Title : Devil Beside Me chapter 5
Cast : Park Chanyeol ( EXO ), Byun Baekhyun ( EXO ), Oh Sehun ( EXO ), Do Kyungsoo (EXO ), Xi Luhan (EXO ), Kim Jongin (EXO ), Kim Kibum (SHINee ), Choi Minho ( SHINee ), Lee Taemin (SHINee ) and others.
PERHATIAN!
Ff ini mengandung unsur dewasa berbau seks, hubungan sesama jenis yang menyebabkan beberapa orang mungkin mual, Bahasa yang berantakan, dan typo yang walau sudah berusaha dihilangkan tapi tetap muncul. Tidak untuk area bermain anak-anak, anak polos, antigay/ homophobic, AntiChanbaek dan segala yang tidak ada sangkut pautnya dengan dunia yaoi.
DILARANG KERAS!
1. Mempublish ulang cerita tanpa izin dari penulis di web manapun
2. Copy-Paste atas alasan apapun
3. Me-remake cerita dengan mengganti pemeran
4. Mengutip beberapa bagian paragraph lalu memasukan dalam cerita lain
Tolong hargai penulis teman-teman. Kami menulis memang untuk hobi, tapi kami menulis gak sekedar nulis, butuh banyak hal yang kami korbankan agar menjadi sebuah cerita yang berkesinambungan. Salah satunya waktu, tenaga dan pikiran.
NB: Aku buat larangan ini bukan bermaksud apa-apa, tapi kejadian beberapa waktu lalu bener-bener mikin mental down, bikin gak semangat nulis. Aku harap kalian maklum, dan buat plagiators . Tolong sadar, menulis bukan sekedar mencari tenar, tapi menulis adalah bagian dari diri setiap penulis di dunia.
Buat yang udah ngasik tahu tentang kejadian ini, dan buat yang ngasi semangat makasi. Kalian adalah teman-teman yang solid dan aku acungin jempol buat kepedulian kalian, terima kasih banyak teman-teman.
...
..
.
Park ShiTa
Present
…
..
.
Flashback On
Chanyeol duduk di salah satu sofa di tengah pesta yang ia buat secara mendadak. Suasana hatinya sedang buruk, biasanya ia akan berkunjung kedunia manusia untuk mencari hiburan, namun berhubung masalahnya ada di dunia manusia Chanyeol mencari hiburan lain.
Mengundang seluruh iblis di dunia dan mengubah Infernus menjadi sebuah tempat pesta yang meriah. Tapi baru saja menikmati kesenangan, Luhan sudah mengacaukan semuanya. Mengatakan hal-hal yang membuat Chanyeol memicing jijik.
'Mencintai seorang manusia?', Chanyeol tidak habis pikir kenapa kakaknya bisa berkata seperti itu. Chanyeol tahu dia sangat menyukai tubuh Baekhyun, untuk itu ia sering datang kedunia manusia menemui lelaki mungil itu.
Lalu mendapat hukuman untuk melindungi Baekhyun, Chanyeol hanya menjalankan hukumannya, tidak melibatkan perasaan. Untuk itu ketika Luhan mengatakan hal yang baginya sangat tidak masuk akal, Chanyeol mengumpat dalam hati betapa bodoh dan sok tahu-nya seorang Luhan.
Dan kini, ia merasa jauh lebih bodoh karena memikirkan ucapan Luhan yang sangat tidak masuk akal. Bahkan suasana hatinya kembali memburuk, ajakan para iblis lain untuk bergabung di lantai dansa tidak menarik perhatiannya.
Sentuhan-sentuhan lembut dan menggoda dari para pemikat,tidak ia ladeni. Chanyeol hanya merasa tidak bersemangat.
"To…tolong.. aku hiks… Chan..chanyeol.. aku…mohon.. tolong." Chanyeol menghentikan acara memutar-mutar gelas anggurnya, ia menajamkan pendengarannya. Dan ia tahu itu suara Baekhyun.
"Chan..hiks…yeol… to…long." Chanyeol menutup matanya, menenguk isi gelasnya dengan cepat. Ia berusaha mengabaikan panggilan dari Baekhyun, yang menjerit meminta tolong sambil menyebut namanya.
Chanyeol meletakkan gelas anggurnya, ia bangkit berjalan menuju keramaian. Di lantai dansa beberapa iblis menari, meliukan tubuh mereka dengan bersemangat. Chanyeol masuk ke dalamnya, menarik seorang iblis cantik bertubuh indah dan mengajaknya menari.
Chanyeol menyeringai ketika tubuh gadis itu menari erotis di depannya menyentuh seluruh bagian tubuhnya dengan intens. Chanyeol menarik tengkuk gadis itu, mempertemukan bibir mereka.
"To…long. Chan…hiks..yeol.. maa…aafkan hiks… aku." Chanyeol menutup matanya, melepas tautannya lalu menghilang.
Ia muncul di tempat parkir bawah tanah di apartemennya, terduduk diatas motor dengan pakaian manusianya. Kaos berwarna hitam, jaket jeans hitam, celana jeans panjang dan sebuah helm.
Dengan kecepatan maksimal ia memecah keramaian kota Seoul, tidak mengindahkan umpatan beberapa orang yang terkejut menyaksikan kecepatan motornya.
…
..
.
Luhan tersenyum melihat betapa senangnya seorang Sehun yang kini menikmati es krimnya. Senyum Luhan tak henti-hentinya mengembang ketika lelaki setinggi matanya itu menjilati es krimnya dengan semangat.
Dua jam yang lalu mereka baru saja menyelesaikan les privat mereka dan Luhan menawarkan untuk berjalan-jalan sebentar sambil menunggu ibu Sehun pulang, walau sempat ragu Luhan bersyukur Sehun pada akhirnya mengangguk.
Dan setelah berjalan-jalan dan bercerita cukup banyak akhirnya mereka memutuskan membeli dua buah es krim dan memakannya di dalam mobil.
"Terima kasih saem." Ucap Sehun sambil menatap Luhan.
"Itu bukan apa-apa." Ucap Luhan sambil mengeluarkan sebuah tisu dan memberikannya pada Sehun. Sehun menerimanya dan membersihkan bibirnya.
"Aku merasa sangat senang hari ini, seumur hidupku selain merayakan ulangtahun berdua bersama ibu, ini adalah hari paling menyenangkan."
"Benarkah? Berarti kita sama, selain hari kelahiranku. Ini adalah hari paling menyenangkan yang aku miliki." Balas Luhan, Sehun mengerutkan keningnya.
"Kenapa kita selalu sama? Apa saem meniruku? Atau menyindirku?" Luhan segera menggeleng, membuat Sehun menahan senyumnya.
"Aku tidak sedang menyindirmu, sungguh. Aku memang benar-benar mengalaminya, aku memang sepertimu ketika aku_"
"Tenang saem, aku hanya bertanya. Jangan dianggap serius! Saem terlihat seperti seorang kekasih yang ketahuan berselingkuh." Sehun tertawa memperlihatkan gigi gingsulnya yang sangat manis.
Luhan mengangkat kedua alisnya, lalu membuang pandangannya. Entah mengapa ucapan Sehun membuat dirinya menjadi bersemu merah.
"Sehun, sebaiknya kita pulang. I..ini sudah malam." Luhan merutuki suaranya yang mendadak gagap.
Sehun mengangguk dan Luhan segera menyalakan mesin mobilnya lalu melaju pelan. Luhan melewati sebuah jalanan diatas jembatan yang cukup sepi. Ucapan Sehun barusan membuat Luhan tidak berkonsentrasi dalam menyetir, jadi ia memilih melaju dengan pelan tidak ingin membahayakan nyawa pangeran kecilnya, bagaimanapun Sehun berdarah manusia.
Sehun yang sejak tadi terdiam dan memilih melihat keluar jendela tiba-tiba mengangkat tubuhnya. Ia memicingkan matanya ketika menangkap sebuah kegiatan di dekat sungai, di bawah jembatan. Di bawah bangunan tua dan terbuka, hanya beberapa pilar besar dan atap sebagai arsitektur.
Beberapa berandalan yang entah sedang melakukan apa, Sehun sendiri tidak mengerti tapi yang membuatnya terlonjak kaget bukan kegiatan yang mereka lakukan, tetapi sosok lelaki mungil mirip kakaknya yang menungging di tanah, dengan seorang lelaki bertubuh kekar yang mengeluarkan penisnya.
"Berhenti!" Luhan menginjak rem dengan terkejut, ia menoleh dan lebih terkejut ketika Sehun melepas sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil.
Luhan dengan cepat menyusul, Sehun berlari menuju pembatas jalan. Diantara dua besi yang berjarak, Sehun melewatinya dan segera berlari turun menuju tanah berumput yang akan membawa langkahnya menuju sungai.
Luhan berteriak memanggil nama Sehun, tapi suaranya diabaikan. Sehun masih berlari kencang, Luhan yang kebingungan mempercepat caranya berlari dan ia membulatkan matanya ketika melihat Chanyeol terkapar diatas tanah, menutup matanya rapat , sambil mengumpulkan kekuatan iblisnya.
Luhan berlari dengan cepat, matanya berfokus pada dua objek. Sehun yang berlari menuju tempat kejadian dan Chanyeol yang akan berubah, dengan cepat Luhan mengulurkan tangannya, mengeluarkan sebuah cahaya biru yang melesat dengan cepat kearah Chanyeol, mengenai dada adiknya dan seketika Chanyeol pingsan.
"AAAAARGGGGH" Luhan mengalihkan pandanganya pada Sehun dan kakinya seolah melemas. Disana, beberapa meter dari posisinya berdiri Sehun terlihat mengerikan dengan wujud iblisnya.
Tanduknya terlihat mengacung tegak di atas kepalanya, kulitnya memerah dan bercahaya, giginya berubah menjadi taring-taring tajam, tubuhnya meninggi dan terlihat sangat kekar. Hampir mirip seperti Chanyeol, juga sebuah ekor seperti monyet yang bergoyang.
Semua orang dibuat ketakutan, dan dalam hitungan detik sebelum para manusia itu sempat mencerna apa yang sedang terjadi, Sehun sudah mengeluarkan kekuatannya dan membuat seluruh orang-orang disana terlempar dan menabrak dinding lalu tak sadarkan diri.
Sehun melangkah kearah Baekhyun yang membeku di tempat.
"Hyung?" Baekhyun nampak ketakutan, ketika Sehun merendahkan tubuhnya Baekhyun beringsut mundur. Ia menggeleng pelan, seolah mengatakan agar Sehun menjauh darinya.
Sehun yang tidak mengerti seketika melihat sekelilingnya, dan ia terkejut. Ia menatap tangannya dan semakin terkejut saat tanganya membesar dan berwarna merah bercahaya.
"A..aku?" Sehun terjatuh ditanah dengan shock, ia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Perlahan warna merah ditubuh Sehun menghilang, ekor dan tanduknya juga. Matanya tidak bersinar biru lagi, dan giginya kembali normal.
"KYAAAA!" Baekhyun berteriak, lalu tidak sadarkan diri.
"Hyung?"
"Sehun!" Sehun menoleh dan mendapati Luhan di belakangnya, membungkuk sambil bertumpu pada kedua pahanya dan terlihat terengah.
"Kau cepat sekali dan_ Oh apa ini?" tanya Luhan pura-pura, langkah Luhan berjalan semakin dekat sambil memperhatikan sekitar.
"Saem, aa…aku_"
"Sehun! Yang mana yang harus kita tolong? Aku rasa dia, dan dia. Mereka terlihat seperti korban disini." Ucap Luhan sambil menunjuk Baekhyun dan Chanyeol, mengabaikan ucapan Sehun.
Luhan hanya tidak ingin, Sehun merasa terpuruk dengan perubahannya yang mengejutkan seperti tadi. Karena terlalu fokus pada Chanyeol, Luhan gagal menyelamatkan Sehun.
Flashback Off
…
..
.
Devil Beside Me
Chapter 5
…
..
.
Ketika membuka mata hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamar yang polos. Ia kembali mengerjap dan melihat sebuah titik cahaya yang menarik perhatiannya. Pandanganya masih kabur, dan ia berusaha membuatnya kembali normal.
Mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, dan ia menyadari sesuatu. Ia mengenali kamar ini.
"Chanyeol!" Chanyeol menoleh dan mendapati Baekhyun terduduk didekatnya sambil memasang wajah antara sedih dan lega.
"Baek_" ucapan Chanyeol terputus karena merasakan sakit pada bagian dadanya. Baekhyun menahan tubuh Chanyeol yang hendak bangkit, ia memperbaiki letak bantal Chanyeol.
"Istirahatlah dulu, aku akan_" Chanyeol menahan tangan Baekhyun, Baekhyun menoleh dan ia menggenggam tangan Chanyeol.
"Maafkan aku Chanyeol, dan terima kasih untuk_"
"Kau baik-baik saja?" Baekhyun membulatkan matanya kearah Chanyeol tidak percaya, ketika Chanyeol terluka keras dan nyaris mati, ia masih sempat-sempatnya mengkhawatirkan keadaannya.
"A..aku baik-baik saja." Baekhyun seperti ingin menangis, entah mengapa penyesalannya semakin bertambah. Selama Chanyeol tidak sadarkan diri, satu hal yang Baekhyun sadari, Chanyeol benar-benar ingin berteman dengannya, tidak hanya menginginkan tubuhnya, ataupun memanfaatkannya seperti orang-orang yang pernah ia kenal.
"Apa mereka_" Chanyeol menjeda ucapannya, tapi Baekhyun tahu arti raut wajah Chanyeol.
"Tidak, mereka tidak berhasil menyentuhku. Kita diselamatkan sebelum mereka menyentuhku." Ucap Baekhyun dengan wajah tertunduk.
"Diselamatkan? Siapa yang menyelamatkan kita?" tanya Chanyeol bingung.
"Aku." Suara itu membuat kedua orang di dalam ruangan itu menoleh. Menatap sosok yang berdiri di ambang pintu sambil tersenyum. Baekhyun menganggukan kepalanya memberi hormat, sementara Chanyeol membulatkan matanya tidak percaya.
"K_Kau?"
"Apa ada yang salah dengan penampilanku?" Disana, diambang pintu. Luhan berdiri dengan kedua tangan mendongak ke udara, dan wajah kebingungan. Chanyeol mengerutkan keningnya menatap kearah Luhan dengan tatapan tidak suka.
"Jangan memberiku tatapan seperti itu bodoh! Ingat aku baru saja menyelamatkan nyawamu." Luhan mengirimkan pesan melalui telepatinya.
"Aku tidak pernah meminta bantuanmu, aku bisa menyelesaikannya seorang diri." Balas Chanyeol masih dalam diam, hanya pikiran mereka yang saling berkirim pesan.
"Oh, dengan memperlihatkan siapa dirimu sebenarnya? Dasar iblis!" bentak Luhan.
"Ya, itu aku. Dan untuk apa kau muncul di hadapan Baekhyun?" tanya Chanyeol balik dengan kesal, Luhan tersenyum menaikkan satu alisnya.
"Oh! Baekhyun sshi. Aku rasa lelaki ini masih belum sadar sepenuhnya. Dia menatapku seolah aku adalah makhluk luar angkasa." Ucap Luhan pada Baekhyun yang terlihat kebingungan dengan keterdiaman dua orang dihadapannya.
"O..Oh. Benarkah?" tanya Baekhyun lembut, Chanyeol menatap Luhan dengan wajah kesal.
"Brengsek kau Luhan!" ucap Chanyeol.
"Ya, itu aku." Sahut Luhan dalam diam.
Mata Chanyeol membulat ketika jemari kecil Baekhyun menyentuh keningnya.
"Apa kau masih belum sadar Chanyeol?" suara Baekhyun terdengar sangat lirih. Chanyeol mengalihkan pandangannya ke Baekhyun.
"A..aku sudah sadar. Hanya sedikit pusing."
"Oh lihat! Si iblis mulai berakting. Eeeuh~ menjijikan. Terakhir aku dengar seseorang berkata tidak membutuhkan seorang Byun Baekhyun dalam hidupnya, tapi lihat sekarang wajahnya_"
"ENYAH KAU SI BRENGSEK LUHAN SIALAN!" bentak Chanyeol dalam hati. Terdengar Luhan terkikik, lalu segera meninggalkan kamar Baekhyun.
"Si Brengsek Sialan yang tidak punya hati dan munafik yang juga suka meniduri manusia, baru saja mengataiku. Hahahaha_" walau Luhan sudah meninggalkan kamar, namun ia masih bisa bertelepati dengan Chanyeol.
"ENYAH ATAU AKU BENAR-BENAR AKAN MEMBAKARMU LUHAN!" bentak Chanyeol dengan sangat keras membuat telinga Luhan nyaris tuli, lalu dengan segera ia mematikan signal telepati mereka.
"Ma…maafkan aku Chanyeol." Wajah Baekhyun tertunduk sangat dalam, seolah penyelesan menekan kepalanya dengan sangat keras.
"A..aku pikir kau ti…tidak akan datang. A….aku pikir kau benar-benar a..akan menjauhiku." Sambung Baekhyun lagi dengan suara gemetar. Chanyeol menatap Baekhyun.
"Aku pikir juga aku akan melakukannya, tapi_" Chanyeol mengangkat dagu Baekhyun.
"Tapi aku tidak bisa untuk mengabaikanmu." Ucap Chanyeol lalu tersenyum, Baekhyun membalas senyuman Chanyeol dengan mata yang berkaca-kaca.
"Jadi?" Tanya Chanyeol, Baekhyun menaikkan alisnya tidak mengerti.
"Jadi sekarang apa kita berteman?" Mata Baekhyun membulat, ia menggigit bibir bawahnya berpikir sebentar sebelum akhirnya mengangguk pelan.
"Teman." Ucapnya sambil tersenyum.
…
..
.
Sehun duduk di dalam kamarnya, ia terlihat begitu shock dengan kejadian semalam. Setelah membawa kakaknya dan seorang lelaki asing yang menurutnya teman kakaknya, Sehun langsung mengurung diri di dalam kamar.
"Sebenarnya siapa aku?" gumamnya lagi. Entah sudah keberapa kali ia mengucapkan kata-kata itu.
"Sehun?" Sehun menoleh kearah pintu, ia kenal suara itu.
"Bolehkah aku masuk?" itu adalah Luhan, guru dan satu-satunya orang yang benar-benar baik padanya tanpa ikatan darah.
Dengan perlahan Sehun bangkit, membuka kunci pintu lalu kembali duduk. Luhan membuka pintu dan mencoba tersenyum kearah Sehun yang memilih menatap spreinya.
"Hei! Ada apa denganmu? Kenapa tidak sekolah hari ini?" tanya Luhan sambil mengambil duduk.
"Apa kau sakit?" tanya Luhan dengan wajah cemas dibuat-buat.
"Biar aku periksa." Luhan meletakkan punggung tangannya di kening Sehun, dan bertingkah seolah-olah sedang mengukur suhu badan Sehun. Sehun menampik pelan tangan Luhan.
"Aku baik-baik saja, Hanya sedang tak ingin datang ke sekolah." Sahutnya singkat.
"Ei~ mana ada seperti itu? Lalu jika aku sedang tak ingin bekerja, maka aku tidak akan datang ke sekolah juga?" Sehun menatap Luhan lalu menghela nafas.
"Ada apa? Ceritakan!"
"Aku baik-baik saja. Lagipula untuk apa saem kemari?"
"Kau tidak muncul dikelas, sebagai pelatih pribadimu tentu aku harus memeriksa apa yang terjadi padamu."
"Terima kasih saem, tapi sebaiknya saem pulang! Aku sedang ingin sendiri." Ucap Sehun. Mendadak senyum Luhan hilang, ia memajukan bibirnya, menundukan wajahnya sedih.
Sehun melirik sebentar, ia sebenarnya tidak tega tapi ia sedang ingin sendiri. Luhan menghela nafas lalu bangkit.
"Baiklah, jika kau mau sendiri. Aku_" Luhan menjeda ucapannya ketika Sehun menggenggam tangannya, menahan kepergiaannya.
"Saem, bagaimana bila kita tidak tahu siapa diri kita sebenarnya?" tanya Sehun, Luhan tediam lalu kembali duduk.
"Itu wajar. Di masa remaja, setiap orang akan merasakan yang namanya pencarian jati diri. Mereka sering bingung dengan diri mereka sendiri, tidak tahu identitas mereka yang sebenarnya."
"Tidak saem, ini berbeda. Seperti… ah sudahlah! Aku tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya." Ucap Sehun frustasi.
"Seperti memiliki kekuatan super maksudmu? Seperti tokoh Superman dan Spiderman?" tanya Luhan, Sehun kembali menatap Luhan lalu mengangguk antusias.
"Hahahaha.. itu keren asal kau tahu. Aku selalu berharap diriku adalah seorang Superman, atau Spiderman dengan jarring laba-labanya, dan_"
"Ini berbeda, tidak keren sama sekali. Malah, sangat mengerikan." Potong Sehun cepat. Luhan menghentikan tawanya. Ia menepuk pundak Sehun.
