Cast : Park Chanyeol , Byun Baekhyun , Oh Sehun , Do Kyungsoo , Xi Luhan , Kim Jongin, Kim Kibum, Choi Minho , Lee Taemin , Ok Taecyeon , Taeyang, Kim Dasom , Kim Jonghyun, Bae Joo Hyeon-Irene , Park Sooyoung- Joy , Kim Yerim-Yeri, Song Naeun, Yoon Bomi, Park Chorong, Park Cheondong ( Thunder ), Huang Zitao, Wu Yifan, Jung Soojung, and others.
PERHATIAN!
Ff ini mengandung unsur dewasa berbau seks, hubungan sesama jenis yang menyebabkan beberapa orang mungkin mual, Bahasa yang berantakan, dan typo yang walau sudah berusaha dihilangkan tapi tetap muncul. Tidak untuk area bermain anak-anak, anak polos, antigay/ homophobic, AntiChanbaek dan segala yang tidak ada sangkut pautnya dengan dunia yaoi.
NO CO-PAST
NO-REPOST
NO-PLAGIAT
Okay?
There always be a place for the good person. So, don't steal people's effort , be honest dear..
Mulailah dengan sebuah kata, susunlah menjadi kalimat dan kembangkan dalam sebuah paragraph.
Cerita yang hebat bukan tentang siapa, tapi tentang apa dan bagaimana.
…
..
.
Park ShiTa
Present
( Maaf telat ya, dan jangan lupa baca bagian bawah ya, ada pengambilan suara, wkwkwkw )
( Happy reading )
…
..
.
Saat itu bulan purnama , ketika suara tangisan seorang bayi terdengar bergemuruh di seluruh penjuru dunia. Chanyeol menutup matanya, membuat pendengarannya semakin tajam , dan tangisan nyaring itu mampu membuat sebuah celah di dalam hatinya menusuk seperti jarum.
"Dia telah lahir." Chanyeol mengangkat wajahnya, melihat sosok ayahnya berdiri di depan jeruji besi yang memenjarakannya. Chanyeol berdecih, lalu membuang wajahnya angkuh.
"Ya, aku tahu." Sahutnya dengan nada santai, seolah hal itu tidak mengganjal di dalam pikirannya.
"Dia mendobrak keluar dari perut ibunya. Dia sangat kuat, karena kau membuatnya ketika wujudmu setengah iblis." Ucap Minho dengan wajah datar. Chanyeol berdecih, menekuk satu kakinya dan menjadikannya tempat tumpuan siku tangan.
"Kau tidak perlu mengingatkanku. Aku tidak butuh_"
"Aku hanya ingin kau tahu bahwa apa yang telah kau lakukan pada manusia itu membuatnya hampir meregang nyawa." Chanyeol mendelikkan matanya sejenak namun kemudian ia mengalihkan pandangannya.
"Dia hanya manusia, dia tidak_"
"Tapi dia berhak atas kehidupan, dan kau baru saja merenggutnya. Kita memang iblis , makhluk terkeji tanpa hati. Tapi kita punya aturan, dan seorang iblis tak melanggar aturannya sendiri. Mungkin yang kakekmu ajarkan berbeda dengan apa yang aku ajarkan. Mungkin kau tidak menyukai bagaimana aku mendidikmu, tapi aku hanya ingin kau tidak menjadi seperti diriku." Minho menatap Chanyeol dengan sorot mata tajam.
"Bangsa iblis memang tidak memiliki hati, tapi tidak menutup kemungkinan mereka masih memiliki hati nurani." Minho membalik tubuhnya ketika Chanyeol tidak merespon ucapannya. Ia melangkahkan kakinya sebelum akhirnya berhenti sejenak, menoleh kesamping tanpa membalik tubuhnya.
"Ibumu, Luhan dan Kyungsoo sedang mencoba menolongnya. Setidaknya dia tidak mati sia-sia karena iblis sepertimu." Ucap Minho melalui celah pundaknya.
"Dan_" pintu penjara terbuka membuat Chanyeol membulatkan matanya tidak mengerti dengan sikap ayahnya.
"…aku memberimu waktu 15 menit, pulang segera setelah selesai! Atau aku sendiri yang akan menyeretmu pulang." Minho melenggang pergi setelah menyelesaikan ucapannya. Chanyeol berdecih sambil melempar pandangannya kesekitar. Ia bangkit , berdiri dengan kedua kakinya.
BLASH
Sayapnya keluar dan mata birunya kembali menyala, Minho mengembalikan kekuatannya untuk sementara. Lalu dengan sekejap Chanyeol menghilang bagaikan debu.
"Dia kehabisan banyak darah. Bayinya sangat kuat." Kyungsoo berucap sambil masih menyalurkan energinya pada Baekhyun. Taemin mengangguk, ia duduk disisi yang berlawanan arah dengan Kyungsoo lalu menyalurkan energi yang sama ketubuh Baekhyun yang memucat dan berpeluh.
Sementara Luhan memakaikan kain pada tubuh bayi yang baru saja dimandikan. Luhan tersenyum menatap mata jernih bayi yang balik menatap kearahnya.
"Dia sangat tampan." Gumam Luhan. Taemin dan Kyungsoo hanya mengangguk namun masih berfokus pada Baekhyun yang melemah.
"Ibu aku tidak kuat lagi." Kyungsoo melangkah mundur ketika merasa kakinya melemas sementara Baekhyun pun semakin lemah. Taemin menarik nafas dan mencoba menyalurkan kekuatannya lagi. Detak jantung Baekhyun melemah, bibirnya sudah pucat begitu pula dengan wajah letihnya.
Diluar sana Chanyeol melayang di depan jendela. Menyaksikan bagaimana orang yang menjadi korbannya nyaris merengang nyawa dan ada satu kehidupan baru yang muncul akibat ulahnya.
Chanyeol menatap bayi itu dan tanpa ia duga bayi dalam gendongan Luhan menoleh kearahnya. Mata mereka bertemu untuk pertama kalinya. Seperti memiliki koneksi , mata berbeda warna itu segera berubah menjadi kemerahan dengan bara api di dalam bola matanya.
"Hai. Hmmm.. aku salah satu yang berpartisipasi atas kelahiranmu. Mungkin kau bisa menyebutku ayah atau semacamnya." Chanyeol bicara melalui telepatinya dan itu adalah interaksi pertama mereka. Namun respon dari bayi itu diluar dugaan.
Tubuh bayi itu membara dan tatapannya berubah menjadi tatapan tajam, seolah ia sedang marah. Luhan yang memperhatikan Baekhyun segera menoleh kaget melihat bayi dalam gendongannya mengamuk.
"Apa yang terjadi?" Luhan menoleh ke jendela mengikuti arah pandang bayi itu namun ia tidak menemukan apapun.
"Hai, sayang. Sayang. Tenanglah! Ibumu sedang berjuang." Gumam Luhan pelan sambil mengecup dan mengelus punggung bayi itu. Perlahan wujud bayi itu kembali normal, dan tersenyum ketika Luhan menyatukan dahi mereka.
Chanyeol muncul lagi dari atas, dan dia menyeringai.
"Bahkan dia membenciku." Gumamnya pelan.
"Haaaaah. Akhirnya." Taemin mendesah lega sambil menyandarkan tubuh lelahnya di kepala ranjang. Kulit pucat Baekhyun kembali normal, bahkan ia sudah bisa mengernyitkan keningnya.
"Luhan, letakkan bayi itu. Ibu akan bicara pada Nyonya Kim." Ucap Taemin lalu bangkit dan merapikan penampilannya. Luhan dan Kyungsoo menurut, lalu segera menghilang setelahnya.
Bayi itu dibaringkan disamping tubuh Baekhyun, sementara Taemin bergegas keluar kamar hendak menghampiri Kibum dan memberitahukan tentang kelahiran cucunya.
Ketika pintu kamar tertutup, pintu jendela yang giliran terbuka. Chanyeol masuk dan berdiri disamping ranjang Baekhyun. Ia menatap tubuh tertidur Baekhyun dengan seksama.
Ia menghela nafas, sebelum menjulurkan tangannya dan mengelus kening berkeringat Baekhyun.
"Hei kau! Aku tahu kau membenciku, tapi jagalah dia baik-baik, bagaimana pun dia adalah ibumu." Ucap Chanyeol pada sosok bayi yang menggeliat kecil dan menatap langit-langit kamar.
Chanyeol yang hendak pergi menghentikan langkahnya, ia berbalik dan mendapati bayi itu merengek sambil menendang-nendang kaki kecilnya diudara. Chanyeol terdiam sebentar lalu menghampiri bayi itu.
Dia mengangkat tubuh bayi itu ke dalam pelukan kakunya. Mata mereka kembali bertemu, dan ketika bayi itu ingin merubah wujudnya Chanyeol menahannya.
"Hei tenang! Aku tidak datang untuk menyakitimu bayi menyebalkan. Aku datang untuk melihat hasil pekerjaanku." Ucapnya pada bayi mungil itu yang hanya menatap Chanyeol dengan bibir terbuka.
"Aku tahu kau lahir karena kesalahanku. Tapi setidaknya kau harus bersyukur karena kau terlahir dengan wajah yang sama tampannya denganku. Mungkin ini pertemuan pertama dan terakhir kita bayi, jadi kau tidak perlu cemas." Chanyeol bicara pada bayi ditangannya.
"Aku sebenarnya tidak ingin mengatakan ini, tapi tumbulah dengan baik! Jaga dia!" Chanyeol menunjuk Baekhyun dengan dagunya namun tidak melepaskan kontak mata dari bayi ditangannya.
"Aku mungkin tidak akan berada didunia manusia lagi. Yah, asal kau tahu orang yang kau benci ini adalah Raja iblis dan aku harus_" Chanyeol menghentikan ucapannya ketika mendengar suara langkah mendekat. Ia meletakkan bayinya, lalu segera menghilang bersamaan dengan pintu kamar yang dibuka oleh Taemin dan Kibum.
Itu adalah pertemuan pertamanya dengan bayinya dan berakhir dengan cepat karena ia harus segera kembali ke dalam penjara. Tapi selama menjalani masa hukumannya sesekali ia akan mencoba kabur untuk bermain-main kedunia manusia, ia tidak mengerti mengapa ayahnya memberikan sebuah penjara yang memiliki sistem penjagaan yang tidak terlalu ketat, entah disengaja atau tidak Chanyeol tidak pernah melewatkan kesempatan ketika sewaktu-waktu pintu penjara terbuka dan kekuatannya kembali.
Namun selama waktu bebasnya yang hanya beberapa menit Chanyeol habiskan untuk mengawasi pekerjaan anak buahnya, ataupun menjahili para manusia, ia tidak sekalipun berniat untuk mendatangi rumah keluarga Byun. Ia hanya tidak ingin melakukan kesalahan lagi, atau membuat bayi itu merubah wujudnya secara tiba-tiba.
Seolah telah diatur, pertemuan kedua mereka kembali terjadi secara tidak sengaja. Saat itu Chanyeol sedang berada di atas gedung , menyeringai melihat aksi pembunuhan disudut gang dan perampokan disebuah bank ketiba tiba-tiba ia mendengar suara geraman yang tertangkap indera pendengarannya, suaranya sangat jelas dan keras dan Chanyeol yakin itu bukan suara manusia, untuk itu ia mencari sumber suara tersebut.
Pencariannya berujung pada sudut gang kecil disebuah jalanan sempit. Seorang anak kecil laki-laki berdiri sambil mengepalkan kedua tangannya di depan dua bocah berseragam yang lebih besar darinya.
Chanyeol mengernyitkan dahinya ketika mendapati geraman itu berasal dari seorang anak kecil. Ia duduk disebuah pipa panjang diatas gedung dan menunggu kejadian yang akan terjadi.
Dua bocah yang lebih besar nampak mendorong-dorong pelipis yang lebih kecil dan sesekali meledeknya, sementara bocah yang jauh lebih kecil hanya menatap tajam dalam diam, hingga tangannya melayang dan mengenai kedua pipi bocah itu sekaligus.
"Wow. Bocah yang kuat." Chanyeol tertawa remeh, ketika hendak kembali karena merasa tontonannya tidak menarik ia mendengar suara tawa meledek yang terdengar berat, dan ketika menoleh ia melihat tiga pria dewasa dengan pakaian berantakan mendekat.
"Beraninya kau memukul adikku bocah." Ucap salah satunya. Chanyeol yang masih menolehkan kepalanya dengan posisi berdiri diatas pipa terdiam. Ketika tangan pria dewasa itu berada dipuncak kepala si bocah, Chanyeol dibuat terkejut karena ia melihat kilatan cahaya dimata bocah itu dan dalam hitungan detik seketika orang itu tumbang.
Chanyeol tersentak, matanya membulat. Ia tidak yakin, tapi ia tidak memiliki pemikiran lain selain dugaan bahwa bocah dihadapannya sekarang adalah anaknya. Chanyeol sampai melupakan berapa lama ia sudah berada di dalam penjara.
Ketika tatapan membunuh bocah itu beralih, Chanyeol segera merubah wujudnya menjadi seekor kelelawar dan perlahan mengikuti bocah itu pulang. Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun ia melihat sosok itu lagi, sosok bocah lemah disudut gang yang kini telah berubah menjadi sedikit lebih tinggi dan lebih cantik.
"Hyu-hyung?" bocah yang baru tiba dirumah itu nampak terpaku saat berpapasan dengan sosok yang jauh lebih tinggi darinya. Namun sapaan itu tidak mendapat tanggapan. Chanyeol yang kini memperhatikan dari balik pohon hanya mengernyit, mendengar bocah itu memanggil orang yang seharusnya menjadi ibunya dengan sebutan hyung. Dan Chanyeol membenarkan ucapan Luhan,bahwa Baekhyun membenci anaknya karena bocah itu terlahir akibat kesalahannya.
Entah bagaimana seorang iblis bisa memiliki rasa kepedulian walau hanya sedikit. Chanyeol tanpa tahu apa yang sedang ia lakukan, selalu mengawasi Sehun kecil disaat ia bisa menyelinap dari penjara.
Dan untuk pertama kalinya Chanyeol menyadari sebesar apa kesalahannya hingga membuat seorang anak kecil tidak bersalah menangis diam-diam karena sikap seseorang yang seharusnya menjadi ibunya.
Dan untuk pertama kalinya juga secara diam-diam Chanyeol meletakkan sebuah hadiah di depan kamar seorang bocah tepat ketika bocah itu berulang tahun dan menginginkan sebuah mobil mainan sebagai hadiah ulangtahunnya, namun tidak membiarkan orang lain tahu tentang keinginannya.
Chanyeol tidak pernah tahu bahwa pepatah yang mengatakan "Darah lebih kental daripada air" memang benar. Seberapa besar ia mencoba mengelak , ikatan di dalam tubuh mereka membuatnya tidak bisa mengabaikan apa yang ia sebut sebagai sebuah "kesalahan".
Hanya saja Chanyeol tidak membiarkan satu orang pun tahu, bahwa ada sebuah bagian kecil di dalam hatinya yang berkata " Dia adalah anakmu, darah dagingmu." termasuk Sehun sendiri, karena Chanyeol tahu Sehun akan sangat membencinya atas semua ketidakadilan yang ia terima karena perbuatan Chanyeol.
Namun takdir tidak bisa dihindari, seberapa jauh Chanyeol melarikan diri ia akan terseret kembali ke dalam lubang dalam yang ia gali sendiri, bahwa semua tindakan memiliki karmanya masing-masing, dan untuk pertama kalinya Chanyeol percaya apa itu karma.
Ia tidak bisa melepaskan tatapan terkejutnya dari sosok Sehun yang sedang sekarat, yang berkata akan membunuhnya dengan penuh kebencian. Sehun pada akhirnya tahu, dan pada akhirnya juga ia harus menanggung apa yang telah ia perbuat.
"Aku akan membunuhmu, I-blis."
….
..
.
Devil Beside Me
Chapter 10
…
..
.
Luhan menatap tubuh berbaring Sehun dengan wajah cemas dan sedih. Sudah sejak dua jam Sehun terbaring di dalam kamarnya dengan tubuh penuh luka yang perlahan membaik.
Ia memperhatikan bagaimana ibunya bekerja untuk menyembuhkan Sehun. Cahaya biru itu memenuhi sekitar tubuh Sehun dan perlahan luka-lukanya memudar.
"UHUK." Taemin terbatuk membuat Luhan tersentak. Taemin memegang dadanya dan ia terlihat sangat letih.
"Ibu? Ibu baik-baik saja?" tanya Luhan cemas, Taemin mengangguk dengan senyuman kecil namun wajahnya terlihat agak pucat dan kelelahan.
"I-ini tidak berhasil. Sisi iblisnya melawan energi malaikatku." Ucap Taemin dengan wajah kelelahan. Luhan memegang ibunya dan membawa ibunya untuk duduk disebuah sofa.
"Chanyeol?" gumam Luhan pelan sambil menatap Chanyeol yang hanya berdiri menatap keluar jendela dengan tatapan kosong sejak mereka tiba di Infernus. Chanyeol menoleh sebentar dan menghela nafas.
"Ia membenciku, tubuhnya akan menolak_"
"Dia tidak sadarkan diri! Dia tidak akan tahu." Bentak Luhan berusaha menyakinkan adiknya.
"Bisakah kau lupakan tentang itu Chanyeol? Dia membutuhkan pertolonganmu." Ucap Luhan. Chanyeol melirik Sehun, ia masih mengingat bagaimana sorot tajam Sehun kearahnya dengan ancaman ingin membunuhnya sebelum akhirnya bocah itu tidak sadarkan diri.
Chanyeol mendekati ranjang, dimana tubuh Sehun yang nampak hampir seukuran wujud iblisnya terbaring. Chanyeol berdiri disamping Sehun, ia menutup matanya dan meletakkan telapak tangannya diatas tubuh Sehun tanpa menyentuhnya.
Cahaya merah keluar ketika Chanyeol menggerakan tangannya seperti melakukan scanning pada tubuh Sehun. Chanyeol mengernyit dan menekan telapaknya semakin rendah, membuat tubuh Sehun menggeliat kesakitan.
Chanyeol dapat merasakan betapa rusaknya organ dalam Sehun, dan ia mencoba memperbaikinya. Chanyeol semakin menguatkan dirinya, ketika tubuh Sehun bergetar karena pengobatan yang ia lakukan.
"Uhuk." Chanyeol terbatuk dan dari sudut kiri bibirnya sebuah cairan kental meleleh keluar. Luhan mengernyit, ia memegang pundak Chanyeol mencoba menyakinkan adiknya bahwa ia bisa melakukannya.
"Kau calon raja iblis, kau kuat." Bisik Luhan. Chanyeol kembali berkonsentrasi, tubuh Sehun tidak hanya rusak namun sebuah energi dari dalam melawan kekuatannya. Chanyeol berhenti ketika tubuh Sehun sudah sembuh setengahnya.
"Ibu, sesuatu memberontak di dalam tubuhnya." Gumam Chanyeol. Taemin tidak menjawab, ia menundukan wajahnya. Luhan mengernyit begitu pula Chanyeol. Chanyeol merasa curiga melihat gelagat aneh ibunya.
"Apa yang terjadi?" tanya Chanyeol dengan nada dingin. Taemin menggigit bibirnya dan menatap wajah Chanyeol dengan sedikit gugup. Ia ingin berbohong, namun entah mengapa ada sesuatu yang menahan kebohongannya untuk keluar.
"I-ibu telah memberikan dia Lonya yang bisa menekan usianya. Ramuan itu membuat sisi iblisnya tertahan, dia_"
"Apa? Bagaimana bisa ibu memberinya Lonya? Dia iblis ibu, ibu tidak bisa memberikan itu pada bangsa iblis." Bentak Chanyeol, Taemin menundukan wajahnya semakin dalam,sementara Luhan terdiam dengan kernyitan.
"A-apa yang terjadi?" Gumam Luhan pelan.
"Ma-maafkan ibu." Taemin menundukan wajahnya dan berusaha menahan tangisnya, Luhan mencengkram pundak ibunya lalu menggetarkannya cukup keras, membuat Taemin meringis kesakitan.
"Ibu katakan! Kenapa dengan Lonya? Apa efeknya bagi Sehun?" tanya Luhan cemas. Taemin mengangkat wajahnya dengan tatapan bersalah, membuat Luhan semakin panik.
"Chanyeol! Katakan! Apa yang terjadi?" Bentak Luhan dengan wajah khawatir. Chanyeol diam dengan wajah datar. Luhan bangkit dan menggetarkan pundak Chanyeol, namun Chanyeol tidak merespon.
"Seseorang tolong katakan padaku! Apa yang akan terjadi pada Sehun? Hiks.." Luhan terisak, bertumpu pada lututnya yang menempel di lantai.
"Lonya digunakan oleh bangsa malaikat untuk memperdaya bangsa iblis ketika berperang. Ramuan itu akan menekan sisi iblis hingga mereka tidak akan bisa merubah wujud mereka. Kekuatan mereka pun akan melemah dan ramuan itu tidak diketahui oleh banyak orang, hanya penerus tahta kerajaan yang boleh mengetahui tentang itu. Itu adalah ramuan yang berbahaya bagi bangsa iblis, dan akan sangat berbahaya bila orang yang bukan berkepentingan mengetahuinya. Kakek memberitahuku saat aku belajar menjadi seorang Raja." Luhan mengernyit masih tidak mengerti dengan ucapan Chanyeol dan hubungannya dengan Sehun.
Bukankah itu baik jika sisi iblis Sehun tertahan maka ia tidak bisa merubah wujudnya, dan jika wujudnya tidak berubah itu artinya ia akan lebih awet muda karena energinya tidak banyak terbuang, tapi pemikiran sederhana Luhan tidak seperti kenyataan.
"Lalu apa yang buruk dari semua itu?" Luhan masih bingung, ia tidak mengetahui tentang ramuan itu, ia bukan seorang penerus tahta kerajaan.
"Sisi iblis yang ditahan akan semakin menumpuk, terakumulasi dan energinya membesar , namun iblis tersebut tidak akan bisa berubah sebesar apapun ia menginginkannya, tapi jika pada akhirnya ada iblis yang bisa tetap berubah entah karena faktor apa, maka Lonya tidak lagi menjadi obat, dia akan berbalik menjadi racun." Kaki Luhan melemas , ia terduduk dilantai, tatapan matanya kosong dan air matanya mengalir.
"La-lu apa yang terjadi pada Sehun?" Suara Luhan bergetar. Taemin bangkit dan mengelus pundak Luhan.
"Dia… dia akan dikuasai oleh sisi iblisnya, dan kemungkinan.. kemungkinan sisi manusianya akan hilang." Luhan menatap Taemin tidak percaya.
"A-apa dia tidak akan mati?"
"Aku belum tahu sebesar apa sisi iblis yang ia miliki, jika sisi iblisnya dominan maka ia akan hidup abadi, namun jika tidak ia akan menjadi iblis dengan usia seperti manusia." Luhan beralih menatap Sehun yang terbaring kaku. Itu berarti Sehun akan berkembang dengan cepat dan kemudian mati dengan cepat pula. Mata Luhan memanas, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan, sisi malaikatnya sedang berkuasa kini.
