Tittle : Devil Beside Me chapter 2

Cast : Park Chanyeol ( EXO ), Byun Baekhyun ( EXO ), Oh Sehun ( EXO ), Do Kyungsoo (EXO ), Xi Luhan (EXO ), Kim Jongin (EXO ), Kim Kibum (SHINee ), Choi Minho ( SHINee ), Lee Taemin (SHINee ) and others .


W.O.W .. aku gak nyangka respon dari kalian untuk ff ini bener-bener bagus.

Woaaaahhh aku ngerasa gak sia-sia nyuri-nyuri waktu di tengah sibuknya jadwal kuliah . Wkwkwkwkw..

Kalian bener-bener semangat aku guys, makasi buat semua review yang masuk, makasi buat saran dan juga kritikanya.

Maaf buat keterlambatan aku hehehehe..

Mungkin aku gak bisa kayak author lain yang update tiap minggu atau tiga hari sekali wkwkwkw..

Makasi udah setia nunggu ff ini, makasi banyak

Mengingatkan sekali lagi ya teman-teman, fanfiction ini bersifat dewasa, vulgar, tanpa sensor, dan yang paling penting ini adalah YAOI, sekali lagi YAOI, atau orang lain bilang GAY, orang awam bilang HOMO, orang yang suka mengkritik bilang MAHO ( + kata "Iuuuh"/ "Iiih"/"jijik" didepannya ), jadi kalau kalian suka yang NORMAL, atau HETERO atau kata orang pinter, pasangan yang "Seharusnya", yang "wajar", yang sesuai dengan "kitab suci" maka aku sarankan untuk gak baca, resiko ditanggung pembaca lho ya wkwkwkwkwk..


Devil Beside Me

Chapter 2

By : ParkShiTa

..

.

( Diakhir ada Q and A, mohon sempatkan membaca ya)


Flaskback On

Seorang lelaki yang baru menginjak remaja, dengan tubuh mungil menggeliat dalam tidurnya. Keringat memenuhi pelipisnya bahkan hingga membahasi bantal yang ia gunakan.

"HAAAH..HAAH..HAAH.." Ia terbangun dengan nafas terengah, matanya terbuka lebar dan bibirnya terbuka untuk mengeluarkan udara yang bahkan tidak bisa keluar dengan benar melalui saluran pernafasan semestinya.

Ia bermimpi buruk, mengingat dengan detail setiap gangguan yang selalu ia terima setiap harinya. Hingga sampai kejadian terakhir yang ia alami, dirampok oleh beberapa orang pengangguran yang mabuk, dan juga dipukuli hingga tak sadarkan diri di sudut gang yang gelap dan lembab.

Ia mencoba bangkit , ketika kesadarannya mulai terkumpul. Tapi sesuatu kesakitan yang ia rasakan membuat usahanya tertahan dan ia mengernyit. Rasa sakit di tempat yang tidak wajar, ia ingat dengan jelas bagian-bagian yang menjadi sasaran pukul perampok amatir itu.

Tapi ia tidak ingat, bagian dimana perampok-perampok itu memukul ataupun menyentuh dibagian anusnya. Jadi ia menyibak selimutnya dan matanya membulat terkejut mendapati sebuah fakta bila ada yang salah dengan tubuhnya. Ada beberapa memar di bagian perutnya yang ia tahu adalah ulah perampok-perampok itu, tapi tidak dengan bercak-bercak kemerahan disekitar paha dan juga dadanya.

Yang lebih membuatnya terkejut adalah noda merah dan putih yang mengering di sekitar paha dan juga spreinya. Air matanya turun tanpa ia sadari, dan ia memilih menarik kedua lututnya, memeluknya dan menangis di balik lipatan tangannya.

Tok…

Tok..

Tok..

"Baekhyun, Baekhyun? Apa kau di dalam? Bergegaslah, kau harus sekolah sayang." Suara ibunya membuat remaja bernama Baekhyun itu menghentikan tangisnya.

"Ibu~" ucapnya dengan suara yang serak.

"Hari ini aku tidak ingin sekolah bu, aku sedang tidak enak badan." Ucapnya pelan, berusaha meredam isakannya. Tidak terdengar suara dari balik pintu untuk beberapa detik, sampai sebuah ketukan kembali terdengar.

"Apa kau sakit? Sakit apa sayang? Maafkan ibu, kemarin ibu ketiduran jadi tidak tahu kau sudah pulang." Sahut suara wanita dari balik pintu. Baekhyun terdiam. Benar. Ia bahkan tidak ingat kapan ia pulang dan bagaimana ia bisa berada di dalam kamarnya.

Ia mencoba mengingat kembali secara detail, dan yang ia ingat hanya sebuah sosok tinggi dan berpakaian hitam yang datang dan melumpuhkan perampok itu, tapi setelahnya Baekhyun tidak ingat lagi.

"Ibu, aku sedang ingin sendiri. Jangan cemas, aku sudah besar, sebaiknya ibu berangkat ke kantor saja." Ucapnya pelan, tapi kecemasan masih terdengar dari ibunya.

"Aku baik-baik saja ibu. Percayalah!" dan ucapan itu seperti mantra, hingga tak ada ketukan lagi dari wanita di balik pintu kamarnya.

Baekhyun merebahkan tubuhnya dan ia kembali menangis di balik bantalnya. Ia hanya tak ingin membuat ibunya yang berstatus orangtua tunggal, menjadi khawatir.

Baekhyun tahu betul bagaimana lelah ibunya mencari uang untuk membiayai mereka berdua, setelah kepergian sang ayah akibat kecelakaan dalam kontruksi bangunan beberapa tahun silam.

Keesokan harinya Baekhyun terbangun dan keanehan kembali ia rasakan. Sakit dan perih pada daerah anusnya, juga beberapa cairan yang mengering dan berbau aneh yang ia dapati pada selangkangan dan juga spreinya.

Baekhyun bangkit dan melihat dirinya di pantulan cermin, betapa tubuhnya terlihat berantakan dengan bercak-bercak kemerahan yang Baekhyun sendiri tidak tahu darimana asalnya.

Dan semua terulang di pagi-pagi berikutnya, ia terbangun dengan keadaan berantakan dan tubuh telanjang, juga satu hal yang baru ia sadari, jendela kamarnya selalu terbuka dengan lebar, padahal ia ingat setiap malam ia selalu menutup bahkan menguncinya dengan erat.

Karena bercak-bercak itu, Baekhyun selalu datang kesekolah dengan pakaian hangat sekalipun cuaca sedang panas. Tidak ada satupun yang bertanya perihal keadaan Baekhyun, kecuali ibunya dan para guru, karena Baekhyun tidak pernah memiliki teman sama sekali.

Bukan karena ia yang menutup diri, ia bahkan terbilang mudah bergaul ketika kecil, tapi seiring beranjak dewasa ia berubah menjadi lelaki yang cantik, dan hal itu membuat banyak gadis dan bahkan lelaki yang menaruh hati padanya.

Ketika berada di tingkat 5 sekolah dasar, Baekhyun mengikuti kelas drama. Ia memang suka dengan seni peran itu dan memiliki bakat yang diakui beberapa guru pembimbingnya.

Lalu diadakan sebuah audisi untuk sebuah drama "Romeo and Juliet" yang akan ditampilkan dalam ulangtahun sekolah ,juga akan dipakai dalam perlombaan tingkat provinsi.

Untuk itu semua siswa dan siswi bersaing dengan ketat untuk mengisi posisi Romeo dan Juliet. Sampai akhirnya posisi Romeo didapatkan oleh Choi Siwon, lelaki paling tampan dan tenar di sekolahnya.

Hal itu membuat para siswi semakin ketat bersaing untuk merebutkan posisi Juliet, entah dengan cara benar ataupun tidak. Baekhyun tidak peduli, ia senang dengan perannya sebagai seorang pelayan kepercayaan Romeo. Baekhyun bukan tipikal orang yang pemilih dan berambisi, ia hanya bocah lugu yang mencintai apapun yang ia dapatkan.

Dan posisi Juliet didapatkan oleh Kim Taeyeon. Anak dari Kepala Sekolah di sekolah dasarnya. Banyak yang tidak suka, dan banyak yang mencurigai hal tersebut, tapi sekali lagi Baekhyun tidak peduli, ia hanya menyukai perannya dan berlatih siang dan malam bersama ibu dan ayahnya.

Sampai sebuah gossip menyebar bahwa orangtua Kim Taeyeon ternyata menyogok pihak sutradara untuk mendapatkan peran tersebut, sehingga banyak yang mencoba untuk menjatuhkannya.

Kala itu Baekhyun sedang terburu-buru untuk buang air kecil, sampai ia melihat Kim Taeyeon merengek pada ayahnya agar pada pementasan drama adegan ciuman antara Romeo dan Juliet diperagakan, walau sebenarnya itu tidak diperbolehkan mengingat usia mereka yang masih kecil.

Ternyata tidak hanya Baekhyun, beberapa siswi lain juga mendengarnya dan mereka sempat terkejut lalu mereka memilih bersekongkol untuk menjatuhkan Kim Taeyeon. Baekhyun sangat akrab dengan para gadis-gadis di sekolahnya dan juga akrab dengan para lelaki , dia adalah pribadi yang hangat. Untuk itu ketika diajak bersekongkol Baekhyun tidak menyetujui tapi tidak juga menolak.

Semula semua berjalan biasa, hanya para gadis-gadis yang membuat forum ketika latihan dan meninggalkan Kim Taeyeon yang sombong yang lebih memilih mendekati Choi Siwon.

Tapi semakin lama, para siswi itu mulai menjadi-jadi, dan Baekhyun tidak menyangka anak-anak yang masih duduk di sekolah dasar mampu berpikir untuk menyakiti seseorang.

Mereka berencana untuk mencelakai Kim Taeyeon, jadi ketika gadis itu turun dari tangga , beberapa gadis lain mendorongnya hingga ia terjatuh lalu mereka bersembunyi sementara Baekhyun yang tidak tahu apa-apa yang hanya membeku di tempat karena shock , hanya berdiri menatap horror kearah Kim Taeyeon yang tergeletak dilantai sambil menatap dirinya.

Karena itu Kim Taeyeon masuk rumah sakit dan harus dirawat inap karena tulang kakinya bergeser, serta cidera pada tulang punggungnya. Taeyeon menuduh Baekhyun pelakunya tapi karena tidak ada bukti yang jelas, pihak sekolah tidak bisa menghukum Baekhyun.

Posisi Juliet pun kosong dan para siswi berebut untuk mendapatkannya, forum yang mereka bentuk untuk mencelakai Kim Taeyeon bubar dan mereka malah menjadi musuh.

Tapi tidak ada yang memenuhi kriteria seperti yang diingkan sutradara sampai akhirnya, sutradara itu berkata ia memilih Baekhyun mengingat wajah Baekhyun yang cantik alami dan sedikit polesan akan membuatnya menjadi seorang perempuan yang cantik.

Hal itu membuat semua terkejut, namun tidak ada yang bisa membantah ketika sang sutradara mengeluarkan perintah. Jadilah Baekhyun berperan sebagai Juliet dan mengingat keinginan Kim Taeyeon untuk mengadakan adegan ciuman itu, dan naskah sudah diperbaharui ,membuat mau tidak mau Baekhyun dan Siwon harus berciuman berulang kali di setiap latihan dan juga ketika pementasan, hingga membuat para gadis dan Kim Taeyeon membencinya.

Baekhyun dijauhi karena dianggap musuh dalam selimut, dan ketika Kim Taeyeon sembuh ia menjadi orang yang selalu membuat Baekhyun tersiksa di setiap harinya. Sedangkan Choi Siwon, sosok itu semakin dekat dengan Baekhyun, hingga akhirnya ia menyatakan perasaann, namun Baekhyun yang kala itu adalah lelaki normal memilih untuk menolaknya.

Penolakan Baekhyun membuat seluruh sekolah semakin membencinya, lalu mengganggunya setiap hari disekolah , ditambah Kim Taeyeon dan anak buahnya yang selalu membuat hari Baekhyun buruk.

Tidak sampai disitu, bahkan ketika mereka lulus dan memasuki tingkat pertama sekolah menengah pertama, mereka bertemu lagi. Dan kebencian Kim Taeyeon tidak berubah, ia terus menyebar berita buruk tentang Baekhyun dan membuat hari-hari Baekhyun semakin buruk disetiap tahunnya.

Dan gangguan yang ia hadapi setiap harinya membuat pribadi Baekhyun yang ceria berubah menjadi tertutup dan penyendiri. Ia tidak mempercayai siapapun, terakhir ia mempercayai seorang gadis sebagai temannya, ternyata hanya bagian dari rencana picik seorang Kim Taeyeon untuk merusak kehidupannya.

Hingga saat ini, hingga ia berusia 13 tahun orang-orang disekitarnya selalu menatapnya dengan pandangan berbeda, ada yang membencinya, dan ada yang begitu mencintainya, seperti para guru yang sangat mengagumi kepandaian seorang Byun Baekhyun.

Tapi peristiwa yang ia hadapi sekarang, peristiwa janggal yang bahkan tidak bisa dijelaskan dengan logika membuat Baekhyun semakin membenci hidupnya.

Ia tahu dirinya telah mengalami pelecehan, tapi ia tidak tahu siapa sosok yang melakukan itu padanya.

Setiap harinya hal itu terus berlanjut, bahkan Baekhyun sudah hafal dengan benar, kapan tubuhnya akan penuh dengan bercak dipagi hari dan kapan tidak.

Yang ia tahu setiap bulan purnama hingga bulan itu tidak berbentuk bulat lagi maka ia mengalami pelecehan itu, tapi ketika fase bulan itu berubah, hingga sampai fase bulan mati Baekhyun tidak pernah menemukan bercak kemerahan ditubuhnya dan juga jendela yang terbuka, jadi Baekhyun menyimpulkan jika sosok itu adalah makhluk dari dunia lain.

Suatu pagi, Baekhyun merasakan mual, ia berlari kearah kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perutnya. Ibunya terlihat panik dan menyuruh Baekhyun istirahat juga memberi beberapa obat penurun panas karena tubuhnya demam.

Semakin hari intensitas muntah Baekhyun semakin meningkat, tubuhnya sering merasa lelah dan lemas, dan penciumannya menjadi sensitive terhadap hal-hal dengan bau tajam dan perutnya pun membesar.

Kibum yang khawatir dengan kondisi Baekhyun membawanya ke dokter dan hasil diagnosa adalah ada sebuah benda asing di dalam perut Baekhyun, jadi dugaan pertama dokter ialah Baekhyun memiliki tumor.

Semakin hari, kondisi Baekhyun semakin memburuk namun nafsu makannya meningkat membuat para dokter heran,karena berbanding terbalik dengan pedoman yang mereka pelajari, akhirnya mereka melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan ditemukan sebuah kehidupan di dalam perut Baekhyun.

Para dokter mengira itu adalah janin binatang yang hidup dan berkembang di dalam tubuh Baekhyun, yang mungkin tertelan secara tidak sengaja ketika berbentuk larva dan akhirnya bertahan hidup di dalam tubuh Baekhyun.

Dokter memberikan berbagai macam obat untuk mematikan janin tersebut agar tidak berkembang lalu kemudian dioperasi, karena melakukan operasi langsung diumur Baekhyun yang masih kecil sangat berbahaya untuk itu mereka membunuhnya di dalam baru mengeluarkannya, tapi bukannya mati organisme itu semakin tumbuh.

Di akhir keputusasaanya, Kibum meminta dokter untuk mengangkat benda asing tersebut secara hidup-hidup, walau dokter melarang tapi Kibum tidak ingin putra semata wayangnya terus menderita.

Saat akan mendatangi rumah sakit, Kibum bertemu dengan seseorang yang sangat cantik dan berkata dia adalah Dokter kandungan secara tak langsung. Lalu Kibum menceritakan perihal keadaan Baekhyun, dan Dokter itu menawarkan diri untuk merawat Baekhyun, tanpa biaya yang besar dan melarang Kibum untuk melakukan operasi karena persentase keberhasilannya hanya 30 %.

Kibum senang dengan cara dokter itu menjaga Baekhyun, dokter cantik itu rutin berkunjung setiap harinya hanya untuk mengecek bagaimana kondisi Baekhyun dan dua bulan berjalan kondisi Baekhyun semakin membaik walau perutnya membesar.

"Dokter, kenapa perut Baekhyun semakin membesar?" tanya Kibum sambil mengelus kepala Baekhyun yang tertidur, Dokter itu tersenyum dengan lembut.

"Itu wajar karena makhluk di dalam dirinya tumbuh, setelah waktunya makhluk itu akan keluar , aku menjanjikan kesembuhan untuk putramu Nyonya Byun."

"Apa itu akan baik-baik saja?"

"Tentu. Kau tidak perlu meragukanku." Ucap dokter itu sambil merapikan peralatan diagnosanya.

Ketika usia kandungan Baekhyun mencapai 4 bulan, dokter itu memberitahukan pada Baekhyun dan Kibum jika di dalam perut Baekhyun telah berkembang janin. Janin itu bukan janin binatang melainkan janin manusia.

