Title : Devil Beside Me chapter 7

Cast : Park Chanyeol , Byun Baekhyun , Oh Sehun , Do Kyungsoo , Xi Luhan , Kim Jongin, Kim Kibum, Choi Minho , Lee Taemin and Ok Taecyeon , Kim Dasom , Bae Joo Hyeon-Irene , Park Sooyoung- Joy , Kim Yerim-Yeri, Song Naeun, Yoon Bomi, Park Chorong, Park Cheondong ( Thunder ), and others.


PERHATIAN!

Ff ini mengandung unsur dewasa berbau seks, hubungan sesama jenis yang menyebabkan beberapa orang mungkin mual, Bahasa yang berantakan, dan typo yang walau sudah berusaha dihilangkan tapi tetap muncul. Tidak untuk area bermain anak-anak, anak polos, antigay/ homophobic, AntiChanbaek dan segala yang tidak ada sangkut pautnya dengan dunia yaoi.


NO CO-PAST

NO-REPOST

NO-PLAGIAT

Okay?

There always be a place to a good person. So, don't steal people's effort , be honest dear.

Mulailah dengan sebuah kata, susunlah menjadi kalimat dan kembangkan dalam sebuah paragraph.

Cerita yang hebat bukan tentang siapa, tapi tentang apa dan bagaimana.


….

..

.

Park Shita

Present

..

.

Kelopak mata tertutup itu terbuka perlahan ketika cahaya matahari mengusik tidurnya, ia menguap dan merentangkan tangannya untuk meregangkan ototnya ynag terasa kaku. Seketika gerakannya terhenti, ia menatap tangannya yang terasa berbeda dan ia terkejut bukan main.

"IBUUUU!" teriak bocah lelaki itu dengan sangat keras, tak lama terdengar langkah kaki menapak pada lantai dengan terburu dan pintu kamar segera terbuka, seorang wanita berdiri disana dengan nafas terengah dan terkejut melihat keatas ranjang putra bungsunya.

"Ibu, lihat tubuhku!" Ucapnya sambil menyibak selimut dan memperlihatkan piyama birunya yang mengecil. Wanita yang masih berdiri di depan pintu menutup mulutnya dengan wajah cukup terkejut, tapi kemudian ia sadar jika sosok di depannya adalah bocah yang spesial.

"Sehun-ah." Wanita itu-Kibum- mendekat sambil mengelus surai kecoklatan putranya. Ia tersenyum begitu lembut , berusaha membuat keadaan lebih tenang.

"Ibu, ada apa denganku? Kenapa aku memanjang seperti ini?" ucapnya begitu polos. Sebenarnya Kibum pun sama terkejutnya, karena terakhir ia mengantar tidur Sehun, tubuh putranya masih menyerupai bocah berumur 4 tahun dan pagi ini ia menjelma menjadi sosok berusia 8 tahun.

"Sepertinya ibu harus mengatakan ini Sehun-ah, dan ibu harap kau mengerti. Kau adalah anak yang istimewa, kau berkembang lebih cepat dari manusia pada umumnya."

"Apa itu berarti aku cacat?"

"Oh tidak! Tentu saja tidak! Kau begitu sempurna , tampan dan juga pintar, mana mungkin kau cacat. Kau itu istimewa."

"Benarkah?" mata Sehun berbinar.

"Hm, tentu! Dan sepertinya kita harus kembali ke Seoul."

"Benarkah? Kenapa ibu berubah pikiran?"

"Karena ibu pikir perkataanmu dan Baekhyun benar, kita tidak bisa meninggalkan rumah kita." Ucap Kibum sambil tersenyum penuh arti, Sehun memeluk tubuh ibunya dan tersenyum bahagia.

Baju-baju miliknya menjadi tidak muat untuk digunakan, sehingga Kibum membelikan baju baru untuk Sehun. Bocah kecil itu terlihat begitu bahagia saat Kibum memberikan beberapa baju baru padanya.

Mereka masih asyik berada diruang tengah, sampai terdengar bunyi pintu yang terbuka.

"Ah, itu pasti Baekhyun hyung!" ucap Sehun lalu berlari, meninggalkan Kibum yang terus memanggil namanya. Bocah kecil itu berlari menuju pintu depan dan mendapati kakaknya sedang duduk di tangga kecil di depan pintu sambil membuka sepatunya.

Dengan mengendap-endap Sehun melangkah mendekati kakaknya yang sedang memunggunginya. Ia tidak memiliki banyak ingatan mengenai kakaknya saat berusia 4 tahun, yang ia ingat hanya ia ingin memeluk tubuh kakaknya yang sangat pendiam menurutnya itu.

"DAAAR!" Sehun memeluk tubuh Baekhyun dari belakang , membuat lelaki berseragam itu menoleh terkejut dan mendorong tubuh Sehun cepat, bocah kecil itu terduduk di lantai sambil meringis.

Baekhyun bangkit dan menoleh, hingga matanya membulat mendapati tubuh Sehun yang sudah membesar. Wajah Baekhyun berubah menjadi pucat pasi.

"Hyung lihat! Aku sudah besar sekarang." Ucapnya bangga, seolah berita itu akan membuat Baekhyun senang dan memberinya sebuah pelukan senang. Namun senyuman Sehun lenyap ketika Baekhyun berjalan melewatinya begitu saja.

"Hyung! Hyung! Hyung! Tunggu!" ucapnya sambil berusaha bangkit dan mengejar kakaknya, namun ketika ia memasuki ruang tengah ia hanya mendengar bunyi pintu kamar yang dibanting dengan amat sangat keras.

Sehun menoleh menatap ibunya yang menunduk sambil memegang baju kaos berwarna biru dengan karakter Doraemon di dalamnya. Sehun mendekat, ia memegang pundak ibunya lalu tersenyum sangat lebar.

"Mungkin hyung lelah ibu, aku yang salah karena membuatnya terkejut. Tenang, ibu jangan bersedih! Besok hyung pasti tidak akan marah lagi." Ucap Sehun senang dan Kibum hanya memeluk tubuh Sehun dengan sayang.

Selama seminggu setelah kejadian itu, Sehun semakin tidak mengerti dengan sikap dingin kakaknya. Ia tidak mengingat terlalu jelas ketika tubuhnya masih berusia 6 tahun, tapi sekarang ia sudah seperti berusia 8 tahun dan ia bisa menggunakan pikirannya untuk sedikit menerka-nerka.

Pernah sekali Sehun mencoba masuk ke dalam kamar Baekhyun, namun kakaknya malah menyuruhnya keluar dan segera tidur, padahal sebelum Sehun masuk ia sempat mengintip kakaknya yang sedang belajar di depan meja belajar.

Jadi Sehun pikir, kakaknya bersikap dingin karena tidak ingin di ganggu. Dua hari kemudian mereka pindah lagi ke Seoul, ke rumah lama mereka dan Sehun nampak begitu bahagia, walau kenangannya tentang rumah itu tidak terlalu banyak.

Pagi itu Sehun duduk di depan ruang TV sambil memainkan robot-robotnya, sampai ia mendengar suara pintu yang dibuka lalu ditutup, Sehun melihat kearah jam dinding dan ia tahu itu kakaknya yang baru saja pulang.

Sehun segera bangkit dan berlari kearah pintu. Tersenyum dengan sangat lebar sambil bersembunyi di balik pintu, ia berencana ingin menakuti-nakuti kakaknya dengan menggerak-gerakan pintu seperti digerakan oleh hantu.

Sayangnya, kakaknya itu seperti tidak peduli dan berlalu melewati pintu itu tanpa merasa takut sedikit pun, hingga Sehun tanpa sadar meletakkan tangannya di celah pintu, dan jemarinya terjepit cukup keras.

"Huweee.." ia menangis cukup keras, hingga membuat langkah Baekhyun terhenti. Sehun kecil keluar dari dalam persembunyian dengan wajahnya yang sudah memerah, sambil memegang tangannya yang berdenyut nyeri.

"Hyung, tanganku sakit..huwee…tanganku terjepit, pintu itu..hiks..hiks.. pintu itu nakal." Ucap Sehun sambil menjulurkan jemari telunjuknya kearah Baekhyun yang berdiri 5 meter di depannya dengan tatapan datar.

"Hyung, ini sakit…obati ak_" ucapan Sehun terhenti, bahkan tangisannya surut ketika melihat kakaknya berbalik tanpa mengucapkan apapun. Sehun terdiam dan nampak terkejut, kakaknya tidak peduli terhadapnya, dan Sehun rasa kakaknya membenci dirinya.

Malam harinya ia mengadu pada ibunya, tentang sikap kakaknya yang tidak peduli terhadap dirinya dan berkata jika kakaknya itu sangat membencinya. Kibum mengelus rambut Sehun sambil berkata.

"Kakakmu bukan membencimu, dia sangat sayang padamu melebihi kasih sayang ibu. Kakakmu hanya benci lelaki cengeng, itu mengapa kau tidak pernah melihatnya menangis bukan?"

Sejak itu Sehun memutuskan untuk tidak akan menangis sesakit apapun yang ia alami. Seperti saat terjatuh dari sepeda hingga lututnya robek, terjatuh dari atas ranjang, terkena sayatan pisau, hingga pada saat dimana ia mendapat keroyokan dari teman-temannya.

Sehun tidak pernah menangis, sesakit apapun tubuhnya dihajar dan dipukul, ia tidak pernah membiarkan air matanya mengalir, terutama ketika berada di hadapan kakaknya.

Tapi sayang sikap kakaknya tidak pernah berubah, selalu dingin terhadap dirinya. Sehun mencoba mengabaikannya dan selalu mengingat perkataan ibunya jika kakaknya sebenarnya sayang, hanya tidak tahu cara untuk mengungkapkannya.

Hingga pada ulangtahunnya yang ke -10, Sehun menghampiri Baekhyun yang baru tiba dirumah, menarik tangan kakaknya paksa , tapi yang ia dapati hanya sebuah dorongan keras.

"Satu hal yang ingin aku jelaskan padamu adalah...berhenti berada disekitarku dan mengangguku! Sampai kapanpun aku tidak bisa menerimamu, dan untuk itu menjauhlah dariku, karena aku sangat membencimu."

Malam itu, air mata Sehun mengalir dengan deras. Ia menatap kue ulangtahunnya dengan lilin yang masih menyala dalam keadaan menangis dalam diam. Air matanya mengalir, namun ekspresi wajahnya datar.

"Sehun-ah? Apa kau menangis?" Ibunya menghampiri kembali setelah beberapa saat lalu berlari menyusul kakaknya ke dalam kamar.

"Ibu, hyung membenciku dia tidak menyayangiku." Ucap Sehun dengan wajah tertunduk. Kibum mendekat, ia memeluk tubuh Sehun dengan sangat sayang.

"Hyungmu hanya belum bisa menerima kehadiranmu, karena saat kelahiranmu ia pikir kasih sayang ibu akan terbagi untuknya." Dengan matanya yang basah Sehun mendongakkan wajahnya dan menatap wajah ibunya yang tersenyum.

"Jadi, hyung pikir aku akan merebut kasih sayang ibu?" tanya Sehun dengan mata membulat. Kibum mengangguk pelan.

"Astaga ibu, kenapa hyung berpikiran seperti itu?"

"Karena ia tahu, ketika kau lahir kau sangat tampan, ia hanya takut tersaingi." Sehun tersenyum dengan matanya yang masih basah.

"Hyung juga tampan, ah tidak! Hyung itu cantik untuk ukuran lelaki." Ia tersenyum, Kibum menatap Sehun dengan wajah bersedih, ia merasa bersalah karena berkali-kali membohongi bocah tidak bersalah itu.

"Sehun, mari kita tiup lilin ulangtahunmu sebelum meleleh." Sehun mengangguk lalu kembali menghadap kuenya.

"Buatlah sebuah doa sebelum meniupnya."

"Baik." Sehun mencangkupkan tangannya di depan dada, dan menutup matanya rapat.

"Aku berharap suatu saat Baekhyun hyung akan sayang padaku, dan tidak membenciku lagi. Aku harap aku bisa hidup bahagia bersama keluargaku." Ucapnya dalam hati, lalu meniup kue ulang tahun itu dengan senang.

Sehun membuka matanya, ia tidak sadar jika sejak tadi tertidur diatas meja belajarnya. Tubuhnya terasa sakit karena harus membungkuk, ia kembali mengingat penyebab itu tertidur diatas meja, dan ia kembali menundukan wajahnya.

Ia pikir ia sedang bermimpi tentang ucapan kakaknya dan Chanyeol yang sempat ia curi dengar, ternyata itu sebuah kenyataan. Sehun menundukan wajahnya sekali lagi, dan kembali menangis dalam diam.

..

.

Devil Beside Me

Chapter 7

..

.

Baekhyun membuka matanya perlahan dan tersenyum ketika mendapati dirinya sedang memeluk dada Chanyeol dengan erat. Ia menggeliat pelan dan baru menyadari jika ia tertidur setelah permainannya dengan Chanyeol beberapa saat lalu.

Ia sedikit bangkit, membuat selimut yang menutupi tubuh telanjangnya merosot dan berhenti tepat diatas pangkuannya. Baekhyun membuka laci meja nakasnya, dan mengambil satu strip obat.

Ia membaca sebentar, untuk memastikan waktu kadaluarsanya dan segera membuka tutupnya perlahan. Mengeluarkan salah satu butiran tabletnya mulai dari ujung dan meminumnya dengan cepat.

Baekhyun melirik kearah Chanyeol dan tersenyum, entah mengapa ia merasa begitu bahagia mendapati Chanyeol masih berada disampingnya, ia pikir setelah menceritakan masa lalunya Chanyeol akan meninggalkannya karena merasa jijik, tapi dugaannya salah, dan ia semakin mencintai lelaki disampingnya.

"Kau sudah bangun?" suara serak Chanyeol membuat Baekhyun tersadar, ia menoleh kearah wajah Chanyeol dan mendapati lelaki tinggi itu tersenyum kearahnya dengan mata yang sedikit terbuka.

"Hmm. Aku tiba-tiba merasa haus." Sahut Baekhyun, Chanyeol tersenyum lalu bangkit dan mengecup pundak telanjang Baekhyun sebelum ia menyibak selimut dan memakai pakaiannya.

"Baek, aku lapar. Bisakah kau buatkan aku masakan daging seperti kemarin?" Baekhyun mengangguk, lalu mengambil pakaiannya yang tercecer dilantai, memakainya dengan cepat dan berjalan kearah pintu bersama Chanyeol.

Baekhyun mulai mengeluarkan isi kulkasnya dan berkutat dengan perabotan dapur, sementara Chanyeol hanya memperhatikan dari belakang. Hal yang selalu ia lakukan, ketika Baekhyun melarangnya untuk bergabung.

Tak lama masakan jadi, dan Chanyeol merasa begitu senang. Tapi ketika akan mengambil makanannya, ia teringat dengan sosok kecil yang sedang berada dikamar.

"Aku akan memanggil bocah itu, dia sepertinya belum makan sejak tadi." Ucap Chanyeol. Baekhyun terdiam , entah mengapa hatinya berkata bahwa ia harus bertindak dan ketika Chanyeol bangkit Baekhyun menoleh.

"Biar aku saja!" ucap Baekhyun cepat. Chanyeol mengangguk dan kembali mengambil duduk.

Baekhyun menaikki anak tangga dan berharap keputusannya tepat, percakapannya dengan Chanyeol beberapa waktu jam lalu membuat pikirannya terbuka. Chanyeol benar Sehun bukan orang yang patut ia benci, ia juga korban dalam kasus rumit ini. Tindakan Baekhyun yang menjauhi Sehun, ia pikir adalah tindakan yang wajar karena wajah Sehun mengingatkannya pada sosok terkeji yang merusak hidupnya.

Namun ketika Chanyeol mengatakan bahwa lelaki jangkung itu akan tetap berada disisi Baekhyun apapun yang terjadi, membuat Baekhyun merasa lega sekaligus bahagia. Memiliki orang yang mencintai dan dicintai adalah hal yang paling Baekhyun inginkan sejak dulu, dan kini ia mulai merasa jika Sehun harus mendapat keadilan yang sama juga, bagaimana pun, Sehun adalah darah dagingnya.

Ketika jemarinya akan mengetuk pintu, Baekhyun kembali urung. Ia menarik nafas berulang kali, mencoba menyiapkan dirinya sendiri, dan juga kata-kata yang harus ia ucapkan pertama kali. "Hai" sepertinya tidak berguna dalam keadaan seperti ini, mungkin Baekhyun bisa mencoba dengan kata "Maafkan aku." Atau "bagaimana kabarmu?" . Tapi kembali Baekhyun merasa nyalinya menciut.

Apa yang Baekhyun lakukan pada Sehun selama ini sungguh keterlaluan, Baekhyun menyadari itu, bahkan sebelum terlibat percakapan dengan Chanyeol tadi ia sudah menyadarinya sejak dulu, hanya saja kebencian Baekhyun lebih menguasai daripada hati nuraninya.

Ia mengangkat jemarinya lagi untuk mengetuk, namun pintu itu terbuka perlahan ketika jemari Baekhyun bahkan baru menyentuh permukaannya. Karena melihat pintu kamar yang sedikit terbuka, ia memutuskan untuk masuk.

Hal pertama yang ia dapati Sehun sedang menangis di depan meja belajarnya. Baekhyun melangkah dengan ragu, lalu mulut bergetarnya mencoba mengeluarkan suara yang terasa begitu sulit.

"Se..Sehun." Bocah itu menoleh dan terkejut mendapati kakaknya berdiri di depan pintu kamarnya dan perlahan melangkah masuk.

"Hyu…hyung?" suara Sehun bergetar, ia menampar wajahnya pelan berharap tidak sedang bermimpi.

"Hm.. maaf masuk tanpa mengetuk, pintumu terbuka dan aku_"

"Tidak apa-apa, ini salahku yang lupa menutup pintu. Maafkan aku." Sehun menghapus air matanya kasar, dan membungkuk kearah Baekhyun. Entah mengapa ia kembali terbawa-bawa pada suasana saat ia mendengar percapakan kakaknya tadi.

Baekhyun, sosok kakak yang ia pikir membencinya, ternyata adalah sosok ibu yang tidak mengharapkan kelahirannya karena sebuah peristiwa menyedihkan yang menimpanya, dan Sehun merasa ia tidak patut untuk membenci Baekhyun yang pada kenyataanya adalah korban dari monster –Sehun akan menggunakan kata itu untuk memanggil ayah biologisnya- yang menghamilinya.

"I…itu bukan salahmu. A..aku ..a..aku hanya ingin mengajakmu untuk makan bersama." Sehun mendongakkan kepalanya dan terkejut bukan main, ia benar-benar takut jika dirinya ternyata bermimpi, atau hal buruk lainnya adalah setelah ini kakaknya akan memakinya lagi.

"A..apa hyung serius?" Baekhyun mengangguk, ia kembali mendekat dan menatap Sehun dengan takut. Bagaimana pun hal yang ia lakukan selama ini terhadap Sehun sudah sangat keterlaluan.

"Hm, ayo kita_" ucapan Baekhyun terhenti saat ia merasakan sebuah pelukan kuat ditubuhnya, dalam hitungan detik Sehun berlari kearahnya lalu memeluknya, hal itu membuat Baekhyun tidak sempat mencerna apa yang sedang terjadi.

"Maafkan aku atas kelahiranku, maaf karena telah menyusahkanmu. Maaf karena dengan melihat wajahku kau kembali teringat tentang masa lalumu yang suram. Maaf karena telah membuat harimu buruk karena kelahiranku, hyung tidak perlu menukar jiwamu untuk kelahiranku, karena aku akan memberikan jiwaku untuk kebahagiaanmu."

Pertahanan Baekhyun runtuh, air matanya mengalir tanpa izin. Bibirnya bergetar hebat dan entah mengapa dadanya terasa begitu sakit, seperti ribuan jarum yang menusuknya.

Tanpa ia sadari, tangan gemetarnya terangkat dan membalas pelukan Sehun. Sehun membuka matanya dan terkejut, sebelum akhirnya ia tersenyum dalam pelukan kakaknya.

"Entah ini pantas atau tidak, tapi aku minta maaf atas sikapku selama ini Sehun-ah." Sehun mengangguk dan kembali memeluk tubuh Baekhyun erat.

"Itu tidak masalah, aku tahu hyung punya alasan untuk melakukannya, dan aku yakin hyung menyayangiku." Gumamnya pelan. Baekhyun tersenyum dalam tangisnya, ia mengelus pundak sempit itu perlahan, entah mengapa tubuh mereka seperti memiliki ikatan.

Ikatan yang begitu kuat yang mampu membuat Baekhyun merasakan darahnya berdesir dengan hebat , dan jantungnya berdetak cukup kencang. Dan ikatan itu juga yang membuat sudut bibir Baekhyun tertarik semakin lebar, hingga sebuah senyuman bahagia terpatri diwajahnya.

Ia harus mengakui satu hal, bahwa cinta seorang ibu dan anak tidak akan pernah terputus oleh apapun, ikatan ibu-anak adalah ikatan terkuat di dunia, mengalahkan ikatan kovalen-ikatan terkuat- antar dua molekul berbeda.

"Ekhem! Sepertinya kalian melupakan orang yang kelaparan ini." Keduanya menoleh dan mendapati Chanyeol berdiri di depan pintu dengan kedua tangan di depan dada, dan tubuh bersandar pada pembatas pintu.

Ibu dan anak yang saling berpelukan itu menoleh, Chanyeol memberikan tatapan mengejek pada Sehun, dan bocah lelaki itu membalasnya dengan sebuah cibiran. Baekhyun melepaskan pelukannya dan itu membuat Sehun merasa sedikit kecewa, ditambah mengucapkan banyak kata pengumpat yang ia tujukan untuk lelaki yang menganggu momen menyedihkannya.

Baekhyun tersenyum lalu berjalan kearah Chanyeol, dan Sehun mengikuti di belakang dengan tangan memegang ujung kaos Baekhyun, sementara Chanyeol menghempaskan tangan Sehun dan memeluk pinggang Baekhyun posesif, membuat Sehun mencibir sekali lagi kearah sosok tinggi dihadapannya.

Sore itu adalah sore terindah dalam hidup Sehun. Untuk pertama kalinya ia makan ditemani oleh senyum lembut Baekhyun, walau suara berisik Chanyeol mendominasi, tapi Sehun seolah merasakan kehangatan sebuah keluarga.

"Yak bocah! Itu bagianku!" bentak Chanyeol sambil menahan garpu Sehun yang akan mengambil potongan daging terakhir.

"Kau kan sudah tinggi seperti tower, berikan ini padaku, aku juga butuh tumbuh!" bentak Sehun tak mau kalah.

"Kau pikir aku akan mengalah untuk bocah sepertimu? Tidak akan pernah." Ucap Chanyeol masih mempertahankan dagingnya. Baekhyun hanya tersenyum dan sesekali menggeleng.

"Baekhyun, lihat! Bocah ini begitu kurang ajar! Jangan bicara lagi padanya!" dan seketika tangan Sehun tertarik, entah mengapa ia merasa takut dengan ancaman itu. Melihat itu Chanyeol menyeringai lalu mengambil potongan daging terakhir itu dengan senang, sambil sesekali melirik Sehun yang terdiam seperti patung degan tatapan kosong.

"Hah! Ini untukmu saja. Aku tidak tahu karena daging kau bisa menjadi tidak bernyawa seperti itu." Ucap Chanyeol sambil memindahkan potongan dagingnya keatas piring Sehun. Sehun yang tersadar kembali melirik Chanyeol, lalu melirik Baekhyun dan kembali melirik keatas daging diatas piringnya.

"Makanlah bocah! Agar kau tetap hidup." Ucap Chanyeol sambil menekan-nekan kepala Sehun dengan cukup keras, sebenarnya mengelus, tapi elusan itu terlihat begitu keras dan tidak lembut sama sekali.

"Hentikan! Kau bisa merontokkan rambutku Park Tower." Ucap Sehun.

"Kau! Iisssh…" Chanyeol nyaris memukul kepala Sehun dengan garpu, sebelum ia melihat Baekhyun bangkit dengan membawa piring kotor ditangannya.

"Baekhyun butuh bantuan?"

"Tidak, aku bisa melakukannya sendiri."

"Jika kau butuh suruh saja bocah tidak berguna ini yang mencucinya, kau pasti lelah karena memasak banyak." Ucap Chanyeol sambil mendorong kepala Sehun, membuat bocah berkulit pucat itu menggeram kesal.

"Iya hyung, biar aku saja." Tawar Sehun dengan senyum manisnya, walau dalam di dalam hati ia mengutuk manusia bernama Park Chanyeol yang kini duduk semeja dengannya.

"Tidak usah, kau makanlah dengan benar! Jangan makan dengan mulut berisi penuh makanan!" ucap Baekhyun, dan entah mengapa hal itu membuat Sehun tersenyum senang. Chanyeol melirik kearah Sehun dengan wajah datarnya, dan kemudian ia tersenyum sekilas, sebelum akhirnya dengan jahil menekan kepala Sehun keras sambil bangkit.

"Makan dengan benar! Bila perlu makan hingga piringnya." Chanyeol terkekeh sambil berjalan kearah dapur dan memeluk tubuh Baekhyun dari belakang.

