Title : Devil Beside Me chapter 14
Cast : Park Chanyeol , Byun Baekhyun , Oh Sehun , Do Kyungsoo , Xi Luhan , Kim Jongin, Kim Kibum, Choi Minho , Lee Taemin , Ok Taecyeon , Taeyang, Kim Dasom , Kim Jonghyun, Bae Joo Hyeon-Irene , Park Sooyoung- Joy , Kim Yerim-Yeri, Song Naeun, Yoon Bomi, Park Chorong, Park Cheondong ( Thunder ), Huang Zitao, Wu Yifan, Jung Soojung, and others.
PERHATIAN!
Ff ini mengandung unsur dewasa ,seks, hubungan sesama jenis yang menyebabkan beberapa orang mungkin mual, Bahasa yang berantakan, dan typo yang walau sudah berusaha dihilangkan tapi tetap muncul. Tidak untuk area bermain anak-anak, anak polos, antigay/ homophobic, AntiChanbaek dan segala yang tidak ada sangkut pautnya dengan dunia yaoi.
NO CO-PAST
NO-REPOST
NO-PLAGIAT
Okay?
There always be a place for the good person. So, don't steal people effort , be honest dear..
Mulailah dengan sebuah kata, susunlah menjadi kalimat dan kembangkan dalam sebuah paragraph.
Cerita yang hebat bukan tentang siapa, tapi tentang apa dan bagaimana.
…
..
.
DEVIL BESIDE ME
(Lupa? Silahkan baca chapter sebelumnya!)
…
..
.
Baekhyun tersenyum, dan air matanya terjatuh. Ia menolehkan kepalanya kekiri dan melirik sepiring buah apel segar disana, tangannya terjulur dan ia menggenggam sebuah benda mengkilat.
"Bagus jika kau menyukainya. Dia berkata bahwa aku tidak boleh membencimu, aku tidak akan membencimu sayang. Sebenci apapun aku padanya, kau tetaplah bagian dari diriku. Jadi, mari kita pergi bersama. Sampai jumpa dikehidupan berikutnya." Ucap Baekhyun sambil mengarahkan pisau itu kepergelangan tangannya, matanya tertutup dan ia tersenyum dalam tangisnya.
"Jika kau melakukannya, maka kau merampas hak hidupnya." Mata Baekhyun terbuka ketika seseorang berbicara. Ia mengedarkan pandangannya kesekitar dan menemukan sosok cantik sedang berjalan mendekat kearahnya dari sudut ruangan.
"Kau?" kening Baekhyun mengernyit dan sosok itu tersenyum lembut.
"Apa kau tidak mengenaliku Baekhyun?" Baekhyun menganga, pisau ditangannya terjatuh karena tangannya yang terlalu lemas. Di depannya, sosok lelaki cantik tadi berubah menjadi sosok wanita berambut panjang dengan dress berwarna hijau muda.
"An-anda?"
"Ya sayang. Ini aku." Taemin kembali mengubah wujud manusianya menjadi wujud malaikatnya kembali. Baekhyun masih terdiam di tempat dan sedikit memundurkan tubuhnya waspada ketika sosok Taemin mendekat.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Taemin lembut dan duduk dihadapan Baekhyun. Baekhyun masih terdiam, air matanya menggenang membuat pandangannya menjadi buram.
"Keadaanku?" tanyanya lirih sambil menundukan wajahnya lalu melihat kearah perutnya. Taemin berusaha tersenyum meskipun di dalam hatinya ia merasakan kesakitan yang sedang Baekhyun rasakan.
"Apa pantas bila aku menyebut keadaanku baik-baik saja?" ucap Baekhyun sedikit tertawa lirih dan membiarkan air matanya terjatuh. Taemin meraih tangan Baekhyun dan mengelusnya. Baekhyun menatap sosok itu, hendak menarik tangannya namun ada sebuah perasaan nyaman terbersit di hatinya.
"Baekhyun, apa yang membuatmu ingin membunuhnya? Dia tidak bersalah." Ucap Taemin. Baekhyun kembali tersenyum paksa, lalu merendahkan arah pandangnya dan mengelus perutnya perlahan.
"Dia memang tidak bersalah, akupun merasa kasihan padanya karena harus berada di dalam perutku, seharusnya dia bisa hidup dengan layak bila terlahir dari orang lain." Taemin mengelus kepala Baekhyun membuat air mata Baekhyun kembali terjatuh.
"Apa kau tahu bahwa kau tidak bisa menghindari takdir? Dia terpilih untuk terlahir dari rahimmu, dia menginginkanmu sebagai ibunya."
"Lalu apa yang akan aku lakukan setelah itu? Yang ada hanya penderitaan dan penderitaan yang akan terus datang. Aku hanya tidak ingin dia merasakan penderitaan yang sama denganku, aku tak ingin nasibnya menjadi malang sama sepertiku." Baekhyun terisak pelan dan Taemin mengelus pundak sempit itu.
"Untuk itu kau berniat mengakhiri hidupmu? Untuk itu kau memilih menyerah dengan keadaannya?" Baekhyun menatap Taemin dengan tatapan kesedihannya membuat Taemin turut merasa sedih.
"Apa yang bisa membuatku bertahan?Apa? Coba anda jelaskan padaku! Bagiku hidup ini tak pernah memihak padaku."
"Benarkah? Lalu bagaimana dengan Chanyeol?" Tubuh Baekhyun menegang ketika mendengar nama itu, dan memilih untuk membuang wajahnya.
"Aku tahu kau sangat membencinya, bahkan untuk mendengar namanya kau terlihat enggan." Baekhyun bergeming masih mencoba meredam isakannya.
"Aku sebagai ibunya meminta maaf untuk semua yang terjadi di dalam hidupmu, aku menyesal karena membiarkan putraku merusak hidupmu Baekhyun, aku minta maaf." Baekhyun menoleh ketika mendengar isakan Taemin, dalam hatinya ia juga merasa kasihan.
"Tapi Baekhyun, putraku itu, putra nakalku itu merasakan sebuah ketidakadilan yang sama. Kau tahu bagaimana perasaanku ketika dia berkata bahwa ia menyesal terlahir sebagai anakku? Dia marah karena aku yang seorang malaikat menikah dengan seorang iblis hingga membuatnya menjadi campuran iblis dan malaikat." Baekhyun membulatkan matanya mendengar penuturan Taemin.
"Kau tahu betapa sedihnya aku melihat ia yang mendapat ketidakadilan dari para malaikat karena ia seorang iblis, berbeda dengan Luhan dan Kyungsoo yang bisa memasuki Kerajaan langit dengan bebas? Sementara dia, dirinya yang masih kecil sudah mendapat banyak gunjingan." Taemin mencoba tersenyum ditengah isakannya.
"Kau tahu? Dia yang pada dasarnya sangat rapuh dan penuh kasih sayang harus tumbuh menjadi sosok yang keras hanya karena dia adalah penerus Raja Iblis. Aku sebagai ibunya selalu sedih melihat putraku mendapat ketidakadilan seperti itu, tapi ketika aku tahu bahwa dia jatuh cinta pada seorang manusia meskipun dia mengingkarinya diawal, aku merasa bersyukur setidaknya dia mengenal cinta." Baekhyun terdiam menatap kedalam mata biru langit di depannya.
"Aku pikir mungkin dia hanya tersesat sementara, namun ketika melihatnya sangat memperjuangkanmu membuatku tahu bahwa putra kecilku telah kembali. Baekhyun, cinta bisa mengubah apapun. Sekeras apapun hati seseorang, ketika ia mengenal cinta ia akan berubah. Kau tahu berapa banyak yang menentang cintanya?" Taemin menghela nafas dan tersenyum ketika melihat Baekhyun menitikan air matanya.
"Semua… bahkan seluruh dunia menentang perasaan cintanya padamu. Tapi Baekhyun, kau tahu? Putra nakalku itu sudah dewasa, dia tidak peduli pada ucapan mereka mengenaimu, dia memperjuangkanmu mati-matian." Baekhyun terisak air matanya menganak sungai dan Taemin mengelus punggung sempit itu.
"Hingga sekarang, dia.. dia … sungguh-sungguh mati." Bola mata Baekhyun terbuka lebar.
"Dia sedang meregang nyawa ketika aku mencarimu kemari. Aku tidak tahu bagaimana nasib putra malangku itu Baekhyun. Dia sedang memperjuangkan cinta dan tahtanya. Kris.. ah tidak, sosok yang menyamar sebagai Wu Yi Fan adalah Lucifer, makhluk serakah yang ingin menguasai segalanya dan Chanyeol sedang memperjuangkan itu tapi ketika Lucifer dengan licik memperlihatkan dirimu yang sedang menorehkan pisau ketanganmu, Chanyeol yang sedikit lagi menang, menjadi lemah."
"Di..dia.." Baekhyun tidak bisa mengeluarkan kata-katanya semua sangat mengejutkan untuknya.
"Baekhyun,aku tahu kau masih mencintainya. Kau hanya mencoba membohongi dirimu karena masa lalumu." Taemin menatap Baekhyun lalu matanya beralih pada Loocin di leher Baekhyun dan tersenyum.
"Baekhyun, kau tahu apa hal tidak adil lainnya yang akan datang ke dalam hidup Chanyeol?" Baekhyun menggelengkan kepalanya pelan dan Taemin mengelus pipi yang terlihat menirus itu lagi.
"Dia.. dia akan kehilangan ibunya." Mata Baekhyun membulat dan menatap tidak percaya pada Taemin.
"Maksud anda?"
"Aku akan pergi , benar-benar pergi untuk selamanya. Sebenarnya aku ini makhluk yang abadi, tapi sebuah kesalahan membuatku harus menanggung hukuman ini."
"Tapi…"
"Chanyeol tidak tahu, tepatnya dia belum tahu. Tidak ada yang tahu, hanya kau orang pertama yang kuberitahu. Dan, kau tahu kenapa aku memberikan kalung ini padamu?" Baekhyun menundukan kepalanya untuk melihat kearah Loocin di lehernya ketika Taemin menyentuh liontin itu.
"Karena aku mempercayaimu Baekhyun. Aku mempercayai hidupku untukmu dan sekaligus menebus kesalahanku. Itu akan menjadi rumahku kelak, tempat dimana aku akan bersemayam. Baekhyun, kau tahu kenapa Lucifer ingin merebut kalung ini?" Baekhyun kembali menggeleng dan membiarkan air matanya kembali mengalir.
"Aku Putra mahkota, aku merupakan malaikat dengan kedudukan tinggi dan benda ini adalah hidup dari setiap para malaikat yang ada, dan karena posisiku benda ini menjadi sangat spesial. Dia memiliki sebuah kekuatan yang akan membuat Lucifer dengan mudah mendapatkan apa yang ia mau." Baekhyun kembali terkejut dan merasa bersyukur karena tidak memberikan kalung itu pada siapapun.
"Aku berterima kasih karena kau masih mempertahankannya. Aku tahu kau memiliki hati yang baik sayang." Kembali elusan pelan Taemin jatuhkan pada pipi Baekhyun.
"Setelah kau mendengar ini, apa kau merasa adil? Apa Chanyeol telah menerima semua hukumannya, apa kau ingin menghukumnya lebih dari ini?" Baekhyun terisak. Ia menutup matanya dan menarik kakinya untuk ditekuk lalu menyembunyikan wajahnya.
"Ma..maafkan aku!"
"Ini bukan salahmu Baekhyun, ini bukan salah Chanyeol pula, ini bukan salah siapapun, inilah yang disebut takdir. Takdir kalian membawa kalian pada situasi ini."
"A..aku…"
"Jangan menangis lagi! Kau sudah terlalu banyak menangis."
"Chanyeol?" tanya Baekhyun sambil menatap Taemin penuh harap. Taemin tersenyum lalu menoleh kearah jendela, menatap hamparan langit cerah diluar sana.
"Aku tidak tahu , aku hanya berharap bahwa takdirnya tidak berhenti disana."
"Ibu." Baekhyun berhambur kepelukan Taemin dan menangis tersedu-sedu , Taemin melakukan hal yang sama. Keduanya menangis dalam ruangan besar yang sunyi. Tangisan mereka berlomba, saling membuktikan siapa yang lebih tersakiti diantara mereka, meskipun pada kenyataannya, semua orang tersakiti. Hingga mereka berdua tersadarkan bahwa "cinta itu indah, namun cinta selalu membawa air mata dibalik tawa."
…
..
.
DEVIL BESIDE ME
CHAPTER 14
…
..
.
"Kakak! Lihat! Dia sungguh tampan." Seorang gadis dengan gaun berwarna biru muda sedang berdiri di dalam ruangan di depan sebuah wadah air yang cukup besar di depannya. Gadis itu berambut panjang bergelombang berwarna putih kelabu, wajahnya sangat cantik bahkan ketika ia tersenyum matanya terlihat menganggumkan.
"Berhenti melakukan hal seperti itu!" Gadis lain berdiri dengan warna gaun senada yang menjuntai hingga terseret dilantai , rupa mereka sama, sama-sama cantik hanya saja sang kakak terlihat lebih sulit untuk tersenyum.
"Aku sedang melihat mereka berperang, dan tidak sengaja melihat sosoknya. Siapa namanya? Hm, bukankah dia putra Raja Langit?" Sang Kakak melirik adiknya lalu beralih menatap bayangan diatas wadah dimana menampakan seorang malaikat lelaki sedang berperang dan terlihat gagah.
"Kris."
"Ah, benar. Kenapa aku bisa lupa padahal namanya sama denganku. Krystal, dan Kris. Bukankah kita terdengar serasi?" Sang kakak memutar bola matanya lalu berjalan menuju wadah yang lain untuk melihat kondisi para malaikat dan iblis yang sedang berperang.
"Jangan pernah tertipu oleh kerupawanan! Jangan pernah jatuh cinta! Kau tahu, kita diutus untuk menjaga bulan bukan tanpa alasan, tapi karena kita dianggap layak." Sang adik mendengus mendengar ucapan sang kakak. Mereka memang terlihat serupa, sama-sama cantik dan sama-sama hebat namun sifat mereka sangat berbeda.
Sang kakak-Jessica- lebih terlihat serius pada apapun yang ia lakukan, dan terlihat lebih dewasa sementara sang adik- Krystal- lebih kekanakan dan tidak sabaran. Namun kedua putri bulan itu sangat akur sebagai saudara, untuk itu mengapa mereka terpilih sebagai malaikat yang diutus untuk menjaga Bulan.
"Kakak, aku heran mengapa mereka tidak lelah untuk berperang?" Tanya Krystal.
"Itulah yang terjadi ketika keegoisan menguasai dirimu. Kau akan lupa siapa dirimu, kau akan lupa darimana asalmu dan kau_"
"Kau akan lupa lalu meninggalkan jati dirimu." Kedua gadis itu menoleh untuk mendapati seorang pria dengan pakaian emas berjalan mendekat.
"Pangeran Matahari? Waaah, jarang sekali kau berkunjung!"ucap Krystal sambil menghampiri sosok itu.
"Aku ingin membicarakan sesuatu dengan kakakmu." Krystal mengangguk dan membiarkan pria itu melangkah mendekati sang kakak yang sedang memeriksa keadaan di bumi.
"Baiklah, aku lebih baik memandangi si tampan Kris." Ucap Krystal. Pangeran matahari menoleh dan menatap Krystal dengan kening berkenyit lalu mengalihkannya pada Jessica, keduanya bicara melalui tatapan mereka.
Semakin hari Krystal menjadi menggilai sosok itu, ia akan duduk berjam-jam di depan bayangan Kris dan memantau setiap kegiatannya, membuat Jessica selalu menengurnya. Hingga perang berlalu dan Nubes dalam masa kemenangan.
Krystal selalu tertawa setiap melihat Kris dan akan memuji ketampanan sosok itu, hingga suatu hari mata mereka bertemu. Bayangan Kris di dalam wadah menoleh dan tepat menatap kearah mata sang Putri Bulan hingga membuat Krystal semakin jatuh cinta.
Dan hari itu tiba, ketika Krystal tanpa sepengatahuan Jessica turun ke Nubes dan bertemu dengan sosok Kris di danau Nubes. Keduanya terdiam dan Krystal merasa pipinya memerah sempurna.
"A..Aku menyukaimu putra mahkota." Kris yang sedang membungkuk untuk memberi hormat pada Sang Putri Bulan terkejut. Ia hanya tersenyum dan merasa terpuji akan hal itu.
"Ini kehormatan untukku, terima kasih Putri Bulan."
"Hanya itu?" Krystal bertanya dengan wajah bingung.
"Lalu apa yang Putri Bulan inginkan?" Krystal berpikir, iapun tidak tahu dengan apa yang ia inginkan.
"Membalas perasaanku mungkin?" Kris terdiam lalu ia menundukan wajahnya sebagai rasa hormat. Krystal cemberut dan memilih kembali ke Bulan dengan perasaan kecewa.
Setelah hari itu, Krystal tetap duduk dan memandang kearah wadah namun mata mereka lebih sering bertemu karena Kris yang selalu menatap bulan setiap kali ia memenangkan pertarungan.
Dan sebuah malapetaka terjadi ketika seorang malaikat dikutuk dan ketika Krystal tahu itu adalah Kris ia merasa kecewa dan cemas. Memikirkan apa yang akan terjadi bila Kris tidak lagi menjadi seorang malaikat.
Hingga ia pun turun kembali dan mencoba menghibur Kris yang sedang bersedih. Semua terjadi begitu cepat dan tanpa Krystal tahu Kris sudah berubah menjadi sosok yang serakah yang akhirnya memanfaatkan dirinya untuk memperkuat pasukan yang akan ia bangun.
"Krystal!" Kedua sosok yang sedang duduk bersebelahan diatas rumput disisi danau menoleh terkejut mendapati Jessica yang melayang diatas danau dengan sinar bulan menerangi tubuhnya.
"Kakak?"
"Jadi ini yang kau lakukan selama aku pergi untuk mengadakan pertemuan dengan Pangeran Matahari?" Krystal menundukan wajahnya merasa menyesal.
"Maafkan aku." Jessica menatap Kris dan keningnya mengernyit ketika sosok itu berani mengelus pundak adiknya. Mereka adalah putri Bulan, malaikat tertinggi dari seluruh malaikat yang ada, dan seorang malaikat seperti Kris dengan status barunya yang buruk tidak sepantasnya menyentuh adiknya.
"Ayo kembali!" ucap Jessica dingin. Krystal bangkit dan hendak terbang sebelum sebuah tangan menahannya.
"Aku mencintaimu." Ucap Kris. Krystal membulatkan matanya, selama ini Kris tidak pernah membalas perasaanya dan kini sosok itu mengucapkan kata cinta? Krystal merasa hatinya berbunga.
"Krystal!" bentak Jessica. Krystal melirik kakaknya lalu menatap wajah memohon Kris yang ingin ia tetap tinggal.
"Aku ingin hidup bersamamu, tidak bisakah_"
"Krystal! Jangan dengarkan dia! Ayo kembali_"
"Tidak kak!" Jessica membulatkan matanya. Menatap tidak percaya pada sang adik yang kini membalas genggaman tangan Kris.
"Apa?"
"Aku akan tinggal, aku tidak akan kembali.."
"Kau?"
"Kak, aku muak berada di bulan hanya berdua denganmu. Aku ingin merasakan cinta." Seketika mata Jessica bergetar. Hatinya sakit mendengar ucapan adiknya, sementara selama ini mereka selalu berjanji untuk hidup berdua selamanya.
"Krystal?"
"Maafkan aku kak, tapi aku mencintainya. Aku ingin hidup bersamanya." Krystal membalik tubuhnya dan mencium bibir Kris.
"Tidak!" Kristal dikening Krystal pecah membuat keduanya terkejut. Adiknya telah ternodai, dan itu berarti bahwa adiknya tak bisa kembali ke Istana mereka.
"Maafkan aku kak."
"Aku kecewa padamu." Ucap Jessica dengan nada lirih lalu kembali ke Bulan dengan perasaan kecewa. Adiknya telah berkhianat, adiknya lebih memilih untuk bersama sosok yang baru ia kenal ketimbang bersamanya yang telah hidup bersama jutaan tahun lamanya.
Setelah kejadian itu, Jessica memutuskan untuk mengasingkan diri di puncak gunung dan merubah namanya menjadi putri salju. Ia ingin membuang semua kenangannya bersama sang adik , membuat Bulan dalam keadaan kosong.
Meski terkadang ia akan kembali untuk memeriksan sesekali namun Jessica tidak ingin menetap lebih lama disana, dan tidak ingin sebutan putri bulan menempel pada dirinya.
Hal itu tidak hanya berdampak pada Jessica, sang Pangeran Matahari pun merasakan hal yang sama. Ia merasa terkhianati, dan merasa hidupnya sepi. Untuk itu ia meminta pada Sang Pencipta untuk mencabut haknya atas Kerajaan di Matahari dan memilih untuk menghilang dalam kurun waktu yang lama.
Jika Putri Bulan memilih mengasingkan diri ke puncak gunung Himalaya, maka Pangeran Matahari memilih untuk turun kebumi, berbaur bersama manusia dan hidup menjadi salah satu dari mereka.
Mencoba menghilangkan kesendiriannya dan mencari hal yang selama ini tidak pernah ia rasakan. Cinta.
…
..
.
Park Shita
Present
…
..
.
Kris mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan ia tersenyum puas.
"Kejayaan akan kembali padaku. Langit dan neraka akan berada dalam kekuasaanku. Selamat tinggal bocah menyedihkan, lenyaplah bersama kisah cinta tragismu. Semoga kalian bertemu dikehidupan berikutnya, walau_" Kris menyeringai kejam.
"Itu hal yang mustahil."
JLEEB
Mata Chanyeol terbuka lebar, bibirnya memuncratkan darah, namun dalam kesakitannya, dalam kedinginan yang ia rasakan disekujur tubuhnya , sebuah perasaan hangat mulai menjalar, perasaan akan dicintai dan pernah mencintai.
"TIDAAAAKKKK!" Luhan berteriak kencang berusaha melepaskan dirinya. Ia mengerahkan seluruh tenaganya namun semua sia-sia.
Di Infernus, Minho, Kakek Iblis dan Sehun yang menatap kearah pantulan bayangan dihadapan mereka dimana Chanyeol ditikam oleh sebuah pedang dan dalam keadaan sekarat menghentikan aksi mereka.
Minho terdiam dengan wajah terkejut, Kakek Iblis mengeluarkan seluruh kekuatan terakhirnya dan Sehun jatuh bersimpuh dengan tubuh lemas.
"A-Ayah." Ucap Sehun tanpa ia sadari. Air matanya jatuh dan pikirannya kosong. Kakek Iblis terdiam sambil mencoba menghalau musuh yang hendak menyerang Sehun dan Minho yang masih syok.
Sementara Tao hanya menyeringai dan meminta anak buahnya untuk berhenti dan menikmati kesedihan yang menyelimuti seluruh penghuni Infernus.
"Tidak, Chanyeol!" Minho bergumam dengan raut wajah sedihnya. Kakek Iblis berjalan kearah Minho dan menepuk pundak anaknya berusaha memberikan kekuatan, lalu berjalan kearah Sehun dan membantu sosok yang terisak itu untuk berdiri.
