Title : Devil Beside Me chapter 12

Cast : Park Chanyeol , Byun Baekhyun , Oh Sehun , Do Kyungsoo , Xi Luhan , Kim Jongin, Kim Kibum, Choi Minho , Lee Taemin , Ok Taecyeon , Taeyang, Kim Dasom , Kim Jonghyun, Bae Joo Hyeon-Irene , Park Sooyoung- Joy , Kim Yerim-Yeri, Song Naeun, Yoon Bomi, Park Chorong, Park Cheondong ( Thunder ), Huang Zitao, Wu Yifan, Jung Soojung, and others.


PERHATIAN!

Ff ini mengandung unsur dewasa,seks, hubungan sesama jenis yang menyebabkan beberapa orang mungkin mual, Bahasa yang berantakan, dan typo yang walau sudah berusaha dihilangkan tapi tetap muncul. Tidak untuk area bermain anak-anak, anak polos, antigay/ homophobic, AntiChanbaek dan segala yang tidak ada sangkut pautnya dengan dunia yaoi.


NO CO-PAST

NO-REPOST

NO-PLAGIAT

Okay?

There always be a place for the good person. So, don't steal people's effort , be honest dear..

Mulailah dengan sebuah kata, susunlah menjadi kalimat dan kembangkan dalam sebuah paragraph.

Cerita yang hebat bukan tentang siapa, tapi tentang apa dan bagaimana.

..

.

Lupa? Silahkan baca chapter sebelumnya!

Park Shita

Present

..

.

Seumur hidup Chanyeol tidak pernah tahu apa arti sebuah persaudaraan yang sesungguhnya. Karena ketika adik bungsunya terlahir, yang ada di dalam dirinya hanyalah sebuah ambisi, kekuasaan, dan kebencian.

Kyungsoo tumbuh menjadi sosok yang di idam-idamkan ibunya, membuat dirinya merasa tersaingi dan posisinya tergeser oleh sang adik, untuk itu Chanyeol tidak pernah sungguh-sungguh memperlakukan adiknya dengan baik.

"Jangan mengikutiku!" bentak Chanyeol ketika Kyungsoo kecil berjalan dibelakangnya.

"Tapi hyung, aku ingin bermain bersamamu."

"MENJAUH! AKU BILANG MENJAUH!" bentak Chanyeol membuat mata biru indah itu berubah menjadi menyipit dan nampak sedih, tapi Chanyeol tahu adiknya itu tidak akan pernah menangis.

'Malaikat tidak menangis, malaikat tidak membawa kesedihan , malaikat hanya membawa kebahagiaan untuk semua orang'

Chanyeol tahu hal itu yang para malaikat tanamkan pada adik bungsunya. Berbeda dengan sikapnya, Luhan jauh lebih menerima keberadaan adik bungsunya yang ternyata memiliki 100 % darah malaikat di dalam dirinya, meskipun begitu namun Luhan tidak pernah merasa iri, ia menyayangi adiknya karena baginya Kyungsoo adalah anak yang baik dan penurut tidak seperti Chanyeol yang keras kepala dan menyebalkan.

"Kyungsoo, apa yang terjadi pada tanganmu?" Chanyeol mengintip dari balik pilar pada interaksi antara Kyungsoo kecil dengan kedua orangtuanya.

Ibunya nampak cemas melihat luka terbakar di tangan putih putranya, sementara ayahnya segera menutup matanya kesal dan Chanyeol tahu bahwa setelah ini ia akan mendapat hukuman karena membiarkan tangan adiknya terbakar.

"Ayah, ini semua salahku. Aku yang memaksa Chanyeol hyung untuk bermain bersamaku, jadi dia marah dan aku tidak sengaja menyentuh tubuhnya. Jangan marahi Chanyeol hyung Ayah! aku yang salah." Ucap Kyungsoo polos. Chanyeol berdecih, kejujuran adiknya memang selalu membuat semua orang simpati, namun hal yang sebenarnya terjadi adalah Chanyeol memang berniat membakar adiknya, namun lagi –lagi adik kelewat polosnya menafsirkan berbeda.

Itu terjadi lagi ketika pesta perayaan di Nubes. Chanyeol harus menerima dirinya dicegat oleh para pengawal, sementara di dalam sana ia melihat Kyungsoo mendapat pelayanan yang sangat ramah dari para malaikat. Diperlakukan layaknya Pangeran Mahkota, di jaga oleh para malaikat dan dilayani apapun keinginannya.

"Aku ingin masuk!" bentak Chanyeol sambil mencoba mengeluarkan kekuatanya, namun seketika lenyap. Kyungsoo yang sedang berlalu bersama para malaikat, menoleh dan menghampiri Chanyeol.

"Pengawal, biarkan Chanyeol hyung masuk!"

"Tidak Tuan, dia harus mendapat izin dari Putra Mahkota."

"Ya, akan aku sampaikan. Ibu pasti tidak akan membiarkan salah satu anaknya berada diluar selama pesta perayaan, jadi biarkan kakakku masuk ya?" suara ramahnya membuat Chanyeol muak, ia berdecak sebal lalu melangkah masuk dengan angkuhnya ketika para pengawal itu membiarkannya masuk.

Kekesalan Chanyeol tidak berakhir disana, ketika akan menemui ibunya beberapa malaikat mulai berbisik membuat Chanyeol geram. Kekuatannya yang semula dilenyapkan mendadak muncul, meski kecil namun api disekujur tubuhnya membara dan mampu membuat para malaikat kepanasan. Chanyeol itu kuat, kekuatannya tidak bisa diremehkan dan tidak bisa dideteksi kapan akan meledak kapan akan tertahan.

"Hyung, jangan!" ucap Kyungsoo sambil berlari kearah Chanyeol lalu memeluk tubuh kakaknya yang tinggi itu dengan erat, tidak peduli jika medan salju yang baru ia buat mencair perlahan.

"PERGI! PERGI SIALAN!" bentak Chanyeol sambil mendorong tubuh Kyungsoo.

"Tidak, hyung tidak boleh mengeluarkan kekuatanmu, kakek bisa marah besar dan melarang hyung datang kemari lagi." Ucap Kyungsoo sambil mencoba menenangkan tubuh kakaknya, namun Chanyeol memberontak membuat Kyungsoo semakin kesakitan akibat kulitnya terbakar.

"CHANYEOL!" ibunya datang dan melenyapkan kekuatan Chanyeol dengan kekuatan saljunya yang lebih besar, Kyungsoo terpental dan sekujur tubuhnya melepuh.

"KYUNGSOO!" Taemin meraih tubuh putranya dan mencoba menggetarkan tubuh mungil yang tidak sadarkan diri itu.

"APA YANG KAU LAKUKAN PADA ADIKMU?" bentak Taemin, Chanyeol tersentak itu adalah pertama kalinya ibunya membentaknya, dan semua karena adiknya yang menurutnya terlalu suka mencari muka. Chanyeol membeku di tempat, antara terkejut, kecewa, dan marah. Marahlah yang mendominasinya.

Selama seminggu Kyungsoo harus menjalani pengobatan dan setiap hari Luhan akan memarahinya karena adik bungsu mereka terus menjerit kesakitan setiap kali diobati, dan Chanyeol sadar semua orang mulai menyalahkannya.

Muak dengan semua itu, ia memilih untuk bermain kedunia manusia dimana ia bisa melakukan apapun yang ia inginkan, sambil menjalankan tugasnya. Itulah bagaimana awalnya dunia manusia menjadi tempat yang menarik untuknya.

Tiap kali ia melihat adiknya yang tersenyum dan berlari kearahnya dengan penuh perhatian, Chanyeol akan berdecih dan mengancam adiknya dengan bara api ditubuhnya membuat Kyungsoo melangkah mundur dengan wajah sedih.

"Hyung, selamat hari kelahiranmu. Aku membuatkan ini untukmu." Ucap Kyungsoo sambil memberikan sebuah mahkota bunga cantik yang ia rangkai dengan susah payah selama seminggu penuh.

Chanyeol tidak menjawab, ia merampas benda itu lalu membakarnya menjadi abu, membuat tubuh Kyungsoo menengang namun kemudian ia kembali tersenyum kecil.

"Setidaknya hyung memegang pemberianku." Ucapnya lalu melenggang pergi membuat Chanyeol semakin kesal, ia benci bagaimana adiknya itu berpura-pura bahwa semua baik-baik saja, bahwa semua hal membawa kebahagiaan.

Tahun-tahun berlalu dan Kyungsoo memutuskan untuk mundur, ia mulai jarang mengganggu kakaknya dan sesekali hanya bicara jika itu diperlukan, karena semakin Kyungsoo beranjak dewasa ia tahu bahwa kakaknya ingin sendiri, bahwa kakaknya tidak ingin diganggu, bahwa kakaknya membencinya.

Dan Chanyeol senang dengan itu, ia tidak lagi melihat senyum adiknya yang baginya adalah senyum palsu dan tidak lagi harus bertindak kasar untuk membuat adik bungsunya menjauh.

Lalu semua berubah ketika Kyungsoo memeluknya sekali lagi, membiarkan dirinya terbakar demi membuat dirinya tenang. Dan hal itu membuat Chanyeol tersadar bahwa selama ini, adiknya selalu ada untuknya, bahwa kebencian yang ia berikan dibalas dengan semua rasa peduli yang Kyungsoo berikan padanya.

Dan kini ketika ia mulai menghargai dan menyadari seluruh perjuangan adiknya, sosok itu diculik oleh musuh terbesar dan paling berat untuk seluruh mahluk langit dan makhluk kegelapan, Lucifer.

..

.

Devil Beside Me

Chapter 12

( Persiapkan mental dan hati kalian guys! )

..

.

"Kau harus tenang Chanyeol!" bentak Minho ketika melihat Chanyeol bangkit dengan wajah kesal.

"Tenang? Bagaimana aku bisa tenang sementara adik bungsuku yang bahkan tidak berani menyakiti seekor nyamuk berada di tangan makhluk tanpa perasaan diluar sana?" bentak Chanyeol sambil menatap Minho penuh emosi.

Taemin bangkit dan berjalan menuju putra keduanya, membelai lembut pucuk kepala Chanyeol hingga perlahan kemarahannya padam.

"Ibu tahu, ibu tahu kau sangat mencemaskan adikmu tapi untuk saat ini tak ada yang bisa kita lakukan, kita_"

"Tidak! Aku akan mencari makhluk itu. Aku tahu dia telah mengincarku dan juga Baekhyun, aku akan_"

"Jangan sekali-kali melibatkan ibuku dalam hal ini!" Kali ini Sehun bangkit sambil menatap tajam kearah Chanyeol. Chanyeol hanya melirik sekilas lalu membuang wajah kesal dan melangkah meninggalkan ruangan.

"Ibuku tidak pantas mendapatkan kesengsaraan lagi, biarkan dia tidak terlibat dalam hal ini.. aku mohon…" ucap Sehun dengan suara yang terdengar lirih membuat seisi ruangan Minho menjadi hening.

Langkah Chanyeol terhenti, dan melalui celah pundaknya ia bicara.

"Aku tidak sebodoh itu untuk membuat orang yang aku cintai dalam bahaya, Baekhyun adalah tanggung jawabku dan aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padanya." Sehun terdiam sambil melihat kesungguhan dimata Chanyeol, lalu ia mengangguk kecil. Seolah memberikan kepercayaannya pada laki-laki itu, sedikit. Hanya sedikit.

"Terima kasih." Ucap Sehun pelan nyaris berbisik, namun masih dapat di dengar oleh Chanyeol dan juga Luhan yang berdiri disampingnya.

"Aku_"

"Chanyeol..hiks..tolong aku…kau dimana? Hikkss…"

Mata Chanyeol membulat ketika mendengar suara tangisan Baekhyun, amarahnya memuncak, dengan segera ia berbalik dan menghilang membaur bersama udara.

Ketika ia tiba, ia menemukan Baekhyun terduduk di sebuah gang dengan tangan bersimbah darah dan wajah ketakutan. Mata Chanyeol semakin melebar dan ketika akan memeluk Baekhyun, ia menyadari di pangkuan kekasihnya ada sebuah sosok yang tergeletak tak berdaya dengan darah yang mengotori seragamnya.

"Baekhyun?" Baekhyun menoleh dan menangis sambil membuka kedua tangannya yang bersimbah darah.

"Chan..Chanyeol…hiks.. Yi..Yifan.."

"Apa yang terjadi?" Chanyeol memeluk tubuh Baekhyun dan kekasihnya menangis histeris dalam pelukannya.

"Tenang, ada aku disini!" bisik Chanyeol sambil mengelus punggung bergetar Baekhyun.

"Luhan! Aku butuh bantuanmu!"

Tak lama Luhan muncul di belakang mereka, lalu merubah wujudnya menjadi wujud manusia dan segera membantu Yifan bangkit.

"Apa yang terjadi?" tanya Luhan dan Chanyeol menggeleng sambil membantu Baekhyun berdiri.

"Baekhyun nampak syok, aku tidak bisa memaksanya bercerita. Bawa dia ke apartemenmu, aku akan menyusul." Ucap Chanyeol lalu menghilang bersama dengan Baekhyun di dalam pelukannya.

Luhan mengangkat tubuh Yifan, dan sedetik kemudian Sehun muncul.

"Apa yang terjadi?"

"Entahlah, bantu aku Sehun!" Sehun berjongkok dan membantu Luhan, lalu ketiga orang tersebut menghilang , meninggalkan jejak darah mengering di tanah.

..

.

Chanyeol membaringkan tubuh Baekhyun diatas ranjangnya, lalu mengelus surai hitam kekasihnya perlahan. Baekhyun masih bergetar bahkan ia tidak mau melepaskan tubuh Chanyeol.

"Sayang? Apa yang terjadi?" tanya Chanyeol, Baekhyun menggeleng pelan. Dengan perlahan Chanyeol meraih dagu Baekhyun dan membawa keduanya dalam ciuman.

Sekelebat bayangan terlintas, Chanyeol melihat Baekhyun yang berjalan menuju gerbang dan disusul Yifan yang ikut berlari dibelakangnya, menawarkan sebuah antaran untuk pulang.

Baekhyun terlihat menyetujui dan mereka berjalan bersama, mereka sempat mampir sebentar untuk membeli minum dan setelahnya kembali berjalan menuju rumah Baekhyun.

Meskipun Chanyeol merasa sedikit cemburu melihat interaksi keduanya, namun ia mencoba fokus dengan apa yang telah terjadi. Baekhyun dan Yifan terhenti disebuah gang dan sebuah sosok laki-laki berseragam muncul.

Chanyeol mengernyit karena wajah lelaki itu tidak terlalu jelas. Mereka sempat terlibat percakapan namun setelahnya sosok itu berubah, Chanyeol mengernyit dalam ketika sosok berseragam itu berubah menjadi makhluk menyeramkan.

Ia mencoba mendekati Baekhyun namun Yifan melindungi Baekhyun, dan setelahnya Chanyeol dapat melihat jika makhluk itu melukai Yifan dengan kukunya yang tajam, hingga lelaki itu tumbang tepat diatas tanah, dan Baekhyun mendekatinya sambil mencoba memeriksa keadaan Yifan.

Ketika sosok itu mendekat, sesuatu menyala di leher Baekhyun dan makhluk itu berhenti . Baekhyun yang tidak menyadarinya, hanya menutup mata sambil memanggil nama Chanyeol dalam ketakutan dan setelahnya makhluk itu pergi sebelum akhirnya Chanyeol muncul.

Ciuman mereka terlepas dan Baekhyun kembali memeluk tubuh kekasihnya.

"Jangan takut! Ada aku disini Baek!" ucap Chanyeol dan Baekhyun tidak memberikan respon selain sebuah isakan.

..

.

Luhan dan Sehun menatap sosok yang terbaring diatas ranjang apartemennya dengan alis mengernyit. Taemin sedang berusaha mengobatinya karena mereka tahu bahwa luka itu bukan ulah manusia, melainkan ulah makhluk lain.

"Dia akan segera sadar. Biarkan dia istirahat." Ucap Taemin sambil bangkit dengan wajah sedikit kelelahan.

"Dimana kalian menemukannya?" tanya Taemin sambil menatap dua sosok dihadapannya.

"Di gang bersama Baekhyun dan Chanyeol." Taemin menatap Luhan dalam.

"Bagaimana keadaan Baekhyun?" tanya Taemin lagi, Luhan menggeleng pelan.

"Chanyeol membawanya, aku rasa dia cukup terkejut. Dia hanya manusia, dan Lucifer muncul dihadapannya, tentu dia syok berat."

"Dia aman bersama Chanyeol, ibu harus kembali. Kalian jaga dia, buat dia melupakan kejadian tadi!" ucap Taemin sambil menepuk pundak Luhan dan Sehun lalu menghilang.

"Sebenarnya apa yang makhluk menjijikan itu incar? Kenapa dia membuat onar di seluruh kalangan makhluk di muka bumi?" ucap Sehun dengan wajah kesal.

"Seperti kata ibu, tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya makhluk itu inginkan, bahkan dirinya sendiri." Gumam Luhan pelan.

..

.

Baekhyun terbangun dari tidurnya setelah kelelahan menangis. Ia membuka mata perlahan dan menemukan Chanyeol berbaring disampingnya sambil menatap langit-langit kamarnya.

"Chan… Chanyeol?" bisik Baekhyun. Chanyeol menoleh dengan sebuah senyuman sambil mengelus pipi Baekhyun.

"Sudah merasa lebih baik?"

"Hm.. apa yang_" ucapan Baekhyun terhenti ketika ia mulai mengingat kejadian sebelumnya dan matanya membulat.

"Bagaiamana keadaan Yifan? Dia…dia.."

"Dia sudah aman, jangan cemas! Hanya pikirkan tentang kesehatanmu sekarang." Ucap Chanyeol dan Baekhyun mengangguk lalu kembali memeluk Chanyeol semakin erat.

"Jangan tinggalkan aku lagi!" ucap Baekhyun lirih.

"Aku tidak bisa menjanjikan itu, tapi aku berjanji sejauh apapun aku pergi, aku pasti akan tetap kembali padamu, kau bisa memegang ucapanku." Ucap Chanyeol pelan.

"Chanyeol, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau tidak muncul lagi disekolah selama dua hari?" tanya Baekhyun pelan, Chanyeol mengecup puncak kepala Baekhyun.

"Ada hal yang harus aku urus, kau jangan khawatir. Besok aku akan kembali bersekolah. Sekarang kau ingin makan sesuatu? Atau ingin aku antar pulang?" tanya Chanyeol, Baekhyun menggeleng lalu menenggelamkan kepalanya di dada Chanyeol.

"Aku tidak ingin apa-apa, aku hanya ingin berada disampingmu." Bisiknya pelan namun masih dapat di dengar oleh Chanyeol.