Bahkan janin itu tumbuh dengan baik di dalam rahim Baekhyun dan makan dengan baik melalui tali plasenta yang terhubung antara Baekhyun dan janinnya.

Kibum memekik terkejut, begitu pula Baekhyun yang langsung tidak sadarkan diri. Bagaimana bisa Baekhyun yang seorang lelaki memiliki rahim dan mengandung.

"Jangan bicara omong kosong dokter!" pekik Kibum murka, Dokter itu menggeleng pelan.

"Aku tidak berbohong, lagipula untuk apa aku membuat sebuah lelucon. Aku sudah melakukan pemeriksaan menggunakan Ultrasonography dan hasilnya positif jika Baekhyun hamil."
"Tapi ba..bagaimana bisa? Putraku adalah lelaki dan ia tidak mungkin memiliki rahim."

" Hal ini disebut Persisten Mullerian Duct Syndrome.Dimana dalam kasusnya seorang lelaki memiliki organ yang normal, namun juga memiliki organ wanita salah satunya rahim yang berfungsi. Perbandingannya 1 : dan Baekhyun adalah satu diantaranya." Ucap sang dokter. Kibum membeku, tubuhnya terjatuh dan terduduk diatas sofa dnegan tatapan kosong.

"Ta..tapi bagaimana bisa putraku hamil diusianya yang masih kecil, i…itu berarti ada yang menanamkan benih di tubuhnya?" ucap Kibum terbata. Dokter itu mengangguk pelan dengan wajah sedih.

"Maafkan aku." Ucap sang dokter, Kibum menoleh dan mengernyit. Dokter itu mengangkat wajahnya dan menggeleng pelan.

"Maaf karena putramu harus mengalami ini, aku sebagai seorang dokter turut prihatin dengan kejanggalan di dunia kedokteran ini, tapi aku akan membantunya, aku akan membuat bayi itu lahir."

"Bagaimana jika kita menggugurkannya?"

"JANGAN!" Kibum terkejut dan dokter itu mengedipkan matanya cepat.

"Itu akan membahayakan Baekhyun, biarkan janin itu tumbuh dan lahir."

"Tapi_"

"Percayalah, semua ini adalah takdir." Ucap dokter itu dan membuat Kibum lebih tenang.

Setiap harinya sang Dokter dan Kibum merawat dan memantau kegiatan Baekhyun, bahkan Baekhyun dilarang untuk bersekolah, sehingga ia harus cuti untuk sementara.

Baekhyun begitu membenci kehidupan di dalam perutnya, berulang kali ia menginginkan bayi itu mati. Tapi sang dokter selalu melarang Baekhyun, dan membuat Baekhyun hidup dengan sehat demi kelangsungan bayinya.

Walau Baekhyun tidak pernah mengatakan pada Kibum siapa orang yang telah menanamkan benih di tubuhnya, tapi Kibum tidak pernah memaksa.

Sampai suatu ketika Baekhyun menangis di dalam pelukannya dan menceritakan hal yang ia alami, Kibum terkejut tapi ia berusaha terlihat tenang, keselamatan Baekhyun adalah yang utama ia tidak peduli pada makhluk yang telah menghamili putranya.

Hari-hari Baekhyun terasa berat karena perutnya semakin membesar, Baekhyun benci ketika ia harus tidur dengan posisi terlentang , ia benci ketika perasan mual kembali muncul terkadang, ia benci ketika ia merasakan tendangan dari dalam tubuhnya.

Baekhyun juga membenci makanan-makanan aneh yang masuk ke mulutnya, pemeriksaan rutin yang harus ia lakukan dan juga bagaimana tubuhnya kesulitan berjalan ketika kandungannya mencapai usia 9 bulan dan selama itu pula Baekhyun tidak pernah keluar rumah.

"Aku membencimu, aku membenci kehadiranmu dan orang yang telah membuatmu berada dalam tubuhku, bahkan ketika kau lahir aku tidak sudi kau memanggilku dengan sebutan ibu, hikss..hiks.." Baekhyun selalu terisak di dalam kamarnya setiap malam dan ucapan yang sama yang selalu ia tujukan untuk janin di dalam perutnya.

Suatu malam Baekhyun merasakan sakit yang luar biasa, ia menangis sambil memegang perutnya. Rasa nyerinya tidak tertahankan, ia menjerit dan ibunya datang dengan panik. Malam itu hampir tengah malam, dan tanpa berpikir panjang Kibum menelpon dokter kenalan mereka.

Dokter itu tiba dan segera menyiapkan peralatanya, ia meminta Kibum menunggu di luar. Dengan pasrah Kibum menyerahkan keselamatan putranya pada sang dokter.

Baekhyun menjerit kesakitan dan dokter itu membuka celana serta baju Baekhyun, ketika merasakan sentuhan di wajahnya, Baekhyun tidak sadarkan diri.

Kibum menunggu dengan cemas, berdoa dalam hati untuk keselamatan Baekhyun, tidak sampai sejam ia mendengar suara tangisan bayi dan tubuh Kibum nyaris ambruk.

Pagi harinya Baekhyun dikejutkan dengan sosok bayi yang tertidur pulas disampingnya dengan kain yang membungkus tubuh sang bayi. Baekhyun mencoba bangkit dan menjauh tapi tubuhnya benar-benar sakit.

"Dia anakmu Baekhyun, sayangi dia!" ucap sang dokter yang duduk di sofa di depan Baekhyun.

"Tidak! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengakuinya sebagai anak. Dia adalah kesialanku, aku membencinya. Ibu jauhkan dia dariku, bila perlu buang dia, buang dia ibu.. hiks.." Baekhyun menangis, mencoba mendorong bayi mungil dengan kulit masih merah itu menjauh darinya, dengan cepat Kibum mengambilnya lalu membawa bayi itu keluar.

"Bagaimanapun dia lahir dari rahimmu, dia anakmu Baekhyun."

"Aku membenci bayi itu maupun ayahnya." Ucap Baekhyun dengan mata terluka kearah sang dokter.

"Ini yang disebut takdir, kau tidak bisa mengelak."

"Aku membenci takdirku, ini terlalu kejam, bahkan aku tidak tahu siapa yang menghamiliku dan makhluk seperti apa dia?" ucap Baekhyun lagi, dokter itu mendekat dan tersenyum.

"Mungkin sekarang belum, tapi suatu saat kau pasti akan bertemu dengannya. Pasti."

Flashback Off

..

.

"K-kau?" Chanyeol terkejut bukan main, melihat Baekhyun yang berada dibawahnya kini membuka mata sambil menatapnya dengan tatapan ketakutan. Chanyeol juga menegang dan ia benar-benar terkejut, sampai ia tersadar bahwa ia belum meniupkan angin penidur untuk Baekhyun.

Baekhyun sama terkejutnya, untuk pertama kalinya ia bertatapan dengan mata biru yang selalu mendatanginya setiap malam, bahkan dengan jarak yang begitu dekat. Baekhyun mengingat mata biru itu, mata yang ia lihat pertama kali di sudut gang ketika ia nyaris tak sadarkan diri.

Chanyeol segera bangkit membuat penyatuan mereka terputus, Baekhyun memejamkan matanya merasakan sakit yang begitu menjalar ke seluruh tubuhnya.

Ia membuka matanya dan memundurkan tubuhnya takut, walau sosok yang ia takuti itu memilih menghadap jendela dan memunggunginya.

"Kau sungguh biadab." Ucap Baekhyun lirih, ia menutupi tubuhnya dengan selimut, matanya memerah dan basah. Ia benar-benar membenci sosok itu, sosok tak berperasaan yang merusak hidupnya.

"Kenapa kau melakukan ini padaku?" Baekhyun terisak, tapi matanya memancarkan kemarahan.

"Aku tertarik padamu." Sahut Chanyeol masih memunggungi Baekhyun. Baekhyun menatap tubuh telanjang itu dengan kesal, walau ia akui bentuk tubuh itu begitu bagus dan perkasa, tapi tubuh itulah yang selalu menidurinya setiap malam, hingga ia harus merasakan sakitnya mengandung.

"Se..sebenarnya kau itu siapa ? dan apa salahku padamu, kenapa kau menghukumku seperti ini? Aku…aku…"

"Jangan menangis! Aku membenci air mata." Ucap Chanyeol dingin masih tidak menoleh, ia hanya terlalu pengecut untuk menatap mata Baekhyun.

"Hiks…hiks.. kau bilang jangan menangis? Bagaimana mungkin aku tak menangis, apa kau merasakan betapa tersiksanya aku? Apa kau tahu akibat dari ulahmu? Apa kau tahu betapa sakitnya mengandung? Apa kau tahu hah? Apa_" ucapan Baekhyun terhenti ketika sayap Chanyeol keluar dari balik punggungnya.

Tubuh Baekhyun gemetar, ia tidak tahu sosok apa yang ada dihadapanya. Pakaian yang semula tergeletak kini berterbangan dan langsung menuju ke tubuh Chanyeol, lalu terpasang dengan rapi.

"Aku tahu. Aku tahu semua tentangmu Byun Baekhyun. Tak ada satu inchi pun yang terlewat dariku. Kau… kau satu-satunya yang berhasil membuatku melupakan diriku yang sebenarnya." Ucap Chanyeol dengan suara yang begitu berat. Baekhyun merasakan tubuhnya semakin menegang, ketika Chanyeol berbalik ia terkejut melihat betapa tampannya sosok Chanyeol.

Rahang tegas itu, sorot mata yang tajam namun meneduhkan, postur tubuh yang tinggi dengan kaki yang jenjang, dada yang bidang dan bibir yang begitu seksi. Baekhyun sempat berpikir jika sosok itu adalah tokoh yang berasal dari manga.

Chanyeol melangkahkan kakinya pelan, tapi Baekhyun beringsut mundur hingga punggungnya menabrak kepala ranjang.

"Jangan mendekat! Aku mohon" Baekhyun menutup matanya ketika jemari Chanyeol ingin menyentuh wajahnya. Chanyeol terdiam, bahkan Baekhyun memalingkan wajahnya kesamping seolah enggan tersentuh oleh tangan bejatnya.

"CHANYEOL INI DARURAT!"

Chanyeol merasakan telinganya berdengung keras dan ia menghela nafas.

"Malam ini malam terakhir aku mendatangimu, aku harus menunggu hingga_"

"Jangan datangi aku lagi! Aku bahkan tidak ingin melihat wajahmu! Kau telah menghancurkan hidupku, siapapun kau, aku mohon jangan mendatangiku lagi." Ucap Baekhyun dengan suara yang lirih.

Chanyeol mematung, entah mengapa ia merasakan dadanya sesak dan sakit. Ia pikir ini efek karena ia emosi akibat ulah Luhan, tapi tidak, kali ini rasanya berbeda.

BLASH
Chanyeol hilang bagaikan debu, Baekhyun terkejut untuk kesekian kalinya dan ia menatap udara kosong di hadapannya. Lalu beralih menatap kearah jendela dimana terlihat bulan penuh mulai berubah menjadi bulan sabit.

"Aku harap bulan purnama tak akan pernah terjadi lagi." Ucap Baekhyun lalu merebahkan dirinya dan menangis sambil menggosok-gosok bekas-bekas saliva ditubuhnya.

..

.

Chanyeol berjalan dengan kesal ke dalam istana. Sayang kekuatannya disita sehingga api yang ia miliki tidak bisa menjadi pengungkapan ekspresinya ketika marah.

"ADA APALAGI?" bentak Chanyeol sambil membanting pintu ruang tengah. Dimana seluruh anggota keluarganya berkumpul.

Chanyeol begitu terkejut ketika melihat kedua kakeknya duduk di kursi utama, lalu ada ayah dan ibunya serta kedua saudaranya. Bahkan ada beberapa penasehat kerajaan yang berkumpul disisi kiri dan kanan.

Chanyeol terdiam di tempat dan ia membawa langkahnya masuk dengan perlahan. Kakek malaikatnya menggeleng dan menatap tidak suka kearah Chanyeol, sementara Kakek iblisnya menatapnya dengan penuh kebanggaan.

"Aku sudah memperingatimu." Bisik Luhan ketika Chanyeol mengambil duduk disampingnya.

Ruangan itu adalah ruangan besar dan panjang yang digunakan sewaktu-waktu bila ada rapat ataupun membahas sesuatu yang penting dan terkadang sebagai tempat pertemuan untuk para malaikat dan iblis.

Ruangan dengan desain hitam, merah dan emas yang mendominasi, di tengah ruangan berdiri dua buah singgasana, dan di sisi kiri dan kanan ruangan terdiri dari kursi-kursi untuk para petinggi lainnya.

Biasanya hanya ada sebuah karpet merah yang membentang sepanjang ruangan, tapi kini ada sebuah kursi di tengah ruangan dan Chanyeol tahu untuk apa pertemuan ini diadakan.

"Chanyeol, majulah!" ucap kakek iblisnya. Chanyeol bangkit dan berjalan dengan angkuh lalu duduk di sana. Ia menatap kearah kakek malaikatnya , ibunya , Kyungsoo dan juga penasehat kerajaan Infernus di sisi kirinya, didominasi dengan warna putih dan juga ribuan butiran salju yang turun dari atas, membuat para malaikat dingin.

Sedangkan disisi berlawanan ada perwakilan dari kerajaan Nubes. Dimana kakeknya duduk dengan angkuhnya diatas singgasana.

"Kau tahu apa kesalahan yang telah kau lakukan?" tanya raja malaikat. Chanyeol memasang wajah datar dan ia menatap kearah mata raja malaikat.

"Ck! Kau benar-benar tidak sopan santun. Aku tidak ingin berlama-lama ditempat ini. Kau harus dihukum atas kesalahan yang kau lakukan."

"Apa? Memangnya apa kesalahan yang kulakukan? Lagipula itu_"

"CHANYEOL! Tenanglah." Ucap Taemin, Chanyeol memutar bola matanya malas. Raja malaikat menjentikan jarinya dan seorang penasehat berdiri dari duduknya lalu mengeluarkan secarik kertas.

" Senin 24 Januari 2016 ,Pukul 21.15, Chanyeol telah membuat seorang manusia pingsan karena menghantamkan sebuah pot bunga, pria tersebut mengalami pendarahan di bagian kepalanya, tapi beruntung seorang penjaga menemukan pria tersebut." Ucap penasehat itu, Chanyeol menggertakkan rahangnya.

"Kau hampir menghilangkan nyawa manusia." Ucap raja malaikat.

"Aku tahu, tapi_"

"Menggunakan kekuatan di dunia manusia adalah sebuah pelanggaran serius. Kau kaum iblis boleh saja menghasut para manusia tapi tidak boleh menyentuh mereka, terkecuali mereka menjual nyawanya pada iblis. Apa kau mengerti?" ucap raja malaikat.

"Tentu."

"Lalu kenapa kau melanggarnya? Tidakkah kau ingat kesalahan di masa lalu yang kau perbuat? Beruntung ibumu membuatku meringankan hukumanmu, seharusnya kau dikurung di ruang tahanan istana Infernus agar kekuatanmu hilang."

"Ekhem! Tidak baik bukan membicarakan masa lalu? Hm, aku tidak tahu jika kaum malaikat sekarang suka menyimpan dendam." Ucap raja iblis dengan gayanya yang cuek.

Raja malaikat melirik kearah raja iblis dan ia memutar bola matanya malas.

"Aku tidak akan membuang waktu, ada banyak hal yang harus aku kerjakan di istana." Ucap raja malaikat.

"Memangnya siapa yang meminta mengadakan pertemuan ini? Membuang-buang waktu berliburku saja." Sahut raja iblis sambil melihat kearah lain. Raja Malaikat menggeram kesal, tapi ia mencoba menahan emosinya.

"Mulai sekarang kau tidak boleh turun lagi ke dunia manusia. Luhan yang akan menggantikan tugasmu berpatroli dan kau menggantikan tugas Luhan untuk mendata jiwa-jiwa yang masuk."

"Apa? Aku tidak mau."

"Ini bukan tawaran tapi hukuman. Baiklah_"

"Tunggu! Jangan lakukan ini padaku, Kakek. Aku tidak bisa jika tidak turun kedunia manusia." Ucap Chanyeol. Raja Malaikat memutar bola matanya malas, sedangkan raja iblis menghela nafas.

"Jangan seperti ini ayah, berikan hukuman lain." Ucap Taemin.

"Ini adalah hukuman teringan yang aku berikan, jangan memanjakannya, dia itu iblis, mereka pintar berkamuflase." Ucap raja malaikat sarkatis.

"Setidaknya kami pintar mengacaukan perasaan orang lain." Sahut raja iblis membela kaumnya.

"Tunggu! Pukul 21.15 Chanyeol memang mencelakai seorang manusia dengan kekuatannya, tapi saat itu ayah telah menyita kekuatannya, jadi Chanyeol hanya menggunakan tenaga dalamnya, semua tahu itu tidaklah mudah dan tujuannya melakukan itu adalah menolong seorang manusia." Ucap Luhan sambil berdiri, semua mata tertuju padanya dan semua mendadak terkejut mendengar penuturan Luhan.