"Aku akan mengeluarkan Lonya itu dari tubuhnya!" ucap Chanyeol tegas.
"Tidak Chanyeol! Itu sangat beresiko, kau tidak bisa_"
"Aku bisa! Aku ayahnya."
"Tapi energi Lonya akan menyerangmu."
"Jika itu bisa membayar kesalahanku, aku akan melakukannya." Taemin membulatkan matanya begitu juga Luhan yang terkejut melihat sikap optimis Chanyeol.
"Kalian keluarlah! Aku akan melakukannya sendiri. Ini berbahaya bila kalian disini." Ucap Chanyeol lagi masih dengan suara dinginnya.
"Chanyeol?" Luhan bergumam pelan, matanya menatap Chanyeol dengan penuh haru.
"Baekhyun baru saja merasakan sebuah kebahagiaan dan mau menerima Sehun menjadi anaknya. Aku tidak bisa membiarkan kebahagiaan Baekhyun hilang, Sehun akan bertahan. Aku telah berjanji untuk membuat Baekhyun tetap tersenyum." Air mata Taemin jatuh atas rasa haru terhadap sikap putranya, dengan perlahan ia membantu Luhan bangkit dan membawa langkah mereka keluar dari kamar itu.
Ketika pintu tertutup Chanyeol menutup matanya sejenak, ia menatap Sehun yang masih setia memejamkan mata.
"Mungkin kau terlahir karena kesalahanku, mungkin kau membenciku hingga ingin membunuhku, tapi dengar bocah menyebalkan! Aku tidak bisa melakukan hal yang sama padamu, karena bagaimana pun kau adalah darah dagingku." Ucap Chanyeol seorang diri.
"Hei bocah! Jangan menjadi lemah! Kau harus kuat karena kau adalah bagian dariku, karena kau terlahir dari sisi iblisku." Ucap Chanyeol sambil menyeringai. Ia menutup matanya pelan, meletakkan kedua tangannya di atas tubuh Sehun.
BLASH
Sayapnya mengembang, api disekitar tubuh Chanyeol membara. Cahaya merah itu kembali muncul, namun kali ini sangat merah hampir menyerupai darah. Chanyeol mulai menggerakan tangannya dan ia mengernyit ketika energinya kembali dilawan oleh energi lain di dalam tubuh Sehun.
Chanyeol terbatuk dan darah kental kembali keluar dari sudut bibirnya. Dalam benaknya kenangan-kenangannya bersama Sehun dan Baekhyun mulai berputar seperti sebuah film. Kenangan-kenangan yang membuat kekuatannya semakin bertambah besar.
Chanyeol dapat merasakan energi dari Lonya menyerang dan memberontak energi yang ia berikan pada Sehun. Keringat mulai membasahi dahi Sehun, ia mengernyit dalam tidurnya. Chanyeol semakin mengerahkan seluruh kekuatannya, bahkan ia merasa darahnya mengalir dengan sangat deras dan seolah menerobos keluar.
"Sejak kecil aku selalu menatap iri pada anak-anak yang bermain bersama ayah mereka, aku ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang ayah."
"Hei, Park Tower! Tidak bisakah kau hanya mengabulkan keinginan seorang anak malang sepertiku?"
"Ini menyenangkan, aku tidak tahu rasanya sehebat ini. Aku sudah lama ingin melakukannya."
"Aku benci mengatakannya tapi kau tidak buruk juga."
"Aku membiarkanmu menjadi kekasih hyungku karena hanya kau yang bisa membuatnya tersenyum."
"Mereka menyebutku monster karena aku mengerikan, aku berbeda, aku aneh dan aku membenci kelahiranku."
"Ayah, ayo kita bermain ini!"
"Ayah! Aku mohon ! ya? Ya? Ya?"
"Karena itu ayah-ibu, jangan sia-siakan aku! Karena sewaktu-waktu Tuhan bisa mengambilku kembali."
"Aku akan membunuhmu. I-blis."
"UHUK!" Chanyeol kembali terbatuk dan kali ini darahnya memuncrat dari dalam mulutnya, menodai pakaian dan wajah Sehun.
Chanyeol memegang dadanya yang terasa nyeri, ia terengah dan api disekitar tubuhnya melemah. Chanyeol merasa kekuatannya melemah, ia mengelus pipi Sehun, menatap wajah tertidur itu dengan tatapan letih.
"Seorang Raja Iblis tidak akan menyerah karena hal kecil." Chanyeol menoleh cepat dan mendapati kakeknya berdiri disudut ruangan , dibagian tergelap dari ruangan besar itu. Bayangan itu perlahan melangkah maju dan menampakan sosok kakeknya.
"Ka-kakek?"
"Ck! Aku tidak yakin kau adalah cucuku. Kau lemah." Ucap Kakek iblis. Chanyeol menegakkan tubuhnya.
"Energi itu terlalu kuat, aku_"
"Lonya adalah sebuah ramuan yang diciptakan oleh tangan malaikat biasa, tapi Raja iblis diciptakan oleh tangan Tuhan. Kau pikir mana yang lebih kuat?" Chanyeol menghela nafas.
"Itu hanya sebuah energi kecil, jika kau kalah itu berarti kau lemah. Kau tahu? Lonya dan Lucifer memiliki perbandingan yang jauh. Bagaikan setitik air hujan yang terjatuh di dalam lautan. Jika setitik air hujan itu saja membuatmu menyerah, apa kau bisa menghadapi badai ditengah lautan?" Chanyeol masih terdiam, namun dahinya mengernyit.
"Kau diciptakan sebagai makhluk dengan martabat tinggi, mengemban tanggung jawab yang besar, bukan menjadi lemah hanya karena hal kecil."
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Tanya Chanyeol dengan suara lelahnya. Kakek iblisnya mendekat sambil mengedikan bahu.
"Tidak ada. Selain mempercayai kekuatan dirimu sendiri." Tepukan pelan Chanyeol dapatkan dibahunya.
"Dia anakmu bukan? Dia memiliki sisi iblis bukan? Bicaralah pada sisi iblisnya dan kalian bersama-sama mengeluarkan racun itu." Ucap kakek iblis lalu menghilang. Chanyeol terdiam, ia mengernyitkan dahinya menatap Sehun.
"Dan_" suara kakeknya kembali terdengar tanpa wujudnya.
"Jika kau gagal, aku terpaksa meminta Luhan yang menduduki posisi Raja."
Chanyeol menutup matanya kembali, ia mencoba berkomunikasi dengan sisi iblis Sehun. Ia tidak tahu hal itu akan berhasil atau tidak, karena bagaimana pun Sehun sedang dalam keadaan lemah, dan entah sisi iblisnya masih terjaga atau ikut menjadi lemah juga.
"Sehun! Aku bicara padamu."
"Eerrrggh.." terdengar geraman mengerikan, membuat bola mata Chanyeol sedikit membulat, ia tersenyum dalam hati karena ada sebuah harapan.
"Sehun! Aku tahu kau memiliki dendam yang besar."
"Aaarrgghh.."
"Dengarkan aku! Kerahkan seluruh tenagamu dan bersama denganku, kita tendang racun ini keluar! Kau mengerti?"
"Aaaaaarrgghh… a..ku akan membunuhmu bajingan."
"Aku tahu, bunuh aku setelah semua ini selesai. Aku tidak akan lari, kita akan bertanding satu lawan satu. Sekarang hanya dengarkan aku! Kerahkan seluruh tenagamu, aku akan membantumu."
Keduanya bicara melalui pikiran mereka, sisi iblis mereka saling berkomunikasi. Dan ketika tidak ada perlawanan dari Sehun, Chanyeol kembali meletakkan tangannya diatas tubuh Sehun.
"Sekarang!"
Dan seketika cahaya merah muncul dari tubuh Sehun dan tubuh Chanyeol. Tubuh Sehun menyala merah hingga tubuhnya tidak terlihat. Chanyeol menggeram menahan rasa sakit ditubuhnya, sementara Sehun menggeliat di dalam tidurnya.
Sebuah aliran terlihat bergerak di dalam perut Sehun, seperti seekor ular berbisa yang melata diatas pasir. Dan pergerakan itu berjalan cukup cepat menuju tenggorokan Sehun.
BRRUUUSHHH
Sebuah cairan hitam pekat dan lengket menyembur dari mulut Sehun hingga tubuh itu terlonjak ke depan, Chanyeol juga menyemburkan darah dari bibirnya. Sehun terbatuk dan nafasnya seperti tertahan, matanya terbuka perlahan, ia menoleh kesamping disetengah kesadarannya.
Ia mendapati sebuah wajah dengan bibir berlumuran darah di depannya, ia mengernyit namum tubuhnya terlalu lemah. Sosok di depannya tersenyum kearahnya, dan Sehun merasa kepalanya pening, sebelum sempat membuka bibirnya untuk bertanya, ia telah jatuh pingsan kembali.
"Kau, berhasil_" dan Chanyeol tumbang diatas tubuh Sehun.
…
..
.
Baekhyun membuka matanya perlahan dan ia mengerjap pelan, ia sedikit bangkit dan mendapati dirinya tertidur disofa ruang tamu dengan posisi duduk. Ia menoleh kesamping dan mendapati ibunya juga tertidur, juga ada sosok Yifan yang tetidur dengan kepala diatas meja sementara tubuhnya dilantai.
Baekhyun melirik kearah jam dinding, dan waktu telah menunjukan pukul 12 malam. Ia mengedarkan pandangannya dan tidak ada yang berubah sejak Chanyeol dan Luhan meninggalkan rumah.
"I-ibu?" bisik Baekhyun sambil menyentuh pundak ibunya. Kibum tersentak dan membuka matanya.
"Mereka belum tiba?" Baekhyun menggeleng pelan, ia melirik kearah Yifan yang tertidur pulas.
"Ibu tidurlah ke dalam kamar!" ucap Baekhyun.
"Aku akan menunggu, aku akan membangunkan ibu ketika mereka kembali." Dan kibum hanya mengangguk lalu beranjak .
"Berikan Yifan selimut dan bantal!" ucap Kibum dan Baekhyun mengangguk. Ia beranjak kelantai atas untuk mengambil selimut dan bantal miliknya.
"Yifan? Yifan?" Yifan memperbaiki letak kaca matanya dan mengerjap sambil menatap Baekhyun.
"Tidurlah diatas sofa, tubuhmu bisa sakit."
"Me-mereka be-belum da-datang?" Baekhyun menggeleng sambil membantu Yifan bangkit. Ia menghela nafas pelan sambil menyelimuti tubuh Yifan.
"Ba-Baekhyun?" Yifan menahan tangan Baekhyun membuat sosok mungil itu menoleh.
"A-apa me-mereka ba-baik –ba-baik saja?" Baekhyun terdiam, tapi sedetik kemudian ia tersenyum dan mengangguk.
"Aku percaya Chanyeol akan menjaga Sehun." Dan Yifan hanya mengangguk kaku, lalu menutup matanya. Baekhyun meraih kaca mata Yifan dan meletakkannya diatas meja membuat Yifan menatap Baekhyun dalam diam.
"Kau bisa membuatnya semakin parah." Mengerti akan tatapan bingung Yifan ,Baekhyun mencoba meluruskan. Yifan mengangguk dan segera menutup matanya. Ia berjalan kearah pintu ruang tengah yang berhubungan dengan halaman belakang, lalu perlahan menutupnya. Setelahnya ia berjalan kepintu depan, memastikan bahwa pintu itu terkunci, namun sebuah ketukan membuatnya membuka pintu itu perlahan.
"Chan-Chanyeol?" Baekhyun terkejut mendapati Chanyeol berdiri di depannya dengan wajah agak pucat, Chanyeol tersenyum lalu memeluk Baekhyun.
"Dimana Luhan dan Sehun?" tanya Baekhyun bingung.
"Sehun bersama Luhan, sesuatu terjadi dan aku membiarkan Luhan menjaganya. Uhuk." Chanyeol terbatuk. Baekhyun membawa tubuh Chanyeol masuk dan sedikit heran melihat cara berjalan Chanyeol yang nampak linglung.
"Chanyeol kau baik-baik saja?" tanya Baekhyun dan Chanyeol mengangguk.
"Aku hanya lelah harus mencarinya, aku ingin segera tidur." Dan Baekhyun mengangguk. Ia mengikuti Chanyeol yang menaikki tangga, lalu menutup pintu kamar ketika Chanyeol telah berbaring diatas ranjang dengan mata tertutup.
"Chanyeol, apa yang terjadi?" bisik Baekhyun ketika menduduki ranjang. Chanyeol menoleh dan tersenyum kecil namun tersirat sebuah rasa letih yang besar.
"Bisakah aku bercerita besok, aku uhuk.. aku hanya terlalu lelah." Baekhyun mengangguk, ia mematikan lampu dan masuk ke dalam selimut. Lalu mendekatkan tubuhnya pada Chanyeol dan memeluknya erat.
"Kau tidak perlu cemas, Sehun sudah aman. Luhan akan menjaganya." Ucap Chanyeol sambil mengelus punggung Baekhyun, seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Baekhyun. Baekhyun hanya mengangguk sebagai jawaban, ia mempercayai Chanyeol dan tidak akan meragukannya.
"Hmm.. bisakah aku mendapat ciuman selamat tidur?" bisik Chanyeol, Baekhyun tersenyum kecil lalu bangkit, ia mengecup bibir Chanyeol lama membuat Chanyeol terkekeh. Mereka kembali berbaring dengan Baekhyun yang bersandar pada dada Chanyeol dan memeluknya erat.
"Aku tidak akan membiarkan kebahagiaanmu hilang Baek, aku berjanji." Bisik Chanyeol disela tidur mereka.
…
..
.
Jongin mengerjapkan matanya perlahan, ketika bias cahaya mengenai matanya. Ia membuka matanya perlahan dan mencoba meneliti sekitar ketika kesadarannya terkumpul.
"Jongin?" suara itu membuat Jongin menoleh pelan dan ia tersenyum lega melihat Kyungsoo disampingnya. Ia mencoba mengingat semua yang terjadi dan kepalanya malah terasa sakit.
"Aku senang kau sadar." Ucap Kyungsoo pelan. Jongin mengangguk lalu menjulurkan satu tangannya kearah Kyungsoo, seolah mengerti Kyungsoo segera memeluk Jongin dengan perasaan senang.
"Hmmm.. tunggu! Dimana kita?" tanya Jongin saat menyadari langit-langit kamar yang begitu tinggi.
" Di kamarku." Ucap Kyungsoo. Jongin mengernyit, bukankah apartemen mereka sama seharusnya ukuran kamar mereka juga sama, tapi milik Kyungsoo sangat besar seperti sebuah istana.
"Aku tidak tahu kamarmu sebesar ini." Gumam Jongin sambil menatap Kyungsoo.
"Hm, seharusnya kau tidak boleh tahu, tapi aku tidak memiliki pilihan lain. Aku harus meminta bantuan mereka untuk menyembuhkanmu."
"Mereka? Menyembuhkanku? Apa yang terjadi_" ucapan Jongin terhenti ketika ia mulai mengingat kejadian semalam, dimana Kyungsoo nyaris diperkosa oleh Cheondong.
"Kau terluka, Cheondong menusukan pecahan botol kepunggungmu. Maafkan aku Jongin, ini salahku." Kyungsoo menundukan wajahnya. Jongin mengernyit karena tidak mengingat bagian itu, lalu ia meraba tubuhnya dan ternyata ia sedang bertelanjang dada, namun ia tidak menemukan luka apapun dan tidak merasakan sakit.
"Tapi aku tidak terluka sama sekali."
"Mereka telah menyembuhkanmu."
"Mereka?"
Kyungsoo mengedikkan dagunya kearah jendela, ketika Jongin hendak menoleh Kyungsoo menahan wajahnya.
"Tapi kau berjanji tidak akan marah? Tidak akan menjauhiku? Tidak akan menyakiti mereka? Dan tidak akan mengatakan pada oranglain?" Jongin yang kebingungan hanya menganggukan kepalanya cepat.
Kyungsoo melepaskan tangannya dan Jongin menolehkan kepalanya , mulutnya menganga melihat hamparan taman bunga yang luas dari jendela. Ia bahkan tidak yakin jika ia sedang berada di Korea, dan yang lebih membuatnya terkejut adalah makhluk-makhluk yang malu-malu muncul dari balik bingkai jendela.
"A-apa itu?"
"Peri bunga. Mereka yang menolongmu."
"Pe-peri bunga? Kyungsoo!" Jongin menoleh kearah Kyungsoo.
"Tampar aku dengan keras! Aku yakin ini hanya mimpi." Kyungsoo mengernyit.
"Tapi kenapa_"
"Tolong tampar aku!"
PLAK
Wajah Jongin menghadap kesamping dengan pipi yang berdenyut nyeri, Kyungsoo tidak main-main dengan tamparannya. Walau tangannya halus, tapi tamparannya cukup keras.
"Maaf."
Jongin membulatkan matanya sambil memegang pipinya,tamparan Kyungsoo membuat Jongin tersadar bahwa ia tidak sedang bermimpi.
"Kyung-Kyungsoo dimana aku?"
"Nubes."
"Nub..apa?" Jongin bertanya sambil masih menatap peri-peri bunga yang berterbangan disekitar kamar dengan sorot waspada.
"Nubes." Ucap Kyungsoo.
"Apa aku melupakan nama daerah itu saat belajar peta Korea?" gumam Jongin dan Kyungsoo menggeleng pelan.
"Ini bukan di Korea Jongin. Ini diatas langit." Jongin menoleh dengan mata terbelalak kearah Kyungsoo.
"Langit? Apa aku sudah mati?" Kyungsoo terkikik melihat reaksi Jongin dan ia menggeleng pelan.
"Tidak, kau masih hidup."
"La-lalu kenapa aku bisa ada dilangit, kenapa kau bisa ada dilangit?"
"Pengeran, sepertinya dia hilang ingatan." Ucap salah satu peri bunga, Kyungsoo tersenyum lalu menggeleng.
"Pangeran, mungkin dia syok atau mungkin dia gila." Jongin mengenyit mendengar makhluk aneh di depannya mengatainya gila.
"Tidak, dia tidak gila. Dia hanya tidak tahu siapa aku sebenarnya."
"Jadi Pangeran belum memberitahunya? Lalu kenapa pangeran membawanya kesini, Kita bisa_"
"Sssst.. aku percaya kalian tidak akan mengatakan ini pada Raja Langit." Ucap Kyungsoo pelan dan peri-peri itu mengangguk paham.
"Baiklah! Mungkin mereka benar, mungkin aku gila. Jika ini hanya halusinasi, bisakah kau membantuku untuk kembali ke kenyataan?" gumam Jongin . Kyungsoo bangkit dan berdiri di depan Jongin.
"Aku akan memberitahumu, tapi berjanjilah bahwa kau tidak akan mengatakan ini pada siapapun, aku percaya padamu Jongin." Jongin hanya tersenyum kikuk, tidak tahu harus menjawab apa. Jongin yakin semua hanyalah hasil dari halusinasinya, atau mungkin memang mimpinya.
Kyungsoo menutup matanya dan dalam sekejap ia telah berubah menjadi wujud malaikatnya. Jongin menganga melihat jubah putih, kristal di dahi Kyungsoo dan ketika mata itu terbuka Jongin dapat melihat sebuah kilau kebiruan bak langit di bola mata Kyungsoo.
"Ka-kau bidadari?" Kyungsoo terkekeh lalu menggeleng.
"Bidadari berada 7 tingkat dibawah malaikat, dan aku berada 7 tingkat diatas bidadari."
"Ja-jadi kau?"
"Ya, aku seorang malaikat Jongin." Jongin menutup mulut dengan kedua tangannya, ia menatap dengan bola mata yang nyaris keluar.
"Mungkin seseorang menyuntikan obat yang membuatku berhalusinasi. Aku yakin sekarang aku sedang terbaring dirumah sakit dengan selang infus ditanganku, mungkin aku sedang koma. Yang perlu aku lakukan hanya berbaring." Jongin membaringkan tubuhnya pelan, melipat kedua tangannya di depan dada, dan menutup matanya.
"Ya berbaring." Gumamnya pelan. Ketika ia merasa sesuatu memperhatikannya, ia membuka matanya dan terkejut melihat wajah Kyungsoo berada sangat dekat dengannya. Jongin bangkit, lalu beringsut mundur hingga punggungnya menabrak kepala ranjang, dan ia kembali dikejutkan dengan sayap putih dibalik punggung Kyungsoo.
"Apa…apa kau membenciku hingga kau menjauh seperti itu?" gumam Kyungsoo pelan yang kini terduduk diatas ranjang. Peri-peri bunga mendekat kearah Kyungsoo dan menempelkan diri mereka dengan perasaan sedih, tapi kemudian mata mereka menatap tajam kearah Jongin membuat Jongin tersentak.
"Apa… apa aku membuatmu takut? Apa wujud ini mengerikan?" Jongin menatap wajah bersedih Kyungsoo.
"Aku pikir kau akan senang karena tahu aku adalah malaikat, makhluk yang lebih tinggi dari bidadari seperti yang kau tebak."
"I-..itu."
"Apa.. apa jika aku menjadi bidadari kau lebih bisa menerimanya?" Jongin segera menggeleng, ia mendekati Kyungsoo dan memegang pundaknya pelan. Kain putih itu terasa sangat halus dipermukaan tangan Jongin. Ia menatap Kyungsoo membuat sosok yang lebih kecil menatap wajah Jongin.
"Tapi Jongin aku tidak bisa menjadi bidadari, kami dua jenis makhluk ciptaan Tuhan yang berbeda. Aku_"
"Kyungsoo? A..aku tidak bermaksud mengatakan itu. Aku tidak membencimu, aku hanya terkejut. Aku pikir ini mimpi, aku tidak menyangka jika kau makhluk langit."
"Benarkah? Kau tidak membenciku?" tanya Kyungsoo dan Jongin menggeleng pelan.
"Aku tidak akan pernah bisa untuk membencimu Kyungsoo, tapi.. tapi aku masih merasa bahwa ini mimpi. Ini terlalu mustahil, jika di dunia nyata aku masih terbaring koma, aku tidak masalah terjebak disini untuk waktu yang lama."
"Tidak Jongin, kau tidak sedang koma. Kau nyata, aku nyata kita di dunia nyata, hanya saja kita tidak sedang berada di bumi." Jongin menghela nafas, lalu mengangguk pelan namun ia masih merasa jika dirinya sedang bermimpi.
Seorang peri bunga terbang dan membisikan sesuatu ditelinga Kyungsoo membuat Jongin mengernyit heran, ia semakin yakin jika dirinya sedang bermimpi ketika melihat makhluk aneh yang melayang disekitar ruangan dan menatap tajam kearahnya.
