Tittle : Devil Beside Me chapter 3
Cast : Park Chanyeol ( EXO ), Byun Baekhyun ( EXO ), Oh Sehun ( EXO ), Do Kyungsoo (EXO ), Xi Luhan (EXO ), Kim Jongin (EXO ), Kim Kibum (SHINee ), Choi Minho ( SHINee ), Lee Taemin (SHINee ) and Ok Taecyeon ( 2 PM ) , Kim Dasom ( Sistar ),Taeyang ( BigBang), Wang Jackson ( Got7), Kim Jonghyun ( SHINee) and others
Mengingatkan : Gay's area, Percintaan sesama jenis, Yaoi, BxB, cowokx cowok, pisang makan pisang , NC scene, adegan ranjang, MATURE, NOT FOR CHILDREN, Merusak sel otak, dll yang tidak baik bagi kesehatan mental tapi bagus untuk kerja jantung hehehehe..
Masi menunggu ff ini? Yang kemarin review mana suaranya?
Yang kemarin chat minta cepet update ? angkat tangannya!
Yang ngechat berkali-kali dan terus minta update? Angkat kakinya (?) hahahaha…
Terima kasih karena berkat kalian ff ini bisa sampai chapter ini.
Selamat membaca ya.
(Seperti biasa ad ) hahaha
Previous chapter
Chanyeol memeluk tubuh itu erat, mencium aroma yang menguar dari tubuh yang lebih kecil, aroma yang selalu membuatnya mabuk dan terlena, jemari Chanyeol mengelus helaian rambut Baekhyun.
Ia memang sudah sering menyetubuhi Baekhyun, bahkan setiap inchi dari tubuh Baekhyun , Chanyeol sudah hapal dengan benar, namun ini untuk pertama kalinya interaksi mereka dalam keadaan sadar.
Entah mengapa Baekhyun merasakan sebuah kenyaman, selain ibunya dan mendiang ayahnya, tidak ada yang benar-benar menyayanginya dan memberikan pelukan hangat seperti ini, Baekhyun merasa tubuh Chanyeol dan tubuhnya diciptakan memang sepasang, begitu pas dan nyaman.
Melayang pada pemikirannya, tanpa terasa mata Baekhyun menjadi basah, air mata yang tiba-tiba muncul tanpa tahu malu meleleh melewati pipinya. Baekhyun hanya terlalu lelah, lelah dengan semua hal yang terjadi dalam hidupnya. Jika bukan demi ibunya, Baekhyun sudah memilih untuk membunuh dirinya sejak dulu.
Chanyeol merasakan dadanya menghangat oleh cairan, ia menjauhkan tubuh Baekhyun dan menatap wajah berpaling itu dengan dekat. Chanyeol benci, ia paling membenci air mata kesedihan. Walau dia iblis, tapi melihat orang yang ia sayang mengeluarkan air mata, Chanyeol seolah merasa dihukum oleh takdir.
"Jika dengan keluarnya benda ini bisa membuatmu tenang, maka keluarkanlah!" ucap Chanyeol. Baekhyun mengalihkan pandanganya kearah mata Chanyeol, mereka bertatapan sejenak.
"Ini memalukan, aku benci untuk menangis. Tapi kali ini boleh aku meminjam dadamu?" suara Baekhyun terdengar lirih. Dan dengan segera Chanyeol menarik kembali Baekhyun ke dalam pelukannya. Sedetik kemudian ia mendengar isakan keras dari Baekhyun, remasan pada punggungnya membuat Chanyeol tahu seberapa menderitanya Baekhyun.
"Jangan takut, aku akan selalu ada untukmu Baekhyun." Gumam Chanyeol. Baekhyun menghentikan isakannya dan ia membuat jarak diantara mereka, mata Baekhyun menatap ke dalam mata Chanyeol.
Baekhyun semakin menatap dalam mata Chanyeol, membuat Chanyeol sedikit gugup jikalau Baekhyun mengingat siapa dirinya. Sosok Chanyeol masih sama hanya berbeda pada warna mata dan rambut, walau sudah merubah dirinya tapi tetap saja mereka pernah melakukan kontak mata.
"Sebenarnya siapa dirimu?" pertanyaan itu membuat Chanyeol bungkam, matanya bergerak ke kanan dan ke kiri mencari pertolongan.
"A..ku..aku adalah_"
ParkShiTa
Present
…
..
.
"A..aku adalah…" Chanyeol mengedarkan pandangannya, berusaha menemukan jawaban yang bisa diterima oleh nalar.
"Aku adalah temanmu. Kita berteman bukan?" ucap Chanyeol sambil tersenyum lebar. Baekhyun mengernyitkan dahi, semakin membuat Chanyeol merutuki jawaban bodohnya.
Baekhyun mendorong dada Chanyeol pelan, tubuhnya mundur beberapa langkah.
"Aku harus kembali." Ucap Baekhyun dengan suara lemah, Chanyeol bingung. Ia rasa jawabannya tidaklah buruk. Kata "teman" jauh lebih masuk akal ketimbang "jelmaan iblis setengah malaikat" pikirnya.
"Baekhyun! Tunggu!" ucap Chanyeol sambil menahan tangan Baekhyun. Baekhyun menghentikan langkahnya namun tidak berbalik.
"Aku…aku sudah lupa apa itu teman dan apa arti sebuah pertemanan." Ucap Baekhyun sambil melepaskan tangannya dari genggaman Chanyeol dengan tangan kirinya.
Ia kemudian menatap Chanyeol , sebuah tatapan yang entah mengapa membuat Chanyeol merasa dadanya nyeri.
"Maafkan aku, tapi hatiku sudah membeku untuk orang lain." Lanjut Baekhyun lalu segera melangkah pergi setelah tangannya terlepas dari genggaman Chanyeol.
Chanyeol terdiam disana, menatap punggung sempit Baekhyun yang telah menjauh.
"Mereka memang makhluk lemah. Tapi mereka kuat menahan derita dari pertentangan batin yang mereka alami." Chanyeol menoleh dan melihat Luhan bersandar di besi pembatas atap sekolah.
Chanyeol menatap saudaranya sekilas, lalu berdecih sebelum akhirnya pergi.
Devil Beside Me
Chapter 3
…
..
.
Manusia yang baru meninggal, akan dijemput oleh Zalom, sebutan untuk para penjemput ajal seseorang. Zalom biasa disebut malaikat maut oleh para manusia. Sesungguhnya mereka bukanlah malaikat, karena tidak ada malaikat yang berhubungan dengan kematian. Tapi entah mengapa sebuatan malaikat maut begitu kental berhubungan dengan makhluk yang mencabut nyawa seseorang.
Walau sebenarnya, kematian seseorang tidak ditentukan oleh para iblis maupun malaikat, ataupun makhluk lainnya. Kematian mutlak kuasa Sang Pencipta.
Jika para manusia menggambarkan Zalom sebagai makhluk gelap dengan sebuah kapak besar ditangan yang bersimbah darah, serta berkuku tajam dan bertaring. Wujud asli mereka sebenarnya adalah makhluk berjubah hitam dengan tudung, berkulit putih dan membawa lentera.
Lentera itulah yang akan menuntun para jiwa yang baru meninggal untuk melewati lorong sempit dan gelap untuk menuju sungai Konga-sungai kematian-. Para Zalom akan membiarkan para arwah turun, lalu akan ada dua jalur di depan mereka.
Jalan disebelah kanan adalah Surga, dan disebelah kiri adalah Neraka. Mereka tidak bisa memilih, karena semua telah ditentukan sejak mereka menjemput ajal. Dua orang penjaga berdiri dimasing-masing jalan.
Wanita berjubah putih, dengan rambut yang juga putih terurai panjang hingga menyentuh tanah, sebuah ulatan dari ranting pohon yang menjadi mahkota, bibir semerah ceri, bersayap seperti kupu-kupu dan bermata biru, mereka sangat cantik. Dan mereka lah yang akan membawamu menuju surga, mereka disebut Shandora –malaikat penjaga pintu masuk-.
Sementara, iblis penjaga pintu masuk disebut Sharlome. Berwujud tinggi besar, dengan dua taring panjang, berbulu lebat, bermata merah, berekor seperti monyet dan kuku yang juga besar. Merekalah yang bertugas mengantar para arwah menuju neraka, untuk menikmati hukuman yang sepadan atas apa yang mereka lakukan seumur hidup.
Neraka memiliki tujuh tingkatan, tingkatan pertama adalah tempat para arwah mengantri untuk mendata diri. Lalu tingkat kedua adalah para arwah yang akan diajak berkeliling untuk melihat berbagai macam siksaan yang akan mereka terima dengan tubuh gemetar karena takut.
Ketakutan yang besar adalah kekuatan para iblis. Tingkat berikutnya mereka akan disiksa secara ringan, diborgol dan diperintahkan untuk merangkak selama melewati anak tangga untuk mencapai tingkat empat. Sekitar 24 ribu anak tangga yang harus mereka lalui dengan kaki telanjang.
Ditingkat empat, mereka akan mendapat eksekusi awal. Dicambuk dan ditempel dengan lempengan besi yang dibakar diatas bara api. Jika kejahatan yang mereka lakukan kecil, maka akan diminta mengikuti lorong waktu, dimana mereka akan diberi sebuah cairan pekat yang menjijikan dan dipaksa meminumnya.
Zhadeer, adalah ramuan untuk menghapus ingatan-ingatan para arwah selama disiksa di neraka tingkat empat. Dan setelah itu mereka bisa langsung diberi surat bebas, dan bisa reinkarnasi. Tapi hanya ada dua pilihan lahir. Menjadi manusia cacat, atau menjadi binatang.
Sementara yang kejahatannya lebih besar, mereka harus melewati tingkat kelima dan keenam dengan hukuman yang lebih berat, lalu bila semasa hidupnya benar-benar jahat mereka akan sampai pada neraka tingkat tujuh, pusat dari seluruh para iblis berasal. Dan disinilah Kerajaan Infernus berdiri dengan kokoh.
Infernus bukanlah kerajaan biasa. Infernus adalah sebuah kerajaan di dasar perut bumi yang begitu megah, terdiri dari pilar-pilar tinggi dan sebuah bangunan tinggi yang menjulang dengan kokoh. Di dominasi oleh warna hitam dan merah yang merupakan warna kesukaan para iblis.
Disepanjang jembatan menuju istana, terdapat sebuah kumbangan api seperti larva di puncak gunung, yang meluap-luap , seperti ingin menarik siapapun yang lewat ke dalamnya. Para iblis menyebutnya "Lautan kematian" , karena jiwa-jiwa kotor akan dibuang disana, terbakar dan tercabik-cabik oleh panasnya api, namun mereka tidak akan pernah musnah.
Jiwa terkotor akan menghuni tempat itu , teriakan dan tangisan memilukan akan menjadi latar suara dari Infernus . Jeritan kesakitan, jeritan penyesalan, amarah, dendam akan membaur menjadi satu dan menciptakan gema yang sangat keras.
Infernus tidak hanya terdiri dari lautan kematian, mereka memiliki banyak sekali 'wahana' hukuman yang mereka gunakan untuk menghukum manusia yang telah mati dan berdasarkan pada tingkat kejahatan yang pernah mereka lakukan.
Cambuk besi berduri adalah level terendah, arwah kotor di cambuk ribuan kali tanpa henti sepanjang kematian mereka, sebelum waktu mereka untuk terlahir kembali tiba. Di level kedua dari bawah ada pohon pedang. Arwah akan dibaringkan disana dan ribuan pedang akan berjatuhan dari atas dan menancap di tubuhnya.
Ada juga "bukit berdarah" , dimana dari tumpukan-tumpukan tulang belulang yang membentuk sebuah bukit akan di letakkan arwah diatasnya, lalu dari dalam celah-celah tengkorak akan muncul ribuan janin-janin iblis yang bersimbah darah dengan wajah mengerikan, merangkak naik dan menggerogoti tubuh ayah atau ibu yang dulu mengaborsi mereka, menarik –narik mereka, hingga kulit mereka terlepas dan teriakan nyaring biasanya akan terdengar dari puncak bukit.
"Penggalan maut" adalah sebutan untuk hukuman yang diberikan pada para pembunuh dimana mereka akan dipenggal kepalanya hingga terputus, lalu tersambung lagi dan dipenggal lagi. Begitu seterusnya hingga mereka merasakan sakit yang terus berulang.
Dan masih banyak 'wahana-wahana' yang terdapat disana, dan semua itu dikendalikan oleh pusat Infernus. Dimana ada Minho yang yang mengurus semuanya dibantu oleh Luhan yang selalu setia menggantikan posisi ayahnya.
Ketika Minho harus mengadakan rapat dengan para petinggi. Maka Luhan lah yang bertugas menggantikan. Seperti sekarang, lelaki cantik itu sedang sibuk mengecek beberapa data-data nama arwah-arwah yang baru saja masuk.
Luhan menggeleng ketika melihat semakin banyak jiwa kotor yang masuk, entah mengapa di abad ini manusia sungguh kejam dan tidak berhati, pikirnya. Bukan apa-apa, hanya saja Luhan sedikit kesal jika harus mengkonfirmasi pada bawahannya untuk memperbanyak para pengeksekusi dan memperluas beberapa area agar semua jiwa yang masuk mendapatkan hukuman yang setara.
Luhan sangat pandai, dan juga tekun dalam bekerja. Tidak seperti adiknya Chanyeol yang selalu mengeluh ketika diberi tugas. Dulu sekali, Chanyeol pernah ditugaskan untuk mendata jiwa-jiwa yang masuk, tapi karena adik bodohnya itu kesal dan pusing.
Ia memasukkan semua arwah ke dalam 'Lautan kematian' hingga membuat raungan para arwah terdengar sampai kedunia manusia. Luhan saat itu panik dan merasa tidak enak pada ayahnya karena memberikan tugas itu pada Chanyeol, tapi adik bodohnya mengedikkan bahu sambil berkata.
"Mereka yang masuk semua adalah jiwa-jiwa yang kotor. Dan dimataku jiwa yang kotor sama saja, kenapa harus dipilah, jika perbuatan mereka ketika hidup sama-sama merugikan orang lain. Lautan kematian begitu luas dan tak akan pernah penuh jadi itu bukan masalah."
Mengingat ucapan itu , membuat Luhan selalu naik pitam. Entah mengapa ibunya bisa melahirkan iblis bodoh seperti Chanyeol. Mengingat adiknya membuat Luhan teringat akan pesan ibunya untuk mengurus semua keperluan Chanyeol.
"Kenapa juga sih dia minta macam-macam. Sudah bagus aku mau mengurus semua urusannya di dunia manusia." Gerutu Luhan sambil mengecek kembali nama-nama arwah yang masuk.
Selama ini Luhan lah yang diberi tanggung jawab oleh ayah dan ibunya untuk mengurus semua keperluan Chanyeol selama di dunia manusia. Karena kedua orangtuanya percaya akan cara Luhan menyelesaikan sesuatu.
Luhan sangat mandiri, pintar, tenang dan berkepala dingin. Tidak ada masalah yang tidak bisa ia selesaikan. Itu mengapa semua bawahannya menganggap dia adalah teladan yang baik. Luhan memang tidak seperti ayahnya yang kejam dan tegas, mengingat ia masih memiliki darah malaikat ditubuhnya, namun ketika ia serius tidak akan ada yang berani melawannya.
"Luhan hyung!" mata Luhan beralih pada sosok Kyungsoo yang berjalan dari arah pintu menuju mejanya dengan medan salju disekitarnya.
"Ada apa Kyungsoo?"
"Hyung, aku ingin bertanya sesuatu." Ucap Kyungsoo.
"Apa? Aku sedang sibuk." Sahut Luhan masih mencocokan beberapa data dengan data yang ada ditangannya.
"Tidak , hanya sebentar."
"Cepat katakan!" kata Luhan ketus, ia hanya tidak suka ketika pekerjaannya diganggu, Luhan benci melakukan kesalahan.
"Apa hyung pernah jatuh cinta? Bagaimana rasanya?" tanya Kyungsoo lugu. Luhan menoleh dan menatap Kyungsoo dengan mata besarnya.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Ibu selalu berkata Chanyeol hyung sedang jatuh cinta, Chanyeol hyung sedang jatuh cinta, dan aku harus maklum, ibu juga berkata jika suatu saat aku akan jatuh cinta. Seperti apa rasanya? Apa manis seperti kue di Nubes? Atau pahit seperti obat yang diberikan tabib?" Luhan mengedipkan matanya beberapa kali. Dan ia teringat akan sesuatu, matanya menerawang jauh.
Flash Back On
Luhan saat itu yang masih remaja, berjalan-jalan disekitar Nubes. Di dunia iblis-malaikat tidak ada yang namanya usia, karena mereka adalah makhluk abadi.
Mereka memang tumbuh dari bayi dan terus tumbuh namun mereka bisa menentukan diusia berapa mereka akan berhenti tumbuh. Ketika kau menyukai tubuhmu yang sekarang kau bisa menghentikannya disana, namun ketika kau harus menikah dan memiliki keturunan kau bisa menambah lagi proses penuaanmu. Yah seperti itulah.