Di medan perang, Kris merasa puas dan bangga. Ia melirik Chanyeol yang masih dalam keadaan sekarat dan tersenyum remeh.
Ketika Chanyeol memasrahkan diri pada kematian, ketika ia merasa pedang itu tertancap semakin dalam di bagian dadanya. Sebuah cahaya menyilaukan matanya. Chanyeol pikir ia sudah dijemput oleh ajal, namun ketika ia mencoba membuka matanya dalam keadaan sekaratnya, ia melihat langit yang tadinya gelap kembali bercahaya.
Matahari bersinar dengan terang menggantikan kegelapan. Kris yang semula mendongak, menyeringai kearah Chanyeol lalu menekan pedangnya semakin dalam.
"Akh!" Chanyeol merasakan sakit yang luar biasa.
"Terlambat, cahaya matahari tak lagi bisa mengobatimu. Lukamu parah." Ucap Kris sambil menekan semakin dalam pedangnya. Luhan masih meronta, berusaha lepas dari lapisan yang mengurung tubuhnya.
Matahari nampak besar dari tempatnya berbaring, Chanyeol tersenyum dengan bibir mengeluarkan darah dan di dalam bulatan matahari ia melihat wajah tersenyum Baekhyun. Ia merasa bahagia setidaknya di detik-detik terakhir kematiannya ia masih bisa mengingat senyum manis sosok itu.
Ketika mata lelah Chanyeol akan tertutup, sebuah bayangan hitam sebesar matahari bergerak untuk menutupi cahaya matahari tersebut. Kris mengernyit tidak mengerti.
"Apa yang mereka coba perbuat? Gerhana matahari total? Heuh." Kris tersenyum remeh sambil mencoba mengabaikan peristiwa diatasnya. Luhan terdiam dan menatap kearah langit begitu pula makhluk lainnya.
Kakek Iblis , Minho dan Sehun yang sudah membalikan tubuhnya kembali menoleh dan menatap kearah pantulan bayangan yang memperlihatkan hal yang terjadi di medan perang. Tao bersandar pada pilar istana dengan wajah meremehkan.
"Permainan apa yang mereka buat? Heuh." Ucapnya sambil terkekeh. Kakek Iblis menyerngit tidak mengerti, lalu ia membulatkan matanya ketika menemu titik terang.
"Gerhana matahari total? Hari dimana Chanyeol lahir?" gumamnya membuat Sehun mengernyit bingung dan Minho membulatkan matanya.
"Waktu dimana Chanyeol menjadi kuat." Sehun segera menoleh dan menatap kearah pantulan bayangan itu.
Di medan perang, Sayap Chanyeol yang semula terbujur kaku , perlahan mengepak. Kris menoleh dan terkejut ketika melihat tubuh Chanyeol yang terbaring terangkat keudara. Gerhana bulan sebagai latar, dan Chanyeol berada ditengahnya dengan tubuh terkulai lemas,terbaring dengan udara sebagai alasnya.
Perlahan tangan Chanyeol bergerak, perlahan sayapnya terkepak lebih sering, dan dalam hitungan detik kedua sayap itu mengembang dan menutupi tubuh Chanyeol, membungkusnya seperti sebuah kepompong.
Kris mengernyit dan menatap kesal namun masih penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Cahaya merah berfluoresensi dari balik sayap Chanyeol, tubuhnya tak lagi berbaring, posisinya menjadi tegak. Ketika cahaya merah itu semakin menyilaukan, ketika itu kedua sayap itu terkepak.
Chanyeol berdiri tegap ,wajahnya terlihat sehat dan ia tersenyum lalu menarik pedang yang menancap di dadanya perlahan diawal namun cepat diakhir. Dan luka menganga itu tertutup kilat, tinggal meninggalkan bekas sama sekali.
"AAAARGGGGHHHH" Raungan Chanyeol terdengar menggema membuat para makhluk menutup telinga mereka, begitu pula dengan Kris dan Luhan bahkan seluruh makhluk di Infernus dan Nubes merasa telinga mereka sakit bila mendengar geraman itu.
Chanyeol menyeringai, ia merasa terlahir kembali. Tanduknya bertambah panjang, taringnya pun, api disekitar tubuhnya membara semakin besar dan mata birunya berubah menjadi merah padam.
Seringain Chanyeol menghilang menjadi sebuah sebuah tatapan penuh kebencian, ketika Kris masih merasa silau dengan sinar ditubuh Chanyeol, ketika itu Chanyeol terbang dan menyerang tubuh Kris.
JLEB
"Akh!" Kris terhuyung kebelakang ketika Chanyeol menyerangnya di pundak kiri.
JLEB
Kembali serangan itu mengenai pundak kanannya.
JLEB
"Akh!" Kini dadanya. Serangan Chanyeol begitu cepat, bahkan Kris tidak memiliki kesempatan untuk menarik nafas. Ketika tusukan keenam dan pedang itu menancap di dada kiri Kris, tubuhnya terjatuh dan bersimpuh diatas tanah.
"Bagaimana rasanya?" tanya Chanyeol sambil menekan lebih dalam pedang itu. Kris menyeringai, lalu menarik perlahan pedangnya dan mencoba bangkit.
"Kau pikir aku akan mati hanya dengan serangan kecilmu?" ucap Kris menahan rasa sakitnya. Ia pun sebenarnya sekarat, hanya saja ia mencoba menjadi kuat. Kris mencoba berdiri dan Chanyeol hanya menatap dari jarak beberapa meter.
"Hentikan!" Kris tidak menoleh dan ia hanya menyeringai. Taemin muncul dan mendekat kearah Kris.
"Ibu!" Ucap Chanyeol namun Taemin hanya tersenyum kearah putranya.
"Jika kau seperti ini, kau tidak akan pernah mendapatkan apa yang kau mau!"
"Memangnya tahu apa kau tentang kemauanku hah?" Bentak Kris. Taemin tersenyum lalu mendekat kearah kakaknya.
"Aku tahu kau melebihi siapapun hyung!" ucap Taemin sambil menyentuh pipi Kris. Keduanya saling pandang, dan Taemin merasa seolah kembali kemasa lalu.
"Tidakkah ini menyakitkan? Tidakkah ini menyakitimu? Menyakiti kita semua?" Ucap Taemin sambil terisak. Kris terdiam dan ia terbatuk.
"Tahu apa kau tentang rasa sakit hah? Apa kau tahu bagaimana sakit hatiku setelah mereka membuangku?" ucap Kris. Taemin menggeleng pelan dan kembali menyentuh pipi Kris, namun Kris mendorongnya membuat Taemin terjatuh diatas tanah.
"Bajingan!" Umpat Chanyeol sambil dengan segera membantu Taemin berdiri. Ketika mereka terlibat dalam situasi rumit. Gerhana matahari telah usai, cahaya matahari kembali terlihat. Semua mata menoleh dan mereka terkejut melihat dua buah sosok yang turun dari atas langit.
Dua sosok yang awalnya tidak terlihat jelas karena membelakangi cahaya matahari,namun semakin lama bayangan sosok mereka mulai terlihat jelas. Sosok pria berjubah emas, dengan rambut kecoklatan dan kulit tan, terlihat gagah dan tampan dalam waktu bersamaan.
Dan dalam rengkuhannya ada sosok lain berjubah putih panjang, berambut hitam dan bermata biru langit. Kyungsoo.
"Ibu!" panggil Kyungsoo ketika perlahan kakinya menyentuh tanah. Taemin terisak ketika melihat putra bungsunya dalam keadaan sehat. Kyungsoo menoleh kearah sosok disampingnya dengan tatapan meminta izin.
"Jongin, bolehkah?"tanya Kyungsoo. Jongin-Si Pangeran Matahari- mengangguk dan tersenyum kearah Kyungsoo. Melepaskan pelukannya dan membiarkan Kyungsoo berlari kearah ibunya.
Kedua sosok itu berpelukan, dan Kris terkekeh geli melihat adegan di depannya. Dua sosok lain muncul dibelakangnya.
"Kris!" ucap mereka bersamaan dan membantu Kris berdiri dengan benar.
"Jangan terbawa suasana! Kita harus ingat dengan tujuan kita!" ucap Tao. Kris menyeringai lalu meludah.
"Tentu, aku hanya memberikan mereka waktu untuk melepas kerinduan." Ucap Kris. Krystal menyeringai. Lalu ia dan Tao menggosokan tangannya untuk mengumpulkan kekuatan dan mencoba menyalurkannya ke Kris.
"Krystal!" Krystal menoleh dan terkejut melihat sosok Jessica turun dari atas langit dalam wujud aslinya yang dilapisi medan salju.
"Kau akan menerima hukuman atas semua yang kau lakukan." Ucap Jessica. Krystal menyeringai lalu tetap melanjutkan kegiatannya membuat Jessica melemparkan kekuatannya hingga tubuh Krystal terpental.
Gadis itu bangkit dan menatap kakaknya nyalang, membuat Jessica sempat merasa kecewa namun ia menyembunyikan kekecewaannya dengan wajah datarnya.
"Kris, kau tidak bisa melakukan ini lagi." Jongin mengeluarkan suaranya sambil berjalan mendekat dengan tubuh bercahaya. Kris mendengus, ia merasa terpojokan.
"Kenapa? siapa kau berhak melarangku? Bahkan langitpun tak pantas." Jongin menyeringai kecil lalu melirik kearah Chanyeol sekilas. Chanyeol mengernyit dan ia menyadari sesuatu, bahwa sosok Pangeran matahari begitu familiar di matanya.
"Keserakahan membuatmu lupa siapa dirimu sebenarnya." Jessica turun sambil melangkah dengan anggun, membuat jalanan setapak dengan saljunya.
Luhan yang berada dibelakang sana, segera mendekat ketika medan ditubuhnya terlepas. Jongin melakukannya secara diam-diam , membuat Luhan segera bergabung bersama anggota keluarganya, ia bahkan sempat melirik kearah Jongin dan membulatkan matanya tidak percaya. Bajingan itu adalah Pangeran Matahari? Pikirnya.
"Aku seorang malaikat agung, aku kuat dan tak terkalahkan. Aku…" Kris menahan rasa sakit disekujur tubuhnya, ia ingin terbatuk namun ia mencoba menahannya. Sebenarnya ia tidak kuat lagi menahan rasa sakit itu, tapi ia tidak ingin terlihat memalukan dengan mati secara tiba-tiba.
Ia melirik kebelakang, meminta dua anak buah kepercayaannya untuk memberikan kekuatan. Tao dan Krystal bangkit dan berjalan mendekat. Ketika yang lain masih menantikan apa yang mereka lakukan, keduanya telah mengeluarkan kekuatan mereka dan memberikannya pada Kris.
"Uhuk!" Tao terbatuk dan ia terjatuh ketika tenaganya yang hanya setengah diberikan pada Kris. Kris berdecih dan mempercayakan sisanya pada Krystal yang pada dasarnya lebih kuat. Semua mata tertuju pada Jessica yang hanya terdiam melihat adiknya, berharap bahwa wanita itu melakukan sesuatu.
Jessica menghela nafas, lalu tangannya membuat gerakan pelan dan dalam hitungan detik ia berpindah kebelakang Krystal dan menarik kristal dibelakang kepala sang adik.
"Aaakhh!" Krystal berteriak ketika cahaya ditubuhnya meredup, ia memegang tengkuknya dan membulatkan matanya.
"Kau?"
"Maafkan aku adikku, aku harus mengambil hak hidupmu." Krystal menggeleng dan tubuhnya terjatuh. Perlahan tubuhnya bercahaya sangat terang dan cahaya itu membias. Krystal melihat tubuhnya yang mulai memudar.
"Kakak? Kenapa kakak tega melakukan ini?" Krystal terisak menatap sedih kearah sang Kakak. Jessica tersenyum paksa, dan ia mengangguk pelan.
"Kesalahanmu terlalu besar sayang. Kau tak lagi pantas menyandang gelar malaikat, sampai berjumpa dikehidupan berikutnya."
"Tidaaaak! KAKAAAAK!" Jessica menutup matanya ketika teriakan Krystal terdengar bersamaan dengan tubuhnya yang menghilang tertutupi oleh cahaya rembulan.
Jongin melangkah mendekati Jessica dan menyentuh pundak wanita itu, berusaha memberikan kekuatan padanya. Jongin tahu betapa Jessica sangat menyayangi adiknya, itu mengapa selama ini ia lebih memilih diam daripada melenyapkan sang adik.
Kris menyeringai, ia merasa dipermalukan. Sekarang ia terlihat bodoh dengan luka yang masih parah dan sumber kekuatannya menghilang hanya menyisakan Tao yang masih terduduk diatas tanah.
"Berikan Loocinmu!" ucap Kris membuat Tao membulatkan matanya. Diantara mereka berdua hanya Tao yang masih memiliki Loocin, sementara milik Kris sudah ia gunakan untuk menambah kekuatannya dulu.
"Tapi_"
"Cepat berikan bodoh! Dasar tidak berguna, percuma aku memeliharamu selama ini." Mata Tao terbuka lebar, jantungnya bagaikan ditikam. Perasaan cinta yang selama ini ia pendam sebagai malaikat perang yang selalu mendampingi Kris disaat apapun ternyata hanya dimanfaatkan.
"Cepat berikan brengsek! Kau ingin aku mati?" bentak Kris. Tao bangkit lalu tersenyum penuh kepedihan. Tidak ada yang bergerak, mereka hanya menonton apa yang akan terjadi setelahnya.
"Aku pikir kau sungguh mencintaiku. Aku terlalu bodoh Kris."
"Jangan banyak bicara, sekarang uhuk! Bukan saat yang tepat." Tao kembali tersenyum, terkekeh kecil akan kebodohannya selama ini. Meninggalkan gelarnya sebagai malaikat dan lebih memilih mengikuti Kris dan dipanggil pengkhianat.
Perlahan Tao membuka Loocin dilehernya, Luhan hendak melangkah namun Jessica melarangnya.
"Daripada memberikan ini padamu…"
SLASH
Tao membuang Loocin itu hingga hancur dan menghilang karena sang pemilik tidak menginginkannya lagi, membuat mata Kris membulat tidak percaya akan kebodohan Tao.
"Kau_"
"Aku…" Mata Tao berkaca-kaca menatap nanar kearah Kris yang kesal. Ia mengeluarkan kekuatannya dan membuat sebuah pedang darisana, lalu dalam sekali gerakan pedang itu tertancap di dadanya.
"Aku mencintaimu Kris." Lalu tubuh itu menghilang melebur bersama udara. Luhan, Chanyeol, dan Kris membulatkan mata mereka. Taemin melangkah maju.
"Hentikan semua ini! Kau lihat terlalu banyak yang tersakiti." Ucap Taemin. Kris berdecih, lalu ia menggeleng-gelengkan kepalanya tidak terima dengan semua yang telah terjadi.
Matanya memerah, antara menahan amarah atau khawatir. Taemin dapat melihat mata itu menitikan air mata, karena itu ia melangkah semakin dekat.
"Hyung?" Kris mendongak dan menatap tak percaya pada sang adik. Taemin tersenyum, memperlihatkan senyum sumringahnya, membuat keduanya kembali tersedot pada masa lalu mereka.
"Hyung?"
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu! Aku tidak pantas!" bentak Kris sambil mencoba bertahan pada kakinya yang gemetar.
"Meskipun kau membencinya, tapi asal kau tahu selamanya kau selalu menjadi kakakku yang selalu ku kagumi." Ucap Taemin. Kris menatap Taemin dalam diam, lalu airmatanya terjatuh dan ia mendengus menyadari kelemahannya.
"Hentikan!" bentak Kris ketika Taemin hendak melangkah maju.
"Hyung, setiap orang telah memiliki takdirnya masing-masing. Hyung tidak bisa menyalahi kuasa Tuhan." Kris berdecih sambil menggeleng pelan. Mencoba melawan sisi lemah dalam hatinya.
"Kau tidak tahu apa-apa, kau tidak tahu bagaimana rasanya terbuang dan terhina." Ucap Kris. Taemin mengangguk sambil melangkah mendekat. Ia menyentuh pipi Kris dengan lembut membuat pedang ditangan Kris terjatuh.
"Aku merasakan sakit yang sama tiap kali aku mengingatmu, tiap kali aku mengingat dirimu yang terbuang. Kau tahu? Di dunia ini tidak ada yang lebih aku sayangi selain dirimu Hyung. Aku berusaha membuang rasa sayangku dan itu semakin menyakitiku. Kau tahu seberapa besar aku merindukan kakakku?" Kris menggeleng dan kakinya tidak lagi mampu menopang tubuhnya, ia terjatuh bersimpuh pada kedua lututnya.
Taemin mendekat dan memeluk tubuh Kris sayang. Raja Langit, Yunho, Kakek Iblis, Minho dan Sehun datang dan hanya menonton dari tempat mereka berdiri.
Air mata Taemin jatuh dan berubah menjadi salju, Kris menyadarinya dan mengangkat wajahnya untuk memberikan tatapan sedih pada sang adik.
"Hidupku tidak lama lagi Hyung. Itu adalah takdirku, dan aku bisa menerima semua itu." Chanyeol mengepalkan tangannya dengan mata terbuka lebar ketika mendengar penuturan ibunya. Kyungsoo yang berdiri disamping Chanyeol menggenggam tangan sang kakak, memintanya untuk tidak merusak momen penting yang sedang terjadi.
Chanyeol menoleh dan tersenyum pada Kyungsoo, merasa bersyukur karena sang adik telah kembali dalam keadaan selamat. Chanyeol merangkul tubuh kecil Kyungsoo dan membuat keduanya saling berpelukan sambil menatap kearah Kris dan ibu mereka.
Taemin menangis dan memeluk tubuh sang kakak, begitupun Kris yang nampak terharu dengan momen mereka.
"Aku tidak memintamu kembali hyung, aku hanya memintamu untuk menghentikan semua ini. Semua yang kau lakukan tidak akan membuatmu menjadi yang terhebat. Diatas sana, Sang Penguasa masihlah berkuasa." Kris terdiam, menatap dalam kearah Taemin dalam kesakitannya.
"Taeminie." Tangan bergetar Kris terjulur untuk menyentuh pipi tirus Taemin. Taemin menutup matanya merasakan sentuhan dingin sang kakak.
"Iya hyung?"
"Hei, terakhir kali aku menyentuh ini, masih ada daging kenyal tapi sekarang hanya tulang." Ucap Kris sambil mencoba tersenyum. Taemin tersenyum dan air matanya kembali mengalir sebelum akhirnya menjadi kristal salju.
"Semua berubah ketika kau tidak ada disisiku." Ucap Taemin dan Kris memeluk tubuh sang adik, lalu menangis haru. Ia baru tersadar bahwa keserakahannya telah membunuh banyak nyawa tidak bersalah.
"Hyung? Hyung ingat apa janjiku dulu?" tanya Taemin. Kris mengangguk pelan.
"Apapun yang terjadi kau akan selalu berada disiku? Benar? Itu sebabnya aku merasa kecewa karena kau menolak ikut bersamaku dulu." Bisiknya pelan sambil mengelus rambut panjang adiknya.
"Ya, aku menolak karena aku tahu jika aku ikut saat itu kita akan jauh dari kata bahagia, kau bukan hyungku yang aku kenal saat itu, aku hanya takut." Kris mengangguk pelan.
"Maafkan aku sayang, maafkan hyungmu yang bodoh dan keji ini." Taemin mengangguk dalam pelukan Kris.
"Dan sekarang hyung, aku akan menepatinya." Ucap Taemin, lalu tangannya yang berada di balik punggung Kris bergerak untuk membuat sebuah pedang dari kristal es , lalu dalam hitungan detik ketika orang-orang lengah, ia menancapkan pedang itu melalui punggung Kris, menembus jantung sang kakak, menembus jantungnya dan menembus punggungnya.
"TIDAAAAKKK!" Chanyeol berteriak hendak berjalan kearah ibunya. Kyungsoo menangis, Luhan gemetar dan tubuhnya nyaris terjatuh yang mana segera ditahan oleh Sehun. Minho terdiam, dan Kakek Iblis menyentuh pundak anaknya memberi kekuatan lagi dan lagi.
Raja Malaikat menutup matanya sementara Yunho hanya menundukan wajahnya memberi penghormatan. Jessica tetap diam tanpa memberikan ekspresi apapun begitu pula dengan Jongin.
Tubuh Kris dan Taemin berubah menjadi butiran-butiran salju secara perlahan. Sebelum itu menghilang, Taemin menoleh menatap kearah anggota keluarganya lalu tersenyum.
"Aku mencintai kalian. Aku akan selalu ada untuk kalian." Ucap Taemin lalu mendorong pedangnya semakin dalam hingga tubuh keduanya lenyap. Salju-salju itu terbang terbawa angin, berhembus dan tersamarkan oleh udara.
…
..
.
Baekhyun sedang berbaring diatas ranjangnya, terlelap karena kelelahan hingga tiba-tiba sebuah angin berhembus memasuki ruangan, berubah menjadi cahaya berwarna kebiruan dan masuk ke dalam liontin yang sedang Baekhyun kenakan. Cahaya itu semakin membesar dan seketika langsung lenyap.
"Kalung itu adalah tempat dimana aku bersemayam nantinya."
…
..
.
Keadaan medan perang masih diselimuti duka. Semua terdiam di tempatnya, bagai mimpi semua tidak mempercayai apa yang baru saja mereka lihat. Chanyeol merasa tubuhnya bergetar, ia tidak pernah merasa sesedih ini, ibunya telah pergi untuk selamanya.
Kaki Chanyeol bersimpuh diatas tanah, ia mendadak lemas dan kakinya tak mampu lagi menahan bobot tubuhnya. Ia menangis, menundukan kepalanya dalam dan terisak kencang. Kyungsoo mendekat dan mendekap sang kakak, berbagi kesedihan bersama.
Luhan menyembunyikan kepalanya di dada Sehun dan membiarkan tangisannya pecah. Semua dalam keadaan yang kacau, semua merasa kehilangan separuh hidup mereka.
"Ibu~" suara Chanyeol terdengar begitu menyayat. Jessica merendahkan arah pandangnya, merasa ikut perihatin atas hal yang baru saja terjadi.
"Semua yang diciptakan akan kembali pada Sang Pencipta. Itulah hukum alam." Ucap Jessica tiba-tiba.
"Menangisi sesuatu yang telah pergi hanya akan semakin menambah luka yang ada. Mereka yang telah pergi tidak akan pernah kembali, yang bisa kau lakukan hanya mengikhlaskan mereka dan hidup lebih baik." Jessica melangkah. Ia menggerakan tangannya untuk menyelimuti seluruh medan perang dengan saljunya, membuat tubuh-tubuh yang tergelatak lenyap dan yang terluka sembuh.
"Keegoisan hanya akan membawa petaka, ambisi dan obsesi hanya akan membawa lara." Sambungnya lagi. Ia berbalik lalu menatap kearah Chanyeol datar.
"Kau memiliki takdirmu Chanyeol. Ini semua telah tertulis , kau harus bisa menerimanya. Jangan terlalu berlarut dalam kesedihan, disana masih ada mereka yang membutuhkanmu. Takdirmu." Chanyeol mengangkat wajahnya, menatap Jessica dalam dan ia teringat akan sosok mungil yang sedang mengandung anaknya.
