Title : Devil Beside Me ( special chapter )

Cast : Park Chanyeol , Byun Baekhyun , Oh Sehun , Do Kyungsoo , Xi Luhan , Kim Jongin, Kim Kibum, Choi Minho , Lee Taemin , Ok Taecyeon , Taeyang, Kim Dasom , Kim Jonghyun, Bae Joo Hyeon-Irene , Park Sooyoung- Joy , Kim Yerim-Yeri, Song Naeun, Yoon Bomi, Park Chorong, Park Cheondong ( Thunder ), Huang Zitao, Wu Yifan, Jung Soojung, and others.


PERHATIAN!

Ff ini mengandung unsur dewasa ,seks, hubungan esame jenis yang menyebabkan beberapa orang mungkin mual, Bahasa yang berantakan, dan typo yang walau sudah berusaha dihilangkan tapi tetap muncul. Tidak untuk area bermain anak-anak, anak polos, antigay/ homophobic, AntiChanbaek dan segala yang tidak ada sangkut pautnya dengan dunia yaoi.

NO CO-PAST

NO-REPOST

NO-PLAGIAT

Okay?


There always be a place for the good person. So, don't steal people's effort , be honest dear..

Mulailah dengan sebuah kata, susunlah menjadi kalimat dan kembangkan dalam sebuah paragraph.

Cerita yang hebat bukan tentang siapa, tapi tentang apa dan bagaimana.


Salam Chanbaek is real, guys.

Mungkin kalian kaget pas tahu Devil Beside Me update, mungkin kalian bertanya-tanya kenapa aku mutusin untuk buat spesial chapter ini.

Semuanya bakal aku jelasin diakhir cerita, jadi selamat bernostalgia dan selamat membaca ^_^

..

.

Park Shita

Present

..

.

Langkah kaki kecilnya mencoba menyusuri lantai koridor yang dingin dan licin. Sesekali tangannya akan meremas tali tas ranselnya ketika melintasi orang-orang disekitarnya. Wajahnya setia tertunduk, hanya sesekali mendongak untuk memperbaiki letak kaca matanya.

Matanya melirik pintu masuk koridor, berharap langkah kecilnya akan segera sampai disana. Beberapa kali ia mencoba menghindar ketika orang-orang di depannya melintas atau bahkan nyaris mendorongnya. Ia semakin merapatkan tubuhnya pada dinding dan berharap bahwa setidaknya orang-orang tak menyadari kehadirannya.

BRUK

Ia tersungkur diatas lantai ketika seorang anak lelaki tak sengaja menabraknya saat bermain dorong-dorongan bersama temannya.

"Maaf." Ucap anak lelaki tadi. Si lelaki berkaca mata mengangguk pelan dan mencoba berdiri, ia kembali berjalan lebih cepat untuk bisa sampai ke pintu keluar koridor sekolahnya.

"Oh disini kau rupanya!" sebuah tarikan keras ia rasakan di bagian belakang kerahnya, ia menoleh sambil terseret dan menemukan sosok lelaki tinggi yang menyeretnya menjauhi gedung sekolah.

"Lepaskan! Lepaskan aku!" teriaknya sambil mencoba meronta, namun sosok yang lebih tinggi seolah tuli.

"Melepaskanmu? Setelah apa yang kau lakukan padaku? Enak saja!" yang lebih tinggi masih menyeret tubuh anak lelaki itu.

"Oppa!" keduanya terdiam. Yang lebih tinggi mendengus kesal dan melempar tubuh yang lebih kecil hingga tersudut pada dinding taman sekolah.

"Apa-apaan oppa ini!" seorang gadis manis mendekat, mendorong tubuh lelaki yang lebih tinggi dan membantu anak lelaki berkaca mata untuk berdiri.

"Kau tak apa?" si gadis bertanya sambil memperbaiki letak tas dan kaca mata yang lebih kecil. Lelaki yang lebih tinggi mendengus, sesekali mengusak rambut coklatnya yang menutupi dahinya, mata phoenix nya terlihat kesal, dan bibir penuhnya berdecih sebal.

Ia melempar pandanganya kesekitar, melihat isi sekolah yang menurutnya memuakan, hingga mata bulat itu semakin membulat dan ia menyeringai. Tanpa memperdulikan dua orang yang sedang sibuk di depannya dan nampak berlebihan, ia segera melangkah mendekati sosok incarannya.

Seorang wanita berkemeja putih kekecilan pada bagian dadanya, dengan rok mini hitam dan sebuah buku di tangannya.

"Mangsa yang cantik." Ucapnya sambil bersiul senang dan semakin mendekati sosok itu.

"Oppa, ayo kita_" si gadis menoleh sekeliling ketika tak menemukan sosok kakaknya, mata sipitnya menyapu seluruh isi halaman sekolah dan tak melihat keberadaan sang kakak.

"Noona?" si kecil berkaca mata memanggil pelan. Gadis itu menoleh dan menatap adiknya simpati.

"Lihat saja, aku akan mengadukan ini. Dia sungguh keterlaluan." Gerutu sang gadis sambil mengelus rambut adiknya.

"Hei, kalian?" sebuah suara muncul membuat keduanya menoleh. Tak jauh dari tempat mereka berdiri, seorang pria berkulit putih pucat dengan rahang tegas muncul dari dalam mobil sambil melambai kearah mereka.

"Kembali dicampakkan?" tanyanya sambil tersenyum.

"Ah, oppa. Aku bersyukur oppa kemari. Si Park hidung belang itu menghilang lagi." Gerutu sang gadis sambil mengenggam tangan sang adik untuk mendekati sosok yang kini berdiri sambil mempersilahkan kedua sosok itu masuk ke dalam mobilnya.

"Kebetulan aku diminta membeli makanan ringan tadi, si tua bangka itu sungguh merepotkan." Si gadis tertawa tertahan dan menoleh kearah adiknya yang juga menahan tawa.

"Paman tidak setua itu, hyung." Si lelaki berkaca mata akhirnya membuka suara.

"Ya, aku hampir lupa bagaimana ia membuat ibuku meraung setiap malam."

"Oppa!" peringat si gadis ketika kakak sepupunya bicara yang tidak pantas di depan adiknya yang masih berusia 8 tahun.

"Hei jagoan kecil, bagaimana harimu disekolah?" tanya lelaki yang paling tua sambil menatap melalui kaca mobil depannya tiba -tiba raut wajah itu berubah murung, ia menatap sepatu merahnya dan terdiam. Si gadis yang melihat ekspresi berubah sang adik hanya menghela nafas.

"Kau kembali membiarkan mereka menganggumu? Ck! Dasar anak-anak kurang ajar, kenapa tidak kau laporkan saja pada kedua orangtuamu?" lagi kepala yang paling muda tertunduk, kedua jarinya terjalin satu sama lain.

"Huh, omong-omong tentang mereka. Mereka sedang berlibur kini, dan mencampakkan kami dengan si Park hidung belang." Si gadis mengeluh sambil menatap keluar jendela.

"Ck! Si Park itu terlalu membanggakan wajah tampannya."

"Dia tidak tampan, dia itu idiot." Lelaki yang lebih tua tertawa nyaring lalu melirik kedua saudaranya melalui kaca depan.

"Tapi bukankah dia yang akan menjadi penerus ayah kalian?" keduanya mengangguk tanpa semangat.

"Aku tak bisa membayangkan seperti apa Infernus ditangannya." Si lelaki tertua menggeleng pelan sambil menatap kearah kaca depan dan menyeringai kecil.

….

..

.

DEVIL BESIDE ME
SPECIAL CHAPTER

..

.

Dentuman musik terdengar begitu keras memekakan telinga, namun tidak bagi mereka yang sedang asyik meliuk-liukan tubuhnya. Tidak hanya di dalam ruangan gelap dengan lampu berkelap-kelip itu, hampir diseluruh kota terdengar dentuman musik dan keramaian pengunjung dimana-mana.

Las Vegas, kota yang tidak pernah tidur. Kota yang selalu ramai didatangi oleh pengunjung dari segala kalangan dan asal, kota dimana surganya para orang-orang yang mengingikan sebuah liburan yang mewah dan berkesan.

Di salah satu kasino nampak delapan orang pria duduk saling berhadapan di depan sebuah meja persegi panjang. Dimana para pria berjas hitam yang terlihat berkelas itu saling menatap satu sama lain dan memperhatikan kartu yang berada di tangan mereka.

"Yeah! Kali ini aku menang!" pekik seorang pria diujung meja sambil tersenyum puas membuat yang lainnya nampak frustasi, namun tidak untuk satu pria lainnya yang hanya menyeringai, ia melempar kartunya dan semua mata dibuat tercengang.

"Pemenangnya adalah Tuan Park Chanyeol." Pria itu berdiri dengan satu alis terangkat, menatap seluruh wajah penuh kekelahan di depannya. Seorang pria berjas merah bangkit dan segera mengumpulkan uang itu ke dalam koper yang besar.

"Malam yang indah tuan-tuan." Ucapnya lalu segera melenggang pergi. Ia melangkah dengan penuh percaya diri meninggalkan ruangan dimana para penjudi terlihat serius dan beberapa frustasi dengan pekerjaan mereka.

"Ck! Orang-orang bodoh." Ucapnya sambil menyeringai dan menggeleng pelan.

"Tu-tuan. Di-dimana aku bisa meletakkan koper ini?" Chanyeol menghentikan langkahnya lalu menoleh, menatap dengan satu alis terangkat pada sosok pelayan berjas merah yang nampak menundukan kepalanya. Chanyeol meneliti sosok di depannya, lalu terkekeh pelan.

"Untukmu." Si pelayan membulatkan matanya.

"Ta-tapi…"

"Setidaknya kau tidak perlu menjual adik perempuanmu untuk biaya pengobatan ibu kalian." Sosok itu terbelalak dan tubuhnya membeku.

"Malam yang indah." Ucapnya lalu melangkah dengan santai menyusuri koridor yang berkarpet merah. Ruang judinya berada pada lantai atas, sehingga ia harus menaikki elevator untuk turun dan kembali ke hotelnya.

Di lain tempat di sebuah diskotik yang gemerlap, seorang lelaki meliuk-liukkan tubuhnya dengan gemulai. Kancing kemeja putihnya telah terbuka hampir semua, hanya menyisakan satu kancing terbawah.

Tubuhnya telah basah oleh busa yang keluar dari mesin yang tergantung dilangit-langit ruangan. Seluruh pengunjung menikmati acara mandi busa itu, acara yang biasanya terjadi hanya sekali dalam dua bulan dan yang bisa menikmatinya hanya mereka yang beruntung.

Si lelaki tetap menari membuat dirinya menjadi tatapan incaran beberapa pasang mata predator yang seperti ingin menerkamnya. Rambut pirang telah basah dan itu membuatnya terlihat semakin menggairahkan, apalagi ia tak mengenakan bawahan yang pantas, hanya sebuah celana jeans yang amat sangat pendek yang bahkan tertutup oleh kemejanya yang tidak terlalu panjang.

Ia terus menari dan sesekali melirik menggoda pada pria yang terus menatapnya membuat salah satu dari para predator itu bangkit dan mendekatinya. Si pria bertubuh kekar berdiri dibelakangnya, menggosokan tubuh bagian depannya pada si lelaki berkemeja putih.

