Title : Devil Beside Me chapter 9

Cast : Park Chanyeol , Byun Baekhyun , Oh Sehun , Do Kyungsoo , Xi Luhan , Kim Jongin, Kim Kibum, Choi Minho , Lee Taemin , Ok Taecyeon , Kim Dasom , Bae Joo Hyeon-Irene , Park Sooyoung- Joy , Kim Yerim-Yeri, Song Naeun, Yoon Bomi, Park Chorong, Park Cheondong ( Thunder ), Huang Zitao, Wu Yifan, Jung Soojung, and others.


PERHATIAN!

Ff ini mengandung unsur dewasa berbau seks, hubungan sesama jenis yang menyebabkan beberapa orang mungkin mual, Bahasa yang berantakan, dan typo yang walau sudah berusaha dihilangkan tapi tetap muncul. Tidak untuk area bermain anak-anak, anak polos, antigay/ homophobic, AntiChanbaek dan segala yang tidak ada sangkut pautnya dengan dunia yaoi.


NO CO-PAST

NO-REPOST

NO-PLAGIAT

Okay?

There always be a place for the good person. So, don't steal people's effort , be honest dear..

Mulailah dengan sebuah kata, susunlah menjadi kalimat dan kembangkan dalam sebuah paragraph.

Cerita yang hebat bukan tentang siapa, tapi tentang apa dan bagaimana.


..

.

Park Shita

Present

( If you forget about the last story, please back to the previous chapter )

..

.

Ribuan tahun silam terjadi sebuah peristiwa yang tidak akan pernah dilupakan oleh para iblis dan malaikat. Pangeran kedua dari Raja Langit, pempimpin pasukan malaikat terkuat dan tersakti harus ditendang dari Kerajaan.

Kekuatan, kekuasaan, kerupawanan dan kesaktian membuatnya terlena akan pujian dan menjadi sombong. Dia yang sangat dikagumi dan dihormati bertindak semena-mena dan mulai keluar dari peraturan. Jika Taemin adalah malaikat tercantik, maka Pangeran kedua adalah malaikat tertampan.

Wajahnya begitu rupawan, dengan sorot mata tajam dan senyuman yang menawan membuatnya dielu-elukan oleh setiap pelosok istana. Tak hanya wajah, kepandaian dalam menyusun strategi perang dan juga kegagahannya dalam memimpin pasukan membuatnya menjadi sosok yang diteladani, hingga pada akhirnya ia menjadi sombong dan mulai serakah.

Posisi Raja Langit yang akan ia duduki tidak membuatnya puas, karena ia merasa posisi itu terlalu rendah untuk dirinya yang sempurna, Ia ingin menduduki posisi penguasa, ia ingin menjadi Tuhan. Karena keserakahannya ia pun diutus turun ke dunia iblis, namun ia merasa terhina dengan itu.

Oleh karena itu ia membuat sebuah pemberontakan dengan menyalahi aturan Tuhan. Dia bukan iblis, dan dia bukan juga malaikat. Dia rupawan namun sangat mengancam, ia dihukum dengan sangat berat, gelar malaikatnya tak lagi ia sandang. Loocin-nya diambil paksa, tapi dia tidak dibuat musnah. Dia berada diantara kehidupan dan kematian.

Dia adalah Lucifer, malaikat terbuang yang bersumpah akan menghancurkan apa yang telah diciptakan. Namun sosoknya menghilang dan tidak pernah terlihat untuk sekian lama, dan setelah masa perdamaian itu , kini ia pun kembali. Kembali dengan janjinya untuk membalaskan rasa sakit hati yang ia milikki.

Lucifer tidak pernah pergi, Lucifer tidak pernah musnah. Dia adalah sosok yang paling pintar berkamuflase, malaikat dan iblis tidak akan bisa membongkar penyamarannya. Dia cerdas, dia kuat, dia tangguh, dan dia selalu berada disekitar manusia, mengintai dan merekrut jiwa-jiwa yang akan memperkuat pasukannya. Pasukan kegelapan yang akan membuat jiwa-jiwa manusia menjadi budaknya.

..

.

Devil Beside Me

Chapter 9

..

.

Sehun menatap sosok gadis yang sedang memperkenalkan diri di depan kelasnya . Dia sebenarnya cantik , dengan rambut bergelombang panjang, mata besar yang indah, hidung mungil yang mancung, bibir berlekuk yang indah, dia bahkan seperti malaikat. Tapi wajah angkuhnya membuatnya terlihat sangat menyebalkan, terutama cara gadis itu menatap teman sekelasnya, seperti sedang mengibarkan bendera perang.

Sehun berdecih ketika gadis itu mengunyah permen karet sambil memperkenalkan diri, rasanya Sehun ingin membongkar jati diri gadis itu, gadis yang nyatanya menangis setiap dipukul ibunya.

"Baik, Soojung-ah. Kau bisa duduk disamping Sehun. Byun Sehun, angkat tanganmu!" dengan malas Sehun mengangkat tangannya. Gadis itu memberi hormat sekedar lalu berjalan sambil memegang tali tas ranselnya.

Gadis itu melirik Sehun malas, lalu duduk disamping lelaki yang bahkan tidak memberikan salam pertemuan untuknya.

"Geser !" ucap gadis itu, Sehun berdecak lalu memindahkan tas ranselnya yang biasa ia letakkan dikursi disebelahnya karena selama ini ia tidak pernah memiliki teman sebangku.

"Baiklah kita buka halaman 107!" ucap guru yang sedang mengajar. Sehun membuka bukunya dan melirik kearah gadis yang sibuk mengunyah permen karet sambil melipat kertas buku tulisnya.

"Yak! Apa kau tuli? Saem menyuruhmu membuka buku!" ucap Sehun ketus, ia merasa kesal dengan sikap gadis disebelahnya.

"Apa kau buta? Aku tidak memiliki buku." sahut Soojung dengan wajah malasnya. Sehun mencibir dan menatap kesal kearah Soojung.

"Byun Sehun, Jung Soojung! Bicaranya nanti saja setelah kelasku berakhir." Ucap sang guru yang kini menatap kearah mereka berdua. Soojung memutar bola matanya malas dan Sehun hanya mendesah.

Waktu berlalu dan sebentar lagi jam pelajaran akan berganti. Pelajaran berikutnya adalah kelas seni, dan Sehun sangat menantikan itu. Ia ingin segera melihat Luhan, ia sungguh merindukan sosok Luhan yang selalu melindunginya, yang selalu tersenyum dan menghabiskan waktu bersamanya.

Mereka sangat jarang bertemu belakangan ini, bahkan les privat yang mereka miliki pun sering kosong karena Luhan berhalangan hadir.

"Aku harap kelas seni nanti kosong." Gumam Soojung yang dapat didengar oleh Sehun.

"Apa?" tanya Sehun tidak terima, Soojung menoleh lalu menatap Sehun.

"Apanya yang apa?"

"Apa kau bilang tadi?" tanya Sehun kesal, ia tidak tuli, ia hanya membuat gadis itu mengulangi ucapannya.

"Aku –harap-kelas-seni-kosong. Kenapa? apa kau tuli? Lagipula aku membenci pelajaran itu." Ucap Soojung sambil mencoret-coret bukunya.

Sehun mencibir dan kembali menatap kearah papan tulis dimana gurunya sedang menerangkan pelajaran fisika. Tak lama pintu kelas diketuk oleh seorang guru pria, Sehun mengenalnya dia adalah guru kesiswaan.

"Aku ingin memberikan sebuah pengumuman. Kelas seni untuk hari ini ditiadakan karena Luhan saem masih berada diluar kota."

"Yess!" Sehun yang menatap kesal kearah guru di depannya , lalu melirik kesal kearah Soojung yang nampak senang. Gadis itu mencoreti bukunya, entah menulis apa Sehun tidak peduli tapi yang jelas seruan senang gadis itu membuat Sehun naik pitam.

Bagaimana mungkin Luhan bisa tidak datang sementara kemarin mereka baru saja bertemu. Walau tidak terlibat banyak pembicaraan karena ibu Chanyeol terus mengalihkannya tapi ia sempat saling melempar senyum pada lelaki yang membuatnya nyaman itu.

"Tuhan memberkatiku." Kembali Soojung berucap dan dengan kesal Sehun bangkit lalu meminta izin untuk ke toilet. Soojung yang merasa tangannya sengaja disenggol berdecih sambil menatap punggung Sehun kesal.

"Dasar aneh! Kenapa dia marah padaku? Memangnya apa salahku?" Gumam Soojung. Lalu ia mengerutkan keningnya, merasa familiar dengan wajah Sehun yang kini berjalan keluar kelas.

"Bukankah dia laki-laki itu?"

..

.

Jongin berbaring diatas ranjangnya, hari ini ia memilih bolos lagi. Bukan karena suasana hatinya yang buruk, ini malah kebalikannya. Ia merasa amat sangat senang dan jantungnya masih berdebar kencang setelah kejadian kemarin.

Kemarin saat ia menarik Kyungsoo menjauhi lapangan, Jongin membawanya kearah belakang sekolah. Jongin melepaskan pegangannnya ketika melihat Kyungsoo yang terus melirik kearah tangan mereka yang bertautan.

"Maafkan Cheondong , dia hanya tidak sengaja. Dia bukan tipe yang mudah marah sebenarnya, dia hanya_"

"Apa aku begitu menyebalkan? Apa benar aku membuatnya risih? Aku hanya ingin memberitahunya tentang ponsel yang baru aku beli, dia memintaku untuk menjadi kekasih yang baik dengan cara mencarinya diinternet." Kyungsoo menundukan wajahnya, Jongin memperhatikan dengan seksama bagaimana bibir itu bergetar.

"Tidak Kyungsoo, kau sama sekali tidak menyebalkan dimataku. Tapi kau mengejar orang yang salah. Maafkan ucapanku yang membuatmu salah paham mengenai jatuh cinta." Kyungsoo mengangkat wajahnya dan menatap Jongin bingung. Jongin tersentak ketika melihat mata Kyungsoo yang berkaca-kaca.

"Jatuh cinta tidak semudah itu Kyungsoo, jatuh cinta tidak hanya sekedar jantungmu berdetak. Itu, itu jauh lebih rumit. Kau tidak akan bisa menghapus dia dari ingatan semaumu, semakin kau berusaha keras ia akan semakin mengambil alih pikiranmu. Jatuh cinta hampir seperti orang gila."

"Seperti orang gila?" tanya Kyungsoo tidak mengerti. Jongin mengatupkan mulutnya dan sedikit meringis, ia lupa jika Kyungsoo sangat polos, ia tidak boleh menggunakan perandaian yang membuat Kyungsoo bingung.

"Maksudku bukan itu, hmmm… maksudku kau akan bertingkah seperti orang gila, bukan gila dalam artian sesungguhnya. Hanya bertingkah seolah dunia hanya milik kalian berdua, apapun yang kau lihat semuanya berhubungan dengannya, dan juga.. jatuh cinta membuatmu tidak ingin kehilangannya." Ucap Jongin lagi , ia tersenyum menatap mata bulat Kyungsoo.

"Tidak ingin melihatnya bersedih." Jongin menghapus air mata Kyungsoo dengan ibu jarinya.

"Tidak ingin melihatnya terluka." Jongin mulai memajukan langkahnya sambil mendorong tubuh Kyungsoo , hingga menabrak dinding dengan pelan.

"Tidak ingin dia menatap kearah oranglain dengan tatapan memuja." Wajah Jongin mendekat, membuat keduanya terlihat lebih intim.

"Dan, yang terpenting ingin selalu membuatnya menjadi milikmu." Jongin mendekatkan bibir mereka hingga nafas keduanya beradu.

"Kyungsoo, aku, aku menyukaimu." Bibir keduanya bertemu, sebuah kecupan yang menempel kuat. Wajah Kyungsoo mendadak memanas dan rona kemerahan memenuhi pipi putihnya. Hanya sebuah sentuhan bibir yang bertahan lama, bukan sebuah lumatan yang biasa Jongin lakukan pada para kekasihnya terdahulu.

Jongin menjauhkan wajahnya, ia tersenyum melihat wajah tersipu malu milik Kyungsoo. Jongin meraih tangan kecil itu lalu meletakkanya di dadanya.

"Kau merasakannya? Jantungku berdebar dengan sangat kencang. Dan sekarang bagaimana dengan jantungmu?" Jongin membiarkan Kyungsoo membawa tangannya yang lain untuk menyentuh dadanya sendiri. Kyungsoo membulatkan matanya, ia menatap kearah mata Jongin membulat.

"Jan-jantungku berdebar."

"Benar! Itulah yang disebut jatuh cinta Kyungsoo. Dan ketika dua jantung berdebar secara bersamaan dalam waktu yang bersamaan pula, itu berarti kita saling mencintai." Jongin kembali tersenyum.

Sebuah kecupan kembali Jongin daratkan di bibir Kyungsoo dan Kyungsoo memegang bibirnya.

"Aku akan bersaing secara sehat untuk mendapatkanmu Kyungsoo, aku akan mendapatkanmu." Ucap Jongin lalu melangkah pergi meninggalkan Kyungsoo yang masih terpaku ditempatnya, yang masih memegang dadanya yang terus berdebar.

Jongin tersenyum ketika mengingat potongan demi potongan kejadian kemarin. Ia memegang dadanya yang terus berdebar, dan tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia harus menjelaskan pada Cheondong tentang kesalah pahaman mereka.

..

.

Cheondong duduk di dalam kamarnya, ia merasa sedang tidak enak badan untuk menghadiri pembelajaran. Wajahnya sudah diobati oleh kakak perempuannya dan kini ia sedang terduduk di atas ranjangnya sambil menatap keluar jendela, merenungkan kejadian yang kemarin ia alami .

Ia merasa bersalah telah membentak Kyungsoo dan ia merasa bersalah karena membuat Jongin marah padanya. Jongin pantas marah karena bagaimana pun dirinya telah membentak orang yang Jongin sukai. Cheondong meraih ponselnya ingin mengirimkan pesan pada Jongin untuk bertemu, karena ia yakin Jongin pasti tidak bersekolah hari ini, ia mengenal sahabatnya itu dengan sangat baik.

"Cheondong-ah, ada yang mencarimu." Ucap suara nyaring dari balik pintu, dan tak lama muncul sosok wanita mungil lengkap dengan pakaian kerjanya yang membuat dirinya semakin terlihat cantik.

"Baiklah, aku turun sekarang. Kau akan berangkat kerja?"

"Hm. Kau baik-baik saja kan aku tinggal dirumah?"

"Jangan lupa aku sudah besar." Sahut Cheondong sambil melangkah menuju pintu. Sandara, kakak perempuan Cheondong menghilang lebih dulu karena ia terburu-buru untuk berangkat kerja.

Cheondong tersenyum, ia tahu ikatan batinya dengan Jongin sangat kuat. Sejak dulu mareka memang tidak bisa marah terlalu berlama-lama. Cheondong menuruni anak tangga dan melihat sosok berbaju hitam berdiri membelakanginya.

"Jongin-ah!" panggil Cheondong, sosok itu berbalik dan Cheondong terdiam.

"Hei Park Cheondong-shhi. Aku dengar kau mengalami kecelakaan, aku datang untuk menjengukmu. Rumah yang bagus, kau juga memiliki kakak yang cantik dan baik. Sungguh beruntung." Cheondong mengernyit melihat sosok familiar di depannya.

Dagu runcing, mata tajam, bibir berlekuk menawan dan sebuah senyuman khas yang tidak pernah Cheondong lupakan. Dia sosok yang menabraknya di koridor, dia si murid baru yang berada satu kelas dengannya, Huang Zitao.

..

.

Jongin mencoba menghubungi Cheondong berulang kali namun tidak diangkat. Jongin mendesah setelah telponnya yang ke 15, ia tahu Cheondong pasti marah padanya, atau mungkin masih disekolah. Tapi Jongin rasa Cheondong pantas marah, karena bagaimana pun kemarin ia telah menghajar sahabatnya di depan semua orang.

Jongin menghela nafas pelan dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Hingga telponnya berdering dan ia tersenyum saat melihat itu adalah Cheondong.

"Halo?" terdengar suara Cheondong disebrang.

"Cheondong-ah, aku ingin mengatakan sesuatu."

"…."

"Aku ingin minta maaf atas kejadian kemarin, aku merasa terlalu kekanak-kanakan_"

"Baiklah." Jongin mengernyit, ia menjauhkan ponselnya. Nada suara Cheondong terdengar dingin dan ketus dan tidak seperti biasanya.

"Besok kita akan bermain basket lagi kan, dan aku akan mentraktirmu_"

"Sampai berjumpa besok."

Tuuut…Tuuut…tuut.

"Cheondong-ah! Cheondong-ah! Aissh dasar anak itu." Gerutu Jongin kesal.

..

.

Baekhyun memasukan bukunya sambil sesekali melirik kearah Chanyeol. Kekasihnya itu sejak tadi tidak banyak bicara, dan itu sedikit membuat Baekhyun takut. Jadi Baekhyun memilih diam dan tidak menanyakan apapun, terakhir ia mencoba bicara ketika suasana hati Chanyeol buruk, ia malah diperkosa hingga pingsan dan Baekhyun sedikit merasa trauma akan hal itu.

Beberapa siswa berhamburan keluar , berlomba untuk mengisi antrian paling depan di kantin. Baekhyun melihat kearah pintu dimana beberapa siswa saling bercanda sambil berlari keluar, dan matanya menangkap sosok murid pindahan itu, Wu Yifan.

Ia hanya duduk di bangkunya sambil menundukan wajahnya. Lelaki itu ada di deretan dekat jendela koridor, dibangku urutan ketiga. Baekhyun menatap sosok itu dalam, entah mengapa ia merasa sangat prihatin melihatnya. Sejak kepindahannya ia sama sekali tidak bergaul dan hanya menjadi bahan kejahilan teman-temannya, tidak jauh berbeda dengannya. Hanya saja Baekhyun sedikit lebih beruntung karena memiliki Chanyeol.

BRAK

Pintu ditendang dengan kasar membuat beberapa siswa menoleh, termasuk Baekhyun dan Chanyeol yang terlihat tidak terlalu tertarik. Baekhyun mengenal sosok itu, dia adalah lelaki yang sama yang menghajar Wu Yifan.

"Hei cupu!" bentak sosok itu, membuat penghuni kelas yang sempat kagum padanya menoleh kearah Wu Yifan.

Lelaki yang merasa dipanggil mengangkat wajahnya takut, ia meremas pulpen yang ia pegang ketakutan.

"Apa kau tuli?" kembali bentakan itu terdengar. Baekhyun mengepalkan jemarinya merasa takut, ia pernah berada diposisi itu dan rasanya sungguh sangat mengerikan. Chanyeol yang merasa acara heningnya terganggu melihat dengan kesal kearah pintu ,lalu melirik Baekhyun yang ikut gemetar.

"Baek?" panggil Chanyeol. Baekhyun menoleh cepat , menatap wajah Chanyeol tapi matanya bergerak gelisah.

"Chan-Chanyeol? Bi-bisa kau menolongnya?" gumam Baekhyun pelan. Chanyeol melirik kearah pintu dimana sosok Zitao berjalan mendekat kearah Yifan , menarik rambutnya hingga mendongak kebelakang, lalu membenturkannya dengan keras keatas meja. Baekhyun menutup matanya, walau ia tidak melihat tapi ia bisa mendengar itu.

Chanyeol membawa tubuh bergetar Baekhyun dalam sebuah pelukan, mengelus punggungnya pelan. Matanya masih menatap kearah dua orang menjadi pusat perhatian. Lelaki berkaca mata itu memegang keningnya dengan gemetar.

"A-apa ma-maumu?"

"Hentikan gagap sialan!" bentak sosok itu lagi, bukannya takut teman-teman yang lain malah merasa senang. Karena sejujurnya mereka juga tidak terlalu menyukai keberadaan Yifan si cupu.

Apalagi semenjak cideranya Taecyeon, dan munculnya Chanyeol mereka tidak memiliki hiburan yang bisa mereka tonton, dan bahkan Taeyang pun tidak beraksi lagi, tidak ada yang tahu tapi lelaki berkuasa itu tidak terlalu banyak tingkah sekarang.

"Aku tidak mengurusi hal yang bukan urusanku. Aku lapar, ayo ke kantin." Ucap Chanyeol lalu bangkit dan membawa Baekhyun dalam genggamannya. Baekhyun masih menunduk mengikuti arah tarikan Chanyeol.

Chanyeol menatap lurus ke depan tidak memperdulikan keributan di sisi kanannya.

"Am-ampun a-aku mo-mohon." Rintih Yifan ketika rambut coklatnya kembali ditarik. Baekhyun berusaha untuk tidak peduli, tapi ketika terdengar sebuah debuman bangku menghantam lantai, Baekhyun menoleh dan menarik tangannya dari genggaman Chanyeol, membuat lelaki itu menoleh terkejut.

Baekhyun berlari berusaha melindungi tubuh Yifan yang terduduk di lantai tidak berdaya. Baekhyun menjadikan tubuhnya sebagai tameng, ketika sosok kejam itu akan melayangkan pukulan.

"Menyingkir brengsek! Jangan ikut campur urusanku. Kau tidak tahu apa-apa!" bentak Zitao.

"Aku memang tidak tahu apa-apa, tapi aku tidak bisa membiarkan kau menyakitinya lagi. Hentikan!" Baekhyun memasang wajah memelasnya, masih membentangkan tangannya.

"Bedebah! Berani-beraninya ikut campur urusanku. Aku akan memberimu pelajaran juga!" Zitao mengangkat kepalannya semakin tinggi, membuat Baekhyun menutup matanya.

BUGH

Pukulan itu tertahan. Zitao menoleh dan mendapati Chanyeol menahan pukulannya. Chanyeol menggeram, ia mencekik sosok itu , mendorongnya dengan kasar kedinding, lalu mengarahkan satu tangannya di depan wajah Zitao, sebuah pukulan mendarat di pipi kanan Zitao.

"Berani menyentuh kekasihku, aku pastikan kau tidak bernafas lagi." Ancam Chanyeol dengan tatapan mautnya, suasana hatinya sedang buruk dan ia bisa membunuh siapapun sekarang juga. Zitao meludah dilantai dan terdapat cairan merah membuat ia menyeringai.

"Oh, Lelaki yang mencoba melindungi kekasihnya. Tapi sayang yang kekasihmu lindungi itu adalah sampah, dia hama. Dan seekor hama harus dimusnahkan." Ucap Zitao. Chanyeol melirik kearah Baekhyun yang sedang membantu murid baru itu berdiri.

"Aku tidak peduli dengan sampah dan hamamu itu, tapi bila kau membuat Baekhyun-ku terluka. Aku pastikan kaulah yang menjadi hama yang harus aku musnahkan!" ucap Chanyeol dingin lalu menghempaskan tubuh di depannya kasar.

"Baekhyun, ayo!" ucap Chanyeol. Baekhyun berlari kecil kearah Chanyeol.

"Chanyeol bisakah dia ikut?" tanya Baekhyun dengan suara lirihnya.

"Kau!" Chanyeol menatap Baekhyun kesal, namun ketika kekasihnya memandangnya dengan mata bersedih Chanyeol mengalah.

"Terserah." Ucap Chanyeol lalu berjalan mendahului. Baekhyun tersenyum lalu berlari kearah Yifan dan menariknya untuk ikut menuju kantin. Membuat sosok Zitao menatap Baekhyun dan Yifan dengan sebuah seringaian, sementara teman-teman yang lain mendesah kecewa karena hiburan mereka berakhir.

Di kantin antrian terlihat tidak terlalu ramai. Chanyeol segera berdiri dan sesekali melirik kearah Baekhyun yang berdiri dibelakangnya sambil mengucapkan kata-kata penenang untuk si murid baru. Dengan cepat Chanyeol menarik lengan Baekhyun dan membawanya untuk berdiri di depannya, hal yang selalu ia lakukan ketika mengantri.

"Diamlah!" Chanyeol memeluk tubuh Baekhyun dari belakang dan meletakkan dagunya diatas pundak Baekhyun dengan wajah yang terlihat letih. Baekhyun tidak melawan, ia merasakan suasana hati Chanyeol yang sedang tidak baik.

Baekhyun tersenyum mengingat kejadian tadi, ia memiringkan kepalanya lalu berbisik pelan ditelinga kekasihnya.

"Terima kasih, Chanyeol." Chanyeol yang memasang wajah letih , membulatkan matanya. Ia melirik Baekhyun yang menundukan wajahnya , bahkan jemari tangan Baekhyun meremas jemarinya yang melingkari perut kekasihnya itu.

Chanyeol tersenyum, bukan karena hal kecil yang Baekhyun lakukan, tapi karena untuk pertama kalinya Baekhyun menerima kontak fisik mereka didepan umum, bahkan si kecil yang memulainya lebih dulu.

Di belakang mereka sosok Yifan menatap keduanya dengan mata berkedip, dan bibirnya membuat sebuah senyuman kecil.

"Ka-kalian sa-sangat ba-bahagia." Gumamnya kecil sambil tersenyum. Chanyeol yang mendengar adanya suara menoleh kebelakang.

"Kau bilang apa?" tanya Chanyeol. Yifan mundur selangkah dan menggeleng dengan kepala tertunduk.
"Kau berdirilah di depan Baekhyun! Agar aku bisa memastikan si brengsek itu tidak menghajarmu dari belakang." Ucap Chanyeol. Yifan menurut dan segera berpindah dengan gugup. Baekhyun kembali tersenyum, ia meremas jemari Chanyeol semakin kuat.

Walau Chanyeol kasar dalam setiap ucapannya, walau ia selalu bertindak semaunya, dan terkadang sulit ditebak, tapi Baekhyun tahu Chanyeol memiliki hati yang mulia, karena ia terlahir dari seorang ibu berhati emas.