"Ibu kalian pergi dengan membawa cinta, kalian tidak perlu menangisinya dan mengasihaninya. Ia telah memberikan hidupnya untuk sebuah kebaikan, jangan membuatnya mati sebagai korban, buat ia mati sebagai pahlawan." Jongin berkata sambil membantu Kyungsoo berdiri.
Kyungsoo bangkit dan menerima uluran tangan Jongin. Sosok yang lebih tinggi menghapus air mata yang membasahi pipi Kyungsoo lalu tersenyum.
"Jangan menangis! Malaikat tidak membawa kesedihan." Ucap Jongin pelan dan Kyungsoo mengangguk lalu berhambur ke dalam pelukan Jongin.
"Semuanya." Ucap Jessica.
"Mulai hari ini hentikanlah segala keegoisan kalian! Hentikan semua hal yang hanya akan membawa kesengsaraan. Seunghyun! Jiyong!" panggil Jessica membuat dua pria itu menoleh.
"Kalian tahu selama ini aku selalu tertawa melihat tingkah kalian. Sampai kapan kalian akan menampik hal tersebut? Meski bukan hubungan yang romantis, setidaknya mulailah dengan sebuah pertemanan." Raja Langit dan Kakek Iblis saling melirik lalu mereka membuang wajah mereka.
"Aku tahu sejak dulu perasaan kalian satu sama lain tidak pernah berubah." Jessica terkekeh kecil membuat yang lainnya menatap dua sosok itu dengan kebingungan.
"Minho!" panggil Jessica. Minho yang sejak tadi menundukan wajahnya menoleh dan menatap penuh kesedihan.
"Aku tahu kau orang yang kuat, kau telah mempersiapkan hal ini sejak lama bukan? Meski raganya tak ada disisimu, tapi hatinya selalu bersamamu. Taemin, selamanya mencintaimu." Minho berusaha tersenyum ketika hatinya merasa sedikit tenang.
"Kalian berdua." Jessica menoleh kearah Luhan dan Sehun yang saling berpelukan.
"Takdir kalian memang rumit, tapi itulah takdir kalian. Dan kau bocah! Kau harus bisa mengendalikan emosimu." Sehun mengangguk pelan dan merasa menyesal pernah menyerang wanita di hadapannya itu.
"Dan Chanyeol." Jessica membantu Chanyeol berdiri.
"Jadilah kuat, karena sebentar lagi kau akan menjadi Raja Iblis menggantikan ayahmu." Ucap Jessica sebelum akhirnya cahaya ditubuhnya kembali muncul. Perlahan medan salju itu kembali berputar disekitar tubuhnya, dan membawa tubuh itu melangkah semakin tinggi kelangit lalu menghilang.
"Kyungsoo. Aku harus pergi." Ucap Jongin sambil melepaskan tubuh Kyungsoo. Kyungsoo mengangguk sambil membiarkan sosok yang ia cintai berjalan menjauh dengan cahaya terang memenuhi tubuhnya. Ketika cahaya itu semakin silau, sosoknya menghilang.
Minho menghilang lebih dulu diantara yang lainnya, lalu disusul Luhan dan Sehun yang juga menghilang.
"Hyung?" panggil Kyungsoo pelan kearah Chanyeol dan Chanyeol menganggguk sebelum akhirnya hilang bersama adiknya. Yunho melirik kearah Raja Langit, lalu meminta izin untuk pergi lebih dulu.
Menyisakan lapangan luas yang sunyi dan dua sosok yang hanya berdiri saling memandang dari kejauhan.
"Hm, hai." Kakek Iblis memulai pembicaraan. Raja Langit memasang wajah datar, lalu di detik berikutnya ia tersenyum. Keduanya berjalan mendekat, lalu Kakek Iblis menjulurkan tangannya.
"Teman?" tanyanya. Raja Langit tersenyum dan mengangguk pelan.
"Teman." Keduanya tersenyum dan Kakek Iblis dengan segera menarik tangan yang lebih pendek dan memeluk tubuh kecil itu.
"Aku tidak pernah lupa bagaimana hangatnya tubuh ini." Ucap Kakek Iblis sambil menghirup aroma wangi dari yang lebih pendek. Raja Langit mencoba melepaskan diri namun akhirnya ia memilih pasrah.
"Dan aku tidak pernah lupa bagaimana kerasnya tubuh ini."
"Hahahaha.. kau benar. Aku memang keras."
"Ya, keras kepala."
"Hei, kau pun sama." Lalu keduanya tertawa bersama.
…
..
.
Chanyeol berdiri di sudut ruangan yang gelap, pikirannya masih terjebak pada kejadian beberapa jam lalu dimana ibunya benar-benar pergi untuk selamanya. Ia merasa terpukul atas kepergian itu, bahkan mengalahkan rasa senang yang harusnya muncul setelah ia berhasil mengalahkan Lucifer.
Tapi kembali ucapan Jessica berputar-putar dikepalanya bahwa takdirnya masih harus berlanjut, bahwa ada sosok lain yang membutuhkannya saat ini. Untuk itu sekarang ia berada di kamar rawat Baekhyun, dimana sosok itu sedang terbaring sambil menatap keluar jendela dalam kegelapan ruangan, hanya ada cahaya bulan yang menyinari wajah lelahnya.
Chanyeol ingin sekali melangkah maju dan menghampiri sosok itu namun ia tahu pasti bahwa dirinya hanya akan berakhir dengan penolakan. Seharusnya ia tetap berada di Infernus, seharusnya ia tidak memberanikan diri untuk menemui sosok Baekhyun, bila pada kenyataannya keberanian itu hilang setelah ia berada beberapa meter dari sosok mungil itu.
Chanyeol tahu seharusnya ia tidak memiliki wajah lagi untuk menemui Baekhyun, karena penolakan-penolakan yang Baekhyun lakukan sebelumnya telah menjawab seluruh pertanyaannya.
Beberapa jam berdiri disudut ruangan tak kunjung membuat keberaniannya muncul kembali, malah ia merasa tubuhnya mengecil melihat wajah letih dan sedih itu. Namun Chanyeol tidak dapat membohongi perasaannya, jika ia merasa senang karena Baekhyun masih hidup, bersama janinnya.
Chanyeol menghela nafas, ia membalik tubuhnya , hendak menyerah dengan semua yang terjadi. Mungkin lebih baik jika ia kembali ke Infernus dan mulai menyusun persiapan sebagai seorang Raja Iblis.
"Apa kau akan pergi begitu saja?" langkah kaki Chanyeol terhenti ketika mendengar suara lembut dari sosok yang masih setia menatap keluar jendela. Chanyeol menoleh dan membulatkan matanya. Baekhyun menyadari keberadaannya atau lelaki itu hanya bicara seorang diri, Chanyeol merasa buntu.
"Meninggalkan semua penderitaan ini untukku seorang?" Chanyeol perlahan berbalik lalu melangkah keluar dari kegelapan hingga matanya membulat terkejut melihat sorot mata Baekhyun yang mengarah padanya. Sorot mata penuh luka dan kecewa.
"Baek..Baekhyun?" suara Chanyeol terdengar bergetar. Baekhyun membuang wajahnya dan mengalihkan pandangannya lagi pada jendela, menatap sang rembulan yang bersinar terang.
"Ba-bagaimana kau bisa tahu, aku_"
"Aku selalu bisa merasakan kehadiranmu, entah aku harus senang akan itu atau tidak."
"Baekhyun… aku.."
"Pengecut." Ucap Baekhyun dengan sebuah decihan meremehkan. Chanyeol terdiam dan ia melangkah semakin mendekat.
"Maafkan aku Baekhyun." Ucap Chanyeol penuh penyesalan. Rasa bersalah kembali menjalari pikiranya, dan membuat dirinya semakin menciut.
"Maaf? untuk kesalahan yang mana? Menghamiliku? Meninggalkanku? Membuangku? Merusak hidupku? Atau menipuku?" Tubuh Chanyeol terasa gemetar. Baekhyun menundukan wajahnya, menyembunyikan air matanya yang terjatuh.
"Maaf untuk segalanya Baekhyun. Maaf untuk seluruh kesalahan yang telah aku lakukan, termasuk merusak hidupmu, tapi…" Chanyeol menjeda ucapannya.
"Tapi aku tidak pernah berniat untuk menipumu, aku hanya ingin menebus kesalahanku. Sungguh, aku tidak pernah mempunyai niatan seperti itu." Baekhyun kembali membuang wajahnya, tidak ingin menatap wajah Chanyeol untuk waktu yang lama.
Chanyeol merendahkan arah pandangnya, hatinya sakit melihat sikap Baekhyun yang terlihat sangat membencinya.
"Aku tahu kau begitu membenciku, aku tahu kesalahanku tidak akan pernah bisa termaafkan." Baekhyun menutup matanya membiarkan air matanya mengalir. Semuanya begitu menyakitkan baginya, ia hanya manusia biasa dengan hati lemah, ia tidak sanggup menahan semua perasaan berkecamuknya.
"Aku akan menghilang dari hadapanmu Baek, aku berjanji untuk tidak muncul lagi jika kau memang menginginkannya." Ucap Chanyeol.
"Selamat tinggal" Chanyeol membalik tubuhnya dan isakan Baekhyun semakin terdengar keras.
"Lalu bagaimana dengan anak ini? Bagaimana dengan benih yang kau tinggalkan di dalam perutku? Apa kau akan membiarkan aku menjadi seorang pendosa lagi karena membuat seorang anak tidak bahagia? Atau kau ingin aku menjadi seorang pembunuh, karena membunuh darah dagingku sendiri? " Chanyeol menghentikan langkahnya, ia menarik nafas singkat lalu berbalik.
"Aku.. aku akan melenyapkannya." Ucap Chanyeol sambil melangkah mendekat kearah Baekhyun. Baekhyun menatap Chanyeol dengan bola mata membulat, tidak percaya dengan ucapan sosok dihadapannya yang kini semakin dekat dengannya dan menjulurkan tangannya untuk menyentuh perutnya.
"Berbaringlah!" ucap Chanyeol. Air mata Baekhyun terjatuh dan ia dengan perasaan penuh emosi membaringkan tubuhnya. Tangan Chanyeol berada diatas perutnya, mereka bertatapan sepersekian detik namun Chanyeol memilih untuk segera memejamkan matanya. Mengumpulkan seluruh kekuatannya untuk melenyapkan darah dagingnya sendiri.
"Apa dengan kepergiannya akan mengembalikan keadaan seperti semula?" Ucap Baekhyun lirih, Chanyeol membuka matanya dan mata biru itu bertemu pandang dengan manik hitam milik Baekhyun, saling mengunci satu sama lain.
"Apa kau menyerah semudah itu?" Chanyeol mengernyit tidak mengerti dengan ucapan Baekhyun. Ia hanya menatap mata terluka dan basah dihadapannya dalam keterdiaman.
"Baekhyun.. aku…"
"Chanyeol…" Chanyeol merasa hatinya menghangat ketika mendengar namanya kembali dipanggil oleh Baekhyun. Ia sangat merindukan bibir mungil itu menyebut namanya dengan alunan suara yang begitu lembut.
"Aku sangat membencimu…" Chanyeol masih menatap Baekhyun dengan sorot terlukanya.
"…yah, setidaknya aku telah mencoba tapi aku tidak bisa." Bola mata Chanyeol membesar.
"Aku mencoba menghapusmu dari ingatanku, namun ingatan itu kembali lagi dan lagi bahkan masuk ke dalam mimpiku. Aku mencoba mengingatmu sebagai sosok yang kejam dan tak berperasaan, namun sesuatu di dalam hatiku berkata bahwa kau tidaklah sekejam itu. Lalu aku harus bagaimana? Aku merasa dipermainkan oleh takdir, untuk itu aku ingin mengakhiri hidupku." Baekhyun bergetar, tangisannya pecah. Ingin rasanya Chanyeol menarik tubuh itu dan merengkuhnya dalam sebuah pelukan hangat, namun sekali lagi ia tidak memiliki hak.
"Hingga.. hingga… hiks.. ibumu datang dan membuka jalan pikiranku." Sorot mata Chanyeol mendadak berubah, rasa sedih itu kembali menghinggapinya. Baekhyun yang menyadari itu menghentikan ucapannya.
"Chanyeol, jangan bilang_" Baekhyun menutup mulutnya dan Chanyeol mengangkat wajahnya lalu mencoba tersenyum.
"Dia telah tenang disana Baek, jangan khawatir! Aku kesini bukan untuk membuatmu mengingat hal buruk diantara kita, aku hanya ingin mengatakan selamat tinggal, dan… dan jika kau tak menginginkan bayi ini, aku akan melenyapkannya." Baekhyun mendengus tidak percaya dengan ucapan Chanyeol.
Ketika tangan Chanyeol hendak menyentuh perutnya lagi, Baekhyun menahan tangan besar itu.
"Tidakkah kau mengerti? Tidakkah kau mengerti dengan semua yang aku katakan?" bentak Baekhyun. Chanyeol terdiam, ia semakin bingung.
"Katakan! Katakan Baek, apa yang kau inginkan?" tanya Chanyeol. Baekhyun terisak lalu menutup matanya dan menundukan wajahnya.
"Aku ingin bayi ini tetap lahir." Chanyeol membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar.
"Aku menginginkan… aku menginginkanmu untuk tetap tinggal." Bagai mendapat sebuah pukulan dikepala Chanyeol segera tersadar oleh keterdiamannya.
"Baekhyun? kau sungguh-sungguh?" Baekhyun mengangkat wajahnya dan ia mengangguk pelan.
"Chanyeol, aku sadar bahwa aku tidak bisa untuk hidup tanpamu." Chanyeol membulatkan matanya dan segera memeluk Baekhyun, merengkuh tubuh mungil yang mengurus itu dalam pelukannya.
"Terima kasih Baek, terima kasih." Ucap Chanyeol sambil mencium pucuk kepala Baekhyun. Baekhyun memeluk Chanyeol semakin erat, kehangatan yang ia rindukan telah kembali. Baekhyun terisak semakin kencang dan Chanyeol menenangkannya dengan sebuah kecupan-kecupan kecil di seluruh wajahnya.
"Maaf karena aku membuat semuanya menjadi rumit, aku hanya terlalu terkejut Chanyeol." Gumam Baekhyun pelan. Chanyeol mengangguk dan kembali mengecup pucuk kepala Baekhyun.
"Ya, semua mengejutkan Baekhyun. Tidak hanya dirimu, aku pun merasa sangat terkejut." Baekhyun mengangguk pelan dan perlahan ia menjauhkan tubuhnya.
"Chanyeol, lalu bagaimana dengan ibumu?" Chanyeol terdiam sambil menatap wajah Baekhyun.
"Ibu.. ibu telah tenang disana Baek. Dia telah kembali kerumahnya." Baekhyun terdiam, lalu sesuatu menyala di lehernya. Keduanya menoleh dan menatap terkejut pada sinar kebiruan yang menyala dari liontin kalungnya.
"Ibu tidak pernah meninggalkan kalian, ibu akan selalu berada disini."
"Ibu?" Chanyeol berteriak ketika mendengar suara yang menggema di dalam ruangan.
"Ya, ibu disini Chanyeol. Mulai sekarang ibu akan menjadi pelindung untuk Baekhyun. Ibu akan selalu berada disisi kalian, ibu telah berjanji bukan?"
"Ibu, maafkan aku. Aku… aku mencintaimu."
"Sayang? Ibu juga mencintaimu. Ah, seandainya kau mengatakannya sejak dulu mungkin kau akan mendapat sebuah pelukan gratis dariku." Taemin terkekeh lalu cahaya itu meredup perlahan.
"Hanya ingat bahwa cinta ibu akan selalu menemani langkah kalian." Dan cahaya itu pun lenyap.
Chanyeol menundukan wajahnya dan Baekhyun dengan penuh kasih sayang memeluk Chanyeol semakin erat, membawa kepala yang lebih tinggi untuk jatuh diatas dadanya. Mengelus surai itu pelan dan penuh rasa sayang.
"Chanyeol?" Chanyeol mengangkat wajahnya lalu menatap Baekhyun. Mengelus pipi itu dan mengusap sisa-sisa air mata disana.
"Aku mencintaimu." Ucap Baekhyun pelan dan Chanyeol tanpa balasan segera menubruk tubuh Baekhyun, hingga tubuh itu terjatuh diatas ranjang. Chanyeol menindihnya lalu memberikan sebuah ciuman di bibir yang lebih mungil, melumatnya dengan penuh cinta seolah tidak ingin kehilangan sosok yang kini berada dibawahnya dalam keadaan pasrah.
DUG
Ciuman mereka terhenti. Chanyeol dan Baekhyun sama-sama menoleh kearah perut Baekhyun dengan mata terbuka lebar.
"Dia? Dia berani menendangku? Apa dia ingin menunjukan bahwa dia lebih kuat dariku?" suara Chanyeol terdengar sedikit jengkel dan Baekhyun terkekeh.
"Tidak, dia tidak ingin menenjukan kekuatannya, tapi dia ingin menunjukan keberadaanya. Seperti berkata 'ayah, ibu aku disini'" ucap Baekhyun sambil mengelus surai hijau kelam milik Chanyeol.
Chanyeol mengangguk lalu kembali mendorong tubuh Baekhyun dan melumat bibir yang sangat ia rindukan itu sebelum sebuah tendangan kembali ia rasakan kali ini lebih keras hingga membuat Baekhyun meringis.
"Hei bocah!" Chanyeol mensejajarkan wajahnya dengan perut Baekhyun.
"Kau yang di dalam sana, yang bahkan belum lahir! Jangan sekali-kali kau berani menyakiti ibumu, jika tidak aku akan melenyapkanmu." Baekhyun memukul lengan Chanyeol ketika lelakinya bicara kasar pada anaknya.
"Aku hanya bercanda." Ucap Chanyeol lalu kembali memeluk tubuh Baekhyun dan membiarkan keduanya berbaring saling berpelukan diatas ranjang rumah sakit.
"Baekhyun?" tanya Chanyeol ketika dirinya memainkan jemarinya diatas perut Baekhyun yang berada di dalam pelukannya.
"Hm?"
"Terima kasih karena menepati janjimu." Baekhyun menoleh kebelakang dan membuat mata mereka bertemu.
"Janji yang mana?"
"Bahwa kau akan tetap berada disampingku meskipun aku adalah makhluk yang menjijikan." Baekhyun tersenyum lalu meraih tangan Chanyeol diperutnya.
"Jika aku pikir-pikir wujud aslimu tidak menjijikan sama sekali." Chanyeol terkekeh lalu mencium perpotongan leher Baekhyun.
"Lalu? Seperti apa wujud asliku?"
"….an.."
"Apa aku tidak dengar?"
"Kau…tam…an…"
"Lebih keras!" ucap Chanyeol sambil mendekatkan telinganya ke bibir Baekhyun membuat yang lebih kecil menunduk malu.
"Aku tampan?" tanyanya penuh percaya diri dan Baekhyun mengangguk pelan.
"Aku tahu itu." Ucap Chanyeol lalu memeluk tubuh Baekhyun dan membiarkan keduanya terhanyut dalam perasaan bahagia mereka.
Kibum membalik tubuhnya dan berjalan kembali menyusuri koridor rumah sakit. Gelas kopi ditangannya bergetar, namun bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman. Ia menghapus air matanya yang terjatuh dengan cepat dan kembali menyunggingkan senyum bahagianya.
"Ibu tahu nak, ibu tahu bahwa cepat atau lambat kebahagiaan itu akan kembali padamu. Karena kau berhak bahagia sayang." Ucapnya pelan lalu membawa tubuhnya menghilang di tikungan koridor.
…
..
.
Ketika Baekhyun membuka mata, cahaya matahari yang masuk menyilaukan matanya hingga ia harus membuat manik indahnya menyipit. Saat pandangannya sudah beradaptasi dengan baik ia menoleh cepat kesampingnya dan tidak mendapati siapapun diatas ranjangnya.
Baekhyun terdiam, ia mengernyit cukup lama untuk menyadari apakah kemarin adalah sebuah mimpi atau mungkin ia hanya berhalusinasi. Suara pintu yang terbuka membuat Baekhyun menoleh dan mendapati ibunya masuk dengan pakaian kerjanya.
"Sudah bangun?" tanya Kibum sambil meletakkan sebuah kantung plastic besar diatas meja. Baekhyun terdiam menatap kearah ibunya dalam sambil mencoba merenungi kejadian semalam.
"Hei, ada apa?" tanya Kibum ketika usai merapikan beberapa buah, roti dan susu diatas meja. Kibum mendekat lalu mengecup pucuk kepala Baekhyun pelan.
"Baek, ibu tidak bisa berlama-lama, ibu harus segera berangkat bekerja kembali. Kau bisa menjaga dirimu kan? Sehun bilang ia akan menjengukmu sepulang sekolah." Baekhyun mengangguk pelan diselimuti sebuah kekecewaan.
Kibum kembali merapikan helaian rambut Baekhyun sebelum akhirnya berjalan kearah pintu dan menutupnya kembali dari luar. Baekhyun terdiam, menatap kearah jendela dan mencoba menyelami pikirannya.
Waktu terus berlalu, para perawat bergantian memasuki ruangannya untuk melakukan pemeriksaan rutin dan juga membawakan makanan untuknya, namun Baekhyun hanya terdiam diatas ranjang sambil menundukan wajahnya.
"Melalui hari yang buruk?" Baekhyun menoleh kearah seorang perawat wanita yang sedang meletakkan beberapa makanan diatas meja. Baekhyun menghela nafas lalu mengangguk pelan.
"Aku bahkan tidak tahu telah melalui hariku atau tidak." Perawat itu tersenyum sambil menggeleng pelan.
"Anak muda selalu seperti itu. Tapi aku senang setidaknya kau tidak berteriak histeris seperti kemarin, tidakkah itu melelahkan bukan?" Baekhyun terdiam dan membaringkan tubuhnya memunggungi sang perawat yang hanya bisa mendengus melihat sikap Baekhyun.
"Makanlah dengan baik, agar kau bisa keluar darisini dengan cepat!" Baekhyun mengangguk pelan lalu tetap menatap keluar jendela.
Ketika pintu tertutup Baekhyun juga menutup matanya, air matanya mengalir lagi dan ia mencoba menahannya. Sekarang ia sangat yakin bahwa kemarin ia hanya bermimpi, Chanyeol tidak pernah kembali, Chanyeolnya telah benar-benar pergi. Setidaknya itu yang Baekhyun pikirkan.
"Hyung!" Baekhyun menghapus air matanya cepat dan menoleh untuk mendapati Sehun berjalan masuk dengan seragam sekolahnya. Ia tidak dalam wujud mengerikannya, ia terlihat normal seperti remaja seusianya dan juga tampan dalam balutan seragam itu.
"Kau sudah pulang?" Sehun mengangguk meletakkan tas diatas sofa lalu berjalan mendekat kearah Baekhyun.
"Hyung belum makan?" tanya Sehun ketika melihat makanan Baekhyun masih utuh diatas meja, tidak tersentuh sedikit pun. Baekhyun menggeleng pelan.
"Aku sedang tidak ingin makan."
"Apa sesuatu terjadi?" Baekhyun menatap Sehun, mengulurkan tangannya dan mengelus pipi Sehun pelan. Baekhyun tidak tahu sejauh mana mimpinya yang sebenarnya.
