Title : Devil Beside Me chapter 8

Cast : Park Chanyeol , Byun Baekhyun , Oh Sehun , Do Kyungsoo , Xi Luhan , Kim Jongin, Kim Kibum, Choi Minho , Lee Taemin , Ok Taecyeon , Kim Dasom , Bae Joo Hyeon-Irene , Park Sooyoung- Joy , Kim Yerim-Yeri, Song Naeun, Yoon Bomi, Park Chorong, Park Cheondong ( Thunder ), Huang Zitao, Wu Yifan and others.


PERHATIAN!

Ff ini mengandung unsur dewasa berbau seks, hubungan sesama jenis yang menyebabkan beberapa orang mungkin mual, Bahasa yang berantakan, dan typo yang walau sudah berusaha dihilangkan tapi tetap muncul. Tidak untuk area bermain anak-anak, anak polos, antigay/ homophobic, AntiChanbaek dan segala yang tidak ada sangkut pautnya dengan dunia yaoi.


NO CO-PAST

NO-REPOST

NO-PLAGIAT

Okay?

There always be a place to good person. So, don't steal people's effort , be honest dear..

Mulailah dengan sebuah kata, susunlah menjadi kalimat dan kembangkan dalam sebuah paragraph.

Cerita yang hebat bukan tentang siapa, tapi tentang apa dan bagaimana.


..

.

Happy reading

..

.

"Ini cantik." Ucap Baekhyun.

"Kau menyukainya?" tanya Taemin sambil mengelus pipi Baekhyun dan tersenyum lembut, Baekhyun mengangguk.

"Terima kasih Nyonya Park."

"Panggil aku ibu, cepat atau lambat kau akan menjadi bagian dari keluarga kami." Baekhyun menundukan wajahnya yang bersemu merah, baginya ini terlalu cepat mereka bahkan baru bertemu sekali.

"Sayang?" panggil Minho, menatap istrinya dengan berjuta pertanyaan menyelimuti pemikirannya.

Taemin tersenyum kearah Minho, dan ketiga putranya.

"Baekhyun adalah orang yang istimewa untukku, dia bisa mengubah pribadi Chanyeol yang …..yang bahkan aku sendiri tidak tahu bagaimana harus mengurusnya." Taemin mengelus rambut Baekhyun , menyematkan helain rambut itu dibelakang telinga pemiliknya.

Chanyeol dan Luhan saling tatap tidak mengerti, dahi Chanyeol mengernyit, Kyungsoo hanya menatap ibunya dalam diam, sementara Minho menatap istrinya dengan wajah sendu.

"Apa yang telah diciptakan suatu saat akan kembali pada penciptanya." Ucap Taemin sambil tersenyum kearah anggota keluarganya.

"Ibu?" Luhan menatap ibunya tidak percaya.

"Kalung itu sangat cantik Baekhyun, sangat cocok untukmu. Chanyeol beruntung memilikimu, kau dan berlian itu sama-sama cantik, kau seharusnya terlahir menjadi seorang malaikat." Baekhyun tersipu malu, namun ia mengangkat wajahnya.

"Apa ini barang penting? Kenapa semua terlihat terkejut ketika anda memberikannya padaku?" tanya Baekhyun. Taemin tersenyum, kembali mengelus pipi Baekhyun sayang.

"Ya, sangat berharga." Ucap Taemin.

"Lalu kenapa anda memberikannya padaku?" tanya Baekhyun lagi.

"Karena kau pantas mendapatkannya." Ucapan Minho membuat Baekhyun menoleh, tatapan Minho yang semula kearah istrinya kini beralih pada Baekhyun.

"Benda itu adalah warisan turun-temurun dari keluarga ibu Chanyeol. Berjanjilah untuk menjaganya!" Baekhyun sempat tercengang lalu ia mengangguk cepat.

"Aku berjanji akan menjaganya Tuan." Ucap Baekhyun.

"Ayah, panggil aku ayah." Taemin dan yang lainnya terkejut, ayah mereka tidak biasanya seperti itu, pribadinya sangat kaku dan dingin, tapi kali ini terlihat menerima Baekhyun dengan baik.

"Ayo! Kita makan, aku telah menyiapkan makan malam yang sangat nikmat." Ucap Taemin sambil menarik tubuh Baekhyun dan membawanya menuju dapur.

Keempat orang yang tersisa terdiam. Luhan menundukan wajahnya dengan kerutan di dahinya, Kyungsoo lebih memilih menatap lantai dalam diam. Minho menghela nafas panjang, dan Chanyeol mengernyit dengan raut wajah tidak terima. Ia merasa ini seperti sebuah lelucon, kalung itu bukan Loocin yang ia kenal bukan? Ia terus bertanya dalam hati. Ia yakin ibunya tengah membuat sebuah lelucon untuknya.

Tapi ketika matanya teralihkan pada ayahnya yang menatap keluar jendela dengan tatapan sendu, Chanyeol tahu sesuatu yang salah sedang terjadi.

..

.

Park Shita

Present

..

.

Ketika lahir para malaikat akan menggengam sebuah kristal berwarna biru langit yang sama dengan warna mata mereka. Ketika mata mereka terbuka untuk pertama kalinya, kristal itu akan terbelah menjadi dua.

Seluruh bagian akan menghilang dan satu bagian muncul di kening si bayi yang menunjukan bahwa mereka adalah malaikat. Kristal sendiri melambangkan kesuciaan dan cahaya. Sementara satu bagian yang lain akan di simpan oleh si bayi malaikat di dalam diri mereka.

Pecahan itu melambangkan jati diri para malaikat, mereka tersimpan di dalam hati para malaikat dan tidak akan pernah terlepas. Itu mengapa para malaikat memiliki hati yang putih , jernih dan bercahaya. Kristal itu diibaratkan sebagai penuntun hati mereka, dan itu salah satu bagian terpenting dari para malaikat.

Dulu ketika zaman peperangan, para malaikat yang meninggal akan lenyap menjadi butiran salju, tetesan air, atau hembusan udara tergantung dari apa mereka diciptakan, dan akan meninggalkan pecahan kristal mereka yang berada di dalam jiwa mereka. Kristal itu akan tetap menyala sampai kapanpun, kecuali jika dihancurkan.

Namun untuk malaikat keturunan kerajaan, mereka bisa mengeluarkan kristal itu dari dalam jiwa mereka, karena keturunan kerajaan adalah malaikat istimewa. Kristal mereka sangat penting, jiwa yang ada di dalamnya adalah murni.

Biasanya kristal keturunan kerajaan akan menjadi incaran para makhluk campuran-bukan malaikat bukan iblis- karena kristal itu bisa memberikan bagi siapapun yang memegangnya sebuah hak untuk meminta apapun pada Sang Pencipta.

Pecahan Kristal itu diberi nama Loocin, yang berarti serpihan jiwa yang terang, sementara pecahan yang berada di kening diberi nama Loosar yang berarti serpihan kekuatan dan keagungan. Keduanya bagian terpenting dari para malaikat, bedanya jika Loosar akan lenyap bersama malaikat, namun Loocin bisa berpindah tangan.

Di Nubes sendiri ada tempat khusus untuk menyimpan Loocin dari para malaikat yang telah gugur dalam peperangan untuk menghormati mereka. Tempat yang dijaga khusus agar tidak ada yang mencuri atau menyalah gunakannya.

Loocin tidak akan bisa disalahgunakan jika sebelum kematiannya malaikat yang bersangkutan telah menyerahkannya pada pihak lain. Sekalipun sang malaikat dimusnahkan, Loocin itu tetap menjadi milik yang telah diberikan wewenang.

Legenda tentang Loocin cukup terkenal di kalangan para iblis, namun para iblis tidak pernah berniat mengambil Loocin dari malaikat karena para iblis dan malaikat walau bertentangan namun mereka pada dasarnya sejalan. Mereka telah memiliki aturannya masing-masing.

Namun penyerah tanganan Loocin sangat jarang di dengar setelah perang berakhir, karena para malaikat hidup abadi, kecuali bila hak kehidupannya telah diambil secara paksa atau diserahkan secara suka rela untuk suatu hal.

..

.

Devil Beside Me

Chapter 8

..

.

Chanyeol terdiam pada posisinya, matanya menatap kearah ibunya yang kini sedang menjamu Baekhyun dengan baik. Luhan duduk disamping Chanyeol dengan wajah sesekali tersenyum , dan sesekali termenung. Sementara Kyungsoo dan Minho terlihat biasa saja seolah tidak terjadi apapun.

"Terima kasih i…ibu." Ucap Baekhyun gugup ketika Taemin menyendokkan nasi kearahnya. Taemin tersenyum lalu mengelus rambut Baekhyun sayang, sambil menatap Baekhyun penuh arti.

"Makanlah dengan baik! Agar kau tetap sehat." Ucap Taemin lagi, dan Baekhyun mengangguk. Sesekali Baekhyun melirik kearah Chanyeol yang terdiam sambil menatap kearah dirinya dan Taemin.

"Kalian juga makanlah! Kyungsoo ambilkan makanan untuk kita!" ucap Taemin dan Kyungsoo mengangguk lalu segera bangkit dan berjalan kearah dapur.

Luhan mulai mengabaikan perasaannya, ia kembali menjadi dirinya yang biasa. Bercerita panjang lebar tentang sesuatu yang tidak penting.

"Ini ibu." Ucap Kyungsoo. Baekhyun membulatkan matanya melihat sepiring sayuran yang ia tidak terlalu kenali.

"Apa itu?" tanya Baekhyun.

"Aku dan Kyungsoo vegetarian, ini sayuran khusus agar kami cukup gizi ." ucap Taemin dan Baekhyun mengangguk paham.

"Yak! Kalian berdua, sampai kapan akan menjadi pajangan? Ayo makanlah juga!" Ucap Taemin kepada Minho dan Chanyeol. Minho mengangguk dan menyerahkan piringnya, sementara Chanyeol tetap membisu. Baekhyun merasa sikap Chanyeol sungguh aneh, dan ia pikir Chanyeol tidak suka dirinya dipertemukan dengan keluarganya.

"Baekhyun, bagaimana tentang orangtuamu?" tanya Taemin, Baekhyun mengalihkan pandangannya dan tersenyum.

"Ibuku… ia seorang wanita karir yang bekerja disuatu perusahaan percetakan, sementara ayahku sudah meninggal saat aku masih kecil." Ucap Baekhyun tanpa beban, Taemin tersenyum lalu mengelus pipi Baekhyun.

"Aku dengar kau punya seorang adik?" tanya Taemin.

"Benar, namanya Sehun. Usianya…" Baekhyun terdiam sebelum melanjutkan "14 tahun." Sambungnya.

"Dia salah satu muridku disekolah bu." Ucap Luhan, Taemin mengangguk paham.

"Aku ingin bertemu dengannya, bisakah kau membawanya kapan-kapan kesini?" tanya Taemin, Baekhyun terdiam lalu melirik Chanyeol untuk meminta bantuan.

"Bocah itu sering kesini untuk mengangguku, aku yakin besok juga dia akan kemari." Sahut Chanyeol, Luhan geram dan memukul kepala Chanyeol dengan sendok membuat Chanyeol menggeram kesal.

Minho dan Taemin memutar bola matanya malas, mereka selalu saja bertengkar ketika sedang makan. Minho yang kesal mencoba menahan amarahnya, karena tidak ingin menghanguskan meja di depan Baekhyun.

"Hm, bagaimana Chanyeol menurutmu Baekhyun?" tanya Taemin lagi, sambil sesekali melirik Chanyeol yang menatap kearahnya dingin.

"Dia…" Baekhyun melirik Chanyeol, lalu kembali menatap Taemin.

"Dia sulit untuk ditebak_"

"Sudah kuduga, kau akan mengatakan sesuatu yang buruk tentangnya, karena adikku ini memang tidak memiliki sisi yang baik." Gumam Luhan pelan namun masih dapat di dengar oleh yang lain.

"Luhan! Jangan memulai!" Taemin memperingati dan Luhan menghela nafas sambil menusuk dagingnya.

"Kadang aku tidak mengerti dengan jalan pemikirannya, tapi dia sangat mengagumkan. Dia tidak pernah memikirkan konsekuensi yang dia terima ketika menolongku." Sambung Baekhyun, yang lain mendengarkan.

"Sejak dia muncul dalam hidupku, semuanya berubah." Kini semua mata melirik kearah Chanyeol dan ekspresi wajah mereka menjadi canggung. Semua tahu, karena Chanyeol kehidupan seorang Baekhyun berubah drastis menjadi sangat buruk.

"Dia… dia mampu membuatku kembali mengenal cinta dan kasih sayang, setelah sekian lama hatiku membeku karena sebuah peristiwa masa lalu. Dia segalanya bagiku , hhmm… mungkin ini terdengar berlebihan tapi aku sunguh-sungguh jika Chanyeol sudah mengambil seluruh hatiku." Ucap Baekhyun sambil tersipu malu, Taemin melirik Chanyeol dengan senyum menggoda sementara Chanyeol melirik ibunya datar, lalu membuang wajahnya, Taemin kembali tersenyum ia tahu putranya sedang merona.

"Berarti kau sangat mencintai putra kami yang buruk itu?"

"Chanyeol tidak buruk. Dia hanya sedikit tidak peka." Ucap Baekhyun sambil tersenyum

"…dan, sedikit keras kepala." Baekhyun terkekeh.

"Oh, itu yang paling tepat. Kepalanya lebih keras dari batu." Ucap Luhan dan mendapat tatapan tajam dari Taemin membuat ia menundukan kepalanya,lagi.

"Luhan, ibu sudah memperingatkan."

"Maaf ibu." Ucap Luhan menyesal, Baekhyun tersenyum dan menatap satu per satu anggota keluarga Chanyeol.

"Aku bahagia bisa mengenal kalian, kalian memiliki sikap yang berbeda tapi masih tetap akur. Kalian keluarga yang sangat bahagia." Ucap Baekhyun, Minho mengangkat wajahnya dan menatap Baekhyun dengan bola matanya yang besar.

"Jangan percaya dengan yang kau lihat! Kadang bisa menipu." Ucap Minho, Baekhyun tersenyum lalu menggeleng.

"Aku tidak melihatnya paman, tapi aku merasakannya. Kehangatan dalam keluarga kalian. Chanyeol beruntung, Luhan dan Kyungsoo pun ." Ucap Baekhyun. Luhan melirik jijik kearah Chanyeol dan mencibir, sementara Kyungsoo hanya tersenyum memperhatikan senyum merekah milik Baekhyun. Ia senang melihat senyuman Baekhyun, tanpa beban dan terlihat tulus.

Akhirnya keluarga kecil itu melalui makan malam dengan menyenangkan. Walau terkadang Luhan dan Chanyeol terlibat pertengkaran kecil, atau Taemin yang terus mengoceh membuat Chanyeol geram, dan Baekhyun yang tertawa lepas saat mendengar gurauan dari Taemin, atau Minho yang menggeram menahan emosi ketika Chanyeol dan Luhan sudah mulai berulah. Apapun itu, makan malam mereka berlalu dengan menyenangkan, terutama untuk Baekhyun yang merasakan sebuah kehangatan disana.

Waktu berlalu dan sudah menunjukan pukul 08.00 malam, Taemin merapikan pakaiannya, bersiap-siap untuk pergi, begitu juga Luhan dan Minho.

"Kalian akan bermalam dimana?" tanya Baekhyun sambil memberikan tas tangan milik Taemin.

"Kami akan pulang ke rumah."

"Rumah? Kalian punya rumah di Seoul?" tanya Baekhyun tidak percaya.

"Tentu. Kenapa tidak?" tanya Taemin .

"Tapi kenapa kalian tinggal terpisah?" tanya Baekhyun bingung. Taemin tersenyum.

"Mereka memiliki alasan masing-masing untuk hidup berpisah dengan orangtua mereka." Baekhyun mengangguk paham, seperti kata Chanyeol mereka tidak terlalu akur dan orangtua Chanyeol terlalu sibuk.

"Hm, ibu. Entah aku harus mengatakannya atau tidak, tapi wajah anda mengingatkanku pada seseorang dimasa lalu, hanya saja aku lupa." Ucap Baekhyun. Taemin tersenyum lalu membulatkan matanya.

"Benarkah? Mungkin wajahku memang pasaran." Dan keduanya tertawa.

"Hm, sepertinya kami harus pulang dan beristirahat." Ucap Minho mengambil alih, Taemin mengangguk dan segera berjalan menuju pintu. Mereka sempat melambaikan tangan dan berpelukan sebelum akhirnya pintu itu tertutup.

Baekhyun melirik Chanyeol yang terdiam menatap pintu, lalu beralih kearah Kyungsoo yang pergi kembali ke kamarnya. Sementara Luhan baru datang dari ruang tengah dengan jaketnya.

"Aku juga harus pulang, besok aku ada kelas pagi. Sampai jumpa Baekhyun." Luhan memeluk Baekhyun pelan sebelum akhirnya menghilang di balik pintu.

"Ayo!" ucap Chanyeol sambil berjalan melewati Baekhyun.

"Apa kau tidak mengantarku pulang?" tanya Baekhyun sambil mengikuti Chanyeol berjalan ke kamar.

"Aku sudah meminta izin pada ibumu, bahwa kau akan menginap disini." Baekhyun mengangguk lalu mengikuti Chanyeol menaikki ranjang.

"Chanyeol?"

"Hm?"

"Apa kau tidak suka jika aku bertemu dengan keluargamu?" tanya Baekhyun sedikit tertunduk. Chanyeol menolehkan kepalanya.

"Kenapa kau berkata seperti itu?"

"Kau terlihat aneh sejak tadi, kau bahkan tidak banyak bicara. Maafkan aku, aku tidak bermaksud memaksamu. Tapi apa aku setidak pantas itu untuk bertemu mereka?" Chanyeol segera bangkit dan terduduk, ia mencengkram pundak Baekhyun yang duduk dihadapannya. Matanya teralih pada liontin kalung Baekhyun, dan Baekhyun menyadarinya.

"Jangan pernah berkata seperti itu Baek, aku tidak pernah berpikir seperti itu. Kau sangat pantas, amat sangat pantas. Kamilah yang tidak pantas untuk menjadi bagian dari keluargamu." Ucap Chanyeol. Baekhyun menatap mata Chanyeol dan tersenyum, tapi lagi-lagi ia mendapati Chanyeol yang melirik liontinnya.

"Apa kalung ini sangat berarti bagi kalian? Kalian seperti tidak menginginkan aku menerimanya, aku bisa mengembalikan ini,jika_"

"Tidak! Jangan lakukan itu! Ibuku telah memberikannya padamu, itu berarti dia mempercayaimu. Berjanjilah kau akan menjaga kalung itu dengan baik, jangan sekalipun melepasnya. Jangan pernah! Sekalipun aku yang memintanya." Baekhyun menatap Chanyeol bingung kemudian ia mengangguk, Chanyeol membawa mereka dalam sebuah pelukan hangat dan keduanya berbaring dengan saling berpelukan.

..

.

Kyungsoo turun dari dalam mobil Luhan dan melambai pelan, kakinya melangkah memasuki halaman sekolah lalu memasuki koridor. Keadaan sekolah sudah cukup ramai banyak siswa yang berlalu lalang di koridor dan terdengar cukup berisik.

Kyungsoo melangkah pelan dengan tas ranselnya, sampai ia mendengar suara orang yang berteriak. Ia menatap lurus ke depan dan seketika orang-orang yang sedang berjalan di depannya menyingkir hingga kini Kyungsoo melihat dengan jelas dua orang siswa sedang bermain dengan kursi beroda.

Salah satunya duduk dan satunya lagi mendorong dari belakang, mereka nampak menikmati permainan itu dan berteriak senang.

"AWAAAASSS!" teriak mereka ketika Kyungsoo masih terpaku di tempatnya. Ketika sedikit lagi akan tertabrak, sebuah tarikan ia rasakan di lengannya dan tubuhnya bersandar pada dinding.

Kyungsoo mengatur nafasnya yang sedikit terengah, semua terjadi begitu cepat bahkan otak Kyungsoo belum bisa mencernanya. Ia mengangkat wajahnya, menatap sosok yang juga terengah di depannya, yang kini menghadap kesamping, menyumpahi anak-anak nakal yang telah berlalu.

Kyungsoo terdiam, ia memegang dadanya dan ia merasa jantungnya berdetak kencang. Kyungsoo tersenyum, lalu ketika sosok itu menoleh dan mata mereka bertemu sosok itu terlihat keheranan.

"Kau? Baik-baik saja?"

"Hm. Aku..aku hanya merasa jantungku berdetak kencang."

"Apa kita perlu ke ruang kesehatan?" Kyungsoo menggeleng. Ia mengulurkan tangannya dan menyentuh dada sosok di hadapanya, membuat sosok itu membulatkan matanya.

"Jantungmu juga berdetak kencang." Ucap Kyungsoo. Sosok itu menggaruk belakang kepalanya dan tersenyum kikuk. Jelas saja jantungnya berdetak, ia berlari cepat dan segera menarik tubuh Kyungsoo sebelum sosok kecil itu tertabrak.

"Apa itu artinya kau jatuh cinta padaku?" tanya Kyungsoo.

"Hah?"

"Karena aku telah jatuh cinta padamu, untuk kedua kalinya." Cheondong membuka mulutnya lebar, tidak mengerti dengan sosok dihadapannya. Kyungsoo menatap dengan mata bulat polosnya, membuat Cheondong tidak tahu harus bereaksi apa.

Lelaki itu berpikir jika Kyungsoo pasti sedang demam dan mengigau, jadi ia mengulurkan tangannya dan meletakkanya di dahi Kyungsoo. Tapi Kyungsoo meraih tangan itu dan meletakkanya di dadanya.

