Tittle : Devil Beside Me chapter 4
Cast : Park Chanyeol ( EXO ), Byun Baekhyun ( EXO ), Oh Sehun ( EXO ), Do Kyungsoo (EXO ), Xi Luhan (EXO ), Kim Jongin (EXO ), Kim Kibum (SHINee ), Choi Minho ( SHINee ), Lee Taemin (SHINee ) and Ok Taecyeon ( 2 PM ) , Kim Dasom ( Sistar ) , Bae Joo Hyeon-Irene ( Red Velvet ), Park Sooyoung- Joy ( Red Velvet ), Kim Yerim-Yeri ( Red Velvet ) and others.
Mengingatkan : Gay's area, Percintaan sesama jenis, Yaoi, BxB, cowok x cowok, pisang makan pisang , NC scene, adegan ranjang, MATURE, NOT FOR CHILDREN, Merusak sel otak, dll yang tidak baik bagi kesehatan mental tapi bagus untuk kerja jantung hehehehe..
PERHATIAN!
Ff ini mengandung unsur dewasa berbau seks, hubungan sesama jenis yang menyebabkan beberapa orang mungkin mual, Bahasa yang berantakan, dan typo yang walau sudah berusaha dihilangkan tapi tetap muncul. Tidak untuk area bermain anak-anak, anak polos, antigay/ homophobic, AntiChanbaek dan segala yang tidak ada sangkut pautnya dengan dunia yaoi.
Hai ceman-ceman. Do you miss me ? oh ,maybe my fanfiction hahahaha…
Sekali lagi makasi buat seluruh review yang masuk, makasi banget tanpa kalian aku gak bisa sampe di tahap ini.
Buat yang ngefollow dan ngefav diem-diem juga makasi , wkwkwkwkw…
Buat siders, hhm… apalah aku Cuma penulis amatiran yang mungkin belum berhak mendapat penghargaan, kritik dan saran dari kalian, wkwkwk.. but it's okay that's love hahaha..
( Oh iya , ses aku ubah jadi SI PITIK ya ?) hehehehe..
….
..
.
….
..
.
Baekhyun merasa gelisah, hingga ia mulai membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah gelap dan kakinya yang berada dihadapannya.
Lalu ia mulai mengerjap dan menyadari tubuhnya bergerak naik turun dengan rasa sakit dan perih di bagian anusnya.
Gerakan matanya mulai panik ketika gerakan itu semakin cepat, tangannya tak lagi melingkar di pundak, ia mencengkram bantal kepala yang ia gunakan.
"Aaaaaahhhh Baekhyun!" suara berat itu membuat seluruh tubuh Baekhyun meremang dan menegang. Cairan yang sangat banyak Baekhyun rasakan di dalam anusnya, kakinya mulai diturunkan.
Sosok yang tidak terlalu jelas dimata Baekhyun itu merebahkan tubuhny diatas Baekhyun dengan nafas terengah, lalu wajah itu terangkat hendak mengecup bibir Baekhyun, sampai mata mereka bertemu.
Dibawah cahaya bulan purnama, Baekhyun melihat sosok itu dengan jelas. Mata berwarna hitam kelam, rambut berwarna hitam kecoklatan, kulit putih, bibir penuh, sorot mata kelelahan yang berubah membulat karena terkejut.
"Kau?"
"Baekhyun?"
"Kau… Chan…Chanyeol?"
Baekhyun terlonjak kaget, matanya membulat, dadanya bergerak naik turun, nafas terengahnya terdengar berat. Ia baru saja bermimpi buruk, mimpi aneh yang terasa nyata baginya.
Baekhyun menyibak selimutnya dan ia mendesah lega ketika pakaiannya masih lengkap, ia melihat ke jendela dan jendelanya masih dalam keadaan tertutup rapat.
Jemarinya meraih segelas air disamping mejanya dengan gemetar, lalu meminumnya cepat. Ketika nafasnya mulai teratur, Baekhyun membaringkan dirinya kembali. Menutup tubuhnya dengan selimut dan menatap kearah langit-langit kamarnya.
Memikirkan satu nama yang terus mengitari kepalanya.
"Chanyeol?" gumam Baekhyun pelan.
Park Shi Ta
Present
…
..
.
Nubes adalah sebuah kerajaan yang megah dengan bangunan kokoh yang hampir sebagian terbuat dari emas. Pilar-pilar tinggi berwarna putih dengan sentuhan emas disetiap hiasan kelopak bunganya.
Memiliki banyak ruangan-ruangan besar dengan berbagai macam fungsi dimana sebagai pusat pengendalian seluruh kehidupan manusia. Para malaikat yang bertugas merupakan utusan langsung dari Sang Pencipta, mereka telah diberi kepercayaan untuk memelihara dan menjaga kehidupan di bumi.
Lain halnya dengan para iblis yang menangani kematian dan sikap buruk para manusia, maka malaikat bertindak sebaliknya.
Setiap malaikat memiliki tingkatan masing-masing, yang terendah adalah para malaikat biasa, yang bertugas berada di sisi manusia menemani mereka dari lahir hingga kematian menjemput.
Mereka berwujud kecil, berwajah seperti anak kecil , dengan bola mata bulat yang indah, bersayap putih kecil dan berambut panjang dijalin. Mereka disebut Chayroll. Lalu berikutnya Shandora, malaikat penjaga pintu masuk gerbang kematian.
Lalu malaikat penjaga yang disebut Sharr yang berada di Nubes dimana bertugas menjaga taman, menjaga kolam, dan menjaga kebun buah tempat lainnya di Nubes. Setelahnya ada para 'pengatur' yang bertugas mengatur semuanya.
Takdir, percintaan, pekerjaan, kehidupan, kebahagiaan, kesedihan, masa depan dan mimpi. Semua diatur oleh para malaikat 'pengatur' yang disebut Zarr . Merekalah malaikat pekerja dengan kedudukan tertingi.
Dan yang tertinggi adalah raja langit, yang bertanggung jawab atas semua kehidupan di muka bumi, yang memberikan perintah dan memberikan izin untuk semua tindakan yang dilakukan para malaikat.
Nubes sangat indah, sebuah tempat dengan seribu macam kesenangan dan kebahagiaan. Manusia yang meninggal dengan budi pekerti yang luhur akan diberikan kesempatan untuk berkunjung ke Nubes, menikmati kebahagiaan sebagaimana para malaikat sebelum akhirnya terlahir kembali.
Dalam beberapa ruangan para Zarr akan melakukan tugas mereka. Mengatur mimpi seseorang, dimana mereka akan memberikan petunjuk lewat mimpi yang akan ditangkap oleh para manusia sebagai sebuah firasat, beberapa ada yang peduli namun tak jarang juga yang mengabaikan.
Selain mimpi yang diatur, takdir para manusia juga sudah ditentukan. Ditulis dalam segulung kertas coklat yang diletakkan dimasing-masing rak khusus. Setiap harinya manusia akan menjalani apa yang tertulis dalam kertas tersebut, itu mengapa manusia tidak bisa melarikan diri ataupun merubah takdir mereka, karena itu sudah tertulis.
Malaikat asmara, adalah yang bertugas mengatur seluruh kisah percintaan manusia dibumi. Malaikat asmara berada dalam satu unit dengan malaikat pengatur takdir, hanya saja mereka dibedakan untuk mempermudah pekerjaan.
Mulai dari pertemuan akan dikerjaan oleh malaikat takdir, namun setelahnya malaikat asmara lah yang berperan, banyak yang menyebut mereka sebagai Cupid dengan membawa panah asmara, namun senjata mereka yang sebenarnya adalah benang merah. Benang yang akan diikat satu sama lain, dimana ketika benang itu sudah terkait kedua manusia itu tidak akan bisa lepas satu sama lain.
Lalu ada malaikat kebahagiaan. Malaikat yang bertugas memberikan sebuah hadiah pada para manusia yang telah melakukan kebaikan, yaitu kebahagiaan. Akan ada seorang petugas yang mencatat setiap kegiatan manusia dan melaporkannya pada para Zarr, dan para Zarr akan melakukan tugas mereka sebagaimana mestinya.
Terakhir adalah malaikat pengatur waktu. Dialah yang paling berperan penting dalam kehidupan. Selama kerajaan Nubes berdiri hanya ada orang mailakat pengatur waktu yang ada dan tidak pernah digantikan, dia adalah Kim Jonghyun. Tetua dari para Zarr, itu mengapa dia sangat dihormati.
Semua pekerjaan para Zarr tidak jauh daripada apa yang tertulis di kertas coklat yang tergulung dengan rapi itu, mereka hanya melaksanakan apa yang tertulis dan memberikan akibat atas penyalahgunaan 'kehidupan' seorang manusia.
Semua sudah berjalan sesuai yang tertulis, tidak ada yang bisa membantah ataupun mengubahnya dengan sembarangan, kecuali bila menggantinya langsung diatas kertas coklat bergulung.
…
..
.
Devil Beside Me
Chapter 4
…
..
.
Baekhyun menatap sarapannya dengan gelisah, entah mengapa semenjak mimpi buruk semalam ia menjadi tidak bersemangat. Mimpi tentang sosok berambut hijau kelam bermata biru yang telah memperkosanya selama ini , yang malah berubah menjadi sosok bermata hitam kelam, berambut coklat yang Baekhyun kenal bernama Chanyeol.
Baekhyun menghela nafas pelan, ia pikir mimpinya bukan apa-apa, melainkan hanya bunga tidur biasa, dan masalah munculnya Chanyeol hanya karena sosok itu selalu berada diskitarnya akhir-akhir ini.
Sehun melirik kakaknya sekilas sambil menggigit roti panggangnya. Ia merasakan kegelisahan dalam wajah kakaknya, walau ragu tapi Sehun mencoba membuka mulutnya, setidaknya berbasa-basi tidak masalah.
"Hyung? Kenapa tidak makan?" tanya Sehun pelan, Baekhyun yang bergelut dengan pemikirannya menoleh menatap mata Sehun dengan wajah datar. Dan entah mengapa perasaan benci itu kembali menyerang Baekhyun. Perasaan yang coba ia musnahkan, perasaan yang coba ia kubur dalam-dalam.
Flashback On
Baekhyun remaja duduk diatas kasurnya dengan kedua kaki yang ia peluk. Sudah dua minggu semenjak kelahiran bayi aneh dari dalam perutnya dan Baekhyun masih tetap sama, ia tidak ingin bertemu siapapun ataupun melihat dunia luar.
Dengkuran halus dari sosok kecil disampingnya membuat Baekhyun menoleh. Bayi tampan itu tertidur dengan pulas berbalut kain tebal yang menghangatkan tubuh kecilnya.
Baekhyun menatap bayi itu penuh rasa benci, sebenarnya ia tidak ingin berada di dekat bayinya, tapi ketika ibunya memohon dengan wajah kelelahan, Baekhyun mencoba memaklumi perasaan bencinya.
Baekhyun menarik ujung kain bayinya, membuat tubuh bayi itu terseret kearahnya. Ia menatap bayi itu lekat, tepat pada bagian wajahnya.
"Sebenarnya kau siapa? Kenapa muncul dari dalam perutku? Kenapa kau tidak kembali pada orang yang telah membuatmu berada di dalam perutku? Pada makhluk bejat dan brengsek yang tidak punya hati." Ucap Baekhyun dengan suaranya yang terdengar frustasi.
Beberapa hari setelah kelahiran bayinya, Baekhyun memang di diagnosa terkena depresi ringan, dan akan sembuh dalam kurun waktu dekat. Tapi bukan berarti rasa depresi itu bisa meningkat. Seperti sekarang, Baekhyun menangis ketika mengingat kejadian yang menimpanya melalui wajah bayinya.
Baekhyun mengelus pipi bayinya dengan lembut, wajahnya terlihat memberikan kasih sayang yang sangat tulus, tapi di detik berikutnya tangannya dengan cepat menarik bantal dan menutup wajah bayinya.
Bayi itu bergerak, dan suara tangisannya teredam oleh tekanan bantal Baekhyun, ketika ia berusaha menekan semakin dalam, tubuhnya terpental hingga terjatuh ke lantai dan menghantam dinding.
Baekhyun terkejut dan menatap bayi diatas kasurnya yang kini menyala berwarna merah dengan tanduk kecil dan taring kecil di mulutnya. Baekhyun menutup mulutnya, ia tidak bisa berkata apa-apa.
"Jangan membunuhnya! Dia anakmu, darah dagingmu." Suara itu menggema di dalam kamar, Baekhyun semakin terkejut melihat sekeliling dengan takut. Ia menutup telinganya dan berteriak kencang.
Tak lama Kibum datang dengan raut wajah cemas, menghampiri Baekhyun yang terduduk di sudut ruangan.
"Bayi itu monster. Bayi itu mengerikan. Ibu! Aku hiks…hiks.. aku melihatnya berubah. Dia monster ibu, dia bukan anakku…hiks.." Kibum mendekap Baekhyun dan mengelus punggung putranya agar tenang.
Sesekali mata Kibum melirik bayi Baekhyun yang menangis diatas kasur, ia tidak melihat hal mengerikan dari bayi itu. Jadi dia pikir Baekhyun pasti telah berkhayal yang tidak-tidak.
"Baekhyun! Tenang sayang! Kau hanya sedang tertekan. Dia bayimu, dia lucu. Kau lihat? Dia bahkan menangis dengan kencang karena melihat kau seperti ini. Sekarang kau susui dia ya?" Baekhyun menggeleng cepat. Kibum menghela nafas, namun ia bangkit dan meraih bayi Baekhyun lalu membawanya pada putranya.
Baekhyun menggeleng sambil menangis berusaha menolak bayinya, tapi Kibum memaksa dan terus berkata 'tolong' dan 'mohon' . Baekhyun membiarkan bayi itu berada diatas pangkuannya, ia hanya menatapnya tidak bergerak sama sekali.
Dan ketika Kibum mengangkat kaos baju Baekhyun, Baekhyun menoleh menatap ibunya seolah meminta pertolongan, tapi Kibum yang sama putus asanya semakin memberikan raut memohon, jadi dengan terpaksa Baekhyun mendekatkan putingnya yang membengkak kearah mulut bayinya, dan bayi itu menyusu dengan kencang. Hingga membuat Baekhyun mengernyit karena tarikan keras di putingnya.
Ketika menyusu, bayi itu membutuhkan waktu sekitar sejam hingga ia merasa benar-benar puas lalu tertidur, anehnya air susu Baekhyun tidak pernah habis seolah selalu terisi ulang dengan cepat. Padahal Baekhyun berharap air susunya tidak keluar, sehingga bayi itu kelaparan lalu mati.
Baekhyun mencoba bangkit sambil menggendong bayinya menuju ranjang, ia duduk sambil bersandar dan menatap kosong kearah bayinya yang mulai terpejam. Sesekali Baekhyun terisak dan Kibum akan mengelus pundak putranya sayang, berharap penderitaan putranya segera berakhir.
Setiap harinya Baekhyun selalu menemukan bayi itu ketika ia membuka mata, menangis kearahnya dan meminta susu setiap saat. Hingga dalam waktu tiga bulan bayi itu sudah tumbuh seperti bayi berusia 6 bulan. Ia sudah mampu membalik tubuhnya dan menyentuh wajah Baekhyun ketika tidur, dan hal itu semakin membuat Baekhyun risih.
Seterusnya waktu berlalu dengan cepat, hingga ketika berusia 8 bulan dan tubuhnya sudah seperti bayi berumur 1,6 bulan, Kibum berperan sebagai seorang ibu menggantikan Baekhyun.
'Bayi titipan saudara' selalu ia jadikan pelindung dari pembicaraan masyarakat, dengan mengatakan jika bayi itu adalah anak dari saudaranya di desa yang kemudian di rawat oleh Kibum.
Bayi itu sudah bisa berjalan dengan bantuan tangan orang dewasa, Kibum sering membawanya berjalan-jalan sekeliling rumah dan banyak yang menyukai Sehun kecil yang tampan, periang dan sangat mudah tertawa.
Sehun tidak lagi menyusu, karena Baekhyun selalu menolak ketika gigi susu bayinya sudah tumbuh. Sehingga Kibum mulai memberinya bubur bayi dengan daging dan sayur yang diblender, dan Sehun menyukainya terutama dagingnya.
Ketika umur Sehun 1,5 tahun dan ia terlihat seperti anak 3 tahun, Kibum mulai cemas. Ia takut orang-orang akan mencurigainya, jadi ia sangat jarang mengajak Sehun untuk keluar rumah, ia membuatkan tempat bermain untuk Sehun di dalam ruang tengahnya, dan untungnya bayi itu tidak rewel.
Kejanggalan-kejanggalan lain mulai terlihat. Ketika marah wajah Sehun akan memerah, ia sangat suka membanting ataupun memukul sesuatu. Saat ia tidak suka dengan makanannya ia akan membanting piringnya dengan keras, atau ketika tidak diizinkan keluar ia akan memukul meja hingga retak.
Ketika berumur 3 tahun dan tubuh Sehun layaknya anak berusia 6 tahun, Kibum dengan sembunyi-sembunyi mengajak kedua putranya untuk pindah ke desa. Dua tahun tinggal di desa Sehun merasa tidak nyaman, Baekhyun pun sama, ia merindukan rumah lamanya, akhirnya ketika Sehun berusia 5 tahun dengan tubuh anak berusia 10 tahun, Kibum kembali ke rumahnya yang lama.
Ia kembali dan mengatakan pada tetangga jika Sehun telah diambil kembali oleh saudaranya dan ia mengangkat anak lain sebagai adik untuk Baekhyun. Kibum bersyukur karena para tetangganya tidak terlalu peduli dan tidak suka ikut campur.
