Cast : Park Chanyeol , Byun Baekhyun , Oh Sehun , Do Kyungsoo , Xi Luhan , KimJongin, Kim Kibum, Choi Minho , Lee Taemin , Ok Taecyeon , Taeyang, Kim Dasom , Kim Jonghyun, Bae Joo Hyeon-Irene , Park Sooyoung- Joy , Kim Yerim-Yeri, Song Naeun, Yoon Bomi, Park Chorong, Park Cheondong ( Thunder ), Huang Zitao, Wu Yifan, Jung Soojung, Jessica Jung and others.


PERHATIAN!

Ff ini mengandung unsur dewasa berbau seks, hubungan sesama jenis yang menyebabkan beberapa orang mungkin mual, Bahasa yang berantakan, dan typo yang walau sudah berusaha dihilangkan tapi tetap muncul. Tidak untuk area bermain anak-anak, anak polos, antigay/ homophobic, AntiChanbaek dan segala yang tidak ada sangkut pautnya dengan dunia yaoi.


NO CO-PAST

NO-REPOST

NO-PLAGIAT

Okay?

There always be a place for the good person. So, don't steal people's effort , be honest dear..

Mulailah dengan sebuah kata, susunlah menjadi kalimat dan kembangkan dalam sebuah paragraph.

Cerita yang hebat bukan tentang siapa, tapi tentang apa dan bagaimana.


..

.

Lupa? Silahkan baca chapter sebelumnya! :)

Park Shita

Present

..

.

Ratusan tahun silam sebuah peristiwa paling tidak terlupakan pernah terjadi. Seorang penerus tahta kerajaan terlahir ketika gerhana matahari terbesar menggelapkan seluruh dunia , tidak ada sedikit pun cahaya karena kegelapan sedang berkuasa ,dimana saat itu seluruh iblis berada pada masa tertinggi mereka.

Tangisannya terdengar sangat nyaring bahkan memekikan telinga seluruh makhluk hidup, menunjukan bahwa ia sangat kuat dan tak terkalahkan, dialah si iblis setengah malaikat, Chanyeol.

Semua mengingat dengan jelas bagaimana Taemin bersusah payah mempertaruhkan nyawa untuk sebuah kelahiran putra keduanya yang berkali-kali lipat lebih menyakitkan daripada kelahiran putra pertamanya, Luhan.

Malaikat tidak pernah merasakan yang namanya melahirkan karena mereka tercipta melalui elemen bumi, begitu pun para iblis namun Tuhan memberikan sebuah pengecualian untuk pasangan terlarang antara Iblis dan Malaikat tersebut.

Waktu berlalu dan Chanyeol tumbuh menjadi anak yang sangat kuat dan cerdas. Ketika bayi ia sudah mampu menghanguskan kamarnya karena merasa lapar namun tak seorang pun berada disana ketika itu. Taemin menghadiri rapat mendadak , mengharuskannya kembali ke Nubes sesaat, sementara Minho yang diberi tugas menjaga Chanyeol pergi keruangannya karena terjadi masalah kecil.

Sekembalinya mereka, mereka dikejutkan dengan kamar bayi Chanyeol yang sudah hangus tidak tersisa menyisakan Chanyeol bayi dalam keadaan membara diatas puing-puing ranjangnya.

Ketika balita Chanyeol sudah bisa menggunakan kekuatan apinya menggunakan jemari, ia akan tertawa ketika bokong para malaikat terbakar karena ulahnya sementara ia akan bersembunyi dibalik pelukan ibunya.

Chanyeol kecil sangatlah nakal namun ia sangat menuruti nasihat ibunya. Ketika ia berlarian dengan tawa keras sementara Luhan berteriak kesal dibelakangnya , Taemin akan memintanya berhenti dan Chanyeol melakukannya tanpa bantahan bahkan ia selalu berucap maaf atas kesalahan yang ia lakukan.

"Ibu, boleh aku tidur disini?" Chanyeol kecil mengintip dari balik pintu kamar ibunya di Nubes. Seharusnya malam ini, ia dan Luhan menginap di Nubes dan tidur dikamar yang telah disiapkan untuk mereka, namun Chanyeol merasa asing dan kedinginan jadi ia melompat dari ranjang empuknya menuju kamar ibunya secara mengendap-endap.

Taemin tersenyum "Kemari sayang!" ucapnya sambil memberikan ruang pada putranya untuk berbaring disampingnya.

"Kau bermimpi buruk?" Chanyeol menggeleng sambil menarik selimut untuk menutupi sampai batas dagunya.

"Aku hanya merasa asing, disini bukan tempatku. Eerrrhh.. rasanya dingin." Ucap Chanyeol sambil bergidik membuat Taemin tersenyum lalu menutup bukunya dan mengelus surai hijau kelam milik putranya.

"Sayang sekali kau tidak bisa menggunakan kekuatanmu disini." Ucap Taemin dan Chanyeol mengangguk dengan bibir dikerutkan.

"Ibu apa Iblis begitu mengerikan sehingga kami tidak boleh memiliki apa yang menjadi hak kami disini?"

"Tidak, bukan karena itu. Ini hanya sebuah kebijakan mengingat kejadian dimasa lalu dulu."

"Apa? Kejadian apa?" Taemin menatap Chanyeol lalu memasang wajah berpikir.

"Ayolah ibu! Ceritakan!"

"Ayahmu pernah mengamuk disini dan merusak seluruh Nubes." Mata Chanyeol membulat membuat Taemin terkekeh.

"Benarkah? Apa yang membuat ayah marah?"

"Hmm.. ayah marah karena Kakek melarang ibu dan ayah menikah."

"Kenapa?" tanya Chanyeol lagi.

"Karena kami iblis dan malaikat, kami tidak bisa bersama."

"Kenapa iblis dan malaikat tidak bisa bersama?" Taemin mengerutkan bibirnya sambil menatap Chanyeol.

"Karena mereka bilang bahwa iblis dan malaikat memiliki dunia yang berbeda, mereka tidak bisa bersama, mereka tidak bisa saling mencintai."

"Lalu kenapa ayah dan ibu saling mencintai?" Taemin tertawa lalu menggosok hidung Chanyeol gemas dengan telunjuknya.

"Ini topik untuk orang dewasa, ibu tidak bisa menjelaskan. Tapi yang perlu kau tahu bahwa cinta tidak mengenal siapapun ketika mereka memilih untuk jatuh. Itu mengapa mereka disebut jatuh- cinta." Chanyeol mengangguk mengerti lalu merapatkan tubuhnya pada Taemin, memeluknya pelan dan menyembunyikan wajahnya di dada sang ibu.

"Apa yang kau lakukan?"

"Memeluk ibu."

"Bukankah tubuh ibu jauh lebih dingin dari kamarmu?"

"Tubuh ibu memang dingin, tapi pelukan ibu sangat hangat. Aku tahu mengapa ayah bisa jatuh cinta pada ibu." Ucap Chanyeol membuat Taemin tertawa dan menggelitik putranya karena mengatakan sesuatu yang bukan dalam topik anak-anak.

"Aku harap jika aku jatuh cinta nanti, aku akan jatuh cinta pada seseorang yang memiliki tubuh yang sangat enak untuk dipeluk seperti ibu"

"Eeeii~ kau sudah mulai dewasa rupanya." Gumam Taemin sambil memeluk tubuh Chanyeol lebih erat.

Ketika Chanyeol menginjak fase remaja, semuanya berubah. Kakek Iblis menyerahkan jabatannya pada Minho dan membuatnya menjadi seorang Raja, lalu Chanyeol sudah diputuskan untuk menjadi penerus selanjutnya namun Kakek Iblis tidak membiarkan Minho mendidik putranya karena baginya Minho kurang tegas dan kejam, jadi Kakek Iblislah yang turun tangan langsung untuk mendidik seorang Chanyeol.

"Tidak ada pelukan, tidak ada tangisan, tidak ada kasih sayang , tidak ada cinta." Bentak Kakek Iblis di depan wajah Chanyeol.

"Ulangi!"

Chanyeol segera menegakkan tubuhnya dan menatap lurus kedepan lalu mengulang ucapan Kakeknya.

"Bunuh itu dengan sekali cekikan!" ucap Kakek Iblis sambil menunjuk seekor rusa ditengah hutan. Chanyeol menoleh menatap Kakeknya tidak percaya.

"Tapi kenapa? dia tidak menggang_"

"Dia lemah. Dan sesuatu yang lemah harus musnah." Chanyeol mengangguk ragu lalu segera berteleportasi menuju disamping rusa tersebut lalu dalam sekali cekikan membunuh rusa itu hingga tewas.

Setiap hari Chanyeol semakin diajarkan untuk menjadi kuat dan kejam, bahkan ia dilarang untuk pergi ke Nubes. Awalnya Chanyeol memang merasa keberatan, namun semakin lama ia menyukai kekuatan yang ia peroleh bahkan iming-iming tahta yang diucapkan Kakeknya setiap hari. Chanyeol kecil yang lucu berubah menjadi Chanyeol remaja yang kejam tanpa perasaan.

"Chanyeol?" Taemin terkejut ketika melihat putranya berdiri di depan kamar khususnya di Infernus dengan wajah yang sulit dimengerti. Chanyeol melangkah masuk dengan angkuh dan berdiri di depan ibunya yang sedang berbaring.

Taemin telah mendapat larangan dari Mantan Raja Iblis untuk mendekati Chanyeol, sehingga membuat Taemin harus bersikap seperti orang lain ketika bersama putranya. Namun saat itu ia melihat ada yang berbeda dari putranya.

"Ada ap_" ucapan Taemin terputus ketika Chanyeol berhambur ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajahnya di balik perutnya.

"Hei, kenapa?"

"Aku merasa tidak bisa menjadi seorang Raja. Ini sungguh menyiksaku." Ucap Chanyeol dengan nada suara dingin, bahkan ia tidak lagi memanggil ibunya dengan sebutan "Ibu" sambil merengek manja.

"Kenapa?" tanya Taemin sambil mengelus pundak putranya dan memperbaiki posisi berbaring Chanyeol.

"Aku hanya tidak siap dengan semua latihan itu, aku tidak siap."

"Hei! Kau harus siap sayang! Kau adalah_"

"Berhenti berkata bahwa aku adalah iblis yang kuat dan sebentar lagi akan menjadi penerus kerajaan!"

"Tapi itu fakta."

"Tapi aku membencinya."

"Kau tidak bisa membenci sebuah kenyataan." Ucap Taemin.

"Bisakah kau diam?" Taemin melototkan matanya tidak percaya ketika Chanyeol tidak lagi memanggilnya ibu.

"Baiklah. Tapi sampai kapan?"

"Sampai aku merasa_"

"Bagus! Menangislah dalam pelukan ibumu, bila perlu minta ibumu untuk menyanyikan lagu tidur." Chanyeol dan Taemin menoleh lalu mendapati Kakek Iblis di depan pintu.

"Ayah mertua, ayah masuk tanpa izinku."

"Tapi kau tidak memasang medan pelindung." Taemin menghela nafas dan menatap terkejut ketika melihat Chanyeol sudah berdiri dengan posisi tegak.

"Chanyeol." Taemin memegang tangan putranya, namun Chanyeol menampiknya dan segera berjalan menuju kakeknya.

"Ayo kem_"

"Biarkan dia istirahat!" ucap Taemin sambil tersenyum.

"Tidak bisa dia harus_"

"Biarkan dia istirahat hanya sejenak!" ucap Taemin lagi.

"Tidak. Dia harus melakukan_"

"Demi Tuhan dia hanya anak kecil. Ayah tidak bisa menyuruhnya melakukan ini dan itu."

"Tapi dia cucuku."

"Dan aku ibunya." Ucap Taemin membuat Kakek Iblis menghela nafas.

"Dasar wanita."

"Hei!" bentak Taemin namun Kakek Iblis telah menghilang.

Chanyeol membalik tubuhnya dan menatap ibunya.

"Dia mengataiku wanita. Dasar!" ucap Taemin sambil memutar bola matanya membuat Chanyeol tersenyum kecil secara samar.

"Ibu?"

"Apa kau akan membuang waktumu untuk berdiri disana?" Chanyeol tersenyum lebar lalu berlari kearah ibunya dan menaiki ranjang lalu berbaring . Ia tersenyum lega seperti anak kecil yang bermain dihamparan salju membuat Taemin terkekeh.

"Kau bisa saja berpura-pura tapi semakin lama kau akan merasa lelah. Jadi jangan pernah menjadi oranglain, ikuti kata hatimu dan jadilah dirimu sendiri."

"Aku mengerti."

..

.

Chanyeol menatap wajah ibunya dengan tatapan lelah, sedih, sayu , iba dan kesal. Seluruh emosinya membaur menjadi satu melihat tubuh kaku ibunya berbaring diatas ranjang.

"Sampai kapan kau akan berpura-pura tidur?" gumam Chanyeol pada Taemin yang masih terbaring.

"Aku sudah berkata bukan bahwa jangan menyembunyikan apapun dariku, lalu kenapa kau melakukan ini? Aku tetap membencimu."

"Chanyeol!" bentak Luhan , namun Minho menahan lengan Luhan yang ingin marah pada adiknya.

"Chanyeol kembalilah! Kau sudah 3 hari disini tanpa menyentuh makanan." Ucap Minho.

"Lalu kalian? Kalian juga sama, tapi kenapa hanya aku yang kalian minta untuk kembali. Apa aku tidak boleh bersama pembohong ini disisa hidupnya?"

"Chanyeol! Kau sungguh keterlaluan." Luhan dengan kesal melangkah maju untuk mencekik Chanyeol, namun Chanyeol bergeming tidak berniat melawan sama sekali.

Suara pintu yang tertutup membuat mereka menoleh dan Minho baru saja meninggalkan ruangan menyisakan Luhan, Chanyeol dan Kyungsoo disana.

"Kau membuat ayah marah, tidak bisakah_"

"Tidak bisakah kau diam! Kau yang mencoba membunuhku tadi." Bentak Chanyeol membuat Luhan bungkam.

"Kalian berdua_" ucap Kyungsoo sambil terduduk menatap ibunya.

"Tidak bisakah kalian diam dan biarkan ibu tidur dengan tenang?" Luhan menoleh dan air mata tertahannya terjatuh. Ia mengipasi wajahnya lalu segera berbalik dan menghilang.

Chanyeol mengambil duduk disamping Kyungsoo membuat lelaki yang lebih kecil menoleh dan ia tersenyum pada Chanyeol, sebuah senyum kepalsuan, senyum yang menunjukan bahwa pemiliknya sangatlah lemah tak setegar senyumannya.

"Hyung, ibu sangat cantik bukan ketika terti_" ucapan Kyungsoo terputus karena Chanyeol membawa wajah adiknya terbenam dalam dadanya. Membiarkan adik kecilnya menangis, karena Chanyeol tahu adiknya tidak menunjukan air matanya pada siapapun.

"Hiks.. meskipun ibu cantik saat tertidur, tapi aku lebih suka ibu yang terbangun." Kyungsoo terisak dan Chanyeol berusaha menenangkan dengan mengelus punggung sempitnya perlahan.

"Ibu akan segera bangun, aku yakin." Ucap Chanyeol sambil menatap kearah ibunya yang masih setia terbaring.

..

.

Tiga hari berlalu dan keadaan Taemin masih tetap sama. Terbaring kaku diatas ranjang dengan tubuh yang semakin terlihat transparan membuat semua mata menatapnya cemas dan penuh ketakutan, takut kehilangan.

Nubes sedang berduka atas kondisi Pangeran Mahkota mereka, cahaya matahari di Nubes meredup, bunga-bunga nampak layu dan para malaikat seperti tidak bersemangat. Minho dan yang lainnya hanya bisa menatapi tubuh Taemin tanpa bisa melakukan apapun, membuat Chanyeol geram dan ia bangkit.

"Aku tidak bisa membiarkan ini, katakan apa yang harus aku lakukan agar ibu sadar? Pasti ada cara kan?" ucap Chanyeol memecah keheningan. Ia menatap satu persatu wajah orang-orang di ruangan itu namun respon mereka membuat Chanyeol kecewa karena tidak ada satupun yang melontarkan kata selain hanya menundukan wajah semakin dalam.

"Kalian pembuat ramuan yang hebat, buatlah sebuah ramuan untuk ibuku!" bentak Chanyeol namun kedua Raja itu hanya bisa menundukan kepalanya semakin dalam, Minho melangkah maju dan memegang pundak Chanyeol.

"Tenangkan dirimu!"

"Tenang?Bagaimana aku bisa tenang melihat ibu, orang yang melahirkanku menjadi seperti ini? Dia_"

"Heuh.." Degusan Luhan membuat Chanyeol menoleh.

"Ibu? Kau baru menyadarinya sekarang? Kau baru menganggap dia sebagai ibumu? Kemana kau sejak dulu Chanyeol? Apa kau pikir ibu menjadi seperti ini tanpa alasan? Tidak! Ini semua terjadi karenamu, ibu_"

"Luhan!" Kakek Iblis membentak membuat Luhan terdiam dengan mata yang memerah menahan tangisannya sejak tadi. Chanyeol nampak terkejut, wajahnya terlihat kosong dan ia menatap seluruh orang di dalam sana yang seolah membenarkan ucapan Luhan.

"A..apa yang aku lakukan pada ibu?" tanya Chanyeol dengan suara bergetar. Luhan membuang wajahnya dan menghapus air matanya yang mengalir dengan cepat, dengan wajah menahan amarah. Kyungsoo melirik sekitar dan ketika matanya bertemu dengan Chanyeol , ia hanya bisa menunduk.

"Katakan! Apa yang aku lakukan pada ibu?" Chanyeol nampak terpukul, ia berjalan hendak menuju Raja Malaikat namun Yunho dan pengawalnya segera menghadang dengan tombak panjang miliknya membuat Chanyeol melangkah mundur dengan pasrah.

"Kenapa kalian menyembunyikan ini dariku? Apa yang telah kulakukan pada ibu?" ucap Chanyeol setengah terisak, sisi iblisnya benar-benar lemah , ia benar-benar hancur sekarang.

"Jika saja kau tidak menghamili Baekhyun, ini semua tidak akan terjadi."

"Luhan!" kali ini Minho berteriak. Luhan menatap ayahnya dan Chanyeol bergantian lalu mendengus kesal dan berjalan meninggalkan ruangan.

"Chanyeol kembalilah ke Infernus!"

"Tidak sebelum_"

"KEMBALI!" Minho berteriak sambil melemparkan bola apinya kearah Chanyeol namun segera ditepis cepat oleh Kakek Iblis. Kyungsoo melangkah maju dan membawa tubuh Chanyeol meninggalkan ruangan.

"Kontrol emosimu Minho, jangan memperkeruh keadaan." Ucap Kakek Iblis dan Minho hanya menghela nafas.

..

.

Chanyeol berbaring diatas ranjangnya dengan Kyungsoo yang membantunya perlahan. Ketika Kyungsoo akan bangkit, Chanyeol menahan tangan adiknya.

"Kau tahu sesuatu?" tanya Chanyeol dengan suara terlembut yang ia punya. Kyungsoo menatap Chanyeol dan tangannya yang digenggam bergantian lalu menggeleng.

"Aku mengenalmu ratusan tahun, Kyungsoo-ah! Jangan berbohong!" ucap Chanyeol sambil mengeratkan tangannya membuat Kyungsoo meringis karena kulitnya terbakar. Chanyeol yang baru tersadar segera menarik tangannya dan meminta maaf, Kyungsoo hendak pergi namun kembali Chanyeol menarik tangannya dan segera berlutut di kaki adiknya.

"Aku akan menyesal seumur hidupku jika aku tidak tahu apa yang membuat ibu menjadi seperti itu."

"Hyung?"

"Jangan! Jangan panggil aku dengan sebutan itu, aku tidak pantas mendapat status apapun selain seorang bajingan tidak berguna."

"Tidak, kau tidak seperti itu."

"Aku mohon! Aku mohon Kyungsoo katakan padaku!" mohon Chanyeol sambil menenggelamkan wajahnya di lutut adiknya, membuat Kyungsoo menghela nafas.

..

.

Luhan menangis , menyembunyikan wajahnya di balik lipatan lututnya. Ia sedang berada di kamar apartemennya, menjauhkan diri dari dunia iblis dan malaikat, karena demi apapun saat ini dia sangat membenci asal-usulnya.

Ia marah dan kesal atas semua yang terjadi, semua menjadi begitu rumit dan otak cerdasnya tidak menemukan satupun cara untuk keluar dari masalah tersebut.

Beberapa ketukan terdengar di pintu membuat Luhan mengangkat wajahnya dan mengernyit bingung, ia tidak tahu jika memiliki tamu tak diundang karena seingatnya tidak pernah ada yang berkunjung kesana selain Sehun dan Soojung.

Dengan cepat ia menghapus air matanya, dan memasang wajah seolah tidak terjadi apapun. Ia menggerakan wajahnya untuk memasang wajah tersenyum, namun ketika pintu dibuka sebuah pelukan berhambur kearahnya membuat raut wajahnya berubah.

Luhan yang tersadar hanya bisa mengelus rambut panjang itu pelan dan mengusap punggung gadis yang hanya sebatas dadanya.

"Soojung?"

"Hiks.. a..aku ti…tidak tahu harus berlari kemana. Yang a..aku ingat hiks.. hanya tempat ini." Luhan mendorong pelan tubuh itu dan terkejut mendapati lebam disudut bibir dan pelipis Soojung.

"Apa yang terjadi denganmu?"

"I..ibu..hiks.." Luhan membawa gadis itu ke dalam sebuah pelukan , lalu membawanya masuk ke dalam .

Luhan mengaduk cangkir berisi coklatnya sambil menatap Soojung yang terisak dengan wajah tertunduk. Setelah meletakkan dua cangkir coklat dimeja ruang tengah, Luhan mengambil beberapa peralatan P3K untuk mengobati gadis malang yang masih terisak di ruang tengahnya.

"Sebenarnya apa yang terjadi?"

"A..aku mencuri dan ibu menangkap basah diriku lalu memukulku tanpa ampun."

"Kenapa kau mencuri?"

"A..aku lapar." Ucap Soojung dengan wajah tertunduk.

"Lapar?" Soojung mengangguk.

"Ibu menghukumku untuk tidak mendapat makan malam karena aku terlambat pulang sekolah, tapi aku kelaparan jadi aku mengendap-endap ke dapur untuk mencuri sesuatu dari dalam kulkas."

"Apa? Mengambil makanan di kulkas di dalam rumahmu sendiri bukanlah sebuah pencurian. Apa yang membuat ibumu sampai memukulmu seperti itu?"

"Aku tidak tahu, ibu memang membenciku." Ucap Soojung sambil menghapus air matanya.

"Tunggu sebentar aku akan membuatkanmu sesuatu."

"Saem!" Luhan menoleh.

"Maaf merepotkanmu." Luhan tersenyum.

"Bukan masalah."

Luhan memberikan sebuah selimut pada gadis yang kini berbaring diatas ranjangnya . Ia memutuskan untuk memberikan gadis itu tempat menginap , setidaknya gadis itu tidak akan terlantar dijalanan yang dingin dan kejam.