"Yang berdetak kencang disini, bukan disana." Ucap Kyungsoo sambil menatap Cheondong dengan senyuman cantiknya, sesaat Cheondong terdiam menatap kearah mata bulat Kyungsoo.

Jongin disana, berdiri beberapa meter di depan pintu masuk koridor. Tangannya mencengkram tasnya dengan erat, menatap kedua sosok dihadapannya yang saling berpandangan. Jongin merasa harinya buruk, ia bangun terlambat sehingga tidak bisa mengajak Kyungsoo berangkat bersama, dan ketika sampai disekolah ia di suguhi dengan pemandangan mesra dari dua orang yang ia kenal.

Jongin berbalik berjalan meninggalkan koridor sekolah dengan perasaan kesal, hari ini ia akan membolos lagi. Ia tidak peduli dengan cinta pada pandangan pertama 'bodoh' nya. Ia benar-benar kesal, terutama pada sahabatnya yang ia pikir telah mengkhianatinya.

Cheondong menarik tangannya dengan cepat ketika tersadar. Ia membungkukan tubuhnya meminta maaf dengan sopan.

"Kyungsoo-sshi. Aku harus pergi." Ucap Cheondong lalu berjalan ke kelasnya. Kyungsoo menatap sosok itu lalu tersenyum senang, ia memegang dadanya dan ia mengernyit.

"Apa efeknya hanya beberapa menit saja?" gumamnya pelan, tapi segera berjalan menuju kelasnya.

..

.

Jam istirahat tiba, kini Chanyeol dan Baekhyun sedang duduk ditempat favorit mereka, di dekat jendela. Sesekali Baekhyun melirik kearah Chanyeol dan sesekali menghela nafas. Sejak kejadian kemarin sikap Chanyeol berubah, ia menjadi lebih pendiam dan tidak fokus pada apa yang ia kerjakan. Bahkan irisan daging di depan matanya yang sangat banyak tidak tersentuh sama sekali.

"Apa kau ada masalah?" akhirnya Baekhyun membuka mulut, ia sudah lelah dengan sikap Chanyeol. Chanyeol mendongakkan wajahnya menatap Baekhyun, lalu menggeleng pelan.

"Apa ada yang kau pikirkan?" tanya Baekhyun lagi. Chanyeol terdiam, melirik kearah makanannya lalu kembali menggeleng pelan.

"Lalu kenapa kau terlihat tidak bersemangat? Apa sesuatu mengganggu pikiranmu? Maukah kau bercerita? Atau paling tidak biarkan aku membantu." Ucap Baekhyun. Chanyeol kembali mendongak, dan ia menatap Baekhyun dalam diam, cukup lama hingga Baekhyun merasa cukup risih.

Chanyeol bangkit, menarik tangan Baekhyun sambil satu tangan lagi memegang nampannya. Baekhyun menarik nampannya yang masih terisi dengan cepat, lalu berjalan keluar kantin dengan terburu setelah meletakkan nampan itu di tempat yang telah disediakan.

Baekhyun menatap Chanyeol bingung, namun ia tidak melawan. Mereka sampai di kelas dan menjadi pusat perhatian. Chanyeol mengambil tas miliknya dan milik Baekhyun lalu kembali menarik Baekhyun keluar kelas tanpa bicara.

"Chanyeol? Apa kita akan membolos?" tanya Baekhyun bingung, Chanyeol tidak menjawab. Ia membawa Baekhyun keparkiran. Memakaikan helm untuk Baekhyun, lalu untuknya dan segera membawa keduanya pergi meninggalkan sekolah. Tentu itu adalah sebuah pelanggaran, tapi Chanyeol tidak ingin memikirkannya.

Baekhyun memeluk erat tubuh Chanyeol ketika kecepatan motornya kembali diatas rata-rata, dalam pelukannya Baekhyun bertanya-tanya tentang tujuan mereka dan tentang sikap dingin Chanyeol.

Baekhyun bernafas lega karena dirinya di bawa ke apartemen milik Chanyeol, ia sempat berpikir jika Chanyeol akan membawanya ketempat asing yang berbahaya, namun ia salah. Kaki Chanyeol melangkah dengan cepat menarik pergelangan tangan Baekhyun yang berlari kecil dibelakangnya.

Ketika berada di dalam elevator, Baekhyun hanya melirik Chanyeol sekilas dan terlihat wajah Chanyeol sedang banyak pikiran, wajahnya tertekuk dan alisnya nyaris menyatu. Pintu elevator terbuka dan mereka berjalan dengan cepat.

Tarikan Chanyeol tidak terlepas bahkan hingga mereka sampai dikamar Chanyeol, Chanyeol mendorong tubuh Baekhyun keatas ranjang, hingga tubuh Baekhyun memantul. Chanyeol berdiri di depan Baekhyun sambil melepas jas sekolahnya, lalu melonggarkan dasinya.

Baekhyun menatap Chanyeol dengan ekspresi terkejut, kenapa Chanyeol tiba-tiba bersikap aneh dan Baekhyun tahu apa yang akan Chanyeol lakukan padanya.

"Chan…Chanyeol? Apa yang terjadi?" tanya Baekhyun takut, ia sempat memundurkan tubuhnya gemetar tapi Chanyeol menarik kakinya hingga Baekhyun terlentang. Chanyeol menindih Baekhyun, menatap wajah Baekhyun dengan jarak dekat. Baekhyun dapat merasakan nafas berat Chanyeol, dan ia dapat melihat guratan frustasi di wajah kekasihnya.

Chanyeol mencium bibir Baekhyun secara tiba-tiba membuat Baekhyun tersentak dan bibirnya terasa nyeri karena Chanyeol langsung menggigitnya. Baekhyun menutup matanya pasrah ketika ciuman Chanyeol semakin kasar. Beberapa menit berlalu dan ciuman panas itu terlepas, Baekhyun menahan dada Chanyeol.

"Chanyeol. Katakan! Apa yang terjadi?" tanya Baekhyun bingung, Chanyeol menatap wajah Baekhyun dalam diam lagi, dan itu membuat Baekhyun semakin bingung. Wajah datar Chanyeol seketika berubah menjadi menyeramkan dan Baekhyun cukup terkejut, bahkan Chanyeol melepas seragamnya dengan cepat. Membuat Baekhyun tidak mampu melawan ketika seragamnya dilepas paksa dan dilempar kelantai.

Kini tubuh bagian atas Baekhyun telah telanjang, Chanyeol mencium permukaan kulit Baekhyun dengan cepat, menyesap putingnya dan menariknya cukup keras. Baekhyun tidak menyukai ini, dia tidak menyukai sikap kasar Chanyeol. Air mata Baekhyun tanpa terasa membasahi matanya, membuat pandangannya sedikit kabur pada wajah Chanyeol.

Celana Baekhyun ditarik paksa, bahkan kuku Chanyeol sempat mengenai permukaan kulit pahanya dan ada rasa sedikit perih. Chanyeol tidak peduli, sisi iblisnya kembali menguasai.

Ia membuka celana seragamnya juga dan melemparnya asal, namun seragam atasnya masih terpakai ia tidak ingin repot-repot melepasnya, karena saat ini ia hanya ingin menikmati tubuh Baekhyun.

Baekhyun menutup matanya ketika merasakan ujung penis Chanyeol mulai meraba-raba permukaan lubangnya, dan ketika benda tegang itu dimasukkan paksa tanpa pelumas dan pemanasan, Baekhyun meremas sprei dan menjerit kesakitan.

Rasanya sungguh menyakitkan ketika lubangnya dibuka secara paksa, seperti robek dan tubuhnya seolah terbelah. Chanyeol mulai bergerak langsung dengan tempo cepat, membuat Baekhyun menangis kesakitan.

"Chanyeol…hiks..hiks.. sakit…hiks..sakit.." ucap Baekhyun, rintihannya terdengar memilukan namun Chanyeol seolah tuli, tubuhnya bergerak dengan brutal menusuk ke dalam lubang anal Baekhyun.

Kepala Chanyeol mendongak, bahkan desahannya tidak terdengar. Kecepatannya semakin bertambah, bahkan ia menekan pinggang Baekhyun hingga Baekhyun kembali menjerit kesakitan.

"AAAAKHHH! HIks..hiks.. sakit Chanyeol.. hentikannn.." tangis Baekhyun pecah, wajahnya sudah basah oleh air mata. Chanyeol tetap bergerak dengan sangat cepat, hingga terdengar decitan ranjang yang mendominasi ruangan kamar Chanyeol.

"OOOhhh….eeeenggg…" Erangan Chanyeol mulai terdengar, begitu berat dan sangat bernafsu.

Baekhyun masih menutup matanya, rasa sakitnya berkali-kali lipat ketika Chanyeol mengangkat kedua kakinya dan menyematkannya di pundak lelaki tinggi itu.

"Hiks..hiks..hen…tik..kan..hiks..sak…itt…"

"HHMMM…OOOOH"

Kegiatan itu semakin memanas, Baekhyun mencoba mendorong paha Chanyeol dengan tangannya yang terulur lewat bawah, namun sia-sia ia tidak memiliki tenaga yang cukup. Chanyeol semakin brutal bahkan kepala Baekhyun menabrak kepala ranjang berulang kali, meski tidak sakit tapi Baekhyun bisa menjadikan itu ukuran bahwa tusukan Chanyeol sungguh sangat cepat dan dalam.

Chanyeol sepertinya belum puas, ia memutar tubuh Baekhyun membuat Baekhyun dalam posisi menungging dan itu membuat lubang Baekhyun yang lecet semakin sakit. Baekhyun menapakkan kedua tangannya pada kasur dan ia masih menangis dengan Chanyeol yang bergerak liar di belakangnya.

"Aaahh…sakit..Chanyeol…sakit hikss..hikss.."

"Oohhh…eeunggg..hhmmm…"

Tubuh Baekhyun mulai lemas, lututnya tidak mampu menopang tuhuhnya lagi hingga ia terkulai lemas. Apalagi ketika merasakan sesuatu yang basah mengalir melalui lubangnya, dan Baekhyun tahu itu bukan sperma Chanyeol karena kekasihnya belum mencapai kepuasaannya.

Kepala Baekhyun terkulai lemas, tapi matanya masih terbuka. Mata basah itu menatap kearah cermin yang berada disamping ranjang. Ia melihat pantulan dirinya dan Chanyeol. Ia terlihat menyedihkan dengan pantat yang dipaksa menungging, sementara Chanyeol terlihat seperti kerasukan bahkan kepalanya tetap mendongak dengan tubuh yang bergerak seperti mesin seks.

Baekhyun masih terkulai lemas ketika tubuhnya kembali diputar, kini Chanyeol memangkunya dan gerakannya semakin brutal dibawah sana. Baekhyun tidak memiliki tenaga lagi, kepalanya terkulai lemas di atas pundak Chanyeol. Ia tidak mampu mendesah lagi, walau rasa sakitnya masih terasa seperti terbakar dan tercabik.

Air mata Baekhyun tetap mengalir dari matanya yang terbuka dan menatap kosong kearah dinding kamar Chanyeol yang membisu menyaksikan pemerkosaan yang dilakukan kekasihnya.

Hati Baekhyun merasa tercabik, melihat sikap Chanyeol yang seolah tidak menghargai dirinya. Ia benar-benar terlihat seperti jalang, tubuhnya masih bergerak naik turun karena dorongan Chanyeol, dan ketika tubuhnya kembali dibanting lagi dan Chanyeol masih bergerak brutal, semuanya menjadi gelap. Baekhyun kehilangan kesadarannya, ia tidak sanggup lagi merasakan sakit berkali-kali lipat karena yang melakukannya adalah kekasihnya, orang yang ia percaya.

..

.

Taemin duduk di depan meja kerjanya, ia terdiam menatap kosong kearah pena yang sedang ia genggam. Ia merasa bersalah pada suaminya karena sejak pulang dari apartemen Chanyeol ia langsung kembali ke Nubes, tanpa memberikan penjelasan pada Minho tentang alasan ia memberikan Loocinnya pada Baekhyun.

Taemin hanya belum tahu harus mengatakan apa, ia yakin Minho pasti akan marah besar karena dirinya telah memberikan sesuatu yang sangat penting dari dirinya pada orang lain.

" Yang Mulia, Raja Langit ingin bertemu dengan anda." Ucapan pengawal setianya membuyarkan lamunannya, dan dengan pelan ia mengangguk memasang sebuah senyuman yang mengatakan bahwa ia baik-baik saja.

Taemin berjalan menuju ruang utama istana, yaitu di ruang pertemuan kerajaan. Beberapa pengawal mengikutinya dari belakang dan dengan langkah anggun ia berjalan melewati beberapa malaikat pekerja yang memberi hormat padanya yang dibalasnya dengan sebuah anggukan dan senyuman ramah.

"Saya disini Yang Mulia." Ucap Taemin ketika sudah berada di dalam ruangan yang luas itu. Raja Langit yang sedang duduk disinggasananya mengalihkan wajahnya dan menatap putranya, lalu memberi isyarat agar meninggalkan dirinya dan pangeran mahkotanya.

Taemin berdiri belasan meter dari tempat ayahnya duduk, karena peraturannya memang seperti itu. Sebuah awan kecil bergerak pelan kearah Taemin, Taemin menaikkinya dan awan kecil itu membawanya pada sang ayah mendekat. Awan itu hanya muncul ketika Raja Malaikat yang memerintahkannya, yangmana berarti percakapan mereka bersifat rahasia.

Taemin berdiri di depan ayahnya dan memberi hormat. Raja Langit menatap Taemin dalam diam, lalu ia berdeham.

"Apa kau benar-benar sudah berpikir dengan apa yang kau lakukan?" tanya Raja Langit, Taemin mengangguk.

"Bagaimana bisa kau memberikan Loocinmu pada seorang manusia?" Taemin menatap ayahnya lalu tersenyum teduh.

"Karena aku mempercayainya."

"Kau tidak bisa mempercayai manusia! Mereka memiliki jiwa iblis dalam diri mereka, meskipun masih tersembunyi tapi jiwa mereka kotor."

"Aku tahu." Jawab Taemin singkat.

"Kau…" Raja Langit menghela nafas , lalu kembali menatap putranya.

"Bagaimana kalau berita tentang Loocin ini sampai padanya? Ini akan menjadi sebuah masalah." Ucap Raja Langit lagi, Taemin menghela nafas lalu menatap ayahnya dengan tatapan terluka.

"Ayah." Wajah tegang Raja Langit berubah menjadi teduh, ada perasaan sakit dihatinya ketika mendengar suara lirih putra kesayangannya.

"Aku hanya mencoba melakukan sesuatu untuk keluargaku. Waktuku tidak banyak lagi, aku tahu itu. Air kehidupan itu membuat sisi malaikatku perlahan menghilang yang berarti keabadianku juga."

"Tapi kau bisa menggunakan Loocin itu untuk meminta kembali keabadianmu."

"Tidak. Tuhan pasti sudah merencanakan ini ayah. Aku yakin ini takdirku, mungkin aku memang tidak bisa menjadi malaikat selamanya, mungkin aku memiliki takdir lain ayah."

"Tidak nak! Kau tidak bisa melakukan ini"

"Aku bisa ayah. Akulah yang menentukan jalan hidupku."

"Taemin-ah." Suara ayahnya melemah, Taemin tersenyum sendu,sudah sangat lama sejak ayahnya memanggil namanya dengan nada lembut dan hangat seperti itu.

"Loocin itu tidak akan aman di tangan manusia. Dia akan mudah goyah dan akan dengan mudah memberikannya pada siapapun. Mereka akan mengetahui berita ini cepat atau lambat, dan dia pasti akan merebut Loocin itu." Taemin mengangguk.

"Aku tahu. Tapi aku memiliki Chanyeol. Dia iblis yang kuat. Dia tidak mudah terkalahkan. Aku juga memiliki Minho. Dia pasti tidak akan_"

"Mereka iblis. Mereka tidak akan pernah tahu arti sebuah pengorbanan dan balas budi, mereka tidak mengenal kasih sayang." Suara Raja Langit mulai meninggi. Taemin tersenyum, ia mendekat, menyentuh tangan ayahnya .

"Mereka mengenalnya, hanya tidak tahu cara untuk menyalurkannya. Chanyeol akan menjaga Loocinku ayah, aku yakin padanya. Aku juga memiliki Luhan dan Kyungsoo." Raja Langit menggeleng seolah tidak terima dengan ucapan putranya.

"Chanyeol, Luhan dan Kyungsoo tidak sebanding dengannya. Mereka akan kalah."

"Tidak. Anak-anakku akan menjadi kuat demi ibunya."

"Taemin, ayah mohon pikirkan lagi!"

"Apa yang perlu aku pikirkan lagi? Loocin-ku telah menjadi milik orang lain. Aku hanya tinggal menikmati waktuku yang tersisa." Raja Langit menghela nafas ia meraih tangan putranya dan mengelusnya pelan.

"Katakan! Apa tujuanmu memberikan Loocin mu pada manusia itu?"

"Aku hanya mencoba menebus kesalahan yang telah aku perbuat padanya, kesalahan Chanyeol yang merusak hidupnya. Dia pantas mendapatkan sebuah keistimewaan ayah. Dia pantas bahagia."

"Tapi dia hanya manusia, dia bahkan tidak tahu apa fungsi Loocin itu."

"Hanya belum. Tapi suatu saat dia akan tahu. Dan aku yakin dia akan menggunakannya dengan bijaksana." Taemin tersenyum lembut.

"Ah ayah, sudah sejak lama kita tidak berkuda bersama . Apa ayah keberatan kalau hari ini kita berkuda?" tanya Taemin dengan senyum sumringahnya, Raja Langit menatap sendu kearah putranya lalu ia tersenyum.

"Tidak. Mari berkuda bersama, Pangeran Mahkota!" Ucap Raja Langit sambil tersenyum senang. Taemin mengangguk sambil memperlihatkan senyum merekahnya.

..

.

Baekhyun membuka matanya yang terasa berat, ia mengerjap dan menatap kelangit-langit kamar, hingga ia menyadari dimana dirinya dan apa yang baru saja terjadi. Ia menoleh kesamping dan mendapati Chanyeol sedang berbaring sambil menatap langit-langit kamar juga.

Baekhyun merasakan hatinya kembali sakit, mengingat bagaimana Chanyeol memperlakukannya seperti seorang pelacur, bercinta tanpa perasaan. Baekhyun mencoba bangkit, tidak memperdulikan Chanyeol, ia mencoba meraih pakaiannya walau tubuhnya terasa benar-benar sakit.

"Baekhyun?" panggilan Chanyeol membuatnya berhenti sementara, tapi ia tidak ingin berbalik untuk menatap wajah Chanyeol. Ia masih marah dengan semua perlakukan Chanyeol padanya.

"Baekhyun?" Baekhyun tetap bergeming, ia masih mencoba meraih pakaiannya, dan sebuah pegangan ditangannya membuat ia menoleh, ia melirik Chanyeol sekilas namun lelaki itu tidak memandangnya masih setia menatap langit-langit kamar.

Baekhyun melepaskan tangan Chanyeol dan menggunakan seluruh kekuatannya untuk bangkit, ia terduduk disisi ranjang dan entah mengapa ia terisak. Rasa sakit tidak tertahankan itu dan rasa sakit di dadanya bercampur menjadi satu.

"Aku pikir kau benar-benar berbeda." Ucap Baekhyun lirih dalam isaknya.

"Bahkan kau tidak berhenti ketika aku merintih kesakitan. Apa begini caramu memperlakukan orang yang mencintaimu? Orang yang telah kau milikki?" Baekhyun masih terisak.

"Aku sedang tidak ingin menjelaskan apapun." Ucap Chanyeol. Baekhyun menoleh kesal dengan ucapan Chanyeol, dan ia kembali mendapati Chanyeol masih setia menatap langit-langit kamar. Chanyeol terlihat berbeda , ia terlihat begitu putus asa, bingung, cemas, entahlah Baekhyun tidak bisa menerka terlalu banyak.

"Baekhyun? Bagaimana bila orang yang kau benci tiba-tiba bertingkah seolah ingin pergi darimu?" Baekhyun terdiam, ia masih terbawa dalam suasana hatinya yang hancur. Ia menatap Chanyeol , ingin marah dan bertanya tentang sikapnya, tapi melihat wajah Chanyeol yang hampa membuat Baekhyun mengernyit.

"Apa aku harus bertanya padanya, apa aku harus membiarkannya?" kembali Chanyeol bertanya dengan santai.

"Apa maksudmu?" tanya Baekhyun dingin, ia menghapus air matanya perlahan.

"Aku membenci seseorang karena dia sangat suka mengatur hidupku, tapi tiba-tiba ia bersikap aneh dan …." Chanyeol mengalihkan pandangannya pada Baekhyun dan matanya membulat melihat mata basah Baekhyun.

"Baekhyun? Kau menangis? Ada apa?" Chanyeol sedikit bangkit dan menyentuh pipi kekasihnya, Baekhyun membuang wajahnya dan ia merasa aneh dengan sikap Chanyeol.

"Kau bertanya ada apa? Setelah kau memperlakukanku seperti seorang jalang? Kau bahkan tidak memperdulikan rintihan kesakitanku." Ucap Baekhyun dingin, Chanyeol membulatkan matanya dan ia baru tersadar. Sisi iblisnya mengusainya dalam waktu yang cukup lama, hingga ia tidak menyadari jika telah menyetubuhi Baekhyun dengan kasar, karena ketika sisi malaikatnya kembali ia sudah dalam keadaan berbaring disamping Baekhyun yang tertidur.