Sehun yang awalnya kesal, entah mengapa merasa senang dengan kehadiran Chanyeol. Walau sosok itu sangat –amat- menyebalkan, tapi berkat kehadiran sosok itu sikap kakaknya bisa berubah.

Mulai sekarang Chanyeol akan masuk ke dalam daftar orang yang paling ia sayangi juga –mungkin, karena sewaktu-waktu hal itu bisa berubah, tergantung sejauh mana sikap menyebalkan lelaki itu-.

..

.

Kyungsoo menoleh ketika mendengar bunyi pintu yang terbuka, dan tak lama pintu kamarnya dibuka menampilkan sosok kakaknya yang berdiri dengan wajah terkejut.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Chanyeol bingung. Karena posisi Kyungsoo sama seperti posisi terakhir ia meninggalkan adiknya.

"Duduk."

"Ya aku tahu. Tapi apa sejak tadi?"

"Hm. Hyung menyuruhku untuk diam disini dan jangan kemana-mana kan?" Chanyeol membuka mulutnya tidak percaya dan menepuk keningnya. Ia lupa jika adiknya ini begitu polos, dengan perlahan Chanyeol mendekati Kyungsoo.

Lelaki tinggi itu mencengkram pundak adiknya, dan membuat tubuh kecil adiknya berbalik.

"Kyungsoo! Dengar! Mintalah pada ibu, agar mengembalikanmu ke Nubes! Kau benar-benar tidak pantas hidup dikerumunan orang-orang jahat ini." Ucap Chanyeol serius, ia benar- benar tidak ingin harus terus mengawasi adiknya yang kelewat polos itu.

"Kenapa? aku suka disini."

"Kau tidak mengerti Kyungsoo!" Chanyeol memekik sambil melepaskan cengkramannya.

"Apa yang tidak aku mengerti."

"Semua."

"Apa yang hyung maksud semua?"

"Arrrgghh aku bisa gila, dan_"

KRYUUUKK

Chanyeol menatap perut adiknya dan kembali menatap wajah Kyungsoo yang merona seperti menahan malu.

"Itu suaramu?"

"Hm, suara perutku."

"Kau tidak makan sejak tadi?" Kyungsoo kembali mengangguk membuat Chanyeol geram.

"Astaga! Apa kau benar-benar adikku hah? Kalau kau lapar kau bisa kembali ke Nubes atau Infernus! Bukan malah diam disini."

"Tapi hyung bilang_"

"Jangan Bersikap Bodoh Kyungsoo!" Chanyeol semakin frustasi.

"Aku tidak bersikap bodoh, aku hanya menuruti ucapanmu. Ibu juga berpesan padaku agar tidak melawan ucapan hyung."

"Astaga! Aku bisa gila. Baiklah, sekarang kau kembali ke Nubes dan makan, atau sekalian kau tidur disana dan besok pagi berangkatlah ke sekolah!"

"Bolehkah aku tetap tidur disini?" Chanyeol terdiam sebentar, melirik adiknya dengan alis bertautan.

"Baiklah. Besok aku akan meminta Luhan untuk mengantarmu ke sekolah."

"Baiklah. Aku pergi hyung!" ucap Kyungsoo lalu menghilang. Chanyeol mendesah frustasi sambil mengusak rambutnya kasar. Menghadapi Kyungsoo jauh lebih merepotkan daripada menghadapi Luhan dan ibunya sekaligus, karena Kyungsoo tidak bisa dikasari.

..

.

Chanyeol membuka matanya perlahan, ia sedikit mengerjap saat mendengar bunyi ribut-ribut dari luar kamarnya. Ia melirik kearah jendela dan keadaan masih gelap, ia kemudian melirik jam diatas meja nakasnya, dan mengerutkan keningnya saat melihat waktu menunjukan pukul 04.00 dini hari.

Dengan malas ia bangkit, menyibak selimutnya dan berjalan keluar kamar tanpa minat. Perlahan ia mengedarkan pandangannya ke ruang tengah dan ia tidak mendapati apapun, sampai matanya tertuju pada pintu balkon yang terbuka dan tirainya beterbangan tertiup angin.

Dengan waspada Chanyeol melangkah mendekat, dan saat kakinya menapak pada perbatasan, ia melihat sosok berseragam sedang berjongkok di sudut balkon apartemennya yang luas.

"Kyungsoo?" tanya Chanyeol, sosok berseragam itu menoleh lalu tersenyum. Ia bangkit dan menghampiri Chanyeol, lalu menarik tangan kakaknya.

"Apa yang kau laku_" ucapan Chanyeol terhenti dan matanya melebar saat melihat banyak pot-pot bunga yang tersusun rapi, sekarung tanah yang berceceran dan beberapa biji tumbuhan.

"Ibu bilang aku bisa menanam ini agar aku tidak perlu bolak-balik untuk makan." Ucap Kyungsoo sambil kembali berjongkok dan memasukan satu per satu biji tumbuhan itu ke dalam pot yang sudah diberi tanah.

"Lalu berapa lama kau tidak akan makan sampai bunga-bunga itu tumbuh?" tanya Chanyeol malas, Kyungsoo mengangkat kepalanya lalu berpikir sebentar.

"Dua jam mungkin?" Chanyeol mengerutkan keningnya. Jujur, ia tidak terlalu mengetahui banyak tentang tanaman, karena kegiatan tanam-menanam hanya diklakukan oleh para malaikat, sementara para iblis lebih menyukai bakar-membakar, atau bunuh-membunuh. Yah, sesuatu yang lebih menantang dan hhm..keren? –itu hanya bagi para iblis-

"Apa akan tumbuh secepat itu?" tanya Chanyeol ragu. Kyungsoo mengangguk, lalu menepuk tangannya yang dikotori oleh tanah, ia bangkit dan berjalan mundur , berdiri disamping kakaknya. Matanya terpejam, dengan kedua tangan yang ia letakkan di dada, bibirnya bergerak mengucapkan sesuatu. Chanyeol meliriknya sekilas, dan mengedikkan bahunya, memilih tak acuh tapi tidak ingin menganggu. Adiknya sedang berbicara pada Sang Pencipta, yang para manusia sebut berdoa. Bedanya ketika para malaikat berdoa, doa mereka akan tersampaikan dengan cepat.

Chanyeol memperhatikan pot-pot tanaman itu, dan seketika cahaya biru muncul membuat Chanyeol menyipitkan matanya, karena cahaya itu begitu menyilaukan. Perlahan tanah itu bergerak, dan muncul sebuah tunas kecil, yang perlahan mulai tumbuh dan memanjang, Chanyeol membulatkan matanya sejenak dengan bibir dikupas keluar, seperti anak kecil yang menonton sulap murahan.

Kyungsoo tersenyum bangga, sesekali bertepuk senang ketika tanaman-tanaman itu tumbuh semakin besar.

"Tunggu! Seberapa tinggi tanaman itu akan tumbuh?" tanya Chanyeol ketika melihat tanaman itu semakin meninggi.

"Mungkin 2 atau 3 meter."

"Hentikan! Kau tidak bisa melakukannya. Ini di balkon apartemenku Kyungsoo, bukan di taman bunga." Ucap Chanyeol tidak terima, dan seketika pergerakan tanaman itu terhenti, Kyungsoo menoleh kearah Chanyeol.

"Baiklah aku akan membuatnya hanya tumbuh sebatas ini." Ucap Kyungsoo akhirnya, Chanyeol menghela nafas frustasi untuk kesekian kalinya. Ia hendak berbalik , sebelum ia teringat sesuatu.

"Kenapa kau menggunakan seragam ?"

"Karena aku akan bersiap-siap ke sekolah." Chanyeol memutar bola matanya, demi siapapun, adiknya benar-benar terlalu polos.

"Kyungsoo! Sekolah dimulai 3 jam lagi. Dan sejak kapan kau sudah bersiap-siap?" Kyungsoo mengangkat dagunya kesamping dan berpikir sebentar.

"Dua jam yang lalu?" ucapnya tidak yakin, dan Chanyeol kembali memutar bola matanya kesal.

"Aku bisa gila!" ucap Chanyeol sambil mengusak rambutnya kasar dan kembali ke dalam, meninggalkan Kyungsoo yang kebingungan yang kini kembali bergelut dengan pot-pot bunganya.

Chanyeol membanting tubuhnya ke atas ranjang, dan ia tidak bisa untuk kembali tertidur. Matanya seperti tidak bisa tertutup kembali, padahal ia masih merasa mengantuk. Ia melirik kearah mejanya dan melihat ponselnya yang tergelatak disana.

Sejak Luhan memberikannya, Chanyeol sama sekali tidak pernah menggunakannya. Luhan berkata jika itu bisa ia gunakan untuk berkomunikasi, tapi selama ini ia selalu menggunakan telepatinya untuk berkomunikasi dengan Luhan, ibunya, adiknya dan ayahnya. Sementara Baekhyun, jika ia merasa rindu ia akan mengendarai motornya untuk segera menuju rumah Baekhyun.

Jadi Chanyeol mulai berpikir sebenarnya apa fungsi dari benda yang baginya tidak penting itu, dan kenapa juga para manusia seperti memuja benda tidak menarik-menurut Chanyeol- itu.

Ia menekan asal tombol yang membuat benda itu menyala, dan betapa terkejutnya Chanyeol saat ada gambar dirinya yang sedang tertidur disana, ia tahu ini pasti ulah Luhan. Ia menekan-nekan asal, niatnya ingin menghapus gambar sialan dirinya disana, tapi malah membuatnya menghubungi sebuah nomer.

"Halo?" suara itu terdengar serak khas orang baru bangun. Chanyeol mengerutkan keningnya, sebelum ia mendekatkan benda itu ketelinganya, mengikuti bagaimana orang-orang melakukannya.

"Ha..halo?" ucapnya sedikit ragu.

"Ya, halo. Ini siapa?" tanya suara itu lagi, Chanyeol mengernyit.

"Ini yang siapa?" tanya Chanyeol. Sejenak tidak terdengar suara lagi, hingga seseorang berdeham.

"Aku Byun Baekhyun, jika tidak ada yang ingin dibicarakan aku akan_" Mata Chanyeol membulat saat mendengar suara itu, dan ketika Baekhyun akan mengakhiri panggilannya Chanyeol berteriak.

"Baekhyun! Jangan pergi, ini aku Chanyeol. Chanyeol, kekasihmu." Ucap Chanyeol menggebu.

"Chan..Chanyeol? bagaimana bisa? Bukankah kau berkata kau tidak memiliki ponsel?" tanya Baekhyun lagi, Chanyeol tersenyum walau Baekhyun tidak bisa melihatnya.

"Ya, aku baru saja membelinya tadi." Ingatlah jika iblis pandai berbohong.

"Benarkah? Dan darimana kau mendapat nomerku?" Chanyeol terdiam, ia bahkan tidak tahu yang sedang ia hubungi adalah nomer Baekhyun, yang ia tahu Luhan pernah berkata jika ia bisa menghubungi Baekhyun dengan benda ini, dan Chanyeol tak tahu jika Luhan sudah memasukan nomer Baekhyun ke dalamnya.

"Rahasia." Chanyeol tertawa memecah keheningan.

"Dan apa ada yang ingin kau bicarakan?" tanya Baekhyun tidak ingin mengungkit-ngungkit soal 'rahasia' yang Chanyeol ucapkan.

"Hm, aku ingin mendengar suaramu. Aku merindukanmu dan aku juga ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu." Tidak ada sahutan dari seberang, membuat Chanyeol memanggil nama itu berulang.

"Hm, iya, aku masih disini Chanyeol. A..aku juga mencintaimu." Ucap Baekhyun , dan Chanyeol yakin jika wajah Baekhyun sekarang memerah.

"Aku tidak sabar untuk bertemu denganmu nanti."

"Hei, kita bahkan baru bertemu beberapa jam lalu." Ucap Baekhyun sambil terkekeh.

"Baek?"

"Hm?"

"Aku mencintaimu." Ucap Chanyeol lagi, Baekhyun tertawa sebelum menjawab.

"Ya aku tahu, dan aku juga mencintaimu." Ucap Baekhyun lagi sebelum terdengar sebuah uapan yang cukup terdengar jelas ditelinga Chanyeol.

"Kau mengantuk?"

"Hm."

"Kau ingin melanjutkan tidurmu?"

"Mungkin." Sahut Baekhyun, Chanyeol sempat merasa kecewa karena ia ingin mendengar suara Baekhyun lagi.

"Baiklah, kau kembali tidur saja! Aku akan menjemputmu nanti."

"Hm, aku pergi Chanyeol." Ucap Baekhyun setelah akhirnya sambungan mereka terputus. Chanyeol tersenyum menatap layar ponselnya, ia rasa ia mulai menyukai benda persegi tidak menarik-sebelum mengetahui fungsi yang sebenarnya- dihadapannya.

..

.

Chanyeol keluar dari dalam kamarnya dengan pakaian seragam yang rapi, ia sedikit mengernyit mendapati Kyungsoo sedang duduk di depan meja makan dengan sepiring tumbuhan berwarna-warni dan segelas air mineral.

"Pagi hyung! Ayo sarapan!" ucap Kyungsoo sambil memasukan beberapa helai tanaman ke dalam mulutnya. Chanyeol mengernyit jijik sambil berjalan melewati Kyungsoo.

"Tidak terima kasih. Aku harus berangkat, dan kau segera minta Luhan untuk menjemputmu."

"Aku mengerti, hati-hati hyung!" ucap Kyungsoo dari ruang makan, dan Chanyeol segera meraih kunci motornya dan berjalan keluar.

Karena ulah Kyungsoo, Chanyeol jadi tidak bisa melanjutkan tidur nyenyaknya sehingga dua jam tersisa sebelum waktu berangkat sekolahnya ia gunakan untuk bermain-main di Infernus.

Kini Chanyeol merasa sedikit mengantuk, walau pertemuannya dengan Baekhyun nanti akan membuatnya terjaga sepanjang hari.

Chanyeol tiba di depan rumah Baekhyun, dan untuk pertama kali jemarinya ditarik dan dipaksa untuk sarapan bersama oleh kekasihnya. Awalnya tentu Chanyeol menolak, karena ia tidak ingin mual-muntah di pagi hari yang hanya akan merusak suasana hatinya sepanjang hari, tapi ketika melihat masakan daging diatas meja, Chanyeol memilih bergabung.

Disana sudah ada Kibum yang tersenyum bahagia, dan Chanyeol bisa menebak senyum merekah itu karena apa. Tentu saja karena hubungan antara Baekhyun dan Sehun yang membaik, walau tidak terjadi interaksi seperti kakak-adik pada umumnya, namun mereka tidak terlihat seperti sedang bermusuhan seperti biasanya.

Chanyeol duduk disamping Baekhyun yang entah mengapa terlihat begitu manis pagi ini, dan ketika tatapan Chanyeol beralih ia akan mendapati bocah paling kurang ajar –karena Sehun mencibir kearahnya- sedang menatapnya dengan tatapan aneh.

"Aku tidak tahu keajaiban apa yang terjadi." Gumam Kibum seorang diri sambil menatap kelangit-langit ruangan, seperti sedang bersyukur. Chanyeol tahu itu, karena beberapa orang menganggap Tuhan berada diatas.

Mereka terus berbincang –Hanya Chanyeol dan Kibum yang mendominasi- sepanjang sarapan, terkadang keempat orang itu tertawa ketika Kibum membuat sebuah lelucon dan tawa Chanyeol yang paling keras, membuat Sehun berhenti tertawa karena merasa risih.

Baekhyun berulang kali memperingati untuk tidak tertawa ketika sedang mengunyah makanan, namun Chanyeol tidak memperdulikannya hingga karma terjadi, ia merasa sesak dan makanannya seperti tersumbat di rongga hidungnya, Chanyeol terbatuk sambil memukul-mukul dadanya.

"Aku akan mengambilkan air." Ucap Baekhyun ketika air di dalam teko habis.

"Biar aku saja!" suara Sehun terdengar begitu bersemangat, ia bangkit dan berjalan kearah kulkas lalu mengambil air, dan sedikit menyeringai.

Chanyeol masih terbatuk dan Baekhyun mengelus punggung Chanyeol terkadang menepuknya perlahan dengan harapan sesak Chanyeol bisa mereda. Sehun muncul setelah panggilan dari Kibum yang kedua, dengan segelas air ditangannya.

Ia menyerahkannya pada Chanyeol dan dengan cepat Chanyeol menegukknya, hingga pada tegukan ketiga ia merasakan sesuatu yang salah.

Sial! Chanyeol ingin menyemburkan air itu, tapi sayangnya ia harus mengatasi rasa tersedaknya. Dengan terpaksa ia menghabiskan air yang menurutnya terasa seperti air laut itu, bocah di hadapannya akan mati dengan segera. Chanyeol menjanjikan itu pada dirinya.

"Terima kasih. SE-HUN" Chanyeol menatap Sehun tajam sambil memberikan gelas kosongnya, Sehun menerimanya dengan tersenyum tulus –yang tentu saja dibuat-buat-

"Sama-sama." Ucap Sehun sambil kembali duduk. Chanyeol terus menatap Sehun sambil sesekali menyeringai, dan Sehun melakukan hal yang sama.

"Ibu! Aku berangkat dulu. Aku tidak ingin diperhatikan terus oleh orang bodoh." Ucap Sehun lalu bangkit.

"Heuh?" Kibum bertanya tidak mengerti, namun Sehun telah meraih tangannya dan menyalaminya. Chanyeol menatap kepergian Sehun dengan mulut terkatup rapat.

"Aku berangkat Ibu, hyung dan…hhmm.. Park Tower." Kibum dan Baekhyun terkekeh dan setelahnya Chanyeol ikut tertawa pura-pura.

"Sebaiknya kita juga berangkat. Ayo Chanyeol!" ucap Baekhyun sambil mengambil tasnya. Chanyeol bangkit dan memberi salam pada Kibum.

Mereka menaiki motor Chanyeol dan segera melaju, Chanyeol menyeringai ketika dari kejauhan ia melihat Sehun berjalan menuju ujung gang sambil bersiul-siul kecil.

Chanyeol mempercepat motornya, dan ia kembali menyeringai ketika melihat kumbangan air kecil. Dengan sengaja ia menginjak sedikit kumbangan itu menyebabkan airnya terciprat dan membasahi celana sekolah Sehun, tidak banyak namun cukup meninggalkan jejak noda.

"Kyaa!"

"Aah, maafkan aku Sehun. Aku tidak melihat ada kumbangan air disana." Ucap Chanyeol dengan wajah merasa bersalah yang tentu saja dibuat-buat.

"Maafkan Chanyeol, Sehun. Dia tidak sengaja." Ucap Baekhyun sambil mengangkat kaca helmnya. Sehun yang awalnya menatap Chanyeol dengan kebencian, mengalihkan pandanganya pada Baekhyun, dan ia tersenyum sambil menggeleng pelan.

"Tidak apa-apa hyung, aku yakin si Breng.. ah! Maksudku Chanyeol, tidak sengaja." Ucap Sehun . Chanyeol menyeringai dalam hati.

"Sehun kami harus pergi, sebenarnya aku ingin mengantarmu ke sekolah tapi berhubung motorku tidak cukup jadi_"

"Tidak apa-apa, lagipula aku sudah terbiasa berangkat seorang diri." Ucap Sehun masih mempertahankan wajah ramahnya, walau dalam hati ia mengutuk sosok kelebihan kalsium di depannya.

Chanyeol kembali menutup kaca helmnya dan melenggang pergi. Baekhyun menoleh kebelakang dan entah mengapa ia merasa iba pada Sehun yang berjalan seorang diri, walau kini bocah itu melambai bahagia padanya.

Mereka tiba di sekolah lima belas menit setelahnya, dan kini Chanyeol sedang menggenggam tangan Baekhyun sambil berjalan di koridor sekolah. Chanyeol tidak memperdulikan lagi tatapan dan bisikan-bisikan dari murid lain, karena sampai kapanpun pembenci akan tetap membenci.

"Hai murid baru, lama tidak jumpa." Chanyeol menghentikan langkahnya ketika tiga sosok lelaki menghadang jalannya, dan dengan cepat ia menyembunyikan Baekhyun di balik tubuhnya.

Taeyang-salah satu lelaki yang berdiri ditengah- sempat melirik kearah Baekhyun, namun pandangannya terhalang tubuh Chanyeol.

"Ada apa?" tanya Chanyeol dingin.

"Wow..wow..santai! kami hanya ingin menyapa. Lain kali mainlah ke markas kami, aku akan dengan senang hati menerima." Ucap Taeyang lalu menepuk pundak Chanyeol dan berlalu melewati Chanyeol, sambil melirik Baekhyun sekilas.

"Kita lihat nanti!" sahut Chanyeol, lalu menarik Baekhyun untuk berdiri disampingnya.

"Kau mengenal mereka Chanyeol?" tanya Baekhyun dan Chanyeol mengangguk sambil tetap melanjutkan langkahnya.

"Jangan berurusan dengan mereka, aku dengar mereka berbahaya."

"Aku tahu." Ucap Chanyeol singkat. Baekhyun menghentikan langkahnya membuat Chanyeol menoleh heran.

"Aku serius Chanyeol." Ucap Baekhyun dengan kedua alis bertemu. Chanyeol memegang kedua pundak Baekhyun, lalu menatap mata kekasihnya dalam.

"Aku tahu apa yang harus dan tidak harus aku lakukan." ucap Chanyeol lalu kembali menarik tangan Baekhyun. Entah mengapa Baekhyun merasa Chanyeol terlihat seperti marah, padahal Baekhyun hanya mencemaskannya. Kembali langkah Baekhyun terhenti, membuat Chanyeol menghela nafas sedikit kesal.

Entah mengapa pertemuannya dengan Taeyang membuat suasana hatinya memburuk. Ia benar-benar menghindari kelompok-kelompok dengan nama binatang itu,padahal beberapa hari sudah ia lalui tanpa satupun bertemu dengan salah satu ketua Macam Timur ataupun Serigala Barat-karena Taecyeon masih dirawat di rumah sakit, akibat cidera yang serius- tapi hari ini ia malah dipertemukan kembali. Dan mengingatkannya pada sisi lemahnya dan sisi hancur Baekhyun.

"Ada apalagi Baek?" tanya Chanyeol dengan nada jengkel.

"Aku…aku hanya mencemaskanmu. Seharusnya kau tidak bersikap seperti itu." Wajah Baekhyun tertunduk. Chanyeol baru menyadari ulahnya dan ia menghela nafas pelan, mendekatkan tubuhnya dan menyentuh dagu Baekhyun lalu mengangkat wajahnya.

Menatap mata terluka itu dalam, Chanyeol merasa begitu kejam membayar kecemasan Baekhyun dengan sebuah kemarahan, untuk pertama kalinya ia membenci sifat iblisnya.

"Aku tidak marah, aku tahu kau cemas Baek. Aku hanya tidak ingin kau mencemaskan hal yang sia-sia. Aku tidak akan melakukan hal bodoh yang akan membahayakan diriku, apalagi dirimu." Ucap Chanyeol. Baekhyun menatap mata Chanyeol, mencari ketidakpastian dan ia tidak menemukannya.

"Kau mengerti?" dan Baekhyun mengangguk lalu menarik tangan Chanyeol untuk berjalan ke dalam kelas.

..

.

Sehun menggambar pola diatas kanvas dihadapannya. Sesekali sudut bibirnya tertarik menciptakan sebuah senyuman, terkadang lidahnya juga terjulur, atau bergerak untuk membasahi bibir bawahnya.

Siang ini adalah kelas melukis, Luhan membiarkan anak-anak mengekspresikan diri mereka, dengan menyuruh anak-anak menggambar hal yang paling membuat mereka bahagia, dan disinilah mereka, duduk di depan kanvas masing-masing.

Luhan berkeliling dan sesekali tersenyum melihat hasil gambaran anak-anak, sampai ia terhenti dibelakang Sehun, dan dahinya mengernyit.

"Sehun, siapa yang kau gambar?" tanya Luhan tapi tidak ada sahutan. Luhan memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Sehun yang terlihat begitu asyik, sekali lagi Luhan memangil dan Sehun tidak dengar.

"Sehun." Luhan menyentuh pundak Sehun dan lelaki remaja itu menoleh terkejut.

"Oh, saem. Anda mengagetkanku." Ucap Sehun sopan. Ia memang menggunakan kata-kata formal ketika berada di sekolah.

"Kau terlalu asyik, hingga tidak menyadari aku memanggilmu sejak tadi."

"Maafkan aku."

"Hm. Jadi, siapa yang kau gambar?" tanya Luhan. Sehun tersenyum dan ia menatap gambarnya, lalu dahinya mengernyit dengan gerakan cepat ia mencoret sosok lelaki tinggi yang ada digambarnya menyisakan seorang anak kecil dengan wajah mirip dirinya, seorang lelaki mungil –Baekhyun-, seorang wanita –Kibum-.

"Kenapa dihapus?"

"Aku sepertinya salah menggambar." Ucap Sehun cepat dan mengubah sosok lelaki itu menjadi sebuah bangunan menara.