"You're fucking hot bitch!" bisik si pria. Lelaki itu menoleh dan menyeringai, ia membalik tubuhnya lalu mendorong pelan si pria kekar.

"Yeah, and this bitch already married." Ucapnya sambil menunjukan cincin ditangannya dan kembali membalik tubuhnya lalu menari. Pria itu nampak jengah ketika melihat gerakan pantat lelaki asia di depannya.

"Who cares?" ucapnya lagi kini sambil menahan pinggang lelaki yang lebih pendek, memutarnya paksa dan mendekatkan wajahnya, si lelaki berkemeja putih menolak dan kembali mendorong pelan.

"Bitch, please suck my dick!" ucap pria kekar itu lagi, dan respon dari lelaki berkemeja putih hanya menyeringai.

"You'll regret it." Ucapnya sambil menatap sosok itu.

" Will your husband comes and fight me? Tch, I don't care, I don't fucking_"

BRAK

Tubuh itu terpental ke dinding diskotik membuat beberapa penonton terkejut, namun setelahnya kembali meliuk-liukan tubuh mereka. Si lelaki berkemeja putih melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap pria malang itu.

"I told you." Ucapnya sambil tersenyum dan tak lama sebuah tangan memeluk pinggang basahnya, dan sebuah kecupan ia dapatkan di lehernya, kecupan yang berubah menjadi hisapan-hisapan sensual.

"Siapa bajingan yang berani menyentuh milikku?" ucap Chanyeol sambil menjilat leher yang lebih pendek.

"Kau mendorongnya terlalu keras." Yang lebih pendek berbalik sambil mengalungkan tangannya pada yang lebih tinggi, menyatukan kening mereka berdua.

"Sebenarnya aku ingin membakarnya hidup-hidup karena dengan berani menyentuh milikku, tapi karena bukan sepenuhnya salahnya aku hanya meringkankan hukumannya." Yang lebih pendek menoleh dan menatap kearah pria tadi yang tak sadarkan diri dengan kepala berdarah yang sedang diurus oleh petugas untuk dibawa kerumah sakit.

"Yeah, hukuman yang ringan. Tapi kenapa bukan sepenuhnya salahnya?" tanya yang lebih pendek lagi.

"Karena sesuatu yang indah sepertimu memang seharusnya diperhatikan, jadi sayang_" Chanyeol menarik tubuh itu mendekat lalu menjilat permukaan bibir lawan bicaranya.

"ayo pulang dan selesaikan sesuatu yang bangun dibawah sana." Kedua pasang mata itu menoleh kearah bawah, lalu mereka tersenyum.

"Opps. Little Park telah bangun dari tidurnya."

"Dia selalu bangun untukmu." Kedua bibir itu bertemu dan saling melumat satu sama lain ditengah dentuman musik dan liukan tubuh pengunjung yang basah.

..

.

"Oooohh… Sial Chanyeol…Aaah…yah disana…" suara itu menggema begitu keras di salah satu kamar hotel. Sebuah kamar berkelas di hotel bintang lima yang nampak berantakan hampir diseluruh penjuru ruangan.

Bahkan keadaan ranjang pun tak kalah berantakannya, selimut dan sprei yang berserakan serta botol-botol wine yang setengah kosong.

"Aaahh… Baek… kauuuhh… sial… aahhh.." suara itu terus terdengar namun si pemilik suara tidaklah sedang berbaring diatas ranjang, namun keduanya sedang berada diatas udara dengan sayap mereka yang terbuka lebar namun tubuh keduanya telanjang.

Pinggul Chanyeol bergerak maju mundur, sementara sayapnya membungkus tubuh keduanya, Baekhyun menempel pada dinding dan Chanyeol bekerja di belakangnya. Suara penyatuan tubuh itu begitu dahsyat, meski telah melakukannya berjam-jam lamanya tak membuat keduanya merasa lelah.

"Dad? Mom?" suara halus dari anak bungsunya terdengar menggema di dalam ruangan, namun kedua orang dewasa itu masih tetap bergelut dalam kegiatan panas mereka.

"Aaahhh…Chanyeol…hhhss…hahh…"

"Daddy? Mommy? Kalian mendengarku?" panggilan itu masih terdengar mengalun.

"Chanyeol berhenti… Taehyung memanggil."

"Ah, tidak…sebentar lagiihhh sayang…"

"Daddy? Mommy? Aku merindukan kalian. Kapan kalian pulang? Apa kalian mendengarku?" Baekhyun mencoba mendorong tubuh suaminya, namun Chanyeol seolah tak peduli.

"Pagi tadi, mereka kembali mengangguku. Bukuku mereka masukan ke dalam closet, jadi semua bukuku basah dan aku tidak bisa belajar."

"Oh sial Chanyeol, dia butuh kita."

"Kenapa kau menyalakan telepati ketika kita sedang bercinta?" pekik Chanyeol yang kesal dengan penolakan istrinya. Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol, lalu terbang dan berbaring diatas kasur sambil mencoba mengatur nafas.

"Sayang?" panggil Baekhyun.

"Mommy? Mommy mendengarku?"

"Ya sayang, maaf Mommy ada urusan tadi."

"It's okay, Mom. Kapan kalian pulang?" tanya suara itu lagi. Baekhyun menghela nafas sambil melirik Chanyeol yang berdiri di depanya dengan tubuh seksi dan basahnya, yang masih dalam keadaan telanjang dan memberikan tatapan menggoda kearahnya.

Baekhyun memutar bola matanya malas, lalu berbalik. Kedua sayapnya telah masuk ke dalam tubuhnya membuat tubuh telanjangnya terlihat sangat jelas.

"Hhhmmm.. sebentar lagi?"

"Tapi aku rindu kalian."

"Ya, kami juga. Tapi bukankah ada Jiwon noona dan Jackie Hyung yang menjagamu?" tanya Baekhyun lagi sambil mendorong beberapa barang-barang yang mengganjal tubuhnya ke lantai.

"Hmmm… ini rahasia Mommy, jangan katakan pada Jackie hyung bila aku mengatakannya pada Mommy."

"Ya, ada apa sayang?"

"Janji?"

"Janji."

"Jackie hyung sangat kejam padaku, dia selalu kejam padaku, tadi saja dia menelantarkanku dan Jiwonie noona, untuk ada Owen hyung yang menjemput." Bola mata Baekhyun membulat.

"Benarkah? Biar Daddy yang memberinya pelajaran nanti."

"JANGAN!" teriakan itu membuat keduanya terkejut. Chanyeol menyeringai sambil menaiki tempat tidur. Ia menatap intens pada bongkahan pantat Baekhyun yang terlihat menggiurkan.

"Kenapa?"

"Nanti Jackie hyung tahu jika aku yang mengatakannya. Aku tak mau di marahi olehnya. Taehyungie takut." Ada nada ketakutan disana dan Baekhyun menghela nafas.

"Baiklah, Mommy tidak_ Chanyeol!" Baekhyun menoleh ketika Chanyeol hendak memasukan kejantananya ke dalam lubang Baekhyun.

"Mommy? Daddy? Ada apa?" Baekhyun membalik tubuhnya hendak menendang Chanyeol, namun kakinya ditahan dan dilebarkan. Baekhyun mencengkram lengan Chanyeol sambil menggeleng berkata bahwa jangan melakukan hal seperti itu ketika anaknya mendengar. Tapi Chanyeol tetaplah Chanyeol yang keras kepala.

Ia memasukan miliknya dengan cepat membuat Baekhyun memekik.

"Aaahh…Tidakhhh…..sayangghhh..kauhh… ti…tidak tidur hhh?" tanya Baekhyun dengan kesusahan ketika tubuhnya tersentak.

"Belum mengantuk. Kami baru selesai makan malam tadi, Paman Lu memasakan sup yang enak dan aku menyukainya, hanya Jackie hyung yang protes, Mom."

"Aahhh… benarkahhh? Dia…nakaalllhh aaahhh.. kau menginap di rumahhhh… ahh.. Chan… ahh .. rumah Paman Lu? "

"Mommy? Kenapa? Kenapa suara Mommy?"

"Ah, tidak sayanghhh… tenggorokan Mommy kurang baik belakangan ini."

"Kenapa bisa? Apa Mommy banyak makan permen disana?"

"Tidaakk…sayangg…aahhh…hhmmpp…" Baekhyun menutup mulutnya ketika gerakan Chanyeol semakin brutal.

"Mommy, dimana Daddy? Daddy?"

"Ah, iya sayang?" Chanyeol bersuara sambil menyeringai kearah Baekhyun. Kedua tangannya mencengkram paha dalam Baekhyun dan menusuk dengan sangat kuat dan dalam membuat Baekhyun tersentak dan kesakitan.

"Daddy sedang apa?" tanya putra bungsunya lagi.

"Mendengarkanmu tentu saja." Ada suara kekehan diseberang sana.

"Daddy, cepat pulang ya?"

"Iya sayang. Sekarang kau tidurlah, ini sudah malam."

"Baiklah. Aku cinta kalian. Selamat malam."

"Ya sayang, Daddy juga mencintaimu."

"Mommyhh… mencintaimuhh.. sayang."

Dan telepati itu terputus. Baekhyun menatap Chanyeol kesal, lalu ditengah hentakan tubuhnya ia bangkit dan meraih leher Chanyeol lalu menggerakan tubuhnya naik turun dengan kuat membuat Chanyeol menutup matanya sambil mengerang.

"Yah sayang, seperti itu, ride me, babe!"

"YAK! ORANGTUA MESUM!" Chanyeol dan Baekhyun menutup mata mereka sambil bergumam kesal ketika suara itu menggema begitu keras.

"SAMPAI KAPAN KALIAN DISANA DAN MELUPAKAN ANAK-ANAK KALIAN HAH? AKU BUKAN BABYSITTER."

"JACKIE!" Bentak Baehyun kesal.

"JIKA KALIAN TAK PULANG DALAM WAKTU DEKAT, AKU AKAN MEMBAKAR SELURUH BERKAS-BERKAS DIRUANG KERJA DADDY."

"ANAK SIALAN!"

"Chanyeol!"

"KAU YANG AYAH SIALAN."

"JACKIE!" bentak Baekhyun ketika anaknya ikut mengumpat.

"PULANG SEGERA ATAU INFERNUS BERAKHIR DITANGANKU."

"AKU AKAN MEMBUNUHMU BEGITU AKU SAMPAI."

"Dengan senang Tuan Raja Iblis."

Dan telepati itu kembali terputus. Chanyeol menggeram kesal, hasrat bercintanya telah lenyap dan ia mengumpat sambil mendengus kesal. Baekhyun mengelus pundak suaminya dan melepaskan tautan mereka sambil merintih pelan.

Ia bangkit dan melingkarkan selimut disekitar tubuh telanjangnya, sementara Chanyeol mendendang bantal guling kasar dan melempar tubuhnya keatas ranjang.

"Anak itu benar-benar."

"Jangan terlalu menyalahkannya, setidaknya itu menurun dari sifatmu." Chanyeol mendengus sambil menatap Baekhyun yang duduk di depannya.

"Seharusnya aku membunuhnya ketika itu." Wajah Baekhyun berubah datar, ia memalingkan wajahnya dan bangkit.