"Hyung!" itu panggilan pertama Sehun pada Baekhyun ketika melihat Baekhyun tersenyum pertama kalinya karena ibunya mendapat pekerjaan, uang tabungan mereka dan uang peninggalan ayah mereka habis dan mau tidak mau Kibum harus kembali bekerja lagi.
Mendengar panggilan Sehun yang berdiri di hadapannya dengan topi ulangtahun dan wajah cerah membuat senyum Baekhyun lenyap, ia mengabaikan Sehun dan memilih masuk ke dalam kamarnya.
"Kenapa hyung sangat membenci Sehun ibu?" tanya Sehun pada Kibum yang menatapnya iba.
"Hyung tidak membenci Sehun, hyung sedang tidak enak badan." Ucap Kibum lalu memeluk tubuh Sehun dan merayakan pesta kecil mereka hanya berdua.
Dan untuk menutupi kejanggalan pertumbuhan Sehun, Kibum selalu memindahkan sekolah Sehun setiap ia merasa tubuh Sehun berkembang dengan pesat untuk anak seusianya, dan untungnya Sehun tidak pernah marah ataupun menolak.
"Hyung? Ayo berangkat bersama." Ucap Sehun sambil menarik tangan kakaknya, Baekhyun menghempaskan tangan Sehun dengan kasar, membuat bocah dengan tubuh 10 tahun itu terdiam.
"Jangan pernah mendekatiku, jangan pernah bicara padaku. Karena aku tidak menyukainya." Ucap Baekhyun dingin sambil menatap Sehun tajam.
Flashback Off
Sehun segera menundukan wajahnya ketika melihat tatapan Baekhyun, ia menyesal telah bertanya pada kakaknya, yang sudah pasti akan mengabaikan pertanyaannya.
"Baekhyun! Ada Chanyeol." Teriak Kibum dan mata Baekhyun beralih ke pintu. Baekhyun mengernyit dan kembali teringat akan mimpinya. Ia meremas celananya, seolah ragu untuk bangkit.
"Baekhyun! Cepatlah!" suara ibunya kembali terdengar, dengan perlahan Baekhyun bangkit meraih tasnya dan berjalan menuju pintu. Sehun menatap punggung kakaknya yang menjauh lalu menghela nafas, menghabiskan rotinya dan juga susunya dengan cepat.
Baekhyun terdiam ketika melihat Chanyeol berdiri di depan pintu gerbangnya tepat disamping motornya dengan senyum sumringah, ketika Chanyeol mengulurkan helmnya Baekhyun melenggang pergi melewati Chanyeol.
Chanyeol terkejut, ia meletakkan helmnya dan menyusul langkah kaki Baekhyun.
"Baekhyun! Baekhyun! Baekhyun! Hei! Tunggu!" teriak Chanyeol, ia sedikit berlari dan segera menarik tangan Baekhyun.
"Lepaskan! Jangan temui aku lagi!" bentak Baekhyun sambil menghempaskan tangan Chanyeol. Chanyeol menatap Baekhyun heran.
"Ada apa?" tanya Chanyeol bingung. Baekhyun menatap Chanyeol nyalang.
"Aku tidak bisa menerimamu sebagai teman, aku tidak biasa berteman, mulai sekarang jauhi aku! Jangan datang kerumahku lagi! Jangan jemput aku lagi! Dan berhenti bersikap seolah kita akrab!" ucap Baekhyun lantang, Chanyeol terdiam mendengar semua kekesalan Baekhyun.
"Tapi kenapa?" tanya Chanyeol lagi. Baekhyun menatap Chanyeol lagi.
"Aku tidak ingin berteman." Suara Baekhyun terdengar lebih lembut dan ia menundukan wajahnya. Chanyeol menarik tangan Baekhyun cepat, lalu memeluknya.
"Kalau begitu jadilah milikku!" bisik Chanyeol, Baekhyun membulatkan matanya hendak mendorong tubuh Chanyeol tapi tubuhnya ditahan.
"Lepaskan!"
"Tidak. Aku tidak akan melepaskanmu. Aku tidak meminta macam-macam, aku hanya ingin menjadi temanmu. Kemarin kita melalui hari yang menyenangkan tapi kenapa sekarang kau berubah? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Chanyeol. Ketika dorongan Baekhyun melemah, ketika itu Chanyeol menjauhkan tubuh mereka, ia memegang kedua pundak Baekhyun dan menatap ke dalam matanya.
"Ada apa? Kau bisa ceritakan padaku!" ucap Chanyeol menyakinkan. Baekhyun menatap kearah mata Chanyeol, bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan mengikuti arah gerakan bola mata Chanyeol.
"Apa ada yang mengancammu?" tanya Chanyeol lembut dan dengan luluh Baekhyun menggeleng pelan.
"Apa ada yang menyakitimu?" tanya Chanyeol lagi begitu lembut, Baekhyun kembali menggeleng pelan.
"Lalu?"
"A…aku bermimpi buruk ..ten…tangmu." ucap Baekhyun sedikit terbata, Chanyeol mengernyitkan keningnya lalu segera membawa Baekhyun dalam sebuah pelukan.
"Aku akan menjagamu, kau akan baik-baik saja di dekatku, aku akan melawan apapun untukmu sekalipun itu mimpi buruk." Bisik Chanyeol dan entah mengapa Baekhyun memilih diam dalam dekapan hangat Chanyeol.
…
..
.
Ketika kelas pertama usai, Chanyeol menyelinap keluar dan menuju toilet. Ketika tiba di salah satu bilik, ia menghilang dan kemudian muncul di dalam ruang kerja ayahnya dengan jubah iblisnya.
"Luhan! Siapa yang bertanggung jawab atas mimpi?" tanya Chanyeol langsung pada kakaknya yang sedikit terkejut melihat kehadiran adiknya yang tiba-tiba.
Seperti biasa Luhan menggantikan tugas ayahnya sampai ketika Chanyeol muncul dihadapannya dengan wajah serius dan pertanyaan aneh yang menuntut.
"Ada apa?"
"Katakan saja! Jangan banyak bertanya!" ucap Chanyeol dingin. Luhan menghentikan kegiatannya mencatat, ia menyentuh dagunya memasang wajah berpikir.
"Kalau aku tidak salah ingat dia adalah malaikat mimpi." Ucap Luhan. Chanyeol mengernyit.
"Dimana aku bisa menemukannya?" tanya Chanyeol menuntut, Luhan mencibir dan memukul kepala Chanyeol dengan buku.
"Kau pikir dimana lagi malaikat tinggal?" bentak Luhan, dan secara bersamaan mata mereka menuju keatas.
"Nubes." Ucap keduanya bersamaan lagi.
Chanyeol berdiri di depan sebuah gerbang tinggi menjulang yang berwarna emas. Ia sedikit ragu, namun mengingat ini demi Baekhyun ia lenyapkan semua keraguannya.
Chanyeol memukul kedua penjaga yang menahannya masuk, lalu dengan langkah tergesa berjalan masuk ke dalam istana. Ia mengingat petunjuk ruangan yang Luhan berikan tadi, ia melangkah dengan tergesa tidak memperdulikan para malaikat yang terlihat heran dan mulai berbisik.
Langkahnya terhenti di depan sebuah ruangan, ia membukanya dengan kasar membuat orang-orang yang berada di dalamnya terkejut.
"Siapa dari kalian malaikat mimpi?" bentak Chanyeol dengan angkuh. Ketika mereka tahu siapa sosok yang berada di ambang pintu, mereka mulai mundur.
"Cepat katakan!" bentak Chanyeol dan seketika mata para malaikat tertuju pada seorang malaikat pria berambut panjang dengan tubuh gemuk yang terlihat ketakutan.
"Kau! Pasti kau kan! Kenapa kau membuat Baekhyun bermimpi buruk hah?" Chanyeol mendekat sambil menarik kerah pakaian pria dihadapannya.
"Hei! Apa yang kau lakukan?" ucap seorang lelaki berkumis yang menurut cerita Luhan, Chanyeol yakin dia adalah Kim Jonghyun.
"Kau pikir aku sedang bermain petak umpet? Aku sedang menegur kalian yang tidak becus bekerja." Bentak Chanyeol kearah Jonghyun lalu kembali menarik kerah malaikat gendut di hadapannya.
"Kenapa kau memberikan Baekhyun mimpi buruk hah? Aku bertanya!" bentak Chanyeol lagi semakin membuat malaikat itu ketakutan, sebenarnya Chanyeol ingin merubah dirinya menjadi iblis agar terlihat lebih menyeramkan, tapi di Nubes kekuatan iblisnya melemah.
"Setiap manusia memang harus mengalami mimpi. Bisa mimpi indah dan mimpi buruk. Mimpi bisa diartikan sebagai pertanda, ataupun sebuah petunjuk. Kami memberikan para manusia penglihatan dibawah alam sadar agar mereka_"
"Aku tidak butuh dongengmu! Aku hanya tidak ingin kalian menyentuh Baekhyun apa kalian mengerti?" bentak Chanyeol, ia juga menendang sebuah meja sebagai sebuah gertakan.
"CHANYEOL!" suara itu membuat Chanyeol menoleh, disana ibunya berdiri dengan jubah malaikatnya dengan beberapa pengawal di belakangnya. Menatap cemas kearah Chanyeol, lalu kemudian tatapannya menajam.
"Apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau sedang menjalani hukuman di dunia manusia?" tanya Taemin.
"Salahkan pria bodoh ini yang membuat Baekhyun menjauhiku!"
"Jaga bicaramu Chanyeol! Kau sekarang berada di Nubes, bukan di Infernus , jadi ikuti aturan kami!" bentak Taemin. Chanyeol melepaskan cengkramannya lalu mendekat kearah Taemin.
"Bahkan ketika kau berada di Infernus, kau tetap memakai aturanmu untuk mengatur hidupku." Protes Chanyeol, Taemin mengeraskan rahangnya ia menghela nafas.
"Jika kau tidak kembali sekarang, aku akan mengganti hukumanmu seperti hukuman raja langit." Ucap Taemin dengan mata tertutup. Chanyeol terdiam, ia menatap sekitarnya lalu berdecih. Dengan angkuh ia melangkah keluar, meninggalkan para malaikat yang menatapnya heran.
"Apa dia baik-baik saja Yang Mulia?" tanya seorang penasehat pada Taemin.
"Dia akan baik-baik saja setelah bertemu dengan Baekhyunnya. Aku tidak menyangka dia bisa datang kemari demi seorang Baekhyun." Gumam Taemin sambil menatap kepergian putranya.
…
..
.
Chanyeol masuk ke dalam kelas dengan santai, tidak menganggap eksistensi guru yang sekarang sedang menulis di papan.
"hei kau! Darimana saja?" tanya guru itu. Chanyeol menoleh dengan kening berkerut.
"Dari toilet, perutku sakit." Sahut Chanyeol.
"Dimana sopan santunmu?" tanya guru itu. Chanyeol melirik sekelilingnya dan ia baru menyadari sedang berada di antara manusia, dan tata krama adalah nomer satu.
"Maafkan aku." Ucap Chanyeol membungkukan tubuhnya. Guru itu menggeleng lalu mempersilahkan Chanyeol masuk.
Chanyeol duduk disamping Baekhyun yang sedang mencatat, seolah tidak mencemaskan kepergian Chanyeol yang cukup lama. Chanyeol tidak segera mengeluarkan buku tulisnya, ia malah sibuk memperhatikan Baekhyun.
Baekhyun menoleh dan mengernyit, tapi Chanyeol membalasnya dengan sebuah senyuman. Chanyeol mengangumi betapa cantiknya wajah Baekhyun dari jarak dekat dengan keadaan sadar, dan tanpa ia sadari senyumannya terus mengembang.
"Hei! Kau! Jangan melamun, cepat catat!" bentak guru itu dan Chanyeol berdecih, ia membenci manusia karena mereka terlalu suka mengurusi urusan orang lain.
Bel istirahat berbunyi dan para murid meregangkan otot mereka termasuk Chanyeol. Baekhyun merapikan bukunya dan hendak bangkit, tapi Chanyeol menggenggam tangannya.
"Ayo kita makan!" ucap Chanyeol. Baekhyun menggeleng.
"Aku tidak lapar, aku ingin diam di perpustakaan." Ucap Baekhyun dingin melepaskan tangannya dari Chanyeol. Baekhyun berjalan dengan perlahan keluar kelas, Chanyeol bangkit dan berusaha mengejar. Namun saat kakinya melangkah diluar kelas, ia dikejutkan dengan kehadiran empat siswa berantakan yang menghadang jalannya.
"Ikut kami!" ucap mereka sambil menarik paksa tangan Chanyeol. Dengan wajah malas dan kesal Chanyeol mengikuti langkah mereka.
Mereka tiba di halaman belakang sekolah, beberapa siswa berandalan ada disana, dan sosok yang Chanyeol kenali berdiri di depannya, Taecyeon, yang 'katanya' pemimpin daerah barat.
Lelaki itu menyeringai lalu berjalan menghampiri Chanyeol. Chanyeol menatap tanpa takut tepat kearah lelaki yang berdiri di hadapannya dengan sedikit tatapan meremehkan.
"Sekarang apalagi?" tanya Chanyeol malas. Taecyeon menaikkan satu alisnya, melihat betapa lancangnya sikap Chanyeol.
"Kau si murid baru yang sudah berani bertingkah ternyata memiliki nyali besar juga." Ucap Taecyeon berdiri di depan Chanyeol sambil menyeringai. Chanyeol memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana dan mengedikkan bahu tak acuh.
Taecyeon merasa geram, rahangnya mengeras dan suara gemeretak dari tulang jarinya terdengar jelas. Ia semakin mendekati Chanyeol, berdiri dihadapanya.
"Aku dengar kau adalah salah satu anak buah dari Macan Timur." Bisik Taecyeon. Chanyeol menjauhkan wajahnya. Ia memutar bola matanya malas, lagi-lagi masalah geng dan nama aneh mereka.
"Tidak. Aku bukan." Sahut Chanyeol singkat.
"Benarkah? Hm, aku hanya ingin memperingatimu. Kau masuk di sekolah yang salah. Sekolah ini adalah perbatasan antara tutorial Macan Timur dan Serigala Barat. Jadi kau harus memilih satu diantaranya." Ucap Taecyeon sambil pura-pura membersihkan debu di pundak Chanyeol.
Chanyeol memutar bola matanya lagi, ia berpikir kenapa para manusia suka menamai diri mereka dengan nama binatang. Kemarin ia masuk kandang macan, dan sekarang ia masuk kandang serigala, oh! Chanyeol mendesah dalam hati. Sepertinya ia bukan terjun ke dunia manusia, melainkan dunia binatang.
"Aku tidak tertarik." Ucap Chanyeol angkuh. Taecyeon melebarkan kelopak matanya secara berlebihan, raut wajahnya seolah meremehkan.
"Kau apa? Ulangi sekali lagi!" Ucap Taecyeon sambil mengembangkan jemarinya di daun telinganya.
"Aku bilang aku tidak tertarik menjadi salah satu dari macan atau pun serigala. Aku tidak suka kedua binatang itu." Ucap Chanyeol santai. Taecyeon berdecih dan membuang ludahnya.
"Kau sungguh memiliki nyali besar. Kau tahu ? kau baru saja menghina perkumpulan kami dengan menyebut kami binatang."
Chanyeol membuka mulutnya tidak percaya, dimana letak salah bicaranya. Setahunya serigala memang binatang yang bisa mengaung di malam hari, kenapa dirinya disebut menghina. Chanyeol tidak habis pikir, ia merasa seperti sedang disuguhi lelucon murahan.
"Jika tidak ada yang ingin kau bicarakan! Aku pergi." Chanyeol berbalik dengan santai, tapi bahunya di tahan.
"Kau akan menyesali perbuatanmu saat ini." Ucap Taecyeon dengan suaranya yang berat. Chanyeol kembali berbalik, lalu mendorong tangan Taecyeon dari pundaknya.
"Maka ajari aku apa arti sebuah penyesalan!" ucap Chanyeol lalu segera pergi. Taecyeon berdiri tegak dengan rahang yang mengeras, menatap punggung Chanyeol yang menjauh dan setelahnya ia meremas tangannya kuat.
….
..
.
Chanyeol berjalan menuju perpustakaan yang terlihat sepi, bahkan jumlah murid yang berkunjung bisa dihitung jari. Chanyeol mencari keberadaan Baekhyun, disetiap lorong rak buku, disetiap meja baca dan disemua sudut ruangan tapi ia tidak menemukan Baekhyun.
Chanyeol berlari keluar dengan cepat, ia mencari Baekhyun di kelas namun tidak menemukan Baekhyun, lalu ia menuju kantin. Walau mustahil tapi setidaknya ia mencoba mencari keberadaan Baekhyun.
Dan nihil, Baekhyun tidak ada dimana-dimana. Chanyeol kesal, emosinya memuncak ia membentak seluruh penghuni kantin membuat mereka terkejut tapi tidak ada yang melihat keberadaan Baekhyun.
Sampai seorang lelaki berkaca mata membuka suara.
"A..aku melihatnya di…di …perpustakaan tadi, la…lu…la…lu…"
"SIAL! BICARA YANG BENAR BRENGSEK!" Chanyeol menendang salah satu meja kantin membuat semua orang terkejut.
"Lalu dia pergi menuju toilet lantai empat." Ucap lelaki berkaca mata itu cepat. Chanyeol berlari dengan cepat menghilang dari area kantin membuat semua orang bernafas lega.
Chanyeol berlari dengan kencang menuju lantai empat, menendang pintu toilet dengan keras.
"Baekhyun!kau dimana? Baekhyun!" suara Chanyeol menggema di toilet kosong itu. Ia menendang satu persatu bilik toilet, sampai pada tendangan terakhir dan pintu itu terbuka.