"Hyung bermimpi."
"Mimpi buruk?"
"Tidak, ini mimpi yang indah dan hyung menyesal telah terbangun." Ucap Baekhyun sambil mencoba bangkit dan bersandar pada kepala ranjang.
"Sehun, bagaimana harimu disekolah?" tanya Baekhyun pelan, Sehun memajukan bibirnya.
"Tidak ada yang berubah. Masih tetap sama, membosankan." Ucapnya sambil mengambil sebuah apel diatas meja dan menggigitnya. Baekhyun menatap sosok Sehun dan sebuah senyuman terukir diwajahnya, setidaknya Chanyeol meninggalkan sosok Sehun yang tampan dan juga janin di dalam kandungannya.
"Yak! Kau bocah!" Baekhyun menoleh dan bola matanya membesar melihat sosok tinggi dengan kaos berwarna putih, jaket kulit hitam dan celana jeans biru yang membuatnya terlihat santai namun tampan disaat yang bersamaan.
"Beraninya kau_"
"Chanyeol~" suara Baekhyun terdengar lirih. Chanyeol terkejut melihat ekspresi wajah Baekhyun yang seperti akan menangis. Ia mendekat, mendorong tubuh Sehun yang menghalangi jalannya membuat bocah itu mendengus kesal.
"Baekhyun, apa yang terjadi? Apa ada yang sakit?" tanya Chanyeol pelan. Baekhyun menggeleng lalu menarik kerah jaket Chanyeol dan memeluk sosok itu erat.
"Hei, apa yang terjadi selama aku pergi?"
"Chanyeol, jangan tinggalkan aku lagi." Baekhyun terisak dan Chanyeol memeluk tubuh kekasihnya dengan sangat erat, berusaha menenangkan yang lebih kecil dengan mengelus punggungnya.
"Aku hanya pergi untuk menjemput Sehun dan bermain sebentar dengannya." Ucap Chanyeol sambil menjauhkan tubuhnya. Baekhyun menatap Chanyeol dengan berlinang air mata, namun bibirnya tersenyum.
"Aku pikir yang kemarin malam hanya mimpi, aku pikir kau tidak benar-benar kembali untukku." Chanyeol menghapus air mata Baekhyun dan mengecup bibir pucat itu lembut.
"Aku berjanji akan selalu kembali sejauh apapun aku pergi, kau ingat? Dan aku akan selalu menepatinya." Baekhyun tersenyum lalu mengangguk pelan dan memeluk tubuh Chanyeol lagi.
"Terima kasih." Ucap Baekhyun , Chanyeol mendorong tubuhnya dan melirik kearah makanan diatas meja.
"Kau belum menyentuh makananmu?"
"Belum, tadi nafsu makanku hilang."
"Kau tidak bisa mengabaikan kesehatanmu, dia membutuhkan asupan gizi yang banyak." Ucap Chanyeol sambil mengelus perut Baekhyun dan mendapat sebuah tendangan dari dalam.
"Hei, dia lagi-lagi menendangku. Hei bocah! Cepatlah keluar dan kita bertarung secara jantan!" ucap Chanyeol sambil menunjuk perut Baekhyun. Baekhyun terkekeh sementara Sehun yang duduk diatas sofa sambil menggigit apelnya hanya bisa memutar bola mata malas. Seharusnya ia tetap di Infernus tadi daripada melihat dua orang yang memamerkan kemesraannya. Dan sialnya itu adalah ayah dan ibunya.
…
..
.
Baekhyun melirik Chanyeol yang sedang kesusahan mengupas buah apel. Ia tersenyum kecil sambil menatap wajah serius Chanyeol yang bahkan tidak tahu arah mengupas kulit buah itu dengan benar.
"Kenapa ini menyulitkan sekali." Gumam Chanyeol membuat senyuman Baekhyun melebar.
"Biar aku saja!" ucap Baekhyun sambil mencoba meraih pisau ditangan Chanyeol, tapi Chanyeol segera menjauhkannya sambil menggeleng pelan.
"Tidak, biarkan ini menjadi tugasku. Luhan bilang orang hamil tidak boleh terlalu lelah." Baekhyun tersenyum semakin lebar, lalu mengelus pipi Chanyeol.
"Hei, mengupas apel bukan pekerjaan berat. Lagipula usia kehamilanku masihlah sangat muda." Chanyeol tetap menggeleng.
"Muda sama dengan rentan. Aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu dan bocah di dalam sana yang belum sempat bernafas."
DUG
"Ah! Dia menendang." Gumam Baekhyun merasa heran dengan janin di dalam perutnya. Perut Baekhyun masihlah datar, hanya terbentuk sedikit bendungan, namun kekuatan janin di dalamnya sangatlah kuat.
"Hei bocah! Jika kau masih menyakiti ibumu, aku akan memaksamu keluar!" Baekhyun menahan tangan Chanyeol sambil menggeleng pelan, ia tidak ingin janin di dalam perutnya tersinggung dan menendang lebih keras.
Dengan pasti Baekhyun membawa tangan Chanyeol untuk menyentuh perutnya, membuat gerakan mengelus dan perlahan senyuman terbentuk diwajah Chanyeol.
"Dia hanya butuh kasih sayang Chanyeol. Ibumu bilang bahwa cinta dapat membuatnya melunak." Chanyeol tersenyum sambil menatap wajah Baekhyun, lalu ia sedikit bangkit dari kursinya dan meraih dagu Baekhyun untuk menciumnya.
Baekhyun tidak menolak, ia membiarkan bibirnya dilumat oleh Chanyeol dengan penuh nafsu dan cinta. Tangan Baekhyun menakup wajah Chanyeol, dan memperdalam ciuman mereka.
"Oh maaf." Baekhyun mendorong Chanyeol pelan ketika seorang Dokter dan seorang perawat memasuki ruangan. Chanyeol menoleh dengan wajah angkuhnya dan menatap tidak suka pada sang Dokter.
Chanyeol masih mengingat ketika Baekhyun berkata bahwa Dokter yang menanganinya terlihat sedikit aneh dan memiliki wajah yang mesum, bahkan Baekhyun sempat merasakan wajah sentuhan pria itu terasa aneh, dan terkesan tidak wajar.
Atas dasar itu sekarang Chanyeol berdiri disamping Baekhyun sambil menatap nyalang kearah Dokter yang tersenyum ramah kearah mereka, terutama Baekhyun. Mata Chanyeol mengikuti arah pandang pria itu dan ia tahu bahwa perut putih Baekhyun yang terlihat karena pakaiannya tersingkap menjadi objek pandang pria itu.
Chanyeol menurunkan pakaian Baekhyun sambil tetap menatap Dokter yang berdeham pelan lalu menghampiri Baekhyun.
"Selamat pagi Tuan Byun." Ucap Sang Dokter. Baekhyun tersenyum dengan sedikit anggukan, mencoba bersikap biasa karena ia tidak ingin Chanyeol termakan oleh emosinya.
"Selamat pagi Dokter." Sahut Baekhyun. Dokter itu melirik kearah Chanyeol sedikit dan dengan perasaan terintimidasi bergerak kesisi lain dari tubuh Baekhyun, merasa tidak nyaman berdiri disamping Chanyeol.
Chanyeol bersandar pada meja disamping ranjang Baekhyun dengan kedua tangan yang ia lipat di depan dada dan mata penuh ancaman. Chanyeol melirik sekilas kearah perawat muda yang terlihat malu-malu disampingnya dan Chanyeol muak, sejak kemarin wanita yang menjadi perawat baru dikamar Baekhyun itu selalu menatapnya dengan tatapan seperti itu dan Chanyeol tidak suka.
"Keadaanmu membaik dengan cepat, selamat untuk itu." Baekhyun mengangguk pelan ketika sang Dokter usai memeriksa denyut nadi, detak jantung dan tekanan darahnya.
"Sekarang mari kita lihat keadaan perutmu."
"Aku baik-baik saja Dokter, maksudku perutku baik-baik saja." Ucap Baekhyun cepat. Ini adalah bagian yang paling tidak ia suka ketika Sang Dokter memeriksa perutnya. Meskipun Baekhyun selalu mengatakan bahwa perutnya baik-baik saja, namun Dokter itu selalu memaksa untuk memeriksanya membuat Baekhyun merasa risih apalagi ketika Chanyeol tidak ada disampingnya.
"Tidak. Aku harus tetap memeriksanya. Aku takut sesuatu yang tidak dikehendaki ada di dalam sana." Baekhyun melepaskan cengkraman di pakaian rumah sakitnya dan melirik Chanyeol yang hanya menatap Sang Dokter dengan sebuah seringaian.
Dokter itu mulai membuka kancing baju Baekhyun mulai dari atas hingga bawah, memperlihatkan tubuh mulus Baekhyun tanpa cela.
"Kau ingin memeriksa tubuhnya atau kau ingin menjadikannya objek fantasi seksualmu?" Sang Dokter menghentikan gerakan tangannya ketika suara dingin Chanyeol terdengar. Ia menoleh dan segera tersenyum lebar.
"Tentu memeriksa keadaan kau tahu apa? Ini adalah tugas seorang Dokter, anak muda." Chanyeol mengeraskan rahangnya merasa terhina oleh ucapan Dokter yang membanggakan pekerjaanya itu.
Tatapan Chanyeol semakin dalam dan ia melirik bagaimana sang Dokter mengelus perut Baekhyun. Emosi Chanyeol berada di puncak, namun ia berusaha menahan amarahnya.
"Dok..Dokter.." ucap Baekhyun pelan merasa gerakan sensual Sang Dokter diatas perutnya semakin menjadi-jadi.
"Bajingan!" desis Chanyeol. Sang Dokter dan Sang Perawat menoleh dengan wajah terkejut.
"Apa kau bilang?" tanya Dokter itu dengan wajah sedikit emosi. Chanyeol menghela nafas dengan wajah malasnya.
"Ba-ji-ngan! Apa perlu aku ulangi?" Dokter itu nampak emosi dan berjalan dengan kesal kearah Chanyeol. Meskipun tingginya tidak mencapai telinga Chanyeol, namun dengan posisinya ia merasa sombong.
"Kau tidak tahu sopan santun!"
"Kau!" tunjuk Chanyeol pada dada Sang Dokter membuat pria itu semakin naik pitam. Chanyeol melirik name tag di dada Sang Dokter dan menyeringai.
"Aku akan membuat perhitungan denganmu karena merendahkan profesi seorang Dokter." Ucapnya dengan wajah menahan emosi. Chanyeol terkekeh pelan, lalu matanya berubah menjadi tatapan tajam.
"Aku yang akan membuat perhitungan denganmu karena berani melecehkan kekasihku." Ucap Chanyeol dengan nada penuh ancaman membuat nyali Dokter itu menciut.
"Kepada Dokter Kim Daehyun dimohon dengan segera menuju ruang Direktur Song. Sekali lagi kepada Dokter Kim Daehyun dimohon dengan segera menuju ruang Direktur Song."
Panggilan itu membuat mata Sang Dokter terlepas dari tatapannya pada Chanyeol. Ia menggeram sebelum akhirnya berjalan keluar diikuti oleh perawat wanita yang melirik Chanyeol lalu membuang wajahnya ketika Chanyeol memberikannya tatapan tidak suka.
"Chanyeol? Itu ulahmu?" tanya Baekhyun sambil mencoba mengancingkan pakaiannya. Chanyeol melirik Baekhyun dan berjalan mendekat sambil mengedikkan bahunya.
"Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Baekhyun. Chanyeol tersenyum lalu menahan pergerakan tangan Baekhyun membuat yang lebih kecil menatap bingung.
Chanyeol naik keatas ranjang, sedikit merendah untuk bisa mengecup permukaan kulit Baekhyun yang terbuka. Baekhyun mendongak, sudah lama ia tidak merasakan sentuhan-sentuhan sensual Chanyeol di tubuhnya.
"Hanya pelajaran kecil, membuatnya kehilangan pekerjaan aku rasa masih hukuman ringan." Baekhyun membulatkan matanya dan Chanyeol yang kini menatap Baekhyun dengan dagu yang masih menyentuh perutnya hanya menyeringai.
"Siapapun yang berani menyentuhmu secara kurang ajar, harus mendapat ganjaran." Bisik Chanyeol sambil kembali mengecup perut Baekhyun berulang lalu kecupannya berjalan menaik menuju dada Baekhyun.
"Chan..Chanyeolllhh.." suara Baekhyun terdengar frustasi ketika lidah Chanyeol bermain di putingnya. Baekhyun mendongak mencengkram bantalnya sebagai sebuah penyaluran.
"Jujur aku sangat merindukan ini. Kapan kau akan keluar dari rumah sakit Baek?" tanya Chanyeol lagi. Baekhyun menggeleng masih mendongakkan kepalanya atas sentuhan Chanyeol.
Chanyeol semakin menindih Baekhyun, membuka kedua kaki yang lebih kecil yang masih berbalut celana kainnya dan membuat tubuhnya berada diatara kedua paha yang terbuka lebar itu.
"Chanyeolllhh.. ja-jangan disinihhh." Ucap Baekhyun setengah frustasi ketika jilatan Chanyeol berubah menjadi hisapan yang cukup kuat.
"Kenapa hm?"
"Aku malu." Ucap Baekhyun sambil menutup matanya erat ketika merasakan tubuh bagian bawah mereka semakin tergesek.
"Astaga!" Baekhyun segera menoleh dan Chanyeol menggeram kesal lalu menatap kearah pintu. Disana berdiri Luhan yang membuka pintu pertama kali, Sehun yang mengikuti, lalu Kibum dan Kyungsoo dibelakang.
Chanyeol menghela nafas lalu bangkit. Baekhyun membuang wajahnya malu sambil mencengkram pakaiannya yang belum terkancing.
"Pantas saja ibuku hamil lagi, ternyata kau sangat mesum." Ucap Sehun tak acuh sambil berjalan kearah sofa. Luhan, Kyungsoo dan Kibum segera meletakkan belanjaan mereka diatas meja dan mulai membongkarnya.
Baekhyun masih membuang wajahnya menahan malu dan mencengkram tangannya semakin kuat.
"Sini!" ucap Kyungsoo sambil mendekat kearah Baekhyun dan membantu yang lebih tua untuk mengancingkannya.
"Ckckckck! Bagaimana bila yang masuk tadi bukan kami?" sindir Luhan. Chanyeol yang kini duduk diatas sofa sambil menggangu Sehun dengan meletakkan satu kakinya diatas paha anaknya hanya terkekeh.
"Apa bedanya? Kalian sama-sama mengganggu." Kibum berdeham pelan menghilangkan rasa terkejutnya.
"Ah, ibu maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu tidak enak hati, hanya saja kau tahu sendiri, terkadang hasrat tidak bisa ditahan." Baekhyun kembali membuang wajahnya mendengar ucapan Chanyeol pada ibunya. Kyungsoo menatap Baekhyun dan tersenyum melihat rona merah di pipi lelaki itu.
"Aku mengerti." Ucap Kibum kikuk.
…
..
.
Minho duduk di depan meja kerjanya ketika Sang ayah datang dan berjalan kearahnya.
"Hei, bagaimana keadaanmu?" tanyanya. Minho mendongak dan tersenyum pahit. Bohong jika ia berkata bahwa keadaannya baik-baik saja. Bohong jika ia berkata bahwa ia tidak apa-apa setelah kepergian Taemin.
"Entahlah." Ucap Minho sambil kembali menunduk untuk berfokus pada kertas di depannya. Kakek Iblis menatap putranya dalam dan ia menghela nafas.
"Hei, sekali-kali berliburlah! Seperti aku misalnya." Minho kembali melirik ayahnya lalu menggeleng pelan.
"Aku tidak bisa meninggalkan ini ayah."
"Bukankah ada Luhan dan Chanyeol. Lagipula sebentar lagi dia akan mengambil alih jabatanmu." Minho mengangguk pelan tanpa melirik kearah ayahnya.
"Pertimbangkan ucapanku! Berliburlah! Sembuhkan perasaanmu, itu mengapa aku bilang dulu bahwa cinta sangat menyakitkan." Minho terdiam. Lalu menundukan wajahnya dalam.
"Aku tahu. Bisa tinggalkan aku sendiri?" Yang tertua bangkit sambil mengedikkan bahunya.
"Tentu." Ucapnya lalu berjalan keluar. Minho menggenggam pulpennya erat lalu menutup matanya. Tiba-tiba ia merasakan hawa dingin disekitarnya, dan sebuah elusan dingin menyentuh pipinya.
"Sayang?" Minho membuka matanya dan mempertajam pendengarannya.
"Taemin?"
"Ya, ini aku." Minho melihat sekeliling namun hanya sebuah tawa yang ia dengar.
"Aku tidak berwujud lagi, kau tidak akan bisa melihatku."
"Kenapa kau bisa berada disini?" tanya Minho.
"Aku mendapat sebuah hadiah istimewa yaitu aku bisa tetap berada disekitar kalian sampai waktuku benar-benar tiba."
"Waktu apa?" tanya Minho.
"Reinkarnasi"
"Reinkarnasi?"
"Hm."
"Tapi bukankah kau seorang malaikat?"
"Ya, tapi aku telah melakukan banyak kesalahan dan aku tidak bisa terlahir sebagai malaikat lagi. Lagipula lahir sebagai malaikat harus menunggu waktu yang sangat lama."
"Lalu kau akan terlahir sebagai apa?"
"Rahasia. Kau akan tahu nanti." Ucap Taemin sambil terkikik lagi.
"Minho. Jangan menangisiku, aku tidak akan pernah kembali seberapa besar kau menginginkanku kembali. Dunia kita sungguh berbeda saat ini, tapi ingatlah bahwa aku selalu berada dihatimu, aku selalu disisimu."
"Aku_" Ucapan Minho tercekat ketika mengingat kebersamaannya bersama Taemin.
"Ikuti ucapan ayah mertua, dia benar bahwa kau butuh liburan." Minho terdiam lalu ia mengangguk pelan setelah berpikir.
"Baiklah."
"Bagus. Pergilah setelah Chanyeol resmi menjadi Raja Iblis." Minho mengangguk sekali lagi.
"Minho aku harus pergi. Aku mencintaimu sayang , selamanya." Ucap Taemin lalu suaranya menghilang membuat Minho terdiam sambil mencoba tersenyum meskipun rasanya sakit
"Aku juga mencintaimu Taemin untuk selamanya."
…
..
.
Kibum membantu Baekhyun untuk keluar dari kamar mandi dengan memegang tangan kanan Baekhyun yang nampak kesulitan. Baekhyun sedikit tertatih berjalan kearah ranjang untuk segera duduk.
Ia tidak tahu mengapa, namun ketika bangun di pagi hari perutnya semakin membuncit dan ia merasa seperti membawa beban yang sangat berat. Baekhyun tidak tahu, bayi apa yang sedang ia kandung kini, selain pasrah ia tidak memiliki jalan lain.
Kyungsoo duduk seorang diri di atas sofa sambil membantu merapikan benda-benda milik Baekhyun untuk dimasukan ke dalam sebuah tas jinjing.
"Kyungsoo? Dimana yang lain?" tanya Baekhyun. Kyungsoo mendongak lalu melirik keluar pintu. Tanpa perlu diberitahu, Baekhyun sangat yakin jika suara berisik yang ia dengar berasal dari dua orang yang sangat ia kenal.
"Tidak bisa." Bentak Chanyeol.
"Apanya yang tidak bisa. Tentu kami bisa_"
"Aku ayah dari anak di dalam perutnya?" ucap Chanyeol memotong ucapan Sehun yang juga nampak kesal.
"Aku anaknya, dia ibuku. Lalu apa? Ikatan kami jauh lebih kuat. Jadi dia ikut aku!" bentak Sehun lagi. Chanyeol menggeram , jika saja ia tidak berada di rumah sakit dimana beberapa pasien berlalu lalang ia bersumpah akan membakar Sehun ditempat itu juga.
"Tidak. Dia ikut aku! Lagipula kau tidak bisa menyetir."
"Ada Luhan! Luhan yang akan menyetirkannya untuk kami. Ibuku sedang hamil dan aku tidak akan membiarkannya menaikki motormu, itu sangat berbahaya." Chanyeol semakin menggeram kesal , Sehun menaikkan satu alisnya merasa menang.
"Kalian tenanglah!"ucap Luhan yang baru muncul dari koridor dengan sebuah kunci mobil ditanganya.
"Mobilnya sudah siap! Ayo kita pergi!"
"Tidak. Baekhyun ikut denganku!" ucap Chanyeol kekeh. Ia berjalan melewati Sehun dan menyempatkan diri menabrak pundak bocah lelaki itu hingga tersungkur ke dinding dan segera masuk.
"Baekhyun!" tiga orang di dalam ruangan menoleh terkejut.
"Kau ikut aku!" ucap Chanyeol sambil menarik tangan Baekhyun namun Sehun menghalangi langkah Chanyeol dengan wajah geram.
"Hei keras kepala! Kenapa tidak kita biarkan ibu memilih?" bentak Sehun lagi. Luhan yang berdiri di belakang Sehun hanya menghela nafas pelan sementara Kyungsoo dan Kibum hanya saling pandang diantara kebingungan dan pasrah.
"Ibu!" panggil Sehun.
"Ibu memilih pulang bersamaku menggunakan mobil Luhan yang nyaman, dan tidak berbahaya atau pulang dengan motornya yang memiliki tingkat resiko tinggi untuk kandunganmu?"
"Apa-apaan!" bentak Chanyeol tidak terima, lalu ia menoleh kebelakang menatap Baekhyun sambil meremas lembut tangan kekasihnya.
"Sayang?" ucap Chanyeol dengan nada memelas. Sehun mengernyit lalu mendekat dan menggenggam tangan Baekhyun yang lainnya sama seperti Chanyeol.
"Ibu?" ucapnya dengan nada polos. Baekhyun menatap dua orang di depannya bergantian, lalu menutup matanya pelan.
"Aku memilih…" Sehun dan Chanyeol menatap penuh harap kearah Baekhyun.
…
..
.
"Selamat tinggal!" Baekhyun melambaikan tangannya kearah dua orang lelaki yang berdiri dengan wajah cemberut di depan rumah sakit. Lalu ketika taksinya berjalan ia segera menutup jendelanya atas perintah Kibum.
"Ini semua karena ulahmu." Bisik Chanyeol kesal sambil menyiku Sehun. Sehun menatap Chanyeol kesal lalu melakukan hal yang sama, sejenak keduanya terus saling menyiku hingga Chanyeol berteriak frustasi membuat beberapa orang yang lewat menatapnya heran.
"Kau bocah! Kau selalu mengacaukan hidupku!" bentak Chanyeol ketika telah berjalan menjauh dan menunjuk kearah Sehun. Sehun terdiam sejenak lalu berdecih.
"Cih! Memangnya siapa yang memulainya?" gerutunya lagi sambil melipat kedua tangannya dan membuang muka. Hingga ia tersadar bahwa ia tidak memiliki tumpangan, ia menolak ajakan Luhan tadi karena merasa kesal dengan keputusan ibunya dan kini Chanyeol pun meninggalkannya.
"Sial." Ucapnya sambil menghentakan kaki lalu mengikuti Chanyeol.
Chanyeol duduk diatas motornya dan memakai helmnya perlahan, hingga ia merasakan sesuatu beban lain diatas motornya dan ia menoleh.