"Jika kau membunuhnya saat itu aku tak mungkin ada disini sekarang." Chanyeol tersadar, ia lupa jika topik itu selalu membuat suasana hati Baekhyun berubah.

"Hei, maafkan aku."

"Jangan mengatakan itu Chanyeol, jika dia mendengarnya dia akan merasa kecewa. Aku tak ingin anakku merasa bahwa orangtuanya tak menginginkannya, cukup Sehun saja." Chanyeol bangkit dan memeluk tubuh Baekhyun dari belakang, mengecup leher itu pelan.

"Ya, aku tak akan mengatakan itu lagi, aku berjanji." Baekhyun menggeleng pelan.

"Itu janji keseribumu Chanyeol." Chanyeol tersenyum ketika melihat Baekhyun tersenyum kecil, ia mengecup bibir Baekhyun pelan.

"Aku akan selalu berusaha menepatinya."

"Tapi kau selalu melanggarnya."

"Dan aku hanya perlu berjanji lagi." Baekhyun mencubit perut Chanyeol lalu memutuskan untuk berjalan kearah kamar mandi untuk membersihkan diri.

..

.

Sinar matahari menerobos memasuki celah tirai yang tertiup angin, tidak membuat kedua insan yang tengah tidur berpelukan diatas ranjangnya terusik. Tubuh telanjang keduanya hanya tertutup selimut, sementara tangan yang lebih besar memeluk sang istri dengan intim.

TING TONG

TING TONG

TING TONG

Lelaki yang bertubuh lebih kecil mengernyit, suara bel pintu itu membuat tidurnya terusik. Keningnya mengernyit dalam dan ia semakin menyembunyikan wajahnya di dalam dada sang suami.

TING TONG

TING TONG

TING TONG

"Aku akan membunuh siapapun yang membunyikan bel itu." Chanyeol bersuara masih dengan mata tertutup. Ketika sang suami akan bangkit,Baekhyun menahannya tidak ingin melihat pembunuhan ketika mereka baru membuka mata.

"Biar aku!" ucap Baekhyun. Dengan malas ia bangkit, mencari dimana letak pakaiannya dan yang bisa ia temukan di dalam kekacauan itu hanya kemeja milik Chanyeol, ia memakainya dengan cepat lalu berjalan ke arah pintu.

"Good afternoon, sir." Seorang pelayan tersenyum ramah. Baekhyun mengernyit dengan wajah mengantuknya, membuat sosok pria itu menelan ludahnya susah payah. Mata genitnya menatap setiap ruas di tubuh Baekhyun yang ternoda oleh bercak-bercak merah, dan berhenti di kedua paha Baekhyun yang telanjang, kemeja kebesaran Chanyeol hanya menutupi setengahnya.

"Pardon?" si pelayan tersadar ketika Baekhyun bertanya padanya.

"Room service, Sir." Baekhyun mengernyit, ia tidak merasa memesan layanan kamar. Namun ia menoleh kebelakang melihat bagaimana kacau kamarnya, untuk itu ia mengangguk pelan dan membiarkan sosok itu masuk dengan perlengkapannya.

Si pelayan tersenyum dan ketika masuk ia terkejut melihat kekacauan yang terjadi, ia melangkah semakin dalam dan menemukan sosok lain tertidur dengan pulas diatas ranjang dengan bertelanjang dada.

"Sorry for say this, but I didn't call servicer."

"Someone from room 627 called, and said he need room service." Baekhyun mengernyit dan ia tahu siapa pelakunya, siapa lagi jika bukan Jackson.

" Ah, It's okay. Just do your job, sir." Ucap Baekhyun sambil menepuk pundak si pelayan lalu melangkah mendekati ranjangnya, dimana pemandangan bokong Baekhyun menjadi santapan siang si pelayan.

"Chanyeol?" bisik Baekhyun namun Chanyeol hanya menggeliat masih dengan mata terpejam. Baekhyun menghela nafas lalu mengecup bibir Chanyeol dan segera melangkah ke kamar mandi.

Si pelayan masih melakukan tugasnya dan sesekali melirik Chanyeol yang masih tertidur dengan pulasnya, lalu mencuri-curi pandang kearah kamar mandi.

Sambil pura-pura memungut benda-benda yang berserakan di depan kamar mandi, ia mencuri-curi lagi ke arah kamar mandi yang tidak ditutup oleh Baekhyun. Baekhyun berdiri di depan cermin sambil melihat noda-noda ditubuhnya, bercak itu terlihat begitu jelas seperti usai di digigit oleh binatang buas. Ia menghela nafas, lalu jemarinya beralih menuju kemejanya, ia mengangkat kemejanya dan si pelayan membulatkan matanya lebar sambil membeku di tempat.

Tindakan Baekhyun membuat pantatnya terlihat, disana juga terdapat bekas gigitan yang tersebar, bahkan di paha bagian dalamnya pun tidak luput dari serangan Chanyeol.

Si pelayan meneguk ludahnya, merasa bersyukur dengan apa yang sedang ia lihat di depan wajahnya. Tanpa sadar Baekhyun telah masuk ke dalam pikirannya dan menjadi objek fantasinya, bibirnya terbuka lebar melihat bagaimana Baekhyun mengelus tubuhnya dan mengeluh akan jejak-jejak basah di sekujur tubuhnya.

"Do you like it, Sir?" tubuh si pelayan membeku ketika suara berat menyapa indera pendengarannya, ia menoleh dengan gerakan kaku dan terkejut mendapati sosok tinggi yang menatapnya dengan tajam.

"I…I'm..Akkh!" Cekikan itu membuatnya kehilangan nafas, Chanyeol mencekiknya tanpa perasaanya dan mengangkatnya keatas.

"I'm …akh…I'm so…sorry..aakkhh.."

"I'll never let you go, bastard! How dare you?"

"For..forgive.."

"Chanyeol!" Baekhyun datang dan langsung memaksa Chanyeol melepaskan tangannya dari sosok yang sudah menggantung diudara itu.

"Chanyeol, lepaskan!" Chanyeol tak peduli dengan teriakan Baekhyun, aura sekitarnya berubah, Baekhyun mendelik, ia tahu Chanyeol akan segera berubah menjadi wujud iblisnya dan Baekhyun tak akan membiarkan hal itu terjadi.

Baekhyun masuk ke dalam tangan Chanyeol, lalu menangkup wajah itu dan menciumnya dengan ganas. Perlahan emosi Chanyeol menguar, cekikannya melonggar hingga akhirnya terlepas.

Si pelayan terjatuh diatas lantai dengan tubuh lemas, Baekhyun mengibaskan tangannya dibelakang punggung meminta si pelayan segera pergi dan pria itu menurut dengan ketakutan dan tertatih.

Chanyeol menangkup tangan wajah Baekhyun, menyedot bibir itu dengan ganas membuat Baekhyun kewalahan karena saat ini dirinya dalam wujud manusia sementara Chanyeol telah berubah menjadi setengah iblis.

Baekhyun mencoba menyamai lumatan Chanyeol, meski ia merasa bibirnya pegal dan perih ketika Chanyeol menghisapnya dengan penuh nafsu. Hingga ia memekik ketika sayap Chanyeol terbuka lebar, dan tubuh keduanya terangkat lalu melesat menuju jendela.

Chanyeol masih menciumnya meski kini mereka sedang terbang diangkasa, begitu tinggi sampai tak ada seorang pun yang menyadarinya. Cengkraman di pipinya membuat Baekhyun kesulitan untuk merubah tubuhnya, jadi ia memilih untuk tetap dalam wujud manusianya.

Mereka terbang diangkasa sambil saling melumat, kaki Baekhyun menapak pada kaki Chanyeol sementara tangan Baekhyun berusaha membuat kemejanya agar tak tersingkap keatas.

Chanyeol terbang merendah dan tepat berada di depan sebuah gedung tinggi dimana para karyawannya sedang sibuk bekerja, hingga salah satu karyawan yang duduk paling dekat jendela melototkan matanya melihat dua sosok melayang sedang berciuman dimana salah satunya adalah makhluk aneh.

Baekhyun dalam ciumannya, melirik sosok itu dan ia mendengus karena Chanyeol tak menyadari dimana posisi mereka, ia mencengkram pundak Chanyeol dan memintanya untuk terbang lebih tinggi dan si iblis melakukannya dalam hitungan detik keduanya telah melesat lebih tinggi.

Baekhyun merengek dalam ciumannya, karena tenaganya sudah tersedot habis dan Chanyeol mengabulkannya, ia mendarat diatas gedung tertinggi di Las Vegas secara perlahan.

"Kau gila!" ucap Baekhyun sambil memukul pelan dada telanjang Chanyeol. Chanyeol terkekeh dan mengelus pipi Baekhyun dengan lembut.

"Aku gila karenamu, Baek." Baekhyun kembali mendengus dan menatap Chanyeol hingga menyadari bahwa suaminya masih telanjang.

"Dan tidak tahu malu." Ucap Baekhyun lagi, Chanyeol terkekeh dan menarik Baekhyun mendekat.

"Mau melanjutkan yang semalam?" Baekhyun menggeleng pelan namun Chanyeol mengangkat tubuhnya diantara kedua lengannya, membuat Baekhyun memekik terkejut.

"Tidak ada penolakan, sayang!" Baekhyun hanya menyandarkan wajahnya pada dada telanjang Chanyeol.

..

.

Taehyung terbangun dari tidur siangnya ketika mendengar suara ribut-ribut dilantai bawah. Kaki kecilnya ia bawa menuruni ranjangnya, dan berjalan dengan kepala setengah mengantuk menuju lantai bawah.

Setiap orangtuanya berlibur, ia dan kakak perempuannya akan dititipkan di rumah Luhan karena jika tidak ia akan selalu menjadi bulan-bulanan kakak laki-lakinya, Jackson.

"Ayah selalu memerintahku ini dan itu, kenapa tidak ambil sendiri?"

"Kau ini tidak tahu diri sekali, ayah hanya memintamu mengambilkan remote tv tapi kau sudah berlagak sombong, jangan mentang-mentang karena kau sudah 17 kau bisa sombong."

"Aku? Sombong? Kau lah pak tua yang tidak tahu diri."

"Kau_" keduanya terhenti ketika melihat sosok kecil yang bersembunyi di balik pintu di dekat ruang tengah.

"Taehyung? Kemarilah!" panggil Owen sambil mengibaskan tangannya kearah anak lelaki yang masih setia menyembunyikan tubuhnya.

"Hei bocah! Kemari!" panggil Sehun lagi. Pria yang kini telah berkepala tiga itu menatap bocah kecil ketakutan yang sebenarnya adalah adik bungsunya, namun karena jarak mereka yang terlalu jauh, Sehun tidak ingin dipanggil kakak.

"Kenapa kau bersembunyi? Kemari! Kau jangan menjadi pengecut, kau harus menghadapi dunia, bagaimana bisa kau menjadi keturunan si Park jika_"

"Ayah!" peringat Owen lagi sambil menatap tajam kearah sang ayah, Owen menghampiri Taehyung dan segera membawanya untuk duduk bersama.

"Di..dimana noona?" tanya Taehyung pada Owen.

"Oh, Jiwon sedang menemani Ibu berbelanja. Kau tahu kan seperti apa paman mu itu? Dia selalu butuh asisten ketika berbelanja." Taehyung mengangguk pelan lalu menatap kearah televisi yang menampilkan dua pria saling kejar-kejaran dikeramaian pasar.