"Hei, apa yang terjadi padamu? Kenapa kau tiba-tiba menjadi sangat manja?" tanya Chanyeol dengan nada menggoda, Baekhyun terdiam , ia tidak bisa menjawab pertanyaan itu karena sejujurnya ia pun tak tahu apa yang membuatnya tidak ingin jauh-jauh dari Chanyeol, meskipun ia berusaha mengubur perasaan menggebu-gebu itu, namun perasaan itu kembali muncul dan mengalahkan logikanya.

"Aku..aku tidak tahu. Hanya…hanya tetaplah disampingku." Bisik Baekhyun, Chanyeol tersenyum lalu mengecup pipi Baekhyun.

"Iya, bayi besar ku." Bisiknya membuat pipi Baekhyun merona.

..

.

Yifan mengerjapkan matanya dan perlahan mata itu terbuka. Ia menoleh kesamping dan menemukan dua sosok tak asing dimatanya, satunya adalah adik Baekhyun, Sehun dan satu lagi adalah sosok yang datang ketika ulang tahun Sehun.

"Di..di-dimana a-aku?" ucap Yifan pelan membuat dua orang yang sedang duduk disofa saling menoleh.

"Kau sudah sadar?"

"Di..di-dimana a-aku?"

"Kau ada diapartemenku." Ucap Luhan sambil bangkit dan tersenyum. Yifan melihat sekelilingnya dan kembali menatap Luhan kebingungan, hingga akhirnya ia teringat sesuatu.

"Ba-Baekhyun, ba-bagaimana ke-keadaannya?" tanya Yifan lagi. Sehun bangkit dengan wajah datar dan berdiri disamping Luhan.

"Dia aman bersama kekasihnya, tidak usah terlalu mencemaskannya!" ucap Sehun masih mempertahankan wajah datarnya.

"Ta..tapi..di-dia ..ta-tadi.. ma-makhluk i..itu…" Luhan duduk disamping Yifan sambil menepuk pundaknya, membuat Sehun mengernyit tidak suka.

"Kau sudah aman jangan cemas, makhluk itu adalah makhluk dari dunia lain." Mata Yifan membulat dan Luhan kembali tersenyum.

"Jangan takut, kami akan melindungimu." Bisik Luhan lagi, namun Yifan masih kebingungan.

"Si-siapa kalian?"

"Kami…." Luhan melirik Sehun dan kembali menatap Yifan.

"Jangan banyak bertanya, pikirkan tentang lukamu!" ucap Sehun lalu menarik Luhan menjauh membuat lelaki itu bergumam tidak terima dengan sikap tidak bersahabat Sehun.

"Bi-bisakah aku pu-pulang?"

"Aku akan mengantarmu, tapi kau harus makan siang dulu!" ucap Luhan lalu berjalan keluar kamar. Mata Yifan yang sejak tadi mengikuti sosok Luhan, kini beralih menatap Sehun yang malah menatapnya dengan tatapan tidak suka.

"Setelah selesai makan, segera pulang! Dan jangan pernah menganggap lebih apa yang lelaki tadi lakukan padamu, dia…" Sehun melangkah mendekat dengan wajah angkuhnya.

"milikku." Sambungnya.

"SEHUUUN! JANGAN BICARA YANG TIDAK-TIDAK!" teriak Luhan dari arah dapur membuat sosok Sehun terkejut lalu berlari keluar meninggalkan Yifan yang mengernyit tidak mengerti dengan ucapan bocah di depannya, ketika pintu tertutup Yifan menatapnya dalam diam, lalu ia berdecih kecil sambil menatap kearah jendela.

..

.

Baekhyun memperhatikan Chanyeol yang sejak kelas pertama tadi nampak tidak berminat, bahkan kini ketika potongan daging kesukaannya di depan mata ia nampak tidak tertarik sama sekali. Membuat Baekhyun bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi pada kekasihnya.

Yifan melirik Baekhyun dan Chanyeol bergantian, lalu kembali melanjutkan acara makannya. Setelah menanyakan keadaannya, Baekhyun tidak terlalu banyak terlibat percakapan dengan Yifan dan hal itu membuat kecanggungan kembali menyelimuti dirinya.

"Aku dengar dia menghilang, bersama anak kelas satu bermata bulat itu." Bisikan para siswa mulai menyapa indra pendengaran mereka.

"Benarkah?"

"Hm, dari berita yang tersebar mereka sedang berkencan, lalu setelah itu mereka tidak masuk sekolah berhari-hari."

"Apa mereka melarikan diri karena hubungan keduanya tidak direstui?"

"Jangan bercanda! Kau fikir ini drama?"

"Lalu kemana mereka pergi?"

"Entahlah, ada yang bilang jika mereka memang sengaja membolos. Kau tahu sendiri bagaimana Kim Jongin itu, dia sangat suka membolos untuk bersenang-senang, selain basket ia tidak memiliki kertertarikan pada apapun lagi."

Chanyeol, Baekhyun dan Yifan dapet mendengar percakapan itu. Chanyeol mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya, namun ketika pembicaraan siswa-siswa itu semakin menjadi-menjadi, emosi Chanyeol seolah tersulut.

"Kau salah, kali ini lelaki bermata bulat itu telah memikatnya. Basket tidak lagi menarik ketika kau bisa memasukkan milikmu ke dalam lubang sempit lelaki cantik itu berhari-hari. Hahahaah.."

"Jika dia wanita, bisa aku pastikan dia akan mengandung segera."

Chanyeol melirik Baekhyun yang nampak tidak menyukai topik pembicaraan itu, dan Chanyeol juga melihat bagaimana Baekhyun meremas jemarinya gugup.

" Kau mengandung , Melahirkan, dan ditinggalkan. Itu bagaimana seorang bad boy beraksi."

"Hahaha kau benar, dan_"

BRAAAK

Gebrakan meja yang Chanyeol ciptakan membuat tidak hanya lelaki tukang gossip itu yang terdiam, namun seluruh kantin nampak hening karena ketakutan.

Ketika Chanyeol akan menghampiri kumpulan lelaki itu dan memberinya pelajaran, Baekhyun menahan tangannya dan menggeleng pelan.

Baekhyun bangkit lalu menarik tangan Chanyeol keluar membuat seluruh isi kantin terkejut melihat bagaimana sosok mungil itu menarik keluar sosok yang paling ditakuti di sekolah mereka.

Baekhyun menghentikan langkahnya ketika mereka tiba diatap sekolah, sementara Chanyeol hanya mengernyit pelan.

"Aku tahu kau marah karena mereka membicarakan adikmu, tapi kau jangan gegabah Yeol! Bagaimana bila pihak sekolah tidak lagi mentolerir tindakanmu dan mereka mengeluarkanmu?" ucap Baekhyun membuat Chanyeol bingung.

"Baekhyun?"

"Aku..aku hanya takut .. aku takut kau tidak lagi bersamaku, jika kau dikeluarkan bagaimana aku bisa bertahan tanpamu Yeol?" Chanyeol mendekat dan memeluk tubuh Baekhyun, ia tidak menyangka jika kekasihnya salah menafsirkan tindakannya.

"Aku bukannya tidak memikirkan tentang menghilangnya Kyungsoo, aku bukannya ingin menjadi egois, tapi aku hanya takut, aku takut kau akan benar-benar meninggalkanku."

"Baekhyun? Kau salah, aku marah bukan karena itu, aku marah karena ucapan mereka membuatmu tak nyaman."

"Apa?"

"Ya, aku tahu yang mereka membicarakan membuatmu teringat tentang masa lalumu." Baekhyun tercekat, ia tidak tahu jika Chanyeol benar-benar sepeduli itu pada perasaannya.

"Chanyeol, aku…"

"Jangan cemaskan apapun lagi, aku mohon." Ucap Chanyeol sambil memeluk tubuh Baekhyun erat.

"Ya, Chanyeol aku akan berusaha." Baekhyun berjinjit dan mengecup bibir Chanyeol sebelum akhirnya melepas pelukan mereka.

"Aku harus segera kembali, kau sebaiknya tenangkan dirimu disini dulu!" ucap Baekhyun lalu berlari kecil menuju pintu atap. Chanyeol tersenyum kecil sambil menggeleng, ketika ia akan menyusul Baekhyun sebuah sapaan membuat langkahnya terhenti.

"Menarik." Ucap suara itu. Chanyeol menoleh dan terkejut mendapati Huang Zitao berdiri dibelakangnya. Chanyeol mengernyit dan melihat sekelilingnya, menebak darimana datangnya sosok itu, atau mungkin sosok itu telah menguping pembicaraannya.

"Aku sedang tidak ingin mencari masalah denganmu." Ucap Chanyeol hendak berbalik sebelum ia mendengar suara kekehan kecil.

"Karena aku bukan sainganmu? Karena aku hanya si berandal berseragam? Bagaimana dengan ini?"

SLAAASSSHH

Chanyeol menoleh dan matanya membulat sempurna, sosok yang ia lihat sekarang adalah sosok yang sama dengan yang ia lihat di ingatan Baekhyun.

"Kau?"

"Bagaimana, apa aku layak sekarang?" gumam Zitao.

"Kau… Lu..lucifer itu?" Zitao tersenyum manis lalu mengedikkan bahunya dan melangkah mendekat, lalu menghilang membuat Chanyeol mengernyit dan melihat sekeliling dengan waspada, namun makhluk itu muncul dari belakang dan menyerang punggung Chanyeol.

"Uhuk." Chanyeol terbatuk sambil merasakan nyeri dan rasa terbakar pada kulitnya.

"Bajingan! Jadi selama ini penyamaran ini yang kau gunakan?" ucap Chanyeol sambil mencoba melihat sekelilingnya dengan waspada.

"Hmm.. bagaimana ya? Aku hanya merasa penyamaran ini lebih keren." Suara Zitao terdengar namun sosoknya tidak terlihat.

"Brengsek! Dimana adikku? Kembalikan Kyungsoo, dia tidak ada sangkut pautnya dengan semua ini."

SEEB

Sosok itu muncul diatas pembatas atap, dengan sebuah seringaian.

"Adikmu? Si malaikat berambut hitam itu? Hmm.. aku tidak membawanya." Ucap Zitao lagi.

"Kau tahu? Satu hal yang selalu aku ingat tentang Lucifer, jangan pernah percaya ucapannya." Ucap Chanyeol penuh kebencian.

"Oh benarkah? Lalu bagaimana denganmu? Bukankah kau si calon Raja Iblis?" ucap Zitao lalu kembali menghilang dan muncul dibelakang Chanyeol dengan sebuah kuku tajam menancap di permukaan kulit Chanyeol.

"Aaakkhh!"

"Kenapa tidak berubah? Apa kau takut? Takut kekasihmu itu akan mengetahui siapa kau yang sebenarnya? Si bajingan yang telah menghamilinya dan membuangnya?"

"Bajingan,..hentikan..aaakkhh.." kembali lagi Chanyeol merasakan cakaran di punggungnya ketika sosok itu kembali muncul di belakangnya.

"Kembalikan adikku brengsek! Dan jangan ganggu Baekhyun! Mereka tidak tahu apa-apa." Ucap Chanyeol sambil menahan rasa perih di punggungnya. Hembusan angin membuat luka menganganya semakin perih, darahnya mengalir mengotori seragamnya yang sudah robek dibeberapa bagian.

"Bagaimana jika kita buat mereka tahu? Bagaimana jika kita buat Baekhyun tahu siapa dirimu yang sebenarnya? Bukankah itu menarik?"

"BRENGSEK!" Bersamaan dengan ucapan itu Chanyeol telah merubah dirinya menjadi wujud setengah iblisnya dan menyerang sosok di depannya, mencengkram dengan erat leher sosok itu penuh kebencian.

"Heuh! Apa hanya itu kekuatanmu?" ucap Zitao dengan sebuah seringaian, api ditubuh Chanyeol menyala membuat sosok di depannya merasa sedikit terbakar.

"Tutup mulutmu bangsat!"

"Buat aku!" ucap Zitao dengan sebuah seringaian membuat Chanyeol menggeram kesal, ia sudah bersiap untuk membakar sosok di depannya sebelum sebuah langkah kaki mendekat membuat Chanyeol menoleh melalui sela pundaknya.

Zitao menyeringai sambil memperhatikan wajah gusar Chanyeol di hadapannya yang masih berfokus pada pintu.

Pintu itu terbuka,

"Apa yang kalian lakukan disini?" keduanya menoleh dan mendapati sosok wanita berdiri disana dengan wajah datarnya.

Jessica menatap kedua anak didiknya dengan salah satu mencekik yang lainnya.

"Bukankah sudah seharusnya kalian berada di kelas? Dan kenapa dengan seragammu Tuan Park?" tanya Jessica melihat seragam Chanyeol terkoyak dan beberapa noda darah terlihat disana, tidak sebanyak tadi, noda itu sudah dibuat menghilang oleh Chanyeol secepat diri mereka merubah kembali wujud manusia mereka.

Chanyeol tidak menjawab, ia melepas cengkramannya dengan kasar dan berjalan melewati Jessica dengan wajah penuh emosi. Jessica menghela nafas sambil melirik Chanyeol, lalu menatap Zitao yang berjalan kearahnya.

Ketika Chanyeol telah menghilang, Zitao berdiri disamping Jessica dengan sebuah seringaian.

"Waktu yang tepat." Bisiknya sambil berlalu meninggalkan Jessica yang menyeringai kecil.

..

.

Sehun melirik kesal gadis yang terus mengikutinya dibelakang. Sesekali gadis itu akan melompat kecil dan sesekali akan berlari kencang ketika menyadari bahwa Sehun telah meninggalkannya.

"Jangan mengikutiku!" bentak Sehun kesal. Soojung terdiam dengan bibir mencibir, ia merangkul pundak Sehun akrab membuat Sehun mendorong tubuh gadis itu.

"Bagaimana aku tidak mengikutimu, kita kan akan membuat tugas kelompok sekarang."

"Tidak perlu, aku akan mengerjakannya sendiri." Ucap Sehun sambil berjalan lebih cepat menuju halte.

"Mana bisa begitu, Kim saem akan mengurangi nilaiku nanti jika ia tahu aku tidak ikut andil dalam tugas ini. Ini tugas kelompok Sehun-ah!"

"Aku tahu! Tapi aku tidak membutuhkanmu untuk mengerjakannya, pulanglah!"

"Tidak mau!" ucap Soojung. Sehun memutar tubuhnya dan menatap malas gadis dihadapannya.

"Kau tahu? Kau sangat menyebalkan." Ucap Sehun dingin. Soojung mencibir lalu menunjuk Sehun.

"Kau tahu? Kau jauh lebih menyebalkan."

"Kau."

"Kau." ulang Soojung membuat Sehun geram. Sehun mengepalkan tangannya kesal. Seharusnya ia sudah berada di Infernus sekarang untuk berlatih bersama Kakek Iblis, atau paling tidak sedang bersama Luhan diruang kerja ayahnya, tapi karena gadis menyebalkan di depannya membuat Sehun membuang-buang waktu berharganya.

"Pulanglah! Aku akan mengerjakannya dan mencantumkan namamu disana." Ucap Sehun lebih lembut sambil melangkah kesisi jalan.

"Tidak mau, nanti bila Kim saem bertanya aku tidak bisa menjawab bagaimana?"

"Itu salahmu!"

"Makanya aku ikut~" rengek Soojung. Sehun menahan nafas sambil memutar tubuhnya dengan kedua tangan di masing-masing sisi pinggangnya.

"Aku bilang pulang! Aku akan mengerjakannya, aku akan mengirimkannya padamu setelah selesai jadi kau bisa membacanya dan mempelajarinya. Dan_"

"Sehun awas!" Belum sempat Sehun menyelesaikan ucapannya, ia merasa tubuhnya terdorong kuat kesebrang jalan. Ia mencoba bangkit sambil memegang pantatnya yang terasa sakit, serta beberapa bagian sikunya yang nyeri.

Ketika akan berteriak dan memaki gadis itu, Sehun membulatkan matanya saat melihat Soojung tengah tergeletak di tengah jalan dengan kepala berlumuran darah dengan sebuah mobil terhenti disampingnya dan beberapa pejalan kaki yang mendekat.

"Soojung! Soojung!" teriak Sehun sambil mencoba bangkit dan berlari kearah Soojung yang tidak sadarkan diri.

..

.

Baekhyun berjalan dengan lemas di koridor sekolah, membiarkan tubuhnya terdorong oleh siswa-siswa yang berlarian menuju gerbang sekolah.

Di tangannya ia membawa tas milik Chanyeol, kekasihnya itu tidak muncul lagi di dalam kelas sejak pertemuan terakhir mereka diatap sekolah membuat Baekhyun cemberut dengan segala macam pemikiran negative menyelimutinya sepanjang pelajaran akhir.

"Baek-Baekhyun!" Baekhyun tahu itu adalah Yifan, namun ia enggan untuk membalik tubuhnya jadi ia hanya berjalan dan membawa dirinya menuju gerbang sekolah.

"Baek-Baekhyun!" Baekhyun mendongak ketika merasakan remasan pada kedua pundaknya dan sosok Yifan berdiri di depannya dengan nafas terengah.

"Ka-kau ti-tidak men-mendengar pang-panggilanku." Ucap Yifan, Baekhyun tersenyum kecil.

"Maaf."

"Ti-tidak a-apa-a-apa. A-apa ka-kau ma-mau pu-pulang ber-bersama?" tanya Yifan. Baekhyun menatap sosok itu sebentar lalu kembali teringat tentang kejadian dua hari lalu ketika mereka bertemu dengan makhluk menyeramkan itu dalam perjalanan pulang.

"Tidak, aku akan menunggu Chanyeol. Kau pulanglah lebih dulu!"

"Ti-tidak. A-aku a-akan me-menunggumu kalau be-begitu." Ucap Yifan.

"Tidak, aku bisa sendiri pulanglah!" tolak Baekhyun secara halus sambil mencoba melepaskan tangan Yifan dipundaknya dan kembali berjalan menuju gerbang. Namun sebelum mencapai gerbang, ia merasakan Yifan meremas pundaknya lagi bahkan menggetarkannya pelan.

"A-aku akan menunggumu! Ja-jangan me-menolak!" pekik Yifan. Baekhyun mengernyit, remasan Yifan memang tidak sakit, namun sikap tidak biasa Yifan membuat Baekhyun sedikit merasa aneh.

"Ma-maafkan aku." Ucap Yifan setelah menyadari jemarinya terlalu keras meremas pundak Baekhyun. Lelaki itu menunduk dengan wajah bersalah.

"A-aku hanya ti-tidak i-ingin ka-kau da-dalam bahaya." Baekhyun tersenyum kecil lalu menepuk pundak Yifan pelan.

"Bukan masalah. Terima kasih Yifan." Ucap Baekhyun lagi sambil melihat kesisi jalan menunggu kedatangan Chanyeol yang tidak pasti.

..

.

Mata Soojung terbuka perlahan dan yang ia lihat hanyalah pantulan cahaya dan dinding berwarna putih serta aroma alcohol yang menyengat.

"Se-Sehun?" ucapnya ketika melihat sosok Sehun berdiri disamping ranjangnya.

"Kau sudah sadar? Dasar bodoh!" bentak Sehun ketika Soojung mengangguk pelan.