"Jika kau terus merona, mungkin aku lebih memilih memakanmu daripada kepiting rebus." Baekhyun tersentak lalu mengangkat wajahnya, ia menatap ke depan dengan tubuh ditegakkan walau terhalang punggung Yifan. Chanyeol terkekeh lalu mengecup pipi Baekhyun.

"Meronalah! Karena aku suka melihatnya." Baekhyun menggeleng pelan dan Chanyeol kembali tersenyum lalu kembali memberikan kecupan-kecupan ringan diceruk leher Baekhyun.

Mereka duduk ditempat biasa, seolah tempat itu sengaja dikosongkan untuk Chanyeol dan Baekhyun. Baekhyun duduk disamping Chanyeol, dan dihadapanya kini duduk Yifan yang sejak tadi hanya menunduk.

"Yifan-sshi, apa kau baik-baik saja?" tanya Baekhyun, Yifan mengangkat wajahnya sebentar lalu kembali menunduk sambil menggeleng pelan.

"Sebenarnya aku tidak terlalu suka ikut campur, tapi aku hanya ingin tahu kenapa bajingan tadi terus menganggumu? Bahkan kemarin dia juga memukulimu bukan?" tanya Chanyeol, membuat Yifan mengangkat wajahnya terkejut. Chanyeol mendengus dengan seringaian sambil melempar pandangannya.

"Itu bukan hal mengejutkan lagi. Kami melihatnya menghajarmu diruang musik. Apa kau melakukan sesuatu yang membuatnya marah? Dan demi siapapun, angkatlah wajahmu ketika aku bicara!" nada Chanyeol sedikit meninggi diakhir. Yifan menurutinya, ia mengangkat wajahnya perlahan.

"A-aku ti-tidak ta-tahu sa-salahku. Ta-tapi se-sejak ke-kedatangannya ke-kerumah. I-ia se-selalu meng-mengangguku." Chanyeol memutar bola matanya malas, sementara Baekhyun menatap wajah Yifan iba dengan alis mengernyit.

"Rumah? Kalian saling mengenal dan tinggal serumah?" tanya Baekhyun, Yifan mengangguk.

"Di-dia sa-saudara ti-tiriku. A-ayahku me-meninggal ke-ketika ak-aku ma-masih ke-kecil. Ja-jadi se-selama ber-bertahun ta-tahun a-aku ting-tinggal de-dengan i-ibuku sa-saja da-dalam ke-kemiskinan. Su-suatu ha-hari se-seorang pria da-datang da-dan mem-bantu ka-kami…" Raut wajah Yifan nampak ketakutan .

"Di-dia ja-jatuh cin-cinta pa-pada i-ibuku dan ak-akhirnya menikah. Pri-pria i-itu sa-sangat ba-baik di-diawal, ta-tapi su-suatu hari i-ia men-menjadi ka-kasar dan su-suka menyiksaku ke-ketika tidak ada i-ibu. I-ia ma-marah ka-karena ak-aku mencoba mencari ta-tahu ten-tang siapa di-dia sebenarnya. La-lu ta-tak lama an-anaknya da-datang da-dari lu-luar ne-gri , di-dia Zi-zitao. Le-lelaki yang su-suka me-memukulku." Ucap Yifan dengan wajah ketakutan. Baekhyun menghela nafas.

"Dan kau tidak coba melawan?" tanya Chanyeol santai. Yifan mengangguk.

"Su-sudah, te-terakhir a-aku me-melawan i-ia mem-membuat i-ibuku di-dirawat di-dirumah sakit." Baekhyun membulatkan matanya, entah mengapa ia merasa ikut sedih.

"Aku mengerti, lanjutkan makanmu lagi! Maaf telah membuatmu mengingatnya." Ucap Baekhyun sambil tersenyum. Yifan yang semula takut balas tersenyum dan itu membuat Chanyeol menghela nafas pelan karena merasa diabaikan.

Baekhyun melirik Chanyeol yang sejak pembicaraan tadi terlihat tidak tertarik dan hanya mengaduk-ngaduk daging kesukaannya.

"Chanyeol? Apa terjadi sesuatu?" tanya Baekhyun sambil mengelus jemari Chanyeol. Lelaki itu menoleh dan menatap Baekhyun.

"Aku…" Chanyeol melirik kearah Yifan yang segera menundukan wajahnya takut, lalu kembali menatap Baekhyun.

"Aku hanya lelah." Ucap Chanyeol lalu mencuri sebuah ciuman dibibir Baekhyun, membuat lelaki kecil itu memukul pelan lengan kekasihnya.

"Oh, ngomong-ngomong kemana Kyungsoo?" ucap Chanyeol sambil melihat sekeliling tidak menemukan adiknya yang biasanya duduk seorang diri disalah satu bangku.

"Kyungsoo-ah, kau dimana?" Chanyeol mengirimkan pesan telepatinya.

"Aku dikelas hyung. Aku sedang tidak ingin makan."

"Apa yang terjadi? Kau tidak boleh melewatkan waktu makanmu, atau ibu akan membunuhku."

"Aku hanya tidak ingin hyung, aku akan bicara pada ibu nanti."

"Ada yang menganggumu?" tanya Chanyeol

"Hm."

"Siapa?"

"Jongin."

"Jongin? Aku akan menghajarnya setelah ini, apa yang ia lakukan padamu?"

"Jangan hyung! Hmm… dia..dia tidak berhenti untuk berkeliaran dikepalaku sejak kemarin." Chanyeol membulatkan matanya tidak percaya.

"Haaah, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan padamu adikku sayang."

"Aku juga hyung. Wajahnya selalu muncul dan bahkan ketika aku menutup mata."

"Kyungsoo, aku akan benar-benar meminta ibu untuk mengembalikanmu ke Nubes. Kau terlalu, aaahh.. sudahlah, aku pergi."

"….yeol, Chanyeol?" Chanyeol menoleh dan mendapati Baekhyun tersenyum kearahnya.

"Apa kau benar-benar lelah? Apa kau mau tidur di ruang kesehatan setelah ini. Aku akan meminta Dasom noona untuk memberikan vitamin padamu." Chanyeol menatap Baekhyun lalu tersenyum.

"Lakukan apa yang ingin kau lakukan padaku Baek!" ucap Chanyeol dan Baekhyun yang mendengar ucapan aneh Chanyeol melirik kearah Yifan dengan kikuk, walau lelaki itu masih setia tertunduk dan mengaduk makanannya yang masih terlihat utuh.

..

.

"Aku tidak menyangka orang seperti dia bisa sakit juga." Ucap Dasom sambil mencibir kearah Chanyeol yang berbaring diatas ranjang kesehatan.

Saat ia akan mengecek persediaan obat dan alat kesehatannya, tiba-tiba Baekhyun muncul bersama lelaki menyebalkan yang tidak akan pernah Dasom lupakan namanya, Park Chanyeol. Chanyeol masuk dan dengan tidak sopan, tanpa berkata apapun segera membaringkan tubuhnya diatas ranjang.

"Aku tidak sakit asal kau tahu, aku hanya lelah." Sahut Chanyeol kesal. Ia mendengus beberapa kali, sambil menutup matanya dengan satu lengannya.

"Bisakah noona memberikannya vitamin?" tanya Baekhyun sambil menatap Dasom yang sibuk dengan daftar obat di atas papan coklatnya yang selalu ia bawa.

"Aku tidak butuh itu Baek!" ucap Chanyeol cepat.

"Kau dengar? Si sok tangguh ini tidak butuh vitamin." Ucap Dasom yang kini berdiri di depan sebuah rak dimana persediaan obat-obatannya berjejer rapi.

"Diamlah!" bentak Chanyeol. Baekhyun tersenyum lagi dan Dasom mencibir. Sejak awal pertemuan mereka hingga kini, mereka berdua tidak pernah akur, tapi saat mendengar Chanyeol yang membela Baekhyun mati-matian , Dasom mencoba untuk menerima kehadiran lelaki yang setidaknya bisa membuat Baekhyun aman.

"Apa ada hal yang kau butuhkan?" tanya Baekhyun pada Chanyeol, Chanyeol membuka matanya perlahan lalu melirik kearah Baekhyun.

"Ada."

"Apa? Akan aku ambilkan." Ucap Baekhyun segera bangkit, seketika Chanyeol menarik tubuh Baekhyun dan membawanya kedalam sebuah pelukan. Mereka berbagi ranjang dan Chanyeol memeluk tubuh kekasihnya dari belakang.

"Chan-Chanyeol?"

"Ini ruang kesehatan, bukan hotel untuk berbuat mesum." Sindir Dasom yang melirik tidak suka kearah wajah mesum Chanyeol-menurut Dasom- .

"Bisakah kau hanya melanjutkan pekerjaanmu? Aku tidak butuh komentar apapun." Bentak Chanyeol.

Dasom mengedikkan bahunya lalu berjalan menjauh menuju rak disudut ruangan dan memasukan beberapa obat-obatan yang baru ia beli, sesuai dengan alfabet. Tubuhnya memunggungi pasangan kekasih yang kini saling melumat diatas ranjang.

Ciuman mereka terlepas karena Baekhyun mengakhirinya, ia hanya malu harus bermesraan di depan orang lain. Chanyeol menatap Baekhyun yang kini sudah berbalik badan kearahnya.

"Jangan lakukan itu disekolah!" Bisik Baekhyun. Chanyeol tersenyum lalu menarik dagu runcing Baekhyun.

"Aku hanya mencium kekasihku, itu bukan suatu pelanggaran. Lagipula tidak ada yang melihat." Baekhyun mendesah pelan, lalu melirik kearah Dasom.

"Dia tidak melihat, aku yakin!" balas Chanyeol lalu kembali mencium bibir Baekhyun, membawa mereka dalam ciuman panas kembali.

Chanyeol tidak benar-benar lelah, ia hanya sedang tidak ingin melakukan apapun karena pikirannya masih berada pada rapat kemarin, tentang kembalinya Lucifer.

Chanyeol merasa kesal karena ia tidak tahu tentang makhluk itu, ia pikir bangsanya adalah makhluk terkejam, ternyata Tuhan menciptakan banyak sekali jenis makhluk di muka bumi ini. Ia seperti orang tolol mendengarkan bagaimana kakek malaikatnya bercerita –yang terdengar seperti dongeng- pada seluruh pengisi rapat.

Chanyeol merasa tidak perlu takut, lagipula dia adalah calon raja iblis, semua tahu sehebat apa kekuatannya. Ia bangkit dan berkata bahwa ia akan memusnahkan makhluk itu beserta pasukannya, namun ucapan ayahnya membuatnya terkesiap,

"Dia bukan tandinganmu Chanyeol, bahkan dia bukan tandinganku."

Ia merasa diremehkan.

"Ayahmu benar, kekuatan tidak bisa mengalahkannya. Dia adalah pepimpin perang, dia adalah penyusun strategi handal, dan kau hanya hama kecil untuknya."

Chanyeol merasa terhina.

Dan ucapan terakhir dari kakek Malaikatnya, membuat dirinya bungkam hingga rapat berakhir. Membuat dirinya merasa diremehkan, ia terhina dan harga dirinya seperti terinjak-injak. Lucifer, atau siapapun sebutannya membuat suasana hati Chanyeol memburuk, dan calon penerus kerajaan Infernus itu bersumpah akan mengalahkan Lucifer dengan tangannya sendiri.

Jemari Chanyeol membuka perlahan kancing seragam Baekhyun tanpa kekasihnya sadari, ketika jemari Chanyeol mengelus permukaan kulitnya barulah Baekhyun sadar jika kancing seragamnya tengah terbuka semua. Baekhyun menahan tangan Chanyeol sambil menatap memelas pada kekasihnya, dan Baekhyun bersumpah melihat itu, ia melihat tatapan kosong Chanyeol kearahnya.

"Jangan! Hentikan Chanyeol!" bisik Baekhyun sambil menarik ujung bajunya. Baekhyun mengangkat kepalanya untuk melihat kearah Dasom yang masih berjongkok di depan raknya, terlihat sangat sibuk.

"Kenapa?" tanya Chanyeol dengan suara rendahnya. Baekhyun kembali menatap mata Chanyeol, mencoba mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri. Tentang kenapa dengan Chanyeol, ada apa dengan perubahan sikap kekasihnya, Baekhyun ingin bertanya tapi entah mengapa ia merasa sedikit takut.

"Baekhyun…" suara Chanyeol terdengar serak, ia menyembunyikan wajahnya di dada Baekhyun. Baekhyun merasakannya, Baekhyun merasakan bagaimana kekasihnya itu butuh kasih sayang dan perhatian. Baekhyun mengelus surai hitam Chanyeol dengan lembut, mempermainkan helaian rambut itu dengan jemarinya, memperlakukan Chanyeol seperti bayinya.

"Aku disini Chanyeol." Ucap Baekhyun sambil tersenyum. Pelukan Chanyeol semakin erat pada tubuhnya, Baekhyun merasakan terpaan nafas hangat Chanyeol pada dada telanjangnya.

"Ini memalukan, tapi aku merasa nyaman." Gumam Chanyeol kecil. Ia terlihat sangat lemah dengan posisi seperti itu, tapi terkadang sekuat apapun seseorang mereka juga perlu sebuah pelukan. Selama beratus tahun Chanyeol tidak pernah merasakan hangatnya sebuah pelukan penuh kasih sayang.

Terakhir kali ia merasakannya adalah saat ia masih kanak-kanak, dimana ia tertidur diatas pangkuan ibunya dan mulai tertidur karena elusan lembut dikepalanya. Tapi seiring beranjak remaja ia tidak melakukannya lagi. Kakeknya berkata seorang penerus tahta Kerajaan Infernus tidak akan berbaring dan menangis di atas pangkuan orang lain, tidak akan terlena hanya karena sebuah belaian penuh kasih sayang. Karena itu, karena tahta yang akan menjadi tanggung jawabnya, Chanyeol tidak membiarkan sisi malaikatnya menang, tidak akan.

Tapi kini ia mendapati dirinya sedang menyamankan diri pada pelukan seorang manusia, jika kakeknya tahu mungkin dia akan dilarang menjadi seorang raja, tapi untuk saat ini Chanyeol mencoba tidak peduli, ia hanya terlalu lelah, bahkan ketika menjadi iblis ia masih harus menghadapi yang namanya masalah hidup. Ia bukan manusia yang lemah, ia seorang iblis yang kuat, semua tahu itu. Tapi iblis pun terkadang bisa berada pada posisi terendah mereka, dan Chanyeol berada pada posisi itu sekarang.

Brak

"Dasom noona, ada yang terluka." Dengan cepat Baekhyun mendorong wajah Chanyeol, mengancingi seragamnya dengan cepat, dan turun dari ranjang ketika dua orang siswa masuk sambil memapah seorang lelaki.

"Astaga! Apa yang terjadi?" tanya Dasom panik saat melihat sosok itu berdarah dibagian hidung dan kesadarannya mulai hilang.

"Dia terjatuh dari tangga." Dasom bergerak cepat mengambil peralatan yang ada. Chanyeol menatap orang-orang dihadapannya kesal, Baekhyun masih sibuk memperbaiki penampilannya.

"Kalian pergilah! Terima kasih telah membawanya kemari." Kedua siswa itu mengangguk dan memberi hormat lalu undur diri.

"Yifan-sshi?" ucap Baekhyun terkejut dan Chanyeol menoleh untuk mendapati sosok murid baru yang kini terkulai lemah dengan hidung yang mengeluarkan darah dan seragam yang sudah kotor oleh noda darah tersebut.

"Apa yang terjadi?" Baekhyun mendekat dan menggenggam tangan Yifan yang nyaris pingsan.

"Di-dia men-mendorongku." Mata Baekhyun terbuka lebar dan air matanya terjatuh tanpa ia sadari.

..

.

Sehun berjalan sambil sesekali bersiul, ia berdiri di depan gedung sekolah Baekhyun dan Chanyeol. Mereka pagi tadi berangkat bersama dan tentu saja pulangnya harus bersama juga. Sehun besiul-siul sambil menggerakan kakinya diatas tanah, ia tidak sabar untuk menghabiskan waktu terahirnya menjadi anak dengan kedua orangtua lengkap.

Dan ia telah berencana akan meminta bermain peran itu lagi saat hari ulangtahunnya, yang tinggal seminggu lagi. Sehun membayangkan hadiah apa yang ia minta dan pesta seperti apa yang akan ia adakan. Ia akan meminta Chanyeol untuk menyiapkannya karena Sehun tahu lelaki itu memiliki banyak uang.

Jika Chanyeol tidak mau, maka ia akan meminta kakaknya untuk merayu. Sehun tahu kakaknya adalah kelemahan terbesar Chanyeol, ia tahu seberapa besar lelaki menyebalkan itu mencintai kakaknya. Dan Sehun yakin Chanyeol tidak akan menolak, seandainya menolak Sehun akan meminta Bibi Taemin untuk mengabulkan permintaannya, karena ia tahu wanita cantik itu adalah manusia berhati malaikat.

"Hentikan ibu! Ini sakit!" suara pekikan itu membuat Sehun menoleh. Di depannya ada Soojung yang lengannya ditarik paksa oleh ibunya untuk masuk ke dalam mobil.

"Aku tidak mau, aku tidak mau kerumah paman. Paman akan memukulku."

"Makanya kau jangan nakal, ibu harus pergi keluar kota dan ibu tidak bisa membiarkan kau berada dirumah seorang diri." Ucap wanita tinggi itu sambil menyeret anaknya untuk masuk ke dalam mobil.

"Tidak! Ibu tidak tahu betapa kasarnya paman..hiks.." Gadis itu menangis, tapi ibunya dengan kasar menjambak rambutnya dan menutup pintu mobil belakang. Sehun yang melihat itu hanya memasang wajah bersedih, gadis angkuh itu sangat malang dan Sehun tahu sifat angkuh itu hanya untuk menutupi betapa lemah dirinya.

Mata mereka bertemu ketika mobil itu melaju di depannya dan gadis menangis itu menundukkan wajahnya sambil menggosok wajahnya dan menunduk terisak.

"Sehun-ah!" panggil Baekhyun, Sehun menoleh dan mendapati Baekhyun melambai kearahnya dari arah halaman sekolah, dan disampingnya ada Chanyeol dengan wajah malasnya.

"Ibu." Sehun memeluk Baekhyun ketika keduanya bertemu, dan berbisik menyebut kata ibu.

"Kau sudah lama?"

"Iya, hingga aku merasa kakiku nyaris patah karena terlalu lama berdiri." Ucap Sehun dengan aksen manjanya. Chanyeol memutar bola matanya malas.

"Patahkan saja, agar kau tidak bisa berkeliaran disekitarku." Ucap Chanyeol ketus, Sehun mencibir lalu memberikan pukulan pada perut Chanyeol dan segera berlari sambil menarik tangan Baekhyun. Chanyeol yang merasakan perutnya sedikit nyeri,karena ia bersumpah Sehun menggunakan kekuatannya ketika memukul segera berlari sambil mengumpat kearah Sehun.

..

.

Taemin menundukan wajahnya cukup lama, ia tak memiliki keberanian hanya sekedar menatap kearah manik hitam kelam Minho. Ia tidak bisa menghindar lagi seperti biasa, Minho menjebaknya dengan meminta bantuan ayahnya, dan disini Taemin sekarang duduk berhadapan di ruang kerja suaminya.

"Masih tidak ingin bicara?" tanya Minho dengan nada dinginnya, aura diruangan itu mencekam bahkan Taemin kesusahan hanya untuk menelan ludahnya.

Taemin melirik sebentar, lalu kemudian tersenyum lebar.

"Hm, apa yang harus aku bicarakan? Aku tidak memiliki hal yang harus aku bicarakan." Ucap Taemin dengan nada riangnya, sebagaimana biasanya ia berbicara pada suaminya, sebagaimana biasanya ia menyembunyikan sesuatu dari suaminya, dan Minho bukan lelaki yang baru mengenalnya sehari-dua hari, ia telah mengenal pangeran mahkota itu hampir ribuan tahun.

"Begitukah?" tanya Minho dengan sebuah seringaian.

"Apa sekarang para malaikat sudah pandai berbohong?" ucap Minho membuat Taemin menggigit bibirnya, ia tahu ini salah, tapi ia tidak punya cara lain untuk menutupinya dari Minho.

"Tidak." Sahut Taemin dengan nada santai, tidak ada getaran kegugupan disana.

"Kau bisa berpura-pura di depan yang lain, tapi tidak di depanku Taemin." Suara Minho meninggi dan kobaran api disekitar tubuhnya membesar.

"Ma-maaf." Taemin menundukan wajahnya membuat amarah Minho mereda. Walau ia seorang Raja Iblis, tapi bisa dikatakan jika ia adalah iblis terlemah yang tidak tega untuk melihat wajah bersedih istrinya.

"Maafkan aku Minho, maafkan aku." Ucap Taemin , pundaknya bergetar dan ia terisak. Minho bangkit, berjalan memutari mejanya lalu berlutut di depan istrinya. Apinya padam dan ia menembus medan salju milik Taemin, lalu menggenggam jemarinya lembut.

"Tapi kenapa?" tanya Minho, Taemin masih terisak. Ketika air matanya terjatuh mengenai jubah putihnya, cairan itu berubah menjadi salju dan Minho membulatkan matanya. Dengan cepat ia memeluk tubuh istrinya.

"Berapa lama lagi sayang?" bisiknya. Taemin terisak, ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.

"Tidak lama lagi." Sahut Taemin dan Minho semakin mengeratkan pelukannya. Isakan itu terdengar menyayat hati, terdengar memilukan dan di depan pintu Luhan berdiri sambil bersandar. Wajahnya tertunduk, hatinya merasa sakit, ia tidak bodoh untuk mengetahui apa yang sedang kedua orangtuanya bicarakan. Ibunya akan pergi meninggalkannya.

"Apa yang kau lakukan?" suara dingin itu membuat Luhan mendongak.

"Kakek?" Kakek iblisnya berdiri dihadapannya dengan wajah angkuh.

"Ti-tidak ada." Ucap Luhan menyembunyikan kesedihannya, Pria yang lebih tua mengintip dari celah pintu dan melihat anak dan menantunya sedang berpelukan. Matanya kembali terarah pada cucu sulungnya.

"Kau tahu? Seorang iblis tidak menangis, itu kenapa kau tidak pernah bisa menduduki posisi Raja Iblis." Ucapan Kakeknya membuat Luhan menegakkan tubuhnya, ia menatap mata Kakeknya dengan sorot mata tegas, membuang sisi lemahnya. Hal yang selalu ia lakukan sejak kecil, berpura-pura tegar, berpura-pura kuat.

Luhan sangat mengenal siapa kakeknya, ia adalah pria terkejam yang pernah Luhan kenal. Tidak hanya dalam perilaku dan kepemimpinan, kakeknya juga sangat kejam dalam ucapan. Hal itu yang membuat Luhan harus selalu terlihat sempurna di depan sang kakek, ia tidak ingin diremehkan karena darah malaikat yang mengalir di dalam dirinya, tapi ia ingin dipandang sebagai putra tertua dari seorang Raja Iblis.

"Namun seorang iblis dengan darah malaikat, memiliki hak untuk mengeluarkan emosinya, termasuk menangis." Ucap yang tertua ketika menghentikan langkahnya yang menjauhi cucunya, menoleh kesamping, dan berbicara melalui sela pundaknya.

Luhan menatap punggung kakeknya sejenak, ia tahu walau terkadang ucapan Kakek iblisnya tajam namun sebenarnya Kakeknya adalah orang yang pengertian, hanya saja Iblis dilarang untuk itu.

..

.

Kyungsoo berbaring di dalam kamarnya di Nubes. Entah mengapa ia membutuhkan tempat untuk menenangkan diri sekarang. Ia memegang bibirnya dan jantungnya kembali berdetak kencang.

Ia bangkit dan matanya menangkap sosok peri bunga yang mengintip di jendelanya.

"Masuklah!" Kyungsoo menggerakkan tangannya untuk membuka medan pelindung disekitar kamarnya, peri bunga itu tersenyum lalu terbang kearah Kyungsoo dan menempel kepipi Kyungsoo dengan senang.

"Pangeran, aku merindukanmu." Ucapnya senang. Kyungsoo tersenyum dan mengangguk. Peri bunga itu terbang menjauh, sedikit menjaga jarak agar bisa menatap wajah Kyungsoo lebih jelas. Ia menatap bingung.

"Pangeran aku perhatikan dari tadi, pangeran terlihat kebingungan. Apa sesuatu terjadi?" tanya peri bunga. Kyungsoo mengangguk.

"Boleh aku tahu?" Kyungsoo berpikir sebentar, melipat kedua mulutnya ke dalam hingga menyisakkan hanya segaris lurus, lalu ia mengangguk pelan.

"Namanya Jongin. Kim Jongin." Kyungsoo menatap kearah jendela, dimana hamparan taman bunga terlihat jelas dan beberapa peri-peri bunga berterbangan dengan bebas.

"Dia melakukan hal aneh padaku, dan sejak itu wajahnya selalu memenuhi pikiranku. Kau tahu? Dia seperti mimpi buruk, bahkan di bumi aku tidak bisa tidur karena wajahnya selalu muncul." Peri bunga itu tersenyum geli, Pangeran mahkotanya sungguh sangat lugu.

"Pangeran? Apa pangeran tahu apa yang sedang terjadi pada pangeran?" Kyungsoo menggeleng. Ia tidak menemukan jawaban atas pertanyaan itu, untuk itu ia kembali ke Nubes dengan harapan bisa menenangkan dirinya dan setidaknya menemukan jawaban atas sikap anehnya.

"Aku tahu." Pekik peri bunga itu senang.