"Lalu dimana Jackie hyung?" Sehun melirik Taehyung sejenak lalu menghela nafas, sementara Owen ikut menaikkan kedua alisnya.

"Seperti kau tidak tahu si bocah itu saja. Tentu dia sedang mencari mangsa." Taehyung turut menghela nafas dan menyandarkan tubuh kecilnya pada badan sofa sambil menaruh seluruh perhatiannya pada layar tv.

..

.

Para gadis-gadis nampak berenang dengan indah di dalam kolam renang indoor, mereka menggerakan tubuh mereka mengikuti instruksi seorang wanita yang selalu menepuk tangannya dengan ketukan berirama pada para perenang itu.

Tak lama peluit berbunyi dan mereka diperbolehkan untuk beristirahat. Seluruh perenang wanita itu naik kepermukaan dengan menggerakan tubuh molek mereka yang basah seiring dengan kaki mereka yang menyusuri lantai kolam yang basah.

Suara kikikan terdengar dan beberapa berlari sambil bermain kejar-kejaran, dan hal itu menjadi tontonan menarik bagi seorang lelaki yang mengintip dari jendela diluar gedung. Matanya berbinar dan terus berfokus pada bongkahan-bongkahan sintal yang terus bergerak setiap kali mereka berlarian.

"Yak!" lelaki itu menutup matanya kesal ketika seseorang berteriak di dalamnya.

"Yak, kau penguntit!" Jackson menoleh dan menatap nyalang segerombolan anak lelaki berseragam yang nampak acak-acakan.

"Apa yang kau lakukan disana hah?" tanya salah satunya. Sedang yang lain mendekat dan memanjangkan leher mereka untuk melihat ke dalam.

"Sial, dia mengintip gadis-gadis perenang itu." Jackson menutup matanya kesal, sambil mengorek telinganya yang tak gatal.

"Ck! Perusak kesenangan." Ucapnya sambil melangkah meninggalkan gerombolan siswa berandal itu, namun sebelum sebuah tangan menarik tangannya keras. Ia melirik tangannya yang ditahan lalu menatap ke dalam mata sosok yang ia pikir adalah ketua dari segerombolan siswa yang baginya tidak memiliki otak itu.

"Kau pikir bisa pergi darisini dengan mudah? Kau baru saja hendak melecehkan mereka, jika aku lihat-lihat aku tak pernah melihatmu disini, apa kau murid baru? Atau murid pindahan?" Jackson menyeringai lalu memegang tangan si lelaki berandal.

"Sepertinya matamu tak berguna ya? Bagaimana jika aku buat buta sekalian?" sosok itu geram.

"Kau_ hajar!" dua orang siswa lainnya menarik tangan Jackson dan mengunci pergerakannya, namun Jackson nampak santai. Ia membiarkan sosok penuh emosi itu mendekat kearahnya dan hendak melayangkan tinju namun bukannya Jackson yang ditinju melainkan temannya sendiri.

"Dongwok! Kau!"

"Maaf."

BUGH

"YAK! Dongwok apa-apaan kau?" Jackson hanya menyeringai melihat bagaimana sekumpulan siswa dungu itu saling menyalahi.

"Seperti yang aku katakan, matamu itu tidak berfungsi dengan baik. Jadi biar aku mengambilnya saja." Jackson menepis pelan dan kedua sosok itu terjatuh, angin mulai bertiup kencang dan perlahan mata Jackson berubah membuat siswa-siswa itu melangkah mundur dengan takut.

Dalam sekejap Jackson telah berubah menjadi wujud setengah iblisnya. Ia melayang dan berdiri tepat di depan sosok yang melawannya tadi. Satu tangannya mencekik leher lelaki itu mengangkat tubuhnya tinggi membuat si lelaki nyaris kehabisan nafasnya.

"To..tolonghhh…"

"Jangan harap!" hitam mata si lelaki sudah nyaris menghilang tergantikan dengan sisi putihnya saja. Teman-temanya berteriak dan ingin kabur, namun satu tangan Jackson bergerak dan membuat pagar api agar mereka tak kabur.

Semua berteriak panik dan beberapa nyaris pingsan, Jackson menyeringai puas menatap sosok di tangannya yang nyaris menghembuskan nafas.

"Jika kau tetap melakukannya, jangan harap kau bisa pulang ke Infernus." Jackson menoleh dan terkejut melihat sosok ayahnya duduk diatas pohon dengan satu kaki ditekuk dan satu lagi menggelantung.

"Dad?" ia segera melepaskan tangannya membuat sosok itu terjatuh dan pingsan. Chanyeol melayang dan segera mendekat ke Jackson, mendorong tubuh itu hingga tersudut ke dinding.

"Akh!" Jackson memekik ketika punggungnya terasa sakit. Ia menatap ayahnya nyalang.

"Apa yang aku katakan tentang mengotrol emosimu?" Jackson mencoba melepaskan cengkraman ayahnya namun tenaganya kalah.

Satu tangan Chanyeol bergerak dibelakang tubuhnya dan kobaran api itu menghilang, ketika para siswa itu akan pergi sosok Baekhyun muncul membuat langkah mereka terhenti seketika.

"Hei anak-anak." Sapa Baekhyun sambil tersenyum, namun tak membuat gerombolan siswa itu kehilangan rasa takut mereka. Baekhyun menggerakan jemarinya, dan mereka memegang kepala mereka yang berdenyut, hingga akhirnya jatuh tepat diatas tanah.

Baekhyun menghela nafas lalu melirik kearah Chanyeol dan Jackson yang masih saling tatap.

"Kalian, hentikan! Ayo kembali!" ucap Baekhyun namun kedua sosok itu masih bergeming, Baekhyun melangkah semakin dekat lalu menarik telinga Jackson keras.

"Ayo kembali!" membuatnya mengaduh lalu mengikuti tubuh Baekhyun yang lenyap.

"Aaaww… Mom, sakit. Aww.." rengek Jackson sambil mengikuti langkah ibunya yang menyeretnya memasuki ruang tengah milik Luhan. Disana sudah ada tiga orang lainnya yang terkejut mendengar jeritan Jackson.

"Mommy? Daddy?" Taehyung berlari dengan wajah senang dan menabrakan tubuhnya tepat di kaki Baekhyun membuat lelaki itu tersentak.

"Mommy?" Baekhyun melepaskan jewerannya dan segera berjongkok.

"Hi sayang, merindukan Mommy?" Taehyung segera memeluk Baekhyun dengan erat membuat Baekhyun memeluknya balik.

"Aku sangat…sangat…sangat merindukan kalian." Ucapnya sambil memeluk dengan erat. Chanyeol tersenyum dan mengusak rambut Taehyung lalu duduk diatas sofa disamping Sehun yang masih asyik menonton sambil menggigit remotenya.

"Hei pak tua!" sapa Chanyeol dan Sehun hanya melirik sebentar dengan tatapan tak suka. Jika dilihat dari wajah memang Sehun terlihat jauh lebih tua dari Chanyeol, bagaimana pun dia manusia sekarang dia tumbuh dengan normal beda halnya dengan Chanyeol yang tetap pada usia mudanya.

Jika orang lain melihat maka Sehun lah yang lebih pantas disebut sebagai Ayah, namun kenyataannya berbeda, Chanyeol lah ayah dari Sehun yang sebenarnya.

"Jangan menekuk wajahmu seperti itu! Kau akan bertambah tua!"

"Persetan, diamlah!" gerutu Sehun kesal. Chanyeol berdecih lalu meletakkan kakinya diatas paha Sehun membuat sosok itu mendorongnya keras dengan geraman halus.

"Jangan ganggu aku!" bentak Sehun dan Chanyeol masih mengulangi hal yang sama. Owen hanya terkekeh melihat interaksi kakek dan ayahnya yang terlihat begitu lucu, hingga matanya jatuh pada Jackson yang masih berdiri sambil menatap kesal pada Sehun dan Chanyeol.

"Kenapa kalian kembali lebih cepat?" tanya Owen membuat Baekhyun yang semula bermain dengan Taehyung menoleh dan melirik kearah Jackson. Chanyeol pun melakukan hal yang sama.

"Apa?" tanya Jackson tak terima.

"Kami mendapat laporan jika ada anak iblis yang selalu membuat masalah didunia manusia." Jackson mencibir sambil mengumpat pelan.

"Jackson jangan mengumpat di rumahku." Suara itu membuat semuanya menoleh. Luhan berjalan masuk dengan Jiwon yang menggandeng tangannya.

"Wah…wah…lihat kenapa kalian seperti ibu mertua dan menantu begitu." Ucap Chanyeol sambil melirik Owen yang hanya menundukan kepalanya dengan senyum tertahan. Sehun pun melirik putranya dan memutar bola matanya malas.

"Jangan buat silsilah keluarga ini menjadi rumit, Park!" bentak Sehun, karena nyatanya seperti itu. Ia adalah anak Chanyeol yang menikahi adik dari ayahnya atau dengan kata lain pamannya, membuat mereka bingung harus memanggil Chanyeol dengan sebutan kakek atau paman, dan karena Chanyeol tak ingin terlihat tua maka panggilan 'paman' lebih ia pilih.

Sekarang jika Owen menikah dengan Jiwon yang merupakan adik kandung Sehun dan keponakan Luhan, harus memanggil apa anak mereka kelak. Memikirkannya saja membuat Sehun pusing dan ia tidak ingin bertambah pusing karena itu.

"Mom, Dad." Jiwon mencium pipi Baekhyun, lalu beralih mendekat kearah Chanyeol dan duduk disamping sang ayah dengan sangat rapat. Jika seluruh anak laki-laki bermusuhan dengan sang ayah, maka berbeda dengan anak gadisnya yang justru begitu dekat dengannya.

"Baek!" panggil Luhan ketika lelaki itu berada di dapur. Baekhyun menurunkan putranya dan berjalan kearah lelaki yang kini terlihat bertambah tua itu.

"Ada apa Lu?" tanya Baekhyun yang tengah mengambil duduk diatas bar dapur.

"Ini tentang Taehyung." Ucap Luhan serius sambil mengeluarkan belanjaannya. Baekhyun kembali teringat akan laporan yang Taehyung berikan padanya beberapa hari lalu mengenai dirinya yang selalu diganggu.

"Dia memiliki masalah berat dengan lingkungan sekolahnya." Baekhyun menatap Luhan.

"Apa parah?" Luhan mengangguk.

"Ini lebih parah daripada kasus Sehun dulu. Jika Sehun dulu tidak peduli dengan anggapan orang, namun Taehyung tidak. Ia selalu memikirkan ucapan-ucapan mereka." Ucap Luhan lagi.

"Apa aku harus melakukan sesuatu? Seperti menemui anak-anak nakal itu dan memberinya pelajaran?" Luhan menatap Baekhyun dengan mata melotot.

"Lalu kau ingin Taehyung ditakuti seumur hidupnya? Tidak ini tidak seperti itu, kau tak boleh melakukannya." Baekhyun menundukan arah pandangnya memikirkan nasib putranya yang memiliki sifat manusia lebih dominan daripada iblis, karena itu Baekhyun harus menyekolahkannya di dunia manusia dan berbaur dengan anak manusia lainnya.