Setelahnya, ia menutup pintu dan memutuskan untuk berbaring diatas sofa diruang tamu berhubung ia hanya memiliki satu kamar tidur diapartemennya.

..

.

Kibum berjalan menaiki tangga menuju kamar putra sulungnya. Melihat pintu yang sedikit terbuka membuat Kibum memutuskan untuk mendorongnya dengan siku berhubung kedua tangannya membawa sebuah nampan.

"Tebak ap_" Ucapan Kibum terhenti dan raut wajahnya berubah mendapati Baekhyun yang duduk disisi ranjang sambil menghapus cepat air matanya. Meski setelahnya Baekhyun memasang wajah tersenyum, namun Kibum tahu bahwa putra yang ia lahirkan dengan mempertaruhkan nyawanya itu sedang menangis seorang diri.

"I-ibu?" suara Baekhyun bergetar berbanding terbalik dengan senyum sumringah yang nampak diwajah basahnya.

"Baek?" Baekhyun membuang arah pandangannya berusaha mencari alasan lain, namun ia sadar wanita yang berdiri di hadapannya adalah seorang ibu yang melahirkannya yang mengenal dirinya luar dalam.

"Sayang?"

"Ibu..hiks.." Baekhyun terisak dengan wajah tertunduk. Menutup wajahnya dengan jemari lentiknya. Kibum meletakkan nampan berisi makan malam tersebut dan segera duduk disamping putranya untuk mengelus punggung sempit itu perlahan.

"Kau merindukannya?" tanya Kibum dengan suara pelan. Baekhyun mengangguk dan Kibum membawa tubuh putranya ke dalam sebuah pelukan.

"Aku .. aku merasa seperti dibuang ibu. Rasanya menyakitkan ketika melihat ia ..hiks.. tidak berada disampingku lagi.. a..aku pikir.. a..aku pikir aku bisa bertahan, tapi..hiks.. tapi ini sangat menyakitkan ibu.. "Baekhyun terisak dan mengeluarkan seluruh kesedihannya.

"Kau mencintainya?"

"Tentu. Aku…aku sangat mencintainya ibu. Tapi.. tapi dia.. dia membuangku.. apa.. apa memang seburuk itu? Apa a..aku tidak pantas untuk bahagia ibu?" Kibum tidak menjawab ia hanya mengelus helaian rambut Baekhyun sambil bergumam pelan seperti menidurkan seorang bayi yang menangis.

Di luar kamar , Sehun melihat pemandangan itu. Ibu dan Ibu biologisnya menangis, berbagi kesedihan hanya karena seorang laki-laki bejat yang ia kenal.

Sehun yang sebelumnya hendak meminta izin pada ibunya , seketika mengurungkan niatnya ketika mendengar percakapan dua orang yang paling ia sayangi.

Dengan wajah datar, Sehun melangkah mundur memutar tubuhnya menuju kamarnya , berlari kecil lalu menghilang ditelan udara.

..

.

Luhan terbangun ketika seseorang mengetuk pintu apartemennya, dengan wajah sedikit mengantuk ia berjalan menuju pintu dan terkejut mendapati Sehun dengan wujud setengah iblisnya berdiri disana.

Luhan menarik Sehun masuk sambil melihat sekeliling sebelum akhirnya menutup pintu.

"Apa yang kau lakukan dengan wujud setengah iblismu? Ini berbahaya Sehun!" meski berbisik namun nada bicara Luhan seperti membentak. Sehun tidak menjawab, ia melangkah maju dengan sorot mata mengintimidasi membuat Luhan terdorong pelan kearah dinding.

"Se..Sehun?" tanya Luhan sedikit gugup. Ia tak mengerti namun dengan wujud setengah iblisnya membuat Sehun jauh lebih tinggi dan lebih besar darinya yang entah mengapa selalu membuatnya merasa semakin lemah dan tidak sebanding.

"Apa yang_" ucapan Luhan terhenti ketika Sehun memeluk tubuhnya, mendaratkan wajahnya di atas pundaknya. Luhan dapat merasakan pelukan itu, tangan Sehun melingkar di pinggangnya sementara nafas hangatnya menerpa permukaan lehernya.

"Apa aku jahat?" tanya Sehun dengan suara yang terdengar letih.

"Apa yang kau bicarakan?" tanya Luhan sambil mengedikan bahunya yang menjadi tempat tumpuan Sehun.

"Apa aku telah melakukan kesalahan?"

"Sehun, aku benar-benar tidak mengerti. Kau datang dan tiba-tiba bertingkah aneh, apa yang _" ucapan Luhan terhenti ketika Sehun memeluknya semakin erat dan menenggelamkan wajahnya semakin dalam.

"Apa ini adalah kesalahan ketika aku hanya menginginkan keadilan?" bisik Sehun. Luhan terdiam, mulai mengerti kemana arah pembicaraan Sehun dengan perlahan ia mendorong tubuh yang lebih tinggi dengan perlahan.

"Kau tidak bisa mengadili siapapun, Tuhan lah yang berhak untuk itu." Ucap Luhan pelan dan perlahan melepaskan tangannya, lalu berbalik.

"Ini sudah malam, pulanglah! Aku lelah dan lagipula ada_" Lagi, ucapan Luhan terhenti karena Sehun memeluknya dari belakang dengan erat. Luhan memegang tangan Sehun yang melingkar diperutnya lalu melepaskan tautan itu.

"Sehun! Aku_" Kali ini Sehun menghentikan ucapan Luhan dengan bibirnya. Ia tidak tahu mengapa ia melakukan itu, tapi instingnya berkata bahwa hanya itu satu-satunya cara untuk membuat Luhan terdiam.

Mereka hanya menempelkan bibir satu sama lain, namun keduanya merasakan sebuah aliran kuat yang mengalir kencang ditubuh mereka.

"AMPUN IBU!" Keduanya menoleh setelah ciuman mereka terlepas. Sehun mengernyit dan menyusul Luhan yang berlari menuju kamarnya.

Ketika masuk, Luhan mendapati Soojung masih berbaring dengan mata tertutup namun tubuhnya menggeliat dengan keringat yang membasahi keningnya. Luhan mendekat, namun Sehun melangkah lebih dulu berusaha membangunkan gadis itu dari mimpi buruknya.

"Hei! Hei! bangunlah!" Seketika Soojung membuka mata dan ketika tersadar segera memeluk tubuh Sehun dan menangis dengan keras.

"A..aku takut." Ucapnya dalam pelukan Sehun, sementara Luhan hanya menatap dengan raut wajah yang sulit diartikan.

..

.

Chanyeol berdiri diatas gedung pencakar langit dengan wujud setengah iblisnya. Kedua tangannya terkepal dan sorot matanya menunjukan sebuah amarah, kekecewaan dan penyesalan.

Ketika jemarinya semakin terkepal api disekitar tubuhnya membara semakin besar.

"Aku tidak tahu pasti, tapi menurut peri bunga Ibu telah melanggar aturan langit karena itu Ibu mendapat hukuman."

"Peraturan apa yang Ibu langgar?"

"Ramuan terlarang untuk malaikat dan Iblis. Lonya."

Chanyeol masih mengingat dengan jelas ucapan Kyungsoo padanya dan itu semakin menambah rasa kesal dan amarah Chanyeol. Demi anaknya, anak yang terlahir karena kesalahannya ibunya rela berkorban sejauh ini.

Chanyeol berlutut, menggenggam semakin erat lalu berteriak keras sambil mendongak, teriakannya membuat makhluk-makhluk malam yang sedang beraksi berhenti dan segera menghilang karena ketakutan sementara beberapa manusia yang cukup peka merasa tengkuknya meremang dan ketakutan.

Disisi lain Luhan dan Sehun yang baru saja keluar dari kamar Soojung saling menoleh dengan mata membulat.

"Chanyeol?" gumam Luhan dengan wajah panik.

Mendadak petir menyambar dan langit terlihat menghitam. Beberapa lampu jalanan mati dan memercikan kilatan-kilatan listrik. Suasana malam itu menjadi mencengkam, ketika Chanyeol tertunduk air hujan mulai turun dengan deras dan membahasi kota Seoul.

Luhan muncul dengan Sehun yang mengikuti dibelakang dengan sorot mata tidak berminat.

"Chanyeol?" Luhan mendekat dengan sedikit cemas, berusaha menjaga jarak antara dirinya dan api Chanyeol yang membara.

"Chanyeol, Hentikan! Maafkan atas perkataanku." Ucap Luhan namun tidak digubris oleh Chanyeol yang sedang merasa buruk.

"Kau tidak bisa mengeluarkan emosimu di dunia manusia Chanyeol, dunia akan berada dalam keadaan tidak setimbang, aku mohon mengertilah!" mohon Luhan sambil mencoba mencari celah untuk bisa menggapai tubuh adikknya.

"Apa kau pikir dunia kami adalah tempat para Iblis sepertimu membuang segala kekesalannya? Berapa manusia lagi yang akan menderita karenamu?" ucap Sehun dengan nada serius. Chanyeol menoleh dan secepat kilat berpindah di hadapan Sehun dan mencekik leher putranya.

Dalam hitungan detik Sehun sudah berubah namun tidak melakukan perlawanan.

"Seharusnya aku tidak membuatmu terlahir kedunia. Kau_"

"Apa kau pikir aku berterima kasih untuk itu? Apa kau pikir aku akan senang mengetahui bahwa di dalam diriku ada jiwa Iblis? Apa kau pikir aku_"

"DIAAAMM!" teriak Chanyeol dengan suara yang mengerikan membuat Luhan membulatkan matanya dan berusaha menghentikan namun ia tidak memiliki cara apapun yang terlintas dipikirannya.

"Heuh! Diam? Setelah apa yang kau lakukan, kau memintaku diam?"

"Tutup mulutmu brengsek!"

"Kau yang brengsek, kau yang menghamili ibuku dengan tidak berperasaan dan meninggalkan kami dalam keadaan yang mengenaskan. Kau tahu ? kau tahu bagaimana rasanya dimaki seumur hidupmu? Mendapat kebencian dari seseorang yang harusnya menyayangimu?" Chanyeol terdiam mendengar ucapan-ucapan Sehun. Mata keduanya saling menatap dalam dan penuh emosi.

"Dan apa kau tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang kau sayangi? Orang yang kau cintai?" ucap Chanyeol pelan membuat Sehun mengernyit.

"Aku kehilangan Baekhyun dan ibuku secara bersamaan. Ibuku, kau dengar? Ibuku, orang yang telah melahirkanku. Dia pergi karena kebodohanku, dia pergi karena ingin membantu anak yang terlahir karena kecerobohanku." Sehun terdiam dan kernyitannya semakin dalam.

"Chanyeol hentikan! Aku mohon hentikan!" ucap Luhan berusaha menggapai tangan Chanyeol dan memohon pada adiknya.

"Aku hanya ingin dia tahu hyung, bahwa tidak semua orang mencampakannya, bahwa ia masih memiliki orang yang menyayanginya." Ucap Chanyeol lalu melepaskan cengkramannya dan berbalik untuk berjalan menuju pembatas gedung.

Sehun memegang lehernya dan berdeham, lalu matanya beralih pada Chanyeol yang terdiam sambil menatap kosong ke depan.

"Rasanya menyakitkan bukan? Aku melihatmu hancur, meskipun ini belum cukup untukku. Tapi_" Sehun melangkah semakin mendekat mempertahankan wajah angkuhnya.

"Aku tidak tega melihat ibuku menangis setiap hari karena merindukan bajingan sepertimu. Temui dia! Aku merasa… aku merasa jahat karena memisahkan dua orang yang saling mencintai. Meskipun aku sangat membencimu, tapi aku tidak berhak mengadili kalian. Pergilah!" Chanyeol berbalik dengan tatapan tidak percaya. Luhan juga membuka mulutnya tidak percaya dan ketika Sehun menatap kearahnya sambil menyeringai Luhan tersenyum.

"Aku mungkin memang memiliki darah Iblis, tapi aku masih memiliki sisi manusia di tubuhku. Aku masih memiliki perasaan." Ucap Sehun. Chanyeol mendekat hendak meraih Sehun.

"Bukan berarti aku memaafkanmu, kau tetap menjadi musuh nomer satuku, Aku melakukan ini untuk ibuku. Pergi sebelum aku berubah pikiran Iblis!" Chanyeol mengangguk pelan lalu dalam hitungan detik ia menghilang.

Luhan menghampiri Sehun dan tersenyum membuat Sehun membalas senyuman itu dan menarik Luhan ke dalam pelukannya.

"Satu hal yang aku syukuri atas kelahiranku." Bisik Sehun, Luhan mendongak dan mengerutkan keningnya.

"Apa?"

"Aku bertemu denganmu." Luhan terkekeh lalu memeluk tubuh keponakannya semakin erat.

"Tapi aku pamanmu." Ucap Luhan manja.

"Siapa yang peduli. Si tiang itu jatuh cinta pada manusia, ayah dan ibu kalian adalah Iblis dan Malaikat, setidaknya kita sama-sama Iblis." Ucap Sehun. Luhan tertawa dengan sebuah gelengan.

"Ya, tapi kau keponakanku." Luhan menunjuk dada Sehun dan Sehun menarik Luhan semakin dekat.

"Ya, tapi di dunia Iblis apa mengenal status?" Luhan hendak membalas namun Sehun kembali memeluk pinggangnya.

"Meskipun ada, tapi bisakah kita berpura-pura bahwa hal ini tidak terlarang?"

"Hal apa?" tanya Luhan.

"Cinta."
"Apa kau mengatakan bahwa kau jatuh cinta padaku?" tanya Luhan dengan satu mata memicing.

"Bukan aku, tapi kau. Kau yang jatuh cinta sejak awal melihatku bukan, Luhan Saem? Aku bisa merasakannya." Luhan hendak mendorong tubuh Sehun namun tangannya ditahan , dan tubuhnya ditarik lebih dekat . Dahi mereka bersentuhan dan Sehun berusaha menggapai bibir yang lebih pendek, menempelkan bibir satu sama lain dan dengan instingnya ia menggerakan bibirnya pelan, mengulum bibir bawah Luhan.

PROK
PROK
PROK
Sehun dan Luhan menoleh terkejut membuat tautan mereka terlepas. Dahi mereka mengernyit melihat sosok tinggi dengan rambut hitam dan sorot mata tajam dan senyuman mengintimidasi berjalan mendekat.

"Siapa kau?" tanya Sehun angkuh, membuat sosok itu tersenyum.

"Apa aku perlu mengenalkan diri secara sopan, atau_"

BLASH

Sebuah sayap hitam mengembang , sayap hitam yang menyerupai gagak . Wujudnya juga berubah dengan bola mata berwarna merah menyala, Luhan membulatkan matanya. Meskipun ia belum pernah bertemu,namun Luhan mengenal sosok ini. Sosok dengan salah satu sayap yang cacat.

"Lucifer?"

Sosok itu memasang raut wajah pura-pura terkejut, lalu menyeringai. Dan ketika ia menjentikan jemarinya, puluhan makhluk malam menyerupainya muncul dan berdiri dihadapannya.

"Sial!" gumam Luhan.

..

.

Chanyeol mengetuk pintu kamar Baekhyun, ketika ia berhasil masuk ke dalam tanpa sepengetahuan Kibum yang sudah tidur terlelap di kamarnya.

Baekhyun yang tertidur membuka matanya perlahan dan melihat kearah pintu yang tertutup. Dengan perlahan dan keadaan masih mengantuk ia bangkit dan berjalan kearah pintu.

Ketika pintu terbuka, Baekhyun sangat terkejut dan kakinya terasa lemas. Ia menutup mulutnya dengan mata berkaca-kaca menatap sosok Chanyeol yang berdiri di depannya.

"Hei, merin_" ucapan Chanyeol terputus ketika Baekhyun berhambur ke dalam pelukannya dan terisak.

"Ke-kemana kau pergi? Hiks.. kenapa meninggalkanku seorang diri? Hiks..hiks.. kau jahat Chanyeol…hiks.." Chanyeol membawa tubuh Baekhyun yang berada dalam gendongannya untuk memasuki kamar dan satu tangannya menutup pintu.

"Chanyeol? Jawab aku! Hiks.." Baekhyun mengeratkan pelukannya dan terisak semakin keras membuat Chanyeol menutup matanya dan mengelus rambut Baekhyun.

"Maafkan aku, ada hal yang membuatku tertahan."

"Apa kau bosan denganku?" tanya Baekhyun dengan wajah cemas, membuat Chanyeol tersentak untuk sesaat.

"Ssstttt." Chanyeol menurunkan Baekhyun diatas ranjang dan dengan perlahan menaiki ranjang itu lalu memeluk tubuh Baekhyun sayang.

"Kenapa kau berpikir seperti itu? Apa selama ini itu yang kau pikirkan tentangku?" Baekhyun menggeleng namun matanya sudah basah oleh air mata.

Chanyeol bersandar pada kepala ranjang dan membawa Baekhyun ke dalam pelukannya. Baekhyun memainkan jemarinya di atas dada Chanyeol, memikirkan hal apa yang harus ia katakan sekarang, haruskah ia bertanya tentang kepergian kekasihnya lagi, ataukah ia harus mencari topik lain untuk membangkitkan suasana.

"Hmm.. bagaimana hari-harimu?" tanya Chanyeol membuka pembicaraan sambil mengecup pucuk kepala Baekhyun, Baekhyun mendongak dan mata mereka bertemu. Lelaki yang lebih kecil memutuskan untuk mencuri sebuah ciuman dari bibir kekasihnya ketimbang menjawab pertanyaan yang jawabannya sudah jelas. Buruk, hari-harinya buruk tanpa Chanyeol.

"Baekhyun? Jawab aku!" ulang Chanyeol ketika Baekhyun hanya menyembunyikan wajahnya di dalam pelukannya sambil menggeleng.

"Apa mereka mengganggumu?" tanya Chanyeol dan Baekhyun kembali menggeleng masih memilih untuk menyembunyikan wajahnya. Chanyeol tersenyum kecil lalu mengelus punggung sempit Baekhyun, yang semakin lama ia rasakan semakin bergetar membuat senyumanya hilang.

"Baek?"

"Hiks.. a..aku tidak pernah hiks.. baik …setelah hiks.. kau menghilang ..hiks.. Chanyeol.." Isakan Baekhyun membuat Chanyeol menarik tubuh keduanya menjauh dan menatap wajah terluka Baekhyun. Sumpah demi apapun Chanyeol merasa sungguh brengsek sekarang, pertama ibunya dan sekarang Baekhyun, ia benar-benar bukan pria yang baik.

"Ssstt.. jangan menangis lagi! Sekarang aku disini." Chanyeol kembali menarik tubuh Baekhyun ke dalam sebuah pelukan dan mengelusnya pelan, membisikan kata-kata penenang agar kekasihnya tidak lagi terisak.

"Tidurlah!"

"Tidak."

"Kenapa?"

"Karena ketika aku tertidur, kau pasti akan meninggalkanku lagi." Chanyeol terdiam, lidahnya seolah kelu. Ia hanya menatap manik mata Baekhyun bergantian berharap bisa mengatakan semua yang telah terjadi sehingga mereka tidak akan terlibat dalam sebuah kesalah pahaman.

"Baek, dengarkan aku!" Ucap Chanyeol sambil menangkup wajah Baekhyun, mengunci tatapan satu sama lain.

"Aku tidak bisa menjanjikan padamu bahwa aku tidak akan pergi lagi, tapi percayalah bahwa jika pun aku pergi, aku pasti akan kembali untukmu. Kau menger_"

"Kapan?" potong Baekhyun dengan sorot wajah terluka.

"Baek_"
"Kapan Chanyeol? Jawab aku!" Chanyeol menyatukan kening mereka dan menutup matanya erat-erat , berbagi kesedihan bersama , berbagi kecemasan dan ketakutan akan kehilangan satu sama lain.

"Aku mencintaimu Baek, sangat mencintaimu." Bisik Chanyeol di depan wajah Baekhyun dengan posisi yang sama. Baekhyun menutup matanya, ia menangis merasakan terpaan nafas hangat kekasihnya.

"Aku pun Chanyeol, aku pun. Jadi bisakah kau tetap tinggal?" tanya Baekhyun dengan suara yang terdengar lirih. Chanyeol membuka matanya dan menatap sekali lagi kearah Baekhyun dengan lekat.

"Aku ingin, tapi aku tidak bisa."

"Kenapa?"

"Baek, bisakah kita habiskan akhir hari ini hanya dengan berbagi kerinduan? Bisakah kita tidak memikirkan tentang perpisahan?" tanya Chanyeol. Baekhyun mengangguk lalu berhambur ke dalam pelukan Chanyeol.

"Aku merindukanmu Chanyeol."

"Itu yang ingin aku dengar sejak tadi." Chanyeol tersenyum lalu memeluk tubuh Baekhyun erat.

Sejenak mereka hanya berbagi pelukan dan kecupan ringan, hingga akirnya Baekhyun menarik diri. Ia membuka kancing piyamanya, namun Chanyeol menahannya.

"Kau…kau.. tidak menginginkannya?" tanya Baekhyun membuat Chanyeol sempat terkejut diawal namun ia memilih tersenyum dan menggeleng.

"Tidak. Aku tidak akan bertindak bodoh dengan menyakitimu setelah aku tidak bertemu denganmu cukup lama, kita hanya cukup berbaring bersama dan berbagi pelukan hingga esok pagi." Baekhyun mengangguk lalu kembali memeluk Chanyeol. Chanyeol menarik dagu Baekhyun dan membawa keduanya dalam sebuah ciuman panjang.

Chanyeol membuka mata ketika merasakan frekuensi dengkuran halus Baekhyun semakin konsisten. Ia melirik kearah kekasihnya dengan wajah sedih, mengecup bibir itu berulang sebelum memindahkan tubuh Baekhyun dari lengannya dengan perlahan. Ia bangkit setelah menyelimuti tubuh Baekhyun dan setelahnya menghilang.

..

.

Chanyeol berjalan di koridor istana dan tak sengaja melihat Kyungsoo dan Minho yang berjalan terburu kearah ruang utama. Chanyeol memutuskan untuk mengikuti mereka dan matanya terkejut ketika melihat Luhan dan Sehun dalam keadaan mengenaskan.

Keduanya bertelanjang dada dan bersimbah darah , Sehun nampak meringis ketika para tabib istana mengobatinya, sementara Luhan meringis memegang perutnya ketika Kakek Iblis menyalurkan energi kearahnya.

"Apa yang terjadi?" Chanyeol dan Minho saling menoleh ketika suara mereka keluar bersamaan.

"Luhan? Kau tidak apa-apa?" tanya Minho sambil menghampiri Luhan yang terbatuk dan menyemburkan darah, sementara Kyungsoo mendekati kakaknya dengan wajah cemas tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

Menyisakan Chanyeol yang menatap keduanya dengan wajah tidak mengerti, hingga matanya bertemu dengan tatapan Sehun yang sangat tajam kearahnya. Chanyeol tersadar dan segera melangkah mendekati Sehun.

"Berbaliklah aku_"

"Tidak perlu." Bantah Sehun sambil menepis tangan Chanyeol yang hendak memegang pundaknya.

