Title : Devil Beside Me chapter 13
Cast : Park Chanyeol , Byun Baekhyun , Oh Sehun , Do Kyungsoo , Xi Luhan , Kim Jongin, Kim Kibum, Choi Minho , Lee Taemin , Ok Taecyeon , Taeyang, Kim Dasom , Kim Jonghyun, Bae Joo Hyeon-Irene , Park Sooyoung- Joy , Kim Yerim-Yeri, Song Naeun, Yoon Bomi, Park Chorong, Park Cheondong ( Thunder ), Huang Zitao, Wu Yifan, Jung Soojung, Jung Jessica and others.
PERHATIAN!
Ff ini mengandung unsur dewasa ,seks, hubungan sesama jenis yang menyebabkan beberapa orang mungkin mual, Bahasa yang berantakan, dan typo yang walau sudah berusaha dihilangkan tapi tetap muncul. Tidak untuk area bermain anak-anak, anak polos, antigay/ homophobic, AntiChanbaek dan segala yang tidak ada sangkut pautnya dengan dunia yaoi.
NO CO-PAST
NO-REPOST
NO-PLAGIAT
Okay?
There always be a place for the good person. So, don't steal people's effort , be honest dear..
Mulailah dengan sebuah kata, susunlah menjadi kalimat dan kembangkan dalam sebuah paragraph.
Cerita yang hebat bukan tentang siapa, tapi tentang apa dan bagaimana.
…
..
.
Lupa? Silahkan baca chapter sebelumnya!
Park Shita
Present
…
..
.
Ketika Taemin tumbuh remaja ia memiliki sosok yang sangat ia kagumi, Kris, kakaknya sendiri. Seorang pria berwajah tampan, berpostur tegap , bijaksana dan menjadi panutan bagi siapa saja.
Kelahirannya merupakan sebuah anugrah pagi Nubes, dia tidak memiliki satupun kekurangan, dia adalah refleksi dari kesempurnaan. Taemin yang terlahir dengan wajah cantik yang merupakan kebalikan perwujudan kakaknya selalu memuji bahkan memuja bagaimana kakaknya menyelesaikan suatu masalah tanpa menimbulkan masalah yang lain.
Kris adalah pribadi yang mampu menjadi pemimpin ketika dilapangan dan kembali menjadi sosok kakak yang hangat ketika berada disampingnya.
"Lalu hyung? Apa selanjutnya?" tanya Taemin kecil ketika mereka sedang asyik duduk di taman Nubes, merangkai sebuah mahkota dari kelopak-kelopak bunga yang berjatuhan.
"Seperti ini, lalu seperti ini." Kris menuntun gerakan tangan adiknya yang berada diatas pangkuannya dengan sangat perlahan.
"Nah selesai." Taemin membulatkan matanya senang ketika melihat bagaimana sang kakak mengangkat sedikit tinggi mahkota itu di depan mereka.
"Wah, indah. Hyung memang selalu pandai menyelesaikan apapun." Ucap Taemin sambil tersenyum senang ketika mahkota itu diletakkan di atas kepalanya.
"Hyung tidaklah pandai Taeminie, hyung hanya selalu berpikir bahwa apa yang hyung kerjakan haruslah terlihat sempurna."
"Itu sangat cocok dengan wujud hyung yang sangat tampan." Ucap Taemin sambil menatap kakaknya penuh rasa memuja. Kris tersenyum, menyematkan rambut panjang adiknya kebelakang telinga.
"Kau pun cantik. Kau malaikat tercantik yang pernah ada." Ucap Kris sambil mengecup pipi putih adik kecilnya, Taemin tersenyum lalu mengubur kepalanya pada ceruk leher sang kakak.
"Kau lelah?" tanya Kris. Taemin menggeleng lalu mengangkat wajah mengantuknya.
"Ck! Kau tidak lihat bagaimana mata beratmu nyaris tertutup. Malaikat tidak boleh berbohong!" ucap Kris. Taemin menundukan wajahnya.
"Aku hanya mengantuk tapi aku tidak lelah, sungguh. Aku tidak berbohong hyung, lagipula aku ingin bersama hyung." Ucap Taemin dengan wajah merajuk.
"Benarkah? Berhubung aku sedang kosong, bagaimana kalau kita bermain yang lain?" dan Taemin kecil memekik senang dengan hal itu.
Semakin Taemin tumbuh rasa kagumnya semakin bertambah. Selain kakak dan pemimpin yang baik, Kris pun adalah seorang anak yang berbakti. Dia sangat menuruti ucapan Raja Malaikat untuk apapun yang ia lakukan.
Meski Kris tegas namun dia adalah pemimpin terbaik yang pernah ada pada masanya. Ia terkenal sangat memperhatikan segala hal yang kecil dan tidak pamrih atas apapun yang ia kerjakan.
Meski malaikat dan iblis bermusuhan saat itu, namun Kris tidak begitu kejam terhadap Minho. Mereka berulang kali dihadapkan dalam situasi genting , berperang melawan satu sama lain dan saling membinasakan, namun sekali Kris pernah membiarkan Minho yang kala itu masih merupakan Pangeran iblis melepaskan diri.
Seharusnya itu kesempatan Kris membinasakan Minho namun ia menahan kekuatannya dan berbalik badan, meninggalkan sosok Minho yang sedikit terkapar diatas tanah.
Itu pula yang menjadi awal hubungan dua makhluk yang seharusnya bermusuhan itu secara diam-diam. Meski bukan hubungan percintaan, namun sebuah kekerabatan antara iblis dan malaikat pun terlarang.
Tapi mereka berusaha mengabaikan hal itu. Pertemanan mereka tidak layaknya pertemanan pada umumnya yang berbagi cerita, pergi bersama ataupun berpesta. Hanya sebuah perasaan untuk tidak membunuh satu sama lain di medan perang dan sebuah senyuman di akhir perdebatan bisa dikatakan sebagai sebuah pertemanan, atau bangsa mereka sendiri menyebutnya sebuah pengkhianatan.
Namun pengkhianatan yang mereka lakukan pada bangsa mereka sendiri, berakhir pada sebuah kisah cinta antara Minho dan Taemin. Berkat Kris yang membiarkan Taemin ikut turun ke medan perang, disanalah bagaimana Pangeran mahkota itu bisa memikat hati seorang Pangeran iblis yang menghancurkan pepatah bahwa iblis tidak berhati.
Entah Kris tahu atau tidak tentang perasaan tersembunyi adiknya dan bagaimana pipi putih itu berubah warna tiap mereka bertemu dengan si Pangeran iblis, namun Kris tidak pernah membiarkan Sang ayah tahu tentang itu.
Demi adiknya, demi orang kesayangannya dia membiarkan sebuah dosa terjadi. Membiarkan perasaan adiknya tumbuh semakin dalam dan dalam pada sosok yang seharusnya menjadi musuh mereka itu.
Taemin tahu bahwa kakaknya begitu menyayangi dirinya, mencintainya tanpa adanya sebuah persyaratan karena itu ia tetap memelihara cinta terlarangnya pada Minho, dan Taemin sangat merasa berterima kasih pada Sang Kakak yang selalu membelanya tiap sebuah kecurigaan muncul di benak Sang Ayah.
Taemin tidak tahu betapa kata terima kasih yang patut ia lontarkan untuk sang kakak atas semua hal yang telah lelaki itu berikan. Taemin bahkan pernah berkata bahwa jika kematian menyuruhnya memilih dirinya atau kakaknya, maka dia rela mati untuk sang kakak, karena dia begitu mencintai sosok tersebut, mengaguminya dengan seribu lontaran pujian.
Itu dulu…..
Itu ribuan tahun silam…
Itu ketika kakaknya adalah sosok malaikat yang sempurna…
Itu ketika hatinya tidak dikhianati…
Itu sudah berlalu…
Dan sekarang mereka berdiri sebagai musuh….
Untuk saling membunuh…
Kakaknya telah pergi, tergantikan oleh sesosok makhluk yang mengerikan dengan penuh ambisi..
Kakaknya telah perg, benar-benar pergi..
…
..
.
Devil Beside Me
Chapter 13
…
..
.
Chanyeol dengan wujud iblisnya berdiri diatas sebuah puncak gedung, meraung penuh kekesalan membuat bumi bergetar hebat. Langit menjadi gelap gulita, petir menyambar dan hujan perlahan turun.
Api Chanyeol membara semakin besar ketika guyuran air hujan menyiramnya. Alih-alih mati, api itu malah berkobar semakin tinggi hingga nyaris menyentuh dasar langit bagaikan tersiram minyak tanah.
Ia bersimpuh, meraung sekali lagi mengeluarkan kesesakan yang terperangkap dalam dadanya. Perlahan tangisannya mulai terdengar, api ditubuhnya perlahan meredup dan mengecil. Isakan itu terdengar begitu memilukan, tangisan yang menyayat hati siapapun yang mendengarnya.
Air hujan yang turun menandakan bahwa dunia ikut bersedih atas hal yang menimpa Pangeran kegelapan itu. Ditengah guyuran hujan yang semakin lebat, suara lirihnya terdengar, terbang terbawa angin, dan dari bibir terisaknya hanya satu nama yang terdengar.
"Baekhyun…" Gumam Chanyeol sambil terus menangis.
Jauh dibelakangnya, tiga sosok berdiri berjauhan tanpa saling menyadari kehadiran masing-masing. Menatap dalam dengan berbagai perasaan yang bercampur menjadi satu.
Luhan mengusap air matanya yang terjatuh samar bersama air hujan. Menatap adiknya yang nampak sangat menyedihkan. Tangisan Chanyeol membuat hatinya juga merasakan sakit yang adiknya rasakan. Ia menundukan wajahnya, ikut berduka atas hal yang menimpa Chanyeol , menangis diam-diam , tersamarkan oleh suara rintikan air hujan.
Begitu pun Taemin. Wajahnya tidak bisa tersenyum seperti biasa, bahkan untuk pura-pura sekalipun. Ia menangis di dalam hati melihat bagaimana putranya hancur di depan matanya. Taemin tahu hal ini akan terjadi cepat atau lambat, tapi ia tidak tahu bahwa putranya akan sangat hancur karena itu.
Taemin perlahan menghilang, hatinya tidak kuat untuk melihat putra tegar dan keras kepalanya menangis bagai tak ada hari esok.
Sosok terakhir, Sehun, berdiri bagaikan manekin. Ia mengenal sosok dihadapannya sebagai sosok yang kuat, tegar, keras kepala dan menyebalkan, namun ia tidak tahu bahwa sosok setegar itu, sosok yang secara diam-diam ia kagumi itu bisa terlihat menyedihkan hanya karena ibunya.
Keterpurukan Chanyeol menghancurkan segala pemikiran Sehun mengenai penelaiannya terdahulu terhadap Chanyeol yang tidak mencintai ibunya, yang hanya menginginkan tubuhnya.
Pikirannya itu luntur bersama tetesan deras air hujan, membangun sebuah pemikiran lain bahwa ayahnya sangat mencintai ibunya, dan tanpa ia sadari kebenciannya pun ikut jatuh dan hanyut bersama air hujan.
Sehun ingin melangkah maju, memegang pundak itu dan menangis bersama sang ayah. Berbagai rasa sakit agar bisa mengurangi penderitaan ayahnya, namun kehadiran Luhan dan tatapan yang lebih pendek membuatnya urung.
"Biarkan dia sendiri!" Luhan berkata melalui telepati mereka. Sehun terdiam, melirik lagi kearah Chanyeol yang terlihat sangat hancur, lalu mengangguk pelan dan menghilang.
Luhan yang tersisa melirik kembali kearah Chanyeol lalu ikut menghilang, membiarkan sosok hancur itu menguatkan dirinya sendiri, membiarkan sosok Chanyeol meluangkan waktu sendirinya. Memikirkan tentang apa yang akan ia lakukan esok dan esok harinya lagi tanpa sosok Baekhyun disampingnya.
"Hiks..Baekhyun…" kembali tangisan itu terdengar begitu menyayat hati.
…
..
.
Sehun berdiri di ambang pintu kamar Baekhyun, dari celah pintu yang sedikit terbuka ia dapat melihat ibunya-Kibum- sedang mencoba menenangkan kakaknya yang nampak sesegukan dalam percobaan tidurnya.
Isakan itu masih dapat terdengar di sela bibir tipis itu, meski mata pemiliknya mencoba terpejam namun tubuhnya masih bergetar. Kibum terlihat cemas namun ia mencoba tenang dengan mengelus punggung sempit putra sulungnya.
Sehun melangkahkan kakinya maju lebih dekat, menaikkan satu tangannya untuk menggosok matanya, mengubah raut wajahnya yang semula penuh kekecewaan menjadi sorot mata lelah dan wajah khas anak-anaknya.
"Ibu?" ucapnya pelan dengan suara khas anak baru bangun. Kibum menoleh cepat dan meletakkan jemarinya di depan bibir memberi isyarat pada Sehun untuk tidak menimbulkan keributan.
Sehun dengan wajah penuh kebingungan berjalan mendekat sambil menatap tubuh Baekhyun yang terbaring dibalik selimut.
"Apa yang terjadi pada hyung?" tanya Sehun berbisik. Kibum menarik tangan Sehun , mengelus surai kecoklatan itu lalu tersenyum.
"Tidak. Kakakmu hanya mimpi buruk. Apa suara teriakannya membangunkanmu?" Sehun mengangguk dengan wajah mengantuknya.
"Kau tidurlah lagi! Ibu juga akan tidur, sepertinya kakakmu sudah baik-baik saja." Ucap Kibum sambil mencoba bangkit setelah memastikan Baekhyun tertidur. Sehun bangkit lalu menghentikan tangan ibunya yang menariknya keluar, ia berbalik menoleh kearah Baekhyun dan berjalan mendekat.
"Selamat tidur hyung! Mimpi yang indah! Semua akan baik-baik saja, aku mencintaimu, kami mencintaimu." Bisik Sehun ditelinga Baekhyun dan melayangkan sebuah kecupan selamat tidur di pelipis kakaknya. Kibum tersenyum menyaksikan interaksi itu, namun setelahnya ia melirik cemas kembali kearah putra sulungnya. Berharap bahwa semua akan baik-baik saja, berharap bahwa putranya akan bahagia.
Ketika lampu di padamkan dan pintu kamar tertutup, mata sembab itu terbuka. Sorotnya menunjukan sebuah kesedihan yang mendalam, air matanya kembali jatuh, dan ia lagi-lagi terisak.
Terisak semakin keras tertutup oleh suara hujan deras dan sambaran petir yang menggelegar.
"Hiks.. hiks.." Isakan Baekhyun semakin keras namun ia mencoba meredamnya tidak ingin membuat sang ibu ataupun adiknya kelelahan karena sikapnya.
"Aku…hiks.. membencimu.." gumam Baekhyun sambil mencoba menutup matanya. Diluar jendela sosok Chanyeol sedang melayang , menyaksikan betapa hancur sosok yang ia cintai kini.
"Maafkan aku." Gumamnya pelan sambil menyentuh kaca jendela perlahan, lalu setelahnya menghilang.
…
..
.
Ketika pagi menjelang , Baekhyun enggan untuk bangun. Ia memilih menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong dan membiarkan air matanya kembali jatuh. Kibum berdiri di ambang pintu sejak setengah jam yang lalu untuk menyaksikan keadaan putranya yang sangat memprihatinkan.
Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan Baekhyun secara jelas karena putranya itu masih enggan untuk bercerita, namun melihat betapa hancur Baekhyun , Kibum tahu bahwa itu pasti berhubungan dengan Chanyeol.
"Sehun?" panggil Kibum saat mereka berada di meja makan untuk sarapan. Sehun yang sedang mengunyah rotinya menoleh.
"Kau tahu kan dimana apartemen Chanyeol?" Sehun tersentak sejenak lalu setelahnya ia mengangguk.
"Bisakah kau antarkan ibu siang ini kesana? Sepulangmu dari sekolah? Ibu akan minta izin pada perusahaan untuk pulang awal." Sehun mengangguk ragu, namun ia tidak memiliki respon lain.
…
..
.
Tidak jauh berbeda dengan Chanyeol. Kini sosok itu hanya duduk di kursinya untuk menghadiri rapat, namun tatapannya nampak kosong menatap kearah lantai.
Semua orang tahu dan mengerti apa yang baru saja menimpa Chanyeol, namun mereka tidak bisa menolong apapun terlebih setelah sosok Lucifer terkuak membuat mereka semakin waspada dan harus bergerak lebih cepat.
Luhan menatap Chanyeol dengan wajah penuh prihatin. Ia baru saja kehilangan adik bungsunya dan sekarang ia merasa ia juga telah kehilangan adik keduanya. Meski raga Chanyeol ada disana, namun hati dan pikirannya melayang jauh, tubuh itu seolah kosong tanpa jiwa.
Taemin mengusap air matanya yang terjatuh membuat Minho yang sedang menjabarkan rencana baru mereka melirik sebentar dan ia tahu bahwa istrinya itu sedang mengasihani keadaan Chanyeol.
"Chanyeol?" panggil Minho namun sosok itu masih tidak berkutik. Hingga pada panggilan ketiga barulah kesadaran Chanyeol kembali, ia menatap Minho dengan wajah linglung.
"Kau bisa pergi jika keadaanmu sedang buruk, kau_"
"Jangan pikirkan aku! Lanjutkan saja ayah! Aku baik-baik saja"
Tidak. Semua tahu bahwa seorang Chanyeol si Pangeran kegelapan tidak sedang baik-baik saja. Mereka mengenal sosok itu untuk ratusan tahun lamanya, dan tidak ada yang pernah melihat sisi lemah Chanyeol seperti sekarang. Cinta mampu merubah siapapun, merubah apapun, bahkan batu yang keras sekalipun.
Rapat kembali dilanjutkan namun Chanyeol tetap tidak menaruh minatnya pada pertemuan kecil itu, pikirannya hanya tertuju pada satu sosok lain yang sama hancurnya dengan dirinya, Byun Baekhyun.
…
..
.
Baekhyun mengernyit ketika ia melihat sebuah sosok jauh beberapa meter di depannya, sosok yang sangat familiar. Sosok yang kini berbalik dan tersenyum penuh kasih sayang padanya.
"Chanyeol?" Baekhyun memanggilnya, berlari kecil dan melompat ke dalam pelukan yang lebih tinggi.
"Baekhyun? Aku merindukanmu." Ucap Chanyeol sambil membawa kedua bibir mereka untuk bertemu, saling memangut dan berbagi hasrat.
Baekhyun merasakan tubuhnya terdorong ke dinding gang sempit tempat mereka berada kini. Baekhyun menerima setiap isapan itu diseluruh tubuhnya, membiarkan tangan besar itu meraba permukaan kulitnya dan membuka kancing seragamnya.
Lenguhan Baekhyun terdengar dan tanpa ia sadari sebuah benda tumpul telah memasuki tubuhnya.