"Park?" tanya Luhan sedikit mengernyit, Sehun baru tersadar diatas gambar yang ia buat ada nama-nama mereka, dan diatas sosok tinggi-yang sekarang berubah menjadi menara- terukir tulisan Park yang belum selesai dibuat.

"Park Tower. Ini hanya sebuah menara." Ucap Sehun cepat, entah mengapa ia tidak menyadari apa yang sedang ia gambar. Niat awalnya hanya ingin menggambar dirinya, ibunya dan kakaknya, tapi tanpa ia sadari tangannya bergerak untuk menggambar sosok Chanyeol.

Luhan tidak bodoh untuk tidak mengetahui siapa yang tengah digambar Sehun, dan Luhan tersenyum. Ia merendahkan tubuhnya, lalu berbisik di telinga Sehun membuat tubuh yang lebih muda menegang.

"Aku seperti mengenal sosok itu." Ucap Luhan lalu berlalu sambil menggeleng pelan. Sehun terdiam sambil menatap menara di dalam kanvasnya.

Dua jam berlalu dan kini anak-anak berbaris untuk mengumpulkan hasil gambaran mereka. Ketika anak terakhir sudah selesai mengumpulkan dan mereka diperbolehkan kembali ke kelas, Luhan memanggil Sehun.

"Ada apa Saem?"

"Ini tentang perlombaan itu. Aku akan ke rumahmu nanti."

"Tapi hari ini bukan jadwal belajar kita kan saem?" Luhan menggeleng.

" Memang bukan, tapi aku ingin membahas tentang perlombaan itu." Sehun mengangguk lalu memberihormat dan segera kembali ke kelas.

..

.

Kyungsoo duduk menyendiri di sudut kantin, di deretan meja terbelakang dekat jendela. Ia mengeluarkan kotak makan siang yang sudah ia persiapkan pagi tadi, namun belum sempat ia membuka kotak itu, sesosok lelaki berdiri di depannya.

"Hei, boleh aku bergabung? Hanya tempat ini yang tersisa." Kyungsoo mendongak lalu memperhatikan sekitar dan benar, seluruh bangku telah terisi, kecuali sebuah meja di depannya-3 meja dari mejanya- yaitu meja Chanyeol dan Baekhyun.

"Baiklah." Ucap Kyungsoo. Lelaki berkulit tan itu-Jongin- tersenyum lalu meletakkan nampannya. Ia memperhatikan Kyungsoo yang mencangkupkan kedua tangannya dan menutup matanya dengan bibir yang begerak-gerak.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Jongin ketika Kyungsoo membuka matanya. Kyungsoo menoleh kearah Jongin dengan mata bulatnya membuat Jongin semakin merasa gemas.

"Berdoa." Jongin berani bersumpah selain teman SD nya ia tidak pernah bertemu dengan orang-orang yang berdoa sebelum makan, apalagi berdoa dengan sangat panjang seperti sosok cantik di depannya.

"Apa yang kau minta?" tanya Jongin.

"Aku tidak meminta, aku bersyukur." Sahut Kyungsoo.

"Atas?"

"Atas semuanya. Makanan yang telah diberikan padaku, waktu dan kesempatan yang membuat aku bisa makan, tangan yang bisa aku gunakan untuk makan, mulut , gigi yang bisa mengunyah, lidah yang bisa merasakan, air liur yang membasahi _"

"Tunggu! Kau mengucapkan semua itu?" tanya Jongin heran, Kyungsoo mengangguk pelan dan mulai membuka kotak makananya.

"Kau membawa kotak makanan?"

"Hm."

"Kenapa?"

"Karena kata ibu aku harus membawanya."

"Kenapa ibumu berkata harus membawanya?"

"Karena kata ibu aku tidak bisa memakan makanan yang ada disini."

"Kenapa kata ibumu kau tidak_ Wow. Apa itu?" Jongin mengernyit ketika melihat isi kotak makan Kyungsoo, sayur dan tumbuhan yang Jongin tidak tahu apa, seperti bunga tapi seperti daun.

"Makananku." Sahut Kyungsoo sambil mengaduk makanannya menggunakan garpu.

"Maksudku jenis makanan apa itu? Apa itu salad sayur?"

"Salad sayur?"

"Ya, sejenis makanan yang dibuat dari campuran sayur-sayuran , biasanya dimakan oleh vegetarian."

"Vegetarian?" tanya Kyungsoo bingung.

"Orang-orang yang tidak memakan daging, lemak, apapun itu. Apa kau salah satunya?"

"Hm, aku tidak memakan daging, lemak atau apapun itu. Berarti ya, aku vegetarian." Ucap Kyungsoo lagi. Jongin melirik kearah makanan Kyungsoo, dan beralih pada Kyungsoo yang makan dengan lahap namun gerakannya terlihat kaku. Benar-benar memiliki table manner tinggi, pikir Jongin.

"Kau tidak merasa mual?" tanya Jongin dengan alis mengernyit jijik.

"Tidak. Aku mual ketika memakannya." Tunjuk Kyungsoo pada potongan daging di nampan Jongin.

"Oh, aku mengerti. Makanlah!" ucap Jongin. Tapi Jongin tidak benar-benar makan, ia terus memperhatikan Kyungsoo yang sama sekali tidak menyadarinya. Dan betapa Jongin memuja kulit putih mulus tanpa celah itu, semakin lama ia semakin merasa jatuh cinta.

Baekhyun terus melirik kearah Chanyeol yang sejak tadi terus mencuri pandang ke belakangnya, Baekhyun ingin bertanya namun ia urung, Baekhyun ingin berbalik untuk melihat apa yang menjadi objek pandang Chanyeol tapi ia takut.

"Chanyeol, kau baik-baik saja?" tanya Baekhyun. Chanyeol mengalihkan pandangannya ke Baekhyun dan mengangguk.

"Tentu. Ayo makanlah!" ucap Chanyeol, tapi kembali matanya memperhatikan adiknya yang sedang duduk bersama orang asing.

Karena merasa penasaran Baekhyun berbalik sebentar ketika Chanyeol menunduk untuk menyendok makanannya dan ia mencurigai sosok Kyungsoo yang menjadi objek pandang Chanyeol.

"Chanyeol boleh aku bertanya?"

"Hm?"

"Apa melindungi orang adalah sikap naturalmu?"

"Maksudmu?" tanya Chanyeol tidak mengerti.

"Apa kau memang memiliki naluri untuk melindungi sosok lemah yang ada disekitarmu?"

"Jangan bercanda! Untuk apa aku merepotkan diriku sendiri? Aku hanya akan melindungimu." Baekhyun merasa sedikit merona, namun rasa penasarannya belum terjawab. Ia ingin mempercayai itu dan tidak memperpanjang permasalahan yang membuat perasaannya tidak tenang dalam beberapa waktu.

Dan ketika Baekhyun mengangkat wajahnya, ia kembali mendapati mata Chanyeol yang melirik ke arah belakangnya dengan tatapan yang Baekhyun tidak mengerti.

..

.

Ketika kelas terakhir berakhir, beberapa siswa sudah berlarian keluar dengan tas mereka yang sudah mereka persiapkan 15 menit sebelum jam berakhir. Baekhyun masih merapikan bukunya sebelum memasukannya ke dalam tas, dan menoleh ketika mendengar decakan kesal Chanyeol disebelahnya. Belum keluar pertanyaannya tentang alasan kenapa Chanyeol berdecak, kekasihnya sudah lebih dulu bangkit.

"Aku harus pergi sebentar, tunggu aku diparkiran!" ucap Chanyeol lalu berjalan keluar kelas. Baekhyun menghela nafas sebentar dan mengangguk seorang diri di dalam kelas, seolah Chanyeol bisa melihatnya.

Chanyeol berjalan menuju lantai tiga untuk mencari keberadaan kelas Kyungsoo dan ia mendapati adiknya sedang duduk di dalam kelas sambil memandang papan tulis.

"Kyungsoo!" panggil Chanyeol dengan wajah kesal. Lelaki kecil itu menoleh dan sedikit tersenyum lalu memutuskan bangkit dan menghampiri kakak laki-lakinya.

"Luhan bilang ia akan sedikit terlambat menjemputmu."

"Iya aku sudah tahu, Luhan hyung sudah mengirimiku pesan tadi."

"Itu bagus. Tapi ibu memintaku untuk mengantarmu pulang, sementara aku harus mengantar Baekhyun pulang dan_"

"Itu tidak apa-apa. Aku hanya perlu menunggu Luhan hyung. Hyung pulang saja dengan Baekhyun. Sebenarnya aku ingin pulang seorang diri, tapi_"

"JANGAN!" Kyungsoo menatap Chanyeol terkejut, bentakan Chanyeol sungguh tidak main-main.

"Yah, aku sudah tahu hyung akan berteriak seperti itu. Ibu dan Luhan hyung melakukan hal yang sama. Jadi aku hanya akan menunggu disini." Ucap Kyungsoo lagi.

"Baiklah. Hm, sebaiknya kau minta pada ibu agar mengembalikan kekuatan teleportasimu." Ucap Chanyeol sambil menatap Kyungsoo, Kyungsoo menggeleng pelan.

"Tidak. Aku tahu ibu punya alasan kuat mengapa melarangku menggunakan kekuatan itu."

"Kau tahu? Ibu tidak pernah punya alasan atas setiap tindakannya, ia bertindak atas kemauannya. Dia egois." Ucap Chanyeol dengan sudut bibir sedikit dinaikkan.

"Tidak. Ibu tidak seperti itu."

"Terserah! Yang jelas aku harus pulang. Tunggulah di halaman sekolah, jangan di dalam kelas seperti ini!"

"Baik, aku akan turun setelah mengerti arti kalimat itu." Kyungsoo menunjuk kearah papan tulis dengan dagunya membuat Chanyeol membalik tubuhnya dan membaca rentetan kalimat disana.

'Cinta bagai duri, tajam dan menyakitkan. Cinta bagai racun, pahit dan membunuh perlahan. Cinta bagai lautan, luas dan dalam. Sekali kau jatuh dalam cinta, kau tidak akan pernah bisa bangkit. Untuk itu jangan pernah mengenal cinta, tapi hidupmu mungkin tak akan berwarna.'

Chanyeol mengernyit semakin dalam, dan kini pandangannya teralihkan pada Kyungsoo.

"Aku tidak mengerti. Guru sastraku berkata, jika cinta menyakitkan, tapi mengapa cinta tidak dilarang? Bahkan ia meminta kami untuk mengenal cinta sejak dini." Gumam Kyungsoo sambil tetap menatap papan.

"Kyungsoo dengar! Tentang cinta dan apalah itu, itu bukan urusanmu dan itu… juga bukan urusanku. Aku harus pergi, kau mengerti?" ucap Chanyeol lalu meninggalkan Kyungsoo yang masih terpaku pada papan tulis.

"Apa jika aku jatuh cinta, aku akan merasakan sakit? Seperti apa sakit itu?" gumamnya lagi yang mana terbawa oleh hembusan angin.

Baekhyun menunggu di samping motor Chanyeol, sekolah sudah nampak cukup sepi. Sesekali ia mengusap jemarinya dan terkadang meremasnya, ketika berbagai pikiran mulai menyerangnya.

Tentang kepergian Chanyeol, dan hal apa yang membuat kekasihnya sampai pergi dengan wajah kesal, Baekhyun ingin tahu dan ingin bertanya, namun ia terlalu takut untuk mengungkapkan apa yang ada dalam benaknya.

"Ayo!" suara Chanyeol membuat Baekhyun menoleh, lelaki itu mengambil helmnya dan segera memakainya, menunggu Baekhyun naik keatas motornya, lalu segera melesat pergi meninggalkan halaman sekolah.

..

.

Kini Baekhyun dan Chanyeol nampak berbaring diatas sofa diruang tengah sambil menonton film horor yang menarik perhatian mereka. Baekhyun berbaring disisi luar , sementara Chanyeol di sisi tengah sambil memeluk tubuh Baekhyun dari belakang, sungguh posisi yang menjadi favorit mereka sekarang.

Film baru berlangsung sekitar dua puluh menit dan Chanyeol sudah merasa bosan, baginya makhluk-makhluk yang muncul dalam setiap film horor yang ia tonton tidaklah seram, mungkin karena ia pernah melihat yang jauh lebih seram, dirinya.

Namun berbeda dengan Baekhyun yang walau dalam diam, tapi Chanyeol mampu merasakan ketakutannya. Remasan-remasan kuat pada tangannya, menjadi bukti bagi Chanyeol bahwa kekasihnya ini ketakutan. Jadi ketika Baekhyun meremas tangannya yang melingkar di pinggang Baekhyun, maka Chanyeol akan mengecup pucuk kepala Baekhyun untuk menenangkannya.

Walau baru beberapa kali menonton film horror yang dibuat para manusia, namun Chanyeol sudah hafal betul, apa saja yang akan terjadi di dalamnya. Dimulai dengan mitos atau misteri atau legenda, lalu dilanjutkan dengan beberapa tokoh yang mencari tahu, dan diakhiri dengan terkuaknya misteri.

Chanyeol sudah bisa menebak alurnya, untuk itu walau layar menayangkan aksi menegangkan dimana si pemeran melarikan diri dari hantu-nya , ia hanya akan menguap bosan. Chanyeol tidak membencinya, hanya saja Chanyeol merasa tidak ada sebuah tantangan, ataupun hal yang membuatnya menarik.

Namun dari semua itu yang membuat Chanyeol lebih tidak menyukai film horror adalah, munculnya adegan intim entah antara si pemeran utama dengan kekasihnya, atau pemain lain yang bahkan Chanyeol tidak hafal wajahnya, yang akan melakukan adegan bercinta yang benar-benar dipertontonkan.

Seperti sekarang, untuk kedua kalinya Chanyeol merasa menyesal memilih sebuah film hantu dimana anak-anak muda yang menjadi pemeran utamanya. Tapi Chanyeol lebih memilih film horror karena baginya drama, atau yang bernuansa romatik sungguh sangat bukan gayanya, dan ia akan lebih menyesali itu ketimbang kemunculan adegan intim dalam film horror yang tiba-tiba.

"Aaaahhh…aaahhh…yes!yes! baby! Oooohh..good girl."

Sial! Chanyeol menelan ludahnya dengan susah payah. Ia ingin membuang pandangannya tapi posisinya tidak memungkinkan dirinya untuk berbalik ataupun memutar arah, ditambah suara-suara mendesah yang sungguh membuat telinganya berdengung.

Jika Chanyeol masih dikuasai sifat iblisnya, ia akan memperkosa Baekhyun sekarang juga, tapi ia tidak ingin memaksa Baekhyun untuk memuaskan hasratnya. Mereka memang tidak membuat perjanjian, tapi Chanyeol telah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia tidak akan membuat Baekhyun tersakiti. Walau seumur hidupnya Chanyeol selalu mengingkari janjinya, tapi kali ini ia ingin memiliki sebuah komitmen. Ucapkan selamat pada Baekhyun yang mampu merubah sifat iblis seorang calon raja iblis.

"Yes! Faster Dave! Faster..aaaahh….you're so fucking hard…"

Nafas Chanyeol terdengar memburu, dadanya naik turun dengan cepat dan hal itu membuat Baekhyun menoleh. Sialnya, wajah mereka menjadi sangat dekat. Chanyeol terpaku memandang wajah Baekhyun, yang jika ia tidak salah lihat wajah kekasihnya terlihat memerah.

Chanyeol tersenyum kaku, lalu mengecup bibir Baekhyun kilat sehingga membuat kekasihnya itu kembali menghadap depan.

Chanyeol mengutuk film tersebut karena demi apapun, adegan bercintanya jauh lebih panjang daripada adegan si pemeran utama yang melarikan diri dari hantunya. Bahkan kini kedua pemeran tambahan yang sedang bercinta itu mengubah gaya bercinta mereka, dan kali ini Chanyeol benar-benar tidak bisa mengontrolnya.

Sesuatu dibawah sana menengang, dan Chanyeol yakin jika Baekhyun mampu merasakan ketegangan itu mengingat tubuh mereka yang tidak memiliki jarak. Chanyeol menutup matanya sekejap, untuk mengatur deru nafasnya, namun remasan kuat pada jemarinya membuat Chanyeol membuka mata.

Ia melihat kearah layar, karena biasanya jika Baekhyun meremas itu berarti ia ketakutan. Namun naas, karena ketika melihat layar kedua pemeran itu masih bercinta walau suara mereka sudah dihilangkan, diganti dengan backsound yang terdengar menjijikan di telinga Chanyeol.

Remasan Baekhyun semakin kuat dan itu membuat Chanyeol mengernyit. Ia menjulurkan kepalanya ke depan bermaksud untuk melihat wajah Baekhyun, namun kekasihnya malah menggeliat karena terpaan nafas berat Chanyeol di tengkuknya.

"Baekhhh…." Suara berat Chanyeol kembali membuat Baekhyun menggeliat. Chanyeol menyeringai, ia tersenyum penuh kemenangan dalam hati, Baekhyun-nya sedang terangsang dan itu berarti tidak akan sulit untuk mengajaknya bercinta.

Chanyeol memasukan jemarinya ke dalam baju kaos Baekhyun, mengelus permukaan kulit halus itu membuat mata Baekhyun tertutup merasakan betapa kasar dan besarnya tangan Chanyeol.

"Hmm…"

Suara Baekhyun mulai terdengar aneh, dan Chanyeol segera menggunakan kesempatan itu untuk memberikan ciuman disekitar leher Baekhyun. Tanpa aba-aba posisi mereka telah berubah, kini Chanyeol telah berada diatas Baekhyun dengan mata yang saling bertatapan.

"Apa aku boleh melakukannya?" tanya Chanyeol , Baekhyun menatap kedua mata Chanyeol bergantian lalu mengangguk. Chanyeol segera menyerang bibir Baekhyun, sambil melebarkan kedua kaki Baekhyun dengan lututnya.

Ciuman mereka lembut namun menuntut, tangan Baekhyun melingkar di leher Chanyeol, dan bibir mereka masih saling bertautan. Baekhyun menutup matanya merasakan sapuan lidah Chanyeol di dalam mulutnya.

Lidah mereka bertemu dan Chanyeol menyedotnya dengan kuat, membuat bibir Baekhyun terbuka lebih lebar. Satu jemari Chanyeol mengelus putting Baekhyun dari luar seragamnya, memainkan tonjolan yang mulai mengeras itu membuat Baekhyun sedikit mendongak.

Baekhyun menikmati setiap sentuhan Chanyeol, dan ia berpikir sekarang waktu yang tepat untuk bertanya tentang hubungan Chanyeol dengan si murid baru, karena dalam beberapa kasus, komunikasi terbaik adalah ketika sedang melakukan hubungan intim.

Baekhyun mengelus pipi Chanyeol, mata mereka saling menatap. Ketika Chanyeol hendak mencium lagi, Baekhyun menahannya.

"Chanyeol...ada_"

"Aku pulang." Suara itu membuat Baekhyun menoleh kesamping dan matanya membulat saat melihat sosok yang akan menjadi topik pembicaraan mereka ke depan kini ada di dalam apartemen kekasihnya membuat otaknya memerintahkan untuk menolak sentuhan Chanyeol.

Chanyeol terkejut ketika Baekhyun mendorong dadanya, ketika akan bertanya Chanyeol mengikuti arah pandang Baekhyun dan menemukan sosok adiknya yang berdiri dengan seragam dan tas sekolahnya yang terpaku melihat mereka.

"Masuklah ke kamar!" ucap Chanyeol dingin, Kyungsoo mengangguk lalu masuk ke dalam kamar. Chanyeol kembali merendahkan tubuhnya untuk mencium Baekhyun, tapi melihat Baekhyun yang hanya menatapnya dalam diam membuat Chanyeol bingung.

"Ayo kita lanjutkan!"

"Apa dia tinggal disini?" tanya Baekhyun dengan suaranya yang lirih. Seolah pertanyaan Baekhyun adalah pertanyaan biasa, Chanyeol mengangguk dengan santai sebagai jawaban.

"Aku ingin menjawab tidak, tapi kenyataannya dia memang tinggal disini. Berdua denganku."

"Dia anak baru itu kan?" tanya Baekhyun lagi, dan untuk kedua kalinya Chanyeol mengangguk. Chanyeol terlihat tidak terlalu mempermasalahkan, sementara dada Baekhyun terasa sesak, bahkan matanya memanas.

"Yah, anak baru yang_"

"Yang kau tolong waktu itu kan?" tanya Baekhyun cepat, Chanyeol terkejut melihat sikap Baekhyun yang mendadak berubah.

"Chanyeol. Aku harus pulang." Baekhyun melempar wajahnya kesamping membuat Chanyeol semakin tidak mengerti dengan perubahan sikap kekasihnya yang mendadak.

"Tapi kita kan belum_"

"Aku benar-benar harus pulang, aku baru ingat ibu memintaku untuk tidak pulang terlalu larut. " Ucap Baekhyun tanpa memandang wajah Chanyeol.

"Tapi Baek, kita sedang_"

"Aku mohon. Aku harus pulang." Dengan terpaksa Chanyeol bangkit. Baekhyun merapikan pakaiannya dan mengambil tasnya. Chanyeol terduduk di sofa sambil menahan rasa kesalnya.

Ketika Baekhyun sudah bangkit, ia melihat Kyungsoo berjalan dengan seragamnya kearah balkon dan merapikan beberapa pot tanaman. Baekhyun merasa dadanya sesak, bahkan lelaki asing itu memiliki tanaman sendiri di balkon Chanyeol dan kekasihnya tidak keberatan akan itu, padahal setahu Baekhyun , Chanyeol tidak menyukai tanaman.

"Aku pulang. Tidak usah mengantarku, aku akan pulang sendiri Chanyeol." Ucap Baekhyun yang kini mengecup pipi Chanyeol yang terdiam sambil menatap lantai sebelum akhirnya melenggang pergi. Baekhyun merasa sedikit sedih karena Chanyeol tidak berusaha untuk mencegahnya ataupun setidaknya memaksa akan mengantarnya.

"Kyungsoo lepas seragammu sebelum bermain dengan tanah!" langkah Baekhyun terhenti , lalu menoleh. Ia melihat Chanyeol yang sedang berdiri diantara ruang tengah dan jalan menuju balkon sambil berbicara menghadap Kyungsoo, sebelum akhirnya berjalan ke kamar dan membanting pintu. Baekhyun membalik tubuhnya dan berjalan keluar dari apartemen Chanyeol.

Chanyeol membanting tubuhnya dan mengacak rambutnya kesal. Ia tidak suka dengan perubahan sikap Baekhyun yang Chanyeol sendiri tidak tahu karena apa. Awalnya ia pikir Baekhyun malu dengan kemunculan Kyungsoo, namun melihat bagaimana Baekhyun membuang wajahnya membuat Chanyeol tidak bisa menebak apa yang tiba-tiba terjadi pada Baekhyun.

"Hyung!" panggil Kyungsoo dari arah pintu yang kini sudah terbuka, Chanyeol melirik dengan tajam dan mendapati seragam Kyungsoo terkena tanah.

"Kemana Baek_"

"Sudah aku katakan untuk melepas seragammu sebelum bermain tanah. KAU BISA MENGERTI TIDAK ?" Tiba-tiba Chanyeol berteriak membuat wajah Kyungsoo memucat. Tubuh kecil itu menegang dan ketakutan, ia ingin menangis tapi ia tidak akan melakukannya. Melihat kakaknya marah memang sudah biasa, namun selama ini Kyungsoo tidak pernah merasakan bagaimana kakaknya marah secara langsung padanya.

"Ma…maafkan aku." Suara Kyungsoo tercekat. Dan Chanyeol baru sadar, ia baru saja membentak adik malaikatnya. Chanyeol terbiasa berteriak ketika marah, tapi di depan adiknya ia tidak pernah sama sekali. Karena hubungan mereka tidak terlalu dekat –tidak sedekat dirinya dengan Luhan- jadi komunikasi mereka terbatas, namun kini melihat wajah adiknya memucat membuat Chanyeol menghela nafas.

"Kembalilah ke kamarmu! Aku sedang tidak ingin diganggu." Ucap Chanyeol dengan suara yang kembali normal. Kyungsoo mengangguk, lalu segera berlari menuju kamarnya. Chanyeol menatap langit-langit kamarnya sambil menghela nafas untuk kesekian kalinya kurang dari 20 menit.

"Bagus. Menyakiti dua hati terlemah dalam waktu bersamaan." Chanyeol memutar bola matanya malas, ia sedang –benar-benar- tidak ingin diganggu, dan kemunculan ibunya di atas sofa di dalam kamarnya membuat Chanyeol yakin, hari ini akan berakhir dengan buruk.

"Apa semua iblis tidak peka hah?" ucap Taemin yang kini menyilangkan kedua kakinya sambil menatap putranya yang berbaring diatas ranjang.

"Diamlah! Aku sedang tidak ingin berdebat." Ucap Chanyeol malas, tidak ingin repot-repot bangun sekedar untuk melihat dan memberi hormat pada ibunya. Karena iblis memang tidak melakukannya.

"Aku hanya ingin kau tahu, bahwa kedua orang tadi hanya ingin kau peka dengan perasaan mereka. Baekhyun bersedih karena kau tidak menjelaskan perihal hubunganmu dengan Kyungsoo." Mata Chanyeol terbuka, ia baru menyadari sesuatu , ia belum menceritakan hal itu pada Baekhyun.

