Di sela kesibukan mempersiapkan festival kelas masing-masing, mereka sanggup memanfaatkan lebih banyak waktu yang tersedia. Di hadapan mereka berdua, terserak tumpukan kertas karton, kertas note, kertas sketsa, kertas lukis, dan klipingan referensi berupa gambar, esai dan cuplikan berita dari berbagai sumber.
Di papan itu, Miyoshi tengah melukis. Ia meminjam aliran naturalis kontemporer. Penggunaan cat minyak berwarna pekat dan gelap yang mendominasi.
Johanna berkutat dengan pena dan buku tulis, sesekali ia membantu Miyoshi merautkan pensil sketsa dan mengaduk komposisi cat.
Mereka sempat berbeda pendapat seputar tema yang akan diangkat. Mulanya, Miyoshi tidak setuju dengan ide Johanna. Terlalu murahan, katanya. Akan tetapi, setelah memilah-milah begitu banyak ide dan topik, serta pendirian Johanna bahwa konsep "dunia anak" itu dapat mencakup kategori yang lebih luas, dan jelas bahwa dongeng dan cerita anak ialah yang paling mendekati persepsi.
Cerita anak, menurut Johanna, selalu mampu menyentuh semua kalangan, dari kanak-kanak hingga dewasa. Kau bisa temukan orang dewasa yang masih menyukai dongeng anak. Barangkali itu mengingatkannya pada nostalgia masa kecil. Tetapi tidak berlaku dengan sebaliknya.
Akhirnya, mereka berkompromi. Cerita itu berlatar di masa peperangan, mengambil inspirasi dari unsur persaudaraan dalam dongeng Hansel dan Gretel.
.
Miyoshi bertanya mengapa Johanna tidak mengambil klub tertentu. Ada klub koran dan majalah dinding jika Johanna ingin mengembangkan bakat menulisnya. Miyoshi terkesan oleh kepandaian bahasa dan satstra Johanna.
Johanna bilang bahwa ia kurang percaya diri membaur dengan teman-teman. Perpustakaan dan buku bacaan memberinya lebih banyak kenyamanan. Namun kemudian, Johanna luluh oleh desakan Miyoshi supaya bergabung dengan klub tertentu. Janji tersebut akan dipenuhi setelah festival sekolah berakhir.
Miyoshi menceritakan persiapan kelasnya, kelas 2-D. Mereka akan mempersembahkan drama panggung bertema "mata-mata." Beruntung, Jitsui yang gesit itu berhasil mem-booking teater sebelum diserobot kelas lain. Sebab jika tidak, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, mereka hanya akan disuguhi opera sabun murahan yang membosankan.
Johanna bilang bahwa kelasnya akan membuka kafe maid. Ia tak sabar ingin merasakan sensasi keramaian dan kemeriahan festival. Miyoshi terkekeh membayangkan gadis Jerman ini berdiri di hadapannya, seraya mengenakan celemek maid dan bando telinga kucing. Objek lukisan yang menarik.
Johanna memandang lekat gerakan tangan Miyoshi, yang dengan cermat memoleskan kuas di atas kanvas. Halus, seperti memebelai bayi. Rancak, garis-garisnya simetris. Penuh, seakan ia meniupkan nyawa dalam setiap garis dan warna.
Sadar dirinya diperhatikan, Miyoshi menginterupsi, bertanya apakah Johanna ingin coba menggenggam kuas? Johanna tersenyum dan menggeleng. Berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa, ia mengalihkan perhatian pada buku tulisnya kembali.
.
Ada sekitar dua puluhan lembar lukisan yang berhasil Miyoshi tuntaskan dalam kurun waktu tiga hari. Ruang klub Trio K3 sempit, tidak cukup menampung papan dan bingkai lukisan Miyoshi, jadilah mereka menitipkannya dalam ruangan milik klub Trio M3.
Jitsui tidak menyukai gagasan barang titipan Miyoshi. Ia nyaris mengancam akan membunuh temannya itu andai tidak segera dilerai oleh Tazaki.
Klub Jitsui, kebetulan juga akan mengikuti perlombaan ini. Jitsui mengajukan tantangan, bahwa sengketa kedua belah pihak harus dibayar di atas panggung. JikaTrio M3 menang, duo Jerman-Jepang wajib bayar ganti rugi, dan menyerahkan ongkos sewa ruangan.
Tak masalah, Miyoshi dan Johanna menyambut tantangan. Jika mereka berdua yang menang, atau kedua belah pihak (trio dan duo) menyabet juara─itu artinya seimbang─mereka harus dibebaskan dari pungutan.
Hasil kerja keras mereka berupa film pendek dengan konsep lukisan visual. Berjudul "Steiner dan Liener", membawa nama pena Vega dan Altair. Apabila karya mereka mengambil isnpirasi dari Hansel dan Gretel, maka duet pena dan kuas mereka terilhami oleh kisah Orihime dan Hikoboshi.