"Aaahh.. Chanyeol?" Baekhyun mendesah sambil membiarkan kedua kakinya terangkat di kedua sisi tubuh Chanyeol. Membiarkan kejantanan Chanyeol masuk semakin dalam dan menumbuk bagian sensitifnya.
"Chanyeolllhh.." Baekhyun mendesah dengan mata tertutup sambil memeluk leher itu.
"Kau menyukainya cantik?" Baekhyun membuka mata dan terkejut melihat sosok monster dihadapannya.
"Aku akan membuatmu hamil. Kau menyukainya kan? Jalang!" Bola mata Baekhyun terbuka lebar ia mencoba melepaskan diri dari tubuh yang kini masih menggerakan tubuh bagian bawahnya.
"Lepas..lepaskan!" Baekhyun meronta dengan sangat ketakutan, mendorong sekuat mungkin mencoba melepaskan diri dari yang lebih besar.
"Kau suka kan jalang? Tidak usah pura-pura menolak!" Baekhyun rasanya ingin menangis ketika sosok yang ia cintai memanggilnya serendah itu.
"Lepaskan..hiks…hiks.." Baekhyun menangis mencoba memisahkan diri mereka, namun tenaganya sia-sia.
"Aku akan menanamkan benihku di tubuh kotormu ini, kau kotor! Kau menjijikan, kau pantas menjadi tempat para monster-monster ini tumbuh."
"Ke..hiks..kenapa kau melakukan ini? Hiks.. kau bilang..kau… kau mencintaiku..hiks.." Baekhyun terisak semakin dalam.
"Heuh! cinta? Kau percaya dengan cinta? Kau percaya dengan apa yang aku katakan? Kau tahu siapa aku? Aku adalah si Pangeran kegelapan, aku adalah calon Raja Iblis. Aku iblis , makhluk paling tidak berperasaan yang pernah ada. Aku hanya menginginkan tubuhmu, bukankah tidak ada yang menginginkan tubuh kotor ini lagi? Aku berbaik hati untuk memungutnya."
"Hentikan..hiks.. Lepaskan! Aku..aku tidak mengenal…aaahhh… mu… kau…bukan Chanyeol…" Baekhyun kembali terisak.
"Aku Chanyeol, dan inilah aku yang sebenarnya. Siap-siap mengandung benihku lagi, jalang!"
"Tidak! Tidak! Lepaskan!" Baekhyun meronta ketika tusukan Chanyeol semakin keras , ia merasa tubuhnya begitu hancur. Tiba-tiba tangan besar Chanyeol mencekiknya, mendorongnya kearah dinding, mencengkram permukaan kulitnya dengan keras membuat Baekhyun tidak bisa bernafas.
"Setelah aku menghamilimu, aku akan meninggalkanmu. Itulah bagaimana seorang iblis bekerja."
"Hen..eekkhh.. hentikan.." Ucap Baekhyun dengan susah payah.
"Hen…HENTIKAN!"
Baekhyun terbangun. Nafasnya terengah-engah, tubuhnya berkeringat. Ia melihat sekeliling dan bernafas lega saat dirinya berada di dalam kamarnya, bukan di dalam gang sempit seperti apa yang baru saja ia lihat di dalam mimpinya.
Baekhyun menangis, menarik kedua kakinya untuk tertekuk dan menyembunyikan wajahnya di balik pahanya. Menangis dengan keras , mengabaikan bahwa dirinya telah menangis sejak semalam, membiarkan dirinya jatuh dalam kelelahan lagi dan lagi.
Diluar sana sebuah sosok duduk diatas pohon, menyeringai senang lalu menghilang. Tao muncul di dalam sebuah ruangan gelap dengan lampu-lampu temaram sebagai pencahayaan.
"Kerja yang bagus!" ucapnya pada sosok gadis berjubah hitam yang duduk di depan sebuah wadah air berwarna hitam. Wajahnya tidak terlihat jelas, namun seringaiannya mampu terlihat ketika ia mengangkat sedikit wajahnya.
"Itu bakat tersembunyiku." Ucapnya sambil menatap bayangan terhenti Chanyeol yang sedang menyetubuhi Baekhyun di sebuah gang sempit.
Tao berjalan menuju sebuah singgasana dimana seorang laki-laki bersurai pirang duduk dan tersenyum kearahnya sambil mengulurkan tangan. Tao tersenyum senang, ia mendekatkan wajahnya, menatap sosok Yifan dengan penuh nafsu lalu menarik bibir bagian bawah sosok itu dengan giginya.
"Selamat untuk lepasnya dirimu dari sosok kutu buku itu." Ucap Tao dan Yifan menyeringai, mengibaskan tangannya agar sosok Tao menyingkir dari hadapannya dan duduk disinggasana disampingnya.
"Aku pun merasa senang, tapi harus ku akui aku sedikit merindukan sosok lelaki mungil itu." Tao menggeram begitu sosok wanita berjubah yang kini memukul air di hadapannya membuat Yifan terkekeh.
"Hei, aku hanya bercanda. Mengapa selera humor kalian semakin buruk?" ucap Yifan. Kedua sosok yang lain melipat tangan mereka di depan dada dengan wajah cemberut.
"Sayang, kemarilah!" ucap Yifan pada sosok wanita yang kini bangkit dan berjalan kearah Yifan. Yifan membiarkan wanita itu duduk diatas pangkuannya.
"Terima kasih atas pekerjaanmu, tapi kau belum bisa terbebas dari penyamaran itu."
"Aku tahu." Sahutnya.
"Hm, bagaimana kabar saudarimu? Dia cukup menjadi perusak dalam rencana kita, aku pikir dia tidak akan keluar dari persembunyiannya." Wanita itu mengangguk dengan wajah malas.
"Aku pun. Dia selalu menghalangi apapun keinginanku, termasuk menjadi pendampingmu. Tapi bukankah Tao sudah mengurusnya?" Ucapnya sambil melirik Tao yang memutar bola matanya malas.
"Tapi bukankah kau sekarang disini? Menjadi pendampingku? "
"Hm. Tapi bukan satu-satunya." Cibirnya pada sosok Tao yang hanya mendengus tidak suka.
"Hei, kalian adalah pendampingku, untuk seumur hidupku." Yifan menarik tubuh Tao dan memberikan sebuah ciuman panas, lalu beralih pada wanita di pangkuannya dan memberikan ciuman yang sama panasnya.
"Kita masih harus bertindak."
…
..
.
Taemin berlari ke dalam sebuah ruangan dimana para malaikat pekerja sedang melakukan pekerjaan mereka.
"Malaikat Jong! Malaikat Jong!" panggil Taemin dan Jonghyun muncul dari balik sebuah rak buku.
"Apa apa Yang Mulia?" tanya Jonghyun sambil memberi hormat.
"Dimana wadah pengatur mimpi? Aku ingin menggunakannya." Ucap Taemin sambil melihat sekeliling. Ruangan itu nampak sepi karena seluruh malaikat sedang beristirahat.
"Apa? Tapi untuk apa Yang Mulia? Itu menyalahi aturan, anda tahu sendiri tugas itu mutlak milik malaikat mimpi, dan_"
"Aku mohon! ini demi seseorang. Aku akan menanggung apapun resikonya." Ucap Taemin dengan wajah gusar dan Jonghyun hanya bisa menghela nafas sambil menatap wajah memohon Pangeran Mahkotanya.
…
..
.
Sehun berdiri di depan gerbang sekolahnya sambil menggerak-gerakan kakinya. Ia baru saja mengirimi ibunya pesan bahwa kelasnya telah berakhir dan ibunya telah membalasnya dan berkata akan menjemputnya.
"Yak! Lepaskan!" Sehun menoleh merasa familiar dengan suara itu, ia pikir itu suara Soojung namun ketika ia melihat itu hanya seorang gadis yang sedang bercanda dengan dua teman lelakinya.
Sehun menghela nafas, entah mengapa ia merasa sesuatu hilang ketika tidak ada lagi suara berisik dari gadis menyebalkan yang perlahan menarik perhatiannya.
TIIN!
"Sehun-ah!" Sehun menoleh dan tersenyum kearah Kibum yang melambai dari jendela di kursi belakang taksi yang ia naikki.
Sehun berlari dan segera masuk, lalu taksi itu berjalan kearah yang Sehun berikan sebagai petunjuk. Hingga mereka berhenti disebuah gedung apartemen mewah dan mereka segera turun setelah membayar taksi.
"Apa benar disini?"
"Benar bu, aku sering kemari." Ucap Sehun.
Ketika mereka tiba dilantai dimana Chanyeol tinggal dan berjalan di koridor gedung, Sehun merasa sedikit rindu dengan suasanya, entah mengapa ia seolah tersedot ke masa lalu.
"Ini." Ucap Sehun menunjuk sebuah pintu. Kibum memencet bel namun tidak ada yang membukakan, ia melakukan lagi namun tetap tidak ada balasan. Sehun menekan bel itu berulang kali dan Kibum yang tidak sabaran pun memukul-mukul pintunya sambil memanggil nama Chanyeol.
Hingga pintu terbuka, namun bukan pintu apartemen Chanyeol melainkan pintu disampingnya. Mereka berdua menoleh dan mendapati seorang wanita menatap kearah mereka.
"Maaf, tapi apartemen sebelah kosong. Tidak ada penghuninya." Kibum dan Sehun sama-sama terkejut. Sehun tahu itu pasti ulah Chanyeol, seharusnya ia mengkoordinasikan hal tersebut pada Chanyeol dulu sebelum membawa ibunya.
"Tapi bukankah ada dua orang laki-laki yang tinggal disini?" tanya Kibum. Wanita itu menggeleng dengan senyum canggung.
"Aku memang baru disini, aku baru sehari pindah disini. Tapi ketika aku sedang mencari tempat yang cocok, kamar ini dan kamar yang aku tempati saat ini sama-sama kosong. Tidak ada pemiliknya." Kibum mengernyit dan Sehun menggerutu pelan.
"Sehun? Apa kau yakin?" Sehun menatap ibunya dengan kedua alis terangkat, lalu menggigit bibirnya dalam.
…
..
.
Baekhyun melangkah memasuki kamarnya, dan ketika pintu terbuka ia melihat sebuah sosok yang duduk diatas ranjangnya.
"Chanyeol?" sosok itu tersenyum lebar ketika melihat kedatangan Baekhyun.
"Hei! Sudah pulang?" Baekhyun mengernyit namun setelahnya mengangguk pelan.
"Kenapa kau tidak datang sekolah?"
"Ya, ada urusan yang harus aku kerjakan." Ucap Chanyeol sambil menatap Baekhyun yang meletakkan tasnya dan memutuskan untuk berbaring diatas ranjang disampingnya.
"Baekhyun, ikutlah!" ucap Chanyeol sambil mengulurkan tangannya dan berdiri dihadapan Baekhyun. Baekhyun terduduk lalu meraih tangan itu dan berjalan menuju pintu. Ketika pintu terbuka, bukan bagian koridor rumahnya yang ia lihat melainkan sebuah altar dengan sebuah karpet merah di depannya dan juga para tamu undangan disisi kiri dan kanan.
"Chanyeol?" Baekhyun bertanya pada sosok yang kini berada di depannya sambil menarik tangannya untuk berjalan dan ketika Baekhyun melihat penampilan Chanyeol ia baru menyadari jika sosok itu tengah mengenakan setelan jas berwarna hitam.
"Baekhyun? Kau lupa? Hari ini adalah hari dimana kita akan bersatu, kau dan aku akan terikat untuk selamanya." Baekhyun membulatkan matanya dan menutup bibirnya dengan kedua tangannya untuk menyadari bahwa ia telah mengenakan setelan jas berwarna putih.
"Chan..yeol.." mata Baekhyun berkaca-kaca. Ini seperti apa yang ia impikan secara diam-diam untuk dirinya dan Chanyeol dimasa depan.
Mereka berjalan dan Chanyeol membawanya untuk berjalan melewati para undangan , dimana ia bisa melihat ibunya, Sehun dan Luhan yang duduk bersebelahan, Kyungsoo , Minho dan Taemin, lalu ada kedua kakek Chanyeol yang tersenyum kearahnya.
Mereka berdiri di depan altar, semua berjalan begitu cepat. Pastur membacakan janji suci dan mereka mengulangnya, Chanyeol menyematkan cincin pernikahan dan keduanya mengakhiri acara itu dengan sebuah ciuman.
Baekhyun tersenyum dalam ciuman mereka, ketika ia mendorong pelan tubuh Chanyeol ia tersadar bahwa mereka tidak lagi berada dialtar namun disebuah ruang tamu di dalam sebuah rumah yang besar , rumah yang Baekhyun impikan.
"Hei sayang? Kau melamun!" suara Chanyeol tiba-tiba terdengar bersamaan dengan tubuhnya yang dipeluk dari belakang. Tubuhnya diputar dan mereka berhadapan dengan sebuah cermin besar. Baekhyun membulatkan matanya melihat perutnya yang telah membesar dan mengintip dari balik baju kaos yang ia kenakan.
"Chanyeol, perutku?"
"Iya sayang, kau mengandung anakku dan sebentar lagi kita akan menjadi orang tua. Sebuah sosok tampan akan memanggilmu ibu. Kau suka?" Baekhyun menitikan air matanya dan menangis, Chanyeol membalik tubuhnya, memegang wajahnya dan mengusap air mata itu.
"Jangan menangis! Aku tidak ingin kau membuat bayi kita menangis juga." Keduanya kembali menyatu dalam sebuah ciuman.
Baekhyun membuka matanya dan menemukan dirinya berada diatas ranjang, berbaring disamping Chanyeol yang terlelap sambil memeluk dirinya. Baekhyun menoleh dan tidak menemukan perutnya yang besar lagi, ia membulatkan matanya.
"Bayiku?" gumam Baekhyun dan mata Chanyeol terbuka.
"Sssstt,, dia baru saja tertidur , kau tidurlah! Kau pasti lelah!" Baekhyun mengangguk pelan sambil tersenyum kearah kotak bayi di sudut kamarnya.
Ia membiarkan Chanyeol mengecup bibirnya, dan membawa keduanya dalam sebuah pelukan hingga sebuah tangisan bayi membuatnya terbangun. Perlahan ia menggeser tangan Chanyeol, lalu menuruni tempat tidur.
Ia berjalan kearah kotak bayi itu lalu tersenyum ketika melihat seorang bayi mungil yang tampan tersenyum kearahnya, setelah usai menangis.
"Anakku." Gumam Baekhyun sambil menyentuh pipi tembab bayinya. Bayi itu tersenyum, lalu senyumanya menjadi sebuah seringaian.
"Ya, aku anakmu .." Baekhyun terhuyung kebelakang ketika melihat bayinya berubah menjadi monster berwarna merah dengan taring, ekor dan tanduk serta warna mata merah menyala.
"Tidak! Tidak! Tidak! Chanyeol…Chanyeol.." gumam Baekhyun sambil mencoba membangunkan Chanyeol yang tertidur dengan menyentuh kakinya ketika dirinya terduduk di kaki ranjang tidak berdaya.
"Apa sayang?" suara itu terdengar menakutkan , Baekhyun menoleh dan mendapati Chanyeol dengan wujud iblisnya.
"AAAAAA…" Baekhyun berteriak sambil mendorong tubuhnya mundur dan memukul kepalanya.
"Tidak! Kalian tidak nyata! PERGI!"Bentak Baekhyun sambil menutup matanya.
"Ibu"
"Sayang?"
"Ibu."
"Sayang?" suara itu terdengar bergantian di gendrang telinga yang coba Baekhyun tutupi. Di depannya ia melihat sosok mengerikan Chanyeol berdiri dan berjalan kearahnya begitu pula sosok bayinya yang berada dalam gendongan Chanyeol yang menatapnya dengan wajah mengerikan.
"TIDAAKKKKK"
Baekhyun kembali terbangun dengan nafas terengah-engah ketika Kibum tiba bersama Sehun yang berlari kearahnya. Baekhyun menangis dan menangis semakin keras membuat dua orang yang lain merasa iba.
Di tempat lain Taemin terduduk diatas lantai setelah terjatuh dari kursinya. Jonghyun mencoba membantunya berdiri. Taemin menatap wadah di depannya, dimana ia bekerja tadi untuk mengatur mimpi untuk Baekhyun.
"Seseorang mencoba memanipulasi mimpi yang aku buat." Ucap Taemin dengan wajah pucat. Jonghyun melirik kearah wadah air dan ia menatap Taemin lagi.
"Hanya satu orang yang bisa melakukannya."
"Putri Bulan." Ucap Taemin dengan kening dikerutkan.
…
..
.
Sehun memberikan segelas air pada Kibum untuk diberikan pada kakaknya yang sedang menangis. Entah mengapa Sehun merasakan hatinya pun tersayat melihat betapa kakaknya sangat hancur, dan tidak jauh berbeda dengan keadaan Chanyeol jauh disana.
"Ibu? Boleh aku meminta izin untuk pergi menjenguk temanku?" Tanya Sehun dan Kibum mengangguk. Sehun membalik tubuhnya dan berjalan menuju kamarnya.
Ia telah membicarakan hal ini pada Luhan tentang menghilangnya gadis itu dibawa oleh anak buah Lucifer.
"Tidak mudah untuk membawa kembali seseorang yang telah dibawa Lucifer, termasuk Kyungsoo." Ucap Taemin kala itu setelah kepergian Soojung.
Namun Sehun ingin mencoba sesuatu, ia merasa berhutang pada gadis malang itu. Setidaknya, meskipun Sehun sangat membencinya, gadis itu satu-satunya yang mau menjadi temannya selama ini, dan atas alasan itu Sehun ingin membuat sosok itu kembali dengan selamat, lagipula gadis itu tidak ada sangkut pautnya dengan Lucifer.
Pikiran itu yang membuatnya kini berada di depan kediaman kecil milik Soojung. Ia menekan bel berulang kali namun tidak ada yang muncul, hingga ia mendapati seorang nenek berdiri disampingnya dan berkata bahwa si pemilik rumah telah pergi semalam dengan terburu-buru.
Sehun tahu ini perbuatan siapa, dan ia merasa menyesal karena sedikit terlambat untuk bergerak.
Ketika akan berbalik ia mendapati sosok wanita cantik dengan pakaian setelan jas biru dan rok selutut berwarna pink sedang memandang rumah itu lalu mata mereka bertemu. Sehun menatap sosok itu dan sosok itu menyipitkan matanya lalu tersenyum kemudian.
Setelahnya Sehun memilih berbalik badan dan pergi meninggalkan rumah serta sosok wanita yang masih setia menatap punggungnya, Jessica.
…
..
.
"Chanyeol, beristirahatlah!" ucap Luhan namun Chanyeol yang sedang duduk di depan meja kerja ayahnya berhadapan dengan kakaknya itu menggeleng pelan.
"Kau terlihat sangat kacau!"
"Jangan pedulikan aku! Lakukan saja pekerjaanmu!" Luhan menghela nafas , lalu mencibir.