"Penasehat itu tidak membacakan dengan lengkap, aku melihat sendiri tulisan yang tertera disana bahwa Chanyeol membantu seorang manusia, tapi ia tidak membacakannya." Ucap Luhan sambil menunjuk seorang penasehat kerajaan Infernus yang kini nampak gugup.

Semua yang hadir benar-benar terkejut, terutama dibagian CHanyeol menolong seorang manusia. Raja iblis mengerutkan keningnya, sedangkan Minho menatap tak percaya karena putranya membantu manusia, dimana hal itu merupakan pantangan untuk seorang iblis.

Sedangkan Taemin ia tersenyum kearah Chanyeol, bagaimana pun Chanyeol masih memiliki darah malaikat.

"Kalian dengar? Putraku tidak sepenuhnya salah." Ucap Taemin yang kini berdiri.

"Aku selaku putra mahkota, memutuskan untuk mencabut hukuman yang raja iblis berikan, sebagai gantinya aku menghukum Chanyeol dengan hukuman yang lain." Taemin berdiri sambil menatap kearah Chanyeol dan tersenyum.

..

.

Hari Baekhyun tidak berbeda dengan hari biasanya. Ia sendiri dan dimusuhi. Tapi Baekhyun seolah acuh, ia memilih menghabiskan waktu makan siangnya di dalam perpustakaan untuk membaca berbagai buku yang ia sukai. Sejarah adalah pelajaran favoritnya.

Baekhyun memang tidak suka pergi ke kantin, ia hanya tidak suka menjadi pusat perhatian dan sasaran kejahilan teman-temannya. Pernah sekali ia memutuskan untuk makan siang karena ia lupa untuk sarapan, ia berakhir dengan menjadi bulan-bulanan beberapa geng popular di sekolahnya.

Makanannya disiram dengan air, dan kuah dari supnya di disiramkan ke kepalanya. Baekhyun ingin menangis kala itu, tapi ia tidak ingin seseorang melihat sisi lemahnya. Baekhyun hanya seorang remaja lemah yang berusaha terlihat kuat.

Jadi semenjak itu, ia memilih membawa bekal dari rumah dan memakannya di sudut perpustakaan, hanya sebungkus roti dan susu stroberi kesukaannya, karena jika membawa makanan berat ia takut ketahuan oleh penjaga perpustakaan.

Ketika bel pergantian berbunyi, Baekhyun segera menutup bukunya, mengangkatnya dan berjalan keluar dari pepustakaan.

Baekhyun benci ketika harus berjalan di koridor, karena semua mata memandangnya dengan tatapan benci dan jijik. Entah darimana asalnya, tapi semua teman sekolahnya memandang Baekhyun adalah lelaki penghibur yang suka ditiduri oleh para pria. Bukan tanpa sebab, tapi suatu waktu ketika akan berganti pakaian untuk pelajaran olahraga, Baekhyun yang memilih berganti paling akhir tidak menyadari kedatangan teman-temannya ke ruang ganti dan mendapati dirinya setengah telanjang, dimana terdapat banyak bercak merah disekujur tubuhnya yang selama ini selalu ia tutupi.

Mengingat itu membuat Baekhyun kembali membenci sosok makhluk yang memperkosanya tanpa perasaan. Baekhyun masuk ke kelas dan melihat Tuan Han, seorang pria paruh baya yang mengajar mata kuliah Bahasa Inggris sudah berdiri di depan kelas.

Baekhyun memberi hormat dan lelaki itu menyeringai kearah Baekhyun. Baekhyun berjalan kearah bangkunya dan seperti biasanya beberapa pasang mata menatapnya dengan tatapan mencemooh. Dia duduk di sudut belakang, di kursi dekat jendela seorang diri, tidak ada yang ingin menjadi teman sebangkunya.

Waktu berjalan dan pelajaran berjalan dengan tenang. Beberapa siswa ingin menguap namun mereka urung mengingat Tuan Han adalah guru tergalak di sekolah mereka. Awalnya semua berjalan lancar, namun ketika sesi latihan soal dimulai, saat itu Baekhyun merasa sikap Tuan Han menjadi aneh.

Lelaki paruh baya itu menghampiri Baekhyun ke bangkunya, berdiri disampingnya sambil meletakan satu tangannya di pundak Baekhyun.

"Apa ada yang tidak kau mengerti Byun Baekhyun?" tanyanya dengan suara berbisik. Baekhyun menggelinjang, tapi ia mencoba untuk bersikap tenang.

"Ti..tidak Tuan Han."

"Oh, baguslah. Jika_" Tuan Han menggantung ucapannya dan tanganya beralih menyusuri punggung Baekhyun dan mengusap-ngusapnya pelan.

"Jika kau kesulitan kau bisa menemuiku diruanganku setelah kelas usai."

"Te-terima kasih Tuan Han."

"Jangan sungkan."

"Baik." Sahut Baekhyun sambil mencoba menggerakan tubuhnya agar tangan pria itu menjauh darinya.

Baekhyun tahu, ketika gossip tentang dirinya yang menjadi seorang "lelaki penghibur" menyebar, banyak yang mulai mendekatinya disamping membencinya. Terutama dikalangan guru-guru pria yang sangat menginginkan tubuh Baekhyun. Untuk ukuran pria tubuh Baekhyun memang menggoda, tapi Baekhyun sama sekali tidak memiliki tujuan untuk menggoda pria manapun, ia hanya memiliki sebuah daya tarik yang besar untuk kelamin sejenis dengannya.

"Yak! Apa yang kalian lihat! Cepat kerjakan! Kau lelaki dengan kaca mata, maju dan kerjakan soal nomer 1!" teriak Tuan Han membuat siswa yang lain terkejut termasuk Baekhyun yang memilih untuk menatap bukunya.

Baekhyun bernafas lega ketika waktu pelajaran telah usai. Banyak siswa yang berlomba-lomba berlari keluar kelas sambil membawa baju olahraga mereka. Pelajaran olahraga menjadi pelajaran selanjutnya hari ini.

Semua siswa dan siswi sudah berkumpul di lapangan, dibawah sinar matahari yang masih terik. Mereka berbaris rapi dan mulai berhitung. Ketika Guru mereka memerintahkan untuk membagi kelas menjadi dua 4 group, 2 group lelaki dan 2 group perempuan, mereka segera mencari teman akrab mereka.

Para siswi bermain voli dan para lelaki bermain sepak bola. Sial bagi Baekhyun karena ia terpilih menjadi keeper, hal yang sebenarnya harus ia hindari, terakhir menjadi keeper ia berakhir masuk rumah sakit karena terkena tendangan bola dari temannya.

Baekhyun berdiri dengan gemetar, tapi ia berusaha tenang. Ketika seseorang menendang, Baekhyun sudah mengambil ancang-ancang, namun keanehan mulai terlihat ketika dengan sengaja seorang temannya menendang bola dengan keras kearahnya dan teman-teman yang lain malah memberi jalan sehingga tanpa bisa menghindar bola itu menghantam wajah Baekhyun.

Baekhyun terjatuh di tanah , ia memegang hidungnya yang terasa perih dan ia terkejut ketika melihat hidung dan bibirnya berdarah. Ia menatap kearah teman-temannya dan mereka lebih terlihat seperti tertawa ketimbang perihatin atau sekedar membantunya.

"Yak! Apa yang terjadi?" Teriak guru mereka yang sejak tadi sibuk berada di tempat para siswi sambil memperhatikan payudara mereka yang melompat-lompat ketika bergerak.

"Ada yang terluka Tuan Song."

"Siapa? Astaga Baekhyun? Kau baik-baik saja?" Baekhyun mengangguk lalu bangkit, ia menyeringai kearah teman-temannya dan mengusap darah yang membasahi hidungnya.

"Kau pergilah ke UKS, kau aku izinkan untuk tidak mengikuti pelajaran hari ini." Baekhyun memberi hormat lalu segera berlalu menuju ke dalam gedung sekolah.

Baekhyun mengetuk pintu UKS dan seorang gadis berjas putih menghampirinya.

"Astaga, Baekhyun? Kau terkena pukulan bola? Lagi?" Baekhyun mengangguk lalu berjalan kearah ranjang dan membaringkan diri disana.

"Mereka sungguh keterlaluan." Ucap gadis itu. Dia adalah Kim Dasom, dokter yang bertugas di UKS sekolah mereka. Seorang dokter muda yang baru lulus dua tahun lalu. Dia gadis cantik, dengan rambut pendek sebahu dan kulit putih bersih.

Dia adalah satu-satunya orang yang peduli pada Baekhyun tanpa imbalan, hanya Dasom, hanya sayang dokter muda itu tidak bisa selalu berada di sekolah.

"Biar aku obati!"

"Tidak, aku hanya butuh istirahat." Sahut Baekhyun sambil mencoba memejamkan matanya.

"Apa kau mau aku antar pulang?"

"Tidak. Aku baik-baik saja." Ucap Baekhyun lagi, dingin dan datar.

Baekhyun memejamkan matanya, sementara Dasom mendekat untuk membersihkan sisa darah yang mengotori wajah Baekhyun dengan kapas dan alcohol. Dasom menggeleng melihat betapa mirisnya siswa manis dan penurut yang pernah ia kenal.

..

.

Seorang bocah bertubuh tinggi berjalan seorang diri sambil menendang-nendang batu yang ada dihadapannya. Hari-harinya di sekolah seperti mimpi buruk, di hina dan dicaci , Ia seperti tidak mendapat tempat disana.

Tidak jauh berbeda dengan kakaknya, Sehun juga mendapat perlakukan yang sama, hanya saja Sehun selalu melawan, itu mengapa ia selalu pulang dengan keadaan berantakan.

Langkahnya terhenti ketika matanya menangkap beberapa pasang sepatu dihadapannya, ia mendongak dan mendapati empat orang siswa sebaya nya berdiri sambil menatap tak bersahabat.

"Mau kemana kau ?" ucap salah satu dari mereka, Sehun memilih diam dan mengacuhkan, tapi kemudian tangannya ditarik lalu tubuhnya dihempaskan ke tanah. Sehun tersungkur sambil menatap kesal kearah orang-orang dihadapannya.

Selama ini ia tidak pernah mencari masalah, tapi orang-orang selalu datang kepadanya untuk menganggunya atau sekedar membuktikan betapa kuatnya seorang Sehun, hanya karena ia pernah memukul seorang ketua geng disekolahnya hingga masuk rumah sakit.

"Aku tidak punya urusan dengan kalian." Ucap Sehun sambil memandang sengit. Keempat siswa itu tertawa meremehkan lalu meludah.

"Aku dengar kau cukup kuat, ayo lawan kami!" Sehun berdecih, lalu ia bangkit.

"Melawanku seorang diri sementara kalian berempat? Pengecut." Ucapnya dingin.

"Apa kau takut? Kalau begitu sana pulang mengadu pada ibumu lalu menangis tersedu, atau minta kakakmu yang lemah itu untuk memukul kami. HAhahahaaha.."

"Brengsek! Aku tidak mengenal kalian, dan aku bahkan tidak pernah mencari masalah dengan kalian. Kenapa kalian menghina keluargaku?"

"Ooh..oohh.. Lihat siapa yang marah sekarang?" ledekan yang dilontarkan semakin membuat Sehun kesal, ia mengepalkan jarinya, menatap mereka dengan tatapan membunuh, bahkan angin bertiup cukup kencang membuat keempat siswa itu merasa merinding.

Tangan Sehun terkepal kuat, dan ia melayangkan sebuah tinju kearah wajah siswa yang menurutnya adalah ketua dari keempat siswa kurang kerjaan itu.

BUGH

Mata Sehun terbuka lebar ketika pukulannya tidak mengenai wajah siswa dihadapannya, melainkan bersarang pada sebuah telapak tangan seseorang.

Ketika sosok itu menggeser tangan Sehun yang menghalangi pandangannya, mata mereka bertemu. Sehun membulatkan matanya kembali.

"Hei! Tidak baik menggunakan kekerasan." Suara lembut itu menyapa indra pendengaran Sehun. Dan sosok itu berbalik kearah keempat siswa yang membeku itu.

"DAN KALIAN! APA KALIAN TIDAK ADA PEKERJAAN LAIN SELAIN MENGGANGGU ORANG HAH? SANA PULANG!" teriak sosok itu membuat keempat siswa itu ketakutan dan segera berlari.

Sehun menatap sosok di depannya sebentar, lalu ia memutuskan untuk pergi. Tapi seketika tangannya dipegang, Sehun merasakan sebuah aliran listrik menjalar di tubuhnya.

"Adik kecil, boleh aku meminta tolong?" suara itu membuat Sehun menoleh dan matanya kembali membulat melihat sosok itu tersenyum manis padanya sambil sesekali memasang wajah memohon.

..

.

Taemin duduk di dalam kamar khususnya sambil memperhatikan wajahnya di depan cermin, sampai sebuah ketukan di pintunya terdengar.

"Siapa?"

"Aku." Taemin tersenyum ketika mendengar suara putra keduanya.

"Masuk sayang!" Dan terdengar suara pintu kayu yang terbuka, Chanyeol masuk dengan wajah datar lalu memilih duduk diatas ranjang ibunya yang terasa dingin.

"Mau mengucapkan terima kasih? Tidak usah sungkan, ibu hanya mencoba menolongmu tadi." Ucap Taemin sambil mengoleskan serbuk ajaib kewajahnya agar terlihat tetap cantik.

"Menolong? Ibu bilang menolong?" ucap Chanyeol kesal. Taemin menoleh dan mengangguk kearah Chanyeol.

"Tentu, kakek membatalkan hukumanmu bukan? Itu berkat ibu. Kau masih mau menyangkal? Dasar kaum iblis." Taemin menggeleng.

"Kakek memang membatalkannya, tapi ibu menyuruhku turun ke bumi? Dan menyamar menjadi manusia? Apa ibu sudah gila?" bentak Chanyeol. Taemin menutup matanya lalu menghela nafas.

"Ibu memang gila, siapa yang tidak gila jika memiliki anak sepertimu hah? Kau mencintai Baekhyun kan?"

"Apa?" Chanyeol melototkan matanya.

"Jujur saja Chanyeol!"

"Tidak, aku tidak mencintainya."sangkal Chanyeol.

"Lalu yang kau lakukan selama ini apa?"

"Aku hanya tertarik padanya, bukan mencintainya. Dia manusia yang memiliki daya tarik tinggi." Sahut Chanyeol dengan santai.

"Oh benarkah? Lalu kenapa kemarin kau menolongnya?" Chanyeol bungkam, ia melirik kesegala arah untuk mendapat jawaban yang pas.

"Aku..aku hanya ..aaahhh! yang jelas aku tidak mencintainya. Dan aku tidak mengerti kenapa ibu memintaku untuk turun kebumi?"

"Kau telah menyakiti perasaan Baekhyun, jadi_" Taemin bangkit dan memilih duduk disamping putranya.

"Jadi, kau harus memperbaiki kesalahan itu. Baekhyun membutuhkan seorang malaikat untuk menjaganya. Dan aku mengutusmu."

"Apa? Ibu memiliki ribuan pasukan malaikat, kenapa harus mengutusku? Lagipula aku iblis, tugasku adalah menyesatkan manusia bukan melindungi mereka." Taemin menutup matanya kesal.

"Dengar! Pertama aku adalah pemimpin para malaikat, jadi aku bebas memerintahkan siapapun sesuka hatiku, dan kau adalah putraku jadi tentu itu adalah hakku. Kedua, kau memang iblis, tapi jangan lupa kau adalah iblis setengah malaikat jadi selain menyesatkan kau juga wajib membantu manusia. Ketiga, selama ini kau tidak pernah mengambil pekerjaan, kakakmu lah yang selalu kerepotan sementara kau bermain-main diluaran sana, jadi ini bukan masalah. Dan terakhir, derita yang Baekhyun alami 70 % adalah karena ulahmu, jadi itu sudah sepantasnya. Kau mengerti?"

"Tapi bu, ini tidak adil. Aku_"

"Tidak ada penolakan, ini perintah bukan permintaan."

"Ibu~" rengek Chanyeol sambil memandang ibunya dengan kesal.

"Ooh..ooh.. lihat! Calon raja iblis baru saja merengek. Manisnya~" ucap Taemin sambil memasang ekspresi berlebihan. Chanyeol bangkit dengan cepat, menatap ibunya kesal lalu memilih berlalu.

"Aku membenci ibu."

BLAAAR

Terdengar suara bantingan pintu yang keras, Taemin menutup matanya kembali.

"Jangan lupakan bahwa hati iblis selalu berbanding terbalik dengan perkataannya." Taemin terkekeh. Lalu kembali melanjutkan ritual perawatan tubuhnya.

..

.

Sehun duduk disebuah taman ditemani seorang lelaki misterius yang tiba-tiba muncul dihadapannya tadi, lalu meminta tolong untuk dicarikan alamat rumah kenalannya yang sampai saat ini tidak ketemu.

"Apa anda yakin dengan alamat itu?" tanya Sehun sambil mengelap lelehan keringat di keningnya, sosok itu menoleh lalu mengangguk.

"Tentu. Dia teman dekatku."

"Lalu kenapa alamat yang anda tuju tidak ada? Padahal aku mengenal daerah ini dengan cukup baik."

