PERHATIAN!

..

.

Sebelum kalian baca , tolong siapkan diri kalian atas apapun akhir dari ff ini ya :). Banyak yang bingung sama chapter kemarin karena gak ada tanda TBC nya, sebenernya itu sudah tamat dengan ending yang memang seperti itu, tapi karena banyak re:hampir semua protes jadinya aku putusin buat lanjutin.

Jadi, kalau di chapter ini terasa aneh, mohon dimaklumi karena gak mudah untuk melanjutkan apa yang sudah diakhiri. *eaaa.. Intinya jangan ngamuk sama apapun akhirnya.

...

..

.

Park Shita

Present

..

.

( Tarik nafas dalam dan jauhkan benda-benda tajam di sekitar kalian )

...

..

.

Happy reading :)

...

Tak berbeda dari biasanya, jalanan La Rambla tetaplah diramaikan oleh para pejalan kaki dan tak sedikit para turis asing yang mengambil gambar menarik dan indah dari kota Barcelona.

Beberapa ada yang menikmati alunan indah dari permainan musik para pengamen jalanan, atau sekedar melihat para mannequin-man yang bergaya di tengah-tengah kota. Salah satu penikmat para peraga patung itu adalah sesosok anak kecil lelaki yang berdiri di depan dua sosok patung-manusia yang berpakaian tahun 80-an.

Anak lelaki itu tersenyum-senyum dan sesekali menyentuh patung-manusia itu lalu terkikik.

"Isn't your job is tiring? Standing like this all of the day?" ucapnya dengan wajah polos sambil menggeleng pelan.

" Uuuh, so boring and tiring, I never_" ucapannya terhenti ketika seseorang melemparkan uang koin ke dalam sebuah wadah kecil di depan para patung-manusia itu. Ia melirik wadah itu dan bola matanya membulat.

"Wow, you have much money. Unbelievable" Gumamnya lagi, namun kedua sosok patung itu hanya melirik sekilas. Ide jahil melintas di otak si bocah, ia berjongkok lalu menatap koin-koin itu, mengangkatnya dengan wajah seolah tergiur.

"Uhm, I think you will standing like that even if I take all of these, right?" Ucapnya sambil terkikik membuat dua sosok patung itu hendak marah sambil masih mengawasi si bocah kecil.

"Put it back, you little bad boy!" ucap sebuah suara dibelakang si bocah, membuat bocah lelaki itu membeku bagaikan terkena sihir.

"Oopss.. my disaster comes!" gumamnya pelan.

"What did you say?"

"Oucch…ouch..ouch…." Bocah itu merengek kesakitan ketika telinganya ditarik keatas, membuat dengan terpaksa ia harus berdiri.

"I'm so sorry Mr, he's so naughty. I'll teach him more how to respect the older." Ucap sosok pria yang kini berjalan sambil menggandeng lengan bocah nakal disampingnya.

"Oh please, Mom. Let me go!" Mohon yang lebih kecil sambil memasang wajah bersedihnya.

"Tidak. Kali ini aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja. Aku hanya meninggalkanmu beberapa menit untuk masak, tahu-tahu kau sudah berkeliaran di tengah kota dan berbuat ulah." Ucap sosok yang lebih tua.

Ukuran tubuhnya cukup pendek untuk ukuran pria seusianya, rambutnya berwarna coklat terang dan terbelah dibagian tengahnya, memperlihatkan dahi sempitnya yang menawan, mata sipitnya sarat akan kekesalan dan kelelahan, sementara bibir tipis merahnya tak hentinya bergumam atas tingkah putra bungsunya.

"Masuklah!" ucap pria itu pada putra 6 tahunnya yang nampak memasang wajah cemberut. Mobil hitam itu melaju pelan dan musik dinyalakan membuat yang lebih kecil berdecih kesal sambil menghadap jendela.

Mereka tiba disebuah mansion bercat putih gading, mobil hitam itu melaju melewati halaman dan berhenti tepat di depan teras rumah. Pintu terbuka dan setelahnya terdengar bantingan keras seiring dengan berlalunya yang lebih kecil sambil menghentakan kakinya.

"Anak itu benar-benar." Gumam yang lebih tua sambil segera melangkah memasuki rumah.

"Ibu! Ibu!" sosok wanita cantik menuruni anak tangga. Terlihat keriput disekitar wajahnya bahkan rambutnya sudah memutih di beberapa bagian. Wanita itu tersenyum sambil berpegangan pada tangga.

"Kau menemukannya?" tanyanya sambil menatap putra semata wayangnya membanting tubuh lelahnya diatas sofa.

"Huh, setelah pencarian hampir sejam. Dia benar-benar nakal."

"Baekhyun?" panggil sang ibu ketika mendudukan dirinya disamping putranya.

"Ya bu?"

"Kau harus bersabar menghadapinya, bagaimana pun dia_"

"MOMMY! GRANDMA!" suara teriakan itu membuat dua sosok yang sedang berbincang itu menoleh keatas tangga. Baekhyun menghela nafas lelah sementara Kibum hanya bisa tersenyum dan segera bangkit.

Mereka menaiki anak tangga dengan cepat dan melalui sebuah koridor kecil untuk sampai pada pintu kamar paling ujung, dimana di depan pintu terdapat sebuah gambar tengkorak yang disilang.

Baekhyun membuka pintu untuk menemukan putranya menunjuk kearah ranjang dengan wajah menahan tangis.

"Look! My superman_ it…it… huweee.." Ia mulai menangis , baik Kibum dan Baekhyun hanya bisa menghela nafas melihat sebuah boneka superman berukuran besar yang kepalanya telah terlepas dari lehernya.

"Sehun-ah!" ucap Baekhyun tenang.

Cup

Sebuah kecupan mendarat di pipi Baekhyun , bersamaan dengan munculnya sosok bertubuh tinggi dengan kulit putih pucat dan rambut berwarna coklat madu, lalu sosok itu mengecup pipi Kibum setelahnya dan menatap sosok kecil di depannya.

"Jelaskan, apa yang terjadi?"

"Itu hal kecil, Bu. Kepala di balas kepala." Ucap Sehun terkekeh lalu didetik berikutnya menatap tajam pada sosok kecil di depannya.

"What? You can't do this to me! Dasar lelaki cengeng_"

"Yak! Jaga ucapanmu iblis kecil! Jika tidak_" sebuah api muncul ditangan Sehun, namun yang kecil menatap nyalang.

"Sehun! Hentikan. Jackson, Mommy akan membelikan yang baru untukmu, jadi_"

"I don't want it." Ucapnya sambil membalik tubuhnya dan bersidekap. Baekhyun kembali menghela nafas, lalu melirik Sehun yang hanya memberikan tatapan tidak bersalah dan merasa bahwa adiknya pantas mendapatkan itu karena telah memutuskan kepala anjing kesayangannya tanpa sengaja ketika bermain, jadi ia membalasnya dengan boneka kesayangan si bocah.

BLASH
Sosok kecil itu menghilang dari dalam ruangan membuat mata Baekhyun dan Kibum membulat sejenak, lalu Baekhyun menghela nafas lelah.

"Demi Neptunus. Jackson, kembali! Now! Jackson!" Namun sia-sia, si bocah tidak kembali. Kibum menghela nafas sambil mengelus pundak Baekhyun.

….

..

.

Tiga orang dewasa sedang menikmati makan malamnya, dan tak lama sosok lelaki mungil muncul dari ruang tengah dengan masih mengenakan mantel dan membawa tas kerjanya.

"Maaf aku terlambat." Ucap Luhan sambil meletakkan sebuah bingkisan besar diatas meja.

"Dimana keponakan kesayanganku?" tanyanya sambil segera mengambil duduk. Baekhyun yang sedang menyuapkan makanannya hanya menghela nafas.

"Seperti biasa, dia kabur."

"Lagi?"

"Lagi." Kini Sehun yang menyahut sambil menarik dagu Luhan dan membawa keduanya dalam sebuah ciuman.

"Guys! Kita sedang di meja makan sekarang! Sehun, hentikan!" ucap Baekhyun sambil melemparkan sebuah potongan tomat kearah Sehun yang berhasil ditangkap lalu dikunyah olehnya.

"Jangan menasehatiku seolah aku ini masih bocah bu, aku 25 sekarang." Ucap Sehun bangga.

"Kurang 3 minggu." Sahut Baekhyun sambil mengunyah makanannya tanpa minat.

"Dan itu artinya, hari itu semakin cepat. Kau sudah yakin dengan keputusanmu Sehun?" tanya Kibum. Sehun menatap Kibum dan Baekhyun bergantian, lalu tersenyum.

"Aku telah yakin. Aku sudah memikirkannya cukup lama, dan juga Luhan telah menjadi manusia lebih dulu demiku, kini giliranku yang menjadi manusia seutuhnya. Lagipula aku akan tinggal disini menemani nenek." Ucap Sehun sambil tersenyum kearah Kibum dan wanita itu tersenyum terharu.

Makan malam berjalan lancar, ketika Baekhyun sedang mencuci piring seorang diri di dapur, ia menghentikan kegiatannya sejenak untuk merasakan kehadiran sosok lain disana.

"Kau lapar?" tanya Baekhyun namun tidak ada suara.

"Ingin menyampaikan sesuatu?" masih tak ada suara yang menyahut.

"Keluarlah baby!" tak lama muncul sosok bocah mungil dibalik meja dapur, perlahan sosok itu keluar dari persembunyianya dengan wajah bersedih. Baekhyun membersihkan tangannya, lalu mengeringkannya dengan lap.

Setelahnya ia menoleh dan melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap kearah putranya dengan satu alis terangkat.

"Ingin mengatakan sesuatu?" Jackson semakin mendekat dengan wajah tertunduk dan kedua tangan terjalin di depan tubuhnya.

"I'm so sorry Mom."

"What for?"

"Untuk semua yang aku lakukan hari ini." Baekhyun tersenyum lalu berjongkok dan membentangkan kedua tangannya.

"Come here, baby Jack!" Jackson berlari lalu memeluk tubuh ibunya erat.

"Maaf, Mommy. Jackson berteriak ke Mommy dan Grandma, Jackson juga telah membunuh Vivi, Jackson tidak sengaja." Bola mata Baekhyun membulat lalu ia mendorong tubuh putranya sambil menatap terkejut.

"Hehehehe… Jackson tidak sengaja. I swear!" Baekhyun menghela nafas maklum, pantas saja Sehun semarah itu pada adiknya.

"Okay. Promise me!"

"What?"

"Never leave me, again! never!" ucap Baekhyun sambil mengacungkan jari kelingkingnya.

"Never. I promise you, Mom." Baekhyun tersenyum lalu memeluk tubuh yang putranya sayang.

"Are you hungry baby?" Jackson mengangguk mantap membuat Baekhyun kembali tersenyum. Ia mengangkat tubuh putranya, lalu mendudukannya diatas meja dapur.

"Okay wait a minute, Mommy akan membuatkan sesuatu untukmu."

"Okay! Without green monsters, Mommy!" pekik Jackson, Baekhyun menoleh sambil menatap putranya dengan satu alis terangkat.

"Sayur bagus untuk pertumbuhanmu, belajarlah menyukai mereka."

"But_"

"Tidak ada tapi-tapian, duduk dan_" ucapan Baekhyun terjeda, ia kembali membalik tubuhnya untuk menatap putranya dan mengacungkan telunjuknya ke wajah yang lebih kecil.

"Don't try to run or do something except breathing!" Jackson menutup mulutnya dan menegakkan tubuhnya sambil mengangguk cepat.

Baekhyun sibuk memanggang bacon kesukaan putranya, dan menambahkan beberapa potong brokoli ke dalamnya.

"Mom?"

"No sound, baby!" gumam Baekhyun pelan dan tidak ada lagi suara dari Jackson. Sepuluh menit berkutat dengan masakannya,dan setelah selesai ia hanya menemukan sosok putranya berbaring diatas meja dengan tangan sebagai bantal.

Baekhyun meletakkan piring dan segelas jus jeruknya diatas meja tepat disamping Jackson berbaring, lalu mengelus rambut kecoklatan milik putranya. Perlahan sebuah senyuman terlintas di benak Baekhyun, setiap elusan yang ia lakukan semakin membuatnya merasakan sebuah perasaan lain.

"Kau sangat mirip dengan ayahmu, Jackie." Ucap Baekhyun pelan sambil mengelus pipi putra kecilnya.

CUP

"Hi, Mom." Sebuah kecupan dipipi dan suara berat membuat Baekhyun menoleh untuk mendapati Sehun berdiri di depan kulkas hanya menggunakan boxer hitamnya. Ia sedang meneguk air ketika Baekhyun menyadari ada bekas kemerahan di leher dan pundak putranya.

"Melalui malam yang indah?" tanya Baekhyun sedikit menggoda putra sulungnya. Sehun menoleh sambil tetap menegak air dinginnya, lalu mengedipkan satu matanya.

"Ini masih berlanjut, aku hanya tiba-tiba merasa haus." Ucap Sehun sambil mengelap sisa air di sudut bibirnya lalu berjalan mendekati Baekhyun.

"Dia tertidur seperti babi." Ucap Sehun sambil mencibir menatap adiknya.

"Hei, jangan selalu mengganggu adikmu. Dia hanya butuh perhatian." Sehun mendelik kearah Baekhyun merasa tidak terima.

"Butuh perhatian? Disaat semua orang menaruh perhatian berlebih padanya? Ck! Jangan terlalu memanjakannya, dia akan semakin melonjak dan terus menjadi bocah menyebalkan." Baekhyun terkekeh, lalu mencubit pipi putih Sehun.

"Lihat! Siapa yang baru saja mengatai adiknya bocah menyebalkan?"

"Awww, sakit ibu! Jangan pilih kasih seperti ini." Gumam Sehun. Baekhyun menggeleng pelan tidak mengerti dengan sikap cemburu Sehun pada adiknya yang bahkan masih berusia 6 tahun.

"Kembalilah ke kamarmu. Aku akan membawa adikmu ke kamar." Ucap Baekhyun berusaha mengangkat tubuh putra bungsunya, namun dicegah oleh Sehun.

"Biar aku saja!" ucapnya lalu mengangkat tubuh Jackson dengan perlahan. Baekhyun tersenyum sambil berjalan di belakang Sehun menuju lantai atas dimana kamar adiknya berada.

Setelah membaringkan tubuh adiknya, Sehun memutuskan untuk kembali ke dalam kamarnya, sementara Baekhyun menyelimuti tubuh putranya pelan dan memutuskan untuk berbaring disampingnya.

Ia mengelus surai Jackson perlahan dan penuh kasih sayang hingga matanya tertuju pada bulan yang bersinar nyaris sempurna diluar jendela kamar Jackson.

"Sebentar lagi purnama itu berarti sebentar lagi ulang tahun mu sayang." Ucap Baekhyun sambil memeluk tubuh putranya dan ikut memejamkan mata.

Waktu menunjukan pukul tengah malam, ketika angin berhemus melalui jendela kamar yang perlahan terbuka, menerbangkan tirai berwarna coklat muda itu.

Baekhyun membalik tubuhnya, masih terlelap jauh dalam tidurnya namun tubuhnya telah menghadap langit-langit kamar. Perlahan pakaiannya tersingkap keatas tanpa seorang pun yang menggerakannya.

Memperlihatkan kulit putih mulus Baekhyun dan bagian perut yang sedikit membuncit. Kaos itu tersingkap hingga memperlihatkan dua tonjolan di dada sang pemiliknya yang masih tertidur dengan pulas.

Cup

Cup

Cup

Suara kecupan terdengar berdecak di dalam ruangan, dan ruam kemerahan yang perlahan menghilang muncul di sekujur permukaan perut Baekhyun.

Setelahnya celana Baekhyun mulai diturunkan, namun ketika mata Baekhyun terbuka gerakan itu terhenti, dan sebuah angin berhembus keluar melalui jendela.

Baekhyun terduduk sambil menatap kearah jendela dengan nafas sedikit terengah, tanpa menyadari sesuatu yang janggal pada tubuhnya ia kembali merebahkan dirinya menyamping dan memeluk tubuh Jackson yang tidur dengan acak.

"Mo..Mommy…nyaaamm…nyamm…" Baekhyun menepuk-nepuk pelan pantat putranya yang nampak sedang mengigau, lalu kembali menutup matanya. Di balik jendela di dalam kegelapan sebuah sinar berwarna biru kelam yang menyerupai dua titik menyala sangat terang, lalu menghilang bagai ditelan udara.

..

.

Pagi harinya mansion Luhan telah dipenuhi oleh suara ribut yang berasal dari Jackson yang tidak henti-hentinya berteriak dengan sangat keras membuat Baekhyun dan Kibum menutup telinga mereka.

"I SAID I DON'T WANT IIIIITTTTT!"

"JUST EAT IT, STUPID!"

"I'M NOT STUPID, YOU'RE AN IDIOT!"

"WHAT?"
"MOMMYYYYYYY! HUWAAAAAAA!"
Jackson menangis histeris sambil melempar sendok di depannya, membuat benda itu jatuh ke atas piring makanan yang lain.

"Okay..Okay.. Just don't eat it! You can choose what do you want." Ucap Luhan berusaha menenangkan.

"Hiks…hiks.. But all the foods with that green monster, I don't like it.. I don't want to eat it…hiks.. don't ask me to eat that, Mommy! Jackson tidak mau, tidak suka." Baekhyun menghela nafas lalu bangkit.

"Okay, I'll make you a new food_without green monster." Ucap Baekhyun penuh penekanan. Jackson tersenyum sambil memperlihatkan senyumannya dengan mata sembab dan hidung yang masih memerah.

"Dasar cengeng!"

"Diam! Jangan panggil dirimu, hyungku , because you're a devil."

"Jackson hentikan! Nenek tidak suka jika cucu nenek bicara kasar. Do you understand?"

"Yes, Grandma." Ucap Jackson.

Tak lama Baekhyun datang dengan sepiring bacon panggang dan meletakkannya diatas meja, membuat mata si kecil berbinar senang dan dengan cepat menarik piringnya lalu memakannya dengan cepat.

"Jackson! Pelan-pelan kau bisa tersedak nanti!" ucap Baekhyun.

"All right…Mom.." ucapnya dengan bibir penuh makanan membuat Kibum dan Baekhyun menggelengkan kepalanya pelan.

Siang harinya Baekhyun memilih untuk menghabiskan waktunya menemani putra bungsunya agar si nakal Jackson tidak kabur dari rumah lagi. Untuk itu, Baekhyun meletakkan putranya diantara kakinya, mengapitnya lembut dan meletakkan sebuah buku cerita bergambar diatas paha si kecil.

"Mommy, kenapa si kerudung merah menggunakan kerudung merah? Kenapa tidak menggunakan kerudung hijau?" tanya Jackson. Baekhyun menghentikan ceritanya untuk kesekian kalinya dan mendesah.

"Karena merah melambangkan keberanian, gadis ini sangat berani ia tidak mengenal rasa takut." Ucap Baekhyun lagi.

"Are you sure? So,how about green?" tanya Jackson mulai mengeluarkan aksen baratnya lagi.

"Green means nature, green means refreshing, green means_"

"Monster." Potong Jackson sambil tertawa terkikik. Baekhyun yang mulai jengkel menggelitik tubuh putranya hingga Jackson menggeliat dalam tawa kerasnya.

"Stop it Mommy! Hahahaa.. Stop it…I…can't hahahaha…Mommy hentikan!" Tawa Jackson sambil mencoba menjauhkan tangan Baekhyun yang terus menggelitik tubuhnya.

"Okay, mari kita lanjutkan!" ucap Baekhyun sambil kembali membuka halaman selanjutnya.

"Mommy?"

"Hm?"

"Apa setiap warna di dunia ini punya arti?" Baekhyun terdiam sejenak lalu kemudian mengangguk.

"Ya."

"Lalu apa warna yang paling Mommy suka?" Baekhyun menatap kearah buku Jackson sejenak sebelum akhirnya tersenyum.

"Biru."

"Why?"

"Karena ketika menatap langit, mengingatkan mommy pada dua buah mata biru yang indah." Ucap Baekhyun sambil tersenyum.

"Kau tahu Baek, aku sangat membenci warna biru, karena warna itu mengingatkanku pada mataku dan mengingatkanku juga bahwa aku bukanlah sepenuhnya iblis, masih ada darah malaikat di dalam tubuhku. Tapi sejak bertemu denganmu, aku menyukai warna biru. Karena setiap aku melihat ke langit, aku selalu melihat dirimu disana, tersenyum bagai seorang malaikat."

Baekhyun menutup matanya sejenak untuk mengontrol emosinya, sebelum tusukan jari telunjuk Jackson pada pipinya membuatnya tersadar. Baekhyun membuka matanya dan mendapati putranya menatapnya dengan satu alis terangkat.

"Memikirkan sesuatu?" Baekhyun tersenyum kembali lalu menggeleng.

"Mommy?"

"Yes baby?"

"Let's go to the beach!"

"Today?"

"E-ekhm." Jackson menggelengkan kepalanya.

"Right now." Ucapnya sambil memasang wajah tersenyum lebar memperlihatkan gigi susunya yang terususun rapi.

