Title : Devil Beside Me chapter 6

Cast : Park Chanyeol , Byun Baekhyun , Oh Sehun , Do Kyungsoo , Xi Luhan , Kim Jongin, Kim Kibum, Choi Minho , Lee Taemin and Ok Taecyeon , Kim Dasom , Bae Joo Hyeon-Irene , Park Sooyoung- Joy , Kim Yerim-Yeri, Song Naeun, Yoon Bomi, Park Chorong, Park Cheondong ( Thunder ), and others.


PERHATIAN!

Ff ini mengandung unsur dewasa berbau seks, hubungan sesama jenis yang menyebabkan beberapa orang mungkin mual, Bahasa yang berantakan, dan typo yang walau sudah berusaha dihilangkan tapi tetap muncul. Tidak untuk area bermain anak-anak, anak polos, antigay/ homophobic, AntiChanbaek dan segala yang tidak ada sangkut pautnya dengan dunia yaoi.


DILARANG KERAS!

Mempublish ulang cerita tanpa izin dari penulis di web manapun

Copy-Paste atas alasan apapun

Me-remake cerita dengan atau tanpa mengganti pemeran tanpa izin

Mengutip beberapa bagian paragraph lalu memasukan dalam cerita lain

Menulis bukan sekedar mencari tenar, tapi menulis adalah bagian dari diri penulis itu sendiri, aku harap kalian mengerti.


Sebelumnya, ada beberapa kata maaf yang mau aku sampaiin.

1. Maaf untuk seluruh readers karena udah buat kalian kecewa, terutama yang nunggu ff ini update. Maaf banget guys! Aku pikir aku bisa update cepet, tapi nyatanya gak.

2. Aku mau minta maaf untuk Kak Dee dan seluruh author CB Ina, karena gak bisa ikut berpartisipasi dalam rangka ulangtahun CIC, maaf banget, maaf…

3. Aku minta maaf atas semua pesan yang masuk yang selalu mengingatkan untuk update, aku bener-bener merasa bersalah.

Dan terima kasih banyak untuk seluruh readers, reviewers,followers dan bahkan siders..

Terima kasih untuk masukan, kritik, saran, pertanyaan, salam , semangat, dan cuap-cuap kalian yang selalu bisa bikin aku ketawa, senyum, bahkan nangis, ,makasi untuk selalu ada di sisi aku..

Kedengerannya berlebihan emang, tapi ini sungguhan guys, setiap kata-kata yang kalian ucapin ke aku always being my mood maker.

I Love You Guys, dan kaya kata Jessica eonnie "Would you love me the same?" wkwkwkwkwkw…


Selamat membaca

..

.

Park Shita

Present

..

.

Para malaikat terlihat disibukkan dengan kegiatan mereka, Nubes terlihat sibuk seperti hari biasa. Lonceng Nubes menggema dengan keras, membuat sebuah alunan nada yang indah. Beberapa malaikat nampak melayang di labirin istana, dan beberapa nampak sibuk di ruang kerja masing-masing.

Setelah melakukan kegiatan tata kramanya, Kyungsoo segera menuju ruangan ibunya. Sebuah ruangan luas yang begitu indah dan sangat wangi, campuran aroma bunga Marvharhee, hutan pinus dan buah persik. Kyungsoo tahu benar jika ibunya adalah penggemar berat wewangian, terlihat dari beberapa pot bunga yang menghiasi hampir disetiap bagian kamarnya.

"Ibu?" Panggil Kyungsoo. Taemin menoleh dan tersenyum hangat. Meletakkan kuas yang ia gunakan untuk melukis-sebuah kegiatan yang sering Taemin lakukan untuk mengisi waktu luangnya-.

"Ada apa putra bungsuku?" tanya Taemin lembut. Kyungsoo melangkah masuk dan mengambil duduk di depan meja kerja ibunya.

"Ibu, boleh aku meminta sesuatu?" tanya Kyungsoo polos, Taemin kembali tersenyum. Menopangkan dagu dikedua telapak tangannya. Taemin tahu Kyungsoo sangat pendiam dan jarang meminta, jika sampai ia meminta itu berarti dia sungguh-sungguh menginginkannya.

"Katakan sayang, apa yang anak ibu inginkan?"

"Hm, aku ingin merasakan jatuh cinta." Taemin membulatkan matanya tidak percaya, namun setelahnya ia kembali tersenyum.

"Kenapa kau ingin sekali?" tanya Taemin lembut.

"Semua orang berkata jatuh cinta itu indah, bahkan Chanyeol hyung yang begitu keras bisa merasakannya. Kenapa aku tidak?" bukan jawaban, melainkan sebuah kekehan yang Taemin berikan. Ia bahkan menepuk-nepuk tangannya sambil tertawa cantik, tidak meninggalkan kesan anggunnya.

"Lalu, apa yang harus ibu lakukan?"

"Aku tidak tahu. Bisakah ibu membuatku jatuh cinta?" tanya Kyungsoo. Senyum Taemin lenyap sesaat, berganti ekspresi terkejut yang sangat cantik, lalu tergantikan lagi oleh sebuah tawa yang keras.

"Kenapa ibu malah tertawa?" tanya Kyungsoo bingung. Taemin masih tertawa sambil menutup mulutnya, lalu kemudian mengangguk paham.

"Sayang. Jatuh cinta sama seperti kelahiran. Kau tidak bisa menentukan dimana, kapan dan dengan siapa. Jatuh cinta bukan hal yang bisa makhluk di dunia atur, sekalipun para malaikat dan iblis. Jatuh cinta itu perasaan paling tulus yang setiap makhluk miliki." Taemin memberikan senyuman terlembutnya pada putra bungsu dihadapanya yang terlihat pasrah.

"Jadi, aku tidak bisa merasakan jatuh cinta?"

"Bisa. Tentu bisa."

"Lalu, kenapa aku aku tidak merasakannya?" tanya Kyungsoo lagi.

"Bukan tidak Kyungsoo, hanya saja belum. Hmm…" Taemin nampak berpikir sebentar. Kemudian ia menjentikan jarinya.

"Mari ibu berikan kau sebuah misi." Ucap Taemin bersemangat.

"Apa?"

"Turun ke dunia manusia, dan temukan cintamu sendiri!" ucap Taemin antusias. Kyungsoo mengernyitkan keningnya, bingung.

"Kenapa harus ke dunia manusia ibu? Apa cintaku disana?" tanya Kyungsoo, Taemin tidak menjawab ia hanya tersenyum lebar kearah putranya.

….

..

.

Devil Beside Me

Chapter 6

..

.

Taemin melangkah masuk menuju ruang kerja suaminya. Disana terlihat Minho sedang serius dengan pekerjaannya. Taemin menghela nafas, ia tahu suaminya pasti lelah harus mengurus semua kematian dan kejahatan para manusia yang semakin hari semakin banyak.

"Sayang?" Minho mengangkat wajahnya dan sempat terkejut melihat kehadiran istrinya, ia merutuki dirinya yang bahkan tidak menyadari kehadiran sosok istrinya.

"Ada apa sayang? Kenapa kau tiba-tiba berkunjung?" tanya Minho pada Taemin yang melangkah anggun menuju dirinya. Minho menatap istrinya yang terlihat selalu anggun setiap harinya, bahkan sejak hari dimana mereka pertama kali bertemu.

"Apa aku tidak boleh mengunjungi suamiku?" tanya Taemin dengan wajah sedih dibuat-buat.

"Tentu boleh, hanya saja jarang sekali kau berkunjung secara tiba-tiba, biasanya kau akan mengirimkan pesan padaku."

"Aku selalu berkunjung secara tiba-tiba, kau saja yang jarang di Infernus jadi tidak mengetahuinya." Taemin duduk di kursi di depan suaminya.

"Kau terlihat sangat kelelahan. Kau tidak beristirahat dengan cukup lagi?" tanya Taemin lembut, dalam hatinya ia merasa sangat perihatin melihat keadaan suaminya sekarang.

"Hm. Pekerjaan ini membuatku tidak bisa beristirahat dengan benar. Dunia manusia semakin menjadi-menjadi, bahkan perang dan pembunuhan dimana-mana. Pembantaian masal juga kerap kali terjadi. Jadi aku harus selalu mengecek stasiun pendaftaran berulang kali, karena kerap terjadi kesalahan."

"Sini! Biar aku beri pijatan khusus." Taemin bangkit dan berdiri di belakang suaminya. Minho tersenyum merasakan sentuhan-sentuhan dingin dari istrinya.

"Dalam rangka apa?" tanya Minho, Taemin tertawa pelan dan semakin menambah intensitas pijatannya.

"Tidak ada, hanya untuk melayani suamiku. Bukankah aku istri yang baik?" godanya dan Minho menggeleng pelan. Jemari panjang dan besarnya menyentuh tangan Taemin, mengelusnya pelan lalu menggenggamnya erat.

"Tentu. Kau istri yang sangat baik."

"Ah, dan satu lagi. Pijatan ini sebagai tanda terima kasih karena kau berhasil membujuk Chanyeol. Aku tahu kau akan selalu berada di pihakku." Gumam Taemin lalu memeluk tubuh suaminya erat.

"Aku tidak membujuknya. Aku hanya membuatnya menyadari kata hatinya. Iblis memang begitu, seringkali mengingkari perasaan yang mereka anggap menjijikan. Apalagi jatuh cinta merupakan larangan kami." Ucap Minho. Taemin terdiam, lalu membalik kursi kerja Minho menghadap dirinya.

"Aku tidak mengerti bagaimana bisa sebuah cinta dilarang?"

"Aku tidak tahu, tapi yang jelas segala bentuk kasih sayang adalah larangan kami." Sahut Minho lagi.

"Sebenarnya tanpa kalian sadari kasih sayang itu telah melekat pada diri kalian , hanya saja kalian mengingkarinya. Bagaimana bisa para iblis hidup dengan pasangan mereka jika bukan berlandaskan kasih sayang? Lihat kan! Mereka hanya tidak mau mengakui itu."

" Mereka menganggap itu adalah nafsu dan seperti yang aku bilang para iblis adalah pengingkar yang hebat. Untuk itu ada pepatah berkata " Jangan pernah mempercayai kata-kata yang keluar dari mulut seorang iblis!" Kau pernah mendengarkannya kan?" Taemin menghela nafas sambil menatap suaminya.

"Itu artinya aku tidak bisa mempercayai kata-katamu kan? Berarti Luhan, Chanyeol dan Kyungsoo hanya hasil dari nafsu, bukan cinta. Begitu?" Minho tertawa sambil menarik tangan istrinya. Membiarkan tubuh ringan dan dingin itu terduduk diatas pangkuannya.

"Hm. Aku membuatnya memang dengan nafsu yang besar. Tapi jangan lupa aku menambahkan banyak cinta ke dalamnya, untuk itu mereka menjadi sangat tampan dan cantik." Taemin memutar bola matanya malas.

"Apa hubungannya antara cinta dan wujud anak kita?" gumamnya malas. Minho tersenyum lalu mengecup kening Taemin.

"Tidak berhubungan namun aku tetap mencintaimu." Ucap Minho, Taemin mencibir pelan.

"Pernah mendengar pepatah ' Iblis adalah perayu terburuk dari segala perayu terburuk yang ada.'" Gumam Taemin.

"Aku tidak pernah mendengarnya, kau hanya mengarangnya bukan?"

"Tidak. Aku pernah mendengarnya. Kau saja yang tidak tahu. Dasar iblis!" gerutu Taemin. Minho semakin gemas, ia menarik ujung hidung istrinya dan mengecup bibirnya pelan.

"Walau kita tidak bisa selalu bersama, tapi aku bahagia berada disampingmu Minho. Aku harap anak kita juga bisa berdampingan bersama takdir mereka." Ucap Taemin sambil menangkup wajah suaminya. Minho tersenyum sebentar, sebelum akhirnya ia mengingat sesuatu.

"Aku dengar kau mengirim ketiga anak kita ke dunia manusia sekarang. Rencana apa yang kau milikki?" tanya Minho. Taemin terdiam, ia memalingkan wajahnya sebentar. Lebih memilih menatap lantai ketimbang mata suaminya.

"Aku…aku hanya ingin anak-anakku merasakan kebahagiaan. Mereka terlahir sebagai iblis setengah malaikat, dan memiliki takdir yang rumit. Aku ingin mereka merasakan seperti yang makhluk lain rasakan. Aku merasa bersalah karena menginginkan anak-anak dalam kehidupanku. Jika aku tidak meminta anak, mungkin mereka akan terlahir sebagai manusia, bukan campuran iblis dan malaikat. Aku ingin mereka merasakan cinta, dan bertemu takdir mereka, sebelum_" Minho mengangkat wajah istrinya dan mengecup bibirnya cepat.

"Kau tahu, ada hal yang tidak bisa kau kendalikan di dunia ini. Sang Pencipta yang berhak untuk itu." Ucap Minho. Taemin mengangguk pelan.

"Aku tahu, aku memang tidak bisa mengendalikan takdir mereka. Tapi setidaknya aku bisa membantu mereka sedikit, setidaknya hambatan-hambatan kecil bisa aku singkirkan. Walau aku tidak bisa menyingkirkan hambatan terbesar mereka tapi setidaknya aku bisa diandalkan." Ucap Taemin dengan wajah bersedih. Minho menghela nafas, menatap wajah bersedih istrinya.

"Kau tahu Minho? Saat aku menginginkan seorang anak yang terlahir dari tubuhku, aku benar-benar mengharapkannya. Dan betapa mustahilnya hal itu terjadi, karena aku adalah seorang lelaki. Tapi ketika ayah datang dan memberikanku air suci dari sumur kehidupan, aku merasa sangat senang. Tidak peduli betapa sakitnya perutku saat itu, tidak peduli jika kekuatanku menghilang dalam jangka waktu lama, tidak peduli jika air kehidupan itu mengambil sebagian sisi malaikatku. Aku tidak peduli, yang aku inginkan adalah memiliki anak." Minho terdiam, ia mengelus surai putih istrinya.

Minho ingat bagaimana wujud istrinya ketika ia usai meminum air kehidupan itu, pucat, sayu, benar-benar menyedihkan. Bahkan Minho merasa ingin menukar nyawanya untuk Taemin saat itu juga, demi mengembalikan kesehatan istrinya. Pada umumnya air kehidupan diberikan pada seseorang yang telah meninggal dan ingin dihidupkan kembali, yang bisa di dapatkan dari tetesan pertama salju mencair di gunung puncak Himalaya.

Hanya tetesan pertama, sehingga untuk mendapatkan satu cangkir membutuhkan waktu yang cukup lama. Dalam dunia malaikat dan Iblis juga ada kematian, sekalipun mereka makhluk abadi. Kematian hanya terjadi, bila hak kehidupan mereka di cabut secara paksa. Seperti sebuah hukuman atas pelanggaran yang besar, perang antara iblis-malaikat, atau mencabut hak kehidupan itu sendiri.

Dulu sekali air kehidupan digunakan untuk menghidupkan kembali para malaikat yang meninggal saat pepeperang, namun setelah perdamaian air kehidupan jarang terdengar lagi. Tapi menurut Raja Langit selain untuk menghidupkan seseorang yang telah meninggal, air kehidupan juga bisa memberikan kehidupan pada makhluk yang belum pernah ada di dunia.

Untuk itu, Raja Langit memberikan air kehidupan untuk Taemin saat Putra mahkota-nya yang menginginkan seorang anak dalam pernikahannya. Tapi hal itu tidak mudah, mengingat Taemin masih hidup dan dia adalah seorang malaikat yang abadi, untuk itu ketika memaksa dua kutub yang sama untuk bersatu, cara satu-satunya adalah mengubah salah satu kutub itu menjadi kutub berlawanan. Setiap tindakan memiliki konsekuensi, dan konsekuensi yang harus di terima adalah sisi malaikat Taemin hilang perlahan, begitu juga dengan keabadiannya.

Mengingat itu membuat Minho semakin cemas dan bersalah. Itu mengapa ia sangat menyayangi istrinya melebihi apapun, sekalipun orang-orang menyebutnya adalah Raja Iblis yang takut pada istri, ia tidak masalah. Mereka hanya tidak tahu betapa istrinya itu menanggung hal yang berat selama ini seorang diri.

"Cukup! Mari jangan lanjutkan ini! Biarkan mereka dengan takdir masing-masing! Jangan libatkan dirimu terlalu jauh sayang! Jika kau sampai melewati batasmu, hukuman siap menanti." Ucap Minho dengan suara yang serius. Taemin terdiam lalu memeluk tubuh suaminya erat.

"Aku tahu. Tapi demi anak-anakku, aku tidak peduli sekalipun mereka mengambil hak kehidupanku." Bisik Taemin.

"Jangan khawatir, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi." Sahut Minho sambil mengelus punggung istrinya.

"Aku tahu. Aku tahu kau akan melakukan apapun untuk melindungiku." Taemin tersenyum dalam dekapan suaminya.

"Tapi, mereka akan menemukan takdirnya sendiri. Seberapa keras kau berusaha mengubahnya, takdir mereka akan tetap menemui." Ucap Minho lagi, Taemin menghela nafas pelan dan semakin mengeratkan pelukannya.

"Jika itu terjadi setelah aku tidak ada, maukah kau membantu mereka untuk_"

"Sssst.. Jangan bicara macam-macam! Kau tidak boleh menyalahi kuasa Sang Pencipta! Kau mengerti?" dan Taemin hanya bisa mengangguk sambil tersenyum senang kearah suaminya.

..

.

Chanyeol menghela nafas malas sambil mempertahankan wajah cemberutnya. Niat awalnya ingin mengajak Baekhyun untuk ke apartemennya, lalu mereka bisa bercinta lagi harus kandas karena Guru sialan Kim yang menegur Chanyeol karena tidak membawa buku pelajaran, padahal dia sudah beberapa minggu menjadi murid baru.

Setiap mengingat nama guru itu membuat Chanyeol ingin membunuhnya dengan sekali cekik, karena berkat teguran gurunya itu sekarang ia harus terjebak di ruangan yang dipenuhi dengan benda persegi yang berisi huruf-huruf berdempetan. Terakhir Chanyeol ingat, ia menyebutnya buku.

"Ini juga." Suara lembut Baekhyun mengalihkan pandangannya. Dengan kedua tangan di saku celana, Chanyeol yang sejak tadi mengekori Baekhyun kemanapun kekasih 'baru' nya itu pergi menoleh. Terlihat Baekhyun sedang mengambil sebuah buku pelajaran dan memasukannya ke dalam keranjang.

"Hmm… tinggal satu lagi. Sepertinya disana." Baekhyun bergumam pelan sambil melanjutkan langkahnya menuju sisi rak lain, membuat Chanyeol semakin cemberut. Kehadirannya seolah tidak dianggap, Baekhyun terlihat asyik dengan dunianya.

"Haruskah kita membeli semua buku itu?" tanya Chanyeol. Baekhyun hanya mengangguk sambil tetap melanjutkan pencariannya. Chanyeol semakin kesal merasa diabaikan.

"Baekhyun?" panggil Chanyeol pelan, tapi kekasihnya nampak asyik memilih buku. Membuat Chanyeol ingin membakar seluruh buku yang ada di toko itu sekarang.

"Baekhyun?"

"Hm?" Chanyeol mendengus kesal, panggilannya hanya dibalas oleh sebuah gumaman. Karena itu ia segera menarik lengan Baekhyun dan membuat tubuh mungil itu menghadap kearahnya. Baekhyun menatap Chanyeol terkejut,sementara Chanyeol menatap mata Baekhyun dalam.

"Kau tahu apa hal yang paling tidak aku sukai di dunia?" tanya Chanyeol. Baekhyun menggeleng pelan.

"Diabaikan."Mata Baekhyun mengerjap beberapa kali, membuat Chanyeol heran dengan respon yang Baekhyun berikan padanya.

"Sekali lagi, diabaikan." Ucap Chanyeol penuh penekanan.

"Lalu?" Chanyeol membulatkan matanya tak percaya mendengar respon Baekhyun. Baekhyun terlihat biasa-biasa saja, jauh dari respon 'merasa bersalah' yang Chanyeol bayangkan.

"Hm…ya.. aku hanya tidak suka ketika aku diabaikan." Sahut Chanyeol lagi, kini matanya tidak lagi mendominasi, ia terlihat gugup dan canggung.

"Apa aku mengabaikanmu?" tanya Baekhyun pelan. Chanyeol mengangkat wajahnya menatap Baekhyun, tidak menjawab hanya memberikan tatapan datar.

"Kau lebih memilih buku-buku itu ketimbang diriku." Gumam Chanyeol pelan, seolah hal yang ia lakukan memalukan atau memang memalukan. Jangan lupa sisipkan kata 'benar-benar' di dalamnya.

"Jika aku mengabaikanmu, untuk apa aku berada disini? Buku-buku ini untukmu bukan?" dan seperti orang bodoh, Chanyeol mengangguk setuju.

"Jangan berlebihan Chanyeol! Ayo kita lanjutkan!" Baekhyun kembali melangkah meninggalkan Chanyeol yang merasa malu dengan sikapnya. Sial! Chanyeol benar-benar terlihat seperti bocah yang ingin mendapatkan perhatian dari ibunya, bahkan saat ia masih kecil pun ia tidak sememalukan seperti itu.

Chanyeol masih berdiri dibelakang Baekhyun dengan wajah malasnya, kedua tangannya masih tetap bertahan di dalam saku celana, sementara kakinya memainkan kerikil-kerikil tak kasat mata di lantai. Sesekali ia melirik Baekhyun yang terlihat sibuk mencari buku yang mereka perlukan.

Mata Chanyeol menelusuri seluruh bagian toko dan ia tertarik pada sebuah buku di ujung ruangan, yang berisi tentang gambar iblis. Ia melangkah menuju sudut ruangan yang berjarak cukup jauh dari tempat Baekhyun berdiri.

Ia mengambil buku itu dan membukanya yang ternyata adalah sebuah komik, Chanyeol merasa benda di tangannya jauh lebih menarik ketimbang benda serupa yang sering Baekhyun baca. Ia bersandar pada dinding dan mulai membuka halaman demi halaman.

Sesekali keningnya berkerut dan sesekali bibirnya membuat sebuah senyuman. Halaman demi halaman ia buka dan sepertinya ia mulai tertarik, tubuhnya terlihat bersandar semakin rileks pada dinding ruangan. Sesekali ia terkikik, entah jenis komik apa yang ia baca tapi benda persegi itu mulai mengubah sudut pandangnya.

" KAU FIKIR APA YANG KAU LAKUKAN HAH?" suara bentakan itu mengalihkan pandangan Chanyeol, matanya menelusuri ruangan untuk mencari dimana keberadaan Baekhyun, sampai ia melihat sosok kekasihnya sedang membungkuk meminta maaf pada dua orang dihadapannya. Chanyeol menutup bukunya kesal, lalu meletakkanya asal.

Dengan kaki jenjangnya ia melangkah tergesa menuju keributan kecil yang mungkin sebentar lagi akan menjadi keributan besar.

"Ma..maafkan aku . Aku tidak bermaksud_"

"Apanya yang tidak bermaksud, jelas-jelas kau menampar kekasihku tanpa sebab." Bentak wanita berambut panjang coklat yang kini menunjuk-nunjuk wajah Baekhyun.

PLAK

Chanyeol menepis tangan wanita itu, membuat ketiga orang menoleh kaget.

"Kau pikir apa yang kau lakukan hah?" ucap Chanyeol dengan wajah kesalnya, wanita dihadapan Chanyeol berdeham. Ia sempat terpesona melihat ketampanan Chanyeol , sehingga ia urung untuk membentak balik.

"Perhatikan tanganmu! Jangan sekali-kali melakukan itu pada kekasihku." Ucap Chanyeol sambil menunjuk balik wanita dihadapanya yang sejenak terlihat takut.

"Tapi, dia telah menampar kekasihku." Ucap wanita itu. Chanyeol beralih melirik lelaki disamping si wanita, yang terlihat memegang pipinya yang memerah dan sesekali melirik takut kearah Chanyeol.

Chanyeol membalik tubuhnya untuk melihat Baekhyun, dan lelaki mungil itu hanya menatap Chanyeol dengan wajah sendu, seolah menjelaskan bahwa ia tidak melakukan apapun. Chanyeol tentu lebih percaya Baekhyun, karena itu ia menyentuh pipi Baekhyun dan menjelajah waktu, kembali ke beberapa menit lalu.

Terlihat Baekhyun sedang asyik memilih buku, sampai tiba-tiba dua orang mendekat untuk berdiri membelakangi Baekhyun. Si wanita memilih buku, sementara kekasihnya yang terlihat tidak tertarik memilih untuk melihat sekitar sampai matanya beralih pada sosok Baekhyun.

Ia memandangi tubuh Baekhyun dari bawah sampai atas dan berhenti di bokong Baekhyun, sesekali ia mencuri kesempatan untuk melihat wajah Baekhyun dan ia tersenyum karena wajah Baekhyun begitu cantik.

Dengan kurang ajar ia menjulurkan tangannya dan menyentuh pantat Baekhyun, membuat Baekhyun terkejut. Ketika akan marah, lelaki itu memerintahkan Baekhyun untuk diam. Baekhyun ketakutan dan ia mencari keberadaan Chanyeol, tapi ia tidak menemukannya.

Remasan-remasan mulai ia rasakan, sampai ketika ia merasa tangan itu semakin kurang ajar. Baekhyun dengan refleks, membalik tubuhnya dan menampar lelaki itu membuat wanita disampingnya terkejut, dan si lelaki malah mengadu bahwa ia ditampar tanpa sebab.

Chanyeol membuka matanya dan segera berbalik. Menarik kerah kemeja lelaki hidung belang itu dan memberikan satu pukulan keras di pipinya. Tidak hanya disitu, ia juga memukul perutnya, hingga terjatuh ke atas lantai, dan menduduki perutnya lalu memukul dengan brutal.

"Brengsek! Beraninya kau menyentuh Baekhyun seperti itu!"

"Hentikan! Aku mohon hentikan! Kyaaaa" si wanita berteriak sambil menarik-narik tubuh Chanyeol, begitu juga Baekhyun namun tidak Chanyeol tanggapi. Ia terlalu kesal, bahkan ingin menghabisi nyawa lelaki brengsek di hadapannya.

