"Fakta apa?" Johanna menoleh pada pemuda berambut cokelat. Matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.
"Kau tahu sebagian sejarah negeriku?"
Johanna tak mengerti mengapa Miyoshi malah menanyakan itu, namun ia tetap menganggukkan kepala, hingga tersadar oleh sesuatu: "kita kan pernah menjadi sekutu!"
"Bagus! Kau mengerti!" Miyoshi menyahut dengan antusias, seolah ia telah berhasil mengingatkan perkara besar yang terlupa. "Coba lihat! Apa yang kita lakukan dulu tak jauh berbeda. Bangsaku─bangsa kita─menjajah negeri-negeri orang. Kita datang pada mereka...," Miyoshi menegaskan kata 'kita' seraya bertanya-tanya, haruskah generasi baru menanggung dosa masa lalu milik para pendahulu? "...membawa slogan pembebas, dan menebar janji manis kemerdekaan, tapi apa yang terjadi?"
"Kita tipu mereka. Kita ukir nama kita sendiri sebagai penjahat dalam buku-buku sejarah dunia," ujar Johanna pahit.
"Tapi kalian berbeda," Miyoshi menukas.
"Berbeda apanya?" Johanna mengernyit.
"Kalian itu pemberani dan lapang dada," jelas Miyoshi.
Ketika Jepang atau Inggris misalkan, menutup-nutupi kejahatan masa lalu (kolonialisme) mereka, lain halnya dengan bangsa Jerman. Apa yang dilakukan Jerman justru sebaliknya. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Di sekolah-sekolah, generasi baru diajarkan sejarah kelam generasi lama. Tak lain sebagai pelajaran, supaya sejarah (aib masa lalu itu) jangan sampai terulang.
"Kau tahu," kata Miyoshi lagi, "kami─generasi muda Jepang─jarang ada yang mengetahui peninggalan generasi lama di negara-negara pendudukan pada masa lalu: genosida, perbudakan, pemerkosaan. Kita anggap semua itu: perang itu sudah selesai. Padahal kenyataannya, mungkin banyak orang-orang yang lukanya masih belum sembuh, atau air matanya belum mengering. Bukan sekadar fakta-fakta mengerikan yang terkuak dalam buku, tetapi trauma yang ditinggalkan Jepang pada mereka di masa perang."
Mereka sampai di persimpangan jalan─hendak berpisah menuju arah masing-masing─ketika Miyoshi bicara panjang lebar mengenai opininya. Johanna tertegun. Satu lagi realita menyedihkan produk peperangan, yang sama sekali baru diketahuinya.
"Biarlah sejarah jadi pelajaran masa lalu..." kata Miyoshi. "Jadikan ia sebagai lecutan semangat untuk masa depanmu."
Johanna mengangguk. "Kupikir seharusnya begitu." Ia masih berusaha mencerna kebenaran dalam kalimat panjang lebar Miyoshi.
"Lalu, untuk kasus kalian, apa yang kalian perbuat?" Johanna balik bertanya. "Kalian pasti tidak hanya tinggal diam kan?"
"Meminta maaf, kau tahu? Tapi, memangnya itu cukup? Mereka tidak puas hanya dengan kata maaf."
"Dapat dimaklumi. Yah, namanya juga dosa masa lalu. Siapa yang sudi melihat kakek nenekmu dilukai, tiba-tiba ada orang asing datang padamu, meminta maaf atas peristiwa masa lalu, padahal perkara tidak semudah itu."
"Ibarat hutang," kata Miyoshi, "hutang darah yang diwariskan oleh nenek moyang. Kau harus menanggungnya, atau reputasimu yang terancam."
"Ironis sekali. Kita harus menanggung dosa yang bukan milik kita."
"Ingat. Segalanya kembali pada titik tadi: jadikan sejarah sebagai pelajaran, agar jangan sampai ia terulang."
"Yah. Kalau sudah bicara sejarah, pasti tidak akan ada habisnya," ujar Johanna, "setidaknya, kali ini aku lega, Miyoshi-san. Danke. Arigatou."
Saat itulah Johanna tersadar, bahwa ia tengah memandang Miyoshi dengan cara yang berbeda. "Kau─kalian─pasti juga bisa, melepaskan diri dari cengkeraman masa lalu, dan membenahi citra buruk kalian di mata dunia."
Johanna merasakan debaran hangat yang menyenangkan ini, di antara deru mesin kendaraan yang berlalu lalang, kemerlip lelampu yang berkilauan menyapu kegelapan, dan di hadapan sosok bermata seterang bintang, dibanding belantara sastra terindah mana pun, semua ini lebih dari sekadar pesona yang menyesatkan.
"Dou itashimasite, Johanna. Untuk itu lah kita berjuang. Tak usah sungkan bertukar pikiran."
Miyoshi melemparkan senyuman, dan sebuah kerlingan. Gadis pirang dengan sikap natural dan asumsi cerdas itu, ia tak sabar, ingin segara kembali melihatnya di seberang jendela. Ia tahu bahwa, jembatan pelangi─yang akan menghubungkan kedua jendela─itu sedang terbangun perlahan-lahan.
A/N: Untuk chap 2&3, saya ingin berucap terima kasih secara khusus kepada teman-teman grup Trio Panzer; rasyalleva dan madeh18, atas diskusi dan pengetahuan yang mereka bagikan, terutama tentang fakta 'berbedanya Jerman dari yang lain dalam menyikapi sejarah hitam mereka,' juga 'generasi muda Jepang jarang ada yang mengetahui sejarah (kelam) negeri mereka semasa PD II'. Akan tetapi, bagi yang ingin mengoreksi atau memiliki perbedaan opini, saya akan terima dengan tangan terbuka ^^
Saya baru teringat insiden Hiroshima&Nagasaki, dan berpikir alangkah bagus jika topik ini ditambahkan dalam sudut pandang mereka berdua. Tapi mungkin itu akan diangkat dalam waktu dan judul yang lain ;-)