Kyungsoo mengangguk dan peri bunga itu kembali terbang ke arah teman-temannya.
"Kyungsoo, ini_" ucapan Jongin tertahan dan matanya membulat, Kyungsoo mencium bibirnya dan ia dapat merasakan betapa hangat dan lembut bibir itu. Jongin pernah bermimpi basah dengan menjadikan Maria Ozawa sebagai pemeran utamanya. Itu terasa nyata, namun ada sesuatu yang seolah hilang, hingga Jongin sadar jika mimpi basahnya hanyalah sebuah mimpi, namun ia tetap melanjutkan hingga adegan akhir.
Namun kali ini berbeda, rasa hangat dan lembut bibir Kyungsoo terasa sangat nyata dan tentu sama seperti ketika pertama kali mereka berciuman. Jongin mulai berpikir jika obat yang diberikan untuknya dalam dosis tinggi, sehingga membuat halusinanya lebih nyata.
Jadi Jongin menutup matanya, ia meletakkan jemarinya dipinggang Kyungsoo, mendorong lidahnya lebih dalam, karena ia yakin ini mimpi maka ia tidak merasa bersalah untuk membuat adegan romantisnya dengan Kyungsoo yang polos menjadi lebih panas.
Kyungsoo mengernyit ketika bibirnya digigit oleh Jongin, ia pikir Jongin ingin mengakhiri ciumannya, namun ketika merasakan tengkuk dan pinggangnya ditekan Kyungsoo tidak menjauhkan tubuhnya.
Jongin menarik bibir bawah Kyungsoo ketika bibir itu sedikit terbuka, melesakkan lidahnya dalam, mencari lidah Kyungsoo untuk diajak bertarung. Peri-peri bunga membulatkan mata mereka lalu bergegas keluar, mereka tidak diciptakan untuk menonton adegan panas antara pangeran mahkota mereka dengan seorang manusia yang aneh.
Jongin semakin memperdalam ciumannya, kedua kakinya terbuka dan menarik Kyungsoo kedalam dekapannya, bibir mereka masih bertautan dan kini jemari Jongin bergerak menuruni kain sutra itu, lalu meremas pantat Kyungsoo.
Ciuman Jongin semakin menuntut dan kini ia membalik tubuhnya membuat tubuh keduanya berbaring diatas ranjang.
"Jongin?" suara Kyungsoo terdengar serak membuat libido Jongin meningkat, ia menatap wajah cantik Kyungsoo dengan sebuah senyuman. Lalu kembali menyerang bibir bengkak Kyungsoo dan kemudian mencium leher putihnya. Tangan Jongin masih bergerak disekitar tubuh yang lebih kecil, ketika akan memasukan jemarinya ke dalam pakaian Kyungsoo, Jongin mengernyit karena tidak menemukan ujung dari pakaian lelaki dibawahnya.
Ia mengeluh pelan , seharusnya ia memimpikan Kyungsoo dengan hanya mengenakan pakaian dalam bukan jubah panjang seperti tokoh-tokoh kerajaan atau bila perlu sekalian Kyungsoo yang telah telanjang bulat, sehingga ia tidak perlu waktu untuk melepaskan pakaiannya.
"Jongin? Apa yang kau lakukan?" tanya Kyungsoo ketika Jongin sibuk menarik jubahnya dan mencoba menyingkapnya keatas.
"Melakukan apa yang seharusnya aku lakukan, tapi ini sulit. Tidak bisakah kau telanjang Kyungsoo?" Kyungsoo terdiam dengan pipi yang bersemu merah.
"A..aku tidak mungkin telanjang di dalam kerajaan." Ucap Kyungsoo dengan wajah tertunduk.
"Tapi ini menyulitkanku. Aku bahkan tidak pernah memiliki fantasi seks untuk bermain peran Pangeran dengan tema kerajaan. Tapi kenapa ini bisa terjadi?" ucapnya sambil mengangkat-ngangkat jubah berlapis Kyungsoo dan mencoba mencari celah yang tepat.
"Fantasi seks? Apa itu?" Jongin mengernyit dan menatap Kyungsoo.
"Bahkan di dalam mimpiku kau tetap polos Kyungsoo, aku semakin mencintaimu." Jongin kembali menindih Kyungsoo dan mencium bibir itu penuh nafsu. Menahan kedua tangan Kyungsoo dikepalanya.
"Kyung_ BAJINGAN!" Luhan yang tiba-tiba muncul di dalam kamar terkejut melihat seseorang bertelanjang dada sedang menindih adik bungsunya. Ia menarik tubuh Jongin dan memberikan sebuah pukulan keras di wajah Jongin.
"Beraninya kau menyentuh adik_ kau?" Luhan mengernyit melihat wajah Jongin, ia kenal lelaki ini. Lelaki yang bertindak kasar pada adiknya di pusat perbelanjaan.
Jongin menatap Luhan heran sambil memegang pipinya yang berdenyut sakit.
"Bahkan kakaknya pun muncul di dalam mimpiku? Dan apa-apaan kostum itu?" gumam Jongin sambil memperhatikan sosok Luhan.
"Apa ini berarti aku akan melakukan threesome?" gumamnya masih sambil menatap Luhan heran, membuat Luhan geram lalu terbang mendekat kearah Jongin dan mencekik lehernya.
"EEEKKHH… EEEEKKHHH.." Jongin meronta ketika Luhan mencekik lehernya dan mengangkat tubuhnya tinggi. Cekikan Luhan sangat keras karena ia sangat tidak meyukai sosok Jongin, seandainya kekuatannya tidak dilenyapkan saat berada di Nubes, mungkin sekarang dia sudah menggunakannya untuk melenyapkan sosok Jongin.
"Luhan hyung! Jangan! Dia bisa mati."
"Bajingan ini pantas mati."
"EKKKHH…EEEHHKKHH." Jongin memukul-mukul tangan Luhan dan kakinya yang melayang meronta-ronta menendang udara bebas. Ia tidak tahu jika di dalam mimpi pun cekikan terasa sangat sakit, ia bahkan nyaris kehilangan nafasnya.
"Luhan! Hentikan!" bentakan itu membuat Luhan melepaskan cekikannya hingga Jongin terjatuh dilantai, ia terengah sambil memegang lehernya yang seperti patah. Kyungsoo mendekat dan menolong Jongin.
Taemin berdiri disana dengan alis bertautan, ia menatap sosok asing di depannya. Luhan terbang dan berdiri disamping Taemin, ikut menatap kearah Kyungsoo dan Jongin yang berada diatas ranjang.
"Kyungsoo, bisa kau jelaskan pada ibu?" Jongin menoleh bersamaan dengan Kyungsoo yang membulatkan matanya melihat sosok lain dengan wajah rupawan berada di hadapannya. Jongin tidak tahu seperti apa bentuk mimpi yang sedang ia alami, apa sekarang ia diminta untuk melakukan Foursome atau semacamnya? Jongin menggeleng pelan, ia tidak mungkin bisa melakukan itu ketika nafasnya nyaris habis.
Kyungsoo menundukan wajahnya, sementara Jongin masih memegangi lehernya, mengecek keberadaan tulang lehernya yang ia harapkan masih utuh.
"Kau!" Jongin mengangkat wajahnya ketika Taemin mendekat dan menatap kearahnya. Lelaki tan itu menelan ludahnya saat melihat sosok Taemin di hadapannya. Sungguh cantik tanpa cela sedikitpun, sama seperti dua orang lainnya di ruangan tersebut.
"Kyungsoo?" Wajah Taemin teralihkan pada putranya yang hanya bisa menunduk.
"Ma-maafkan aku ibu." Ucap Kyungsoo dengan suara lemah, Jongin menoleh dengan gerakan pelan kearah lelaki mungil disampingnya. Ibu? Jongin membulatkan matanya tidak percaya sambil kembali menatap Taemin.
"Jong-jongin nyaris mati. A-aku tidak tahu harus melakukan apa, dia berusaha menolongku dan aku pikir aku harus membalas kebaikannya." Taemin menghela nafas, lalu melirik kearah Jongin yang nampak terkejut.
"Tapi. Kau harus ingat, manusia tidak diizinkan disini, dan manusia tidak diizinkan untuk mengetahui identitas kita." Ucap Taemin dengan suara lembut, Kyungsoo mengangguk pelan.
"Sudah bu, hapus saja ingatannya." Ucap Luhan yang mendekat dan berdiri dibelakang Taemin. Taemin terdiam dengan wajah berpikir, namun Kyungsoo segera mendongak dan menahan tangan ibunya.
"Tidak bu, jangan! Jongin akan melupakanku jika ibu menghapus ingatannya." Ucap Kyungsoo dengan suara memelas. Taemin menghela nafas lagi, ia merasa lelah dengan semua hal yang sedang ia hadapi.
"Sudah bu, hapus saja! Itu lebih baik untuk Kyungsoo karena lelaki ini menyebalkan." Gerutu Luhan sambil menatap nyalang Jongin. Jongin menggeleng cepat, ia merasa benar-benar tertekan.
Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil merangkak diatas ranjang dan berbaring.
"Yang harus aku lakukan hanya tidur, maka semuanya akan kembali. Benar, aku hanya perlu menutup mata dan_" Jongin menoleh kearah tiga orang yang menatap kearahnya lalu ia kembali menggeleng dan menegakkan posisi tidurnya.
"Aku hanya harus tidur, ini hanya fantasi, ini tidak nyata, ini hanya fantasi. Ya benar Jongin, ini hanya fantasi, kau yang asli pasti sedang berbaring diatas ranjang rumah sakit, dengan para perawat cantik yang mengecek IV mu dan mungkin Kyungsoo yang duduk disampingku sambil memegang tanganku. Benar, Kyungsoo pasti ada disampingku saat ini, aku hanya perlu tidur, tidur." Gerutu Jongin seorang diri namun masih dapat didengar oleh tiga orang lainnya.
Luhan menatap Jongin dengan kernyitan aneh, sementara Kyungsoo tersenyum kecil mendengar namanya disebut dan hal itu ditangkap oleh Taemin.
"Lihat! Dia bahkan sudah gila!" ucap Luhan memanasi suasana. Taemin menoleh kearah Luhan sebentar, lalu ia menghela nafas.
"Kita kembali Luhan! Kyungsoo sepertinya sedang sibuk." Ucap Taemin, Luhan melotot tidak terima, ia menunjuk-nunjuk Jongin sambil menatap ibunya yang mulai membalikan badan.
"Kyungsoo, kau bisa membiarkannya disini hingga dia sembuh total_"
"Pastikan otaknya tidak bertambah gila!" Potong Luhan membuat Taemin menghela nafas lelah. Lalu kedua lelaki cantik itu menghilang.
…
..
.
Sejak kembalinya dari Nubes, Luhan selalu menemani Sehun yang masih terbaring lemah diatas ranjangnya. Tubuh Sehun telah tumbuh menjadi semakin panjang , ia tidak lagi terlihat seperti bocah berusia 15 tahun, kini ia lebih terlihat seperti lelaki berusia hampir 20 tahun.
Tidak hanya tubuhnya, bentuk wajahnya dan juga beberapa organ tubuhnya terbentuk dengan sangat rapi. Luhan menatap Sehun dengan perihatin, tidak tahu berapa lama lagi Sehun akan berbaring seperti sekarang, tidak tahu bagaimana harus menjelaskan pada Sehun tentang dirinya yang sebenarnya dan perubahan fisik Sehun nantinya.
Luhan tidak tahu jika Lonya sungguh memberikan banyak efek pada Sehun, walau sudah dikeluarkan oleh Chanyeol namun masih memiliki efek, yaitu tubuh Sehun akan berkembang 2 kali lebih cepat dalam waktu singkat daripada tubuhnya yang dulu.
Dan dalam semalam tubuhnya telah berubah menjadi lelaki berusia 20 tahun. Ibunya bilang jika hal itu tidak wajar, meski berkembang dalam waktu singkat seharusnya tubuh Sehun seukuran anak 17 atau 18 tahunan dengan usia aslinya sekitar 7 atau 8 tahun. Tapi tidak ada yang mengerti dengan perkembangan tubuh Sehun, Luhan hanya berharap bahwa Sehun memiliki darah iblis yang kental sehingga saat tiba diusia 25 tahun perkembangannya akan berhenti, tapi bila darah manusianya lebih dominan maka Sehun akan menjemput ajalnya lebih cepat pula.
Luhan menatap Sehun sambil sesekali mengelus kening berkeringat Sehun, namun tubuhnya sedingin es. Tidak ada yang tahu mengapa hal ini bisa terjadi, bahkan seluruh tabib diistana dan seluruh malaikat terhebat tidak ada yang mengetahui penjelasan pasti tentang kondisi Sehun.
"Sehun, maafkan aku." Luhan berucap pelan di telinga kiri Sehun dan mengelus punggung tangannya.
"Di-dingin~ I-ibu~" suara lirih Sehun terdengar dari bibirnya yang pucat pasi. Luhan menutup matanya, menyalurkan kehangatan melalui sentuhan mereka namun semua terasa sia-sia.
"I-Ibu~" kembali hati Luhan seperti teriris mendengar Sehun mengigau memanggil ibunya, entah yang dimaksud Sehun adalah Kibum atau Baekhyun.
"Iya sayang, aku disini." Ucap Luhan sambil mengelus pipi dingin Sehun dan menutup matanya yang terasa memanas karena air matanya nyaris keluar.
…
..
.
Yifan mengerjap beberapa kali dan baru menyadari jika ia tertidur bukan di dalam kamarnya. Ia menyesuaikan pandangannya dan saat mendengar suara benda berdenting ia mempertajam pendengarannya dan dengan segera mengenakan kaca matanya.
Ia berjalan pelan kearah sumber suara dan menemukan Kibum disana. Yifan berdeham membuat Kibum yang sedang menyeduh teh menoleh.
"Oh, kau sudah bangun? Mau secangkir teh?" tanya Kibum, Yifan tersenyum canggung dan mengangguk. Kibum memintanya untuk duduk di depan meja dapur sementara ia dengan balutan pakaian kerjanya sibuk meracik secangkir teh hijau untuk tamu paginya.
"Hm, a-apa ya-yang lain su-sudah kem-kembali?" tanya Yifan pelan, Kibum meletakan secangkir teh dihadapan Yifan dan menggeleng pelan sebelum mengambil duduk berhadapan dengan sosok tamunya.
"Belum, aku telah memeriksa kamar Sehun dan tidak menemukannya disana, tapi aku melihat Chanyeol dikamar Baekhyun, mungkin Sehun bersama Luhan atau Kyungsoo. Aku akan bertanya pada mereka setelah bangun, dan kemungkinan akan menelpon polisi jika ternyata Sehun belum kembali." Ucapnya.
"Chan-Chanyeol sudah ke-kembali?" Kibum mengangguk sambil meminum tehnya dan memeriksa jam tangannya.
"Yifan, aku minta maaf. Aku harus bekerja dan jika kau lapar kau bisa membuat apapun yang kau mau. Ini masih terlalu pagi untuk mereka bangun, tapi jika waktu sekolah kalian sudah tiba, aku minta tolong untuk membangunkan mereka." Yifan mengangguk pelan sambil meraih cangkir tehnya, sementara Kibum meraih tasnya dan segera undur diri.
Yifan menggenggam cangkirnya sambil sesekali menggosok-gosoknya. Ia mengerutkan keningnya dalam, entah apa yang sedang ia pikirkan.
…
..
.
Chanyeol kembali terbatuk dalam tidurnya, membuat Baekhyun yang memeluk dadanya erat terbangun. Baekhyun segera bangkit dan menatap Chanyeol cemas. Ia mengusap dada Chanyeol sambil berusaha membangunkan kekasihnya.
"Kau ingin air?" tanya Baekhyun, tapi Chanyeol menggeleng sambil terbatuk. Baekhyun merasa semakin cemas, setelah beberapa lama mengenal Chanyeol ia tidak pernah sekalipun mendapati Chanyeol dalam keadaan lemah seperti ini.
"Chanyeol?" panggil Baekhyun pelan , ia menatap Chanyeol yang masih terbatuk. Chanyeol menekan dadanya dan mengumpat dalam hati. Sesuatu seperti mendesak dari dalam dadanya, membuatnya ingin memuntahkan sesuatu karena rasa sesak dan terbakar di dalam tenggorokannya.
Chanyeol yang kini tengah bersandar pada kepala ranjang, menoleh dan segera mendekap Baekhyun ke dalam pelukannya, berusaha menenangkan kecemasan Baekhyun yang dapat ia rasakan.
"Kau baik…baik..saja?" suara Baekhyun terdengar bergetar. Chanyeol mengangguk sambil memeluk Baekhyun semakin erat, tidak ingin mengeluarkan banyak suara karena dadanya terasa begitu sesak.
Tok
Tok
Tok
Baekhyun menoleh dan segera bangkit menuju pintu. Ia membulatkan matanya ketika melihat sosok Yifan di depan pintu yang menunduk dan mengangkat wajahnya ketika Baekhyun bertanya.
"I-ini sudah waktunya se-sekolah. A-aku i-ingin pa-pamit dan se-sekalian mem-membangunkanmu." Ucap Yifan yang kini menatap Baekhyun dan sesekali mencoba melihat ke dalam kamar Baekhyun namun Baekhyun mempersempit celah diantara pintu dan tubuhnya, tidak ingin Yifan melihat ke dalam kamarnya.
"Oh terima kasih Yifan, maaf aku tidak melayanimu dengan baik dan terima kasih untuk semuanya." Yifan mengangguk dan menggaruk belakang kepalanya.
"Ba-bagaimana dengan Se-sehun?"
"Dia aman bersama Luhan. Tidak usah cemas!"
"A-apa Chan-chanyeol di di da-dalam?" Baekhyun mengangguk pelan . Yifan terdiam sebelum akhirnya suara batuk Chanyeol membuat Baekhyun menoleh dan dengan sopan Yifan meminta izin untuk pulang. Baekhyun mengangguk pelan dan membiarkan sosok tinggi itu berjalan pelan menuruni anak tangga.
Baekhyun segera memasuki kamar, tidak berniat untuk mengantarkan Yifan karena ia sangat mencemaskan Chanyeol. Dengan cepat Baekhyun menghampiri Chanyeol yang masih terbatuk.
"Chanyeol? Apa kau ingin aku buatkan sesuatu?" Chanyeol menggeleng pelan sambil memegang dadanya.
"Mandi dan berkemaslah! Sebentar lagi kelas pertama akan dimulai." Baekhyun mengangguk dan segera bergegas ke dalam kamar mandi. Chanyeol memperbaiki posisi duduknya dan segera mengambil jaketnya untuk ia kenakan.
Tak lama Baekhyun keluar dengan seragam yang masih belum rapi, ia memperhatikan Chanyeol yang mencoba bangkit dari atas ranjang.
"Setelah ini kita ke apartemenmu?" Chanyeol menggeleng.
"Aku akan mengantarkanmu terlebih dahulu, aku tidak ingin kau terlambat."
"Tapi_"
"Tidak ada penolakan! Berkemaslah!" ucap Chanyeol lagi dan Baekhyun bergegas untuk mengambil perlengkapan sekolahnya.
Motor Chanyeol melaju dengan cepat, Baekhyun duduk dibelakang sambil memeluk tubuh kekasihnya erat. Entah mengapa ia merasa ada yang berbeda dengan Chanyeol dan melihat bagaimana kondisi lelaki itu membuat Baekhyun semakin khawatir dan curiga.
Mereka tiba di depan gerbang disekolah dan Baekhyun turun dari atas motor. Chanyeol melepaskan helmnya dan menarik tangan Baekhyun dengan lembut.
"Jaga dirimu!" ucap Chanyeol sambil menatap ke dalam mata Baekhyun. Baekhyun mengernyitkan keningnya bingung.
"Jangan menjadi lemah, kau mengerti?"
"Chanyeol, ada apa denganmu? Apa kau tidak akan kembali?" tanya Baekhyun, Chanyeol mengusak rambut kekasihnya sambil tersenyum. Dengan lembut Chanyeol kembali menarik tangan kekasihnya, membuat tubuh keduanya semakin merapat.
"Ada hal yang harus aku selesaikan Baek. Jangan cemaskan aku! Yang perlu kau lakukan hanya belajar dengan baik. Mengerti?"
"Tapi_" Chanyeol menarik dagu Baekhyun dan mempertemukan kedua belah bibir mereka. Chanyeol menutup matanya lebih dulu dan meresapi setiap sentuhan yang ia berikan pada kekasihnya. Merasa menjadi pusat perhatian dari beberapa siswa yang hendak memasuki sekolah, Baekhyun mendorong dada Chanyeol pelan.
"Aku mengerti! Jaga dirimu mengerti? Dan…apa…hhmm..apa kita bisa bertemu nanti?" tanya Baekhyun pelan, Chanyeol terkekeh lalu menyentuh pipi Baekhyun.
"Tentu. Aku akan menjemputmu sepulang sekolah, disini!" ucap Chanyeol dan Baekhyun hanya mengangguk.
…
..
.
Taemin duduk di dalam ruangannya dengan raut wajah kebingungan, ia sedang memikirkan banyak hal yang kemungkinan akan terjadi, dan juga kemungkinan besar bahwa hal itu adalah sesuatu yang buruk.
Ia baru saja selesai menemui ayahnya dan memohon untuk mencarikan jalan keluar bagi Sehun. Cucunya tidak sadarkan diri sejak semalam dan Taemin merasa khawatir, meskipun Luhan ada disana untuk selalu menjaganya penuh namun rasa khawatir Taemin tidaklah lenyap, ia masih memikirkan bagaimana nasib cucu tunggalnya.
Dan dari permintaannya, untungnya sang ayah mau mendengarkannya. Meskipun belum ada jawaban yang pasti tapi setidaknya , permintaannya tidak di tolak mentah-mentah.
"Ibu?" Suara Kyungsoo membuat Taemin menghentikan lamunannnya, ia menoleh dan mendapati putranya berdiri di depan kamarnya yang sedikit terbuka, mengintip dari balik pintu kayu raksasa itu.
"Masuklah!"
"Ibu ada yang ingin aku bicarakan. Jongin terlihat aneh, dia terus menggumamkan kata-kata aneh, dan sepertinya dia tidak menerima kenyataan bahwa aku seorang malaikat." Ucap Kyungsoo pelan, Taemin tersenyum dan mengelus surai hitam anaknya ketika mendekat.
"Tidak semua bisa menerima kenyataan itu apalagi mereka adalah manusia, makhluk yang hanya mempercayai hal-hal yang tampak nyata." Taemin tersenyum lagi dan Kyungsoo hanya menampakan ekspresi bingung.
"Jadi hanya ada satu hal yang harus kau lakukan." Seolah mengerti, Taemin segera melanjutkan ucapannya.
"Hapus ingatannya." Dan Kyungsoo mengangkat kedua alisnya dengan ekspresi terkejut.
…
..
.
Chanyeol memasuki kamar utama dimana tubuh Sehun terbaring lemas dan Luhan yang duduk disampingnya sambil memegang tangan lelaki putih pucat itu dengan erat.