Pundak Chanyeol merosot melihat Baekhyun duduk meringkuk di sudut sambil memeluk kedua kakinya yang telanjang, mata Chanyeol memanas. Baekhyun mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata dan Chanyeol bersumpah akan membunuh siapapun yang membuat luka lebam kecil di sudut bibir Baekhyun.
"Baekhyun!" Chanyeol memeluk tubuh Baekhyun, dan Baekhyun menangis di pundak Chanyeol.
"Siapa?siapa?" tanya Chanyeol sedikit memekik, Baekhyun menggeleng dan ia masih terisak.
Chanyeol menutup matanya, dan ia menjelajah masa lalu. Ia melihat Baekhyun keluar dari perpustakaan dan menuju toilet,lalu ada tiga orang siswi yang memang sudah mengincar Baekhyun. Mereka mengikuti Baekhyun ke arah toilet, masuk dengan perlahan lalu mengunci pintu toilet yang sepi.
Menarik paksa tangan Baekhyun yang akan membuang air kecil, mereka mendorong tubuh Baekhyun hingga menabrak dinding. Dua diantaranya memegang lengan Baekhyun kuat, lalu satu lagi menampar wajah Baekhyun keras.
Chanyeol melihat Baekhyun tidak bisa melawan, dan ketika gadis dihadapan Baekhyun melepaskan celana Baekhyun, Chanyeol melihat Baekhyun meronta dan menangis.
Celananya ditarik paksa hingga tertinggal dalamannya, satu diantaranya merekam kegiatan yang mereka lakukan sambil tertawa, setelah berhasil melepas celana Baekhyun, mereka mengguntingnya dengan acak dan memasukannya dalam sebuah kantung, lalu meninggalkan Baekhyun yang meringkuk di sudut toilet. Hingga akhirnya Baekhyun berusaha bangkit dan menuju ke salah satu bilik toilet sambil menangis.
Chanyeol menggeram kesal, jemarinya terkepal. Ia ingin menghajar ketiga gadis itu, gadis yang sama dengan yang duduk di dekat jendela tempo lalu, dan mereka salah satu yang suka mengganggu hari-hari Baekhyun di sekolah.
"Aku akan memberi mereka pelajaran." Ucap Chanyeol ingin bangkit, tapi Baekhyun menahannya. Wajahnya seolah memohon untuk jangan pergi, Chanyeol terdiam ia harus membawa Baekhyun keluar dari tempat ini.
"Aku akan membawamu keluar darisini, dan akan mencarikan pakaian untukmu, kau tunggu sebentar!" ucap Chanyeol lalu melenggang pergi. Ia berlari keluar, mencari tempat yang berisi banyak pakaian yang bisa digunakan untuk menutupi tubuh Baekhyun, dan ia teringat dengan ruang kesehatan yang dijaga oleh gadis menyebalkan berambut pendek.
"Berikan aku sebuah pakaian!" ucap Chanyeol tiba-tiba membuat Dasom nyaris terjatuh dari duduknya, bahkan gadis itu kini mengelus dadanya pelan.
"Bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu!"
"Aku sedang terburu-buru. Cepat berikan aku pakaian!" bentak Chanyeol. Dasom mengernyit dan mencibir.
"Kau pikir disini toko baju? Mana ada." Ucap Dasom kesal dan kembali berkutat dengan resepnya. Chanyeol melihat sekeliling dengan kesal. Lalu ia mendekat kearah Dasom memaksa gadis itu berdiri, lalu membuka paksa jas praktek yang dipakai Dasom membuat gadis itu berteriak.
"AAAA~ Kau mau apa? Dasar cabul. Seseorang tolong hhmmpppt" Chanyeol menutup mulut Dasom dengan tangannya sambil tetap membuka pakaian itu.
"Aku akan mengembalikannya, ini untuk Baekhyun. Dia kembali diganggu dan sekarang ia bertelanjang." Akhirnya Dasom diam ia membiarkan Chanyeol membuka kancing jas prakteknya dan dengan pasrah melepaskan dari tubuhnya.
"Aku akan mengembalikannya." Ucap Chanyeol mengangkat jas ditangannya lalu segera berlari kencang.
Chanyeol menghampiri Baekhyun yang terkejut dengan keberadaannya, lalu memakaikan jas itu yang hanya mampu menutupi sampai diatas lutut Baekhyun. Chanyeol hendak menggendong Baekhyun, tapi ia menolak.
"Aku bisa sendiri." Ucap Baekhyun, Chanyeol berdecak lalu mengangkat tubuh Baekhyun, membuat Baekhyun menggantung di punggungnya.
Chanyeol membawa Baekhyun turun tapi tidak menuju kelas, ia membawa Baekhyun menuju halaman sekolah , menaikkannya keatas motor lalu melenggang pergi.
Beberapa pasang mata sempat menatap mereka heran, tapi Chanyeol tidak peduli yang terpenting adalah Baekhyunnya aman.
Kecepatan motor Chanyeol selalu diatas rata-rata, dan sekarang ditambah emosinya yang meluap kecepatannya semakin bertambah membuat Baekhyun mengeratkan pelukannya pada tubuh Chanyeol.
Chanyeol membawa Baekhyun menuju apartemennya, menggendong tubuh ringan itu menuju lantai apartemennya. Baekhyun tidak melawan , ia sedang terpukul dan tenaganya terasa habis. Ketika tubuhnya menyentuh ranjang yang empuk, ketika itu ia baru sadar berada di tempat yang asing baginya.
"Kau diapartemenku. Aku hanya takut ibumu cemas jika aku membawamu pulang dalam keadaan seperti ini." Ucap Chanyeol, Baekhyun terdiam ia menundukan wajahnya lagi menatap kosong kearah lantai.
Chanyeol berjalan kearah lemari, mencari sebuah baju untuk diberikan pada Baekhyun.
"Pakailah ini!" Ucap Chanyeol sambil melempar sebuah baju ke hadapan Baekhyun. Baekhyun mengambilnya lalu terdiam.
"Aku akan keluar." Sahut Chanyeol seolah tahu Baekhyun malu untuk melakukan hal intim -yang menurut Chanyeol biasa- di hadapannya.
Chanyeol duduk di sofa, ia masih menaruh dendam pada ketiga gadis yang mencelakai Baekhyun. Ia sedang menyusun sebuah rencana untuk membalaskan dendam Baekhyun. Sampai sebuah suara lemah mengalihkan pemikirannya.
"Aku rasa…." Baekhyun berucap kecil sambil berdiri di depan pintu kamar, menatap kearah bagian bawah tubuhnya. Chanyeol terdiam, melihat Baekhyun dengan kaos kebesaran miliknya yang menutupi sampai diatas pahanya.
"Ah maafkan aku, aku tidak memiliki celana dengan ukuran kecil." Ucap Chanyeol, Baekhyun menurunkan bajunya agar menutupi seluruh pahanya.
"Kau mau minum?" tanya Chanyeol. Baekhyun menggeleng.
"Kemarilah! Duduk disini!" panggil Chanyeol sambil mengibaskan tangannya. Baekhyun mendekat dan duduk disamping Chanyeol dengan wajah takut.
"Coba lihat lukamu!" Chanyeol menarik dagu Baekhyun dan bersumpah melihat warna keunguan itu membuat emosinya semakin meluap.
"Ayo kita obati!" ucap Chanyeol, Baekhyun menahan tangan Chanyeol.
"Tidak usah. Ini hanya luka kecil. Aku baik-baik saja, dan te..terima kasih Chanyeol." Ucap Baekhyun dengan wajah tertunduk. Chanyeol menatap Baekhyun, dan tanpa ia sadari sudut bibirnya tertarik dan membuat sebuah senyuman.
"Sama-sa_"
"Tapi mulai sekarang mari menjauh!" Chanyeol membulatkan matanya, ia menatap Baekhyun tidak percaya.
"Mari bersikap seolah kita tidak saling mengenal. Aku tidak bisa menjadi temanmu, ini terlalu sulit." Ucap Baekhyun sambil berusaha tersenyum.
"Kenapa?"
"Mereka akan semakin membenciku karena orang yang mereka kagumi selalu melindungiku. Jadi, mari hentikan sampai disini. Kau bisa berteman dengan yang lainnya." Ucap Baekhyun lagi, Chanyeol merasa emosinya mendidih dan meluap-luap sampai keubun-ubun.
"Tidak. Aku tidak akan menjauhimu." Bentak Chanyeol. Baekhyun menoleh dan menatap Chanyeol terkejut.
"Tidak Chanyeol, berada disampingku hanya akan membuat kita sama-sama tersiksa. Mereka semakin membenciku dan kau akan kerepotan menolongku."
"Tidak! Aku tidak kerepotan sama sekali, aku senang_"
"Apa yang membuatmu ingin melindungiku ?" Chanyeol terdiam ketika sorot mata Baekhyun mengarah padanya.
"Kita baru bertemu, kita tidak saling mengenal, dan kau tidak sedang berhutang budi padaku." Ucap Baekhyun dengan suaranya yang terdengar dingin.
"Aku_"
"Jangan membuatku semakin merasa berhutang padamu, jangan membuatku memiliki ekspektasi tinggi tentangmu. Katakan apa yang kau inginkan dariku? Apa ini sebuah rencana? Apa kau hanya pura-pura?" tanya Baekhyun lagi dengan tatapan terluka.
"Tidak Baekhyun, tidak."
"Apa kau orang suruhan? Katakan! Apa yang kau inginkan dariku? Kau ingin menyetubuhiku seperti pria lainnya?" Chanyeol tercekat , kelopak matanya membesar. Melihat itu Baekhyun berdecih lalu menggeleng pelan.
"Sudah kuduga, kebaikanmu hanya untuk mendapatkan tubuhku bukan?" Baekhyun tertawa pelan, menertawakan dirinya.
"Apa yang nikmat dari menyetubuhi laki-laki menyedihkan sepertiku? Kenapa kalian sangat suka melecehkanku? Hiks…hiks… apa aku salah terlahir dengan tubuh seperti ini? Kenapa aku sial sekali? Kenapa harus aku? Hiks.." Baekhyun menangis menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Pundaknya bergerak naik turun , dan isakannya terdengar menyayat hati.
"Baek?"
"Kenapa aku bisa sesial ini membuat orang-orang menginginkan tubuhku untuk memenuhi hasrat mereka, kenapa?" Chanyeol mendekat, ia menyentuh pundak Baekhyun pelan.
"Baekhyun, jangan menangis!" Bisik Chanyeol. Tapi Baekhyun tetap menangis bahkan isakannya semakin kencang.
"Aku akan melindungimu dari tangan-tangan mereka, aku berjanji." Ucap Chanyeol sambil memeluk tubuh Baekhyun erat, Baekhyun masih terisak. Baekhyun sendiri tidak tahu kenapa ia menjadi selemah ini, biasanya ia sangat kuat dan tidak akan mudah menangis, tapi kenapa ia menjadi cengeng seperti sekarang, bahkan merasakan rasa nyaman di pelukan Chanyeol, orang yang baru ia kenal.
"Menjauhlah dariku Chanyeol, anggap kita tidak pernah bertemu, hanya itu cara yang bisa untuk melindungiku."
"TIDAK!" Chanyeol berteriak. Ia menjauhkan tubuh Baekhyun, menggetarnya agar membuat Baekhyun berhenti mengoceh.
"Kau bisa meminta apapun, tapi jangan minta aku untuk menjauhimu. Aku bisa gila, aku bisa gila Baek!" bentak Chanyeol dengan raut wajah cemas.
"Kenapa? kenapa?" Baekhyun memekik di tengah isakannya. Chanyeol memegang tubuh Baekhyun mengeratkan genggamannya di kedua pundak yang lebih kecil.
"Karena aku mencintaimu." Baekhyun membulatkan matanya, sama halnya dengan Chanyeol yang bingung dengan ucapannya.
"K..kau bilang apa?" tanya Baekhyun dengan wajah heran.
"A..aku…aku..ah lupakan! Aku bahkan tidak tahu dengan yang aku ucapkan." Chanyeol menggeleng. Ia baru saja mengatakan kata yang dilarang oleh kaumnya.
"Tapi sekarang aku mohon tenanglah!" Chanyeol menarik tubuh Baekhyun, mendekapnya pelan dan mengelus helaian rambut Baekhyun. Baekhyun masih terisak walau isakannya sudah mulai mereda.
Chanyeol setia mengelus helaian rambut Baekhyun, berusaha menghentikan tangisan itu. Tangisan dan jeritan kesakitan memang hal favorit untuk Chanyeol, namun tidak tangisan dan jeritan kesakitan dari Baekhyun, Chanyeol membencinya.
Beberapa menit berlalu dan Baekhyun mulai tenang, Chanyeol mendekatkan hidungnya dan menghirup aroma tubuh dan rambut Baekhyun yang membuatnya selalu kehilangan akal sehat.
Dengan perlahan Chanyeol menjauhkan tubuh Baekhyun, menjauhkan telapak tangan Baekhyun yang menutupi wajahnya. Mata mereka bertemu, antara sorot mata tajam dan sorot mata bersedih yang basah.
Chanyeol memajukan wajahnya, seolah terhipnotis Baekhyun bergeming di tempat. Wajah Chanyeol semakin dekat, nafas mereka saling menerpa permukaan kulit masing-masing. Entah mengapa Chanyeol merasa jantungnya berdetak kencang, walau bukan kali pertama menyentuh Baekhyun, tapi saat dalam keadaan sadar rasanya jauh lebih gugup.
Dan kurang dari sedetik, bibir itu bertemu. Bersentuhan satu sama lain, menghasilkan sengatan yang menjalar di seluruh tubuh keduanya. Sentuhan bibir Chanyeol begitu lembut, ia bingung enyah kemana nafsu birahinya yang memuncak sejak tadi.
Chanyeol tidak mengerti dengan yang ia perbuat sekarang, ia merasa seperti seorang pencium yang payah. Tidak ada nafsu, tidak ada hasrat, tapi ada sesuatu lain yang membuatnya bergerak.
Chanyeol menekan semakin dalam dan lidahnya menjulur keluar, menyentuh permukaan bibir Baekhyun yang lembut namun sedikit kering. Mendorong-dorong lidahnya agar belahan bibir Baekhyun terbuka.
Tubuh Chanyeol semakin condong, hingga mampu membuat Baekhyun terbaring pasrah diatas sofa. Chanyeol semakin bingung, ia bahkan tidak meniupkan angin penidur, tapi semua berjalan tanpa paksaan.
Ketika dorongan lidah Chanyeol semakin dalam, belahan bibir Baekhyun terbuka hingga bibir itu terkait. Baekhyun menutup matanya, sementara Chanyeol mulai melumat bibir Baekhyun pelan.
Menghisap lembut bagian bawah bibir Baekhyun, menariknya pelan dan menghisapnya lagi. Kepala Chanyeol bergerak kedua arah yang berlawanan untuk menciptakan sebuah ciuman yang lebih dalam.
Lumatan demi lumatan membuat keadaan memanas, kedua mata itu tertutup rapat namun bibir mereka saling menghisap, lidah mereka membelit satu sama lain. Walau bagi Chanyeol Baekhyun sangat pasif, tapi ia menyukai sensasi berciuman mereka yang mampu membuat jantungnya hampir melompat keluar.
"Emmhhh." Lenguhan Baekhyun terdengar, dan saraf di tubuh Chanyeol menegang. Ia semakin menekan kepalanya, dan jemarinya mulai bergerak menyingkap perlahan baju kaos miliknya yang digunakan Baekhyun.
Chanyeol menyentuh permukaan kulit perut Baekhyun, mengusapnya perlahan dan ketika jemarinya beralih menyentuh paha dalam Baekhyun, sebuah dorongan keras ia dapatkan di dadanya.
Ciuman mereka terlepas, Chanyeol menatap wajah Baekhyun yang terengah dengan bibir sedikit bengkak dan basah.
"Ja-jangan! Jangan lakukan itu." Ucap Baekhyun terbata, matanya menatap sendu kearah Chanyeol.
"A..aku baru saja mencoba untuk membuat diriku mempercayaimu, percaya bahwa kau tidak sama dengan mereka yang hanya menginginkan tubuhku. A..aku mohon, a…aku mohon ja..jangan." Bibir Baekhyun terasa kaku, bahkan nada suaranya terdengar bergetar. Chanyeol yang terduduk dilantai segera bangkit dengan wajah terkejut.
" Baekhyun…. Aku…" Chanyeol berjalan mundur per langkah, dan segera membalik tubuhnya lalu berlari kecil meninggalkan Baekhyun. Baekhyun memperbaiki letak bajunya, ia memeluk lututnya untuk kesekian kalinya, seolah lututnya adalah sumber kekuatannya.
Ketika terdengar suara pintu yang dibanting, ketika itu Baekhyun menenggelamkan wajahnya semakin dalam diantara celah kakinya.
Chanyeol berlari di koridor apartemen yang sepi dengan kening berkerut, entah mengapa ia merasa malu karena mendapat penolakan. Ia rasa menyetubuhi seseorang dalam keadaan tidak sadar jauh lebih mudah, namun ada satu hal yang berbeda. Jantungnya berdetak jauh lebih cepat , memikirkan hal gila itu membuatnya berdecak kesal lalu memilih segera menghilang.
…
..
.
Sehun meletakkan tasnya sembarang diatas meja lalu membanting dirinya ke atas ranjang. Ia mendesah pelan, membalik tubuhnya dan menatap ke langit-langit kamar. Jemarinya terulur kedepan, ia menggerakannya perlahan , mengamati jari-jari tangannya yang panjang seolah jemarinya adalah benda asing, lalu mengepalkannya kuat.