Bukan tanpa alasan hanya semata-mata agar terlihat lebih beribawa dan dihormati, karena menjadi muda membuatmu selalu diragukan dan di pandang sebelah mata. Ketimbang anak muda yang terlihat segar, seorang pria berkumis dan berjenggot jauh lebih dipercaya dan dihormati. Namun tak sedikit yang tetap mempertahankan wajah muda mereka.
Walau bisa menghentikan usia mereka, tapi mereka tidak bisa mempercepatnya. Iblis dan malaikat akan tumbuh sewajarnya ketika mereka berada pada fase bayi hingga remaja dan akan berhenti ketika usia mereka setara dengan usia 20 tahun manusia di bumi. Tapi pertumbuhan para iblis dan malaikat dua sampai tiga kali lebih cepat daripada pertumbuhan para manusia, hanya saja mereka kekal dan abadi.
Para iblis lebih suka terlihat garang dan dewasa, ketimbang para malaikat yang lebih memilih ingin terus awet muda. Perbedaan itu yang membuat mereka terlihat begitu mencolok ketika berdampingan.
Luhan beruntung, ia tumbuh menjadi remaja yang cantik seperti para malaikat. Ketika ia berada di Nubes, ia akan terlihat sama dengan para malaikat, hanya bajunya yang terlihat berbeda, ia didominasi oleh warna abu. Sementara para malaikat lebih suka warna biru langit, putih, biru laut, merah semuda bunga sakura, atau kuning seperti bunga krisan.
Tapi hari ini Luhan terlihat menggunakan pakaian berwarna kuning terang. Ketika ia berkata ingin berjalan-jalan di Nubes, ibunya menyuruhnya berganti baju agar tidak menjadi objek pembicaraan. Dan hormone remaja Luhan mengalahkan semua egonya, ia mengangguk dan berakhir dengan menggunakan jubah malaikat .
Kakinya melangkah mengikuti rasa penasaraanya dan membawanya pada salah satu ruangan di kerajaan. Ia mengintip dan melihat sebuah ruangan yang menarik perhatiannya, ruangan itu di dominasi oleh warna putih sebagaimana ruangan lain di dalam istana tersebut, tapi bukan itu yang menyita perhatiannya melainnya seorang pria berkumis yang duduk di tengah ruangan dan terlihat begitu sibuk.
Kakinya melangkah masuk seperti seorang pencuri mendekati pria yang sibuk dengan pekerjaannya itu.
"Jangan masuk!" ucap pria itu tanpa menoleh.
"Tapi aku ingin~" rengek Luhan sambil mendekat, pria itu menoleh dan terkejut melihat wajah cantik Luhan yang terasa asing. Setiap malaikat akan mengenali satu sama lain karena mereka memiliki sebuah tanda di kening mereka, kristal berbentuk segitiga berwarna biru sebiru mata mereka.
"Kau siapa?"
"Perkenalkan aku Luhan." Ucap Luhan sambil memberi hormat, pria itu memicingkan matanya dan mengamati Luhan.
"Luhan? Kau anak dari putra mahkota?" tanyanya ragu. Luhan mengangguk antusias.
"Bagaimana kau mengenaliku?"
"Aku hanya menebak. Aku pernah melihatmu hanya ketika kau lahir saja. Dan , apa yang kau lakukan disini?" tanya pria itu sambil kembali pada pekerjaannya menulis sesuatu diatas kertas.
"Apa yang paman lakukan?" Bukannya menjawab, Luhan malah balik bertanya. Ia hanya bingung harus menjawab apa, karena ia sendiri belum tahu apa yang sedang ia lakukan
"Menulis." Sahutnya singkat. Luhan berdecih lalu mengedarkan pandangannya kesekitar. Ia melihat begitu banyak peralatan aneh disana. Ia mendekati satu persatu alat-alat tersebut.
"Paman ini apa?" tanya Luhan menunjuk sebuah lingkaran terbuat dari besi dengan posisi berdiri, dan di tengah-tengahnya terdapat seperti awan.
"Lingkaran mimpi"
"Untuk?"
"Mengatur mimpi seseorang." Ucap pria itu lagi tanpa memperdulikan wajah sumringah Luhan. Dengan perlahan telunjuk Luhan terulur dan menyentuh ke dalam lubang di hadapannya , Luhan membulatkan matanya ketika sentuhannya terlihat seperti riak air.
Dan Luhan dapat melihat mimpi-mimpinya sejak kecil hingga dewasa. Ia nampak begitu takjub.
"Aku adalah raja iblis hahahahahah." Luhan seketika panik ketika melihat mimpinya yang berdiri di atas puncak Infernus sambil mengenakan jubah raja milik ayahnya. Pria itu menoleh dan Luhan juga melirik sekilas lalu dengan panik meniup-niup ke dalam lingkaran itu bermaksud menghentikan mimpi itu.
"Usap dengan telapak tanganmu!" dan benar mimpi itu hilang lalu kembali menjadi kumpulan awan yang tenang. Luhan berpindah, ia tidak ingin terlibat dengan benda menyebalkan itu lagi.
Kini mata Luhan teralih pada sebuah benda yang yang memiliki dua buah lempeng yang berputar berlawanan arah, lalu disampingnya ada pasir waktu.
"Lalu ini apa?"
"Mesin waktu." Pria itu menyahut dingin setelah melirik Luhan sekilas.
"Fungsinya?"
"Apa kau pikir siang dan malam berjalan sendiri? Para malaikatlah yang mengaturnya." Ucap pria itu sambil tetap berkutat dengan tulisannya.
Luhan mengangguk dan kembali menuju sebuah kuali emas yang besar dan terdapat air yang tenang di dalamnya.
"Yang ini apa paman?"
"Air masa depan. Jangan bertanya apa fungsinya!" ucap paman itu cepat membuat Luhan membatalkan pertanyaannya. Tapi ia masih bingung, bagaimana cara menjalankan benda itu.
"Masa depan yang seperti apa?" tanya Luhan. Pria itu menghentikan acara menulisnya. Ia menatap Luhan sambil menghela nafas.
"Ya masa depan, seperti pekerjaan, kehidupan, percintaan, apapun yang berhubungan dengan masa depan." Luhan mendekat kearah pria itu dan menopangkan dagunya diatas meja.
"Apa menurut paman aku bisa memiliki kisah cinta?" tanya Luhan.
"Bisa jika kau jatuh cinta."
"Tapi dengan siapa?" tanya Luhan lagi. Pria itu menoleh lagi dan meletakkan penanya. Ia menatap Luhan dalam diam lagi.
"Kemarikan tanganmu!" ucap pria itu. Dengan cepat Luhan memberikan telapak kanannya, pria itu meraihnya lalu menatap kearah telapak Luhan, menggerakan jari telunjuknya disana membuat Luhan terkikik geli.
"Takdirmu sedikit rumit."
"Benarkah?" mata Luhan membulat.
"Hm, kau jatuh cinta pada orang yang salah." Ucap pria itu lagi, Luhan semakin penasaran.
"Kenapa? dan bagaimana cara kami bertemu?"
"Sekarang kau pergi ke air masa depan itu lagi, berdiri disana, dan sentuh airnya. Maka kau akan tahu bagaimana kalian bertemu." Luhan mengikutinya dengan semangat ia berdiri disana.
Ia menyentuh air itu pelan, dan sebuah bayangan terlihat. Luhan mengernyit ketika mendengar bunyi detak jantung yang berasal dari sana, dan semakin lama ia bisa melihat sebuah janin yang tertidur di dalam rahim, ternyata detak jantung itu berasal dari bayi tersebut.
Luhan mempertajam matanya ketika bayangan bayi itu hilang dan tergantikan oleh oleh bayangan mata lelaki yang terpejam, dan perlahan terbuka, mata yang begitu menawan. Luhan tersenyum tanpa sadar, lalu bayangan itu hilang dan airnya kembali tenang.
"Aku melihatnya. Bayi dan mata."
"Mungkin dengan itu kau bertemu takdirmu." Ucap pria itu.
"Terima kasih paman! "
"Aku punya nama."
"Siapa?"
"Kim Jonghyung." Dan Luhan semakin melebarkan senyumnya, lalu terdengar bunyi lonceng kerajaan.
"Pergilah! Waktu istirahat para malaikat telah usai. Mereka akan segera kesini untuk mengerjakan tugas mereka masing-masing."
"Terima kasih Paman Kim." Ucap Luhan sambil melambaikan tangannya dan ketika sosok Luhan hilang, sosok malaikat itu tersenyum dengan lebar.
Waktu berlalu dengan cepat. Dan Luhan sudah tumbuh menjadi malaikat setengah iblis yang menawan dan cantik. Semenjak itu ia tidak pernah bermain ke Nubes lagi, karena ia disibukkan dengan tugas-tugasnya.
Apalagi tugas tambahan untuk menjaga adik keduanya yang tengah menjalani hukuman karena menghamili manusia. Jadi sesekali Luhan harus mengecek apakah adiknya kabur atau tidak. Walau sebenarnya ia pernah membantu adiknya kabur beberapa kali, bagaimana pun dia tetap seorang kakak yang menyayangi adiknya.
"LUHAN!" Luhan dikejutkan dengan panggilan telepati dari ibunya.
"Ada apa bu?"
"Cepat datang kemari dan bawa Kyungsoo! Darurat!" Luhan meletakkan daftar nama yang ia pegang, dan segera menghilang menuju kamar adiknya untuk menyusul sang ibu.
Mereka sampai di sebuah kamar , dimana nampak ibunya sedang duduk di depan seorang lelaki dengan perut yang membesar. Perut itu bergejolak dengan hebat, membuat lelaki tertidur itu mengerang kesakitan dalam tidurnya.
"Baekhyun akan melahirkan! Cepat bantu ibu!" ucap Taemin. Tubuh telanjang Baekhyun terlentang di atas kasur, dengan kaki yang mengangkang memperlihatkan penis dan juga lubang pantatnya.
"Kyungsoo, aliri energimu ketubuhnya. Persalinan ini akan menguras banyak tenaga, karena bayi yang ia lahirkan adalah setengah iblis." Kyungsoo mengangguk dan segera berdiri disamping ranjang.
Ia mengangkat poni Baekhyun, lalu meletakkan telapak tangannya disana. Dan sebuah cahaya berwarna biru bersinar dikening Baekhyun. Kristal di kening Kyungsoo juga menyala, membuat kamar itu semakin terang.
"Luhan, robek perutnya!" ucap Taemin, ia adalah malaikat dan ia tidak mungkin menyakiti manusia. Untuk itu ia meminta bantuan Luhan yang masih memiliki darah iblis.
Luhan mengangguk lalu mengambil posisi ibunya yang kini duduk di depan Baekhyun. Luhan mengejangkan jarinya dan kuku-kuku tajam keluar dari sana. Kuku yang sangat runcing dan bersilau seperti besi.
Dengan pelan Luhan mengarahkan kuku dijari telunjuknya, ia membelah perut buncit Baekhyun hingga daging itu menganga. Darah terlihat mulai mengalir. Baekhyun mengejang merasakan sakit yang luar biasa.
Luhan terlihat fokus , tidak ingin melakukan kesalahan dalam membuka pintu keluar untuk anak adiknya. Dan ketika sobekan itu cukup besar, terlihat sebuah gumpalan daging yang masih berselaput sedang menendang-nendang dan menyala berwarna merah pekat.
Terdengar geraman keras dari janin itu, dan Luhan mengernyit.
"Ibu angkat bayinya!" Ucap Luhan dan Taemin mengangguk. Ia mengangkat tubuh janin yang masih berselaput itu keluar dari rahim Baekhyun. Membuat Baekhyun mengerang sakit dan Kyungsoo terus mengalirkan energinya untuk Baekhyun.
"Ibu sembuhkan luka Baekhyun , biar aku yang mengeluarkan bayi ini." Ucap Luhan dan mengambil alihnya dari tangan Taemin.
Luhan memegang selaput menyala itu yang terlihat masih menendang-nendang seperti segera ingin dibebaskan. Luhan memegangnya dengan satu tangan, dan kuku telunjuk jari tangannya mengarah pada tubuh si bayi, merobek selaput itu hingga selaputnya pecah dan air ketuban serta darahnya meluap keluar.
Terlihat sosok bayi berwarna merah, dengan dua tanduk kecil di kepalanya, gigi taring tajam, ekor berwarna merah yang masih kecil, kuku panjang di jemari kecilnya, dan juga mata berwarna merah dengan kobaran api di dalamnya.
Bayi itu terlihat mengerikan untuk ukuran bayi yang lahir dari rahim manusia, namun terlihat lucu dimata Luhan.
"HOaaarrggghhhh." Bayi itu meraung keras yang hanya terdengar di dunia iblis dan malaikat saja. Bahkan burung-burung gagak bertebangan disekitar rumah Baekhyun. Luhan yakin Chanyeol mendengar tangisan bayinya yang begitu keras.
Mata Luhan ikut menyala, gigi taringnya terlihat, dan ia seolah menyambut kelahiran bayi itu sebagai sesama iblis. Mereka seolah memiliki ikatan, bibir Luhan bergerak dan bayi itu menatap dengan mata menyalanya.
Di menit berikutnya Luhan menyembunyikan kuku, taring dan kilapan matanya. Ia kembali mejadi normal, dan ketika Luhan menatap bayi itu sambil tersenyum. Bayi itu menutup matanya, dan seketika tubuhnya berubah menjadi berwarna putih kemerahan seperti bayi pada umumnya tidak merah seperti darah.
Tanduk masuk ke dalam rambutnya yang berwarna coklat madu, gigi taringanya hilang dan hanya menyisakan gusi yang masih muda, ekornya juga menghilang dan ketika membuka matanya, Luhan dibuat tercekat.
Mata itu begitu indah. Mata berwarna hitam, namun sekilas berwarna biru. Entah mengapa Luhan seperti merasa déjà vu. Mata itu mengerjap indah membuat dunia Luhan seketika berhenti.
"Huwee….huwee…huwee…" tangisan bayi itu terdengar keras dan nyaring. Tangisan bayi manusia pada umumnya. Luhan mendekap bayi itu di dadanya membuatnya berhenti menangis.
Taemin menghela nafas ketika luka Baekhyun sudah sembuh. Sementara Kyungsoo masih menyalurkan energinya, hingga ia merasa kakinya bergetar.
"Cukup Kyungsoo!" ucap Taemin dan Kyungsoo berhenti. Ia mundur beberapa langkah dan bersandar pada dinding. Energinya sungguh terkuras, Baekhyun terlihat tenang dalam tidurnya.
"Ibu, tapi akan terlihat aneh jika perut Baekhyun baik-baik saja setelah melahirkan." Ucap Luhan dan Taemin mengangguk setuju.
Luhan menyerahkan bayi itu pada Taemin dan kembali duduk di depan Baekhyun, kukunya kembali muncul dan dengan perlahan ia membuat luka robekan dibagian bawah perut Baekhyun, sebagaimana orang-orang melahirkan secara Caesar mendapatkan luka diperut mereka , darah Baekhyun mengalir keluar.
"Tidak usah!" cegah Luhan ketika Kyungsoo akan menyalurkan energinya lagi.
"Seorang manusia harus merasakan sebuah kesakitan ketika mendapatkan sesuatu" Ucap Luhan dan segera mengeluarkan jarum dan benang dari dalam tas dokter Taemin lalu menjahitnya dengan perlahan.
Baekhyun mengernyit selama proses itu, tapi Kyungsoo merasa tak tega. Ia bangkit dan berdiri disamping Luhan, tangannya terulur untuk menyalurkan tenaganya lagi ke bagian luka Baekhyun.
"Dia sudah cukup menderita karena ulah Chanyeol hyung, aku tidak ingin melihatnya menderita lagi." Ucap Kyungsoo berusaha mengurangi rasa sakit di luka bekas jahitan Baekhyun.
Taemin menuju ke dada Baekhyun sambil menggendong bayi tampan itu.
"Dia harus memiliki air susu untuk membuat bayi ini tumbuh, karena selain daging para iblis tidak akan bisa memakan apapun." Ucap Taemin lalu mengelus dada Baekhyun dan terlihat sebuah tonjolan disana, hanya tonjolan kecil yang sedikit membengkak dengan ujungnya yang mengeluarkan cairan putih pekat.
"Cucuku telah lahir." Ucap Taemin sambil tersenyum dan menyelimuti cucunya dengan kain.
"Lihat dia begitu tampan. Dan kelahirannya bertepatan dengan gerhana bulan." Ucap Kyungsoo yang mengelus pipi tembam bayi Baekhyun.
"Mungkinkah?" gumam Luhan sambil menatap bayi itu dalam diam.
FLASH BACK OFF
Luhan segera tersadar ketika Kyungsoo menyentuh tangannya. Mata bulat itu mengerjap beberapa kali memperhatikan wajah kakak sulungnya yang terlihat kosong.