..

.

Mereka tiba di pantai sejam setelahnya, dan si kecil Jackson sudah berlari seperti seekor burung yang dilepaskan dari sangkarnya membuat Baekhyun berusaha mengejar putra nakalnya dan meninggalkan Sehun, Luhan dan Kibum dibelakang dengan peralatan mereka.

"Jackson! Jangan pergi terlalu jauh baby!" teriak Baekhyun sambil berusaha menangkap tubuh putranya yang untungnya bisa ia lakukan. Baekhyun berjongkok dan mencengkram pelan pundak putranya yang tersenyum lebar.

"Mommy! Mommy! Palli!" ucapnya dengan aksen Korea membuat Baekhyun menggeleng pelan lalu membuka kaos bergambar superman milik putranya dan membuka celana jeans pendeknya hingga hanya menyisakan celana renang sebatas paha miliknya.

"Let's go Mommy!" teriak Jackson namun Baekhyun menggeleng pelan.

"Mommy tunggu disini dan mengawasimu darisini. Jangan coba berbuat macam-macam!" Jackson membulatkan matanya berbinar. Tidak ada Mommy, berarti tidak ada aturan yang dengan kata lain adalah kebebasan. Ia segera membalik tubuhnya dengan senyum lebar dan bahagia sebelum akhirnya sebuah tangan menapak diatas kepalanya, membuatnya memutar tubuhnya pelan untuk menatap sosok menjulang tinggi yang bahkan menutupi cahaya matahari.

"Kau pikir kau akan bebas iblis kecil?" ucap Sehun sambil menyeringai.

"You! Go away!" ucap Jackson sambil mencoba melepaskan tangan Sehun namun usahanya sia-sia karena Sehun sudah lebih dulu mengangkat tubuhnya dan memikulnya seperti sekarung beras.

Baekhyun menggeleng pelan dari tempatnya duduk ketika Luhan datang memberikan sekaleng minuman dingin untuknya dan Kibum.

"Mereka terlihat akur dari jarak sejauh ini." Gumam Luhan pelan. Baekhyun tersenyum sambil meneguk minumannya.

"Interaksi mereka mengingatkanku pada Chanyeol dan Sehun dulu." Ucap Kibum tanpa sadar dan segera menutup bibirnya ketika menyadari perubahan raut wajah Baekhyun.

"Ah…maksud ibu_"

"Tidak apa-apa Bu. Aku baik-baik saja." Ucap Baekhyun sambil menahan senyum pahitnya.

Kibum melirik Luhan sambil memberikan raut wajah menyesal dan Luhan mengelus punggung Kibum sayang.

..

.

Di sebuah Kerajaan di dasar perut bumi, sebuah tempat yang sudah tidak asing lagi, Infernus. Dimana jeritan jiwa-jiwa kotor masih terdengar dan bahkan bertambah banyak menjadi latar suara tempat hunian para makhluk kegelapan itu.

Di sebuah ruangan besar yang selalu ditempati oleh Raja Iblis disetiap generasinya, terlihat sesosok pria berjubah hitam terduduk di depan meja kerjanya. Rambut hijau kelamnya yang tersisir keatas, memperlihatkan dahinya yang tetap terlihat menawan. Mata yang dulunya penuh kekejaman dan pesona kini terlihat sangat kelelahan.

Chanyeol duduk di depan meja kerjanya sudah sejak dua hari yang lalu, mengerjakan banyak hal yang membuatnya tidak tidur selama dua hari penuh. Baginya ini hal tergila yang pernah terjadi dalam hidupnya, menjadi Raja Iblis bukan hal yang mudah terlebih jika semakin banyak manusia yang terjerat oleh rayu para anak buahnya, namun jika mereka tidak berhasil maka kaum mereka juga yang akan menanggung malu.

Sungguh dilema bagi Chanyeol, menghadapi dua hal yang membuatnya tidak bisa memilih kecuali mengorbankan waktunya. Sesekali ia menghela nafas, merasa sangat kelelahan dengan semua pekerjaannya, terlebih sejak Luhan memutuskan untuk menjadi manusia seutuhnya dan hidup di dunia manusia.

Chanyeol tidak pernah menyangka bahwa kakaknya memilih untuk menjadi bagian dari makhluk paling lemah di dunia, ketimbang tetap mempertahankan darah iblis-malaikat di dalam dirinya.

"Aku hanya tidak tahu dimana seharusnya aku berada. Karena manusia sama sepertiku memiliki sisi iblis dan malaikat yang sebanding, maka aku putuskan untuk berada diantara mereka." Itulah yang Luhan katakan ketika ia memutuskan untuk menjadi seorang manusia.

Dan tak lama lagi, Sehun akan menyusul kekasihnya untuk menjadi manusia dan menetap di Bumi, berbaur bersama mereka dan melupakan darimana mereka berasal. Chanyeol ingin melarang namun ia tidak memiliki hak terlebih semua orang telah menyetujuinya.

Sesekali Chanyeol menghela nafas namun jemarinya masih mengerjakan tugasnya dengan sebaik-baiknya, tidak ingin mengecewakan ayahnya dan juga kakeknya terutama ibunya yang sudah tenang disana.

Ia ingin membuktikan bahwa ia mampu menjadi seorang Raja dan mengemban tugas itu dengan baik. Meski terkadang hatinya menginginkan sosok itu kembali lagi dan berada disampingnya.

"Baekhyun, aku merindukanmu." Gumam Chanyeol pelan sambil menatap kosong pada pena ditangannya.

..

.

Jackson berlari kearah Baekhyun dengan tubuh dan rambut basahnya sementara Sehun berlari kearah Luhan. Dua sosok yang dihampiri itu segera membentangkan handuk dan membungkus tubuh putra dan kekasih mereka.

"Mommy!" ucap Jackson sambil duduk diatas pangkuan Baekhyun dan bersandar di dada ibunya.

"Lelah?"

"Hm." ucap Jackson sambil mencari kehangatan di dada sang ibu.

"Sehun hyung selalu menggangguku, ia berpura-pura menjadi hilu dan menerkam kakiku." Baekhyun menggeleng pelan.

"Hiu sayang bukan hilu."

"Perbaiki dulu kosakatamu, baru mengadu!" ejek Sehun yang mendapat pukulan sayang dari Luhan yang dibalas senyuman manja oleh Sehun.

"See? Dia benar-benar menyebalkan Mom." Bisik Jackson sambil menatap tajam kearah Sehun lalu memeluk tubuh Baekhyun erat. Angin pantai membuat mata si kecil mulai memberat dan perlahan ia terjauh dalam tidur lelapnya.

"Lihat cucuku, dia mudah sekali tertidur." Gumam Kibum sambil mengelus pipi tembab Jackson.

"Itu karena dia tidak bisa diam, energinya selalu terkuras." Gumam Baekhyun sambil tersenyum menatap wajah tertidur Jackson lalu mengecup bibir putranya cepat.

"Kita kembali?" tanya Luhan.

"Ya, tentu! Jackson bisa kedinginan." Ucap Baekhyun mencoba bangkit.

"Bu jangan lupa, dia itu iblis dia tidak akan kedinginan!"

"Ya aku tahu, tapi dia belum bisa menggunakan kekuatannya."

"Memangnya ibu pikir bagaimana bisa ia memutuskan kepala vivi dengan kedua tangan kecilnya jika bukan karena kekuatannya?" Baekhyun menoleh dan mengelus rambut basah Sehun,

"Ibu minta maaf untuk itu sayang, adikmu hanya belum bisa mengendalikan kekuatannya."

"Ya..Ya…Ya aku tahu."

"Kau tahu kenapa ia melakukannya?" Sehun menggeleng pelan.

"Ia hanya kesal karena kau lebih memperhatikan vivi ketika anjing itu datang dan tidak memperhatikannya lagi." Sehun memutar bola matanya malas.

"Bu siapapun pasti akan memilih anjing menggemaskan ketimbang bocah menyebalkan." Ucap Sehun, Baekhyun terkekeh lalu menoleh.

"Tapi ayahmu tidak pernah memilih anjing daripada dirimu. " Sehun terdiam lalu tersenyum kikuk.

..

.

Pagi hari esoknya tidak jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya, karena ketika Baekhyun sedang berkebun dibelakang rumah lagi-lagi terdengar kegaduhan dan kali ini berasal dari sebuah kaca yang pecah.

Baekhyun yang sedang berjongkok di kebun kecil di halaman belakang menanam sepohon mawar merah kembali menghela nafas dan segera bangkit perlahan sambil melepas kedua slop tangannya.

"Jackson? Apalagi kali ini?" tanya Baekhyun sambil berjalan ke dalam rumah. Ketika ia memasuki rumah dan berjalan menuju ruang tengah, ia mendapati sebuah lubang besar di jendela kaca besar yang menuju ke teras samping rumahnya. Kibum berdiri disana terlebih dahulu sambil menggeleng pelan.

"Dimana dia?" tanya Baekhyun. Kibum menelan ludahnya pelan sambil melirik pintu dibelakang mereka. Baekhyun berjalan pelan dengan wajah jengkel dan membuka pintu itu namun tidak ada siapapun yang bersembunyi dibaliknya hingga Baekhyun menyadari bahwa ada bekas lumpur dikarpet mahalnya dan tepat berhenti dimana ia berdiri sekarang.

"Keluar atau mommy akan benar-benar marah!" Masih hening tidak ada yang berubah.

"Oh baiklah, bagaimana kalau mommy panggilkan_"

"Stop! Don't do it! Okay, Mommy Jackson keluar." Perlahan sebuah sosok muncul dan memperlihatkan tubuh kotor Jackson yang bermandikan lumpur serta wajahnya yang terlihat sangat berantakan.

"Oh Jackson! Apalagi sekarang? Baby, please!" Jackson tersenyum memperlihatkan deretan gigi susunya dan memainkan jemari kakinya dibawah sana.

"Jackson…Jackson hanya bermain sebentar."

"Kau keluar dari rumah? Lagi?"

"Hanya sebentar."

"Kemana?"

"Bermain."

"Dengan?"

"Sesuatu yang lucu."

"Lalu apa sesuatu yang lucu itu melemparimu lumpur?" Jackson menggeleng pelan sambil menatap kearah ibunya takut-takut.

"No. They're cute mommy. I swear. They're so big, with pink colour and make sound like this "Ooocchh…Ooocchh…Oocchh."" Ucapnya polos sambil menggerakan hidungnya kembang kempis dan membuat suara mengerok.

"Kau bermain dengan babi? Siapa yang memelihara binatang seperti itu dikota seperti ini?"

"Tidak disini." Mata Baekhyun membulat dan Jackson menundukan kepalanya dalam.

"Kau bermain jauh lagi? Seberapa jauh?"

"Not really far. Itu dipinggir kota mommy, sebuah desa lucu dengan banyak hewan yang aneh."

"Astaga Jackson, itu ribuan kilometer dari sini." Jackson kembali memperlihatkan giginya dan kembali tertunduk ketika Baekhyun kembali mendelik.

"Lalu apa pembelaanmu tentang kaca pecah itu?"

"Tidak ada."

"Apa kaca itu pecah dengan sendirinya?" Jackson terdiam sejenak lalu memilih mengangguk pelan membuat kesabaran Baekhyun hilang.

"Kau tahu berapa harga rumah dan setiap barang dirumah ini? Kau tahu berapa kali Mommy harus meminta maaf pada Luhan atas semua kekacauan yang kau lakukan di rumah ini?"

" Aku rasa banyak."

"JACKSON!" teriak Baekhyun. Ia menarik tangan putranya kencang membuat Jackson terseret.

"Mommy! Mommy! What will you do? Mommy! Stop mommy!" ucap Jackson sambil meronta. Kibum berusaha menghentikan merasa khawatir melihat cucu dan putranya.

"Baekhyun, hentikan! Apa yang akan kau lakukan?"

"Aku tidak bisa mengurusinya lagi, aku lelah Ibu." Ucap Baekhyun sambil tetap menyeret putranya yang meronta.

..

.

Chanyeol berdiri di dalam ruang kerjanya,di depan sebuah rak besar berisi banyak dokumen tentang seluruh riwayat orang-orang mati. Banyak hal yang harus ia kerjakan dan banyak hal pula yang membuatnya terlibat dalam kesalahan, untuk itu ia harus memperbaikinya seorang diri.

Jika dulu ia bisa meminta bantuan Luhan namun kini ia harus benar-benar mengerjakannya sendiri, karena ia tidak bisa mempercayai anak buahnya yang lain.

Menjadi Raja kadang membuatnya bosan, bagian paling menarik hanyalah ia memiliki jabatan tertinggi dan semua orang menganggapnya penting. Ia satu-satunya yang berkuasa atas Neraka dan ia pula yang bisa memberikan keputusan atas apa yang harus setiap roh yang masuk patut terima.

Tapi sisanya hanyalah kebosanan yang kadang ingin membunuhnya, meski ia tidak akan bisa mati.

"Ikut aku!"

"Tidak, aku tidak mau!"

Chanyeol menoleh kearah pintu ketika mendengar suara ribut dari dua orang yang sangat ia kenal. Chanyeol tersenyum ketika pintu terbuka dan muncul dua sosok yang paling ia sayangi sedang beradu argumen sambil berjalan mendekat.

Yang lebih tinggi terlihat sangat kesal, sementara sosok kecil disampingnya yang membuat Chanyeol mengernyit dengan penampilannya yang kotor hanya mencoba meronta.

"Mommy! Jangan lakukan ini, please!"

"Diam, dan ikut aku!"

"Mommy!"

"Apa yang terjadi?" tanya Chanyeol tiba-tiba dan berdiri dari duduknya. Jackson menarik tangannya semakin kuat dan Baekhyun menahannya semakin kencang.

"Lihat, apa yang anakmu lakukan!"

"Siapa dia? Apa dia sungguh anakku?" ucap Chanyeol sambil menunjuk Jackson yang mencibir.

"Bocah! Apa yang kali ini kau lakukan?" tanya Chanyeol sambil menatap tajam kearah Jackson. Jackson mendengus sambil menatap Chanyeol tajam pula.

"Bukan urusanmu."

"Kau! Sini kau, biar ku beri pelajaran!" ucap Chanyeol sambil berpindah tepat dibelakang Jackson dan mencengkram pundak bocah itu.

"Mencoba kabur? Jangan mimpi!" ucap Chanyeol dengan nada menyeramkan dan mengubah wujud setengan iblisnya, Jackson menutup matanya lalu menangis kencang membuat Chanyeol segera menghilangkan ekspresi seperti ingin membunuhnya.

"Huwaa daddy seram! I hate you, I hate you monster!"

"cup cup sayang! Jangan menangis! Daddy hanya bercanda."

"Huwaaa.." Jackson berlari kearah Baekhyun lalu memeluk perut ibunya menyembunyikan wajahnya sambil 'berpura-pura' menangis.

"Hei!Hei! Daddy hanya bercanda."

"Daddy jahat! Daddy sama seperti Sehun hyung."

"Tidak sayang, kemari!"

"Tidak mau."

"Apa yang terjadi?"Sebuah suara muncul dari balik pintu dan Chanyeol menghela nafas malas.

"Granpa?" teriak Jackson sambil berlari kearah Minho meminta perlindungan.

"Oh cucu kesayangan Granpa."

"Granpa, Daddy ingin membunuhku." Adu Jackson dengan wajah dibuat-buat.

"Benarkah? Dan kenapa dengan penampilan cucu kakek? " Minho mengangkat tubuh cucunya dan menggendongnya, lalu ketika melirik kearah Chanyeol dan Baekhyun yang dalam suasana canggung, Minho memutuskan untuk memberikan dua orang di depannya waktu bicara lebih lama.

"Ayo ikut aku, kita akan bermain sepuasnya."

"Benarkah?"

"Tentu."
"Lalu bagaimana dengan mereka?" tanya Jackson sambil melihat kearah dua orangtuanya yang sedang saling pandang.

"Biarkan mereka menyelesaikan urusan orang dewasa yang membosankan, ayo kita bersenang-senang." Ucap Minho sambil berjalan keluar, ketika pintu terutup Chanyeol menoleh sekilas.

"Kenapa sudah kembali? Apa merindukanku?"

"Diamlah!"

"Aw, lihat siapa yang tiga minggu lalu merajuk dan melarikan diri ke Bumi?" goda Chanyeol sambil berjalan mendekat, ketika ia meraih dagu Baekhyun, Baekhyun menepisnya.

"Jangan menciumku! Aku tidak ingin disentuh." Ucap Baekhyun sambil membuang wajahnya. Chanyeol menyeringai, lalu merendahkan tubuhnya untuk mengecup perut Baekhyun.

"Siapa bilang aku ingin menciummu, aku ingin mencium baby kita." Baekhyun semakin membuang wajahnya, menahan malu. Melihat itu Chanyeol menyeringai, lalu perlahan membalik tubuhnya dan kembali menuju meja kerjanya.

Baekhyun melirik kepergian Chanyeol lalu menatap dengan kesal. Chanyeol yang hendak melanjutkan pekerjaannya kembali menatap Baekhyun dengan wajah bertanya.

"Apa ada hal yang ingin kau bicarakan lagi?" Baekhyun mendengus kesal lalu berbalik dan berjalan menuju pintu, namun seketika pintu tertutup dan terkunci membuat Baekhyun kesal, lalu ia memutuskan untuk menghilang namun kekuatannya musnah.

Ia menoleh kebelakang dengan kesal, dimana Chanyeol sedang 'berpura-pura' berkutat dengan pekerjaannya.

"Kenapa?" tanya Chanyeol sok polos sambil menatap Baekhyun.

"Kau bilang ingin pergi, kenapa masih disini?" tanya Chanyeol lagi. Baekhyun mendesis namun tidak ada yang bisa ia lakukan selain menahan airmatanya. Melihat itu Chanyeol tersenyum kecil, lalu menghilang dan dalam hitungan detik muncul di depan Baekhyun sambil menyentuh pipi istrinya.

"Kau merindukanku? Jangan berbohong!"

"Tak ada yang melarangku berbohong, seperti dirimu yang bersenang-senang dengan para wanita iblis itu." Senyum Chanyeol hilang. Ia menghela nafas.

"Itu hanya sebuah pesta perayaan yang biasa para anggota kerajaan lakukan. Kami hanya menari dan minum bersama, tidak lebih." Baekhyun membuang wajahnya.

"Siapa yang menjamin kau tidak meniduri mereka?"

"Sayang? Jangan bahas lagi! Aku bersumpah aku tidak meniduri mereka. Aku segera pulang ketika matahari hampir muncul, aku meninggalkan pesta karena aku mengingatmu."

"Bohong!"

"Aku tidak."

"Kau iblis, Raja iblis pula, bagaimana aku bisa percaya?" ucap Baekhyun. Chanyeol menghela nafas, lalu menarik tangan Baekhyun dan membawanya tepat menuju jantungnya.

"Kami memang tidak dilarang berbohong, namun hati kami tidak bisa diajak kompromi." Ucap Chanyeol. Baekhyun terdiam lalu menarik tangannya cepat dan berbalik.

"Sayang. Ayolah! Ini sudah hampir 23 hari, kau akan tetap seperti ini? Menjauhiku dan tinggal di Bumi?" Baekhyun menghentikan langkahnya, meski ia tahu bahwa ia tidak bisa keluar dari ruangan itu, namun ia hanya tak ingin bertatapan dengan suaminya.

Ini bermula beberapa minggu lalu. Saat itu Baekhyun sedang bermain bersama Jackson di dalam kamar putranya, dimana kamar itu sudah dilengkapi oleh lapisan medan sehingga si kecil tidak akan kabur, meski demikian Baekhyun tetap seperti biasa menemani putranya belajar mengenai hal-hal yang diketahui oleh manusia.

"Mommy?Kenapa gajah memiliki hidung yang panjang? Tidakkah itu membuatnya sulit untuk menarik udara?" tanya Jackson kala itu sambil melihat sebuah buku berisi kumpulan binatang.

"Baby, Tuhan menciptakan mereka bukan tanpa tujuan. Kau lihat bukan tidak ada gajah bertubuh kurus, tidak ada gajah yang makan menggunakan tangan mereka, belalai merekalah yang berfungsi untuk mengambil makanan diatas tanah dan memasukannya ke dalam mulut karena tubuh mereka terlalu gendut untuk mangambil makanannya." Ucap Baekhyun pelan sambil mengelus surai coklat terang putranya.

"Lalu, kenapa Tuhan tidak menciptakan mereka bertubuh kurus dan memiliki tangan seperti kita? Kenapa Tuhan tidak menciptakan mereka sama seperti kita? " Baekhyun tersenyum kecil lalu menggeleng.

"Lalu ketika semua hewan dan manusia berkumpul Mommy akan sulit menemukanmu, bisa-bisa Mommy membawa pulang anak gajah. Apa kau mau?"

"Tentu saja tidak." Ucapnya dengan alis menukik dan kedua tangan terlipat.

"Sayang?" Baekhyun menoleh kearah pintu dimana sosok Chanyeol muncul. Jackson bangkit lalu membawa buku bergambarnya dan menunjukannya pada Chanyeol.