"Kenapa kau berbeda dari yang lain?" gumam Sehun sambil menatap jemarinya yang terkepal.
"Kenapa kau bisa mematahkan meja? Kenapa kau bisa merusak barang-barang yang sangat kuat? Sebenarnya kau terbuat dari apa?" sambungnya lagi .
"Kau tahu? Ibu selalu mengajariku bersyukur, tapi aku tidak pernah bersyukur atas kehadiranmu . Kalian merusak hidupku. Kenapa aku tidak bisa menjadi normal seperti yang lain?" Sehun terus berbicara seorang diri, seolah dirinya sedang bercakap dengan benda hidup yang bisa menjawab.
Dari luar kamar terlihat seekor burung bertengger diatas dahan pohon besar di depan kamar Sehun. Burung itu bergeming dan tidak memalingkan wajahnya dari Sehun. Lalu lama-kelamaan berubah menjadi sosok lelaki berjubah abu yang duduk bersandar di batang pohon.
Matanya senantiasa melihat ke dalam kamar, memperhatikan kegiatan konyol yang dilakukan Sehun. Mata Luhan menatap dengan sendu, seolah matanya menangis melihat Sehun berbicara dengan jemarinya.
Luhan tersenyum dalam hati, setelah sekian tahun melakukan hal yang sama, duduk didahan pohon sambil memperhatikan kegiatan Sehun, akhirnya ia bisa bertatapan langsung dengan sosok Sehun.
Luhan tersadar dari lamunannya ketika Sehun menoleh kearahnya dan sebelum itu terjadi Luhan sudah berubah menjadi burung dan terbang.
…
..
.
Kyungsoo sedang berada di taman bunga Nubes, wajahnya senantiasa tersenyum ketika melihat bunga-bunga itu bermekaran dan beberapa peri bunga berterbangan dari dalam kelompak bunga yang berwarna-warni.
"Selamat siang pangeran Kyungsoo yang cantik." Ucap salah satu peri bunga yang berbisik ditelinga Kyungsoo.
"Selamat siang peri bunga." Sahut Kyungsoo sambil tersenyum, kakinya senantiasa berjalan diatas rerumputan hijau yang subur.
"Selamat siang pangeran Kyungsoo." Kembali Kyungsoo membalas sapaan satu per satu peri-peri bunga yang mulai bangun dari tidur mereka. Tubuh mereka seperti bunga, dengan wajah cantik dan sayap seperti kupu-kupu.
"Pangeran Kyungsoo selalu terlihat cantik, bagaimana bila sedang jatuh cinta pasti begitu cantik." Ucap peri yang lain, Kyungsoo menghentikan langkahnya. Ia berbalik, menatap dengan kepala miring kearah peri bunga yang juga menatapnya heran.
"Apa peri bunga tahu bagaimana rasanya jatuh cinta?" tanya Kyungsoo, peri bunga berwarna merah muda itu tersenyum lalu terbang mendekat.
"Kami selalu jatuh cinta setiap harinya."
"benarkah? Bagaimana rasanya?" tanya Kyungsoo antusias.
"Indah. Bahagia. Menyenangkan. Selalu membuat tertawa. Tersenyum tanpa sadar. Dan menghilangkan kesedihan." Ucap peri bunga itu. Bola mata Kyungsoo membulat, senyumnya mengembang.
"Benarkah? Kenapa Luhan hyung bilang rasanya pahit seperti obat?" peri itu tertawa dengan suara nyaringnya. Terbang mengitari Kyungsoo lalu hinggap di pundaknya.
"Cinta selalu membawa kebahagiaan, tapi jatuh selalu membawa kesengsaraan. Itu mengapa disebut jatuh cinta. Tergantung cara seseorang menanggapinya." Bisik peri itu lalu segera mengepakan sayapnya dan pergi menjauh. Kyungsoo terdiam dengan wajah kebingungan, ia bergelut dengan pemikirannya.
"Lalu? Bagaimana kita tahu jika kita sedang jatuh cinta?" gumam Kyungsoo seorang diri dengan kening berkerut.
…
..
.
Sehun membuka matanya perlahan saat merasakan sebuah sentuhan di lengannya, itu ibunya berdiri dengan seragam kerjanya. Ketika kesadaranya pulih ia baru mendengar ucapan ibunya dengan jelas.
"Siapa bu?"
" Luhan sshi sudah berada di depan, apa kau lupa kau memiliki jadwal les melukis sekarang?" Dan mata Sehun terbuka lebar. Ia nyaris melupakan itu. Kemarin saat Luhan bertemu dengan ibunya, gurunya itu menawarkan les untuk Sehun karena sekolah menganggap Sehun berbakat dan kemungkinan akan di minta mengikuti beberapa perlombaan.
Tentu saja Kibum tidak menolak, ia akan semakin semangat jika putranya bisa menjadi anak yang berprestasi.
Sehun bangkit dengan malas lalu berjalan ke toilet di dalam kamar.
"Bu, aku mandi sebentar katakana pada Luhan saem untuk menunggu sebentar lagi."
"Baiklah!" sahut Kibum sambil merapikan tempat tidur putranya yang sedikit berantakan.
Sehun menuruni anak tangga sambil membawa beberapa alat lukis yang ia miliki dengan perlahan ketika melihat sosok gurunya duduk diruang tamu dengan pakaian rumahan, sungguh terlihat begitu muda. Bahkan Sehun sempat pangling karena mengira Luhan adalah siswa tingkat SMA.
"Saem, maaf membuatmu menunggu." Ucap Sehun yang kini mengambil duduk. Luhan yang sibuk melihat hasil lukisan Sehun tempo lalu mengangkat wajahnya dan tersenyum.
"Tidak apa-apa. Ayo kita mulai, kau ingin dimana?" tanya Luhan.
"Di ruang tengah." Ucap Sehun sambil bangkit dan menuntun Luhan menuju ruang tengah. Luhan melihat sekeliling, dan ruangan itu begitu minimalis namun rapi. Sebuah meja berkaki pendek di tengah ruangan, diatas karpet berbulu coklat.
Sehun duduk dan Luhan mengikuti, Sehun mengeluarkan peralatannya dan Luhan memperhatikan.
"Apa yang akan kita pelajari sekarang?" tanya Sehun, Luhan menatap Sehun lalu tersenyum.
"Kita coba dengan menggambar sebuah pola, gambar pola yang ada dipikiranmu dan tuangkan secara nyata dalam lukisanmu." Ucap Luhan lagi, Sehun mengangguk lalu mulai menggambar.
Selama menit-menit berlalu Luhan memperhatikan wajah Sehun yang sangat manis dan tampan. Satu hal yang Luhan baru tahu, Sehun akan menjulurkan lidahnya ketika serius dan sesekali membasahi bibirnya dengan usapan lidah.
Luhan mendekatkan tubuhnya, seolah ingin melihat gambaran Sehun, tapi matanya malah terfokus pada wajah tampan Sehun. Semakin dekat Sehun terlihat semakin tampan.
"Sehun?"
"Iya Saem?" tanya Sehun sambil menatap Luhan heran.
"Apa hal yang kau sukai di dunia ini?" tanya Luhan, Sehun mengernyit merasa pertanyaan Luhan tidak berhubungan dengan kegiatan mereka. Tapi Sehun mencoba menjaga sopan santun.
"Ibu." Jawabnya. Luhan memiringkan kepalanya.
"Ibu?"
"Hm. Ibu yang mencintaiku dengan segenap jiwanya, merawatku sejak kecil hingga dewasa, mengandungku selama 9 bulan, melahirkanku dengan bertaruh nyawa. Aku pernah melihat guruku memberikan video tentang melahirkan dan disana aku melihat seorang ibu memperjuangkan nyawanya untuk sebuah kelahiran. Kehidupan baru yang bahkan tidak ia kenali, berbagi nafas dan berbagi darah." Luhan terdiam, sementara Sehun sedikit menerawang.
"Aku tidak habis pikir kenapa seorang ibu rela perutnya diisi oleh bayi yang memakan setengah asupan makanan darinya. Dan yang membuatku heran adalah, setiap anak memiliki ayah dan ibu, tapi apa peran ayah dalam sebuah kelahiran? Bahkan ibu bisa melahirkanku tanpa sosok ayah." Luhan membuka sedikit mulutnya tapi tidak mengeluarkan suara.
"Sehun? Kau merindukan ayahmu?" tanya Luhan lagi. Sehun terdiam.
"Hm, aku tidak pernah bertemu dengannya. Aku tidak tahu seperti apa ayahku, aku hanya melihat dari foto saja. Tapi wajah kami tidak mirip." Sahut Sehun, Luhan mencoba tersenyum agar Sehun tidak mencurigai perubahan ekspresi wajahnya.
"Apa kau mencintai ayahmu?" Sehun kembali memasang wajah berpikir.
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa, aku tidak mengenalnya bagaimana mungkin aku bisa mencintainya." Ucap Sehun lagi.
"Jika, jika ternyata ayahmu masih hidup dan selama ini bersembunyi apa kau akan menerimanya kembali?"
"Entahlah. Tapi yang aku tahu orang mati tidak bisa hidup kembali. Ayahku sudah meninggal saem, sudah sejak lama." Ucap Sehun lagi dan Luhan tertawa pelan menghilangkan perasaan aneh di dalam dirinya.
Ia mengelus kepala Sehun, lalu melirik kearah gambaran Sehun.
"Wah, pola apa ini? Kenapa begitu abstrak?" tanya Luhan mengalihkan perhatian. Ia tidak tahu jika topik basa-basi yang ia pilih malah berubah menjadi topik yang cukup 'menyinggung'. Mendengar pertanyaan Luhan , Sehun tersenyum kecil.
"Inilah isi kepalaku saem, sangat abstrak." Sehun tersenyum lebar untuk pertama kalinya dan Luhan seolah terhipnotis dengan hal itu.
"Ini minumannya, maaf membuat anda menunggu." Tiba-tiba Kibum datang dengan sebuah nampan di tangannya. Luhan menjauhkan sedikit tubuhnya dan tersenyum.
…
..
.
Nampak tiga orang gadis sedang tertawa keras dalam sebuah kedai makanan. Mereka memutar ulang video yang mereka rekam siang tadi. Baekhyun yang terlihat seperti seorang pelacur yang dilecehkan.
"Hahaha, lihat dia begitu menggelikan. Yeri, kau seperti seorang preman disini." Ucap seorang gadis berambut pendek berwarna coklat bertubuh sintal, pada gadis bertubuh mungil berambut panjang yang ikut tertawa.
"Hahaha, aku tidak seberapa dibandingkan Irene. Lihat tamparannya tidak main-main." Ucap Yeri sambil memukul-mukul pelan pundak temannya. Seorang gadis berwajah dingin dan cantik tapi angkuh, Irene.
"Joy! Rekamanmu bergoyang." Omel Irene sambil menatap kearah layar ponsel.
"Bagaimana aku bisa merekam dengan baik sementara aku bukan seorang juru kamera." Ucapnya sambil berdecih, lalu meminum segelas minuman beralkohol di depannya.
"Hei, ini sudah sore, aku harus pulang. Ibuku bisa mengomel nanti." Ucap Yeri dengan bibir dicemberutkan.
"Ah dasar anak manja, baiklah! Kalau begitu kita akhiri ini, dan aku akan mengedit video ini agar wajah kita tidak terlihat. Dan setelah itu kita sebarkan diinternet, agar si Byun itu tahu rasa. Beraninya mendekati targetku." Ucap Irene sambil menyeringai.
"Ingat, Park Chanyeol juga targetku." Ucap Joy sambil memukul lengan Irene.
"Aku juga." Yeri ikut protes. Irene memutar bola matanya malas dan mendesah.
"Ayo pulang ini sudah larut!" pekik Irene sambil bangkit.
Mereka berpisah di depan kedai karena memang arah rumah mereka berbeda. Irene berjalan dengan wajah senang mengingat ia baru saja selesai mengerjai Byun Baekhyun, orang yang paling tidak ia sukai disekolah.
Irene benci bagaimana para guru menatap kearah Baekhyun, sementara mengabaikannya yang memiliki kecantikan diatas para siswi lain. Ia hanya malu harus kalah telak oleh seorang lelaki, hanya karena lelaki itu adalah seorang penghibur yang suka mengobral tubuhnya. Irene bergidik ketika mengingat bercak-bercak kemerahan disekujur tubuh Baekhyun, saat dulu ia pernah mengerjai Baekhyun. Dan berkat Irene lah, berita itu menyebar dengan cepat, bahwa Baekhyun adalah seorang lelaki penghibur.
"Hei!" tiba-tiba Irene terkejut mendengar suara berat yang menyapa indera pendengarannya. Mata Irene membulat melihat sosok tinggi dihadapannya. Rambutnya berwarna hijau kelam, kulitnya sangat bersih dan bersinar, matanya berwarna biru laut, sosoknya sungguh gagah apalagi ketika sosok itu berjalan menghampirinya.
Irene melihat ke kiri dan kanan, gang yang ia lalui begitu sepi, jadi dia yakin jika dirinya lah yang sedang disapa oleh sosok lelaki tampan dihadapanya.
"Kau begitu cantik." Irene tersipu malu mendengar pujian sosok di depannya. Ketika sosok itu semakin dekat, Irene seperti merasa tidak asing tapi ia tidak memiliki petunjuk.
"Ka..kau siapa?"
"Kau sendiri?"
"Aku Irene. Bae Irene." Sahut Irene sambil menunduk. Chanyeol dalam wujud setengah iblisnya tersenyum. Ia tidaklah memakai jubah, ia memakai pakaian manusia pada umumnya hanya wajahnya saja yang berbeda, ia tak ingin dikenali sebagai Park Chanyeol.
"Gadis secantik dirimu pulang sendirian? Itu sangat berbahaya. Mau aku antar?" tanya Chanyeol dengan wajah terlihat cemas. Irene terdiam sebentar lalu mengangguk.
"Ayo! Mobilku disana!" Chanyeol meraih tangan Irene membawanya menjauh dan berbelok disebuah gang besar yang buntu. Disebelah kiri dan kanan hanya ada bak-bak pembuangan sampah.
"Disana." Irene melihat sebuah mobil berwarna hitam dihadapannya, Chanyeol masuk ke dalam mobil begitu juga Irene.
Irene masih menundukan wajahnya, dan ketika menoleh kesamping ia tidak mendapati Chanyeol, melainkan seorang pria berjenggot yang terlihat teler karena mabuk. Ia panik dan ketika hendak membuka pintu, pintu itu terkunci. Irene mencoba memukul-mukul pintu namun gerakannya malah membuat orang disampingnya bangun, begitu juga dua pria lain di belakangnya.
"Wah, ada gadis cantik yang tersesat kemari." Ucap salah satu pria tersebut.
"Ja..jangan. Aku mohon.. lepaskan!" Irene nampak ketakutan. Tapi tangannya ditarik paksa. Bajunya dirobek. Irene meronta tapi sebuah pukulan mendarat di pipinya, ia menangis tapi kemudian mulutnya dibekap oleh baju miliknya sendiri.
Tubuh telanjangnya disentuh, dan dipermainkan oleh tiga lelaki tak dikenal olehnya. Kakinya ditarik dan dipaksa terbuka. Kepalanya ditahan begitu juga tangannya. Chanyeol berdiri tak jauh dari mobil, wajahnya menyeringai menatap mobil yang bergerak naik turun itu dalam diam.
…
..
.
Chanyeol kembali ke dalam apartemennya ketika hari sudah mulai gelap. Ia memasukan kata sandi, dan segera melangkah masuk, meletakkan sebuah kantung belanjaan diatas meja dapur. Ia mencari keberadaan Baekhyun dan menemukan Baekhyun terlelap diatas sofa dengan tubuh meringkuk.
Chanyeol mendekat, mengelus surai rambut Baekhyun perlahan menatap wajah damai Baekhyun sambil tersenyum. Baekhyun menggeliat dan membuka matanya perlahan. Ia segera bangkit ketika dirasa sentuhan dingin di wajahnya.
"Chan..chanyeol?" ia menatap Chanyeol setengah terkejut sambil menarik turun baju kaosnya agar bagian tubuhnya tidak terlihat dan membuat hasrat Chanyeol kembali meningkat.
"Ayo makan! Aku membelikanmu makanan. Kau belum makan sejak tadi siang." Ucap Chanyeol. Baekhyun mengangguk lalu mengikuti langkah Chanyeol menuju meja makan. Ia mengambil duduk sementara Chanyeol menghidangkan makanan untuk Baekhyun.
"Kau tidak makan?" tanya Baekhyun pelan, Chanyeol menggeleng lalu tersenyum.
"Aku sudah makan sebelum membelikanmu. Aku sungguh kepalaran." Ucap Chanyeol sambil tersenyum, sebelum pulang Chanyeol sempat ke Infernus untuk makan, ia tidak ingin muntah lagi karena memakan masakan manusia yang aneh.
Baekhyun meraih sendoknya, lalu menyuapkannya ke dalam mulut, sementara Chanyeol memperhatikan gerak-gerik Baekhyun.
"Umh, maafkan aku soal yang tadi. A..aku…"
"Aaah~ makanlah! Jangan bahas apapun. Aku lelah, sepertinya aku ingin berbaring sebentar diatas sofa." Chanyeol bangkit, ia berjalan kearah sofa sambil meregangkan ototnya. Ia hanya mencoba menghindari topik tidak nyaman yang Baekhyun bahas.
Baekhyun terdiam, sesekali ia melirik Chanyeol yang membaringkan tubuhnya diatas sofa dan sesekali ia menelan makanannya. Belum habis setengahnya Baekhyun sudah merasa kenyang, ia melirik jam dan sudah hampir larut.