Chanyeol berdiri cukup jauh dari ranjang dan menatap kearah tubuh Sehun dengan raut wajah serius, bahkan rahangnya pun mengeras. Luhan mengecup punggung tangan Sehun dan sesekali mengelus surai lelaki itu dengan sayang, seolah ia telah kehilangan sebagian dari tujuan hidupnya.
"Kau akan kemana?" tanya Luhan tanpa menoleh ketika menangkap bayangan Chanyeol yang akan meninggalkan ruangan. Chanyeol menghentikan langkahnya dan berbicara melalui perpotongan pundaknya.
"Aku tidak bisa tinggal diam." Ucapnya lalu segera menghilang.
Kakek Iblis sedang duduk diatas kursi kesayangannya sambil memejamkan mata menikmati alunan lagu mengerikan yang menggema dari setiap sudut Infernus ketika Chanyeol tiba-tiba muncul dan membuat kegiatannya terganggu.
"Aku perlu bicara." Ucap Chanyeol tegas. Kakek Iblis membuka matanya dan menyeringai, lalu menjentikan jemarinya dan suara-suara jeritan itu lenyap seolah ruangan itu menjadi kedap.
"Tentang?"
"Sehun." Jawab Chanyeol cepat. Pria yang paling tua menurunkan kakinya yang semula ia letakkan diatas meja, lalu menjalin jemarinya dan berpangku tangan diatas meja.
"Apa yang kau inginkan untuknya?"
"Kembalikan keadaan Sehun seperti semula!"
"Kau pikir aku adalah Sang Pencipta? Ingat! Aku hanya seorang Raja Iblis… mantan lebih tepatnya." Sang Kakek bangkit dan berjalan pelan menuju meja kayu disudut ruangan dan menuangkan air hangat ke dalam dua buah cangkir hitamnya.
"Aku tahu ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh Raja Iblis selain hanya mengurusi jiwa-jiwa kotor yang mati. Terlebih kau adalah 'mantan'" Ucap Chanyeol dengan wajah serius sambil memperhatikan kegiatan kakeknya yang kini nampak berhenti untuk mengaduk minuman di dalam cangkirnya.
"Hm… Untuk seorang 'calon' kau cukup pandai juga." Sang Kakek menyeringai sambil membawa dua buah cangkir kearah meja di depan Chanyeol , meminta yang lebih muda untuk duduk dan meminum apa yang telah ia sajikan. Chanyeol mendengus sambil mendudukan tubuhnya diatas sofa hitam milik Kakeknya.
"Jadi? Apa yang kau pikir bisa aku lakukan?" tanya Kakek Iblis sambil menyeringai,menjalin jemarinya dan menyimpannya diatas perut.
"Aku tidak tahu, tapi yang jelas sesuatu yang bisa membantu Sehun."
"Seberapa pentingnya dia untukmu? Dia hanya sebuah kehidupan yang terlahir karena kesalahan bukan? Lalu kenapa tidak kau biarkan kesalahan itu lenyap?" Chanyeol terdiam sambil menatap kakeknya datar.
"Tidak_"
"Tidak, karena kau mulai mencintai mereka?" Chanyeol kembali bungkam dan sang Kakek hanya berdecih.
"Kau tidak menyangkal, berarti ucapanku benar."
"Aku_"
"Kau ingin mengatakan bahwa kau tidak mencintai mereka, tapi hanya berusaha menjalankan perintah atau hanya berusaha untuk menebus kesalahan bukan? Biar aku beritahu! Itu adalah alasan terbodoh yang pernah aku dengar." Chanyeol melipat bibirnya, ucapannya seolah tertelan dan bahkan ia tidak bisa untuk menyangkal, bukan karena tidak bernyali tapi karena ucapan Kakeknya adalah benar.
"Dan seorang iblis tidak memiliki rasa penyesalan." Ucap Sang Kakek lalu meminum minumannya dengan pelan.
"Jadi, kau masih ingin menolong bocah yang ketika ia sadar ia akan mencoba untuk membunuhmu?" Chanyeol mengangkat wajahnya terkejut dan Sang Kakek hanya tersenyum manis.
"Aku memang terlihat seperti tidak mengetahui apa-apa, tapi ingat telinga dan mataku ada diseluruh penjuru tempat ini." Chanyeol bangkit dengan cepat dan menatap nyalang kearah kakeknya.
"Aku tidak butuh semua omong kosongmu! Aku hanya ingin setidaknya , walaupun kau seorang iblis tapi kau masih memiliki hati nurani. Terlebih kau adalah kakek buyutnya." Ucap Chanyeol sambil hendak berbalik, namun dentingan dari cangkir kakeknya dan ucapannya membuat Chanyeol terhenti.
"Pertama aku tidak pernah menganggapnya sebagai buyutku karena kau pun tidak pernah menganggapnya sebagai anak. Kedua aku tidak pernah berkata bahwa aku tidak akan memberikan apa yang kau inginkan. Apa itu jelas?"
"Jadi, apa_"
"Tapi aku juga tidak berkata akan memberikan pertolongan." Chanyeol mendengus dengan penuh emosi dan tangannya terkepal erat.
"Bicara denganmu hanya membuang waktuku." Ucap Chanyeol tegas lalu meninggalkan ruangan.
"Zhora." Chanyeol menghentikan langkahnya ketika mendengar suara berbisik kakeknya dan berbalik untuk mendapati Kakeknya tersenyum sambil mengangkat cangkirnya.
"Ramuan terhebat dari seluruh ramuan hebat yang ada." Chanyeol membulatkan matanya, seolah mendapatkan pencerahan, tapi kemudian ucapan Kakeknya mengubah tatapannya.
"Kau hanya bisa mendapatkan atas persetujuan Raja Langit."
Karena berhubungan dengan makhluk langit adalah hal yang paling Chanyeol hindari.
…
..
.
Baekhyun menatap kearah papan tulis tanpa minat, sesekali ia akan menoleh kesamping dimana biasanya Chanyeol duduk sambil menggurutu disetiap mata pelajaran.
Baekhyun menghela nafas berulang kali sambil mencoret-coret buku tulisnya, dan hal itu ditangkap oleh Yifan yang sesekali melirik kearah Baekhyun.
"Ba-Baekhyun. Ma-mau ke-ke kantin?" tanya Yifan yang menghampiri Baekhyun ketika waktu istirahat. Baekhyun mendongak dan menatap wajah gugup Yifan lalu menggeleng pelan.
"A-apa ka-karena ti-tidak a-ada Chan-Chanyeol?" Tanya Yifan lagi dan Baekhyun yang semula sempat tersentak memilih tersenyum.
"Bukan Yifan, aku hanya merasa tidak terlalu lapar. Hmm.. Apa kau lapar?" tanya Baekhyun dan Yifan mengangguk seperti anak kecil, Baekhyun tersenyum .
"Kalau begitu makanlah!"
"Ta-tapi_" Yifan menundukan wajahnya dalam membuat Baekhyun segera mengerti.
"Baiklah, aku akan menemanimu." Ucap Baekhyun lalu menarik tangan Yifan untuk melangkah bersamanya menuju kantin.
Baekhyun mengambil duduk lebih dulu ditempat favoritnya dan Chanyeol yang semenjak kejadian beberapa waktu lalu menjadi tempat yang secara tidak langsung telah dipatenkan oleh Chanyeol.
Yifan datang dengan nampannya dan segera mengambil duduk di depan Baekhyun. Sesekali mereka membicarakan tugas kelompok dan sesekali membuat lelucon yang membuat keduanya tertawa.
Hingga sosok tinggi datang dan merubah segalanya. Rambut Yifan ditarik dengan keras kebelakang lalu dibenturkan diatas nampan makanannya hingga beberapa makanan menempel diwajahnya.
"Hentikan!" bentak Baekhyun ketika Tao akan menenggelamkan kembali wajah Yifan di sup miliknya. Tao melirik Baekhyun lalu melirik sisi kosong disampingnya.
"Wah…wah.. ternyata kau cukup berani juga untuk membentakku disaat kekasih sok kuatmu tidak ada." Baekhyun tidak memperdulikan ucapan Tao, ia hanya tidak ingin lelaki itu melakukan hal-hal keji pada Yifan.
"Aku mohon hentikan! Dia tidak melakukan kesalahan apapun, biarkan dia_"
"Kau pikir dengan ucapanmu akan membuatku berhenti ? Dasar jalang!" Wajah Baekhyun nampak terkejut, ia sudah lama tidak mendengar panggilan itu lagi dan sekarang sosok tak dikenal dihadapannya mengatakan sebutan itu untuknya.
"A-aku_"
"He-hentikan Ta-tao. A-aku mo-mohon!" ucap Yifan membuat Tao melirik kearahnya lalu ia melepaskan cengkramannya pada helaian rambut Yifan dan sedikit mundur.
"Jilat sepatuku maka aku akan berhenti!" ucap Tao. Yifan segera bangkit dan mencoba berlutut membuat Baekhyun melotot dan segera menarik tubuh Yifan.
"Jangan lakukan itu! Kau manusia bukan binatang! Bangun Yifan!"
"Ti-tidak a-apa a-apa Ba-Baekhyun, a-asalkan di-dia tidak meng-menganggumu." Yifan melepaskan tangan Baekhyun dengan pelan lalu membungkuk dan mendekatkan wajahnya kearah sepatu milik Tao yang hanya menyeringai puas.
"Berhenti!" Baekhyun kembali menarik Yifan dengan keras, namun Yifan mengelak hingga tubuh Baekhyun terdorong kebelakang dan sisi dahinya menabrak sudut kursi. Baekhyun meringis sebentar lalu kembali bangkit sebelum menyadari Tao yang berjalan kearahnya, dan dengan cepat menjambak rambut Baekhyun kebelakang dengan keras.
"Aku tidak tahu apa yang kau berikan pada kekasihmu hingga ia mau menerima jalang sepertimu. Kalian berdua adalah sampah yang pernah aku temui, seharusnya kalian berdua lenyap dari dunia daripada mengotorinya dengan kehadiran kalian." Ucap Tao sambil menatap bergantian antara Baekhyun dan Yifan.
…
..
.
Chanyeol berdiri di depan Nubes, sambil mendesah pelan. Ia tidak tahu apa yang membawanya harus kembali mengunjungi tempat yang paling ia hindari itu. Sejak turun kebumi sudah terhitung hampir 3 kali dalam waktu kurang dari sebulan ia datang ke Nubes, padahal biasanya ia tidak pernah datang dalam jangka waktu panjang.
Seperti biasa, kedatangannya pasti akan disambut oleh kegaduhan seluruh penghuni Kerajaan Langit padahal ia datang dengan tangan kosong dan tanpa kekuatan. Ia merasa tidak adil, para malaikat yang datang ke Infernus selalu mendapat penghormatan meskipun tidak besar tapi para Iblis tidak pernah memperlakukan malaikat seperti seorang penjahat, namun berbanding terbalik dengan para malaikat yang menganggap para Iblis sebagai seorang pangacau.
Chanyeol menatap sekelilingnya, dimana para penjaga yang mengepung posisinya dengan berbagai macam senjata ditangan mereka, membuat Chanyeol memutar bola matanya malas.
"Tidakkah kalian merasa lelah melakukan ini setiap kali aku datang? Ingat aku adalah anak dari Putra Mahkota kalian!" ucap Chanyeol kesal.
"Tapi disini kau tetaplah seorang Iblis. Makhluk kegelapan!" Tiba-tiba Yunho muncul dengan wajah angkuhnya membuat Chanyeol menghela nafas lelah menghadapi ucapan-ucapan pedas dari Jendral Malaikat itu.
"Setidaknya api milikku lebih terang daripada cahaya lilin di Istana kalian." Ucap Chanyeol santai, membuat Yunho mengeraskan rahangnya sambil menahan emosi.
"Apa maumu?"
"Bertemu Raja kalian."
"Wow..wow.. wow.. Lihat! Siapa yang bicara?" ucap Yunho yang berjalan mendekati Chanyeol.
"Apa aku perlu memperkenalkan diri? Cepat panggil Raja kalian sebelum aku merusak tempat ini."Yunho menyeringai sambil berjalan mengitari Chanyeol.
"Dengan? Kau lupa kekuatanmu dilenyapkan disini?"
"Kau lupa? Anggota Kerajaan memiliki keistimewaan. Aku hanya perlu mengeluarkan sedikit upaya maka kekuatanku kembali, hanya saja aku tidak ingin merepotkanmu." Ucap Chanyeol sambil tersenyum membuat Yunho semakin kesal.
"Tapi kau belum menjadi seorang Raja."
"Hanya belum bukan berarti tidak bisa. Kau lupa ayahku adalah 'calon' Raja ketika dia merusak Nubes dulu."
"Kau_"
"Ada apa ini?" Seluruh mata menoleh kearah sosok yang berjalan menuruni anak tangga dengan puluhan pengawal dibelakangnya. Dengan segera semua berlutut untuk memberi hormat hanya Chanyeol yang berdiri di tengah-tengah halaman sambil tersenyum manis menatap Kakek Malaikatnya yang nampak mengerutkan dahinya.
"Katakan apa yang kau inginkan?" ucap Raja Malaikat ketika sudah berada di dalam ruangannya bersama Chanyeol yang kini duduk beberapa meter dihadapannya.
"Aku ingin Zhora."
"Apa?" Wajah Raja Malaikat nampak terkejut sementara Chanyeol hanya menapakan raut tidak bersalah.
"Apa kau tahu apa yang sedang kau bicarakan?"
"Tentu. Kakek Iblis memberitahuku dan aku datang kesini untuk memintanya."
"Sepertinya ada hal yang dia lewatkan. Ramuan itu bukan ramuan biasa, ramuan itu_"
"Ramuan terhebat dari segala ramuan hebat yang ada." Potong Chanyeol membuat Raja Malaikat mendengus tidak suka.
"Kakek sudah memberitahuku."
"Dia tidak memberitahu semuanya."
"Seperti?"
"Ramuan itu tidak mudah untuk dibuat, dan sejak ramuan itu tercipta ratusan juta tahun silam kami tidak pernah membuatnya lagi."
"Karena?" tanya Chanyeol.
"Karena ramuan itu sama dengan menyalahi aturan Tuhan."
"Aku tidak meminta sesuatu yang tidak masuk akal, aku hanya meminta setetes ramuan itu untuk seseorang."
"Untuk mendapat setetes perlu proses yang rumit dan tenaga yang besar. Aku tidak bisa."
"Aku mohon, ini bukan untukku ini untuk orang lain." Raja Malaikat menaikkan satu alisnya mencari kebohongan diwajah Chanyeol.
"Tidak. Kami tidak mempercayai Iblis." Raut wajah Chanyeol berubah, ia bangkit sambil menggebrak meja dengan keras.
"Bisakah kau tidak membawa-bawa Iblis dalam setiap pembicaraan? Apa kau pikir aku memilih terlahir sebagai Iblis? Dan apa kau pikir menjadi Malaikat adalah hal paling mulia yang pernah ada?" Raut wajah Raja Malaikat berubah kesal, ia memanggil pengawal dan kemudian belasan pengawal memasuki ruangan termasuk Yunho.
"Bawa dia keluar!" usir Raja Malaikat.
"Heuh! Dimana letak kemuliaanmu Raja-Malaikat? Jika_"
"Bawa dia keluar!" ucap Raja Malaikat dengan tegas. Chanyeol menggeram dan memberontak ketika tubuhnya diseret keluar tanpa perasaan.
"Ingatlah siapa dirimu! Meskipun kau calon Raja , tapi kau hanya seorang Iblis kau tidak pantas berkata seperti itu padaku!" Langkah Chanyeol terhenti, ia menutup mata dengan rahang mengeras dan dalam hitungan detik ia berubah menjadi sosok iblis membuat seluruh pengawal terpental dan Chanyeol melesat terbang kea rah Raja Malaikat untuk mencekik lehernya.
"Aku bicara sopan padamu bukan karena memandangmu sebagai seorang Malaikat, tapi karena kau adalah Kakekku. Ya, kami Iblis tapi bukan berarti kami makhluk menjijikan. Aku hanya memintamu untuk membuatkan Zhora untuk anakku dan kau menghinaku dengan sempurna. Arrgghh" Chanyeol menoleh kebelakang ketika punggungnya ditikam oleh sebuah tombak panjang.
Ia melepaskan cengkramannya dan menatap kearah Yunho yang menyeringai kearahnya, dengan pelan Chanyeol menjangkau ujung tombak itu dan menariknya keluar dari tubuhnya membuat semua mata tercengang. Itu adalah tombak langit milik Yunho yang disembunyikan keberadaan selama ini, senjata pustaka tersakti milik Jendral Perang namun dengan mudah Chanyeol menariknya keluar tanpa beban.
"Heuh! Apa seperti ini cara para malaikat melenyapkan kami? Membunuh secara masal?" Chanyeol melempar tombak itu kelantai lalu terbatuk membuat darah kental mengotori lantai istana.
Selain karena kekuatannya berada pada level terendah , kondisinya yang kurang baik membuat keadaanya semakin memburuk.
"Kepung dia!" perintah Yunho membuat beberapa pengawal melingkari Chanyeol dan beberapa membantu Raja Malaikat untuk duduk.
"Kalian semua …AAARRGHHH" Chanyeol berteriak histeris ketika sebuah jaring terbentang diatas tubuhnya, memerangkapnya seperti binatang buruan. Dan jaring itu menjerat tubuhnya dengan erat yang terasa seperti sesuatu menusuk dan membakarnya secara bersamaan.
Chanyeol bersimpuh dilantai dengan tenaga yang nyaris habis, ia menyeringai dengan mulut dipenuhi oleh darah.
"Aku hanya ingin meminta Zhora untuk Sehun, bukan untuk menyalahgunakannya. Aku datang sebagai ayah dari cucu buyutmu bukan sebagai musuh." Ucap Chanyeol pelan membuat Raja Malaikat terdiam dengan sorot wajah terkejut.
Dan ketika Chanyeol hendak berdiri, Yunho memerintahkan pengawalnya untuk menarik ujung-ujung jaring itu hingga Chanyeol kembali menjerit dan terduduk diatas tanah dengan tubuh semakin melemah.
"CHANYEOOOLL!" Taemin muncul dari balik kerumunan. Menjulurkan tangannya hingga belasan cahaya terlempar kilat untuk memutus jaring-jaring itu dan Taemin melayang rendah dengan cepat untuk menangkap tubuh lemas Chanyeol yang akan membentur tanah.
"Chanyeol?" suara Taemin nampak bergetar, disisa kesadarannya Chanyeol mencoba membuka matanya dan tersenyum kearah Taemin.
"I-ibu. A-aku butuh Zho-Zhora." Dan setelahnya Chanyeol tidak sadarkan diri.
…
..
.
Kyungsoo duduk disamping ranjang Jongin dan sesekali menatap dengan cemas kearah sosok yang sedang berbaring diatas ranjangnya itu.
Mereka baru saja tiba di bumi dengan keadaan Jongin yang tidak sadarkan diri setelah Taemin menghapus ingatannya. Dan Kyungsoo sekarang sedang menunggu hasil dari pengapusan ingatannya dan berharap bahwa Jongin tidak melupakannya.
Meski ibunya telah berkata bahwa Jongin tidak akan melupakannya hanya melupakan beberapa bagian tentang ingatannya namun Kyungsoo tetap merasa cemas bila nanti Jongin malah melupakan dirinya juga.
Mata terpejam itu mengernyit dan tak lama terbuka perlahan. Kyungsoo menahan nafasnya dengan gugup ketika Jongin mulai menyesuaikan pemandangannya, lalu ketika mata mereka bertemu, Kyungsoo merasa nafasnya nyaris hilang.
"Kyungsoo?" Kyungsoo menghela nafas lega lalu tersenyum cerah membuat Jongin mengernyit.
"A-apa yang terjadi?"tanyanya pelan dan wajah Kyungsoo seketika memucat. Sebenarnya ibunya sudah mempersiapkan jawaban atas pertanyaan yang kemungkinan Jongin tanyakan, namun sebagian besar adalah kebohongan dan Kyungsoo tidak terbiasa untuk berbohong.
"Kenapa kau disini?"
"Hmm.. Kau nyaris ter-tertabrak ketika…hhmmm.. ketika menolongku." Jongin mengernyit dan Kyungsoo menelan ludahnya pelan.
"Lalu kenapa kau gugup?" Kyungsoo mendongak dan menatap Jongin dengan mata berkedip.
"Ka-karena a-aku takut kau a-akan marah pa-padaku." Jongin tersentak lalu tersenyum.
"Tentu saja tidak. Aku bersyukur kau selamat, ah tidak! kita selamat. Tapi kenapa a-aku tidak mengingat a-apapun?" tanya Jongin lagi.
"Do-Dokter bi-bilang kau mengalami hhmm.. cedera yang tidak serius pada kepalamu itu kenapa kau ti-tidak mengingat memori terakhir sebelum kecelakaan." Jongin mengangguk paham dan tersenyum membuat Kyungsoo bernafas lega dan merasa berterima kasih karena hal yang ibunya latih untuk ia ucapkan 100 % sesuai dengan pertanyaan Jongin saat ini.
"Kau baik-baik saja kan? Tidak ada yang cedera?" tanya Jongin lagi dan Kyungsoo menggeleng.
"Jongin? Sejauh mana kau tidak mengingatnya?"
"Hmmm…" Jongin menyipitkan matanya lalu berpikir.
"Aku tidak yakin, kenapa tidak coba kau tanyakan sesuatu tentangnya."
"Hmm.. apa kau ingat dimana aku tinggal?" tanya Kyungsoo dan Jongin tersenyum.
"Tentu." Kyungsoo membulatkan matanya.
"Disamping tempat tinggalku dengan kakak laki-lakimu bukan?" dan Kyungsoo tersenyum, lalu kemudian melanjutkan.
"A-apa ka-kau ingat tentang pe-perasaanmu?" Jongin terdiam lalu menatap Kyungsoo yang tertunduk. Ketika bibirnya akan terbuka, bel pintu mengalihkannya. Dengan perlahan ia bangkit dan berjalan menuju pintu membuat Kyungsoo mengikutinya dari belakang.
Jongin membuka pintu dan menemukan seorang perempuan bertubuh mungil di depan kediamannya. Dia Sandara, kakak perempuan Cheondong.
"Noona?"
"Jongin-ah! A-aku mohon te-temui Dongie!" Ucap Sandara dengan raut wajah sedih.
…
..
.
Chanyeol membuka matanya perlahan ketika merasakan hawa dingin menerpa kulitnya, dan ketika melihat sekeliling ia sadar bahwa ia sedang berada di kamar ibunya.
"Hah, akhirnya kau siuman." Ucap Taemin sambil mengelus kening Chanyeol. Chanyeol mengernyit dan mencoba bangkit.
"Ibu? Aku_"
"Ibu sudah tahu. Meski perbuatanmu membahayakan tapi ibu akan melakukan hal yang sama bila berada dalam posisimu." Ucap Taemin dan Chanyeol memilih bungkam.