"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" Luhan menghela nafas pelan.

" Aku rasa dia tak mau menceritakan masalahnya, Jadi kau harus cari tahu apa yang membuatnya seperti itu!" Baekhyun terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk.

..

.

Baekhyun masih terjaga bahkan ketika dengkuran halus Chanyeol telah terdengar berjam-jam lalu. Pikiran tentang bagaimana putra bungsunya membuatnya tak bisa tidur dengan nyenyak.

Baekhyun tak ingin Taehyung mengalami seperti apa yang ia alami dulu, seperti apa yang Sehun alami selama bertahun-tahun hidupnya. Ia ingin anaknya tumbuh normal dan bahagia.

Ia berbalik menatap Chanyeol yang tertidur dengan pulas, ia bimbang dengan perasaannya. Haruskah ia menceritakan semua itu pada Chanyeol, tapi apakah Chanyeol akan peduli atau apakah suaminya itu akan bertindak.

Semua tahu Taehyung adalah reinkarnasi dari Lucifer, bahkan kematian ibunya masih berbekas di benak Chanyeol, meski sosok itu telah menitis kembali dan lahir sebagai anak mereka namun Baekhyun masih merasa takut, jika Chanyeol belum bisa menerima Taehyung.

"Apa yang kau pikirkan?" Baekhyun tersentak ketika mendengar suara Chanyeol dengan mata tertutup yang perlahan terbuka dan langsung menatap kearahnya.

"Tidak ada."

"Bagus. Aku lupa kau iblis sekarang." Baekhyun menghela nafas, lalu merapatkan tubuh telanjang mereka.

"Chanyeol? Ini tentang putra kita." Kening Chanyeol mengernyit dalam.

"Apalagi yang Jackson lakukan? Apa dia mengacau lagi?"

"Tidak. Bukan Jackson."

"Sehun?" kening Chanyeol mengernyit semakin dalam dan entah mengapa pertanyaan Chanyeol malah membuat hati Baekhyun terasa sedikit terhenyut.

"Taehyung."

"Oh, Taehyung? Ada apa dengannya?" Baekhyun menggigit bibirnya merasa ragu, lalu ia menatap ke dalam mata Chanyeol dalam.

"Dia sering mendapat gangguan di sekolahnya." Chanyeol terkekeh pelan lalu mengusak rambut hitamnya, menyisir helaian itu kebelakang sambil kembali menutup matanya.

"Dia harus menghadapi itu untuk bertambah dewasa." Baekhyun menatap Chanyeol kecewa, dan keterdiaman Baekhyun membuat Chanyeol menoleh lagi.

"Ada apa?" Baekhyun masih menatap Chanyeol lalu menggeleng cepat. Chanyeol mengecup bibir itu sekilas.

"Dia akan baik-baik saja." Ucap Chanyeol yang terkesan santai.

"Yeol? Apa kau masih belum bisa melupakan masa lalu?" Chanyeol membuka matanya pelan dan menatap langit-langit tinggi kamar mereka.

"Ada begitu banyak kenangan masa lalu Baekhyun-ah, bagian mana yang kau maksud?" Baekhyun terdiam.

"Tentang…tentang ibumu." Chanyeol menoleh kearah Baekhyun lalu menghela nafas pelan.

"Apapun tentangnya masih berbekas dibenakku." Baekhyun tersentak, bibirnya kaku, lidahnya seolah kelu. Lalu dengan perlahan memeluk Chanyeol dengan erat membuat sang suami tersenyum dan mengelus pundak istrinya sayang.

..

.

Kembali ke 9 tahun silam, ketika Baekhyun mengetahui bahwa dirinya mengandung anak ke empatnya, semua tentu dibuat terkejut dan lebih terkejut lagi ketika janin di dalam perutnya adalah reinkarnasi dari seorang Lucifer. Sosok yang telah membuat Taemin terbunuh.

Ada sebuah perasaan tak ikhlas disana, dan Baekhyun dapat merasakan seluruh perasaan orang-orang disekitarnya. Bagaimana Minho dengan sikapnya yang berubah tiap kali melihat Baekhyun dengan perut besarnya, bagaimana Luhan yang tidak mau menyentuh perut Baekhyun dan bagaimana Chanyeol yang seperti tidak mengharapkan anak itu.

Baekhyun pun sama, sebenarnya ia masih belum sepenuhnya bisa memaafkan Lucifer, namun mengingat bahwa ada sebuah kehidupan di dalam perutnya membuatnya mau tak mau harus menerima siapapun itu yang tinggal di dalam perutnya sebagai anaknya.

Untuk itu ketika kandungannya berusia 4 bulan Baekhyun memilih tinggal dibumi. Chanyeol pun mau tak mau karena tak ingin berpisah dari Baekhyun memutuskan tinggal di bumi juga.

Mereka memiliki sebuah rumah mewah yang berada tak jauh dari milik Luhan dan tinggal dengan kedua anaknya yang lain. Karena bayi di dalam kandungannya lebih memiliki sisi dominan manusia untuk itu, kehamilan Baekhyun terlihat normal.

Semakin besar usia kandungannya semakin lemah sisi iblis Baekhyun, bahkan ia kesulitan kembali ke Infernus karena bayinya seolah menolak.

"Baekhyun?" Baekhyun menoleh ketika ibunya berdiri di depan pintu kamarnya sambil membawa nampan berisi susu untuk ibu hamil. Baekhyun tersenyum menatap ibunya yang semakin menua dan meletakkan majalah yang ia baca.

"Minumlah, lalu tidurlah! Ini sudah larut, tidak baik begadang." Baekhyun mengangguk dan meminumnya dengan pelan.

Dari semua orang hanya ibunya yang benar-benar menerima kehamilannya, dan Baekhyun bersyukur karena di detik itu ibunya masih setia menemaninya.

Chanyeol biasanya akan muncul ketika petang dan akan memeluk Baekhyun erat, atau kadang mereka akan bercinta bahkan diusia kandungan Baekhyun yang sudah besar.

"Chanyeol? Kau bisa menyakitinya, jangan menindih!" ucap Baekhyun namun Chanyeol seperti tak terlalu peduli dan kembali memeluk Baekhyun erat. Kembali pada sisi manusianya membuat Baekhyun menjadi lemah, tidak hanya fisik, perasaannya pun cepat sekali merasa tersinggung.

Dia akan menangis jika Chanyeol memaksanya bercinta padahal dia sedang tak ingin. Menjadi manusia kembali membuat nafsunya tidak seperti ketika menjadi iblis, hal itu membuat Chanyeol kadang-kadang marah dan berakhir dengan mengumpat anaknya.

"Dasar janin merepotkan." Dan entah bagaimana hal itu selalu menjadi pemicu pertengkaran mereka. Baekhyun akan berakhir menangis tersedu-sedu dan Chanyeol akan mengaum keras membuat para binatang disekitar hutan yang mereka tinggali akan ketakutan dan diakhir akan selalu ada Sehun yang akan mendatangi orangtuanya untuk menyuruh mereka diam.

Semua itu selalu Baekhyun alami selama kehamilannya, ia merasa Chanyeol tak mencintai bayi di dalam perutnya dan juga secara otomatis tak mencintainya. Baekhyun selalu berharap bayinya cepat lahir, sehingga Chanyeol berubah namun sayang bayi itu seolah takut untuk keluar.

Karena ia melewati waktu kelahirannya, ia berada di dalam perut Baekhyun hampir 1,5 tahun dan hal itu membuat Kyungsoo dan Jessica kebingungan untuk membujuk bayinya keluar.

"Kenapa dia begitu berbeda dengan saudara-saudaranya? Kenapa dia begitu pengecut." Hal itu yang selalu Chanyeol ucapkan tiap kali bayinya tidak kunjung keluar dan itu semakin membuat perasaan Baekhyun sedih, bahwa ayah dari bayinya tak mau menerima anak mereka.

Lalu ketika akhirnya bayi itu lahir Baekhyun merasakan sebuah kelegaan, melahirkan putra bungsunya tak sesakit melahirkan anak-anaknya yang lain dan Baekhyun bersyukur akan itu.

"Chanyeol?" Baekhyun tersenyum dengan bayi merah di dalam gendongannya ketika Chanyeol masuk dan langsung mencium bibir Baekhyun, memeluknya dengan erat dan kembali mengecupnya.

"Aku senang kau selamat, sayang." Lagi Baekhyun tersentak, bahkan Chanyeol tak bertanya tentang keadaan bayi mereka, ia hanya memperdulikan tentang Baekhyun dan itu membuat Baekhyun sedikit kecewa.

Meski setelah Taehyung semakin besar dan tumbuh layaknya manusia normal sikap Chanyeol tidak terlalu buruk, namun Baekhyun masih tetap merasakan bahwa suaminya tak sepenuhnya mencintai putra bungsu mereka.

Dan setelah tahun-tahun yang terlewati rasa takut itu kembali lagi, rasa takut akan masa depan putranya yang selalu mendapat gangguan serius disekolah yang baru saja ia ketahui dan rasa takut bahwa Chanyeol tidak akan peduli akan itu.

..

.

Keempat bagsa iblis itu sedang duduk di meja makan di Infernus, ketika Taehyung melangkah masuk dengan seragam sekolahnya.

"Selamat pagi." Ucap Taehyung dengan kepala tertunduk. Jackson menatap sang adik lalu berdecih melihat betapa konyol pakaian yang dimasukan itu.

"Sudah aku katakana berapa kali padamu, jangan mengancing kemejanya hingga keleher, kau terlihat tidak keren."

"Jackson!" pekik Baekhyun dan Jacskon menghela nafas kesal.

"Aku hanya mencoba mengajarinya untuk menjadi keren, Mom." Sahutnya. Chanyeol yang sedang memotong daging panggang di depannya melirik ketiga anaknya dan kembali melanjutkan acara makannya.

"Menggoda wanita seperti itu, apa kerennya?" gerutu Jiwon yang masih di dengar oleh Jackson yang segera memunculkan kekuatan apinya melalui telapak tangannya.

"Tak ada api di meja makan, berapa kali aku harus mengatakan itu?" Baekhyun berucap lelah sambil meletakkan sepotong daging keatas piring Taehyung dan anak laki-laki itu tersenyum lebar dan mengecup pipi ibunya.

"Mommy isn't cool." Ucap Jackson sambil memainkan api di tangannya seperti bermain kelereng. Jiwon tak mau kalah mengeluarkan api dari seluruh ujung rambutnya yang terurai dan membuatnya menari.

Chanyeol hanya menggeleng pelan melihat tingkah kedua anaknya, sementara Taehyung hanya menatap kedua saudaranya dengan wajah sedih. Ia meletakkan garpunya dan menatap kedua telapak tangannya.

"Kau akan segera memilikinya." Bisik Baekhyun dan Taehyung tersenyum lebar.

"Awww." Taehyung memekik kesakitan ketika tangannya terbakar akibat cipratan api dari Jackson.

"Oppss, sorry!" ucap Jackson tanpa rasa bersalah.

"Jackie!" Baekhyun memekik kesal sambil menatap putranya tajam lalu kembali melihat luka bakar di tangan putranya. Anak lelaki itu memejamkan matanya sambil menahan rasa sakit.