"Disaat seharusnya kau menjelaskan kesalahpahaman kalian, kau malah mengajaknya melanjutkan sesi percintaan kalian yang tertunda. Baekhyun pasti berpikir kau adalah lelaki yang hanya menginginkan tubuhnya."

"Aku tidak." Chanyeol bangkit dengan setengah berteriak. Taemin menaikkan satu alisnya dan menghela nafas. Chanyeol mengernyit melihat kejanggalan pada penampilan ibunya, lelaki cantik itu terlihat tidak segar seperti biasanya.

"Dan Kyungsoo. Adikmu itu hanya ingin dekat denganmu. Ratusan tahun kalian hidup bersama dan Kyungsoo bagaikan orang asing dimatamu."

"Itu karena sejak awal kami memang tidak terlalu dekat. Salahkan dirinya yang tidak memiliki sisi iblis sama sekali, jadi kami tidak bisa cocok satu sama lain." Sahut Chanyeol.

"Jika kau selalu menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi, kau tidak akan pernah tumbuh dewasa Chanyeol." Ucap Taemin dengan wajah yang serius namun terlihat tidak terlalu berminat.

Chanyeol kembali mengernyit, walau ia sangat membenci ibunya tapi ia sangat hafal dengan semua perilaku menyebalkan sang ibu. Dan melihat sikap aneh ibunya kini membuat Chanyeol kebingungan.

"Aku tidak peduli." Jawab Chanyeol tak acuh. Taemin bangkit lalu tersenyum dan kemudian menghilang.

Chanyeol terdiam, ia tak tahu entah harus bersyukur karena ibunya pergi dengan cepat tanpa beradu argumentasi, atau harus merasa kesal karena ibunya pergi begitu saja. Tapi sekali lagi iblis tidak akan pernah bersyukur.

Chanyeol baru teringat dengan ucapan ibunya perihal Baekhyun, dengan segera ia bangkit berencana untuk menemui Baekhyun dan menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi.

Saat berjalan keluar dari kamarnya, ia mendengar suara bel pintu yang ditekan berulang kali dan terburu-buru. Chanyeol berjalan dengan kesal kearah pintu dan terkejut ketika mendapati sosok Sehun dengan sudut wajah terluka dan seragam yang kotor. Chanyeol mengernyit, satu alisnya terangkat dan tangannya menyilang di depan dada.

"Ternyata kau bocah. Apa yang kau_"

"Biarkan aku masuk!" ucap Sehun dan segera menerobos masuk sebelum Chanyeol menyelesaikan pertanyaannya.

"Yak! Kau pikir kau siapa hah? Yak! Yak!" Chanyeol mengikuti sosok Sehun yang kini terduduk di sofa ruang tamunya dengan kurang ajar. Bocah itu menyandarkan tubuhnya dengan santai, sambil menaikkan kakinya keatas meja.

"Film apa yang baru kau tonton?" tanya Sehun saat melihat layar hitam dengan rentetan tulisan yang bergerak, sepertinya film yang Chanyeol tonton telah usai. Sehun meraih remote dan mengganti acara TV menjadi acara kartun, bahkan ia tertawa kecil.

Chanyeol menghela nafas lalu berdiri di samping Sehun, menendang kaki Sehun hingga tubuh bocah itu terperosot.

"Yak! Hormati tamumu!" ucap Sehun lancang. Chanyeol geram, ia menarik kerah seragam Sehun dengan satu tangan berusaha membawa tubuh itu keluar, tapi Sehun menggeliat dan berusaha melawan.

"Keluar dari apartemenku bocah ! Apa yang kau lakukan disini hah?"

"Tidak mau. Aku ingin disini. Aku tidak mau pulang." Teriak Sehun sambil memegang pinggiran sofa.

"Pulang! Jangan merepotkanku!" bentak Chanyeol masih berusaha menarik kerah Sehun.

"Tidak! Aku tidak ingin pulang dengan keadaan seperti ini, aku mohon!" Suara Sehun terdengar memelas diakhir, Chanyeol merenggangkan pegangannya.

"Kau apa?" tanya dengan satu alis terangkat.

"Aku mohon Chanyeollie!"

"Kau memanggilku apa?"

"Chanyeollie" goda Sehun.

"Hentikan! Atau aku akan benar-benar mengusirmu."

"Baiklah. Park Tower." Ucap Sehun santai lalu kembali duduk seperti semula, Chanyeol mengatupkan bibirnya rapat-rapat, berusaha menahan emosinya agar tidak menghajar sosok di depan matanya.

Setelah beberapa detik, Chanyeol memilih duduk di sofa yang berbeda dengan Sehun. Ia menatap bocah yang kini sedang memainkan remote TV nya.

"Apa yang terjadi dengan wajahmu?" tanya Chanyeol. Sehun melirik sebentar namun ia kembali menatap layar.

"Yah seperti biasa, mereka iri dengan ketampananku." Ucap Sehun santai, Chanyeol menyeringai. Bocah dihadapannya , yang pura-pura terlihat tegar adalah sosok yang lemah, Chanyeol mengetahuinya dengan jelas. Dan fakta bahwa lelaki lemah itu selalu bertindak kurang ajar dihadapannya membuat Chanyeol semakin membenci fakta yang lain bahwa bocah menyebalkan tersebut adalah putranya.

"Iri? Memangnya dirimu tampan?" sindir Chanyeol. Sehun kembali melirik, dan mengacungkan jari telunjuknya kearah Chanyeol tanpa menatap lawan bicaranya.

"Kau bahkan tidak tahu siapa yang jatuh cinta padaku."

"Aku memang tidak tahu dan tidak ingin tahu." Ucap Chanyeol sambil berdecih, lalu menatap layar TV.

"Dia guruku. Dia sangat cantik melebihi kakakku." Chanyeol menoleh, dan menaikkan satu alisnya.

"Pasti matanya buta." Gumam Chanyeol.

"Matanya sangat indah asal kau tahu Park Tower!"

"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu, bocah!"

"Kau juga harus berhenti memanggilku bocah!" Chanyeol menghela nafas untuk kesekian kalinya.

"Yak! Aku bosan Park. Kau tidak punya permainan?" tanya Sehun, Chanyeol bangkit sambil mengedikkan bahunya.

"Jika bosan, pulang sana!" ucap Chanyeol tak acuh dan berjalan kearah dapur, ia benar-benar kehausan karena menghadapi bocah menyebalkan yang tiba-tiba muncul di apartemennya.

..

.

Baekhyun berbaring di dalam kamarnya, ia tiba beberapa menit yang lalu menggunakan taksi dan kini ia memilih untuk berbaring sambil memikirkan tentang sikapnya tadi. Apakah dirinya terlalu keras dan berlebihan ataukah sikapnya pantas. Baekhyun menghela nafas sambil menutup matanya rapat.

Baekhyun merasa bersyukur hidupnya jauh membaik, sosok itu tidak pernah lagi mendatanginya,ia dipertemukan dengan Chanyeol yang begitu mencintainya, dan kini hubunganya membaik dengan Sehun, seharusnya Baekhyun mensyukuri semuanya dan tidak memaksakan apa yang jadi kehendaknya.

Tiba-tiba ia teringat dengan Sehun, ia sudah berjanji untuk merubah sikap buruknya terhadap Sehun, dan ia sedang berusaha saat ini. Ia bangkit dan berencana untuk mengajak Sehun bicara, atau paling tidak berbasa-basi mengenai kegiatannya di sekolah.

Setidaknya membuat beberapa pembicaraan singkat cukup untuk merapatkan kembali hubungan yang sempat renggang. Kaki Baekhyun melangkah menuju kamar Sehun yang berada di sebelah kamarnya, ia mengetuk beberapa kali namun tidak ada sahutan, dengan perlahan ia membuka pintu namun kosong. Baekhyun menghela nafas, mungkin Sehun ada kelas tambahan sehingga pulang terlambat.

TING TONG

Bel pintu mengalihkan perhatian Baekhyun, dengan cepat ia berjalan menuju pintu utama yang berada di lantai bawah.

"Selamat sore." Baekhyun menatap sosok di depannya lalu tersenyum.

"Oh... selamat sore."

..

.

Sehun dan Chanyeol sedang duduk di atas karpet di ruang tengah, sambil menatap TV dengan tangan bergerak cepat menekan tombol-tombol pada stick Playstation. Ya, sejak dua jam lalu mereka memutuskan untuk bertanding lewat permainan.

Chanyeol yang awalnya tentu saja menolak, akhirnya tergiur melihat bagaimana bocah kecil itu bermain dengan asyik di ruang tengahnya. Dengan cepat Chanyeol mempelajarinya, dan kini keduanya terlihat begitu serius hingga lidah mereka sesekali menjulur keluar.

" Aaaah sial!" seru Chanyeol sambil membanting sticknya ke lantai dan menepuk jidatnya. Sehun terkekeh sambil mengejek Chanyeol, ia mengangkat kedua tangannya penuh kemenangan.

"2-1 Park." Ucap Sehun bangga. Chanyeol berdecih lalu mengambil kembali sticknya. Ia menatap Sehun dengan kesal.

"Ayo buat ini menjadi menarik!" Ucap Chanyeol. Sehun menoleh sambil menaikkan satu alisnya.

"Apa? Jangan berbuat curang! Taruhan kita tetap berlaku!" ucap Sehun lagi. Sebelumnya mereka memang membuat perjanjian, jika pemenangnya boleh meminta apapun pada pihak yang kalah, dan pihak yang kalah harus mau melakukan apapun yang diperintahkan si pemenang.

"Dalam ronde ketiga ini, si pemenang mendapat dua poin. Bagaimana?" Sehun menimang-nimang ucapan Chanyeol sambil memasang wajah berpikirnya. Bibirnya ia lipat ke dalam hingga menimbulkan satu garis lurus.

"Aku setuju. Dan taruhan kita tetap berlaku?" Chanyeol mengangguk, dan Sehun kembali menatap layar. Kini kedua lelaki berbeda usia itu menatap layar dengan serius, memencet tombol-tombol secara cepat membuat karakter yang mereka pilih bertarung dalam layar TV.

"Siap-siap menerima kekalahanmu bocah!" ucap Chanyeol sambil menyeringai.

"Wow. Aku ketakutan." Sahut Sehun dengan nada mengejek.

..

.

Baekhyun duduk di atas sofanya sambil menatap sosok dihadapannya dengan wajah heran. Begitu juga dengan sosok dihadapan Baekhyun yang menatapnya sambil tersenyum.

"Hmm.. Yah! Sepertinya Sehun sedikit terlambat hari ini." Ucap Baekhyun mencairkan suasana, karena sejak beberapa jam , sejak dua cangkir teh tersaji di depan mereka, mereka hanya diam tanpa bicara dan saling menatap dengan tatapan aneh.

Luhan menatap jam di pergelangan tangannya dan menaikkan kedua alisnya.

"Sangat terlambat." Luhan mengoreksi ucapan Baekhyun. Baekhyun berdeham untuk menghilangkan kecanggungan antara mereka berdua, karena untuk pertama kalinya mereka berhadapan hanya berdua.

"Jadi. Boleh aku tahu mengenai Sehun?" ucap Luhan. Baekhyun menatap Luhan dan tersenyum kikuk. Semua orang mengenal mereka sebagai kakak dan adik, yang mana seharusnya saling mengenal dengan baik satu sama lain.

"Ten..tentang apa?" tanya Baekhyun sedikit gugup. Ia meremas jemarinya yang saling bertautan.

"Hm. Semua. Kau tahu Sehun sangat tertutup disekolah. Yah, kau mengerti kan tentang penindasan ?." Ucap Luhan seperti berbisik. Baekhyun membulatkan matanya tidak percaya, setahunya Sehun tidak pernah terlibat dalam kasus penindasan, bahkan menurut Baekhyun Sehun anak yang nakal dan suka membuat masalah.

"Mak..maksudmu Sehun di tindas?" tanya Baekhyun sambil memicingkan matanya. Luhan pura-pura terkejut.

"Kau tidak tahu? Aku pikir kalian dekat, karena alasan Sehun ditindas adalah untuk membelamu."

"Mem..membelaku?" Baekhyun sedikit tercengang.

"Hm. Teman-temannya disekolah sering menjadikanmu sebagai bahan ejekan dan Sehun akan mati-matian membelamu. Kau tahu dia bahkan pernah nyaris memukulku karena aku pikir ucapan teman-teman mereka benar tentangmu." Baekhyun menegang, entah mengapa ia merasa tidak nyaman dengan arah pembicaraan Luhan.

"Ten..tentangku?" tanya Baekhyun masih gugup. Ia meremas jemarinya semakin kencang.

"Hm.. aku tahu ini tidak sopan. Tapi teman-teman Sehun berkata bahwa kau adalah lelaki penghibur." Kelopak mata Baekhyun melebar, ia menatap lurus kearah Luhan.

"Aku sempat berpikir itu benar karena mengingat hampir semua teman-teman Sehun menjadikan itu sebagai bahan ejekan, hingga aku melihat kemarahan Sehun dan pembelaan mati-matian yang ia lakukan." Ucap Luhan, Baekhyun semakin terkejut dan Luhan memasang wajah lebih terkejut.

"Apa kau tidak tahu? Kau tidak tahu alasan Sehun pulang dengan wajah memar?" tanya Luhan tercengang, Baekhyun menggeleng pelan dan entah mengapa perasaan itu membuatnya bersalah. Ia tidak tahu, sosok yang ia benci membelanya mati-matian. Baekhyun merasa lebih baik jika Sehun membecinya juga, bukan malah membelanya.

"Oh, maafkan aku. Aku pikir Sehun menceritakan itu padamu. Mengingat betapa ia membelamu, aku pikir hubungan kalian sangatlah dekat." Ucap Luhan. Baekhyun tidak menjawab, ia menundukan arah pandangnya menatap lantai.

"Oh, sepertinya aku harus pulang. Ini sudah terlalu lama, mungkin Sehun sedang bermain disuatu tempat. Maaf telah menyita waktumu Baekhyun-sshi." Luhan melirik jam tangannya, sebelum akhirnya bangkit dan menjabat tangan Baekhyun. Baekhyun segera tersadar dari lamunannya, dan ikut bangkit dengan tatapan bingung.

Ketika pintu rumahnya tertutup, Baekhyun bersandar di daun pintu. Entah mengapa kakinya terasa begitu lemas, perasaan bersalahnya menyelimuti seluruh tubuhnya dan itu membuat tubuhnya semakin terasa berat, bahkan sulit untuk berpijak dengan benar.

"Ma..maafkan aku Sehun." Baekhyun terisak, air matanya turun tanpa ia sadari, entah mengapa jantungnya seperti ditusuk oleh ribuan jarum untuk kesekian kalinya.

Luhan menoleh kebelakang, dan ia tersenyum menatap pintu rumah kediaman Byun yang telah tertutup. Ia mendongak menatap langit dan tersenyum.

"Akhirnya hari ini tiba, Sehun-ah kau akan mendapatkan kebahagiaanmu seperti janjiku." Gumam Luhan sebelum akhirnya berjalan menuju mobilnya yang terparkir di depan rumah keluarga Byun.

..

.

"Hahahaha… ini menyenangkan." Ucap Sehun sambil menatap banyak piring makanan di depannya. Ia berhasil memenangkan permainan dan juga taruhan konyol yang mereka buat.

Chanyeol bersandar pada kursi restaurant dan menatap sosok bocah menyebalkan di depannya dengan wajah kesal. Sehun terlihat bahagia sambil menatap lapar pada seluruh hidangan mahal yang berada di depan matanya.

"Hidupku benar-benar indah." Ia kembali tertawa, lalu mulai memakan semua hidangan itu dengan lahap. Chanyeol mengernyit jijik sambil meminum anggurnya.

Satu jam berlalu, dan Sehun bersandar pada kursi sambil memegang perutnya yang kekenyangan.

"Aaaahhh! Ini sungguh lezat, sayang sekali kau tidak ingin bergabung." Ucap Sehun sambil melirik Chanyeol yang hanya menatapnya jijik sejak tadi.

"Tidak terima kasih. Sekarang ayo pergi!" ucap Chanyeol. Sehun berdecak, lalu segera bangkit dengan sedikit kesusahan, mengambil tas ranselnya dan berjalan mengikuti Chanyeol.

Chanyeol yang seharusnya terlihat tampan dengan setelan kaos hitam dibalut jaket kulit , dan celana jeans panjang membalut kaki jenjangnya malah terlihat konyol karena membawa seorang bocah menengah pertama dengan seragam berantakan dan wajah tidak bersahabat.

"Ayo pulang!"

"Pulang?" Sehun menghentikan langkahnya ketika mereka sampai di parkiran restaurant. Chanyeol menoleh sambil menaikkan satu alisnya.

"Tidak."

"Apa?" Chanyeol nampak tidak terima, sementara Sehun menempatkan kelima jarinya di depan wajah Chanyeol, memintanya untuk berhenti bicara.

"Bukankah perjanjian kita, yang kalah mengikuti perintah yang menang? Dan aku yang menang disini."

"Tidak perlu mengingatkan . Aku sudah tahu." Sahut Chanyeol malas.

"Tapi, kau baru saja merampas uangku dengan memesan seluruh makanan mahal itu." Ucap Chanyeol lagi. Sehun mengedikkan bahunya.

"Kau kaya. Dan hal itu tidak akan membuatmu miskin. Dengar! Itu baru yang pertama."

"Yang pertama?" Chanyeol mengangkat satu alisnya.

"Benar. Aku masih memiliki Sembilan permintaan lagi." Chanyeol mendengus.

"Jangan bercanda!"

"Aku tidak." Sahut Sehun dengan wajah serius, Chanyeol menatap Sehun tidak percaya.

"Kau serius?" tanya Chanyeol dengan wajah terkejutnya.

"Ya. Tentu ." Sahut Sehun sambil mengedikkan bahunya dan memakai helm lalu naik keatas motor Chanyeol.

"Naiklah Park! Kita akan melakukan kegiatan kedua. Atau kau mau aku mengundurnya sehingga waktu hukuman ini semakin lama?" tanya Sehun. Chanyeol berdecih lalu memakai helmnya dan segera naik ke atas motornya.

..

.

Kyungsoo terbangun dari tidurnya, ia berjalan keluar kamar dan tidak menemukan siapapun. Perutnya kelaparan dan ia memutuskan untuk berjalan kearah balkon, untuk memetik beberapa tanaman yang sudah terlepas dari tangkainya.

Malaikat tidak boleh merusak, sehingga mereka hanya memakan apa yang telah terlepas dari tangkainya , tapi bunga-bunga itu tidak akan layu karena bunga-bunga itu memiliki keajaiban.

Kyungsoo mengambil sebuah keranjang kecil, dan dengan mata sedikit mengantuk membuka pintu yang membatasi antara ruang tengah dan balkon. Ia sedikit menunduk untuk memungut beberapa tangkai bunga dan tumbuhan yang terjatuh di atas lantai kayu balkonnya.

Dari balkon lain di seberang balkon tempat Kyungsoo berdiri, terlihat sosok yang sedang berdiri dengan hanya mengenakan celana jeans pendeknya dan menguap dengan lebar, bahkan ia membentangkan tangannya.

Ia melakukan sedikit peregangan dan ketika memutar tubuhnya ia dikejutkan dengan sosok yang ada di depan matanya.

"Hei! Hei!" panggilnya, tapi Kyungsoo tidak mendengar.

"Hei!" Kyungsoo menegakkan tubuhnya dan melihat sekeliling sampai matanya tertuju pada sosok yang tengah melambai padanya.

"Kau tinggal disini?" tanya sosok itu. Kyungsoo terdiam sebelum akhirnya mengangguk pelan.

"Apa yang kau lakukan?" tanya sosok itu lagi, Kyungsoo mengangkat keranjangnya.

"Memanen bunga." Sahutnya lembut.

"Boleh aku kesana?" tanya sosok itu lagi, Kyungsoo maju selangkah dan melihat kebawah lalu kembali menatap sosok dihadapannya. Jarak antara balkon mereka cukup jauh.

"Kau bisa terbang?" sosok itu tercengang sebelum akhirnya menggeleng sambil tersenyum kikuk lalu menunjuk ke dalam apartemennya dengan ibu jari.

"Aku akan lewat depan." Ucap sosok itu dan segera berlari ke dalam apartemenya. Kyungsoo mengedikan bahu, lalu memilih masuk ke dalam rumah.

Ketika ia berjalan menuju ruang tengah, ia mendengar bunyi bel pintu. Ia segera berjalan mendekat dan membuka pintu itu, menampilkan sosok lelaki dengan baju rajut berwarna biru tua, dan celana jeans pendek, serta rambut yang lebih tertata daripada tadi.

"Boleh aku masuk?"

"Silahkan." Ucap Kyungsoo memberi jalan. Sosok itu masuk dan cukup tercengang dengan isi dari dalam apartemen itu, karena demi apapun barang-barang yang ada disana adalah barang-barang paling mewah.

"Kau tinggal disini?" tanya sosok itu yang kini berbalik sambil tersenyum.

"Hm."

"Sendiri?"

"Tidak."

"Dengan kedua orangtuamu?"

"Tidak."

"Lalu?"

"Dengan kakakku." Ucap Kyungsoo lagi. Lelaki itu ber-oh sambil berjalan memasuki ruang tamu, dan ia menganggukan kepalanya sejenak.

"Oh, kau mungkin lupa denganku, wajahmu seperti kebingungan." Ucapnya. Kyungsoo menggeleng sambil ikut duduk dihadapan tamunya.

"Tidak aku ingat. Kau lelaki di kantin itu kan? Yang berkata bahwa aku adalah vegetarian? Lelaki Omnivora." Ucap Kyungsoo. Lelaki itu mengernyit dengan satu alis terangkat.

"Om..omnivora?" tanyanya.

"Ya, aku vegetarian karena hanya memakan sayuran dan kau omnivora karena memakan segalanya." Sosok itu tertawa canggung.

"Tapi omnivora hanya sebutan untuk binatang."

"Benarkah?" tanya Kyungsoo dengan wajah polosnya.

"Hm aku Jongin. Kim Jongin. Kau?"

"Kyungsoo."

"Just Kyungsoo?"

"No. Iam Park Kyungsoo." Sahut Kyungsoo.

"Wow, Bahasa Inggrismu lumayan." Ucap Jongin.

"Tidak. Itu hanya dasar, aku mempelajarinya sebelum datang ke bumi." Kembali alis Jongin terangkat.

"Maksudmu Korea? Aku dengar kau pindahan dari luar negeri? Darimana ?"

"Nubes."

"Hah?"

"Hmm.. maksudku Kanada." Sahut Kyungsoo mengoreksi dirinya yang kelepasan, untung wajahnya terlihat tenang jadi Jongin tidak mencurigainya.

"Keren. Bagaimana rasanya tinggal disana?"

"Dimana?"

"Di Kanada tentu saja."

"Aku tidak tahu." Sahut Kyungsoo. Jongin kembali mengernyit, mungkin jika itu orang lain ia akan menganggap orang dihadapannya aneh, tapi karena itu adalah Kyungsoo, ia menganggap sosok dihadapannya lucu dan menggemaskan.

"Hm.. kau tidak berjalan-jalan disana?" tanya Jongin lagi.

"Iya, aku melakukannya. Aku berjalan-jalan di taman bunga di belakang kamarku." Ucap Kyungsoo, Jongin kembali kebingungan dan ia tersenyum canggung.

"Wow.. kau tipikal anak rumahan benar? Aku menyukainya. Lalu apa yang membawamu kemari?" tanya Jongin.

"Aku ingin belajar." Sahut Kyungsoo tenang.

"Belajar? Bukankah sistem pembelajaran disana jauh lebih baik? Memangnya apa yang ingin kau pelajari? Mungkin aku bisa membantumu." Kelopak mata Kyungsoo membesar, ia mencondongkan tubuhnya.

"Benarkah? Kau bisa membantuku?"

"Hm, akan aku usahakan demimu. Apa yang ingin kau pelajari? Aku pandai bermain basket, aku juga bisa menari, aku bisa mengajari budaya disini, aku pandai meracik minuman, dan masih banyak lagi yang bisa aku lakukan. Jadi kau mau aku ajari apa?" tanya Jongin sambil tersenyum dengan bangga.

"Ajari aku bagaimana caranya jatuh cinta."

"Oh tentu ak_tunggu! Apa?" Jongin mendelikkan matanya tidak percaya dengan ucapan Kyungsoo.

..

.

Sehun menatap kedepan dengan wajah seriusnya, sementara Chanyeol berada dibelakangnya. Mereka masih duduk diatas motor di sebuah jalanan yang sangat sepi dan cukup gelap.

Chanyeol menarik gas motornya beberapa kali, hingga menimbulkan bunyi deruman yang keras. Matanya terfokus ke depan,dengan Sehun yang duduk didepannya.

Permintaan kedua Sehun adalah melakukan kebut-kebutan dijalanan yang sepi, sejak lama Sehun selalu memimpikan ini namun ia tidak pernah melaksanakannya, selain karena ia tidak berani meminta motor, usianya juga belum mencukupi untuk itu.