"Benarkah? Katakan padaku!" Peri bunga itu menyilangkan tangan kecilnya di depan dada, dengan wajah sedikit berpikir.

"Pangeran…" Kyungsoo menantikan ucapan peri bunga dengan mata membulat dan mengantisipasi kata-kata yang akan keluar dari bibir peri bunga di depannya.

"Pangeran sedang jatuh cinta." Peri bunga itu memekik senang lalu terbang bebas di dalam kamar Kyungsoo, sementara Kyungsoo masih terdiam dalam posisinya dengan dahi mengernyit.

"Tapi jantungku tidak berdebar saat pertama kali bertemu dengannya, bahkan dipertemuan setelahnya. Hanya saja…." Peri bunga kembali terbang merendah, ia melayang di depan wajah Kyungsoo.

"Hanya saja apa pangeran?" Kyungsoo menatap peri bunga dengan pikiran berkecamuk. Ia menyentuh bibirnya.

"Ketika bibirnya menyentuh bibirku, ada sesuatu di dalam dadaku yang bergetar. Aku pikir_"

"Itu artinya pangeran jatuh cinta. Hahahaha.. akhirnya Pangeran Kyungsoo kami menemukan cintanya." Kyungsoo menatap sosok kecil yang terbang bebas itu dengan bingung.

"Tapi aku jatuh cinta dengan Cheondong."

"Apa? Pangeran mencintai dua orang sekaligus?" Makhluk kecil itu memekik tidak percaya. Kyungsoo menggigit bibirnya lalu mengedikkan bahunya.

..

.

"Cheondong-ah!" panggil Jongin saat melihat sosok sahabatnya yang sedang memasukan barang ke dalam lokernya. Jongin berlari dengan senyum sumringahnya, ia menepuk pundak sahabatnya itu dengan cukup keras.

"Kenapa kemarin memutus sambungan telponku hah? Apa kau sedang bersama wanita ? " goda Jongin sambil memukul-mukul lengan Cheondong. Lelaki berkulit putih itu melirik sekilas, lalu menutup lokernya.

"Maaf, aku ada urusan kemarin." Ucapnya dengan wajah datar. Senyum Jongin lenyap, ia meneliti wajah sahabatnya dengan seksama. Ia tahu dirinya salah karena telah menghajar sahabatnya di depan umum, tapi biasanya jika salah satu sudah bicara masalah sebesar apapun pasti akan dinggap tidak ada.

"Hei!" seru Jongin ketika Cheondong berjalan mendahuluinya.

"Cheondong-ah! Dong-ah!" panggil Jongin lagi sambil mengejar sosok sahabatnya, Jongin menghentikan langkahnya mendadak ketika sosok Cheondong berhenti dengan mendadak di depannya.

Mata mereka bertemu dan Jongin melihat tatapan datar dan dingin itu. Memang diantara mereka berdua Jongin-lah yang selalu memulai gara-gara dan Cheondong yang akan selalu mengalah untuk meminta maaf. Tapi bila keterlaluan terkadang Cheondong juga bisa mendiamkannya seharian, namun tidak pernah memberikan tatapan seperti ini.

Entah mengapa Jongin merasa ada yang salah dengan sahabatnya. Mereka saling mengenal untuk waktu yang cukup lama, dan di hadapannya kini bukan Park Cheondong yang ia kenal.

"Hei! Kau baik-baik saja?" tanya Jongin pelan sambil menepuk pundak Cheondong. Memperbaiki letak dasi sahabatnya yang selalu dalam keadaan rapi itu-tidak seperti dirinya-.

Cheondong menatap mata Jongin, lalu menyeringai dan itu membuat Jongin membeku di tempat.

"Apa aku terlihat buruk? Ah mungkin karena bekas pukulan yang kau tinggalkan diwajahku." Mata Jongin terbuka lebar.

"Ma-maafkan aku." Jongin menyesali perbuatannya. Mereka memang jarang mengucapkan maaf terutama Jongin, namun hal itu tidak membuat keduanya berlarut-larut dalam sebuah masalah terlalu lama. Bagi mereka, salah satu bicara maka permasalahan dianggap selesai.

"Apa setelah kau meminta maaf, semua akan kembali?" Jongin kembali dibuat membisu. Ia menatap sahabatnya dengan alis yang saling bertautan.

"Cheondong-ah!" panggilan itu membuat sahabatnya menoleh dan Jongin mengikutinya. Disana, diujung koridor seorang lelaki yang Jongin kenali sebagai murid baru dikelasnya melambaikan tangan kearah mereka, tepatnya kearah Cheondong.

Cheondong tersenyum lalu berlari kearah sosok itu dan mereka saling merangkul. Jongin ditinggalkan, dan entah mengapa itu membuat hatinya sedikit sakit. Matanya menatap kearah dua sosok yang menjauh itu, dan tanpa sengaja atau karena penglihatannya yang buruk, ia melihat murid baru itu menoleh kearahnya lalu menyeringai, jika Jongin tidak salah ingat namanya Huang Zitao.

..

.

Selain diabaikan dan topik mengenai ibunya masih banyak hal yang dibenci oleh Chanyeol. Belajar dan pelajaran yang membosankan menjadi salah satunya. Chanyeol benci bagaimana guru-guru itu bicara panjang lebar sementara tidak ada satupun bagi Chanyeol yang berguna. Semua ucapan meraka bagaikan angin yang menggelitik telinganya. Dan dari semua itu pelajaran yang berisi praktek adalah yang paling Chanyeol benci, karena itu merepotkan.

"Baiklah, buatlah kelompok masing-masing berisi dua sampai tiga anak. Ayo bergerak cepat!" perintah sang guru. Chanyeol memutar bola matanya, ia sudah sangat hapal dengan tingkah para manusia. Jika disuruh membuat kelompok itu artinya akan ada tugas dan yang terburuk adalah tugas lapangan.

Chanyeol tidak perlu repot-repot untuk saling memanggil atau berlari kearah teman kelompoknya. Karena pelajaran apapun itu, suka atau tidak suka, Baekhyun adalah satu-satunya yang menjadi pasangan Chanyeol.

"Apa semua sudah mendapat kelompok?" seruan para murid membuat sang guru mengangguk.

"Apa ada yang tidak mendapat kelompok?" mata sang guru meneliti satu per satu wajah anak didiknya. Dan sosok di dekat jendela koridor yang mengangkat tangannya ragu dengan wajah tertunduk membuat semua mata mengarah padanya. Sang guru menghela nafas lalu kembali menatap seluruh isi kelas.

"Siapa diantara kalian yang mau memasukkan Yifan ke dalam kelompok kalian?" tidak ada yang menjawab, mereka memilih untuk pura-pura tidak mendengar. Baekhyun yang sejak tadi menatap dengan pandangan iba menoleh kearah Chanyeol, membuat lelaki tinggi itu mengerutkan keningnya.

"Apa?" pekik Chanyeol.

"Hm, kasihan dia. Apa boleh?" Chanyeol menggeleng dengan sedikit decihan membuat Baekhyun menundukan wajahnya.

"Kenapa jadi bersedih?" tanya Chanyeol melihat wajah cemberut Baekhyun, yang lebih mungil menggeleng pelan dan berbisik.

"Karena aku pernah berada diposisi itu." Chanyeol terdiam menatap raut wajah Baekhyun. Ia mengeraskan rahangnya, giginya bergesekan , dan urat yang tercetak dipelipisnya memperlihatkan betapa besarnya keinginan Chanyeol menahan emosinya.

"Aku." Suara itu membuat seisi kelas menoleh dan menatap tidak percaya. Baekhyun melirik kesamping dan ia terkejut melihat sosok Chanyeol yang mengacungkan jarinya, bibir mungil terbuka.

"Baiklah Yifan kau bisa bergabung dengan kelompok Chanyeol." Ucap sang guru sambil tersenyum ramah kearah muridnya. Diposisinya, jemari Yifan bergetar keras, sejak awal melihat Chanyeol ia sudah merasa takut dengan sosok itu dan kini ia harus berkelompok dengannya , ini seperti mimpi buruk.

Baekhyun masih menatap Chanyeol dengan wajah kagumnya, hatinya terasa lega. Melihat itu Chanyeol menoleh, mendekatkan wajahnya dengan Baekhyun hingga helaan nafas mereka saling menerpa wajah masing-masing.

"Aku melakukan ini untukmu, bukan karena aku kasihan padanya. Ingat!" sebuah kecupan singkat Chanyeol curi dari bibir kekasihnya, dan Baekhyun tersenyum tanpa menjawab, ia hanya terlalu senang atas tindakan Chanyeol.

Dan tebakan Chanyeol tepat, mereka semua dibawa kehalaman sekolah untuk mencari dan mempelajari tentang tumbuhan. Sejak lahir Chanyeol tidak terlalu akrab dengan yang namanya tanaman, ia tidak seperti Kyungsoo, ibunya ataupun para malaikat yang hidup berdampingan dengan benda-benda berwarna hijau tersebut-terkadang berwarna warni-.

Chanyeol duduk diatas rumput dihalaman belakang sekolah , sementara Baekhyun dan Yifan berdiri beberapa meter darinya sambil mengamati sebuah tanaman kecil. Sesekali Chanyeol melirik dan berdecih ketika melihat kekasihnya tersenyum pada lelaki aneh yang selalu tertunduk itu.

Baekhyun dan Yifan bergabung dengan Chanyeol setelah selesai mengamati satu pohon. Baekhyun duduk disamping Chanyeol sementara Yifan duduk dihadapan keduanya.

"Apa kau bisa menggambarnya?" tanya Baekhyun ketika menunjukan sebuah daun yang ia petik pada Chanyeol. Chanyeol menatap Baekhyun dengan satu alis diangkat.

"Kau bercanda? Atau sedang meledekku?" senyum Baekhyun pudar, ia membatalkan niatnya. Baekhyun sedikit membungkuk diatas rumput dan mencoba menggambar diatas buku gambar yang disediakan oleh gurunya.

"B-biar a-aku saja." Suara Yifan membuat Baekhyun mendongak.

"Kau bisa?" tanya Baekhyun lembut.

"A-akan a-aku co-coba." Ucap Yifan. Baekhyun mengangguk dan memberikan buku gambar beserta daunnya pada sosok lelaki berkaca mata retak itu. Chanyeol melirik kearah sosok dihadapannya dan berdecih, sementara Baekhyun memperhatikan lekat-lekat kearah Yifan dan buku gambarnya bergantian.

"Aku masih disini." Tiba-tiba Chanyeol berucap, membuat Baekhyun menoleh sementara Yifan hanya melirik takut. Baekhyun merapatkan tubuhnya ke tubuh kekasihnya, lalu dengan posesif Chanyeol memeluk pinggang Baekhyun.

"Hei Yifan? Apa kau punya kekasih?" tanya Chanyeol. Yifan menghentikan acara menggambarnya lalu menggeleng tanpa berani menatap kearah mata Chanyeol.

"Oh tentu saja, mana mungkin kau punya kekasih." Gumam Chanyeol seorang diri namun masih dapat didengar oleh dua orang lainnya.

"Tapi kau memiliki orang yang kau suka?" tanya Baekhyun tiba-tiba. Yifan menatap Baekhyun lalu mengangguk membuat Baekhyun tersenyum.

"Jika itu kekasihku aku akan membunuhmu!" ucapan Chanyeol membuat Yifan kembali menundukan wajahnya, sementara Baekhyun melirik kearah Chanyeol dengan wajah lelahnya.

"Se-selesai." Ucap Yifan sambil mendorong buku gambarnya. Baekhyun mengambilnya dan bibirnya membulat, gambaran Yifan sungguh mirip dengan aslinya.

"Woah, kau berbakat Yifan." Puji Baekhyun, Chanyeol melirik gambaran tidak menarik itu dan mendengus tidak suka.

"A-aku pernah i-ikut les meng-menggambar du-dulu."

"Dan kau bangga akan itu?" sindir Chanyeol, Yifan kembali menundukan wajahnya takut.

"Seorang lelaki sejati tidak akan bangga dengan memperlihatkan hasil gambarannya, tapi luka ditubuhnya karena perkelahian. Kau bisa berkelahi?" tanya Chanyeol dengan nada tidak bersahabat. Yifan menggeleng dengan wajahnya yang setia tertunduk, lebih memilih menatap rumput.

"Jelas saja tidak, kau bahkan tidak berkutik ketika dihajar. Dasar lemah!" Baekhyun menoleh kearah Chanyeol dengan wajah tidak suka, Chanyeol sungguh keterlaluan. Ia tidak sepantasnya mengucapkan itu pada sosok seperti Yifan.

"Yifan ayo kita cari tanaman yang lain!" Baekhyun bangkit sambil menepuk pundak lelaki yang lebih tinggi darinya itu, sementara Chanyeol menatap tidak percaya dengan kepergian Baekhyun yang meninggalkannya seorang diri.

..

.

Jongin benar-benar tak mengerti, ini sudah berlalu dua hari tapi hubungannya dan Cheondong tidak membaik, bahkan lelaki berkulit putih pucat itu selalu menghindarinya setiap mereka bertemu.

Cinta dan sahabat adalah dua hal yang paling sulit untuk dipilih dan kini Jongin berada diantaranya. Ia mendapatkan perhatian Kyungsoo, karena lelaki cantik incarannya tersebut entah hanya perasaanya atau bukan selalu merona tiap berada di dekatnya, dan Jongin bukan orang bodoh yang tidak tahu arti kata jatuh cinta. Tapi diatas kesenangannya, ia harus kehilangan sahabatnya dan hal itu membuat ia merasa tidak lebih baik daripada Kyungsoo yang dekat dengan Cheondong.

Jongin yang merasa muak dengan semua keterdiamannya dan sahabatnya, memutuskan untuk bangkit dan akan menemui lelaki itu langsung. Jika disekolah ia bisa menghindar, tapi jika dirumah ia yakin Cheondong tidak akan bisa berkutik. Ia tahu bagaimana lelaki itu tidak suka menghabiskan waktunya diluar, karena ia tipe anak yang lebih memilih bermain di dalam kamar atau melakukan kegiatan yang menurutnya menyenangkan di dalam rumahnya.

Berbeda dengan Jongin yang sangat suka keluyuran bahkan di tengah malam, dan kemungkinan besar berakhir di hotel atau terkadang menginap di rumah kenalannya. Mereka berbeda, tapi tidak membuat keduanya tidak bisa menjadi sahabat.

Jongin tiba di depan rumah Cheondong dan menekan bel seperti biasa. Seperti biasa pula yang akan muncul adalah kakak perempuan Cheondong, Sandara, karena di jam-jam seperti ini wanita cantik itu sudah pulang bekerja.

"Ah, Jongin-ah." Suara ramah itu membuat Jongin tersenyum. Wanita bertubuh kurus dan pendek di depannya tersebut tersenyum semakin lebar.

"Kau mencari Cheondong?" tanya Sandara dan Jongin mengangguk cepat.

"Sayang sekali dia tidak dirumah." Mata Jongin membesar, ia tidak mempercayai sahabatnya mulai suka berada diluar di jam-jam seperti ini.

"Ke-kemana dia noona?" Sandara menggeleng pelan dengan raut wajah kecewa, Jongin bisa melihat itu. Dia bahkan tahu wanita itu sedang memendam sesuatu, jadi Jongin menawarkan diri untuk masuk dan mendengarkan cerita Sandara.

"Dia berubah beberapa hari belakangan. Dia selalu pergi di jam-jam seperti ini, biasanya dia sudah tertidur diatas jam sepuluh, tapi kini dia bahkan belum pulang sejak sore tadi." Ucap Sandara dengan wajah sedihnya.

Mereka duduk di ruang tamu dengan sofa yang berhadapan.

"Apa terjadi sesuatu diantara kalian? Aku merasa dia sedikit sensitif setiap aku menyebut namamu." Jongin menatap Sandara dengan mata membulat, ia bahkan tidak mempercayai itu. Ia mulai berpikir sebesar apa kesalahannya dan sejauh apa kesalahpahaman antara mereka, hingga hanya mendengar namanya saja membuat Cheondong marah.

"Aku tidak sengaja menghajarnya noona. Aku yang salah." Ucap Jongin, Sandara menatap Jongin dengan mata membulat, tapi kemudian ia kembali bersandar melipat kedua tangannya di depan dada.

"Tapi aku mengenal kalian berdua, separah apapun pertengkaran kalian, dia tidak akan pernah melakukan hal-hal seperti ini." Ucap Sandara lagi, Jongin menghela nafas ia mulai memikirkan kemungkinan lain, tapi sayang otaknya buntu.

"Apa dia tertekan? Apa mungkin pelajaran disekolah membuatnya terbebani?" gumam Sandara dan Jongin tidak menyetujui itu, Cheondong adalah salah satu siswa terpintar di kelasnya yang setahu Jongin tidak butuh usaha keras untuk belajar, tidak seperti dirinya.

"Dulu aku berharap adik laki-lakiku lebih banyak menghabiskan waktu diluar ketimbang hanya berdiam diri di dalam kamar dengan gitar kesayangannya. Tapi sekarang aku menyesali harapan itu. Dongie bahkan selalu meminta uang lebih padaku untuk kegiatan malamnya."

"Aku akan bicara padanya noona. Aku tidak bisa membiarkan ini berlarut-larut, mungkin dia merasa sakit hati dengan perbuatanku." Ucap Jongin. Sandara menatap Jongin dan menaruh banyak sekali harapan pada lelaki berkulit tan itu.

TOK
TOK
TOK
Ketukan keras dan bertubi dari arah pintu membuat keduanya menoleh, Sandara segera bangkit disusul oleh Jongin. Ketika pintu dibuka betapa terkejutnya Sandara mendapati adiknya nyaris terjungkal dalam dekapannya.

"Dongie, Cheondongie!" panggil Sandara, mencoba menyadarkan adiknya yang dalam keadaan mabuk. Jongin segera mengambil alih dan mencoba membawa lelaki itu keruang tengah untuk berbaring diatas sofa.

"Apa yang terjadi padanya?" gerutu Sandara kesal sambil berjalan kedapur untuk mengambil air minum untuk sang adik. Jongin disana, berusaha membaringkan Cheondong, namun tatapan mereka bertemu dan lelaki putih itu mendorong Jongin keras.

"Bajingan! Apa yang kau lakukan dirumahku hah?" bentak Cheondong. Jongin tidak menjawab, ia bangkit dan mencoba melepas jaket sahabatnya, tapi Cheondong kembali mendorongnya.

"Dasar pengkhianat! Kau manusia kotor Kim Jongin! Kau pantas membusuk di neraka. Demi lelaki itu, kau membuang sahabatmu." Ucap Cheondong. Jongin menghela nafas dan kembali mencoba melepas jaket Cheondong, tapi lelaki itu kembali melawan dan kali ini dorongannya lebih keras.

Jongin yang emosi bangkit dan mencengkram kerah baju Cheondong.

"Aku tidak tahu apa yang membuatmu berubah seperti ini! Tapi yang jelas kau bukanlah Cheondong yang aku kenal." Ucap Jongin dengan suara yang dingin dan ketus. Cheondong menyeringai, ia mencengkram tangan Jongin dikerahnya dan menyingkirkannya kasar.

"Kau pikir seberapa jauh kau mengenalku? Peng-khia-nat." Jongin menggertak emosi, rahangnya mengeras untuk menahan kemarahannya.

BUGH

Sebuah pukulan Jongin berikan di pipi Cheondong, lelaki itu mengangkat wajahnya dan kembali menyeringai dengan sudut bibir yang terluka.

"Pukulanku membuatmu berubah menjadi brengsek, dan aku harap pukulanku juga yang membuatmu kembali menjadi Cheondong yang dulu."

"Jangan bermimpi! Cheondong yang lemah, yang bisa seenaknya kau injak-injak sudah mati." Jongin menatap tajam kearah mata sahabatnya.

"Aku bukanlah Park Cheondong yang lemah, dan aku tidak akan membiarkan orang sepertimu menginjak-nginjak harga diriku. Karena lelaki itu kau menghajarku, dia begitu penting bukan? Bagaimana bila ia hancur ditanganku, apa kau akan membunuhku?" Jongin kembali meraih kerah Cheondong, sementara lelaki itu hanya menyeringai santai.

"Astaga! Hentikan!" pekikan Sandara membuat Jongin melepaskan cengkramannya. Mata mereka bertatapan tajam, dan Jongin orang pertama yang memilih mengakhirinya.

"Noona aku pulang." Ucap Jongin dan Sandara hanya mengangguk sebagai jawaban, ia masih tidak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi.

"Pastikan kau menjaganya dengan Baik, Kim. Karena jika kau lengah sedikit, dia akan jatuh ketanganku." Langkah Jongin terhenti. Ia mengepalkan tangannya erat, tapi memilih pergi daripada menghajar wajah sahabatnya lagi.

..

.

Chanyeol menatap tidak suka kearah dua orang yang sedang mengerjakan tugas di depannya. Entah mengapa akhir-akhir ini semua pelajaran diharuskan untuk berkelompok dan hal itu membuat mereka bertiga kembali menjadi satu kelompok.

"B-baekhyun, b-bagaimana ca-cara meng-mengerjakan so-al ini?" tanya Yifan sambil mendekatkan buku fisikanya pada Baekhyun. Baekhyun yang berada disampingnya mengalihkan pandangannya dan mulai menjelaskan dengan perlahan.

Chanyeol menatap keduanya dengan wajah meneliti, keningnya mengernyit dan matanya bergerak dari Baekhyun ke Yifan secara bergantian dengan tidak suka. Akhirnya, ia menggeram. Merasa muak karena diabaikan, ia memilih bangkit membuat Baekhyun dan Yifan terkejut dengan suara gesekan kursi Chanyeol.

Lelaki itu berjalan dengan malas menuju pintu perpustakaan, suasana hatinya memburuk dan ia ingin mencari udara segar.

Baekhyun yang memperhatikan sosok Chanyeol hingga kekasihnya itu menghilang dibalik pintu teralihkan oleh panggilan Yifan.

"A-aku ra-rasa Chan-Chanyeol ti-tidak me-menyukai-ku. A-apa a-aku harus me-mengatakan pa-pada saem bahwa a-aku ti-tidak akan men-menjadi ke-kelompok kalian?" Baekhyun menatap Yifan dengan sebuah senyuman, jemarinya menggenggam jemari Yifan yang mengepal.

"Tidak. Chanyeol seperti itu bukan karena tidak menyukaimu, dia hanya tidak terlalu suka belajar."

"Be-benarkah?" tanya Yifan lagi. Baekhyun mengangguk.

"Percaya padaku!" Sambungnya lalu kembali mengerjakan soal mereka. Yifan tersenyum sambil memandang wajah Baekhyun malu-malu, sosok di sampingnya sungguh sangat cantik dan berhati baik, ia tidak menyesal mengenal sosok Baekhyun.

..

.

Kyungsoo yang sedang berjalan dikoridor terkejut ketika Cheondong tiba-tiba muncul dihadapannya.

"Hei Kyungsoo!" sapa Cheondong, tapi Kyungsoo memilih membalik tubuhnya, ia ingat dengan ucapan Cheondong waktu itu bahwa ia tidak boleh mendekatinya lagi.

"Kyungsoo! Tunggu!" ucap Cheondong sambil menarik tangan Kyungsoo. Lelaki yang lebih pendek terdiam di tempat tanpa berani menatap.

"Kyungsoo, maafkan aku waktu itu. Aku hanya tertekan , aku tidak bermaksud membentakmu." Kyungsoo mengangkat wajahnya, membuat Cheondong tersenyum.

"Kau bisa balas membentakku, atau kau bisa memukulku seperti Jongin." Kyungsoo beralih menatap luka diwajah Cheondong, jemarinya terulur untuk menyentuhnya membuat Cheondong mendesis karena rasa sakitnya.

"Apa ini masih sakit?" Cheondong mengangguk dengan wajah bersedih. Kyungsoo menatap Cheondong penuh dengan rasa iba.

"Aku tidak marah padamu Cheondong, aku hanya mengikuti apa yang kau ucapkan, aku tidak akan menganggumu lagi, dan maafkan Jongin karena telah menyakitimu." Cheondong mengenggam jemari Kyungsoo yang masih berada dipipinya.

"Tidak. Jangan menjauhiku! Kau tahu? Aku menyadari sesuatu pada akhirnya."

"Apa itu?"

"Bahwa aku juga jatuh cinta padamu." Bola mata Kyungsoo membulat. Ia berkedip beberapa kali, berusaha mencerna ucapan sosok dihadapannya.

"Ta-Tapi_"

"Bukankah kau berkata kau jatuh cinta padaku kan? Maaf karena aku menolaknya, dan sekarang aku menyadari bahwa aku juga jatuh cinta padamu. Jantungku berdebar setiap aku melihatmu Kyungsoo, bahkan sekarang seperti ingin melompat keluar dari dadaku."

"Ta-Tapi_"

"Bukankah itu yang disebut jatuh cinta? Bahkan aku juga selalu memikirkanmu disetiap hal yang aku lakukan."

"Kyungsoo…" Cheondong mengangkat dagu Kyungsoo, membuat mata mereka kembali saling menatap dan dalam hitungan detik bibir itu bertemu. Kyungsoo membulatkan matanya, ini sama seperti yang ia lakukan bersama Jongin, hanya saja ini sedikit berbeda karena Kyungsoo merasakan lidah Cheondong berusaha memasuki mulutnya. Dan saat bersama Jongin , tidak ada sentuhan pada bokongnya tapi Cheondong berbeda, lelaki itu meremas pantat Kyungsoo dan membawa mereka semakin dekat.

Kyungsoo melenguh merasakan lumatan-lumatan yang diberikan Cheondong padanya. Dan matanya tertutup, bukan karena menikmati tapi karena rasa sakit atas remasan-remasan yang ia rasakan.