"Aku akan_"

"Aku tidak butuh." Para tabib segera undur diri, sementara empat orang lainnya melirik dengan wajah tidak terdefinisikan. Chanyeol mengepalkan tangannya lalu menutup matanya erat, sebelum akhirnya ia menghela nafas.

"Persetan dengan dendammu padaku, aku hanya tidak ingin melihat Baekhyun bersedih karena kehilangan anaknya." Ucap Chanyeol tegas lalu membalik paksa tubuh Sehun. Sehun meronta , namun bukan sebuah tindakan besar sehingga dengan mudah Chanyeol membuatnya berbalik.

Sayap Chanyeol mengembang dan kekuatannya muncul. Perlahan ia menyalurkan energinya ketubuh Sehun membuat Sehun meringis merasakan sesuatu memasuki tubuhnya secara paksa.

"Gunakan kekuatanmu juga!" ucap Chanyeol.

"Tidak."

"Gunakan saja Sehun, jangan memban_"

"Aku tidak tahu caranya." Ucap Sehun dengan nada angkuh membuat Chanyeol menghela nafas. Chanyeol menutup matanya dan lewat telepati mereka berbicara.

Sejam melakukan pengobatan akhirnya Luhan dan Sehun sudah dalam keadaan lebih baik meskipun tidak pulih total. Setelahnya Minho meminta semua anggota Kerajaan Infernus dan Nubes untuk mengadakan rapat mendadak.

Ketika mereka tiba diruang utama tempat pertemuan besar biasa berlangsung, Chanyeol mendapati para malaikat mulai berdatangan dan menduduki posisi mereka di sebelah kanan, sementara para Iblis telah berada di lebih dulu di kursi mereka di sebelah kiri.

Chanyeol duduk dikursi yang memang disediakan untuknya, sementara Luhan menarik Sehun untuk duduk di kursi di tengah-tengah ruangan sebagai saksi. Rapat dimulai beberapa menit setelahnya dan keadaan mendadak sunyi.

Raja Malaikat hanya menggelengkan kepalanya pelan ketika mendengar kesaksian dari Luhan dan Sehun yang mendapat serangan dari Lucifer dan pasukannya, sementara Minho dan Kakek Iblis yang sudah tahu lebih dulu hanya diam mendengarkan.

"Aku tidak tahu, tapi sepertinya dia menyamar sebagai manusia selama ini." Ucap Luhan membuat Raja Malaikat mengerutkan keningnya.

"Kau yakin?" Luhan mengangguk.

"Dia mengenakan seragam sekolah." Ucap Sehun lalu menoleh kearah Chanyeol.

"…seragam dari sekolah yang sama dengan tempat Chanyeol menyamar." Ucapan Sehun membuat semua tersentak, namun Chanyeol tersentak jauh lebih keras. Bagaimana selama ini ia tidak menyadari kehadiran Lucifer.

"Tunggu! Kau bilang dia berasal dari sekolah yang sama dengan Chanyeol?" tanya Raja Malaikat.

"Hm." Sehun mengangguk cepat. Raja Malaikat menundukan wajahnya dengan dahi berkerut, lalu kemudian ia bangkit.

"Kita akhiri rapat ini!_"

"Apa?" Kakek Iblis memekik tidak terima.

"Kita tidak bisa melakukan apapun selain waspada." Ucap Raja Malaikat menatap sengit kearah Kakek Iblis, lalu setelahnya menghela nafas dan kembali menghadap para penghuni ruangan.

"Para malaikat, kita kembali." Ucap Raja Malaikat lalu segera menghilang diikuti oleh para malaikat yang lain.

Chanyeol masih terdiam di tempat, merasa benar-benar terkejut. Sementara Minho melirik Chanyeol lalu melirik ayahnya yang hanya terdiam di tempat sebelum akhirnya sosok itu menghilang.

..

.

Raja Malaikat sedang berdiri di balkon istana sambil menatap kosong kearah hamparan udara di depannya. Wajahnya terlihat sedang kebingungan dan kelelahan.

"Bisa-bisanya kau mengakhiri rapat itu secara sepihak." Tanpa menoleh Raja Malaikat sudah bisa menebak siapa yang bicara, namun ia hanya menutup mata lelah tanpa mau membalas ucapan lawan bicaranya.

"Dasar pengecut!"

"Hentikan, aku lelah!" ucap Raja Malaikat sambil membalik tubuhnya dan menatap sosok yang menyeringai di depannya.

"Lelah? Heuh! Aku tidak menyangka kau bisa lelah juga."

"Jika tidak ada yang bisa kau bicarakan, kembalilah ke tempatmu, ini dunia Malaikat dan_"

"Dan aku Iblis. Aku tahu, aku tahu itu Tuan Keras Kepala."

"Bagus jika kau tahu, kembalilah sebelum aku_"

"Memanggil pasukanmu untuk mengusirku? Benar?" Raja Malaikat menatap nyalang kearah mantan Raja Iblis di depannya.

"Apa maumu? Aku lelah, aku tidak ingin berdebat."

"Aku pun." Sahut Kakek Iblis santai sambil berjalan memutar dan berdiri disamping Raja Malaikat.

"Aku lelah dengan semua ini, terkadang aku berharap aku bukan makhluk abadi." Ucap Kakek Iblis sambil menerawang menatap hamparan udara di hadapannya.

"Waktuku tidak untuk mendengar ocehanmu." Ucap Raja Malaikat sambil hendak melangkah masuk ke dalam kamarnya.

"Jiyong-ah!" panggil Kakek Iblis dengan suara pelan dan lembut membuat Raja Malaikat menghentikan langkahnya dan keningnya berkerut.

"Ja-jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi, aku_"

"Merindukannya?"

"Tidak, aku_"

"Sudah lama sejak terakhir kali kita memanggil nama masing-masing, sudah sejak lama sejak kita_"

"Hentikan! Hentikan omong kosongmu, semua telah berlalu dan disini kita sekarang. Hentikan! Jangan menambah masalahku! Aku lelah, aku benar-benar lelah!" ucap Raja Malaikat sambil kembali melangkah.

"Hei! Jangan takut untuk menangis jika kau merasa lelah."

"Seharusnya aku mengatakan itu padamu!" ucap Raja Malaikat sebelum akhirnya benar-benar masuk ke dalam kamarnya. Kakek Iblis tersenyum kecil, lalu berbalik dan menghilang.

..

.

Baekhyun terbangun ketika sinar matahari mencuri celah melalui tirai untuk memasuki kamarnya, membuat ia mengernyit dan segera membuka mata. Ia menguap sebentar, dan setelahnya menyadari bahwa Chanyeol tidak ada disampingnya.

Tok

Tok

Tok

Baekhyun menoleh kearah pintu dan bergumam pelan.

"Masuklah Bu!" ucap Baekhyun sambil hendak menuruni ranjang hingga matanya menangkap sosok tinggi di depan pintu kamarnya.

"Yifan?"

"Se-selamat pa-pagi Baek!" Baekhyun merapikan pakaiannya dan menatap Yifan dengan wajah penuh kebingungan.

..

.

Semua berjalan seperti biasa, bagi Baekhyun ia sudah terbiasa mendapat banyak sindiran dan menjadi buah bibir teman-temannya atas ketidakhadiran Chanyeol disampingnya.

Baekhyun tahu suatu saat semua ini akan terjadi lagi dalam hidupnya, direndahkan, diremehkan dan mendapat banyak hinaan atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.

Namun setidaknya hari ini ia merasa cukup bahagia, karena semalam ia telah bertemu dengan Chanyeol dan kekasihnya dalam keadaan sehat dan masih mencintainya. Baekhyun sempat merasa putus asa dan mengira Chanyeol melarikan diri karena merasa bosan dengannya, namun ia salah lelaki jangkung itu ternyata masih peduli padanya.

Yifan cukup menghibur Baekhyun ketika disekolah, meskipun sejak insiden di kantin itu mereka memutuskan tidak pernah berkunjung lagi ke kantin ketika istirahat. Menahan rasa lapar sepertinya bukan sesuatu yang baru bagi keduanya.

Baekhyun setidaknya senang, ketika Chanyeol pergi masih ada seseorang yang mau menjadi temannya, meskipun Yifan tidak sekuat Chanyeol tapi paling tidak Baekhyun tidak kesepian.

Sore ini Baekhyun berjalan seorang diri setelah busnya berhenti di halte di dekat gang rumahnya. Baekhyun tidak mengeluh karena tidak ada motor yang mengantar dan menjemputnya seperti milik Chanyeol, lagipula sebelum bertemu dengan Chanyeol ia sudah terbiasa berjalan seorang diri.

Dahi Baekhyun mengernyit ketika melihat sosok asing di depan rumahnya. Duduk di teras rumahnya dengan kaki ditekuk dan wajah yang ditenggelamkan di balik lekukan pahanya.

"Permisi?" tanya Baekhyun lembut. Sosok itu mengangkat wajahnya dan berkedip pelan.

"Oh, aku mencari Oh Sehun." Ucap sosok itu. Baekhyun mengernyit merasa familiar dengan sosok dihadapannya dan ia baru menyadari jika itu adalah Soojung, teman pertama Sehun.

"Kau Soojung kan?"

"Ah, iya oppa. Hmm.. apa aku boleh tahu Sehun pergi kemana? Kenapa ia tidak masuk sekolah tadi?" Baekhyun membulatkan matanya tidak percaya, seingatnya tadi pagi Sehun sudah berangkat sekolah.

"Benarkah? Tapi dia_"

"Dia tidak datang oppa, maka dari itu aku memutuskan untuk kemari." Baekhyun mengangguk pelan dan membukakan pintu untuk gadis itu.

Baekhyun mempersilahkan gadis cantik itu untuk duduk diruang tengah sementara ia menyiapkan minum dan kemudian memutuskan untuk melihat ke kamar Sehun.

Baekhyun tersentak ketika melihat Sehun terduduk diatas ranjangnya sambil berbalut selimut.

"Sehun?"

"Hyu-hyung." Ucap Sehun dengan suara lirih.

"kau kenapa?"

"A-aku tidak enak badan hyung. Tadi saat akan berangkat mendadak aku merasakan aneh pada tubuhku untuk itu aku tidak datang ke sekolah." Baekhyun mengangguk mengerti dan mengelus dahi Sehun untuk memeriksa suhu tubuhnya.

"Akan aku buatkan sesuatu untukmu." Baekhyun bangkit sambil berjalan menuju pintu.

"Terima kasih."ucap Sehun sambil bernafas lega karena kebohongannya tidak terbongkar. Ia memang tidak datang ke sekolah tadi karena ia sedang berada di Infernus bersama Luhan untuk membahas tentang makhluk bernama Lucifer, yang entah mengapa membuatnya sedikit tertarik.

"Oh, aku hampir lupa. Soojung ada dibawah mencarimu, dia nampak khawatir." Sehun memutar bola matanya malas tanpa diketahui Baekhyun, karena gadis itulah alasan ia harus segera kembali ke dunia manusia dan meninggalkan Luhan seorang diri disana.

Beberapa menit kemudian Sehun menuruni tangga dengan wajah malasnya dan mendapati Soojung dan Baekhyun sedang berbincang. Sesekali gadis itu tertawa dan menyentuh pipi ibunya, membuat Sehun geram.

"Apa yang kau inginkan?" tanya Sehun datar membuat percakapan kedua orang berbeda jenis kelamin itu terhenti.

"Ah, Sehun. Kenapa kau_"

"Aku sudah mengatakan padamu bukan? Jangan dekati aku lagi!"

"Se..Sehun." bibir Soojung mengerucut dengan sorot wajah sedih.

"Aku hanya tidak ingin kau_" ucapan Sehun terhenti saat ia menyadari Baekhyun sedang memperhatikan mereka.

"_kau berisik, aku tidak suka. Kau juga menyebalkan, aku suka sendiri." Ucap Sehun cepat.

"Sehun! Kau tidak bisa mengatakan itu pada seorang perempuan." Ucap Baekhyun penuh penekanan. Sehun melirik Soojung sebentar dan merasa sedikit bersalah, namun ia mempertahankan wajah angkuhnya.

"Ma-maafkan aku! Aku permisi!" Soojung dengan segera mengambil tasnya membungkuk cepat lalu berlari keluar. Sehun menghela nafas dan matanya bertemu dengan Baekhyun yang menatapnya tajam.

"Apa aku pernah mengajarimu untuk bicara kasar pada wanita?" tanya Baekhyun dengan nada serius.

"Percayalah hyung, dia bukan wanita. Dia sungguh menyebalkan dan_"

"Sehun! Kau tidak bisa berkata seperti itu, dia hanya ingin berteman denganmu." Bentak Baekhyun membuat Sehun entah mengapa merasa tersinggung.

"Aku baru mengenalnya, dia bukanlah temanku."

"Kau akan mengenalnya lebih baik setelah kalian berteman."

Raut wajah Sehun mendadak berubah.

"Jangan bicara seolah kau memiliki banyak teman hyung, satu-satunya orang yang kau bawa kemari adalah Chanyeol dan lelaki berkaca mata itu."

"Sehun!"

"Kita sama, kita tidak suka orang lain mengacaukan hidup kita. Dan_" Baekhyun memotong

"Dan seperti Chanyeol, aku semakin lama merasa bahwa kami tidak bisa dipisahkan , karena kami telah mengenal dengan baik, kau hanya perlu membuka dirimu dan_" kali ini giliran Sehun yang memotong.

"Bagaimana bila ternyata Chanyeol yang hyung banggakan selama ini adalah seorang bajingan yang bersembunyi di balik kedoknya yang baik?"

"SEHUN!" Baekhyun membentak keras.

"Kau tidak bisa bicara seperti itu tentang Chanyeol, dia_"

"Dia apa? Apa dia ayahku? Dia hanya kekasihmu hyung, dan kau hanya kakakku, bukan ibuku." Ucap Sehun lalu membalik tubuhnya dan berjalan menaikki tangga dengan emosi.

Ketika kakinya melangkah di pertengahan anak tangga ia terhenti, menyadari bahwa ia baru saja mengeluarkan ucapan yang menyakiti ibunya, ketika ia mendengar isakan Baekhyun, ketika itu juga penyesalannya semakin bertambah.

BRAK
Sehun membanting pintu dengan keras, menguncinya lalu segera menghilang.

Ia muncul di Infernus dengan wujud setengah Iblisnya dan dalam keadaan marah. Ketika ia tiba, ia berada diruang rapat kecil lainnya di dalam istana dimana ada Chanyeol dan Luhan yang sedang membahas tentang sesuatu.

Chanyeol dan Luhan menatap kearah Sehun sebagaimana lelaki putih itu melangkah memasuki ruangan dengan nafas terengah menahan emosinya.

"Sehun, bagai_"

"Brengsek!"

Ucapan Luhan terhenti ketika tiba-tiba Sehun menarik kerah jubah Chanyeol dan menabrakkan tubuh yang lebih tinggi ke dinding.

"Apa yang terjadi hah?" bentak Chanyeol namun tidak melakukan perlawanan.

"Sehun hentikan!" Luhan mendekat dan mencoba menarik tangan Sehun, namun ditepis.

"Kau tahu aku baru saja mengeluarkan kata-kata yang membuat ibuku menangis." Ucap Sehun penuh emosi.

"Dan kau menyalahkanku untuk mulut dan otakmu yang tidak bisa mengatur kalimat dengan baik?" tanya Chanyeol sambil menatap Sehun tajam.

"Karena kau bajingan! Karena dia menyebut namamu membuat emosiku meningkat dan kata-kata itu keluar begitu saja."

"Lalu kau ingin membunuhku atas kebodohan yang kau lakukan?"

"Ini kebodohanmu, seandainya kau tidak menghamili ibuku dan membuatku_"

"Kenapa kau selalu mengungkit hal itu hah?" Chanyeol terpancing dan dalam waktu singkat ia mengerahkan kekuatan yang sebenarnya tidak ingin ia gunakan ke Sehun, namun semua terlambat. Tubuh Sehun terpental jauh dan bibirnya mengeluarkan darah.

"Hentikan!" bentak Luhan namun keduanya masih saling menatap penuh kebencian.

"Aku diam selama ini atas sikapmu bukan karena aku takut, tapi karena aku mencoba untuk memberikanmu kesempatan untuk membalaskan rasa sakit hatimu padaku, tapi kau keterlaluan bocah, kau meremehkanku." Ucap Chanyeol dengan bola api di tangan kanannya dan berjalan mendekat kearah Sehun yang mencoba bangkit.

"Ayo kita bertarung sampai salah satu dari kita mati." Ucap Sehun sambil mengerahkan kekuatannya.

Ketika keduanya berjalan mendekat dengan saling menunjukan kekuatan, pintu terbuka dan Minho berjalan masuk lalu menggerakan jemarinya membuat kekuatan Chanyeol dan Sehun menghilang dalam sekejap.

"Apa yang_" ucapan Sehun terhenti ketika menyadari Minho berjalan dengan wajah datar memasuki ruangan.

"Aku harus bicara pada kalian." Ucap Minho lalu mengambil duduk di kursi utama dan diikuti oleh tiga lelaki lainnya.

"Ibumu mendatangi ayah lewat mimpi, ia berkata bahwa Lucifer tidak hanya mengejar para Iblis dan Malaikat, tapi juga orang-orang disekitar mereka." Ucap Minho sambil menatap Chanyeol dan Sehun bergantian.

"Chanyeol, ibumu berkata bahwa Baekhyun kemungkinan tidak aman. Kau harus kembali kedunia manusia dan menjaganya, bagaimana pun dia membawa Loocin ibumu." Chanyeol tersentak ketika mendengar nama kekasihnya disebut, dan melirik Sehun yang juga nampak tersentak.

"Tidak, biarkan aku yang akan menjaga ibuku." Ucap Sehun cepat. Minho mengalihkan pandangannya pada yang termuda diantara mereka.

"Kau belum bisa mengendalikan kekuatanmu dengan baik, lawan kita saat ini adalah Lucifer bukan berandalan di ujung gang." Sehun mengertakan giginya kuat-kuat.

"Aku tidak takut, sekalipun itu Lucifer." Minho menghela nafas.

"Untuk saat ini bisakah kau melupakan dendam diantara kalian? Baekhyun adalah orang yang kalian sayangi. Dia ibumu ( menatap Sehun ) dan dia kekasihmu ( menatap Chanyeol) bersatulah untuk orang yang kalian sayangi." Luhan menggenggam tangan Sehun ketika lelaki itu nampak menahan kemarahannya.

"Sehun, aku meminta sebagai ayah dari pria yang telah menghancurkan hidupmu dan ibumu." Sehun tercekat, lalu raut wajahnya berubah datar. Ia melurukan arah pandangnya tepat kearah Chanyeol yang duduk di depannya.

"Jika dia sampai terluka, meski seujung rambut pun aku akan membunuhmu." Ucap Sehun membuat Chanyeol terkekeh lalu bangkit dan mengusak rambut Sehun.

"Bocah, kau tahu? Itu adalah kata-kataku." Ucap Chanyeol lalu berjalan hendak meninggalkan ruangan.

"Chanyeol! Aku ingin bicara denganmu." Ucap Minho membuat langkah Chanyeol terhenti dan merasa sedikit kecewa karena ia tidak bisa segera menemui Baekhyun.

..

.

Baekhyun berjalan dengan wajah tertunduk ketika keluar dari ruang ganti dan berjalan kearah kolam renang. Ini adalah pertama kalinya setelah bertemu Chanyeol, ia mengikuti kelas renang tanpa Chanyeol dan itu membuatnya merasa sedikit takut.

Yifan duduk di kursi penonton sambil melambaikan tangan kearahnya karena lelaki itu memiliki alergi terhadap kaporit sehingga ia tidak bisa mengikuti kelas renang bersamanya dan itu membuat Baekhyun merasa semakin minder.

Baekhyun melirik kearah teman-temannya yang mencibir kearahnya karena tidak lagi ada pangeran yang melindunginya, sementara beberapa siswa menggunakan mata nakal mereka untuk menjelajahi tubuh Baekhyun secara visual.

Bahkan pelatih renang mereka nampak berdecih ketika Baekhyun mulai bergabung dengan murid yang lain, wanita itu masih mengingat bagaimana Chanyeol menghinanya di depan para siswanya.

Kembali para murid dipasangkan dan sang guru sengaja memasangkan Baekhyun dengan siswa yang terlihat sangat memuja tubuh Baekhyun dan nampak sangat menjijikan dengan senyuman mesumnya.

Baekhyun tidak bisa melawan ketika mereka diminta untuk berjalan bersama pasangan mereka ke dalam kolam setelah melakukan pemanasan diluar kolam.

Meski hanya pemanasan kecil di dalam air, namun Baekhyun merasa risih ketika siswa itu menyentuh daerah-daerah pribadi milik Baekhyun dan mengelus permukaan kulitnya dengan tangan nakalnya.

"To-tolong hentikan!"ucap Baekhyun pelan namun sosok itu menatap Baekhyun dengan wajah tak bersalah.

"Apa yang harus aku hentikan?" tanyanya , membuat Baekhyun memilih bungkam.

Mereka kembali melakukan pemanasan sebagai mana diperintahkan sang guru yang nampak menyukai bagaimana Baekhyun disentuh diberbagai tempat.

"Lakukan dengan benar anak-anak! Pasangan kalian adalah tim bukan sesuatu yang harus dihindari!" bentak sang guru setelah membunyikan peluitnya.

Baekhyun mulai menggerakan kakinya naik turun sambil berpegangan pada pinggir kolam mengikuti perintah gurunya, namun gerakannya terhenti ketika pasangannya berdiri dibelakangnya dan menjebak dirinya di dalam pelukannya.

Baekhyun menutup matanya yang terasa panas, ia ingin menangis ketika dirinya dilecehkan. Lelaki itu bahkan menggesekan batang kemaluannya di belahan bokong Baekhyun.

"Menyukainya sayang?" Baekhyun membuka matanya , berbalik dan mendorong sosok itu dengan kuat dengan nafas terengah.

"Aku mohon hentikan!" ucap Baekhyun memberanikan diri, membuat beberapa pasang mata melirik sekilas kearahnya lalu kembali pada kegiatan mereka, seolah menulikan telinga mereka.

"Yak! Byun Baekhyun! Kau pikir apa yang kau lakukan hah? Kenapa kau mendorong teman satu timmu?" bentak gurunya membuat nyali Baekhyun menciut.

"Di-dia i-ingin melecehkanku." Ucap Baekhyun menahan air matanya yang hendak jatuh.

"Tidak saem, aku hanya ingin membantunya." Ucap lelaki itu dengan wajah tak bersalah.

"Yak! Byun, kau pikir secantik dan seseksi apa dirimu hingga ia ingin melakukan itu padamu? Jangan terlalu berbesar kepala merasa semua lelaki menginginkanmu. Kembali pada posisi kalian!" ucap guru itu dan Baekhyun menghela nafasnya. Ia berbalik dan menggeser tubuhnya, namun lagi-lagi lelaki itu berdiri di belakang Baekhyun dengan tubuh yang dirapatkan dan mengulang hal yang ia lakukan tadi.

Baekhyun menutup matanya, dan membiarkan air matanya mengalir, ia kembali merasa dirinya sangat lemah dan hina. Untuk itu ia menenggelamkan tubuhnya, sehingga lelaki itu tidak bisa melecehkan bokongnya.