"Hm, aku juga tidak tahu. Ah~ tunggu sebentar." Sehun menatap heran ketika sosok itu berlari meninggalkan taman dengan terburu-buru. Sehun memilih membuka satu lagi kancing bajunya dan mengipasi tubuhnya yang kepanasan. Bahkan kulitnya memerah akibat terbakar sinar matahari.

Tak lama sosok itu datang sambil membawa dua buah minuman kaleng.

"Ini untukmu karena telah membantuku." Ucap sosok itu, Sehun menerimanya dan menganggukan kepalanya dengan cepat ia menenguk minuman itu , sementara sosok disebelahnya memperhatikan dengan seksama.

"Ini minum lagi! Kau terlihat kehausan." Sosok itu memberikan minuman miliknya kearah Sehun, awalnya Sehun menolak namun akibat paksaan sosok itu Sehun menerimanya.

"Ajusshi, rumahmu dimana?" tanya Sehun. Sosok itu mengernyit.

"Ajusshi? Hei! Aku tidak setua itu. Aku rasa kita hanya berbeda beberapa tahun."

"Aku 14 tahun dan kau?"

"Aku 23 tahun disini." Sahutnya.

"Disini?" tanya Sehun heran.

"Iya disini, disi_ aaah maksudku di Korea. Kalau di Amerika aku 22 tahun. Apa aku belum bilang aku dari Amerika?"

"Belum." Sehun menggeleng. Sosok itu tersenyum, lalu dengan perlahan tangannya mengarah pada kening Sehun.

"Ah, sepertinya kau kepanasan." Ucap sosok itu lagi sambil menyeka keringat Sehun dengan tangannya, Sehun terdiam dan sempat syok. Entah mengapa jarak dekat mereka membuat jantung Sehun berdetak cukup kencang.

"Hm, aku harus pergi. Ibuku akan mengkhawatirkanku." Ucap Sehun lalu dengan terburu bangkit dan berlari menjauh, meninggalkan sosok itu sendirian diatas ayunan sambil tersenyum menatap sosok Sehun yang mulai menghilang dari hadapannya.

..

.

Flashback On

Baekhyun menatap sosok bayi disampingnya yang menangis tanpa henti sejak tadi. Ia bahkan enggan untuk menyentuhnya. Baekhyun lebih memilih untuk memeluk kakinya sambil melirik kearah bayi itu daripada menghentikan tangisannya.

Sudah seminggu semenjak kelahiran bayi itu dan sudah seminggu pula Baekhyun merasakan nyeri pada dadanya, ia memegang dadanya secara terus menerus, menekannya dan menggosoknya untuk mengurangi sakitnya, tapi rasa sakit itu tetap muncul.

Pintu terbuka dan sosok ibunya muncul dengan wajah cemas dan berantakan, baekhyun sempat iba melihat kondisi ibunya yang selalu begadang untuk mengurus bayi tidak diharapkan itu.

"Ussshhh…uusshh.. cup..cup sayang." Kibum mengayunkan tubuh bayi itu pelan sambil memberikan botol susu formula yang baru saja ia buat, namun tidak berselang lama botol susu itu telah kosong.

"Astaga, ini botol kelima dalam sejam. Kenapa nafsu makannya begitu kuat. Baekhyun ibu titip dia, ibu akan membuatkannya lagi." Ucap Kibum dan meletakkan bayi itu kembali diatas kasur dengan tangisannya yang nyaring.

"Seorang bayi bisa mengenali ibunya walau untuk pertama kalinya, mereka memiliki ikatan yang kuat, untuk itu kenapa seorang bayi merasa nyaman dalam pelukan ibunya, daripada dalam pelukan orang lain. Aroma tubuh ibu mereka, mampu membuat seorang bayi merasa tenang dan nyaman."

Baekhyun masih ingat dengan jelas, bagaimana sosok Dokter kepercayaan mereka memberikan nasehat ketika Kibum terus mengeluh tentang bayi Baekhyun yang selalu menangis.

Baekhyun sebenarnya tidak ingin, tapi melihat bagaimana kelelahannya ibunya membuat mau tidak mau ia harus meruntuhkan bentuk keegoisannya. Dengan ragu Baekhyun menyentuh bayi itu.

Mengangkatnya pelan, dan membawanya dalam sebuah pelukan. Tangisan bayi itu perlahan-lahan semakin pelan, dan jemarinya meremas-remas dada Baekhyun.

Walau bertentangan dengan logikanya, tapi tangan Baekhyun bergerak untuk menyingkap baju tidurnya dan mendekatkan putingnya yang membengkak kemulut si bayi, dan ajaibnya bayi itu menyusu dengan nikmat.

Baekhyun merasakan sebuah perasaan lega, dadanya tidak nyeri lagi. Dan ketika melihat cairan putih pekat disekitar mulut si bayi, Baekhyun melotot, cairan itu berasal dari putingnya.

Ia tidak tahu bentuk kutukan macam apa yang menyerangnya, ia menderita penyakit langka, sehingga ia memiliki rahim dan hamil, dan sekarang ia bisa menyusui, kenapa Tuhan tidak sekalian menciptakan dirinya sebagai seorang perempuan, setidaknya harga dirinya sebagai seorang lelaki tidak runtuh seperti sekarang.

Kibum terkejut ketika melihat bayi itu dalam pelukan Baekhyun dan nampak tertidur. Kibum menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang lalu menghembuskan nafas.

"Ikatan seorang anak dengan ibunya memang tidak pernah main-main." Ucap Kibum lega.

"Aku bahkan bisa menyusui, ini benar-benar menyiksaku bu."

"Jangan kecewa Baekhyun, hanya jalani saja takdirmu, ibu yakin semua akan indah pada waktunya." Ucap Kibum lalu memejamkan matanya, tubuhnya benar-benar lelah.

Baekhyun menatap bayi putih itu dalam diam, ia tidak berniat untuk mengelus rambut si bayi, dan membiarkan bayi itu terus menyusu padanya dengan mata terpejam. Tampan, kata yang tersirat di pikiran Baekhyun.

"Wajahmu diturunkan dariku? Atau ayahmu?" gumamnya pelan.

Semenjak hari itu Baekhyun selalu menyusui si bayi ketika ia menangis, selain karena demi ibunya, ia juga melakukannya demi dadanya agar tidak nyeri lagi. Dan bayi itu tidak pernah rewel ataupun menangis dengan keras lagi.

Dia bangun disamping Baekhyun, menyusu dan tertidur lagi. Lalu ketika pulang kerja, Kibum akan memandikan si bayi dan setelahnya akan menyusu lagi pada Baekhyun. Jika ia menyusu pada Baekhyun, ia tidak akan pernah menyusu dalam jumlah tidak normal seperti ketika Kibum memberikan susu formula.

Itu mengapa Kibum sangat mendukung agar Baekyun mau menyusui bayi itu, tapi semakin lama tubuh bayi itu semakin membesar. Diusianya yang baru berusia sebulan, ia sudah mampu merangkak, lalu ketika menginjak dua bulan tubuhnya sudah terlihat seperti bayi berusia setahun dan mampu berjalan.

Perkembangan pesat itu membuat Kibum dan Baekhyun terkejut bukan main, dan mereka tahu bahwa bayi itu bukanlah bayi manusia biasa.

Tubuhnya berkembang dengan cepat, dia berkembang dua kali lipat dari manusia normal. Ketika seharusnya ia masih berusia 2 tahun, ia terlihat seperti anak berusia 4 tahun. Itu mengapa ketika duduk dibangku sekolah , mereka harus pindah dua kali agar tidak membuat orang-orang curiga.

Dan ketika seharusnya ia masih berusia 7 tahun, ia sudah tumbuh menjadi remaja berusia 14 tahun yang terlihat begitu tampan dan menawan. Mereka memberikan bayi itu nama Sehun. Byun Sehun.

Dan Kibum mengangkat anak tersebut menjadi anaknya, karena Baekhyun tidak ingin anak itu mengetahui asal usulnya yang Baekhyun sendiri tidak tahu darimana.

Flashback off

Baekhyun membuka matanya perlahan ketika mengingat kejadian demi kejadian di masa lalunya. Ia dikejutkan dengan suara Dasom dan ia baru sadar jika ia masih berada di ruang UKS.

"Kau sudah bangun? Bagaimana keadaanmu?"

"Aku baik-baik saja noona. Aku sebaiknya pergi."

"Biar aku antar!"ucap Dasom sambil mengambil tas ransel dan melemparnya kearah Baekhyun.

"Aku sudah mengambilkannya untukmu. Ayo!" ucap Dasom lalu meletakkan jas prakteknya dan menarik Baekhyun keluar.

Selama perjalan Baekhyun memilih bungkam, dan sesekali Dasom melirik kearah Baekhyun.

"Apa masalahmu begitu berat, hingga kau terlihat seperti orang depresi?" tanya Dasom. Baekhyun mengalihkan pandanganya yang semula melihat kearah jendela mobil kini melirik Dasom.

"Aku memimpikan tentang masa lalu yang coba aku lupakan" Ucap Baekhyun, ia hanya percaya pada Dasom selain ibunya, itu mengapa ia bicara lebih terbuka pada gadis tersebut.

"Aku pernah membaca study tentang itu. Itu karena alam bawah sadarmu sedang mencoba untuk mengirimkan signal padamu, bahwa hal tersebut tidak bisa dilupakan. Atau bisa jadi karena seseorang dari masa lalumu itu telah kembali." Baekhyun menegang dan dia terdiam.

"Mungkin." Ucapnya lalu kembali menyandarkan kepalanya pada jendela mobil.

..

.

Di Istana Nubes, di dalam sebuah kamar besar nampak dua orang lelaki cantik sedang berbaring diatas ranjang dengan wajah ditutupi cairan kental berwarna putih.

"Ibu?"

"Hm."

"Apa Chanyeol hyung tidak marah dengan keputusan ibu?" tanya yang lebih muda, Malaikat berwajah cantik dengan rambut hitam kelam. Kyungsoo.

"Tentu dia marah. Tapi ibu melakukannya bukan tanpa sebab. Ibu tahu dia mencintai Byun Baekhyun."

"Benarkah? Aku tidak tahu iblis dan malaikat bisa merasakan cinta." Ucapnya polos.

"Kyungsoo. Jika iblis dan malaikat tidak bisa jatuh cinta, lalu kau berasal darimana?" Taemin terkekeh dan Kyungsoo melirik kearah ibunya yang berbaring disampingnya.

"Jadi semua makhluk Tuhan bisa merasakan cinta?"

"Tentu."

"Lalu kenapa aku tidak?" Taemin membuka matanya cepat dan menoleh kearah putra bungsunya, ia tersenyum melihat betapa lugu putranya.

"Kau bukannya tidak, tapi belum. Suatu saat kau pasti akan merasakannya. Tidak peduli dia siapa dan darimana asalnya, ketika jantungmu berdetak kencang maka kau kemungkinan jatuh cinta."

"Jantungku berdetak kencang ketika Chanyeol hyung memarahiku, apa artinya aku jatuh cinta dengan Chanyeol hyung? Dan ketika ia membentakku dan ingin memukulku jantungku berdetak sangat kencang, berarti aku mencintai Chanyeol hyung bu?" Taemin tertawa keras.

"Kau benar-benar lucu sayang. Itu berbeda, itu bukan cinta tapi rasa takut. Hm, suatu saat kau akan merasakannya, tubuhmu memanas dan seluruh darahmu beredar dengan cepat keseluruh tubuhmu." Ucap Taemin lalu kembali menutup matanya.

Kyungsoo terdiam, ia mencoba mencerna semua ucapan ibunya. Tapi ia tidak menemukan petunjuk tentang apa itu cinta, bagaimana rasanya, dan bagaimana mengetahui jika seseorang jatuh cinta.

..

.

Seperti biasanya, Baekhyun menghabiskan waktu istirahatnya untuk membaca buku diperpustakaan. Dan ketika bel kembali berdering Baekhyun bangkit dan berjalan dengan beberapa buku dalam pelukannya. Ia berjalan keluar dan menyusuri koridor yang masih cukup ramai.

BRUK

Seseorang menabrak tubuh Baekhyun, hingga buku-buku yang ia pegang berserakan. Baekhyun memungut bukunya, dan ketika akan mengambil sebuah buku tangannya diinjak membuat Baekhyun meringis kesakitan.

"Yak! Bangun!" ucap sebuah suara dan Baekhyun merasakan tubuhnya diangkat paksa oleh dua orang dibelakangnya dan di mampatkan pada dinding.

"Aku dengar kau kemarin pulang dengan Nona Dasom?" ucap salah seorang lelaki dihadapan Baekhyun. Tangannya ditahan di dinding oleh dua sosok yang berbeda.

"Sudah aku peringatkan berapa kali , jangan mendekatinya . Dia adalah targetku." Ucapnya lagi, Baekhyun terdiam hanya menatap sosok itu dengan tatapan datar.

"Ketika aku berbicara , maka jawablah brengsek." Sebuah pukulan mendarat di perut Baekhyun membuat ia meringis.

"Kau tidak hanya melacur untuk pria, tapi kau juga melacur untuk wanita. Sebenarnya berapa harga tubuhmu hah? Tapi sayang aku adalah lelaki normal." Ucapnya sambil menarik kerah baju Baekhyun.

Baekhyun tidak menjawab hanya meringis di bagian perutnya. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat ketika kakinya diinjak tanpa perasaan.

"Kau tahu, orang sepertimu perlu diberi pelajaran." Ucap siswa itu yang kini mengangkat tangannya dengan tinggi diudara. Beberapa siswa lain yang lewat hanya berbisik tanpa berniat menolong Baekhyun, dan Baekhyun tidak pernah mengharapkan bantuan apapun dari mereka.

KRAK
Suara patahan tulang membuat Baekhyun membuka matanya dan ia terkejut melihat sosok dihadapannya meringis kesakitan sambil menatap pergelangan tangannya yang memutar kearah yang tidak seharusnya.

"Aku peringatkan kalian, jangan pernah menyentuhnya walau hanya seinchi dari tubuhnya." Ucap sosok lain yang berdiri dibelakang siswa yang kini memegang tangannya yang patah. Dua siswa lainnya yang memegang tangan Baekhyun segera melepaskannya dan membawa teman mereka menjauh darisana.

Baekhyun menatap sosok itu dalam, keningnya mengernyit ia merasa familiar dengan sosok tersebut, tapi Baekhyun tidak memiliki petunjuk.

Baekhyun menunduk untuk memungut bukunya, memberi hormat dan segera berlalu.

Ketika sampai di kelas, Baekhyun merasa beruntung karena guru mereka belum tiba. Lalu dengan cepat ia duduk dibangkunya. Tak lama keributan kelas mulai nampak tenang, ketika guru mereka masuk.

"Sudah! Sudah! Jangan ribut! Hari ini kita melanjutkan pelajaran minggu lalu, dan oh aku hampir lupa. Kita kedatangan teman baru dari Kanada. Murid baru masuklah." Ucap guru tersebut.

Terdengar suara pekikan dan kekaguman dari para siswa dan siswi, sementara Baekhyun masih setia menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangan sambil memegangi perutnya yang masih sakit.

Sebuah sosok lelaki tinggi, dengan rambut hitam kelam yang disisir keatas, mata tajam berwarna coklat gelap, tubuh tegap seperti seorang atlet, dengan sebuah lesung pipi single memasukki ruang kelas.

"Perkenalkan namaku Park Chanyeol. " ucapnya singkat padat dan jelas. Kelas menjadi ricuh dan ramai , terdengar sorak-sorakan siswa yang berlebihan . Chanyeol memilih menatap Baekhyun yang masih menundukan wajahnya.

"Park Chanyeol, kau bisa menduduki bangku yang kosong." Ucap guru tersebut. Chanyeol melangkah mendekati bangku Baekhyun, dan beberapa siswi menatap tak suka, ada yang berdecih ada yang kecewa. Tapi memang di kelas itu satu-satunya bangku kosong adalah bangku disamping milik Baekhyun.

Baekhyun terlalu fokus pada perutnya yang begitu perih, hingga bulir keringat mulai terlihat dibagian wajahnya. Baekhyun bahkan tidak menyadari jika ada sosok lain yang mengambil duduk disampingnya.

Chanyeol menatap punggung sempit Baekhyun dan ia mendekatkan wajahnya untuk mencium aroma tubuh Baekhyun yang memabukkan.

"Sir, aku rasa ada yang sakit." Ucap Chanyeol membuat seluruh mata tertuju padanya.

"Siapa?"

"Dia." Tunjuk Chanyeol kearah Baekhyun, Baekhyun bahkan tidak mendengar seseorang telah membicarakannya.

"Aku izin untuk membawanya ke UKS."

"Baiklah."

Dan Baekhyun terkejut ketika merasakan tarikan yang kuat ditangannya, ia menatap punggung lebar dihadapannya yang terus menariknya keluar kelas. Ia sempat melihat beberapa pandangan siswi yang terlihat tidak menyukainya.

Baekhyun hanya menatap sosok dihadapannya dan bertanya-tanya siapa gerangan sosok yang mau menyentuh tangannya. Baekhyun merasa tidak asing, tapi ia tidak mengingat apapun.