"Yak! Apa yang kau lakukan? Pergi!" bentak Chanyeol.
"Tidak mau. Aku tidak memiliki tumpangan, aku tidak memiliki uang."
"Cih! Lihat siapa yang baru saja bertindak seperti bos dan sekarang mengemis seperti gelandangan." Sehun memutar bola matanya.
"Aku tidak mengemis dan lagipula aku bukan gelandangan."
"Yah! Berterima kasihlah padaku." Ucap Chanyeol sambil menyalakan motornya dan tidak mempermasalahkan Sehun yang menumpang di motornya. Sehun tersenyum samar lalu memeluk tubuh Chanyeol.
"Berpegangan!"
"Aku tahu jangan_aaaaa…" Sehun nyaris terjungkal ketika Chanyeol melajukan motornya. Dan dengan diiringi perdebatan kecil motor itu melaju memecah jalanan kota Seoul.
…
..
.
Baekhyun berjalan masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan senang, ia sungguh merindukan kenyamanan yang diberikan rumahnya. Kibum dan Kyungsoo membantu dibelakang lalu segera menuju dapur untuk melihat isi lemari pendinginnya.
"Kyungsoo, tinggalah lebih lama!" ucap Baekhyun ketika sosok itu sedang merapikan tempat tidur untuk dirinya. Kyungsoo tersenyum sambil menepuk kasur milik Baekhyun.
"Aku ingin, tapi aku tidak bisa. Ada seseorang yang harus aku temui." Ucap Kyungsoo sambil tersenyum kecil. Baekhyun mengernyit merasakan sikap merona Kyungsoo.
"Ah, aku mengerti. Seseorang yang begitu penting kan?" Kyungsoo mengangguk pelan.
"Hyung, aku pergi dulu. Katakan pada Bibi bahwa aku meminta maaf karena tidak bisa bergabung makan malam." Baekhyun mengangguk lalu berjalan mendekat kearah Kyungsoo dan memberikan pelukan lembut.
"Terima kasih Kyungsoo karena kau dan Luhan selalu ada untukku."
"Tidak masalah. Kau adalah orang yang berharga bagi kakakku sudah sepantasnya aku menjagamu." Ucap Kyungsoo sambil tersenyum membuat Baekhyun sempat merasa malu dengan kata-kata lelaki bermata bulat itu.
"Pergilah! Dan titip salam untuk Ayah dan Kakek." Kyungsoo mengangguk lalu seketika berubah menjadi kupu-kupu dan terbang keluar dari jendela.
"Baekhyun-ah?" Kibum muncul di pintu dan melihat sekeliling untuk menyadari bahwa Kyungsoo tak ada disana.
"Kyungsoo pergi?" Baekhyun mengangguk pelan sambil membuka jaketnya dan meletakkannya di dekat lemari.
"Ah, sayang sekali padahal ibu sangat senang dengan keberadaannya. Dia anak yang baik." Baekhyun mengangguk membiarkan Kibum mengeluarkan kekecewaannya hingga ia tersadar bahwa ibunya memiliki tujuan untuk datang.
"Ibu, ada apa mencariku?"
"Oh ibu baru ingat. Apa kau akan berencana untuk tetap sekolah? Jika tidak ibu akan mengurus cuti sekolahmu." Ucap Kibum pelan sambil bersandar pada dinding kamar Baekhyun.
Baekhyun terduduk diatas ranjangnya sambil berpikir.
"Sepertinya aku akan tetap bersekolah, lagipula ujian kelulusan sebentar lagi. Aku rasa aku bisa melahirkan anak ini setelah kelulusan." Kibum mengangguk pelan dengan sebuah senyuman lembut.
"Baiklah jika begitu, kapan kau akan berencana mulai sekolah lagi?"
"Besok."
"Tidakkah itu terlalu cepat?" tanya Kibum lagi. Baekhyun tersenyum kecil lalu menggeleng.
"Tidak bu, selama ini yang sakit adalah perasaanku bukan ragaku, jadi ketika semua telah kembali tubuhku tidak merasakan sakit apapun lagi, aku telah sembuh." Kibum mengangguk senang lalu bangkit dari posisi bersendernya.
"Istirahatlah! Ibu akan tidur siang sejenak, rasanya cukup melelahkan. Nanti malam ibu akan membuatkan masakan kesukaanmu." Baekhyun tersenyum lalu menatap ibunya dalam.
"Bu!"
"Ya?" tanya Kibum yang hendak berbalik.
"Terima kasih untuk semuanya, terima kasih karena telah menjadi ibuku." Kibum tersenyum tulus lalu mengangguk.
"Itu sudah tugasku Baek, dan sekarang balaslah itu dengan menjadi ibu yang baik untuk anak-anakmu." Ucap Kibum lagi. Baekhyun mengangguk pelan dan Kibum segera melenggang pergi.
Baekhyun menundukan wajahnya dan menatap perutnya, perlahan tangannya mengelus permukaan kulit halus yang masih tertutup oleh bajunya.
"Aku berjanji akan menjadi ibu yang baik untukmu dan juga kakakmu. Aku mencintaimu sayang." Ucap Baekhyun dan sebuah tendangan membuat senyuman Baekhyun melebar.
Suara motor terdengar dan tanpa melihat Baekhyun tahu itu adalah Chanyeol. Lalu suara pintu yang ditutup keras juga terdengar dan suara-suara berisik yang mulai mendekat tangga pun mulai jelas dipendengarannya.
"Jika tahu kau bersikap kurang ajar seperti ini, mana sudi aku memberimu tumpangan." Baekhyun tahu itu suara Chanyeol.
"Jangan sombong hanya karena kau memberiku tumpangan Tuan!" balas suara lainnya.
"Siapa yang sombong, kau saja yang terlalu menjengkelkan. Aku sudah berbaik hati memberimu tumpangan tapi kau memperlakukan seperti seorang pesuruh. Ingat aku ayahmu bocah!"
"Ya, ayah yang tidak diharapkan."
"Apa kau bilang? Kaulah anak yang tidak diharapkan."
"Apa? Kau! Iissshh."
BRAK
"Arrggh.."
CEKLEK
Baekhyun menatap sosok yang masuk ke dalam kamarnya dengan wajah kesal. Namun setelahnya wajah kesal itu berubah menjadi sebuah cengiran ketika melihat sosok Baekhyun yang duduk tenang diatas kasur sambil menatapnya.
"Hai sayang." Ucap Chanyeol sambil berjalan mendekat. Baekhyun tersenyum lembut lalu mencoba meluruskan kakinya dan bersandar pada kepala ranjang. Chanyeol berlari kecil lalu melompat diatas ranjang dan memeluk tubuh Baekhyun dengan posisi tengkurap.
Baekhyun mengelus kepala Chanyeol membuat sosok itu menoleh dan tersenyum.
"Aku merindukan suasana ini, aku merindukan ranjang ini, aku merindukanmu." Ucap Chanyeol sambil mengubah posisi tidurnya menjadi menyamping dan dengan cepat meletakkan kepalanya diatas paha Baekhyun.
"Aku benar-benar lelah dengan semua ini." Ucap Chanyeol sambil memainkan celana kain Baekhyun di tangannya. Baekhyun terkekeh melihat sisi manja Chanyeol yang benar-benar terlihat seperti anak kecil, Taemin benar bahwa Chanyeol adalah sosok yang sangat menyukai kasih sayang.
"Ya, akupun." Sahut Baekhyun sambil terus mengelus pucuk kepala Chanyeol, menyelipkan helaian-helaian rambut itu dicelah jemarinya.
Sejenak keduanya terdiam, hanya ada Baekhyun yang masih setia mengelus kepala Chanyeol dan si raksasa yang memilih untuk menikmati belaian lembut itu.
"Baek?"
"Hm?"
"Apa cobaan kita telah usai? Apa akan ada cobaan-cobaan lagi?" tanya Chanyeol pelan. Baekhyun terdiam lalu mencoba tenang, karena sejujurnya ia pun tidak tahu.
"Entahlah, tapi aku berharap ini berakhir disini. Aku tidak sanggup lagi jika ada cobaan lain."
"Ya, akupun." Sahut Chanyeol lalu membalik tubuhnya menghadap Baekhyun dengan kepala masih setia terbaring diatas paha kekasihnya.
Mata mereka saling bertatapan, lalu Baekhyun tersenyum dan merendahkan wajahnya untuk memberikan sebuah lumatan di bibir Chanyeol, dan yang lebih tinggi tentu saja menerimanya dengan baik.
Mereka saling berbagi kehangatan di dalam ruangan kecil itu, hingga mentari mulai menurun dan panggilan dari Kibum mengakhiri sesi romantis mereka.
…
..
.
Baekhyun menatap sosok yang berjalan di depannya sambil menggenggam tangannya. Hari ini mereka kembali bersekolah dan Chanyeol terlihat tidak seperti biasanya. Dia sedikit berlebihan. Sikap protektifnya tentu saja masih, namun kini bertambah kadarnya semakin tinggi.
Dengan alasan "karena kau sedang mengandung anakku, jadi aku tidak ingin kau celaka" lelaki itu bersikap layaknya bodyguard kejam yang sangat setia pada majikannya. Ia tidak segan-segan menarik kerah siswa yang melirik kearah mereka yang Chanyeol pikir bahwa mereka sedang melirik kearah perut membuncit Baekhyun meskipun pada kenyataannya tidak ada yang tahu bahwa Baekhyun sedang mengandung.
Baekhyun jadi merasa sedikit menyesal atas percakapan mereka pagi ini, ketika ia menatap perutnya di depan cermin dan berkata "tidakkah aku terlihat lebih gendut karena perutku membesar?" dan Chanyeol pikir Baekhyun merasa kecewa dengan kondisi tubuhnya.
"Chanyeol tenanglah! Mereka tidak sedang melihat kearah perutku!" ucap Baekhyun ketika Chanyeol akan melepaskan genggamannya dan menghampiri dua sosok siswa yang menatap heran kearah mereka.
"Tapi_"
"Chanyeol!" Chanyeol mengangguk untuk kembali melangkah tanpa memperdulikan dua sosok yang kini menundukan wajahnya takut karena tatapan membunuh Chanyeol.
Baekhyun tahu harinya akan berjalan tidak normal seperti biasanya karena sikap protektif Chanyeol yang berlebihan membuatnya terlihat seperti anak pejabat yang sangat berharga.
"Jangan membungkuk! Biar aku ambilkan." Ucap Chanyeol dan segera memungut pulpen Baekhyun yang terjatuh diatas lantai. Baekhyun tersenyum samar, ia tidak tahu jika sikap protektiiif Chanyeol terasa sangat manis ketika dirinya tengah hamil. Dulu ketika mengandung Sehun, ia tidak pernah merasakan sebuah rasa bahagia, namun kini ia sangat bangga menjadi seorang ibu yang mengandung.
Baekhyun tahu sikap Chanyeol yang aneh tidak jauh dari campur tangan Luhan. Sehun sendiri yang kelepasan bicara jika ia sedang mengerjai Chanyeol dan meminta Luhan mendukung rencananya.
"Supaya dia tahu diri, siapa suruh dulu membuat ibuku seperti barang buangan." Ucap Sehun kala mereka bicara berdua setelah makan malam kemarin.
"Aku hanya menyuruh Luhan berkata jika orang hamil senang dianggap sebagai Ratu dan sang suami harus siap siaga menjadi pengawalnya." Ucapnya sambil tertawa terkekeh saat itu membuat Baekhyun menggelengkan kepalanya.
"Tapi hyung janji! Jangan membocorkan ini padanya, biar dia tahu rasa! Lagipula kan bagus untuk hyung, supaya dia memberikan seluruh perhatiannya padamu."
"Baek?" Baekhyun tersadar dari lamunanya ketika mendengar suara Chanyeol dan ia menoleh untuk mendapati Chanyeol sedang memberikan pulpen kearahnya. Baekhyun menerimanya sambil tersenyum canggung dan Chanyeol merasakan itu.
"Kenapa? ada sesuatu yang kau pikirkan?" tanya Chanyeol , Baekhyun menggeleng pelan dan kembali berfokus pada tulisan di papan.
"Atau ada sesuatu yang kau inginkan?" tanya Chanyeol lagi. Baekhyun yang ingin menggeleng menghentikan kegiatan menulisnya lalu menoleh pelan kearah Chanyeol membuat lelaki itu ikut menoleh.
"Sebenarnya, aku…"
"Katakan!"
"Aku ingin es krim stroberi dengan taburan kacang merah." Baekhyun mengatakannya dengan gugup, karena ia sedang mencoba mengerjai Chanyeol, mencoba ucapan Sehun namun reaksi Chanyeol diluar dugaannya.
GREEK
Chanyeol bangkit dan berjalan ke depan kelas, lalu segera menuju pintu membuat sang guru menoleh.
"Hei, kau mau kemana?" teriak guru itu. Chanyeol menghentikan langkahnya tanpa menoleh.
"Keluar."
"Apa? Setidaknya kau_"
"Maaf tapi ini urgent! Baby-ku menginginkan es krim." Ucap Chanyeol lalu membuka pintu dan menutupnya kembali. Semua mata mengarah pada Baekhyun yang segera menundukan wajahnya dan berpura-pura menulis.
Chanyeol menghentikan langkahnya di koridor lalu menjentikan jemarinya untuk memanggil anak buahnya.
"Apapun yang Baekhyun inginkan bukanlah sungguh-sungguh keinginannya. Itu adalah keinginan si baby."
"Baby?"
"Iya, baby. Bayi kalian. Jadi kau harus mengabulkannya, karena baby mu memiliki darah manusia jadi ada kemungkinan dia akan sama seperti anak manusia yang jika keinginan ibunya tidak dikabulkan ketika hamil maka bayimu akan berliur sepanjang hidupnya." Chanyeol bergidik ketika membayangkan anaknya akan berliur menjijikan.
"Dan, jangan pernah meminta orang lain melakukannya. Karena seseorang yang hamil biasanya akan senang jika yang mengabulkan keinginannya adalah suaminya, kau!" tunjuk Luhan saat itu.
Chanyeol membatalkan niatnya, lalu segera melangkah menuju kantin sekolah.
"Supaya anakku tidak berliur, aku akan melakukannya." Ucap Chanyeol sambil mengepalkan jemarinya penuh semangat disetiap langkahnya.
….
..
.
Seluruh mata menoleh ketika pintu kelas terbuka kasar dan menampilkan sosok Chanyeol yang berjalan masuk dengan sebuah kantung di tangannya.
"Hei, kau_"
"Aku tidak ingin mencari masalah denganmu, jadi anggap aku tidak ada. Lakukan tugasmu! Jangan pedulikan aku!" ucap Chanyeol penuh penekanan pada setiap kata-katanya membuat sosok guru itu terdiam ketakutan.
Chanyeol tersenyum sambil berjalan kearah Baekhyun dan menganggkat kantung yang dibawanya seolah dengan bangga menunjukan bahwa ia mendapatkan apa yang kekasihnya itu inginkan.
"Makanlah!" ucap Chanyeol dan Baekhyun melirik es krim di depannya dan papan tulis.
"Tidak , kelas sedang berlangsung aku tidak mungkin makan."
"Bukan masalah! Makanlah!"
"Chanyeol, nanti saja!"
"Nanti es ini akan mencair, makanlah Baekhyun!" Ucap Chanyeol dan membuka tutup atas wadah es krim itu.
"Tapi_"
"Aku mohon aku tidak mau dia_" Baekhyun melirik perut Baekhyun dan membayangkan anaknya akan berliur sangat banyak hingga ia dewasa.
"Baiklah." Ucap Baekhyun sambil membuka mulutnya dan menerima suapan dari Chanyeol lalu ia tersenyum senang.
CUP
Chanyeol mengecup bibir Baekhyun kilat membuat yang lebih kecil bersemu.
…
..
.
Baekhyun melirik Chanyeol sambil mengaduk-ngaduk makanannya, Baekhyun bukannya tidak lapar hanya saja cara Chanyeol menatapnya sejak tadi membuat Baekhyun tidak bisa makan dengan damai.
"Chanyeol kenapa kau tidak makan?" tanya Baekhyun. Chanyeol yang menopang dagunya dengan satu tangan hanya tersenyum tanpa sedikit pun mengalihkan matanya dari wajah Baekhyun.
"Aku ingin memperhatikanmu saja, Luhan bilang aku harus selalu memperhatikanmu, orang hamil butuh diperhatikan." Baekhyun nyaris tersedak namun ia segera tersenyum kikuk.
"Tidak perlu seperti itu Chanyeol. Kau bisa melakukannya secara normal, aku baik-baik saja!"
"Tidak! Aku harus memperhatikanmu, aku tak ingin anakku terlahir seperti Sehun lagi karena kurang perhatian. Aku ingin anak yang manis, tidak menyebalkan seperti yang satu itu." Gumam Chanyeol. Baekhyun menggeleng pelan lalu menundukan wajahnya. Semua terasa aneh dan tiba-tiba baginya, ada perasaan senang namun juga ada perasaan lain yang mengganjal.
"Kenapa? kenapa kau jadi bersedih? Apa kata-kataku mengingatkanmu akan masa lalu?" tanya Chanyeol lagi. Baekhyun mengangkat wajahnya dan menggeleng pelan.
"Tidak. Aku tidak sedang memikirkan masa lalu. Aku hanya merasa bahagia, karena setidaknya aku merasakan bagaimana rasanya diperhatikan ketika sedang mengandung. Aku rasa bayi ini adalah bayi yang beruntung." Ucap Baekhyun sambil mengelus perutnya pelan dan tersenyum pelan.
Chanyeol memperhatikan itu, bagaimana wajah lelakinya tersenyum dengan sangat bahagia. Ia bangkit lalu duduk disamping Baekhyun membuat yang lebih kecil sempat terkejut. Chanyeol melingkarkan tangannya dipundak Baekhyun dan satu tangan lainnya mengelus perut Baekhyun di balik seragamnya.
"Dia memang bayi yang beruntung karena dikandung oleh lelaki secantik dirimu. Dia pasti akan menjadi anak yang cantik." Ucap Chanyeol sambil menatap perut Baekhyun. Baekhyun menatap Chanyeol yang nampak bangga dengan statusnya sebagai ayah, dan sebuah senyuman senang terpatri diwajah yang lebih kecil.
"Apa kau senang dengan keberadaannya?" tanya Baekhyun pelan. Chanyeol menatap Baekhyun lalu tersenyum.
"Apa yang membuatku tidak senang? Dia anakku, anak kita." Entah mengapa Baekhyun merasa air matanya nyaris jatuh mendengar ucapan Chanyeol. Ia merasa kebahagiaanya sungguh sempurna, ia tidak tahu jika dicintai secara utuh rasanya sungguh menggembirakan.
"Chanyeol, kau ingin dia laki-laki atau perempuan?" tanya Baekhyun sambil menatap Chanyeol, memainkan jemari kekasihnya yang masih berada diatas perutnya.
"Sebenarnya aku ingin dia perempuan, karena dia pasti akan menjadi anak yang cantik sama sepertimu. Tapi jika dia lebih dominan iblis, aku ingin dia laki-laki, karena sulit baginya untuk tumbuh menjadi perempuan setengah iblis." Baekhyun tersenyum lalu mengangguk mengerti.
"Kalau kau?"
"Aku? Sebenarnya apapun jenis kelaminnya selama dia sehat aku akan menyayanginya. Tapi aku ingin laki-laki." Ucap Baekhyun.
"Kenapa?"tanya Chanyeol sambil menyelipkan helaian rambut Baekhyu dibelakang telinganya.
"Aku ingin Sehun memiliki teman." Ucap Baekhyun lagi.
"Anak itu tidak akan pernah bisa memiliki teman dengan sifat angkuhnya." Ucap Chanyeol sambil berdecih.
"Coba katakan, darimana sifatnya itu berasal!" Ucapan Baekhyun membuat Chanyeol terdiam. Lalu ia mengarahkan telunjuknya pada dirinya sendiri.
"Aku? Tidak mungkin, aku tidak mirip dengannya." Tangkas Chanyeol.
"Oh benarkah? Berarti ada makhluk lain yang menghamiliku saat itu."
" Tidak. Itu aku, hanya aku. Ya aku dan Sehun mirip , dia anakku, aku ayahnya kami anak dan ayah tentu kami mirip bukan?" Baekhyun terkekeh lalu menyandarkan kepalanya pada pundak Chanyeol membuat yang lebih tinggi tersenyum senang.
"Chanyeol?"
"Hm?"
"Aku ingin sesuatu." Bisik Baekhyun.
"Katakan!" Baekhyun mendekatkan bibirnya ketelinga Chanyeol membuat yang lebih tinggi membulatkan matanya terkejut.
…
..
.
Waktu istirahat telah berlalu, kegiatan belajar-mengajar sedang berjalan membuat koridor dan tempat lainnya nampak sepi, namun tidak di salah satu bilik di dalam toilet khusus laki-laki.
"Hmmppt.." Baekhyun menutup mulutnya ketika Chanyeol mendorong miliknya semakin dalam.
"Keluarkan saja Baekhyun, tidak ada yang akan mendengar." Ucap Chanyeol sambil masih tetap menggerakan tubuhnya semakin kencang.
"Tapiihh… inihhh.. masihh di_"
"Tenang, aku sudah memasang pelindung disekitar bilik ini tidak akan ada yang mendengarnya." Ucap Chanyeol sambil terus berfokus pada kegiatannya.
"Aaaah… Chanyeooll..lebihh.. dalam..aaah.." Baekhyun mendesah dengan wajah yang sudah memerah. Kancing seragam atasnya telah terbuka seluruhnya, menampilkan punggung putih yang sudah ternodai oleh hisapan-hisapan Chanyeol. Celananya sudah tergelatak tidak terurus di sudut bilik toilet.
Baekhyun menahan bobot tubuhnya pada dinding di depanya menggunakan satu tangan, sementara satu tangan yang lain ia gunakan untuk memegang perutnya. Ia hanya tidak ingin sesuatu terjadi pada kandungannya.
"Aaahh.. Chanyeolhh… sakittt…" Baekhyun meringis ketika Chanyeol menarik pantatnya untuk kembali menungging. Selama ini mereka belum pernah bercinta di dalam ruangan sempit dengan posisi berdiri seperti sekarang membuat libido Chanyeol meningkat dengan suasana baru dan tanpa sadar menggunakan kekuatan iblisnya.
"Maafkan a..aa..kuhhh." ucapnya berusaha mengendalikan libidonya.
Chanyeol tidak tahu jika efek dari hamil bisa menguntungkan dirinya. Luhan memang pernah berkata tentang hormone, namun kala itu ia tidak mengerti sama sekali namun kini ia sangat paham bagaimana hormone itu bekerja ketika seseorang dalam masa kehamilan.
Chanyeol tidak tahu bagaimana prosesnya dan ia tidak pun tahu bagaimana hal itu bisa terjadi namun satu kesimpulannya bahwa hormone membawanya pada sebuah percintaan. Bukan percintaan biasa, namun sesi percintaan yang panas.
"Chanyeoolllhhh akuuuhhh… akuuhh…aaahh.." Baekhyun mendongak dan menyandarkan kepalanya pada pundak Chanyeol sementara spermanya menyembur ke dinding kamar mandi. Sementara Chanyeol memelankan gerakannya memberikan waktu jeda untuk kekasihnya.