Tak lama beberapa petugas keamanan datang dan segera menarik tubuh Chanyeol secara paksa. Lelaki itu nyaris sekarat, kemejanya sudah dipenuhi banyak darah. Chanyeol menatap lelaki itu dengan nafas terengah.

"Ada apa ini?" tanya kepala keamanan. Chanyeol tidak menjawab, matanya masih menatap tajam kearah lelaki yang kini sedang dibantu berdiri.

"Mereka menghajar kekasihku." Adu si wanita yang kini menangis dan memeriksa keadaan kekasihnya. Chanyeol menyeringai, sementara Baekhyun nampak terkejut.

"Kau! Katakan kejadian yang sebenarnya! Atau aku tidak akan membiarkanmu lolos dengan bagian tubuh lengkap." Tunjuk Chanyeol pada si lelaki hidung belang, lelaki itu terkejut dan takut. Lalu bibirnya bergetar untuk membuka suara.

"A..aku telah melecehkannya." Aku lelaki itu, membuat kekasihnya memekik terkejut.

"Maafkan aku sa_"

PLAK

Sebuah tamparan ia terima dari kekasihnya, wanita itu terlihat terkejut dan marah, bahkan ia menangis sambil menutup mulutnya.

"Teganya kau!" ucap si wanita.

"Hah! Aku harap kalian tidak membuat keributan lagi di toko ini." Ucap si kepala keamanan, lalu berlalu.

"Yak! Kalian! Urusan kita belum selesai." Kedua orang yang sedang bertengkar itu menoleh kearah Chanyeol, begitu juga Baekhyun.

"Minta maaf pada Baekhyun-ku, atau kalian aku bunuh ditempat ini." Dan seketika pasangan itu segera membungkuk dan meminta maaf pada Baekhyun. Baekhyun menganggukan kepalanya pelan, ia tidak ingin memperpanjang masalah setidaknya Chanyeol mempercayainya.

"Ayo!" Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun menjauh, Baekhyun menatap tangannya lalu mengeratkan pegangannya.

"Lain kali, panggil namaku ketika kau dalam keadaan seperti itu. Hah, manusia benar-benar merepotkan. Oh iya, apa kita sudah selesai?" tanya Chanyeol lagi yang melirik Baekhyun, Baekhyun hanya mengangguk sebagai respon.

"Ayo kita bayar, dan segera pulang aku lapar!" ucap Chanyeol sambil memegang perutnya dan Baekhyun mengangguk sambil tersenyum. Mereka menuju kasir dan segera membayar buku-buku milik Chanyeol sebelum akhirnya keluar dari toko itu, walau sempat mendapat tatapan dari beberapa pegawai dan pengunjung Chanyeol tidak peduli dan melenggang dengan santai.

Mereka tiba diapartemen Chanyeol tiga puluh menit setelahnya, dan Baekhyun segera berjalan kearah dapur untuk meletakkan bungkusan daging yang sempat mereka beli tadi. Chanyeol menuju kamarnya untuk mengganti pakaian dan mengambilkan baju ganti untuk Baekhyun.

Baekhyun terlihat mencuci beras dengan telaten, sebelum memasaknya. Tadi Baekhyun sempat membeli beras, karena ia tidak bisa hanya memakan daging saja tanpa nasi, perutnya terasa mual.

Tak lama Chanyeol datang sambil membawa selembar kaos berwarna putih. Baekhyun melirik sebentar sebelum Chanyeol meletakkan kaos itu di meja dapur.

"Gantilah dulu seragammu agar tidak kotor!" ucap Chanyeol. Baekhyun mengangguk lalu berjalan ke kamar. Chanyeol melirik sebentar apa yang dibuat Baekhyun dan ia mengernyit jijik ketika melihat benda-benda putih berbulir yang terendam dalam air.

Merasa dapur bukan tempat yang cocok untuknya, ia memilih berjalan kearah ruang tengah dan duduk disana. Menyalakan televisi dan memencet remote asal, tidak ada yang menarik hatinya. Jadi beberapa menit ia hanya mengganti-ganti channel televisi secara acak.

Baekhyun kembali ke dapur dengan menggunakan baju kaos putih kebesaran milik Chanyeol yang hanya menutupi hingga setengah pahanya, sepertinya Baekhyun sudah mulai biasa dengan itu, jadi ia tidak mempermasalahkannya lagi.

Chanyeol berbaring diatas sofa sambil memainkan bola api kecilnya di tangan untuk mengusir rasa bosannya. Ketika mencium aroma daging matang, Chanyeol segera bangkit dengan semangat dan berjalan ke dapur. Ia melihat Baekhyun sedang menghadap kompor sambil sibuk memasak, dengan perlahan Chanyeol memeluk tubuh kekasihnya dari belakang, membuat Baekhyun tersentak.

"Aromanya sangat enak." Bisik Chanyeol, Baekhyun mengangguk pelan.

"Sebentar lagi matang, kau bisa menunggu di meja makan." Ucap Baekhyun pelan, tapi Chanyeol tetap pada posisinya. Bahkan ia menyelipkan wajahnya di ceruk leher Baekhyun, membuat lelaki mungil itu menggeliat pelan.

"Aku ingin menunggu disini." Ucap Chanyeol dengan suara beratnya. Baekhyun tetap membalik daging-daging itu, tapi gerakannya terlihat terbatas.

"Tapi sulit untukku bergerak Chanyeol!" Chanyeol menyeringai, lalu mengecup leher Baekhyun pelan. Jemari Chanyeol bergerak untuk mematikan kompor, dengan cepat ia membalik tubuh Baekhyun menghadap kearahnya. Baekhyun menatap Chanyeol dengan matanya yang membulat, dan pipi yang merona merah.

Chanyeol tersenyum, mengangkat wajah Baekhyun lalu mengecup bibir itu pelan. Lalu mengecup sekali lagi sebelum akhirnya berubah menjadi sebuah ciuman hangat. Ciuman hangat dan intim yang menuntut. Baekhyun memejamkan matanya dan membalas ciuman Chanyeol, jemari Chanyeol bergerak menyusuri pinggang Baekhyun lalu berhenti di pipi pantat empuk itu.

"Tangan si brengsek itu menyentuhmu disini kan?" Chanyeol meremas pipi pantat Baekhyun, membuat Baekhyun bergerak tidak nyaman.

"Beraninya dia menyentuh milikku." Bisik Chanyeol lagi, disela ciuman mereka. Baekhyun terengah sambil menundukan wajahnya. Chanyeol mengangkat tubuh Baekhyun dan mendudukannya diatas bar dapur, membuat Baekhyun memekik terkejut.

"Chan…yeol… Ta..tapi ma_Hhmmmppt." Chanyeol kembali membawa Baekhyun dalam sebuah ciuman, lidah mereka saling bertemu dan membelit. Sesekali Chanyeol menarik bibir bawah Baekhyun dan menghisapnya kuat, membuat Baekhyun memekik merasakan gigitan-gigitan kecil dari gigi Chanyeol.

Chanyeol beralih ke leher Baekhyun, mengecup dan menyesap di tempat yang masih tersisa. Sebuah jejak baru kembali tercipta, Baekhyun mendongakkan kepalanya, dan mengalungkan lengannya di leher Chanyeol.

Disela hisapannya, Chanyeol membuka lebar paha Baekhyun dan menarik kedua kaki Baekhyun, hingga tubuh Baekhyun miring kebelakang. Membuat tubuh bagian bawah mereka bergesekan lebih intim. Milik Chanyeol dan Baekhyun saling bertemu, membuat keduanya merasakan sensasi aneh.

Chanyeol kembali mencium bibir Baekhyun, tautan yang begitu intim dan penuh nafsu. Chanyeol menyedot bibir Baekhyun dengan kuat, sesekali menghisap lidah Baekhyun juga, membuat Baekhyun mengeram nikmat.

KRYUUUUKKK

Suara itu menganggu acara mereka, Baekhyun menahan dada Chanyeol, menjauhkan wajah mereka, lalu tersenyum.

"Mari kita makan dulu!" ucap Baekhyun, Chanyeol mengutuk bunyi perutnya. Ia menggeleng pelan dan menarik tengkuk Baekhyun lagi, tapi Baekhyun kembali menahan dada Chanyeol.

"Tidak. Aku tidak ingin kita mati kelaparan! Ini sudah cukup." Ucap Baekhyun sambil tersenyum lebih lebar, Chanyeol menghela nafas kecewa lalu menurunkan tubuh Baekhyun, membiarkan kekasihnya menyelesaikan acara masaknya.

Sementara Chanyeol menunggu di meja makan dengan wajah cemberut, memperhatikan bagaimana Baekhyun bergerak disana. Sesekali mata nakalnya akan beralih pada pantat dan kaki Baekhyun yang terlihat begitu menggoda, sungguh membuat jiwa iblis Chanyeol meronta-ronta.

Ketika suara dentingan antara piring dan meja yang bertemu, Chanyeol tersadar dari lamunannya. Ketika matanya menatap sepiring daging diatas meja, mencium aroma sedap yang menguar dari balik potongan-potongan kecil benda di hadapannya, salivanya sudah berkumpul di ujung lidahnya.

"Makanlah!" ucap Baekhyun sambil mengambil duduk di depan Chanyeol.

Sekitar tiga puluh menit berlalu dengan makan siang mereka, kini mereka memutuskan untuk berbaring diatas sofa sambil menonton siaran televisi. Baekhyun berbaring di sisi paling luar sambil menghadap layar televisi sementara Chanyeol berbaring di sisi dalam sambil memeluk Baekhyun dari belakang. Sungguh pemandangan yang begitu romantis, mereka terlihat seperti pasangan paling serasi dan bahagia di dunia.

Walau Chanyeol tidak tertarik dengan apa yang disiarkan di televisi, tapi ia setidaknya tahu bahwa Baekhyun sangat menyukai acara flora dan fauna, ketimbang drama-drama yang sejak tadi lewat sebagai selingan.

"Kenapa kau sangat menyukai hewan dan tumbuhan?" tanya Chanyeol pelan, mengalihkan fokus Baekhyun terhadap apa yang telah ia lakukan. Baekhyun tidak menoleh, namun Chanyeol tahu Baekhyun sedang mempersiapkan diri untuk merespon pertanyaanya.

"Karena aku iri melihat kebebasan mereka. Mereka melakukan apapun yang mereka inginkan, tanpa memikirkan respon yang lingkungan mereka berikan." Ucap Baekhyun.

"Itu karena mereka tidak memiliki pikiran. Binatang tidak bisa berpikir." Ucap Chanyeol dengan suara beratnya.

"Karena itu, karena itu aku suka mereka. Terkadang pikiran lah yang membuat orang-orang menciptakan hal-hal yang mustahil, dan terkadang pikiran yang membuat orang-orang menyakiti perasaan sesamanya. Binatang memang tidak memiliki pikiran, tapi mereka tahu apa arti kasih sayang." Ucap Baekhyun lagi, suaranya terdengar lirih tapi matanya masih setia menatap layar televisi, dimana terlihat seekor induk singa bersama tiga ekor bayinya sedang berbaring di tanah.

"Tapi bukankah manusia makhluk yang paling mulia?" tanya Chanyeol, entah mengapa ia begitu penasaran dengan pemikiran Baekhyun.

" Apa kau meganggap seperti itu? Tunjukan kemuliaan apa yang telah para manusia lakukan, selain menyakiti dan merusak. Aku rasa bumi akan tetap baik, jika Tuhan tidak menciptakan manusia." Ucap Baekhyun, Chanyeol tercekat tapi kemudian ia mengeratkan pelukannya.

Ia tahu Baekhyun sedang terbawa emosinya, dan Chanyeol tidak ingin terlalu ikut terlarut dengan pemikiran itu. Ia mengecup belakang telinga Baekhyun, dan mengusap perut datar Baekhyun pelan.

"Aku tidak setuju. Jika Tuhan tidak menciptakan manusia, mungkin aku tidak akan bertemu dengan makhluk seindah dirimu." Ucap Chanyeol. Baekhyun terdiam, lalu kemudian membuka mulutnya kembali.

"Terkadang hal yang dianggap indah tidak seindah kelihatannya. Bahkan hal yang terlihat indah sebenarnya jauh lebih buruk daripada hal terburuk yang ada. Jika kau tahu tentangku lebih dalam, maka kau akan tahu seburuk apa diriku." Ucap Baekhyun lagi, suaranya terdengar menyiratkan sebuah kesakitan yang dalam.

"Jika begitu, katakan! Agar aku tahu, seburuk apa dirimu." Ucap Chanyeol . Baekhyun menghentikan gerakan tangan Chanyeol, kemudian ia berbalik hingga jarak wajah mereka begitu dekat.

"Aku harus mempersiapkan diriku dulu, agar ketika kau meninggalkanku kelak karena mengetahui sisi burukku, aku tidak akan terpuruk jauh." Ucap Baekhyun. Chanyeol tersenyum lalu mengecup bibir Baekhyun singkat.

"Aku ragu. Mungkin bukan aku yang meninggalkanmu. Tapi mungkin kau yang akan meninggalkanku, jika tahu seburuk apa diriku." Ucap Chanyeol. Baekhyun terdiam dengan pemikirannya, kemudian sentuhan tangan Chanyeol dipipinya membuat ia menatap mata Chanyeol.

"Memangnya_"

"Jadi! Mari kita sembunyikan dulu keburukan kita masing-masing, hingga saatnya tiba dimana kita siap untuk mengungkapkannya, mungkin setelah kita mempercayai satu sama lain." Potong Chanyeol, Baekhyun tercekat kemudian ia mengangguk dan membalik kembali tubuhnya.

Chanyeol terdiam, senyumnya hilang. Ia menatap kekasihnya dari belakang. Melihat mata Baekhyun yang menatap lurus kearah televisi. Chanyeol mencoba tersenyum, tapi itu terlihat pahit. Ia bahkan meragukan jika nanti Baekhyun akan tetap bertahan disampingnya setelah tahu kenyataan bahwa ialah penyebab kehancuran hidup seorang Byun Baekhyun.

..

.

Sehun duduk di dalam kelasnya, sambil memperhatikan guru Kimianya menjelaskan pelajaran. Walau materi ini baru, tapi Sehun termasuk cepat dalam belajar. Jadi ketika guru mereka menunjuknya karena ia yang paling mencolok diantara teman-temannya, maka Sehun mengerjakan soal itu dengan baik.

Waktu berlalu sangat cepat baginya, bahkan ia tidak menyadari jika guru Kimianya sudah keluar meninggalkan kelas. Sehun memperhatikan teman-teman sekelasnya, dan ia merasa begitu iri. Melihat bagaimana mereka saling menepuk bahu untuk mengajak teman mereka pergi ke kantin, ketika mereka saling memukul dan tertawa karena sebuah lelucon, bahkan Sehun berharap bisa menjadi salah satu yang dipukul dan kemudian terbahak sambil berjalan ke kantin.

Mengingat angan-angannya sejak dulu, membuat Sehun tersenyum pahit. Ia tidak pernah memiliki teman, selain teman sekelas yang bahkan menganggapnya tidak ada. Sehun memasukkan bukunya ke dalam tas, dan berjalan keluar kelas. Perutnya sedikit lapar, tapi ia enggan untuk pergi ke kantin, ia menghindari keramaian.

"Sehun!" Sehun menoleh keujung koridor dan disana ada sosok yang membuatnya senang. Luhan, guru keseniannya yang secara tak langsung menjadi orang terdekatnya. Mereka memang tidak memberikan status yang pasti, tapi ungkapan saling suka diantara mereka cukup untuk membuat mereka memiliki hubungan lebih dari sekedar guru dan murid.

"Saem?" gumam Sehun, ketika Luhan berjalan mendekat. Luhan selalu sama dimatanya, manis, cantik, bersemangat dan begitu menggebu-gebu.

"Ikut aku! Ada yang harus aku bicarakan." Ucap Luhan. Sehun mengikuti langkah Luhan yang membawanya menuju ruang guru. Disana terlihat hanya ada beberapa guru saja, dan mereka terlihat sibuk dengan pekerjaan mereka.

"Ini." Luhan memberikan sebuah brosur untuk Sehun. Sehun mengernyit sambil menerimanya, lalu kemudian membacanya. Sebuah perlombaan melukis antar sekolah. Sehun mengalihkan pandanganya ke Luhan meminta penjelasan.

"Daftarkan dirimu segera! Sekolah akan bangga dengamu." Ucap Luhan sambil menepuk pundak Sehun. Sehun menggeleng pelan, dan mengembalikan brosur itu.

"Tidak. Aku tidak tertarik Saem. Aku tidak mungkin menang."

"Yang terpenting bukan masalah menang atau kalah, tapi kontribusimu terhadap sekolah. Walau aku yakin 100 % kau akan menang."

"Aku tidak yakin. Aku tidaklah mahir dalam melukis ataupun menggambar, yang waktu itu kau lihat hanya sebuah kebetulan. Aku tidak memiliki ketertarikan untuk itu." Ucap Sehun lagi, Luhan mendesah pelan.

"Kau mungkin berpikir dirimu tidak mahir, tapi kau punya aku. Aku adalah guru kesenian terbaik di dunia." Ucap Luhan bangga, Sehun tersenyum kecil sambil menggeleng pelan.

"Daftarkan, atau aku tidak akan mentraktirmu es krim lagi." Ucap Luhan dengan wajah serius. Sehun menatap Luhan dengan dua alis terangkat.

"Terserah Saem saja, lagipula jika aku menolak kau akan tetap mendaftarkan namaku juga." Ucap Sehun lalu membungkukan badan dan berlalu meninggalkan Luhan yang tersenyum senang.

"Sehun, kau akan mendapatkan kebahagiaanmu, aku berjanji." Gumam Luhan pelan dengan mata penuh ambisi.

..

.

Lapangan basket nampak ramai, suara saling bersahutan antara teriakan para pemain dan pantulan bola yang begitu keras.

"Yeeeaaa!" suara nyaring pemandu sorak terdengar jelas. Disana ada Jongin yang memimpin, namun mereka tidak terlihat sedang berlatih. Semuanya masih mengenakan seragam sekolah, tidak menggunakan baju kebanggaan mereka.

Mereka hanya sedang bermain-bermain di jam istirahat setelah melakukan rapat singkat tiap minggu yang rutin diadakan. Jongin sebagai ketua tim basket, dan Cheondong sebagai wakil yang akan memimpin.

Walau Jongin masih duduk di tingkat dua, tapi ia sangat mahir dalam bermain basket. Seumur hidupnya hanya ia habiskan bersama bola basket dan ring. Jongin adalah pecinta berat bola basket, semua tahu itu termasuk seisi sekolah yang mengenalnya sebagai ketua tim basket. Dia satu-satunya ketua tim basket di sekolah mereka, yang menempati posisi ketua di tahun pertama bersekolah, karena Jongin masuk dengan jalur istimewa atas bakatnya bermain basket.

"Jongin! Apa yang membawamu menghadiri rapat?" tanya sosok putih pucat yang merupakan sahabat Jongin sejak dulu, Cheondong, atau orang-orang memanggilnya dengan Thunder. Julukan yang orang-orang berikan karena gerakannya seperti petir ketika bermain di lapangan, namun ketika diluar lapangan dia adalah pribadi pendiam dan dingin.

"Aku? Entahlah hanya sedang ingin. Apa itu menjadi masalah?" tanya Jongin. Cheondong menggeleng pelan sambil menenguk air mineralnya.

"Bukan masalah sebenarnya, tapi lebih seperti keajaiban." Ucap Cheondong membuat Jongin memukul lengan sahabatnya sambil mengumpat pelan.

"Hei! Apa kau melihat sosok yang kemarin itu lagi?" tanya Jongin, Cheondong menoleh dengan dahi mengernyit.

"Siapa?"

"Sosok bidadari yang kita lihat kemarin." Ucap Jongin.

"Entahlah. Aku tidak mendengar berita tentang siswi baru di sekolah ini. Mungkin kemarin bukan bidadari, tapi hantu.. iiii~" Cheondong mengusap lengannya merinding, membuat Jongin memutar bola matanya malas. Sahabatnya ini memang tampan dan memiliki citra dingin, tapi dia sangat suka mengkhayal dan terkadang berlebihan.

..

.

Chanyeol melirik kearah Baekhyun yang terlihat asyik membaca bukunya. Chanyeol kembali cemberut merasa diabaikan, ingatkan ia untuk memasukan buku ke dalam daftar hal yang paling ia benci setelah ibunya.

Jam istirahat sudah berjalan dua puluh menit yang lalu, dan Baekhyun berkata ingin membaca buku sebentar sambil menghabiskan jam istirahatnya. Sebenarnya Baekhyun tidak memaksa Chanyeol ikut, tapi Chanyeol yang memaksa ingin ikut. Jadi Baekhyun tidak punya pilihan lain, selain menurut.

"Baek, aku bosan." Gumam Chanyeol.

"Kembalilah ke kelas, aku akan menyusul." Cukup! Chanyeol sudah pernah mengatakan jika ia sangat benci diabaikan, jadi tanpa berkata apa-apa Chanyeol bangkit dan melenggang pergi dengan emosi memuncak. Sisi iblisnya selalu berhasil menguasai, namun tidak sampai membuatnya membakar isi di dalam perpustakaan.

Chanyeol berjalan menuju halaman belakang sekolah tanpa tujuan. Ia hanya menghindari keramaian. Kaki jenjangnya menapak tanpa arah, mengikuti kata hatinya yang ingin menjauh dari lingkungan sekolah.

"AAAAKKHH.." Chanyeol mengernyit ketika mendengar suara rintihan kesakitan.

BRAAK

Kembali suara itu mengalihkan fokus Chanyeol, ia melihat sekeliling untuk mencari tahu dimana suara itu, tapi sepanjang ia melihat sekeliling hanya ada dirinya dan tembok yang cukup tinggi sebagai pembatas, sampai Chanyeol berpikir jika suara itu berasal dari balik tembok.

Ia menyeringai, sudah lama tidak menyaksikan kejahatan. Ia melihat sebuah meja tak terpakai di sebelahnya dan melompat naik, lalu memanjat dinding. Ia duduk diatas dinding dengan satu kaki menjulur dan satu kaki lagi ia tekuk sebagai tumpuan tangannya.

Dari atas sana, ia melihat seorang lelaki remaja di pukuli hingga terkapar ke tanah, perutnya di tendang dan bahkan diludahi.

"Kau pikir dengan menjadikan guru sebagai tamengmu, kami akan takut?" salah satu siswa yang terlihat seperti pemimpin membuka suara.

"Kau sudah membuat teman kami masuk rumah sakit karenamu, jangan kau pikir kau bisa bebas berkeliaran, bahkan mendekati guru baru itu." Sambungnya lagi, Chanyeol memperhatikan si lelaki yang terkapar di tanah dalam diam, sesekali ia menyeringai mengetahui fakta bahwa kriminalitas bisa dilakukan oleh anak-anak juga, Chanyeol menyukainya.

" Kau seperti sampah asal kau tahu, kau dan keluargamu menjijikan. Terutama kakakmu yang pelacur itu."

"Hentikan! Jangan bicara seolah kau tahu tentang keluargaku, kalianlah yang sampah_AAAKHH" tendangan bertubi kembali ia dapatkan. Chanyeol tersenyum senang, mendapat tontonan gratis ditengah suasana hatinya yang buruk.

"Dasar monster aneh. Jangan sok membela keluargamu, bajingan! Adiknya monster dan kakaknya seorang pelacur, apa yang lebih baik dari_" ucapan si pemimpin terhenti saat kakinya dicengkram. Ia berusaha bangkit dengan tubuh ringkihnya. Matanya menatap tajam kearah sosok yang menendangnya tadi.

Ia bangkit dengan keadaan berantakan, rambutnya teracak dan sudut bibirnya mengeluarkan darah.

"Kau boleh menghinaku, tapi tidak dengan kakakku." Cengkramannya semakin keras, Chanyeol masih memperhatikan tapi tidak melihat dengan jelas wajah si korban, meski ia dapat mendengar semua percakapan mereka.

Chanyeol memperhatikan ketika sosok ringkih itu berdiri, bahkan ia meludahkan cairan berwarna merah ke tanah. Tangannya terkepal erat membuat lawanya ketakutan , bahkan anak buah si pemimpin mundur selangkah di belakang sang pemimpin yang kerah bajunya di cengkram.

"Baekhyun hyung bukan pelacur asal kau tahu!" suara sosok itu membuat Chanyeol mengernyitkan keningnya, jika sosok korban itu menyebut Baekhyun sebagai 'hyung' berarti sosok disiksa itu adalah Sehun. Chanyeol tersadar dari keterdiamannya, ia membulatkan matanya ketika melihat Sehun mengepalkan tangannya yang bercahaya yang hanya dapat dilihat oleh kaum iblis dan malaikat.

Chanyeol melompat dan berjalan mendekat. Ketika Sehun hendak mengangkat jemarinya, Chanyeol mencengkram kepalan itu membuat mereka yang ada disana menoleh terkejut.

"Anak kecil tidak boleh menggunakan kekerasan." Ucap Chanyeol sambil menatap Sehun, Sehun tetap mengepalkan tangannya, melawan cengkraman Chanyeol yang menahan pergerakannya.

"Dan Kau!" Chanyeol menatap nyalang kearah si pemimpin.

"Pergi! Atau aku akan melaporkan kalian pada polisi." Ucap Chanyeol membuat nyali si pemimpin menciut, lalu melepaskan paksa cengkraman tangan Sehun di seragamnya dan berlari meninggalkan lokasi kejadian.

"Hah! Lihat! Mereka begitu pengecut." Gumam Chanyeol pelan sambil tersenyum remeh, lalu mengalihkan pandangannya pada Sehun yang menatapnya dengan tatapan membunuh, Chanyeol tercekat sebelum akhirnya membalik tubuhnya dan berdiri dihadapan Sehun dengan tangan masih saling menahan.

"Apa reaksi kakakmu setelah tau kau adalah anak nakal?" gumam Chanyeol sambil menyeringai. Sehun tidak menjawab ia menatap Chanyeol penuh benci, entah mengapa tapi Sehun benar-benar membenci sosok di hadapanya, terutama ketika tahu sosok dihadapannya bisa berteman dengan kakaknya dengan mudah, sementara ia tetap di benci.