"Jadi apa hyung pernah jatuh cinta?" ulang Kyungsoo lagi. Luhan menatap Kyungsoo lalu tersenyum.
"Pernah." Sahutnya.
"Dan rasanya?"
"Manis seperti kue, dan pahit seperti obat." Sambungnya lagi. Kyungsoo mengernyitkan dahinya tidak mengerti. Ia bangkit mengikuti kakaknya yang juga bangkit.
"Jadi, jatuh cinta itu seperti apa?" tanyanya masih sedikit menuntut.
"Kau akan tahu setelah kau merasakannya. Sekarang keluar dan jangan ganggu aku, aku sedang sibuk!" bentak Luhan kesal. Kyungsoo mendesah lalu berjalan keluar ruangan dengan lesu.
"Oh iya hyung! Ibu berpesan padaku untuk mengingatkanmu agar menyiapkan seluruh keperluan yang diinginkan Chanyeol hyung." Ucap Kyungsoo pelan. Luhan menoleh dan berdecih.
"Dasar merepotkan!" gumamnya sambil membalik kertas dokumen ditangannya asal.
…
..
.
Chanyeol menatap Baekhyun yang duduk menyendiri di sudut ruang seni musik. Sementara teman-teman yang lain asyik berbincang dan berlatih dengan alat musik masing-masing.
Baekhyun memainkan recordernya dengan tatapan kosong, sesekali membalik kertas berisi note yang harus ia mainkan. Seorang lelaki menghampiri Chanyeol membuat pandangannya kearah Baekhyun tertutup oleh tubuh tinggi itu.
"Kau anak baru kan?" tanyanya.
"Hm." Sahut Chanyeol tak tertarik, mencoba mencari celah untuk bisa melihat kearah Baekhyun.
"Di kelas musik, setiap orang diwajibkan memainkan satu alat musik. Kau, apa yang kau bisa?" tanya lelaki itu angkuh. Chanyeol mengangkat wajahnya dan matanya bertemu dengan mata lelaki di hadapanya. Chanyeol merasa asing, karena saat pelajaran musik, dua kelas akan digabungkan menjadi satu. Dan Chanyeol yakin lelaki ini dari kelas lain.
"Kenalkan aku Wang Jackson." Ucap lelaki bertubuh tegap beraharang tegas dengan rambut berwarna kecoklatan. Chanyeol menatap tangan itu tidak ingin menjabatnya sama sekali. Membuat lelaki bernama Jackson itu menarik tanganya dengan perasaan malu bercampur kesal.
"Aku adalah ketua kelas dalam kelas musik kita. Aku memainkan saxophone asal kau tahu." Ucapnya lagi.
Chanyeol menaikkan satu alisnya, ia tidak mengerti sama sekali. Kenapa lelaki di depannya terlihat sok berkuasa dan apa hubungan memainkan saxophone dengan caranya bicara yang angkuh.
"Lalu?" tanya Chanyeol singkat. Lelaki dihadapannya nampak geram, ia menarik seorang lelaki berkaca mata disampingnya dengan kasar.
"Jelaskan padanya!" ucap Jackson dengan wajah frustasi.
"Di..di kelas mu..mu..musik_"
"Bicara yang jelas!" bentak Jackson, membuat lelaki berkaca mata itu terkejut dan menegapkan tubuhnya.
"Di kelas musik, setiap siswa harus bisa memainkan minimal satu alat musik. Pemain Drum, Bass, Piano klasik, Biola, Cello, dan juga Saxophone menduduki kelas atas. Mereka akan mendapat pengajaran khusus, lalu kelas menengah ada pemain gitar, organ, harmonica dan gitar klasik. Sementara kelas bawah adalah para pemain recorder , golongan untuk orang-orang yang tidak berbakat." Ucap Siswa berkaca mata itu. Jackson nampak menyombongkan dirinya di belakang.
"So? Kau sudah tahu sekarang kan? Aku siapa? Di kelas ini hanya ada 'satu' pemain saxophone dan satu pemain Biola, piano klasik masih di pegang oleh Guru Song. Hm, sepertinya kau lebih pantas bermain recorder. Hahahaha.." tawa lelaki itu terdengar mengejek.
Chanyeol bangkit sambil menggaruk telinganya malas. Membuat Jackson sedikit mundur karena tinggi Chanyeol yang jauh berada diatasnya.
"Aku tidak mengerti kenapa manusia suka menggolong-golongkan diri mereka." Ucap Chanyeol pelan walau suaranya dapat di dengar jelas oleh orang sekitarnya.
"Kau!" Chanyeol menarik kerah baju Jackson membuat lelaki itu sedikit takut.
"Ingin aku bermain apa?" tantang Chanyeol. Jackson menelan ludahnya pelan, lalu matanya melirik kearah sebuah drum disudut ruangan. Ia menyeringai lalu mendorong tangan Chanyeol yang mencengkram kerah seragamnya.
"Mainkan itu! Jika kau bisa, maka kau diterima di kelas atas,jika tidak bergabunglah bersama bawahan." Tawa meremehkan terdengar dari Jackson. Chanyeol menoleh kearah tunjukan Jackson dan ia mengedikan bahu lalu berjalan kesana. Semua mata memperhatikan Chanyeol ketika lelaki tinggi itu mengambil duduk.
Chanyeol meraih stick drum , menyentuhkan tangannya kebenda dingin dan sedikit berdebu itu, lalu mengambil aba-aba. Jangan lupa, seorang iblis mampu belajar dengan cepat. Ketika sering berkunjung ke dunia manusia, Chanyeol sering mencoba apapun yang membuatnya penasaran sewaktu masih belia, dan ingatan seorang iblis sangat kuat, sekalipun mereka hanya beberapa kali mengalaminya.
Stick itu terangkat lalu dalam hitungan detik terdengar bunyi pukulan yang nyaring, dan di menit berikutnya pukulan-pukulan itu menjadi sebuah nada yang indah. Chanyeol terlihat bermain dengan pandai, membuat semua orang tercengang.
Baekhyun menatap Chanyeol dari tempat duduknya, dan pandangan itu seolah tanpa arti. Beberapa menit berlalu dan Chanyeol memukul untuk terakhir kalinya. Jackson seolah mati kutu, Chanyeol melempar stick drumnya dan bangkit.
Tepuk tangan yang keras membuat Jackson tersadar dari lamunannya, ia mundur ketika Chanyeol melangkah mendekat.
"Wow. Aku tidak menyangka kau pemain drum yang hebat. Hm, selamat bergabung di kelas atas." Ucap Jackson mengulurkan tangannya, Chanyeol menatap tangan itu dengan sorot pandangan jijik.
"Aku tidak tertarik. Aku memilih recorder." Ucapnya lalu berjalan kesebuah lemari penyimpanan alat dan mengambil sebuah recorder lalu mengambil duduk disamping Baekhyun, membuat semua orang makin tercengang.
Beberapa menatap tidak percaya karena Chanyeol lebih memilih recorder, dan beberapa semakin jengkel karena itu berarti Chanyeol memilih Baekhyun.
"Hai." Ucap Chanyeol sambil tersenyum lebar. Baekhyun menoleh dan kembali fokus pada permainannya. Chanyeol menatap jemari lentik Baekhyun, dan entah mengapa fantasinya meliar.
"Baekhyun! Setelah ini kita pulang bersama ya?" tanya Chanyeol, Baekhyun menatap Chanyeol seolah jengkel dengan sikap Chanyeol yang sok akrab, padahal Baekhyun sudah memperingati.
"Bukan sebagai teman. Tapi sebagai seorang kenalan. Dan bukankah kau mendapat tugas untuk mengajakku berkeliling?" Baekhyun mengernyit dan ia mengangguk.
"Sepulang sekolah aku akan mengajakmu berkeliling." Ucap Baekhyun. Dan ketika guru mereka datang dengan tergesa, percakapan mereka terputus.
…
..
.
Kini kedua pasang kaki berbeda ukuran itu menapak disepanjang koridor. Tas mereka merangkul punggung masing-masing, kaki mereka menapak dengan perlahan di sepanjang koridor yang sudah sepi.
"Ini ruang UKS, kau sudah mengunjunginya bukan?" Chanyeol mengangguk.
"Ini ruang guru kelas dua. Dan itu adalah semua ruang kelas. Ini ruang tata boga, untuk kelas memasak." Ucap Baekhyun sambil terus berjalan. Mereka sudah melewati satu lantai dan kini berada di lantai dua. Chanyeol tidak mendengarkan ucapan Baekhyun dengan jelas karena ia selalu memperhatikan Baekhyun setiap saat.
Mereka sudah sampai di lantai empat, dan kini berada di depan pintu perpustakaan.
"Ini perpustakaan. Sangat jarang yang berkunjung kemari."
"Kenapa?" tanya Chanyeol. Baekhyun menoleh dan menatap Chanyeol.
"Antara tempat hiburan dan ruang buku mana yang akan kau kunjungi?"
"Tempat hiburan." Sahut Chanyeol cepat. Dan Baekhyun mengedikan bahunya sebagai sebuah respon.
"Dan ini_"
"Baekhyun! Itu apa?" tanya Chanyeol. Ia menunjuk sebuah pintu ruangan disudut koridor.
"Tempat menyimpan barang –barang. Pintu itu jarang dibuka." Ucap Baekhyun datar.
"Aku ingin kesana." Ucap Chanyeol sambil berjalan lebih dulu.
"Tapi tempat itu terkunci, dan_" ucapan Baekhyun terputus ketika Chanyeol berhasil membuka ruangan itu. Bau pengap menguar, bau barang-barang tua dan juga debu yang berterbangan. Baekhyun terbatuk sementara Chanyeol tetap melangkah masuk.
"Ayo kita_"
DUK
Baekhyun menoleh ketika pintu itu tertutup. Ia berlari kecil dan segera memutar knopnya tapi tidak bisa. Chanyeol mendekat dan berusaha memutarnya tapi tetap tidak bisa.
"Gunakan kesempatan dengan baik!" Suara tanpa wujud itu menggema disekitar ruangan dan Chanyeol tahu itu ulah ibunya.
"Tidak bisa terbuka." Ucap Chanyeol dengan wajah kelelahan.
"Tapi tadi kau bisa membukanya." Ucap Baekhyun.
"Tadi tidak terkunci, dan sepertinya pintu ini rusak. Kita tunggu sampai ada yang datang kemari." Ucap Chanyeol. Baekhyun menggeleng dan melangkah mundur hingga bersandar pada dinding.
"Tidak mungkin, lantai empat jarang dikunjungi. Dan petugas hanya akan memeriksanya ketika malam hari." Ucap Baekhyun sambil merosotkan tubuhnya diatas sebuah matras yang cukup berdebu. Chanyeol mendekat dan duduk disamping Baekhyun, tapi kemudian Baekhyun menjaga jarak.
Baekhyun menekuk kedua kakinya sambil menenggelamkan wajahnya, Chanyeol memperhatikan Baekhyun dan entah mengapa ia ingin sekali mendekap tubuh kurus itu dalam dekapannya.
"Baek? Boleh aku bertanya kenapa kau memakai syal terus?" tanya Chanyeol, Baekhyun mengangkat wajahnya dan menoleh. Ia tidak menjawab melainkan mengeratkan syalnya. Ia menatap Chanyeol waspada, Chanyeol mengikuti nalurinya lebih mendekat membuat Baekhyun tersudut.
Jemari Chanyeol meraih syal Baekhyun, dan menariknya. Chanyeol mencium aroma wangi dari syal itu.
"Aku tahu kau kepanasan. Lepaskan saja! Tidak apa-apa." Ucap Chanyeol. Baekhyun terdiam lalu menaikkan kerah seragamnya.
Mereka tidak terlibat percakapan, Baekhyun lebih memilih untuk mengenggelamkan wajahnya di balik lekukan kakinya sementara Chanyeol terdiam sambil memperhatikan Baekhyun dengan seksama.
Chanyeol merapatkan tubuhnya hingga kini tidak ada jarak lagi diantara mereka, Baekhyun mengangkat wajahnya, menoleh sebentar dan kembali menyembunyikan wajahnya. Chanyeol meluruskan satu kakinya, sementara satu kaki yang lain menjadi tumpuan lengannnya.
"Baekhyun kenapa kau tidak melawan?" tanya Chanyeol sambil menatap kearah syal merah Baekhyun yang berada di tangannya. Baekhyun tidak menjawab, ia memilih membisu , bergeming di tempatnya.
Chanyeol menghela nafas, berbicara dengan Baekhyun sungguh sulit. Chanyeol merasa darahnya mendidih, jika disampingnya sekarang Luhan sudah pasti Chanyeol akan membakarnya dengan api neraka terpanas yang ia miliki, namun mengingat itu adalah Baekhyun, Chanyeol urung.
Chanyeol pernah menyakitinya, alasan Baekhyun berada di posisi sekarang juga karena perbuatannya, jadi tidak seharusnya Chanyeol menggunakan emosi untuk menghadapi Baekhyun. Selain itu menjaga Baekhyun adalah salah satu hukuman yang sedang ia jalani.
Chanyeol mengangkat kepala Baekhyun dan menyandarkan di dadanya. Membuat Baekhyun tersentak, ketika ingin melawan, Chanyeol menahan wajahnya hingga Baekhyun memilih pasrah.
Terdiam beberapa detik tanpa pembicaraan, hingga akhirnya Baekhyun mulai mengeluarkan suara.
"Aku tidak ingin melakukan hal yang sia-sia." Ucap Baekhyun dengan suaranya yang begitu kecil, namun Chanyeol masih dapat mendengarnya.
"Aku hanya ingin mereka merasa puas. Jika dengan menyiksaku adalah kesenangan untuk mereka, biarkan saja." Sambung Baekhyun dengan suaranya yang terdengar lirih.
"Tapi sebagai manusia kau punya hak untuk bebas." Ucap Chanyeol lagi. Entah mengapa ia memikirkan tentang kebebasan sosok mungil disampingnya, padahal ia salah satu dari sekian banyak perebut kebebasan Baekhyun.
"Hakku sebagai manusia telah terampas beberapa tahun silam, oleh makhluk paling tidak berperasaan." Ucapan Baekhyun membuat Chanyeol tercekat. Tubuhnya menengang dan entah mengapa ia merasa bersalah.
" Walau kau memiliki masa lalu yang kelam, tapi kau masih memiliki hak untuk bahagia." Gumam Chanyeol berharap Baekhyun merubah cara pandangnya terhadap dirinya.
"Selain ibuku, tidak ada hal lain yang membuatku bahagia." Sahut Baekhyun pelan. Kepalanya setia bersandar di pundak Chanyeol, entah mengapa ia merasakan suatu perasaan nyaman yang tak bisa ia deskripsikan.
"Tidakkah kau ingin memiliki kisah cinta yang indah?" tanya Chanyeol sambil mengelus pipi Baekhyun membuat Baekhyun menutup mata, merasakan sensasi aneh pada dirinya.
"Tidak. Kisah cinta yang indah hanya ada di dalam dongeng, sementara aku hidup di dunia yang realistis." Sahutnya lalu menapik tangan Chanyeol. Chanyeol menghela nafas. Baekhyun selalu menolak kontak fisik yang intim antara mereka.
"Kau tahu kisah cinta apa yang ada di dunia seperti ini? Kisah cinta yang berdasarkan atas nafsu dan obsesi." Ucap Baekhyun lagi, Chanyeol untuk kedua kalinya tercekat. Ucapan Baekhyun seolah mengarah padanya. Bibirnya terasa kelu, dan rahangnya mengeras.
"Sejujurnya aku belum pernah jatuh cinta." Tiba-tiba Chanyeol berucap membuat Baekhyun mengalihkan pandangannya ke Chanyeol. Namun ketika mata mereka bertemu, Baekhyun mengalihkan pandangannya kearah lantai.
" Hatiku lebih keras dari seluruh batu yang ada. Kami, ah maksudku aku tidak mengenal kasih sayang. Bahkan aku membenci ibuku yang selalu mengatur semua kemauanku, dan membenci ayahku yang begitu tunduk pada ibuku. Aku membenci kelahiranku yang harus membatasi apapun yang aku lakukan. Tapi suatu saat semua berubah, ketika aku bertemu dengan seseorang dan dia mengubah cara pandangku." Ucap Chanyeol sambil menatap lantai dengan penuh minat.
"Mungkin ini terdengar gila, tapi berawal dari obsesi dan kini aku berakhir dengan menjadi orang bodoh yang melakukan sesuatu berlawanan dengan logikaku." Sambung Chanyeol.
"Lalu kenapa kau tidak berhenti?" tanya Baekhyun seolah tertarik dengan percakapan yang Chanyeol mulai.
"Aku ingin, aku ingin berpura-pura tidak peduli. Tapi kesalahan dimasa lalu membuatku memiliki penyesalan yang besar, aku ingin memperbaiki semuanya. Mungkin terdengar bodoh, tapi aku hanya ingin membuatnya bahagia." Ucap Chanyeol lagi.
"Dia beruntung. Seseorang sepertimu memperjuangkan kebahagiannya."