"Apa aku menyakitimu?" tanya Chanyeol. Baekhyun terdiam, ia menatap Chanyeol tajam. Ia sungguh tidak mengerti dengan kekasihnya.

Chanyeol segera menyibak selimut dan ia terkejut melihat noda darah yang mengering diranjangnya, Baekhyun sama terkejutnya melihat darahnya berceceran di atas sprei hijau Chanyeol.

Chanyeol yang menatap tidak percaya segera memeluk Baekhyun, namun Baekhyun mendorong dada Chanyeol.

"Aku ingin pulang." Ucap Baekhyun sambil membuang wajahnya kesamping. Chanyeol menggeleng.

"Tidak, sampai aku mengobatimu." Chanyeol bangkit dari ranjangnya dan berjalan kearah kamar mandi dengan tubuh telanjangnya, seragamnya sudah terlepas dari tubuhnya saat ia menyetubuhi Baekhyun setelah kekasihnya tidak sadarkan diri.

Terdengar bunyi air yang jatuh dengan deras dan tak lama Chanyeol keluar dari kamar mandi dengan wajah bersalah. Chanyeol berjalan mendekati Baekhyun, ia memegang kedua pipi Baekhyun dan mengecup pucuk kepala Baekhyun.

"Maafkan aku. Maafkan aku." Bisik Chanyeol, tapi Baekhyun tidak menjawab, walau ia merasa tersentuh tapi ia masih merasa marah pada Chanyeol, dan ia sungguh kecewa. Baekhyun setia membuang wajahnya kesamping, menghindari bertatapan dengan Chanyeol. Hatinya sungguh sakit , ia benar-benar kecewa untuk itu ia akan sedikit egois saat ini.

Chanyeol memungut pakaian mereka yang berserakan, lalu meletakannya diatas sofa, ia menarik selimut yang sudah berceceran darah dan sperma miliknya , hingga tubuh telanjang Baekhyun terlihat.

Baekhyun menekuk kakinya dan itu membuatnya semakin kesakitan. Chanyeol mendekat, masih menatap ceceran darah diatas ranjangnya sebelum akhirnya mengangkat tubuh Baekhyun dan hendak membawanya ke dalam kamar mandi. Baekhyun mencoba menolak, namun tenaganya benar-benar terkuras habis, jadi yang bisa ia lakukan hanya pasrah ketika tubuhnya diangkat dan di bawa ke dalam kamar mandi.

Dengan perlahan Chanyeol meletakkan tubuh Baekhyun ke dalam bathtub yang sudah terisi setengahnya membuat Baekhyun meringis karena rasa sakit dan perih itu kembali menjalar.

Chanyeol ikut masuk ke dalam air, ia menyandarkan tubuh Baekhyun pada dinginnya poselen itu, dan meluruskan kaki Baekhyun. Dengan perlahan Chanyeol membersihkan noda-noda darah mengalir yang sudah mengering sepanjang kaki Baekhyun.

Baekhyun menatap Chanyeol dan ia melihat sebuah penyesalan disana, ia rasa Chanyeol sedang terguncang tadi dan melakukan seks adalah caranya untuk melampiaskan rasa kekesalannya.

"Kau bisa memukulku setelah ini. Aku telah melakukan sebuah perbuatan bodoh. Aku tidak bisa mengendalikan diriku." Ucap Chanyeol dengan suara rendahnya, ia sungguh menyesal dan Baekhyun mampu merasakan itu.

"Chanyeol, tentang orang yang kau benci tadi? Boleh aku tahu siapa?" tanya Baekhyun, Chanyeol menatap Baekhyun datar lalu ia menundukan arah pandangnya kembali.

Baekhyun sedikit bangkit, ia bergeser dan memilih duduk menyandar pada dada Chanyeol. Ia pikir untuk saat ini ia akan menyampingkan sisi egoisnya dan tidak akan marah pada kekasihnya yang menurutnya sedang terguncang.

"Ceritakan padaku! Aku kekasihmu." Ucap Baekhyun sambil menarik tangan Chanyeol dan melingkarkan di perutnya. Chanyeol membenamkan kepalanya di pundak Baekhyun, sungguh ia membenci dirinya yang seperti ini. Ia terlihat lemah dan berantakan, ia benci sisi malaikatnya mulai terlihat mendominasi.

Baekhyun yang menyadari sikap kekasihnya menolehkan kepalanya kebelakang, menatap wajah Chanyeol dari samping. Baekhyun meraih pipi Chanyeol mengelusnya perlahan lalu membawa bibir mereka bertemu, untuk melakukan kecupan singkat.

"Tidak usah bingung! Mulailah darimana kau ingin memulai. Atau kau bisa langsung katakan hal yang membuatmu kebingungan."

"Baekhyun aku merasa ibuku akan pergi meninggalkanku." Baekhyun mengerutkan keningnya.

"Kenapa?" tanya Baekhyun pelan.

"Entahlah. Aku hanya merasakannya. Ibu bersikap aneh. Aku hanya bingung haruskah aku mengabaikannya atau aku harus bertanya langsung?" tanya Chanyeol lagi.

"Kau bisa menunggu atau kau bisa bertanya langsung. Terkadang seseorang tidak ingin menceritakan apa yang sedang ia alami, tapi suatu saat ia akan menceritakan itu. Tapi terkadang orang itu menunggu orang lain untuk bertanya padanya. Tiap orang aku rasa berbeda, untuk aku sendiri aku lebih suka ketika aku yang mengatakannya setelah siap. Tapi selama itu kau bisa menunjukan rasa kepedulianmu, paling tidak ia tahu kau peduli padanya."

"Apa? Tidak. Aku tidak mungkin melakukan itu pada orang menyebalkan sepertinya." Baekhyun tersentak karena nada bicara Chanyeol meninggi. Chanyeol membicarakan ibunya seolah sedang membicarakan orang asing yang telah merusak hidupnya.

"Chanyeol, dia ibumu. Orang yang melahirkanmu." Baekhyun mengingatkan. Chanyeol tidak menjawab, ia mengeratkan pelukannya pada Baekhyun menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher kekasihnya.

"Kau…kau tidak mengerti Baek. Seberapa rumit hubungan keluargaku." Ucap Chanyeol dengan suara yang lemah. Baekhyun mengelus punggung tangan Chanyeol yang melingkar diperutnya.

"Serumit apapun itu, seorang ibu tetaplah seorang ibu. Hm, jangan buat dirimu menyesal seperti apa yang telah aku lakukan pada darah dagingku." Suara Baekhyun terdengar berbisik, tapi Chanyeol mampu mendengarnya dan merasakan betapa sakitnya hati Baekhyun setelah mengatakan itu.

"Ibumu mencintaimu, dia sangat menyayangimu . Aku bisa melihatnya dengan jelas Chanyeol. Jangan sia-siakan ibumu, jika benar seperti yang kau rasakan ibumu ingin meninggalkanmu, maka tunjukan bahwa kau menyayanginya sebelum kau menyesal." Chanyeol tidak menjawab, sisi iblisnya menolak semua hal itu. Dia tidak ingin terlihat lemah dengan menunjukan kasih sayang dan kepedulian pada ibunya. Kasih sayang adalah hal yang tabu dalam dunia iblis.

"Aku hanya tidak bisa Baekhyun." Ucap Chanyeol. Baekhyun menjauhkan tubuhnya, agar bisa melihat wajah kekasihnya. Kedua mata itu bertatapan.

"Aku… aku bukan seseorang yang mampu menunjukan kasih sayang pada orang lain. Aku tidak terlahir untuk itu." Ucap Chanyeol lagi, Baekhyun menundukan arah pandangnya sebelum kembali menatap mata hitam kelam milik Chanyeol.

"Kau bisa menunjukan kasih sayang dan cintamu padaku, kenapa tidak dengan ibumu? Aku dan ibumu tidak bisa disandingkan. Kami terlalu jauh, ibumu jauh lebih berharga."ucap Baekhyun.

"Tidak. Kau yang paling berharga dari apapun yang aku milikki." Baekhyun tersenyum, entah mengapa ucapan Chanyeol membuat dirinya merasa berharga, tapi senyum itu hilang ketika mengetahui fakta bahwa dirinya dinomersatukan oleh seorang anak yang masih memiliki ibu.

"Tidak. Jangan mengagungkanku seperti itu Chanyeol. Ibumu adalah yang utama. Ibumu selalu berada di atasmu, sementara aku berada disampingmu." Baekhyun tersenyum, Chanyeol menatap Baekhyun namun tidak memberikan respon apapun.

"Aakh!" Baekhyun memekik kesakitan ketika Chanyeol sedikit menggerakan kakinya. Chanyeol tersadar dan menoleh kearah bawah, dimana air mereka sedikit berwarna kemerahan.

"Baekhyun?" Baekhyun meringis merasakan perih pada lubangnya. Lukanya masih belum sembuh, Chanyeol memperkosanya dengan kasar dan dikuasai penuh oleh sisi iblisnya sehingga kekuatannya berkali-kali lipat lebih besar, sementara Baekhyun hanya manusia biasa yang tidak mampu mengimbangi itu semua.

"Aku akan mengobatinya." Ucap Chanyeol. Baekhyun menggeleng lemah, ia masih meringis namun secara tiba-tiba Chanyeol mengangkat tubuhnya dan mendudukan Baekhyun disisi kiri bathup, diatas keramik dengan jarak sempit yang bisa dijadikan alas duduk.

Chanyeol membuka kedua paha Baekhyun, sementara Baekhyun bersandar pada dinding kamar mandi yang dingin. Wajah Chanyeol berada di depan selangkangan Baekhyun dan matanya membulat lebar ketika melihat lubang anal Baekhyun yang masih menganga berwarna merah pekat.

Biasanya setelah kegiatan mereka lubang itu akan tertutup kembali setelah beberapa saat, namun kini lubang itu terbuka lebar dan terlihat lecet disekitarnya. Chanyeol terdiam sebentar mengumpulkan kekuatannya di ujung lidahnya.

Ia mendekatkan wajahnya keselangkangan Baekhyun dengan lidah menjulur, lalu mulai menjilati lubang itu perlahan.

"Eummhh…aaahh…" Desahan Baekhyun terdengar, suara kesakitan dan kegelian yang bercampur menjadi satu. Baekhyun menggunakan satu tangannya untuk menahan pahanya dan satu lagi untuk menapak pada keramik, menyangga tubuhnya.

Dengan perlahan lidah Chanyeol bergerak , menyapu sekitar lubang terbuka itu, terlihat sebuah cahaya kecil yang tak kasat mata bergerak untuk menyingkirkan luka-luka disekitar lubang Baekhyun, hingga ketika lidah Chanyeol masuk ke dalam lubang itu, desahan Baekhyun semakin keras.

Lidah Chanyeol bergerak memutar untuk membasahi lubang Baekhyun, membiarkan liurnya menetes dan menjadikan lubang Baekhyun mengkilap hingga perlahan lubang terbuka itu tertutup kembali.

"Aaahh..eeuummhhh.." Baekhyun menahan dengan susah payah desahannya. Rasa perih tak tertahankan yang ia rasakan berangsur-angsur lenyap tergantikan dengan rasa menggelitik yang membuatnya menggelinjang dan menggeliat tidak nyaman.

"Chan…yeollllhhhh.." Dengan susah payah Baekhyun memanggil nama kekasihnya, hingga sang kekasih menghentikan kegiatannya. Lubang Baekhyun sudah kembali seperti keadaan semula, Chanyeol menatap kekasihnya yang bersandar pada dinding dengan kepala mendongak dan nafas terengah.

Baekhyun melirik Chanyeol dan ikut tersenyum ketika kekasihnya juga tersenyum. Baekhyun mengangkat kepalanya dan kembali masuk ke dalam air. Chanyeol memegang jemari sang kekasih dan mereka duduk berhadapan.

"Masih sakit?" tanya Chanyeol, hanya sekedar bertanya walau ia sudah tahu pasti apa jawabannya.

"Tidak. Sakitnya benar-benar hilang. Bagaimana kau melakukannya?" tanya Baekhyun takjub. Chanyeol tersenyum, sedikit menyeringai lalu menjulurkan lidahnya.

"Lidahku adalah lidah ajaib." Gumam Chanyeol, Baekhyun tersenyum dan mengangguk.

"Sangat ajaib. Mungkin Tuhan memberikannya sebagai hadiah untukmu" ucap Baekhyun meladeni ucapan Chanyeol yang menurutnya seperti bercanda.

"Tidak." Chanyeol menggeleng.

"Dia menciptakan lidahku sebagai hadiah untukmu. Karena hanya lidahku yang bisa membuatmu mendesahkan namaku." Baekhyun merona lalu menolehkan kepalanya kesamping, entah mengapa ucapan Chanyeol terdengar sangat mesum namun romantis secara bersamaan.

"Hentikan! Itu sungguh mesum." Ucap Baekhyun tanpa menatap Chanyeol. Chanyeol menyeringai.

"Mau mencobanya? ….lagi?" Baekhyun mengangkat wajahnya dan menatap Chanyeol dengan kedua matanya yang membulat, sebelum di detik berikutnya ia tersenyum dan mengangguk pelan. Chanyeol segera menarik tangan Baekhyun dan mengajak kekasihnya untuk berciuman.

Ciuman hangat dan menuntut, Baekhyun memejamkan matanya sambil meremas rambut Chanyeol ketika tubuhnya diangkat untuk duduk diatas pangkuan kekasihnya. Chanyeol meremas bongkahan pantat Baekhyun membuat suasana diantara mereka semakin memanas dan ciuman mereka semakin intens.

Ciuman mereka terputus membuat untain seperti jembatan diantara bibir mereka, Chanyeol mendongak sementara Baekhyun menunduk. Mata mereka bergerak beraturan namun terkunci pada tatapan masing-masing. Baekhyun tersenyum, Chanyeol-nya telah kembali. Ia semakin yakin jika tadi Chanyeol sedang terguncang dan kini kekasihnya telah kembali pada sifat aslinya.

Mata Baekhyun membulat ketika merasakan sesuatu keras dibagian bawah tubuhnya, mata mereka teralihkan menuju bagian bawah secara bersamaan. Chanyeol menelan ludahnya cepat, sisi iblisnya tidak bangkit namun hormon sialannya tetap mendominasi.

"A…aku tidak mengundangnya untuk bergabung." Ucap Chanyeol sambil menggeleng . Baekhyun tersenyum dan dengan segera mengecup bibir Chanyeol. Baekhyun memajukan tubuhnya dan Chanyeol meremas pinggang Baekhyun pelan, ia tidak akan membiarkan sisi iblisnya menguasai lagi, dia tidak ingin menyakiti Baekhyun lagi

"Chanyeol. Aku tidak suka kau bersikap kasar seperti tadi. "Ucap Baekhyun masih sedikit kecewa. Chanyeol menghela nafas,jemarinya mengelus rambut Baekhyun dan menatap kedua manik mata kekasihnya seolah meminta maaf.

"Aku akan mencoba memakluminya, aku akan mencoba menganggap bahwa tadi kau sedang terguncang." Chanyeol tersenyum lalu mengangguk cepat, Baekhyun tersenyum dan ia mengecup bibir Chanyeol dengan kilat. Chanyeol mengecup balik bibir Baekhyun, bahkan menempelkan bibir mereka lebih lama.

Dia beruntung Baekhyun memaafkannya, tidak menjauhinya karena mengalami trauma. Diperkosa dengan cara kasar, bahkan Chanyeol sendiri tidak berani membayangkan betapa sakitnya Baekhyun ketika sisi iblisnya yang berkuasa. Yang jelas ketika sisi iblis itu mendominasi Chanyeol tidak akan memandang apapun, dia tidak akan mengingat arti kasih sayang dan cinta. Walau tidak didominasi secara 100 % tapi Chanyeol akan tetap menjadi kasar ketika semua pikiran dan hatinya tertutup.

Baekhyun menjulurkan tangannya untuk mengambil sebuah botol dibelakang kepala Chanyeol. Chanyeol yang mengira Baekhyun memeluknya menoleh ketika mendengar bunyi tutup yang terbuka.

"Sedang ap_" ucapan Chanyeol terhenti ketika merasakan tangan Baekhyun yang memegang kepala penisnya dan membalurinya dengan sesuatu yang licin. Lalu Baekhyun kembali menuang cairan wangi itu ketelapak tangannya dan mengangkat sedikit tubuhnya untuk memasukkan jemarinya ke dalam lubang analnya.

Chanyeol menatap tidak percaya, Baekhyun yang setahunya polos dan naif bisa berbuat seperti itu. Chanyeol semakin yakin jika sebaik-baiknya manusia, pasti memiliki sisi liar di dalam dirinya.

Baekhyun meraih kembali penis Chanyeol dan berusaha memasukkannya ke dalam lubangnya yang kini sudah tertutup rapat dan tidak nyeri lagi. Chanyeol menatap Baekhyun, membiarkan sisi liar kekasihnya bekerja. Chanyeol menutup matanya sebentar saat penisnya berhasil masuk sebagian. Baekhyun meletakkan kedua tangannya di atas pundak Chanyeol, dan matanya tertutup dengan kepala mendongak .

Dimata Chanyeol sekarang Baekhyun terlihat begitu seksi dan menggairahkan. Mata mereka bertemu dan Baekhyun mengalihkan pandangannya ia merasa malu, ia sendiri tidak mengerti kenapa dirinya bisa melakukan hal seperti itu. Yang ada dipikirannya hanya ingin menghibur Chanyeol, dan membuat kekasihnya bahagia dengan melupakan masalahnya.

"Kenapa membuang wajahmu? Lihat aku!" ucap Chanyeol sambil menyeringai. Baekhyun mengangkat wajahnya dan menatap Chanyeol.

"Ini membuatku terkejut, tapi aku menyukainya. Kau sudah berusaha Baek." Ucap Chanyeol sambil tersenyum. Baekhyun ikut tersenyum dan untuk sesaat mereka terdiam hanya bertukar pandangan satu sama lain.

"Chanyeol? Lain kali jika kau ada masalah kau bisa ceritakan padaku. Dan jika kau butuh pelampiasan kau bisa meminta padaku, jangan melakukan hal seperti tadi. Aku sungguh takut melihatmu tadi, dan aku tidak ingin merasa kecewa padamu karena telah menyakitiku." Ucap Baekhyun. Chanyeol meraih pipi putih yang kini memerah milik Baekhyun, lalu mengusapnya sayang dan mengangguk.

"Aku berjanji tidak akan melakukannya. Hm, jadi apa aku benar-benar boleh meminta padamu jika aku ingin?" tanya Chanyeol dan Baekhyun kembali membuang wajahnya, ia baru menyadari ucapanya.

"Hm?" Chanyeol memastikan , Baekhyun menoleh kearah Chanyeol dan mengangguk pelan dengan wajah semakin merona. Chanyeol tersenyum senang, lalu mengecup bibir kekasihnya.

"Kau ingin bergerak, atau aku yang bergerak?" Baekhyun menggeleng.

"Aku yang bergerak." Ucap Baekhyun dan mulai menaik turunkan tubuhnya. Ini pertama kalinya ia yang mendominasi dan rasanya sedikit sakit namun cukup nikmat karena penis Chanyeol langsung menusuk titik kenikmatannya.

Gerakan Baekhyun masih dalam tempo lambat dan konstan, namun ia sudah menggeliat merasakan kenikmatan yang menjalari tubuhnya, Chanyeol memeluk pinggang Baekhyun dan menyesap putting kekasihnya dengan lembut. Gerakan mereka membuat air di dalam bak keluar dan tumpah cukup banyak diatas lantai kamar mandi mereka.

..

.

Kyungsoo berjalan kearah lapangan basket, ia sedang menunggu Luhan menjemputnya namun saat melihat sosok Cheondong yang sedang bermain basket dilapangan saat melewati koridor lantai dua Kyungsoo segera berlari untuk mendekat.

Disana Cheondong sedang berdiri sambil berbicara pada teman-temannya yang duduk dilapangan. Sebenarnya itu tugas Jongin sebagai seorang ketua, namun karena Jongin tidak datang sehingga Cheondong yang menggantikan.

Kyungsoo berdiri di sisi lapangan, di pembatas jaring-jaring kawat yang membatasi lapangan dan halaman. Ia menatap sosok Cheondong dengan wajah sumringah, lelaki putih dan tinggi itu terlihat hebat dimata Kyungsoo. Ia bisa membuat semua teman-temannya diam mendengarkan.

Dan seperti magnet, tiba-tiba secara tidak sengaja mata mereka bertemu. Cheondong terdiam sebentar, dan menggeleng pelan sebelum kembali melanjutkan ucapannya. Kyungsoo tidak mendengar apa yang ia bicarakan karena jarak mereka yang cukup jauh.

Tapi Kyungsoo menatap Cheondong seperti ia juga mendengarkan semua ucapan lelaki tampan itu. Ketika para pemain basket yang duduk itu bangkit, Kyungsoo meninggikan kepalanya untuk melihat sosok Cheondong yang tertutupi oleh pemain-pemain tinggi itu.

"Sedang apa sayang?" remasan pada pantatnya dan suara itu membuat kaki Kyungsoo yang menjinjit segera menapak tanah, ia menoleh dan mendapati dua orang lelaki dibelakangnya. Kyungsoo mengenalnya, mereka adalah lelaki yang berbaik hati menawarinya duduk dikantin dan memintanya untuk membuka kancing seragamnya.

"Aku sedang melihat mereka bermain." tunjuk Kyungsoo. Kedua lelaki itu saling toleh dan memberikan isyarat.