"Raja Malaikat telah merubah pikirannya." Mata Chanyeol membulat , menatap kearah ibunya dengan tatapan tidak percaya membuat Taemin tersenyum kecil.
"Ibu melakukannya?" Tanya Chanyeol dan Taemin menggeleng.
"Tidak, kau yang telah me_" Ucapan Taemin terputus ketika Chanyeol menariknya dalam sebuah pelukan. Untuk pertama kalinya mereka berpelukan membuat hati Taemin terasa meleleh dan berdenyut nyeri.
"Terima kasih." Bisik Chanyeol pelan, dan ia memilih mendorong pelan tubuh ibunya ketika mendengar isakan pelan.
Mata mereka bertatapan dan Chanyeol menatap wajah menangis ibunya. Keangkuhan dan keegoisan membuat ia membenci ibunya, dan kini entah mengapa ia tidak bisa untuk membentak atau memarahi ibunya, terlebih ibunya selalu membantunya disetiap keadaan terburuk apapun.
"Sungguh Chanyeol, ibu tidak melakukan apapun kau_"
"Tidak! Aku berterima kasih untuk menyelamatkanku tadi dan untuk semuanya." Taemin tersenyum dan Chanyeol menyentuh pipi dingin Taemin untuk mengahapus air mata yang mengalir itu.
"Chanyeol? Apa sesuatu terjadi padamu? Kau nampak tidak baik. Saat ibu memulihkan lukamu tadi, ada sesuatu yang tidak beres dalam tubuhmu." Chanyeol tersenyum sambil menggeleng.
"Tidak. Ini karena efek Lonya, mungkin penyembuhanku belum sempurna." Ucap Chanyeol dan Taemin mengangguk, dan sejenak suasana canggung menghinggapi mereka.
TES
Chanyeol yang sedang menundukan wajahnya terkejut ketika salju jatuh dipermukaan tangannya dan ketika ia mendongak ia mendapati benda itu berasal dari air mata ibunya yang tergantung diujung dagunya.
"Ibu? Apa ini?" Taemin yang sejak tadi menatap Chanyeol dengan wajah bahagia mendadak tersentak dan segera menghapus air matanya.
"Hm.. salju. Kenapa?" Chanyeol mengernyit dan menatap ibunya curiga.
"Tidak, maksudku kenapa air mata ibu berubah menjadi salju?"
"Apa kau tidak tahu? Ibu terlahir dari salju jadi seluruh bagian dari tubuh ibu adalah salju."
"Tapi malaikat lain tidak."
"Tidak karena mereka tidak semua terbuat dari salju. Lagipula ini memang wajar, kau hanya tidak tahu karena kau tidak pernah melihat ibu menangis." Chanyeol terdiam karena yang dikatakan ibunya benar, selama ini ia tidak pernah melihat ataupun peduli ketika ibunya menangis.
"Jangan mencoba menutupi sesuatu dariku!"
"Tidak akan." Ucap Taemin sambil mengusak helaian halus milik putranya.
…
..
.
Baekhyun berdiri di depan gerbang sekolah dan sekolah sudah nampak sepi. Sesekali Baekhyun memainkan kakinya, sesekali ia akan merapikan helaian rambutnya agar menutupi luka memar akibat terbentur kursi tadi, ia hanya tidak ingin membuat Chanyeol curiga.
TIN
Baekhyun menoleh dan tersenyum senang ketika Chanyeol tiba dengan motornya dan membuka kaca helmnya.
"Menunggu lama?" tanya Chanyeol dan Baekhyun menggeleng pelan. Ketika Chanyeol akan memakaikannya helm Baekhyun menghentikannya dan memilih memakainya sendiri membuat Chanyeol sedikit mengernyit.
Dengan perlahan Baekhyun memakai helm itu mencoba menghindari kontak fisik antara helm dan dahinya yang terluka. Chanyeol menoleh dan Baekhyun bersyukur karena helmnya telah terpasang dengan sempurna.
"Kau lapar?" tanya Chanyeol dan Baekhyun mengangguk pelan dibalik punggung kekasihnya.
Tak lama motor Chanyeol berhenti di sebuah Restourant yang mereka lewati. Lagi-lagi Chanyeol mendapati Baekhyun yang membuka helmnya dengan hati-hati dan segera merapikan rambutnya dengan gerakan mencurigakan, ketika akan bertanya Baekhyun menarik tangannya cepat memasuki Restourant.
Mereka duduk dan Chanyeol segera memesan berbagai makanan yang berbahan dasar daging.
"Chanyeol kenapa wajahmu terlihat lebih pucat, apa kau sakit?" tanya Baekhyun ketika mereka duduk berhadapan.
"Tidak. Apa aku terlihat seperti itu? Mungkin karena aku merindukanmu." Baekhyun berdecih sambil melempar wajahnya yang memerah.
"Bagaimana harimu? Apa seseorang menyakitimu saat aku tidak berada disampingmu?" Baekhyun tersentak lalu menggeleng pelan.
"Ti-tidak. Aku tidak berinteraksi dengan mereka, kecuali dengan Yifan." Chanyeol hanya mengangguk dan matanya teralihkan pada pelayan yang membawa pesanannya.
"Selamat makan!" ucap Baekhyun membuat Chanyeol tersenyum pelan.
Mereka makan sekitar sejam dan setelahnya memutuskan untuk pulang.
"Aaakh!" Baekhyun meringis ketika Chanyeol memakaikannya helm , dan setelahnya ia merutuki diri yang melupakan luka di dahinya. Gerakan Chanyeol terhenti, dan ia segera mengangkat helmnya .
"Apa aku menyakitimu?" tanya Chanyeol dan Baekhyun menggeleng lalu merapikan rambut di dahinya. Dengan cepat Chanyeol menahan tangan Baekhyun dan memutar wajah Baekhyun kesamping.
Mata Chanyeol nampak melotot dan kemarahannya meningkat melihat sebuah memar diatas alis kekasihnya, saat ia hendak menyentuh luka Baekhyun, yang lebih mungil menjauhkan wajahnya.
"Aku hanya terjatuh di toilet tadi, aku kurang berhati-hati." Baekhyun tersenyum santai seolah ia memang seseorang yang ceroboh namun Chanyeol geram, ia menarik wajah Baekhyun sambil mencoba menyelami waktu seperti yang biasa ia lakukan, namun belum sampai pada kejadian dimana Baekhyun dan Yifan berada dikantin Baekhyun telah menjauhkan wajahnya lagi.
"Chanyeol, aku baik-baik_" ucapan Baekhyun terputus karena Chanyeol segera mencium bibir Baekhyun dan menekan pinggang yang lebih pendek agar tidak menghindar. Dan Chanyeol melihat semuanya, melihat bagaimana Baekhyun mendapatkan luka memar itu.
Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol pelan ketika ciuman mereka terlepas karena merasa mendapatkan tatapan sekitar, dan Chanyeol menggeram emosi sambil memakai helmnya. Selama perjalanan Baekhyun merasakan aura kemarahan Chanyeol, jadi ia memilih bungkam dan memeluk kekasihnya semakin erat.
Baekhyun menatap kearah rumahnya saat motor Chanyeol berhenti, dan ia merasa kecewa. Ia pikir Chanyeol akan membawanya ke apartemen miliknya, tapi ternyata Chanyeol mengantarnya pulang, melihat kemarahan Chanyeol , Baekhyun tahu bahwa lelaki itu tidak akan sudi untuk mampir.
"K-kau ti-tidak akan masuk?" tanya Baekhyun pelan ketika menyerahkan helmnya pada Chanyeol. Chanyeol bahkan tidak melepas helmnya dan hanya meraih helm milik Baekhyun untuk ia simpan di bagian belakang motornya.
"Tidak. Aku memiliki urusan." Jawab Chanyeol dengan nada yang tidak bersahabat. Baekhyun menundukan wajahnya sambil menggigit bibir bawahnya, ia sejujurnya sangat merindukan Chanyeol meskipun hanya sehari tidak bertemu, tapi entah mengapa ia ingin memiliki waktu lebih lama bersama kekasihnya.
"De..dengan siapa?"tanya Baekhyun pelan, Chanyeol menggeleng pelan.
"Kau tidak perlu tahu, masuklah dan istirahat! Aku tahu hari ini melelahkan untukmu. Aku harus pergi_" ucapan Chanyeol terputus dan gerakannya yang akan menjalankan motornya terhenti ketika Baekhyun memegang bagian ujung tangan jaketnya.
"Ada apa?" tanya Chanyeol, nadanya terdengar lebih lembut. Baekhyun masih menundukan wajahnya, menatap tanah kering dibawah kakinya.
"Kau…kau marah? Maafkan aku Chanyeol." Ucap Baekhyun dengan suara yang amat sangat kecil.
"Ya. Aku marah, sangat marah karena kau berbohong padaku dan lebih membela orang yang telah mencelakaimu." Ucap Chanyeol, Baekhyun mendongak lalu menatap mata Chanyeol yang terlihat setelah kacanya terangkat.
"Aku …aku hanya tidak ingin kau mengalami masalah hanya karena kelemahanku. Aku sudah cukup membuat hidupmu buruk karena terlibat kedalam semua masalahku."
"Kau harus tahu, hidupku jauh lebih baik setelah mengenalmu."
"Tidak. Kau mengatakan itu hanya untuk menghiburkan kan? Kau tidak sungguh-sungguh mengatakannya."
"Aku selalu bersungguh-sungguh atas apa yang aku katakan, termasuk menghabisi siapapun bajingan yang berani menyentuhmu." Baekhyun menatap kearah mata Chanyeol, dan dengan perlahan tanpa perintah kedua tangannya meraih helm Chanyeol dan mengangkatnya, membuat rambut hitam kelam itu terjatuh perlahan dan terlihat sedikit berantakan namun tetap tampan.
Baekhyun mendekat, lalu mencium bibir Chanyeol. Chanyeol cukup terkejut, namun kemudian ia membiarkan Baekhyun memimpin. Chanyeol meraih helmnya dari tangan Baekhyun, sehingga Baekhyun dengan mudah meraih kedua pipi Chanyeol dan menjinjitkan kakinya untuk memperdalam ciuman mereka.
Baekhyun tanpa sadar menangis dan hal itu membuat Chanyeol mengernyit dalam ciuman mereka. Ia memutus kontak dan menatap Baekhyun yang terisak.
"Kenapa kau membuat ciuman kita basah oleh airmata?" tanya Chanyeol pelan. Baekhyun tersenyum sambil mengusap air matanya dengan cepat.
"Ini air mata bahagia, aku bahagia karena memilikimu." Chanyeol mengernyit ia tidak pernah tahu, jika kebahagiaan bisa menghasilkan air mata.
"Aku juga bahagia karena memilikimu, tapi aku tidak mengeluarkan airmata sepertimu." Baekhyun tersenyum lalu kembali menjinjitkan kakinya untuk memberikan sebuah kecupan dibibir kekasihnya.
"Apa besok kita akan bertemu?" tanya Baekhyun lagi, seolah waktu yang ia miliki bersama Chanyeol tidak sebanyak dulu. Chanyeol tersenyum dan mengangguk.
"Besok, besoknya lagi , besok besok besoknya lagi kita akan terus bertemu. Kenapa kau menanyakan itu?"
"Tidak. Aku hanya … " Baekhyun menundukan wajahnya dengan rona kemerahan dipipi putihnya, "….terlalu merindukanmu." Dan Chanyeol kembali menarik kekasihnya ke dalam sebuah ciuman hangat dan singkat.
…
..
.
Di sebuah ruangan luas dan tertutup dimana terdapat banyak rempah-rempah dan bagian-bagian tumbuhan serta organ-organ hewan yang difermentasi di dalam sebuah tabung kaca, nampak dua orang pria sedang sibuk berkutat dengan pekerjaannya.
Pria berbaju gelap sibuk berkutat dengan meja-meja berisi organ-organ binatang, sementara pria berbaju putih berkutat dengan simplisia tanaman. Keduanya nampak sibuk dan saling memunggungi.
"Apa kau sudah selesai?" tanya pria berbaju gelap-Kakek Iblis- namun pria berbaju putih –Kakek Malaikat- memilih bungkam dan meneruskan pekerjaannya.
"Hei! Aku bertanya padamu."
"Diam dan kerjakan bagianmu! Daripada kau bicara dan bertanya hal yang tidak penting." Kakek Iblis mencibir lalu berkedik pundak dan kembali menghaluskan beberapa campurannya.
"Aku kan hanya bertanya." Gumamnya pelan, Kakek Malaikat yang mendengar segera mendesis.
"Jika aku sudah selesai maka aku akan berhenti bekerja. Menyebalkan, ini sebabnya aku tidak suka bekerja denganmu dan menolak keras permintaan Chanyeol."
"Kau pikir aku suka?"
"Diam!"
Akhirnya keduanya memilih bungkam dan kembali mengerjakan bagian masing-masing, hingga Kakek Iblis berseru senang dan menghentikan kegiatannya.
"Aku sudah selesai." Ucap Kakek Iblis.
"Aku tidak bertanya."
"Aku bicara pada diriku sendiri."
"Sinting."
Dan kembali Kakek Iblis mencibir atas sikap tidak bersahabat seorang Raja Malaikat yang terkenal beribawa dan bersahaja di depan semua orang, namun tidak di depannya , hanya di depannya.
"Aku selesai." Ucap Kakek Malaikat beberapa menit setelahnya.
"Aku tidak bertanya."
"Aku hanya bergumam."
"Kau bicara sendiri? Berarti kau juga sinting."
"Ya, setidaknya aku tidak sendiri dan kau yang sinting lebih dulu." Ucap Kakek Malaikat sambil mengangkat mortir kayunya dan meletakkanya di sisi meja Kakek Iblis dengan sebuah kernyitan tidak suka di dahinya ketika melihat sisa-sisa potongan organ.
"Sekarang ayo lakukan!" Ucap Kakek Malaikat dan keduanya berdiri di depan sebuah mangkuk yang telah berisi campuran dari kedua bahan yang mereka siapkan. Kakek Malaikat mengeluarkan saljunya dan Kakek Iblis mengeluarkan apinya, keduanya sama-sama memfokuskan kekuatan mereka pada mangkuk itu.
Sisi kanan terkena api hingga mendidih dan sisi kiri terkena salju hingga membeku, namun keduanya masih dapat bercampur dan perlahan menjadi berwarna hijau pekat. Mereka bertukar tempat dengan cepat dan kembali melakukan hal yang sama pada sisi yang berbeda. Dua menit kemudian keduanya berhenti lalu saling menoleh.
"Ini bagian yang paling aku benci."
"Aku pun." Sahut Kakek Malaikat.
Keduanya menghela nafas lalu menatap mangkuk itu nanar. Kakek Malaikat menyikap kain ditangannya hingga kulitnya terlihat jelas, sementara Kakek Iblis memutar-mutar matanya kesegala arah.
"Sini biar aku lakukan!" ucap Kakek Iblis sambil menarik tangan Kakek Malaikat yang nampak ragu menorehkan pisau kepermukaan kulitnya, namun dengan tidak berperasaan Kakek Iblis menancapkan kukunya di kulit tangan Kakek Malaikat hingga darah segar mulai terlihat.
Dengan wajah kesakitan bercampur kesal pria itu meneteskan darahnya sebanyak 10 tetes hingga perlahan ramuan setengah jadi itu berubah menjadi biru dengan nyala disekitarnya dan perlahan warna birunya menjadi semakin pekat.
Ketika Kakek Malaikat menoleh, ia sudah mendapati Sang Mantan Raja Iblis mengedipkan matanya yang berair, lalu dengan cepat menuju kearah mangkuk untuk meneteskan airmatanya sebanyak 10 tetes.
Rahasia dari Zhora adalah perbedaan panas dan dingin tinggi yang menyerang bersamaan , serta darah Raja Malaikat dan air mata seorang Raja Iblis yang sangat sulit di dapatkan.
Selain itu karena Raja Malaikat tidak suka melukai dirinya dan Raja Iblis enggan untuk menangis membuat ramuan itu tidak pernah mau mereka ciptakan setelah eksperimen pertama ramuan itu tercipta puluhan juta tahun silam oleh leluhur mereka.
Ketika air mata itu ditetesi, cairan di dalam mangkuk berubah menjadi merah pekat dan menyala dengan terang, lalu perlahan kedua warna muncul dan membentuk dua fase berbeda. Warna biru diatas dan warna merah mengendap dibawah.
Dengan cepat Raja Malaikat memasukannya ke dalam botol kaca kecil dan memberikannya kepada Raja Iblis.
"Jangan menyalahgunakannya, jika tidak aku akan mencopot matamu dengan tanganku."
"Lakukan jika kau berani!"
"Kau_"
"Aku pergi."
…
..
.
Ketika Kakek Iblis masuk ke dalam ruangan dimana Sehun dibaringkan, Chanyeol berjalan masuk dibelakang Kakek Iblis dengan wajah penasaran.
Sementara Taemin, Minho dan Luhan sudah berada disana terlebih dahulu. Kakek Iblis menyeringai lalu berjalan kearah Sehun, ia menatap lelaki dihadapannya dalam diam.
"Cepat berikan padanya!" ucap Chanyeol.
"Apa begitu caramu bicara pada orang yang telah membantumu?" Chanyeol diam ketika Taemin mengusap lengannya, memintanya tetap tenang. Chanyeol mundur dan berdiri disamping Luhan yang juga nampak cemas.
Kakek Iblis mengembangkan sayapnya, lalu menutupi tubuh Sehun dengan itu. Perlahan ia membuka tutup botol kaca itu, dan mengangkat tubuh Sehun dengan bantuan sayapnya.
Ketika mulut Sehun sedikit terbuka, ramuan itu dilesakkan secara paksa membuat Sehun tersedak dan mengernyit. Ketika Sehun akan memuntahkan cairan itu, Kakek Iblis meniupkan angin ke mulut Sehun hingga cairan yang nyaris keluar itu segera melesat masuk kembali ke dalam.
"UHUK UHUK..UHUK"
Sehun terbatuk dan Kakek Iblis merebahkan tubuh itu, lalu menutup sayapnya dan berjalan mundur, menyaksikan hasil dari ramuan yang mereka ciptakan.
Tubuh Sehun terangkat dengan mata masih tertutup. Ia terbaring namun tubuhnya melayang diudara. Perlahan dua buah cahaya biru dan merah bergerak dari arah berlawanan, lalu bertemu disebuah titik di tengah-tengah pusar Sehun.
Cahaya itu berpijar dan berfluoresensi lebih kuat hingga tubuh Sehun lenyap tertelan oleh cahaya yang berubah warna secara terus menerus, hingga akhirnya cahaya itu redup lalu tubuh Sehun terbanting ke atas ranjang.
"Sehun!" Luhan berlari mendekat dengan wajah cemas, dan lututnya terasa lemas ketika melihat tubuh Sehun kembali ke tubuh manusianya, tidak lagi berada dalam tubuh setengah iblisnya. Ia menangis dan memeluk tubuh itu dengan senang, Taemin dan Minho juga mendekat namun Chanyeol memilih diam ditempat dengan wajah terpaku.
"Sekarang bagianmu!" ucap Kakek Iblis sambil berjalan kearah Chanyeol, lalu menghilang.
Mata Sehun terbuka dan terlihat nyala biru dimatanya, sama seperti milik Chanyeol. Lalu Sehun bangkit, mendorong Luhan secara perlahan dan berdiri diatas ranjang. Sayapnya terkepak dan tubuhnya berubah menjadi wujud setengah iblisnya. Dengan cepat ia melayang dan mencekik leher Chanyeol.
"Aku akan membunuhmu keparat!" ucap Sehun dengan suara beratnya dan taring tajam yang siap mengoyak leher Chanyeol. Chanyeol meringis sambil terdiam menatap Sehun.
"Sehun!" panggil tiga orang lainnya, Sehun menoleh dengan wajah kesalnya, tapi tatapannya berubah meredup ketika melihat ekspresi Luhan.
"Baiklah, tapi sekarang temui dulu ibumu, dia pasti sangat mengkhawatirkanmu." Sehun kembali menoleh kearah Chanyeol lalu melepas cengkraman lehernya, hingga kaki Chanyeol kembali menapak lantai.
Perlahan wujud Sehun kembali normal, kembali keukuran dirinya di dunia manusia. Chanyeol mengusak rambut Sehun sambil mencoba tersenyum.
"Ini jauh lebih baik bocah, ayo pulang!" ucap Chanyeol namun Sehun menepis kasar tangan Chanyeol dan membuang tatapannya.
…
..
.
Jongin menundukan wajahnya ketika melihat keadaan sahabatnya, sementara Sandara terus menerus menangis melihat adiknya yang saat ini sudah tertidur setelah diberi obat penenang.
"Kenapa dia bisa seperti ini noona?"
"Dia menjadi seperti itu setelah seseorang menemukannya di dalam sebuah gudang di sebuah gang sempit dalam keadaan tidak sadarkan diri. Setelah dibawa kerumah sakit, tahu-tahu ia sudah menjadi seperti orang gila. Dia terus menyebut namamu dan Kyungsoo lalu berkata 'maafkan aku' dan 'itu bukan aku' juga 'aku pantas mati'." Ucap Sandara. Jongin menghela nafas, lalu melirik kearah Kyungsoo yang nampak terdiam sejak tadi dan memilih menatap Cheondong yang tertidur diatas ranjang rumah sakit.
"Kyungsoo?" panggil Jongin.
"Jongin, cobalah untuk bicara padanya! Dia hanya membutuhkanmu." Ucap Kyungsoo dan Jongin mengangguk, sambil kembali menatap kearah Cheondong.
…
..
.
Baekhyun menuruni anak tangga dengan cepat dan terkejut ketika mendapati Sehun dan Chanyeol di depan pintu rumahnya.
"Sehun-ah?" Baekhyun segera memeluk Sehun sayang dan merasa bersyukur bahwa 'anaknya' dalam keadaan baik-baik saja.
"Maafkan aku karena tidak mengatakan pada Hyung. Tapi Hyung, aku mau meminta izin untuk pergi sebentar bersama Chanyeol. Apa boleh?" tanya Sehun.
"Kemana?"
"Aku ingin membeli sesuatu."
"Hmm.. Baiklah. Cepat kembali! Okay?"
"Hm." Sehun mengangguk, dan menyeret tangan Chanyeol yang hendak memeluk Baekhyun. Lalu keduanya melesat pergi dengan motor Chanyeol, hingga saat mencapai jalanan yang sepi motor mereka berpindah dimensi dan keduanya muncul di Infernus namun tanpa motor mereka.
Sehun sudah berdiri dengan wujud setengah iblisnya dan Chanyeol pun sama. Sehun nampak geram menatap penuh kebencian kearah Chanyeol sementara Chanyeol hanya menatap datar.