"Apa pedulimu?" ucap Sehun dingin.

"Aku memang tidak peduli padamu, aku peduli pada kakakmu asal kau tahu." Ucap Chanyeol. Sehun menambah kekuatan tangannya, dan Chanyeol juga sama. Mereka beradu kekuatan dalam, walau tidak membuat gerakan pasti tapi keringat yang mengalir di pelipis Sehun sebagai tanda bahwa ia sedang mengerahkan seluruh kekuatannya.

"Apa kau pikir makhluk sepertimu bisa mengalahkanku?" ucap Chanyeol sambil menyeringai. Sehun mengeraskan rahangnya, lalu kembali mendorong kepalan tangannya. Chanyeol tetap menyeringai bahkan ia terlihat santai, berdiri dengan satu tangan berada di dalam saku celananya.

"Aku membencimu." Ucap Sehun.

"Hei! Kita tidak terlalu akrab untuk mengatakan kau membenciku. Tapi sedikit info, aku juga membencimu." Ucap Chanyeol. Sehun semakin kesal, ia kembali mengerahkan seluruh tenaga dalamnya.

"Karena kehadiranmu membuat aku melewati waktu-waktu yang sulit. Seandainya kau tidak terlahir, maka aku tidak akan merasakan semua ini." Ucap Chanyeol. Walau Sehun tidak mengerti apa yang Chanyeol katakan, tapi ia menganggap bahwa Chanyeol sedang mengibarkan bendera perang padanya.

"Aku tidak akan membiarkanmu mendekati hyungku."

"Heuh! Hyung? Aku tidak yakin." Sahut Chanyeol santai. Sehun semakin kesal atas tanggapan Chanyeol, seolah mereka sedang bermain-main.

"Apa maumu brengsek?" bentak Sehun.

"Wow. Apa aku perlu mengingatkan seberapa tidak dekatnya kita? Kita tidak terlalu akrab untuk menyisipkan kata 'brengsek' di tengah ucapanmu. Kau bahkan tidak tahu seberapa brengseknya aku, bocah ingusan."

"Kau_" Sehun semakin menekan telapak tangan Chanyeol, kini keringatnya bercucuran deras, kakinya terseret kebelakang ketika Chanyeol menekan kepalannya.

"Kau bukan tandinganku, aku mengingatkanmu." Ucap Chanyeol santai, sambil mencengkram kepalan tangan Sehun.

"Aku tidak peduli."

"Aku juga." Kemudian Chanyeol mendorong telapak tangannya, hingga Sehun sedikit terpental lalu pingsan. Chanyeol mendesah pelan, lalu menatap tubuh Sehun yang sudah tergeletak lemas di lantai.

"Merepotkan." Gumam Chanyeol sambil mendekat dan mengangkat tubuh Sehun.

"Seharusnya bocah ini tidak mengerahkan seluruh tenaganya untuk melawanku, kau benar-benar merepotkan bocah." Gumam Chanyeol lalu menghilang.

Chanyeol meletakkan tubuh Sehun diatas ranjang di dalam apartemennya. Ia mendesah kesal, menatap Sehun tanpa minat lalu berbalik. Tapi langkahnya terhenti dan ia kembali berbalik untuk menatap wajah Sehun.

Lama pandanganya jatuh pada wajah Sehun, menatap setiap inchi garis rahang tegas itu. Meneliti dengan seksama seluruh lekuk wajah bocah di hadapannya.

"Dia begitu tampan." Suara itu mengalihkan fokus Chanyeol, dan ketika menoleh ia mendapati sosok ibunya telah berdiri disampingnya sambil menatap Sehun.

"Dia sangat tampan." Ulangnya lagi membuat Chanyeol memutar bola matanya.

"Mirip ayahmu." Chanyeol mengangkat alisnya, merasa tidak terima.

"Terakhir aku ingat, spermaku yang membuatnya bisa hidup sampai sekarang. Kenapa ibu malah memuji ayah?" tanya Chanyeol tak terima. Taemin tersenyum lalu menoleh kearah Chanyeol yang terlihat kesal.

"Karena ayahmu memang tampan."

"Terserah." Ucap Chanyeol tak acuh, sambil berjalan kearah kursi belajarnya. Mengambil duduk dengan satu kaki ia silangkan diatas kaki lain.

"Kibum merawatnya dengan baik, cucuku tumbuh menjadi anak pintar dan penurut. Lihat! Betapa tampannya wajah damai ini." Taemin menyentuh pipi Sehun dan mengelusnya perlahan.

" Tapi dia tidak bersikap baik padaku. Ck! Benar-benar tidak tahu diuntung. Dia membenci salah satu orang yang telah berperan pada pembentukannya." Gerutu Chanyeol kesal. Taemin menoleh dan menatap Chanyeol.

"Kau bahkan membenci ibu yang telah melahirkanmu." Seketika Chanyeol tersentak, ia menatap ibunya yang malah membuang wajahnya dan kembali menatap Sehun.

" Benci dan cinta beda tipis, asal kau tahu. Mungkin sekarang dia membencimu, tapi suatu saat dia akan menerimamu."

"Aku tidak peduli, jika ia tidak menerimaku itu bukan masalah. Aku tidak membutuhkannya, karena tanpa anak pun aku tetap bisa menjadi raja iblis." Ucap Chanyeol angkuh, Taemin mendesah pelan. Bicara dengan Chanyeol sama halnya bicara dengan batu, begitu keras.

"Tapi sudah menjadi tanggung jawabmu untuk merawatnya, karena berkat spermamu dia bisa terlahir. Chanyeol, walau kau membenci ibu, setidaknya bisakah kau menyayangi cucu ibu?" Seketika mata Chanyeol membulat, entah mengapa ibunya terlihat lebih menyebalkan sekarang. Bahkan perkataannya selalu membuat Chanyeol tersentak dan terpukul telak.

"Aaah~ membosankan. Ibu aku titip dia, aku harus kembali ke sekolah." Ucap Chanyeol dan bangkit. Taemin mengangguk, dan kembali mengelus pipi Sehun.

"Dia kehabisan banyak tenaga dalam, dia butuh istirahat cukup lama. Aku akan mencoba menyembuhkan dengan memberikan tenagaku." Ucap Taemin sambil meletakkan telapak tangannya diatas dada Sehun. Seketika kristal di kening Taemin menyala berwarna biru, begitu juga mata dan di bawah telapak tangannya. Chanyeol melirik sebentar sebelum akhirnya memilih menghilang dan kembali ke sekolah.

Ketika sampai di sekolah, Chanyeol mendapati pelajaran sudah dimulai. Chanyeol membuka pintu dan meminta izin untuk masuk. Untungnya dia tidak dipersulit, jadi dengan santai ia melenggang menuju tempat duduknya.

"Kau darimana?" tanya Baekhyun. Chanyeol menatap kearah papan tulis, dan menarik nafasnya sebentar.

"Perutku sakit." Ucap Chanyeol dingin, membuat Baekhyun terkesiap dan ia mengernyitkan dahinya.

..

.

Baekhyun memeluk pinggang Chanyeol dari belakang, tapi entah mengapa ia merasa Chanyeol berbeda. Sikapnya lebih dingin dari biasanya. Baekhyun memutar ingatannya, untuk mengulang semua waktu tadi, mengingat apakah ia melakukan kesalahan.

"Kau mengabaikanku."

"Aku benci diabaikan."

Seketika mata Baekhyun membulat, mengingat ucapan Chanyeol di perpustakaan dan di toko buku lalu. Ketika Chanyeol menghentikan motornya, Baekhyun baru tersadar jika mereka telah sampai di depan rumahnya.

Baekhyun segera turun , lalu melepas helmnya sambil memperhatikan Chanyeol yang bahkan tidak turun dari motor seperti biasanya. Baekyun mulai merasa bersalah, entah mengapa ia tidak menyukai sikap dingin Chanyeol saat ini.

"Chan..Chanyeol?" gumam Baekhyun kecil, Chanyeol menoleh dan menatap Baekhyun tanpa minat dari balik helmnya.

"Apa…apa kau marah padaku?" tanya Baekhyun pelan. Chanyeol melepas helmnya dan mematikan mesin motornya. Ia menatap Baekhyun tajam.

"Aku tidak suka mengulang ucapanku. Bukankah kau sudah tahu aku benci diabaikan." Baekhyun menundukan wajahnya, dugaannya benar dan perasaan bersalah kembali menyelimuti pikirannya.

"Aku harus pulang ada_"

"Tunggu!" Baekhyun memotong ucapan Chanyeol cepat, ia mendekatkan tubuhnya dan mencium bibir Chanyeol, membuat Chanyeol sempat terkejut beberapa saat. Karena untuk pertama kalinya Baekhyun bertindak duluan. Chanyeol tersenyum samar dan menarik pinggang Baekhyun dengan satu tangannya, untuk membuat tubuh mereka lebih intim.

Chanyeol mendorong lidahnya masuk, membuat ciuman yang awalnya lemah itu menjadi lebih sensual dan menuntut. Chanyeol menyesap dalam bibir Baekhyun, membuat Baekhyun mencengkram blazer seragam Chanyeol kuat. Ciuman mereka berakhir beberapa detik setelahnya, dimana Baekhyun yang nampak merona dan terengah.

"Kau tahu hal yang paling aku benci di dunia?" Baekhyun menggeleng sebagai jawaban. Chanyeol menyeringai, lalu menarik tangan Baekhyun dan berbisik di telinganya.

"Aku benci karena aku tidak pernah bisa membenci dan mengabaikanmu." Ucap Chanyeol, membuat Baekhyun tersentak sesaat. Chanyeol memakai kembali helmnya, menyalakan mesin motornya dan melesat pergi. Meninggalkan Baekhyun yang tersenyum kecil dari tempatnya berdiri.

..

.

Chanyeol masuk ke dalam apartemennya dan segera menuju kamarnya. Ia mendapati ibunya sedang duduk di pinggir ranjang sambil mengelus pelipis Sehun.

"Ia bermimpi buruk." Ucap Taemin pelan tanpa menoleh. Chanyeol mengedikan bahunya tak acuh, lalu berjalan ke lemari untuk mengganti seragamnya.

"Ia mengigau tentang Baekhyun. Sepertinya ia benar-benar menginginkan sosok seorang kakak. Baekhyun sangat membencinya."

"Aku tahu."

"Lalu?"

"Lalu apa?" tanya Chanyeol tidak mengerti sambil menatap ibunya dengan satu alis terangkat.

"Lalu apa tindakan yang akan kau ambil?"

"Tidak ada."

"APA?"
"Kenapa ibu berteriak? Aku bilang Ti-dak-a-da." Ucap Chanyeol sambil berjalan keluar kamar. Seketika pintu tertutup ketika satu langkah lagi kaki panjangnya berada di perbatasan kamar dan ruang tengah, membuat hidungnya dan daun pintu bersentuhan, Chanyeol menutup matanya sambil menghela nafas kesal. Ia menoleh dan mendapati Taemin menatapnya kesal.

"Apa mau ibu?"

"Perbaiki hubungan kalian! Kau, Baekhyun dan Sehun." Ucap Taemin yang terdengar seperti perintah.

"Kau pikir, aku akan menurutimu semua kemauanmu hah? Kau terlalu banyak mengatur asal kau tahu." Ucap Chanyeol emosi. Tidak lagi mengingat akan tata krama yang diajarkan ibunya.

Taemin tercekat, walau Chanyeol sering membantah tapi semakin hari Taemin merasa semakin sensitif dengan perkataan kasar putranya.

"Aku tahu, aku tahu karena aku ibumu. Walau kau berkata kau menyesal karena aku lahirkan, walau kau membenciku seperti ingin membunuhku, aku tetaplah ibumu." Suara Taemin terdengar lirih, ia bangkit dari duduknya dan berjalan perlahan menuju Chanyeol.

"Aku tetaplah orang yang melahirkanmu, di tubuhmu mengalir darahku. Setiap denyut jantungmu adalah bagian dari nyawaku. Sebenci apapun dirimu padaku, aku tetaplah ibumu Chanyeol. Yang aku lakukan mungkin keterlaluan dimatamu, tapi aku melakukannya hanya demi_"

"Cukup!" ucap Chanyeol. Entah mengapa ada perasaan asing menyelimuti dirinya.

"Maafkan aku jika aku menganggu hidupmu, tapi aku bersumpah atas nama Sang Pencipta bahwa sampai kapanpun aku akan tetap menganggapmu sebagai anakku, walau suatu hari kau akan melupakanku, walau suatu hari aku tak lagi bersamamu." Chanyeol membuang pandangannya entah mengapa ia benci terlibat dalam suasana dramatis seperti ini, terlalu berlebihan dan Chanyeol membenci sesuatu yang terlalu dilebih-lebihkan.

Ia hanya bicara seperti biasa, dimana ibunya akan membentak atau memberinya hukuman, bukan malah berdiri sambil menatapnya dengan mata berkaca-kaca dan bicara seoalah-olah akan pergi meninggalkannya.

"Jangan bercanda! Kau adalah malaikat, dan sialnya selamanya akan selalu berada di sisiku." Ucap Chanyeol. Taemin tersenyum kecil, ia semakin mendekat dan menyentuh pundak Chanyeol.

"Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti." Taemin tersenyum, sementara Chanyeol lebih memilih untuk membuang wajahnya.

"Hyu…hyung…" suara itu mengalihkan pandangan mereka. Chanyeol dan Taemin menoleh kearah ranjang, dimana Sehun nampak berkeringat hebat dan tubuhnya menggeliat tidak nyaman.

"Jangan membenciku! Aku…hiks..aku tidak akan menyakitimu…" Taemin mendekat dan mengelus pelipis Sehun sayang.

"Dia bermimpi buruk lagi, tadi juga seperti ini."

"Biarkan saja, nanti dia akan bangun dengan sendirinya." Ucap Chanyeol. Taemin mengibaskan tangannya agar Chanyeol mendekat, karena ada perasaan tidak 'enak' yang sempat menyelimutinya, ia mendekat mengikuti perintah ibunya tanpa membantah, walau wajahnya tetap menunjukan ke-engganan.

"Letakkan tanganmu di dadanya, berikan sedikit energimu padanya! Ibu sudah mencoba tadi, tapi ibu adalah malaikat, sementara ditubuhnya sisi malaikatnya sangat minim. Sehingga energi dalam yang ibu berikan tidak bertahan lama." Chanyeol meletakkan tangannya tanpa protes, ia menutup matanya dan seketika telapak tangannya berwarna merah.

Sehun tersentak sesaat sebelum tubuhnya ikut bercahaya merah. Taemin tersenyum melihat kekuatan Chanyeol mulai tersalur. Tubuh Sehun bergetar hebat, seketika matanya terbuka dengan tatapan kosong dan berwarna merah menyala.

Setelah itu getaran tubuhnya berhenti, matanya tertutup sesaat sebelum akhirnya terbuka. Chanyeol menghela nafas dan setelahnya membuka matanya. Keduanya tersentak saat mata itu bertemu.

Dahi Chanyeol berkerut, dan ketika melihat kesamping sosok ibunya telah menghilang.

"A,..apa yang kau lakukan?" suara Sehun terdengar bergetar, Chanyeol menatap tangannya yang masih berada di dada Sehun dan segera menariknya cepat.

"Dimana aku? Dan kenapa aku bisa disini?" tanya Sehun. Ia bangkit dan segera mengambil duduk, tenaganya sudah pulih walau luka lebam di wajahnya masih terlihat samar.

"Berisik." Ucap Chanyeol lalu berjalan keluar kamar. Sehun bangkit dan berlari mengejar Chanyeol.

"Yak! Katakan! Kenapa aku bisa disini?" bentak Sehun yang tidak dipedulikan oleh Chanyeol. Chanyeol berjalan kearah lemari pendingin dan mengambil sebotol air lalu meneguknya.

"Katakan! Dimana aku dan kenapa aku bisa bersamamu? Apa yang telah kau lakukan padaku? Apa kau menculikku?" Chanyeol tidak menjawab, ia segera menuju ruang tengah dan duduk diatas sofa lalu menyalakan televisi.

"Yak! Aku bicara padamu brengsek!"

"BERISIK!" bentakan Chanyeol membuat Sehun bungkam, melihat itu Chanyeol menyeringai.

"Kenapa tidak kau tanyakan pada orang yang telah menganiayamu hah? Seharusnya kau berterima kasih padaku yang dengan repot-repot mau membawamu ketempatku dan membiarkanmu tidur di atas ranjangku." Ucap Chanyeol kesal, Sehun mengangkat wajahnya dan memberikan tatapan tajam.

"Tapi aku tidak memintanya. Jadi aku tidak akan berterima kasih."

"Kau_" Chanyeol menghela nafas dalam.

"Lagipula aku tidak butuh ucapan terima kasihmu. Sekarang pergi dari apartemenku!" ucap Chanyeol angkuh. Sehun bangkit dengan kesal lalu berjalan menuju pintu tanpa mengucapkan apa-apa. Chanyeol melirik sebentar, lalu kembali menatap layar kaca.

Langkah Sehun terlihat kesal, ia mengumpat dalam hati. Tapi setelahnya langkahnya terhenti, ia tidak tahu dimana ia berada sekarang dan seberapa jauh dari rumah,ponsel dan barang-barangnya masih tertinggal di sekolah. Tapi mengikuti rasa gengsinya, Sehun memilih melangkah keluar dan membanting pintu dengan keras.

Ia berjalan di koridor dan mengikuti petunjuk yang berada di setiap sudut dinding. Ketika kakinya sudah berada di luar gedung, ia terdiam menebak arah kiri atau kanan yang harus ia ambil. Sejak kecil ia tidak pernah pergi jauh dari rumah, dan pengetahuannya tentang jalanan kota sangat minim.

Dengan angkuh ia berjalan menuju arah kiri, mengikuti perasaannya dan rasa sok tahunya. Sehun berjalan di sepanjang jalanan yang cukup ramai, sesekali ia melirik sekitar dengan cemas. Ia benar-benar buta arah, dan tidak tahu arah pulang. Bahkan ia tidak membawa apa-apa sebagai pegangan.

Ia terus melangkah mengikuti suara hatinya, dan setelah setengah jam berjalan ia sampai pada sebuah halte. Ia memutuskan untuk beristirahat sebentar, ia ingin bertanya tapi takut orang-orang akan menganggapnya aneh, jadi ia kembali melanjutkan perjalanan dengan sebuah kepercayaan diri yang besar.

Hari semakin sore, bahkan lembayung langit terlihat semakin jelas. Sehun menghela nafas dan berhenti di sebuah toko yang sudah tutup. Ia memanggil nama ibunya berulang kali, seolah dengan melakukannya ibunya akan datang dan membawanya pulang.

"Aku benci lelaki itu." Gerutunya kesal. Dan setelahnya ia kembali melanjutkan perjalanan, sampai langkahnya terhenti karena merasakan sesuatu yang basah menyentuh permukaan kulitnya, Sehun mendongak dan seketika hujan turun dengan cepat.

"Sial! Tidak mendung, tapi kenapa tiba-tiba hujan?" Gerutunya kesal lalu berlari kecil untuk berlindung di sebuah halte. Nampak beberapa orang juga berlindung disana, sepertinya banyak yang tidak membawa payung karena tidak ada yang memprediksi hujan akan turun.

Keadaan halte sangat ramai dan cukup sesak, sepertinya penumpang bus dan pejalan kaki yang berlindung membaur menjadi satu sehingga halte menjadi penuh. Sehun berdiri diantara kerumunan orang-orang yang berdesakan, sampai seketika sebuah dorongan ia dapatkan dari arah depan, seorang wanita dengan pakaian kantor yang terdorong kearahnya, Sehun dengan sigap memegang pundak wanita itu, dan wanita itu bangkit sambil berterima kasih.

Bus tak kunjung datang, membuat beberapa orang mulai kesal dan mengumpat. Seketika seseorang memekik, berkata bahwa dompetnya hilang. Saat akan melihat, seorang wanita menghampiri Sehun dan menampar wajahnya.

"Kau! Kau kan yang mengambil dompetku." Sehun terkejut sambil memegang pipinya yang memanas, wanita yang ia tolong tadi menuduhnya telah mencuri dompetnya. Semua mata kini menatap kearahnya.

"A..aku tidak melakukannya nona."

"Bohong! Kau pasti mengambilnya saat aku terdorong tadi, cepat kembalikan!" bentak wanita itu, Sehun melihat sekitar dan orang-orang seperti menghakiminya.

"Yak! Kembalikan dompetnya! Masih berseragam berani mencuri, ingin aku laporkan pada pihak sekolahmu?" seorang lelaki memekik dan menatap Sehun kesal, Sehun menggeleng masih memegang pipinya yang tertampar.

"Ah, pasti dia yang mencurinya. Lihat wajahnya saja babak belur begitu, pasti dia seorang pencopet." Seorang lelaki bertopi yang entah darimana muncul dan menuding Sehun. Bahkan ia mendorong Sehun hingga tubuh Sehun keluar dari halte dan basah terkena hujan.

"A..aku tidak mengambilnya, aku berani bersumpah!" ucap Sehun masih terduduk diatas tanah.

"Geledah saja tubuhnya, pasti disembunyikan disuatu tempat!"

"Iya benar!" p

"Benar geledah saja!" Semua orang mulai menuding Sehun, Sehun tetap menggeleng dengan wajah kecewanya, kenapa semua malah menuduhnya. Padahal ia hanya ingin berteduh, tidak memiliki niat sama sekali untuk mengambil barang milik orang lain.

"Anak kurang ajar seperti ini perlu diberi pelajaran, rasakan ini!" Sehun menutup matanya ketika tangan pria bertopi itu terangkat keudara.

BRUUM…BRUUM..BRUUM

Seketika cipratan dari genangan air hujan mengenai wajah pria bertopi yang sengaja dilakukan oleh si pengendara motor. Semua menoleh kearah sisi jalan, Chanyeol duduk diatas motor dengan helm yang menutupi wajahnya. Chanyeol mematikan motornya dan turun sambil melepas helmnya.

Ia berjalan kearah Sehun dan pria bertopi itu lalu menarik tangan Sehun, dan menyembunyikannya di belakang tubuhnya.

Chanyeol menyeringai membuat pria bertopi itu mengernyit heran.

"Pencuri teriak pencuri." Gumam Chanyeol, seketika mata pria bertopi itu membulat. Chanyeol mendekat, lalu memberi pukulan di perut pria itu, hingga terjatuh ke tanah.

Chanyeol mengambil sesuatu dari balik jaket pria yang kini terkulai lemah diatas tanah sambil memegang perutnya kesakitan. Chanyeol mengangkat benda itu yang ternyata dompet seorang wanita, Chanyeol melempar dompet itu pada si wanita yang menangkapnya cepat.

"Sebelum kalian menuduh orang, maka carilah bukti dulu! Manusia hanya melihat dari penampilan, tanpa pernah mau mencaritahu kebenaran." Ucap Chanyeol kearah orang-orang yang berada di halte yang merasa malu dan menyesal.

"Dan kau bajingan! Hiduplah menjadi bajingan untuk selamanya, dan bersiaplah bertemu denganku suatu hari nanti." Ucap Chanyeol sambil menepuk kepala pria itu. Chanyeol membalik tubuhnya dan melihat ekspresi terkejut Sehun.

Ia melewati Sehun dan naik ke motornya .

"Naiklah! Aku akan mengantarmu pulang!" ucap Chanyeol. Sehun berbalik dan menatap Chanyeol dengan alis berkerut. Chanyeol berdecih dalam hati, lelaki di depannya benar-benar tidak tahu terima kasih.

"Aku hanya akan mengatakan ini padamu sekali, aku tidak suka ketika aku harus mengulang ucapanku. Naik, atau selamanya berada dijalanan." Dengan terpaksa Sehun berjalan kearah Chanyeol, lalu dengan satu tarikan kuat Chanyeol menarik tangan Sehun agar segera menaiki motornya.

Di bawah guyuran air hujan, motor Chanyeol memecah jalanan kota Seoul. Sehun memeluk erat tubuh Chanyeol, dan entah mengapa ia merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya, dan Sehun mengartikan itu adalah sebuah kebencian.

"ASTAGA SEHUN-AH!" Kibum memekik histeris ketika melihat putra bungsunya berdiri di depan pintu dengan keadaan basah kuyup dan wajah yang memar. Kibum memeluk putranya, dan menangis kencang. Sementara Baekhyun yang berdiri disamping ibunya, terkejut melihat sosok Chanyeol yang juga basah kuyup.

"Apa yang terjadi sayang? Astaga! Kenapa wajahmu bisa memar begini?" Kibum memegang wajah putranya dengan cemas. Sementara Baekhyun menatap Chanyeol meminta penjelasan.

"Ayo masuk!" Kibum menuntun Sehun menuju ke dalam rumah, sementara Baekhyun menarik Chanyeol mengikuti langkah ibunya.

Sehun duduk diatas sofa, sementara Chanyeol memilih duduk dikarpet sambil bersandar di kaki sofa, yang sesekali melirik kearah Kibum yang nampak sangat cemas. Baekhyun datang dengan dua buah handuk ditangannya, ia memberikan satu pada Kibum yang segera mengelap rambut putranya dan satu lagi Baekhyun gunakan untuk mengelap rambut Chanyeol.

Baekhyun bersimpuh dihadapan Chanyeol, diantara kedua kaki tertekuk Chanyeol yang terbuka lebar. Ia mengelap rambut Chanyeol perlahan , sementara Chanyeol hanya tersenyum sambil mendongak memperhatikan Baekhyun yang ia tahu juga merasa cemas.

"Apa yang terjadi?" suara Baekhyun lebih terdengar seperti berbisik, tangannya masih bergerak untuk mengusap rambut Chanyeol, dan matanya juga enggan untuk menatap Chanyeol.

"Bisa dikatakan ini sebuah kebetulan." Ucap Chanyeol santai. Baekhyun menghentikan gerakannya, lalu menatap Chanyeol. Chanyeol tersenyum lalu menarik pinggang Baekhyun, hingga tubuh keduanya bersentuhan.