"Mau ikut sebuah permainan yang menyenangkan?" tanya sosok dihadapanya sambil kembali mencuri remasan pada pantat Kyungsoo. Kyungsoo yang merasa risih menjauhkan tangan itu, ia hanya merasa risih tidak tahu dirinya sedang dilecehkan.

"Kenapa? kau tidak suka dengan sentuhanku?" kembali pantatnya diremas. Kyungsoo menggeleng.

"Tidak. Itu sakit." Ucap Kyungsoo.

"Tapi begini cara kami memberi salam."

"Benarkah?" kedua mata Kyungsoo membulat.

"Apa yang sedang kalian lakukan?" suara itu membuat keduanya menoleh. Cheondong berdiri dengan satu tangan memeluk bola basketnya. Kedua orang itu berdecak sebal, pemain basket adalah salah satu dari daftar orang-orang yang disayangi pihak sekolah karena prestasi mereka, untuk itu para pemain basket cukup ditakuti apalagi sang ketua dan wakilnya.

Kedua orang itu mencibir lalu melenggang pergi. Cheondong menatap Kyungsoo sebentar, dan kedua dahinya mengernyit saat menyadari tatapan Kyungsoo sedikit aneh padanya.

"Kau tidak pulang Kyungsoo-sshi?" tanyanya. Kyungsoo terdiam, lalu mengangguk dan menggeleng. Sepertinya ia kebingungan.

"Aku pulang tapi tidak sekarang. Kakakku belum datang." Ucap Kyungsoo. Cheondong mengangguk. Ia membalik tubuhnya dan mengambil tasnya yang tergelatak di dekat tiang ring. Lapangan sudah sepi karena para pemain sudah pulang, mereka sudah bermain sejak jam istirahat pastinya tubuh mereka sudah kelelahan.

"Kau ingin menunggu disini?" tanya Cheondong ketika melihat Kyungsoo masih berdiri menatap kearahnya. Kyungsoo melihat sekitar dengan kebingungan.

"Ayo tunggu di depan gerbang!" ucap Cheondong sambil berjalan dengan santai melewati Kyungsoo.

Mereka berdiri di depan gerbang sekolah dengan Cheondong yang sesekali memantulkan bolanya ketanah. Lelaki tampan itu berkata akan menunggu Kyungsoo hingga dijemput.

"Kau tidak jatuh cinta padaku?" tiba-tiba Kyungsoo bertanya, Cheondong menangkap bola basketnya dan menatap Kyungsoo heran.

"Hm…kenapa aku harus jatuh cinta padamu?" tanyanya bingung. Kyungsoo mengarahkan bola matanya kekanan, berpikir.

"Karena jantungmu bedetak kencang untukku dan jantungku berdetak kencang untukmu." Sahut Kyungsoo dengan senyum sumringahnya. Cheondong terkekeh lalu mengusak rambut Kyungsoo, dan kembali memantulkan bola basketnya. Kyungsoo terdiam, usapan Cheondong pada rambutnya mengingatkan cara kakaknya yang memperlakukan Baekhyun, Kyungsoo sering memperhatikan dari dalam kamar ketika keduanya sedang berada diruang tengah.

"Apa itu artinya kita kekasih sekarang?" Cheondong menoleh cepat, menatap Kyungsoo yang menatapnya dengan rambut berantakan. Cheondong menatap sosok berkulit putih mulus di depannya, seperti kata Jongin , sosok dihadapannya memang cantik seperti seorang bidadari.

"Kenapa kita harus menjadi kekasih?" tanya Cheondong. Kyungsoo memajukan bibirnya dan ia juga cukup bingung.

"Karena…karena kakakku memperlakukan kekasihnya sama seperti kau memperlakukanku. Jadi kita kekasih?" Cheondong terkekeh.

"Kau sungguh lucu. Kau bicara secara terus terang. Tapi…" Cheondong menatap Kyungsoo.

"Mengusak rambut bukan berarti kita sepasang kekasih. Sepasang kekasih akan melakukan lebih daripada sekedar mengusak kepala."

"Seperti?" tanya Kyungsoo cepat.

"Berpelukan?" bukannya sebuah pernyataan, tapi malah pertanyaan yang keluar dari mulut Cheondong karena dia sendiri pun merasa ragu dengan jawabannya. Kyungsoo dengan cepat memeluk Cheondong membuat lelaki itu membulatkan matanya terkejut.

"Kita kekasih?" Cheondong menggeleng.

"Berpegangan tangan." Ucapnya dengan suara pelan, hanya ingin menguji kadar kepolosan Kyungsoo. Kyungsoo segera meraih tangan Cheondong dan menggenggamnya erat.

"Kita kekasih sekarang?" Cheondong masih diam, ia kembali penasaran.

"Berciuman." Kyungsoo menjinjitkan kakinya, tapi ia batal.

"Dimana? Dibagian mana seseorang mencium kekasihnya?" Cheondong menatap Kyungsoo.

"Disemua bagian." Jawabnya. Kyungsoo mengangguk, lalu menjinjit untuk mencium pipi kiri Cheondong, lalu pipi kanannya membuat Cheondong syok.

"Apa disini juga?" Kyungsoo bertanya sambil menunjuk bibir Cheondong, lelaki yang terkena syok kardio itu hanya mengangguk pelan dengan tatapan kosong kearah Kyungsoo. Kyungsoo menjinjitkan kakinya dan sebuah ciuman mendarat dipermukaan yang cukup kasar. Kyungsoo menjauhkan wajahnya dan mendapati sebuah bola dihadapannya. Menjadi pembatas antara wajahnya dan wajah Cheondong.

Bola itu turun dan menampilkan wajah Cheondong. Lelaki itu berdeham sambil kembali menurunkan bolanya.

"Hmm… apa kau menyukaiku?" tanya Cheondong dengan wajah serius.

"Me..menyukaimu?" Kyungsoo berpikir, ia tidak mengerti bagaimana membedakan menyukai dan jatuh cinta.

"Hm, aku tidak tahu aku menyukaimu atau tidak. Tapi aku jatuh cinta padamu." Jawaban Kyungsoo membuat Cheondong mengernyit semakin bingung.

"Kita bahkan belum mengenal, aku bahkan tidak tahu apapun tentang dirimu selain namamu." Ucap Cheondong.

"Apa kita harus saling mengenal dulu untuk menjadi kekasih? Kenapa tidak ada yang memberitahuku tentang ini?" Cheondong semakin tidak mengerti. Ia menghela nafas lalu memegang kedua pundak Kyungsoo.

Lelaki itu tersenyum, memperbaiki rambut Kyungsoo yang berantakan membuat Kyungsoo tersenyum.

"Jika kau sungguh-sungguh ingin menjadi kekasihku. Kau harus membuktikannya padaku."

"Bagaimana caranya?"

"Tunjukan padaku bahwa aku layak menerimamu."

"Apa yang harus aku lakukan untuk membuat diriku layak?" Cheondong mengernyit bingung.

"Kau bisa mencarinya di internet, tentang cara menjadi kekasih yang baik." Cheondong tersenyum.

"Dimana aku bisa mendapatkannya?" Cheondong kembali mengernyitkan dahinya untuk kesekian kalinya.

"Kau memiliki ponsel kan?" Kyungsoo mengernyit, mengingat sesuatu yang bernama ponsel.

"Gunakan itu!"

"Apa harus benda itu?" Cheondong mengernyit sambil mengangguk ragu.

"Baiklah!" ucapnya sambil tersenyum, Kyungsoo akan menanyakan ini pada Luhan.

TIN

Keduanya menoleh ketika melihat sebuah mobil berada dibelakang mereka, Kyungsoo menoleh kearah belakang Cheondong dan ia tersenyum. Luhan sedang melambai kearahnya.

"Itu kakakku. Aku harus pulang. Terima kasih sudah menungguku." Ucap Kyungsoo lalu segera berlari setelah memberikan hormat. Cheondong menoleh menatap Kyungsoo yang memasuki mobil dan memberi hormat saat Luhan menekan klaksonnya. Cheondong menggeleng sambil melanjutkan perjalanannya.

Luhan duduk di dalam mobilnya sambil sesekali melirik adik bungsunya.

"Siapa dia?" tanya Luhan.

"Dia Cheondong."

"Hm. Siapamu?" tanya Luhan lagi.

"Orang yang telah membuatku jatuh cinta." Luhan nyaris menginjak remnya jika tidak mengingat jika mereka ada dijalan raya. Mata Luhan membulat dan melirik kearah Kyungsoo.

"Secepat itu?" tanya Luhan. Kyungsoo menoleh, walau ia tidak mengerti tapi ia mengangguk.

"Oh. Baguslah. Selamat." Ucap Luhan sambil tersenyum.

"Hyung. Aku ingin ponsel." Ucap Kyungsoo, Luhan melirik sebentar lalu mengangguk.

"Mari kita membelinya." Ucap Luhan dan segera membawa mobilnya melaju lebih kencang.

..

.

Chanyeol berdiri di depan gerbang Nubes dengan sosok setengah iblisnya. Ia menatap puluhan penjaga yang menghadang jalannya, dan dengan sekali hentakan puluhan penjaga itu tumbang, Chanyeol menggunakan seluruh kekuatan terakhirnya sebelum lenyap saat berada di dalam Nubes.

Ia masuk dengan kesal, membuat beberapa malaikat berlari terbirit-birit saat berpapasan dengannya di halaman istana. Terdengar bunyi lonceng Nubes dengan suara nyaring dan keras yang berarti ada sebuah kekacauan terjadi.

Beberapa penjaga istana segera bersiap dan mengepung Chanyeol yang kini terdiam karena beberapa malaikat mengacungkan senjata padanya.

"Oh..Oh..Oh.. Si putra iblis rupanya. Apa yang membuatmu berkunjung kemari? Ini bukan tempat untuk iblis sepertimu." Rahang Chanyeol mengeras, pria yang berdiri di depannya adalah Jendral istana. Chanyeol mengenalnya, dia Yunho si Jendral perang yang terkenal karena kehebatannya memimpin perang. Walau jarang bertemu karena Yunho lebih sering bertugas, tapi tidak meredakan dendam Chanyeol pada pria yang selalu mengeluarkan ucapan tidak mengenakan.

"Panggil Putra Mahkota kalian. Aku ingin menemuinya!" bentak Chanyeol. Jendral itu berdecih.

"Dimana letak sopan santunmu pada seorang ibu? Terlebih dia adalah Putra Raja Langit." Chanyeol menyeringai.

"Seperti yang kau katakan aku adalah putra iblis, kami tidak mengenal sopan santun." Senyum Jendral itu luntur. Ia termasuk malaikat yang kolot, karena masih belum bisa menerima kehadiran iblis disekitarnya. Terlalu sering berperang membuatnya mengecap iblis sebagai musuh.

"Iblis. Makhluk paling menjijikan dan kejam ingin bertemu dengan salah satu malaikat tertinggi disini." Pria itu berdecih, meremehkan dan Chanyeol benci itu.

"Sayangnya. Malaikat itu adalah ibuku. Dan kau, hanya seorang Jendral disini yang tidak berhak atas apapun." Jendral itu menyeringai, ia menghela nafas namun tatapan tajamnya terkunci pada Chanyeol.

"Chanyeol? Ada apa?" suara lembut itu membuat keduanya menoleh dan seluruh malaikat memberi hormat ketika Taemin menuruni anak tangga. Chanyeol hanya berdiri di tempat sambil berdecih kearah si Jendral, lalu mengalihkan pandangannya pada sang ibu. Entah mengapa raut wajahnya berubah.

"Aku ingin bicara!" ucap Chanyeol dingin, sambil membuang wajahnya tidak ingin menatap wajah ibunya yang membuat perasaanya bercampur aduk. Taemin sedikit terkejut.

"Kau mencariku? Tidak mencari malaikat pekerja yang menganggu kekasihmu?" Chanyeol menatap ibunya tajam sebelum akhirnya lelaki cantik itu tertawa.

"Masuklah! Kita bicara di dalam." Ucap Taemin sambil berjalan diikuti para pengawal dan Chanyeol yang berjalan penuh kemenangan sambil menatap remeh pada Jendral disebelahnya.

Chanyeol mengernyit mencium aroma menyengat dari kamar ibunya, aroma itu membuatnya merasa mual.

"Tumben sekali, ada apa?"

"Jangan berbasa-basi! Cepat katakan apa yang terjadi?" bentak Chanyeol. Taemin menoleh dan menatap putranya tidak percaya.

"Seharusnya ibu yang bertanya apa yang terjadi? Kau datang tiba-tiba , membuat kekacauan di istana, membuat para malaikat ketakutan hingga Jendral Yunho turun tangan, datang mencari ibu dan kini bertanya apa yang terjadi?" Chanyeol mendengus, ia menatap ibunya datar.

"Apa yang terjadi pada ibu?" ucap Chanyeol sambil melempar pandangannya kesamping, ia terlalu malu untuk menanyakan itu dan ia tidak ingin dicap terlalu peduli. Taemin terkekeh lalu duduk diatas kursinya.

"Ibu? Ibu baik-baik saja!"

"Bohong! Ibu seorang malaikat, jadi ibu tidak boleh berbohong!" bentak Chanyeol.

"Ibu tidak sedang berbohong. Kau bisa lihat kan? Ibu tidak kenapa-kenapa."

"Lalu kenapa ibu memberikan Loocin ibu pada Baekhyun?" tanya Chanyeol kesal.

"Apa itu salah? Bukankah kau mencintai Baekhyun?" Chanyeol menatap geram , ia menghela nafas kasar.

"Pasti ada alasan lain."

"Hm. Sayangnya tidak. Ibu hanya berpikir jika Baekhyun memerlukannya. Ibu seorang malaikat yang abadi, ibu seorang keturunan raja, ibu memiliki suami seorang iblis, dengan tiga anak yang tampan dan hebat. Ibu tidak terlalu membutuhkannya, ibu memiliki segalanya. Ibu memiliki kalian, dan ibu rasa itu sudah cukup." Chanyeol menatap ibunya dengan satu alis terangkat mencoba mencari kebohongan, namun sayang seorang malaikat yang terkenal berhati putih tidak akan pernah berbohong, sehingga tidak ada yang tahu saat mereka berbohong, kecuali sesama malaikat atau memiliki perasaan sangat peka. Dan Chanyeol bukan salah satu diantaranya.

"Apa hanya itu?" tanya Chanyeol curiga.

"Apa kau butuh jawaban lain?" Chanyeol membuang wajahnya yang terlihat kesal.

"Tunggu! kenapa kau tiba-tiba peduli tentang ibu? Apa kau mencemaskan ibu?" Chanyeol menoleh cepat kearah ibunya lalu menggeleng cepat dan sedikit berdecih.

"Untuk apa? Aku membenci ibu, jadi aku tidak mungkin mencemaskan ibu. Aku sebaiknya pergi, ini bukan tempatku." Ucap Chanyeol sambil berbalik.

"Bencilah ibu! Setidaknya dengan begitu kau akan selalu mengingatku." Chanyeol menghentikan langkahnya lalu menoleh, ia menatap Taemin dengan dahi mengernyit. Kata-kata itu terdengar janggal di telinganya.

"Jika aku tahu ibu menyembunyikan sesuatu, aku tak akan pernah memaafkan ibu." Ucap Chanyeol dingin, Taemin tersenyum lembut.

"Setidaknya kau tidak akan melupakan ibu." Chanyeol meremas jemarinya, dan dalam hitungan kurang dari sedetik ibunya sudah muncul dihadapanya. Jemari lentik itu mengelus surai hijau kelam putranya.

"Walau kau selalu membuat masalah, tapi kau tetap putra ibu untuk selamanya." Chanyeol menepis tangan ibunya, suasana ini membuatnya tidak nyaman.

"Apa-apaan itu? Jangan lupa! Aku selalu menyesal terlahir sebagai anakmu." Taemin tersenyum memaklumi ucapan putranya.

"Apa kau merindukan ibu?"

"Hah?"

"Apa kau merindukan ibu hingga kau datang kemari?" Chanyeol berdecih, sambil membuang wajahnya kesamping dengan angkuh.

"Jangan bermimpi! Aku tidak pernah merindukanmu sedetik pun." Taemin mengangguk paham.

"Aku mengerti. Hatimu hanya dipenuhi oleh Baekhyun, benarkan?" Taemin menunjuk-nunjuk dada Chanyeol.

"Hentikan!"

"Jagalah dia, dia sangat spesial. Takdir kalian sudah mulai berjalan menuju klimaks." Ucap Taemin.

"Ya..ya..ya.. kau ternyata masih sama. Orang yang suka mengatur. Aku tetap membencimu, dan sekarang rasa benciku bertambah karena ibu bertingkah seperti orang yang akan mati. Walau itu mustahil." Chanyeol terdiam, ia berpikir kembali dan menyadari ucapannya.

"Benar, itu mustahil. Kenapa aku baru terpikirkan?" gumamnya kecil. Ia membalik tubuhnya sambil berjalan meninggalkan ibunya yang berdiri sambil tersenyum penuh arti, ketika pintu itu tertutup sebuah kristal bening mengalir dari matanya , melewati pipinya dan ketika jatuh mengenai lantai, air itu berubah menjadi butiran salju. Taemin menatap lantai dengan mata sedikit melebar, sebelum akhirnya ia tersenyum.

"Waktunya semakin cepat." Ucapnya sambil menatap kearah pintu dimana putranya menghilang.

..

.

Baekhyun tertidur di atas sofa diruang tengah karena kasur Chanyeol masih ternodai oleh darah. Baekhyun hanya mengenakan kaos kebesaran milik Chanyeol yang hanya bisa menutupi hingga setengah pahanya. Busana favorit Chanyeol saat mereka berdua, dan Baekhyun rasa ia mulai menyukainya juga.

Baekhyun menggeliat ketika tidak merasakan pelukan hangat dari kekasihnya , seingatnya tadi mereka berbaring berdua diatas sofa setelah kegiatan panas mereka dikamar mandi. Baekhyun segera bangkit dan mencari kekasihnya.

"Chanyeol?" dapur kosong, jadi Baekhyun segera menuju kamar Chanyeol dan cukup terkejut melihat kasur Chanyeol sudah bersih bahkan noda darahnya sudah hilang. Kamar itu sudah rapi, Baekhyun yakin Chanyeol yang membersihkannya. Namun seandainya ia tahu jika Chanyeol tidak akan sudi merapikan apapun sekalipun itu bekasnya, karena yang merapikan semua milik Chanyeol adalah anak buahnya yang akan datang sewaktu-waktu.

Baekhyun melangkahkan kaki kurusnya menuju kamar mandi, tapi ia tidak menemukan siapapun disana. Ia berjalan keluar , mencari Chanyeol di balkon tapi juga tidak ada. Baekhyun merasa panik,ia mengetuk pintu kamar Kyungsoo tapi tidak ada jawaban dan ketika mendorong pintunya tidak ada siapun disana, sepertinya Kyungsoo belum pulang.

Baekhyun menutup pintu itu perlahan dan ketika akan kembali keruang tengah ia mendadak terdiam saat berpapasan dengan Chanyeol yang baru keluar dari kamarnya.

"Baekhyun/Chanyeol?" ucap keduanya bersamaan.

"Kau sudah bangun?" Chanyeol mengecup bibir Baekhyun, tapi Baekhyun masih terdiam.

"Kau darimana?" tanya Baekhyun. Chanyeol menunjuk kebelakang dan Baekhyun mengernyit.

"Tidak mungkin. Aku sudah mencari kekamarmu tapi kau tidak ada." Chanyeol mendadak terdiam, lalu ia berdeham.

"Benarkah? Aku berada di dalam toilet. Perutku mendadak sakit tadi." Ucap Chanyeol. Baekhyun masih mengernyit.

"Aku sudah mengeceknya tapi kau tidak ada disana." Chanyeol terdiam kembali dan ia memutar otaknya.

"Jika aku tidak di toilet, lalu bagaimana aku bisa muncul darisana? Apa kau pikir tubuhku juga ajaib? Tidak Baek, yang ajaib hanya lidahku." Ucap Chanyeol lalu menarik tangan Baekhyun dan mendorongnya kedinding.

"Dan lidah ajaibku, ingin menunjukan keajaibannya lagi." Ucap Chanyeol lalu mencium leher Baekhyun,hanya itu satu-satunya cara yang bisa ia lakukan untuk mengalihkan rasa curiga Baekhyun. Ia terlalu bodoh untuk tidak segera kembali, atau paling tidak meniupkan angin penidur untuk Baekhyun.

Jilatan Chanyeol berpindah menjadi ke dagu Baekhyun, lalu melesak ke dalam bibir merah mudanya, menyesap dan mempermainkan lidah itu dengan penuh hasrat. Walau hanya sebuah pengalihan, tapi hasrat Chanyeol tetap berpartisipasi di dalamnya, karena Baekhyun adalah candu untuknya.

Kini keduanya sedang duduk diatas sofa diruang tengah dengan sebuah TV yang menyala, mereka tidak sedang menonton film horror sekarang namun posisi mereka tetap terlihat intim.

Baekhyun duduk diantara selangkangan Chanyeol dengan tubuh yang bersandar di dada bidang kekasihnya. Mata lelaki mungil itu sibuk menatap kearah layar yang menampilkan sebuah acara musik. Sementara kekasihnya duduk dibelakang dan sibuk menyesap permukaan kulit Baekhyun yang terlihat karena kerah baju bagian kanan Baekhyun diturunkan hingga menampilkan pundaknya yang putih.