Baekhyun menahan nafasnya di dalam air dengan mata tertutup dan menangis. Ia merindukan Chanyeol, dan ia merasa ia tidak bisa menjaga kepercayaan Chanyeol karena membiarkan lelaki lain melecehkannya.

Ketika nafasnya hampir habis, Baekhyun merasa seseorang menarik pundaknya keatas membuat Baekhyun menarik udara sebanyak-banyaknya dengan wajah masih menangis dan mata tertutup.

Perlahan ia membuka mata ketika cengkraman di pundaknya masih terasa, dan kelopak matanya membesar saat melihat sosok Chanyeol berdiri di depannya sambil tersenyum lembut.

"Jangan takut! Aku disini sayang!"

"Chanyeol…hiks.. hiks.." Baekhyun terisak kencang dan Chanyeol membawanya dalam sebuah pelukan hangat. Baekhyun takut ia sedang bermimpi atau berimajinasi namun ketika merasakan elusan hangat dari telapak besar Chanyeol, Baekhyun tahu bahwa itu nyata.

"Ma-maafkan aku." Gumam Baekhyun pelan dan Chanyeol berusaha menenangkannya.

"Aku telah menyingkirkan bajingan itu." Ucap Chanyeol. Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol pelan dan melihat sekeliling untuk mendapati beberapa temannya sedang mengerumuni seseorang yang tergeletak dipinggir kolam tak sadarkan diri.

"Ka-kau tidak membunuhnya kan?"tanya Baekhyun takut. Chanyeol mengelus rambut Baekhyun dan mengaitkannya di belakang ditelinga yang lebih kecil, lalu mengecup bibir Baekhyun singkat.

"Seharusnya aku mengirimkan ke neraka, tapi mengingat kau yang akan marah padaku, aku memutuskan hanya memberinya sebuah pukulan kecil."

"Seseorang! Panggilkan ambulans!" teriak sang guru. Membuat Baekhyun melirik kearah kerumunan dibalik tubuh Chanyeol, lalu kembali menatap Chanyeol dengan wajah terkejut namun hanya di balas kedikan bahu oleh Chanyeol.

"Kalian teruskan kegiatan kalian, ulangi sampai aku selesai!" ucap guru tersebut dan bersama beberapa siswa membawa lari tubuh yang tidak sadarkan diri itu. Chanyeol menarik dagu Baekhyun agar tidak lagi menatap kearah dibelakangnya.

"Sampai dimana tadi?" tanya Chanyeol. Baekhyun tersenyum lebar, lalu kembali memeluk Chanyeol erat dan kembali terisak untuk melepaskan rasa rindunya.

Setelah insiden itu mereka kembali menjaga jarak dengan Chanyeol dan Baekhyun, membiarkan kedua insan itu berada pada sisi lain dari kolam berenang.

Baekhyun tetap melakukan pemanasan, sementara Chanyeol berada disamping Baekhyun bersandar pada pinggir kolam dengan tubuh menghadap kolam berlawanan dengan kekasihnya.

"Apa itu tidak membosankan?" tanya Chanyeol

"Apa?"

"Melakukan hal yang kau lakukan sekarang."

"Tapi saem meminta kita melakukannya."

"Hah, wanita jalang itu tidak akan kembali dengan cepat, kau hanya akan membuang-buang waktumu."

"Ssst! Kau tidak boleh memanggilnya dengan sebutan jalang, dia guru kita Chanyeol."

"Heuh! Guru? Dia bahkan dengan sengaja membuat siswanya menjadi korban pelecehan. Jika saja aku tidak datang, aku akan menyesali hal ini seumur hidupku." Ucap Chanyeol, Baekhyun tersenyum lalu mendekat kearah Chanyeol dan mengelus pipi kekasihnya.

"Tapi aku senang karena kau datang, aku pun akan menyesalinya seumur hidup karena tidak bisa menjaga milikmu." Ucap Baekhyun. Chanyeol menarik pinggang Baekhyun dan mendekatkan wajah mereka.

"Aku yang akan lebih menyesal karena tidak bisa menjaga apa yang menjadi milikku." Bisik Chanyeol pelan lalu mencuri sebuah kecupan di bibir Baekhyun membuat Baekhyun bersemu.

Dengan cepat Chanyeol membalik posisi mereka, membuat Baekhyun terperangkap antara tubuhnya dan dinding kolam renang.

"Chan..Chanyeol, kita di tempat umum!"

"Lalu? Aku menyentuh apa yang menjadi milikku, mereka tidak berhak melarangku." Ucap Chanyeol . Dan pada akhirnya kedua bibir itu bertemu, saling bertautan dan mempertemukan lidah mereka untuk bertarung mencari sang pemenang, mengabaikan lirikan orang-orang sekitar yang menurut Chanyeol adalah tatapan kecemburuan.

Tautan mereka terlepas dan Chanyeol masih menatap Baekhyun yang memerah. Terlihat sangat manis dimata Chanyeol dan ia sangat merindukan momen-momen seperti sekarang, dimana yang lebih kecil akan bersemu malu atas semua tindakan yang ia lakukan.

"Kau kedinginan!" ucap chanyeol ketika merasakan tubuh Baekhyun bergetar.

"Hm. Ini cukup dingin, tapi tubuhmu membuatku hangat."

"Wow, kekasihku menjadi nakal sekarang."

"Ti-tidak. Bukan seperti itu maksudku, aku hmpptt.." kembali Chanyeol membawa mereka dalam sebuah ciuman panjang.

Dua puluh menit kemudian mereka memutuskan untuk mengakhiri pelajaran renang dan segera menuju ruang ganti untuk melanjutkan ke pelajaran berikutnya. Ketika Chanyeol keluar dari dalam kolam setelah membantu Baekhyun keluar lebih dulu, tiba-tiba Yifan muncul dan memberikan dua buah handuk kering pada mereka.

"I-ini un-untuk ka-kalian." Ucapnya sambil tersenyum. Baekhyun menerimanya dengan cepat setelah mengucapkan terima kasih dan menggosok tubuh menggigilnya, lain halnya dengan Chanyeol menatap sejenak kearah lelaki berkaca mata itu, meneliti sosok itu karena mulai sekarang Chanyeol tidak akan mempercayai siapapun di sekolah itu selain Baekhyun.

"Chan-Chanyeol a-aku se-senang ka-kau kem-kembali." Ucap Yifan dan tanpa sadar memeluk Chanyeol membuat Chanyeol dan Baekhyun terkejut, namun Baekhyun tersenyum setelahnya sementara Chanyeol masih terlihat terkejut.

"Ter-terima kasih ka-karena telah mem-membayar biaya ru-rumah sa-sakitku." Ucap Yifan dan Chanyeol segera tersadar bahwa sosok di depannya adalah seseorang yang pernah menyelematkannya.

"Bukan masalah, hmmm... Aku berhutang padamu."

"Ti-tidak. Ak-aku baik-ba-baik saja." Ucap Yifan sambil menggaruk kepala bagian belakangnya. Chanyeol berlalu sambil menarik lengan Baekhyun menuju ruang ganti karena ia tahu bahwa kekasihnya sudah sangat kedinginan.

Berita tentang kembalinya Chanyeol menyebar dengan cepat dan mereka tidak berani lagi untuk berbisik ketika Baekhyun berlalu di depan mereka, tidak ada yang ingin mencari perkara dengan sosok Chanyeol.

Baekhyun merasa seperti hidupnya kembali ketika Chanyeol berada disampingnya lagi. Meski ia tidak ingin menyalahgunakan kekuatan Chanyeol, namun Baekhyun akui jika ia merasa lebih aman dan tenang ketika berjalan dengan Chanyeol yang menggengam tangannya.

Ketika kelas berakhir mereka memutuskan untuk segera pulang. Yifan melambaikan tangan ketika motor Chanyeol berlalu menuju gerbang sekolah. Baekhyun tersenyum selama perjalanan di balik punggung lebar kekasihnya dan Chanyeol menyadari itu.

Baekhyun melihat sekeliling ketika menyadari mereka tidak berada dilingkungan rumah salah satu pun dari mereka, dan ketika melihat sebuah tulisan diatas dua besi penyangga di pintu masuk Baekhyun tahu bahwa itu adalah sebuah taman bermain.

"Chanyeol? Kenapa kita kemari?" tanya Baekhyun bingung.

"Hm, kencan?" tanya Chanyeol ragu, karena sesungguhnya ia juga tidak tahu apa itu kencan, ia hanya mengikuti saran yang diberikan Luhan sebelum ia kembali kedunia manusia untuk menemui Baekhyun.

"Kencan? Dengan seragam sekolah?"

"Tentu, lalu apa yang salah?"

"Ti-tidak,ha-hanya saja ti-tidakkah ini terasa_"

"Tidak, ini baik-baik saja bahkan ketika aku hanya datang kemari dengan mengenakan celana dalam." Baekhyun terkekeh pelan sambil memukul lengan Chanyeol dan Chanyeol segera turun dari motornya dan meletakkan helmnya.

"Ayo masuk!" Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun , menarik tubuh yang lebih kecil untuk berjalan di belakangnya. Mereka memang pernah mendatangi tempat yang sama saat itu, namun keadaannya sedikit berbeda Baekhyun terlihat sangat tertutup dan Chanyeol belum mengenal apa yang disebut cinta. Untuk itu ia ingin mengulangnya kembali dan meninggalkan kenangan yang indah, jika sewaktu-waktu Chanyeol harus benar-benar pergi.

"Baek, kau ingin memainkan wahana yang mana?" tanya Chanyeol, Baekhyun nampak berpikir lalu menunjuk sebuah wahana roller coaster.

"Kau yakin?" Baekhyun mengangguk .

"Aku selalu ingin menaiki wahan itu tapi tidak pernah memiliki kesempatan." Ucap Baekhyun dengan wajah sedikit tertunduk, tidak ingin membuat suasana menjadi buruk Chanyeol segera menarik Baekhyun menuju permainan itu.

..

.

"Hei Kyungsoo!" Kyungsoo menoleh kesamping mengalihkan perhatiannya dari buku yang sedang ia baca dan mendapati Jongin disana.

"Oh, Hai Jongin." Ucap Kyungsoo sambil tersenyum.

"Kenapa masih disini? Tidak pulang?" tanya Jongin dan Kyungsoo menggeleng pelan.

"Aku masih ingin disini lebih lama. Kau kenapa tidak pulang?"

"Hmm.. aku juga ingin disini lebih lama." Kyungsoo mengangguk dan kembali melanjutkan acara membacanya. Jongin memperhatikan Kyungsoo lalu tersenyum.

"Kenapa kemarin aku tidak menemukanmu di kantin?" Kyungsoo menoleh dengan tatapan bingung sebelum akhirnya mencerna ucapan Jongin.

"Hm, ibuku sedang sakit."

"Ah, ibumu… hmm.. aku ingin melihatnya kapan-kapan, bolehkah?"

"Tentu, tapi tidak sekarang. Ibu harus beristirahat."

"Tentu." Ucap Jongin lalu kembali menatap Kyungsoo yang sudah beralih ke bukunya.

"Kyungsoo, aku semalam bermimpi."

"Tentang?" tanya Kyungsoo lembut tanpa mengalihkan pandangannya.

"Entahlah, suatu tempat diatas langit. Bersih, indah dan tenang. Ah, aku juga melihatmu dan dua lelaki cantik lainnya. Satunya adalah kakakmu dan satu lagi… uhm! Entahlah dia menyebut dirinya ibumu. Kalian sangat mirip dan cantik, dan kalian berkata bahwa kalian adalah malaikat." Mata Kyungsoo membulat menatap Jongin, mendadak tenggorokannya terasa kering dan suaranya tidak bisa keluar.

"Hei, ada apa? Kenapa kau nampak terkejut?" tanya Jongin sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Kyungsoo.

"Ti-tidak. Ha-hanya saja itu terdengar aneh." Ucap Kyungsoo. Jongin tersenyum lalu memutar tubuhnya dan bersandar pada pundak Kyungsoo dengan tatapan menatap jendela perpustakaan mereka.

"Benar aneh. Bahkan malaikat itu tidak benar-benar ada menurutku."

"Uhm! I..iya." sahut Kyungsoo lirih. Jongin kembali berbalik lalu mencengkram pundak Kyungsoo.

"Tidak, aku menarik ucapanku. Malaikat itu sungguh ada." Ucapnya sambil menatap kearah mata Kyungsoo, sementara Kyungsoo nampak tersentak terkejut.

"Be-benarkah?"

"Ada satu. Bahkan dia lebih indah dari malaikat ."

"Si-siapa?" tanya Kyungsoo gugup. Jongin memutar bola matanya, lalu tersenyum.

"Kau." Ucapnya sambil menyentuh ujung hidung Kyungsoo gemas, mencium sebuah kecupan di pipi putih yang lebih pendek lalu membaringkan kepalanya diatas paha Kyungsoo.

Kyungsoo masih terdiam, entah mengapa ia merasakan jutaan kupu-kupu seolah berterbangan di dalam perutnya.

"Bahkan kau sangat indah jika di lihat dari bawah sini." Ucap Jongin sambil menatap Kyungsoo dari bawah, Kyungsoo sontak menunduk dan mata mereka saling mengunci.

"Kau… hal terindah yang pernah aku lihat Kyungsoo."

"Jo-Jongin." Ucap Kyungsoo gelisah.

"Kyungsoo?"

"I-iya?"

"Boleh aku menciummu?" Kyungsoo membulatkan matanya dan menatap ke dalam manik hitam kelam milik Jongin, dan tanpa ia sadari kepalanya mengangguk pelan. Jongin tersenyum lalu menarik leher Kyungsoo dan mempertemukan bibir mereka.

..

.

Sehun menatap Luhan yang sedang berkutat dengan dokumennya sambil bertopang dagu.

"Si Tiang Listrik itu bersenang-senang diluaran sana, sementara kau terjebak disini bersama benda-benda ini." Keluh Sehun membuat Luhan terkekeh tanpa menghentikan kegiatannya.

"Ini sudah menjadi tugasku, meskipun aku Iblis tapi aku memiliki tanggung jawab." Ucap Luhan sambil tersenyum. Sehun berdecih lalu kembali memperhatikan sosok dihadapannya.

"Luhan, kau tahu? Kau sangat cantik." Luhan mengangkat wajahnya dan menatap Sehun.

"Hei, aku pamanmu. Seharusnya kau tidak memanggil namaku langsung."

"Aku bahkan memanggil ibuku dengan sebutan hyung. Aku rasa hal itu tidak berpengaruh pada apapun."

"Benarkah? Jika aku memanggilmu Kakek Sehun apa kau mau?" Sehun menaikkan kedua alisnya lalu menggeleng.

"Tentu tidak."

"Kenapa?"

"Karena aku masih muda, dan tidak seharusnya di panggil Kakek."

"Itu dia. Karena seharusnya kau memanggil Chanyeol ayah, dan aku paman."

"Hentikan! Topik ini mulai menyebalkan." Ucap Sehun. Luhan terkekeh lalu mengelus pipi Sehun yang nampak cemberut.

"Aww, lucunya bocah ini ketika merajuk."

"Hentikan!" Sehun memegang tangan Luhan dan menariknya, membuat jarak mereka menjadi sangat dekat. Wajah mereka hanya berjarak beberapa centimeter bahkan nafas satu sama lainnya terasa.

"Kau tidak tahu bukan, apa yang bisa bocah ini lakukan?"

"Se-Sehun." Luhan mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman Sehun dan menghindari tatapan mengintimidasi keponakannya.

"Luhan, aku_" ucapan Kakek Iblis terhenti saat melihat cucu pertama dan anak dari cucu keduanya dalam posisi yang aneh. Luhan segera menjauhkan dirinya sementara Sehun memutar matanya malas.

"Apa yang bocah ini lakukan disini?" tanya Kakek Iblis. Sehun berdecih mendengar semua orang memberikannya julukan bocah.

"Apa masalah?"

"Kau!" Kakek Iblis nampak tidak terima dengan sikap Sehun.

"Jangan meremehkanku bocah! Jangan lupa siapa aku!" Sehun segera bangkit dan memasang wajah terkejut pura-pura lalu memberi hormat.

"Maafkan hamba Yang Mulia." Luhan terkikik melihat tingkah Sehun, sementara Kakek Iblis menggeram kesal.

"Kau benar-benar mirip dengan Chanyeol."

"Tidak! Kami tidaklah sama, kami berbeda." Ucap Sehun dengan wajah kesal.

"Oh tentu, hanya berbeda pada usia kalian saja selebihnya kau adalah duplikatnya." Sehun menggeram dengan kedua tangan terkepal.

"Dengar Kakek tua! Jangan pernah menyamakan aku dengannya." Ucap Sehun membuat Kakek Iblis semakin emosi.

"Luhan, aku akan bicara denganmu nanti. Tiba-tiba aku merasa ingin membunuh seseorang." Luhan terkikik dan mengangguk.

"Iya Kakek."

"Dan kau bocah! Jauhi cucuku! Jangan coba-coba merayunya!" ucap Kakek Iblis sambil mengacungkan telunjuknya kearah Sehun.

"Coba saja!" Ucap Sehun tanpa rasa takut, mengabaikan fakta bahwa lelaki di depannya adalah mantan Raja Iblis. Orang nomer satu yang pernah memegang Infernus.

Dengan kesal Kakek Iblis berjalan meninggalkan ruangan.

"Kau benar-benar Sehun. Bahkan Chanyeol tidak pernah berkata seperti itu pada Kakek."

"Nah itu dia, kami tidaklah sama bukan?" dan Luhan hanya terkekeh dengan anggukan sambil kembali melanjutkan pekerjaannya.

"Luhan, sampai dimana kita tadi?" mendadak Luhan terdiam ketika Sehun kembali mendekat dan memutar tubuhnya perlahan.

"Ayo kita lanjutkan!"

"Aku memperhatikanmu bocah! Jangan coba-coba!" Sehun dan Luhan terkejut dan melihat kesekitar ketika mendengar suara menggema di dalam ruangan.

"Luhan, jaga jarak!" Luhan memundurkan tubuhnya dan Sehun memutar bola matanya malas sambil melihat keatas langit-langit ruangan.

"Kakek tua, aku akan berurusan denganmu nanti." Ucap Sehun.

"Coba saja!"

"Aarrghh"

..

.

Baekhyun menempelkan wajahnya pada jendela kaca bianglala. Tubuhnya berada diatas kursi dengan posisi menghadap jendela, sementara Chanyeol duduk disampingnya dengan tenang.

"Ini indah Chanyeol." Ucap Baekhyun sambil melihat langit sore dari atas bianglala. Chanyeol mengangguk pelan dan ikut tersenyum melihat wajah senang Baekhyun.

"Baek?"

"Hm?" Baekhyun bergumam tanpa mengalihkan tubuhnya. Tiba-tiba Chanyeol menenggelamkan wajahnya di pinggang Baekhyun, membuat lelaki mungil itu menoleh.

"Ada apa Chanyeol?"

"Kau ingat aku sering kesal ketika seseorang membahas tentang ibu?" Baekhyun mengangguk lalu merendahkan posisi tubuhnya, sehingga kepala Chanyeol berada di dadanya kini.

"Tentu."

"Aku marah karena ibu sangatlah menyebalkan, dia selalu mengatur apapun yang dia inginkan, dia selalu membuatku kesal , dia selalu membuatku marah, dia…." Chanyeol menahan ucapannya. Baekhyun memeluk kepala Chanyeol erat dan mengelus rambut kekasihnya perlahan.

"Sekarang ibu tidak sadarkan diri, dia berbaring lemah dengan mata tertutup."

"A-apa yang terjadi?" Baekhyun menjauhkan wajah Chanyeol dan menatap tepat ke dalam matanya dan Baekhyun melihat sebuah kekecewaan dan penyesalan disana.

"Ini semua karena kesalahanku, demiku ibu mengorbankan dirinya. Aku tidak bisa menceritakannya karena itu hanya akan menyakitiku. Tapi, aku..Baek, apakah aku telah gagal menjadi seorang anak?"

"Kau tahu Chanyeol? Aku senang akhirnya kau mau membicarakan ini padaku. Chanyeol?" Baekhyun menangkup wajah Chanyeol dan tersenyum.

"Ketika kau merasa gagal, sebenarnya kau tidak sepenuhnya gagal. Tuhan memberimu kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Kau seharusnya merasa beruntung, karena kesempatan itu masih ada." Baekhyun tersenyum lebih lebar.

"Kau tidaklah benar-benar membenci ibumu. Karena saat ini kau terlihat hancur hanya dengan menyebut namanya. Kau sebenarnya mencintainya hanya kau menapik perasaan itu dengan keegoisanmu. Sama halnya denganku, aku membenci anak yang aku lahirkan hanya karena aku tidak menginginkan kehadirannya. Tapi aku bersyukur, Tuhan memberiku kesempatan, melalui dirimu aku tersadar. Bahwa dia tidak seharusnya aku benci, karena bagaimana pun dia tidak bersalah." Ucap Baekhyun lagi. Chanyeol merendahkan arah pandangnya.

"Cintai dan cintai terus ibumu Yeol, jadi ketika beliau terbangun dan melihat kau mencintainya ia tidak akan menginginkan matanya tertutup kembali."

"Baek?"

"Mungkin aku bukan pembicara yang baik, aku tidak pandai ketika memberi saran, tapi setidaknya aku harap kata-kataku membantu."

"Itu sangat membantu sayang." Ucap Chanyeol lalu menarik Baekhyun ke dalam sebuah pelukan. Baekhyun melingkarkan kakinya di pinggang Chanyeol, sebagaimana ia menempatkan pantatnya diatas pangkuan Chanyeol.

"Terima kasih Baekhyun-ah." Ucap Chanyeol sambil mengecup bibir Baekhyun. Baekhyun mengangguk lalu mendekatkan wajahnya dan menautkan bibir satu sama lain. Kedua tangan Baekhyun mengalungi leher Chanyeol sementara tangan Chanyeol memegang kedua sisi pinggul Baekhyun.

Mereka membagi saliva satu sama lain dan membiarkan lidah mereka beradu di dalam mulut yang saling merapat. Baekhyun dapat merasakan tubuhnya memanas, sebagaimana ciuman itu pun semakin memanas.

Ketika keduanya memutuskan untuk memisahkan ciuman mereka, barulah mereka menyadari bahwa permainan itu telah berhenti dan pintu mereka telah terbuka dengan empat orang pengunjung menatap mereka terkejut.

Baekhyun segera turun dari atas pangkuan Chanyeol dengan wajah menahan malu, sementara Chanyeol hanya berdeham pelan lalu menarik Baekhyun untuk keluar dari dalam permainan itu.

Mereka segera meninggalkan taman hiburan ketika langit sudah berwarna jingga, namun Chanyeol tidak ingin mengakhiri kencan mereka. Jadi setelah bertanya pada Baekhyun apa tempat yang ingin ia kunjungi, Chanyeol memilih pantai sebagai tempat tujuan mereka berikutnya.

Saat ini mereka duduk diatas pasir putih di pinggir pantai yang nampak sepi , hanya ada beberapa pemancing yang berdiri di tengah-tengah lautan yang tidak terlalu dalam dan beberapa pengunjung yang memutuskan untuk kembali.