Sementara Kibum terlihat sangat cemas, karena Sehun memilih bungkam. Ketika usai menggosok rambut Sehun, Kibum beralih menggosok leher dan pundak putranya. Sehun membuka matanya, ketikan handuk tak lagi menghalangi pandangannya, dan seketika raut wajahnya berubah, ketika melihat kakaknya tersenyum kearah Chanyeol.

Bahkan posisi keduanya begitu dekat, dan kakaknya tidak terlihat risih dengan tangan Chanyeol yang bertengger di pinggangnya.

"Jawab ibu Sehun! Kenapa kau diam saja?" tanya Kibum dengan nada cemasnya, seketika mata Baekhyun beralih pada ibunya dan Sehun ketika kedua pasang mata itu bertemu.

Sehun langsung membuang pandangannya, ketika bertatapan dengan kakaknya.

"Aku akan membuatkan teh hangat!" ucap Baekhyun. Ia bangkit dengan cepat, meninggalkan Chanyeol yang mendesah kecewa.

"Bibi, ini hanya masalah kecil." Ucap Chanyeol, Kibum menoleh dan menatap Chanyeol penuh harap.

"Yah, pertengkaran anak muda bi. Dan kebetulan aku yang sedang lewat melihatnya." Ucap Chanyeol, sambil melirik Sehun dan menyeringai.

"Tapi kenapa kau baru pulang larut begini? Kemana kau setelah pulang sekolah?" tanya Kibum pada Sehun.

"Ck! Sehun kenapa kau diam? Bukankah tadi kau bilang kau ada kelas tambahan?" Kibum kembali menatap Chanyeol, Sehun menatap Chanyeol dengan wajah malasnya.

"Oh, begitukah? Lalu dimana tasmu?" tanya Kibum lagi. Chanyeol menghela nafas, ia harus berbohong lagi.

"Oh, saat berkelahi aku rasa Sehun meninggalkannya_"

"Aku meninggalkannya di sekolah, besok aku akan mengambilnya. Ibu jangan khawatir!" ucap Sehun.

"Bagaimana ibu bisa tidak khawatir. Ibu sangat cemas Sehun, astaga anak-anak nakal itu pasti telah menganggumu, ibu akan_"

"Tidak bu! Jangan lakukan apapun! Aku bisa mengatasinya seorang diri."

"Ya, seorang diri." Ulang Chanyeol yang merupakan sebuah sindiran, Sehun melirik Chanyeol dan menatapnya kesal.

"Baiklah, ibu tidak akan melakukan apapun. Ibu akan mengambilkan kalian pakaian ganti." Ucap Kibum lalu bangkit. Meninggalkan Sehun dan Chanyeol yang saling tatap.

"Jangan berharap aku mengucapkan terima kasih padamu." Ucap Sehun.

"Aku tidak butuh terima kasihmu bocah."

"Jangan bicara seolah-olah kau sudah lahir puluhan tahun diatasku, kau hanya berbeda beberapa tahun dariku, bocah besar!" balas Sehun, Chanyeol menyeringai.

"Aku memang tidak lahir puluhan tahun diatasmu, aku lahir ratusan tahun diatasmu." Sahut Chanyeol, Sehun menggeram kesal tangannya terkepal erat.

"Hei simpan tenagamu bocah! Aku tidak ingin kerepotan mengurus dirimu yang pingsan. Jadilah anak yang baik , tidakkah kau lihat ibumu begitu mencemaskanmu?"

"Jangan bicara seolah-olah kau ayahku bocah besar." Chanyeol kembali menyeringai.

"Jika aku memang ayahmu, apa yang akan kau lakukan?"

"Membunuhmu atau membencimu sampai mati." Sahut Sehun, Chanyeol terdiam dan matanya membulat. Sampai kedatangan Baekhyun mengalihkan keduanya.

"Ini." Ucap Baekhyun dingin ketika memberikan secangkir teh hangat pada Sehun. Sehun menatap wajah Baekhyun yang bahkan enggan menatapnya balik. Sehun menerima cangkir itu dan menggenggamnya. Ketika ia melirik, ia mendapati Chanyeol yang tersenyum kearah Baekhyun sambil menerima cangkir dari kakaknya, bahkan Sehun melihat bagaimana wajah kakaknya merona ketika Chanyeol bersikap manja padanya.

"Minumlah! Itu bisa menghangatkan tubuhmu. Berdoalah agar kau tidak terserang demam." Ucap Baekhyun. Chanyeol tersenyum, sambil menatap cairan di tangannya jijik.

"Aku tidak perlu berdoa agar tidak terserang demam, dan aku tidak butuh benda ini untuk menghangatku." Chanyeol meletakkan cangkir itu di meja kecil di dekat sofa.

"Aku hanya butuh dirimu, untuk menghangatkanku." Chanyeol menarik tangan Baekhyun dan membawa lelaki itu ke dalam pelukannya, membuat Baekhyun menggeliat dan melirik kearah Sehun yang dengan cepat meminum tehnya.

"Ah~ panas!" Sehun memekik ketika lidahnya terbakar. Baekhyun dengan refleks bangun dan menghampiri Sehun.

"Kau tidak apa-apa? Lain kali, tiup dulu baru_" ucapan Baekhyun terhenti ketika ia menyadari sesuatu. Ia menarik tangannya yang ia letakkan di pundak Sehun, sementara Sehun menatap Baekhyun dengan tidak percaya. Kakaknya baru saja memberikan sebuah perhatian padanya.

Chanyeol memperhatikan dari tempatnya dan sudut bibirnya tertarik membuat sebuah seringaian.
"Aku tidak mengerti dengan bentuk interaksi kalian? Kalian terlalu asing untuk disebut kakak dan adik, apa kalian benar-benar memiliki hubungan darah?" ucap Chanyeol. Sehun dan Baekhyun menatap Chanyeol diam.

"Aku juga memiliki dua orang saudara, walau aku membenci mereka sampai mati, terutama kakak sialanku itu, tapi interaksiku jauh lebih banyak dari kalian." Ucap Chanyeol lagi.

"Kau si adik yang bodoh, dan kau si kakak yang dingin. Aku ragu apa benar kalian bersaudara?" Baekhyun menundukan wajahnya, entah mengapa ucapan Chanyeol membuat masa lalunya kembali terbuka, mengingat hubungannya dengan Sehun bukan kakak dan adik, melainkan ibu dan anak.

"Tentu! Tentu mereka saudara." Suara Kibum mengalihkan perhatian ketiganya.

"Baekhyun anak sulungku, dan Sehun…" Kibum menatap Sehun, lalu tersenyum.

"Dia anak bungsuku."

"Aku mengerti." Sahut Chanyeol santai, Kibum mendekat dan memberikan baju ganti pada Sehun.

"Chanyeol, aku tidak memiliki pakaian yang cukup untukmu tapi aku mencoba mencari pakaian mendiang ayah Baekhyun, aku rasa ini cukup untukmu." Ucap Kibum sambil memberikan pakaian pada Chanyeol.

"Tidak masalah."

"Bermalamlah disini! Diluar masih hujan deras." Ucap Kibum dan Chanyeol mengangguk.

"Sehun ganti pakaianmu dan bergegaslah ke kamar! Ibu akan menyiapkan sup ginseng untuk kalian." Ucap Kibum. Sehun mengangguk dan bergegas menuju lantai atas, begitu juga Chanyeol yang berjalan mengikuti Baekhyun.

"Kau terlihat begitu membenci Sehun." Ucap Chanyeol sambil mengganti pakaiannya. Baekhyun merapikan tempat tidurnya yang sudah nampak rapi dan seketika gerakannya terhenti sesaat.

"Begitukah? Mungkin hanya perasaanmu." Gumam Baekhyun pelan lalu melanjutkan kegiatannya.

"Hm, aku rasa tidak. Siapapun akan tahu itu. Apa kau membencinya karena kelahirannya?" Baekhyun membalik tubuhnya dan menatap Chanyeol, Chanyeol menaikkan kedua alisnya bingung.

"Maksudku, apa karena kelahirannya kau pikir kasih sayang ibumu jadi terbagi?" tanya Chanyeol lagi, Baekhyun menghela nafas lega lalu naik keatas ranjang.

"Mungkin." Sahut Baekhyun singkat, ia mengambil sebuah buku diatas meja nakas dan membacanya.

"Aku butuh jawaban iya atau tidak. Bukan mungkin." Ucap Chanyeol sambil naik keatas ranjang, dan berbagi selimut dengan Baekhyun. Ia mendekat kearah Baekhyun dan memeluk perut kekasihnya.

"Mungkin iya, atau mungkin tidak. Aku tidak tahu." Sahut Baekhyun. Chanyeol mendengus kesal.

"Kau benar-benar mempermainkanku." Ucap Chanyeol. Baekhyun melirik Chanyeol lalu menggeleng.

"Aku tidak. Jawabanku memang iya atau tidak. Karena aku tidak tahu berada disisi mana." Ucap Baekhyun lagi. Chanyeol menarik buku Baekhyun dan melemparnya sembarang.

"Baekhyun! Aku_"

'Tidak. Aku mengantuk." Baekhyun merendahkan tubuhnya dan menutupinya dengan selimut.

"Baekhyun, ayolah!"

"Tidak sekarang Chanyeol." Ucap Baekhyun lagi, Chanyeol memang pada dasarnya pembangkang. Karena baginya 'tidak' adalah 'iya'.

Jadi Chanyeol menyelipkan tangannya di balik kaos Baekhyun yang memunggunginya, mempermainkan puting Baekhyun, membuat Baekhyun menggeliat dan berusaha menjauhkan tangan kekasih mesumnya.

"Chan..a..aku tidak bisa." Ucap Baekhyun. Chanyeol masih saja mengerjai tubuh Baekhyun, hingga Baekhyun menahan tangan Chanyeol, dan membalik tubuhnya.

" Ak..aku mohon Chanyeol." Chanyeol tersentak, suara Baekhyun terdengar begitu lemah dan tatapan matanya benar-benar memohon. Chanyeol menarik tangannya masih menatap Baekhyun dengan terkejut.

Baekhyun membalik kembali tubuhnya, ia menarik selimut hingga menutupi hampir seluruh tubuhnya.

"Ma..maafkan aku Chanyeol. A..aku tidak bisa" ucap Baekhyun dengan suara yang bergetar. Chanyeol menghela nafas lalu memeluk tubuh Baekhyun dari belakang. Menyelipkan wajahnya di antara ceruk leher kekasihnya.

"Jangan meminta maaf, kau tidak salah." Baekhyun meraih tangan Chanyeol yang berada di perutnya, lalu menggenggamnya erat.

"Chanyeol, kenapa tubuhmu lebih dingin dari biasanya. Apa aku perlu mengambil selimut tambahan?" tanya Baekhyun. Chanyeol tersenyum dalam pelukannya, lalu menggeleng pelan. Ia seorang iblis yang lahir dari api neraka, dia tidak mungkin kedinginan hanya karena air hujan.

" Apa aku perlu menaikkan suhu ruangan, aku takut kau terserang flu atau demam" ucap Baekhyun. Chanyeol tersenyum, ia membalik tubuh Baekhyun dan menatap kearah matanya.

"Hei, aku tidak mungkin sakit, aku kuat Baek." Ucap Chanyeol, Baekhyun tersenyum lalu membiarkan Chanyeol mencium bibirnya. Ciuman manis yang tidak menuntut, Baekhyun benar-benar menyukai bagaimana lidah Chanyeol bergerak di dalam rongga mulutnya.

Lama mereka bertautan, sampai akhirnya sebuah ketukan menghentikan acara mereka. Chanyeol turun dari ranjang dan berjalan kearah pintu.

"Chanyeol, ini sup ginseng untukmu." Ucap Kibum di depan pintu dengan semangkuk cairan berwarna kuning. Chanyeol mengernyit dan menggeleng, tangannya dengan pelan mendorong nampan itu kearah Kibum.

"Aku tidak suka bi. Tidak perlu repot-repot."

"Minumlah, ini membantu menghangatkan tubuhmu." Ucap Kibum bersih keras. Chanyeol kembali menggeleng.

"Aku tidak butuh itu, sungguh. Tubuhku akan hangat dengan memeluk Baekhyun semalaman." Ucap Chanyeol. Kibum membulatkan matanya mendengar jawaban Chanyeol, ia berdeham sambil mengintip ke dalam kamar Baekhyun, dan ia mendapati putranya sedang mengelap bibirnya. Kibum tersenyum dan mengangguk maklum.

"Bibi dengar, sup ginseng bukan hanya bisa menghangatkan , tapi juga bisa menambah stamina." Ucap Kibum sambil menaik turunkan alisnya ,dan memberikan kode pada Chanyeol.

"Huh?" Chanyeol nampak bingung, sebelum akhirnya dia mengerti dengan ucapan Kibum.

"Buat Baekhyun kagum dengan keperkasaanmu." Bisik Kibum. Chanyeol menatap Kibum dan mangkuk di depannya bergantian.

"Tapi bi, Baekhyun menolakku tadi. Jadi aku rasa ini tidak perlu." Ucap Chanyeol dengan wajah kecewa.

"Ah sayang sekali! Baiklah, bibi tidak memaksa. Bibi harap kau tidak akan sa_"

"Aku hanya akan mengatakan sekali lagi, aku-tidak-akan-sakit." Ucap Chanyeol lalu menutup pintu, membuat Kibum terkejut. Sebelum akhirnya pintu itu kembali terbuka.

"Selamat malam bibi, mimpi indah" ucap Chanyeol merasa sedikit bersalah, Kibum tersenyum sekilas lalu menggeleng pelan.

..

.

Chanyeol membuka matanya yang terasa berat, entah mengapa matanya sangat sulit dibuka. Ketika ia berhasil membuka matanya hal yang ia dapati pertama kali adalah langit-langit kamar Baekhyun.

Chanyeol mengerutkan keningnya, dan berusaha meraih benda diatas kepalanya. Juga sesuatu yang berada di mulutnya.

"Tunggu! Jangan dilepas!" Chanyeol menoleh pelan dan mendapati Kibum duduk di sampingnya sambil mengecek jam tangannya, dan sebelum sempat mengeluarkan suara tarikan ia rasakan di bibirnya, sesuatu yang mengganjal tadi terlepas.

"Astaga! 40 ˚C ." Pekik Kibum. Chanyeol mengerutkan alisnya keras , merasa bingung dengan ucapan Kibum, dan dengan segera menyingkirkan benda yang berada di keningnya yang ternyata adalah handuk basah.

"Apa yang_" Chanyeol menghentikan suaranya saat merasa suaranya terdengar bergetar.

"Kalian berdua benar-benar keras kepala, astaga!" Ucap Kibum yang mengambil cepat handuk dari tangan Chanyeol, lalu memasukannya ke dalam air dan kembali meletakkanya diatas kepala Chanyeol.

"Ada apa ini bi? Kenapa dengan tubuhku?" tanya Chanyeol. Ia mengutuk suaranya yang terdengar bergetar, benar-benar memalukan. Lalu tubuhnya yang terasa sangat sulit untuk digerakan.

"Kau demam Chanyeol."

"De..demam?" Chanyeol mengerutkan keningnya kuat, ia benar-benar tidak mengerti dengan hal yang sedang dibicarakan Kibum.

"Bagaimana bisa aku …Hatchi!"

"Astaga! Kau bahkan terserang flu. Astaga! Ada apa dengan kalian berdua?" ucap Kibum panik, ia bangkit mengambil baskom diatas meja lalu keluar sambil menggerutu.

"Tunggu sebentar, bibi akan membuatkanmu bubur! Dan mengambilkan obat." Chanyeol menatap kearah pintu dengan nafas terengah. Ia benar-benar kesal, sejak pertama kali dilahirkan ia tidak pernah merasakan selemah ini.

"IBUUUU!" teriaknya pada ruangan hampa. Terdengar suara cekikikan dan ia tahu itu suara tertawa ibunya.

"Cepat katakan! Apa yang terjadi padaku?" bentak Chanyeol sambil menutup matanya dan mencoba mengatur nafas.

"Seperti yang Kibum bilang, kau demam dan flu. Awwww! Lihat kau lucu sekali dengan wajah memerah begitu." Chanyeol membuka matanya dan menatap kelangit-langit kamar dengan kesal.

"Katakan! Kenapa aku harus merasakan ini? Ini benar-benar memalukan!"

"Ibu hanya membuat semua terlihat normal. Kau terguyur hujan malam-malam, kau tidak meminum apapun tapi kau tetap sehat, itu akan terlihat aneh. Jadi ibu memberikan sedikit sihir pada tubuhmu."

"Aku tidak peduli, sembuhkan aku sekarang!" bentak Chanyeol. Terdengar suara terkikik Taemin lagi, dan Chanyeol menghela nafas kesal.

" .Tidak. Cepat sembuh putra kesayangank!."

"IBUUUU!" teriak Chanyeol, dan seketika pintu terbuka. Membuat Chanyeol terkejut, begitu juga sosok yang berdiri di pintu. Mata mereka bertemu dan saling menatap beberapa saat, sebelum akhirnya kehadiran sosok lain membuat kontak mereka terputus.

"Masuklah Sehun! Sebaiknya kalian berada dikamar yang sama agar ibu mudah merawat kalian berdua." Ucap Kibum sambil menuntut putra bungsunya naik keatas ranjang. Chanyeol menatap tidak suka kearah Sehun, begitu juga Sehun yang nampak terpaksa.

"Lihat! Kalian benar-benar telihat mirip. Wajah memerah, hidung memerah,mata sayu dan pucat. Ckckkckckckck. Dua bayi besar." Ucap Kibum sambil sibuk mondar-mandir di depan kedua sosok yang kini saling melirik tidak suka.

"Baekhyun dimana bi?"

"Baekhyun sekolah, bibi tidak mau ia tertinggal. Sebagai gantinya bibi yang mengambil cuti. Tunggu sebentar! Bibi mau mengecek bubur dulu." Ucap Kibum lalu berlalu di balik pintu.

"Ck! Penyakit brengsek. Ini semua karenamu, jika kau tak pergi dari apartemenku dan bertingkah seperti orang yang tahu segalanya, aku tidak akan berakhir dengan penyakit brengsek ini." Gumam Chanyeol. Sehun yang sedang bersandar pada kepala ranjang sambil melipat kedua tangannya menoleh.

"Memangnya siapa yang sok menjadi pahlawan dengan membawaku ke apartemennya?"

"Apa? Kau benar-benar tidak tahu terima kasih bocah!" umpat Chanyeol, Sehun menatap Chanyeol tajam.

"Aku bocah? Hahahaha.. setidaknya aku tidak berteriak memangil ibuku saat terserang demam." Sial. Chanyeol mengumpat lagi di dalam hati. Ia mengusak rambutnya frustasi, menarik selimut dan berbaring memunggungi Sehun.

Sehun yang merasa kesal karena tidak mendapat selimut, menarik balik selimut untuk menyelimuti dirinyadan juga membelakangi Chanyeol. Merasa kesal, Chanyeol menarik lagi, dan Sehun melakukan hal yang sama. Sampai kedua ujung tertarik, membuat ketegangan di bagian tengah selimut.

Chanyeol mengerahkan kekuatannya, begitu juga Sehun keduanya tidak ada yang mau mengalah.

"Kau pikir aku akan mengalah untukmu? Sekalipun kau bocah."

"Aku juga tidak akan mengalah untukmu sekalipun kau bisa lebih dekat dengan hyungku." Ucap Sehun tak mau kalah. Selimut Baekhyun tertarik kencang, bahkan serat-seratnya mulai terlihat.

"Walau hanya selimut aku tidak akan membiarkan milik Baekhyun hyung jatuh pada lelaki brengsek sepertimu." Ucap Sehun.

"Benarkah? Mari kita lihat, siapa yang bisa mendapatkan selimut kesayangan Baekhyun." Ucap Chanyeol kesal. Ia menambah kekuatannya begitu juga dengan Sehun. Chanyeol mengumpat kondisi tubuhnya yang lemah, sehingga kekuatannya tidak maksimal.

"Mengaku kalahlah bocah! Kau bukan tandinganku."

"Kau yang bukan tandinganku Park Chanyeol."

"APA? Brengsek!" Chanyeol menarik kuat selimut itu, bahkan rahangnya mengeras.

KRIIIEEEK

BRAAK

Keduanya jatuh kelantai, dan dengan cepat bangkit lalu menatap selimut yang sudah terbelah dua. Chanyeol menatap Sehun, begitu juga Sehun yang menatap Chanyeol balik. Ketika terdengar suara pintu yang akan terbuka, keduanya melompat kearah ranjang bersamaan, dan melekatkan tubuh mereka lalu menyelimutinya menutupi bagian yang robek dengan tubuh mereka.

Kibum mengernyit ketika melihat tidak ada jarak lagi diantara Chanyeol dan Sehun. Ia meletakkan nampan berisi dua mangkuk bubur itu diatas meja. Sambil sesekali melirik kearah Sehun dan Chanyeol yang nampak mencurigakan.

"Sekarang kalian makan_"

"Aku bisa melakukannya sendiri/aku akan melakukannya sendiri." Sehun dan Chanyeol saling menoleh karena ucapan mereka yang bersamaan, Kibum mengernyitkan dahinya lalu mengangguk.

"Hm, baiklah. Setelah itu minum obat yang telah aku siapkan. Aku harus ke kantor sebentar, aku mendapat telpon barusan dan ada sebuah masalah kecil. Kalian baik-baiklah di rumah!" Ucap Kibum sambil mengecek jam tangannya. Sehun dan Chanyeol mengangguk pelan.

Setelah pintu tertutup Chanyeol menyibak selimut dan mendorongnya pelan lalu menjauhkan tubuhnya. Chanyeol melirik Sehun sebentar sebelum akhirnya mengusak rambutnya sekali lagi dengan frustasi.

Ia benar-benar kesal dengan sikap semena-mena ibunya, yang selalu bertindak tanpa pernah memikirkannya nasibnya.

"Hatchi!" Chanyeol menoleh dan mendapati Sehun sedang bersin, ia pun menyeringai.

"Hatchi! Hatchi! Hatchi!" Sehun terus saja bersin, Chanyeol menggeleng jijik. Ia tidak suka bersin, karena rasanya benar-benar aneh, seperti sesuatu menggelitik hidungnya.

"Hatchi!" Sial. Chanyeol menutup hidungnya.

"HATCHI…HATCHI…HATCHI.." kali ini Sehun yang tertawa, suara bersin Chanyeol benar-benar keras. Chanyeol melirik Sehun tajam, tapi ia kembali bersin hingga hidungnya memerah.

"Ini semua gara-gara kau Hatchi! Arrrgghh.." Chanyeol menggeram kesal. Ia benar-benar merasa frustasi. Ia menutup matanya, dan mencoba menyembuhkan dirinya dari dalam tapi ia merasa tubuhnya aneh, dan ia tahu ini pasti ulah ibunya yang meminta bantuan ayahnya untuk menyita kekuatannya. Chanyeol tahu betul pikiran busuk ibunya, dan Chanyeol semakin kesal dengan kenyataan bahwa ibunya lebih kejam dari ayahnya yang seorang raja iblis.

"Ini. Hahahaha… kau nampak lucu dengan hidung merah begitu." Sehun memberikan segelas air pada Chanyeol, dan Chanyeol menerimanya cepat lalu meneguknya.

"Tertawakan juga dirimu bocah!" Ucap Chanyeol sambil mengembalikan gelas kosong kearah Sehun.

"Ah, aku lelah! Jika kau mau makan, makan saja!" ucap Sehun lalu merebahkan tubuhnya kembali. Chanyeol melirik mangkuk di atas meja disamping Sehun dan ia mengernyit jijik.

"Chanyeol?" suara itu membuat Chanyeol menoleh bahkan Sehun membatalkan niatnya untuk memejamkan mata. Baekhyun berdiri di depan pintu dengan seragamnya dan nampak terengah. Chanyeol benar-benar perihatin melihat keadaan Baekhyun, ia yakin Baekhyun pasti berlari dari sekolah. Chanyeol segera menarik selimut dan menyembunyikannya di bawah ranjang.

"Baekhyun, bagaimana harimu di sekolah. Apa mereka meng_" ucapan Chanyeol terhenti saat Baekhyun berlari memutari ranjang dan segera jatuh dalam pelukan Chanyeol. Baekhyun memeluk tubuh Chanyeol erat, sambil menenggelamkan wajahnya. Chanyeol nampak terkejut, begitu juga Sehun yang membulatkan matanya tidak percaya. Kakaknya benar-benar menganggap Chanyeol seseorang yang dipercaya.

"Hikss…" Chanyeol mengumpat dalam hati ketika mendengar isakan Baekhyun. Ia memeluk tubuh Baekhyun erat, menyalurkan sebuah ketenangan pada kekasihnya.

"Ada apa? Apa ada yang mengaggumu?" tanya Chanyeol cemas, Baekhyun tidak menjawab ia mengeratkan pelukannya dengan mata yang juga ia tutup erat.

Chanyeol ingin melihat apa yang terjadi, tapi kekuatannya sedang hilang sementara. Jadi selain memeluk Baekhyun dengan sayang, ia tidak memiliki hal lain yang bisa ia lakukan.

"Tadi saat…saat dalam perjalanan pulang seseorang menarik tanganku ke dalam gang."

"APA!?" pekik Chanyeol kesal. Ia menjauhkan tubuh Baekhyun,dan memeriksanya secara cepat.

"Tapi, tapi aku berhasil melarikan diri. Hanya saja aku takut, orang itu berdarah karena aku memukul kepalanya dengan batu. A..aku takut Chanyeol…" Chanyeol tertawa, membuat Baekhyun menatapnya heran, begitu juga Sehun yang merasa risih dengan suara tawa Chanyeol.

"Jadi kau takut karena telah menyakiti seseorang yang ingin berbuat jahat padamu? Awww , manisnya." Ucap Chanyeol sambil menarik pipi Baekhyun gemas.

"Mereka pantas mendapatkannya, jangan takut! Kau sudah berbuat hal yang benar." Ucap Chanyeol lalu mengecup pipi Baekhyun. Sehun membulatkan matanya melihat adegan intim antara kakak dan lelaki yang ia tidak sukai.