Ciuman itu terlepas, Cheondong tersenyum lalu mengelap bibir bawah Kyungsoo yang basah.

"Kau tahu? Kau sangat manis. Aku harus kembali kekelas Kyungsoo, sampai bertemu lagi." Ucap Cheondong sambil mencuri ciuman dipipi putih lelaki yang lebih pendek. Jongin berdiri disana untuk kedua kalinya ia berada dalam posisi yang sama, dan ia merasa cukup untuk melihat adegan dimana keduanya saling melumat. Ia tersenyum, tersenyum miris karena pada akhirnya sahabat dan cinta pertamanya tidak bisa ia dapatkan.

"Jongin?" Kyungsoo memanggil Jongin yang hendak berbalik arah. Langkah itu terhenti, Jongin menoleh dan ia tersenyum. Kyungsoo berlari kecil dan berjalan disamping Jongin.

"Aku ingin pergi kekantin. Apa kau juga?" dan Jongin hanya mengangguk dengan senyumannya. Ia menatap sosok Kyungsoo disampingnya, ia rasa ia tidak akan pernah memiliki sosok itu, Kyungsoo memang benar-benar seorang malaikat dan dirinya hanya manusia biasa. Kyungsoo terlalu tinggi dan tempatnya berada sekarang tidak bisa menggapai itu.

Jongin rasa ia akan membiarkan Kyungsoo menentukan sendiri siapa yang ia sukai, jika itu memang Cheondong maka Jongin akan menyerah, ia tidak ingin kehilangan sahabatnya lagi. Untuk saat ini Jongin hanya berada disamping Kyungsoo untuk menjaganya, sampai Kyungsoo menemukan sosok yang membuatnya benar-benar jatuh cinta.

..

.

Seorang pria tengah terduduk diatas ranjang rumah sakit, ia bersandar sambil memainkan ponselnya. Sesekali ia berteriak senang dan sesekali ia akan meringis kesakitan karena perban dikepala dan tangannya. Dia Taecyeon, si pemimpin Serigala Barat .

"Hai!" Taecyeon menoleh terkejut kearah pintu,dimana sesosok pria asing berjalan kearahnya. Rahangnya mengeras, dengan pandangan menyelidik pada sosok asing baginya itu.

"Ok Taecyeon. Si pemimpin paling ditakuti , ketua Serigala Barat. Apa aku benar?" Taecyeon menaikkan satu alisnya, menatap sosok tinggi yang kini berjalan mengitari ranjangnya dengan sebuah seringaian.

"Kau sungguh terkenal , semua orang tahu siapa dirimu, tapi sayang semua lenyap hanya karena kau mengalami cidera saat melawan musuhmu." Rahang Taecyeon mengeras, ia tidak suka dihina dan direndahkan, apalagi dengan mengingatkannya pada peristiwa yang membuatnya harus menjalani perawatan berbulan-bulan.

"Apa maumu?" tanya Taecyeon. Sosok itu menggerakan telunjuknya dari ujung ranjang dan berhenti di bagian pinggang Taecyeon, lalu menyeringai.

"Mauku?" tanyanya santai.

"Bahkan kau belum bertanya siapa aku." Tanya sosok itu lagi. Taecyeon berdecih dan melempar pandangannya.

"Itu tidak penting, aku tidak ingin tahu siapa kau." Sahut Taecyeon dengan nada menyindir. Sosok itu tidak merasa tersinggung, ia malah terlihat tenang.

"Oh begitukah? Termasuk bila aku tahu makhluk apa yang membuatmu menjadi seperti sekarang?" Taecyeon berpaling, ia menatap sosok itu dengan sebuah tanda tanya besar.

"Mak-makhluk? Memang makhluk apa dia?" tanyanya. Walau sudah cukup lama berlalu, tapi Taecyeon tidak pernah melupakan kemunculan sosok yang tiba-tiba menyerang dirinya dan pasukannya saat itu.

"Aku bisa saja memberitahumu, tapi kita membuat kesepakatan."

"Katakan!"

"Kau harus mau bergabung bersama pasukanku, kau harus mau bekerja sama denganku. Bahkan aku akan mengajak Macan Timur untuk bergabung. Sebagai gantinya aku akan memberitahu siapa makhluk itu , dan_" ucapannya terjeda , ia menatap sosok Taecyeon yang masih mengernyit mencoba menimang ucapannya.

"_aku akan memberikanmu kesembuhan." Dan mata itu kembali bertemu.

"Sebenarnya siapa kau?"

"Hahahaha.. apa kau baru tertarik mengenai siapa aku?" tanyanya sambil berjalan menjauh.

"Kau bisa lihat sendiri dari seragamku." Ucap sosok itu lalu berjalan semakin menjauh, hendak menuju pintu hingga langkahnya terhenti dan ia menoleh kesamping.

"Aku memberimu waktu berpikir, tapi aku tidak suka menunggu. Pikirkan dan putuskan dengan cepat!" ucapnya lagi lalu segera berjalan keluar.

Taecyeon duduk diatas ranjangnya, keningnya berkerut.

"Huang Zitao?" gumamnya pelan dengan wajah berpikir keras.

..

.

Baekhyun duduk di dalam kamarnya. Sejak tadi ia memikirkan sikap Chanyeol yang menjadi lebih pendiam. Baekhyun pikir ia melakukan kesalahan, tapi ia sudah mencoba mengingat dan ia tidak menemukan jawabannya.

Bahkan tadi ketika mengantarnya pulang, Chanyeol terlihat tidak banyak bicara. Biasanya ia akan masuk ke dalam rumah, atau membawa Baekhyun ke apartemennya, namun sejak tiga hari belakangan sikap Chanyeol menjadi aneh, dan Baekhyun pikir mungkin Chanyeol sedang memiliki masalah dengan ibunya.

Ponsel Baekhyun berdering, ia mengangkatnya dengan ragu, sebuah nomer yang tidak ia kenali.

"Halo?"

"H-Halo. I-ni Baek-Baekhyun?" Baekhyun tersenyum, ia mengenali suara ini.

"Iya ini aku. Ada apa Yifan? Dan darimana kau mendapatkan nomerku?" tanya Baekhyun lagi.

"Hmmm .. itu ra-rahasia." Baekhyun terkekeh.

"Hmmm, Ba-Baekhyun. Bo-bolehkah a-aku ber-bermain ke-kerumahmu? A-ada soal yang ti-tidak aku meng-mengerti." Baekhyun melebarkan matanya, lalu kemudian tersenyum.

"Tentu boleh. Apa tidak apa-apa jika kau kemari? Apa tidak sebaiknya disekolah saja?"

"Ti-tidak! A-aku sedang i-ingin be-belajar. A-apa aku meng-mengganggumu?"

"Tidak. Aku akan mengirimkan alamatku padaku."

"Ba-baiklah. Te-terima kasih Baek-Baekhyun."

"Ya . Sama-sama Yifan."

Sambungan itu terputus dan Baekhyun segera mengirimkan alamatnya pada Yifan. Ia berbaring sebentar, kembali memikirkan tentang Chanyeol hingga ia tersadar bahwa ia harus segera mandi dan berkemas sebelum Yifan datang.

Satu jam kemudian pintu rumah Baekhyun diketuk dan ia tahu itu adalah Yifan. Sosok tinggi berkaca mata itu berdiri di depan rumahnya dengan wajah tertunduk. Baekhyun melirik kebelakang untuk melihat kendaraan yang dibawa lelaki itu, tapi ia tidak menemukannya.

"Kau kemari dengan apa?" tanya Baekhyun heran.

"A-ku naik b-bus. A-ayah tidak a-akan mem-membiarkan a-aku meminjam sa-salah sa-satu mo-mobilnya." Sahut Yifan lagi, Baekhyun mengangguk paham lalu membiarkan sosok itu masuk.

Mereka duduk diruang tamu, karena selain Chanyeol, Baekhyun tidak akan membiarkan orang lain masuk kesana. Baekhyun membawakan dua gelas minuman dingin dan setoples kue kering.

Mereka memulai belajar kelompok mereka. Baekhyun senang dengan sifat Yifan yang sangat gigih. Baekhyun tahu bahwa lelaki itu tidak cukup pintar, bahkan Baekhyun harus mengajarkannya berulang kali, tapi lelaki itu tidak marah ataupun menyerah, ia tidak seperti Chanyeol yang akan menyobek bukunya atau membanting pulpennya ketika tidak bisa mengerjakan soal, Yifan sangat lugu seperti anak kecil yang selalu ingin mencoba.

Mereka terus belajar, dan sesekali tertawa karena kesalahan-kesalahan kecil yang mereka lakukan. Yifan terlihat lebih santai bersama Baekhyun, ia tidak terlalu gugup seperti ketika berbicara pada orang lain.

"Ba-Baekhyun. Ke-kenapa kau mau men-menjadi ke-kekasih Chan-Chanyeol? Bu-bukankah d-dia kasar? Se-sementara kau sa-sangat lembut." Ucap Yifan memberanikan diri. Baekhyun menghentikan kegiatan menulisnya, ia menoleh kearah Yifan lalu tersenyum sangat lembut.

"Dia tidak sekasar yang terlihat. Sebenarnya dia sangat baik, hanya saja dia tidak bisa menunjukannya. Chanyeol juga lelaki yang lembut dan kadang rapuh. Kau tahu? Ia bahkan pernah menangis."

"Me-menangis? Be-benarkah?" mata Yifan terbuka lebar walau tertutup oleh lensa kaca matanya.

"Hm. Kau tidak menyangka kan? Kadang apa yang kau lihat tidak selalu sama dengan kenyataan. Bahkan aku sebenarnya bukan pribadi yang lembut seperti yang kau pikirkan, aku juga memiliki sisi buruk." Ucap Baekhyun dengan sedikit menekuk hidungnya ketika bicara.

"A-aku tidak per-percaya. K-kau sa-sangat ba-baik. Se-seperti se-seorang malaikat." Baekhyun terkekeh sambil menggeleng pelan.

"Jika aku malaikat, maka aku malaikat yang kotor." Ucap Baekhyun sambil tertawa kecil. Yifan pun ikut tertawa.

"Ah, B-baek. A-aku b-baru tahu k-kau me-memiliki ka-kalung ya-yang indah. K-kau pantas me-memakainya. Sa-sama –sama cantik. A-apa Chan-Chanyeol ya-yang mem-memberimu?" tanya Yifan ketika matanya tidak sengaja melihat kalung Baekhyun yang terlihat, karena biasanya kalung itu bersembunyi dibalik seragamnya.

"Ah, ini. Hmm.. ibu Chanyeol yang memberikannya. Sebagai hadiah."

"Waaah. A-apa ka-kalian a-akan me-menikah?" mata Yifan berbinar dan Baekhyun kembali terkekeh.

"Aku tidak tahu. Aku belum memikirkannya."

"A-apa kau men-mencintai Chan-Chanyeol?" tanya Yifan. Baekhyun terdiam, ia menatap kearah mata Yifan lalu senyumnya kembali muncul.

"Aku akan memberikan hidupku jika itu berarti iya." Yifan membulatkan matanya, lalu menggeleng.

"Ti-tidak k-kau ti-tidak bo-boleh mati. Ka-kau o-orang pa-paling ba-baik se-selain men-mendiang i-ibuku." Baekhyun tersenyum lalu mengangguk, ia kembali beralih pada soal di depan matanya, sementara Yifan masih menatap Baekhyun hingga ia pun ikut kembali mengerjakan soalnya.

Dua jam berlalu dan Yifan masih nampak antusias mengerjakan tugasnya. Ketika ia menoleh, ia mendapati Baekhyun sudah tertidur diatas buku soalnya. Yifan terdiam, ia memperhatikan wajah Baekhyun. Meneliti wajah itu secara seksama. Jemarinya terulur untuk menyentuh hidung Baekhyun, dan ia terkekeh saat Baekhyun menggerakkan hidungnya.

Lalu jemarinya turun ke bibir Baekhyun dan ia menelan ludahnya. Bibir itu berwarna merah muda natural, dan sangat tipis. Perlahan jemarinya kembali terulur, mencoba menyentuh benda kenyal itu dengan telunjuknya.

"Menyukai apa yang kau lihat brengsek?" Yifan tersentak dan ia membulatkan matanya saat melihat Chanyeol berdiri disana dengan jaket hitamnya. Yifan bergegas menjauhkan tubuhnya, menjaga jarak dengan Baekhyun dan ia tertunduk.

Chanyeol melangkah cepat dengan tangan terkepal dan sebelum Yifan sempat membuka mulutnya ,kerahnya ditarik dan wajahnya dihantam.

Baekhyun membuka matanya perlahan dan ia terkejut melihat Chanyeol yang menduduki perut Yifan dan menghajar sosok itu membabi buta.

"Aku sudah memperingatkan untuk tidak menyentuh milikku bahkan hanya ujung rambutnya. Tapi kau dengan lancang menyentuh bibirnya."

"M-maafkan a-aku.. aaakkh! A-ampun Chan-Chanyeol."

"Chanyeol! HENTIKAN!" Baekhyun berteriak sambil menarik tubuh Chanyeol menjauh. Pukulan itu terhenti, Chanyeol bangkit sambil menatap sosok Yifan yang sudah babak belur dan bersimbah darah.

"Apa yang kau lakukan?" Baekhyun berteriak lagi sambil memaksa Chanyeol untuk menatapnya.

"Apa yang kulakukan? Seharusnya kau bertanya padanya, apa yang dia lakukan! Kau tahu , dia ingin menciummu." Chanyeol menunjuk Yifan membuat Baekhyun membulatkan matanya sambil menatap sosok yang kini menggeleng ketakutan itu.

"Tapi kau keterlaluan Chanyeol." Suara Baekhyun merendah.

"Apa? Aku keterlaluan? Dia baru saja menyentuh milikku dan aku tentu saja berhak marah." Bentak Chanyeol.

"Tapi tidak dengan memukul_"

"UUUHUUK" Yifan terbatuk dan darah keluar dari bibirnya.

"Astaga! Yifan kau baik-baik saja?" Baekhyun berjongkok, ia membantu Yifan untuk memperbaiki posisinya. Mencoba menenangkan sosok yang ketakutan itu.

"AAARGGGHH.." Chanyeol menggeram frustasi , ia menendang meja di hadapannya lalu melenggang pergi. Niatnya untuk mengajak Baekhyun berjalan-jalan kandas, suasana hatinya malah semakin buruk.

"Chanyeol! Chanyeol!" panggil Baekhyun tapi sosok itu telah menghilang dari ruang tengah. Yifan masih terbatuk dengan darah memenuhi wajahnya, Baekhyun memandang cemas.

"Ke-kejar d-dia Ba-Baek! A-aku ba-baik-baik saja!"

"Tidak. Kau tidak baik-baik saja. Astaga! Lihat wajahmu! Yifan, maafkan aku." Ucap Baekhyun memohon. Yifan menggeleng dengan ringisan, lalu ia tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang memerah.

"Aku harus mengobatimu, ayo kita kerumah sakit!" Ucap Baekhyun dan Yifan hanya menundukan wajahnya.

..

.

Chanyeol berada diruang latihan kekuatannya di Infernus. Ia melemparkan bola apinya pada sasaran objek dihadapannya. Beberapa jiwa manusia kotor yang dijadikan sebagai bahan latihan untuk Chanyeol.

Jiwa-jiwa itu merintih kesakitan ketika Chanyeol menembak mereka dengan bola api yang amat sangat panas. Tapi Chanyeol tidak peduli, ia hanya sedang kesal dan menyiksa adalah salah satu cara yang bisa membuatnya lebih baik, selain Baekhyun.

Ruangan besar tanpa jendela yang dikelilingi api itu menjadi saksi bisu bagaimana kekesalan Chanyeol. Kobaran api semakin membesar, membuat warna merah menyala mendominasi ruangan tersebut.

Pintu terbuka dan sosok lain masuk ke dalam. Chanyeol menggeram kesal menghentikan lemparannya, ia menyadari kehadiran kakeknya.

"Aku sudah lama tidak melihat kekejaman cucuku." Ucap Kakeknya, Chanyeol hanya menyeringai sebagai jawaban dan kembali melempar bola apinya.

"Apa manusia itu membuatmu lupa siapa dirimu?" tanya sang Kakek lagi menyadari kekesalan Chanyeol.

"Jangan bicarakan dia! Aku sedang tidak ingin."

"Oh lihat! Baru saja aku senang karena kau kembali menjadi kejam, tapi setelah tahu alasanmu seperti ini karena manusia itu, aku merasa tidak yakin tentang siapa dirimu." Chanyeol menoleh kearah kakeknya, mata keduanya saling menatap tajam.

"Aku Chanyeol. Iblis terkejam yang pernah diciptakan, dan sebentar lagi aku akan menjadi seorang raja." Ucap Chanyeol dengan suara rendahnya, nadanya terdengar sangat serius.

"Aku meragukannya." Ucap sang kakek.

"Hidup diantara para manusia itu membuatmu lemah. Aku sempat berpikir bahwa kau bisa mengalahkan 'nya' tapi melihat kau yang seperti ini hanya karena manusia, aku rasa kau hanya akan menjadi penonton saja nanti." Chanyeol menggeram kesal, api disekitar tubuhnya semakin berkobar.

"Jangan meremehkanku! Aku adalah iblis yang kuat."

"Jangan terlalu percaya diri! Kau adalah iblis dengan darah malaikat." Ucap Kakeknya. Chanyeol merasa muak dan sangat kesal. Ia mengepakkan sayapnya, tanduknya keluar semakin tinggi, taringnya mulai terlihat dan ia mencekik kakeknya dengan kuat. Api di dalam bola matanya membara.

Kakeknya menyeringai lalu dalam sekejap berubah. Mereka serupa hanya saja kakeknya terlihat lebih mengerikan. Tidak ada lagi wujud manusia, ia sudah berubah menjadi iblis total. Chanyeol menggeram, walau saat ini ia tidak boleh untuk berubah menjadi iblis total karena akan berbahaya baginya yang belum menjabat sebagai seorang raja, tapi ia tidak menyerah.

Ia mengangkat tubuh kakeknya keatas, sementara kakeknya masih terdiam dalam posisinya. Sebelum akhirnya sayapnya yang mengepak berhenti ditempat lalu berubah menjadi meruncing dan menusuk kedua pundak Chanyeol.

Chanyeol meringis, cengkramannya pada leher sang kakek melemah. Kakeknya menyeringai, lalu mendorong tusukannya semakin dalam, Chanyeol terjatuh diatas lantai api. Darah dari tubuhnya mulai mengalir, ia terbatuk menyemburkan darah dari mulutnya.

"Lihat! Bahkan hanya karena tusukanku kau tidak berdaya. Bagaimana bila menghadapinya?" Kakeknya menarik sayapnya lagi, menimbulkan suara mengerikan dari daging yang terkoyak.

Perlahan tubuhnya kembali berubah menjadi wujud setengah iblisnya, tanpa sayap , taring dan tanduk. Ia menatap Chanyeol yang bersimpuh ditanah dengan kepala menatap kosong kearah lantai.

Wujudnya perlahan kembali normal, tapi lukanya masih menganga. Kakeknya mendekat, menyentuh pundak Chanyeol dan perlahan luka itu membaik. Kakeknya adalah satu-satunya iblis yang bisa mengobati luka iblis lain dengan tangannya sendiri.

"Kau harus tahu siapa dirimu. Kau iblis Chanyeol! Kau tidak boleh lemah dihadapan apapun, kau tidak boleh terkalahkan. Manusia, malaikat, bahkan oleh Lucifer. Peperangan kita akan segera dimulai lagi, kau harus mempersiapkan dirimu dan berhenti bermain-main dengan manusia! Kembalilah ke Infernus! Lupakan manusia itu!" Chanyeol terdiam dengan wajah tertunduk.

"Tapi itu adalah hukumanku." Ucapnya lirih.

"Sejak kapan seorang iblis bertanggung jawab atas kesalahannya? Kau iblis, kau bisa melakukan apapun, manusia lemah dan kau memenangkan perasaan mereka. Kau hanya membuatnya mengandung anakmu, itu bukanlah sesuatu yang besar." Ucap Kakeknya. Chanyeol masih terdiam, entah mengapa ada sisi di dalam dirinya yang memberontak.

"Dia hanya manusia Chanyeol, ingat! Dia tidak layak bersanding denganmu. Kau seorang raja iblis." Ucap Kakeknya lagi.

"Tapi ia tersiksa karenaku."

"Sejak kapan iblis memikirkan perasaan orang lain?" ucap kakeknya lagi. Chanyeol bangkit, ia menatap kearah mata kakeknya.

"Ya aku iblis, tapi apa kakek lupa bahwa aku memiliki darah malaikat." Ucap Chanyeol sambil menyeringai, membuat kakeknya terdiam. Kakeknya terkekeh, lalu membalik tubuhnya.

"Melawan Lucifer bukan sebuah permainan anak-anak. Semua nyawa dipertaruhkan disini, dan kau harus ingat bahwa Lucifer pintar, dia akan mengambil orang terdekat kita." Lalu ruangan itu kembali hampa, hanya ada Chanyeol yang berdiri di tengahnya sambil mengepalkan tangannya kesal.

..

.

Baekhyun membuka pintu rumahnya dan menemukan Chanyeol berdiri disana, sebelum ia sempat bicara tengkuknya ditarik dan wajahnya berada dalam pelukan kekasihnya. Chanyeol mengelus rambut Baekhyun dengan lembut, mengecup kepala itu berulang kali.

"Chanyeol." Baekhyun tidak bisa menyembunyikan kesedihannya ia menangis sejak kepulangan Yifan tadi, menangis karena ia tidak bisa mencegah kepergian kekasihnya, dan ketika ibunya berkata bahwa Chanyeol menunggu di depan rumah, Baekhyun segera menuruni tangga dengan piyama dan telapak kaki telanjangnya.

"Jangan menangis! Aku akan sangat merasa bersalah." Ucap Chanyeol sambil memeluk tubuh Baekhyun semakin erat. Baekhyun mendongak, ia menatap wajah Chanyeol dari bawah. Chanyeol tersenyum dan segera mencium bibir kekasihnya.

"Maafkan aku karena tidak mengejarmu tadi, keadaan Yifan sangat buruk dan aku merasa harus bertanggung jawab akan itu." Ucap Baekhyun lagi, ia kembali memeluk tubuh Chanyeol. Chanyeol mengangguk mencoba paham, mereka kembali berciuman hangat sebelum sebuah sosok menerobos dan membuat keduanya berpisah.

"Sehun?" panggil Baekhyun saat melihat sosok berseragam yang berjalan kedalam rumah dengan pundak lesu.

Sehun menoleh dengan tatapan tidak bersemangat dan membuat Baekhyun tercengang. Baekhyun mendekat dan memegang dagu Sehun lalu memutar-mutarnya pelan.

"Apa yang terjadi pada wajahmu? Apa mereka mengganggumu lagi?" tanya Baekhyun cemas, Sehun menggeleng, wajahnya terlihat kesal dengan kedua alis bertemu.

"Tidak, ini berbeda. Dia menyerangku dengan brutal hanya karena aku mengatainya cengeng. Dia sungguh menyebalkan dengan sikap angkuhnya, jadi aku membuka rahasianya." Ucap Sehun. Baekhyun yang tidak mengerti kembali menatap Sehun.

"Dia? Siapa?" Sehun menatap Baekhyun, lalu melirik kearah Chanyeol yang menatapnya dengan satu alis terangkat. Bola mata Sehun bergerak gusar, lalu ia menghela nafas.

"Jung Soojung, dia anak baru."

"Soojung? Dia perempuan?" tanya Baekhyun.

"Pffffttt.. Hahahaha.. Menyedihkan, kau dipukuli oleh perempuan dan jangan katakan jika kau kalah!" ledek Chanyeol. Sehun memutar bola matanya kesal.

"Aku hanya mengalah." Ucapnya cepat, tapi tawa Chanyeol semakin terdengar keras.

"Ckkckckc. Sudah kalah masih berlagak jagoan. Seharusnya kau tidak mengenakan celana ke sekolah, tapi mengenakan rok." Sehun menggeram kesal, ia mengepalkan tangannya sambil mengertakan giginya kearah Chanyeol, lalu berbalik dan berjalan kedalam.

Baekhyun menggeleng melihat tingkah lucu Sehun, dan tarikan dipinggangnya membuat Baekhyun tersadar.

"Urusan kita belum selesai sayang!" ucap Chanyeol lalu menarik tubuh Baekhyun mendekat dan membawa mereka dalam sebuah ciuman lagi. Baekhyun tersenyum dalam hati, Chanyeol-nya telah kembali.

"Hm..tapi Chanyeol." Baekhyun kembali bicara setelah mendorong pelan tubuh kekasihnya, memisahkan pangutan mereka. Chanyeol menatap Baekhyun dengan raut wajah bingung , melihat wajah tertunduk kekasihnya.

"Apa?"

"Bisakah…bisakah kau besok …hmmm.. Yifan …_"

"Kau menyuruhku meminta maaf?" Alis Chanyeol bertemu, dahinya mengernyit tidak suka. Meminta maaf bukanlah kebiasaannya, dan sekarang ia diminta untuk meminta maaf pada lelaki yang hendak menyentuh kekasihnya, Chanyeol tidak akan sudi.

"Tidak. Bukan minta maaf. Hanya..Hanya jangan membuatnya ketakutan lagi. Dia sudah menjelaskannya tadi, bahwa dia tidak berniat menciumku, ia hanya ingin menyentuh bibirku, dia_"

"Sama saja. Dengan bibir, dengan jari atau apapun itu. Tidak ada-yang boleh-menyentuh-milikku." Ucap Chanyeol penuh penekanan. Baekhyun menggigit bibir bawahnya, ia merasa gugup.