"Siap Park?" ucap Sehun.

"Seharusnya aku yang bertanya bocah."

"Aku selalu siap untuk ini."

Dan,

BROOOOM

Motor Chanyeol melaju dengan kencang, Sehun sedikit merendahkan tubuhnya, menempel pada bagian depan motor sehingga pandangan Chanyeol tidak akan terhalangi oleh tubuhnya. Sehun bersorak keras ketika kecepatan motor Chanyeol diatas rata-rata. Mereka tidak akan menganggu siapapun, karena jalanan yang dipilih Chanyeol berada di pesisir kota, dan jauh dari keramaian.

"WO-HOO! Lebih cepat Park!"

"Berisik!" dan kecepatan Chanyeol semakin bertambah membuat Sehun berpegangan erat pada bagian pinggir motor Chanyeol, tapi tetap bersorak senang. Semakin lama motor itu semakin melamban, hingga akhirnya berhenti dan menepi di pinggir jalan.

"Kau puas?"

"Of course." Ucap Sehun senang.

"Ini hebat kau tahu? Aku selalu memimpikan ini." Ucap Sehun lagi.

"Kenapa tidak melakukannya?" tanya Chanyeol.

"Pertama aku tidak punya motor dan aku tidak berani memintanya pada ibu, kedua Baekhyun hyung bukan tipikal yang menyukai kebut-kebutan, dan ketiga yah mungkin karena aku tidak memiliki ayah yang bisa aku ajak untuk melakukan hal seseru ini." Ucap Sehun, wajah Chanyeol mendadak berubah namun Sehun tidak menyadarinya.

"Kau tahu Park?" pertanyaan Sehun menyadarkan Chanyeol.

"Ternyata kau tidak buruk juga, awalnya aku membencimu karena kau bisa dekat dengan Baekhyun hyung, tapi setelah aku pikir-pikir kau tidak buruk juga. Senang bisa mengenalmu." Ucap Sehun dan Chanyeol tercengang. Entah mengapa ucapan Sehun menggelitik hatinya, dan itu terdengar sedikit tulus walau keluar dari mulut bocah menyebalkan seperti Sehun.

"Aku berharap kau benar-benar orang yang terbaik untuk hyungku." Ucap Sehun lagi, Chanyeol menyeringai lalu mengacak rambut Sehun.

"Yah, jika aku seharusnya berada di rumahmu untuk menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi diantara kami, bukan malah menemani bocah menyebalkan sepertimu." Ucap Chanyeol, Sehun berbalik dan mata mereka bertatapan. Chanyeol sedikit tersentak melihat sorot mata Sehun, yang sekilas terdapat gradasi api di dalamnya.

"Kalian bertengkar?"

"Tidak juga."

"Awas saja kau membuat Baekhyun hyung menangis, aku tidak akan memaafkanmu Park." Ucap Sehun dengan wajah serius. Chanyeol kembali dikejutkan dengan gradasi mata Sehun yang membara.

"Yak! Cepat pindah, jika tidak ingin hyungmu menangis." Ucap Chanyeol sambil menarik tangan Sehun agar turun. Sehun melompat kecil dari atas motor, hendak berpindah kebelakang, sebelum cahaya mobil yang melintas menyilaukan mata mereka.

Awalnya Chanyeol pikir mobil itu hanya lewat, namun ketika melihat mobil itu berhenti di belakang mereka, Chanyeol menoleh dan ia memutar bola matanya malas.

"Waaahh.. waaah.. Park Chanyeol, dan siapa ini?" Itu Taeyang, ketua macan Timur yang keluar dari dalam mobilnya. Chanyeol turun dari motornya dan berbalik, berdiri disamping Sehun yang masih berdiri disisi trotoar.

"Park Chanyeol si murid baru yang tidak terkalahkan, sebuah kehormatan bertemu denganmu." Taeyang merendahkan tubuhnya dan memberi hormat seperti tata krama kerajaan Inggris. Chanyeol berdecih melihat betapa berlebihan dan konyolnya si ketua yang dianggung-agungkan sekolah.

Chanyeol melirik tiga orang lain yang memilih berdiri di sisi mobil. Chanyeol tahu itu adalah anggota geng dari kelompok Macan Timur atau apalah itu.

"Bagaimana kalau kita bersenang-senang? Kebetulan kami sedang merayakan kejatuhan Serigala Barat." Ucap Taeyang. Chanyeol menatap Taeyang lalu berdecih, membuat senyum diwajah Taeyang sejenak lenyap.

"Aku memiliki urusan yang lebih penting." Ucap Chanyeol, ketika ia hendak berbalik pundaknya di tahan.

"Oh, sepertinya kau sedang menjadi pengasuh dari bocah ini." Sehun maju selangkah sambil mengepalkan jemarinya kuat, Chanyeol bisa merasakan aura iblis Sehun yang menguar.

"Sehun! Kita pulang."

"Tidak. Kita harus memberi pelajaran pada mereka Park." Ucap Sehun, Chanyeol memutar bola matanya malas, ia menepis tangan Taeyang yang ada di pundaknya, lalu mencoba menarik tubuh Sehun yang membeku.

"Lihat! Bocah berani ini memiliki wajah mirip sepertimu. Apa kalian bersaudara?" Taeyang mengelus pipi Sehun, tapi Sehun menepisnya.

"Wow, bocah sialan ini." Taeyang mencengkram kedua pipi Sehun dan mendongakkan wajahnya, Chanyeol menoleh dan menahan tangan Taeyang, sebelum Sehun lepas kendali dan merubah wujudnya.

"Hentikan! Jangan ganggu dia! Dan biarkan kami pergi." Ucap Chanyeol sambil menarik Sehun, Sehun membalik tubuhnya dan berjalan dengan perlahan menuju motornya.

"Kau kira bisa semudah itu pengecut?" Sehun berbalik kesal, tapi Chanyeol menahannya.

"Jangan larang aku Park!" bentak Sehun. Chanyeol menatap mata Sehun yang sudah penuh dengan amarah.

"Aku tidak melarangmu, tapi mari lakukan bersama." Sehun tersenyum dan begitu pula Chanyeol, dengan cepat memberikan sebuah tendangan membuat Taeyang mundur beberapa langkah dan ketiga temannya yang bertubuh besar maju. Taeyang bersandar pada mobilnya sambil memegang dadanya yang terasa nyeri. Ia memberikan perintah pada ketiga temannya dengan mengibaskan tangannya ke depan.

"2:1. Untukku " Ucap Chanyeol sambil berdiri menghadap tiga lelaki yang berjalan bak model.

"Apa? Tidak. Aku dua kau yang satu."

"Jangan terlalu percaya diri bocah!"

"Jangan meragukanku Park. Bagaimana dengan 1 ½ :1 ½ ?" Chanyeol mengangguk dan segera bergerak ketika ketiga orang itu sudah dekat. Sehun melompat dan memberikan tendangan, Chanyeol memukul dengan kekuatan penuh, hanya tenaga biasa, karena tenaga iblisnya masih disita.

Perkelahian kecil itu berakhir dengan ketiga musuh berbadan besar mereka, terlumpuhkan diatas tanah. Chanyeol bangkit dari perut salah satu korbannya, mengelus kepalanya pelan sebelum memberi pukulan akhir. Begitu juga Sehun yang juga menduduki dua perut musuhnya, lalu membenturkan kepala mereka bersamaan dan bangkit.

"Menjauhlah dariku!" ancam Chanyeol pada Taeyang yang menatapnya dengan tatapan datar.

"Dengarkan itu Tuan sok hebat!" ucap Sehun lalu membuat gerakan menusuk kedua matanya dengan dua jari lalu mengarahkannya ke Taeyang, seolah berkata 'Aku mengawasimu bajingan' dan setelahnya berbalik mengikuti Chanyeol.

Motor mereka melesat dengan cepat dan segera menuju jalanan yang lebih ramai.

"Wow, tadi itu keren Park. Aku menyukainya." Ucap Sehun.

" .ya dan sekarang waktunya mengantar bayi besar untuk tidur dan meminum susunya."

"Yak" Sehun memukul perut Chanyeol keras, membuat motor itu sempat oleng.

..

.

Jongin mengedipkan matanya beberapa kali, sambil menatap Kyungsoo yang tersenyum kearahnya.

"Ja..jatuh cinta?"

"Hm. Aku ingin kau mengajariku bagaimana rasanya jatuh cinta, kau mau kan?" tanya Kyungsoo, Jongin menggaruk kepala bagian belakangnya. Ia tidak siap untuk ini, karena baginya ini terlalu cepat.

"Apa kau baru saja mengajakku berkencan?"

"Berkencan?"

"Hm, menjalin sebuah hubungan."

"Apa itu perlu?" tanya Kyungsoo bingung.

"Tentu, untuk merasakan cinta. Dua orang yang terlibat harus menjalin sebuah hubungan."

"Hubungan seperti apa?"

"Kekasih."

"Kekasih? Itu berarti kita kekasih sekarang?" Mata Jongin kembali melebar, bibirnya kelu hanya untuk membalas pertanyaan Kyungsoo.

"I..itu pun jika kau tidak keberatan."

"Tentu tidak, selama kau mengajariku apa itu jatuh cinta." Jongin tersenyum melihat betapa lugunya seorang Kyungsoo. Tentu Jongin pernah bertemu banyak orang yang memiliki sifat bermacam-macam, bahkan beberapa mantan kekasihnya yang ia terima karena rasa kasihan memiliki sifat yang nyaris berbeda satu sama lain, tapi ia tidak pernah bertemu dengan yang unik seperti Kyungsoo. Polos, naif, lugu, tulus, apa adanya, menggemaskan dan mengagumkan.

Si brengsek Jongin akan mengubah namanya menjadi si menggelikan Jongin, karena ia yang pada dasarnya tidak pernah serius pada hal apapun kecuali basket, tersipu malu hanya karena seorang Kyungsoo mau menjadi kekasihnya. Benar-benar menggelikan. Jika sahabatnya, Cheondong tahu maka Jongin akan berakhir menjadi bahan ledekan, tapi setelah dipikir-pikir sahabatnya itu wajib tahu, bahwa Jongin telah mendapatkan cinta pertamanya.

"Tentu. Aku akan membuatmu jatuh , jatuh, jatuh cinta lagi dan lagi padaku. Aku berjanji Kyungsoo." Ucap Jongin sambil tersenyum senang.

"Sekarang berikan aku sebuah pelukan." Ucap Jongin sambil membentangkan tangannya, Kyungsoo bangkit dan hendak memeluk sebelum gerakanya terhenti.

"Hyung melarangku memeluk orang lain."

"Hei! Aku bukan orang lain aku kekasihmu."

"Apa itu berarti boleh?"

"Hm." Dan Jongin terkejut merasakan betapa hangat, lembut dan wanginya tubuh seorang Park Kyungsoo. Seolah-olah ia sedang memeluk seorang malaikat yang jatuh dari langit, seandainya Jongin tahu.

"Kyungsoo, apa kau seorang malaikat yang jatuh dari langit?" bisik Jongin di tengah pelukannya, tidak ingin melepaskan tubuh Kyungsoo.

"Tidak aku tidak jatuh. Ibu yang membawaku kesini." Dan sekali lagi Jongin tertawa, menganggap bahwa selera humor kekasihnya begitu tinggi. Pelukan Jongin semakin erat dan ia menyukainya.

..

.

Sehun dan Chanyeol berjalan kearah pintu rumahnya sambil sesekali membuat candaan, hanya Sehun yang bicara karena Chanyeol memilih diam sambil memikirkan kata apa yang akan ia ucapkan pada Baekhyun.

"Kau tahu, aku ingin merasakannya lagi dan… aku pulang." Ucap Sehun ketika pintu terbuka.

Sehun berjalan beriringan dengan Chanyeol menuju ruang tengah, dan disana sudah duduk ibu dan kakaknya yang seperti terlibat percakapan serius.

"Aku pulang." Ucap Sehun lagi membuat kedua orang itu menoleh, Baekhyun bangkit dengan wajah terisak, lalu merentangkan tangannya.

"Sehun." Ia memeluk Sehun erat, membuat Sehun tersentak kaget.

"Hyu…hyung? A..ada apa?" tanya Sehun bingung, Baekhyun menjauhkan tubuhnya ia menatap wajah Sehun dengan sedikit merendahkan tubuhnya, Sehun terkejut melihat mata kakaknya basah dengan air mata.

"Maafkan aku Sehun, maaf karena sudah berlaku tidak adil padamu. Maaf karena membencimu, aku bodoh Sehun, kau pantas menghukummu, karena aku telah menghukum anak yang tidak berdosa sepertimu." Baekhyun kembali terisak. Sehun meraih wajah Baekhyun dan mengusap air matanya. Entah mengapa mata Sehun berkaca-kaca, ia menatap Baekhyun.

"Aku tidak pernah membencimu hyung, aku menyayangimu seperti ibuku sendiri." Ketiga orang dewasa di ruangan itu tercekat, sebelum ucapan Sehun kembali mengalihkan.

"Ditubuhku mengalir darahmu, kita terikat dan kita terhubung. Sebenci apapun dirimu padaku, aku akan tetap menyayangimu. Kita terikat dalam takdir yang rumit, dan aku tidak pernah membenci kenyataan itu. Aku merasa…. Aku merasa…" Sehun terisak, ia menarik nafas dalam.

"Aku merasa seolah kau orang yang melahirkanku. Ini terdengar konyol mengingat kau lelaki, tapi perasaan itu terasa nyata. Seolah nafasmu berada dalam tubuhku, untuk itu aku tidak akan pernah bisa membencimu, karena kau adalah… kau adalah kakakku." Ucap Sehun diakhir, ia meluapkan seluruh emosinya dengan terisak. Tapi ia masih bisa mengendalikan dirinya untuk tidak membongkar apa yang telah ia ketahui.

Baekhyun menegakkan tubuhnya, ia memeluk Sehun menenggelamkan kepala Sehun pada tengkuk lehernya. Baekhyun menangis, air matanya mengalir melewati pipinya. Matanya tertutup untuk merasakan betapa hangatnya tubuh Sehun, putranya.

Mata Baekhyun terbuka ketika sebuah jemari mengusap pipinya. Itu Chanyeol yang kini tengah bergabung bersama dirinya dan Sehun. Baekhyun sampai tidak menyadari kehadiran sosok kekasihnya. Baekhyun menatap Chanyeol dengan matanya yang basah dan sembab.

"Kau lupa? Betapa aku membenci dirimu yang menangis?" ucap Chanyeol sambil menatap ke dalam mata Baekhyun, menempatkan jemari tangan kanannya di pipi basah Baekhyun.

"Aku akan menyesali setiap air mata yang kau keluarkan Baek." Gumam Chanyeol, Baekhyun tersenyum, Chanyeol juga ikut tersenyum ia mendekatkan wajahnya pada wajah Baekhyun dan mengecup kening Baekhyun dengan sayang.

"UGH" Chanyeol menggeram ketika perutnya terasa nyeri akibat sikuan Sehun.

"Kau merusak momenku dan Baekhyun hyung, Park." Ucap Sehun kesal, sebenarnya ia hanya bercanda.

"Aku hanya tidak suka melihat bocah menyebalkan sepertimu menangis terisak seperti itu, itu terlihat… menggelikan." Sehun mendorong tubuh Chanyeol dan melepaskan pelukannya pada Baekhyun.

"Wow, aku seperti baru saja melihat sebuah figura keluarga kecil yang bahagia." Kibum bangkit sambil terharu, ia menghapus air matanya sambil memandang takjub pada tiga sosok di depanya.

"Ibu hentikan!" ucap Sehun lalu menjauhkan dirinya, tidak ingin terdesak antara tubuh Chanyeol dan Baekhyun.

"Ibu tidak bercanda, kalian benar-benar seperti…" Kibum bahkan tidak bisa melanjutkan ucapannya.

"Aku tidak sudi harus memiliki ayah seperti si Park Tower ini." Ucap Sehun sambil berjalan menaikki tangga.

"Aku juga tidak sudi memiliki anak menyebalkan sepertimu."

"Terserah, yang jelas kau masih berhutang 8 padaku Park." Ucap Sehun lalu menghilang di anak tangga teratas. Baekhyun dan Kibum saling melempar senyum lalu menggeleng pelan.

"Ah, sepertinya ada yang membutuhkan waktu untuk bicara, ibu harus ke kamar dan beristirahat." Ucap Kibum lalu berlalu meninggalkan Baekhyun dan Chanyeol yang terlibat suasana canggung.

"Hm, ada yang ingin aku katakan. Kyungsoo adalah adikku, aku benci mengatakan ini tapi yah, dia adikku. Kami terlahir dari rahim yang sama, sayangnya. Dan memanggil orang yang sama dengan sebutan ibu, hanya saja kami memiliki perbedaan yang mencolok. " Ucap Chanyeol dengan wajah malas, Baekhyun tersenyum lalu mengelus pipi Chanyeol.

"Untuk masalah ini aku tidak akan memperpanjangnya, apa yang terjadi antara kita karena salah paham. Ibu berkata bahwa kita hanya kurang komunikasi."

"Ibuku juga mengatakan hal yang sama." Chanyeol mengedikkan bahunya.

"Seharusnya aku bisa menebaknya sejak awal, seharusnya aku tidak langsung cemburu dan meninggalkanmu."

"Kau cemburu?" tanya Chanyeol. Baekhyun tersentak sebentar, baru menyadari ucapannya barusan.

"Hmm.. a..aku."

"Aku suka. Cemburulah Baek, itu berarti kau benar-benar mencintaiku." Ucap Chanyeol lalu menarik tubuh Baekhyun ke dalam pelukannya. Baekhyun tersenyum dalam pelukan Chanyeol, dan ketika wajahnya diangkat ia mendongak.

"Sepertinya ada hal tertunda yang belum terselesaikan." Ucap Chanyeol sambil menyeringai, Baekhyun menatap Chanyeol dengan mata berkedip berulang.

Sebelum akhirnya Chanyeol mengangkat tubuh Baekhyun, membuat lelaki mungil itu memekik dan dengan cepat melingkarkan kakinya di pinggang Chanyeol.

"Apa adegan drama tadi membuatmu hilang ingatan?" tanya Chanyeol. Ia segera mendekatkan wajahnya dan membuat kedua bibir itu kembali bertautan. Sambil menyangga tubuh ringan Baekhyun, Chanyeol mempermainkan lidah Baekhyun dengan miliknya.

"Sebaiknya kali_oh astaga! Sedikit mengingatkan jika dirumah ini ada anak dibawah umur. Get Your room please!" ucap Kibum yang mendadak muncul, dengan niat awal ingin meminta Baekhyun dan Chanyeol untuk makan malam diluar karena dirinya terlalu lelah untuk memasak. Pekerjaan kantor membuat tubuhnya lelah, tapi untungnya kejadian beberapa saat lalu membuat hatinya bahagia. Karena kebahagiaan utamanya adalah melihat anak dan cucunya juga bahagia.

Chanyeol melepaskan ciumannya dan tersenyum kearah Kibum, sementara Baekhyun merona.

"Baik bi, aku akan segera ke kamar Baekhyun, dan jangan ganggu kami dengan minuman aneh ataupun segelas susu, karena aku rasa kami membutuhkan waktu yang cukup lama." Ucap Chanyeol sambil membalik tubuhnya.

"Aku tahu. Tapi jangan berisik, apalagi Sehun berada di sebelah kamar Baekhyun."

"Tentu."

"Dan jangan terlalu lama, besok kalian harus sekolah."

"Tenang bi." Ucap Chanyeol lalu membawa Baekhyun menaikki tangga, dengan wajah saling berpandangan, mengabaikan Kibum yang hanya bisa menggeleng melihat perilaku putra dan kekasih putranya.

Chanyeol membawa tubuh Baekhyun ke dalam kamar, menutup pintu dengan kakinya lalu segera membaringkan tubuh kekasihnya diatas ranjang. Baekhyun tersenyum melihat bagaimana wajah Chanyeol yang berada diatasnya.

Chanyeol melepas jaket dan kaosnya yang sangat menganggu, lalu kembali menindih Baekhyun. Ciuman lembut dan menuntut itu tak terelakan, Baekhyun menutup matanya merasakan betapa hangatnya bibir Chanyeol.

Jemari Chanyeol bergerak menyingkap kaos Baekhyun dan mempermainkan kedua putting yang mencuat itu. Sambil bibirnya yang mulai bergerak kearah leher putih Baekhyun, desahan Baekhyun terdengar tertahan karena ia tidak ingin mengotori pikiran Sehun.

Bibir Chanyeol berpindah menuju tulang selangka Baekhyun, menyedot kuat permukaan kulit Baekhyun, sebelum akhirnya berpindah ke kedua putting Baekhyun. Satu putting dihisap oleh Chanyeol seperti bayi kelaparan, dan satu putting lagi di pelintir oleh tangan kirinya. Baekhyun merintih dan menggeram, sentuhan Chanyeol sungguh membuatnya mabuk.

"Hhmm… Chan…aahhh.." desah Baekhyun sekecil mungkin, Chanyeol membecinya karena ia berharap suara desahan Baekhyun memenuhi ruangan kecil itu.

Hisapan-hisapan Chanyeol semakin kuat, Baekhyun meremas kedua sisi rambut Chanyeol dengan mata tertutup dan bibir yang ia gigit. Chanyeol menyeringai dalam hisapannya, ia benar-bena tidak sabar untuk menikmati tubuh memabukkan seorang Byun Baekhyun.

TOK TOK TOK

Sebelum mimpi buruk itu datang.

TOK. TOK, TOK

"Yak Park! Buka pintunya!"

Chanyeol tidak peduli, ia kembali melanjutkan kegiatannya meski telinganya mampu mendengar ketukan keras itu.

"Yak! Park Chanyeol! Buka pintunya!" bentak Sehun dari luar.

"Aaargghh." Chanyeol bangkit dengan cepat, dan berjalan kearah pintu tanpa menggenakan bajunya. Ia membuka pintu dengan lebar, lalu menyilangkan kedua tangannya didepan dada.

"Apa yang kau inginkan bocah?" tanya Chanyeol ketus. Sehun tidak menjawab, ia segera masuk sambil memeluk bantalnya. Baekhyun segera merapikan pakaiannya dan memperbaiki posisi tidurnya.

"Aku ingin tidur disini." Ucap Sehun sambil berbalik menatap Chanyeol setelah melempar bantalnya keatas kasur.

"Apa? Tidak. Kau tidak bisa."

"Kenapa? ini rumahku, seharusnya kau yang tidak tidur disini."

"Apa? Kau!" Chanyeol geram, ia berjalan mendekat kearah Sehun. Sehun mengacungkan delapan jari tangannya, lalu melipatnya satu.

"Tujuh, aku masih memiliki tujuh hak. Aku menggunakan yang ketiga untuk ini, walaupun seharusnya aku tidak menggunakannya, karena Baekhyun kakakku dan ini rumahku. Tapi, yah aku berbaik hati." Ucap Sehun, Chanyeol menatap Sehun kesal dan ia mendekat kearah bantal Sehun dan melemparnya ke lantai.

"Terserah bocah tengik, tapi kau tidur di bawah." Ucap Chanyeol lalu berbaring diatas ranjang, disamping Baekhyun yang hanya menggeleng melihat kedua sosok di depannya, ia tidak bisa membela salah satunya.

"Enak saja. Aku ditengah." Ucap Sehun lalu memaksa membuat celah untuk tubuhnya diantara Baekhyun dan Chanyeol, membuat Chanyeol dengan terpaksa menggeser tubuhnya. Lelaki tinggi itu mengerang kesal melihat Sehun yang memeluk tubuh Baekhyun.

Sehun tersenyum dalam hati, ia baru saja membuat Chanyeol merasakan apa yang pernah ia rasakan, tapi ia tidak serius untuk itu ia hanya menyukai untuk mengerjai dan membuat lelaki tinggi itu kesal, karena itu hiburan tersendiri untuk Sehun.

Baekhyun mengelus pucuk kepala Sehun yang sudah memejamkan matanya, dan sesekali melirik Chanyeol yang menatap langit-langit kamar.

"Chanyeol?" panggil Baekhyun. Chanyeol menoleh dengan wajah malasnya.

"Dia hanya anak kecil, aku harap kau tidak marah." Ucap Baekhyun. Chanyeol memutar bola matanya malas.

"Aku ingin mencekiknya ketika dia tidur, aaakhhh!" Chanyeol memekik ketika merasakan tendangan pada tulang keringnya. Sehun si pelaku nampak pura-pura tertidur dengan wajah tersenyum sambil memeluk tubuh Baekhyun.

"Aaarrgghh awas kau bocah iblis." Gumam Chanyeol dan Sehun tersenyum lebih lebar lagi.

"Park tepuk pantatku hingga aku tertidur" ucap Sehun.

"Jangan bermimpi!" ucap Chanyeol kesal.

"Hyung, aku pikir hyung harus mencari lelaki yang jauh lebih baik daripada si Park ini, karena_" ucapan Sehun terhenti, ia kembali tersenyum ketika merasakan tepukan yang cukup keras pada pantatnya.