Chanyeol menangkup wajah Baekhyun, mata mereka bertatapan mengabaikan keberadaan Sehun yang sudah merasa risih pada tempatnya, wajahnya bahkan merona dan ketika Chanyeol menyentuhkan bibirnya kepermukaan bibir Baekhyun, Sehun membuang muka dengan pipi merah merona.

Entah mengapa Sehun merasa sedikit sakit melihat kakaknya yang sangat dingin padanya bisa bersikap manja dan hangat pada orang lain.

"Kau belum makan?" tanya Baekhyun, Chanyeol menggeleng pelan sambil mengusap lelehan air mata di sudut kelopak mata Baekhyun. Dan ketika menoleh kesamping Baekhyun baru menyadari keberadaan Sehun. Ekspresi wajah Baekhyun langsung berubah terkejut, dengan sedikit perasaan tidak enak karena telah menunjukan kemesraan di depan Sehun.

"Bibi membuatkan kami bubur, tapi aku tidak berselera untuk memakannya." Ucap Chanyeol. Baekhyun bangkit meletakkan tasnya diatas meja, lalu berjalan kearah nakas dan mengambil mangkuk berisi bubur sebelum akhirnya kembali duduk ditempat semula.

"Makanlah lalu kau bisa meminum obatmu!" Chanyeol menggeleng dan menatap jijik kearah benda di dalam mangkuk. Baekhyun mulai mengaduk bubur yang mulai mendingin itu secara perlahan, dan meniupkan beberapa kali.

"Baek, kau tahu kan aku_"

"Aku tahu, tapi kali ini aku tidak mungkin memberikanmu daging. Aku mohon padamu, beberapa suap saja ya?" Chanyeol menghela nafas, ia benci wajah memelas Baekhyun. Dengan terpaksa ia membuka mulutnya dan membiarkan benda lengket itu memenuhi rongga mulutnya.

Chanyeol mengunyahnya perlahan, rasanya sungguh menjijikan ketika benda itu mengaliri tenggorokannya. Namun melihat wajah khawatir Baekhyun, Chanyeol mengurungkan protesnya.

Sehun masih tertunduk, sesekali ia melirik kearah dua orang disampingnya dan entah mengapa ia merasa sangat iri. Ia tidak ingin seluruh perhatian kakaknya, ia hanya ingin sedikit saja kakaknya menganggap dirinya ada, bahkan sejak tadi Baekhyun tidak menanyakan keadaannya.

Chanyeol yang merasa aura sedih Sehun melirik sekilas, dan ia menghentikan tangan Baekhyun.

"Aku kenyang!" bohong Chanyeol.

"Tapi ini masih banyak, aku rasanya mau_hhmmppt" Chanyeol menutup mulutnya seolah mau muntah.

"Baekhyun, kau berikan saja pada bocah itu. Dia juga belum makan sejak tadi, dan sepertinya dia mengharapkan hal yang sama dengan yang aku rasakan." Ucap Chanyeol lalu bangkit dan berjalan kearah kamar mandi.

Baekhyun terdiam, sesekali melirik Sehun. Lalu kemudian ia bergeser sebentar. Mendekatkan tubuhnya pada Sehun, membuat Sehun membulatkan matanya.

"Makanlah!" ucap Baekhyun sambil mengulurkan sendok di depan wajah Sehun. Sehun menatap Baekhyun tidak percaya, matanya berkedip beberapa kali . Baekhyun membuang tatapannya dengan tangan masih terjulur, dan dengan ragu Sehun membuka mulutnya dan membiarkan benda kental itu masuk ke dalam rongga mulutnya.

Sehun tersenyum dalam hati, walau kakaknya tidak mau menatap wajahnya tapi perhatian yang diberikan Baekhyun sudah cukup membuatnya senang.

Chanyeol berdiri di balik pintu kamar mandi yang sedikit terbuka, menatap kearah dua orang yang benar-benar terlihat canggung. Beberapa menit berdiri disana, membiarkan suapan demi suapan Baekhyun berikan pada Sehun.

Chanyeol merasa Sehun pantas mendapatkan itu, bagaimana pun Baekhyun adalah ibunya. Orang yang melahirkannya ke dunia, mengingat ini adalah kesalahan dirinya, Chanyeol merasa dia pantas berkorban demi kebahagiaan Sehun yang sudah ia renggut sejak dalam kandungan.

Terhanyut dalam pemikirannya tanpa sadar Chanyeol tersenyum makin lebar, sebelum akhirnya sesuatu mendobrak keluar dari dalam tenggorokanya. Chanyeol berlari kearah kloset dan segera memuntahkan isi perutnya.

Sial. Chanyeol kembali mengumpat dalam kegiatan muntahnya. Saat mendengar suara pintu yang terbuka, Chanyeol merasakan jemari lentik mengelus pundaknya dan Chanyeol membenci kenyataan bahwa untuk kedua kalinya ia terlihat lemah di depan Baekhyun.

..

.

Sehun membuka matanya dan melirik kearah sosok disampingnya yang memunggunginya. Ia mendesah sekali lagi, bukan karena Chanyeol yang memunggunginya tapi karena kakaknya berada di dalam pelukan Chanyeol.

Sejak kecil Sehun selalu membayangkan sehangat apa tubuh kakaknya, selembut apa kulit kakaknya, atau semanis apa senyum kakaknya ketika tersenyum kearahnya. Tapi sampai saat ini, ia tidak pernah mendapatkan apa yang ia selalu impikan.

Sehun hanya ingin kakaknya menganggap keberadaanya, dan memberikan kasih sayang padanya sebagaimana seorang kakak terhadap adiknya.

Sehun sangat menyanyangi Baekhyun, ia bahkan selalu membela kakaknya di depan siapapun, karena ia merasa kasihan melihat bagaimana orang-orang memperlakukan kakaknya. Awalnya Sehun merasa tidak masalah dengan sikap dingin Baekhyun, karena Baekhyun juga melakukan hal yang sama pada orang lain, namun ketika tahu kakaknya bersikap sangat hangat pada seseorang bernama Park Chanyeol entah mengapa Sehun mulai tidak menyukai orang itu.

Selain karena sikap tidak keren Chanyeol, Sehun merasa ragu jika membiarkan kakaknya bersama orang seperti Park Chanyeol yang Sehun takutkan akan menyakiti kakaknya suatu saat nanti.

Sehun mendudukan dirinya dan bersandar pada kepala ranjang sambil kembali melirik kearah Chanyeol yang memeluk Baekhyun erat dengan mata terpejam. Entah mengapa ia tiba-tiba teringat sosok guru yang memberikan kasih sayang yang tulus selain ibunya.

"Luhan saem, aku merindukanmu."

TING TONG

Suara pintu mengalihkan perhatian Sehun. Ia melirik kearah Baekhyun yang sepertinya tidak terusik dengan suara bel pintu yang ditekan berulang kali. Menyampingkan rasa sakitnya Sehun bangkit dan berjalan pelan kearah pintu.

Kaki –kakinya yang mulai memanjang ia pijakan pelan pada setiap anak tangga. Entah mengapa pintu depan terasa jauh baginya saat ini. Ia berjalan dengan tertatih dan ketika membuka pintu, hal yang ia dapati pertama kali adalah seorang lelaki cantik yang segera memeluknya erat.

"Sehun, aku benar-benar mencemaskamu." Ucap Luhan sambil memeluk Sehun erat, Sehun merasa nyaris terjungkal kebelakang, jika tangannya tidak berpegang pada gagang pintu. Aroma wangi Luhan menguar dan Sehun menutup matanya merasakan betapa hangat dan lembutnya sebuah pelukan seorang Luhan.

"Aku baik-baik saja Saem, hanya sedikit demam." Ucap Sehun. Luhan menjauhkan tubuhnya dan memeriksa keadaan Sehun, sampai ia melihat sebuah memar yang memudar di sudut bibir Sehun.

"Bukan apa-apa, hanya sebuah perkelahian kecil. Jangan khawatir! Ayo masuk Saem!" ucap Sehun. Luhan segera masuk dan Sehun baru menyadari jika Luhan membawa sebuah kantung di tangannya dan juga tas sekolah miliknya.

"Aku membawa beberapa buah-buahan untukmu." Ucap Luhan sambil meletakkanya di meja dan berjalan kearah ruang tengah mengikuti Sehun.

"Dan ah, ini tas sekolahmu yang tertinggal. Aku mendapatkannya dari guru walimu." Sehun meraih tasnya dan meletakkannya di atas sofa.

Sehun mengambil duduk diatas sofa yang diikuti oleh Luhan setelahnya, Luhan memperhatikan wajah Sehun dengan seksama, melihat apakah ada luka lain yang tercetak di wajah tampan pujaan hatinya.

"Akan aku beri pelajaran para pelakunya." Gerutu Luhan sambil mengepalkan tangannya, Sehun menggeleng dan menggenggam tangan Luhan.

"Tidak usah! Itu bukan urusanmu Saem, aku bisa menyelesaikannya sendiri."

"Bagaimana itu bukan urusanku ? Dia telah melukai takdirku." Ucap Luhan. Sehun menatap Luhan dengan mata membulat. Begitu juga Luhan yang segera menutup mulutnya, ia tersenyum canggung. Entah mengapa suasana disekitar mereka menjadi berbeda.

"Hmm.. maksudku… maksudku.." Luhan terlihat gugup. Kata 'takdir' terasa begitu berlebihan dan rumit, Luhan merutuki kebodohannya. Sehun tersenyum kecil, lalu membaringkan tubuhnya diatas paha Luhan membuat Luhan tercekat.

"Ah, akhirnya aku merasakan sebuah kehangatan, rasanya sungguh tidak enak ketika menjadi lampu taman." Ucap Sehun. Luhan masih terlihat gugup, entah mengapa ia merasa lemah saat ini. Jantungnya berdetak kencang dan rasanya Luhan ingin mencabutnya saja agar suara berisiknya tidak menganggu konsentrasinya.

"Saem?"

"Huh? i..iya?"

"Kenapa hari ini Saem terlihat sangat cantik?" Sehun berhasil membuat wajah Luhan semakin memerah. Luhan mendorong tubuh Sehun, dan ia sedikit menjauh dengan wajah tertunduk. Ia tidak suka terlihat memalukan di mata keponakannya sendiri, wibawanya sebagai seorang Pangeran dan kaki tangan raja iblis di Infernus serasa runtuh.

"Ada apa Saem?" tanya Sehun bingung, kini ia sudah kembali terduduk.

"Ti..tidak. Uhm, mana ibumu?" tanya Luhan sambil melihat sekeliling menghindari tatapan Sehun. Sehun memperhatikan Luhan yang semakin lucu dimatanya, dengan wajah memerah dan tindakan konyol.

Sehun sendiri tidak mengerti dengan yang terjadi pada tubuhnya, seperti sesuatu bergejolak di dalam perutnya.

Sehun menahan pergerakan wajah Luhan, membuat Luhan menatap Sehun dengan mata membulat.

"Saem? Boleh aku menciummu?" Nafas Luhan tercekat, matanya berkedip beberapa kali, tubuhnya mendadak tegang. Sehun menahan dagu Luhan dan mendekatkan wajahnya. Luhan menutup matanya cepat,dan sebuah sentuhan lembut ia rasakan.

Bibir Sehun terasa lembut walau sedikit kering, ketika Sehun semakin mendorong wajahnya ciuman mereka semakin dalam. Luhan membuka mulutnya membiarkan benda lunak milik Sehun bertemu dengan miliknya. Luhan menutup matanya erat, entah mengapa ia merasa Sehun berbeda saat ini.

Tubuh Sehun seperti membesar dan ketika menyentuh lengan Sehun, Luhan membuka matanya. Otot lengan Sehun terasa begitu kekar, Luhan menjauhkan wajahnya dan terkejut ketika melihat Sehun berukuran seperti di dalam air masa depan.

"Se..sehun." ucap Luhan terkejut, Sehun tersenyum kearahnya dengan tatapan sayu dan seperti sedang dikuasai nafsu. Sehun mendekat kearah Luhan, dan Luhan memundurkan tubuhnya .

"TUNGGU!" Luhan menahan wajah Sehun yang ingin menciumnya. Luhan memegang pundak Sehun, lalu keduanya menghilang.

..

.

Kyungsoo duduk di dalam kamarnya sambil bertopang dagu. Ia menatap kearah hamparan taman bunga dan sesekali tersenyum melihat para malaikat berlari-larian sambil bermain bersama peri bunga.

Ia menoleh kearah seragam yang tergantung di dinding kamarnya, menatap benda itu dengan seksama, sampai akhirnya ia memilih bangkit dan berjalan mendekat. Jemarinya menyentuh permukaan kain itu dan ia tersenyum.

"Apakah berada di dunia manusia menyenangkan?" ucapnya pelan.

"Pangeran Kyungsoo!" suara itu membuat Kyungsoo menoleh, seorang peri bunga duduk di bingkai jendelanya. Kyungsoo mendekat dan kembali duduk di depan jendela.

"Aku dengar Pangeran akan turun ke dunia manusia. Aku merasa sedih." Peri bunga itu tertunduk dengan wajah sedihnya.

"Benar. Tapi aku akan kembali, jangan bersedih peri bunga!" ucap Kyungsoo lembut sambil menyentuh pelan kelopak milik si peri bunga dengan lembut.

"Aku harap itu tidak akan lama, karena semua penghuni Nubes pasti akan bersedih." Ucap si peri bunga lagi.

"Hahaha.. tidak akan. Aku pasti akan kembali." Ucap Kyungsoo sambil tersenyum kecil. Sebuah senyuman yang begitu menawan, terpatri di bibirnya yang memiliki bentuk hati.

..

.

Luhan terlihat panik di dalam ruang kerja ayahnya, sejak tadi ia mondar-mandir dengan kecemasan tinggi. Ia baru menyadari ternyata hal yang terjadi pada Sehun barusan akibat hormon di dalam tubuhnya yang meluap seiring tubuhnya menjadi semakin dewasa.

Dan emosi yang tidak stabil membuat tubuh Sehun berkembang lebih cepat, rasa cinta yang Sehun milikki pada Luhan adalah penyebab terbesarnya, mendengar penjelasan ibunya barusan mengenai ini membuat Luhan tidak bisa berpikir jernih, ia tidak mungkin membiarkan Sehun membesar dengan cepat seperti itu, semua orang di dunia manusia akan heran melihatnya.

Dan untungnya Luhan menceritakan itu pada ibunya, sehingga ibunya membantu mencarikan jalan keluar untuk Sehun.

"Luhan."

"Ibu" Luhan menatap kearah Taemin yang melayang dari arah pintu menuju dirinya. Luhan menatap ibunya dengan wajah penuh harapan, berharap ibunya bisa memberikan solusi.

"Ini, ini adalah ramuan yang bisa membuat tubuh Sehun kembali normal dan juga akan menekan pertumbuhannya." Luhan membulatkan matanya tidak percaya.

"Tapi ibu, bukankah ramuan ini terlarang. Ba..bagaimana ibu_"

"Itu bukan masalah, sekarang berikan ini pada Sehun sebelum dia sadar." Ucap Taemin. Dengan cepat Luhan dan Taemin menghilang menuju kamar milik Luhan.

Tubuh Sehun terbaring diatas ranjang milik Luhan, Luhan telah memberikan angin penidur untuk Sehun ketika membawanya ke Infernus. Dengan cepat Luhan segera membuka bibir Sehun dan menuangkan cairan berwarna ungu pekat itu.

Sehun mengernyit merasakan cairan kental dan pahit masuk ke dalam mulutnya. Luhan menatap Sehun penuh pengharapan, ia tidak ingin Sehun merasa semakin tersisih karena tubuhnya yang semakin membesar.

"Ibu berapa lama ramuan ini bisa menahan pertumbuhannya?" tanya Luhan, Taemin menundukan wajahnya untuk berpikir sebelum akhirnya ia menjawab.

"Mungkin dua sampai tiga tahun lebih lambat." Luhan mengangguk dan tersenyum kearah ibunya, Taemin yang awalnya menatap datar seketika mengembangkan senyumnya.

"Terima kasih ibu"

"Apapun akan ibu lakukan untuk anak dan cucu ibu." Ucap Taemin sambil kembali tersenyum.

"Sekarang bawalah ia kembali sebelum ia sadar." Ucap Taemin dan Luhan mengangguk. Ia memegang tubuh Sehun lalu menghilang.

..

.

Baekhyun membuka matanya dan hal pertama yang ia dapati adalah wajah damai Chanyeol. Baekhyun tersenyum, jemarinya bergerak untuk menyusuri wajah kekasihnya. Baekhyun merasa sedikit iri, mereka sama-sama lelaki tapi pahatan wajah Chanyeol begitu sempurna.

Tapi dibanding perasaan iri, perasaan senangnya lebih mendominasi. Ia merasa begitu bahagia memiliki orang yang begitu mencintainya, yang rela melakukan apapun untuknya tanpa mengharapkan sebuah imbalan.

Kembali Baekhyun berpikir dirinya begitu egois, Chanyeol selalu membantunya keluar dari masalah, menganggkat martabatnya yang selama ini selalu diinjak-injak, tapi dirinya sama sekali tidak bisa memberikan hal serupa pada Chanyeol, bahkan untuk sekedar memberikan kepuasaan nafsu pada Chanyeol.

Ia merasa begitu egois, selalu menolak keinginan Chanyeol untuk bercinta yang Baekhyun tahu diusia mereka hormon bercinta akan melonjak-lonjak, apalagi untuk tipe lelaki seperti Chanyeol.

Ketika mata mereka bertemu Baekhyun tersentak, ia tidak menyangka jika Chanyeol menangkap basah dirinya sedang memperhatikan dalam tidur.

"Puas dengan pemandanganmu?" tanya Chanyeol dengan suaranya yang masih serak. Baekhyun menundukan wajahnya, menatap kearah kancing baju Chanyeol.

"Chan…Chanyeol apa aku egois?" tanya Baekhyun, Chanyeol mengernyit tidak mengerti dengan arah pembicaraan Baekhyun. Ia menarik dagu Baekhyun agar mata indah itu menatap tepat kemata tajamnya.

"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Chanyeol lembut, Baekhyun menatap kedua bola mata Chanyeol bergantian. Ia tidak mengerti dengan apa yang ingin ia ucapkan, ia juga tidak mengerti dengan apa yang sedang ia pikirkan. Jadi bagaimana ia bisa menjelaskan pada Chanyeol.

"A…aku…" ucapan Baekhyun terhenti, ia memeluk tubuh Chanyeol erat. Menyalurkan kekalutan yang sedang ia rasakan melalui sentuhan hangat tubuh keduanya. Chanyeol tidak bertanya, ia hanya mengelus punggung Baekhyun pelan.

Walau belum lama mengenal Baekhyun, tapi ia tahu sesuatu jika Baekhyun bukan tipikal yang bisa dipaksa jika ia tidak ingin mengungkapkannya seorang diri. Dan Chanyeol mencoba untuk memaklumi itu.

"Jangan mengkhawatirkanku secara berlebih! Aku akan segera sembuh." Chanyeol sengaja mengalihkan pembicaraan, membuat Baekhyun menjauhkan tubuhnya dan tersenyum.

..

.

Halaman sekolah nampak sepi karena pelajaran sudah dimulai sejam yang lalu. Semua murid sedang berada di dalam kelas mereka melangsungkan proses belajar-mengajar.

Terlihat sebuah tas tiba-tiba jatuh keatas tanah, lalu mulai terlihat dua buah tangan yang berpengangan pada pembatas tembok, dan tak lama muncul kepala yang mengintip keadaan sekitar.

Sosok itu adalah Jongin, yang sedang mengendap-endap masuk ke dalam sekolah. Ketika sudah dirasa aman, ia segera memanjat tembok dan mendaratkan kakinya dengan selamat diatas area sekolah.

Dengan santai ia memungut tasnya dan menepuknya sebentar menghilangkan debu-debu yang menempel dan setelahnya melenggang dengan santai ke dalam gedung sekolah.

Ia menyimpan tasnya ke dalam loker dan hanya membawa sebuah buku pelajaran saja. Dengan santai ia bersiul menuju kelasnya, melewati koridor dan menatap ke dalam kelas-kelas yang sedang melangsungkan pelajaran.

"Terima kasih tuan Shin. Terima kasih banyak." Jongin menghentikan langkahnya ketika melihat dua sosok yang sedang berbicara dengan kepala sekolahnya , dimana satunya mengenakan jaket hingga menutupi kepalanya dan satunya dengan setelan rok biru sedang keluar dari ruangan kepala sekolah dan memberi hormat pada Kepala Sekolah.

Jongin mengintip dari balik dinding koridor, memperhatikan dua sosok yang kini masih berdiri di depan ruang kepala sekolah. Wanita dengan setelan rok biru menepuk pundak sosok berjaket yang tidak Jongin kenali-karena wajahnya tertutup tudung jaketnya- dan terdengar berbicara dengan suara yang sangat pelan.

"Kau baik-baiklah disini, ibu akan sering mengunjungimu." Sosok berjaket itu mengangguk.

"Bergaulah dengan mereka, dan jadilah anak yang baik. Kau mengerti?" sosok itu kembali mengangguk. Jongin masih mengintip dan memperhatikan sosok wanita yang ia yakini adalah ibu dari sosok berjaket. Wanita itu terlihat sangat cantik bahkan Jongin sempat terpesona dengan kecantikannya, pantas saja kepala sekolahnya yang genit itu terlihat begitu bahagia.

Ketika sosok wanita itu berlalu dan sempat mengecup pipi sosok berjaket –yang Jongin yakini sebagai anaknya-, Jongin bersiap akan keluar dari persembunyiaanya dan segera menuju ke kelas, tapi niatnya urung ketika tubuhnya menegang dengan pandangan lurus ke depan.

Sosok berjaket itu membuka tudung jaketnya dan membalik tubuhnya sehingga Jongin melihatnya dengan jelas, dan terlihat kebingungan dengan arah yang akan ia tuju, sampai akhirnya ia memilih berjalan kearah kanan.

Jongin tersadar dari keterpakuannya, dan segera berlari menyusul langkah sosok berjaket itu , sosok yang membuat Jongin tidak bisa tidur dengan tenang, sosok yang membuat Jongin rela datang ke sekolah secara cuma-cuma dan sosok yang membuat Jongin tidak fokus pada kegiatannya beberapa hari belakangan.

Selain basket Jongin tidak memiliki hasrat pada apapun, tidak dengan ketenaran, percintaan, kekayaan, atau apapun yang orang-orang banggakan. Baginya terlahir dari keluarga berada membuat segala sesuatu yang ia inginkan bisa di dapatkan dengan mudah, dan untuk itu sejak kecil ia tidak memiliki ambisi apapun sampai ia bertemu dengan yang bisa membuatnya mengenal apa arti sebuah usaha untuk mendapatkan sesuatu.

Sementara untuk percintaan, bisa ia dapatkan dengan mudah. Tidak butuh usaha keras untuk membuat para wanita menyukainya. Untuk itu seumur hidupnya Jongin tidak pernah berpacaran, bahkan ketika semua teman-temannya menyombongkan keunggulan kekasih mereka, Jongin tetap menganggap basket sebagai kekasih nomer satunya.

Selain karena alasan 'tidak berhasrat' Jongin juga tidak pernah merasakan apa yang orang-orang sebut sebagai 'jatuh cinta' apalagi istilah 'jatuh cinta pada pandangan pertama'. Sebuah istilah yang sangat tidak masuk diakal seorang Kim Jongin yang selalu berpikir secara rasional.

Tapi kini, kerasionalannya sedang dipertanyakan, ketika kakinya melangkah untuk menyusul sosok yang ia sendiri tidak tahu apakah benar-benar nyata, ataukah sosok tidak nyata seperti yang Cheondong katakan padanya.

"Hei!" panggil Jongin tapi sosok itu tidak menoleh ataupun menghentikan langkahnya, padahal jarak mereka cukup dekat. Jongin mulai ragu jika makhluk di depannya sungguh-sungguh nyata.

"Hei! Kau sosok berjaket!" sosok itu tetap melangkah tanpa memperdulikan panggilan Jongin, Jongin mempercepat langkahnya bahkan sedikit berlari untuk mendahului sosok di depannya.

Jongin berhasil membuat sosok itu menghentikan langkahnya sementara ia sedikit terengah. Jongin menarik nafas dan mengangkat wajahnya untuk melihat sosok di hadapannya . Sekarang Jongin paham kenapa ada istilah 'Bumi berhenti berputar' atau 'Jantung berhenti berdetak' yang bagi Jongin sangat tidak masuk akal. Bagaimana bumi berhenti berputar sementara waktu tetap berjalan, dan jantung berhenti berdetak sementara kau tetap bernafas.

Bagi Jongin yang dulu itu adalah istilah paling tidak masuk akal, namun kini Jongin tahu bahwa terkadang istilah yang 'berlebihan' memang benar adanya. Kini dirinya terpaku seperti mayat hidup dengan tatapan –yang ia yakini- bodoh kearah sosok di depannya.

"Ada apa?" tanya sosok di depannya. Jongin berani bersumpah suara lembut itu selaras dengan mata bulat, kulit putih, bibir penuh dan merah merekah di hadapannya.

"A…aku..a…aku.."

"Maaf? Apa kita saling mengenal?" tanya sosok di hadapanya dengan bingung, dan itu semakin membuat Jongin ingin memeluk dan menciumnya, lalu membawanya kedalam kamar untuk ia jadikan boneka yang menjadi teman tidurnya, sungguh menggemaskan dan sangat naif.

"K..kau..k..kau.."

"Maaf, apa kau baik-baik saja?" sial! Jongin mengumpat dalam hati karena untuk kedua kalinya suaranya enggan keluar.

"Aku permisi." Ucap sosok itu.

"Tunggu! Boleh aku tahu namamu?" tanya Jongin, ia bersyukur suaranya mau muncul lagi.

"Kyungsoo. Park Kyungsoo." Ucapnya lembut. Jongin mengulang nama itu seperti mantra, membuat Kyungsoo bingung dan berniat meninggalkan Jongin setelah memberi hormat.

"Kyungsoo?" Kyungsoo menoleh dan menatap Jongin bingung.

"A..apa kau seorang bidadari?" tanya Jongin bodoh. Kyungsoo mengerutkan dahinya.