"Hm, tapi aku tidak beruntung karena dia selalu menolak kehadiranku." Ucap Chanyeol lagi. Setelahnya semua sunyi, tidak ada yang membuka pembicaraan lagi. Sampai akhirnya Chanyeol tersenyum, ia mengelus rambut Baekhyun pelan membuat Baekhyun membulatkan matanya.
"Untuk mengurangi rasa menyesalku padanya, bolehkah aku memulainya darimu dulu? Aku rasa kalian memiliki nasib yang sama. Maukah kau menjadi temanku?" tanya Chanyeol sambil tersenyum. Baekhyun menjauhkan kepalanya dan menatap Chanyeol, lalu terdiam.
"Entahlah. Aku_" Baekhyun menjeda ucapannya, bibirnya bergetar pelan, seolah kata-kata itu sulit untuk keluar.
"Tidak apa-apa semua bisa berjalan perlahan." Ucap Chanyeol memegang wajah Baekhyun , membuat mata mereka bertemu.
"Tapi kali ini maafkan aku."
Fiuh.
Mata Baekhyun terpejam ketika sebuah terpaan angin menyentuh permukaan kulit wajahnya. Dan Chanyeol menangkap tubuh itu, ia menidurkan Baekhyun perlahan diatas matras yang mereka duduki.
Chanyeol sudah mencoba menahan sejak tadi, namun naluri iblisnya yang liar membuatnya harus menyentuh Baekhyun lagi.
"Kau gila!" suara Luhan menggema di dalam ruangan, Chanyeol mendongak lalu berdecih.
"Jangan campuri urusanku!" gumamnya. Dan suara Luhan tak terdengar lagi. Chanyeol menatap Baekhyun yang tertidur lelap. Ia menindih tubuh itu pelan, mencium dengan lembut setiap permukaan wajah Baekhyun, lalu mengecup beberapa kali dibagian leher yang lebih kecil.
Satu per satu kancing seragam Baekhyun terlepas, dan memperlihatkan bekas jejak kemerahan yang mulai memudar akibat ulahnya. Ia mengecup kulit dada Baekhyun dengan lembut.
"Kenapa kau melakukan ini padaku?" suara Baekhyun terngiang di kepalanya, Chanyeol terdiam sesaat sebelum akhirnya menggeleng.
"Kau brengsek! Kau tahu betapa aku tersiksanya dengan ini? Kenapa ..hikks..kenapa…" kembali suara isakan Baekhyun membuat kepala Chanyeol terasa pening, ia bangkit dan berteriak kencang.
Sebuah raungan yang hanya dimiliki oleh para iblis. Chanyeol memegang kepalanya dan ia berlutut. Gigi taringnya mulai terlihat, dan kobaran api dimatanya muncul, namun ketika teriakannya mulai padam, tubuhnya kembali normal.
Ia merangkak kearah Baekhyun, lalu mengancingkan seragamnya . Mengelus pipi tirus Baekhyun dan mengangkat tubuhnya , ia meletakkanya diatas punggung, lalu menggantung kedua tas mereka di depan dadanya.
"Maafkan aku!" bisik Chanyeol lalu berjalan menuju pintu, menendangnya dan seketika pintu itu terbuka. Dengan langkah cepat ia berjalan menuruni anak tangga sambil membawa Baekhyun dalam gendongannya.
"Dimana kendaraanku?" ucap Chanyeol setengah berteriak.
"Siapapun cepat katakan dimana kendaraanku!" ucap Chanyeol lagi, dan terdengar suara cekikikan yang Chanyeol ketahui adalah suara kakaknya.
"Lurus ke halaman depan sekolah, di sebelah kanan pohon besar." Ucap Luhan. Chanyeol berjalan dengan angkuh menuju tempat yang dituju Luhan dan ketika sampai rahangnya nyaris jatuh.
"Jangan bercanda! Aku tidak dalam suasana perasaan yang baik." Bentaknya. Kembali terdengar suara kekehan Luhan yang melengking.
"Aku tidak bercanda. Hihihihihi." Chanyeol mengepalkan tangannya, nyaris mengeluarkan api dari tubuhnya jika tidak mengingat ia sedang menggendong Baekhyun. Karena jika ia mengeluarkan apinya, Baekhyun akan berubah menjadi abu.
"Kau kan minta kendaraan? Ya sudah aku berikan. Kau tidak bilang yang seperti apa, kau berkata yang para manusia sering gunakan." Luhan menyahut tanpa memperlihatkan wujudnya.
"Kau! Kau fikir aku bodoh? Aku sering berkunjung ke dunia manusia, dan benda ini hanya digunakan oleh anak-anak." Ucap Chanyeol sambil menunjuk sebuah sepeda gayung dihadapannya.
"Cepat! Berikan aku kendaraan yang pantas, jika tidak aku akan membunuhmu."
"Oh benarkah? Aaaah~ aku takut." Ledek Luhan.
"Yak! Cepat! Aku akan melaporkan ini pada ibu!" bentak Chanyeol lagi.
"Laporkan saja! Dasar tukang adu!" sahut Luhan ketus.
"Kau! Aaarrgghhh…"
"Luhan! Jangan permainkan adikmu, dia sedang menjalani hukumanya." Geraman Chanyeol berhenti ketika mendengar suara ibunya, ia menyeringai menatap keatas.
"Baik ibu!" ucap Luhan dengan suara lesu.
"Cepat pilih, kau mau mobil apa motor? Dasar menyusahkan." Bentak Luhan, Chanyeol tersenyum angkuh lalu memasang wajah berpikir.
"Motor, itu jauh lebih keren." Ucap Chanyeol lagi. Dan seketika sepeda gayung tua di depannya berubah menjadi sebuah motor dengan desain mewah.
"Ini adalah MV Agusta F4CC, motor ini hanya ada 100 di dunia. Walau tak secepat teleportasi kita, tapi motor ini merupakan yang tercepat dari yang tercepat." Ucap Luhan. Chanyeol tersenyum.
"Aku tidak suka warnanya, berikan aku warna hitam dengan gradasi bara api di sekitarnya." Ucap Chanyeol, terdengar helaan nafas Luhan dan seketika warna motor itu berganti.
"Seluruh surat-surat dan lisensi berkendaramu ada disana, dan ah aku hampir lupa." Dua buah helm muncul di atas motor.
"Mereka menggunakan itu untuk melindungi kepala, meski tidak berguna untukmu tapi itu sangat perlu untuk Baekhyun. Sekarang pergilah, dan berhenti memanggilku." Ucap Luhan lalu seketika suaranya menghilang, hanya terdengar kicaun burung dari dahan pohon.
Chanyeol tersenyum, ia mendudukan Baekhyun diatas motor, lalu mengenakan helm untuknya dan Baekhyun, lalu ia mulai menaikki benda asing itu. Chanyeol menyalakan mesinya, dan terdengar suara deruman motor yang sangat gagah, dan dengan cepat motor itu meninggalkan halaman sekolah.
Satu tangan Chanyeol menggenggam jemari Baekhyun agar tidak terjatuh, dan satu tangannya memutar gas motor dengan cukup keras hingga ia berhasil memecah jalanan Seoul dengan motor barunya.
Kibum sedang berada di dapur sambil memotong beberapa sayuran, ia masih mengenakan pakaian kerjanya karena ia baru pulang beberapa menit yang lalu . Atasanya sedang berulang tahun, jadi dengan baik hati ia memberikan pulang lebih awal untuk semua karyawannya.
Kibum sesekali menyeka keringatnya ketika air asin itu mengalir di keningnya, sesekali ia melirik jam untuk menunggu kedua buah hatinya pulang. Sampai sebuah ketukan pintu membuat senyumnya melebar.
"Iya tunggu sebentar." Ucapnya sambil berjalan kearah pintu.
"Kenapa kalian_" ucapan Kibum terhenti, tergantikan dengan kelopak matanya yang melebar.
"Baekhyun? Apa yang terjadi?" tanya Kibum saat melihat putranya berada diatas punggung temannya.
"Dia sepertinya kelelahan, kami tidak sengaja terkunci di dalam gudang dan ketika aku berhasil membuka pintu itu, dia sudah aku tertidur diatas matras berdebu." Sahut Chanyeol sangat detail.
"Ah, bawa masuk saja nak!" ucap Kibum.
"Baik dimana kamarnya?" tanya Chanyeol yang melenggang masuk dengan santai.
"Di lantai dua, di dekat tangga." Ucap Kibum lagi, yang berjalan mendahului Chanyeol. Dengan cemas ia membuka pintu kamar Baekhyun.
Aroma manis menyapa indera penciuman Chanyeol. Membuatnya kembali mengingat akan malam-malam panas yang ia habiskan berdua di kamar ini.
Chanyeol membaringkan tubuh Baekhyun, lalu Kibum menyelimutinya dan mengelus kening Baekhyun dengan cemas.
"Ah, aku pikir dia mengalami hal buruk. Ternyata dia hanya kelelahan, ah sayang kenapa kau begitu lemah." Ucap Kibum sambil mengulang perbuatannya mengelus kening putranya.
"Ah, aku hampir lupa. Terima kasih_"
"Chanyeol. Park Chanyeol." Ucap Chanyeol sambil tersenyum. Kibum tersenyum secara otomatis, lalu menjabat tangan Chanyeol dan mengucapkan terima kasih berulang-ulang.
…
..
.
Baekhyun membuka matanya perlahan, ia mengerjap beberapa saat dan bangkit secara cepat. Terakhir ia ingat ia berada di gudang bersama Chanyeol, namun ketika ia mengedarkan pandangannya yang ia lihat adalah suasana kamarnya.
Baekhyun mengernyit lalu menyibak selimutnya dan menurunkan kakinya hingga menyentuh lantai. Ia masih mengenakan seragamnya yang terlihat kusut di beberapa bagian, Baekhyun melangkah pelan menuju pintu.
Ketika menuruni tangga Baekhyun melihat ibunya dalam keadaan segar sedang berada di depan meja makan, menata beberapa makanan. Baekhyun melihat rambut basah ibunya yang menjuntai kebawah, ia yakin ibunya baru selesai mandi, berbeda dengan dirinya yang masih berbau keringat.
"Ibu?" panggil Baekhyun pelan membuat Kibum menoleh lalu tersenyum.
"Kau sudah bangun? Kau benar-benar kelelahan sampai harus tertidur di gudang. Kemari!" Kibum mendudukan putranya di bangku dan memberikan segelas jus jeruk.
"Aku tertidur di gudang ? benarkah?" tanya Baekhyun dengan dahi berkerut. Ia tidak mengingat apapun kecuali, ia yang duduk bersandar di pundak Chanyeol.
"Hm. Seorang lelaki mengantarkanmu pulang. Namanya hmm.. Chan..Chanyeol. Ah iya, Park Chanyeol. Sungguh dia sangat tampan, dan juga tinggi seperti seorang foto model. Dia teman pertama yang kau bawa kerumah setelah beberapa tahun ini Baek. Kalian terlihat cukup akrab." Ucap Kibum lagi sambil meletakkan sepanci sup yang asapnya mengepul .
"Kami tidak seakrab itu. Dia anak baru dan kami baru kenal beberapa hari, dan tunggu!" Mata Baekhyun semakin menyipit, dia menatap ibunya.
"Bagaimana bisa dia tahu alamat rumahku bu?" tanya Baekhyun sambil menatap Kibum dengan wajah curiga.
…
..
.
"Bodoh!" ucap Luhan yang kini duduk di bingkai jendela di dalam apartemen kosong yang baru saja Luhan beli untuk adiknya.
"Aku benar-benar tidak berpikir kesana, dan saat itu yang terlintas hanya jawaban itu" ucap Chanyeol yang memilih bersandar di dinding.
"Mungkin ibunya bisa mempercayai alasan bodohmu, tapi Baekhyun? Hahaha.. 'Menanyakan pada semua orang yang melintas' bodoh! Kau pikir Baekhyun setenar apa ? hahaha.." Luhan kembali tertawa membuat Chanyeol geram.
Ia mendekat kearah Luhan mencekik lehernya dan mencondongkan tubuh kakaknya kebelakang, sehingga Luhan bisa melihat lalu lintas kota dari atas sana. Mereka berada di lantai 32 , dan jika tangan Chanyeol terlepas maka Luhan pasti akan jatuh dan hancur,hanya bila dia seorang manusia, sayangnya dia bukan.
Jadi tubuhnya menghilang dan muncul di belakang Chanyeol lalu mendorong tubuh Chanyeol hingga terlempar keluar jendela. Luhan melambai pada Chanyeol yang terjatuh, dan membalik badan untuk melihat keadaan kosong apartemen yang begitu luas itu.
Permintaan adiknya begitu banyak dan bisa dibilang tidak main-main. Akhirnya dengan usahanya Luhan bisa mendapatkan sebuah apartemen di kompleks apartemen Galleria Foret, yang merupakan apartemen termahal di Seoul.
"Dasar banyak maunya!" geram Luhan kesal sambil mulai memperhatikan sekitar, dan jarinya terjulur ke sudut ruangan hingga secara ajaib muncul sebuah pot buatan. Lalu ia menunjuk arah lain dan muncul sofa dan peralatan mewah lainnya.
"Buat ini menakjubkan!" ucap Chanyeol seperti memerintah yang kini duduk di atas sofa sambil menaikkan kakinya dengan angkuh, seperti seorang atasan yang melihat bawahannya bekerja.
"Sebaiknya kau jangan banyak bicara! Pikirkan alasan yang baik saat kau bertemu dengan Baekhyun-mu itu besok." Seketika Chanyeol terdiam, lalu menatap kakaknya kesal dan menghilang.
Luhan menatap kepergian adiknya dan menggeleng.
"Kapan kau dewasa Chanyeol? Aah~ setelah ini aku harus menemui Sehun." Ucap Luhan sambil menahan senyumnya.
…
..
.
Baekhyun sedang meminum susu pada tegukan terakhirnya ketika terdengar suara ketukan berulang dari arah pintu. Kibum bergumam sebelum akhirnya berjalan kearah pintu dan membukanya.
"Baekhyun!" Baekhyun menoleh dan bergumam pelan sebelum akhirnya mengambil tas ranselnya dan menyampirkannya di punggung. Meninggalkan Sehun, yang tetap melahap roti panggangnya walau sesekali melirik kearah Baekhyun.
Baekhyun membulatkan matanya dengan kening berkerut menatap sosok berseragam yang tersenyum kearahnya, dan disana ibunya juga berdiri sambil tersenyum ramah.
"Hai Baekhyun." Sapa Chanyeol, Baekhyun terdiam bergelut dengan pemikirannya. Sebelum akhirnya ia tersadar.
"Oh..Hai. Ap_"
"Chanyeol datang untuk menjemputmu, katanya." Kibum tersenyum sambil menarik Baekhyun agar lebih mendekat.
"Tapi_"
"Kau sudah selesai sarapan kan? Berangkatlah!" ucap Kibum ramah, sambil mendorong sedikit tubuh Baekhyun.
"Oh, apa kau sudah sarapan Chanyeol?" tanya Kibum dan Chanyeol mengalihkan pandangannya pada Kibum lalu mengangguk.
"Sudah." Jawabnya pelan, lalu dengan perlahan ia menarik tangan Baekhyun membuat Baekhyun terkejut karena tarikan tiba-tiba Chanyeol.
"Kami berangkat dulu." Ucap Chanyeol sambil menarik tangan Baekhyun menuju ke depan rumah. Baekhyun menghentikan langkah dan menarik kembali tangannya.
"Maaf, tapi aku akan naik bus saja." Ucap Baekhyun dengan suara yang terdengar dingin. Chanyeol mengerjapkan matanya beberapa kali dan menatap Baekhyun sebentar.
"Tidak, ayo berangkat bersamaku!" ucap Chanyeol sambil melirik motor barunya, Baekhyun menoleh sekilas dan cukup tercengang dengan motor mahal yang terparkir di depan rumahnya.
"Bukankah ucapanku kemarin sudah jelas? Aku tidak ingin berteman dengan siapapun untuk saat ini." Baekhyun mengangkat wajahnya dan menatap Chanyeol, ia menghela nafas sejenak.
"Dan maaf, kita tidak terlalu akrab untuk_"
"Ah~ pakai ini! Supaya kepalamu aman." Ucap Chanyeol sambil memasangkan helm ke kepala Baekhyun, membuat Baekhyun bergeming, lalu tangannya ditarik dan dituntun untuk menaikki motor.
"Tidak apa-apa kau tidak mau berteman denganku saat ini, tapi aku yakin kita bisa menjadi teman. Kau sendiri, dan akupun sendiri. Kita sama-sama tidak memiliki teman, jadi sekarang ayo berangkat bersama!" Chanyeol duduk diatas motornya, mengenakan helmnya dan akhirnya motor itu bergegas meninggalkan rumah.
Kibum tersenyum melihat putranya bisa memiliki seorang teman, dan bonusnya temannya sangat tampan dan terlihat berada. Impian Kibum tidak muluk-muluk, ia hanya ingin keceriaan putranya kembali seperti dulu.