"Aku benar-benar akan membunuhmu keparat!" Sehun terbang dan kembali hendak menyerang Chanyeol, namun Chanyeol menghindar dan Sehun kembali mencari sosok Chanyeol namun lagi-lagi lelaki itu menghindar membuat Sehun geram dan segera mengeluarkan kekuatan iblisnya.
Pertarungan tidak terelakan, suara dari dua kekuatan yang bertemu sangat memekikan telinga hingga membuat beberapa penghuni Infernus berdatangan dan menyaksikan pertarungan itu, Luhan, Taemin dan Minho pun ikut menyaksikan dengan wajah cemas.
"Dasar Iblis keparat! Kau membuat Baekhyun hyung tersiksa karena kekejianmu!"
"Ya itu aku!" ucap Chanyeol sambil mencoba menghindar dan menahan serangan Sehun dengan kekuatannya, ia sama sekali tidak melawan.
"Brengsek!" Sehun kembali menyerang dan kekuatannya semakin bertambah besar, hingga tameng yang Chanyeol buat hancur dan serangan itu mengenai dadanya. Chanyeol bersimpuh ditanah dengan mulut yang memuncratkan darah.
Kondisinya sedang tidak baik dan kini ditambah serangan Sehun membuatnya semakin tidak berdaya. Chanyeol mencoba bangkit namun Sehun kembali menyerang Chanyeol hingga kedua kaki Chanyeol seperti lumpuh.
"Ini tidak sesakit penderitaan yang harus kami alami." Ucap Sehun sambil berjalan di depan Chanyeol yang hanya tersenyum dengan wajah lelahnya.
"Kau bajingan yang mengawali semua penderitaan ini dan kau juga yang harus mengakhirinya, Nyawamu tidaklah sebanding dengan ketidakadilan yang kami rasakan." Ucap Sehun lagi, Chanyeol tidak menjawab hanya tersenyum dengan giginya yang memerah oleh darah.
"Apa kau tahu bagaimana Baekhyun hyung melewati hari-harinya dengan semua hinaan itu? Apa kau tahu bajingan, sebanyak apa ia menangisi ketidakadilan yang ia terima? Apa kau tahu bagaimana penderitaan karena perbuatan kejimu? Heuh.." Sehun menyeringai, sambil mengumpulkan kekuatan di kepalan tangannya.
"Kau tidak akan tahu, BANGSAT!" Sehun menyerang Chanyeol lagi dengan kekuatannya dan lelaki itu menyemburkan darah lagi dan tubuhnya terjatuh, ia terduduk ditanah dengan wajah bersimbah darah.
"Lakukan apa yang…uhuk.. ingin kau lakukan.. huukk.. padaku."
"Ya, aku sedang melakukannya. Aku ingin membunuhmu." Ucap Sehun sambil mengumpulkan kembali kekuatannya.
"SEHUNNN!" Taemin berteriak dan Luhan bersiap terbang dengan sayapnya, namun Sehun segera menambah pijaran api disekitar tubuhnya hingga Luhan terpental dan beberapa iblis mundur.
"Bunuh aku…uhuukk. Tapi..jangan sakiti yang..huuuk.. lain." Ucap Chanyeol susah payah. Sehun meludah dan mengarahkan tangannya kehadapannya Chanyeol, bersiap untuk memberi serangan terakhir dan hidup Chanyeol berakhir ditangan anaknya sendiri.
"Chanyeol, aku senang mengenalmu."
Sehun menghentikan tangannya ketika mendengar suara Baekhyun dan perlahan sebuah bayangan kilas balik muncul dihadapannya, seperti sebuah film yang diputar dimana terlihat Baekhyun dan Chanyeol.
"Aku bersyukur bisa memilikimu."
"Chanyeol aku mencintaimu."
"Chanyeol, tolong aku."
"Chanyeol, terima kasih karena terus berada disisiku."
"Hidupku berubah sejak kehadiranmu, terima kasih Chanyeol.
"Aku merindukanmu, aku tidak ingin kehilanganmu..hiks.."
"Chanyeol, Sehun anak kita ingin bermain denganmu, maukah kau menemaninya?"
"Jika Tuhan mengirimkanmu untukku maka aku harus berterima kasih padanya."
Lalu gambaran Baekhyun lenyap, terganti oleh kilasan milik Chanyeol.
"Baekhyun, maafkan aku."
"Jika sosok itu muncul dan menyesali segala perbuatannya apa kau akan memaafkan sosok keji itu?"
"Jangan membencinya, bagaimana pun dia terlahir darimu."
"Aku menerima segala yang ada pada dirimu Baekhyun, termasuk masa lalumu yang kelam."
"Maafkan aku sayang, aku terlalu buruk untukmu."
"Jika nyawaku bisa menggantikannya, aku akan memberikan nyawaku untuk kebahagiaannya ibu."
"Siapapun yang berani menyentuh Baekhyun, akan mati ditanganku."
"Aku ayahnya, aku akan melakukan apapun untuk menolong hidupnya."
"Aku ayah yang kejam bukan? Apa aku pantas disebut seorang ayah?"
"Mereka tersiksa karenaku, aku pantas mendapatkan hukuman yang setimpal."
"Ibu, bahkan nyawaku tidak akan bisa menebus dosaku."
"Mungkin ini yang disebut timbal balik."
"Aku tidak akan membiarkan Baekhyun kehilangan senyumannya."
"Baekhyun baru saja bahagia karena bisa menerima Sehun, dan Sehun baru saja bisa merasakan kasih sayang Baekhyun, aku tidak akan membiarkan senyuman mereka lenyap."
"Aku datang sebagai ayah dari cucu buyutmu, aku hanya memintamu untuk menolongnya."
Sehun menoleh kesekitar untuk melihat siapa yang telah menunjukan kilas-kilas potongan kejadian itu, namun ia hanya mendapati orang-orang yang juga nampak bingung.
Sehun menurunkan tangannya, dan ia mencengkram leher Chanyeol.
"Aku masih memiliki dua permintaan bukan? Aku akan memakainya sekarang."
Chanyeol mengangguk pelan dengan wajah kelelahan.
"Enyahlah dari kehidupan kami!" Dan senyum Chanyeol mendadak lenyap, tergantikan oleh raut wajah kecewa.
...
..
.
Sehun tiba dirumah dan mendapat sambutan bahagia dari Baekhyun dan Kibum yang baru pulang bekerja.
"Kami merindukanmu." Ucap Kibum sambil membawa tubuh putranya ke dalam sebuah pelukan dan mulai bertanya banyak hal, sementara Baekhyun menoleh kearah pintu dan mengernyit.
"Dimana Chanyeol?"
"Dia bilang memiliki urusan." Ucap Sehun lalu kembali berbincang bersama ibunya menyisakan raut wajah bersedih Baekhyun.
Baekhyun hanya mengangguk dengan wajah kecewa lalu melangkah mengikuti Kibum yang terus menanyakan keadaan Sehun dan apa yang terjadi dengan putra bungsunya itu, hingga mereka tiba di ruang tengah.
Sehun yang tersenyum sambil menjawab semua pertanyaan Kibum melirik kearah Baekhyun yang nampak menundukan wajahnya menahan kecewa.
"Hyung tidak suka aku kembali?" Baekhyun tersentak dan segera menggeleng. Sehun merentangkan tangannya kearah Baekhyun yang duduk dihadapannya.
"Apa aku tidak bisa mendapat sebuah pelukan?" dan Baekhyun bangkit lalu memeluk Sehun dengan erat, membuat Sehun menutup mata merasakan betapa lembut pelukan ibu kandungnya.
"Tak akan kubiarkan dia menyakitimu lagi, Ibu." Sehun berucap dalam hati.
Chanyeol berdiri diluar rumah ,menyaksikan wajah tersenyum Baekhyun dan Sehun. Ia tersenyum pahit, mencoba menerima fakta bahwa kehadirannya hanya merusak kebahagiaan Baekhyun dan Sehun, untuk itu Chanyeol akan memilih menjauhi Baekhyun sesuai yang diperintahkan putranya.
Chanyeol berbalik pelan merasa sudah cukup untuk menyaksikan anak dan ibu dari anaknya berkumpul kembali. Saat akan menghilang raut wajahnya berubah menjadi kesal kembali, ada satu hal yang harus ia selesaikan bersama seseorang bernama Tao yang berani membuat luka memar di dahi kekasihnya, dan setelah itu Chanyeol menghilang bersama hembusan angin.
Baekhyun menoleh kearah jendela ketika merasakan sesuatu yang aneh, namun suara ibunya yang membawa dua piring cemilan untuk merayakan kembalinya Sehun membuat fokusnya buyar.
…
..
.
Jongin segera bangkit dari atas sofa ketika mendengar suara ranjang yang berdecit, itu Cheondong yang berusaha bangkit.
"Cheondong-ah?" suara lembut Jongin membuat dua pasang mata itu bertemu. Raut wajah Cheondong yang semula nampak sedikit tenang kini kembali didera kecemasan dan ketakutan.
Matanya mulai bergerak gelisah dan dengan cepat ia berlutut diatas lantai lalu menangis.
"Maafkan aku Jongin-ah! Itu bukan aku! Maafkan aku!" Sandara segera terbangun dari tidurnya dan Kyungsoo yang baru kembali dari toilet terkejut melihat kondisi Cheondong.
"Cheondong-ah! Apa yang terjadi? Kenapa kau seperti ini?"
"Maafkan aku! Aku tidak pantas menjadi sahabatmu, aku brengsek, aku berusaha menyakiti kalian!" ucap Cheondong sambil menangis histeris. Sandara menangis sambil mengelus pundak adiknya, sementara Jongin berlutut dan memeluk sahabatnya. Kyungsoo diam di tempat hanya menyaksikan kejadian di depan matanya.
"Aku telah menyakiti kalian. Maafkan aku!"
"Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti, apa yang kau lakukan pada kami?" bentak Jongin, Cheondong terdiam lalu mengangkat wajahnya, ia menatap Jongin sebentar lalu beralih pada Kyungsoo yang memilih berdiri beberapa meter dari mereka.
"Aku… aku hampir membunuhmu, aku hampir mencelakai Kyungsoo." Jongin semakin mengernyit dan melirik kearah Kyungsoo yang hanya diam ditempat dengan tatapan yang sulit diartikan. Sebenarnya Kyungsoo masih merasa sedikit trauma, namun mengingat Jongin tidak mengingat apapun membuat ia mau tidak mau harus ikut menjengguk Cheondong.
"Apa yang terjadi? Katakan!" bentak Jongin sambil menggetarkan kedua pundak sahabatnya, Cheondong makin terisak dan ia mengangkat wajahnya untuk menatap Kyungsoo.
"Aku_"
"Cheondong!" ucap Kyungsoo pelan, dengan sedikit ragu ia melangkah mendekat dan berlutut di depan lelaki itu. Perlahan tangan Kyungsoo terulur untuk menyentuh pipi putih Cheondong, dan setelahnya ia memberikan pelukan pada Cheondong.
"Jangan seperti ini! Aku memaafkanmu." Bisik Kyungsoo pelan dan Cheondong memeluk tubuh itu erat, membuat Jongin merasa sedikit cemburu, karena dalam ingatannya Kyungsoo menyukai Cheondong, sahabatnya.
Perlahan isakan Cheondong mereda dan Kyungsoo memundurkan tubuhnya, dengan perlahan ia bangkit dan tersenyum.
"Kita teman bukan?" ucap Kyungsoo pelan dan Cheondong tersenyum sambil mengangguk. Sandara nampak terkejut melihat raut wajah adiknya yang kembali normal, dan Jongin berusaha tersenyum demi sahabatnya mengesampingkan perasaan cemburu yang terselip di dalam hatinya.
Hingga Kyungsoo menggenggam tangannya dan menoleh kearahnya dengan wajah tersenyum yang cantik.
"Jongin, bisakah kita pulang?" tanya Kyungsoo dan Jongin disetengah kesadarannya hanya mengangguk pelan.
…
..
.
Baekhyun berdiri di depan rumahnya dan tidak mendapati sosok Chanyeol yang biasa menjemputnya, sesekali ia melihat kearah jam tangannya dan menghela nafas. Hingga sebuah tangan merangkul jemarinya.
"Ayo berangkat bersamaku Hyung! Meski aku tidak tinggi, tapi aku bisa menjagamu." Ucap Sehun dengan wajah berseri, Baekhyun tersenyum pelan lalu mengangguk.
"Sebenarnya kau itu cukup tinggi untuk anak seusiamu, kau tahu?"
"Ya, karena itu mereka mengejekku."
"Benarkah?" tanya Baekhyun ketika mereka berjalan keluar dari pekarangan rumah.
"Hm. Tapi itu tidak masalah, mereka hanya iri karena aku bisa lebih tinggi dari mereka, benar kan hyung? Sama seperti mereka yang iri karena kecantikanmu." Baekhyun menundukan wajahnya lalu mengangguk sekali.
"Sebenarnya mereka bukan iri karena kecantikanku, bahkan aku tidaklah cantik. Mereka iri karena orang terbuang sepertiku bisa mendapatkan seseorang seperti Chanyeol." Raut wajah Sehun berubah datar, ia tidak suka ketika nama itu disebut-disebut apalagi nama itu keluar dari bibir Baekhyun.
"Apa menurutmu tentang Chanyeol?" tanya Baekhyun sambil tersenyum dan menoleh kearah Sehun, Sehun mencibir.
"Bajingan." Ucapnya lalu melangkah lebih dulu meninggalkan Baekhyun yang mengernyitkan dahinya.
Baekhyun tiba disekolah dengan bus seperti sebelum Chanyeol datang, dan berpisah dengan Sehun ketika akan memasuki gerbang sekolah.
"B-Baekhyun!" Panggil Yifan dengan nafas tersengal-sengal ketika Baekhyun berjalan dikoridor.
"Ada apa Yifan?"
"Chan-Chanyeol di-dia_" Dengan wajah cemas Baekhyun mengikuti langkah kaki Yifan yang menariknya menuju aula sekolah. Ketika sampai disana, Baekhyun telah mendapati Chanyeol berdiri ditengah-tengah aula dengan Taecyeon dan Taeyang beserta pasukannya.
Baekhyun dan Yifan terdorong masuk dan pintu aula ditutup, untuk menghindari pihak sekolah yang akan mengetahuinya.
Baekhyun berusaha berlari mendekat, namun pasukan kedua ketua itu mengelilingi aula hingga Baekhyun dan Yifan hanya bisa melihat dari sisi luar.
"Sepertinya bisa kita mulai sekarang." Ucap Taecyeon sambil melirik kearah Baekhyun sekilas. Chanyeol mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangannya, ia merasa dijebak.
Awalnya ia mendatangi Tao untuk memberi pelajaran, namun lelaki itu berkata akan beradu kekuatan dengannya, namun ketika sampai ditempat yang mereka janjikan ia malah dikepung oleh pasukan dari kedua ketua Timur dan Barat.
Chanyeol bukannya takut, namun ia merasa saat ini kondisinya sedang tidak bagus untuk melawan puluhan orang sekaligus, apalagi menurutnya Taecyeon dan Taeyang sudah menjadi kuat entah karena apa.
Chanyeol yang pertama menyerang dan pertarungan 2:1 itu pun tak terelakan. Chanyeol terus mengerahkan kekuatannya secara tersembunyi karena ia tidak bisa menunjukan pada orang-orang bahwa dia adalah iblis.
Dan sebuah pukulan mendarat di dada Chanyeol.
"CHANYEOOLLL!" Chanyeol tersentak dan menoleh cepat kearah sisi lapangan dimana ia melihat Baekhyun berdiri dengan wajah cemas bersama Yifan disampingnya. Chanyeol menoleh tajam kearah Taecyeon dan Taeyang yang menyeringai, sekarang ia tahu alasan kedua orang itu mengundur-undur pertarungan mereka.
"Suka dengan tamu undangan kita?" Rahang Chanyeol mengeras dan ia bangkit dengan tangan dikepal.
"Brengsek! Kenapa membawanya? Kalian akan benar-benar mati jika sampai menyentuh Baekhyun." Ancam Chanyeol namun kedua lelaki dihadapannya hanya menyeringai senang.
Kembali mereka saling mengahajar hingga membuat salah satunya tersungkur, dia Taecyeon yang terduduk dengan dada yang berdenyut nyeri. Chanyeol dalam keadaan murka dan kedua orang dihadapannya hanya menambah kemarahannya.
Tak lama Taeyang juga terdorong mundur akibat tendangan Chanyeol dan lelaki itu terbatuk. Chanyeol mendekat dengan wajah penuh ancaman.
"Dimana lelaki brengsek itu hah?" bentak Chanyeol dan seorang lelaki tinggi melangkah masuk mengalihkan perhatian Chanyeol.
Tao masuk sambil menepuk tangannya pelan.
"Wow, Kekuatan Park Chanyeol memang tidak main-main. Kau bahkan menjatuhkan dua anak buah terhebatku sekaligus dengan tangan kosong, kira-kira ada apa dibalik tubuhmu Park?" Chanyeol mendengus lalu melempar pandangannya.
"Aku tidak ingin membuang-buang waktuku, dan bisakah kau biarkan dua orang itu keluar? Mereka harus mengikuti pelajaran, mereka tidak seperti kita."
"Ya, mereka sampah, mereka tidak seperti kita."
"Jaga ucapanmu bajingan! Sekali lagi kau bicara seperti itu tentang Baekhyun maka akau akan_"
"Akan apa? Membunuhku? Sedikit informasi tuan, aku tidak takut mati." Ucap Tao sambil menyeringai. Chanyeol mengepalkan tangannya semakin keras.
"Apa yang membuatmu begitu menjaganya seolah ia adalah berlian, padahal dia hanya sampah yang seharusnya kau buang ditempat sampah. Dia tidak seberharga itu."
"Aku sudah memperingatkmu untuk tidak menyebut Baekhyun dengan sampah." Tao menyeringai lalu berbalik untuk menatap kearah Baekhyun yang berusaha menerobos pagar manusia yang dibuat oleh pasukan Timur dan Barat.
"Yak! Kau! Apa kau senang ketika seseorang membelamu mati-matian? Aku hanya meninggalkan noda biru didahimu dan kekasih protektifmu ini menantang seluruh pasukanku. Bagaimana bila aku meninggalkan luka permanen ditubuhmu? Akankah_" Tao berbalik untuk menyeringai kearah Chanyeol yang hanya mengeraskan rahangnya.
"_dia membunuhku? Oh pertanyaannya bukan itu, tapi apakah dia bisa membunuhku?"
"Bajingan!" desis Chanyeol.
"Jika aku bajingan, lalu kekasihmu jalang?"
BUGH
Tao berhasil menghindari pukulan Chanyeol dan lelaki itu menyeringai puas, membuat Chanyeol semakin geram dan memberikan pukulan bertubi namun kembali bisa dihindari oleh Tao.
"Jangan meremehkanku! Aku tidak selemah yang kau kira." Ucap Tao dengan kedua tangan masih bertahan di dalam saku celananya. Chanyeol menggeram kesal , ia sangat ingin memunculkan sisi iblisnya namun ia tidak bisa menyebabkan masalah baru lagi, jadi ia memutuskan untuk menahannya.
Ketika Chanyeol mengayunkan sebuah pukulan lagi, Tao menangkap kepalan tangan itu dan memutarnya, Chanyeol berusaha melawan namun akhirnya meringis secara tak kentara.
Dengan cepat Tao menendang salah satu kaki Chanyeol hingga ia tersimpuh ditanah. Untuk ketiga kalinya Chanyeol merasa memalukan di depan Baekhyun, ia terlihat sangat lemah, Chanyeol mengepalkan tangannya sambil menunduk dalam, luka ditubuhnya semakin terasa mendominasi namun lelaki itu berusaha untuk menahannya.
"Chanyeol!" Baekhyun berteriak dari sisi lapangan, Chanyeol menoleh pelan dan wajahnya menyiratkan sebuah kekecewaan, ia kecewa dengan dirinya yang lemah.
"Tidak mencoba untuk bangkit?" ucap Tao meledek, Chanyeol menutup matanya, untuk pertama kalinya ia melatih kesabaran dalam hidupnya. Tawa ledekkan Tao semakin terdengar dan Chanyeol semakin geram.
"Aku juga ingin dia merasakan bagaimana rasanya berada di rumah sakit." Ucap Taecyeon yang melangkah maju dengan sebuah balok kayu ditangannya.
Tao menoleh sambil tersenyum kecil dan ia mundur beberapa langkah untuk memberikan peluang bagi Taecyeon.
Baekhyun menangis sambil berusaha menerobos pagar manusia namun kembali tubuhnya di dorong.
"Tidak! Tidak! Jangan!" Baekhyun menangis, Yifan menoleh dan berusaha menerobos tapi ia juga mendapat dorongan kuat, hingga terpental kebelakang.
Taecyeon mengangkat balok kayunya keudara dengan penuh seringaian, sementara Chanyeol hanya menutup matanya, ia lebih memilih terpukul balok kayu ketimbang berubah menjadi wujud asli dan dibenci oleh Baekhyun.
BUGHHH
Pukulan itu mendarat, Baekhyun terduduk dilantai dengan wajah terkejut dan pandangan kosong, Taecyeon membulatkan matanya bersama puluhan pasang mata lainnya, sementara Tao yang hendak berjalan keluar menoleh pelan lalu menyeringai.
Chanyeol membuka matanya cepat ketika mendapati sebuah tubuh terjatuh diatas tubuhnya, dan betapa terkejutnya ia saat mendapati Yifan tergelatak di hadapanya dengan kepala bersimbah darah dan mata setengah terbuka.
"Chan…Chanyeol.."
"Hei! Yifan!" teriak Chanyeol sambil menggerakan tubuh Yifan namun lelaki itu telah menutup matanya. Tao berjalan menuju pintu aula yang dibuka oleh anak buahnya, dan menghentikan langkahnya untuk melirik kearah Baekhyun yang nampak terkejut.
"Begitulah cara menyingkirkan sampah." Ucapnya lalu melenggang pergi diikuti beberapa anak buahnya.
…
..
.
"Sehun!" Sehun menoleh dengan malas ketika dirinya dipanggil dan mendapati Soojung yang berlari kearahnya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Soojung, Sehun memasukkan bukunya ke dalam loker lalu berlalu meninggalkan gadis itu.
Soojung berlari mengejar langkah Sehun, lalu menarik tangannya untuk membuat Sehun berbalik.
"Yak! Tidak bisakah kau menjawabku? Apa kau tidak tahu betapa khawatirnya aku hari itu?" Sehun tersentak saat melihat mata basah Soojung dan hidungnya yang memerah.
"Ketika aku tersadar aku telah berada di rumah sakit dan aku tidak menemukanmu diseluruh hiks.. rumah sakit. A-aku pikir aku kehilanganmu." Ucap Soojung cepat sambil menghapus airmatanya.
"Aku tidak tahu orang sepertimu bisa menangis." Ucap Sehun, Soojung menggosok matanya lagi untuk menghilangkan sisa-sisa air matanya.
"A-aku hanya khawatir." Ucapnya sambil membuang muka.