"Bukan." Kyungsoo menggeleng pelan.

"Tapi kau seperti_"

"Bidadari berada di langit paling dasar, tujuh tingkat di bawah malaikat, dan aku berada tujuh tingkat diatas bidadari." Ucap Kyungsoo sebelum akhirnya melenggang pergi. Jongin terdiam , mencoba mencerna ucapan Kyungsoo, ia cukup bingung dengan arti ucapan seseorang yang baru ia temui itu dan ia tersenyum saat menyadari maksud ucapan sosok cantik itu.

"Benar, kau tidak sebanding dengan bidadari, kau adalah malaikat. Malaikatku Kyungsoo." Bisik Jongin pelan.

Ia membalik tubuhnya dan berjalan menuju lantai dua , menuju kelasnya sambil tersenyum. Ia memasuki kelas dan mendapat tatapan tajam dari gurunya.

"Darimana saja kau Kim Jongin?" tanya guru pria itu tegas. Jongin tersenyum bodoh sambil menggaruk kepala bagian belakangnya.

"Maaf Tuan Ahn, Aku tertidur di perpustakaan."ucap Jongin sambil mengangkat buku pelajarannya. Guru Ahn menggeleng dan membiarkan Jongin masuk. Untuk kesekian kalinya Jongin berhasil membohongi para guru yang selalu percaya padanya.

Cheondong menggeleng pelan ketika Jongin duduk disampingnya, ia mendekatkan bibirnya dan berbisik pelan.

"Aku pikir aku bermimpi melihatmu di depan kelas tadi."

"Aku juga berpikir diriku sedang bermimpi." Cheondong menaikkan satu alisnya tidak mengerti.

"Aku pikir aku bermimpi bertemu dengannya, ternyata tidak. Dia nyata Cheondong-ah, dia nyata. Malaikatku nyata." Ucap Jongin.

"Siapa?"

"Kyungsoo. Park Kyungsoo." Ucap Jongin sambil tersenyum pada udara kosong. Cheondong mengerutkan keningnya melihat tingkah aneh sahabatnya.

..

.

Baekhyun berdiri di depan loker ruang olahraga, sambil membuka seragamnya ragu. Beberapa siswa nampak bercanda dengan saling mengejar dan sesekali membuat Baekhyun terdorong tapi ia memilih diam.

Sekarang waktu renang sehingga semua siswa di minta untuk berganti pakaian. Sebenarnya Baekhyun merasa kurang percaya diri dan masih memiliki trauma pada kejadian beberapa waktu silam ketika orang-orang melihat jejak kemarahan di tubuhnya.

Tapi ketika Chanyeol mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, Baekhyun merasa tidak harus merasa takut lagi. Dan Baekhyun juga tidak ingin menyia-nyiakan pengorbanan Chanyeol yang memilih ikut mengambil jam renang padahal ia baru sembuh dari sakit kemarin.

Baekhyun mendengar bisikan teman-temannya yang seperti membuat taruhan akan tanda kemerahan ditubuhnya, tapi ketika ia menoleh dan melihat arah pandang teman-temannya ia sadar bahwa yang menjadi bahan pembicaraan bukan dirinya melainkan sosok Chanyeol yang memasuki ruang ganti dengan hanya mengenakan celana renangnya dan memperlihatkan bagaimana bentuk tubuhnya yang begitu sempurna terekspos jelas.

Baekhyun merasakan pipinya memanas, sehingga ia membalik tubuhnya segera melepas celana seragamnya. Chanyeol berjalan kearah Baekhyun dan terpesona melihat betapa mulus dan menggairahkannya tubuh Baekhyun, mungil,putih, mulus dan sintal.

Chanyeol benar-benar ingin menculik Baekhyun dan membawanya ke Infernus lalu menidurinya hingga tidak sadarkan diri, tapi mengingat konsekuensi yang akan ia terima Chanyeol memilih urung.

"Kau sudah selesai? Ayo keluar!" ucap Chanyeol. Baekhyun mengangguk dan berjalan di belakang Chanyeol. Beberapa pasang mata menatap kearah mereka, menatap Chanyeol dengan penuh kekaguman dan iri, dan menatap Baekhyun dengan penuh gairah dan nafsu.

Ketika menuju kolam renang indoor, para murid yang sudah mengambil duduk di sisi kolam renang menatap kearah keduanya dengan wajah takjub. Terutama para siswi yang menatap terpesona pada Chanyeol.

Baekhyun terus menundukan wajahnya sementara Chanyeol sebaliknya, mengangkat tinggi-tinggi wajah angkuhnya. Mereka berjalan melewati gerombolan para murid dan memilih duduk di sisi lain yang lebih sepi.

Chanyeol duduk di sisi kolam dan melompat masuk ke dalam air. Baekhyun menatap Chanyeol dari pinggir kolam renang, saat Chanyeol memintanya turun.

"A..aku tidak pandai berenang. Disini terlalu dalam Chanyeol." Ucap Baekhyun pelan. Chanyeol tersenyum dan meraih tangan Baekhyun, membuat Baekhyun terduduk di pinggir kolam.

"Ada aku, apa yang perlu kau takuti?" gumam Chanyeol lalu menarik Baekhyun pelan ke dalam kolam renang. Baekhyun terlihat panik ketika tubuhnya masuk sepenuhnya ke dalam air, dan Chanyeol segera mengangkat tubuh itu, menyingkirkan rambut Baekhyun yang menghalangi pandangnya.

Baekhyun mencoba mengambil nafas, dan Chanyeol tersenyum. Beberapa pasang mata menatap mereka iri dan berdecih, terutama para siswi yang menganggap Baekhyun hanya berakting.

Chanyeol memegang pinggang Baekhyun dan mendorongnya ke dinding kolam renang, memerangkap tubuh itu dalam pelukannya. Baekhyun kembali merona melihat bagaimana tatapan intens Chanyeol kearahnya.

Walau mata mereka terpaku, tapi gerakan tangan Chanyeol dibawah sana membuat Baekhyun menggeliat geli, jemari Chanyeol tak henti-hentinya mengelus permukaan kulit Baekhyun.

PRIIIIT

Ketika terdengar bunyi peluit dari guru renang mereka yang baru datang, Chanyeol dan Baekhyun menoleh. Ketika Baekhyun akan keluar dari kolam Chanyeol menahannya, ia menarik tangan Baekhyun dan melingkarkan di punggungnya, lalu dengan satu tarikan nafas ia masuk ke dalam air dan berenang menuju guru dan teman-temannya berkumpul, sementara Baekhyun menggantung di punggungnya tanpa ikut memasukan kepala ke dalam air.

Chanyeol muncul di permukaan air, membuat beberapa pasang mata menatap kemesraan Chanyeol dan Baekhyun yang bahkan masih bergelantung di punggung Chanyeol.

Guru renang mereka melirik kearah Chanyeol sekilas dan kembali menerangkan pada para muridnya, guru wanita itu mulai mengarahkan hal yang harus dilakukan para muridnya.

"Setiap tim terdiri dari dua orang. Dan minimal salah satunya pandai berenang." Semua murid mengangguk paham.

"Satu tim terdiri dari satu orang siswa dan satu orang siswi."

"Aku menolak." Ucap Chanyeol. Guru itu mendesah dan melirik tidak suka pada Baekhyun yang terlihat menatap Chanyeol heran sambil masih bergelantung pada punggung Chanyeol.

"Kenapa Chanyeol?" tanya Guru itu sambil tersenyum. Walau ini pertama kalinya mereka bertemu, tapi guru itu sudah mengetahui nama Chanyeol. Lihat!betapa tenarnya seorang Park Chanyeol, bahkan dikalangan para guru sekalipun.

"Selain dengan Baekhyun, aku tidak ingin dipasangkan dengan siapapun." Ucap Chanyeol dingin, semua mata menatap Chanyeol terkejut. Sementara guru itu mulai menghela nafas pelan dan memasang senyum terbaiknya.

"Tapi para siswi itu banyak yang tidak pandai berenang, jadi sebagai laki-laki sudah seharusnya kalian melindungi mereka yang lemah."

"Baekhyun juga lemah, maka aku akan melindunginya saja." Semua orang kembali terkejut. Baekhyun berbisik pada Chanyeol.

"Tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja Chanyeol." Bisik Baekhyun pelan, Chanyeol tidak menjawab dan ia menatap tajam pada guru dihadapannya.

"Jika aku tidak bisa dengan Baekhyun, maka aku tidak akan mengikuti pelajaran_"

"Tidak apa-apa Saem, lakukan saja sesuai peraturanmu." Ucap Baekhyun cepat, Chanyeol menolehkan kepalanya kesal, dan Baekhyun mengeratkan pelukan tangan dan kakinya pada tubuh Chanyeol, ia lalu berbisik.

"Aku mohon Chanyeol, aku akan baik-baik saja. Hanya selalu awasi aku, aku mencintaimu." Seketika tubuh Chanyeol menegang, mendengar kata "aku mencintaimu" dari Baekhyun membuat Chanyeol merasa senang dan pada akhirnya mengikuti pilihan Baekhyun.

Guru renang itu mulai membagikan nama-nama yang akan menjadi satu tim. Dan ketika nama Baekhyun disebut bersama nama seorang siswa Chanyeol membulatkan matanya tidak terima, saat akan protes Baekhyun mengelus dada Chanyeol pelan dan mengeratkan pelukannya.

Chanyeol mencoba sabar dan maklum jika nama Baekhyun dan timnya adalah dua nama terakhir dari daftar presensi.

Baekhyun melepaskan tubuhnya dari Chanyeol dan berjalan menuju sisi yang lebih dangkal, lalu mencari anggota timnya. Kegiatan pertama mereka adalah pemanasan di dalam air, lalu dilanjutkan dengan kegiatan saling memegang. Satu orang menarik, dan satu lagi berenang dengan perlahan.

Chanyeol mengawasi Baekhyun yang sedang ditarik oleh lelaki yang sejak tadi menatap kearah punggung Baekhyun yang sedikit menyembul dari balik air. Sementara dirinya menarik tanpa minat siswi yang menurutnya begitu genit dan manja, Chanyeol benar-benar ingin menenggelamkannya.

"Chanyeol, pegang tanganku dengan erat. Aku takut tenggelam." Siswi itu berucap pelan pada Chanyeol, Chanyeol memutar bola matanya malas.

"Kau yang perlu, jadi kau saja yang memegang tanganku dengan erat, atau tenggelam saja sekalian." Ucap Chanyeol dingin, gadis di depan Chanyeol berdecak lalu kembali masuk ke dalam air, Chanyeol menariknya dengan malas, sambil terus mengawasi Baekhyun yang hampir mencapai sisi kolam renang.

Ketika suara peluit berbunyi, para murid diminta berkumpul kembali. Chanyeol melepaskan tangan gadis di depannya cepat, dan berjalan menuju pinggir kolam, membuat gadis itu nyaris tenggelam, namun ia segera menggerakan kakinya dan berenang untuk menuju ke Chanyeol.

Chanyeol melirik Baekhyun yang juga meliriknya, namun saat akan berjalan kearah Baekhyun, sebuah tangan melingkar di leher Chanyeol, dan sebuah tubuh merapat di punggungnya.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Chanyeol dingin pada gadis satu tim nya yang kini menggantung di punggungnya. Baekhyun menatap dengan kernyitan di dahinya, entah mengapa ia tidak menyukai bagaimana gadis itu menempel pada Chanyeol.

Chanyeol menarik paksa tangan gadis itu dan menghempaskannya, hingga tubuh si gadis menjauh dari Chanyeol. Guru renang mereka melirik sekilas sebelum akhirnya masuk ke dalam air.

"Sekarang kita belajar, bagaimana cara menggerakan tangan kita di dalam air dengan gaya punggung, tapi aku akan menunjukan cara dasarnya." Ucap guru itu lalu mendekat kearah Chanyeol, dan berdiri tepat dihadapan Chanyeol sementara Chanyeol menatapnya dingin dengan satu alis terangkat.

"Chanyeol, bantu aku sebentar." Ucap guru itu sambil tersenyum nakal, Chanyeol memutar kembali bola matanya dengan malas.

"Begini. Kalian pegang kedua pundak anggota tim kalian, lalu melompat dan lingkarkan kedua kaki kalian di pinggang mereka." Chanyeol membulatkan matanya ketika kaki guru itu melingkar di perutnya, Baekhyun juga nampak terkejut di tempatnya. Entah mengapa ia merasa sesuatu menusuk dadanya.

Chanyeol mengepalkan tangannya di dalam air, ia sudah ingin mendorong guru itu jika tidak mengingat ucapan Baekhyun barusan. Ia tidak boleh terbakar oleh emosi dan membuat masalah baru, jadi Chanyeol mencoba bersabar ketika tubuh guru itu melekat padanya.

"Lalu kalian terlentang seperti ini." Ucap guru itu dan menjatuhkan tubuhnya kebelakang, lalu mulai menggerakan tangannya naik turun seperti baling-baling.

"Chanyeol pegang pinggangku!" ucap guru itu dan dengan malas Chanyeol menurutinya. Entah mengapa gerakan guru itu sangat tidak pantas dimata Baekhyun dan Chanyeol, tapi beberapa mata siswa malah terfokus pada gundukan di dada guru renang mereka.

"Hentikan! Aku rasa mereka sudah mengerti." Ucap Chanyeol lalu melepaskan paksa kaki guru renangnya, membuat tubuh wanita itu tenggelam,tapi dengan cepat ia segera bangkit dan bertingkah seolah baik-baik saja.

Semua kembali memenuhi sisi kolam renang, dan mulai menirukan seperti yang guru mereka ucapkan. Chanyeol menatap tidak suka pada gadis yang terlentang di depannya, dan Chanyeol tahu gadis itu dengan sengaja menggerakan tubuh bagian bawahnya.

Chanyeol melirik kearah Baekhyun yang nampak canggung melingkarkan kakinya di tubuh rekannya, dan Chanyeol semakin kesal saat lelaki itu memegang pinggang Baekhyun dan menatap lapar pada tubuh kekasihnya.

Baekhyun bergerak gelisah ketika jemari teman satu timnya, mulai bergerak diluar semestinya. Jemari itu tidak lagi memegang pinggangnya, melainkan mulai turun hingga berada di pantatnya, Baekhyun segera melepas cengkraman kakinya dan menjauhkan tubuhnya.

"Maaf, tapi tanganmu berada di tempat yang salah." Ucap Baekhyun. Lelaki itu menyeringai, menarik pinggang Baekhyun mendekat dan berbisik.

"Tanganku berada di tempat yang benar Baekhyun. Lagipula tidak apa-apa kan, Chanyeol tidak akan melihatnya, dia sedang asik menikmati gesekan vagina rekan satu timnya." Baekhyun tersentak dan ia menoleh ke seluruh penjuru kolam hingga menemukan sosok Chanyeol sedang menatap gadis di depannya dan memegang pinggangnya , walau Baekhyun tidak mengerti arti tatapan Chanyeol.

"Seharusnya kau kasihan padaku, semua mendapatkan kesempatan emas bisa menikmati gesekan vagina para siswi, sementara aku terjebak bersamamu. Tapi kau tidak buruk juga, aku merasa seperti menyentuh kulit seorang wanita saat memegangmu." Ucapnya lagi. Baekhyun terdiam ia mencoba menjauhkan tubuhnya namun ditahan.

"Ayo lanjutkan lagi, aku tidak ingin Saem memarahi kita." Ucap lelaki itu dan menarik kaki Baekhyun agar melingkar ketubuhnya.

Dengan ragu Baekhyun mulai menjatuhkan tubuhnya kebelakang, menggerakan tangannya sesuai yang diperintahkan gurunya, tapi ketika jemari rekan timnya mulai beraksi lagi, Baekhyun menutup matanya rapat, tidak ingin menikmati apa yang dilakukan sosok di depannya.

Pantatnya diremas-remas, bahkan jemari itu masuk ke dalam celana renangnya. Baekhyun berdoa dalam hati semoga pelajaran renangnya segera usai, ia tidak ingin dilecehkan lagi dan lagi. Walau lelaki di hadapannya tidak pernah melecehkan secara langsung dulu, tapi melihat tindakannya sekarang, Baekhyun tahu bahwa diluaran sana masih banyak yang ingin melecehkannya.

Baekhyun mengeratkan pejaman matanya ketika tubuhnya dibawa sedikit rendah dan bagian bawah mereka bertemu, bahkan tubuhnya digerakan maju mundur dengan samar. Baekhyun ingin menagis, namun tidak ingin menjadi pusat perhatian.

Posisi mereka yang berada di sudut, memudahkan temannya untuk melecehkannya dan menjadikannya pemuas nafsu. Bahkan Baekhyun merasakan jika selangkangan lelaki itu mengeras, Baekhyun masih menggerakan tangannya ketika dalam doanya, tiba-tiba sebuah tarikan membuat tubuhnya tenggelam.

Baekhyun bangkit dan mendapati Chanyeol sedang mencekik leher rekan satu timnya dan menatapnya tajam.

"Sekali lagi kau melakukannya, aku tidak segan-segan membunuhmu." Bisik Chanyeol tepat di depan wajah lelaki yang ketakutan itu. Baekhyun menarik tangan Chanyeol, dan Chanyeol menoleh untuk menatap wajah Baekhyun.

"Kau denganku saja, dan kau gadis genit, dengan lelaki ini saja. Kalian berdua cocok untuk menjadi tim dalam menuntaskan hasrat kalian." Ucap Chanyeol lalu menarik tubuh Baekhyun dan membawanya kesisi yang sepi dari kolam renang yaitu disisi terdalam.

Baekhyun menggenggam tangan Chanyeol secara refleks ketika kakinya tidak bisa menemukan dasar kolam. Chanyeol menarik tubuh Baekhyun dan memeluknya erat.

"Jangan takut! Ada aku disini." Ucap Chanyeol pelan, ia menjauhkan tubuh Baekhyun dan memegang pinggang kekasihnya. Baekhyun memegang lengan bawah Chanyeol dan mulai menggerakan kakinya.

"Ayo kita lakukan gerakan yang tadi!" ucap Chanyeol. Ia menarik kaki Baekhyun, dan Baekhyun melingkarkan kedua kakinya di perut Chanyeol lalu menjatuhkan tubuhnya.

"Gerakan tanganmu Baek!" Baekhyun mengangguk dan mulai menggerakan tangannya, Chanyeol memegang pinggang Baekhyun dan ikut tersenyum ketika melihat Baekhyun tersenyum.

Perlahan Chanyeol melepaskan kaki Baekhyun, dan kini Baekhyun bisa berenang dengan gaya punggung secara perlahan. Chanyeol berenang disamping Baekhyun mengikuti arah berenang Baekhyun yang semakin menuju ujung kolam renang, benar-benar bagian terdalam.

"Hebat! " ucap Chanyeol, dan seketika Baekhyun merasa oleng lalu tubuhnya tenggelam karena panik.

Chanyeol menyelam ke dasar kolam untuk menarik tubuh Baekhyun yang semakin menuju dasar. Ketika sudah meraih pinggang Baekhyun, Chanyeol menarik dagu Baekhyun dan mereka berciuman di dalam air.

Walau beresiko tinggi tapi Baekhyun menanggapinya, dan membalas ciuman Chanyeol namun tidak sampai satu menit Baekhyun sudah kehabisan nafas dan Chanyeol membawa tubuh keduanya menuju permukaan.

Baekhyun menarik nafas dengan terengah, dan Chanyeol mengangkat tubuh Baekhyun agar melingkar di perutnya lalu mendorong tubuh keduanya menuju dinding kolam.

Baekhyun merasakan dinginnya permukaan dinding, dan merasakan betapa hangatnya bibir Chanyeol yang kembali menciumnya . Ukuran kolam mereka begitu luas, dari satu ujung ke ujung lain memiliki jarak yang jauh, dan di area mereka sekarang tidak ada satupun yang berada disana selain mereka berdua, menjadi keuntungan untuk mereka tapi bukan berarti Chanyeol bisa seenaknya mencium Baekhyun di tengah-tengah pelajaran, disaksikan belasan pasang mata, namun tidak adanya penolakan dari Baekhyun berarti kegiatan itu bisa terus dilanjutkan sampai terdengar bunyi peluit dan Chanyeol membawa tubuh Baekhyun berenang menuju teman-temannya.

..

.

Baekhyun dan Chanyeol memasuki kantin ketika jam isitirahat berlangsung. Seperti biasa keduanya akan mengambil antrian dan mencari tempat duduk yang berada di dekat jendela.

"Yak! Kau kenapa? makan dengan benar!" Suara itu membuat Chanyeol menoleh, dan ia mendapati dua orang lelaki dengan warna kulit yang kontras sedang duduk tidak jauh dari posisi mereka. Yang berkulit putih nampak memarahi temannya yang tersedak sambil memberikan air minum.

"Jongin! Apa yang terjadi padamu hah?" bentak yang berkulit putih lagi, sementara temannya yang berkulit lebih coklat masih mengelus dadanya dan terbatuk. Chanyeol mengedikan bahunya dan mengalihkan pandangannya ke Baekhyun sampai ia menyadari Baekhyun sedang menatap kea rah pintu kantin, dengan rasa penasaran Chanyeol mengikuti arah pandang Baekhyun.

Mata Chanyeol membulat, melihat sosok putih dan mungil yang berdiri di pintu kantin dengan wajah kebingungan, dan beberapa pasang mata yang terpesona padanya. Chanyeol menggeram dalam hati, ia tahu ini pasti ulah ibunya yang mengirim adik bungsunya ke dunia manusia.

"Jongin! Lihat!" suara berisik itu kembali mengalihkan perhatian Chanyeol, dan kini lelaki dengan kulit coklat itu memutar tubuhnya dan seperti tersihir ia memandangi Kyungsoo dengan mata cemerlang.

"Sial, ibu menambahkan bebanku." Gerutu Chanyeol sambil menutup matanya kesal.

Kantin mulai ricuh akibat kehadiran Kyungsoo yang menarik hampir seluruh perhatian kantin, terutama lelaki hidung belang yang bersiul-siul menggoda Kyungsoo seperti burung.

Kyungsoo berjalan dengan perlahan walau ia masih kebingungan, Chanyeol mengalihkan arah pandangnya tidak ingin bertemu pandang dengan Kyungsoo, sebisa mungkin Chanyeol ingin menghindari adiknya.

"Hei! Kemari duduk dengan kami!" suara itu membuat Chanyeol menoleh, dan demi sang kakek, Chanyeol nyaris menjatuhkan rahangnya melihat adiknya berjalan dengan polos kearah kelompok lelaki hidung belang yang memanggilnya.

Seharusnya ibunya tahu jika Kyungsoo begitu naif, dia tidak bisa membedakan mana kebaikan dan mana kejahatan yang berkedok kebaikan. Kyungsoo berjalan sambil tersenyum kearah kelompok bajingan itu , membuat beberapa pasang mata mengernyit heran.

Kyungsoo berdiri di hadapan mereka dan Chanyeol memperhatikan dari tempatnya, Baekhyun juga melakukan hal yang sama.

"Boleh aku bergabung dengan kalian?" ucap Kyungsoo polos. Chanyeol berani bersumpah setelah ini akan mengamuk pada ibunya, adiknya benar-benar terlihat bodoh dan tolol.

"Tentu, tapi sebelumnya kau harus membuka dua kancing teratasmu!" Chanyeol menggertakan giginya keras, ia benar-benar kesal tapi tidak ingin terlibat terlalu jauh. Dan lebih kesal lagi saat adiknya yang semula memasang wajah berpikir, menggerakan tangannya untuk membuka dua kancing teratas.

"Seperti ini?" tanya Kyungsoo dengan suaranya yang lembut.

"Wow, kulitmu benar-benar mulus. Baiklah, kau bisa bergabung, tapi ada satu lagi."
"Apa?" tanya Kyungsoo heran.

"Cium aku!" Kyungsoo mengernyit ketika salah satu dari mereka memajukan bibirnya, Kyungsoo terdiam sebelum akhirnya melangkah maju.

"Ci..cium?"

"Benar, cepat lakukan!" ucap mereka. Kyungsoo semakin mendekat, ia memajukan wajahnya dan mendekatkan bibirnya.

BRAAAKK

Suara gebrakan terdengar. Cheondong dan Baekhyun sama-sama menatap dua orang di depan mereka terkejut. Chanyeol dan Jongin bangkit secara bersamaan, namun sebelum Jongin melangkah ke depan, Chanyeol sudah berlalu dengan nampan di tangannya, dan menghantamkannya ke wajah si lelaki yang ingin mencium Kyungsoo, lalu dengan cepat menarik tangan Kyungsoo dan membawanya berlalu meninggalkan kantin.

Semua nampak terkejut, terutama Baekhyun dan Jongin yang sama-sama terpaku di tempat. Baekhyun dan Jongin menatap dua orang yang sudah berlalu meninggalkan kantin, dengan berbagai pemikiran yang melintas.

Chanyeol menarik tangan Kyungsoo kesal dan membawanya menjauh dari kantin, mencari tempat yang sepi untuk membuka pembicaraan, sampai langkah Chanyeol membawa mereka menuju halaman belakang sekolah yang memang sepi di jam seperti sekarang.

"Apa yang ibu perintahkan untukmu?" bentak Chanyeol sambil menghempaskan tangan Kyungsoo. Kyungsoo memegang pergelangan tangannya yang memerah, dan menatap Chanyeol dengan mata bulat besarnya.

"Apa ini bagian lain dari rencana ibu untuk membuatku semakin kerepotan? Ibu memintamu untuk menyusahkanku kan?" Kyungsoo menggeleng sambil mengelus tangannya yang masih terasa sakit. Chanyeol tanpa sadar menggunakan tenaga dalamnya, hingga kulit Kyungsoo terbakar karena ia tidak menggunakan kekuatan medan saljunya untuk melindungi diri dari iblis.

"Lalu apa hah? Kenapa kau muncul disini?" bentak Chanyeol. Kyungsoo mundur tanpa sadar dan tubuhnya menabrak dinding dengan takut. Ia menatap Chanyeol tanpa bicara, masih menggengam pergelangan tangannya yang mulai melepuh melihat itu Chanyeol baru menyadari sesuatu.