"Kau pikir apa yang baru saja kau lakukan hah? Mencoba menjadi pahlawan?" bentak Sehun lagi. Bibir Soojung bergetar, entah mengapa air matanya pun mengalir. Sehun tercekat, lalu menghentikan ucapannya.

Ia baru saja membentak seseorang yang berusaha menyelamatkannya, sebenarnya Sehun tidak bermaksud jahat ia hanya kesal dengan sikap sok peduli Soojung yang malah membahayakan nyawa gadis itu sendiri.

"Sudah aku bilang bukan? Berhenti berteman denganku, kau hanya akan merasakan kesialan, seperti sekarang contohnya." Soojung menggeleng sambil terisak.

"Aku tidak apa-apa."

"Tidak apa-apa bagaimana? Kau bahkan menangis sekarang!" bentak Sehun lagi.

Soojung menatap Sehun sambil memegang perutnya lalu tersenyum.

"Aku lapar." Ucap gadis itu membuat Sehun memutar bola matanya, lalu tatapannya jatuh pada mangkuk putih dan segelas air di atas meja disamping ranjang rawat Soojung.

Tanpa bicara Sehun mengambil mangkuk itu dan membuka tutupnya. Perlahan ia mengaduknya pelan sesekali meniupnya.

"Ini makanlah!" ucap Sehun. Soojung tersenyum dan berusaha meraihnya namun jarum infus yang tertanam di pergelangan tangannya membuat gerakannya terbatas. Sekali lagi Sehun memutar bola matanya malas, lalu mengambil kembali mangkuk itu dan mulai menyendoknya pelan.

"Buka mulutmu!" ucap Sehun, Soojung menatap Sehun dengan wajah haru membuat Sehun kembali memutar bola matanya malas.

"Jangan menangis! Cepat buka mulutmu!" ucapnya dingin namun tangannya tetap bergerak untuk memberikan sesendok bubur untuk gadis di depannya.

Di depan pintu yang terbuka sedikit, Luhan tersenyum kecil. Senyumannya berbanding terbalik dengan rasa menusuk di dalam hatinya. Ia tidak tahu mengapa hal itu terjadi, namun beberapa menit melihat interaksi dua orang di depannya membuat sesuatu menusuk semakin dalam dan lama-lama sesuatu itu menjadi semakin sakit dan sakit.

"Waaah, Soojung sudah siuman?" ucap Luhan sambil melangkah masuk dengan wajah riangnya membuat dua orang disana menoleh . Soojung tersenyum sambil mengunyah makanannya sementar Sehun hanya melirik sebentar lalu kembali berfokus pada mangkuknya.

"Kenapa lama sekali?" tanya Sehun dingin tanpa melihat kearah Luhan. Luhan berdecih lalu mengusak rambut Sehun , membuat Sehun geram.

"Hei, jaga bicaramu anak kecil." Ucap Luhan dan sebuah dentingan keras antara sendok dan mangkuk menjadi respon dari Sehun.

"Aaaaa.." Soojung membuka mulutnya, namun Sehun bangkit dan meletakkannya diatas pangkuan Soojung. Luhan yang sedang meletakkan buah jeruk diatas meja menoleh terkejut ketika ia merasakan sebuah tarikan keras ditangannya dan ditubuhnya diseret keluar.

"Yak! Sehun-ah! Hei!"

Soojung menatap pintu tertutup itu lalu kembali menatap mangkuk buburnya dan ia tersenyum tipis, sebuah senyuman kecewa lalu berubah menjadi sebuah seringaian.

..

.

Langit sudah berwarna kemerahan namun Chanyeol tak kunjung datang. Baekhyun mengeratkan pegangannya pada tas Chanyeol dan melirik kearah Yifan yang sejak tadi tertunduk disampingnya.

"Yifan pulanglah! Ini sudah petang!"

"Tidak, ka-kau bah-bahkan masih di-disini." Ucap Yifan. Baekhyun menghela nafas pelan, ia ingin berterima kasih namun entah mengapa sebuah perasaan jengkel terbersit disana.

"Pulanglah! aku mohon! Jangan bersikap seperti ini Yifan, kau telah mengorbankan banyak hal untukku dan Chanyeol dan aku..dan aku.. aku bahkan tidak bisa membalasnya dengan apapun." Ucap Baekhyun sambil menatap sosok berkaca mata itu.

"Ti-tidak. A-aku tidak bi-bisa. A-aku me-melakukan i-ini ka-karena… ka-karena… Baek-Baekhyun.." Baekhyun terkejut ketika tangannya diraih oleh Yifan dan digenggam erat.

"Yifan? Apa maksudmu? Aku tidak mengerti."

"Baek-Baekhyun, ma-maafkan a-aku. A-aku me-menyukaimu."Baekhyun menarik tangannya dengan wajah terkejut bukan main.

"Ka-kau begitu ba-baik pa-padaku sejak awal per-pertemuan ki-kita. Ka-kau memperlakukanku la-layaknya ma-manusia, a-aku me-menyukaimu Baek-Baekhyun."

"Chanyeol benar. Chanyeol benar bahwa kau memiliki perasaan pertemanan ini hanya sebuah kedok untukmu?" Ucap Baekhyun dengan tatapan kosong kearah Yifan.

"Ma-maafkan a-aku. A-awalnya a-aku hanya ka-kagum padamu, ta-tapi se-semakin la-lama ka-kau terlihat can-cantik dima-mataku hingga ak-akhirnya aku sa-sadar bahwa a-aku ja-jatuh cin-cinta padamu"

"Tidak Yifan, ini salah. Aku sudah menjadi milik Chanyeol, aku tidak mungkin_"

"A-aku tahu. A-aku bahkan ti-tidak pantas di-bandingkan dengan Chan-Chanyeol. Ta-tapi a-aku tidak bi-bisa menyimpan pe-perasaan i-ini semakin la-lama. A-aku me-menyukaimu Baek." Perlahan tangan Yifan mengelus pipi Baekhyun membuat Baekhyun memundurkan langkahnya, namun satu tangannya ditahan oleh Yifan membuat Baekhyun tidak bisa berkutik.

"Maaf, tapi aku hanya menganggapmu sebagai teman. Tidak lebih."

"A-apa i-ini ka-karena a-aku ti-tidak tampan? A-aku ti-tidak pan-pandai berkelahi? A-aku tidak se-sekaya Chanyeol? A-aku ti-tidak gagah se-sepertinya?"

"Bukan, bukan seperti itu."

"Jika ..ji-jika aku ti-tidak gagap. Ji-jika a-aku tidak cacat da-dan berkaca ma-mata, ji-jika aku ti-tidak men-menjijikan, ji-jika aku pan-pandai berkelahi dan ti-tidak pe-pengecut, apa ka-kau mau ber-bersamaku?" tanya Yifan lagi sambil menatap mata Baekhyun dengan penuh harap.

Baekhyun menggeleng pelan lalu menarik tangannya paksa, sambil menatap Yifan.

"Tidak, tidak seperti itu. Aku mencintai Chanyeol bukan karena dia tampan, atau pandai berkelahi, atau kaya. Aku tidak melihat itu semua pada dirinya, aku mencintainya karena dia memperlakukanku seperti aku adalah sesuatu yang paling berharga untuknya. Aku mohon mengertilah!"

"Bu-bukankah a-aku mem-memperlakukanku sama? A-aku menganggapmu se-sebagai sebuah ka-kaca yang ra-rapuh dan mu-mudah pecah." Baekhyun menggeleng pelan.

"Karena itu, karena kau memperlakukanku seperti kaca yang rapuh dan mudah pecah membuatku terlihat sangat lemah dan butuh dikasihani, tapi Chanyeol? Dia memperlakukanku selayaknya seseorang yang patut dicintai. Dia mencintaiku, bukan mengasinahiku." Ucap Baekhyun lagi sambil mencoba lari dari situasi rumit yang sedang ia hadapi.

"Baek-Baekhyun, ta-tapi aku_"

TIIN

Baekhyun menoleh dan ia bersyukur melihat Chanyeol duduk diatas motornya dan berjalan semakin dekat. Baekhyun menjauhkan dirinya lalu tersenyum kecil kearah Yifan.

"Maafkan aku Yifan." Ucap Baekhyun lalu berlari kearah Chanyeol . Chanyeol tersenyum sambil mengucapkan kata maaf dan berusaha memakaikan kekasihnya helm.

Ketika Chanyeol akan menyapa Yifan yang terdiam di tempatnya, Baekhyun memeluk kekasihnya sangat erat membuat Chanyeol merasa sedikit bingung. Tidak biasanya Baekhyun bersikap seperti itu, terlebih pada sosok Yifan yang sangat ingin ia lindungi.

Baekhyun menyandarkan kepalanya di pundak Chanyeol dengan cengkraman erat pada pinggangnya.

"Chanyeol, aku lelah ayo pulang!" bisik Baekhyun tanpa melihat kearah Yifan yang masih terdiam. Chanyeol mengernyit lalu melirik Yifan yang masih menatap kearah mereka, lalu memutuskan untuk melajukan motornya.

Sepanjang perjalanan Baekhyun tidak bicara membuat Chanyeol kebingungan apalagi ketika pelukan Baekhyun semakin erat membuat Chanyeol semakin bingung dibuatnya.

Ketika mereka tiba di depan rumah Baekhyun, kekasihnya itu bahkan tidak turun dari motor membuat Chanyeol harus menyadarkan kekasih mungilnya.

"Baek, apa yang terjadi?" tanya Chanyeol ketika helm Baekhyun selesai ia lepas. Baekhyun masih menundukan wajahnya.

"Jika ini karena aku yang tiba-tiba menghilang aku minta maaf, aku harus_" ucapan Chanyeol terputus ketika Baekhyun memeluknya dengan erat.

"Baekhyun apa yang terjadi? Seseorang menganggumu? Biar aku lihat!" ketika Chanyeol ingin mencium Baekhyun, kekasihnya kembali mengeratkan pelukannya.

"Chanyeol, maafkan aku. Aku tidak mempercayai ucapanmu waktu itu dan ternyata kau benar."

"Hm? Tentang apa?"

"Tentang…tentang Yifan." Ucap Baekhyun. Chanyeol mendorong pelan tubuh kekasihnya lalu menatap wajah tertunduk itu.

"Bagian mana?" Baekhyun mengangkat wajahnya, menatap Chanyeol dengan wajah gugup. Bola matanya bergerak cepat ke kiri dan ke kanan , menatap bergantian kedua bola mata Chanyeol.

"Yi..Yifan.. dia.. dia menyukaiku." Chanyeol terdiam sejenak, lalu ia mengelus pipi Baekhyun dan mengelusnya.

"Tapi Chanyeol, dia hanya salah paham dengan kebaikanku, tolong jangan sakiti dia!" ucap Baekhyun lagi, Chanyeol terkekeh membuat Baekhyun mengernyit.

"Aku sudah menduganya, tapi siapa yang tidak akan jatuh cinta dengan kekasihku yang cantik ini?" ucap Chanyeol mencoba mencairkan suasana. Ia hanya berusaha untuk tidak memperumit keadaan.

"Tapi_"

"Apa dia berani berbuat tidak sopan?" Baekhyun menggeleng pelan.

"Lalu kenapa kau terlihat sangat sedih seperti itu?"

"Karena aku tidak mempercayai ucapanmu, aku merasa bersalah Chanyeol. Dan…dan aku ti..tidak menyangka Yifan yang aku anggap teman melakukan ini padaku."

"Hei, jangan dipikirkan! Dia memiliki hak untuk menyukaimu, selama ia tidak berbuat macam-macam aku akan membiarkannya hitung-hitung ia pernah menyelamatkan nyawamu dan nyawaku. Lagipula aku rasa Yifan tidak akan berani berbuat macam-macam padamu, dia terlalu pengecut. Jadi.." Chanyeol menarik pinggang kekasihnya, mendekatkan wajah mereka, menjatuhkan dahi keduanya.

"Kekasihku yang cantik ini, yang baru saja mendapatkan sebuah pengakuan cinta oleh temannya tidak usah khawatir. Aku percaya kau hanya mencintaiku dan kau pun harus percaya bahwa selain dirimu, disini…" Chanyeol menarik tangan Baekhyun dan meletakkannya di dadanya.

"..tidak ada yang lain, hanya dirimu." Ucap Chanyeol sambil tersenyum membuat semburat merah muncul di pipi Baekhyun. Chanyeol kembali terkekeh lalu menarik tubuh Baekhyun semakin dekat dan membawa keduanya dalam sebuah ciuman.

"Chanyeol?" bisik Baekhyun ketika ciuman mereka terhenti.

"Tinggalah lebih lama disini, aku membutuhkanmu." Ucap Baekhyun. Chanyeol terdiam , berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk membuat sebuah senyuman terbentuk di wajah kekasihnya.

...

..

.

"Gadis yang malang" ucap Luhan sambil mengelus rambut Soojung yang sedang tertidur pulas setelah meminum obatnya. Sehun yang berdiri di samping meja dengan kedua tangan terlipat hanya mendesah pelan.

"Tapi dia menyebalkan." Ucap Sehun. Luhan menghentikan kegiatannya, lalu menoleh kearah Sehun.

"Tapi aku lihat kau suka berada disekitarnya." Sehun membulatkan matanya tidak terima.

"Aku? Tidak. Mana mungkin?" ucapnya lagi sambil memutar bola matanya untuk kesekian kalinya.

"Aku bisa melihatnya, kau tidak bisa berbohong Sehunnie..!" ucap Luhan. Sehun beranjak dari tempatnya lalu mengubah wujudnya membuat Luhan yang semula menatap sejajar kini mendongak.

"Hei! Apa-apaan! kenapa mengubah wujudmu?"

"Karena kau selalu meremehkanku ketika aku dalam wujud asliku." Ucap Sehun dan Luhan tertawa.

"Karena kau sangat menggemaskan, aku tidak sedang meremehkanmu Sehunnie.."

"Itu!Itu! kau baru saja memanggilku Sehuniie. Itu sangat menjijikan, seolah-olah aku adalah balita yang baru berlajar berjalan."

"Kau memang masih anak-anak. Asal kau tahu!" ucap Luhan sambil menunjuk dada Sehun. Sehun menahan tangan Luhan lalu menarik yang lebih tua untuk bangkit. Luhan terkejut ketika pinggangnya ditarik mendekat dan satu tangannya dipegang erat.

"Biar aku tunjukan bahwa seseorang yang kau sebut anak-anak, mampu membuatmu men_" Luhan menutup bibir Sehun dengan tangannya yang lain membuat Sehun melepaskan tangan itu kasar.

"Jangan bicara yang aneh-aneh! Kau itu masih ke_hmmptt.." ucapan Luhan terputus ketika Sehun telah membungkamnya dalam sebuah ciuman. Luhan ingin melawan namun ia seolah tersihir dengan kepandaian yang dimiliki keponakannya dalam hal berciuman.

..

.

Ketika usai menyantap makan malam mereka, Chanyeol dan Baekhyun memutuskan untuk kembali ke dalam kamar Baekhyun setelah membantu Kibum membersihkan piring kotor karena Sehun tidak ada disana untuk ikut makan malam bersama, Kibum bilang jika anak bungsunya mengiriminya pesan bahwa ia sedang berada dirumah temannya untuk membuat tugas.

Tentu Kibum senang, karena jarang sekali putra bungsunya mau bersosialisasi namun sayang yang sebenarnya terjadi adalah Sehun sedang bersama Luhan dirumah sakit untuk menjaga Soojung.

Chanyeol berbaring diatas ranjang masih dengan seragam sekolahnya sementara Baekhyun memeluknya erat tanpa mau melepaskannya membuat Chanyeol tidak tahu harus melakukan apa.

"Baek?"

"Hm?"

"Kau tidak bosan?"

"Tidak." Sahut Baekhyun sambil menenggelamkan wajahnya di dada Chanyeol sementara satu tangan dan satu kakinya melingkar diatas tubuh Chanyeol.

"Tapi aku bahkan belum mandi, aku bau!" ucap Chanyeol. Baekhyun menggeleng pelan.

"Tidak, kau wangi."

"Eeii! Kau berbohong!"

"Aku tidak. Kau wangi, aku menyukainya." Ucap Baekhyun lagi. Chanyeol menghela nafas lalu membiarkan kekasihnya yang sangat suka bermanja-manja akhir-akhir ini.

Tak lama Baekhyun bangkit dan memegang perutnya, membuat Chanyeol mengernyit.

"Ada apa?"

"Tunggu! Perutku sakit! Jangan pergi!" ucap Baekhyun sambil berlari kecil kearah kamar mandi. Chanyeol menghela nafas sambil menatap keluar jendela memikirkan tentang keberadaan adiknya dan penyerangan yang akan Lucifer lakukan lagi.

"Jangan pergi!" ucap Baekhyun lagi sebelum akhirnya pintu itu benar-benar tertutup. Chanyeol mengangguk pelan sambil tersenyum geli melihat tingkah Baekhyun yang menurutnya sedikit berbeda dari biasanya.

Setelah sepuluh menit akhirnya Baekhyun keluar sambil memegang perutnya. Chanyeol mengernyit dan menatap kekasihnya bingung.

"Ada apa?"

"Entahlah, ada yang tidak beres dengan perutku. Mungkin karena aku sering makan pedas akhir-akhir ini." Ucapnya sambil kembali berbaring dan mendekat kearah Chanyeol lalu memeluk Chanyeol seperti semula.

Chanyeol mendorong pelan tubuh Baekhyun membuatnya terlentang.

"Mau aku obati?" tanya Chanyeol dengan sebuah seringaian diwajahnya. Baekhyun menggeleng pelan berusaha menahan tangan Chanyeol yang hendak menyingkap kaosnya.

"Tidak sekarang Chanyeol, aku hanya ingin bersama denganmu dalam kedamaian, bukan dalam desahan." Chanyeol terkekeh lalu tetap menyingkap kaos Baekhyun.

"Aku tidak akan berbuat lebih!" ucapnya lalu mengecup permukaan perut Baekhyun membuat yang lebih kecil menggeliat.

Chanyeol meletakkan kepalanya diatas perut Baekhyun, dan Baekhyun mengelus rambut Chanyeol dengan lembut.

"Baekhyun"

"Iya?"

"Jika nanti aku menginginkan anak darimu apa kau akan memberikannya?" tanya Chanyeol , Baekhyun terkekeh pelan.

"Setelah kita menikah?"

"Ya, setelah kita menikah…tentu saja." Lanjut Chanyeol sambil kembali memberikan sebuah kecupan di perut kekasihnya.

"Tentu."

"Meskipun itu sangat sakit? Meskipun rasanya kau akan mati?" tanya Chanyeol lagi membuat Baekhyun tanpa sadar teringat tentang bagaimana ia bermimpi tentang betapa sakitnya melahirnya Sehun dulu, meskipun ketika ia terbangun itu tidak terlalu sakit.

"Iya Chanyeol, aku akan memberikanmu anak meskipun itu sangat sakit, meskipun rasanya aku nyaris mati." Ucap Baekhyun diselingi sebuah kekehan.