Entah mengapa ciuman pengalihannya membuat Chanyeol imgin terus menyentuh tubuh Baekhyun dan ia berharap ia tidak terangsang untuk melakukan percintaan lagi. Terkadang Baekhyun meringis sambil mendorong kepala Chanyeol ketika gigitan Chanyeol cukup kuat, tapi terkadang ia diam merasakan sentuhan hangat lidah kekasihnya.

Tiba-tiba suara bayi di layar membuat Chanyeol menoleh karena merasakan perasaan bahagia Baekhyun.

"Kebahagiaan seorang ibu adalah ketika buah hati mereka lahir kedunia, untuk itu selalu minum_"

Cuplikan iklan itu membuat keduanya menatap layar, dimana seorang bayi sedang menyusu pada ibunya.

"Apa menjadi seorang ibu sebahagia itu?" tanya Chanyeol. Baekhyun mengedikkan bahunya.

"Seharusnya iya, tapi saat itu aku tidak merasakannya. Yang ada dipikiranku hanya takut, sakit dan cemas." Chanyeol terdiam, entah mengapa ia teringat tentang ibunya dan ia segera menggeleng cepat.

"Tapi, tanpa sadar aku berharap semoga bayi di dalam perutku lahir dengan selamat." Sambung Baekhyun.

"Seharusnya aku sadar, aku membenci ayahnya bukan dirinya. Semua bayi yang lahir adalah suci, dan seorang ibu akan memperjuangkan kelahiran bayinya sesulit apapun itu. Karena itu aku sangat menyayangi ibuku, karena aku tahu sakitnya seperti apa saat melahirkan." Ucap Baekhyun, secara tidak langsung ucapan itu menjadi sindiran untuk Chanyeol.

"Jadi, cintai ibumu Chanyeol!" Chanyeol tersadar, dan ia terdiam. Ia segera membalik tubuh Baekhyun cepat membuat lelaki mungil itu terkejut. Sikap tiba-tiba Chanyeol membuat Baekhyun takut. Baekhyun sudah menyimpulkan beberapa saat lalu, jika topik ibu membuat Chanyeol menjadi sensitif.

Chanyeol mengangkat kaos Baekhyun dengan kasar membuat Baekhyun ketakutan, ia takut Chanyeol akan menyerangnya lagi tanpa ampun.

"Chan…Chanyeol?" suara Baekhyun bergetar. Chanyeol mengangkat wajahnya dan tersenyum, membuat Baekhyun bernafas lega.

"Sejak kecil aku tidak pernah merasakan susu dari ibuku. Atau mungkin aku lupa rasanya, jadi sekarang aku ingin menjadi bayi besarmu." Ucap Chanyeol yang langsung menyesap putting Baekhyun, membuat Baekhyun memekik.

Chanyeol menghela nafas, tadi nyaris saja sisi iblisnya menguasai. Ia tidak suka ketika kembali diingatkan pada ibunya. Ia tidak harus peduli pada sosok yang ia benci, tapi ucapan-ucapan Baekhyun membuatnya memiliki suatu perasaan aneh di dalam dirinya dan karena itu sisi iblisnya meraung. Untung Chanyeol bisa meredamnya, dan menjadi bayi besar salah satu pengalihan lain , yang setidaknya bisa membuat Baekhyun tidak tersakiti.

"Eummhhh.." Baekhyun meremas rambut Chanyeol, ketika putingnya dihisap seperti seorang bayi kehausan. Walau tubuh Baekhyun kurus, tapi putingnya cukup besar, karena dulu ia pernah menyusui . Walau masih terlihat normal, namun benda mencuat itu bisa membuat siapapun yang melihatnya menjadi terangsang, terutama Chanyeol.

Hisapan-hisapan Chanyeol berpindah menuju putting kirinya membuat Baekhyun terus memekik kegeliaan. Lidah Chanyeol memang ajaib, Baekhyun mengakui itu. Lidah kekasihnya mampu membuat sesuatu dalam dirinya bangkit, sisi liarnya.

Baekhyun melingkarkan kedua kakinya dengan kencang dipinggang Chanyeol, hingga penisnya bergesekan dengan kaos milik kekasihnya, tapi ia berjanji tidak akan melakukan lebih dari ini, ia sudah cukup lelah.

"Aku berharap ini mengeluarkan susu." Ucap Chanyeol disela hisapanya.

"Jika aku hamil, itu bisa mengeluarkan susu." Sahut Baekhyun.

"Kalau begitu aku akan menghamilimu, agar aku bisa menikmati susumu." Baekhyun terkekeh sambil memukul lengan Chanyeol pelan.

"Tidak. Itu membuatku sedikit ketakutan." Ucap Baekhyun sambil menekan kepala Chanyeol lebih dalam, karena jujur ia juga menikmati kegiatan panas mereka.

TING TONG

TING TONG

Chanyeol tidak bergerak ia tetap menyusu pada Baekhyun,tapi suara bel pintu yang semakin kencang itu membuatnya kesal. Baekhyun menahan wajah Chanyeol.

"Bukalah! Sepertinya orang itu benar-benar ingin menemuimu." Ucap Baekhyun, Chanyeol bangkit dan mendudukan kekasihnya diatas sofa, dengan kesal ia berjalan kearah pintu.

"Lama sekali!" suara itu langsung menyambut Chanyeol ketika pintu terbuka. Seharusnya Chanyeol bisa menebak, siapa yang akan menekan bel pintu dengan tidak sopan seperti itu jika bukan si bocah menyebalkan.

"Apa yang kau inginkan?" tanya Chanyeol menatap bocah yang tidak mengenakan seragam seperti biasa. Kali ini ia mengenakan celana panjang hitam, dengan baju kaos berwarna hitam dan sebuah jaket kulit. Chanyeol seperti mengenal cara berpakaian itu dengan baik.

Sehun tidak menjawab, ia mengacungkan enam jemarinya dengan angkuh lalu mencoba masuk, tapi Chanyeol menahan kening bocah itu dengan telunjuknya.

"Kau kira kau siapa bisa masuk seenaknya?" tanya Chanyeol ketus. Sehun mendengus menepis tangan Chanyeol dan mencoba masuk, tapi kembali dihalangi oleh Chanyeol.

"Biarkan aku masuk atau aku akan meminta Baekhyun hyung untuk memutuskanmu." Chanyeol menyeringai.

"Minta saja! Aku tidak takut."

"Kau_" Sehun terdiam, ia mencoba berpikir ancaman apa yang tepat untuk membuat geram sosok dihadapannya, tapi ia tidak memiliki ancaman lain seperti rahasia besar karena mereka tidak terlalu dekat.

"Oh, apa kabar?." Sehun berpura-pura berbicara dengan sosok dibelakang Chanyeol dan itu sukses membuat Chanyeol menoleh dan dengan cepat Sehun masuk melalui celah antara pintu dan tubuh Chanyeol. Sial! Chanyeol menggeram dalam hati. Sehun melepas sepatunya dan Chanyeol memperhatikan dari belakang , ia melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah malas, namun tidak ada niat untuk menyeret tubuh bocah itu keluar dari apartemennya.

Baekhyun sedang duduk di depan layar dengan sorot mata fokus, hingga sebuah panggilan mengalihkan perhatiannya.

"Hyung?"Sehun berdiri dengan wajah terkejut melihat kakaknya berada di rumah Chanyeol dengan hanya mengenakan baju kaos kebesaran dan Sehun berani bersumpah jika untuk pertama kalinya melihat bagian paha kakaknya yang tereskpos dengan jelas.

Baekhyun segera menarik bantal dan menutupi pahanya, Sehun terdiam dengan ludah yang berusaha ia telan. Chanyeol muncul dan mengernyit melihat keterpakuan Sehun, lalu matanya menatap Baekhyun yang berusaha menutup pahanya dengan bantal.

"Yak! Pemandangan itu hanya untukku , bukan untuk umum." Ucap Chanyeol lalu menarik tubuh Sehun dan membuatnya memutar balik.

"Jangan berbalik sebelum aku masuk kamar!" ucap Chanyeol. Sehun tidak menjawab ataupun mengangguk, tapi tubuhnya tertahan pada sisi yang diarahkan Chanyeol. Chanyeol mendekati Baekhyun, mengangkat tubuh kekasihnya seperti koala lalu membawanya ke kamar sambil mencuri ciuman-ciuman kecil disana.

Ketika mendengar suara pintu yang tertutup, pundak tegang Sehun mendadak merosot. Ia menghela nafas lega dan segera mengambil duduk diatas sofa.

..

.

Kyungsoo dan Luhan sedang berada dipusat perbelanjaan. Mereka baru saja selesai memilihkan ponsel untuk Kyungsoo dan kini keduanya duduk disalah satu kafe dengan Kyungsoo yang sedang belajar mengoperasikan benda persegi panjang itu .

Luhan membantunya dengan sabar dan Kyungsoo memekik ketika ia berhasil.

"Ayo cepat hyung! Ajari aku tentang internet!" ucap Kyungsoo. Luhan mengangguk, ia menggerakan jemarinya diatas layar sentuh ponsel Kyungsoo dan Kyungsoo memperhatikan.

"Nah! Ketiklah apa yang ingin kau cari!" Kyungsoo mengangguk lalu mulai mengetik dengan sedikit kaku.

"Cara menjadi kekasih yang baik?" Luhan mengernyit tidak percaya dan Kyungsoo mengangguk antusias. Luhan tersenyum lalu mengelus pipi adiknya.

"Kau sudah dewasa Kyungsoo." Ucap Luhan namun Kyungsoo hanya mengangguk.

"Tekanlah!" ucap Luhan memberitahu sambil menyesap minuman dinginnya. Mata Kyungsoo bergulir untuk membaca kata demi kata dari artikel itu, hingga dahinya mengernyit.

"Hyung, apa yang dimaksud dengan bercinta diranjang?" Luhan nyaris menyemburkan minumannya , jika ia tidak ingat sedang berada di tempat umum. Luhan meraih ponsel Kyungsoo dan membacanya.

'Cara terakhir adalah bercinta diranjang. Kau harus memuaskan kekasihmu ketika kalian berada diatas ranjang'

Kalimat terakhir dari artikel itu membuat Luhan menggeram kesal, bagaimana bisa ada artikel porno seperti itu tanpa peringatan.

"Yang terakhir tidak usah diperaktekan! Lakukan sampai poin sebelumnya saja!" Ucap Luhan dan Kyungsoo mengangguk.

Setelah merasa bosan mereka memilih untuk melanjutkan berjalan-jalan, Luhan sudah berjanji akan mengajak Kyungsoo untuk mengenal dunia manusia lebih dalam. Luhan meminta Kyungsoo menunggu di depan toilet karena mendadak ia ingin buang air kecil, Kyungsoo mengangguk paham dan berdiri di depan toilet.

Tak lama matanya menangkap sosok yang ia kenal tengah merangkul seorang perempuan berambut panjang.

"Jongin!" panggil Kyungsoo sambil berlari kecil menghampiri karena jarak mereka tidak terlalu jauh. Jongin menoleh malas dan ia terkejut saat melihat Kyungsoo di hadapannya, dengan segera ia melepas rangkulan tangannya di pundak gadis yang baru ia kenal itu.

"Hai Jongin, apa yang kau lakukan disini?" tanya Kyungsoo ramah. Jongin menatap Kyungsoo malas .

"Kau sendiri?" tanya Jongin, Kyungsoo mengangkat kantung ponselnya.

"Aku membeli ponsel agar bisa menggunakan internet." Ucap Kyungsoo dengan senyumnya. Jongin melirik ponsel Kyungsoo tak minat, sementara gadis disamping Jongin memandang takjub karena ponsel Kyungsoo adalah keluaran terbaru.

"Memangnya kenapa tiba-tiba ingin menggunakan internet?"

"Aku tidak ingin, tapi Cheondong yang ingin. Dia ingin aku mencari tentang cara menjadi kekasih yang baik. Aku ingin layak menjadi kekasihnya." Seketika raut wajah Jongin datar, entah mengapa ia merasa syok dan di dalam hatinya ia merasakan sakit.

"Kau? Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa yang kau lakukan disini?" tanya Kyungsoo sambil tersenyum kearah gadis disebelah Jongin yang bergelayut manja. Jongin menghela nafas, membusungkan dadanya dan merangkul pundak gadis disampingnya.

"Aku sedang berjalan-jalan dengannya." Ucap Jongin karena tidak mengingat nama gadis disampingnya. Gadis itu menundukan kepalanya memberi hormat. Mereka hanya kebetulan bertemu lalu berencana untuk menghabiskan malam panas berdua.

"Siapa dia?" tanya Kyungsoo heran, Jongin menyerigai .

"Menurutmu?" Jongin mendekatkan wajahnya pada si gadis dan menciumnya di depan Kyungsoo. Kyungsoo mengedipkan matanya melihat ciuman dua orang di depannya. Jongin melepaskan ciumannya dan menyeringai kearah Kyungsoo.

"Kalian sepasang kekasih?" Kyungsoo menatap dengan wajah terkejut dan mata bulat. Jongin menyeringai dengan bangga, mengira bahwa Kyungsoo cemburu atau semacamnya.

"Menurutmu?"

"Yang tadi itu berciuman kan? Berarti kalian kekasih, Cheondong bilang jika sepasang kekasih melakukan banyak hal salah satunya berciuman." Jongin geram ketika nama sahabatnya itu disebut-sebut, dan ia lebih kesal mengetahui fakta bahwa Kyungsoo-lelaki mungil pujaan hatinya- berdiri di depannya dengan wajah sumringah menceritakan tentang sahabatnya.

"Apa itu berarti aku akan melakukan itu dengan Cheondong ketika kami menjadi kekasih nanti?" Tanya Kyungsoo. Jongin tidak menjawab, ia menatap Kyungsoo datar sementara gadis di samping Kyungsoo menatap Kyungsoo aneh.

"Jongin?" tanya Kyungsoo dengan suaranya yang terdengar menggemaskan, selalu ditelinga Jongin. Dengan cepat Jongin menggapai tangan Kyungsoo hingga bungkusan Kyungsoo terjatuh, Kyungsoo menatap bingung pada sosok Jongin yang kini menatapnya tajam.

"Kau_"

"Lepaskan adikku!" sebuah tamparan keras Jongin rasakan ditangannya, ia menatap sosok yang kini berdiri dihadapannya. Luhan menatap Jongin tajam, dan Jongin dapat merasakan aura mencekam disekitar Luhan.

"Kurang ajar sekali kau memperlakukan adikku seperti itu hah? Kau ingin cari mati?" Bola mata Jongin membesar. Luhan memungut bungkusan milik adiknya.

"Kau! Jangan pernah dekati adikku! Atau kau mati ditanganku." Ucap Luhan dengan suara dingin membuat Jongin terkejut.

"Dan kau Kyungsoo! Jangan pernah dekati lelaki brengsek ini." Ucap Luhan lalu menarik adiknya menjauh, Kyungsoo yang ditarik oleh Luhan yang emosi menoleh kebelakang untuk melihat Jongin dimana lelaki itu sedang mengusak rambutnya kasar sambil menendang udara dengan keras.

..

.

Sehun mengeluarkan isi tasnya ketika Chanyeol dan Baekhyun-dengan celana- sudah keluar dari dalam kamarnya.

"Kali ini apa?" Chanyeol duduk diatas sofa dengan malas.

"Aku memiliki banyak permainan bagus. Kita bisa_"

"Tidak! Kali ini aku tidak akan terjebak oleh tipuan murahanmu." Ucap Chanyeol dingin, Baekhyun menatap wajah Sehun lalu duduk disamping Chanyeol.

"Ayolah permainan ini seru, aku baru saja membelinya dengan uang tabunganku." Ucap Sehun menggebu-gebu. Chanyeol meraih remote sambil mengganti acara TV , kepalanya menggeleng pelan. Baekhyun yang berada dalam pelukan Chanyeol sesekali melirik Sehun yang memajukan bibirnya entah mengapa ia merasa iba pada putranya.

"Hm, aku akan memotong satu permintaanku. Bagaimana?" Chanyeol menggeleng, dan Sehun mencibir.

"Aku berjanji tidak ada permintaan yang aneh-aneh." Ucap Sehun, Chanyeol tidak menjawab.

"Tidak ada sepuluh permintaan. Hanya satu permintaan untuk yang menang, dan hanya satu ronde?" Chanyeol melirik sekilas membuat Sehun tersenyum penuh harap, tapi kemudian Chanyeol kembali menekan remotenya. Baekhyun menatap wajah Sehun iba, tapi ia tidak bisa terlalu ikut campur.

"Hm, penawaran terakhir kau bisa memotong 3 permintaanku sekaligus untuk memintamu bermain ini bersamaku." Ucap Sehun dengan suara pasrah, Chanyeol menoleh menatap kearah Sehun yang menunduk. Baekhyun melirik Chanyeol berharap kekasihnya mau mengabulkan permintaan Sehun.

"Baiklah." Senyum sumringah Sehun langsung terpancar di wajah putihnya. Ia dengan semangat melompat kearah karpet dan memilihkan permainan yang paling ia kuasai, Sehun tidak sebodoh yang orang-orang pikirkan.

Baekhyun tersenyum melihat Sehun, dan Chanyeol menoleh membuat Baekhyun menatapnya.

"Terima kasih." Ucap Baekhyun tanpa suara, Chanyeol langsung menekan bibirnya pada permukaan bibir Baekhyun.

"Baiklah." Suara Sehun membuat Baekhyun mendorong dada Chanyeol, Sehun yang melihat sikap aneh kedua orang di atas sofa mengernyit heran.

"Aku akan memasak untuk kalian." Ucap Baekhyun lalu bangkit. Chanyeol segera duduk diatas karpet sambil memegang stick PS yang berbentuk seperti kemudi itu . Sehun memilih sebuah balapan mobil, mereka memilih mobil kesukaan mereka sebelum akhirnya suara komputer terdengar yang memerintahkan pertandingan dimulai.

Baekhyun yang sedang memotong daging tersenyum ketika mendengar seruan keras dari ruang tengah, ia tersenyum bahagia melihat keakraban anak dan kekasihnya. Berharap jika suatu hari ia bisa menceritakan yang sesungguhnya dan Chanyeol akan menerima Sehun sebagai putranya.

Dua puluh menit berlalu dan kini tinggal putaran terakhir, dilihat dari poin Sehun menang dengan selisih poin 200. Tapi pada putaran terakhir adalah penentu dari permainan, karena bonus yang di dapat selama pertandingan akan lebih banyak.

Chanyeol berseru penuh kemenangan karena ia telah menyusul Sehun dan kini berada di depan, Sehun mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menang, ia tidak ingin kalah karena ia ingin permintaannya kali ini dikabulkan.

"Sejak kecil aku tidak pernah merasakan seperti apa memiliki ayah."

"Aku ingin seperti anak-anak lain yang bermain bersama ayahnya."

Suara Sehun menggema dikepala Chanyeol, hingga ia merasa telinganya berdengung dan tiba-tiba pegangan tangannya melemah , lalu pandangannya kosong.

"YEEEIIII!" suara pekikan Sehun membuat Chanyeol tersadar. Sehun sudah berdiri sambil melompat-lompat bahagia.

"Sudah aku katakan bukan ? hahahahah.." Ucap Sehun dengan tawa yang menggelegar. Chanyeol merasa ada yang salah dengan dirinya, karena bukannya marah atau kesal ia malah tersenyum kearah Sehun. Menarik tangan bocah itu, membaringkannya diatas pangkuan lalu pura-pura memukul perutnya, membuat Sehun terkikik.

"Dasar kau curang!curang!" ucap Chanyeol , tapi ia tidak kesal malah terlihat tersenyum. Baekhyun yang berdiri sejak lima menit terakhir beberapa meter dari mereka tersenyum. Entah mengapa ia merasa terharu, air matanya jatuh tanpa ia sadari.

"Hei! Ayo makan!" panggil Baekhyun. Kedua lelaki berbeda usia itu menoleh lalu segera bangkit. Sehun berlari kearah Baekhyun dan segera memeluk tubuh kakaknya, membuat Baekhyun tersentak dan terkejut sebelum akhirnya Sehun melepaskannya dan berlari kearah dapur sambil berseru.

Ketika berbalik sebuah pelukan Baekhyun rasakan ditubuhnya. Lengan kokoh Chanyeol melingkar di pinggangnya.

"Apa pelukan Sehun lebih baik dariku?" bisik Chanyeol ditelinga Baekhyun lalu mengecup lehernya dan membawa kaki mereka kearah dapur.

Mereka duduk dimeja makan, Sehun masih terlihat bahagia, ia membalik piringnya.

"Sehun, kemarikan piringmu!" ucap Baekhyun.

"Ini ibu." Ucap Sehun sambil memberikan piringnya. Baekhyun menatap Sehun, begitu juga Chanyeol. Suara bocah itu terlalu keras hingga keduanya mampu mendengar dengan jelas. Sehun tersenyum lebar.

"Iya, Baekhyun adalah ibuku dan Park Tower adalah ayahku." Bibir keduanya kelu. Entah mengapa Baekhyun merasa tubuhnya gemetar, sementara Chanyeol membeku di tempat.

"Kenapa? itu adalah permintaan spesialku karena aku sudah memenangkan pertandingan tadi. Aku ingin merasakan menjadi seorang anak dengan ibu dan ayah yang lengkap. Karena ibu sibuk, aku tidak bisa mengajaknya dalam permainan ini, karena akan aneh juga jika aku meminta Park menjadi ayahku sementara ibu tetap menjadi ibuku. Jadi Baekhyun hyung harus ikut dalam hukuman ini. Hanya tiga hari." Ucap Sehun lantang. Baekhyun terdiam, ketika bibirnya akan terbuka Sehun mengangkat jemarinya.