"Lanjutkan!" ucap Baekhyun sambil terus merapatkan lubang senggamanya membuat penis Chanyeol terjepit dan menaikkan hasratnya.
Chanyeol menarik tubuh Baekhyun menjauh dari dinding, ia mendorong pelan tubuh Baekhyun untuk menungging sambil berpegangan pada sisi closet. Baekhyun mencengkram pinggiran keramik itu dengan erat dan tetap satu tangannya memegang perutnya.
Chanyeol mendongak dengan gerakan yang sangat cepat, menusuk semakin dalam pada lubang Baekhyun, pada titik tersensitif si mungil.
"Aaah.. disanaahhh..disanahhh." Baekhyun bergerak frustasi. Penisnya kembali bangkit dan rasanya menyakitkan ketika benda itu tidak tersentuh sama sekali. Chanyeol memegang kedua pinggang Baekhyun kuat namun mencoba menghindari perut sang kekasih.
"Akuuuhh… akan sampaii…" ucap Chanyeol sambil mencari kenikmatannya.
"Selamat kedatangan tamu babyyyhhh.. aaaahhhhh." Baekhyun mengejang ketika sperma Chanyeol menyembur di dalam tubuhnya. Chanyeol selalu lama untuk orgasme membuat lubang Baekhyun selalu perih dan memerah namun akan hilang ketika sperma itu menyembur dahsyat di dalam sana.
"Aaahh.." Baekhyun pun orgasme untuk ketiga kalinya. Baekhyun mengatur nafasnya dengan posisi yang masih tetap menungging, sementara sperma Chanyeol masih menembak terputus-putus di dalam sana.
Ketika ia merasa penis Chanyeol telah mengempis, Baekhyun mencoba untuk bangkit namun tangan Chanyeol menahannya. Baekhyun menoleh dengan wajah terkejut ketika tubuhnya ditarik menjauh dari closet.
"Chanyeol?"
"Ini belum selesai Baekhyun." Ucap Chanyeol sambil mendudukan dirinya diatas closet dan menatap Baekhyun penuh nafsu. Kedua tangan Chanyeol terbentang diudara, mempersilahkan Baekhyun untuk melihat seluruh tubuhnya.
Baekhyun melirik tubuh bagian bawah Chanyeol dan pipinya merona hebat melihat perlahan penis besar itu kembali bangkit. Baekhyun menggigit bibir bawahnya ketika ia merasa penisnya juga ikut bangkit. Tangan mungilnya beranjak untuk menutupi daerah selangkangannya, namun hormonnya kembali menguasai.
Ia melangkah mendekat, melepaskan seragamnya yang masih menggantung lalu naik keatas pangkuan Chanyeol. Ia yakin ini bukan keinginannya, karena ini sangat memalukan. Ia yakin ini adalah keinginan janinnya, ya Baekhyun yakin dengan itu.
"Aaaahh… "Baekhyun mendesah ketika berusaha memasukan penis Chanyeol ke dalam lubangnya seorang diri telah usai. Chanyeol menyeringai dengan sengaja membiarkan yang lebih kecil untuk berusaha sendiri.
"Karena ini keinginanmu maka aku biarkan kau yang berkuasa. Tunggangi aku sayang!" bisik Chanyeol sambil menarik tengkuk Baekhyun dan menjilat permukaan lehernya.
"Chann..yeoollhh.."
"Iya sayang, mendesahlah sesukamu." Baekhyun menutup matanya lalu mulai menaik turunkan tubuhnya diatas penis Chanyeol.
"Aaaahh… Aaahhh… Chanyeollhh…" Baekhyun terus menggila diatas paha kekasihnya sementara Chanyeol hanya merangsang Baekhyun dengan sentuhan-sentuhan hangat disepanjang tubuh kekasihnya.
…
..
.
Kyungsoo menatap sebuah pintu besar berwarna emas yang perlahan terbuka lebar. Mata bulatnya mengerjap ketika melihat sebuah ruangan besar yang sangat menyilaukan.
"Selamat datang kembali di Istanaku, Kyungsoo." Ucap Jongin sambil membentangkan tangannya dan berjalan kearah yang lebih kecil.
"Jongin!" Kyungsoo berlari lalu berhambur ke dalam pelukan hangat Sang Pangeran Matahari.
"Aku merindukanmu." Bisik Kyungsoo dalam pelukan prianya.
"Ya, aku juga Kyungsoo." Ucapnya. Jongin mengakhiri pelukan hangat itu lalu menuntun Kyungsoo menuju singgasananya.
Selama ia berada di istana bersama Jongin, ia tidak pernah dibiarkan keluar dari dalam kamar Sang Pangeran, hingga membuatnya baru menyadari jika istana Sang Pangeran sangat sepi.
"Dimana para pelayan?" tanya Kyungsoo.
"Aku tidak memiliki pelayan. Kami melayani diri kami sendiri." Ucap Jongin sambil mendudukan Kyungsoo.
"Bukankah itu sangat menyedihkan? Kau hanya tinggal seorang diri disini?" tanya Kyungsoo lagi dan Jongin terkekeh.
"Ya, jutaan tahun aku tinggal seorang diri tapi sekarang tidak lagi." Kyungsoo menatap Jongin dengan mata mengerjap lucu.
"Benarkah? Apa kau akan mempekerjakan para malaikat?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Aku akan membawa Puteriku untuk tinggal disini." Ucap Jongin. Kyungsoo terdiam entah mengapa ada sesuatu yang menusuk hatinya.
"Pu-Puteri? Jadi Jongin punya seorang Puteri?" Jongin mengangguk.
"Tentu, aku seorang Pangeran dan tentu aku memiliki seorang Puteri." Kyungsoo mengangguk sekali lagi dengan raut wajah bersedih.
"Tapi, Kyungsoo." Kyungsoo mendongak untuk menatap Jongin.
"Aku tidak tahu apa Puteriku itu mau untuk tinggal di istanaku yang sepi ini. Puteriku orang yang susah untuk dirayu." Ucap Jongin dengan wajah sedikit bersedih.
"Kenapa tidak Jongin tanyakan saja?" Senyum Jongin terbentuk.
"Benarkah? Apa jika aku bertanya dia akan menyetujuinya?"
"Kenapa tidak dicoba, Puterimu pasti akan mengerti." Ucap Kyungsoo mencoba tersenyum. Jongin berbalik dan berjalan dua langkah menjauhi Kyungsoo membuat yang lebih kecil mendesah kecewa, sebelum akhirnya sosok berjubah emas itu bebalik lalu bersimpuh.
"Kyungsoo, Puteriku. Maukah kau tinggal bersamaku di Istanaku yang sepi ini?" Kyungsoo membulatkan matanya dan Jongin terkekeh.
"Sudah aku bilang bukan, bahwa Puteriku tidak mudah untuk dirayu." Kyungsoo tersenyum lalu bangkit dan berlari kearah Jongin.
"Bagaimana bisa aku menjadi Puterimu, aku ini seorang Pangeran Jongin." Ucap Kyungsoo sambil memukul pelan pundak Jongin.
"Bangunlah!" ucap Kyungsoo. Jongin bangkit sambil tersenyum senang.
"Lalu jawabannya?"
"Akan aku pikirkan." Ucap Kyungsoo sambil memeluk tubuh Jongin. Jongin terdiam dengan wajah datar namun ia membalas pelukan Kyungsoo.
…
..
.
"Aaaaahh…" Baekhyun ambruk diatas pundak Chanyeol. Entah berapa jam yang mereka habiskan untuk bercinta, entah berapa pelajaran yang mereka lewatkan dan entah berapa cairan yang terbuang dan masuk ke dalam lubang Baekhyun. Yang jelas ketika mereka merasa cukup, hari sudah beranjak sore bahkan mentari mulai menghilang.
Baekhyun bangkit dengan sedikit tertatih. Ia mengambil tisu dan membersihkan sekitar selangkangannya juga pantatnya yang ternodai oleh sperma Chanyeol. Chanyeol masih terduduk sambil memperhatikan kekasihnya yang memunggunginya untuk memakai seragam.
"Chanyeol!" seru Baekhyun membuat Chanyeol ikut panik.
"Lihat!" Baekhyun berbalik dengan wajah panik sambil memperlihatkan perutnya yang semakin membesar.
"Chanyeol, kenapa perutku?" tanya Baekhyun takut, ia mencoba mengancingkan seragamnya namun terhalang oleh perutnya.
"Kenapa ini…hikss..hiks…" Baekhyun menangis dan Chanyeol segera melepaskan seragamnya untuk dikenakan Baekhyun, memeluk tubuh itu lalu menghilang dari bilik toilet meninggalkan bekas sperma mereka yang berceceran di beberapa tempat.
Mereka tiba di Infernus tepatnya di dalam ruang kerja Minho untuk mendapati Luhan dan Sehun sedang berciuman panas.
"Yak! Bisakah kalian mengetuk pintu?" protes Sehun sambil hendak melemparkan kekuatannya pada Chanyeol, sebelum ia melihat Baekhyun yang berlinang air mata dan keadaan mereka yang berantakan.
"Chanyeol, ada apa?" tanya Luhan sambil bangkit.
"Aku tidak tahu, tapi perut Baekhyun bertambah besar dalam waktu singkat setelah kami bercinta." Luhan mendekat lalu menyibak kain seragam Chanyeol dan matanya membulat melihat perut Baekhyun lebih besar dari terakhir ia lihat.
"Akan aku panggilkan Kakek." Ucap Luhan lalu segera menghilang.
"Chanyeol..hiks..hiks.. aku takut." Ucap Baekhyun dan Chanyeol memeluk kekasihnya.
"Hei, tenanglah! Semua akan baik-baik saja." Ucap Chanyeol dan Sehun hanya memutar bola matanya malas.
…
..
.
Jessica terkekeh setelah menarik kembali tangannya dari atas perut buncit Baekhyun. Chanyeol mengerutkan keningnya melihat sikap Jessica yang terkesan santai. Raja Langit melangkah maju untuk bertanya pada sosok yang ia mintai bantuan tersebut.
"Bagaimana keadaannya?" tanyanya pada sosok Jessica yang menghela nafas sambil tersenyum. Ia menoleh sejenak lalu matanya menyapu seluruh isi ruangan dimana semua orang berdiri untuk menunggunya bicara.
"Janinnya tidak dalam masalah, hanya saja_"
"Hanya saja apa?" bentak Chanyeol cemas membuat Jessica kembali tersenyum lebih lebar. Luhan menahan pundak Chanyeol yang hendak melangkah lebih dekat dengan sosok cantik itu.
"Dia bukan bayi biasa. Dia mirip sepertimu Chanyeol, dia sangat nakal." Ucap Jessica membuat Chanyeol mengernyit tidak mengerti dan melirik kearah Baekhyun yang terpejam sambil menggeliat tidak nyaman.
"Dia sedang menantangmu."
"Apa?" Chanyeol berseru membuat Sehun dan Luhan menahan tawa mereka.
"Kau berkata bahwa dia kedatangan tamu yangmana saat itu kau sedang mengeluarkan sarimu di dalam tubuh Baekhyun dan dia berkata dia menerimanya dengan lapang dada." Chanyeol masih tidak mengerti.
"Lalu kenapa perut Baekhyun membesar?" tanyanya lagi.
"Sebenarnya dia tidak akan berada disana untuk waktu 9 bulan, dia bisa keluar kapanpun dia mau, hanya saja itu akan menyakiti Baekhyun. Dia berkata bahwa dia akan bersabar lebih lama, tapi dia memakan sarimu dan itu membuatnya bertambah semakin kuat hingga ia tumbuh menjadi sangat pesat."
"Apa?"
"Pffft.." Kembali Luhan dan Sehun menahan tawa membuat Chanyeol melirik mereka tidak suka.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Chanyeol merasa putus asa. Jessica bangkit, mengelus pipi Baekhyun sejenak dan menepuk kedua tangannya sambil berjalan menuju orang-orang yang menatapnya.
"Mudah saja, hindari bercinta."
"Pffft..hahahahaha…" Sehun tertawa kencang lalu Luhan menyusul membuat Kakek Iblis ikut menahan tawa dan Chanyeol menatap mereka dengan perasaan jengkel.
"Itu ujian Chanyeol. Itulah bagaimana menjadi orangtua." Ucap Jessica sambil mengedikan satu matanya. Raja Iblis mengantarkan Jessica kepintu keluar sambil mengucapkan terima kasih sementara Chanyeol segera menghampiri Baekhyu yang masih tidak sadarkan diri.
"Baek? Baekhyun-ah?" panggil Chanyeol sambil menggenggam tangan baekhyun lembut.
"Oh Chanyeol aku lupa mengatakan." Ucap Jessica diambang pintu membuat yang lainnya menoleh.
"Dia bilang bahwa dia memberimu waktu 3 bulan." Setelahnya Jessica tersenyum kecil lalu benar-benar menghilang dibalik pintu membuat Chanyeol mengernyit tidak mengerti.
Kyungsoo mendekat kearah Baekhyun lalu menyalurkan tenaganya, sementara Sehun menyentuh perut Baekhyun sambil tertawa bangga.
"Bocah, siapapun kau , kau hebat! Mari menjadi tim." Ucap Sehun sambil tersenyum penuh kemenangan membuat Chanyeol mendengus kesal.
…
..
.
Semenjak hari itu Chanyeol akan selalu menahan hasratnya untuk tidak menyentuh Baekhyun seberapa besarpun kekasihnya merengek untuk disetubuhi. Chanyeol hanya akan memuaskan Baekhyun dan tidak melanjutkan ke sesi yang lebih serius.
Baekhyun memilih cuti sekolah karena kandungannya sudah cukup terlihat dan ia tidak boleh melakukan aktifitas yang berat. Ia tidak mengalami morning sickness seperti para ibu hamil biasanya dengan muntah-muntah di pagi hari, namun sebagai gantinya morning sickness nya adalah merengek ketika bangun dipagi hari dengan wajah sendu untuk disetubuhi, membuat Chanyeol merasa sangat frustasi.
"Kau bocah benar-benar menantangku." Tunjuk Chanyeol pada perut Baekhyun ketika ia dibangunkan dengan sosok Baekhyun yang berada diatas perutnya. Chanyeol sangat tahu bahwa itu bukanlah keinginan Baekhyun, ia tahu bagaimana kekasihnya itu mampu mengontrol hormonnya. Semua adalah ulah bayi di dalam kandungan Baekhyun.
"Chanyeol, jangan bicara kasar padanya." Ucap Baekhyun dengan wajah bersedih dan Chanyeol hanya bisa pasrah ketika kekasihnya mulai menangis.
Sehun sangat senang dengan kesulitan yang dialami Chanyeol, membuatnya merasa puas karena ada sosok lain yang turut menyiksa ayahnya.
"Makanya jangan hanya bisa membuat. Rasakan akibatnya kan!" ucap Sehun ketika Chanyeol berada di ruang kerja Minho untuk mengadu pada kakak sulungnya.
"Diam kau bocah!"
"Aaww.. aku takut." Ejek Sehun sambil tertawa terpingkal dan duduk diatas sofa.
"Chanyeol!" Panggil Minho sambil melangkah maju.
"Aku rasa secepatnya kau harus menduduki posisiku."
"Kenapa ayah? Apa yang terjadi? Bukankah seharusnya masih lama?" tanya Luhan. Minho melirik Chanyeol lalu menghela nafas pelan.
"Chanyeol, bagaimana keadaan Baekhyun?" Chanyeol mendongak dan menatap ayahnya.
"Masih sama. Bahkan kehamilannya yang baru berusia beberapa minggu sudah terlihat seperti 4 bulan di dunia manusia." Minho merendahkan arah pandangnya sebelum akhirnya kembali menjatuhkannya pada kedua sosok di depannya.
"Hanya persiapkan segala kemungkinan yang terjadi. Kakek akan melatihmu lagi, dan ayah akan mengurusi semua yang semestinya diselesaikan." Ucap Minho dan Chanyeol mengangguk.
Minho melangkah keluar lalu hilang bagaikan udara. Luhan dan Chanyeol saling tatap penuh kebingungan lalu Sehun mendekat.
"Mungkin Kakek ingin segera menikmati liburanya. Setelah nenek pergi, bukankah ia juga butuh refreshing?" dan dua sosok lainnya mengangguk setuju.
…
..
.
Baekhyun bangkit dari ranjang sambil memegang pinggangnya yang terasa pegal. Ia berjalan keluar kamar untuk mencari siapapun yang bisa ia temukan. Ia tidak suka ketika bangun seluruh rumah dalam keadaan sepi.
Ketika ia turun hal pertama yang ia dapati adalah sosok ibunya yang sedang berkutat dengan peralatan dapur dan terlihat tetap gesit mengambil pekerjaan meskipun pakaian kerjanya menandakan bahwa ia baru saja pulang bekerja.
"Bu?"
"Oh sayang, kau sudah bangun?"
"Hm. Apa yang ibu lakukan?" tanya Baekhyun. Kibum mengelap wajahnya sambil masih sibuk memotong beberapa sayuran.
"Ibu membuatkanmu sup labu, ini bagus untuk kesehatanmu Baek." Baekhyun merasa terharu, lalu ia mendekat dan memeluk lengan ibunya. Meletakkan kepalanya di pundak sang ibu.
"Ibu terima kasih, ibu selalu ada ketika aku membutuhkan seseorang untuk berada disampingku." Ucap Baekhyun sambil mengelus lengan ibunya.
"Itulah tugas seorang Ibu , Baek. Lagipula sebentar lagi bayimu akan lahir , kita tidak tahu kapan ia akan lahir kan? Kemarin perutmu masih terlihat datar dan kini tiba-tiba kau seperti sedang mengandung 4 bulan."
"Dia nakal bu, anak yang nakal." Ucap Baekhyun sambil mengelus perutnya dan mengerutkan hidungnya lucu.
"Kau duduklah dulu! Nanti ibu panggilkan kalau sudah selesai." Ucap Kibum. Baekhyun mengecup pipi ibunya lalu berjalan menuju ruang tengah.
Perlahan Baekhyun duduk dan menyalakan Tv, dengan bosan ia mengganti seluruh saluran Tv dan tidak menemukan satupun yang menarik perhatiannya. Sesekali matanya melirik pintu untuk mendapati sosok Chanyeol yang akan muncul.
CEKLEK
Baekhyun menoleh dengan wajah antusias namun yang ia dapati sosok Sehun yang berjalan masuk dengan wajah cemberut lalu berubah menjadi terkejut setelah melihat keberadaannya.
"Hyung?"
"Ah, Sehun. Kau baru pulang?"
"Hm. Aku dari Infernus."
"Dimana Chanyeol?" tanya Baekhyun. Sehun terdiam lalu melirik perut Baekhyun dan kembali menatap kearah ibunya.
"Dia.. dia.. dia akan segera kembali. Aku harus ke kamar, da-da hyung! Da-da bocah!" ucap Sehun sambil mengecup perut ibunya dan berlari menaikki anak tangga.
Baekhyun kembali terduduk dan sesekali kembali melirik kearah pintu berharap Chanyeol akan segera datang.
CEKLEK
Pintu terbuka membuat Baekhyun tersenyum senang.
"Chan_ oh Kyungsoo? Jongin?" dua sosok itu tersenyum sambil mengangkat kantung belanjaan ditangan mereka.
"Kami datang untuk membawa ini. Dimana bibi?" tanya Kyungsoo.
"Di dapur." Ucap Baekhyun sambil mencoba tersenyum. Baekhyun hanya maklum, setelah kepergian Taemin, Kyungsoo menjadi sangat dekat dengan ibunya, ia tahu bahwa sosok manis itu sedang mencari pengganti untuk ibunya dan mungkin ia mendapatkannya di Kibum.
Baekhyun merasa bosan, ia memilih mengelus perutnya dengan wajah cemberut.
"Ayahmu, kemana perginya? Rasa rindu ini datang dariku, atau darimu baby?" bisiknya pelan.
Sehun berdiri diatas sana, di pembatas lantai dua sambil menatap ibunya yang terlihat sedang mengelus perutnya dan berbicara pada janinnya di dalam sana. Ia memandang ibunya dengan perasaan sedih, air matanya terjatuh dan ia segera mengusapnya cepat.
Ketika Sehun akan berbalik ke dalam kamarnya, matanya bertemu dengan mata Jongin yang berdiri diambang pintu dapur . Sehun menundukan wajahnya dan Jongin menyipitkan matanya sambil melirik kearah ruang tengah dimana Baekhyun sedang terduduk sambil mengelus perutnya.
…
..
.
Chanyeol duduk di dalam kamarnya sambil mengepalkan kedua jemarinya erat. Ketika Luhan datang dan menerobos masuk tanpa izin.
"Tenang Chanyeol, pasti ada jalan keluar." Ucap Luhan sambil mengelus pundak adiknya.
"Apa ini sungguh karmaku hyung? Kenapa mereka tidak pernah membiarkan aku bahagia lebih lama?"
"Tidak Chanyeol, aku tahu semua tidak seperti itu. Kakek pasti salah."
"Tidak, aku tahu ayah menyembunyikan sesuatu tadi. Dan Kakek hanya memperjelasnya, jika seperti ini aku harus bagaimana?" tanya Chanyeol frustasi. Luhan menghela nafas lalu memeluk tubuh besar Chanyeol dari samping.
"Aku akan mencoba mencari tahu Chanyeol, aku akan membantumu. Sekarang temuilah Baekhyun, dia membutuhkanmu." Ucap Luhan dan Chanyeol mengangguk pelan.
Chanyeol berdiri di depan pintu rumah Baekhyun, entah mengapa kekalutan menyerang pikirannya. Perlahan tangannya terulur untuk membuka pintu rumah itu.
Hal pertama yang ia tangkap ketika berjalan memasuki rumah adalah sosok setengah mengantuk Baekhyun yang terduduk di ruang tengah.
"Chanyeol!" seru Baekhyun senang lalu bangkit dan berjalan cepat kearah Chanyeol untuk memeluk kekasihnya.
"Darimana saja?" gumam Baekhyun dengan wajah sedih. Chanyeol menatap Baekhyun lalu tersenyum, ia mencubit pipi kekasihnya yang membulat dan mengecup bibirnya.
"Berlatih. Kau tahu sebentar lagi aku akan menyandang gelar Raja." Ucapnya disertai kekehan membuat Baekhyun mengangguk. Ia meraih tangan Chanyeol lalu membawanya pada perut buncitnya.
"Aku rasa baby merindukan ayahnya. Iya kan baby? Katakan pada ayahmu!" ucap Baekhyun sambil menghadap perutnya.
Chanyeol terdiam menatap kearah wajah Baekhyun dengan perasaan bercampur aduk, dan ketika mata mereka bertemu, Chanyeol menunjukan senyum manisnya. Berusaha menutupi perasaannya saat ini. Bagaimana pun dia iblis, dia tentu pandai memanipulasi, termasuk perasaannya sendiri.
"Kalian! Makanannya sudah siap!" Panggil Kibum dari pintu dapur. Baekhyun menarik tangan Chanyeol dan membawa kekasihnya menuju dapur.
Dalam perjalanan, mereka berpapasan dengan Sehun yang menuruni anak tangga dengan pakaian rumahnya. Baekhyun tersenyum meminta anaknya untuk bergabung, sementara Chanyeol menatap dalam pada sosok Sehun. Sehun pun sama memberikan tatapan prihatin pada ayahnya.