"Apa kau pikir Superman dan Spiderman merasa kekuatan mereka keren diawal?" tanya Luhan, Sehun tidak memberikan respon hanya menantikan kelanjutan ucapan gurunya.
"Tidak! Mereka tidak menganggap itu keren, malah mereka ingin kekuatan itu hilang, namun setelah menyadari itu sebuah takdir, mereka merubah sudut pandang mereka dan menganggap bahwa itu adalah sebuah anugrah. Sehun, jadikan hal-hal yang terjadi dalam hidupmu adalah sebuah anugrah, maka kau tidak akan pernah membenci atau menyesali kelahiranmu." Ucap Luhan, Sehun terdiam. Ia membasahi bibirnya yang kering lalu menghela nafas lagi.
"Mau aku tunjukan sesuatu?" tanya Luhan, Sehun mengangkat kepalanya.
"Ketika aku berkata bahwa kita ini hampir sama, aku rasa itu sungguhan. Mari aku tunjukan!" Luhan menunjuk sebuah buku diatas meja, lalu dalam hitungan detik buku itu berpindah ketangannya.
Sehun membulatkan mata dan bibirnya tidak percaya.
"Lihat sekali lagi!" ucap Luhan lalu menunjuk jendela dan jendela kamar Sehun tertutup rapat.
"Saem, ka..kau.."
"Iya, aku rasa kita sama. Aku memiliki kekuatan super juga, aku harap kau merahasiakan ini." Ucap Luhan lagi, Sehun mengangguk pelan. Ia masih tidak percaya bahwa gurunya juga memiliki kekuatan supranatural.
"Lalu kau? Mana kekuatanmu?" tanya Luhan sambil menaikkan satu alisnya. Sehun memajukan bibirnya dan berpikir.
"A..aku tidak tahu bagaimana cara mengeluarkannya. Dia muncul tiba-tiba saat emosiku tidak terkendali."
"Kau berbohong!" ucap Luhan, Sehun menggeleng.
"Aku berkata jujur!"
"Coba buktikan!"
"Aku tidak bisa saem! Aku harus dalam keadaan emosi yang buruk, seperti marah misalnya." Sahut Sehun lagi.
"Sini aku buat kau menjadi marah." Luhan segera menerjang tubuh Sehun dan menggelitik pinggang Sehun hingga terdengar suara terkikik dari Sehun yang mencoba menjauhkan tangan Luhan.
"Hentikan! Yak! Yak! Geli saem!" bentak Sehun tapi Luhan tetap menggelitik pinggang Sehun, dengan kekuatan maksimal Sehun menahan tangan Luhan lalu mendorongnya kebelakang, menindih tubuh gurunya .
Luhan menghentikan kegiatannya dan ia menatap mata Sehun yang berada sangat dekat dengannya. Sehun juga sama, ia terdiam memperhatikan wajah Luhan yang begitu dekat dan berusaha menelan ludahnya.
Sehun beralih ke bibir Luhan yang membuat jantungnya berdetak, dan dalam hitungan detik permukaan bibir itu bersentuhan. Hanya saling menyentuh tidak lebih. Sehun merasakan betapa lembutnya bibir yang pernah ia raba itu.
"Maaf." Sehun mendorong tubuhnya menjauh dan segera bersandar pada kepala ranjang, lalu membuang wajahnya. Luhan yang sama terkejutnya, berusaha bangkit dengan pandangan kosong.
"Ki..kita berciuman?" gumam Luhan pelan sambil menyentuh bibirnya.
…
..
.
Chanyeol meringis ketika Baekhyun mengobati luka di wajahnya. Kemarin Kibum sudah mengobati keduanya, namun karena bagi Baekhyun luka Chanyeol parah maka ia menambahkan lagi obat baru.
Ringisan Chanyeol membuat Baekhyun merasa bersalah, sesekali Baekhyun menghentikan sentuhan kapasnya pada sudut mata Chanyeol.
"Karena aku kau jadi_" Chanyeol meletakkan telunjuknya dipermukaan bibir Baekhyun.
"Jangan dibahas lagi, aku tidak apa-apa, hanya luka kecil. Seorang teman akan berkorban apapun untuk temannya." Ucap Chanyeol sambil mencoba tersenyum,lalu kembali meringis ketika merasa kulitnya merenggang. Chanyeol benci harus berpura-pura menjadi manusia, jika dia dalam wujud iblis, luka-lukanya akan hilang seketika.
Baekhyun mengangguk dan ikut tersenyum, ia tidak meragukan Chanyeol lagi. Setelah apa yang Chanyeol lakukan semalam padanya, sudah cukup untuk membuat Baekhyun yakin bahwa Chanyeol memang tulus ingin berteman dengannya.
"Lukamu juga harus diobati." Ucap Chanyeol lalu mengambil alih kapas dan obat yang dipegang Baekhyun.
"Ti..tidak. Aku bisa sendiri!"
"Seorang teman tidak boleh menolak niat baik temannya." Ucap Chanyeol dan Baekhyun kembali tersenyum. Chanyeol menuangkan obat cair itu ke kapas, lalu mengarahkannya ke sudut bibir Baekhyun.
Walau ada beberapa luka memar kecil di beberapa bagian wajah Baekhyun, tapi bagi Chanyeol, Baekhyun tetaplah cantik dan indah.
"Aaakh!" Baekhyun meringis ketika tangan Chanyeol menekan terlalu kencang. Chanyeol menjauhkan tangannya, dan mengerutkan keningnya. Entah mengapa ia merasa ringisan Baekhyun seperti sebuah desahan.
Sial. Ia mulai merasakan sesuatu bergejolak dalam tubuhnya. Ia mengalihkan pandanganya, membuat Baekhyun mengernyit.
"Ada apa?" tanya Baekhyun. Chanyeol masih membuang wajahnya.
"Ti..tidak. A…aku hanya terkejut mendengarmu berteriak, aku pikir aku terlalu keras menekan lukamu." Ucap Chanyeol.
"Tidak kau sudah melakukan dengan lembut hanya saja rasanya memang sangat perih." Baekhyun mencoba tersenyum. Chanyeol kembali mengarahkan kapasnya, dan kali ini ia bersumpah akan jauh lebih pelan.
"Aaakh!" sial. Chanyeol mengumpat tanganya yang tidak bisa berlaku lembut. Baekhyun menutup matanya, menahan tangan Chanyeol ketika melihat rasa bersalah diwajah Chanyeol.
Chanyeol terkejut melihat tangannya ditahan oleh Baekhyun.
"Lakukan saja, aku tidak akan menjerit lagi, aku akan menahan sakitnya. Tapi lakukan dengan pelan." Ucap Baekhyun, Chanyeol tersenyum lalu melempar kapasnya. Ia mendekatkan wajahnya kearah Baekhyun, lalu meraih bibir Baekhyun.
Chanyeol tahu maksud Baekhyun adalah mengobati lukanya, tapi masa bodoh. Bagi Chanyeol, Baekhyun baru saja memberikannya izin untuk melakukan sesuatu yang lain. Jangan salahkan hasrat Chanyeol, salahkan ucapan Baekhyun yang begitu ambigu. Dan perlu diingat, iblis tidak pernah salah, sekalipun mereka salah.
Baekhyun membuka matanya terkejut ketika merasakan sesuatu yang hangat menyentuh permukaan bibirnya, ia seharusnya melawan dan mendorong tubuh Chanyeol tapi ia tidak mengerti dengan sistem kerja tubuhnya yang malah diam dan menerima semua perlakuan Chanyeol.
Permukaan bibir Baekhyun mulai terbuka, dan Chanyeol menyelipkan lidahnya ke dalam rongga mulut Baekhyun. Mencari daging lunak yang akan menjadi partner bertarungnya.
Ketika Chanyeol menemukannya, ia mendorong lidah itu semakin dalam, terkadang mengaitkannya dan terkadang menyedotnya dengan cukup kuat. Ketika dirasa ciuman mereka terlalu dalam, dan rasa perih di luka bibir masing-masing mulai tidak bersahabat Chanyeol memilih menghentikan acara bertarung lidahnya.
Ia memilih untuk menghisap pelan kedua permukaan bibir Baekhyun secara bergantian. Jemari Chanyeol menyelip diantara helaian rambut Baekhyun, sementara tangan Baekhyun bergelantung pada kedua lengan kokoh Chanyeol.
Ciuman mereka begitu lembut dan sangat pelan, Chanyeol merasa ini adalah ciuman terpayah nya namun merupakan ciuman termanis seumur hidupnya. Sementara Baekhyun, ini adalah ciuman keduanya yang berkesan tidak jauh berbeda dengan ciuman pertamanya, hanya saja perih di bibirnya menjadi sensasi tersendiri.
Baekhyun mendorong dada Chanyeol pelan dan segera membuang wajahnya. Chanyeol tersenyum memperhatikan wajah Baekhyun yang memerah.
"Ki..kita berci..ciuman lagi" ucap Baekhyun gugup, suaranya bahkan terdengar bergetar.
"Benar. Ini ciuman kedua kita, apa ada masalah?" tanya Chanyeol lembut, sambil mengusap pelan rambut Baekhyun.
"Bukankah kita hanya…hanya teman?" Chanyeol terdiam, kemudian kembali menjawab.
"Benar kita teman. Ciuman berarti sebuah bentuk dari kasih sayang, aku menyayangimu sebagai temanku Baekhyun, apa itu salah?" Baekhyun mengangkat wajahnya menatap ke arah mata Chanyeol, dan ia menggeleng pelan.
"Ti..tidak. Ta…tapi_"
"Aaaah~ aku lapar sekali." Ucap Chanyeol mengalihkan pembicaraan, Baekhyun segera tersadar dan memutuskan untuk mengungkapkan bentuk protesnya.
"Ibu sebentar lagi pulang, dan ibu bilang akan membeli beberapa bahan makanan sebelum pulang." Ucap Baekhyun, Chanyeol mengangguk lalu merebahkan tubuhnya.
"Baekhyun!" Chanyeol menahan tangan Baekhyun yang hendak bangkit.
"Bisakah kau berbaring disampingku dan temani aku? Aku merasa kesepian di dalam kamar ini sendiri." Ucap Chanyeol dengan memasang wajah bersedih, Baekhyun berpikir sebentar keningnya berkerut.
"Sebagai teman. Aku berjanji tidak akan melakukan lebih." Ucap Chanyeol lagi membuat Baekhyun menyetujui ucapannya. Chanyeol menggeser tubuhnya ketika Baekhyun naik keatas ranjang, dibawah selimut yang sama mereka berbagi kehangatan.
"Baekhyun? Apa benar kemarin mereka tidak berbuat yang macam-macam padamu? Mereka tidak menyentuhmu kan? Mereka tidak memperkosamu?" tanya Chanyeol pelan.
"Tidak. Mereka tidak melakukannya, tapi_" Baekhyun menjeda ucapannya, mengingat kejadian semalam sama dengan membangkitkan rasa takutnya ketika melihat perubahan wujud Sehun.
"Tapi apa?"
"Ah tidak. Aku salah bicara. Sekarang kau istirahatlah!" ucap Baekhyun, Chanyeol mengangguk ia segera memeluk tubuh Baekhyun erat,membuat Baekhyun terkejut dan menegang. Wajah Chanyeol berada di ceruk lehernya, sementara lengan kekarnya melingkar di perutnya.
"Chan…Chanyeol?"
"Aku tidak berbuat lebih, aku berjanji. Aku hanya membutuhkan sebuah pelukan Baek." Bisik Chanyeol, dan Baekhyun memilih diam.
…
..
.
Ketika langit berubah menjadi kemerahan, dan masuk melalui celah jendela kamar. Baekhyun mengerjapkan matanya, mengintip kearah jendela yang ternyata sudah berubah sore. Saat menoleh kesamping ia mendapati wajah Chanyeol yang begitu dekat, ditambah tubuhnya yang dipeluk erat.
Baekhyun sebenarnya ingin protes, ia tidak suka jika tubuhnya disentuh sembarangan. Tapi bila itu Chanyeol , Baekhyun merasa berbeda ada sebuah perasaan nyaman dan hangat yang menyelimuti tubuhnya.
"Eemmhh.." Chanyeol mengerang sambil merengangkan otot tubuhnya, Baekhyun menggunakan kesempatan itu untuk bangkit.
"Bangunlah! Ini sudah sore." Ucap Baekhyun. Chanyeol membuka matanya dan tersenyum.
"Ini adalah tidur sore paling nyaman yang pernah aku rasakan." Ucap Chanyeol dengan suara beratnya. Baekhyun tidak memberikan respon ia segera memijakan kakinya diatas lantai.
"Ayo turun! Aku rasa ibu sudah pulang." Ucap Baekhyun. Chanyeol mengangguk dan segera mengikuti langkah Baekhyun.
Ketika menginjakkan kaki pada anak tangga terakhir, Chanyeol melihat Kibum sedang menyiapkan makanan dan menyambut dengan sebuah senyuman.
"Ayo makan bersama, aku akan membuatkan makanan yang lezat untuk kalian semua." Ucap Kibum, Chanyeol mengangguk dan Baekhyun memilih membantu ibunya. Ketika akan berjalan menuju dapur, Chanyeol tak sengaja menangkap dua sosok diruang tengah yang sedang asyik mengerjakan sesuatu.
Chanyeol tahu itu adalah Luhan, dan seorang anak lelaki yang asyik mencoret-coret kertas. Mata Chanyeol membulat , itu adalah anaknya. Chanyeol lebih tercekat ketika anak itu tiba-tiba menoleh kearahnya dan mata mereka bertemu.
Alis keduanya berkerut, mata mereka memancarkan ketidaknyamanan dan berjuta pertanyaan. Sampai akhirnya Luhan menyadari Sehun tidak memperhatikannya, ia menoleh kearah pandang Sehun dan menemukan Chanyeol berdiri disana membeku.
"Ah, akhirnya selesai. Ayo semua kita makan!" ucapan Kibum membuat Chanyeol tersadar. Ia segera mengambil duduk disamping Baekhyun, dan tak lama Luhan dan Sehun datang. Mata mereka masih saling menatap, sebuah kebetulan Sehun duduk dihadapannya.
"Sehun! Tidak baik melihat orang seperti itu!" ucap Kibum, Sehun segera memutuskan tatapannya. Chanyeol berdeham lalu tersenyum canggung.
"Aku bersyukur kalian baik-baik saja." Kibum berucap sambil mengambil duduk sebagai kepala keluarga.
"Terima kasih bi, aku diperbolehkan menginap disini." Ucap Chanyeol. Kibum tersenyum sambil menggeleng kecil.
"Baekhyun sudah menceritakan semuanya, terima kasih karena kau sudah mau menyelamatkan Baekhyun. Jika Baekhyun tidak melarangku, aku pasti sudah melaporkan bajingan-bajingan itu pada polisi." Ucap Kibum setengah kesal.
"Tidak apa-apa bi. Baekhyun adalah temanku, sudah seharusnya aku menolongnya." Ucap Chanyeol sambil tersenyum. Sehun menatap Chanyeol lagi, sebuah pandangan yang membuat Chanyeol merasa tidak nyaman.
"Oh aku belum memperkenalkan diri disini." Ucap Luhan, mengalihkan suasana tidak mengenakan antara Chanyeol dan Sehun.
"Aku Xi Luhan, guru seni sekaligus guru lukis pribadi Sehun." Ucap Luhan sambil sedikit membungkuk. Chanyeol menaikkan satu alisnya menatap wajah sok ramah kakaknya.
"Mungkin Baekhyun sshi, belum mengenalku. Kita tidak pernah bertemu ketika aku sedang mengajar Sehun." Dan Baekhyun hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Aku Park Chanyeol, teman Baekhyun." Ucap Chanyeol sambil tersenyum, pandangan Sehun kembali teralih pada Chanyeol, keningnya setia berkerut.
" Apa lukamu sudah membaik?" tanya Luhan pada Chanyeol, Chanyeol berdecih sebentar lalu berpura-pura mengangguk.
"Terima kasih Luhan sshi, berkat anda aku selamat." Chanyeol nyaris muntah ketika mengatakannya, dan Luhan memutar bola matanya malas sebelum akhirnya memilih untuk tersenyum.
"Apa Hyung tidak apa-apa?" tiba-tiba suara Sehun menginterupsi kegiatan mereka. Baekhyun yang sedang mengambil nasi menghentikan kegiatannya, ia menatap Sehun sekilas lalu membuang wajahnya. Benar-benar sikap yang dingin.
"Hm." Sahut Baekhyun ketus. Sehun menundukan arah pandangnya, ia merasa sedih dan kecewa. Bentuk perhatiannya yang tulus tetap tidak diterima oleh kakaknya.
Luhan melirik kearah Sehun dengan pandangan iba, Chanyeol nampak terkejut dengan sikap Baekhyun yang ternyata begitu membenci putranya. Chanyeol pikir ketika Luhan berkata bahwa Baekhyun tidak menerima kehadiran putranya, hanyalah sebuah cerita yang dilebih-lebihkan namun kini ia melihat langsung, bagaimana Baekhyun membenci Sehun, dan itu berarti Baekhyun juga membenci dirinya.
"Ah, ayo kita mulai makan. Sepertinya ini enak." Ucap Chanyeol. Ketika Kibum menyendokkan nasi kearahnya, Chanyeol merasakan mual. Ia hanya ingin memakan daging, tidak yang lain.
"Ayo dimakan yang banyak!" ucap Kibum. Chanyeol mengernyit menatap nasinya, melihat itu Baekhyun mengambil nasi di piring Chanyeol dan menggantinya dengan daging.
"Ibu, Chanyeol tidak bisa makan nasi dan sayur." Ucap Baekhyun membuat Kibum membelalakan matanya tak percaya.
"Benarkah?"
"Benar bi, aku tidak bisa makan nasi dan sayur. Karena sejak kecil aku tinggal di luar negri, disana aku selalu makan daging." Ucap Chanyeol.
"Ah, pantas saja tubuhmu tinggi dan kekar begini. Kalau begitu makan saja yang banyak, kebetulan aku membuat banyak masakan berdaging. Luhan sshi, anda sebaiknya makan juga!" ucap Kibum sambil menatap Luhan, Luhan tersenyum canggung. Ia juga tidak bisa memakan nasi dan sayur.
"Ah,baik Nyonya." Ucap Luhan dengan wajah dipaksakan tersenyum. Ia mulai mengambil beberapa potong daging dan meletakkanya diatas piring, Sehun memperhatikan dengan kening berkerut.
"Saem, tidak ingin nasi?" tanya Sehun dan semua mata beralih menatap Luhan.
"Hmm, aku memiliki penyakit sejak kecil, tubuhku sulit untuk tumbuh. Itu mengapa dokter memintaku untuk mengkonsumsi daging lebih banyak, karena terlalu sering tubuhku jadi menolak benda lain selain daging." Bohongnya. Chanyeol menyeringai mendengar penuturan bodoh kakaknya.
"Oh benarkah? Wah, lain kali aku harus memasak banyak daging sepertinya." Ucap Kibum sambil tertawa. Chanyeol ikut tertawa, malah suara tawanya paling mendominasi seolah mengejek alasan bodoh kakaknya.
Tapi saat Sehun kembali menatapnya, Chanyeol menelan suara tawanya. Chanyeol mengumpat dalam hati, bocah dihadapannya memang membencinya sejak berada di dalam perut ibunya.
…
..
.
Pagi harinya sekolah nampak geger dengan kasus perkelahian yang menyebar dengan cepat. Mereka begidik ngeri saat mendengar geng Serigala Barat dibantai habis-habisan, bahkan ketua geng itu, Taecyeon, yang terkenal dengan kekuatan dan ilmu bela dirinya harus mendapat perawatan di rumah sakit akibat cedera dan mengalami sedikit trauma.
Tidak hanya Taecyeon, anak buahnya juga terluka parah dan menurut kabar yang meredar mereka membicarakan tentang makhluk mengerikan yang muncul di malam kejadian.
Pihak sekolah menutup diri dari para wartawan yang mencoba mencari informasi, mereka menegaskan bahwa urusan diluar sekolah bukan menjadi tanggung jawab sekolah, dan pihak sekolah tidak mengetahui apapun tentang geng-geng yang ada disekolah mereka.
Baekhyun berjalan dengan perlahan di koridor sekolah, mengeratkan pegangannya pada tali tas ranselnya. Mendengar para siswa yang berbisik di koridor membuat Baekhyun menjadi minder.
Bukannya terlalu percaya diri, hanya saja hidup menjadi bulan-bulanan dan bahan pembicaraan setiap lewat membuat Baekhyun menjadi pribadi yang sulit untuk berpikir positif bila ada yang berbisik atau berbicara di belakangnya, sekalipun itu tidak ditujukan untuknya.
"Baekhyun!" belum sempat Baekhyun menoleh, Chanyeol telah menyelipkan jemarinya diantara celah jemari Baekhyun.
"Kau berjalan sangat cepat, kau bahkan meninggalkanku." Ucap Chanyeol. Baekhyun tidak menjawab ataupun memberi respon, ia hanya tetap melanjutkan langkahnya.