"Tidak perlu mencemaskanku! Aku tidak akan berada dalam masalah." Sehun memperbaiki letak tasnya lalu berjalan menuju koridor lain.
"Dan_" Sehun memutar tubuhnya.
"_mulai sekarang jangan berada di sekitarku, aku bukan sesuatu yang baik." Ucap Sehun lagi. Soojung mengernyit dan hendak berlari untuk meraih tangan Sehun, namun lelaki itu menarik tangannya dengan cepat.
"Sejak awal kita bukan teman, jadi mulai sekarang tetaplah seperti itu. Jangan berada disekitarku lagi!" ucap Sehun lagi lalu benar-benar melenggang pergi.
…
..
.
Baekhyun duduk disamping ranjang rawat inap Yifan dengan wajah penuh kecemasan. Sejak keluar dari ruang ICU dan mendapat beberapa jahitan di belakang kepalanya akhirnya Yifan bisa dipindahkan keruangan lain.
Pintu terbuka dan menampakan Chanyeol yang masuk dengan wajah tidak bersemangat. Baekhyun menoleh dan segera berlari untuk memeluk kekasihnya. Baekhyun menenggelamkan wajahnya di dada Chanyeol, namun kedua tangan Chanyeol hanya menggantung disamping tubuhnya tanpa membalas pelukan Baekhyun.
"Chanyeol… aku sungguh takut." Ucap Baekhyun pelan, Chanyeol memundurkan tubuh Baekhyun dan menatap kekasihnya dalam.
"Baekhyun! Dengarkan aku! Apapun yang terjadi aku akan selalu bersamamu dan melindungimu, kau mengerti?" dan Baekhyun menganggukan kepalanya.
"Aku harus pergi! Aku tidak bisa berada disini, bisakah kau menjaganya? Aku berhutang nyawa padanya." Ucap Chanyeol pelan.
"Kemana?" suara Baekhyun terdengar lirih.
"Kau tidak perlu tahu, tapi tolong jaga dia… untukku." Kembali Baekhyun mengangguk dan Chanyeol memberikan sebuah kecupan di dahi kekasihnya sebelum akhirnya pergi meninggalkan kamar rawat tersebut.
…
..
.
Malam harinya Yifan akhirnya tersadar setelah mendapat anastesi pasca operasi. Baekhyun orang pertama yang ia dapati duduk disampingnya sambil tersenyum membuat Yifan ikut tersenyum, setidaknya ia masih memiliki orang yang berada disampingnya.
"Ba-bagaimana dengan Chan-Chanyeol?" tanya Yifan, Baekhyun seperti ingin menangis entah mengapa hatinya merasa tersulut mendengar pertanyaan Yifan.
"Dia baik-baik saja, terima kasih Yifan." Yifan mengangguk pelan dan meringis ketika merasakan jahitannya mengetat.
"Ka-kalian sa-sangat berarti untukku." Ucap Yifan sambil tersenyum tulus, Baekhyun meraih tangan Yifan dan mengelusnya pelan.
"Kau juga, kau sangat berarti untuk kami." Ucap Baekhyun sambil tersenyum.
"Apa kau lapar? Aku akan menyuapimu bubur." Ucap Baekhyun dan Yifan mengangguk.
"Ba-Baekhyun a-apa ka-kau se-sejak tadi di-disini me-menungguku?" Baekhyun mengangguk pelan sambil meraih bubur yang disediakan rumah sakit yang hampir dingin.
"Tadi aku sempat pulang untuk mengganti pakaian dan meminta izin pada ibu." Setelahnya Baekhyun menyuapi sesendok demi sesendok bubur kepada Yifan.
Dari luar jendela , Chanyeol melayang diudara dengan sosok setengah iblisnya. Memperhatikan dengan wajah terluka, bagaimana kedua orang dihadapanya berinteraksi dengan baik.
"Berusaha menjadi sok tegar, dengan memberikan kekasihmu padanya?" Chanyeol menoleh dan mendapati Kakeknya ikut melayang disampingnya.
"Ckckckckckck. Aku tahu mengapa kaum iblis melarang perasaan cinta, karena hal itu hanya membuat mereka menjadi lemah, seperti dirimu sekarang." Chanyeol tidak merespon , ia hanya malas berdebat dengan kakeknya selain itu ucapan kakeknya benar, bahwa ia lemah karena cinta.
"Kakek, apa cinta menjadi kutukan untuk kaum iblis?" tanya Chanyeol. Kakek Iblis menoleh dengan satu alis terangkat.
"Tidak hanya untuk iblis, tapi untuk semua makhluk hidup. Menurutmu apa yang membuat banyak orang mengakhiri hidupnya? Menjadi kejam dan dengan tega membunuh sesama? Cinta telah membutakkan mereka, cinta itu sesuatu yang tidak menyenangkan asal kau tahu."
Keduanya hening, hingga Chanyeol berucap.
"Apa Kakek pernah merasakan cinta?" dan pria yang lebih tua terdiam lalu menyeringai.
"Apa kau pikir aku bicara tanpa pernah merasakan? Karena aku mengalaminya, untuk itu aku memperingatimu." Chanyeol menoleh lalu tersenyum.
"Jadi , apa Kakek ingat bagaimana indahnya saat-saat pertama Kakek jatuh cinta?"
"I-itu…" Pria itu menoleh lalu kembali membuang pandangannya.
"Lupakan! Aku harus pergi." Dan setelahnya ia menghilang.
"Ya, jika cinta memang sebuah kutukan untuk kaum iblis, bisakah ia menjadi kutukan yang indah untukku?" ucap Chanyeol sambil menatap kearah ruangan dimana Baekhyun tersenyum sambil bergurau bersama Yifan, lalu setelahnya ia menghilang.
"Baekhyun?" Baekhyun yang tadi sempat melirik kearah jendela kembali menoleh pada Yifan dan tersenyum.
"Tadi kau bilang apa?" dan setelahnya mereka kembali dalam perbincangan mereka.
…
..
.
Tiga hari berlalu dan Baekhyun masih rutin untuk mengunjungi Yifan karena hanya dia satu-satunya yang mengunjungi lelaki malang itu. Seperti hari ini Baekhyun duduk di sisi ranjang sambil mengupas apel untuk Yifan , namun wajahnya menunjukan bahwa pikirannya tidak sedang berada dirumah sakit.
"Ba-Baekhyun, Bi-biar aku sa-saja." Ucap Yifan sambil meraih pisau dari tangan Baekhyun. Baekhyun hanya terdiam dengan tatapan kosong dan menghela nafas.
"A-apa Chan-Chanyeol belum mu-muncul juga?" tanya Yifan sambil tetap mengupas apel, Baekhyun menggeleng pelan.
"Ka-kau ti-tidak men-mencoba mencari ke-keapartemennya?"
"Selalu kosong. Aku berdiri disana selama berjam-jam tapi tidak satupun ada yang keluar ."
"A-apa mung-mungkin Chan-Chanyeol me-memiliki urusan? A-atau mung-mungkin ber-berlibur, a-atau mungkin a-ada keluarganya ya-yang sa-saki?"
"Aku tidak tahu, tapi Kyungsoo mengatakan seperti itu."
"A-apa?"
"Dia memiliki urusan." Ucap Baekhyun lalu menundukan wajahnya. Yifan mengambil sepotong apel yang telah ia kupas dan mendekatkannya dimulut Baekhyun. Baekhyun mendongak dan melirik kearah Yifan.
"Mes-meski a-aku bu-bukan Chan-Chanyeol, ta-tapi a-aku i-ingin kau memakan i-ini." Baekhyun tersenyum lalu membuka mulutnya dan Yifan pun ikut tersenyum.
Mereka selalu menghabiskan waktu dengan hal-hal kecil, seperti makan apel bersama, bercerita, bahkan mengerjakan tugas rumah bersama. Meski ada sosok Yifan yang mengisi harinya, Baekhyun masih tetap merindukan kekasihnya, Park Chanyeol.
….
..
.
"Siap untuk pulang?" tanya Baekhyun dan Yifan mengangguk. Baekhyun datang sambil membawakan baju yang baru ia beli untuk Yifan, karena mengenakan seragam yang pertama kali dipakainya Baekhyun rasa kurang sopan.
"Ya, te-terima kasih te-telah da-datang Baek-Baekhyun." Ucap Yifan sambil tersenyum. Baekhyun mengangguk dan membantu Yifan berjalan menuju keluar ruangan.
Mereka menaikki taksi dan berhenti disebuah rumah bercat putih yang cukup besar. Ketika menawarkan diri untuk mengantarkan ke dalam, Yifan berkata bila ia tidak ingin Tao menyakiti Baekhyun karena Chanyeol tidak bersama mereka, untuk itu Baekhyun memilih pamit dan bergegas menuju apartemen Chanyeol.
Ketika tiba di depan pintu apartemen Chanyeol, Baekhyun membunyikan bel berulang kali tanpa menyerah dan akhirnya pintu dibuka oleh Kyungsoo yang sedikit terkejut melihat kehadiran Baekhyun.
"A-apa Chanyeol ada?" Kyungsoo terdiam sambil menggigit bibir bawahnya, lalu menggeleng pelan.
"Aku mohon." Suara Baekhyun terdengar lirih membuat Kyungsoo semakin tidak tega.
"Chanyeol hyung , di…dia tidak disini." Baekhyun menggeleng tidak terima lalu menerobos masuk membuat Kyungsoo terdorong, ia terus berjalan tergesa sambil memanggil nama kekasihnya namun tidak ada balasan.
Ketika ia membuka kamar Chanyeol yang tidak terkunci, ia menemukan kamar itu dalam keadaan rapi, Baekhyun berjalan menuju kamar mandi dan nihil tidak ada siapapun disana, Baekhyun terisak dan bersandar pada dinding.
Kyungsoo yang hanya menatap dari ambang pintu melangkah mendekat.
"Chan-Chanyeol hyung tidak disini." Ucapnya dengan wajah iba, Baekhyun mengangkat wajahnya dan menatap Kyungsoo dengan penuh kecewa.
"Dimana dia? Kyungsoo aku mohon beritahu aku!" Kyungsoo terdiam, hingga akhirnya suara bergetarnya terdengar.
"Dia ada dirumah kami, ditempat ayah dan ibu."
"Apa yang terjadi dengannya? Kyungsoo!" Baekhyun berlari kecil kearah Kyungsoo dan menggetarkan pundak lelaki itu kencang.
"Katakan! Kenapa dia tiba-tiba menghilang? Kenapa?" bentak Baekhyun dan Kyungsoo hanya menatap sosok lelaki di depannya dengan kedua mata bulatnya.
…
..
.
Baekhyun berjalan dengan tubuh gontai memasuki rumahnya, pandangannya kosong namun kakinya tetap melangkah memasuki rumah.
"Baekhyun? Bagaimana keadaan Yifan?" tanya Kibum dari arah dapur yang sempat melihat Baekhyun melintas di depan pintu dapur. Namun karena tak mendapat jawaban, Kibum berlari untuk mendapati Baekhyun berjalan menaiki tangga dengan gelagat aneh.
Baekhyun menutup pintu dan bersandar, lalu dengan perlahan tubuhnya merosot jatuh kelantai, ia menangis, menangis di balik lututnya yang terlipat.
"Chanyeol hyung harus pergi, dia harus menjauhimu untuk sementara."
Ucapan Kyungsoo masih terngiang dikepala Baekhyun dan itu semakin menambah rasa sedihnya, dan ketika Baekhyun bertanya apa alasan Chanyeol melakukan itu pada Kyungsoo, ia hanya menjawab,
"Karena hanya itulah satu-satunya cara terbaik untuk kalian berdua."
Baekhyun semakin terisak, ia tidak mengerti semua ucapan Kyungsoo. Kenapa? Apa? Cara terbaik apa? Dia sungguh tak mengerti, mereka baik-baik saja sebelum malam dimana Sehun menghilang, namun mengapa Chanyeol berubah kini? Baekhyun tidak tahu jawabannya dan ia hanya bisa menangis untuk saat ini, karena Chanyeol-nya tidak ada untuknya.
…
..
.
Chanyeol berbaring diatas ranjang di kamarnya, sesekali ia menekan dadanya yang terasa sakit dan sesekali terbatuk.
"Masih tidak mau melakukannya?" ucap Kakeknya yang kini duduk disalah satu sofa disudut ruangan. Chanyeol menggeleng pelan dan kembali berbaring.
"Apa kau pikir dengan berbaring kekuatanmu akan pulih? Tidak Chanyeol, tidak! Kau sedang mengalami krisis kekuatan." Chanyeol tidak merespon hanya mencoba menutup matanya, namun kakeknya malah berjalan mendekat.
"Sisi iblismu sangat lemah sekarang karena perasaan bodohmu mengacaukan segalanya. Aku tidak tahu kemana hilangnya Chanyeol yang gagah dan kejam? Kenapa sekarang aku hanya menemukan seorang lelaki tak berguna yang berbaring diatas ranjang?"
"Kakek, aku mohon_"
"Iblis tidak memohon. Heuh, sepertinya kau benar-benar mengalami krisis jiwa iblismu Chanyeol."
"Kakek, aku hanya ingin sendiri."
"Aku berhak berada dimanapun sesukaku."
"Tapi ini kamarku!"
"Dan kau cucuku." Chanyeol menghela nafas lalu menutup wajah dengan lengannya untuk mencoba tenang.
"Ayo kita lakukan seperti yang dulu suka kita lakukan? Kita buat banyak manusia tersesat, kau bisa melakukan apapun Chanyeol, bahkan kau bisa membakar pantat mereka dengan apimu seperti dulu, saat_"
"Kakek, aku sedang tidak dalam suasana hati yang baik, aku_"
"Sejak kapan iblis memiliki hati, mereka_"
"Ayah!" Minho muncul dengan wajah merengut atas sikap ayahnya, dan Kakek Iblis hanya berdecih tidak suka.
"Satu lagi Iblis yang lemah karena cinta." Gumamnya pelan dan Minho yang mendengarnya hanya melirik sekilas dengan tajam.
"Aku ingin bicara dengan Chanyeol."
"Baiklah! Aku lupa bahwa kau Rajanya kini." Ucap Kakek Iblis lalu menghilang. Minho menggeleng pelan dan segera mendekat kearah Chanyeol.
"Chanyeol, aku sudah mendengar semua. Kau tidak keluar selama tiga hari, dan hanya berbaring disini?" Chanyeol mengangguk tanpa membuka matanya.
"Apa yang harus aku lakukan Ayah?" tanya Chanyeol. Minho merasa iba melihat putra terkejamnya menjadi sangat lemah.
"Turuti kata hatimu Chanyeol, tapi sekarang sebaiknya kau obati dulu lukamu." Ucap Minho. Chanyeol menghela nafas lalu mendudukan dirinya.
"Berapa lama?" tanya Chanyeol.
"Mungkin 3 sampai 7 hari." Ucap Minho. Chanyeol menghela nafas pasrah. Ia melipat kedua kakinya, duduk bersila dengan kedua tangan diatas pahanya dan mata yang tertutup. Perlahan sebuah medan transparan berfluoresensi merah menyelaputi tubuh Chanyeol dan ruangan mendadak gelap.
Minho bangkit dan berjalan keluar namun langkahnya terhenti.
"Keluarlah!" ucap Minho pelan dan perlahan muncul Luhan dari balik dinding. Raut wajahnya nampak kecewa dan ia berjalan disamping Minho.
"Ini benar-benar keterlaluan untuknya. Seumur hidup aku tidak pernah melihatnya sehancur ini." Ucap Luhan sambil mengikuti langkah Minho di koridor istana.
"Seumur hidup pasti ada saatnya seseorang berada dalam masa hancurnya. Tidak ada yang bisa mengelak."
"Aku mengerti, sama seperti ketika ayah dan ibu tidak mendapatkan restu." Minho menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Luhan dengan senyuman terlembut yang pernah ia tujukan.
"Kau tahu? Bagi ayah itu bukanlah masa terburuk dalam hidupku."
"Benarkah? Lalu kapan?" Tanya Luhan antusias. Minho mengalihkan pandangannya menatap acak kearah dinding.
"Itu akan segera datang." Ucap Minho lalu kembali melanjutkan langkahnya. Luhan yang mengerti dengan ucapan ayahnya hanya bisa menundukan wajahnya dengan raut wajah sedih.
"Ibu~" gumamnya pelan
"Hei! Waktu bermainmu sudah habis, kembali bekerja!" seru Minho dan Luhan mengangguk lalu berlari kecil menuju ayahnya.
…
..
.
Sudah tiga hari semenjak kepulangannya dari apartemen Kyungsoo, Baekhyun tidak masuk sekolah karena merasa tidak enak badan. Ia menolak untuk memakan apapun hingga membuat Kibum kewalahan.
Ia hanya menghabiskan waktunya untuk berbaring dan menangis sepanjang hari, ia hanya makan dua suap dan setelahnya menutup rapat mulutnya.
"Baekhyun-ah!" panggil Kibum sambil memasuki kamar dengan sebuah nampan makanan.
"Ibu membuatkan sup kesukaanmu, kau harus_"
"Hiks.." Kibum merasa hatinya sakit mendengar isakan putranya. Ia meletakkan nampannya diatas meja dan segera duduk disamping Baekhyun. Mengelus pundak sempit itu dengan lembut.
"Baek, berhentilah seperti ini. Kau bisa sakit nanti!"
"Bu, kenapa dia pergi tanpa memberiku kabar? Apa dia sengaja menghilang? Apa dia bosan denganku? Hiks.. Apa salahku ibu? Hiks.." Kibum memeluk tubuh Baekhyun dan mencoba menenangkannya.
"Makanlah dulu! Chanyeol pasti memiliki alasan untuk pergi. Kau tidak bisa seperti ini Baek, kau harus melanjutkan hidupmu."
"Tapi bu_"
"Ssstt.. Sekarang makanlah! Agar besok kau bisa kembali bersekolah."
Sehun mengintip dari luar melalui celah pintu yang sedikit terbuka, ia terdiam dengan wajah datar tanpa menampilkan ekspresi apapun.
"Ibu, maafkan aku." Gumam Sehun pelan.
…
..
.
"Sehun!" Sehun memutar arah ketika melihat Soojung yang memangilnya. Namun sebelum berbelok di koridor gadis itu sudah lebih dulu menarik lengannya dengan keras.
"Apa yang terjadi padamu hah?"
"Bukan urusanmu!"
"Yak! Aku tidak suka kau bersikap seperti ini, dasar menyebalkan!"
"Ya, aku memang menyebalkan dan aku mengerikan jadi menjauh dariku!" ucap Sehun sambil menarik kerah seragam Soojung dan menghempaskannya pelan.
"Sehun? Apa karena aku lemah kau menjauhiku?" langkah Sehun berhenti ketika mendengar suara bergetar Soojung, ia berbalik dan mendapati gadis itu menunduk sambil menghapus air matanya dengan cepat.
"Kau memang menyebalkan, tapi aku tidak memiliki siapapun selain dirimu di sekolah ini. Tidak bisakah kau menjadi seperti dulu? Aku tidak apa-apa kau bersikap kasar padaku, aku tidak apa-apa kau mengata-ngataiku, tapi setidaknya_"
"Semua tidak sama lagi Soojung. Aku bukan Sehun yang dulu."
"Tidak! Kau tetap Sehun yang aku kenal. Si pendiam dengan kata-kata pedasnya yang memiliki nasib sama denganku, yang tidak memiliki ayah." Sehun menoleh dan tangannya terkepal, ia menjadi sensitif dengan kata-kata ayah, karena itu akan mengingatkannya pada Chanyeol.
"Kau tidak tahu aku."
"Ya, aku memang tidak tahu. Mungkin kau monster, mungkin kau hantu, mungkin kau seseorang dengan penyakit mematikan, tapi aku tidak peduli, aku tidak takut Sehun, aku tetap ingin menjadi temanmu."
"Tsh!" Sehun berdecih lalu melanjutkan jalannya, tidak memperdulikan Soojung yang mencoba menghapus air matanya dengan cepat , lagi.
…
..
.
Sehun menendang-nendang kerikil yang menurutnya menghalangi jalannnya dan sesekali menghela nafas berat.
"Aku tidak takut, siapa yang peduli." Sehun mengenal suara itu, tapi ia memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalannya.
"Oh benarkah? Rupanya gadis ini berani juga."
"YAKKK!" Sehun menghentikan langkahnya ketika mendengar teriakan Soojung, ia ingin tidak peduli namun entah mengapa otaknya membuat tubuhnya berbalik dan mencari sumber suara itu.
Ia mendapati Soojung tersudut di dinding gang dengan dua orang siswa menengah atas yang menjambaknya dan dua lagi menggeleda isi tasnya.
"Lepaskan dia!"
"Wow…wow… satu lagi si bocah berani. Tunggu! Bukankah kau si anak monster itu?" Sehun mengepalkan tangannya. Mereka adalah siswa-siswa berandal yang dulu suka menganggunya, sementara ketika itu ia hanya akan diam dipukuli tanpa melawan.
Salah satu yang tertinggi mendekat dengan sebuah seringaian. Ketika kepalanya akan disentuh Sehun melayangkan pukulannya.
"Keparat! Hajar dia!" ucap lelaki itu. Sehun melawan dengan menghantamkan berbagai pukulan dan tendangan, sementara Soojung mengambil tasnya dan diam menyaksikan. Tapi ketika melihat salah satu dari mereka berjalan dibelakang Sehun dengan sebuah pipa besi rongsokan, Soojung membulatkan matanya.
"Sehun aw_"
PRANG
Pipa itu jatuh ketanah sementara si pelaku nampak ketakutan ketika melihat wujud Sehun yang berubah. Semua nampak terkejut dengan perubahan wujud Sehun, lalu Sehun sedikit melayang dan dengan sekali gerakan mencekik sosok itu dan membawanya melayang hingga nyaris kehabisan nafas dengan kaki berayun diatas tanah.
"Sehun hentikan!" Sehun melepaskan tangannya dan berbalik.
"Lu-Luhan?" Di sudut gang berdiri Luhan dengan pakaian manusianya. Perlahan Luhan berjalan mendekat dan dengan samar membuat sebuah gerakan untuk menghapus ingatan empat orang yang sedang tidak sadarkan diri.
"Kembalilah!" Perlahan wujud Sehun kembali menjadi anak-anak. Luhan tersenyum dan memeluk tubuh Sehun sayang.
"Jangan seperti ini lagi." Bisik Luhan pelan dan Sehun tidak membalasnya bahkan kedua tangannya hanya tergantung disisi tubuhnya.
"Ayo kita pulang!" ucap Luhan dan Sehun menurut, namun langkahnya terhenti dan ia berbalik namun tidak menemukan siapapun diujung gang.
"Tunggu sebentar!" ucapnya pada Luhan dan segera berjalan menyusuri gang buntu tersebut. Perlahan ia menyingkirkan sebuah meja usang dan mendapati Soojung yang beringsut di dinding dengan tubuh bergetar dan wajah pusat pasi.