"Mana bisa aku bekerja jika melihat wajah kusutmu itu! Jika kau tidak ingin melakukannya , sana pergi ! Aku tidak butuh_"
GREK
Bangku terdorong dan Chanyeol bangkit tanpa suara. Luhan menutup matanya merasa bersalah, ia terpaksa berkata seperti itu setidaknya adiknya bisa beristirahat. Karena bagaimana pun Luhan merasa gila melihat keadaan Chanyeol yang sangat buruk.
Chanyeol tiba di dalam kamarnya dan ia membanting tubuhnya. Menutup matanya perlahan dengan satu tangan sebagai penutup. Menyembunyikan wajah penuh kesedihannya. Sebuah air mengalir membasahi pipinya .
"Air mata sialan!" gumamnya sambil mencoba membunuh rasa lemahnya.
…
..
.
Taemin menundukan wajahnya ketika melihat tatapan sang ayah.
"Kau tahu? Kau melewati batasmu lagi." Taemin mengangguk pelan mendengar ucapan dingin ayahnya.
"Berhenti mencampuri urusan manusia, kau tidak bisa menyambung tali yang telah putus." Taemin mengangkat wajahnya penuh rasa kekecewaan, sebelum akhirnya ia menghela nafas.
"Sebesar apapun kau mencoba menyatukan tali yang telah terputus, itu hanya akan sia-sia. Mereka tidak terhubung lagi, mereka telah berakhir. Dan itulah semestinya. Manusia tidak hidup dengan iblis, bahkan malaikat dan iblis pun adalah sebuah pelanggaran." Taemin merasa sedikit tersinggung dengan ucapan ayahnya namun ia mencoba menahannya.
"Nak, aku hidup ribuan tahun lebih dulu darimu. Aku mengalami banyak hal dalam hidupku dan aku belajar darisana, aku belajar bahwa cinta hanya membawa rasa sakit untuk mereka yang terlahir dalam lingkungan yang berbeda."
"Ayah tahu apa?" Taemin bangkit dengan sedikit memekik, membuat Raja Langit tersentak.
"Taemin! Tenangkan dirimu!" ucapnya. Taemin menolak, ia menatap ayahnya tajam.
"Maaf karena aku merusak kesan 'putra penurut' yang aku miliki dimata ayah, namun ayah harus mengerti bahwa posisiku sekarang adalah ibu yang ingin membahagiakan anaknya. Yah, aku hanya ingin melakukan sesuatu untuk anak-anakku."
"Aku tahu."
"Baguslah jika ayah tahu, aku harap ayah mengerti."
"Tidak, kau yang harus mengerti. Bahwa keadaan berperan penting dalam setiap proses yang ada, bukan posisi." Taemin menahan air matanya, lalu berbalik berjalan meninggalkan ruangan.
"Taemin, mengertilah! Bahwa ada saat dimana kita lebih baik diam dan mengalah pada keadaan." Taemin menghentikan langkahnya dan air matanya terjatuh, tidak sampai dada air mata itu telah lenyap.
Taemin tersenyum lalu tubuhnya runtuh dan terjatuh membuat Raja Langit membulatkan matanya dan berteriak memanggil nama putranya.
…
..
.
Dua hari berlalu dan terlarut dalam kesedihan, hari ini Baekhyun memutuskan untuk berangkat ke sekolah. Ia merasa telah terlalu lama membuang waktunya untuk menangisi sesuatu yang telah pergi.
Kibum terkejut ketika mendapati Baekhyun berjalan menuruni tangga dengan seragam sekolahnya ketika ia akan membawakan sarapan untuk putranya. Sehun pun sama terkejutnya, ia hanya menatap nanar kearah sosok seperti mayat hidup di depannya.
"Baekhyun, kau yakin akan pergi ke sekolah? Keadaan masih buruk."
"Aku baik-baik saja bu, ini semua karena kantung mataku sehingga aku terlihat kacau. Aku baik-baik saja." Ucap Baekhyun sambil mengambil duduk di depan meja makan dan mencoba tersenyum meski siapapun tahu bahwa itu adalah senyuman yang dipaksakan.
"Ini makanlah!" Baekhyun menggeleng pelan dan menutup hidung serta mulutnya ketika ibunya menghidangkan semangkuk sayuran hangat di depannya.
"Kau kenapa?"
"Aku…hhmm.. aku tidak suka benda berwarna hijau itu bu." Ucap Baekhyun sambil mendorong mangkuknya menjauh. Kibum mengernyit setahunya sup rumput laut adalah makanan kesukaan Baekhyun, dan bila ia sakit maka sup itu bisa menjadi makanan penambah energinya, namun untuk pertama kalinya lelaki itu menolaknya.
"Baiklah, apa yang ingin kau makan?" Baekhyun menatap ibunya dan Sehun, lalu beralih pada sebuah majalah di atas meja mereka yang menampilkan sebuah hidangan makanan daging asap.
Baekhyun melipat bibirnya ke dalam sambil menatap cover majalah kuliner itu, lalu ia menatap ibunya.
"Aku tidak lapar bu." Ucapnya lalu segera bangkit.
"Aku berangkat dulu." Ucapnya sambil segera bangkit dan berlalu meninggalkan ruang makan. Kibum menatap majalah itu, begitu juga Sehun yang kemudian mengalihkan pandangannya pada majalah di hadapannya. Dan kening keduanya mengernyit.
Ketika Baekhyun membuka pintu rumahnya dan pemandangan jalanan sepi menyapa penglihatannya, sebuah sosok membuat keningnya berkerut dalam.
"Baekhyun? Kenapa lama sekali sayang?" Jantung Baekhyun berdegup kencang, ia memundurkan langkahnya hingga menbrak dinding rumahnya ketika melihat sosok Chanyeol sedang duduk diatas motornya dan tersenyum kearahnya.
"Pergi! Aku tidak ingin melihatmu." Ucap Baekhyun dengan wajah ketakutan.
"Hei, ada apa denganmu Baekhyun? Ayo kita berangkat!" Baekhyun menutup matanya dan menggeleng ketika sosok itu berjalan kearahnya.
"Pergi! Pergi! Aku tidak ingin melihatmu! PERGI!" teriaknya kencang dengan mata tertutup membuat Sehun dan Kibum segera muncul dengan wajah cemas mendapati Baekhyun terduduk di depan pintu rumahnya dengan keadaan ketakutan.
"Baekhyun?" Kibum menyentuh pundak bergetar itu pelan hingga kedua netra Baekhyun terbuka untuk melihat bahwa dihalamannya kosong, tidak ada siapapun.
"Baek, apa yang terjadi?" tanya Kibum. Baekhyun menggeleng pelan lalu perlahan bangkit dengan lutut yang masih bergetar.
"Aku …aku… " Baekhyun menatap dalam dua orang di depannya lalu kembali menggeleng pelan dan mencoba tersenyum.
"Tidak, aku baik-baik saja. Aku berangkat." Ucapnya lalu dengan segera berjalan keluar dari pagar rumahnya sambil berulang kali memeluk jaket tipisnya semakin erat.
Chanyeol menatap sosok itu dengan wajah kecewa dari atas pohon. Sejak semalam ia disana, menatap Baekhyun dengan seluruh kegiatannya , memastikan bahwa orang yang ia cintai itu dalam keadaan baik-baik saja.
Namun pagi ini ia dikejutkan dengan reaksi Baekhyun ketika berhalusinasi tentang dirinya. Chanyeol melihatnya bagaimana Baekhyun berteriak dan nampak ketakutan ketika membayangkan bahwa dirinya ada di depan matanya.
"Sebenci itukah kau padaku Baek?" gumam Chanyeol pelan. Ketika ia mengedarkan kembali pandangannya kerumah Baekhyun, matanya bertemu dengan tatapan Sehun. Keduanya terdiam beberapa detik, sebelum akhirnya Sehun merendahkan arah pandangnya dan kembali masuk ke dalam rumah.
Baekhyun duduk di halte sambil menunggu bus nya datang, ketika terdengar bunyi klakson dari jauh ia tahu bahwa apa yang ia nantikan telah tiba. Ia bangkit dengan wajah tidak bersemangat, ia sungguh terlihat sangat kacau.
Wajahnya terlihat pucat, mata berkantungnya sembab dan sorot matanya seperti tidak ada jiwa yang ada di dalam raga itu. Ia masuk ketika pintu bus terbuka.
Ia melangkah masuk dan duduk di salah satu kursi dua baris dari belakang. Menyandarkan kepalanya ke jendela, menatap jalanan sebentar sebelum akhirnya ia memilih memejamkan matanya.
"Kau tahu? Aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuhmu bahkan hanya sehelai rambutmu."
Kalimat itu menggema di dalam pendengaran Baekhyun oleh sebuah suara berat nan indah yang selalu mengisi hari-harinya selama ini.
"Baekhyun, aku mencintaimu."
"Jangan sakiti dirimu! Aku akan membenci diriku jika kau sampai terluka. Baek, aku mencintaimu."
Entah mengapa suara-suara itu memenuhi pikirannya, tanpa ia sadari air matanya terjatuh membasahi pipi pucatnya. Hatinya tersayat tiap kali mengingat semua kenangan manis mereka, hingga semua memori itu membawanya pada malam dimana jati diri Chanyeol terbongkar.
Bahwa sosok yang datang memberikan sejuta kasih sayang dan cinta padanya , adalah sosok yang sama yang membuatnya ingin mengakhiri hidupnya, sosok yang menghancurkan segala masa depannya, sosok yang membuatnya begitu membenci kelahirannya.
Sosok itu yang membuatnya tahu bagaimana rasanya dicintai, dihargai dan diperlakukan secara manusiawi, namun sosok itu pula yang membuat dirinya dibuang, dicaci dan dicampakkan.
Hatinya menjerit, menjerit pilu atas semua suara yang terus berbisik tentang perasaannya. Tentang seberapa ia mencintai dan berharap sosok itu kembali, atau tentang seberapa ia membeci dan berharap bahwa pertemuan mereka hanya sebuah mimpi.
"Hyung?"
Baekhyun menoleh dan terkejut mendapati sosok Sehun telah duduk disampingnya sambil memegang tangannya. Baekhyun menggerakan sedikit tubuhnya untuk menatap keseluruhan wajah tampan di sampingnya.
"Sehun? Bagaimana kau_" Baekhyun menatap Sehun dan pintu bus bergantian.
"Aku berlari dari rumah dengan cepat, ketika aku sampai halte dan melihat bus nyaris tertutup aku pikir aku akan tertinggal. Tapi, hehehe.. Tuhan memberikanku kesempatan, dan ternyata hyung tidak menyadariku. Aku disini sejak tadi hyung." Ucap Sehun sambil tersenyum memperlihatkan senyuman anak-anaknya.
Baekhyun menatap Sehun , ia ingin tersenyum namun bibirnya seperti membeku , bukan senyumannya malah sebuah air mata yang coba ia tahan dari tadi terjatuh melewati pipinya lagi dan lagi.
"Hyung?" Sehun menatap nanar kearah Baekhyun, lalu menyentuh pipi itu dan mengusap air matanya perlahan.
"Jangan bersedih lagi! Aku tidak tega melihat hyung seperti ini. Jangan lupa aku mencintaimu hyung, kami mencintaimu." Baekhyun menatap dalam kearah Sehun, hatinya merasa tersentuh dengan ketulusan itu.
Namun semakin lama ia menatap Sehun, semakin ia menyadari bahwa wajah anak lelaki di depannya sama dengan wajah Chanyeol.
Bahwa sosok di hadapannya kini adalah darah dagingnya bersama Chanyeol, dengan cepat Baekhyun menarik tangannya yang berada dibawah tangan Sehun. Membalik tubuhnya untuk kembali bersandar pada jendela.
"Hyung?"
"Jangan…" Baekhyun menjeda ucapannya tanpa melihat kearah Sehun.
"….jangan sentuh aku, Sehun-ah!" ucap Baekhyun pelan.
Meski pelan dan lembut, namun ucapan itu meninggalkan goresan yang dalam dihati Sehun. Pandangannya merendah, ia menatap dasar kedua sepatunya tanpa minat.
Apa ia kembali ditolak?
Apa keberadaannya kembali tidak diinginkan?
Sehun mengusap air matanya yang terjatuh dengan cepat, menyembunyikan isakannya dengan menutup mulutnya rapat-rapat.
"Seorang keturunan iblis, tidak akan menangis. Sesakit apapun perasaannya."
Ucapan Kakek Iblis masih berbekas dibenaknya.
…
..
.
Baekhyun berjalan melewati koridor sekolah untuk menuju kelasnya dan selama perjalanan ia mendengar bisik-bisik para siswa yang tertangkap oleh indra pendengarannya.
"Ya, aku sudah tahu itu. Si kutu buku itu akhirnya kembali ke China."
Ucap sebuah suara dari sosok yang enggan Baekhyun lihat.
"Iya bersama saudaranya. Aku tidak menyangka ternyata mereka bersaudara. Bagaimana mungkin dia bisa menyiksa saudaranya seperti itu?"
Ucap suara lainnya.
"Yah setidaknya sekolah kita aman sekarang, hanya tinggal satu orang lagi yang akan berkuasa disekolah ini, dia…" ucapan mereka terputus ketika menyadari Baekhyun berjalan disamping mereka.
Baekhyun tahu siapa nama yang akan mereka sebut. Park Chanyeol. Siapa lagi?
Si iblis tanpa perasaan yang telah mempora-porandakan hidupnya. Baekhyun tersenyum miris dalam hati.
…
..
.
"Dia benar." Chanyeol membulatkan matanya ketika ibunya menjawab pertanyaannya.
"Baekhyun memang sedang mengandung." Ucap Taemin lagi sambil menatap kearah vas bunga diatas meja di dalam kamarnya.
"Tapi bu, bagaimana bisa? Aku ingat terakhir kali aku melakukannya, aku mengeluarkannya diluar." tanya Chanyeol yang kini duduk di kursi di samping ranjang ibunya, dimana ibunya terbaring diatasnya dengan sebuah selimut sebatas pinggangnya.
"Ibu telah mencaritahu itu, kemarin diam-diam ibu mendatangi Baekhyun ketika ia sedang tertidur. Usianya telah menginjak satu setengah bulan, Chanyeol." Chanyeol membulatkan matanya, memutar otaknya untuk mengingat segala sesuatunya secara detail.
"Kau ingat kau pernah mencoba membunuh janinmu? Ketika Baekhyun tidak ingin mengandung?" Chanyeol mengangguk, dia memang merasa bersalah karena membunuh benih-benih tak bersalah yang mencoba tumbuh itu.
"Ya, aku membunuh mereka. Lalu? Apa itu menjawab pertanyaanku?" Taemin menghela nafas pelan.
"Dari tiga janin yang coba kau bunuh, satu diantaranya bertahan hidup. Dia pintar, dia bersembunyi dari seranganmu, hingga kau melewatkannya. Dia bertahan, bersembunyi darimu agar kau tidak menyadari keberadaannya." Ucap Taemin lagi.
"'Aku hanya ingin hidup, kenapa mereka ingin membunuhku?' Ibu masih mengingat apa yang ia katakan ketika ibu mendatanginya malam itu." Sambung Taemin lagi membuat Chanyeol terkejut.
"Di..dia berkata seperti itu?" Taemin mengangguk sebagai jawaban, lalu mengalihkan pemandangannya kearah Chanyeol menatapnya dalam dengan wajah bersedih.
"Dia berkata, bahwa dia akan membalas dendam Chanyeol. Bahwa dia akan membuat kalian menyesal karena telah ingin membunuhnya." Bola mata Chanyeol membulat ia bangkit sambil menatap ibunya dengan wajah cemas.
"Itu berarti? Baekhyun?" Taemin mengangguk.
"Baekhyun dalam bahaya." Sambung Taemin. Chanyeol hendak berjalan keluar, namun tangannya ditahan.
"Kau tidak usah khawatir Chanyeol, kasih sayang seorang ibu mampu mengubah apapun. Bahkan batu yang keras sekalipun." Chanyeol terdiam, menatap ibunya mencari sebuah kepercayaan dan ia mendapatkan itu, ia bisa mempercayai ucapan sang ibu .
…
..
.
"Aakh!" Baekhyun meremas perutnya yang terasa nyeri. Ia menggigit bibirnya dengan sangat kuat, peluh membasahi keningnya dan tubuhnya terasa gemetar.
Ia mencoba mengabaikan rasa sakit itu dan kembali berfokus pada tes yang sedang ia kerjakan, namun rasa sakit itu mengalahkan semuanya. Ia meremas perutnya dengan kuat dan rasa sakit itu datang lebih parah.
"Byun Baekhyun? Apa terjadi sesuatu?" tanya sang guru. Baekhyun menggeleng pelan, menorehkan jawaban di soalnya dan segera bangkit setelah merapikan peralatan sekolahnya dan mengambil tasnya.
Ia berjalan ke depan dengan wajah pucat, lalu mengumpulkan lembaran soal itu dan memberi hormat lalu berjalan keluar. Siswa-siswa yang lain nampak terkejut melihat Baekhyun yang sudah mampu menyelesaikan soalnya dalam waktu kurang dari tiga puluh menit, namun guru Kang yang biasanya puas dengan pekerjaan Baekhyun nampak mengerutkan keningnya ketika melihat jawaban Baekhyun yang asal-asalan.
Baekhyun berjalan di koridor sekolah sambil memegangi perutnya yang seperti melilit, meremas usunya dengan sangat kuat, seolah isi perutnya tertarik dan diputar-putar di dalam sana. Rasa sakitnya tidak terdefinisikan dan Baekhyun tidak pernah merasakan rasa sakit separah ini seumur hidupnya.
"Baekhyun?" Baekhyun mendongak untuk mendapati Jessica di hadapannya.
"Apa kau sakit?" tanya Jessica sambil memegang pundak Baekhyun, Baekhyun mengangguk pelan sambil berpegang pada sisi koridor.
"Ini minumlah!" ucap Jessica sambil memberikan sebuah botol minuman. Baekhyun melirik botol itu sejenak lalu menatap Jessica. Wanita itu tersenyum kecil.
"Ini adalah obat tradisional, ini mampu menghilangkan rasa sakit apapun. Saat ini banyak penyakit aneh sering terjadi, kemarin aku terserang sakit perut yang sangat hebat dan obat ini sangat membantu." Baekhyun mendongak membuat Jessica menghentikan ucapanya.
"Apa kau juga sakit perut?" Baekhyun mengangguk pelan.
"Kebetulan sekali, ini minumlah!" ucap Jessica. Baekhyun mengangguk dan menerima minuman itu setelah Jessica membantunya untuk membuka tutup botol itu.
Baekhyun meminumnya meskipun rasanya sedikit aneh, ia berharap bahwa rasa sakitnya hilang. Setelah botol itu kosong, Baekhyun menghela nafas. Jessica menatapnya dengan tatapan penuh harap.