"Daddy, Lihat! Ini disebut gajah." Ucap Jackson sambil menunjukan buku bergambarnya pada Chanyeol.

"Daddy tahu. Baek, ada hal_"

"Daddy, tunggu!" ucapan Chanyeol terpotong oleh panggilan Jackson.

"Ada apa jagoan kecilku?" tanya Chanyeol sambil mengusak rambut putranya. Jackson melirik buku bergambarnya dan ayahnya bergantian lalu ia terkikik.

"Kalian terlihat mirip. Apa Granpa salah membawa pulang anak gajah dulu?" Bola mata Chanyeol membulat dan Baekhyun segera bangkit untuk menarik putranya sambil tersenyum tertahan, lalu mendudukannya diatas ranjang seperti semula. Tidak ingin membuat Chanyeol terpancing emosi mendengar ucapan putranya.

"Ada apa Chanyeol?" tanya Baekhyun sambil menghampiri suaminya. Chanyeol menarik tangan Baekhyun untuk keluar dari kamar dan bersandar di dinding disamping kamar putranya.

Baekhyun menutup matanya ketika Chanyeol mengecup perpotongan lehernya secara tiba-tiba, ia terbuai sejenak sebelum menyadari bahwa putra mereka sedang menunggu di dalam dan bisa keluar kapanpun untuk memergoki kegiatan mereka.

"Ada apa? Hentikan Chanyeol!" ucap baekhyun sambil mendorong tubuh suaminya.

"Aku akan merindukanmu pasti."

"Kenapa?" tanya Baekhyun bingung.

"Nanti malam aku harus pergi, menghadiri pesta perayaan tahunan, semua makhluk kegelapan datang dan sebagai Raja tentu aku harus menghadiri pesta itu." Baekhyun terdiam sejenak lalu menatap kedalam mata Chanyeol.

"Berapa lama?" tanya Baekhyun.

"Nanti malam aku akan kembali."

"Baiklah. Jangan macam-macam. Meski baru namun aku tahu jenis pesta apa yang dirayakan oleh Iblis seperti kalian."

"Tenang sayang, jangan khawatir aku tidak akan mengecewakanmu." Chanyeol mengecup bibir Baekhyun, dan menyesap leher istrinya sejenak sebelum mendaratkan sebuah ciuman kecil di perut Baekhyun hingga akhirnya melenggang pergi untuk kembali melanjutkan tugasnya.

Semua berjalan seperti biasa dalam satu hari tanpa kehadiran Chanyeol, hingga malam harinya Sehun tiba-tiba muncul hendak menjenguk ibunya yang sedang mengandung adik ketiganya.

Dan ketika itulah petaka terjadi, Sehun menceritakan bahwa pesta itu hanya sebuah kedok untuk bisa menikmati para iblis wanita yang cantik dan seksi berakhir dengan tidur diranjang bersama.

Sehun berkata bahwa ia tahu semua karena ia pernah mendatangi pesta itu diam-diam, tidak ada yang tidak menikmati waktu ranjang mereka sebelum pulang, karena dirinya pun sama, hingga Luhan benar-benar nyaris membunuhnya.

Baekhyun merasa hatinya sakit, ia menyuruh Sehun kembali dan setelahnya ia menangis sesegukan di dalam kamar. Beberapa jam kemudian Chanyeol pulang dengan aroma alkohol dan juga lipstick merah yang menempel di beberapa area pakaiannya, membuat hati Baekhyun semakin memanas.

"Kau tega Chanyeol."

"Apa yang telah aku lakukan Baek?" tanya Chanyeol bingung ketika mendapat tepisan kasar saat hendak memberikan ciuman ke bibir Baekhyun yang sedang berbaring.

"Kau…puas meniduri mereka?"

"Meniduri siapa?"

"Jangan pura-pura bodoh!"

"Hei, sayang! Aku tidak sedang berpura-pura. Terjadi sesuatu?" tanya Chanyeol. Baekhyun bangkit dari ranjangnya. Berjalan dengan tergesa menuju ke luar kamar untuk menemui putra bungsunya.

"Baekhyun! Baekhyun!" panggil Chanyeol tapi Baekhyun masih bersikeras untuk membawa tubuh tertidur Jackson ke dalam dekapannya.

"Aku akan pergi ke bumi, jangan mencariku! Aku tidak ingin melihatmu." Ucap Baekhyun lalu menghilang bersama putranya.

Baekhyun tersadar dan airmatanya kembali mengalir mengingat malam pertengkaran mereka, lalu ia berbalik dan menatap Chanyeol membuat suaminya terkejut.

"Ingat Chanyeol, aku bukan Baekhyun yang sama seperti dulu. Aku tidaklah lemah , tidak seperti ketika aku masih menjadi manusia. Aku sekarang sudah menjadi bagian dari bangsamu, aku pun bisa berbuat kejam." Ucap Baekhyun sambil menghapus air matanya cepat.

Chanyeol terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil.

"Aku tahu sayang. Aku tahu. Aku tidak sedang memanfaatkan kelemahanmu, bahkan aku tidak menyinggung hal itu sedikitpun. Ini hanya tentang kesalahpahaman. Kau ingin aku membuktikan dengan cara apa? Kau ingin seluruh iblis yang menghadiri pesta itu diundang kemari untuk menceritakan apa yang telah terjadi disana?" Baekhyun terdiam, bibirnya terkatup dan ia menggigitnya pelan.

"Tidak."

"Lalu?"

"Aku tidak tahu." Jawab Baekhyun. Ia menangis dan menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Chanyeol mendekat dan memeluk tubuh Baekhyun sayang.

"Sudahlah jangan menangis! Aku minta maaf jika perbuatanku menyakitimu. Jangan bersedih, kau ingat kan kau sedang mengandung sekarang?" Baekhyun mengangguk dalam isakannya dan Chanyeol memeluk tubuh itu semakin erat.

"Lagipula siapa yang mengatakan bahwa pesta tahunan itu sudah pasti merupakan pesta ranjang?" tanya Chanyeol ketika tersadar topik yang menjadi pertengkaran mereka.

"Luhan?" tanya Chanyeol dan Baekhyun menggeleng pelan.

"Ayah?" kembali Baekhyun menggeleng.

"Ah bocah sialan itu!" gerutu Chanyeol.

"Tidak, Sehun tidak bermaksud seperti itu, dia hanya tidak tahu bahwa ucapannya membuat kita menjadi bertengkar."

"Aku meragukannya. Dia memang tidak pernah menjadi dewasa, dia pikir dengan melakukannya maka aku akan_" Chanyeol terdiam ketika melihat wajah tertunduk Baekhyun.

"Kenapa Baek?"

"Aku mohon jangan bersikap seperti itu lagi padanya, apapun yang ia lakukan ia hanya ingin dekat denganmu Chanyeol." Chanyeol tersentak mendengar ucapan Baekhyun, dengan pelan ia mengelus surai Baekhyun dan mencium keningnya.

"Baiklah…Baiklah… aku tidak akan memarahinya, lagipula dia dibumi sekarang. Hah, anak itu." Gumam Chanyeol sambil menghela nafas.

"Baek?"

"Aku merindukanmu." Bisik Chanyeol. Baekhyun mendongak, lalu menyeringai dan dalam hitungan detik ia sudah melompat kearah tubuh Chanyeol dan menyerang bibir suaminya.

Chanyeol bersorak dalam hati, sejak Baekhyun menjadi iblis ia tidak pernah malu-malu lagi ketika mereka sedang berhubungan intim, malah Baekhyun akan menjadi pihak yang lebih agresif. Untuk itu Chanyeol tidak pernah menyesal telah mengubah lelakinya.

..

.

..

.

Devil Beside Me

..

.

Kembali pada beberapa tahun lalu, ketika Chanyeol baru saja menjabat sebagai seorang Raja iblis bertepatan dengan keputusannya untuk meninggalkan Baekhyun dan mengorbankan perasaannya.

Waktu terberat dari dua insan yang saling mencintai dan memutuskan berpisah. Posisinya tak membuatnya menjadi senang, daripada ikut berpesta bersama kaumnya, Chanyeol lebih memilih untuk berdiam diri di dalam kamar sembari memikirkan tentang hari-harinya bersama Baekhyun, atau mungkin belajar perlahan untuk melupakan sosok itu.

Di tempat lain, Baekhyun masih terisak pelan sambil menyusui putra kecilnya yang nampak sangat kelaparan dan bahagia setelah terlahir kedunia.

"Kau tampan, sama seperti ayahmu sayang." Ucap Baekhyun sambil mengelus surai coklat terang putranya yang entah diturunkan dari siapa. Bahkan bola matanya pun berwarna coklat jernih, benar-benar indah.

Bayi itu tersenyum sambil menghisap dada Baekhyun dengan kencang. Meski terasa aneh karena putingnya membesar dan mampu mengeluarkan ASI, namun Baekhyun tidak bereaksi seperti saat Sehun terlahir dulu, kini ia sudah lebih bisa beradaptasi. Daripada menganggap hal itu sebagai kutukan, ia lebih memilihnya sebagai sebuah keistimewaan.

Air matanya belum mengering, namun air mata yang lain sudah mendesak keluar membuat pipinya kembali basah, dengan cepat ia menghapusnya, tidak ingin bayinya merasakan kesedihan yang ia rasakan.

"Setelah ini, mari hidup bahagia bersama ibu sayang, meski tanpa ayah disampingmu." Ucap Baekhyun sambil mengelus lembut pipi putranya.

"Aku senang akhirnya kau bisa keluar dan menghirup udara segar, kau tidak perlu menendang karena merasa sesak di dalam sana." Baekhyun tersenyum lembut dan suara decakan terdengar ketika bayinya melepas mulutnya dari puting Baekhyun lalu ikut tersenyum.

"Minumlah yang banyak! Agar kau cepat besar!" ucap Baekhyun sambil mempertahakan senyumannya meskipun air matanya tetap mengalir keluar.

Kibum berdiri di depan pintu dengan sebuah nampan berisi susu dan sepiring roti panggang. Wanita itu kembali merasakan sakit pada dadanya, lagi-lagi putranya harus merasakan sebuah ketidakadilan.

Jika ia bisa menukar, maka ia rela memberikan kehidupannya untuk kebahagiaan Baekhyun. Kibum merasa kasihan pada Baekhyun, sejak kecil ia sudah ditinggal pergi oleh ayahnya, membuatnya tumbuh menjadi lelaki yang pemalu dan tertutup.

Lalu mendapat perlakuan tidak adil disekolahnya karena memiliki wajah cantik seperti perempuan, dan takdir memburuk ketika ia diperkosa oleh makhluk malam yang kemudian membuatnya hamil dan melahirkan.

Jika saja putranya dan Chanyeol tidak saling jatuh cinta mungkin semua tidak akan serumit ini, mungkin Baekhyun akan hanya membencinya dan perlahan melupakannya lalu mencoba melanjutkan hidup kembali, namun takdir berkata lain dan Kibum tidak bisa menghindarinya.

"Ibu? Apa yang ibu lakukan disana? Kemarilah!" panggil Baekhyun masih tetap berbaring menyamping. Bayinya melepaskan bibirnya lagi lalu menoleh kearah Kibum, sebuah respon yang cukup membuat keduanya terkejut mengingat bayinya baru berusia beberapa jam.

"Wah, dia sangat pintar." Ucap Kibum sambil meletakkan nampan diatas meja nakas di dekat ranjang Baekhyun. Baekhyun tersenyum pelan sambil kembali menarik pipi putranya agar kembali menyusu.

"Dia tumbuh lebih cepat bu." Ucap Baekhyun. Kibum mengangguk dan mengambil duduk disamping putranya, lalu mengelus rambut Baekhyun dengan pelan.

"Makanlah dulu, Baek! Kau sedang menyusui dan butuh banyak asupan gizi." Baekhyun menggeleng pelan.

"Tidak bu, aku sedang tidak nafsu makan."

"Baek, paksakan demi anakmu. Hanya sesuap." Baekhyun menatap ke dalam mata jernih putranya yang juga menatap dalam kearahnya, ia tersenyum pelan.

"Apa kau ingin ibu makan? Kenapa memberikan tatapan seperti itu? Kau mengingatkanku pada ayahmu." Gumam Baekhyun. Bayi itu dengan cepat berkedip lalu mengalihkan arah pandangnya dengan bibir tetap menghisap puting Baekhyun.

….

..

.

Hari demi hari berlalu dan Baekhyun mencoba untuk tetap bertahan. Ia mencoba melupakan Chanyeol dengan hanya berfokus pada bayinya yang telah berusia 5 hari.

Bayi tampanya, ia beri nama Jackson. Sehun yang memberikan nama karena ia merasa bahwa nama itu memberikan aura yang kuat dan tangguh, dan Sehun menambahkan jika nama Jackson tidak akan pernah ketinggalan zaman.

Baekhyun tidak terlalu mempermasalahkan meskipun ia telah menyiapkan nama lain untuk putranya yaitu Taehyung, mengingat bahwa yang bereinkarnasi adalah Ibu Chanyeol yang bernama Taemin. Namun sekali lagi ia tidak ingin mengaitkan apapun yang berhubungan dengan Chanyeol.

Jackson adalah bayi yang pintar, meski sepanjang hari kerjanya hanya menyusu namun ia mampu berinteraksi dengan Baekhyun melalui tatapan mata mereka, dan satu fakta baru bahwa bayi itu tidak menyukai keberadaan Sehun disekitarnya.

"Lihat dia! Dia menatapku seperti ingin membunuhku." Ucap Sehun ketika pulang dari sekolah dan berkunjung ke kamar ibunya. Baekhyun hanya terkekeh sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, sudah beberapa hari ia tidak keramas dan rasanya sungguh menyiksa.

Jadi ketika ia sudah sanggup untuk bergerak lebih banyak ia gunakan untuk membersihkan diri dengan benar.

"Hyung? Saat Jackson besar nanti, apa ia akan memanggilmu ibu?" tanya Sehun sambil menatap adiknya yang menatapnya tajam.

"Tentu." Sehun melipat bibirnya ke dalam, lalu memainkan jemari adiknya tanpa memperdulikan bahwa adiknya tidak menyukainya.

"Apa…apa aku boleh memanggil Hyung dengan ibu juga?" seketika gerakan Baekhyun terhenti, ia menatap pantulan wajah menunduk Sehun melalui cermin, lalu perlahan berjalan mendekati putra sulungnya dan meletakkan handuk basahnya diatas kepala Sehun.

"Tentu, kenapa tidak? Panggil aku dengan sebutan apapun yang kau suka." Ucap Baekhyun sambil mengusak rambut Sehun pelan dan Sehun pun tersenyum senang lalu memeluk pinggang Baekhyun, menenggelamkan kepalanya di perut datar ibunya.

"OEEK…OEEK…." Keduanya terkejut mendengar tangisan Jackson dan ketika menoleh mereka mendapati wajah adiknya telah memerah padam, membuat Baekhyun dengan cepat mengangkat tubuh bayinya lalu mengayunkannya pelan.

Ketika wajah Jackson berada di pundak Baekhyun dan tangisannya mereda, ia memberikan seringaian pada Sehun dan membuat Sehun melototkan matanya.

"Ibu! Lihat di menyeringai, dia berbohong Bu!" teriak Sehun. Jackson kembali menangis ketika Baekhyun akan menoleh dan itu membuat ia kembali panik lalu meminta Sehun untuk keluar sebentar.

Semenjak itu, Sehun diminta untuk tidak masuk ke dalam kamar Baekhyun ketika adiknya sedang terjaga, karena jika tidak Jackson akan menangis dengan sangat keras dengan tubuh memerah padam.

Dan sejak itu pula Sehun memutuskan untuk mengibarkan bendera perang pada adik bungsunya.

Mendengar berita bahwa putranya tumbuh dengan baik dan kondisi Baekhyun sudah membaik dari Luhan, membuat Chanyeol tersenyum lega. Meski tidak mengobati kerinduannya, namun ia merasa cukup lega setidaknya orang yang ia cintai masih mampu melanjutkan hidupnya.

"Terima kasih hyung." Ucap Chanyeol pada Luhan yang duduk di depannya. Luhan mengangguk pelan lalu kembali menundukan arah pandangnya dan Chanyeol tidak bodoh untuk mengetahui apa yang sedang dirasakan oleh kakaknya.

Semenjak peraturan baru dibuat dimana makhluk kegelapan dan langit tidak boleh muncul di bumi lagi mengingat kejadian dimasa lalu, Luhan benar-benar kehilangan Sehun.

Sehun pun tidak diperbolehkan untuk menginjakkan kakinya di Infernus karena ia masih memiliki darah campuran, dan karena itu Sehun tidak pernah berkunjung lagi kesana.

"Takdir kita berat ya hyung?" gumam Chanyeol pelan masih tetap berfokus pada pekerjaan barunya. Luhan mendongak lalu mengangguk pelan.

"Kau benar. Kita kehilangan Ibu dan kini kita bahkan tidak bisa bersama orang yang kita cintai. Kyungsoo jauh lebih beruntung dari kita." Ucap Luhan sambil mencoba tersenyum. Chanyeol tersenyum pelan lalu kembali berfokus pada pekerjaannya.

"Mungkin karena dia tidak pernah berbuat jahat." Ucap Luhan lagi seorang diri dan Chanyeol hanya tersenyum pelan.

..

.

Luhan benar, dibanding dirinya dan Chanyeol. Kyungsoo jauh lebih beruntung. Ia yang pada dasarnya memang tidak terlalu menyukai bumi tidak merasa keberatan ketika peraturan baru itu dikumandangkan.

Selain itu karena Jongin telah memilih untuk kembali menjadi Pangeran Matahari. Hal itu sontak membuat seluruh anggota langit menjadi terkejut dan senang dalam waktu bersamaan.

Semua berpikir bahwa Sang Pangeran mungkin telah bangkit dari masa terpuruknya namun semua tidaklah tahu bahwa alasan Jongin kembali menjadi Pangeran Matahari karena Kyungsoo berkata ia suka tinggal di Istana Matahari.

Jika Jongin tahu bahwa takdirnya adalah seorang malaikat di Nubes, maka ia tidak akan menghabiskan waktu ribuan tahunnya untuk menyamar menjadi manusia dan mengikuti perkembangan mereka, Jongin tidak perlu beradaptasi, tapi sekali lagi ia tahu bahwa takdirnya telah ditulis oleh Yang Maha Kuasa.

Setelah kepergian Taemin, Kyungsoo resmi menjadi Pangeran Mahkota menggantikan ibunya, dan betapa irinya para malaikat melihat betapa serasinya Sang Pangeran Matahari bersanding dengan Pangeran Mahkota mereka.

"Kyungsoo?" panggil Jongin ketika mendapati sosok Kyungsoo berdiri di balkon istana sambil menatap kebumi.

"Iya?"

"Apa yang kau pikirkan?" tanya Jongin sambil meletakkan dagunya di pundak Kyungsoo dan melingkarkan tangannya pelan.

"Banyak. Ada banyak hal yang aku pikirkan." Ucap Kyungsoo pelan.

"Apakah pernikahan kita salah satunya?" tanya Jongin lagi dan Kyungsoo mengangguk pelan.

"Kenapa? apa kau belum siap?" tanya Jongin dan Kyungsoo menggeleng.

"Aku hanya merasa tidak adil, aku bisa bersama orang yang aku cintai namun kedua kakakku harus berpisah dengan orang yang mereka cintai. Kenapa takdir kami tidak sama Jongin?" Jongin tersenyum lalu membalik tubuh Kyungsoo untuk menatapnya dalam.

"Setiap makhluk terlahir dengan takdir mereka masing-masing, disini." Jongin menarik tangan Kyungsoo dan menatap telapak tangannya.

"Tertulis sesuai dengan suratan takdir. Tidak ada yang bisa merubahnya." Ucap Jongin lagi.

"Bahkan kau?" tanya Kyungsoo.

"Bahkan aku." Kyungsoo terdiam sejenak lalu kembali berbalik membuat Jongin merasa bersalah.

"Tapi mungkin ada hal yang bisa dilakukan."

"Apa?"

"Meminta langsung pada Sang Pencipta." Bola mata Kyungsoo membulat dan ia segera berbalik.

"Bagaimana caranya Jongin?" tanya Kyungsoo.

"Dulu aku, dan kedua putri Bulan mengundang Sang Pencipta untuk turun dan setelahnya kami mendapatkan masing-masing satu permintaan sebagai hadiah. Putri Salju telah menukarkannya dengan mengganti namanya menjadi Putri Salju daripada Putri bulan lalu meninggalkan istananya, dan aku telah menggunakannya untuk izin turun kebumi dan membaur bersama manusia disana dengan melepaskan tanggung jawabku, dan Putri Bulan kedua telah menggunakannya untuk melepaskan jabatannya."

"Apa aku bisa meminta permintaan itu juga?" tanya Kyungsoo namun Jongin menggeleng.

"Hanya malaikat dengan posisi tinggi yang bisa meminta Sang Pencipta untuk turun, Kyungsoo."

"Apa kau tidak bisa Jongin?"