"Ibu?" suara itu membuat Kibum menoleh dan terlihat Sehun berdiri di hadapannya dengan pakaian lengkap. Kibum tersenyum, ia menghapus sisa susu disudut bibir putranya.
"Ah, anak ibu yang tampan sudah selesai sarapan?" Sehun mengangguk, lalu mencium kedua pipi ibunya.
"Aku berangkat, dan mana hyung?" tanyanya melihat sekitar.
"Hm, sepertinya kau harus berangkat sendiri. Dia baru saja berangkat bersama temannya, teman pertama setelah beberapa tahun." Kibum tersenyum bahagia, sambil merapikan dasi yang dikenakan Sehun.
"Baiklah, aku berangkat." Ucap Sehun sambil berjalan menuju pintu gerbang. Sehun menundukan wajahnya sambil berjalan, sesekali menendang-nendang kerikil.
"Teman ya?Huft!" ia menghela nafas pelan sebelum melanjutkan perjalananya menuju halte di depan gang utama rumahnya.
…
..
.
Motor Chanyeol masuk menuju halaman sekolah dan seluruh pasang mata menatapnya dengan berbagai ekspresi. Baekhyun masih setia menyandarkan kepalanya di punggung Chanyeol, sementara jemarinya meremas seragam depan Chanyeol dengan kuat karena jantungnya berdetak kencang selama perjalanan tadi. Kecepatan motor Chanyeol, diatas normal.
Motor itu terparkir di halaman sekolah, bersama beberapa kendaraan lainnya. Luhan sudah memberikan surat khusus bagi pelajar yang membawa kendaraan pada Chanyeol, jadi hanya meletakkan surat itu diatas motor, maka pihak sekolah tidak akan menegur.
Ada beberapa orang-orang khusus yang bebas membawa kendaraan, asalkan ada 'uang pelicin' maka semuanya 'bisa diatur'.
Baekhyun turun dari motor, masih melihat kearah sekitar yang menatap kearah dirinya dan Chanyeol dengan wajah penasaran, sampai akhirnya dengan perlahan Chanyeol melepaskan helm yang dikenakan Baekhyun, membuat rambut lembut Baekhyun terjatuh secara alami dan sedikit berantakan.
Chanyeol tersenyum, lalu jemarinya terjulur untuk merapikan helaian surai coklat muda milik Baekhyun. Sama seperti tadi dan beberapa menit sebelumnya, Baekhyun tidak melawan, atau bisa di bilang pasrah, lebih tepatnya ' terpesona' dengan semua perlakuan Chanyeol.
"Ayo masuk ke kelas!" ucap Chanyeol menarik tangan Baekhyun, tapi melihat sekian mata menatap kearahnya dengan tatapan jengkel, Baekhyun memilih menarik tangannya dari genggaman Chanyeol lalu berjalan mendahului Chanyeol dengan langkah kaki terburu.
"Kau yang bernama Chanyeol?" tiga orang siswa dengan seragam berantakan mencegat jalannya, Chanyeol menatap mereka dengan tatapan membunuh.
"Ada urusan apa kalian?" tanya Chanyeol ketus. Ia heran dengan para manusia yang suka sekali mengurusi urusan orang lain.
"Ikut kami!" dua diantaranya memegang pundak Chanyeol.
"Kalau aku tidak mau?" Chanyeol menghempaskan tangan kedua orang itu dengan keras, lalu hendak berjalan sebelum empat orang lagi datang dan mengelilingi tempatnya berdiri. Beberapa siswa yang lewat di koridor, nampak ketakutan dan segera berjalan melewati gerombolan siswa berantakan itu.
Chanyeol mengikuti langkah orang-orang yang berada di hadapanya, ia hanya tidak ingin memancing keributan diareal sekolah, padahal jika ia ingin ia bisa saja membunuh semua orang itu dalam sekali jurus apinya, tapi ia memilih diam dan mengikuti permainan para manusia yang menurutnya konyol.
Langkahnya dibawa ke gudang di area belakang sekolah, sebuah gudang yang cukup besar dan sedikit terawat, gudang itu dijadikan markas oleh siswa-siswa yang membawa Chanyeol.
Disana duduk seorang lelaki yang terlihat angkuh, Chanyeol yakin sosok itu adalah pemimpin dari sekumpulan berandalan kurang kerjaan yang kini mengepungnya.
"Kau Park Chanyeol bukan?" tanya sosok itu yang terlihat menyeringai. Chanyeol berdecih sambil membuang wajahnya, membuat sosok itu jengah dan bangkit.
"Jika kau sudah tahu untuk apa bertanya?" sahut Chanyeol ketus.
"Wow..wow.. Lihat! Betapa beraninya dia. Dan lihat otot ini." Entah kapan sosok itu sudah berdiri disamping Chanyeol dan mengelus lengan Chanyeol pelan.
"Aku Taeyang." Ucapnya sambil mengepulkan asap rokok di depan wajah Chanyeol, membuat emosi Chanyeol memuncak.
"Lalu?" tangan Chanyeol terkepal.
"Lalu? Kau bertanya lalu? Aah ini sungguh lucu. Kau tidak tahu siapa aku?" tanya sosok itu lagi. Chanyeol menatap sosok dihadapannya dengan teliti, lalu mengupas bibirnya keluar.
"Ah aku lupa kau berasal dari luar negri bukan? Hahahaha…pantas kau tidak tahu. Baik biar aku beri tahu, aku Taeyang , aku adalah_"
"Jika tidak ada yang dibicarakan, aku ingin pergi." Ucap Chanyeol hendak berbalik namun langkahnya di tahan oleh sebuah tangan kekar. Chanyeol mengintip dari balik bahunya.
"Kau jangan bermain-main denganku!"
"Bukankah kau yang bermain-main sejak tadi?" balas Chanyeol. Taeyang mengeraskan rahangnya, membuang rokoknya lalu menginjaknya tanpa perasaan.
"Aku adalah Taeyang. Penguasa daerah timur. Dan orang yang kau lawan kemarin, Ok Taecyeon. Dia penguasa daerah barat." Ucapnya. Chanyeol nyaris terpingkal keras. Sosok dibelakangnya mengatakan menguasai hanya sebagian kecil dari seluruh tutorial yang Chanyeol kuasai, sedikit mengingatkan dirinya sendiri, Chanyeol adalah penguasa tujuh lapisan neraka, dan itu tidak sebanding dengan milik Taeyang.
"Lalu?"
"Aku dengar kau melawannya kemarin. Untuk ukuran anak baru kau cukup berani." Sahut Taeyang lalu berpindah kedepan Chanyeol, tingginya hanya sebatas dagu Chanyeol, jadi Chanyeol sedikit menunduk untuk melihatnya.
"Aku ingin mengajakmu bergabung dengan kami, "Macan Timur" dan menjadi salah satu dari kami." Ucap Taeyang. Chanyeol menatap kearah Taeyang dengan alis bertautan.
"Maaf, tapi untuk saat ini aku tidak berminat." Ucap Chanyeol lalu melenggang pergi, memberikan tatapan membunuh pada semua orang yang ada disana.
"Tapi kami akan menerimamu dengan senang hati, jika kau berubah pikiran. Park-Chan-Yeol." Ucap Taeyang dengan sebuah seringain.
Chanyeol menggeleng pelan sambil melangkahkan kakinya di koridor sekolah hendak menuju kelas, ketika pintu kelas ia buka semua mata menatap kearahnya. Chanyeol tersenyum ketika melihat Baekhyun duduk bersandar pada kursi sambil menatap kearah jendela, dan menyelipkan headset ke telinganya.
Bahkan ketika Chanyeol mengambil duduk dan sibuk menatap Baekhyun, lelaki cantik itu tidak sadar.
"Mendengarkan apa?" tanya Chanyeol sambil menarik satu headset Baekhyun dan memakainya di telinga, Baekhyun terkejut dan menoleh. Tangannya hendak mengambil kembali headsetnya, tapi Chanyeol menahannya dan tersenyum.
Sampai mata Chanyeol tertuju pada warna kulit Baekhyun yang membiru, Chanyeol menjauhkan tangan Baekhyun dan menatap lebam itu dengan alis berkerut, seingatnya ia tidak menggunakan kekuatannya ketika menarik Baekhyun tadi.
Baekhyun segera menarik tangannya dan menyembunyikannya, lalu menenggelamkan wajahnya di dalam lipatan lengannya. Chanyeol merasakan emosinya memuncak, padahal ia hanya meninggalkan Baekhyun sebentar dan ia sudah mendapati luka lebam ditangan Baekhyun.
Chanyeol menutup matanya, dan mencoba kembali ke beberapa waktu lalu. Terlihat dalam bayangannya, Baekhyun yang berjalan mendahuluinya dan dirinya yang dicegat oleh siswa berseragam berantakan, lalu Baekhyun yang berjalan sendiri kearah kelas, sampai tiba-tiba tangan Baekhyun ditarik, dan tubuhnya dirapatkan ke tembok.
Chanyeol melihat tiga orang siswa yang ketika Baekhyun melawan tangannya di cengkram dengan keras hingga Baekhyun memekik kesakitan. Tidak sampai disitu, salah satu dari tiga lelaki itu mencengkram mulut Baekhyun, berkata kasar dan hendak mendaratkan sebuah hisapan disana, Chanyeol juga melihat Baekhyun menangis dan merasa dilecehkan.
Dan saat seorang guru melintas, Baekhyun di dorong kebelakang dan ketiga siswa itu bertingkah baik. Lalu Chanyeol melihat ketiga siswa itu memberi hormat, dan masuk ke kelasnya sementara Baekhyun berjalan menjauh. Chanyeol menutup matanya semakin erat dan ia melihat papan kelas ketiga siswa itu. Ruang Kelas 2-3.
Chanyeol melepas headsetnya, lalu bangkit. Dengan rahang mengeras dan tangan terkepal ia berjalan keluar kelas. Baekhyun yang merasakan tarikan pada telingnya menoleh dan tidak mendapati Chanyeol disana, hanya salah satu bagian headsetnya yang menggantung bebas.
Baekhyun memegang tangannya yang sakit, lalu menarik headsetnya dan memakainya. Tanpa ia sadari air matanya membasahi lengan seragamnya, ia menangis dalam diam, hal yang selalu ia lakukan setiap kali mendapat perilaku tidak baik.
Chanyeol membuka kelas itu dengan kasar, membuat seisi kelas terkejut. Beberapa memekik terkejut melihat betapa tampannya Chanyeol, terutama para siswi yang terpesona.
Chanyeol mencari keberadaan tiga siswa itu dan ia mendapati mereka duduk di bangku paling belakang dan terlihat seperti habis ngerumpi. Dengan langkah tegas Chanyeol mendekat, menarik salah satu kerah dari tiga siswa itu lalu memberikan sebuah pukulan keras, hingga siswa itu memuntahkan darah.
Tak hanya itu, Chanyeol menarik seragam satu diantara dua siswa yang terlibat namun masih terlihat sehat, membantingnya ke lantai lalu menendang perutnya. Terakhir, Chanyeol menatap siswa yang mencengkram dagu Baekhyun , dengan cepat memukul rahangnya, menendang perutnya hingga terpental lalu memberikan pukulan bertubi hingga siswa itu tumbang.
"Aku peringatkan pada kalian! Jangan pernah menganggu Baekhyun. Jika kalian berani menyentuhnya lagi, aku pastikan nyawa kalian melayang." Ancam Chanyeol sambil menunjuk dengan wajah marah. Lalu ia melihat sekitarnya.
"DAN UNTUK KALIAN SEMUA. JIKA AKU TAHU SALAH SATU DARI KALIAN MENYIKSA BAEKHYUN, AKU PASTIKAN KALIAN AKAN BERNASIB SAMA SEPERTI MEREKA!" bentak Chanyeol lantang. Membuat semua orang disana ketakutan, walau beberapa siswi nampak semakin tergila-gila dengan sosok Chanyeol. Chanyeol berdecih kearah tiga korbannya, lalu melenggang pergi.
Chanyeol masuk ke dalam kelas dengan keadaan sedikit berantakan, membuat beberapa dari mereka heran , penasaran dan ada yang semakin menggilai sisi berandalan Chanyeol. Langkahnya menuju bangku miliknya dan Baekhyun lalu memilih duduk, sampai terdengar suara langkah guru mereka dan seketika kelas hening.
…
..
.
Sehun duduk di dalam kelas , di sudut kelas seorang diri. Sejak berita dirinya yang menumbangkan penguasa terkuat di sekolahnya, Sehun menjadi terkenal dan dianggap mengerikan oleh sebagian orang.
Terkadang Sehun heran dengan kekuatannya yang mampu membengkokan besi gawang dengan tendangan bolanya, mematahkan meja saat menggebraknya ketika marah, dan merobohkan pintu dengan tendangannya.
Untuk itu tak ada yang mau mendekat dengannya terutama para wanita yang menganggap dia adalah 'monster' julukan yang mereka berikan pada Sehun, ditambah wajahnya yang mendukung hal tersebut, dia sangat dingin dan angkuh, itu mengapa mereka juga enggan untuk memulai percakapan ataupun sekedar menyapa.
Lamunannya buyar ketika pintu kelas terbuka, seorang lelaki masuk membuat beberapa pasang mata menatapnya kagum. Sehun pun sama, matanya tercengang dan dahinya sedikit berkerut.
"Hai anak-anak. Perkenalkan aku adalah guru senik musik dan seni lukis kalian yang baru. Aku Xi LuHan." Ucap sosok itu sambil tersenyum ramah membuat semua mata menatapnya berbinar. Untuk ukuran seorang guru, sosok dihadapan mereka terlalu muda, dan lebih cocok jika mengenakan seragam SMA, daripada kemeja kuning dengan celana jeans ketat berwarna hitam.
"Selamat Pagi Tuan Xi." Sapa anak-anak dan beberapa siswi memekik senang ketika Luhan mengedipkan satu matanya. Mata Luhan mencari keberadaan Sehun, dan ketika mata mereka bertemu Luhan tersenyum, tapi Sehun segera membuang wajahnya yang terasa memanas.
Sesi perkenalan sudah usai dan sekarang anak-anak dibawa menuju ruang kesenian. Mereka masuk dengan perasaan senang, sejak guru mereka terdahulu cuti melahirkan kelas seni terpaksa dikosongkan, membuat mereka kehilangan kesempatan untuk berleha-leha, dan sekarang mereka bisa menggunakan waktu santai mereka kembali ditambah bonus seorang guru muda yang tampan dan cantik disaat bersamaan.
"Nah, sekarang kalian cari pasangan dan duduk berhadapan." Seketika semua siswa dan siswi berlari untuk mencari teman akrab mereka. Sehun berdecak, dan terlihat tidak bersemangat. Ia paling benci dengan kelas yang meminta siswanya membentuk kelompok ataupun mencari pasangan, karena diakhir akan selalu ada dirinya yang tidak mendapat pasangan lalu berakhir dengan melakukan semuanya sendiri, tanpa teman ataupun kelompoknya.
Dan benar,itu terjadi lagi. Sehun menoleh kesekitar dan semua orang telah bersama dengan pasangan mereka. Luhan meminta mereka mengambil duduk dan berhadapan, ketika Sehun duduk seorang diri dan menghadap bangku kosong di depannya, Luhan mendekat.
"Kau tidak mendapat pasangan?" tanya Luhan dan Sehun mengangguk lemah. Luhan tersenyum lalu mengambil duduk di depan Sehun.
"Baiklah, sekarang kita satu tim." Ucap Luhan membuat Sehun terkejut, dan beberapa pasang mata terlihat iri.
"Sekarang tutup mata kalian!" Semua mengikuti termasuk Sehun.
"Lalu julurkan tangan kalian dan raba wajah pasangan kalian, mulai dari rambut, rasakan bagaimana tekstur dan seberapa lembut rambutnya." Ucap Luhan. Sehun memegang rambut Luhan dan ia merasakan kehalusan bagai sutra.
"Lalu, turun menuju dahi dan mata!" semua mengikuti. Sehun melakukan hal yang sama. Jemarinya menelusuri kening Luhan, dan ia merasakan betapa lembut dan halusnya kulit guru barunya.
Bulu mata lentik dan ada sedikit sensasi menggelitik ketika jemarinya menyentuh bulu mata Luhan. Kelopak mata Luhan begitu luas dan lebar, sementara Luhan tersenyum dalam hati merasakan jemarinya menyentuh permukaan kulit Sehun.
"Lalu turun kehidung, bibir, lalu dagu!" kembali Luhan berucap. Sehun menggerakan jemarinya menuju hidung Luhan. Kecil , mancung dan sangat lembut. Lalu kembali menelusuri bibir Luhan, dan Sehun seperti tercekat.
Seluruh permukaan kulit Luhan sangat halus, tapi mengapa bibirnya begitu lembut dan sangat halus. Jemari Sehun bergerak pelan, membuat Luhan merasakan sensasi aneh dan tanpa ia sadari bibirnya terbuka sedikit.