"Lagipula kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?"

"Aku hanya memikirkan tentang masa depan kita." Ucap Chanyeol lagi.

"Tapi, jangan berikan aku anak yang menyebalkan dengan wajah datar, berikan aku anak-anak yang manis dan penurut." Baekhyun terkekeh lagi mendengar ucapan Chanyeol.

"Aku tidak bisa menjanjikannya." Ucap Baekhyun membuat Chanyeol memberikan gigitan kecil pada perut kekasihnya.

"Aaakh Chanyeol! Jangan digigit!" pekik Baekhyun sambil menarik wajah Chanyeol menjauh. Chanyeol tersenyum lalu mengecup bibir Baekhyun dan membawanya dalam sebuah pelukan hangat.

..

.

Sehun dan Luhan berjalan dengan cepat menuju ruang pertemuan dengan wajah cemas, ketika mereka tiba seluruh ruangan telah penuh oleh para berbagai makhluk langit maupun kegelapan.

Luhan mendekati Minho dan hendak bertanya namun Minho meminta keduanya untuk duduk terlebih dahulu. Luhan yang merasa penasaran menoleh kearah Taemin karena ibunya yang memangilnya tadi ketika mereka masih dirumah sakit , namun bukan jawaban yang ia dapatkan melainkan sebuah senyuman kecil yang dipaksakan.

"Dimana Chanyeol?" tanya Kakek Iblis membuat semua mata tertuju pada Luhan dan Sehun. Luhan mengedikan bahunya dan mencoba melakukan telepati , namun sebelum ia mendapat jawaban dari Chanyeol pintu terbuka dan menampakan Chanyeol yang nampak berjalan tergesa dengan wajah penuh emosi.

"Aku tidak akan tinggal diam kali ini." Ucap Chanyeol membuat para malaikat dan iblis menjauh riuh.

"Chanyeol! Tenanglah_"

"Aku tidak bisa kali ini Ibu! Maafkan aku. Dia muncul dihadapanku, dia menculik Kyungsoo dan kini dia juga mengincar Baekhyun. Aku tidak akan tinggal diam kali ini, meskipun tanpa kalian aku akan tetap melawannya." Ucap Chanyeol .

Minho menutup matanya ketika mendengar makhluk-makhluk lain berbisik-bisik dengan wajah terkejut mendengar ucapan Chanyeol bahwa Lucifer telah muncul dihadapannya.

"Chanyeol, jangan_"

"TIDAKKKK!" Tubuh Chanyeol membara dan kali ini baranya sungguh besar hingga nyaris mencapai langit-langit ruangan.

"Aku akan melawannya sendiri jika kalian terlalu takut untuk bergerak." Ucap Chanyeol sambil membalik tubuhnya.

"Chanyeol, kita butuh rencana, kita_"

"Aku sudah menunggu cukup lama ayah, tapi sampai detik ini kalian tidak juga bergerak. Sampai kapan kalian akan menunggu sementara dia telah bergerak sejauh ini, adikku, kekasihku, aku tidak akan membiarkanya melakukan yang lebih dari itu." Ucap Chanyeol lalu melangkah keluar.

Ketika Minho akan menyerang Chanyeol, Kakek Iblis menghalang serangan Minho membuat serangan bola api itu meleset dan mengenai dinding ruangan membuat debuman keras yang memekikan telinga.

"Tunggu!" Chanyeol menghentikan langkahnya dan menoleh mendapati sosok Sehun melangkah kearahnya.

"Kali ini aku ikut bersamamu!" ucap Sehun dan Chanyeol berdecih.

"Kau? Apa yang bisa kau lakukan? Kau bahkan tidak tahu bagaimana cara mengatur kekuatanmu."

"Aku tidak perlu mengatur kekuatanku ketika ingin menghabisi seseorang." Ucap Sehun tajam, Chanyeol kembali berdecih.

"Kau bahkan membenciku, bagaimana bisa kita menjadi tim dan_"

"Setidaknya aku masih mengingat bahwa kau adalah ayahku." Bola mata Chanyeol membulat mendengar ucapan Sehun.

"Kau…"

"Tidak ada waktu untuk berdrama, sekarang saatnya untuk melawan mereka." Ucap Sehun lagi sambil menatap Chanyeol penuh keyakinan.

"Baiklah!" ucap Chanyeol lalu berjalan bersama.

"Hei! Kalian melupakan sesuatu." Ketika Chanyeol dan Sehun menoleh mereka mendapati Luhan telah melayang kearah mereka lalu ikut berdiri bersama.

"Jangan lupakan bahwa aku putra pertama dari Raja Iblis dan Pangeran Mahkota Langit, dan yang terpenting." Luhan tersenyum kearah dua sosok tinggi di hadapannya.

"..kita adalah keluarga." Ucap Luhan dan membuat Chanyeol maupun Sehun membulatkan matanya lalu mereka menghilang.

Minho menatap Taemin dan sosok itu tersenyum lembut seolah berkata bahwa mereka bisa mempercayai putra dan juga cucu mereka.

Kakek Iblis menoleh kearah Raja Langit yang terlihat sangat tegang dan menepuk tangannya pelan.

"Hei! Kau takut?" tanya Kakek Iblis dan ditatap dengan dahi berkerut oleh Raja Malaikat.

"Semuanya!" ucap Raja Malaikat sambil berdiri mengabaikan pertanyaan Kakek Iblis. Seluruh mata tertuju padanya.

"Kita akan menyebar!" ucapnya dengan penuh keyakinan , dan diam-diam Kakek Iblis tersenyum.

..

.

Chanyeol, Sehun dan Luhan muncul diatas atap sebuah gedung pencakar langit yang berada di pusat kota.

Mata mereka menatap waspada keberbagai sudut. Chanyeol mundur dan berdiri ditengah-tengah atap gedung, ia menutup mata dan mengembangkan kedua tangannya. Seketika langit berubah gelap dan terlihat kilat-kilat yang menyambar, api ditubuh Chanyeol semakin membara dan angin berhembus kencang membuat Luhan dan Sehun menoleh kearah Chanyeol.

Luhan dan Sehun mundur, mendekat kearah Chanyeol yang masih berfokus pada kekuatannya dan tak lama kepulan asap-asap hitam yang menyerupai manusia berjatuhan lalu berubah menjadi makhluk-makhluk menyeramkan dengan sayap hitam menyerupai gagak.

Chanyeol membuka matanya ketika melihat puluhan makhluk berjalan mendekat kearah mereka.

"Mereka mengirimkan makhluk ini untukku? Benar-benar sebuah penghinaan." Ucap Chanyeol lalu menyentuh kedua pundak Sehun dan Luhan dan melempar mereka keatas dan setelahnya ia mengeluarkan seluruh bara apinya yang bisa memusnahkan seluruh makhluk tersebut.

"Dia ingin melakukannya sendiri? Sombong sekali dia." gumam Sehun kesal ketika tubuhnya dan Luhan melayang jauh diatas Chanyeol.

"Tidak, dia tidak ingin kita membuang tenaga untuk makhluk seperti ini." Gumam Luhan lalu menguncupkan sayapnya dan terbang kebawah dengan cepat lalu menghancurkan makhluk-makhluk yang kembali bermunculan setelah diserang Chanyeol. Sehun berdecih lalu melakukan hal yang sama dan ikut menyerang bersama.

..

.

Minho mengepakan sayapnya ketika merasakan getaran pada istananya.

"Heuh! Mereka bahkan berani menyerang istanaku." Ucap Minho. Ia melayang kearah Taemin dan membawa tubuh itu terbang.

"Hei! Kenapa membawaku?"

"Aku akan membawamu ke Nubes, kau lebih aman disana." Ucap Minho sambil menatap Taemin dalam, dan mencuri sebuah kecupan dikeningnya.

"Hei kau lupa bahwa aku Pangeran Mahkota? Bagaimana pun aku juga pernah memimpin perang."

"Ya, tapi dimataku sekarang kau adalah ibu dari anak-anakku, aku tidak ingin membuatmu dalam bahaya terlebih kekuatanmu masih lemah." Taemin tak menjawab ia hanya tersenyum kecil.

Ketika Minho sampai di gerbang Nubes, ia memeluk istrinya sekali lagi sebelum membiarkanya masuk ke dalam gerbang.

"Minho!" panggil Taemin sambil berlari kearah suaminya dan memeluknya erat membuat Minho mengernyit sejenak.

"Aku mencintaimu."

"Hei kenapa tiba-tiba?"

"Jangan pernah lupakan itu! Aku mencintaimu." Ucap Taemin sambil menatap wajah Minho setelah pelukan mereka terlepas. Minho terdiam, tidak ada ekspresi yang ia sampaikan namun setelahnya ia tersenyum.

"Kau tenang saja! Tidak akan terjadi apapun selama aku yang memimpin dan lagipula kita memiliki Chanyeol, kekuatannya jauh lebih besar dari apa yang kita ketahui."

"Ya…" Taemin menjeda ucapannya.

"Tapi jangan lupa dia sangat berbahaya, meskipun kami telah memutuskan hubungan persaudaraan kami , tapi aku tahu jelas bagaimana sifatnya. Dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang ia inginkan."

"Sayang? Jangan cemaskan apapun! Aku berjanji akan membawa Kyungsoo pulang dengan selamat dan menjaga kalian semua dari makhluk hina itu."

"Aku percaya Minho, aku percaya." Taemin kembali memeluk tubuh suaminya dan Minho mengecup bibir istrinya sekali lagi sebelum akhirnya menghilang.

..

.

"Awas dibelakangmu Sehun!" teriak Luhan dan melemparkan kekuatannya membuat makhluk yang berada di belakang Sehun hancur berkeping-keping. Kini mereka semua terkepung, makhluk itu sungguh mengerikan mati satu tumbuh seribu dan kini jumlahnya semakin banyak.

"Menjauh!" ucap Chanyeol sambil mencoba menutup matanya. Sehun memutar matanya dan Luhan menarik Sehun untuk melayang.

"Dia akan mulai pamer lagi!" ucap Sehun malas dan Luhan tidak menanggapi hanya memperhatikan dari atas.

Chanyeol mengeluarkan kekuatannya dan sekali lagi api itu membakar seluruh makhluk itu tanpa tersisa. Luhan melihat sekitar dan dia membulatkan matanya senang, makhluk itu tidak muncul lagi namun sebagai gantinya makhluk lain yang kini bermunculan.

Cuaca menjadi sangat buruk, angin berhembus semakin keras dan kilat menyambar-nyambar. Peperangan telah dimulai dan itu telah berlangsung cukup lama.

Ketika Chanyeol akan menghajar sosok itu, langit berubah menjadi terang perlahan. Kegelapan yang menutupi bumi perlahan hilang, angin tidak lagi berhembus dan semuanya kembali normal.

Chanyeol menggeram dalam tempatnya dan ketika menatap makhluk baru yang muncul itu, makhluk itu sudah menghilang.

"Apa yang terjadi?" bentak Chanyeol kesal.

Cahaya terlihat dan sebuah sosok turun dari atas langit, itu adalah Raja Langit.

"Kita tidak bisa membuat bumi dalam keadaan tidak seimbang dalam waktu yang lama. Mereka sengaja membuat kita melakukan hal tersebut dengan mengirim makhluk-makhluk yang tidak berguna untuk mengulur waktu, dan ketika kita meladeni mereka, kita telah melanggar aturan." Ucap Raja Langit.

"Siapa yang peduli dengan aturan?" ucap Chanyeol kesal.

"Aku. Kita. Para manusia. Semua makhluk hidup." Ucap Raja Langit lagi.

"Kita hentikan untuk hari ini, kita tunggu saat yang tepat. Ingat jangan gegabah, pikirkan dengan baik sebelum kau bertindak. Begitulah seorang Raja bertindak." Ucap Raja Langit sebelum akhirnya pergi.

Chanyeol menggeram di tempat, kedua tangannya terkepal.

"Kau tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan anggota keluarga, dan kau tidak tahu bagainama rasanya ketika orang yang kau sayangi terancam bahaya." Bentak Chanyeol membuat Raja Langit berhenti dan menoleh.

"Apa kau ingin tahu rasanya dikhianati keluargamu sendiri? Orang yang kau besarkan sepenuh hati berbalik menjadi musuhmu?" ucap Raja Langit membuat Chanyeol terdiam, bergeming di tempatnya. Sebelum salah satu dari ketiga yang termuda merespon, Raja Langit telah kembali bersamaan dengan cahaya yang mulai menghilang.

Luhan melirik kearah Chanyeol yang nampak terdiam dengan kening mengernyit. Sama halnya dengan Sehun yang melakukan hal yang sama, ia melirik Chanyeol sekilas sebelum akhirnya menatap kepergian yang lebih tua.

..

.

Ketika Chanyeol, Luhan dan Sehun kembali ke Infernus, mereka dikejutkan dengan keadaan Istana yang berantakan dan ketika memasuki ruang pertemuan mereka menemukan beberapa malaikat sedang mengobati yang terluka.

Dengan cepat Chanyeol berjalan kearah Minho yang duduk di singgasananya.

"Dimana ibu?" bentak Chanyeol sambil menatap cemas kesekitar. Minho menatap putranya tanpa menjawab, pikirannya masih berkelana entah kemana.

"Ibu disini." Ucap Taemin yang tiba-tiba muncul dari atas langit dengan sebuah senyuman. Chanyeol menoleh dan ada perasaan lega yang terlintas di pikirannya sejenak. Ia mendekat kearah ibunya dengan sisa kecemasan yang masih ada.

"Apa ibu baik-baik saja?" Sejenak Taemin merasakan sebuah kebahagiaan dan keterkejutan secara bersamaan sebelum akhirnya lelaki cantik itu tersenyum.

"Kau mencemaskan ibu?"

"Berhenti menggodaku! Aku bertanya dan seharusnya ibu menjawabnya." Ucap Chanyeol dingin. Taemin melangkah lebih dekat lalu mengelus pipi Chanyeol pelan.

"Seharusnya ibu yang bertanya pada putra ibu ini, apakah kau baik-baik saja setelah menghadapi Lucifer." Chanyeol menolehkan kepalanya untuk menghindari tangan ibunya yang masih berada di pipinya.

"Aku tidak melawan Lucifer, dia malah mengirimkan makhluk-makhluk tidak berguna yang hanya membuang-buang waktu dan tenagaku, dia terlalu pengecut untuk memunculkan dirinya." Ucap Chanyeol kesal. Taemin menggeleng pelan.

"Tidak, dia bukannya takut. Itu adalah bagaimana ia mengatur strateginya. Dia melakukan itu dengan tujuan, jangan lupakan dia adalah pemimpin perang ratusan malaikat dulu." Ucap Taemin lembut dan sekilas bayangan masa lalunya terlintas dibenaknya.

"Aku tidak peduli siapa dia dulunya, ataupun dirinya yang sekarang. Sekali dia menyentuh orang yang aku sayangi, terutama Baekhyun…. Aku akan membunuhnya sendiri dengan tanganku." Ucap Chanyeol penuh kebencian. Taemin mengangguk paham dan sebuah senyuman bangga terselip di wajahnya.

"Ayah." Chanyeol berbalik untuk menatap kearah Minho.

"Biarkan aku melakukan apapun yang aku mau!"

"Tidak!" ucap Minho dengan kening berkerut.

"Bukankah cepat atau lambat aku akan melakukannya juga? Mengatur strategiku sendiri?"

"Ya, tapi tidak sekarang, tidak untuk situasi rumit seperti ini. Tidak untuk melawan makhluk sepertinya."

"Sudah aku ucapkan berulang kali, aku tidak peduli tentang siapapun dia. Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri." Ucap Chanyeol. Minho tidak menjawab, ia hanya menatap Chanyeol sejenak lalu menghela nafas.

"Aku tidak berkata setuju, tapi aku tidak juga melarangmu. Lakukan apa yang menurutmu baik, tapi selalu perhitungkan resiko yang akan terjadi!" Chanyeol mengangguk pelan.

..

.

Baekhyun turun dari bus untuk menuju ke gerbang sekolahnya. Ia sedikit kecewa karena hari ini Chanyeol tidak datang menjemputnya dan tidak ada kabar sama sekali dari kekasihnya itu, jadi daripada menunggu lebih lama ia memutuskan untuk berangkat seorang diri, bahkan Sehun sudah berangkat lebih dulu.

Ketika memasuki kelas ia melihat Yifan yang sudah terduduk dibangkunya dengan wajah tertunduk ketika mata mereka tidak sengaja bertemu.

Baekhyun mengabaikannya dan berjalan menuju tempat duduknya. Ia mencoba untuk mengabaikan lelaki itu, ia tidak ingin lelaki itu menyalahartikan kebaikannya dan membuat perasaan sosok itu lebih dalam lagi kepadanya, sementara Baekhyun sendiri tidak memiliki perasaan sama sekali pada Yifan, ia menolongnya karena murni sebuah perasaan iba dan menjadikannya teman karena ia memang hanya ingin berteman tidak lebih.

Ketika pelajaran kedua usai dan mereka diperbolehkan beristirahat, Baekhyun memilih untuk tetap berada di dalam kelas sambil membaca buku pelajarannya.

"Baek-Baekhyun!" suara itu membuat Baekhyun menoleh dan setelahnya ia membuang pandangannya.

"Baek-Baekhyun!" panggil Yifan lagi dan Baekhyun memilih untuk mengabaikannya.

"Baek-Baekhyun a-aku i-ingin bi-bicara!" ucap Yifan tergagap.

"Aku sedang sibuk Yifan maaf." ucap Baekhyun tanpa memandang sosok itu.

"Ha-hanya se-sebentar!"

"Maafkan aku, aku sedang sibuk."

"A-aku mo-mohon." ucap Yifan lagi. Baekhyun menutup bukunya cepat, lalu menatap Yifan dingin.

"Yifan, tidak ada yang perlu kita bicarakan. Aku menganggap percakapan kita kemarin tidak pernah terjadi, tidak ada yang berubah, kita tetap teman." Ucap Baekhyun.

"Ta-tapi ka-kau be-berubah." Ucap Yifan lagi. Baekhyun menghela nafas, lalu bangkit.

"Maafkan aku Yifan aku mencoba untuk tetap sama, tapi rasanya sulit. A…aku harus pergi." Ucap Baekhyun lalu berjalan menuju keluar kelas meninggalkan Yifan yang masih menundukan wajahnya.

Diluar sana, dijendela koridor, Jessica berdiri sambil menatap interaksi dua orang muridnya.

"Jessica saem?" sapa Baekhyun ketika ia menemukan sosok itu di depan jendela. Jessica membalik tubuhnya lalu tersenyum kearah Baekhyun. Perlahan ia membawa kaki jenjangnya mendekat, lalu memegang kedua pundak Baekhyun.

Ia menatap mata Baekhyun masih dengan senyum manisnya, lalu melirik liontin kalung di leher Baekhyun sejenak dan kembali menatap mata Baekhyun.