"Bagaimana?" tanya Jessica. Baekhyun mengernyit lalu kemudian memegang perutnya. Ia tidak merasakan rasa sakit itu lagi, ia tidak tahu jika efek obat tradisional bisa lebih cepat dari pada obat modern.
"Sakitnya hilang." Baekhyun tersenyum.
"Terima kasih Saem." Ucap Baekhyun sambil membungkukan tubuhnya.
"Tidak usah sungkan!" ucap Jessica lalu tersenyum dan menepuk pundak Baekhyun sebelum akhirnya berlalu. Baekhyun menatap kepergian gurunya lalu melangkah perlahan meninggalkan koridor.
Ia tidak mungkin kembali ke dalam kelas, jadi ia memilih untuk pulang.
Jessica menghentikan langkahnya , lalu berbalik, ia tersenyum lalu menatap botol kosong ditangannya.
"Anak baik." Ucapnya sambil menyeringai kecil.
…
..
.
Sehun menatap jendela kamarnya, langit sudah berubah senja tiga jam setelah kepulangannya. Dan selama tiga jam tersebut, ia hanya terbaring diatas ranjang tanpa minat.
"Jangan sentuh aku, Sehun-ah!"
Ucapan itu terngiang di kepalanya, berputar-putar seperti sebuah lagu dan selalu berhasil membuat hatinya kembali tersayat dan tersayat.
"Apa setelah semua cinta yang aku rasakan, aku akan kembali dibenci?" gumamnya pelan. Menutup matanya dalam, membiarkan air matanya mengalir membasahi pipi putihnya.
"Ayah, Sehun telah menjadi anak yang baik, apa ayah tidak mau bermain dengan anak kita?"
Suara Baekhyun terdengar di telinganya, suara ketika ia,Chanyeol dan Baekhyun berpura-pura menjadi ayah-ibu-anak.
"Sehun-ah, jangan melawan ayahmu kau mengerti?"
"Sehun-ah, maafkan aku. Aku menyayangimu Sehun-ah."
"Apa waktu tidak bisa berhenti dimana kita bertiga bersama? Aku bisa memaafkannya ibu, tapi kenapa kau tidak?"
Sehun kembali terisak, ia mengusap air matanya dan kembali menutupnya berharap ia akan jatuh tertidur, bukan terisak semakin dalam.
"Apa rasanya sesakit itu? Apa tidak ada kata maaf untuk bajingan itu? Hiks.. aku..aku ingin kita bahagia sebagai keluarga." Ucap Sehun lalu membalik tubuhnya dan meringkuk seperti sebuah janin di dalam kandungan.
"Aku tidak ingin dibenci lagi, Ibu." Gumam Sehun pelan.
Disana , di ambang pintu Baekhyun terdiam. Tubuhnya membeku mendengar ucapan Sehun.
Jadi selama ini Sehun sudah tahu siapa dirinya, dan siapa ayahnya?
Jadi selama ini Sehun telah mengetahui rahasia besar itu dan menyimpannya seorang diri?
Jadi Sehun sudah tahu bahwa dirinya adalah ibunya, dan Chanyeol adalah ayahnya?
Berbagai pertanyaan itu menyelimuti pikirannya. Baekhyun membalik tubuhnya, berlari kedalam kamarnya dan menutup pintunya dengan cepat.
Niat awalnya ingin meminta maaf atas sikap kasarnya tadi pagi, berakhir dengan ia yang mengetahui kenyataan bahwa anak yang telah ia lahirkan, yang besar bersamanya dengan status adik telah mengetahui siapa sosok monster yang telah menghamili ibunya.
Baekhyun menjatuhkan dirinya di balik pintu, menangis dalam kesunyian di dalam kamarnya. Mengubur kepalanya di balik lipatan kakinya. Membiarkan air matanya lagi dan lagi terkuras karena tangisanya.
"Kenapa hidup sungguh tak adil padaku? Rahasia apalagi yang belum aku ketahui?" isaknya pelan.
Tak lama jendela terbuka membuat Baekhyun membuka matanya penuh waspada. Sosok itu muncul disana, di bingkai kamarnya.
"Kau…" bibir Baekhyun kelu. Ia mencoba bangkit dengan tubuh bergetarnya.
"Baekhyun!" suara itu membuat hati Baekhyun berdegup semakin kencang, bukan gugup melainkan sebuah perasan takut yang besar.
Chanyeol menghilang ketika Baekhyun berbalik untuk membuka pintu lalu muncul di belakang Baekhyun untuk menahan pintu itu.
Tubuh Baekhyun menegang, ia berbalik cepat dan membuat wajah mereka berada sangat dekat.
Mata biru sedikit tertutup oleh helaian rambut hijau kelam milik Chanyeol menyapa penglihatan Baekhyun. Ia membulatkan matanya dan ingin berteriak, dengan tangan mengetuk-ngetuk pintu dibelakangnya dengan gemetar, memohon meminta bantuan.
Chanyeol menghela nafas, lalu meniupkan angin di depan wajah Baekhyun , hingga tubuh itu jatuh tak sadarkan diri di depannya.
Chanyeol menangkap tubuh itu dengan sigap lalu menggendongnya.
"Maafkan aku Baek, aku harus melakukan ini untuk membuatmu tertidur. Kau sudah cukup membuang waktu tidurmu hanya untuk menangis sayang." Ucap Chanyeol sambil membawa tubuh itu ke atas ranjang dan membaringkannya pelan.
Dengan penuh kasih sayang , Chanyeol memperbaiki posisi tangan Baekhyun. Menurunkan baju kaosnya yang tersingkap memperlihatkan perutnya.
Ia tarik selimut untuk menutupi tubuh itu, lalu ia elus surai hitam kelam Baekhyun. Kaki panjangnya bersimpuh disamping ranjang Baekhyun, menatap wajah itu dalam dan penuh cinta.
"Maaf karena membuatmu menjadi hancur Baekhyun, cepat atau lambat ini memang harus terjadi. Tidurlah sayang dan hiduplah dengan baik! Maaf karena aku harus meninggalkanmu lagi. Aku ingin sekali hidup bahagia bersamamu seperti apa yang kita impikan." Chanyeol tanpa sadar terisak pelan. Jemarinya setia mengelus pipi Baekhyun.
"Tapi sayang, kau begitu membenciku, kau tidak menginginkan keberadaanku. Maafkan aku karena membuat semua seperti ini. Mungkin ini terakhir kalinya aku mengunjungimu, aku harus kembali pada tugasku, Baek." Chanyeol menghentikan ucapanya ketika air matanya terjatuh diatas dada Baekhyun.
"Mungkin kita tidak akan bertemu lagi, tapi aku harap kau hidup dengan bahagia sayang." Chanyeol mengecup bibir Baekhyun lama, menyalurkan rasa sedih, sayang, kecewa, rindu dan seluruh perasaannya pada Baekhyun.
"Kita adalah dua makhluk yang berbeda, mereka benar kita tidak bisa hidup bersama. Lagipula, siapa yang mau hidup dengan makhluk menjijikan sepertiku? Aku hanya seorang yang pengecut, Baek. Maafkan aku." Usap Chanyeol sambil mencoba tersenyum.
"Baekhyun-ku sayang. Terima kasih karena telah mengajarkanku apa arti sebuah cinta, karmamu pasti sangatlah baik hingga bisa membuat makhluk tak berpersaan sepertiku mengenal sebuah perasaan cinta. Aku mencintaimu Baek." Chanyeol kembali mengecup bibir Baekhyun.
"Aku mencintaimu dan anak-anak kita." Ucap Chanyeol sambil melirik kearah perut Baekhyun. Ia menurunkan tubuhnya dan mengecup perut Baekhyun.
"Aku mencintai kalian." Ucapnya lalu perlahan bangkit. Chanyeol tersenyum kearah sosok yang kini berdiri dengan bibir tertutup diambang pintu yang sedikit terbuka.
Chanyeol telah menyadari sosok itu sejak tadi, Kibum disana dengan wajah berlinang air mata dan tangan yang berusaha meredam air matanya.
"Aku pergi Nyonya. Maafkan menyusahkan hidup anakmu. Tolong jaga dia dan cucumu!" ucap Chanyeol sambil tersenyum tulus lalu berbalik, berubah menjadi kelelawar dan menghilang.
Kibum masih terisak di tempatnya. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Sosok makhluk itu, berada di hadapannya dan ia tahu itu adalah Chanyeol. Kaki Kibum mendadak lemas, ia terjatuh diatas lantai sambil masih terisak .
Baekhyun terbaring diatas ranjang dengan mata tertutup, namun dari sudut matanya sebuah air mata mengalir turun secara diam-diam.
…
..
.
Chanyeol membuka matanya merasakan hembusan angin menerpa kulit wajahnya. Sorot matanya tajam, menantang ke depan , kehamparan tanah kosong dihadapanya.
Dibelakangnya seluruh pasukan telah berdiri dengan gagah. Pasukan terpilih dari seluruh makhluk yang ada. Seluruh pasukannya telah berdiri dengan berani, disampingnya ada Luhan yang mengangkat kepalanya sangat tinggi.
Chanyeol adalah pemimpin untuk pasukan yang terjun kelapangan. Minho dan Kakek iblis berjaga bersama pasukannya di Infernus, sementara Yunho dan Raja Langit berjaga di Nubes.
Dan untuk mereka yang masih belum cukup kuat untuk berperang diamankan di Infernus dengan pengamanan terketat yang ada, menghindari kejadian sebelumnya dimana Lucifer dan pasukannya menyerang mereka yang tidak ikut perang.
Langit dalam keadaan gelap, petir menyambar seperti biasa menandakan bahwa mereka pun siap menyaksikan peperangan ini.
Tak lama seringaian Chanyeol muncul ketika dari kejauhan gerombolan para makhluk utusan Lucifer bermunculan, meskipun belum melihat sosok Lucifer namun setidaknya ia tidak diremehkan dengan hanya mengirimkan satu orang pesuruh.
"Akhirnya mereka muncul." Gumam Luhan sedikit kesal. Chanyeol menyeringai ketika melihat sebuah sosok turun bagai kilat dari atas langit dan berubah menjadi sosok Tao, lalu kilatan hitam lain muncul dan seorang wanita berjubah hitam dengan tudung menutupi wajahnya juga muncul.
"Apa itu kaki tangan Lucifer yang lain?" tanya Luhan pada Chanyeol. Chanyeol melirik lalu mengedikkan bahunya.
"Siapa yang peduli? Aku hanya menunggu kedatangan makhluk itu." Ucap Chanyeol dengan wajah menyeringai.
Dan tak lama sebuah kilatan lebih besar muncul menyambar tanah dan sosok yang paling dinantikan muncul. Kris atau Lucifer, berdiri disana dengan wajah angkuhnya. Ketiganya berjalan mendekat lalu berhenti puluhan meter di depan Chanyeol dan pasukannya.
Sosok Kris menghilang lalu muncul tepat dihadapan Chanyeol.
"Senang melihatmu lagi." Ucap Kris dengan nada ramah dan sebuah senyuman penuh kehangatan yang membuat Chanyeol berdecih.
"Senang melihat lehermu dalam keadaan yang baik-baik saja." Ucap Chanyeol membuat senyuman Kris muncul dan berubah menjadi seringaian.
"Yah, itu seperti sebuah pijatan refleksi untukku." Ucap Kris tidak mau kalah.
"Benarkah? Ingin merasakan lagi? Aku bisa memberimu pijatan gratis, hingga terpisah dari tubuhmu." Seringaian Chanyeol kembali muncul membuat Kris berdecih.
"Hm, ngomong-ngomong, bagaimana keadaan kekasihmu itu? Apa bayi di dalam perutnya belum memakannya?" Kening Chanyeol berdenyut, senyumnya mendadak hilang meninggalkan sebuah gertakan keras pada giginya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan!" ucap Luhan membuat Kris menoleh dan memasang wajah terkejut pura-pura.
"Aw, inikah si malaikat setengah iblis yang cantik itu? Yang tidak bisa menjadi Pangeran mahkota di Nubes, ataupun menjadi Raja Iblis di Infernus? Ckckckck.. anak yang malang, bahkan jatuh cinta pada keponakannya sendiri."
"Kau.." Chanyeol menahan Luhan yang ingin mengeluarkan kekuatannya.
"Chanyeol jangan terpancing oleh ucapannya!" suara Kakek iblis berbicara melalui telepati. Chanyeol mengernyit sambil mendengarkan ucapan kakeknya.
"Dia sedang memanipulasi pikiran kalian, dia sedang mencoba membuat kalian bimbang dan mencari kelemahan kalian, dia menemukan kelemahan Luhan jangan sampai dia menemukan kelemahanmu!"
"Dia telah tahu kelemahanku, tapi aku tidak akan membuat kelemahan itu menjadi alasan atas kekalahanku." Jawab Chanyeol.
"Aaaww, sedang bicara dengan atasanmu disana? Walkie-talkie!" ucapnya dengan nada jenaka sambil menggerakan tangannya di samping telinganya membuat gerakan seolah sedang bertelponan.
Chanyeol terdiam lalu mematikan telepatinya, dan menatap sosok itu datar.
"Kita membuang-buang banyak waktu! Sekarang persiapkan pasukanmu, kita mulai!" ucap Chanyeol. Kris berdecih sambil menggeleng pelan.
"Dasar amatir!" ucap Kris lalu menatap Chanyeol remeh.
"Seharusnya kau membuat perjanjian dulu atas hadiah bagi pihak yang menang dan konsekuensi untuk pihak yang kalah." Chanyeol menatap datar kearah Kris tidak ingin menunjukan ekpresi apapun.
"Baiklah, katakan!"
"Ck! Seharusnya aku makhlum, kau kan tidak sepenuhnya iblis dan tidak pula malaikat. Bahkan kau belum resmi menjadi seorang Raja, kalau pikir-pikir ini seperti sebuah penghinaan untukku." Ucap Kris lagi, Chanyeol masih mencoba diam tidak ingin terpancing emosi.
"Sudah? Jadi katakan! Apa yang kau inginkan?" Kris terdiam, meletakkan salah satu tangannya di dengan dagu dan pura-pura berpikir.
"Hm apa yang aku inginkan?" ucapnya lagi.
"Butuh waktu lebih lama? Aku bisa membawa pasukanku kembali!" ancam Chanyeol dengan nada dingin. Kris berdecak lalu menatap Chanyeol tajam.
"Nubes dan Infernus menjadi milikku." Chanyeol akui ia merasa terkejut dengan itu.
"Adalagi?" tantang Chanyeol.
"Ditambah kalian semua menjadi budakku."
Luhan membulatkan matanya, melirik Chanyeol yang nampak tenang. Seluruh pasukan mendadak takut, bahkan Minho dan yang lainnya yang mendengar merasakan sebuah kecemasan.
"Baiklah." Ucap Chanyeol santai membuat Kris cukup terkesan.
"Tapi jika kau kalah?" tanya Chanyeol lagi.
"Jika aku kalah?" Kris kembali memasang wajah berpikir.
"Meski itu terasa mustahil tapi baiklah, aku akan menerima segala konsekuensi yang kau berikan. Keinginanmu sebagai pemenang, adalah konsekuensiku sebagai pihak yang kalah."
"Aku ingin kau kembali keasalmu." Ucap Chanyeol dengan satu sudut bibir tertarik keatas.
"Ke asalku? Nubes?" tanya Kris. Chanyeol menggeleng pelan.
"Lenyap menjadi butiran debu." Wajah Kris mendadak berubah dingin, ia akui ia cukup terpancing oleh ucapan Chanyeol, namun ia mencoba bersikap tenang. Kris tersenyum lalu mengulurkan tanganya.
"Deal." Ucapnya. Chanyeol melirik tangan itu lalu menjabatnya secara jantan.
"Kesepakatan yang baik." Ucap Kris sambil membalik tubuhnya.
"Ah Chanyeol, aku ingin bertanya, bolehkah?" tanya Kris.
"Silahkan!" Chanyeol mengangguk .
"Jika aku lenyap apa semua akan kembali seperti semula? Apa Baekhyun akan kembali padamu? Aku rasa tidak, jadi apa yang bagus dari kekalahanku?" Chanyeol mengepalkan tangannya. Ia membenci bagaimana sosok dihadapannya memanfaatkan kelemahannya.
"Kabar baiknya? Hmm.. setidaknya aku tidak melihat wajah menjijikanmu."
"Pffftt." Luhan menahan tawanya dan Kris melirik dengan wajah kesal lalu kembali menatap Chanyeol dengan sebuah seringaian.
"Bagus." Kris berbalik lalu mengangkat tangannya membuat tiba-tiba sosok Tao dan wanita bertudung menghilang lalu pasukannya bergerak dengan cepat.
"Sial! SERAAAANGGG!" ucap Chanyeol memberi perintah dan pasukanya bergerak cepat.
Chanyeol mengepakkan sayapnya dan menyerang dari atas begitu pula Luhan. Dalam keramaian Chanyeol mencari sosok Kris dan ia menemukannya, dengan cepat ia terbang kearah sosok itu dan membuat arena pertarungan sendiri.
…
..
.
Minho dan Kakek Iblis berdiri di depan Infernus dengan pasukan mereka yang berjaga mengelilingi Kerjaan itu, hingga sebuah sosok hitam muncul, Zitao.
"Oh hai orangtua." Ucap Zitao sambil menyeringai dan berjalan dengan satu tangan disakunya.
"Apa aku datang ketempat yang tepat? Apa ini rumah panti jompo?"
"Banyak bicara! Serang!" perintah Kakek Iblis dan pasukan yang tiba-tiba muncul dibelakang Zitao pun menyerang pasukan milik Infernus.
…
..
.
Yunho dan Raja Malaikat berdiri di depan gerbang Nubes dengan tenang. Hingga sosok wanita muncul dengan tudung yang menutup wajahnya.
"Lama tidak bertemu, Raja Langit." Ucap sosok itu. Raja Langit tidak menjawab, ia hanya berdecih.
"Aku tidak menyangka makhluk sepertimu yang mengkhianati saudaranya bisa berada disini? Di tempat suci seperti ini."
"Ck! Jangan sok suci! Bahkan istanaku yang berada jauh diatas istana kalian saja memiliki seorang pengkianat sepertiku, apalagi tempat kalian? Dan setahuku Nubes bukan hanya tempat para malaikat saja sekarang, bukankah iblis sering keluar masuk kemari?"
"Kau benar, lalu apa yang salah?" tanya Raja Langit tenang.
"Setidaknya kami bukan pengkhianat." Lanjut Raja Langit membuat wanita itu menggeram tidak suka lalu mengangkat tangan membuat pasukan terbentuk dari gumpalan awan dan juga cahaya menyilaukan dari tangannya.
"Aku cukup berbaik hati." Gumamnya lalu menyerang secara bertubi membuat Yunho segera menyerang bersama pasukannya.
…
..
.
Sehun melangkah mendekati KIbum yang masih terduduk diatas lantai. Ia menyentuh pundak itu pelan.