Mereka sampai di UKS, dan tempat itu terlihat sepi. Ia didudukan di atas ranjang dan ketika kancing bajunya dibuka Baekhyun menahannya dan mata mereka bertemu.

Mata itu saling berpandangan, Baekhyun terus mengernyit namun semakin ia mencoba mengingat semakin kepalanya terasa sakit.

"Biar aku lihat!" ucap Chanyeol lalu melepas kancing baju seragam Baekhyun.

"Kau siapa?"

"Aku rasa kau tidak mendengar perkenalanku dikelas tadi. Aku Park Chanyeol siswa pindahan dari Kanada." Ucap Chanyeol sambil melepaskan sisa kancing yang belum terbuka.

"Apa kita pernah bertemu sebelumya?" tanya Baekhyun, Chanyeol tersenyum lalu mengangguk.

"Aku yang menolongmu tadi, apa kau lupa?" Baekhyun terdiam lalu ia tersadar ketika tatapan Chanyeol beralih kearah perutnya.

"Waah, memarnya cukup luas. Mereka keterlaluan. Aku akan mengambil obat, sepertinya dokter disini tidak ada." Ucap Chanyeol lagi dan segera mengambil beberapa obat yang sama sekali tidak ia tahu.

Chanyeol kembali dengan sebuah kapas dan botol alcohol yang menurutnya paling tepat untuk digunakan, dia iblis, dan didunia iblis tidak ada yang namanya pengobatan medis, semua bisa sembuh menggunakan kekuatan supranatural.

Chanyeol menatap perut Baekhyun dan mengoleskan benda itu, Baekhyun entah mengapa enggan untuk menolak, perutnya terlalu sakit. Tapi ia meringis ketika benda dingin itu menyentuh kulitnya.

"Hhmppp." Baekhyun menahan ringisannya, Chanyeol menatap Baekhyun dan ia tersenyum.

"Tenanglah!"

"Aaaahh~" Entah mengapa gesekan antara kulitnya dengan kapas yang dipegang Chanyeol membuat Baekhyun mendesah, Chanyeol bangkit dengan cepat dan menghela nafas, lalu meniupkan sebuah udara kewajah Baekhyun hingga Baekhyun tertidur.

Ia melakukannya bukan tanpa alasan, melainkan agar Baekhyun tidak merasakan sakit lagi. Lalu dengan perlahan ia mengelus bagian yang memar dari tubuh Baekhyun, menyalurkan energinya agar luka itu segera hilang.

"Jangan gunakan kekuatan!" tiba-tiba suara itu menggema. Chanyeol menoleh sekitar lalu berdecih.

"Tapi bu_"

"Ingat perjanjian kita, Chanyeol!" terdengar lagi suara tanpa sosok pemiliknya menggema di dalam ruangan putih itu.

" Lalu apa yang harus aku lakukan?" ucap Chanyeol frustasi.

"Kembalikan lukanya, sembuhkan dengan cara manusia!" ucap suara Taemin dingin Chanyeol berdecih lalu kembali mengelus perut Baekhyun yang mulus, dan luka memar itu nampak kembali.

"Sudah." Ucap Chanyeol malas.

"Bagus! Ikuti permainannya, kau hanya sebuah pin sekarang, bukan seorang pemain." Ucap suara Taemin .

"Aku mengerti." Ucap Chanyeol dengan wajah malas sambil menatap kearah langit-langit ruangan.

Ceklek..

Chanyeol menoleh dan mendapati sosok seorang gadis cantik masuk dengan jas putihnya.

"Eih, ada ap_ Baekhyun?" Dasom segera mendekat dan terlihat raut cemas di wajahnya.

"Ada apa dengannya?" tanya Dasom cemas sambil menggetarkan tubuh Baekhyun pelan. Chanyeol meraih tangan Dasom dan menyingkirkannya dari tubuh Baekhyun.

"Tidur." Sahut Chanyeol santai dan menghalangi Dasom untuk memeriksa keadaan Baekhyun.

"Tidur atau pingsan?" tanya Dasom dengan satu alis terangkat, menatap sosok di depannya heran, sementara Chanyeol duduk di kursi disamping ranjang, sambil menyilangkan satu kakinya dan melipat kedua tangannya di depan dada.

"Apa bedanya? Matanya sama-sama terpejam." Dasom semakin mengernyit heran, lalu dengan segera mengambil stetoskop dan sebuah senter kecil dari dalam lacinya.

"Tunggu! Mau apa kau?" tanya Chanyeol tidak terima.

"Memeriksa keadaannya, aku adalah dokter disini." Ucap Dasom kesal. Chanyeol menatap gadis itu dari atas hingga bawah, dan ia melupakan fakta jika gadis itu mengenakan jas putih di tubuhya dan juga sebuah name tag bertuliskan profesinya. DOKTER. Chanyeol seharusnya melihat lebih awal.

"Aku tahu." Ucap Chanyeol lalu memberi jalan. Ia memperhatikan bagaimana dokter muda itu membuka mata Baekhyun secara bergantian dan menyinarinya, untuk mengetahui apakah gerakan mata Baekhyun konstan atau tidak, atau terdapat pembuluh yang keluar.

"Apa kau murid baru?" ucap Dasom yang telah selesai memeriksa keadaan Baekhyun. Chanyeol menoleh tapi tidak segera menjawab, ia hanya menatap gadis itu dengan wajah datar.

"Hei! Aku bertanya padamu. Apa kau murid baru? Aku tidak pernah melihatmu disini." Ucap Dasom, Chanyeol menunjuk name tag nya.

"Aku punya nama . .Yeol ." ucap Chanyeol penuh penekanan.

"Cis! Aku tahu, aku tahu. Aku tidak buta huruf. Perkenalkan , aku .Som ." ucap Dasom sambil menunjuk name tagnya. Chanyeol melirik kearah tulisan itu sebentar lalu ia alisnya bertautan.

"Kau Dasom?"

"Hm." Dasom menganggukan kepalanya.

"Kau tahu? Gara-gara kau Baekhyun mendapatkan masalah." Ucap Chanyeol dengan nada dingin, seolah mengibarkan bendera perang pada sosok gadis di hadapannya.

"Bagaimana bisa?"

"Penggemarmu membenci kedekatanmu bersama Baekhyun. Lagipula kenapa kau harus dekat-dekat dengan Baekhyun? Dia pelajar dan kau seorang dokter. Kalian tidak bisa bersama." Pernyataan Chanyeol seperti sebuah perintah.

Dasom tersenyum, ia mencium ada hal lain diraut wajah sosok lelaki asing dihadapannya. Ia melipat kedua tanganya di depan dada sambil bersandar pada meja kerjanya menatap Chanyeol.

"Memangnya apa yang salah dengan hubungan antara pelajar dan dokter? Setidaknya aku masih terlihat muda. Dan hubungan dokter dengan pelajar aku rasa tidak masalah, lain halnya jika aku iblis dan Baekhyun manusia. Iblis dan manusia baru tidak bisa bersama." Goda Dasom.

Raut wajah Chanyeol langsung berubah, tak ada lagi raut wajah angkuh, hanya sebuah tatapan datar dan menusuk yang Chanyeol layangkan pada Dasom membuat gadis itu nyaris tersedak ludahnya sendiri.

Chanyeol menatap kearah mata Dasom, seperti seorang predator yang mengintimidasi mangsanya, entah mengapa Dasom merasa tubuhnya kaku. Ia menelan ludahnya susah payah, berharap ada seseorang yang menolongnya keluar dari keadaan mengerikan ini.

"Eumh." Terdengar erangan dari arah ranjang, dan Dasom memekik senang ketika melihat pergerakan dari Baekhyun, setidaknya Tuhan mengabulkan permintaannya untuk terlepas dari tatapan membunuh Park Chanyeol.

Chanyeol mendekat terlebih dulu sebelum Dasom berhasil meraih tangan Baekhyun.

"Kau sudah bangun?" tanya Chanyeol dengan sorot wajah cemas, Baekhyun menoleh kearah Chanyeol dengan mata sedikit tertutup, lalu terkejut saat ada Dasom dihadapannya.

"Noona?" Chanyeol langsung menampakan raut wajah dingin ketika Baekhyun malah mengapresiasikan keberadan Dasom ketimbang dirinya. Dasom yang sempat melirik kearah Chanyeol hanya bisa menelan ludahnya susah payah.

"Ka..kau baik-baik saja?" tanya Dasom. Baekhyun mengangguk sambil memegang kepalanya.

"Kau masih disini?" tanya Baekhyun pada Chanyeol sambil mencoba duduk.

"Aku yang membawamu kemari mana mungkin aku bisa meninggalkanmu." Ucap Chanyeol ketus. Baekhyun hanya mengangguk tanpa berniat menjawab ataupun membela diri.

"Baekhyun apa yang terjadi?" tanya Dasom cemas, Baekhyun membuka mengangkat seragamnya dan memperlihatkan luka lebamnya pada Dasom, membuat Chanyeol melotot kesal.

"Astaga! Ini sudah keterlaluan, kau harus melaporkannya Baek!"

"Tidak akan ada yang berubah noona, mungkin malah aku akan semakin tersiksa disini." Ucap Baekhyun dengan wajah bersedih.

"Tersiksa? Maksudmu?" Baekhyun menoleh ketika manyadari sosok Chanyeol masih disana.

"Baekhyun mendapatkan perlakuan tidak_"

"Noona!" bentak Baekhyun membuat Dasom bungkam. Chanyeol menoleh kearah Baekhyun yang bahkan tidak melirik kearahnya.

"Jangan diteruskan, obati saja aku!" ucap Baekhyun lagi. Dasom melirik Chanyeol sekilas lalu ia mengangguk.

"Aku sudah mengobatinya." Ucap Chanyeol tanpa melihat kearah Dasom, matanya masih menatap kearah Baekhyun yang menundukan kepalanya. Chanyeol tahu Baekhyun sedang memikirkan sesuatu.

"Dengan alcohol saja tidak cukup, alcohol hanya membersihkan dari bakteri dan kuman, dan memberikan efek dingin dan sejuk, lukanya tidak akan sembuh. Kau harus memberikan_"

"Terserah. Aku bukan dokternya disini." Potong Chanyeol sambil tetap menatap kearah Baekhyun membuat Dasom bungkam dan memikirkan hal-hal aneh tentang sikap Chanyeol ke Baekhyun.

"Kau sudah makan?" tanya Chanyeol, Baekhyun yang sejak tadi menundukan wajahnya dan entah bergelut dengan pemikiran apa, menoleh kearah Chanyeol dengan wajah bingung.

"Aku bertanya, apa kau sudah makan?" ulang Chanyeol lagi dengan wajah datar. Baekhyun menggeleng.

"Aku tadi_" belum sempat Baekhyun menjawab Chanyeol telah bangkit dari duduknya dengan sedikit kasar, menghasilkan sebuah bunyi gesekan antara kaki kursi dan lantai.

BLAM

Dasom menghela nafas, lalu mendekat kearah Baekhyun.

"Hei! Kau mengenalnya dimana? Dia begitu mengerikan, aku seperti berhadapan dengan kematian." Ucap Dasom sambil bergidik ngeri mengingat kejadian beberapa menit lalu.

"Entahlah. Aku bahkan tidak ingat bagaimana kita bertemu, tapi aku merasa tidak asing dengan wajahnya." Ucap Baekhyun sambil menerawang.

"Sama, aku memikirkan hal yang sama. Aku rasa aku pernah melihatnya disebuah majalah, atau layar tv. Hmm.. wajahnya begitu tampan, walau dia sangat dingin. Apa dia seorang model ya? Ah apa dia bintang iklan? Aah entahlah. Tapi, Baekhyun. Aku rasa dia_"

CEKLEK

Dasom segera berpindah dari ranjangnya dan kembali ke tempat obat untuk mencari obat salep untuk Baekhyun, dan berakting seperti tidak pernah meninggalkan tempat itu. Chanyeol masuk sambil memberikan tatapan mematikan pada Dasom, lalu ia mendekat kearah Baekhyun.

"Makanlah! Jangan pernah bertahan dengan perut kosong. Kau manusia, bukan iblis ataupun malaikat." Ucap Chanyeol sambil memberikan sebuah kantung plastik kepada Baekhyun. Baekhyun membukanya dan ia tersentak sejenak melihat makanan yang dibelikan Chanyeol adalah kesukaannya. Roti sandwich dengan keju, serta dua kotak susu stroberi.

"Terima kasih." Ucap Baekhyun.

"Makanlah! Sebelum itu menjadi tidak enak untuk dimakan." Ucap Chanyeol.

"Apa tidak ada untukku?" tanya Dasom iseng. Chanyeol menoleh dan ia menatap Dasom datar.

"Kau kan bisa beli sendiri."

"Tapi aku kan sedang bertugas." Ucap Dasom dengan wajah bersedih.

"Beberapa menit yang lalu kau keluar meninggalkan tempat ini disaat kau sedang bertugas. Kau bisa mengulanginya lagi, aku tidak akan melapor." Ucap Chanyeol dingin.

"Issh.. benar-benar." Dasom berdecih dibelakang Chanyeol.

"Noona kau benar-benar belum_"

"Aku membelikannya untukmu, makanlah! Dokter Dasom adalah seorang tenaga kefarmasian, tentu dia akan menjaga kesehatan tubuhnya dengan tidak melewatkan makan siang. Benar kan nona Dasom?" tanya Chanyeol dengan raut wajah yang seolah berkata 'Jawab iya, atau hidupmu berakhir ditanganku' Dan dengan terpaksa Dasom mengangguk.

"Chanyeol-sshi benar. Aku adalah seorang dokter, aku tidak akan membiarkan perutku kosong." Ucap Dasom lalu membawa sebuah salep kearah Baekhyun.

Sementara Baekhyun memakan rotinya, Dasom mencoba mengangkat seragam Baekhyun, tapi sebuah tangan menahannya, itu tangan Park Chanyeol.

"Kau seorang wanita, dan Baekhyun laki-laki. Biar aku saja." Ucap Chanyeol. Dasom menatap Chanyeol tak percaya, ia merasa seperti seseorang yang salah tempat.

"Tapi aku dokternya disini." Ucap Dasom, Chanyeol tetap menahan tangan Dasom.

"Tapi kau seorang wanita."

"Apa yang salah dengan wanita? Bahkan dokter kandungan hampir semuanya laki-laki. Dan dokter spesialis kelamin sering mendapat pasien laki-laki. Dalam profesi kami, tidak ada yang namanya gender. Kesembuhan pasien adalah prioritas kami." Ucap Dasom dengan wajah bangga, sambil meletakkan tangannya di depan dada. Ia menyampaikan semua teori yang pernah ia dapatkan ketika duduk dibangku kuliah dulu.

"Lalu kenapa kau meminta bayaran atas kesembuhan pasienmu? Jika mereka memang prioritasmu, kenapa banyak manusia yang mati karena tidak mendapat penanganan medis yang baik?" Dasom serasa naik pitam, ia mencengkram tangan Chanyeol, begitu juga dengan Chanyeol yang mencengkram salep itu dengan keras.

"Biar aku saja, aku bisa mengobatinya sendiri." Ucap Baekhyun lalu mengambil paksa salep yang tubenya sudah sedikit remuk.

Dengan perlahan Baekhyun mengoleskan pada memarnya dan sesekali merintih kesakitan. Sementara Dasom dan Chanyeol sedang mengibarkan bendera perang.

"Aku akan kembali ke kelas." Ucap Baekhyun sambil merapikan penampilannya.

"Sebaiknya kau beristirahat Baek!"

"Benar, kau harus istirahat." Ucap Chanyeol. Baekhyun menatap kedua orang di depannya dengan wajah heran.

"Sepertinya baru beberapa detik yang lalu aku melihat kalian bersiteru dan sekarang kalian sudah menjadi satu kubu?" tanya Baekhyun. Chanyeol berdeham, lalu menyilangkan kembali tangannya.

"Kalau begitu ayo kembali ke kelas, supaya nona ini bisa menikmati waktu bolosnya." Ucap Chanyeol sambil menarik tangan Baekhyun. Dasom berdecih sekali lagi, sambil membuang wajahnya kesamping dengan kesal.

Mereka berjalan di koridor dengan beriringan, sampai Baekhyun sadar jika sosok yang baru ia kenal masih menggandeng tangannya. Dengan perlahan Baekhyun menarik tangannya membuat langkah Chanyeol terhenti.

"Kau duluan saja, aku ingin ke toilet." Ucap Baekhyun lalu membalik tubuhnya dan berjalan berlawanan arah. Chanyeol menatap punggung sempit Baekhyun yang menjauh dan menghilang di belokan koridor, lalu menghela nafas pelan.

"Apa aku harus berjuang sejauh ini?" gumamnya pelan.
"Tentu. Begitulah cara manusia mendapatkan keinginanya, dengan usaha." Tiba-tiba sebuah suara muncul, dan perlahan sosok malaikat muncul di anak tangga terbawah. Chanyeol memutar bola matanya malas lalu beralih menatap ibunya kembali.

"Apa-apaan dengan kostum ibu? Mengingatkanku pada gadis menyebalkan yang aku temui beberapa menit lalu." Ucap Chanyeol sambil menghina pakaian dokter yang ibunya kenakan.