"Tidak ada penolakan. Salahkan kekasih hyung yang kalah, karena hyung kekasihnya jadi hyung juga harus ikut." Ucap Sehun. Baekhyun melirik kearah Chanyeol dan Chanyeol melirik kearah Baekhyun dan Sehun.

"Ah! Ayo! Ibu cepat berikan aku nasi!" Ucap Sehun seperti bocah lima tahun yang merengek. Baekhyun merasa tubuhnya seolah kaku, ia masih merasa syok. Baekhyun memberikan Sehun piring tanpa melihatnya.

"Ayah, kenapa ibu terlihat sedih begitu? Apa aku salah bicara?" kali ini Chanyeol yang tersentak. Ia berdeham pelan, lalu menggenggam jemari Baekhyun.

"Sayang, bocah aah! Putra kita bertanya apa kau sedang bersedih?" tanya Chanyeol. Sehun terkekeh , merasa Chanyeol cukup pandai dalam peran ini. Chanyeol meremas jemari Baekhyun seolah memberi kekuatan, Baekhyun mengangkat wajahnya, lalu ia menghela nafas.

"Tidak. Ibu tidak sedang bersedih. Ibu hanya berpikir, apa makanan ini akan habis oleh kita bertiga?" tiba-tiba Baekhyun berucap dengan wajah riangnya. Sehun yang sempat terdiam, kembali memperlihatkan senyumannya, matanya berkaca-kaca tapi bibirnya tersenyum, ia bahagia.

"Tentu. Aku berjanji tidak akan membuang masakan ibu." Ucap Sehun. Baekhyun tersenyum lalu mengelus pipi Sehun.

"Anak pintar." Ucap Baekhyun senang.

Mereka makan dengan senang, seolah kesan keluarga hangat memang melekat pada mereka walau sesekali Chanyeol geram dengan sikap nakal Sehun, tapi entah mengapa tiga hati yang berbeda itu merasakan satu rasa yang sama, bahagia.

Sejam setelahnya mereka memilih menonton TV. Baekhyun duduk ditengah, dengan Sehun yang berbaring diatas pahanya dan Chanyeol yang memeluk tubuhnya dari samping. Sementara Baekhyun menyandarkan kepalanya pada dada kekasihnya.

"Ibu. Kenapa tadi ibu tidak mengenakan celana?" seketika Baekhyun tercekat. Sejak tadi Sehun memang banyak bertanya, tapi Baekhyun bisa menanganginya karena pertanyaannya masih termasuk pertanyaan biasa, namun yang ini Baekhyun bingung harus menjawab apa.

"Itu bukan urusan anak kecil." Chanyeol mendorong pelipis Sehun, membuat bocah itu menepis tangan Chanyeol.

"Aku bertanya pada ibu, bukan ayah." Ucap Sehun lagi. Chanyeol mencibir lalu memeluk Baekhyun lebih erat.

"Hm, benar yang dikatakan Chan… ah, maksudku ayahmu , itu bukan urusan anak kecil." Ucap Baekyun pelan sambil mengelus surai kecoklatan milik Sehun. Sehun mendengus, ia tidak bisa membantah ucapan Baekhyun.

Sehun mendadak membalik wajahnya menghadap perut Baekhyun dan menenggelamkan wajahnya disana, membuat Baekhyun tersentak untuk kesekian kalinya.

"Dulu aku berada disini. Bagaimana bisa aku berada diperut sekecil ini?" gumam Sehun. Baekhyun kembali dibuat tercekat, walau ia tahu Sehun sedang berpura-pura tapi ia merasa seperti semua ucapannya nyata.

"Aku yang memasukkanmu ke dalam." Celetuk Chanyeol, membuat Baekhyun menoleh dan Sehun yang menatap tajam karena merusak moment nya dengan Baekhyun, ia hanya ingin mendengar jawaban Baekhyun, bukan si Park Tower. Baekhyun mencubit pelan kulit tangan Chanyeol.

"Ya..ya..ya aku percaya. Ayah yang memasukkanku ke dalam , lalu ibu yang mengeluarkanku. Aku terdengar seperti barang yang dititipkan." Ucap Sehun membuat keduanya terkekeh.

"Kau memang barang titipan. Sewaktu-waktu yang memilikimu bisa mengambilmu kembali, jika kau tidak dirawat dengan baik." Ucapan Chanyeol membuat Baekhyun terdiam, ia menundukan kepalanya. Merasa bersalah dengan apa yang telah ia lakukan pada Sehun.

"Karena itu rawat aku dengan baik, Ibu , Ayah. Agar aku tidak diambil dari kalian. " Ucap Sehun sambil mendongak dan tersenyum kearah Baekhyun. Chanyeol menarik hidung Sehun membuat si bocah mendengus sementara Baekhyun mengelus pipi putih Sehun dengan sayang dan tersenyum lembut. Sehun kembali memeluk Baekhyun dengan erat, merasakan kehangatan dari tubuh ibu kandungnya.

Chanyeol yang menyaksikan hal itu tanpa sadar menggerakan jemarinya untuk mengelus punggung Sehun, membuat senyuman Sehun mengembang. Chanyeol menarik dagu Baekhyun, dan membawa mereka dalam sebuah ciuman, sementara satu tangan mereka masih bekerja pada tubuh Sehun.

..

.

..

.

"Ayah! Ibu!" Sehun keluar dari antrian pembeli es krim sambil membawa dua buah es krim ditangannya. Bocah tampan itu berlari kearah Baekhyun dan Chanyeol yang menunggunya disisi taman.

Walau merasa agak canggung pada orang-orang sekitar yang akan menatap mereka aneh tapi Baekhyun memilih tersenyum dan meraih salah satu es krim yang Sehun berikan.

Setelah menonton tadi, Sehun merengek ingin berjalan-jalan dan akhirnya setelah melalui berdebatan batin yang hebat, Chanyeol yang lebih suka berada di dalam apartemen sambil memeluk Baekhyun memilih untuk menuruti kemauan si bocah menyebalkan, Byun Sehun.

Lalu disinilah mereka, berjalan-jalan di taman seperti sebuah keluarga kecil yang menghabiskan sore hari mereka di taman, meski sebenarnya sekarang hari sudah beranjak petang.

Sehun berdiri disamping Baekhyun sambil menjilati es krimnya, sementara Chanyeol hanya mendengus kesal melihat betapa bahagia Sehun sambil menarik-narik tangan Baekhyun.

"Kita duduk disana!" ucap Sehun sambil menunjuk sebuah rerumputan di bawah pohon di dekat kolam.

"Seingatku permintaanmu menjadikan kami orangtua, bukan pesuruhmu. Dan mana kartu yang aku berikan padamu?" tanya Chanyeol. Sehun menoleh lalu berdecih, lalu ia mengeluarkan kartu kredit milik Chanyeol dari dalam saku celananya yang sejak tadi ia gunakan untuk membeli berbagai macam makanan dan hal yang ia suka. Sehun memberikannya pada Chanyeol dengan gerakan malas.

"Apa salahnya sih mengikuti kemauan anak kecil sepertiku? Apa kau tidak kasihan melihatku yang tidak memiliki seorang ayah?" ucap Sehun sambil menarik tangan Baekhyun menjauh, Chanyeol terdiam di tempat menatap kepergian Baekhyun dan Sehun, Baekhyun menoleh kebelakang seolah menyampaikan permintaan maaf pada kekasihnya atas sikap kurang ajar Sehun.

Chanyeol menghela nafas lalu berjalan kearah Sehun dan Baekhyun yang telah duduk diatas rerumputan. Chanyeol mengambil duduk disamping Baekhyun, namun seketika Sehun memutar tubuhnya untuk membelakangi Chanyeol dan Baekhyun.

Chanyeol menatap Baekhyun meminta penjelasan, tapi Baekhyun hanya mengedikan bahunya.

"Yak! Apa-apaan itu? Kenapa bersikap seperti itu?" ucap Chanyeol. Sehun tidak menjawab, masih setia menjilati es krimnya sambil memunggungi dua orang dewasa lainnya.

"Yak! Sehun aku bicara padamu." Bentak Chanyeol. Baekhyun yang juga menjilati es krimnya melirik Chanyeol lalu tersenyum sambil mengelus lengan kekasihnya.

"Percuma aku menggunakan uang tabunganku dan mati-matian memenangkan permainan itu jika kau bahkan tidak bisa mengabulkan permintaan kecil seorang anak malang sepertiku." Ucap Sehun. Chanyeol kembali merasa tertohok, ia menghela nafas lagi. Beruntung sisi malaikatnya sedang menguasai sekarang.

"Bukannya aku tidak mau mengabulkannya, tapi_" Chanyeol terdiam.

"Sehun! Dengarkan ayah!" Tubuh Sehun menegang, entah mengapa ucapan Chanyeol barusan terasa berbeda. Bahkan Baekhyun menoleh kearah Chanyeol karena merasakan hal yang sama dengan yang Sehun rasakan.

"Ayah hanya tidak suka ketika kau bersikap semaumu, menyuruh ini dan itu seolah kami adalah pesuruhmu." Ucap Chanyeol sambil menatap punggung menegang Sehun.

"Kau anak kami, bukan begitu? Jadi bersikaplah seperti anak yang baik." Sehun memutar tubuhnya dan menatap Chanyeol dengan mata memicing, lalu ia merangkak mendekat. Matanya terlihat seperti mengintimidasi dan mencurigai sesuatu, Chanyeol memasang wajah santai seolah ia tidak berbohong.

Sehun semakin mendekat hingga wajahnya dan Chanyeol hanya berjarak beberapa sentimeter, lalu dengan jahil ia mengarahkan es krimnya ke hidung Chanyeol.

"Yak! Bocah sialan." Umpat Chanyeol kesal sambil menutup matanya dengan gigi yang mengertak keras.

"Ayah juga harus menjadi ayah yang baik, dan seorang ayah yang baik tidak menyebut anaknya bocah sialan." Ucap Sehun sambil menepuk-nepuk kepala Chanyeol. Emosi Chanyeol meluap, dan sebelum kepalan tangan Chanyeol mengenainya Sehun segera menjauh dan bersembunyi di balik tubuh Baekhyun, memeluk tubuh kakaknya dengan ekpresi ketakutan yang dibuat-buat.

"Kemari kau!" Chanyeol hendak meraih tubuh Sehun yang berada di belakang Baekhyun, namun tubuh kekasihnya menghalangi tarikannya, Sehun juga sangat pandai menghindar.

"Ibu! Lihat! Ayah ingin memukulku." Adu Sehun sambil tetap menarik bagian belakang baju Baekhyun, Baekhyun menggeleng sambil tersenyum geli dan mencoba menghalangi Chanyeol, membuat Chanyeol membulatkan matanya karena Baekhyun lebih membela bocah menyebalkan itu ketimbang dirinya.

"Hentikan Chanyeol! Sehun berjanji tidak akan nakal lagi, benar sayang?" tanya Baekhyun tanpa menoleh. Sehun mengangguk.

"Benar. Aku tidak akan nakal lagi." Chanyeol merasa muak memainkan peran ini, tapi ia tetap ingin menarik tubuh Sehun keluar dan setidaknya memberikan pukulan ringan dikepala bocah nakal itu.

"Kau dengar? Sehun berjanji padamu." Ucap Baekhyun yang kini membentangkan tangannya.

"Aku tidak percaya padanya, dia adalah bocah iblis yang menjengkelkan. Jangan percaya padanya, Baekhyun!" ucap Chanyeol masih mencoba meraih tubuh Sehun.

"Jika aku bocah iblis berarti ayah iblisnya." Chanyeol menggeram.

"Kau lihat? Dia bahkan mengataiku." Ucap Chanyeol tidak terima.

"Sehun! Katakan maaf pada ayahmu!" ucap Baekhyun sambil memiringkan kepalanya kesamping.

"Maafkan aku ayah!" ucap Sehun. Chanyeol masih ingin menggapai tubuh Sehun sebelum Baekhyun menangkup wajah Chanyeol dengan kedua tangannya.

"Ayah dengar? Putra kita sudah berkata maaf." Ucap Baekhyun, sedetik Chanyeol merasa terkesiap apalagi ketika Baekhyun memajukan wajahnya dan menjilat noda es krim di hidung miliknya. Namun ketika Baekhyun tersadar, ia menjauhkan tangannya dan mengulum senyumnya sedikit malu.

"Maaf ayah." Sehun keluar dari persembunyiannya lalu berpindah kebelakang Chanyeol dan melompat ke atas punggung Chanyeol, Chanyeol yang sempat terpaku seketika tersadar dan segera menangkap tubuh Sehun.

"Kemari kau!" Chanyeol membanting tubuh Sehun keatas rumput memukul-mukul perut Sehun dengan pelan, namun mampu membuat Sehun meringis sambil menahan tawa.

"Ayah, ibu! Ayo pulang!" Ucap Sehun. Chanyeol hanya mengangguk dan segera bangkit, lalu membantu Baekhyun bangkit dan mereka memilih berjalan meninggalkan taman dengan mengendarai bus , karena motor Chanyeol tidak cukup untuk membawa mereka bertiga.

..

.

Mereka bertiga tiba di rumah Baekhyun tiga puluh menit setelahnya, Sehun berlari memasuki rumah sementara Baekhyun dan Chanyeol mengikuti dibelakang.

"Ayah! Ibu! Cepat!" ucap Sehun yang memanggil dari arah koridor, membuat Kibum menengokkan kepalanya.

"Ibu!" Sehun berlari kearah Kibum dan memeluk tubuh wanita itu erat.

"Ibu, hari ini dan tiga hari kedepan aku akan memanggil Baekhyun hyung ibu dan Park Tower Ayah, kami sedang bermain peran." Ucap Sehun menggebu. Kibum mengerutkan keningnya, dan meminta penjelasan pada Baekhyun dan Chanyeol yang hanya bisa mengedikkan bahu, lalu Chanyeol segera membanting tubuhnya diatas sofa dengan wajah kelelahan.

"Chanyeol kalah taruhan dan sebagai hukumannya kami harus menjadi orangtuanya." Ucap Baekhyun yang berjalan kearah dapur untuk membuatkan minum. Kibum yang sedang berkutat dengan pekerjaan kantornya hanya mengangguk maklum. Sehun yang tadi sudah berlari cepat kearah kamarnya, tak lama turun dengan piyama tidurnya.

"Apa kau akan menginap Chanyeol?" tanya Kibum sambil menatap Chanyeol yang bersandar pada sofa dengan mata tertutup. Chanyeol membuka matanya dan melirik Kibum.

"Hm, sepertinya iya. Aku tidak membawa motor, dan aku terlalu lelah untuk berjalan kaki dan menaikki bus." Ucap Chanyeol. Kibum mengangguk sambil tersenyum, lelaki di hadapannya sepertinya membenci kendaraan umum.

"Ayah! Ayo kita bermain." Ucap Sehun yang segera duduk disamping Chanyeol sambil membawa sebuah papan permainan. Chanyeol masih bersandar pada sofa dengan kepala terkulai lemas tidak menjawab, ia hanya mendorong tubuh Sehun menjauh darinya.

"Ayolah! Aku sangat menginginkan permainan ini." Ucap Sehun sambil merengek, Kibum melirik interaksi dua orang dihadapannya.

"Sehun, Chanyeol hyung lelah. Bermainnya besok saja ya?" Sehun menoleh ke Kibum dan merengut.

"Tidak. IBUUUUU!" Sehun bangkit dan berlari kearah dapur untuk mengadu pada Baekhyun yang sedang menuang minuman ke dalam gelas kaca.

"Ibu, ayah tidak mau bermain denganku. Ibu rayu ayah ya? Ya? Aku mohon!" Sehun mengatupkan dua tangannya di depan wajah.

"Aku sangat ingin bermain ini." Ucap Sehun lagi. Baekhyun melirik Sehun dan papan permainan yang diapit Sehun di ketiak kirinya.

"Baiklah, akan ibu coba." Ucap Baekhyun sambil mengangkat nampan berisi minuman dan membawanya kearah ruang tengah. Baekhyun memberikan segelas air putih dingin kearah Chanyeol dan lelaki itu menerimanya lalu dengan cepat menenguknya.

"Chanyeol, bisakah kau bermain bersama Sehun?" bisik Baekhyun, Chanyeol membuka matanya cepat dan menatap Baekhyun tidak percaya, lalu ia beralih pada Sehun yang berjalan dengan wajah sedih dari arah dapur. Chanyeol berdecih, ia tahu bocah dihadapannya hanya sedang berakting.

"Ayah, apakah ayah tidak mau menemaniku bermain?" tanya Sehun dengan mata dibuat sedih.

"Sayang, bermainlah bersama Sehun. Bukankah dia sudah menjadi anak yang baik tadi?" kini Baekhyun berucap sambil mengelus-elus pundak Chanyeol, Chanyeol melirik dua orang dihadapanya secara bergantian dan akhirnya menghela nafas kasar.

"Hanya sebentar. Dan aku benci kecurangan." Ucap Chanyeol. Sehun langsung tersenyum sumringah dan segera duduk diatas karpet lalu membuka papan permainan yang ia simpan sejak dulu. Papan permainan seperti monopoli , permainan yang sangat Sehun ingin mainkan sejak dulu, namun sayang ia tidak memiliki lawan main yang bisa ia ajak untuk bermain.

Sehun mengocok dadu pertama kali setelah menerangkan pada Chanyeol cara bermain dan peraturanya, sementara Chanyeol menjadi pemain kedua dan Baekhyun pada urutan ketiga, Kibum sedang mengerjakan pekerjaan kantornya sehingga ia tidak bergabung namun sesekali ia akan memperhatikan interaksi tiga orang dihadapannya yang entah mengapa membuat hatinya menghangat.

Dua jam berlalu akhirnya Sehun orang pertama yang menguap dan Baekhyun memutuskan untuk mengakhiri permainan itu. Chanyeol merasa lega dan tidak sabar untuk berbaring sambil memeluk Baekhyun, mengakhiri peran ayah-ibu-anak yang sedang mereka perankan untuk hari ini, sebelum ucapan Sehun mengacaukan semuanya.

"Aku tidur bersama kalian."

"Apa? Tidak!" bentak Chanyeol tidak terima ketika menaiki anak tangga.

"Kenapa? bukankah seorang anak tidur bersama orangtuanya?" ucap Sehun sambil mengikuti Chanyeol dari belakang.

"Iya, tapi kau sudah besar dan aku tidak suka tidur berdesakan." Ucap Chanyeol.

"Kalau begitu ayah tidur dikamarku dan aku tidur dengan ibu."

"Apa? Tidak!"

"Kenapa tidak?"

"Sehun-ah. Ibu akan menemanimu tidur di kamarmu sampai kau tertidur." Ucap Baekhyun dan Sehun bersorak senang sambil menarik tangan Baekhyun kearah kamarnya, tidak lupa menjulurkan lidahnya kearah Chanyeol.

Chanyeol berdecih dan ingin memukul Sehun, namun ia segera berbelok ke kamar Baekhyun dan membanting pintunya keras, membuka jaketnya dan membanting tubuhnya diatas ranjang.

Sehun membaringkan tubuhnya diatas ranjang sambil sesekali terkikik saat memasang selimut diatas tubuhnya.

"Kau menyukai bagaimana Chanyeol marah kan?" ucap Baekhyun, Sehun menoleh kearah Baekhyun dengan wajah cemberut.

"Chanyeol? Apa maksud ibu adalah ayah?" Baekhyun terdiam, ia lupa jika peran mereka masih berlanjut.

"Iya, maksud ibu adalah ayah. Apa kau suka melihat kemarahan ayahmu? Kau terlihat menikmati menganggunya." Ucap Baekhyun, Sehun mengangguk lalu menggeser tubuhnya dan menepuk ruang kosong disampingnya. Baekhyun segera berbaring disamping Sehun.

"Iya, aku menyukainya. Ayah terlihat sangat lucu ketika marah." Sehun kembali tertawa geli mengingat wajah kesal Chanyeol.

"Baiklah, baiklah. Tapi jangan melampaui batas, aku takut ayahmu tidak bisa mengontrol emosinya, karena kau tahu ayah sangat menyeramkan ketika marah." Ucap Baekhyun, Sehun menatap Baekhyun.

"Apa si Park itu pernah memarahi hyung?" tanya Sehun cemas, bahkan ia lupa dengan perannya. Baekhyun terkekeh melihat ekspresi cemas Sehun.

"Apa peran kita sudah berakhir?" tanya Baekhyun, Sehun tidak menjawab ia masih menantikan jawaban Baekhyun.

"Iya. Dia pernah marah karena kesalahpahaman. Tapi yah itu wajar dalam sebuah hubungan, jadi kau jangan cemas. Ayo sekarang tidur, ibu sudah sangat mengantuk." Ucap Baekhyun. Sehun menurut dan merebahkan tubuhnya, lalu memeluk tubuh Baekhyun.

Baekhyun yang merasa canggung mengangkat tangannya dan mengelus rambut Sehun, menyalurkan kasih sayangnya yang selama ini tidak pernah ia berikan pada Sehun, darah dagingnya.

"Ibu? Berjanjilah untuk selalu mencintaiku selamanya." Gumam Sehun, Baekhyun yang merasa tersentak sesaat kemudian mengangguk pelan.

"Ya, ibu berjanji sayang." Ucap Baekhyun.

"Ibu tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama."

Baekhyun kembali ke kamar dan mendapati Chanyeol tengah berbaring terlentang, ia menaikki ranjang dengan perlahan, lalu berbaring disamping Chanyeol.

Ketika usai mematikan lampu tidur, ia merasakan sebuah pelukan diperutnya. Baekhyun menoleh dan mendapati mata Chanyeol terbuka setengahnya.