Pintu kelas terbuka dan beberapa pasang mata menatap mereka sebentar lalu kembali melanjutkan obrolan mereka. Chanyeol tersenyum, semenjak kehadirannya Baekhyun tidak pernah menjadi bahan pembicaraan lagi. Mereka lebih fokus pada berita-berita janggal yang selalu terjadi pada siswa ataupun siswi disekolah mereka.
Mereka menuju bangku mereka, dan memilih mengambil duduk. Baekhyun sibuk menyiapkan bukunya sementara Chanyeol memilih memperhatikan wajah Baekhyun yang menurutnya semakin hari semakin cantik.
"Oppa!" Chanyeol memutar bola matanya malas, ia memutar kepalanya tanpa minat dan menghela nafas melihat tiga orang siswi junior tersenyum lebar kearahnya.
"Ada apa?" tanya Chanyeol malas, ketus dan dingin. Sikap yang selalu ia tunjukan pada orang-orang yang suka merayunya. Chanyeol heran, padahal ia sudah sangat dingin tapi kenapa mereka masih tetap mengagumi dirinya.
"Oppa, aku dengar sabtu malam oppa terlibat perkelahian. Aku sangat khawatir oppa, untung kemarin hari Minggu jadi oppa bisa beristirahat." Ucap salah satu gadis dengan rambut dijalan kesamping.
"Iya, aku juga merasa sangat khawatir. Dan astaga! Lihat! Wajah oppa memar." Gadis lain hendak memegang pipi Chanyeol, tapi Chanyeol menahan tangan gadis itu.
"Jangan berani menyentuhku! Aku tidak suka disentuh orang lain." Ucap Chanyeol tegas sambil menghempaskan tangan gadis itu.
" Maaf." Gadis itu tertunduk, dan kedua temannya menyikunya karena tindakan yang terlalu berani yang ia perbuat.
"Pergilah! Jangan merusak hariku." Ucap Chanyeol mempertahankan wajah dinginnya.
"Oh iya sebelum pergi, aku ingin bertanya . Apakah oppa, kosong setelah pulang sekolah?" tanya gadis terakhir yang berkuncir kuda. Chanyeol melirik Baekhyun yang malah asyik melihat keluar jendela.
"Maaf." Chanyeol menarik tangan Baekhyun, mengenggamnya lalu mengecup punggung tangan Baekhyun, membuat Baekhyun terkejut begitu juga tiga gadis lainnya.
"Siang ini aku ada acara dengan Baekhyun, kami akan pergi menonton." Ucap Chanyeol sambil menyeringai. Ketiga gadis itu berdecak sambil menatap tidak suka kearah Baekhyun.
"Apa yang oppa suka dari lelaki ini?" bentak salah seorang gadis, yang memegang wajah Chanyeol tadi, sepertinya dia yang paling keras kepala.
Chanyeol menaikkan satu alisnya. Mengalungkan lengannya pada pundak Baekhyun, satu tangannya yang lain memegang pipi Baekhyun lalu memutarnya kearah tiga gadis dihadapannya.
"Tidakkah kau bisa lihat dia begitu cantik? Dia cantik alami, tidak seperti kalian yang mengubah bentuk wajah kalian dari aslinya, dan menggunakan terlalu banyak benda aneh yang membuat kalian begitu mengerikan. Jika di neraka, kalian akan berada di tingkat empat. Dengan catatan, tidak menghargai pemberian Sang Pencipta." Ucap Chanyeol angkuh. Ketiga gadis itu nampak kesal.
"Oppa menyakiti perasaan kami." Ucap salah satu gadis dari ketiganya dan diangguki oleh dua lainnya, lalu mereka memilih berlari keluar kelas dengan wajah sedih dan isakan kecil.
Chanyeol tersenyum. Baekhyun melepaskan tangan Chanyeol yang berada dipipinya, lalu menjauhkan tubuhnya.
"Tadi itu sangat kasar, kau tidak bisa mengatakan itu pada orang yang menyukaimu." Ucap Baekhyun pelan, Chanyeol menoleh.
"Tapi mereka mengusikku." Protes Chanyeol dan Baekhyun hanya menghela nafas, sampai seorang guru berjalan masuk dan membuat keadaan kelas menjadi sepi.
…
..
.
Mereka duduk dikantin, di dekat jendela seperti kesukaan Baekhyun. Baekhyun terlihat makan dengan damai, sementara Chanyeol mengutuk makanan dihadapannya. Benda berbulir berwarna putih, serta daun berwarna hijau dan berkuah. Chanyeol benci melihat kedua benda itu selalu mengisi piringnya, sementara irisan daging sangat sedikit.
Jika terus begini, ia harus sering-sering menyelinap untuk bisa makan ke Infernus. Dan itu membuatnya kerepotan, ditambah waktu untuk menjaga Baekhyun berkurang.
"Ini!" ucap Baekhyun sambil memberikan potongan dagingnya pada Chanyeol, Chanyeol menggeleng. Jika Baekhyun tidak makan daging, bisa-bisa tubuh Baekhyun semakin kurus dan tidak bergizi.
"Tidak, makan saja!"
"Aku tahu kau tidak bisa memakan nasi dan sayurnya, lain kali kau bisa meminta pihak dapur sekolah untuk membuatkanmu makanan spesial, tapi kau harus membayar lebih."
"Benarkah aku boleh melakukanya?"
"Tentu, selama kau memiliki uang." Ucap Baekhyun dan Chanyeol tersenyum. Ia segera bangkit membawa nampannya dan berjalan kearah konter makanan.
"Hei! Bibi! Bisakah kau berikan aku daging saja mulai sekarang? Aku tidak suka nasi dan sayur!" ucap Chanyeol angkuh, bahkan ia memotong baris antrian.
"Memangnya kau sia_" ucapan wanita perawan tua itu terhenti saat Chanyeol menyodorkan sejumlah uang dalam nominal besar dari dompetnya dan meletakkannya diatas meja. Baik wanita penjaga dan siswa yang mengantri membelalakan matanya.
"Baiklah! Kau tinggal katakan saja!" Chanyeol tersenyum angkuh ketika piringnya diisi lebih banyak daging, bahkan hingga penuh. Chanyeol tertawa dalam hati, manusia adalah makhluk terbodoh yang terlihat sok pintar, dan makhluk terlemah yang mencoba terlihat kuat. Padahal hanya diberikan kertas berangka yang menurut Chanyeol tidak ada harganya, dan Chanyeol bisa mendapatkan keinginannya.
Jika di dunianya, mendapatkan sebuah keinginan tidak hanya bisa dengan menyodorkan sebuah kertas berangka, tapi kau harus mendapat kepercayaan atau paling tidak kau memiliki posisi yang tinggi. Yah, seperti dirinya mungkin, seorang Pangeran iblis.
Tapi karena ditakdirkan memiliki ibu Malaikat berhati iblis, posisi saja tidak cukup untuk mendapatkan keinginannya, karena orang yang paling Chanyeol benci itu tidak akan membiarkan anaknya senang dengan mudah, itulah ibunya.
Ketika Chanyeol berbalik senyum sumringahnya hilang berganti dengan wajah emosi dan marah. Disana, ditempat Baekhyun duduk ada empat orang lelaki yang mengambil duduknya, dan yang lebih membuat kesal, dua diantaranya menggoda Baekhyun.
Chanyeol mempercepat langkahnya, ia tidak tahu peringatan seperti apalagi yang harus ia berikan pada orang-orang yang sangat suka mendekati Baekhyun-nya.
"Apa yang kalian lakukan?" bentak Chanyeol.
"Oh kau si murid baru yang katanya hebat itu kan?" tanya salah satu dari mereka.
"Apa mau kalian?"
"Tidak ada, kami hanya sedang mengunjungi lelaki cantik ini. Kami sedang melakukan negosisasi harga." Ucapnya lagi, yang Chanyeol yakin adalah ketuanya. Chanyeol mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Harga apa?" tanya Chanyeol dingin. Si banyak bicara membuat ekspresi terkejut.
"Oh, kau tidak tahu? Lalu bagaimana kau bisa berada disampingnya terus menerus?" tanyanya. Chanyeol melirik Baekhyun yang memilih tertunduk.
"Kau tidak melakukan negosiasi? Oh lihat! Ya~ Baekhyunnie, kenapa kau kejam sekali. Kau menolakku padahal aku sudah memberikan harga tinggi, tapi dengan lelaki ini, kau memberikannya secara gratis. Apa dia begitu memuaskan?"
Chanyeol mengeraskan rahangnya, ia baru tahu harga apa yang dimaksud dengan lelaki banyak bicara di depannya.
"Brengsek! Menyingkir darinya!" Bentak Chanyeol menarik kerah belakang lelaki yang kini menggoda Baekhyun lebih berani.
"Oh, santai kawan. Kita partner disini, kita sama-sama memerlukan lubangnya untuk membuat kita orgasme."
"BAJINGAN!" Chanyeol berteriak kencang membuat terkejut penghuni lain, Chanyeol mencengkram kerah lelaki dihadapanya, dan siap memberikan pukulan jika saja jemari Baekhyun tidak menyentuh tangannya dengan lembut.
Chanyeol menatap Baekhyun, dan Baekhyun menggeleng. Dengan emosi yang mulai mereda Chanyeol melepaskan cengkramannya dan mendorong tubuh lelaki itu hingga terjatuh kelantai, dan membirkannya pergi.
"Kenapa menahanku?" tanya Chanyeol kesal sambil mengambil duduk disamping Baekhyun.
"Aku tidak ingin perkelahian, aku ingin ketenangan." Ucap Baekhyun masih tertunduk. Ia memainkan sendoknya diatas makanan.
"Baekhyun! Lihat aku!" ucap Chanyeol sambil memegang kedua pundak Baekhyun, membuat lelaki yang lebih kecil menatap kearahnya.
"Manusia hanya akan jera ketika dihantam sesuatu, kata-kata tidak akan mempan untuk mereka." Ucap Chanyeol menyakinkan Baekhyun.
"Aku tahu, tapi aku juga seorang manusia yang menginginkan hari-hariku tenang dan damai. Hanya itu Chanyeol, apa aku tidak bisa mendapatkannya?" Chanyeol cukup terkejut melihat mata Baekhyun yang berkaca-kaca. Chanyeol menarik kepala Baekhyun dan mendaratkannya diatas dadanya, mendekap tubuh bergetar itu dengan hangat dan lembut. Membuat beberapa pasang mata memperhatikan mereka.
…
..
.
Chanyeol sudah berada di depan rumah Baekhyun, sepulang sekolah Chanyeol memaksa Baekhyun untuk pergi bersamanya. Luhan bilang hal paling romantis untuk seorang pasangan adalah berkencan.
Walau mereka bukan pasangan secara resmi, tapi penerimaan pertemanan Baekhyun ia anggap sebagai tanda setuju untuk menjalin suatu hubungan. Dan ketika bercerita dengan kakaknya, Luhan berkata bahwa menonton film adalah kencan teromantis di dunia manusia.
Jadi, Chanyeol menurutinya. Ia harap Luhan tidak sedang membodohinya, tapi melihat wajah sumringah Luhan bercerita mengenai kencan, Chanyeol tahu kakaknya tidak berbohong.
Baekhyun keluar dari dalam rumah dan Chanyeol cukup terpesona melihat betapa cantiknya seorang Byun Baekhyun. Walau hanya mengenakan celana jeans hitam ketat, baju kaos berkerah V berwarna putih dengan sebuah jaket kuning tipis , Baekhyun terlihat sangat mempesona, Chanyeol tahu sekarang kenapa begitu banyak orang yang menginginkan tubuh Baekhyun. Dia alami, natural, tapi sangat menggoda.
"A..apa ada yang salah denganku?" tanya Baekhyun gugup. Merapatkan kakinya dengan wajah kebingungan.
"Tidak. Yang salah adalah kerja jantungku." Ucap Chanyeol sambil mengerjapkan matanya. Chanyeol memberikan helm pada Baekhyun dan Baekhyun memakainya, lalu segera menaikki motor Chanyeol.
Baekhyun memeluk tubuh Chanyeol dengan erat ketika angin malam menerpa permukaan kulitnya yang tidak tertutup. Angin malam sungguh sangat dingin namun menyejukkan. Chanyeol mengendarai motornya dengan perlahan, dan sesekali tersenyum ketika Baekhyun mengeratkan pelukannya saat ia menyalip sebuah kendaran lain.
Mereka sampai disebuah gedung bioskop. Chanyeol membawa Baekhyun masuk sambil menggenggam tangannya, beberapa pasang mata memperhatikan mereka namun Chanyeol memilih untuk mengabaikanya. Lagipula pakaiannya sudah benar, jadi ia tidak perlu merasa malu.
Chanyeol harus berterima kasih pada Luhan, karena apa yang Luhan katakan padanya dan perihal apa yang harus dan tidak boleh dilakukan serta hal kecil lainnya dijelaskan dengan sangat rinci olehnya, termasuk cara memesan tiket dan tidak membiarkan pasangan kita ikut mengantri.
Luhan dan Chanyeol memang sering kedua manusia, namun Luhan adalah orang yang paling memiliki rasa ingin tahu yang besar dan sangat rinci, jadi seluk beluk didunia manusia ia sudah sangat paham dan hapal, berbeda dengan Chanyeol yang hanya mempelajari sesuatu yang ia suka. Menonton film, bukanlah bagian menantang yang membuatnya tertarik, jika boleh jujur.
"Tunggu disini!" ucap Chanyeol, Baekhyun mengangguk dan memilih berdiri di dekat sebuah dinding tak jauh dari antrian loket. Baekhyun merapatkan jaketnya saat melihat beberapa pasang mata menatapnya.
Baekhyun tidak mengerti kenapa ia selalu menjadi pusat perhatian, padahal pakaian yang ia kenakan sudah sangat sopan. Baekhyun bergidik ngeri ketika tatapan pada pria-pria paruh baya menatap kearahnya, padahal disamping mereka sudah ada wanita atau lelaki yang memeluk tubuh mereka, yang Baekhyun yakin adalah wanita atau lelaki bayaran.
"Sendirian?" Baekhyun mengangkat kepalanya sekilas dan ia kembali tertunduk. Seorang pria paruh baya, dengan jas kerjanya. Baekhyun yakin dia pria kaya yang kesepian.
Baekhyun menggeser tubuhnya , mencoba menjauh. Tidak ingin meladeni sapaan genit pria hidung belang disampingnya.
"Hei! Kenapa sombong sekali? Kau lelaki bayarankan? Jangan berpura-pura, aku akan membayarmu mahal."
"Maaf, aku bukan lelaki seperti itu." Ucap Baekhyun sambil memberi hormat. Di Korea memang ada beberapa 'lelaki bayaran' yang bisa disewa. Biasanya akan berdiri di beberapa tempat-tempat umum dan bertingkah seperti pengunjung lain, namun bila seseorang berkantung tebal mendekat, ia akan dengan senang hati menggandeng orang itu. Sebuah pekerjaan yang lumrah namun tidak terdeteksi.
"Benarkah? Tapi wajah polosmu berkata 'setubuhi aku Tuan, aku muda dan masih ketat' " pria itu tertawa, sambil menyentuh dagu Baekhyun. Baekhyun mengedarkan pandanganya gelisah, ia benar-benar merasa takut. Dan ia beruntung saat pandangannya menemukan Chanyeol yang sedang melakukan transaksi di loket.
"CHANYEOL!" Baekhyun berlari kearah Chanyeol lalu memeluknya dari belakang. Membuat Chanyeol terkejut, dan beberapa pengunjung yang sedang mengantri menatap heran.
"Hei! Ada apa?" tanya Chanyeol mencoba menjauhkan tubuh Baekhyun yang memeluknya sangat erat, menyembunyikan wajahnya di lengan Chanyeol. Baekhyun menggeleng, tapi ia tetap memeluk Chanyeol.
"Ada yang menganggumu?" tanya Chanyeol cemas, ketika akan menerawang panggilan penjaga loket yang memberikan uang kembalian mengalihkan perhatian Chanyeol.
Baekhyun mengintip takut kearah pria yang tadi menggangunya, dan bersyukur ketika pria itu berdecak marah dan berlalu.
Chanyeol membawa tubuh Baekhyun menjauh dari antrian.
"Ada apa Baek?"
"Chan…Chanyeol aku…"
"Iya?"
"Aku…"
"Apa?"
"Aku…."
"Perhatian untuk seluruh pengunjung_" Chanyeol menoleh sekitar ketika mendengar suara menggema yang ditujukan untuk seluruh pengunjung. Baekhyun menggeleng ketika Chanyeol menanyainya lagi, dan memilih menarik Chanyeol menuju ruangan mereka.
Chanyeol melirik sekitar, beberapa pengunjung sudah mengambil kursi mereka masing-masing, jadi Chanyeol segera mengikuti. Duduk di barisan tengah , mungkin adalah pilihan yang baik.
Ketika film diputar, semua masih nampak tenang. Chanyeol sesekali melirik Baekhyun yang terlihat memperhatikan dengan seksama. Wajah serius Baekhyun membuat Chanyeol semakin terpesona.
Luhan berkata, ketika mengajak pasangan menonton hanya ada dua jenis film yang patut untuk di tonton. Romantika, atau horror, karena itu Chanyeol memilih sebuah film horror. Film romantika bukan gayanya, mungkin bila dirinya Luhan akan jauh lebih cocok.
Baekhyun terlihat ketakutan ditengah-tengah film, Chanyeol merasa bersalah karena memilih film horror tanpa persetujuan Baekhyun. Tapi ia tersenyum senang ketika Baekhyun menyembunyikan wajahnya di lengan miliknya.
"Kau takut?" bisik Chanyeol. Baekhyun mengangguk sambil mengintip kearah layar. Tapi ketika adegan kejar-kejaran antara si pemeran utama dan hantu yang bagi Chanyeol tidak ada seram-seramnya digantikan oleh adegan seks pemeran lain, Baekhyun menjauhkan tubuhnya.
Chanyeol menoleh ke layar dan ia menelan ludahnya. Sial, bagaimana bisa film horror menampilkan adegan seks seperti itu. Chanyeol mulai gelisah di tempat, ia melirik kesebelahnya dan ia menyesal karena dua orang disebelahnya sedang asyik bercumbu.
Chanyeol melirik kesebelah Baekhyun, dan lebih menyesal lagi karena pasangan disebelah Baekyun saling menghisap. Membuat Baekhyun dan Chanyeol dalam keadaan canggung.
Chanyeol jadi berpikir untuk membawa Baekhyun ke Infernus, meniupkan angin penidur dan menghajarnya sampai puas, tapi mengingat hukuman yang diberikan ibunya membuat Chanyeol urung. Putra mahkota para malaikat itu, bisa saja menghukumnya lebih parah dan membuatnya tersiksa, sebaik-baik ibunya, dia tetap seorang ibu dan istri dari iblis.
Chanyeol berharap adegan seks itu segera berganti, lebih baik melihat wajah hantu yang membuat orang-orang memekik histeris ketimbang adegan bercinta yang membuat sekitarnya saling mencumbu.
Chanyeol meremas jemarinya, sungguh ia merasa sesuatu bergejolak dalam tubuhnya.
"Baek..baekhyun. Aku…" Chanyeol berbisik ditelinga Baekhyun membuat Baekhyun menegangkan tubuhnya.
"I…iya?" Baekhyun terdengar sama gugupnya.
"Bolehkah? A..aku, men…ah sial!" Chanyeol segera menarik tengkuk Baekhyun, mempertemukan bibir mereka. Setidaknya hasrat Chanyeol tersalurkan. Baekhyun tidak melawan, sepertinya ia juga mengalami apa yang Chanyeol alami, bagaimanapun ia manusia normal.
Chanyeol menarik tangan Baekhyun agar mengaitkannya di belakang leher miliknya. Memperdalam ciuman mereka, sepertinya Baekhyun sudah cukup ahli sekarang, gerakan lidahnya tidak terlalu kaku, hanya saja sedikit bergetar.
Ciuman mereka semakin dalam, bahkan tidak menyadari jika adegan seks di layar sudah selesai dan berganti dengan adegan si pemeran utama yang dikejar oleh hantu.
"KYAAA!" ketika para penonton berteriak, Baekhyun tersadar dan mendorong tubuh Chanyeol. Baekhyun membuang wajahnya yang terasa memanas, ia mengelap bibirnya yang basah, sambil menatap kearah lantai ruangan.
"Baekhyun!" Chanyeol berbisik membuat Baekhyun menoleh pelan.
"Tadi itu bukan nafsu, tapi kasih sayang antara teman." Ucap Chanyeol sambil tersenyum, ia mengarahkan ibu jarinya ke sudut bibir Baekhyun dan mengelap kilapan saliva disana. Baekhyun mengedipkan matanya cepat, tidak berani membalas ucapan Chanyeol.
Ketika acara menonton mereka selesai, Chanyeol segera membawa Baekhyun pergi dari gedung itu. Chanyeol mengikuti saran Luhan yang lain, yaitu mengunjungi pameran festival. Mereka tiba disebuah festival di dekat taman.