"Tidak bisa hanya aku seorang, aku butuh kedua Putri Bulan." Kyungsoo menundukan kepalanya.

"Tapi Putri Bulan hanya tinggal satu." Ucapnya dengan nada sedih membuat hati Jongin merasa teriris.

"Aku rasa Raja Langit bisa berperan." Kepala Kyungsoo terangkat lalu ia tersenyum lebar.

..

.

Kyungsoo sangat bahagia ketika mendengar hal itu, namun kebahagiaannya runtuh saat Sang Kakek menolak hal itu.

"Tidak Kyungsoo, terlalu banyak hal yang telah kita campuri. Aku kehilangan kedua putraku karena itu." Kyungsoo terdiam dengan wajah kembali bersedih.

"Tapi, hanya dengan cara itu aku bisa membuat kedua saudaraku senang."

"Itu adalah takdir mereka, tidak ada yang bisa merubahnya." Kyungsoo berdiri, untuk pertama kalinya ia merasakan sebuah rasa amarah di dalam dirinya.

"Tentu Sang Pencipta bisa, kenapa kita meragukan Beliau?" Raja Langit menghela nafas pelan.

"Kyungsoo, tidak semua hal bisa kita campuri, setiap makhluk memiliki batasannya." Kyungsoo menggigit bibirnya sambil menatap kearah Kakeknya.

"Ibuku mengobarkan nyawanya untuk anak-anaknya, apa aku tidak bisa mengobarkan sedikit pun untuk kedua saudaraku?" ucapnya lalu segera berbalik, namun Raja Langit kembali memanggilnya.

"Maafkan aku, namun aku tidak bisa melanggar ucapanku. Aku telah berjanji untuk tidak mencampuri hal yang bukan menjadi urusanku, Kyungsoo. Maafkan aku." Kyungsoo terdiam lalu kembali hendak melangkah.

"Kenapa tidak kau saja yang menjadi Raja Langit?" Langkah Kyungsoo terhenti dan ia menoleh.

"Ya, kenapa bukan kau saja yang menjadi Raja Langit? Aku akan menyerahkan tahtaku jika itu bisa membuatmu bertemu Sang Pencipta." Kyungsoo membulatkan matanya yang sudah basah oleh air mata, lalu menatap kakeknya tak percaya.

"Tapi Kyungsoo, ada hal yang akan kau terima sebagai akibat." Kyungsoo mengernyit bingung.

"Kau tidak akan bisa bersanding dengan Pangeran Matahari." Seketika tubuh Kyungsoo melemas, namun ia tetap berdiri teguh.

"Hal itu sangat berat Kyungsoo, untuk itu aku mengurungkan niatku untuk menjadikanmu penerusku dan memilih menjaga Istana ini seumur hidupku." Kyungsoo masih terdiam lalu bibirnya bergerak untuk bicara.

"Lalu apa yang harus aku lakukan untuk menjadi seorang Raja Langit?" bola mata Sang Raja Langit membulat mendengar ucapan cucunya.

"Kyungsoo? Kau mengorbankan perasaanmu?" Kyungsoo menggeleng.

"Tidak, ini antara cinta dan cinta. Cintaku pada saudaraku dan cintaku pada Jongin. Jika aku egois maka akan lebih banyak yang tersakiti, namun jika aku yang mengalah mungkin hanya aku dan Jongin yang tersakiti." Seketika Raja Langit membeku ditempat mendengar ucapan Kyungsoo yang begitu tenang dan penuh keyakinan.

"Berapa lama? Berapa lama waktu yang aku butuhkan?" tanya Kyungsoo.

"Satu sampai 2 tahun usia bumi." Kyungsoo mengangguk cepat lalu mencoba tersenyum.

Sejak hari itu secara diam-diam Kyungsoo mulai belajar untuk menjadi seorang Raja Langit, tidak ada satupun yang tahu kecuali Sang Kakek. Bahkan Jongin pun tidak ia biarkan tahu karena akan menjadi rumit jika Sang Pangeran tahu tentang rencananya, dan ia pun tahu bahwa Jongin tidak akan membiarkannya.

Setiap harinya ia akan mendatangi kamar Kakeknya dan mempelajari semuanya, Kyungsoo terlihat bersungguh-sungguh dan hal itu membuat Raja Langit menjadi terharu, Kyungsoo memiliki hati yang putih, dia benar-benar berhati malaikat.

Dan seperti seorang pemain drama profesional, Kyungsoo mampu menyembunyikan semuanya dari Jongin, membuatnya terhindar dari kecurigaan sang kekasih.

..

.

Sebulan berlalu dan Jackson sudah mampu merangkak, membuat Kibum dan Baekhyun terkadang kewalahan di buatnya. Jackson tidak seperti Sehun yang tumbuh secara berkala. Jackson tumbuh secara acak, dia akan menjadi lebih besar tanpa ada yang bisa menebak kapan hal itu terjadi, sehingga Baekhyun harus siaga berada di samping putranya.

"Nyaaa…Nyaa…Nyaa…" Jackson kecil menarik-narik celana bagian bawah Baekhyun ketika dirinya sedang sibuk memasak membuat Baekhyun terkejut mendapati putranya merangkak disamping kakinya.

Dengan penuh kasih sayang Baekhyun mengangkat putranya, lalu menggendongnya menuju ruang tengah.

"Kau lapar?" tanya Baekhyun dan Jackson hanya mengarahkan matanya pada dada Baekhyun. Baekhyun menggeleng pelan, putra bungsunya memiliki nafsu makan yang besar, tidak sampai berselang satu jam ia akan meminta jatah susunya lagi.

Baekhyun mengambil duduk diatas sofa, menyamankan posisinya sebelum akhirnya menyingkap kaosnya keatas, dan satu lagi yang Baekhyun tahu tentang putranya bahwa ia sangat tidak sabaran, terlihat dari caranya yang langsung menyesap puting Baekhyun hanya beberapa detik setelah Baekhyun mengangkat kaosnya.

"Usshh…Ushh..Ushh.. tidurlah sayang!" gumam Baekhyun sambil mengelus punggung putra bungsunya. Terkadang Baekhyun akan meringis ketika sedotan Jackson begitu kuat, dan bahkan memencet hidung putranya ketika putingnya digigit kuat.

Kibum yang menuruni tangga hanya tersenyum melihat Baekhyun sangat mencintai putranya meskipun Chanyeol tidak berada disampingnya, namun melihat tatapan kosong Baekhyun kearah jendela membuat sebersit rasa sedih menghampirinya.

Kibum tahu bahwa Baekhyun masih belum bisa melupakan Chanyeol, bahwa sosok lelaki iblis setengah malaikat itu masih tetap berada di sudut hati Baekhyun yang paling dalam.

"Apa dia sudah tidur?" Baekhyun menoleh cepat ketika mendengar suara ibunya lalu menggeleng sebagai jawaban.

"Ibu, bisakah gantikan aku untuk memasak makan malam?" Kibum mengangguk lalu segera berlalu.

"Minum yang banyak sayang!" ucap Baekhyun sambil mengelus surai bayi mungilnya.

Waktu terus berlanjut hingga Jackson telah tumbuh dengan sangat tidak wajar. Diusianya yang baru berusia 3 bulan ia sudah terlihat seperti anak berusia satu tahun membuat Baekhyun dan Kibum mulai cemas.

Malam itu Luhan datang ke rumah mereka, menawarkan sebuah jalan keluar yang tak lain adalah campur tangan Chanyeol juga.

"Kalian pindahlah! Aku akan membiayai semuanya." Ucap Luhan sambil tersenyum menatap tiga orang dihadapannya. Dan disana ia kembali bertemu dengan Sehun, keduanya menyiratkan sebuah rasa rindu yang besar namun tidak ada yang bisa mereka lakukan selain bertukar tatapan.

Sebuah rumah kecil di siapkan Luhan di Barcelona. Meski kecil dan berada di pesisir kota namun Kibum dan Baekhyun sangat bersyukur setidaknya mereka tidak harus berinteraksi dengan banyak orang.

Dua tahun berlalu dan Jackson sudah tumbuh seperti bocah berusia 4tahun sementara Sehun sudah tumbuh seperti lelaki berusia 24 tahun. Atas bantuan Luhan secara tidak langsung, Sehun bisa melanjutkan pendidikannya hingga ke bangku kuliah dan lulus dengan nilai terbaik yang membuatnya mampu bekerja disebuah perusahaan besar.

Dengan kemampuannya Sehun mampu menduduki posisi cukup baik diperusahaanya dalam waktu singkat, membuat kehidupan mereka menjadi lebih baik dan memutuskan untuk pindah lagi ke kota dan tinggal disebuah apartemen yang cukup besar.

"Mommy!" Jackson berlari kearah Baekhyun ketika Baekhyun memasuki apartemen usai membeli beberapa keperluan mingguan mereka.

Baekhyun berjongkok dan memeluk tubuh Jackson sambil tersenyum kearah Sehun yang sudah seharian menjaga adiknya, meskipun mereka bermusuhan namun Baekhyun sangat berterima kasih karena Sehun menjaga adiknya dengan baik.

"Biar aku bawakan!" ucap Sehun sambil membawa barang milik Baekhyun. Kibum menyambut dari arah dapur dengan celemek coklat miliknya sementara Jakson sudah berada dalam pelukan Baekhyun.

"Mommy! Lapaaall~" rengek Jakson sambil menarik-narik kaos Baekhyun membuat lelaki itu hanya bisa menghela nafas.

Meski Jakson sudah tumbuh lebih besar namun kebiasaanya menyusu masihlah tetap karena ia tidak bisa mengkonsumsi apapun dari dunia manusia meskipun Baekhyun sudah mengajarinya perlahan ia hanya akan memuntahkannya, hal itu selalu mengingatkan Baekhyun pada sosok Chanyeol.

"Mommy!" rengek Jackson yang sudah melompat keatas tempat tidur. Baekhyun segera berbaring diatas ranjang sambil mulai menyusui putra bungsunya dan tanpa sadar ia ikut tertidur.

Tahun-tahun yang mereka lalui nampak biasa dan cukup bahagia. Sehun dengan pekerjaannya dan sudah mulai bisa melupakan sosok Luhan meskipun tidak ada yang tahu betapa lelaki itu sangat menginginkan Luhan berada disampingnya.

Lagi dan lagi waktu berlalu sangat cepat menurut mereka, dan Baekhyun pikir dengan waktu yang telah berjalan cukup lama rasa cintanya pada Chanyeol akan musnah atau setidaknya berkurang, namun ia salah karena cintanya tetap sama untuk lelaki itu.

Malam harinya Baekhyun terbangun setelah mimpi aneh menghampirinya dimana ia bertemu kembali dengan Chanyeol dan mereka menangis saling berpelukan.

Baekhyun bahkan tidak tahu itu disebut mimpi buruk atau mimpi indah, karena baginya kenangan yang ingin dilupakan namun tiba-tiba muncul adalah sebuah mimpi buruk. Jadi ia menganggap bahwa itu adalah sebuah mimpi buruk.

Setelah sekian lama, setelah semua yang ia lakukan ia pikir Tuhan telah memaafkannya, namun ia salah karena Tuhan kembali menyiksanya dalam sebuah perasaan rindu dan putus asa.

Malam itu ketika bulan purnama bersinar dengan terang, Baekhyun melepaskan bibir Jackson yang tengah tertidur dari putingnya, lalu merapikan pakaiannya dan segera bangkit.

Ia berjalan ditengah kegelapan kamar miliknya untuk melihat pantulan dirinya di dalam cermin.

"Aku masih sama?" gumamnya sambil tersenyum pahit.

"Aku pikir aku telah menjadi seseorang yang berbeda, aku pikir aku telah melupakanmu Chanyeol." Baekhyun terisak hingga rasanya kakinya tak mampu menopang tubuhnya lagi dan ia terjatuh, bersimpuh di tengah ruangan yang gelap sambil menangis tersedu-sedu.

Sandiwaranya selama ini akhirnya berakhir, ia tidak bisa lagi menampakkan topeng "aku baik-baik saja" nya lagi, ia tidak bisa membuat orang-orang yakin bahwa setelah kepergian Chanyeol ia bisa hidup dengan baik bersama putranya.

Malam itu tangisan pilu Baekhyun terdengar, bersamaan dengan lolongan anjing dan sebuah kalung liontin yang menyala di leher Jackson.

Di tempat lain sebuah berita menggegerkan tersebar, membuat Chanyeol dan juga penghuni Infernus lainya terkejut. Bahkan Sang Pangeran Matahari nampak murka atas semua hal yang terjadi.

Hari itu sebuah penobatan terjadi, Raja Langit resmi lengser dari jabatannya dan Kyungsoo naik sebagai penggantinya. Tidak ada yang menyangka hal itu akan terjadi, dan dari semua orang Jonginlah yang merasa paling tersakiti.

"Maafkan aku Jongin." Ucap Kyungsoo sambil duduk disinggasananya dilengkapi pakaian Kerajaan dan Mahkotanya dengan wajah datarnya yang menatap kearah Jongin yang berdiri beberapa meter di depannya.

"Kenapa Kyungsoo? Kenapa kau melakukan ini?"

"Maafkan aku Jongin. Aku merasa sudah saatnya aku berkorban untuk kedua saudaraku, mereka juga berhak bahagia Jongin." Jongin menundukan kepalanya, wajahnya memerah menahan amarah namun ia berusaha terlihat tenang.

Seluruh anggota Kerajaan Nubes dan Infernus berada disana untuk menyaksikan bagaimana kisah cinta Sang Pangeran Matahari dan Sang Putra Mahkota harus hancur karena posisi mereka.

"Kyungsoo! Kau tidak harus melakukan ini." Ucap Chanyeol yang tiba-tiba berdiri sambil mengepalkan tangannya.

"Tidak hyung! Aku sudah memikirkan ini jauh-jauh hari."

"Lalu bagaimana dengan kebahagiaanmu?" tanya Luhan dengan mata berlinang air mata.

"Aku tidak ingin menjadi egois hyung. Aku mencintai kalian." Ucap Kyungsoo sambil berusaha tersenyum. Minho disana menyaksikan bagaimana putra bungsunya mengorbankan kebahagiaannya demi kedua kakaknya.

Jongin merasa tidak kuat, ia membalik tubuhnya dan berjalan meninggalkan istana sebelum Kyungsoo memanggil namanya.

"Pangeran!" Jongin menghentikan langkahnya namun enggan untuk menoleh.

"Malam ini, mari kita panggil Sang Pencipta." Ucap Kyungsoo sambil mengangguk kearah Jessica yang ikut menganggukan kepalanya.

Jongin hendak berlalu namun kembali langkahnya tertahan.

"Aku mohon Pangeran, untukku yang terakhir kalinya." Ucap Kyungsoo sambil mempertahankan wajah datarnya meskipun hatinya begitu sakit melihat orang yang ia cintai hancur di depan matanya.

"Baiklah." Kyungsoo tersenyum kecil sebelum akhirnya Jongin pergi meninggalkan Nubes.

Malam itu sebuah ritual dilaksanakan, hanya ada Jongin, Jessica dan Kyungsoo di atas puncak istana Nubes. Mereka berkonsentrasi atas permintaan mereka dan tak lama Sang Pencipta muncul dalam bentuk sebuah sinar.

..

.

Di malam yang sama Baekhyun yang berurai air mata berdiri diatas sebuah gedung tinggi di pusat kota. Ia menyerah dengan semua keadaan, ia menyerah untuk berpura-pura bahwa ia baik-baik saja.

Setelah menulis surat wasiat untuk ibunya dan Sehun untuk menjaga Jackson , Baekhyun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

"Maafkan aku. Aku merasa tidak sanggup lagi. Aku ingin memulai hidupku yang baru, semoga dikehidupan berikutnya aku tidak lagi terlahir dengan takdir yang buruk." Gumam Baekhyun sebelum kakinya melangkah maju pada udara kosong di depannya dan dalam hitungan detik tubuhnya terjun bebas menuju ke bawah.

BRUUUK

Baekhyun dapat merasakan bagian-bagian tubuhnya yang retak atau mungkin patah, ia juga dapat merasakan bahwa darah mengalir menuju ke wajahnya.

Ia melihat orang-orang mulai berkerumunan dan nampak sibuk. Ia mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya kesadarannya menghilang, diakhir hayatnya Baekhyun melihat sesosok berjubah hitam berdiri sambil memandang dirinya dengan wajah bersedih.

"Chan…Chanyeoll…." Dan semuanya berakhir. Baekhyun dinyatakan mati di tempat membuat orang-orang histeris.

..

.

Ketika membuka mata yang Baekhyun lihat pertama kali hanyalah kegelapan, hingga akhirnya ia melihat sebuah cahaya dari lentera yang dipegang oleh sosok berjubah hitam dengan tudung menutupi wajahnya.

"Bangunlah!" ucap sosok itu dengan suara yang sangat menyeramkan. Baekhyun mencoba bangkit dan ia terkejut karena tidak merasakan sakit di sekujur tubuhnya.

Ia dituntun menuju sebuah tempat yang ia sendiri tidak tahu, hingga langkah kakinya membawanya pada sebuah hutan yang sangat gelap dan menyeramkan. Lalu sebuah persimpangan terlihat, dua buah sisi yang terlihat sangat berbeda.

Satu sisi terlihat terang dan menyejukkan namun satu sisi terlihat gelap dan mencekam.

"Ikut aku!" ucap sosok tadi sambil membawa Baekhyun berdiri pada sisi yang penuh kegelapan. Baekhyun menundukan wajahnya, ia tahu bahwa perbatasan itu adalah antara surga dan neraka dan Baekhyun tentu saja masuk neraka, pikirnya.

Sosok lain muncul berbadan tinggi besar dan sangat menyeramkan, ia berdiri di depan sosok berjubah hitam.

"Namanya Byun Baekhyun. Dia baru saja meninggal dan menurut surat perintah dia akan menuju ke jalan ini." Sosok besar itu mengangguk dan memberi jalan.

Baekhyun di minta untuk mengikuti sosok yang lebih besar, mereka terus berjalan dalam kegelapan dan perlahan suara air mulai terdengar, di depan mereka ada sebuah perahu dan sosok lain dengan jubah hitamnya.

"Biar aku yang ambil alih." Ucap sosok itu pada sosok tinggi besar dan Baekhyun hanya mengikuti ketika ia diminta untuk menaikki perahu.

"Selamat datang Tuan Byun." Ucap sosok itu terdengar lebih ramah dari dua sosok sebelumnya.

"Apa hidup anda begitu sulit hingga harus mengakhirinya dengan bunuh diri?" Baekhyun terdiam enggan untuk menjawab.

"Anda tahu apa kasus kematian terberat dari semua kasus yang ada?" Baekhyun menggeleng pelan.

"Bunuh diri! Untuk itu aku akan membawa anda langsung pada neraka tingkat akhir." Baekhyun mendelik merasakan sebuah ketakutan yang mencekam.

"A-apa yang akan terjadi disana?" tanya Baekhyun.

"Tentu saja dihukum. Anda akan dibakar dengan api neraka terpanas sampai waktu reinkarnasi anda tiba." Baekhyun terdiam sejenak sambil memeluk tubuhnya kuat.

"Menyesal? Huh! Penyesalan selalu datang terakhir bukan? Jika saja anda memilih untuk tetap melanjutkan hidup anda, maka anda tidak mungkin berada disini." Baekhyun terdiam sebelum akhirnya tersenyum.

"Kau tidak akan berkata demikian jika kau berada diposisiku." Ucap Baekhyun.

"Anda pikir apa yang membuatku berada disini sekarang? Aku pun melakukan sebuah dosa yang besar." Ucap sosok itu.

"Setiap orang memiliki dosa bukan?"

"Ya, tapi hanya ada dua kemungkinan. Melakukan penebusan dosa atau memilih mengakhiri hidup dengan dosa." Ucap sosok itu lagi membuat Baekhyun tercekat. Sejenak sebuah penyesalan menyelimuti dirinya.

"Seharusnya anda bisa bertemu orang yang anda cintai yang telah meninggal, namun sayang ayah anda telah berada di surga jadi anda tidak bisa menemuinya."

"Tidak masalah." Sahut Baekhyun singkat.

Ketika Baekhyun diminta untuk menutup mata dan membukanya beberapa detik setelahnya ia telah berada di sebuah jalan setapak di dalam ruangan gelap yang berisi nyala obor disekitarnya.

Baekhyun mengernyit ketika terdengar suara jeritan yang sangat keras memperlihatkan betapa tersakitinya suara itu.

Baekhyun melangkah perlahan dan sebuah pintu besar terbuka di depannya. Ia terus melangkah hingga tanpa ia ketahui pintu itu tertutup keras membuat Baekhyun terkejut.

Di depannya ada sebuah jembatan dan dibawah jembatan itu adalah lautan api yang berisi jiwa-jiwa yang terbakar.

"IKUT AKU!" sebuah suara keras terdengar dan Baekhyun merasakan tubuhnya terseret dengan cepat. Ia dipaksa duduk disebuah kursi di sisi lautan api tersebut lalu seorang makhluk merah mendekat dengan sebuah buku ditangannya.