"Bayi besar itu sudah tertidur?" tanya Chanyeol. Baekhyun mengangguk sambil tersenyum.

"Apa dia meminta macam-macam, apa dia memintamu untuk menyusuinya?" Baekhyun terkekeh lalu menggeleng.

"Tidak. Dia tidak meminta hal-hal semacam itu. Dia hanya memelukku sampai tertidur." Ucap Baekhyun. Chanyeol menghela nafas lalu membalik tubuh Baekhyun agar berhadapan dengannya.

"Ah, syukurlah. Dia tidak boleh melewati batasnya. Dia tidak boleh menyentuhmu, tidak ada yang boleh selain aku." Ucap Chanyeol, Baekhyun kembali tersenyum dan mengangguk pelan.

Chanyeol mengecup pucuk kepala Baekhyun, lalu beralih kebibirnya dan kemudian kelehernya, menyesapnya pelan. Baekhyun menahan wajah Chanyeol.

"Apa kau sedang ingin bercinta?" tanya Baekhyun. Chanyeol sebenarnya ingin menjawab iya dengan lantang, namun mengingat mereka sudah bercinta tadi siang membuat Chanyeol mengurungkan niatnya. Ia hanya tidak tega.

"Tidak. Tapi piyama tipismu membuatku ingin menyentuhmu." Ucap Chanyeol.

"Apa aku perlu mengganti bajuku?" Chanyeol menggeleng.

"Apa kau tidak ingin aku sentuh?" tanya Chanyeol dan Baekhyun mengangguk lemah.

"Hm, tidak untuk saat ini karena aku lelah Chanyeol." Ucap Baekhyun sambil menguap, Chanyeol tersenyum lalu mengangguk.

"Baiklah, kita tidak akan bercinta. Tapi bayi besar ini, ingin menyusu pada induknya." Ucap Chanyeol sambil menyingkap baju Baekhyun, Baekhyun menahan tangan Chanyeol.

"Tidak. Itu akan membuatmu makin terangsang." Ucap Baekhyun sambil kembali menurunkan bajunya.

"Hanya tutup mata dan tidur, okay?" Chanyeol dengan malas mengangguk lalu Baekhyun berbalik tidak ingin mendapat serangan dari Chanyeol, lelaki tinggi itu cemberut lalu menarik tubuh Baekhyun ke dalam dekapannya dan memeluknya dari belakang hingga mereka sama-sama tertidur.

..

.

"Jongin-ah?" panggil Cheondong saat melihat sosok sahabatnya itu berjalan di koridor, lelaki tinggi dan putih itu segera mendekat dan mengalungkan lengannya di pundak Jongin.

"Yak! Kemarin kau membolos lagi kan? Sebenarnya apa yang kau lakukan?" tanya Cheondong, Jongin tidak menatap balik sahabatnya karena setiap melihat wajah Cheondong entah mengapa emosinya meluap-luap.

"Bukan urusanmu." Ucap Jongin sambil menghempaskan tangan Cheondong pelan, lelaki tampan itu mengernyit dan kembali menatap sahabatnya.

"Hei! Apa ada masalah? Kenapa kau berubah akhir-akhir ini? Ah, aku ingin mengatakan sesuatu, ini tentang Kyungsoo si anak baru itu." Ucapan Cheondong membuat Jongin menoleh, nama itu selalu menjadi magnet yang bisa menarik perhatian Jongin.

"Hm, aku tidak mengerti dengannya. Kemarin dia menyatakan cinta padaku, dia sungguh aneh kau tahu, dan akkkh_" Cheondong meringis saat Jongin mendorongnya ke dinding dengan cukup keras dan mencengkram kerahnya.

"Dia tidak aneh, kau hanya tidak mengenalnya." Ucap Jongin dengan tatapan tajam.

"Jong-Jongin-ah? Ka-kau?" Cheondong menatap sahabatnya dengan wajah kecewa, ia tidak menyangka hanya karena lelaki mereka menjadi musuh. Padahal Cheondong sama sekali tidak berniat melukai hati sahabatnya itu.

Jongin yang tersadar segera melepaskan cengkramannya dan dia melihat sekitar dengan tatapan heran, ia menatap Cheondong sebentar lalu memilih berlalu. Cheondong menatap kepergian sahabatnya dan sedikit terbatuk, lalu memperbaiki cara berdirinya.

"Jongin, kau sungguh kekanakan." Gerutu Cheondong sambil merapikan seragamnya, ketika ia berbalik tubuhnya menabrak seseorang , Cheondong menatap sosok yang berdiri di depannya.

"Maaf." Ucap sosok itu. Sosok tinggi dengan tubuh langsing, sudut mata tajam dan bibir berlekuk yang indah ketika tersenyum. Sosok itu semakin melebarkan senyumnya tanpa memperlihatkan giginya, lalu membersihkan debu di bahu kiri Cheondong.

"Persahabatan yang menarik." Ucap sosok itu lalu melenggang pergi dengan kaki jenjangnya. Cheondong menoleh dengan alis berkerut menatap sosok asing yang baru pertama ia lihat di sekolahnya.

Semua mata menatap sosok tinggi yang berdiri di depan kelas mereka. Begitu pula dengan Baekhyun yang merasa penasaran, hanya Chanyeol yang terlihat tidak tertarik dan memilih untuk menatap kejendela dengan malas.

Sosok tinggi yang berdiri di depan kelas mereka tidak terlihat menarik seperti saat pertama kali Chanyeol datang, namun penampilan sosok itulah yang membuat seluruh kelas menatapnya dengan tatapan berbeda-beda, sementara sosok itu hanya menundukan kepalanya sejak pertama kali memasuki kelas.

Kaca mata bulat yang ia kenakan dengan sedikit retak di sudutnya serta rambut yang disisir sangat rapi membuatnya terlihat lucu. Ditambah gigi berkawat dan seragam yang dikancing rapi tidak sinkron dengan tubuhnya yang tinggi menjulang.

"Per-perkenalkan na-namaku Wu-Wu-Wu Yi-Yifan." Chanyeol mengorek kupingnya malas , apalagi ketika kelas menjadi gaduh karena orang-orang tertawa, menertawai suara gagap sosok di depannya.

"Baiklah Wu Yifan-sshi. Kau bisa duduk di bangku kosong itu." Tunjuk guru wanita itu pada salah satu bangku kosong-milik Taecyeon yang belum pulih dari cideranya-. Sosok itu berjalan sambil memegang erat kedua tali tas yang melingkar di pundaknya, ia berjalan menunduk tidak berani menatap siapapun yang ia lewati.

Baekhyun memperhatikan, ia sangat tahu bagaimana rasanya dikucilkan dan dipandang aneh. Ketika seorang siswa dengan jahil mengeluarkan kakinya dari balik kursi dan membuat Wu Yifan terjatuh, semua orang tertawa keras apalagi ketika kaca mata lelaki itu terhempas ke bawah bangku.

Baekhyun yang sempat meringis iba, seketika menoleh kearah Chanyeol yang ikut tertawa terbahak.

"Apa?" tanya Chanyeol tidak terima mendapat tatapan kesal dari Baekhyun.

"Aku hanya tertawa karena itu lucu." Ucap Chanyeol lalu kembali menatap sosok Yifan yang merangkak sambil meraba-raba lantai untuk mencari kaca matanya. Sang guru yang berusaha menenangkan muridnya memukul meja dengan keras, namun tidak membuat tawa anak-anak didiknya surut. Baekhyun bangkit dan memungut kaca mata itu, lalu memberikannya pada Yifan.

Semua siswa menghentikan tawanya, dan berdecih pada sosok Baekhyun yang kini berjongkok di depan tontonan mereka, Chanyeol yang merasa kekasihnya di tatap benci segera memperlihatkan kepalan tangannya dengan wajah marah membuat para siswa itu membalik tubuh ketakutan.

Sosok yang menjadi badut dadakan itu memakai kaca matanya dan mengedipkan matanya berulang kali, karena tidak melihat dengan jelas sosok yang ada dihadapannya, namun ketika Baekhyun tersenyum ia ikut tersenyum hingga lupa mengucapkan terima kasih.

..

.

Kyungsoo duduk disalah satu meja kantin seorang diri sambil memainkan ponselnya, walau ia tidak begitu paham tapi menggeser layar itu kekiri dan kenanan membuatnya tersenyum kecil.

Kyungsoo mengangkat wajahnya dan tidak menemukan sosok Cheondong sejak tadi, sampai ia mendengar percakapan sekelompok gadis yang sedang melahap makan siang mereka.

"Ya, mungkin karena pertandingan sebentar lagi,itu mengapa mereka tidak makan siang dikantin. Ah, aku ingin melihat si kapten basket Kim Jongin dan si wakil Park Cheondong berlari di tengah lapangan dengan keringat yang membasahi tubuh mereka. Ah, seandainya aku bisa memacari salah satu dari mereka." Ucap salah satu gadis.

"Jangankan mereka, memacari salah satu anggota tim basket saja kau tidak bisa." Sahut temannya.

"Benar, mereka terlalu sulit untuk dijangkau. Sama seperti Park Chanyeol, dia tampan, keren, menggairahkan, pandai berkelahi, tapi sayang Si jalang itu sudah merebutnya." Sahut yang lain.

"Ssstt, pelankan suaramu! Jika dia mendengar maka kau habis ditangannya. Byun Baekhyun sungguh beruntung, dia memiliki malaikat tampan yang menjaganya. Apa semua lelaki tampan disekolah ini sulit untuk didapatkan hah?" ucap gadis bertubuh pendek, salah satu dari keenam gadis itu.

"Ah, apa kalian sudah mendengar kepindahan murid baru itu?"

"Si cupu itu? Ah aku tidak ingin membicarakannya."

"Tidak, bukan murid baru kelas tiga itu, tapi murid baru kelas dua. Dia sekelas dengan Kim Jongin dan Park Cheondong, aku dengar dia cukup tampan."

"Benarkah? Aku belum mendengarnya, apa kau sudah melihatnya? Apa dia tampan?"

"Hm, dia tinggi dan memiliki senyuman yang menawan, tatapan matanya juga sungguh memikat_" Kyungsoo tidak mendengarkan lagi ketika mereka berganti topik, ia hanya cukup mendengar perihal keberadaan Cheondong.

Jadi Kyungsoo merapikan kotak makannya dan segera bangkit untuk mencari Cheondong, ia ingin mengatakan pada lelaki itu jika ia telah memiliki ponsel baru.

Kyungsoo berjalan dikoridor dengan wajah tersenyumnya dan tiba-tiba sebuah bola seukuran apel menggelinding menuju kakinya. Kyungsoo menunduk untuk memungut bola itu, sebuah bola pantul berwarna merah.

"Itu milikku." Kyungsoo mendongak dan mendapati sosok tinggi dengan bibir berlekuk indah. Kyungsoo mengangguk dan memberikan bola itu pada pemiliknya, lelaki itu tersenyum dan mengambil alih bolanya.

"Terima kasih."

"Sama-sama." Ucap Kyungsoo sambil tersenyum ramah.

"Oh, perkenalkan aku Huang Zitao, dan kau?" Kyungsoo menatap uluran tangan sosok itu dan menjabatnya.

"Aku Park Kyungsoo."

"Nama yang indah, senang berkenalan denganmu" Kyungsoo mengangguk lalu membiarkan sosok itu berlalu disampingnya sambil melempar dan menangkap bolanya.

..

.

Jongin berlarian di lapangan outdoor dengan pakaian basketnya yang terlihat basah, ia sesekali memberikan arahan pada anggotanya dan kemudian berlari untuk menangkap bola dan memantulkannya. Ketika bola berada ditangannya dan ingin mengopernya, ia mendapati Cheondong dan satu anggota lainnya yang melambaikan tangan.

Seharusnya Jongin melemparkannya kearah Cheondong mengingat posisinya yang paling strategis, lagipula selama ini selain dirinya ia hanya mempercayai Cheondong untuk memasukan bola ke dalam ring, namun kali ini ia malah memberikan bolanya pada anggota lain membuat Cheondong mengernyit heran dan menghela nafas pelan.

Peluit berbunyi dan seluruh tim diperbolehkan istirahat sementara. Jongin berlari kesisi lapangan dan Cheondong mengikuti.

"Hei! Aku tidak tahu apa masalahmu, tapi kau sungguh kekanakan." Ucap Cheondong sambil membuka tutup botol air mineralnya dan duduk disamping Jongin yang memasang ekspresi malas.

"Kau bilang aku kekanakan? Lalu kau sendiri apa? Tega-teganya kau merebut orang yang kusuka." Cheondong menghentikan acara minumnya dan menatap Jongin dengan mata membulatnya.

"Jadi ini semua karena masalah Kyungsoo? Astaga Jongin, aku sama sekali tidak memiliki perasaan padanya, kau seharusnya tahu itu. Aku hanya kasihan melihatnya , dan aku juga tidak tahu harus bersikap seperti apa. Lagipula dia bukan tipeku, aku tidak menyukai lelaki lugu dan polos seperti itu." Ucap Cheondong, Jongin menoleh dengan wajah kesal.

"Jadi maksudmu Kyungsoo tidak menarik?"

"Hei, bukan seperti itu. Dia cantik untuk ukuran lelaki, tapi aku tidak tertarik padanya."

"Lalu kenapa kau memberikan harapan padanya hah?" Jongin memekik, membuat Cheondong terkejut.

"Aku tidak. Dialah yang membuatku harus melakukan itu. Kau seharusnya bisa lebih bersikap dewasa Jongin! Jangan hanya karena dia, kau jadi membuang sahabatmu ini!"

"Jadi maksudmu aku berkhianat? Kaulah yang pengkhianat Park Cheondong!" Jongin bangkit dan meraih tasnya kasar, lalu melenggang pergi. Cheondong menghela nafas kasar dan mengacak rambutnya. Ia tahu bagaimana sikap sahabatnya itu, Jongin keras kepala dan tidak pernah mau mendengar ucapan orang lain, tapi Cheondong tidak menyangka pertengkaran mereka hanya karena sosok lelaki yang bahkan ia sendiri tidak menaruh hati padanya.

"Cheondong?" Cheondong menoleh ke kanan dan ia mendapati Kyungsoo yang sedang tersenyum kearahnya.

"Kau lihat aku membeli ponsel seperti yang kau_"

"Kyungsoo-sshi! Aku mohon hentikan ini! MENJAUH DARIKU!" Cheondong membentak karena rasa tertekan yang ia rasakan. Jongin yang belum meninggalkan lapangan , menoleh dan terkejut saat melihat sosok Kyungsoo yang berdiri ketakutan dan Cheondong yang menatap kesal kearah sosok mungil itu.

"Ta-tapi, a-apa salahku?" Suara Kyungsoo bergetar, Cheondong menghela nafas dan mengertakkan rahangnya. Ia sebenarnya tidak tega, namun ia tidak ingin persahabatnya dengan Jongin berakhir konyol.

"Kau! Kau tidak salah, tapi aku mohon hentikan ini, menjauh dariku."

"Tapi aku mencintaimu. Aku_"

"Kyungsoo-sshi, aku tidak mencintaimu. Tidak akan pernah, jadi aku mohon berhenti untuk meminta menjadi kekasihku."

"Tapi mereka bilang jika jantungku berdetak maka aku_"

"HENTIKAN! Masa bodoh dengan detak jantungmu, aku tidak tahu siapa yang bicara omong kosong seperti itu padamu, tapi aku mohon berhenti menjadi bodoh dan bersikaplah lebih rasional!"

BUGH

Kyungsoo membulatkan matanya ketika melihat Cheondong tersungkur dengan wajah menghadap kesamping, Jongin baru saja menghajarnya.

"Kau berlebihan Cheondong, kau tidak seharusnya mengatakan itu pada orang yang rela melakukan apapun untukmu, dia tidak bodoh." Ucap Jongin. Cheondong menghela nafas tidak menatap kearah sahabatnya, Jongin berbalik dan menarik tangan Kyungsoo menjauh meninggalkan Cheondong dan beberapa pasang mata yang menatap mereka heran.

..

.

Sehun menendang kerikil yang menghalangi jalannya, ia merasa bosan seharian karena Luhan, guru kesayangannya tidak mengajar, para guru bilang jika Luhan saem mengambil cuti untuk urusan penting keluar kota.

Sehun merasa dirinya hampa ketika tidak melihat senyuman guru itu disekolahnya. Sehun merindukan sosok Luhan walau hanya dua hari tidak bertemu.

"Akh! Sakit ibu! Sakit!" Sehun menghentikan langkahnya ketika melewati sebuah rumah kecil dan mendengar suara berisik dari dalam rumah tersebut.

"Hiks..hiks.. kenapa ibu membenciku? Sakit, sakit..hiks.." Sehun yang merasa penasaran segera mendekati rumah tersebut dan menjijitkan kakinya untuk mengintip dari balik dinding yang rendah.

Sehun memang jarang melewati jalan yang ia lalui sekarang karena biasanya ia menaikki bus, tapi kali ini ia sedang tidak ingin naik bus dan memilih jalan alternatif untuk pulang, lagipula ia sudah tidak mendapat gangguan lagi dari teman-temannya. Namun apa yang ia lihat dihadapannya sekarang membuatnya terkejut bukan main.

Disana seorang gadis kecil berambut panjang terduduk diatas rumput dihalaman kecil mereka sambil menangis dan seorang wanita yang menjambak rambutnya, juga memukul pundaknya dengan keras.

"Dasar anak nakal, sudah ibu bilang jangan bermain dengan perabotan rumah! Memangnya kau bisa menggantinya hah?"

"Ma-maaf bu, hiks. Aku tidak sengaja, hentikan! Akh sakit!" gadis itu berusaha melepaskan jambakan ibunya, namun ia malah mendapatkan tamparan keras di wajahnya. Sehun masih menatap gadis malang itu, dan ketika wanita itu menghempaskan tubuh anaknya lalu memilih masuk ke dalam rumah, Sehun segera membalik tubuhnya bersembunyi.

Sehun mengernyit heran melihat betapa kejam seseorang yang dipanggil ibu itu, ketika hendak melanjutkan perjalanannya Sehun dikejutkan dengan pintu yang terbuka kasar dan matanya bertatapan dengan mata gadis yang menangis tadi.

Keduanya sempat tersentak, namun Sehun lebih berfokus pada luka sobek di sudut bibir gadis itu serta wajah merah bekas tamparan. Gadis itu menatap Sehun tidak suka merasa sikap Sehun tidak sopan padanya.

"Kau pikir aku setan hah? Kenapa menatapku seperti itu? Idiot!" gadis itu menutup pintu dengan kasar dan berjalan mendahului Sehun dengan wajah angkuhnya, berbanding terbalik dengan wajah memelasnya tadi. Sehun mengedikkan bahunya dan kembali melanjutkan perjalanan.

Sehun terus memperhatikan gadis yang berjalan beberapa meter di depannya, penampilan gadis itu terlihat berantakan, pakaiannya bahkan sedikit kusut dan kusam, namun gadis itu seperti tidak peduli dan tetap melangkahkan kakinya.

"Gadis yang malang." Ucap Sehun lalu berbelok disebuah pertigaan.

..

.

Baekhyun melangkah dikoridor seorang diri ketika jam pelajaran berlangsung, ia mendadak ingin buang air kecil. Koridor nampak sepi ketika Baekhyun hendak berjalan ke kelasnya.

"Kau pikir kau bisa menghindar idiot?" Baekhyun menghentikan langkahnya ketika mendengar sebuah suara yang berasal dari ruang musik. Baekhyun mendekat dan mengintip dari jendela.

"Jangan kau kira aku tidak akan mengikutimu jika kau pindah negara. Sampai kapanpun aku akan menjadi mimpi burukmu brengsek." Baekhyun mengerutkan keningnya melihat sosok asing bertubuh tinggi sedang memaki sosok lain yang bersimpuh diatas lantai, itu Yifan dengan wajah ketakutannya.

"A-aku ti-tidak me-mengerti ke-kenapa ka-kau mem-membenciku?" suara Yifan terdengar lirih dan memilukan.

"Kau tanya kenapa hah? Kau sudah tahu jelas jawabannya brengsek. Kau si pembuat malu, dasar cupu menjijikan." Sosok yang berdiri itu mendorong kepala Yifan keras , Baekhyun ingin masuk dan menolong namun ia takut karena sosok itu cukup tinggi.

"A-aku mi-minta maaf. A-aku ti-tidak ber-bermaksud mem-membuatmu malu, a-aku_"

"Aaaarrrgghh, hentikan suara gagapmu itu, hal itu hanya membuatku pusing. Rasakan ini!" sosok tinggi itu mendorong tubuh Yifan lalu menendangnya dengan kasar, Baekhyun meringis , melihat betapa kesakitannya wajah Yifan.

Ketika hendak masuk dan menghentikan hal keji itu, sebuah tarikan membuat tubuh Baekhyun tertarik dan berbalik arah. Di hadapannya berdiri kekasihnya, Chanyeol , dengan tatapan yang terkunci kearahnya.

"Berhenti mengurusi urusan orang lain, mereka bukan urusanmu." Ucap Chanyeol sambil sesekali melirik kebelakang Baekhyun dimana sosok tinggi itu masih menendang perut lelaki lainnya yang tersungkur.

"Ta-tapi, dia_"

"Sssst! Jangan mencari masalah, Baekhyun-ah." Ucap Chanyeol lalu mengecup bibir Baekhyun singkat.

"Aku tidak ingin kau dalam bahaya, karena jika itu terjadi aku tidak segan-segan untuk membunuh mereka yang berani menyakitimu." Ucap Chanyeol sambil mengelus pipi Baekhyun, Baekhyun mengangguk lalu berjalan kembali kekelas mengikuti Chanyeol.