"Ibu?"
"Se..Sehun-ah?" ucap Kibum sambil menghapus air matanya.
"Jangan menangis! Semua baik-baik saja." Kibum mengangguk pelan.
"Ibu, hhmm.. tidak! Seharusnya aku memanggilmu nenek." Bola mata Kibum membulat.
"Nek, aku sudah tahu yang sebenarnya. Aku tahu siapa aku, siapa ibuku dan siapa ayahku." Kibum menutup mulutnya tidak percaya. Sehun tersenyum lalu berjalan mundur.
"Aku pun merasa terkejut diawal, aku merasa hancur dan sakit tapi aku bangkit dan menerima siapa diriku."
"Sehun-ah?" Tangisan Kibum terdengar.
"Aku harus pergi."
SLAHS
Sehun merubah mewujudkan membuat kibum mendongak dan semakin terkejut.
"Aku tetap Sehun yang dulu nek, hanya saja aku sedikit lebih besar." Ucap Sehun sambil tertawa kecil.
"Dan aku harus pergi, ayahku, keluargaku membutuhkanku untuk melawan makhluk itu. Aku harus pergi!" ucap Sehun lalu menghilang. Kibum masih menutup matanya dan tidak percaya dengan apa yang ia lihat, yang bisa ia lakukan hanya menangis dan menangis semakin dalam.
…
..
.
Baekhyun terbangun di pagi hari dengan perasaan yang lebih baik. Ia meregangkan ototnya sambil sedikit menguap, perlahan ia menyibak selimutnya dan membuka jendela dengan hati-hati.
Bibirnya sedikit merengut ketika cuaca sedang tidak baik, langit mendung dan menunjukan bahwa sebentar lagi mungkin akan turun hujan. Baekhyun tersenyum kecil sambil menghela nafas, hingga ia terdiam, terpaku pada satu titik di bingkai jendela.
Ingatan semalam kembali mendatanginya, ingatan-ingatan itu , ia pikir adalah mimpi buruk namun ia tersadar bahwa itu adalah kenyataan.
Tentang Sehun yang tahu siapa jati dirinya, tentang kemunculan Chanyeol di hadapannya , itu bukan mimpi itu adalah sebuah realita.
Baekhyun menutup matanya membiarkan air matanya mengalir melewati pipinya , perlahan tangannya terangkat menuju lengannya, saling menyilang untuk memberi kehangatan. Semakin ia mencoba melupakannya, semakin rasa sakit itu menghantamnya.
"Baekhyun, bila makhluk itu datang kembali padamu dan menyadari perbuatannya , apa kau akan memaafkannya?"
Lagi-lagi suara berat itu terngiang di telinganya, seolah menyusup ke dalam pikirannya dan mencoba mengambil alih seluruhnya.
"Jika ternyata aku bukan manusia, jika ternyata aku makhluk menjijikan apa kau akan tetap disampingku?"
Bagai alunan lagu, suara itu memenuhi pikiran Baekhyun. Baekhyun menutup kedua telinganya, tubuhnya lemas dan ia jatuh terduduk diatas lantai dengan tubuh bersandar pada dinding.
Ia memejamkan matanya kuat sambil menggeleng, menekan dadanya sesekali yang terasa begitu sesak.
"Pergi! Pergi dari kepalaku! Kau makhluk kejam! Pergiiii!" Teriak Baekhyun dalam isakan. Pintu terbuka menampilkan Kibum yang berlari dengan cemas dan wajahnya nampak kacau.
"Baekhyun!" panggil Kibum menggetarkan tubuh putranya namun Baekhyun hanya menggeleng sambil menutup erat telinga dan matanya.
"Pergi! Pergi! Aku membencimu, aku membencimu." Ucap Baekhyun lagi. Kibum memeluk tubuh Baekhyun, berusaha menenangkannya.
Mengelus punggung sempit itu berulang kali, dan ia seperti merasakan dejavu. Baekhyun pernah mengalami ini dulu ketika ia tahu bahwa dirinya mengandung anak dari makhluk tak kasat mata, dan kini kejadian itu terulang lagi setelah Baekhyun mengetahui siapa sosok Chanyeol yang sebenarnya.
Chanyeol.
Nama itu mengingatkan Kibum pada kejadian semalam, ia akui bahwa ia sangat terkejut dan terpukul namun ia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan sosok itu, Kibum mendengar semua ucapan Chanyeol dan ia mulai mengerti bahwa Chanyeol mencintai putranya, hanya saja Baekhyun tidak bisa menerima kenyataan itu dengan mudah membuatnya terlihat kacau dan menyedihkan.
Kibum pun tak bisa menyalahkan putranya, siapapun akan hancur jika berada di posisi Baekhyun. Dan Kibum menyesalinya, menyesali bahwa sosok yang membuat anaknya hancur adalah sosok yang mencintainya dan pernah menghancurkannya dulu.
"Baekhyun! Tenanglah! Ibu mohon!" Kibum terisak dan ia mulai menangis dengan keras. Baekhyun menghentikan gerakannya dan terpaku melihat keadaan ibunya. Lagi dan lagi ia menyusahkan wanita yang telah menyusahkannya dengan payah seorang diri selama ini.
"Jangan seperti ini nak, ibu hancur melihatmu seperti ini…" Kembali Kibum menangis sambil mengelus dan memeluk tubuh Baekhyun lebih erat.
"Ibu." Ucap Baekhyun lirih membuat mata mereka bertemu dan bertatapan dalam.
"Ibu… dia.. Chan- makhluk itu… dia.. dia kembali..hiks.." Baekhyun kembali terisak. Kibum memegang kedua pipi Baekhyun, membuat wajah itu menghadap kearahnya lalu mengangguk-anggukan kepalanya pelan.
"Ibu tahu, ibu tahu sayang. Jangan tutupi lagi, jangan!" Ucap Kibum, bola mata Baekhyun membesar dan menatap ibunya sedih.
"Kemarin dia datang, ibu melihatnya. Dia juga hancur sayang, dia sama hancurnya denganmu. Dia…" Kibum menghela nafas.
"Dia mencintaimu Baekhyun, dia masih mencintaimu."
"Tidak." Baekhyun menggelengkan kepalanya.
"Tidak." Ucapnya lagi sambil memundurkan dirinya tepat hingga menempel pada lemari.
"Baekhyun!"
"Tidak bu, dia tidak mencintaiku. Dia hanya menginginkan tubuhku, dia hanya ingin menitipkan benihnya padaku.. dia tidak mencintaiku,," rancau Baekhyun. Kibum kembali menangis mencoba menggapai tubuh Baekhyun, namun Baekhyun menolak dan hal itu membuat Kibum menangis lebih kencang.
…
..
.
Taemin terduduk diatas ranjangnya, berusaha menutup mata dan telinganya atas kegaduhan yang terjadi diluar sejak semalam. Ia ingin sekali bangkit dan ikut melawan, namun kesehatannya sungguh sangat tidak menolong.
Sejak terjatuh di dalam ruangan ayahnya, Taemin merasa tubuhnya sangat lemah namun ia mencoba bersikap biasa agar keluarganya yang lain tidak merasa cemas, apalagi mereka harus lebih fokus pada pertarungan yang sedang mereka hadapi.
Taemin masih mengingat bagaimana ketika ia terbangun di dalam kamarnya, ia merasa tubuhnya benar-benar lelah dan letih. Ketika mata beratnya mencoba terbuka, ia hanya menemukan ayahnya sedang berdiri disampingnya dan menatapnya dengan wajah kecewa.
Taemin tahu, bahwa ayahnya pada akhirnya akan tahu mengenai keadaannya yang memburuk namun Taemin meminta sang ayah untuk merahasiakan hal itu dari siapapun terumata Minho dan anak-anaknya.
"Ibu!"
Mata Taemin terbuka lebar ketika mendengar suara itu menggema di dalam kamarnya. Ia mengedarkan pandangannya dan tidak menemukan sosok Kyungsoo disana.
"Kyungsoo? Sayang?"
"Ibu!"
"Sayang, kau dimana sekarang? Kau baik-baik saja? Kau dimana nak?"
Tanya Taemin bertubi.
"Ibu, jangan khawatir. Aku baik-baik saja."
"Kyungsoo..hiks.." Taemin terisak , merasakan rindu yang menjalar pada dirinya.
"Ibu jangan menangis! Seorang malaikat tidak menangis, aku baik-baik saja disini, tenanglah!"
"Apa mereka mengurungmu? Ibu akan menjemputmu_"
"Tidak bu! Jangan lakukan itu! Maksudku tidak untuk sekarang."
"Lalu kapan kau pulang?"
"Aku belum tahu, tapi dia…" ada jeda di ucapan Kyungsoo.
"…dia melarangku untuk kembali sekarang bu."
"Dia siapa? Apa Lucifer memperlakukanmu dengan baik, apa_"
"Ibu, aku harus pergi. Dia kembali. Aku menyayangimu, bu, aku menyayangi kalian semua."
"Kyungsoo!"
Telepati itu terputus. Taemin menundukan wajahnya dalam dan menangis dalam kesendirian. Ia tidak tahu mengapa keluarganya bisa mengalami hal ini, apa ini semua adalah hukuman untuknya? Apa benar bahwa iblis dan malaikat tidak bisa bersama?
…
..
.
Di arena perang , seluruh makhluk nampak memperjuangkan seluruh kekuatan mereka. Keadaan sangat hiruk pikuk. Serangan terjadi diseluruh tempat, beberapa makhluk terkapar diatas tanah dan bersimbah darah, beberapa masih berusaha bertahan dengan kekuatan mereka.
Sama halnya dengan Luhan yang kini sedang bertarung melawan sesosok makhluk bertubuh tinggi gelap menyerupai awan, Luhan menggunakan kekuatan anginnya namun sama sekali tidak membuat sosok itu tumbang.
Dengan kesal Luhan menutup matanya dan membuat sebuah pusaran besar di depannya yang berkilat-kilat dengan cahaya birunya, lalu membuat sebuah portal dan perlahan portal itu terbuka dan menyedot makhluk besar itu ke dalamnya.
Di tempat lain Chanyeol sedang bertarung hebat melawan Kris, si Lucifer dan Chanyeol nampak imbang. Keduanya belum ada yang terluka namun tatapan mereka terus waspada satu sama lain.
Chanyeol membuat sebuah pedang dari api yang ia milikki untuk melawan pedang asli milik Kris. Pedang api Chanyeol terlihat sangat mengerikan dengan bara yang tinggi membuat Kris bertindak dengan waspada.
"Suka dengan pedang milikku?" ucap Chanyeol dengan wajah angkuhnya.
"Itu keren, tapi terlihat biasa saja." Sahut Kris dengan sebuah seringaian.
"Oh, benarkah? Tapi matamu berkata lain."
"Oh, benarkah? Apa kau lupa tidak hanya ucapanku, tatapanku pun tak bisa kau percaya." Kris menyeringai sambil masih mencari posisi yang tepat untuk menyerang.
"Oh, berarti mata itu harus aku buang." Chanyeol menyerang dengan cepat namun Kris berhasil menghindar, Chanyeol kembali menyerang dan Kris terus menghindar membuat Chanyeol muak.
"Jika kau terus menghindar, aku sarankan kau untuk pulang, mencuci kakimu dan tidur. Jangan membuang-buang waktuku sialan!" bentak Chanyeol. Kris menyeringai lalu mengangguk setuju.
"Kau benar, aku sempat memikirkannya. Pulang, mencuci kaki dan tidur, tidur diatas ranjang bersama Baekhyun." Kening Chanyeol berkerut, keramah-tamahan palsu yang ia buat mendadak lenyap.
"Membayangkan aku yang menindih tubuhnya, menyentuh seluruh permukaan kulit sensitifnya, mencium bibirnya dan memasukan kejantananku ke dalamnya hingga ia mendesah dan terus mendesah, lalu aku akan menanamkan benihku disana. Setidaknya benihku jauh lebih unggul darimu, setidaknya anak yang terlahir karena benihku tidak memiliki wajah datar dan menyebalkan seperti putramu."
"Bajingan." Chanyeol bergumam dengan tatapan tajamnya , ia nyaris terpancing namun ia mencoba tenang. Chanyeol tidak pernah tahu bahwa Lucifer adalah sosok bermulut besar , bicara omong kosong , daripada menunjukan kekuatannya.
"Oh, aku tidak pernah tahu jika benihku akan lebih baik dari milikku. Setidaknya aku adalah iblis setengah malaikat, aku memiliki bagian terbaik dari gabungan itu semua, sementara kau? Apa yang bisa benihmu hasilkan dari seorang malaikat terbuang yang tamak dan termakan oleh ketamakannya sendiri?" Senyuman Kris mendadak lenyap membuat Chanyeol bersorak dalam hati.
"Mulutmu hebat juga!" puji Kris.
"Tidak hanya mulutku, seluruh tubuhku adalah sesuatu yang hebat. Rasakan ini mulut besar!" Chanyeol menyerang bertubi-tubi dengan kekuatannya begitu pula dengan Kris yang mengerahkan kekuatannya untuk melawan Chanyeol.
Pertarungan mereka semakin memanas, ditambah bara api disekitar tubuh Chanyeol yang terus membesar membuat Kris terkadang terbakar olehnya. Chanyeol berhasil meraih leher Kris dan membantingnya keatas tanah.
Mata mereka bertemu dan saling melemparkan sebuah seringaian.
"Senang bisa bertemu dengan lehermu lagi." Ucap Chanyeol, Kris menyeringai dengan wajah tenang.
Tanpa Chanyeol sadari tangan Kris bergerak dibawah tubuhnya dan meluncurkan sebuah kilatan cahaya yang menuju kearah Luhan, hingga Luhan yang sedang melawan musuhnya berteriak saat sebuah luka tebasan mengisi punggungnya.
"LUHAN!" Teriak Chanyeol ketika kakaknya jatuh ketanah. Kesempatan itu Kris gunakan untuk membalik keadaan . Ia mengeluarkan kuku tajamnya dan menancapkannya keleher Chanyeol.
Membuat darah Chanyeol memuncrat dengan deras, Kris menyeringai ketika Chanyeol terduduk diatas tanah dengan wajah terkejut.
SLASH
SLASH
SLASH
Tebasan demi tebasan yang Kris buat dengan kekuatannya melukai tubuh Chanyeol membuat darahnya muncrat sangat kuat.
"Tips untukmu , amatir!" Ucap Kris. Chanyeol mencoba bangkit namun tebasan itu mengenai kakinya membuatnya kembali bersimpuh.
"Ketika kau berada di arena perang dan berhadapan dengan musuhmu." Kris mendekat, mencekik leher Chanyeol lagi dengan menancapkan kukunya, lalu tangannya yang lain dengan kuku yang sangat panjang menusuk tepat kedada Chanyeol dengan perlahan.
"Jangan pernah lengah apalagi mengalihkan perhatianmu." Kuku Kris menancap semakin dalam sementara Chanyeol hanya membuka matanya menatap lurus ke depan dengan darah memuncrat dari bibirnya.
"Chanyeol! Chan..akkhh Yeol.." teriak Luhan yang terbaring diatas tanah sambil menatap kearah adiknya yang meregang nyawa ditangan Lucifer.
"Chanyeol, aku mencintaimu."
Suara Baekhyun mulai memenuhi pikirannya.
"Chanyeol, terima kasih karena selalu ada untukku."
Kenangan-kenangan mereka mulai berputar didalam kepalanya, kenangan indah bersama orang yang ia cintai.
"Kau hadiah terbaik yang Tuhan kirimkan untukku, Chanyeol."
Bagaiamana sosok itu tersenyum begitu lembut kearahnya membuat dirinya merasa ikut bahagia.
"Chanyeol, jika nanti kita bersama aku ingin menua bersamamu."
"Chanyeol, apakah orang sepertiku berhak bahagia?"
Merasakan kesedihan yang sama ketika mata indah itu menitikkan air mata.
"Chanyeol, jangan pernah tinggalkan aku, jangan tinggalkan aku lagi."
Chanyeol tersenyum ketika mengingat semua kenangan itu.
"Chanyeol, aku akan selalu berada disampingmu . Itu jawabanku."
Sebuah senyuman penuh rasa bangga karena setidaknya, sosok Baekhyun masih mengharapkannya.
Ketika tusukan itu makin dalam dan Kris menyeringai puas, perlahan langit berubah menjadi cerah. Membuat beberapa makhluk dari bagian Kris musnah terbakar. Kris mendongak dan menatap keatas.
Cahaya matahari menerobos bersamaan dengan awan putih yang datang dan langit biru yang terlihat. Kegelapan menghilang, Kris berdecih kesal lalu melangkah melepaskan tangannya dan segera pergi.
Chanyeol membuka matanya dan menatap sebuah bulatan besar diatas langit. Matahari bersinar dengan sangat terang, lebih terang dari biasanya, dan itu terasa terik. Lalu ketika cahaya itu semakin terang dan bulatan itu membesar, luka-luka ditubuh Chanyeol mendadak musnah.
Begitu pun makhluk lainnya yang merupakan makhluk kegelapan. Dan tak lama salju turun ditengah teriknya matahari.
Kristal-kristal transparan yang berjatuhan dan menyentuh permukaan kulit para makhluk langit yang terluka lalu perlahan menyembuhkan mereka.
Luhan bangkit dan berlari kearah Chanyeol. Menubruk tubuh Chanyeol yang masih bersimpuh dan menatap keatas langit dengan mata tertutup.
Chanyeol tersenyum dan memeluk kakaknya erat, Luhan menangis di dalam pelukan Chanyeol ia dapat merasakan hal itu. Perlahan Chanyeol mendorong pelan tubuh kakaknya, memegang kedua pipi yang sedang menangis itu lalu tersenyum lembut.
"Kau tahu? Kita pasti menang." Ucap Chanyeol. Luhan mengernyit.
"Bagaimana kau yakin?"
"Pangeran Matahari dan Dewi Bulan berada di pihak kita." Luhan mendongak dan ia baru menyadari bahwa matahari terlihat sangat berbeda.
"Matahari biasa tidak bisa menyembuhkan lukaku." Sambung Chanyeol lagi dan Luhan tidak menjawab hanya kembali memeluk Chanyeol erat membuat yang lebih tinggi tersenyum. Luhan masih merasakan jantungnya berdetak kencang ketika mengingat bagaimana adiknya hampir meregang nyawa.
…
..
.
"SIALAN!" Bentak Kris sambil menendang sebuah kursi dihadapannya. Ia mendengus keras sambil mengumpat berulang kali. Sementara dua orang di belakangnya hanya bisa menundukan kepala mereka dalam.
"Kris, tenanglah!" ucap Tao sambil melangkah maju dan mengelus punggung sempit Kris secara sensual, namun Kris menghempaskan tangan itu membuat Tao berdiri kecewa.
"Seharusnya aku bisa membunuhnya saat itu juga, dia ancaman terbesarku. Tapi kedua bajingan itu…sial!" umpatnya lagi.