"Hai Baekhyun-ah? Kemana Chanyeol pergi?" tanya Jessica membuat Baekhyun mengernyit dengan perasaan curiga.

"Dia ti..tidak datang ke sekolah hari ini, ada urusan keluarga. Aku permisi saem." Ucap Baekhyun memberi hormat lalu berjalan meninggalkan sosok wanita itu dengan langkah terburu-buru.

Jessica membalik tubuhnya mengikuti sosok Baekhyun yang melewatinya dan berjalan di koridor seorang diri. Ketika ia hendak meninggalkan tempatnya ia menoleh ke dalam kelas dan matanya bertemu dengan mata sosok berkaca mata yang kini juga menatapnya.

Jessica tersenyum dan sosok itu membalas senyumannya.

..

.

Baekhyun berjalan dengan wajah tertunduk sepanjang perjalanan pulang, hari sudah sore dan ia memutuskan untuk pulang seorang diri.

TIN!

Baekhyun menoleh dan bola matanya membesar melihat sebuah motor berhenti disampingnya dan sosok pengendara dengan jaket kulit hitam itu membuka kaca helmnya.

"Ayo naik Baek!" Baekhyun tersenyum dan segera meraih helm yang Chanyeol berikan padanya, memakainya cepat lalu melompat untuk duduk dibelakang Chanyeol.

"Kenapa tidak menungguku di depan sekolah?" tanya Chanyeol ketika motornya melaju memecah keramaian jalan raya.

"Aku pikir kau tidak akan datang."

"Aku pasti datang "

"Tapi kau bahkan tidak menghadiri kelas hari ini." Ucap Baekhyun dengan nada kecewa.

"Itu karena aku memiliki urusan, tapi sekarang sudah selesai. Maafkan aku karena tidak memberimu kabar, aku tidak tahu dimana aku meletakkan benda persegi itu." Ucapnya.

"Maksudmu ponselmu?"

"Ya, apapun itu manusia memanggilnya." Ucap Chanyeol tak acuh.

"Hei, kau bicara seolah kau bukan manusia." Chanyeol tersenyum paksa di balik helmnya lalu mengelus tangan Baekhyun yang melingkar di perutnya.

"Jika aku memang bukan manusia bagaimana Baek? Apa kau akan tetap berada disampingku?" tanya Chanyeol.

"Tergantung."

"Tergantung apa?"

"Jika kau ternyata adalah alien, atau superhero maka aku akan tetap berada disampingmu." Sahut Baekhyun dengan nada bercanda karena ia pikir Chanyeol sedang bergurau.

"Tapi bagaimana jika aku bukan salah satu dari mereka? Bagaimana bila aku adalah makhluk hina dan menjijikan?" tanya Chanyeol lagi. Baekhyun terdiam lalu tiba-tiba mencubit perut Chanyeol.

"Apa-apaan itu, itu sama sekali tidak lucu! Ayo jalan! Lampunya sudah hijau." Ucap Baekhyun sambil sedikit mendorong tubuh kekasihnya. Chanyeol tidak bertanya lagi, namun di dalam hatinya hal itu masih mengganjal.

Ketika mereka sampai di rumah Baekhyun yang lebih mungil melepas helmnya dan memberikannya pada yang lebih besar.

"Maaf aku tidak bisa mampir Baek, aku ada urusan."

"Aku mengerti Chanyeol. Pergilah!" ucap Baekhyun dengan sebuah senyuman. Chanyeol mengangguk dan memutar motornya.

"Masuklah!" ucap Chanyeol sambil memperhatikan Baekhyun yang berjalan kearah pintu gerbangnya.

"Chanyeol, aku akan tetap berada disampingmu." Chanyeol mengernyit.

"Itu jawaban untuk pertanyaanmu tadi. Tidak peduli makhluk apapun dirimu, aku akan tetap berada disisimu, apa kau puas Tuan Park?" tanya Baekhyun . Chanyeol tidak menjawab, ia turun dari motor dan melepas helmnya lalu berjalan kearah Baekhyun, menarik pinggang itu secepat kilat lalu membawa mereka dalam sebuah ciuman.

..

.

Baekhyun berjalan memasuki rumahnya sambil besenandung kecil, dan nyanyiannya terhenti ketika melihat sosok Sehun yang menuruni tangga dengan pakaian rapi.

"Mau kemana Sehunah?" tanya Baekhyun, Sehun menoleh lalu tersenyum.

"Aku mau menjenguk Soojung, dia sedang dirawat dirumah sakit."

"Eih? Apa yang terjadi padanya?"

"Kecelakaan kecil."

"Apa aku perlu ikut?"

"Ah tidak usah, dia tidak suka keramaian dia memintaku merahasiakan ini."

"Oh, kalau begitu aku berdoa untuk kesembuhannya." Ucap Baekhyun sambil berjalan mendekat.

"Baiklah, aku berangkat hyung!" ucap Sehun. Baekhyun menarik tangan Sehun ketika mereka berpapasan.

"Hati-hati di jalan Sehun!" ucap Baekhyun sambil memeluk tubuh kecil Sehun dan Sehun membulatkan matanya sejenak lalu membalas pelukan ibu kandungnya.

"Tentu, aku akan pulang dengan selamat."

"Harus!"

..

.

Chanyeol dan Luhan sedang berada diruang kerja Minho. Mereka sedang menyusun rencana untuk penyerangan berikutnya. Hingga akhirnya mereka terdiam dan teringat akan adik bungsu mereka.

"Aku merindukan Kyungsoo." Ucap Luhan, Chanyeol mengangguk sambil bersandar pada kursinya.

"Aku pun! Makhuk itu akan membayar mahal atas penculikan ini!" ucap Chanyeol kesal.

"Tentu! Aku sangat mencemaskannya, dia begitu polos dan suci aku takut Lucifer akan mencuci otaknya." Gumam Luhan lagi sambil menatap mejanya tanpa minat.

..

.

Sehun membuka pintu dan menemukan Soojung yang duduk bersandar pada kepala ranjang dengan wajah cemberut.

"Ah, akhirnya ada orang yang berkunjung. Aku rasanya mati kebosanan Sehun!" ucapnya . Sehun berjalan mendekat sambil melirik kaki Soojung yang tergantung.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Sehun ragu.

"Tidak baik, aku tidak bisa melakukan apapun sesukaku, kapan aku bisa keluar darisini?" tanya Soojung . Sehun berdeham lalu mengambil duduk dikursi disamping ranjang Soojung.

"Itu untukku?" tanya Soojung ketika melihat sebuket bunga lili di tangan Sehun. Sehun melirik bunganya lalu mengangguk pelan.

"Luhan Saem yang memintaku membawanya."

"Ah, cantiknya! Kemarikan! Lalu dimana Luhan Saem?" tanya Soojung sambil memeluk bunga di tangannya.

"Sibuk! Dia mungkin menyusul."

"Baiklah. Jadi aku memiliki tamu lain nanti." Ucap Soojung senang dan Sehun hanya bisa menghela nafas pelan.

"Sehun!"

"Apa?"

"Aku ingin es krim!" Sehun ingin membuka mulutnya dan membentak, namun ia urung ketika mengingat kecelakaan yang membuat Soojung berada di rumah sakit.

"Baiklah! Hanya es krim tidak yang lain."

"Huwaaa.. terima kasih Sehun. Aku tahu kau memang yang terbaik." Ucap Soojung sambil memperlihatkan kedua ibu jarinya.

..

.

Baekhyun melangkah menuruni tangga ketika tadi saat dirinya sedang belajar ibunya memanggil dan berkata ada teman yang mencarinya. Meskipun ia tahu itu bukan Chanyeol –karena kekasihnya itu pasti akan langsung naik- tapi ia tidak ingin memberikan kesan buruk pada temannya itu yang entah siapa.

"Selamat ma_" ucapan Baekhyun terhenti ketika menemukan sosok Yifan di depan pintu rumahnya dengan senyuman kikuk.

"Yifan? Apa yang kau lakukan disini?"

"A-aku ha-hanya i-ingin_" belum selesai Yifan bicara Baekhyun sudah hendak berbalik,

"Ma-maafkan aku!" ucap Yifan sambil bersimpuh membuat gerakan Baekhyun terhenti, ia menoleh dan bola matanya membulat.

"Hei! Bangun! Jangan lakukan ini!" ucap Baekhyun sambil membawa tubuh Yifan bangkit namun sosok itu bergeming.

"A-aku a-akan meng-menghapus pe-perasaan ini Bae-Baekhyun. A-aku ber-berjanji! Ja-jangan men-menjauhiku! A-aku mohon!" ucapan Yifan ditengah isakannya membuat Baekhyun luluh juga. Ia berjongkok di depan Yifan lalu mengelus tangan itu pelan.

"Aku sudah memaafkanmu Yifan! Bangunlah! Jangan seperti ini!"

"Ki-kita tetap te-teman?"

"Ya, kita tetap teman." Ucap Baekhyun sambil tersenyum. Keduanya bangkit sambil saling memandang dengan tatapan yang berbeda, sebelum akhirnya sosok kecil menyelinap diantara mereka membuat tubuh Yifan terhuyung.

"Sehun?" tanya Baekhyun ketika melihat sosok kecil itu berjalan dengan wajah cemberut.

"Oh hai hyung, dan…" kening Sehun berkerut ketika melihat sosok familiar di depannya.

"Hai Yifan hyung." Ucap Sehun sambil memberi hormat singkat.

"Maaf aku tidak melihat kalian berdiri disana." Ucapnya sambil membalik tubuhnya dan berjalan dengan kaki sedikit dihentakkan.

"Sehun? Darimana saja kau? Kenapa lama sekali? " tanya Baekhyun dan Sehun menghentikan langkahnya, mulai mencoba untuk mencari alasan.

"Hmm.. hanya mengunjungi Soojung?" ada nada tidak yakin terselip di kalimatnya, serta ekspresi mengernyit yang lucu.

"Kenapa lama sekali?"

"Dia terluka cukup parah hyung dan tidak ada yang menemaninya, jadi aku..."

"Hmmm... Hyung aku harus ke kamar…. Mengerjakan pr." Ucapnya pelan setelah memberi jeda cukup lama atas alasan lain yang ia buat. Baekhyun mengangguk pelan dan kembali beralih menatap Yifan yang sejak tadi terlihat menatap kearah Sehun yang membuat Baekhyun sedikit mengernyit heran.

"Ah, Baek-Baekhyun. A-aku ha-harus pu-pulang. Te-terima ka-kasih ka-karena ma-masih me-menganggapku te-teman." Baekhyun mengangguk pelan lalu membiarkan Yifan meninggalkan pekarangan rumahnya.

Baekhyun menghela nafas sejenak, ia memang memaafkan Yifan namun ada perasaan yang membuatnya tidak bisa kembali seperti hubungan mereka diawal.

Baekhyun melangkahkan kakinya untuk kembali ke kamar, dan ketika melihat pintu kamar Sehun yang tertutup rapat Baekhyun berniat untuk berkunjung sebentar sekaligus bertanya perihal bocah laki-laki itu yang sangat jarang berada di rumah.

"Sehun-ah? Boleh aku masuk?" tanya Baekhyun setelah mengetuk pintu, namun tidak ada sahutan.

"Sehun-ah?" panggil Baekhyun lagi namun tetap tidak ada sahutan, mengikuti perasaanya dengan perlahan ia memegang kenop pintu lalu mendorong pintu kayu itu perlahan. Aroma khas anak-anak menguar namun ia tidak menemukan sosok Sehun disana selain ranjang kosong yang tertata rapi.

"Sehun-ah? Sehun-ah?" panggil Baekhyun dan berjalan kearah kamar mandi di dalam kamar tersebut. Ia membukanya dan tidak menemukan sosok adiknya disana, sejenak ia merasa dejavu, kejadian ini mengingatkannya akan kejadian di apartemen Chanyeol.

Dengan pikiran sedikit kalut dan kening mengernyit kuat, Baekhyun berjalan keluar dari kamar Sehun hingga ia dikejutkan dengan kemunculan bocah laki-laki yang terlihat sedikit terengah di depan pintu.

"Sehun?"

"Oh, hai hyung. Ada apa?" tanya Sehun dengan wajah memerah dan berkeringat . Baekhyun mengernyit tidak mengerti lalu menggeleng pelan.

"Aku pikir kau di kamar, kau darimana?" tanya Baekhyun. Sehun tersenyum idiot lalu menggaruk tengkuknya.

"Aku dari dapur, mendadak aku merasa lapar, tapi sayang aku tidak menemukan apapun yang bisa aku makan." Ucap Sehun berbohong. Ia tidak mungkin berkata jika dirinya baru saja berlatih di Infernus bersama Kakek Iblis, dan harus kembali terburu-buru ketika mendengar Baekhyun memanggil namanya.

"Ah benarkah? Kalau begitu biar aku masakan." Ucap Baekhyun sambil hendak berjalan keluar kamar melewati tubuh Sehun yang kini matanya melotot.

"Tidak, tidak hyung! Tidak perlu!"

"Kenapa?" tanya Baekhyun bingung sambil berbalik kearah sosok kecil di hadapanya.

"Hanya aku tidak terlalu lapar."

"Eiii, mana bisa begitu kau baru saja pulang pasti seharian di sekolah membuatmu kelelahan. Ayo aku buatkan sesuatu untukmu, sudah lama bukan sejak aku tidak memasak untuk kalian." Ucap Baekhyun pelan dan Sehun dengan terpaksa mengangguk.

Sehun menatap Baekhyun yang sedang memasak di dapur dan entah mengapa perasaan hangat menyelimuti hatinya. Sosok itu,sosok cantik yang kini sedang memotong sayuran dengan perlahan adalah sosok ibu kandungnya yang kini telah mencintainya dan memberikannya kasih sayang seperti apa yang ia inginkan dulu.

"Sehun, kau jarang sekali dirumah akhir-akhir ini, boleh hyung tahu kau pergi kemana?" tanya Baekhyun tanpa mengalihkan tatapannya pada pisau yang berada ditangannya.

"Hmmm.. itu.. aku mengerjakan tugas bersama Soojung." Ucap Sehun lagi-lagi berbohong. Baekhyun mengangguk pelan lalu memasukan potongan sayuran ke dalam air mendidih disampingnya.

Ketika penciumannya dapat mencium aroma masakan yang kuat, ia tahu bahwa hyungnya telah selesai membuatkan makanan.

Semangkuk sup diatas meja ditemani sepiring nasi serta potongan cumi membuat Sehun tidak sabar ingin melahapnya.

"Makanlah!"

"Hyung?"

"Aku sudah makan siang tadi, aku masih kenyang." Ucap Baekhyun sambil memberikan senyuman lembutnya pada Sehun. Sehun mengangguk setuju lalu mulai memakan hidangan lezat yang tersaji dihadapannya.

Baekhyun memperhatikan pipi mengembung Sehun dan tanpa sadar tersenyum, anaknya telah tumbuh dengan cepat dan juga sehat, Baekhyun menyesal pernah membenci sosok yang bahkan tidak tahu apa kesalahannya sejak lahir kedunia.

Perlahan tanpa ia sadari, tanganya terulur untuk menyentuh helaian rambut Sehun,mengelusnya dengan penuh kasih sayang membuat Sehun menghentikan kegiatan makanannya dan menatap Baekhyun heran.

"Ada apa hyung?" tanya Sehun.

"Tidak, aku hanya merasa senang kau tumbuh dengan sehat dan baik." Ucap Baekhyun dengan penuh perasan bahagia.

"Ini karena kalian merawatku dengan sangat baik, aku bersyukur bisa terlahir dikeluarga ini." Ucap Sehun sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya.

"Ya, aku juga bersyukur karena Tuhan memberikanku dirimu sebagai hadiah. Sehun?"

"Hm?"

"Jika nanti aku menikah dengan Chanyeol, apa kau akan menerimanya dengan baik?" Sehun meletakkan sendoknya dan mengernyit. Baekhyun menahan nafasnya, tidak sadar dengan ucapannya. Ia sangat tahu jika sosok Sehun tidak terlalu menyukai Chanyeol,tapi Baekhyun sangat ingin tahu bagaimana perasaan Sehun sekarang terhadap kekasihnya.

"Aku tidak tahu." Jawab Sehun. Baekhyun menundukan sedikit arah pandangnya , merasa sedikit kecewa , bahwa anaknya tidak bisa menerima sosok Chanyeol sebagai seorang ayah kelak, karena bagaimana pun suatu saat Baekhyun harus memberitahu keduanya bahwa Sehun adalah darah dagingnya, walau sebenarnya tanpa ia tahu kedua sosok tersebut sudah sangat tahu tentang rahasia besar yang coba Baekhyun sembunyikan.

"Tapi hyung, aku rasa dia tidak buruk juga untuk menjadi seorang ayah." Baekhyun membulatkan matanya mendengar penuturan Sehun, dan ketika Sehun tersadar dengan ucapannya ia menggenggam sendoknya dengan erat lalu mulai mengangkat wajahnya.

"Ayah dari anak-anak kalian kelak, yah! Itupun jika kalian ingin mengangkat seorang anak. Hehehehe.." Sehun tertawa dengan nada sedikit canggung, namun ia bersyukur karena Baekhyun tidak menyadarinya dan memilih tersenyum sambil mengelus kembali rambutnya.

"Makanlah! Kau harus tumbuh menjadi anak yang baik dan pintar. Mengerti?"

"Tentu." Ucap Sehun sambil kembali menyendokkan makanannya.

Baekhyun masih memperhatikan Sehun dengan senyum ke-ibu-ibuannya, merasa bangga karena bisa melahirkan sosok setampan Sehun meskipun sosok yang menghamilinya adalah monster mengerikan yang sangat Baekhyun benci.

Seketika kening Baekhyun berkerut, ia memegang perutnya yang terasa sangat sakit lalu bangkit dengan segera.

"Sehun, aku harus ke kamar mandi! Aku sepertinya salah makan lagi." Ucapnya lalu berlari kecil meninggalkan Sehun yang menghela nafas lega sambil bersandar pada kursi.

..

.

Chanyeol duduk di dalam kamarnya di Infernus, ia sedang mencoba memikirkan strategi untuk mengalahkan Lucifer dan pasukannya. Tapi kembali ia mengerang frustasi ketika hanya jalan buntu yang ia temui, Ayah dan Kakeknya benar bahwa Lucifer bukan lawan yang mudah.

"Chanyeol! Datang keruangan ayah segera!" panggilan itu membuat Chanyeol segera bangkit dan berjalan meninggalkan kamarnya sebelum akhirnya menghilang diambang pintu.

Ia muncul dengan wajah serius yang disambut oleh ketegangan seisi ruangan. Ia mengedarkan pandangannya dan menemukan sosok ibunya yang berada disamping ayahnya dengan keadaan sedikit tidak baik dan kelelahan.

"Ibu! Apa yang terjadi?" tanya Chanyeol sambil memegang tangan ibunya sedikit cemas.