"Lebih pelan Park!" ucap Sehun dalam tidurnya, Baekhyun mengelus sekali lagi kepala Sehun, lalu beralih untuk mengelus rambut Chanyeol, membuat lelaki itu menoleh. Baekhyun tersenyum lembut, membuat kekesalan Chanyeol hilang seketika apalagi ketika Baekhyun mengucapkan kata 'Aku mencintaimu' tanpa suara, membuat Chanyeol semakin senang.

Lelaki tinggi itu merubah posisinya menjadi menyamping dengan satu tangan menepuk pantat Sehun dan satu tangan lagi ia gunakan untuk menyangga kepalanya, yang kini bergerak untuk mengecup bibir Baekhyun.

Baekhyun menaikkan sedikit tubuhnya agar Chanyeol dengan leluasa bisa memberikan ciuman padanya, dan kecupan itu berubah menjadi sebuah lumatan yang semakin lama menjadi ciuman menuntut.

Sehun mengintip dalam tidurnya, dan ia kembali tersenyum'

"Yak! Jauhkan tubuhmu Park! Aku kepanasan." Ucap Sehun sambil mendorong tubuh Chanyeol, membuat ciuman mereka terlepas. Chanyeol menggeram dan menepuk keras pantat Sehun, membuat bocah itu sedikit meringis.

"Lakukan dengan benar, atau putuskan hyungku!" ancam Sehun dan Chanyeol menggeram kesal. Bocah dihadapannya sungguh-sungguh membuatnya naik pitam, dan kenyataan bahwa sosok itu adalah putranya semakin menambah kekesalannya.

Malam itu mereka habiskan untuk berdebat, dan Chanyeol yang menggeram kesal hingga akhirnya ketiganya berakhir dengan menutup mata mereka yang lelah.

..

.

Baekhyun berdiri di ambang pintu sambil menatap dua orang lelaki yang berbaring diatas kasurnya. Mereka terlihat lucu dengan bagian tubuh saling menindih bagian tubuh lain. Tangan Sehun menindih dada Chanyeol dan kaki Chanyeol menindih kaki Sehun.

Baekhyun tersenyum senang. Ia bangun lebih awal dan membantu ibunya membuat sarapan, melihat ibunya lelah kemarin membuat Baekhyun tidak tega, dan kini pagi-pagi sekali wanita itu sudah harus berangkat karena ada beberapa masalah yang harus diurus.

Baekhyun masuk dan meletakkan dua gelas air putih di atas meja nakas, dengan perlahan ia berjalan menuju jendela untuk membuka tirai kamarnya, membuat Sehun mengernyitkan dahinya karena terkena sorotan cahaya matahari.

"Bangunlah Sehun!" ucap Baekhyun sambil menyentuh pundak Sehun.

"Sebentar lagi ibu..nyammm…nyammm…nyamm.." Baekhyun terdiam, entah mengapa ia merasakan sesuatu yang aneh ketika Sehun memanggilnya ibu. Walau Baekhyun tahu benar jika Sehun masih belum sepenuhnya bangun dan berpikir jika dirinya adalah ibu mereka.

"Kau akan terlambat nanti." Bisik Baekhyun.

"Hhmm.. ibu sebentar lagi…" gumam Sehun lagi, Baekhyun menggeleng lalu bangkit dan berpindah ke sisi Chanyeol.

"Chanyeol! Bangun, kau harus pulang untuk mengambil seragam." Ucap Baekhyun sambil menggetarkan tubuh kekasihnya, seketika mata Chanyeol terbuka dan memperlihatkan warna biru. Baekhyun tersentak, untuk beberapa saat ia terkejut.

Warna bola mata itu begitu familiar, ia tidak mungkin melupakannya. Tapi kemudian ia berpikir jika ia sedang berkhayal karena setelahnya mata Chanyeol berwarna hitam kembali.

"Baek, kau sudah…." Ucapan Chanyeol terhenti, ia bangkit secara tiba-tiba lalu menatap telapak tangannya. Senyumnya mengembang, kekuatannya telah kembali, dan itu membuatnya senang bukan main.

"Kenapa?" tanya Baekhyun. Chanyeol tersadar dan menoleh.

"Tidak aku pikir aku kehilangan tanganku, rasanya seperti mati rasa karena bocah ini menindihku semalaman." Ucap Chanyeol sambil mendorong tubuh Sehun, membuat bocah itu merubah posisi tidurnya.

"Minumlah! Setelah itu kita ke apartemenmu untuk mengambil seragam." Ucap Baekhyun sambil menyerahkan segelas air mineral. Chanyeol menerimanya lalu menenguknya dengan cepat.

Perhatian Baekhyun kembali teralihkan pada Sehun, ia memutari ranjang dan membangunkan sosok yang masih tertidur pulas itu.

"Sehun, kau benar-benar akan terlambat!" Baekhyun menepuk pipi Sehun pelan, tapi Sehun hanya menggeliat tanpa mau membuka matanya.

"Biar aku bangunkan." Ucap Chanyeol, lalu menuangkan sisa air minumnya pada wajah Sehun, membuat bocah itu bangkit dengan terkejut sambil mengusap wajahnya yang basah, Baekhyun dibuat terkejut dengan sikap Chanyeol.

"YAK! KAU SIALAN!" bentak Sehun kesal saat Chanyeol hanya terkikik melihat wajah terkejut Sehun.

"Sehun, perhatikan ucapanmu!" ucap Baekhyun, Sehun menoleh kearah Baekhyun lalu mengangguk.

"Minumlah dan segera mandi pemalas!" Chanyeol menyerahkan gelas air Sehun lalu bangkit. Baekhyun ikut bangkit mengambil tas ranselnya diatas meja dan mengikuti Chanyeol.

"Sehun, aku harus mengantar Chanyeol ke apartemennya karena ia tidak membawa seragam. Kami akan sarapan terlebih dulu, kau tidak apa-apa kan sarapan sendiri? Ibu sudah berangkat ke kantor, pagi-pagi sekali." Ucap Baekhyun diambang pintu.

"Tidak masalah hyung. Pergilah!" ucap Sehun sambil tersenyum manis, tapi setelah kepergian Baekhyun, Sehun berdecak kesal mengingat perbuatan Chanyeol padanya.

..

.

Baekhyun duduk di sofa ruang tamu sementara Chanyeol sedang menyiapkan diri di dalam kamar, mereka masuk sejam lagi jadi tidak perlu terlalu terburu-buru. Baekhyun membaca buku pelajaran untuk jam pertamanya sambil menghilangkan kebosanan yang melanda.

"Yak! Chanyeol, Kyungsoo tidak_" Baekhyun menoleh melihat sosok yang tiba-tiba muncul dari arah pintu depan. Keduanya sama-sama terkejut.

"Baekhyun-sshi?"

"Luhan-sshi?" Baekhyun masih terkejut ditempat hingga kemunculan Chanyeol membuat Baekhyun menoleh seolah meminta penjelasan.

"Kau? Apa yang membuatmu kemari?" tanya Chanyeol dengan dahi mengernyit. Luhan menatap Chanyeol namun sesekali matanya melirik kearah Baekhyun dengan perasaan tidak enak. Dan ia mengutuk sikap adiknya yang sangat tidak peka, dengan keadaan yang sedang terjadi.

"Kyungsoo tidak menjawab panggilanku, aku datang kesini untuk menjemputnya." Ucap Luhan, Chanyeol mengernyit dan melirik kearah kamar Kyungsoo. Ia sudah memeriksanya tadi dan Kyungsoo tidak ada, ia pikir adiknya pasti sudah berangkat.

"Aku pikir dia sudah berangkat."

"Tidak, aku memang sedikit terlambat karena ada beberapa urusan. Tapi _"

"Tunggu! Sebenarnya ada hubungan apa antara kalian?" tanya Baekhyun yang benar-benar tidak mengerti dengan keadaan yang terjadi. Chanyeol menoleh dengan wajah santai membuat Luhan menggeram kesal.

"Hm, Baekhyun-sshi. Apa Chanyeol belum menceritakan padamu?" tanya Luhan dengan wajah -pura-pura-terkejut. Baekhyun menggeleng pelan masih merasa bingung.

"Hah, kekasihmu itu adalah adikku. Dia yang memintaku untuk pura-pura tidak mengenalnya, karena yah! Kami memang tidak terlalu suka dianggap seperti saudara." Ucap Luhan, Baekhyun menoleh kearah Chanyeol lalu kearah Luhan lagi.

"Ta..tapi kenapa kalian merahasiakannya dariku?" tanya Baekhyun menatap Chanyeol, entah mengapa ia merasa kecewa.

"Aku tidak merahasiakannya Baek, aku hanya belum mengatakannya. Lagipula memiliki saudara menyebalkan seperti dia membuatku iritasi, jadi aku pikir dengan tidak mengenalkannya padamu akan jauh lebih baik." Ucap Chanyeol, Luhan menahan rahangnya yang mengeras, berpura-pura menerima semua ucapan Chanyeol, padahal ia ingin sekali melempar lelaki itu dengan bola anginnya.

"Yah, kau tahu sendiri Baek. Hubungan saudara yang tidak baik membuat kami enggan untuk menganggap darah persaudaraan diantara kami. Sama seperti kau dan Sehun." Ucap Luhan, dan Baekhyun terdiam. Ia mengangguk mencoba menerima, karena bagaimana pun ia tidak bisa protes.

"Oh, baiklah jika begitu, aku harus mencari Kyungsoo. Aku permisi." Ucap Luhan undur diri lalu menghilang dibalik pintu. Baekhyun menundukan wajahnya, ia merasa Chanyeol menyimpan begitu banyak rahasia, bahkan Baekhyun tidak mengetahui apa-apa tentang Chanyeol selain ia yang merupakan murid pindahan dari Kanada.

"Ayo berangkat!" ucap Chanyeol berjalan mendahului. Baekhyun mengangguk dan megambil tasnya.

..

.

Kyungsoo tersenyum kearah Jongin, kini keduanya sedang duduk di dalam mobil pribadi Jongin yang sangat jarang ia bawa ke sekolah.

"Terima kasih untuk jemputannya." Ucap Kyungsoo.

"Hei, ini bukan apa-apa. Kita tinggal bersebelahan, dan bersekolah di tempat yang sama, terlebih kau adalah kekasihku. Jadi ini tidak apa-apa." Ucap Jongin sambil mengusak rambut Kyungsoo yang terasa benar-benar halus.

"Terima kasih lagi Jongin. Jadi, kapan kau akan mengajarkanku tentang jatuh cinta?" tanya Kyungsoo. Jongin terdiam, lidahnya terasa kelu. Ia bahkan tidak tahu harus mengatakan apa pada Kyungsoo.

"Hhm.. itu.. sebenarnya ini sedikit sulit."

"Sulit? Tapi kau berjanji akan mengajarkanku kan? Kita kekasih, ingat?" kepolosan Kyungsoo membunuh keberanian Jongin. Jika itu bukan Kyungsoo maka ia akan menariknya dan membawa mereka dalam sebuah ciuman panas, tapi dengan Kyungsoo ia tidak berani membayangkan bahkan hanya untuk menggenggam tangannya, apalagi menciumnya.

"Tentu, tapi perlahan. Kau mengerti? Sekarang ayo kita turun!" ucap Jongin dan Kyungsoo mengangguk.

..

.

Chanyeol menatap Baekhyun yang seperti tidak berkonsentrasi dengan pelajaran, ini jarang terjadi karena biasanya seburuk apa suasana hati Baekhyun ia akan tetap menatap kearah papan tulis, bukan menatap keluar jendela dengan pandangan bersedih.

"Hei, apa yang terjadi?" tanya Chanyeol. Ia mencoba menyelami waktu untuk melihat apa yang terjadi, tapi ia hanya mendapatkan kejadian-kejadian biasa yang baru saja mereka alami, tidak ada penindasan ataupun pelecehan.

"Tidak." Ucap Baekhyun pelan, lalu menatap kearah papan tulis , berpura-pura mendengarkan ucapan guru mereka.

"Lucifer adalah sosok yang diagung-agungkan. Banyak mitologi kuno mengatakan jika Lucifer dulunya adalah seorang malaikat dan dihukum turun keneraka untuk menjadi raja disana." Ucap Guru sejarah itu, Chanyeol menyeringai dan sesekali berdecak.

"Saem, aku ingin bertanya." Baekhyun mengacungkan jarinya membuat Chanyeol menoleh terkejut.

"Apa itu berarti dia menjadi iblis sekarang? Apa tetap menjadi malaikat?" tanya Baekhyun yang mulai tertarik, sejarah sebenarnya adalah pelajaran favoritnya.

"Dia adalah Raja iblis." Ucap guru itu dengan wajah yakin.

"Ck! Jangan bercanda." Chanyeol bergumam membuat Baekhyun meliriknya sekilas.

"Saem, apa yang membuat orang-orang mempercayai kemunculan Lucifer? Apa ada beberapa kasus yang membuat mereka percaya?" tanya Baekhyun lagi.

"Ya, beberapa kasus kerasukan pernah terjadi di zaman penjajahan Inggris, sejak perang dunia pertama kemunculan Lucifer mulai diperbincangkan. Bahkan banyak mitos mengatakan jika beberapa orang di zaman dulu menjual jiwanya pada Lucifer, Lucifer adalah iblis terkuat yang mampu melakukan apapun. Dalam beberapa kitab juga menyebutkan jika Lucifer adalah pemimpin dari ribuan pasukan iblis dan pernah menjadi jenderal perang ketika masih menjadi malaikat. "

Baekhyun mengangguk, sementara Chanyeol kembali berdecak.

"Dan alasan dia dibuang ke neraka?" tanya salah satu murid yang lain. Guru itu memperbaiki letak kaca matanya, dengan mata yang menyipit ia menatap muridnya.

"Karena dia ingin menjadi Tuhan, ia ingin mengalahkan kekuasaan Tuhan. Ia telah keluar dari batasnya. Ketika menjadi malaikat Lucifer memiliki ketampanan yang luar biasa dan kekuatan yang hebat. Untuk itu ia menjadi malaikat sekaligus iblis yang paling diagung-agungkan." Ucapnya dengan nada serius.

"Omong kosong." Ucap Chanyeol dan berhasil menarik perhatian teman-temannya.

"Apa maksudmu Park Chanyeol?" tanya guru itu, Chanyeol berdecih lalu menegakkan tubuhnya.

"Jadi menurut anda apa Lucifer benar-benar ada atau tidak?" tanya Chanyeol sambil menyeringai.

"Tentu tidak. Itu hanya mitos. Lagipula siapa yang mempercayai makhluk mitos seperti itu dizaman canggih seperti sekarang." Ucap guru itu, Chanyeol kembali bersandar sambil melipat tangannya.

"Bagaimana bila aku berkata jika saat ini Lucifer sedang memantaumu dari tempatnya?" guru itu tercekat, wajahnya mendadak pucat. Chanyeol terlihat santai ketika mengatakannya, sama seperti lelucon murahan yang diucapkan anak didik nakal yang pernah ditemui sang guru, namun suara Chanyeol benar-benar mendominasi pikirannya, seolah menarik segala ketakutan dan kecemasannya.

"I…itu.."
TEEEET

Bel pergantian pelajaran terdengar, membuat murid-murid segera merapikan barang-barang mereka. Chanyeol kembali menyeringai, dan ketika menoleh kearah Baekhyun seringaiannya menghilang.

Baekhyun menatapnya dengan wajah datar, membuat Chanyeol mengernyit bingung.

"Ada apa?" tanya Chanyeol, Baekhyun tidak menjawab malah kini alisnya bertautan.

"Terlalu banyak yang tidak aku mengerti tentangmu Chanyeol, kau…kau seperti menyembunyikan sesuatu dariku." Wajah Baekhyun terlihat serius, namun kemudian ia tersenyum.

"Tapi kau tidak mungkin melakukannya kan? Aku mempercayaimu." Ucap Baekhyun memperlihatkan deratan gigi putihnya. Chanyeol terpaku ditempatnya, sambil memperhatian Baekhyun yang memasukkan bukunya.

Chanyeol tahu cepat atau lambat Baekhyun akan mengetahui semuanya, dan ia tidak pernah tahu apa yang akan ia lakukan saat itu. Bertahan atau pergi dari kehidupan seorang Byun Baekhyun, yang kini telah mencuri seluruh perhatian dan sebagian hatinya.

Baekhyun bangkit membuat Chanyeol mengernyit.

"Kau mau kemana?" tanya Chanyeol. Baekhyun mengangkat seragam olahraganya.

"Mengganti baju, sekarang jam olahraga." Ucap Baekhyun, Chanyeol baru tersadar dan ketika melihat kesekitar beberapa teman-temannya sudah berlari keluar sambil membawa pakaian olahraga mereka, meski beberapa memilih mengganti pakaian di dalam kelas.

Kini kelas mereka sudah berada di lapangan dan para murid diminta untuk berbaris untuk melakukan beberapa pemanasan yang di pimpin oleh salah seorang murid yang ditunjuk secara acak, sementara guru mereka pergi entah kemana.

Chanyeol berada dibarisan paling belakang, sementara Baekhyun dibarisan kedua paling depan. Mereka berbaris berdasarkan tinggi badan, dan Chanyeol membenci fakta bahwa dirinya yang tertinggi di kelas, atau mungkin salah satu yang tertinggi di sekolah.

Chanyeol bergerak dengan enggan, matanya tidak henti-henti mengawasi Baekhyun kalau-kalau ada yang melecehkan kekasihnya bahkan hanya dengan tatapan sekalipun, Chanyeol bersumpah akan membunuhnya.

Namun ia harus bernafas lega, karena sepertinya teman sekelasnya tidak berani melakukan itu lagi, terlebih mereka sudah sering melihat bagaimana Chanyeol mengancam dan mengamuk.

Tiba-tiba peluit berbunyi , menarik perhatian mereka kearah belakang dimana guru mereka berdiri sambil memegang segelas kopi ditangannya, semua tahu kemana perginya guru mereka tadi. Sungguh sikap yang tidak baik.

"Baiklah,sekarang tiap orang mencari pasangan!" ketika mendengar kata pasangan Chanyeol segera berjalan kearah Baekhyun yang menarik kekasihnya yang sempat terlihat kebingungan. Chanyeol tidak ingin kejadian beberapa waktu lalu dikolam berenang terulang, ia tidak ingin Baekhyun-nya disentuh oleh siapapun.

"Sekarang kalian lakukan sit up bergantian dengan pasangan kalian, kemudian dilanjutkan dengan push up. Masing-masing 20 hitungan untuk sit up dan 100 hitungan untuk push up. Aku segera kembali, jangan mencoba curang karena aku telah memiliki mata-mata diantara kalian." Ucap guru itu sebelum akhirnya pergi dan melenggang entah kemana.

Semua saling toleh untuk mencari tahu siapa mata-mata yang dimaksud sementara Chanyeol menatap Baekhyun dalam dekapannya, ia tidak terlalu peduli dengan ucapan guru itu, yang terpenting dia bersama dengan Baekhyun.

Kini semua duduk diatas beton lapangan dengan saling berhadapan, satu dari mereka berbaring dan satu lagi memegang kaki temannya. Baekhyun berbaring sementara kaki tertekuknya dipegang erat oleh Chanyeol.

Chanyeol mulai menghitung dan Baekhyun mulai bergerak untuk mendorong dan menarik dirinya. Chanyeol menatap ke dalam mata Baekhyun membuat Baekhyun memalingkan wajahnya.

Meski mereka sudah berpacaran tapi tatapan Chanyeol selalu berhasil membuatnya tersipu malu dan Baekhyun bahkan yakin jika sekarang dirinya telah merona.

"Sepuluh, sebelas." Ucap Chanyeol sambil tersenyum, Baekhyun masih tetap bergerak meski wajahnya terasa memanas.

"Dua puluh. Bagus." Ucap Chanyeol sambil tersenyum, Baekhyun memperbaiki posisinya. Dan bergantian untuk melakukan sit up. Baekhyun memegang kaki Chanyeol, namun Chanyeol menarik kedua tangan Baekhyun dan membuat lelaki mungil itu memeluk kedua kakinya.

Chanyeol mulai bergerak dan ketika bangkit wajah mereka menjadi sangat dekat, benar-benar terlihat seperti adegan melegenda pada sebuah drama popular. Baekhyun tidak berani menatap Chanyeol, jadi ia membuang wajahnya.

Tapi Chanyeol menarik dagu Baekhyun, membuat wajah mereka kembali berhadapan. Chanyeol tersenyum sambil menarik – dorong tubuhnya, Baekhyun mengatupkan kedua bibirnya dengan tatapan malu. Sungguh bermesraan di depan umum bukanlah gaya Baekhyun, untuk itu wajahnya kembali memanas dengan sikap Chanyeol.

Ketika sudah sampai pada hitungan dua puluh Chanyeol menarik kedua kaki Baekhyun, hingga kekasihnya terbaring dan terlentang.

"Chan..apa yang kau_" ucapan Baekhyun terputus karena kini Chanyeol berada diatasnya.

"Seratus adalah hitungan yang cukup melelahkan. Aku tidak ingin mati bosan karena menatap alas lapangan. Jadi biarkan kau menjadi motivasiku." Chanyeol menyeringai.

Semua mata menatap kearah mereka dengan terkejut bahkan beberapa menganga dengan mata terbuka lebar.

"Berhitunglah!" ucap Chanyeol. Baekhyun menelan ludahnya dengan gugup.

"Satu."

Cup

Baekhyun membulatkan matanya karena Chanyeol mengecup bibirnya.

"Du..dua."

Cup

"Ti..tiga."

Cup

Wajah Baekhyun telah memerah maksimal dan itu membuat Chanyeol semakin menyukai menggoda kekasihnya. Baekhyun memalingkan wajahnya kesamping, tapi Chanyeol menarik dagunya dan kembali mengecup bibir Baekhyun hingga pada hitungan kesepuluh.

Semua yang ada disana merasa kikuk, mereka kembali ke aktifitas awal namun sesekali melirik kearah Chanyeol dan Baekhyun. Chanyeol sendiri tidak memperdulikan tanggan orang-orang , karena ia memang tidak pernah peduli, sementara Baekhyun benar-benar merasa malu.

Kecupan-kecupan itu terus terjadi, bibir Chanyeol mengecup kilat bibir lembut kekasihnya. Chanyeol tersenyum mengetahui fakta bahwa jantung Baekhyun masih berdebar hanya karena perlakuan kecilnya.

Mereka terus melakukannya hingga pada hitungan ke 90 guru mereka datang dan nampak terkejut dengan apa yang dilakukan Chanyeol dan Baekhyun.

"Yak! Apa yang kalian lakukan? Hentikan sekarang!" perintah guru itu. Baekhyun menoleh kearah gurunya dengan wajah cemas, tapi Chanyeol kembali menarik dagunya dan memintanya tetap menghitung tanpa menoleh sekejap kearah gurunya yang bertolak pinggang.

"Sem..sembilan lima."

Cup

"Sembilan enam."

Cup

"Kalian berdua, hentikan! Atau aku akan melaporkan kalian." Ucap guru itu. Baekhyun merasa cemas, namun Chanyeol terlihat santai. Sementara teman-teman mereka menatap kearah Chanyeol, mereka memutuskan untuk berhenti.

"Sembilan Sembilan."

Cup

"Seratus." Dan bibir Chanyeol menempel lama pada bibir kekasihnya, ia ingin melumatnya tapi teriakan dari gurunya membuat Chanyeol mengeraskan rahangnya. Ia bangkit, berjalan kearah gurunya dengan tatapan membunuh.

"Apa yang akan kau laporkan ? kau sendiri yang meminta kami untuk berhitung tanpa melakukan kecurangan, sementara kau pergi ke kantin dan_" Chanyeol bergerak maju membuat guru itu terintimidasi, Chanyeol menyentuh lengan gurunya dan ia mengelupas bibirnya.

"bercinta dengan penjaga kantin?" Guru itu tercekat, bibirnya kelu. Mendadak ia diserang kegusaran.

"Kau masih ingin melaporkan kami? Atau sebaiknya kita melaporkan ini bersama. Setidaknya aku hanya mendapat hukuman kecil karena mencium kekasihku. Bukan berselingkuh dengan perawan tua yang bahkan tidak perawan lagi." Ucap Chanyeol. Guru itu mati kutu.

"K..kau?"

"Jadi? Bagaimana songsaengnim?" tanya Chanyeol dengan alis terangkat. Guru itu berdeham, lalu mengalihkan perhatiannya kebelakang.

"Baiklah, sekarang kalian lanjutkan dengan kegiatan bebas." Ucapnya. Chanyeol menyeringai lalu berbalik, namun ia menahan pergerakannya.

"Aku tidak menyangka wanita tua jutek itu cukup liar hingga meninggalkan bekas gigitan di lehermu, dan_" Chanyeol menjeda ucapannya sementara guru itu menyentuh lehernya dan menaikkan kerah bajunya.

"…sebaiknya jangan melakukannya di dapur, bumbu-bumbu itu terlihat jelas dibajumu Saem." Ucap Chanyeol sambil pura-pura membersihkan noda bumbu di dada gurunya yang kini terlihat sangat pucat.

Chanyeol menuju kearah Baekhyun yang kini duduk disisi lapangan menyaksikan teman-temannya yang bermain basket, sepak bola dan voli di dalam lapangan yang terbagi.