Baekhyun menyandarkan kepalanya pada pundak Chanyeol dengan tangan saling bertautan.

"Chanyeol kau tahu? Aku bahkan tidak pernah berani untuk memimpikan hal ini."

"Hal apa?"

"Menghabiskan waktu di pantai memandangi langit sore bersama seseorang yang aku cintai." Ucap Baekhyun sambil mengencangkan genggamannya di tangan Chanyeol.

"Kenapa?"

"Karena aku pikir aku tidak akan pernah merasakan apa yang dinamakan mencintai dan dicintai. Terima kasih Chanyeol." Baekhyun mengecup pipi Chanyeol kilat membuat lelaki itu tersenyum.

"Aku akan memberikan apapun yang bisa membuatmu bahagia Baek, bahkan jika itu termasuk hidupku."

"Hahaha.. aku tidak akan memintamu untuk memberikan hidupmu padaku Yeol." Ucap Baekhyun sambil tertawa.

"Kau benar, hidupku bukanlah sesuatu yang berarti." Baekhyun menoleh menatap Chanyeol tidak percaya.

"Bukan, bukan seperti itu. Maksudku.. tentu saja hidupmu berarti, aku hanya tidak ingin sesuatu yang berlebihan untuk kebahagiaanku."

"Ya aku tahu sayang. Tapi jika seandainya pun kau menginginkan hidupku aku tidak akan segan-segan memberikannya padamu. Karena tanpamu, hidupku bukan sesuatu yang berarti." Baekhyun tersenyum lalu kembali menenggelamkan wajahnya.

Sejenak keadaan hening, hingga Chanyeol menyadari bahwa Baekhyun tidak mengangkat wajahnya.

"Hei?" panggil Chanyeol.

"Hiks.. kau tahu ? aku tidak pernah merasa seberharga ini Yeol. Tidak pernah, mereka hanya menganggapku sampah, dan_" ucapan Baekhyun terputus ketika Chanyeol meletakkan jari telunjuknya di bibir Baekhyun.

"Jangan katakan itu lagi, itu hanya akan membuatku semakin bersalah."

"Tidak, kau tidak salah sama sekali. Itu terjadi sebelum kita bertemu." Ucap Baekhyun membuat Chanyeol semakin merasa bersalah.

"Yeol, aku berdoa untuk kesembuhan ibumu. Semoga beliau lekas siuman."

"Terima kasih sayang."

"Chanyeol?" Tiba-tiba terdengar suara Luhan menggema di telinganya.

"Ada apa?"

"Kau dimana?"

"Aku bersama Baekhyun."

"Ada hal yang harus aku katakan."

"Cepat!"

"Ibu..Ibu sudah siuman."

Chanyeol terdiam, lalu menutup matanya perlahan .

"Chanyeol… Chanyeol… kau masih disana?"

"Hm."

"Pulanglah secepat yang kau bisa."

"Aku pergi."

Ucap Chanyeol lalu mematikan telepatinya. Ia memeluk tubuh Baekhyun lebih erat membuat Baekhyun terkejut. Namun membiarkan lelaki itu mengangkat tubuhnya dan meletakkanya di depan tubuh yang lebih besar.

Memeluk Baekhyun seperti sebuah boneka beruang besar. Mencium aroma rambut Baekhyun kuat-kuat dan membiarkan tubuh kedua semakin intim.

"Baek?"

"Hm."

"Jika aku melakukan sebuah kesalahan yang sangat besar, apa kau akan memaafkanku?"

"Kenapa tiba-tiba?"

"Hanya jawablah Baek!"

"Aku bisa mentolerir apapun kecuali. Kebohongan dan pengkhianatan." Mendadak Chanyeol terdiam dengan tubuh menegang. Menyadari itu Baekhyun memegang tangan Chanyeol dan membuat tubuh keduanya semakin dekat.

"Tapi mungkin aku akan membiarkan kesempatan bertindak." Ucap Baekhyun mencoba menenangkan Chanyeol.

"Terima kasih Baek." Ucap Chanyeol pelan , meskipun ia tersenyum seolah lega namun ia tahu bahwa untuk kesalahannya tidak ada yang namanya sebuah kesempatan.

Sejenak mereka kembali hening, menikmati hembusan angina pantai dan merasakan kehangatan dari tubuh satu sama lain.

"Chanyeol?"

"Hm?"

"Aku tahu hubungan kita memang belum terlalu lama, dan aku tahu setiap orang memiliki apa yang disebut sebagai privasi. Tapi…"

"Tapi apa Baek?"

"hmm… aku rasa kau telah mengetahui hampir seluruh rahasiaku, sementara tentangmu aku…" Baekhyun menatap Chanyeol dengan tatapan ragu, sementara Chanyeol hanya menantikan kelanjutan ucapan kekasihnya.

"aaah! Aku tidak bermaksud menuntut, tapi terkadang… aku.. kau.. hmm.. aku merasa kau memiliki banyak rahasia yang tidak aku tahu. Tapi jangan salah sangka, aku tidak_"

"Ssstt.. aku mengerti." Ucap Chanyeol sambil meletakan jari telunjuknya di depan bibir tipis Baekhyun.

"Biar aku tunjukan." Ucap Chanyeol lalu mendekatkan wajahnya ke Baekhyun dan mereka berciuman. Ciuman dalam namun tak menuntut, bibir mereka bertautan dan Chanyeol menyukai bagaimana rasa manis yang ia kecap dari bibir kekasihnya.

Setelahnya ciuman itu terlepas dengan sangat perlahan. Mata keduanya saling bertatapan dengan Chanyeol yang tersenyum dan Baekhyun yang mengernyit bingung.

"A-apa itu rahasia yang kau miliki? Sebuah ciuman?" tanya Baekhyun lugu membuat Chanyeol menggeleng pelan lalu terkekeh.

"Lihat sekelilingmu." Baekhyun menoleh dan matanya membulat besar. Pasir yang seharusnya mereka duduki berubah menjadi batuan kasar, pemandangan laut yang indah menjadi sebuah pemandangan langit yang luas. Mereka tidak lagi duduk di pinggir pantai melainkan di pingir sebuah tebing yang sangat tinggi.

"Chan-Chanyeol?" Baekhyun memegang tangan Chanyeol dengan erat dan Chanyeol semakin tersenyum lebar.

"I-ini."

"Ya, aku memiliki kekuatan Baek, aku bisa berpindah kemana pun aku inginkan."

"Bagaimana bisa?" tanya Baekyun masih melihat sekililingnya dengan tidak percaya.

"Hmm. Entahlah aku memilikinya sejak lahir. Maaf aku merahasiakan ini, aku hanya tidak ingin kau menjauhiku dan menganggapku aneh." Ucap Chanyeol. Baekhyun menggeleng cepat, lalu tersenyum.

"Tidak, ini sangat keren Chanyeol. Pantas saja kau pernah menghilang dari kamarmu dan ketika aku mencari di seluruh tempat aku tidak menemukanmu, lalu kau tiba-tiba muncul dari kamar mandi, padahal aku sudah memerksa tempat itu dua kali." Chanyeol merendahkan arah pandangnya sambil tersenyum canggung karena bagaimana pun ia baru saja membohongi Baekhyun.

"Jadi ini rahasia besarmu?Tuan super?"

"Ini memang rahasiaku, tapi bukan yang terbesar."

"Jadi kau memiliki kekuatan lain lagi?" tanya Baekhyun dengan bola mata yang dibuka lebar.

"Tentu. Mau aku tunjukan?" Baekhyun mengangguk cepat bersamaan dengan Chanyeol yang menarik tubuh keduanya untuk berdiri. Baekhyun nyaris tergelincir dan Chanyeol menarik pinggang itu cepat hingga tubuh keduanya berhimpitan.

Baekhyun mendongak dan menatap kearah Chanyeol, lalu yang lebih tinggi kembali membawa mereka dalam sebuah ciuman.

Ketika ciuman itu terlepas Baekhyun terengah, Chanyeol tersenyum lalu menggerakan matanya untuk memberi isyarat pada Baekhyun agar melihat sekitar. Baekhyun kembali terperangah melihat hamparan udara disekililingnya, ia menoleh kebawah dan nyaris terjatuh karena terlalu terkejut melihat kakinya tak lagi menapak tanah, mereka sedang melayang diudara.

"Chan..Chanyeol..ini…ini sangat.."

"Apa kau takut denganku sekarang? Kau tidak akan menjauhiku?" Baekhyun menggeleng cepat, lalu memeluk Chanyeol.

"Tapi Chanyeol?"

"Ya?"

"Apa kau harus mencium dulu sebelum kau menunjukan kekuatanmu?" Chanyeol terkekeh lalu menyingkirkan helain rambut Baekhyun yang menutupi matanya.

"Menciummu membuatku semakin bersemangat." Dan Baekhyun membuang pandangannya dengan pipi yang merona merah.

"Chanyeol?" Chanyeol mengerutkan keningnya ketika mendengar suara ibunya.

"Ibu?" Baekhyun mendongak ketika mendengar Chanyeol bergumam.

"Iya ini ibu sayang."

"I-ibu."

"Bisakah kau membawa Baekhyun kemari?"

"Untuk apa?"

"Hanya bawa dia kemari Chanyeol, aku akan mengatur semuanya."

"Baik ibu."

"Oh, Chanyeol!"

"Ya?"

"Ibu merindukanmu." Chanyeol terdiam, lidahnya terasa kelu. Ia menatap Baekhyun namun fokusnya masih pada percakapannya dengan ibunya.

"Aku…" Ia menjeda ucapannya, lidahnya terasa kaku.

"Aku juga." Ucapnya lalu kembali sunyi.

"Chanyeol ada apa?" tanya Baekhyun.

"Baekhyun, mau ikut bersamaku?" Baekhyun terdiam sebentar sebelum akhirnya mengangguk dan mengalungkan kedua tangannya di leher Chanyeol dan mendekatkan wajah mereka membuat Chanyeol mengernyit heran.

"Aku pikir, kau ingin mencium…ku….ah lupakan..aku-hhmmpptt." Chanyeol segera meraih bibir Baekhyun dan kembali membawa mereka dalam sebuah ciuman.

Ciuman mereka terlepas ketika Baekhyun merasakan ia harus melepaskan ciuman itu. Ketika tubuh keduanya terpisah, mereka berada di sebuah rumah sakit- yang sebenarnya adalah Nubes yang diubah oleh Taemin- dan di belakang mereka ada sebuah pintu kamar rawat inap.

Chanyeol memutar tubuhnya dan mendorong pintu itu pelan. Disana berdiri seluruh anggota keluarganya dengan pakaian manusia mereka. Dan mata Chanyeol langsung tertuju pada Taemin yang terduduk di ranjang sambil tersenyum.

Baekhyun memberi hormat sambil mengikuti langkah Chanyeol yang menariknya. Seluruh diruangan itu nampak menerima kedatangannya membuat Baekhyun merasa tidak terlalu canggung.

Minho duduk di salah satu sofa bersama Kakek Iblis dan Kakek Malaikat, lalu Luhan di seberangnya bersama Kyungsoo yang mana keduanya tersenyum kearah Baekhyun.

"Kemarilah!" ucap Taemin sambil mengibaskan tangannya. Mereka berdiri disamping ranjang Taemin. Chanyeol tidak berucap apapun hanya menatap ibunya datar.

"I-ibu, selamat untuk kesembuhanmu." Ucap Baekhyun memberi hormat. Taemin mengulurkan tangannya dan Baekhyun mendekat. Dengan lembut Taemin menangkup wajah Baekhyun dan mengelusnya sayang, sebelum akhirnya membawa Baekhyun dalam sebuah pelukan.

"Aku senang melihatmu Baekhyun." Bisik Taemin dan Baekhyun yang awalnya kebingungan akhirnya tersenyum dan mengangguk pelan.

"Aku juga, Bu"

"Terima kasih karena selalu berada disisi Chanyeol."

"Chanyeol lah yang selalu berada disisiku ." Taemin mendorong pelan tubuh Baekhyun dan kembali tersenyum kearah lelaki cantik di depannya sebelum akhirnya beralih menatap Chanyeol yang diam dengan wajah datarnya.

"Ada yang ingin kau sampaikan?"

"Bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku tidak akan memaafkanmu jika aku tahu kau berbohong?" ucap Chanyeol dingin membuat Baekhyun terkejut, begitu juga yang lainnya, namun tidak dengan Taemin yang hanya tersenyum.

"Aku tahu, maafkan ibu!"

"Apa kau pikir itu mudah?"

"CHANYEOL!" pekik Baekhyun dengan dahi berkerut, tidak habis pikir dengan sikap Chanyeol yang menurutnya sangat tidak sopan.

"Ibumu baru saja sadar, kau tidak bisa_"

"Tidak apa-apa Baekhyun-ah, dia bisa mengatakan apapun yang dia inginkan. Lalu apalagi yang ingin kau katakan pada ibu?" tanya Taemin dengan senyum manisnya. Baekhyun meraih tangan Chanyeol menggengamnya erat, berharap bahwa Chanyeol tidak berpura-pura lagi di depan ibunya.

"Aku mohon." Bisik Baekhyun pelan membuat Chanyeol meliriknya sekilas.

"A-aku…" Wajah Chanyeol tertunduk.

"A..aku membencimu. Aku benci ketika kau memilih berbaring lemah di atas ranjang tanpa berucap apapun, aku benci ketika kau hanya menutup matamu sepanjang hari, aku benci karena membuatku mencemaskanmu hingga aku merasa diriku hancur, aku membencimu ibu. Aku membencimu karena kau membuatku mati dalam ketakutan, bahwa kau akan meninggalkanku." Ucap Chanyeol lantang dengan wajah tertunduk. Taemin meneteskan air matanya dengan tetap mempertahankan senyumannya.

"Kalau begitu..hiks.. kalau begitu bencilah ibu lagi dan lagi, sehingga hiks.. kau tidak akan pernah melupakanku." Chanyeol segera memeluk ibunya dan tidak ada yang menyangka bahwa seorang Chanyeol yang kasar dan dingin pada ibunya, akan menangis di dalam pelukan sang ibu.

"A-aku akan sangat membenci diriku jika kau benar-benar pergi Ibu."

"Chanyeol..hiks.." Taemin menangis. Baekhyun menangis. Luhan menangis. Kyungsoo terdiam namun air matanya membasahi pipinya. Minho mengalihkan pandangannya begitu juga Kakek Iblis, sementara Raja Malaikat mengusap wajahnya pelan.

Sejenak ruangan itu dipenuhi oleh isak tangis penghuninya. Baekhyun mengusap air matanya sambil tersenyum menatap Chanyeol yang masih berpelukan bersama ibunya, entah mengapa ia merasakan sebuah kebahagiaan.

"Jangan lakukan ini lagi! Kau tahu betapa aku frustasi melihatmu berbaring diatas ranjang, terdiam seperti boneka?" ucap Chanyeol pelan setelah pelukan mereka terlepas. Taemin tersenyum namun air matanya mengalir.

"Bukankah kau membenci jika aku bicara padamu?" tanya Taemin sambil mengusap air mata di wajah Chanyeol.

"Ya! Ya, aku membencimu yang selalu berisik, tapi_" suara Chanyeol melemah, ia membelai pipi pucat ibunya.

"Tapi aku lebih membencimu yang diam seperti memasrahkan diri pada kematian." Baekhyun kembali terisak, namun ia berusaha untuk tetap tersenyum. Peristiwa di depannya adalah sebuah momen yang sangat mengharukan.

"Chanyeol? Bisakah kau berjanji satu hal padaku?"

"Katakan!"

"Jaga Baekhyun untukku!" ucap Taemin sambil melirik Baekhyun yang terisak. Chanyeol melirik kekasihnya yang berdiri di belakangnya, lalu menarik tangan Baekhyun untuk mendekat membuat lelaki mungil itu terkejut.

"Tanpa ibu minta aku akan menjaganya, tapi jangan pernah memintaku untuk berjanji apapun lagi. Itu seperti kau akan pergi meninggalkanku." Ucap Chanyeol dingin. Taemin tersenyum lebih lebar lalu mengangguk.

"Kau lupa siapa ibumu ini? Aku akan selalu berada disampingmu." Ucap Taemin membuat Chanyeol mengangguk.

"Ya, aku tahu itu dengan jelas." Ucap Chanyeol lalu bangkit.

"Sepertinya aku harus pergi, Baekhyun ayo!" Baekhyun menoleh kearah Taemin lalu membungkukan tubuhnya untuk memberi hormat dan memberi hormat cepat pada anggota keluarga lainnya seiring Chanyeol menarik tangannya keluar.

Chanyeol hanya tidak ingin Baekhyun terlalu lama melihat sisi lemahnya, ia tidak ingin sama sekali Baekhyun menganggapnya lelaki yang cengeng dan nantinya akan meragukan kekuatannya, padahal pada kenyataannya Baekhyun sama sekali tidak pernah memikirkan hal itu. Baginya Chanyeol yang menangis sambil memeluk ibunya adalah hal paling manis yang pernah ia lihat.

Ketika mereka tiba di depan pintu, Chanyeol memeluk tubuh Baekhyun lalu mereka menghilang, dalam hitungan detik mereka telah muncul di kamar apartemen Chanyeol.

"Apa menginap ide yang baik?" tanya Chanyeol ketika Baekhyun melihat sekelilingnya, Baekhyun menoleh lalu mengangguk dengan sebuah senyuman.

..

.

Taemin tersenyum melihat satu per satu anggota keluarganya menghilang dari ruangan yang sudah kembali ke bentuk semula begitu Baekhyun dan Chanyeol pergi, bahkan ia sudah kembali pada wujud malaikatnya.

"Tidak ingin memberiku sebuah pelukan?" tanya Taemin saat melihat Minho hanya duduk sambil menatap datar kearahnya. Minho bangkit lalu berjalan kearah istrinya, ketika istrinya merengtangkan tangannya, ia sudah lebih dulu berhambur ke dalam pelukan Taemin.

Minho memeluk istrinya dengan erat, mengecup bagian belakang kepalanya dengan sayang membuat Taemin menangis dalam senyumnya.

"Sangat merindukanku uhm?"

"Jangan pernah melakukan ini lagi!" Minho mengeratkan pelukannya.

"Jangan pernah meninggalkanku !" Taemin terhenti sejenak, lalu mendorong tubuh suaminya.

"Sayang, setiap pertemuan pasti ada perpisahan, dan_"

"Ssttt! Jangan katakan apapun! Aku tidak ingin mendengarnya." Taemin mengangguk lalu membiarkannya sang suami mengecup bibirnya.

..

.

Seseorang duduk diatas singgasananya. Ruangan yang nampak temaram, yang hanya diterangi oleh sinar-sinar kecil disetiap dindingnya. Sayapnya bersembunyi di balik punggungnya. Tangannya memutar gelas anggur merah dengan perlahan, menatap kearah pintu besar yang jauh berada dihadapannya, hingga pintu itu terbuka.

Menampakkan seorang pria berjalan dengan seragam sekolahnya yang sama dengan seragam sekolah Chanyeol dan Baekhyun. Wajahnya tidak dapat dikenali karena tertutup oleh kobaran api, sama seperti tuannya yang hanya menyeringai kearahnya.

Pria berseragam itu tidak sendiri, ia memiliki beberapa anak buah dibelakangnya yang memiliki rupa yang sama dengannya.

"Tuan mereka_"

"Aku sudah tahu." Sang pemimpin menyeringai.

"Suatu momen indah yang mengharukan. Tapi sayangnya hal itu tidak bertahan lama." Dia bangkit dan sayap hitamnya terbuka, lalu melayang cepat dan berdiri tepat di hadapan anak buahnya.

"Siapkan pasukan! pertempuran akan segera dimulai." Ucap sosok itu lalu menghilang.

..

.

Chanyeol dan Baekhyun saling berpelukan diatas ranjang. Setelah membersihkan diri mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan berbaring dan saling memeluk.

"Chanyeol, mengapa kau menyembunyikan kekuatanmu dariku?" tanya Baekhyun setelah keduanya sempat dilanda kesunyian.

"Aku hanya tidak ingin kau menganggapku aneh."

"Aku tidak akan menganggapmu aneh Chanyeol, kau tahu? Sehun juga memiliki sebuah kekuatan yang aneh, ketika dia marah dia bisa menghancurkan apapun."

"Hm, aku tahu."

"Kau tahu?" Baekhyun menjauhkan wajahnya untuk menatap wajah Chanyeol. Chanyeol mengangguk pelan lalu kembali mengelus rambut Baekhyun.

"Dia pernah marah padaku dan tidak sengaja menunjukan kekuatan itu di depanku."

"Apa kau baik-baik saja?"

"Tentu, kau lupa aku ini kuat." Baekhyun terkekeh begitu pula Chanyeol.

"Apa selain ini kau memiliki rahasia lain lagi?" Chanyeol terdiam lalu mengeratkan pelukannya sambil mengecup pucuk kepala Baekhyun.

"Tentu." Baekhyun mengangguk pelan, merasa sedikit kecewa karena Chanyeol masih menyembunyikan banyak hal dibelakangnya.

"Kau mau tahu?"

"Apa boleh?"

"Tentu." Chanyeol mendekatkan bibirnya di telinga Baekhyun.

"Saat kita berpisah, aku merindukanmu. Jadi aku melakukan permainan seorang diri dengan tanganku sambil menyebut namamu." Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol dan memukul dadanya pelan.

"Itu sangat mesum." Ucap Baekhyun dengan wajah bersemu kemerahan.

"Aku tidak tahu harus melakukan apalagi sayang." Goda Chanyeol. Baekhyun segera melepas pelukannya dan bangkit.

"Kau mau kemana?" tanya Chanyeol ketika melihat Baekhyun menuruni ranjang dengan hanya mengenakan baju kaos hitam kebesaran miliknya.

"Aku ingin minum." Ucap Baekhyun sambil berjalan kearah pintu. Sebenarnya itu hanya sebuah alasan yang ia gunakan agar tidak memperlihatkan wajahnya yang terus memerah di depan Chanyeol.

Meskipun hubungan mereka sudah berjalan cukup lama, namun tetap saja ia masih merasa malu oleh semua kata-kata rayuan Chanyeol. Baekhyun membuka lemari pendingin dan menuangkan air mineral pada gelas kosongnya.

Ketika ia selesai minum, ia merasakan tubuhnya terangkat membuatnya memekik hingga ia sadar bahwa itu adalah perbuatan Chanyeol yang kini mendudukannya diatas meja dapur.

"Kau ingin menghindariku bukan?" bisik Chanyeol membuat Baekhyun menggelinjang. Tubuhnya seolah tersengat oleh puluhan aliran listrik , terpaan nafas Chanyeol membuat rambut halus disekujur tubuhnya meremang.

"Baekhyun! Aku merindukanmu." Bisik Chanyeol lagi dan itu berhasil membuat Baekhyun menutup matanya sambil menikmati hisapan-hisapan lembut di permukaan kulit lehernya. Baekhyun tidak dapat memungkiri jika ia sangat merindukan sosok Chanyeol, kekasihnya.