Ia memutuskan berjalan kearah Chanyeol, untuk minta diantar pulang. Baekhyun takut ibunya akan cemas.
Saat sampai diruang tengah, ia mendapati Chanyeol sedang menutup matanya dengan tenang. Baekhyun menggigit bibir bawahnya, ia merasa tidak enak untuk membangungkan Chanyeol yang sepertinya baru saja tertidur.
"Chanyeol?" bisik Baekhyun pelan sambil menundik lengan Chanyeol dengan ibu jarinya.
"Chan..Chanyeol." bisiknya lagi tapi Chanyeol tidak menjawab, Baekhyun menghela nafas pelan. Sepertinya ia akan menunggu sebentar lagi, atau memilih untuk pulang seorang diri.
Ketika akan berbalik, Chanyeol menarik tangannya hingga keseimbangan Baekhyun oleng lalu tubuhnya menindih tubuh Chanyeol. Baekhyun membulatkan matanya memperhatikan wajah Chanyeol yang begitu dekat.
Mata Chanyeol masih tertutup, tapi tangannya masih menggenggam lengan Baekhyun. Baekhyun berusaha bangkit, tapi Chanyeol menahannya.
"Tunggulah sebentar lagi! Aku butuh istirahat sebentar saja."
"Ta_"
"Aku sudah menemui ibumu sebelum pulang, aku mengatakan jika kau berada di tempatku karena sedang tidak enak badan, kemungkinan juga akan menginap. Kau tidak perlu takut ibumu mencemaskanmu." Bisik Chanyeol masih dengan matanya yang tertutup.
"Jadi, untuk sekarang bisakah kita istirahat sebentar?" tanya Chanyeol lagi. Baekhyun kembali mendorong dada Chanyeol hendak bangkit, tapi tubuhnya kembali ditahan.
"Aku mohon." Chanyeol membuka matanya perlahan dan mata mereka kembali bertemu. Baekhyun sempat tersentak saat menatap langsung ke dalam mata Chanyeol, seolah terhipnotis lagi ia tidak melawan ataupun mencoba bangkit .
"Tidurlah sebentar saja! Aku berjanji tidak akan melakukan hal yang tidak-tidak padamu. Aku berjanji." Bisik Chanyeol sambil menekan kepala Baekhyun pelan agar bebaring diatas dadanya. Baekhyun menurut dan ia tidak melawan, entah mengapa tubuh Baekhyun seolah bergerak melawan pikirannya.
Untuk itu ia mulai menyamankan posisinya, matanya perlahan terasa berat. Dada Chanyeol sangat hangat dan entah mengapa Baekhyun merasa nyaman dan aman. Baekhyun memang lemah bila berhadapan dengan orang-orang yang menganggunya, menyentuhnya ataupun melecehkannya, tapi bila bersama Chanyeol ia lebih merasa seperti pasrah dan aman ketimbang lemah dan menyerah.
Nafas mereka mulai beradu, entah sejauh mana Baekhyun sudah masuk ke dalam mimpinya. Chanyeol membuka matanya perlahan, ia memicingkan matanya untuk melihat wajah tertidur Baekhyun dan ia tersenyum.
Jemarinya mengelus punggung Baekhyun pelan, menyalurkan perasaan aneh yang ia miliki sekarang. Chanyeol tahu dirinya adalah seorang iblis, tapi ia juga sadar jika ia memiliki darah malaikat, dan hal yang baru ia lakukan sekarang adalah sebuah bentuk dari kasih sayang. Dimana hal itu dilarang di dunia iblis, tapi diperbolehkan di dunia malaikat. Chanyeol bingung dengan posisinya sekarang, dan ia bingung dengan perasaannya ke Baekhyun.
"Tidurlah Baek! Aku harap malaikat mimpi tidak akan membuatmu bermimpi buruk lagi, jika tidak maka akan kuhabisi si tua bangka itu." Ucap Chanyeol lalu kembali menutup matanya.
…
..
.
Minho melangkahkan kakinya masuk ke dalam istana. Ia mengernyit ketika tidak menemukan Luhan di ruang kerjanya, hanya ada seorang iblis pesuruh yang menggantikan posisi Luhan.
"Dimana Luhan?" tanya Minho.
"Oh selamat datang kembali Tuan. Tuan muda Luhan sedang pergi ke dunia manusia." Minho mengernyitkan dahinya.
"Sejak kapan? Kenapa tumben sekali disaat sedang bekerja?"
"Sejak beberapa hari yang lalu beliau sering bolak-balik ke dunia manusia, aku rasa beliau memiliki misi yang diberikan oleh Tuan Taemin, sama seperti Tuan muda Chanyeol."sahut iblis itu.
Minho tidak menjawab, dahinya mengernyit semakin keras. Ia mengangguk sebentar lalu meminta iblis itu untuk pergi sementara ia yang akan mengambil alih kembali pekerjaannya.
"Sayang!" suara itu membuat Minho menoleh, ia tersenyum saat melihat istrinya berjalan masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Begitu aku dengar kau sudah kembali, aku segera kemari. Aku merindukanmu." Ucap Taemin yang segera berjalan kearah suaminya lalu duduk diatas pangkuannya. Medan salju disekitar tubuhnya tidak menghalangi pergerakan mereka, hanya saja Minho merasa sedikit kedinginan.
"Benarkah? Beri aku sebuah ciuman!" ucap Minho dan Taemin mencium cepat bibir suaminya.
"Kau lelah?" tanya Taemin sambil mengelus helaian hitam kelam milik Minho.
"Ya! Sangat lelah. Oh iya, aku dengar Luhan sering ke dunia manusia, Chanyeol juga." Tanyanya.
"Hm, benar. Chanyeol menjalankan hukumannya dan Luhan hhm… aku rasa dia memiliki sebuah misi. Biarlah mereka menikmati masa muda mereka, jangan terlalu_"
"Memangnya apa hukuman dan misi yang kau berikan untuk Luhan?" tanya minho.
"Ra-ha-sia." Ucap Taemin sambil tersenyum, sementara Minho menggeleng. Ia harap istrinya tidak berbuat macam-macam yang bisa membahayakan kedua anak lelakinya.
…
..
.
Baekhyun menggeliat dalam tidurnya dan kembali menyamankan posisinya ketika merasakan kehangatan yang membuatnya enggan untuk membuka mata. Namun saat ia mengingat kejadian kemarin, ia segera membuka mata dan mengangkat kepalanya.
Kelopak mata Baekhyun membulat ketika matanya bertemu dengan manik hitam kelam milik Chanyeol yang sudah terbuka, bahkan Baekhyun dapat melihat sebuah senyuman lebar di wajah lelaki yang memiliki jarak dekat dengannya.
"Selamat pagi." Ucap Chanyeol dengan suaranya yang terdengar sangat berat dan serak. Baekhyun tersadar dari keterhipnotisannya dan mendorong tubuhnya menjauh, ia segera bangkit dan mengambil duduk di ruang kosong diatas sofa.
Baekhyun menundukan wajahnya, entah mengapa ia merasa malu dan canggung. Matanya baru saja bertemu pandang dengan Chanyeol ketika dia baru bangun, seolah Chanyeol tidak tidur semalaman dan hanya memperhatikannya. Memikirkannya membuat wajah Baekhyun memanas.
"Aaaah~" Chanyeol meregangkan ototnya dan mengambil duduk. Baekhyun melirik melalui ekor matanya.
"Kenapa? apa tidurmu tidak nyenyak?" tanya Chanyeol dan Baekhyun bergeming. Chanyeol tersenyum , ia sudah mulai terbiasa dengan keterdiaman Baekhyun.
"Mandilah! Dan kita segera berangkat ke sekolah." Ucap Chanyeol sambil bangkit. Baekhyun mengangkat wajahnya dan bibirnya terbuka.
"Aku sudah membelikan celana seragam baru untukmu, jangan khawatir." Ucap Chanyeol membuat suara Baekhyun batal keluar. Ia memandang punggung Chanyeol yang menjauh dan menghilang di balik kamarnya.
…
..
.
Mereka sampai disekolah 30 menit setelahnya dan sekolah sudah cukup ramai. Seperti biasa Chanyeol akan membantu Baekhyun melepaskan helmnya dan Baekhyun yang berjalan menunduk karena mendapat banyak tatapan dari para siswa.
"Kau sudah lihat video itu? Astaga! Benar-benar hot." Suara bisik-bisik siswa yang berlalu menarik perhatian Baekhyun. Ia semakin tertunduk, percakapan kedua siswa tadi ia yakini sedang membicarakan video yang direkam oleh ketiga siswi yang selalu mengerjainya.
Langkah Baekhyun semakin lambat, ia mengepalkan kedua tangannya erat dan berjalan semakin tertunduk. Chanyeol yang berjalan di depan menoleh dan mengernyit heran melihat betapa jauhnya jarak mereka sekarang.
"Baekhyun! Cepat_"
"Video itu sudah menyebar ke seluruh sekolah, mungkin sebentar lagi akan sampai ke kepala sekolah." Chanyeol melirik tiga siswi yang berjalan sambil berbincang-bincang dan sesekali melirik Baekhyun ketika lewat, Chanyeol memperhatikan wajah ketakutan dan cemas Baekhyun saat siswi-siswi itu melirik tak suka kearahnya.
"Baek_"
"Chanyeol oppa ? kau sudah dengar?" Chanyeol menoleh kearah tiga siswi perempuan yang tiba-tiba muncul disampingnya, Chanyeol rasa mereka adalah junior tingkat satu. Chanyeol menaikkan satu alisnya menatap risih kearah siswi di depannya yang terlihat sangat pecicilan.
"Apa?" tanya Chanyeol ketus sambil sesekali melirik Baekhyun yang berjalan bagaikan siput yang kehilangan tenaga. Sungguh- Lambat.
"Itu , video panas yang sedang beredar." Baekhyun melirik kearah tiga gadis yang mengerumuni Chanyeol. Ia memilih berlalu, menghindari kontak dengan gadis-gadis yang sedang sibuk dengan Chanyeol, namun diluar dugaan Chanyeol menahan tangan Baekhyun yang berada dibelakangnya tanpa menoleh.
"Video apa?" tanya Chanyeol pada tiga gadis berisik di depannya, dengan tangan yang masih menahan tangan Baekhyun dibelakang tubuhnya.
"Video Irene sunbae, Joy sunbae, dan Yeri sunbae yang ditiduri oleh beberapa laki-laki." Sahut salah satunya. Baekhyun membulatkan matanya, sementara Chanyeol menyeringai.
"Mereka tidur dengan banyak lelaki?" tanya Chanyeol dengan suara yang sengaja dibuat penasaran dan sedikit dikeraskan.
"Benar. Mereka bertiga tidur dengan banyak lelaki dan ketiganya dilakukan di dalam mobil yang berbeda. Dikatakan sih jika mereka melakukan 'sex party' karena ada yang melihat mereka sempat minum-minum sebelum kejadian. Aku tidak menyangka oppa ternyata mereka gadis seperti itu. Dan sekarang mereka bertiga tidak memunculkan diri di sekolah, miris sekali." Ucap gadis berambut panjang dengan poni lurus ke depan. Chanyeol menyeringai kecil dan ia berdecih.
"Kalian lihatkan? Siapa yang jalang sebenarnya? " Ucap Chanyeol sambil menyeringai lebar membuat ketiga gadis itu semakin terpesona. Chanyeol membalik tubuhnya dan ia menggenggam tangan Baekhyun semakin erat lalu berjalan melewati orang-orang dikoridor yang selalu berbisik.
Ketika mereka masuk kelas, tidak ada yang memberikan tatapan berarti semua asyik membuat forum diskusi masing-masing, membicarakan video panas yang beredar disekolah mereka. Chanyeol melirik Baekhyun yang keheranan dan ia tersenyum melihat wajah Baekhyun yang terlihat lucu.
Ketika mereka duduk di bangku mereka, Baekhyun sesekali melirik kearah teman-teman yang sibuk bergosip dan terkadang menggeleng. Chanyeol menoleh dan tersenyum.
"Kau lihatkan? Mereka selama ini menghinamu untuk menutupi sifat asli mereka. Suatu saat bangkai yang disimpan dengan baik akan tercium juga." Seketika Baekhyun menoleh menatap Chanyeol, dan ia kemudian mengalihkan wajahnya ke jendela.
Brak!
Chanyeol menutup matanya dan nyaris membunuh seseorang yang menendang mejanya, walau pelan namun cukup membuat kebisingan.
"Yak! Ikut aku!" Chanyeol berdecih pada Taecyeon yang berdiri disampingnya dengan angkuh, kedua tangan dimasukkan ke dalam kantung celana. Chanyeol melempar arah pandangnya malas, namun tarikan di kerah bajunya ia dapatkan. Chanyeol menepis tangan besar Taecyeon dan bangkit sambil berdecih.
Baekhyun sempat melirik Chanyeol dengan wajah bingung, namun tanpa sengaja matanya bertemu pandang dengan tatapan Taecyeon yang menyeringai kearahnya. Baekhyun segera membuang wajahnya dengan takut, lalu ia memilih melihat keluar jendela.
Chanyeol berjalan mengikuti Taecyeon dengan malas dan ia sudah tahu kemana tujuan Taecyeon membawanya. Mereka sampai di halaman belakang sekolah dan seperti biasa sudah ada beberapa anggota 'Serigala' yang mengelilingi halaman.
"Ada apa? Kenapa tidak bicara di kelas saja?" Nada Chanyeol terdengar dingin dan Taecyeon berdecih.
"Ketua kami ingin kau bergabung dengan Serigala Barat. Ini adalah undangan khusus." Ucapnya sambil menyalakan batang rokoknya. Chanyeol berdecak malas, ia menghela nafas lalu menatap Taecyeon risih.
"Bukankah aku sudah mengatakan aku tidak tertarik. Jangan memaksaku, aku tidak ingin bergabung dengan kelompok manapun." Ucapnya dengan wajah kesal. Taecyeon mendekat lalu mengepulkan asap rokok di depan wajah Chanyeol membuat Chanyeol membuang wajahnya dengan kesal.
"Kau tahu apa keuntungan menjadi "Serigala Barat" hah?" Chanyeol mengupas bibirnya keluar dengan wajah berpikir.
"Aku bisa mengaung dimalam hari?" tanya Chanyeol membuat beberapa orang nyaris terkikik. Taecyeon menggertakan giginya dengan kuat, ia menatap tajam kearah Chanyeol.
"Kau akan mendapatkan perlindungan, kau bisa melakukan apapun sesukamu, kau bisa memperluas daerahmu, kau bebas berkeliaran dan melakukan apapun, dan terpenting semua wanita akan menyukaimu." Chanyeol menghela nafas, entah mengapa ia merasa percakapan ini sia-sia. Chanyeol ingin berteriak keras di depan wajah lelaki angkuh di depannya jika tanpa bergabung dengan kelompok serigala yang anehpun dirinya bisa mendapatkan semua itu, ditambah bisa meniduri siapapun yang ia inginkan.
"Aku tidak tertarik. Ini terakhir kalinya aku mengatakannya padamu." Ucap Chanyeol lalu membalik tubuhnya dan melenggang pergi. Taeceyon menyeringai di tempatnya dan membuang punting rokoknya ketanah, lalu meludah.
"Kau akan menyesali ini Park Chanyeol." Gumamnya.
Chanyeol berjalan dengan santai di koridor, sampai seorang lelaki pendek menghalangi jalannya, lalu ada sekitar tiga orang berdiri di belakang lelaki pendek itu.
"Hai sobat! Senang berkunjung ke kandang serigala?" gumamnya, Chanyeol menghela nafas untuk kesekian kalinya. Kali ini jenis binatang yang lain, Chanyeol kenal lelaki pendek ini sebagai ketua dari kelompok aneh yang menyebut diri mereka 'Macan Timur'.
"Kali ini apa? Ketua macan ingin mengundangku ke kandangnya?" Wajah Taeyang berubah dingin, senyum ramahnya mendadak hilang. Ia menepuk pundak Chanyeol, Chanyeol melirik tangan itu yang kini malah meremas pundaknya keras.
"Jangan sekali-kali mempermainkan kami! Kau bisa saja kami anggap pengkhianat karena telah menghina kelompok kami dan mendatangi kandang serigala bajingan itu." Chanyeol membulatkan matanya tidak percaya.
"Oh ayolah! Aku? Pengkhianat? Aku bahkan bukan bagian dari kelompok kalian. Dan kalianlah yang telah mempermainkanku." Bentak Chanyeol kesal. Taeyang kembali tersenyum, lalu mengusap-usap pundak Chanyeol seolah membersihkan debu yang diragukan eksistensinya.
"Aku sedang berbaik hati. Kau menjadi tamu special dalam acara kami nanti malam, aku harap kau_"
"Aku sibuk. Aku pergi." Ucap Chanyeol dingin. Ia berjalan melewati Taeyang dan anak buah anehnya dengan begitu saja tidak memperhatikan bagaimana raut wajah kesal seorang Taeyang.
Chanyeol sedikit bersiul menuju kelasnya, kaki panjangnya melangkah dengan santai, Tapi matanya membulat saat tidak menemukan Baekhyun dibangkunya.
"Dimana Baekhyun?" tanya Chanyeol pada seorang siswa.
"Guru Kang Seowon memanggilnya." Ucap siswa itu. Chanyeol mengeraskan rahangnya, ia paling benci mendengar kata 'guru' yang baginya tidak ada bedanya dengan seorang bejat yang mengotori tubuh siswa didiknya sendiri.
Dengan langkah tergesa ia berjalan ke lantai dua dimana ruang guru berada. Mencari ruangan dengan tulisan nama Kang Seowon di atasnya. Dan langkah Chanyeol terhenti pada sebuah pintu, Chanyeol menerawang melihat ke dalam ruangan.