"Kau tak apa-apa?" tanya Baekhyun panik. Jika para anak-anaknya yang lain bisa diobati dengan kekuatannya, tapi tidak dengan Taehyung yang harus merasakan kesakitan dulu jika diobati dengan kekuatan para iblis, kecuali dengan bantuan para malaikat namun mendatangi Nubes setiap saat bukan pilhan yang tepat.

Karena itu, Baekhyun memilih mengobati luka anaknya dengan pengobatan manusia ketimbang kekuatannya karena tak tega melihat putranya menahan sakit akan proses penyembuhan.

"Sakit Mommy." Taehyung meringis sambil memegang tangannya. Chanyeol menatap Jackson dan Jiwon bergantian dan mereka segera menyembunyikan kekuatan mereka.

"Biar Mommy ambilkan obat." Ucap Baekhyun segera bangkit meninggalkan meja makan.

"Ssshh…sshhh…" ringis Taehyung sambil meniup-niup luka bakarnya. Chanyeol terdiam sambil menatap putra bungsunya.

"Itu belum seberapa." Taehyung mendongak dan menatap kearah sang ayah.

"tapi sakit daddy." Ucap Taehyung sambil menahan air matanya.

"Itu hanya luka kecil." Taehyung terdiam dan menatap luka ditangannya. Jiwon yang melihat perubahan raut muka pada ayahnya menunduk dan Jackson hanya berdeham sambil memperbaiki letak duduknya.

"Tapi ini sungguh..sa-sakit…hiks.." Taehyung menangis tak berani menatap wajah serius Chanyeol. Bahkan ia menahan isakannya, tidak berani mengeluarkan sedikit pun suara.

"Jangan menjadi cengeng! Jangan menjadi lemah! Kau itu adalah keturunanku, keturunan Iblis, mahluk kegelapan yang terkuat dibumi, kecuali jika kau bukan anakku." Semua tersentak, Taehyung mengusap air matanya dan di dekat pintu ruang makan Baekhyun terdiam sambil memegang kotak obat. Tubuhnya mematung dengan wajah menatap nanar pada meja makan.

..

.

Baekhyun berdiri di dekat gerbang sekolah Taehyung, hari ini ia yang akan menjemput putra bungsunya. Setengah jam menunggu tak ada satupun dari anak-anak yang keluar adalah putranya.

Ia melangkah masuk ketika gerombolan siswa semakin berkurang, lalu melangkah mendekati pintu masuk koridor. Sesekali matanya menatap wajah anak-anak yang berpapsan dengannya dan tak menemukan satupun dari mereka adalah si bungsu.

Baekhyun mencoba mengirimkan telepati, namun taka da sahutan dari Taehyung. Ia berhenti dan mencoba mempertajam pendengarannya, hingga ia mendengar sebuah suara.

"Halo? Apa ada orang disana? Bisa tolong aku?" dengan cepat Baekhyun menuju sumber suara yang semakin keras ketika ia menuju ke toilet laki-laki.

Baekhyun masuk dan mendorong satu per satu pintu bilik toilet hingga pada pintu terakhir.

"Halo? Apa ada orang disana? Bisa tolong buka pintu ini aku terkunci di dalam." Baekhyun mendorong pintu itu dengan kekuatannya dan pintu terbuka.

"Mommy?" Taehyung terkejut menemukan sang ibu berdiri di depannya dengan wajah terkejut. Baekhyun masih tak percaya dengan apa yang ia lihat, dimana baju kemeja Taehyung basah dan barbau aneh, serta kaca matanya yang telah retak di salah satu bagian.

"Taehyung?" bibir Baekhyun bergetar.

"Mommy, ini tidak seperti yang Mommy pikirkan. Aku yang ceroboh, aku terpeleset dan_" Baekhyun segera memeluk putranya, dan kemarahannya muncul membuat tubuhnya membara.

"Mommy, jangan berubah! Taehyung tidak bisa untuk menahan Mommy, Taehyung merasa kepanasan jika Mommy berubah." Api ditubuh Baekhyun mereda lalu ia menatap putranya dan mencium pipi itu dengan sayang.

"Maafkan Mommy, sayang." Bisik Baekhyun penuh rasa penyesalan. Tak pernah menyangka jika selama ini putranya mendapat perlakuan tak adil. Ia pikir ketika Taehyung berkata ia diganggu, itu hanya gangguan biasa, namun ternyata putranya diperlakukan seperti binatang.

"Siapa yang melakukan ini?" tanya Baekhyun pelan sambil mengusap wajah basah putranya.

"Hmm.. aku tidak bisa mengatakannya." Baekhyun terdiam, lalu mengangguk pelan. Ia segera bangkit, menggandeng putranya dan menghilang.

..

.

Sebuah tempat yang begitu indah, dimana binatang hidup dengan damai dan tanaman tumbuh dengan subur, dimana seluruh penghuninya adalah para malaikat-malaikat rupawan yang berterbangan, Nubes.

Sosok berjubah putih berdiri di samping taman bunga, berbicara pada peri-peri bunga yang selalu menjadi teman setianya selama bertahun-tahun lamanya. Wajahnya begitu lembut, kulitnya begitu putih dengan bola mata biru yang indah.

Gerakan tangannya begitu lembut ketika menyentuh para peri bunga dan sesekali ia tersenyum melihat bagaimana peri bunga itu menari di depannya.

SREK

Si sosok putih tersentak ketika peri bunga segera bersembunyi ketakutan. Para peri bunga hanya takut dengan para iblis, untuk itu Kyungsoo sudah bisa menebak darimana tamunya datang kini.

Ia menghela nafas, lalu menoleh sambil tersenyum dan terkejut ketika melihat Baekhyun berdiri disana sambil menggenggam tangan Taehyung dengan wajah bersedih.

"Baekhyun?"

"Kyungsoo!" Baekhyun mendekat dan memeluk tubuh Kyungsoo erat, menjatuhkan kepalanya pada pundak Kyungsoo.

"Uncle Soo? Dimana Kryst?" pandangan Kyungsoo jatuh pada sosok kecil disamping Baekhyun yang nampak basah kuyup dan sedikit berantakan. Ia tersenyum lalu menatap kearah matahari.

"Dia sedang bermain bersama ayahnya, sebentar lagi dia kembali untuk makan siang." Ucap Kyungsoo sambil mengelus pipi itu sayang.

"Ayo kita masuk ke dalam!" ajak Kyungsoo dan Baekhyun menurut.

..

.

"Wohooo~ Ayah!" seorang gadis berusia 9 tahun sedang berselancar di atas awan, wajahnya begitu cantik dengan kulit yang putih pucat, rambutnya bergelombang dan terjalin satu, dengan sebuah Kristal berwarna merah di keningnya, sesekali melompat dan kembali berselancar membuat sang ayah hanya menggeleng sambil berdiri tak jauh darinya.

"Kryst, jangan merusak tatanan awan!" gadis itu melompat tinggi dan jatuh tepat didada sang ayah. Jongin menangkap tubuh putrinya lalu mereka terbang.

"Kita sudah cukup lama bermain, ayo ke Nubes dan temui ibumu." Ucap Jongin dan gadis itu menganguk cepat.

"Ayah, besok ajarkan aku bagaimana mengendalikan matahari ya?"

"Tidak semudah itu."

"Ayolah, aku kan putri Matahari." Jongin hanya menggeleng mendengar celotehan putri kecilnya.

"Tidakkah kau ingin menjadi Putri Mahkota dari Nubes?" gadis itu menggeleng cepat.

"Tidak. Itu membosankan, aku tidak seperti Ibu yang lemah lembut, aku ini keren seperti ayah." Jongin menggeleng lagi dan mengelus rambut putrinya dengan sayang.

"Ya…ya..ya.. jadilah apapun yang kau inginkan." Gadis itu tersenyum lebar dan memeluk leher ayahnya erat.

"Ibuuuuuuu~~~~" si gadis berlari ketika kakinya menyentuh rerumputan Nubes. Berlari dengan cepat dikoridor membuat seluruh malaikat yang melintas menjadi terkejut dan menyingkir.

BRAK

"Ibuuuu, aku_" gadis itu terdiam di depan pintu kamar sang ibu dan terkejut melihat sosok lain berada disana, duduk disamping sang ibu.

"Krystal, berapa kali ibu katakan jangan masuk tanpa mengetuk!" ucap Kyungsoo sambil menatap putri kecilnya.

"Baekhyunie." Krystal berlari dan mendekap tubuh Baekhyun erat. Sejak kecil ia dan Baekhyun sudah dekat, bagi Krystal, Baekhyun seperti orang yang selalu mengerti dirinya setelah ayahnya.

"Kau sudah besar rupanya, dan semakin cantik." Ucap Baekhyun mencoba tersenyum, Krystal tersenyum lalu dengan malu merapat ketubuh ibunya, dengan manja bergelantung dan berbisik, membuat Baekhyun tersenyum.

"Sayang?" Ketiganya menoleh kearah Jongin yang sempat terkejut di pintu kamar.

"Oh, Baekhyun."

"Oh, Hai." Sapa Baekhyun.

"Ayah~" Krystal berlari dan melompat kepelukan ayahnya yang segera ditangkap oleh Jongin. Ia berbisik pada sang ayah dan Jongin tersenyum kemudian berbisik. Krystal merosot turun dari gendongan sang ayah dan kembali ke pangkuan ibunya lalu kembali berbisik.

"Ya?Ya?Ya?" tanya nya manja.

"Kryst?" Kyungsoo memasang wajah seriusnya membuat gadis itu mencibik dengan wajah cemberut.

"Tapi ayah bilang iya!" gadis itu memekik, berdiri sambil meletakkan kedua tanganya di pinggang. Kyungsoo menghela nafas dan melirik Jongin yang hanya tersenyum.

"Keluarlah! Ibu sedang ada tamu." Krystal menoleh kearah Baekhyun.

"Baekhyunie tidak keberatan kan?" Baekhyun tersenyum lalu menggeleng pelan.

"Lihat! Ya? Ya? Ya? Malam nanti aku tidak akan tidur dengan kalian, jadi bisa kan besok pagi adikku disini?" Krystal menyentuh perut Kyungsoo dan itu berhasil membuat lelaki itu tersipu malu.

Baekhyun membulatkan matanya melihat kepolosan anak perempuan itu, sementara Kyungsoo nyaris kehilangan wajahnya.

"Ya, Bu? Ya? Ya? Aku ingin teman bermain!" rengeknya sambil menarik-narik jubah Kyungsoo.

"Krys, ayo kembali! Ibu sedang ada tamu." Panggil Jongin namun gadis itu masih merengek pada sang ibu.

"Kembalilah!" ucap Kyungsoo.

"Ck! Aku ingin teman bermain, ibu tak tahu seberapa bosan aku bermain sendiri."

"Kan ada ayah."

"Ayah ? tidak asyik, aku ingin teman yang lebih kecil."

"Kryst!"

"Ibu!"

"Krystal!"

"IBU!" Kyungsoo menghela nafas pelan sambil menutup matanya frustasi.

"Oh, ngomong-ngomong ada Taehyung disini, dia ada ditaman bermain bersama malaikat lain." Ucap Baekhyun mencoba mengalihkan perhatian yang paling kecil. Bola mata Krystal membulat, ia melompat-lompat senang.