Dengan cepat ia meraih tangan Kyungsoo dan menutup matanya untuk menyembuhkan luka di tangan adiknya. Kyungsoo tersenyum setelah lukanya membaik, dan menatap Chanyeol.

"Ibu menyuruhku untuk mencari cintaku disini." Chanyeol menatap tidak percaya pada pengakuan adiknya.

"Apa kau bercanda?"

"Tidak. Ibu benar-benar menyuruhku melakukannya. Lagipula hyung, aku juga ingin tahu seperti apa hidup di bumi." Ucap Kyungsoo polos. Chanyeol mengusak rambutnya frustasi dan Kyungsoo hanya terdiam di tempat.

"Apa kau tahu bahwa kehidupan di dunia manusia itu kejam? Disini tidak seperti di Nubes." Bentak Chanyeol. Kyungsoo menggeleng pelan.

"Mereka baik hyung, di kelas mereka memperlakukanku dengan baik dan tadi di kantin juga. Bahkan mereka menawariku untuk duduk bersama." Chanyeol menghela nafas pelan, berbicara dengan adiknya harus ekstra hati-hati, karena sama seperti butiran salju adiknya ini sangat rapuh dan mudah meleleh.

"Kau_ aaaahh! Astaga aku bisa gila." Ucap Chanyeol sambil mengusak rambutnya lagi. Ia menatap Kyungsoo sambil menghela nafas, memperhatikan penampilan adiknya yang terlihat berbeda. Warna matanya hitam kelam, tanpa kristal di keningnya, tanpa jubah putihnya, dan yang terpenting tanpa sayapnya.

"Kemari!" Chanyeol menarik pundak Kyungsoo dan mengancingkan seragam adiknya perlahan.

"Selain denganku, jangan pernah mengikuti perintah mereka. Kau mengerti?"

"Kenapa? kata ibu aku harus membaur bersama mereka."

"Hanya ikuti apa yang aku perintahkan, manusia tidak sebaik kelihatannya, mereka sungguh kejam di dalam."

"Lalu kenapa kau jatuh cinta dengan manusia hyung?" Chanyeol mendadak bungkam, selalu Kyungsoo bisa membuat dirinya mematung dengan pertanyaan sederhana namun memiliki jawaban yang rumit.

"Hanya dengarkan aku saja! Jangan terlalu dekat dengan para manusia! Kau mengerti?" tanya Chanyeol, Kyungsoo mengagguk pelan dan seketika Chanyeol terkejut merasakan sebuah pelukan yang diberikan oleh Kyungsoo. Di Infernus, mereka tidak pernah terlibat kontak fisik seperti ini dan rasanya sungguh aneh.

"Kenapa kau memelukku?"

"Manusia melakukannya padaku sejak aku tiba di sekolah ini, mereka bilang memeluk adalah salam perkenalan, atau sebagai ucapan terima kasih." Sial! Para manusia telah memanfaatkan kepolosan adiknya, Chanyeol tidak bisa membiarkan adiknya menjadi tercemar karena ulah para manusia yang memiliki otak kotor.

CUP

Mata Chanyeol membulat ketika mendapatkan ciuman di pipinya, ia menatap Kyungsoo dengan mata membulat.

"Apalagi ini?"

"Mereka bilang, ini disebut ciuman. Katanya sebagai ungkapan rasa senang dan rasa terima kasih yang besar." Chanyeol memegang pundak adiknya dan mencengkramnya cukup erat, hingga membuat Kyungsoo sedikit meringis.

"Dengar! Jangan pernah percaya dengan apa yang mereka katakan! Mereka hanya meracunimu Kyungsoo!"

"Meracuni?"

"Arrghh. Sudahlah! Yang jelas selain denganku, jangan pernah dekat dengan siapapun!" bentak Chanyeol dan Kyungsoo menatap kakaknya bingung.

Dari kejauhan nampak seorang laki-laki mengintip dari balik pohon dan jemarinya mengepal kuat saat melihat pujaan hatinya bermesraan dengan lelaki lain. Ia tidak akan membiarkan malaikat-nya diambil oleh lelaki yang pada kenyataannya sudah memiliki kekasih yang selalu ia coba lindungi. Jongin tidak akan membiarkannya, dan akan membuat Kyungsoo hanya melihat kearahnya. Jongin memang tidak pernah mau kalah dan terkadang suka memonopoli, untuk itu ia selalu bisa membawa tim-nya dalam kemenangan.

..

.

Di salah satu ruangan terbesar di Nubes, nampak Taemin sedang duduk di depan cerminnya. Ia menatap lurus ke depan, memperhatikan pantulan dirinya. Sesekali ia tersenyum, dan sesekali raut wajahnya berubah datar.

"…Tuan ! Tuan!" dan seketika Taemin tersadar dari lamunannya, ia menoleh dan mendapati penasehatnya sedang memberi hormat.

"Maafkan kelancanganku, tapi anda tidak mendengar panggilanku berulang kali. Apa ada yang sedang anda pikirkan?" Taemin kembali menatap pantulan dirinya di cermin dan menggeleng pelan, lalu mengalihkan pandangannya ke penasehatnya dan tersenyum.

"Ada apa kau mencariku?" tanya Taemin lembut, ia bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri meja yang berisi vas bunga.

"Bagian ruang racik baru saja melaporkan, jika ada sebuah ramuan yang hilang." Gerakan tangan Taemin yang menyentuh bunga terhenti, seketika tubuhnya menegang.

"Ramuan itu adalah ramuan penekan usia Tuan." Ucap si penasehat. Taemin membalik tubuhnya dan berjalan menghampiri penasehatnya.

"Apa kau yakin ramuan itu hilang?" tanya Taemin pelan, dan penasehatnya mengangguk. Taemin tahu ia baru saja telah melakukan sebuah kejahatan, dengan mencuri, berbohong dan sekarang bertingkah seperti tidak mengetahui apapun.

"Para tabib takut jika ramuan itu jatuh ke tangan yang salah." Ucap penasehat itu lagi. Taemin mengambil duduk di kursi miliknya dan tersenyum.

"Jangan sampai berita ini tersebar ke seluruh istana! Kita harus membuatnya menjadi rahasia, karena aku tidak ingin para malaikat menuduh para iblis yang mengambilnya. Dan satu lagi, jangan sampai berita ini terdengar ke Raja langit!" Ucap Taemin pelan dan mendapat anggukan dari penasehatnya. Taemin kembali bangkit dan berjalan keluar ruangan diikuti oleh penasehat dan beberapa pengawalnya.

Hari ini ia memiliki jadwal untuk berkunjung ke setiap ruang kerja para malaikat, untuk melihat langsung pekerjaan dan hasil dari para malaikat dalam mengatur kehidupan.

..

.

Baekhyun berbaring diatas ranjangnya sejak kepulangannya dari sekolah, sudah 30 menit ia menghabiskan waktu untuk berbaring sambil menatap langit-langit kamarnya. Memikirkan sosok asing yang muncul di kantin dan ditarik keluar oleh Chanyeol.

Entah mengapa sesaat Baekhyun merasa dadanya sesak, melihat bagaimana Chanyeol dengan penuh emosi menarik lelaki itu keluar dari kantin. Baekhyun sempat berpikir jika lelaki asing itu adalah kenalan Chanyeol, tapi mengingat Chanyeol adalah siswa pindahan dari luar negri Baekhyun jadi ragu.

Dan pemikiran lain tentang memang sikap alami Chanyeol yang suka menolong orang tertindas, sama halnya seperti dirinya yang di tolong oleh Chanyeol. Tapi memikirkan hal itu semakin membuat Baekhyun cemas dan takut, ia takut jika rasa iba Chanyeol akan menjadi sebuah perasaan ingin melindungi, lalu mereka saling mencintai.

Baekhyun menutup matanya, ia terlalu takut untuk kehilangan Chanyeol setelah apa yang mereka lalui bersama, walau singkat tapi kehadiran Chanyeol membuat seluruh hidup Baekhyun berubah, dan Baekhyun takut dengan kenyataan jika pada akhirnya rasa cinta Chanyeol hanyalah sebuah rasa belas kasihan.

PRAANG

Mata Baekhyun terbuka cepat, ia bangkit dan segera berlari keluar kamar. Setahunya tidak ada siapa-siapa dirumah, dan Baekhyun takut jika suara itu berasal dari orang yang memiliki niat jahat.

Dengan langkah cepat Baekhyun menuruni tangga, menuju sumber suara yang kalau tidak salah dengar berasal dari dapur. Ketakutan Baekhyun bertambah saat mendengar bunyi dentingan alat dapur yang terdengar cukup jelas.

Ketika kakinya melangkah ke dalam dapur, ia bernafas lega karena sosok yang ia curigai adalah Sehun yang sedang berdiri di depan kompor dengan piyama tidurnya, sepertinya Sehun tidak sekolah tadi.

PRAAANG

Mata Baekhyun membulat ketika sebuah mangkuk jatuh ke lantai karena tersenggol. Ia dengan perlahan menghampiri, dan mendapati sosok Sehun yang sedang berjongkok memungut pecahan-pecahan kaca yang berserakan di lantai.

"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Baekhyun dingin, Sehun mendongak dan mendapati sosok kakaknya berdiri dengan wajah dinginnya, dengan refleks Sehun meremas pecahan itu.

"A..aku sedang me..masak hyung. A..aku lapar…ma..maafkan_"

"Kau hanya perlu menghangatkan masakan ibu, kenapa malah membuat berantakan?" tanya Baekhyun masih dengan suara dinginnya. Sehun menundukan wajahnya dalam, ia benar-benar merasa bersalah, karena perbuatan bodohnya kakaknya akan semakin membencinya. Remasan pada jemarinya semakin keras, menyebabkan pecahan itu menembus ke dalam kulitnya hingga darahnya menetes.

"Tanganmu!" pekik Baekhyun terkejut dan segera menarik tubuh Sehun lalu menampar tangannya, pecahan itu jatuh dan tangan kanan Sehun bersimbah darah. Dengan cepat Baekhyun menarik tangan Sehun dan membawanya menuju ruang tengah.

"Apa kau tahu? Yang kau lakukan itu membahayakan dirimu!" Pekik Baekhyun kesal sambil mendudukan Sehun, dengan langkah cepat ia pergi meninggalkan ruang tengah. Sehun terdiam, menatap kosong pada tangannya yang terluka.

"Apapun yang aku lakukan selalu salah dimatanya." Sehun tersenyum pahit, menatap telapak tangannya yang terus mengeluarkan darah segar.

Tak lama Baekhyun kembali dengan kotak obat, ia duduk disamping Sehun membuat lelaki berkulit putih pucat itu terkejut, ia pikir kakaknya meninggalkannya tadi, tapi melihat sosoknya yang duduk disampingnya membuat sebuah senyuman terukir di wajah Sehun.

Tanpa suara Baekhyun meraih tangan Sehun, membersihkan darahnya dengan tisu lalu memberikan antiseptik disekitar luka terbukanya, sebelum akhirnya memberikan obat merah dan membalutnya dengan perban.

Sehun memperhatikan kakaknya dalam diam, hatinya menghangat, ia tidak menyangka jika kakaknya menaruh perhatian padanya. Jika dengan melukai tubuhnya bisa membuat kakaknya memperhatikannya, Sehun rela melukai seluruh bagian tubuhnya.

"Hyu..hyung. Terima kasih." Suara Sehun bergetar. Baekhyun menghentikan gerakannya dan segera merapikan peralatannya.

"Hyung! Aku sungguh bahagia saat ini. Aku tahu hyung menyayangiku, seperti aku yang menyanyangimu."Baekhyun tidak menjawab, wajahnya masih tertunduk sambil memasukan barang-barang yang ia gunakan tadi.

"Hyung, aku pikir hari ini tidak akan pernah terjadi. Aku pikir hingga aku mati hyung akan menjauhi dan menghindariku. Hyung,bisakah_"

"Cukup!" ucap Baekhyun dingin, ia bangkit tanpa mengindahkan tatapan bersedih Sehun.

"Kenapa?" suara Sehun terdengar bergetar.

"Kenapa hyung sangat membenciku? Apa kelahiranku membuat hyung berpikir jika kasih sayang ibu akan terbagi? Jika memang karena itu aku rasa ibu sudah berlaku adil, sejak kecil aku sudah berusaha untuk tidak menjadi anak manja, agar perhatian ibu tidak berlebihan padaku. Tapi kenapa hyung_"

"Benar!" Baekhyun membalik tubuhnya dan ia menatap kearah Sehun dengan tatapan penuh kebencian.

"Benar! Benar aku membencimu, sampai rasanya aku ingin membunuhmu!" Sehun membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang sedang ia dengar.

"Kelahiranmu adalah hal yang paling tidak aku harapkan di dunia. Karenamu , karenamu hidupku berubah! Karena kelahiran sialanmu, aku harus menanggung beban ini." Tubuh Sehun serasa melemas, ucapan kakaknya sungguh menghancurkan hatinya, ia tidak pernah tahu kakaknya membencinya sebesar itu.

"Jika saja kau tidak lahir! Jika saja kau tidak ada di dunia ini, maka hidupku akan tetap bahagia! Kau tahu brengsek_" Baekhyun menghentikan ucapanya, air matanya jatuh namun matanya menyiratkan sebuah luka yang besar.

"Kau dan dia, sama-sama hal yang paling tidak aku inginkan di dunia. Jika nyawaku bisa menukar kelahiranmu, maka aku akan memberikan nyawaku agar kau tidak pernah terlahir ke dunia. Kau adalah masa lalu yang ingin sekali aku musnahkan, kau dan kenangan burukmu! Kau_"

"Hentikan!" Sehun menutup telinganya, tidak ingin mendengar ucapan kakaknya yang sungguh menyakitkan. Sehun menekan kedua telapaknya keras pada kedua lubang telinganya. Menutup matanya rapat-rapat, berharap ia sedang bermimpi, berharap ucapan kakaknya hanyalah khayalannya semata.

"Itulah alasan mengapa aku membencimu. Jadi mulai sekarang jangan pernah bertanya lagi kenapa aku membencimu hingga rasanya ingin membunuhmu. Karena setiap melihat wajahmu, aku akan teringat tentang sosoknya dan kenangan burukku." Ucap Baekhyun sambil membalik tubuhnya dan berlalu meninggalkan Sehun.

Sehun menangis, ia sungguh tidak mampu menampung semua ucapan kakaknya. Dengan cepat ia bangkit dan berlari keluar rumah, membanting pintu dengan keras lalu berlari menjauh meninggalkan rumah.

Dengan mata berlinang air mata, dengan tubuh lemah, dengan hati yang hancur, dengan pikiran yang kacau dan tanpa mengenakan alas kaki. Ia berlari sekencang mungkin tanpa tujuan, setidaknya ia berada jauh dari rumahnya.

Ia hanya seorang anak kecil yang menginginkan kasih sayang dari kakaknya, bukan cacian dan ucapan buruk mengenai kelahirannya. Jika memang kelahirannya adalah hal yang dibenci kakaknya, maka ia berharap ia tak pernah dilahirkan.

..

.

Chanyeol memperhatikan Kyungsoo yang sedang menatap sekeliling kamarnya dengan wajah cemberut. Kyungsoo menatap sekelilingnya seperti kamarnya adalah sesuatu yang menakjubkan.

Mengingat beberapa menit lalu membuat Chanyeol menyesal telah mendatangi ibunya dan protes mengenai kehadiran Kyungsoo disekolahnya, yang berakhir dengan Kyungsoo yang harus tinggal bersama dengannya.

"Jika kau memang begitu mencemaskan adik bungsumu, ya sudah mulai sekarang Kyungsoo tinggal denganmu saja!"

"APA!?"

"Lagipula Luhan belum mencarikan tempat tinggal untuknya. Daripada kau memarahi ibu karena tugas yang ibu berikan pada Kyungsoo, karena takut manusia mencemari otaknya, kau ajak saja dia tinggal bersamamu."

"Tapi_"

"Ini perintah, bukan permintaan."

Mengingat perdebatannya dengan Taemin, membuat Chanyeol semakin geram. Ibunya akan tetap menjadi peringkat nomer satu pada daftar orang-orang yang paling ia benci.

"Sudah selesai dengan acara mengamatimu?" tanya Chanyeol malas. Kyungsoo menoleh dan mengangguk

"Lalu dimana_"

"Kamarmu disebelah! Sekarang pergilah kesana dan jangan ganggu aku!" ucap Chanyeol ketus. Kyungsoo mengangguk pelan dan berjalan keluar kamar.

"Hyung, itu apa?" tanya Kyungsoo sambil menunjuk sebuah benda diatas meja belajar Chanyeol.

"Kata Luhan itu ponsel, aku bisa menghubungi siapapun menggunakan benda itu. Tapi sampai saat ini aku rasa aku tidak memerlukannya." Ucap Chanyeol sambil berbaring diatas ranjangnya. Kyungsoo memperhatikan benda yang menarik perhatiannya , mengangguk lalu segera keluar kamar.

"Heuh, merepotkan!" kesal Chanyeol sambil menendang selimutnya.

"Aku harus menjadi pengasuh sekarang!" ucapnya kesal.

Chanyeol memejamkan matanya, sebelum sebuah suara keras menggema di telinganya.

"CHANYEOLLLL!" satu lagi pengacau dalam hidupnya.

"ADA APA BRENGSEK!" sahut Chanyeol.

"Chanyeol, aku ingin meminta bantuanmu. Sehun_"

"Aku sibuk, lain kali_"

"Aku selalu membantumu bagaimana pun kondisiku. Saat ini aku sedang mengerjakan tugas yang diberikan ayah dan aku tidak bisa meninggalkannya. Aku ingin meninggalkannya tapi takut jika ayah akan mengamuk dan_"

"Aarrggghhh ...Cepat katakan!" potong Chanyeol kesal, ia hanya malas mendengar ocehan kakaknya.

"Tolong Sehun! Dia menangis sambil berlari keluar rumah. Ia terlibat pertengkaran dengan Baekhyun, dia di taman sekarang." Chanyeol menghela nafas lalu bangkit.

"Baiklah, Baiklah"

"Terima kasih Chanyeol, aku tahu kau_"

"Hentikan! Suaramu membuat telingaku tuli saja." Ucap Chanyeol lalu memutus telepatinya.

Chanyeol mengambil jaketnya yang tergantung di lemari lalu bergegas keluar kamar. Ia menghampiri kamar Kyungsoo dan membuka pintunya lebar. Chanyeol sempat mengernyit melihat adiknya duduk disisi ranjang sambil menatap ke jendela.

"Kyungsoo aku harus pergi! Kau diamlah disini jangan kemana-mana!" Kyungsoo menoleh sebentar lalu mengangguk dan setelahnya kembali melihat ke jendela, seperti mengagumi betapa indahnya langit dari bawah. Chanyeol merasa perihatin melihat adiknya, tapi ia tidak bisa membiarkan adiknya berkeliaran sementara diluaran sana banyak orang-orang jahat yang kapan saja bisa mencemari adiknya.

Dengan cepat Chanyeol berjalan menuju pintu keluar, sambil mengambil kunci motornya di atas meja dekat dapur.

..

.

Sehun duduk di bangku taman seorang diri, ia tidak peduli beberapa pasang mata sempat memperhatikan penampilannya. Ia hanya membiarkan dirinya menangis hingga nafasnya tersengal-sengal.

Sesekali ia menggosok wajahnya kasar untuk menghapus air matanya yang terus mengalir, dan sesekali menarik nafas agar cairan hidungnya tidak meleleh keluar. Ia sungguh menyedihkan, seperti seorang pasien yang kabur dari rumah sakit.

"Aku pantas dibenci. Hiks.. kelahiranku adalah sebuah kesialan ..maafkan aku hyung..hiks..hiks.." Sehun terus menangis membuat hidungnya semakin memerah.

"Menyedihkan." Suara itu membuat Sehun mengangkat wajahnya. Dihadapannya berdiri sosok yang paling tidak ingin ia lihat saat ini.

"Pergi!" bentak Sehun. Chanyeol menghela nafas lalu mengambil duduk disamping Sehun.

"Ini tempat umum, siapapun bisa berada disini dan bebas melakukan apapun. Bahkan kau saja menangis di tempat ini." Ucap Chanyeol santai, Sehun melirik Chanyeol kesal dan memilih untuk mengabaikannya.

"Kau tahu? Bocah sepertimu sungguh merepotkan." Ucap Chanyeol. Sehun terdiam sebentar, lalu setelahnya emosinya semakin meluap.

"BENAR!BENAR AKU MEREPOTKAN! BENAR AKU MENYUSAHKAN, BAHKAN KELAHIRANKU ADALAH SEBUAH KESIALAN. BUNUH SAJA AKU ! BUNUH AKU!" Chanyeol terkejut bukan main, ia tidak menyangga niat awalnya hanya menggoda malah membuat Sehun yang biasanya membalas ucapanya, kini malah marah besar.

"Hei! Hei! Santailah sedikit!"

"Seharusnya aku tidak terlahir…hiks…hiks.. seharusnya Tuhan tidak memberikanku kehidupan. Seharusnya jantung ini tidak berdetak."

"Aku setuju." Sahut Chanyeol tak acuh, membuat Sehun menoleh heran. Sosok yang kini duduk disampingnya sungguh menyebalkan dan sama sekali tidak membantu.

"Kau tahu? Tidak semua kelahiran di dunia itu diinginkan. Tidak semua bayi yang lahir mendapat senyuman sebagai hadiah pertamanya." Ucap Chanyeol pelan, wajahnya terlihat santai namun nada bicara terlihat serius. Sehun menoleh merasa sedikit tertarik dengan ucapan sosok yang baginya sangat tidak keren itu.

"Sama seperti aku, ketika aku lahir. Kakek dari pihak ibuku, ah tidak! Bahkan seluruh keluarga ibuku tidak menginginkan kelahiranku. Kau tahu bagaimana hidup dibenci oleh orang-orang yang merupakan makhluk paling penyayang di dunia?" Sehun mengerutkan keningnya bingung , tapi ia menangkap maksud inti ucapan Chanyeol.

"Lalu bagaimana kau menghadapi semua itu? Bagaimana kau menghadapi kakekmu?" tanya Sehun. Chanyeol menoleh lalu tersenyum.

"Tidak ada. Aku hanya membiarkan mereka melakukan apa yang mereka inginkan. Aku hidup dengan jantungku, aku bernafas dengan paru-paruku, aku tidak memintanya dari mereka." Ucap Chanyeol, tanpa sadar Sehun mulai tersenyum.

"Tapi aku tidak bisa melakukannya pada Baekhyun hyung, aku menyayanginya." Ucap Sehun, wajahnya kembali menampakkan kesedihan. Entah mengapa Chanyeol merasa bersalah untuk itu.

"Aku juga merasakannya. Dibenci oleh orang yang aku cintai, berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan diriku. Itu sulit, sangat sulit."

"Aku tahu rasanya." Ucap Sehun lagi, wajahnya mendadak lesu.

"Bahkan dibenci oleh sosok yang berkatku dia lahir kedunia." Ucap Chanyeol. Sehun mengangkat wajahnya dan mengerutkan keningnya.

"Apa maksudmu kau sudah memiliki anak?" tanya Sehun curiga, Chanyeol menatap Sehun terkejut.

"Jadi kau pernah menghamili seorang gadis? Sudah aku duga kau bukan pria baik-baik. Itu kenapa aku membencimu sampai mati." Ucap Sehun sambil menggelengkan kepalanya. Chanyeol tersenyum lalu mengusak rambut Sehun.

"Kau benar-benar menuruni sikapku."

"Apa?" Sehun menolehkan kepalanya bingung, tidak mendengar jelas ucapan Chanyeol.

"Kau bocah paling sok tahu yang pernah aku kenal."

"Lalu apa maksudmu ' dibenci oleh sosok yang berkatmu dia lahir ke dunia?'"tanya Sehun penuh selidik.

"Ketika kecil tetanggaku memiliki seekor anjing, dan aku tidak tahu jika ia sedang mengandung. Malam harinya aku mendengar dia meraung kesakitan, awalnya aku ingin melanjutkan tidurku, tapi kemudian aku putuskan untuk melihat ke kandangnya yang berada dekat dengan halaman belakang rumahku. Dan ternyata ia sedang berusaha mengeluarkan bayinya, aku sekuat tenaga membantunya hingga anak anjing itu lahir. Tapi setelah besar dia selalu menggigitku dan menggonggong padaku." Ucap Chanyeol. Sepertinya iblis memang sangat pandai berbohong.

Sehun menaikkan satu alisnya merasa cerita Chanyeol sungguh amat –sangat-konyol. Ia mendengus pelan dan membuang wajahnya kesal. Chanyeol tersenyum melihat tingkah lucu Sehun, ia mengusak kembali rambut sosok dihadapannya.

"Hentikan! Kita tidak terlalu akrab untuk itu." Ucap Sehun sambil menghempaskan tangan Chanyeol. Chanyeol mencibir lalu menampar belakang kepala Sehun hingga kepala Sehun mengangguk ke depan. Dengan kesal Sehun menatap Chanyeol sambil memegang kepalanya.

"Tapi aku rasa kita cukup akrab untuk melakukannya. Ah, cukup saling membenci untuk saling memukul." Ucap Chanyeol lalu bangkit. Sehun menatap Chanyeol kesal lalu melipat kedua tangannya di dada.

"Ayo ikut! Aku akan membelikanmu sesuatu yang kau sukai. Apapun itu!"

"Tidak!"

"Baiklah. Terserah padamu. Tapi jika aku jadi kau, aku akan berpikir dua kali untuk berlari keluar rumah dengan pakain tidur dan tanpa alas kaki. Mungkin tadi kau sedang terbawa emosi, tapi aku rasa sekarang kau cukup sadar dengan penampilanmu." Ucap Chanyeol sambil berjalan meninggalkan sosok Sehun yang termenung.

Kali ini ia setuju dengan ucapan Chanyeol, dan mengesampingkan harga dirinya, ia berlari dengan cepat menghampiri sosok yang tidak ia sukai itu, tapi menurutnya sekarang Park Chanyeol tidak terlalu buruk juga.

"Hei! Park Tower! Tunggu aku!" teriak Sehun.