Baekhyun sedang meletakkan beberapa dokumen di sebuah rak yang cukup tinggi, sementara pria hidung belang itu memperhatikan dari belakang bagaimana sintalnya bokong Baekhyun. Chanyeol menggeram kesal, apalagi ketika guru itu bangkit lalu hendak melakukan pelecehan pada Baekhyun.
Brak!
Pintu terbuka, membuat dua orang di dalam ruangan itu menoleh terkejut. Chanyeol menatap pria dihadapannya dengan tatapan membunuh. Ia berjalan mendekat lalu meraih kerah kemeja guru Kang dan menghajar wajahnya dengan kuat hingga guru Kang terpentuk ke meja.
Baekhyun membulatkan matanya. Ia mendorong Chanyeol dan membantu guru Kang berdiri.
"Tuan Kang, anda tidak apa-apa?" tanya Baekhyun cemas, lalu menoleh kearah Chanyeol kesal.
"Kau pikir apa yang kau lakukan?" tanya Baekhyun dingin. Chanyeol membulatkan matanya tidak percaya Baekhyun malah membela pria hidung belang yang nyaris melecehkannya.
"Baekhyun dia ingin melecehkanmu." Ucap Chanyeol sambil menunjuk wajah guru Kang yang terkejut. Baekhyun melirik guru Kang dengan wajah sama terkejutnya namun guru Kang menggeleng.
"A..aku tidak melakukan apapun. Aku hanya meminta bantuan pada Baekhyun untuk memasukan beberapa nilai para siswa ke dalam dokumen sekolah." Bohongnya, Chanyeol berdecih dan hendak mendekat ingin melayangkan sebuah pukulan lagi namun Baekhyun menahan tubuh Chanyeol.
"Berhenti bersikap seolah kau tahu segalanya, berhenti mengira aku adalah lelaki lemah,tidak semua lelaki ingin menyentuhku , ah~ atau mungkin kau yang ingin menyentuhku terlebih dulu? Itu mengapa kau sangat baik padaku, iya kan?" ucap Baekhyun, Chanyeol terdiam.
"Baekhyun, aku_"
"Hentikan! Aku lelah! Aku lelah dengan semua ini Chanyeol! Aku lelah harus mendapatkan tatapan membunuh dari murid lain karena kau selalu melindungiku. Aku mohon jauhi aku! Aku tidak butuh perlindunganmu, aku tidak selemah yang kau pikirkan." Ucap Baekhyun lalu berjalan keluar dengan wajah kesal dan kecewa.
Chanyeol terdiam ketika Baekhyun melewatinya begitu saja. Dan tatapan Chanyeol beralih pada guru Kang.
"Jika kau berniat buruk lagi padanya, aku bisa pastikan kau hanya tinggal nama, Kang." Ancam Chanyeol lalu pergi, guru Kang nampak shock. Ancaman chanyeol terdengar sangat mengerikan apalagi tatapan membunuh yang ia layangkan sungguh menakutkan.
Chanyeol memutuskan tidak mengikuti semua pelajaran hari ini, ia melenggang pergi dengan motornya tanpa memperdulikan sekolah yang akan memberikannya sanksi. Dipikiran Chanyeol sekarang adalah benar-benar menjauhi Baekhyun.
…
..
.
"Hei!" Sehun menoleh ketika sebuah suara menyapanya. Kini ia sedang duduk dibangku panjang di halaman belakang sekolah, dibawah pohon besar yang rindang. Sehun memang jarang mengunjungi kantin, ia lebih suka menyendiri dan jauh dari keramaian.
"Luhan Saem?" Sehun mengernyitkan dahinya ketika melihat sosok gurunya yang duduk disampingnya sambil tersenyum lebar.
"Tidak makan siang?"
"Tidak. Aku masih kenyang." Sahut Sehun. Luhan tersenyum lalu mendekatkan wajahnya dan menatap Sehun secara curiga membuat Sehun menjauhkan wajahnya cepat.
"Bohong! Aku bisa melihat kebohongan diwajahmu anak kecil." Ucap Luhan lagi, Sehun membuang arah pandangnya.
"Aku memang_"
Kryuuukk
Keduanya menatap kearah perut Sehun dengan mata membulat, Sehun membuang wajahnya kembali yang sudah memerah. Luhan tertawa terpingkal membuat Sehun semakin malu.
"Benar kan. Kau ber-bo-hong." Sehun menghela nafas pelan.
"Kenapa tidak ke kantin?"
"Tidak."
"Kenapa?" tanya Luhan lagi.
"Tidak. Hanya tidak."
"Kenapa?" Pertanyaan Luhan membuat Sehun menghela nafas.
"Hanya tidak ingin."
"Kenapa tidak ingin?" Sehun menatap tidak percaya kearah Luhan. Gurunya ini begitu cerewet dan terlalu ingin mencampuri urusan orang lain, pikirnya.
"Aku tidak suka keramaian." Ucap Sehun pelan. Luhan menatap iba kearah Sehun , ia sebenarnya sangat tahu alasan Sehun tidak pernah pergi kekantin dan lebih memilih menyendiri sambil menahan lapar hingga kelas berakhir. Sehun hanya tidak suka menjadi bahan pembicaraan orang dan menjadi objek gangguan siswa-siswa yang nakal.
"Aku juga. Kita sama." Ucap Luhan , Sehun menoleh dan menatap wajah Luhan yang kini menatap ke depan.
"Aku tidak suka berada disekitar orang-orang yang selalu berkomentar tentang diriku. Aku begini, aku begitu, semua hal tentangku selalu salah dimata mereka." Ucap Luhan, Sehun memperhatikan wajah Luhan dari samping.
"Tapi kau tahu apa? Aku berterima kasih untuk itu. Karena berkat mereka aku jadi berpikir untuk melakukan apapun secara hati-hati dan apapun harus terlihat sempurna, agar mereka tidak bisa menghina kekuranganku." Luhan menatap Sehun lalu tersenyum, sesaat Sehun merasa dunianya berhenti. Ia tidak tahu sejak kapan jantungnya berdetak kencang ketika melihat sebuah senyuman dari wajah Luhan.
"Kau tahu? Kritikan dari orang-orang itu perlu, sangat perlu untuk membangun karaktermu. Tanpa mereka sadari hinaan dan kritikan dari mereka akan membuat kita semakin kuat, dan tidak akan mengandalkan siapapun selain dirimu sendiri. Jadi kau tidak usah cemas ataupun merasa tersisihkan." Sehun menatap Luhan dalam diam, seolah sedang mendapat pencerahan.
"Hal yang perlu kau lakukan hanyalah jadilah berbeda! Tunjukan bahwa kau lebih baik dari mereka, tidak semua orang dengan kekurangan minim kelebihan, malah orang yang memiliki kekurangan bisa jauh lebih hebat daripada orang yang mengkritik mereka. Jadi Sehun, kau pasti bisa."
"Terima kasih Saem." Sehun mencoba tersenyum ketika bibir Luhan membuat sebuah senyuman yang menawan.
"Sama-sama. Dan oh, mari kita makan siang. Aku membawa bekal makanan berlebih siang ini." Ucap Luhan sambil mengeluarkan kotak makanan dari balik tubuhnya, bahkan Sehun mengernyit ia tidak tahu perihal kotak makan itu.
…
..
.
Chanyeol terduduk diatas gedung tinggi yang sudah tidak terpakai. Kakinya menjuntai ke bawah dan matanya menatap ke depan, ke udara kosong di hadapannya.
Entah mengapa ia merasa begitu kesal dan kecewa ketika Baekhyun lebih memilih si brengsek Kang daripada dirinya. Chanyeol terdiam, ia tidak mengerti dengan cara manusia berpikir.
Mereka memiliki hati tapi lebih memilih menggunakan logika. Mempercayai hal-hal secara visual, daripada merasakan kejanggalan dengan indera mereka.
"Hyung!" Chanyeol menoleh kesamping dan ia mendapati Kyungsoo duduk disampingnya dengan posisi yang sama. Chanyeol menghela nafas daripada menyahut.
"Apa yang hyung lakukan disini?" tanya Kyungsoo. Chanyeol melirik melalui ekor matanya.
"Seperti yang kau lihat." Seolah tidak memiliki semangat untuk berbicara, Chanyeol menjawabnya dengan lesu.
"Tidak melindungi si Byun itu?" tanya Kyungsoo lagi. Chanyeol menghela nafas.
"Tidak. Dia tidak ingin aku lindungi, sepertinya aku harus mengatakan pada ibu jika mengganti hukumanku saja. Aku tidak suka berada di sekitar manusia dengan wujud manusia juga." Kyungsoo menoleh menaikkan satu alisnya, Chanyeol yang merasakan tatapan adiknya menoleh.
"Benarkah? Hmm.. aku ingin menanyakan sesuatu. Aku sudah bertanya pada beberapa orang, tapi aku belum bertanya padamu. Hyung, bagaimana rasanya jatuh cinta?" Chanyeol membulatkan matanya, dengan kedua alis yang terangkat.
Kyungsoo menatap Chanyeol dengan bola matanya yang besar dan berwarna biru seperti langit.
"Kenapa bertanya padaku? Mana aku tahu." Sahut Chanyeol acuh. Kyungsoo mengernyit.
"Mustahil. Ibu berkata bahwa kau sedang jatuh cinta, itu mengapa aku selalu memikirkan bagaimana rasanya jatuh cinta, hingga mampu membuat iblis sepertimu berubah." Chanyeol giliran mengernyit. Ia terdiam sebentar, memikirkan apa itu jatuh cinta dan bagaimana rasanya.
"Aku tidak sedang jatuh cinta. Bagaimana aku bisa tahu bagaimana rasanya." Sahut Chanyeol sedikit kesal.
"Tapi ibu bilang kau sedang jatuh cinta, hyung!"
"Ya sudah kenapa tidak bertanya pada ibu? Kenapa bertanya padaku yang jelas-jelas tidak tahu apa itu jatuh cinta." Chanyeol memekik membuat Kyungsoo terdiam.
"Lalu yang hyung lakukan di bumi apa? Yang hyung rasakan ketika bersama Baekhyun apa? Yang membuat hyung begitu ingin menyentuhnya apa? Apa hyung?"
"Ini hanya bentuk dari hukuman. Kesalahan dimasa lalu membuatku harus menebus ini, ini semua murni perintah ibu, bukan kemauanku." Kembali Chanyeol memekik. Kyungsoo memilih bungkam, ia mengalihkan pandangannya ke depan.
"Memangnya sejak awal pertemuanmu dengan Baekhyun, kau tidak merasakan sesuatu? Seperti sesuatu yang manis ataupun pahit?" ucap Kyungsoo dengan suara kecil tanpa menatap kearah kakaknya, Chanyeol terdiam. Kepalanya beralih ke hamparan langit luas di depan matanya. Pikirannya mulai menerawang jauh, kembali pada beberapa tahun silam.
Flashback on
Chanyeol berdiri di gedung pencahar. Jubahnya berkibar tertiup angin malam yang begitu dingin dan menusuk hingga ke dalam tulang.
Ia menatap kota Seoul yang bersinar karena sorotan lampu jalanan dan gedung-gedung yang berjejer rapi. Ia menyeringai memperhatikan beberapa titik merah pada sudut-sudut jalan.
"Bagus! Semakin banyak kejahatan, maka kaumku akan menang. Manusia memang bodoh." Ia menyeringai, merasa puas dengan pekerjaan anak buahnya.
"Tolong! Tolong!"
"Kembalikan dompetku!"
"Akh! Ja_jangan."
"Sakit! Hentikan!"
"Dasar brengsek!"
"Aaaaa~"
Chanyeol menyeringai puas. Suara-suara kesakitan dan meminta tolong itu menjadi lagu penghiburnya setiap malam. Ia menutup matanya sambil tersenyum , menikmati alunan indah dari bibir-bibir para manusia yang kesakitan dan dalam bahaya.
"Aku mohon_ja…jangan! Aak… hikss…hiks.." Mata Chanyeol seketika terbuka, suara itu terasa lain di pendengarannya. Ia menyipitkan matanya, mencari sumber suara melalui penglihatan jauhnya.
Sampai matanya tertuju pada sebuah kejahatan disudut gang sempit jauh dari keramaian kota. Ia memutuskan berubah menjadi kelelawar dan terbang kesana.
Ia tiba di tempat kejadian. Empat orang berandalan sedang mencegat seorang anak kecil berseragam sekolah. Chanyeol duduk disalah satu atap rumah, sambil memperhatikan bagaimana anak itu di ancam oleh empat orang di depannya, sementara ia menangis sesegukan.
Chanyeol tidak melihat jelas wajah si bocah, ia hanya melihat tubuh mungil bergetar dan merasakan sebuah ketakutan besar.
"Serahkan uangmu bocah!" bentak salah seorang preman.
"Ak..aku tidak punya uang paman. Aku, aaakkh!" rambutnya dijambak hingga kepalanya mendongak kebelakang. Lalu pipinya ditampar sementara berandalan yang lain memeriksa isi tas dan kantung celananya.
"Ini apa?" ucap salah satu berandalan yang mendapatkan sebuah amplop coklat dari dalam tasnya. Mata si bocah membulat dan tubuhnya menegang.
"Jangan! Itu..itu untuk membayar keperluan sekolahku paman, aku mohon, hikss."
BUAGH
Sebuah pukulan ia dapatkan di perutnya, ia jatuh tersungkur lalu tubuhnya dihajar dan ditendang dengan tidak berperasaan. Chanyeol masih diam disana, menopang dagunya dengan kedua tangan, sambil bertumpu pada kakinya yang bersila manis.
"Sakit…sa…sakit..hikss.." bocah itu menangis dalam kesakitan. Chanyeol masih memperhatikan sampai matanya menoleh kearah suara sirine polisi dimana keempat berandalan itu juga menoleh.
Chanyeol berdecak kesal ketika keempat berandalan itu pergi meninggalkan sosok bocah yang terkulai lemas di tempatnya. Tontonannya terganggu oleh suara sirine polisi yang bahkan berada jauh dari tempat mereka sekarang.
"Hah! Pengecut." Gumam Chanyeol pelan, ia melompat dan berjalan mendekat kearah tubuh ringkih bocah itu. Chanyeol menyeringai kearah bocah yang kini terkulai lemas dengan bibir bersimbah darah, tubuhnya meringkuk sambil memegang perutnya yang habis dihajar.
Chanyeol membalik tubuhnya, tapi ketika suara ringisan itu menyapa indera pendengaranya ia kembali menoleh. Dengan perlahan ia berjongkok di depan tubuh si bocah, mengangkat wajahnya, menyingkirkan helaian rambut yang menutupi matanya, dan Chanyeol tercekat.
Dibawah cahaya rembulan wajah kesakitan itu terlihat begitu cantik, walau ada bekas luka di beberapa bagian wajahnya tapi tidak mengurangi kecantikannya. Chanyeol mengernyit ketika melihat mata sayu si bocah yang menatap kearahnya di setengah kesadarannya.
Ketika jemari Chanyeol membelai rambutnya, tubuh si bocah menggeliat, kemudian Chanyeol melakukan hal yang sama pada bagian tubuh yang lain dan si bocah kembali menggeliat.
Chanyeol terdiam, berperang dengan pemikirannya. Lalu ia mengangkat tubuh itu, menyandarkannya pada dinding gang. Kepala bocah itu terkulai lemas, sepertinya kesadarannya mulai hilang.
Chanyeol menatap tubuh si bocah, dan matanya menatap sebuah name tag di dada sosok di depannya.
"Byun Baekhyun." Gumamnya pelan. Jemari Chanyeol bergerak tanpa perintah membuka satu persatu kancing seragam si bocah bertubuh kurus dihadapannya. Hingga tubuh putih dan mulusnya terlihat.
Chanyeol meneguk ludahnya, dan beralih membuka celana Baekhyun. Menampilkan penis mungil Baekhyun yang tertidur. Chanyeol terdiam kembali, dan ia melirik kearah selangkangannya, ada sebuah kehidupan yang mulai terlihat disana.
Chanyeol menurunkan resleting celananya, mengeluarkan penisnya yang membengkak. Menarik kedua kaki Baekhyun hingga terbuka lebar, mendekatkan tubuhnya dan dalam sekali hentakan penisnya masuk.
Chanyeol memejamkan matanya, ia merasakan sesuatu yang menyengat sampai ke saraf terkecil miliknya. Rasanya begitu sempit, dan sesak. Mengikuti nalurinya Chanyeol mulai bergerak.
Menyentak dengan pelan dan berganti cepat setelahnya. Membuat tubuh Baekhyun tersentak dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Ooohh…aaahhh…aaahh..iniihhh nikmathh." Chanyeol mulai mendesah sambil menggerakan tubuhnya semakin cepat, menghajar lubang Baekhyun tanpa ampun.
Tubuh kecil Baekhyun tersentak hebat, sementara Chanyeol bergerak dengan brutal dibawah sana. Mata Chanyeol terpejam, di bawah sinar rembulan wajahnya semakin terlihat tampan, bulir-bulir keringat di dahinya membuatnya terlihat semakin seksi dan mempesona.
Chanyeol menatap wajah Baekhyun yang merasakan ketidaknyamanan dalam tidurnya. Dan ketika Chanyeol merasakan sesuatu ingin mendesak keluar, ia mempercepat sodokannya, hingga ia menegang.
"Aaaaahhh~" cairannya menyembur ke dalam tubuh Baekhyun. Chanyeol mengatur nafasnya sebentar, memasukan penisnya dan bangkit. Ia berjalan meninggalkan Baekhyun yang terkulai lemas dengan keadaan mengenaskan, tapi langkahnya kembali terhenti. Ia menoleh dan entah perasaan apa yang menyerangnya, dan bagaimana logikanya bekerja ia kembali menghampiri Baekhyun.
