelisahan yang tak seharusnya ada. "Mau tahu satu fakta berbeda tentang kalian, yang jarang dimiliki oleh bangsa lain sedunia?"