Kedua kaki itu melangkah perlahan, Chanyeol menyukai sikap Baekhyun yang sangat penurut dan tidak terlalu suka membantah. Jadi Chanyeol menarik tangan Baekhyun memasuki keramaian.
Beberapa pertunjukan seperti tarian api membuat perhatian Baekhyun teralihkan. Chanyeol berdecak kesal ketika Baekhyun terlihat terpesona dengan si penari api. Chanyeol berdecih, ia bisa memainkan api yang jauh lebih besar yang berasal langsung dari tubuhnya, bukan dengan sebuah obor yang disemburkan cairan menjijikan dari mulut mereka.
"Baekhyun ayo kesana!" Chanyeol menarik Baekhyun menjauh, dan mereka berhenti di sebuah stand permainan.
"Ayo silahkan dicoba, kau bisa memberikan hadiah untuk pasangan anda." Ucap si penjual. Chanyeol menoleh dan mendekat.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Chanyeol.
"Kau bisa menembak target-target bergerak yang ada disana, dari satu tembakan berhasil kau bisa memilih hadiah yang ada disini." Ucap si penjual. Chanyeol menarik Baekhyun mendekat.
"Kau ingin hadiah yang mana?" tanya Chanyeol. Baekhyun berbisik.
"Kau tidak akan bisa mendapatkannya, ini cukup sulit." Ucap Baekhyun, Chanyeol menggeleng lalu tersenyum.
"Katakan kau ingin yang mana?" tanya Chanyeol lagi, Baekhyun melihat seluruh hadiah.
"Itu!" Baekhyun menunjuk sebuah boneka monyet berukuran kecil.
"Kau tidak ingin itu?" Chanyeol menunjuk sebuah boneka serupa namun berukuran sangat besar yang tersimpan di rak atas. Baekhyun menggeleng.
"Tidak, itu akan sangat sulit." Ucap Baekhyun.
"Berapa tembakan agar aku bisa mendapatkan boneka itu?" tanya Chanyeol, si penjual menaikkan alisnya menatap remeh kearah Chanyeol.
"Sejauh ini tidak ada yang bisa. Tapi jika kau bisa menembak 10 kali secara beruntun. Kau mendapatkannya." Si penjual bahkan tertawa meremehkan. Chanyeol mengambil pistol mainan itu, mengeluarkan beberapa lembar uang, lalu memfokuskan tembakannya.
DOR
Sebuah tembakan mengenai sasaran, Chanyeol menyeringai.
DOR..DOR…DOR..
Si penjual menjatuhkan batang korek yang ia gigit. Chanyeol kembali menyeringai.
DOR…DOR…DOR…DOR..DOR..DOR..DOR..
Si penjual kehilangan keseimbangannya, seluruh target bergerak yang ia miliki tertembak. Chanyeol meniup ujung pistolnya sambil menyeringai.
"Cepat berikan aku boneka itu!" ucap Chanyeol angkuh, si penjual menurunkan boneka berukuran besar itu dan memberikannya secara tak ikhlas kepada Chanyeol.
"Ini! Kau menyukainya?" tanya Chanyeol, Baekhyun masih menatap tidak percaya namun ia mengangguk sambil memeluk boneka yang hampir seukuran tubuhnya.
Mereka berjalan lagi dengan Baekhyun yang nampak kesusahan, dengan cepat Chanyeol mengambil boneka yang dipegang Baekhyun dan meletakkannya di punggung, tangan boneka itu bisa dikaitkan satu sama lain. Jadi Chanyeol menggendong boneka itu di punggungnya.
"Sekarang kita kemana?" tanya Chanyeol. Baekhyun mengedikkan bahunya.
"Hmm.. bagaimana dengan makan es krim?" tanya Baekhyun ragu, Chanyeol berpikir sebentar sebelum akhirnya mengangguk. Mereka menuju sebuah penjual es krim dan Chanyeol mengantri bersama Baekhyun, ia tidak ingin kejadian seperti tadi terulang lagi karena ia meninggalkan Baekhyun seorang diri.
Chanyeol berdiri dibelakang Baekhyun sambil menunggu antrian yang cukup panjang. Sesekali mata Chanyeol melihat jumlah orang di depan Baekhyun dan sesekali melihat sekeliling. Sampai matanya menangkap seorang lelaki yang menatap Baekhyun dengan intens.
Memperhatikan lekukan kaki Baekhyun dari atas hingga bawah, juga lekukan pinggang Baekhyun yang tertutup oleh jaket. Chanyeol menggeram emosi melihat bagaimana lelaki yang sedang duduk di salah satu kursi yang menghadap keantrian es krim itu menjilati bibirnya.
Sial, kenapa banyak sekali pria hidung belang di dunia manusia. Dan kenapa harus Baekhyun yang menjadi objek mereka. Chanyeol mengumpat.
Dan dengan cepat, Chanyeol memeluk tubuh Baekhyun dari arah belakang, membuat Baekhyun terkejut.
"Jangan salah paham, seseorang lelaki sejak tadi menatap lapar kearahmu, aku hanya membuatnya berpikir bahwa kau adalah milikku." Bisik Chanyeol. Baekhyun yang ingin protes membatalkan niatnya, ia lebih baik dipeluk Chanyeol-temannya- ketimbang harus dilecehkan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab.
Antrian semakin berkurang dan pelukan Chanyeol semakin erat, pengunjung dibelakangnya tidak akan bisa melihat apa yang sedang Chanyeol lakukan karena terhalang boneka yang cukup besar, namun pengunjung di samping mereka dan juga si penjual bisa melihat dengan jelas.
Chanyeol menyelipkan wajahnya di leher Baekhyun, mencium aroma tubuh Baekhyun yang membuatnya terlena. Baekhyun merasa geli ketika lehernya digelitik oleh hidung dan terpaan nafas Chanyeol, tapi ia tidak bisa menolak dan lebih memilih pasrah.
"Anda ingin rasa_" ucapan si penjual tertahan ketika melihat Chanyeol yang memeluk Baekhyun dengan seduktif.
"Aku ingin rasa stroberi. Chanyeol kau rasa apa?" tanya Baekhyun. Chanyeol menutup matanya sambil menghirup aroma tubuh Baekhyun.
"Rasamu."
"Hah?"
"Ah, aku tidak membelinya." Ucap Chanyeol. Baekhyun mengulang pesanannya, dan si penjual es krim mengangguk lalu menyendokkan beberapa es krim, sambil sesekali matanya melirik Chanyeol yang terus menyesap aroma tubuh Baekhyun, bahkan sesekali mengecup leher Baekhyun yang membuat Baekhyun menjauhkan lehernya.
Chanyeol membawa Baekhyun duduk di salah satu bangku yang menghadap kearah lelaki yang ternyata masih memperhatikan Baekhyun.
"Sial! Aku akan menghajarnya." Ucap Chanyeol, tapi Baekhyun menahan tangannya.
"Jangan! Jangan buat masalah disini." Ucap Baekhyun sambil tetap pada posisi duduknya. Chanyeol kembali duduk, dan mendorong sedikit tubuh boneka yang terduduk disampingnya.
Chanyeol menatap kearah lelaki itu lagi, dan sepertinya lelaki itu ingin menantang Chanyeol. Chanyeol bersidekap dan memberikan tatapan membunuh, tapi lelaki itu malah membalas tatapan Chanyeol.
Chanyeol menarik tangan Baekhyun dan mendudukan tubuh Baekhyun diatas pangkuannya. Baekhyun memekik terkejut, tapi Chanyeol kemudian memutar tubuh Baekhyun agar menghadap kearahnya.
"Chanyeol? Orang-orang akan menatap kita." Protes Baekhyun. Chanyeol menatap Baekhyun di depannya, kini kedua kaki Baekhyun berada di masing-masing tubuh samping Chanyeol.
"Setidaknya mereka mengira kalau kita adalah sepasang kekasih, aku benar-benar ingin membunuh lelaki itu, dia menatapmu sebagai objek fantasi seksnya." Bisik Chanyeol sambil menatap kearah lelaki yang sepertinya terus memperhatikan mereka.
Baekhyun menatap Chanyeol heran, melihat bagaimana wajah serius Chanyeol mengintip dari balik pundaknya.
"Eih, es krimmu mencair, cepat dimakan!" Ucap Chanyeol ketika es krim Baekhyun menetes di dadanya.
"A..aku.." Baekhyun gugup, ia tidak mungkin memakan es krimnya dengan tenang, jika posisi mereka terlalu intim seperti ini.
Chanyeol menarik tangan Baekhyun, dan menjilati es krim mencair yang membasahi tangan Baekhyun, Baekhyun membulatkan matanya.
"Hentikan Chanyeol, itu terasa aneh."
"Salahmu tidak mau memakannya, kau mengotori bajuku." Ucap Chanyeol sambil mengernyit merasakan rasa aneh pada lidahnya.
"Chan…chanyeol aku ingin ke toilet." Ucap Baekhyun, Chanyeol menghentikan isapannya, dan ia mengangguk. Mereka bangkit, dan segera berjalan ke arah toilet sambil membawa si monyet besar. Chanyeol mengabaikan tatapan si lelaki aneh yang sepertinya kecewa karena membawa Baekhyun pergi.
Chanyeol menunggu di luar toilet bersama boneka raksasa disampingnya, ia segera menuju semak-semak untuk muntah ketika Baekhyun telah masuk ke dalam.
"Rasanya menjijikan. Benda apa itu? Bagaimana mereka bisa menjilatnya dengan rakus dan rela mengantri demi benda menjijikan seperti itu?" Ucap Chanyeol. Dan seseorang mengelus punggungnya.
"Kau baik-baik saja tampan?" Chanyeol menoleh dan mengelap bibirnya. Seorang wanita berpakaian minim dengan riasan tebal berdiri dibelakang, sambil memainkan lidahnya.
"Apa yang dilakukan seorang lelaki tampan disini sendirian? Bersama boneka, monyet?" si wanita sedikit mengernyit ketika mengatakan monyet sambil menatap boneka yang bersandar di dinding.
"Menurutmu apa? Sana pergi!"
"Aaaw~ si tampan yang dingin." Wanita itu semakin mendekat, mengelus dada bidang Chanyeol dari balik baju kaosnya.
"Aku sedang kosong malam ini, mau menghabiskan malam denganku?"
"Menjauh! Aku tidak menghabiskan uangku untuk jalang sepertimu." Bentak Chanyeol sambil menjauhkan tangan si wanita penggoda.
"Awww~ si tampan yang galak. Aku suka." Si wanita mengerling sambil menjulurkan tangannya menuju selangkangan Chanyeol. Chanyeol menarik tangan si wanita dan mendorong tubuh itu ke dinding, memerangkap tubuh itu dengan kesal.
"Kau pikir bagian mana yang sedang kau pegang hah? Jangan sembarangan jalang!" ancam Chanyeol, si wanita penggoda bukannya takut malah semakin menggoda. Ia menaikkan lututnya untuk menekan selangkangan Chanyeol.
"Bresengsek!" Chanyeol mencekik leher wanita itu menekannya pada dinding, tapi si wanita penggoda semakin senang.
"A..aku suka lelaki yang ..ka..kasar." ucapnya terbata, karena cekikan Chanyeol. Bahkan kedua tangan wanita itu terkait di leher Chanyeol. Dan dengan lebih kurang ajar, wanita itu mengecup sudut bibir Chanyeol. Chanyeol semakin mengeratkan cekikkannya.
"Chan..chanyeol?" Chanyeol menegang ketika mendengar panggilan itu. Ia menghela nafas, lalu membalik tubuhnya.
"A..apa yang kau lakukan?" tanya Baekhyun bingung, sambil menatap sosok gadis di belakang Chanyeol yang sedang terengah.
"Sampai jumpa tampan, kau kuat juga." Ucap si wanita itu sambil menepuk pantat Chanyeol lalu berlalu.
"Si..siapa dia?" tanya Baekhyun dengan suara sedikit bergetar.
"Ah, bukan siapa-siapa. Kau sudah selesai?" tanya Chanyeol yang mendekat. Baekhyun tercekat ketika melihat sebuah bekas lipstick merah di sudut bibir Chanyeol.
"Ayo!" Chanyeol menarik tangan Baekhyun menuju keramaian.
"Kita akan kemana sekarang?" tanya Chanyeol bersemangat.
"A..aku ingin pulang! A..aku lelah." Ucap Baekhyun tidak bersemangat, bahkan ia menundukan wajahnya.
Senyum Chanyeol hilang, ia tahu Baekhyun sedang dalam perasaan yang tidak baik.
"Baiklah, ayo pulang ini juga sudah terlalu larut." Ucap Chanyeol. Mereka berjalan kearah parkiran, dan ketika akan memakaikan helm Baekhyun menolak. Chanyeol mengernyit tidak mengerti, tapi ia mencoba bersikap normal.
Motornya melaju memecah jalanan kota Seoul. Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun diperutnya tapi Baekhyun menolaknya, ia melepaskan kaitan tangannya dan berpindah memegang kedua sisi jaket Chanyeol.
Ketika sampai di depan rumah Baekhyun, lelaki mungil itu terlihat tidak bersemangat. Chanyeol memberikan boneka monyet yang ia simpan di depannya selama perjalanan tadi kearah Baekhyun.
Baekhyun menerimanya, lalu membalik tubuhnya dengan wajah datar.
"Baekhyun!" Chanyeol memegang pundak Baekhyun dan membalik tubuhnya.
"Apa kau tidak menyukai acara kita?" tanya Chanyeol, Baekhyun mengangkat wajahnya lalu menggeleng.
"Tidak. Aku menyukainya, terima kasih Chanyeol." Baekhyun berucap pelan, Chanyeol memajukan wajahnya untuk mengecup bibir Baekhyun, tapi Baekhyun membuang wajahnya.
"Kita hanya teman, aku harap kau ingat itu! Dan seorang teman tidak saling mencium satu sama lain." Ucap Baekhyun dengan wajah datar, Chanyeol terdiam dengan wajah terkejut. Perubahan sikap Baekhyun yang tiba-tiba membuatnya tidak mengerti.
"Baek, aku_"
"Aku harus masuk, ini sudah malam." Ucap Baekhyun lalu tersenyum diakhir, senyum yang Chanyeol tahu adalah kepura-puraan.
Baekhyun melangkah masuk meninggalkan Chanyeol yang masih terdiam di tempatnya. Baekhyun menutup pintu dan berjalan dengan pelan menuju kamarnya, sepertinya orang rumah sudah tertidur jadi Baekhyun segera menuju kamarnya sambil membawa boneka barunya.
Baekhyun menutup pintu kamarnya pelan, meletakkan bonekanya di dekat meja belajar lalu mengintip kearah jendela. Disana Chanyeol menundukan wajahnya, lalu segera menaikki motornya dan melesat pergi.
Setelahnya Baekhyun merosotkan tubuhnya di lantai, ia menangis. Menekan dadanya yang terasa begitu sesak. Isakannya memilukan, ditengah kegelapan ia menangis tanpa tahu apa yang sedang ia rasakan.
"Baek?" ketika lampu dinyalakan dan ibunya berdiri diambang pintu, Baekhyun menghapus air matanya.
"Ibu pikir akan mendengar celotehanmu di pagi hari mengenai kencan kalian, tapi kenapa kau malah menangis? Apa yang terjadi?" tanya Kibum yang mendekat.
"Kencan? Kami tidak berkencan ibu, kami hanya teman." Ucap Baekhyun. Kibum tersenyum sambil mengelus pucuk kepala Baekhyun yang masih terisak.
"Ceritakan!" Nada Kibum terdengar seperti perintah, Baekhyun menatap ibunya, lalu menghela nafas sebelum akhirnya membuka mulutnya.
"Awalnya aku merasa sangat risih ketika ia hadir di hidupku,aku pikir dia sama dengan yang lain yang hanya memanfaatkanku saja, tapi saat ia rela mati demi menyelamatkanku aku berusaha menepik itu dan berkata aku akan menerimanya." Baekhyun menatap mata ibunya dengan matanya yang basah.
"Lalu?"
"Aku mulai menyukai bagaimana ia berada disekelilingku ibu, aku merasakan sebuah perasaan nyaman dan aman. Entah bagaimana, tapi ketika berada di dekatnya aku merasakan sebuah perasaan yang aku sendiri tidak tahu apa itu. Dia sudah menciumku tiga kali dengan alasan pertemanan kami."
"Benarkah?" Kibum memotong dan Baekhyun menangguk.
"Aku tahu itu hanya akal-akalannya saja, tapi entah mengapa aku tidak ingin melawan dan menolak." Kibum tersenyum melihat putranya, entah mengapa ia merasa Baekhyun kembali seperti Baekhyun yang dulu, bercerita panjang lebar tentang masalah yang ia hadapi, tidak menyimpannya seorang sendiri seperti beberapa tahun terakhir.
"Mungkin kau tertarik padanya." Ucap Kibum, Baekhyun terdiam.
"Jadi ini alasan kau menangis? Karena kau telah menemukan sebuah kenyamanan pada sosok Chanyeol?"
"Tidak bu, tadi kami menghabiskan waktu untuk menonton dan berjalan-jalan, awalnya aku menyukainya, tapi saat aku meninggalkannya ketoilet aku melihat ia berciuman dengan seorang wanita yang aku tidak kenal."
"Kau yakin?"
"Bekas lipstick di bibirnya menjelaskan semua bu." Ucap Baekhyun sambil kembali terisak.
"Baek, aku rasa ini hanya salah paham, seseorang yang rela mati demimu, tidak akan menyia-nyiakanmu dengan mudah, terlebih untuk seseorang yang tidak kalian kenal. Kau harus menanyakan langsung!"
"Aku tidak memiliki hak ibu, kami hanya berteman."
"Untuk itu ubah status kalian, ibu rasa Chanyeol memiliki perasaan padamu." Ucap Kibum, Baekhyun menggeleng.
"Jangan gunakan logikamu, tapi gunakan hatimu yang sudah lama membeku ini Baek!" Kibum menunjuk dada Baekhyun.
"Ibu, aku tidak ingin menjalin suatu hubungan yang serius, bagaimana bila ia tahu aku adalah lelaki yang bisa mengandung? Ia pasti akan jijik padaku."
"Kau belum mencobanya, mana bisa tahu. Jangan menyalahi kuasa Tuhan Baek! Kau hanya manusia, bukan Yang Maha Tahu." Ucap Kibum lagi, Baekhyun menutup wajahnya dan kembali terisak.
"La..lalu hikss… aku harus bagaimana ibu?"
"Buka hatimu untuknya. Dan berhenti bersikap seolah kau tidak membutuhkan orang lain di dalam hidupmu! Ibu yakin Chanyeol mencintaimu."
…
..
.
"Aku tidak mencintainya! Berapa kali aku harus mengatakan pada kalian!" bentak Chanyeol pada ibu dan kakaknya yang tiba-tiba muncul secara mendadak di dalam apartemennya , dan menceramahinya mengenai tindakan bodoh yang ia lakukan bersama wanita penggoda itu.
"Oh, lihat ibu! Dia selalu mengelak!" ucap Luhan yang kini duduk diatas meja belajar Chanyeol. Taemin yang duduk di bingkai jendela menggeleng.
"Sampai kapan kau akan membohongi dirimu sendiri Chanyeol?" tanya Taemin pelan.
"Aku tidak sedang membohongi diriku sendiri atau siapapun. Demi kakek! Aku tidak mencintainya. Jangan memaksaku!" bentak Chanyeol sambil menatap tajam kearah dua orang yang kini menatapnya dengan satu alis terangkat, jujur Chanyeol benci ditatap seperti seorang penjahat seperti itu.
"Baik, baik! Biarkan si bodoh ini terus mengelak ibu. Aku lelah!" ucap Luhan sambil melompat dari atas meja dan bersandar pada dinding disamping bingkai jendela.
"Kau hanya akan menyiksa dirimu Chanyeol!" ucap Taemin masih dengan suara yang terdengar lembut.
"Astaga! Apa aku perlu bersumpah demi buyutku?"
"Kau!" Luhan kesal dan nyaris melemparkan Chanyeol dengan pot bunga disudut ruangan dengan kekuatannya.
" Baiklah! Teruslah mengelak. Tapi ingat, jika kau tidak menyatakan perasaanmu cepat atau lambat seseorang akan mengambil Baekhyun darimu, ingat takdir kalian tidaklah mudah!" ucap Taemin sambil mendaratkan kaki jenjangnya keatas lantai, berjalan mendekati putranya dengan sayap mengembang.
"Takdir apa yang ibu bicarakan? Ayolah jangan bercanda! Bukankah ibu menghukumku untuk menjaganya, hanya itu tidak lebih, kenapa kami harus terikat takdir?" bentak Chanyeol lagi, kini matanya berubah kemerahan akibat kilatan api membara di dalam bola matanya.
"Lihat! Kau begitu sombong sekarang, padahal tadi kau merengek untuk diajarkan tentang cara berkencan." Kini Luhan ikut berdiri di depan Chanyeol.
"Dengar! Jangan berlebihan! Aku tidaklah merengek asal kau tahu!" pekik Chanyeol lagi sambil menunjuk wajah Luhan.