Makan malam dimulai dan berakhir dua jam setelahnya. Dimana Sehun yang pertama mengakhiri karena ia merasakan aura kecanggungan diantara dirinya, Chanyeol, Jongin dan Kyungsoo. Berbeda dengan Baekhyun dan Kibum yang tidak menyadari apapun, empat orang lainnya diserang oleh pemikiran mereka masing-masing.
…
..
.
Chanyeol menatap langit-langit kamar Baekhyun, sementara kekasihnya masih asyik membersihkan diri di dalam kamar mandi sambil sesekali bersenandung kecil.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka dan aroma manis menguar dari dalam sana, ditemani oleh uap hangat yang menjalar masuk ke dalam ruang tidur. Chanyeol melirik Baekhyun yang keluar mengenakan jubah mandinya, dan handuk yang membungkus kepalanya.
"Kenapa?" tanya Baekhyun ketika menyadari Chanyeol sedang memandangnya dari pantulan cermin.
"Tidak. Hanya senang melihatmu semakin cantik tiap harinya." Baekhyun menggeleng pelan sambil mengambil pakaian dari dalam lemari lalu mengenakannya.
Ketika pakaian itu meluncur turun di tubuh Baekhyun, sebuah lengan memeluknya dari belakang. Baekhyun tersenyum, dan memegang tangan yang menapak pada perutnya.
"Hei, sesuatu terjadi? Kau terlihat berbeda." Baekhyun mengelus pelan jemari Chanyeol, merasakan kehangatan yang menjalari sekitar perutnya. Chanyeol masih terdiam, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher kekasihnya.
"Tidak ada yang terjadi, semua baik-baik saja, Baek. Aku hanya memikirkan sesuatu." Ucap Chanyeol lembut, helaan nafasnya menerpa leher telanjang Baekhyun.
"Apa yang kau pikirkan? Apa sesuatu yang sangat penting?" Chanyeol mengangguk sebagai jawaban dan semakin menekan kepalanya mencari kenyamanan.
"Aku berpikir, bisakah aku menjadi seorang ayah yang baik kelak? Melihat bagaimana hubunganku dengan Sehun, aku merasa ragu." Baekhyun tersenyum sejenak lalu memutar tubuhnya, membuat kaitan jemari Chanyeol terlepas untuk kemudian ia sambung lagi.
"Jadi itu yang sedang kau pikirkan hm?" Jemari Baekhyun menapak diwajah Chanyeol membuat yang lebih tinggi terdiam sejenak, merasa bersalah karena membohongi kekasihnya lagi dan lagi.
"Ya. Aku merasa takut. Ah bukan takut, aku tidak takut sama sekali aku ini iblis, aku tidak mengenal rasa takut dan_"
"Chanyeol? Itu wajar. Siapapun dirimu, baik atau jahat, meski iblis sekalipun pasti akan merasakan kekhawatiran yang sama sebagai calon orangtua. Hahaha.. bisakah kita menyebut ini calon ketika kita telah memiliki Sehun?" Baekhyun tersenyum sambil menggeleng, namun tidak dengan Chanyeol. Senyuman Baekhyun entah mengapa membuatnya semakin merasa sakit.
Tanpa bicara Chanyeol memeluk tubuh Baekhyun erat, meskipun terhalang oleh perut Baekhyun yang tengah membesar namun tidak menurunkan niat Chanyeol untuk mendekap tubuh kekasihnya, seolah ia tidak ingin kehilangannya sosok mungil itu, sosok yang sangat ia cintai.
"Hei, jika begitu mulai sekarang mari menjadi calon orangtua yang baik. Kau mau? Kita lawan rasa cemas ini bersama-sama." Chanyeol mengangguk cepat dalam pelukannya, tidak ingin mengeluarkan sepatah katapun lagi selain sebuah pelukan yang menyiratkan seberapa besar rasa cinta dan tak ingin kehilangannya pada sosok Byun Baekhyun.
…
..
.
Mereka menepatinya. Ketika pagi menjelang yang Baekhyun lihat pertama kali adalah tirai jendela yang terbuka lebar dan burung-burung yang bertengger didahan pohon di depan kamarnya. Ia menoleh dan tidak mendapati sosok Chanyeol disana, membuat dirinya merasa sedikit bingung dan cemas.
Perlahan, sambil memegang perutnya yang semakin membesar Baekhyun mendudukan dirinya.
"Selamat pagi baby, apa tidurmu nyenyak semalaman dipeluk oleh Ayah?" gumam Baekhyun kecil pada calon bayinya. Mengelus permukaan kulit mengetat itu perlahan, hal yang tak pernah ia lakukan ketika mengandung Sehun dulu.
DUG
Sebuah jawaban singkat sudah cukup untuk membuat senyuman Baekhyun semakin merekah. Ia turun perlahan dari atas kasurnya, dan memutuskan untuk mencuci wajahnya sebelum memilih untuk turun.
Ketika menginjakkan kaki di anak tangga pertam yang ia lihat tangkap pertama kali adalah suara ribut didapur melalui indera pendengarannya. Dengan sangat hati-hati, ia menapakkan kakinya di setiap anak tangga.
Meski menyerupai kehamilan 4 bulan, namun beban yang Baekhyun tanggung cukup berat. Ia tidak tahu jika calon bayinya sangat berat, tidak seperti Sehun yang bahkan kehamilannya tidak terlalu terlihat dulu.
Baekhyun menghela nafas lega ketika menginjakan kakinya dianak tangga terakhir, lalu berjalan dengan satu tangan memegang perutnya. Mata Baekhyun membulat melihat didepan sana, sosok Chanyeol sedang menjambak rambutnya frustasi dengan beberapa peralatan dapur yang berantakan.
"Chanyeol?" Bola mata Chanyeol membulat melihat sosok Baekhyun berdiri di depannya dengan wajah kebingungan.
"Baek, kau..kau sudah bangun?"
"Apa yang kau lakukan?" tanya Baekhyun sambil mendekat. Chanyeol tersenyum sambil menggaruk belakang kepalanya dan melihat kekacauan yang ia buat.
"Hmm.., membuat sarapan?"
"Untukku?"
"Untukmu." Baekhyun tersenyum sambil melihat kearah meja yang berantakan.
"Biar aku saja."
"Tidak!kau tidak boleh kelelahan!"
"Siapa bilang membuat sarapan membuatku kelelahan. Akan lebih melelahkan melihatmu frustasi hanya untuk memasak telur." Chanyeol melempar spatula dan mengangkat kedua tangannya.
"Aku menyerah dengan semua ini." Ucapnya lalu segera mengambil langkah mundur. Baekhyun tersenyum dan mendekat. Mata Chanyeol tak lepas menatap perut Baekhyun yang mengintip dari balik baju kaosnya.
"Hei, lihat. Perutmu terlihat!" ucap Chanyeol sambil mencoba menurunkan kaos Baekhyun, namun sayang usaha itu tidak berhasil , kulit perut Baekhyun tetap terlihat.
"Ini karena perutku membesar dengan cepat, aku belum menyiapkan pakaian yang lebih besar untukku." Ucapnya sambil mulai mengerjakan kekacauan yang dibuat Chanyeol.
"Nanti sore ayo kita berbelanja! Aku tidak suka ketika orang-orang melihat perutmu seperti itu." Baekhyun tidak menjawab, hanya menampilkan senyuman samar dengan pipi yang merona. Chanyeol selalu membuatnya merasa berharga.
…
..
.
Sehun melirik dua sosok di depannya dengan wajah jengkel. Ia sedang duduk di sofa untuk menikmati waktu menontonya ketika dua orang lainnya muncul dan mulai bersikap layaknya pemeran drama.
"Gunakan ini, agar kau tidak kedinginan!" ucap Chanyeol sambil memakaikan sweater ke tubuh Baekhyun membuat Baekhyun menggeleng tidak suka. Sehun memutar bola matanya malas, sweater itu adalah baju ketiga yang Chanyeol berikan pada Baekhyun untuk dipakai. Tiga lapis pakaian dihari yang cukup panas, tentu Baekhyun menolak.
"Tapi aku merasa kepanasan Chanyeol."
"Tidak, aku akan menjagamu agar tetap dingin. Lalu setelahnya gunakan jaket ini, agar_"
"Chanyeol, aku berkeringat." Ucap Baekhyun sambil mencoba menolak pakaian yang Chanyeol berikan.
"Tapi aku tidak ingin kau kedinginan dan_"
"Demi Tuhan! Apa kalian bocah lima tahun yang sedang bermain dengan pakaian orangtua mereka? Yak, hari ini cukup panas apa kau akan membiarkan Baekhyun hyung kepanasan dengan tiga lapis pakaian yang kau berikan hah?"
"Diam kau bocah! Aku hanya mencoba melindunginya dari rasa kedinginan_"
"Apanya yang kedinginan? Siapa yang akan kedinginan disiang hari seperti ini? Itu hanya akal-akalanmu saja supaya tidak ada yang melirik hyung-ku kan?" Chanyeol menggeram kesal sambil menutup matanya membuat Baekhyun sedikit takut.
"Tidak apa-apa, kita pakai ini_"
"Apanya yang tidak apa-apa? Bayimu bisa dalam bahaya jika kau kepanasan." Seketika bola mata Chanyeol membulat. Ia melirik perut Baekhyun, lalu menatap kearah Sehun bergantian.
"Benarkah? Apa ini membahayakan untuk bayi ini? Ah sial!" ucap Chanyeol dan memaksa Baekhyun membuka pakaiannya. Sehun menyeringai senang, sambil melirik Baekhyun dan meminta ibunya itu untuk diam dan mengikuti permainannya.
"Tentu. Apa kau tidak tahu, bayi di dalam kandungan bisa mengkerut jika ibunya dalam keadaan kepanasan?" Lagi-lagi bola mata Chanyeol membulat membuat Sehun terkikik geli tanpa ketahuan.
"Chanyeol, ini cukup kau bisa melenjangiku!" ucap Baekhyun ketika Chanyeol hendak membuka pakaian terakhirnya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Chanyeol nyaris frustasi.
"Tunggu!" Sehun segera berlari ke dalam kamarnya meninggalkan Chanyeol dan Baekhyun yang saling pandang dalam diam.
Sehun kembali dengan sebuah kaos berwarna kuning cerah yang terlihat berukuran besar, lalu sebuah celana kain yang sangat pendek.
"Hyung, kenakan ini!" ucap Sehun dan Baekhyun menerimanya untuk segera berjalan kecil ke dalam kamar mandi di lantai bawah.
"Percaya padaku!" ucap Sehun dengan bangga.
Tak lama Baekhyun keluar dengan wajah menahan malu, menyilangkan kedua kakinya untuk menutupi pahanya yang tidak tertutupi oleh kaos dan celananya. Celana itu terlalu pendek, dan kaos kebesaran yang ia pakai tidak menutupi hingga ke lututnya.
"Apa-apaan itu?" ucap Chanyeol tidak terima dan ketika ingin menghampiri Baekhyun, Sehun menghadangnya.
"Kau harus tahu, pakaian yang nyaman adalah hal paling penting untuk orang hamil. Hyung, tidak usah malu, itu terlihat sangat cocok untukmu. Dan ini." Sehun memakaikan beanie hat merah muda pada Baekhyun, sehingga menutupi telinga hingga bagian belakang lehernya dan terakhir ia meletakkan sebuah syal berwarna hijau muda di leher sang ibu.
"Yang perlu dilindungi dari kedinginan adalah ceruk lehernya, yang lain biarkan bernafas. Kalian pergilah!" ucap Sehun sambil memegang tangan Baekhyun pelan. Chanyeol melirik Sehun dengan satu alis terangkat, menaruh curiga pada sikap Sehun, namun bocah itu memasang wajah serius seolah yang ia lakukan benar.
"Baiklah ayo pergi!" ucap Chanyeol pelan sambil membantu Baekhyun berjalan.
"Tunggu! Kalian pergi naik apa? Jangan naik motor_"
"Lihat benda beroda empat hitam di depan? Itu milikku." Ucap Chanyeol penuh penekanan pada sosok Sehun. Sehun melirik ke luar jendela untuk melihat sebuah Maybach Exelero sudah terparkir gagah di depan rumahnya, membuatnya berdecak.
Setelah kedua sosok itu hilang, Sehun terkikik di tempatnya sambil memukul-mukul bantalan sofa dan dengan suara yang ia tahan.
"Mati kau Park, kau akan mati terbakar api cemburu melihat betapa banyaknya orang-orang yang akan menatap Baekhyun hyung." Ucapnya kecil sambil tertawa.
…
..
.
Chanyeol memang merasa bangga ketika semua mata tertuju padanya saat mobil mereka melaju memecah jalanan, apalagi ketika mobil itu terpakir di basement Departement store yang mereka datangi dan mendapat tatapan kagum dari seluruh pengunjung yang sedang memarkir.
Namun, ketika mereka berdua turun tatapan orang-orang tak lagi terfokus pada mobilnya, melainkan pada mereka berdua, dimana pada detik selanjutnya Chanyeol mulai menyadari bahwa tatapan orang-orang tertuju pada Baekhyun.
Karena itu sepanjang perjalanan, ia selalu menggenggam jemari Baekhyun dan melindunginya dari tatapan siapapun yang mencoba melihat kearah kekasihnya. Baekhyun itu memang cantik, namun Chanyeol tidak tahu jika dalam keadaan mengandung Baekhyun terlihat jauh lebih cantik berkali-kali lipat, hingga mereka tak menyadari bahwa objek tatapan mereka adalah seorang lelaki dan parahnya ia sedang berbadan dua.
"Chanyeol~" Baekhyun merengek ketika ia merasakan kelelahan pada kedua kakinya akibat tarikan Chanyeol pada tangannya sejak dari parkiran tadi. Chanyeol terkesiap dan bola matanya membulat sadar menyadari ia baru saja menyeret kekasihnya.
"Astaga!" ucap Chanyeol ketika melihat wajah kelelahan Baekhyun dan satu tangannya yang memegang perutnya.
"Maafkan aku sayang, maafkan aku!" ucap Chanyeol penuh penyesalan sambil membawa Baekhyun duduk disalah satu kursi kosong. Baekhyun mencoba mengatur nafasnya sambil bersandar kelelahan, sementara Chanyeol menatap penuh kekhawatiran.
"Bodoh!" makinya pada dirinya sendiri, Baekhyun yang melihat itu segera mengelus pipi Chanyeol yang sedang berjongkok di depannya.
"Tidak masalah, dia baik-baik saja. Dia kuat." Ucap Baekhyun sambil mengelus perutnya pelan. Bagai sebuah mesin yang bekerja otomatis, sudut bibir Chanyeol membentuk sebuah senyuman ketika melihat kekasihnya tersenyum lembut.
Beberapa menit beristirahat akhirnya Baekhyun memutuskan untuk bangkit dan melanjutkan kegiatan mereka yang sempat tertunda. Tujuan mereka untuk membeli pakaian yang lebih besar untuk Baekhyun, namun ketika melihat sebuah toko peralatan bayi hati Baekhyun terketuk untuk berkunjung kesana. Chanyeol yang menyadari itu segera menarik tangan kekasihnya untuk masuk ke dalam toko tersebut.
"Selamat datang!" sapa salah seorang pramuniaga yang berdiri di depan pintu sembari mempersilahkan pasangan itu masuk. Mata Baekhyun berbinar-binar melihat seluruh peralatan bayi di depan matanya, membuat Chanyeol tersenyum samar.
"Ayo kita lihat!" ucap Chanyeol sambil membawa Baekhyun menuju salah satu rak.
"Lucunya." Ucap Baekhyun pada beberapa foto-foto bayi yang berpose lucu disetiap rak. Toko itu cukup ramai, kebanyakan pengunjung yang datang adalah pasangan suami dengan istri mereka yang tengah mengandung.
"Chanyeol, lihat!" ucap Baekhyun sambil mengangkat sebuah mainan bayi berbentuk beruang yang bisa berbunyi. Chanyeol tersenyum pelan, membayangkan betapa bahagianya Baekhyun akan kehadiran bayi mereka.
"Kau suka?"
"Eeiiih bukan aku, tapi bayi kita." Ucap Baekhyun sambil mengelus perutnya membuat Chanyeol gemas dan segera mencium bibir mungil kekasihnya tanpa memperdulikan tatapan orang-orang yang berlalu lalang.
Chanyeol membelikan Baekhyun banyak baju dengan ukuran yang besar, sehingga mencengah perut Baekhyun terlihat lagi dari balik pakaiannya. Tidak hanya itu, Chanyeol bahkan membeli beberapa peralatan bayi dan apapun yang pramuniaga katakan tentang hal-hal yang baik selama masa kehamilan, hingga membuat Baekhyun geleng-geleng kepala.
Setiap orang yang memandang Baekhyun dengan penuh nafsu akan ditatap balik oleh Chanyeol dengan mata apinya membuat mereka kehilangan ingatan sementara dan bersikap seperti orang kebingungan. Chanyeol benar-benar menghabisi siapapun yang berani menatap kearah kekasihnya, terutama yang memberikan tatapan pelecehan.
Baekhyun tak henti-hentinya tersenyum dan bahkan tertawa disetiap hal yang mereka kerjakan, membuat Chanyeol ikut tersenyum lembut dan semakin membuatnya tidak tega untuk meninggalkan sosok Baekhyun, kelak.
…
..
.
Minho sedang duduk di dalam ruang kerjanya dengan kedua tangan meremas kepalanya, ketika Luhan tiba-tiba berjalan masuk setelah mengetuk pintu.
"Ayah?" Minho mendongak dan menghela nafas, seolah berbagi kelelahan pada putra sulungnya.
"Luhan… aku…" ucapan Minho terjeda, ia memilih bungkam seolah lidahnya tercekat. Luhan yang mengerti segera berjalan mendekat dan duduk di kursi di depan meja ayahnya.
"Aku mengerti, ayah pasti telah berusaha untuk Chanyeol bukan?" Minho terdiam lagi dan kemudian menatap Luhan. Menyalurkan kekecewaannya pada sang anak.
"Ayah tidak tahu harus melakukan apalagi? Ayah bukanlah ibumu yang selalu menemukan cara untuk membahagiakan anak-anaknya. Ayah adalah sosok payah yang selalu membuat kalian menderita."
"Tidak, jangan berkata seperti itu. Ayah itu ayah yang hebat. Ayah tegas dan ayah adalah sosok yang membangun karakter pemimpin di diri kami." Sebuah senyuman muncul di wajah Minho membuat Luhan ikut tersenyum juga.
" Kita bisa memikirkan cara lain." Ucap Luhan mencoba memberi kekuatan , namun Minho kembali menghela nafas.
"Tidak ada cara lain Luhan. Chanyeol hanya memiliki dua pilihan, Infernus atau Baekhyun." Tubuh Luhan merosot, ia bersandar pada penyangga kursi sambil menghela nafas pelan, merasa kasihan pada adik keduanya.
"Apa .. Apa ayah telah membicarakan ini dengan Chanyeol?" Minho mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Lalu.. lalu apa jawabannya?"
"Dia bilang, dia akan mengorbankan perasaannya, sebagaimana ibu kalian mengorbankan dirinya untuk bumi ini." Entah mengapa hati Luhan seolah ditusuk oleh ribuan jarum kecil tak kasat mata. Ia memang merasa Chanyeol itu menyebalkan sejak sosok itu pertama kali dilahirkan, namun ia tidak pernah bahagia jika melihat adiknya selalu mengobarkan perasaannya atas apapun yang terjadi.
"Be..berapa lama ayah? Berapa lama Chanyeol memiliki waktu?" tanya Luhan dengan air mata yang berkumpul disudut matanya.
"Putri Salju bilang tiga bulan, tepat saat bayi itu lahir, tapi semua tahu bahwa bayi itu bisa lahir kapanpun ia mau." Seketika tubuh Luhan menegang mendengarnya.
…
..
.
"Chan..Chanyeolkkhh…" Mata terpejam Chanyeol segera terbuka dan ia dengan cepat menyalakan lampu untuk mendapati Baekhyun dengan tubuh berkeringat memegang perutnya dengan kesakitan.
"A..apa yang terjadi?" tanya Chanyeol gugup. Baekhyun mencengkram seprei dan perutnya secara bersamaan, sambil menggeliat kesakitan.
"Luhan! Luhan! Tolong aku!" ucap Chanyeol melalui telepatinya. Dalam hitungan detik sosok Luhan muncul di dalam kamar Baekhyun. Mata Luhan membulat melihat keadaan Baekhyun yang tengah memegang perutnya.
"Apa yang terjadi?"
"Aku tidak mengerti, aku mohon tolonglah!"
"Aaakkhh… sakit..sakitt…" Ucap Baekhyun dalam kesakitan. Luhan mencoba memanggil Kyungsoo lewat telepatinya dan ketika sosok itu muncul keduanya mencoba menyalurkan kekuatan mereka.
Sehun tak lama muncul dalam wujud setengah iblisnya dan berdiri tak jauh dari Luhan dan Kyungsoo. Malam itu, bulan purnama bersinar terang. Tepat satu bulan dimana masa kehamilan Baekhyun bertambah sejak terakhir Luhan dan ayahnya berbincang.
Tepat satu bulan sudah waktu yang Chanyeol telah gunakan dari waktu tiga bulan yang Jessica katakan, yang bayinya berikan.
Ketika keadaan Baekhyun membaik, kekuatan Kyungsoo habis dan tubuhnya nyaris ambruk jika tidak disangga oleh Sehun. Kyungsoo bergumam terima kasih lalu mendudukan tubuhnya di salah satu sofa. Luhan yang sama kelelahannya hanya bisa berdiri disamping Sehun sambil menatap Chanyeol yang sedang memeluk tubuh Baekhyun.
"Kau.. nakal." Ucap Chanyeol mencoba bicara pada bayi di dalam perutnya sementara Baekhyun masih mencoba mengatur nafas dengan mata terpejamnya.
"Apa kau senang melihat ibumu kesakitan seperti ini? Jika kau marah, marah padaku saja bocah!" Nada suara Chanyeol terdengar serius, matanya menatap kearah perut membesar Baekhyun.
"Ibumu tidak tahu apa-apa, dia sudah cukup menderita dengan apa yang kulakukan padanya. Persetan dengan kesakitan selama masa kehamilan, aku tahu kau bisa melakukan apapun padanya, tapi aku mohon jangan sakiti dia. Kau mengerti!" ucap Chanyeol lagi.
"Jika kau masih membuat ibumu kesakitan seperti ini, aku bersumpah akan mengeluarkanmu secara paksa_"
"Chanyeol_" Sehun menahan pundak Luhan yang hendak mencengah ucapan Chanyeol.
"Aku memang menyayangimu, aku menyanyangi kalian berdua. Tapi aku tidak bisa melihatmu bermain-main dengan ibumu seperti ini. Jangan membuatnya sakit lagi, jangan menjadi sepertiku! Aku tahu ketika aku membuatmu, aku dalam wujud penuh iblisku, tapi bukan berarti kau bisa tumbuh di dalam sana seperti iblis. Bagaimana pun kau memiliki darah manusia di dalam dirimu, darah ibumu." Chanyeol mengelus perut Baekhyun dengan sayang.