"Aku sudah katakan bukan bahwa aku adalah monster. Sekarang jauhi aku!" ucap Sehun pelan, tapi segera tangannya ditahan ketika dia akan berbalik.
"Se-Sehun. Ja-jangan ting-tinggalkan aku!" dan bola mata Sehun melebar mendengar ucapan Soojung.
Luhan meletakkan dua buah cangkir coklat panas diatas meja untuk dua tamu kecilnya. Soojung menganggukan kepala sambil meraih cangkir itu dan sesekali melirik Sehun. Sementara Sehun hanya melirik sekitar , mengamati apartemen Luhan yang menurutnya sangat rapi dan wangi.
"Baiklah! Mari kita luruskan ini!" ucap Luhan yang duduk di sofa diseberang Sehun dan Soojung dengan pakaian rumahnya, dan tak sengaja matanya menangkap sosok Sehun yang mengamati apartemennya membuat Luhan tersenyum kecil.
"Soojung, aku harap kau tidak akan_"
"Tidak, aku tidak akan menjauhi Sehun dan aku tidak akan membocorkan ini pada siapapun." Ucap Soojung antusias membuat Sehun meliriknya heran dan Luhan hanya tersenyum canggung.
"Dan kau Sehun, berjanjilah untuk tidak_"
"Aku tidak bisa menjanjikan apapun." Luhan tercekat mendengar ucapan Sehun.
"Hmm.. boleh aku bertanya. Sebenarnya anda siapa?" tanya Soojung. Luhan terkekeh lalu mengusak rambutnya pelan.
"Aku adalah gurumu, ah maksudku aku adalah mantan gurumu." Mata Sehun membulat dan Luhan hanya menatap Sehun sambil tersenyum.
"Ya, aku mengundurkan diri beberapa jam yang lalu."
"Tapi kenapa?" tanya Soojung.
"Aku punya alasan sendiri, dan… aku rasa sekarang saatnya untuk kalian pulang kerumah." Ucap Luhan sambil bangkit.
"Aku akan mengantar kalian_"
"Soojung kau pulang lebih dulu!" ucap Sehun. Luhan yang hendak mengambil jaketnya menoleh, sementara Soojung yang kebingungan hanya segera berkemas dan bangkit.
"Terima kasih Saem, aku pamit dan Se_" ucapan Soojung terputus ketika melihat raut wajah serius Sehun yang menatap kearah Luhan.
"Aku akan memanggilkan taksi, kau bisa menunggu dibawah dan hanya sebutkan namamu." ucap Luhan dan Soojung mengangguk sambil mengucapkan terima kasih.
Ketika pintu tertutup, Sehun berubah menjadi wujud setengah iblisnya dan dengan gerakan cepat menarik tangan Luhan dan memojokannya di dinding.
"Apa rencanamu kali ini?" tanya Sehun.
"Tidak ada, aku hanya merasa sudah saatnya untuk berhenti mengawasimu, kau sudah besar sekarang." Ucap Luhan sambil tersenyum. Sehun mengerutkan keningnya dan kembali menatap Luhan.
"Hei! Kau tidak bisa melakukan ini pada pamanmu sendiri." Ucap Luhan dan Sehun menggeram kesal, ia benci bila diingatkan tentang asal-usulnya.
"Hentikan! Aku tidak pernah menganggap diriku bagian dari kalian!"
"Lalu kau apa? Dengar Sehun, sebenci apapun kau pada asal-usulmu kau tetaplah bagian dari kami, kau tetaplah anak Chanyeol, adik_"
"Diam!"
"Aku tidak bisa tinggal diam ketika melihat adikku dalam keadaan hancur, apa kau tahu seberapa hancurnya dia sekarang, apa kau tahu_"
"Apa kau tahu seberapa hancurnya Baekhyun hyung? Apa kau tahu seberapa tersiksanya dia karena ulah adikmu?"
"Aku tahu, aku sangat tahu Sehun. Karena itu Chanyeol menebusnya sekarang, karena itu_"
"Karena itu dia sudah seharusnya menjauhi Baekhyun hyung, ibuku." Potong Sehun lagi.
"Jika kau memang seperhatian itu pada ibumu, kenapa kau tidak memikirkan kebahagiaannya. Katakan, berapa kali ia menangis karena Chanyeol jauh darinya? Katakan seberapa besar dia merindukan Chanyeol?" bentak Luhan.
"Dan coba kau katakan, seberapa sakit ibuku harus menanggung bebannya seorang diri sementara iblis yang menghamilinya bisa berkeliaran dengan bebas."
"Chanyeol sudah menanggungnya, dia sudah mendapatkan hukuman, apa itu tidak cukup untukmu?"
"Ya! Itu sangat tidak cukup. Aku ingin membunuhnya sialan!" bentak Sehun. Luhan mendorong tubuh Sehun dengan keras, hingga tubuh yang lebih tinggi darinya itu terhuyung kebelakang.
"Kau hanya tertutupi oleh dendam Sehun, kau sama sekali tidak memikirkan kebahagiaan orangtuamu."
"Aku hanya punya ibu, aku tidak memiliki ayah, terutama seorang bajingan sepertinya."
"Baiklah! Sekarang biarkan bajingan itu merasakan sakit berkali-kali lipat karena dia telah mencoba menyelamatkan putranya dengan mempertaruhkan nyawanya." Sehun tercekat, ia menatap Luhan dengan mata berair menahan emosi.
Tubuh Sehun terduduk lemas diatas lantai, ia menjambak rambutnya frustasi dan mengerang. Luhan mendekat dan berjongkok di depan Sehun, lalu dengan perlahan memeluk tubuh Sehun erat dan membenamkan wajah Sehun di perutnya.
"Ssst.. jangan takut! Semua akan baik-baik saja Sehun-ah." Bisik Luhan sambil mengelus rambut keponakannya.
…
..
.
Baekhyun berjalan dengan lemas di koridor sekolah, ia tidak memiliki rasa antusias lagi untuk pergi ke sekolah. Meski ia telah mencoba untuk bersikap normal tapi tetap saja sikapnya menunjukan bahwa ia tidak memiliki semangat. Semenjak ketidakmunculan Chanyeol, Baekhyun merasa hidupnya kembali hampa, seolah setengah jiwanya menghilang dan ia tidak memiliki semangat untuk melanjutkan hidupnya.
Chanyeol cinta pertamanya, orang pertama yang meruntuhkan dinding tebal dihatinya, orang pertama yang bisa membuka hatinya kembali dan sekarang sosok itu menghilang entah kemana, tanpa kabar, tanpa sebab dan tanpa alasan.
"Ba-Baekhyun!" Baekhyun menoleh pelan dan segera memasang wajah tersenyum ketika mendengar suara Yifan.
"Si-sini bi-biar aku ba-bawakan." Ucap Yifan sambil mencoba meraih tas Baekhyun, namun Baekhyun menahannya sambil menggeleng pelan tapi Yifan bersikeras dan akhirnya Baekhyun mengalah.
"Ba-bagaimana ke-keadaanmu? Ma-maaf a-aku tidak bi-bisa men-menjengukmu." Baekhyun tersenyum sambil menoleh.
"Aku baik-baik saja Yifan, tidak masalah. Hanya sedikit tidak enak badan." Baekhyun kembali tersenyum dan Yifan hanya mengangguk lalu membawa langkah mereka menuju kelas.
Ketika waktu istirahat tiba, Baekhyun hanya mengaduk makanannya tanpa berniat memasukannya ke dalam mulut.
"A-apa Chan-Chanyeol be-begitu berarti ba-bagimu?"
"Hm?" Baekhyun menatap Yifan sedikit bingung lalu segera menggeleng sambil berusaha tersenyum, lagi.
"Ka-kau ter-terlihat ti-tidak ber-bersemangat. A-apa kau be-begitu mencintai Chan-Chanyeol?" Baekhyun hanya tersenyum dan mengalihkan tatapannya ke jendela.
"Tentu. Aku sangat mencintainya." Ucap Baekhyun sambil menatap keluar jendela.
…
Mata Chanyeol terbuka, bola matanya tidak lagi biru melainkan berwarna merah pekat. Ia menghela nafas dan matanya tertuju pada ranjangnya. Ia mendengar suara Baekhyun , begitu jelas di pendengarannya dan itu membuatnya tidak bisa kembali berfokus pada meditasinya.
"Baekhyun, aku merindukanmu." Gumamnya pelan dengan raut wajah bersedih.
…
..
.
Sehun duduk di dalam kamarnya, beberapa buku pelajaran terbuka dan baru dikerjakan separuhnya, namun kini Sehun tengah termenung dengan kedua tangan terkepal.
Mengingat percakapannya dengan Luhan membuat kebenciannya pada Chanyeol tidak mereda, ia benar-benar membenci sosok itu yang membuat hidup ibu kandungnya menjadi sangat sengsara.
"Apa kau tidak lihat Chanyeol berusaha menebus semua kesalahannya?"
Sehun menggertakan giginya mengingat ucapan Luhan.
"Apa kau tidak melihat Baekhyun bahagia saat bersama Chanyeol?"
"Apa kau tidak bisa memaafkan kesalahannya? Dia ayahmu."
"Ya. Iya, aku tidak bisa memaafkan si brengsek itu , sekalipun dia adalah ayahku."
Gumam Sehun sambil menggenggam kuat pensilnya hingga benda itu patah menjadi dua bagian.
…
..
.
Baekhyun terisak diatas ranjang sambil memeluk jaket Chanyeol yang tertinggal di kamarnya, ia menghirup aroma Chanyeol sambil mengenang kebersamaan mereka. Sejak usai makan malam Baekhyun terus menangisi Chanyeol, ia merasa dibuang dan tidak diinginkan.
"Chanyeol, hiks.. Apa aku telah dibuang? Apa kau meninggalkanku? Hikss." Isaknya sambil menghirup lebih dalam aroma Chanyeol di jaket hitam itu.
Diluar sana, Chanyeol melayang dengan wujud setengah iblisnya. Sejak berjam-jam lalu ia telah menatap miris pada kekasihnya. Wajah Chanyeol menyiratkan sebuah luka yang dalam, ia ingin menyentuh kekasihnya, memeluknya, menciumnya dengan penuh kasih sayang, tapi sekali lagi ia tidak bisa, ia benar-benar tidak bisa.
"Maafkan aku sayang."gumam Chanyeol pelan.
"Heuh! Apa kau pikir kau pantas dimaafkan?" Chanyeol menoleh dan sedikit tersentak ketika melihat sosok Sehun dengan wujud setengah iblisnya melayang disampingnya sambil menatap datar kearah jendela.
"Sehun?"
"Apa peringatanku masih kurang ?" Sehun mengalihkan tatapannya kearah Chanyeol dan Chanyeol bersumpah itu adalah tatapan mematikan yang pernah Sehun berikan padanya.
"Aku_aakkhh!" Chanyeol terdorong ke dinding dengan tangan Sehun yang mencekik lehernya.
"Kenapa? kenapa kau tidak melawan hah?" ucap Sehun dengan sebuah seringaian, sementara Chanyeol hanya merendahkan arah pandangnya.
"Merasa pantas diperlakukan seperti ini? Bagus, itu artinya kau tahu diri bajingan."
"Kenapa kau sangat membenciku?" tanya Chanyeol dengan suara lemah, tidak menampakan keangkuhan seperti biasanya.
"Kenapa? Heuh.." Sehun tertawa kecil sambil menggeleng pelan, sebelum akhirnya mencengkram lebih kuat dan menekan lebih keras tubuh Chanyeol ke dinding.
"Apa penderitaan kami tidak menjawab pertanyaan bodohmu?" Chanyeol tidak merespon, ia hanya menatap kearah mata Sehun. Tidak ada kasih sayang disana, tidak ada tatapan polos yang memohon padanya seperti biasa, disana Chanyeol hanya melihat kebencian, kebencian besar yang membuat Chanyeol bungkam.
"Aku mencintai Baekhyun, ibumu."
"Ck! Cinta? Kau hanya mencintai tubuhnya, bukan dirinya."
"Tidak. Aku…aku mencintai Baekhyun."
"Benarkah? Hmm.. aku ingin percaya, tapi sayang saat ini aku sedang bicara dengan seorang iblis, ah tidak calon Raja Iblis . Makhluk penipu ulung yang pernah ada. Haruskah aku percaya?"
"Sehun-ah?"
"Jangan panggil namaku seperti itu! Itu menjijikan."
"Aku tahu kau sangat membenciku_"
"Sangat."
"Aku_"
"Pergilah dari hidup kami, aku, Baekhyun hyung, tidak membutuhkanmu. Kami bahkan bisa bertahan hidup sebelum kedatanganmu kembali." Keduanya saling pandang tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Chanyeol?" Chanyeol dan Sehun menoleh ketika mendengar panggilan Baekhyun dan langkah kaki yang mendekat. Sehun menoleh sebentar dan kembali menekan leher Chanyeol semakin keras, sementara Chanyeol hanya bisa meringis.
"Chanyeol? Itu kau?"
Ketika jendela terbuka, hanya hembusan hawa dingin yang menyapu permukaan kulit Baekhyun, membuat lelaki itu mendesah kecewa. Ia menangis, terisak lebih keras sambil menundukan wajahnya.
Di balik pintu jendela, Chanyeol bersandar pada dinding sambil menutup matanya menahan segala rasa sakit yang mendera hatinya.
Baekhyun berbalik dengan wajah tertunduk dan berjalan kearah ranjangnya untuk berbaring. Ia mematikan lampu dan memutuskan untuk tidur.
Tirai kamarnya menari dengan indah tertiup angin malam dan di balik pantulan cahaya rembulan Chanyeol muncul dan perlahan melayang kearah Baekhyun. Lelaki itu berdiri disisi ranjang menatap wajah tertidur Baekhyun yang nampak menyedihkan dengan mata sembab dan hidung memerah. Chanyeol bahkan dapat melihat Baekhyun sesegukan dalam tidurnya.
Chanyeol mengulurkan tangannya dan menyentuh pipi Baekhyun untuk menghapus air matanya yang tersisa.
"Selalu ingat Baekhyun, bahwa aku mencintaimu, aku tidak akan pernah melepaskanmu sayang." Gumam Chanyeol.
"Chanyeol~" Chanyeol tersenyum kecil mendengar Baekhyun mengigau dalam tidurnya.
"Aku selalu bersamamu." Gumam Chanyeol pelan.
Diluar sana Sehun melayang sambil menatap dua orang dihadapannya dengan wajah datar. Lalu dalam sekejap ia telah menghilang membaur bersama udara.
…
..
.
Chanyeol melangkah dengan tergesa memasuki Nubes, wajahnya terlihat sangat tegang , bercampur kesal dan cemas.
Ia menerobos puluhan pengawal yang berjejer di depan sebuah ruangan tanpa memperdulikan sopan santun. Ia membuka pintu dengan kuat membuat orang-orang di dalam sana menoleh terkejut dan kemudian kembali menatap sosok yang terbaring diatas ranjang yang tertutup oleh medan salju.
Chanyeol berjalan dengan wajah menahan emosi melihat sosok itu dan ia dapat merasakan otot kakinya yang seolah melemas. Ia bersimpuh sambil menerobos medan salju itu untuk meraih jemari ibunya hingga membuat tangannya ikut memutih.
Chanyeol menatap ibunya yang terlihat sangat pucat, kulitnya menjadi seputih dan sedingin salju, rambutnya membeku, alis ,bulu mata dan bibirnya pun memutih.
"Ibu." Gumam Chanyeol sambil mencium tangan dingin ibunya.
Semua mata hanya menatap dengan wajah bersedih tidak berani memberikan komentar apapun.
"Chanyeol?" Minho mendekat dan menyentuh pundaknya, namun kemudian Chanyeol bangkit dan menepis itu. Ia berbalik dan mengeluarkan bara api disekitar tubuhnya.
"Apa yang terjadi pada ibu? Kenapa dia jadi seperti ini hah?" bentak Chanyeol membuat semua orang disana hanya menundukan kepalanya, bungkam.
"Chanyeol, tenangkan dirimu!" ucap Raja Malaikat. Chanyeol menoleh dan berjalan kearah Raja Malaikat membuat Yunho segera menghalangi jalannya, memberikan perlindungan pada Sang Raja.
"AAARRGGHHH." Chanyeol berteriak keras lalu bersimpuh dengan lemas diatas lantai. Ia meraung dalam kesakitan dan kesedihan.
Luhan dan Kyungsoo hanya menatap saudara mereka dengan wajah perihatin dan iba, sementara Minho dan Raja Iblis tidak menunjukan ekspresi apapun.
"Seseorang, tolong jelaskan padaku! Apa yang terjadi pada ibu?" Untuk pertama kalinya seorang Chanyeol merengek. Ia melupakan sifat angkuh dan wibawanya , ia bukanlah seorang calon Raja Iblis sekarang, melainkan hanya lelaki menyedihkan dengan sejuta rasa sakit yang menghujamnya dari berbagai arah.
"Chanyeol hyung?" Kyungsoo melangkah maju, membuat Luhan menahan gerakan adiknya karena Chanyeol dalam keadaan murka sekarang. Tapi Kyungsoo tidak peduli, ia melangkah maju ke tengah ruangan.
Perlahan bersimpuh di depan Chanyeol, menyentuh pipi sang kakak membuat tangannya terbakar, namun Kyungsoo tidak peduli. Seharusnya kekuatan Chanyeol akan lenyap di Nubes, namun karena emosinya yang terlalu besar kekuatan itu muncul dan itu berarti kekuatan itu sangatlah besar, yang juga berarti bila Chanyeol menyerangnya , Kyungsoo akan terbakar menjadi abu, tapi sekali lagi Kyungsoo tidak peduli.
Ia mengerahkan kekuatannya untuk menyalurkan hawa dingin disekitar tubuh mereka. Kyungsoo menatap iba kearah Chanyeol yang nampak hancur saat ini, perlahan ia mengangkat wajah sang kakak dan menatap ke dalam mata bersedih itu.
"Semua akan baik-baik saja hyung." Bisik Kyungsoo. Chanyeol tidak menjawab namun perlahan kekuatannya menghilang, api disekitar tubuhnya tidak lagi membara. Kyungsoo tersenyum, memberikan sejuta ketenangan untuk Chanyeol dan ia menarik tubuh kakaknya ke dalam pelukan.
Menyandarkan wajah Chanyeol pada dadanya, membawanya dalam sebuah dekapan.
"Kau tidak sendiri hyung, aku ada disini. Jangan bersedih lagi!" Ucap Kyungsoo dan perlahan medan salju disekitar Kyungsoo makin membesar dan membungkus tubuh keduanya, hingga bara api ditubuh Chanyeol benar-benar lenyap.
Itulah kekuatan Kyungsoo sebenarnya, ia mampu mengendalikan apapun disekitarnya termasuk hati yang hancur, Kyungsoo adalah lambang dari ketenangan. Ia mampu memberikan ketenangan pada siapapun yang ada disekitarnya.
"Kyungsoo, hiks.." Isakan Chanyeol terdengar disela-sela pelukan mereka.
"Ya hyung?"
"Apa yang terjadi pada ibu?" bisik Chanyeol. Kyungsoo menjauhkan tubuh mereka, lalu menatap ke dalam mata sang kakak sambil tersenyum.
"Ibu hanya tidur sementara." Ucap Kyungsoo pelan dan Chanyeol kembali menarik tubuh adiknya ke dalam sebuah pelukan yang dingin. Pelukan yang mampu membuatnya tenang, sebagaimana ibunya dulu memberikannya sebuah ketenangan melalui sebuah pelukan dingin yang sangat nyaman.
Pintu terbuka dan semua mata menuju kearah Raja Malaikat yang berjalan keluar dengan wajah tertunduk diikuti oleh beberapa pengawal setianya. Sementara Kyungsoo dan Chanyeol masih bertahan pada posisi mereka ditengah ruangan.
Luhan yang sejak tadi menatap kearah Kyungsoo dan Chanyeol mengalihkan pandangannya dan mendapati sosok ayahnya yang menatap sendu kearah sang ibu.
Meski mereka berkata bahwa ibunya hanya dalam kondisi lemah yangmana bisa saja menyerang semua malaikat, Luhan tahu itu hanya sebuah kebohongan.
Wajah tenang ayahnya ketika berkata semua baik-baik saja adalah topeng, kenyataan sebenarnya adalah ibunya sedang sekarat dan sebentar lagi sesuatu yang paling tidak ia inginkan akan segera terjadi.
Ibu mereka akan pergi untuk selamanya….
…
..
.
( baca N/A dibawah ya )
TBC
…
..
.
Okay, aku mau minta maaf sebelumnya. Maaf karena ini adalah update paling lama, wkwkwkwk.. beberapa readers bahkan ngitung dan aku gak nyangka kalo ini udah hampir 2 bulan atau mungkin sudah 2 bulan wkwkwkw.. Maafin aku ya!
Buat yang minta jangan ada adegan sedih, maaf aku gak bisa kabulin karena adegan itu memang harus ada. Hehehe..
Aku gak tahu chapter ini membayar penantian kalian atau nggak wkwkwkw, atau mungkin malah ngebosenin atau mungkin udah bisa ketebak, atau mungkin beberapa udah mulai gak antusias lagi, tapi aku mau bilang kalo beberapa chapter lagi FF ini bakal end hehehe..
Mungkin udah ada yang bisa nebak endingnya? Wkwkwkw..
Oh iya buat yang minta aku untuk bikin untuk tanya-tanya tentang FF dan Chanbaek, aku udah buat ya Parkshita atau bisa klik di bio aku di IG . Tenang itu khusus aku buatin untuk Chanbaek shippers kok..
Hmm.. aku juga mau bilang setelah DBM aku bakal buat FF baru lagi, tentunya dengan maincast Chanbaek dan of course yaoi fic. Jadi silahkan vote ya, kira-kira lebih suka yang mana . Sama halnya ketika aku posting FF ini, aku juga minta saran ke kalian wkwkw. Bukan apa, Cuma aku itu bingung mau post yang mana duluan wkwkwkw.. Silahkan pilih ya :
1. Boy from the star - Fantasy, Family, Romance , Mature
2. Hot saint and sexy ghost - comedy-horror, romance ,Mature
3. Monday to Sunday -School life, romance , Mature
! Don't Tell 'em- Romance, comedy, age gap, mature
5. Restart- Mature, marriage life, romance, love-life
Mohon suaranya ya, dan mulai chapter ini sampai chapter seterusnya aku bakal mulai ngumpulin suara .
Sekali lagi untuk yang udah review, yang review+ follow+ ngefav , atau yang Cuma siders makasi ya, tanpa kalian mungkin aku gak bisa lanjutin FF ini, makasi semangat kalian ya, sama antusias kalian yang selalu ngechat aku meskipun aku balesnya bisa tahunan wkwkw..
Sekian dari aku guys, seperti biasa jaga kesehatan kalian , selalu support Chanbaek as gay , as lovers dan salam Chanbaek is real.