"Oh, benarkah? Aku kasihan pada si Byun itu, kenapa harus memiliki takdir bertemu denganmu. Cckkckckckc." Luhan menggeleng membuat Chanyeol semakin geram.
"Sayang, jika hatimu merasakan nyaman entah pada siapapun itu, itu berarti hatimu telah memilih orang tersebut untuk berperan dalam hidupmu."
"Jangan berlebihan ibu! Aku tidaklah seperti itu_"
"Kau bahkan menerobos Nubes hanya untuk mengancam seseorang yang mengganggu Baekhyun, lalu_"
"Hentikan!" Suara berat lain membuat ketiga orang itu mengedarkan pandangannya. Itu suara Minho, mereka tentu sudah sangat hapal, namun mereka mengernyit karena sangat jarang seorang Minho mendatangi dunia manusia.
"Kalian tidak bisa meracuni putraku dengan perasaan-perasaan cinta seperti itu!" sosok Minho muncul di sudut ruangan. Melangkah dengan gagah dari kegelapan.
"Sayang?" Taemin bergumam pelan.
"Chanyeol adalah iblis, dia tidak akan mencintai siapapun. Jangan racuni pikiran pewaris Infernus Taemin." Taemin tersentak, Minho tidak pernah memanggil namanya kecuali jika suaminya sedang marah.
"Kalian dengar?" Chanyeol bangkit sambil memberikan wajah mengejek pada ibu dan kakaknya lalu berdiri disamping Minho.
"Aku adalah iblis, aku tidak mungkin jatuh cinta. Apa yang aku rasakan pada Baekhyun hanya sebuah tanggung jawab dan tidak lebih dari nafsu." Ucap Chanyeol lagi, Luhan mencibir sambil membuang wajahnya.
"Kalian berdua kembalilah! Biarkan Chanyeol menjalani hukumannya dengan cepat agar ia bisa segera kembali ke Infernus." Ucap Minho. Taemin memalingkan wajahnya kesal. Sayapnya yang sempat menguncup mengembang dengan cepat, Taemin berjalan kearah jendela , memanjatnya pelan lalu menjatuhkan tubuhnya ke udara dan melesat pergi.
Disusul oleh Luhan yang menatap tidak suka kearah dua orang dihadapanya, lalu segera menuju jendela dan melompat . Minho menggeleng pelan kearah jendela lalu membalik tubuhnya dan menatap Chanyeol. Tangannya menepuk pundak putranya.
"Ayah tahu kau tidak akan mudah goyah, kau iblis yang kuat."
"Tentu." Sahut Chanyeol bangga.
"Kau tidak akan jatuh cinta pada manusia itu kan?"
"Tentu."
"Ayah yakin kau tidak akan menangis untuknya." Ucap Minho lagi. Chanyeol menyeringai.
"Aku seorang iblis, dan aku tidak menangis." Ucapnya angkuh.
"Bahkan kau tidak akan cemas ketika Baekhyun dalam bahaya, benar?"
"Benar."
"Bahkan jika seseorang ingin membunuh Baekhyun kau tidak akan menolongnya kan?" Chanyeol terdiam, entah mengapa bibirnya tidak menjawab dengan cepat.
"Bahkan ketika takdir memisahkan kalian, kau tidak akan memberontak kan? Atau ketika iblis lain menguasai Baekhyun, kau tidak akan membunuh iblis itu kan?" Minho tersenyum melihat ekspresi Chanyeol yang terlihat kebingungan, keningnya mengernyit dan alisnya saling bertabrakan.
"Ayah yakin kau tidak akan melakukannya, kau seorang iblis, dan kau seorang pewaris kerajaan. Ayah harus pergi, ada hal lain yang harus ayah urus." Ucap Minho lalu menghilang. Chanyeol terdiam, ia menatap kearah lantai sambil memikirkan berjuta pertanyaan yang memenuhi kepalanya.
…
..
.
Matahari sudah menampakkan dirinya, ditemani cicitan burung-burung yang bertengger di dahan pohon. Chanyeol terdiam, tidak bergerak sama sekali semenjak semalam. Bahkan ia terjaga sepanjang malam, memikirkan hal yang bahkan ia sendiri tidak tahu apa itu.
Ia melirik kearah jendela kamarnya, dan kembali mengalihkan pandangannya ke ujung kakinya yang diluruskan. Sesekali kepalanya akan mendongak keatas dan bersandar pada kepala ranjang, dan sesekali ia menggeram tidak karuan.
Ia merasa kacau, tapi tidak tahu apa yang membuatnya seperti sekarang. Ia melirik jam di atas meja nakas, seharusnya ia sekarang berada di depan rumah Baekhyun dengan motornya dan membawa lelaki mungil itu ke sekolah, namun tubuhnya seolah enggan untuk bergerak, dan pada akhirnya ia memilih menutup matanya.
…
..
.
Baekhyun baru saja selesai sarapan, ia mengenakan sepatunya dan mengucapkan salam.
"Baekhyun! Apa Chanyeol sudah datang?" tanya Kibum, Baekhyun melihat kearah pintu dan ia menggeleng pelan, entah mengapa ada sedikit rasa kecewa di dalam hatinya, seolah ada yang hilang.
"Mungkin ia terlambat!"
"Tidak! Chanyeol tidak pernah terlambat, mungkin karena sikapku kemarin. Aaah~ sudahlah, aku berangkat dulu bu." Ucap Baekhyun lalu berlari kecil kearah pintu. Kibum melipat kedua tangannya di dada sambil menggeleng pelan, ia merasa kasihan pada putranya, Kibum sangat berharap Baekhyun bisa tumbuh menjadi remaja normal seperti yang lainnya.
"Ibu!" Kibum menoleh dan cukup terkejut ketika melihat Sehun dibelakangnya. Entah hanya perasaannya saja atau memang Sehun sudah setinggi dirinya sekarang, bahkan tubuh Sehun tidak terlalu kurus sekarang.
"Sehun! Kapan ulang tahunmu?" tanya Kibum heran. Sehun berpikir sebentar lalu menatap ibunya.
"Sepertinya sebulan lagi." Ucapnya. Dan Kibum membuka mulutnya yang terasa kaku untuk bergerak. Itu berarti Sehun berusia 8 tahun sekarang dan tubuhnya akan berkembang menjadi remaja berusia 16 tahun.
"Astaga! Ibu harus mengurus sesuatu." Ucap Kibum hendak pergi, tapi Sehun menahan tangannya.
"Ibu! Seragam ini terasa sempit." Ucap Sehun sambil menarik-narik seragamnya turun.
"Ah, tentang itu… sepulang sekolah kita akan membelikan yang baru untukmu." Ucap Kibum, Sehun mengangguk senang lalu mengecup pipi ibunya dan memeluknya erat.
"Aku sayang ibu. Tapi ibu terasa semakin kecil dan pendek." Gumam Sehun.
"Itu karena kau yang bertambah tinggi dengan cepat. Sudah sana kau berangkat, nanti kau terlambat Sehun-ah." Ucap Kibum sambil mendorong tubuh putranya. Kibum membulatkan matanya, merasakan otot-otot punggung Sehun yang semakin kuat. Ia harus benar-benar mengurus surat kepindahan lagi untuk Sehun, jika orang-orang mulai curiga, jika tidak maka dirinya aman.
…
..
.
Baekhyun turun dari bus, dan segera berjalan ke halaman sekolah. Entah mengapa ia merasa gugup, biasanya ada Chanyeol yang berjalan di depannya dan menatap marah pada orang-orang yang melirik-lirik atau yang berbisik tentang Baekyun, tapi kini ia hanya seorang diri berjalan ditengah kerumunan orang yang hampir sebagian tidak menyukainya.
Baekhyun menaikkan sedikit kepalanya dan mencoba mengabaikan orang-orang sekitar, yang jika ia menyadari mereka tak terlalu memperhatikan Baekhyun seperti dulu, mungkin gertakan Chanyeol cukup berhasil.
Baekhyun masuk ke dalam kelas dan dahinya berkerut ketika tidak menemukan sosok Chanyeol di bangkunya, Baekhyun meletakkan tasnya dan memilih menatap keluar jendela.
Setiap suara pintu terbuka Baekhyun akan menoleh, entah sadar atau tidak ia seperti berharap sosok itu adalah Chanyeol yang tersenyum bodoh padanya. Tapi tidak, hingga pelajaran pertama dimulai sosok Chanyeol tidak muncul juga, ketika seorang guru bertanya maka semua akan menoleh kearah Baekhyun, namun sayang Baekhyun hanya bisa menggeleng, karena dirinya pun tidak tahu kemana perginya Chanyeol.
…
..
.
Kyungsoo sedang berada di Nubes untuk mengikuti kelas merangkai bunga. Hari ini jadwalnya cukup padat, setelah sebelumnya mengikuti kelas menyeduh teh, memetik bunga, meracik wewangian, tata krama malaikat, kini ia harus mengikuti kelas merangkai bunga.
Tapi tidak seperti Luhan yang akan banyak bertanya, memprotes, mengkritik malaikat pembimbingnya dan berakhir dengan ia yang emosi dan kembali ke Infernus, Kyungsoo jauh lebih sabar dan terlihat menyukai semua kelas yang dibuat Taemin untuknya. Setiap malaikat harus memiliki tata krama yang baik, dan juga harus serba bisa. Untuk itu tiap malaikat terutama keturunan kerajaan harus mampu menguasai semuanya.
Di Infernus dan di Nubes tidak berbeda jauh. Jika di Nubes setiap malaikat akan diajarkan untuk melakukan hal-hal yang menjunjung kesopanan, kelembutan dan tata krama, maka di Infernus adalah sebaliknya.
Meracik teh sama dengan meracik racun, merangkai bunga sama dengan latihan fisik seperti menunggang kuda, memanah, berkelahi dan melatih kekuatan. Kelas tata krama sama dengan kelas mengacau, dimana tiap iblis akan diajarkan untuk menggunakan kekuatan mereka mengacaukan manusia. Intinya Langit dan dasar bumi berbeda jauh, Nubes dan Infernus berbanding terbalik.
Chanyeol pemegang juara pertama selama ratusan tahun, setelah ayahnya menjadi Raja. Itu mengapa selain kedudukannya, kekuatannya juga patut di apresiasikan. Sementara Luhan ia menduduki posisi kedua, walau yang lebih pendek selalu berusaha untuk mengalahkan adiknya namun ia akan selalu berakhir menjadi pihak yang kalah. Itu tidak pernah berubah.
Untuk itu Luhan mencoba mengikuti kelas-kelas pendidikan yang diberikan untuk para malaikat, berharap ia bisa menjadi peringkat pertama pula, namun bertahun-tahun belajar , Luhan tetaplah si malaikat setengah iblis yang tidak bisa mengontrol emosinya ketika duri dari bunga yang ia rangkai menusuk permukaan kulitnya, atau ketika teh yang ia racik berubah menjadi racun.
Dan ia harus menerima kekalahan lagi, ketika adik bungsunya Kyungsoo menjadi peringkat pertama di dunia para malaikat, sejak itu Luhan berhenti memimpikan posisi pertama. Ia lebih memilih menjadi jendral untuk ayahnya, walau tidak resmi tapi bisa dibilang kedudukan Luhan juga tinggi di Infernus.
Kembali ke Kyungsoo yang begitu fokus merangkai ratusan bunga Marvharhee , bunga cantik dengan bentuk mahkota yang memiliki berbagai macam warna dalam satu kelopaknya. Baunya sangat wangi, untuk itu sering dijadikan pajangan di sudut-sudut istana.
"Tuan muda begitu cantik, bahkan bunga Marvharhee yang terkenal indah kalah dengan kecantikan tuan." Kyungsoo mengalihkan pandangannya ke seorang pelayan yang bertugas membersihkan bunga-bunga dari daunnya.
"Terima kasih." Ucap Kyungsoo sambil tersenyum kecil membuat beberapa pelayan lain terpesona. Kyungsoo memang menjadi bahan pembicaraan karena kecantikannya yang persis seperti Taemin. Mereka bisa mengakui, jika persilangan antara malaikat dan iblis bisa meghasilkan bibit yang berkualitas. Tapi mereka lebih memilih mempercayai jika kecantikan kyungsoo murni karena ia seorang malaikat.
"Tuan muda, apakah tuan tidak berniat mencari pendamping hidup?" tanya pelayan itu lagi. Kyungsoo kembali mengalihkan pandangannya dan terdiam dengan mata bulatnya.
"Aku tidak tahu."
"Anda tidak tahu? Apa anda tidak sedang mencintai seseorang?" Kyungsoo kembali menggeleng pelan sambil mengulum senyumnya.
"Benarkah? Wah sayang sekali, tapi tidak masalah sih, tuan kan masih muda. Oh, apa tuan tidak berniat mencintai seseorang?" untuk kesekian kalinya Kyungsoo mengalihkan pandangannya.
"Jika aku mencintai seseorang, itu berarti aku harus jatuh cinta terlebih dahulu?" tanya Kyungsoo bingung, pelayan itu mengangguk antusias.
"Tentu. Apa tidak ada yang menarik perhatian anda di Infernus maupun di Nubes?" Kyungsoo kembali menggeleng.
"Hm, mungkin mereka bukan tipe anda hahaha… Mau aku beri saran?" si pelayan menaikkan satu alisnya. Kyungsoo mengangguk semangat, dan pelayan itu mengibaskan tangannya agar Kyungsoo mendekatkan telinganya. Kyungsoo membulatkan matanya saat gadis pelayan itu berbisik.
"Benarkah?"
"Dari berita yang aku dengar seperti itu, tuan bisa mencoba sendiri. Karena jujur, aku belum pernah pergi kesana." Kyungsoo menatap pelayan itu dengan alis bertautan, lalu setelahnya malaikat pembimbing datang dan membubarkan acara ngerumpi tidak resmi dari kedua malaikat itu.
…
..
.
Luhan bersiul-siul riang sambil memasuki ruang guru. Ia memberi salam pada beberapa guru dan dibalas dengan salam ramah dari mereka. Luhan cukup popular dikalangan guru dan murid sejak ia mulai mengajar.
Walau tubuhnya mungil, dan wajahnya cantik tapi terkadang ia bisa terlihat tampan. Ia memiliki pesona yang tinggi yang diturunkan oleh ibunya, dan aura ketampanan yang diturunkan ayahnya.
Luhan menghentikan siulannya ketika melihat sosok yang ia kenal sedang berdiri tertunduk di hadapan Guru Kang, guru kedisplinan yang kini terlihat marah dan kesal.
"Sehun?" gumam Luhan dan Sehun mengangkat kepalanya lalu mata mereka bertemu. Luhan mengerutkan keningnya sejenak merasa ada yang berbeda dari Sehun.
"Ada apa Tuan Kang?" tanya Luhan pelan, Tuan Kang menoleh dan menggeleng frustasi.
"Bocah ini terlibat perkelahian lagi. Dia menghajar teman sekelasnya hingga wajahnya lebam, hanya karena temannya mengejeknya." Luhan mengernyit, ucapan tuan Kang seolah ejekan adalah hal yang biasa.
"Biar aku yang tangani, aku tahu anda pasti lelah. Dan ini, aku membeli sebuah kopi panas sebelum kemari." Tuan Kang mengernyit, sepertinya ia tidak melihat Luhan memegang se-cup kopi di tangannya tadi, tapi daripada tekanan darahnya meningkat, ia memilih untuk membiarkan Luhan menangani Sehun.
Luhan menarik tangan Sehun kearah tempat duduknya di sudut ruangan yang tertutup oleh sekat papan di depannya, biasanya para guru akan meletakkan catatan di papan di depan mereka.
Luhan duduk dikursinya sementara Sehun berdiri sambil tertunduk. Luhan memperhatikan Sehun dan ia merasa tubuh Sehun bertambah besar. Bajunya pun terlihat sempit di tubuh Sehun.
"Kau bisa menceritakannya padaku, Sehun-ah." Ucap Luhan sambil tersenyum. Sehun melirik Luhan dengan wajah datarnya.
"Mereka yang menghinaku terlebih dulu saem, aku awalnya diam, tapi hinaan mereka semakin menjadi-jadi."
"Apa yang mereka katakan?" tanya Luhan.
"Salah satu temanku berkata melihat Baekhyun hyung, menggoda seorang lelaki tua di gedung bioskop, lalu setelahnya memeluk seorang lelaki tinggi. Mereka berkata bahwa hyungku adalah lelaki murahan." Ucap Sehun dengan rahang mengeras.
"Aku yakin hyungku bukan orang seperti itu, walau hubungan kami tidak baik tapi aku tahu hyungku tidak akan menjual dirinya demi uang. Aku kesal dan aku hanya melemparnya dengan sebuah buku tulis, tapi karena tangan sialanku lemparan pelan itu mengenai wajahnya lalu mengeluarkan darah dan kini bengkak." Ucap Sehun lagi, Luhan menatap prihatin kearah Sehun.
Ia memegang kedua tangan Sehun , lalu mendongakkan kepalanya untuk menatap kearah mata lelaki yang berdiri di hadapannya.
"Tenang Sehun, aku mempercayaimu. Dan aku akan melindungimu." Ucap Luhan sambil tersenyum, mendadak mata Sehun membulat entah mengapa ia merasa jantungnya berdetak dan wajahnya memanas. Luhan bangkit membuat Sehun terperanjat dari keterdiamannya
"Aku akan memberikan hukuman untuknya." Ucap Luhan sedikit berteriak membuat para guru menoleh dan mengangguk setuju.
"Ayo ikut aku Byun Sehun!" Luhan menarik tangan Sehun dan membawanya keluar dari ruang guru .
Mereka melewati koridor sekolah yang sudah sepi, karena pelajaran pertama sudah dimulai. Luhan tersenyum senang ketika jemarinya melingkar di pergelangan tangan Sehun. Ia membawa Sehun menuju lapangan basket indoor.
"Untuk apa kita kesini saem?" tanya Sehun.
"Hukuman tetap hukuman. Sekarang kau masukan bola-bola itu ke dalam keranjang." Ucap Luhan. Sehun menaikkan satu alisnya.
"Hanya itu?" tanyanya ketika melihat hanya ada beberapa bola basket dilapangan.
"Kerjakan saja dulu!" ucap Luhan sambil tersenyum. Sehun mengangguk lalu mulai memungut beberapa bola dan memasukannya ke dalam keranjang. Tapi ketika ia berbalik bola yang sudah dalam keranjang kembali berada diluar. Ia mengernyit dan mengulanginya lagi, tapi ketika mendengar suara terkikik Luhan, Sehun sadar itu semua ulah gurunya.
"Saem! Hentikan!" ucap Sehun sedikit merengek. Luhan yang entah sejak kapan sudah duduk bersila diatas bangku penonton hanya tertawa. Sehun mendengus sedikit kesal lalu kembali memungut bola-bola yang berserakan.
"Aku sengaja, agar kau marah dan mengeluarkan kekuatanmu, aku penasaran." Ucap Luhan. Sehun menggeleng pelan sambil tetap memungut bolanya.
"Hanya seperti itu tidak akan membuatku marah, jadi impian saem tidak akan terkabul." Ucap Sehun. Luhan terdiam, ia segera berpindah tempat dan kini berdiri disamping Sehun.
"Aku dengar, kakakmu itu memang seorang penghibur." Sehun menghentikan pergerakannya.
"Aku juga dengar beberapa berita jika kakakmu itu menjual tubuhnya pada beberapa pria hidung belang." Ucap Luhan sambil memasang wajah serius.
"Hentikan saem, itu sama sekali tidak lucu!"
"Aku tidak sedang melucu, aku hanya berkata apa yang dikatakan orang-orang tentang kakakmu, kalau kakakmu itu adalah Pe-la-cur!"
"HENTIKAN!" Luhan merasakan tubuhnya terhentak keras dan ia terjatuh ketanah, Luhan meringis merasakan sakit pada pantatnya. Sehun berdiri di depannya dengan sosok yang berbeda, matanya merah menyala, tanduknya muncul, matanya berwarna biru dengan kilatan merah, dan disekitar tubuhnya muncul api.
"Huwaaa… keren." Luhan membulatkan matanya, tapi ia mengernyit karena Sehun belum berubah sepenuhnya. Jadi Luhan bangkit, ia mendekat kearah Sehun.
"Sehun, kenapa kau menjijikan? Kau monster! Ah ini lucu kau monster dan kakakmu pelacur, lalu ibumu dan ayahmu apa? Apa mereka monster yang melacur?" Bara api di sekitar Sehun semakin membara, kini tubuh Sehun ikut memerah, matanya tak lagi ada warna birunya, semuanya memerah seperti kobaran api, ekornya muncul, begitu juga sayap hitam seperti kelelawar dan tubuh Sehun dua kali lipat lebih besar dan berotot.
"Aku berkata, JANGAN MENGHINA KELUARGAKU!" Sehun mendorong tubuh Luhan keras, hingga Luhan terpental beberapa meter dan punggungnya menabrak dinding pembatas.
Luhan terbatuk dan bibirnya mengeluarkan darah, Sehun mendekat kearah Luhan dengan emosi, tangannya hendak meraih leher Luhan, namun ketika ia melihat sosok Luhan dengan sayap abu, rambut abu, mata biru dan juga jubah abunya.