Hisapan Chanyeol semakin kuat meniggalkan ruam kemerahan kulit Baekhyun . Baekhyun melenguh, membuka semakin lebar kedua kakinya, memerangkap tubuh Chanyeol diantaranya.

Chanyeol menyingkap kaos Baekhyun hingga memperlihatkan dada polos dengan dua buah tonjolan yang mulai mengeras disana. Lidah Chanyeol menyapu seluruh permukaan dada Baekhyun, lalu menghisap secara bergantian kedua puting susu Baekhyun.

"Hhhmm… "Baekhyun melenguh menahan desahannya. Kepalanya terkulai lemas dengan bibir yang sedikit terbuka. Chanyeol beralih pada bibir Baekhyun, menyesapnya dengan kuat membuat Baekhyun melingkarkan kedua kakinya pada pinggang Chanyeol dengan semakin erat.

Ketika Chanyeol selesai melepaskan celana dalam Baekhyun dan melemparnya asal lalu berniat memberikan sedikit pelayanan pada si mungil yang terabaikan, Baekhyun menahan kedua lengan Chanyeol.

"Aku tidak apa-apa jika kau tidak memanjakannya." Ucap Baekhyun dengan wajah merona. Chanyeol pun sebenarnya sangat ingin langsung menuju adegan inti mereka, namun ia tidak ingin Baekhyun terlalu mendadak menerima serangannya yang selama ini jarang tersentuh.

"Tidak apa-apa, aku akan melakukan ini untukmu." Ucap Chanyeol sambil melebarkan kedua kaki Baekhyun lebih. Tapi Baekhyun kembali menahan tangan Chanyeol dan menggeleng.

"Apa kau baik-baik saja jika aku langsung memasukannya?"

"Hm! Lakukanlah! Aku sudah…tidak tahan." Ucap Baekhyun dengan suara yang sangat lirih diakhir kalimatnya membuat Chanyeol nyaris tidak bisa mendengarnya apalagi Baekhyun menundukan wajahnya.

"Apa? Bisa kau ulangi? Aku tidak mendengarnya." Goda Chanyeol. Baekhyun menganggkat wajahnya dan menatap Chanyeol dengan wajah yang sudah sangat merah. Baekhyun menggeleng pelan membuat Chanyeol berdecak pelan lalu menurunkan kaki Baekhyun, tentu hanya untuk menggoda kekasihnya.

"Chanyeol~" rengek Baekhyun pelan. Chanyeol bersumpah ia tidak tuli untuk mendengar rengekan Baekhyun, namun ia tidak pernah tahu kekasihnya yang pemalu bisa merengek seperti itu padanya.

"Iya sayang?"

"Lakukan itu!" ucap Baekhyun sambil kembali menundukan wajahnya dengan suara yang sangat lirih. Chanyeol tidak tahan lagi untuk menggoda kekasihnya, untuk itu ia menarik kaki Baekhyun, membukanya lebar lalu mencium yang lebih kecil.

Sementara satu tangannya ia gunakan untuk menurunkan celana tidurnya, memperlihatkan kejantanannya yang sudah berdiri tegak. Chanyeol menggesekan penisnya pada lubang basah Baekhyun, lalu dengan perlahan menuntun kepala penisnya untuk menerobos masuk.

"Aaah." Baekhyun sedikit memekik ketika benda keras itu berhasil menerobos ke dalam lubang anusnya. Itu menyakitkan tapi juga menyenangkan. Baekhyun juga lelaki normal yang membutuhkan pelampiasan untuk nafsunya, dan kepergian Chanyeol membuatnya harus mengubur-ngubur hasrat itu jauh di dalam dirinya. Karena bagaimana pun kesedihannya jauh lebih mendominasi ketimbang hasrat seksualnya.

"Ooohh.." Suara berat Chanyeol terdengar ketika tubuhnya mulai bergerak pelan. Menumbuk tubuh Baekhyun lebih dalam dan dalam untuk menemukan titik yang tepat.

Baekhyun mengeratkan kakinya pada pinggang Chanyeol, dan merebahkan sedikit tubuhnya diatas meja namun tidak sepenuhnya.

"Aaaah… Chanyeol.." Chanyeol menyeringai ketika menemukan titik yang ia cari. Untuk itu ia mempercepat gerakannya , semakin cepat dan dalam membuat meja yang ditiduri Baekhyun bergerak konstan seiringin dorongan Chanyeol.

Deritan kaki meja dan lantai menjadi suara pengiring kegiatan panas mereka. Baekhyun meremas dengan kuat lengan Chanyeol, dan Chanyel yang mengerti rasa kesakitan dan kenikmatan yang coba Baekhyun salurkan padanya membuatnya segera menarik kepala Baekhyun dan menciumnya dengan kasar.

"Oh Chanyeol. Aaahh…Aaahh…Aahh.." Dorongan itu semakin kuat, Baekhyun merasakan lubangnya memanas dan sangat penuh.

"Baekhyun.. aaah.. kauuhh.. hhmm… "

"Chan..aahh..Yeol…hhhh.." Kembali Baekhyun mendesah ketika tautan bibir mereka terlepas. Chanyeol memegang pinggang Baekhyun ketika merasa dirinya akan keluar. Dengan hentakan kuat dan dalam ia mendorong tubuhnya ke arah Baekhyun membuat Baekhyun membusungkan dadanya.

"Chanyeolllhhh." Baekhyun mendesah keras ketika cairanya keluar lebih dulu, sementara Chanyeol masih bergerak cepat didalam tubuhnya. Lima hentakan terakhir Chanyeol merasakan cairannya akan menyembur keluar, untuk itu ia menarik miliknya keluar dan menyemprotkan cairannya disekitar pipi pantat Baekhyun. Ia tidak ingin spermanya akan membuahkan hasil lagi, karena Chanyeol tahu Baekhyun tidak menginginkannya.

Chanyeol mengatur nafasnya dan menjatuhkan kepalanya di dada Baekhyun yang juga terkulai lemas diatas meja.

"Haaah. Ini bercinta tercepat kita Baek. Kau menyukainya?" tanya Chanyeol sambil mengelap lelehan keringat di wajah Baekhyun. Baekhyun menggeleng pelan.

"Aku tidak terlalu menyukainya, ini terkesan terburu-buru. Tapi, ini menyenangkan." Ucap Baekhyun sambil mencoba bangkit. Chanyeol menarik tangan Baekhyun dan membuat kekasihnya itu terduduk diatas meja seperti posisi semula.

Baekhyun meraih wajah Chanyeol dan membawa mereka dalam sebuah ciuman hangat, hingga akhirnya Chanyeol menyadari jika ciuman mereka terasa asin dan basah.

"Hei, kau menangis? Apa perbuatanku tadi menyakitimu?" Baekhyun menggeleng, ia lalu menarik Chanyeol dan menyembunyikan kepalanya di dada sang kekasih.

"Aku pikir..hiks.. aku pikir aku tidak akan melakukan ini lagi denganmu, aku pikir..hiks.. kau akan meninggalkanku." Ucap Baekhyun. Chanyeol mendorong tubuhnya pelan lalu menatap wajah lelakinya.

"Aku tidak akan meninggalkanmu , aku hanya akan pergi jika kau melepaskanku."

"Aku tidak akan melakukannya." Ucap Baekhyun cepat. Chanyeol mengusap air mata Baekhyun lalu mengecup bibirnya sekilas.

"Aku harap." Bisiknya pelan.

..

.

Bagai terbangun dari mimpi buruk, hidup Baekhyun kembali normal setelah kembalinya Chanyeol. Tidak ada lagi tatapan menghakimi dari teman-temannya secara terang-terangan, tidak ada lagi hinaan yang mereka lontarkan ketika Baekhyun berjalan di koridor sekolah tentu saja dengan Chanyeol disampingnya, tidak ada lagi acara absen dari makan siang , semua kembali seperti keinginan Baekhyun.

Meskipun Zitao dan beberapa anak buahnya kerap kali melirik kearahnya dengan tatapan tidak suka, dan terkadang mencari perkara dengan Chanyeol namun Baekhyun bersyukur karena Chanyeol tidak terlalu menanggapinya. Dan sepertinya Yifan juga merasa bersyukur karena berkat kembalinya Chanyeol , Zitao tidak berani lagi menggunakan kekerasan padanya.

"Kau menginginkannya?" bisik Chanyeol ketika mendapati Baekhyun selalu menatap seorang anak lelaki yang sedang bermain piano. Setelah sekian lama kelas musik di tutup karena ada renovasi dan juga pergantian instrument musik yang rusak akhirnya kelas tersebut dibuka kembali.

Saat ini kelas Baekhyun dan satu kelas lainnya sedang menghadiri kelas tersebut, dan seperti biasa anak-anak yang dikucilkan akan duduk sambil memainkan recorder. Baekhyun dan Yifan duduk dibarisan belakang bersama beberapa anak lainnya, sementara Chanyeol dengan gitarnya duduk di tempat yang tidak seharusnya ia tempati, disamping Baekhyun –deretan para anak-anak tidak berbakat-.

Baekhyun menggeleng pelan saat mendengar pertanyaan Chanyeol dan ia mengutuk dirinya yang tidak pandai berbohong. Karena bukannya percaya, Chanyeol malah bangkit dan menghampiri si anak yang sedang menunjukan kepiawaiannya dalam memainkan alat tersebut.

Baekhyun membulatkan matanya ketika melihat Chanyeol mendorong anak lelaki itu, lalu mengibaskan tangannya kearah Baekhyun. Merasa Baekhyun hanya terdiam di tempat, Chanyeol segera menghampiri kekasihnya dan menariknya cepat lalu mendudukan Baekhyun di depan piano.

Seluruh mata menatap tidak suka pada Baekhyun dan itu membuat Baekhyun semakin gugup. Jemarinya bergetar dan terulur dengan ragu. Melihat itu Chanyeol mendesah lalu memilih duduk dibelakang Baekhyun , memerangkap tubuh yang lebih mungil.

"Chanyeol, aku…" Suara Baekhyun sangat lirih , perasaan senang, malu dan gugup bercampur menjadi satu.

"Aku ingin mendengarmu memainkan benda ini Baek, untukku." Bisik Chanyeol. Baekhyun menelan ludahnya lalu mulai menekan tuts piano itu. Darahnya seperti berdesir, sudah sejak lama ia tidak memainkan benda itu. Dulu ia dan sang ayah akan bermain berjam-jam setelah mereka usai makan malam, namun setelah ayahnya meninggalkan piano itu dijual oleh Kibum karena mereka membutuhkan uang saat itu. Semenjak itu Baekhyun sama sekali tidak pernah bermain piano.

Tak lama alunan nada indah itu terdengar. Sama halnya dengan Baekhyun yang terkejut akan dirinya yang nyatanya masih mengingat semua dengan baik, teman-teman di dalam kelas musik itu nampak tercengang dengan permainan Baekhyun.

"Indah, sama seperti dirimu Baek." Bisik Chanyeol sambil mengeratkan pelukannya pada pinggang Baekhyun dan meletakkan kepalanya pada pundak sang kekasih, mengabaikan tatapan iri dan tidak suka dari orang-orang disekitar mereka.

Alunan lagu Because I Love You oleh Yiruma menggema diruangan itu. Alunan nada indah yang menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Baekhyun merasa sangat senang, senyumanya tidak pernah lepas dari wajahnya ketika jemarinya menari diatas tuts piano itu.

Dikejauhan Yifan melakukan hal yang sama tersenyum kecil, melihat betapa Chanyeol dan Baekhyun saling menyayangi. Baekhyun semakin tersenyum ketika merasakan pelukan Chanyeol dipinggangnya.

Ketika lagu itu usai, Baekhyun menoleh kearah Chanyeol dan Chanyeol meraih dagu Baekhyun untuk mencium bibir kekasihnya. Yifan bangkit dan memberikan tepuk tangan membuat semua mata tertuju padanya, namun setelahnya ketika Chanyeol ikut bangkit dan menepuk tangannya dengan lebih keras seisi ruangan melakukan hal yang sama.

"Sudah aku katakan, Baekhyun-ku sangat pandai melakukan hal apapun. Kalian hanya selalu memandangnya remeh." Ucap Chanyeol lalu mengeluarkan diri dari balik bangku.

PROK
PROK
PROK
Chanyeol menoleh begitu pula yang lain. Menatap kearah pintu, dimana seorang wanita dengan balutan kemeja putih dan blazer ungu serta rok selututnya yang berwarna senada berjalan masuk dengan anggun.

Semua mengernyit tidak ada satupun yang mengenal sosok itu, namun wajah itu tersenyum ramah kearah semua orang terlebih kearah Chanyeol dan Baekhyun yang masih berdiri di tengah kelas.

"Permainan yang indah." Ucapnya sambil berjalan ketengah ruangan, membuat suara sepatu hak tingginya menggema.

"Perkenalkan aku Jessica Jung, guru musik kalian yang baru." Ucap wanita cantik itu memperkenalkan dirinya. Beberapa siswa saling berbisik , mengangumi betapa anggun guru musik mereka yang baru sementara wanita itu mengedikan sedikit kepalanya untuk menyapa para murid barunya.

"Hei, siapa namamu? Permainanmu tadi sangat bagus, aku_" Jessica yang hendak melangkahkan kakinya mendekati Baekhyun segera dihadang oleh Chanyeol dengan wajah dinginya.

Jessica mengernyit lalu melirik name tag milik Chanyeol.

"Park ?"

"Ya, itu namaku." Sahut Chanyeol dingin. Jessica tersenyum manis, lalu mengangguk paham.

"Ah, aku tidak akan menyakiti kekasihmu. Aku hanya kagum dengan permainannya." Ucap Jessica, Chanyeol mengernyitkan keningnya, ia tidak akan mempercayai siapapun lagi disekolahnya, ia harus waspada mulai sekarang.

"Hai? Siapa namamu?" tanya Jessica melalui celah pundak Chanyeol. Baekhyun melirik Chanyeol lalu dengan ragu mendekat. Ia membungkukan tubuhnya membuat Chanyeol mendesah kesal.

"Namaku Byun Baekhyun saem."

"Ah, Baekhyun! Kau bisa menemuiku sepulang sekolah?" Dengan ragu Baekhyun mengangguk pelan membuat Chanyeol menatapnya dingin.

"Bagus. Okay guys! Please introduce yourself! Dimulai dari kau gadis cantik!" Tunjuk Jessica pada seorang anak perempuan di depannya.

..

.

Sehun menggantungkan tangannya diudara ketika akan mengetuk sebuah pintu besar dihadapannya. Saat ini ia sedang berada di Infernus, tempat yang selalu rajin ia kunjungi akhir-akhir ini.

Sehun menarik tangannya dan bersiap menendang pintu itu, namun sebelum niatnya terlaksana pintu itu telah terbuka membuat Sehun terkejut.

"Wow, Wow, Wow. Aku kedatangan seorang manusia berdarah Iblis. Apa aku bisa menyebut ini sebagai kehormatan?" tanya Kakek Iblis sambil duduk diatas kursinya dengan santai ditemani secangkir teh ditangannya.

Sehun menaikkan kepalanya angkuh, lalu berjalan masuk dengan lancang.

"Ada perlu apa kau kemari?" tanya Kakek Iblis. Sehun melihat sekelilingnya dan menurutnya ruangan itu sangat mengerikan, remang dan mencekam apalagi suara teriakan kesakitan dari para roh-roh yang disiksa terdengar dengan jelas.

"Jadikan aku Iblis yang kuat!" ucap Sehun dengan antusias, membuat Kakek Iblis terkekeh. Pria itu meletakkan cangkir tehnya lalu menaikkan kedua kakinya diatas meja dan bersandar dengan nyaman pada kursinya.

"Untuk apa?"

"Aku ingin melawan makhluk Lucifer itu." Kakek Iblis mendengus lalu kembali terkekeh pelan.

"Kau tahu? Bila diibaratkan kau itu seperti tunas tanaman yang baru tumbuh, sementara Lucifer adalah tanaman yang berusia berabad-abad yang hidup dipinggir jurang. Kau pikir kau bisa mengalahkannya?"

"Aku pikir iya."

"Apa yang membuatmu yakin?"

"Kau tidak akan tahu tumbuh menjadi sekuat dan sebesar apa tanaman itu, sementara tanaman tua yang berusia berabad-abad pasti memiliki sebuah kelemahan, seperti rapuh dan …renta.." Ucap Sehun dengan sebuah seringaian membuat Kakek Iblis ikut menyeringai.

"Apa yang membuatmu ingin melawannya?"

"Dia telah melukai Luhan, aku tidak bisa membiarkannya. Dan dia pasti akan mengincar Baekhyun hyung, karena lelaki bodoh bernama Park Chanyeol itu." Kakek Iblis tertawa.

"Alasanmu cukup kuat. Tapi mengapa kau mencariku? Bukankah kita memiliki Minho sebagai Raja Iblis dan Chanyeol sebagai calonnya?" Sehun kembali menyeringai.

"Menurutmu mana yang lebih berpengalaman seorang mantan Raja, Raja, atau calon Raja?" Kakek Iblis tersenyum kecil.

"Aku menyukai kegigihanmu bocah! Tapi sayang aku tidak mengajarkan seseorang yang tidak memiliki hubungan darah denganku." Sehun mengernyit.

"Cucumu adalah orang yang membuatku terlahir kedunia, dan anakmu adalah ayah dari lelaki itu. Lalu dimana ketidakadaannya hubungan darah antara kita?"

"Cucuku tidak kau anggap sebagai ayah, lalu bagaimana bisa aku juga menganggapmu keluargaku?" Raut wajah Sehun mendadak dingin.

"Aku datang kemari bukan untuk membahas tentang silsilah keluarga, aku kemari untuk belajar menjadi iblis yang kuat."

"Menjadi kuat bukan satu-satunya cara untuk mengalahkan Lucifer. Dia cerdik dan picik, kau pikir dengan kekuatanmu yang hanya bisa menyentuh kakinya akan bisa mengalahkannya?"

"Aku anggap percakapan ini tidak pernah terjadi." Ucap Sehun sambil membalik tubuhnya, merasa menyesal telah membuat keputusan untuk menemui Sang Mantan Raja Iblis.

"Besok datanglah kemari!" Sehun menghentikan langkahnya lalu menoleh.

"Kau serius?"

"Seorang Iblis juga seorang pria yang memegang ucapan mereka." Sehun menyeringai lalu melambai pelan dan melangkah keluar. Kakek Iblis menyeringai lalu kembali meminum tehnya yang mulai mendingin.

..

.

Chanyeol melangkah masuk dengan tergesa ke dalam ruang utama setelah mendapati panggilan dari Luhan. Mata Chanyeol melebar melihat banyak makhluk disana, tidak hanya Iblis dan Malaikat namun makhluk lain yang belum pernah Chanyeol liat.

Kubu itu tidak lagi hanya terbagi menjadi dua sisi, namun sisi kiri dan kanan masing-masing terbagi lagi menjadi kubu-kubu yang berbeda. Di kubu kanan setelah deretan para malaikat, Chanyeol melihat makhluk-makhluk bersayap kupu-kupu dengan rambut berwarna biru langit sangat panjang hingga menyentuh lantai dan bermahkotakan tanaman yang melilit hingga ketubuh mereka seperti sebuah hiasan.

Mereka juga makhluk langit, namun selama ini bersembunyi di dalam hutan-hutan di seluruh pegunungan yang ada di dunia untuk menjaga kelestarian hutan diseluruh dunia. Mereka adalah bangsa Viellerra , sang dewi hutan.

Lalu di posisi tempat duduk dekat pintu masih dalam kubu kanan, duduklah bangsa Laxenia . Mereka adalah makhluk dengan kulit transparan seperti air, mata berwarna biru laut yang menyala, bentuk tubuh yang sangat indah serta membawa senjata berupa tombak atau trisula di tangan mereka, mereka adalah penjaga seluruh ekosistem perairan di muka bumi. Chanyeol mengetahui sedikit tentang mereka, karena bangsa Laxenia sangat jarang berminat untuk mendatangi pertemuan-pertemuan kecuali sangat genting seperti saat ini.

Beralih ke kubu kiri, setelah deretan bangsa iblis, Chanyeol dapat melihat bangsa Shorrda. Sosok gelap tinggi menyerupai tubuh bentuk tubuh manusia namun berukuran 4 kali lipat lebih besar dengan mata menyala merah dan wajah rata. Tubuh mereka hanya berupa bayangan, karena Shorrda adalah salah satu makhluk kegelapan yang datang untuk menghantui kehidupan manusia.

Disebelah mereka duduklah makhluk-makhluk dengan berbagai macam bentuk. Campuran antara binatang, manusia dan makhluk kegelapan. Chanyeol tidak terlalu menyukai bangsa Roon, karena mereka sangat berisik dan bagi Chanyeol mereka tidak terlalu berguna, namun kekuatan mereka patut untuk diajak bekerja sama, setidaknya terkadang Lucifer bisa berubah menjadi binatang dan satu-satunya yang bisa menyadari perubahan itu adalah bangsa Roon.

"Baiklah, rapat bisa kita mulai." Ucap Minho ketika Chanyeol menempati kursinya. Chanyeol mengernyit ketika melihat Sehun ikut bergabung dalam rapat mereka dan duduk disamping Luhan di depan deretan para iblis. Bahkan seharusnya Sehun tidak duduk disana, entah bagaimana mereka mengijinkan seorang bocah setengah manusia bergabung di sebuah rapat besar.

Sehun yang merasa mendapat tatapan dari Chanyeol membuang wajahnya angkuh dan beralih menatap Minho yang berdiri dengan mahkotanya.

"Kalian tentu sudah tahu dengan kembalinya Lucifer serta pengikutnya. Bahkan kini pengikutnya sudah semakin bertambah dengan pesat."

"Manusia-manusia itu terlalu mudah terpengaruh." Ucap salah satu makhluk dari bangsa Roon. Chanyeol memutar bola matanya malas, seperti yang telah ia katakan bahwa mereka sangat berisik. Sementara Sehun menatap tidak suka ketika bangsanya diremehkan dan Minho yang ucapannya disela hanya menatap sebentar lalu mengangguk.

"Ini bukan masalah manusia yang mudah terpengaruh, tapi bagaimana Lucifer memperkuat pasukannya dan aku yakin dalam waktu dekat akan terjadi penyerangan. Untuk itu aku meminta kalian semua datang kemari. Aku tahu kita bukanlah sekutu,namun tidak ada salahnya untuk bergabung dan melawan musuh yang sama." Ucap Minho lagi dan mendapat banyak anggukan.

"Kenapa kita tidak melakukan penyerangan terlebih dulu semasih mereka mempersiapkan sebuah penyerangan." Sehun bangkit tiba-tiba dan mengeluarkan pendapatnya membuat bangsa lain bertanya-tanya siapa sosok Sehun.

"Kau bahkan tidak tahu dimana Lucifer sekarang, apa kau pikir kau akan tahu dimana markasnya?" ucap Chanyeol sambil berdecih. Sehun menatap Chanyeol kesal , ia merasa diremehkan.

"Hentikan!" potong Kakek Iblis sambil mengurut keningnya. Minho menghela nafas dan menyadari tatapan penuh keheranan para undangan.

"Perkenalkan dia Sehun. Dia adalah putra Chanyeol." Ucap Minho membuat para undangan mengangguk sekilas dengan kernyitan.

