Jika biasanya, yang sering memanggil melalui jendela ialah Miyoshi, sore ini Johanna yang menyeru nama Miyoshi. Namun, gadis itu justru menemukan keganjilan sikap yang baru kali ini dilihatnya. Miyoshi tak merespon panggilan hingga kali ketiga. Ketika Miyoshi menoleh pun, tanpa antusiasme berarti sebagaimana kebiasaan mereka sebelumnya.
Miyoshi tampak sedang meremas-remas gumpalan kertas, sebelum kemudian bilang supaya Johanna turun menunggunya di gerbang depan. Pemuda itu begitu lihai menyembunyikan kelesuannya, tetapi Johanna tahu ada yang salah dengan Miyoshi hari ini.
Sesampaianya mereka di gerbang sekolah, Johanna mengutarakan idenya. Ia mengajak Miyoshi menuju tebing sungai, menatap langit senja dan matahari terbenam.
Mereka bercengkerama─yang lebih banyak didominasi oleh Johanna. Ketika langit biru perlahan menggelap, dan surya terang digeser oleh kemerlip bintang, barulah Johanna tahu sumber kegelisahan Miyoshi.
"Dunia anak-anak?" tanya Johanna seraya memandang selembar pamflet berwarna di tangannya.
Bunkasai. Johanna mengucapkannya dengan mata berbinar antusias. Ia seperti tengah menghayati pelafalan kata itu dengan aksen Jerman-nya─yang terdengar lucu.
"Tema pekan festival tahun ini."
Mata Johanna semakin bersinar. Ia berdecak kagum. Ini kali pertama dirinya menyaksikan langsung festival yang paling ditunggu-tunggu oleh segenap murid sekolah di seantero Jepang.
"Kelihatannya seru!"
Apalagi, Bunkasai kali ini ialah yang paling istimewa. Selain festival antar-kelas, pihak sekolah juga mensponsori perlombaan kreativitas khusus bertemakan "dunia anak." Terbuka bagi seluruh lapisan murid, secara individu maupun kelompok. Tema itu harap di-interpretasikan sebebas dan sekreatif mungkin, sebab akan dipertontonkan di podium aula sekolah, di hadapan dewan guru dan orang tua murid. Hadiah dan piagam penghargaan telah menanti, bagi yang beruntung menyabet gelar juara.
Miyoshi menggeleng-gelengkan kepala, geli akan antusiasme (berlebihan) sang dara Jerman.
"Bagian mananya yang sulit, Miyoshi-san? Masih ada waktu seminggu sebelum hari-h bukan?"
Miyoshi tidak sekadar ingin turut serta, namun ia juga berambisi mengincar kursi juara, akan tetapi─"Inspirasi," jawab Miyoshi seraya mengembuskan napas pendek-pendek. "Aku kehilangan inspirasi."
Johanna mengernyit. Kegembiraannya seketika menguap. Ia tidak tahu persis bagaimana perasaan Miyoshi, tetapi dirinya paham akan hal itu. Diam-diam, Johanna telah menulis cerita-cerita pendek, yang hingga saat ini, semua mendekam dalam tumpukan buku berdebu di sudut kamar. Ketika ide-ide dan inspirasi─untuk apapun itu, seni menulis maupun melukis─menguap, sangat sulit memperolehnya kembali, dan butuh perjuangan yang tidak mudah untuk mengembalikannya.
Mereka diliputi keheningan. Sungai di bawah sana, memantulkan kemerlip langit bertaburkan bintang, dan suara gemericiknya, beradu dengan tiupan sejuk angin malam.
"Miyoshi-san ...," panggil Johanna.
Miyoshi mengalihkan pandangan, dari langit berbintang menuju wajah sang perempuan. Keduanya sama-sama bersinar seolah ingin saling mengalahkan.
"Kolaborasi. Bagaimana? Mau tidak?"
Johanna tahu, ini tindakan yang begitu berani. Akan tetapi ia ingin mencoba, barangkali saja Miyoshi berminat atas tawarannya.
"Maksudmu? Kau yang akan menulis cerita, lalu aku yang melukiskannya, begitu?"
Johanna mengangguk. "Tak ada larangan kan? Kita boleh berkolaborasi?"
Miyoshi mendengus geli. "Kolaborasi? Seperti istilah kalian─"
"─istilah yang dibuat buku sejarah," Johanna mengoreksi, "bagi para pengkhianat anak-anak negeri yang membantu pendudukan Jerman di masa itu."
"Kalau kau punya ide bagus, bodoh rasanya jika aku tidak tertarik."