Sehun merasakan tubuhnya menegang ketika jemarinya merasakan rongga terbuka di antara lipatan bibir Luhan, matanya terbuka dan seketika darahnya berdesir melihat wajah Luhan yang sangat cantik dan sedikit menggoda dengan mata tertutup dan bibir sedikit terbuka.
Luhan membuka matanya membuat Sehun tersentak, lalu ia menarik tangannya cepat dan membuang wajahnya.
"Baiklah, sekarang kalian ambil kertas gambar disudut ruangan, dan mulai gambar wajah pasangan kalian dengan imajinasi kalian tadi! Kita lihat sejauh mana kalian mengenal pasangan masing-masing." Ucap Luhan lalu duduk di tempatnya.
Semua murid nampak antusias, dan mereka mulai mengambil duduk lalu menggambar. Sehun nampak terdiam, ia masih mencoba mengatur perasaan aneh yang menyerangnya. Lalu dengan ragu jemarinya mulai menyentuhkan pensil pada permukaan kertasnya.
Dari tempatnya duduk Luhan memperhatikan wajah serius Sehun, lelaki itu begitu tampan bagi Luhan walaupun ia masih anak-anak. Sesekali Luhan terkikik sendiri melihat betapa seriusnya Sehun menggambar wajahnya.
Dua jam berlalu dan semua siswa nampak meregangkan otot mereka, ketika semua murid meletakkan pensil mereka , Luhan bangkit.
"Baik, sekarang satu per satu maju dan jelaskan pada yang lain kelebihan dan kekurangan wajah yang dimiliki pasangan kalian. Kau dulu!" tunjuk Luhan pada seorang gadis berambut sebahu.
Gadis itu tersenyum lalu bangkit,ia memperlihatkan wajah seorang wanita berkuncir satu. Dengan perlahan ia menerangkan kelebihan dan kekurangan pasangannya, dan terkadang Luhan mengangguk setuju.
Setelah gadis itu banyak yang ingin berpartisipasi, terkadang ada yang membuat lelucon membuat yang lainnya tertawa heboh, ada juga yang nampak memaparkan kekurangan pasangannya saja, semua membuat Luhan tertawa dan menggeleng.
Ketika tidak ada lagi yang mengacungkan jari, dengan cepat Luhan menunjuk Sehun. Sehun bangkit dengan gugup, dan keadaan menjadi sepi seperti tidak berminat. Ketika Sehun mengangkat gambarnya semua orang tercengang.
Sketa wajah Luhan sangat bagus dan rapi,bahkan terlihat begitu realistis.
"Hm, dia. Maksudku Luhan saem, dia memiliki rambut yang halus dan lembut. Setiap helaiannya begitu kecil namun kuat, sangat lembut bagaikan benang sutra. Luhan saem, memiliki dahi yang kecil dan juga halus, dahinya kecil namun memiliki dua sudut runcing di kedua ujungnya. Kelopak matanya besar dan luas Hidungnya kecil dan mancung, juga lembut dan sangat halus. Bibirnya lembut seperti jeli." Luhan menatap Sehun dengan wajah bahagia.
"Garis di bibirnya tidak nampak, tapi ia memiliki sebuah belahan di tengah bibir bawahnya. Ketika ia membuka sedikit mulutnya belahan itu akan semakin terlihat." Luhan menyentuh bibirnya, ia bahkan tidak menyadari hal kecil seperti itu.
"Dagunya runcing dan kecil, jika diraba seperti milik seorang perempuan, pipinya juga sedikit tirus, tapi kulitnya terasa kenyal. Hm, aku rasa hanya itu saja." Ucap Sehun datar, seketika Luhan bangkit dan memberikan tepuk tangan yang keras.
"Wow, ini pertama kalinya ada orang yang mendiskripsikan diriku dengan sangat baik. Byun Sehun, kau berbakat." Ucap Luhan sambil memberikan dua buah ibu jarinya, Sehun tersenyum simpul lalu kembali ke tempat duduknya.
"Selanjutnya! Kau yang menggunakan kaca mata." Tunjuk Luhan.
Kelas musik pertama mereka berlalu dengan sangat asyik. Banyak murid yang bahkan tidak rela ketika jam pergantian berbunyi. Ketika semua bergegas menuju kelas, Luhan memperhatian bagaimana Sehun memilih keluar paling akhir, dan seolah tersisihkan. Ketika para siswa merangkul teman mereka satu sama lain dan bernyanyi aneh sambil keluar.
Dan ketika para siswi saling menggandeng dan berbincang sambil melangkah, Sehun hanya bisa menundukan wajahnya dan memilih keluar paling akhir.
"Hai!" sapa Luhan ketika Sehun akan bangkit dari kursinya. Sehun mengangkat wajahnya dengan bola mata membulat.
"Kau masih mengingatku?" tanya Luhan sambil tersenyum manis.
"Hm, tentu. Si pencari alamat palsu." Sahut Sehun, Luhan mengerutkan keningnya. Kenapa panggilan 'sayang' yang Sehun berikan sangat jelek dan tidak berkelas, gumamnya.
"Itu bukan alamat palsu kau tahu? Itu adalah_"
"Aku tahu. Kalau kau tidak salah mencatat berarti temanmu yang salah memberikan alamat." Jawab Sehun cepat, Luhan tersenyum sambil menggaruk tengkuknya lalu mengangguk.
Sehun akan berbalik ketika tangan Luhan menahannya.
"Setelah ini… kau… kemana?" tanya Luhan sedikit gugup. Ia sendiri bahkan tidak tahu kenapa ia gugup di depan anak kecil seperti Sehun.
"Ke kelas. Aku ada kelas setelah ini."
Luhan merutuki dirinya yang sangat bodoh, tentu saja Sehun akan kembali ke kelas dan melanjutkan pelajarannya, kenapa juga ia harus bertanya.
"Oh. Baiklah." Sahut Luhan singkat lalu kembali ke mejanya dan mengambil barang-barang yang tertinggal, membiarkan Sehun mengernyit dengan perasaan herannya.
…
..
.
Berita tentang Chanyeol yang menghajar anak kelas dua menyebar dengan cepat untuk itu ia sekarang berada di ruang kedisplinan, bersama dua orang guru yang menatapnya dengan alis bertautan.
Chanyeol nampak santai, tidak terlalu memikirkan hukuman apa yang akan diberikan pihak sekolah. Chanyeol sudah mendapat nasehat sejak tadi, dan dari mulut kedua gurunya salah satu korbannya masuk rumah sakit karena mengalami cidera pada perutnya.
Tak lama terdengar suara langkah kaki masuk, kedua guru itu memberi hormat dan ketika Chanyeol menoleh ia mendapati seorang lelaki tua dan tambun, dengan kepala botak di bagian depan, berkaca mata dan terlihat sangat angkuh.
"Dia yang bernama Park Chanyeol?" tanya sosok itu lalu mengambil duduk di salah satu kursi. Kedua guru itu mengangguk sambil memberi hormat, membuat Chanyeol muak.
"Apa kalian sudah menghubungi orangtuanya?" tanya sosok itu lagi.
"Sudah Tuan, ibunya segera menuju kemari." Ucap salah satu guru. Sosok itu menatap Chanyeol lekat, lalu meminta satu guru memberikannya data-data yang dimiliki Chanyeol.
"Oh..oh..oh.. kau pindahan dari luar negeri? Melakukan tindak kekerasan di hari pertamamu masuk sekolah, berkelahi dengan salah satu ketua geng, dan sekarang menghajar adik kelasmu." Chanyeol menatap tanpa niat menjawab.
"Permisi." Tiba-tiba terdengar suara yang begitu halus dan lembut. Chanyeol memutar matanya, ia tahu suara familiar itu, itu suara ibunya. Ketika melihat ketiga pria di depannya menatap kebelakangnya dengan rahang nyaris jatuh, Chanyeol memutar tubuhnya malas, dan ia juga tercengang.
Di depan pintu, berdiri ibunya dengan tubuh tinggi semampai, lekukan tubuh yang sangat indah berbalut gaun glamour, rambut panjang bergelombang, riasan wajah yang tipis namun sangat berkarakter, bibir berwarna merah, dan Chanyeol melihat jelas bulu mata palsu yang dikenakan ibunya. Chanyeol nyaris menjatuhkan rahangnya juga, melihat betapa menjijikannya ibunya.
"Maaf, apa ini benar ruang kedispilinan, dan Oh my God, My sweety ." Ucap Taemin sambil mendekat, mengusap wajah anaknya dengan panik. Chanyeol memutar bola matanya malas, terutama melihat wajah tiga pria di depannya.
"Hello, aku adalah ibu dari Park Chanyeol. Aku Lee Taemin." Ucap Taemin lemah lembut, ketiga sosok itu tersadar lalu mempersilahkan Taemin duduk.
"Aku dengar dia memukul temannya?I'm so sorry , dia memang keras kepala dan kasar, karena pergaulannya dulu di luar negeri. Untuk itu aku membawanya kembali ke Seoul berharap dia bisa mengikuti budaya disini, tapi…" Taemin berakting seolah-olah kecewa dan sedih, membuat sosok tambun itu ikut bersedih, lalu mengelus tangan Taemin.
Chanyeol menatap jemari pria itu mengelus tangan ibunya, dan rasanya ia ingin membunuh sosok gendut itu. Taemin menjauhkan tangannya sambil tetap tersenyum.
"Aku Shin Shindong, kepala sekolah disini. Dan untuk masalah Park Chanyeol aku rasa kasusnya masih ringan, bukan begitu tuan-tuan?" tanya Shindong dan kedua guru lainnya megangguk cepat.
"Anak-anak terkadang tidak bisa mengendalikan emosi mereka, tidak apa-apa pihak sekolah akan maklum, dan tidak akan membocorkan ini. Anda tenang saja Nyonya Lee." Ucap Shindong lagi, sambil sesekali mengelus tangan Taemin. Taemin tersenyum kikuk lalu mengangguk, dan Chanyeol berdecih sambil membuang mukanya.
Beberapa menit berlalu dan kini Chanyeol berdiri di depan ruang kedisplinan bersama ibunya.
"Apa-apaan pakaian itu?" sindir Chanyeol sambil mengangkat rambut ibunya dengan wajah jijik.
"Kau tahu? Aku mengorbankan harga diriku demimu."
"Ya..ya..ya.. Aku mengerti. Dan terima kasih." Ucap Chanyeol hendak melenggang pergi, tapi Taemin menahan kerah baju putranya.
"Jangan terlibat apapun di sekolah, hanya fokus pada tujuanmu. Ingat!" Bisik Taemin di telinga Chanyeol, dan ketika pintu terbuka Taemin segera memeluk putranya.
"Oh my sweety. Kau belajar yang baik ya, mommy ingin kau lulus dari sekolah ini." Ucapnya dengan suara yang sangat menggelikan di telinga Chanyeol.
"Wah anda benar-benar ibu yang baik. Chanyeol pasti akan jadi anak yang baik, iya kan Chanyeol?" Ucap Shindong sambil mengusak rambut Chanyeol, membuat Chanyeol geram tapi Taemin mengeratkan pelukannya agar Chanyeol tidak terbawa emosi.
"Dia sudah seperti anakku sendiri, Nyonya tenang saja." Ucap Shindong, Chanyeol nyaris muntah dan Taemin kembali tersenyum palsu.
Chanyeol memperbaiki seragamnya ketika akan memasuki kelas, kelas nampak tidak terlalu ramai karena banyak yang sedang berada di kantin, Chanyeol melihat Baekhyun yang baru saja selesai mengerjakan tugasnya dan akan bangkit.
"Mau ke kantin?" tanya Chanyeol yang kini berdiri disamping Baekhyun membuat Baekhyun terkejut.
"Tidak. Aku tidak lapar."
"Jangan bohong! Ayo!" Chanyeol menarik tangan Baekhyun, tapi Baekhyun menghempaskannya.
"Chanyeol! Chanyeol! Chanyeol!" Chanyeol menutup matanya sambil menggeram, suara panggilan menggelikan itu ia tahu berasal dari siapa, walaupun ia tidak berbalik. Baekhyun menatap kearah pintu dan menemukan sosok wanita cantik dan muda yang mengintip dari balik pintu.
Lalu ketika semua kelas menatap kearahnya, Taemin memilih melenggang masuk.
"Hai semua! Hari kalian baik, right?" ucap Taemin sumringah, membuat kelas menatap heran sekaligus kagum dengan kecantikan sosok di hadapan mereka.
Chanyeol masih menutup matanya, mencoba mengatur emosi. Baekhyun melirik kearah Chanyeol dan kembali menatap wanita yang berjalan kearahnya.
"Ah sayang, mommy lupa memberitahu. Kau jangan lupa makan yang baik ya, jangan lewatkan waktu makan siangmu, mommy tidak ingin anak mommy yang tampan ini sakit." Ucap Taemin berlebihan sambil mengelus pipi Chanyeol. Chanyeol menggeram kesal, tanpa menoleh, matanya masih tertutup.
"Oh, kau pasti Baekhyun bukan?" Baekhyun mengalihkan pandangannya dari Chanyeol menuju Taemin, lalu segera memberi hormat.
" Benar. Aku Baekhyun." Ucap Baekhyun sambil sedikit mengernyit, entah mengapa ia merasa familiar.
"Wah, kau benar-benar cantik. Chanyeol benar. Ah, kau pasti temannya kan? Maafkan Chanyeol jika dia kurang ajar, dia memang terkadang suka_"
"Aku masih bersabar." Ucap Chanyeol memotong ucapan ibunya, Taemin ber-oh lalu mengelus kembali surai Chanyeol.
"Pergi sebelum aku_"
"Kenapa kau kasar pada ibumu?" ucap Taemin mendramatisir. Wajahnya terlihat bersedih, dan Baekhyun merasa iba.
"Aku membencimu sungguh!"
"Chanyeol!" Baekhyun memekik, membuat Chanyeol menoleh. Baekhyun menatap Chanyeol dengan wajah marah. Chanyeol memutar bola matanya malas.
"Mommy. Sekarang anakmu ini ingin makan siang, jadi mommy. Pu-lang! dan kita bicarakan ini dirumah." Ucap Chanyeol dengan senyum terpaksanya, membuat Taemin menatap dengan mata berkedip, lalu ia mengangguk dan melambai sambil berjalan keluar dengan anggun.
Chanyeol menghela nafas keras dan itu membuat Baekhyun meliriknya.
"Apa?" tanya Chanyeol dengan wajah kesal.
"Kenapa kau seperti itu pada ibumu? Dia sangat baik dan perhatian." Ucap Baekhyun sambil menggeleng.
"Aku tidak tahu. Aku hanya membencinya." Ucap Chanyeol putus asa.
"Ayo!" ajak Baekhyun.
"Kemana?"
"Ke kantin. Bukankah ibumu baru saja berpesan?" ucap Baekhyun lalu melenggang pergi, Chanyeol tersenyum senang dan segera melangkah mengikuti Baekhyun dengan bahagia.
Sampai di depan pintu kantin, Baekhyun menghentikan langkahnya. Ia merasakan tubuhnya menegang, dan langkahnya keras.
Chanyeol menoleh dan menarik tangan Baekhyun heran, dan saat itu pula Chanyeol merasakan sebuah ketakutan di wajah Baekhyun.
FlashBack On
Baekhyun melangkah masuk ke dalam kantin, dan semua orang terlihat berbisik sambil melirik kearahnya. Baekhyun mencoba bersikap tak acuh, jadi ia berjalan menuju antrian. Ketika gilirannya, Baekhyun menyerahkan nampannya, bukannya sikap ramah yang ia dapat, melainkan sikap mencibir dari seorang petugas wanita di konter makanan.
Baekhyun hanya menghela nafas, ketika sayurannya diletakkan tidak sopan bahkan menciprati seragamnya. Baekhyun tidak tahu mengapa, tapi ketika berita tentang dirinya menyebar, banyak para wanita yang juga menjadi pembencinya, karena para pria taksiran mereka kebanyakan jatuh hati pada Baekhyun.
Dan sosok wanita 'perawan tua' di depannya, diketahui menaruh hati pada salah satu guru yang sering bersikap nakal pada Baekhyun, dan gossip Baekhyun adalah lelaki penghibur semakin membuatnya dibenci.
Baekhyun berjalan dengan perasaan gugup, melihat dengan takut kearah tatapan membunuh semua orang. Ia ingin mengambil duduk di salah satu tempat kosong, tapi seketika siswa dan siswi lain memenuhi meja itu, membuat Baekhyun urung.
Ia melangkah mencari bangku lain dan perlakuan sama ia dapatkan. Ia menghela nafas, lalu berjalan menuju sudut ruangan, sebuah meja kosong di dekat tempat sampah. Mau tidak mau Baekhyun menuju kesana.
Ia duduk dengan perasaan yang sangat sakit, tapi ia mencoba bertahan. Ia melepas sumpitnya, dan ketika akan menyumpit makanannya, tiga orang siswi mendekat.