"Byun Baekhyun,laki-laki kelahiran Senin 5 Mei 1993, putra dari Byun Jinki dan Kim Kibum. Meninggal pada hari Kamis tanggal 23 September 2016 atas kasus bunuh diri. Kebaikan yang dilakukan selama hidup adalah…." Baekhyun hanya menatap kosong pada lantai merah yang terasa panas pada permukaan kaki telanjangnya, ia sudah pasrah pada apa yang akan ia terima.

"…karena bunuh diri adalah bentuk kesalahan terbesar dimana kau mengambil paksa hak atas kehidupan dan tidak bersyukur atas apa yang telah diberikan, maka kau berhak menerima hukuman terberat." Baekhyun dipaksa berdiri setelah pembacaan tersebut.

Tubuhnya di dorong kasar menuju ke sisi jembatan. Baekhyun dapat merasakan betapa panasnya api yang akan membakar tubuhnya untuk waktu yang lama.

Dan sebelum ia sempat berpikir lebih jauh tubuhnya telah di dorong ke dalam lautan api. Baekhyun menutup matanya merasakan betapa panasanya hawa api yang berada dibawahnya, sebelum akhirnya sebuah sayap menyelimuti tubuhnya.

Ketika kakinya menginjak permukaan lantai, dan balutan ditubuhnya terlepas ketika itu ia mendapati sosok Chanyeol berada dihadapannya.

"Chanyeol?" Air mata Baekhyun mengalir. Chanyeol yang berdiri di depannya hanya menatapnya dengan wajah bersedih.

"Chan…hiks…Chanyeol.." tangisnya dan Chanyeol dengan cepat mendekap tubuh itu, keduanya saling berpelukan dan melepaskan kerinduan lain.

"Baekhyun, kenapa kau memilih mengakhiri hidupmu?" tanya Chanyeol.

"Aku…aku hanya tidak kuat lagi Yeol. A..aku..hiks.."

"Ssst! Jangan menangis lagi!" ucap Chanyeol.

"Chanyeol…hiks.." Chanyeol menarik dagu Baekhyun dan mengecupnya pelan.

"Tenang sayang! Mulai sekarang kita tidak akan berpisah lagi. Kau telah menjual jiwamu untukku." Baekhyun mendongak dan menatap Chanyeol bingung.

"Bagaimana bisa?"

"Ketika kau terjun dari atas gedung itu sambil memasrahkan semuanya padaku, ketika itu jiwamu sudah terikat denganku dan dengan bantuan Kyungsoo sekarang kau adalah milikku Baek." Baekhyun mengangguk sambil memeluk Chanyeol erat.

"Tapi Baek, meski jiwamu sudah kubeli tapi kau hanya sebatas budak untukku." Baekhyun terkesiap lalu menatap mata nanar Chanyeol.

"Ha..hanya budak?"

"Ya..untuk…untuk itu…"

"Apa Yeol?" Chanyeol menundukan wajahnya.

"Maukah kau menjadi bagian dari kami?"

"Maksudmu iblis?" dan anggukan Chanyeol menjawab pertanyaan Baekhyun.

"Tapi Baek?"

"A-apa Chanyeol?"

"Kau…kau tidak akan pernah bisa terlahir kembali." Baekhyun terdiam sejenak lalu di detik selanjutnya ia memeluk Chanyeol erat.

"Asalkan aku bersamamu, maka aku tidak masalah. Aku mencintaimu Chanyeol." Chanyeol segera memeluk tubuh Baekhyun dan membawa keduanya dalam sebuah ciuman.

"Aku juga mencintaimu Baek." Gumam Chanyeol.

Dua malam setelahnya sebuah upacara dilaksanakan. Baekhyun akan menjadi bagian dari kaum iblis dan Luhan akan menjadi seorang manusia. Sebuah pertukaran yang mustahil namun berkat Kyungsoo semua bisa terlaksana.

Baekhyun berdiri diatas tebing dan dibawahnya ada kobaran api yang dibuat oleh Chanyeol dan Minho.

"Hanya tutup matamu lalu terjunlah!" bisik Chanyeol. Baekhyun mengangguk dan dengan ragu berjalan mendekat keujung tebing. Ketika Chanyeol memberi aba-aba ketika itu Baekhyun segera menceburkan dirinya ke dalam api.

Ritual ini tidak pernah terjadi selama sejarah pada iblis, tidak ada budak yang bisa seutuhnya menjadi bagian dari kaum iblis apalagi bersanding dengan seorang Raja Iblis, karena itu semuanya merasa cemas.

Beberapa menit tidak terjadi apa-apa hanya terdengar jeritan kesakitan Baekhyun dari dalam kobaran api, Chanyeol ingin menyusul namun Minho melarangnya.

Dan dalam beberapa menit setelahnya sebuah sosok melesat keluar dari dalam api dan melayang diudara.

Semua terkejut melihat sosok Baekhyun yang berbeda. Matanya tidak menyiratkan sebuah kelemahan lagi,matanya terlihat tajam dengan kobaran api di dalamnya.

Tubuhnya terbakar, sebuah ekor muncul dibelakangnya bergerak ke kiri dan kekanan, gigi putih rapinya berubah menjadi taring-taring tajam, tanduk baru muncul diantara sela rambut hitamnya dan sebuah sayap hitam menyerupai kelelawar tumbuh di punggungnya.

"AARRGGHHH.." Baekhyun mengaum dan seketika seluruh saksi mata bersorak senang.

Chanyeol terbang untuk menyusul Baekhyun, memeluk tubuh itu erat dan perlahan sambil menyentuh permukaan tanah wujud keduanya berubah menjadi wujud setengah iblis mereka dengan rambut Baekhyun yang berwarna coklat terang.

"Selamat datang sayang." Ucap Chanyeol dan Baekhyun tersenyum.

Dihari yang sama ritual untuk Luhan juga dilaksanakan. Berbeda dengan Baekhyun, Luhan harus mengalami sakit yang lebih dahsyat karena kedua sayapnya harus dipotong.

Disaksikan oleh seluruh penghuni Infernus, Minho memotong sayap putranya membuat Luhan terjatuh diatas tanah dengan kesakitan.

Kekuatannya pun diambil dan warna rambut serta matanya langsung menjadi hitam.

"Luhan, mulai sekarang kau tidak akan pernah bisa berkunjung ke Infernus ataupun Nubes, karena kau adalah manusia biasa kini. Ayah mencintaimu Luhan." Ucap Minho dan Luhan tersenyum.

Setelahnya Luhan dibawa ke bumi dan dibaringkan di depan pintu apartemen Sehun hingga membuat sosok Kibum berteriak histeris melihat Luhan terbaring di depan pintunya dengan wajah kesakitan.

Semua memang membutuhkan pengorbanan untuk bisa bersama orang yang mereka cintai, sebagaimana Luhan dan Baekhyun yang harus merasakan sebuah kesakitan demi bisa merasakan sebuah kebahagiaan bersama Sehun dan Chanyeol.

Dan dari kebahagiaan mereka ada pihak lain yang tersakiti, Kyungsoo dan Jongin yang pada akhirnya memilih untuk melepaskan hubungan mereka.

..

.

Chapter 15

(The Last: Our Destiny)

..

.

Baekhyun membuka mata dan hal pertama yang ia rasakan adalah sakit disekujur tubuhnya. Percintaannya dengan Chanyeol selalu menimbulkan rasa sakit yang luar biasa semenjak dirinya resmi menjadi seorang iblis.

Baekhyun melihat sekeliling kamarnya, sebuah ruangan luas dengan nuansa gelap. Awalnya Baekhyun tidak menyukai suasana mencekam itu namun semakin hari ia semakin terbiasa dengan segala hal yang berhubungan dengan kegelapan.

"Chanyeol?" bisik Baekhyun pada suaminya yang masih setia tertidur sambil memeluk tubuhnya dengan sangat erat.

"Hm?"

"Bangunlah!" ucap Baekhyun sambil mencoba mendudukan dirinya namun sia-sia lengan kekar Chanyeol masih setia bertengger di pinggang telanjangnya.

"Mommy!" Baekhyun yang nyaris menutup matanya tersentak oleh suara putranya, ia segera terduduk untuk melihat sekeliling kamarnya dan menemukan putranya mengintip di balik pintu yang sedikit terbuka.

"Jackie?"

"Mommy? Boleh aku masuk?" ucap bocah itu sambil memberikan tatapan memelas. Baekhyun menggerakan jemarinya dan dua lapisan medan pelindung yang sengaja dibuat Chanyeol semalam telah terbuka.

Jackson berlari kearah ranjang lalu melompat ke dalam pelukan ibunya.

"Kenapa sayang?"

"Mommy! Haus!" ucap Jackson. Baekhyun membulatkan matanya dan menatap wajah memelas putranya yang nampak menderita, dibuat-buat tentunya.

"Tapi kan Jackson sudah besar, tidak menyusu lagi." Gumam Baekhyun sambil mengelus surai putranya yang berbaring manja dipahanya.

"Tapi Jackson ingin Mommy!"

"Tidak sayang, lagipula dada Mommy tidak mengeluarkan susu lagi." Jackson mengerutkan keningnya, menatap ibunya sejenak lalu melirik kearah ayahnya yang masih terlelap.

"Lalu kenapa kemarin daddy meminum susu dari sini?" Mata Baekhyun membulat, lalu ia berdeham cepat untuk mengalihkan suasana.

"Hoaaamm…" Chanyeol yang memang sudah terbangun pura-pura menguap untuk mengalihkan perhatian putranya.

"Ah, jagoan daddy! Apa yang kau lakukan disini?" tanya Chanyeol sambal mengusak rambut Jackson namun si kecil segera mendekap tubuh ibunya lebih erat sambil menatap wajah ayahnya kesal.

"Hei..Hei..ada apa lagi dengan wajah itu?" tanya Chanyeol sambil mencoba duduk sebelum akhirnya mengecup puncak kepala Baekhyun.

"It's not fair." Gumamnya sambil melipat kedua lengannya di depan dada.

"Kenapa lagi?" tanya Chanyeol.

"Mommy tidak mengizinkanku minum susu lagi tapi kenapa daddy masih boleh?" Chanyeol menyeringai lalu mendekatkan wajah nya dengan wajah putranya.

"Oh, lihat siapa yang dengan tidak sopan mengintip semalam?" Jackson membuang wajahnya lalu mengedipkan matanya berulang kali.

"Aku tidak mengintip." Ucap Jackson dan tidak berani menatap wajah Chanyeol.

"Good liar." Ucap Chanyeol bangga lalu mengusak rambut Jackson.

"Kalau begitu menyusulah, itupun kalo susu Mommy sungguh keluar." Baekhyun membulatkan matanya dan Jackson tersenyum senang, ia mendorong tubuh Baekhyun cepat hingga bersandar ke kepala ranjang lalu menempelkan bibirnya pada dada Baekhyun.

"Jackie, hentikan!"

"Daddy memberi izin." Ucap Jackson lalu mulai menyedot putting Baekhyun sebelum akhirnya alisnya bertabrakan.

"Iiiyak! Ini aneh." Ucap Jackson lalu menjauhkan wajahnya dan melirik Chanyeol yang tersenyum menantang.

"Bagaimana?"

"Tidak enak. tidak ada susu"

"Sudah aku katakan bukan? Sekarang mandi dan kita segera sarapan. Okay?" Jackson turun dari ranjang sambil menggurutu, mengingat semalam melihat ekspresi keenakan ayahnya yang sedang menghisap dada ibunya, sebelum akhirnya seorang pelayan memergokinya.

"Dia sungguh terlalu ingin tahu." Ucap Chanyeol sambil menatap kepergian putranya yang menghilang di balik pintu.

"Kenapa?" tanya Chanyeol ketika melihat ekspresi jengkel Baekhyun.

"Kau sengaja kan? Kau sengaja membiarkan pintu kita sedikit terbuka." Chanyeol menyeringai, lalu mengecup bibir Baekhyun singkat.

"Hanya ingin memberikan tontonan gratis pada mereka yang penasaran, hahaha.. tapi siapa sangka malah putra nakal kita yang mengintip."

"Jangan ulangi! Atau aku tidak akan mau menjadi istrimu lagi."

"Aaaww.. manisnya. Sini biar kucium."

"Tidak! Aku mau membersihkan diri." Ucap Baekhyun segera bangkit sebelum Chanyeol sempat memeluknya.

..

.

Luhan duduk dibalik meja kerjanya di dalam sebuah ruangan yang sangat besar dan megah. Sebuah tulisan Lu Corp terpampang jelas di dinding ruangan. Perusahaan yang Luhan jalankan sekarang adalah sebuah perusahaan besar yang merupakan hadiah dari Chanyeol untuk kakak sulungnya.

Sebuah perusahaan yang tiba-tiba muncul dan ikut andil dalam perekonomian dunia tanpa membuat orang-orang curiga.

Luhan melirik jam tangannya lalu segera merapikan dokumennya dan segera berjalan meninggalkan ruangan kerjanya.

Hari ini adalah ulang tahun Sehun dan ia tidak bisa untuk melewatkannya karena hari ini sekaligus penentuan atas keputusan Sehun untuk mengikuti jejak kedua orangtuanya atau bertahan sebagai manusia bersamanya.

Meski Sehun berulang kali menyakinkannya bahwa ia akan menjadi manusia bersama Luhan, namun Luhan tetap merasa ragu dan takut tiap kali ia mengingat hal itu.

Ketika mobil Luhan terparkir di garasi mansionnya, ia segera turun dan terkejut menemukan tempat tinggalnya dan Sehun dalam keadaan sepi. Seingatnya menurut perjanjian, Baekhyun dan Chanyeol telah mengurus pesta perayaan untuk Sehun.

Luhan berjalan dengan cepat menuju ke dalam rumah, tidak ada pelayan seperti yang telah mereka rencanakan dan itu semakin membuat Luhan ketakutan, ketika ia melangkah menuju halaman belakang rumah ia menemukan halaman belakang rumahnya dalam keadaan sudah dihias namun tidak ada siapapun disana.

"Luhan!" Luhan menoleh dan menemukan Kibum berdiri di pembatas ruangan sambil menatap kearahnya.

"Ibu..dimana Sehun?" tanya Luhan.

"Dia..dia pergi." Kaki Luhan mendadak lemas, seolah tulangnya hilang begitu saja. Kibum segera memegangi tubuh Luhan dan membantunya untuk masuk ke dalam.

"Biar aku ambilkan minum." Ucap Kibum sambil segera bangkit dan berjalan ke dapur.

"Terima kasih bu." Ucap Luhan lalu menyandarkan kepalanya pada sofa sambil menutup matanya, membiarkan air matanya mengalir.

"Jadi itu keputusanmu Sehun?" gumam Luhan pelan.

"Ya." Luhan membuka matanya cepat untuk menemukan Chanyeol yang berjalan menuruni anak tangga dengan ekspresi wajah yang datar.

"Aku sudah menduganya." Ucap Luhan sambil menundukan wajahnya sedih. Perlahan seluruh jemarinya mengusap wajahnya dan memutuskan untuk bertahan disana.

Chanyeol berjalan mendekat dengan satu alis terangkat dan ia terkejut ketika menyadari kakaknya terisak. Setahu Chanyeol, Luhan sang kakak adalah sosok yang kuat yang tidak akan dengan mudah menangis namun kini ia melihat sosok kuat itu menjadi lemah dan rentan.

"Hyung?"

"Chanyeol, apa takdir kami berakhir seperti ini? Aku pikir dia mencintaiku, aku bahkan menjadi manusia demi bisa bersama dengannya. Hiks.." Chanyeol terdiam lalu menyentuh pundak Luhan pelan namun diluar dugaan Luhan langsung menyerang Chanyeol dengan pelukannya.

Chanyeol nampak terkejut, tangannya masih terhenti diudara sementara dadanya merasakan getaran yang sangat kuat akibat isakan Luhan.

"Hei, sejak kapan kau menjadi cengeng begini?" tanya Chanyeol sambil terkikik dan membalas pelukan Luhan.

"Diam! Menjadi manusia membuatku tidak bisa mengontrol emosiku. Ini menyakitkan kau tahu? Jadi apa yang akan aku lakukan kini? Hiks…hiks.."

"Lakukan apa yang ingin kau lakukan? Memangnya apa yang ingin kau lakukan?" tanya Chanyeol. Luhan masih terisak tidak ingin menjawab, ia hanya membenamkan wajahnya di dada Chanyeol.

"Mengubur diriku hidup-hidup."

"Hei kau tak bisa melakukannya. Kau akan masuk neraka dan merasakan betapa sakitnya siksaan api neraka." Luhan tidak menjawab, ia masih terisak kuat.

"Aku harus pergi." Tiba-tiba sebuah suara terdengar, keduanya menoleh dan mendapati Kyungsoo dianak tangga teratas dengan wajah terkejut.

"Hyung? Kenapa menangis?" tanya Kyungsoo sambil berjalan mendekat dengan wajah kelelahan.

"Sehun…hiks.." Luhan segera memeluk Kyungsoo ketika lelaki itu duduk disampingnya. Kyungsoo terdiam tidak membalas pelukan kakaknya yang kini sudah menjadi manusia. Mata bulat Kyungsoo bergulir kearah Chanyeol yang duduk dibelakang Luhan dan mereka bertukar pandang.

"Kenapa menangis?" tanya Kyungsoo lagi.

"Sehun meninggalkanku." Ucap Luhan masih terisak.

"Ini menyakitkan Soo." Kyungsoo menghela nafas dan beralih menatap Chanyeol yang hanya menyeringai.

"Well, ini sudah berakhir."ucap Chanyeol yang tiba-tiba bangkit. Luhan menoleh dan menatap heran.

"Pangeranmu sedang dalam proses penyembuhan, dia berada di dalam kamarnya bersama Baekhyun dan Ibu." Bola mata Luhan yang basah membulat.

"Tapi_"

"Kami hanya mengerjaimu, tapi berhubung Kyungsoo-ku yang manis dan tidak bisa berbohong ini akan membongkar semuanya jadi aku putuskan mengakhiri sandiwara ini." Ucap Chanyeol sambil tersenyum lebar. Luhan bangkit dengan tangan terkepal, ia memukul Chanyeol keras tepat di perut.

"Ouuch.." Chanyeol memegang perutnya berpura-pura sakit, lalu menegakkan tubuhnya.

"Itu terasa seperti elusan sayang."

"Sialan kau iblis!" ucap Luhan yang segera mengusap air matanya cepat.

"Minggir! Aku ingin menemui Sehun-ku."

"Awww.. lihat kau mengatakan hal menjijikan itu pada anakku."

"Awas! Aku membencimu Raja Iblis."

"Aku lebih membencimu mantan iblis." Luhan berbalik sambil menatap Chanyeol tajam, Chanyeol tersenyum dan menarik tangan sang kakak lalu memeluk tubuh kakaknya sayang.

"Kakakku sayang, kenapa kau begitu menggemaskan ketika menjadi manusia dan sangat menjengkelkan ketika masih menjadi iblis dulu." Gumam Chanyeol. Luhan berdecih dan mendorong tubuh Chanyeol kuat.

"Waktu mengubah apapun Chanyeol, waktu mengubah segalanya." Chanyeol mengedipkan satu matanya dan Luhan memutar bola matanya malas.

Semenjak Luhan menjadi manusia interaksi keduanya jauh lebih baik, Chanyeol baru menyadari betapa ia sangat menyayangi saudaranya.

Ketika Luhan berlalu menaikki anak tangga, Chanyeol menoleh kearah Kyungsoo dan mata mereka bertemu.

"Apa?" tanya Kyungsoo pelan ketika Chanyeol tersenyum aneh kearahnya.

"Sini, adikku yang manis! Aku ingin memelukmu juga."

"Tidak! Aku tidak mau." Ucap Kyungsoo sambil bangkit. Chanyeol tersenyum jahil lalu mendekat kearah Kyungsoo dan memeluk tubuh adiknya dengan erat membuat Kyungsoo menggeliat rishi.

"Lihat adikku yang sudah menjadi Raja Langit ini begitu sombong dan sebentar lagi akan menjadi_"

"Jangan mengatakan apapun tentang hal itu!"

"Eiiie! Kenapa?" tanya Chanyeol setelah pelukan mereka terlepas.

"Hanya jangan katakan, Hyung!"

"Uuuh adik kecilku sungguh menggemaskan. Sini biar aku cium!" Chanyeol mendekat dengan bibir dimajukan dan sebelum bibir itu menyentuh permukaan kulitnya, Kyungsoo telah lebih dulu menghilang.

"Kau tahu hyung, kau yang seperti sekarang sangat menjijikan. Berhenti bersikap seolah-olah kau sangat mencintai kami." Ucap Kyungsoo tanpa wujud. Chanyeol tersenyum mendengus, lalu menyisir rambutnya kebelakang dengan jemarinya.

"Aku memang mencintai kalian, aku hanya tak ingin hal yang berharga di dalam hidupku direnggut lagi." Ucap Chanyeol seorang diri.

..

.