"Jangan lupa aku juga dokter. Aku yang merawat Baekhyun selama masa hamilnya dan membantu anakmu lahir." Ucap Taemin lalu menghilang, Chanyeol terdiam.

"Ingat! Lakukan semua dengan usaha. Kau bukan pengeran iblis disini." Tiba-tiba Taemin muncul disamping Chanyeol dan berbisik ditelinganya lalu menghilang.

Baekhyun menucuci wajahnya berulang kali, dan sesekali memegang perutnya yang masih terasa nyeri. Setelah itu ia menatap pantulan dirinya di depan cermin.

"Hei Baekhyun yang menyedihkan. Selamat untuk luka barumu pengecut." Ucapnya pada pantulan dirinya di depan cermin sambil tersenyum kecil, seolah sedang mengolok-olok dirinya sendiri.

Lalu Baekhyun memutuskan untuk keluar, saat tiba di depan toilet ia dikejutkan dengan sosok Chanyeol yang bersandar pada dinding , dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam kantung celana.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Baekhyun heran, Chanyeol mengangkat wajahnya.

"Kau sudah selesai?" Baekhyun mengangguk.

"Kau belum menjawab pertanyaanku." Ucap Baekhyun sambil menatap Chanyeol.

"Oh, hanya memastikan kau baik-baik saja." Ucap Chanyeol sambil tersenyum. Baekhyun tidak menjawab ia segera berlalu meninggalkan Chanyeol.

"Oh iya Chanyeol. Ini terasa aneh, kita bahkan baru mengenal kurang dari 24 jam. Aku tidak tahu apa tujuanmu mendekatiku, tapi untuk sebuah pertemanan, ini terasa begitu cepat." Ucap Baekhyun, Chanyeol menghentikan langkahnya dan membiarkan Baekhyun berjalan.

"Apa ini terlalu cepat?" gumam Chanyeol. Dan Taemin muncul kembali disampingnya.

"Lakukan step by step! Jangan terlalu terburu-buru, manusia tidak suka." Bisik Taemin, Chanyeol menggeram kesal ketika sosok ibunya kembali menghilang.

"Aiissh kenapa di dunia manusia begitu banyak peraturan? Aku tidak akan pernah ingin menjadi manusia." Ucap Chanyeol sambil mengacak rambutnya. Taemin kembali muncul.

"Berhati-hatilah dengan ucapanmu. Hahahahaha.." Tawa ibunya begitu mengerikan dipendengaran Chanyeol.

"Hei! Apa yang kau lakukan disana? Sebentar lagi pergantian kelas." Panggil Baekhyun yang sudah berada beberapa meter di depan Chanyeol, nyaris berbelok di persimpangan koridor, dan dengan cepat Chanyeol berlari menyusul Baekhyun.

Mereka tiba di kelas dan dipersilahkan duduk oleh guru yang mempersilahkan mereka ke ruang UKS tadi.

"Oh iya Baekhyun, apa kau sudah lebih baik?" tanya sang guru, Baekhyun mengangguk dan memberi hormat.

"Kalau begitu kau bisa mengantarkan Chanyeol berkeliling sekolah kan? Dan jadilah pembimbingnya selama seminggu ke depan!" Baekhyun ingin menolak tapi ia menghormati gurunya tersebut, dengan hormat ia mengangguk dan kembali duduk di bangkunya dimana Chanyeol telah duduk disana sambil tersenyum kearahnya.

Kelas berakhir beberapa jam setelahnya dan sekarang waktunya kelas pergantian. Baekhyun memasukan buku pelajaran sebelumnya dan mengeluarkan buku fisika. Beberapa murid yang lain nampak meregangan otot, menggosip ataupun mencuri-curi pandang kearah Chanyeol.

Tak lama guru mereka datang. Guru paling mengerikan dari seluruh guru termengerikan yang ada. Mendadak suasana kelas menjadi sepi ketika guru bertubuh tambun dengan kepala hampir botak itu masuk.

Setelah memberi salam, murid-murid segera mengeluarkan buku mereka, sementara Chanyeol hanya memperhatian sekelas dengan wajah heran.

"Kau laki-laki kelebihan kalsium yang duduk dibelakang! Maju kerjakan tugas nomer 1!" ucap guru itu sambil menunjuk Chanyeol, Chanyeol sempat melihat sekitarnya namun ketika sorot mata guru itu tepat kearahnya Chanyeol tahu yang dimaksud adalah dirinya.

"Tugas apa? Aku tidak tahu." Sahut Chanyeol acuh membuat seisi kelas nyaris tersedak mendengar jawaban enteng Chanyeol. Jangankan untuk menjawab, untuk bernafas saja mereka kesusahan.

"Apa? Coba ulangi!" bentak guru itu.

"Aku bilang, aku. Tidak. Tahu." Sahut Chanyeol dengan penekanan. Pria paruh baya itu terlihat seperti kebakaran jenggot, diatas kepalanya seperti muncul Imajin larva yang menyembur dari puncak gunung.

"Maaf Tuan Hwang. Dia adalah murid pindahan, dia baru masuk kelas hari ini." Ucap Baekhyun sopan, guru itu menatap Baekhyun lalu tersenyum. Membuat Chanyeol ingin membakar sosok gendut itu dengan api neraka paling panas.

"Oh, begitukah Baekhyun-ah? Karena kau yang bilang tentu aku percaya." Ucap guru itu dengan wajah manis dan suara yang mendadak lembut membuat yang lain nyaris muntah dan Chanyeol ingin sekali menjejalkan tongkat kakeknya di mulut guru itu.

"Baiklah, kau kuberi waktu satu menit untuk mengerjakannya." Ucap guru itu dengan nada yang kembali ketus.

"Dan yang lain, siap-siap mengerjakan nomer berikutnya. Kau dengan kaca mata putih, kerjakan nomer dua, kau yang berkuncir kuda dengan pita merah kerjakan nomer 3, kau laki-laki dengan kawat gigi, kerjakan nomer 4, kau yang senyum-senyum kerjakan nomer 5. Berikutnya menyusul."

"Dia dikenal dengan sebutan iblis di tingkat tiga. Jangan mencari masalah dengannya." Ucap Baekhyun pelan sambil mengerjakan lembaran berikutnya.

"Iblis? Cih! Dia bahkan tidak lebih dari seekor babi panggang." Ucap Chanyeol, Baekhyun menoleh merasa tidak menyimak ucapan Chanyeol dengan benar.

"Tidak apa-apa." Chanyeol tersenyum dan Baekhyun mengangguk pelan lalu kembali menulis.

"Hei! Kau lelaki dengan kelebihan kalsium! Jangan merayu Baekhyun, waktumu tinggal sebentar lagi." Chanyeol yang masih menatap Baekhyun meremas buku tulis dihadapannya dengan kesal, tangannya sudah kesal ingin mengeluarkan api terpanasnya dan menggosongkan guru gendut itu.

Baekhyun yang melihat kearah tangan Chanyeol segera menyentuhnya. Membuat Chanyeol merasakan sesuatu yang aneh, tubuhnya seperti mendingin dan kemarahannya sirna.

"Jangan memperlihatkan sikap tidak sukamu padanya, dia akan menjadikanmu objek kemarahan untuk seterusnya." Gumam Baekhyun pelan. Chanyeol menatap Baekhyun tanpa berkedip, memandang wajah Baekhyun dengan tatapan kagum.

"Ini." Baekhyun memberikan bukunya pada Chanyeol, dan Chanyeol tersenyum lalu bangkit. Ia berjalan dengan gagah, bahkan aroma maskulinnya yang menguar begitu lewat membuat para siswi terpesona dan nyaris terlena.

Chanyeol mengambil kapur sambil menatap guru itu dengan wajah menantang. Chanyeol menyalin soal itu di papan tulis dan ketika ia akan menuliskan angka-angka jawaban itu sebuah penggaris kayu panjang menahan bukunya.

"Tunggu!" guru itu mengambil kapur dan mengganti nilai pangkat dari salah satu angka.

"Kerjakan!" ucap guru itu. Chanyeol terdiam sejenak. Ia tidak pernah mengenal angka-angka rumit seperti itu, di dunia iblis mereka tidak mempelajari sesuatu yang tidak penting- bagi Chanyeol, deretan rumus itu tidak penting-.

Chanyeol menyalin jawaban yang ada di buku Baekhyun, tanpa peduli jika jawaban itu tidak berlaku lagi.

"Bagus." Guru itu menggangguk.

"Sekarang kau kembali ke bangkumu, kembalikan buku Baekhyun dan berdiri diluar!" ucap guru itu, Chanyeol diam tidak bereaksi.

"Untuk apa aku keluar?" tanya Chanyeol heran, guru itu geram dan menarik telinga Chanyeol dengan keras.

"KELUARRR!" guru itu menarik buku Baekhyun dari tangan Chanyeol, lalu mendorong Chanyeol dengan kasar. Chanyeol memegang telinganya yang memerah dan berdenyut, lalu ia berdiri di depan kelas, dan ketika ia mengintip dari jendela, emosinya memuncak ketika melihat guru itu mendekati Baekhyun, bahkan mengambil duduk disamping Baekhyun.

"Bajingan tua! Kau akan habis ditanganku ." ucap Chanyeol, lalu membalik telapak tangannya, menggerakan jemarinya dan yang terjadi adalah muncul sosok iblis dibelakang guru itu.

Sosok bertubuh pendek, dengan telinga tajam keatas, gigi tajam dan menghitam, mata berwarna merah, kulit kehitaman, sayap kecil yang tajam seperti kelelawar, dan bara api yang memenuhi tubuhnya. Di dunia iblis sosok itu adalah iblis pesuruh mereka di sebut Gevil.

Sosok Gevil itu mengacungkan ibu jarinya pada Chanyeol sambil terkikik, Chanyeol menyeringai dari balik jendela. Tangan Gevil itu terjulur ke depan dan menembus dari punggung ke dalam perut guru Hwang.

Membuat tubuh guru Hwang menengang. Lalu Gevil menggerakan tangannya seperti mengoyak, menyebabkan guru Hwang merintih kesakitan. Chanyeol menyeringai dan berbisik pada si iblis agar menarik usus guru Hwang keluar, tapi mata Chanyeol membulat ketika sosok ibunya muncul di belakang si iblis dan menarik telinganya, membuat iblis itu secara tiba-tiba menghilang bagaikan debu.

Chanyeol menggeram kesal, dan menatap tak suka kearah ibunya ketika malaikat cantik itu melotot kearahnya sambil menggerakan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan di depan wajahnya.

Tiba-tiba guru Hwang bangkit dan sedikit berlari keluar kelas, Chanyeol menyeringai ketika melihat guru itu berlari terbirit menuju toilet, walau guru itu tidak mati setidaknya membuatnya gangguan pencernaan selama seminggu penuh sudah cukup.

Beberapa jam kemudian kelas telah usai, dan beberapa siswa segera berlari keluar, sementara Chanyeol masih berdiri di depan kelas. Guru Hwang tidak kembali, sehingga membuat mereka bebas sejak beberapa jam yang lalu, hanya seorang supir yang mengambil barang-barang Tuan Hwang.

Chanyeol memperhatikan teman-temannya yang keluar sambil menunggu kesempatan untuk bisa masuk, beberapa siswi terlihat memasang wajah tersipu malu ketika berpapasan dengan Chanyeol.

Chanyeol masuk dan mendapati Baekhyun sedang merapikan buku-bukunya.

"Kau akan pulang?" tanya Chanyeol, Baekhyun menoleh sebentar lalu mengangguk.

"Biar aku antar." Ucap Chanyeol, Baekhyun menatap Chanyeol.

"Tidak usah. Aku bisa sendiri." Sahut Baekhyun ketus.

"Tidak apa-apa. Aku menawarkan diri." Ucap Chanyeol lagi berusaha mendapatkan hati Baekhyun.

"Tidak. Aku naik bus saja." Sahut Baekhyun masih dengan nada dingin.

"Ayolah Baekhyun!" paksa Chanyeol, Baekhyun yang sudah berjalan menuju pintu menghentikan langkahnya dan berbalik.

"Memangnya kau naik apa ke sekolah?" tanya Baekhyun, dan Chanyeol terdiam. Ia lupa, ia tidak memiliki kendaraan apapun. Ia ingin sekali menjawab 'terbang' mengingat transpostasi Chanyeol selama ini adalah dengan terbang, ataupun berteleportasi, tapi ia tidak mungkin mengatakan itu pada Baekhyun.

"Dengan…. Kaki?" tanya Chanyeol ragu. Baekhyun menggeleng kecil.

"Memangnya rumahmu dimana?" tanya Baekhyun lagi. Chanyeol berpikir sebentar, ia tidak mungkin berkata jika rumahnya di neraka, Baekhyun pasti akan menganggapnya gila.

"Hmmm….itu.."
"Kau bahkan tidak tahu dimana rumahmu? Tidak apa-apa Chanyeol, aku bisa pulang sendiri." Ucap Baekhyun segera berlalu. Chanyeol terdiam sambil menatap kepergian Baekhyun. Lalu dengan kesal ia menghentakan kakinya dan akhirnya menghilang.

..

.

Langkah kaki Chanyeol terlihat terburu. Ia berjalan di dalam istana dengan wajah cemberut.

"IBU!" teriaknya ketika tiba di ruang tengah. Luhan muncul dari tangga atas, dan menatap tak suka kearah Chanyeol.

"Ini istana, bukan hutan."

"Diam, aku sedang tidak ingin bertengkar."
"Memangnya siapa yang mau mengajak bertengkar? Aku memperingatkan." Ucap Luhan lalu menuruni tangga.

"Dimana ibu?"

"Memangnya aku anak manja yang masih tidur ditemani ibu, mana aku tahu." Ucap Luhan acuh dan masuk ke dalam ruang kerja ayahnya. Chanyeol menatap kepergian Luhan dengan kesal, jika tidak mengingat larangan ayahnya untuk tidak menggunakan kekuatan di dalam istana, ia pasti akan membakar bokong Luhan.

"IBUUU!" bentak Chanyeol, dan sosok Taemin muncul dengan wajah mengantuknya.

"Ada apa?" tanya Taemin malas.

"Berikan aku kendaraan, rumah, peralatan yang biasa digunakan manusia, pokoknya berikan aku apapun yang manusia gunakan untuk hidup." Ucap Chanyeol dengan kesal. Taemin mengernyitkan dahinya.

"Manusia tidak mendapatkanya dengan mudah seperti itu, harus ada usaha."

"Masa bodoh dengan usaha, ibu yang mengirimku ke bumi seharusnya ibu yang bertanggung jawab atasku." Ucap Chanyeol dengan wajah kesal, Taemin meletakkan telunjuk didagunya.

"Baiklah, baiklah. Ibu akan memberikanmu kendaraan." Ucap Taemin pasrah. Chanyeol tersenyum bangga.

"Lalu rumah? Alat komunikasi? Dan apapun itu yang biasa mereka gunakan?" ucap Chanyeol lagi, Taemin tersenyum sambil mengangguk.

"Ibu akan memberikannya secara bertahap. Untuk itu jadilah anak yang baik, Park Chanyeol." Ucap Taemin lalu tiba-tiba muncul dihadapan Chanyeol sambil mengelus-elus rambut putranya. Chanyeol menampik tangan ibunya lalu segera menghilang menuju kamar.

Chanyeol membaringkan tubuhnya diatas ranjang, kejadian sehari ini di dunia manusia membuat sebuah senyuman terukir di wajahnya, entah mengapa ia begitu senang bisa berada di dekat Baekhyun dalam keadaan Baekhyun yang sadar.

Tidak seperti sebelumnya dimana mereka bertemu harus melalui perantara angin penidur. Chanyeol merasa ini adalah langkah besar, entah mengapa ada sebuah perasaan ingin memiliki Baekhyun seutuhnya, tapi Chanyeol cemas setelah tahu siapa dirinya , Baekhyun akan membencinya.

Apalagi hasil perbuatannya telah membuat Baekhyun tersiksa, terutama ketika Baekhyun mengandung anak mereka dan berjuang seorang diri sementara dirinya menjalani hukuman.

Flashback On

Chanyeol duduk di dalam kamarnya dengan gelisah, baru saja ia mendapat kabar dari Luhan jika Baekhyun sering memukul perutnya agar bayi itu mati. Luhan lah yang rutin berkunjung kedunia manusia sementara Chanyeol menjalani hukumannya.

Selain untuk mengecek anak buahnya, Luhan juga selalu menyempatkan diri untuk memeriksa keadaan Baekhyun atas permintaan Chanyeol.

" Masih tidak ada perkembangan?" tanya Chanyeol. Luhan duduk disamping Chanyeol lalu menggeleng lemah.

"Selain perutnya yang membesar, tidak ada perkembangan lain, ia masih membenci kehadiran bayi itu." Chanyeol mengertakan giginya, dan ia menatap Luhan dengan dalam, membuat Luhan menyadari adiknya sedang memikirkan sesuatu yang tidak wajar.

"Hyung bantu aku keluar dari istana, aku ingin melihat keadaannya."