"Dia iblis setengah manusia." Sambung Kakek Iblis membuat seluruh ruangan mendadak riuh. Chanyeol yang awalnya tidak peduli mengernyitkan keningnya melihat reaksi para undangan yang seperti tidak menerima.

Luhan menarik Sehun yang nampak terkejut melihat reaksi para undangan.

"Duduklah!" bisik Luhan sambil menggenggam tangan Sehun.

"Sejak kapan manusia bisa menghadiri rapat ini?" bangsa Roon mulai memprovokasi.

"Bagaimana mungkin iblis bisa bersama dengan manusia, mereka lemah dan hina." Sehun yang merasa bangsanya diremehkan hendak bangkit, namun didahului oleh Chanyeol yang menggebrak meja.

Ketika suasana hening melihat kemarahan Chanyeol, lelaki itu mulai menatap seluruh isi ruangan.

"Jangan pernah meremehkan bangsa lain, ketika bangsamu sendiri bukanlah yang terbaik. Dan, tidak ada larangan untuk iblis dan manusia bersama. Aku mencintainya. Aku rasa ini cukup, aku muak dengan semua tingkah kalian." Ucap Chanyeol lalu menghilang membuat seluruh undangan terkejut, terutama para anggota inti kerajaan Nubes dan Infernus, dan tidak terkecuali Sehun.

..

.

Chanyeol melayang di depan jendela kamar Baekhyun , sesekali ia tersenyum melihat kekasihnya sedang serius dengan buku-buku pelajarannya. Mulai sekarang Chanyeol akan selalu menggunakan kesempatan yang ada untuk melihat Baekhyun, karena setelah peperangan dimulai ia yakin tak akan ada waktu sekedar untuk melihat wajah tersenyum Baekhyun.

Baekhyun mengerutkan keningnya lalu menoleh kearah jendela namun tidak mendapati siapapun disana kecuali langit malam yang gelap. Ia berjalan kearah jendela dan menutup tirai itu dengan perlahan.

"Boom!" Baekhyun tersentak ketika mendengar suara Chanyeol tepat di telinganya, ia menoleh dan menghela nafas sambil memberikan sebuah pukulan di lengan kekasihnya.

"Kau mengagetkanku Yeol."

"Itu tujuanku." Ucap Chanyeol sambil tersenyum jahil. Ia merasa senang setelah Baekhyun mengetahui kekuatannya setidaknya ia tidak perlu berpura-pura menunggu di bawah lagi.

"Kau sudah makan?" tanya Baekhyun sambil kembali berjalan kearah meja belajarnya.

"Makan apa yang kau maksud? Jika memakanmu jawabannya belum." Baekhyun terkekeh sambil sesekali menggeleng dan memilih duduk di depan meja belajarnya kembali.

"Bagaimana denganmu? Kau sudah makan?" Baekhyun mengangguk pelan dan mulai menulis sesuatu di bukunya.

"Kau lebih memilih buku ketimbang diriku?" tanya Chanyeol yang sejak tadi telah duduk diatas tempat tidur Baekhyun. Baekhyun tersenyum lalu menutup bukunya dan berjalan kearah kekasihnya.

Baekhyun berdiri di depan tubuh Chanyeol dan Chanyeol memeluk erat pinggang Baekhyun sambil mendongak kearah wajah Baekhyun.

"Tentu aku memilihmu, tapi buku adalah hal yang bisa membawaku kemasa depan yang lebih baik." Ucap Baekhyun sambil menyematkan jemarinya di helaian rambut Chanyeol dan mengelusnya pelan.

"Aku tidak setuju. Karena hanya aku yang bisa membawamu kemasa depan yang lebih baik." Ucap Chanyeol sambil mengecup perut Baekhyun dengan lembut, Baekhyun kembali terkekeh lalu memegang kedua sisi pipi Chanyeol dengan jemarinya.

Ketika bibir itu semakin dekat, Baekhyun mengernyit dan melepaskan pelukan mereka.

"Aku harus pergi sebentar." Ucap Baekhyun sambil berjalan kearah kamar mandi. Chanyeol menghela nafas maklum lalu membaringkan tubuhnya diranjang Baekhyun.

Lima menit kemudian Baekhyun keluar sambil memegang perutnya.

"Maafkan aku, akhir-akhir ini perutku sering sakit. Mungkin aku salah makan." Ucap Baekhyun sambil berjalan kearah Chanyeol dan duduk disamping kekasihnya.

"Baekhyun?" panggil Chanyeol sambil menoleh.

"Hm?"

Chanyeol tersenyum kearah Baekhyun membuat lelaki yang lebih pendek mengernyit tidak mengerti.

"Chan_Aakhh!" Baekhyun terkejut ketika Chanyeol menarik tubuhnya dan mengubah posisi mereka. Chanyeol yang berada diatas Baekhyun mengangkat piyama Baekhyun keatas dengan perlahan.

"Tidakkah kau merindukanku?" tanya Chanyeol dengan nada suara seduktif.

"Aku selalu merindukanmu, tapi tidak Aaaahh!" Baekhyun tanpa sadar mendesah saat Chanyeol menyesap putingnya dengan cepat.

"Chan…aaahh.." tubuh Baekhyun menggelinjang, ia merasa seluruh saraf ditubuhnya bereaksi. Chanyeol tersenyum melihat bagaimana tubuh Baekhyun selalu merespon tindakannya.

Dengan hati-hati ia membantu Baekhyun untuk melepaskan piyamanya, lalu menghujani tubuh mulus Baekhyun dengan banyak ciuman dan hisapan.

"Kau mau melakukannya?" tanya Chanyeol dan dijawab oleh anggukan. Chanyeol tersenyum puas, ia membiarkan lidahnya beraksi saat ini untuk menjilat seluruh permukaan tubuh Baekhyun.

Baekhyun mencengkram otot lengan Chanyeol dengan mata tertutup menahan kenikmatan. Ciuman panas dan menuntut kembali mengisi kegiatan mereka, Baekhyun bahkan merasakan bibirnya ditarik kuat oleh gigi Chanyeol.

"Hmmm.. Chanyeolhhh.." Desahan Baekhyun menggema di dalam kamarnya, membuat Chanyeol semakin bersemangat. Namun saat akan beralih memegang penis Baekhyun, Chanyeol terhenti.

Ia melepaskan ciumannya, lalu menoleh kearah jendela. Dengan cepat ia segera bangkit dan berjalan kearah jendela untuk membuka tirai dan juga jendela. Baekhyun segera duduk sambil mencari pakaiannya dan memakainya pelan.

Chanyeol melihat keluar dan melihat kearah jalanan, ia yakin baru saja merasakan aura lain disekitar mereka. Chanyeol menutup matanya untuk mencoba fokus namun ia hanya mendengar suara-suara manusia seperti biasanya.

"Chanyeol? Ada apa?" tanya Baekhyun yang kini berjalan kearah Chanyeol sambil mengancingkan piyamanya.

Chanyeol menoleh dan mendapati Baekhyun dengan keadaan sedikit berantakan. Tapi bukan itu yang menjadi fokus Chanyeol, ia mulai mencemaskan keadaan Baekhyun saat ini.

Dengan cepat Chanyeol menapakkan kedua tangannya di kedua sisi pipi Baekhyun sambil memberikan kecupan-kecupan ringan dikening, pipi, dan bibirnya.

"Aku mencintaimu Baekhyun." Ucap Chanyeol tiba-tiba membuat Baekhyun mengernyit.

"Chanyeol, ada apa?"

"Berjanjilah untuk tetap berada disisiku." Ucap Chanyeol lagi, ia hanya merasa khawatir bahwa Lucifer mulai mengincar Baekhyun dan tidak menutup kemungkinan bahwa Lucifer akan membongkar penyamarannya di depan Baekhyun.

"Chanyeol, jangan membuatku cemas! Apa yang terjadi?" tanya Baekhyun sambil meraih tangan Chanyeol yang berada dipipinya.

"Bisakah?.." Chanyeol menghentikan ucapannya dan matanya beralih pada liontin kalung Baekhyun yang sedikit berkilau terkena cahaya bulan. Ia mengerti sekarang, Lucifer pasti mengincar Loocin milik Baekhyun.

"Baek, berjanjilah untuk tidak pernah memberikan kalung ini pada siapapun, bahkan ketika aku yang memintanya." Baekhyun mengeryit lalu mengangguk sejenak.

"Aku berjanji Chanyeol."

"Terima kasih sayang." Sebuh kecupan Chanyeol daratkan di bibir Baekhyun , sebuah ciuman hangat dan sama sekali tidak menuntut.

"Yak! Keluarlah! Aku ingin bicara denganmu tiang!" Suara Sehun yang tiba-tiba muncul membuat kegiatan Chanyeol dan Baekhyun terhenti.

"Sehun?" ucap Baekhyun terkejut.

"Oh Hai Hyung. Maaf menganggu tapi aku butuh bicara dengan ti_Chanyeol." Ucap Sehun cepat. Chanyeol melepaskan genggamannya lalu mengecup pipi Baekhyun sebelum akhirnya berjalan kearah pintu.

"Aku akan segera kembali." Ucap Chanyeol.

"Sepertinya tidak, ini cukup membutuhkan waktu yang lama." Ucap Sehun membuat Chanyeol mengernyit.

"Apa maumu?"

"Kita bicara dikamarku!" ucap Sehun sambil berjalan lebih dulu.

"Jangan memerintahku." Pekik Chanyeol.

"Ini rumahku dan itu sudah seharusnya."

"Kau bahkan tetap tidak sopan ketika kau berada di rumahku." Balas Chanyeol dan Sehun hanya mendengus sambil membuka pintu kamarnya.

"Bagaimana rapat tadi?"

"Membosankan." Sahut Sehun sambil menutup pintu.

"Duduklah!"

"Aku bilang jangan me_"

"Itu bukan perintah, itu bentuk keramah tamahan pemilik rumah. Kau harus bisa membedakannya." Chanyeol merengut sambil duduk diatas kasur Sehun.

"Katakan! Cepat!"

"Hmmm… "Sehun mengalihkan matanya kesekitar dan wajahnya nampak ragu.

"Cepat! Aku harus kembali ke Baekhyun."

"Diamlah! Aku mencoba merangkai kata-kata."

"Apa? Kau pikir kau akan membuat karangan?"

"Ajarkan aku bagaimana mengatur kekuatan!" Seketika kelopak mata Chanyeol melebar mendengar ucapan Sehun. Sementara Sehun segera membuang wajahnya dan menahan rasa malunya.

Ini semua berawal dari Kakek Iblis yang berjanji akan mengajarinya kekuatan namun syarat utama ia harus bisa mengendalikan kekuatannya dan Sehun rasa ia tidak cukup ahli untuk itu, lalu Kakek Iblis menawarkan sebuah alternatif, yaitu Chanyeol . Jadi disini ia sekarang berusaha menghilangkan harga dirinya.

"Kau serius? Terakhir aku dengar kau membenci darah iblis yang ada pada dirimu."

"Jangan meledekku, aku bisa saja membakarmu hidup-hidup!"

"Wow lihat, kau bicara pada seseorang yang lahir dari api." Sehun kembali mendengus, ia sudah tahu asal kelahiran semua anggota Kerajaan dari Luhan, dan baginya Chanyeol lah yang terkeren, tapi ia bersumpah ia hanya akan menyimpannya seorang diri, ia tidak ingin membuat sosok dihadapannya kini menjadi besar kepala dan congkak.

"Baiklah aku tidak akan melawan,sekarang ajari aku!"

"Hmmm.. sebenarnya aku tidak mau karena ini merepotkan, tapi berhubung kau adalah putraku dan baru saja kau memuji asal kelahiranku, maka aku akan mengajarimu."

Sial! Sehun lupa jika terkadang ketika otak mereka terkoneksi salah satunya bisa membaca pikiran yang lain dengan mudah, apalagi hubungan darah Chanyeol dan Sehun sangat dekat. Ayah dan anak.

..

.

Sehun menatap sosok dihadapannya dengan jengkel, sementara sosok itu nampak santai meracik teh kesukaannya. Tidak peduli bagaimana kesalnya seorang Sehun yang seolah ingin membunuhnya sekarang juga.

"Duduklah! Aku membuatkanmu_"

"Kau menipuku!" ucap Sehun. Kakek Iblis menghentikan kegiatannya untuk menuang air panas dan menatap Sehun sekilas lalu tersenyum.

"Apa yang kau bicarakan?" tanyanya dengan suara santai seolah dirinya memang tidak melakukan apa yang dituduhkan Sehun.

"Kau. Me-ni-pu-ku! Apa itu kurang jelas? Kau sengaja melakukannya kan?" Sehun menendang kursi dihadapannya pelan sebelum akhirnya memilih duduk sambil melipat kedua tangannya.

"Melakukan apa?"

"Jangan pura-pura bodoh! Kau memintaku untuk menemui Chanyeol dan menanyakan padanya bagaimana caranya mengendalikan kekuatan."

"Dan kau menemuinya?"

"Ya, aku 'telah' menemuinya." Bentak Sehun.

"Lalu?"

"Kau menipuku!"

"Aku masih tidak mengerti." Ucap Kakek iblis sambil sedikit terkekeh.

"Kau bilang dia bisa mengajariku caranya, aku mengobarkan harga diriku untuk menemuinya, melakukan hal-hal konyol yang dia perintahkan seperti menyanyi dan menari dan _ aarrggghh intinya kau menipuku!" ucap Sehun sambil menjambak rambutnya frustasi.

"Dimana bagian aku menipumu?"

"Aku menurutinya melakukan hal-hal konyol itu semalaman dan setelahnya yang ia katakan adalah kata-kata terburuk dari mulut terkutuknya "Cara untuk mengendalikan kekuatanmu adalah dirimu sendiri." Kau menipuku Pak Tua." Kakek Iblis tidak bisa menahan tawanya dan hal itu membuat Sehun semakin kesal.

"Tidakkah itu terdengar seperti dia telah menipumu, bukan aku." Ucap Kakek Iblis dan Sehun terdiam setelah menyadari sesuatu.

"Lagipula…" kakek Iblis melanjutkan sambil meminum teh nya.

"Dia tidak sepenuhnya menipumu, dia hanya sedikit bermain-main denganmu. Itu bagus bukan? Bukankah kau ingin tahu bagaimana rasanya memiliki waktu berkualitas bersama seseorang yang kau panggil ayah?" Sehun tercekat, lalu rahangnya mengeras.

"Dia…" ucapan Sehun terjeda, lalu matanya beralih menatap sosok di depannya.

"Dia bukan ayahku, Pak tua menyebalkan." Sehun bangkit dan berjalan keluar.

"Dengar! Kami bangsa iblis tidaklah semenyebalkan itu . Kau sendiri yang membuat kami terlihat menyebalkan. Semua, apapun itu , baik atau buruk, sulit atau mudah, terserah pada dirimu." Langkah Sehun terhenti.

"Yang bisa melakukan hal yang bahkan tidak pernah terpikirkan oleh orang lain, yang mustahil dan tidak mungkin hanya dirimu sendiri. Apapun itu, semua hanya dirimu sendiri." Sehun mengernyit sebelum akhirnya memilih meninggalkan ruangan.

..

.

Baekhyun menghentikan langkahnya yang akan menuju kembali ke kelasnya saat samar-samar ia melihat Yifan dan ZiTao di koridor sekolah yang sepi.

Lagi dan lagi Baekhyun melihat Yifan diperlakukan tidak manusiawi. Lelaki itu bersujud dengan kepala hampir mencium lantai. Baekhyun memilih untuk melihat dari balik persimpangan koridor.

"Wow, Dia telah kembali dan sekarang kau merasa berani untuk melawanku?" ucap Zitao sambil mendorong keras kepala Yifan dengan kakinya.

"Ti-tidak. A-aku ti-tidak se-sengaja me-menabrakmu. A-aku ha-hanya ter-buru-bu-ru untuk bu-buang air ke-kecil." Ucap Yifan ketakutan. Zitao meludah lalu menarik helain rambut Yifan dengan kuat hingga mata mereka bertemu.

"Kau tahu aku sangat jijik mendengar suaramu." Ucap Zitao sambil hendak melayangkan sebuah pukulan. Baekhyun hendak melangkah dan menghentikan itu , namun kemunculan seseorang membuat langkahnya terhenti. Seorang wanita cantik dan anggun, dia Jessica saem.

"Huang Zitao." Ucap Jessica sambil melangkah dengan senyuman ramahnya.

"Aku memiliki sebuah saran untukmu, jika kau merasa jijik dengannya kenapa kau tidak meninggalkannya sendirian?"

"Diam!"

"Kau yang diam! Aku seorang guru disini dan aku berhak menghukum siapapun yang melanggar! Lepaskan dia!" wajah ramah Jessica berubah menjadi dingin. Zitao berdecak lalu menghempaskan tangannya dan kembali meludah sebelum akhirnya melenggang pergi.

Jessica berjongkok dan membantu Yifan berdiri sambil mencoba mencari kontak mata dengan lelaki dihadapannya.

"Apa kau tidak lelah?" ucap Jessica membuat Yifan membulatkan matanya . Jessica membantu Yifan berdiri dan membaca name tag yang tertulis disana.

"Wu Yifan? Apa kau tidak lelah berpura-pura seperti ini?" Yifan menatap Jessica dengan wajah kebingungan. Sementara Jessica tersenyum dan menepuk pundak Yifan, membersihkan kotoran-kotoran yang kemungkinan berada disana.

"Aku tahu sebenarnya kau bisa melawan, kau bahkan lebih tinggi darinya." Ucap Jessica lagi lalu kembali tersenyum.

"A-aku.."

"Ini kedua kalinya aku melihat dia memperlakukanmu seperti ini. Kemarin aku tidak bisa membantu, tapi kali ini aku tidak bisa tinggal diam. Ngomong-ngomong , kita sudah pernah bertemu bukan?" Yifan mengangguk pelan.

"Ya. Di-di ke-kelas se-seni mu-musik." Jessica mengangguk lalu kembali tersenyum, tapi setelahnya ia menghentikan senyumannya dan mengernyit merasakan kehadiran seseorang. Ia menoleh dan menemukan Baekhyun sedang mengintip.

"Hei Baekhyun! Apa yang kau lakukan disana?" Baekhyun yang sudah ketahuan mau tidak mau memunculkan dirinya dan tersenyum canggung.

"Baek-Baekhyun?" Jessica melirik kearah Yifan sebentar lalu kembali melihat kearah Baekhyun.

"Maaf, aku tadi baru kembali dari ruang guru untuk mengumpul tugas dan a..aku ti…tidak.."

"Kembalilah ke kelas, Chanyeol pasti mencemaskanmu." Ucap Jessica lalu tersenyum dan Baekhyun mengangguk. Jessica kembali melirik Yifan yang seperti menatap kearahnya.

"Kau tidak ingin kembali ke kelas?"

"A-ah I-iya. A-aku per-permisi saem." Ucap Yifan lalu segera berlari kecil menyusul Baekhyun. Jessica tersenyum kecil ketika melihat dua sosok itu yang kini berjalan beriringan, lalu senyumnya terhenti dan matanya melirik kesamping tanpa mengubah posisi tubuhnya. Ia menyeringai kecil lalu berjalan dengan anggun ke depan.

Jauh dibelakang Jessica tadi, berdiri seorang laki-laki yang menyembunyikan dirinya dan menatap lurus ke tempat dimana kejadian yang masih terekam di dalam ingatannya terjadi. Dia adalah…

"Kyungsoo!" Kyungsoo menoleh dan nampak gugup ketika melihat Jongin tersenyum cerah dibelakangnya.

"Apa yang kau lakukan disini?"Jongin bertanya sambil melihat kearah depan , penasaran dengan apa yang telah Kyungsoo lihat, namun ia tidak menemukan apapun selain koridor yang kosong. Kyungsoo menggeleng pelan lalu memperbaiki posisi bukunya.

"Dari perpustakaan?"

"Hm."

"Mau makan bersama?"

"Tentu." Kyungsoo tersenyum dan membiarkan Jongin yang mengambil alih bukunya. Kyungsoo berjalan memutar arah dan Jongin mengikutinya. Ketika Kyungsoo berjalan lebih dulu, Jongin menoleh kebelakang dan melihat kearah koridor yang telah kosong tadi, lalu menyeringai kecil.

..

.

Soojung mendekatkan tubuhnya kearah Sehun yang baru saja mendudukan diri dibangkunya.

"Kau kemana saja?"

"Toilet."

"Selama itu?"

"Masalah perut."

"Bodoh." Sehun menoleh ketika gadis disampingnya memanggil dirinya bodoh namun wajahnya terlihat seperti dia sedang serius dengan pelajaran.

"Sekali lagi kau memanggilku_"

"Saem! Aku tidak mengerti dengan soal nomer 2." Sehun terdiam ketika Soojung mengangkat tangannya , membuat gerakan Sehun yang ingin berbisik kearahnya terhenti.

"Kau!"

"Hehehehe." Soojung tersenyum memperlihatkan barisan gigirnya yang rapi membuat Sehun mengumpat dalam hati. Semakin hari Sehun semakin terbiasa dengan gadis itu, dan tidak terlalu mempermasalahkan sifat menyebalkannya.

..

.

Chanyeol yang sedang berbaring diatas ranjangnya menoleh ketika seseorang mengetuk pintunya dan sosok kecil berjalan masuk, itu Kyungsoo.

"Ada apa?"

"Boleh aku masuk?"

"Kau bahkan sudah masuk."

"Maaf." ucap Kyungsoo sambil hendak berbalik keluar.

"Hei! Masuklah!" Chanyeol merasa bersalah telah berniat untuk mengerjai adiknya yang polos.

"Ada apa?"

"Hmm… apa yang dilakukan ketika saat kencan?" bola mata Chanyeol melebar dan suaranya seolah tercekat. Kyungsoo menundukan wajahnya semakin dalam dan memainkan jemarinya.

"Kemari!" Chanyeol mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk dan meminta adiknya untuk bergabung dengannya diatas ranjang.

"Seseorang mengajakmu berkencan?" Kyungsoo mengangguk pelan dan pipi putihnya merona membuat Chanyeol tanpa sadar tersenyum.

"Hei, tidak usah malu."

"Aku tidak."

"Eeeii! Seorang malaikat sudah berani berbohong sekarang." Kyungsoo mengangkat wajahnya dan menatap Chanyeol. Ia terkejut oleh dua hal, pertama bahwa ia baru saja berbohong dan kedua bahwa nada bicara kakaknya terlihat tidak lagi dingin.

"Kenapa kau tidak menanyakan Luhan? Dia pandai dalam berbagai hal yang dilakukan manusia."

"Dia sibuk, kau tahu sendiri. Aku tidak berani bertanya padanya."

"Dan kau lebih berani bertanya padaku?"

"Aku…" ucapan Kyungsoo terputus.

"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, aku ingin bertanya. Apa kau sudah merasakan apa itu jatuh cinta?" Kyungsoo menatap kearah mata Chanyeol, lalu mengangguk pelan.

"Wow, dengan siapa?"

"Seseorang."

"Aku tahu, tapi_"

"Seorang manusia." Chanyeol tidak terkejut lagi mendengar itu tapi ia membuka lebar matanya.