Bola mata Sehun kembali berubah menjadi biru, kobaran apinya mereda, taringnya menghilang, ekor dan tanduknya juga. Hanya menyisakan sayap kelelawarnyan dan postur tinggi kekar tubuhnya saja.
"SAEM!" Teriak Sehun. Ia merangkul tubuh Luhan dan memeluknya. Luhan tersenyum dalam pelukan Sehun.
"Saem! Maafkan aku!" ucap Sehun sambil sedikit terisak. Luhan menjauhkan tubuhnya, lalu menangkup kedua pipi Sehun. Ia mendekatkan keningnya sambil tersenyum dengan sudut bibirnya yang masih mengaliri darah.
"Selamat datang Sehun! Selamat datang." Ucap Luhan tersenyum. Ia kemudian mendekatkan wajahnya, mengecup bibir Sehun sambil menangis. Membuat Sehun mengernyit bingung tapi kemudian ia tersenyum dan kembali menyatukan dahi mereka.
"Apa suatu saat kau mau ikut keduniaku?" tanya Luhan. Sehun mengernyit, tapi kemudian ia mengangguk.
"Aku tidak tahu ini salah atau benar. Tapi sepertinya aku merasa nyaman berada di dekatmu saem." Ucap Sehun lalu kembali memeluk Luhan, Luhan tersenyum sambil merasakan nyeri pada dadanya, tubuhnya sedang bekerja untuk memperbaiki beberapa tulang yang retak akibat benturan tadi, tapi ia tidak bisa berkonsentrasi karena Sehun yang terus memeluknya.
…
..
.
Baekhyun berbaring di kamarnya, ia baru selesai mengerjakan tugas beberapa menit yang lalu dan kini ia memilih berbaring. Biasanya ia akan belajar hingga matanya mengantuk, namun kali ini ia tidak dalam perasaan yang baik, jadi ia memilih berbaring di atas ranjang sambil menatap keluar jendela.
"Apa kau marah padaku?" gumamnya pelan, entah bicara pada siapa dan ia tujukan untuk siapa, namun yang jelas bayangan di depannya adalah sosok Chanyeol sekarang.
Baekhyun menghela nafas, ia membalik tubuhnya menghadap kelangit-langit kamar. Menatap tanpa tujuan pasti, memikirkan sesuatu yang ia tidak mengerti. Ia sendiri heran dengan dirinya yang terlihat bodoh dan tidak bersemangat.
Ia mengambil ponselnya dan menatap layar polosnya, ia menertawakan dirinya sendiri karena sempat berharap Chanyeol menghubunginya, atau paling tidak mengirimkannya pesan. Tapi sekali lagi Baekhyun tersadar dari imajinasinya jika ia tidak mengetahui nomer ponsel Chanyeol.
Selama ini lelaki tinggi itu selalu muncul dengan semaunya, tidak pernah memberikan kabar terlebih dahulu ataupun sekedar berkata ia sedang menunggu di depan rumah, karena derungan motor Chanyeol dapat terdengar hingga ke dalam kamarnya.
…
..
.
Untuk pertama kalinya Baekhyun merasa belajar bukan sesuatu yang menyenangkan, sejak tiga hari tanpa kabar dari Chanyeol entah mengapa Baekhyun merasa semangatnya menghilang, tapi ia menampik itu dan mengatakan pada dirinya jika perasaan yang mengganjal sekarang adalah rasa bersalah karena mengabaikan Chanyeol.
Baekhyun menatap kearah papan tulis tapi pikirannya menerawang jauh, ia kembali mendapati beberapa pasang mata melirik kearahnya. Mereka seperti berbisik, ya Baekhyun tahu. Semenjak Chanyeol tidak muncul di sekolah semua orang membicarakannya dan berkata jika Baekhyun menyembunyikan sesuatu.
Bahkan ada yang menyebarkan isu, jika ketidak munculan Chanyeol karena ulah Baekhyun yang menggodanya, padahal Baekhyun berani bersumpah demi apapun, tapi percuma saja mereka tidak akan mendengar jadi Baekhyun lebih memilih diam. Baekhyun juga kembali mendapat perlakuan tidak sopan dari beberapa temannya yang sepertinya kembali berani karena Chanyeol tidak berada disampingnya.
Jadi selama tiga hari itu yang Baekhyun lakukan hanya berada di perpustakaan, atau bila seseorang mengganggunya dengan keterlaluan Baekhyun hanya bisa menangis di dalam bilik toilet. Ketika jam pelajaran terakhir usai, Baekhyun segera bangkit dan memasukkan buku-bukunya.
Beberapa murid sudah berhamburan keluar, sementara Baekhyun dan beberapa yang masih tersisa terlihat masih merapikan buku. Baekhyun menyampirkan tasnya di salah satu pundaknya, lalu berjalan keluar kelas.
"KAU!" Baekhyun dibuat terkejut dengan kemunculan tiga orang dihadapannya, Baekhyun kenal mereka, mereka adalah siswi tingkat satu yang dulu pernah mengajak Chanyeol keluar, dan yang berbicara sekarang adalah yang saat itu lancang ingin memegang wajah Chanyeol, Baekhyun membaca nametagnya-Song Naeun-.
"Kemana Chanyeol oppa hah?" tanya gadis berambut panjang bergelombang itu sambil mendorong salah satu bahu Baekhyun.
"Aku tidak tahu." Sahut Baekhyun ingin pergi, tapi tangannya ditarik dan dirinya disandarkan pada dinding koridor.
"Jangan berbohong!" ucap gadis lain dengan rambut hitam lurus- Park Bomi-
"Aku tidak."
"Bohong! Bukankah terakhir kali Chanyeol oppa pergi denganmu? Jalang!" Baekhyun mengalihkan pandangannya pada gadis berponi yang kini mendelik kearahnya –Park Chorong-.
"Memang, tapi setelah mengantarku dia pergi. Aku tidak tahu dia kemana." Ucap Baekhyun lagi. Naeun mendelik, ia menarik kerah seragam Baekhyun tapi Baekhyun menepis tangannya.
"Kau! Isssh." Naeun akan menjambak Baekhyun, tapi suara debuman keras dari salah satu pintu kelas membuat mereka bergidik ngeri, setahunya seluruh kelas sudah kosong. Naeun menatap kearah koridor yang sepi, lalu kembali menatap Baekhyun.
"Kali ini kau lolos, tapi lain kali jangan harap." Ucap Naeun lalu berlalu diikuti Bomi dan Chorong.
Baekhyun memperbaiki letak seragamnya, dan ia menoleh kearah sumber suara itu. Tidak ada siapapun, ia pun merasa sedikit takut jadi ia segera melangkah meninggalkan koridor. Dari balik pintu yang tadi tertutup keras, muncul sosok berjubah putih, berambut hitam dengan mata berwarna biru langitnya, itu Kyungsoo yang kini tersenyum sambil menatap kepergian Baekhyun.
Baekhyun turun dari bus, dan saat akan mencapai tanah ia membalik tubuhnya dan kembali masuk. Mengatakan maaf pada supir dan kembali mengambil duduk. Baekhyun merasa ia tidak bisa terus-terusan seperti ini, ia harus tahu tentang ketidakmunculan Chanyeol.
Kini Baekhyun berada di gedung apartemen milik Chanyeol, ia menatapnya sebentar lalu melangkah masuk. Ingatkan Baekhyun cukup baik, jadi ia masih ingat letak kamar Chanyeol. Ia berjalan dengan perlahan dan melihat nomer yang terpajang di pintu berwarna hitam kecoklatan itu, lalu membaca nama yang tertulis disana.
Ia menekan bel pintu beberapa kali, tapi tidak ada sahutan. Ia mencoba lagi dan lagi, tapi kembali tidak ada sahutan. Baekhyun menghela nafas sebentar, ia membalik tubuhnya dan melangkah pergi, sampai terdengar suara pintu terbuka Baekhyun membalik tubuhnya dan berlari kecil. Ketika pintu kembali tertutup, Baekhyun menahan daun pintu itu dengan tangannya.
"Chan..Chanyeol." suara Baekhyun bergetar ketika melihat sosok Chanyeol dihadapannya, Chanyeol nampak terkejut dengan kehadiran Baekhyun apalagi ketika tubuhnya mendapat pelukan tiba-tiba dari seorang Byun Baekhyun.
"B..Baek?" gumam Chanyeol sambil melangkah mundur dan menutup pintu. Chanyeol menjauhkan tubuh Baekhyun dan menatap wajahnya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Chanyeol heran, Baekhyun menatap Chanyeol takut lalu ia menggeleng pelan.
"Aku juga tidak tahu apa yang sedang aku lakukan disini. A…aku hanya mengikuti kata hatiku Chanyeol." Ucap Baekhyun kecil, Chanyeol menaikkan alisnya dan kemudian berlalu.
"Masuklah! Aku akan mengambilkanmu minum, kau bisa duduk diruang tamu." Ucap Chanyeol. Baekhyun melepas sepatunya dan menggantinya dengan slipper lalu berjalan masuk. Ia sesekali melirik Chanyeol yang menuju dapur, sementara ia memilih duduk diatas sofa.
Ia memperhatikan Chanyeol, dan Baekhyun merasa Chanyeol berbeda. Sikapnya seolah tak acuh, dan kehadirannya seperti tidak diharapkan. Baekhyun berpikir, apa sikapnya malam itu sungguh keterlaluan hingga mengubah sikap Chanyeol menjadi lebih dingin.
"Minumlah! Aku tahu kau pasti lelah." Ucap Chanyeol. Baekhyun mengangguk dan dengan perlahan meraih gelas di hadapannya lalu meminumnya seteguk demi seteguk.
"Aku memakai baju dulu." Ucap Chanyeol dan Baekyun baru tersadar jika Chanyeol tidak memakai baju sejak tadi, dan itu berarti baru saja ia memeluk dada telanjang itu erat.
Baekhyun menurunkan gelasnya dan melihat sekitar dengan canggung, ia bahkan tidak tahu harus bersikap seperti apa ketika Chanyeol muncul nanti. Dan ketakutannya menjadi nyata ketika pintu kamar Chanyeol terbuka , menampakkan Chanyeol dengan kaos hitamnya.
Chanyeol duduk di sofa lain, ia menatap Baekhyun dengan wajah datar, seolah meminta penjelasan dengan tujuan Baekhyun mendatangi apartemennya.
"Ke..kenapa kau tidak datang ke sekolah?" Baekhyun mencoba mencari topik untuk menghilangkan suasana canggung antara mereka.
"Oh, aku hanya malas." Ucap Chanyeol santai sambil bersandar pada sofa dan menaikkan satu kakinya, entah mengapa Baekhyun merasa jika Chanyeol terlihat angkuh sekarang.
"Tapi…tapi ada banyak sekali materi yang kau tinggal." Ucap Baekhyun lagi, Chanyeol mengupas bibirnya sambil mengedikan bahunya tak acuh.
"Aku tidak peduli. Lagipula aku tidak tertarik. Oh ya Baekhyun, apa tujuanmu datang kemari hanya ingin mengatakan itu?" tanya Chanyeol ketus, Baekhyun terdiam, tubuhnya membeku, entah mengapa ucapan Chanyeol membuat dadanya seperti tertusuk ribuan jarum-jarum tak kasat mata.
"Uhm…i..itu.."
"Jika memang untuk itu, sebaiknya kau pulang! Ada hal lain yang harus aku kerjakan." Ucap Chanyeol bangkit, lalu berbalik.
"Chanyeol!" suara itu membuat langkah Chanyeol terhenti. Ia berbalik dan menatap Baekhyun dengan satu alis terangkat.
"Apa…apa kau…apa kau marah karena sikapku malam itu?" tanya Baekhyun dengan wajah tertunduk, tubuhnya bergetar tapi ia memusatkan kekuatannya pada jarinya yang ia remas sangat kuat. Chanyeol merasakan ketakutan itu dan ia menatap tanpa arti.
"Tentu!" sahut Chanyeol, hanya sebagai peralihan. Permasalahan terbesarnya bukan penolakan Baekhyun tapi tentang perasaannya ke Baekhyun yang baginya tidak berhubungan dengan tuduhan ibu dan kakaknya. Chanyeol tidak mungkin jatuh cinta pada Baekhyun, dia manusia sementara Chanyeol iblis, ia hanya menyukai tubuh Baekyun, hanya itu tidak lebih.
"Ma..maafkan aku!" mata Baekhyun berkaca-kaca, dan pundaknya nampak bergetar.
"Itu sulit." Balas Chanyeol.
"Malam itu, malam itu aku sangat bahagia Chanyeol, untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun aku merasakan sebuah kebahagiaan kembali." Ucap Baekhyun akhirnya.
"Bagaimana kau memperlakukanku, seolah aku adalah barang berharga aku menyukainya. Selama ini mereka hanya menganggapku sampah. Tapi kau berbeda, aku menyukainya Chanyeol dan aku merasa nyaman. Tapi…" Baekhyun kembali tertunduk setelah sempat menatap mata Chanyeol sekilas.
"Tapi, ketika aku melihat lipstick merah dibibirmu, aku merasakan sakit di dadaku. Seolah seseorang dengan sengaja menancapkan paku dan menekannya semakin dalam. Aku tahu kita hanya teman, tapi aku merasakan sakit ketika melihatmu berciuman dengan wanita itu." Ucap Baekhyun, Chanyeol terdiam. Ia tidak menjawab.
"Tapi aku sudah berkata bukan jika kami tidak berciuman."
"Aku mencoba percaya, tapi bagaimana bisa noda lipstick itu berada di bibirmu jika bibir kalian tidak bersentuhan." Ucap Baekhyun lagi, kini matanya menatap kearah mata Chanyeol.
"Baiklah, dia yang mencium bibirku tapi aku sudah mencekiknya, dan kami tidak berciuman. Kau terlalu cepat mengambil kesimpulan tentang itu. Tapi siapa yang peduli sekarang, bukankah kita hanya teman seperti yang kau katakan? Dan aku tidak tahu apa aku masih bisa memegang status itu setelah melihat sikapmu padaku." ucap Chanyeol dengan nada menyindir, Baekhyun menatap Chanyeol tidak percaya.
"Apa kau semarah itu padaku? Sikapmu berubah." tanya Baekhyun dengan suaranya yang melembut.
"Hm. Aku tidak tahu, tapi bagiku sulit untuk bersikap seperti biasa. Aku hanya tidak bisa lagi." Ucap Chanyeol hendak berbalik tapi Baekhyun kemudian berteriak.
"Apa yang bisa aku lakukan agar kau memaafkanku?" ucap Baekhyun setengah berteriak. Chanyeol berbalik, ia mengerutkan keningnya.
"Kau yakin?" Baekhyun terdiam, lalu setelahnya mengangguk pelan, walau ia merasa ragu.
"Hm. Ayo!" Chanyeol berjalan mendahului Baekhyun, lalu yang lebih pendek mengikuti dari belakang. Chanyeol membawa Baekhyun menuju kamarnya.
"Berbaringlah!" ucap Chanyeol sambil melipat kedua tangannya di dada. Baekhyun mengernyit, ia menatap ranjang Chanyeol dan Chanyeol bergantian.
"Ta..tapi.."
"Kau berkata bisa melakukan apapun, sekarang berbaring!" ucap Chanyeol. Baekhyun segera berbaring, tubuhnya terlihat kaku dan tegang. Chanyeol menyeringai, lalu menindih tubuh Baekhyun.
"Tunggu! Chan…mmpphhtt." Chanyeol segera membungkam bibir Baekhyun dengan mulutnya, Baekhyun menggerakan kepalanya ke kiri dan kekanan untuk menghindari ciuman Chanyeol. Chanyeol menjauhkan wajahnya dan menyeringai kearah Baekhyun.
"Kau tahu setiap lelaki itu sama, mereka membutuhkan penyalur hasrat mereka. Tapi hanya ada dua tipe dari seorang lelaki, yang menunggu dengan sabar dan yang terburu-buru. Melihat kondisiku , kau bisa memasukkanku ke dalam daftar lelaki sabar, karena demi apapun, aku selalu menahan hasratku ketika berada disampingmu, itu sulit tapi demimu aku melakukannya." Ucap Chanyeol, Baekhyun menatap Chanyeol dengan wajah memohon.
"Sekarang, mari biarkan penantianku terbayarkan."
"Chan…Chanyeol tunggu!" Baekhyun menahan dada Chanyeol ketika bibirnya hendak dicium lagi.
"Apa? Aku rasa ini bukan kali pertama untukmu bukan?" Baekhyun menggeleng, ia membuang wajahnya.
"Ini memang bukan kali pertama untukku, dan aku tidak pernah berpikir akan melakukannya bersama temanku. Tapi, aku mohon.. aku mohon Chanyeol_"
"Aku akan melakukannya dengan pelan dan lembut, kau tenang saja!" ucap Chanyeol sambil mengecup cepat bibir Baekhyun.
"Bu..bukan. Ta..tapi, aku mohon gunakan pengaman!" ucap Baekhyun sambil membuang wajahnya. Chanyeol mengernyit, pengaman apa yang dimaksud Baekhyun. Apa ia ingin dikawal oleh pasukan iblis, atau ia ingin Chanyeol membawa banyak senjata. Chanyeol tidak mengerti.
"Pengaman apa?" tanya Chanyeol. Baekhyun menoleh menatap Chanyeol, ia mengernyit dan mengambil kesimpulan jika Chanyeol melakukannya untuk pertama kalinya.
"I..itu."
"Apa?"
"Kon…dom." Ucap Baekhyun pelan.
"Kon apa? " Chanyeol sedikit memekik, ia benar-benar tidak mengenal nama benda yang disebut Baekhyun.
"Kondom." Ucap Baekhyun lagi, dan kini ia merasa wajahnya memanas. Chanyeol mengernyit dan ia bangkit dari atas tubuh Baekhyun, ia mengirimkan telepati pada Luhan agar meletakkan barang yang diminta Baekhyun di dalam laci nakasnya, karena tanpa tahu bentuknya Chanyeol tidak akan bisa membuat benda itu muncul dihadapannya, dan menurutnya Luhan pasti tahu. Kakaknya itu bisa dibilang maha tahu, atau mungkin sok tahu.
"Sudah. Aku rasa ukurannya sesuai dengan ukuranmu, aku tidak pernah melihat penismu kecuali saat kau masih bayi."
"Brengsek! Berhenti mengoceh dan bantu aku memakainya!" bentak Chanyeol. Ia segera bergeser kearah nakas, dan membuka lacinya sampai alisnya bertautan melihat sebuah bungkusan berwarna emas.
"Apa-apaan ini? Kau tidak sedang mengerjaiku kan Luhan? Bagaimana aku bisa bercinta dengan bungkusan seperti ini?" bentak Chanyeol lagi.
"Dengarkan aku dulu bodoh! Kau buka bungkusnya dulu!" Chanyeol merobek bungkus itu dan ia mendapati sebuah benda karet berbentuk lingkaran.
"Buka celanamu dan keluarkan penismu, lalu masukkan itu ke dalamnya, pastikan sudah erat karena jika tidak erat, benda itu akan tertinggal di anus Baekhyun."
"Ah, jangan banyak bicara! Aku akan memakainya."
"TUNGGU!"
"Apalagi?"
"Biarkan aku pergi dulu, aku tidak mungkin melihatmu memasukan benda itu ke dalam penismu, iuuuh itu menjijikan."
"Pergilah! Pergilah! Aku tidak membutuhkanmu lagi." Usir Chanyeol. Dan ia segera mengikuti saran Luhan.
Chanyeol berbalik dan mendapati Baekhyun berbaring lurus diatas kasur sambil menatap langit-langit kamar, dan sebuah kristal bening mengalir dari sudut mata Baekhyun. Chanyeol sempat terdiam, tapi ia menepik rasa kasihannya, karena ia ingin membuktikan jika ia hanya menginginkan tubuh Baekhyun, tidak menaruh perasaan lain ke dalamnya.
Chanyeol menurunkan celananya, namun tetap mengenakan kaos hitamnya. Ia merangkak naik keatas ranjang, menindih tubuh Baekhyun yang terlihat begitu tegang, Chanyeol berdecih, Baekhyun terlihat seperti seorang 'perawan' yang akan direnggut kesuciannya di malam pertama, padahal ini bukan malam pertama mereka.
Chanyeol menatap wajah Baekhyun yang terlihat kosong, matanya basah dan sesekali air matanya mengalir turun. Chanyeol mengerutkan alisnya, kenapa ia terlihat seperti yang paling jahat disini, padahal Baekhyun sendiri yang menyanggupinya.
Chanyeol menarik dagu Baekhyun agar mata Baekhyun menatap dirinya, ketika mata itu bertemu Chanyeol terdiam, wajah Baekhyun begitu menyedihkan. Seolah memohon untuk dilepaskan, tapi bahkan Chanyeol tidak sedang mengikat atau memborgolnya. Chanyeol menghela nafas.