"Kau akan tumbuh lebih tinggi dariku nanti!" sahut Chanyeol tanpa memperdulikan Sehun.

..

.

Baekhyun duduk di lantai di dalam kamarnya, ia menangis semenjak kepergian Sehun tadi. Entah mengapa ia merasa bersalah, seharusnya ia tidak mengucapkan kata-kata yang sangat menyakitkan seperti itu, Sehun tidaklah yang bersalah dalam kasusnya, Sehun bukan tersangka utamanya, ia hanyalah hasil dari perbuatan bejat sosok yang paling Baekhyun benci seumur hidupnya.

"Sehun, maafkan aku!" gumam Baekhyun sambil menangis. Ia menarik kakinya, menenggelamkan wajahnya dengan pundak yang bergetar hebat.

Tak lama ia mendengar suara pintu depan terbuka lalu tertutup, Baekhyun ingin melihat namun ia enggan bangkit. Suasana hatinya sungguh buruk, dan ia tidak peduli lagi jika yang datang adalah pencuri ataupun pembunuh sekalipun.

Tapi berusaha berpikir positif, ia yakin itu adalah ibunya yang pulang kerja lebih awal, atau Sehun yang sudah kembali dari kesedihannya. Mengingat Sehun membuat Baekhyun semakin tidak berani untuk menampakkan diri di depan sosok itu, sosok yang seharusnya ia panggil anak.

Baekhyun mendengar suara langkah berlari di tangga, dan kemudian suara pintu yang terbanting, ia yakin itu adalah suara yang berasal dari kamar Sehun, ia bernafas lega ketika mengetahui jika Sehun sudah kembali.

Tapi kemudian ia merasakan suara pintu kamarnya yang terbuka pelan, dan langkah kaki yang mendekat. Ketika mengangkat wajahnya , ia mendapati Chanyeol berdiri disana sambil menatapnya dengan tersenyum.

"Aku benci mengatakannya, tapi kau tetap terlihat cantik saat menangis." Ucap Chanyeol, Baekhyun mendongakkan wajahnya, dan menatap Chanyeol bingung.

"Chan..Chanyeol?"

"Iya ini aku. Apa yang membuat kekasihmu menangis uhm?" tanya Chanyeol sambil memegang pundak Baekhyun dan membawanya bangkit.

"A..aku…hiks.." Baekhyun menundukan wajahnya dan dengan cepat Chanyeol memeluknya erat. Menyalurkan ketenangan pada sosok mungil dalam pelukannya.

"Jika kau ingin, kau bisa menceritakannya padaku." Ucap Chanyeol pelan, Baekhyun menggeleng dalam dekapan Chanyeol dan lelaki itu hanya mengelus pucuk kepala Baekhyun.

"Baiklah, simpan itu sebagai sebuah rahasia. Aku tak akan memaksamu." Ucap Chanyeol pelan, Baekhyun menjauhkan tubuhnya dan menatap ke dalam mata Chanyeol. Menatap dengan dalam, mencari sebuah kepercayaan.

"Jika..jika. kau mengetahui masa laluku yang kelam. Apa kau akan tetap berada disisiku? Tidak akan meninggalkanku?" tanya Baekhyun lemah, Chanyeol tersenyum lalu mengangguk.

"Tidak ada alasan untukku meninggalkanmu." Ucap Chanyeol sambil mengelus pipi Baekhyun pelan.

Baekhyun mendudukan dirinya kembali ke atas lantai, dan Chanyeol mengikutinya. Mereka bersandar pada kaki ranjang, dengan Baekhyun yang bersandar pada pundak Chanyeol.

"A..aku bukanlah lelaki normal."

"Aku tahu."

"Tidak, ini bukan karena penyimpangan orientasiku saja, tapi karena aku… aku….aku bisa mengandung." Ucap Baekhyun seperti berbisik. Chanyeol meraih tangan Baekhyun lalu mengecupnya pelan.

"Itu akan sangat bagus, walau itu aneh, tapi kabar baiknya kau bisa mengandung anakku kelak." Sahut Chanyeol pelan, tidak ingin terlihat terlalu santai tapi tidak juga ingin terlihat terlalu terkejut.

"…dan..dan aku pernah mengandung." Suara Baekhyun nyaris membaur dengan udara di dalam ruangan, begitu kecil dan lemah.

" Aku pernah melahirkan seorang anak dari sosok yang tidak aku kenal. Dia memperkosaku setiap malam, hingga aku harus menerima kenyataan jika aku mengandung anaknya." Tanpa sadar remasan Chanyeol mengeras pada jemari Baekhyun, entah mengapa rasa penyesalan kembali menyelimutinya.

"Kau..kau baik-baik saja Chanyeol?" suara Baekhyun terdengar bergetar.

"Hm! Lanjutkan!" ucap Chanyeol sambil menatap kearah lantai.

"Dan suatu malam , aku melahirkan bayi tersebut. Bayi yang sangat aku benci, karena setiap melihatnya mengingatkanku pada sosok bejat yang telah memperkosaku. Tiap mengingat bayi itu mengingatkanku pada sentuhan menjijikan yang ia berikan padaku, aku benar-benar membenci kedua sosok itu. Tapi hari ini aku sadar, jika bayi itu sama sekali tidak bersalah. Sosok yang seharusnya aku benci adalah ayahnya."

DEG

Tubuh Chanyeol seperti membeku, ucapan Baekhyun sungguh membuatnya tidak bisa menampilkan sebuah reaksi yang benar.

"Kau benar." Suara Chanyeol terdengar bergetar.

"Kau tidak seharusnya membenci bayi itu, karena ia sama sekali tidak bersalah. Sosok yang seharusnya kau benci adalah sosok yang telah menghamilimu. Tapi_" Baekhyun menoleh untuk dapat melihat wajah Chanyeol.

"Tapi, bukankah sosok itu memiliki kesempatan untuk menebus kesalahannya?"

"Aku tidak yakin. Hatiku sudah membeku untuknya, sekalipun dia muncul sebagai seorang malaikat, bagiku dia tetaplah seorang iblis." Chanyeol menoleh cepat, membuat matanya bertemu dengan mata Baekhyun.

Kedua pasang manik itu saling bertatapan lama, Chanyeol mengeratkan remasannya pada jemari Baekhyun membuat Baekhyun melirik jemarinya sekilas, lalu kembali menatap Chanyeol. Ia tahu Chanyeol pasti terkejut mendengar masa lalunya, dan ia merasa bersalah karena telah menceritakan masa kelamnya pada Chanyeol.

"Maafkan aku Chanyeol_"

"Maafkan aku Baekhyun!" potong Chanyeol, membuat Baekhyun membulatkan matanya bingung.

"Ma..maaf untuk apa?"

"Maaf untuk semuanya, maaf karena telah menyusahkanmu." Ucap Chanyeol serius, Baekhyun tersenyum lalu mengelus pipi Chanyeol lembut.

"Tidak. Kau lah yang berhasil mengubah hidupku Chanyeol. Lalu, apa setelah mendengar ini kau akan meninggalkanku?" tanya Baekhyun, Chanyeol dengan cepat menggeleng.

"Sudah aku katakana bukan? Tidak ada alasan untukku meninggalkamu." Ucap Chanyeol sambil memegang tangan Baekhyun yang menempel di pipinya.

Baekhyun tersenyum, kecemasannya telah hilang. Ia pikir Chanyeol akan membenci atau menganggapnya menjijikan setelah mengetahui fakta dirinya, tapi ternyata dirinya salah, Chanyeol tetap mencintainya meskipun Baekhyun bukanlah sosok yang normal, dan sekarang tak ada lagi alasan untuk menolak sentuhan Chanyeol.

Baekhyun mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya, kedua jemarinya melingkar di leher Chanyeol dengan perlahan sebelum bibir itu saling melumat satu sama lain. Baekhyun menutup matanya dan membiarkan Chanyeol memimpin.

Keduanya terlarut dalam sentuhan masing-masing, hingga tubuh Baekhyun berbaring diatas lantai. Chanyeol masih melumat bibir kekasihnya kuat dan dalam, hingga ketika jemarinya tanpa sadar masuk ke dalam kaos Baekhyun, barulah ia berhenti.

"Tunggu! Kita tidak bisa melanjutkannya." Ucap Chanyeol yang berada diatas tubuh Baekhyun, Baekhyun menatap kekasihnya bingung.

"Kenapa?"

"Aku tidak membawa benda sialanya yang disebut kondom itu." Gumamnya. Baekhyun tersenyum lalu kembali mengalungkan jemarinya.

"Kita tidak membutuhkannya, aku akan mengkonsumsi kontrasepsi oral lagi. Lagipula jika aku mengandung, bukankah kau bersedia menikahiku?" tanya Baekhyun. Chanyeol membulatkan matanya lalu mengangguk cepat dan segera memeluk tubuh Baekhyun, membuat Baekhyun tersentak lalu tersenyum setelahnya.

"Jadi kita tidak perlu bercinta dengan benda karet itu?" Baekhyun terkekeh lalu mengangguk pelan.

"Akhirnya tidak ada penghalang antara kita." Ucap Chanyeol lalu membuka baju kaos milik Baekhyun, dan melemparnya asal. Dengan cepat dan brutal Chanyeol menyerang bagian tubuh Baekhyun, menghisap dan menyesap tiap permukaan tubuh kekasihnya.

Baekhyun mendongakan kepalanya, membiarkan sentuhan-sentuhan basah dari bibir Chanyeol mendarat di lehernya. Hari ini Baekhyun telah menyakinkan dirinya, jika lelaki yang kini berada diatasnya adalah lelaki terakhir yang bisa menyentuhnya. Baekhyun yakin dengan perasaannya kini, bahwa ia benar-benar telah jatuh cinta pada Chanyeol.

Dan Baekhyun akan memberikan apapun untuk membagiakan Chanyeol, satu-satunya sosok yang bisa mengambil alih seluruh pikiran dan akal sehatnya.

Baekhyun menggigit bibir bawahnya ketika jemari Chanyeol mengelus kerutan di sekitar lubang analnya, bahkan Baekhyun tidak menyadari pakaiannya sudah terlepas dari tubuhnya. Kedua kaki Baekhyun tertekuk dan terbuka lebar, Baekhyun melirik sebentar kebawah untuk melihat bagaimana tatapan berhasrat Chanyeol yang memandang lekuk tubuhnya, dan itu berhasil membuat Baekhyun bersemu.

"Chanyeol? Dapatkah aku mempercayaimu ?" tanya Baekhyun, Chanyeol mengalihkan pandangannya ke wajah Baekhyun, lalu bergerak menaiki tubuh Baekhyun dan mengecup bibirnya pelan.

"Satu-satunya hal yang bisa kau lakukan adalah tetap mempercayaiku hingga akhir waktu." Ucap Chanyeol dan Baekhyun tersenyum lalu meraih leher Chanyeol dan memeluknya erat. Chanyeol tersenyum dalam pelukannya, ia mengecup leher Baekhyun berulang kali dan ketika dirasa cukup lama membuang-buang waktu, Chanyeol segera bangkit dan membuka lebih lebar paha Baekhyun.

"Ayo kita lakukan!" ucap Chanyeol pelan, ia memasukan dua jarinya sekaligus ke dalam lubang anal Baekhyun, membuat Baekhyun memejamkan matanya walau rasanya tidak begitu sakit.

Gerakan yang Chanyeol lakukan membuat Baekhyun menggeliat dan sesekali mencengkram karpet berbulu dibawahnya. Chanyeol mengeluarkan jemarinya dan memposisikan penisnya yang sudah berdiri tegak.

Sedikit memberikan permainan, Chanyeol menyentuh-nyentuhkan ujung penisnya yang sudah basah dengan pintu anus Baekhyun, membuat Baekhyun melenguh dan merasa geli.

"Eummhhh.." desahan Baekhyun mulai terdengar ketika Chanyeol mencoba menerobos masuk ke dalam lubang analnya. Baekhyun mendongakkan kepalanya dengan bibir bawah yang ia gigit kuat.

"Aaaahh.." suara lega terdengar dari Chanyeol ketika ia berhasil memasukan penisnya ke dalam lubang anal Baekhyun. Baekhyun menyentuh lengan kokoh Chanyeol dan tersenyum, memberikan isyrat bahwa Chanyeol sudah bisa bergerak.

Tidak ingin membuang-buang waktu lebih lama, Chanyeol segera menggerakan tubuhnya maju-mundur dengan perlahan, menusuk lebih dalam bagian tersensitif milik Baekhyun.

"Aaaahh…aahh..ahhh.." Baekhyun mengeluarkan desahannya yang selama ini selalu disukai Chanyeol, Chanyeol menggerakan tubuhnya semakin cepat membuat Baekhyun mengencangkan cengkramannya pada lengan Chanyeol.

Tubuh keduanya bergerak seirama dengan dorongan Chanyeol, mengubah atmosfir ruangan menjadi lebih panas dan intim. Suara benturan dari kulit mereka menggema di dalam kamar Baekhyun, menjadi pengiring kegiatan panas mereka.

"Baek…ssshhh…" Chanyeol merendahkan tubuhnya agar bisa mengecup bibir Baekhyun yang sedikit terbuka sejak tadi. Baekhyun membuka matanya menatap ke dalam mata penuh nafsu milik Chanyeol.

Entah mengapa Baekhyun merasa begitu bahagia dan berharga ketika berada di samping Chanyeol. Cara Chanyeol menatap kearahnya membuat Baekhyun merasa Chanyeol begitu memuja dirinya. Chanyeol menyatukan bibir mereka dengan tubuh masih bergerak dibagian bawahnya.

Chanyeol merasakan penisnya membesar, dan Baekhyun merasakan lubangnya menyempit. Gerakan Chanyeol semakin cepat dan menekan semakin dalam, hingga cairan Chanyeol memuncrat kencang membuat Baekhyun menegang.

Perlahan penis Chanyeol mulai mengempis, dan Baekhyun merasakan cairan Chanyeol menerobos keluar dari lubang analnya. Baekhyun mengatur nafasnya dan Chanyeol tersenyum sambil menatap kearahnya, jemarinya bergerak untuk menghapus lelehan kerigat di kening Baekhyun.

Chanyeol bangkit tanpa melepas tautan mereka, lalu menarik kencang tangan Baekhyun hingga tubuh mungil itu menabrak dadanya. Baekhyun mengangkat wajahnya dan menatap Chanyeol, sebelum Chanyeol kembali bergerak dibawah sana.

Baekhyun mengalungkan lengannya di leher Chanyeol, dan meletakkan kepalanya diatas pundak lebar kekasihnya. Tubuhnya bergerak naik turun karena tubrukan yang diberikan oleh Chanyeol dari bawah.

Walau gerakan mereka terbatas dan sedikit sulit, namun Baekhyun menyukainya. Pipinya kembali bersemu merah ketika jemari panjang Chanyeol memegang keduanya pinggangnya.

"Oohhh Baek…aaaah…nikmaatthhh…"

"Eummhhh…eeumhhh…aaaahh..hhhh…" Baekhyun mencoba mengatur suara desahannya yang sialnya malah tetap keluar dari mulutnya. Tubuh keduanya sudah berkeringat hingga Baekhyun merasakan licin ketika memegang kedua pundak Chanyeol.

Baekhyun mencoba menggerakan tubuhnya berlawanan arah, berusaha untuk membantu pergerakan Chanyeol. Chanyeol tersenyum ketika melihat wajah kesakitan Baekhyun yang berusaha menggerakan pinggulnya naik turun, dan dengan cepat Chanyeol melahap bibir terbuka Baekhyun menyalurkan hasrat menggebunya yang begitu besar.

"Chanyeol..aaakkuuhhh.."

"HHmmm…ssshh…shhh..aaahhh."

Baekhyun mengeratkan cengkraman pada jemari kakinya ketika cairan miliknya keluar dan membasahi perut Chanyeol, Baekhyun bersandar pada pundak berkeringat Chanyeol dengan nafas yang terengah, sementara Chanyeol masih bergerak dibawah sana dengan kecepatan yang bertambah.

"AAAAAAAHHh.." erangan Chanyeol terdengar begitu keras, cairannya keluar dengan jumlah yang sama banyak, hingga melumer dari lubang Baekhyun. Chanyeol memeluk tubuh Baekhyun erat, mencium pundak putih Baekhyun dengan lembut.

Baekhyun menjauhkan wajahnya dan menatap Chanyeol dengan kedua tangan masih saling mengait di belakang leher Chanyeol. Baekhyun tersenyum, sebuah senyuman bahagia dengan wajah sayunya, ia menatap dalam wajah Chanyeol lalu mengecup bibir penuh kekasihnya.

Dalam hati Baekhyun berterima kasih pada Chanyeol, karena semenjak kehadiranya hidup Baekhyun yang kelam berubah. Chanyeol bagaikan cahaya di tengah kegelapan, mengulurkan tangan ketika Baekhyun terjatuh ke dalam lubang yang tidak berdasar.

"Aku mencintaimu Chanyeol." Ucap Baekhyun lembut, Chanyeol menatap Baekhyun dalam diam.

"Aku…" Chanyeol menghentikan ucapanya, ia menatap ke dalam mata Baekhyun lebih dalam. Menyelami perasaannya sendiri, mencari sebuah ketidakpastian tentang perasaannya, mencari sebuah alasan untuk menolak membalas rasa cinta Baekhyun, namun yang ia temukan hanya sebuah kebuntuan. Perasaannya berkata, bahwa ia telah memberikan ruang untuk Baekhyun di dalam hatinya.

"Aku juga mencintaimu Baekhyun, sangat mencintaimu." Hingga pada akhirnya kata-kata itu mengalir dengan sendirinya, tanpa diperintahkan oleh sisi iblis maupun sisi malaikatnya. Semua murni dari dalam dirinya, dari dalam hatinya bahwa ia memang mencintai Byun Baekhyun.

..

.

Sehun terduduk di depan meja belajarnya, wajahnya tertunduk dan air matanya mengalir membasahi mainan robot rakitan yang baru saja Chanyeol berikan padanya. Ia menyesali tindakan yang hendak menyuruh Chanyeol untuk menyelesaikan rakitannya, yang berakhir dengan mendengar percakapan antara Baekhyun dan Chanyeol.

"Jadi? Baekhyun hyung bukan hyungku? Jadi dia adalah ibuku?" suaranya terdengar bergetar, air matanya terus berjatuhan diatas robotnya, sesekali ia mengusapnya kasar.

"Seseorang memperkosanya hingga hamil, dan membuatku lahir? Karena itu ia membenciku? Karena aku bukan anak yang diharapkan?" kembali suaranya terdengar, isakan kecil dari bibir tipisnya memenuhi ruangan kamarnya.

Ia membuka kedua telapak tangannya, menatap tangannya penuh tanda tanya dan kebingungan besar.

"Sosok seperti apa ayahku, hingga melahirkan monster sepertiku? Apa salahku Tuhan? Kenapa aku dihukum seperti ini? Mengapa hidupku begitu menyedihkan?" Sehun terus terisak, memukul-mukul kepalanya kesal dan terkadang menjambak helaian rambutnya kasar.

Untuk seorang anak kecil, dia terlihat begitu menyedihkan. Sebuah kenyataan yang menghancurkan seluruh hidupnya, seharusnya ia tetap bertahan di dalam kamar dengan merakit robotnya hingga selesai, bukan malah memiliki ide jahil untuk mengganggu Chanyeol.

"Aku benci hidupku." Gumamnya sambil menangis dalam lipatan tangannya diatas meja. Tubuh kurusnya bergetar hebat, suara isakannya begitu memilukan. Dari atas dahan pohon duduklah sosok Luhan yang memandang Sehun dengan wajah bersedihnya.

"Maafkan aku Sehun, maaf karena tidak bisa menjagamu." Ucap Luhan sambil menatap ke dalam kamar Sehun, dan tanpa ia sadari kristal bening mengalir dari salah satu kelopak matanya.

..

.

Taemin berdiri di pinggir taman bunga, tubuhnya menghadap hamparan bunga, namun tatapan matanya kosong menatap kererumputan yang hijau. Wajahnya terlihat begitu sayu dan lelah. Seolah begitu banyak hal yang sedang ia pikirkan.

"Akhirnya, semua dimulai." Gumamnya pelan, begitu pelan seolah berbisik dan terbang terbawa angin yang berhembus pelan.

Ia menghela nafas perlahan,kedua tangannya terangkat untuk memeluk kedua tubuhnya. Para peri bunga hanya menyaksikan dari balik tangkai bunga, mereka sama sekali tidak berani menampakan diri ataupun menyapa.

"Putra Mahkota." Suara itu membuat Taemin menoleh dan ia segera memberi hormat ketika sosok Raja Langit mendekat.

"Selamat siang Yang Mulia." Ucap Taemin sambil memberikan senyum terbaiknya.

"Apa ada hal yang membuat Yang Mulia tiba-tiba mengunjungi taman bunga?" tanya Taemin pelan, Raja Langit melirik Taemin sekilas lalu membalik tubuhnya menghadap hamparan bunga. Memberikan perintah pada seluruh pengawalnya untuk menjauh dan membiarkan dirinya memiliki waktu berdua bersama putranya.

"Kau tahu apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Raja Langit dengan suara beratnya. Taemin menoleh , menatap terkejut kearah ayahnya. Ia tidak bodoh untuk tidak tahu kemana arah pembicaraan ayahnya.

"Aku pergi bertapa bukan berarti aku tidak mengetahui apapun tentang Nubes." Taemin membulatkan matanya tidak percaya, bibirnya kelu untuk terbuka.

"Tentang dirimu yang bertindak diluar aturan demi putra-putramu." Taemin menghela nafas, ia menatap hamparan bunga dan tersenyum kecil. Tak ada lagi yang perlu ia sembunyikan.

"Walau aku adalah laki-laki, walau aku seorang malaikat , walau aku seorang putra mahkota sekalipun. Seorang ibu tetaplah seorang ibu. Yang memiliki naluri untuk melindungi anak-anaknya , sekalipun itu melanggar aturan yang ada." Raja Langit menoleh dan tersenyum terpaksa.

"Tapi kau harus mengingat batasanmu! Setiap pelanggaran pasti memiliki konsekuensi, dan setiap konsekuensi harus dipertanggung jawabkan." Ucap Raja Langit dengan tegas. Taemin tersenyum, ia menatap ayahnya membuat Raja Langit tersenyum tanpa sadar.

"Aku tahu. Aku sudah memikirkannya sebelum bertindak."

"Apa Minho sudah tahu?" Taemin terdiam lalu menggeleng.

"Tidak, ia tidak tahu. Aku tidak ingin ia lepas kendali nanti." Ucap Taemin lagi sambil mengeratkan pelukannya pada tubuhnya, entah mengapa ia merasa angin siang itu begitu dingin.

"Aku harap kau tidak bertindak lebih dari ini_" Raja Langit menjeda ucapanya. Ia menoleh menatap putranya dan mengelus pucuk kepalanya sayang.

"Aku tidak ingin kehilangan anakku." Ucap Raja Langit dan dengan cepat Taemin memeluk tubuh ayahnya, menenggelamkan wajahnya pada dada sang ayah. Walau mereka harus menjaga tata krama di dalam istana, namun ikatan seorang ayah dan anak tidak bisa diabaikan begitu saja.

"Apapun yang terjadi nanti, aku tetaplah menjadi anakmu ayah. Aku tetaplah putramu yang menyusahkan." Ucap Taemin sambil tertawa diikuti oleh suara tawa berat dari Raja Langit.

"Berjanjilah untuk tidak menyalahi aturan Sang Pencipta lagi, karena_"

"Ayah jangan khawatir! Aku sudah cukup dewasa untuk memikirkan apa yang aku perbuat."

"Benar! Tapi kau tidak cukup tenang dalam bertindak, kau selalu gegabah." Ucap Raja Langit dan Taemin terkekeh dalam pelukan ayahnya sekali lagi.

"Karena itulah aku, anak ayah." Tawa mereka terdengar cukup keras namun terbang terbawa tiupan angin. Peri-peri bunga tersenyum dari dalam persembunyian mereka melihat betapa indahnya sebuah kasih sayang, yang tidak terbatasi oleh kasta atau apapun. Karena sebuah kasih sayang berasal dari dalam hati yang tulus, bukan dari kasta, harta ataupun tahta.

….

..

.

TBC

..

.

Aku harap kalian menyukai chapter ini hehehehe, entah kenapa aku merasa aku kehilangan feeling untuk ff ini kekeke.. Aku salut sama author yang suka buat cerita fantasy, ternyata bener-bener sulit wkwkwkw.. makin kesini aku merasa sisi fantasinya menghilang entah kemana, aku harap kalian gak kecewa hehehehe...

sesuai janji aku update sebelum bulan puasa, walau amat sangat ngaret karena hal yang gak perlu aku sebutin apa, hehehe dan aku harap kalian bisa maklum.

Aku gak bakal masukin SI Pitik disini, karena menurutku ini sudah amat sangat panjang, takutnya gak dibaca juga karena aku selalu dapetin pertanyaan yang sama , pdahal aku sudah jawab di si pitik sebelumnya hehehe...

Mungkin aku cuma bahas sedikit.

Ya, aku memang bukan muslim, tapi aku cuma menghormati yang sedang menjalankan ibadah puasa ajah. Agama bukan tolak ukur kita dalam berkarya atau berteman kan? hehehe..

Dan buat beberapa masukan tentang adegan NC yang kurang hot dibanding sama adegan NC di Playful Love. Aku minta maaf, kalau memang kurang berkenan tapi perlu kalian sadari kalau sifat pemain disini hampir 90% berbeda sama sifat di Playful Love, jadi gak mungkin juga aku buat sama kan? hehehehe... dan aku tahu masih banyak yang belum move on dari PL -liat dari pesan yang masuk- tapi bukan berarti bisa dijadikan perbandingan guys, kekekeke...

.

.

Okay, sekian cuap-cuap dari tiang ( saya dalam bahasa Bali ) wkwkwkw... semoga kalian berkenan dan kalau bisa meninggalkan komentar kalian di ff ini hehehe, inget jaga kesehatan, dan buat yang mau berjuang sama puasa semangat ya! sampai ketemu di chapter selanjutnya dan entah kapan bisa di publish hehehe..

.

Salam Chanbaek is real guys!