"Ibumu mendapat penglihatan kemarin, ia melihat sosok Kyungsoo berbaring diatas sebuah ranjang." Ucap Minho. Chanyeol menggeram kesal, ia sangat mengkhawatirkan adik bungsunya sejak hari dimana adiknya menghilang dan sialnya Lucifer itu tidak dengan mudah membuatnya mendapatkan kembali Kyungsoo.

"Apa dia baik-baik saja?"tanya Chanyeol, Taemin yang menundukan wajah letihnya mengangguk pelan.

"Ya, dia baik-baik saja Chanyeol, tapi aku tidak bisa mengetahui dimana ia berada. Energi itu terlalu besar, menyelimuti sekitar hingga aku tidak bisa menebak tempat apa itu." Ucap Taemin. Minho mengelus pungung sempit istrinya yang mulai terisak.

Chanyeol mengedarkan pandanganya kesekitar kembali dan hanya mendapati wajah sedih Luhan, Raja Malaikat dan Kakek Iblisnya. Ia bangkit dengan penuh kekesalan.

"Kita akan berperang lagi! Aku akan benar-benar membuat perhitungan dengan bajingan itu!" ucap Chanyeol.

"Aku ikut!" Luhan bangkit dan berlari mengejar Chanyeol, Chanyeol melirik sebentar dan mengangguk.

"Ayah, aku ambil alih 5000 pasukanmu saat ini!" ucap Chanyeol sambil berjalan meninggalkan ruangan. Minho mengangguk pelan, namun tatapan tidak terima Kakek Iblis membuat Minho memberikan isyarat pada ayahnya untuk mempercayai Chanyeol.

..

.

Di sebuah tanah lapang yang berada diperbatasan antara bumi dan langit, terlihat pasukan kegelapan telah bersiaga. Chanyeol dengan jubah hitamnya berdiri di barisan terdepan, mengembangkan kedua tangannya untuk membuat langit menjadi gelap.

Sementara disampingnya Luhan dengan jubah abu-abunya berdiri dengan wajah menantang sambil melihat sekeliling mereka yang mulai menggelap.

Tempat ini adalah tempat yang dulu sekali digunakan untuk para iblis dan malaikat berperang, namun kali ini bukan makhluk langit yang menjadi lawan mereka melainkan makhluk kegelapan lainnya, Lucifer.

Semua kalangan makhluk berdatangan , memenuhi sisi dimana Chanyeol berdiri. Luhan tersenyum ketika melihat makhluk-makhluk dari bangsa yang kemarin berdatangan saat rapat kini hadir untuk membantu.

Strategi Chanyeol sedikit berbeda dengan ayahnya, jika Minho membagi mereka di tempat-tempat yang terpisah, kini Chanyeol memilih untuk melakukan perang besar dan mengundang seluruh pasukan Lucifer untuk datang, Chanyeol berkata bahwa ia ingin tahu sebanyak apa pasukan musuhnya itu.

Makhluk langit tetap berada di Nubes, sambil mengawasi dari atas awan. Mereka tidak bisa terlalu banyak ikut campur karena tidak ada perintah dari Raja Langit. Namun bila keadaan mendesak Yunho akan membawa pasukannya untuk turun membantu.

Langit bergemuruh, matahari tidak lagi bersinar tertutup oleh bayangan hitam kelam. Chanyeol menggeram mengeluarkan seluruh kekuatannya, ia akan mengundang Lucifer tidak hanya anak buah tidak berguna mereka.

Angin bertiup begitu kencang membuat jubah-jubah mereka menari-nari diatas udara. Seluruh mata menatap waspada pada setiap sudut tempat, meskipun seharusnya sang lawan muncul dari arah yang berlawanan, namun tidak menutup kemungkinan Lucifer menggunakan cara yang licik, karena itu bagaimana ia dan pasukannya dapat bertahan.

Tempat itu menjadi gelap gulita dengan petir yang menyambar-nyambar namun tidak membuat mereka takut. Chanyeol membuka matanya perlahan, mata merah menyala yang membuat siapapun akan menciutkan nyalinya.

Luhan pun sama, tatapannya begitu mematikan dan terlihat betapa lelaki cantik itu ingin segera bertarung.

Tak lama sebuah sosok berjubah hitam muncul dari kejauhan, berjalan dengan perlahan , dengan wajah penuh keangkuhan.

Chanyeol mengangkat satu alisnya dan menatap bagaimana sosok itu semakin mendekat. Sayapnya masih menguncup di balik punggungnya, namun seringaiannya terlihat begitu jelas.

Itu Zitao, yang berjalan seorang diri kearah ribuan makhluk paling mengerikan yang pernah ada. Beberapa makhluk dibelakang Chanyeol mengernyit sejenak merasa heran dengan sosok itu, begitu pula makhluk langit yang masih mengintip dibalik awan di Nubes.

Minho dan Kakek Iblis mengernyit lalu saling menatap dari tempat mereka duduk sekarang. Di dalam ruangan di Infernus.

Sementara Chanyeol dan Luhan menyeringai.

"Lihat! Lucifer datang!" bisik Luhan. Chanyeol berdecih.

"Dia meremehkanku dengan datang seorang diri dan berjalan layaknya model kelas dunia." Sambung Chanyeol sambil mengepalkan tangannya.

..

.

Di lain tempat , di sebuah ruangan besar di Nubes. Taemin mulai merebahkan dirinya dibantu oleh beberapa pelayan. Ia merasa tidak dalam kondisi yang baik, sehingga ia memilih untuk beristirahat sementara.

Ketika pintu kamarnya tertutup , begitu juga dengan matanya yang memberat, Taemin dikejutkan dengan suara langkah kaki seseorang.

"Lama tidak bertemu." Taemin bangkit terduduk dengan bola mata yang membulat besar. Di depannya berdiri sosok bersurai emas, dengan tubuh menjulang tinggi, berpakaian seperti seorang Pangeran dengan hiasan permata dan emas yang menyebar dijubahnya. Mata sosok itu berwarna biru cerah, mirip dengan warna matanya.

"…adik kecilku."

"Kau!" pekik Taemin , entah mengapa tubuhnya bergetar.

"Hai, kenapa seorang putra mahkota tidak memiliki sopan santun? Apa ayah mendidikmu seperti ini setelah kepergianku?" Taemin tidak menjawab, ia hanya memperhatikan sosok tampan itu, yang dulu sangat ia kagumi berjalan mengitari ranjangnya.

"Bagaimana kau bisa masuk?" tanya Taemin dengan suara bergetar yang tidak bisa ia tutupi. Sosok itu terkekeh sambil menggeleng pelan.

"Tentu aku bisa, bukankah aku juga seorang malaikat?"

"Itu dulu, sekarang kau bukan lagi bagian dari makhluk langit." Ucap Taemin dengan sedikit bentakan, membuat senyuman diwajah sosok itu menghilang. Warna matanya tidak lagi berwarna biru cerah, melainkan hitam kelam dengan siluet kuning di sekitarnya, seperti seekor gagak.

"Ya, kau benar. Aku bukan lagi anggota langit." Ucapnya sambil terkekeh dan warna matanya kembali berwarna biru cerah.

"Tapi kau tahu? Itu jauh lebih menyenangkan ketika kau hidup tanpa aturan, aku bisa melakukan apapun yang aku mau tanpa ada hukuman yang harus aku terima. Dan aku dengar-dengar hidupmu tidak abadi lagi? Ck! Betapa bodohnya adik kecilku ini, memberikan kehidupannya untuk seorang manusia… Kau bodoh Taemin-ah."

"Jangan bicara omong kosong!"

"Aku bicara fakta, jangan pikir aku menghilang dari peradaban untuk ratusan tahun membuatku tidak tahu apapun, aku mengawasi setiap gerak-gerik kalian sekecil apapun itu."

"Kembalikan putraku!" bentak Taemin tidak mau terpancing oleh ucapan sosok yang pernah ia panggil dengan sebutan kakak.

"Jika aku berkata bahwa aku tidak membawanya, apa kau percaya?" Taemin menatap tajam kearah kakaknya, dan sosok itu menyeringai.

"Heuh! Tentu kau tidak akan percaya kan? Siapa yang akan mempercayai makhluk pengkhianat sepertiku, bukan?" ia terkekeh sambil melempar pandangannya.

"Jika kau tahu siapa dirimu seharusnya kau memiliki rasa malu untuk kembali muncul disini dan membuat kekacauan." Kembali Taemin mendapatkan tatapan tajam dari sosok itu.

"Membuat kekacauan? Membuat kekacauan kau bilang? Heuh! aku lupa, jika apapun yang aku lakukan tidak pernah benar dimata kalian, dimata pria itu. Pasukan yang aku latih dengan susah payah, kemenangan yang selalu aku raih tidak pernah terlihat sebagai perbuatan terpuji dimata kalian. Hah! Untuk itu aku ingin menunjukan ini pada kalian, bahwa kekacauan yang kalian sebut itu adalah bagaimana caraku bersenang-senang." Taemin mencoba bangkit namun tubuhnya terlalu sakit.

"Jangan dipaksakan adik kecilku! Beristirahatlah dengan tenang, karena sebentar lagi kematian akan menjemputmu, gunakan waktumu dengan baik dan berhenti mencampuri apapun. Apa kau lupa bahwa malaikat tidak boleh turut campur dalam urusan manusia secara individual?" Taemin tidak menjawab hanya memberikan tatapan penuh arti pada kakaknya.

"Jangan kau pikir mereka tidak akan tahu tentang keadaanmu, atau…ah! Sedikit bermain-bermain dengan anak-anakmu akan menyenangkan"

"Jangan sentuh mereka!" bentak Taemin.

"Woow, aku tidak pernah tahu kau sudah bisa membentak sekarang. Kemana adik manisku yang akan berlari kearahku ketika ia tidak bisa mempelajari apa yang diajarkan oleh para tetua?"

"Jangan lupa! Waktu berjalan, semua berubah, termasuk adik manismu, kakakku sayang." Ucap Taemin. Sosok itu kembali berdecak dan tersenyum.

"Kau benar! Waktu berjalan, semua berubah, termasuk takdir kalian. Aku akan membuat kalian semua merasakan hal yang sama sepertiku, terbuang dan terasingkan."

"Itu terjadi karena ulahmu, kau sendiri yang membuat dirimu dalam keadaan seperti itu, jika saja kau tidak serakah maka ini tidak akan terjadi."

"Oh benarkah? Tapi sayangnya aku tidak menyesali keadaanku sekarang. Aku suka bagaimana aku bisa bebas melakukan apapun." Sosok itu kembali terkekeh.

"Aku hanya minta padamu untuk tidak menyentuh anak-anakku." Ucap Taemin lembut, kembali pada dirinya yang tenang, sosok itu melirik keatas memasang wajah berpikir yang dibuat-buat.

"Bagaimana ya? Masalahnya anak-anakmu itu terlalu nakal, terutama si iblis Chanyeol. Dia perlu sedikit pelajaran dari pamannya."

"Tidak! Kau tidak bisa_"

"Aku bisa, aku bisa melakukan apapun, termasuk menghancurkannya. Dia memang kuat, aku mengakuinya, tapi dia punya sebuah kelemahan dan kelemahan itu ada di tanganku. Sedikit bermain-bermain dengannya tidak akan merugikanku, sekalian membuat waktu berkualitas antara keponakan dan paman." Sosok itu menatap Taemin yang menggeram kesal.

"Ah, aku harus pergi. Sepertinya utusanku telah membuat mereka jengkel." Sosok itu berbalik membuat sayap hitamnya yang salah satunya patah terlihat.

"Adikku sayang!" ucapnya kembali membalikkan tubuhnya.

"Selamat tidur untuk selamanya." Ucapnya dengan sebuah seringaian lalu menghilang.

Taemin terdiam menatap kepergian sosok itu. Entah mengapa ia merasakan sebuah perasaan sakit di dalam dirinya. Ia menutup matanya dan sebuah air mata mengalir lalu berubah menjadi butiran salju.

"Aku harap Tuhan mendengarku." Ucap Taemin pelan, seperti berbisik.

..

.

Kyungsoo mengernyit dalam tidurnya, keningnya berkerut sesekali dan terkadang ia tersenyum disela-sela kernyitannya. Wajahnya terlihat damai, berbaring diatas sebuah ranjang berwarna kuning menyala, dengan berbagai macam kelopak bunga tersebar disekitarnya.

Kyungsoo bermimpi, ia kembali bermimpi melihat dirinya yang tertidur dengan damai, namun ia tidak bisa membuka matanya, rasanya terlalu sulit dan berat. Ia menyukai berada di dalam sana, namun ia ingin segera kembali pada keluarganya.

Tapi tubuhnya hanya bisa terbaring, matanya hanya bisa terpejam seiring dengan deru nafas halusnya yang terdengar begitu menenangkan, ia tidak bisa merasakan apapun kecuali kehangatan.

..

.

"Lama tidak bertemu." Ucap Zitao yang berdiri beberapa meter di depan Chanyeol dan pasukannya.

"Kau mencoba menghinaku dengan datang seperti ini? Atau kau memang ingin menyerahkan diri sebelum bertarung?" ucap Chanyeol penuh kebencian.

"Coba tebak!" ucap sosok itu santai dengan sebuah seringaian.

"Aku tidak suka menebak! Bagaimana bila aku buat mulutmu sendiri yang bicara?" ucap Chanyeol hendak melemparkan kekuatannya.

"Tahan sebentar!" ucap Zitao.

"Aku tidak suka sesuatu yang to the point."

"Dan aku tidak suka sesuatu yang bertele-tele." Balas Chanyeol masih mencoba mengumpulan kekuatannya yang berpusat di tangannya.

"Untuk itu kita menjadi musuh, karena kita tidak memiliki prinsip yang sama. Ah sebelumnya aku ingin bertanya, bagaimana kabar kekasihmu? Hmm.. siapa namanya? Baekhyun?"

"Bangsat!" seru Chanyeol.

"Chanyeol, jangan terpancing!" ucap Luhan sedikit berbisik.

"Manusia yang kau hamili, kau buang, dan kau pungut lagi? Jika dia tahu_" ucapan Zitao terputus karena Chanyeol menyerangnya dengan kekuatannya, namun Zitao telah menghilang dan muncul di tempat yang berbeda.

"Jangan banyak bicara! Aku membawa pasukanku bukan untuk mendengar ocehanmu, Lucifer!"

"Lucifer? Hahahahaha…" sosok itu tertawa keras.

"Sungguh panggilan yang lucu, aku memiliki nama , tapi orang-orang memberiku sebuah sebutan yang terdengar seperti nama makanan." Chanyeol menggeram emosi, sosok di depannya mengoceh terlalu banyak.

"Jangan banyak bicara! Dan segera panggil pasukanmu!"

"Aku tidak membutuhkan mereka, karena_" ia menjeda ucapannya sambil melihat sekeliling dengan wajah menyebalkan.

"Mari berhitung sampai tiga!" lanjutnya.

"Apa maksudmu bedebah_"

"Satu." Ia mulai menghitung.

"Kau terlalu_"

"Dua." Ia tetap melanjutkan.

"Aaarrgghhh_ aku_"

"Tiga."

AAAAARRRGGHHHHHH
Terdengar teriakan yang begitu keras memekikan telinga, teriakan dari seluruh makhluk-makhluk yang menjadi sekutu Chanyeol. Seluruh makhluk disana dibuat bingung oleh suara-suara dari bangsa mereka.

"Chanyeol! Chanyeol kembali! Tarik pasukanmu, pasukan Lucifer menyerang diseluruh tempat." Itu suara Minho.

"Sial!" Chanyeol menggeram sambil menatap tajam sosok dihadapannya.

"Sampai jumpa!" ucap Zitao lalu segera menghilang dengan senyum mengejeknya.

"Kembali!" ucap Chanyeol memerintahkan seluruh pasukannya dan membuat seluruh makhluk yang sudah bersiap perang itu menghilang untuk kembali ke tempat asal mereka.

..

.

Sehun menutup pintu kamarnya sambil menghela nafas dan memegang perutnya yang terasa begitu kenyang, senyuman terpancar diwajahnya mengingat beberapa saat lalu ia bermain games bersama Baekhyun, ibu kandungnya.

Itu menyenangkan hingga ia merasa ia telah melewatkan waktu berlatihnya. Untuk itu ia segera bangkit, merubah wujudnya lalu menghilang.

Sehun muncul di dalam Infernus dan ia dikejutkan dengan keadaan istana megah itu yang terlihat kacau, beberapa makhluk terduduk dengan luka parah dan beberapa malaikat sedang mengobati.

Dengan cepat ia melangkah memasuki sebuah ruangan besar dan terkejut melihat begitu banyak makhluk-makhluk aneh yang terluka parah dengan para malaikat yang terlihat begitu sibuk, tidak hanya itu beberapa malaikat juga nampak terluka.

"Apa yang terjadi?" tanya Sehun ketika menghampiri keluarganya yang duduk di sudut ruangan dengan wajah tertunduk. Chanyeol melirik sebentar lalu kembali menatap lantai dengan penuh kekesalan.

"Sehun?"

"Apa yang terjadi?" tanya Sehun.

"Sehun, duduklah_"

"Sial! Apa yang terjadi, jelaskan padaku!" bentak Sehun. Chanyeol bangkit, mencengkram kerah jubah Sehun.

"Kembali ke dunia manusia, dan lindungi ibumu! Disini bukan tempatmu bocah!" Sehun menepis tangan Chanyeol keras.

"Sialan, apa-apaan ucapanmu hah? Kenapa harus aku? Lagipula aku ingin bergabung untuk berperang." Bentaknya, Chanyeol menggeram kesal dan menghilang. Luhan berjalan kearah Sehun dan menarik tangannya pelan.

"Ikut aku!" ucapnya lalu meninggalkan ruangan.

"Ayah, aku akan melihat keadaan Taemin." Ucap Minho lalu menghilang menyisakan Kakek Iblis seorang diri dengan wajah yang terlihat begitu serius.

..

.

Minho memasuki gerbang Nubes dan ia tercengang melihat keadaan Nubes yang sangat kacau, dengan cepat ia berlari menuju kamar istrinya.

"Sayang?" ucapnya ketika membuka pintu kamar istrinya. Beberapa malaikat mengelilingi ranjang sang istri yang terbaring diatas ranjang.

"Sayang?" Panggil Minho kencang dan berlari kearah istrinya, Taemin tersenyum menyambut kedatangan suaminya dan memberinya sebuah pelukan.

Malaikat yang lain segera undur diri untuk memperbaiki kerusakan yang dibuat oleh pasukan Lucifer yang entah mengapa bisa masuk ke dalam Nubes secara mengendap-endap.

"Bagaimana mereka bisa masuk kemari?" tanya Minho.

"Mereka juga malaikat." Ucap Taemin.

"Apa Lucifer yang melakukannya?" Taemin menggeleng.

"Tidak, ini ulah kaki tangannya."

"Bukankah mereka adalah makhluk kegelapan? Mereka tidak bisa datang kemari."