"Itu bukan masalah besar, kita akan melakukan penyerangan lagi." Ucap Tao. Kris menoleh dengan tatapan tajam.
"Apa kau tidak mengerti arti semua ini? Si Pangeran Matahari terkutuk dan juga…" Kris menoleh kearah wanita bertudung dan menatapnya tajam.
"…saudari brengsekmu itu telah memihak pada mereka. Aku tidak menyangka mereka keluar dari persembunyian setelah waktu yang sangat lama."
"Aku pun. Tapi setahuku mereka tidak pernah memihak siapapun selama ini, jadi kejadian tadi mungkin hanya cara untuk membuat perang itu berakhir, bagaimana pun perang itu membuat dunia tidak seimbang." Kris menoleh kearah Tao lalu mendengus.
"Kris, kau jangan cemas! Kau harus ingat, kau itu tidak terkalahkan." Bisik Tao ditelinga Kris membuat Kris menyeringai, lalu menoleh dan mencengkram bibir Tao sebelum akhirnya membawa si lelaki dalam sebuah ciuman panas.
…
..
.
Ketika Chanyeol kembali, ia mendapati Infernus dalam keadaan berantakan namun orang-orang disana dalam keadaan baik.
Luhan berlari kearah Sehun dan mereka berpelukan membuat Chanyeol memutar bola matanya malas.
"Mereka menahanku disini, aku tidak bisa datang ke medan perang." Ucap Sehun pada Luhan dan Luhan hanya mengangguk paham, sementara Chanyeol ia mencari sang ayah dan tersenyum senang setelah menemukan sosok itu yang juga tersenyum senang kearahnya.
"Apa kejadian tadi berarti bahwa mereka memihak kita?" tanya Chanyeol. Minho mengangguk dengan sebuah senyuman.
"Ini akan mempermudah kita."
"Jangan senang dulu!" ucap Kakek Iblis membuat yang lain menoleh.
"Jangan lupa bahwa Lucifer itu sangat licik." Ucapnya lalu menoleh pada Chanyeol.
"Chanyeol, kuatkan dirimu! Dia telah mengetahui kelemahanmu, jangan sampai kau menjadi lengah karenanya." Dan Chanyeol mengangguk.
…
..
.
Pagi ini Baekhyun berangkat sekolah dengan keadaan yang lebih baik , setelah kemarin memutuskan untuk beristirahat. Sebenarnya ia enggan untuk pergi ke sekolah, namun mengingat itu adalah kewajibannya, ia memilih membuang perasaan itu dan mengabaikan kondisinya.
Baekhyun meletakkan tasnya dan memilih menatap kearah jendela, mengabaikan keadaan kelasnya yang perlahan mulai ramai.
Begitu banyak hal yang Baekhyun lewatkan, bahkan ketika makan siang tiba ia juga memilih untuk tidak pergi ke kantin. Ia tidak sedang bernafsu untuk makan, namun pilihan itu membuatnya menyesal.
Perutnya mendadak sakit seperti kemarin, ia meremasnya kembali dan memperhatikan kelas yang dalam keadaan sepi. Ia menggigit bibirnya kuat dan bulir-bulir keringat mulai membasahi dahinya.
Perutnya kembali terasa dipelintir dengan keras, seolah usunya sedang ditarik sangat kuat. Rasanya begitu menyakitkan, dan perlahan Baekhyun mencoba bangkit untuk mencari Jessica , setidaknya ia bisa meminta obat pada wanita itu.
Kepala Baekhyun mulai berputar ketika ia mencoba bangkit, ia perlahan berjalan menuju keluar kelas sambil memegang apapun disekitarnya sebagai tumpuan.
"Aaakkh! Sakit!" gumamnya pelan sambil mencoba berjalan keluar. Tubuhnya sudah berkeringat, dan rasa sakit itu terus bertambah parah hingga membuat dadanya sesak.
Ketika ia melihat beberapa siswa berjalan dari ujung lorong setelah istirahat, samar-samar wajah orang-orang tersebut menjadi tidak jelas.
Baekhyun berkedip namun tetap visualisasinya tidak berubah. Ia menyeret kakinya mendekat kearah orang-orang itu, hingga ia merasa kakinya tak lagi menapak dan ia terjatuh tak sadarkan diri.
…
..
.
Ketika ia membuka mata, hal pertama yang Baekhyun lihat adalah lampu yang tergantung di langit-langit ruangan yang nampak samar.
Ia berkedip menyesuaikan penglihatannya pada cahaya yang mulai menyapa indranya.
Perlahan Baekhyun mencoba bangkit namun ia terbatuk dan sosok pertama yang ia lihat adalah seorang wanita dengan setelan jas kerjanya yang senada dan memunggunginya menghadap keluar jendela.
"Oh, kau sudah bangun?" Jessica berbalik dan tersenyum kearah Baekhyun. Baekhyun mengedarkan pandangannya dan ia tahu ia sedang berada di rumah sakit.
"Apa..apa yang terjadi padaku Saem?" tanya Baekhyun. Jessica tersenyum lebih lebar lalu mendekat. Ia menyentuh pundak Baekhyun pelan dan menarik bantal dibelakang Baekhyun agar ia bisa bersandar.
Baekhyun menurut dan menyandarkan punggunya sambil masih menatap Jessica.
"Aku tidak tahu harus memulai darimana."
"Maksud, Saem?" tanya Baekhyun tak mengerti. Jessica yang awalnya merendahkan arah pandangnya kembali menatap kearah mata Baekhyun.
"Kau kelelahan Baekhyun."
"Hm, aku tahu itu." Ucap Baekhyun sambil mengangguk pelan. Bagaimana mungkin ia tidak kelelahan setelah apa yang ia alami sejauh ini. Ia mengangkat wajahnya lalu mencoba tersenyum.
"Terima kasih atas bantuanmu , Saem. Tadi perutku mendadak sakit lagi karena aku tidak makan, aku ingin mencarimu tapi nyatanya aku pingsan di tengah jalan." Baekhyun terkekeh pelan .
"Mulai saat ini kau tidak boleh untuk tidak makan." Baekhyun mengangkat wajahnya mencoba tersenyum.
"Itu bukan masalah besar untukku, aku tidak akan mati karena itu."
"Bukan untukmu, tapi untuk janin di dalam perutmu." Mata Baekhyun membulat, ia menoleh kearah Jessica dengan perlahan.
"A,..apa?"
"Aku sudah tahu tentang kelainanmu itu , Baek. Apa, Apa Chanyeol tahu soal ini?" tanya Jessica. Mendengar nama itu membuat jantung Baekhyun berdetak lebih kencang. Air matanya berkumpul di kelopak matanya, bibirnya ingin mengucapkan kata namun ia tidak bisa.
Bola matanya bergerak acak, dan tangannya dengan cepat mencengkram perutnya.
"Tidak! Tidak! Ini tidak mungkin." Baekhyun menjambak rambutnya dengan kencang sambil menggeleng. Jessica menatap hal itu datar dengan alis sedikit berkerut.
"A..aku tidak mungkin mengandung anaknya, a..aku ti..tidak mungkin_"
"Aku akan menanam benihku, tubuh kotormu beruntung bisa menjadi tempat benihku tumbuh."
Ucapan Chanyeol dalam mimpi buruknya kembali terdengar, Baekhyun menutup kedua telinganya dengan keras, menekannya sambil terus menggeleng.
"Hentikan! Hentikan! Aku tidak mungkin hamil..aku…" Baekhyun menoleh sekitar untuk mencari sesuatu. Ia melihat sebuah pisau diatas piring buah, dengan cepat ia meraih pisau itu. Jessica masih menatapnya dalam diam, hingga akhirnya Baekhyun mengangkat pisau itu dan mengayunkannya menuju perutnya.
TIK
Ketika Jessica menjentikan jarinya, Baekhyun pingsan dan pisau itu terjatuh di depan kaki Jessica. Wanita itu memungutnya lalu meletakkannya kembali diatas piring.
"Bayi itu harus hidup, meski ia tidak diharapkan." Ucapnya lalu melipat kedua tangannya di depan dada, dan berjalan keluar ruangan dengan santai.
…
..
.
Ketika Baekhyun membuka mata lagi, ia melihat seorang suster sedang menyuntikan cairan ke dalam infusnya. Baekhyun membuka matanya dan membalik tubuhnya. Ia menangis, mengingat bahwa ditubuhnya ada sebuah janin yang berkembang.
Tangannya berjalan menuju perutnya dan mencengkramnya.
"Kenapa kau harus tumbuh disitu? Kenapa?"
"Kita bisa menyebut itu takdir." Baekhyun menoleh dan mendapati sebuah sosok lelaki duduk diatas sofa di dalam ruangan, Baekhyun mengingatnya, dia orang yang menyamar sebagai Yifan dan Chanyeol, sosok makhluk yang sama seperti Chanyeol.
Baekhyun mengedarkan pandanganya untuk melihat suster yang tadi, namun ia tidak mendapati siapapun.
Baekhyun ketakutan ketika sosok itu mendekat. Ia beringsut kebelakang sambil mencengkram perutnya.
"Ssstt! Jangan takut!" ucap Kris sambil tersenyum.
"A-aku Yi-Yifan Baek-Baekhyun!" Baekhyun melempar apapun ketika sosok didepannya berubah-ubah menjadi Yifan dan wujud aslinya bersamaan.
"Pergi! Pergi!" ucap Baekhyun sambil melempar benda apapun yang bisa ia raih.
"Pergi? Lalu kau sendirian, aku tidak ingin membuatmu kesepian. Terlebih setelah Chanyeol membuangmu." Ucap Kris dengan wajah pura-pura bersedih.
"Pergi!"
"Kenapa kau mengusirku Baekhyun? Aku datang ingin mengucapkan selamat atas kehamilanmu, hmm.. apa dia seorang iblis atau manusia setengah iblis?" Baekhyun menatapn ketakutan sambil mencoba menyelamatkan diri namun ia tersudut.
"Apa yang..yang kau inginkan?" tanya Baekhyun bergetar.
"Ah ternyata kau suka sesuatu yang terburu ya? Baiklah, aku ingin itu." Kris menunjuk Loocin di leher Baekhyun.
"Apapun yang terjadi berjanjilah padaku Baek! Jangan pernah berikan Loocin itu pada siapapun, bahkan ketika aku yang meminta."
Baekhyun menggeleng sambil memegang Loocin dilehernya. Ia masih mengingat ucapan Chanyeol secara tidak sadar.
"Apa yang kau harapkan dari benda itu? Itu bukan untuk manusia. Lagipula Chanyeol telah membuangmu, untuk apa kau masih menyimpan pemberian darinya? Lebih baik kau berikan padaku cantik!"
"TIDAK!" Baekhyun membentak membuat senyuman Kris lenyap untuk sesaat sebelum akhirnya ia kembali menyeringai.
"Baiklah jika itu maumu, sebenarnya aku tidak suka memaksa tapi bila harus dengan membunuhmu aku mendapatkannya aku tidak keberatan mengotori tanganku dengan darah manusia kotor sepertimu." Baekhyun terisak sambil tetap memegang kalung dilehernya.
Kris mendekat perlahan seperti menggoda anak kecil dengan menakut-nakutinya terlebih dulu.
"Kau tahu? Aku tidak suka bermain-main." Ucap Kris ketika jarak mereka sangat dekat.
"Jangan menyentuhnya! Aku sudah memperingatimu diawal." Suara berat itu berasal dari sudut ruangan. Kris menyeringai melalui celah pundaknya dan memutar tubuhnya untuk mendapati sosok Chanyeol berdiri disana.
Baekhyun membulatkan matanya melihat wujud bermata biru itu untuk sekian kalinya.
"Wow, si pahlawan datang." Ucap Kris.
"Seharusnya aku tahu bahwa kau tidak sehebat yang mereka katakan, bagiku kau hanya si licik bermulut besar." Kris berdecih mendengar ucapan Chanyeol lalu melirik melalui celah pundaknya untuk melihat Baekhyun yang ketakutan.
Kris menghilang dan tiba-tiba muncul di samping Baekhyun, meletakkan kedua tangannya di perut Baekhyun.
"Tidak hanya itu, aku bahkan berhati dingin. Bagaimana bila aku membunuh janin yang ada disini?" Chanyeol tanpa pikir panjang menyerang dan mengenai dinding disamping Kris. Kris berpindah dan muncul disudut ruangan. Chanyeol berbalik dan kembali menyerang namun Kris terus menghindar.
Hingga akhirnya kemarahan Chanyeol memuncak, ia menutup matanya dan membiarkan api ditubuhnya menyala.
"Jangan pernah menyentuh orang yang kucintai, bajingan!" ucap Chanyeol dalam geraman, lalu api itu membara dan mengenai Kris. Kris terdorong kebelakang, ia meludah sebentar dan menatap Chanyeol.
"Kali ini kau aku biarkan menang bocah!" ucap Kris lalu menghilang. Api ditubuh Chanyeol perlahan menghilang. Dan ia mengangkat tangannya untuk memperbaiki seluruh kekacauan yang terjadi hingga kembali dalam bentuk semula.
Setelah semua kembali normal, Chanyeol menoleh dan mata mereka bertemu. Baekhyun masih dalam posisinya sambil menatap Chanyeol dengan mata berkaca-kaca dan wajah syok.
Chanyeol menatap dalam sebelum akhirnya yang lebih kecil melepas kontak mata itu. Chanyeol menundukan wajahnya kecewa, ia berbalik dan ketika hendak pergi suara Baekhyun menahannya.
"Kenapa…" suara Baekhyun lirih.
"Kenapa kau lakukan ini semua padaku?" ucap Baekhyun.
"Kenapa dunia sangat tidak adil padaku?" Chanyeol terdiam sambil mendengar ucapan Baekhyun.
"Kenapa kau kembali menanam janin sialan ini? Hiks.." Baekhyun menangis sambil tubuh tegangnya jatuh merosot. Chanyeol menundukan wajahnya dalam.
"AAKKHH" Chanyeol menoleh dengan wajah terkejut melihat Baekhyun memegang perutnya kesakitan.
"Jangan mendekat! Jangan..aakkhh.. mendekat!" ucap Baekhyun membuat langkah Chanyeol terhenti.
"Aku membencimu, aku membencimu Chanyeol." Ucap Baekhyun sambil sedikit berteriak dan menangis.
"Baekhyun?"
"Pergi! Pergi..aaakkhhh!"
Ketika Chanyeol akan mendekat, pintu terbuka dan Jessica melangkah masuk. Wanita itu berjalan kearah Baekhyun sambil memegang perutnya lalu segera memanggil dokter. Ia mengedarkan pandangannya dan tidak menemukan apapun disana.
…
..
.
Baekhyun melihat hamparan rerumputan hijau dalam kegelapan, namun cahaya dari ratusan kunang-kunang menjadi penuntunya untuk melanjutkan perjalanan.
Baekhyun tidak pernah tahu jika kunang-kunang masihlah ada, tapi ia tak peduli karena hewan tersebut telah berhasil menarik perhatiannya dengan sinar terang yang berasal dari tubuhnya.
Ketika jemarinya hendak terulur untuk menyentuh seekor kunang-kunang di depannya, hewan itu berpindah membuat Baekhyun tersenyum karena merasa terhibur, hingga matanya jatuh pada sosok yang berdiri beberapa meter darinya.
"Permisi?" panggil Baekhyun tapi sosok itu masih setia memunggunginya.
"Hei! Kau siapa?" tanya Baekhyun sambil melangkah mendekat. Ketika hendak menyentuh pundak tegap itu, si sosok berbalik dan mata mereka bertemu membuat Baekhyun terkejut.
Chanyeol ada disana, tersenyum lembut kearahnya. Namun Baekhyun mencoba melangkah mundur, ia ingin pergi dari tempat itu hingga sebuah tangan menahan tanganya. Membuat jantung Baekhyun berdegup kencang, ia mencoba melepaskan tangan itu namun pegangan yang bahkan tak erat itu tidak bisa ia atasi.
"Baekhyun, aku hanya ingin mengatakan padamu."
"Lepaskan! Lepaskan aku!" ucap Baekhyun sambil meronta.
"Ya, aku akan melepaskanmu. Tapi aku mohon dengarkan aku!" ucap Chanyeol dengan suara beratnya. Baekhyun melihat sekitar dengan panik, ia ingin berlari namun semua hanya kegelapan ia tidak bisa melihat apapun disekelilingnya hanya mata biru itu yang menjadi satu-satunya benda menyala di sekitar mereka.
"Aku tidak mau… lepaskan!"
"Baekhyun dengarkan aku!" Chanyeol memekik mencengkram kedua pundak Baekhyun membuat yang lebih mungil membulatkan matanya takut.
"Kau boleh membenciku, kau boleh menjauhiku, tapi jangan lakukan itu pada janin di dalam perutmu. Dia akan marah, dia akan balik menyerangmu ketika kau tidak mengharapkan kehadirannya."
"Aku memang tidak mau bayi ini!" bentak Baekhyun dengan mata berkaca-kaca.
"Kalian..kalian adalah monster. Aku tidak ingin berada diantara kalian."
"Baekhyun! Aku hanya bisa mengatakan itu! Bayi itu sangat kuat, dia bisa membunuhmu, dia bisa_"
"Biarkan! Biarkan saja aku mati. Lagipula siapa yang menginginkan manusia sepertiku?" Tidak ada suara setelahnya, hanya tatapan saling terlempar dari dua sosok yang sama-sama terdiam di tempat.
"Baek.." suara Chanyeol melemah.
"Apa kau benar-benar tidak bisa memaafkanku? Apa kejahatanku dimasa lalu tak bisa terhapuskan oleh semua kenangan kita?" Baekhyun tercekat, ia menatap Chanyeol yang masih mencengkram lengannya.
"A..aku…" Baekhyun mencoba menarik nafasnya, melempar pandangannya ke tanah dan menggerakan kedua bola matanya panik.
"Aku tidak tahu.. aku tidak tahu… pergi! Pergi! Hiks… hiks.. pergi!"
Mata Baekhyun terbuka dan hal pertama yang ia lihat adalah ibunya yang tertidur di sofa. Baekhyun memiringkan tubuhnya dan menatap kearah jendela rumah sakit. Hatinya kembali terasa sakit, dan air matanya terjatuh.
"Kenapa..hiks.. kenapa kau harus ada di perutku? Kenapa?" ucap Baekhyun sambil memegang perutnya.
"Aku tidak menginginkanmu, aaakkhhhh!" Baekhyun meringis ketika perutnya kembali terasa sakit. Ia meronta , hingga tubuhnya terjatuh ke lantai dan jarum infus dipergelangan tangannya tercabut secara paksa hingga menimbulkan luka.
"Baekhyun!" Kibum berlari dengan panik menghampiri Baekhyun yang meringkuk diatas lantai sambil memegang perutnya.