Luhan membuka pintu kamar Sehun dan mendapati Baekhyun dan Kibum yang menoleh kearahnya. Bola mata Luhan bergulir dan mendapati Sehun tengah bersandar di kepala ranjang sambil meringis.

"Sehun!" Luhan berlari dan dengan cepat menaikki ranjang lalu memeluk tubuh Sehun erat.

"Aaaaahhh!" Sehun meringis kesakitan. Luhan menjauhkan tubuhnya terkejutnya dan menyadari bahwa luka di punggung Sehun masihlah basah.

"Apa sangat sakit?" tanya Luhan khawatir, karena ia pun pernah mengalami hal yang sama. Sayapnya di potong dan ia bersumpah itu adalah hal tersakit di dalam hidupnya.

"Tidak terlalu." Jawab Sehun sambil tersenyum kearah Luhan.

"Yah, tidak sampai membuatnya menangis keras dan berguling-guling diatas tanah." Gumam Baekhyun sambil bangkit dan mengambil cangkir putih di tangan Sehun.

"Ibu!" pekik Sehun dengan wajah kesal, Baekhyun mengedikkan bahunya dengan bibir dikelupas.

"Kenapa tertawa?" tanya Sehun saat menyadari Luhan terkikik.

"Aku membayangkan kau melakukan hal itu."

"Aku tidak menangis keras dan berguling-guling seperti itu!" bentak Sehun.

"Oh benarkah? Lalu siapa yang kami lihat melakukannya tadi?" Chanyeol muncul di pintu sambil berjalan masuk. Sehun menatap wajah Chanyeol kesal.

"Ayah! Hentikan!" ancam Sehun.

"Aaw.. buat aku!" goda Chanyeol sambil berjalan kearah Baekhyun dan memeluk tubuh istrinya dari belakang tidak lupa memberikan kecupan-kecupan menggoda di leher membuat Baekhyun menggeliat risih.

"Hentikan!" lagi Sehun memperingati.

"Hahaha.. jika tidak apa yang akan kau lakukan? Menggunakan kekuatanmu? Oops! Itu sudah lenyap." Sehun menggeram kesal dan Luhan tertawa membuat kemarahan Sehun teralihkan pada sosok cantik itu.

"Hei! Mana hadiah untukku?" tanya Sehun membuat Luhan menoleh. Luhan menepuk dahinya.

"Aku melupakannya dibawah!" ucap Luhan ingin bangkit namun Sehun menahanya, ia menarik tangan Luhan dan membuat wajahnya semakin dekat.

"Kau tahu hadiah apa yang aku maksud." Bisik Sehun tepat di depan wajah Luhan membuat Luhan tersenyum malu.

"Kau bahkan belum sembuh." Kibum bangkit dan menepuk kepala Sehun sambil berjalan memutari ranjang hendak keluar.

"Ibu~" rengek Sehun ketika Kibum pun bersekongkol menggodanya. Kibum tersenyum lalu berjalan keluar setelah memberikan ciuman di pipi Baekhyun.

"Kalian! Apa yang kalian lakukan disini? Keluarlah!" ucap Sehun dengan wajah ketus. Baekhyun menyipitkan matanya lalu mendekat kearah Sehun.

"Iya anak ibu yang telah dewasa. Selamat karena telah menjadi manusia, cepat sembuh sayang." Ucap Baekhyun dan tidak lupa mendaratkan sebuah ciuman di kening Sehun.

"Kau bocah! Senang bisa membuatmu terlahir kedua." Ucap Chanyeol. Sehun berdecih dengan mata memutar malas. Lalu mengibaskan tangannya.

"Keluarlah! Keluarlah!" ucapnya malas membuat Chanyeol menggeleng pelan.

"Baik kami pergi! Dan jangan buatkan aku cucu dulu, aku belum siap dipanggil kakek, bahkan adikmu saja belum lahir." Ucap Chanyeol. Sehun memutar bola matanya untuk kesekian kalinya dan Luhan menatap Chanyeol tajam.

"Baik kami pergi!"

"Lebih cepat lebih baik."

"Dasar bocah!"

"Dasar tiang!"

"Kau pun."

"Hei sudah-sudah. Chanyeol ayo pergi! Aku khawatir Jackson membuat masalah lagi." Ucap Baekhyun dan akhirnya kedua makhluk itu pergi meninggalkan Sehun dan Luhan yang kemudian saling tatap.

Sehun menarik tangan Luhan cepat dan hendak mencium perpotongan leher kekasihnya namun Luhan menahan gerakannya.

"Apa kau yakin bisa melakukannya? Kau bahkan masih terluka."

"Yang terluka punggungku, sementara rudalku masih sanggup." Luhan berdecih.

"Daripada menyebut itu rudal aku lebih setuju menyebutnya pistol air." Kening Sehun berkerut, merasa harga dirinya terinjak-injak. Mengingat pistol air mainan milik Jackson yang ukuran tidak lebih besar dari telapak tangannya.

"Kenapa pistol air, punyaku bahkan lebih besar. Jauh …"

"Karena itu menyemburkan cairan, bukan peluru api." Sehun menyeringai , antara lega dan bangga. Ia kembali mendekatkan bibirnya.

"Tapi itu sama-sama panas bukan? Dan kau menyukainya." Luhan terdiam dengan wajah memerah dan Sehun menyeringai dalam hati, Luhan yang memerah adalah hal termanis bagi Sehun. Luhan itu adalah malaikat tanpa sayapnya. Sosok sempurna yang tidak memiliki kecacatan sama sekali.

PLUK

"Diamlah! Bagaimana pun kau ini masih tetap bocah, beruntung darah iblismu membuatmu tumbuh lebih cepat." Ucap Luhan sambil memukul kepala Sehun lalu bangkit.

"Mau kemana? Mana hadiahku?"

"Mandi, aku lelah. Hadiahmu menyusul."

"Luhan~"

Kecuali fakta bahwa Luhan sangat cepat berubah pikiran dan tidak berperasaan, terutama pada si kecil yang menegang dibawah sana. Kepergian Luhan membuat sakit dipunggung Sehun kembali terasa. Ia meringis sambil merebahkan tubuhnya diatas Kasur.

"IBU~ ini menyakitkan…hiks.." rengeknya sambil berguling-guling diatas kasurnya. Lihat siapa yang mengelak tadi!?

..

.

Chanyeol dan Baekhyun memasuki istana dan mereka dihadapkan oleh 4 pelayan mereka yang merupakan pengasuh Jackson. Keempat budak iblis itu menundukan wajahnya ketakutan.

"Ada apa?" tanya Baekhyun dengan kening mengernyit.

"Tu..Tuan muda.. tuan muda menghilang."

"Apa?" teriak Baekhyun dan Chanyeol menghela nafas lelah.

..

.

Di Nubes keadaan masih tenang seperti biasanya dan para malaikat masih bekerja di tempat mereka masing-masing.

Terlihat Kyungsoo berdiri di sisi danau di dekat taman bunga sambil menatap kosong pada pantulan dirinya di atas air. Peri-peri bunga berterbangan namun tidak ada yang berani menyapa Sang Raja melihat bagaimana wajah sedih Raja mereka setiap harinya.

Akhir-akhir ini Kyungsoo sering melakukan hal itu, termenung seorang diri di taman istana sambil menatap percikan air di danau Nubes. Tidak ada yang akan menganggu dan tidak akan ada yang berani melakukannya.

SREK
SREK
SREK
Kyungsoo tersadar ketika mendengar suara berisik dari rerumputan di belakangnya, ketika ia mendongak para peri bunga telah bersembunyi ketakutan. Kyungsoo merasakan kehadiran seseorang lalu dengan cepat ia menoleh dan terkejut mendapati sosok kecil berpakaian putih kebesaran di depan matanya.

Sosok kecil itu memiliki rambut panjang berwarna putih dan sebuah benda berwarna biru dikeningnya, namun bukan kristal melainkan sebuah hiasan seperti pernik dari baju.

"Maaf sepertinya aku tersesat Raja." Ucap sosok itu dengan suara yang dibuat berat. Kyungsoo menyipitkan matanya dan tersenyum kecil.

"Jackson?" Sosok kecil yang hendak berbalik itu menghentikan langkahnya lalu menoleh pelan dengan senyum lebar.

"Jackson? Anda salah orang Raja." Ucap sosok itu lagi.

"Apa ayahmu tahu kau disini? Bagaimana dengan ibumu? Apa kau tahu bahwa iblis tidak boleh kemari jadi_"

"Paman Soo. Aku mohon jangan katakana pada mereka." Jackson berlari lalu memeluk kaki Kyungsoo erat.

"Hmmm…"

"Aku mohon! Katakan apa yang harus aku lakukan? Aku akan melakukannya!" rengek Jackson masih memeluk kaki Kyungsoo. Kyungsoo terkikik lalu mendorong pelan tubuh Jakcson dan merendahkan tubuhnya.

"Pertama, katakan darimana kau mendapatkan semua benda ini?" tanya Kyungsoo. Jackson berpikir sebentar lalu Kyungsoo menyentuh hidungnya.

"Harus jujur! Di Nubes tidak boleh berbohong." Jackson menghela nafas.

"Baiklah! Aku mencurinya dari sebuah toko saat aku berada di bumi."

"Kenapa kau melakukannya?" tanya Kyungsoo lagi.

"Karena setelah mendengar cerita Uncle Luhan, aku jadi penasaran tentang Nubes. Jadi, yaah… aku dengan terpaksa melakukan ini?"

"Terpaksa?" alis Kyungsoo terangkat. Jackson menghela nafas.

"Aku hanya penasaran." Rengek Jackson.

"Aku mohon jangan adukan pada Daddy. Dia akan menggantungku diatas lautan kematian dan membiarkan aku melihat bagaimana ribuan jiwa itu meraung-raung seperti ingin menarikku ke dalam." Kyungsoo membulatkan matanya.

"Benarkah? Ayahmu melakukannya?" tanya Kyungsoo. Jackson yang merasa Kyungsoo mulai tertarik dengan ceritanya mulai memanfaatkan keadaan, dia memasang wajah sedih dibuat-buat.

"Iya, daddy melakukannya. Itu menakutkan. Bayangkan anak sekecil aku diperlakukan seperti itu, bayangkan hiks.." Kembali Jackson memasak wajah bersedihnya.

"Memangnya apa yang Jackie lakukan?" Jackson tersentak, matanya mulai memutar untuk mengarang cerita.

"Bukan kesalahan besar, aku hanya tak sengaja membakar kertas ayah." Ucapnya.

"Kertas?"

"Hm.. kertas… bukan sesuatu yang penting bukan?"

"Eeei! Tidak boleh bohong! Ingat?" Jackson kembali menghela nafas, mata paman Kyungsoo-nya selalu membuat keinginan berbohongnya hilang.

"Aku tidak sengaja membakar kertas-kertas yang berisi daftar kematian para roh jahat." Akunya. Kyungsoo menahan senyum lalu kembali mengangkat alisnya.

"Tidak sengaja?"

"Baiklah-baiklah. Iih, paman ini kenapa sih selalu membuat hatiku luluh. Aku membakarnya karena aku kesal dengan daddy. Gara-gara daddy, mommy akan memiliki adik lagi. Jackson tidak suka, Jackson tidak mau adik." Kyungsoo membulatkan matanya.

"Kenapa?"

"Nanti Mommy tidak sayang Jackson lagi, pasti perhatian Mommy hanya untuk si adik bayi. Jackson pasti akan tersisihkan." Kyungsoo mengelus rambut Jackson lembut.

"Tidak sayang, tidak ada orangtua yang membeda-bedakan kasih sayang terhadap anaknya. Jika mereka punya 1 cinta mereka akan membaginya sama rata pada semua anaknya." Ucap Kyungsoo sambil mengelus rambut Jackson lembut.

"Tapi kenapa kakek terlihat lebih mencintai Paman Kyungsoo ketimbang ayah dan uncle Lu?"

"Siapa bilang? Kakek mencintai kami semua."

"Hah, baiklah aku hanya akan percaya pada Paman Soo. Oh iya, apa yang paman lakukan disini?" tanya Jackson lagi.

"Tidak ada."

"Eeeii! Paman berbohong! Di Nubes tidak boleh berbohong, ingat?" Ucap Jackson sambil meniru gaya dan suara Kyungsoo. Kyungsoo tersenyum lalu mendudukan dirinya diatas rumput dan Jackson melakukan hal yang sama.

"Aku hanya teringat seseorang."

"Ah biar aku tebak! Paman Matahari?" Kyungsoo menoleh terkejut akan kepintaran Jackson.

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Terlihat jelas. Jika seseorang merenung seperti itu pastilah ia sedang memikirkan hal yang penting dan biasanya itu menyangkut orang yang mereka cintai." Ucapnya seperti orang dewasa.

"Mommy seperti itu waktu bertengkar dengan Daddy. Sehun hyung pun akan menjadi pendiam dan tidak mau makan ketika Uncle Lu marah padanya. Jadi Paman Soo pastilah sedang memikirkan Paman Matahari. Benar?" Kyungsoo tersenyum lalu mengelus surai keemasan milik Jackson.

"Ya kau benar."

"Jadi apa yang Paman Matahari perbuat hingga paman ku yang cantik ini bersedih?" Kyungsoo terdiam lalu kembali menatap rumput hijau di depannya. Ia tidak tahu apakah ia harus menceritakan masalahnya pada anak sekecil Jackson, namun selama ini ia memang tidak pernah bercerita pada siapapun. Ia hanya menyimpannya seorang diri.

"Jackie? Jika kau ragu apa yang akan kau lakukan?" tanya Kyungsoo.

"Mommy bilang jika ragu lebih baik jangan dilakukan. Tapi Daddy bilang jika ragu, kita harus menemukan hal yang membuat kita ragu dan yakin bahwa kita bisa melakukannya." Ucap Jackson. Kyungsoo kembali terdiam dan Jackson menyadari raut wajah kalut Kyungsoo.

"Itu tergantung pada hal apa yang akan kita hadapi. Sama seperti saat Jackson belajar naik sepeda di dunia manusia. Jackson takut, karena Jackson tidak pernah melihat benda itu sebelumnya. Tapi jika Jackson ikut kata Mom, maka Jackson selamanya tidak akan pernah tahu. Jadi Jacskon ikut kata Dad, dan see! Sekarang naik sepeda bukan hal sulit lagi." Ucap Jackson sambil tersenyum bangga.

"Tapi jika waktu itu Jackson yang ragu untuk untuk terjun ke sebuah lubang mengikuti kata Dad, mungkin sekarang Jackson akan masuk ke terowongan reinkarnasi dan jadi babi..eeokkss..eokkss.." Ucap bocah kecil itu sambil meniru hidung babi.

Kyungsoo tersenyum kembali dan menatap Jackson.

"Jadi, apa yang sebaiknya aku lakukan? Haruskah aku mundur? Atau tetap melanjutkanya?" Jackson menyedot bibirnya ke dalam sambil berpikir.

"Aku tahu masalah yang Paman Soo hadapi adalah urusan dewasa dan kata Kakek urusan orang dewasa itu melelahkan, jadi aku tidak akan bertanya. Hanya saja kakek pernah berkata, apapun yang akan kita lakukan harus mengikuti kata hati. Jadi_" Jackson mengulurkan tangannya lalu menyentuh dada Kyungsoo.

"Ikuti kata hati Paman!" Ucap Jackson sambil tersenyum lebar. Kyungsoo tersenyum pula, ia merasakan sebuah kelegaan di dalam dirinya ternyata tidak buruk juga bicara pada anak kecil.

"JACKSON!" Tubuh Jackson menegang ketika mendengar suara ibunya, dengan cepat ia dan Kyungsoo bangkit lalu yang lebih kecil berdiri dibelakang Kyungsoo.

"Paman tolong aku!" rengeknya.

"Soo, maafkan aku. Aku menerobos Nubes tanpa izin. Hanya saja anakku kembali menghilang dan aku merasa dia ada disini." Ucap Baekhyun sambil melihat sekeliling.

"Aku dan Chanyeol telah lelah mencarinya, Chanyeol sedang berurusan dengan Yunho jadi aku langsung berlari kemari dan_" ucapan Baekhyun terhenti ketika melihat sebuah kain lain yang tersembul dibalik jubah panjang Kyungsoo.

"Aaah, kau tahu Soo, Jackson benar-benar nakal akhir-akhir ini." Gumam Baekhyun sambil meminta Kyungsoo untuk tetap diam. Kyungsoo tersenyum sambil melirik Jackson yang menegang dibelakangnya.

"Kau tahu, Chanyeol marah besar, dia berkata akan benar-benar memasukan Jackson ke dalam lautan kematian." Jackson membulatkan matanya, punggungnya masih bersandar pada kaki Kyungsoo.

"Ah, awalnya aku tidak setuju tapi sekarang aku setuju. Lagipula kami akan memiliki anak lagi , jadi tidak masalah jika dia dimasukan ke dalam lautan kematian atau dia bisa masuk ke terowongan reinkarnasi dan jadi babi, lagipula dia suka sekali dengan babi , kau tahu?" tanya Baekhyun sambil melirik putranya.

"Aku tahu." Jawab Kyungsoo sambil tersenyum.

"Baiklah Soo, aku akan kembali. Aku tidak akan mencarinya lagi, daripada punya anak yang nakal lebih baik aku membesarkan bayi di dalam perutku ini yang pastinya akan jadi lebih penurut." Ucap Baekhyun. Jackson terisak, lalu perlahan ia keluar dari persembunyiannya.

"Hiks…hiks.. jangan buang aku Mommy!" ucapnya sambil terisak. Baekhyun terkejut melihat Jackson berurai air mata dengan wajah memerah. Baekhyun menghela nafas lalu berjongkok dan membentangkan tangannya. Jackson berlari lalu memeluk tubuh ibunya.

"Hiks..jangan buang Jackson!"

"Siapa bilang Mommy akan membuangmu?" tanya Baekhyun sambil mengelus punggung putranya merasa menyesal dengan ucapannya.

"Jackson tidak apa-apa jika nanti kamar Jackson diberikan pada adik bayi, Jackson tidak apa-apa tidur di kamar pelayan yang sempit atau di gudang yang bau. Jackson juga tidak apa-apa jika nanti Jackson tidak boleh makan bersama kalian lagi, tapi jangan buang Jackson." Baekhyun yang terkejut dengan ucapan putranya melirik Kyungsoo yang hanya mengedikkan bahunya.

"Siapa_" Baekhyun menjeda ucapannya lalu kembali mendorong tubuh putranya dan menatapnya tegas.

"Lalu kenapa Jackson membakar kamar Jackson dan kabur kemari?" Jackson terisak.

"Itu…itu…hiks.. Jackson kesal karena kalian akan memiliki adik bayi. Mommy bahkan berkata bahwa Mommy akan sangat menyayangi bayi itu, dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama seperti saat mengandungku, apa aku sebuah kesalahan Mom?" Baekhyun tersentak. Ia tidak tahu kenapa putranya bisa bicara seperti itu, tapi ia tahu bahwa putra kecilnya telah mendengar percakapannya dengan Chanyeol semalam, tentang ia yang akan merawat bayinya dengan sepenuh hati, tapi sepertinya si kecil telah salah sangka.

"Kapan Jackson mendengarnya?"

"Kemarin malam."

"Jackson, bukankah sudah Mommy katakan bahwa menguping pembicaraan orang dewasa tidak baik?" Jackson menundukan wajahnya sambil masih terisak.

"Ma-maafkan Jackson Mommy! Tapi apa aku benar-benar sebuah kesalahan?" Baekhyun menatap wajah putranya dalam, merasa teriris oleh ucapan putra kecilnya.

"Kau memang kesalahan." Suara Chanyeol membuat tiga orang disana menoleh. Ia muncul dengan tatapan tajamnya.

"Chanyeol!" seru Baekhyun agar tidak memarahi putranya atau salah bicara dan menyakiti hati yang lebih kecil.

"Tapi kau kesalahan yang indah sayang, kesalahan yang membuatku bersyukur bahwa aku, bahwa kami telah melakukan kesalahan itu." Ucap Chanyeol sambil berjongkok untuk mensejajarkan posisinya dengan Baekhyun dan Jackson.

"Bagaimana bisa?" tanya Jackson bingung. Chanyeol tersenyum lalu menatap Baekhyun dan mengelus pipi istrinya.

"Jika saja saat itu aku tidak melakukan kesalahan, mungkin kami tidak akan bisa bersama. Karena kehadiranmu di perut ibumu membuat kepercayaan kami kembali. Kami bersyukur kau terlahir kedunia, kau adalah anugrah dan kau itu sangat special, karena_" Chanyeol menyentuh loocin di leher putranya lalu tersenyum.

"Karena separuh jiwaku ada di dalam dirimu." Jakson tersenyum lalu memeluk Chanyeol dan Baekhyun. Kyungsoo yang melihat itu merasa tersentuh. Sejenak ia kembali teringat akan masalahnya namun kini ia tahu apa yang harus ia lakukan. Jackson benar bahwa ia harus mengikuti kata hatinya.

"Aku mencintai kalian."

"Kami juga sayang." Sahut Baekhyun sambil mengelus punggung putranya.