Mengangkat tubuh itu dengan mudah, menutup matanya sebentar untuk mencari tempat tinggal Baekhyun lalu menghilang.
Mereka tiba di depan sebuah rumah minimalis yang sederhana, Chanyeol memperhatikan rumah itu dengan seksama, lalu menutup matanya kembali untuk melihat dimana kamar lelaki yang sedang ia gendong. Sampai tubuhnya hilang kembali, lalu muncul di sebuah kamar kecil dan rapi.
Chanyeol membawa tubuh itu masuk, meletakkanya diatas ranjang dengan perlahan. Ketika akan berbalik, ia mendengar sebuah rintihan dari Baekhyun. Chanyeol kembali menoleh menatap wajah terganggu Baekhyun ketika tidur yang terlihat mulai sadar.
Dengan perlahan ia menghilangkan seluruh pakaian ditubuhnya, kini Chanyeol telanjang, otot-otot di tubuhnya terlihat dengan jelas. Ia mendekat kearah tubuh Baekhyun, menindihnya dengan perlahan, membuka lebar seluruh kaki Baekhyun.
Entah mengapa ia merasa menyetubuhi seseorang itu rasanya nikmat, Chanyeol pernah mencobanya di dunia iblis ketika mengadakan pesta perayaan Infernus dan ia tidak merasakan rasa ketagihan seperti ini, padahal yang ia tiduri adalah iblis tercantik dan terseksi diantara para iblis lainnya.
Kini penis Chanyeol kembali mengacung tegak, ia memasukannya perlahan ke dalam lubang anus Baekhyun, membuat tubuh Baekhyun menggeliat hebat dan bibirnya mendesah.
"Eeuummhh." Chanyeol semakin bersemangat memasukan seluruh batang penisnya ketika mendengar suara lenguhan Baekhyun.
"Aaahh..aaahhh..aahhh" Chanyeol mendesah hebat, kepalanya mendongak keatas, begitu juga Baekhyun yang mulai bergerak gelisah.
"Oohh,,kau sungguh sempit..oohh..iniih nikmattt." Rancau Chanyeol sambil terus menggerakan tubuhnya. Baekhyun mendongakkan kepalanya sambil menggigit bibir bagian bawahnya, dalam tidurnya ia bergerak gelisah.
Tubuhnya terlalu lelah bahkan untuk sekedar membuka mata Baekhyun tidak sanggup, yang ia rasakan saat ini tidak lebih dari sebuah mimpi buruk.
Chanyeol merendahkan tubuhnya, ia menyesap bagian leher dan dada Baekhyun dengan kencang, meninggalkan jejak kemerahan disana.
"Eummhh…eeuummhh" Baekhyun terus mendesah, suaranya terdengar lirih.
Gerakan Chanyeol begitu cepat, hingga setelahnya ia merasakan sesuatu ingin keluar dari penisnya kembali.
"Aaaaahhh!" Chanyeol mendesah lega ketika cairannya keluar untuk kedua kalinya di dalam anus Baekhyun. Chanyeol merebahkan tubuhnya, ia mencoba mengatur nafas.
Ia tidak sedang dalam wujud iblis totalnya sehingga tubuhnya tidak terlalu kuat. Jika dalam wujud iblis totalnya melakukan hubungan intim dalam dua ronde bukanlah masalah, hanya saja ia tidak ingin membuat tubuh Baekhyun kelelahan ataupun yang terparah sampai meninggal karena jika dalam wujud iblis totalnya, kekuatan Chanyeol 10 kali lipat lebih hebat.
Hidung Chanyeol bersentuhan dengan leher Baekhyun, nafasnya tersengal dan terdengar begitu berat. Chanyeol membuka matanya dan mendapati Baekhyun kembali mendengkur dengan halus.
Ia bangkit, melepaskan tautan bawah mereka. Memakai jubahnya yang berceceran lalu berdiri di dekat jendela. Cahaya rembulan yang masuk menyinari wajah Chanyeol, ia menoleh melihat melalui celah pundaknya.
"Byun Baekhyun, mulai sekarang terimalah kunjunganku setiap malamnya." Chanyeol menyeringai lalu menghilang.
Sejak pertama kali menyentuh Baekhyun hingga sekarang, Chanyeol selalu merasakan rasa candu yang begitu besar. Semenjak malam itu pula ia tidak pernah melakukan seks dengan makhluk lain, hanya Baekhyun dan Baekhyun yang bisa membuatnya mencapai puncak.
Flashback off
"Aku tidak tahu pasti. Yang jelas ketika menyentuhnya, aku menginginkan lagi dan lagi." Ucap Chanyeol dengan suara rendahnya, lalu menatap wajah Kyungsoo yang kebingungan.
"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu?" tanya Chanyeol mulai tertarik pada arah pembicaraannya. Kyungsoo menghela nafas.
"Aku…aku hanya penasaran. Apakah jatuh cinta itu manis atau pahit. Apa semua makhluk di dunia merasakannya? Atau hanya para manusia saja? Apakah iblis dan malaikat bisa jatuh cinta? Apa rasanya sama, dan_" Kyungsoo menjeda ucapannya.
"Dan?"
"Dan, apakah cinta bisa datang ke orang yang salah? Apakah kemungkinan seseorang bisa salah jatuh cinta?" tanya Kyungsoo lagi. Chanyeol mendengus, kepalanya serasa mau pecah mendengar pertanyaan adik bungsunya.
"Kau tidak akan tahu sebelum kau mengalaminya." Ucap Chanyeol pelan. Kyungso menoleh memiringkan kepalanya untuk menatap manik mata kakaknya.
"Bagaimana caranya?" Chanyeol terdiam, ia nampak berpikir.
"Cobalah sering-sering berkunjung ke dunia manusia. Berada di Infernus dan Nubes terus tidak akan membuatmu berkembang. Iblis tidak mengenal cinta, dan malaikat menganggap cinta itu hal yang wajar antara sesama malaikat. Jadi, hanya manusia yang bisa berada diantaranya." Ucap Chanyeol lagi, Kyungsoo mengangguk paham.
"Tapi! Sebaiknya jangan! Kau seorang malaikat, berada di bumi hanya akan membuatmu tercemar oleh pemikiran kotor mereka."
"Karena aku seorang malaikat , aku tidak akan mudah terpengaruh." Sahut Kyungsoo lagi. Chanyeol mengedikkan bahunya, ia menghela nafas kembali . Memikirkan tentang hubungannya dengan Baekhyun yang ternyata memburuk.
"Kyungsoo!"
"Hm?"
"Sepertinya aku akan benar-benar meminta ibu mengakhiri hukuman ini. Aku iblis, dan Baekhyun manusia. Kami tidak akan bisa berdampingan terus."
"Tapi jangan lupa kau juga berdarah malaikat. Sama seperti yang kau katakan, manusia berada diantaranya. Mereka memiliki darah malaikat dan iblis, lalu apa bedanya denganmu?" Chanyeol terdiam, ia menoleh kearah Kyungsoo yang kini tersenyum kecil kearahnya.
"Tapi dia yang memintaku untuk pergi, maka aku akan mengabulkannya." Ucap Chanyeol pelan dan dengan intonasi yang serius.
…
..
.
Baekhyun berjalan dengan wajah tertunduk, kelas terakhirnya baru saja usai sementara hari sudah semakin sore. Ia berjalan sambil sesekali menghela nafas , menendang kerikil yang menghalangi jalannya.
Sejak tadi ia merasa tidak nyaman untuk beraktifitas, ia bertanya-tanya apakah sikapnya sudah keterlaluan terhadap Chanyeol, satu-satunya orang yang ingin dekat dengannya. Tapi Baekhyun kembali menggeleng, satu sisi pikirannya berkata bahwa yang ia lakukan benar.
Berada disekitar Chanyeol membuatnya menjadi dibenci oleh orang-orang yang begitu menganggumi sosok Park Chanyeol. Baekhyun hanya manusia biasa, ia hanya tidak ingin disakiti lagi dan lagi, ia juga punya batas untuk bertahan. Jadi baginya menjauhi Chanyeol adalah satu-satunya cara yang tepat.
Tapi sekali lagi ada suara samar yang menghantui pikirannya, bahwa ada yang kurang ketika Chanyeol tidak berada disampingnya.
"Huuh." Baekhyun menghela nafas panjang. Tiba-tiba langkah kakinya berhenti ketika ia mendapati sepasang sepatu di depan matanya. Ia menaikkan arah pandangnya dan melihat seorang siswa berandalan tersenyum kearahnya.
Baekhyun menegang, ia mundur pelan dan tubuhnya menegang semakin keras ketika menabrak sesuatu yang Baekhyun yakin adalah tubuh seseorang.
"Senang bertemu denganmu Baekhyun!" Ketika Baekhyun akan melarikan diri, mulutnya dibekap dengan kencang, ia berusaha meronta namun ia merasakan nafasnya sesak, tubuhnya melemas dan matanya memberat.
…
..
.
Luhan melangkah dengan tergesa ke dalam istana, matanya membulat ketika melihat istananya sangat ramai dan berantakan. Lampu berkelap-kelip dimana-mana, suara musik yang begitu keras dan rasanya begitu sesak melihat banyak iblis dan makhluk lain yang memenuhi ruang tengah.
"Apa-apaan ini?" teriak Luhan di depan adiknya yang kini asyik duduk diatas sofa sambil memeluk satu wanita seksi dan seorang pria cantik disampingnya.
"Hei kakakku yang cantik dan baik. Mari bergabung!" ucap Chanyeol sambil mengangkat gelas minumannya. Luhan mengerutkan keningnya kesal, tangannya ia letakkan dipinggang dan matanya mendelik.
"Apa-apaan kau Chanyeol? Kenapa membuat pesta seperti ini?" Luhan berteriak. Chanyeol bangkit sambil tersenyum.
"Kau tidak lihat mereka bekerja secara terus-menerus, mereka juga butuh liburan. Aku hanya sedang berbaik hati pada seluruh kaum iblis. Aku bukan atasan yang kaku sepertimu."
"Apa? Kau tahu? Jika ayah tahu_"
"Jika ayah tahu ayah tidak akan marah. Aku tidak melakukan hal yang aneh-aneh, aku hanya ingin berpesta, jadi ini bukan masalah. Ayo bergabung hyung!" ucap Chanyeol sambil kembali berjalan menuju keramaian.
Luhan geram, ia mempercepat langkahnya. Memegang pundak Chanyeol dan menariknya kasar.
"Kau tahu? Kau tidak bisa mengadakan pesta seperti ini, ingat kau dalam masa hukuman!" bentak Luhan. Chanyeol mengorek telinganya seolah mengejek.
"Kau tahu? Aku iblis, aku bisa mengingkari apapun." Ucap Chanyeol santai, sambil mengecup pipi seorang iblis wanita yang sedang berdansa.
"Lalu bagaimana dengan Baekhyun?" Chanyeol menghentikan kegiatannya, ia menoleh menatap Luhan, rahangnya mengeras dan wajahnya berubah serius.
"Ah aku lupa tentang manusia itu. Dia bebas sekarang, dia berkata tidak ingin berada di dekatku, dia sendiri yang memintaku menjauh, jadi aku tidak akan menganggunya lagi, ditambah aku akan meminta ibu mengganti hukumanku."
"Heuh!" Luhan mendengus.
"Kenapa gaya bicaramu seolah kau bisa hidup tanpa dia? Bukankah dia alasanmu selalu kabur dan memintaku untuk mengawasinya ketika kau menjalani hukuman?" ejek Luhan. Chanyeol menatap mata kakaknya tajam.
"Aku baru mengenalnya beberapa tahun, dan aku sudah hidup ratusan tahun. Aku tidak butuh dia dalam hidupku, lagipula aku hanya menyukai tubuhnya yang begitu nikmat dan murni, hanya itu tidak ada tambahan apapun. Aku bisa mendapatkan yang lain nanti."
"Benarkah?" Luhan melipat kedua tanganya di depan dada.
"Kenapa aku perlu meyakinkanmu?"
"Tidakkah pesta dadakan ini kau buat untuk melupakan penolakan yang dia lakukan padamu?" Chanyeol kembali menjatuhkan tatapannya pada sang kakak.
"Mulutmu sungguh mulut iblis Luhan!" ucap Chanyeol kesal, Luhan tersenyum sambil mengedikkan bahunya.
"Ya, itu aku."
"Enyah kau!" bentak Chanyeol sambil membanting gelasnya, seketika semua mata menatap mereka.
"Tanpa kau suruh aku akan pergi. Dan kita lihat Chanyeol, berapa lama kau bisa bertahan tanpa kabar dari si Byun mu." Setelah ucapannya Luhan menghilang, Chanyeol menatap ke depan dengan sorot mata kesal.
"Aku tidak akan memberikan perhatianku pada Byun itu, karena dia telah membangkitkan emosi iblisku." Ucap Chanyeol sambil menyeringai menatap pecahan gelasnya di lantai.
…
..
.
Baekhyun membuka matanya perlahan dan yang ia lihat adalah sebuah cahaya dari api yang dibakar di dalam tong besar. Ia mengerjap pelan dan melihat banyak orang berkumpul disekitarnya.
Ketika ia merasakan kaku pada tangannya, ia baru tahu jika tangannya sedang diikat dalam posisi menggantung. Kedua tangannya diikat keatas dengan sebuah tali tambang yang membuat kulit Baekhyun terasa panas.
"Sudah bangun cantik?" seorang pria menghampirinya. Baekhyun memperhatikan sosok itu dan matanya membulat ketika kesadarannya sudah penuh. Itu adalah Taecyeon pemimpin dari salah satu geng yang paling ditakuti disekolahnya.
"Dimana kau menyimpan nomer si brengsek itu?" tanya Taecyeon sambil memperlihatkan sebuah ponsel di depan mata Baekhyun dan Baekhyun sadar itu adalah ponselnya.
"Katakan! Dimana?" bentak Taecyeon. Baekhyun menggeleng pelan, tubuhnya benar-benar lemas.
"Jangan berbohong! Kau kekasihnya kan?" Kembali Baekhyun menggeleng, sementara Taecyeon geram. Ia menampar pipi Baekhyun hingga meninggalkan bekas dan sudut bibir Baekhyun mengeluarkan darah.
"A..aku tidak tahu.." suara Baekhyun terdengar lirih.
"Cepat katakan! Atau kau akan merasakan hukuman dari kami!" bentak Taecyeon. Baekhyun kembali menggeleng, ia sungguh tidak tahu nomer ponsel milik Chanyeol.
"Jika kau tidak mau membuatnya kemari, maka kau yang akan mendapatkan hukuman sebagai gantinya!" Taecyeon mengambil pisau, ia memotong ikatan antara besi dan simpul ditangan Baekhyun, menyeret tubuh lemas Baekhyun dan mendudukanya disebuah kursi.
Tamparan demi tamparan Baekhyun dapatkan lagi, hingga ia merasakan pipinya mati rasa. Walau tangannya sudah bisa digerakan, tapi ikatan pada kedua tangannya masihlah sangat erat.
Taecyeon menjambak rambut Baekhyun, hingga Baekhyun mendongak.
"Jangan berusaha melindunginya pelacur!" bentak Taecyeon sambil menghempaskan kepala Baekhyun.
Saat bagian seragam Baekhyun tersingkap Taecyeon meliriknya sebentar. Ia adalah lelaki normal, semua tahu itu. Bahkan ketika berita tentang Baekhyun menyebar disekolah, ia sama sekali tidak memiliki niat untuk meniduri Baekhyun.
Namun saat sekarang matanya menatap kulit mulus dan putih milik Baekhyun, entah mengapa libidonya meningkat.
"Hm, sepertinya berpesta sambil menunggu si brengsek itu datang boleh juga." Ucap Taecyeon, ia merobek baju seragam Baekhyun dan matanya membelalak melihat kulit Baekhyun yang seperti porselin.
"Ja…jangan." Baekhyun meronta ketika permukaan kulitnya di elus oleh tangan kasar Taecyeon.
"Maka dari itu cepat panggil Chanyeol!"
"Ak..aku tidak tahu sungguh…" Baekhyun memberikan tatapan memohon, namun Taecyeon merasa libidonya semakin meningkat.
"Jika begitu panggil namanya dalam hati, dan berharaplah jika dia tiba-tiba muncul disini." Gelak tawa terdengar dari orang-orang yang berada disana.
Taecyeon menjilat leher Baekhyun, menyesap di beberapa bagian. Baekhyun menutup matanya erat, memanggil nama Chanyeol dan berharap seseorang menolongnya.
"Aku tidak tahu rasamu semanis ini, apa Chanyeol pernah menikmatimu? Aku rasa itu alasan kenapa ia sangat melindungimu." Ucap Taecyeon lagi, ia menoleh kebelakang kearah pengikutnya.
"Dia benar-benar manis, setelahku siapapun yang ingin mencicipinya aku persilahkan. Kita lihat seberapa hancurnya Park Chanyeol melihat benda yang ia jaga, hancur berkeping-keping hingga tidak ada harganya lagi. Dan setelahnya dia akan tahu apa itu penyesalan." Ucap Taecyeon sambil menyeringai .
"Chanyeol.. hiks.. aku mohon tolong aku… Chanyeol..hiks.. maafkan aku.. Chanyeol..hiks..hiks.."
Baekhyun menangis di dalam hati, ia berharap semua bisa diulang , dan dia tidak akan melakukan hal yang ia lakukan tadi pagi.
Baekhyun menangis ketika mulutnya terpaksa dibuka untuk mengoral penis besar milik Taecyeon. Baekhyun bahkan merasakan rasa mual yang begitu besar, ia bahkan tidak bisa mendesah ketika kedua putingnya dipelintir dengan sangat keras, yang ia rasakan hanyalah sebuah kesakitan yang besar.