"Baekhyun-ah?" panggil Chanyeol ketika melihat kegugupan kekasihnya. Baekhyun mengangkat wajahnya takut-takut.

"Aku akan menemuinya besok, aku akan bicara padanya_" Baekhyun menegang, ia takut Chanyeol akan menghajar Yifan lagi.

"_secara baik-baik." Ucap Chanyeol lalu mengecup bibir Baekhyun. Baekhyun tersenyum dan mengangguk senang, lalu memeluk tubuh Chanyeol sangat erat.

"Terima kasih Chanyeol, aku mencintaimu." Bisik Baekhyun.

"Aku juga."

Sehun membanting tasnya diatas ranjang, membuka sepatunya asal. Panggilan dari ibunya tidak ia pedulikan. Ia mengambil sebuah kertas dan pulpen lalu menyeringai. Ia akan memberi pelajaran pada Chanyeol.

..

.

Chanyeol menepatinya, ketika ia dan kekasihnya melangkah masuk ke dalam kelas dan mendapati sosok Yifan dengan wajah penuh luka memar dan menundukan kepalanya dalam, Chanyeol bisa membaca ketakutan itu.

Ia melangkah mendekat ke bangku Yifan, membuat kedua tangan lelaki berkaca itu tercengkram gemetar diatas pahanya. Chanyeol menghentikan langkahnya, ia menatap kearah Yifan dalam diam.

"Angkat wajahmu!" ucap Chanyeol dingin. Yifan yang gemetar mengangkat kepalanya pelan dan ia melihat sosok dingin Chanyeol berdiri dengan tangan tersilang di depan dada, sementara disampingnya berdiri Baekhyun yang tersenyum kecil.

"Aku_"

"M-Maafkan a-aku…M-maafkan a-aku Chan..Chanyeol." Chanyeol terkejut, sama halnya dengan Baekhyun dan seisi kelas lainnya melihat Yifan yang sudah berlutut di depan kakinya sambil memohon. Kepalanya berada diujung sepatu Chanyeol, mengemis meminta belas kasihan.

"A-aku ti-tidak ber-ber_"

"Yifan! Bangunlah!" Baekhyun dengan cepat mengangkat tubuh itu untuk berdiri. Yifan bangkit dengan mata berkaca-kaca menatap kearah Baekhyun, seolah berterima kasih. Chanyeol tidak berekspresi, ia hanya menatap dalam diam sosok lelaki tinggi di depannya yang menunduk.

"Chanyeol." Suara Baekhyun sangat pelan menatap kearahnya seolah sedang memohon.

"Sebenarnya_" Chanyeol menatap tajam kearah mata Yifan.

"_aku sangat marah atas apa yang kau lakukan kemarin. Kau harus tahu, Baekhyun adalah milikku dan aku tidak suka jika milikku disentuh, sengaja ataupun tidak." Ucap Chanyeol dingin, Yifan menundukan kepalanya penuh rasa penyesalan.

"Tapi, Baekhyun berkata kau tidak bermaksud seperti itu, jadi_" ia kembali menjeda ucapannya.

"Aku memaafkanmu." Yifan mengangkat wajahnya, ia menatap Chanyeol dengan mata berkedip. Ia membungkukan tubuhnya berulang kali.

"Te-terima ka-kasih Chan-Chanyeol. Te-terima ka-kasih." Ucap Yifan semangat. Chanyeol tidak menjawab, ia segera berjalan kearah bangkunya membuat seisi kelas yang sempat mendekat segera kembali ke tempat duduk mereka.

Baekhyun tersenyum lembut melihat kepergian Chanyeol, lalu ia beralih menatap Yifan disampingnya.

"Seperti yang aku bilang. Chanyeol bukan orang jahat. Semoga kau cepat sembuh Yifan." Ucap Baekhyun sambil tersenyum senang, Yifan mengangguk mantap sambil memandang Baekhyun dengan wajahnya yang berseri lalu melangkah menuju kearah tempat duduknya dan Chanyeol, seolah tidak memperdulikan cibiran orang-orang yang menatap tidak suka kearahnya ketika ia melewati mereka.

Baekhyun duduk disamping Chanyeol yang kini menatap keluar jendela dengan satu tangan menopang dagunya. Baekhyun merapatkan tubuhnya kearah Chanyeol, lalu mengecup pipi kekasihnya pelan.

"Terima kasih Chanyeol." Ucap Baekhyun. Chanyeol melirik Baekhyun lalu tersenyum, ia meletakkan tangannya di pipi Baekhyun dan mengusapnya pelan, lalu seketika menariknya dengan cepat membuat Baekhyun terkejut. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti, dan Baekhyun masih nampak terkejut, mata membulatnya menatap kearah manik hitam kelam milik Chanyeol.

"Apa hanya ciuman dipipi yang aku dapatkan sebagai hadiah? Apa aku_" Chanyeol mengecup bibir Baekhyun, lalu turun mengecup dagunya, keperpotongan lehernya, dan leher bawahnya, membuat Baekhyun mencengkram tangan Chanyeol dengan mata tertutup.

"_tidak bisa mendapatkan lebih?"goda Chanyeol dan Baekhyun menggeleng membuat Chanyeol membulatkan matanya dengan penolakan Baekhyun.

"Tidak disekolah Chanyeol." Ucap Baekhyun membuat Chanyeol tersenyum dan ia mengelus rambut Baekhyun pelan, sebelum seorang guru masuk dan mengalihkan perhatian mereka.

..

.

Sehun menatap penuh kebencian pada Soojung yang berdiri disampingnya yang kini juga menatap kearahnya dengan penuh kebencian. Tatapan mereka seperti ingin saling membunuh dan menguliti satu sama lain membuat beberapa orang yang melintas disekitar mereka merasakan aura mencekam itu dan bergidik ngeri.

Mereka berdiri di halaman sekolah dengan kedua tangan terkepal diatas udara dan satu kaki diangkat, menjadi tontonan bagi para siswa yang melintas dihalaman sekolah.

"Ini semua salahmu." Ucap Sehun dingin, Soojung tidak mau kalah ia berdecih dan hendak memukul Sehun tapi sebuah tarikan ditelinganya membuat ia meringis kesakitan.

"Hentikan! Ini sa_" ucapan gadis itu terpotong, tubuhnya membeku. Menatap penuh ketakutan pada orang yang kini melepaskan tarikan ditelinganya dan melipat kedua tangannya di depan dada, menatap dengan tatapan dingin.

"Jadi ini yang kau lakukan disekolah hah? Jadi seperti ini kau menghabiskan waktu disekolahmu?" Soojung tak menjawab, ia menundukan wajahnya takut. Kedua tangannya berada di depan rok sekolahnya yang kusut.

"I-ini_"

"JAWAB DENGAN BENAR!" Teriak wanita itu. Soojung gemetar, ia menundukan wajahnya semakin dalam, menyembunyikan ketakutannya.

"Jika aku bicara, tatap aku bodoh! Tatap aku!" Wajahnya ditarik paksa dan mata keduanya bertemu, pipi Soojung dicengkram erat, hingga menimbulkan warna kemerahan disekitarnya.

"A-Aku.." Suara Soojung bergetar, matanya berkaca-kaca masih menatap kearah wanita di depannya-ibunya-.

"Nyonya, ini tidak seperti yang anda pikirkan. Ini hanya kesalahan kecil." Ucap Sehun yang melangkah maju, sekesal apapun ia pada Soojung ia tidak bisa melihat cara wanita itu memperlakukan gadis yang merupakan anaknya.

"Siapa kau?" tanya wanita itu penuh selidik kearah Sehun.

"Tidak penting siapa aku, tapi anda tidak bisa melakukan ini padanya, di depan semua teman-temannya." Ucap Sehun. Wanita melirik sekitarnya, melepaskan cengkramannya pada dagu Soojung dengan kasar, dan menatap Sehun lalu berdecih.

"Aku ibunya, aku bebas melakukan apapun padanya." Ucap wanita itu dengan wajah angkuhnya. Sehun ikut berdecih, membuat wajahnya terlihat sama angkuhnya.

"Ibu? Ch! Mungkin aku lebih menyebut anda sebagai orang yang kebetulan mengandung dan melahirkannya, karena sikap anda tidak mencerminkan sosok seorang ibu." Wanita itu mendelik menatap tidak suka kearah sosok anak lelaki di depannya.

"Kau… tahu apa kau tentang arti seorang ibu hah? Bocah ingusan!"

"Aku memiliki seorang ibu juga, walau dia tidak sempurna, walau aku terlahir karena sebuah kesalahan, walau ia membenciku hingga ingin membunuhku, tapi dia memperjuangkanku hingga aku lahir. Dia nyaris mati, tapi dia tetap membiarkanku melihat dunia, dia tidak seperti ibu pada umumnya, tapi dia_" Sehun menatap mata wanita di depannya.

"_dia membiarkan aku merasakan kasih sayangnya. Dulu dia juga membenciku sama seperti anda, tapi dia tidak pernah memukulku, dia tidak pernah mempermalukanku di depan seluruh teman-temanku seperti ini, dia tidak seperti anda." Ucapan itu menjadi akhir pembicaran Sehun, ia menarik tangan Soojung dan membawanya masuk ke dalam gedung sekolah, sementara wanita itu menatap Sehun datar, lalu berdecih dengan seringain. Ia telah dipermalukan oleh seorang bocah.

"Hentikan! Kau tidak harus melakukan itu." Ucap Soojung sambil menghempaskan tangan Sehun. Sehun menghentikan langkahnya lalu menoleh.

"Tidak usah berpura-pura kuat! Kepura-puraan hanya akan membuatmu sakit diakhir." Ucap Sehun dingin.

"Tahu apa kau tentang kepura-puraan hah?"

"Aku… aku menjalaninya selama bertahun-tahun, dan pada akhirnya aku menyerah, aku tidak bisa menjadi orang lain terus menerus. Aku mengatakan ini bukan karena aku peduli, tapi karena aku tidak suka melihat sikap ibumu." Ucap Sehun lalu membalik tubuhnya.

"Ibu.. Ibu membenciku bahkan ketika aku masih di dalam kandungan." Ucap Soojung lirih, Sehun berbalik untuk melihat kearah gadis yang kini sedang menundukan wajahnya.

"Aku…aku adalah anak haram. Aku tidak diingkan. Tapi_" wajahnya terangkat dan Sehun melihat sebuah air mata dipipi gadis itu.

"Tapi aku beruntung karena aku tidak dibunuh, ibu melahirkanku dan ibu membesarkanku seorang diri. Aku mengerti dia membenciku karena aku pantas dibenci, karena itu…karena itu aku tidak pernah marah pada ibu." Sehun tersentak, cerita Soojung sangat familiar untuknya. Kisah mereka sama, terlahir sebagai anak yang tidak diinginkan.

"Aku..aku memang tak punya ayah. Heuh! Bahkan aku tidak mengharapkan kehadiran bajingan yang telah memperkosa ibuku dan meninggalkannya, tapi bukan berarti orang-orang bisa merendahkan kami karena itu. Aku tidak berpura-pura kuat, aku sedang belajar menjadi kuat." Sehun membulatkan matanya menatap sikap optimis Soojung.

Semenit yang lalu gadis itu menangis , namun kini ia terlihat seperti seseorang yang sudah siap berperang, wajahnya tidak menyiratkan kesedihan sama sekali.

"Hm, aku benci untuk mengatakan ini." Ucap Sehun.

"Tapi kita memiliki kesamaan. Dan masalah ayahmu? Cerita kita sama, bajingan itu melarikan diri setelah menghamili ibuku." Gadis itu menatap terkejut.

"Benarkah? Bahkan cerita tentang ayah kita sama?" Sehun mengangguk pelan.

"Isssh.. Aku rasa semua pria sama saja, aku jadi membenci pria." Ucap Soojung sambil melihat kearah lain. Sehun menaikkan satu alisnya, lalu ia menepuk pundak Soojung.

"Tidak semua pria. Dan sekarang ayo menghadap Kim Saem, kita minta maaf karena telah menumpahkan kopi panas kedadanya, atau kita minta hukuman lain. Aku tidak mau menjadi tontonan dilapangan." Ucap Sehun sambil berjalan mendahului. Soojung tersenyum lalu mengejar Sehun.

"Yak! Ini semua salahmu, jika kau tidak mengejarku maka aku tidak akan menabrak Kim saem." Ucap Soojung sambil memukul lengan Sehun.

"Jika kau tidak bertindak menyebalkan , aku juga tidak akan sudi untuk mengejarmu." Sahut Sehun sambil melanjutkan langkah mereka.

"Sehun, bagaimana jika saat bertemu dengan ayah kita nanti, kita beri mereka pelajaran. Aku akan mematahkan hidungnya seperti ini." Soojung membuat gerakan memukul seperti seorang petinju. Sehun menghentikan langkahnya membuat Soojung menatapnya heran.

"Jika aku tahu siapa ayahku_" Sehun menatap ke arah mata Soojung lekat.

"_aku akan membunuhnya dengan tanganku." Soojung mengernyit ngeri.

"Iiii… Itu berlebihan Sehun! Kau akan dipenjara." Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju ruang guru.

"Aku tidak peduli."

..

.

Chanyeol benci untuk mengatakannya, tapi sepertinya ia harus mengulangnya untuk ratusan kali, bahwa ia tidak suka ketika orang-orang menganggu Baekhyun , entah ketika dia ada ataupun tidak.

Seperti sekarang, ketika Chanyeol sedang mencari Baekhyun diperpustakan karena mereka berjanji untuk mengerjakan tugas kelompok, Chanyeol mendapati beberapa orang berbisik-bisik dibelakang Baekhyun. Menatap tidak suka kearah kekasihnya yang sedang membaca buku disebuah meja panjang yang hanya diduduki oleh dirinya seorang, sementara mereka yang membicarakan memilih berdesakan dibangku dibelakang Baekhyun.

Chanyeol bersandar pada sebuah rak di dekat pintu, menatap Baekhyun yang menundukan kepala, membaca buku di depannya tanpa memperdulikan bisikan-bisikan orang-orang yang melirik kearahnya.

Chanyeol tidak bodoh, ia tahu bahwa Baekhyun mendengar bisikan itu tapi sekali lagi, kekasihnya itu mencoba untuk tidak memperdulikan mereka. Kembali membawa ingatan Chanyeol pada tahun-tahun berat yang Baekhyun lalui tanpa dirinya. Chanyeol dapat merasakan sakit hati Baekhyun, bahkan dari lirikan mata kekasihnya Chanyeol tahu bahwa ia mencoba memendam semua ucapan buruk tentang dirinya.

Chanyeol melangkah mendekat dengan tatapan membunuh, membuat orang-orang yang baru menyadari dirinya segera membalikan badan dan kembali pada kegiatan mereka. Baekhyun tidak menyadari langkah kakinya, tatapannya terlihat kosong kearah buku di depannya. Chanyeol tahu, Baekhyun sedang bersedih, ia hanya mencoba menahannya agar air matanya tidak jatuh.

"Menunggu lama?" Sebuah kecupan dipipi kirinya membuat Baekhyun tersadar, ia menoleh dan segera tersenyum.

"Tidak. Apa urusanmu telah selesai?" tanya Baekhyun ketika Chanyeol duduk disampingnya, namun kedua kaki Chanyeol berada didua sisi yang berbeda, membuat tubuh Baekhyun berada didepannya.

"Hm. Seperti biasa, mereka menawariku untuk bergabung dengan kelompok mereka lagi." Gumam Chanyeol. Baekhyun mengangguk mengerti, ia kembali mengarahkan pandanganya pada bukunya.

Chanyeol menoleh tajam pada orang-orang yang ternyata masih menatapnya, membuat mereka segera menundukan kepala takut. Chanyeol benar-benar kesal, ia seperti ingin membakar semua orang-orang itu dengan api miliknya.

Ia menatap Baekhyun lagi, meneliti wajah kekasihnya yang nampak serius membaca bukunya. Chanyeol mendekat, membuat tubuh Baekhyun terapit oleh kedua pahanya. Ia meletakkan dagunya dipundak Baekhyun dengan kedua tangan memeluk pinggang kekasihnya posesif.

"Apa mereka membicarakanmu lagi?" bisik Chanyeol dengan suara yang ia buat semanja mungkin. Tubuh Baekhyun menegang dan Chanyeol merasakannya.

"Ti-tidak. Aku tidak mendengar apapun, aku sibuk membaca sejak tadi." Ucap Baekhyun. Chanyeol membalikkan kepalanya, menoleh kembali pada orang-orang disisi kanannya dan mereka kembali menundukan kepala. Chanyeol sangat tahu orang-orang itu sedang menguping pembicaraannya dengan Baekhyun, dan posisinya sekarang sengaja ia lakukan agar bisa memberikan tatapannya pada orang-orang itu tanpa Baekhyun-nya sadari.

"Benarkah?" Chanyeol kembali membalik kepalanya. Ia menggerak-gerakan kepalanya di pundak kekasihnya dengan sangat manja, ingin menunjukan pada mereka bahwa Baekhyun sangat berharga, bahwa satu-satunya yang bisa membuatnya nyaman hanya Byun Baekhyun.

"Hm. Tentu." Sahut Baekhyun. Chanyeol mengeratkan pelukannya. Satu tangannya bergerak naik, membuka kancing teratas milik Baekhyun dan dua kancing setelahnya, membuat Baekhyun menahan tangannya.

"Chanyeol.." Baekhyun menatap Chanyeol, tapi Chanyeol hanya memberikan kecupan singkat di bibir kekasihnya.

"Sssst.. diamlah! Aku tidak akan melakukan lebih." Chanyeol berbisik amat sangat pelan, agar orang-orang tidak mendengarnya. Baekhyun menundukan kepalanya, dan membiarkan jemari Chanyeol membuka kancing ketiganya.

Chanyeol menurunkan seragam disisi pundak kiri Baekhyun. Membuat kulit putih itu terlihat dari balik seragamnya. Chanyeol mengecupnya pelan sambil melirik kearah orang-orang yang sedang mencuri-curi pandang kearahnya.

Wajah Chanyeol terlihat menantang, ia menyeringai ditengah kecupan yang ia berikan untuk Baekhyun. Baekhyun mencengkram tangannya diatas meja, merasakan hisapan-hisapan kecil dari Chanyeol.

"Jika mereka_" Chanyeol masih mengecup dan menghisap pundak Baekhyun dengan tatapan mengarah pada orang-orang disisi kanannya.

"_menyakitimu lagi. Aku tidak akan segan-segan untuk membunuh mereka." Ucap Chanyeol dengan penuh penekanan, membuat orang-orang itu menelan ludah mereka takut.

"Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku." Sambungnya. Baekhyun tidak merespon, ia hanya sibuk mencengkram jemarinya. Chanyeol menghentikan hisapannya, menaikkan seragam Baekhyun, lalu tersenyum cerah ketika kekasihnya menoleh heran.

"Apa kita mulai sekarang?" tanya Chanyeol dengan nada bersemangat. Baekhyun melihat kearah pintu sambil mengancing seragamnya.

"Kenapa Yifan belum_aah! Itu dia." Baekhyun menunjuk kearah pintu dan mendadak keduanya membulatkan mata.

"Yifan?" tanya Baekhyun ketika sosok itu duduk di depan mereka. Chanyeol bangkit mengubah posisi duduknya, ia mengangkat wajah lelaki di depannya dan ia terdiam.

Mata kiri lelaki itu bengkak membuat ukurannya terlihat berbeda, bibirnya juga berdarah, kaca matanya sudah retak parah. Itu bukan bekas pukulan Chanyeol kemarin, tapi itu adalah luka baru.

"M-maafkan a-aku ter-terlambat. T-tadi_"

"Apa lelaki itu yang melakukannya lagi?" tanya Chanyeol dengan wajah dingin. Yifan mengangkat wajahnya takut lalu mengangguk.

"Heuh! Pengecut! Hanya berani melawan lelaki lemah. Apa ia bisa melawanku?" gumam Chanyeol sambil menatap kearah pintu.

"J-jangan Chan-Chanyeol. D-dia s-sangat k-kuat."

"Kuat? Aku meragukannya." Chanyeol mengedikkan pundaknya lalu duduk disamping Baekhyun.

"Yifan apa kau baik-baik saja?" Yifan mengangguk cepat dengan mencoba tersenyum dengan bibirnya yang sakit.

"Apa kita perlu keruang kesehatan?"

"T-tidak per-perlu." Cegah Yifan lalu segera meletakkan bukunya keatas meja.

..

.

Kyungsoo tersenyum ketika melihat Jongin sedang duduk dipinggir lapangan basket bersama timnya. Ia berlari kecil sambil membawa sebotol air yang berada ditangannya. Jongin disana, terduduk sambil mengatur nafas dan ketika melihat sosok Kyungsoo yang berlari, ia tersenyum melambaikan tangan.

"Jong_"

"Hai Kyungsoo." Kyungsoo menghentikan langkahnya ketika melihat sosok Cheondong dihadapannya. Ia yang terkejut segera tersenyum dan memberi hormat.

"Ah, aku tidak menyangka kau datang kesini, apa untuk melihatku?"

"I..Itu_"
"Apa ini untukku? Ah terima kasih kebetulan aku haus." Tanpa persetujuan Kyungsoo, Cheondong telah mengambil air itu dan membuka tutupnya sementara bibir Kyungsoo sedikit terbuka.

"Kenapa?" tanya Cheondong. Kyungsoo menggeleng pelan. Cheondong meminumnya dan tegukan-tegukan besar hingga air itu habis.

"Terima kasih Kyungsoo." Cheondong memberikan sebuah kecupan dipipi Kyungsoo lalu berlalu, Kyungsoo terdiam ditempat ia memegang pipinya dengan tatapan kosong, ia meraba dadanya dan ia tidak merasakan getaran. Jongin disana menyaksikan semuanya, ia merendahkan arah pandangnya merasa sedikit kecewa,lalu ketika peluit berbunyi ia menoleh.

Kyungsoo yang tersadar, segera mencari sosok Jongin ketika ingin memanggil sosok itu telah bangkit dan kembali kearah lapangan. Tujuan Kyungsoo kelapangan adalah untuk bertemu Jongin, karena tidak tahu kenapa ia merasa seperti ingin melihat sosok itu , bahkan ketika dikelas ia tidak fokus mendengarkan gurunya seperti biasa.

Kyungsoo membalikan tubuhnya dengan sedikit rasa kecewa.

"Kyungsoo, awas!" Kyungsoo menoleh mendengar namanya dipanggil dan ketika menoleh sebuah bola melambung didepannya, lalu terdengar suara benturan dan ia tidak sadarkan diri.

Jongin berlari kearah Kyungsoo dengan cepat, beberapa pemain juga ikut mendekat. Jongin menggetarkan tubuh Kyungsoo, tapi lelaki itu tidak bangun. Dengan cepat Jongin mengangkat tubuh Kyungsoo dan membawanya ke ruang kesehatan. Cheondong disana, ia melihat semua itu dan ia menyeringai samar.

Dasom dikejutkan dengan kehadiran Jongin dan Kyungsoo yang berada dalam gendonganya.

"Dokter, tolong Dia."

"Apa yang terjadi?"

"Dia terkena lemparan bola basket." Ucap Jongin sambil membaringkan Kyungsoo diatas ranjang kesehatan. Dasom mendekat dengan stetoskopnya. Ia mengaitkannya dikedua telinganya, lalu memeriksa seluruh tubuh Kyungsoo.

"Apa terjadi sesuatu padanya?" tanya Jongin khawatir. Dasom tidak menjawab ia masih memeriksa kedua mata Kyungsoo.

"Aku tidak bisa memastikan sebelum ia tersadar. Tapi secara fisik ia tidak mengalami luka apapun." Ucap Dasom.

"Baiklah aku akan menunggu." Ucap Jongin. Dasom mengangguk dan kembali kemeja kerjanya.

Lima belas menit berlalu dan Kyungsoo masih tidak sadarkan diri. Ponsel Dasom berdering dan ia bicara pada seseorang diseberang sana.

"Hm, Hei. Aku harus pergi sebentar. Bisakah kau tinggal disini untuk menjaganya?" ucap Dasom sambil membereskan beberapa barang-barangnya. Jongin mengangguk setuju.

"Ketika dia sadar, coba kau tanyakan nama dan kronologi kejadian. Tanyakan apapun tentangnya dan pastikan ia menjawab dengan benar. Kau mengerti? Halo? Aaah iya…iya aku kesana sekarang… tunggu!.." Dan pintu pun ditutup.

Jongin menggenggam tangan Kyungsoo lembut, ia merasa cemas. Ia tidak mengingat jelas kejadian tadi, tapi ia sempat melihat ketika Cheondong melempar bola itu keras dan mengenai Kyungsoo. Jongin tidak ingin menuduh, tapi ia hanya merasa janggal.

"Pergilah!" Jongin menoleh kearah pintu, disana Cheondong berdiri dengan wajah dinginnya.
"Cheondong-ah?"

"Pergilah! Aku yang akan menjaganya."

"Tapi_"

"Apa kau masih tidak mengerti dengan pembicaraan kita waktu itu? Kyungsoo jatuh cinta padaku, dia adalah milikku. Jadi, sebaiknya kau pergi!" Jongin menurunkan arah pandangnya, ia bangkit perlahan, meletakkan tangan Kyungsoo disisi tubuhnya.

"Jangan terus menjadi pengkhianat Jongin!" Jongin tidak menjawab, ia berjalan kearah pintu.

"Hmmm…, pastikan setelah ia tersadar. Ia tahu namanya." Cheondong tak menjawab, ia hanya mendengus dan Jongin berjalan dengan lesu kearah pintu.

Cheondong duduk di kursi yang Jongin duduki tadi. Ia menatap Kyungsoo lekat-lekat, meraih tangan itu dan mengecupnya pelan.