"Benarkah? Ah akhirnya ada anak kecil lain ditempat ini." Ucapnya lalu berlari keluar namun kembali berbalik dan mengecup pipi Kyungsoo cepat, lalu pipi Baekhyun dan berjalan bersama sang ayah.

"Jangan lupa adik untukku, Bu!" teriaknya memenuhi lorong.

Baekhyun tersenyum dan Kyungsoo menutup matanya pelan. Ia selalu dibuat frustasi oleh permintaan Krystal. Jongin sangat memanjakannya, karena Krystal hanya akan menjadi satu-satunya keturunan dari mereka. Begitu pun Kyungsoo yang sangat menyayangi putri semata wayangnya melebihi apapun, dan hal itu yang membuat Krystal tumbuh menjadi sangat manja.

"Dia anak yang bersemangat."

"Dia terlalu bersemangat." Balas Kyungsoo.

..

.

Baekhyun melangkah memasuki kamarnya dan Chanyeol setelah mengantarkan putra kecilnya untuk tidur sore. Bermain dengan Krystal membuat tenaga putra bungsunya tersedot habis, bahkan Baekhyun harus menggendongnya untuk pulang karena keduanya tertidur di taman Nubes.

Ia mendudukan dirinya diatas ranjang dan menatap lukisan-lukisan di sepanjang dinding kamarnya, dimana ada beberapa yang merupakan lukisan keluarga mereka. Selama beberapa menit ia mengamati lukisan keluarga itu dan ia menghela nafas sambil tersenyum, semua terlihat sempurna disana, bagaimana Chanyeol memangku Taehyung dan tersenyum bersama, mereka seperti keluarga normal pada umumnya yang terlihat bahagia.

"Mom?" Baekhyun menoleh dan menemukan Jiwon di ambang pintu sambil tertunduk malu. Baekhyun tersenyum dan mengibaskan tangannya untuk meminta sang putri masuk.

"Ada apa sayang?"

"Mom, aku ingin ke bumi. Dan mungkin menginap beberapa hari di rumah Owen oppa, apa boleh?" Baekhyun menahan senyum melihat putri 13 tahunnya yang nampak memalu.

"Ekhem, sudah sejauh mana hubungan kalian?" Jiwon tersentak dan segera mengibaskan tangannya cepat di depan dada yang membuat Baekhyu tersenyum.

"Kami tidak sejauh itu, Mom. Aku…aku hanya ingin membantu Paman Lu, aku ingin belajar memasak bersamanya." Baekhyun masih menahan senyum sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

" .. Mommy percaya, pergilah! Nikmati waktu manismu disana, tapi ingat jangan gunakan kekuatan yang bisa memancing perhatian karena kau belum bisa menerima jika ada serangan dari makhluk lain, mengerti?"

"Mengerti, Mom. Kalau begitu aku pergi ya?" Jiwon bangkit dan mengecup pipi Baekhyun singkat lalu dengan girang melangkah menuju pintu keluar.

Baekhyun hanya menggeleng di tempatnya sambil ikut tersenyum merasakan kebahagiaan anak gadisnya.

..

.

Di tempat lain, seorang anak lelaki mendengus sambil mencoba menggerakan tubuhnya. Wajahnya sudah berkeringat sangat banyak, ia menggeliat lagi. Sekilas terlihat biasa, namun jika dilihat dari jauh tubuh anak laki-laki itu terikat dengan erat dan tergantung terbalik dimana dibawahnya adalah lautan kematian.

Letupan-letupan api dari laut kematian nyaris mengenai helaian rambutnya yang menjuntai kebawah, lalu tangan-tangan roh-roh jahat menjulur-julur untuk mencapainya.

"Masih tidak mau mengaku salah?" suara itu terdengar dari atas puncak bebatuan, dimana Sang Raja duduk disana sambil menatap tajam pada sosok yang tergantung itu. Jackson berdecih dan membuang wajahnya, lalu tubuhnya tiba-tiba menurun membuat ia memekik terkejut.

"Aku tidak main-main bocah!" Ucap Chanyeol yang segera melompat dan terbang mendekat. Ia melayang tepat di depan putranya yang tergantung dengan tubuh terbalik.

"Aku tidak sengaja!" bentaknya dan Chanyeol menggeram membuat api di dalam lautan bergejolak.

"Baiklah, jika kau tidak mau mengaku jika kau yang telah membakar berkas-berkasku, maka selamat menikmati malam pertamamu disini." Lalu Chanyeol menghilang. Jackson berdecih lagi akan kekejaman sang ayah.

Sebenarnya memang dia yang membakar berkas Chanyeol, namun dia sungguh-sungguh tak sengaja. Tiba-tiba saja api ditubuhnya keluar dan kertas yang ia pegang terbakar, ia mencoba meredakan api itu namun malah membesar.

Ia belum sepenuhnya bisa menggunakan kekuatannya, namun ia terlalu sombong akan itu. Chanyeol datang disaat yang tidak tepat dan langsung murka melihat ruangannya yang berantakan dan abu-abu dari kertas-kertasnya bertebaran disekitar ruangan, hingga akhirnya ayah muda itu mengikat putranya dan memutuskan untuk sungguh-sungguh menggantungnya.

Jackson tidak menyesal sama sekali, baginya kenakalan diusia remaja itu pantas yang salah adalah cara didik ayahnya yang sangat kejam, memikirkanya membuatnya ingin lahir sebagai Taehyung yang selalu mendapatkan cinta dari semua orang.

Ketika mencoba melepaskan diri, ia melihat adik kecilnya melintas sambil mengusap matanya yang masih sayu.

"Hei! Hei! Taehyung!" si kecil menghentikan langkahnya dan menoleh. Ia terkejut mendapati kakaknya tergantung di atas laut kematian. Ia lalu berlari untuk segera berdiri di dekat jurang. Ia menoleh kebawah dengan perasaan ngeri sekaligus iba melihat sang kakak yang tergantung.

"Kenapa hyung bisa disini?"

"Siapa lagi kalau bukan karena pria menyebalkan itu, sekarang bantu aku!."

"A-apa yang bisa aku lakukan, hyung?" Jackson menatap sang adik lamat-lamat, ia lupa jika adiknya tidak memiliki kekuatan iblis sama sekali. Jadi ia meminta sang adik untuk mengambil salah satu galah dari penjaga yang tertidur, dan Taehyung menurutinya.

Ia kembali dengan sebuah galah dan menjulurkannya untuk menggerakan tubuh sang kakak agar berayun, ayunan itu semakin keras dan kaki Jackson melekat pada bagian atas gua, ketika telah berada diatas sana, ia meloloskan dirinya dari ikatan sang ayah yang memang tidak terlalu kencang.

"Hyung!" Taehyung segera memeluk tubuh Jackson sayang, namun Jackson hanya mengangguk pelan.

"Ah, Taehyung, bisa aku meminta bantuanmu lagi?" tanya Jackson, Taehyung mengangguk cepat sambil tersenyum.

..

.

Chanyeol menutup matanya erat sambil menggeram pelan ketika Baekhyun menggerakan tubuh kecilnya untuk naik dan turun. Pena ditangan Chanyeol teremat dengan kuat, kenikmatan yang Baekhyun berikan melalui cengkraman pada kejantanannya membuat Chanyeol nyaris mencapai puncak, apalagi kini dirinya dalam wujud manusia dan Baekhyun dalam wujud setengah iblisnya membuat kekuatan Baekhyun lebih besar berkali-kali lipat.

"Jangan dikeluarkan di dalam, kau ingat!" Chanyeol mengangguk dan mencium punggung telanjang Baekhyun dengan sayang, menjilat dan menyesapnya dengan penuh hasrat.

Tubuh Baekhyun masih bergerak naik turun, meski dirinya sudah dimasuki ribuan kali, meski Chanyeol kini dalam wujud manusianya, tetap saja membuat Baekhyun merasakan sedikit rasa sakit.

Chanyeol itu sangat kuat, Baekhyun harus mengakuinya dan itu kenapa hubungan percintaan mereka tidak pernah menjadi cerita membosankan untuk keduanya. Selalu ada hal baru dan tantangan baru untuk keduanya setiap bercinta.

"Oohh… sayang.." Baekhyun memejamkan matanya dan mencengkram milik Chanyeol makin keras. Chanyeol menggeram, mengangkat tubuh Baekhyun sehingga miliknya berada diluar dan cairan itu menyembur disekitar lubang Baekhyun, sebelum akhirnya dimasukan kembali.

"Oooohh…." Baekhyun memekik sambil berubah ke wujud manusianya, ia meletakkan kepalanya di leher Chanyeol dan keduanya mengatur nafas terengah mereka.

"Huh, terima kasih untuk pengobat stress ku sayang." Bisik Chanyeol dan Baekhyun mengangguk.

"Tentu." Ucap Baekhyun dan mengecup bibir Chanyeol penuh nafsu.

..

.

Taehyung merengek, tubuhnya benar-benar kepanasan, bahkan kulitnya seperti akan melepuh. Kini ia yang berada diposisi Jackson tadi, atas permintaan kakaknya yang tak ingin melihat sang ayah murka karena tidak ada sosok yang tergantung disana.

Tapi jika tahu akan sepanas ini, Taehyung seharusnya menolak sejak awal. Ia merengek dan terus menangis.

"Mommy…Mommy…hiks.. tolongg.." ucapnya sambil menahan tangis, ia sudah tidak kuat lagi, tubuhnya melemah.

Di lain tempat Baekhyun tersentak, dan keterkejutannya membuat Chanyeol terkejut pula.

"Taehyung memanggilku, kenapa dia menangis? Bukankah dia sedang tidur?" heran Baekhyun dan Chanyeol hanya mengecup pipi Baekhyun.

"Mungkin dia hanya bermimpi buruk, sudahlah jangan terlalu memanjakannya, dia harus tumbuh menjadi pria yang tangguh, bukan cengeng." Dan Baekhyun menyetujuinya, ia kembali merebahkan tubuh lelahnya di dada Chanyeol, sementara Chanyeol melanjutkan tugasnya, sambil sesekali mengecup perpotongan leher Baekhyun.

"Mommy…ak..aku tidak kuat…hiks.." Baekhyun tersentak dan ia segera bangkit.

"Tidak Chanyeol, aku harus melihatnya." Ucap Baekhyun lalu bangkit, ia segera memperbaiki penampilannya dan melesat pergi dalam wujud setengah iblisnya.

Chanyeol hanya menggeleng pelan sambil merasa sedikit kecewa karena penisnya merasakan kekosongan dan kedinginan pula.

"CHANYEOOOOLLL!" Chanyeol tersentak dan segera menaikan celananya lalu menghilang ketika mendengar suara jeritan Baekhyun.

Ketika Chanyeol tiba ia dibuat terkejut dengan tubuh Taehyung yang menggantung di atas lautan api dan si kecil tak sadarkan diri, sementara Baekhyun menangis sambil menatap putranya.

Baekhyun tak bisa terbang diatas lautan api seorang diri, karena ia pernah menjadi manusia, hal itu akan membuatnya tertarik oleh para roh yang menginginkan kebebasan dibawah sana.

Untuk itu Chanyeol segera terbang, membekap tubuh putranya yang tak sadarkan diri dan terasa panas. Bahkan kulit putih itu sudah melepuh di beberapa bagian, Chanyeol mendarat di depan Baekhyun dan Baekhyun segera meraih putranya.