"Tapi apa kalian akan tetap mencintaiku jika adik bayi ini lahir?" tanya Jackson.

"Apa yang bisa membuat kami berhenti mencintai makhluk menggemaskan sepertimu hah?" ucap Baekhyun sambil menarik hidung mancung putranya.

"Dan juga nakal jangan lupakan itu sayang!" ucap Chanyeol dan Jackson mendengus lalu mencium bibir Chanyeol dan Baekhyun.

"Eeeii apa-apaan itu?" tanya Chanyeol sambil mengusap bibirnya.

"Ciuman kasih sayang. Aku melihat para manusia melakukannya."

"Kau terlalu sering berada di dunia manusia." Gumam Chanyeol. Jackson terdiam lalu menunjuk kedua orangtuanya.

"Berarti kalian pun, karena kalian selalu melakukan ini setiap hari bahkan Daddy menggigit bibir Mommy, hingga Mommy berteriak kesakitan." Tiga orang dewasa lainnya membulatkan mata mereka.

"Sudahlah! Ayo kita kembali! Waktu makan malam semakin dekat." Ucap Baekhyun yang bangkit terlebih dulu dengan wajah memerah. Chanyeol terkekeh lalu mengangkat telapak tangannya dan dibalas tepukan oleh Jackson.

"Anak Daddy belajar dengan cepat, bagus! Kau akan melakukan hal yang sama nanti dan pastikan bahwa pasanganmu berteriak juga."

"Kenapa?"

"Itu artinya dia menikmatinya."

"CHANYEOL! Jangan bicara yang tidak-tidak ayo kembali!" ucap Baekhyun kesal.

"Soo aku pamit, maaf membuat kekacauan." Ucap Baekhyun sambil membungkukan tubuhnya dan Kyungsoo hanya membalas dengan anggukan.

Jackson berlari kearah Baekhyun dan menyusul ibunya sebelum akhirnya menghilang. Chanyeol yang hendak pergi menghentikan langkahnya lalu melirik Kyungsoo dan berjalan mendekat.

"Kau tidak usah ragu lagi. Dia mencintaimu dan kau mencintainya. Meski sebuah ikatan tidak terlalu penting, tapi tidak ada salahnya mengikat cinta kalian dalam sebuah ikatan suci." Ucap Chanyeol dan Kyungsoo menghela nafas sambil menundukan wajahnya.

"Apa yang membuatmu tidak yakin? Tenang dua orang pemimpin berdampingan akan menjadi sebuah kepemimpinan yang sempurna, jangan takut dengan kedudukan kalian."

"Aku_"

"Soo, pernikahanmu dua hari lagi. Akan sangat terlambat jika kau memilih mundur dan…akan menjadi penyesalan seumur hidup jika kau melepaskannya. Dulu kau melepaskannya demi kebahagian kami dan kini saatnya kau bahagia."

"Hyung_"

"Dengar adikku sayang! Kau bukanlah ibu yang harus mengobarkan segalanya demi kebahagiaan kita, kau, aku dan Luhan memiliki porsi yang sama untuk bahagia. Berhenti memikirkan kebahagiaan orang lain, kau harus memikirkan dirimu juga. Aku dan Baekhyun, Luhan dan Sehun kami telah bahagia, bahkan kedua kakek kita juga. Jadi jangan ragu , kau mengerti?" Kyungsoo mengangguk lalu memeluk tubuh Chanyeol.

"Terima kasih hyung!"

"Sama-sama sayang! Sekarang daripada menghabiskan waktumu dengan berdiri di pinggir danau kenapa tidak kau gunakan untuk mempersiapkan pernikahanmu? Aku lihat para malaikat sudah hampir selesai dengan persiapan mereka." Kyungsoo mengangguk sebelum akhirnya pelukan mereka terlepas dan Chanyeol menghilang.

Kyungsoo kembali menatap pantulan dirinya di atas air danau lalu ia tersenyum.

"Kalian benar, seharusnya aku tidak meragukan Jongin."

..

.

Di suatu tempat dibumi, tepatnya di sebuah pantai yang berisi para turis asing yang sedang berjemur ada dua buah sosok yang sedang berbaring dengan memakai kaca mata dibawah perlindungan paying pantai.

"Kau menyukainya kan?" yang lebih tinggi berbicara.

"Diamlah! Kau bicara terlalu banyak sejak kita disini. Biarkan aku menikmati waktu tenangku di sini."

"Baiklah-baiklah. Kenapa kau sangat mudah marah sih? Padahal kau kan Raja Langit."

"Mantan." Ucap pria yang lebih pendek, lalu tiba-tiba ia bangkit membuat pria satunya terkejut.

"Bukankah Kyungsoo akan menikah dengan Pangeran Matahari? Kapan itu? Kita terlalu asyik berlibur hingga melupakan cucu kita."

"Besok."

"Ah, syukurlah!" ucapnya sambil mengelus dada.

"Jangan terlalu cemas begitu, lagipula kita tidak diharuskan datang." Ucap Kakek Iblis.

"Kita harus datang ini pernikahan agung, Raja Malaikat dan Pangeran Matahari. Kau pikir hal ini akan terjadi lagi? Ini hal yang istimewa."

"Ada yang lebih istimewa."

"Apa?"

"Pernikahan Raja Iblis dan Raja Langit." Raja Langit mendengus lalu kembali tidur dan memakai kaca matanya.

"Mantan." Ucapnya kesal. Kakek Iblis tersenyum jahil.

"Itu artinya kau menyetujuinya?"

"Jangan bermimpi!"

"Kau tidak menyanggahnya."

"Aku berkata mantan. Itu artinya antara kau dan aku adalah mantan, tidak ada hubungan apa-apa lagi." Ucap Raja Langit. Kakek Iblis mencibir lalu kejahilannya muncul.

"Memangnya diantara kita pernah ada apa?"

"Isssh! Menyebalkan! Enyahlah kau iblis!" gerutu Raja Langit sambil membalik tubuhnya.

"Hahahaaha…" tawa Kakek Iblis menggelegar membuat orang-orang disekitarnya menoleh dan ia memilih untuk mengabaikannya.

..

.

Di Nubes seluruh malaikat nampak sangat bahagia. Sebuah pernikahan suci akan terjadi. Kyungsoo berjalan dengan jubah panjangnya, sementara Jongin telah berdiri dengan gagahnya.

Kyungsoo menoleh dan mendapati keluarganya berada disana hanya tidak ada Sehun, Luhan dan Kibum yang menghadiri, namun mereka telah mengucapkan selamat jauh sebelum pernikahan itu terjadi.

Keduanya berdiri berhadapan dan Jongin memegang tangan Kyungsoo dengan lembut. Mata mereka memancarkan sebuah kebahagiaan, sebuah perasaan cinta yang lembut dan hangat.

Ketika sebuah cincin kristal tersemat dikedua jemari mereka dan mereka berciuman, sebuah sinar muncul. Perlahan cahaya itu muncul membuat tubuh mereka membias bersama cahaya.

"Soo, aku mencintaimu."

"Aku juga mencintaimu Jongin." Sahut Kyungsoo lalu cahaya itu semakin membias dan akhirnya menghilang bersamaan dengan sosok pasangan pengantin yang juga menghilang.

"Kemana mereka?" tanya Baekhyun pada Chanyeol, namun yang membalas adalah Kakek Iblis yang kebetulan duduk bersebelahan dengan Baekhyun.

"Ke Istana Matahari tentu saja, melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Seperti kalian dulu yang membuat gempar seluruh Infernus."

"Kakek!" rengek Baekhyun sambil mencubit lengan pria disampingnya.

"Akhirnya mereka bisa bahagia." Gumam Raja Langit yang tersenyum haru.

"Lalu jika Paman Soo dan Paman Matahari pergi apa yang kita lakukan disini?" tanya Jackson.

"Bersenang-senang tentu saja." Sahut Minho lalu membawa cucunya dalam gendongan dan bangkit pergi.

"Kau dengar bersenang-senang." Bisik Chanyeol ditelinga Baekhyun. Baekhyun menyiku perut Chanyeol lalu bangkit.

"Baekhyun kau mau kemana?" tanya Chanyeol.

"Kembali tentu saja. Apa kau mau membuat Nubes juga gempar?" ucap Baekhyun sambil melirik Kakek Iblis yang spontan menaikkan kedua alisnya.

"Itu dia istriku. Ah, aku bersyukur telah mengubahnya menjadi iblis." Ucap Chanyeol sambil bangkit dengan wajah berseri-seri.

"Kakek aku kembali dulu! Sebaiknya kakek tetap disini, aku takut telinga kakek akan sakit mendengar suara Baekhyun." Ledek Chanyeol dan Kakek Iblis memutar bola matanya.

"Ah, senangnya menjadi muda dan memiliki pendamping hidup." Ucap Kakek Iblis sambil melirik sosok disampingnya.

"Hei, kau tidak terpikirkan untuk memiliki pendamping hidup? Aku dengan sukarela mengajukan diriku." Raja Langit bangkit sambil mendengus.

"Lebih baik hak hidupku dicabut daripada memiliki pendamping hidup yang menyebalkan sepertimu." Ucapnya lalu berlalu, berbaur dengan malaikat lain.

"Ckckckck… dia selalu kasar seperti itu! Tapi aku suka."

..

.

Jongin menindih tubuh Kyungsoo ketika mereka berada diatas ranjang. Pipi Kyungsoo memerah karena hal seintim ini tidak pernah mereka lakukan. Jongin mengelus pipi Kyungsoo sayang lalu mengecup keningnya.

"Aku senang akhirnya kita bisa bersama. Ini seperti aku telah menantikan pasangan hidupku hampir ribuan tahun lamanya." Kyungsoo tersenyum.

"Maaf karena telah membuatmu menunggu."

"Tidak masalah sayang. Takdir telah mengatur semuanya, aku tidak bisa memaksakan apapun."

"Jongin, aku mencintaimu."

"Ya.. aku tahu. Jadi mari kita buat cinta kita terwujud. Kau ingin wujud yang seperti apa?" tanya Jongin dan Kyungsoo mengernyit bingung.

"Yang tampan sepertiku atau yang cantik sepertimu?" Kyungsoo tercekat dan rona di pipinya semakin memerah.

"Aku…aku tidak tahu."

"Baiklah mari kita buat dulu, masalah dia cantik atau tampan itu urusan belakangan, karena aku yakin dia pasti akan menjadi makhluk yang indah, sama sepertimu." Ucap Jongin sebelum akhirnya menyatukan kedua bibir mereka dalam sebuah ciuman yang lembut dan tak menuntut.

..

.

Para pelayan yang berlalu lalang menutup telinga mereka ketika melewati pintu kamar Raja mereka, sejak tadi suara-suara desahan dan teriakan itu terdengar sangat keras.

Siapapun bisa dengan mudah tahu apa yang sedang dilakukan dua orang di dalam sana dan tidak ingin repot-repot mengintip untuk melihat sehebat apa permainan mereka di dalam sana.

"AAAAHH…AAAAHHH.." Baekhyun berteriak dengan suara seksinya ketika tubuhnya bergerak naik turun dengan cepat diatas milik Chanyeol. Chanyeol menutup matanya sambil menahan kenikmatan ketika lubang ketat Baekhyun menjepitnya.

Wujud mereka memang masih setengah tidak sepenuhnya iblis namun kekuatan yang mereka gunakan adalah kekuatan iblis mereka sehingga permainan panas itu terasa semakin panas.

"Aaaah… Chanyeolhh…" Baekhyun mendesah ketika semburan sperma Chanyeol membasahi lubangnya untuk kesekian kalinya. Baekhyun mengepakan sayapnya dan terbang. Chanyeol menatap istrinya bingung ketika matanya terbukanya.

Baekhyun diatas sana menyeringai lalu terduduk diudara, ia membuka kedua kakinya lebar membuang lubang memerahnya kembali terlihat.

"Chanyeol, ingin bermain diudara?" Chanyeol tersenyum lalu melebarkan sayapnya dan menyusul Baekhyun keudara. Penisnya yang sudah kembali tegak kembali menyentuh permukaan lubang Baekhyun.

"Kau tidak lelah?"

"Tidak sama sekali." Ucap Baekhyun.

"Aku menyukai ini." Sahut Chanyeol sambil memasukan miliknya membuat Baekhyun menutup matanya menahan kenikmatan.

"Eeeehhmmm.. lebih dalam…"

"Ini ronde keberapa?" tanya Chanyeol. Baekhyun membuka matanya, menarik leher Chanyeol ganas. Membawa keduanya dalam sebuah ciuman kasar dan sangat panas. Chanyeol menjulurkan lidahnya dan Baekhyun menghisapnya kuat bahkan menggigit bibir bawah suaminya.

"69 jika aku tidak salah hitung."

"Bagus. Rekor baru! Ayo buat jadi 100" Baekhyun menyeringai lalu mengetatkan lubangnya membuat bola mata Chanyeol membulat.

"Siapa takut."

"Ini baru istriku." Gumam Chanyeol dan mulai bergerak untuk menyetubuhi istrinya untuk kesekian kalinya.

Percintaan mereka lagi-lagi membuat gempar seluruh Infernus, bahkan Minho dengan terpaksa membawa kembali Jackson ke Nubes dan membiarkannya bermain dan menganggu para malaikat disana.

Semua pada akhirnya kembali pada apa yang telah tersurat oleh takdir. Cobaan bisa saja datang dalam kehidupan setiap makhluk hidup, sebuah pilihan dituntut dan sebuah keyakinan di goyahkan.

Takdir bisa saja menghancurkan perahumu ditengah hujan badai, takdir bisa saja membuat keyakinan mu goyah bahwa kau tak akan selamat, takdir bisa saja membuat pilihanmu jatuh pada kesalahan. Tapi ketika kau yakin dan percaya akan dirimu dan pilihanmu, takdir akan membawamu pada akhir yang sebenarnya.

Takdir bukan penentu hidupmu, tapi keyakinan dan pilihanmu yang akan membawamu pada takdir.

Kehidupan bukan tentang siapa yang bahagia atau siapa yang berakhir sengsara, sebuah kehidupan adalah bagaimana kau bertahan menghadapi semuanya.

Tidak peduli kau iblis,manusia atau malaikat sekalipun, ketika cinta menyapa maka tak peduli apapun dirimu, siapapun dirimu atau bagaimana pun dirimu kau akan tetap merasakan hal yang sama. Bahagia dan duka.

Tidak ada cinta yang salah, semua cinta adalah kebenaran. Tidak ada cinta yang menyimpang semua cinta adalah mutlak. Cinta tidak pernah berpihak, cinta netral dan siapapun berhak.

..

.

THE END
..

..

.

BONUS SCENE

( 4 tahun kemudian )

..

.

Dalam sebuah meja makan nampak empat orang saling terdiam. Dua diantaranya yang memiliki perbedaan usia terlampau jauh saling memberikan tatapan membunuh.

"Lepaskan!" ucap yang lebih kecil sambil tetap mempertahankan garpunya menancap diatas sebuah daging panggang.

"Tidak akan!"

"Daddy sudah tinggi, biarkan ini menjadi milikku."

"Tidak mau."

"Dasar menyebalkan."

"Kau lebih menyebalkan!" bentak yang lebih tua. Keduanya masih saling tatap, tidak mau mengalah satu sama lain. Kibum menghela nafas sambil tetap melanjutkan acara makannya, sementara Luhan telah meletakkan sendok dan garpunya lalu menutup matanya kesal.

"KALIAN BERDUA BISA TIDAK MAKAN DENGAN TENANG?" teriak Luhan kesal membuat dua sosok itu segera menarik tangan mereka.

"Daddy duluan,Mom. Dia tidak mau mengalah untukku." Rengek bocah 8 tahun itu.

"Apanya yang tidak mau mengalah? Kau makan sangat rakus, kau bahkan telah memakan empat potong."

"Sehun! Kau harusnya mengalah untuk Owen." Ucap Luhan penuh amarah, si kecil menjulurkan lidahnya mendapat pembelaan dari sang ibu.

"Kau, dasar bocah menyebalkan." Ucap Sehun sambil menatap putra angkatnya dan mendengus, sementara bocah tampan itu memeluk tubuh Luhan dan meledek Sehun dengan ekspresi wajahnya.

"Lihat! Aku seperti melihat kau kecil dan Chanyeol dulu." Ucap Kibum sambil tertawa.

"Ibu tahu?" Luhan menoleh sambil tersenyum dan mengelus rambut putra angkatnya.

"Karma berlaku." Sehun mendengus lalu meletakkan garpunya dan melipat kedua tangannya kesal.

"Akhirnya kau merasakan bagaimana menjadi ayah, Sehun-ah."

"Diam! Aku marah dan aku tidak ingin bicara pada siapapun." Ucap Sehun kesal. Luhan mengedikkan bahunya.

"Tidak masalah. Itu berarti Owen akan tidur dengan Mommy malam ini." Ucap Luhan sambil mengelus pipi putranya sayang. Bola mata Sehun melotot , malam ini adalah malam yang telah Luhan janjikan dari semua malam-malamnya yang disibukan dengan pekerjaan masing-masing, dan setelah penantian sabar dirinya, malam ini akan berlalu dengan ia yang tidur seorang diri sambil memeluk bantal, bukan Luhan?

Sehun menggeleng pelan.

"Benarkah?" ucap Owen dan Luhan melirik Sehun sejenak lalu mengangguk.

" . Baiklah aku mengalah, kau bisa ambil daging itu, aku tidak perlu."

"Aku juga. Aku tidak menginginkannya lagi. Mom, ayo kita tidur!" Tarik bocah itu membuat Sehun melototkan matanya.

"Yak! Luhan~"

"Biarkan saja dia Mom, biarkan Daddy berguling-guling sambil menangis seperti saat Mommy mendiamkannya dulu." Luhan tertawa lalu mengusak rambut putranya dan menggandeng tangan kecil itu menuju pintu kamar si kecil.

Sehun mengacak rambutnya kesal dan Kibum hanya menggeleng.

"Kau itu sudah dewasa Sehun, kenapa iri dengan anak-anak?"

"Dia bukan anak biasa, dia pasti jelmaan iblis." Ucap Sehun kesal sambil meremas garpunya.

"Lalu kau sendiri?"

"Ibu, berhenti membelanya! Jika semua orang membelanya dia akan semakin besar kepala."

"Hei, kau adalah ayahnya kenapa berkata begitu."

"Ah sudahlah!" Sehun mengacak rambutnya kembali dan mendesah frustasi.

BEEP

Sehun mengeluarkan ponselnya dengan malas dan membuka sebuah pesan dari Luhan.

"Tunggu aku, setelah Owen tidur. Aku milikmu."

"Assa!" Seru Sehun sambil memukul udara.

"Apalagi kali ini?" tanya Kibum heran.

"Malam indah menantiku, Bu." Sehun bangkit dan mencium pipi Kibum.

"Aku akan bersiap-siap. Selamat malam." Kibum menggeleng lalu kembali menatap piring di depan matanya.

"Selamat malam Sehun, selamat malam Baekhyun." Gumamnya pelan, tidak memungkiri bahwa ia merindukan putranya yang lain.

..

.

Suara ombak yang menabrak karang terdengar jelas, suara burung camar dan hembusan angin saling bersahutan. Para turis berbaring menantang matahari diatas alas mereka, membiarkan kulit mereka terbakar dan menghitam.

"Aaaahh…Chanyeolh…cukup!" ucap Baekhyun sambil berusaha mendorong paha Chanyeol agar menjauh.

Niat awal adalah berlibur bersama buah hati mereka, namun seharusnya Baekhyun tahu jika Chanyeol adalah seorang maniak. Hingga keduanya berakhir bercinta di balik karang dimana tidak ada seseorang pun yang akan memergoki mereka.

"Sekalihhh lagi Baek…aahhh…aaah…aahh.." Chanyeol mendesah ketika berhasil mendorong kembali miliknya.

"aaaah…aahh…ahhh..Chan…eeuummhh.." Baekhyun menutup mulutnya sambil satu tangan yang lain menahan bobot tubuhnya di permukaan batu karang yang tajam.

Chanyeol masih menggila dibelakang sana dan Baekhyun nampak khawatir dengan anak-anak mereka yang sudah mereka tinggal sejak sejam yang lalu.

"Aaah…Baekhyun-ah…"

"Cepat..cepatlahhh…aaahh… ahhh." Tubuh Baekhyun masih tersentak-sentak dan ia kembali menurunkan tubuhnya untuk lebih menungging agar Chanyeol dengan mudah bisa bergerak dibelakangnya.

Gerakan Chanyeol semakin cepat, dengan mata tertutup ia mendongak keatas merasakan pijatan lembut dari dinding ketat Baekhyun.

"Jika spermaku berbuah lagi, maka anak kita akan memiliki darah manusia yang kental, karena kita melakukannya dalam wujud manusia."

"Diamlah! Cepat…aahh selesaikan..uuhhh…Chanyeol…" Baekhyun menutup matanya ketika merasa milik Chanyeol semakin mengembung dan membuat lubangnya sesak.

"Persiapan dirimu sayang!"

"AAHHHHH…"

"Chan…yeoollhh…ooohh.." Keduanya mendesah lega ketika cairan mereka keluar secara bersamaan. Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol, lalu menaikkan celananya dengan cepat.