"Wow, mengejutkan. Lalu dia mengajakmu berkencan?" Kyungsoo kembali mengangguk, tapi setelahnya keningnya mengerut.

"Tapi aku tidak tahu apa yang biasa orang lakukan saat kencan. Karena Luhan hyung pernah bilang bahwa hyung sedang berkencan dengan Baekhyun saat itu, jadi aku pikir hyung tahu."

"Tentu. Kami melakukan…"Chanyeol menghentikan ucapannya dan mengulang memori dirinya dan Baekhyun saat itu, tapi yang terlintas hanya mereka berciuman, bermesraan, berciuman dan berakhir dengan bercinta. Chanyeol tidak mungkin mengatakan itu pada adiknya yang polos.

"Apa?"

"Menonton, bermain, dan tertawa."

"Hanya itu?"

"Tentu, apa yang kau harapkan?" Kyungsoo menggeleng kepalanya cepat-cepat lalu kembali tertunduk. Chanyeol yang melihat wajah bingung adiknya segera mendekat. Ia memegang pundak Kyungsoo dan membuat kontak mata.

"Dengar! Yang perlu kau lakukan, hanya biarkan itu berjalan dengan semestinya. Biarkan itu mengalir." Ucap Chanyeol dengan pelan.

"Aku tidak perlu melakukan apa-apa?" Chanyeol terkekeh lalu menyentuh hidung adiknya membuat Kyungsoo membulatkan matanya, kakaknya tidak pernah memperlakukannya seperti ini selama ratusan tahun mereka hidup.

"Kau tidak perlu melakukan apa-apa. Apapun." Kyungsoo mengangguk pelan, lalu Chanyeol merentangkan tangannya.

"Sebuah pelukan?" Kyungsoo mengernyit sebentar sebelum akhirnya tersenyum dan mengangguk. Mendorong dirinya ke depan dan jatuh ke dalam pelukan kakaknya.

"Terima kasih Kyungsoo untuk selalu ada disaat-saat terberatku. Aku tidak pernah memperlakukanmu dengan baik selama ini. Maaf untuk membuat tanganku terbakar saat itu." Kyungsoo menggeleng pelan dan entah mengapa ia merasa air matanya hendak turun.

"Apa sesuatu terjadi?" tanya Kyungsoo pelan.

"Ya, aku baru saja tersadar bahwa aku harus menghargai orang-orang disekitarku, keluargaku. Perang akan terjadi sebentar lagi, aku takut sesuatu akan berubah."

"Jangan takut! Selama kita bersama, kita pasti bisa mengalahkannya."

"Ya, kau benar."

"Aku selalu ada disisimu hyung."

"Aku tahu, aku tahu Kyungsoo." Ucap Chanyeol sambil mengeratkan pelukannya.

Seharusnya Chanyeol melakukan ini lebih awal. Ia baru merasakan sebuah penyesalan ketika saat itu melihat tangan Kyungsoo yang melepuh saat adiknya berusaha menenangkan kemarahannya. Dan disana Chanyeol tahu, bahwa keluarganya selalu ada untuknya. Hanya saja, ia tidak pernah menghargai keberadaan mereka.

..

.

Sehun nampak terduduk di dalam sebuah ruangan yang gelap, kakinya bersila diatas lantai dengan kedua mata yang tertutup. Terlihat begitu tenang untuk ukuran dirinya yang dalam wujud setengah iblisnya.

Namun tak lama ia mulai berasa bosan dengan perlahan ia membuka satu matanya untuk melihat sekelilingnya.

PLAK

"Aaaisshh." Sehun meringis ketika merasakan sebuah pukulan cukup keras di belakang kepalanya. Itu Kakek Iblis yang Sehun fikir telah meninggalkannya.

"Konsentrasi dan fokus. Rasakan energi itu mengalir di tubuhmu! Masuk ke dalam peredaran darahmu, menyebar keseluruh tulang , sendi , otot dan apapun itu komponen di dalam tubuhmu." Ucap Kakek Iblis sambil berjalan mengitari Sehun.

Sehun mencibir sambil menutup matanya untuk kesekian kalinya dalam tiga jam terakhir. Kakek Iblis berkata bahwa mereka akan melakukan latihan tapi sejak tadi ia hanya diminta untuk duduk dan berkonsentrasi dengan energi yang bahkan Sehun sendiri tidak bisa merasakannya.

"Bagaimana rasanya?"

"Apanya?"

"Energi itu, bagaimana aku tahu dia bergerak di dalam tubuhku?" tanya Sehun dengan kedua mata tertutup.

"Hanya kau yang tahu. Lakukan sampai kau merasakannya!" Sehun kembali mencibir dan sekali lagi mendapat pukulan keras di kepalanya.

"Berhenti mencibir!"

..

.

Chanyeol sedang menemani Baekhyun belajar diperpustakaan , ketika tiba-tiba suara berisik Luhan memekikkan telinganya.

"APA? BERHENTI BERTERIAK!" ucap Chanyeol melalui telepatinya.

"CHANYEOL! PULANGLAH! SESUATU TERJADI!" Kening Chanyeol berkerut dan ia berdiri dengan tiba-tiba membuat Baekhyun sedikit terkejut.

"Ada a_"

"Baek, aku harus ke toilet. Kau tidak apa-apa aku tinggal sendiri?" Baekhyun tersenyum lega lalu menggeleng pelan.

"Pergilah!" usirnya pelan, Chanyeol mengangguk lalu membalik tubuhnya untuk menuju pintu keluar. Baekhyun kembali melanjutkan acara belajarnya, sebelum akhirnya merasakan sebuah kecupan di pipinya dan elusan sayang di pucuk kepalanya.

"Aku mencintaimu." Ucap Chanyeol. Baekhyun membulatkan matanya sejenak sebelum akhirnya tersenyum dengan pipi yang merona dan setelahnya ia hanya menatap punggung Chanyeol yang mulai menjauh dengan segala pemikiran yang mengganjal dihatinya.

Chanyeol tiba di Infernus dengan perasaan cemas, dan ketika membuka pintu kerja ayahnya ia mendapati seluruh anggota keluarganya berada disana.

"Apa yang terjadi?" tanya Chanyeol ketika melihat bermacam-macam ekspresi suram yang ditampilkan anggota keluarganya.

"Pasukan mereka telah menyerang di berbagai tempat. Dan…" ucapan Minho terhenti saat ia menarik nafas pelan.

"Pasukannya bertambah banyak."

"Sial!" Chanyeol berdecak sambil mengepalkan tangannya.

"Apa sebenarnya yang ia inginkan?" bentaknya setengah frustasi. Taemin menatap Chanyeol dengan wajah sendu, lalu tersenyum.

"Apapun tidak pernah bisa membuatnya puas, dia bahkan tidak tahu apa sebenarnya yang ia inginkan." Ucap Taemin sambil menundukan wajahnya, ingatan akan dirinya dan saudaranya tersebut ketika masih bersama terlintas di benaknya.

"Kita harus bergerak lebih cepat dan meminta semua makhluk langit dan kegelapan lebih waspada." Ucap Minho lagi. Chanyeol mengeratkan rahangnya, ia merasakan sesuatu yang besar akan terjadi sebentar lagi, entah siap atau tidak Chanyeol harus bisa mengatasinya, karena setelah ini ialah yang akan menjadi Raja Iblis.

..

.

Baekhyun berlari menuju kantin dengan cepat saat tadi mendengar beberapa siswi yang memasuki perpustakaan berbisik tentang anak kutu buku yang di kerjai.

Ketika kakinya menyentuh perbatasan kantin dengan nafas terengah, ia melihat Yifan sedang bersujud di lantai, dihadapannya ada Zitao dan beberapa teman berandalnya dan juga Jessica Saem.

Saat Baekhyun mendekat ia dapat mendengar ucapan Jessica yang menasehati Zitao, Baekhyun bersyukur seseorang menyelamatkan Yifan. Baekhyun sempat merasa bersalah karena menolak ajakan Yifan untuk ke kantin dan memilih belajar di perpustakaan untuk tes beberapa hari lagi.

Tapi sekarang ia bisa bernafas lega, disana Yifan sudah berdiri dan Jessica membantunya. Zitao sudah berjalan meninggalkan kantin dan ketika berpapasan dengan Baekhyun ia berhenti sejenak untuk melemparkan sebuah decihan kearah yang lebih kecil.

"Yifan?" tanya Baekhyun ketika semua kerumunan telah menjauh.

"Ba-Baekhyun?"

"Kau tidak apa-apa?" Yifan melirik Jessica sebelum akhirnya menundukan wajahnya dan menggeleng. Jessica tersenyum lalu menepuk pundak Baekhyun.

"Hei Baekhyun, hmm.. kau sendiri? Dimana Chanyeol?" tanya Jessica sambil melihat kesekitar Baekhyun.

"Dia sedang ke toilet, saem." Ucap Baekhyun sopan. Jessica mengangguk paham lalu tersenyum semakin dalam kearah Baekhyun.

"Tenang! Yifan aman sekarang. Aku akan memastikan bahwa anak berandal itu tidak menyakitinya lagi. Keadilan harus ditegakan, benar begitu Wu Yifan?" ucap Jessica sambil menoleh kea rah Yifan diakhir kalimatnya.

"I-iya . Te-terima ka-kasih sa-saem."

"Bukan masalah! Hm.. aku harus pergi , sebentar lagi bel akan berbunyi." Ucap Jessica lalu berlalu meninggalkan Baekhyun dan Yifan dengan sebuah senyuman manis. Ketika ia melangkah meninggalkan kantin ia bertemu dengan Chanyeol yang memasuki kantin.

Chanyeol menatapnya datar dan Jessica melemparkan sebuah senyuman lembut namun tidak mengubah ekspresi wajah Chanyeol.

"Harimu menyenangkan?" gumam Jessica sambil berlalu membuat langkah kaki Chanyeol terhenti dan ia menoleh kebelakang. Baekhyun yang menyaksikan dari tempatnya berdiri hanya bisa mengerutkan keningnya. Sesuatu tercium aneh.

..

.

Kyungsoo duduk di dalam kamarnya sambil memandang pantulan dirinya di depan cermin. Ketika suara bel pintu terdengar, ia meraih jaket tipisnya dan segera berjalan dengan perlahan menuju pintu.

"Siap untuk pergi?" ucap Jongin ketika pintu terbuka dan menampilkan Kyungsoo dengan penampilan menawannya.

"Hm."

"Ayo!" Jongin menarik tangan Kyungsoo pelan dan memegangnya dengan erat, seolah tidak ingin melepaskannya.

..

.

Luhan menundukan wajahnya dan menghela nafas , lalu memilih menenggelamkan kepalanya di tumpukan dokumen diatas meja. Ia merasa lelah beberapa hari terakhir apalagi setelah penyerangan-penyerangan yang dilakukan oleh pasukan Lucifer.

"Butuh pijatan?" Luhan segera mengangkat wajahnya dan menghela nafas lega setelah tahu itu adalah Sehun bukan ayahnya.

"Kenapa akhir-akhir ini kau suka kemari?" tanya Luhan dengan kening berkerut. Sehun tersenyum kecil lalu melangkah dengan kaki jenjangnya. Sejenak Luhan sempat terhipnotis dengan sosok tampan keponakannya itu, sebelum akhirnya ia disadarkan oleh akal sehatnya.

"Apa tidak boleh?" ucap Sehun setelah tiba di depan meja kerja Luhan.

"Bukannya tidak boleh hanya saja rasanya aneh, dan_ hei! Apa yang kau lakukan?" protes Luhan saat Sehun berdiri dibelakangnya dan memberikan pijatan lembut dikedua pundaknya.

"Aku tahu kau lelah, mendengar dari cerita Pak tua itu aku rasanya tugasmu cukup berat."

"Pak tu_ahh! Maksudmu Kakek?"

"Hm, siapa lagi?"

"Kau harus sopan dengannya, dia tetua disini!"

"Aku tahu, tapi kau harus ingat iblis tidak punya sopan santun." Luhan menoleh kebelakang untuk menatap Sehun dengan kening berkerut.

"Kenapa gaya bicaramu mirip dengan kakek?" gumamnya, Sehun tersenyum lalu mengedikkan bahunya pelan.

"Kau…aaahh, iya disana Sehun. Wow, kau pintar juga." Ucap Luhan sambil merasakan pijatan Sehun yang membuat otot tegangnya kembali rileks. Sehun tersenyum sambil menatap sosok Luhan dari belakang, perasaan ingin melindungi Luhan lagi dan lagi muncul di dalam benaknya. Sehun tahu, bahwa dirinya telah jatuh semakin dalam oleh pesona Luhan, pamannya.

..

.

"Kyungsoo tidak ada dikamarnya." Ucap Chanyeol sambil berjalan ke dapur, dimana Baekhyun baru usai memasak makan malam.

"Benarkah? Kemana dia pergi? Bukankah dia jarang keluar?"

"Hmmm.. mungkin dia ingin membeli sesuatu." Bohong Chanyeol karena menurutnya Kyungsoo kemungkinan sedang di Nubes atau Infernus.

Chanyeol mendekat kearah Baekhyun yang sedang menata masakan diatas meja makan. Memeluk tubuh kekasihnya dari arah belakang dengan manja.

"Sehun juga akhir-akhir ini sering menghilang. Aku tidak tahu dia kemana, tapi setiap pulang dia selalu tersenyum senang. Yah, setidaknya dia bisa bahagia." Ucap Baekhyun sambil sibuk menata piring-piring makanan diatas meja.

Chanyeol mengangguk dengan kepala yang ia letakkan diatas pundak Baekhyun.

"Bocah itu sebentar lagi akan beranjak dewasa."

"Kau benar. Dia pasti akan menjadi pria yang baik dan tampan." Ucap Baekhyun senang.

"Sepertinya ayahnya."

"Huh?" Baekhyun menghentikan kegiatannya dan menolehkan kepalanya membuat Chanyeol tersadar dengan ucapannya.

"Kau bilang apa?" tanya Baekhyun ragu.

"Seperti ayahmu. Kenapa?" ucap Chanyeol tanpa perasaan gugup, ia sudah terbiasa berpura-pura.

"Oh.. tapi bagaimana kau tahu tentang ayahku?"

"Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Dengan melihatmu aku sudah tahu sosok seperti apa ayahmu." Baekhyun tersenyum lalu meraih tangan Chanyeol untuk melepaskannya.

"Ayo makan!" ucap Baekhyun dengan sebuah senyuman manis terukir di bibirnya. Chanyeol mengecup leher Baekhyun sebelum akhirnya memilih untuk duduk di kursinya.

..

.

Jongin melirik kearah Kyungsoo yang berjalan disampingnya dengan wajah tersenyum. Mereka baru usai menonton dan berjalan-jalan disekitar taman. Jongin melirik tangan Kyungoo yang tergantung bebas disisi tubuhnya dan ingin menggapai tangan itu, tapi Kyungsoo sudah lebih dulu menoleh membuat Jongin tercekat di tempatnya.

"Jongin, terima kasih untuk hari ini."

"Kau menyukainya?" tanya Jongin memastikan. Kyungsoo mengangguk pelan mengingat bagaimana akhir bahagia dari film yang ia tonton bersama Jongin serta percakapan singkat mereka di taman.

"Lain kali aku akan menunjukan hal menyenangkan lainnya, kau mau?"

"hm." Kyungsoo mengangguk lagi dan Jongin bersumpah bahwa sosok di depannya sekarang sangatlah menawan dengan pipi kemerahan.

"Terima kasih Jongin."

"Berhentilah berterima kasih Kyungsoo. Aku telah berjanji pada diriku sendiri ketika kau memintaku untuk mengajarimu tentang jatuh cinta." Pipi Kyungsoo bersemu semakin merah dan ia melempar pandangannya kesisi jalan .

"Hmm.., Kyungsoo?"

"Eum?"

"Apa kau sudah tahu bagaimana rasanya jatuh cinta?"

"Hm." Kyungsoo mengangguk pelan membuat senyum merekah tercipta di bibir Jongin.

"Kyungsoo?"

"Eum?" gumam Kyungsoo dengan wajah polosnya dan mata bulat yang lugu.

"Boleh aku memegang tanganmu selama kita dalam perjalanan pulang?"

"Hm." Kyungsoo mengangguk dan Jongin segera meraih tangan halus itu untuk menggenggamnya erat.

Mereka tidak terlibat pembicaraan lagi setelahnya , hanya degupan, kegugupan dan perasaan senang yang mengisi perasaan mereka.

Hingga langkah mereka terhenti di sebuah jalanan yang sepi saat melihat sebuah sosok berdiri di ujung gang, di kegelapan. Jongin menyipitkan matanya ketika sosok itu berjalan mendekat kearah cahaya lampu jalanan.

Kyungsoo mengeratkan pengangannya dan Jongin menarik tubuh Kyungsoo mendekat.

Perlahan sosok itu mulai menginjakan kakinya di bawah cahaya lampu dan perlahan sosok tinggi bertubuh kurus mulai terlihat. Jongin mengenal seragam itu , itu adalah seragam dari sekolah mereka, namun wajah lelaki itu masih kurang jelas di mata Jongin.

Dan tiba-tiba sebuah sayap hitam keluar dari balik punggungnya membuat Jongin membulatkan matanya, sosok itu semakin mendekat dan Jongin perlahan mundur dengan Kyungsoo dalam pelukannya.

"Menikmati kencan kalian?" ucap suara itu. Namun sebelum Jongin dapat mengenali sosok itu, sosok berseragam itu telah merubah wujudnya menjadi sesuatu yang mengerikan dengan taring, mata merah dan pakaian berwarna hitam.

Kyungsoo tercekat, ia tahu bahwa sosok di depannya bukanlah bangsa iblis karena bangsa iblis tidak diperkenankan menampakan wujud mereka di depan orang manusia . Dan hanya ada satu kemungkinan, sosok dihadapannya adalah salah satu dari anak buah Lucifer, atau mungkin Lucifer itu sendiri.

"Apa yang seorang malaikat lakukan disini?" gumam sosok itu lagi.

"Si-siapa kau?" ucap Jongin dengan wajah takut dan waspada, berusaha melindungi Kyungsoo dalam dekapannya.

"Kau tidak perlu tahu!" ucap sosok itu sambil berdecih.

"Hei malaikat, apa kau tidak takut ternoda oleh kejahatan bila kau berada di dunia manusia terlalu lama?" Kyungsoo tidak menjawab, ia hanya semakin mengeratkan pegangannya pada Jongin, bukan karena ia terlalu takut, namun untuk meyakinkan Jongin bahwa ia harus mempercayai dirinya.

"Bukan urusanmu."

"Uh! Suaramu sangat menusuk berbanding terbalik dengan wajah .. aku mau melakukan sebuah penawaran. Bergabung, dan kau mendapatkan apa yang kau mau."

"Pergilah!" ucap Kyungsoo tajam.

"Wow, kau berani juga. Ah! Aku hampir lupa, kau anak dari pernikahan iblis dan malaikat itu kan? Sebuah keturunan menjijikan yang menodai kesucian malaikat dan kebiadaban iblis." Kyungsoo tidak menjawab, hanya menatap waspada pada sosok yang kini mulai mendekat.

"PERGI!" bentak Jongin dengan rahang mengeras. Sosok itu berdecih, lalu menjentikan jarinya tak lama sosok yang serupa turun dari langit dan berdiri mengepung mereka.

"Pergi berarti kembali." Ucapnya dengan sebuah seringaian. Dan memerintah para pasukannya untuk menangkap Kyungsoo.

Kyungsoo merasa dilemma, ia tidak tahu ia harus berdiam diri atau merubah wujudnya. Setidaknya jika ia berubah, ia bisa meloloskan diri namun ia tidak bisa melakukan karena semua akan membuat Jongin berada di dalam bahaya.

Kyungsoo berbalik dan menatap Jongin dalam, membuat Jongin menatapnya balik dengan ekspresi yang tidak terbaca.

"Jongin, aku mencintaimu." Ucap Kyungsoo pelan lalu memeluk tubuh Jongin erat, sementara di belakang mereka para pasukan Lucifer semakin mendekat dengan sebuah seringain.

"Aku juga mencintaimu Kyungsoo."

..

.

Chanyeol menatap kearah wajah tertidur Baekhyun. Ia sudah melakukannya beberapa menit terakhir. Baekhyun berkata ia sedikit lelah dengan kegiatan belajarnya dan Chanyeol membiarkannya tidur lebih awal di dalam pelukannya.

Ia mengelus pipi Baekhyun lembut, sosok di hadapannya telah mengubah seluruh hidupnya. Chanyeol tidak tahu kemana lagi takdir membawanya.

"Chanyeol!" Chanyeol mengernyit ketika mendengar suara ibunya dan ia bersumpah bahwa ia mendengar suara isakan juga.

"A-ada apa?" tanyanya gugup.

"Kyungsoo..Kyungsoo.."

"Ada apa dengannya?" tanya Chanyeol cemas.

"Kyungsoo menghilang…hiks..hiks.."

"Apa?" Tubuh Chanyeol menengang, bola matanya terbuka semakin besar.

"Mereka bilang, sesuatu membawa Kyungsoo pergi…hiks.."

Chanyeol tahu, takdir bergerak lebih cepat dari perkiraannya. Tidak hanya perasaannya, takdir juga mempermainkan apapun yang mulai Chanyeol anggap keberadaannya. Apapun disekitarnya.

..

.

TBC

..

.

Apapun tanggapan negatif kalian tentang chapter ini, aku gak bakal menyangkal. Karena aku akui, aku udah buat kesalahan fatal dan mau gak mau harus aku perbaikin supaya ceritanya nyambung. Apapun kejanggalan yang kalian temuin , silahkan kalian permasalahin karena aku Cuma bisa bilang maaf. wwkwkwkwkw…

Haaaah.. seperti biasa, aku ngaret ngaret dan ngaret lagi. Udah berapa lama? Ada yang bilang udah hampir dua bulan? Bener ya? Apa mungkin udah lebih? Wkwkwkw..

Kalo boleh jujur, aku udah mulai kehilangan feeling sama ff ini dan ngerasa ide yang muncul amat sangat terbatas. Itu yang bikin aku susah update cepet selain karena kesibukan aku juga wkwkwk..

Oh iya, sebagai permintaan maaf aku, aku kasih ff cemilan buat kalian. Seharusnya aku simpen untuk cemilan di ff baru yang akan datang, tapi aku pikir yah kasih hiburan buat kalian sedikit gpp.. wkwkwk.

Seperti biasa , makasi buat yang review, I love you so much, buat yang Cuma follow dan favoritin juga masih banyak dan siders juga makasi ya hehehe… setidaknya kalian baca ajah aku udah sedikit seneng.

Oh iya, untuk voting FF nya, sejauh ini yang paling banyak peminatnya adalah "Hot Saint and Sexy Ghost" kedua ada "Monday to Sunday" ketiga "Restart" keempat "Ssst..Don't tell them" terakhir "Boy from the star" mungkin sewaktu-waktu bisa berubah wkwkw tergantung pilihan kalian.

Ya udah ya segini dulu Aku lagi males banyak omong wwkwkwk..

Silahkan review jika berkenan, jaga kesehatan dan salam Chanbaek is real