"Hai malaikat cantik? Sampai kapan kau akan tertidur?" gumamnya pelan dengan sebuah seringaian. Perlahan tubuh Kyungsoo menggeliat, Cheondong merubah cara memegangnya menjadi lebih sopan. Kyungsoo membuka matanya perlahan, dan ia dapati sosok Cheondong yang menatap cemas kearahnya.

"Kyungsoo kau sudah sadar?" tanya Cheondong cemas. Kyungsoo terduduk sambil memegang kepalanya yang sakit.

"Apa masih sakit,Hah? Jongin memang ceroboh." Gumam Cheondong pelan.

"Jongin?" suara Kyungsoo serak dan kepalanya masih terasa cukup sakit.

"Apa kau tidak ingat? Orang yang melemparkan bola padamu adalah Jongin." Dan Kyungsoo terdiam, ia menundukan wajahnya , mencoba berpikir. Ia memang mendengar suara Jongin yang memanggilnya sebelum ia pingsan tadi, tapi kenapa Jongin melemparkan bola padanya.

"Aku ingin ke kelas."

"Biar aku bantu." Cheondong memapah tubuh Kyungsoo dan membantunya turun.

"Oh, suda siuman rupanya, kau_eeih." Ucapan Dasom yang baru datang setelah menemui temannya diparkiran terhenti saat melihat sosok Cheondong. Seingatnya lelaki yang menemani Kyungsoo berkulit tan, bukan putih pucat.

"Dokter kami permisi." Ucap Cheondong sambil berjalan keluar membawa tubuh Kyungsoo perlahan. Dasom menoleh kebelakang dengan bibir dikupas keluar lalu ia mengernyit tidak peduli.

..

.

Chanyeol yang sedang berbaring di dalam kamarnya tiba-tiba dikejutkan dengan bunyi yang berasal dari arah mejanya. Ponselnya menyala dan membuatnya mengernyit, ia bahkan jarang memakai benda itu. Dengan malas ia bangun dan meraihnya, menggeser layarnya dan terlihat sebuah pesan masuk.

"Datang sekarang ke Restourant Yereum di dekat gedung sauna Maple. Datang jika kau bukan seorang pecundang."

Chanyeol meremas ponselnya dengan rahang mengeras. Ia tidak tahu siapa pengirim pesan itu, tapi siapapun itu ia akan menghabisinya karena telah merendahkan harga dirinya. Chanyeol meraih jaketnya , menyambar kunci motornya dan segera melesat pergi.

Ia tiba di Restourant yang dituju, dengan kesal ia melepas helmnya lalu melangkah masuk yang mendapat sambutan ramah dari seorang pelayan. Chanyeol mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang menurutnya mencurigakan, tapi kemudian ia mengernyit saat melihat sosok yang kini sedang menyedot minumannya.

"Hei Park!" Chanyeol melangkah dengan dahi mengernyit kearah sosok yang melambai kearahnya.

"Ternyata kau bukan pengecut! Duduklah! Kau mau pesan apa?" Chanyeol menatap sosok di hadapannya dengan tajam.

"Apa maumu?"

"Tidak bisakah kau duduk?" Chanyeol akhirnya memilih duduk dengan wajah kesal. Sosok itu menatap Chanyeol sambil tersenyum sumringah, lalu membuka mulutnya takjub ketika seorang pelayan membawakan makanan untuknya.

"Kau tidak mau?" Chanyeol tidak menjawab, ia menatap sosok itu datar.

"Hm, baiklah!" Sosok itu memakan steaknya dengan sopan, seolah sedang menghadiri pesta jamuan makan malam di kerajaan Inggris.

"Apa kau sedang bermain-main denganku?" gumam Chanyeol ketus. Sosok itu mengelap bibirnya dengan serbet membuat Chanyeol muak.

"Baiklah." Ia mendengus, memutar tubuhnya untuk mengambil sesuatu dari tas kotak besarnya.

"Ini."

"Apa ini?" Chanyeol mengernyit menatap gulungan kertas di depannya.

"Bukalah!" Dengan malas Chanyeol mengambil dan membukanya, dan gulungan itu memanjang dengan berbagai tulisan di dalamnya.

"Itu adalah daftar yang harus kau sediakan untuk ulang tahunku." Chanyeol menatap datar sosok di depannya. Sehun, si bocah menyebalkan yang selalu menghantui ketenangan Chanyeol kini duduk di depannya dan memerintahnya seolah-olah dia adalah majikan Chanyeol.

"Kenapa aku harus melakukannya, kau pikir kau siapa?" ucap Chanyeol ketus. Sehun menepuk kedua tangannya seperti sedang membersihkan debu.

"Kau lupa? Tiga." Sehun mengacungkan tiga jarinya di depan wajah Chanyeol.

"Aku masih memiliki sisa tiga permintaan, dan sekarang aku menggunakan satu."

"Kau_"

"Jika kau menolak berarti kau pengecut yang selalu ingkar."

"Dasar bocah menyebalkan."

"Aku tidak akan marah kali ini." Chanyeol menggeram kesal. Sehun meminum jusnya dengan cepat.

"Baiklah, sekarang kau yang bayar ini lalu kita pulang!" Chanyeol menggeram kesal , membiarkan Sehun yang berjalan mendahuluinya dengan wajah tersenyum senang.

Chanyeol berjalan keluar setelah membayar tagihan milik Sehun. Bocah itu benar-benar membuat emosinya mendidih. Dan sekarang ia melihat bocah itu sudah duduk diatas motornya. Wajah Chanyeol semakin terlihat kesal.

"Turun! Apa yang kau lakukan?"

"Tentu saja pulang."

"Kau kan punya kaki!"

"Tapi aku lelah, aku berjalan dari rumah kesini dan aku tidak kuat lagi untuk berjalan pulang." Chanyeol tidak bicara , ia mengenakan helmnya dan menyalakan motornya.

"Kita ke apartemenmu dulu sebelum pulang."

"Untuk apa?"

"Ada hal penting yang harus aku bicarakan pada Kyungsoo hyung."

Dan tanpa banyak bicara motor itu melaju dengan kencang memecah jalanan kota Seoul. Chanyeol terus menambah kecepatan motornya, namun hal itu tidak membuat Sehun geram, bocah itu malah nampak semakin senang dan sesekali berseru senang.

Ketika sampai di apartemennya, Chanyeol tidak memperdulikan Sehun yang berlarian di dalam rumahnya. Ia ingin marah tapi ia lebih memilih diam, karena apapun yang ia lakukan ia akan selalu dicurangi oleh bocah iblis itu.

Chanyeol berjalan ke dalam kamarnya sambil mengeluarkan gulungan kertas yang diberikan Sehun. Chanyeol berdecih ketika melihat judul daftar permintaan tersebut "Hal-hal yang paling diinginkan si anak malang, Byun Sehun yang tidak memiliki ayah dan tidak pernah merasakan sebuah pesta ulang tahun yang meriah yang hanya mengharapkan sebuah belas kasihan dari Park Tow ( ada sebuah coretan kentara pada huruf Tow) Chanyeol"

Chanyeol mencibir lalu mulai meneliti daftar hal yang diinginkan Sehun, dan ia hanya menggeleng. Kenapa permintaannya malah mirip seperti permintaan bocah 7 tahun daripada 15 tahun. Dan ia melempar kertas itu diatas ranjang lalu merebahkan tubuhnya.

"Apa aku mengganggu?" Kyungsoo membulatkan matanya ketika melihat sosok anak kecil di pintu kamarnya.

"Tidak. Ada apa?"

"Hmm.. begini, aku akan berulang tahun tiga hari lagi." Kyungsoo menaikkan satu alisnya dan menatap sosok yang kini mendekat kearahnya.

"Lalu?"

"Hmm.. aku telah meminta Chanyeol untuk membuatkan pesta untukku. Dan aku yakin dia akan setuju."

"Benarkah?" mata Kyungsoo semakin membulat.

"Aku membuat ia mau tidak mau harus menyetujuinya." Sehun tersenyum kikuk sambil menggaruk belakang kepalanya dan duduk di atas ranjang Kyungsoo, sementara Kyungsoo hanya memperhatikan dari kursi belajarnya.

"Lalu?"

"Hmm.. hyung tahu sendiri kan kalau aku dan Luhan saem sangat dekat. Tapi, tapi akhir-akhir ini dia sangat sibuk dan membuatku jarang bertemu dengannya." Kyungsoo mengangguk setuju, memang kakaknya itu sangat sibuk sekarang dan bahkan terlihat aneh beberapa hari belakangan.

"Kau merindukannya?" tanya Kyungsoo , Sehun menatap Kyungsoo dengan mata membulat dan mulut sedikit terbuka. Ia ingin mengelak tapi ia tidak bisa, ia sangat merindukan sosok itu.

"Hm." Sehun mengangguk.

"Sangat merindukannya."

"Lalu apa kau menginginkan aku melakukan sesuatu?" tanya Kyungsoo. Sehun tersenyum senang sambil mengangguk antusias, ia suka bicara pada sosok Kyungsoo, dia lelaki yang peka tidak seperti Chanyeol yang menyebalkan.

"Hmm.. bisakah kau sampaikan padanya bahwa aku akan berulang tahun sebentar lagi? Dan bisakah kau membuatnya untuk datang?" tanya Sehun ragu. Kyungsoo menatap Sehun dalam diam.

"a..aku sudah mencoba menghubungi nomernya tapi selalu tidak aktif."

"Baiklah." Sehun tersenyum lebar, ia mendekat kearah Kyungsoo lalu memeluk lelaki itu erat. Kyungsoo merasakan sengatan pada tubuhnya dan ia mendorong tubuh Sehun pelan.

"Sehun, berapa usiamu sekarang?"

"15 tahun." Kyungsoo terdiam lalu ia mengangguk. Ketika Sehun akan memeluk kembali, Kyungsoo menahan dengan kedua tangannya. Sehun hanya mengangguk sambil tersenyum. Bagaimana pun Sehun adalah iblis yang masih belum bisa menahan sisi iblisnya, jadi ketika bersentuhan , Kyungsoo akan merasakan sebuah perasaan terbakar, ditambah sebentar lagi usia Sehun akan bertambah yang berarti kekuatannya juga bertambah.

"Terima kasih Kyungsoo hyung, aku yakin hyung bisa diandalkan." Kyungsoo hanya mengangguk sambil tersenyum ramah. Sehun undur diri dan melenggang pergi, ia segera menuju kamar Chanyeol dan mendapati sosok itu tertidur diatas ranjang dengan tubuh terlentang.

"Ck! Baru ditinggal sebentar sudah tertidur. Dasar pemalas. Bagaimana bisa sosok seperti ini akan menikah dengan Baekhyun hyung , dan menjadi ayahku secara tak langsung?" gumamnya. Ia menendang kaki Chanyeol yang tejulur diatas lantai.

"Yak! Yak! Yak!" Mata Chanyeol terbuka spontan membuat Sehun terdiam, ia terkejut melihat bola mata Chanyeol berwarna biru, tapi ketika ia berkedip warna bola matanya kembali hitam, jadi Sehun pikir dirinya salah lihat.

"Antarkan aku pulang!" Chanyeol berdecih lalu bangkit.

..

.

Chanyeol mengikuti Sehun yang berjalan di depannya, membuat bocah itu memutar tubuhnya pelan dengan sorot mata malas.

"Kenapa kau mengikutiku? Tidak perlu mengantarkanku sampai ke dalam aku bisa sendiri." Chanyeol memutar bola matanya malas dan melewati Sehun.

"Yak! Apa kau akan menginap? Tidak! Aku ingin tidur dengan hyungku malam ini. Yak! Park Tower!" bentak Sehun sambil melangkah mengikuti Chanyeol yang telah memasuki rumah.

"Hai Bi." Ucap Chanyeol pada Kibum yang menatap heran dari arah dapur.

"Oh Chanyeol, kau akan menginap?"

"Yak! Yak! Kau tidak boleh, keluar sana! Ibu, suruh dia pulang! Dia akan menginap di kamar hyungku lagi." Ucap Sehun sambil merengek kearah Kibum dan menunjuk-nunjuk kearah Chanyeol yang akan menaikki tangga.

"Memangnya kau pikir siapa yang membawaku kemari hah? Jika kau tidak merepotkan, maka aku sudah berbaring tenang di kamarku." Ucap Chanyeol kesal. Sehun menatap tidak suka dan kembali menoleh kearah ibunya meminta pertolongan tapi Kibum hanya mengedikkan bahu.

"Itu bukan urusan ibu. Tapi bisakah kalian tidak berisik, Baekhyun baru saja tertidur setelah meminum obatnya." Ucap Kibum yang sedang menuangkan air hangat pada cangkir tehnya.

"Obat?" Chanyeol mengerutkan keningnya. Kibum meminum tehnya sambil berjalan kearah Chanyeol.

"Katanya dia merasa sedikit pusing, aku mendapatinya sedang meminum obat saat menjenguknya ke kamar tadi." Chanyeol mengernyit dan tanpa bicara ia segera melenggang pergi menaikki tangga. Kibum menggeleng pelan dan matanya teralih pada Sehun yang menatap tidak suka kearah sosok Chanyeol.

"Dan kau, darimana saja kau Sehun?" Sehun menoleh dan tersenyum kearah ibunya.

"Selamat malam ibu." Dia mengecup pipi Kibum dan segera berlari menaikki anak tangga menghindari pertanyaan ibunya yang kemungkinan besar akan marah padanya karena telah memeras calon menantunya.

Chanyeol masuk ke dalam kamar Baekhyun yang gelap dan kembali menutup pintu. Ia mengendap, berjalan pelan kearah Baekhyun yang tidur memunggunginya. Chanyeol menaikki ranjang dengan perlahan sambil menahan wajah tersenyumnya, ia hendak membalik tubuh Baekhyun dan terkejut saat mendapati tubuh itu bergetar.

Chanyeol membalik tubuh Baekhyun yang berkeringat, matanya tertutup tapi dahinya mengernyit bahkan tangannya mencengkram perutnya.

"Baekhyun! Baekhyun!" panggil Chanyeol sambil menggetarkan tubuh Baekhyun pelan, membuat lelaki mungil itu membuka matanya perlahan.

"Chan..Chanyeol.." Suara itu terdengar lirih dan kelelahan. Chanyeol mengelus pipi kekasihnya dan mengecupnya pelan.

"Baekhyun, apa yang terjadi?" tanya Chanyeol, Baekhyun menggeleng pelan tapi masih menampilkan wajah kesakitannya. Chanyeol melirik kearah tangan Baekhyun yang masih mencengkram perutnya.

Chanyeol menyingkap piyama Baekhyun, tapi jemari mungil itu menahannya. Chanyeol menyingkirkan tangan itu pelan dan menyingkap cepat kain tipis itu. Walau dalam kegelapan Chanyeol dapat merasakan sebuah gejolak dalam perut Baekhyun, matanya membulat.

"Baekhyun, apa yang kau minum?" tanya Chanyeol, Baekhyun masih menggeleng.

"Jawab!" pekik Chanyeol dan Baekhyun membuka bibirnya perlahan.

"Obat pencegah kehamilan." Ucapnya lirih. Chanyeol menatap wajah Baekhyun dalam diam. Yang baru ia lihat adalah benihnya yang masih sangat lemah di dalam perut Baekhyun. Mungkin usianya sekitar 5-7 hari, dan benih itu amat sangat lemah, sehingga obat yang Baekhyun minum mampu membunuhnya hanya saja akan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.

"Ke-kenapa kau meminumnya? Apa kau tidak ingin mengandung anakku?" Baekhyun menggeleng pelan.

"Ti..tidak untuk saat ini Chanyeollhhh.." Suara Baekhyun terdengar berat, bahkan ia kesusahan karena rasa sakit diperutnya.

Chanyeol menatap mata kelelahan Baekhyun dan sesekali melirik kearah perut Baekhyun yang bergejolak. Pasti benih itu sedang berkembang dan berusaha melawan reaksi obat yang Baekhyun minum bersamaan.

"A..aku lupa meminumnya, sementara kita selalu melakukannya tanpa pengaman. A-aku takut Chanyeol, a-aku tidak ingin hamil lagi, i-itu menyakitkan." Baekhyun meringis dan terisak secara bersamaan. Chanyeol mengangguk, ia merendahkan tubuhnya. Mengecup bibir Baekhyun berulang dan membawa mereka pada sebuah ciuman singkat.

"Biar aku menolongmu, percayalah padaku!" ucap Chanyeol. Ia terpaksa harus membunuh benihnya, ia tidak mungkin membiarkan Baekhyun kesakitan, lagipula Baekhyun tidak ingin mengandung saat ini.

Chanyeol mengecup perut Baekhyun yang masih bergejolak dan Chanyeol dapat merasakan sebuah detakan kecil di dalam sana. Ia melepas celana piyama Baekhyun dan Baekhyun hanya menurutinya.

Chanyeol bisa saja membuat itu keluar dari perut Baekhyun dengan mudah, tapi rasanya akan sangat sakit. Jadi dia akan menghancurkan itu di dalam, dan membiarkannya keluar lewat saluran bawah, walau tetap saja sakit setidaknya ini akan jauh lebih baik, karena Chanyeol akan mencoba menutupinya dengan melakukan percintaan.

Chanyeol berbaring diatas ranjang dan menurunkan celananya hingga bagian bawah tubuhnya telanjang. Ia menarik tangan Baekhyun, membuat lelaki mungil itu menoleh heran.

"Naiklah diatasku!"

"Ta-Tapi…"

"Hanya percaya padaku Baek!" ucap Chanyeol pelan. Baekhyun mengangguk, lalu dengan ringisan ia mulai bangkit dan duduk diatas pangkuan Chanyeol. Mencoba memasukan penis Chanyeol ke dalam lubangnya tanpa pelumas. Namun itu tidak terlalu sakit, karena lubang Baekhyun sudah nampak basah.

"Aaakkh!" Baekhyun memekik sambil memegang penis Chanyeol agar masuk perlahan dan lebih dalam. Chanyeol menutup matanya dan memegang kedua tangan Baekhyun.

"Bergeraklah!" ucap Chanyeol dan Baekhyun menurut. Dengan ringisan dan susah payah ia bergerak naik turun. Memompa penis Chanyeol di dalam lubangnya sambil sesekali memegang perutnya yang terasa sakit.

Chanyeol melepas piyama Baekhyun dan melemparnya asal, ia menatap kearah perut bergejolak Baekhyun.

"Aku ayahmu yang bicara." Chanyeol mencoba bicara pada janin di dalam perut Baekhyun dengan telepatinya dan ketika mendapat sebuah lonjakan, Chanyeol tahu benihnya sedang merespon.

"Ini bukan kemauan kami, tapi aku membuat sebuah kesalahan. Jangan benci ibumu, dia tidak salah apapun. Kau harus aku bunuh karena kami belum menginginkanmu saat ini. Benci aku karena ini kesalahanku, jangan pernah membenci ibumu karena dia tidak tahu tentang keberadaanmu."

"Aaaahh…aahhh..aaahh." Baekhyun terus mendesah ketika titik kenikmatannya tertumbuk. Chanyeol mengangkat sedikit tubuh Baekhyun, dan ia menghujam dari bawah dengan gerakan cepat.

"Chanyeol..aaahh..saa…kit…" Baekhyun merasakan perih yang amat sangat di dalam lubangnya, karena Chanyeol menumbuknya dengan amat sangat cepat.

Chanyeol melakukannya bukan karena sedang mengejar kenikmatan, tapi untuk menutupi rasa sakit yang akan Baekhyun terima, karena Chanyeol sedang membunuh janinnya dengan terpaksa.

"Aaah.. aaaahh.. Chan..yeol..saakk…iitt…hhh" Baekhyun terus merintih ketika kecepatan Chanyeol semakin bertambah. Chanyeol menggerakan tubuh bagian bawahnya dengan cepat, ia memegang perut Baekhyun dengan satu tangannya, sementara satu tangan lagi mencengkram jemari Baekhyun.

"Chanyeol…aakuuhh..aaahhh…aahhh..ahh.."

Chanyeol membuat gerakan memelintir di depan perut Baekhyun, membuat Baekhyun meringis kesakitan.

BRUUUSSHHH

Semburan sperma Chanyeol yang menyembur dengan deras dan kuat di dalam rahim Baekhyun, segera keluar bersamaan dengan semburan darah kental dari lubang Baekhyun. Darah kental seperti gumpalan daging yang telah hancur.

Chanyeol menatap rembesan cairan itu dari tempatnya, dan ia menatap prihatin pada keturunannya yang terpaksa harus dibunuh sebelum lahir. Baekhyun merasa lemas, ia terjatuh diatas tubuh Chanyeol.

Chanyeol menangkap tubuh itu, ia mengecup pucuk kepala Baekhyun yang mendarat di dadanya. Chanyeol terengah-engah, ia segera membalik posisinya, membiarkan Baekhyun terengah dengan mata masih tertutup.

Chanyeol melirik kearah sprei yang berceceran darah dan sperma miliknya. Spermanya keluar semua karena melawan arus keluarnya gumpalan darah itu. Chanyeol menghela nafas lalu meniup pelan kearah genangan cairan pekat dan lengkat itu.

Perlahan gumpalan daging yang hancur itu musnah menjadi udara, menghilang dan hanya meninggalkan jejak sperma diatas sprei Baekhyun. Chanyeol melirik Baekhyun yang masih terengah dan matanya setia tertutup.

Chanyeol meraih selimut dan menutupi tubuh keduanya. Ia memeluk tubuh Baekhyun erat, mengecup pucuk kepala Baekhyun yang masih terengah.

"Chan..Chanyeol?" suara Baekhyun terdengar lirih. Chanyeol menundukan kepalanya untuk melihat kearah wajah Baekhyun yang kini matanya telah terbuka, walau masih nampak sayu.

"Apa masih sakit?" tanya Chanyeol pelan sambil menyingkirkan helaian rambut diatas kening Baekhyun. Baekhyun menggeleng pelan sambil mencoba tersenyum.

"Itu lebih baik." Sahutnya. Chanyeol kembali memberikan kecupan lembut di kening Baekhyun.

"Bagaimana kau melakukannya?" Chanyeol terdiam, kemudian ia tersenyum.

"Bercinta adalah cara paling ampuh untuk menghilangkan seluruh rasa sakit yang ada." Gumamnya pelan. Baekhyun mengangguk lalu memeluk Chanyeol, membenamkan wajahnya di kaos hitam Chanyeol.

"Tidurlah! Ini sudah larut." Bisik Chanyeol. Baekhyun mengangguk dan memeluk tubuh Chanyeol semakin erat.

"Selamat malam."

"Selamat malam Baekhyun."

..

.

Pagi datang dengan cepat. Suara kicauan burung terdengar sangat jelas membuat telinga Chanyeol terusik. Ia menggeram kesal dan ingin membakar burung-burung di dahan pohon di depan kamar Baekhyun, jika saja tidak mengingat sosok mungil itu masih tertidur dalam pelukannya.

Ia membuka mata perlahan mendapati Baekhyun tertidur nyenyak diatas lengannya. Ia tersenyum dan mengecup pipi putih Baekhyun dengan lembut. Entah mengapa ia merasa malas untuk bangkit dan berangkat ke sekolah.

"Baekhyun! Chanyeol! Baekhyun!" panggilan dan gedoran dari pintu membuat Chanyeol menoleh, dengan malas ia bangkit dan memakai celananya dengan cepat.

"Ah, akhirnya!" ucap Kibum lega yang kini berdiri dengan pakaian kerjanya.

"Ini sudah siang, apa kalian tidak sekolah?" tanya Kibum sambil mencoba mengintip ke dalam kamar. Chanyeol menghela nafas.

"Baekhyun sepertinya tidak enak badan, mungkin kami akan bolos hari ini bi." Ucap Chanyeol. Kibum mengerutkan keningnya, dan memanjangkan lehernya untuk melihat ke dalam. Chanyeol membuka pintu sedikit lebih lebar, membiarkan Kibum melihat keadaan Baekhyun yang masih tertidur diatas ranjang.

"Perutnya sakit semalam, dan ia susah untuk tidur."

"Oh, baiklah. Tapi bibi buru-buru ke kantor. Bibi tidak bisa membuatkan apapun, apa kau tidak keberatan menjaga Baekhyun?" Chanyeol menggeleng pelan membuat Kibum tersenyum senang. Ia mengusak pipi Chanyeol pelan lalu segera undur diri.

Chanyeol menutup pintu dan kembali berjalan kearah ranjang, mendapati pundak putih mulus Baekhyun tidak tertutup oleh selimut. Lelakinya sedang tidur meringkuk dibalik selimut dan itu terlihat lucu.

Chanyeol merebahkan tubuhnya, ia kembali mengangkat kepala Baekhyun dan membiarkan kekasihnya untuk kembali tertidur diatas lengannya. Chanyeol memejamkan matanya dan memeluk erat tubuh Baekhyun.

"Tidurlah! Itu pasti melelahkan untukmu." Gumam Chanyeol. Ia tahu Baekhyun pasti terkuras tenaganya, karena bagaimana pun kemarin ia sama saja seperti melahirkan bayi premature dan itu tetap terasa sakit dan menguras cukup banyak energi.

Baekhyun menggeliat ketika hari sudah beranjak siang. Ia tersenyum ketika merasakan kehangatan disekitar tubuhnya. Ia membuka mata dan menemukan sosok Chanyeol tertidur disampingnya. Ia menguap pelan dan terkejut ketika melihat kearah jendela dimana matahari sudah bersinar cerah.

Ia melihat kearah jam dan terkejut saat waktu sudah menunjukan pukul 11 siang. Ia menggoncangkan tubuh Chanyeol pelan dengan wajah cemasnya.

"Chanyeol, kita lupa untuk sekolah. Kita tertidur." Ucap Baekhyun, Chanyeol menggeram sambil mengangguk.