Chanyeol memilih duduk dibelakang Baekhyun , menarik pinggang kekasihnya hingga tubuh mereka menjadi berdempetan.

"Chanyeol, jangan lakukan ini! Kita bisa dilaporkan nanti." Ucap Baekhyun sambil berusaha melepaskan tangan Chanyeol.

"Tidak akan. Dia tidak akan melaporkannya, lagipula apa yang salah dengan memeluk dan mencium kekasihku sendiri lagipula para remaja wajar melakukannya."

"Tapi ini lingkungan sekolah."

"Sekolah bukan hanya tempat untuk mencari ilmu saat ini, mereka telah berubah fungsi. Setidaknya aku tak bercinta disekolah." Ucap Chanyeol sambil menarik pinggang Baekhyun dan meletakkan dagunya diatas pundak sang kekasih.

"Tidak akan, kita tidak akan melakukan itu disekolah." Ucap Baekhyun, Chanyeol menyeringai lalu mengecup leher kekasihnya.

"Berarti kita bisa melakukannya di luar sekolah ?" Baekhyun terdiam, tidak ingin menjawab pertanyaan Chanyeol yang selalu menggodanya. Baekhyun terdiam menyaksikan bagaimana teman-temannya tertawa dan bermain di dalam lapangan.

"Mereka terlihat bahagia." Ucap Baekhyun, Chanyeol yang sejak tadi sibuk menghirup aroma tubuh Baekhyun menolehkan kepalanya dan mendapati kekasihnya sedang menatap kearah lapangan.

"Aku pernah bermimpi menjadi salah satu bagian dari mereka. Tapi itu tidak pernah terjadi, ketika aku bersama mereka , mereka menjadikanku target penindasan." Ucap Baekhyun sambil berusaha tersenyum.

"Kau tidak perlu mereka untuk bahagia, mereka tidak berguna." Ucap Chanyeol.

"Aku ingin tahu rasanya dikelilingi teman-teman, aku rindu masa kecilku." Ucap Baekhyun lagi. Chanyeol terdiam, entah mengapa ia merasa percakapan mereka terlalu drama, Chanyeol tidak suka terlibat dalam suasana yang terdramatisir.

"Kau memilikiku. Itu sudah cukup,seperti aku yang hanya butuh dirimu disampingku." Ucap Chanyeol, Baekhyun menoleh lalu tersenyum.

"Iya, kau benar. Aku memilikimu. Terima kasih Chanyeol karena selalu ada disampingku, sejak kedatanganmu hidupku berubah drastis. Kau penyelamatku Chanyeol, mungkin Tuhan mengirimmu untuk menjadi malaikat pelindungku." Baekhyun menyandarkan kepalanya pada dada Chanyeol.

Chanyeol terdiam entah mengapa pikirannya berkecamuk, jika Baekhyun tahu kenyataan yang sebenarnya akankah dirinya masih disebut malaikat penyelamat?

"Baek, tentang sosok yang menghamilimu bolehkah aku tahu seperti apa dia?" Chanyeol merasakan tubuh Baekhyun menegang ketika pertanyaan itu terlontar dari mulutnya.

"Di..dia." ucapan Baekhyun tertahan.

"Makhluk terkejam yang pernah aku tahu. Aku tidak tahu dia makhluk apa, ini terdengar mustahil tapi kenyataannya dia benar-benar ada dan bahkan membuatku mengandung anaknya."

"Kau membencinya?"

"Sangat. Aku bahkan ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri. Aku tidak tahu mengapa ia melakukan hal keji itu padaku, terlebih meninggalkan benihnya begitu saja seolah aku adalah tempat pembuangan." Ucap Baekhyun, Chanyeol merasakan Baekhyun mencengkram tangannya.

"Jika ternyata dia tidak seperti itu?"

"Maksudmu?" Baekhyun mengernyit.

"Jika ternyata dia tidak sekejam yang kau bayangkan? Jika ternyata dia memiliki alasan untuk melakukannya?"

"Seperti?"
"Hm, jatuh cinta padamu? Mungkin?" Baekhyun berdecih untuk pertama kalinya di pendengaran Chanyeol.

"Jatuh cinta padaku? Aku bahkan yakin dia tidak mengenal apa arti cinta. Dia meniduriku berulang secara keji, menanamkan benihnya pada rahimku lalu menghilang. Dimana letak cinta nya Chanyeol?" tanya Baekhyun.

"Aku bersyukur Tuhan membuatku tersadar malam itu, aku sendiri tidak tahu bagaimana , tapi berkat itu aku bisa mengenali wajahnya." Sambung Baekhyun lagi.

"Kau me…mengenalinya? Apa kau mengingat wajahnya?" tanya Chanyeol cemas.

"Tidak terlalu, tapi aku tidak bisa melupakan mata biru dan rambut hijau itu. Jika diingat-ingat dia_" Baekhyun membalik tubuhnya dan menatap Chanyeol lekat-lekat.

"Sedikit mirip denganmu, hanya saja ada sesuatu yang membuat kalian berbeda." Chanyeol membeku ditempat, entah mengapa jantungnya berdetak sangat kencang.

"Bahkan tadi pagi aku berhalusinasi bahwa aku melihat matamu berwarna biru ketika aku membangunkanmu." Ucap Baekhyun sambil sedikit tertawa.

"Be..benarkah?" Baekhyun mengangguk.

"Mungkin karena kalian memiliki wajah yang sama-sama tampan." Ucap Baekhyun lagi.

"Apa dia tampan bagimu?" tanya Chanyeol.

"Hm. Untuk ukuran makhluk astral, dia terbilang tampan. Itu mengapa keturunannya juga memiliki wajah yang tampan."

"Maksudmu anak kalian?" tanya Chanyeol.

"Aku bahkan tidak tahu harus menyebutnya anak atau bukan. Tapi yah, dia memang tampan."

"Lalu dimana anak kalian?"

"Dia… dia telah pergi jauh." Ucap Baekhyun, dan Chanyeol mencoba paham. Baekhyun tidak ingin menceritakan perihal Sehun padanya. Karena itu akan sedikit lebih rumit untuk dijelaskan.

"Apa kau akan memaafkan sosok itu jika suatu hari ia datang padamu dan meminta maaf?" Baekhyun menggeleng pelan.

"Yang ia lakukan padaku tidak sebanding dengan sebuah ucapan maaf."

"Bahkan jika ia menukar dengan jiwanya?"

"Dia makhluk astral Chanyeol, dia tidak memiliki jiwa." Ucap Baekhyun dan Chanyeol memilih mengangguk.

"Jika dia tiba-tiba datang dan berkata ingin menebus kesalahannya dengan semua persyaratan darimu yang akan dia penuhi?"

"Aku benar-benar tidak tahu. Aku tidak ingin memikirkan terlalu jauh." Sahut Baekhyun sambil menggenggam tangan Chanyeol.

"Jika dia berkata, bahwa dia mencintaimu dan melalukan segala cara untuk membuatmu bahagia?" Baekhyun menolehkan kepalanya kearah Chanyeol membuat Chanyeol terkesiap.

"Aku memilikimu , aku memiliki cintamu, dan kau satu-satunya orang yang bisa membuatku bahagia Chanyeol, bukan yang lain." Ucap Baekhyun. Chanyeol segera memeluk tubuh Baekhyun erat, membuat Baekhyun tersentak.

"Maafkan aku Baekhyun."

"Maaf? Maaf atas apa?"

"Atas semua yang terjadi."

"Hei, ini bukanlah salahmu Chanyeol , kenapa kau yang meminta maaf."

"Aku terlalu bersedih mendengar ceritamu, dan aku merasa aku patut meminta maaf karena membuatmu mengingat masa kelammu." Baekhyun terkekeh lalu mengelus kepala Chanyeol yang terbenam dilehernya.

"Itu tidak apa-apa. Kau kekasihku jadi aku rasa sudah sepantasnya menceritakan ini padamu, maaf karena tidak bisa menjadi utuh untukmu Chanyeol, maaf karena aku terlalu menjijikan untuk dicintai."

"Hei! Jangan berkata seperti itu! Kau makhluk terindah yang pernah diciptakan." Baekhyun kembali terkekeh dan mengecup pipi Chanyeol, Chanyeol tersenyum dan mempererat pelukannya.

"Chanyeol?"

"Hm."

"Aku merasa belum menjadi kekasih yang pantas untukmu karena aku tidak terlalu tahu mengenaimu. Aku bahkan tidak tahu mengenai anggota keluargamu."

"Tidak masalah, lagipula aku memang tidak ingin mereka mengenalmu." Baekhyun terdiam, ucapan Chanyeol membuat dahinya mengernyit.

"Karena aku terlalu memalukan untuk dikenalkan pada mereka bukan?"

"Tidak! Bukan seperti itu jangan salah paham!"

"Aku tidak akan salah paham Chanyeol, jika kau mau mempertemukanku dengan anggota keluargamu. Itu pun jika kau serius denganku." Baekhyun menyembunyikan perasaan sedihnya dengan sebuah senyuman.

"Tapi kau kan sudah bertemu dengan Kyungsoo, Luhan dan ibuku."

"Tapi aku ingin tahu seperti apa sosok mereka lebih jauh, bahkan aku tidak tahu sosok seperti apa ayahmu."

"A..ayahku? itu terdengar sedikit sulit. Tapi aku akan mencoba mempertemukan kalian, jika waktunya telah tiba." Ucap Chanyeol sambil memeluk Baekhyun, dan Baekhyun hanya mengangguk dengan sedikit kecewa. Ia merasa Chanyeol tidak menanggapi ucapannya. Padahal Baekhyun merasa dia serius dengan hubungan yang sedang mereka jalin.

"Baekhyun?" nada suara Chanyeol terdengar serius, Baekhyun menolehkan kepalanya hingga jarak mereka menjadi semakin dekat.

"Hm?"

"Maukah kau berjanji?" Kening Baekhyun berkenyit , kedua alisnya saling tertaut.

"Berjanji untuk apa?"

"Berjanji kau tidak akan meninggalkanku suatu saat nanti." Baekhyun terdiam, ia menatap mata Chanyeol dalam, sementara Chanyeol terlihat gugup mendapati ekspresi tidak terbaca kekasihnya.

"Jika kau tidak melepaskanku, aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu." Baekhyun tersenyum dan Chanyeol memeluk tubuh Baekhyun semakin erat.

Bel istirahat berbunyi sebelum mereka sempat menyatukan bibir mereka, Baekhyun menjauhkan tubuhnya dan segera bangkit. Ia membersihkan celananya dengan menepuk pantatnya pelan lalu mengulurkan tangan pada Chanyeol agar segera bangkit, setelahnya kedua pasangan itu berjalan menuju kelas mereka.

..

.

"Sungguh, aku tidak mengerti denganmu Jongin-ah." Cheondong menatap sahabatnya dengan wajah sedikit kesal. Jongin yang sejak tadi melamun selama pelajaran menoleh, dan memberikan tatapan kebingungan.

"Apa yang tidak kau mengerti?" tanya Jongin santai. Cheondong menggeleng sambil memasukan bukunya.

"Kau! Dan juga sikap anehmu sejak tadi pagi. Apa yang terjadi? Kau bahkan tidak mau menceritakannya padaku." Jongin tersenyum lebar, ia bangkit dan menepuk pundak sahabatnya.

"Hm, ini sebuah berita baik yang seharusnya aku bagi denganmu, tapi aku rasa aku harus menyimpannya sedikit lebih lama kawan." Cheondong menepis tangan Jongin dengan wajah kesal, sejak pertama kali mereka bersahabat mereka tidak pernah memiliki rahasia sama sekali, dan kini sahabatnya berubah sangat drastis. Bahkan ketika tadi pagi mendapati Jongin sudah berada di kelas, Cheondong mengira dirinya sedang bermimpi dan menampar pipinya berulang kali hingga meninggalkan bekas kemerahan.

"Terserah, lagipula siapa yang peduli." Ucap Cheondong kesal. Jongin menepuk pundak sahabatnya lagi.

"Jangan marah begitu kawan, secepatnya aku akan memberitahumu." Ucap Jongin lalu melenggang keluar kelas.

"Ia bahkan tidak menawariku pergi ke kantin bersama." Kesal Cheondong sambil menatap kepergian sahabatnya.

Jongin berjalan dengan santai dikoridor sekolah , ia menuruni anak tangga untuk sampai ke kantin. Dan sedikit mengecewakan karena antrian cukup panjang, Jongin menghela nafas sebelum akhirnya melihat sosok Kyungsoo yang duduk disudut ruangan dengan kotak bekalnya.

Jongin berjalan ke counter makanan ringan, mengambil dua buah roti selai dan dua kotak susu stroberi.

"Hei." Kyungsoo mendongak lalu tersenyum.

"Hei." Balasnya sambil kembali menatap makanannya.

"Ini." Ucap Jongin memberikan sepotong roti dan sekotak susu. Kyungsoo mengernyit lalu menggeleng pelan.

"Kenapa?"

"Aku tidak yakin dengan rasanya."

"Kenapa?" ulang Jongin.

"Hanya….tidak yakin."sahut Kyungsoo. Jongin mengambil duduk sambil mengernyit. Ia melihat sebotol air mineral di samping kotak makan Kyungsoo.

"Jangan katakan kau hanya meminum air mineral semasa hidupmu?" Kyungsoo menoleh sebentar, melirik airnya lalu mengangguk pelan, Jongin membulatkan matanya.

Ia hampir tidak percaya bagaimana bisa di dunia ini ada orang yang tidak bisa memakan selain tumbuhan dan tidak bisa minum selain air? Dan jawabannya ada, Kyungsoo.

"Kau.. hhmmm tidak ingin mencobanya?" Kyungsoo mengalihkan pandangannya, menatap kotak susu ditangan Jongin.

"Bagaimana rasanya?"

"Ini , hhmm. Manis."

"Benarkah? Apa semanis jatuh cinta?" Jongin menggaruk belakang kepalanya dengan bingung. Ia tidak tahu harus memberikan respon apa.

"Hm, mereka sama-sama manis tapi tidaklah sama. Cobalah!" Jongin menusukan sedotan dan memberikannya pada Kyungsoo. Kyungsoo menyedot cairan itu, sementara Jongin memperhatikan.

"Hm, ini manis. Aku menyukainya." Wajah Jongin berubah sumringah.

"Benarkah? Kalau begitu habiskan!" ucap Jongin, Kyungsoo mengangguk lalu menyedot dengan cepat, ia benar-benar menyukai rasanya dan perutnya tidak mengalami adukan ataupun goncangan yang kuat.

Pada dasarnya para malaikat bisa memakan dan meminum apapun yang manis, namun mereka tidak boleh menyakiti. Susu didapat dengan memeras dari sapi, dan bagi para malaikat itu tidaklah baik, untuk itu para malaikat tidak pernah meminumnya.

"Ini juga kau coba!" Jongin membukakan sepotong roti berselai pisang untuk Kyungsoo dan Kyungsoo memakannya dengan pelan, matanya membulat dengan wajah senang, membuat Jongin semakin semangat.

"Tunggu sebentar." Jongin bangkit dan berjalan kea rah counter makanan ringan dan sibuk memilih banyak makanan yang baginya berasa manis. Tak lama ia kembali dengan banyak makanan ringan berbagai rasa.

Kyungsoo mencicipinya satu persatu dan beberapa rasa menjadi favoritnya, stroberi, blueberi, anggur, nanas, pisang,dan apel ia suka. Jeruk dan mangga membuatnya sedikit mengernyit dan ia tidak terlalu menyukainya sementara coklat berada pada urutan paling terakhir karena bagi Kyungsoo rasanya pahit.

"Apa cinta semanis ini?" tanya Kyungsoo sambil menyedot minuman rasa apelnya. Jongin mengangguk pelan.

"Ya, jatuh cinta itu manis Kyungsoo."

"Kau pernah merasakannya?" tanya Kyungsoo lagi.

"Aku pikir aku tidak akan merasakannya, tapi sekarang aku merasakannya."

"Benarkah? Dengan siapa?" tanya Kyungsoo antusias.

"Tentu denganmu, dengan siapa lagi memang." Kyungsoo terdiam memandang Jongin tanpa berkedip.

"Denganku? Bagaimana bisa kau tahu kau jatuh cinta padaku?" Jongin rasanya seperti bicara pada bocah berusia 3 tahun, tapi hal itu membuatnya semakin gemas.

"Jantungku, berdetak kencang ketika melihatmu dan rasanya banyak kupu-kupu di dalam perutku ketika aku didekatmu." Kyungsoo mengernyit, ia memegang dada dan perutnya.

"Tapi aku tidak merasakannya, apa itu berarti aku tidak jatuh cinta padamu?" Jongin terkesiap mendengar pernyataan Kyungsoo dan ia segera menggeleng, sebelum akhirnya sosok Cheondong datang mengendap dan mengagetkan mereka.

Keduanya terkesiap, Jongin menoleh kesal sementara Kyungoo menatap Cheondong dengan nafas terengah, ia terlalu fokus dengan Jongin hingga tidak menyadari kehadiran Cheondong dan keterkejutan itu membuat jantungnya berdebar dengan cepat.

"Jadi ini yang membuatmu meninggalkan sahabatmu hah?" ucap Cheondong sambil memukul pundak Jongin yang memutar matanya malas, lalu ia beralih pada sosok Kyungsoo yang menatapnya dengan tatapan aneh.

"Oh, hei. Kau si murid baru itu kan? Aku Park Cheondong, kau?"

"Aku.." Kyungsoo masih menatap Cheondong dengan mata berbinar, sambil meraih tangan sosok itu perlahan.

"Aku Kyungsoo, Park Kyungsoo dan aku jatuh cinta padamu." Dua sosok lain membulatkan mata mereka terutama Jongin yang merasa rahangnya nyaris terjatuh.

"Kyungsoo, kau_"

"Boleh aku menjadi kekasihmu?" Cheondong masih terpaku di tempat dengan mata dan mulut yang terbuka lebar, sementara Jongin mengerutkan keningnya tak percaya. Kyungsoo menatap Cheondong dengan senyuman sumringah.

"Wow, ini sungguh mengejutkan. Apa ada yang salah disini?" tanya Cheondong sambil menatap Kyungsoo dan Jongin bergantian, namun Jongin masih menatap Kyungsoo dengan wajah terkejut.

"Jantungku, jantungku berdebar ketika kau muncul, aku telah jatuh cinta padamu. Jadi apa sekarang kita kekasih?" Cheondong mengerutkan keningnya sambil tersenyum kikuk, sementara Jongin menatap Kyungsoo tak percaya.

..

.

Chanyeol bangkit dari atas ranjanganya dengan kesal ketika mendengar bunyi bel pintu yang ditekan terburu. Ia hanya sendiri di apartemen , karena saat pulang sekolah tadi Kyungsoo segera kembali ke Nubes karena merindukan ibunya.

Chanyeol berjalan dengan kesal dan membuka pintu, hingga ia mendapati sosok menyebalkan Sehun di depan pintu, seharusnya ia bisa menebak jika itu si bocah menyebalkan, siapa lagi yang akan bertamu dengan memencet pintu seperti orang kerasukan.

"Ada ap_" Sehun langsung masuk sebelum Chanyeol sempat menyelesaikan ucapannya.

"Berikan ponselmu. Aku harus memiliki nomermu agar aku tidak harus datang kesini, sementara kau bisa menjemputku." Chanyeol menaikkan satu alisnya dengan wajah kesal menatap kearah Sehun yang kini duduk diatas sofanya dengan tidak sopan sambil menengadahkan satu tangannya seperti seorang atasan.

"Apa-apaan kau bocah? Kau pikir kau siapa hah?" bentak Chanyeol.

"Sayangnya orang yang kau panggil bocah ini adalah calon adik iparmu, Park." Ucap Sehun, Chanyeol menggeram kesal.

"Apa yang kau inginkan?"

"Ponsel, cepat berikan!" Chanyeol menggeram kesal sambil menendang sofa sebelum akhirnya berjalan ke kamar dan mengambil benda persegi yang tergelatak diatas meja, ia jarang sekali menyentuhnya.

Sehun meraih ponsel Chanyeol dengan cepat, dan ia mengernyit jijik saat melihat wallpaper chanyeol.

"Kau cukup narsis juga bung." Ucap Sehun layaknya bicara pada teman seusianya. Ia mengotak-atik ponsel Chanyeol, dan tak lama terdengar ponsel Sehun berbunyi, ia mengeluarkannya dari dalam kantung celana seragamnya dan mengayunkannya di depan Chanyeol.

"Aku telah memiliki nomermu."

"Terserah."

"Sekarang. Ayo kita mulai." Ucap Sehun. Chanyeol menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Sekarang apalagi?"

"Ingat aku masih memiliki 7 permintaan." Chanyeol memutar bola matanya malas.

"Katakan dengan cepat!" Sehun tersenyum sambil mengangkat satu alisnya.

..

.

Chanyeol dan Sehun duduk dengan nafas terengah di sebuah lapangan basket outdoor di taman. Tubuh keduanya berkeringat bahkan seragam Sehun sudah basah kuyup. Ia meraih botol minuman yang sempat mereka beli tadi, dan meminumnya dengan cepat.

"Kau sungguh merepotkan." Ucap Chanyeol dengan nafas terengah sambil menatap Sehun kesal.

"Terima kasih atas pujianmu Park."

"Hei! Aku tidak sedang memujimu bocah." Sehun hanya menyeringai lalu membaringkan tubuhnya sambil menatap kearah langit yang masih cerah.

"Aku tidak tahu rasanya semenyenangkan ini." Ucap Sehun , Chanyeol menoleh enggan dan menghela nafas.

"Ketika melihat anak-anak bermain bersama ayah mereka, aku berharap aku memiliki ayah. Tapi Tuhan berkata lain, jadi aku pikir bermain bersama teman-teman juga menyenangkan tapi nyatanya tidak ada satupun yang ingin dekat denganku karena aku aneh." Ucap Sehun dengan suara yang sedih tapi wajahnya nampak kebalikan, terlihat tersenyum dan santai.

"Kadang kita tidak butuh orang lain. Mereka hanya merepotkan." Ucap Chanyeol, Sehun menoleh lalu tersenyum.

"Aku sempat berpikir begitu, tapi aku sadar aku seorang manusia dan aku tidak bisa hidup sendiri." Chanyeol menoleh merasakan sebuah kesedihan disana.

"Aku tidak tahu kenapa takdirku seperti ini, aku ingin menjadi salah satu dari teman-temanku yang hidup dengan normal"

"Kau tidak terlalu mengerti arti kata normal, bagiku hidupmu cukup normal."

"Tidak. Aku memiliki sesuatu yang orang-orang normal tidak miliki, dan aku membenci itu , aku membenci kelahiranku." Chanyeol menoleh, ia menatap dalam wajah Sehun. Entah mengapa ada perasaan bersalah yang menyelimuti hatinya.

"Kau tahu tidak ada yang bisa mengatur kelahiran mereka, semua sudah ditakdirkan." Ucap Chanyeol mulai terbawa suasana.

"Apa menurutmu Tuhan ada?" Chanyeol menoleh dan mata mereka bertemu. Chanyeol memang iblis , tapi bukan berarti kaum iblis tidak percaya dengan keberadaan Sang Pencipta, mereka ada pun karena kuasa-NYA, jadi Chanyeol mengangguk.

"Tapi kenapa dia tidak menunjukannya padaku? Kemana dia ketika aku terpuruk? Apa setelah aku diciptakan Tuhan akan lepas tangan?" Chanyeol terdiam, ia menghela nafas pendek lalu menatap Sehun.

"Sesuatu yang tidak nampak bukan berarti tidak nyata. Udara disekitar kita tidak terlihat, tapi kau bisa merasakannya bukan? Dia, tidak melepas tanggung jawabnya, namun Dia memiliki banyak kaki tangan yang akan menjagamu. Bahkan tempat kakiku berpijak sekarang berada dalam genggaman tangannya." Sehun terdiam ia menatap Chanyeol sebentar, lalu kembali menatap langit.

"Jika Tuhan melihatku dari atas sana, apa yang akan Dia lakukan ketika beberapa detik lagi aku meregang nyawa?"

"Tergantung." Sehun menoleh dengan dahi mengernyit.

"Jika saat itu adalah takdirmu untuk mati, Tuhan akan diam dan menyaksikan tapi jika tidak Ia akan bertindak." Sehun tersenyum setelah beberapa detik terdiam sambil menatap Chanyeol.

"Aku tidak menyangka orang tidak keren sepertimu ternyata cukup keren juga. Kau tahu, aku merasa kita memiliki banyak kesamaan dan entah mengapa aku merasa nyaman bersamamu, seolah kita memang memiliki ikatan takdir." Chanyeol menundukan arah pandangnya.

"Selain Luhan Saem aku pikir tidak ada yang memiliki kesamaan denganku, tapi ternyata orang menyebalkan sepertimu bisa juga." Chanyeol sama sekali tidak protes ketika Sehun mengatainya, dan yang ia lakukan hanya tersenyum.

"Luhan Saem?"

"Hm, bukankah kalian sudah pernah bertemu?"