"Kau keberatan?" tanya Chanyeol dengan suara dinginnya yang menusuk. Baekhyun terdiam, matanya berkedip membuat air matanya kembali mengalir.
"A..apa ini salah?" tanya Baekhyun dengan suaranya yang serak. Chanyeol tidak menjawab, ia fokus menatap mata Baekhyun.
"Chan…Chan…yeol. Walau ini bukan yang pertama, ta..tapi aku merasa takut.." ucap Baekhyun, ia mengalihkan arah pandangnya menuju bantal disampingnya.
"Apa yang membuatmu takut?" tanya Chanyeol lagi, ia mencoba sabar dan maklum. Walau sisi iblisnya berkata 'gagahi Baekhyun sekarang' , tapi sisi lain dari dirinya berkata 'tunggu dan yakinkan dia' .
"A..apa setelah ini kau akan membuangku?" tanya Baekhyun lagi, Chanyeol tersentak. Pertanyaan Baekhyun seolah kembali ke masa lalu. Penyesalannya kembali menghantui, menyetubuhi lalu meninggalkan Baekhyun dengan kandungannya yang semakin membesar. Chanyeol menutup matanya sejenak.
"Kenapa? kenapa aku harus membuangmu?" tanya Chanyeol lembut. Baekhyun terisak, ia menatap mata Chanyeol.
"Seperti lelaki pada umumnya, menyetubuhi seseorang yang mereka inginkan, lalu membuangnya setelah mendapatkannya." Chanyeol membuka matanya, menatap kearah mata Baekhyun, tatapan dalam dan memuja.
"Apa karena status kita sebagai teman membuatmu berpikir aku akan melakukannya?" hilang sudah sisi liar Chanyeol, sisi iblisnya seolah terkunci disuatu bagian tempat di dalam dirinya. Pada akhirnya ia membiarkan sisi malaikatnya yang menang, ia menyadari menghadapi Baekhyun tidak bisa dengan sebuah paksaan, tapi dengan kelembutan.
"Mari kita ubah status kita! Kau kekasihku mulai sekarang." Baekhyun membulatkan matanya, ia benar-benar tak percaya dengan penuturan Chanyeol. Tapi Baekhyun menggeleng, ia pikir Chanyeol berkata seperti itu karena ia belum mendapatkan tubuhnya, lidah tidak bertulang. Ada kemungkinan Chanyeol berubah pikiran setelah mereka melakukan penyatuan.
"Tidak. Jangan mengatakan itu hanya karena kau ingin meniduriku. Aku tidak ingin kau terpaksa mengatakannya_"
"Ya! Ya aku terpaksa Baekhyun! Kau tahu betapa gilanya aku untuk menjadi bukan diriku demi bisa berada disekitarmu? Kau tahu betapa tersiksanya aku menjadi bukan diriku demi bisa membuatmu tersenyum dan nyaman bersamaku. Dan ketika aku sadari bahwa aku telah mencintaimu, aku berusaha menepik semua itu." ucap Chanyeol lantang.
"Ketidakhadiranku disekolah bukan karena sikapmu, tapi karena aku menyadari jika aku jatuh cinta padamu. Aku seorang ib_" Chanyeol menghentikan ucapannya, ia nyaris kelepasan. Ia menggerakan matanya cepat untuk mengalihkan pembicaraan.
"Aku seorang yang tidak pernah menggilai sesuatu atas dasar cinta, hanya sebuah ketertarikan. Tapi saat bertemu denganmu aku merasakan sesuatu yang salah pada diriku, aku mencintaimu Baekhyun! Aku mencintaimu!" pekik Chanyeol. Ia terlihat frustasi setelah mengatakan itu, sementara Baekhyun menatap wajah Chanyeol dan air matanya kembali mengalir, tapi kali ini ia tersenyum.
"Aku juga Chanyeol, aku rasa aku juga mencintaimu." Chanyeol terdiam, ia segera mengalihkan matanya kearah Baekhyun. Menatap tidak percaya atas apa yang diucapkan Baekhyun, lelaki dengan hati es yang sangat sulit untuk ia dekati.
"A..aku tidak salah dengar?" Baekhyun menggeleng sambil tersenyum, Chanyeol segera memeluk Baekhyun sangat erat hingga Baekhyun merasakan sedikit sesak. Chanyeol mengangkat wajahnya lalu mencium-cium bibir dan leher Baekhyun secara bertubi, membuat Baekhyun tersenyum, dan tiba-tiba gerakan mereka terhenti.
Baekhyun membuang wajahnya kesamping, sementara Chanyeol menatap Baekhyun dengan mata membulat. Chanyeol menurunkan arah pandangnya kebawah, sementara Baekhyun masih menahan rona di wajahnya karena merasakan sesuatu menusuk perutnya keras.
"I…itu bukan nafsu, tapi ia bergabung tanpa aku undang." Ucap Chanyeol, Baekhyun mengalihkan matanya ke arah Chanyeol.
"Jadi? Boleh aku melanjutkannya?" tanya Chanyeol dan Baekhyun mengangguk malu.
"Baiklah, mari lepaskan benda menyebalkan ini!" Baekhyun menahan tangan Chanyeol dan menggeleng.
"Tapi kita kan sudah berpacaran sekarang, kenapa butuh penghalang diantara kita?" Baekhyun tetap menggeleng.
"A..aku tidak bisa Chanyeol." Baekhyun berusaha menyakinkan Chanyeol , dan Chanyeol hanya mengangguk. Setelahnya Chanyeol beralih ke kancing seragam Baekhyun. Membukanya satu per satu hingga memperlihatkan dada putih dan mulus milik Baekhyun. Sampai kapanpun Chanyeol akan tetap dan selalu memuja tubuh seorang Byun Baekhyun.
Seragam itu terbuka, dan Chanyeol melepasnya pelan. Chanyeol mencium bibir Baekhyun untuk kesekian kalinya. Bibir mereka saling menghisap dan Chanyeol yang memimpin dengan hisapan terkuat.
Lalu Chanyeol beralih mencium perpotongan leher Baekhyun, menyesapnya kuat hingga meninggalkan warna kemerahan. Baekhyun menutup matanya erat, tubuhnya seperti tersengat listrik, lidah Chanyeol bermain di permukaan kulitnya, menjilat dan terkadang menggigit kecil.
Chanyeol menyeringai ketika melihat Baekhyun menggelinjang saat Chanyeol menghisap putingnya. Bibir Chanyeol menghisap dengan kuat, seperti bayi yang sangat kelaparan, sementara jemarinya memainkan putting yang lain.
"Hhmmpphh.." Baekhyun menggeram saat merasakan sentuhan-sentuhan yang diberikan Chanyeol. Chanyeol melepas hisapannya, hingga menimbulkan bunyi kecipak yang cukup keras, ia mendekat ke wajah Baekhyun.
"Baek! Jangan tutup matamu! Aku ingin kau melihat bagaimana aku menyentuhmu." Ucap Chanyeol sambil memberi sebuah kecupan singkat di bibir Baekhyun, mata Baekhyun terbuka pelan dan nampak memerah serta berair, Chanyeol tersenyum lalu mengecup kening Baekhyun.
Chanyeol menurunkan tangannya, membuka sabuk dan menurunkan resleting celana Baekhyun tanpa memutuskan tatapan mereka. Baekhyun juga sama, ia menatap mata hitam kelam Chanyeol, dan entah mengapa ia merasa suasana mereka sekarang tidak asing.
Baekhyun mengulurkan tangannya ragu, dan ia menyentuh Chanyeol. Chanyeol tersenyum dan mengikuti arah elusan Baekhyun. Baekhyun terlalu fokus pada wajah Chanyeol, hingga ia tidak sadar sekarang kedua kakinya telah diangkat dan diletakkan diatas masing-masing pundak Chanyeol.
"Kau siap?" tanya Chanyeol. Baekhyun mengangguk pelan.
"Mungkin ini akan sakit, jadi kau bisa memelukku nanti." Ucap Chanyeol. Baekhyun mengangguk. Ini memang bukan kali pertama ia disentuh, tapi ini adalah kali pertama ia disentuh dalam keadaan sadar.
Selama ini ia hanya mendapati dirinya berantakan ketika bangun di pagi hari, dan juga rasa sakit yang menjalari tubuhnya, tapi ia sama sekali tidak tahu bagaimana proses bercinta, dan sensasi sakit ketika lubang anusnya diterobos oleh sebuah penis. Jadi kali ini ia mempercayakan semuanya pada Chanyeol.
Chanyeol memposisikan penisnya di depan lubang Baekhyun, dengan perlahan penisnya mulai menerobos masuk membuat Baekhyun mengernyit pelan. Chanyeol melakukannya dengan sangat pelan, tidak ingin menyakiti Baekhyun sama sekali. Walau sering bercinta, tapi ini kali pertama baginya untuk menyentuh Baekhyun dalam keadaan sadar.
"Euuummhhh." Baekhyun mencengkram lengan Chanyeol yang bertengger disamping tubuhnya.
"Tahaan…aaaahhh~" Chanyeol mendesah lega ketika penisnya berhasil masuk. Ia diam sebentar, menatap Baekhyun sambil tersenyum. Satu tangannya mengusap keringat di dahi Baekhyun, dan menyinggirkan rambut-rambut yang menghalangi pemandangannya.
"Boleh aku bergerak?" dan Baekhyun mengangguk. Ia sudah mempersiapkan dirinya, jika rasanya akan dua kali lebih sakit daripada pertama kali Chanyeol melakukan penetrasi.
"Aaaahhh….aaahhh.." Baekhyun mengutuk suara yang keluar dari bibirnya, Chanyeol menyeringai dan menggerakan tubuhnya dengan lebih cepat dan tusukan dalam. Baekhyun menutup mulutnya dengan kedua tangannya, tapi Chanyeol menarik tangan itu dan mengecup bibir Baekhyun.
"Keluarkan saja! Aku ingin mendengar suara desahanmu." Ucap Chanyeol lalu kembali mengecup bibir Baekhyun cukup lama dengan bagian bawah yang terus bergerak.
"Ouuhh.." Erangan Chanyeol sesekali terdengar. Rasa nikmat yang sudah sejak lama tidak ia dapatkan dari Baekhyun. Baekhyun mendongakkan kepalanya ketika hantaman Chanyeol semakin dalam.
Dan Chanyeol menggunakan kesempatan itu untuk memberikan semakin banyak tanda pada leher kekasih manusianya.
"Eeummhh.. Chan…yeol.." Baekhyun mendesah pelan dan Chanyeol berteriak senang dalam hati, untuk pertama kalinya Baekhyun menyebut namanya ketika mendesah.
"EUmmhh..Eumhh.." Tubuh Baekhyun tersentak keras, Chanyeol mengangkat sedikit tubuh Baekhyun dan menyandarkannya di kepala ranjang, lalu menusuk lebih cepat dan dalam. Baekhyun memeluk Chanyeol erat, meletakkan kepalanya di pundak Chanyeol.
"Hhmm…Chan..yeol..pelaan..aahhhh…pelannn..aahhh." Baekhyun mencengkram kuat pundak Chanyeol dengan mata yang tertutup, sementara Chanyeol menggerakan pinggulnya semakin cepat. Hingga Chanyeol merasakan penisnya membesar, namun karet sialan itu seolah membatasi gerakannya.
"Aaaahhh/aahhh" keduanya mendesah hebat, ketika Chanyeol mencapai orgasmenya. Chanyeol mendorong pelan tubuh Baekhyun, berusaha melepaskan penisnya. Karet itu sungguh menyiksa Chanyeol, cairannya tidak bisa menyembur di lubang Baekhyun.
Chanyeol hendak memasukan penisnya lagi, tapi ketika ia melihat Baekhyun terkulai lemas tak berdaya, ia mengurungkan niatnya.
"Baek? Kau baik-baik saja?" tanya Chanyeol. Baekhyun mengangguk sambil tersenyum, tapi wajahnya begitu pucat dan kelelahan. Chanyeol mengernyit heran, dan merasa aneh.
"Baek, bisa kita melakukannya lagi?" tanya Chanyeol memastikan Baekhyun mengangguk, tapi wajahnya berkata berhenti.
Chanyeol meminta Baekhyun membalik tubuhnya, dan dengan perlahan Baekhyun mencoba membalikan tubuhnya, tapi kemudian ia terjatuh karena terlalu lemahnya.
"Baek? Baekhyun?"
"A..aku…" Suara Baekhyun terdengar putus-putus. Chanyeol membalik tubuh Baekhyun cepat ke posisi awal, ia segera meluruskan kaki Baekhyun dan menyelimutinya.
"Hei! Tidurlah!" ucap Chanyeol lalu mengecup kening Baekhyun dan kemudian duduk disisi ranjang. Ia menarik benda karet itu lepas dari penisnya, dan ia melihat cairannya yang begitu banyak. Ia tahu sekarang apa fungsi benda itu, Baekhyun takut jika dirinya akan hamil lagi.
Chanyeol beralih menatap Baekhyun, lalu ia memakai celananya dan berjalan keluar kamar. Chanyeol duduk di atas sofa sambil merentangkan tangannya, memikirkan apa yang baru saja terjadi diantara dirinya dan Baekhyun.
"Sudah kukatakan bukan?" Chanyeol memutar bola matanya malas ketika mendengar suara Luhan.
"Apa tidak bisa kau tidak menguntitku sehari saja?" ucap Chanyeol kesal. Tak lama terdengar suara cekikikan dari samping Chanyeol dan muncul sosok Luhan yang menutup mulutnya sambil menahan tawa. Chanyeol menoleh sekilas lalu kembali menghadap ke depan.
"Dan pada akhirnya si keras kepala Chanyeol menyatakan cintanya pada Byun Baekhyun." Luhan menunjuk-nunjuk dada Chanyeol membuat Chanyeol menepis tangan kakaknya jijik.
"Kata-kata itu keluar begitu saja, sepertinya aku tidak sungguh-sungguh ketika mengatakannya." Ucap Chanyeol tanpa minat, Luhan berdecih lalu bangkit. Ia berdiri di depan Chanyeol sambil bertolak pinggang.
"Kau! Benar-benar iblis. Bisa-bisanya kau berkata seperti itu. Kau baru saja menyatakan perasaan padanya karena itu ia membiarkanmu menyetubuhinya secara sadar. Kau tidak berperasaan."
"Asal kau tau, seorang iblis memang tidak pernah menggunakan perasaan mereka ketika bertindak. Mereka menggunakan otak." Ucap Chanyeol angkuh sambil mendorong tubuh Luhan menjauh dengan kakinya.
"Jika suatu saat kau mengemis padaku dan meminta pertolongan untuk menyelamatkan perasaan pura-puramu itu , jangan harap aku akan menolong."
"Aku pun tak sudi meminta pertolongan darimu, kau tenang saja!" Chanyeol menaikkan satu alisnya sambil menatap Luhan remeh.
"Kau_"
"Luhan! Kembali ke Istana!" suara Minho terdengar keras. Luhan mengalihkan pandangannya lalu berdecih.
"Baik ayah, aku kembali sekarang." Ucap Luhan pasrah.
"Dan Kau!" Luhan menunjuk tepat ke wajah adiknya.
"Setidaknya berikan Baekhyun makan, dia lemas karena tidak makan seharian penuh. Dia lupa membawa bekal makanan dan tidak berani kekantin karena lelaki pengecut sepertimu menghilang." Ucap Luhan lalu menghilang, Chanyeol mengerutkan keningnya dan menatap pintu kamarnya.
…
..
.
Baekhyun menggeliat dalam tidurnya, ia bangkit dengan sedikit rasa pegal di tubuhnya. Ketika tersadar tubuhnya telanjang di balik selimut, ia tersenyum kecil, entah mengapa wajahnya memerah memikirkan apa yang sudah ia lakukan dengan Chanyeol, orang yang ternyata ia cintai.
"Ah sial!" mendengar suara Chanyeol membuat Baekhyun tersadar, ia segera menyelimuti dirinya, lalu berjalan keluar dengan sedikit cemas. Baekhyun mengedarkan pandangannya dan menemukan Chanyeol di dapur.
Lelaki tinggi itu terlihat memungginya menghadap kompor dan nampak kerepotan dengan masakannya. Baekhyun mendekat dan semakin mendengar umpatan Chanyeol yang menurutnya konyol seperti,
"Benda apa ini? Kenapa melompat-lompat? Apa aku perlu membakar kalian dengan apiku?" gumaman Chanyeol terdengar jelas di telinga Baekhyun, ketika kaki telanjangnya memasuki area dapur, Chanyeol membalik tubuhnya sambil memegang teflon.
"Baekhyun?" tanya Chanyeol heran, Baekhyun melirik kearah daging menghitam di atas teflon dan ia tersenyum.
"Kau memasak?" tanya Baekhyun pelan, Chanyeol merapatkan bibirnya lalu mengedikkan bahu.
"Aku ingin membeli makanan jadi, tapi aku tidak tahu makanan apa yang hanya berisi daging. Jadi aku memilih untuk membeli daging mentah dan memasaknya. Tapi benda itu mengacaukan segalanya." Ucap Chanyeol, Baekhyun mengerutkan keningnya lalu melirik kebelakang Chanyeol.
"Benda apa?" tanya Baekhyun memastikan
"Itu. Cairan kuning itu." Baekhyun membulatkan matanya ketika melihat sebotol minyak goreng di samping kompor.
"Penjual itu berkata aku harus menggunakan itu untuk membuat daging ini matang." Ucap Chanyeol sambil berjalan ke tempat sampah, dan membuang daging menghitam itu.
"Kau menanyakan hal seperti itu pada penjual? Apa kau benar-benar tidak tahu cara menggoreng atau memanggang daging?" tanya Baekhyun. Chanyeol mengedikkan bahunya dan berbalik menatap Baekhyun.
"Tidak. Sejak kecil aku tidak pernah memasuki area dapur, jadi aku tidak tahu bagaimana mereka membuat daging itu matang. Yang jelas aku pernah melihat mereka memasukannya ke dalam api."
"Maksudmu memanggang?" tanya Baekhyun.
"Entahlah. Aku tidak berani mendekat karena apinya akan mencapai langit-langit dapur." Ucap Chanyeol santai sambil kembali mengambil irisan daging.
"Memangnya daging apa yang kau panggang?" tanya Baekhyun heran, Chanyeol terdiam ia baru teringat jika Baekhyun adalah manusia.
"Oh, lupakan! Itu tidak penting. Yang jelas sekarang kita harus mencari cara untuk membuat daging ini matang." Ucap Chanyeol dengan wajah frustasi, seolah memasak daging adalah perkara besar.
"Biar aku saja!" ucap Baekhyun sambil mendekat kearah Chanyeol, ia mengeratkan selimutnya dan menggenggamnya dengan satu tangan, sementara tangan yang lain mengambil alih teflon yang dibawa Chanyeol.
Chanyeol memperhatikan Baekhyun yang sedang menyalakan kompor dari belakang, menuang cairan kuning menjengkelkan dengan perlahan, dan memasukan satu per satu irisan daging. Chanyeol baru tersadar dengan pakaian Baekhyun ketika ia melihat Baekhyun yang kesusahan bergerak.
Chanyeol berjalan ke dalam kamar meninggalkan Baekhyun, lalu mengambil sebuah kaos miliknya secara acak dan membawanya keluar. Ia berjalan mendekat kearah Baekhyun, dan berdiri di belakang lelaki mungil itu. Dengan perlahan jemari Chanyeol menarik selimut Baekhyun ke bawah membuat Baekhyun memekik terkejut, tapi setelahnya sebuah kaos menutupi tubuhnya.
"Ini lebih baik." Ucap Chanyeol santai lalu membawa kembali selimut yang dikenakan Baekhyun tadi. Baekhyun tersenyum kecil, pipinya kembali merona. Walau perhatian kecil, tapi mampu membuat jantung Baekhyun berdetak kencang.
Baekhyun melirik kearah kaos kebesaran Chanyeol, walau hanya menutupi hingga pangkal pahanya, tapi Baekhyun merasa nyaman mencium aroma dari Chanyeol. Entah ia sudah gila atau apa, ia merasa dunianya berubah semenjak bertemu Chanyeol. Ia ingin sebuah perubahan dalam hidupnya dan sepertinya Tuhan memberikannya melalui Chanyeol. Baekhyun tersenyum kembali memikirkannya.
Mereka selesai makan satu jam setelahnya, Chanyeol nampak makan dengan lahap dan Baekhyun senang karena Chanyeol menyukai masakan dagingnya. Bahkan karena melihat Chanyeol yang terlalu bersemangat, membuat Baekhyun mendadak kenyang. Hanya beberapa potong daging dan ia merasakan perutnya kembung.
Selain daging mereka tidak memakan apapun, hal itu membuat Baekhyun merasa sedikit mual. Tapi ia mencoba menahannya karena melihat Chanyeol begitu menyukai daging membuat Baekhyun senang.
Setelah membersihkan diri, Chanyeol mengantar Baekhyun pulang kerumah. Ia tidak ingin Kibum khawatir karena putranya tidak pulang sejak tadi siang. Setelah berpamitan Chanyeol segera melesat pergi, meninggalkan Baekhyun yang tersenyum di depan pintu rumah ditemani ibunya.