"Hm, aku tahu. Aku sudah mengatakannya pada ibumu tadi."

"Tapi bagaimana dengan sekolah?"

"Itu mudah, aku akan mengurusnya besok. Sekarang kau tidurlah! Tubuhmu masih lelah kan?" tanya Chanyeol sambil membalik tubuhnya untuk tengkurap.

"Tidak, aku tidak lelah. Aku akan mandi." Ucap Baekhyun sambil bangkit, Chanyeol mengangguk malas. Baekhyun masuk ke dalam kamar mandi dengan handuk ditangannya, sementara Chanyeol menggeliat pelan diatas kasur sambil melirik Baekhyun dengan sebuah senyuman lega.

….

Saat ini mereka ada di sebuah supermarket untuk membeli beberapa bahan makanan karena persediaan di dalam lemari pendingin habis. Baekhyun mendorong troli sementara Chanyeol berjalan disampingnya sambil melihat sekitar.

"Apa kita butuh selada?" Chanyeol segera menoleh dan dahinya mengernyit jijik ketika melihat benda hijau muda yang dipegang Baekhyun.

"Kau. Bukan kita." Baekhyun tersenyum dan memasukkan sayur tersebut. Baekhyun kembali melanjutkan langkahnya dan berhenti di beberapa rak makanan untuk mengambil barang yang ia butuhkan, sementara Chanyeol mengedarkan pandangannya merasa tidak tertarik.

"Chanyeol menurutmu mana yang bagus? Yang ini atau yang ini?" Baekhyun menunjukan dua kaleng mayonnaise dimasing-masing tangannya. Chanyeol menatap kearah kaleng dan Baekhyun bergantian dengan alis berkerut.

"Aku tidak peduli, mereka terlihat sama dimataku." Sahut Chanyeol santai sambil kembali melihat sekeliling, dan Baekhyun hanya mengangguk sambil menentukan pilihannya sendiri, lalu kembali melangkah.

"Baekhyun, apa kita akan mengelilingi tempat ini?" Baekhyun yang sedang menatap bingung dua botol saus ditangannya menoleh dan mengangguk.

"Kenapa ? apa kau lelah? Kau bisa_"

"Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu sendiri, aku bisa mencium aura-aura kejahatan disekitar sini." Ucap Chanyeol dan Baekhyun hanya tersenyum sambil menggeleng. Chanyeol tetap melangkah, tapi matanya masih melirik kesekitar dengan waspada.

"Sayang, menurutmu mana yang bagus? Yang ini atau yang ini?" suara seorang wanita membuat Baekhyun dan Chanyeol menoleh. Disamping mereka, seorang wanita sedang berdiri menghadap rak dan menunjukan dua kaleng mentega pada pria dibelakangnya yang mendorong troli.

"Hmmm yang itu. Aku membaca di internet mentega merk itu lebih baik untuk perkembangan janin." Ucap sang pria sambil mengelus perut membuncit pasangannya. Chanyeol menatap tidak suka dan tidak tertarik, tapi ketika matanya beralih ia menangkap raut wajah bersedih Baekhyun. Chanyeol merengut, memperhatikan arti tatapan itu dengan baik. Cemburu? Chanyeol semakin mengernyit heran.

"Sayang. Apa merk ini lebih baik? Aku tidak tahu harus memilih yang mana."

"Aku tidak tahu, tapi aku rasa ini lebih baik. Mereka terlihat sama, tapi yaah. Aku pilih yang ini." Si pria lalu memeluk istrinya dari belakang dan mengecup pipinya. Baekhyun mengalihkan pandangannya ketika kesadarannya kembali ia segera melanjutkan perjalanannya menuju rak lain, bersebrangan dengan pasangan romantis itu.

"Sayang, kau tahu akhir-akhir ini aku menginginkan apel dan jeruk. Apa kita bisa mendapatkannya?"

"Tentu. Aku akan membelikan apapun untukmu dan untuk calon bayi kita."

"Aaahhh~ suamiku..chu..chu.. aku bahagia memilikimu, aku yakin bayi kita kelak juga akan bahagia karena memiliki ayah sepertimu. Ayo kita ke rak buah! Daddy~" suara imut dan manja wanita itu mampu di dengar oleh Baekhyun, meskipun kini ia sedang berpura-pura menyibukkan diri untuk memilih beberapa makanan instan.

"Apa yang kau pikirkan?" Baekhyun menoleh ketika Chanyeol yang kini bersandar pada rak disampingnya dengan kedua tangan menyilang.

"Tidak ada." Ucap Baekhyun datar.

Bohong! Chanyeol bisa melihat raut kebohongan itu.

"Kau cemburu pada pasangan itu?" Baekhyun kembali menatap Chanyeol lalu menggeleng pelan.

"Astaga Baek, mereka terlihat menjijikan."

"Mereka tidak. Mereka terlihat sangat bahagia dan_"

"Dan kita tidak?" Baekhyun menggeleng cepat, lalu kembali menatap kearah barang-barang dirak.

"Hanya saja tiba-tiba aku berpikir bagaimana rasanya mendapat cinta yang besar dari pasangan ketika sedang menghadapi masa kehamilan. Dia beruntung." Baekhyun tersenyum kecil, menerawang pada masa lalunya yang kelam.

"Dan kau tidak?"

"Hei, aku sedang membicarakan masa lalu Chanyeol. Jika kini tentu aku bahagia karena, aaakhhh!" Baekhyun terkejut ketika Chanyeol melingkarkan tangan dipinggangnya.

"Kau tahu, aku tidak suka ketika kau membicarakan masa lalumu." Bisik Chanyeol.

"Sepertinya ada banyak hal yang tidak kau sukai di dunia ini, aku beruntung karena aku bukan salah satunya." Gumam Baekhyun. Chanyeol tersenyum lalu mengecup pipi Baekhyun, tapi Baekhyun mendorong wajah Chanyeol pelan takut menarik perhatian orang-orang disekitarnya.

"Kenapa? apa kau tidak ingin melihat orang lain memandang kita seperti kau memandang cemburu pada pasangan itu?"

"Hei, aku tidak cemburu."

"Tapi kau iri."

"Tidak Chanyeol, ayo kita_aaakhh" Baekhyun yang hendak berpindah kembali ditarik oleh lengan kokoh Chanyeol, tubuhnya dibalik membuat mata mereka bertatapan sekarang. Chanyeol tersenyum lalu menaikkan tudung jaket kuning muda Baekhyun dan menutupi kepalanya, lalu dengan sekali hentakan mendudukan Baekhyun pada tempat dibawah pegangan troli dan menghadapkan kearahnya.

"Chanyeol! Turunkan aku! Ini_" Chanyeol mengecup bibir Baekhyun, membuat yang lebih kecil bungkam. Baekhyun langsung merasakan pipinya merona selain karena ia terlihat seperti bocah dengan kaki menjulur kebawah, ia juga merasa malu atas tindakan Chanyeol.

"Bukankah kau ingin merasakan bagaimana diperhatikan saat sedang hamil? Maka kau mendapatkannya, walau kau tidak sedang mengandung sekarang." Baekhyun menggeleng, berusaha turun tapi tangan Chanyeol dikedua sisi tubuhnya membuatnya tidak bisa berkutik.

"Tapi pasti mereka tahu jika aku lelaki, dan tidak_"

"Mereka tidak akan menyadarinya." Ucap Chanyeol sambil kembali melanjutkan langkahnya membuat beberapa pasang mata menatap mereka, sementara Baekhyun hanya bisa menundukan kepalanya.

"Jadi istriku yang sedang mengandung ini ingin apa sekarang?" ucap Chanyeol sedikit keras agar orang-orang didekatnya bisa mendengar.

"Chanyeol~"

"Kenapa? Apa bayi kita nakal?" Chanyeol menyentuh perut Baekhyun dan mendekatkan telinganya seolah-olah di dalam sana memang ada kehidupan –seharusnya ada,jika semalam Chanyeol tidak membunuhnya-.

Baekhyun kembali merona, ia hanya bisa menatap kepala Chanyeol yang berada diperutnya dan menggigit bibir bawahnya.

"Ah, dia sedang tidur sepertinya. Dia cukup pendiam hari ini." Gumam Chanyeol pelan sambil kembali mendorong troli. Baekhyun menatap Chanyeol dan sekitarnya bergantian. Beberapa pasang mata menatap mereka dan Baekhyun merasa cukup malu.

"Chanyeol, aku ingin turun."

"Kenapa? bukankah_ah, aku mengerti." Chanyeol melihat sekeliling dan menatap tidak suka.

"Jangan pedulikan mereka, mereka hanya merasa iri. Ayo sayang, kita beli sesuatu untuk bayi kita." Chanyeol segera mendorong trolinya menjauh, membiarkan orang-orang menatapnya lagipula ia menyukai bagaimana orang-orang terlihat iri dengannya, karena akan sangat menyakitkan ketika melihat Baekhyun yang menatap iri kearah oranglain.

"Hmmm.. Chanyeol.." gumam Baekhyun kecil dengan kepala tertunduk ketika beralih ke rak lain. Chanyeol menatap Baekhyun dengan bingung. Baekhyun menunjuk ke rak disampingnya tanpa menoleh.

"Apa?"

"Hmmm… ki-kita harus membeli itu." Ucap Baekhyun sedikit malu. Chanyeol menatap jejeran kotak-kotak kecil di sampingnya dengan warna-warna berbeda. Ia mengernyit merasa familiar dengan benda tersebut.

"Kau ingin bercinta?" ucapan Chanyeol membuat orang-orang di dekatnya menoleh terkejut sementara Baekhyun menggeleng pelan.

"Bu-bukan. Ha-hanya saja kita harus menggunakannya jika sewaktu-waktu kau menginginkan itu."gumam Baekhyun. Chanyeol menatap benda itu tidak suka, ia tidak menyukai benda karet yang menganggu percintaannya dengan Baekhyun.

"Haruskah?"

"Hm." Chanyeol memutar bola matanya malas dan mengambil sebuah kotak lalu memasukannya ke dalam keranjang. Baekhyun menggeleng dan menunjukan kelima jarinya. Chanyeol membulatkan matanya, lalu menyeringai.

"Jadi, kau berencana akan bercinta lima kali denganku?" Baekhyun kembali menggeleng cepat dengan malu.

"Hanya jaga-jaga jika hormonmu tiba-tiba muncul."

"Tidak. Kita tidak membutuhkan benda_"

"Chanyeol~"

Astaga, Chanyeol menyerah. Ia menatap kederetan benda itu lagi dan menoleh pada Baekhyun.

"Kau ingin rasa apa?" pertanyaan itu membuat Baekhyun menundukan kepalanya malu.

"Pi-pisang." Chanyeol menyeringai, ia suka melihat bagaimana Baekhyun terlihat menahan perasaan malunya. Dengan perlahan Chanyeol menjulurkan tangannya, ia merasa tak rela harus membiarkan benda karet itu melingkar dipenisnya.

"HYUNG!"

Bagus, siapa pun itu Chanyeol akan berterima kasih.

"Sehun?"

Tidak. Senyuman Chanyeol mendadak lenyap. Ia menoleh dan menatap malas pada bocah lelaki yang kini berlari dibelakangnya bersama seorang gadis asing.

"Apa yang hyung lakukan disini?" tanya Sehun.

"Kau pikir apalagi yang kami lakukan ditempat seperti ini? Apa kau melihatku sedang mengubur mayat?" Sehun memutar bola matanya malas dan melirik tidak suka pada Chanyeol, tapi memilih mengabaikannya.

"Apa hyung tidak sekolah? Tadi saat berangkat hyung masih tertidur."

"Iya, hyung tertidur. Hmmm.. ini?" Baekhyun melirik kearah gadis disamping Sehun.

"Oh, perkenalkan ini Jung Soojung, dan Soojung ini Baekhyun , kakakku dan itu_" Sehun beralih pada Chanyeol tapi ia mengibaskan tangannya.

"Lupakan!"

"Yak!" kesal Chanyeol.

"Wah, Sehun jadi ini kakakmu? Cantik sekali. Aku pikir kau salah orang tadi, kau memanggil hyung pada wanita." Ucap Soojung. Sehun mengedikkan bahu tidak peduli. Lagipula kakaknya memang cantik, itu bukan rahasia lagi.

"Apa yang dua bocah berseragam lakukan ditempat seperti ini?" Chanyeol yang kesal segera mengambil alih pembicaraan.

"Apalagi? Apa kau pikir aku sedang mengubur mayat?" balas Sehun.

"Kau!"

"Aku mentraktir Sehun." Jawab Soojung. Chanyeol berdecak dan mendekat, berdiri disamping Baekhyun.

"Kau tidak hanya memerasku, bahkan kau memeras seorang gadis? Astaga kau benar-benar harus mengenakan rok ke sekolah Sehun, ini sungguh_"

"Dengar! Gadis pembuat onar ini kembali membuat masalah sehingga aku harus menggunakan uangku sebagai ganti rugi, dan sekarang tentu dia harus menggantinya." Sahut Sehun jengkel, Soojung hanya mencebikkan bibirnya sementara Baekhyun menahan tawanya.

"dan_" Sehun menatap kearah Baekhyun dan meneliti posisi duduk Baekhyun.

"Apa yang kalian lakukan? Kenapa Baekhyun hyung duduk seperti itu?" tanyanya. Chanyeol mendengus, ia memeluk tubuh Baekhyun dari samping.

"Kekasihku ini sedang hamil, jadi dia tidak boleh kelelahan." Dua orang yang lain membulatkan mata mendengarnya, dan Baekhyun menyiku perut Chanyeol cukup keras.

"Ha-hamil?"

"Hm. Sehun-ah, kau akan mendapatkan seorang adik." Ucap Chanyeol sambil mengusak rambut Sehun lalu mendorong trolinya menjauh. Sehun menggeram kesal, sementara Soojung menatap bingung.

"Sehun, bukankah kakakmu laki-laki? Bagaimana bisa_" Soojung segera mengatupkan mulutnya ketika Sehun memberikan tatapan menusuk. Sehun melangkah cepat dan mengimbangi langkah Chanyeol.

"Dengar! Aku tidak ingin hyungku hamil olehmu. Aku tidak mau memiliki adik dari pria sepertimu." Ucap Sehun kesal. Chanyeol dan Baekhyun yang sempat tersentak, hanya bisa menatap heran kearah Sehun yang terlihat sangat serius.

"Sehun, ini tidak_"

"Wow, sepertinya kau masih mendalami peran ayah-ibu-anak itu ya?"

"I..itu..itu.." Sehun kehilangan kata-katanya, ia tidak menyadari sudah terbawa emosi.

"Sehun, aku laki-laki aku tidak akan mungkin hamil." Gumam Baekhyun pelan dengan sebuah senyuman pahit. Chanyeol dan Sehun menatap kearah Baekhyun dengan wajah yang sulit diartikan.

"O..Ooh tentu saja. Aku hanya sedang berakting dan Park Tower. Ingat kertas yang aku berikan padamu!" ucap Sehun sambil menunjuk kearah wajah Chanyeol, lalu berlalu dengan wajah angkuh.

"Sehun, yak! Tunggu! Hei kau!" Soojung berlari dari arah belakang mengejar Sehun dan sempat memberi hormat saat melewati Chanyeol dan Baekhyun.

"Kertas apa?" tanya Baekhyun, Chanyeol mendengus kesal. Ia meraih saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah gulungan kertas. Baekhyun meraihnya dan membulatkan matanya. Entah mengapa hatinya merasa teriris melihat tulisan tangan Sehun dan permintaan-permintaan anehnya.

"Ma..maaf karena dia merepotkanmu." Gumam Baekhyun dengan kepala tertunduk. Chanyeol meraih kertas itu menggulungnya dengan cepat dan memasukannya kembali ke dalam saku.

"Aku tidak masalah. Itu bukan hal besar, walau memang sangat merepotkan." Ucap Chanyeol santai, Baekhyun masih tertunduk. Ia merasa sudah sangat merepotkan Chanyeol, walau baginya Chanyeol belum mengetahui siapa Sehun sebenarnya tapi menurutnya Sehun sudah sangat berlebihan meminta pada Chanyeol, dan kekasihnya itu tidak terlihat keberatan mengabulkannya.

"Hei.." Chanyeol meraih dagu Baekhyun, memandang wajah bersedih itu lalu Chanyeol mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Baekhyun, melumatnya di depan umum, disaksikan oleh beberapa orang yang melewati mereka.

Sehun yang melihat dari kejauhan hanya bisa terdiam dengan tatapan datar, mengabaikan omelan-omelan Soojung disampingnya hingga tanpa ia sadari sudut bibirnya terangkat dan ia tersenyum, ia merasa bersyukur dengan kehadiran Chanyeol yang bisa membuat 'ibunya' bahagia.

"Hm, bagaimana jika kita sekalian membelikan semua benda-benda untuk pesta ulangtahun Sehun?" ucap Chanyeol ketika ciuman mereka terputus. Baekhyun mengangguk senang dan Chanyeol kembali mendorong trolinya.

..

.

Untuk pertama kalinya Chanyeol menepati apa yang telah ia ucapkan, meski itu dilarang di dunia iblis, meski kakeknya akan memarahinya dan mengatakannya lemah setelah ini Chanyeol pikir ia tidak akan terlalu peduli, ia hanya ingin melihat senyuman merekah di wajah Baekhyun.

Bagaimana Baekhyun tersenyum ketika memasang beberapa balon dan hiasan di halaman belakang rumah mereka membuat Chanyeol tanpa sadar ikut tersenyum. Beberapa jam lagi pesta ulangtahun Sehun akan dirayakan.

Kibum nampak sibuk mengatur beberapa barang-barang pesanan Chanyeol yang baru datang, walau halaman mereka tidak terlalu luas tapi Chanyeol sudah menyiapkan beberapa orang untuk menyulapnya menjadi sebuah pesta yang meriah.

Chanyeol sesekali menghela nafas melihat betapa semangatnya Baekhyun dan Kibum untuk pesta ini. Sebenarnya Chanyeol ingin merayakannya di sebuah Restourant agar lebih mudah dan praktis tapi Kibum memintanya untuk merayakannya dirumah saja karena Baekhyun juga setuju jadi Chanyeol tidak memiliki alasan untuk menolak.

Tidak hanya mereka bertiga dan beberapa pekerja, disana juga ada Kyungsoo , Jongin, Cheondong dan Yifan yang ikut membantu. Chanyeol tidak mengundang tiga orang lainnya, namun mereka datang atas kemauan sendiri.

Chanyeol memeluk pinggang Baekhyun dari arah belakang, ketika kekasihnya berjinjit untuk memasang hiasan di dinding.

"Kau ingin semua orang melihat tubuh seksimu?" goda Chanyeol dengan bisikan beratnya, membuat Baekhyun segera menarik baju kaosnya untuk turun. Chanyeol terkekeh dan menyiapkan hal lainnya, walau permintaan Sehun sederhana tapi itu cukup rumit.

Bocah itu meminta beberapa barang-barang yang menurut Chanyeol amat sangat kekanakan, seperti balon berwarna warni, tulisan selamat ulangtahun, kue berukuran besar dengan gambar Superman, dan masih banyak lagi sehingga membuat Chanyeol terkadang mendengus kesal dan menghela nafas panjang.

"Kau lelah?" tanya Baekhyun saat melihat Chanyeol meletakan sebuah mesin proyektor di tengah halaman. Chanyeol menegakkan tubuhnya dan menggeleng, membuat Baekhyun tersenyum dengan sekantung hiasan di pelukannya.

Baekhyun kembali melanjutkan pekerjaannya dan Chanyeol hanya menatap disetiap kesempatan yang ia milikki. Sejak tadi ia tidak pernah bosan untuk melihat Baekhyun yang sibuk dengan seluruh pekerjaannya.

Ketika semua orang juga disibukkan dengan kegiatan mereka, seperti Kibum yang menyusun meja hidangan, Kyungsoo dan Cheondong yang memasang taplak meja juga Jongin yang mengikat beberapa hiasan sambil sesekali melirik kearah dua orang di sampingnya dan Yifan yang mengangkat beberapa meja-meja kecil dari mobil barang bersama pekerja bayaran, Chanyeol secara diam-diam mendekati Baekhyun.

Memeluk tubuh kekasihnya dari arah belakang, mengecup perpotongan leher Baekhyun sambil bergumam pelan.

"Aku minta waktumu sebentar." Baekhyun yang kebingungan hanya mengangguk dan mengikuti arah tarikan Chanyeol yang membawanya ke dalam rumah.

Ketika sudah memasuki ruang tengah, Chanyeol menarik Baekhyun dan menghimpitnya ke dinding di dekat pintu. Baekhyun menatap Chanyeol dalam diam, namun tatapan menggoda Chanyeol membuat Baekhyun tersenyum kecil.

"Silahkan bicara Tuan Park." Ucap Baekhyun sambil tersenyum kecil, Chanyeol menurunkan tangannya dan memeluk pinggang Baekhyun, sementara Baekhyun segera mengalungkan tangannya di leher Chanyeol.

Dalam waktu singkat ciuman itu sudah terjadi, Chanyeol melumat bibir Baekhyun dengan cepat dan penuh nafsu. Ia sudah menahan itu sejak berjam-jam lalu, terutama saat melihat pinggang mulus Baekhyun yang terus terlihat saat kekasihnya bergerak.

Ciuman mereka cukup menuntut, Chanyeol mendorong tubuhnya kedepan dan menarik tubuh Baekhyun semakin dekat, membuat tubuh keduanya bergesekan intim. Tangan Chanyeol berpindah menuju belakang kepala Baekhyun dan menekannya agar ciuman mereka lebih dalam.

"Di-dimana a-aku ha-harus me-meletakkan ini?" tanya Yifan dengan sebuah boneka superman berukuran besar ditangannya. Kibum menoleh dan mengernyit, permintaan Sehun sungguh banyak dan tidak masuk akal, entah dia memang bertujuan memiliki semua benda itu atau hanya mengerjai Chanyeol.

"Hm, letakkan di dalam rumah saja Yifan! Terima kasih."

"Sa-sama-sa-sama bi." Ucap Yifan lalu membawa boneka yang hampir setengah tubuhnya itu ke dalam ruang tengah. Ia menepuk tangannya berulang setelah meletakkan boneka itu diatas sofa bersama puluhan kotak-kotak hadiah lainnya.

Ketika ia berbalik, ia membulatkan matanya. Di hadapanya kini terlihat Baekhyun dan Chanyeol yang saling melumat penuh nafsu. Ia membatu ditempat, dengan tenggorokan yang bergerak naik turun.

Matanya terpaku pada dua lelaki yang kini salah satunya telah menyelipkan tangannya ke dalam kaos yang lebih kecil. Yifan tidak beranjak, matanya masih membola melihat bagaimana Baekhyun menutup mata ketika Chanyeol menyesap lehernya dan memainkan dadanya.

"Chan..yeolllhh.. Jangannn sekaraangghhh.." Suara tertahan Baekhyun terdengar seperti sebuah desahan yang nyaring. Tidak ada sahutan dari yang lebih tinggi selain balasan dengan menyesap bagian lain dari leher Baekhyun.

Dan mata Yifan semakin membulat ketika tubuh Baekhyun di tabrakan kedinding dan kaosnya disingkap keatas, sementara Chanyeol menyesap kedua puting itu.

"Hmm… Chan..yeeolllhh.. hentikaannhhh.." Baekhyun mencoba menghentikan namun tangannya tetap mengalung pada leher kekasihnya.

"Aaah.. Chan_" Ucapan Baekhyun terputus ketika matanya terbuka dan tanpa sengaja melihat sosok Yifan yang kini menatap kearah dirinya dan Chanyeol. Dengan cepat Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol membuat Chanyeol geram, ketika akan kembali mencium Baekhyun, kekasihnya menahan dan segera merapikan pakaiannya, membuat Chanyeol mengernyit dan menoleh kebelakang.

"Kau?"

"Ah, ma-maafkan a-aku." Ucap Yifan nampak gugup. Baekhyun menundukan wajahnya, entah mengapa ia merasa sangat malu. Ia memang menyukai sentuhan Chanyeol , tapi tidak untuk disaksikan oleh orang lain, terutama seperti orang sepolos Yifan.

Baekhyun merapikan pakaiannya dan menaikkan kerahnya yang melorot, lalu segera berlalu meninggalkan Chanyeol dengan wajah menahan malu. Chanyeol menutup matanya kesal, lalu matanya teralih pada Yifan dengan tatapan tajam.

"Kau_"

"Ma-maafkan aku. A-aku ti-tidak se-sengaja." Yifan membungkuk berulang kali sambil mengepalkan tangannya ketakutan. Chanyeol berdecak lalu melenggang pergi, suasana hatinya memburuk dan ia tidak ingin menghajar Yifan lagi karena kemungkinan Baekhyun akan marah padanya.

Sejam kemudian, ketika waktu menunjukan pukul 4 sore persiapan pesta sudah usai dan kini mereka telah duduk diruang tengah dengan pakaian yang rapi. Sekarang sudah pukul 6 sore dimana seharusnya Sehun selesai dengan kelas tambahannya.

Chanyeol duduk disamping Baekhyun dengan ponsel Baekhyun ditelinganya.

"Yak! Kau dimana?" ucap Chanyeol ketika panggilannya tersambung.

"Pulanglah tepat waktu! Karena jika tidak aku akan membakar semuanya." Ancam Chanyeol. Baekhyun dan Kibum hanya bisa menggeleng.

"Ya..ya..ya.. aku tidak peduli. Hanya segera pulang jika tidak_ apa? Dasar bocah sialan! Aku tutup." Chanyeol membanting pelan ponsel Baekhyun dan mendengus kesal.