"Jangan lupa Minho, Lucifer punya dua kaki tangan yang setia." Minho tercekat, ia nyaris melupakan itu, bahwa Lucifer dan dua kaki tangan setianya bisa masuk ke dalam Nubes tanpa harus melenyapkan kekuatan mereka, karena mereka masih memiliki darah malaikat di dalam diri mereka.

"Minho, bawa aku ke Infernus, ada hal yang harus aku katakan pada mereka." Ucap Taemin dan Minho mengangguk .

"Apa kau cukup kuat?"

"Tentu, aku selalu kuat , ini karenamu." Ucapnya dan Minho memberikan istrinya sebuah kecupan lembut di bibirnya.

..

.

Pertemuan diadakan secara mendadak, para makhluk yang tidak terluka diwajibkan untuk datang sebagai perwakilan dari bangsa mereka.

Keadaan ruangan begitu berisik karena para makhluk mulai berkomentar tentang bagaimana Lucifer begitu kuat saat ini dan kemustahilan besar untuk melenyapkannya. Untuk itu Taemin bangkit, meminta seluruh hadirin untuk tenang.

"Aku tahu Lucifer telah membuat pasukannya bertambah semakin kuat, dan aku akui bahwa kita cukup tertinggal. Mereka memang kuat, ditambah mereka selalu mengambil jalan licik. Hari ini Nubes diserang dan ini merupakan sesuatu yang sungguh melewati batas." Seluruh mata hadirin membulat, termasuk Chanyeol, Luhan dan Sehun yang belum mengetahui hal tersebut.

"Kita memang tidak kalah jauh dari mereka, karena kita telah bersatu sekarang. Tapi ini masih belum cukup untuk mengalahkan kelicikan mereka. Kita harus meminta tolong pada dua makhluk lagi yang memiliki kekuatan besar." Ucap Taemin membuat seluruh ruangan bertanya-tanya tentang siapa makhluk-makhluk yang dimaksud.

"Kita membutuhkan Pangeran matahari dan Putri Salju." Kening mereka berkerut pertanda bahwa hal tersebut kurang masuk diakal.

"Tapi bukankah mereka telah menghilang selama ribuan tahun lamanya, mereka tidak pernah muncul lagi, terlebih putri salju setelah saudarinya berkhianat." Ucap salah satu makhluk.

"Aku tahu, tapi aku akan mencoba mencaritahu tentang mereka. Matahari dan Salju adalah salah satu elemen terkuat dimuka bumi. Dan bila kita semua bersatu, aku rasa cukup untuk melawan mereka."

"Tapi bagaimana cara memberitahu mereka. Kau tahu sendiri bahwa mereka tidak pernah terlibat dalam apapun yang terjadi di dunia ini selama ini." Ucap Raja Malaikat.

"Aku tahu ayah, tapi aku rasa mereka tidak akan berpura-pura tidur ketika dunia dalam keadaan bahaya. Aku percaya mereka akan muncul, hanya kita tunggu saja, sementara itu akan mencoba mencaritahu keberadaan mereka. Kita membutuhkan Pangeran matahari, dia harus menghidupkan delapan matahari yang lain dan kita butuh putri salju untuk membangunkan seluruh Taxon yang tertidur." Taemin menatap kearah ayahnya dengan tatapan percaya diri lalu beralih menatap seluruh anggota keluarganya yang lain untuk percaya padanya.

..

.

Sehun dan Luhan berada di rumah sakit, di dalam kamar rawat Soojung yang kini sedang tertidur. Ketika rapat usai, Luhan mengajak Sehun untuk menjenguk gadis malang itu.

"Luhan, aku tidak mengerti dengan Pangeran matahari dan Putri salju itu. Apa kehebatan mereka?" tanya Sehun. Luhan melirik kearah Sehun dan mencoba mengingat kisah yang ibunya pernah ceritakan.

Dulu sekali ketika dunia pertama kali diciptakan, matahari telah ada sebagai benda langit pertama . Tapi matahari tidak hanya ada satu seperti sekarang, dulu sekali matahari berjumlah Sembilan.

Tuhan mempercayakan tugas untuk menjaga kesembilan benda itu pada seorang makhluk langit yang sangat dipercaya. Lelaki itu menerima tugas mulianya dan benar-benar menjalankannya.

Sebuah kerajaan dibangun , Kerajaan yang dibentuk di dalam inti matahari, namun bukan berarti bahwa tempat itu adalah tempat yang sangat panas. Tidak, Kerajaan Matahari adalah sebuah Kerajaan yang sangat penuh dengan kehangatan.

Lelaki itu di panggil Pangeran Matahari, ia tidak ingin disebut sebagai Raja karena baginya, Sang Raja yang pantas hanya Tuhan sementara ia hanya seorang anak yang ditugaskan untuk menjaga.

Pangeran Matahari hidup jutaan tahun seorang diri, ia selalu bertanya mengapa Tuhan tidak menciptakan hal lainnya, setidaknya ia tidak akan merasa kesepian. Dunia begitu kosong, dan ia membuatnya terasa hampa.

Ia pikir itu semua karena cahaya matahari yang terlalu terang dan panas sehingga tidak ada satupun yang bisa hidup. Untuk itu ia mematikan satu per satu mataharinya, hingga hanya menyisakan satu matahari yang bersinar dengan terang.

Setelah itu, ia masih merasakan sebuah kehampaan, untuknya ia meminta Tuhan menciptakan benda lain yang bisa menemaninya di atas sana. Sebuah benda bulat tercipta, seorang penjaga pun diciptakan.

Putri bulan adalah sebutan untuk dua orang wanita cantik yang diutus untuk menjaga benda tersebut. Untuk mendapatkan sebuah keseimbangan, Tuhan membagi waktu mereka. Pagi hingga siang adalah milik Pangeran matahari, sementara malam adalah milik Putri bulan.

Merasa masih kesepian, sang Pangeran matahari meminta Tuhan untuk membuat mereka bertemu. Untuk itu sebuah pertemuan diciptakan, ketika malam menuju fajar, sore menuju petang maka mereka dipertemukan.

Tidak ada kisah cinta yang tercipta, hanya sebuah persahabatan kuat yang membuat mereka bertiga menjadi begitu saling membutuhkan satu sama lain.

Hingga setelahnya makhluk-makhluk lain mulai diciptakan. Dunia mulai terisi, dunia mulai terasa indah.

Namun seiring berjalannya waktu, sifat mereka berubah. Iblis dan malaikat mulai membenci satu sama lain dan peperangan terjadi. Hal itu membuat Pangeran matahari dan Putri bulan merasa begitu sedih, namun tidak ada yang bisa mereka lakukan selain tetap menjaga keseimbangan dunia.

Hingga sebuah malapetaka terjadi. Seorang malaikat tinggi termakan oleh keserakahannya, dan sebuah hukuman diberikan padanya.

Namun tidak berhenti disitu, perlahan semua menjadi semakin buruk. Sosok malaikat pengkhianat yang diberi sebutan Lucifer itu setiap harinya semakin kuat dengan menggunakan kekutannya untuk mempengaruhi dan meracuni pikiran setiap makhluk yang ia incar.

Dan sebuah kemalangan menimpa salah satu putri bulan. Salah satu dari mereka berkhianat karena tertarik oleh ketampanan sosok Lucifer yang memberikan sebuah janji palsu.

Hal itu membuat Pangeran Matahari dan Putri bulan yang lain menjadi kecewa, sedih dan merasa hancur. Mereka hidup bertiga sebagai saudara selama ini dan ketika salah satunya berkhianat mereka merasa bahwa hidup mereka tidak berguna lagi.

Untuk itu mereka bersama-sama menghilang. Seolah ditelan dimensi lain. Terakhir yang terdengar putri bulan tinggal dipuncak gunung Himalaya dan menyebut dirinya sebagai putri salju, sementara Pangeran Matahari , tidak ada yang tahu mengenai keberadaannya hingga ribuan tahun silam.

….

Sehun menatap Luhan tidak percaya, ia seperti baru saja mendengar sebuah dongeng pengantar tidur anak-anak, namun melihat betapa seriusnya wajah Luhan ketika bercerita ia tahu bahwa lelaki cantik itu tidak sedang membual.

"Jika mereka benar-benar menghilang, lalu bagaimana cara meminta mereka kembali?"

"Hanya percaya pada ucapan ibu, bahwa mereka tidak sedang tertidur."

..

.

Baekhyun terlelap sejak beberapa jam yang lalu. Ketika ia membalik tubuhnya, ia mengernyit. Seingatnya ia tidur seorang diri di dalam kamarnya, dan kini ia merasakan sosok lain disampingnya.

Perlahan matanya terbuka, berusaha menyesuaikan pemandannya dan ia terkejut mendapati kekasihnya berbaring disampingnya sambil menatap kearahnya.

"Chanyeol?" ucapnya dengan suara yang parau. Chanyeol tersenyum.

"Terbangun?"

"Hm. Bagaimana kau bisa_" Baekhyun sengaja memberi jeda pada ucapannya dengan dahi mengernyit.

"Kau lupa aku memiliki kekuatan istimewa?" dan ia akhirnya mengangguk cepat, ia sepertinya belum sadar sepenuhnya.

"Aku merindukanmu." Ucap Baekhyun dengan nada manja dan memeluk tubuh Chanyeol, menyembunyikan wajahnya di balik dada kekasihnya.

"Aku pun Baek." Ucap Chanyeol dan mengelus rambut belakang Baekhyun.

"Tidurlah kembali! Aku hanya ingin melihatmu tidak berniat menganggumu." Ucap Chanyeol. Baekhyun mengangguk dan menyesuaikan posisi tidurnya.

"Chanyeol?"

"Hm?"

"Aku mencintaimu."

"Aku juga mencintaimu Baek." Chanyeol terkekeh pelan. Ia mengecup puncak kepala Baekhyun sambil mengelus punggung sempit itu perlahan. Ia merasa begitu nyaman ketika bisa memeluk tubuh kekasihnya, sejak beberapa hari yang lalu pikirannya kalut dan satu-satunya obat penenangnya hanyalah Baekhyun seorang.

"Chanyeol?"
"Hm?"

"Kau yakin hanya ingin berbaring saja?" tanya Baekhyun masih menyembunyikan wajahnya.

"Tentu, lalu apa?" tanya Chanyeol. Baekhyun mendorong tubuhnya pelan dan menatap Chanyeol dengan pipi sedikit memerah.

"Hm, aku pikir kau ingin_" Chanyeol mengecup bibir Baekhyun.

"Tidak! Tidurlah! Aku akan menemanimu malam ini." Ucap Chanyeol. Baekhyun mengangguk lalu memegang pipi Chanyeol dan mengecup bibir yang lebih tinggi, dan perlahan dengan sedikit menuntut menekan memainkan bibir yang lebih tinggi membuat Chanyeol sedikit terkejut namun memilih menuruti permintaan tidak biasa kekasih mungilnya.

Dan perang lidah itu pun tidak terelakan, Chanyeol menyalurkan seluruh perasaannya begitu pula dengan Baekhyun, seolah ciuman itu adalah ciuman terakhir mereka.

..

.

Hari demi hari berlalu. Chanyeol disibukkan dengan strategi baru yang akan ia gunakan untuk menghancurkan Lucifer. Sementara Taemin dibantu oleh makhluk lainnya mencoba mencari informasi mengenai Pangeran Matahari dan Putri Salju.

Chanyeol sangat jarang menemui Baekhyun, sekalipun ia mencoba mencuri waktu untuk menemui kekasihnya ia hanya akan melihat dari balik jendela tidak ingin membuat kekasihnya bersedih karena tidak bisa bersama dengannya dalam waktu lama, selebihnya ia meminta Sehun untuk menjaga Baekhyun.

Untuk Baekhyun sendiri, ia mulai terbiasa dengan kepergian Chanyeol meskipun sesekali ia akan menangis di dalam kamarnya seorang diri, bukan karena merasa dibuang –ia telah meyakini dirinya bahwa Chanyeol sangat mencintainya, kepergiaannya hanya karena ia memiliki urusan yang lebih penting- tapi karena ia ia merindukan sosok tinggi itu.

Namun kesehatan Baekhyun sedikit terganggu, terkadang ia merasa sangat kelelahan seolah tenanganya diserap dan terkadang ia merasa emosinya sulit terkontrol.

Ketika ia merasa tidak baik seperti itu ia bersyukur bahwa ia masih memiliki ibunya, Sehun dan juga Yifan yang begitu menjaganya.

Hubungannya dengan Yifan memang tidak seperti dulu, namun interaksi mereka masih tetap sama hanya terkadang Baekhyun sedikit menjaga jarak jika merasa Yifan terlalu peduli berlebihan terhadapnya.

Mereka tidak khawatir dengan sosok penganggu Zitao lagi, karena beberapa hari setelah kepergiaan Chanyeol sosok itu telah pindah keluar negeri.

Tidak ada yang tahu dengan jelas, tapi para guru mengatakan seperti itu, Baekhyun pun tahu berita itu dari Jessica saem yang mengatakan padanya dan Yifan untuk tidak usah terlalu khawatir lagi.

Untuk beberapa waktu semua nampak berjalan seperti biasa, namun semua tentu tidak akan berjalan sama . Disana, Lucifer memiliki banyak cara untuk menjatuhkan para makhluk itu, untuk membalaskan rasa sakit hati yang ia terima karena dibuang.

Dan itu, tidak akan lama lagi…

..

.

Hari ini tepat selama dua minggu penuh Chanyeol tidak melihat Baekhyun. Ia benar-benar ditenggelamkan oleh berbagai pemikiran dan ulah yang dibuat Lucifer. Para makhluk langit dan kegelapan telah sepakat bahwa mereka akan melakukan perang lagi dan kali ini seluruh makhluk yang tidak berperang akan diamankan, begitu pula di Nubes , tempat itu akan diperketat penjagaannya.

Chanyeol dan Luhan duduk di depan meja kerja ayahnya dengan saling berhadapan. Luhan menjabarkan seluruh rencana yang ia buat, sementara Chanyeol mendengarkan dan menyempurnakannya.

"Kita benar-benar akan menghancurkannya kali ini." Ucap Chanyeol sambil tersenyum penuh kelegaan.

..

.

Baekhyun melempar tubuhnya diatas ranjang. Ia merasa amat sangat lelah setelah kelas tambahan yang membuatnya pulang begitu larut.

Ketika mendengar suara petir ia menoleh kejendela dan melihat bahwa langit diluar sana sangat gelap. Ia bangkit dan berjalan kearah jendela.

"Sepertinya akan hujan." Gumamnya pelan sambil menutupnya perlahan. Ketika ia berbalik , sebuah tangan menahannya. Baekhyun menoleh dan tersenyum melihat Chanyeol terduduk dibingkai jendela dengan seragam sekolahnya.

"Chanyeol?" Baekhyun berhambur kearah Chanyeol dan memeluk tubuh itu erat.

"Aku merindukanmu." Ucap Baekhyun menahan tangis dan rasa rindunya. Chanyeol tersenyum, ia mendorong tubuh Baekhyun pelan dan mengelus pundak yang lebih kecil.

"Aku juga merindukanmu sayang." Ucap Chanyeol dan turun dari bingkai jendela. Ia mendorong pelan tubuh Baekhyun , hingga tersudut ke meja belajarnya.

"Aku…" Chanyeol mendekatkan bibirnya ketelinga Baekhyun.

"merindukanmu cantik." Baekhyun membulatkan matanya ketika Chanyeol menggigit telinganya sebelum akhirnya menyerang lehernya.

"Chanyeollhhh." Baekhyun mendesah ketika merasakan hisapan-hisapan Chanyeol di lehernya.

"Mendesah lebih keras Baekhyun!" ucap Chanyeol sambil menggerakan tangannya untuk membuka kancing seragam Baekhyun, Baekhyun tidak memberikan perlawanan ia hanya meletakkan tangannya di sisi meja untuk menahan tubuhnya.

"Chan..aaahhh.." Baekhyun mendesah keras ketika Chanyeol menggigit lehernya kuat.

"Aku menyukai suara seksimu." Bisik Chanyeol lagi lalu menjilat dada Baekhyun dan menghisap putingnya dengan rakus secara bergantian.

"Chanyeolllhh.. kenapaahh, tiba-tibahh?" tanya Baekhyun susah payah ketika Chanyeol terus menghisap kedua puting mencuatnya.

"Aku merindukanmu, Baekhyun…" ucap Chanyeol sambil terus mempermainkan yang lebih kecil.

Baekhyun menutup matanya membiarkan Chanyeol menjilati seluruh permukaan kulitnya,baju seragamnya masih menggantung ditubuhnya namun sedikit diturunkan agar kekasihnya bisa menjilat kedua pundaknya dan memberikan tanda disana.

Baekhyun tidak mengerti mengapa Chanyeol terlihat begitu bernafsu sekarang, namun ia memilih mengikutinya karena bagaimana pun Baekhyun juga merindukan sentuhan kekasihnya.

Tubuh Baekhyun ditekan kebawah, membuatnya bersimpuh di depan yang lebih tinggi. Baekhyun sedikit terkejut ketika dihadapkan oleh penis mencuat Chanyeol yang telah keluar dari balik celananya.

"Hisap Baekhyun! Hisap!" Baekhyun dengan ragu meraih penis itu dan memegangnya. Chanyeol menekan kepala Baekhyun membuat yang lebih kecil sedikit tersedak.

"Chanyeol, aku tidak_hmmpptt.." Baekhyun tidak diberi kesempatan untuk bicara ketika penis itu telah masuk ke dalam mulutnya. Baekhyun mencoba mendorong, karena ia merasa tidak nyaman, batang itu masuk dengan begitu kasar.

"Aaargghh.." Chanyeol menggeram, ia menarik tubuh Baekhyun keatas lalu mendorongnya keatas ranjang dengan cukup keras.

"Chanyeol?" tanya Baekhyun heran melihat tingkah kekasihnya. Baekhyun merasakan trauma itu sedikit kembali, bagaimana Chanyeol pernah menyetubuhinya dengan kasar, namun ia mengingat bagaimana kekasihnya itu berjanji tidak akan pernah melakukannya lagi.

"Chanyeol ada apa denganmu?" tanya Baekhyun bingung sambil mencoba bangkit. Chanyeol tidak menjawab dan segera menindih tubuh Baekhyun.

"Aku ingin menyetubuhimu , aku sangat menginginkan itu sekarang cantik." Baekhyun mengernyit mendengar panggilan Chanyeol untuknya. Tapi ia tidak bisa berbuat banyak ketika celana seragam dan celana dalamnya ditarik cukup kuat membuatnya telanjang bulat.

"Kau ingin sedikit bermain, atau langsung ke intinya?"

"Chanyeol? Kenapa denganmu? Apa terjadi sesuatu aaakkhh!" Baekhyun menutup matanya ketika penisnya dikocok kuat oleh tangan besar Chanyeol, sementara mata Chanyeol menatap penuh nafsu kearahnya.

"Chanyeol..aaahh…ahh.. hentikan..aahh." Baekhyun mencoba mendorong tangan Chanyeol menjauh dari penisnya, namun Chanyeol menarik kedua tangan Baekhyun dan menguncinya diatas tubuhnya.