Chanyeol pun melakukan hal yang sama, namun ketika Baekhyun hendak keluar Chanyeol menahan tangan yang lebih pendek lalu mencium bibirnya kesukaannya dengan ganas.

Baekhyun membalasnya dan kemudian melepaskannya.

"Cukup! Kita sudah terlalu lama meninggalkan mereka." Ucap Baekhyun lalu segera keluar. Chanyeol menyusul sambil bersiul senang.

Ia merasa puas setelah hasratnya yang sejak tadi tertahan karena melihat Baekhyun yang berlari-lari mengejar anak bungsunya dan pantatnya melompat-lompat seperti ingin diremas.

"Chanyeol! Ayo!" pekik Baekhyun dan Chanyeol tersenyum lalu menggandeng istrinya.

Seorang remaja berbaring disamping seorang turis wanita berbikini dan sesekali mengedipkan matanya sambil menggoda wanita di depannya.

"The weather is hot, right?"

"Yes."

"But you hotter" wanita itu tersenyum canggung melihat remaja di depannya yang nampak genit.

"Oh thank you."

"And sexy."

"Hahahaha.. thank you boy."

"Boy? Don't call me boy!"

"Oh sorry, you look so young. So I think…yeah..umh.." wanita itu mengedikkan bahu.

"Yeah, but just don't call me boy! Call me baby!" wanita itu mengernyit sambil tersenyum kikuk.

"So, baby! Now is your time to drink your milk." Jackson menoleh ketika mendengar suara ayahnya dan ia mendesah.

"Oh come on, Dad! Just let me_"

"Jackson! Dimana adikmu?" Jackson menegang ketika mendengar suara ibunya dan juga teringat akan adiknya.

"Aku meninggalkannya disana." Tunjuk Jackson acak tidak ingin merusak citra 'playboy' nya.

"Bukankah Mommy sudah bilang untuk menjaga adikmu? Kenapa kau meninggalkannya?" bentak Baekhyun sambil melihat sekeliling untuk menemukan keberadaan anak bungsunya.

"Oh please Mom! Kita kemari untuk liburan, kenapa aku harus menjadi baby sitter? Lalu kalian sendiri kenapa meninggalkan kami?" tanya Jackson menantang.

"Kemari!" Baekhyun menarik telinga putranya dan membawanya menjauhi wanita seksi itu.

"Aww.. sakit Mom!" ringis Jackson.

Mereka berjalan dan nampak kebingungan mencari keberadaan si kecil. Hingga ia menemukan putrinya terduduk diatas pasir dengan sekop ditangannya, di daerah yang sangat sepi.

Gadis kecil dengan rambut dikuncir dua dan terlihat sangat cantik, persis Baekhyun hanya versi perempuannya. Jackson berlari cepat kearah sang adik berusaha menghindari jeweran Baekhyun.

"Mom, look!" tunjuk Jakcson dan Baekhyun segera berlari, matanya terkejut mendapati putrinya bermain dengan puluhan kepiting besar di dalam kumbangan pasir yang ia buat.

"Astaga! Jiwonnie, mereka bisa melukaimu." Baekhyun dengan segera mengangkat tubuh kecil putrinya. Jackson menghela nafas dan melihat iba pada kepiting-kepiting yang sudah tidak berbentuk lagi karena bagian tubuhnya telah di putus.

"Rest in peace guys. Aku turut menyesal." Ucap Jackson sambil mengubur kepiting-kepiting itu tidak ingin membuat orang lain menemukannya.

"That's my boy. I'm so sorry." Ucap Chanyeol.

"Oh, it's okay. So, should I call you baby too?" bola mata Chanyeol membulat dan wanita itu menyeringai lalu menaikkan kakinya dan menggesekannya dengan gerakan sensual serta menggigit bibirnya.

"The weather's hot. Same as like you,arrggh.." Chanyeol terdiam di tempat dengan kedua alis terangkat , melihat wanita seksi itu menggeram seperti siga betina.

BYUR

Baik Chanyeol maupun wanita itu terkejut mendapati dirinya telah disiram oleh air dingin secara tiba-tiba.

"Yes, the weather is hot, So I give you this cool water." ucap Baekhyun sambil berkacak pinggang membuat mereka menjadi tontonan gratis orang-orang.

"What the fuck bitch!" gerutu wanita itu sambil mengusap wajahnya yang basah. Baekhyun mengedikkan bahu lalu berlalu.

Chanyeol menatap wanita itu lalu menyeringai.

"That bitch is my wife. So do you feel cold now?" ucap Chanyeol sebelum akhirnya berlalu.

"Baek?" panggil Chanyeol ketika istrinya duduk di sebuah kursi pantai dan memangku putri cantiknya dengan Jackson yang berbaring di kursi lainnya sambil membaca sebuah majalah.

"Kenapa mencariku? Sana nikmati waktumu dengan jalang itu!" Ucap Baekhyun sinis sambil mengelap wajah putrinya yang berisi banyak pasir.

"Wow, the war is coming." Chanyeol melirik Jackson tajam.

"Kau masuk ke hotel dan bawa adikmu!" ucap Chanyeol. Jackson mencibik lalu bangkit tidak ingin membantah.

"Ayo kita masuk!" ucap Baekhyun sambil bangkit dan menggendong putri kecilnya.

"Da..di.." si kecil mengulurkan tangannya hendak menggapai Chanyeol namun Baekhyun telah berlalu.

"Jiwonie ayo kita masuk sayang!" ucap Baekhyun sambil melenggang pergi. Chanyeol mendengus kesal lalu mengejar istrinya.

"Baek, honey! Baekhyun-ah! Ayolah jangan seperti ini!" rayu Chanyeol sambil mengejar istrinya namun Baekhyun tetap berjalan tanpa peduli. Jackson hanya mencibikkan bibirnya sambil berjalan disamping Baekhyun.

Mereka menaikki elevator untuk tiba di lantai kamar mereka. Baekhyun masuk dan Chanyeol menyusul, ketika Jackson akan masuk Chanyeol menahannya.

"Kau kembali ke kamarmu! Ini urusan orang dewasa." Ucap Chanyeol. Jackson berdecih dan mengumpat ketika pintu di tutup.

"Hei kau! Kita memiliki urusan setelah ini, ini semua salahmu!" Jackson terdiam dan segera berjalan menuju kamarnya yang bersebrangan dan menutupnya cepat.

"Baek?" Baekhyun tidak menjawab. Ia membersihkan tubuh Jiwon dan mengganti pakaiannya, lalu membiarkan putrinya bermain di atas karpet dengan mainannya.

Baekhyun setelahnya berjalan menuju toilet untuk membersihkan diri, namun sebelum pintu ditutup Chanyeol menahannya. Baekhyun yang sudah menyerah untuk mendorongnya membiarkan Chanyeol masuk dan ia dengan tidak peduli membersihkan dirinya.

"Baekhyun-ah ayolah! Kau lihat aku tidak menggodanya kan? Dia yang menggoda." Ucap Chanyeol sambil menatap Baekhyun dari balik kaca transparan diantara mereka.

"Tapi kau suka kan?"

"Tidak."

"Lalu kenapa kau diam dan menatap kakinya? Bagaimana bila aku tidak datang dan menyiramnya? Kau akan menerima ajakannya?"

"Tidak tentu saja."

"Heuh! Pembohong."

"Aku bersumpah."

"Aku tidak butuh sumpah iblis." Ucap Baekhyun masih menggosok rambutnya yang berbusa. Chanyeol melepas celananya lalu masuk untuk bergabung.

"Baekhyun-ah?" ucap Chanyeol sambil mengelus punggung sempit Baekhyun dan membantu istrinya membersihkan diri.

"APA?"

"Jangan marah!"

"Diamlah!"

"Sayang?"

"Chanyeol, bisakah kau diam?" teriak Baekhyun kesal. Chanyeol tidak mendengarkan , dia semakin mendekatkan tubuhnya dan mengelus tubuh Baekhyun pelan dengan gerakan sesual.

"Airnya terlalu dingin, apa kau tidak kedinginan?"

"Menjauhlah, Chan…hmpptt.." Chanyeol telah membungkam bibirnya dengan ganas dan membuat Baekhyun menggeliat kesal.

"Mom, Dad…oopps!" Baekhyun mendorong Chanyeol dan menoleh kearah pintu yang telah tertutup.

"Bocah itu!" kesal Chanyeol. Baekhyun segera keluar dan meraih bath robe nya.

"Ada apa Jackie?" tanya Baekhyun setelah dirinya keluar.

"Mom, kakek bilang bahwa Paman Soo akan melahirkan."

"Apa?" teriak Baekhyun terkejut.

"Chanyeol, keluarlah!" panggil Baekhyun berlari kearah pintu kamar mandi.

"Ada ap_"

"Kyungsoo akan melahirkan!" ucap Baekhyun gawat. Chanyeol membilas tubuhnya lalu segera meraih handuk.

"Kita kembali." Ucap Baekhyun yang segera menggendong putri kecilnya. Dan dalam sekejap keempat orang itu menghilang.

..

.

Kyungsoo meremas tangan Jongin ketika dirinya berbaring diatas ranjang empuk berbulu angsa.

"Tenang sayang!" Kyungsoo mengangguk dan kembali mengatur nafas.

"Apa sebentar lagi?" tanya Jongin pada Jessica yang berdiri di depan keduanya sambil melirik para malaikat yang sibuk mengurusi keperluan Kyungsoo.

"Ya."

"Apa sakit?" tanya Jongin pada Kyungsoo yang telah berkeringat. Kyungsoo mengangguk lemah dan ia terus mengatur nafasnya.

"Seharusnya aku tidak memintamu untuk bisa mengandung." Ucap Jongin pada Kyungsoo sambil mengelus keningnya.

"Terlambat untuk menyesal." Ucap Jessica sambil tersenyum.

"Kyungsoo kau siap?"

"Hm." Jawab Kyungsoo mencoba tenang.

"Akh! Jongin." Teriak Kyungsoo ketika ia merasakan sesuatu menendang keras.

"Kyungsoo?" Raja Langit tiba dengan wajah panik disusul Baekhyun, Chanyeol dan kedua anaknya dengan wujud setengah iblis mereka.

"Paman Soo?" ucap Jackson.

"..man Cu.." ucap Jiwon juga sambil belari kecil kearah Kyungsoo membuat Kyungsoo tersenyum.

"Kalian datang?"

"Tentu."

"Jackson, Jiwon kalian tunggulah diluar!" Jackson mengangguk dan berjalan membawa adik kecilnya.

Baekhyun menggenggam tangan Kyungsoo erat, meski ia tidak bisa membantu banyak tapi ia akan membantu Kyungsoo setelah apa yang Kyungsoo lakukan padanya dulu.

"Kau pasti bisa. Ini tidak akan sesakit saat aku melahirkan Sehun dan Jackson." Ucap Baekhyun menyemangati.

"Kau harus berjuang demi bayimu, Soo." Ucap Chanyeol mengelus pipi adiknya.

"Baiklah! Kita mulai."

Kyungsoo menutup matanya dan Jongin memegang tangannya erat serta Baekhyun di tangan yang berbeda.

Para malaikat telah berdiri disisi ranjang sambil mulai menyalurkan kekuatan mereka, Kakek Malaikat pun ikut menyalurkan kekuatannya.

"Aaahh…" Kyungsoo berteriak kesakitan. Ia merapatkan matanya, dan Jongin terus mengecupi jemarinya.

"Kau pasti bisa!"

"Kau bisa Soo!" ucap Baekhyun. Kyungsoo terus menyalurkan kekuatannya, untuk mendorong bayinya keluar. Jessica berdiri dengan tenang dan menyalurkan kekuatan bulannya.

Ruangan nampak sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Chanyeol memperhatikan dan sesekali melirik Baekhyun yang masih menyemangati Kyungsoo.

Ia kembali teringat bagaimana perjuangan Baekhyun ketika melahirkan kedua putranya, sementara untuk Jiwon tidak terlalu sulit karena Baekhyun sudah cukup kuat.

Chanyeol menatap wajah Baekhyun dan ia berjalan mendekat kearah sang istri dan memeluk tubuh Baekhyun dari belakang membuat Baekhyun terkejut.

"Chanyeol, apa yang kau lakukan?" tanya Baekhyun ketika Chanyeol memeluknya dan menenggelamkan wajahnya diceruk leher Baekhyun.

"Kau pasti jauh lebih sakit dulu kan? Maafkan aku." Bisik Chanyeol. Baekhyun terdiam sejenak.

"Kenapa minta maaf?"

"Maaf karena telah membuatmu merasakan hal sesakit itu. Maaf Baekhyun!" Baekhyun menoleh dan menangkup wajah Chanyeol.

"Aku tidak keberatan Chanyeol, jika rasa sakit yang harus aku lalui adalah untuk melahirkan anak-anak darimu." Ucap Baekhyun dan Chanyeol tersenyum, mereka menyatukan bibir keduanya tanpa memperdulikan orang-orang yang masih sibuk dengan kegiatan mereka.

"AAARRGGHHH.."

"OEEEKK…OOEEKKK." Ciuman Baekhyun dan Chanyeol terlepas lalu mereka menoleh untuk mendapati Jessica telah menggendong seorang bayi berkulit seputih kapas dengan rambut berwarna emas bercahaya dan tubuhnya bersinar.

"Jongin..hiks." Kyungsoo memeluk Jongin dan Jongin mengecup leher Kyungsoo sayang.

"Selamat sayang kau telah melahirkannya dengan selamat."

"Selamat Soo." Ucap Baekhyun sambil mengelus pipi Kyungsoo lalu ia bangkit.

"Dia sangat cantik." Ucap para malaikat dan Baekhyun dengan penasaran mendekat kearah Jessica yang masih terpana melihat kearah bayi itu.

"Wah, sangat cantik." Ucap Baekhyun sambil menatap bayi bermata biru itu yang menggeliat lucu.

"Selamat datang kembali… Krystal." Ucap Jessica dan semua orang dibuat terkejut.

"Ba..bagaimana bisa?" tanya Jongin terkejut. Jessica menoleh lalu tersenyum.

"Aku meminta sebuah hak istimewa untuknya agar bisa terlahir kembali, dan aku tidak menyangka dia lahir sebagai anak kalian." Kyungsoo membalikkan telapak tangannya dan Jessica berjalan mendekat untuk menyerahkan bayi perempuan itu.

"Sayang?" gumam Kyungsoo pelan dan ia berurai air mata.

"Mereka yang terlahir kembali adalah orang-orang yang memiliki kesempatan untuk menebus kesalahan." Ucap Jessica sambil tersenyum.

"Jika Putri bulan bisa lahir kembali, lalu bagaimana dengan Lucifer?" tanya Chanyeol. Jessica tersenyum kembali.

"Ketika ibu kalian meminta hak istimewa, ia meminta dua hal. Pertama terlahir kembali sebagai anak kalian, kedua_"

"Aakkh!" Baekhyun memegang perutnya yang terasa seperti ditendang. Semua mata menoleh kearah Baekhyun yang memegang perutnya dan Chanyeol mendekat dengan cepat.

"Baek?"

"Chanyeol, sesuatu seperti menen_ ah tidak lagi! Aku tidak mungkin, Putri Bulan ini tidak mungkin bukan?"

"Tidak ada yang mustahil Baekhyun-ah." Ucap Jessica sambil tersenyum lembut. Chanyeol memeluk Baekhyun dan mengelus kepala istrinya sayang.

"Lalu apa permintaan kedua?" tanya Kyungsoo, Jessica menoleh. Ia tersenyum dan menatap seluruh orang yang menatapnya penasaran.

"Yang kedua adalah, ia ingin Kris kembali terlahir sebagai saudaranya."

"APA?" Baekhyun dan Chanyeol sama-sama terkejut.

"Selamat untuk anak keempat kalian." Ucap Jessica. Baekhyun dan Chanyeol sama-sama terdiam dengan mata terbuka lebar.

"Kalian tidak bisa memungkiri, karena inilah sebuah takdir. Ini takdir kalian."

..

.

"Taemin apa yang kau lakukan?" Taemin kecil menoleh ketika mendengar suara kakaknya yang berjalan mendekat.

"Hyung! Lihat!" ucapnya sambil menunjuk sebuah bejana berisi air. Perlahan jemari lentiknya menyentuh benda itu.

"Tidak jangan_" belum usai Kris bicara, air di dalam bejana itu mengeluarkan cahaya membuat keduanya takjub dan potongan demi potongan gambar terlihat disana.

"Lihat itu aku! Lihat! Lihat! Itu hyung! Eeeih siapa mereka?" tanyanya sambil menatap sosok cantik berdiri bersanding dengan sosok pria berjubah hitam dalam sebuah pesta.

Kris mengerutkan keningnya, melihat lebih lama dan ia menyadari bahwa sosok cantik itu mirip dengan Taemin, lalu siapa sosok pria yang berdiri disamping adiknya dalam sebuah pesta pernikahan.

Taemin nampak tersenyum, lalu potongan gambar itu berubah dan bayangan-bayangan mulai terlihat. Tiga sosok lain yang merupakan campuran antara iblis dan malaikat, sebuah perang yang hebat, tangis, air mata, pertumpahan darah dan…

"Hentikan! Kita tidak boleh melakukan ini!" ucap Kris.

"Hyung lihat!" Kris menghentikan langkahnya dan kembali berbalik, menatap ke arah bejana itu dan melihat refleksi dua sosok menyerupai mereka menangis dengan sebuah pedang terhunus dan saling berpelukan.

"A-apa ini ki-kita dimasa depan? Ke-kenapa aku melakukan itu?" tanya Taemin dengan tubuh bergetar, dan air matanya jatuh ketika melihat refleksi mereka musnah bagai udara.

"Hiks.."

"Taemin! Dengarkan aku!" Kris menggoncang tubuh Taemin merasa iba pada adiknya yang ketakutan. Kris tahu betul apa yang sedang mereka lihat, itu adalah takdir mereka di masa depan, dan meski ia pun tidak mengerti tentang semua hal yang terjadi di dalamnya tapi ia tidak ingin terlihat lemah.

"A-apa kita akan mati?"

"Hidup atau mati, aku tidak peduli. Kemana pun kau pergi aku akan selalu berada disampingmu. Jadi jangan takut!" Taemin menatap sang kakak dengan wajah penuh air matanya lalu tersenyum.

"Janji?"

"Ya. Kita memang tidak bisa menghindari takdir, tapi cinta yang kuat akan mengalahkan apapun yang terkuat di dunia. Aku mencintaimu sebagai adikku."

"Aku juga, hyung. Berjanji akan selalu ada disampingku."

"Ya."

"Jika aku terlahir sebagai makhluk lain,berjanji akan ikut bersamaku?"

"Ya."

"Sungguh?" Kris tersenyum lalu memeluk tubuh adiknya.

"Ya, Taemin, karena aku akan selalu mencintaimu. Takdir hanya masalah waktu, bukan masalah perasaan."

..

.

THE END
SUNGGUHAN

( Dengan ini Devil Beside Me resmi tamat )

Terima kasih untuk tahun-tahun yang berat ini, terima kasih karena tetap setia, terima kasih karena bersedia baca dan terima kasih karena tetap bertahan sampai akhir. Sekali lagi terima kasih.

..

.

Huaaah.. apaan ini?

Bernafas lega ketika nyampe dikata end wkwkkw…

Aku gak tau gimana ending ini dimata kalian, karena ini mendadak banget , sebenarnya chapter kemarin itu ending, sengaja gak aku isiin supaya kalian berimajinasi sendiri wkwkwkw..

Jujur, bagian tersulit dari buat cerita memang pembukaannya, tapi bagian yang jauh lebih sulit daripada itu adalah sebuah penutup, sebuah akhir dari cerita..kwkwkw..

Aku harap akhir ini bisa diterima oleh kalian semua, aku udah berusaha sebaik mungkin jadi aku minta maaf kalo ini terasa aneh dan janggal wkwkwkw..

Yah, inget ajh kalo ini Cuma fiksi, Cuma khayalan jadi yah… jangan dibawa perasaan.

Akhirnya Devil Beside Me resmi tamat, hehehe.. setelah sekian lama yah pemirsahh, akhirnya sampe dikata end dan ini bener-bener end ya, gak ada prank gak ada sequel.

Makasi buat semua review, terima kasih untuk kesabarannya menunggu, terima kasih untuk seluruh pesan terror yang masuk, terima kasih karena memfollow dan memfavoritkan cerita ini, pokoknya terima kasih untuk semuanya, tanpa kalian DBM gak mungkin sesukses ini #eaaasombong

Okey, akhir kata seperti biasa jaga kesehatan kalian dan Salam Chanbaek is real.

Sebagai akhir, Aku pingin tahu pesan dan kesan kalian tentang FF ini, kali ajh aku tertarik bikin fantasi lagi kek gini, silahkan review jika kalian berkenan dan menganggap ff ini layak. Hehehehe…

Okey, see you next time, in the next story ...Love you all..

SALAM CHANBAEK IS REAL SEKALI LAGI wkwkkww…