BRUUM
BRUUM
BRUUM
Semua mata menoleh kearah suara motor yang tiba-tiba muncul disekitar mereka. Disana Chanyeol duduk diatas motornya. Ia melepas helmnya, dan turun tergesa.
"Brengsek!" Chanyeol membanting helmnya dan berjalan mendekat kearah Taecyeon. Taecyeon menyeringai, ia memasukan penisnya ke dalam celana dan berjalan mendekat kearah Chanyeol.
"Berani sekali kau menyentuhnya bajingan!" bentak Chanyeol. Wajahnya tegang dan terlihat begitu marah.
"Lihat siapa yang datang berkunjung? Aku tidak menyangka kekasihmu itu benar-benar memanggilmu dengan suara hatinya." Ucap Taecyeon lagi. Chanyeol melirik kearah Baekhyun yang terduduk dikursi dengan keadaan mengenaskan.
Kedua tangannya diikat, tubuh bagian atasnya telanjang sementara celananya sudah terbuka sedikit, yang membuat Chanyeol kesal adalah wajah Baekhyun terdapat banyak memar.
"BAJINGAN KAU!" bentak Chanyeol lagi, ia menendang sebuah kursi kosong disampingnya.
"Kau sendiri yang memintaku mengajarimu apa arti sebuah penyesalan. Maka dengan senang hati aku akan mengajarimu."
"Kau_"ucapan Chanyeol terputus karena seseorang memukul kepala belakangnya dengan botol. Chanyeol menoleh dan memegang kepala belakangnya, ia merasakan darahnya mengalir membasahi tangannya.
"Kau pikir aku akan mati dengan pukulan ringan seperti itu?" Chanyeol mendengus lalu meludah ke tanah. Ia mengepalkan jemarinya, seluruh energinya berkumpul di kepalan tangannya.
"Ingat! Jangan pernah memakai kekuatanmu!" suara ibunya beberapa hari lalu terngiang di telinganya, membuat Chanyeol terdiam. Tapi ia kemudian memutar tubuhnya dan dengan cepat menyerang orang-orang yang telah berkumpul disekitarnya dengan tangan kosong, tanpa senjata dan tanpa kekuatan iblisnya.
Chanyeol menghajar dengan membabi buta, tidak memperdulikan siapapun. Beberapa ada yang tumbang di tanah tapi ada juga yang masih bertahan menyerang Chanyeol. Awalnya Chanyeol bisa menghadapi mereka, tapi dengan tenaga manusianya melawan puluhan orang dengan tangan kosong membuat tenaganya terkuras habis.
Luka dibelakang kepalanya semakin parah, tapi ia berusaha bangkit. Sesekali Chanyeol melihat Taecyeon yang berdiri menonton di dekat Baekhyun, sambil tersenyum kearahnya.
BUAGH
Sebuah pukulan di kakinya membuat Chanyeol bersimpuh ditanah, wajahnya sudah babak belur, bahkan darah segar menetes ke atas tanah.
"Masih mau mengakui jika dirimu hebat Park?" Ucap Taecyeon. Chanyeol menyeringai dengan tubuhnya yang melemas.
"Chanyeol…hiks.." Baekhyun menangis dari tempatnya. Ia berusaha turun dari kursi tapi tubuhnya terjatuh.
"Baekhyun!" Chanyeol mengalihkan pandangannya ke Baekhyun. Taecyeon melirik Baekhyun yang berusaha bangkit.
Chanyeol juga sama ia hendak bangkit, namun sebuah balok menghantam tubuhnya. Chanyeol terjatuh ketanah, tapi ia masih sadar. Darah menyembur ketika ia terbatuk, mata Chanyeol senantiasa menatap Baekhyun.
Ketika tangannya terulur, seseorang menginjaknya keras. Chanyeol memekik dan Baekhyun berteriak histeris.
"Hentikan…hiks..hentikan aku mohon." Baekhyun merangkak kearah Taecyeon , ia menangis dan bersujud di depan lelaki itu. Taecyeon melirik Baekhyun, ia merendahkan tubuhnya. Menjambak rambut Baekhyun kuat hingga kepala Baekhyun mendongak.
Taecyeon membalik tubuh Baekhyun, membuatnya menungging di atas tanah. Chanyeol membulatkan matanya, ia berusaha bangkit tapi dadanya di tendang.
"Ja..jangan aku mohon hikss.." Baekhyun menangis ketika celananya di turunkan paksa.
"Aku mohon ja…jangan hiks.." isakan Baekhyun terdengar memilukan. Taecyeon berdiri dibelakang Baekhyun.
"Kau lihat Park Chanyeol? Karena keangkuhanmu kau akan merasakan kajatuhanmu. Menghina kelompok kami adalah sebuah kesalahan besar dan fatal, dan kau lihat? Kau dan kekasihmu ini akan menjadi korbannya. Karena keangkuhanmu dengan terpaksa kekasihmu ini akan menjadi jalang. Setelah aku, mereka semua akan menikmati lubang sempit kekasihmu. Sayang dia laki-laki, jika dia perempuan akan aku pastikan dia hamil karenaku dan kau pasti semakin hancur Park!" ucap Taecyeon. Ia berlutut di depan Baekhyun, mengelurkan penisnya.
Baekhyun menggeleng, ia menatap Chanyeol dengan wajah putus asanya, Chanyeol kesal tangannya terkepal. Seluruh energinya kembali berkumpul. Masa bodoh dengan larangan ibunya, jika setelah ini hukumannya bertambah dan harus menjalani sidang pelanggaran, Chanyeol tidak peduli lagi yang terpenting Baekhyun-nya tidak disentuh oleh bajingan, selain dirinya.
Ketika Taecyeon berusaha memasukan penisnya, Chanyeol menutup matanya dalam, dan semua menjadi gelap.
…
..
.
Ketika membuka mata hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamar yang polos. Ia kembali mengerjap dan melihat sebuah cahaya di langit-langit kamar itu. Pandanganya masih kabur, dan ia berusaha membuatnya kembali normal.
Ia mengedarkan pandangannya dan ia mengenali kamar ini.
"Chanyeol!" Chanyeol menoleh dan mendapati Baekhyun terduduk didekatnya sambil memasang wajah antara sedih dan lega.
"Baek_" ucapan Chanyeol terputus karena merasakan sakit pada bagian dadanya. Baekhyun menahan tubuh Chanyeol yang hendak bangkit, ia memperbaiki letak bantal Chanyeol.
"Istirahatlah dulu, aku akan_" Chanyeol menahan tangan Baekhyun, Baekhyun menoleh dan ia menggenggam tangan Chanyeol.
"Maafkan aku Chanyeol, dan terima kasih untuk_"
"Kau baik-baik saja?" Baekhyun membulatkan matanya kearah Chanyeol tidak percaya, ketika Chanyeol terluka keras dan nyaris mati, ia masih sempat-sempatnya mengkhawatirkan keadaannya.
"A..aku baik-baik saja." Baekhyun seperti ingin menangis, entah mengapa penyesalannya semakin bertambah. Selama Chanyeol tidak sadarkan diri, satu hal yang Baekhyun sadari, Chanyeol benar-benar ingin berteman dengannya, tidak hanya menginginkan tubuhnya, ataupun memanfaatkannya seperti orang-orang yang pernah ia kenal.
"Apa mereka_" Chanyeol menjeda ucapannya, tapi Baekhyun tahu arti raut wajah Chanyeol.
"Tidak, mereka tidak berhasil menyentuhku. Kita diselamatkan sebelum mereka menyentuhku." Ucap Baekhyun dengan wajah tertunduk.
"Diselamatkan? Siapa yang menyelamatkan kita?" tanya Chanyeol bingung.
"Aku." Suara itu membuat kedua orang di dalam ruangan itu menoleh. Menatap sosok yang berdiri di ambang pintu sambil tersenyum. Baekhyun menganggukan kepalanya memberi hormat, sementara Chanyeol membulatkan matanya tidak percaya.
"K_Kau?"
TBC
…
..
.
( SI PITIK- Sesi Rumpi Cantik diakhir, jangan lupa baca, kali ajah bisa bantu kebuntuan kalian, wkwkwkwkw )
Gimana? Apa chapter ini cukup memuaskan atau belum memuaskan?
Hm, maaf kalo memang ini belum, atau tidak memuaskan. Aku udah berusaha guys, hehehe...
Buat CBHS , Masi pada kobam gak sama scooter's couple? wkwkwkw.. Siapa yang pas liat video sama fotonya teriak histeris, loncat-loncat, sesak nafas, nangis, guling-guling sampe2 disamperin sama orang? Me! Me! Me! wkwkwkw,, mereka mah ya, selalu bisa bikin hati shippernya gak karuan wkwkwkw... Bentak lagi mereka bakal confirm wkwkwwk, mari sabar dan menunggu sedikit lagi CBHS...
SI PITIK ( Sesi Rumpi Cantik ) ; ( berdasarkan yang masuk di review, PM, ataupun chat di sosmed )
R : Kak, bagi link jgv/ video porno nya dong!
M : Entah harus jawab apa T_T , sepertinya kalian masih pada salah paham. Jujur, aing bukan distributor yang begituan. Demi Luhan! #gebrakmeja , buat yang masih nanya linknya, maafkan aing ya. Aing tidak punya sama sekali, biasanya dikasi sumbangan dari temen-temen.
R : Jujur aku gak terlalu suka ff genre fantasy, tapi untuk ff ini entah kenapa aku ngerasa beda.
M : Jujur aku juga gak suka bikin ff fantasi, tapi entah mengapa karena ff ini aku ngerasa beda. Wkwkwkwkw… Kita sama guys, semua Cuma butuh beradaptasi. Ini kali pertama aku bkin ff fantasi, dan semua ini murni beradasarkan vote yang masuk. Wwooiiii! Yang request ff fantasi waktu itu mana? Sini woooii keluar! Hiksss..
R : Aku suka Chanbaek, tapi untuk percaya mereka real aku masih belum bisa. Jujur bagi aku mereka Cuma sahabatan.
M : Ekhem, yah terserah sih. Mau percaya mereka sebagai apa, Cuma mau meluruskan ajah sih, aku rasa gak ada yang 'Cuma sahabat' tapi saling tatap penuh arti kayak mereka, gak ada yang 'Cuma sahabat' tapi overprotektif kayak mereka terlebih mereka 'sahabat' laki-laki, gak ada yang 'Cuma sahabat' tapi mencium satu sama lain, dan yang terpenting gak ada yang 'Cuma sahabat' tapi satunya nungging, satunya nusuk dari belakang, gak ada sumpah gak ada. Dan kamu yang bilang nganggap mereka 'Cuma sahabat' udah baca ff aku yang bisa dibilang ini bahkan diatas sahabat normal. Aku udah peringatin diawal say, tapi kalo emang kamu pingin baca sih gpp. Tenang, virus chanbaek itu menginfeksi amat sangat cepat kok, melebihi kecepatan cahaya. Hehehehe.. Welcome to Chanbaek's World…
R : Thor gimana caranya supaya imajinasi ku bisa meliar kayak elu? Terus gimana caranya buat dapat inspirasi buat nulis?
M : Kalo urusan liar nggaknya imajinasi seseorang, itu tergantung tingkat imajinasi orang itu sendiri. Kamu gak bisa mengukur seberapa liar imajinasi seseorang, karena tiap orang punya nilainya sendiri. Terus cara biar dapat inspirasi? Ada banyak cara, ada yang dengan melakukan sesuatu kegiatan, ada yang butuh suasana sepi, ada yang dengan membaca, kalo aku sendiri punya metode lain. Duduk manis di dalam toilet sambil berimajinasi, itu kenapa aku bisa berjam-jam di dlm toilet. Wkwkwkw, tapi imajinasi ttg ff nya, bukan yang lain-lain wkwkwkw..
R : Kenapa Sehun dibikin jadi anak kecil, aneh ajah bacanya Sehun kecil Luhannya udah dewasa.
M : Kalo aku buat Sehun kakek-kakek apa gak lebih aneh? Wkwkwkw.. becanda-bencanda, hehehe.. gini, ini baru chapter awal, ada banyak hal yang bisa terjadi dalam satu chapter, hehehe… aku usahain apa yang janggal dikepala kalian bakal jadi masuk akal. Hehehehe..
R : Rencana berapa chapter kak?
M : Haaah! Pertanyaan yang selalu muncul. Karena banyak yang ngira aku utaran lovers ya udah aku buat 2000 chapter ya wkwkwkw…
R : Kak punya akun wattpad? Kak punya blog ?
M : Punya kok, dulu waktu zaman alay bikin pass nya juga alay, dankarena kealayan aing sekarang jadinya lupa deh sama lay, eeeh mksdnya lupa deh sama passnya yang alay. Mau buat lagi , tapi…. Yaaah, intinya ff ku di post disini ajah kok hehehe… Kalo blog, ada kok, tapi yah gitu alay juga, kekekeke.. jadi mending jangan deh. Hehehehehe..
R : Eon, gimana caranya buat ff fantasi? Aku udah berusaha tapi selalu kesannya aneh. Aku pingin bikin yang kayak punya eonni Shita.
M : Bisa kok, pasti bisa. Mau ff fantasi, atau apapun, intinya biarkan imajinasi kalian yang bekerja, jangan dibatasin, dan jangan cepat mengambil kesimpulan sendiri. Biarin orang lain yang nilai, kita mah jalanin hobi ajah, syukur2 ada yang suka, kalo gak ada yang baca pun gapapa, setidaknya udah tersalurkan hobi kita hehehe.. Aku juga dulu gitu kok, liat ajh koleksi ff aku, awal aku nulis masih dikit banget yang baca hehehehe.. Kalo ada usaha perubahan dan kesuksesan mengikuti kok, jadi intinya usaha, itu! Salam golden ways #Shitagebuh ( gebuh = banyak omong kosongnya alias pembual ) wkwkwkwkw…
R : Apaan? gak kosisten banget tadi bilang rambut CY hijau kelam, terus diakhir rambutnya jadi warna hitam kecoklatan, yang salah siapa dong?
M : Tanyakan pada rumput bergoyang, wkwkwkwwk.. Coba dibaca dengan teliti chingu, aaah~ atau gak chapter ini udah memperjelas kan ?
R : Kenapa peran Baekhyun disini kasihan banget? Pake disiksa segala sama satu sekolahan. Gak kebayang.
M : Untuk mendukung jalannya cerita guys, coba bayangin kalo baekhyun aku buat cabe-cabean disini, suka dandan, suka goda cowok, lah bisa-bisa Baekhyun jadi ratu iblisnya. Lebih gak kebayang ini kan? Wkwkwkwkw… yah intinya karena sifat itu cocok untuk peran Baekhyun disini. Jangan baper ya… Keepsmile
R : Kak untuk latar, nama dan kehidupan di Neraka itu baca di buku, nyari diinternet, apa murni imajinasi?
M : Untuk nama sendiri itu adalah murni imajinasi, untuk latar juga imajinasi tapi campur sama beberapa visualisasi ku selama ini, sementara untuk jenis-jenis hukuman itu aku pernah baca dibeberapa buku, jurnal dll , soalnya waktu zaman SMP gak ada kerjaan jadi sukanya baca buku tentang-tentang mistis gitu hehehehe..
R : Berapa lama yang diperluin buat bikin satu chapter?
M : Tergantung. Tergangtung si mood, si inspirasi, si niat, si waktu dan si keadaan. Kalo mereka udah ketemu bisa dua hari tiga hari jadi, tapi sayangnya kelima sahabat itu pada sibuk sama urusan masing-masing, jadi susah buat diajak kumpul bareng, yah jadinya paling cepet seminggu. Apalagi si waktu sama si mood yang doyan banget musuhan, mereka paling susah diajak ketemu bareng. Wkwkwkwkwkw..
R : Update kilat thor!
M : Pingin, sumpah pingin banget. Cuma ya itu, disini jarang ujan jadi jarang ada kilat. #kaboooor
R : Eonnie , aku suka cara penulisan eonnie, aku pingin banget ketemu langsung sama eonnie. Aku pingin kenal lebih lagi, dan pingin ngobrol banyak
M : Sini! Datang ajah ke, Rt 5, Rw 3, sepuuuluhhh~ nomer rumahku #nyanyisambiljoged. Aku juga pingin, tapi apa daya tanganku tak kuasa menggengam penuh pisang Chanyeol #eeeh #plaaak #insaf shita, insaf. #sayatidakincest #sayatidakmengeincestpapih #sayatakutmamih #sayasayangkepalasaya
Oke, cukup segini ajah ya, hehehe.. ntar kepanjangan, trus pada protes karena yang panjang Si pitiknya daripada ff nya.
Akhir kata seperti biasa, jangan dengarkan ucapan orang-orang yang menyinggung jiwa shipper kalian! Jiwa kalian terlahir dari hubungan terlarang yang dianggap 'abnormal' tapi bukan berarti kalian tidak punya tempat dan tidak bisa berharap.
Harapan Chanbaek Shipper satu, Cuma pingin Chanbaek confirm, eeeh dua ding, sama video ena-ena papih mamih menyebar, iya kan ngaku deh, ngaku! Wkwkwkw.. Nah intinya percaya dengan keyakinan kalian.
Anjing menggonggong Chanbaek bersatu ( diatas ranjang ) , tetap jaga kesehatan kalian ya teman-teman.
Akhir kata Saya Shita Park undur diri dan salam Chanbaek is real!
See you in the next chapter , ciaaauuu bella. Oh iya, kalo sempet review juseyo! Hehehehe tidak memaksa, hanya kalo bersedia wkwkwkwkw…