"Nikmati permainan ini cantik, aku yakin kau akan menyukainya."

"Chanyeol..aahh.." Baekhyun kembali merasakan sebuah sengatan yang luar biasa ketika kedua kakinya diangkat dan pipi pantatnya dibuka dengan sangat lebar, lalu sebuah lidah melesak ke dalam lubangnya.

"Chanyeol…hhmm..aahh..Chan..aahh.." Baekhyun tidak bisa mengatur desahan-desahan yang keluar dari bibirnya.

"Chanyeol…akuuhh…" Baekhyun merasa frustasi dengan permainan tangan Chanyeol di penisnya dan permainan lidah Chanyeol di lubangnya.

"BEDEBAH!" teriakan itu membuat kegiatan Chanyeol terhenti, sebuah seringaian terlihat diwajahnya dan ia menoleh pelan, untuk menemukan sosok serupa dirinya dengan wujud setengah iblisnya.

"Chan..Chanyeol?" Baekhyun membulatkan matanya dan segera mundur sambil menutupi dirinya dengan selimut. Tubuhnya bergetar melihat dua orang di depannya yang saling menatap. Yang berdiri memunggunginya adalah Chanyeol yang berseragam, kekasihnya namun satu sosok yang berdiri di dekat jendela adalah sosok monster yang pernah menghamilinya, dan Baekhyun baru menyadari sesuatu jika wajah keduanya terlihat mirip.

"Heuh! apa yang seorang monster lakukan di sini? Kau ingin menyetubuhi Baekhyun lagi lalu meninggalkannya dalam keadaan hamil?" ucap yang berseragam.

"BANGSAT!" Ucap sosok Chanyeol setengah iblis yang kini mencekik sosok serupa dirinya dengan kuat dan mendorongnya hingga menabrak dinding. Sayap Chanyeol terbuka lebar, tubuhnya membara, tanduk , taring dan ekornya semakin bertambah panjang.

Baekhyun membeku di tempat, tubuhnya bergetar hebat. Melihat bagaimana kedua sosok itu saling ingin membunuh. Dan yang membuatnya ketakutan adalah sosok monster yang kini berada di dalam kamarnya.

Sosok berseragam itu menyeringai, lalu mendorong tubuh di depannya hingga terpental jauh dan menabrak dinding.

Sosok Chanyeol berseragam menyeringai.

"Wow lihat, seorang iblis menampakan wujud aslinya!

"Diam kau bajingan! Tunjukan siapa dirimu sebenarnya!" bentak Chanyeol berusaha bangkit.

Sosok Chanyeol berseragam berjalan mendekat, lalu berdiri beberapa meter di depan Chanyeol dan perlahan wujudnya berubah menjadi seseorang siswa berkaca mata.

"Kau?/Yi-Yifan?"

"Oh hai? Suka dengan kejutan kecilku?" ucap Yifan sambil berjalan dengan sebuah seringaian di wajahnya. Chanyeol menggeram, api ditubuhnya membara semakin kencang.

"BAJINGAN! MATI KAU!" Ketika Chanyeol berteleportasi untuk mencekik sosok Yifan , sosok itu telah menghilang lalu muncul di bingkai jendela.

"Aku akan membunuhmu dan Lucifer sialan itu!" ucap Chanyeol penuh amarah. Yifan memasang wajah terkejut yang dibuat-buat, lalu memilih duduk diatas bingkai jendela dengan menggerak-gerakan kakinya seperti anak kecil.

"Lucifer? Apa dia membuatmu takut? Apa dia menjadi mimpi buruk untukmu?" tanya Yifan memasang wajah lugunya.

"Ah, Chanyeol si calon Raja Iblis…" Yifan menyeringai sambil melirik kearah Baekhyun yang nampak terkejut, begitu pula Chanyeol yang melirik takut kearah kekasihnya.

"Tutup mulutmu!"

"Jika aku tidak mau?"

"Aku yang akan membuatnya_"

SLASH

Kembali sosok Yifan menghilang dan kini muncul disamping tubuh Baekhyun, berbaring diatas ranjang dengan satu tangan sebagai tumpuan. Yifan membelai wajah ketakutan Baekhyun dengan perlahan dan mencengkram pipi putih itu.

"Jangan sentuh dia brengsek! Jangan coba-coba menyentuhnya!" ancam Chanyeol dengan penuh kebencian.

"Ow, sedikit mengingatkanku bahwa aku nyaris menidurinya tadi. Tubuh kekasihmu ini sangat manis, aku bahkan masih bisa merasakan betapa nikmatnya menjilati seluruh permukaan kulit lembut ini."

"BANGSAT!" Api Chanyeol membara semakin besar hingga tubuhnya dan wajahnya tidak terlihat, perlahan api itu berubah menjadi warna merah sangat pekat diselingi gradasi biru dan hijau, lalu dibaliknya muncul wujud yang jauh mengerikan.

Chanyeol tidak lagi terlihat seperti Chanyeol setengah iblis, wajahnya terbakar api hingga tidak terlihat seperti manusia, bola matanya transparan berwarna hitam seperti sebuah lubang besar yang menganga, tubuhnya bertambah semakin besar dua kali lipat, kukunya semakin panjang, ekornya membara dan ujungnya semakin lancip.

"AAARRGGGGHH…" Geraman Chanyeol menggema sangat keras membuat suara-suara binatang malam terdengar menjerit ketakutan.

"Inikah wujud aslimu? Wujud iblismu yang sepenuhnya?" ucap Yifan. Baekhyun merasa semakin ketakutan, tubuhnya terus bergetar sambil menatap kosong pada sosok di hadapannya.

Chanyeol dengan wujud iblis penuhnya tidak menjawab, ia menghilang lalu muncul disamping Yifan dan dalam sekali kedipan mencekik sosok itu dan membawanya menghilang bersama meninggalkan Baekhyun yang menutup matanya ketakutan.

Mereka muncul disebuah tanah lapang di dimensi lain, Yifan menatap Chanyeol nyalang dan mengernyit ketika cekikannya semakin erat.

"Kau akan mati ditanganku." Suara Chanyeol terdengar sangat mengerikan, menggema dan begitu keras.

SLASH

Sosok Yifan berubah. Ia tidak lagi berwujud siswa berkaca mata, namun kini sebagai wujud aslinya. Rambutnya berwarna keemasan, wajahnya terlihat begitu bersih dan tampan, sayap hitamnya mengembang dibelakangnya dan salah satunya terlihat cacat, matanya sekejap berwarna biru langit namun setelahnya berubah menjadi hitam kelam dengan garis kuning.

"Suka dengan kejutan lainmu?"

"Kau?"

"Biar aku memperkenalkan diri, akulah Lucifer yang sebenarnya!"

KREK

Cekikan Chanyeol semakin keras, Yifan mendorong tubuh Chanyeol membuatnya mundur beberapa langkah.

Chanyeol menyeringai, ia mengepakan sayapnya lalu terbang tinggi untuk kemudian meluncur turun tepat diatas kepala Lucifer.

..

,

"Namanya adalah Kris." Ucap Taemin sambil menatap dua sosok laki-laki di depannya. Ketika sedang bercerita tentang Pangeran Matahari dan Putri Salju, Taemin mendadak muncul dan merasa tertarik untuk bergabung, hingga pada saat dimana Sehun bertanya tentang Lucifer.

"Orang itu, orang yang pernah aku hormati, pernah aku kagumi, pernah aku puja adalah sosok yang kini berusaha menghancurkan dunia dan keluargaku." Ucap Taemin sedikit tertunduk. Sehun melirik Luhan yang nampak iba melihat ibunya, lalu arah mata mereka teralih pada pergerakan gadis diatas ranjang rumah sakit.

"Soojung?" ucap Luhan lalu mendekat menghampiri gadis kecil itu.

..

.

Seorang wanita cantik dengan gaun coklatnya berjalan di tengah malam dengan tas selempang kecilnya. Ia adalah Jessica.

Jessica menghentikan langkahnya lalu mendongak menatap langit gelap yang terlihat bergemuruh, bahkan ketika hujan telah usai suara petir itu masih menyambar.

Sebuah seringian tipis keluar dari bibir tipisnya.

"Sekarang waktunya." Ucapnya pelan hampir seperti berbisik.

..

.

Baekhyun memeluk tubuhnya yang telanjang dan gemetar. Ia menangis, hatinya seperti dihujam ribuan jarum tak kasat mata namun begitu tajam.

Semua seperti mimpi, semua terasa abstrak di pikirannya. Seseorang yang ia cintai, seseorang yang ia anggap sebagai belahan jiwanya, sosok yang mencoba merangkai ulang dirinya yang sudah hancur berkeping-keping adalah sosok sama yang membuatnya hancur, yang membuangnya dan membuat dirinya begitu hina.

Ia ingin segera bangun jika saat ini ia sedang bermimpi buruk, ia semakin mengeratkan pelukannya. Menangis semakin dalam atas semua ketidak adilan yang ia terima.

Ia merasa Tuhan benar-benar membencinya, ia merasa dirinya seperti sebuah kutukan. Sosok Chanyeol yang ia percaya adalah sosok monster yang menyetubuhinya tanpa belas kasian , menghamilinya dan meninggalkannya dalam sebuah kesengsaraan.

"Baek-Baekhyun." Tubuh Baekhyun menegang, tubuhnya bergetar ketika panggilan itu menyapa pendengarannya. Ia mengangkat wajahnya dan melihat wujud setengah iblis Chanyeol berada di hadapannya.

Sosok berjubah hitam, berambut hijau kelam berdiri di hadapannya dengan sedikit berantakan, beberapa darah mengering di sudut bibirnya. Yang paling membuat Baekhyun tidak bisa lupa adalah mata itu, mata biru laut yang selalu datang di dalam mimpinya, mata yang selalu muncul di dalam kegelapan.

Sosok itu adalah sosok yang sama , sosok yang menjadi mimpi buruk untuk Baekhyun selama bertahun-tahun lamanya.

"Baek-Baekhyun!" Bola mata Baekhyun membulat, ia memundurkan tubuhnya takut namun ia tidak bisa bergerak keman-mana lagi.

Chanyeol mendekat dengan tatapan terlukanya, melihat bagaimana kekasihnya menatapnya dengan penuh ketakutan.

"Kau…PERGI!" teriak Baekhyun sambil melempar apapun disekitarnya dan benda-benda itu hanya menembus tubuh Chanyeol.

"Baek, maafkan aku!"

"PERGI!" teriak Baekhyun lagi dengan wajah takut dan penuh kebencian.

"Sayang. Maafkan aku!" Chanyeol bersimpuh dengan wajah tertunduk, ia menangis, menutup matanya rapat dan terisak. Mengesampingkan harga dirinya dan membiarkan perasaan sedih menguasai dirinya.

"Maafkan aku!" ucap Chanyeol tapi Baekhyun masih menangis dan mencoba mengusir Chanyeol.

"Kau bajingan! Pergi! Kau brengsek pergi! Pergi kau monster!" bentak Baekhyun lagi sambil masih menangis. Chanyeol mengangkat wajahnya dan menatap penuh harap kearah kekasihnya yang kini terlihat begitu depresi.

..

.

Soojung membuka matanya lalu tersenyum pelan membuat Luhan ikut tersenyum. Matanya bergulir dan menemukan sosok Taemin disana, ia mengernyit.

"Ini ibuku Soojung." Ucap Luhan dan Soojung tersenyum.

Ketika akan mengulurkan tangannya angin berhembus dan membuat jendela kamar terbuka, lalu muncul sosok hitam di samping Soojung, itu adalah Zitao.

"Kau!" ucap Luhan kesal.

"Oh, hai semua. Aku membutuhkan gadis ini." Ucap Zitao sambil memegang pundak Soojung, membuat gadis itu menoleh ketakutan lalu keduanya menghilang.

"Soojung!" teriak Luhan dan Sehun bersamaan. Sehun seketika berubah wujud lalu menghilang. Luhan melirik Taemin, keduanya mengangguk lalu ikut menghilang.

..

.

Chanyeol masih bersimpuh dan ketika melihat Baekhyun bertingkah seperti seorang yang gila membuat mata Chanyeol bergulir pada perut putih itu.

"Baekhyun hentikan! Aku mohon!"

"PERGI!" Bentak Baekhyun sambil menutup mata dan kedua telinganya sambil berteriak.

Pintu kamar terbuka menampilkan Kibum dengan pakaian tidurnya yang terkejut melihat putra sulungnya menjerit seperti orang gila dengan tubuh telanjang diatas ranjangnya.

Kibum memeluk tubuh bergetar itu dengan erat dengan sejuta kekhawatiran menyelimuti pikirannya, ketika melihat noda-noda kemerahan disepanjang tubuh Baekhyun. Ia menoleh kesekitar kamar Baekhyun dan semua terlihat rapi seperti tidak ada yang terjadi selain sebuah jendela yang terbuka dan pintu jendelanya bergerak-gerak tertiup angin.

"Baekhyun? Apa yang terjadi?" tanya Kibum cemas namun putranya hanya menangis dan memeluk dirinya semakin erat.

Chanyeol melayang di luar jendela sambil menatap iba pada kekasihnya yang terlihat begitu hancur. Pikirannya kembali melayang pada beberapa waktu lalu ketika ia dan Lucifer bertarung dengan sengit.

Flashback

Chanyeol menyerang Yifan dengan kekuatannya, tidak peduli jika ia merasa begitu kelelahan karena sosok itu begitu licik menghilang ditengah-tengah pertarungan mereka.

Kemarahan Chanyeol memuncak, ia menutup matanya lalu mencoba fokus pada suara Yifan yang menggema disekitarnya. Lalu dalam hitungan detik ia menghilang dan setelahnya muncul dengan leher Yifan berada di dalam cekikan mematikanya.

Kuku tajamnya menembus kedalam kulit Yifan membuat darah segar keluar dan membasahi pundak yang lain.

"EEKKHH." Yifan merasa tercekik tidak tahu jika kekuatan Chanyeol bisa sebesar itu. Namun ia memilih tetap menyeringai, ia tahu dirinya akan kalah jika ia terus melawan,untuk itu ia menggunakan cara lain.

Ia menyeringai membuat Chanyeol semakin membencinya dan menekan kukunya semakin dalam.

"Aku bisa saja membunuhmu se-sekarang." Ucap YIfan sedikit sulit karena cekikan kuat Chanyeol, Chanyeol tidak menjawab hanya mencekik semakin kuat.

"Tapi, a-aku sedikit memikirkan tentang keluargamu!"

"Jangan banyak bicara , kau hanya membuang-buang nafasmu."

"Bagaimana bila aku memberitahumu ten-tentang ini?" Ucap Yifan lagi, dan Chanyeol mencekik semakin keras.

"Ketika a-aku menyentuh kekasihmu ta-tadi, a-aku merasakan se-sesuatu hi-hidup."

"TUTUP MULUTMU!"

"A-ada sebuah kehidupan disana.." Yifan menyeringai ketika melihat keterkejutan Chanyeol.

"Baekhyun hamil , dan aku merasa kekuatan itu begitu be-besar. Ja-janin itu ma-marah ka-karena ka-kalian mencoba membunuhnya, tapis sa-sayangnya di-dia uhuk bertahan." Yifan semakin merasa puas ketika kekuatan Chanyeol melemah.

"Di-dia membahayakan Baekhyun, dia bisa membunuh kekasihmu itu."

"AAARRGGGHHH!" Chanyeol mencengkram keras lalu melempar tubuh itu dengan kasar hingga Yifan menubruk sebuah pohon besar .

Yifan bangkit sambil merenggkan otot lehernya, lalu menyeringai.

"Oh sungguh miris, kau tidak punya pilihan lain selain membunuhnya padahal jika Baekhyun menerimamu kau bisa berada disampingnya untuk menetralisir kekuatan janin itu. Sayangnya, Baekhyun tidak akans sudi melihatmu. Bagaimana? Apa dibuang menyenangkan?" ucap Yifan menyeringai puas, ia mengepakan sayapnya dan terbang keangkasa dengan cepat meninggalkan Chanyeol yang bersimpuh diatas tanah dengan perasaan frustasi.

Flashback end

Chanyeol menatap ke dalam kamar Baekhyun, melihat bagaimana kekasihnya terbatuk dan mencoba berbaring dengan Kibum yang berada disampingnya sambil mengelus punggungnya.

Mata Chanyeol bergulir menatap bagian perut Baekhyun di balik selimutnya, lalu sebuah perasaan sedih melingkupi hatinya.

"Aku akan menyelamatkan kalian, aku tidak akan membiarkan salah satu dari kalian mati." Gumam Chanyeol pelan lalu menghilang.

Baekhyun membuka matanya bersamaan dengan pintu kamarnya yang tertutup dari luar. Air matanya terjatuh, lalu mengusapnya pelan. Matanya berlarih kearah jendela, lalu tanpa sadar tangannya mengelus perutnya yang seperti berdenyut.

"Aku harap ini semua hanya sebuah mimpi." Ucapnya lalu segera menutup mata basahnya perlahan.

..

.

TBC

..

.

Nah! Siapa yang tebakannya bener mengenai Lucifer silahkan angkat tangan kalian! Wkwkwkw.. tapi masih banyak misteri yang belum terpecahkan.

Akhirnya sampai juga di bagian dimana Baekhyun tahu siapa Chanyeol sebenarnya, jadi sekarang siapa yang lebih tersakiti disini?

Yah, setiap orang punya opininya masing-masing. Setidaknya udah sampai puncaknya kan? Eh apa belum ya? Wwkwkw yah liat nanti ya. Kekekeke.

Dan aku mau ngucapin banyak-banyak terima kasih, berkat masukan-masukan dan semangat dari kalian aku yang awalnya sempet kehilangan feel sama ff ini akhirnya mendapatkan kekuatan *eaaaa

Eh tapi beneran lho, aku gak boong. Untuk itu aku kembali mention para readers setia yang selalu memberikan masukan dan kekuatan kalian, buat yang baru-baru follow atau ngefav, yang baru-baru review sampe bikin akun, aku menghargai kalian. Atau yang masih setia jadi silent readers, wkwkwkwk..

Segala pertanyaan kalian sebenernya mau aku jawab, tapi aku lupa apa ajah pertanyaan-pertanyaannya wkwkwwk. Ya udah, disimpen dulu ya, kali ajah di chapter selanjutnya kejawab wkwkwkw..

Untuk chapter depan aku gak tau kapan updatenya, karena seperti biasa aku orangnya ngaret pake banget wwkwkwwkwk..

Dan untuk readersnya King's little husband ( kali ajah disini ada ) thank you so much ya untuk respon positif kalian wkwkwkw..

Dan diakhir kata seperti biasa, selalu jaga kesehatan kalian karena apa? Karena kesehatan itu amat sangat mahal, lebih mahal daripada harga mobil Chanyeol yang 4 M an wkwkwkw..

Salam Chanbaek is real, semoga tahun ini adalah tahun Chanbaek sama seperti tahun-tahun kemarin wkwwkwkw..

See you later guys, love youuuu