"Apa yang terjadi? Ceritakan!" Goda Kibum sambil menyenggol siku putranya. Baekhyun tesenyum lalu menutup pintu dan berjalan masuk, diikuti Kibum yang ikut tersenyum melihat wajah bahagia Baekhyun.
"Kami berpacaran." Baekhyun seperti berbisik tapi Kibum dapat mendengarnya dengan jelas. Matanya membulat sempurna, dan bibirnya terbuka.
"Ka..kalian apa? Apa aku tidak salah dengar?" Kibum nampak bahagia sambil menggetarkan pundak Baekhyun kencang.
"Tidak ibu, kami berpacaran sekarang."
"Oh! Oh! Astaga! Astaga! Sayang~" Kibum memeluk Baekhyun erat dengan wajah yang nampak bahagia, lalu membawa putranya menuju ruang tengah dan mendudukannya di atas sofa. Kibum duduk disamping Baekhyun sambil menggenggam kedua tangan putranya, seolah tidak mempercayai jika putranya menjalin sebuah hubungan sekarang.
"Ibu senang Baekhyun, ibu sangat senang. Katakan! Apa yang sudah terjadi diantara kalian? Apa dia menciummu lagi? Apa dia memelukmu atau dia…." Kibum tidak melanjutkan ucapannya, ia menjeda untuk memberikan Baekhyun kesempatan bicara.
"Iya ibu, kami sudah melakukannya untuk pertama kalinya." Kibum menutup mulutnya tidak percaya, ia segera memeluk Baekhyun dengan semangat.
"Astaga, kalian benar-benar sudah melakukannya? Astaga ibu seperti bermimpi. Oh Tuhan, aku bahkan mengeluarkan air mata, tapi ibu tidak menangis. Ibu bahagia Baekhyun." Kibum menghapus air matanya, dan Baekhyun tersenyum kecil.
"Katakan! Bagaimana rasanya? Apa dia memuaskan? Apa miliknya_"
"IBU~" Baekhyun merengek sambil mencubit pelan lengan ibunya. Kibum benar-benar menangis, ia memeluk Baekhyun untuk kesekian kalinya.
"Akhirnya putra ibu yang dulu kembali, Baekhyun yang manja dan suka merengek." Ucap Kibum disela isakannya. Mereka berpelukan erat, melampiaskan rasa senangnya. Kibum benar-benar bahagia terlihat dari bagaimana ia menangis dan terkadang tertawa.
"Ibu, dimana baju_" Sehun menghentikan ucapannya ketika melihat dua orang yang berpelukan di depannya, dan kini keduanya menoleh . Sehun melirik Baekhyun dan ia segera menunduk, ia merutuki kebodohannya yang menganggu acara kakak dan ibunya lagi. Melihat tatapan datar Baekhyun, Sehun segera membalik tubuhnya.
"Maafkan aku, kalian bisa melanjutkannya." Ucapnya lemah, sambil berjalan menunduk keluar dari ruang tengah.
"Sehun-ah! Sehun-ah!" Kibum memanggil tapi Sehun tidak menjawab. Baekhyun menatap kepergian Sehun entah mengapa ia merasakan perasaan aneh menyerang dirinya. Baekhyun berbalik dan menatap Kibum.
"Ibu, apakah dia memang semakin tinggi?" tanya Baekhyun, Kibum menghela nafas lalu mengangguk.
"Tidak hanya tinggi, ototnya mulai terbentuk." Baekhyun menundukan wajahnya menatap lantai, sementara Kibum menghela nafas sambil bersandar pada sofa.
…
..
.
Chanyeol menatap dua orang di hadapannya yang terlihat menelanjanginya dengan tatapan aneh. Setelah pulang dari rumah Baekhyun, Chanyeol yang awalnya ingin berkunjung ke Infernus untuk berbicara dengan ayahnya, harus menelan kekecewaan karena hanya mendapati kakaknya diruang kerja ayahnya, dan sialnya lagi ibunya datang berkunjung beberapa detik setelahnya.
Dan sekarang, ia berakhir seolah menjadi seorang penjahat yang sedang diintrogasi. Chanyeol menatap malas kearah dua orang di hadapannya yang setahunya sangat suka mengurusi hidup orang lain.
"Chanyeol, ibu tidak akan membahas tentang kau yang berpacaran dengan Baekhyun." Chanyeol mengedikan bahunya tak acuh.
"Bagus. Itu yang kuharapkan." Ucapnya.
"Tapi ibu punya misi baru untukmu." Lanjut Taemin. Chanyeol berdecih menatap ibunya tak suka.
"Apa ibu pikir aku seorang agen rahasia?" tanyanya kurang ajar. Taemin memutar matanya kesudut kanan.
"Baiklah ibu ganti. Bukan misi, tapi hukuman."
"Apa?"
"Pfft." Luhan menahan tawanya, membuat Chanyeol memberikan tatapan membunuh untuk kakak menjengkelkannya.
"Apa hukuman itu? Cepat katakan!" ucap Chanyeol kesal. Taemin tersenyum lalu bangkit dan berjalan dengan anggun kearah Chanyeol.
"Sehun anakmu bukan?" tanya Taemin, sementara Chanyeol mengupas bibirnya keluar sambil mengedikan bahu.
"Terakhir aku ingat, spermaku yang membuatnya bernafas seperti sekarang." Ucap Chanyeol. Luhan memutar bola matanya malas.
"Kau hanya perlu mengatakan iya atau tidak. Apa susahnya?" gerutu Luhan kesal.
"Dan kalian hanya perlu mengatakan apa hukumanku, apa susahnya?" balas Chanyeol tidak mau kalah. Luhan dengan kesal bangkit dari duduknya berjalan kearah Chanyeol dengan cahaya biru ditangannya, tapi Taemin menahannya.
"Hukumanmu adalah, kau harus bisa dekat dengan Sehun. Buat dia nyaman berada di sampingmu!"
"Apa? Kenapa harus aku?" tanya Chanyeol tidak terima.
"Karena kau ayahnya bodoh!"
"Aku tidak bertanya padamu!" bentak Chanyeol kearah Luhan, yang baginya hanya memperkeruh keadaan.
"Kau tidak bilang bertanya pada siapa." Chanyeol mengeraskan rahangnya, jika tidak mengingat ada ibunya sudah sejak lama ia membunuh Luhan di tempat.
"Kau hanya punya dua pilihan Chanyeol. Perbaiki hubunganmu dengan Sehun, atau dikurung di dalam penjara Nubes." Ucap Taemin dengan wajah seriusnya. Chanyeol menatap ibunya semakin tidak suka. Itu bukan pilihan ketika pembandingnya sangat berbanding jauh. Seperti dilempar bunga atau tombak? semua sudah tahu apa jawabannya.
"Itu bukan sebuah pilihan ibu. Kau tahu sendiri yang mana yang aku pilih." Ucap Chanyeol dengan rahang mengeras.
"Bagus! Kalau begitu tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, aku akan kembali ke dunia manusia, sekalian memantau adik bungsuku."ucap Luhan tak acuh sambil berjalan kearah pintu ruangan.
"Memangnya apa yang dilakukan Kyungsoo?" tanya Chanyeol pada Taemin, malaikat cantik itu terkikik membuat Chanyeol memutar bola matanya malas.
"Ibu memiliki misi untuknya."
"Apa ibu terobsesi menjadi seorang agen rahasia? Kenapa melibatkan semua anak ibu?" tanya Chanyeol tak terima, Taemin kembali terkikik lalu melayang dan berjalan kearah pintu.
"Anggap saja begitu!" ucapnya lalu menghilang . Chanyeol mendesah frustasi sambil mengusak rambutnya kasar.
…
..
.
Di atas sebuah gedung tinggi, berdiri sosok berjubah serba putih yang memandang kesebuah gedung lain. Jubahnya tertiup angin, bergerak searah dengan rambut hitamnya.
"Kau menyukainya." Tiba-tiba muncul sosok yang merangkulnya dari samping. Ia tersenyum, melihat kakak sulungnya.
"Ya aku suka. Bagaimana rasanya bila aku berada disana, apa manis seperti manisan di Nubes, atau pahit seperti obat yang diberikan tabib?" tanya Kyungsoo polos. Luhan menghela nafas lalu menatap adiknya.
"Apa menurutmu rasa di dunia hanya manis dan pahit? Tidak Kyungsoo, kehidupan memiliki banyak rasa, terutama bila kau berada di dunia manusia. Kau akan merasakan pedas, asin, asam, kadang campuran dua diantaranya, atau bahkan campuran semuanya. Hidup itu tidak hanya dua sisi, mereka memiliki banyak sisi yang akan bergabung menjadi sebuah kesatuan." Ucap Luhan, dan Kyungsoo mengangguk.
"Aku tidak mengerti hyung."
"Tentang?"
"Jika hidup tidak hanya dua sisi , kenapa di dunia hanya dua sisi yang digunakan. Hidup-mati, kalah-menang, kaya-miskin, bahagia-menderita? Lalu bagaimana sisi diantaranya? " Luhan terdiam, Kyungsoo memang pendiam, tapi di dalam otaknya ada begitu banyak pertanyaan, bahkan pertanyaan sederhana yang bahkan tidak bisa Luhan jawab.
"Itu…"
"Kenapa hyung?"
"Kau akan tahu setelah kau merasakanya Kyungsoo. Hidup itu tidak semudah teori, kau akan belajar seiring hidup membawamu menuju kedewasaan."
"Lalu bagaimana caraku mengetahui jika diriku sudah dewasa?" Luhan menghela nafas, bicara dengan Kyungsoo sama saja dengan menghabiskan banyak energi untuk memutar otak. Jadi Luhan hanya tersenyum lebar, membuat Kyungsoo mengernyit. Dan Luhan bersyukur jika adiknya yang satu ini, tidak suka memaksa seperti adiknya yang lain.
…
..
.
Chanyeol tersenyum ketika melihat Baekhyun keluar dari rumahnya. Entah mengapa hari ini Baekhyun terlihat begitu cantik, dengan wajahnya yang berseri membuat Chanyeol sempat terpesona sebentar.
"Ini." Chanyeol memberikan helm dan Baekhyun menerimanya sambil tersenyum kecil.
"Kenapa mengenakan syal?" tanya Chanyeol, Baekhyun mengeratkan syal merahnya dan menundukan wajahnya.
"Be..bekasnya masih terlihat jelas." Ucap Baekhyun pelan. Jika biasanya dia akan merasa hina dengan jejak kemerahan ditubuhnya, kali ini ia merasa berbeda. Seolah jejak kemerahan yang tercetak ditubuhnya sekarang adalah bukti bahwa ia adalah milik lelaki di hadapannya.
"Oh, aku lupa. Ayo naik, kita segera berangkat!" ucap Chanyeol dan Baekhyun segera naik. Motor Chanyeol melesat dengan cepat melewati gang-gang kecil di perumahan Baekhyun. Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun yang melingkar di perutnya dan Baekhyun tersenyum sambil mengeratkan pelukannya. Hari ini adalah hari paling membahagiakan untuk Baekhyun, dia tak akan pernah melupakannya.
Mereka tiba disekolah dan seperti biasa menjadi pusat perhatian. Chanyeol membantu Baekhyun melepaskan helmnya dan berjalan sambil menggengam tangan Baekhyun erat. Bahkan ketika mereka memasuki kelas, beberapa pasang mata menatap mereka aneh.
Baekhyun tersenyum kecil ketika Chanyeol membantunya melepaskan tas, sungguh konyol dan menggelikan tapi Baekhyun akui dia menyukainya.
Waktu berlalu dengan cepat, dan tanpa terasa waktu istirahat telah tiba. Chanyeol bangkit dengan cepat dan meminta izin untuk membuang air kecil, Baekhyun hanya mengangguk sambil memasukan bukunya.
Ketika sibuk dengan kegiatanya, Baekhyun dikejutkan dengan gebrakan keras di mejanya.
"Yak! Dimana Chanyeol oppa?" tanya Naeun, gadis yang Baekhyun kenal selalu mengejar Chanyeol bersama dua temannya yang tidak berbeda jauh. Baekhyun memilih diam, kembali melanjutkan pekerjaannya, mengabaikan tiga gadis berisik yang bahkan ia tidak kenal.
"Kami bertanya sunbae bodoh!" salah satu dari mereka mendorong pelipis Baekhyun.
"Kenapa aku harus memberitahu kalian?" tanya Baekhyun dingin.
"Dia bukanlah siapa-siapa kalian, dan aku. Aku adalah kakak kelas kalian, seharusnya kalian_"
"Jangan banyak bicara! Kau_" Naeun menarik syal Baekhyun berniat menggertak tapi ia malah membulatkan matanya dengan bibir terbuka penuh begit juga Bomi dan Chorong.
"Astaga!" Bomi berseru, dan Baekhyun memegang lehernya. Menaikkan kerah seragamnya, seisi kelas nampak terkejut. Pasalnya tidak semua pernah melihat langsung bekas-bekas kemerahan di leher Baekhyun, dan kini mereka melihatnya dengan mata kepala sendiri.
"Pegang tangannya!" seru Naeun, kedua sahabatnya menurut dan memegang tangan Baekhyun lalu mendorongnya ke dinding. Baekhyun meronta, ia berteriak keras ketika kancing seragamnya dibuka. Tapi tidak ada satupun yang berniat menolong, mereka seperti menonton sebuah hiburan jalanan.
"Astaga! Ternyata rumor tentang dirimu benar sunbae, kau! Seorang jalang."
"Lepaskan! Lepaskan!" Baekhyun terus meronta.
"YAK! BRENGSEK LEPASKAN BAEKHYUN!" suara menggelegar Chanyeol membuat seisi kelas melangkah mundur dan kembali ke tempat mereka, sementara tiga gadis itu menjauh dari Baekhyun.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN BRENGSEK!" bentak Chanyeol, rahangnya mengeras dan tangannya terkepal. Chanyeol melirik Baekhyun yang sedang mengancingkan seragamnya, dan beralih pada syal yang digenggam Naeun.
"Oppa, apa oppa tahu? Dia seorang jalang. Temanku pernah melihat dia bersama seorang pria tua dibioskop, aku pikir itu palsu. Dan sekarang, lihat bekas-bekas kemerahan di_"
"TUTUP MULUTMU BAJINGAN!" Naeun dan yang lainnya membeku, mereka terkejut dengan bentakan keras Chanyeol yang tiba-tiba. Chanyeol menarik Baekhyun pelan, membiarkan Baekhyun berdiri dihadapannya dengan wajah menghadap tiga gadis di depannya.
"Jangan asal bicara jika kalian tidak memiliki bukti! Baekhyun bukanlah jalang, tanda kemerahan di tubuhnya adalah hasil perbuatanku." Ucap Chanyeol membuat yang lainnya membulatkan mata tidak percaya.
"Ta…tapi bagaimana bisa?" tanya Bomi terbata.
"Tentu bisa, dia kekasihku. Aku bisa melakukan apapun padanya."
"Tapi kenapa oppa mengencani seorang jalang?" tanya Chorong tidak percaya.
"Kau_ Baekhyun!" Baekhyun berlari keluar kelas sambil menangis.
"Aku peringatkan kalian untuk tidak menyentuh Baekhyun lagi, jika tidak kalian habis ditanganku." Ancam Chanyeol dengan wajah serius membuat ketiga gadis itu menegang karena takut.
Chanyeol mengejar Baekhyun yang berlari cukup cepat, dan lelaki pendek itu memilih halaman belakang sebagai tempat pelariannya. Baekhyun bersandar di depan pintu gudang, ia menangis terisak disana, tubuhnya bergetar hebat.
"Baekhyun! Baekhyun!" Chanyeol menggetarkan pundak Baekhyun, hingga lelaki itu menganggkat wajahnya.
"Kenapa mereka membenciku seperti itu hiks..hiks..apa aku tidak pantas bahagia? Hiks…hiks..hiks.." Baekhyun menangis kencang, membuat Chanyeol merasa bersalah.
"Tenang! Mereka tidak akan menganggumu lagi, aku bersumpah."
"Apa..hiks..hiks..salahku? kenapa aku tidak mendapat tempat di dunia ini? Apa aku harus mati agar mereka senang? Hik..hiks..hiks…" Nafas Baekhyun tersengal-sengal wajahnya memerah dengan mata yang basah. Chanyeol memeluk Baekhyun, mendekap tubuh bergetar itu dalam rengkuhannya.
"Aku akan membuat mereka membayar tiap air mata yang terbuang olehmu." Gumam Chanyeol, Baekhyun masih terisak hebat. Chanyeol mendorong tubuh Baekhyun pelan, menangkup kedua pipi Baekhyun lalu mencium bibir itu pelan, hanya menempel karena Baekhyun masih terisak.
Dari tengah lapangan basket outdoor, nampak beberapa pemain basket sedang beristirahat mereka duduk di atas lapangan sambil melemaskan otot mereka.
"Siapa mereka?" tanya sosok yang sedang membuka kedua kancing teratasnya sambil mengipasi tubuhnya. Lelaki berkulit putih pucat yang sedang asyik minum mengikuti arah tunjukan temannya.
"Kau terlalu sering membolos, itu kenapa kau melewatkan banyak kejadian disekolah ini. Yang tinggi itu siswa tingkat tiga, dia murid baru yang sangat popular dikalangan gadis-gadis dan guru, namanya Park Chanyeol." Sahut si lelaki berkulit pucat.
"Lalu itu?" ia menunjuk Baekhyun.
"Aku tidak tahu hubungan apa dibalik mereka, tapi Park Chanyeol seolah-olah menjadi pelindung untuk Byun Baekhyun, dia akan menghajar siapapun yang berani menyentuh lelaki itu."
"Jadi itu Byun Baekhyun, si lelaki penghibur?" tanya sosok itu lagi, temannya menggeleng pelan sambil berdecak.
"Sebenarnya saat di sekolah apa yang kau perhatikan hah? Kau tidak mengenalnya?"
"Aku tidak mengurusi hal yang bukan urusanku. Selain basket aku tidak tertarik pada apapun." Ucapnya sambil berdecak.
"Oh tentu, ingatkan aku kau seorang kapten basket di sini." Ucap si kulit pucat.
"Lalu itu?" dia kembali menunjuk objek yang lain, kali ini seorang siswa berjaket putih bertudung yang menutupi setengah bagian kepalanya, dengan kulitnya putih, tubuhnya mungil, rambut coklat madu yang menutupi dahinya dan bibir merah merekah sedang lewat diluar lapangan dengan tas ranselnya.
"Dia… aku tidak pernah melihatnya. Tapi dia begitu cantik, apa dia seorang bidadari?"
"Ya! Kau benar, aku rasa dia seorang bidadari." lelaki yang menjabat sebagai ketua basket itu menatap terpesona pada sosok yang lewat dihadapanya. Begitu juga dengan temannya yang berkulit pucat, mereka sama-sama terpesona dengan sosok mungil berkulit putih dengan mata indah dan bibir merekah yang kini memasuki gedung sekolah.
"Dia benar-benar bidadari." Ucapnya sambil mengancingkan kembali seragamnya. Walau teman disebelahnya sudah bangkit, dia tetap menatap kearah perginya si 'bidadari' yang membuat jantungnya berdetak tak karuan.
"Apa ini yang dinamakan jatuh cinta?" gumamnya pelan sambil memegang jantungnya yang berdetak hebat.
"Aku menemukan bidadariku." Sambungnya sambil tersenyum, sebelum pukulan pelan dipundak membuatnya tersadar dan segera bangkit, lalu berbaur kembali ke lapangan.
…
..
.
TBC
Read di bawah ya!
Terima kasih yang sudah memberikan review, yang mengikuti, yang mem-favoritkan, dan yang membaca. Terima kasih juga untuk yang rajin mengingatkan update, tapi aku memang gak akan bisa update seminggu sekali. Mungkin paling cepat ya dua minggu sekali. Jadi aku harap kalian maklum.
Untuk chapter ini aku gak tahu gimana menurut kalian, entah kenapa aku kehilangan semangat. Bukan bermaksud cari muka atau perhatian, aku cuma gak pingin ngasik kalian harapan palsu ke depannya.
Oh iya chapter ini gak ada Si Pitik ya, mungkin chapter depan. Aku minta maaf banget yang udah buat pertanyaan, bahkan sampai dikasi nomer segala, aku hargai tapi kali ini maaf banget.
Setelah ini bulan puasa kan? aku minta saran dari kalian , mau diupdate kapan ff ini? karena gimana pun ff ini mengandung unsur dewasa, walau gak menjalankan tapi aku mencoba menghargai kalian yang udah capek-capek puasa dan ujung-ujungnya batal karena baca ff ku, wkwkwkwkw..
Jadi enaknya mau setelah puasa atau gimana? aku ikut kalian ajah sih. wkwkwkwkw...
Semoga chapter ini gak terasa janggal ya, semoga kalian suka dan semoga kalian sempet baca dan meninggalkan jejak wkwkwkw..
Salam Chanbaek is real guys, jangan lupa jaga kesehatan supaya tetep bisa menikmati moment mamih sama papih.
Bye