"Tunggu sayang! Tunggu!" ucap Kibum lalu berlari keluar untuk meminta bantuan melupakan fakta bahwa di dalam kamar tersebut ada tombol darurat pasien.
Setelah kepergian Kibum suara langkah kaki mendekat, mengetuk permukaan lantai. Dan sebuah sepatu berhak tinggi berwarna merah berhenti di depan tubuh Baekhyun, lalu merendahkan tubuhnya.
"Baekhyun, minum ini!" ucap Jessica sambil memberikan sebotol minuman pada Baekhyun dan dengan cepat Baekhyun menerima dan meminumnya.
Pintu terbuka dan seorang Dokter serta perawat masuk bersama dengan dengan Kibum yang panik lalu menghampiri Baekhyun dan membantunya berdiri mengabaikan kehadiran Jessica yang sedikit terdorong.
Kibum menatap putranya dalam kepanikan ketika Dokter sedang memeriksanya. Hingga ia menyadari bahwa ada sosok lain diruangan itu.
"Anda?" tanya Kibum membuat Jessica tersenyum.
"Aku Jessica Jung. Guru musik di sekolah Baekhyun." Kibum mengernyit lalu Jessica melanjutkan.
"Aku yang membawanya kerumah sakit saat ia jatuh pingsan kemarin dan aku pula yang menghubungi anda."
"Oh, jika begitu terima kasih Jessica-ssi." Ucap Kibum sambil menyalami tangan Jessica dan wanita itu tersenyum kecil.
"Dokter bagaimana keadaannya, apa kita perlu melakukan rotgent?" tanya Kibum. Dokter itu menatap Baekhyun yang nampak lebih baik .
"Apa sakit perutmu parah?" tanya sang Dokter. Baekhyun menggeleng pelan membuat Kibum sedikit mengernyit dan Jessica tersenyum.
"Hm, Nyonya sepertinya ini hanya kejang perut biasa. Kita tidak perlu melakukannya." Kibum mengangguk pelan lalu menghampiri Baekhyun dan menggenggam tangannya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Kibum. Baekhyun melirik Jessica sejenak lalu mengangguk pelan .
"Saem, terima kasih." Ucap Baekhyun dan Jessica hanya mengangguk pelan lalu matanya tertuju pada liontin di leher Baekhyun.
…
..
.
"Sehun! Sehun! Tolong aku!"
Sehun mengernyit dalam dan perlahan membuka matanya untuk menemukan bahwa dirinya berada disebuah lorong gelap.
"Soojung?"
"Sehun? Kau disana? Tolong aku!"
Sehun melangkah menyusuri lorong itu dengan langkah waspada. Lorong itu seperti tidak berujung karena sepanjang ia memandang hanya kegelapan yang ia lihat.
Hingga sebuah cahaya samar-samar tertangkap oleh pandangannya. Ia berlari kearah cahaya itu.
"Soojung!" teriaknya ketika melihat gadis itu terikat dengan rantai di kedua tangannya. Rambutnya berantakan dan wajahnya penuh air mata.
"Soojung!"
"Sehun. Tolong aku…" Teriak gadis itu yang tidak berdaya. Sehun melangkah maju namun tubuhnya malah terpental. Ia bangkit dan melakukan hal yang sama dan kembali terpental hingga ia sadar bahwa ada sebuah portal tak kasat mata yang membuat Soojung terperangkap di dalamnya.
"Sehun, selamatkan aku. Aku tidak mau mati disini!" tangis gadis itu.
"Tenang! Aku akan menyelamatkanmu." Sehun mengeluarkan kekuatannya, dan memukul portal itu dengan kuat namun sial ia kembali terpental.
"Soojung, katakan siapa yang melakukan ini?" tanya Sehun. Gadis itu terisak , ia menoleh ke kiri dan ke kanan dengan wajah ketakutan.
"A..aku tidak bisa menyebut namanya."
"Katakan! Apa yang harus aku lakukan untuk melepaskanmu?" tanya Sehun panik.
"Sehun, dia bilang…" suara Soojung tersendat oleh tangisannya.
"Dia bilang, hanya loocin yang bisa menyelamatkanku." Ucap gadis itu membuat Sehun mengernyit.
"Loocin?"
"Kalung yang ada dileher hyungmu. Bawakan itu untuknya Sehun! Dan AAAKKHHH!" Tiba-tiba saja tubuh Soojung menghilang membuat Sehun membulatkan matanya.
"SOOJUNG!" Sehun terbangun dari tidur singkatnya. Ia membuka mata dan menyadari bahwa dirinya sedang berada di dalam kamarnya.
"Loocin?" gumamnya pelan sambil mengernyit dalam.
…
..
.
Baekhyun duduk diatas ranjang rumah sakit. Matanya setia menatap keluar jendela, entah apa yang sedang ia pikirkan, ia sendiri bahkan tidak tahu dengan segala yang terjadi disekitarnya.
"Baekhyun? Apa kau benar-benar tidak bisa memaafkanku? Apa kejahatanku dimasa lalu tak bisa terhapuskan oleh semua kenangan kita?"
Ucapan itu masih terngiang jelas di dalam pikirannya. Ia tidak tahu, ia tidak tahu jawaban apa yang harus keluar dari bibirnya.
Rasanya menyakitkan setiap kali mengingat kenangan yang mereka lalui dan kenangan buruk yang menyisakan sebuah trauma di dalam dirinya. Tanpa ia sadari air matanya terjatuh, ia mengusapnya pelan dan mencoba menghapus seluruh memori tentangnya dan Chanyeol.
Namun semakin ia berusaha keras, semakin ia merasa jantungnya dihujam keras. Perlahan ia menarik kedua kakinya, menekuknya dan membuat kepalanya tenggelam dalam pahanya. Menangis , berharap seluruh rasa sakit yang ia rasakan jatuh bersama dengan air mata yang ia buang.
"Baekhyun?" Baekhyun menoleh pelan. Menghapus air matanya dengan cepat dan berusaha tersenyum kearah ibunya yang nampak bersedih. Baekhyun tahu, ibunya pasti merasakan sakit yang sama melihat anak semata wayangnya dalam keadaan terpuruk.
"Baek, apa rasanya sesakit itu?" tanya Kibum sambil mendekat. Wanita itu terlihat cantik dalam balutan pakaian hangatnya.
"Ibu…" air mata Baekhyun tak kuasa terbendung lagi. Ia menangis dan Kibum segera memeluknya. Kedua ibu dan anak itu menangis bersama di dalam ruangan besar tersebut.
"Ibu tahu sayang, ibu tahu. Jangan ditahan lagi, menangislah! Jika menangis memang membuatku bisa melupakan rasa sakit itu."
"Ibu, kenapa ini terjadi padaku? Apa aku tidak pantas untuk bahagia?" tanya Baekhyun dalam isaknya dan itu membuat Kibum semakin merasa sakit.
"Tidak sayang, cepat atau lambat kebahagiaan akan menghampirimu."
"Ya, kebahagiaan semu ibu." Gumamnya sambil menenggelamkan wajahnya di dalam dada sang ibu.
…
..
.
Angin berhembus pelan menerpa rambut Baekhyun yang sedang terbaring dalam tidur lelapnya. Dalam kegelapan hembusan itu berubah menjadi sosok lelaki tinggi . Chanyeol disana, berdiri sambil melirik Kibum yang tertidur lelah di sofa dan Baekhyun yang terbaring lelap diatas ranjangnya.
Chanyeol berjalan mendekati Baekhyun dengan wajah bersedih. Ia tahu ia telah melanggar ucapannya, ia seharusnya tidak datang untuk menemui Baekhyun, namun perasaan itu lagi-lagi membuatnya menapik janjinya.
Chanyeol mengelus pipi tirus Baekhyun. Chanyeol tahu berat badan Baekhyun berkurang drastis karena semua yang telah ia alami, tapi dimata Chanyeol lelakinya itu tetaplah cantik.
"Hei, kau nampak kurus sayang." Ucap Chanyeol pelan masih tetap mengelus pipi Baekhyun dengan gerakan lembut dan penuh kasih sayang.
"Apa keterkejutanmu sangat menyiksa? Maafkan aku, seharusnya aku tidak membuatmu terkejut dengan wujud asliku, dan seharusnya aku tidak datang kemari."
"Tapi sayang, kau tetaplah cantik. Yang tercantik dimataku." Ucap Chanyeol sambil mencoba tersenyum.
"Baek, aku kemari hanya ingin mengucapkan selamat tinggal. Hahahaa.. ini lucu, aku selalu berkata selamat tinggal tapi aku kembali muncul dihadapanmu." Chanyeol menyingkirkan rambut yang menutupi Baekhyun dan mengelus kembali pipi putih itu.
"Tapi kali ini aku rasa benar-benar menjadi yang terakhir kalinya. Besok, besok aku akan melawan Lucifer. Aku tidak yakin aku akan menang, tapi aku harus mempersiapkan diri jika nanti aku kalah." Wajah Chanyeol terlihat sedih.
"Sayang, maafkan aku. Maaf aku menyakitimu lagi dan lagi. Mungkin api neraka tidak mampu menebus kesalahanku padamu. Tapi Baek, aku ingin berterima kasih. Aku berterima kasih karena kau mengenalkanku pada arti kata cinta. Kau tahu? Sejak aku lahir hingga aku sebesar ini aku tidak tahu apa itu cinta dan mencintai." Chanyeol menjeda ucapannya.
"Tapi sejak mengenalmu aku bahkan tak rela untuk berada jauh darimu barang sedetikpun. Baekhyun, jika nanti aku pergi aku ingin kau rawat anak-anak kita dengan baik. Sehun? Dia telah menjadi anak yang baik, dia bahkan sudah bisa berkelahi tapi aku tidak akan membiarkannya mati dalam medang perang. Tidak setelah semua ketidakadilan yang ia terima karenaku, karena kebodohanku."
"Dia pantas hidup dengan bahagia Baek, bersamamu, dan bayi kecil kita." Chanyeol mengalihkan tatapannya pada perut Baekhyun. Mengelusnya perlahan dan memberikan sebuah kecupan disana.
"Baekhyun? Jika nanti aku mati, aku harap kau tidak bersedih. Ah! Apa yang kukatakan? Kau tentu tidak akan bersedih, kau begitu membenciku, tentu kau senang dengan kematianku." Chanyeol terkekeh dengan kebodohannya tapi perlahan air matanya mengalir tanpa ia sadari dan jatuh diatas pipi Baekhyun.
"Tapi sayang, seberapa pun kau membenciku aku tetap mencintaimu. Setidaknya nanti bila aku mati, aku mengingat bahwa aku pernah dicintai dan mencintai. Baekhyun, terima kasih untuk semuanya. Aku janji ini terakhir aku menemuimu. Takdir kita begitu rumit ya? Jika aku bukan Pangeran iblis setengah malaikat, akankah semua sesulit ini?"
"Baekhyun, hiduplah dengan baik kau pantas mendapatkannya. Lupakan aku! Bagunlah sebuah keluarga kecil nantinya, dan jika bisa ajak kedua anak kita bersamamu, bersama ibu juga." Chanyeol melirik ke Kibum sekilas lalu kembali menatap Baekhyun.
"Kalau begitu aku hiks… aku pergi sayang. "Chanyeol merendahkan tubuhnya dan mencuri satu kecupan dibibir Baekhyun, kecupan yang cukup lama. Ia bangkit dan berjalan menjauh, lalu menghilang di dalam kegelapan.
Sebuah air mata mengalir , air mata yang berasal dari mata Baekhyun yang terpejam. Tak jauh dari sosok Baekhyun, Kibum yang terbaring diatas sofa ikut meneteskan air matanya dengan mata sedikit terbuka. Dan satu lagi sosok yang berdiri di ambang pintu yang sedikit terbuka, yang mendengar semua ucapan sang ayah pada ibunya. Sehun.
Malam itu mereka bertiga lalui dalam kesedihan masing-masing. Menangis dalam gelapnya malam. Baekhyun diatas ranjangnya, Kibum diatas sofa dan Sehun meringkuk di koridor rumah sakit.
Takdir membawa mereka pada situasi yang begitu rumit. Sungguh menyakitkan.
…
..
.
Baekhyun menatap keluar jendela sejak semalam, bahkan ketika Kibum memintanya untuk tidur ketika wanita itu akan berangkat ke kantor Baekhyun hanya mengangguk tapi enggan berbaring.
Pintu terbuka dan menampakan Sehun disana.
"Hyung!" panggilnya. Baekhyun menoleh dan tersenyum melihat sosok buah hatinya yang makin hari terlihat makin tampan.
"Sehun? Kau tidak pergi sekolah?" tanya Baekhyun. Sehun menggeleng lalu berjalan mendekat dan memeluk tubuh Baekhyun.
"Hyung, jangan membenciku lagi!" ucapnya. Baekhyun tersentak lalu ia mengeratkan pelukannya pada tubuh sang anak.
"Tidak Sehun, tidak sayang. Aku tidak akan membencimu." Sehun mengangguk dalam pelukan Baekhyun.
"Hyung, maafkan aku. Maaf aku menyimpan rahasia ini aku_"
"Ssst! Jangan bicara lagi Sehun, kau terlalu kecil untuk menerima semua beban ini. Maafkan aku sayang, maafkan hyung!"
Maafkan ibu Sehun-ah.
"Aku memaafkanmu Hyung, Hyung tidak salah apapun. Takdir yang membawa kita disini." Baekhyun mengangguk dan mengusak rambut Sehun. Ia menjauhkan tubuh yang lebih kecil lalu mengecup pipi Sehun.
"Hyung, cepatlah sembuh! Kita kembali kerumah lagi!" ucap Sehun dan Baekhyun mengangguk. Lalu mata Sehun teralih pada liontin kalung di leher Baekhyun. Ia teringat tentang mimpinya.
"Hyung, boleh aku meminta sesuatu?" tanya Sehun. Baekhyun terkejut selama ini Sehun jarang meminta apapun darinya.
"Apa?"
"Boleh aku meminta kalung hyung untuk menyelamatkan seseorang?" tanya Sehun. Baekhyun mengernyit lalu memegang liontin kalungnya.
"Jangan pernah berikan kalung ini pada siapapun!"
Ucapan Chanyeol melintas di benaknya.
"Tapi_"
"Dia membutuhkannya hyung. Dia dalam bahaya! Seseorang yang pernah menyelamatkan nyawaku dari maut, dia membutuhkannya hyung!" Baekhyun nampak ragu. Namun melihat wajah putus asa Sehun ia memegang kalungnya lagi.
"Siapa Sehun-ah?"
"Soojung hyung! Makhluk itu menculiknya dan mengurungnya di dalam tanah. Dia tidak tahu apapun tentang semua ini, dia tidak seharusnya terlibat dalam permainan ini. Ini semua karenaku hyung." Sehun menundukan wajahnya dalam, ingatan tentang Soojung dan mimpinya membuat ia semakin merasa bersalah.
"Ba-baiklah." Ucap Baekhyun. Ia memegang kalungnya dan membuka pengait itu. Sehun menoleh dan membalikkan telapak tangannya. Dengan ragu Baekhyun menyerahkan kalung itu pada Sehun .
TAK
"AAKHH" Sehun berteriak ketika sebuah kilatan mengenai tangannya, rasanya tajam dan begitu dingin.
"Baekhyun! Pakai lagi!" bentak sosok itu. Jessica berdiri disana dengan wajah tegasnya.
"Hyung!" Sehun menatap tangannya yang terluka sambil melirik Baekhyun. Baekhyun nampak ragu dan hendak memegang tangan Sehun namun kembali sebuah kilatan mengenai tangan Sehun.
"PAKAI BAEKHYUN!" bentak sosok itu dan Baekhyun dengan segera memakainya.
"SIAPA KAU!" bentak Sehun berdiri dari tempatnya dan dalam sekejap berubah menjadi sosok setengah iblisnya.
"Kau tahu apa yang kau lakukan?"
"Ya aku tahu! Katakan siapa kau!"
"Ck!" Jessica berdecak sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Kau sangat mirip dengan Chanyeol, tidak salah kau anaknya." Mata Sehun dan Baekhyun membulat. Baekhyun nampak terkejut dengan Jessica, dan mencoba menerka siapa sosok itu.
"Pergi darisini!" bentak Sehun.
"Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu! Perang sudah dimulai dan kau disini? Karena diperalat?"
"APA!?"
"Wajah cantiknya membuatmu tak sadar?"
"APA!?"
"Sudahlah! Aku lelah bicara dengan anak-anak." Ucap Jessica lagi. Sehun menggeram kesal lalu menyerang Jessica dengan kekuatannya. Jessica menghindar, lalu menghilang dan muncul dibelakang Sehun. Tangannya memegang pundak Sehun dan seketika Sehun merasakan tubuhnya kaku.
"Kau_"
"Hentikan!" teriak Baekhyun membuat Jessica menarik tangannya menjauh lalu menoleh kearah Baekhyun.
"Pergi kalian! Pergi!" bentak Baekhyun dengan panik.
"Hyung_" suara Sehun terdengar lirih dan sedih terutama ketika Baekhyun menepis tangannya.
"PERGI!" ucap Baekhyun panik. Sehun menundukan wajahnya lalu menghilang. Jessica menatap Baekhyun datar, lalu matanya teralih pada Loocin di leher Baekhyun. Ia menghela nafas lalu menghilang.
Baekhyun menangis , menangis dalam kepedihan hingga akhirnya pintu terbuka dan beberapa perawat memasuki ruangan.
…
..
.
Chanyeol, Luhan, Minho, dan Sehun yang baru saja tiba berdiri di medang perang. Bersama para makhluk lain di belakang mereka. Dari kejauhan Kris dan pasukannya bermunculan.
"Kalian mundurlah!" ucap Chanyeol.
"Tidak Chanyeol, kita lawan bersama!" ucap Luhan.
"Benar Chanyeol!" ucap Minho sementara Sehun nampak diam, suasana hatinya sedang tidak baik.
"Kita bertemu lagi." Ucap Kris yang tiba-tiba muncul di depan mereka. Chanyeol menatap musuhnya datar membuat Kris menyeringai semakin dalam.
"Oh, hai kawan lama." Ucap Kris pada Minho dan pria itu hanya mengeraskan rahangnya tanpa niat menjawab.
"Waaah , satu keluarga yang harmonis sedang berkumpul." Ucap Kris sambil melirik Sehun yang juga menatapnya dalam kebencian.
"Hei bocah! Aku membawakanmu hadiah!" ucap Kris sambil melirik kebelakang. Sehun mengernyit dan matanya membulat melihat sosok Soojung yang terikat dan diseret oleh pengawal Kris.
"Sehun! AAKKHH!"
"Soojung!" Sehun hendak maju namun Luhan menghadangnya. Sehun melirik Luhan dan menatap lelaki itu tak percaya.
"Soojung disana Luhan, dia dalam bahaya!"
"Tidak Sehun, itu mungkin saja jebakan!"
"TIDAK!" bentak Sehun.