"Taehyung! Taehyung!" Baekhyun menangis tapi tak berani menyentuh tubuh melepuh putranya. Chanyeol menatap Taehyung terkejut dan hanya bisa berdiri di dekat Baekhyun.

"Chanyeol, lakukan sesuatu! Lakukan sesuatu!" Chanyeol menatap Baekhyun dan putranya bergantian.

"Chanyeol, apa yang kau lakukan pada putraku?" pekikan Baekhyun membuat Chanyeol menoleh terkejut.

"Aku tahu kau tak menyukainya, aku tahu kau tak menginginkan kehadirannya, tapi kau tak bisa melakukan ini." Histeris Baekhyun, sambil mengangkat tubuh Taehyung dan menggendongnya menuju kamar.

Chanyeol mengepalkan tangannya dan rahangnya mengeras.

..

.

Jackson sedang bermain video games dengan Sehun ketika Chanyeol tiba-tiba muncul lalu mencekik putranya, Sehun terlonjak dan mencoba menghentikan Chanyeol namun ia beringsut mundur karena medan api disekitar Chanyeol.

"Daddy, ampun…aakkhh… .." Jackson mencoba melepaskan tangan sang ayah dari lehernya, namun Chanyeol seolah tuli.

"Park! apa yang kau lakukan?" teriak Sehun sambil mencoba melempar Chanyeol dengan bantal dan benda-benda disekitarnya.

Luhan, Owen dan Jiwon yang baru sampai segera masuk dengan tergesa dan terkejut melihat keadaan diruang tengah.

"Chanyeol!"

"Daddy!"

"Paman!"

Teriak ketiganya mencoba menghentikan namun nihil, Chanyeol telah mencekik Jackson hingga bola mata putranya menjadi putih seluruhnya.

"Dad..dy..ma…af." ketika tubuh Jackson melemas, dan api dimata Chanyeol telah mereda barulah ia melepas cekikan itu dan terdiam. Tubuh Jackson terjatuh diatas lantai membuat yang lainnya segera membantu sosok yang tak sadarkan diri itu.

"Chanyeol, kau apa-apaan?" teriak Luhan sambil memegang pundak Jackson. Chanyeol menatap kakaknya dan semua orang di depannya yang seperti menyalahkannya, lalu menatap telapak tangannya.

"Kau memang iblis, tapi bukan berarti kau tak memiliki hati untuk anakmu, brengsek!" lagi pekikan Luhan membuat Chanyeol terdiam, ia melihat dalam kekalutan dan segera menghilang.

..

.

Baekhyun terus mengecup tangan Taehyung sambil menangis ketika Kyungsoo dan Jessica membantu mengobati putranya.

"Bertahanlah sayang! Bertahan! Aku mohon." Baekhyun terisak menatap wajah tertidur putranya yang terlihat begitu tenang, namun tubuhnya telah dibalut oleh cahaya yang keluar dari tangan Kyungsoo dan Jessica.

"Dia butuh pemulihan, meski dia keturunan iblis namun disini sisi manusianya yang dominan, ia tidak berbeda dengan seorang manusia yang terbakar 70%." Baekhyun merasakan otot ditubuhnya melemah dan ia kembali mengecup tangan Taehyung.

"Aku tidak tahu mengapa Chanyeol bisa sampai melakukan ini." Ucapan Jongin membuat Baekhyun terdiam sejenak, ia menundukan wajahnya dan kembali menatap Taehyung.

"Karena Chanyeol tidak menyayangi Taehyung sebagai anaknya." Ucapan Baekhyun membuat Jessica, Kyungsoo dan Jongin membulatkan mata mereka.

"Mommy! Mommy!" semua orang menoleh ketika mendengar teriakan Jiwon dari koridor istana dan segera masuk ke dalam kamar.

"Mommy, Jackie…Jack_ Mommy, Taehyung kenapa?" Jiwon yang masih bergetar dan terengah terkejut menatap adiknya yang terbaring. Baekhyun bangkit dan mendekap tubuh Jiwon.

"Ada apa sayang?"

"Mommy, Jackie…Jackie sekarat.."

"Apa? Kenapa bisa?"

"Daddy…Daddy…mencekiknya tadi." Tubuh Baekhyun lemas dan Jongin membantunya berdiri.

"A..Apa?"

"Ada apa dengan Chanyeol?" gumam Jessica dan Kyungsoo hanya mengernyitkan keningnya sambil menatap wanita cantik itu.

..

.

Baekhyun kembali merasakan tubuhnya melemas menemukan Jackson terbaring lemas diatas ranjang di salah satu kamar Luhan. Sehun bangkit dan mendekat kearah Baekhyun, lalu mengelus pundak ibunya yang bergetar.

"Ke..kenapa bisa seperti ini?" gumam Baekhyun dengan nada lirih. Sehun menghela nafas dan kembali mengelus pundak sang ibu. Luhan dan Owen hanya bisa menundukan kepalanya.

"Dia terlihat marah tadi, tiba-tiba saja datang dan mencekik Jackson." Ucap Sehun.

"Mungkin Jackson melakukan hal yang nakal lagi." Ucap Luhan mencoba menenangkan sambil sesekali melirik Jackson yang terbujur kaku.

"Dia juga melakukannya pada …pada Taehyung." Ucapan Baekhyun membuat seluruh orang yang ada disana terkejut, mencoba memikirkan hal apa yang sedang terjadi pada Chanyeol.

"Lalu… Chanyeol?" tanya Baekhyun masih belum sepenuhnya tersadar dari keterkejutannya.

"Dia menghilang." Ucap Luhan dan Baekhyun menghela nafas lelah.

..

.

Di salah satu hutan belantara yang begitu luas dan mencekam, di salah satu pohon tertinggi dari semua pohon yang ada, Chanyeol duduk pada salah satu dahan. Ia menatap tangannya dalam diam.

Ucapan Baekhyun kembali terulang dalam benaknya, entah mengapa kata-kata itu sungguh menyakiti hatinya. Chanyeol kembali dihadapi pada perasaan bersalahnya, ia tidak pernah bermaksud untuk menyakiti siapapun, ia tentu menyayangi anaknya, meskipun ia seorang iblis ia masih memiliki hati dan cinta.

"Ibu." Ucapnya sambil menatap kearah bulan purnama.

"Apa aku adalah ayah yang buruk?" ia terisak, dalam kegelapan malam suara isakannya terdengar begitu mencekam. Perlahan tangannya memegang dadanya, setelah bertahun-tahun lamanya perasaan lemahnya muncul lagi, ia begitu mencintai keluarganya, ia pernah menyelepelakan arti sebuah keluarga dulu, dan ia tak ingin membuat hal itu terulang lagi.

Ia sudah berusaha mencurahkan kasih sayangnya pada seluruh anak-anaknya, namun pada akhirnya, ia tetaplah menjadi sosok yang salah. Ia tetap disalahkan.

"AAAARRGGGHHH…" Ia mengaum dalam kegelapan membuat seluruh alam ketakutan dan suara binatang yang rusuh terdengar.

..

.

"AAAARRRGGGHHH."
Baekhyun tersentak dari tidurnya, ia membuka matanya ketika mendengar auman dari sosok yang ia kenal.

"Chanyeol? Kau dimana?" gumam Baekhyun pelan sambil menatap kedua putranya yang terbaring.

..

.

"AAAARRGGGHH."

Sama halnya dengan Kyungsoo dan Jongin. Mereka saling menatap diatas tempat tidur mereka dengan Krystal yang masih nampak nyenyak dalam tidurnya diantara tubuh keduanya. Kyungsoo terus menatap Jongin dengan berbagai perasaan khawatir yang merasuki hatinya dan Jongin hanya mengelus pelipis itu pelan dan mengecup tangan Kyungsoo.

..

.

"AAARRGGGHHH."

Sehun menatap ke jendela kamarnya, menatap kehamparan semak-semak di dekat rumah mereka yang gelap, Luhan mendekat dan memeluk tubuh Sehun dari belakang mencoba memberikan kekuatan.

"Setelah bertahun-tahun lamanya, ujian itu kembali datang?" tanya Luhan sambil terus menenggelamkan wajahnya di pundak Sehun.

"Mereka harus melewati, ujian selalu datang dalam hidup kita." Ucap Sehun masih menatap keluar jendela.

"Aku harap Chanyeol baik-baik saja."

"Si Park itu akan baik-baik saja. Hanya biarkan dia sendiri dulu, dia butuh waktu untuk sendiri." Luhan mengangguk pelan lalu maju dan berada di depan Sehun, membuat Sehun mengecup bibir sosok itu lembut.

"Kau seolah mengenalnya dengan baik." Ucap Luhan.

"Ya, karena bagaimana pun, dia ayahku." Ucap Sehun dan Luhan tersenyum.

..

.

TBC

..

.

Oh! Annyeong….

Pasti ada yang kaget pas dapet notif kalo DBM update, dan pasti sebagian ada yang bertanya-tanya, kenapa tiba-tiba aku mutusin update ini…

Gini, pertama-tama ini sebagai bentuk terima kasihku untuk semua readers yang udah mendukung dan nyemangatin aku selama ini. Sebelumnya aku udah janji sama diriku sendiri, kalo skripsiku lancar dengan nilai memuaskan, terus psikotes dan test akademik Prodi Profesi Apotekerku berjalan lancar dan aku diterima aku bakal post salah satu ff sebagai bonus.

Kenapa DBM? Karena berdasarkan hasil dari yang kalian pilih di instagramku ( yang waktu aku suruh untuk screenshoot dank omen, inget?) dan posisi pertama ada KLH Cuma karena KLH emang on going ( yang artinya bakal ttp lanjut ) dan posisi kedua DBM ya udah aku milih buat lanjutin DBM.

Balik ke cerita, sebenarnya DBM kemarin udah bener-bener end dan aku juga bingung mau nambahin apa, tapi ya udah aku coba bikin dan yaah hasilnya kayak yang kalian liat. Sebenernya bonus chapter Cuma 1 bagian ajh, tapi karena sepeti biasa kalo aku udah depan laptop ya ceritanya bakal panjang dan bertele-tele jadi kemungkinan aku bagi jadi 2/3 bagian/ mungkin gak lanjut… hehehe…

Aku gak berharap banyak, karena ini Cuma sebagai hadiah kecil dari aku ajah, semoga kalian suka dan puas…

Aku gak maksa buat ninggalin jejak, tapi aku Cuma pingin tahu pendapat kalian tentang ini. Mungkin sebagian akan bilang buat dilanjut, mungkin sebagian lagi milih untuk enggak. Hehehe…

Sekali lagi thank you so much, doa-doa kalian udah bawa aku sampai ke tahap ini, meski itu berarti jadwalku bener-bener padat merapat ( mungkin yang temenan di IG tahu kayak apa RL aku wkwkw ).

Selalu cinta Chanbaek, selalu dukung mereka ya. Meski nanti aku bukan lagi salah satu penulis ff Chanbaek, tapi aku gak mau kalian kehilangan semangat. Ini Cuma fiksi, kisah cinta asli Chanbaek jauh lebih indah.

Salam Chanbaek is real guys.. Jangan lupa jaga kesehatan sesibuk apapun kalian. Kalau gak sempet olahraga setidaknya jaga pola makan. Sekali lagi makasih banyak.