"Apa? Tidak! Kita bisa ketahuan Chanyeol dan ayah akan menghukum kita dengan berat, aku tidak mau. Aku saja yang akan mengunjungi Baekhyun, kau_"

"Aku mohon." Entah mengapa Luhan merasa Chanyeol begitu tulus saat itu, bagaimana pun Luhan tidak mungkin tega menyiksa adiknya.

Malam itu mereka merencakan sebuah pelarian diam-diam, Chanyeol untuk pertama kalinya mensyukuri kelahiran Luhan, kakaknya itu ternyata berbakat juga dalam acting dan menjadi mata-mata.

Akhirnya Chanyeol sudah berada di depan jendela Baekhyun, dengan kekuatannya ia membuka jendela Baekhyun, dan mendapati lelaki mungil itu tengah tertidur dengan perut yang membuncit.

Chanyeol masuk dan mendaratkan kakinya di lantai kamar Baekhyun, lalu perlahan melangkah dan menaikki ranjang. Ia membaringkan diri disamping Baekhyun, mengelus surai Baekhyun yang tertidur dengan tenang.

Chanyeol begitu merindukan sosok Baekhyun, dan perlahan ia mengecup bibir lelaki mungil itu, membuat Baekhyun menggeliat. Chanyeol menyibak selimut yang menutupi tubuh Baekhyun, melihat kearah perut Baekhyun yang membuncit.

Lalu jemari Chanyeol mengangkat baju tidur Baekhyun, memperlihatkan kulit Baekhyun yang meregang. Chanyeol memperhatikan bagaimana bentuk kandungan Baekhyun yang bulat dan besar.

Lalu mata Chanyeol menangkap sebuah gerakan dari perut Baekhyun, dan Chanyeol mneoleh ketika melihat Baekhyun meringis dalam tidurnya.

"Hei! Jangan nakal di dalam sana. Kasihan ibumu!" bisik Chanyeol sambil mendekatkan bibirnya dengan perut Baekhyun. Tapi perut Baekhyun kembali bergejolak, terjadi kontraksi , sebuah pergerakan wajar yang biasa ditemui pada ibu hamil, hanya saja pada kasus Baekhyun gerakannya begitu kuat, benar-benar bergejolak seperti sesuatu itu ingin menerobos keluar.

"Belum waktumu keluar , jadi jangan nakal!" ancam Chanyeol sambil menunjuk kearah perut Baekhyun. Gerakan itu semakin menjadi-jadi, seolah sedang melakukan protes atas kehadiran Chanyeol. Dan ketika tangan Baekhyun mengelus perutnya dalam keadaan tidur, kontraksi di perutnya reda.

"Oh, jadi kau hanya menurut pada ibumu? Hei! Aku ayahmu!" ucap Chanyeol, dan tidak ada pergerakan pada perut Baekhyun lagi.

Chanyeol beralih menatap wajah Baekhyun yang nampak damai dan cantik secara bersamaan ketika sedang tertidur, dengan perlahan Chanyeol mencuri sebuah ciuman dari bibir mungil Baekhyun.

"Ah, sial! Kau benar-benar candu untukku." Ucap Chanyeol ketika merasakan perasaan aneh di bagian bawahnya.

"Hei , kau yang di dalam sana. Bagaimana jika aku mengunjungimu?" gumam Chanyeol sambil memegang perut Baekhyun.

Chanyeol kemudian meniupkan udara pelan ke wajah Baekhyun, hingga Baekhyun jatuh tertidur semakin dalam. Dan sosok tinggi itu segera bangkit dan memposisikan dirinya di depan Baekhyun.

Chanyeol melepas celana tidur Baekhyun, memperlihatkan penis Baekhyun yang masih lemas. Chanyeol kemudian meraih benda itu dan memijatnya perlahan, membuat Baekhyun menggeliat dalam tidurnya.

Dengan perlahan tangan Chanyeol bergerak naik turun untuk mengocok penis mungil lelaki di hadapannya. Awalnya pelan, namun kocokan itu berakhir dengan cepat dan terburu. Ketika penis itu menegang Chanyeol tersenyum.

Kali ini Chanyeol tidak melepas seluruh pakaiannya, waktu yang ia miliki sangat singkat. Jika Luhan memanggilnya ia harus segera kembali ke Neraka. Chanyeol mengeluarkan penisnya tanpa melepaskan celananya.

Batang tegak, dan panjang terlihat mencuat. Chanyeol membuka paha Baekhyun lebar, namun sedikit terhalang perut Baekhyun yang besar. Dengan perlahan Chanyeol menyibak belahan pantat Baekhyun.

Lalu menggerakan jari telunjuknya dengan gerakan melingkar disekitar lubang mengkerut Baekhyun. Dan ketika bosan dengan permainannya Chanyeol memasukan jemarinya ke dalam, membuat Baekhyun mengernyit dalam tidurnya.

Jemari Chanyeol bergerak keluar dan masuk secara berulang, lalu ditambah dua jari lagi, kini tiga jari Chanyeol berhasil masuk, membuat lubang Baekhyun melebar. Baekhyun terus bergerak dalam tidurnya, dan Chanyeol menyeringai.

Ketika selesai dengan kegiatan jarinya, Chanyeol memposisikan penisnya di depan lubang Baekhyun, mengocoknya sebentar lalu melakukan penetrasi. Mulai dari ujung hingga akhirnya seluruh batang besar dan panjang itu bersarang dengan sempurna.

"Aarrghhhh." Chanyeol menggeram, merasakan nikmat yang memijat penisnya.

"HHHMM." Baekhyun melenguh dalam tidur ketika Chanyeol mulai bergerak. Gerakan pelan dan konstan. Pinggul Chanyeol bergerak maju dan mundur, membuat tubuh Baekhyun tersentak-sentak.

Chanyeol ingin sekali mempercepat gerakannya, tapi mengingat kondisi Baekhyun yang sedang hamil tua membuat Chanyeol urung. Jika terjadi apa-apa pada janinnya, ibunya pasti akan membuang Chanyeol kea pi neraka.

Walau terlahir dari api, tapi api neraka sangat panas, bahkan iblis pun bisa terbakar, walau tidak mati, tapi sungguh menyiksa.

Chanyeol mendongkan kepalanya, ketika mendapat kenikmatan yang sungguh memabukannya.

"Aaahh..aaahhh…aaahh." Desahan Baekhyun mulai terdengar, hal yang membuat Chanyeol selalu kehilangan control akan hasratnya.

"Oohh Baek." Chanyeol ikut mendesah dengan tubuh yang terus bergerak pelan.

Terlihat bulir-bulir keringat di kening keduanya, bahkan baju tidur Baekhyun sudah basah. Gerakan Chanyeol sedikit lebih cepat, namun tidak brutal. Dan semakin ia menusuk dalam, semakin Chanyeol merasakan sebuah kenikmatan yang tiada tara.

"Aaaahh.. oooohh…eeeuhhh…eeuuhh." Desahan Baekhyun terdengar semakin jelas, ia menggeliat di dalam tidurnya. Chanyeol menatap wajah terganggu Baekhyun dan ia tersenyum, lalu matanya beralih pada perut Baekhyun dan terlihat urat-urat yang mencuat.

Perut Baekhyun kembali bergejolak, Chanyeol mengelus perut itu pelan sambil tetap menggerakan tubuhnya.

"Hei, aku hanya melakukan sebuah kunjungan kecil. Jangan protes sayang, kasihan ibumu." Ucap Chanyeol pada calon bayinya. Tapi perut Baekhyun semakin terlihat mengerikan dengan urat-urat yang terlihat jelas, bahkan kini terlihat seperti memar.

"Baik, baik, sebentar…aaahh…lagiiihhh ." ucap Chanyeol dan terus menggerakan tubuhnya mencari kenikmatan yang sebentar lagi akan ia capai.

Baekhyun terus menggeliat, bahkan tanpa sadar kini tangannya meremas bantal yang ia gunakan, dengan tubuh melengkung keatas, dan satu tangan yang lain bergerak menuju penisnya.

Chanyeol terkejut ketika melihat Baekhyun mengocok penisnya sendiri dalam keadaan tidur, dan melihat Baekhyun mencari kenikmatannya sendiri dengan susah payah, Chanyeol membantu Baekhyun menggerakan jemarinya.

"Aaaahh.. terussshh..oooh" Desahan Baekhyun membuat libido Chanyeol meningkat.

"Baekhyun..aaahh..kauuhhh."

Chanyeol menatap kearah kocokan tangannya dan Baekhyun, dan ketika ia merasa penis Baekhyun mengembung Chanyeol menekan tangannya kebawah hingga sperma Baekhyun akhirnya muncrat dan membasahi perutnya.

Chanyeol semakin mempercepat gerakannya dan ketika ia merasakan sesuatu akan keluar dari tubuhnya, Chanyeol menekan penisnya dan tubuhnya melemas.

"aaaaahhhh." Erangannya terdengar begitu lega dan berat. Chanyeol membiarkan penisnya menyemburkan sperma dengan kuat di dalam lubang Baekhyun.

"Itu hadiah dariku anak nakal." Ucap Chanyeol pada perut Baekhyun.

"Menyukainya hm?" godanya lagi sambil tersenyum, perut Baekhyun kembali bergejolak, dan ketika Chanyeol meraih tangan Baekhyun lalu menyentuhkannya pada daerah bergejolak itu, gejolak nya reda.

"Dasar anak nakal." Ucap Chanyeol lalu mengecup perut Baekhyun. Sebenarnya ia ingin lanjut hingga ia merasa kelelahan dan puas, tapi itu tidak mungkin mengingat kondisi tubuh Baekhyun yang sedang mengandung.

Jadi Chanyeol melepas penisnya, dan memasukannya kembali ke dalam sangkar. Lalu dengan perlahan ia menaikkan celana tidur Baekhyun, menyelimuti tubuh Baekhyun agar tidak kedinginan, dan kemudian ia bangkit.

Sebelum pergi ia mengecup bibir Baekhyun, dan mengelus perutnya.

"Jadilah anak baik, dan jaga Baekhyun untukku!" ucap Chanyeol , lalu ia kembali menatap Baekhyun.

"Mungkin setelah ini aku tidak bisa mengunjungi lagi Baekhyun, tapi suatu saat aku akan kembali lagi, setelah masa hukumanku selesai, untuk itu hiduplah dengan baik." Ucap Chanyeol sebelum akhirnya menghilang.

PLAAK

Tamparan keras Chanyeol dapatkan di pipinya, ia tidak bergerak seinchi pun , kepalanya masih terkulai kesamping, menatap lantai istana.

"Kau sungguh keterlaluan." Ucap Taemin dengan wajah tidak bersahabat. Kalian perlu tahu, malaikat juga bisa marah.

Minho hanya menghela nafas dan hanya bisa melihat dari meja kerjanya. Ia tidak marah, bukan karena takut pada istrinya, tapi karena perbuatan Chanyeol bukan masalah untuknya. Semakin jahat seorang iblis maka ia akan semakin senang, jadi ia membiarkan istrinya yang menegur sang putra.

Sementara Luhan dan Kyungsoo hanya bisa melihat dari jauh, mereka memilih duduk di sofa di dalam ruangan kerja ayah mereka. Kyungsoo mengernyit ketakutan dan Luhan menenangkan adik bungsunya.

"Kau tahu? Jika kau sepenuhnya iblis aku tidak akan melalukan ini , tapi kau harus ingat kau adalah iblis setengah malaikat Chanyeol, dan hal yang kau lakukan itu dilarang didunia malaikat." Ucap Taemin dengan air mata memenuhi kelopak matanya.

Chanyeol menyeringai, ia menatap ke dalam mata ibunya.

"Memangnya aku meminta untuk terlahir sebagai anak dari iblis dan malaikat?" ucap Chanyeol membuat Taemin membulatkan matanya.

" Karena kalian, karena cinta kalian membuatku terlahir bagai sebuah kutukan. Dan ibu harus ingat, aku tinggal di neraka, bersama ayah. Jadi aku mengikuti peraturan di neraka, bukan di surga."

PLAK

Sebuah tamparan kembali mendarat di pipi yang sama. Chanyeol mengangkat wajahnya nyalang, lalu berdecih.

"Pukul aku sampai ibu puas. Aku membencimu, sungguh membencimu. Aku berharap kau bukan ibuku, aku tidak ingin terlahir dari seorang malaikat, kau bahkan tidak pernah menyayangiku seperti kedua saudaraku. Gara-gara kesalahan kalian, aku tercipta. Aku bukan iblis sepenuhnya dan aku bukan pula malaikat." Ucap Chanyeol .

"Kau tahu rasanya dipandanga menjijikan oleh para malaikat? Heuh, kau pasti tak akan tahu. Mereka baik dan menghormatimu tapi mereka menghina dan merendahkanku, sekarang kau tahu alasan aku bertahan di neraka? Dan karena aku tinggal disini, makanya aku menggunakan peraturan yang ada disini. Meniduri dan menghamili bukan sebuah pelanggaran." Ucap Chanyeol.

"Tapi tidak untuk manusia." Chanyeol menoleh kearah ayahnya yang kini bangkit dan mendekat.

"Jangan ikut campur! Jadi sekarang kau ikut membelanya?" ucap Chanyeol kesal, Minho mendelikkan matanya, dan sebuah kobaran api memenuhi sekitar tubuhnya.

Taemin menoleh kearah Minho dan ia menghela nafas.

"Kau memang iblis, tapi bukan berarti kau tidak punya sopan santun, terlebih kau adalah putra mahkota."

"Kau tahu? Percakapan ini membuatku semakin membenci kelahiran_aaakkh." Chanyeol terpental kelantai karena Minho melemparkan sebuah bulatan api dan tepat mengenai dada Chanyeol.

Chanyeol terbatuk dan sebuah cairan merah keluar dari bibirnya. Luhan dan Kyungsoo menegang beberapa saat dan kemudian keduanya membantu saudaranya berdiri. Chanyeol menghempaskan tangan kedua saudaranya dan ia bangkit sambil menatap Minho.

"Lakukan lagi!" ucap Chanyeol angkuh. Minho mengepalkan tangannya, dan ketika akan melemparkan bola apinya lagi, Taemin menyentuh pundaknya dan kobaran api Minho mereda.

"Kau masuk kamarmu! Hukumanmu ibu tambah. Dan kau hanya boleh keluar ketika lonceng surga berbunyi." Ucap Taemin sambil menatap wajah putranya dingin. Chanyeol meludahkan darahnya dan ia segera menghilang.

Flashback Off

..

.

Keesokannya Baekhyun berangkat menggunakan bus, transportasi yang selalu ia gunakan untuk ke sekolah atau kemana pun. Saat sampai dikelas ia mendesah pelan mendapati pandangan teman-temannya yang begitu menusuk kearahnya.

Hal yang paling tidak Baekhyun sukai pergi ke sekolah adalah kehadirannya yang seolah tidak diinginkan. Baekhyun berjalan seperti biasa menuju tempat duduknya, dan ketika matanya menatap papan tulis, sebuah senyuman tersungging di bibirnya.

Sebuah senyuman pahit dan sok tegar yang selalu ia layangkan tiap kali dirinya mendapat gangguan dari teman-temannya. Seperti sekarang, di papan tulis terlihat banyak coretan yang menuju padanya, namanya ditulis disana dengan imbuhan "pelacur" "murahan" "Simpanan" "penjilat" dan sebagainya.

Bahkan ada banyak gambar dimana seorang lelaki yang disodomi diatas meja guru, lalu di kamar mandi, dan di mobil. Sebuah tanda panah melintang dan berakhir dengan namanya, beserta nama guru-guru, nama guru Hwang juga termasuk.

Baekhyun menghela nafas, ia sudah biasa mendapat perlakuan seperti ini, jangan tanya hatinya. Hatinya yang seperti kaca sudah remuk sejak lama, yang ada hanyalah serpihan-serpihan kaca itu mengeras dan berubah menjadi batu.

Tubuhnya bangkit, dan dengan langkah kaki yang dibuat normal ia melangkah menuju papan tulis. Air matanya tertahan, tapi ia berusaha senyum. Sekuat mungkin ia menggigit bibir bagian bawahnya, ia hanya tidak ingin terlihat lemah.

Tangannya meraih penghapus papan, dan dengan perlahan menghapus tulisan-tulisan dan gambar-gambar menjijikan itu, yang bahkan Baekhyun sendiri tidak pernah mengalaminya.

Mereka hanya percaya pada kabar burung yang menyebar, tanpa pernah menyelidik kebenaran berita itu. Baekhyun tertawa dalam hati, menertawai kebodohan orang-orang yang sangat mudah mempercayai berita murahan dan menertawai dirinya yang sok tegar dan kuat, padahal ia ingin sekali menangis dan meraung sejadi-jadinya.

Saat akan menghapus bagian sudut, tangannya ditahan, Baekhyun menoleh dan mendapat Chanyeol berdiri disampingnya dengan wajah kesal. Terasa jelas aura kemarahan Chanyeol yang kini memutar tubuhnya kearah teman-teman sekelasnya. Dengan kasar ia merampas penghapus itu lalu melemparkannya kearah penghuni kelas membuat beberapa orang memekik.