"Sehun, tenangkan dirimu!" ucap Chanyeol tenang. Kris tersenyum lalu melirik Chanyeol dan Sehun bergantian.
"Hei bocah! Dengarkan ayahmu!" ucap Kris membuat Sehun geram.
"Aku akan menyelamatkannya, dia tidak tahu apapun!" ucap Sehun hendak berlari namun sebelum Sehun berlari meninggalkan barisan Luhan telah lebih dulu terbang dan berdiri tepat di depan Soojung, membuat langkah kaki Sehun terhenti.
Luhan membantu gadis itu berdiri.
"Soojung, jangan takut!" Ucap Luhan. Gadis itu terisak.
"Saem, aku…aku… takut."
"Tenang ada aku!"
"Terima kasih." Luhan tercekat ketika melihat sebuah seringain di wajah gadis itu dan tiba-tiba sebuah medan berwarna hitam transparan mengurung dirinya.
Soojung berdiri lalu berubah menjadi sebuah sosok wanita tinggi, dengan jubah berwarna hitam.
Ia mengangkat wajahnya dan tersenyum. Tudungnya terlepas dan rambut hitam panjangnya terurai.
"Aku berniat mengangkap ikan kecil, tapi lihat aku mendapat yang jauh yang lebih besar. Terima kasih Luhan, cintamu pada bocah itu membuatmu tidak berpikir jernih. Cinta menggelikan bukan?" Soojung tertawa.
"Kau?"
"Ya, aku Krystal." Mata Luhan terbuka.
"Si putri bulan yang berkhianat." Luhan hendak bangkit namun medan itu menyetrum tubuhnya hingga ia terjatuh lagi.
"BAJINGAN!" gerutu Chanyeol pada Kris. Kris menolehkan kembali kepalanya pada Chanyeol dan berdecak.
"Terima kasih untuk kebodohan kakakmu yang menggantikan anakmu. Sungguh keluarga yang harmonis." Ejek Kris. Sehun masih membeku di tempat. Ia berbalik dan berjalan dengan tangan terkepal. Ketika Kris sedang menghadap Chanyeol, ia mencoba melayangkan pukulannya pada sosok itu, namun sayang tubuhnya terpental saat Kris menjetikan jarinya tanpa melihat.
Chanyeol membulatkan matanya kesal. Matanya menatap Kris penuh kebencian melihat Sehun bersimbah darah di depan sana.
"Ayo kita mulai perang ini. Aku bosan meladeni kelicikanmu." Ucap Chanyeol. Kris mengangguk-ngangguk sambil tertawa lalu menghilang dan muncul di samping Tao dan Krystal.
Chanyeol menggunakan teleportasinya untuk membantu Sehun bangkit lalu membawa anaknya ke dalam barisannya.
"Biarkan aku menghadapinya, ayah tolong sembuhkan Sehun! Lukanya cukup parah! Dan lebih baik ayah membantu kakek di Infernus!" ucap Chanyeol. Minho mengernyit, ketika bibirnya hendak terbuka, Chanyeol kembali memotong ucapannya.
"Percaya padaku ayah! Biarkan ini menjadi pertarungkanku dengannya." Ucap Chanyeol. Minho mengangguk dan membawa tubuh lemah Sehunl lalu menghilang.
Di depan sana Zitao mulai menghilang begitu juga Krystal. Menyisakan Kris yang berdiri dengan angkuh sambil meletakkan satu kakinya diatas medan bulat yang mengurung Luhan yang terkulai lemas.
Kris memang licik, dan Chanyeol tidak akan termakan oleh jebakannya lagi.
"SERAAAAANG!" Ketika Chanyeol berteriak ketika itu peperangan dimulai. Seluruh makhluk saling serang dan saling membunuh. Sementara Chanyeol dan Kris langsung berhadapan. Tidak seperti kemarin, kali ini Chanyeol tidak membiarkan Kris untuk bicara, karena kekuatan sosok itu adalah dari serangan mulutnya.
…
..
.
Baekhyun menatap langit-langit kamarnya , ia merasa lelah dengan semua hal yang telah terjadi. Siapa lagi? Pikirnya. Siapa lagi yang ternyata bukan manusia? Ia terlalu lelah dengan semua kejutan yang Tuhan berikan padanya. Apakah perbuatannya dimasa lalu begitu buruk, hingga ia harus menerima karmanya sekarang?
Perlahan tangan Baekhyun mengelus perutnya. Di dalam sana ada karma yang lain. Janin yang tumbuh dan hendak membalaskan dendam padanya.
"Apa yang harus aku lakukan padamu?" gumam Baekhyun sambil mengelus perutnya.
"Jika perbuatanku beberapa waktu lalu membuatmu marah, maafkan aku. Aku tidak tahu kau sudah ada di dalam sana. Jika aku tahu mungkin_" Baekhyun terdiam.
Mungkinkah ia akan membiarkan janin itu di dalam sana?
Atau mungkin ia akan membunuhnya lebih dulu dan memastikan bahwa janin itu benar-benar lenyap.
DUG
Baekhyun membulatkan matanya, telapak tangannya merasakan sebuah tendangan dari dalam sana. Ini aneh, perutnya masihlah datar dan ia sudah bisa merasakan tendangan dari janinnya.
Baekhyun menyingkap pakaiannya dan melihat kearah perutnya yang bergejolak, sesuatu seperti bergerak di dalam sana dan Baekhyun bisa melihatnya jelas dari permukaan perutnya.
Mustahil. Pikirnya.
"Ka..Kau…sungguh hidup? Ka..kau mampu mendengarku?" Kembali mata Baekhyun membulat ketika merasakan tendangan pelan namun cukup terasa di tangannya.
"Hei.." ucap Baekhyun pelan dan kembali tendangan itu ia rasakan. Ketika dirinya mengandung Sehun, Baekhyun tidak pernah peduli akan keberadaan sosok itu di dalam perutnya, bahkan ia enggan untuk mengusap dan meraba perutnya, dan kini ketika ia mencoba merasakan kehadiran buah hatinya, seperti sesuatu meletup-letup di dadanya.
"Maafkan aku. Aku tahu semua ini berat, untukku dan untukmu. Maaf karena sempat tidak mengharapkan kehadiranmu. Aku hanya…aku hanya terlalu takut." Mata Baekhyun berkaca-kaca.
"Kau anak yang malang, tidak berbeda jauh dengan Sehun. Mungkin karena kalian dikandung oleh seseorang yang malang sepertiku makanya kalian pun merasakan takdir yang tidak adil. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan setelah ini? Orang yang meletakkanmu di dalam perutku telah pergi."
DUG
Baekhyun semakin membulatkan matanya, gejolak perutnya semakin terasa.
"Apa kau juga marah? Kau marah padanya? Ya, aku bahkan membencinya. Dia telah menipuku, dia mengkhianati perasaanku. Jika seandainya dia bukan monster mungkin sekarang kau akan merasakan sebuah cinta yang utuh dari orangtuamu."
DUG
"Jangan bersedih! Kau harus menjadi kuat! Setelah kelahiranmu kau pasti akan merasakan sebuah ketidakadilan juga, tidak jauh berbeda dengan Sehun, kakakmu. Hei, tapi aku tidak yakin apa aku akan membuatmu lahir atau tidak, karena sejujurnya aku merasa lelah." Ucap Baekhyun lagi.
Ia menoleh ke jendela, lalu menurunkan kakinya. Mengenakan alas kaki dan berusaha menurunkan infusnya.
"Mau berjalan-jalan sebentar?" tanya Baekhyun sambil tetap mengelus perutnya dan menyeret infus yang berada disampingnya.
Kakinya melangkah menyusuri koridor rumah sakit, melihat beberapa pasien duduk di sisi koridor bersama keluarga mereka.
"Sayang, kau harus tenang! Kita akan melihatnya segera!" ucap seorang pria sambil memeluk istrinya yang sedang mengandung. Baekhyun menatap mereka dan sebuah senyum kecil terulas di wajahnya.
"Seharusnya kau bisa merasakan kasih sayang seperti itu, jika kau tidak berada di perutku." Ucap Baekhyun pada janinnya dan ia kembali mendapat sebuah tendangan.
"Permisi! Permisi! Dokter, tolong istriku segera melahirkan." Baekhyun menyingkirkan tubuhnya ketika seorang lelaki mendorong sebuah kursi roda dimana terdapat seorang wanita dengan perut besar tengah kesakitan dan beberapa perawat segera berlarian menghampiri.
Lagi-lagi Baekhyun hanya bisa tersenyum kecil, membayangkan bahwa dirinya berada dalam posisi itu, jika saja Chanyeol adalah manusia biasa.
"Selamat! Bayi anda laki-laki."
"BENARKAH?"
Baekhyun menoleh kearah sebuah koridor dimana seorang seorang pria, seorang wanita dan pria tua sedang mengerumuni seorang Dokter yang baru keluar dari ruang bersalin.
"Selamat." Gumam Baekhyun pelan lalu kembali melangkah. Hingga kakinya membawa dirinya pad ataman rumah sakit. Disana banyak pasien yang duduk ataupun berjalan-jalan seperti dirinya, hanya saja mereka ditemani anggota keluarga mereka, orang yang mencintai mereka.
Baekhyun berjalan pelan sambil sesekali mengelus perutnya.
"Kau bisa melihatnya? Ah tidak! Tentu kau tidak bisa. Baiklah aku akan mendeskripsikannya padamu. Di depanku ada sebuah benda menjulang tinggi , dengan benda lain berwarna hijau yang seperti memayunginya dari sinar matahari. Itu adalah pohon." Ucap Baekhyun sambil sesekali terkekeh kecil.
"Disampingnya ada sebuah tempat berbentuk persegi dan ada air yang memuncrat keluar dan bisa berganti-ganti warna, mereka menyebutnya air mancur. Mungkin kau akan menyukainya nanti." Ucap Baekhyun lagi dan kembali melangkah, ketika ia merasa kakinya lelah ia memilih duduk untuk mendongak keatas, menatap langit yang berwarna biru cerah.
"Saat ini aku sedang menatap sebuah hamparan luas berwarna biru dengan kapas-kapas lembut berwarna putih yang berjalan disekitarnya, juga ada sebuah benda bulat bercahaya yang sangat panas. Langit adalah ciptaan terindah dari Tuhan. Kau percaya jika langit dapat menentukan suasana hatimu?" kembali Baekhyun berucap sambil meletakkan tangan berinfusnya diatas perutnya.
Dua puluh menit mereka habiskan di bangku taman rumah sakit, hingga akhirnya Baekhyun memilih bangkit.
"Baiklah, sekarang saatnya kembali." Ucap Baekhyun lalu bangkit.
Ia mendudukan dirinya di atas ranjang, menatap sekali lagi jendela rumah sakit.
"Apa kau puas dengan tour singkat kita?"
DUG
Baekhyun tersenyum, dan air matanya terjatuh. Ia menolehkan kepalanya kekiri dan melirik sepiring buah apel segar disana, tangannya terjulur dan ia menggenggam sebuah benda mengkilat.
"Bagus jika kau menyukainya. Dia berkata bahwa aku tidak boleh membencimu, aku tidak akan membencimu sayang. Sebenci apapun aku padanya, kau tetaplah bagian dari diriku. Jadi, mari kita pergi bersama. Sampai jumpa dikehidupan berikutnya." Ucap Baekhyun sambil mengarahkan pisau itu kepergelangan tangannya, matanya tertutup dan ia tersenyum dalam tangisnya.
…
..
.
Kris dan Chanyeol sama-sama terluka. Tubuh keduanya telah dipenuhi oleh noda darah. Chanyeol bangkit dan menyeringai, begitu juga Kris mencoba bangkit. Kris meludah, ia merasa dipermalukan oleh seorang yang bahkan belum resmi menjadi Raja.
"Lumayan juga!" ucap Kris sambil bangkit. Chanyeol menyeringai, bersiap mengeluarkan kekuatannya namun Kris menjentikan jemarinya dan muncul sebuah bulatan tranparan disampingnya.
Bulatan seperti gelembung air dan memperlihatkan sebuah sosok yang familiar dimana Chanyeol. Mata Chanyeol membulat melihat Baekhyun yang mengambil pisau dari piring buahnya.
"Ingin mengucapkan selamat tinggal pada cintamu?" Chanyeol membulatkan matanya. Ia mencoba tidak terkecoh oleh ucapan Kris, menyakinkan dirinya bahwa Kris tengah menipunya.
"Bagus jika kau menyukainya. Dia berkata bahwa aku tidak boleh membencimu, aku tidak akan membencimu sayang. Sebenci apapun aku padanya, kau tetaplah bagian dari diriku. Jadi, mari kita pergi bersama. Sampai jumpa dikehidupan berikutnya."
Terdengar suara Baekhyun yang menggema. Chanyeol merasakan kepanikan mulai menyerang dirinya. Kekuatannya melemah dan jantungnya berdebar kencang.
"Lelaki yang malang." Ucap Kris lalu menghilangkan gelembung air itu. Chanyeol menatap kosong kearah Kris.
"Karena iblis sepertimu ia harus mengakhiri hidupnya." Chanyeol terdiam, air matanya mendadak jatuh. Kris menyeringai, lalu mengeluarkan pedangnya dan dalam sekali lompatan ia berhasil menebas dada Chanyeol.
"UHUK"
Chanyeol terbatuk dan bersimpuh ditanah. Darah segar mengalir dari mulutnya dan beberapa merembes melalui dadanya.
"Mari ucapkan selamat tinggal pada kehidupanmu Chanyeol. Aku berharap kau dan Baekhyun bisa berkumpul diakhirat, meskipun itu sangat amat mustahil." Kris menyeringa dan kembali menyerang Chanyeol.
Chanyeol menunduk. Ia mencoba bangkit namun kekuatannya melemah, kenangan-kenangannya bersama Baekhyun memasuki pikirannya, ia menyadari sesuatu bahwa ia telah jatuh terlalu dalam pada seorang Byun Baekhyun.
"Kau_"
"Masih bisa bicara?" Kris menyeringai mengeluarkan bola cahaya dari tangan kirinya lalu menyerang Chanyeol bertubi hingga Chanyeol ambruk diatas tanah.
Chanyeol terkapar, ia tidak bisa menggerakan bagian tubuh manapun.
Ia membalik tubuhnya menghadap langit dan mencoba menarik nafas dalam. Langit yang semula gelap, berubah menjadi langit cerah dimata Chanyeol. Tanah gersang yang ia jadikan alas, berubah menjadi rerumputan hijau.
"Chanyeol, terima kasih karena telah hadir di dalam hidupku. Aku mencintaimu."
Samar ia melihat wajah Baekhyun berdiri diatasnya, wajah cantik itu tersenyum begitu lembut.
"Baekhyun?"
"Baek, jika pada akhirnya kita harus berpisah seperti ini. Aku harap dikehidupan berikutnya kita akan bertemu lagi, sayang. Sebagai manusia, sebagai orang biasa." Gumam Chanyeol sambil mencoba menggapai tubuh Baekhyun.
Perlahan sosok Baekhyun menghilang tergantikan oleh sosok Kris yang menyeringai kearahnya. Kris mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan ia tersenyum puas.
"Kejayaan akan kembali padaku. Langit dan neraka akan berada dalam kekuasaanku. Selamat tinggal bocah menyedihkan, lenyaplah bersama kisah cinta tragismu. Semoga kalian bertemu dikehidupan berikutnya, walau_" Kris menyeringai kejam.
"Itu hal yang mustahil."
JLEEB
Mata Chanyeol terbuka lebar, bibirnya memuncratkan darah, namun dalam kesakitannya, dalam kedinginan yang ia rasakan disekujur tubuhnya , sebuah perasaan hangat menjalari tubuhnya, perasaan akan dicintai dan pernah mencintai.
"Setidaknya aku mati setelah aku tahu bahwa jatuh cinta itu indah."
Ucapnya dalam hati.
...
..
.
THE END
…
..
.
.
.
.
.
.
.
Bercanda ding!
TBC
…
..
.
Angkat tangan siapa yang kaget ama kata The end? Wkwkwk pasti untuk pertama kalinya kalian bernafas lega sama kata TBC kan? Hayoo ngaku, wwkwkwkw! Meskipun setelahnya tetep ngeluh "Duh pake TBC" wkwkwkw.
Rasanya ini update tercepet lagi deh ya? Wkwwkwkw.. Yah makasi banyak buat doa kalian deh hehehe.
Disini udah pada terjawab belum pertanyaan-pertanyaan kalian?
Aku yakin hampir semua dari kalian gak nyangka kalau yang jahat itu Soojung kan? Karena aku baca dari review hampir semua bilang Jessica, hampir-semua. Wkwkwkwkw.. Yah, anggap ajah kejutan. Tapi aku buat karakter mereka jadi jahat bukan karena aku benci mereka, bukan. Cuma menurut aku mereka itu cocok sama karakter itu hehehe..
Dan Yeeeeii beberapa chapter lagi ini bakal The end. Mungkin Chanyeol dan Baekhyun akan ketemu dikehidupan berikutnya wkwkwk.. Hmm.. liat nanti deh, gimana mood aku hehehe..
Dan seperti biasa, big thanks to : Park Chanyeol and Byun Baekhyun yang udah memberikan insprisi buat aku, dan of course para readers setia yang selalu ngomel tentang waktu update FF ini hahaha.. Makasi ya ,love you so much wkwkkww..
Review yang kalian berikan sungguh sangat membantu dan membangkitkan semangat aku , percaya atau nggak review itu emang amat sangat berarti buat para author lho readers, sebagaimana kalian semangat dapet notice kalo FF yang kalian tunggu update, seperti itu juga review bagi para author wkwkw.
Kenapa aku bahas soal review? Bukan karena gila review, tapi karena aku bahagia bahwa FF ini udah mencapai 3K reviewers , thanks banget ya guys. Aku bener-bener gak nyangka pas ada yang chat " kak happy 3K ya" aku pikir apaan pas aku cek eh ternyata FF DBM udah mencapai 3K ajah. Duuh senengku gak bisa di deskripsikan. Hehehehe..
Oke, biar gak banyak bacot. Aku akhiri sampai disini. Sampai ketemu di chapter berikutnya( seperti biasa gak pasti kapan updatenya, tapi berdoa ajah cepet ) wkwkwk dan jaga kesehatan kalian ya, jangan ampe sakit meskipun ini musim liburan wkwkwkw. Terakhir salam Chanbaek is Real. Support them as lovers wkwkwkw..
Oh iya terakhir, kalau ada yang bisa ngedit cover FF boleh minta tolong kesukarelaannya? Wkwkwkw .. Siapapun yang dengan tulus ikhlas membantu silahkan add line shita0224 ( tanpa ) oke? Dan langsung to the point juga gapapa, gak usah sungkan malah kalau kebanyakan disanjung kepalaku malah tambah besar entar wkwkwk..
Oke, bagi yang berkenan review silahkan tinggalkan masukan , semangat, kritik dan saran kalian. Love you all