Sosok yang memberikan tendangan terakhir pada korbannya, menoleh cepat kearah jendela , namun ia tidak menemukan siapapun. Dia, Zitao, si murid baru yang sepertinya cukup berbahaya.

Ia menatap sosok yang tersungkur lemas di hadapannya dan meludah lalu melenggang pergi meninggalkan ruangan dengan kedua tangan di dalam saku celananya. Ketika pintu tertutup, sosok ringkih Yifan perlahan bangkit dan meraih kaca matanya yang retaknya semakin bertambah, ia terbatuk sambil memegang perutnya yang sakit dan bibirnya yang mengeluarkan darah.

..

.

Kibum menatap putra bungsunya dengan satu alis terangkat. Sehun berdiri di depannya dengan sebuah tas ransel yang sudah berisi segala keperluannya.

"Hanya dua hari ibu, bolehkan?" tanyanya dengan suara yang dibuat manis. Kibum menatap Sehun dengan wajah tidak yakin, lalu melirik Chanyeol yang duduk disofa sambil menyilangkan kedua tangannya dan membuang wajahnya sejak tadi.

"Kau pikir jika ibumu mengijinkan, kau bisa menginap di tempatku?" tanya Chanyeol ketus, Sehun melirik kearah Chanyeol dengan wajah malas lalu kembali menatap ibunya dan mencakupkan kedua tangannya memohon.

"Ibu tidak masalah, tapi sepertinya Chanyeol tidak memberikan izin." Ucap Kibum. Sehun memajukan bibirnya, ia menoleh kearah Baekhyun yang duduk disamping Chanyeol membuat lelaki mungil itu tersentak.

Sehun mendekat kearah Baekhyun, lalu berlutut dan menarik-narik tangan Baekhyun.

"Ibu, aku mohon bujuk Park To_ maksudku ayah, agar memperbolehkanku menginap disana." Baekhyun menatap Sehun sungkan, lalu melirik kearah Chanyeol yang membuang wajahnya sambil berdecih.

"Dasar bocah merepotkan." Gerutu Chanyeol.

"Please! Aku mohon!" Sehun mencangkupkan kedua tangannya lalu memasang wajah memelas.

"Bukankah kita keluarga sekarang, jadi kita harus tinggal bersama, iya kan ibu?"

"Aku benar-benar membenci peran ini." Ucap Chanyeol tanpa melihat Sehun, Sehun mencibir kearah Chanyeol lalu kembali memasang wajah memelas kearah Baekhyun.

"Chanyeol?" suara lembut Baekhyun membuat Chanyeol menoleh.

"Apa?" tanya Chanyeol kesal .

"Apa boleh? Sehun berjanji akan bersikap baik, iya kan Sehun?" Sehun mengangguk cepat sambil menatap Chanyeol, Chanyeol berdecak dan menghela nafas.

"Hanya dua hari, jika lebih aku yang akan menendangmu dari apartemenku." Ucap Chanyeol dan Sehun tiba-tiba bangkit.

"Call!" serunya lalu meraih ranselnya.

"Ayo kita berangkat!" ucap Sehun sambil meninggalkan ruang tengah.

"Chanyeol, aku harap kau bisa memaklumi sikapnya. Dulu dia sangat pendiam dan tertutup namun semenjak kehadiranmu dia menjadi pribadi yang suka meminta. Tolong jaga dia baik-baik, aku mempercayai anakku padamu." Chanyeol melirik kearah Kibum dan ia bangkit.

"Jika bukan karena Baekhyun, aku sudah menendang pantat bocah tidak tahu diri itu." Gerutu Chanyeol sambil meninggalkan ruang tengah dan menyusul Sehun.

"Ibu, aku pamit dulu. Maaf karena meninggalkan ibu dirumah sendiri, hubungi aku jika ibu perlu sesuatu." Kibum mengangguk dan mengelus surai Baekhyun.

"Tidak masalah, nikmati waktumu Baekhyun. Ibu senang melihat kalian berdua bahagia, kalian adalah harta berharga ibu. Walau Chanyeol terlihat kasar tapi dia satu-satunya orang yang ibu percaya untuk menjaga harta berharga ibu, dia lelaki yang baik."

"Aku tahu ibu." Baekhyun tersenyum lalu memeluk ibunya dan segera berjalan menyusul Chanyeol dan Sehun. Kibum menatap kepergian putra sulungnya dan tersenyum haru, Kibum menghela nafas dan merebahkan tubuhnya.

"Sepertinya sekarang saatnya untuk cuti menjadi orangtua." Ucap Kibum sambil meregangkan ototnya. Menjadi orangtua tunggal membuat Kibum terkadang ingin menyerah dan mengikuti jejak suaminya, tapi ia tahu ia masih memiliki tanggung jawab.

Baekhyun mengeratkan pelukannya pada tubuh Chanyeol, sementara Sehun merendahkan tubuhnya dan memeluk bagian depan motor agar tidak menghalangi pandangan Chanyeol. Sebenarnya hal yang mereka lakukan illegal, tapi Chanyeol tidak memiliki pilihan lain , karena bocah iblis di hadapannya adalah bocah yang licik dan berbahaya.

..

.

Sehun melangkah masuk dengan terburu bahkan membuka sepatunya dengan cepat lalu berlari keruang tengah dan berbaring diatas sofa.

"Ah, nyamannya." Ucapnya lalu meraih remote dan menyalakan TV. Baekhyun hanya menggeleng lalu melangkah masuk dan segera membawa barang-barangnya menuju ke kamar Chanyeol. Chanyeol yang sedang menutup pintu hanya mendengus kesal, lalu membanting tas Sehun diatas lantai dengan kasar.

"Hyung sudah pulang?" sosok Kyungsoo muncul dari dalam kamarnya dengan piyama tidur dan wajah mengantuk, bahkan lelaki itu menggosok matanya pelan. Sehun yang melihat itu segera memperbaiki duduknya dan mematikan TV. Mata mereka bertemu dan Kyungsoo membulatkan matanya.

"Hm, kau pasti adik Park Tower, ah maksudku Park Chanyeol kan?" tanya Sehun karena ini kali pertama ia bertemu dengan sosok Kyungsoo. Kyungsoo mengangguk lalu beralih memberi hormat pada Baekhyun yang melangkah menuju kamar Chanyeol.

"Dia adik bungsuku Kyungsoo, namanya Sehun." Ucap Baekhyun dan Kyungsoo mengangguk.

"Hai Sehun." Ucap Kyungsoo sambil melambaikan tangannya dan tersenyum ramah, Sehun berkedip lalu mengangguk pelan dan memberi hormat.

"Hm, Hai!"

"Yak! Bocah sialan! Dan, Oh Kyungsoo. Kau tidak bersama Luhan?" tanya Chanyeol ketika memasuki ruang tengah, Kyungsoo menggeleng.

"Luhan hyung tidak bisa menjemputku hari ini, dia sibuk dengan pekerjaannya." Ucap Kyungsoo, Sehun yang mendengar nama guru kesayangannya disebut segera mendekat.

"Memangnya apa yang dikerjakan oleh Luhan saem selain menjadi guru?" tanya Sehun, Kyungsoo menoleh dan ia menggaruk tengkuknya.

"Hmm…i…itu.."

"Bukan urusanmu bocah ingusan." Chanyeol mendorong pelan pelipis Sehun lalu melangkah masuk ke dalam kamarnya, Sehun menggeram kesal dan memukul perut Chanyeol lalu mendahului memasuki kamar.

..

.

Luhan menghela nafas berulang kali, ia merasa bosan dengan pekerjaannya untuk pertama kalinya. Sudah dua hari ia terjebak di ruang kerja ayahnya untuk mendata jiwa-jiwa yang masuk dan sudah dua hari pula ia tidak melihat Sehun. Jujur, ia sungguh merindukan sosok Sehun yang menggemaskan dan tampan.

"Ah, kenapa harus aku yang terjebak disini?" gerutunya kesal.

"Karena ini memang tugasmu." Luhan menoleh dan terkejut saat melihat sosok yang tiba-tiba muncul di dalam ruang kerja ayahnya.

"Ka-kakek? A-apa yang kakek lakukan disini?" tanya Luhan terkejut.

Kakeknya sudah meninggalkan Infernus sejak lama dan memilih untuk pergi entah kemana menikmati hari tuanya. Pria tua itu berkata jika ia bosan berada diantara para roh-roh kotor yang berteriak kesakitan, jadi pria itu memilih untuk menyamar menjadi manusia dan melakukan seluruh hal yang ia suka, seperti berjudi dan bermain wanita. Tidak ada yang bisa melarang, karena dia memiliki kebebasan, lagipula Minho telah diberikan kepercayaan untuk mengurus semuanya dan gelar Raja Iblis tak lagi ada padanya.

Karena itu ia sangat jarang berada di Infernus, bahkan bisa dihitung jari. Namun jika tiba-tiba pria tua itu muncul berarti ada hal penting yang terjadi, bahkan mungkin sesuatu yang buruk.

"Si cerewet itu memintaku datang menghadiri rapat." Sahutnya malas sambil berjalan mendekat kearah Luhan.

"Memangnya apa yang terjadi?" Tanya Luhan bingung. Pria itu menatap Luhan lekat, menaikkan satu alisnya, lalu berbisik.

"Dia kembali."

..

.

Sehun terus memperhatikan Kyungsoo yang melahap makan malamnya, dan sesekali alis Sehun bertautan melihat berbagai tumbuhan aneh itu dimasukan ke dalam mulutnya.

"Makanan apa itu?" Sehun mendekat kearah Chanyeol dan berbisik, Chanyeol berdeham sambil menegakkan tubuhnya.

"Dilarang bicara saat makan." Sehun menoleh menatap tidak percaya.

"Apa-apaan itu?"

"Kenapa? bukankah aku kepala keluarga disini? Jadi turuti perintahku jika tidak ingin aku tendang dari rumah ini." Sehun mendengus lalu menyendok nasinya dengan kesal dan memasukkan ke dalam mulut dengan asal.

TING TONG

Suara bel pintu mengalihkan perhatian mereka.

"Biar aku yang buka." Baekhyun bangkit lalu berjalan kearah pintu. Baekhyun tersenyum saat membuka pintu, namun seketika senyumnya berubah menjadi ekspresi terkejut. Di depannya kini berdiri Taemin, Minho, Luhan dan dua orang pria yang tidak ia kenal.

"Selamat malam sayang, apa kau terkejut dengan kunjungan kami?" ucap Taemin lalu memeluk tubuh Baekhyun dan mencium pipinya. Baekhyun menggeleng lalu memberi hormat dan memberikan jalan.

"Ibu? Ayah? Kakek?" ucap Kyungsoo yang melihat kedatangan anggota keluarganya dengan wajah terkejut, Chanyeol membalik tubuhnya dan ia benar-benar terkejut begitu juga Sehun namun ia lebih terkejut saat melihat Luhan juga ada disana.

"Kejutan." Ucap Taemin dan Luhan berlebihan. Chanyeol menggeram, meremas sendoknya dengan erat dan rahang yang ditekan kuat.

Kini kelima tamu tidak diundang itu duduk melingkari meja makan yang cukup besar, walau Luhan harus mengambilkan kursi-kursi cadangan. Chanyeol menatap kelima orang itu dengan wajah kesal, walau ia cukup terkejut melihat kehadiran kedua kakeknya yang rela merubah penampilan menjadi manusia, terutama rasa herannya saat melihat Raja Langit yang terlihat jauh lebih tua dari wujud aslinya, Chanyeol tahu ini pasti ide konyol ibunya.

Baekhyun menundukan wajahnya ketika Raja Langit terus menatap kearahnya, sebenarnya kearah Loocin milik Taemin yang melingkar dilehernya, membuat Taemin memberi isyarat pada ayahnya untuk tidak membuat Baekhyun merasa sungkan.

Sementara Sehun menatap heran kearah orang-orang yang mengelilinginya, lalu matanya tertuju pada Luhan yang juga tersenyum kearahnya.

"Jadi? Siapa yang bisa menjelaskan apa yang terjadi?" tanya Chanyeol dingin.

"Kau!" Raja Langit merasa tersinggung dengan ucapan Chanyeol, ia merasa direndahkan. Sementara mantan Raja Iblis menatap kearah Sehun lekat, lalu menerawang perubahan wujud iblis Sehun dan ia tersenyum bangga karena sosok Sehun memiliki aura iblis yang kuat.

"Ah, begini. Kebetulan kami baru pulang dari Jepang untuk menghadiri acara keluarga, jadi kami memutuskan kemari untuk menjenguk Chanyeol dan Kyungsoo yang tidak bisa hadir karena urusan sekolah, dan kebetulan juga Baekhyun dan …" Taemin menjeda ucapannya, ia melirik Sehun sambil tersenyum senang melihat sosok cucunya yang tumbuh dengan baik, ia harus membalas kebaikan Kibum nanti.

"…Sehun yang sedang berada disini." Ucap Taemin, Chanyeol mengeraskan rahangnya ingin memaki dan membakar meja, namun ketika sentuhan lembut tangan Baekhyun menyapa permukaan kulit tangannya , wajah emosi Chanyeol merubah melembut.

Baekhyun tersenyum kearah Chanyeol dan tanpa sadar lelaki tinggi itu tersenyum balik. Interaksi itu membuat ketiga Raja itu menatap tidak percaya, sosok keras kepala dan pembangkang seperti Chanyeol mampu melunak dihadapan manusia lemah seperti Baekhyun.

Dan disana Raja Langit mempercayai ucapan putranya bahwa Baekhyun adalah sosok manusia spesial yang mampu merubah Chanyeol.

Mereka usai makan sejam setelahnya, dan semua nampak kekenyangan bahkan makanan yang dibawa oleh Taemin dan Minho tidak habis mereka lahap.

Kini semuanya berada diruang tengah, para dewasa duduk diatas sofa sementara yang lebih muda memilih duduk diatas karpet. Taemin nampak bahagia melihat Sehun, ia terus menarik Sehun ke dalam pelukannya dan mengajak lelaki itu untuk bercerita dan bermain. Sedangkan mantan Raja Iblis duduk sambil memperhatikan Sehun yang dimatanya berubah wujud menjadi wujud iblisnya. Pria itu meneliti setiap bagian tubuh Sehun dan mencari dimata titik kekuatan dan kelemahannya, hanya sekedar memeriksa seberapa besar kadar iblisnya dan pantas atau tidak menjadi cucunya.

Sementara Raja Langit mencoba memulai percakapan dengan Baekhyun, untuk mengetahui seberapa layak sosok itu mewarisi Loocin putranya.

Merasa muak, Chanyeol meniupkan angin penidur kearah Baekhyun dan Sehun perlahan, membuat kedua orang itu menguap. Taemin yang sedang bercengkrama dengan Sehun menoleh tajam kearah Chanyeol, begitu juga yang lainnya. Chanyeol memilih tak acuh dan terlihat santai.

"Kau mengantuk? Tidurlah! Ajak Sehun juga, dia sepertinya sangat mengantuk." Baekhyun mengangguk lalu memberi hormat pada yang lainnya dan menarik Sehun untuk berjalan kearah kamar Chanyeol.

Ketika pintu tertutup , Chanyeol segera berubah menjadi sosok setengah iblisnya dan api disekitar tubuhnya membara besar, Chanyeol memperlihatkan taringnya yang selama ini tidak pernah terlihat jika ia berubah menjadi sosok setengah iblis, hal ini terjadi karena saat ini dia benar-benar kesal.

"Kenapa kalian tiba-tiba muncul seperti ini?" tanya Chanyeol.

"Ibu hanya ingin melihat cucu ibu secara langsung, dan juga membuat kedua kakekmu mengenal sosok Baekhyun dan Sehun."

"Itu hanya alasan bodohmu kan? Kenapa kau selalu melakukan hal-hal konyol hah?" bentak Chanyeol dengan bahasa kasarnya.

"Kau! Jaga ucapanmu pada ibumu!" bentak Raja Langit.

"Baiklah, kita lebih baik kembali!" ucap Minho menengahi lalu mereka semua menghilang dan muncul di sebuah ruang besar yang dipakai untuk mengadakan rapat, ruang yang sama ketika Chanyeol dihakimi.

Ketujuh orang tersebut telah berubah dalam wujud asli mereka dan duduk di sisi para iblis dan malaikat seperti biasa. Beberapa penasehat dan anggota penting kedua kerajaan mulai bermunculan dan menduduki tempat mereka masing-masing.

"Sebenarnya apa yang terjadi? Untuk apa pertemuan ini?" tanya Chanyeol membentak. Luhan hanya menghela nafas dan menundukan wajahnya.

"Bisakah kau tenang?" Raja Langit nampak geram dengan sikap Chanyeol, itu mengapa ia tidak terlalu menyukai cucu keduanya itu.

"Cepat katakan, jangan membuang-buang waktuku!"

BLASH

Chanyeol merasakan nyeri pada wajahnya ketika Minho melemparkan bola api padanya, Chanyeol menatap ayahnya sambil memegang pipinya yang panas dan sakit.

"Diam! Dan dengarkan!" ucap Minho dingin, Chanyeol melempar pandangannya dan mendengus kesal.

"Aku tidak tahu harus memulai darimana, aku mengundang kalian mendatangi rapat ini bukan tanpa sebab, tapi_"

"Kau terlalu lama." Ucap Raja Iblis kesal membuat Raja Langit memutar bola matanya kesal.

"Aku hanya sedang memberikan pembukaan agar mereka_"

"Ini keadaan darurat, kau tidak perlu berbasa-basi kau hanya perlu mengatakan poinnya!" ucap Raja Iblis.

"Aku sudah akan melakukannya jika kau tidak memotong ucapanku dan sekarang aku harus membuang waktuku untuk berdebat hal tidak penting denganmu."

Seluruh sosok yang ada disana saling berbisik melihat sikap kedua Raja mereka yang selalu berselisih pendapat. Chanyeol menggeram kesal ketika dia akan protes karena kedua kakeknya hanya membuang waktunya, namun Luhan bangkit mendadak membuat Chanyeol yang berada disampingnya terkejut.

"Dia kembali. . Kembali." Ucap Luhan lantang membuat seluruh yang ada disana tercengang, kedua Raja yang masih beradu argument itu menoleh dan menatap Luhan dengan wajah terkejut mereka.

..

.

TBC

...

..

.

- Adegan NC ( checklist )

- Moment Chanbaekhun diperbanyak ( Checklist )

- Kaisoo ( Checklist )

-Latar belakang Loocin ( Checklist )

-Moment Chanhun ( checklist )

Oke, aku udah berusaha untuk memasukan hal-hal yang kalian minta, aku harap kalian puas dan aku minta maaf atas keterlambatan chapter ini juga terima kasih banyak untuk kalian semua yang udah mendukung FF ini. Untuk reviewers thank you so much, untuk followers dan yang mem-favoritkan juga terima kasih banyak.

Aku gak tahu harus masukin sesi Q and A atau nggak, tapi di chapter ini aku bakal jawab beberapa pertanyaan yang entah mengapa selalu muncul, jadi aku mohon tolong di baca baik-baik supaya gak muncul lagi ya hehehehe, dan maaf buat yang pertanyaannya belum kejawab ya :)

Q : FF ini sampe chapter berapa ?

A : Jujur banget aku memang bener-bener gak tau, tapi daripada kalian penasaran, oke aku jawab mungkin sekitar 15 chapter, mungkin ya wkwkwkw

Q : Kenapa setiap update aku gak pernah tau? kenapa ada beberapa akun di IG yan posting ss kalo FF kaka update?

A : Karena mereka follow akun atau cerita aku dear, km juga bisa kok dapat notifikasi kalo misalkan aku update.

Q : Kenapa setiap update selalu lama? sebenernya update setiap seminggu sekali atau sebulan sekali? apa gak bisa lebih cepet?

A : Berharapnya sih seminggu sekali, tapi nyatanya bisa sebulan sekali, atau mungkin lebih. Jadi aku mohon maaf kalo gak bisa memenuhi permintaan yang ini. Hehehehe..

Q : Kak, kaka sebenernya orang apa sih? kok bahasanya campur-campur? sama kalo boleh tahu kakak agama apa?

A : Aku asli Bali, kalo bahasa itu cuma iseng-iseng kok. Kalo agama, Hindu. Hmm,, tapi lebih enak kalo gak bawa-bawa agama ya? wkwkwkw.. Ayo saling menghargai dan bertoleransi sesama umat bergama *eaaaa

Q : Kenapa kakak percaya banget Chanbaek real? itu sampe kedunia nyata apa cuma di FF doang? ( selalu muncul dan aing lelah jawab wkwkwkw )

A : bahkan gak cuma sampe dunia nyata, mereka bahkan udah nyampe mimpi dan ke alam bawah sadarku, wkwkwkw. Chanbaek udah menginvasi seluruh hidup aku. Mereka real, sangat real dimata aku. Hubungan mereka nyata sebagai kekasih atau mungkin lebih (titik )

Q : Bisa gak kalo update kilat?

A : Bisa kalo minjem kekuatannya Jongdae, wkwkwkwwkw.. Aku berusaha guys, aku berusaha hehehehe...

Sekali lagi terima kasih untuk kalian yang udah sabar nunggu dan selalu ngingetin buat update wkwkwkwk. Jujur aku merasa bersalah ke kalian, tapi aku gak bisa berbuat apa-apa kalo otakku buntu dan waktu gak mendukung.

Jaga kesehatan kalian ya teman-teman dan salam Chanbaek is real. Kalo berkenan silahkan tinggalkan komentar , terima kasih :)