"Permisi aku mau membuang sampah." Ucap siswi itu sambil hendak membuang sisa makananya di samping tempat sampah dekat Baekhyun, tapi bukannya membuang kearah tempat sampah gadis itu malah mengguyur kepala Baekhyun dengan sisa makanan berkuah miliknya.
Baekhyun terkejut, dan dua siswi lainnya melakukan hal yang sama.
"Oppps. Kami tidak bisa membedakan yang mana tempat sampah, dan yang mana dirimu. Maaf, habisnya kalian sama-sama menjijikan." Ucap mereka dengan gaya kecentilan. Baekhyun merasakan air matanya jatuh, tapi tertutupi oleh basah dari kuah yang mengalir di wajahnya.
Seluruh kantin tertawa, dan beberapa siswa lain bangkit lalu melakukan hal yang sama. Baekhyun bangkit dan ia berjalan dengan cepat menuju pintu keluar, tapi ia terjatuh karena kakinya di hadang oleh kaki yang ia tidak tahu milik siapa dan tak lama lemparan-lemparan bertubi ia dapatkan dari siswa lain.
Teriakan kata "sampah" dan "menjijikan" membaur bersama gema tawa mengejek teman-teman lainnya.
Flashback Off
Baekhyun merasakan tubuhnya gemetar, ketika akan berbalik Chanyeol menariknya.
"Tidak usah takut! Ada aku! Jangan khawatir!" chanyeol menarik paksa tubuh Baekhyun, dan Baekhyun dengan pasrah mengikutinya.
Beberapa pasang mata menatap kagum kearah Chanyeol dan menatap tidak suka kearah Baekhyun. Baekhyun menundukan kepalanya sepanjang perjalan mereka menuju antrian. Antrian tidak terlalu panjang, tapi tetap saja berdiri di tengah keramaian membuat Baekhyun merasa tidak nyaman.
Chanyeol menarik Baekhyun dan membuat Baekhyun berada di depannya , sementara Chanyeol berpindah kebelakang Baekhyun. Ia hanya ingin memastikan tidak akan ada yang berani bertindak macam-macam pada Baekhyun dari belakang.
Kini tiba giliran Baekhyun, ia mengambil nampan dan menundukan kepalanya kearah wanita penjaga yang mencibir kearah Baekhyun dan menatapnya tidak suka. Bahkan Baekhyun dapat mendengar wanita itu berdecak kesal.
Baekhyun mengangkat wajahnya ketika sebuah tangan melingkar di pinggangnya, lalu sebuah dagu tajam bertumpu di pundaknya.
"Hei nyonya! Apa ada yang salah dengan wajah Baekhyun? Kenapa kau menatapnya seperti itu? Kau iri dengan kecantikannya?" tanya Chanyeol kesal. Wanita itu sempat terkejut melihat Chanyeol yang tiba-tiba muncul dan wajahnya yang tampan, tapi ia segera mengalihkan wajahnya karena malu.
"Baekhyun-ku memang cantik." Chanyeol mengecup pipi Baekhyun pelan, membuat Baekhyun membulatkan matanya, begitu juga wanita dan beberapa pasang mata lainnya.
"Jadi bukan salahnya jika semua orang jatuh cinta padanya, salahkan pria dungu yang tidak bisa mengatur hasratnya yang kau sukai itu." Ucap Chanyeol dengan dingin. Baekhyun berpindah kesamping membuat pelukan mereka terlepas.
"Tunggu aku! Jangan duduk dulu!" ucap Chanyeol pelan sambil menahan tangan Baekhyun, Baekhyun berdiri disamping Chanyeol dan menundukan kepalanya tidak berani menatap kesekitar yang ia yakin kini semakin membencinya.
Chanyeol menyerahkan nampannya sambil memberikan tatapan membunuh pada wanita di depannya dan wanita itu hanya menunduk malu dan bahkan tidak memiliki nyali untuk menatap Chanyeol.
Mereka melangkah menuju kursi kosong, dan Chanyeol terkejut ketika Baekhyun menuju kursi di sudut ruangan di dekat tempat sampah.
"Baekhyun, kenapa duduk disini?" tanya Chanyeol tak terima.
"Tempatku disini, jadi_"
"Kenapa kau merendahkan dirimu seperti ini? Ayo!" Chanyeol menarik tangan Baekhyun, lalu mencari bangku yang menurutnya pas. Ketika ia melihat bangku di dekat jendela Chanyeol tersenyum, setaunya Baekhyun sangat suka menatap keluar jendela. Jadi kaki panjangnya melangkah dengan perlahan kearah bangku yang sudah terisi itu.
"Hei! Aku ingin duduk disini." Ucap Chanyeol pada tiga orang siswi yang terlihat kagum pada ketampanan Chanyeol.
"Silahkan! Kita duduk bersama." Ucap salah satu gadis itu.
"Tidak. Aku ingin duduk berdua bersama Baekhyun, jadi kalian yang pindah!" ucap Chanyeol tanpa rasa bersalah. Ketiga gadis itu mengernyit lalu menatap tidak suka kearah Baekhyun, dan kembali beralih kearah Chanyeol.
"Kenapa tidak ber_"
"Aku bilang. AKU-INGIN-DUDUK-BERDUA-DENGAN-BAEKHYUN- apa kalian mengerti?" tanya Chanyeol dengan penuh penekanan dan wajah serius yang sangat menakutkan. Mengikuti ketakutan mereka, ketiga gadis itu bangkit lalu melenggang pergi dengan wajah pucat.
"Ayo duduk!" ucap Chanyeol sumringah, berbanding terbalik dengan sikapnya tadi. Chanyeol duduk di depan Baekhyun, ia mengambil sumpit dengan semangat, lalu ketika akan makan ia menatap kearah Baekhyun dan ia terdiam.
Baekhyun sedang duduk sambil mencakupkan kedua tangannya dengan mata tertutup. Chanyeol merasa Baekhyun begitu cantik, naluri Chanyeol meraung ingin segera menggagahi Baekhyun, tapi suatu ruang di sudut hatinya berkata 'jangan'.
Mata itu terbuka dan tatapan mereka bertemu, Chanyeol berdeham lalu menundukan wajahnya kearah makanan. Ia mengernyit. Benda berbutir berwarna putih yang menggumpal, benda berwarna hijau dan berkuah, dan beberapa iris daging.
"Apa ini yang disebut makanan?" Chanyeol bergumam kecil, dengan alis bertaut. Chanyeol melirik Baekhyun dan melihat lelaki-nya sedang makan dengan perlahan. Entah mengapa Chanyeol terdorong untuk mencoba memakannya.
Ia menyumpit irisan daging itu dan memakannya sambil menatap Baekhyun . Sampai ia merasa dagingnya habis, lalu ia terdiam.
"Ada apa? Kau bilang kau lapar tadi." Ucap Baekhyun heran. Chanyeol tersenyum bodoh, ia tidak mungkin berkata jika ia tidak bisa makan apapun selain daging.
"Aku…." Chanyeol terdiam. Lalu dengan semangat berpindah kesamping Baekhyun.
"Suapi. Aaaa ~~" Chanyeol Membuka mulutnya dan Baekhyun mengernyit.
"Apa-apaan." Ucapnya sambil menggeleng.
"Ibuku tidak pernah melakukan ini padaku sejak kecil dan itu membuatku selalu membencinya tiap mengingat itu. Tapi aku memiliki pengasuh yang selalu menyuapiku, karena bila tidak disuapi nafsu makanku hilang." Berbohong dalam kamus iblis bukan suatu larangan.
Baekhyun menatap Chanyeol, antara iba dan jengkel. Dengan pelan ia menyumpit nasi, sayur dan daging. Ketika sumpitnya mengarah pada mulut Chanyeol, Chanyeol mengernyit. Menatap benda asing itu dengan perasaan campur aduk.
"Apalagi? Jangan meminta yang aneh-aneh. Ingat kita tidak _" ucapan Baekhyun terputus karena Chanyeol segera melahap makanan itu dengan cepat dan mata tertutup. Chanyeol merasakan sensasi aneh , perutnya seolah terkocok dan teraduk.
Baekhyun melihat kesekitar ketika bisik-bisik mulai terdengar. Menyadari ekspresi wajah Baekhyun, Chanyeol menangkup kedua pipi Baekhyun, membuat mata mereka bertatapan.
"Jangan pedulikan mereka! Jangan dengarkan! Hanya lihat kearahku jika kau merasa hatimu tidak nyaman." Ucap Chanyeol dengan wajah yang begitu mempesona, bahkan Baekhyun sempat terhipnotis beberapa detik.
"Sekarang makanlah lagi!" ucap Chanyeol dan melepaskan tangannya. Baekhyun menatap kearah makanannya dan sesekali melirik Chanyeol yang kini merebahkan kepalanya diatas meja dengan wajah menatap kearah Baekhyun.
"Kau..kau tidak makan?" tanya Baekhyun lagi tanpa menatap Chanyeol. Chanyeol tersenyum lalu menggeleng.
"Mendadak aku merasa kenyang. Kau makanlah." Sahut Chanyeol sambil mengelus puncak kepala Baekhyun. Chanyeol sebenarnya masih sangat lapar, beberapa iris daging bahkan tidak bisa menutupi rasa laparnya, tapi ia tidak bisa memaksakan diri untuk memasukan benda-benda aneh itu lagi, karena saat ini ia merasa perutnya mual.
Mereka selesai makan sepuluh menit setelahnya dan ketika akan kembali ke kelas mendadak Chanyeol berlari cepat kearah toilet, Baekhyun mengikuti dengan cemas dan terkejut saat Chanyeol memuntahkan makanannya di atas westafle.
Ketika jemari Baekhyun mengelus punggungnya ketika itu Chanyeol menyadari kehadiran Baekhyun, dan ia bersumpah ia merasa malu dan harga dirinya runtuh. Ia mengutuk benda bernama nasi dan sayur itu, yang membuat ia kehilangan kegagahannya di depan Baekhyun.
…
..
.
Sehun berjalan dengan wajah tertunduk sambil sesekali menendang batu kerikil yang menghalangi jalannya. Sampai perhatiannya di sita oleh sebuah mobil yang berjalan sangat pelan disampingnya.
"Hei! Wajah es. Naiklah!" ucap Luhan, Sehun menoleh lalu menggeleng dan kembali berjalan. Luhan menghela nafas kesal dan kembali melajukan mobilnya.
"Hei! Aku sedang berbaik hati." Kembali Sehun menggeleng dan mengabaikan Luhan.
"Yak! Byun Sehun." Sehun menghentikan langkahnya lalu menatap Luhan.
"Ibu berkata bahwa aku tidak boleh mengikuti ajakan orang asing." Sahutnya lalu menggeleng pelan dan kembali berjalan.
"Yak! Aku gurumu, bukan orang asing. Dan aku memang ingin bertemu dengan ibumu. Ini perintah pihak sekolah." Dan ketika itu langkah kaki Sehun berhenti lebih lama, ia menatap Luhan dengan alis bertautan lalu memutuskan untuk naik.
Sehun memilih masuk dan segera mengambil duduk, Luhan tersenyum penuh kemenangan, lalu dengan perlahan ia membawa Sehun ke alamat rumah yang Sehun perintahkan-walau sebenarnya ia sudah tahu-.
Mereka sampai di depan rumah dan Sehun mengeluarkan kunci pagar lalu masuk.
"Tidak ada orang dirumah?" tanya Luhan.
"Kakakku masih di sekolah dan ibuku pulang bekerja sejam lagi." Sahut Sehun sambil melangkah masuk melewati halaman kecil lalu membuka pintu rumah.
Luhan tersenyum dan sesekali melihat sekeliling. Ia memang sering mengunjungi Sehun ketika ia masih bayi hingga sekarang, namun hanya sampai kamar Sehun ia sama sekali tidak pernah masuk dan berkeliling di dalam rumah Sehun.
Luhan tersadar ketika Sehun menatapnya dengan heran di depan sana. Luhan tersenyum lalu melepas sepatunya, menggantinya dengan sandal rumah lalu mengikuti langkah Sehun.
"Anda mau minum apa?" tanya Sehun.
"Terserah." Sahut Luhan yang memilih duduk di atas sofa. Sehun datang dengan segelas jus jeruk dingin dan meletakkannya di depan Luhan, Luhan mengambilnya lalu meminumnya.
"Aku harus ke kamar."
"Tunggu! Aku ikut." Seru Luhan membuat Sehun menghentikan langkahnya lalu berbalik.
"Anda tunggu disini, aku ingin mandi dan mengganti baju."
"Tidak, bila ibu atau kakakmu pulang dan mendapatiku duduk disana, mereka akan mengira yang tidak-tidak. Aku akan menunggu di kamarmu sementara kau mandi." Ucap Luhan. Sehun berpikir sebentar lalu mengangguk.
Dengan langkah bahagia Luhan mengikuti Sehun di belakang, ketika pintu terbuka aroma kamar Sehun yang mirip dengan aroma tubuhnya menguar. Campuran antara bedak bayi dan parfum laki-laki remaja.
Sebuah desain kamar yang cukup maskulin, walau tidak meninggalkan kesan remajanya. Dinding kamarnya berwarna biru langit, dengan sebuah ranjang cukup besar di dekat jendela, sebuah meja belajar, lemari tinggi berwarna hitam, sebuah rak berisi mainan, dan beberapa poster band luar yang terpasang di dinding.
Luhan segera duduk dipinggir ranjang membuat Sehun mengernyit, tapi ia segera meletakkan tasnya, mengambil handuk lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Luhan bangkit lalu melihat koleksi foto yang terpajang di dinding. Ia tersenyum geli, Sehun begitu manis dengan seragam sekolah dasarnya, juga ada beberapa foto dimana ia memeluk tubuh Kibum dan mencium pipinya.
Lalu ada foto Sehun berdiri dengan gagah sambil memeluk sebuah bola. Luhan kembali tersenyum ketika gambar Sehun kecil berubah menjadi sosok pria tinggi, berdada bidang, berahang tegas, sorot mata tajam dan terlihat begitu tampan. Tidak jauh berbeda dengan Sehun sekarang, namun lebih terlihat dewasa dan gagah.
Tak lama pintu kamar mandi terbuka, Luhan menoleh dan mendapati sosok pria yang sama. Tubuhnya tinggi, rahang wajahnya tegas, rambutnya basah dan terlihat sangat menggoda, handuk putih melingkar di pinggangnya sehingga dada telanjangnya yang putih dan bidang terlihat jelas, lengan tangannya sangat kekar, apalagi sorot matanya yang sangat mengintimidasi.
"Ada apa?" suaranya terdengar berat dan Luhan membulatkan matanya nyaris tercekat.
"Ada apa? Saem? Saem?" dan seketika Luhan tersadar. Ia mengerjap beberapa kali ketika mendapati Sehun berdiri di depannya sambil melambai dengan tubuh anak-anaknya.
'Oh… aah tidak." Sahut Luhan gugup lalu membuang wajahnya.
Sehun menggeleng dan berjalan kearah lemarinya. Sehun memakai celana tanpa melepas handuknya, dan setelahnya menyematkan handuknya di sekitar lehernya. Ia masih memilih-milih baju sampai ia dikejutkan dengan tarikan dihanduknya lalu berpindah ke kepalanya.
Ia menoleh dan mendapati Luhan berdiri dibelakangnya sambil menggosok rambutnya yang basah.
"Kau harus mengeringkan rambutmu dengan benar, jika tidak kau bisa masuk angin" ucap Luhan. Sehun terdiam, sementara Luhan masih setia mengeringkan rambut Sehun dengan perlahan.
Brak!
"Itu ibu!" ucap Sehun segera memakai bajunya lalu berjalan kearah pintu. Luhan terdiam sejenak, lalu melempar handuk di tangannya ke atas ranjang dan merapikan penampilannya, lalu mengikuti Sehun yang sudah menghilang entah kemana.
"Ibu! Kenapa pulang cepat?" tanya Sehun. Kibum tersenyum sambil meletakkan belanjaannya diatas meja dapur.
"Iya, ibu menyelesaikan tugas ibu dengan cepat. Kau ingin makan apa?" tanya Kibum, Sehun berpikir sebentar lalu ia teringat akan Luhan.
"Oh iya ibu, aku ingin mengenalkan seseorang, dia_"
"Selamat sore nyonya. Saya Xi Luhan, guru seni Byun Sehun." Ucap Luhan memberi hormat, Kibum sedikit terkejut namun ia membalas hormat Luhan.
"Ada yang ingin saya bicarakan dengan anda terkait Sehun." Ucap Luhan dan Kibum mengangguk sambil tersenyum ramah.
…
..
.
Baekhyun menghela nafas ketika kakinya melangkah memasuki toko buku. Sementara Chanyeol terlihat kesal pada gadis-gadis yang menatapnya dengan begitu menjijikan, terutama ia kesal pada para pria hidung belang yang sesekali melirik Baekhyun.
Awalnya Chanyeol ingin mengajak Baekhyun berjalan-jalan, tapi ketika Baekhyun menolak dan berkata bahwa ia ingin membeli buku. Chanyeol membatalkannya dan memaksa untuk ikut.