"Beraninya dia mengataiku setelah aku menyiapkan keinginan bodohnya, dasar bocah menyebalkan!" gerutu Chanyeol.

"Dia sepertinya suka membuatmu marah." Ucap Baekhyun sambil mengelus paha Chanyeol pelan.

"Dia suka ketika mendapat perhatian lebih darimu Chanyeol-ah." Gumam Kibum. Tidak ada obrolan berarti dari yang lain, hingga Kyungsoo berdiri dan berkata ingin membeli beberapa permen di mini market ujung jalan.

"Biar aku_"

"Ayo kita pergi bersama Kyungsoo!" Cheondong memotong ucapan Jongin, membuat Jongin kembali duduk dengan wajah lesu.

Jika tahu akan seperti ini seharusnya ia menolak ajakan Kyungsoo untuk ikut, jika pada akhirnya Cheondong yang tidak diundang ikut bergabung. Kyungsoo melirik Jongin sekilas lalu mengangguk pada Cheondong yang kini menarik tangan Kyungsoo.

"Hei kau!" panggil Chanyeol. Membuat Cheondong dan Kyungsoo menoleh.

"Lepaskan tanganmu dari Kyungsoo! Kau pikir dia bayi yang perlu dipegang seperti itu?" Cheondong mencebikkan bibirnya, lalu mengangkat tangan Kyungsoo dan menggenggamnya semakin erat.

"Aku tidak akan melepaskannya, aku tidak ingin dia hilang dari pandanganku." Ucap Cheondong membuat Jongin membulatkan matanya, sementara Kyungsoo hanya menatap tangannya yang kini digenggam erat oleh Cheondong.

Chanyeol yang masih duduk di atas sofa hanya menyeringai, sikap Cheondong mengingatnya pada dirinya sendiri, yang begitu posesif pada Baekhyun.

"Terserah. Tapi jika Kyungsoo terluka, aku sendiri yang akan menghajarmu!"

"Hyung, Cheondong tidak_"

"Pergilah! Aku tidak suka melihat orang lain lebih jantan dariku." Usir Chanyeol sambil mengibaskan tangannya. Cheondong memberi hormat dan segera membawa Kyungsoo keluar dari rumah.

"Mereka sungguh manis. Apa mereka berpacaran?" tanya Kibum dan Chanyeol hanya mengedikkan bahu, lalu melirik pada sosok Jongin yang hanya menatap kepergiaan Kyungsoo dengan wajah kecewa.

"Dan kau! Apa kau juga menyukai Kyungsoo?" Jongin menoleh pada Chanyeol dan nampak gugup. Chanyeol menatap Jongin datar dan seolah menuntut jawaban.

"Hm..i-itu."
"Aaah~ aku harap aku tidak terlambat." Luhan tiba-tiba muncul dari arah pintu membuat orang-orang yang berada disana menoleh heran.

"Heuh! Aku pikir kau tidak akan datang." Sindir Chanyeol. Luhan mencibir lalu menatap satu per satu orang-orang yang ada dihadapannya.

"Wow, apa aku yang terakhir?" gumam Luhan sambil berjalan mendekat dan meletakkan sebuah kotak kecil diatas meja bersama tumpukan hadiah lainnya.

..

.

"Siapa?" Soojung bertanya ketika Sehun memasukkan ponselnya. Sehun melirik sebentar tapi enggan untuk menjawab. Ia hanya memasukkan bukunya dengan cepat dan sesekali tersenyum senang, ia tidak bodoh untuk mengetahui bahwa panggilan Chanyeol yang memintanya pulang cepat karena pestanya telah selesai disiapkan.

Sehun mengenakan tasnya dan segera berjalan keluar menyusul teman-temannya yang sudah meninggalkan kelas. Soojung berdecak lalu mengikuti langkah Sehun.

"Sehun, apa ada sesuatu? Kau terlihat senang."

"Bukan urusanmu."

"Dasar pelit."

"Aku tidak peduli."

Sehun mempercepat langkahnya meninggalkan Soojung yang terus mengejarnya dibelakang. Ketika akan meninggalkan halaman sekolah, ponselnya bergetar dan Sehun membukanya.

"Sehunnie~ apa kabar? Jangan pulang terlambat ya, karena aku bisa mati bosan menunggumu."-Luhan

Bola mata Sehun membulat, ia tersenyum sumringah. Sudah sangat lama sejak terakhir mereka bertemu dan Luhan yang selalu sibuk bahkan tidak pernah terlihat disekolah membuat Sehun begitu merindukannya.

Dan kini dipesta ulangtahunnya Luhan akan datang dan Sehun bersumpah bahwa Luhan adalah hadiah ulangtahun terindah yang Tuhan berikan padanya.

..

.

Kyungsoo melirik kearah Cheondong yang masih menggenggam tangannya, lalu dengan perlahan menarik tangannya agar terlepas.

"Hmm, Cheondong. Bisakah lain kali kita tidak berpengangan tangan di depan Jongin?" ucap Kyungsoo. Cheondong mengernyit.

"Memangnya kenapa?"

"Hmmm.. aku hanya merasa sedih ketika melihat tatapan kecewanya."

"Dia cemburu Kyungsoo, dia tidak suka melihat kau dan aku bersama." Kyungsoo mengernyit.

"Kenapa?" Cheondong menghentikan langkahnya, lalu memegang kedua pundak Kyungsoo.

"Karena dia ingin memilikimu seorang diri. Dia ingin menguasaimu." Kyungsoo mendorong tubuh Cheondong pelan, ia merasa aneh dengan ucapan Cheondong. Setahunya Jongin bukan orang seperti itu, malah Jongin sangat baik sejak pertemuan awal mereka.

"Jangan seperti itu! Jongin bukan orang jahat, dia_aaakkhh!" Kyungsoo memekik ketika pundaknya dicengkram erat. Kyungsoo meringis sambil menatap kearah Cheondong, mata mereka bertemu dan Kyungsoo tersentak ketika melihat kilatan api membara dimata Cheondong.

"Hai malaikat cantik yang polos. Bagaimana jika kepolosanmu ternodai, apa kau masih seorang malaikat?" suara Cheondong terdengar lebih berat, dan raut wajahnya tidak lagi seperti Cheondong biasanya, dia nampak mengerikan dengan seringain diwajahnya.

"Ka_Hhmmppptt." Kyungsoo meronta ketika mulutnya dibekap dan tubuhnya ditarik kesebuah gang sempit.

..

.

Baekhyun melirik dua orang di depannya yang terlihat tidak tenang. Yifan yang menggenggam kedua tangannya diatas paha tanpa suara sejak kejadian tadi, dan Jongin yang nampak gelisah sambil menggigit bibirnya.

"Yifan kau baik-baik saja?" pertanyaan Baekhyun membuat yang lain menoleh terutama Chanyeol yang mengernyit tidak suka.

"A-aku.." Yifan melirik Chanyeol lalu menunduk lagi.

"Kau kenapa?

"Bo-bolehkah a-aku me-meminjam to-toilet, a-aku i-ingin_"

"Pakai saja!" ucap Kibum yang meringis melihat Yifan menahan hasrat buang airnya dan lelaki tinggi itu bangkit, membungkuk dengan cepat dan berlari terbirit.

"Kenapa dia begitu bodoh?" Chanyeol mencibir tidak suka.

"Dia hanya takut padamu Chanyeol." Gumam Baekhyun.

"Memangnya aku akan memakannya jika ia ingin meminjam toilet? Mentalnya sudah terbiasa disiksa, mungkin dia menikmatinya." Ucap Chanyeol santai. Baekhyun terdiam.

"Tidak ada yang menikmati siksaan Chanyeol, kami hanya tidak bisa melawan." Ucapan Baekhyun membuat Chanyeol tersentak lalu menoleh kearah Baekhyun yang menundukan arah pandangnya.

"Ah, aku tidak bermaksud seperti itu. Kemari!" Chanyeol menarik pinggang Baekhyun dan memberikan kecupan-kecupan ringan di pipinya, hingga mata Chanyeol bergulir kearah Jongin yang gelisah.

"Yak! Jika itu menganggumu kenapa kau tidak susul mereka?" Jongin menoleh cepat kearah Chanyeol dan dia terdiam.

"Apa dengan duduk seperti itu Kyungsoo akan jatuh kepelukanmu? Kau terlalu lemah, lelaki tadi jauh lebih kuat. Keputusan ditanganmu." Jongin masih menatap Chanyeol sambil melipat bibirnya ke dalam.

..

.

Sehun menghentikan langkahnya dan memutar bola matanya malas.

"Keluar! Gadis menyebalkan!" Soojung keluar dari balik tiang listrik beberapa detik setelahnya sambil tersenyum bodoh.

"Kenapa kau mengikutiku?"

"Aku tidak_"

"Jangan mengelak! Orang bodoh pun tahu kau sedang mengikutiku."

"Hm, aku hanya penasaran apa yang membuat_hmmmppttt…Hmmpptt."

"Apa?" Sehun membalik tubuhnya dan terkejut melihat seorang pria membekap mulut Soojung dan menariknya kebelakang. Sehun hendak berlari mengejar, namun sebuah tubuh tegap tiba-tiba muncul dan membuatnya terpental ketanah.

"Hai, Byun Sehun!" Sehun mengernyit tidak suka dan matanya mencari sosok Soojung dari celah kaki pria dihadapannya.

"Tidak usah mencari! Kami akan membuat kalian bergabung dalam pesta kami." Dan sebuah kain hitam menutup matanya dan sebuah pukulan keras Sehun dapatkan dari arah belakang.

….

Sehun mengedipkan matanya berulang menyesuaikan dengan bias cahaya yang tiba-tiba muncul ketika kain hitamnya dibuka. Ia melihat sekeliling dan merasa familiar dengan tempat ini. Sebuah tempat di dekat sungai, tempat saat dulu kakaknya nyaris dilecehkan.

"Mengingat sesuatu?" Sehun hendak menoleh kebelakang namun tubuhnya diikat pada sebuah besi berbentuk lingkaran dengan kaki dan tangan yang membentang kearah berlawanan, hingga seseorang disampingnya memutar besi itu membuatnya bisa melihat dengan jelas siapa yang bicara.

Sosok yang muncul dari balik pilar, sosok yang begitu Sehun benci. Sosok yang nyaris menyetubuhi kakaknya, Taecyeon, dan setelahnya muncul berandalan-berandalan dari balik persembunyian mereka.

"Si bocah bajingan yang merasa kuat!" Sehun kembali mencari suara lain dan itu adalah lelaki yang pernah ia hajar bersama Chanyeol dijalanan, Taeyang dan juga pasukannya. Sehun mengepalkan tangannya melihat wajah menyeringai dihadapannya.

"Apa mau kalian?"

"Wow! Lihat! Bocah ini terlalu berani bukan?" Taecyeon tersenyum kearah Taeyang yang hanya menatap Sehun penuh kebencian.

"Aku tidak peduli dengan omong kalian, lepaskan aku!"

"Kau takut?" Taeyang melangkah mendekat.

"Oh, aku lupa sekarang kau sendiri tidak bersama dengan partnermu." Taeyang menyeringai , sementara Sehun memutar bola matanya malas. Dia sama sekali tidak takut, dia bisa menggunakan kekuatannya untuk menghabisi mereka semua.

"Sehun!" Sehun mencari sumber suara itu dan ia terkejut melihat Soojung yang berlutut dengan kedua tangan diikat kebelakang.

"Soojung?"

"Kami juga membawa temanmu."

"Bajingan! Lepaskan dia!" Bentak Sehun.

"Lepaskan? Apa dulu kau melepaskanku ? tidak! Kau bahkan membuat tanganku patah." Taecyeon menyeringai dan meludah di depan Sehun. Sehun menggeram kesal dengan kedua tangan terkepal.

"BAJINGAAAANN!" Tubuh Sehun menyala, dan dalam sekejap ia telah berubah menjadi wujud iblisnya. Soojung membeku ditempat, sementara Taecyeon dan Taeyang nampak tenang.

Tali yang mengikat tubuh Sehun hangus menjadi debu, ia melompat dan menggeram kearah dua lelaki yang hanya menatapnya tenang.

"Dulu mungkin aku takut, tapi sekarang tidak." Mata Taecyeon menyala, begitu juga dengan Taeyang. Orang-orang dibelakang mereka telah berubah menjadi makhluk-makhluk mengerikan yang Sehun tidak pernah lihat.

Sehun melayangkan pukulan, namun Taecyeon bisa menahannya. Tatapan mata mereka beradu dengan penuh kebencian. Dan Sehun harus meringis dengan langkah mundur ketika Taeyang menghantam perutnya. Sehun terbatuk dan darah keluar dari bibirnya.

Ia bangkit dan memukul secara membabi buta, membinasakan beberapa makhluk-makhluk kecil yang mencoba melawannya. Ia mengerahkan seluruh kekuatannya, hingga ia merasa seluruh ototnya mengeras dan jantungnya berdetak sangat kencang.

Seluruh makhluk-makhluk itu sudah binasa, hanya menyisakan dirinya, Taeyang , Taecyeon dan Soojung yang masih syok ditempatnya.

Dua lawan satu, jumlah yang tidak seimbang namun Sehun tidak memperdulikannya.

"Merasa lelah , Monster?" Sehun menggeram ketika Taecyeon menyindirnya. Sehun tidak bisa berbohong jika ia merasa sangat lelah, tenaganya terkuras hebat tapi ia tidak ingin terlihat lemah.

"Tutup mulut kalian!" Sehun menggeram dengan jemari terkepal.

"Kenapa? bukankah kami benar, kau adalah Mon-ster. Ah tidak! Kau iblis. Si anak iblis." Sehun memperlihatkan taringnya yang mulai memanjang. Dadanya terengah sambil menatap dua lelaki di hadapannya.

"Mana ayahmu, kenapa tidak datang?" Taeyang menyeringai. Sehun menggeram kesal, ia tidak mengerti dengan ucapan dua orang menyebalkan di depannya.

"Sehun! Mereka ingin membuatmu lemah, dengan omong kosong mereka." Soojung berteriak membuat Sehun menoleh, namun Taeyang telah melemparkan sebuah cahaya kearah Soojung membuat gadis itu terpental dan pingsan.

"Soojung!" Sehun terkejut dan kembali mengarahkan pandangannya kedua orang didepannya.

"Bajingan!"

"Bajingan? Lalu sebutan apa yang cocok untuk ayahmu? Brengsek? Bangsat?" Sehun mengepalkan tangannya semakin erat.

"Jangan bicara omong kosong, lebih baik kalian berdoa sebelum ajal menjemput kalian."

"Hahaha.. lucu sekali. Asal kau tahu aku tidak takut mati, aku telah membuat kontrak dengan mereka." Ucapan Taecyeon membuat Sehun semakin kebingungan.

BUGH

Taeyang menendang perut Sehun dengan keras, hingga tubuh itu terpental kearah pilar. Darah kembali keluar dari bibir Sehun ketika ia terbatuk. Taecyeon dengan mata merahnya mendekat, lalu menarik kerah Sehun dan memberikan pukulan pada dadanya. Sehun mencoba bangkit dengan tertatih.

"Ingin menyerah? Dan mengadu pada ayahmu?"

"Brengsek! Berhenti membawa-bawa ayahku!" Bentak Sehun.

"Ckckckckck.. Anak yang malang. Dia bahkan tidak tahu ayah yang ia bela sebenarnya seperti apa?"

"Chanyeol. Park Chanyeol. Si Pangeran Iblis setengah malaikat yang memperkosa lelaki tidak bersalah hingga mengandung lalu meninggalkannya." Sehun terdiam. Entah mengapa ia merasa sangat terkejut. Mendadak tubuhnya gemetar, api disekitar tubuhnya mulai meredup. Hal teraneh yang pernah ia dengar, Chanyeol ayahnya? Sehun mencoba fokus namun keterkejutan membuatnya kehilangan kontrol atas kekuatannya.

"Kenyataan yang pahit bukan? Bahwa lelaki yang selama ini ada untukmu adalah ayahmu yang sebenarnya, dia Pangeran Iblis, itu mengapa kau! Kau memiliki wujud seperti ini." Sehun merasa kekuatannya menghilang, ia terjatuh dan bersimpuh ditanah dengan tatapan kosong.

Taeyang mendekat lalu menghajar Sehun tepat di punggungnya, membuat Sehun terjatuh dengan tatapan yang masih terasa kosong.

"I-itu ti-tidak benar bukan?"

..

.

Luhan nampak gelisah di tempat duduknya. Ia terus melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Ini sudah hampir jam 7 tapi dia tidak juga datang. Aku akan mencarinya." Ucap Luhan bangkit, ia sudah tidak tahan lagi. Chanyeol hanya menghela nafas malas, melihat Luhan yang melenggang meninggalkan ruang tamu.

"Aakh." Baekhyun memegang dadanya yang terasa nyeri membuat Luhan menghentikan langkahnya. Chanyeol menoleh dan memegang pundak Baekhyun. Mata terpejam Baekhyun terbuka cepat.

"Sehun?" Tiba-tiba Baekhyun berucap.

"Aku merasa Sehun dalam bahaya." Luhan tercengang lalu segera berlari keluar. Chanyeol menatap Baekhyun, lalu segera bangkit.

"Aku segera kembali. Jangan kemana-mana!" Ucap Chanyeol lalu segera berlari menyusul Luhan.

"Baekhyun?" Yifan mendekat saat melihat Baekhyun masih memegang dadanya. Kibum mengelus pundak Baekhyun lembut.

"A-aku seperti memiliki firasat buruk." Ucap Baekhyun dengan tubuh bergetar. Yifan mengelus punggung tangan Baekhyun dengan wajah cemas. Tapi tiba-tiba ia mengernyit, mmebuat Kibum menatapnya.

"Yifan , sebaiknya kau urusi dulu masalahmu." Dan dengan wajah malu Yifan mengangguk lalu bangkit, memegang perutnya yang terasa terkoyak entah karena apa.

..

.

Jongin berlari kencang, mencari keberadaan Kyungsoo disekitar gang rumah Baekhyun. Hingga ia melihat sebuah sandal yang ia tahu milik Kyungsoo. Ia mengambilnya dan menoleh sekitar, hingga matanya tertuju pada gang gelap dan sempit dihadapannya.

Jongin segera berlari dan kakinya membawanya pada celah lain dari gang tersebut, sebuah pintu kayu yang sudah tua. Jongin dengan ragu membukanya dan sebuah gudang tua yang gelap, bau dan pengap menyambutnya.

"Hmmpptt.." Jongin berlari semakin ke dalam hingga ia melihat seorang lelaki tanpa pakaian sedang berada diatas tubuh lainnya. Jongin membulatkan matanya ketika melihat Kyungsoo tidak berdaya dibawah cengkraman sahabatnya.

"Brengsek!" Jongin segera mendekat, menarik punggung Cheondong dan menghajarnya. Cheondong terjatuh, ia mengusap darah disudut bibirnya sambil menatap Jongin yang membantu Kyungsoo.

Jongin merasakan hatinya sakit ketika melihat Kyungsoo dalam keadaan tidak berdaya, pakaiannya terkoyak dibeberapa bagian.

"Jong-Jongin…" suara Kyungsoo terdengar lirih, matanya sembab dan tatapannya sayu.

"A-aku takut." Ucap Kyungsoo pelan. Jongin mendekap tubuh Kyungsoo erat, menyalurkan kehangatan pada tubuh dingin Kyungsoo. Jongin menatap celana Kyungsoo dan ia bersyukur , ia tidak datang terlambat.

"Aku disini, jangan takut!" bisik Jongin.

"Jongin, Cheondong_"

"Ssst.. Kau_Aaaakkhh!" Ucapan Jongin terpotong dengan mata terbuka lebar dan bibir menganga. Kyungsoo menjauhkan tubuhnya dan mencoba menggetarkan tubuh Jongin.

"Jongin? Jongin?" Mata Jongin melotot dan urat dipelipisnya nampak. Darah kental mengalir dari bibir.

PRANG

Kyungsoo beralih menatap Cheondong yang berdiri dibelakang Jongin dengan wajah terkejut sambil menatap kedua tangannya. Matanya terlihat berair dan tubuhnya bergetar.

"Jongin?"

"Kyung_" Jongin tumbang di depan Kyungsoo.

"JONGGIIIIIINNNN!" Kyungsoo berteriak histeris dan air matanya mengalir keluar tanpa ia sadari. Ia memeluk Jongin namun terkejut saat mendapati punggung Jongin bersimbah darah.

"Jongin? Jongin! Jongin! Bangun! Jangan seperti ini!" Kyungsoo menggetarkan tubuh Jongin yang telah terbujur kaku. Cheondong terduduk diatas tanah dengan wajah syok berat, bibirnya terbuka dan air matanya jatuh.

"Hikss..Hiks.. Jongin! HIks… jangan tinggalkan aku!" Kyungsoo memeluk tubuh Jongin sambil menangis.

..

.

Sehun terbaring dengan mata masih terbuka, ia tidak bisa melawan lagi, kekuatannya mendadak lenyap namun ia tidak merasakan rasa sakit lagi ditubuhnya bahkan ketika Taecyeon menghantam pelipisnya hingga mengeluarkan banyak darah.

"SEHUNNN!" Luhan muncul dan segera berlari kearah Sehun. Ia berlutut, memeluk tubuh Sehun. Sehun menatap Luhan lalu tersenyum dengan mulut yang sudah dipenuhi darah.

"Lu-Luhan. A..uhuukk.. Aku senang melihatmu." Gumam Sehun pelan. Luhan menatap Sehun dengan wajah bersedih. Ia menangis melihat keadaan orang yang ia cintai nyaris sekarat.

"BAJINGAN!" Luhan menatap Taecyeon dan Taeyang dengan penuh kebenciaan. Tangannya terkepal dan ketika hendak berubah, sebuah tepukan dipundaknya membuat ia urung.

Chanyeol muncul dan melangkah ke depan. Menatap dengan wajah datar pada dua orang di depannya.

"Kita bertemu lagi." Ucap Chanyeol. Dua sosok itu menyeringai.

"Benar. Kita bertemu lagi, Pangeran. Iblis." Dan wajah Chanyeol berubah kesal. Dalam hitungan detik ia berubah. Sayapnya muncul dan sekujur tubuhnya dipenuhi api. Sehun membelalakan matanya.

Chanyeol adalah iblis yang kuat dan sosok seperti Taecyeon dan Taeyang bukan saingannya. Dalam hitungan menit kedua orang itu sudah tumbang bersimbah darah, bahkan Taeyang nyaris menjemput ajalnya jika saja Chanyeol tidak menahan dirinya. Ia tidak boleh membunuh manusia secara langsung.

Chanyeol berbalik dan berjalan kearah Sehun yang masih terbaring diatas pangkuan Luhan yang menangis. Wajah Chanyeol terlihat cemas melihat keadaan Sehun yang sekarat.

"Luhan , bawa dia_" Ucapan Chanyeol terhenti ketika Sehun menghempaskan tangannya.

"Kau pemeran yang hebat Park." Sehun menyeringai. Tangannya terkepal erat, dengan sorot mata tajam.

"Aku…" Sehun menjeda ucapannya karena dadanya terasa sakit. Sekujur tubuhnya seperti remuk, bahkan ia dapat merasakan beberapa tulangnya patah.

"Aku akan membunuhmu! I-blis." Ucapan Sehun membuat dua sosok lainnya menegang.

Diatas sana. Disebuah gedung bertingkat, berdiri sesosok pria dengan sayap hitamnya yang menyerupai sayap burung gagak. Rambutnya berwarna kuning terang , sorot matanya tajam membuat manik birunya bersinar di bawah rembulan. Jubah hitamnya tertiup angin, membuat helaian kain itu berterbangan kebelakang. Helaian rambutnya melompat-lompat diatas dahi putihnya karena tertiup angin. Ia sangat tampan, kulitnya bersinar terang dibawah cahaya rembulan. Tapi ketika ia menyeringai dengan bibir menawannya , taring-taring panjangnya terlihat mengerikan. Sorot matanya tertuju pada tiga orang dibawah sana, yang terjebak dalam situasi rumit mereka.

"Kejutan yang indah bukan? Ini baru awal. Aku belum menentukan akhir untuk kalian. Bersenang-senanglah! " ucapnya dengan suara yang berat sambil menyeringai menatap kebawah.

..

.

TBC

..

.

Okay seperti yang aku bilang sebelum-sebelumnya kalo aku suka kalian berpartisipasi dan ikut berpikir tentang kelanjutan dari cerita aku. Jadi silahkan kalian tebak siapa, apa dan bagaimana hehehehhe..

Maaf kalo ada kesalahan dalam penulisan dan sebagainya, aku orangnya gak teliti meski aku udah berusaha baca per kata tapi kadang ada ajah yang kelewatan.

Makasi buat semua readers yang udah review, follow, favorite cerita aku. Mungkin di chapter ini aku gak bisa kasi Q and A karena waktu aku mepet banget, dan mungkin setelah ini DBM bakal update lebih lama lagi karena suka gak suka , mau gak mau aku lagi menjalani skripsi semester ini. Mohon doanya juga supaya lancar ya hehehe..

aku gak tau status aku hiatus atau gak, mungkin aku bakal coba ngetik dan update kalo aku lagi stress, tapi aku gak bisa janji guys. Maaf kalo mungkin ini mengecewakan kalian.

Dan untuk Touch me , Doctor. Aku putusin untuk ngasik bonus chapter ke kalian. Banyak banget yang minta sequel jadi okay aku ikutin kata-kata kalian.

Dan untuk chapter ini, maaf kalo mungkin alurnya terlalu cepet atau apapun itu yang buat kalian gak srek aku bakal terima karena memang aku rada kesusahan di chapter ini.

Sekian dan terima kasih.

Jangan lupa jaga kesehatan dan salam Chanbaek is real :)