Hari-hari berikutnya, mereka rutin bertemu dalam rangka membahas rancangan proyek yang dibutuhkan.
Di ruang klub melukis yang merangkap klub fotografi itu, Johanna memindahkan 'tempat semedi'nya dari perpustakaan.
Hanya Miyoshi satu-satunya anggota klub seni. Kaminga─satu-satunya anggota klub faotografi─itu lebih sering nongkrong di klub jurnalis, menuntaskan kontraknya.
"Si Bakaminaga ini," kata Miyoshi "tak segan menyogok Yoshino-sensei, demi menyelamatkan ruang klub ini dari penggusuran."
"Omong besar kau, Miyoshi... toh kau juga makan untungnya," berkutat di depan laptop dan kamera Nikon-nya, Kaminaga menjawab sengit.
Johanna menyimak dengan tergelak. Ia menyukai ini. Ruangan yang sejak lama hanya bisa dipandangnya dari seberang jendela di perpustakaan sana, ternyata tidak terlalu lebar. Berbentuk persegi panjang, selebar lorong yang hanya bisa diisi tiga orang. Akan tetapi, ruangan ini nyaman. Johanna duduk di sudut, dekat pintu. Meja besar di depan jendela─yang biasa Johanna lihat melalui perpustakaan─sedang dipakai Kaminaga. Miyoshi duduk berlutut di lantai bersamanya.
"Huh? Untung apanya? Tanpa usahamu pun, masih ada ruangan sebelah yang akan menampungku. Tempat Trio M3─manga, merpati, massanger─itu."
"Ya terus, kenapa masih di sini? Bukannya pindah, hah? Pergi sana!"
"Tsk... Diam, Kambing. Dipanggil bosmu tuh... "
Adu mulut Kaminaga dan Miyoshi berakhir ketika ada yang mengetuk pintu. Kaminaga bergegas. Kamera dan laptopnya dibawa serta.
Miyoshi bilang itu tadi sudah biasa. Mereka sering memperdebatkan hal-hal yang remeh temeh sekalipun. Itu pula yang membuat Miyoshi─mungkin juga Kaminaga─enggan melepas status 'kepemilikan' ruang super mini ini kepada siapa pun. Ada ketenangan yang menyelusup bersama angin sepoi-sepoi yang melewati jendela. Inspirasi dan imajinasi, kerap mereka temukan meluncur jatuh dari langit kota Tokyo yang mengintip dari jendela.
Bahwa Kaminaga yang bercita-cita menjadi fotografer lepas itu memulai mimpi dari sini, bersama Miyoshi. Cerita itu meluncur bersamaan dengan sobekan kertas yang terserak di lantai, goresan pensil sketsa Miyoshi di atas kertas lecek yang dihapus berkali-kali, dan coretan pulpen Johanna pada buku note di atas meja lipat.
"Kalian lucu," komentar Johanna, "senang melihat candaan kalian."
"Begitulah..." kata Miyoshi, "dia suka memulai masalah."
Ia melihat bagaimana eratnya persahabatan Miyoshi dengan Kaminaga, menerbitkan sesuatu yang ganjil dalam dirinya. Iri? Apalah dirinya yang belakangan baru mengenal Miyoshi... Berdiri di antara dua sahabat, ia seperti sedang salah tempat.
Renungan Johanna buyar saat pintu kembali diketuk. Kali ini seorang bertubuh tinggi, bekulit tan, dan berwajar datar, menyembul dari balik pintu. Aroma panekuk yang baru diangkat dari pemanggang, selezat selai blueberry yang meleleh-leleh di atas piring. Itu Fukumoto, rekan mereka berdua, anggota klub masak─sebelum ini, Fukumoto adalah bagian dari "Trio K3" (kamera-kuas-kompor) hingga klub tata-boga itu memperoleh tempat tersendiri karena banyaknya peminat.
Fukumoto meletakkan piring panekuk dan dan gelas jus strawberry di atas meja. Ia bilang hanya bawa dua porsi, tidak tahu akan ada tamu.
Miyoshi memprotes rasa manis yang mendominasi kudapan. Ia menjawab bahwa bagiannya diberikan untuk Johanna, dan ia makan punya Kaminaga.
Tidak banyak manisan, kata Fukumoto. Jus strawberry itu tanpa gula. Ketika ia bilang hendak kembali untuk mengambil bagian Kaminaga, Miyoshi mencegahnya. Sekali-sekali, tak usah bermurah hati pada Bakaminaga.
Johanna merasa tak enak hati mendengarnya. Ia menolak gagasan ini. Tak mengapa, ia tak makan kudapan. Toh dirinya hanya tamu. Namun, Miyoshi memaksanya untuk menerima.
Fukumoto menuruti Miyoshi. Barangkali, bagian Kaminaga akan disimpan untuk diberikannya secara diam-diam.