"Kami bertemu cukup sering hingga aku bosan. Oh apakah aku belum mengatakan jika dia adalah kakak tersembunyiku? Berat mengatakannya adalah saudaraku, tapi yah! Kenyataannya kami bersaudara. Tuhan selalu memberikan kejutan bukan?" Sehun bangkit dengan tatapan tidak percaya.

"Ja..jadi kalian."

"Yah, kami bersaudara." Ucap Chanyeol.

"Itu berarti kau memiliki kekuatan supranatural juga?" Chanyeol mengernyit.

"Kekuatan supranatural?"

"Ya, Luhan saem menunjukan padaku bagaimana ia bisa menggerakan benda." Chanyeol tersenyum, ternyata kakaknya jauh lebih terbuka dengan Sehun.

"Seperti ini?" Chanyeol membuat bola basket mereka yang tergeletak di lapangan bergerak menuju mereka. Sehun membulatkan matanya.

"Wow, ternyata kau sama anehnya denganku."

"Hei! Aku sama sekali tidak aneh, aku keren."

"Ketika kau berbeda dari orang lain itu artinya kau aneh." Ucap Sehun sambil menatap Chanyeol dengan enggan.

"Tidak. Ketika kau berbeda dari orang lain kau bukan aneh melainkan kau spesial." Sehun terdiam, ia menatap Chanyeol lalu tanpa sadar memeluk Chanyeol membuat Chanyeol terkesiap.

"Kau tidak buruk juga, senang bisa mengenalmu Park Tower." Ucap Sehun dalam pelukan Chanyeol, Chanyeol mengangkat tangannya ragu dan pada akhirnya jatuh diatas punggung Sehun, ia membalas pelukan Sehun dan seketika ada aliran yang menjalari tubuh keduanya.

Mereka telah terkoneksi satu sama lain, entah bagaimana tapi ketika dua kubu itu saling menerima dan saling memberi, mereka telah menjadi satu bagian. Sehun adalah bagian dari diri Chanyeol, di dalam tubuh Sehun mengalir darahnya.

..

.

Sehun turun dari atas motor Chanyeol dan melemparkan helmnya asal, membuat Chanyeol dengan refleks menangkapnya. Chanyeol mendesis, bocah itu kembali menyebalkan setelah tadi terlihat baik dengan sikap manisnya. Chanyeol mematikan mesin motornya dan berjalan ke dalam rumah Baekhyun, ia memukul pelan kepala Sehun ketika mereka memasuki rumah.

"Aku pulang." Ucap Sehun sambil berjalan dengan wajah kelelahan. Kibum yang sedang berada di dapur melirik kearah jam tangannya.

"Kau pulang terlambat lagi Sehun." Ucap Kibum, namun Sehun menghampiri ibunya dan mencuri sepotong daging yang sedang Kibum pegang.

"Si Tower itu menyanderaku." Ucap Sehun malas.

"Hei, dia kekasih kakakmu. Panggil dia hyung!"

"Park Tower terdengar lebih baik." Ucap Sehun sambil melenggang meninggalkan dapur, Chanyeol masuk dan tersenyum kearah Kibum.

"Maaf jika dia merepotkanmu Chanyeol-ah."

"Tidak masalah bi, aku rasa dia butuh teman bermain. Dia datang ke apartemenku yang jaraknya cukup jauh hanya untuk merusak waktu bersantaiku" Ucap Chanyeol tanpa beban membuat Kibum menggeleng pelan, ia mulai mengenal sosok Chanyeol, kekasih putranya itu adalah tipe yang bicara tanpa berpikir, dia cukup blak-blakan.

"Baekhyun dimana bi?" tanya Chanyeol, Kibum melirik kearah ruang tamu.

"Baekhyun ada di halaman belakang." Sahut wanita itu.

"Tumben sekali, sedang apa dia?" tanya Chanyeol bingung. Kibum terdiam sejenak lalu tersenyum.

"Dia sedang mengadu pada seseorang." Ucap Kibum, Chanyeol semakin tak mengerti, ia lalu berjalan meninggalkan Kibum yang masih menatap pisaunya.

Chanyeol melewati ruang tengah dan membawanya pada bagian belakang rumah. Chanyeol tidak pernah kesana, dan ini baru pertama kali untuknya. Sebuah halaman kecil yang rapi, ada beberapa tumbuhan disekitarnya, rumput segar yang menjadi alas, sebuah ayunan kecil yang tergantung di pohon dan sebuah kolam ikan yang menjadi tempat Baekhyun duduk sekarang.

Chanyeol memperhatikan kekasihnya. Baekhyun duduk di pinggir kolam dengan kaki masuk ke dalam air, wajahnya tertunduk. Chanyeol mendekat perlahan, tidak ingin menganggu acara bersantai Baekhyun.

"Aku cukup bingung dengan perasaanku." Chanyeol mengernyit, Baekhyun sedang berbicara, tapi bukan dengannya.

"Dia datang membawa banyak perubahan dalam hidupku." Kembali suara Baekhyun terdengar begitu manja seperti seorang anak gadis sedang mengadu pada ayahnya.

"Ayah, aku bingung. Aku telah jatuh cinta padanya, tapi kenapa aku merasa ada yang mengganjal ?" ucap Baekhyun lagi. Terdengar helaan nafas dari lelaki mungil itu. Chanyeol terdiam di tempat memperhatikan punggung sempit Baekhyun.

"Dia terlalu memiliki banyak rahasia ayah. Dan dia terlalu penuh kejutan." Ucap Baekhyun lagi.

"Aku ragu apa dia juga mencintaiku? Atau hanya menganggapku menarik, atau malah hanya menganggapku lemah dan ingin melindungiku?"

"Ayah, hari ini sikapnya kembali aneh. Dia terlalu sulit untuk aku tebak, terkadang dia sangat mencintaiku tapi terkadang dia menjauhiku. Hari ini dia bertanya banyak tentangku, tentang makhluk itu juga, aku menceritakan semuanya , tapi dia bahkan tidak menceritakan tentang dirinya. Ayah, apakah aku harus mempercayainya kali ini? Apa dia orang yang ayah kirim untuk melindungiku? Bisakah aku tetap mencintainya?" Chanyeol menundukan arah pandangnya, dahinya mengernyit.

"Aku benar-benar telah mencintainya ayah. Tapi aku tidak yakin apa perasaannya sama untukku? Dia bahkan tidak ingin mengenalkanku pada keluarganya. Apa karena aku menjijikan?" Chanyeol merasa dadanya sesak, dia sama sekali tidak pernah berpikir jika Baekhyun menjijikan. Alasan dia tidak ingin mempertemukan Baekhyun dengan keluarganya karena itu terasa sulit.

Chanyeol takut kedoknya akan terbongkar dan hubungannya dengan Baekhyun akan berakhir, untuk itu dia terus bertanya pada Baekhyun tentang perasaannya pada si makhluk misterius yang Baekhyun anggap kejam.

Hening, tidak lagi terdengar suara Baekhyun. Hanya suara riak air akibat pergerakan kecil. Chanyeol memutuskan mendekat, melepas alas kakinya dan duduk disamping Baekhyun, membuat Baekhyun terkejut bukan main.

"Chan..chanyeol. Sejak kapan?" tanya Baekhyun, Chanyeol terdiam ia menatap kedepan.

"Cukup lama untuk mendengar curahan hati seorang anak pada ayahnya." Baekhyun menundukan wajahnya, Chanyeol melirik sang kekasih dan ia menarik pinggang Baekhyun untuk mendekat.

"Tidak apa-apa, aku beruntung karena bisa mendengarkannya. Kau tidak pernah mengucapkannya padaku, sehingga aku tidak tahu isi hatimu."

"Ma..maaf."

"Maaf untuk apa? Kau tidak bersalah, Baek." Chanyeol meletakkan kepala Baekhyun di dadanya dan ia memberikan sebuah kecupan hangat di pucuk kepala kekasihnya.

"Apa disini tempatmu mengadu ? apa kau tidak merasakan dingin?" tanya Chanyeol. Baekhyun mengangguk.

"Tentu ini dingin, tapi ini adalah tempat istimewa, Chanyeol. Ini adalah kolam yang ayah dan aku bangun bersama sebelum ajal menjemputnya. Aku merengek padanya untuk sebuah kolam ikan dan dia membuatkannya untukku. Kolam ini memiliki banyak kenangan." Chanyeol mengelus kepala Baekhyun sayang.

"Baek, kau harus tahu. Aku juga mencintaimu, maaf karena telah membuatmu meragukan perasaanku. Dan, untuk bertemu dengan keluargaku aku memiliki alasan mengapa tidak mempertemukan kalian." Baekhyun mendongakkan kepalanya, menatap ke dalam mata Chanyeol.

"Apa itu?" tanya Baekhyun.

"Mereka." Chanyeol menghentikan ucapannya, matanya beralih ke kaki mereka yang terendam di dalam air.

"Mereka sibuk, mereka berada diluar negeri dan sulit untuk meminta mereka pulang." Baekhyun masih menatap Chanyeol, mencoba mencari kebohongan dan ia mendapatkan sebuah ketidak jujuran disana.

"Baiklah aku mengerti." Ucap Baekhyun dengan wajah tertunduk. Ia tahu Chanyeol sedang berbohong, karena waktu itu Ibu Chanyeol muncul disekolah bahkan mereka sempat berbincang. Untuk ukuran wanita sibuk, datang ke sekolah karena anaknya bermasalah adalah sesuatu yang sulit dipercaya, dan kini Baekhyun sulit mempercayai Chanyeol.

Chanyeol menatap Baekhyun yang tertunduk dan ia meraih dagu Baekhyun.

"Kau tidak mempercayaiku?"

"Aku sedang mencobanya." Ucap Baekhyun, wajahnya terlihat kecewa. Chanyeol mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir merah muda Baekhyun. Kecupan yang perlahan menjadi sebuah lumatan, Baekhyun tidak melawan, tapi ia tidak dalam perasaan yang baik untuk berciuman.

"Chanyeol-ah! Ponselmu berbunyi, aku menemukannya diatas meja di ruang tengah, sepertinya kau lupa." Chanyeol melepaskan ciumannya dan menoleh kebelakang dimana Kibum berdiri sambil memegang ponsel miliknya. Chanyeol mengernyit seingatnya dia meletakkan ponsel itu di kamarnya setelah Sehun meminjamnya, lagipula siapa yang akan menghubunginya.

Dan wajah heran Chanyeol langsung berubah menjadi kesal, ia tahu jika bukan kakaknya maka ini adalah ulah ibunya.

"Halo?" tanya Chanyeol dingin.

"Pulang! Dan bawa Baekhyun kemari!" itu suara Luhan, Chanyeol memutar bola matanya malas.

"Apa-apaan? kau pikir kau siapa mengaturku?" kesal Chanyeol, Baekhyun memperhatikan dari posisinya sementara Kibum mengernyit takut melihat kemarahan Chanyeol.

"Aku kakakmu, dan cepat-pulang-sekarang-JUGA!" sambungan itu terputus, Chanyeol menghela nafas kasar. Ia menatap Kibum yang mengernyit lalu tersenyum.

"Baekhyun, ikut denganku! Bertanyalah setelah kita sampai di apartemenku, karena aku juga tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi." Ucap Chanyeol. Baekhyun dengan kebingungan segera bangkit lalu berjalan menghampiri Chanyeol.

"Aku berganti baju dulu."

"Tidak perlu, gunakan saja jaketku!" ucap Chanyeol sambil memakaikan Baekhyun jaket kulit yang kebesaran di tubuh Baekhyun.

"Bi, aku akan mengantar Baekhyun besok." Ucap Chanyeol lalu menarik Baekhyun menuju pintu keluar.

Baekhyun ingin bertanya, tapi Chanyeol terlihat sedang kesal jadi ia urung. Tarikan Chanyeol membuat Baekhyun sedikit kewalahan.

"Chanyeol, hentikan ini sakit." Ucap Baekhyun, Chanyeol tersadar dan ia segera menatap tangannya yang melingkar dipergelangan tangan Baekhyun.

"Astaga, maafkan aku Baekhyun." Ucap Chanyeol sambil mengelus pergelangan tangan Baekhyun yang sedikit memerah.

"Tidak apa-apa. Apa yang sedang terjadi Chanyeol, kenapa kita terburu-buru?" tanya Baekhyun. Chanyeol memandang Baekhyun lalu mengelus pipinya.

"Aku pun tidak mengerti, sekarang ayo masuk!" Pintu lift terbuka dan mereka segera masuk.

Chanyeol membuka pintu apartemennya, dan suara terompet serta confetti menjadi sambutan untuknya. Chanyeol menutup matanya sambil menarik nafas.

Baekhyun menatap terkejut kearah dua orang dihadapannya, Luhan dan seorang wanita yang Baekhyun kenali sebagai ibu Chanyeol. Walau hanya pernah bertemu sekali, tapi Baekhyun ingat dengan jelas wajah rupawan wanita itu.

"Selamat datang." Ucap Taemin, sambil mendekat kearah Chanyeol dan memeluk putranya. Chanyeol masih berdiri tegap dengan rahang terkatup.

"Apa kau tidak terkejut dengan kehadiran ibu? Ibu sengaja tidak memberitahumu kalau kami akan kembali ke Korea." Ucap Taemin sambil meremas pipi Chanyeol, membuat Chanyeol geram. Mata Chanyeol kini teralih pada Luhan yang mengenakan topi konyol dikepalanya dan sebuah terompet kecil di bibirnya.

Luhan hanya mengedikkan bahunya dengan wajah tak kalah kesal, tapi segera tersenyum kearah Baekhyun.

"Ah, kau pasti Baekhyun kan? Kita pernah bertemu ingat? Chanyeol selalu menceritakanmu ketika kami saling menelpon." Chanyeol menutup matanya , sementara Baekhyun melirik Chanyeol dan Taemin bergantian dengan senyum canggungnya.

"Masuklah, ayah Chanyeol sedang menunggu di dalam." Mata Chanyeol otomatis terbuka.

"Apa? Ayah?" tanya Chanyeol tak percaya, ini tidak mungkin ayahnya mau datang untuk sebuah acara konyol seperti ini, atau mungkin ibunya memerintahkan salah satu anak buahnya untuk menyamar.

Taemin menarik tangan Baekhyun dan membawanya masuk, Luhan menyiku perut Chanyeol yang masih terdiam.

"Dia sungguh ayah ?" bisik Chanyeol.

"Aku pikir awalnya bukan, tapi dia sungguh-sungguh ayah kita." Bisik Luhan, Chanyeol terkejut bukan main.

"Kali ini rencana apalagi yang ibu jalankan?" geram Chanyeol sambil berjalan kearah ruang tamu.

Disana ayahnya sedang duduk dengan wajah dingin, sementara Baekhyun berdiri di dekat sofa, Chanyeol menghampiri Baekhyun dan berdiri di sampingnya. Chanyeol menatap wajah ayahnya, namun Minho tidak mengalihkan perhatiannya dari Baekhyun.

Baekhyun nampak gugup, ia merasa ditelanjangi dengan tatapan Minho. Chanyeol yang merasakan ketakutan Baekhyun, menggenggam jemari kekasihnya.

"Dia Byun Baekhyun ayah, kekasihku." Ucap Chanyeol, Minho mengalihkan perhatiannya ke Chanyeol dan menghela nafas pelan. Taemin yang merasakan aura kecanggungan menepuk tangannya sekali, lalu mulai mengambil alih.

Taemin duduk disamping Kyungsoo, yang terlihat tenang dan tidak mengerti dengan apa yang terjadi.

"Baekhyun-ah, jangan terlalu tegang. Kami adalah keluarga yang hangat. Kami sangat terbuka pada orang baru, selamat datang dikeluarga kami." Ucap Taemin sambil membentangkan tangannya berlebihan, ia menyiku Kyungsoo dan lelaki tanpa dosa itu ikut tersenyum konyol, sementara Luhan duduk disamping ayahnya dan memasang pose yang sama dengan Taemin.

Chanyeol menatap jijik pada ibu dan kakaknya, lalu menggeleng pelan.

"Selamat datang Tuan Park dan Nyonya Park. A..aku Byun Baekhyun." Ucap Baekhyun sambil memberi hormat. Taemin tersenyum, sementara Minho masih dengan wajah dinginnya.

"Ah iya Baekhyun, aku memiliki oleh-oleh untukmu." Ucap Taemin, ia mengeluarkan sebuah kotak dari sebuah tas besar di belakang sofa. Taemin membuka sebuah kotak berwarna hitam.

Sebuah kalung dengan liontin berbentuk krital berwarna biru laut, mirip seperti kristal yang berada dikening para malaikat.

"Itu?" Chanyeol dan Luhan berseru bersamaan membuat Baekhyun kebingungan. Minho menatap tidak percaya dan Kyungsoo melebarkan matanya.

Baekhyun menatap sekelilingnya yang menatap kearah kalung yang sedang dipegang oleh Taemin. Taemin tersenyum kearah Baekhyun ,tidak memperdulikan keadaan sekitarnya.

"Kemarilah sayang!" ucap Taemin sambil mengibaskan tangannya, Baekhyun mendekat lalu bersimpuh di depan Taemin. Taemin membuka kaitan itu, ia mengalungkannya pada leher Baekhyun.

Baekhyun meraih kalungnya, dan tersenyum.

"Ini cantik." Ucap Baekhyun.

"Kau menyukainya?" tanya Taemin sambil mengelus pipi Baekhyun dan tersenyum lembut, Baekhyun mengangguk.

"Terima kasih Nyonya Park."

"Panggil aku ibu, cepat atau lambat kau akan menjadi bagian dari keluarga kami." Baekhyun menunduk,wajahnya bersemu.

"Sayang?" panggil Minho, menatap istrinya dengan berjuta pertanyaan menyelimuti pemikirannya.

Taemin tersenyum kearah Minho, dan ketiga putranya.

"Baekhyun adalah orang yang istimewa untukku, dia bisa mengubah pribadi Chanyeol yang …..yang bahkan aku sendiri tidak tahu bagaimana harus mengurusnya." Taemin mengelus rambut Baekhyun , menyematkan helain rambut itu dibelakang telinga pemiliknya.

Chanyeol dan Luhan saling tatap tidak mengerti, dahi Chanyeol mengernyit dan Kyungsoo hanya menatap ibunya dalam diam, sementara Minho menatap istrinya dengan wajah sendu.

"Apa yang telah diciptakan suatu saat akan kembali pada penciptanya." Ucap Taemin sambil tersenyum kearah anggota keluarganya.

"Ibu?" Luhan menatap ibunya tidak percaya.

"Kalung itu sangat cantik Baekhyun, sangat cocok untukmu. Chanyeol beruntung memilikimu, kau dan berlian itu sama-sama cantik, kau seharusnya terlahir menjadi seorang malaikat." Baekhyun tersipu malu, namun ia menganggkat wajahnya.

"Apa ini barang penting? Kenapa semua terlihat terkejut ketika anda memberikannya padaku?" tanya Baekhyun. Taemin tersenyum, kembali mengelus pipi Baekhyun sayang.

"Ya, sangat berharga." Ucap Taemin.

"Lalu kenapa anda memberikannya padaku?" tanya Baekhyun lagi.

"Karena kau pantas mendapatkannya." Ucapan Minho membuat Baekhyun menoleh, tatapan Minho yang semula kearah istrinya kini beralih pada Baekhyun.

"Benda itu adalah warisan turun-temurun dari keluarga ibu Chanyeol. Berjanjilah untuk menjaganya!" Baekhyun sempat tercengang lalu ia mengangguk cepat.

"Aku berjanji akan menjaganya Tuan." Ucap Baekhyun.

"Ayah, panggil aku ayah." Taemin dan yang lainnya terkejut, ayah mereka tidak biasanya seperti itu, pribadinya sangat kaku dan dingin, tapi kali ini terlihat menerima Baekhyun dengan baik.

"Ayo! Kita makan, aku telah menyiapkan makan malam yang sangat nikmat." Ucap Taemin sambil menarik tubuh Baekhyun dan membawanya menuju dapur.

Keempat orang yang tersisa terdiam. Luhan menundukan wajahnya dengan kerutan di dahinya, Kyungsoo lebih memilih menatap lantai dalam diam. Minho menghela nafas panjang, dan Chanyeol mengernyit dengan raut wajah tidak terima. Ia merasa ini seperti sebuah lelucon, kalung itu bukan Loocin yang ia kenal bukan? Ia terus bertanya dalam hati. Ia yakin ibunya tengah membuat sebuah lelucon untuknya.

Tapi ketika matanya teralihkan pada ayahnya yang menatap keluar jendela dengan tatapan sendu, Chanyeol tahu sesuatu sedang terjadi.

...

..

.

TBC

Hai..hai..hai.. bagaimana kabar kalian? Aku harap semuanya sehat. Wkwkwkw..

Gimana buat chapter ini? Ayo mana suaranya yang baca dalam dalam satu periode, dan mana suaranya yang baca pake season alias nyicil ? wwwkwkw, terus mana suaranya yang ketiduran pas baca hehehehe…

Di chapter ini tidak ada adegan NC ya, maaf yang kecewa, tapi sesuai review yang masuk banyak yang bilang nyekip adegan NC nya, jadi daripada sia-sia aku nulis sampe keringet dingin, jadi aku tiadakan dichapter ini, hehehe, chapter depan aku doakan ada hehehe…

Oh iya, sekalian aku mau bilang mungkin setelah chapter ini aku hiatus sebentar, soalnya aku bakal liburan semester, yang artinya aku harus pulang , yang artinya juga adalah waktu buat kangen-kangenan ama keluarga, wkwkwkw.. Tapi mungkin, mungkin ya, sebelum pulang aku bakal post satu chapter lagi, hehehehe… Doakan ya, kawan-kawan.

( Aku bakal jawab beberapa pertanyaan ya –SI PITIK)

Q : Kapan Baekhyun tahu tentang Chanyeol?

A : Nanti, ada waktunya. Wait and see ajah hehehe, kalau aku bocorin malah gak seru.

Q : Berapa lama menulis satu chapter?

A : Selama kalian menunggu ff ini update, dipotong waktu edit satu hari hehehe.

Q : Kak, kasi tips untuk nulis dong. Aku punya ide, tapi gak tahu mau darimana nulisnya.

A : Sebuah ide adalah langkah awal, tentang bagaimana cara nulisnya tergantung kamu, kalau kamu niat duduk di depan laptop sambil mengembangkan ide kamu, kamu bakal dapet sebuah cerita, tapi kalau kamu Cuma mikirin idenya, tapi takut buat nulis yah selamanya stuck diotak kamu, hehehe.. Kunci utama adalah niat, kerjakan, jangan menyerah! Trust me! Yang perlu kamu lakuin adalah biarkan semuanya mengalir, biarkan otak dan tanganmu bekerja sama.

Q : Kak,gimana cara nulis ff dengan adegan NC yang gak mainstream?

A : Hhhm… kalo ini aku juga kurang tahu, karena aku ngerasa adegan NC aku yase gitu-segitu ajah, Cuma pinter-pinter otak-atik kata-katanya hehehe. Oh, mungkin dengan memikirkan latar tempat , kalau latar tempatmu unik, adegan NC mu juga semakin menarik.

Q : Kak gimana cara jadi author yang pems?

A : Wah, kalo ini aku kurang tahu ya. Terkenal atau enggaknya seorang penulis tergantung dari banyak enggaknya yang baca ceritanya, dan tergantung dari karyanya, hehehehe.. Hal pertama adalah menulislah, soal terkenal mengikuti. Kecuali kamu cari sensasi, mungkin bisa terkenal wkwkwwkw…

Q : Ada crack pairing?

A : Aku orangnya cinta official sih, tapi gak menutup kemungkinan kalau aku munculin sebagai selingan. Wkwkwwk, ada yang mau?

Q : Kak, kenapa kakak yakin kalau Chanbaek real? Alasannya apa?

A : Aku jawab di pm, atau pc ajah ya, hehehe. Tapi aku jawab sedikit deh. Aku rasa siapapun bakal bilang kalau hubungan Chanbaek memang real, kecuali mata dan hati mereka buta, atau memang sengaja ditutup karena gak bisa nerima kenyataan. Mau bukti? Tanyakan pada noda-noda merah di leher Baekhyun yang selalu muncul kapanpun, dan pas lehernya lagi banyak tandanya, dia pasti bakal nempel ke Chanyeol wkwkwkwkw. Satu lagi, eyes never lies.

Q : Apa bakal muncul karakter lain?

A : Pasti, tapi gak sebanyak pemain utaran wkwkwkw, dan juga gak bakal memunculkan Valak. Kekekeke. ( Mention yang lagi famous )

Q : Di chapter berapa Chanyeol ketahuan?

A : Ini bukan rahasia, tapi aku jujur belum kepikiran hehehe, nanti ya, nanti.

Udah aku cukupkan sampai disini ya guys, seperti biasa jika kalian berkenan memberi masukan, kritik dan saran jangan lupa mengunjungi kotak review.

Mari saling menghargai! supaya aku tambah semangat juga wkwkwkw

Dan Salam Chanbaek is real! *Kecup pipi mamih* *Kecup bibir papih* Eeeeeiihh , abaikan!

Jaga kesehatan ya teman-teman dan selamat menjalani ibadah puasa bagi yang melaksanakan.