Tatapan Chanyeol begitu membunuh, membuat semua yang ada disana seperti menemui ajal mereka.

"Katakan.." suara Chanyeol terdengar sangat rendah dan dingin.

"Siapa yang melakukan semua ini?" lanjut Chanyeol dengan nafas memburu sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas. Tidak ada satupun yang menyahut.

Akhirnya Chanyeol harus mengandalkan anak buahnya lagi, secara tiba-tiba muncul iblis-iblis kecil seperti saat peristiwa Tuan Hwang, iblis-iblis itu muncul di beberapa tempat di dalam kelas, lalu menunjuk orang-orang yang terlibat.

"Brengsek! Jika berani ayo lawan aku. Kau! Kau! Kau! Ayo maju!" ucap Chanyeol sambil memperlihatkan kepalan tangannya. Seorang siswa dengan seragam berantakan bangkit dan melakukan sedikit peregangan pada ototnya membuat beberapa siswi bergidik ngeri.

"Heuh, anak baru berani-beraninya bertingkah. Jangan kau pikir karena kau tampan dan banyak yang menyukaimu kau bisa seenaknya. Kau baru masuk tapi sudah mematahkan tangan anak buahku, dan sekarang merebut mainanku? Heuh, Bahkan jika kau anak kepala sekolah pun aku tak akan takut." Ucap lelaki itu.

"Bagus. Kalau begitu ayo maju!" ucap Chanyeol sambil menyeringai. Sosok bertubuh tinggi dan berotot itu maju, Chanyeol masih diam di tempat dan menyeringai, dia kemudian melempar tasnya.

Ketika energinya teralir ke dalam kepalannya, sebuah suara membuat kegiatannya terhenti.

"Ingat, jangan gunakan kekuatanmu!" suara itu membuat Chanyeol menghela nafas kasar, hingga ia kehilangan fokus dan berakhir dengan pukulan di pipinya, Chanyeol mengelap sudut bibirnya yang berdarah dan ia menatap sosok dihadapannya dengan kesal.

"Jangan!" ucap Baekhyun sambil menahan tangan Chanyeol, Chanyeol menoleh.

"Diamlah disana! Aku akan menyelesaikannya." Ucap Chanyeol lagi. Lalu dengan gerakan cepat ia melayangkan sebuah pukulan tepat di perut lelaki itu hingga tubuhnya mundur beberapa langkah dan menabrak meja.

"Taecyeon!" seru siswa lain yang Chanyeol yakin adalah teman-teman lelaki yang sedang ia hajar. Lelaki bernama Taceyeon itu bangkit sambil memegang perutnya, lalu berdecih, ia kembali mengepalkan tangannya, tapi sebelum berhasil melayangkan pukulan di wajah Chanyeol, Chanyeol telah lebih dulu menghindar dan memukul punggung lelaki itu dengan sikunya.

Chanyeol memang terlahir sebagai iblis yang selalu menggunakan kekuatan supranaturalnya, tapi bukan berarti ia tidak bisa berkelahi, ayahnya selalu mengajarkannya menjadi pria sejati, yaitu berkelahi tanpa bantuan apapun.

Chanyeol menatap tepat kemata Taecyeon, mewaspadai setiap gerakannya, namun tanpa Chanyeol sadari, kaki Taecyeon menendang penghapus papan yang tergelatak hingga mengenai wajah Chanyeol, lalu ia menggunakan kesempatan itu untuk menjatuhkan Chanyeol dan setelahnya dibantu oleh teman-temannya.

Chanyeol tersungkur di lantai dengan tubuh yang terus di tendangi, Baekhyun panik, ia berusaha menghentikan tapi tubuhnya dihempaskan, lalu dengan sisa tenaga Baekhyun berlari keluar.

Selang beberapa menit, guru kedisplinan datang dan membubarkan perkelahian. Taecyeon berserta teman-temannya dan juga Chanyeol mendapat panggilan ke ruang guru. Baekhyun menatap kepergian mereka dengan wajah sedih.

"Hei! Jika kau tak melapor semua tak akan terjadi."

"Dasar tukang pengadu."

"Dasar penjilat."

"Penggoda."

Ucapan-ucapan itu terdengar ditelinga Baekhyun, dan ia memilih tuli, seperti yang biasa ia lakukan setiap harinya.

Ketika pelajaran pertama sedang berlangsung, pintu kelas terbuka dan nampak enam lelaki masuk , salah satunya Chanyeol. Dengan santai ia berjalan menuju tempat duduknya, disamping Baekhyun.

Chanyeol tersenyum kearah Baekhyun sambil mengeluarkan buku tulisnya. Baekhyun menatap Chanyeol dengan wajah iba, terutama luka di bagian pipi, sudut bibir dengan darah mengering dan memar di beberapa bagian.

"Aku benci untuk mengatakannya, tapi ini benar-benar sakit. Menjadi manusia benar-benar menyusahkan." Ucap Chanyeol lagi, sambil menatap kearah papan tulis.

"Lain kali…." Ucap Baekhyun, Chanyeol menoleh.

"…jangan lakukan ini lagi. Aku sudah terbiasa dengan perlakuan mereka." Ucap Baekhyun dengan wajah sedih.

Chanyeol tidak menjawab, ia malah mengacungkan tangannya membuat guru wanita yang sedang mengajar menoleh.

"Iya?"

"Bolehkah aku izin ke UKS? Bibirku terasa nyeri."

"Baiklah, kau bisa pergi."

"Tapi aku butuh seorang teman, untuk menemaniku, aku tidak bisa mengoleskan lukaku seorang diri." Ucap Chanyeol lagi, guru itu tersenyum genit ke Chanyeol lalu mengangguk.

Keuntungan bagi Chanyeol memiliki wajah tampan, setidaknya ia tidak akan disusahkan oleh orang-orang yang menggilai wajah rupawan. Chanyeol bangkit lalu menarik tangan Baekhyun , membuat Baekhyun terkejut sejenak tapi ia mengikuti arah tarikan Chanyeol, untuk kedua kalinya.

Bukannya menuju UKS, Chanyeol malah membawa Baekhyun kea tap sekolah.

"Aku rasa tempat ini bukan disebut sebagai UKS." Ucap Baekhyun tenang, Chanyeol tersenyum.

"Aku tahu, aku hanya ingin menghirup udara segar."

"Lalu kenapa mengajakku?" tanya Baekhyun dengan wajah datar.

"Begitukah caramu berterima kasih karena aku telah menolongmu?" protes Chanyeol. Baekhyun menatap Chanyeol lalu menghela nafas.

"Aku sudah melarangmu bukan? Tapi kau bersih keras melawan, lagipula aku tidak meminta bantuanmu." Ucap Baekhyun.

"Jika aku tak membantu mereka akan semakin mengerjaimu."

"Hanya berpura-pura tidak terjadi apa-apa, maka mereka lama kelamaan akan diam." Ucap Baekyun lagi, Chanyeol menatap Baekhyun lalu menarik pinggangnya membuat lelaki mungil itu terkejut dan wajahnya mereka berada dengan jarak yang amat sangat dekat.

"Padahal kau sangat cantik, tapi kenapa mereka membencimu?" ucap Chanyeol sambil memperhatikan wajah Baekhyun, Baekhyun merasakan panas disekitar wajahnya dan ia mendorong tubuh Chanyeol.

"Bukan urusanmu." Ucap Baekhyun sambil membalik tubuhnya dan hendak kembali ke kelas, sebelum akhirnya Chanyeol menarik tangannya dan membawa tubuh Baekhyun ke dalam pelukannya, Baekhyun ingin melepaskan diri tapi tubuhnya malah bergeming dan menegang.

Chanyeol memeluk tubuh itu erat, mencium aroma yang menguar dari tubuh yang lebih kecil, aroma yang selalu membuatnya mabuk dan terlena, jemari Chanyeol mengelus helaian rambut Baekhyun.

Ia memang sudah sering menyetubuhi Baekhyun, bahkan setiap inchi dari tubuh Baekhyun , Chanyeol sudah hapal dengan benar, namun ini untuk pertama kalinya interaksi mereka dalam keadaan sadar.

Entah mengapa Baekhyun merasakan sebuah kenyaman, selain ibunya dan mendiang ayahnya, tidak ada yang benar-benar menyayanginya dan memberikan pelukan hangat seperti ini, Baekhyun merasa tubuh Chanyeol dan tubuhnya diciptakan memang sepasang, begitu pas dan nyaman.

Melayang pada pemikirannya, tanpa terasa mata Baekhyun menjadi basah, air mata yang tiba-tiba muncul tanpa tahu malu meleleh melewati pipinya. Baekhyun hanya terlalu lelah, lelah dengan semua hal yang terjadi dalam hidupnya. Jika bukan demi ibunya, Baekhyun sudah memilih untuk membunuh dirinya sejak dulu.

Chanyeol merasakan dadanya menghangat oleh cairan, ia menjauhkan tubuh Baekhyun dan menatap wajah berpaling itu dengan dekat. Chanyeol benci, ia paling membenci air mata kesedihan. Walau dia iblis, tapi melihat orang yang ia sayang mengeluarkan air mata, Chanyeol seolah merasa dihukum oleh takdir.

"Jika dengan keluarnya benda ini bisa membuatmu tenang, maka keluarkanlah!" ucap Chanyeol. Baekhyun mengalihkan pandanganya kearah mata Chanyeol, mereka bertatapan sejenak.

"Ini memalukan, aku benci untuk menangis. Tapi kali ini boleh aku meminjam dadamu?" suara Baekhyun terdengar lirih. Dan dengan segera Chanyeol menarik kembali Baekhyun ke dalam pelukannya. Sedetik kemudian ia mendengar isakan keras dari Baekhyun, remasan pada punggungnya membuat Chanyeol tahu seberapa menderitanya Baekhyun.

"Jangan takut, aku akan selalu ada untukmu Baekhyun." Gumam Chanyeol. Baekhyun menghentikan isakannya dan ia membuat jarak diantara mereka, mata Baekhyun menatap ke dalam mata Chanyeol.

Baekhyun semakin menatap dalam mata Chanyeol, membuat Chanyeol sedikit gugup jikalau Baekhyun mengingat siapa dirinya. Sosok Chanyeol masih sama hanya berbeda pada warna mata dan rambut, walau sudah merubah dirinya tapi tetap saja mereka pernah melakukan kontak mata.

"Sebenarnya siapa dirimu?" pertanyaan itu membuat Chanyeol bungkam, matanya bergerak ke kanan dan ke kiri mencari pertolongan.

"A..ku..aku adalah_"

TBC

( Silahkan kunjungi QnA dibawah, siapa tahu pertanyaan kalian terjawab)

Sebelumnya makasi banyak yang ngereview dan rajin buat ngingetin update. Ah kalian the best deh. Yang ngefav nge foll juga makasi lho walau gak sempet review hehehe. Aaah.. aku jujur nih ya, ternyata buat ff genre fantasy itu gak mudah, apalagi rate M , dan akhir-akhir ini jadwalku padet merapat, maaf banget. Dan makasi buat yang udah ngasi masukan untuk cara penulisan aku, makasi ya. Sekarang aku tahu apa kesalahan aku, hehehe..

Question and Answer guys , aku rangkum berdasarkan pertanyaan terbanyak dan unik ya, hehehehe..

Q : Apa anak Chanbaek itu Sehun?

A : Sekarang udah tahu kan jawabannya. Wkwkwkwkw. Iya, anak Chanbaek itu sehun.

Q : Kapan playful love update?

A : Sebenarnya ini melenceng dari ff ini ya? Tapi gapapa hehehe berhubung pertanyaan ini hampir selalu muncul di kotak review wkwkwkw dan karena aku yang nulis juga, hmm.. samaan sama DBM mestinya hehehe..

Q : Kok lu ahli bakan bikin adegan NC? Dapet ide darimana?

A : Hmm.. kalo dipikir-pikir ini kayak pertanyaan jebakan, Wkwkwkw. Kalo aing seneng, ntar keliatan banget mesumnya, kalo sedih tapi bangga sih wkwkwkw.. Kalo masalah ide, hhmm… perbanyak visualisasi hahaha.. IYKWIM..

Q : Sering nonton video porno ya? Kok adegan ranjangnya bisa hot gitu? Banyak lagi, apalagi yang di playful Love. Atau pengalaman sendiri?

A : Widih, ini pertanyaan kayak detektifnya hahaha.. Aing gak nnton video porno, tapi nnton jgv hahhaa.. ada yang mau link? DM me ( kyk senpai-senpai fujo kalo bagi link video jgv ) wwkwkwkw… eh tapi gak sering kok, pas ada waktu luang ajah, hehehe.. Pengalaman? Wkwkwkw.. kagaklah. Dikit informasi ya, bisa nulis adegan dewasa bukan berarti udah pengalaman dalam hal begituan, wkwkwkw.. Aku mah Cuma tau teori doang, praktek mah belum.

Q : Thor/kak/eon/nun , kok updatenya lama banget. Kira-kira updatenya berapa bulan sekali?"

A : Waah, aku sempet bingung . Ini sebenernya pertanyaan atau sindiran ya? Wkwkwkw.. becanda, becanda. Hmm.. gini, anggap ajah kalian baca ff ini kayak gajian, jadi mungkin tiap bulan, kadang ngaret, atau kadang bisa ditunggak. Hehehehe..

Q : Thor/Kak/eon/nun, gak ada kontak kah? Aku pingin kenal real life.

A : Ada sih, di note aku ada kok. Tapi mungkin kalian terlalu sibuk bahkan untuk sekedar melihat bio aku hahaha. Nih , line : Shita0224 , Ig : Parkshita, kalo bbm udah penuh, jadi mending kesini ajah, kalo nope itu khusus, khusus buat operator hahaha..

Q : Thor/ Kak/Eon/Nun, biar tahu lu update gimana?"

A : Kamu bisa follow story aku, atau follow akunku. Bisanya ada notifikasi yang masuk kok. Dan biasanya aku posting di IG kalo udah update hehehehe..

Q : Kira-kira berapa chapter?

A : Wahahahaha.. belum tahu. Maunya berapa? 10? 20? 100? 1000? Biar kayak utaran , hahahaha.. ( btw aing bukan utaranlover lho, ciyus) , atau mau di chapter 5 udah tamat. Bole-bole.

Q : Kenapa ibunya Baekhyun Key lagi?

A : Hhmm.. ibarat kunci diputer, klik! Wkwkwkw… ya aku klik ajah sama sosok Key yang jadi ibunya Baekhyun. Apa mau diganti sama Sooman? Wkwkwkw..

Q : Kenapa ada Yunho? Ini typo apa emang Yunho bakal ada?

A : Hehehehe.. buat yang ini maaf ya, itu murni typo. Aku gak tahu kenapa bisa ngetik Yunho padahal diotakku Minho. Maafkan aing , jangan marah ya?

Q : Kira-kira ada konfliknya gak?

A : Wkwkwkwkw.. masak aku buat cerita gak ada konflik, kan gak lucu , kan gak seru. Tapi konfliknya gak seribut utaran kok ( lah utaran lagi, tapi sumpah aing bukan utaranlovers) wkwkwkw..

Q : Lu ngeship chanbaek sebagai apa?

A : Hhmm.. sebenarnya gak perlu di jawab sih, tapi buat klarifikasi ajah. Aku ngeship Chanbaek as gay, as kekasih, as Hus-wif, as lovers, as cinta normal.

Q : Lu nulis ff kek begini emangnya lu pernah liat Chanbaek ngeseks? Apalagi ff lu yang playful love , serasa tau semua sih lu thor.

A : wkwkwkwkw.. ini yang disebut imajinasi mas/mbak, dan ini yang disebut kepercayaan. Emangnya anda pernah liat Tuhan? Gak kan, tapi anda bisa membayangkan Beliau kan ketika sembahyang? Dan anda percaya kan dengan keberadaan beliau walaupun anda tidak pernah melihatnya secara langsung? Sama halnya dengan saya ke chanbaek. Wkwkwkwwk.. So, mari saling menghormati. Tapi saya seneng lho, setidaknya anda termasuk penggemar saya secara sembunyi-sembunyi, iya gak? Hahahaha.. gapapa kalo kamu belum yakin sama Chanbaek, terus ajh baca ff mereka dan liat video mereka, maka kamu akan melihat sebuah cinta disana.

Sekian dulu ya, semoga pertanyaan-pertanyaan kalian terbalas. Kalau ada yang belum terjawab, silahkan tanyakan lagi.

Dan untuk chapter ini maaf kalau gak memuaskan dan typo Hehehehe..

Mari cintai chanbaek sebagai mana mereka mencintai kita. Cinta mereka gak salah guys, cinta mereka sama seperti cinta orang "normal" pada umumnya, hanya saja orang-orang disekitar yang menghakimi mereka salah. Padahal Chanbaek gak pernah tuh menyakiti siapapun , malah mereka sendiri yang sakit karena menjaga perasaan penggemar.

Jadi, jangan berhenti untuk mendukung mereka. Mereka itu real guys, trust me! Chanbaek adalah kenyataan yang orang "normal" coba untuk tutupi.

Mari jaga kesehatan, dan kalo sempet reviewnya boleh dong hehehe.

Salam Chanbaek ya!