Baekhyun berjalan menuju salah satu rak buku, melihat dengan perlahan judul-judul buku dan terkadang membaca summary nya.
Chanyeol bersandar pada salah satu rak karena merasa bosan, ia seolah diabaikan. Dengan malas ia menggerakan jemarinya pada deretan buku, lalu menghembuskan nafas saking bosannya. Ketika ia mendengar suara terkikik di belakangnya ia menoleh, beberapa gadis berseragam menatap malu-malu kearahnya sambil berbisik. Chanyeol merasa heran mengapa manusia sangat suka membicarakan orang lain.
Dengan angkuh Chanyeol berjalan mendekat kearah Baekhyun, lalu dengan perlahan melingkarkan tangannya di pinggang Baekhyun. Ketika para gadis itu mendesah kecewa, Chanyeol tersenyum.
Baekhyun melirik kearah Chanyeol, dan Chanyeol segera melepaskan tangannya.
"Maaf, aku hanya tidak suka ketika mereka menatapku dengan wajah ingin ditiduri seperti itu." Adu Chanyeol.
"Maka dari itu, berhenti tebar pesona." Ucap Baekhyun lalu beralih pada buku yang lain.
"Aku? Tebar pesona? Kapan? Aku tidak." Protes Chanyeol dan Baekhyun tersenyum kecil sambil mengedikkan bahunya.
Chanyeol kembali menghembuskan nafas, lalu matanya melihat sekeliling sampai akhirnya tertuju pada seorang lelaki aneh dengan kaca mata tebal, gigi berkawat, dan rambut ditata sangat rapi, mengintip dari balik bukunya kearah Baekhyun.
Dan Chanyeol tahu arti tatapan itu, lelaki itu sedang menjadikan Baekhyun objek fantasi seksnya. Terlihat dari gerakan naik turun tangan pria itu di balik tas yang ia pangku di pahanya. Bukannya tidak ada objek lain, namun sejauh mata memandang, hanya ada gadis-gadis berseragam yang tidak menarik, ibu-ibu, petugas dan pria-pria berkumis, yang paling menarik memanglah Baekhyun, dengan tubuh mungil dan pantat sintalnya, semua orang akan memilihnya sebagai objek fantasi liar mereka.
Chanyeol menatap kesal, lalu merentangkan jemarinya di depan pantat Baekhyun, membuat gerakan meremas membuat lelaki itu tersentak. Dari belakang memang terlihat seperti Chanyeol sungguh-sungguh meremas pantat Baekhyun, namun pada kenyataan antara tangan dan pantat Baekhyun masih berjarak.
Jemari Chanyeol membuat gerakan memutar seperti sedang mengelus, lalu meremas-remas dengan gerakan seduktif. Chanyeol bahkan membuat gerakan seperti jemarinya sedang mengorek lubang pantat Baekhyun.
Chanyeol menyeringai ketika gerakan tangan lelaki itu semakin cepat mengocok penisnya. Chanyeol tidak berhenti disitu, ia mendekatkan lidahnya pada leher Baekhyun dan membuat gerakan menjilat, lalu memasang wajah seperti sedang menikmati kocokan pada tangannya.
Lelaki itu menutup matanya sambil mengocok dengan kuat, Baekhyun sesekali melirik kearah Chanyeol dan Chanyeol tersenyum manis seolah ia tidak sedang melakukan apapun.
"Aaaaah~" terdengar suara desahan lantang dari lelaki itu, lalu terdengar teriakan terkejut dari beberapa gadis yang melihat sperma lelaki itu memuncrat. Baekhyun hendak menoleh tapi Chanyeol menarik tangan Baekhyun lalu menahan dagu Baekhyun dengan satu tangannya.
"Jangan lihat! Hanya lihat kearahku!" Ucap Chanyeol sambil menatap Baekhyun, dan untuk kesekian kalinya Baekhyun terhipnotis. Sampai terdengar suara ribut yang berasal dari bentakan seorang petugas keamanan yang mengusir lelaki itu, barulah Baekhyun tersadar dan menoleh.
Ia menatap heran kearah lelaki yang berlari terbirit dengan para gadis-gadis yang menatap jijik. Lalu ia menoleh pada Chanyeol yang tersenyum senang kearah keributan itu, sampai akhirnya mata mereka kembali bertemu.
"Sudah?" tanya Chanyeol lembut, Baekhyun terdiam sejenak lalu mengangguk.
"Ayo kita segera bayar." Ucap Chanyeol sambil menarik tangan Baekhyun.
Mereka mengantri di kasir, Chanyeol mengernyit ketika melihat Baekhyun hanya membeli satu buku sementara ia menghabiskan waktu untuk memilih berjam-jam. Ketika Baekyun hendak mengeluarkan dompetnya Chanyeol mencegah, ia segera mengambil dompet dan mengeluarkan sebuah Black Card membuat beberapa orang tercengan. Sebagaimana orang tahu, kartu keramat itu hanya dimiliki oleh sebagian orang, dan hanya dari kalangan atas.
Mereka menuju tempat parkir, dimana sebelumnya mereka mengambil tas yang mereka titipkan di ruang penitipan dekat parkiran. Chanyeol hanya tidak ingin membawa beban berat , padahal isi tasnya sendiri hanya sebuah buku tulis dan pulpen. Iblis pintar mencari alasan.
Chanyeol memakaikan Baekhyun helm, lalu membawa tubuh kedua naik diatas motor. Chanyeol merasa tidak salah memilih motor, karena dengan motor ia bisa merasakan tubuh Baekhyun yang bersandar pada punggungnya, untuk itu ia menaruh tasnya di bagian depan. Tidak ingin ada penghalang.
…
..
.
Baekhyun meregangkan ototnya setelah selesai mengerjakan pekerjaan rumahnya. Ia merapikan bukunya, dan memasukkannya ke dalam tas. Jemarinya bergerak untuk mematikan lampu belajar.
Ia memastikan jendela tertutup rapat, karena ketika ia melihat keluar bulan penuh sedang bersinar dengan terang. Setelah yakin, Baekhyun segera menuju ranjangnya untuk berbaring.
Tak perlu waktu lama untuk membawanya masuk kedalam alam mimpi, dan ketika dengkuran halusnya terdengar. Jendela kamarnya terbuka perlahan, diantara celah kecil itu masuk seekor kelelawar yang terbang disekitar kamar Baekhyun, lalu setelahnya menjelma menjadi sosok berjubah hitam dengan rambut hijau kelamnya.
Sosok itu menyeringai dengan mata yang menyala di kegelapan. Ia menaiki ranjang, menurunkan selimut di tubuh Baekhyun, menatap dengan sebuah seringaian kearah tubuh Baekhyun.
Dengan gerakan cepat ia merobek baju tidur Baekhyun, memperlihatkan kulit putih mulus milik Baekhyun yang selalu ia rindukan. Ia mendekatkan wajahnya ke permukaan kulit Baekhyun, menjilatnya mulai dari leher, hingga ke pusar dengan perlahan.
"Hhmmmm…aaahh.." Desahan Baekhyun mulai terdengar, dan ia menyeringai. Bibirnya bergerak untuk menyesap setiap inchi permukaan leher Baekhyun, setelah merasa cukup ia berpindah ke dada Baekhyun dan meninggalkan jejak kemerahan disana.
Bibirnya mengemut putting Baekhyun seperti bayi besar kelaparan, menarik-nariknya seperti karet, menggigit-gigit kecil , dan menghisapnya secara bergantian.
"aaaah…hhmm… aaaahh." Tubuh Baekhyun menggeliat,dan terlihat butiran keringat di keningnya.
Tidak sampai disitu, tanganya bergerak menyelip ke dalam celana tidur Baekhyun. Memijat dengan perlahan benda lunak yang masih tertidur itu, setelah puas mengerjai bagian atas tubuh Baekhyun, ia melepaskan celana Baekhyun.
Menatap dan meniupkan angin dingin di sekitar penis Baekhyun, membuat penis mungil itu berkedut-kedut, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Menghisapnya dan menjilatnya dengan perlahan.
"Aaaahh…ooohh.. terussshh." Desahan Baekhyun semakin keras. Geliatan tubuhnya juga semakin terasa, hingga menimbulkan bunyi decitan ringaN pada kasur.
Setelah puas menghisap penis Baekhyun, ia menghilangkan pakaian yang melekat ditubuhnya, dan pakaiann itu tergelatak begitu saja diatas lantai yang dingin.
Ia mengocok penisnya hingga mengeluarkan cairan, lalu membuka lebar paha Baekhyun, menggesekan ujung penisnya dengan permukaan lubang Baekhyun, lalu mendoronganya perlahan.
Kening Baekhyun mengernyit, dan ketika sebuah benda tumpul dan besar menerobos ke dalam lubangnya, ia mencengkram permukaan sprei dengan erat.
"Aaaaahhh…aaaahhh" Desahnya terdengar semakin keras ketika anusnya tertumbuk dengan keras, tubuh mungilnya bergerak naik turun secara cepat hingga membuat ranjang nya berdecit hebat.
"Oooohh,,, hhhmmm…aaahhhh…aaahh.." Kembali bibir tipisnya mengeluarkan desahan yang menggema di dalam kamar, di dalam kegelapan yang hanya diterangi cahaya bulan.
Di bawah cahaya itu, wajah Baekhyun terlihat bersinar, dengan bulir-bulir keringat yang membuatnya semakin terlihat menggairahkan. Baekhyun merasa tangannya ditarik dan terbelit di leher, untuk itu ia semakin mengeratkan pelukannya untuk meluapkan rasa sakit dan nikmat yang bercampur menjadi satu.
Gerakan tubuh mereka semakin cepat, bibir Baekhyun terbuka lebar, begitu juga dengan kakinya yang terbuka lebar hingga ia merasa sedikit nyeri.
"Aaaaaahhh~" Lengkingan terdengar keluar dari bibir Baekhyun, diikuti oleh sebuah suara berat yang menyemburkan spermanya ke dalam lubang Baekhyun.
Ternyata kegiatan mereka belum usai, kaki Baekhyun dirapatkan, diluruskan lalu ditekuk keatas hingga menyentuh perut Baekhyun.
Dan tubuh itu kembali bergerak, rambutnya basah dan keringat mengalir di pelipisnya hingga beberapa menetes ke paha Baekhyun. Ia tetap menggerakan tubuhnya makin menggila dibawah sana, mencari kenikmatan dalam setiap tusukan dan gesekannya dengan benda kenyal di dalam anus Baekhyun.
"Aaahh…terusshh…oooohh…aaahh" Desahan Baekhyun kembali terdengar dengan nafas yang sangat berat, terengah seperti sedang melakukan marathon.
Gerakan membrutal, hingga kepala Baekhyun menyentuh kepala ranjangnya berulang. Cengkramannya semakin keras, hingga kukunya menancap di punggung yang sedang ia peluk.
Sangat cepat tapi konstan. Gerakan yang seirama dengan decitan antara kaki ranjang dan lantai. Baekhyun merasa gelisah, hingga ia mulai membuka matanya perlahan. Yang pertama ia lihat adalah gelap dan kakinya yang berada dihadapannya.
Lalu ia mulai mengerjap dan menyadari tubuhnya bergerak naik turun dengan rasa sakit dan perih di bagian anusnya.
Gerakan matanya mulai panik ketika gerakan itu semakin cepat, tangannya tak lagi melingkar di pundak, ia mencengkram bantal kepala yang ia gunakan.
"Aaaaaahhhh Baekhyun!" suara berat itu membuat seluruh tubuh Baekhyun meremang dan menegang. Cairan yang sangat banyak Baekhyun rasakan di dalam anusnya, kakinya mulai diturunkan.
Sosok yang tidak terlalu jelas dimata Baekhyun itu merebahkan tubuhnyA diatas Baekhyun dengan nafas terengah, lalu wajah itu terangkat hendak mengecup bibir Baekhyun, sampai mata mereka bertemu.
Dibawah cahaya bulan purnama, Baekhyun melihat sosok itu dengan jelas. Mata berwarna hitam kelam, rambut berwarna hitam kecoklatan, kulit putih, bibir penuh, sorot mata kelelahan yang berubah membulat karena terkejut.
"Kau?"
"Baekhyun?"
"Kau… Chan…Chanyeol?"
…
..
.
TBC
( Seperti bias )
…
..
.
Huwaaaah, akhirnya sampe di kata TBC kekekeke..
Gimana menurut kalian, udah memuaskan atau belum? Kalau belum aku minta maaf, dan kalau ada bagian yang gak nyambung juga maaf hehehe, apalagi ada bagian yang gak kalian ngerti hehehehe..
Beberapa review masuk dan minta kal tetep diisi disetiap chapter, kekekeke.. katanya sih lucu menghibur, hahaha.. padahal mah aku bukan ngelucu, sumpah, niatnya jawab pertanyaan kalian kekeke..
Oke, ini Beberapa Pertanyaan, Pernyataan, masukan, kritik yang bakal aku jawab. Cuma yang aku inget ya, yang biasanya sering muncul hehehehe. ( R : readers , M : Me)
R : Ternyata tebakan aku bener. Anaknya Baekhyun itu Sehun.
M : Selamat ya, Congrats, chukkae , buat semua yang tebakannya bener, walo gak dapet hadiah tapi pasti kayak ada manis-manisnya gitu * korban iklan
R : Playful Love kapan update?
M : Pertanyaan yang selalu muncul dimanapun kekekeke… mungkin samaan DBM ya, soalnya itu part akhir jadi mesti dibkin sebaik mungkin dan aku usahain dimampatkan biar gak kepanjangan. Kekekeek, kalian yang sabar ya. Hah!banyak yang bilang bakal kangen sama Chanbaek disana. Rencananya sih aku mau bikin ff yang sejenis hehehe, rencana ya, inget REN-CA-NA. Kekeke, rencana Tuhan jauh lebih indah.
R : Kak katanya, nyebar link JGV ya, bagi dong!
M : *mata melotot, lidah menjulur, keluar busa. Wkwkwkwkw. Kayaknya ada kesalahpahaman disini, yang aku maksud kemarin itu seolah kayak para senpai di yaoi akun yang kalo kita mau linknya pasti bilang "Mau link? DM me" gitu, kekekeke.. bukan akunya yang mau bagi-bagi link. Bukannya pelit, tapi emang akunya itu gak modal, biasanya minta sama temen aku yang fujo kronis yang tau seluk beluk per yaoi-an hehehe.. Dan untuk yang DM, aku udah berusaha buat ngirim, tapi kapasitasnya kebesaran, mesti di potong-potong dulu dan aku gak tau caranya , hehehehe…maaf ya. Tapi web yang aku kasih membantu kan ? hehehehe.
R : Sehun jadi anak kecil? Berarti gak ada couple hunhan dong?
M : siapa bilang? Ingat ini fanfiction, fantasy lagi. Wkwkwkw.. apapun bisa terjadi hehehe, ini baru anak kecil, belum aku bikin bayi hahahaha… Dan pertanyaan kalian udah terjawab kan di chapter ini? Kekekeke.. Jadi menurut kalian ada gak couple Hunhan?
R : Cara penulisanya berantakan! Tolong perbaikin.
M : Maaf sebelumnya, aku sudah berusaha untuk membuat serapi mungkin, ampe baca berulang kali ampe mataku jereng *plak! Tapi yah, mungkin aku emang gak terlalu bakat untuk buat yang rapi-rapi hehehehe, maaf ya, dan makasi masukannya.
R : Aku bingung mau manggil apa, Kak Shit aneh, kak Shita kepanjangan.
M : Boleh, bebas mau manggil apa. Asal jangan nyet, jing, bi. Yang terakhir horror hehehe. Emang sih shit kesannya kasar, ya udh panggil Kata ajah, atau Kashi hahaha,, sekarepmu wes *cieelaa Bahasa jawa
R : NC nya kurang hot
M : Seriously? Huwaaa padahal aku udah keringet dingin tiap ngetik di bagian NC nya, masih kurang hot? Seriusan? Coba bacanya di deket kompor, atau sambil ngemil cabe, heheheeh *Kaboooorrr
R : Ajarin nulis dong!
M : Sini! Sini! Jangankan nulis, ngajarin kamu buat makin cinta sama aku juga bisa kok *eaaaa *eaaaaa *PLAK!
R : Jangan update lama ya kak, plisss!
M : Sebenernya juga pingin beb, tapi apa daya tanganku tak kuasa memeluk Chanyeol *eeiihdibogemmami
Okay sekian dulu ses kita, kekekeke..
Kalo sempet jangan lupa review ya, hehehehe.. masukan kalian sangat berharga buat aing, saran dan juga semangat kalian apalagi
Mari saling menghargai!
Mari dukung Chanbaek sebagai kekasih!
Mari close tab ini dan berhenti nyengir, nyengir sendiri! Kekekeke..
See you in next chap guys. I love you, and wish we can meet in real life
Salam Chanbaek is real ya , inget jaga kesehatan ya ^_^