"Jadi, mari buat perjanjian. Hanya ketika kau lahir kau boleh membuat ibumu sakit. Jika tidak maka jangan lakukan apapun dengan bermain-main dengannya. Jika kau ingin bermain, hanya tendang perutnya perlahan, jangan terlalu keras. Ibumu manusia, dia tidak kuat seperti kita. Kau mengerti bocah?"
DUG
"Pintar." Ucap Chanyeol sambil tersenyum lalu mengecup perut Baekhyun sayang. Luhan, Sehun dan Kyungsoo yang melihat itu hanya bisa tersenyum sambil menguatkan hati masing-masing.
"Chanyeol?" suara lemah Baekhyun terdengar dan Chanyeol segera menoleh pada kekasihnya. Baekhyun tersenyum dengan wajah sayunya membuat Chanyeol segera mengecup bibir mungil itu lembut.
"Sudah baikan?" Baekhyun mengangguk sebagai jawaban dan memeluk Chanyeol tanpa menyadari tiga sosok lain yang secara sembunyi menghilang.
"Tadi itu sangat sakit sekali." Ucap Baekhyun membuat Chanyeol memeluknya semakin erat.
…
..
.
Pepatah yang mengatakan "Waktu berjalan bagai hembusan nafas" adalah sepenuhnya benar. Tanpa ada yang menyadari semua bergerak dengan begitu cepat. Hari terus berganti dan tanpa terasa mereka telah berubah menjadi bulan.
Tiga bulan yang diberikan akhirnya tiba pada waktu berakhirnya. Usia kandungan Baekhyun telah menginjak seolah kandungan berusia 9 bulan, padahal pada kenyataannya usia kandungannya baru mencapai bulan ketiga.
Bayi mereka menepati janjinya sebagaimana Chanyeol menepati janjinya pula untuk menduduki posisinya sebagai seorang Raja Iblis. Berita tersebar dengan cepat dan upacara penobatan akan dilakukan sebentar lagi. Chanyeol telah siap mengambil alih jabatan ayahnya, ia telah siap menjadi Raja Iblis, ia telah mempersiapkan segala hal yang seharusnya ia persiapkan, namun hanya satu yang belum ia siapkan. Ia belum menyiapkan hatinya untuk melepas sosok Baekhyun.
"Manusia dan Iblis tidak bisa bersama. Kau harus melepaskan salah satunya! Pikirkan baik-baik, Kerjaaanmu atau perasaanmu!"
Ucapan kakeknya beberapa bulan lalu masih terngiang di benak Chanyeol, yangmana hal itu membuatnya tidak tenang dan selalu cemas. Sebenarnya ia telah menentukan pilihan, tentu ia akan lebih memilih Baekhyun , namun kenyataan bahwa ibunya telah memperjuangkan dirinya demi Nubes dan Infernus membuat hatinya berkata lain lagi. Pengorbanan ibunya tidak boleh menjadi sia-sia hanya karena keegoisannya.
"Ibu telah mengobarkan dirinya untuk Nubes dan Infernus, kenapa aku harus menjadi egois dengan memilih perasaanku. Baekhyun akan hidup bahagia tanpaku, dia akan tetap hidup meski tanpa diriku disampingnya."
Itu adalah ucapan yang membuat Luhan, Minho dan Kyungsoo merasa bersalah pada Chanyeol. Lagi dan lagi perasan Chanyeol yang harus dikorbankan, seolah ia terlahir memang untuk mendapatkan seluruh cobaan di dalam hidupnya daripada kebahagiaan sementara yang semu.
Dan hari yang paling tidak dinantikan itu pun tiba. Kelahiran bayinya dengan ritual penobatannya terjadi pada hari yang sama. Hal itu membuat Chanyeol lagi-lagi harus merasa bimbang. Namun semua orang mengerti, mereka membiarkan Chanyeol pergi dari ritualnya untuk sementara menemui Baekhyun yang sedang mempersiapkan diri untuk kelahiran buah hatinya.
"Chanyeol?" Kibum menepuk pundak Chanyeol membuat sosok itu tersadar dari lamunannya. Mereka sedang berdiri di depan pintu kamar dimana proses bersalin Baekhyun tengah dilaksanakan.
Jessica, Kyungsoo, dan Luhan adalah orang-orang yang sedang berjuang untuk menyelamatkan nyawa Baekhyun dan bayinya yang ternyata sangat kuat, Sementara Chanyeol, Sehun, Minho dan Kibum berada diluar ruangan menunggu dengan perasaan berdebar.
"Saakkiitt…. Sakkiitttt…" Teriakan Baekhyun terdengar hingga keluar kamar membuat Chanyeol semakin merasa cemas. Meski rumah itu telah diselimuti oleh medan yang Luhan buat untuk tetap meredam suara Baekhyun agar tak terdengar keluar, namun para makhluk-makhluk malam telah berkumpul di depan rumah Baekhyun untuk menyaksikan kelahiran putra kedua dari calon Raja Iblis mereka.
"Chanyeoll…hiks… sakitt.. aarrgghhhh…" Baekhyun menggeliat kesakitan ketika perutnya disobek menggunakan kuku Luhan. Kyungsoo mencoba menyalurkan kekuatannya namun rasa sakit Baekhyun sangat besar. Sementara Jessica hanya terdiam dan memandang kearah lubang yang mulai terbuka di perut Baekhyun. Ia menyalurkan kekuatannya pada satu titik di perut Baekhyun.
"Hiks.. sakitt….aaaaarrggh…" Teriakan Baekhyun kembali terdengar, ketika perutnya sudah terbuka dan yang terlihat adalah gumpalan daging berwarna merah menyala yang masih terselaput oleh lapisan-lapisan berlendir.
Luhan menoleh kearah Jessica dan ketika wanita itu mengangguk, Luhan menggunakan kuku dijari telunjuknya untuk menorehkan luka agar selaput itu terbuka, dan dalam hitungan detik sesosok bayi seperti mengalir bersama dengan darah dan cairan lainnya.
"AAAAAAARRGGGGHHHH.." Bayi itu mengaum keras membuat binatang malam disekitar mereka seketika panik. Bayi merah menyala berada di tangan Luhan saat ini, bayi dengan wujud penuh iblis dalam ukuran kecil menatapnya nyalang dengan mata merahnya.
Jessica mendekat, ia mengambil alih bayi tersebut dan bersamaan dengan itu Loocin leher Baekhyun menyala dan cahayanya menuju kearah si bayi. Perlahan bersamaan dengan cahaya biru yang mulai berpadu dengan warna merah, tubuh bayi itu berubah menjadi tubuh bayi normal.
Mata merahnya berubah menjadi biru dan perlahan menjadi coklat, tanduk, ekor, dan taringnya menghilang, rautnya tak lagi menyiratkan kemarahan namun sebuah ekspresi mengerjap yang lucu dan bibir yang turun kebawah menahan tangis.
"OEEEKK…OEEEKK…" Ketika tangisan bayi itu pecah, ketika itu semua orang tersenyum lega. Luhan dan Kyungsoo segera menangangi Baekhyun dan menyembuhkan tubuh mungil itu dengan cepat.
Jessica menatap bayi ditangannya dengan sebuah senyuman lembut, lalu menoleh pada sang rembulan yang bersinar sangat terang malam itu.
"Selama datang kembali, Pangeran Mahkota." Ucap Jessica dan bayi itu tersenyum, lalu perlahan sebuah Loocin muncul di lehernya. Loocin milik Baekhyun berpindah ke leher bayi laki-laki tersebut.
Chanyeol masuk dengan tergesa untuk mendapati Baekhyun yang sedang mencoba terduduk diatas kasurnya yang sudah bersih. Dengan cepat ia berlari dan memeluk tubuh kekasihnya penuh sayang.
"Aku mencintaimu Baekhyun." Ucap Chanyeol sambil mengecup pipi putih itu berulang kali.
"Aku juga." Ucap Baekhyun pelan sambil mendorong tubuh Chanyeol. Mata sayu itu perlahan mulai terlihat normal ketika kesehatannya kembali normal, lalu ia mengerjap untuk melihat sekitar dimana orang-orang berkumpul.
"Dimana bayiku?" tanya Baekhyun. Chanyeol menatap Baekhyun yang terlihat sangat menantikan bayinya. Tak lama Jessica muncul sambil berjalan mendekat dengan sesosok bayi ditangannya.
Baekhyun nyaris menangis melihat betapa tampan dan sehat bayinya. Ia mengulurkan tangannya dan Jessica dengan senang hati memberikan bayi itu. Ketika menyingkirkan kain yang sedikit menutupi pipi bayinya, Baekhyun menangkap sebuah benda yang taka sing di leher bayinya, lalu ia memegang lehernya.
"Ini?" tanyanya bingung.
"Ya, Loocin itu telah memilih kembali pada pemiliknya." Ucap Jessica membuat semua orang terkejut.
"Bayi ini adalah reinkarnasi dari Pangeran Mahkota, dia memberikan sisi malaikatnya pada bayi ini, agar sisi iblisnya tidak terlalu menguasai. Itu lah yang aku bicarakan padanya ketika perutmu membesar untuk pertama kalinya, Baekhyun. Pangeran Mahkota meminta keistimewaan ini, dia tidak ingin terlahir sebagai malaikat lagi, ia ingin terlahir sebagai seorang anak, anak kalian." Ucap Jessica. Semua orang dibuat terkejut oleh penuturan Jessica, hingga membuat suasana berubah menjadi sendu.
"Minho, ini adalah kejutan yang ia katakan." Ucap Jessica ketika menyadari Minho nampak terkejut dan ucapannya semakin membuat sosok itu terdiam semakin dalam.
"Ibu.." gumam Chanyeol sambil menatap bayi yang kini berada dalam pelukan Baekhyun. Baekhyun tersenyum lalu mencium pipi gembul bayinya dan memeluknya penuh sayang.
Suasana yang semula canggung berubah menjadi hangat ketika bayi itu tersenyum memperlihatkan gusi merah mudanya yang belum ditumbuhi gigi sama sekali.
"Sayang…" ucap Baekhyun sambil menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Chanyeol mendekatkan dirinya lalu mengecup pipi Baekhyun sambil mengelus wajah anaknya sayang.
"Baekhyun, kau memiliki keistimewaan sama seperti ketika kau melahirkan Sehun dulu. Berikanlah ia air susumu." Baekhyun terdiam sejenak, lalu menggigit bibir bawahnya. Semua orang berdeham merasakan ekspresi malu dari Baekhyun, lalu memutuskan untuk pergi.
"Chanyeol…" ucap Minho ketika berada di ambang pintu sebagai yang terakhir meninggalkan ruangan. Chanyeol mengangguk pelan dan Minho mencoba mengerti. Chanyeol tahu ia tak memiliki banyak waktu lagi, mala mini adalah malam terakhirnya bersama Baekhyun. Setelah ini, manusia dan Iblis tidak akan bisa bertemu lagi.
Chanyeol hanya akan bisa melihat Baekhyun dari kejauhan tanpa bisa menyentuh atau berbicara padanya lagi. Bayi yang ada ditangan Baekhyun, adalah bayi terakhir yang terlahir sebagai darah campuran iblis-manusia. Tidak ada lagi kesalahan lain, baik makhluk langit dan makhluk kegelapan telah sepakat bahwa manusia tidak bisa lagi mereka raih.
"Chanyeol, kau kenapa?" tanya Baekhyun sambil memaikan jemarinya bayinya. Chanyeol tersadar lalu tersenyum dan menggeleng pelan.
"Kau tidak dengar? Kau harus menyusuinya." Ucap Chanyeol sambil mengelus pipi Baekhyun pelan. Baekhyun mengangguk, lalu menyingkap pakaian tidurnya dan terlihat kedua tonjolan didadanya semakin membesar, tidak sebesar para ibu yang melahirkan memang, namun cukup untuk membuat bayinya merasa kenyang.
"Akh." Baekhyun memekik ketika bayinya menyusu dengan sangat cepat, menghisap putingnya dengan sangat kuat seperti memunjukan bahwa dia memang kelaparan.
"Hei, jangan sakiti ibumu sayang!" ucap Chanyeol sambil mengelus pipi bayinya yang terlihat bergerak cepat seiring bibirnya yang menyusu.
"Dia memang terlihat tampan seperti malaikat, tapi dia tetaplah bayi iblis yang nakal." Gumam Baekhyun pelan sambil menyentuh lagi dan lagi pipi putranya. Chanyeol tersenyum menatap kearah interaksi dua orang di depannya, lalu ia memeluk Baekhyun erat.
"Baek, aku mencintaimu. Aku senang kau bisa melahirkan bayi ini dengan selamat. Sayang? Ada yang harus aku katakan." Bisik Chanyeol. Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol pelan dan menatap kearah mata terluka Chanyeol.
"Ada apa? Apa yang ingin kau katakan?" Chanyeol terdiam sejenak sebelum akhirnya menghela nafas pelan.
"Hari ini aku akan dinobatkan sebagai Raja." Baekhyun yang semula terkejut, lalu perlahan memperlihatkan senyum bahagianya berbeda dengan Chanyeol yang nampak pucat pasi.
"Benarkah? Selamat Chanyeol. Kau akhirnya menjadi seorang Raja. Maaf aku melewatkan ini."
"Tidak masalah."
"Lalu? Apa terjadi sesuatu? Kenapa kau terlihat tidak bahagia?" tanya Baekhyun lagi sambil menyentuh pipi Chanyeol membuat pandangan mereka bertemu, saling mengunci satu sama lain.
"Katakan Chanyeol!" ucap Baekhyun pelan.
"Kau tahu sendiri, aku akan menjadi Raja sebentar lagi, bukan Raja biasa melainkan Raja Iblis. Meski kaum kami selalu melanggar aturan, namun kami pun memiliki sebuah aturan yang tidak boleh dilarang." Kening Baekhyun berkerut, tidak mengerti dengan arah pembicaraan Chanyeol.
"La-lalu?" tanya Baekhyun ragu sambil tetap menyusui buah hatinya.
"Seorang Raja Iblis tidak bisa hidup di dunia manusia, manusia dan Iblis tidak berdampingan, untuk itu…." Ucapan Chanyeol terjeda dan bersamaan dengan itu wajah Baekhyun jatuh tertunduk. Ia lebih memilih menatap kearah buah hatinya yang perlahan mulai tertidur.
"Untuk itu…." Kembali Chanyeol tidak bisa merangkai kata-katanya, semua seolah menguap.
"Untuk itu kau akan meninggalkanku? Meninggalkan kami? Berapa lama?" tanya Baekhyun tanpa mengalihkan matanya dari sosok buah hatinya. Mengelus pipi itu lembut, mencoba menyampingkan hatinya yang sakit.
"Katakan Chanyeol! Berapa lama!" nada Baekhyun meninggi namun ia mencoba mengaturnya lagi agar tidak membangunkan buah hatinya.
"Aku akan menunggumu Chanyeol, aku akan_"
"Selamanya Baekhyun, selamanya." Air mata Baekhyun akhirnya terjatuh, ia terisak pelan mencoba menghalangi air matanya yang akan membasahi wajah malaikat kecilnya.
"Baekhyun…"
"Kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal? Kenapa kau memberiku harapan seolah aku bisa hidup bahagia dengan keluarga kecil kita, denganmu."
"Maafkan aku, aku hanya tak ingin kau bersedih."
"Lalu sekarang apa? Kau bahkan membuatku menangis, Chanyeol. Kenapa takdir kita begitu rumit?" Baekhyun masih terisak dan Chanyeol memeluk tubuh itu sayang.
"Apa…apa tidak ada cara lain Chanyeol?"
"Sejak aku mengetahui hal itu, aku selalu mencari cara Baekhyun , namun nihil. Iblis dan manusia tidak bisa bersama. Meski ayah dan ibuku sempat bersama, namun pada akhirnya mereka berpisah. Dua dunia yang berbeda tidak akan pernah bisa bersama. Mereka hanya berdampingan satu sama lain."
"Hiks…hiks.." isakan Baekhyun menyayat hati Chanyeol untuk kesekian kalinya.
"Baekhyun, aku harap kau bisa tetap hidup dengan baik bersama bayi kita. Dia akan tumbuh dengan sangat tampan. Hiduplah dengan bahagia sayang, kau adalah sosok yang kuat, tanpaku kau tetap akan bisa bahagia."
"Chanyeol..hiks.."
"Sayang, waktuku tidak banyak lagi. Aku mencintaimu." Ucap Chanyeol lalu menyatukan kedua bibir mereka. Melumat bibir satu sama lain untuk terakhir kalinya, menyatukan perasaan satu sama lain yang akan terpisah untuk selamanya.
"Aku..hiks.. aku juga mencintaimu Chanyeol." Ucap Baekhyun setelah ciuman mereka terlepas. Perlahan Chanyeol mengecup pipi buah hatinya, lalu perlahan bangkit dan berdiri disisi ranjang.
Sebuah sinar mulai tampak dan Chanyeol berubah dalam sesaat. Mereka saling menatap dalam waktu cukup lama, sebelum akhirnya Chanyeol menghilang bagai tertelan udara, menyisakan kehangatan yang masih berbekas di sekujur tubuh Baekhyun.
"Chanyeol…hiks.." Baekhyun menangis dalam sambil memeluk tubuh mungil bayinya yang sudah terlelap.
….
Chanyeol muncul di Infernus dengan wajah seriusnya, seluruh makhluk kegelapan telah berkumpul disana saling bersorak di tengah lingkaran api yang mengelilingi mereka.
Sebuah singgasana berdiri tengah di atas udara, melayang namun terlihat kokoh. Chanyeol berjalan ke depan kobaran api yang sangat tinggi dan panas. Minho berdiri di depan Chanyeol dengan masih mengenakan mahkotanya.
"Hari ini aku telah mengundurkan diri dari jabatanku sebagai Raja Iblis, dan hari ini juga Putra keduaku, akan mengambil alih seluruh kekuasaan Infernus beserta pasukan kegelapan. Katakan selamat pada Raja baru kita!"
"ARRRRRGGGHHH…" Raungan para iblis terdengar menggema. Chanyeol hanya menatap para anak buahnya dengan wajah datar, bahkan ketika mahkota telah berpindah keatas kepalanya.
Minho menepuk pundak Chanyeol, meminta anaknya tetap fokus dan Chanyeol mangangguk pelan. Ia berjalan mendekati api dengan sebuah belati yang Minho berikan padanya. Dengan cepat ia menorehkan luka menganga di telapak kirinya dan meneteskan darah pekat itu pada api, lalu dalam hitungan detik ia menceburkan dirinya ke dalam kobaran api.
WUUUSSHHH
Sosok membara muncul dari dalam kobaran api dan melesat keudara, lalu segera menuduki singgasananya yang melayang diatas udara.
"RAJA KITA TELAH LAHIR!"
"HOREEEEEE!"
Seluruh makhluk berteriak kegirangan atas kelahiran Raja mereka yang baru, sementara Chanyeol diatas singgasananya dengan kedua kaki disilang, kobaran api membara di dalam mata, dan sebuah seringaian tak kasat mata.
Sang Raja Iblis yang baru, telah terlahir.
…
..
.
Kibum melangkah masuk ke dalam kamar Baekhyun dan mendapati putranya sedang terisak sambil memeluk bayinya.
"Baekhyun?" Baekhyun mendongak dan menatap ibunya dengan wajah penuh air mata. Kibum mendekat lalu memeluk tubuh Baekhyun erat.
"Tidak apa-apa sayang, tidak apa-apa. Ada ibu disini." Ucap Kibum menenangkan.
"Dia benar-benar pergi kali ini, ibu."
"Ya, ibu tahu. Tidak apa-apa Baekhyun. Masih ada ibu disini, kita akan membesarkan bayi ini bersama, dan hidup bahagia dengan normal."
"Ibu..hiks…"
"Jangan menangis! Jangan menangis! Anak ibu tidak boleh menangis, mengerti?" ucap Kibum sambil mengelus punggung bergetar Baekhyun, sebagaimana ia menenangkan putranya saat masih kecil dulu.
"Mungkin memang benar Baekhyun, manusia dan Iblis tidak bisa bersama. Dua dunia yang berbeda meski berdampingan, namun tidak bisa menyatu. Ini bukan akhir segalanya, mari hidup lebih baik mulai sekarang. Takdirmu tidak berakhir disini, perjalananmu masih panjang sayang." Bisik Kibum pelan.
Baekhyun masih terisak keras dan bayinya sudah diambil alih oleh Kibum yang masih setia mengelus punggung sempit Baekhyun.
"Ibu, setelah ini mari kita pindah dari sini. Aku ingin melupakan semua yang terjadi disini dan memulai hidup yang baru." Ucap Baekhyun pelan. Kibum mengusap air matanya dan mencoba tersenyum.
"Ya, mari kita mulai hidup yang baru. Ibu yakin Tuhan telah menakdirkan semuanya Baekhyun. Mungkin kau dan Chanyeol memang tidak ditakdirkan bersama dikehidupan ini, tapi dikehidupan selanjutnya siapa yang tahu?"
Baekhyun mengangguk pelan, mengusap air matanya sambil menatap bulan purnama yang bersinar terang.
"Dibawah bulan purnama kita bertemu pertama kali, dibawah bulan purnama kita saling mengikat takdir satu sama lain, dibawah bulan purnama pula kita berpisah. Chanyeol, jangan khawatir, aku akan hidup bahagia meski tanpamu." Ucap Baekhyun pelan sambil mencoba tersenyum.
"Meski aku bukan makhluk abadi sepertimu, tapi percayalah bahwa cintaku padaku adalah abadi, untuk selamanya. Sampai bertemu dikehidupan berikutnya, aku mencintaimu, Chanyeol."
Dunia yang terlihat luas pada kenyataanya sangat dipenuhi oleh batasan. Setiap sepatu memiliki pasangannya masing-masing, setiap pasangan memiliki kisah cinta yang berbeda dan setiap kisah cinta memiliki akhir mereka sendiri. Cinta memang buta, tidak memandang siapa, dimana dan kapan. Namun keadaan menentukan bagaimana cinta itu berakhir, dan pilihan adalah jalan bagaimana mereka mengakhirinya.
….
…
.
.
.
.
.
Gak mau ngomong panjang, cuma mau ngucapin maaf yang sebesar-besarnya atas keterlambatan ff ini dan terima kasih yang amat sangat besar untuk kalian semua yang setia menunggu ff ini bahkan sampai lumutan wkwkwkkwk…
Buat yang udah review, udah follow dan favorite, aku ucapin spesial thanks buat kalian. Tanpa kalian ff ini gak bakal sampai ke tahap ini wkwkwkwk… dan juga makasi buat yang udah ngingetin satu tahunnya ff ini hehehehe.. kalian emang the best.
Gapapa kalo bagi kalian alur di chapter ini kecepetan, atau malah alurnya terkesan aneh atau apalah, gapapa, aku gak bakal menyanggah pendapat kalian. Meski sempet ragu, tapi aku gak nyangka akhirnya sampai di chapter ini hehhee..
Akhir kata selalu jaga kesehatan, karena itu amat sangat penting wkwkwkw..
Silahkan review jika berkenan, jika kalian menganggap bahwa ff ini pantas untuk dihargai wkwkwkw
Salam Chanbaek is real.
Love you guys, my lovely readers
